Anda di halaman 1dari 13

CSPS Monographs on Conflict Management and Resolution

Center for Security and Peace Studies


(Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian)
Sekip K-9 Yogyakarta 55281 Phone: 62 274 520733 email: csps@ugm.ac.id

Gadjah Mada University

http://csps.ugm.ac.id

Moch. Faried Cahyono dan Lukman Hakim

Masalah Pembangunan di Wilayah Penghasil Migas


Studi Kasus Pengelolaan Migas di Sumatera Bagian Selatan
Seri No 1, Paper No 2 Juni 2009
Masalah Pembangunan di Wilayah Penghasil Migas 1

2 CSPS Monographs on Conflict Management and Resolution

Masalah Pembangunan di Wilayah Penghasil Migas


Studi Kasus Pengelolaan Migas di Sumatera Bagian Selatan
Moch. Faried Cahyono dan Lukman Hakim

Pasca Perang Dunia II, permasalahan yang berkaitan dengan kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup manusia menjadi bahasan utama di beberapa negara. Dari sinilah kemudian muncul konsep pembangunan yang dipelopori oleh negara-negara maju. Melalui konsep pembangunan inilah kualitas manusia di dunia ini diyakini dapat diperbaiki maupun ditingkatkan. Bahasan selanjutnya yang tak kalah penting adalah darimana sumber pembiayaan pembangunan didapat. Jawabannya adalah memanfaatkan sumberdaya alam menjadi sumberdaya utama untuk mencapai tujuantujuan pembangunan. Sumberdaya alam merupakan sumber daya yang dimiliki oleh negara-negara berkembang, dan ingin dimanfaatkan untuk pembangunan. Dalam proses awal pembangunan negara berkembang menggantunggkan sumber pembiayaan pembangunannya pada bantuan dari lembaga donor internasional maupun bantuan dari negara-negara maju. Tulisan ini menerangkan perkembangan konsep pembangunan, pemanfatan semberdaya alam untuk pembangunan, konflik yang terjadi dalam memanfaatkan sumberdaya alam. Juga disampaikan soal pentingnya partisipasi dalam pembangunan, permaslaahn yang muncul dalam menjalankan konsep-konsep tersebut. Fokus studi pembanguan di wilayah penghasil sumber daya alam minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia khususnya Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) disampaikan untuk merujuk apakah

migas Indonesia menjadi berkah atau kutukan. Juga, bagaimana kemungkinan solusi yang harus dicari untuk menjadikan migas sebagai berkah pembangunan,.

Perkembangan Paradigma Pembangunan


Pembangunan adalah suatu istilah dan pengertian yang terikat pada sejarah atau memiliki arti kontekstual1. Sampai saat ini belum ada definisi bersama atas pembangunan. Meski begitu, sebagiamana disampaikan Todaro, pemahaman bersama atas pembangunan dapat terjadi dengan menentukan nilai inti dan tujuan utama pembangunan. Nilai inti pembangunan adalah pertama kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, kedua kemampuan untuk menjadikan manusia seutuhnya dan ketiga kemampuan untuk memilih. Sedangkan tujuan utama pembangunan adalah pertama peningkatan ketersediaan serta perluasan distribusi berbagai macam barang kebutuhan pokok, kedua peningkatan standar dan kualitas hidup dan ketiga perluasan pilihan-pilihan ekonomi dan sosial bagi setiap individu dan bangsa secara keseluruhan2 Pembangunan adalah sebuah proses yang sangat kompleks dan meliputi multidisiplin pengetahuan yang berhubungan dengan aktivitas manusia secara keseluruhan. Untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan dibutuhkan pendekatan lintas perspektif baik ekonomi, politik, budaya maupun lingkungan.

Masalah Pembangunan di Wilayah Penghasil Migas 3

Terdapat tiga pendekatan dalam merepresentasikan hubungan antar manusia dan antar pelaku pembangunan. Pertama rasionalisme yang berkerja di tingkat individu, kedua kulturalisme yang berlaku pada komunitas kolektif ataupun kelimpok dan ketiga strukturalisme yang menjelaskan interaksi dan hubungan antar struktur, baik individu maupun kelompok3.

melibatkan disiplin ilmu ekonomi saja. Tercermin pada tujuan dari pambangunan yaitu pertumbuhan, akumulasi kapital, transformasi struktural dan peran pemerintah. Sehingga yang menjadi ukuran tercapainya pembangunan adalah GDP (Gross Domestik Product) maupun GDP per kapita6 Generasi selanjutnya muncul sebagai kritik atas ketidakmampuan paradigma pembangungan

Gambar Pendekatan dan Ruang Lingkup dalam Proses Pembangunan (Jairo Acua Alfaro, 2003)

Evolusi pemikiran dalam pembangunan pun berlangsung demikian cepat. Teori dan paradigma ekonomi pembangunan terus berkembang pesat, mulai dari generasi peraih Nobel dekade 1960-an yaitu Jan Tinbergen dan dekade 1970-an yaitu Simon Kuznets, sampai generasi dekade 1990-an yaitu John Nash dan Amartya Sen4. Perubahan tersebut menurut Irma Adelman (1999) disebabkan oleh lima faktor, pertama adanya proses pembelajaran, kedua perubahan ideologi, ketiga perubahan lingkungan internasional, keempat perubahan kelembagaan, batasan dan aspirasi domestik, dan kelima kebudayaan disiplin teori pembanguan itu sendiri5.

generasi pertama dalam menegakkan kesejahteraan dan keadilan dalam masyarakat. Generasi ini memasukkan dimensi sosial dalam tujuan pembangunan. Tujuan pembangunan mengalami perubahan menjadi pengahapusan kemiskinan kemudian pemenuhan hak dasar dan peningkatan kemampuan kemudian kebebasan dan yang terakhir adalah paradigma pembangunan berkelanjutan. Pada tahap ini pembangunan menjadi sesuatu yang kompleks dan memiliki keterkaitan dengan seluruh bidang dalam kehidupan manusia. Ukuran keberhasilannya pun berubah, tidak hanya mencakup dimensi ekonomi.

Gambar Perubahan Paradigma Tujuan Pembangunan

Secara umum perubahan paradigma pembangunan dikelompokkan menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah paradigma pembangunan generasi awal, yaitu pada tahun 1950 sampai dengan tahun 1975. Paradigma pembangunan pada generasi ini lebih memfokuskan pembangunan pada tujuan-tujuan yang bersifat kuantitatif dan cenderung hanya

Sumberdaya Alam Sebagai Kutukan


Dalam proses mencapai tujuan-tujuan pembangunan, keberadaan sumberdaya mutlak dibutuhkan. Mayoritas pakar pembangunan bersepakat bahwa sumberdaya tersebut antara lain yaitu sumberdaya alam, sumberdaya fisik

4 CSPS Monographs on Conflict Management and Resolution

dan sumberdaya manusia 7. Dari ketiga sumberdaya tersebut yang menjadi tumpuan dalam perkembangan proses pembangunan di banyak negara adalah sumberdaya alam. Bahkan sampai saat ini, sumberdaya alam masih menjadi sumberdaya utama dalam pelaksanaan pembangunan di negara-negara berkembang. Ketergantungan terhadap sumberdaya alam inilah yang kemudian memunculkan konsep paradigma pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Konsep tersebut untuk pertama kali disepakati dalam fOrum World Commission on Environment and Development (WCED), tahun 1987. Pembangunan berkelanjutan mensyaratkan terjaganya atau meningkatnya seluruh sumberdaya yang ada dari waktu ke waktu dengan kata lain pemenuhan kebutuhan generasi sekarang tanpa merugikan pemenuhan kebutuhan generasi mendatang8.

Pembangunan berkelanjutan hanya dapat terjadi ketika sebuah negara mencapai tujuan pembangunannya dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada sesuai dengan keberadaan dan manfaatnya. Adapun hubungan antar sumberdaya tersebut adalah tidak bisa saling menggantikan. Sumberdaya alam adalah bagian terpenting dalam mewujudkan kesejahteraan manusia dan keberadaannya tidak bisa digantikan dengan sumberdaya fisik maupun simberdaya manusia9. Bertumpunya sistem ekonomi pada sumberdaya alam akan berdampak pada kinerja perekonomian domestik suatu negara. Dimana peningkatan nilai ekspor sumber daya alam menjadikan nilai mata uang terapresiasi. Menjadikan nilai ekspor non sumber daya alam berada di posisi sulit dan menurunkan kemampuan berkompetisi dengan komoditas

Gambar Konsep Pembangunan Berkelanjutan (Sumber : Edward B Barbier, 2003)

Masalah Pembangunan di Wilayah Penghasil Migas 5

impor. Sementara, valuta asing yang diperoleh dari hasil sumberdaya alam mungkin digunakan untuk membeli barang-barang perdagangan internasional, dengan mengorbankan banyak sektor domestik yang memproduksi barangbarang tersebut. Secara bersamaan, sumberdaya dalam negeri seperti buruh dan material dipindahkan ke sektor sumberdaya alam (disebut juga sebagai resource pull effect). Konsekuensinya, harga sumberdaya ini meningkat di pasar domestik, dan dengan demikian juga meningkatkan biaya bagi para produsen di sektor-sektor lainnya. Peristiwa inilah yang kemudian disebut dengan dutch desease10. Sebuah peristiwa yang menimpa negeri Belanda di tahun 1970an, ketika perekonomianya bergantung pada sumberdaya alam yaitu gas alam. Negara-negara yang berkelimpahan dengan sumberdaya alam seperti minyak dan gas, performa pembangunan ekonomi dan tata kelola pemerintahannya (good governance) cenderung lebih buruk dibandingkan negara-negara yang sumberdaya alamnya lebih kecil11. Bahkan ketika negara-negara kaya minyak mengelolanya dengan baik dan adil, mereka sering ditandai oleh ketimpangan yang besar: negara kaya dengan penduduk yang miskin12 Apa yang terjadi di negara-negara yang memiliki kekayaan sumberdaya alam tersebut berkorelasi hasil kesimpulan penelitian Jeffrey D. Sachs dan Andrew M. Warner (1997) di 97 negara, yaitu sebagian besar negara pemilik sumberdaya alam dan mineral berlimpah cenderung mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi dan sebaliknya13. Hal inilah yang kemudian disebut oleh ahli ekonomi sebagai kutukan sumberdaya alam 14 . Sebagian yang lain menyebutnya sebagai negaranegara penderita paradox of plenty, problem Raja Midas, atau apa yang disebut Juan Pablo Perez Alfonzo, pendiri Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), sebagai efek kotoran setan15. Secara sederhana, kutukan sumber daya alam mengacu pada hubungan terbalik antara ketergantungan yang besar terhadap sumber daya alam dan tingkat pertumbuhan ekonomi. Terry Lynn Karl (2005) menyatakan bahwa kutukan sumber daya alam tidak merujuk soal

kepemilikan sumber minyak atau tambang semata, tapi lebih pada negara-negara yang sangat tergantung pada hasil minyak. kutukan sumber daya alam juga tidak menyatakan bahwa pengekspor minyak dan tambang dengan sumber lebih kecil akan lebih baik, yang menjadi soal bukanlah sifat yang melekat pada minyak itu sendiri tapi bagaimana kekayaan yang dihasilkan dari minyak ini dinikmati dan dimanfaatkan dan kutukan ini tidak menyatakan bahwa sumber daya alam yang berlimpah selalu tidak menguntungkan bagi pertumbuhan dan perkembangan ekonomi16. Penjelasan mengenai performa ekonomi yang buruk ini beragam dan bisa diperdebatkan. Tapi kombinasi dari berbagai faktor menyebabkan pengekspor minyak khususnya cenderung mengalami kegagalan kebijakan dan merosotnya pertumbuhan. Penyebab tersebut diantaranya adalah ketidakstabilan harga minyak, Dutch Disease, hilangnya akumulasi ketrampilan dan ketimpangan yang tinggi dan permasalahan batas-batas negara dan persoalan pajak17.

Pembangunan, Partisipasi Dan Konflik Migas


Partisipasi adalah salah satu kunci utama dalam mencapai tujuan pembangunan sekaligus prasyarat dapat dinikmatinya capaian-capaian pembangunan tersebut. Tanpa adanya partisipasi, mustahil tujuan pembangunan dapat dicapai dan dinikmati. Meskipun partisipasi yang terakomodasi dalam konsep demokrasi telah menjadi perdebatan dalam hubungan dengan pembangunan. Stiglitz (2002) memposisikan proses partisipasi sebagai sebuah konsep yang memiliki keluasan makna dan di dalamnya harus mencakup transparansi, keterbukaan dan keterwakilan suara baik dalam ranah publik maupun privat. Adapun proses partisipasi tidak hanya merujuk pada proses pengambilan kebijakan oleh pemerintah pusat saja, tetapi juga pada tingkat pemerintah provinsi, dan tidak selalu identik dengan proses voting, melainkan sebuah proses keterbukaan dialog dan perluasan peran individu dalam proses penentuan kebijakan yang berdampak pada setiap individu tersebut18. Dalam kenyataanya

6 CSPS Monographs on Conflict Management and Resolution

kebutuhan akan partisipasi dalam pembangunan ini menjadi sesuatu yang mewah19, mengingat ketiadaan kepastian hukum yang mengatur dan tidak transparansinya proses pembangunan20. Kedua hal inilah yang menjadi halangan dalam pelaksanaan pastisipasi dalam pembangunan.

Perlawanan terhadap sistem pemerintahan yang ada adalah pilihan cara sebagian besar masyarakat untuk mendapatkan manfaat atas keterlimpahan sumberdaya alam di sebuah negara. Konflik menjadi akibat diabaikannya peran partisipasi masyarakat dalam pengelolaan

Spektrum Partisipasi (Sumber : Meera Kaul Shah, et.al, 1999)

Menurut R. Harry Hikmat, ketiadaan partisipasi akan berdampak pada marginalisasi dan ketidakberdayaan sebuah komunitas masyarakat21. Pada tingkat mikro, hal tersebut merefleksikan adanya faktor di luar komunitas masyarakat yang mengabaikan potensi sosial yang dimilikinya. Hal ini disebabkan kurang dipahaminya hakekat dari strategi pemberdayaan masyarakat oleh institusi sosial pada tingkat meso, sehingga terdapat perbedaan makna pemberdayaan secara konseptual dengan implementasi di lapangan. Selain itu modus orientasi dari aktor pembangunan yang berada dalam posisi pengambil keputusan pada tingkat makro cenderung masih diwarnai oleh kepentingan ekonomi dan politik daripada kepentingan sosial budaya. Ketidakberdayaan masyarakat dalam beradaptasi dengan perubahan struktural merefleksikan perubahan sosial yang terjadi pada komunitas lokal menuju keadaan yang sangat berbeda dengan kondisi awal dan menjadikan masyarakat mengalami disfungsi sosial yang berakibat pada disintegrasi sosial dari lingkungan sosial sekitarnya22. Ketiadaan partisipasi dalam pengelolaan sumberdaya untuk pembangunan, telah memunculkan permasalahan tersendiri. Terutama dalam pengelolaan sumberdaya alam minyak dan gas alam (migas). Michael L Rose (2008) berpendapat bahwa terdapat hubungan antara keterlimpahan sumberdaya alam yang dimiliki suatu negara dengan tingkat perdamaian dunia. Negara penghasil migas menyumbang porsi 30% total konflik di dunia saat ini, naik 20 % dibanding tahun 199223.

sumberdaya. Konflik tersebut melibatkan semua pihak yang berkepentingan atas keberadaan sumberdaya alam berbentuk migas di suatu negara. Petter Nore dan Terisa Turner (1979) membagi bentuk konflik kepentingan tersebut dalam lima dimensi24. Pertama, tension between goverments and companies. Konflik di level ini terjadi di Venezuela. Kenaikan harga minyak dijadikan momentum untuk mengambil manfaat sebesar-sebesarnya. Presiden Hugo Chavez mengultimatum perusahaan-perusahaan migas asing bahwa negara harus memiliki porsi dominan di blok-blok minyak yang produksinya besar25. Kedua, confrontation between capital and oilworker. Konflik di level dapat dilihat pada proses perjuangan sejumlah kecil pekerja minyak terampil atas kepemilikan perusahaan minyak dari asing (nasionalisasi). Proses ini telah menghasilkan Revolusi Rusia pada tahun 1917 dan nasionalisasi di Mexico tahun 1938 dan Iran pada tahun 1951. Ketiga, class struggle among faction and classes for control of state power within oil pruducing countries. Terjadi di Kanada. Produksi minyak telah meningkatkan pendapatan bagi negara ini. Hal ini berakibat pada kegigihan kelas tertentu mengontrol negara dan menikmati pendapatan tersebut. Perebutan ini terjadi antara pemilik tanah dan borjuis moderen atau kapitalis komersial dan borjuis industrial. Masing-masing kelas ini hubungan khusus dengan kelas di tingkatan internasional dan memiliki kemampuan untuk bekerjasama dan mengadu kelas pekerja dan petani yang jumlahnya adalah mayoritas.

Masalah Pembangunan di Wilayah Penghasil Migas 7

Keempat, class struggle between the exploited and ruling classes in oil producing countries. Terjadi akibat ketidakmerataan, ketiadaan distribusi , miss allocation dan korupsi pendapatan minyak oleh penguasa. Hal tersebut telah memunculkan gerakan pemberontakan dan separatisme seperti terjadi di Delta Niger (Nigeria), Thailand Selatan, Aljazair, Kolombia, Sudan, Bolivia dan juga Irak. Bahkan telah menelan korban 100 orang tewas di Nigeria dan menjungkalkan pemerintahan seperti terjadi di Guinea-Ekuatorial dan Kongo26. Kelima, conflict among factions of the international bourgeoise. Ini muncul akibat adanya persaingan antar pemodal internasional atau perusahaan minyak transnasional untuk menguasai daerah yang kaya akan sumber minyak. Nigeria adalah salah satu contoh negara yang memiliki kekayaan sumberdaya migas sekaligus negara yang mengalami konflik berkepanjangan hingga saat ini27. Sekitar 30 tahun lalu, pendapatan per kapita Indonesia dan Nigeria seimbang. Keduanya sama-sama tergantung pada pendapatan minyak. Saat ini, pendapatan per kapita Indonesia sekitar empat kali lipat pendapatan per kapita Nigeria28. Sektor migas telah menyumbang 40 % pada nilai total GDP dan 70 % pendapatan pemerintah Nigeria. Bahkan di tahun 2003, kontribusi sektor migas terhadap total pendapatan pemerintah Nigeria mencapai 80,6 %. Prestasi sektor migas tersebut, ternyata tidak diikuti oleh perbaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat. Adanya penguasaan sektor migas oleh sebagian elit, keberpihakan terhadap kepentingan asing melalui perusahaan-perusahaan migas asing dan tingginya angka korupsi juga turut berperan29

Dalam kurun 1885 hingga 1945, tidak kurang dari 18 perusahaan minyak asing milik bangsa Belanda, Inggris dan Amerika Serikat (seperti PT Caltex, SVPM, BPM, NIAM & NGPM), serta tentara Jepang berebut untuk menguasai dan menguras minyak bumi Indonesia. Jika dihitung, maka era penguasaan pengelolaan minyak bumi oleh bangsa-bangsa asing tanpa manfaat bagi bangsa Indonesia, berlangsung selama 40 tahun30. Pasca kemerdekaan, pemerintah Indonesia berusaha menguasai ladang-ladang minyak yang selama ini dikuasai asing. Tahun 1957, PT. Exploration Tambang Minyak Sumatera Selatan PTMSU) didirikan. Dua tahun berikutnya pemerintah mendirikan PT. Permindo dengan mengambil alih Obligasi Niam Oil. Ditahun 1961 PTMSU berubah menjadi PN Permina. Sedangkan PTMN berubah menjadi PN Permigan di tahun 1962. selanjutnya PN Permigan berabung dengan PN Pertamin pada tahun 1965. Sementara itu PT Permindo berubah menjadi PN Pertamina. Akhirnya di tahun 1969 PN Permina dan PN Pertamin bergabung menjadi PN Pertamina31. Pemerintah dengan UU No. 8 Tahun 1971 mengukuhkan Pertamina sebagai perusahaan minyak nasional sekaligus sebagai regulator industri migas di Indonesia. Selanjutanya melalui UU No. 22 tahun 2001 dan Peratuan Pemerintah No. 31 tahun 2003 posisi Pertamina menjadi Persero. Kebijakan tersebut berdampak pengurangan peran Pertamina dalam pengelolaan wilayah kerja pertambangan. Kebijakan pengusahaan migas kini berada di bawah BP MIGAS untuk sektor hulu dan BPH MIGAS untuk sektor hilir32. Kontribusi sektor migas terhadap sumber pembiayaan pembangunan berada di tingkat tertinggi pada era tahun 1970 an sampai dengan tahun 1980 an yaitu mencapai 25 % dari total GDP. Adanya asas ketidakpastian dalam penentuan komoditas sumberdaya alam menjadikan kontribusi sektor ini berkurang setelah era bonanza. Pada tahun 2006, sektor migas hanya menyumbang 10,83 % dari total GDP. Penyebab turunnya kontribusi sektor migas dalam total pendapan negara adalah pertumbuhan produksi rata-rata kilang minyak Indonesia antara tahun 2000-2003 adalah 1,8%.

Pengalaman Indonesia
Sektor migas memiliki kontrubusi yang penting dalam proses pembangunan di Indonesia. Keberadaan sektor migas itu sendiri tidak terlepas dari keberadaan industri migas sejak tahun 1871. Tetapi dalam perjalanananya, produksi migas pertama kali baru bisa dilaksanakan pada 15 Juni 1885 setelah Aelko Jans Zijlker menemukan ladang minyak pertama di Telaga Said, Pangkalan Berandan, Sumatera Utara.

8 CSPS Monographs on Conflict Management and Resolution

Angka tersebut berada di bawah rata-rata tingkat konsumsi kilang yang mencapai 4,2%. Ketimpangan tingkat produksi dan konsumsi dalam negeri ini menjadikan Indonesia sebagai negara pengimpor minyak (net oil importer) di tahun 2004. Pengelolaan sektor migas mengalami kendala ketika muncul kepentingan sekelompok elit atas kekayaan migas di negeri Indonesia ini. Besarnya kontribusi migas terhadap penerimaan negara tidak serta merta berdampak pada perbaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia di era 1970-1980. Tetapi berbanding lurus dengan peningkatan tingkat korupsi. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi potret buram sejarah perjalanan Pertamina. H.W.Arndt (1983) menemukan fakta bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia tahun 1973/1974 hingga 1977/1978 secara rata-rata telah menaikkan sekitar 10 persen Pendapatan Domestik Bruto (PDB) nyata Indonesia. Jika keuntungan tersebut didistribusikan secara merata kepada seluruh penduduk Indonesia maka akan berdampak pada peningkatan pendapatan perkapita sebesar 10 persen dan jika didistribusikan kepada lapisan bawah penduduk Indonesia yang berjumlah 40 persen dari seluruh penduduk Indonesia maka pendapatan mereka akan meningkat 50 persen33. Fakta di atas mencerminkan ketidakmampuan para pemegang kekuasaan di negeri ini dalam memaksimalkan manfaat kekayaan sumberdaya migas untuk sebesarbesarnya digunakan dalam pembiayaan pembangunan masyarakat Indonesia sepenuhnya. Sekaligus menunjukkan lemahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan semberdaya migas yang ada untuk pembangunan. Menjadikan bangsa Indonesia masuk dalam daftar panjang negara yang terkutuk karena ketidakmampuan mengelola kekayaan sumberdaya alam dan mineral yang dimiliki.

Studi Kasus Pengelolaan Sumberdaya Migas Di Sumatera Bagian Selatan


Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) adalah salah satu wilayah penghasil migas di Indonesia. Provinsi di Sumbagsel yang masuk dalam kategori daerah penghasil migas adalah Provinsi Bangka Belitung, Provinsi Jambi, Provinsi Lampung, dan Provinsi Sumatera Selatan. Adapun wilayah penghasil migas di masing-masing provinsi adalah Provinsi Bangka Belitung, Kabupaten Lampung Timur di Provinsi Lampung, Kabupaten Batangharari, Kabupaten Muaro Jambi, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten tanjung jabung Barat, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Kabupaten Tebo dan Kota Jambi di Provinsi Jambi, Kabupaten Lahat, Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kota Prabumulih, Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Ogan Ilir di Provinsi Sumetera Selatan. Di empat provinsi dan di masing-masing kabupaten penghasil migas, keberadaan sektor migas ini menjadi sumber pendapatan pemerintah daerah dan tumpuan sumber pembiayan pembangunan. Besarnya kontribusi tersebut menjadi satu berkah tersendiri bagi daerah penghasil, bahkan Sumetera Selatan di tahun 2006 telah dicanangkan sebagai lumbung energi nasional. Berkah yang dinikmati pemerintah daerah ini secara otomatis juga dirasakan pemerintah pusat. Tetapi terbukti tidak sertamerta bermanfaat bagi masyarakat yangberada di wilayah penghasil migas. Belum meratanya manfaat yang didapatkan oleh semua pihak yang berkepentingan, khususnya anggota masyarakat, terlihat dari hasil temuan Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Selatan.34 Indikasi ketimpangan penerimaan manfaat antar pihak berkepentingan dapat dilihat pada soal tingginya angka kemiskinan, rendahnya tingkat aksesibilitas pendidikan, rendahnya tingkat kualitas kesehatan, tingginya angka penggangguran, tingginya angka kriminalitas di wilayah-wilayah penghasil migas dan sekitarnya.

Masalah Pembangunan di Wilayah Penghasil Migas 9

Kondisi di atas telah memunculkan konflik antar pihak yang berkepentingan, baik konflik yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat lokal, perusahaan migas maupun perusahaan terkait lainnya. Penyebab utama konflik tersebut adalah minimnya tingkat partisipasi seluruh pihak terkait dalam pengambilan kebijakan dan dalam praktek pengelolaan sumberdaya migas ini. Kesepakatan tentang pengelolaan migas yang lebih baik dan lebih memuaskan belum dicapai. Beberapa bentuk konflik tersebut antara lain adalah : 1. Konflik antara perusahaan migas dengan masyarakat lokal Konflik di tingkatan ini muncul akibat ketidaksesuaian besaran ganti rugi lahan dan tanam tumbuh yang diberikan perusahaan migas kepada masyarakat, minimya peran serta masyarakat lokal yang bekerja di perusahan migas, pengrusakan dan pencurian aset perusahaan migas oleh masyarakat, perusakan lingkungan oleh perusahaan migas, munculnya gangguan kenyamanan hidup dan tidak meratanya distribusi program comunity development atau corpotare social responsibility (CSR) perusahaan migas. Insiden yang muncul akibat persistiwa tersebut berupa mobilisasi massa untuk demonstrasi, sabotase proses produksi perusahaan migas oleh masyarakat, tidak diakuinya hukum adat oleh perusahaan migas, penurunan kualitas panen masyarakat, berkurangnya lahan pertanian, peningkatan angka pengangguran dan kriminalitas, pencemaran lingkungan dan penurunan daya dukung kehidupan masyarakat lokal. 2. Konflik antara perusahaan migas dengan pemerintah daerah Konflik di tingkatan ini muncul akibat permasalahan di bidang perpajakan, permasalahan kelangkaan migas di daerah penghasil migas dan saling lempar tanggungjawab proses pembangunan wilayah. 3. Konflik antara perusahaan migas dengan pemerintah pusat Konflik di tingkatan ini muncul akibat ketidakpastian jaminan hukum, tumpangtindihnya regulasi sektor migas,

dan munculnya ancaman nasionalisasi perusahaan asing oleh pemerintah pusat. 4. Konflik antara masyarakat dengan pemerintah daerah Konflik di tingkatan ini muncul akibat ketiadaan transparansi pengelolaan migas dan permasalaha kemiskinan yang terjadi di daerah penghasil migas. Demonstrasi, ancaman pendudukan perusahaan migas, dan ancaman untuk tidak mensukseskan program kerja pemerintah daerah menjadi pilihan masyarakat untuk menyuarakan kepentingganya. 5. Konflik antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat Konflik di tingkat ini muncul akibat ketiadaan transparansi dalam proses bagi hasil dan adanya ketimpangan pendapatan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat. Atas permasalan ini daerah penghasil migas berinisiatif untuk membentuk Forum Komunikasi Daerah Penghasil Migas. 6. Konflik antara perusahaan migas dengan perusahaan lainnya Konflik di tingkatan ini muncul akibat ketiadaan pengaturan tata ruang pengembangan suatu wilayah sehingga mengakibatkan perebutan antar perusahaan yang berbeda untuk menginvestasikan modal yang dimiliki oleh masing-masing perusahaan di suatu wilayah yang sama. 7. Konflik antar perusahaan migas Konflik di tingkatan ini muncul akibat perebutan hak pengelolaan daerah penghasil migas dan permasalahan pengelolaan pipa distribusi migas. 8. Konflik antar masyarakat Konflik di tingkatan ini muncul akibat perubahan gaya hidup masyarakat lokal dan pertentangan kepentingan antar masyarakat asli dengan masyarakat pendatang. 9. Konflik antar pemerintah daerah Konflik di tingkatan ini muncul akibat permasalahan perbatasan daerah yang memiliki potensi migas.

10 CSPS Monographs on Conflict Management and Resolution

10. Konflik antar (kepentingan) instansi di pemerintahan Pusat Konflik di tingkatan ini muncul akibat ketiadaan koordinasi yang intensif antar instansi di tingkat Pusat sehingga memunculkan regulasi yang tumpang tindih. 11. Selain itu, potensi konflik yang tinggi juga dapat terjadi karena sebab tiadanya basis data yang lebih baik tentang, seberapa besar sebetulnya kandungan migas potensial yang dimiliki oleh Indonesia di wilayah-wilayah yang penghaasil potensial. Konflik akan muncul antar pihak ketika ternyata wilayah yang memiliki cadangan migas besar, dijual oleh pemerintah dengan harga yang terlalu murah, dan tidak diterima oleh pihak-pihak berkepentingan.

Sumbagsel, lebih kompleks dari cakupan dimensi konflik yang digambarkan Petter Nore dan Terisa Turner, sebagaimana dipaparkan diatas.

Kesimpulan
Pembangunan adalah sebuah proses yang bertujuan untuk menegakkan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas hidup seluruh umat manusia. Keberadaan sumberdaya alam memiliki posisi penting untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Tidak hanya untuk generasi mendatang tetapi juga untuk generasi yang saat ini mengemban tanggungjawab mengelola sumberdaya alam yang ada. Memastikan diterimanya manfaat oleh seluruh pihak yang berkepentingan atas sumberdaya alam pada saat ini tidak kalah pentingnya dengan memastikan keberadaan sumberdaya alam untuk pemenuhan kebutuhan generasi mendatang. Dua faktor inilah yang menjadi acuan untuk memastikan proses pembangunan yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi semua pihak. Diketahuinya peta konflik dan kemungkinan resolusinya akan menyebabkan masalah-masalah kutukan sumbedaya alam (khususnya) migas dalam pembangunan, lebih bisa dihindari. Peningkatan partisipasi semua pihak yang berhubungan dengan tata kelola sumberdaya alam migas menjadi kunci utama penyelesaian konflik yang terjadi di daerah penghasil migas. Pendekatan yang lebih tepat atas persoalan migas Indonesia, mutlak dibutuhkan mengingat apa yang terjadi di Indonesia, dengan contoh kasus yang terjadi di

Moch. Faried Cahyono


Peneliti pada Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM). Koordinator penelitian, Peta dan Resolusi Konflik Migas di Wilayah Sumatra Bagian Selatan kerjasama PSKP UGM dan BP Migas, Desember 2008.

Lukman Hakim
Terlibat sebagai asisten peneliti PSKP UGM untuk penelitian berjudul, Peta dan Resolusi Konflik Migas di Wilayah Sumatra Bagian Selatan kerjasama PSKP UGM dan BP Migas, Desember 2008. Sedang menyelesaikan tugas akhir di FE-UGM untuk studi ekonomi pembangunan

Masalah Pembangunan di Wilayah Penghasil Migas 11

Catatan Akhir
1 2

3 4 5

9 10

11 12

13

14

15

16 17 18

19 20 21

22 23 24 25 26 27

28

29

30

31 32 33

34

M. Dawam Rahardjo. Pembangunan dan Kebudayaan dalam Perekonomian Indonesia (Pertumbuhan dan Krisis). LP3ES, Jakarta. Hal.273-288. Michael P. Todaro. 1998. Pembangunan Ekonomi Di Dunia Ketiga (terj. Economic Development). Penerbit Erlangga : Jakarta. Halaman 19-22. Jairo Acua Alfaro. Understanding Development : The Theorethical Framework. 1999. Amich Alhumami. Evolusi Pemikiran Pembangunan. Halaman 1. Irma Adelman. Fallacies in Development Theory and their Implications for Policy. California Agricultural Experiment Station Giannini Foundation of Agricultural Economics, Mei, 1999. Arup Maharatna. Development of What?An Exposition of the Politics of Development Economics. Gokhale Institute of Politics and Economics, India. Halaman 3. Edward B Barbier. The Role of Natural Resource in Economics Development. Blackwell Publishing Ltd/University of Adelaide and Flinders University of South Australia. Austrarian Economic Papers June 2003. Partha Dasgupta. Measuring Sustainable Development: Theory and Application. Asian Development Bank. Asian Development Review, vol. 24, no. 1, 2007. Edward B Barbier. Ibid. halaman 258. Macartan Humphreys, Jeffrey D. Sachs, dan Joseph E. Stiglitz. Apakah Masalah Kekayaan Sumberdaya Alam? dalam Berkelit dari Kutukan Sumberdaya Alam. The Samdhana Institute : Bogor, 2007. Halaman 6. Macartan Humphreys, Jeffrey D. Sachs, dan Joseph E. Stiglitz. Ibid . Halaman 1. Joseph E. Stiglitz. Making Natural Resources into a Blessing rather than a Curse dalam Covering Oil : A Reporters Guide to Energy and Development. New York : Open Society Institute. 2005 Jeffrey D. Sachs dan Andrew M. Warner. Natural Resource Abundance and Economic Growth. Center for International Development and Harvard Institute for International Development, Harvard University, 1997. Joseph E. Stiglitz. Making Natural Resources into a Blessing rather than a Curse dalam Covering Oil : A Reporters Guide to Energy and Development. New York : Open Society Institute. 2005 Terry Lynn Karl . Understanding the Resource Curse dalam Covering Oil : A Reporters Guide to Energy and Development. New York : Open Society Institute. 2005 Terry Lynn Karl . ibid. Terry Lynn Karl. Ibid. Joseph E. Stiglitz.Participation and Development: Perspectives from the Comprehensive Development Paradigm. Review of Development Economics, 6(2), 2002. Halaman 165. Joseph E. Stiglitz. Ibid. Halaman 163. Joseph E. Stiglitz. Ibid. Halaman 166. Hikmat, R. Harry. Marginalisasi Komunitas Lokal dalam Perspektif Kontingensi Strategi Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus di Kota Bekasi). Halaman 2. Ibid. halaman 7. Michael L. Ross . Blood Barrels, Why Oil Wealth Fuels Conflict. Foreign Affairs , May/June 2008. Petter Nore dan Terisa Turner (Editor). Oil and Class Struggle.Zed Press, 1979. Kompas, 11/12/2007. Kompas, 19/05/2008. Aderoju Oyefusi. Oil-dependence and Civil conflict in Nigeria. Department of Economics and Statistics, University of Benin, Nigeria. 2007. Joseph E. Stiglitz. Making Natural Resources into a Blessing rather than a Curse dalam Covering Oil : A Reporters Guide to Energy and Development. New York : Open Society Institute. 2005 Augustine Ikelegbe. The Economy of Conflict in the Oil Rich Niger Delta Region of Nigeria. Nordic Journal of African Studies 14(2) 2005. Halaman 209. Marwan Batubara, Pertamina: Tersingkir di Negeri Sendiri. Tulisan ini merupakan bagian dalam buku Tragedi & Ironi Blok Cepu Nasionalisme yang Tergadai, Bening Citra Kreasi Indonesia, 2006. <www.pertamina.com> Sejarah Pertamina. Marwan Batubara, ibid H.W.Arndt. Bonanza Minyak dan Kemiskinan, dalam Pembangunan dan Pemerataan (Indonesia di Masa Orde Baru). LP3ES, Jakarta. 1983. Halaman 96-113. Peta dan Resolusi Konflik Migas di Wilayah Sumatra Bagian Selatan, kerjasama PSKP UGM dan BP Migas, Desember 2008.

Daftar Pustaka
Adelman, Irma. 1999. Fallacies in Development Theory and their Implications for Policy. Experiment Station Giannini Foundation of Agricultural Economics, Mei. Alfaro , Jairo Acua. 1999. Understanding Development : The Theorethical Framework. Alhumami, Amich. Evolusi Pemikiran Pembangunan. Makalah. Arndt, H.W.. 1983. Pembangunan dan Pemerataan (Indonesia di Masa Orde Baru). Jakarta : LP3ES. Barbier, Edward B. 2003. The Role of Natural Resource in Economics Development. Blackwell Publishing Ltd/University of Adelaide and Flinders University of South Australia. Austrarian Economic Papers June 2003, halaman 253-272. Batubara , Marwan. 2006. Tragedi & Ironi Blok Cepu Nasionalisme yang Tergadai, Bening Citra Kreasi Indonesia. Dasgupta, Partha. 2007. Measuring Sustainable Development: Theory and Application. Asian Development Bank. Asian Development Review, vol. 24, no. 1, pp.1-10. Djojohadukusumo, Sumitro. 1994. Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Dasar Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. Jakarta : LP3ES. California Agricultural

12 CSPS Monographs on Conflict Management and Resolution

Harris, Jonathan M. 2000. Basic Principles of Sustainable Development. Global Development and Environment Institute Working Paper, Tufts University. Hikmat, R. Harry. Marginalisasi Komunitas Lokal dalam Perspektif Kontingensi Strategi Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus di Kota Bekasi). Makalah. Humphreys, Macartan, Jeffrey D. Sachs & Joseph E. Stiglitz (Penyunting). 2007. Berkelit dari Kutukan Sumberdaya Alam (terj. Escaping Resource Curse). The Samdhana Institute : Bogor. Ikelegbe, Augustine. 2005. The Economy of Conflict in the Oil Rich Niger Delta Region of Nigeria. Nordic Journal of African Studies 14(2) 2005. Kaul Shah, Meera, Sarah Degnan Kambou, dan Barbara Monahan. Embracing Participation in Development : Worldwide experience from CAREs Reproductive Health Programs with a step-by-step field guide to participatory tools and techniques. 1999. Kompas, 11/12/2007. Kompas, 19/05/2008. Maharatna, Arup. Development of What?An Exposition of the Politics of Development Economics. Gokhale Institute of Politics and Economics, India. Nore , Petter dan Terisa Turner (Editor). 1979. Oil and Class Struggle. Zed Press. Oyefusi, Aderoju. 2007. Oil-dependence and Civil conflict in Nigeria. Department of Economics and Statistics, University of Benin, Nigeria. Peta dan Resolusi Konflik Migas di Wilayah Sumatra Bagian Selatan, Laporan Penelitian (unpublished), PSKP UGM-BP Migas, Desember 2008. Rahardjo, M. Dawam. 1987. Perekonomian Indonesia : Pertumbuhan dan Krisis. Jakarta : LP3ES. Ross , Michael L. .2008. Blood Barrels, Why Oil Wealth Fuels Conflict. Foreign Affairs , May/June 2008. Sachs, Jeffrey D. dan Andrew M. Warner. 1997. Natural Resource Abundance and Economic Growth. Center for International Development and Harvard Institute for International Development, Harvard University. Shultz, Jim. 2005. Follow the Money : A Guide to Monitoring Budgets and Oil and Gas Revenues. New York : Open Society Institute. Stevens, Paul dan John V. Mitchell. 2008. Resource Depletion, Dependence and Development: Can Theory Help?. Chatam Houses Pragramme Paper. Stiglitz, Joseph E..2002. Participation and Development: Perspectives from the Comprehensive Development Paradigm. Review of Development Economics, 6(2), 2002. Halaman 165. elEaVidEe LaOTrs University of South Australia 2003 Tassonyi, Almos T. 2004. Local Economic Development : Theory and Ontario Expereince. Workshop Paper. Todaro , Michael P. 1998. Pembangunan Ekonomi Di Dunia Ketiga (terj. Economic Development). Penerbit Erlangga : Jakarta. Tsalik, Svetlana dan Anya Schiffrin. 2005. Covering Oil : A Reporters Guide to Energy and Development. New York : Open Society Institute. Tsui , Kevin K. 2005. More Oil, Less Democracy?: Theory and Evidence from Crude Oil Discoveries. University of Chicago. Job Market Paper. www.pertamina.com. Sejarah Pertamina.

Masalah Pembangunan di Wilayah Penghasil Migas 13