Anda di halaman 1dari 2

Nitrogen monoksida (N2O) Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa dan

lebih berat daripada udara. N2O biasanya tersimpan dalam bentuk cairan bertekanan tinggi dalam baja, tekanan penguapan pada suhu kamar 50 atmosfir. N2O mempunyai efek analgesic yang baik, dengan inhalasi 20% N2O dalam oksigen efeknya seperti efek 15 mg morfin. Kadar optimum untuk mendapatkan efek analgesic maksimum 35% . gas ini sering digunakan pada partus yaitu diberikan 100% N2O pada waktu kontraksi uterus sehingga rasa sakit hilang tanpa mengurangi kekuatan kontraksi dan 100% O2 pada waktu relaksasi untuk mencegah terjadinya hipoksia. Anestetik tunggal N2O digunakan secara intermiten untuk mendapatkan analgesic pada saat proses persalinan dan Pencabutan gigi. H2O digunakan secara umum untuk anestetik umum, dalam kombinasi dengan zat lain.

Isofluran merupakan eter berhalogen yang tidak mudah terbakar. Secara kimiawi mirip dengan efluran, tetapi secara farmakologi berbeda. Isofluran berbau tajam sehingga membatasi kadar obat dalam udara yang dihisap oleh penderita karena penderita menahan nafas dan batuk. Setelah pemberian medikasi preanestetik stadium induksi dapat dilalui dengan lancer dan sedikit eksitasi bila diberikan bersama N2O dan O2. isofluran merelaksasi otot sehingga baik untuk intubasi. Tendensi timbul aritmia amat kecil sebab isofluran tidak menyebabkan sensiitisasi jantung terhadap ketokolamin. Peningkatan frekuensi nadi dan takikardiadihilangkan dengan pemberian propanolol 0,2-2 mg atau dosis kecil narkotik (8-10 mg morfin atau 0,1 mg fentanil), sesudah hipoksia atau hipertemia diatasi terlebih dulu. Penurunan volume semenit dapat diatasi dengan mengatur dosis. Pada anestesi yang dalam dengan isofluran tidak terjadi perangsangan SSP seperti pada pemberian enfluran. Isofluran meningkatkan aliran darah otak pada kadar labih dari 1,1 MAC (minimal Alveolar Concentration) dan meningkatkan tekanan intracranial. Droperidol dan fentanil tersedia dalam kombinasi tetap, dan tidak diperguna-kan untuk menimbulkan analgesia neuroleptik. Induksi dengan dosis 1 mm/9-15 kg BB diberikan perlahan-lahan secara intravena (1 ml setiap 1-2 menit) diikuti pemberian N2O atau O2 bila sudah timbul kantuk. Sebagai dosis penunjang digunakan N2O atau fentanil saja (0,05-0,1 mg tiap 30-60 menit) bila anesthesia kurang dalam. Droperidol dan fentanil dapat diberikan dengan aman pada penderita yang dengan anestesi umum lainnya mengalami hiperpireksia maligna.

http://titianputri.blogspot.com/2010/03/anastesi-umum-general-anasthetic.html SENIN, 01 MARET 2010

Teknik Pemberian Anestetik Inhalasi - Open drop method Cara ini dapat digunakan untuk anestetik yang mudah menguap, peralatan sangatsederhana dan tidak mahal. Zat anestetik diteteskan pada kapas yang diletakkan didepan hidung penderita, sehingga kadar zat anestetik yang dihisap tidak diketahuidan pemakaiannya boros karena zat anestetik menguap ke udara terbuka. - Semiopen drop method Cara ini hampir sama open drop, hanya untuk mengurangi terbuangnya zatanestetik digunakan masker. Karbondioksida yang dikeluarkan sering terhisapkembali, sehingga dapat terjadi hipoksia.; untuk menghindari hal ini dialirkanoksigen melalui pipa yang ditempatkan di bawah masker. - Semiclosed method Udara yang dihisap diberikan bersama oksigen murni yang dapat ditentukankadarnya, kemudian dilewatkan pada vaporizer sehingga kadar zat anestetik dapatditentukan. - Closed method Cara ini hampir sama seperti cara semiclosed, hanya udara ekspirasi dialirkan melalui NaOH yang dapat mengikat CO2.

Isofluran (forane) Merelaksasi otot sehingga baik untuk melakukan intubasi. Obat pelumpuh otot nondepolarisasi dan isofluran saling menguatkan (potensiasi) sehingga dosis isofluranperlu dikurangi sepertiganya. SEDIAAN Isofluran 3-3,5 % dalam O2 atau kombinasi NO2 O2 untuk induksi Isofluran 0,5-3 % untuk memperthankan anestesia

Propofol Menginduksi anestesi secara cepat seperti tiopental. Rasa nyeri kadang-kadang terjadi di tempat suntikan, tetapi jarang disertai dengan plebitis atau trombosis. Propofol menurunkan tekanan arteri sistemik kira-kira 80 %, tetapi efek ini lebih disebabkan karena vasodilatasi perifer daripada penurunan curah jantung. Propofol tidak menimbulkan aritmia atau iskemik otot jantung, juga tidak merusak fungsi hati dan ginjal
http://www.scribd.com/doc/30705426/29772928-Makalah-Tugas-Farmakologi-i