Anda di halaman 1dari 2

BAB I PENDAHULUAN

Bahasa merupakan simbolisasi dari pikiran berupa kode yang telah kita pelajari; atau suatu sistem yang telah disepakati yang memungkinkan kita untuk mengomunikasikan ide-ide serta mengekspresikan keinginan dan kebutuhan kita. Membaca, menulis, gerakan tubuh, dan berbicara adalah semua bentuk dari bahasa. Bahasa terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu bahasa reseptif: memahami apa yang tertulis atau apa yang dikatakan, dan bahasa ekspresif: kemampuan untuk berbicara dan menulis (Caroline, 1998). Bahasa membedakan manusia dengan hewan. Orang tua dengan antusias menunggu awal perkembangan bicara anak mereka. Bila anak tidak dapat bicara normal, maka mereka mengira bahwa anak mereka bodoh atau mengalami retardasi. Sering orang tua memperkirakan bahwa perkembangan bicara anak di luar normal merupakan suatu hal yang mengkhawatirkan, sehingga orang tua membawa anak ke dokter (Soetjiningsih, 2008). Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak. Karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem lainnya, sebab melibatkan kemapuan kognitif, sensori motor, psikologis, emosi, dan lingkungan di sekitar anak. Seorang anak tidak akan mampu berbicara tanpa dukungan dari lingkungannya. Mereka harus mendengar pembicaran yang berkaitan dengan kehidupannya sehari-hari maupun

pengetahuan tentang dunia. Mereka harus belajar mengekspresikan dirinya, membagi pengalamannya dengan orang lain dan mengemukakan kinginannya (Jenson BK, 2004). Pada umumnya bila seorang anak pada umur 2 tahun belum dapat mengucapkan kata-kata harus dicari penyebabnya. Anak disebut slow talker bila perkembangan lainnya normal, kecuali terlambat dalam bicara dan pada anamnesis didapatkan di dalam keluarga juga terdapat anggota keluarga lain yang terlambat bicaranya. Seorang anak rata-rata mulai mengeluarkan kata-kata tunggal

antara umur 10-12 bulan, mulai mengucapkan kalimat pendek pada umur 18 bulan dan kalimat sempurna kira-kira pada umur 30 bulan (Jenson BK, 2004). Laki-laki diidentifikasi memiliki gangguan bicara dan bahasa hampir dua kali lebih banyak daripada wanita. Menurut penelitian anak dengan riwayat sosial ekonomi yang lemah memiliki insiden gangguan bicara dan bahasa yang lebih tinggi daripada anak dengan riwayat sosial ekonomi menengah ke atas (Judarwanto W, 2009). Studi Cochrane terakhir telah melaporkan data keterlambatan bicara, bahasa dan gabungan keduanya pada anak usia prasekolah dan usia sekolah. Prevalensi keterlambatan perkembangan bahasa dan bicara pada anak usia 2 sampai 4,5 tahun adalah 5-8%, prevalensi keterlambatan bahasa adalah 2,3-19%. Sebagian besar studi melaporkan prevalensi dari 40% sampai 60%. Prevalensi keterlambatan perkembangan berbahasa di Indonesia belum pernah diteliti secara luas. Kendalanya dalam menentukan kriteria keterlambatan perkembangan berbahasa. Data di Departemen Rehabilitasi Medik RSCM tahun 2006, dari 1125 jumlah kunjungan pasien anak terdapat 10,13% anak terdiagnosis keterlambatan bicara dan bahasa. Penelitian Wahjuni tahun 1998 di salah satu kelurahan di Jakarta Pusat menemukan prevalensi keterlambatan bahasa sebesar 9,3% dari 214 anak yang berusia bawah tiga tahun (Judarwanto W, 2009). Ketika anak tumbuh dan berkembang terjadi peningkatan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. Produk bahasanya secara bertahap kemampuan anak meningkat bermula dari mengekpresikan mimik wajah dengan cara

berkomunikasi. Alat komunikasi berbicara pada anak menggunakan gerakan dan tanda isyarat untuk menunjukkan keinginannya secara bertahap dan berkembang menjadi suatu komunikasi melalui ajaran yang tepat dan jelas. Perkembangan fonologi berkenaan dengan adanya pertumbuhan dan produksi sistem bunyi dalam bahasa bagian terkecil dari sistem bunyi tersebut dikenal dengan nama fonem yang dihasilkan sejak bayi lahir hingga 1 tahun. Sedangkan morfologi berkenaan dengan pertumbuhan dan produksi arti bahasa (Anonim, 2010).