Anda di halaman 1dari 21

Sekuritas Pendapatan Tetap Dan Derivatif

10 Myths About Financial Derivatives


by Thomas F. Siems Cato Policy Analysis No. 283; September 11, 1997

Luna Mantyasih Makarti 0906498603

Program Pascasarjana Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 2010

10 Myths About Financial Derivatives


by Thomas F. Siems *
*Thomas F. Siems adalah seorang ekonom senior dan penasihat kebijakan di Federal Reserve Bank of Dallas. Pandangan-pandangan yang diungkapkan di sini adalah dari penulis dan tidak mencerminkan posisi Federal Reserve Bank of Dallas atau Federal Reserve System.

Executive Summary

Di industri jasa keuangan yang begitu cepat berubah, peraturan koersif dibuat untuk membatasi kegiatan bank sehingga tidak bisa bersaing dalam hal inovasi keuangan. Ketika garis batas antara berbagai jenis penyedia jasa keuangan semakin tidak nyata, para birokrat besar yang bertanggung jawab untuk mereformasi regulasi perbankan harus menghadapi kenyataan bahwa kekhawatiran tentang derivatif telah terbukti tidak berdasar. Peraturan baru tidak lagi diperlukan. Akses ke instrumen manajemen risiko memang tidak harus ditakuti melainkan digunakan secara hati-hati untuk membantu perusahaan mengelola perubahan-perubahan pasar. Makalah ini mengungkapkan 10 kesalahpahaman umum tentang derivatif keuangan. Dengan percaya hanya satu atau dua dari 10 mitos tersebut saja dapat mengundang advokasi undangundang yang lebih ketat dengan dibuatnya peraturan yang dirancang untuk membatasi kegiatan derivatif oleh pelaku pasar. Bagaimanapun, suatu pemeriksaan yang seksama terhadap risiko dan manfaat yang ditawarkan derivatif menunjukkan bahwa pembatasan peraturan dan legislatif bukanlah jawabannya. Menyalahkan kegagalan organisasi atas derivatif semata-mata sudah keluar jalur. Solusi yang lebih baik terletak pada ketergantungan yang lebih besar pada kekuatan pasar dalam mengendalikan pengambilan risiko yang berkaitan dengan derivatif. Derivatif keuangan telah mengubah wajah keuangan dengan menciptakan cara-cara baru untuk memahami, mengukur, dan mengelola risiko. Pada akhirnya, derivatif keuangan akan dianggap sebagai bagian dari strategi manajemen risiko setiap perusahaan dengan tujuan peluang investasi peningkatan nilai. Untuk itu, kebebasan untuk mengelola risiko secara efektif tidak boleh dibatasi.

Introduction

Masih ingat dengan bangkrutnya Orange County, California, dan Bank Barings akibat investasi derivatif keuangan? Pada waktu itu banyak pembuat kebijakan takut akan ada lebih banyak bank, wilayah, dan negara yang runtuh. Ketakutan mereka terbukti tidak berdasar. Penggunaan derivatif secara hati-hatilah yang dapat mencegah adanya masalah lebih lanjut, bukan dengan dibuatnya peraturan pemerintah. Saat ini Financial Accounting Standards Board, Federal Reserve, dan Securities and Exchange Commission memperdebatkan manfaat dari aturan-aturan baru untuk derivatif. Tapi sebelum mengadopsi peraturan tertentu, pembuat kebijakan perlu memisahkan mitos mengenai instrumen keuangan dari realitas yang ada. Pertumbuhan pasar derivatif yang luar biasa dan laporan kerugian besar yang terkait dengan produk-produk derivatif telah menghasilkan banyak kebingungan di masyarakat tentang instrumen kompleks tersebut. Apakah derivatif merupakan suatu kanker yang tumbuh secara perlahan tapi pasti menghancurkan pasar keuangan global? Apakah orang-orang yang menggunakan produk derivatif tidak bertanggung jawab karena mereka menggunakan keuangan derivatif sebagai bagian dari keseluruhan strategi manajemen risiko mereka? Apakah derivatif keuangan sumber kegagalan keuangan AS berikutnya ibarat gelembung yang hampir meletus? Mereka yang menentang derivatif keuangan takut akan bencana keuangan dengan proporsi yang luar biasa sebuah bencana yang bisa melumpuhkan pasar keuangan dunia dan memaksa pemerintah untuk campur tangan memulihkan stabilitas dan mencegah keruntuhan ekonomi besarbesaran, semua dengan biaya yang dikeluarkan para pembayar pajak. Para kritikus percaya bahwa derivatif menciptakan resiko yang tidak terkendali dan tidak dipahami dengan baik. Beberapa kritikus menyamakan derivatif sebagai praktek penyambungan gen: berpotensi berguna, tapi jelas sangat berbahaya, terutama jika digunakan oleh orang baru yang tidak tahu apa-apa atau orang gila tanpa perlindungan yang tepat. Makalah ini mengeksplorasi 10 mitos atau kesalahpahaman umum tentang derivatif keuangan. Derivatif keuangan telah mengubah wajah keuangan dengan menciptakan cara-cara baru untuk memahami, mengukur, dan mengelola risiko keuangan. Pada akhirnya, derivatif menawarkan kesempatan bagi organisasi untuk memecah risiko keuangan menjadi komponen-komponen yang lebih kecil kemudian membeli dan menjual komponen-komponen tersebut untuk memenuhi tujuan manajemen risiko yang terbaik. Selain itu, di bawah filsafat orientasi pasar, derivatif memungkinkan perdagangan bebas dari komponen risiko individu sehingga mampu meningkatkan efisiensi pasar.

Penggunaan derivatif keuangan harus diperhitungkan sebagai bagian dari strategi manajemen resiko setiap bisnis untuk memastikan bahwa peluang investasi peningkatan nilai dapat diraih.

Myth Number 1: Derivatives Are New, Complex, High-Tech Financial Products Created by Wall Street's Rocket Scientists

Derivatif keuangan tidak baru, tapi telah ada selama bertahun-tahun. Penjelasan dari kontrak option dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Aristoteles. Ia bercerita tentang Thales, seorang filsuf miskin dari Miletus yang mengembangkan perangkat keuangan yang melibatkan prinsip aplikasi universal. Orang-orang mencela Thales, mengatakan bahwa kurangnya kekayaan yang ia miliki adalah bukti bahwa bidang filsafat merupakan pekerjaan sia-sia dan tidak memiliki nilai praktis. Tapi Thales tahu apa yang ia lakukan dan membuat rencana untuk membuktikan kepada orang lain kebijaksanaan dan kecerdasan yang ia miliki. Thales memiliki keahlian tinggi dalam meramalkan dan memprediksi bahwa panen zaitun akan menjadi sangat baik musim gugur berikutnya. Percaya diri dengan prediksinya, ia membuat perjanjian dengan para pemilik alat pres zaitun untuk bisa mendeposit sedikit uangnya sebagai jaminan agar ia dapat menggunakan alat tersebut secara ekslusif saat panen siap. Thales berhasil menegosiasikan harga yang rendah karena panen terjadi di masa depan dan tak seorang pun tahu apakah panen akan berlimpah atau sebaliknya. Selain itu, pemiliknya pun bersedia untuk mendapatkan perlindungan terhadap kemungkinan hasil yang didapatkan tidak melimpah. Akhir cerita Aristoteles tentang Thales tidak seperti dugaan orang. Ketika waktu panen datang, dan tiba-tiba alat pres banyak dicari sekaligus, Thales menyewakan alat pres tersebut dengan harga yang lebih tinggi dan menghasilkan banyak uang. Dengan demikian ia menunjukkan kepada dunia bahwa filsuf dengan mudah dapat menjadi kaya jika mereka suka, ambisi yang berperan penting. Jadi Thales melaksanakan hak yang dikenal dengan kontrak option pertama sekitar 2.500 tahun yang lalu. Ia tidak berkewajiban untuk melaksanakan option. Jika panen zaitun belum baik, Thales bisa membiarkan kontrak option berakhir tidak terpakai dan ruginya hanya terbatas pada harga asli yang dibayar untuk option. Tapi ternyata, panen besar datang sehingga Thales melaksanakan hak option dan menjual klaim atas alat pres zaitun dengan keuntungan yang tinggi. Option hanya salah satu jenis instrumen derivatif. Derivatif, seperti namanya, adalah kontrak yang didasarkan pada atau yang berasal dari beberapa aset, tingkat bunga referensi, atau indeks. Secara umum, derivatif dapat diklasifikasikan sebagai salah satu, atau kombinasi, dari empat jenis

instrumen: swap, forward, futures, dan option yang didasarkan pada tingkat suku bunga atau mata uang. Kebanyakan derivatif yang diperdagangkan saat ini berbentuk "plain vanilla" bentuk paling sederhana dari instrumen keuangan. Tetapi varian pada struktur dasar telah melahirkan derivatif yang lebih canggih dan kompleks yang jauh lebih sulit untuk diukur, dikelola, dan dipahami. Untuk instrumen-instrumen tersebut, pengukuran dan pengendalian risiko dapat jauh lebih rumit, menciptakan kemungkinan peningkatan kerugian yang tidak terduga. Para "rocket scientist" Wall Street terus-menerus menciptakan produk derivatif keuangan yang baru, kompleks, dan canggih. Namun, produk-produk tersebut semuanya dibangun berdasarkan empat jenis dasar derivatif tadi. Sebagian besar inovasi terbaru dirancang untuk melindungi risiko yang lebih kompleks dalam upaya untuk mengurangi ketidakpastian masa depan dan mengelola risiko secara lebih efektif. Tetapi inovasi terbaru memerlukan pemahaman yang kuat tentang tradeoff risiko dan manfaat. Untuk itu, pengguna derivatif harus menetapkan seperangkat prinsip pedoman sebagai kerangka kerja yang secara efektif mengelola dan mengendalikan kegiatan derivatif keuangan. Prinsip-prinsip tersebut harus berfokus pada peran senior management, penilaian dan manajemen risiko pasar, pengukuran risiko dan manajemen kredit, keberlakuan, sistem operasi dan kontrol, serta posisi akuntansi dan disclosure manajemen risiko.

Myth Number 2: Derivatives Are Purely Speculative, Highly Leveraged Instruments

Mitos ini menyatakan bahwa "derivatif" adalah nama mewah dari berjudi. Apakah spekulatif perdagangan produk derivatif memicu pertumbuhan yang pesat dalam penggunaannya? Apakah derivatif hanya digunakan untuk berspekulasi mengenai arah suku bunga atau nilai tukar? Tentu saja tidak. Memang penggunaan produk derivatif keuangan secara besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir dilatarbelakangi oleh tiga kekuatan utama: pasar yang semakin tidak stabil, deregulasi, dan teknologi baru. Titik balik tampaknya telah terjadi pada awal tahun 1970 dengan runtuhnya rezim nilai tukar tetap mata uang internasional, yang didirikan pada konferensi Bretton Woods 1944 dan dikelola oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Sejak itu, nilai tukar mata uang mengambang bebas. Hal tersebut disertai dengan penghapusan bertahap suku bunga langit-langit yang dibentuk pemerintah saat Peraturan Q mengenai pembatasan suku bunga dihapuskan. Tak lama kemudian datang guncangan

inflasi harga minyak dan fluktuasi suku bunga besar-besaran. Singkatnya, pasar keuangan lebih volatile daripada sebelumnya sejak era Depresi Besar. Bank dan perantara keuangan lainnya menanggapi lingkungan baru dengan mengembangkan produk keuangan manajemen risiko yang dirancang untuk pengendalian risiko yang lebih baik. Yang pertama adalah forward valuta asing sederhana yang mewajibkan satu mitra untuk membeli, dan yang lain untuk menjual, sejumlah tetap mata uang pada tanggal yang disepakati di masa depan. Dengan menandatangani kontrak forward valuta asing, pelanggan dapat mengimbangi risiko gerakan besar di kurs valuta asing yang akan menghancurkan kelangsungan hidup ekonomi dari proyek-proyek di luar negeri mereka. Dengan demikian, derivatif pada awalnya dimaksudkan untuk digunakan sebagai lindung nilai yang efektif terhadap risiko tertentu. Pada kenyataannya, alasan itulah yang menjadi kunci pesatnya perkembangan derivatif. Dimulai pada awal 1980-an, sejumlah pesaing baru mengikuti deregulasi pasar keuangan, dan hadirnya teknologi komputer melahirkan cara-cara baru untuk menganalisis informasi dan memecah risiko menjadi beberapa bagian. Untuk melayani pelanggan dengan lebih baik, perantara keuangan menawarkan produk baru yang dirancang untuk lebih efektif mengelola dan mengendalikan risiko keuangan dalam jumlah yang terus meningkat. Teknologi baru mempercepat laju inovasi dan melengkapi bank dengan metode yang superior untuk melacak dan mensimulasi portofolio derivatifnya sendiri. Dari perjanjian forward sederhana, kontrak keuangan futures dikembangkan. Futures mirip dengan forward, namun futures distandarisasi oleh exchange clearinghouses, yang memfasilitasi perdagangan anonim di pasar yang lebih kompetitif dan likuid. Selain itu, kontrak futures dilakukan pada pasar harian, dengan begitu sangat mengurangi counterparty risk risiko bahwa pihak lain pada transaksi tersebut tidak dapat memenuhi kewajibannya pada tanggal jatuh tempo. Sekitar tahun 1980, kontrak swap pertama dikembangkan. Swap adalah produk derivatif lain berbasis forward yang mewajibkan dua pihak untuk saling bertukar serangkaian arus kas pada tanggal penyelesaian tertentu di masa depan. Swap dilakukan melalui negosiasi pribadi untuk memenuhi tujuan manajemen risiko masing-masing perusahaan. Ada dua jenis utama swap: swap suku bunga dan swap mata uang. Saat ini swap suku bunga diperhitungkan sebagai kegiatan swap mayoritas bank, dan swap suku bunga fixed-for-floating merupakan swap suku bunga yang paling umum. Dalam swap, satu pihak setuju untuk melakukan pembayaran dengan tingkat suku bunga tetap sebagai imbalan atas

pembayaran dengan tingkat suku bunga mengambang dari pihak ketiga, dengan perhitungan pembayaran suku bunga berdasarkan jumlah hipotesis pokok yang disebut dengan jumlah notional.

Myth Number 3: The Enormous Size of the Financial Derivatives Market Dwarfs Bank Capital, Thereby Making Derivatives Trading an Unsafe and Unsound Banking Practice

Pasar derivatif di Amerika Serikat secara berkala dilaporkan bernilai lebih dari $ 20 triliun. Estimasi tersebut bukan hanya tidak sepadan dengan modal bank tetapi juga dengan produk domestik bruto tahunan negara sebesar $ 7 triliun. Angka-angka yang sering dikutip adalah jumlah notional. Untuk derivatif, pokok notional adalah jumlah yang berdasarkan bunga dan pembayaran lainnya. Nilai pokok notional biasanya tidak berpindah tangan melainkan hanyalah sebuah kuantitas yang digunakan untuk menghitung pembayaran. Pokok notional memang merupakan ukuran volume yang paling umum digunakan di pasar derivatif, tetapi bukan merupakan ukuran yang akurat dari eksposur kredit. Proxy yang sesuai untuk memaparkan instrumen derivatif sebenarnya adalah biaya penggantian eksposur kredit. Eksposur tersebut adalah biaya penggantian kontrak sebesar nilai pasar saat ini apabila pihak lawan gagal membayar sebelum tanggal settlement. Bagi 10 pemain derivatif terbesar di antara perusahaan-perusahaan holding bank AS, rata-rata eksposur kredit derivatif 15 persen dari total aset. Eksposur rata-rata 49 persen dari aset untuk portofolio pinjaman bank-bank tersebut. Dengan kata lain, jika 10 bank kehilangan 100 persen pinjaman mereka, kerugian akan lebih dari tiga kali lebih besar daripada seharusnya jika mereka harus mengganti semua kontrak derivatif mereka. Derivatif juga membantu meningkatkan efisiensi pasar karena risiko dapat diisolasi dan dijual kepada mereka yang bersedia menerimanya dengan biaya sedikit. Penggunaan derivatif memecah risiko yang dapat dikelola secara independen. Perusahaan dapat menanggung sendiri risiko yang paling mudah mereka kelola dan mengalihkan risiko yang tidak diinginkan kepada perusahaan lain yang lebih bersedia untuk menanggungnya. Dari perspektif orientasi pasar, derivatif menawarkan perdagangan bebas dari risiko keuangan. Viabilitas derivatif keuangan bersandar pada prinsip comparative advantage yaitu, biaya relatif ketika menanggung risiko tertentu. Setiap kali ada comparative advantage, perdagangan dapat menguntungkan semua pihak yang terlibat. Derivatif juga memungkinkan untuk perdagangan bebas dari komponen risiko individu.

Myth Number 4: Only Large Multinational Corporations and Large Banks Have a Purpose for Using Derivatives

Organisasi yang sangat besar adalah pengguna terbesar dari instrumen derivatif. Namun, perusahaan-perusahaan dari semua ukuran bisa mendapatkan keuntungan dari penggunaan derivatif. Sebagai contoh, misalnya suatu small regional bank (SRB) dengan total aset sebesar $ 5 juta (Gambar 1). SRB tersebut memiliki portofolio kredit utama terdiri dari hipotik fixed-rate, portofolio surat utang negara, dan deposito berbunga yang sering repriced. SRB dapat menggunakan derivatif untuk lindung nilai risikonya. Gambar 1 Sample Balance Sheet of a Small Regional Bank

Assets Loans Securities $3 million Deposits

Liabilities

$1 million - Interest-bearing

$3 million $1 million $1 million

Cash and premises $1 million - Noninterest-bearing Equity Total assets

$5 million Total liabilities and equity $5 million

Pertama, kenaikan suku bunga akan berdampak negatif terhadap harga $ 1 juta portofolio sekuritas SRB. Tapi dengan menjual short kontrak futures $ 1 juta Treasury-bond, maka SRB mendapatkan lindung nilai secara efektif terhadap risiko suku bunga dan kelancaran arus pendapatan di pasar yang volatile. Jika suku bunga meningkat, SRB akan dirugikan oleh penurunan nilai portofolio surat berharga, tapi kerugian yang akan diimbangi oleh keuntungan dari kontrak derivatif. Demikian pula, jika suku bunga turun, bank akan mendapat keuntungan dari kenaikan nilai portofolio sekuritas, tetapi akan mencatat kerugian dari kontrak derivatif. Dengan memasukkan kontrak derivatif, SRB dapat mengunci tingkat jaminan pengembalian (return) portofolio sekuritas dan tidak khawatir tentang volatilitas suku bunga (Gambar 2).

Gambar 2 Effect of Interest Rates on Securities Earnings of a Small Regional Bank

Ilustrasi kedua melibatkan kontrak swap. Seperti pada ilustrasi pertama, naiknya suku bunga akan membahayakan SRB karena menerima arus kas tetap pada portofolio kredit dan harus membayar arus kas variabel untuk depositonya. Dengan alternatif lain, SRB bisa mendapatkan lindung nilai terhadap risiko suku bunga dengan menandatangani kontrak swap untuk membayar fixed dan menerima pembayaran floating. Misalnya SRB saat ini menerima tingkat bunga tetap 7 persen dari portofolio pinjaman (loan) dan membayar tingkat bunga variabel untuk deposito perusahaan (deposit) yang mendekati tingkat bunga T-bill tiga bulan. Gambar 3 menunjukkan net interest margin SRB dalam tiga skenario, semuanya mengasumsikan bahwa tingkat bunga T-bill saat ini sebesar 4 persen. Skenario tersebut adalah sebagai berikut: (1) suku bunga jatuh 300 basis poin, (2) suka bunga tidak berubah, dan (3 ) suku bunga naik 300 basis poin. Net interest margin SRB akan menurun ketika suku bunga naik dan meningkat ketika suku bunga jatuh. Untuk lindung nilai dari risiko suku bunga, SRB dapat bernegosiasi dengan dealer swap untuk membayar 4,5 persen bunga tetap dalam pertukaran untuk T-bill minus 0,5 persen (Gambar 4). Arus swap bersih ditunjukkan pada Gambar 3 di bawah tiga skenario yang sama. Dalam hal ini, nilai swap meningkat seiring dengan naiknya suku bunga karena SRB menerima arus kas dengan bunga mengambang dan membayar bunga tetap. Seperti yang ditunjukkan pada bagian akhir Gambar 3, swap menyediakan lindung nilai efektif terhadap risiko suku bunga. Dengan swap, bank telah menjamin spread sebesar 200-basis-point, tidak peduli dengan apa yang terjadi pada suku bunga. Tanpa swap, portfolio SRB akan habis oleh kenaikan suku bunga.

Gambar 3 Effect of Interest Rates on Net Interest Margin of a Small Regional Bank

Rates Drop No Change Rates Rise 300 bps Asset Yield (Loans) 7.00% in Rates 7.00% -4.00% 3.00% 300 bps 7.00% -7.00% 0.00%

Liability Yield (Deposits) -1.00% Net Margin (w/o Swap) 6.00%

Fixed Swap Outflow Floating Swap Inflow Net Swap Flow

-4.50% 0.50% -4.00%

-4.50% 3.50% -1.00%

-4.50% 6.50% 2.00%

Net Margin (w/Swap)

2.00%

2.00%

2.00%

Gambar 4 Effect of Interest-Rate Swap on a Small Regional Bank

Manfaat ekonomi derivatif tidak bergantung pada ukuran institusi perdagangan. Keputusan tentang penggunaan derivatif didorong bukan oleh ukuran perusahaan, tetapi oleh tujuan strategis perusahaan. Peran strategi manajemen risiko harus memastikan bahwa dana tersedia untuk mengejar peluang investasi peningkatan nilai. Semua pengguna derivatif penting untuk memahami bagaimana struktur kontrak mereka, harga dan karakteristik risiko instrumen tersebut, serta bagaimana mereka akan melaksanakan kontrak tersebut dalam kondisi ekonomi yang volatile. Strategi manajemen risiko yang sesuai dengan tujuan perusahaan dan dilengkapi dengan simulasi pasar dan stress test merupakan prasyarat paling penting untuk menggunakan produk derivatif keuangan.

Myth Number 5: Financial Derivatives Are Simply the Latest Risk-Management Fad

Derivatif keuangan adalah alat penting yang dapat membantu organisasi untuk mencapai tujuan spesifik manajemen risiko mereka. Seperti halnya dengan semua alat, penting bagi penggunanya untuk memahami fungsi alat yang dimaksud dan tindakan pencegahan keamanan yang harus diambil sebelum alat itu digunakan. Kuli bangunan menggunakan gergaji listrik ketika membangun rumah. Seperti halnya gergaji listrik yang berguna dalam membangun rumah dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas kuli bangunan, derivatif keuangan juga bisa menjadi alat yang berguna dalam membantu perusahaan dan bank untuk menjadi lebih efisien dan efektif dalam memenuhi tujuan manajemen risiko. Akan tetapi, gergaji listrik bisa berbahaya bila tidak digunakan dengan benar atau bila digunakan secara membabi buta. Jika penggunanya tidak berhati-hati, mereka bisa melukai diri sendiri atau merusak proyek. Serupa dengan ilustrasi tersebut, pada saat keuangan derivatif digunakan tidak semestinya atau tanpa rencana, maka dapat menimbulkan rasa sakit dengan menyebabkan kerugian serius atau mendorong organisasi ke arah yang salah sehingga tidak siap untuk masa depan. Ketika digunakan dengan benar, derivatif keuangan dapat membantu organisasi untuk memenuhi tujuan manajemen resiko mereka sehingga dana yang tersedia untuk melakukan investasi berharga. Sekali lagi, keputusan perusahaan untuk menggunakan derivatif harus didorong oleh strategi manajemen risiko yang didasarkan pada tujuan perusahaan yang lebih luas. Pertanyaan paling mendasar tentang strategi manajemen risiko suatu perusahaan yang harus ditangani: Risiko mana yang harus dilindungi dan yang harus tetap di-unhedged? Jenis instrumen derivatif dan strategi perdagangan apa yang paling cocok? Bagaimana instrumen tersebut akan

dijalankan jika ada peningkatan atau penurunan suku bunga yang besar? Bagaimana instrumen tersebut dijalankan jika ada fluktuasi nilai tukar yang liar? Tanpa strategi manajemen risiko yang jelas, penggunaan derivatif keuangan dapat berbahaya. Hal ini dapat mengancam tercapainya tujuan jangka panjang sebuah perusahaan dan mengakibatkan terjadinya praktek yang tidak aman dan tidak sehat yang dapat menyebabkan kebangkrutan. Namun bila digunakan secara bijak, derivatif keuangan dapat meningkatkan nilai pemegang saham dengan menyediakan sarana untuk lebih mengendalikan risiko eksposur dan arus kas perusahaan. Sudah jelas bahwa derivatif akan terus digunakan. Pasar keuangan sedang dalam perjalanan menuju pasar keuangan global yang benar-benar akan terus mengembangkan inovasi keuangan baru untuk meningkatkan praktek manajemen risiko. Derivatif keuangan bukan mode atau tren terbaru dari manajemen risiko tetapi merupakan alat penting untuk membantu organisasi untuk lebih baik mengelola eksposur risiko mereka.

Myth Number 6: Derivatives Take Money Out of Productive Processes and Never Put Anything Back

Derivatif keuangan, dengan mengurangi ketidakpastian, memungkinkan perusahaan untuk melakukan kegiatan produktif yang tidak mungkin dilakukan. Sebagai contoh, sebuah perusahaan Italia mungkin ingin membangun fasilitas manufaktur di Amerika Serikat tetapi khawatir tentang biaya keseluruhan proyek karena volatilitas nilai tukar antara lira dan dollar. Untuk memastikan bahwa perusahaan akan memiliki uang yang diperlukan saat dibutuhkan untuk investasi, produsen Italia harus menyusun strategi manajemen risiko yang bijaksana yang selaras dengan tujuan perusahaan yang lebih luas, yaitu membangun fasilitas manufaktur di Amerika Serikat. Sebagai bagian dari strategi tersebut, perusahaan Italia harus menggunakan derivatif keuangan untuk lindung nilai terhadap risiko valuta asing. Derivatif sebagai lindung nilai dapat meningkatkan pengelolaan arus kas pada tingkat perusahaan individu. Untuk memastikan bahwa kegiatan-kegiatan produktif yang dikejar, manajemen keuangan dan bendahara keuangan perusahaan harus mengubah operasi mereka dari sekedar penghitungan yang sederhana sampai manajemen risiko keuangan aktif. Mereka harus mengintegrasikan jelas visi dan misi manajemen risiko ke dalam strategi perusahaan secara keseluruhan. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan bahwa organisasi memiliki dana yang diperlukan untuk mengejar investasi yang memaksimalkan nilai pemegang saham. Apabila digunakan dengan benar, derivatif keuangan dapat

membantu perusahaan untuk mengurangi ketidakpastian dan mempromosikan kegiatan yang lebih produktif.

Myth Number 7: Only Risk-Seeking Organizations Should Use Derivatives

Derivatif keuangan dapat digunakan dalam dua cara: untuk lindung nilai terhadap risiko yang tidak diinginkan atau untuk berspekulasi dengan mengambil posisi dalam mengantisipasi pergerakan pasar. Pemilik alat pres zaitun, mengunci jaminan return-nya, tidak peduli seberapa baik atau buruk panen, sebagai lindung nilai terhadap risiko panen zaitun musim depan yang mungkin tidak banyak. Thales berspekulasi bahwa panen zaitun musim depan akan sangat baik dan karena itu ia melakukan pembayaran premi di muka dalam mengantisipasi terjadinya peristiwa tersebut. Demikian pula, organisasi saat ini dapat menggunakan derivatif keuangan untuk secara aktif mencari risiko spesifik dan berspekulasi mengenai arah suku bunga atau pergerakan nilai tukar. Mereka juga dapat menggunakan derivatif untuk lindung nilai terhadap risiko yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, tidak benar bahwa hanya lembaga risk-seeking yang menggunakan derivatif. Memang, organisasi harus menggunakan derivatif sebagai bagian dari keseluruhan strategi manajemen resiko mereka dengan menyimpan resiko yang merasa nyaman untuk dikelola sendiri dan menjual risiko yang tidak diinginkan kepada orang lain yang lebih bersedia untuk menerimanya. Bahkan lembaga dengan manajemen yang konservatif dapat menggunakan derivatif untuk meningkatkan pengelolaan arus kas mereka untuk memastikan bahwa dana yang diperlukan tersedia untuk memenuhi tujuan perusahaan yang lebih luas. Seseorang boleh berpendapat bahwa organisasi yang menolak untuk menggunakan derivatif keuangan memiliki risiko yang lebih besar daripada yang menggunakannya. Ketika menggunakan derivatif keuangan, organisasi harus berhati-hati dengan hanya menggunakan instrumen-instrumen yang mereka mengerti dan yang paling sesuai dengan filosofi perusahaan manajemen risiko mereka. Mungkin lebih bijaksana untuk menghindari instrumen yang lebih canggih, kecuali risiko/biaya tradeoff secara jelas dipahami oleh senior management dan tim manajemen risiko independen perusahaan. Kontrak yang canggih tidak boleh digunakan kecuali ada alasan yang jelas untuk melakukannya.

Myth Number 8: The Risks Associated with Financial Derivatives Are New and Unknown

Jenis risiko yang terkait dengan derivatif tidak berbeda dari risiko yang berhubungan dengan instrumen keuangan tradisional, walaupun dapat jauh lebih kompleks. Ada risiko kredit, risiko operasional, risiko pasar, dan sebagainya. Risiko dari derivatif berasal dari pelanggan. Dengan sedikit pengecualian, yaitu risiko buatan manusia yang tidak mudah muncul di alam. Sebagai contoh, ketika seorang pemilik rumah baru melakukan negosiasi dengan kreditur untuk meminjam sejumlah uang, pelanggan menciptakan risiko dengan jenis hipotek yang ia pilih risiko untuk dirinya sendiri dan perusahaan yang memberikan pinjaman. Derivatif keuangan memungkinkan lembaga pinjaman untuk memecah risiko tersebut dan mendistribusikannya melalui pasar sekunder. Dengan demikian, banyak risiko yang terkait dengan derivatif sebenarnya dibuat oleh pelanggan dari dealer atau pelanggan dari pelanggan. Bank dan perantara keuangan lainnya harus melihat diri mereka sebagai manajer risiko mencocokkan pengetahuan mereka tentang pasar keuangan global dengan kebutuhan klien mereka untuk membantu klien mengantisipasi perubahan dan memiliki fleksibilitas untuk mengejar kesempatan yang memaksimalkan keberhasilan mereka. Perbankan secara inheren merupakan bisnis yang berisiko. Untuk bertahan hidup, bank harus mampu memahami, mengukur, dan mengelola risiko keuangan secara efektif. Jenis risiko yang dihadapi oleh perusahaan saat ini tidak berubah melainkan lebih kompleks dan saling terkait. Kompleksitas yang meningkat dan volatilitas pasar keuangan telah membuka jalan bagi pertumbuhan berbagai inovasi keuangan yang dapat meningkatkan keuntungan relatif terhadap risiko. Tapi pemahaman alat rekayasa keuangan baru dan integrasi yang tepat ke dalam strategi keseluruhan manajemen risiko perusahaan dan filosofi perusahaan dapat membantu mengubah volatilitas menjadi profitabilitas. Manajemen risiko bukan tentang penghapusan risiko tetapi tentang mengelola risiko: selektif memilih risiko organisasi yang mampu ditanggung dan meminimalkan yang tidak inginkan. Derivatif keuangan berguna dalam memenuhi tujuan manajemen resiko. Melalui derivatif, risiko dari instrumen tradisional dapat tidak mengikat secara efisien dan dapat dikelola secara mandiri. Jika digunakan dengan benar, derivatif dapat menghemat biaya dan meningkatkan return.

Myth Number 9: Derivatives Link Market Participants More Tightly Together, Thereby Increasing Systemic Risks

Pihak yang berperan dalam derivatif keuangan dapat dibagi menjadi dua kelompok: end- user dan dealer. Sebagai end- user, bank menggunakan derivatif untuk mengambil posisi dalam transaksi perdagangan atau untuk lindung nilai sebagai bagian dari manajemen aset/kewajiban. Sebagai dealer, bank menggunakan derivatif dengan menyediakan quote bid dan offer dan menjalankan modal untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dalam mengelola risiko. Pada tahun-tahun perkembangan derivatif keuangan, sebagian besar dealer bertindak sebagai broker, mencari counterparty dengan keperluan offsetting. Kemudian dealer mulai menawarkan diri sebagai counterparty untuk menengahi kebutuhan pelanggan. Setelah posisi diambil, dealer segera mencocokkannya dengan masuk ke dalam suatu transaksi yang berlawanan atau melakukan "warehoused" sementara waktu menggunakan pasar futures untuk lindung nilai risiko yang tidak diinginkan sampai ditemukan suatu kecocokan. Saat ini dealer mengelola portofolio derivatif dan mengawasi netto atau residual dari risiko posisi mereka secara keseluruhan. Pengembangan tersebut telah mengubah fokus manajemen risiko dari transaksi individu menjadi eksposur portofolio dan secara substansial telah meningkatkan kemampuan dealer untuk mengakomodasi spektrum transaksi nasabah yang lebih luas. Karena kebanyakan pemain derivatif saat ini aktif bertransaksi dalam eksposur portofolio, tampak bahwa derivatif keuangan tidak menyatukan pasar, lain halnya dengan pinjaman. Para pemain derivatif tidak menyesuaikan setiap perdagangan dengan transaksi offsetting. Sebaliknya, mereka terusmenerus mengelola risiko residual portofolio. Jika counterparty default dalam swap, pihak yang gagal tidak berbalik kemudian default pada beberapa counterparty lain yang mengimbangi transaksi asli. Sebaliknya, default derivatif ini sangat mirip dengan kredit macet. Itulah sebabnya penting bahwa para pemain derivatif memiliki due diligence dalam menentukan kekuatan finansial dan risiko default dari counterparty potensial. Untuk pengawas perbankan di Amerika Serikat, mungkin pertanyaan yang paling penting sekarang adalah, Apakah yang bisa menimbulkan risiko sistemik atau bahaya bahwa kegagalan pada satu bank dapat menyebabkan efek domino sehingga mempercepat krisis perbankan? Karena derivatif keuangan memungkinkan komponen risiko yang berbeda untuk menjadi terisolasi dan lolos dari lingkaran sistem keuangan, mereka yang bersedia dan mampu menanggung risiko pada setiap komponen pada biaya paling sedikit akan menjadi pemegang risiko. Hal tersebut jelas mengurangi biaya kepemilikan risiko keseluruhan dan meningkatkan efisiensi ekonomi.

Selanjutnya, sebuah kejutan besar yang akan mengguncang pasar keuangan tanpa derivatif juga akan mempengaruhi pasar keuangan dengan penggunaan derivatif yang luas. Namun karena pemegang berbagai resiko akan berbeda, dampaknya akan berbeda dan mungkin tidak begitu besar karena pemegang resiko harus lebih mampu menyerap potensi kerugian.

Myth Number 10: Because of the Risks Associated with Derivatives, Banking Regulators Should Ban Their Use by Any Institution Covered by Federal Deposit Insurance

Masalahnya bukan pada derivatif melainkan pada insentif bank yang saat ini berada di bawah sistem jaminan deposito federal. Deposit asuransi dan simpanan lainnya pertama kali diperkenalkan untuk mengatasi beberapa ketidakstabilan terkait dengan risiko sistemik. Melalui asuransi jaminan deposito secara federal, pemerintah AS berusaha untuk menghindari pengalaman deposit run yang menandai krisis perbankan sebelum tahun 1930-an dengan cara meningkatkan kepercayaan deposan. Struktur jaminan deposito saat ini selain mengurangi kemungkinan adanya kepanikan bank secara besar-besaran, juga telah menciptakan beberapa masalah baru. Asuransi deposito efektif menghilangkan disiplin yang disediakan oleh mekanisme pasar yang mendorong bank untuk mempertahankan tingkat modal yang tepat dan membatasi mengambil resiko yang tidak perlu. Oleh karena itu, bank mungkin ingin melanjutkan strategi risiko yang lebih tinggi karena deposan memiliki insentif yang kurang untuk memantau bank. Selanjutnya, asuransi deposito federal sebenarnya dapat mendorong bank untuk menggunakan derivatif sebagai alat spekulatif untuk mengejar strategi risiko yang lebih tinggi, bukan untuk melindungi, atau sebagai dealer. Karena asuransi deposito federal menghambat disiplin pasar, regulator dimasukkan ke dalam posisi pengawasan bank untuk memastikan bahwa asuransi deposito federal dikelola dengan cara yang aman dan sehat. Mengingat sistem jaminan deposito federal sekarang, usulan peraturan yang melibatkan derivatif keuangan harus fokus pada orientasi pasar yang bertentangan dengan hukum yang mungkin menghilangkan manfaat ekonomi manajemen risiko dari derivatif. Untuk itu, regulator perbankan harus lebih menekankan disclosure posisi derivatif dalam laporan keuangan dan memastikan bahwa lembaga-lembaga yang melakukan transaksi portofolio derivatif dalam jumlah besar memiliki modal yang memadai. Selain itu, karena derivatif dapat mengimplikasi stabilitas sistem keuangan, penting bagi pengguna untuk menjaga praktek manajemen risiko yang sehat.

Regulator telah menerbitkan pedoman yang harus diikuti oleh bank-bank dengan perdagangan besar atau dengan kegiatan derivatif. Pedoman tersebut mencakup: pengawasan kegiatan perdagangan yang aktif oleh dewan dan senior management; pembentukan fungsi audit manajemen risiko internal yang independen dari fungsi perdagangan; audit menyeluruh dan tepat waktu untuk mengidentifikasi kelemahan pengendalian internal, dan pengukuran risiko dan sistem informasi manajemen risiko yang mencakup stress test, simulasi, dan rencana darurat untuk pergerakan pasar yang merugikan. Merupakan tanggung jawab senior management bank untuk memastikan bahwa risiko secara efektif dikendalikan dan terbatas pada tingkat yang tidak menimbulkan ancaman serius ke posisi modal. Peraturan adalah pengganti yang tidak efektif bagi manajemen risiko yang baik pada tingkat perusahaan individu.

Should My Company Use Derivatives?

Derivatif keuangan harus dipertimbangkan untuk mengendalikan risiko perusahaan. Derivatif memungkinkan untuk transfer risiko keuangan yang efisien dan dapat membantu memastikan bahwa peluang meningkatkan nilai tidak akan diabaikan. Jika digunakan dengan benar, derivatif dapat mengurangi risiko dan meningkatkan return. Derivatif juga memiliki sisi gelap. Para pemain derivatif penting untuk sepenuhnya memahami kerumitan kontrak derivatif keuangan dan risiko yang menyertainya. Pengguna harus yakin bahwa perlindungan yang tepat telah dibangun ke dalam praktek perdagangan dan insentif tepat pada sasaran sehingga para trader perusahaan tidak mengambil risiko yang tidak perlu. Penggunaan derivatif keuangan harus diintegrasikan ke dalam strategi keseluruhan manajemen risiko organisasi dan harmonis dengan filosofi dan tujuan perusahaan yang lebih luas. Derivatif keuangan tidak perlu ditakuti apabila digunakan dengan benar dan dengan tujuan perusahaan sebagai panduan.

What Should Regulators Do?

Dengan percaya pada 10 mitos yang disajikan di sini atau percaya hanya satu atau dua diantaranya, dapat mendukung langkah-langkah legislatif dan peraturan untuk membatasi penggunaan derivatif. Bencana yang terkait dengan derivatif, seperti kebangkrutan Orange County dan runtuhnya Barings, telah menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan pemain derivatif individu untuk secara internal mengelola operasi perdagangan mereka. Selain itu, kekhawatiran telah muncul mengenai kemampuan regulator untuk mendeteksi dan mengendalikan potensi kerugian derivatif. Akan tetapi, pembatasan peraturan dan legislatif pada kegiatan derivatif ini tidak menyelesaikan masalah, terutama karena aturan standar kemungkinan besar hanya akan mengganggu kemampuan bank untuk mengelola risiko secara efektif. Solusi yang lebih baik terletak pada ketergantungan yang lebih besar pada kekuatan pasar untuk mengendalikan pengambilan risiko terkait dengan derivatif, disertai dengan penekanan lebih pada pengawasan pemerintah, bukan dengan peraturan. Beban pengelolaan kegiatan derivatif harus bertumpu pada organisasi perdagangan, bukan pemerintah. Pendekatan seperti ini akan meningkatkan swa-regulasi dan meningkatkan pengendalian internal organisasi melalui disiplin mekanisme pasar. Jaminan pemerintah hanya akan berfungsi untuk memperkuat perilaku moral-hazard oleh penjual derivatif. Peraturan terbaik adalah menjaga agar tidak terjadi penyalahgunaan derivatif. Kerugian yang terkait dengan derivatif biasanya dapat ditelusuri ke satu atau lebih penyebab berikut: strategi investasi terlalu spekulatif, kesalahpahaman tentang bagaimana mengalokasikan kembali risiko derivatif, fungsi manajemen risiko audit internal yang tidak efektif, dan tidak adanya sistem yang mensimulasikan pergerakan pasar yang merugikan dan membantu mengembangkan solusi kontingensi. Untuk mengatasi kekhawatiran-kekhawatiran tersebut, reformasi pengawasan harus difokuskan pada peningkatan disclosure kepemilikan derivatif dan strategi yang mendasari penggunaannya, standar kecukupan modal yang memadai, dan panduan manajemen resiko yang baik. Yang terpenting adalah pembuat kebijakan tidak perlu terlalu merisaukan transaksi derivatif. Derivatif telah menjadi alat penting yang membantu organisasi mengelola eksposur risiko. Perkembangan derivatif didasarkan oleh suatu kebutuhan untuk mengisolasi dan lindung nilai terhadap risiko tertentu. Derivatif menawarkan metode yang telah terbukti memecah risiko menjadi potongan-potongan komponen dan mengelola komponen-komponen tersebut secara independen. Hampir setiap organisasi baik suatu perusahaan, kota, atau suatu bank komersial yang diasuransikan memiliki profil risiko pasar yang unik dalam bisnis mereka yang bisa dikelola lebih

baik melalui perdagangan derivatif. Kebebasan untuk mengelola risiko secara efektif tidak boleh diambil begitu saja.

Review

Globalisasi dapat membawa peluang dan bahaya sekaligus. Peluang terbuka lebar bagi investor untuk menempatkan dananya pada berbagai pilihan instrumen investasi dan mata uang, serta pada berbagai lokasi geografi tanpa batasan negara. Berbagai inovasi di bidang keuangan membuat pilihan instrumen investasi menjadi sangat bervariasi. Di sisi lain, inovasi investasi membuat instrumen menjadi sangat rumit sehingga sisi bahayanya menjadi kabur dan sulit dipahami. Instrumen canggih seperti derivatif keuangan ternyata membawa banyak penderitaan kepada penggunanya karena kesalahan dalam proses penjualannya dan penggunaannya. Akibat kesalahan tersebut, banyak orang berpendapat bahwa derivatif berbahaya. Kenyataannya memang ada banyak contoh kasus yang terkenal menghebohkan dunia yang melibatkan sekuritas derivatif. Bank Barings terlibas karena transaksi derivatif Nick Leeson pada Indeks Futures Nikkei 225. Bahkan di tahun 1999, Hedge Fund Long-term Capital Management (LTCM) juga nyaris bangkrut padahal LTCM dikelola oleh pakar derivatif. Tahun 2007, bank besar di Perancis merugi tujuh kali lipat dari kerugian Barings akibat ulah karyawannya Jerome Kerviel yang melakukan transaksi derivatif melewati batas wewenangnya. Krisis finansial global tahun 2008 juga diduga dipicu oleh instrumen derivatif bertingkat di pasar keuangan AS. Sekuritas derivatif sebenarnya bermanfaat membawa value creating sekaligus membawa value destroying, tergantung dari penggunaannya. Sekuritas derivatif pada dasarnya digunakan untuk tiga aktivitas bisnis: spekulasi, arbitrage, dan lindung nilai (hedging) atau manajemen risiko. Spekulasi sering dikonotasikan sebagai sesuatu yang negatif padahal spekulan pada dasarnya memainkan peranan penting dalam perekonomian. Berdasarkan hasil analisisnya, spekulan akan membeli (posisi long) bila harga dirasa terlalu rendah dan menjual (posisi short) bila harga dirasa terlalu tinggi. Adanya aksi jual-beli oleh para spekulan ini membuat harga cenderung kembali pada nilai wajarnya. Harga yang mencerminkan nilai wajar sangat penting dalam perekonomian berorientasi pasar. Dalam ekonomi pasar, harga berfungsi sebagai sinyal adanya kelangkaan atau keberlimpahan. Bila mekanisme harga berjalan baik, harga akan relatif tinggi (rendah) bila terjadi kelangkaan (keberlimpahan). Para pelaku ekonomi akan menyesuaikan alokasi sumberdayanya mengikuti sinyal-sinyal tersebut dengan cara mengurangi (memperbanyak) penggunaan sumberdaya yang langka (berlimpah). Dengan demikian, alokasi sumberdaya dalam perekonomian secara keseluruhan menjadi optimal. Bila harga tidak mencerminkan nilai wajarnya, alokasi sumberdaya dalam perekonomian akan menjadi tidak optimal. Tanpa ada spekulan yang berani membeli (menjual) pada saat harga terlalu murah (mahal), sulit bagi harga untuk segera bergerak menuju nilai

wajarnya. Jadi, spekulan berperan penting dalam ekonomi pasar. Namun, spekulasi yang berlebihan akan berdampak negatif bagi perekonomian. Misalnya, apabila harga sudah konvergen dan stabil pada nilai wajarnya, spekulan yang buruk akan sengaja meniupkan isu-isu bohong agar harga bergejolak. Arbitrage terjadi jika ada satu produk sejenis diperdagangkan pada dua pasar berbeda dengan harga yang berbeda. Dengan menggunakan derivatif, para pelaku arbitrage dapat melakukan aksi beli murah dan jual mahal untuk memperoleh keuntungan. Transaksi seperti inilah yang sebenarnya diizinkan untuk dilakukan oleh Leeson di Barings, yaitu arbitrage jual-beli SD Index Futures Nikkei 225 di dua pasar berbeda; SIMEX dan OSE. Namun berhubung situasi kesenjangan harga jarang terjadi, maka Leeson yang kurang sabar melakukan transaksi berupa spekulasi yang berlebihan sehingga Barings jatuh. Berbeda dengan spekulasi, transaksi arbitrage relatif aman dan menghasilkan untung besar serta menghilangkan kesenjangan harga sehingga membuat harga kembali ke tingkat wajar pada kedua pasar. Berikutnya, derivatif bisa digunakan untuk lindung nilai (hedging) atau manajemen risiko. Aktivitas ini sangat bermanfaat untuk mengurangi risiko. Oleh karena itu, baik dari sisi arbitrage maupun hedging, transakasi derivatif sama-sama bermanfaat. Kesimpulannya, secara keseluruhan sebenarnya derivatif keuangan lebih memiliki sisi baik daripada sisi buruknya. Yang penting adalah bagaimana para trader bisa mengurangi sisi buruk dan memaksimalkan sisi baiknya. Situasi dan profil investor (tujuan investasi, kemauan dan kemampuan menanggung risiko, serta tingkat pengetahuan terhadap isntrumen investasi yang ditawarkan) sangat penting dipahami sebelum merekomendasikan produk derivatif kepada investor. Penjual harus memahami betul instrumen yang dijualnya dan juga situasi lingkungan investasi yang sedang terjadi. Perlu diadakan dan ditegakkan aturan sertifikasi kompetensi dan integritas profesional dari penjual produk investasi, terutama untuk instrumen derivatif yang canggih. Di sisi lain, investor pengguna derivatif harus benar-benar memahami potensi risiko dan berhitung dengan cermat sebelum berinvestasi. Kecocokan antara karakteristik investor, karakteristik instrumen investasi, dan situasi lingkungan investasi sangat penting untuk mendukung realisasi penciptaan nilai dari investasi.