Anda di halaman 1dari 31

BAB I LAPORAN KASUS A.

IDENTITAS PASIEN
Nama Usia Jenis Kelamin Agama Suku Bangsa Nama orang tua : An. Nadila Cahya : 4.5 tahun : Perempuan : Islam : Jawa : Ibu Rani

B.

ANAMNESIS

Auto dan aloanamneis dilakukan di poli kulit kelamin pada hari Selasa tanggal 27 November 2012 pukul 11.30 WIB. Keluhan Utama : Kontrol penyakit kulit di wajah dan lengan sejak 2 minggu yang lalu. Gatal terutama ketika berkeringat. Riwayat Penyakit Sekarang : Sebelum timbul kelainan kulit, pasien demam dua hari lalu timbul kelainan kulit di pipi kanan seperti bentol dan gatal lalu menjadi bentuk lingkaran, bagian tengah luka kering dan pinggir merah , digaruk menjadi menyebar ke pipi kiri, wajah, dan tangan kanan kiri. Semakin gatal ketika berkeringat.

Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien menyangkal tidak pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya Pasien tidak memiliki riwayat alergi

Riwayat Pengobatan : Sudah diobati 2x ke dokter umum namun tidak ada perubahan pada penyakitnya.

Riwayat Penyakit Keluarga : Terdapat riwayat penyakit yang sama pada ibu dan kakak pasien. Riwayat atopi disangkal

Riwayat lingkungan : teman sepermainan pasien di lingkungan rumah ada yang mengalami penyakit yang sama. Riwayat kebersihan rumah : ventilasi kurang, jendela hanya di depan rumah, di dalam rumah lembab. Riwayat pribadi : pasien mandi rutin pagi dan sore dengan menggunakan sabun.

C. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis o Tanda Vital tanggal 27 November 2012 Nadi : 84 x/menit, irama reguler Suhu Tubuh : 36,5 oC Frekuensi Nafas : 20 x/menit BB : 15 kg o Keadaan Umum Kesadaran : Compos Mentis

Status Gizi : Cukup Status Dermatologi : Lokasi : wajah (pipi kanan,pipi kiri, puncak hidung, sekitar alis, dan dahi), lengan kanan dan kiri. UKK : plakat, hipopigmentasi, papul, skuama, healing proses (bagian tengah tenang bagian pinggir aktif), dasar eritema, polisiklik.

D. Diagnosa Banding :
a. b. c. d. e. f. Tinea Korporis Tinea Fasialis Pitiriasis Rosea Psoriasis Dermatitis seboroik Kandidosis Kutis Pemeriksaan Pembantu Diagnosa : pemeriksaan dengan lampu Wood, KOH 10 % Kultur pada medium agar dextrosa Sabouraud

E.

F.

Diagnosa Kerja : Tinea fasialis et corporis

G. Penatalaksanaan
Medikamentosa : 1. R Ketokonazole tab VII 1 dd tab 1/2 pc 2. R Lafihistin tab 50 mg VIII 2 dd tab 1/2 pc
3

3. R Sapoviridis soap I ue/ mandi 4. R Lafinazole cream 10 gr I ue 2x/hari 5. R Salf 2-4 pot I ue 2x/hari Non Medikamentosa Mengurangi kelembapan dari tubuh pasien dengan menghindari pakaian yang panas (karet, nylon), mengenakan pakaian dalam yang longgar yang terbuat dari katun, memperbaiki ventilasi rumah dan menghindari berkeringat yang berlebihan. Menghindari sumber penularan yaitu binatang, kuda, sapi, kucing, anjing,atau kontak pasien lain. Menghilangkan fokal infeksi ditempat lain misalnya di kuku atau di kaki. Meningkatkan hygiene dan memperbaiki makanan. Menghindari kontak langsung dengan mereka yang menderita tinea fasialis. Menjaga kulit agar tetap bersih dan kering, mencuci muka setelah berolahraga ataupun berkeringat Mencuci barang-barang pribadi secara berkala (seprei, pakaian, dan lain-lain) Jangan berbagi perlengkapan perawatan diri (handuk, sisir, sikat) Memotong kuku untuk menghindari garukan

Foto awal konsultasi pasien

Foto konsultasi kedua

BAB II PEMBAHASAN
Pada pasien ini diagnosisnya Tinea Fasialis et Corporis. Pengambilan diagnosis ini berasal dari: 1. Anamnesa, yaitu dari : Keluhan utama yang mengeluhkan gatal terutama ketika berkeringat Riwayat perjalanan penyakit yaitu mengeluhkan bagian tengahnya kering dan pinggirnya merah, luka menyebar ketika digaaruk dari awalnya pipi kanan ke pipi kiri lalu ke lengan kanan dan kiri. Riwayat penyakit keluarga yang mengatakan terjadi penularan penyakit dari awal yang mendapatkan penyakit anaknya lalu ke ibunya dan kakaknya. Riwayat lingkungan yang mengatakan bahwa teman sepermainan pasien juga mengalami penyakit yang sama, kemungkinan pasien tertular dari temannya. Riwayat kebersihan rumah yang mengatakan ventilasi rumah kurang, jendela hanya di depan rumah, di dalam rumah lembab. 2. Pemeriksaan fisik Inspeksi didapatkan status dermatologi : Lokasi : wajah, tangan kanan dan kiri UKK : plakat, hipopigmentasi, papul, skuama, healing proses (bagian tengah tenang bagian pinggir aktif), dasar eritema, polisiklik Setelah dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan Diagnosa Banding : 1. Dermatitis Seboroik : pada dermatitis seboroik terdapat skuama berminyak berwarna kekuning-kuningan, sedangkan pada pasien tidak terdapat lesi seperti tersebut. Dari tempat predileksi pada dermatitis seboroik misalnya di kulit kepala, lipatan-lipatan kulit, daerah nasolabial. Sedangkan pada pasien lesi

terletak melebar di pipi kanan dan kiri, dekat labial, puncak hidung, alis, dan dahi 2. Psoriasis : pada psoriasis dibandingkan dengan tinea yaitu lesinya lebih merah, skuama lebih banyak, dan lamelar selain itu tempat predileksi psoriasis di ekstensor, misalnya lutut, siku, dan punggung, pada skalp, perbatasan skalp dengan muka, dan daerah lumbosakral sedangkan pada pasien lesi terletak melebar di pipi kanan dan kiri, dekat labial, puncak hidung, alis, dahi dan lengan. 3. Pitiriasis Rosea: pada pitiriasis rosea terdapat eritema dan skuama dipinggir, namun pada pitiriasis rosea gatalnya tidak terlalu berat seperti pada tinea korporis, skuamanya halus sedangkan pada tinea skuama lebih kasar. Selain itu pada ptiriasis rosea lesi berbentuk anular, sedangkan pada tinea korporis lesi berbentuk polisiklik. Selain itu pada ptiriasis rosea lesinya menyerupai pohon cemara terbalik. 4. Kandidosis Kutis: berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik, basah dan eritematosa. Lesi dikelilingi oleh satelit, berupa vesikel-vesikel dan pustulpustul kecil atau bula yang bila pecah meninggalkan daerah yang erosif, dengan pinggir yang kasar, dan berkembang seperti lesi primer. Sedangkan pada pasien tersebut tidak terdapat lesi satelit. Lokasi kandidosis biasanya terletak didaerah lipatan kulit ketiak, lipat paha, intergluteal, lipat payudara, antara jari tangan atau kaki, glans penis, dan umbilikus.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA


MIKOSIS PENDAHULUAN Dermatofit berkemampuan menginfeksi struktur berkeratinisasi, termasuk dermatofitosis jauh lagi berarti stratum infeksi korneum, kuku, dan kulit rambut. yang Istilah Lebih

yang disebabkan berdasarkan

oleh

dermatofit.

diklasifikasikan ringworm

jaringan

utama yang terlibat; epidermal/superfisial),

epidermomycosis/

(dermatofitosis

trichomycosis (dermatofitosis rambut dan folikel rambut), atau onychomycosis (dermatofitosis pada kuku). Karena struktur anatomi yang terlibat berbeda, epidermomycosis, trichomycosis, dan onychomycosis juga berbeda secara klinis. sesuai Istilah tinea digunakan dari bagian tubuh pada dermatofitosis dan dimodifikasi

yang terinfeksi, misalnya tinea kapitis

(dermatofitosis pada kepala), tinea fasialis (dermatofitosis pada wajah), atau tinea pedis (dermatofitosis pada kaki). (Djuanda dkk, 2008) Tinea fasialis (tinea faciei) adalah suatu dermatofitosis superfisial yang terbatas pada kulit yang tidak berambut, yang terjadi pada wajah,

memiliki karakteristik sebagai plak eritema yang melingkar dengan batas yang jelas. Pada pasien anak-anak dan wanita, infeksi dapat terlihat pada setiap permukaan wajah, termasuk pada bibir bagian atas dan dagu. Pada pria, kondisi ini disebut juga tinea barbae karena infeksi dermatofit terjadi pada daerah yang berjanggut.(Subeno, 2012). Tinea corporis adalah infeksi dermatofita superfisial yang ditandai oleh baik lesi inflamasi maupun noninflamasi pada glabrous skin (kulit tubuh yang tidak berambut) seperti: bagian muka, leher, badan, lengan, tungkai dan gluteal. (Aesculapius, 2012)

DEFINISI Mikosis adalah penyakit yang diakibatkan oleh jamur. (Djuanda dkk, 2008) KLASIFIKASI (Djuanda, 2008) A. Dermatofitosis B. Nondermatofitosis, terdiri atas pelbagai penyakit: a. Ptiriasis versikolor b. Piedra hitam c. Piedra putih d. Tinea nigra palmaris e. Otomikosis f. Keratomikosis DERMATOFITOSIS (Djuanda dkk, 2008) DEFINISI Penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan golongan jamur dermatofita. SINONIM Tinea, kurap, ringworm, teigne, herpes sirsinata.

ETIOLOGI Dermatofita adalah golongan jamur yang menyebabkan dermatofitosis, Golongan jamur ini mempunyai sifat mencernakan keratin. Dermatofita termasuk kelas fungi imperfecti yang terbagi dalam 3 genus yaitu Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton. Klasifikasi dermatofit, antara lain : 1. Zoophilic dermatofit; sering ditemukan pada hewan tetapi dapat ditransmisikan kemanusia, dapat menyebabkan inflamasi akut berupa pustul dan vesikel. Beberapaspesies dermatofit jenis ini, antara lain:
10

a. Spesies yang terdistribusi di seluruh dunia: M. canis var. Canis (terdapat pada kucing, anjing, domba, babi, hewanpengerat, dan monyet) M. Gallina (terdapat pada ayam, kucing, dan hewan pengerat) M. Nanum (terdapat pada babi) T. Equinum (terdapat pada kuda) T. mentagrophytes var. Mentagrophytes (terdapat pada kucing, anjing,domba, babi, hewan pengerat, dan monyet) T. mentagrophytes var. Quinkeanum (terdapat pada kucing, anjing, dan tikus) T. Verrucosum (terdapat pada anjing, domba, babi, kuda)b.

Spesies yang terbatas pada letak geografis: M. canis var. Distortum (terdapat pada kucing, anjing, kuda, monyet; tersebar di Amerika Serikat, Amerika Selatan, Australia, dan Selandia Baru) M. persicolor (terdapat pada anjing; tersebar di Amerika Serikat dan EropaBarat) T. mentagrophytes var. Erinacei (tersebar di Eropa, Inggris, Selandia Baru,dan Afrika) T. Simii (terdapat pada ayam dan monyet; tersebar di India)2.

2. Anthropophilic dermatofit; sering ditemukan pada manusia dan sangat jarang ditransmisikan ke hewan, menyebabkan inflamasi ringan atau tidak ada inflamasi sama sekali, bersifat kronik. Beberapa spesies dermatofit jenis ini, antara lain: a. Spesies yang terdistribusi di seluruh dunia: E. floccosum M. audouinii T. mentagrophytes var. interdigitale T. rubrum T. tonsurans b. Spesies yang terbatas pada letak geografis: M. Ferrugineum (tersebar di Afrika, India, Eropa Timur, Asia, dan

AmerikaSelatan)

11

T. Concentricum (tersebar di Pulau Pasifik, India, dan Amerika Selatan) T. Gourvilii (tersebar di Afrika Tengah dan Afrika Selatan) T. Megninii (tersebar di Portugal dan Sardinia) T. Schoenleinii (tersebar di Eropa, Mediterania, Timur Tengah, AfrikaSelatan, dan secara sporadis di Amerika Serikat) T. Soudanense (tersebar di Afrika Tengah dan Afrika Selatan) T. Violaceum (tersebar di Afrika, Eropa, dan Asia)3.

3. Geophilic dermatofit; sering ditemukan pada tanah, karena mereka mendekomposisi rambut, bulu, dan sumber-sumber keratin yang lain. Jenis dermatofit ini tidak hanyamenginfeksi manusia, tetapi juga hewan, menyebabkan inflamasi yang moderat.Beberapa spesies dermatofit jenis ini, antara lain: M. cookie, M. gypseum, M. fulvum, M. vanbreuseghemii, M. amazonicum, M. praecox, T. ajelloi,dan T. terrestre.

FAKTOR RISIKO (Subeno, 2012) 1. Kontak dengan pakaian, handuk, atau apapun yang sudah berkontak dengan penderita 2. Kontak kulit ke kulit dengan penderita atau hewan peliharaan. 3. Umur 12 tahun ke bawah 4. Lebih sering menghabiskan waktu di tempat yang tertutup. 5. Penggunaan obat-obatan glukokortikoid topikal dalam jangka waktu yang lama

KLASIFIKASI (Djuanda dkk, 2008) Pembagian yang lebih praktis dan dianut oleh para spesialis kulit adalah berdasarkan lokasi. Tinea Kapitis, dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala Tinea barbae, dermatofitosis pada dagu dan jenggot Tinea kruris, dermatofitosis pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah.

12

Tine pedis et manum, dermatofitosis pada kaki dan tangan Tinea unguium, dermatofitosis padaa kuku jari tangan dan kaki. Tinea korporis, dermatofitosis pada bagian lain yang tidak termasuk bentuk 5 tinea diatas.

Selain 6 bentuk tinea masih dikenal istilah yang mempunyai arti khusus, yaitu:

Tinea imbrikata: dermatofitosis dengan susunan skuama yang konsentris dan disebabkan Trichopyton concentricum.

Tinea favosa atau favus: dermatofitosis yang terutama disebabkan Trichopyton shoenleni : secara klinis antara lain terbentuk skutula dan berbau seperti tikus.

Tinea fasialis, tinea aksilaris, yang juga menunjukan daerah kelainan, Tinea sirsinata, arkuata merupakan penamaan deskriptif morfologis. Keenam istilah tersebut dapat dianggap sebagai sinonim tinea korporis.

TINEA KORPORIS DEFINISI Penyakit karena infeksi jamur dermatofita pada kulit halus (glabrous skin) seperti di daerah muka, leher, badan, lengan, dan gluteal. (Aesculapius, 2012)

ETIOLOGI Penyebab tersering Tinea Korporis adalah Trichophyton rubrum dan Trichophyton mentagrophytes. (Aesculapius, 2012)

GEJALA Pasien mengeluh gatal yang kadang-kadang meningkat waktu berkeringat. (Aesculapius, 2012)

13

GAMBARAN KLINIS (Djuanda dkk, 2008) 1. Kelainan yang dilihat dalam klinik merupakan lesi bulat atau lonjong, berbatas tegas, terdiri atas eritema, skuama kadang-kadang dengan vesikel dan papul di tepi. Daerah ditengahnya biasanya lebih tenang. Kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Lesi-lesi pada umumnya merupakan bercak-bercak terpisah satu dengan yang lainnya. Kelainan kulit dapat pula terlihat sebagai lesi-lesi dengan pinggir yang polisiklik, karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu. Bentuk dengan tanda radang yang lebih nyata, lebih sering terlihat pada anak-anak daripada orang dewasa karena umumnya mereka mendapat infeksi baru pertama kali. 2. Pada tinea korporis yang menahun, tanda radang mendadak biasanya tidak terlihat lagi. Kelainan ini dapat terjadi pada tiap bagian tubuh dan bersama-sama dengan kelainan pada sela paha. Dalam hal ini disebut tinea cruris et corporis. Bentuk menahun yang disebabkan oleh Trichopyton rubrum biasanya dilihat bersamasama dengan tinea unguium. 3. Bentuk khas tinea corporis yang disebabkan oleh Trichopyton concentricum disebut tinea imbrikata. Penyakit ini terdapat di berbagai daerah tertentu di Indonesia misalnya Kalimantan, Sulawesi, Irian Barat, kepulauan Aru dan Kei, dan Sulawesi Tengah juga di pulau jawa. Tinea imbrikata mulai dengan bentuk papul berwarna coklat, yang perlahan-lahan menjadi besar. Stratum korneum bagian tengah ini terlepas dari dasarnya dan melebar. Proses ini, setelah beberapa waktu mulai lagi dari bagian tengah, sehingga terbentuk lingkaran-lingkaran skuama yang konsentris. Bila dengan jari tangan kita meraba dari bagian tengah ke arah luar akan terasa jelas skuama yang mengahdap ke dalam. Lingkaranlingkaran skuama konsentris bila menjadi besar dapat bertemu dengan lingkaranlingkaran di sebelahnya sehingga membentuk pinggir yang polisiklik. Pada permulaan infeksi penderita dapat merasa sangat gatal, akan tetapi kelainan yang menahun tidak menimbulkan keluhan pada penderita. Pada kasus menahun, lesi kulit kadang dapat menyerupai iktiosis . Kulit kepala penderita dapat terserang,

14

akan tetapi rambutnya biasanya tidak. Tinea unguium juga sering menyertai penyakit ini. 4. Bentuk lain tinea korporis yang disertai kelainan pada rambut adalah tinea favosa atau favus. Penyakit ini biasanya dimulai di kepala sebagai titik kecil dibawah kulit yang berwarna merah kuning dan berkembang menjadi krusta berbentuk cawan (skutula) dengan berbagai ukuran. Krusta tersebut biasanya ditembus oleh satu atau dua rambut dan bila krusta diangkat terlihat dasar cekung merah dan membasah. Rambut kemudian tidak berkilat lagi dan akhirnya terlepas. Bila tidak diobati, penyakit ini meluas ke seluruh kepala dan meninggalkan parut dan botak. Berlainan dengan tinea korporis, yang disebabkan oleh jamur lain, favus tidak menyembuh pada usia akil balik. Biasanya dapat tercium bau tikus (mousy odor) pada para penderita favus. Kadang-kadang penyakit ini dapat menyerupai dermatitis seboroik. Tinea favosa pada kulit dapat dilihat sebagia kelainan kulit papulovesikel dan papuloskuamosa, disertai kelaian kulit berbentuk cawan yang khas, yang kemudian menjadi jaringan parut, Favus pada kuku tidak dapat dibedakan dengan tinea unguium pada umumnya yang disebabkan oleh spesies dermatofita yang lain. Tiga spesies dermatofita dapat menyebabkan favus yaitu trichopyton schoenleni, Trichophyton violaceum, dan Mycrosporum gypseum. Berat ringan bentuk klinis yang tampak tidak bergantung pada spesies jamur penyebab, akan tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh tingkat kebersihan, umur, dan ketahan penderita sendiri.

DIAGNOSIS BANDING (Djuanda, 2008) Tidak begitu sukar untuk menentuakn diagnosis tinea korporis pada ummnya, namun ada beberapa penyakit kulit yang dapat mericuhkan diagnosis itu, misalnya dermatosis seboroik, psoriasis, dan pitiriasis rosea. Kelainan kulit pada dermatitis seboroik selain dapat menyerupai tinea korporis, biasanya terlihat pada tempat-tempat predileksi, misalnya dikulit kepala (scalp), lipatan-lipatan kulit misalnya belakang telinga, daerah nasolabial dan sebagainya. Psoriasis dapat dikenal dari kelainan kulit pada tempat predileksi, yaitu daerah

15

ekstensor misalnya siku, lutut, dan punggung. Kulit kepala dan berambut juga sering terkena pada penyakit ini. Adanya lekukan-lekukan pada kuku dapat pula menentukan diagnosis. Pitiriais rosea, yang distribusi kelainan kulitnya simetris dan terbatas pada tubuh dan bagian proksimal anggota badan, sukar dibedakan dengan tinea korporis tanpa herald patch yang dapat membedakan penyakit ini dengan tinea korporis. Pemeriksaan laboratoriumlah yang dapat memastikan diagnosisnya. Psoriasis pada stadium penyembuhan menunjukkan gambaran eritema pada bagian pinggir sehingga menyerupai tinea. Perbedaannya ialah pada psoriasis terdapat tanda-tanda khas yakni skuama kasar, transparan serta berlapis-lapis, fenomena tetes lilin, dan fenomena auspitz. Psoriasis dapat dikenal dari kelainan kulit pada tempat predileksi, yaitu daerah ekstensor, misalnya lutut, siku, dan punggung.

PENCEGAHAN (Aesculapius, 2012 & Silbernagl, 2007) Faktor-faktor yang perlu dihindari atau dihilangkan untuk mencegah terjadi tinea korporis antara lain : Mengurangi kelembapan dari tubuh pasien dengan menghindari pakaian yang panas (karet, nylon), mengenakan pakaian dalam yang longgar yang terbuat dari katun, memperbaiki ventilasi rumah dan menghindari berkeringat yang berlebihan. Menghindari sumber penularan yaitu binatang, kuda, sapi, kucing, anjing,atau kontak pasien lain. Menghilangkan fokal infeksi ditempat lain misalnya di kuku atau di kaki. Meningkatkan hygiene dan memperbaiki makanan. Faktor-faktor predisposisi lain seperti diabetes melitus, kelainan endokrin yang lain, leukimia, harus dikontrol. Beberapa faktor yang memudahkan timbulnya residif pada tinea kruris harus dihindari atau dihilangkan antara lain : a. Temperatur lingkungan yang tinggi, keringat berlebihan, pakaian dari karet atau nilon.
16

b. Pekerjaan yang banyak berhubungan dengan air misalnya berenang c. Kegemukan, selain faktor kelembapan, gesekan kronis dan keringat berlebihan disertai higiene yang kurang, memudahkan timbulnya infeksi jamur.

PROGNOSIS Prognosis pada umumnya baik, kecuali faktor predisposisi sulit dihilangkan. (Aesculapius, 2012)

TINEA FASIALIS DEFINISI Tinea fasialis (tinea faciei) adalah suatu dermatofitosis superfisial yang terbataspada kulit yang tidak berambut, yang terjadi pada wajah, memiliki karakteristik sebagai plak eritema yang melingkar dengan batas yang jelas. (Subeno, 2012)

EPIDEMIOLOGI (Subeno, 2012) Penyakit ini terdapat di seluruh dunia, dan lebih banyak terjadi pada daerahdaerah tropis dengan temperatur dan kelembaban yang tinggi. Tinea fasialis banyak terjadipada anak-anak, kira-kira 19% dari populasi anak dengan dermatofitosis.1,3 Beberapa peneliti menyimpulkan bahwa wanita mungkin lebih sering terinfeksi daripada pria . Pada wanita, infeksi dermatofit pada wajah dapat didiagnosis sebagai tineafasialis, sedangkan infeksi-infeksi lain yang terjadi pada pria di daerah yang samadidiagnosis sebagai tinea barbae. Data menunjukkan perbandingan penderita wanita danpria adalah 1,06:1.3, Tinea fasialis dapat terjadi pada semua umur, dengan dua usia insidens puncak.Usia insidens pertama meningkat pada anak-anak, karena kebiasaan mereka kontak denganhewan peliharaan. Kasus yang jarang dapat terjadi pada neonatus, yang mungkin terinfeksi 2 dari kontak langsung dari saudara mereka yang terinfeksi atau kontak langsung dari hewanpeliharaan. Usia insidens yang lain dapat meningkat pada usia 20-40 tahun.3

17

ETIOLOGI Agen

penyebab

tinea

fasialis

sangat

bervariasi,

tergantung

pada

letak geografisnya (Subeno, 2012) : 1. Secara umum, reservoir hewan pada zoophilic dermatofit, terutama

Microsporumcanis, terdapat pada hampir semua hewan peliharaan. 2. Di Asia, Trichophyton mentagrophytes danTrichophyton rubrum yang tersering. 3. Di Amerika Utara, Trichophyton tonsurans adalah patogen yang utama. 4. Di Brazil, Trichophyton rubrum yang tersering. Namun, Trichophyton raubitschekii, yang merupakan spesies jamur baru di Brazil, yang memiliki kesamaan sifat dengan Trichophyton rubrum, telah diteliti dapat menjadi agen penyebab tinea fasialis.

GEJALA Penderita tinea fasialis biasanya datang dengan keluhan rasa gatal dan terbakar,dan memburuk setelah paparan sinar matahari (fotosensitivitas). Namun, kadangkadang,penderita tinea fasialis dapat memberikan gejala yang asimptomatis. (Subeno, 2012)

GAMBARAN KLINIS Tanda klinis yang dapat ditemukan pada tinea fasialis, antara lain: bercak, makula sampai dengan plak, sirkular, batas yang meninggi, dan regresi sentral memberi bentuk seperti ring-like appearance. Kemerahan dan skuama tipis dapat ditemukan. (Subeno, 2012)

DIAGNOSIS BANDING Beberapa diagnosis banding pada tinea fasialis, antara lain: (Subeno, 2012) Dermatitis seboroik Dermatitis seboroik adalah dermatosis kronik yang tersering, yang memiliki gambaran kemerahan dan skuama yang terjadi pada daerah-daerah yang memilikikelenjar keringat yang aktif, seperti wajah dan kulit kepala, juga di daerah dada.Gejala yang timbul berupa gatal, sangat bervariasi, biasanya gatal semakin

18

memburuk

dengan

meningkatnya

perspirasi.

Pada

pemeriksaan

fisis

ditemukan,makula atau papul berwarna kemerahan atau keabu-abuan dengan skuama kering berwarna putih. Ukurannya bervariasi, antara 5-20 mm. Berbatas tegas, sering terdapat krusta dan celah pada telinga luar bagian belakang. Skuama yang terdapat pada kulit kepala inilah yang sering disebut sebagai ketombe.

Dermatitis kontak Ditandai dengan pola reaksi inflamasi polimorfik yang melibatkan epidermis maupun dermis. Terdapat banyak etiologi serta temuan klinis yang amat luas. Eksema akut ataupun dermatitis ditandai dengan pruritus, eritema dan vesikulasi. Sedangkan bentuk kroniknya yaitu pruritus, xerosis, likenifikasi, hiperkeratosis, dan fissuring.

Akne rosasea Rosasea (papulo pustular dan eritemato telangiektasia) ditandai dengan eritema persisten fasialis dan flushing bersama dengan telangiektasis, edema sentral wajah, rasa terbakar dan tertusuk, kasar dan bersisik atau kombinasi dari beberapa tanda dan gejala yang ada. Rasa terbakar dan tertusuk pada wajah dapat timbul pada papulo pustular rosasea, tapi dapat muncul bersama eritema telangiektasis rosasea. Pada kedua subtipe, eritema dapat muncul di regio periorbita. Edema dapat ringan maupun berat, sering ditemukan pada glabella dan dahi. Phymatous rosasea ditandai dengan orifisium patulosa folikular, penebalan kulit, dan kontur permukaan wajah yang irregular di daerah yang konveks. Phymatous rosasea dapat muncul di hidung dan di dagu, dahi, kelopak mata dan telinga.

Lupus eritematosus Lupus eritematosus sistemik (SLE) adalah suatu penyakit autoimun serius yang mengenai multiorgan, yang menyerang jaringan konektif dan pembuluh darah. Manifestasi klinis dapat berupa demam (90%), lesi kulit (85%), artritis, manifestasipada susunan saraf pusat, ginjal, jantung, dan paru-paru. Penyakit ini lebih banyak menyerang wanita, dengan perbandingan pria dan wanita adalah 1:8.Lesi kulit

19

terjadi selama berminggu-minggu (akut) dan berbulan-bulan (kronik). Paparan sinar matahari dapat menyebabkan eksaserbasi pada SLE (36%). Terdapat gatal dan rasa terbakar pada lesi. Terdapat rasa lelah (100%), demam (100%), bera tbadan menurun, dan malaise. Juga ditemukan artritis atau atralgia, nyeri perut, dan gejala-gejala susunan saraf pusat. Alteras et al. menyebutkan bahwa dari 100 kasus tinea fasialis, para dokter sering membuat kesalahan dalam mendiagnosis dengan penyakit lupus eritematosus diskoid (52%), ilfiltrasi limfosit (15%), dermatitis seboroik (11%), rosacea (8%), dan dermatitis kontak (7%). KOMPLIKASI Beberapa komplikasi yang dapat terjadi, antara lain: (Subeno, 2012) Penyebaran infeksi ke area yang lain Infeksi bakteri pada lesi Dermatitis kontak atau kelainan kulit yang lain

PENCEGAHAN Pencegahan untuk tinea fasialis, meliputi: (Subeno, 2012) Menghindari kontak langsung dengan mereka yang menderita tinea fasialis. Menjaga kulit agar tetap bersih dan kering, mencuci muka setelah berolahraga ataupun berkeringat -barang pribadi secara berkala (seprei, pakaian, dan lain-lain) Jangan berbagi perlengkapan perawatan diri (handuk, sisir, sikat) Mencuci tangan

PROGNOSA Dengan pengobatan teratur, tinea fasialis dapat sembuh dalam waktu satu bulan. Prognosis dikatakan baik jika: (Subeno, 2012) Faktor predisposisi dapat dihindarkan atau dihilangkan Dapat menghindari sumber penularan

20

Pengobatan teratur dan tuntas.

PEMBANTU DIAGNOSIS (Djuanda dkk. 2008 & Subeno. 2012) Pemeriksaan mikologik untuk membantu penegakkan diagnosis terdiri atas pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pemeriksaan lain misalnya pemeriksaan histopatologik, percobaan binatang, dan imunologik, tidak diperlukan. Pemeriksaan lampu Wood (sinar ultraviolet), pemeriksaan lampu Wood ditemukan oleh Margarot dan Deveze pada tahun1925. Beberapa spesies dermatofit tertentu yang berasal dari genus Microsporum menghasilkan substansi yang dapat membuat lesi menjadi warna hijau ketika disinari lampu Wood dalam ruangan yang gelap. Dermatofit yang lain, seperti T schoenleinii memproduksi warna hijau pucat. Ketika hasilnya positif, ini akan sangat berguna. Namun sayangnya, pemeriksaan ini kadang tidak terlalu bermanfaat sebab beberapa dermatofit yang hidup di daerah Amerika Serikat,tidak dapat terfluoresensi. Pada pemeriksaan mikologik untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis yang dapat berupa kerokan kulit. Bahan untuk pemeriksaan mikologik diambil dan dikumpulkan sebagai berikut: terlebih dahulu tempat kelainan dibersihkan dengan spiritus 70%, kemudian untuk kulit tidak berambut (Glabrous skin): dari bagian tepi kelainan sampai dengan bagan sedikit di luar kelainan sisik kulit dan kulit dikerok dengan pisau tumpul steril. Pemeriksaan langsung sediaan basah dilakukan dengan mikroskop, mula-mula dengan pembesaran 10x 10 kemudian dengan pembesaran 10 x 45. Sediaan basah dibuat dengan meletakkan bahan diatas gelas alas, kemudan ditambah 1-2 tetes larutan KOH. Konsentrasi larutan KOH untuk sediaan kulit dan kuku adalah 20%. Setelah sediaan dicampur dengan larutan KOH, ditunggu 15-20 menit hal ini diperlukan untuk melarutkan jaringan. Untuk mempercepat proses pelarutan dapat dilakukan pemanasan sediaan basah di atas api kecil. Pada saat mulai keluar uap dari sediaan tersebut, pemanasan sudah cukup. Bila terjadi penguapan, maka akan terbentuk kristal KOH, sehingga tujuan yang diinginkan tidak tercapai. Untuk melihat elemen jamur lebih nyata dapat ditambahkan zat warna pda sediaan

21

KOH, misalnya tinta parker superchroom blue black. Pada sediaan kulit dan kuku yang terlihat adalah hifa, sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh sekat, dan bercabang maupun spora berderet (artospora) pada kelainan kulit lama dan atau sudah diobati . Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan langsung sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur, Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada media buatan. Yang dianggap paling baik pada waktu ini adalah medium agar dextrosa Saboraud. Pada agar sabouraud dapat ditambahkan antibiotik saja (kloramfenikol) atau ditambah pula klorheksimid. Kedua zat ini diperlukan untuk menghindarkan kontaminasi bakterial atau jamur kontaminan.

PENATALAKSANAAN Tujuan Pengobatan meliputi: (Mansjoer dkk. 2001) a. Menyembuhkan penyakit yaitu hilangnya gejalan klinis dan pemeriksaan mikologi negatif b. Mencegah perkembangan penyakit menjadi kronis c. Mencegah kekambuhan Strategi Pengobatan meliputi: (Mansjoer dkk, 2001) a. Diagnosis yang tepat b. Menghilangkan atau mencegah faktor-faktor predisposisi: faktor tersebut antara lain kelembapan karena keringat atau lingkungan yang panas, iritasi oleh baju orang sakit yang telah berbaring lama, friksi lipatan kulit pada orang gemukimunitas rendah, baik karena penyakit (DM) maupun akibat pengobatan misal kortikosteroid. c. Penentuan obat dilakukan dengan mempertimbangkan efektifitas, keamanan daerah yang terkena dan harga d. Menghilangkan sumber penularan e. Mengoptimalkan penyakitnya. f. Mengefektifkan cara penggunaan obat kepatuhan pasien dengan menerangkan perjalanan

22

a. Bersihkan lesi kulit dengan air dan sabun lunak terutama didaerah berkrusta dan berskuama, kemudian keringkan. b. Oleskan obat 1 lapis tipis menutupi lesi dan lebih kurang 1 inchi ke arah luar lesi c. Oleskan obat 2x/hari.

A. Terapi Medikamentosa (Djuanda dkk, 2008 & Gunawan dkk, 2008) Dalam penanganan dermatofitosis diberikan : 1. Griseovulvin Mekanisme kerja : efek fungistatik dengan menghambat mitosis sel muda dengan mengganggu sintesis dan polimerasi asam nukleat. Farmakokinetik : - Absorbsi : untuk mempertinggi absorbsi obat dalam usus, sebaiknya obat dimakan sama-sama makanan yang banyak mengandung lemak. - Metabolisme : di hati - Ekskresi di urin, waktu paruh : 24 jam Dosis dewasa : 0.5-1 g Dosis anak-anak : 5-15 mg/kgBB/hari dalam dosis tunggal, bila tidak dapat ditoleransi dibagi 4x/hari. Sediaan : tablet 125 dan 500 mg Lama pengobatan : tergantung lokasi penyakit, penyebab penyakit, dan keadaan imunitas penderita. Setelah sembuh klinis dilanjutkan 2 minggu agar tidak residif. Efek Samping Obat : jarang dijumpai, yang merupakan keluhan utama adalah sefalgia yang didapati pada 15% penderita. ES lain adalah gangguan traktus digestivus ialah nausea, vomitus, dan diare. Obat tersebut juga bersifat fotosensitif dan dapat mengganggu hepar. Indikasi : memberikan hasil yang baik terhadap penyakit jamur di kulit, rambut, dan kuku yang disebabkan oleh jamur yang sensitif. Gejala akan

23

berkurang dalam 48-96 minggu setelah pengobatan sedangkan penyembuhan sempurna baru terjadi setelah beberapa minggu.

2. Ketokonazol Mekanisme kerja : fungistatik Farmakokinetik: - Absorbsi: penyerapan akan berkurang dengan pH lambung yang tinggi - Metabolisme di hati - Ekskresi di urin Efek samping obat: paling sering mual dan muntah Perhatian: sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil dan menyusui. Indikasi : dapat diberikan pada kasus resisten terhadap griseovulvin, efektif terhadap dermatomikosis dan kandidosis. Kontraindikasi : penderita kelainan hepar Bersifat hepatotoksik bila diberikan lebih dari sepuluh hari Dosis dewasa: 200-400 mg/hari selama 10 hari sampai 2 minggu pada pagi hari setelah makan. Dosis anak : 3.3-6.6 mg/kgBB/hari. Sediaan : tablet 200 mg, krim 2% dan shampo 2%

3. Flukonazol Farmakokinetik: - diserap sempurna melalui saluran pencernaan tanpa dipengaruhi adanya makanan atau asam lambung. - Waktu paruh 25 jam - Ekskresi melalui ginjal Dosis :100-400 mg per hari Sediaan : IV : 2 mg/ml, kapsul 50, 100, 150, 200 mg. ES: paling sering gangguan saluran cerna

24

Interaksi obat : kadar fenitoin dan sulfonilurea meningkat pada pemakaian bersama flukonazol., sebaliknya terjadi penurunan kadar plasma warfarin dan siklosporon.

Indikasi : efektif terhadap pengobatan kandidiasis mulut dan tenggorokan pada pasien AIDS, untuk mencegah relaps meningitis yang disebabkan oleh Criptococcus pada pasien AIDS.

4. Itrakonazol Mekanisme kerja: Fungistatik Farmakokinetik : Absorbsi : diserap lebih sempurna di saluran pencernaan bila diberikan bersama dengan makanan. Efek samping obat : 15% mual atau muntah, Pemberian : peroral dan IV

Dosis: untuk mikosis (penyakit kulit dan selaput lendir) 2x 100- 200 mg/hari dalam kapsul selama 3 hari. Untuk onikomikosis 1x200 mg/hari selama 12 minggu. Suspensi : 2x100 mg/hari dikumur dahulu sebelum ditelan Infeksi berat : 2x200 mg/hari IV, diikuti 1x200 mg/hari selama 12 hari. Sediaan : kapsul 100 mg, suspensi 10 mg/ml, IV 10 mg/ml.

5. Terbinafin Mekanisme kerja: bersifat keratofilik dan fungisidal Farmakokinetik: - Absorbsi: saluran cerna - Metabolisme di hati - Eskresi di urin, waktu paruh 12 jam

25

ES : pada 10% penderita tersering gangguan gastrointestinal diantaranya nausea, vomitus, nyeri lambung, diarea, konstipasi, umumnya ringan. ES lain : gangguan pengecapan (presentasi kecil, bersifat sementara), sefalgia ringan, gangguan fungsi hepar (3.3-7%) Dosis: 62.5-250 mg/hari bergantung pada berat badan, diberikan selama 2-3 minggu. Sediaan tablet 250 mg

6. Antibiotik Antibiotik diberikan bila terdapat infeksi sekunder.

Obat Topikal Obat topikal digunakan bila daerah yang terkena sedikit., jika infeksi jamur luas diberikan obat jamur sistemik. Obat topikal konvensional, misalnya asam salisil 2-4%, asam benzoat 6-12%, sulfur 4-6%, vioform 3%, asam undesilenat 2-5%, dan zat warna (hijau brilian 1% dalam cat Castelani). 1. Asam benzoat dan asam salisilat Perbandingannya 2:1 (biasanya 6% dan 1%). Dikenal sebagai salep Whitfield. Asam benzoat memberikan efek fungistatik sedangkan asam salisilat memberikan efek keratolitik. Karena asam benzoat hanya bersifat fungistatik maka penyembuhan baru akan tercapai setelah lapisan tanduk yang menderita infeksi terkelupas seluruhnya. Sehingga pemakaian obat ini membutuhkan waktu beberapa minggu sampai bulanan. 2. Sulfur 4-6% Sulfur praecipitatum praktis tidak larut dalam air, sangat sukar larut dalam etanol. Fungsi utamanya sebagai keratolitik agent. 3. Vioform 3%

26

Vioform mempunyai sifat bakteri fungisid digunakan secara lokal pada macam-macam dermatitits termasuk eksim, impetigo, psoriasis akut, atopik dermatitis. 4. Asam undesilenat 2-5% Cairan kuning dengan bau khas yang tajam. Dosis biasa memberikan efek fungistatik, dosis tinggi dan pemakaian lama memberikan efek fungisidal. Efektif terhadap Epidermophyton, Trichophyton, dan Microsporum Sediaan bentuk salep campuran 5% undesilenat dan 20% seng undesilenat Bentuk bedak dan aerosol mengandung 2% uundesilenat dengan 20% seng undesilenat. Seng berperan dalam menekan luasnya peradangan. 5. Obat topikal baru: tolnaftat 2%, toksiklat, haloprogin, derivat-derivat imidazol 1% (ketokonazol, klotrimazol, mikonazol), siklopiroksalamin 1% dan naftifine masing-masing 1%. 1. Haloprogin - Bersifat fungisidal terhadap Epidermophyton, Trichopyton,

Microsporum, dan Malassezia fulfur. - Tersedia bentuk krim 1%, solution atau spray. Digunakan selama 2-4 minggu. Dioleskan sebanyak 3 kali sehari. - Selama pemakaian obat timbul iritasi lokal, rasa terbakar, vesikel, meluasnya maserasi dan sensitisasi. 2. Siklopiroksolamin - Antijamur topikal spektrum luas. Kerjanya berhubungan dengan sintesis DNA. - Indikasi: dermatofitosis, kandidiasis, dan tinea versikolor. - Sediaan: krim 1% dioleskan pada lesi 2x/hari.

3. Terbinafin Terbinafin mrupakan suatu derivat alilamin sintetik dengan struktur mirip naftitin. Mekanisme Kerja

27

menghambat squalene epoxidase, yang menurunkan sintesis ergosterol, menyebabkan kematian sel jamur. Obat ini digunakan untuk terapi dermatofitosis, terutama onikomikosis; dan juga digunakan secara topikal untuk dermatofitosis. Terbinafin topikal tersedia dalam bentuk krim 1% dan gel 1%. Terbinafin topikal digunakan untuk pengobatan tinea kruris dan korporis yang diberikan 1-2 kali sehari selama 1-2 minggu.

4. Tolnaftat Tolnaftate adalah bentuk sintetis dari anti jamur yang penggunaanya hanya pada bagian luar tubuh, ia memiliki fungsi seperti miconazole dengan menghambat sintesis ergosterol yang merupakan komponen dalam sel jamur sehingga membuat jamur mati tapi tidak aktif terhadap kandida. Tersedia dalam bentuk cream 1%, bedak, solution. Dioleskan 2 kali sehari selama 2-4 minggu. 5. Tolsiklat Tolsiklat merupakan antijamur topikal yang diturunkan dan tiokarbamat. Namun karena spektrumnya yang sempit, antijamur ini tidak banyak digunakan lagi. 6. Naftifine MekanismeKerja Agen antijamur berspektrum luas dan derivat (turunan) allylamine sintetis dapat menurunkan sintesis ergosterol, sehingga juga menghambat pertumbuhan sel jamur. Jika tidak ada perbaikan klinis setelah 4 minggu, evaluasi kembali. Dosis Dewasa

Pijatlah dengan lembut (dengan cream/gel) pada area yang terkena panu dan sama kulit disekitarnya seperti qd selama 2-4 minggu. Dosis Anak dewasa.

dosis

Hentikan penggunaan jika terjadi sensitivitas atau iritasi kimiawi; hanya untuk penggunaan luar; hindari kontak dengan mata.

28

7. Lamin Obat ini merupakan antijamur topikal berspektrum luas. Penggunaan kliniknya ialah untuk dermatofitosis, kandidiasis dan tinea versikolor.

8. Mikonazol Merupakan derivat imidazol dengan kasiat fungisid kuat Indikasi : Terapi topikal tinea pedis, kandidiasis kulit. Kontra indikasi : Hipersesitivitas. Efek samping : Rasa terbakar, kemerahan. Bila efek samping

sangat mengganggu pemakaian harus dihentikan. Sediaan : Mikonazole nitrat (generik), krim, serbuk warna putih. Cara penyimpanan : Pada suhu 15-30 C ,wadah kedap udara 9. Klotrimazol Merupakan obat pilihan pertama yang digunakan pada tinea karena bersifat broadspektrum antijamur yang mekanisme kerjanya menghambat pertumbuhan ragi dengan mengubah permeabilitas membran sel sehingga sel jamur mati Evaluasi pengobatan setelah 4 minggu jika tanpa ada perbaikan klinis. Penggunaan pada anak-anak sama dengan orang dewasa. Sediaan krim 1%, solution, lotio, bedak diberikan 2 x/hari selama 4 minggu Tidak ada kontraindikasi obat, tidak dianjurkan untuk pasien yang hipersensitivitas, peradangan infeksi yang luas, dan hindari kontak mata. 10. Ketokonazol Mekanisme kerja ketokonazol bersifat broadspektrum antijamur akan menghambat sintesis ergosterol, sehingga komponen sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan selama 2-4 minggu. Tidak ada kontraindikasi obat, tidak dianjurkan untuk pasien yang hipersensitivitas dan hindari kontak mata.

29

B. EDUKASI (Subeno, 2012) Diperlukan pula perawatan diri di rumah (home care), seperti: menghindari menggaruk daerah lesi, karena hal tersebut dapat membuat infeksi bertambah parah. Menjaga kulit tetap kering dan bersih dengan menghindari aktivitas yangdapat mengeluarkan keringat. Mandi minimal sekali sehari dan ingat untuk mengeringkan tubuh seluruhnya. Aplikasi krim topikal anti jamur, seperti: krim Klotrimazol (Lotrimin), Terbinafin (Lamisil), Tolnaftat (Tinactin). Beberapa agen oral yang dapat digunakan untuk mengobati gatal yang timbul, antara lain: Difenhidramin (Benadryl), Klorfeniramin, Loratadin (Claritin), dan Setirizin (Zyrtec), sesuai dengan medikasi yang diberikan. Dan mengingatkan penderita untuk memperhatikan bila ada efek samping yang terjadi maupun tanda-tanda makin parahnya lesi setelah berobat (muncul pus, nyeri, demam, tidak adanya perbaikan sama sekali setelah 2 minggu terapi).

KRITERIA SEMBUH 1. Klinis : secara klinis tidak terdapat gejala dan tidak terdapat tanda-tanda infeksi tinea. 2. Mikologis : pemeriksaan dengan lampu wood, pemeriksaan KOH, dan kultur agar saboraud hasilnya negatif.

30

DAFTAR PUSTAKA

Djuanda, adhi. dkk. 2008. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. Gunawan gan, S. dkk. 2008. Farmakologi dan Terapi. Balai Penerbit FKUI. Jakarta Mansjoer, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius. Jakarta. Silbernagl S, Lang F. 2007. Teks dan Atlas Berwarna Patofisiologi. EGC Aesculapius. 2012. Tinea Corporis. Diambil tanggal 1 Desember 2012 dari http://madesunaria.wordpress.com/2009/11/13/tinea-corporis/ Subeno CF. 2012. Tinea Facialis. Diambil tanggal 30 November 2012 dari http://www.scribd.com/doc/92365165/tinea-facialis

31