Anda di halaman 1dari 64

Beranda Disclaimers Info terkini Merapi Online Pendongeng Tips Bencana

RSS Entri | Komentar RSS

Dongengan Anget
o o o o o o o o o o o o o o o

Bukan sekedar muter keran Perlu Exploration Sharing Contract Kenapa lebarannya beda lagi ditahun 2011 Jenis-jenis Gempa dan Istilah-istilah Gempa Regenerasi (IAGI-Ikatan Ahli Geologi Indonesia), Seperti apa baiknya ? Bagaimana Uranium Terbentuk dan Bersembunyi ? Seluk dan Beluknya Gunungapi Status Dieng naik menjadi SIAGA (Level 3) Penjelasan Ustad Gempa, Danny Hilman Tentang Gempa Selat Sunda Kompleks Gunung Dieng. [Gunung tua yang sedang bergolak]. Potensi Gempa Selat Sunda Dongeng Geologi lebih berharga dari Web DPR Mengejar teroris dengan sains 1. Biogeografi Rumah Persembunyian Osama dalam Google Map Memahami teori evolusi dari diri sendiri. Rock is my world

o o o o o o o o o o o o o o o

Gunung Magnet, ilusi gravitasi atau fakta ? Merapi masih menuju relaksasi Berburu Kawah Meteor (Geo-Circle) di Indonesia Majalengka Dihantam Meteor Raksasa 4 Juta Tahun Lalu ! Gempa Cilacap Dinihari Wajah bulan yang tersembunyi Gempa Jepang 2011 Vs Gempa Aceh 2004 Supermoon dan gempa Jepang 2011 Benarkah Reaktor Fukushima Daiichi Meledak ? Jepang Sebelum dan Sesudah Gempa 2011 Tempe, Superfood yang Hebat Kebanggaan, kebebasan dan kemakmuran Pendidikan dan Demokrasi ala Tempe Perilaku sosial kucing Goal !!!

Dongeng Tempe

Dongeng Gambar

More Photos

Friends

Twat-Twit
Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Nglaras, kata Budhe


o o o o o

Beri aku waktu Cinta sepotong tempe .... ` Hanya karena cintaMu aku masih bisa bertahan ~ Rahasia Tuhan Tempat sepatu bukan di mobil tauuu' ... !!

Macam-2 Dongeng
banjir bbm

Bencana Alam Berita Dampak Sosial Diskusiku Dongeng Geologi Energi


gempa geothermal gunungapi hoax Islam Jeprat-jepret Longsor

Environment evolusi Explorations Gas Tsunami Uncategorized

Nggrundel Nuklir Pendidikan Politikana RuPa-RupI Sejarah Semburan Lumpur Semesta Tips bencana

Santai Aja, katanya.


o o o o o

FMDB : Prince of Persia, review Cambridge aha aha... Boxy.. Botak Sexy... Inside my head part.2 Hows your holiday?

Airtanah? Apa dan Bagaimana Mencarinya?


Posted on 24 Agustus 2006 by Rovicky

15 Votes Seorang kawan (Rachmat Fajar Lubis) yg sedang berada di Jepang, bukan belajar gempa tetapi tentang air tanah. Ya, belajar tentang air tanah. mengapa ? Karena air akan menjadi bahan komoditi ketika nanti kita kesulitan mencari air tawar dan air baku untuk kehidupan sehari-hari. Pak Fajar ini mempelajari pengelolaan air

tanah, beliau bekerja di Indonesia sebagai ahli air tanah di Direktorat Geologi Geotek LIPI, Bandung. Pak Fajar saat ini berada di Chiba, Jepang dalam rangka Joint Research. Berikut tulisan sekelumit beliau tentang air tanah.

Airtanah? Apa dan Bagaimana Mencarinya?


Rachmat Fajar Lubis

Pertanyaan diatas seringkali muncul ketika sumber air yang kita gunakan selama ini seperti air sungai, danau atau air hujan tidak bisa kita dapatkan. Satu hal yang pasti ini adalah salahsatu jenis air juga. Hanya dikarenakan jenis air ini tidak terlihat secara langsung, banyak kesalahfahaman dalam masalah ini. Banyak orang secara umum menganggap airtanah itu sebagai suatu danau atau sungai yang mengalir di bawah tanah. Padahal, hanya dalam kasus dimana suatu daerah yang memiliki gua dibawah tanahlah kondisi ini adalah benar. Secara umum airtanah akan mengalir sangat perlahan melalui suatu celah yang sangat kecil dan atau melalui butiran antar batuan

(Model aliran airtanah melewati rekahan dan butir batuan) Batuan yang mampu menyimpan dan mengalirkan airtanah ini kita sebut dengan akifer. Bagaimana interaksi kita dalam penggunaan airtanah? Yang alami adalah dengan mengambil airtanah yang muncul di permukaan sebagai mataair atau secara buatan. Untuk pengambilan airtanah secara buatan, mungkin analogi yang baik adalah apabila kita memegang suatu gelas yang berisi air dan es. Apabila kita masukkan sedotan, maka akan terlihat bahwa air yang berada di dalam sedotan akan sama dengan tinggi air di gelas. Ketika kita menghisap air dalam gelas tersebut terus menerus pada akhirnya kita akan menghisap udara, apabila kita masih ingin menghisap air yang tersimpan diantara es maka kita harus menghisapnya lebih keras atau mengubah posisi sedotan. Nah konsep ini hampirlah sama dengan teknis pengambilan airtanah dalam lapisan akifer (dalam hal ini diwakili oleh es batu) dengan menggunakan pompa (diwakili oleh sedotan) Hal yang menarik, jika kita tutup permukaan sedotan maka akan terlihat bahwa muka air di dalam sedotan akan berbeda dengan muka air didalam gelas. Perbedaan ini akan mengakibatkan

pergerakan air. Sama dengan analog ini, airtanahpun akan bergerak dari tekanan tinggi menuju ke tekanan rendah. Perbedaan tekanan ini secara umum diakibatkan oleh gaya gravitasi (perbedaan ketinggian antara daerah pegunungan dengan permukaan laut), adanya lapisan penutup yang impermeabel diatas lapisan akifer, gaya lainnya yang diakibatkan oleh pola struktur batuan atau fenomena lainnya yang ada di bawah permukaan tanah. Pergerakan ini secara umum disebut gradien aliran airtanah (potentiometrik). Secara alamiah pola gradien ini dapat ditentukan dengan menarik kesamaan muka airtanah yang berada dalam satu sistem aliran airtanah yang sama. Mengapa pergerakan atau aliran airtanah ini menjadi penting? Karena disinilah kunci dari penentuan suatu daerah kaya dengan airtanah atau tidak. Perlu dicatat : tidak seluruh daerah memiliki potensi airtanah alami yang baik. Model aliran airtanah itu sendiri akan dimulai pada daerah resapan airtanah atau sering juga disebut sebagai daerah imbuhan airtanah (recharge zone). Daerah ini adalah wilayah dimana air yang berada di permukaan tanah baik air hujan ataupun air permukaan mengalami proses penyusupan (infiltrasi) secara gravitasi melalui lubang pori tanah/batuan atau celah/rekahan pada tanah/batuan.

(Model siklus hidrologi, dimodifikasi dari konsep Gunung Merapi-GunungKidul) Proses penyusupan ini akan berakumulasi pada satu titik dimana air tersebut menemui suatu lapisan atau struktur batuan yang bersifat kedap air (impermeabel). Titik akumulasi ini akan membentuk suatu zona jenuh air (saturated zone) yang seringkali disebut sebagai daerah luahan airtanah (discharge zone). Perbedaan kondisi fisik secara alami akan mengakibatkan air dalam zonasi ini akan bergerak/mengalir baik secara gravitasi, perbedaan tekanan, kontrol struktur batuan dan parameter lainnya. Kondisi inilah yang disebut sebagai aliran airtanah. Daerah aliran airtanah ini selanjutnya disebut sebagai daerah aliran (flow zone). Dalam perjalananya aliran airtanah ini seringkali melewati suatu lapisan akifer yang diatasnya memiliki lapisan penutup yang bersifat kedap air (impermeabel) hal ini mengakibatkan

perubahan tekanan antara airtanah yang berada di bawah lapisan penutup dan airtanah yang berada diatasnya. Perubahan tekanan inilah yang didefinisikan sebagai airtanah tertekan (confined aquifer) dan airtanah bebas (unconfined aquifer). Dalam kehidupan sehari-hari pola pemanfaatan airtanah bebas sering kita lihat dalam penggunaan sumur gali oleh penduduk, sedangkan airtanah tertekan dalam sumur bor yang sebelumnya telah menembus lapisan penutupnya. Airtanah bebas (water table) memiliki karakter berfluktuasi terhadap iklim sekitar, mudah tercemar dan cenderung memiliki kesamaan karakter kimia dengan air hujan. Kemudahannya untuk didapatkan membuat kecenderungan disebut sebagai airtanah dangkal (Padahal dangkal atau dalam itu sangat relatif lho). Airtanah tertekan/ airtanah terhalang inilah yang seringkali disebut sebagai air sumur artesis (artesian well). Pola pergerakannya yang menghasilkan gradient potensial, mengakibatkan adanya istilah artesis positif ; kejadian dimana potensial airtanah ini berada diatas permukaan tanah sehingga airtanah akan mengalir vertikal secara alami menuju kestimbangan garis potensial khayal ini. Artesis nol ; kejadian dimana garis potensial khayal ini sama dengan permukaan tanah sehingga muka airtanah akan sama dengan muka tanah. Terakhir artesis negatif ; kejadian dimana garis potensial khayal ini dibawah permukaan tanah sehingga muka airtanah akan berada di bawah permukaan tanah..

Jadi, kalau tukang sumur bilang bahwa dia akan membuat sumur artesis, itu artinya dia akan mencari airtanah tertekan/airtanah terhalang ini.. belum tentu airnya akan muncrat dari tanah ;p Lalu airtanah mana yang akan dicari? Itulah yang pertama kali harus kita tentukan. Tiap jenis airtanah memerlukan metode pencarian yang spesifik. Tapi secara umum bisa kita bagi menjadi : Metode berdasarkan aspek fisika (Hidrogeofisika) : Penekanannya pada aspek fisik yaitu merekonstruksi pola sebaran lapisan akuifer. Beberapa metode yang sudah umum kita dengar dalam metode ini adalah pengukuran geolistrik yang meliputi pengukuran tahanan jenis, induce polarisation (IP) dan lain-lain. Pengukuran lainnya adalah dengan menggunakan sesimik, gaya berat dan banyak lagi.

Metode berdasarkan aspek kimia (Hidrogeokimia) : Penekanannya pada aspek kimia yaitu mencoba merunut pola pergerakan airtanah. Secara teori ketika air melewati suatu media, maka air ini akan melarutkan komponen yang dilewatinya. Sebagai contoh air yang telah lama mengalir di bawah permukaan tanah akan memiliki kandungan mineral yang berasal dari batuan yang dilewatinya secara melimpah. Metode manakah yang terbaik? Kombinasi dari kedua metode ini akan saling melengkapi dan akan memudahkan kita untuk mengetahui lebih lengkap mengenai informasi keberadaan airtanah di daerah kita. Selamat mencari airtanah untuk kehidupan yang lebih baik. Chiba, 23 Agustus 2006 Kalau tertarik dengan teori dan contoh aplikasi Geolistrik silahkan klik sini PENDUGAAN GEOLISTRIK LAPANGAN

Silahkan berbagi :

Like this:
Suka 2 bloggers like this post.

Filed under: Dongeng Geologi Bola api saat gempa di Jogja ? T-J (tanya jawab) seputar Lumpur Sidoarjo, dampak eksplorasi dan lainnya

144 Tanggapan

1. Rani Fitriyani, on 16 September 2011 at 11:20 am said: Terimakasih atas informasinya

2. yulianti agnia, on 14 September 2011 at 6:53 am said: asllmualaikum, maaf sy minta bantuan nya..sy punya mata air yang berlokasi di daerah cicalengka kabupaten bandung, dan sekarang alhamdulilah sudah terealisasi dengan pipa kecil ukiran 1/2 in jarak 1 km disalurkan ke bak penampungan mesjid agar masyarakat juga bisamenggunakan air bersih tanpa harus ke sumber nya.. sekarang saya ingin sekali bisa membuka layanan penyediaan air bersih seperti pam swasta.. namun terbentur kendala modal dan pengetahuan sy juga mengenai pelaksanaan sangatlah minim pengetahuan.. lalu ada yang memberi tahu sama sy untuk awal adalah tes air dan tes geolistrik? sy mau tanya tes geolistrik itu untuk apa, dan berapa biaya yang harus di keluarkan untuk tes itu? apakah tes itu memang di perlukan sebagai langkah awal . sy ingin konsultasi dngn bpk barangkali sy bisa minta no telp bpk yang bisa sy hubungi.. terimakasih wassalam yuianti agnia 3. Achluddin Ibnu Rochim, on 1 September 2011 at 11:37 am said: Bapak, kami warga desa sidorejo, kecamatan sugio, kabupaten lamongan Jawa Timur, telah sekian abad sejak nenek moyang, tidak satu pendudukpun berhasil membuat sumur mata air, sudah segala upaya dilakukan termasuk memohon bantuan pada pemerintah tapi masih belum berhasil. pertanyaan kami apakah memang daerah kami tidak ada air di dalam tanahnya? NB: sudah pernah dicoba membor tanah hingga mencapai kedalaman 300 meter tetap tidak berhasil. Terimakasih.

4. DWI ILHAM, on 15 Agustus 2011 at 6:15 am said:

pak maaf, saya sudah ngebor di sekeliling rumah masing-masing sedalam 40m,76m dan 96m, tapi gak nemu air. gimana cara tepatnya cari sumber, oh ya saya di kalimantan timur, kab penajam kec. sepaku. dari pantai 10 KM.

5. wawan, on 2 Juli 2011 at 11:24 pm said: banyak pertanyaan bagus gak di jawab.huuuuhhh.

6. tonyworkers, on 28 Juni 2011 at 10:59 am said: nice share..!! ijin copas pak, buat tambahan artikel di tempat saya. http://tonyworkers.wordpress.com/ 7. Agnes Yhani Darmaningrum, on 15 Juni 2011 at 10:05 pm said: pak, saya mw tanya. saya kan mw nyusun skripsi tentang potensi air tanah di daerah klaten. data apa saja yang harus saya ambil? bagaimana cara menghitung cadangan air tanahnya? terimakasih 8. Arief, on 9 Juni 2011 at 1:24 am said: Mungkin saya bisa sedikit membantu untuk berikan solusi air sumur rekan-rekan semuanya yang cepat berubah warna kuning,hitam&berbau banger/tidak sedap. Silahkan kunjungi: http://www.sumur-bening.com Terima kasih-Arief-Sidoarjo-jatim.

9. Arief, on 9 Juni 2011 at 1:19 am said: Mungkin saya bisa sedikit membantu untuk berikan solusi air sumur yang cepat berubah warna kuning,hitam&berbau banger/tidak sedap. Silahkan kunjungi: http://www.sumur-bening.com Terima kasih-Arief-Sidoarjo-jatim.

10. Song Marpaung, on 31 Januari 2011 at 10:19 am said: Saya Soanang Marpaung dari Papua, mau tanyakan adakah alat khusus yang dapat kita gunakan untuk mencari sumber mata air untuk pembuatan sumur? klo ada gimana mendapatkannya. terima kasih

11. ridar, on 17 Januari 2011 at 3:29 pm said: Pak saya tinggal didaerah bukit dan saya sudah menggali sumur sedalam 6 meter tapi cuma ada rembesan air saja, jadi kalau musim kemarau mesti tekor kalau disedot. Jadi apa sumurnya kurang dalam atau gimana ? Mohon petunjuknya pakterima kasih sblmnya atas petunjuk bapak.

12. rahman, on 4 Oktober 2010 at 7:54 pm said: pa kah di pasir bulan atau d,tanah gambut atau d.serpihan gambut yang bagua tuk dapat air pak

13. arif susanto, on 20 September 2010 at 11:28 pm said: saya lg dpet, pelajaran n praktikum hidro so saya blm tau bayak tentang aquifer mohon bantuannya ya

14. Agus Zen, on 6 September 2010 at 8:50 am said: salam kenal pak Rovicky, Pak Rovicky yang baik hati mohon bantuannya kira2 pusat informasi atau catatan hidrologi daerah cikarang cibarusah dan jonggol, sehingga bisa lihat daerah kedalaman air sumur dangkal atau sumur dalam. mohon bantuannya pak Rovicky, karena dengan geolistrik sangat mahal. karena area saya di cibarusah itu dulu bekas pembuatan bata dan genteng. terima kasih. mohon di-cc kan juga ke email saya.

15. Herman, on 3 September 2010 at 9:16 am said: saya tinggal di daerah komplek pajak jurang mangu timur pondok aren, tangerang . Berarti bukan masalah seberapa dalam menggalinya? karena menurut beberapa artikel yg saya baca bila menggali terlalu dalam juga bisa menyebabkan air kuning bila menembus lapisan tanah yang mengandung kadar besi tinggi. sesuai artikel(http://www.digilibampl.net/detail/detail.php?row=10&tp=artikel&ktg=airminum&kd_link=&kode=1503)

16. Herman, on 2 September 2010 at 11:50 am said: bapak vick yang terhormat, saya mohon dengan sangat bapak bisa menanggapi masalah yang saya hadapi ini, kami di rumah sudah ngebor sumur 2x yang pertama sekitar 21m air yang di dapat kurang memuaskan, air keluar jernih tetapi bila didiamkan menguning, akhirnya kami mencari jasa pengeboran yang bisa mengebor lebih dalam untuk mendapat air dengan kualitas bagus. Setelah dipilih2 akhirnya kami gunakan tukang bor dengan peralatan mesin biayanya cukup mahal. Tetapi sampai hr ini kira2 1 minggu dr pengeboran kami belum juga mendapatkan air yang bebas dari kadar besi tinggi tsb. padahal sumur kedua kami mencapai 46m. kata tukang bor ketemu pasir hitam di kedalam 34m setelah menembus batu2 gunung yang keras. Kenapa hal ini bisa terjadi mas vick ? apa saya mengebor terlalu dalam, atau kurang dalam. pdahal tetangga kanan dan kiri rumah airnya bagus semua. Atau saya harus menguras dulu sumur saya ini bila ya sampai berapa lama kira2 > Keberadaan air tidak hanya tergantung dari kedalaman tetapi juga dari lokasi. Satu lokasi bisa saja mendapatkan kualiatas air bagus tidak terlalu dalam, namun lokasi lain sangat dalam. Dimana lokasi anda dan adakah sungai alami terdekat dengan sumur anda. Kalau boleh tahu tinggalnya dimana (kota/desa) ? 17. mahendra sutemi, on 25 Agustus 2010 at 1:47 pm said: pak vicky, saya tinggal di desa candirejo 3 4 km tenggara candi borobudur. permasalahan air bersih menjadi permasalahan utama di daerah saya, apalagi dimusim kemarau. secara geografis letak desa saya dibatasi oleh pegunungan menoreh di sebelah selatan dan sungai progo di sebelah utara. yang mau saya tanyakan : - apakah mungkin kasus air di desa saya sama seperti di bribin gunung kidul (sungai bawah tanah) mengingat pegunungan menoreh di daerah saya merupakan batuan karst

- bisakah meminta bantuan dari civitas akademika (misalkan geologi UGM/UPN) untuk membantu menemukan sumber air tanah, sukur sukur ketemu aquivernya - berapa besar perkiraan biaya untuk melakukan projek pencarian air tanah secara komprehensif termasuk survey awal sampai air keluar. (informasi pembiayaan sangat penting, tentunya hal ini sebagai ancang-ancang kami untuk mencari sponsor) demikian dari saya, jawaban dari pak vicky sangat membantu kami yang ada di desa terpencil ini. terimakasih > Mas Mahendra, kalau dilihat lokasi desa candirejo ini tidak sama kondisinya dengan daerah karst. Daerah Candirejo bukan daerah gamping yang kering. Semestinya air tidak bermasalah. Mungkin saja pada lokasi-lokasi tertentusaja yang bermaslah. Bisa saja menghubungi UGM atau UPN untuk mendapatkan petunjuk mencari air didaerah ini. Silahkan saja datang ke kampus mereka mungkin ada yg lebih tahu geologi daerah ini.

18. jamal, on 2 Agustus 2010 at 10:04 am said: ada isu yang tersebar di masyarakat bahwa sumur artetis bisa mengurangi debet air sumur tradisional milik warga. benarkah demikian? mohon penjelasannya. thanks > Sumur artesis (muncrat sendiri keluar) biasanya berasal dari lapisan air tanah dalam yang memiliki tekanan. Kecil kemungkinan mempengaruhi sumur tradisional. 19. Wira, on 15 Februari 2010 at 10:19 am said: saya mau tanya mas, rumah saya di daerah perbukitan, saya mau bikin sumur apa bisa mas? apakah ada potensi sumber air tanah di daerah saya? kalo memang ada kemungkinan besar yang ada sumber air tanah tertekan atau sumber air tanah bebas trimakasih atas infonya > kalau anda di lereng bukan di puncak bukit, saya rasa masih memungkinkan memperoleh airtanah dengan baik dan mudah (dangkal). Permukaan airtanah seringkali mengikuti pola topografinya juga. Di eembah lebih mudah mendapatkan air tanah dangkal.

20. sri haryono, on 15 Februari 2010 at 2:17 am said: Saya tukang bor pertama kali sebelum membuat sumurbor, bayak - survey lapangan, geolistrik atau tidak? - bila yakin titk bor ok, maka persiapan&mobilisasi - Alat dan personil -mendirikan rig (menara bor), settig mesin bor - Bikin bak lumpur (sirkulasi) -Mulai Pilot hole (Percobaan pemboran), dengan dicermati tiap kedalaman dan kandungan batuannya (litologi batuan tiap meter perlapisan).dan dicatat waktu kecepatan pemboranya. - kemudian dilaksanakan loggingtest (untuk mengetahui lapisan air tanah /aquifer) -setelah tet logging yakin ada air maka dilakukan reaming (pembesaran lobang bor), -kemudian dilanjutkan konstruksi pipa dan screen (saringan) -kemudian disi bagian annulus dengan gravel -setelah konstruksi dan gravelling,dilakukan pembersihan sumur - terus pumpingtest -kalau mau tau hasil dari kwalitas airnya maka dibawa kelaboratorium (airnya dibawa 2 lt an pakai botol/jerigen tertutup jngan sampai kena angin) -itu sekelumit dari cara pembuatan sumur, untuk lebih lanjut boleh saya bikinkan dengan saling menguntungkan, trimakasih. semoga bermanfaat..NB. tiap lokasi belum tentu sama kwalitasnya.

21. ridho, on 17 Januari 2010 at 1:56 am said: Masmohon solusinya di daerah saya permukaan tanahnya perbukitan dan tanahnya berwarna kuning atau tanah liat.sangat sulit sekali untuk mencari sumber mata air.saya sudah mencoba menggali sumur dengan kedalaman 9 meter tetapi mata airnya keluarnya malah di kedalaman 3 meter dari sisi lubang sumur tersebut.itupun airnya hannya bertahan 2-3 hari sekedar buat cuci piring apa lagi mandi wah bisa 3 hari sekali tolong ya mas solusinya. > Daerah yang banyak tanah liat seringkali kurang porositas batuannya. Sehingga akndungan airnya sedikit dan buruk. Kalau hanya 9 meter saya rasa masih terlalu dangkal. Air yang kuning mungkin banyak ferroan (seperti karat besi). Harus diperdalam hingga 20 meteran.

22. budi, on 12 Januari 2010 at 6:32 pm said: Salam Pak, Numpang tanya, istilah sumur pantek apakah berbeda dengan sumur bor? Kalau untuk keperluan mck sumur jenis apa yang paling efisien dari biaya pembuatan dan kualitas air cukup. Saat ini saya memiliki sumur lama model buis dengan kedalaman air 4 meter, hasil analisa sbb: PH: 8,11 , TDS: 415 , Hardness 190,85 , alkalinitas 231.93 , Cl: 57,82 , Cl2: 0 , Fe: 0,09 , SiO2: 9,07 , KMnO4: 7,61, tetapi saat musim hujan air berwarna keruh sekali (mungkin sambungan buis bocor) dan bau. Saat ini saya berniat untuk membuat sumur baru, mohon solusinya. Terima kasih 23. aris, on 6 Januari 2010 at 5:11 pm said: mas saya minta solusinya .. rumah saya di sebuah perumahan di Lamongan Jawa Timur , dan saat membuat sumsur resapan dikedalaman 8 meter keluar air namun saat dirasa air ini asin namun kalau hujan airnya tawar , padahal disekitar perumahan banyak hamparan sawah .yang menarik disetiap tanah yang digali ditemukan semacam batu mirip kulit kerang laut tapu sudah terpendam lama. pertanyaannya . 1. Model saringan air apakah yang pas dan sederhana digunakan ? karena airnya terkadang berwarna kuning agak coklat dan dasar bak mandi selalu kotor.( jika ada di jatim dimanakah saya bisa memperolehnya?) 2.Apakah pemberian kaporit dan tawas berlebihan dapat berbahaya dan merubah warna air ? dan solusi penggunaan batu tawas dalam sumjur idealnya berapa ?( mingguan ; bulanan atau tahunan?) mohon dibalas melalui email

24. iwan subroto, on 28 November 2009 at 12:38 pm said: mas saya ingin membaut sumur bor di lahan sawah saya, karena disana sulit air. Untuk membuat sumur bor tersebut sudah saya laksanakan 1 minggu yang lalu, stelah saya sedot menggunakan mesin pompa air yang berkakutan 8 pk yang keluar pasir bersama sama air dan penyedotan ini dilakukan selama 1 jam setelah itu air mengecil dan tidak dapat disedotlagi. Pengeboran yng dilakukan sudah 30 meter saya mohon petunjuk mas apa yg perlu saya lakukan apa perrlu didalamkan lagi atau pipa dek harus diangkat

25. anak TG, on 26 Oktober 2009 at 11:52 am said: punten numpang baca buat ujian hidrogofisika salam dari anak anak teknik geofisika ITB 2006 makasih banyak

26. Simson Mulia, on 13 Oktober 2009 at 3:54 am said: Mas Rovicky, Salam Kenal.Saya Simson, juniornya Pak Fajar (Apa Kabar?), terakhir ketemu mas di PIT IAGI 33 waktu jadi pembicara di panel diskusi. Saya pernah searching di google tahun 2006 dan ngebuka blog kiriman Fajar dari Jepang, ngak nyangka sampai bulan ini masih aktif terus dengan masalah air tanah yang sangat aktual. Saya mau coba ikut diskusi, coba share yang saya tahu, kalau salah Fajar mungkin bisa koreksi ditengah kesibukannya sebagai Abdi Negara. Buat Pak Ayus, standarisasi kualitas air minum menggunakan Keputusan Menteri Kesehatan No. 907/MENKES/SK/VII/2002 dapat dicari di google. Untuk warna kuning biasanya ditimbulkan dari kadar Fe yang tinggi, cirinya jika kontak dengan udara terjadi reaksi oksidasi. pada beberapa treatment biasanya sengaja dikontakan dengan udara dan kemudian disaring. Untuk zat lainnya bahan mempunyai absorsi tinggi seperti arang atau batu/pasir zeolit mudah-mudahan membantu dengan catatan menang harus sering di cuci/backwash untuk meningkatkan kemampuan absorpsi sekalian membersihkan saringan. Mudah-mudahan dapat membantu. Pak Dedi di Cikeruh, Permasalahan wilayah jatinangor memang permasalahan regional pak, kalau pengambilan air permukaan (irigasi) pengaturannya ada di Dinas Pekerjaan Umum, teman-teman di teknik sipil yang mengelolanya. Kalau tidak salah dulu idenya pabrik tekstil diperbolehkan mengambil air permukaan untuk mengurangi pengambilan air tanah tentunya harus disesuaikan dengan prioritas penggunaan air menurut UU Sumber Daya Air. Selain itu kalau kita lihat di google earth, daerah resapan di utara Cikeruh sepertinya sudah berubah fungsi jadi pertanian dan lapangan golf. Secara hidrogeologi, akifer di Cikeruh memang sangat tipis dan hampir keseluruhannya merupakan air tanah dangkal (tidak tertekan) yang dijelaskan oleh pak Fajar sangat terpengaruh oleh musim (seberapa air meresap di daerah resapannya). Kalau saran saya mungkin warga dapat berdiskusi dengan pemilik lahan yang ada di Utara (atas) untuk membuat sumur resapan dan penghijauan. Memang biaya pembuatan sumur resapan yang ideal memerlukan material sekitar 1 jt rupiah diluar biaya tukang, mungkin gotong royong dapat meringankan semua

pihak dalam kasus ini pak. Data tersebut saya dapatkan dari tempat kontrakan saya dulu di Pasteur dimana pemerintah Kota Bandung menganggarkan material dan pembangunannya dilaksanakan oleh warga. Untuk Pak Agus di Antapani, data secara ilmiah dari pemboran inti di GedeBage, ada satu siklus endapan vulkanik dari kedalaman 0-40 meter berupa kerikil (pasir kasar) yang menghalus ke atas. Bagian bawahnya dialasi lempung dari siklus sebelumnya. Ini biasanya ciri batas kedalaman akifer tidak tertekan di daerah Bandung. Waktu ngebor air di daerah Jl. Gatot Subroto (dekat BSM) buat kantor dulu terjadi perdebatan mengenai urat air di kedalaman 0-40 meter. Masalahnya biasanya kualitas yang kurang baik. Biaya pemboran plus instalasi pompa dan pipa sekitar 7-8 juta tukang bornya dari daerah ujung berung. Waktu itu saya penasaran karena punya dugaan kualitas air yang jelek mungkin dari dari air yang lebih dangkal, akhirnya saya meminta membuat casing dari pipa paralon dengan penambahan 1-2 juta dilem dengan baik disetiap sambungan dan disemen bagian luarnya. Bagian yang dilubangi hanya pada kedalaman 35-37 meter saja dan bagian bawahnya sudah ketemu lempung yang saya temukan di Gedebage. Hasilnya ternyata cukup jernih dan tidak berbau. Masalah air tanah Bandung memang sangat menarik untuk diteliti, tapi masih belum sempat karena mencari sesuap nasi dulu pak. Mudah-mudahan pengalaman saya dapat membantu pak. Sekian dulu, Simson Mulia

27. Agus Martono, on 6 Oktober 2009 at 3:15 pm said: Assalamualikum wr wb Untuk daerah antapani rata2 untuk mendapatkan air yang bagus berapa meter untuk pengemboran dan apakah ada info untuk jasa pengeborannya..terima kasih

28. Dedi, on 29 September 2009 at 11:18 pm said: Salam kenal pa, saya awam yang menjadi agak melek mengenai air. Saya ada persoalan dengan air tanah didaerah saya dulu tahun sebelum tahun 80 an daerah cikeruh sekarang namanya jadi jatinangor terutama didaerah yang berdekatan dengan rancaekek belum pernah terjadi kekurangan air baik untuk pertanian maupun untuk air minum tetapi sekarang bulan kemarau agustus kemarin hampi4r seperti digunung kidul harus antri mencari air didekat sungai (mata air kecil). Hal ini sangat terasa setelah adanya pengambilan air oleh perusahaan tekstil besar dari saluran irigasi dengan menggunakan saluran khusus yang cukup besar (katanya sudah dapat ijin dari sana sini)sehingga air

yang mengalir ke persawahan aupun ke kolam-kolam pun menjadi sangat terbatas hal tersebut diperburuk oleh kondisi serapan air di atas semakin buruk. Pertanyaan saya harus mengadukan kemana pengambilan air yang ternyata sampai mengganggu masyarakat sekitar

29. AdJust, on 7 September 2009 at 2:15 pm said: Pa Pajar,.. Salam kenal,.. saat ini saya ada masalah dengan sumur di rumah saya,. dulunya perumahan Exs-Rawa yang di Urug, kedalaman rata2 8-12 meter sudah ada air,..kurang dari itu, ato lebih airnya jelek, (kenapa bisa spt itu ya?) akan tetapi tiap rumah beda2 kualitas air nya,. di tempat saya sendiri, ada masalah dengan Bau dan Endapan kuning ,.. air yang keluar dari sumur warnanya Jernih dan sedikit bau,. akan tetapi jika lama di penampungan jadi warnanya kuning dan ada endapan juga berbau lumpur,. setelah periksa di Lab sbb: pH 6,78 Conductivity 363 TDS 181,5 Turbidity 9,35 NTU TSS 5 ppm P alakaliniti 0 M alkaliniti 30 ppm nitrate 3,8 ppm nitrite 0,556 ppm Ca Hardnes 34 ppm Total Hardnes 60 ppm iron 1,194 ppm Floride 0,46 ppm Mangan 6,6 ppm Mohon Pencerahannya .. kodisi air di atas apakah layak pakai ,.dan kalau dilakukan penyaringan,. alat apa dan media penyaringan yang cocok saat ini saya coba pake tradisional lapisan ijuk,Arang,pasir,batu,.. hasilnya agak mengurangi bau,.. tapi endapan kuning tetap ada,.. terima kasih ,.. maaf kepanjangan Ayus,Mr.

30. Hudaini Hasbi, on 7 September 2009 at 1:55 am said: Saya dan teman-teman sedang melakukan kajian efektivitas sensor indikator kadar air untuk mendeteksi tingkat kekeringan lahan dan tanaman.Pengalaman saya bahwa air dalam tanah memang mengandung gelombang elektromagnetik yang ditangkap oleh sensor yang kami buatlalu datanya diolah dengan sistem A/D-C diterjemahkan ke bahasa frekuensi bunyi/buzzer dan bahasa visual cahaya dengan sistem LED dan dibaca oleh mikrokontroler di visualkan lagi ke LCD-monitor. Menurut saya air adalah larutan elektrolit yang mengandung listrik positip dan negatif, jadi lebih tepatnya air yang terdeteksi akan mengirim sinyal positip (karena hisap) atau bahasa fisikanya tegangan

permukaan, biasanya dengan satuan pF atau bar atau kolom air cm, sehingga bentuk permukaan/geologi bumilah serta sifat resistensi air tanahlah yang mempengaruhinya. Disini saya beri sedikit data tentang perbedaan jenis tanah terhadap ketersediaan air, misal jenis tanah rawa resistensinya 10-40 ohn; tanah liat dan tanah ladang: 20 100 ohm, tanah pasir basah 50-200 ohm dst. Jadi teori dukun tsb masuk akal. ditempat saya ada ahlinya DR.Ir. Hartana, menggunakan pendulum besi segitiga, dan sudah diakui kehebatannya, I Thinks that is logic not a mistic one. Thanks. Uday Jember

31. mail, on 24 Agustus 2009 at 12:47 am said: bagaimana kita hendak mengetahui atau mengenal kaWasan yang mempunyai sumber air baWah tanah,,, 32. defiani, on 19 Agustus 2009 at 11:49 am said: upzzzzzzzzzzz 1 lagi cara untuk mengambil sampel sumur bor seperti apa dan untuk satu berapa kali harus di periksa?????????? 33. defiani, on 19 Agustus 2009 at 11:45 am said: mw tanya nie mas. ada ga standar kedalaman sumur bor???????????? Truzapa kah ada pengaruhnya dengan kedalaman dan dangkalnya sumur bor???????????

34. Evi, on 14 Agustus 2009 at 10:02 pm said: Pak mau tanya, Dimana sebaiknya posisi pengeboran air dilakukan bila ukuran tanah perumahan padat

penduduk hanya lebar 7 x panjang 10 m ? posisi septitank di sebelah depan dan got sebelah belakang ? Agar air layak konsumsi selain diperiksakan ke laboralorium ??? Terima kasih 35. Rovicky, on 6 Juli 2009 at 12:17 pm said: - Forwarded message From: Fajar Lubis Apa kabar Mas Vick ? Wah posting airtanah itu masih terus diminati ya Maaf tidak bisa banyak membantu.. saya masih berjuang untuk mendapatkan ruangan dan akses internet yang mudah di negeri tercinta ini.. ) Saya coba bantu jawab ya : 1. Apakah mungkin untuk membuat 2 atau 3 titik sumur bor dangkal (10 meter) dalam radius 100 meter?sehingga bisa dipakai secara bergantian untuk bisa menyupplai ke masyarakat dengan debit 15 l/s?. jawab: Kriteria ketersediaan debit sumur tidak ditentukan berdasarkan berapa jumlah sumur, tapi berapa kapasitas/kemampuan airtanah di daerah tersebut untuk dieksploitasi. Biasanya kita menggunakan metode uji pompa atau uji sumur (untuk airtanah bebas) untuk menentukan hal ini. 2. Apakah ini akan mempengaruhi sumur masyarakat disekitar titik bor? jawab : Data uji pompa atau uji sumurlah yang akan menjawab pertanyaan ini 3. Apakah jenis pompa yang saya pakai (dengan asumsi, kedalaman sumur bor 15 meter, dan ketinggian tower 7 meter?). jawab: Jenis pompa akan ditentukan oleh kedalaman muka airtanah, pompa yang umum dijual di masyarakat biasanya mampu mengambil airtanah yang berada hingga kedalaman 12 meter. Spesifikasi pompa bisa ditanyakan langsung kepada penjualnya.

Salam, Fajar

36. Witni, on 25 Juni 2009 at 12:41 pm said: Mas aq mau tanya.. Aq mau buat project air bersih untuk sebuah dusun yang berada di pesisir pantai Sulawesi barat, sumur gali masyarakat dipinggir pantai dengan kedalam 2 meter menghasilkan air yang keruh, berbau dan asin (klu habis pasang). Sedangkan masyarakat yang berada 300 meter dari pesisir (yg tidak kena air pasang) air sumur gali 4 meter menghasilkan air yang bersih dan tidak berbau (tapi klu kemarau, debitnya berkurang). Rencananya aq mau buat sumur bor dilokasi ini, dan mengumpulkannya di water tower sebelum di supply ke masyarakat (dlm bentuk public tab). Air hanya akan di supply pagi dan sore aja (peak hour). 1. Apakah mungkin untuk membuat 2 atau 3 titik sumur bor dangkal (10 meter) dalam radius 100 meter?sehingga bisa dipakai secara bergantian untuk bisa menyupplai ke masyarakat dengan debit 15 l/s?. 2. Apakah ini akan mempengaruhi sumur masyarakat disekitar titik bor? 3. Apakah jenis pompa yang saya pakai (dengan asumsi, kedalaman sumur bor 15 meter, dan ketinggian tower 7 meter?). Terimakasih banyak

37. aris, on 19 Juni 2009 at 10:15 am said: pak, saya mau sebenarnya kedalaman sumur bor yg bagus(tidak ada pencemaran) berapa meter ? apakah kedalaman sumur bor 10 meter itu ainya tidak tercemar ? didaerah saya solobaru airnya klu kedalaman 20m kuning dan bau terimakasih > Tidak ada patokan khusus dalam kedalaman. Setiap daerah berbeda-beda dan variatif. Di Solobaru kalau kedalaman sekitar 10 meter itu masih endapan Bengawan Solo yang lama. Air kuning (mirip besi karatan) itu menunjukkan bahwa kandungan oksida besinya besar. Usahakan lebih dalam dari itu. 38. zaldy sastra, on 13 Maret 2009 at 12:29 pm said:

Assalammu`alaikum Wr. Wb. Pak saya ingin ikut nimbrung, saya ingin bertanya bagaimana cara mengukur debit air pada sumur dangkal atau sumur gali secara mudah pada saat di lapangan. kemudian dari rumus Darcy ada rumus Q = A V atau Q = A . Gradient hidrolik, jadi kira2 menurut bapak yang mana yang baik digunakan? karena saya tidak paham cara mengukur gradient hidrolik. terima kasih. > kalau hanya ingin tahu debit optimumnya dapat dicoba dengan cara diatas

39. zaldy, on 7 Maret 2009 at 7:09 pm said: Pak, saya zaldy sastra, pegawai pemko medan, bagaimana teknik mengukur debit air sumur gali pada saat pengukuran di lapangan, mohon petunjuk dan arahannya, terima kasih. > Untuk ngukur debitnya bisa dilakukan dengan pemompaan. Dicoba dipompa beberapa jam kemudian dilihat seberapa besar penurunan tinggi permukaan airnya. Ketika permukaan air konstant, berarti sudah mencapai debit optimumnya. Kalau diteruskan mungkin sumurnya kering (air tidak keluar), harus menunggu beberapa saat hingga air tanahnya muncul lagi.

40. sritono.ap, on 2 Maret 2009 at 9:50 pm said: massstolong dong bantu aku nyariin peta Hidrogeologythanks

41. Ronald, on 13 Januari 2009 at 9:54 pm said: Mas saya mau tanya kalo penggunaan lubang resapan biopori itu bisa menambah cadangan air tanah ga yah? teorinya sih bisa, tapi apakah air yang menyerap ke lubang resapan biopori sedalam 1m (+ tambahan dari bioporinya) berpengaruh ke cadangan air tanah (dangkal) yang digunakan masyarakat? thx > Kalau tidak ada lapisan kedap yang dangkal sehingga resapan pori dapat masuk ke tanah akan efektif. Resapan biopori ini untuk mengatasi hambatan masuknya air karena lapisan tanah paling atas yang seringkali lebih kedap dari lapisan dibawahnya.

42. sumur artesis, on 24 November 2008 at 10:10 am said: nice artikel thanks ya atas infonya sangat bermanfaat

43. sritono.ap, on 15 November 2008 at 10:06 pm said: mas kalo mo cari peta hidrogeology untuk daerah Kab. brebes jawa-tengah piye carane. end jika tiba tiba air sumur dicek dilaborat ternyata muncul bakteri ecolinya piye sebabe opo

44. Rissal Bramana, on 15 November 2008 at 3:25 pm said: Yth Pa Rovicky, Saya mohon informasi sewa jasa geolistrik untuk daerah Purwakarta (kec.Wanayasa), barangkali Bapak tau. Dan wajarnya berapa sih biaya sewanya?? Terima kasih atas informasinya. Salam: Rissal

45. rush, on 15 Oktober 2008 at 3:14 pm said: link salah satu lembaga yg berkecimpung di penelitian airtanah: http://www.batan.go.id/patir/_kl/hidrologi/hidro_panasbumi.htm

46. lilis, on 14 Oktober 2008 at 8:38 pm said: yah kalo kata ibu saya sih lo mau bikin sumur ambil aja embes (mata air) dari Belik (penampungan mata air alami) dengan cara ambil air dari Belik dengan Batok (tampurung kelapa) yang dibawahnya diberi lubang kecil lalu kita bawa ketempat penggalian sumur trus airnya ditumpahin kedalam sumur deh..he,he,he, itu pendapat ibu saya

47. Antoni, on 18 September 2008 at 10:41 am said: Saya pernah lihat dan kenal orang bule yang mencari air pakai media ranting sebagai penunjuk air tanah, dan di daerha kami hasilnya sangat maks. kami tidak pernah kekurangan air.

48. DWI BUDI SANTOSA,ST, on 9 September 2008 at 9:50 pm said: om fajar email nya donk

49. DWI BUDI SANTOSA,ST, on 9 September 2008 at 9:37 pm said: Slm sejahtera dan lam kenal. beberapa kasus diatas sama dengan kondisi air rumah saya. lahan rumah 1800 m2. dirumah ada 3 bh sumur gali. didepan tengah dan belakang. maklum rumah jaman dahulu. 3 sumur gali itu dulu air nya jernih dan tidak berubah warna, oh ya belakang rumah ada sungai besar. setelah dasar sungai menjadi dalam karena digali pasirnya. semua sumur tersebut kondisi airnya menjadi keruh. saya berusaha mengebor sumur yang di tengah dgn kedlaman 25 m kondisinya tetap sama. beberapa hari yang lalu saya ngebor lg di jarak 10 m dari sumur tengah.dgn kedlaman 10 m. kondisi air tetap sama. lapisan yang didapat lapisan pasir, lendut, lapisan tanah keras(red jawa = padas). saya di di daerah kec. wedi kab klaten. mhn petunjuk untuk mencari lapisan tanah pada kedalaman berapa meter agar mendapatkan air yang bener2 jernih dan tidak berubah keruh dan menguning jika terkontaminasi dgn udara. matur nuwun

50. Oscar, on 6 September 2008 at 1:09 pm said: Dear all rekans saya membuuthkan artikel tentang Hidrogeologi, mungkin ada yang punya. boleh berbagi ilmunya? Terimakasih,

Regards Oscar 51. hohok, on 20 Agustus 2008 at 6:35 pm said: mo tanya nich pak saya saat ini (Agustus 2008) lagi buat sumur gali di Semarang, saat ini kedalaman sumur saya 5 meter dari permukaan tanah. air yang keluar/ naik setinggi 1 buis beton (ukuran tinggi 1m, diameter 80cm). saat saya sedot pakai pompa merk simitzu dgn 125 watt air hanya dapat saya sedot selama 20 menit dan air disumur mulai terisi kembali sesuai posisi awal (setinggi 1 buis beton) memakan waktu 2 jam. Dasar sumur/tanah paling baeah sumur adalah padas keras (tdk lunak bila kena air). Air sumur tidak berbau dan berasa, tetapi kalau saya rebus zat kapurnya masih banyak. Pertanyaan saya adalah : 1. apakah kwantitas/debit air untuk sumur gali seharusnya/biasanya bila disedot selama 24 jam tidak habis (sama dengan sumur bor tetangga saya, disedot selama 24 jam debit air ada terus) ? 2. apakah sumur gali saya kurang dalam karena baru disedot 20 menit debit air sudah habis? 3. idealnya untuk sumur gali membutuhkan kedalaman berapa meter dan sampai lapisan tanah pasir atau apa? 4. saat ini sumur saya lapisan paling bawah adalah padas keras, lapisan tanah setelah padas keras itu apa ? kalau saya suruh tukang penggali sumur untuk menambah kedalaman sampai menjumpai pasir hitam butuh keadalam berapa meter lagi? mohon bantuan dari bapak/mas/ibu/mbak yang mempunyai informasi mengenai permasalahan diatas kepada saya, karena saya tidak tahu menahu mengenai ilmu geologi atau mengenai sumur. atas informasinya kami ucapkan terima kasih. Mohon bila ada saran dapat dikirim ke email : nazeefanugroho@gmail.com thanks

52. atma, on 20 Agustus 2008 at 11:54 am said: Kagem Mas Rovicky, Saya mau tanya mngenai sumur pantau mas.. Saya itu ada rencana untuk membuat sumur pantau airtanah di Kabupaten Sleman DIY. Nah sebelumnya kan perlu dibuat desain jaringan sumur pantau airtanahnya supaya efektif dan efisien. Yang mau saya tanyakan, metode untuk penentuan lokasi sumur pantau itu ada ngga mas?

Matur nuwun, semoga dapat membantu.

53. sabiq, on 25 Juli 2008 at 8:45 pm said: tolong kirimi saya fail tentang penelitian air oleh prof.jepang itu.) utk bahan skripsi, makasih

54. DIAN, on 10 Juli 2008 at 8:13 pm said: Saya tertarik dengan cara menjaga kondisi air tanah secara langsung (pembuatan sumur resapan), mohon konstruksi dan cara pembuatan sumur resapan yang benar dan sebaiknya berapa meter sumur tersebut, terima kasih

55. dian, on 5 Juli 2008 at 1:18 am said: mo tanya nhcara pembuatan sumur bor gmn y? ato ada bahan datanya gk? buat skripsi nh.. thx y..

56. cigol, on 2 Juli 2008 at 8:28 am said: Oom Fajar, kalo temen2 di LIPI udah ada yang mencoba memetakan akifer lansung dgn electro kinetic sounding ? Atau seismoelectric ya. Mungkin metode ini ada kelebihannya untuk kasus2 layered akifer dan lokalisasi lokal akifer.,lebih praktis juga drpd geolisrik biasa yang tarik dan set up kable itu lho. Mungkin mas fajar sebagai hydrogeophysicist bisa info kesaya tentang adanya usaha2 menggunakan EKS di LIPI ? Terimakasih cigol 57. t heryoga, on 12 Juni 2008 at 12:41 pm said:

Dear Mas Rovicky, Menanggapi komentar anda 30 Januari 2008 perihal geolistrik, yang saya tangkap adalah bahwa geolistrik hanya untuk mengetahui keberadaan / lokasi air saja, tapi untuk ketebalannya masih harus mempergunakan tehnik tersendiri seperti yang telah anda sebutkan. Jika demikian halnya untuk daerah2 tertentu seperti di Desa Pengkol Gunung Kidul survey geolistrik praktis tidak akan banyak membantu karena faktor2 yang dipergunakan untuk mengetahui ketebalan air boleh dikatakan tidak ada. Jadi apa saran anda untuk bisa mendapatkan sumber air yang cukup baik mengingat saat ini yang menjadi alternatif adalah mata air yang relatif debitnya kecil2 dan dimusim kering akan menurun dengan drastis. Terima kasih. Salam dari Jogja. > Metode geolistrik sebenernya bisa juga menentukan atau memperkirakan kedalaman dari batuan yang mengandung air atau tubuh air didalam tanah (misal sungai bawah tanah. Kalau mau sedikit lebih jelas silahkan bertanya kepada ahlinya Pak Grandis di Blog belisu disini : http://grandis.wordpress.com/2008/05/05/metoda-geolistrik/ Pak Grandis ini ahli geofisika yang tentunya akan lebih jelas mendongengkan geolistrik ini. 58. nurman, on 8 Juni 2008 at 7:30 am said: cuma pengen tanya. 1. baseflow real dialamnya itu apa yach? 2. interflow juga realnya di alam tu gimana? 3. kenapa air sungai kalo kering kadang masih ada airnya? 4. tahu tentang model simhyd g?

59. gifar, on 6 Juni 2008 at 2:53 pm said: saya pengen tau, bagaimana keadaan struktur tanah setelah gempa terjadi.

60. acakadut, on 2 Juni 2008 at 4:28 pm said: Maaf numpang nimbrung nih, kalo bapak ada yang punya Kualitas masalah dengan air tanah, mungkin bisa saya bantu semampu saya

61. Puji, on 14 Mei 2008 at 7:54 am said: Cuma sedikit numpang nanya, gimana dengan keadaan air tanah di daerah karst? apakah semuanya juga sama? dan apakah air tanah di daerah karst juga selalu di daerah tekuk lereng? makasih.plis dibales yach??? kalo perlu ma beberapa alamat sites yang berkaitan dengan air tanah daerah karst+sumur artesis:)

62. ANDRE, on 13 Mei 2008 at 12:36 am said: MAU TANYA NICH , AKU SEDANG MEMBANGUN RUMAH DENGAN MENGGUNAKAN PONDASI SUMURAN, JUMLAH SUMURANNYA ADA 18 , 3 DIANTARANYA PADA SAAT MENGGALI MENEMUKAN SUMBER AIR YG CUKUP BESAR PADA KEDALAMAN 3 METER . POSISI 3 SUMURAN YG KELUAR AIR TERSEBUT BERDEKATAN (POSISI SEGI TIGA JARAK 1M) SETELAH 3 SUMURAN TERSEBUT DI COR DITENGAH-TENGAHNYA AKU GALI SUMUR DENGAN KEDALAMAN 3.5 M DAN JUGA MENJUMPAI AIR DENGAN DEBET YG CUKUP TINGGGI DIMANA AKU COBA KERINGKAN DENGAN MENGGUNAKAN 2 BUAH ROBIN 5 PK SEHARIAN TIDAK BISA KERING. KETINGGIAN AIR SEKARANG 1 M DIATAS PERMUNGGKAAN TANAH SETELAH CINCIN DIAMETER 1 M AKU PERKECIL DNG DIAMETER 40 CM. NAMUN AIR NYA SEPERTI MENGANDUNG ZAT BESI YG TINGGI DAN BERBAU. PERTANYAAN AIR APAKAH YG DITEMUKAN, APA TDK MENGGANGGU KEPONDASI BANGUNAN, TRIMS

63. Panca, on 5 Mei 2008 at 10:53 pm said: Mohon solusinya dari bapak2 pakar sumur bor, begini kasusnya saya baru seminggu bikin sumur bor pake jet pump 370 watt (40m seduction 40m pancar) 85 ltr/mnt awal2nya air cukup besar, tapi sekarang2 baru 10 menitan air keluarnya kecil sekali hampir gak keluar, tapi tiba2 keluar lagi sebentar. Yang mau tanyakan apakah debit air didalam sumur memang sedikit? bagaimana solusinya. sebagai info pompa jetpump tabungnya gak dipasang, cuma ditutup dop aja, apakah ada pengaruhnya?

64. surya, on 21 April 2008 at 9:44 am said:

Pak Fajar apakah ada yang bisa bantu untuk pekerjaan geolistrik di lokasi project kami ? kalau ada yang bisa mohon hubungi via email tjansurya@yahoo.com terima kasih

65. Iwan, on 15 April 2008 at 6:03 am said: Bapak2 ahli sumur, Apakah sumur pantau yang sudah tidak dipakai perlu ditutup, dan material apa yang diperlukan untuk menutup, apakah cukup dengan lempung, apakah ada susunannya? Please advice.

66. Luthfie, on 12 April 2008 at 4:26 pm said: Permisi pak rovicky,boleh ikut nimbrung, Kebetulan saya bekerja di Pusat Lingkungan Geologi (dh Direktorat Geologi Tata Lingkungan)yg mengurusi airtanah. Menarik sekali artikel disini,saya coba ikut urun rembug disini 1. Kenapa ddapat air asin Karena adanya intrusi airlaut,sebetulnya bisa dideteksi dari geolistrik Bila ada sumur yg menghasilkan air tawar disekitarnya bisa ditanyakan log bornya atau posisi aquifer. Bisa juga terjadi kontaminasi dari aquifer yg asin,karena konstruksi sumur yg salah. 2. Untuk beasiswa s2 di bidang airtanah coba aja datang ke FITB ITB,kebetulan sekarang saya sdg kuliah disana.gratis 3. Untuk mengetahui kondisi hidrogeologi di instansi kami sudah ada peta hidrogeologi dan potensi airtanah,kalo untuk seluruh Indonesia belum tercover,tapi untuk jawa sudah lengkap dng skala 1:100.000 4. Apabila dibutuhkan info teknis mengenai airtanah bisa datang ke instansi kami di Badan Geologi, Pusat Lingkungan Geologi Diponegoro 57 Bandung 67. Dwie, on 10 April 2008 at 5:51 pm said: Pak mau nanya nih. Standar masuknya mata jet pump kedalam air itu berapa meter sih?

Kalou mata jet pump terlalu masuk kedalam air apakah pengaruh terhadap keluarnya air? Misalnya begini, sumur dengan kedalaman 40 meter. Permukaan airnya 12 meter dari tanah. kami menyedot airnya dengan jet pump dengan total haed 80 meter. Mata jetnya masuk kedalam air sedalam 16 meter. keluaran airnya jadi kenceng pelan keceng pelan begitu. itu kenapa ya pak? Tolong kirim ke email saya ya pak. Pleace. Trima kasih pak

68. irfan, on 28 Maret 2008 at 4:34 pm said: Dear rekan semua, mau tanya, apakah ada pengaruhnya jika tetangga (2 rumah kekanan dari saya) pasang jet pump yg lebih dari 20 m sementara saya pakai semi jet pump yg dalamnya 13-14 m, dengan kondisi air yg tdk terlalu banyak, soalnya saya perhatikan tetangga sebelah dan belakangnya tidak memiliki air. Dan 6 rumah sebelah kanan saya menggunakan jet pump dengan kedalaman 30-35m. Adakah penjelasan secara ilmiah? (mhn juga di kirimi email ke saya) Mohon bantuannya ya, karena saya sangat membutuhkan air bersih. Terima Kasih, -irfan-

69. mas karyo, on 26 Maret 2008 at 11:44 am said: AssWrWB Yth. Para Rekans Pemerhati > Saya tinggal di daerah Curug Kalimalang dan air saya peroleh dari air tanah sedalam 60 meteran yang dibor sejak 6 tahun yang lalu dan disedot menggunakan jetpump 250 watt 2 pipa.Tiba-2 air menjadi nggak jernih kayak ada sedikit endapan kopi. Hal ini terjadi sejak 3 minggu yl. Kemudian dengan bantuan tukang sumur 3 hari yl kami kuras dengan pompa penyedothasilnya endapan kopi ilang tapi air tetap nggak bening (nggak tembus pandang kata si tukang).Dan menurut tukang ini disebabkan oleh getaran /hentakan jetpump yang mengakibatkan tanah disekitar pipa tidak rapat dan longgar berguguran sehingga air yang di atas dan air yang dibawah menjadi tercampur , air jadi nggak bening/buthek.Hal demikian ,katanya sih sudah tidak diatasi lagi. Sarannya si tukang sumur : ngebor lagi dengan diameter pipa yang lebih kecil dan menggunakan pompa engkel Shimizu 1 pipa, tanpa jetpump. Jika rekans punya ide/saran mohon di share ke saya. Terima kasih. Wass

70. ariana, on 24 Maret 2008 at 11:29 am said: please bgt kirimin ke email: yannovfer@yahoo.com ttg siklus air tanah and proses air tanah.. bantuin dongxxxxx,,,,,,,,, lengkap dgn gambar yaaaaaaaaaa???????? ok??????????

71. ariana, on 24 Maret 2008 at 11:27 am said: tolong dongxxxxxxxx,,,,,,,, kirimin gambar ttg siklus dan proses air tanah.. sy cari bgt nec. please bgttttttttttttt,,,,,,,,, ok mas ya????????

72. PlasmaNet, on 19 Maret 2008 at 12:52 pm said: mo, nimbrung nich mas masalah airair.air sebagian masyarakat kita kewalahan u/ memperolehnya. Kalo di perkotaan mungkin sebagian yang berdomisili di daerah ekonomi padat modal, tidak masalah dgn cara apapun dpt diperoleh. sementara kalo di daerah pinggirannya seperti di JKT di daerah marunda, muara angke, pluit mungkin u/ minum harus belanja air dalam galonan atau belanja air gerobag dorong. Hal lain juga masyarakat tidak dianjarkan u/ hemat air..ya tak mungkin juga, kecuali pemda setempat menyedian teknologi pengolahannya. Lainlagi dgn kasus-kasus masyarakat yg tinggal di permukiman petakan, BTN-RSS yg notabene memiliki lahan sempit-terbatas 60m2 habis dijadikan bangunan. tak ada sejengkal tanah terbuka sebagai sumber resapan. sumber air dalam tanah.juga umumnya diperoleh dari pompa dangkal antara 9 s/d. 22 meter. Kecuali yg punya duit bisa bikin sumur semi-jet pump. apa yg terjadi tetangga sebelah teriak kalo dah musim kemarau. apalagi umumnya pemasangan sumur pompa tandi berhimpitan di belakang rumah mungkin jaraknya tidak lebih dari 2 s/d. 3 meter membentuk bujur sangkarya maklum kan kalo permukiman RSS-BTN biasanya dibangun bertolak belakang jadi yg ideal pasang pompa merapat di tembok belakang. Pertanyaan saya kok, kenapa enda dibuatkan banker air setiap blok lokasi sajasehingga tidak merusak air tanah secara besar-besaran. Lalu gimana kalau u/ mendapatkan air bersih terutama masyarakat di pedesaan yang

tempat tinggal di daerah gambut..masayarakat yang tinggal di daerah permukiman transmigrasi pada lokasi lahan perbukitan. Bagaimana mau mendapatkan air bersih.sumber air u/ daerah perbukitan seperti yg pernah aku alami di lokasi transmigrasi SP III mekar Jaya Bengkulu Selatan di peroleh dari menyadap dgn bambu..lalu di alirkan ke bak kolam tanah, baru di alirkan ke drum/bak mandi. Mau tau gimana sumbr mata air itu kondisinya.? ternyata kalo malam hari itu tempat minumnya binatang liar (babi hutan)..makanya tak heran anak-anak usia sekolah banyak terjadi penyakit gatal, dll. karena waktu itu belum ada teknologi sederhana yg dpt diadopsi masyarakat. Lain, lagi dgn masyarakat yg tinggal di daearah permukiman lahan lahan gambut. Kondisi rumah dari welit alang-alang, jarak sumur gali dgn kandang sapi tak jauhapalagi lantai rumah tidak ada kecuali tanah yang dipelur dgn campuran sekam. Bisa di bayangkan enda.bagaimana kondisi air sumur itu kalo musim hujantentang resapanbagaimana kalo musim debu..kotoran ternak sapi pasti berterbangan kemana2.ditambah lagi kakus jemplung yg berbantal bambu terasa pengab kalo kita nongkrong u/ buang hajat besar. Pertanyaan ku buat mas wong LIPI.gimana tuh kira-kira menangani kebutuhan air bersih buat masyarakat yg memiliki tepat guna, kayaknya sejak 80 LIPI kan dah kembangkan tekdes (teknologi desa).sayang hasil risetnya enda sempurna diterapkan. Mudah-mudahan nich setelah selesai studi bisa kembangkan air bersih buat masyarakat desa. Sayim Dolant 085695498993

73. Rovicky, on 30 Januari 2008 at 4:36 pm said: Kualitas air tanah tidak mudah diketahui dari geolistrik. Tetapi secara kualitatif bisa dibedakan antara air asir (lebih konduktif menghantar listrik) dibanding air tawar (resitive menghambat aliran listrik). Prinsip geolistrik ini hanyalah melihat resistivitas batuan. Batuan yang tidak mengandung air akan resistive (tahanannya besar), yang mengandung air tahanannya lebih kecil (more conductive). Sedangkan kalau airnya asin maka tahanannya rendah, karena air asin itu lebih mudah menghantarkan listrik ketimbang air tawar.

74. Rovicky, on 30 Januari 2008 at 1:44 pm said: Geolistrik lebih banyak utk mengetahui keberadaanya. Secara kualitatifnya harus menggunakan uji testing atau dipompa dan diketahui dari seberapa kapasitasnya. Tetapi

bisa diketahui ketebalan (approximate/kira-kira) kalai diketahui atau memiliki data sumur sekitarnya ya bisa saja secara kualitatif diperkirakan potensinya secara kasar.

75. jechri, on 30 Januari 2008 at 12:41 pm said: Di sini di sebutkan bahwa air tanah dapat di cari melalui banyak cara, salah satunya metode geolistrik tahanan jenis. Dengan metode ini saya mau tanya, secara teoritis kita bisa tentukan besarnya potensi(kwantitas) air tanah di suatu tempat?, caranya bagaimana?. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih

76. Moh. Aluwi, on 30 Januari 2008 at 11:28 am said: Terima kasih pak Rovicky atas info di blognya. dan terima kasih pada rekan-rekan yang berpartisipasi mengisinya. Orang tua saya tinggal di daerah Gresik kecamatan Manyar kira-kira 3 km sebelah selatan aliran bengawan solo. Barangkali lokasi kira-kira 3 km dengan Pak jumadi dari Glagah Lamongan. Warna tanahnya hitam seperti lumpur. Karena ada bendungan jadi nggak kebagian air bengawan solo yang merah. Sekeliling desa adalah areal pertambakan. kalau musim kemarau sumur galinya sedalam 7 meter kekurangan air dan keasinan. Tetangganya ada yang mencoba ngebor sampai 30 meter hasilnya asin. ada info kalau lokasi sekitar 2 km sebelah barat dapat sumber air dengan mengebor sedalam 120 meter. info lainnya bahwa 2 km sebelah timur desa orang tua tersebut ada sumur peninggalan wali yang mengeluarkan sumber air tawar. Kalau tetangga Pak Jumadi di daerah Lamongan mengebor sedalam 100 meter sumbernya asin apakah disebabkan tercemarnya air permukaan? Kami coba mencari peta hidrologi daerah orang tua tersebut dalam website tapi link yang ada memang sengaja tidak dibuka untuk umum. Barangkali ada pembaca yang bisa kasih peta hidrologi daerah orang tua saya tersebut saya ucapkan terima kasih. Tukang bor tidak berani jamin kalau didaerah orang tua saya tersebut bisa menemukan air. Apa ada saran dari pak Rovicky agar orang tua saya dapat menemukan sumber air artesis yang murah. Mohon dikirim infonya tentang geoelectricnya.

77. dayat, on 29 Januari 2008 at 1:39 pm said: mas.. daerahku di cildeuk pondok aren kebetulan bekas sawah, air nya parah bgt, kalo bor 30mteran tetap bau.. kuning dan diatsnya minyak seperti karat tapi pengalaman orang dsna,,, cuma bisa buat mandi itu pun harus dikuras dulu kadang samapai 1 tahun!, padahal casingnya ssampai kebawah.. waktu itu dikasih tau.. kalo untuk bisa minum

harus bor diatas 50m aku agak ragu karena belom ada yang benr2 tes air sehatnya cuma manual air teh tolong dong sarannya.. kalo untuk air minum apakah harus diats 50.. oya apakah tiap lapisan itu air bersihnya berbeda

78. Rovicky, on 28 Januari 2008 at 9:58 pm said: Air artesis mengambil air di dalam batuan yang berbeda dari air sumur biasa. Jadi kalau sumur yg di pabrik itu diambil dari bagian yang dalam saja, maka tidak menganggu sumur dangkal. Jadi harus diyakinkan bahwa yang diambil hanya bagian yang dalam saja. Lihat gambar paling bawah dalam tulisan diatas

79. Neni, on 28 Januari 2008 at 9:21 pm said: Dilingkungan saya akan didirikan sebuah pabrik,dengan mengoperasikan sumur artesis. Saya pengen tahu dampaknya pada lingkungan saya terutama kebutuhan air. Apakah benar kalau dilingkunan kita ada sumur artesis, sumber air disekitarnya akan habis. Bila benar sampai berapa radius meter dampaknya.Saya tunggu jawabanya secepatnya. Trima kasih

80. arie, on 7 Desember 2007 at 12:46 pm said: artikelnya yang bagus pak, saya jadi nambah ilmu neh tentang air tanah.soalnya sekarang saya jadi marketing jasa pembuatan sumur bor, yang sebenarnya tidak saya kuasai dan harus belajar banyak tentang macam2 air dan tanah. jadi saya pasti sering mampir kesini.terimakasih. salam, arie http://www.sumurbor.com

81. maya, on 5 Desember 2007 at 9:43 am said:

gmana yah nyambunk ga penelitian d pdam? apa pdam sering nyari sumber mata air? rencana seh penelitian di situ/

82. Rovicky, on 4 Desember 2007 at 12:08 pm said: Wah kalau biaya membuat sumur air aku ngga tahu niih maaf, aku bukan bekerja dibidang air tanah. Kalau ngebor sumur minyak di laut dalam mah bisa 100 juta dolar

83. sadewa, on 4 Desember 2007 at 11:57 am said: Dear P.Rovicky Melanjutkan Sdr. Riyani Aris, berapa biaya untuk membuat artesis Pak ? Lokasi di dekat waduk cacaban, Kab Tegal. Masyarakat yang tinggal diatas waduk/bukit selalu kekurangan air. Pls segera dijawab ya Pak Terima kasih

84. fadhli idrus, on 3 Desember 2007 at 7:37 pm said: Dear pak Rovicky,. saya lulusan S1 geology salah satu PTS di yogyakarta, sekarang saya kerja di water well contractor di semarang, saya sangat tertarik sekali dengan ilmu airtanah, dan saya ingin sekali melanjutkan study airtanah, mohon referensi beasiswa S2 gratis untuk bidang ini dan trik apa yang mesti saya lakukan untuk mendapatkan beasiswa tersebut. trims..

85. ambigultom, on 23 November 2007 at 9:59 am said: saya pernah ngobrol-ngobrol sama teman, tentang bisnis pengeboran air, sepertinya berdasarkan cerita teman tersebut bisnis pengeboran air, sangat menjanjikan yang ingin saya tanyakan : a. apakah betul bahwa bisnis pengeboran air sangat menguntungkan? b. saya sangat awam dalam hal pengeboran air (bidang saya saat ini di bidang

HUKUM), apakah saya bisa belajar sendiri? terima kasih.(mohon maaf jika pertanyaannya dari segi ekonomi)..

86. heri s, on 29 Oktober 2007 at 12:06 pm said: numpang tanya juga nich pak untuk mrngatasi air kuning gimana yha

87. Rovicky, on 26 Oktober 2007 at 4:16 pm said: Akifer bebas itu dangkal, sehingga dapat diakses oleh masyarakat awam (umum/domestik). Untuk instansi karena kebutuhannya besar ya harus kerja dikit-lah, dengan mengebor yang dalam sana. Setahu saya utamakan penggunakan air permukaan kemudian gunakan air tanah dangkal kemudian yg dalam setelahnya. Neraca yang dangkal relatif lebih pendek siklusnya yang dalam lebih panjang.

88. tessa, on 26 Oktober 2007 at 4:04 pm said: salam kenal pak, Ada pertanyaan dosen yang membingungkan saya, mengapa sekarang ini pemenuhan kebutuhan air domestik mengambil dari akuifer bebas, sedangkan untuk keperluan lain, seperti instansi yang debitnya lebih besar mengambil dari akuifer tertekan? Lalu, satu lagi, upaya yang paling tepat dilakukan untuk konservasi SD Air dengan apa, khususnya di Indonesia? (dengan memperhatikan neraca air suatu daerah) 89. Rovicky, on 25 Oktober 2007 at 4:04 pm said: FYI> Mas Rovicky Seingat saya, Geofisika UGM pernah terlibat dalam pencarian air tanah (pemetaan sungai bawah tanah) di daerah susah air Gunung Kidul, Yogyakarta. Waktu itu metode yang di gunakan adalah VLF. Sedang Geolistrik pernah dipakai untuk pemetaan air tanah yang sudah tercemar di daerah wonosari, Yogyakarta. Waktu itu proyek ini dipakai untuk Tugas akhir mahasiswanya. Dan biaya pun sepertinya tidak semahal yang diutarakan di

bawah. Kan bisa saling mutualisme dengan Tugas akhir mahasiswa. Mungkin bisa contact ke sismanto@ugm.ac.id. Beliau dosen geofisika UGM yang dulu jadi koordinator untuk project tersebut. Semoga dapat membantu Best Regards, Yunus R Kusuma Alumnus Geofisika UGM 99

90. priyono, on 25 Oktober 2007 at 3:55 pm said: salam kenal pak, begini saya tinggal dilingkungan pegunungan yang gundul, tapi belakangan ini saya mengalami kekeringan yang luar biasa, yang say ingin tanyakan bagaimana menentukan sumber air untuk dijadikan sumur bor, karena sekarang ini sumur gali kedalaman 12 meter sudah kering, kira-kira kedalaman berapa saya bisa membuat sumur bor? 91. jumadi, on 20 Oktober 2007 at 1:21 pm said: saya tinggal di lamongan, selama ini tempat saya selalu terkenal dengan air yang berlimpah. Namun beberapa tahun terakhir ini kampung saya selalu mengalami kekeringan air yang berkepanjangan. ada beberapa sumur di tempat kami tapi semua sumur airnya asin. ada tetangga yang mencoba mengebor sampai kedalaman 100 meter tapi airnya juga asin. untuk mencari sumber air tawear bagaimana ya caranya pak? kalaupun tidak mada sumber air tawar cara pengolahan air asin menjadi tawar yang murah bagaimana pak ya? alamat saya desa duduklor kec. glagah kab. lamongan. atas bantuannya terima kasih salam, jumadi 92. roel, on 19 Oktober 2007 at 10:40 am said:

Saya sepertinya harus pasang filter di rumah berhubung airnya cepat sekali kuning. Ada rekomendasi untuk mesinnya? dan beli dimana? dengan budget pas-pasan? di Jakarta/tangerang? Kalau harus gali lagi pusing,jadi mau pasang filter saja. Mungkin ada yang bisa bantu? terimakasih

93. Riyani Aris, on 17 Oktober 2007 at 7:20 pm said: Maaf, salah ketikmesin pompa Grunfossnya 3/4PK..tks

94. Riyani Aris, on 17 Oktober 2007 at 7:19 pm said: Ass Wr Wb. Pak Rovicky dan Pak Fajar yg baik.., saya sedang kebingungan berat, mohon bantuannya.. Saya sedang membuat sumur dalam, di Cilembu Sumedang, tapi sampai kedalaman 61m (enampuluh Satu mtr)tidak dapat air. Tanah di daerah ini merah (dan dapat dibuat batu bata, mungkin berlempung ya?)Pada proses penggalian sumur, pada kedalaman kira-kira 50 m, mulai dapat batu-batu kecil. Air hanya ada sedikiiittt sekali, disedot pake pompa Grunfoss 33/4PK Submersible), hanya 5 menit, trus airnya habisangin doang. Pak Rovicky/ Pak Fajar, Langkah apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan air di daerah tsb? Apa perlu uji dgn Geolistrik? Brapa biayanya? Berapa titik yang harus diuji? (luas area 3,5Ha).Kedalaman berapa sumur yang harus di bor? Saya mendapat penawaran sumur bor 150mtr, dgndiameter 6, saringan Johnson USA, biayanya 150jtMuahaallll sekali, dan pasti saya tidak sanggup Apakah ada cara lain, Pak. Terimakasih atas jawaban Bapak

95. wiwiet, on 13 Oktober 2007 at 3:55 am said: dear bp.RIrawan. pak kami ingin tahu teknik mengetahui secara pasti kondisi masih ada atau tidaknya air di dalam pipa pada sumur pompa kami yang pada kedalaman 13 meter,karena 1 minggu ini sumur pompa kami macet.kami sdh coba dgn memasang 2 mesin pompa untuk mengangkat air tapi hasilnya belum bisa.mengingat rumah kami kecil dan sempit di kawasan cipinang dan sumur berada di dalam rumah,kami ingin mengatasi sumur

tersebut tanpa membuat sumur baru.dan jika ternyata di dalam pipa luar terdapat timbunan lumpur bagaimana cara mengangkatnya pak?kami menggunakan mesin pompa shimitzu 125 watt dan semi jet pump merk national 200 watt.sudilah bapak membantu via emaill kami atau rubrik ini.trimakasih sebelumnya dan salam.

96. RIrawan, on 5 Oktober 2007 at 2:32 am said: Aduh om, saya menikmati dan belajar meresapi banyak tulisan om Papang yang menjelalah ke berbagai hal hingga ke nostalgia. Baiklah, saya akan coba mengemukakan pendapat saya, meskipun akhirnya hasil empirislah yang mengesahkannya. Tetapi saya tanggapi di blog Hotmudflow ya om, banyak kawan di sana yang bisa mengikutinya

97. ompapang, on 4 Oktober 2007 at 9:59 pm said: Pak RIrawan, saya belum pernah nyoba, tapi hanya angan-angan saja. Begini, pompa dipasang 8 meter diatas muka air dan diujung bawah pipa isap tidak diberi foot klep(atau foot klepnya bocor ).Jadi pipa isap berisi udara. Saat mesin pompa belum dihidupkan, bila dilubang masuk dipasang manometer, alat itu akan menunjuk tekanan 0 bar dan setelah mesin dihidupkan air lama-lama akan memenuhi pipa isap dan selanjutnya masuk kepompa terus ditekan keluar lewat pipa tekan. Pada saat air mengalir masuk kepompa, manometer tersebut bila sensornya melawan arus mestinya akan menunjuk positif dan bila membelakangi arus akan menunjuk negatif.Yang tidak dapat saya bayangkan, tekanan negatif tersebut apakah setara dengan tinggi kolom air 8 meter atau lebih. Bila lebih, apakah lebihnya itu karena tekanan negatif dari kerja pompa, mengingat sebelum mesin hidup tekanannya =0. Yang kedua, untuk pompa pakai jet, paling efektif berapa bagian (%) dari total discharge yang disirkulasi kebawah untuk mendorong keatas. Demikian Pak RIrawan, mohon pencerahan. 98. RIrawan, on 4 Oktober 2007 at 9:08 pm said: Benar om Papang, jika pompa diturunkan sehingga jaraknya hanya 5 m di atas permukaan air, pompa akan dapat menyedot dan mengirimkan air ke atas, asalkan pompa itu mempunyai karakteristik: 1) NPSH (required) lebih kecil daripada 4 m (10,3323 m 5 m rugi geser vapour pressure) 2) Total Head pompa lebih besar daripada 18 m (16 m + rugi geser + sedikit kenaikan tinggi).

Namun metode Vacum-Reservoir dengan 2 check-valves akan tetap membentuk beda tinggi 16 m H2O antara permukaan air sumur hingga ke mulut pompa. Maka tekanan atmosfir yang hanya 10,3323 m tidak cukup untuk mendorong permukaan air di luar pipa-hisap, sehingga perlu dibantu dengan dorongan dari luar agar air sumur bisa naik lebih tinggi hingga memasuki mulut pompa, misalnya tekanan air discharge yang sebagian dikirim turun ke venturi-jet yang dipasang di tengah pipa-hisap tetapi tidak jauh diatas permukaan air sumur.

99. ompapang, on 4 Oktober 2007 at 5:17 pm said: Pak Dhe & Pak RIrawan, yang dijelaskan oleh pak RIrawan tersebut dipasaran dikenal dengan nama JET-PUMP yang sangat atau paling cocok untuk sumur pantek atau sumur bur. Jet pump bahkan ada yang bisa menyedot sampai 40 atau 45 meteran. Kalau yang dimaksud BUKAN JET PUMP dan bukan sumur bur tetapi SUMUR GALI, MUNGKIN pakai cara tambahan 1 vacum reservoir yang dipasang ditengah-tengah pipa isap. Jadi dari vaccum reservoir kebawah sampai muka air, panjang pipa,h1= 8 meter dan keatas sampai mesin pompa ada pipa isap h2=8 meter yang dilengkapi foot klep juga.Jadi ada 2 foot klep.Total ketinggian dari muka air sumur sampai pompa yang ada diatas menjadi h=16 meter. Misal reservoir tersebut dibuat dari drum kecil tinggi 60 cm dan diameter 40 cm.Pipa isap dari bawah dipasang menembus lantai reservoir kemudian ujungnya berada 10 cm dari tutup reservoir,sehingga panjang pipa isap dari bawah yang ada didalam drum, h3 = 50 cm.Selanjutnya pipa isap diatas reservoir juga masuk dengan ujungnya berada 10 cm dari alas drum, sehingga panjang pipa isap bagian atas yang ada dalam drum, h4= 50 cm. Vacum reservoir tersebut dibuat kedap udara.Cara pengoperasikannya, sebelum mesin pompa dihidupkan, seluruh pipa isap dan drum reservoir dipenuhi air lebih dahulu (sebagai pancingan). Saat mesin pompa dihidupkan, air dari reservoir disedot keatas melalui pipa isap bagian atas yang panjangnya h2=8 meter.( kurang dari 10 meter).Karena diisap keatas, permukaan air dalam reservoir turun sehingga diatas muka air dalam drum terjadi vacum (tekanan lebih kecil dari tekanan udara luar yang menekan muka air sumur.Akibatnya air dari sumur mengalir kedalam reservoir melalui pipa isap bawah h1= 8 meter yang saat sampai diujungnya dalam drum, berupa air MUNCRAT (keatas) kemudian jatuh menggenang didalam drum reservoir mengganti air yang diisap lebih dahulu oleh pompa saat awal dihidupkan. Selanjutnya air tersebut diisap keatas seperti pada proses awal, sehingga secara terus menerus air dipompa dari kedalaman 16 meter sampai ketinggian sesuai unjuk kerja/performance pompa.(total head yang bisa dicapai ). Andaikan TEORI tersebut betul ,maka apa yang ditanyakan bisa TERJAWAB. Ada cara lain yang paling mudah, pompa isap dibuat panjang 4-5 meter dengan 1 foot klep, dipasang dan diisi air pancingan, kemudian setelah pipa tekan (keluar) yang pertama dipasang 1 batang (4 meter), pompa diturunkan (dikerek) dengan kawat jemuran diameter 1-1,5 mm,setelah pompa masuk kedalam sumur 3,5 meter pipa tekan ditambah sambungan 4 meter lagi tanpa perekat (lem). Begitu seterusnya sampai ujung pipa isap yang ada foot klepnya masuk kedalam air sekitar 1 meter atau lebih.Dengan demikian didapat panjang pipa total dari muka air sumur sampai permukaan tanah sekitar 16

meter.Karena kemampuan pompa total headnya biasanya lebih dari 20 meter, maka dengan ketinggian 16 meter tersebut air PASTI bisa mengalir, sebab panjang pipa isapnya hanya 5 m (kurang dari 10 meter ).Sedang sisanya berupa pipa tekan.

100. Rovicky, on 4 Oktober 2007 at 1:35 pm said: Roely Ini jawaban dari Pak RIrawan, seorang kawan yg suka ngutak utik rumus Jika pompa air adalah jenis centrifugal biasa dengan 1 pipa-hisap dan 1 footvalve, maka TIDAK MUNGKIN BISA menyedot air sedalam 16 meter, sebab bertentangan dengan hukum alam. Air bisa naik disebabkan oleh tekanan 1 atmosfir (1,01325 bar) atau 10,3323 m H2O pada 4 C, yang menekan permukaan air di luar pipa-hisap, sehingga air dapat naik ke dalam pipa-hisap yang divakumkan oleh pompa. Yang dimaksudkan dengan dobel-klep mungkin adalah venturi-jet, yang diletakkan di ujung bawah pipa-hisap. Pompa ini memerlukan 2 pipa yang masuk ke dalam sumur, yang pertama adalah pipa-hisap, yang kedua adalah pipa yang membalikkan sebagian air dari discharge ke venturi-jet, yang berfungsi untuk mendorong air agar naik lebih tinggi.

101. roely, on 4 Oktober 2007 at 12:20 pm said: kalao pompa air 125 Watt Panasonic bisa gak ya utk nyedot air sedalam 16 meter? Katanya bisa pake dobel klep, maksudnya apa ya? Trims

102. Rovicky, on 21 September 2007 at 12:10 am said: Iza cara ini dikenal dengan nama Dowsing Coba baca disini : http://en.wikipedia.org/wiki/Dowsing semoga membantu

103. iza ahmad, on 21 September 2007 at 12:03 am said:

Assalamualaikum. Saya tertarik dengan perbincangan masalah air, saya mempunyai kasus masalah pendeteksian sumber air tanah dengan menggunakan semacam pendulum yang baru 1 bulan tahu dari ayah saya yang iseng mencari sumber-sumber air di pekarangan rumah dengan pendulum yang terbuat dari dua buah antena TV bekas yang ditancapkan pada handle paralon yang dipegang terpisah dengan dua tangan, sehingga antena dapat berputar bebas 380o. Waktu pendulum tersebut dibawa berjalan akan bergerak saling menjauh dan saling mendekat/menyilang dengan tanpa menggerakkan tangan saling mendekat atau menjauh. Pada saat pendulum bersilangan itulah dimana di situ terdapat sumber air, semakin menyilang maka semakin besar pula sumber air tanah yang terdeteksi. Saya percaya waktu saya berjalan mendekati sumur pompa di rumah dan menjauhinya pendulum tersebut menyilang dan saling menjauh. Nah, setelah bercerita panjang lebar, faktor apa saja yang mempengaruhi gerakan pendulum tersebut sehingga menghasilkan reaksi pada pendulum???. Saya sebagai mahasiswa D3 Elektro semester V yang sebentar lagi mengerjakan tugas akhir ingin sekali mengembangkan pendulum tersebut dengan sentuhan elektronik. Dan apakah sudah ada alat yang lebih canggih untuk mendeteksi sumber air???? Demikian pertanyaan saya dan harap segera di-reply dunk!! Terima kasih. Wassalam 104. tedy, on 3 Agustus 2007 at 6:18 am said: salam kenal, sepuluh tahun yang lalu saya memiliki deepwell dgn kedalaman sekitar 110 meter. 5 tahun yang lalu saya melakukan peniupan / kompresor untuk membersihkannya dan dinyatakan telah bersih. saat ini saya bermaksud memakai deepwell tersebut untuk keperluan industri, namun pada saat saya melakukan peniupan ulang, saya kesulitan dalam melakukan peniupan tersebut. ketika saya lot sumur saya, saya mendapatkan adanya halangan pada kedalaman 40 meter. saya lanjutkan dengan melakukan coring, sirkulasi dan pengambilan sample dari dalam sumur, namun sample tersebut tidak berhasil saya peroleh. data saya mengenai deepwell tersebut sebagian besar telah hilang, namun seingat saya posisi reducer berada di posisi diantara itu. saya curiga adanya batu kali di dalam deepwell saya. yang saya ingin tanyakan adalah langkah langkah apa yang harus saya lakukan untuk mengambil batu kali tersebut? apakah mungkin saya dapat membor batu kali tersebut? adakah kemungkinan kontruksi deepwell saya telah berubah? apakah penggunaan bentonit dan lempung kuning dapat menyumbat screen saya dan menutup pori pori dari aquifernya. saya mohon bantuannya. terima kasih. 105. t heryoga, on 30 Juli 2007 at 7:09 am said:

Pasca gempa di jogja Mei 2006, banyak sumur2 di Gunung Kidul yang airnya menghilang. Dari sekitar 700 buah sumur di desa Pengkol Kecamatan Nglipar Gunung Kidul mungkin kurang dari 10% yang hingga saat ini masih aktif, padahal sebelum gempa terjadi sumur2 ybs mempunyai debit air yang bagus. Pertanyaannya adalah : 1. Apakah sumur2 yang tidak aktif lagi sesudah gempa masih bisa diperbaiki kembali seperti sediakala, dan jika memungkinkan kiat2 apa saja yang diperlukan ? 2. Kemungkinan2 apa saja yang menyebabkan keringnya sumur2 didaerah tersebut dikarenakan adanya gempa bumi tahun lalu ? 3. Masih adakah kemungkinan untuk mendapatkan air didaerah tersebut dengan melakukan penggalian maupun pengeboran untuk mendapatkan pasokan air ? Terima kasih

106. deny, on 23 Juli 2007 at 4:09 am said: maaf pak apakah saya perlu cara untungan-untungan biasanya berapa meter kedalaman untuk sumur pantek yang pakai casing untuk kasus yang tanah bekas rawaurukan ? ada kah cara lainya pak atau saya cari tempat baru harus dengan speksifikasi apa?

107. Rovicky, on 23 Juli 2007 at 3:43 am said: -> Deny Air tanah dangkal (sumur gali/pantek) biasanya sangat cepat berubah kualitasnya pada jarak pendek. Antar satu rumah dengan rumah yang lain yang berdekatan akan sangat mungkin bervariasi. hal ini teutama pada kompleks perumahan baru dimana tanahnya berasal dari tanah timbunan yang sebelumnya berupa rawa. Tanah yang berasal dari kebun kosong akan lebih bagus airnya ketimbang tanah bekas rawa. Tanah bekasa rawa masih sering menyisakan indikasi air rawa yang berwarna hitam dan berbau. Usaha memperdalam sumur belum tentu juga menghasilkan yang lebih bagus kalau tidak diketahui dengan pasti kondisi sekitarnya. Namun cara (untung-untungan) ini pasti akan menjadi alternative yang terbaik terutama apabila air pipa (PAM) tidak tersedia. Pembuatan profil sumur dengan selubung (casing pipa) akan membantu mengisolasi air dangkal yang berbau dengan air yang relatif bagus dari dalam. 108. deny, on 23 Juli 2007 at 3:34 am said:

pak saya mau tanya baru mao pindah ke rumah yang baru disitu air tanah nya blm ada. beberapa hari yang lalu saya coba bikin sumur pantek kedalaman 9 meter, itu yang keluar lumpur hitam dan berbau, klo saya lihat di tentangga kanan kiri mereka rata 8-9 meter sudah bagus,dan biasa tukang pantek sumur bilang udah ngak sangup lagi. mereka bilang harus 20 meter. pak gimana yah cara biar dapat air tanah yang bagus?

109. Fajar Lubis, on 17 Mei 2007 at 6:14 am said: Numpang lewat Mas Vick ditanyain orang soalnya ;p Pertanyaan ini sulit-sulit mudah. Sulitnya karena sama sekali tidak ada data yang mendukung, misalnya rumah pak pram dimana, bagaimana kondisi tanah dan batuannya serta banyak lagi. Mudahnya, karena konsep sumur resapan ini sebenarnya sudah sangat gencar disosialisasikan oleh pemerintah. Jadi untuk menjawab hal ini sebenarnya pak Pram bisa berkonsultasi dengan instansi terkait seperti dinas PU atau dinas pertambangan terdekat. Tapi saya coba bantu jawab ya : 1. Pada prinsipnya sumur resapan itu adalah mengumpulkan air hujan yang jatuh di sekitar rumah dan membantu mempercepat proses peresapannya ke dalam airtanah untuk akhirnya terkonsentrasi jenuh menjadi airtanah. Posisi sumur resapan : Sumur resapan itu sebaiknya disimpan di bawah talang (seluruh talang diatap rumah diarahkan menuju titik ini. Bagaimana jika tidak mempunyai talang air? Di ujung pelimpasan genting dibuat saluran kecil menyerupai parit untuk diarahkan ke sumur resapan yang akan terletak di titik terendah. Kedalaman sumur resapan : Ini tergantung besaran curah hujan rata-rata, jenis tanah-batuan dan kedalaman airtanah supaya sumur resapan tidak malah jadi meluap atau menimbulkan masalah. Biasanya setiap daerah akan sedikit berbeda konstruksi sumur resapannya tergantung pada kondisikondisi diatas. Untuk lebih jelasnya bisa lihat tetangga yang telah sukses sumur resapannya atau hubungi para ahli yang `bisa mengunjungi` rumah pak Pram. Sedikit tips : Sebaiknya sebelum melakukan hal ini, air hujan dan air sumur dianalisa terlebih dahulu kualitasnya (bisa ke depkes, universitas atau konsultan). Ingat konsep GIGO? apabila air hujan yang akan kita masukkan kondisinya tidak baik maka itu akan mempengaruhi kondisi airtanah yang dimasukinya. 2. Septitank yang baik ..mestinya tidak bocor ;p Penentuan tata letak sangat dipengaruhi faktor : luas halaman rumah, jenis tanah dan

batuan serta kondisi septitank tersebut. Tidak ada aturan yang mutlak untuk pertanyaan ini. Konsultasikan dengan para ahli yang `bisa mengunjungi rumah bapak` untuk mengumpulkan data yang sebenarnya.

110. pram, on 15 Mei 2007 at 7:52 am said: pak fajar yth, ini saya mau bertanya mengenai sumur resapan yang bagaimana yang cocok untuk pengisian kembali cadangan air dibawah tanah, datanya : sumur saya sumur bor dengan kedalaman sekarang 22 meter. Pada awalnya sumur saya mempunyai kedalaman 18 m pada tahun 2005 pernah mengalami kekeringan sehingga muka air tanah turun 1.2 m dan kata tukang bor perlu di perdalam +/- 4 m. Dengan kondisi demikian katanya perlu dibuat sumur resapan guna mencegah menurunnya muka airtanah kembali. pertanyaannya : 1) sumur resapan yang bagaimana yang cocok untuk rumah saya. 2). berapa jarak antara sumur bor dengan sumur resapan dan dengan septitank. terimakasih dan tolong dijawab ya.. pak.. Pram.

111. enny, on 7 Maret 2007 at 8:27 am said: pak,sebenarnya berapa kedalaman air sumur masyarakat yang benar?kalo ada saya tolong diberi tahu literaturnya dari buku apa?atau mungkin kalo ada Undang-undang yang mengatur hal itu.terimakasih pak. 112. Diarto Rahardjo, on 20 Februari 2007 at 3:38 am said: Dear Pak Vicky, Kebetulan skl sy punya rumah baru di Tangerang Kota (Perum Taman Royal). Sy buat sumur baru jet pump kedalaman 22 meter sampai ketemu pasir hitam. Kata orang2 kl ketemu pasir hitam airnya banyak. Memang banyak dan jernih tp ada buntutnya. Hanya dalam 3 hr sj pemakaian awal air menjadi terasa asin shg tidak bisa dipakai untuk memasak/minum. Saya jd bingung hrs bgmnanya. 1 kompleks itu macam2 bgt: depan rumah dalam 20 mtr air berasa bau besi menyengat, agak samping kl didiamkan menjadi kuning, dll. Saya ingin tanya: 1. Apa solusi untuk masalah air berasa asin di rumah sy ini, apakah pindah titik sumur, ato kedalaman ditambah, atao yg lain?. 2. Dimana sy bisa mendapat jasa advice dr hidrogeologist untuk bisa datang ke tangerang?apa punya kenalan?.ato tahu harus kemana saya? Segitu dl dah pak. Moga2 bapak bisa membantu saya.

Diarto

113. Rovicky, on 10 Februari 2007 at 12:30 am said: Dear Atie, 1. Kualitas air tidk hanya tergantung jarak tetapi juga kedalaman. Mungkin berbed sumbernya walopun jaraknya pendek. 2. Coba tanyakan kedalaman yg pas utk air jernih didaerah anda. 3. Ada beberapa sumur dengan kondisi spt itu. karena ada fungsi tanah untuk menyaring air dalam waktu lama. 4. Iya, dapat terpengaruh. Coba dengan sumur bor yg jauuh lebih dalam. periksakan kualitas air di PAM didaerah setempat. 5. coba periksa dengan tetangga2 lain yg memperoleh air bersih/jernih. 6. Iya dan tidak. musim mempengaruhi debit air tetapi kualitas bisa iya bisa tidak.

114. atie, on 9 Februari 2007 at 10:24 pm said: dear pak rovicky saya merencanakan utk membuat sumur bor krn sejak banjir,air pam tdk keluar.kebetulan tetangga sebelah kiri rumah sdh buat sumur bor dgn kedalaman 12 m.air yg keluar awalnya bening tp lama kelamaan jadi kuning (fe-nya tinggi).kalo baca tanggapan bpk pd pertanyaan sblmnya,air yg kaya gini hanya boleh tuk siram2 tanaman (jgn2 malah mati tanamannya) or bisa pake filter yg mahal.atau sdh ada pemecahan yg lain?? tapi tetangga dpn rmh (bjarak krg lbh 7 m),air pompanya jernih & tidak berbau pdhl beliau tdk pake filter. pertanyaannya : 1.kenapa bisa airnya beda banget,pdhl jaraknya tdk terlalu jauh? 2.bgm cara bisa mdptkan air yg jernih dgn kondisi spt ini? o iya,sbg info tmbhn,tetangga sebelah kanan rmh,airnya jg kuning. 3.kata tukang bor tetangga,nanti jg lama kelamaan airnya jernih krn saat ini tanahnya baru dibor.apa bener ya? 4.bhub.rmh kami mungil,jarak sumur bor dgn septic tank hanya 4m.apkh hal ini dpt mempengaruhi kualitas air tanah yg nanti didapat? 5.mungkinkah kalo saya jadi bikin sumur pompa,airnya bisa sejernih tetangga dpn rumah?apa perlu pipanya lebih dari 12m?kt tk bor ttga lg,kalo terlalu dalam,airnya malah tambah kuning.apa benar? 6.apakah ada pengaruhnya thdp kualitas air jk kita membor saat musim hujan dgn musim kemarau? tolong dijawab ya pak.biar saya tdk ditepu sm si tukang bor he..he..sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak!!

115. daniel, on 5 Februari 2007 at 4:30 pm said: Yth. Bpk. Rovicky Keluarga saya berasal dari Gunung Kidul yogyakarta. Mendengar namanya, pasti sudah bisa membayangkan permasalahannya. Saya ditugaskan keluarga untuk mencari informasi tentang kemungkinan pembuatan sumur artesis untuk mengatasi kebutuhan air di kampung kami. Saya buta sama sekali soal artesis. Saya senang sekali kalau Bapak mau membantu saya. 1. Bagaimana cara menentukan titik sumur artesis? 2. Adakah kriteria tanah tertentu yang harus dipenuhi? 3. Apakah kondisi tanah Gunung Kidul secara umum sesuai dengan kriteria tersebut? 4. Adakah data lain yang harus diketahui sebelumnya? 5. Berapa kira-kira biaya pembuatannya? Jawab RDP : Sumur artesis tidak mudah diketahui dengan melihat kondisi permukaan. Sumur artesis berasosiasi dengan kondisi air dalam (air tertekan). Secara general gunung kidul berupa daerah batu gamping, tidak mudah mencari sumber artesis di gunung gamping ini, karena kebanyakan beruba sungai bawah tanah. Yang perlu diketahui justru sebenarnya mencari atau memetakan sungai-sungai bawah tanah. Bisa dilakukan dengan geolistrik, yaitu dengan melihat profil daya hantar listrik bawah permukaan. Wah aku ga tau brapa biayanya

116. Fajar Lubis, on 4 Januari 2007 at 10:20 am said: Terimakasih kepada Mas Vick yang sudah mau repot-repot membantu mengirimkan tulisan saya Untuk Mas Cie dan para mahasiswa yang tertarik dengan diskusi ilmu kebumian, mungkin bisa mampir ke alamat berikut ; http://www.geotutor.uni.cc Geo-tutor ini dibuat oleh para anggota IAGI dengan harapan bisa membantu memperkaya khazanah ilmu geologi kita.

117. bagus darnan, on 25 Desember 2006 at 12:37 pm said:

Bapak yang saya hormati, Sy mahasisawa sedang penelitian dengan judul Studi Peningkatan pelumpuran terhadap efisiensi air untuk pengolahan tanah. yg sy tanyakan, bagaimana cara pengambilan sampel tanah pada lahan sawah pasca pelumpuran,sebaiknya pada kedalaman berapa? Terima kasih. Bagus,

118. cie, on 13 Desember 2006 at 10:00 am said: Untuk pa rovi n pa fajar, Pa, sy sedang menyelesaikan skripsi sy yg berjudul studi korelasi muka tanah dengan muka air tanah, latar belakang sy memilih judul ini krn menurut beberapa ahli, pengambilan air tanah diindikasikan berpengaruh besar terhadap penurunan muka tanah (amblasan tanah). Sy untuk mempelajari karakteristik penurunan muka air tanah, sy memakai data kedudukan muka air tanah di sumur pantau. Yg sy mau tanyakan, kedalaman sumur pantau umumnya brp meter?apa tergantung kedalaman sumur produksi perusahaan yg berada di sekitar peletakan titik sumur pantau? Trus sy mau nanya kl di daerah resapan (seperti di bandung utara) yg menjadi salah satu siklus pengisian air tanah itu airnya mengisi akuifer tertekan?berarti lapisan akuifer tertekan di daerah bandung utara kedalamannya cm beberapa meter saja? Trims.. 119. Rovicky, on 11 Desember 2006 at 5:26 am said: Mas Nakawi Aku kirim via japri artikelnya oak Fajar, cukup besar ~ 2 MB. tx

120. nakawi, on 11 Desember 2006 at 5:15 am said: Pak Rovi, saya tertarik sama artikelnya Pak Fajar. Kebetulan sekarang ini saya sedang menyelesaikan skripsi saya yang berhubungan dengan pencarian airtanah make metode resistivitas. Dari keadan geologi di daerah penelitian saya(ponorogo) itu batuan

penyusunnya lebih banyak terdiri dari batuan gamping. Nah, hasil interpretasi yang saya dapatkan menunjukkan bahwa tidak semua titik pengukuran dapat menunjukkan keberadaan airtanah. Yang mau saya tanyakan: 1. Apakah kondisi di batugamping memang seperti itu? Maksudnya, keberadaan airtanah itu mungkin saja hanya berada di setempat-setempat saja. 2. Sebenarnya pengertian akuifer itu apa sih? apakah hanya batuan yang dapat menyimpan dan mengalirkan air dalam jumlah yang besar? apa tidak ada sifat lainnya lagi? 3. Karakteristik umum batugamping itu sebenarnya seperti apa? 4.Untuk Pak Fajar, saya boleh dong dikirimi tulisan yang mengenai geolistrik untuk pencarian airtanah. ya, mungkin segini dulu pertanyaan saya. Atas jawabannya, saya ucapkan maturnuwun. -nakawi121. Eko, on 27 November 2006 at 4:04 am said: Pak Rovicky, Yth Saya mau tanya kalo membikin sumur bor (jet pump) dg titik bor tepat di selokan/got pembuangan perumahan, apakah bisa menghasilkan air dg kualitas baik? ataukah sebaiknya mencari titik bor di tempat lain ? Terima kasih atas penjelasannya. 122. Eko, on 27 November 2006 at 4:10 am said: Saya mau tanya kalo membikin sumur bor (jet pump) dg titik bor tepat di selokan/got pembuangan perumahan, apakah bisa menghasilkan air dg kualitas baik? ataukah sebaiknya mencari titik bor di tempat lain ? Terima kasih atas penjelasannya. > Karena biasanya bekas pembuangan itu banyak bakteri, biasanya kualitas secara biologis dan kimia kurang bagus. Sebaiknya diperdalam lagi sampai menemukan batuan pasir yg mengandung air. Lebih bagus lagi kalau diatasnya ada lapisan lempung sebagai penyekat alamiah dari selokan diatasnya.

123.

Fajar Lubis, on 20 November 2006 at 9:13 am said: Ikutan nimbrung lagi nih Mas Vick..:p Tidak ada alat yang abadi pak, semuanya punya umur dan perlu perawatan. Kalau dulu untuk menghilangkan besi (Fe) ini digunakan saringan dengan kandungan batupasir berkomposisi silika tinggi (ini sering disebut pasir Bangka..karena memangnya banyaknya ada disana) yang direndam dalam cairan permanganat. Sekarang kelihatannya alat Pak Wenten (eh sudah profesor ya sekarang?) sudah bisa diproduksi massal dan `terjangkau` sesuai dengan impian beliau. Hanya kalau untuk saya..2 juta itu cukup mahal, belum biaya perawatannya. Makanya saya lebih suka kalau masalah penyediaan air baku ini dikelola secara bersama..supaya lebih ringan buat setiap pengguna. Bagaimana caranya? Ini juga masih `mumet` saya mikir konsep manajemennya Untuk Pak Sithot, perlu data yang lebih detail dari sekedar posisi pak. Memang cara yang termudah adalah belajar dari pemboran yang telah ada di sekitar lokasi bapak. Tapi kalau tidak ada..yah terpaksa diamati sambil mengebor pak Hanya kalau ingin lebih aman.. konsultasikan terlebih dahulu dengan ahli Hidrogeologi yang bapak kenal..dan `bisa meninjau lokasi rumah bapak`. 124. sithot, on 20 November 2006 at 4:44 am said: Dear Provicky&PFajar, Saya kebetulan tinggal didaerah JakBar (joglo),katanya sich tanah disitu dulunya sawah.Kualitas air ditempat saya jelek,kandungan FE-nya tinggi dan bau lagi.Saya ada rencana mau investasi bikin sumur artesis, udah seleksi beberapa drilling manager (baca:tukang bor) disekitar rumah.Kalo bapaks bisa bantu,kira-kira urut-urutan lapisan tanah yg akan dilalui apa saja, sampai ketemu akuifer,trus secara praktisnya gimana cara ngecek lapisan tanah tsb,takut dikibuli ama tukang bor. Saya pernah baca artikel geologi,kalo daerah situ garis pantai purba-nya sekitar 60m,dan diprediksi akuifer dikedalaman itu juga.

125. Tanwer, on 17 November 2006 at 7:43 am said: Di Jakarta alat tsb bisa diperoleh dengan harga 2 jutaan loh, dah lengkap sama high pressure pump-nya

ada yg nawarin air hydro water technology , seperti yang pak agus bilang memakai metode reverse otmosis, kira-kira kalo kita beli alatnya terus ,alatnya tahan berapa lama ya? maksudnya apakah perlu berapa bulan untuk perawatan dan biayanya kira-kira berapa thanks pak agus atas infonya

126. mas agus, on 17 November 2006 at 3:05 am said: untuk teknologi penyaringan air buat air minum sekarang sudah berkembang pesat loh pakdhe Rovick! pernah denger Reverse Osmosis belum? atau Ultra Fitrasi? Gabungan keduanya bahkan bisa menyaring virus! Di Jakarta alat tsb bisa diperoleh dengan harga 2 jutaan loh, dah lengkap sama high pressure pump-nya. Pelopor pemurnian air ini adalah ITB yang bahkan ada lab khusus membran, bahkan Profesor dari ITB (Pak Wenten) merupakan pengarang buku Handbook of membrane yang diakui dunia. di banyak tempat teknologi RO (reverse osmosis) ini sudah diapakai untuk desalinasi air laut untuk keperluan air minum, seperti di british virgin island pada tahun 1994 saja produksi air tawar dari air laut dengan teknologi RO ini mencapai 850 juta liter pertahun. Bahkan waktu kejadian tsunami di aceh kemarin ITB bekerjasama dengan berbagai instansi telah mengirimkan beberapa unit UF dan RO ke aceh yang mengalami kesulitan air bersih.

127. Rovicky, on 16 November 2006 at 11:14 am said: Mas Tanwer, Bukan tidak bisa dipakai lagi, mungkin perlu penjernihan yang bukan dengan saringan, mungkin cara kimiawi. Dan aku rasa bisa saja dipakai utk siram-siram tanaman, eh barangkali loh ya .

128. Tanwer, on 16 November 2006 at 11:01 am said: terima kasih pak rovicky, berarti tabung penyaring yang dijual tidak mungkin bisa sarin air yg mengandung fe, berarti air tanah tersebut tidak bisa dipakai lagi

129. Rovicky, on 15 November 2006 at 9:55 am said:

Mas Tanwer, Kalau membaca cerita anda sepertinya air tersebut banyak mengandung Fe (zat besi) jadu sepertinya awalnya jernih, tetapi karena kandungan Fe-nya banyak kemudian teroksidasi menjadi keruh kemerahan (warna bata). Kalau bener begitu saya rasa tidak mungkin disaring. Tetapi mungkin ada metode lain untuk memisahkan Fe. Kalau metode penjernihan mungkin ada netter lain yang pengalaman utk mengendapkan kandungan Fe. Salam

130. Tanwer, on 15 November 2006 at 9:02 am said: PAk Rovi salam. pak saya ingin tanya mengenai air tanah di tempat saya , kec. benda bekas rawa , saya pernah bor sumur kedalaman 20 meter, airnya pertama keluar jernih tapi kalau didiamkan beberapa saat jadi kuning dan bau , sehingga merusak keramik , sehingga saya putuskan sumur bor nggak dipakai lagi , tapi waktu jalan -jalan saya lihat ada yang beberapa peralatan penyaring air , katanya bisa, yang ingin saya tanyakan apakah benar air yang seperti saya sebutkan diatas bisa disaring oleh penyaring air terima kasih

131. Fajar Lubis, on 14 November 2006 at 10:16 am said: Ikutan komentar lagi nih Mas Vick, Pak Alvin, untuk artikel geolistrik bahannya saat ini sedang dikumpulkan oleh Mas Vick. Tunggu saja tanggal mainnya ;p Pemasangan screen dan penentuan tipe rig sangat dipengaruhi oleh kondisi lokalnya. Kadangkala teori baku yang ada tidak bisa langsung dipakai. Ada baiknya konsultasi lebih intensif dengan Hidrogeologis yang bertanggung jawab pada kegiatan pemboran tersebut terlebih dahulu. Untuk teknik pengambilan sampel tanah dan kemana harus diujinya itu sangat tergantung apa yang mau kita uji. PAk Nur, apakah Gunung Kidul yang dimaksud disini adalah daerah yang didominasi oleh batuan kapur? Kalau iya, banyak kasus di daerah seperti ini.. dimana pengambilan air dengan cara pemompaan (sumur artesis) tidak bisa bertahan lama. Teknik pemboran dan biaya akan sangat tergantung dari tingkat kesulitan kondisi geologi daerah tersebut.

Hanya biaya pembuatan sumur artesis akan lebih mahal dibandingkan sumur `pantek` atau gali. Demikian pula dengan biaya perawatan dan pengambilan airnya. Biasanya hal ini lebih baik dilaksanakan secara kolektif dan dibawah pengawasan ahli airtanah yang kompeten. Mudah-mudahan bermanfaat 132. nur, on 10 November 2006 at 3:28 am said: Saya mempunyia kakek yang tinggal di daerah kering gunung kidul, terkenal sebagai daerah yang sering mengalami kessulitan air bersih terutama dimmusim kemarau. saat ini dari warga terdapat wacana untuk mencoba teknologi sumur artesis. Yang ingin saya tanyakan adalah : 1. Adakah kriteria kondisi tanah tertentu dalam mecari sumur artesis? Karena saya pernah membaca tidak semua pengeboran sumur artesi berhasil menemukannya. 2. Apakah teknologi pengeboran sumur sama dengan pengeboran air tanah biasa? 3. Kira-kira berapa biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan 1 sumur artesis? wassalam

133. AAL, on 1 November 2006 at 2:34 am said: Dear Pak Fajar, Boleh dong kirimkan artikel ttg Geolistrik ini ? Ngomong2 ada teknologi khusus utk alat ini ngga ? Teman saya ada yg orang Elektronika sangat bernafsu pingin tahu jeroannya alat ini, semoga bisa dirakit di tanah air. Oiya, bisakan anda memberi contoh pemasangan screen yg baik ketika membor ? Oiya, kami ada dimintakan bantuan membor Artesis sekitar ujung Kaltim, utk keperluan MCK kampung sekitar 40-60 orang. Permasalahannya kedalamannya bisa 30 meter atau lebih, terus tanahnya pasir dan dibawahnya tanah liat yg cukup tebal baru batuan kecil sepertinya, umumnya air disekitar daerah itu berwarna kekuningan dan banyak zat besinya. Apa ngebor semacam ini perlu dibuatkan Rig ? Ada yg punya pengalaman buat Rig kecil dari scaffolding utk keperluan ngebor Artesis yg cukup dalam ngga, boleh dong di-share ? Cara ngambil sampel tanah yg baik itu gimana sih dan kemana harus diujinya ?

Saya sih ngga punya skill utk ngebor dan ngambil sampel ini. Cuma utk pengolahan air yg sudah disedot ini pernah saya lakukan utk keperluan pesantren, masalah zat besi itu yg sering buat problem sampai filtrasi perlu pencucian setiap 3 bulan sekali. Terimakasih banyak sebelumnya. Wassalam, Alvin

134. Bimo Awang Yudha, on 31 Oktober 2006 at 2:23 pm said: Berapa kira2 rata-rata ketebalan ait tanah terhalang secara umum sih? Kalo ada sumur yang sampai 60 meter atau lebih, berarti mungkin saja ketebalan tidak terbatas ya?? Terus kayaknya semakin lama air tanah yang tertekan akan semakin menimpis, dan kedalaman sumur bor juga pasti akan semakin dalam. Artinya elevasi airnya akan semakin menurun dari tahun-ketahun. Belum lagi katanya kalo terlalu banyak di sedot maka akan dapat menimbulkan amblesnya tanah. Contoh yang agak ekstrim mungkin adalah kasus lumpur lampindo di jawa timur. Mungkin memang sebaiknya di setip kota terdapat PAM tapi yang baik secara kwalitas dan terjamin pelayanannya, sehingga ngak perlu pake nge-bor dalam-dalam segala, biar hanya Inul saja yang tetap menge-Bor. hehehe 135. Fajar Lubis, on 6 Oktober 2006 at 2:22 pm said: Ikut komentar Mas Vick, Seperti yang tertulis diatas, tidak seluruh daerah memiliki potensi airtanah yang baik atau sama. Merujuk tulisan bapak yang menyatakan baru menempati daerah itu selama 6 bulan. Ada baiknya tanya dengan penduduk asli di daerah itu.. jangan-jangan kalau lagi musim kemarau memang kering semua sumurnya dan berair lagi pada saat musim hujan. Pompa air memiliki kapasitas sedot tertentu, misalnya secara umum `jet pump` hanya mampu menghisap air hingga kedalaman 12 meter 20 meter. Ini bisa ditanyakan pada saat membeli pompa. Kuantitas pengambilan air ditentukan oleh jenis pompa. Tentu saja untuk perencanaan pengambilan air yang banyak, diperlukan lubang dengan diameter yang besar.

Hanya mohon diingat, seperti juga cerita pak Adhi diatas. Sistem akifer airtanah memiliki keterbatasan. Pengambilan yang terus menerus, sangatlah tidak disarankan. Kasihan tetangga yang lain pak. Menentukan lubang adalah salahsatu bagian dalam konsep mencari airtanah yang terposting diatas. 136. Hendi, on 5 Oktober 2006 at 7:13 am said: Maap, Pak Saya baru menempati perumahan baru skitar 6 bln, air kami pake bor dgn kedlman 11 mtr, sbelumnya air kami tdk masalah, walaupun sbulan terakhir agak kecil. Skarang air kami benar2 tidak keluar sama sekali. Tetangga kami juga mengalami hal yg sama, tapi beliau pindah lobang bor dan menambah besar lobang airnya tsb yg tadinya 3 mili menjadi 7 mili. Yang ingin saya tanyakan : 1. Apakah saya harus pindah, memperbesar dan medalamkan lubang bor air ? 2. Memperbesar dan mendalamkan bor air apakah berpengaruh pada kuantitas air dan mesin pumpa air? 3. Apakah harus pindah lubang atau di lubang yg sama aja ? 4. Gmana menentukan lubang air yg kuantitas dan kualitas airnya baik ? Trima kasih atas perhatiannya Hendi

137. Rovicky, on 7 September 2006 at 2:39 pm said: Dear Charly Daerah sumedang barangkali lapisan airtanahnya tidak homogen. Hal ini sangat wajar untuk daerah yg memang sejak dahulunya berupa tanah bergelombang. Tanah bergelombang ini menyebabkan sedimentasi satu tempat dengan tempat yang lain sangat berbeda. Kalau di Jakarta bagian utara relatif seragam karena sejak lama daerah itu berupa rawa. Namun ada juga yang berbeda tempat yg berbeda seperti dirumah saya di gebang, ternyata daerah itu tempat urugan, yg tentunya sedikit berbeda. Pengurasan bisa saja menciptakan tempat yg seolah-olah rongga pengumpulan, namun juga akan terjadi penyaringan alami. Sehingga akan terasa semakin lama airnya semakin jernih. Namun kalau lama didiamkan tidak dipakai bisa keruh lagi. Air tanah (terutama air tanah dangkal) itu juga terpengaruh musim. Kalau dulu di Jogja aku diberi singkatan bulan dengan kondisi air bulan Januari = Hujan sehari-hari, Maret =

hujannya prat-pret, April = hujannya pral-pril desember itu pertanda gede-gedenya sumber (saat sumber air paling bagus). Septemeber = kasep-kaspee sumber (airnya habis) dst

138. Charly Latif, on 5 September 2006 at 8:18 pm said: Satu lagi pertanyaan saya, mengnai istilah waterlost, pada saat mencoba melakukan pengeboran ke lapisan air yang lebih dalam, tiba-tiba air yang digunakan untuk melakukan pengeboran habis(pengeboran dilakukan dengan sistem bor yang dibarengi penyemburan air ke dalam sumur). Sepertinya jalur pengeboran sumur menemui suatu rongga. Apakah hal ini normal? Apakah hal ini dapat mempengaruhi sumur-sumur lainnya? (tercemar, surut dsb) 139. Charly Latif, on 5 September 2006 at 7:48 pm said: pak, saya mohon informasi dari para pemerhati air nih. Saat ini di lokasi kerja saya, di perumahan di Sumedang, saya menemui kasus seperti berikut: masing-masing unit rumah menggunakan sumber air dari sumur bor 12-20 meter. Beberapa unit rumah mendapat air yang bersih, tapi ada juga unit rumah lainnya yang bersebelahan dengannya mendapat air yang kalau baru keluar bening, tapi setelah teroksidasi (kontak dengan udara) warna berubah menjadi kuning (keruh) dan air tersebut berbau. Perubahan warna (kondisi fisik) air tersebut semakin cepat bila di kocok (dalam botol). Kira-kira apa yang menyebabkan perolehan air yang berbeda walau hanya berjarak beberapa meter? Ada beberapa info bahwa kondisi air perolehan tersebut akan berubah setelah dilakukan pengurasan (dijalankan/ dibuang dalam jangka waktu tertentu, karena sumuran akan membentuk kantung air di bawah tanah, apakah hal ini memang benar? Ada juga yang bilang harus dicari (dibor) ke lapisan yang lebih dalam untuk mendapat air yang lebih baik? Terima kasih sebelumnya Charly 140.

Fajar Lubis, on 3 September 2006 at 12:43 pm said: Saya coba bantu jawab ya.. Pemompaan airtanah yang bersamaan tentu saja dapat mempengaruhi debit secara keseluruhan. Sayang pak Adhi tidak menyebutkan pada saat melakukan uji pompa selama 1 jam 45 menit, berapa kapasitas debit yang digunakan. Uji pompa (ini istilah dalam pencarian airtanah) dilakukan salahsatunya untuk mengetahui kemampuan airtanah tersebut untuk kembali ke tinggi permukaannya semula (dalam hidrogeologi/ilmu mengenai airtanah dikenal dengan istilah uji kambuh atau recovery test) Karenanya sangat disarankan untuk menampung terlebih dahulu airtanah yang telah dipompa. Sebagai catatan bak penampung dengan ukutan 1x1x1 meter (1 meter kubik) sudah cukup untuk bertahan selama 1 bulan untuk ukuran keluarga kecil. Mengenai urusan dukun :p Pengalaman saya mencari bersama-sama dukun. Kelihatannya pada prinsipnya mereka memanfaatkan gelombang elektromagnetik yang akan mengalami penguatan apabila melewati media yang bisa menguatkannya (bersifat konduktor) misalnya air. Hanya permasalahannya adalah seberapa kuat penetrasi gelombang alami ini? Ranting dan pendulum digunakan untuk semakin memusatkan kemampuan mendeteksi gelombang ini. Kalau puasa..mungkin supaya lebih konsentrasi :p. Pengalaman saya mereka akan sangat akurat untuk mencari airtanah di daerah yang memiliki kandungan batupasir didalamnya, dengan muka airtanahnya berada hingga kedalaman 20 meteran (sayang saya tidak punya data yang akurat untuk hal ini..jadi kalimat ini bisa dianggap sebagai gosip saja dulu ;p) Satu hal lagi kalau dukun gagal, kesalahannya agak sulit untuk dievaluasi, sebaliknya kalau kegagalan ini terjadi pada ahli hidrogeologi

141. b0wo, on 28 Agustus 2006 at 9:41 am said: bicara tentang air tanah, gw pernah punya pengalaman tentang pencarian air tanah secara supranatural?? ah barangkali ada penjelasan teknis tentang itu : itu lho biasanya dilakukan oleh orang2 belanda, menggunakan ranting segi tiga dan berjalan di permukaan tanah, klo ranting jatuh si londo yakin ada airnya (begitulah)

tapi dari seorang teman ahli gali sumur bilang, bahwa kemampuan mencari air itu harus dengan puasa dulu (filosofinya adalah bahwa mencari air itu ibarat mencari urat2 di tubih kita) misal saja kita menojos kulit kit dengan jarum pas di urat darah kita (urat darah segar) tentu darah akan muncrat!!! well itulah yg dia cari di bawah permukaan bumi kita barangkali ada penjelasan ilmiah berkaitan dg itu, mungkn juga air memberi gelombang2 yg bisa di tangkap oleh ranting atau pendulu m sekalipun? menarik. da yg bisa memberi penjelasan??

142. adhi, on 28 Agustus 2006 at 6:54 am said: apa benar penggunaan jetpump sedalam 30-an meter akan mengganggu debit air sumur gali disebelahnya? Saya punya kasus begini. Sumur gali rumah saya kedalaman 10 meter. Letaknya sekitar 30 meter dai pinggir sungai cliwung, daerah bojong gede, bogor. Di dalam sumur, sewaktu penggalian ulang tanggal 18 Agustus 2006, karena airnya kering, ditemukan bongkahan batu (kali?) sebesar kepala orang dewasa. Batu2 berjumlah puluhan itu bercampur dengan pasir (sungai?) warna kehitaman. Warnanya ketika diangkat kepermukaan dan terkena sinar matahari berwarna putih, mirip batu kapur, tetapi setelah dipecah dalamnya warna abu-abu, seperti batu biasa. Setelah digali 2 meteran, dibawah 2 batu besar yang tak dapat diangkat ke permukaan, terdapat mata air yang cukup bagus debitnya di musim kemarau ini. Setelah disedot dengan mesin pompa kecil (kekuatan 125 watt) selama 1 jam 45 menit airnya tidak tekor hingga tulisan ini saya buat. Tetangga sebelah yang berjarak 2 rumah (sekitar 15 meter) bermaksud membuat sumur bor, menggunakan mesin hidrolik, untuk mencari air dalam (air tanah tertekan?). Alasannya karena sumur gali di rumahnya tak mengeluarkan air lagi setelah digali. Namun penggalian itu belum menemukan kumpulan batu2 seperti di sumur gali rumah saya. Pertanyaannya. Apakah pembuatan sumur bor itu, dengan menggunakan pompa jetpump dapat mempengaruhi debit air permukaan di dalam sumur saya? Dan apakah itu juga berpengaruh terhadap sumur gali lainnya yang berada di sekitarnya? Bila mempengaruhi apa penyebabnya? Bagaimana cara mengantisipasinya? Bila tidak terpengaruh apa sebabnya? Mohon dijelaskan panjang lebar karena informasi ini sangat saya butuhkan untuk memberikan informasi yang benar kepada warga sekitar dan masyarakat umumnya.

Terima kasih. Salam, Nugroho Adhi

143. Rovicky, on 24 Agustus 2006 at 5:42 am said: On 8/24/06, Fajar Lubis wrote: Mas Vick, Saya coba bantu jawab ya.. Kalau sudah skala rumah seperti itu maka teknik yang paling murah adalah mengkalibrasi dengan kondisi pemakaian airtanah disekitarnya. Kalau memang hanya air dengan kualitas yang kurang baik yang didapat.. ya mau tidak mau kita beralih berbicara mengenai teknologi peningkatan kualitas air baku :p Sayang Pak Witan tidak menceritakan apa yang ada diantara 22-45 meter di sumurnya. Kalau diantara itu adalah batuan impermeabel maka ada 2 sistem disini. Yang 22 meter, mungkin sudah tereksploitasi oleh tetangga yang di topografi lebih tinggi itu. ;p Kemudian geologi umum lokasi ini akan sangat membantu, sebagai contoh untuk daerah multi akifer (endapan sungai, danau dan vulkanik) pengalaman saya, pemasangan screen pada lokasi yang berdekatan dengan sedikit perbedaan (yang satu 40-60 meter dan satunya 55-60 meter) ternyata memberikan hasil kualitas air yang sangat berbeda. Salam, Fajar PS : Terimakasih untuk gambar-nya Mas, bagus sekali. hanya sedikit usul nih : Saya tidak kerja di Direktorat mas ;p.. sampai saat ini masih tentara bayaran dan berangkat ke Jepang dalam program Joint research dengan Geotek LIPI Bandung. Mungkin dalam tulisan perlu ditambahkan `airtanah tertekan/ airtanah terhalang` biar pembacanya tambah mudah mengikuti Gambar 1 diresize lagi biar tulisan dibawahnya dapat terbaca. Saya ada tulisan juga mengenai geolistrik untuk eksplorasi airtanah, karena kebetulan saya memang berminat mengembangkan bidang hidrogeofisika di Indonesia ini. Jika diperlukan akan saya kirim ke Mas..hanya ya itu, gambarnya masih hitam putih..belum sempat diperbaiki. 144. Witan, on 24 Agustus 2006 at 2:44 am said:

Vick, ini kelihatannya utk cari air buat industri besar, lha kalo buat keperluan mck dirumah piye? kalo musti lakukan survey geolistrik atau metoda lain sebelum ngebor biayanya terlalu mahal, lagi pula pilihan lokasi titik bor disekitar rumah kita kan terbatas.sdh given dari real estate, no choice at all tapi yg pasti harus away dari septic tank. Nah ada kiatnya enggak? atau pasrah sama tukang bor saja. Dirumahku yg baru aku punya 2 reservoir(akifer) -22 m dan 45m, yang dangkal jernih tapi baru 4 bulan sdh depleted, yang dalam butek dan perlu difilter habis2an. tetangga sebelah sumurnya 60 m dgn debit dan kwalitas yang baik, tapi ada drilling enginneer yg tinggal 500m dibelakang rumah dgn letak topografi +/- 5 m lebih tinggi dari rumahku ketemu akifer pada -12m dengan debit dan kwalitas yg baik. Wah ini bener2 stratigraphic. Lain kali kalo mau bor lagi aku musti jadi wellsite geologistnya.

Tinggalkan Balasan
Enter your comment here...

Guest Masuk Masuk Masuk

Email (wajib) (Belum diterbitkan) Nama (wajib) Situs web

Beritahu saya balasan komentar lewat surat elektronik. Beritahu saya tulisan baru lewat surat elektronik.

Ngopi Dongeng
Anda dapat memperbanyak dan menyebarluaskan isi website ini seutuhnya (CoPas), sebagian trus dicetak dijual ataupun dipakai bungkus kacang, ataupun dijadikan pesawatterbang kertas, atau didaur ulang, dst-nya, asalkan tidak menghapus 'catatan hak cipta'.

boleh Co-Pas, tetapi cantumkan sumbernya dari Dongeng Geologi. Karena banyak karya orang lain tersadur juga dalam dokumen website ini juga. Copyleft Yang bareng-bareng baca

Dongeng Geologi

Promote your Page too

Mencari topik dongeng


Silahkan menggunakan fasilitas mencari (search) diatas

Komentarmu
Radolf Hengky Valent on Bukan sekedar muter keran syawal88 on Bukan sekedar muter keran Lie uli suryantini on Apa yang ingin kamu tanyakan k stevie on Wajah Bumi 250 juta tahun lagi Hj Ahmad Abdul on Bukan sekedar muter keran Foto Gerhana Matahar on Foto Gerhana Matahari Cincin 2 akatsuci on Seamount, Si Gunung Raksasa di Iwan on Mengapa perlu PLTN ? Paket wisata on Kenapa lebarannya beda lagi di aris on Regenerasi (IAGI-Ikatan Ahli G Hanusa on Siapakah Explorationist Si Pen Agus Salim Ini Mah on Kebijakan Energi Nasional (PP raju handika on Seamount, Si Gunung Raksasa di

janjanismyname on my first blog syukra on Jenis-jenis Gempa dan Istilah-

Dongengan Terlaris
o o o o o o o o o o o o

Dongeng Timun Emas dan LuSi Bukan sekedar muter keran - Perlu "Exploration Sharing Contract" Airtanah? Apa dan Bagaimana Mencarinya? Evolusi # 1. Sejarah singkat bumi dan kehidupannya Foto Letusan Gunung Merapi Oktober 2010 Proses pembentukan minyak bumi Segitiga Masalembo - The Indonesian "Bermuda Triangle" Kenapa lebarannya beda lagi ditahun 2011 Menit-menit mendebarkan saat tsunami tanggal 17 July 2006 di Pangandaran Gumuk Pasir (Sand Dune), Morfologi hasil ukiran angin Gempa Padang 30 September 2009, Jangan tunggu laporan ! Banjir Bandang Wasior, Bagaimana terjadinya ?

Langganan dongeng
Tulis emailmu Bergabunglah dengan 395 pengikut lainnya.

Tulisan sebelumnya
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o

Oktober 2011 (1) Agustus 2011 (3) Juli 2011 (1) Juni 2011 (1) Mei 2011 (8) April 2011 (6) Maret 2011 (13) Februari 2011 (3) Januari 2011 (8) Desember 2010 (12) November 2010 (44) Oktober 2010 (23) September 2010 (7) Agustus 2010 (17) Juli 2010 (8) Juni 2010 (1) Mei 2010 (4) April 2010 (7) Maret 2010 (5) Februari 2010 (9)

o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o

Januari 2010 (11) Desember 2009 (6) November 2009 (11) Oktober 2009 (9) September 2009 (5) Agustus 2009 (2) Juli 2009 (5) Juni 2009 (5) Mei 2009 (6) April 2009 (6) Maret 2009 (12) Februari 2009 (5) Januari 2009 (12) Desember 2008 (12) November 2008 (8) Oktober 2008 (9) September 2008 (8) Agustus 2008 (11) Juli 2008 (4) Juni 2008 (10) Mei 2008 (16) April 2008 (12) Maret 2008 (16) Februari 2008 (16) Januari 2008 (7) Desember 2007 (11) November 2007 (11) Oktober 2007 (21) September 2007 (21) Agustus 2007 (13) Juli 2007 (12) Juni 2007 (11) Mei 2007 (17) April 2007 (16) Maret 2007 (11) Februari 2007 (16) Januari 2007 (15) Desember 2006 (8) November 2006 (13) Oktober 2006 (16) September 2006 (24) Agustus 2006 (22) Juli 2006 (40) Juni 2006 (28) Mei 2006 (19) April 2006 (13)

o o o o o o o o o o

Maret 2006 (22) Februari 2006 (17) Januari 2006 (3) Desember 2005 (2) September 2005 (1) Juli 2005 (1) April 2005 (1) Juni 2004 (1) Juli 2001 (1) April 2001 (1)

PenDongeng
Just me, an Indonesian geologist. Nothing special. Has been working as an explorationist in oil companies (Hudbay Oil, Lasmo, Kondur PSA, Shell, Total, Murphy Oil, and now with HESS Oil and Gas Ltd. Member of :
o o o o o o

IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia), HAGI (Himpunan Ahli Geofisika Indonesia) AAPG (American Assoc of Petroleum geologist), SEG (Society of Exploration Geophysicists), IPA (Indonesian Petroleum Association), IATMI (Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia),

Yang diDongengin

Free counter

Pembaca
o

265,747 diDongengin

Blog pada WordPress.com. Theme: Digg 3 Column by WP Designer. Ikuti

Follow Dongeng Geologi


Get every new post delivered to your Inbox. Bergabunglah dengan 395 pengikut lainnya.

Masukkan

Powered by WordPress.com