Anda di halaman 1dari 23

PARE POS

INSPIRASI WARGA AJATTAPARENG ANUGERAH KARYA KREATIF PENDIDIKAN 2009

Drs. MUSLIMIN, M.Si. SMP NEGERI 1 TELLU LIMPOE

Kurikulum yang baik Sarana dan prasarana yang memadai Manajemen yang efektif
Pengembangan kompetensi Pelaksana Pendidikan Proses pendidikan yang berkualitas

Pendidikan yang Bermutu

Kualitas Proses Pendidikan


Kegiatan pembelajaran yang berkualitas berpotensi menciptakan kebermaknaan pembelajaran dengan penguasaan ilmu yang mendalam

Oleh karena itu pengembangan mutu proses pembelajaran dapat digali dan dikembangkan secara efektif melalui strategi pendidikan dan pembelajaran yang terarah, terpadu, yang dikelola secara serasi dan seimbang dengan memperhatikan pengembangan potensi peserta didik secara utuh dan optimal

Menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas dipengaruhi oleh berbagai faktor pendukung, diantaranya faktor motivasi belajar siswa, kompetensi dan profesionalisme guru, dan dukungan sarana dan prasarana.
motivasi belajar yang dimiliki oleh siswa SMP Negeri 1 Tellu LimpoE masih rendah. Tergambar pada peningkatan hasil belajar yang dicapai oleh siswa masih belum signifikan bila dibandingkan dengan peningkatan komponen-komponen lainnya seperti sarana dan prasarana pendidikan yang semakin memadai. Rendahnya motivasi belajar siswa disebabkan oleh kurangnya motivasi yang diberikan baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

STRATEGI
PEMECAHAN

Optimalisasi Pengelolaan dan Pemanfaatan lingkungan sebagai media dan sumber belajar
Aktifitas belajar yang melibatkan lingkungan memungkinkan adanya keterkaitan secara langsung antara materi yang dipelajari dengan pengalaman hidup siswa sehingga siswa akan lebih termotivasi belajar. Langkah memanfaatkan lingkungan dalam aktifitas belajar mengajar adalah mengubah sifat keformalan sekolah dengan cara mengubah lingkungan sekolah menjadi lingkungan yang mendukung proses pembelajaran dan bersifat menyenangkan.

MASALAH

4 Strategi Pemecahan Masalah


Dalam penerapannya, untuk menciptakan lingkungan sekolah menjadi sebuah media dan sumber belajar maka diperlukan beberapa starategi penting yaitu: Pengembangan Kebijakan Sekolah Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan Kegiatan Berbasis Partisipatif Pengelolaan Sarana Prasarana.

Pengembangan Kebijakan Sekolah


1. 2.

3.

4.

5.
6. 7.

memberikan kesempatan belajar di lingkungan luar sehingga belajar tidak selalu berlangsung di lingkungan sekolah (kelas). memfasilitasi terbentuknya simpul belajar non sekolah yang ramah kepada siswa misalnya melakukan pembelajaran outdoor atau studi lapangan Penyusunan rencana kegiatan sekolah mengagendakan kegiatan-kegiatan yang relevan dalam mengembangkan lingkungan sekolah memberikan kesempatan kepada guru untuk melakukan pengembangan potensi diri memotivasi dan menfasilitasi kreatifitas guru dalam pemanfaatan lingkungan dalam pembelajaran. mendukung siswa yang tidak mampu untuk tetap berprestasi menyediakan nara sumber dari luar

Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan


Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : (1) dengan cara membawa sumber-sumber dari masyarakat ke atau lingkungan ke dalam kelas dan (2) dengan cara membawa siswa ke lingkungan. 2. Masing-masing cara tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan, metoda, teknik dan bahan tertentu yang sesuai dengan tujuan pengajaran. 3. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar perlu mempertimbangkan kesesuaian dengan tujuan dari pembelajaran itu sendiri 4. beberapa metode yang dapat digunakan dalam rangka melibatkan lingkungan dalam kegiatan belajar siswa, misalnya metode Karya wisata, service proyek, school camping, surfer dan interviu.
1.

Kegiatan Berbasis Partisipatif


Kegiatan pendanaan dukungan atau support dalam pelaksanaan program-program sekolah

misalnya kegiatan implementasi mata pelajaran, pembelajaran di alam dan sebagainya keterlibatan secara langsung dalam aktivitas sekolah mediasi antara sekolah dengan instansi terkait atau dengan pemerintah daerah, masyarakat dan dunia usaha keterlibatan dalam kegiatan pembelajaran, mengevaluasi pelaksanaan program-program sekolah, monitoring seluruh kegiatan sekolah mendorong akreditasi sekolah untuk mencapai sekolah bermutu mendorong pelaksanaan sertifikasi guru guna mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan belajar mengajar melalui aset guru yang profesional mendorong sekolah untuk menyajikan program pendidikan yang lebih beragam dan relevan dukungan untuk mendekatkan siswa dengan lingkungan terdekatnya sehingga siswa mampu menangani semua isu lokal disekelilingnya

Pengelolaan Sarana dan Prasarana


1.
2. 3. 4. 5.

6. 7.

Pembentukan penanggungjawab kegiatan Penciptaan lingkungan pekarangan sekolah sebagai media belajar yang kondusif untuk iklim dan komunitas belajar siswa. Pengembangan perpustakaan outdoor Pemasangan dan penempatan media pembelajaran di luar kelas. Membudayakan kecintaan lingkungan melalui gerakan penghematan semua sumber daya di sekolah, listrik, air dan penghematan penggunaan alat tulis kantor pemanfaatan barang bekas untuk pembuatan media pembelajaran Pemeliharaan dan pengembangan sarana dan prasarana sekolah yang mendukung kegiatan belajar siswa.

HASIL YANG DIPEROLEH


Pengembangan Kebijakan Sekolah.
Kepala sekolah sebagai penentu kebijakan di sekolah telah mengambil beberapa langkah kebijakan sehubungan dengan implementasi program pendidikan berbasis lingkungan di SMP Negeri 1 Tellu LimpoE, adalah sebagai berikut: Dengan motivasi dan fasilitas dari sekolah, guru menghasilkan perangkat pembelajaran dan melakukan aktifitas pembelajaran yang melibatkan lingkungan sebagai salah satu media belajar siswa Telah membentuk pengelola lingkungan sekolah dalam bentuk Surat Keputusan Telah membentuk pengelola UKS SMP Negeri 1 TelluLimpoE dalam bentuk Surat Keputusan Telah membentuk pengelola 7K harian sekolah dan 7K harian kelas Membentukdaftar piket guru dan piket siswa

Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan


Beberapa hasil proses pembelajaran yang dilakukan oleh beberapa guru mata pelajaran yang menerapkan pendekatan lingkungan diantaranya adalah sebagai berikut:

Pembelajaran tentang komponen lingkungan, pencemaran, dan zat-zat aditif melalui mata pelajaran IPA yang melibatkan aktifitas observasi dan eksprimen sederhana oleh para peserta didik, Pembelajaran Digram Venn pada mata pelajaran Matematika dengan menggunakan ruangan terbuka, Pembelajaran materi bela negara pada mata pelajaran PPKn menggunakan permainan petak umpet yang dilaksanakan di lingkungan, Pembelajaran materi unit produksi pada mata pelajaran IPS melibatkan lingkungan kantin sekolah sebagai lokasi observasi peserta didik. Pembelajaran pembuatan barang-barang kerajinan menggunakan barang-barang bekas pada mata pelajaran KTK melibatkan siswa memanfaatkan sampah-sampah berupa bekas tempat minuman kemasan yang diolah menjadi kerajinan tangan. Penugasan pembuatan media bola kaki oleh guru Penjas kepada peserta didik dari sampah plastik yang dikumpulkan di pekarangan sekolah yang kemudain dimanfaatkan pada pembelajaran materi Sepak Bola. Pembelajaran materi Speaking pada mata pelajaran Bahasa Inggris mengarahkan para peserta didik bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa inggris di taman sekolah. Belajar membuat puisi tentang lingkungan sekolah pada mata pelajaran bahasa Indonesia.

Pelatihan pembuatan pupuk kompos, pupuk bokasi, dan penjernihan air pada kegiatan pengembangan diri.

Kegiatan Berbasis Partisipatif Komite Sekolah adalah pihak yang paling banyak terlibat dalam pelaksanaan program pendidikan berbasis lingkungan di SMP Negeri 1 Tellu LimpoE. Beberapa bentuk peran serta komite dalam menyukseskan kegiatan tersebut daintaranya: Komite dan pihak sekolah melakukan pencarian sumber pendanaan untuk kegiatan-kegiatan pengembangan lingkungan sekolah, diantaranya melibatkan orang tua siswa dan Ikatan Alumni sebagai mitra pengembangan kegiatan pendidikan di sekolah. Komite berpartisipasi secara mandiri dan tidak mengikat dalam memberikan bantuan ke pihak sekolah baik berupa mbantuan material maupun non material.

Pengembangan Pengelolaan Sarana dan Prasarana Beberapa hasil yang telah dicapai dalam pengembangan sarana dan prasarana terkait dengan upaya pengembangan lingkungan, diantaranya: Pembangunan dan pemodelan halaman/taman sekolah yang artistik sehingga memungkinkan terciptanya suasana nyaman, dan merangsang terjadinya budaya komunitas belajar bagi parapeserta didik. Pembuatan majalah dinding di halaman sekolah sebagai media dan sumber belajar terbuka. Pemasangan berbagai media belajar dari seluruh mata pelajaran di setiap taman-taman sekolah. Pengadaan Tempat Sampah per kelas/ruangan, dan Kanting Sehat Sekolah. Pembangunan sarana pendukung lainnya (WC guru dan WC siswa yang baik, wastafel di masing-masing ruangan kelas, dan tempat pembuangan sampah yang layak. Pengembangan Usaha Kebun Sekolah dan Kebun Tanaman Boga

KUNCI SUKSES
Motivasi guru yang cukup tinggi dalam berkarya, 2. bentuk manajemen yang diterapkan di sekolah, 3. dukungan unsur masyarakat, dan 4. kondisi geografis sekolah yang sangat mendukung untuk keterlaksanaan program tersebut.
1.

1. Motivasi guru dalam berkarya


Menindaklanjuti kondisi tersebut, adalah sekolah memberi dukungan dalam memfasilitasi sikap optimisme guru tersebut, baik dalam bentuk memfasilitasi keikutsertaan guru-guru dalam kegiatan pengembangan kompetensi guru melalui pelatihanpelatihan maupun dengan memberi kesempatan seluasluasnya dalam mengimplementasikan ide dan kreatifitas guru untuk berkarya pada kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah.

2. Model Manajemen Sekolah


Sekolah mengimplementasikan model Manajemen Berbasis Sekolah dimana: a. penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung b. Model Manajamen mengarah ke kebijakan yang menggunakan pendekatan kultural. lebih dominan bersifat bottom-up, sehingga warga sekolah tidak merasa disuruh, diperintah atau dipaksa melakukan perbaikan-perbaikan, namun atas kesadaran dan kehendak sendiri melakukan perbaikan-perbaikan dan peningkatan-peningkatan mutu pendidikan.

3. Dukungan Unsur Masyarakat


a. Komite sekolah bersama para orang tua siswa

memiliki kesadaran yang cukup tinggi tentang arti penting sebuah mutu pendidikan. Oleh karena itu dukungan materil dan dukungan non materil yang sifatnya tidak mengikat diberikan guna menyukseskan kegiatan-kegiatan sekolah. b. Untuk menjaga transparansi dan kebertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan, maka pihak sekolah bekerja sama dengan pihak komite dalam melaksanakan fungsi monitoring terhadap setiap kegiatan sekolah

4. Kondisi Geografis Sekolah


SMP Negeri 1 Tellu LimpoE yang memiliki luas lahan

sekitar 12.419 m2, terdiri atas daerah terbuka sekitar 8.641m2. pekarangan sekolah atau daerah terbuka yang luas dengan kondisi lingkungan sekitar pekarangan sekolah yang beranekaragam jenis dan bentuk lingkungan, potensial untuk melengkapi khasanah kebutuhan sumber belajar siswa.

KEBERLANJUTAN
Beberapa program kegiatan yang direncanakan untuk direalisasikan pada tahun-tahun ajaran selanjutnya diantaranya: Pembuatan laboratorium lapangan (green House, ekosistem buatan, kebun hayati, bengkel kerja siswa, dan unit produksi siswa) Pembangunan taman belajar sekolah Perbanyakan media-media belajar outdoor Analisis materi untuk seluruh matapelajaran dalam merencanakan dan pembelajaran berbasis lingkungan. Perencanaan kegiatan bakti social sekolah:
Gerakan Penghijauan Gerakan bersih lingkungan
Gerakan penyuluhan oleh siswa di lingkungan masyarakat

KESIMPULAN
Melalui empat pilar pelaksanaan sekolah berbudaya lingkungan tersebut, maka tujuan pembelajaran diharapkan dapat tercapai dengan baik. Penciptaan sistem pembelajaran yang berbasis lingkungan memberikan suasana yang kondusif bagi pendidikan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya retensi serta kompetensi siswa pada konsepkonsep yang dipelajarinya. Keinginan dan motivasi guru yang cukup tinggi dalam berkarya, bentuk manajemen yang diterapkan di sekolah, dukungan unsur masyarakat, dan kondisi geografis sekolah merupakan kunci kesuksesan pelaksanaan program pengembangan lingkungan sebagai sumber belajar siswa.

Terima Kasih