Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

Glaukoma berasal dari kata Yunani glaukos yang berarti hijau kebiruan, yang memberikan kesan warna tersebut pada pupil penderita glaukoma. Glaukoma adalah penyakit mata yang ditandai oleh meningkatnya tekanan intraokuler yang disertai oleh pencekungan diskus optikus dan pengecilan lapang pandang. Tekanan bola mata normal dinyatakan dengan tekanan air raksa yaitu antara 15-20 mmHg. Tekanan intraokuler juga ditentukan oleh kecepatan pembentukan humor aques dan tahanan terhadap aliran keluarnya air mata. Di Amerika Serikat, kira-kira 2.2 juta orang pada usia 40 tahun dan yang lebih tua mengidap glaukoma, sebanyak 120,000 adalah buta disebabkan penyakit ini. Banyaknya Orang Amerika yang terserang glaukoma diperkirakan akan meningkatkan sekitar 3.3 juta pada tahun 2020. Tiap tahun, ada lebih dari 300,000 kasus glaukoma yang baru dan kira-kira 5400 orang- orang menderita kebutaan. Di Indonesia, glaukoma diderita oleh 3% dari total populasi penduduk. Umumnya penderita glaukoma telah berusia lanjut. Pada usia 50 tahun, tingkat resiko menderita glaukoma meningkat sekitar 10 %. Hampir separuh penderita glaukoma tidak menyadari bahwa mereka menderita penyakit tersebut. Glaukoma merupakan penyakit yang tidak dapat diobati akan tetapi hanya dapat dikontrol sehingga tidak mengakibatkan kerusakan lanjut atau kebutaan pada mata. Penulis ingin agar pengertian tentang glaukoma diketahui secara luas pada masyarakat Indonesia khususnya glaukoma sudut terbuka karena penyakit ini sering dijumpai.

BAB II ISI
A. Anatomi dan fisiologi

Humor akues atau cairan aquos adalah cairan jernih yang mengisi bilik mata depan dan belakang. Volumenya sekitar 250 L dan kecepatan pembentukannya yang bervariasi diurnal adalah 1,5-2 L/mnt. Cairan aquous diproduksi di badan siliar dan berjalan antara lensa dan iris, dan melalui pupil. Cairan aquous membawa oksigen, glukosa dan beberapa nutrisi penting lainnya. Cairan ini masuk di bilik anterior dan mengalirkannya melalui sudut drainase (trabecullar meshwork). Jalinan/ jala terbuka terdiri dari berkas-berkas jaringan kolagen dan elastic yang dibungkus oleh sel-sel trabekular yang membentuk saringan dengan ukuran pori-pori semakin mengecil sewaktu mendekati kanalis schelmm. Terdapat dua jalur utama keluarnya cairan akuos yaitu :
1. Aliran keluar konvensional menyediakan mayoritas drainase akuous

menuju Trabecullar meshwork. Kontraksi otot siliaris melalui insersinya ke dalam jalinan trabekula memperbesar ukuran pori-pori di jalinan tersebut sehingga kecepatan drainase cairan aquos juga meningkat. Aliran cairan aquos ke dalam kanalis Schelmm tergantung pada permukaan saluran-saluran transelular siklik di lapisan endotel. Saluran eferan dari kanalis Schelmm (sekitar 30 saluran pengumpul dan 12 vena akueus).
2. Aliran keluar non konvensional atau aliran keluar uveoskleral,

menyediakan sisa drainase aliran keluar akuous dari mata antara berkas otot siliaris dan lewat sela-sela sklera. Drainase aquos melawan tahanan jadi tekanan intraokular dijaga agar tetap lebih tinggi dibanding tekanan udara namun lebih rendah dibanding tekanan darah.

B. Definisi Glaukoma berasal dari kata Yunani glaukos yang berarti hijau kebiruan, yang memberikan kesan warna tersebut pada pupil penderita glaukoma. Glaukoma adalah penyakit mata yang ditandai oleh meningkatnya tekanan intraokuler yang disertai oleh pencekungan diskus optikus dan pengecilan lapang pandang. Tekanan bola mata normal dinyatakan dengan tekanan air raksa yaitu antara 15-20 mmHg. Namun, tekanan bola mata ini sangat individual, sebab mungkin pada orang tertentu dapat menunjukkan tanda glaukoma meskipun tekanan bola matanya dalam batas normal. C. Etiologi Etiologi dari glaukoma sudut terbuka belum pasti, dimana tidak didapatkan kelainan yang merupakan penyebab glaukoma. Glaukoma ini didapatkan pada orang yang telah memiliki bakat bawaan glaukoma, seperti:

1.
2.

Bakat dapat berupa gangguan fasilitas pengeluaran cairan Mungkin disebabkan kelainan pertumbuhan pada sudut

mata atau susunan anatomis bilik mata yang menyempit. bilik mata depan (goniodisgenesis), berupa trabekulodisgenesis, iridodisgenesis dan korneodisgenesis dan yang paling sering berupa trabekulodisgenesis dan goniodisgenesis. Glaukoma sudut terbuka sering terjadi setelah usia 40 tahun, tetapi kadang terjadi pada anak-anak. Penyakit ini cenderung diturunkan dan paling sering ditemukan pada penderita diabetes atau miopia. Glaukoma sudut terbuka lebih sering terjadi dan biasanya penyakit ini lebih berat jika diderita oleh orang kulit hitam D. Faktor risiko

Beberapa factor risiko yang dapat mengarah pada kerusakan glaucoma : 1. Peredaran darah dan regulasinya, darah yang kurang akan menambah kerusakan. 2. Tekanan darah rendah atau tinggi. 3. Fenomena autoimun. 4. Degenerasi primer sel ganglion. 5. Usia di atas 45 tahun. 6. Keluarga mempunyai riwayat glaucoma 7. Miopia berbakat untuk terjadi glaucoma sudut terbuka. 8. Hipermetropia berbakat untuk terjadi glaucoma sudut tertutup atau sempit. 9. Pascabedah dengan hifema atau infeksi

10. Secara epidemiologi etnis afrika disbanding dengan kaukasia pada glaucoma sudut terbuka primer adalah 4:1, kemudian pada glaucoma berpigmen terutama terdapat pada etnis kaukasia, dan pada etnis asia glaucoma sudut tertutup lebih sering disbanding sudut terbuka.

E. Klasifikasi glaucoma Glaukoma diklasifikasi Vaughen menjadi 4 sebagai berikut : 1. Glaukoma primer

a. Glaukoma sudut terbuka (glaukoma simpleks) b. Glaukoma sudut sempit. 2. Glaukoma kongenital a. Primer atau infatil b. Menyertai kelainan kongenital lainnya. 3. Glaukoma sekunder a. Perubahan lensa. b. kelainan uvea. c. trauma. d. bedah. e. rubeosis. f. steroid dan lainnya. 4. Glaukoma absolut

F. Gejala klinis

Glaukoma primer yang kronis dan berjalan lambat sering tidak diketahui bila mulainya, karena keluhan pasien amat sedikit atau samar. Misalnya mata sebelah terasa berat, kepala pening sebelah, kadang-kadang penglihatan kabur dengan anamnesa tidak khas. Pasien tidak mengeluh adanya halo dan memerlukan kacamata koreksi untuk presbiopia lebih kuat dibanding usianya. Kadang-kadang tajam penglihatan tetap normal sampai keadaan glaukomanya sudah berat.

G. Patofisiologi Sudut bilik mata dibentuk dari jaringan korneosklera dengan pangkal iris. Pada keadaan fisiologis bagian ini terjadi pengaliran keluar cairan bilik mata. Berdekatan dengan sudut ini didapatkan jaringan trabekulum, kanal Schlemm, baji sklera, garis Schwalbe dan jonjot iris. Pada sudut filtrasi terdapat garis Schwalbe yang merupakan akhir perifer endotel dan membran desemet, kanal schlemn yang menampung cairan mata kesalurannya.

Sudut filtrasi berbatas dengan akar iris berhubungan dengan sklera kornea dan disini ditemukan sklera spur yang membuat cincin melingkar 360 derajat dan merupakan batas belakang sudut filtrasi serta tempat insersi otot siliar longitudinal. Anyaman trabekula mengisi kelengkungan sudut filtrasi yang mempunyai dua komponen yaitu badan siliar dan uvea. Tekanan intraokular ditentukan oleh kecepatan terbentuknya cairan mata (akueus humor) bola mata oleh badan siliar dan hambatan yang terjadi pada jaringan trabekular meshwork. Akueus humor yang dihasilkan badan siliar masuk ke bilik mata belakang, kemudian melalui pupil menuju ke bilik mata depan dan terus ke sudut bilik mata depan, tepatnya ke jaringan trabekulum, mencapai kanal Schlemm dan melalui saluran ini keluar dari bola mata. Pada glaukoma kronik sudut terbuka, hambatannya terletak pada jaringan trabekulum maka akan terjadi penimbunan cairan bilik mata di dalam bola mata sehingga tekanan bola mata meninggi. Pada glaukoma akut hambatan terjadi karena iris perifer menutup sudut bilik depan, hingga jaringan trabekulum tidak dapat dicapai oleh akueus.

H. Diagnosis

1. Anamnesis Pada anamnesa tidak khas, seperti mata sebelah terasa berat, kepala pening sebelah, kadang-kadang penglihatan kabur. Pasien tidak mengeluh adanya halo dan memerlukan kaca mata koreksi untuk presbiopia lebih kuat dibanding usianya. Kita harus waspada terhadap glaukoma sudut terbuka pada orang-orang berumur 40 tahun atau lebih, penderita diabetes mellitus, pengobatan kortikosteroid lokal atau sistemik yang lama dan dalam keluarga ada penderita glaukoma, miopia tinggi. 2. Pemeriksaan mata pada glaukoma
a. Tonometri Schiotz

Tonometer Schiotz merupakan alat yang praktis sederhana. Pengukuran tekanan bola mata dinilai secara tidak langsung yaitu dengan teknik melihat daya tekan alat pada kornea karena itu dinamakan juga tonometri indentasi Schiotz. Dengan tonometer Schiotz dilakukan indentasi penekanan terhadap kornea. Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien ditidurkan dengan posisi horizontal dan mata ditetesi dengan obat anestesi topikal atau pantokain 0,5%. Penderita diminta melihat lurus ke suatu titik di langit-langit, atau penderita diminta melihat lurus ke salah satu jarinya, yang diacungkan, di depan hidungnya. Pemeriksa berdiri di sebelah kanan penderita. Dengan ibu jari tangan kiri kelopak mata digeser ke atas tanpa menekan bola mata; jari kelingking tangan kanan yang memegang tonometer,
8

menyuai kelopak inferior. Dengan demikian celah mata terbuka lebar. Perlahan-lahan tonometer diletakkan di atas kornea. Tonometer Schiotz kemudian diletakkan di atas permukaan kornea, sedang mata yang lainnya berfiksasi pada satu titik di langit-langit kamar penderita. Jarum tonometer akan menunjuk pada suatu angka di atas skala. Tiap angka pada skala disediakan pada tiap tonometer. Apabila dengan beban 5,5 gram (beban standar) terbaca angka 3 atau kurang, perlu diambil beban 7,5 atau 10 gram. Untuk tiap beban, table menyediakan kolom tersendiri.
b. Tonometri aplanasi

Cara mengukur tekanan intraokular yang lebih canggih dan lebih dapat dipercaya dan cermat bias dikerjakan dengan Goldman atau dengan tonometer tentengan Draeger. Pasien duduk di depan lampu celah. Pemeriksaan hanya memerlukan waktu beberapa detik setelah diberi anestesi. Yang diukur adalah gaya yang diperlukan untuk mamapakan daerah kornea yang sempit. Setelah mata ditetesi dengan anestesi dan flouresein, prisma tonometer aplanasi di taruh pada kornea. Mikrometer disetel untuk menaikkan tekanan pada mata sehingga gambar sepasang setengah lingkaran yang simetris berpendar karena flouresein tersebut. Ini menunjukkan bahwa di semua bagian kornea yang bersinggungan dengan alat ini sudah papak ( teraplanasi). Dengan melihat melalui
9

mikroskop lampu celah dan dengan memutar tombol, ujung dalam kedua setengah lingkaran yang berpendar tersebut diatur agar bertemu yang menunjukkan besarnya tekanan intraokular. Dengan ini selesailah pemeriksaan tonometer aplanasi dan hasil pemeriksaan dapat dibaca langsung dari skala mikrometer dalam mmHg. c. Tonometri Digital Pemeriksaan ini adalah untuk menentukan tekanan bola mata dengan cepat yaitu dengan memakai ujung jari pemeriksa tanpa memakai alat khusus (tonometer). Dengan menekan bola mata dengan jari pemeriksa diperkirakan besarnya tekanan di dalam bola mata. Pemeriksaan dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1) Penderita disuruh melihat ke bawah 2) Kedua telunjuk pemeriksa diletakkan pada kulit kelopak tarsus atas penderita 3) Jari-jari lain bersandar pada dahi penderita 4) Satu telunjuk mengimbangi tekanan sedang telunjuk lain menekan bola mata. Penilaian dilakukan dengan pengalaman sebelumnya yang dapat menyatakan tekanan mata N+1, N+2, N+3 atau N-1, N-2, N-3 yang menyatakan tekanan lebih tinggi atau lebih rendah daripada normal. Cara ini sangat baik pada kelainan mata bila tonometer tidak dapat dipakai atau dinilai seperti pada sikatrik kornea, kornea irregular dan infeksi kornea. Cara pemeriksaan ini memerlukan pengalaman pemeriksaan karena terdapat faktor subyektif.

10

d. Gonioskopi Pemeriksaan gonioskopi adalah tindakan untuk melihat sudut bilik mata dengan goniolens. Gonioskopi adalah suatu cara untuk melihat langsung keadaan patologik sudut bilik mata, juga untuk melihat hal-hal yang terdapat pada sudut bilik mata seperti benda asing. Dengan gonioskopi dapat ditentukan klasifikasi glaukoma penderita apakah glaukoma terbuka atau glaukoma sudut tertutup dan malahan dapat menerangkan penyebab suatu glaukoma sekunder. e. Oftalmoskopi Oftalmoskopi, pemeriksaan ke dalam mata dengan memakai alat yang dinamakan oftalmoskop. Dengan oftalmoskop dapat dilihat saraf optik di dalam mata dan akan dapat ditentukan apakah tekanan bola mata telah mengganggu saraf optik. Saraf optik dapat dilihat secara langsung. Warna serta bentuk dari mangok saraf optik pun dapat menggambarkan ada atau tidak ada kerusakan akibat glaukoma yang sedang diderita. Kelainan pada pemeriksaan oftalmoskopi dapat dilihat : 1) Kelainan papil saraf optik - saraf optik pucat atau atrofi - saraf optik tergaung 2) 3) Kelainan serabut retina, serat yang pucat atau atrofi akan berwarna hijau Tanda lainnya seperti perdarahan peripapilar.

11

f. Pemeriksaan lapang pandang Penting, baik untuk menegakkan diagnosa maupun untuk meneliti perjalanan penyakitnya, juga bagi menetukan sikap pengobatan selanjutnya. Harus selalu diteliti keadaan lapang pandangan perifer dan juga sentral. Pada glaukoma yang masih dini, lapang pandangan perifer belum menunjukkan kelainan, tetapi lapang pandangan sentral sudah menunjukkan adanya bermacam-macam skotoma. Jika glaukomanya sudah lanjut, lapang pandangan perifer juga memberikan kelainan berupa penyempitan yang dimulai dari bagian nasal atas. Yang kemudian akan bersatu dengan kelainan yang ada ditengah yang dapat

12

menimbulkan tunnel vision, seolah-olah melihat melalui teropong untuk kemudian menjadi buta.

3. Tes provokasi a. Tes minum air Penderita disuruh berpuasa, tanpa pengobatan selama 24 jam. Kemudian disuruh minum 1 L air dalam 5 menit. Lalu tekanan intraokular diukur setiap 15 menit selama 1,5 jam. Kenaikan tensi 8 mmHg atau lebih, dianggap mengidap glaukoma.

b. Pressure Congestive test Pasang tensimeter pada ketinggian 50-60 mmHg, selama 1 menit. Kemudian ukur tensi intraokularnya. Kenaikan 9 mmHg, atau lebih mencurigakan, sedang bila lebih dari 11 mmHg pasti patologis. c. Kombinasi tes air minum dengan pressure congestive test Setengah jam setelah tes minum air dilakukan pressure congestive test. Kenaikan 11 mmHg mencurigakan, sedangkan kenaikan 39 mmHg atau lebih pasti patologis.

13

d. Tes steroid Diteteskan larutan deksametason 3-4 dd gtt 1, selama 2 minggu. Kenaikan tensi intraokular 8 mmHg menunjukkan glaukoma. I. Penatalaksanaan Tujuan terapi glaukoma adalah untuk memperlambat progresivitas kerusakan saraf. Karena kerusakan saraf dari glaukoma ireversibel, pemberian medikasi pada glaukoma tidak akan mengembalikan penglihatan pada keadaan normal. Glaukoma diterapi dengan menurunkan tekanan intra okular. Tercapainya tujuan terapi tergantung pada mata setiap individu dan status kerusakan saraf optik. Terapi diharapkan menuju stabilisasi saraf optik dan lapangan pandang tiap individu. Terapi glaukoma paling banyak menggunakan obat tetes mata (obat topikal). Obat oral juga digunakan untuk menurunkan TIO.

1. Medikamentosa Sebagian besar terapi glaukoma dibuat untuk menurunkan dan atau mengontrol TIO yang dapat merusak saraf optik. Tetes mata merupakan pilihan pertama sebelum pembedahan dan efektif untuk mengontrol TIO untuk mencegah kerusakan pada mata. Adapun medikamentosa untuk glaukoma adalah :
a. Supresi pembentukan cairan aqueous 1) Penghambat adrenergik beta, obat ini bekerja

dengan cara menurunkan produksi cairan aqueous dan


14

bias digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan tetes mata lainnya. Kontra indikasi utama adalah pada penyakit obstruksi jalan napas terutama asma.
2) Inhibitor karbonat anhidrase, digunakan untuk

glaucoma

kronik

apabila

terapi

topical

tidak

memberikan hasil memuaskan.


b. Fasilitas aliran keluar cairan aqueous

1) Obat parasimpatomimetik, meningkatkan aliran keluar cairan aqueous dengan bekerja pada jalinan trabekular melalui kontraksi otot siliaris. Obat pilihan adalah pilokarpin. 2. Operasi Pada umumnya operasi ditangguhkan selama mungkin dan baru dilakukan bila :
a. Tekanan intraokular tak dapat dipertahankan dibawah 22

mmHg
b. Lapang pandangan terus mengecil c. Orang sakit tak dapat dipercaya tentang pemakaian obatnya d. Tidak mampu membeli obat e. Tak tersedia obat-obat yang diperlukan

Prinsip operasi : fistulasi, membuat jalan baru untuk mengeluarkan humor akueus, oleh karena jalan yang normal tak dapat dipakai lagi. Pembedahan pada glaukoma : a. Bedah drainage glaukoma

Tindakan bedah untuk membuat jalan pintas dari mekanisme drainase normal, sehingga terbentuk akses
15

langsung humor akueus dari kamera anterior ke jaringan subkonjungtiva atau orbita, dapat dibuat dengan

trabekulotomi atau insersi selang drainase. Trabekulotomi telah mengganti tindakan-tindakan drainase full thicknes. Trabekulektomi adalah operasi konvensional dimana katup setengah tebal dibuat pada dinding sklera dan sebuah jendela pembuka dibuat di bawah katup tersebut untuk bagian trabecular meshwork. Katup sclera ini kemudian dijahit tidak terlalu rapat. Dengan demikian cairan aquos dapat dialirkan keluar melalui jalur ini sehingga tekanan di dalam bola mata dapat diturunkan dan terjadi pembentukan gelembung cairan pada permukaan mata. b. Trabekulektomi Pada glaukoma masalahnya adalah terdapatnya hambatan filtrasi (pengeluaran) cairan mata keluar bola mata yang tertimbun dalam mata sehingga tekanan bola mata naik. Bedah trabekulektomi merupakan teknik bedah untuk mengalirkan cairan melalui saluran yang ada. Pada trabekulektomi ini cairan mata tetap terbentuk normal akan tetapi pengaliran keluarnya dipercepat atau salurannya diperluas. Bedah konjungtiva. trabekulektomi Untuk mencegah membuat jaringan katup parut sklera yang

sehingga cairan mata keluar dan masuk di bawah terbentuk diberikan 5 fluoruracil atau mitomisin. Dapat dibuat lubang filtrasi yang besar sehingga tekanan bola mata sangat menurun.
16

Pembedahan ini memakan waktu tidak lebih dari 30 menit. Setelah pembedahan perlu diamati 4-6 minggu pertama. Untuk melihat keadaan tekanan mata setelah pembedahan. J. Prognosis Meskipun tidak ada obat yang dapat menyembuhkan glaukoma, pada kebanyakan kasus glaukoma dapat dikendalikan. Glaukoma dapat dirawat dengan obat tetes mata, tablet, operasi laser atau operasi mata. Menurunkan tekanan pada mata dapat mencegah kerusakan penglihatan lebih lanjut. Oleh karena itu semakin dini deteksi glaukoma maka akan semakin besar tingkat kesuksesan pencegahan kerusakan mata.

BAB III KESIMPULAN


A. Glaukoma adalah suatu penyakit dimana gambaran klinik yang lengkap

ditandai oleh peninggian tekanan intraokular, penggaungan dan degenerasi papil saraf optik serta dapat menimbulkan skotoma ( kehilangn lapangan pandang). B. Glaukoma sudut terbuka adalah glaukoma yang penyebabnya tidak ditemukan dan ditandai dengan sudut bilik mata depan yang terbuka. Glaukoma sudut terbuka ini diagnosisnya dibuat bila ditemukan glaukoma pada kedua mata pada pemeriksaan pertama, tanpa ditemukan kelainan yang dapat merupakan penyebab.

17

C. Glaukoma disebut sebagai pencuri penglihatan karena berkembang tanpa ditandai dengan gejala yang nyata. Oleh karena itu, separuh dari penderita glaukoma tidak menyadari bahwa mereka menderita penyakit tersebut. Biasanya nanti diketahui disaat penyakitnya sudah lanjut dan telah kehilangan penglihatan. D. Glaukoma sudut terbuka perlu diwaspadai pada orang : usia 40 tahun atau lebih, penderita diabetes mellitus, dalam keluarga ada penderita glaukoma, miopia tinggi. E. Pemeriksaan glaukoma yaitu : pemeriksaan tekanan bola mata ( tonometri Schiotz, tonometri aplanasi, tonometri digital ), gonioskopi, oftalmoskopi, pemeriksaan lapang pandangan, tes provokasi. F. Penatalaksanaan glaukoma dilakukan dengan 2 cara yaitu : medikamentosa dan operatif.

DAFTAR PUSTAKA

1. Adam

et al.Glaucoma. Last update http://www.urac.org/adams/glaucoma.html

July

2005.

Available

from:

2. Anonyma. Glaucoma : Introduction to Glaucoma & Medical Management of

Glaucoma. Section 10. USA. American Academy of Ophtalmology. 2002


3. Available

from EPIDEMIOLOGI

http://www.scribd.com/doc/36259341/16/C-

4. Ilyas, S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. 2007.

5. Ilyas, S. Glaukoma. Edisi 3. Jakarta. Sagung Seto. 2007 6. Vaughan, D.G. Asbury, T. Riodan-Eva, P. Glaukoma. dalam : Oftalmologi Umum, ed. Suyono Joko, edisi 14, Jakarta, Widya Medika, 2000, hal : 220232
7. Wijaya Nana. Glaukoma. dalam : Ilmu Penyakit Mata, ed. Wijaya Nana, cet.6,

Jakarta, Abadi Tegal, 1993


18

8. Yulia, glaucoma. Last uodate 3 December 2006. Available from :

http://fkuii.org/tiki-index.php?=Glaukoma2
9. Anonim,

Glaukoma. Last update: 2004. Available http://www.medicastore.com/images/glaucoma.jpg&imgreful , http://www.pfizerpeduli.com/pfizer

from:

10. Anonim, Macam-Macam Penyakit, Last update : 2007. Available from :

19