Anda di halaman 1dari 19

ANGGOTA KELOMPOK : MUHAMMAD AZAM BIN MOHD ARIFFIN 11-2011-266 WAN AHMAD AMIN BIN WAN ALI 11-2011-056

AHMAD FADHLI BIN BEROHAN 11-2011-044

DEFINISI
1. Sleep apnea syndrome -> suatu sindrom dengan ditemukannya episode apnea atau hipopnea pada saat tidur dapat disebabkan kelainan sentral, obstruktif jalan nafas atau campuran 2. Obstructive sleep apnea -> sindrom obstruksi total atau parsial jalan nafas yang menyebabkan gangguan fisiologis yang bermakna dengan dampak klinis yang bervariasi

EPIDEMIOLOGI
1. Lebih sering terjadi pada dewasa daripada anak-anak 2. Mendengkur karena kebiasaan, dijumpai pada masa anakanak yang terjadi pada 7-9% dari anak-anak prasekolah dan anak usia sekolah 3. Gangguan pernafasan selama tidur didapat pada kira-kira 0,7-10,3% dari anak-anak berusia 4 - 5 tahun 4. Insidens apnea pada neonatus kira-kira 25% pada bayi dengan berat badan lahir < 2500 gram dan 84% pada bayi dengan berat badan lahir < 1000 gram 5. Insidens tertinggi terjadi antara umur 3 - 6 tahun karena pada usia ini sering terjadi hipertrofi tonsil dan adenoid

PATOFISIOLOGI
Patofisiologi OSA pada anak belum banyak diketahui; terjadi jika didapatkan gangguan antara faktor yang mempertahankan patensi saluran nafas dan komponen jalan nafas bagian atas (misalnya ukuran anatomis) yang menyebabkan kolapsnya jalan nafas Faktor anatomi Faktor neuromotor

kelainan kraniofasial pada anak

SALURAN NAFAS NORMAL DIBANDINGKAN DENGAN PENDERITA MENDENGKUR.

ANAMNESIS
Pada pasien anak anamnesi boleh dilakukan secara alloanamnesis dan autoanamnesis. Berikut adalah pertanyaan yang harus ditanyakan: Sering mengorok keras Berhenti napas kemudian menarik napas dalam. Hal ini dapat membuat anak terbangun dan mengganggu tidurnya Tidur gelisah Berkeringat berlebihan Mengompol Anak sering batuk pilek berulang

Mengalami masalah perilaku, sosial dan dalam prestasi sekolah Anak susah mengingat Sulit dibangunkan Sakit kepala, terutama pagi hari Agresif, gelisah, mudah tersinggung Mengantuk Suara bindeng dan napas melalui mulut

MANIFESTASI KLINIS
Berdengkur terus menerus atau perubahan posisi Kesulitan nafas saat tidur Tidur gelisah Sering terbangun malam Berkeringat berlebihan

Mengompol
Batuk pilek berulang Sulit dibangun Susah mengingat

Mengantuk
Suara bindeng dan napas melalui mulut Mengalami masalah perilaku, sosial dan dalam prestasi sekolah

PEMERIKSAAN FISIK
Tinggi dan berat badan - Obesitas - OSA berat -> pertumbuhan terhambat Pemeriksaan wajah, leher, hidung dan mulut - Anomali kraniofasial - Micrognathia - Retrognathia - Fasies adenoid pernafasan mulut, rinolalia, bengkak periorbital

- Rhinitis alergi, polip hidung, deviasi septum


- Tonsil dan uvula - Pembesaran kelenjar tiroid - hipotiroid

Adenoid face

Kriteria Mallampati tidak dievaluasi secara ekstensif pada anak-anak kelas I, langit-langit lunak, tenggorok, uvula, dan pilar yang terlihat. kelas II, langit-langit lunak, tenggorok, dan sebagian dari uvula terlihat. kelas III, langit-langit lunak dan uvula dasar terlihat. kelas IV, hanya langit-langit keras terlihat.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Nasolaringoskopi fleksibel nilai anatomi dan fungsi septum nasi, mukosa nasal, seluruh kavum nasi, luas koana, penutupan palatum mole, derajat pembesaran adenoid, jarak antara tonsila palatina dan dasar lidah yang melekat pada orofaring dan hipofaring, dan penyebab potensial obstruksi saluran napas atas

Polisomnografi (PSG) merekam kardiorespiratori, elektromiografi , dan elektroensefalografi secara bersamaan saat tidur

Kriteria Index apnea-hypopnea

Dewasa >5

Anak(1-12tahun) >1 <92

Minimun Oxygen saturation <85 (%)

MRI Mengevaluasi kelainan kraniofasial pada pasien dengan PSG yang tetap jelek setelah dilakukan adenotonsilektomi

Fluoroskopi udara Untuk melihat aliran dinamik udara, juga membantu dalam menentukan lokasi obstruksi saluran napas

PENATALAKSANAAN
Medikamentosa - Mengobati obstruksi hidung dengan dekongestan nasal atau steroid inhaler - Progesteron untuk stimulan pernafasan pada pasien anak dengan obesity hipoventilation syndrom Non-medikamentosa - Continuous positive airway pressure(CPAP) indikasi pada pasien OSA menetap pasca operasi tonsilektomi dan/atau adeniodektomi atau sambil menunggu tindakan tonsilektomi dan/atau adenoidektomi

- Penurunan berat badan

Bedah - Tonsilektomi dan/atau adenoidektomi

- Trakeostomi untuk tindakan kegawatan dan sementara pada anak dengan OSA berat dan mengancam hidup atau pada anak tinggal di daerah dengan peralatan operasi yang minimal

KOMPLIKASI
1. Neurobehavioral 2. Gagal tumbuh

3. Komplikasi kardiovaskular
4. Enuresis sekunder 5. Penyakit respiratorik

6. Gagal nafas dan kematian

PROGNOSIS
- Tingkat kesembuhan pasca operasi tonsilektomi dan/atau adenoidektomi sekitar 75 100% - Pada anak dengan risiko yang obesitas dan disporposi kraniofasial, tingkat kesembuhan kurang baik karena sebagian besar pascaoperasi tonsilektomi dan/atau adenoidektomi akan tetap timbul OSA.