Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang menyelenggarakan proses belajar mengajar mempunyai peranan penting dalam mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada anak didik. Peranan tersebut diharapkan dapat menghasilkan manusia-manusia yang berkualitas di bidang ilmu pengetahuan. Matematika sebagai salah satu pelajaran dalam kelompok IPA yang termasuk sarana berpikir ilmiah sangat diperlukan untuk menumbuhkembangkan kemampuan ber pikir logis, sistematis, dan kritis dalam diri peserta didik untuk menunjang keb erhasilan belajarnya dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Bahkan matemat ika sangat diperlukan oleh semua orang dalam kehidupan sehari-hari.Selama ini pr oses pembelajaran matematika disekolah kebanyakan berpusat/terfokus pada guru, s erta dalam pelaksanaannya guru memegang kendali, memainkan peran aktif, sedangka n siswa cenderung pasif dalam menerima informasi, pengetahuan dan keterampilan d ari guru. Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara dengan guru mata pelajaran matema tika di kelas VII6 SMP Negeri 10 Kendari yang dilaksanakan pada tanggal 12 Nove mber 2009 , diperoleh informasi bahwa nilai rata-rata hasil belajar matematika t ahun ajaran 2008/2009 pada semester ganjil (I) hanya mencapai rata-rata 60, khus us materi PLSV hanya mencapai rata-rata 58 dan ini belum memenuhi standar ketunt asan belajar yang ditetapkan yaitu 62 (KKM). Siswa yang memperoleh nilai 62 hany a 10 orang atau 25% dan siswa yang memperoleh nilai 62 sebanyak 30 orang atau 75 % belum mencapai KKM. Menurut guru yang bersangkutan, penyebab rendahnya hasil belajar matematika siswa adalah kurangnya keaktifan siswa saat mengikuti proses pembelajaran dan pada akhirnya mengakibatkan rendahnya pemahaman siswa terhadap mata pelajaran matematika. Salah saatu materi ajar yang dirasakan masih cukup su lit dipahami siswa adalah persamaan linear satu variabel (PLSV) khususnya dalam penggunaan atau penentuan simbol yang digunakan sebagai variabel misalnya: y ban yaknya hari dalam satu minggu. Salah satu cara untuk membangkitkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran ad alah dengan menggunakan cara/model yang tepat yakni pembelajaran dapat menjadik an siswa sebagai subjek yang berupaya menggali sendiri, memecahkan sendiri masal ah-masalah dari suatu konsep yang dipelajari, sedangkan guru lebih banyak bertin dak sebagai motivator dan fasilitator. Selain itu pula, dari hasil wawancara singkat terhadap beberapa orang siswa, pad a umumnya siswa mengatakan bahwa dalam penggunaan atau penentuan simbol yang dig unakan sebagai variabel mereka tidak paham apa yang akan dijawab dan bagaimana c ara menyelesaikannya. Selanjutnya, peneliti mengadakan pengamatan langsung di kelas saat proses pembel ajaran di kelas, terlihat bahwa dalam penyajian materi guru masih menggunakan me tode ceramah yang bervariasi dengan metode tanya jawab dan pemberian tugas. Hal ini terkait dengan buku-buku pelajaran dan media pembelajaran yang dibutuhkan ju mlahnya sangat terbatas. Metode tanya jawab dan metode pemberian tugas belum dap at mengoptimalkan keaktifan siswa. Siswa yang pintar cenderung mendominasi jawab an pertanyaan guru dan siswa yang kurang pintar dan terkesan pasif. Demikian jug a metode pemberian tugas belum dapat menyeimbangkan aspek kepribadian siswa, mis alnya jika diberikan tugas pekerjaan rumah hanya beberapa yang mengerjakan, seda ng siswa yang lain menyalin pekerjaan temannya. Hal ini kurang melibatkan siswa kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran, akibatnya matematika dianggap sulit se rta tidak dipahami oleh siswa sehingga berimplikasi pada rata-rata hasil belajar matematika yang diperoleh siswa. Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang banyak digunakan dalam pe nerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Walaupun prinsip dasar pembelajaran kooperatif tidak berubah, namun terdapat beberapa tipe dari model tersebut. Tuj uan dibentuknya pembelajaran kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepad a siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan kegiatan-keg iatan belajar. Sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah. Salah s

atu tipe dalam pembelajaran kooperatif yang dianggap peneliti dapat memotivasi s iswa dalam peran aktif dalam proses belajar mengajar adalah Model Pembelajaran K ooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT.) Model pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran ko operatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik, meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, agar siswa dapat meneri ma teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang, dan untuk mengembangka n keterampilan siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagai tugas, akt if bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya Keunggulan/kelebihan model pembelajaran koperatif tipe NHT yaitu Terjadinya interaksi antara siswa melalui diskusi/siswa secara bersama dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Siswa pandai maupun siswa lemah sama -sama memperoleh manfaat melalui aktifitas belajar kooperatif. Dengan bekerja secara kooperatif ini, kemungkinan konstruksi pengetahuan akan ma njadi lebih besar/kemungkinan untuk siswa dapat sampai pada kesimpulan yang diha rapkan. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya , berdiskusi, dan mengembangkan bakat kepemimpinan Kelemahan/kekurangan model pembelajaran koperatif tipe NHT yaitu Siswa yang pandai akan cenderung mendominasi sehingga dapat menimbulkan sikap mi nder dan pasif dari siswa yang lemah. Proses diskusi dapat berjalan lancar jika ada siswa yang sekedar menyalin pekerj aan siswa yang pandai tanpa memiliki pemahaman yang memadai. Pengelompokkan siswa memerlukan pengaturan tempat duduk yang berbeda -beda serta membutuhkan waktu khusus. (Arends dalam Awaliyah, 2008: 3) Dengan melihat fenomena tersebut, peneliti bersama guru bermaksud mengadakan ker jasama dalam upaya memberikan solusi dengan menerapkan model pembelajaran kooper atif tipe Numbered Heads Together (NHT) dalam menyelesaikan soal persamaan linea r satu variabel. Model pembelajaran ini sangat cocok diterapkan pada pembelajara n matematika karena dalam mempelajari matematika, tidak cukup hanya dengan menge tahui dan menghafalkan konsep-konsep matematika tetapi juga dibutuhkan suatu pem ahaman serta kemampuan menyelesaikan persoalan matematika dengan baik dan benar sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dari uraian di atas sebagai upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa di SMP Negeri 10 Kendari, maka peneliti bersama guru tertarik untuk mencoba men erapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) guna me ningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa melalui suatu penelitian yang berju dul Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika melaui Penerapan Model Pe mbelajaran Kooperetif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Untuk Materi Ajar Persa maan Linear Satu Variabel Pada Siswa Kelas VII6 SMP Negeri 10 Kendari. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah. 1. Apakah aktivitas belajar matematika siswa kelas VII6 SMP Negeri 10 Kendari un tuk materi ajar persamaan linear satu variabel melalui penerapan model pembelaja ran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dapat ditingkatkan? 2. Apakah hasil belajar matematika siswa kelas VII6 SMP Negeri 10 Kendari untuk materi ajar persamaan linear satu variabel melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dapat ditingkatkan? C. Tujuan Penelitian Sehubungan dengan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah. 1. Meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa untuk materi ajar persamaan linear satu variabel melalui model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head s Together (NHT ) pada siswa kelas VII6 SMP Negeri 10 Kendari !

2. Meningkatkan hasil belaja matematikar siswa untuk materi ajar linear sat u variabel melalui model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (N HT) pada siswa kelas VII6 SMP Negeri 10 Kendari !

D.

Manfaat Penelitian Dengan tercapainya tujuan penelitian di atas, maka manfaat yang diharapkan adalah sebagai berikut. 1. Bagi siswa: dari hasil penelitian ini siswa akan dilatih untuk selalu ak tif dalam mengikuti pembelajaran Matematika pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel melalui model pembelajaran kooperatif. Dengan selalu aktif siswa mengikuti pembelajaran matematika akan berdampak pada meningkatnya hasil belajar . 2. Bagi guru: melalui hasil penelitian, guru akan mengetahui model pembelaj aran yang dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Selain itu guru dapat meningkatkan kinerja profesionalnya sebagai guru karena melalui PTK guru akan mengetahui kelemahan-kelemahan yang dilakukan dalam pembelajaran dan akan b erusaha memperbaikinya pada pelajaran berikutnya. 3. Bagi peneliti: melalui penelitian tindakan kelas ini dapat diketahui sec ara langsung masalah pembelajaran yang ada dikelas, khususnya dalam hal meningka tkan aktifitas dan hasil belajar siswa. E. Definisi Operasional Untuk menghindari persepsi terhadap penggunaan istilah dalam pen elitian ini, maka perlu diberikan definisi operasional sebagai berikut. 1. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan model pembelajaran yang beranggotakan 4 5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kel ompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk mempunyai tingkat k emampuan bervariasi. Setiap anggota kelompok diberi tanggung jawab untuk memecah kan masalah atau soal yang telah diberi sesuai dengan nomor-nomor yang telah ada . Anggota kelompok saling menjelaskan kepada sesama teman anggota kelompoknya, s ehingga semua anggota kelompok mengetahui jawaban dari semua soal yang diberikan . Selanjutnya, guru menyebut satu nomor para siswa dari tiap kelompok dan yang t elah disebut nomornya harus menyiapkan jawabannya untuk seluruh kelas dan mempre sentasikan di depan kelas. 2. Hasil belajar matematika merupakan hasil yang dicapai siswa melalui tes hasil belajar matematika baik selama proses maupun pada akhir pembelajaran khusu snya pada materi pokok persamaan linear satu variabel 3. Aktivitas belajar merupakan tingkah laku siswa dalam proses pembelajara n yang meliputi siswa mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru, siswa sela lu berada dalam kelompoknya, siswa aktif dalam kelompoknya, siswa yang merasa ka ku berada dalam kelompoknya, siswa berdiskusi dengan teman kelompoknya dalam men yelesaikan masalah dalam LKS, siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan mas alah dalam LKS, siswa mengajukan pertanyaan kepada guru saat mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah dalam LKS, siswa ketika nomor anggotanya terpanggil tidak merasa takut, siswa mampu menjawab atau mempresentasekan hasil kerja kelo mpoknya di depan kelas, dan siswa membuat rangkuman tentang materi yang dipelaja ri.