Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Sampai sekarang dalam dunia pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pen getahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan uta ma metode pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh kemampuan guru yang masih sulit mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keadaan ini banyak terjad i di daerah-daerah, termasuk di kabupaten Nias. Seiring dengan berlakunya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), muncul jug a pemikiran-pemikiran baru dalam dunia pendidikan. Hal-hal baru ini pada dasarny a bertujuan untuk kemajuan dunia pendidikan, tetapi ada guru yang sulit menerima nya karena keterbatasan pengetahuan. Tidak heran jika pemberlakuan KTSP di sekol ah-sekolah hanya sebatas formalitas, artinya secara administrasi digunakan KTSP tetapi tidak teraplikasi dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu pemikiran baru dalam KTSP adalah pembelajaran yang berpusat pada sisw a. Agar hal ini dapat tercapai maka harus ada penyesuaian dengan model pembelaja ran yang diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu model pembelajaran y ang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi mendorong siswa mengk ontruksikan konsep di benak mereka sendiri adalah model pembelajaran kooperatif tipe group investigation (penemuan secara berkelompok). Pembelajaran group inves tigation merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif. Pada pembelaja ran group investigation, siswa diharapkan terlibat langsung dan aktif dalam kegi atan pembelajaran. Melalui kegiatan pembelajaran group investigation, siswa bela jar dari pengalaman sendiri, mengkonstruksi ilmu pengetahuan sendiri kemudian me mberi makna pada ilmu pengetahuan itu. Dengan proses belajar yang mengalami dan menemukan sendiri secara berkelompok, maka siswa menjadi senang, sehingga tumbuh lah minat untuk belajar dan hasil belajarnya juga meningkat. Dari studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di SMP Negeri 2 Lahusa sebagai se kolah yang direncanakan menjadi lokasi penelitain ditemukan bahwa kegiatan pembe lajaran matematika belum sesuai dengan KTSP, siswa tidak berminat untuk belajar matematika, dan hasil belajar matematika juga rendah. Selengkapnya hasil studi p endahuluan dapat diuraikan, sebagai berikut: 1. Berdasarkan wawancara dengan guru matematika ditemukan bahwa: a. Guru merasa sulit membuat siswa untuk tertarik belajar matematika b. Guru sepertinya pasrah dengan keadaan siswa yang sulit belajar matematik a. c. Guru mempersalahkan keadaan siswa yang tidak menguasai kemampuan dasar. d. Guru merasa terbebani dengan pembuatan perangkat pembelajaran yang baru. e. Guru mengeluh dengan kekurangan media pembelajaran dan buku paket di sek olah. 2. Berdasarkan wawancara dengan beberapa orang siswa ditemukan bahwa: a. Siswa tidak berminat dalam belajar matematika. b. Siswa mengeluh tentang cara mengajar guru. c. Siswa sering mendapat hukuman jika tidak dapat menyelesaikan tugas. 3. Berdasarkan hasil observasi (pengamatan) ditemukan bahwa: a. Guru belum menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. b. Siswa lebih senang jika les mata pelajaran matematika selesai. c. Kurang kreatifitas siswa dalam kegiatan pembelajaran matematika. 4. Dari guru mata pelajaran matematika diperoleh rata-rata nilai matematika siswa kelas VIII pada tahun pelajaran 2007/2008, sebagai berikut: Tabel 1 RATA-RATA NILAI MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 LAHUSA TAHUN PELAJARAN 2007/2008 Tahun Pelajaran Semester Rata-Rata Nilai Matematika Pemahaman Konsep Penalaran dan Komunikasi n Masalah Pemecaha

2007/2008 Ganjil Genap 57,64 58,17 55,76 54,67 53,81 54,12 Sumber: Tata Usaha SMP Negeri 2 Lahusa Dari beberapa permasalahan di atas, peneliti tertarik dengan minat siswa dalam b elajar matematika, karena minat turut mempengaruhi hasil belajar siswa. Hal ini senada dengan Dalyono (2005:57) yang menyatakan bahwa: Minat belajar yang besar cen derung menghasilkan prestasi yang tinggi sebaliknya minat belajar yang kurang ak an menghasilkan prestasi yang rendah . Harus diakui bahwa minat siswa dalam belajar matematika sangat rendah. Hal ini d idukung oleh data hasil studi pendahuluan di SMP Negeri 2 Lahusa. Jika hal ini t erus dibiarkan, tentu saja sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Oleh sebab itu maka peneliti berkeinginan menerapkan model pembelajaran group investigation agar dalam kegiatan pembelajaran siswa le bih aktif dan terlibat secara langsung. Dengan demikian diharapkan minat siswa d alam belajar siswa akan meningkat. Untuk memenuhi keinginan tersebut, maka penel iti melakukan penelitian ilmiah dengan judul: Analisis Minat Siswa dan Hasil Belaja r Matematika Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation SMP Negeri 2 Lahusa Tahun Pelajaran 2009/2010 B. Identifikasi Masalah Identifikasi masalah dilakukan berdasarkan latar belakang masalah. Yang menjadi identifikasi masalah dalam penelitian ini, sebagai berikut: 1. Dunia pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebag ai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. 2. Kemampuan guru yang masih sulit mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 3. Pemberlakuan KTSP di sekolah-sekolah hanya sebatas formalitas, artinya s ecara administrasi digunakan KTSP tetapi tidak teraplikasi dalam kegiatan pembel ajaran. 4. Siswa tidak berminat dalam belajar matematika. 5. Siswa mengeluh tentang cara mengajar guru. 6. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika masih rendah. C. Batasan Masalah Mengingat permasalahan pada identifikasi masalah sangat luas, sedangkan peneliti memiliki keterbatasan dana, waktu, dan buku referensi, maka dilakukan pembatasa n masalah. Batasan masalah dalam penelitian ini, sebagai berikut: 1. Proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation. 2. Minat siswa dalam belajar matematika 3. Hasil belajar matematika pada sub materi pokok relasi dan fungsi yang te rdiri dari aspek pemahaman konsep, aspek penalaran dan komunikasi, serta aspek p emecahan masalah. D. Rumusan Masalah Agar penelitian ini lebih terarah maka peneliti merumuskan permasalahan. Yang me njadi rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu: 1. Bagaimanakah minat siswa dalam proses pembelajaran matematika dengan men ggunakan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation SMP Negeri 2 Lah usa tahun pelajaran 2009/2010? 2. Bagaimanakah hasil belajar matematika pada sub materi pokok relasi dan f ungsi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation SMP Negeri 2 Lahusa tahun pelajaran 2009/2010? E. Tujuan Penelitian Agar hal-hal yang hendak dicapai dalam penelitian ini lebih jelas maka p

eneliti merumuskan tujuan penelitian. Yang menjadi tujuan penelitian ini, adalah : 1. Untuk mendeskripsikan minat siswa dalam proses pembelajaran matematika d engan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation SMP Neg eri 2 Lahusa tahun pelajaran 2009/2010. 2. Untuk mendeskripsikan hasil belajar matematika pada sub materi pokok rel asi dan fungsi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe group inves tigation SMP Negeri 2 Lahusa tahun pelajaran 2009/2010. F. Manfaat Penelitian Untuk mempertegas kelayakan penelitian ini dilakukan maka peneliti menguraikan k egunaan penelitian. Beberapa kegunaan penelitian ini, antara lain: 1. Memberikan gambaran kepada guru terutama di lokasi penelitian tentang mi nat siswa dan hasil belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran gro up investigation, sehingga guru dapat menggunakannya pada kegiatan pembelajaran. . 2. Membekali peneliti sebagai calon guru pada masa yang akan datang. G. Asumsi Penelitian Asumsi adalah anggapan dasar yang dapat diterima secara umum tanpa dibuktikan ke benarannya. Asumsi dalam penelitian digunakan sebagai pijakan berpikir dan berti ndak. Asumsi dalam penelitian ini, adalah: 1. Model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dapat digunakan g uru dalam kegiatan pembelajaran matematika. 2. Minat siswa dalam belajar matematika dapat diukur dengan menggunakan ang ket. 3. Hasil belajar matematika dapat diukur dengan menggunakan tes hasil belaj ar