Anda di halaman 1dari 37

:

PROYEK PENGENALAN PROGRAM ENERGI BARU TERBARUKAN PADA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DI INDONESIA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS)

Modul No. ET- PLTS-S01-3 PENGUKURAN ELEKTRO Disusun oleh: Anita Widiawati, S.Pd Reni Nuraeni, ST

Diterbitkan oleh: PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) Bidang Mesin dan Teknik Industri Bandung, Indonesia Bekerja sama dengan KEDUTAAN BESAR BELANDA SENTERNOVEMEDUCATION AND TRAINING CONSULTANT (ETC) ENERGY Technical Training Program Belanda Didukung oleh Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ketenagalistrikan dan Energi Baru Terbarukan Micro Hydro Power Project- GTZ PT. Entec Bandung

Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apa pun, termasuk fotokopi, tanpa ijin tertulis dari Penerbit Edisi 1 Bandung, September 2008 KATA PENGANTAR Mulai tahun 2006 sampai dengan 2009 Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Mesin dan Teknik Industri/ PPPPTK BMTI Bandung ( Technical Education Development Centre Bandung) bekerjasama dengan SenterNovem d an ETC/ Technical Training Program the Netherlands, memperkenalkan Program Energ i Terbarukan pada Sekolah Menengah Kejuruan di Indonesia. program Energy Terbaru kan diperkenalkan kepada siswa SMK sebagai hasil rekomendasi dari Bilateral Ener gy Working Group Meeting Indonesia-the Netherlands yang ke-15 di Lombok. Ada empat bidang teknik energi terbarukan yang akan diperkenalkan secara bertaha p, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), Pembangkit Listrik Tenag a Matahari (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBM). Pengenalan PLTS pada SMK dilakukan oleh PPPPTK BMTI Ban dung dengan bimbingan teknis dari PT Entec Indonesia dan PT GMN, sebuah perusaha an konsultan bidang PLTS. Ada 10 judul modul PLTS yang telah berhasil dibuat oleh Tim Pengembang Program E nergi Terbarukan dari PPPPTK BMTI Bandung yang dirancang berdasarkan kurikulum P LTS yang juga disusun oleh tim tersebut. Dengan adanya kebijakan Kurikulum Tingk at Satuan Pendidikan (KTSP), hingga saat ini modul-modul PLTS tersebut dapat dip elajari di SMK sebagai: 1. Modul-modul tambahan (supplement), pelengkap (complement), atau penggant i (subsitute) pada program studi keahlian Ketenagalistrikan, khususnya kompetens i keahlian Pembangkitan 2. Modul-modul pembelajaran pada mata pelajaran Muatan Lokal Energi Terbaru kan, dimana SMK yang membuka kompetensi keahlian Pembangkitan dapat memilih Ener gi Terbarukan sebagai mata pelajaran Muatan Lokal di sekolah tersebut. Untuk mendukung implementasi pembelajaran PLTS di SMK, maka PPPPTK BMTI Bandung

menyelenggarakan Diklat Guru PLTS yang dilaksanakan selama empat level, masing-m asing satu bulan. Karena sifat pembelajaran PLTS yang multi disiplin, maka para peserta diklat pun terdiri dari para guru Kelistrikan dan Elektronika yang dior ganisasikan secara khusus. Bandung, 24 September 2008 PPPPTK BMTI Bandung Kepala,

Drs. Murtoyo, MM. NIP 131126143 PETA KOMPETENSI DAN MODUL PLTMH Nama dan Kode Modul ET-PLTS untuk SMK

N0 Nama Modul Kode 1 Kerja Bangku Elektro (Penggunaan dan Pemeliharaan Peralatan Elektro) ET-PLTS-S01-01 2 Gambar Teknik Elektro ET-PLTS-S01-02 3 Pengenalan Teknologi Tenaga Surya ET-PLTS-S01-03 4 Pengukuran Elektro ET-PLTS-S01-04 5 Komponen-komponen PLTS ET-PLTS-S01-05 6 Pemasangan Sistem PLTS ET-PLTS-S01-06 7 Pengoperasian PLTS ET-PLTS-S01-07 8 Perawatan Unit PLTS ET-PLTS-S01-08 9 Penginspeksian Sistem PLTS ET-PLTS-S01-09 10 Pembuatan Model Aplikasi PLTS ET-PLTS-S01-10

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI iii PETA KOMPETENSI iv BAB I . PENDAHULUAN 1.1. Deskripsi 1 1.2.Prasyarat 1 1.3. Hasil Belajar 1.4. Penilaian 2

1 1

1.5. Petunjuk Penggunaan Modul 2 1.6. Kerangka Isi 3 1.7 Cek Kemampuan ( Self Assesment Check List) 3 BAB II. PEMBELAJARAN 4 KEGIATAN BELAJAR 1 4 PENGENALAN ALAT UKUR LISTRIK DAN ELEKTRONIKA 4 Lembar Informasi 4 Lembar Latihan 10 KEGIATAN BELAJAR 2 11 ALAT UKUR LISTRIK DAN ELEKTRONIKA 11 Lembar Informasi 11 Lembar Kerja 1 13 Lembar Kerja 2 16 Lembar Kerja 3 20 KEGIATAN BELAJAR 3 21 MENGOPERASIKAN INSTRUMEN PENGUKUR LISTRIK DAN ELEKTRONIKA Lembar Informasi 21 Lembar Kerja 1 24 Lembar Kerja 2 25 Lembar Kerja 3 26 Lembar Kerja 4 27 Lembar Kerja 5 28 Menggunakan Watt Meter 28 Praktikum Sistem Hubungan Watt meter 28 Lembar Kerja 6 31 Menggunakan Osciloskop 31 KEGIATAN BELAJAR 4 34 ALAT UKUR MEKANIK 34 Lembar Informasi 34 Lembar Kerja 44 KEGIATAN BELAJAR 5 47 MENGGUNAKAN INSTRUMEN PENGUKUR MEKANIK 47 Lembar Kerja 1 52 Lembar Kerja 2 55 KEGIATAN BELAJAR 6 57 APLIKASI PENGUKURAN PV 57 Lembar Informasi 57 Pengantar 57 Hubungan Seri Sel Surya 58 Hubungan Parallel Sel Surya 59 Lembar Kerja 1 60 Lembar Kerja 2 62 Lembar Kerja 3 65 KEGIATAN BELAJAR 7 68 PERATURAN, NORMA, DAN STANDAR SISTEM KESELAMATAN KERJA 68 Lembar Informasi 68 Lembar Latihan 75 DAFTAR PUSTAKA 76 BAB I . PENDAHULUAN

21

1.1. Deskripsi Modul ini bertujuan memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan kepada peserta tentang Dasar-Dasar Kelistrikan PLTS. Modul ini bertujuan memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan kepada peserta tentang pengunaan alat ukur Listrik dan Elektronika, penggunaan alat ukur Mekan ik, aplikasi pengukuran pada Photo Voltaic dan Safety (keamanan) pada sistem PL TS. 1.2. Prasyarat Untuk dapat mengikuti modul ini peserta harus sudah mempunyai pengetahuan dalam

bidang : Matematika Elektromagnetik Fisika dasar 1.3. Hasil Belajar Setelah tuntas mempelajari modul ini peserta diharapkan mampu : 1. Mengidentifikasi Alat Ukur Listrik dan Elektronika 2. Mengidentifikasi Alat Ukur Mekanik 3. Menggunakan Alat Ukur Listrik, Elektronika dan Mekanik sesuai SOP 4. Menggunakan aplikasi pengukuran pada Photo Voltaic 5. Memahami Peraturan, Norma dan sistem Keselamatan Kerja 6. Menggunakan Peralatan Kerja sesuai SOP 1.4. Penilaian Untuk mengukur tingkat keberhasilan peserta dalam mengikuti modul ini,dilakukan evaluasi baik terhadap aspek pengetahuan maupun aspek keterampilan. Aspek penget ahuan ( teori ) dievaluasi secara tertulis dengan menggunakan jenis test jawaban singkat dan pilihan ganda. Sedangkan aspek keterampilan (praktek) dievaluasi me lalui pengamatan langsung terhadap proses kerja, hasil kerja dan sikap kerja. 1.5. Petunjuk Penggunaan Modul Modul Pembelajaran ini menggunakan Sistem Pelatihan Berbasis Kompetensi. Pelatih an berbasis kompetensi adalah pelatihan yang memperhatikan kemampuan, keterampil an dan sikap yang diperlukan di tempat kerja agar dapat melakukan pekerjaan deng an kompeten. Penekanan utamanya adalah pada apa yang dapat dilakukan seseorang s etelah mengikuti pelatihan. Salah satu karakteristik yang paling penting dari pe latihan berbasis kompetensi adalah penguasaan individu terhadap bidang pengetahu an dan kerampilan tertentu secara nyata di tempat kerja. Dalam Sistem Pelatihan berbasis kompetensi, fokusnya adalah pada pencapaian komp etensi dan bukan pada pencapaian atau pemenuhan waktu tertentu. Dengan demikian maka dimungkinkan setiap peserta pelatihan memerlukan atau menghabiskan waktu ya ng berbeda-beda dalam mempelajari modul guna mencapai suatu kompetensi tertentu. Setelah Anda mempelajari modul ini, kemudian dilakukan evaluasi dan uji kompeten si, ternyata belum mencapai tingkat kompetensi tertentu pada kesempatan pertama, maka pelatih akan mengatur rencana bersama anda untuk mempelajari dan memberika n kesempatan kembali kepada Anda untuk meningkatkan level kompetensi sesuai deng an level tertentu yang diperlukan. Kesempatan mengulang yang disarankan maksima l tiga kali. Penyajian modul ini dibagi dalam enam Kegiatan Belajar. Setiap kegiatan belajar dilengkapi dengan Lembar Kerja/Tugas yang berupa pertanyaan-pertanyaan yang haru s dijawab setelah Anda selesai membaca masukan atau referensi yang relevan. Pada modul ini dilengkapi juga dengan lembar cek kemampuan yang dapat Anda isi s ebagai tanda bahwa anda telah selesai mempelajari serta memahami isi modul dan s iap untuk evaluasi ataupun uji kompetensi. 1.6. Kerangka Isi 1. Pengenalan Alat Ukur Listrik dan Elektronika 2. Alat ukur Listrik dan Elektronika 3. Mengoperasikan Instrumen Pengukur Listrik dan Elektronika 4. Alat Ukur Mekanik 5. Menggunakan Instrumen Pengukur Mekanik 6. Aplikasi Pengukuran Pada PV 7. Peraturan ,Norma dan Standar Sistem Kesematan Kerja 1.7. Cek Kemampuan ( Self Assesment Check List) Gunakan table berikut ini untuk mengukur apakah Anda telah memahami keseluruhan materi modul yang merujuk kepada Kriteria Unjuk Kerja yang diperlukan sebagai pe ngetahuan pendukung untuk dapat memperoleh kompetensi utama dalam Pengukuran pad a PLTS. NO. ELEMEN NO. KUK YA TIDAK KETERANGAN

BAB II. PEMBELAJARAN KEGIATAN BELAJAR 1 PENGENALAN ALAT UKUR LISTRIK DAN ELEKTRONIKA Lembar Informasi A. Teori Dasar Pengukuran Listrik

1 Pengertian Dasar Proses pengukuran dalam system tenaga listrik merupakan salah satu prosedur stan dar yang harus dilakukan. Karena melalui pengukuran akan diperoleh besaran-besar an yang diperlukan, baik untuk pengambilan keputusan dan instrumen kontrol maupu n hasil yang diinginkan oleh seorang user. Alat ukur adalah suatu peralatan/instrumen yang digunakan untuk menentukan besar an-besaran listrik berdasarkan kaidah-kaidah tertentu. Besaran-besaran listrik t ersebut diantaranya adalah besaran arus,tegangan, tahanan,impedansi,frekuensi,da ya listrik,kuat cahaya,faktor kerja dan lain-lain. Sifat dari pengukuran itu dibagi dalam : a. Indication, menyatakan, menunjukkan, alat semacam ini tidak tergantung p ada waktu; b. Recording, mencatat, menyimpan, merekam, alat ini dipergunakan bila peng ukuran berubah dengan perubahan waktu; c. Integrating, menjumlahkan, alat ini dipakai bila konsumsi energi elektri k selama beberapa waktu waktu diperlukan. Pekerjaan mengukur itu pada dasarnya adalah usaha menyatakan sifat sesuatu zat / benda ke dalam bentuk angka atau herga yang lazim disebut sebagai hasil penguku ran. Pemberian angka-angka tersebut dalam praktek dapat dicapai dengan : Membandingkan dengan alat tertentu yang dianggap sebagai standar. Membandingkan besaran yang akan diukur dengan suatu sekala yang telah ditera ata u dikalibrasikan. Jelaslah bahwa pengukuran sebagai suatu proses yang hasilnya sangat tergantung d ari unsur-unsurnya. Unsur-unsur terpenting dalam proses pengukuran itu antara la in : Alat yang dipergunakan sebagai pembanding/ penunjuk. Orang yang melaksanakan pengukuran. Cara melaksanakan pengukuran. Kalau ada salah satu unsur yang tidak memenuhi syarat, maka hasilnya tidak mungk in baik. Penjelasan di atas merupakan pengertian pengukuran yang ditinjau secara umum. Pengukuran listrik mempunyai tujuan yang lebih luas lagi, yaitu : untuk m engetahui, menilai dan atau menguji besaran listrik. Alat yang dipergunakan seba gai pembanding/ penunjuk disebut instrumen pengukur. Instrumen ini berfungsi seb agai penunjuk nilai besaran Listrik yang diukurnya. Banyak sekali macam jenis pe ngukuran ini sesuai dengan banyak besaran yang akan diukur. Hasil pengukuran pad a umumnya merupakan penunjukkan yang langsung dapat dibaca/ diketahui, ada yang dengan sistim tercatat dan ada yang tidak. Dari hasil penunjukkan ini selanjutny a dapat dianalisa atau dibuat data untuk suatu bahan studi/ analisa lebih lanjut . Oleh sebab itu hasil pengukuran diharapkan mencapai hasil yang optimal 2 Macam-Macam Alat Ukur Elektrik Macam-macam alat ukur elektrik itu dapat dikelompokkan berdasarkan pada : (1). Kuantitas yang diukur : Untuk mengukur besaran arus dipakai Ampere meter Untuk mengukur besaran tegangan dipakai Volt meter,

Untuk mengukur besaran resistans dipakai : ohm meter atau Jembatan resistansi, Untuk mengukur besaran daya dipakai Watt meter Untuk mengukur besaran energi dipakai Watt-jam meter untuk mengukur besaran frekuensi dipakai Frekuensi meter Untuk mengukur besaran faktor kerja dipakai cos . Meter (2). Macamnya arus : Alat-alat dibagi dalam alat ukur Arus Searah, alat ukur Arus Bolak Balik, alat u kur Arus Searah/ Arus Bolak Balik. (3). Ketelitian : Batas ketelitian dari alat ukur merupakan disini dasar pengelompokkannya : batas ketelitian itu dibagi menurut VDE dalam 7 kelas : (dinyatakan dalam % dari skal a penuh) a) Ketelitian yang tinggi yang diperlukan untuk penelitian, yaitu kelas : 0 ,1; 0,2;0,5; b) Alat ukur untuk industri : 1; 1,5; 2,5; 5. . B. Besaran-Besaran Listrik Besaran-besaran listrik yang banyak dijumpai dalam bidang industri, perbengkelan ataupun keperluan-keperluan yang lain ialah : Arus listrik tegangan tahanan daya dan sebagainya. Dalam pemakaian besaran li ik diukur dalam satuan praktis dan harga efektif. Untuk memudahkan dalam memaham inya dibuat ringkasan seperti daftar-daftar di bawah . Daftar Untuk Arus Searah Besaran Simbol Satuan Lambang Rumus Kuat Arus I Ampere A I = Tegangan U Volt V U = I . R R = Tahanan R Ohm Daya Listrik Usaha / Kerja P A Watt W Watt hours P = U .I Wh A = U . I . t

Untuk keperluan pengukuran arus bolak balik rumus-rumus di atas dapat dipakai ar us tegangannya sefasa atau Cos = 1 Daftar Untuk Arus Bolak Balik Besaran Simbol Satuan Lambang Rumus Frekuensi f Hertz Hz Daya (nyata) Daya buta Daya semu Faktor kerja P Pb Ps Cos Watt W Watt W Volt Ampere -

f = P = U . I . Cos Pb = U . I . Sin VA Ps = U . I -

Daftar Besaran-Besaran Besaran Simbol Satuan Kapasitansi C Induktansi L C.

yang lain Lambang Keterangan Farad F 1 Farad = Coulumb / Volt Henry H Henry = Weber / Amp

Prinsip Kerja Alat Ukur Listrik

1. Umum Seperti telah kita ketahui bahwa sistim pengukuran listrik itu,menggunakan suatu alat yang disebut instrumen pengukur. Instrumen pengukur ini akan bekerja apabi la ia diberi suatu input ialah besaran listrik yang akan diukur.Besaran yang dim asukkan ke dalam instrumen pengukur tersebut akan dipindahkan (ditransfer) menje lma menjadi suatu penunjukkan. Hasil penunjukkan ini dinyatakan sebagai hasil pe ngukuran yang nilainya sama dengan besaran yang diukur.Pesawat yang mentransfer besaran listrik menjadi suatu penunjukkan ini merupakan salah satu transduser. P esawat ini mempunyai azas kerja yang berbeda-beda antara lain : azam kerja kumpa

ran putar, besi putar, induksi, elektrodinamis dan sebagainya.Transduser merubah besaran listrik yang akan diukur itu, kecuali menjadi suatu tenaga mekanis juga menghasilkan tenaga termis.Tenaga termis ini merupakan suatu tenaga yang merugi kan. Perhatikan blok diagram pada gambar 1.

Gambar 1. Blok Diagram Sistem Pengukuran Karena adanya kerugian tenaga yang ditimbulkan oleh panas ini maka penunjukkan a kan menjadi kurang tepat. Disamping kerugian tenaga yang disebabkan oleh timbuln ya panas juga umumnya terdapat kerugian gesekan yaitu pada penunjukkan dengan si stim jarum penunjuk, sistim pencatat dan induksi penghitung. Selanjutnya untuk m emperoleh hasil pengukuran besaran yang diukur mendekati kebenaran maka hasil te rsebut di atas perlu diperhitungkan. Hasil pengukurannya dapat diperoleh melalui salah satu macam sistim penunjukkan, misalnya sistim jarum penunjuk, sistim pen catat, sistim penghitung, sistim sinar katoda dan sebagainya. Sistimpenunjukkan ini akan diterangkan kemudian. Pada waktu ada arus listrik mengalir melalui peng hantar A B terbangkitlah panas pada hantaran itu. Penghantar A B memuai. Akibat dari pemuaian ini dengan pertolongan kawat tarik m, maka pegas P melalui kawat p untir n memutar poros jarum penunjuk a, sehingga jarum penunjuk akan berputar ke kanan. Menurut Hukum Joule perubahan energi listrik menjadi energi panas, maka rumusnya menjadi : U. I. t. = k. I2 . R . t dimana : U = Tegangan dalam volt I = Kuat arus dalam Ampere t = Waktu dalam detik k = Konstanta R = Tahanan kawat panas dalam Ohm Dengan demikian bentuk sekala penunjukkannya kwadratis. Untuk peredaman umumnya digunakan peredaman magnit permanen, disebut juga peredaman arus pusar. Pesawat ini mempunyai beberapa sifat diantaranya : Mudah terpengaruh medan magnit luar. Daya yang dipakai terlalu besar, karena diperlukan untuk pemanasan. Peka terhadap muatan lebih, sehingga kalau arusnya terlalu besar kawat dapat ter bakar. Penunjukkannya terlampau lambat untuk mencapai sekala yang dituju. Sesudah beberapa lama dipakai akan terjadi pemuaian tinggi, karena masih panas, se hingga kalau pemakaian selanjutnya dalam waktu yang masih dekat terjadilah penun jukkan yang salah. Tidak terpengaruh frekuensi dan bentuk gelombang arus bolak balik. Azas kerja ini dapat dipakai pada pengukuran arus searah dan arus bolak balik da n baik untuk frekuensi tinggi. Mengingat beberapa sifat di atas. 2. Pesawat Ukur Penunjuk Dua macam komponen utama pada instrumen pengukur ialah : komponen tetap dan yang bergerak, atau disebut juga sistim yang bergerak. Sistim yang bergerak inilah y ang menjadi bagian penunjuk nilai pengukurannya, yaitu nilai besaran yang diukur . Cara penunjukkan ini ada beberapa macam, salah satu diantaranya mempergunakan jarum penunjuk. Jarum penunjuk ini akan menyimpang dan langsung menunjukkan besa ran yang diukurnya. Gerak penyimpangan jarum penunjuk akan sebanding dengan besa ran yang diukur. Hasil penunjukkannya dapat dibaca langsung pada sekalanya. Pela t sekala ini dipasang di bawah jarum penunjuk. Instrumen yang mempergunakan cara penunjukkan semacam di atas disebut pesawat ukur penunjuk. Gerak penyimpangan j arum penunjuk menerima hambatan geser dari porosnya. Hambatan ini dapat mempenga

ruhi hasil penunjukkannya. Maka besar hambatan ini harus dibatasi, dibuat sekeci l mungkin. Salah satu cara ialah, menempatkan poros sebaik-baiknya. Untuk melind ungi batu permatanya dapat dipergunakan kunci pengeras seperti yang tertera pada gambar berikut. Instrumen-instrumen komersil , yaitu instrumen Ampere, Volt, Mu lti dan sebagainya menggunakan cara penunjukkan seperti di atas. Lembar Latihan 1. Bandingkan konsep teori pengukuran listrik dari berbagai literatur ? 2. Amati dengan seksama cara kerja beberapa alat ukur yang ada di lab? 3. Lakukan proses pengukuran sederhana dengan alat ukur listrik yang ada. KEGIATAN BELAJAR 2 ALAT UKUR LISTRIK DAN ELEKTRONIKA Lembar Informasi 1. MULTIMETER Multimeter sering disebut AVOmeter atau multitester, alat ini biasa dipakai untu k mengukur harga resistansi (tahanan), tegangan AC (Alternating Current), tegang an DC (Direct Current), dan arus DC. Bagian-bagian multimeter seperti ditunjukka n gambar di bawah ini :

Gambar 2. Multimeter / AVOmeter Dari gambar multimeter dapat dijelaskan bagian-bagian dan fungsinya sebagai beri kut ini : 1. Sekrup pengatur kedudukan jarum penunjuk (Zero Adjust Screw), berfungsi untuk mengatur kedudukan jarum penunjuk dengan cara memutar sekrupnya ke kanan atau ke kiri dengan menggunakan obeng pipih kecil. 2. Tombol pengatur jarum penunjuk pada kedudukan zero (Zero Ohm Adjust Knob ), berfungsi untuk mengatur jarum penunjuk pada posisi nol. Caranya : saklar pe milih diputar pada posisi W (Ohm), test lead + (merah dihubungkan ke test lead ( hitam ), kemudian tombol pengatur kedudukan 0 W diputar ke kiri atau ke kanan s ehingga menunjuk pada kedudukan 0 W. 3. Saklar pemilih (Range Selector Switch), berfungsi untuk memilih posisi p engukuran dan batas ukurannya. Multimeter biasanya terdiri dari empat posisi pen gukuran, yaitu : a. Posisi W (Ohm) berarti multimeter berfungsi sebagai ohmmeter, yang terdi ri dari tiga batas ukur : x 1; x 10; dan K W b. Posisi ACV (Volt AC) berarti multimeter berfungsi sebagai voltmeter AC y ang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000. c. Posisi DCV (Volt DC) berarti multimeter berfungsi sebagai voltmeter DC y ang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000. d. Posisi DCmA (miliampere DC) berarti multimeter berfungsi sebagai mili am peremeter DC yang terdiri dari tiga batas ukur : 0,25; 25; dan 500. 4. Lubang kutub + (V A W Terminal), berfungsi sebagai tempat masuknya test lead kutub + yang berwarna merah. 5. Lubang kutub (Common Terminal), berfungsi sebagai tempat masuknya test l ead kutub - yang berwarna hitam.

6. Saklar pemilih polaritas (Polarity Selector Switch), berfungsi untuk mem ilih polaritas DC atau AC. 7. Kotak meter (Meter Cover), berfungsi sebagai tempat komponenkomponen mul timeter. 8. Jarum penunjuk meter (Knife edge Pointer), berfungsi sebagai penunjuk bes aran yang diukur. 9. Skala (Scale), berfungsi sebagai skala pembacaan meter.

Lembar Kerja 1 1. Pahamilah fungsi - fungsi tombol pada alat ukur Multimeter ! 2. Atur tombol tombol pada alat ukur Multimeter sesuai dengan kebutuhan saa t pengukuran ! 3. Isikan data Pengukuran didalam tabel yang telah disediakan !

Tabel 1. Diagram hubungan wattmeter

Tabel di atas dapat dijelaskan sebagai berikut : Dalam hubungan seri, batas ukur arus listriknya 0.5 ampere, jika digunakan batas ukur tegangan berturut-turut 60 V; 120 V; 240 V, maka hasil pengukuran dayanya adalah angka penunjukkan jarum dikalikan dengan 0.25; 0.5; 1. Dalam hubungan paralel, batas ukur arus listriknya 1 ampere, jika digunakan bata s ukur tegangan berturut-turut 60 V; 120 V; 240 V, maka hasil pengukuran dayanya adalah angka penunjukkan jarum dikalikan dengan 0.5; 1; 2. Dalam hubungan seri, batas ukur dayanya sebesar 120 X 1 (Watt) = 120 Watt. Dalam hubungan paralel, batas ukur dayanya sebesar 120 X 2 (Watt) = 240 Watt. Lembar Kerja 2 1. Pahamilah fungsi - fungsi tombol pada alat ukur watt meter ! 2. Atur tombol tombol pada alat ukur watt meter sesuai dengan kebutuhan saa t pengukuran baik dalam rangkaian seri maupun paralel! 3. Isikan data Pengukuran didalam tabel yang telah disediakan ! 2. OSCILOSKOP Osiloskop adalah salah satu alat ukur elektronik yang dapat menampilkan bentuk-b entuk sinyal dari berbagai instrumen elektronika. Osciloskop sangat berguna untu k mengukur bentuk-bentuk sinyal dari frekuensi rendah sampai frekuensi tinggi. Bentuk fisik suatu Osciloskop pada umumnya seperti gambar di bawah ini : Gambar 5. Osciloskop Gambar 6. Contoh control pan el suatu Osciloskop Kegunaan sakelar dan tombol-tombol pengontrol osciloskop : a. Sakelar power on-off, berfungsi untuk menyalakan osciloskop untuk mulai

bekerja. b. Pengatur intensitas cahaya (inten), berfungsi untuk mengatur terang jeja k cahaya yang diinginkan. c. Pengatur focus, berfungsi untuk mengatur tingkat ketajaman jejak cahaya. d. Probe adjust, untuk kalibrasi/seting probe yang digunakan bersama sakela r VOLT/DIV e. Trace rotation, untuk mengatur kemiringan jejak garis cahaya sepanjang s umbu horizontal. f. Sakelar AC-GND-DC (untuk CH1 dan CH2) g. Sakelar vertical mode CH1-CH2-DUAL ADD, untuk tampilan jejak cahaya pada layar. h. Pengatur Y position, merupakan potensiometer untuk mengatur jejak cahaya sepanjang sumbu Y. i. Pengatur volt/div, pengatur daerah pengukuran amplitude tegangan yang ak an diukur. j. Input CH1 dan CH2 Y, berfungsi sebagai terminal input. k. Time/div, sakelar putar pengatur daerah pengukuran periode dari sinyal l istrik yang akan diukur. l. Pengatur variable. m. X position, untuk menggeser kedudukan kedua jejak cahaya (untuk CH1 dan CH2) sepanjang sumbu. n. Sakelar trigger CH1-CH2-LINE-EXT (SOURCE) o. Mode trigger auto-norm-TV-V-TV-H p. Sakelar pengatur level trigger q. Layar CRT osciloskop r. Probe pengukuran Gambar 7. Probe pengukuran Prosedur dasar mengoperasikan Osciloskop sebagai berikut : 1. Switch on oscilloscope untuk pemanasan (berkisar satu menit atau dua men it). 2. Jangan menghubungkan masukan pada tingkat ini. 3. Set switch AC/GND/DC (dengan masukan Y ) ke DC. 4. Set SWP/X-Y switch ke SWP (sweep). 5. Set Trigger Level ke AUTO. 6. Set Trigger Source ke INT. 7. Set Y AMPLIFIER ke 5V/cm. 8. Set TIMEBASE ke 10ms/cm. 9. Putar timebase VARIABLE control ke 1 atau CAL. 10. Atur geseran Y (atas/bawah) dan geser X (kiri/kanan) untuk memenuhi jeja k pada tengah layar. 11. Atur INTENSITY (kecerahan) dan FOCUS untuk kecerahan, ketajaman trace / jejak. 12. Oscilloscope sekarang siap digunakan! Pada saat menggunakan osiloskop perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut: 1. Tentukan skala sumbu Y (tegangan) dengan mengatur posisi tombol Volt/Div pa da posisi tertentu. Jika sinyal masukannya diperkirakan cukup besar, gunakan ska la Volt/Div yang besar. Jika sulit memperkirakan besarnya tegangan masukan, guna kan attenuator 10 x (peredam sinyal) pada probe atau skala Volt/Div dipasang pad a posisi paling besar. 2. Tentukan skala 3. Gunakan tombol abil. 4. Gunakan tombol 5. Gunakan tombol Time/Div untuk mengatur tampilan frekuensi sinyal masukan. Trigger atau hold-off untuk memperoleh sinyal keluaran yang st pengatur fokus jika gambarnya kurang fokus. pengatur intensitas jika gambarnya sangat/kurang terang.

Lembar Kerja 3 3. Pahamilah fungsi - fungsi tombol pada alat ukur Osciloskop !

4. Atur tombol tombol pada alat ukur Osciloskop sesuai dengan kebutuhan saa t pengukuran ! KEGIATAN BELAJAR 3 MENGOPERASIKAN INSTRUMEN PENGUKUR LISTRIK DAN ELEKTRONIKA Lembar Informasi 1. Menggunakan Multimeter Pertama-tama jarum penunjuk meter diperiksa apakah sudah tepat pada angka 0 pada skala DCmA , DCV atau ACV posisi jarum nol di bagian kiri ( lihat gambar 2 a ), dan untuk skala ohmmeter posisi jarum nol di bagian kanan (lihat gambar 2 b) . Jika belum tepat harus diatur dengan memutar sekrup pengatur kedudukan jarum p enunjuk meter ke kiri atau ke kanan dengan menggunakan obeng pipih (-) kecil.

Gambar 8. Kedudukan Normal Jarum Penunjuk Meter a. Multimeter digunakan untuk mengukur resistansi Untuk mengukur resistansi suatu resistor, posisi saklar pemilih multimeter diatu r pada kedudukan W dengan batas ukur x 1. Test lead merah dan test lead hitam sa ling dihubungkan dengan tangan kiri, kemudian tangan kanan mengatur tombol penga tur kedudukan jarum pada posisi nol pada skala W. Jika jarum penunjuk meter tida k dapat diatur pada posisi nol, berarti baterainya sudah lemah dan harus diganti dengan baterai yang baru. Langkah selanjutnya kedua ujung test lead dihubungkan pada ujung-ujung resistor yang akan diukur resistansinya. Cara membaca penunjuk an jarum meter sedemikian rupa sehingga mata kita tegak lurus dengan jarum meter dan tidak terlihat garis bayangan jarum meter. Supaya ketelitian tinggi keduduk an jarum penunjuk meter berada pada bagian tengah daerah tahanan. Jika jarum pen unjuk meter berada pada bagian kiri (mendekati maksimum), maka batas ukurnya diu bah dengan memutar saklar pemilih pada posisi x 10. Selanjutnya dilakukan lagi p engaturan jarum penunjuk meter pada kedudukan nol, kemudian dilakukan lagi pengu kuran terhadap resistor tersebut dan hasil pengukurannya adalah penunjukan jarum meter dikalikan 10 W. Apabila dengan batas ukur x 10 jarum penunjuk meter masih berada di bagian kiri daerah tahanan, maka batas ukurnya diubah lagi menjadi KW dan dilakukan proses y ang sama seperti waktu mengganti batas ukur x 10. Pembacaan hasilnya pada skala KW, yaitu angka penunjukan jarum meter dikalikan dengan 1 KW. b. Multimeter digunakan untuk mengukur tegangan DC Untuk mengukur tegangan DC (misal dari baterai atau power supply DC), saklar pem ilih multimeter diatur pada kedudukan DCV dengan batas ukur yang lebih besar dar i tegangan yang akan diukur. Test lead merah pada kutub (+) multimeter dihubungk an ke kutub positip sumber tegangan DC yang akan diukur, dan test lead hitam pad a kutub (-) multimeter dihubungkan ke kutub negatip (-) dari sumber tegangan yan g akan diukur. Hubungan semacam ini disebut hubungan paralel. Untuk mendapatkan ketelitian yang paling tinggi, usahakan jarum penunjuk meter berada pada keduduk an paling maksimum, caranya dengan memperkecil batas ukurnya secara bertahap dar i 1000 V ke 500 V; 250 V dan seterusnya. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan a dalah bila jarum sudah didapatkan kedudukan maksimal jangan sampai batas ukurnya diperkecil lagi, karena dapat merusakkan multimeter. c. Multimeter digunakan untuk mengukur tegangan AC Untuk mengukur tegangan AC dari suatu sumber listrik AC, saklar pemilih multimet er diputar pada kedudukan ACV dengan batas ukur yang paling besar misal 1000 V.

Kedua test lead multimeter dihubungkan ke kedua kutub sumber listrik AC tanpa me mandang kutub positif atau negatif. Selanjutnya caranya sama dengan cara menguku r tegangan DC di atas. d. Multimeter digunakan untuk mengukur arus DC Untuk mengukur arus DC dari suatu sumber arus DC, saklar pemilih pada multimeter diputar ke posisi DCmA dengan batas ukur 500 mA. Kedua test lead multimeter dih ubungkan secara seri pada rangkaian sumber DC ( perhatikan gambar di bawah ini )

Gambar 9. Multimeter untuk Mengukur Arus DC Ketelitian paling tinggi akan didapatkan bila jarum penunjuk multimeter pada ked udukan maksimum. Untuk mendapatkan kedudukan maksimum, saklar pilih diputar seta hap demi setahap untuk mengubah batas ukurnya dari 500 mA; 250 mA; dan 0, 25 mA. Yang perlu diperhatikan adalah bila jarum sudah didapatkan kedudukan maksimal j angan sampai batas ukurnya diperkecil lagi, karena dapat merusakkan multimeter. Lembar Kerja 1 A. Alat dan Bahan 1. Multimeter ............................................................. ...............1 buah 2. Saklar satu kutub....................................................... ............1 buah 3. Power supply DC variabel................................................ ....1 buah 4. Variac ................................................................. ..................1 buah 5. Transformator step down................................................. .....1 buah 6. Resistor dengan berbagai macam ukuran hambatan dan daya 7. Batu baterai dengan berbagai macam tegangan 8. Kabel penghubung secukupnya 9. Kotak terminal B. Kesehatan dan Keselamatan Kerja Saat merangkai sumber tegangan harus dalam keadaan mati atau saklar dalam keadaa n terbuka : 1. Rangkailah dengan teliti sesuai dengan gambar rangkaian. 2. Sumber tegangan pada awalnya diatur pada 0 Volt. 3. Janganlah meletakkan peralatan di tepi meja. 4. Kabel penghubung yang tidak terpakai jangan dekat dengan rangkaian. C. Langkah Kerja Percobaan Mengukur Hambatan (Range W ) menggunakan Multimeter 1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk mengukur beberapa resis tor dengan berbagai macam hambatan 2. Sesuaikan batas ukur dengan besar resistor yang akan diukur. 3. Aturlah kedudukan jarum penunjuk pada posisi nol ohm dengan menghubungka n test lead (+) dan test lead negatif kemudian memutar tombol pengatur pada kedu dukan nol ke kanan atau ke kiri. 4. Ukurlah hambatan tersebut dan masukan hasilnya dalam tabel 5. Ulangilah langkah 2 sampai 4 untuk resistor dengan nilai yang berbeda 6. Bandingkan hasilnya antara yang tertera pada body resistor dengan hasil pengukuran.

Tabel 2.Percobaan Mengukur Hambatan ( Range W ) menggunakan Multimeter

Lembar Kerja 2 Percobaan Mengukur Tegangan AC (Range ACV) dengan Multimeter 1. Buatlah rangkaian seperti gambar di bawah ini.

Gambar 10. Multimeter untuk Mengukur Tegangan AC 2. Aturlah saklar pemilih multimeter pada ACV dengan batas ukur paling besa r. 3. Hubungkan rangkaian saudara dengan sumber tegangan AC 220 Volt, lakukan pengukuran seperti tabel 2 di bawah, batas ukur diperkecil secara bertahap sampa i didapatkan kedudukan maksimal jarum penunjuk meter, Tabel 3. Percobaan Mengukur Tegangan AC ( Range ACV ) dengan imeter menggunakan Mult

Lembar Kerja 3 Percobaan Mengukur Tegangan DC (Range DCV) dengan Multimeter 1. Siapkanlah beberapa buah batu baterai yang akan diukur tegangannya. 2. Aturlah saklar pemilih pada posisi DCV dan sesuaikan batas ukur Voltmete r dengan tegangan baterai yang akan diukur 3. Ukurlah tegangan baterai dengan cara kutub positip meter dihubungkan kut ub positip baterai dan kutub negatip meter dihubungkan dengan kutub negatip bate rai, hasilnya masukan dalam tabel 3 (lihat gambar 11)

Gambar 11. Multimeter untuk Mengukur Tegangan DC 4. Ulangilah langkah 2 sampai dengan 3 untuk batu baterai dengan tegangan y ang berbeda. 5. Bandingkan hasilnya antara yang tertulis di baterai dengan hasil penguku ran

Tabel 4. Percobaan Mengukur Tegangan DC ( Range DCV ) dengan menggunakan Multim eter

Lembar Kerja 4 Multimeter digunakan untuk mengukur Arus DC ( Range DC mA ) 1. Buatlah rangkaian seperti pada gambar di bawah

Gambar 12. Multimeter untuk Mengukur Arus DC 2. Aturlah batas ukur pada posisi maksimal, power supply DC pada posisi nol . 3. Aturlah saklar dalam posisi terbuka (keadaan OFF) 4. Telitilah rangkaian saudara dengan cermat 5. Hubungkan saklar, aturlah sumber tegangan DC sampai didapatkan simpangan jarum meter setengah skala penuh, amati penunjukan jarum multimeter dan hasilny a masukan dalam tabel 4. 6. Bukalah saklar gantilah resistor dengan harga yang berbeda sesuai dengan tabel 4 di bawah. 7. Lakukanlah seperti pada langkah 7. 8. Ulangi langkah no 6 sampai dengan 7, kemudian hasilnya masukan dalam tab el 4. Tabel 5. Percobaan Mengukur Arus DC ( Range DCmA ) dengan menggunakan eter Multim

Lembar Kerja 5 Menggunakan Watt Meter Praktikum Sistem Hubungan Watt meter TUJUAN Setelah melaksanakan tugas praktek ini, diharapkan anda mampu : 1. Menjelaskan sistem hubungan watt meter 2. Menjelaskan efek pembeban pada watt meter 3. Menggunakaan watt meter untuk mengukur daya. PETUNJUK 1. Baca dengan teliti lembar kerja ini, tanyakan kepada instruktor apabila ada informasi yang belum jelas. 2. Load resistor harus disetel pada posisi tahanan maksimum. 3. Perhatikan gambar rangkaian. 4. Ikuti langkah kerja dengan seksama demi keselamatan anda dan peralatan.

ALAT 1. 2. 3. 4. 5. 6.

DAN BAHAN Watt meter 220V Sumber daya 220VV 50 Hz Saklar DPST Load Resistor Ampere meter Kabel penghubung

GAMBAR RANGKAIAN LANGKAH KERJA 1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan. 2. Rangkaian peralatan seperti gambar a dan petunjuk di atas dimana saklar S pada posisi OFF. 3. Setelah selesai merangkai, periksakan kepada instruktor 4. Hubungkan rangkaian ke sumber tegangan, amati penunjukan alat ukur (apab ila tidak menunjuk catat nol pada tabel) 5. Hubungkan saklar S, naikkan arus beban dengan mengatur load resistor sam pai ampere meter menunjuk sama dengan arus nominal watt meter. 6. Catat hasil penunjukan pada tabel, kemudian atur load resistor ke posisi arus minimum ( lihat penunjukan ampere meter). 7. Setel saklar S pada posisi OFF, putuskan hubungan ke sumber tegangan. 8. Tanpa membongkar rangkaian, sesuaikan rangkaian seperti gambar b, dengan meruah posisi hubungan kumparann tegangan watt meter. 9. Hubungkan rangkaiann ke sumber tegangann (saklar S posisi OFF), amati de ngan seksama penunjukkann watt meter dan catat hasilnya pada tabel. 10. Lakukan percobaan seperti langkah 5, catat hasilnya pada tabel. 11. Putuskan hubungann rangkaian ke sumber tegangan 12. Rapikan alat dan bahan, dan kembalikan ke tempat semula. T A B E L No Gambar a Amp. Meter 1 2 Gambar b Watt Meter Keterangan Amp. Meter

Watt meter

PERTANYAAN 1. Apa sebabnya pada langkah 9, watt meter menunjuk sedangkan beban tidak a da ? 2. Bandingkan apakah ada perbedaan penunjukan watt meter antara gambar a da n gambar b, jelaskan 3. Yang manakah menurut anda dari kedua hubungan watt meter di atas paling tepat dalam penggunaannya ? 4. Berfungsi sebagai apakah ampere meter pada percobaan di atas Lembar Kerja 6 Menggunakan Osciloskop Mengukur tegangan DC dengan osciloskop dalam suatu rangkaian sederhana RANGKAIAN PENGUKURAN : Buat rangkaian percobaan seperti pada gambar dibawah ini : Resistor Percobaan

I R1 R2 R3 R4 680 330 2,2 K 150 (10 Watt) 1 K 1,5 K 100 (10 Watt) 470 3,3 K 150 (10 Watt) LANGKAH-LANGKAH

II

III

330

220

PERCOBAAN :

1. Hubungkan sumber tegangan ke titik 1 dan 2, positif pada titik 1 dan neg atif pada titik 2 rangkaian pengukuran. 2. Set daerah/range pengukuran yang lebih kecil, yang memungkinkan, dengan memutar sakelar pengukuran range VOLT/DIV perlahan-lahan. 3. Ukur tegangan V1 V6 untuk masing-masing percobaan, dengan harga R1 R4 se suai table pengukuran di atas. 4. Balik polaritas sumber tegangan, positif pada titik 2 dan negatif pada t itik 1 rangkaian pengukuran. 5. Ulangi langkah percobaan 3 di atas. 6. Tulislah hasil pengukuran pada table yang telah disediakan. PERALATAN YANG DIBUTUHKAN : 1. Osciloskop dan probe pengukuran 2. Dioda BA 108 atau persamaannya 3. Lampu 12 volt/0,05 A beserta soketnya 4. Sumber tegangan 24 volt DC 5. R 0,5 watt/10% sesuai dengan yang dicantumkan pada table pengukuran, ter minal-terminal dan probe pengukuran. TABLE PENGUKURAN : Tegangan 1 V1 V2 V3 V4 V5 V6 Tegangan positif dihubungkan pada titik nomor 1 rangkaian 2 3

Tegangan 1 V1 V2 V3 V4 V5

Tegangan negatif dihubungkan pada titik nomor 1 rangkaian 2 3

V6

PERTANYAAN : 1. Apakah terdapat perbedaan hasil pengukuran jika dibandingkan antara peng ukuran dengan tegangan positif pada terminal nomor 1 dan tegangan negatif pada t erminal nomor 2 ? 2. Jika ada perbedaan, apa yang menyebabkan perbedaan tersebut ? 3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi ketelitian pengukuran tegangan DC menggunakan Osciloskop ini ?

KEGIATAN BELAJAR 4 ALAT UKUR MEKANIK Lembar Informasi A. Macam-macam Alat Ukur dan Penggunaannya 1. Mistar Baja Mistar baja adalah alat ukur yang terbuat dari baja tahan karat. Permukaan dan b agian sisinya rata dan halus, di atasnya terdapat guratan-guratan ukuran, ada ya ng dalam satuan inchi, sentimeter dan ada pula yang gabungan inchi dan sentimete r/milimeter.

Gambar 13. Mistar baja metrik dan imperial Fungsi lain dari penggunaan mistar baja antara lain: - mengukur lebar - mengukur tebal serta, - memeriksa kerataan suatu permukaan benda kerja. Di samping mistar baja (steelrule) dapat dipergunakan untuk mengukur dan menentu kan batas-batas ukuran juga biasa dipergunakan sebagal pertolongan menarik garis pada waktu menggambar pada permukaan benda pekerjaan. Setiap menarik. garis han ya dilakukan satu kali, lihat Gambar 10:

Gambar 14. Mengukur garis menggunakan mistar baja Mistar baja juga dapat digunakan untuk mengukur diameter luar secara kasar. Dala m pelaksanaannya harus dibantu dengan menggunakan alat ukur lain seperti jangka bengkok dan bagian diameter dalam diperlukan bantuan jangka kaki. 2. Meteran Gulung Mal ukur ini dibuat dan pelat baja yang Iebih tipis dari ada mistar baja. Sifatn ya lemas/lentur sehingga dapat digunakan untuk mengukur bagian-bagian yang cembu ng dan menyudut seperti: mengukur panjang, keliling bidang Iengkung (bundar). Se panjang mistar ini terdapat ukuran-ukuran satuan inchi dan metrik. Meteran gulun g dapat digunakan dari 1 meter sampai 30 meter. Pada ujungnya terdapat kait yan g gunanya untuk mengait ujung benda kerja sehingga mendapat ukuran yang tepat. P enggunaan alat ukur ini tidak untuk pengukuran yang tepat sekali (presisi).

Gambar 15. Macam meteran Gulung

3. Pengukur Sudut Pengukur Sudut terdiri dari mistar baja dan rumah yang terbuat dan besi tuang. P ada rumah ini terdapat garis-garis ukur yang menunjukkan besar sudut dalam deraj at, dan bagian ini dapat diputar setelah dikendorkan baut pengikatnya, demikian pula mistarnya dapat dipasang dan dilepas dan rumahnya. Fungsi Pengukur Sudut - Memeriksa mengukur sudut. - Menarik garis. - Memeriksa kerataan permukaan. Macam-macam pengukur sudut 1. Busur baja (Steel Engineer Protractor) Busur baja dapat digunakan untuk mengukur sudut Iangsung pada skala ukurannya, t etapi hanya dapat mengukur sampai I (satu) derajat, oleh karenanya biasa digunak an untuk memperkirakan harga sudut secara kasar.

Gambar 16. Busur derajat 2. Busur bilah (Universal Bevel Protractor) Busur bilah Iebih teliti dari busur baja dan dapat mengukur sampai ketelitian 5 defisi/.menit. Beberapa jenis alat ini dilengkapi dengan bilah bantu yang dimaks

udkan untuk memudahkan pengukuran sudut puncak yang tumpul. Bagian-bagiannya 1. Bilah utama 2. Petat dasar 3. Kunci bilah 4. Kunci piringan 5. Skala utama 6. Skala nonius (kiri dan kanan) 7. Piringan dasar Gambar 17. Busur derajat Cara penggunaan : - Bersihkan permukaan baja dari busur bilah dan benda ukur. Aturlah kedudukan da n bilah utama dengan memkaai kunci bilah. - Rapatkan/impitkan atau sejajarkan bidang busur bilah dengan bidang dari sudut yang diukur. - Jika keadaan ini tidak terpenuhi, maka kemunginkan harga yang dicapai lebih ke cil. - Untuk pengukuran benda yang besar, kunci piringan indeks dapat dikendorkan, ge serkan busur bilah, menuju permukaan yang menyudut, sampai bilah utama berputar dan berimpit dengan permukaan tersebut, kemudian kunci piringan indeks dan bacal ah sudut yang didapat. Pembacaan ukuran pada busur (Universal Bevel Protractor). Busur bilah yang baik dilengkapi dengan skala menit sehingga dapat mengukur deng an kelebihan menit. Pada skala itu terdapat angka-angka 60, 45, 30, 15, 0, 15, 30 60. Dan angka 0 ke kanan sampai 60 terdiri dan 12 garis, demikian pula ke arah kiri terdiri 12 garis yang sama. Ini berarti selisih garis pada skala derajat de ngan garis pada skala menit adalah I derajat 12 = 5 menit, berarti busur bilah i ni dapat mengukur sampai pada batas terkecil 5 menit. Dengan kata lain bila gari s pertama di sebelah kanan 0 se garis dengan garis di atasnya (pada skala deraja t), maka kelebihari ukuran tersebut adalah 1 x S menit = 5 menit, dan bila garis ke 2 sama dengan 2 x 5 menit = 10 menit.

Gambar 18.Busur ketelitian 5`dan pembacaan 320 15` Pemeliharaan pengukur sudut Untuk mendapatkan usia pakai yang relatif lama, perlu adanya rawatan dan pemelih araan dengan baik melalui langkah-Iangkah; a. Setelah dipakai bersihkan alat ini dani debu atau kotoran. b. Berikan pelumasan bagi bagiari yang bergesen/bergerak sepenlunya, atau olesi/ lumasi dengan vaseline seluruh bagiannya secukupnya. c. Simpanlah pada tempat yang telah disediakan (kotak kayu/plastik) dalam keadaa n teratur. 4. Jangka Sorong (Vernier Caliper) Jangka Sorong (Vernier Caliper) atau mistar sorong adalah mistar yang digunakan untuk: mengukur dimensi luar dan suatu benda dengan pertolongan rahang ukurnya. Penguk

uran dimensi luar tersebut antara lain: - panjang, - lebar, - tebal, dan - diameter luar Kapasitas pengukuran dengan menggunakan jangka sorong bermacam-macam dan tergant ung kebutuhan atau penggunaan jangka sorong itu sendiri diantaranya: 1. Kapasitas 150 mm ketelitian 0.05 mm 2. Kapasitas 200 mm ketelitian 0.02 mm 3. Bahkan ada yang berkapasitas sampai 1000 mm

Gambar 19. Bagian-bagian jangka sorong Penggunaan Bagian-bagian Jangka Sorong : A. Nama Bagian - Bagian B. Kegunaan 1. Tanduk tetap dan geser 1. Mengukur diameter dalam 2. Rahang geser dan tetap 2. Mengukur diameter luar dan tebal suat u benda 3. Baut pengikat 3. Mengunci rahang geser 4. Batang geser 4. Untuk mengeser arah kiri dan kanan 5. Skala nonius 5. Mengukur hingga 0 ,0 5 mm 6. Batang kedalaman 6. Mengukur kedalaman suatu lubang 7. Mistar 7. Membaca ukuran 5. Mikrometer Mikrometer adalah suatu alat ukur yang mempunyai ketelitian tinggi, digunakan pa da pengerjaan-pengerjaan yang mempunyai ketepatan dan keakuratan yang tinggi. M elihat dari konstruksinya, mikrometer berfungsi untuk megukur dimensi luar dari suatu benda kerja seperti tebal, diameter dan panjang benda kerja. Batasan atau kapasitas dari pengukuran pada mikrometer ini tergantung kepada seb erapa besar atau seberapa panjang poros geser yang dimiliki oleh mikrometer ters ebut. Biasanya kapasitas pengukuran alat ini dapat mengukur dengan teliti dalam satuan metris sampai 1/1000 mm dan dalam satuan inch dapat mengukur dengan tetit i sampai 1/2560. Adapun nama-nama bagian mikrometer ialah sebagai berikut :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Landasan (anvil) Poros Geser (spindel) Pengunci (lock nut) Tabung (sleeve) Tabung Putar (thimble) Racet (rechet) Rangka (frame)

Gambar 20. Bagian-bagian mikrometer Dilihat dari fungsi atau kegunaannya mikrometer terdiri dari beberapa macam anta ra lain; 1). Mikrometer luar (Out Side micrometer). Fungsinya adalah untuk mengukur diameter luar, lebar, tebal dan benda kerja. 2). Mikrometer dalam (In Side Micrometer). Fungsinya adalah untuk mengukur diameter dalam suatu benda kerja. 3). Mikrometer kedalaman (Depth Micrometer). Fungsinya adalah untuk mengukur kedalaman alur atau kedalaman diameter benda ker ja. 4). Mikrometer ulir (Thread Micrometer). Fungsinya adalah untuk mengukur diameter ulir. 5). Mikrometer roda gigi (Gear Micrometer). Fungsinya adalah untuk mengukur ketebalan dan diameter roda gigi. 6). Dan lain-lain. B. Pembacaan Hasil Pengukuran. Dilihat dari alat ukur yang digunakan, pembacaan hasil pengukuran akan sangat di tentukan oleh kebersihan alat ukur, cara penempatan sensor ukur atau mulut ukur, posisi angka nol dan kesejajaran mulut ukur (jika mempunyai dua mulut ukur), po sisi sewaktu melakukan pengukuran dan sebagainya. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam mendapatkan pengukuran yang baik ad alah kemampuan dari operator atau sipengukur dalam membaca skala dan mengerti ak an tingkat ketelitian suatu alat ukur. Dimana dengan jenis alat ukur yang sama b elum tentu mempunyai tingkat ketelitian yang sama pula. Contoh: Pengukuran jangka sorong imperial dengan tingkat ketelitian skala utama 1/16 dan skala nonius 1/128. Pembacaan/penunjukan ukurannya 1 3/128 Dalam sistim matrik (milimeter), harga satu garis dalam skala nonius adalah 0.1m m, pembacaan pada skala menunjukkan : 26 + 0,9 mm = 26,9 mm. Tanda panah menunju kkan batasan ukuran yang diharapkan.

Skala utama Nonius Pembacaan

Skala utama 26 0 + 3/128 Nonius 1 3/128 Pembacaan

mm 0 mm 26 mm

Skala nonius pada mikrometer seharga 0,01 mm dan skala utama seharga 1mm dan 0.5 mm

Pembacaan ukuran pada mikrometer : 8.00 skala utama milimeter 0.50 skala utama setengah milimeter 0.25 tabung nonius 8.75 pembacaan ukuran

Penunjukan skala pengukuran : 1 bagian =1/40 atau 0,025 2 bagian = 1/20 atau 0,050 3 bagian 3/40 atau 0,075 4 bagian 1/10 atau 0,100 Mikrometer dengan sistim pengukuran imperial (inchi) dengan tingkat ketelitian 1 /1000, dimana jarak satu garis ke garis lainnya seharga 1/1000, atau 0,001 pada ska la nonius. dan skala utama seharga 1/10. Dengan pembagi skala Pembacaan ukuran

0.300 0.050 0.013 0.363

1/10, 1/40, 1/1000 x 13, Pembacaan Mistar baja ! Meteran gulung ! Busur ! ini sesuai dengan bagian-bagian atau fungsi dari ja

Lembar Kerja 1. Jelaskan fungsi dari 2. Jelaskan fungsi dari 3. Jelaskan fungsi dari 4. Isilah kolom dibawah ngka sorong !

No 1 2 3 4 5

Nama Bagian - Bagian

Kegunaan

6 7 8 9 5. Isilah kolom dibawah ini sesuai dengan bagian-bagian atau fungsi mikrometer !

No 1 2 3 4 5 6 7

Nama Bagian - Bagian

Kegunaan

KEGIATAN BELAJAR 5 MENGGUNAKAN INSTRUMEN PENGUKUR MEKANIK 1. Pengukur sudut

Gambar 21. Mengukur sisi miring benda menggunakan busur derajat Cara penggunaan - Bersihkan permukaan baja dan busur baja dan benda ukur. Aturlah kedudukan dari batang pemegang dengan mur pengencang. - Rapatkan/impitkan atau sejajarkan bidang busur baja dengan bidang dan sudut ya ng diukur. - Jika sudah yakin sudut yang diukur itu berimpit/rapat, maka kunci dikencangkan mur penguncinya, dan bacalah sudut yang didapat. 2. Jangka sorong Cara pemakaian jangka sorong 1. Periksa kedudukan garis nol serta kesejajaran dan permukaan kedua rahang . 2. Buka mulut ukur dengan menggeser peluncur. a. Apabila hendak mengukur tebal benda kerja, tempatkan kedua mulut ukur (r ahang bawah) di antara objek ukur dengan rapat dan tepat. b. Apabila hendak mengukur lebar celah benda kerja, tempatkan kedua mulut u kur (rahang atas) di antara celah benda kenja dengan rapat dan tepat.

c. Apabila hendak mengukur kedalaman lubang bertingkat atau bagian bertingk at, tempatkanlah lidah ukur menyentuh dengan rapat dan tepat pada bagian yang be rtingkat. 3. Penekanan hendaknya tidak tenlalu kuat. 4. Pengukuran jangan menggunakan ujung rahang, tetapi diusahakan agar masuk ke dalam. 5. Setelah posisi pengukuran tepat, kencangkanlah baut pengikat kemudian ba ca hasil pengukurannya

Gambar 22. Jangka Sorong dan Penggunaannya 3. Mikrometer Memeriksa ketepatan Ukuran : Sebelum mikrometer digunakan untuk pengukuran pada benda sebaiknya periksa dahul u ketepatan ukurannya. Caranya adalah sebagai berikut: Rapatkan poros geser pada alasnya (untuk mikrometer 0:25 mm) atau dengan mal/blok ukur (untuk mikrometer lebih dan 25 mm). Kemudian lihatlah ganis ukur pada tabung putar. Jika garis 0 pada tabung segaris dengan garis 0 pada tabung putar, berar ti keadaan mikrometer itu baik. Jika kedudukannya tidak tepat, maka hal ini harus diperbaiki dengan kunc i khusus. Pada setiap kotak mikrometer terdapat kunci dan sebuah mal. Kunci tersebut dimas ukkan ke dalam lubang kecil tabung ukur, lahu putarlah ke kanan atau ke kiri ses uai dengan kedudukan yang tidak tepat tadi sehingga ke dua garis yang berangka 0 tadi segaris.

Gambar 23. Memeriksa ketepatan ukuran. Cara memeriksa micrometer : Untuk mempertahankan usia pemakaian suatu alat ukur (mikrometer) ini harus diraw at/dipelihara dengan langkah-langkah sebagai berikut : a. Bersihkan mikrometer dan kotoran. b. Berikan pelumasan bagian-bagian yang bergeser/bergerak (terutama ulirnya ) dan bagian peraba (sensor) supaya tidak berkarat. c. Simpanlah pada tempat yang sudah disediakan (kotak plastik / kayu) dalam keadaan baik. Cara memegang mikrometer yang benar :

Gambar 24. Cara memegang dan mengukur dengan menggunakan mikrometer Satu tangan : benda kerja bebas Kelingking dan jari manis tangan kanan memegang mikrometer, jari lainnya memutar tabung putar atau racet hingga menyentuh benda ukur. Tangan kiri memegang benda kerja. Untuk menghindari tekanan yang berlebihan pada benda yang diukur, maka p utarlah racet hingga terdengar bunyi klik dua kali ( maksimal tiga kali ).

Gambar 25. Mengukur dengan mikrometer. Cara yang salah : Di waktu mengukur, jangan hanya memutar tabung putar saja. Hal ini bisa merubah hasil pengukuran, karena tekanan tangan yang memutar tidak stabil (harus betul-b etul memakai perasaan). Jangan menarik mikrometer ke luar dan benda kerja untuk dilihat hasil pengukuran nya. Hal ini bisa merusak landasan dan ujung poros geser (aus).

Gambar 26. Cara mengukur yang salah Lembar Kerja 1 Menentukan Ketelitian Alat Ukur 1. Tentukanlah tingkat ketelitian jangka sorong di bawah ini !

Ketelitian =

Ketelitian =

2. Jangka sorong yang mempunyai pembagian bilah sampai 1/20 sedangkan pembagian n onius untuk mengukur pada pembagian 2 9/20 terbagi dalam 50 bagian. Tentukanlah t ingkat ketelitiannya

Ketelitian =

3. Jangka sorong dengan pembagian bilah/skala utama sampai 1/40 sedangkan pemba gian nonius untuk mengukur pada pembagian 1 9/40, terbagi dalam 25 bagian. Tentu kan tingkat ketelitian jangka sorong.

Ketelitian = 4. Mistar-sorong yang mempunyai pembagian bilah sampai 1/16, sedangkan pembagian nonius untuk mengukur pada pembagian 7/16 terbagi dalam 8 bagian. Tentukan tinkat ketelitian jangka sorong.

Ketelitian = 5. Mistar-sorong yang mempunyai pembagian bilah sampai 1/40, sedangkan pembagian nonius untuk mengukur pada pembagian 24/40 terbagi dalam 25 bagian. Tentukan kerte litian jangka sorong

Ketelitian = Lembar Kerja 2 Pembacaan Alat Ukur 1. Berdasarkan gambar skala pada jangka sorong di bawah tentukanlah pembacaan sk ala gambar tersebut.

Jawab. . 3. Berapakah pembacaan pada mikrometer (milimeter) di bawah ini;

(a) pembacaan di atas garis tabung (b) pembacaan pada tabung pembagi (c) pembacaan dibawah garis tabung Pembacaan ukuran pada mikrometer

4. Berapakah pembacaan pada mikrometer (inchi) di bawah ini;

(a) pembacaan di atas garis tabung (b) pembacaan pada tabung pembagi (c) pembacaan dibawah garis tabung Pembacaan ukuran pada mikrometer

KEGIATAN BELAJAR 6 APLIKASI PENGUKURAN PV Lembar Informasi Pengantar Sebuah sel surya mempunyai karakteristik seperti pada gambar 5.1. Gambar 27.Rangkaian pengujian dan Karakteristik sebuah sel surya Pada keadaan rangkaian terbuka (open circuit), dimana hubungan ke beban (titik A dan B) terbuka, besarnya arus keluaran adalah nol amper, sedangkan tegangan kel uaran adalah maksimum (VOC). Dan pada keadaan hubung singkat (short circuit), ti tik A dan B dihubung singkat dan akibatnya tegangan titik A dan B adalah 0 V, se dangkan arus yang mengalir adalah maksimum (ISC). Apabila pada titik A dan B tersebut dipasang resistor R yang dapat diatur, maka dengan mengubah-ubah besar resistor R dan mengukur tegangan serta arus pada resi stor R, seperti susunan rangkaian yang terlihat dalam gambar 27, akan diperoleh grafik karakteristik dari sebuah sel surya. Dari hasil pengukuran tegangan dan arus dapat dihitung besarnya daya maksimum da ri sel surya tersebut ( MPP = maximum power point ). Dengan daya maksimum terseb ut didapat IMPP dan VMPP yaitu tegangan pada saat daya maksimum (PMPP). Hubungan Seri Sel Surya Pada umumnya, tegangan yang dihasilkan oleh sebuah sel surya sangat kecil. Satu sel surya dengan ukuran 10 x 10 cm2 dapat menghasilkan tegangan maksimum hanya 0 ,5 V. Oleh karena itu untuk mendapatkan tegangan keluaran yang lebih tinggi dapa t dilakukan penyambungan secara seri beberapa sel surya seperti ditunjukkan dala m gambar 28. Gambar 28. Hubungan seri dan karakteristik sel surya Pada hubungan seri ini, besarnya tegangan keluaran ( Utotal ) adalah : Utotal = U1 + U2 + U3 + U4 Sedangkan besar arus keluaran ( Itotal ) adalah : Itotal = I1 = I2 = I3 = I4 Perlu diperhatikan dalam hubungan seri ini bahwa setiap sel surya yang dipasang harus mempunyai karakteristik yang sama, sehingga daya keluaran ( Ptotal ) dari beberapa sel surya adalah : Ptotal = Utotal x Itotal = ( U1 + U2 + U3 + U4 ) x Itotal = ( U1 x Itotal ) + ( U2 x Itotal ) + ( U3 x Itotal ) + ( U4 x Ito tal ) Karena Itotal = I1 = I2 = I3 = I4, maka : Ptotal = ( U1 x I1 ) + ( U2 x I2 ) + ( U3 x I3 ) + ( U4 x I4 ) Ptotal = P1 + P2 + P3 + P4 Hubungan Parallel Sel Surya Untuk mendapatkan arus yang lebih besar, beberapa sel surya dihubungkan secara p arallel seperti yang ditunjukkan dalam gambar 29. Gambar 29. Hubungan parallel dan karakteristiknya. Sel surya yang dihubungkan secara parallel tersebut harus mempunyai karakteristi k yang sama. Perbedaan karakteristik salah satu sel surya yang diparallel dapat membebani rangkaian parallel ini, akibatnya dapat mengurangi unjuk kerja modul s urya itu. Pada hubungan ini besarnya arus keluaran ( Itotal ) adalah Itotal = I1 + I2 + I3 + I4 Sedangkan besar tegangan keluaran ( Utotal ) adalah : Utotal = U1 = U2 = U3 = U4

Dan daya total ( Ptotal ) adalah : Ptotal = Utotal x Itotal Ptotal = Utotal x ( I1 + I2 + I3 + I4 ) = ( Utotal x I1 ) + ( Utotal x I2 ) + ( Utotal x I3 ) + ( Utotal x I4 ) Karena Utotal = U1 = U2 = U3 = U4 , maka : Ptotal = ( U1 x I1 ) + ( U2 x I2 ) + ( U3 x I3 ) + ( U4 x I4 ) Ptotal = P1 + P2 + P3 + P4

Lembar Kerja 1 Mengukur tegangan Solar Panel Tujuan : Setelah mempelajari dan mempraktekan topik ini anda akan dapat : 1. Mengukur tegangan Solar Panel 2. Menempatkan posisi solar Panel pada tempat yang sesuai. 3. Mengatur Posisi solar Panel Keselamatan Kerja : Yakinkan bahwa sebelum praktik dilaksanakan , semua kabel penghubung pada masing -masing unit tidak dalam keadaan saling terhubung. Yakinkan tidak ada saluran listrik yang tersambung Yakinkan bahwa pemasangan sesuai dengan instruksi Peralatan utama yang diperlukan : Solar Panel Kabel Penyambung Volt Meter Langkah Kerja : 1. Pasangkan kabel penyambung pada konektor yang tersedia pada bagian belak ang Solar Panel 2. Tempatkan Solar Panel pada meja dan arahkan tegak lurus ke atas ke arah sinar matahari 3. Tutuplah permukaan Solar Panel dengan selembar kain hitam atau karton be rwarna gelap 4. Ukur dan catat besar Tegangan pada ujung kabel Solar Panel tersebut Keadaan Gelap Vsp = .Volt 5. Buka kain penutup tersebut 6. Ukur dan catat kembali besar tegangan pada ujung kabel Solar Panel Keadaan Terang Vsp = .Volt

Lembar Kerja 2 Mempelajari unjuk kerja hubungan seri dari sel surya Tujuan : 1. Menjelaskan hubungan seri sel surya 2. Menghitung besarnya arus, tegangan dan daya dari hubungan seri Alat dan Bahan Ampermeter DC Voltmeter DC Modul rangkaian seri-parallel sel surya Kabel penghubung Solarimeter (jika ada) Langkah Kerja 1. Buatlah rangkaian hubungan seri sel surya seperti dalam gambar dibawah i ni. 2. Pada keadaan open circuit : Ukur besar arus total Itotal = ....................... [A] Ukur besar tegangan total Utotal = ....................... [V] Ukur besar tegangan dari masing-masing sel. Usel1 = ....................... [V] Usel3 = ..................... .. [V] Usel2 = ....................... [V] Usel4 = ....................... [V] Periksalah apakah : Usel1 + Usel2 + Usel3 + Usel4 = Utotal Catatan : Pada setiap pengukuran besar kuat cahaya yang ditunjukkan oleh s olarimeter harus dalam keadaan yang sama. 3. Sekarang tutuplah salah satu sel, misalnya sel 4, dengan menggunakan ker tas atau daun lakukan pengukuran seperti pada langkah nomor 2 di atas. Ukur besar arus total Itotal = ....................... [A] Ukur besar tegangan total Utotal = ....................... [V] Ukur besar tegangan dari masing-masing sel. Usel1 = ....................... [V] Usel3 = ..................... .. [V] Usel2 = ....................... [V] Usel4 = ....................... [V] Periksalah apakah : Usel1 + Usel2 + Usel3 + Usel4 = Utotal 4. Pada keadaan short circuit : Buatlah rangkaian seperti dalam gambar 5.10. di atas dan hubungkan titik A dan B menggunakan kabel (short circuit). Ukur besar arus total Itotal = ....................... [A] Ukur besar tegangan total Utotal = ....................... [V] Ukur besar tegangan dari masing-masing sel. Usel1 = ....................... [V] Usel3 = ..................... .. [V] Usel2 = ....................... [V] Usel4 = ....................... [V] Periksalah apakah : Usel1 + Usel2 + Usel3 + Usel4 = Utotal 5. Lakukan langkah nomor 4 dengan menutup sel ke 4 menggunakan daun atau ke rtas. Lakukan pengukuran untuk : Ukur besar arus total Itotal = ....................... [A] Ukur besar tegangan total Utotal = ....................... [V] Ukur besar tegangan dari masing-masing sel. Usel1 = ....................... [V] Usel3 = ..................... .. [V] Usel2 = ....................... [V] Usel4 = ....................... [V]

Periksalah apakah : Usel1 + Usel2 + Usel3 + Usel4 = Utotal 6. Buatlah kesimpulan dari hasil praktek hubungan seri ini. Kesimpulan :

Lembar Kerja 3 Mempelajari unjuk kerja hubungan paralel dari sel surya Tujuan : 1. Menjelaskan hubungan paralel sel surya 2. Menghitung besarnya arus, tegangan dan daya dari hubungan paralel Alat dan Bahan Ampermeter DC Voltmeter DC Modul rangkaian seri- Parallel sel surya Kabel penghubung Langkah Kerja 1. Buatlah rangkaian hubungan Parallel sel surya seperti dalam gambar di ba wah ini. 2. Pada keadaan short circuit : Ukur besar arus total Itotal = ....................... [A] Ukur besar tegangan total Utotal = ....................... [V] Ukur besar arus dari masing-masing sel. Isel1 = ....................... [A] Isel3 = ..................... .. [A] Isel2 = ....................... [A] Isel4 = ....................... [A] Periksalah apakah : Isel1 + Isel2 + Isel3 + Isel4 = Itotal 3. Lepaslah sambungan hubung singkat A dan B, sehingga rangkaian menjadi op en circuit. Lakukan pengukuran sebagai berikut : Ukur besar arus total Itotal = ....................... [A] Ukur besar tegangan total Utotal = ....................... [V] Ukur besar arus dari masing-masing sel. Isel1 = ....................... [A] Isel3 = ..................... .. [A] Isel2 = ....................... [A] Isel4 = ....................... [A] Perhatikan sel manakah yang arah arusnya terbalik (-). Sel yang arah arusnya te rbalik adalah sel yang mempunyai karakteristik paling jelek di antara semua sel. Periksalah apakah : Isel1 + Isel2 + Isel3 + Isel4 = Itotal 4. Sekarang dalam keadan open circuit, salah satu sel ditutup dengan kertas atau daun, misalkan saja sel ke 4. Lakukan pengukuran : Ukur besar arus total Itotal = ....................... [A] Ukur besar tegangan total Utotal = ....................... [V] Ukur besar arus dari masing-masing sel. Isel1 = ................... [A] Isel3 = ....................... [A]

Isel2 = ................... [A] Isel4 = ....................... [A] Periksalah apakah : Isel4 adalah bernilai negatif ? [ya / tidak] Isel1 + Isel2 + Isel3 = Isel4 [ya / tidak] 5. Pada keadaan yang sama seperti pada tugas 2, tutuplah sel ke 4 dengan me nggunakan kertas atau daun dan lakukan pengukuran sebagai berikut. Ukur besar arus total Itotal = ....................... [A] Ukur besar tegangan total Utotal = ....................... [V] Ukur besar arus dari masing-masing sel. Isel1 = ....................... [A] Isel3 = ..................... .. [A] Isel2 = ....................... [A] Isel4 = ....................... [A] Periksalah apakah : Isel4 adalah bernilai negatif ? [ya / tidak] Isel1 + Isel2 + Isel3 = Isel4 [ya / tidak] Bandingkan hasil pengukuran ini dengan hasil pengukuran pada langkah ke 4. 6. Buatlah kesimpulan dari hasil praktek hubungan Parallel ini. Kesimpulan :

KEGIATAN BELAJAR 7 PERATURAN, NORMA, DAN STANDAR SISTEM KESELAMATAN KERJA Lembar Informasi Tindakan keselamatan kerja bertujuan untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan, b aik jasmani maupun rohani manusia, serta hasil kerja dan budaya tertuju pada kes ejahteraan masyarakat pada umumnya. Keselamatan kerja manusia secara terperinci antara meliputi : pencegahan terjadinya kecelakaan, mencegah dan atau mengurangi terjadinya penyakit akibat pekerjaan, mencegah dan atau mengurangi cacat tetap, mencegah dan atau mengurangi kematian, dan mengamankan material, konstruksi, pe meliharaan, yang kesemuanya itu menuju pada peningkatan taraf hidup dan kesejaht eraan umat manusia. Dasar-dasar keselamatan kerja yang ada di Indonesia antara lain telah diatur dal am Undang-Undang RO No. 1 Th 1970. Pada pasal satu ayat lima misalnya, dikemukak an bahwa ahli keselamatan kerja adalah tenaga teknis berkeahlian khusus dari lua r Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja untuk mengawas i ditaatinya UU No. 1 Th 1970. Organisasi keselamatan kerja dalam administrasi p

emerintah di tingkat pusat diwadahi dalam bentuk Direktorat Pembinaan Norma Kese lamatan dan Kesehatan Kerja dan Direktoral Perlindungan Perawatan Tenaga Kerja. Fungsi Direktorat ini antara lain: melaksanakan pembinaan, pengawasan, serta pen yempurnaan dalam penetapan norma keselamatan kerja di bidang mekanik, bidang lis trik, uap dan kebakaran. Selain Undang-Undang yang mengatur keselamatan kerja, terdapat pula suatu organi sasi lain yang dibentuk oleh perusahaan-perusahaan sebagai bagian dari struktur organisasi yang ada di perusahaan, yang disebut bidang keselamatan kerja. Selain organisasi-organisasi di atas ada satu organisasi yang konsen terhadap keselama tan kerja, misalnya organisasi Ikatan Higine Perusahaan, Kesehatan dan Keselamat an Kerja, yang didirikan pada tahun 1971. Adapun tujuan organisasi tersebut antara lain (a) Menunjang terlaksananya tugastugas pemerintah, khususnya di bidang peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan tenaga kerja di perusahaan, industri, perkebunan, pertanian yang meliputi di ant aranya tentang penanganan keselamatan kerja. (b) Menuju tercapainya keragaman ti ndak di dalam menanggulangi masalah antara lain keselamatan kerja. A. Standar Keselamatan Kerja Dalam penggolongan pengamanan sebagai tindakan keselamatan kerja ada beberapa ha l yang perlu diperhatikan, antara lain: 1. Pelindung badan, meliputi pelindung mata, tangan, hidung, kaki, kepala, dan telinga. 2. Pelindung mesin, sebagai tindakan untuk melindungi mesin dari bahaya yan g mungkin timbul dari luar atau dari dalam atau dari pekerja itu sendiri 3. Alat pengaman listrik, yang setiap saat dapat membahayakan. 4. Pengaman ruang, meliputi pemadam kebakaran, sistim alarm, air hidrant, p enerangan yang cukup, ventilasi udara yang baik, dan sebagainya. Di samping penggolongan pengamanan tersebut di atas, standar keselamatan kerja t erutama di bengkel mekanik elektro, ada urutan penanggung jawab keselamatan ker ja. Seorang instruktur mempunyai tugas dan kewajiban antara lain: memberikan ins truksi dengan benar kepada anak buahnya secara tepat dan aman untuk tiap-tiap ba gian yang akan dikerjakan. Jika terjadi kecelakaan, seorang instruktur berkewaji ban menyelidiki sebab-sebab terjadinya kecelakaan dan kerusakan yang terjadi. In struktur wajib melaporkan kepada atasannya atas kejadian kecelakaan tersebut, melaporkan tentang kerusakan mesin maupun alat-alat yang digunakan serta mencata t peristiwa tersebut secara akurat dan tertib. Seorang Storeman (teknisi), bertugas dan bertanggung jawab penuh terhadap alat-a lat dan mesin yang ada di ruang bengkel untuk : memelihara alat-alat kerja, me mberikan layanan peminjaman alat bagi pekerja atau siswa praktikan, mencatat bar ang yang masuk dan keluar, mencatat jumlah barang yang ada di bengkel, dan menca tat kerusakan alat-alat kerja, baik alat tangan maupun peralatan mesin. Seorang pekerja atau praktikan, mempunyai tugas dan kewajiban antara lain: menta ati segala peraturan dan instruksi yang ada . Ia berkewajiban melakukan pekerja an dengan hati-hati dan aman, menjaga keutuhan alat dan kebersihan ruangan kerja , bertindak secara tepat jika terjadi kecelakaan dan melaporkan kepada instruktu r. B. Sistem Keselamatan Kerja Seorang pekerja baik siswa, teknisi maupun instruktur yang akan bekerja dalam l ingkungan bengkel atau laboratorium khususnya dalam teknik kejuruan haruslah me ngetahui tentang pengetahuan keselamatan kerja. Mereka juga harus mengetahui ta ta-cara bekerja secara benar, cara bekerja yang aman dan selamat baik bagi dirin ya sebagai orang yang terlibat dalam pekerjaan itu maupun benda kerja yang diker jakan serta lingkungan kerja di sekitarnya. Terjadinya kecelakaan menyebabkan ke rugian pada tiap-tiap orang yang terlibat baik secara langsung maupun tidak lang sung dalam pekerjaan tersebut. Jika terjadi kecelakaan maka orang yang bersangk utan akan menderita sakit atau gangguan phyisik lainnya. Kerugian lainnya ada lah kerugian benda, usaha kerja, kesehatan dan aktivitas sosial lainnya.

C. Sebab-Sebab terjadinya Kecelakaan Suatu kecelakaan sering terjadi yang diakibatkan oleh lebih dari satu sebab. Kec elakaan dapat dicegah dengan menghilangkan hal-hal yang menyebabkan kecelakan te rsebut. Ada dua sebab utama terjadinya suatu kecelakaan. Pertama, tindakan yang tidak aman. Kedua, kondisi kerja yang tidak aman. Orang yang mendapat kecelakaa n luka-luka sering kali disebabkan oleh orang lain atau karena tindakannya send iri yang tidak menunjang keamanan. Berikut beberapa contoh tindakan yang tidak aman, antara lain: 1. Memakai peralatan tanpa menerima pelatihan yang tepat 2. Memakai alat atau peralatan dengan cara yang salah 3. Tanpa memakai perlengkapan alat pelindung, seperti kacamata pengaman, sa rung tangan atau pelindung kepala jika pekerjaan tersebut memerlukannya 4. Bersendaugurau, tidak konsentrasi, bermain-main dengan teman sekerja ata u alat perlengkapan lainnya. 5. Sikap tergesa-gesa dalam melakukan pekerjaan dan membawa barang berbahay a di tenpat kerja 6. Membuat gangguan atau mencegah orang lain dari pekerjaannya atau mengizi nkan orang lain mengambil alih pekerjaannya, padahal orang tersebut belum menget ahui pekerjaan tersebut. Di sisi lain, kecelakaan sering terjadi akibat kondisi kerja yang tidak aman. B erikut ini beberapa contoh yang menggambarkan kondisi kerja tidak aman antara lain: 1. Tidak ada instruksi tentang metode yang aman. 2. Tidak ada atau kurangnya pelatihan si pekerja. 3. Memakai pakaian yang tidak cocok untuk mengerjakan tugas pekerjaan terse but. 4. Menderita cacat jasmani, penglihatan kabur, pendengarannya kurang. 5. Mempunyai rambut panjang yang mengganggu di dalam melakukan pekerjaan. 6. Sistem penerangan ruang yang tidak mendukung. Persentase penyebab kecelakaan di bengkel kerja mesin berdasarkan penelitian yan g dilakukan para ahli dapat digambarkan dalam bentuk Gambar 1 berikut ini : 1. terluka akibat mengangkut barang (30%) 2. jatuh (20%) 3. obyek yang jatuh(10%) 4. peralatan tangan (10%) 5. mesin (9%) 6. menabrak benda (6%) 7. alat angkut (5%) 8. terbakar (2%) 9. arus listrik (2%) 10. zat berbahaya (1%) 11. lain-lain (5%) D. Tindakan menghindari cara kerja yang tidak aman Menghindarkan cara kerja yang tidak nyaman merupakan tanggung jawab semua pekerj a yang bekerja di ruang kerja. Sebaliknya sikap yang tidak bertanggung jawab mer upakan suatu tindakan kebodohan.Sikap yang bodoh menyebabkan bahaya bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu ikutilah instruksi supervisor (penga was/pimpinan). Pakailah cara-cara kerja yang benar, tenang dan tidak ceroboh da lam segala hal jika akan memulai bekrja. Kerja sama dari semua orang yang terlibat dalam bekerja sangat diperlukan dalam mencegah kondisi yang tidak aman. Kondisi kerja yang aman tidak hanya memiliki alat-alat yang bagus dan mesin yang baru. Kerjasama dari setiap individu tempat kerja merupakan hal yang sangat penting. Menjadikan tempat kerja yang bersih, s ehat, tertib, teratur dan rapi merupakan syarat yang sangat menentukan keberha silan kerja secara maksimal. E. Mencegah Terjadinya Kecelakaan Tindakan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan adalah hal yang l ebih penting dibandingkan dengan mengatasi terjadinya kecelakaan. Kecelakaan dap at dicegah dengan menghindarkan sebab-sebab yang bisa mengakibatkan terjadinya

kecelakaan. Tindakan pencegahan bisa dilakukan dengan cara penuh kehati-hatian d alam melakukan pekerjaan dan ditandai dengan rasa tanggung jawab. Mencegah kondi si kerja yang tidak aman, mengetahui apa yang harus dikerjakan dalam keadaan dar urat, maka segera melaporkan segala kejadian, kejanggalan dan kerusakan peralata n sekecil apapun kepada atasannya. Kerusakan yang kecil atau ringan jika dibiar kan maka semakin lama akan semakin berkembang dan menjadi kesalahan yang serius jika hal tersebut tidak segera diperbaiki. Tindakan pencegahan terjadinya kecelakaan harus dilakukan dengan rasa bertanggu ng jawab sepenuhnya terhadap tindakan keselamatan kerja. Bertanggung jawab merup akan sikap yang perlu dijujung tinggi baik selama bekerja maupun saat beristirah at Hal ini akan sangat bermanfaat bagi keselamatan dalam bekerja. Peralatan perl indungan anggota badan dalam setiap bekerja harus selalu digunakan dengan menyes uaikan sifat pekerjaan yang dilakukan. Pada Gambar 2 diperlihatkan beberapa alat pelindung keamanan anggota badan., terdiri dari pelindung mata, kepala, te linga, tangan, kaki dan hidung. Penggunaan alat pelindung ini disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang dikerjakan. Sebagai contoh pelindung mata, pakailah kaca m ata atau gogles untuk melindungi dari sinar yang kuat, loncatan bunga api, lonca tan logam panas dan sebagainya.

Lembar Kerja Alat dan Bahan : 1. Kuas 1 buah 2. Sapu 1 buah 3. Blower/kipas angin 1 buah 4. Penyedot debu... 1 unit 5. Pendingin.... 1 unit 6. Alat penerangan.... 1 unit 7. Poster, tentang keselamatan kerja. 3 buah 8. Spanduk, tentang peringatan keselamatan kerja 1 buah 9. Almari/tempat alat kerja.... 1 unit 10. Alat pelindung badan.... 1 unit 11. Rung istirahat.... 1 ruang 12. Ruang kerja....... 1 ruang 13. Gudang.... 1 ruang 14. meja kerja.... 1 buah 15. Tempat pakaian kerja 1 buah F. Kesehatan dan keselamatan kerja 1. Tersedia kotak PPPK sebagai suatu keharusan yang harus disediakan, deng an isinya antara lain : obat pusing, bethadin, pencuci mata (poor woter), kapas, dan plester atau perban.. 2. Diperlukan adanya kesadaran akan tindakan keselamatan kerja dari semua u nsur

3. Adanya kerja sama yang sinergis antar pengguna dan yang terkait dengan ruang kerja tersebut serta selalu menjunjung tinggi peran dan tanggung jawabnya masing-masing. 4. Upaya tindakan keselamatan kerja yang perlu dilakukan antara lain adalah sebagai berikut : Tindakan pencegahan terjadinya kecelakaan harus dilakukan dengan rasa b ertanggung jawab sepenuhnya terhadap tindakan keselamatan kerja. Sikap hati-hati dan kesungguhan di lingkungan tempat kerja. Hindarkanlah bertengkar atau bergumul dengan orang lain di tempat kerja. Jangan bersendau-gurau, bermain atau melawak tanpa kontrol! Jangan bermain api, listrik, udara kompresor atau semprotan air di tempa t/ruang kerja bengkel ! Jangan melemparkan sesuatu ke tempat kerja dan berkonsentrasilah pada p ekerjaan yang sedang dikerjakan dan sadarlah apa yang terjadi di sekeliling temp at kerja ! Lembar Latihan 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan tindakan keselamatan kerja ! 2. Sebutkan dasar-dasar keselamatan kerja yang anda ketahui ? 3. Apakah sasaran tindakan keselamatan kerja ? 4. Bagaimanakah cara melakukan pencegahan terjadinya kecelakaan di bengkel mekanik elektro ! 5. Siapakah yang bertanggung jawab terhadap keselamatan kerja ? DAFTAR PUSTAKA Adi Sukarno .Winarso. 2005. Penggunaan Osciloskop. PPPPTK BMTI Bandung. Gerhard.Brechmann,. 1993. Table for the Electric Trade. Deutche Gesselchaft fiir Technische Zusammenarbeit (GTZ) Gmbh, Eschborn Federal Republic of Germany. Jenneson J.R. 1990 Electrical principles for the Electrical Trades, 3rd editio n. McGraw Hill, Sidney. Modul Bahan Ajar Elektro. 2001. Tim Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakar ta. Munthe. Berayan. 2007. Pengukuran Listrik. PPPPTK BMTI Bandung. Pahmi. Aji W, Ahmad K. 2001. Penggunaan Alat Ukur Listrik. CV. Armico, Bandung. Supaat. 1999. Photo Voltaic Sumber Tenaga Listrik Alternatif Untuk Sekolah Menen gah Kejuruan. PPPGT Malang. Theraja B.L. 1984. New Delhi. A Text Book of Electrical Technology, Dhampat Rai & Son ,

Indonesia Australia Partnership For Skills Development Batam Institutional Devel opment Project.2001