Anda di halaman 1dari 9

Majalah Farmasi Indonesia, 13(1),12-20, 2002

PENGGUNAAN OBAT GENERIK DI APOTEK WILAYAH KODYA YOGYAKARTA PADA MASA KRISIS MONETER (PENGAMATAN SELAMA MARET 1997 S/D MARET 1998)
THE USE OF GENERIC DRUGS IN PHARMACY IN THE MUNICIPALITY OF YOGYAKARTA DURING MONETARY CRISIS (OBSERVATION ON MARCH 1997 - MARCH 1998)
Irin Dwi Andari dan Djoko Wahyono Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

ABSTRAK Krisis moneter yang melanda Indonesia menimbulkan dampak di bidang pelayanan kesehatan milik swasta maupun pemerintah termasuk industri farmasi, yaitu kesulitan untuk memperoleh bahan baku obat dan mengakibatkan terjadinya kelangkaan serta kenaikan harga obat. Keadaan ini mendorong terjadinya pergeseran dari penggunaan obat paten ke obat generik yang harganya relatif lebih murah. Pengamatan penggunaan obat generik sebelum dan saat krisis moneter ini dilakukan dengan tujuan untuk mengamati penggunaan obat generik sebelum dan saat krisis moneter di apotek wilayah Kodya Yogyakarta. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah jumlah penggunaan obat generik dalam satuan bentuk sediaan yang ditulis dalam resep dokter sebelum krisis moneter (Maret 1997-Agustus 1997) dan saat terjadi krisis moneter (September 1997-Maret 1998) di lima apotek, yang diambil dengan metode pengambilan sampel daerah (areal sampling), kemudian dianalisa dengan uji ANAVA menggunakan taraf kepercayaan 95% serta data kuesioner dari responden pengunjung apotek yang dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna dalam penggunaan obat generik dari apotek di Kodya Yogyakarta sebelum krisis moneter sampai saat terjadi krisis moneter, kecuali amoksisilin 500 mg, antalgin, kaptopril 25 mg, glibenklamid, dan dekstrometorfan tablet. Hasil survei terhadap 100 responden tentang informasi obat generik menunjukkan bahwa ternyata 91% responden telah mengenal obat generik, sedangkan sumber informasi tentang obat generik paling banyak diperoleh responden adalah dari media massa (44%). Sebanyak 39% beranggapan bahwa harga obat generik adalah lebih murah dan mempunyai khasiat yang sama dengan obat paten. Kata kunci : krisis moneter, obat generik, penggunaan di apotek.

ABSTRACT Monetary crisis that strike Indonesia had also impacts on health services either private or public services, including pharmaceutical industries. The industries had difficulty to find raw materials for production which in turn resulting in scarce and the rise of drug price. The situation could urged the patients to shift of using the patented medicines into generic ones which are relatively cheaper. The present study has therefore aimed to observe the usage of generic products before (March 1997 - August 1997) and during (September 1997 - March 1998) the monetary crisis periods in five pharmacies of Yogyakarta Municipality. The data were taken from the stocks units and from doctors prescriptions, which were then analyzed by ANAVA (p=0,5). Other data were also collected and analyzed descriptively from questionnaires requested to the a hundred of pharmacys visitors at the same periods as above. The results have shown that the number of generic product usage was not different between the two periods, except amoxycillin 500 mg, antalgin, dextrometorphan, captopril 25 mg, and glibenclamide tablets. The respondents have revealed that they have information on generic products (91%) from mostly mass

Majalah Farmasi Indonesia, 13(1), 2002

12

Penggunaan Obat Generik di Apotek Wilayah Kodya .........

media (44%). As many as 39 % of them assume that the generic products are cheaper than of patented products and it has the same effect. Key words : monetary crisis, generic product, pharmacies

PENDAHULUAN Penyediaan obat bagi masyarakat berpenghasilan rendah tidak dapat dilepaskan dari masalah kebijakan pembangunan kesehatan terutama di negara berkembang. Masalah yang sangat mendasar adalah masalah kesenjangan yang terjadi di tingkat global, regional, maupun nasional. Di Indonesia tingkat konsumsi obat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan per kapita (Gross National Product), yang relatif rendah jika dibandingkan dengan negara ASEAN yang lain. Oleh karena itu dalam mengurangi kesenjangan, pemerintah telah menetapkan kebijakan bahwa pembangunan kesehatan terutama ditujukan kepada masyarakat terbanyak, yaitu masyarakat yang berpenghasilan rendah baik di desa maupun di perkotaan (Anonim , 1993). Produksi obat generik merupakan salah satu upaya penyediaan obat yang bermutu dengan harga terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Pemanfaatan penggunaan obat generik ini dituangkan melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 085/Menkes/Per/1989 tentang kewajiban menuliskan resep dan atau menggunakan obat generik di fasilitas kesehatan milik pemerintah (Anonim 1 , 1989). Kampanye obat generik yang dilakukan melalui berbagai jalur media, merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terencana, intensif dan terpantau, agar masyarakat sadar bahwa obat generik bukan obat murahan bermutu rendah, tetapi obat murah yang berkualitas (Anonim 2, 1989). Sasaran primer kampanye ini adalah selain dokter dan dokter gigi di rumah sakit pemerintah, para apoteker di rumah sakit pemerintah dan apotek milik BUMN, juga masyarakat pengguna obat dengan status sosial ekonomi menengah kebawah. Sementara sasaran sekunder adalah pihak-pihak yang dapat mempengaruhi perilaku sasaran primer dalam penggunaan obat generik, seperti para pakar yang berpengaruh dalam bidang kedokteran, kedokteran gigi, farmasi, pendidik di lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, tokoh organisasi profesi, dan tokoh masyarakat. Sasaran tersiernya adalah kelompok pembuat keputusan penye lenggara pelayanan kesehatan (Anonim 2, 1989). Obat generik menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 085/Menkes/Per/1989 adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia dan INN (International Nonpropietary Names) dari WHO untuk zat berkhasiat yang dikandungnya (Anonim, 1991). Konsep WHO tentang obat generik ini didefinisikan sebagai obat esensial, yakni obat dengan nama generik yang terpilih dan yang dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat banyak, meliputi diagnosa, profilaksi, terapi, dan rehabilitasi (Anonim, 1991). Badan dunia tersebut telah memberikan pula kriteria obat yang masuk dalam daftar obat esensial generik, yaitu : mempunyai bukti uji klinis baik mengenai khasiat maupun keamanan, dan diformulasikan sebagai senyawa tunggal. Apabila disajikan dalam bentuk sediaan kombinasi harus sudah terbukti dapat memberi keuntungan atau efek sinergisme dibandingkan dengan senyawa tunggal (Anonim, 1991). Menurut data dari Departemen Kesehatan, nilai ekspor obat generik produk Indonesia selama 1997 mencapai US$ 2,25 juta, atau naik dibanding pada tahun 1996 sebesar US $ 967.482; sedang nilai total peredaran obat generik di dalam negeri pada 1997 adalah sebesar Rp 378 miliar atau naik dibanding pada tahun 1996 Rp 326 miliar (Katim, 1997). Krisis moneter yang melanda negara-negara Asia termasuk Indonesia menimbulkan dampak di bidang pelayanan kesehatan milik pemerintah maupun swasta yang meliputi pula industri-industri farmasi. Kesulitan bahan baku (sekitar 80 % dari bahan baku yang digunakan untuk memproduksi obat-obatan tersebut masih impor dari luar negeri) merupakan salah satu dampak yang ditimbulkan oleh adanya krisis moneter bagi industri farmasi, sehingga menyebabkan terjadinya kelangkaan obat yang mengakibatkan kenaikan harga obat terutama obat paten. Produsen obat generik mendapat subsidi oleh Pemerintah dengan mematok nilai dolar tetap pada 5000 per dolar Amerika, sehingga kenaikan harga obat generik tidak terlalu tajam (Anonim, 1997). Keperluan akan obat yang tepat bagi para penderita (tepat obat, tepat dosis, tepat cara pemakaian, dan tepat waktu pemakaian) merupakan pilihan utama yang harus segera diambil. Kenaikan harga obat ini

Majalah Farmasi Indonesia, 13(1), 2002

13

Irin Dwi Andari

menyebabkan daya beli masyarakat terhadap obat paten berkurang sehingga dimungkinkan terjadinya pergeseran penggunaan obat oleh masyarakat dari obat paten ke obat generik. METODOLOGI Batasan operasional Obat generik adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia atau INN (International Nonpropietary Names) untuk zat berkhasiat yang dikandungnya (Anonim, 1991). Penggunaan obat generik adalah jumlah obat generik yang digunakan dalam satuan bentuk sediaannya yang tertulis dalam resep, sebagai permintaan tertulis dokter kepada apoteker. Krisis moneter adalah krisis yang disebabkan turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika dengan salah satu dampak yang ditimbulkan adalah kenaikan harga obat terutama obat paten. JalanPenelitian Penelitian ini dilakukan di apotek yang terletak di wilayah Kotamadya Yogyakarta. Pengambilan Sampel Sampel diambil dengan metode sampel daerah ( area sampling atau cluster sampling ), berdasarkan letak geografis (utara, selatan, timur, barat dan tengah, dengan masing-masing dearah 5 apotek). Data yang diambil adalah data penggunaan obat generik dalam satuan bentuk sediaannya yang tertulis dalam resep di apotek pada bulan Maret 1997 sampai dengan Maret 1998. Sampel responden diambil dari pengunjung apotek dengan jumlah sama untuk setiap apotek ( equal sampling ) melalui kuesioner yang disebarkan untuk diisi oleh responden pengunjung apotek. Ukuran Sampel. Ukuran sampel yang diambil didasarkan pada rumus ( Nawawi, 1993 ) : n p.q za 2 b Keterangan : n = jumlah sampel minimum p = proporsi populasi kelompok pertama q = proporsi populasi sisa (bila populasi tidak diketahui harga p sama dengan harga q, yaitu 0,5) za = derajat koefisien konfidensi pada 95 % = 1,96 b = persentase kesalahan = 10 % = 0,1 Dengan rumus tersebut diperoleh jumlah sampel minimum adalah 96 orang. Cara Analisa Data Data penggunaan obat generik di apotek perbulan di wilayah Kotamadya Yogyakarta mulai bulan Maret 1997 sampai Maret 1998 dianalisa dengan uji analisa varian satu jalan untuk data penggunaan obat generik per bulan dengan taraf kepercayaan 95 %. Sedangkan data yang berupa kuesioner yang memuat beberapa pertanyaan yang dijawab oleh responden (100 responden) dianalisa secara deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Survei yang dilakukan terhadap lima apotek di Kotamadya Yogyakarta selama bulan Maret 1997 s/d Maret 1998 secara umum menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada penggunaan obat generik golongan antibiotika untuk infeksi saluran pernafasan, kecuali amoksisilin 500 mg (Tabel I). Sedangkan sediaan lain dari golongan ini tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (Tabel I). Kenaikan konsumsi amoksisilin ini menggambarkan bahwa kebutuhan antibiotik khususnya untuk infeksi saluran pernafasan atas sering digunakan oleh masyarakat. Penyakit radang ini sering berjangkit di Indonesia. Oleh karena itu, pada saat terjadi kenaikan harga produk amoksisilin paten, maka penggunaan preparat ini bergeser kearah penggunaan preparat generik. Hal ini diikuti dengan penggunaan obat golongan analgetik-antipiretik dan antitusif yakni antalgin dan dekstrometorfan (Tabel II).

Majalah Farmasi Indonesia, 13(1), 2002

14

Penggunaan Obat Generik di Apotek Wilayah Kodya .........

Tabel I.

Penggunaan obat generik golongan antiinfeksi saluran pernafasan di apotik wilayah Kotamadya Yogyakarta dari Maret 1997 s/d Maret 1998 (rata-rata dari 5 apotek) ) **)
Jumlah Penggunaan ( rata - rata SD )
Bln Amoksisilin 250 mg 16494 6937 16377 6626 10949 21099 15570 317182 8841 18578 20985 14453 223128 Amoksisilin *) 500 mg 682274 672307 716310 747330 893439 855415 1161418 900406 846409 954376 1337444 975310 1309577 Ampisilin 250 mg 13549 10335 9034 12748 17680 197120 16771 19961 13548 18551 300116 15563 13362 Ampisili n 500 mg 29290 24787 26467 32895 417133 405137 531200 515143 376116 454137 613230 473150 615222 Eritromi Eritromisin sin 250 mg 500 mg 4724 3716 6726 264 3710 3521 2911 5425 6326 4622 6231 3116 7039 6930 3413 5925 3313 5727 9147 5613 8417 7942 6639 5125 6127 3213 Kloram fenikol 250 mg 5228 6956 3723 9982 5339 3815 158132 8349 9854 9641 12352 171105 15983 Kotrimo k sazol 14067 11957 12563 14974 15370 18084 198113 14262 16181 223106 308157 32115 275140 Tetrasiklin 250 mg 278154 375152 425209 311168 475223 525394 29461668 246153 284134 248152 323153 519233 357145

No

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des Jan Peb Mar

*) Berbeda bermakna ( p < 0,05 ).

**) Sediaan tablet/kapsul

Tabel II. Penggunaan obat generik golongan analgetik dan antitusif di apotek wilayah Kodya Yogyakarta dari Maret 1997 s/d Maret 1998 (rata-rata dari 5 apotek) **)
Jumlah Penggunaan ( rata-rata SD ) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Bln Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des Jan Peb Mar Antalgin *) 500 mg 477215 412210 336265 345254 385280 349248 391192 606391 336237 20688 1028430 1195596 1175414 Asam Mefenamat 250 mg 419 5423 2919 6616 4312 4518 4330 7052 6132 5318 8642 4415 5226 Asam Mefenamat 500 mg 7431 8834 7146 11345 8147 10042 9135 7734 8837 7717 11753 9448 10336 Parasetamol 568227 408246 410261 764351 566385 966705 969387 880381 646326 1066429 1253544 1338739 1109511 Dekstrometorfan *) 17989 11038 11529 8726 12455 16552 298165 18892 5836 15262 590229 15910 16948

*) Berbeda bermakna ( p < 0,05 )

**) Sediaan tablet/kapsul

Obat-obat anti infeksi lain, misalnya anti TBC seperti Etambutol, dan Pirosikam, tidak mengalami kenaikan yang bermakna (Tabel III). Golongan lain yang mengalami kenaikan yang signifikan adalah Kaptopril 25 mg (Tabel IV) dan Glibenklamid (Tabel VI). Ini dapat dimengerti karena penggunaan obat ini merupakan penggunaan rutin, sehingga pada saat kenaikan harga obat paten, maka konsumen beralih pada produk generik. Penggunaan obat golongan sedatif-hipnotik terlihat tidak mengalami kenaikan (Tabel V). Golongan lain yang tidak menunjukkan kenaikan selama krisis adalah obat antasida (Tabel V), yaitu misalnya antasida, dan simetidin. Pola penggunaan obat selama krisis ini sesuai dengan teori Engel, dkk (1994), bahwa perilaku konsumen dalam merespon informasi tergantung pada tiga hal, yakni lingkungan, perbedaan individu, dan proses psikilogis. Lingkungan yang memaksa karena perubahan harga obat paten, serta sifat individu untuk tetap dapat mengkonsumsi obat mendorong konsumen untuk menggunakan obat generik.

Majalah Farmasi Indonesia, 13(1), 2002

15

Irin Dwi Andari

Tabel III. Penggunaan obat generik golongan antiinfeksi TBC di apotek wilayah Kodya Yogyakarta
Jumlah Penggunaan ( rata-rata SD ) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Bln Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des Jan Peb Mar Etambutol Etambutol 250 mg 500 mg 53 5136 1910 1714 84 3217 4122 3020 2319 75 9170 108 65 12831 13127 15552 11533 10041 8531 6930 10534 16065 15048 10625 16147 16148 INH INH 100 mg 300 mg 1610 2614 73 1810 2811 7045 1610 158 65 1412 2522 3020 1588 198 3110 4518 4215 3011 4615 3713 3213 3713 3311 5424 5627 4120 Rifampisin Rifampisin Piroksi 300 mg 450 mg kam 10 mg 6822 6252 3412 5623 9751 137 6442 3931 6124 4727 7616 3727 6628 7124 7923 6627 4416 3618 13611 7945 5323 8051 11249 10168 10155 10345 9934 495 6025 6931 10346 10434 9735 10213 9919 8241 8236 9329 8524 Piroksi kam 20 mg 5731 6320 4623 7319 5026 7536 6624 4326 8040 6327 9231 8330 7230

*) Sediaan tablet

Tabel IV.

Penggunaan beberapa obat generik golongan anti hipertensi di apotek wilayah Kodya Yogyakarta dari Maret 1997 s/d Maret 1998 (rata-rata dari 5 apotek ) **)
Jumlah Penggunaan ( rata-rata SD ) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Bln Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des Jan Peb Mar Furosemid 40 mg 16851 27358 20861 18461 16267 20680 22958 20544 24057 28252 28284 29994 32578 Kaptopril 12,5 mg 104102 5 22 21 00 00 00 5525 8148 9041 19556 23193 14443 217104 Kaptopril 25 mg *) 2211 3112 10254 9941 16185 12949 11031 14240 12154 9543 17953 11242 18667 Klonidin 0,15 mg 19362 27268 20763 21857 24769 27482 24380 29691 19775 27486 305103 312106 24982 Nifedipin 10 mg 313119 260103 324128 350125 432184 541201 378111 440179 531268 491233 489201 498142 495239

*) Berbeda bermakna (p<0,05). **) Sediaan tablet

Pada survei ini, kuesioner disebarkan kepada pengunjung apotek. Menurut pengalaman peneliti selama praktek di apotek, bahwa pengunjung apotek belum tentu penderita dan pengguna obat yang dibeli. Oleh karena itu kuesioner ini secara umum ditujukan kepada masyarakat pengunjung apotek, bukan kepada penderita, untuk menjaring pengetahuan dan tanggapan masyarakat terhadap keberadaan obat generik.

Majalah Farmasi Indonesia, 13(1), 2002

16

Penggunaan Obat Generik di Apotek Wilayah Kodya .........

Tabel V. Penggunaan obat generik golongan hipnotik-sedatif-antikonvulsan dan antasida di apotek wilayah Kodya Yogyakarta dari Maret 1997 s/d Maret 1998 (rata-rata dari 5 apotek ) *)
Jumlah Penggunaan ( x SE ) No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Bln Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des Jan Peb Mar Diazepam 2 mg 218174 304246 320214 380200 5220 556421 335239 9838 173110 389201 24175 14868 258179 Haloperidol Haloperidol 0,5 mg 1,5 mg 4132 365170 1711 259184 3329 292150 1814 310186 4718 337177 3514 265159 6724 266155 5845 373209 3117 282197 8034 311183 6646 277121 3422 302139 4927 407271 Karbamazepin 200 mg 8119 9916 11618 9115 10923 13428 12221 12532 13151 10618 12753 9222 13240 Antasid Doen 14782 12866 11865 380258 12765 370249 289177 22780 255125 18880 310201 267155 447267 Simetidin 200 mg 2011 328 2715 3513 3216 1810 1910 2513 218 2310 3010 3514 147

*) Sediaan tablet, dihitung dengan SE karena SD cukup besar hasilnya.

Tidak Pernah 9%

Pernah 91%

Gambar 1.

Grafik Efektivitas Informasi Obat Generik yang Diterima Responden pada Survei Yogyakarta dari Maret 1997 s/d Maret 1998 (rata-rata dari 5 apotek ) *)

SD 6% SLTA 47%

SMP 6%

PT 41%

Gambar 2.

Grafik Tingkat Pendidikan Responden pada Survei Pengamatan Penggunaan Obat Generik di Wilayah Kodya Yogyakarta (PT=Perguruan Tinggi; SLTA= Sekolah Lanjutan Tingkat Atas; SMP = Sekolah Menengah Pertama; SD = Sekolah Dasar).

Majalah Farmasi Indonesia, 13(1), 2002

17

Irin Dwi Andari

Hasil survei menunjukkan bahwa 91% pengunjung telah mengenal obat generik, sedang sisanya sebesar 9 % mengaku belum pernah mendapat informasi tentang obat generik (Gambar 1). Hal ini kemungkinan dapat disebabkan karena banyak responden yang masih berpendidikan SD dan SMP (Gambar 2), meskipun sebagian besar berpendidikan SLTA (47%) dan Perguruan Tinggi (41%). Walaupun sebagian besar responden mengaku bahwa mereka mendapatkan informasi obat generik dari media masa (44%), namun kelihatannya petugas Apotek juga berpengaruh terhadap penggunaan obat generik oleh masyarakat (27%). Hal ini dapat dimengerti, karena kemungkinan besar masyarakat berkonsultasi tentang harga-harga obat, pada saat mereka berkunjung di Apotek. Alasan utama mereka menggunakan obat generik adalah karena lebih murah dan mempunyai khasiat yang sama dengan obat paten (39%). (Gambar 3 dan Gambar 4). Obat generik yang telah diproduksi sebelum diedarkan harus telah diuji ketersediaan hayatinya. Penelitian uji ketersediaan hayati sediaan ampisilin pada kelinci telah dilaporkan, dan hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara produk generik dan paten (Wahyono. dan Nurlaila, 2000). Jika dilihat secara keseluruhan, pada saat terjadi krisis, penggunaan obat generik tidak terlalu terjadi kenaikan yang sangat tinggi, walaupun harga obat paten melambung sampai 3 kali dibanding sebelum krisis. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena konsumen justru beralih kepada tempat pelayanan kesehatan Pemerintah (seperti PUSKESMAS) Tabel VI. Penggunaan obat generik golongan lain-lain di apotek wilayah Kodya Yogyakarta dari Maret 1997 s/d Maret 1998 (rata-rata dari 5 apotek ) **)
Jumlah Penggunaan ( x SD) No. Bln Alopurin ol 100 mg 4311 6530 9126 10139 13550 16598 7719 12556 18898 14473 16563 15136 15086 Dexametason 826208 737149 751173 1110447 1041379 1253526 1246249 789265 516166 825302 986322 860183 770248 Digoksin 0,25 mg 5319 6826 7735 5321 6827 4726 3717 5615 3912 5321 10148 9447 9027 Glibenklamid *) 5 mg 260110 204114 25795 295113 30490 331127 375133 386114 457162 342155 566256 471119 517176 Metronidasol 250 mg 123 32 126 124 2010 107 198 196 137 3822 3122 211160 6946 Metronidasol 500 mg 4824 4127 3314 4418 4218 369 5121 4416 6522 5823 6233 5422 3924 Griseo fulvin 4729 12938 336 9034 3918 285 6819 6028 11341 13495 7019 5423 7536

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Mar Apr Mei Juni Juli Agt Sep Okt Nop Des Jan Peb Mar

*) Berbeda bermakna (p<0,05)

**) Sediaan tablet

Media Massa 44%

Lain-lain (teman, tetangga) 4%

Petugas Kesehatan Lain 9% Dokter 16%

Petugas Apotek 27%

Gambar 3.

Grafik yang menggambarkan tentang jenis sumber informasi yang di peroleh responden pada survei pengamatan penggunaan obat generik di wilayah Kodya Yogyakarta 18

Majalah Farmasi Indonesia, 13(1), 2002

Penggunaan Obat Generik di Apotek Wilayah Kodya .........

Penelitian serupa di Salatiga (Kumalasari, 1999) dan di Magelang (Pangastuti., 1999) menunjukkan bahwa tidak ada perubahan penggunaan obat generik di Apotek selama krisis moneter. Ini memperkuat dugaan pergeseran kepada pemanfaatan PUSKESMAS meskipun belum ada konfirmasi data penelitian. Secara ekonomis dapat dikatakan bahwa adanya krisis moneter memberikan hikmah ekonomis bagi produsen obat generik.

Lebih murah & efek sama dgn obat paten 39%

Lebih murah 5%

Lebih mudah didapat 10%

Efek sama dgn obat paten 10%

Lebih murah & mudah didapat 36%

Gambar 4.

Grafik alasan responden menggunakan obat generik di wilayah Kodya Yogyakarta

Anjuran pemerintah untuk sekurang-kurangnya ada 1 apotek di setiap Kabupaten untuk mendistribusikan obat generik dan adanya 23 industri farmasi yang memproduksi obat generik maka diharapkan ketersediaan obat generik dapat terlaksana di seluruh pelosok tanah air (Andayaningsih, 1993), dan cita-cita untuk mendapatkan obat yang tepat, sasaran, guna, dosis, waktu, diagnosis, dan harga dapat terca pai.

KESIMPULAN Penggunaan obat generik di Kotamadya Yogyakarta pada awal krisis moneter di Indonesia, yakni selama periode Maret 1997 s/d Maret 1998 tidak mengalami perubahan, kecuali beberapa produk yaitu : amoksisilin 500 mg, kaptopril 25 mg, antalgin, dekstrometorfan, dan glibenklamid. Hasil survei terhadap 100 responden menggambarkan bahwa sebagian besar dari masyarakat telah mengenal obat generik (91%). Sebagian dari mereka mendapatkan informasi tentang obat generik dari media masa (44%), dan sebanyak 39 % responden menganggap bahwa obat generik murah dan mempunyai khasiat sama dengan obat paten.

DAFTAR PUSTAKA Andajaningsih, 1993, Distribusi Obat di Indonesia, Medika, 10, 59-62. Anonim1, 1989, Informasi Tentang Obat Generik, 1, Depkes RI, Jakarta. Anonim2, 1989, Pedoman Umum Kampanye Obat Generik, 1, Dep.Kes. R.I., Jakarta. Anonim, 1991, Informasi Tentang Obat Generik, 5, 9, Depkes RI, Jakarta. Anonim, 1993, Garis-Garis Besar Haluan Negara Th.1993, 30-81, Sekretariat Negara R.I. Jakarta. Anonim, 1997, Obat Generik Dibutuhkan Tapi Diragukan, Republika, 23 November 1997. Engel, F.I., Blackwell, dan D.R., Miniard, W.P., 1994, Perilaku Konsumen, Diterjemahkan oleh F.X. Budiyanto, Ed. Keenam, Jilid I, Binarupa Aksara, Jakarta, 231 244. Katim, W., 1997, Murah Karena Tanpa Biaya Promosi dan Riset, Republika, 23 November 1997.

Majalah Farmasi Indonesia, 13(1), 2002

19

Irin Dwi Andari

Kumalasari D., 1999, Pengamatan Penggunaan Obat Generik Sebelum dan Saat Krisis Moneter di Apotek Wilayah Kotamadya Salatiga, Skripsi, Fakultas Farmasi UGM, 62 63. Nawawi, H., 1993, Metodologi Penelitian Bidang Sosial, Cetakan Ketujuh, 149-155, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 71 109. Pangastuti I., 1999, Penggunaan Obat Generik Pada Resep Dokter di Apotek Kotamadya Magelang Sebelum dan Selama Krisis Moneter, Skripsi, Fakultas Farmasi UGM, 71 74. Wahyono D., dan Nurlaila, 2000, Bioekivalensi Kapsul Ampisilin Generik pada Kelinci, M.F.I., (inPress).

Majalah Farmasi Indonesia, 13(1), 2002

20

Anda mungkin juga menyukai