Anda di halaman 1dari 34

1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Seiring dengan meningkatnya aktivitas budidaya, kondisi kualitas air semakin mengalami penurunan karena terus menerus digunakan untuk berproduksi tanpa memperhatikan kualitasnya. Dalam media air, mikroorganisme sangat cepat berkembang sehingga akan menjadi pathogen yang dapat menyerang ikan budidaya. Sehingga sering sekali terlihat ikan-ikan yang dibudidayakan sakit atau malah mengalami kematian akibat kualitas air yang buruk. Dalam kegiatan budidaya, penyakit merupakan permasalahan yang sangat serius dan menakutkan karena hal tersebut dapat mengakibatkan kerugian yakni selain dapat mematikan ikan, hal ini juga dapat menurunkan mutu dari ikan itu sendiri. Kematian yang ditimbulkan oleh penyakit ikan sangat tergantung pada jenis penyakit, kondisi ikan dan kondisi lingkungan Menurut penyebabnya, penyakit ikan dibedakan atas penyakit infeksi (infectious diseases) dan non infeksi (non infectious diseases). Penyakit infeksi adalah penyakit yang menular yang disebabkan oleh jasad parasitik, bakteri, jamur dan virus sedangkan penyakit non infeksi adalah penyakit yang tidak menular. Penyakit yang sangat berbahaya dan ditakutkan oleh kalangan pembudidaya yaitu penyakit infeksi karena akan sangat cepat menyerang/menginfeksi ikan dalam suatu populasi sehingga akan menurunkan produksi. Tentunya hal ini akan menimbulkan kerugian yang cukup besar di kalangan pembudidaya (Afrianto, 1992).

Dengan adanya beberapa permasalahan tersebut, sekiranya sangat penting dilakukan pengkajian terhadap penyakit ikan agar kedepannya bisa diketahui solusi dan upaya yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. 1. 2. Tujuan dan manfaat Tujuan dan manfaat dari praktikum Identifikasi Ektoparasit Dan

Endoparasit adalah mendiagnosa jenis-jenis parasit yang menginfeksi ikan serta organ-organ yang terinfeksi. Tujuan dan manfaat dari praktikum teknik pengawetan spesimen parasit ikan adalah mempelajari teknik pengawetan spesimen parasit dan pembuatan preparat permanen untuk tujuan identifikasi. Tujuan dan manfaat dari praktikum siklus hidup digenea adalah untuk mempraktekkan salah satu fase dalam siklus hidup parasit digenea. Tujuan dan manfaat dari praktikum pengamatan terhadap ikan yang keracunan bahan polutan adalah melihat gejala klinis pada ikan yang disebabkan oleh adanya bahan polutan diperairan. Tujuan dari praktikum pengamatan bakteri adalah agar mahasiswa dapat mengenal bentuk-bentuk bakteri , setelah melakukan pewarnaan gram. Tujuan dan manfaat dari praktikum pewarnaan dan pembuatan preparat parasit darah adalah untuk mempraktekkan cara pembuatan sampel darah dan pewarnaan parasit pada darah terutama golongan flagellata.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Parasit adalah hewan atau tumbuh-tumbuhan yang ber`ada pada tubuh, insang, maupun lendir inangnya dan mengambil manfaat dari inang tersebut. Dengan kata lain parasit hidup dari pengorbanan inangnya. Parasit dapat berupa udang renik, protozoa, cacing, bakteri, virus, dan jamur. Manfaat yang diambil parasit terutama adalah zat makanan dari inangnya (Sachlan, 1952). Berdasarkan letak penyerangannya parasit dapat dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama disebut ektoparasit yaitu parasit yang menempel pada bagian luar tubuh ikan dan kelompok kedua adalah endoparasit yaitu parasit yang berada dalam tubuh ikan (Heckmann, 2003). Menurut Walker (2005) parasit dapat dibagi menjadi dua yaitu ektoparasit dan endoparasit. Ektoparasit adalah parasit yang hidup diluar tubuh inang atau di dalam liang-liang kulit yang mempunyai hubungan dengan luar kulit sedangkan endoparasit adalah parasit yang hidup dibagian dalam tubuh ikan seperti hati, limpa otak dan dalam sistem pencernaan, sirkulasi darah, pernapasan, dalam rongga perut, daging, otot dan jaringan tubuh lainnya. Adapun tanda-tanda dari ikan yang telah terkena serangan penyakit atau parasit adalah ikan terlihat pasif, lemah dan kehilangan keseimbangan, nafsu makan mulai berkurang, malas berenang dan cenderung mengapung di permukaan air, adakalanya ikan bergerak secara cepat dan tiba-tiba, selaput lendimya berangsur-angsur berkurang atau habis. sehingga tubuh ikan tidak licin lagi (kesat), pada permukaan tubuh ikan terjadi pendarahan, terutama dibagian dada, perut atau pangkal ekor, di beberapa bagian tubuh ikan, sisiknya tampak rusak

bahkan terlepas. Sering pula terlihat kulit ikan mengelupas, sirip dada, punggung maupun ekor sering di jumpai rusak dan pecah-pecah, pada serangan yang lebih hebat kadang-kadang hanya tinggal jari-jari siripnya saja, insang terjadi rusak sehingga ikan sulit untuk bernafas, warna insang menjadi keputih-putihan atau kebiru-biruan, dan bagian isi perutnya terutama hati, berwarna kekuning-kuningan dan ususnya menjadi rapuh (Takashima dan Hibiya, 1995). Menurut Supriyadi dan Taufik (1983) Berdasarkan daerah penyebaran, penyakit atau parasit ikan dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu: 1. Penyakit atau parasit pada kulit. Penyakit atau parasit ini menyerang bagian kulit ikan sehingga dengan mudah dapat dideteksi. Apabila organisme penyebabnya berukuran cukup besar, maka dengan mudah dapat langsung diidentifikasi. Akan tetapi bila berukuran kecil harus di identifikasi dengan mempergunakan sebuah mikroskop atau dengan mengamati akibat yang timbulkan oleh serangan organisme-organisme tersebut. Biasanya ikan yang terserang akan terlihat menjadi pucat dan timbul lendir secara berlebihan. Organisme yang menyerang bagian kulit dapat berasal dari golongan bakteri, virus, jamur atau lainnya. Bila disebabkan oleh jamur, maka akan terlihat bercakbercak berwama putih, kelabu atau kehitam-hitaman pada kulit ikan. Ikan yang mengalami serangan penyakit atau parasit pada kulitnya, biasanya akan menggosok-gosokkan badannya kebenda-benda disekelilingnya sehingga sering kali menimbulkan luka baru yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi sekunder. 2. Penyakit atau parasit pada insang. Penyakit atau parasit yang menyerang organ insang agak sulit untuk dideteksi secara dini karena menyerang bagian

dalam ikan. Salah satu cara yang dianggap cukup efektif untuk mengetahui adanya serangan penyakit atau parasit pada insang adalah mengamati pola tingkah laku ikan. Ciri utama ikan yang terserang organ insangnya adalah menjadi sulit untuk bernafas. Selain itu, tutup insang akan mengembang sehingga sulit untuk ditutup dengan sempurna. Jika serangannya sudah meluas, lembaran-lembaran insang menjadi semakin pucat. Sering pula dijumpai adanya bintik-bintik merah pada insang yang menandakan telah terjadi pendarahan (peradangan). Jika terlihat bintik putih pada insang, kemungkinan besar di sebabkan oleh serangan parasit kecil yang menempel. 3. Penyakit atau parasit pada organ dalam. Ciri utama ikan yang terkena serangan penyakit atau parasit pada organ (alat-alat) dalamnya adalah terjadi

pembengkakan di bagian perut disertai dengan berdirinya sisik. Akan tetapi dapat terjadi pula bahwa ikan yang terserang organ dalamnya memiliki perut yang sangat kurus. Jika pada kotoran ikan sudah dijumpai bercak darah, ini berarti pad usus terjadi pendarahan (peradangan). Jika serangannya sudah mencapai gelembung renang biasanya keseimbangan badan ikan menjadi terganggu sehingga gerakan berenangnya jungkir balik tidak terkontrol. Salah satu kendala bagi ikan air tawar adalah adanya penyakit ikan yang dapat disebabkan oleh penyebab infektif (parasit, jamur, bakteri, virus) maupun non infektif (kualitas air, kandungan gizi pakan, genetik dan lain-lain). Penyakit tersebut dapat dikendalikan melalui tindakan preventif (pencegahan) maupun kuratif (pengobatan) dengan harapan didapatkan ikan yang sehat sehingga menunjang keberhasilan budidaya ikan. Secara umum tindakan preventif terhadap penyakit dapat dilakukan dengan cara melakukan pengolahan budidaya ikan

secara baik, seperti melakukan persiapan kolam dengan baik dan tepat yaitu pengeringan kolam, pengapuran dan pemupukan, melakukan pencucian akuarium atau bak yang akan dipakai dengan menggunakan desinfektan, padat penebaran optimal, melakukan penanganan ikan secara baik pada saat penebaran maupun panen sehingga tidak menimbulkan luka yang dapat menyebabkan infeksi, pencegah agar tidak terjadi kontak langsung antara ikan sakit dan sehat dengan cara mengisolasi ikan yang terserang penyakit, pencegah penularan yang dapat terjadi melalui peralatan yang dipakai, wadah maupun air media pemeliharaan, menjaga agar kualitas air media tetap pada kondisi optimal, dan menjaga kualitas pakan agar tetap baik dan cukup dalam jumlah pakan yang diberikan (Sarig, 1971). Family Dactylogyridae tidak kurang dari 7 Genus dan lebih dari 150 Spesies yang termasuk di dalamnya baik pada air tawar maupun air laut. Orgnisme ini panjangnya berukuran tidak lebih dari 2 mm. dan yang paling sering ditemukan berukuran antara 0.2 0.5 mm. Memiliki 7 pasang jangkar ditepi dan biasanya sepasang jangkar paling tengah pada opishaptor. Kadang-kadang pada beberapa spesies memiliki 2 pasang. Dactylogyrus memiliki 2 hingga 4 titik pigmen (mata). Ovarinya berbentuk bulat oval, dan testisnya sepasang. Semua Dactylogyrus adalah ovipar tanpa uterus hanya struktur ootype pada waktunya berisi satu telur. Genus yang biasanya ditemukan pada ikan adalah spesies Dactylogyrus, spesies ini kadang-kadang ditemukan sebagai penyerang insang karena paling sering ditemukan pada insang di inangnya (Walker, 2005). Dactylogyrus sendiri adalah hewan yang kedalam golongan cacingcacingan. Berukuran sangat kecil dan tidak bisa dilihat dengan kasat mata, tetapi

hanya bisa dilihat lewah mikroskop. Dalam tubuh ikan, hewan ini digolongkan sebagai parasit. Artinya hewan yang mengambil makanan untuk hidupnya dari hewan yang ditumpanginya. Keadaan itu menimbulkan kerusakan (Heckmann, 2003). Dactylogyrus sp. merupakan parasit yang menyerang ikan air tawar dan ikan air laut. Parasit ini juga merupakan parasit yang sering menyerang ikan carp. Hidup di insang. Insang yang terserang parasit ini berubah warnanya menjadi pucat dan keputih-putihan dan memproduksi lendir yang berlebih, tentunya ini akan mengganggu pertukaran gas oleh insang. Parasit yang matang melekat pada insang dan bertelur disana. Distribusinya luas, memiliki siklus hidup langsung dan merupakan parasit eksternal pada insang, sirip, dan rongga mulut. Intensitas reproduksi dan infeksi memuncak pada musim panas (Gusrina, 2008). Sukadi (2004) mengemukakan bahwa ikan yang terserang Dactylogyrus sp biasanya akan menjadi kurus, berenang menyentak-nyentak, tutup insang tidak dapat menutupi dengan sempurna karena insangnya rusak, dan kulit ikan kelihatan tak bening lagi selanjutnya Gusrina, (2008), mengemukakan gejala infeksi Dactylogyrus sp pada ikan antara lain : pernafasan ikan meningkat, produksi lendir berlebih, Insang yang terserang berubah warnanya menjadi pucat dan keputih-putihan. Penyerangan parasit Dactylogylus sp. ini dimulai dengan cacing dewasa menempel pada insang atau bagian tubuh lainnya. Setelah matang gonad, telurnya akan jatuh ke perairan. Dalam 23 hari dengan suhu 2428 O C, telur yang jatuh akan menjadi larva infektif kemudian membentuk dua tonjolan di bagian anterior. Pecahnya telur tersebut terjadi akibat adanya tekanan dari dalam dorongan

perkembangan larva. Kemudian larva akan keluar dan berenang bebas mencari inang untuk tumbuh menjadi dewasa. Namun apabila pada suhu 2028OC larva Dactylogyrus sp. tidak bisa menemukan inangnya, ia tetap bisa bertahan sampai 12 jam karena telur Dactylogyrus sp. termasuk salah satu telur yang sangat resisten terhadap lingkungan. Pada suhu 23OC telur akan menetas dalam 2,5 4 hari dan pada suhu 13 14OC larva akan menjadi dewasa dalam 4,5 minggu (Sachlan, 1952). Sebagai langkah pencegahan parasit ini adalah dengan memberi pakan yang bergizi tinggi. kepadatan dikurangi, dan sirkulasi air harus berjalan lancar, untuk ikan yang terlanjur sakit bisa diobati dengan larutan formalin 100-200 ppm, sedangkan untuk ikan yang sudah terlanjur parah sebaiknya disingkirkan dan dibakar agar tidak menulari ikan lain yang sehat (Sukadi, 2004). Trichodina sp merupakan ektoparasit yang menyerang/menginfeksi kulit dan insang, biasanya menginfeksi semua jenis ikan air tawar. Populasi Trichodina sp di air meningkat pada saat peralihan musim, dari musim panas ke musim dingin. Berkembang biak dengan cara pembelahan yang berlangsung di tubuh inang, mudah berenang secara bebas, dapat melepaskan diri dari inang dan mampu hidup lebih dari dua hari tanpa inang Parasit ini merupakan protozoa dari golongan ciliata berukuran 50m berbentuk bundar dengan sisi lateral berbentuk lonceng, memiliki cincin dentikel sebagai alat penempel dan memiliki silia di sekeliling tubuhnya (Afrianto, 1992). Bakteri merupakan mikrobia prokariotik uniselular, termasuk klas Schizomycetes, berkembang biak secara aseksual dengan pembelahan sel. Bakteri tidak berklorofil kecuali beberapa yang bersifat fotosintetik. Cara hidup bakteri

ada yang dapat hidup bebas, parasitik, saprofitik, patogen pada manusia, hewan dan tumbuhan. Habitatnya tersebar luas di alam, dalam tanah, atmosfer (sampai + 10 km diatas bumi), di dalam lumpur, dan di laut (Supriyadi, 1986). Supriyadi (1986) menambahkan Bakteri mempunyai bentuk dasar bulat, batang, dan lengkung. Bentuk bakteri juga dapat dipengaruhi oleh umur dan syarat pertumbuhan tertentu. Bakteri dapat mengalami involusi, yaitu perubahan bentuk yang disebabkan faktor makanan, suhu, dan lingkungan yang kurang menguntungkan bagi bakteri. Selain itu dapat mengalami pleomorfi, yaitu bentuk yang bermacam-macam dan teratur walaupun ditumbuhkan pada syarat pertumbuhan yang sesuai. Umumnya bakteri berukuran 0,5-10 . Polusi atau pencemaran adalah keadaan dimana suatu lingkungan sudah tidak alami lagi karena telah tercemar oleh polutan. Misalnya air sungai yang tidak tercemar airnya masih murni dan alami, tidak ada zat-zat kimia yang berbahaya, sedangkan air sungai yang telah tercemar oleh detergen misalnya, mengandung zat kimia yang berbahaya, baik bagi organisme yang hidup di sungai tersebut maupun bagi makhluk hidup lain yang tinggal di sekitar sungai tersebut (Adit, 2010). Polutan adalah zat atau substansi yang mencemari lingkungan. Air limbah detergen termasuk polutan karena didalamnya terdapat zat yang disebut ABS. Jenis deterjen yang banyak digunakan di rumah tangga sebagai bahan pencuci pakaian adalah deterjen anti noda. Deterjen jenis ini mengandung ABS (alkyl benzene sulphonate) yang merupakan deterjen tergolong keras. Deterjen tersebut sukar dirusak oleh mikroorganisme (nonbiodegradable) sehingga dapat

menimbulkan pencemaran lingkungan (Karmana, 2007).

10

Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Danau, sungai, lautan dan air tanah adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Selain mengalirkan air juga mengalirkan sedimen dan polutan. Berbagai macam fungsinya sangat membantu kehidupan manusia. Pemanfaatan terbesar danau, sungai, lautan dan air tanah adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya berpotensi sebagai objek wisata (Arif, 2011). Polusi atau pencemaran adalah keadaan dimana suatu lingkungan sudah tidak alami lagi karena telah tercemar oleh polutan. Misalnya air sungai yang tidak tercemar airnya masih murni dan alami, tidak ada zat-zat kimia yang berbahaya, sedangkan air sungai yang telah tercemar oleh detergen misalnya, mengandung zat kimia yang berbahaya, baik bagi organisme yang hidup di sungai tersebut maupun bagi makhluk hidup lain yang tinggal di sekitar sungai tersebut.Polutan adalah zat atau substansi yang mencemari lingkungan. Lingkungan perairan yang tercemar limbah deterjen kategori keras dalam konsentrasi tinggi akan mengancam dan membahayakan kehidupan biota air dan manusia yang mengkonsumsi biota tersebut.Selain itu banyak dari kita yang belum tahu bahaya atau dampak yang ditimbulkan dari bahan-bahan kimia yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari (Matsjeh, 1996). Detergen adalah pembersih sintetis campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Yaitu senyawa kimia bernama alkyl benzene sulfonat (ABS) yang

11

direaksikan dengan natrium hidroksida (NaOH). Dibanding dengan sabun, detergen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air. Akan tetapi sabun lebih mudah diurai oleh mikroorganisme (Adit, 2010).

12

III. BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan tempat Praktikum Parasit dan Penyakit Ikan ini dilaksanakan pada hari senin mulai tanggal 22 Oktober, 29 Oktober, 5 november, 12 November, 19 November, 26 November, dan 3 Desember 2012 pukul 15.00 17.00 WIB. Yang bertempat di Laboratorium Parasit Dan Penyakit Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. 3.2. Alat Dan Bahan 3.2.1. Metode dasar dalam identifikasi ektoparasit dan endoparasit Adapun bahan yang digunakan yaitu ikan Nila (Oreochromis niloticus), ikan Pantau (Rasbora bornensis), dan ikan Sepat siam yang masih hidup berukuran kecil, sedangkan alat yang digunakan yaitu mikroskop, gunting bedah, pinset, slide glass, mistar ukur, cover glass dan alat tulis. 3.2.2. Teknik pengawetan spesimen parasit Adapun bahan yang digunakan yaitu ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang masih hidup berukuran besar, aquades, dan safranin. Sedangkan alat yang digunakan yaitu petri disk, slide glass, pipet tetes, cover glass dan alat tulis. 3.2.3. Pengamatan terhadap ikan yang keracunan bahan polutan Adapun bahan yang digunakan yaitu ikan Mas (Cyprinus carpio) ukuran 5-10 cm, deterjen bubuk, bayclin dan randup. Sedangkan alat yang digunakan yaitu wadah stoples volume 5-10 liter, stopwatch, gunting bedah, pinset dan alat tulis.

13

3.2.4. Pengamatan terhadap bakteri Adapun bahan yang digunakan yaitu Aeromonas sp, aquades, alcohol absolute, minyak emersi, kristal violet, lugol dan safranin. Sedangkan alat yang digunakan yaitu jarum ase, kaca objek, mikroskop, lampu bunsen, pipet tetes. 3.2.5. Pewarnaan dan pembuatan preparat parasit darah Adapun bahan yang digunakan yaitu ikan lele (Clarias gariepinus) yang masih hidup berukuran besar, larutan natrium citrate 3,8%, alkohol absolute dan larutan giemsa. Sedangkan alat yang digunakan yaitu jarum suntik, slide glass, cover glass dan alat tulis. 3.2.6. Pengamatan terhadap siklus digenea Adapun bahan yang digunakan yaitu siput, aquades. Sedangkan alat yang digunakan yaitu lampu, slide glass, cover glass, cawan petri, dan pipet paestur. 3.3. Metode Praktikum Metode yang dipergunakan pada praktikum ini adalah metode langsung dimana objek diteliti dan diamati secara langsung oleh praktikan. 3.4. Prosedur Pratikum 3.4.1. Metode dasar dalam identifikasi ektoparasit dan endoparasit 1. Ikan yang sakit dimasukkan kedalam wadah 2. Ambil satu ekor ikan dan ambil lendir dibagian sisik ikan kemudian letakkan di diatas slide glass dan amati dibawah mikroskop 3. Kemudian ambil insangnya dan letakkan diatas slide glass dan amati jenis bakterinya dibawah mikroskop 4. Bedah ikan tersebut dan ambil ginjalnya kemudian amati dibawah mikroskop

14

5. Gambar jenis-jenis parasit yang didapat dalam kertas gambar 3.4.2. Pengawetan spesimen parasit 1. Ikan diambil dari tempatnya lalu diambil lendirnya dari bagian atas kebawah 2. Liat diabgian insang sisik dan daerah luar ikan dan amati dibawah mikroskop 3. Bedah ikannya dan liat dibagian ususnya 4. Lalu amati dan gambar parasit apa yang didapatkan 3.4.3. Pengamatan siklus hidup digenea 1. Ambil siput dari lokasi-lokasi peternakan ikan 2. Pindahkan beberapa siput pada cawan petri, lalu dipenuhi dengan air 3. Tutup cawan petri tanpa ada gelembung udara. Jika terbentuk gelembung udara, ulangi lagi mengisi cawan petri dengan aquades 4. Sinari cawan petri yang berisi siput tersebut dengan cahaya atau lampu kuat. 5. Amati cercaria yang dikeluarkan dari siput, lalu pindahkan pada slide glass tutup dengan cover glass 6. Amati dibawah mikroskop majemuk dan gambar larva cercaria tersebut 3.4.4. Pengamatan terhadap ikan yang keracunan bahan polutan 1. Siapkan wadah kemudian isi wadah dengan air 2. Larutkan bahan pencemar, aduk sampai homogen 3. Masukkan ikan 4. Amati tingkah laku ikan,mucus dan bukaan mulutnya selama lebih kurang 30 menit

15

5. Ikan yang sudah mati kemudian dibedah dan diamati warna jantung, insang, hati dan ginjalnya 6. Catat di kertas gambar hasil yang diperoleh 3.4.5. Pengamatan terhadap bakteri 1. Ambil satu kolom bakteri dengan jarum ose, letakkan diatas kaca objek, teteskan sedikit akuades lalu buat preparat ulas, kemudian kering anginkan selanjutnya dilewatkan diatas api lampu bunsen 3 kali, tujuan untuk fiksasi 2. Genangi dengan zat warna kristal violet 1-2 menit 3. Buang kelebihan warna dengan cara memberi larutan lugol selama 1 menit 4. Cuci dengan alkohol absolute beberapa detik, bilas dengan air kran mengalir 5. Genangi dengan safranin selama 2-3 menit lalu cuci dengan air kran mengalir 6. Amati dibawah mikroskop dengan pembesaran 10 100 (teteskan minyak emersi ke preparat) 7. Gambar bentuk-bentuk bakteri dan apa warnanya 3.4.6. Pewarnaan dan pembuatan preparat parasit darah 1. Ambil darah dari ikan lele dengan menggunakan jarum suntik. Penggumpalan darah dapat dihindari dengan menggunakan larutan natrium citrate 3,8% atau heparin 2. Letakkan setetes darah pada salah satu ujung slide glass yang tidak berminyak

16

3. Tempelkan salah satu ujung slide glass yang lain pada slide glass yang mengandung darah, lalu geser kearah menjauhi darah untuk menciptakan lapisan tipis darah 4. Biarkan kering udara lapisan spesimen darah tersebut 5. Warnai dengan larutan giemsa dan biarkan kering 6. Amati dan gambar parasit darah dibawah mikroskop

17

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Identifikasi Ektoparasit dan Endoparasit Ikan yang digunakan sebagai ikan sampel adalah ikan nila (Oreochromis niloticus) dan ikan pantau (Rasbora bornensis). Untuk ukuran ikan nila adalah TL 205 mm, BdH 70 mm, dan SL adalah 175 mm. Sementara ikan pantau TL 50 mm, SL 45 mm, BdH 10 mm, dan HdL 7 mm. Dari praktikum yang dilakukan di dapatkan beberapa ektoparasit antara lain adalah Dactylogirus sp. yang menyerang insang ikan, lalu terdapat jenis cacing yang juga menyerang insang, namun belum diketahui jenisnya.

Gambar 1. Dactylogirus sp.

Gambar 2. Cacing yang belum diketahui spesiesnya Selanjutnya pada bagian tubuh (integumen) pada sisik ditemukan parasit dari golongan Trichodina sp.

18

Gambar 3. Trichodina sp. Untuk parasit golongan endoparasit tidak dapat ditemukan dari ikan uji berupa ikan pantau dan ikan nila di karenakan waktu yang tidak memadai dan pengamatan yang terbatas. 4.1.2 Siklus Hidup Digenia Dari pengamatan yang dilakukan di dapatkan hasil cercaria dari keong mas 1 jenis yang tidak teridentifikasi.

Gambar 4. Cercaria pada siput Cercaria merupakan fase setealah redia dan sporocyst, yang selanjutnya cercaria akan keluar dari inang ke perairan bebas dan mencari inang baru. 4.1.3 Teknik Pengawetan Spesimen Parasit pada Ikan Ikan uji adalah ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan hasil pengukuran morfometrik sebagai berikut TL 170 mm dan BdH 60 mm. Dari hasil pengamatan didapatkan 2 jenis ektoparasit, yang pertama adalah Apiosoma blanchard pada sisik ikan nila (Oreochromis niloticus).

19

Gambar 5. Apiosoma blanchard Dan 1 jenis lagi ektoparasit yang di dapat pada insang ikan nila, yaitu Dactylogirus sp.

Gambar 6. Dactylogirus sp. 4.1.4 Pengamatan Terhadap Ikan yang Keracunan Bahan Polutan Dari pengamatan yang dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut : Tabel 1. Hasil pengamatan terhadap ikan yang terkena polutan Kondisi Jantung, Bukaan Tabel Kontrol Kontrol 10 menit pertama 10 menit kedua 10 menit ketiga Bayclin 10 menit pertama Normal, aktif Normal, aktif Normal aktif Mulai 814/10 menit 1563/ 10 menit 1231/10 menit Pergerakan Operculum Lendir Jantung merah pucat, hati insang merah pucat, cerah, lendir Hati, Insang, dan

tidak terlalu banyak Jantung pucat, hati merah pucat, insang

loncat- 1123/10 menit

20

lobcat pada menit ke 6, lendir

pucat,

dan

banyak

mengeluarkan lendir

meningkat. Pada menit 8 ikan tidak mampu membalikkan tubuh 10 menit kedua Ikan diam di 600/10 menit

dasar perairan 10 menit ketiga Ikan diam didasar 140/10 menit periran, bergerak Deterjen 10 menit pertama Ikan lemas, 710/ menit Jantung pucat, pucat, insang hati pucat, tidak

pergerakan sedikit 10 menit kedua Kejang-kejang, berenang beraturan, akhirnya banyak diam tidak dan lebih 200/10 menit

lendir banyak

10 menit ketiga Round up 10 menit pertama

Ikan bergerak lagi

tidak 111/10 menit Jantung pucat, insang hati merah

Pergerakan

1089/10 menit

pucat,

21

agresif dan tidak menentu, stress 10 menit kedua Pergerakan melemah 10 menit ketiga Ikan lemah kemudian semakin 567/10 menit dan tidak 727/10 menit ikan

pucat,

dan

cukup

banyak lendir

bergerak Dari pengamatan yang dilakukan di dapatkan bahwa ikan yang di letakkan pada wadah berisi larutan bayclin paling cepat mati dibanding ikan pada wadah lainnya. 4.1.5 Pengamatan Bakteri Dari hasil yang di amati di dapatkan gambar pengamatan dengan mikroskop sebagai berikut:

Gambar 7. Bakteri yang diamati dibawah mikroskop

4.1.6 Pewarnaan dan pembuatan Preparat Parasit Darah Dari hasil praktikum yang dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut:

22

Gambar 8. Penampakan eritrosit dan leukosit melalui mikroskop

Gambar 9. Penampakan trombosit, monosit, dan basofil Jumlah Eritrosit = n x 104 sel/ml = 473 x 104 sel/ml = 4.730.000 sel/ml Jumlah Leukosit = n x 500 sel/ml = 974 x 500 sel/ml

23

= 487.000 sel/ml Dari hasil ini berarti jumlah leukosit melebihi batas normal yaitu 200.000-300.000 sel/ml. Artinya terjadi keabnormalan pada jumlah leukosit, hal ini dimungkinkan karena ikan mengalami sakit atau terserang parasit sehingga produksi leukosit meningkat.

Gambar 10. Penampakan granulosit basofil 4.2. Pembahasan Dactylogyrus sp mempunyai ophistapor (posterior suvker) dengan 1 2 pasang kait besar dan 14 kait marginal yang terdapat pada bagian posterior. Kepala memiliki 4 lobe dengan dua pasang mata yang terletak di daerah pharynx. Dactylogyrus merupakan ektoparasit cacing yang ditemukan menyerang insang ikan dan jarang ditemukan pada permukaan tubuh ikan. Ikan yang terinfeksi tampak stress, berenang terus menerus, berkumpul di dekat pintu pemasukan air. Insang berwarna pucat, ditutup oleh lendir, dan sering berbentuk seperti mozaik. Pada titik dimana jangkar cacing mencengkeram, terlihat adanya

24

kerusakan epithelium dan terganggunya jaringan. Rusaknya epithelium ditambah dengan produksi lendir yang berlebihan, akan mengganggu pertukaran gas oksigen. Akibatnya sel-selnya akan mati dan tidak berfungsi. Akibatnya ikan akan mati dan tidak berfungsi. Akibatnya ikan akan mati karena tidak dapat bernafas dengan baik. Parasit cacing ini termasuk parasit penting, karena secara nyata dapat merusak filament insang, dan relatif lebih sulit dikendalikan (Walker, 2005). Efek patologi dari parasit Dactylogyrus sp adalah kerusakan yang sangat parah pada insang yaitu: pendempetan antara lamella sekunder (fusion), pembengkakan pada ujung lamella sekunder (distal hyperflasia), pembengkakan pada pangkal lamella sekunder (basal hyperflasia), dan terjadinya produksi lendir/mucus yang berlebihan. Menurut Takhasima dan Hibiya (1995), apabila terjadi kelebihan sel mucus pada lamella primer dan fusion (pendempetan lamella) dan hyperflasia pada lamnella sekunder maka ini merupakan tanda kerusakan yang sudah parah akibat parasit, bakteri, atau kerusakan akibat zat kimia. Penyerangan dimulai dengan cacing dewasa menempel pada insang atau bagian tubuh lainnya. Setelah matang gonad, telurnya akan jatuh ke perairan. Dalam 2 3 hari dengan suhu 24 28
O

C, telur yang jatuh akan menjadi larva

infektif kemudian membentuk dua tonjolan di bagian anterior. Pecahnya tersebut terjadi akibat adanya tekanan dari dalam dorongan perkembangan larva. Kemudian larva akan keluar dan berenang bebas mencari inang untuk tumbuh menjadi dewasa. Bila dalam 10 jam tidak menemukan inang yang cocok, maka larva tersebut akan mati. Pada suhu 20 28
O

C larva Dactylogyrus sp. Yang tidak menemukan

inang hanya bisa bertahan 12 jam. Telur Dactylogyrus sp. Sangat resisten

25

terhadap lingkungan. Pada suhu 23

C telur akan menetas dalam 2,5 4 hari.

Pada suhu 13 14 O C larva akan menjadi dewasa dalam 4,5 minggu. Trichodina sp. menginfeksi dengan cara menempel di lapisan epitel ikan dengan bantuan ujung membran yang tajam. Setelah menempel, parasit segera berputar-putar sehingga merusak sel-sel di sekitar tempat penempelannya, memakan sel-sel epitel yang hancur dan mengakibatkan iritasi yang serius. Pada lingkungan dengan populasi parasit yang cukup tinggi, umumnya apabila kadar bahan organik cukup tinggi, kondisi ini menjadi lebih berbahaya (Sachlan, 1952). Ikan yang terserang parasit Trichodina sp., akan menjadi lemah dengan warna tubuh yang kusam dan pucat (tidak cerah), produksi lendir yang berlebihan dan nafsu makan ikan turun sehingga ikan menjadi kurus, gerakan lamban, sering menggosok-gosokkan tubuhnya pada dinding kolam, iritasi, tubuh ikan tampak mengkilat karena produksi lendir yang bertambah dan pada benih ikan sering mengakibatkan sirip rusak atau rontok (Fujaya, 1999). Beberapa penelitian membuktikan bahwa ektoparasit Trichodina sp., mempunyai peranan yang sangat penting terhadap penurunan daya tahan tubuh ikan dengan rendahnya sistem kekebalan tubuh maka akan terjadinya infeksi sekunder. Kematian umumnya terjadi karena ikan memproduksi lendir secara berlebihan dan akhirnya kelelahan atau bisa juga terjadi akibat terganggunya sistem pertukaran oksigen, karena dinding lamela insang dipenuhi oleh lendir (Supriyadi dan Taufik, 1983). Air yang tercemari detergen dapat mengancam kehidupan organisme yang hidup di dalamnya, salah satunya adalah ikan. Selain ikan masih banyak organisme lain, seperti fitoplankton, zooplankton/protozoa, cyanobacteria, dan

26

lain-lain. Jika organisme-organisme seperti fitoplankton mati, maka zooplankton akan mati karena tidak ada makanan, ikan-ikan pun akan mati karena zooplankton yang biasa dimakan tidak ada. Dengan kata lain detergen dan polutan lainnya yang mencemari air dapat memusnahkan seluruh organisme yang hidup di dalamnya (Adit, 2010). Besar tidaknya pengaruh detergen dan polutan lainnya pada ikan dan makhluk hidup lain tergantung pada konsentrasi polutan tersebut. Semakin tinggi konsentrasi polutan, semakin besar pengaruhnya. Eritrosit merupakan tipe sel darah yang jumlahnya paling banyak dalam darah. Sebagian besar vertebrata mempunyai eritrosit berbentuk lonjong dan berinti kecuali mamalia (Susanto, 2004). Eritrosit berbentuk elips, pipih dan bernukleus yang berisi pigmen-pigmen pernafasan yang berwarna kuning hingga merah, yang disebut haemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen (Darmadi, 2005). Eritrosit normal 5 juta-6 juta sel/cc. Jumlah eritrosit sangat bervariasi antara individu yang satu dengan yang lainnya. Jumlah eritrosit diperbanyak apabila terjadi perubahan dan atau pada waktu berada di daerah tinggi dengan tujuan menormalkan pengangkutan O2 ke jaringan (Kusumawati, 2004). Jumlah eritrosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, kondisi tubuh, variasi harian, dan keadaan stress. Banyaknya jumlah eritrosit juga disebabkan oleh ukuran sel darah itu sendiri (Nelson, 2001). Leukosit dalam darah jumlahnya lebih sedikit daripada eritrosit dengan rasio 1 : 700 (Fujaya, 2004). Leukosit adalah bagian dari sel darah yang berinti, disebut juga sel darah putih. Di dalam darah normal didapati jumlah leukosit ratarata 4000- 11.000 sel/cc. Jika jumlahnya lebih dari 11000 sel/mm3 maka keadaan

27

ini disebut leukositosis dan bila jumlah kurang dari 4000 sel/mm3 maka disebut leucopenia. Fluktuasi jumlah leukosit pada tiap individu cukup besar pada kondisi tertentu seperti stres, umur, aktifitas fisiologis dan lainnya. Leukosit berperan penting dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap benda-benda asing. Jumlah leukosit lebih banyak diproduksi jika kondisi tubuh sedang sakit apabila dalam sirkulasi darah jumlah leukositnya lebih sedikit dibanding dengan eritrositnya (Poedjiani dan Suryati, 2005). Susanto (2004) menyatakan bahwa, sel darah putih berperan dalam melawan infeksi.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

Penyakit adalah terganggunya kesehatan ikan yang diakibatkan oleh berbagai sebab yang dapat mematikan ikan. Secara garis besar penyakit yang

28

menyerang ikan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu penyakit infeksi (penyakit menular) dan non infeksi (penyakit tidak menular). Penyakit menular adalah penyakit yang timbul disebabkan oleh masuknya makhluk lain kedalam tubuh ikan, baik pada bagian tubuh dalam maupun bagian tubuh luar. Makhluk tersebut antara lain adalah virus, bakteri, jamur dan parasit. Penyakit tidak menular adalah penyakit yang disebabkan antar lain oleh keracunan makanan, kekurangan makanan atau kelebihan makanan dan mutu air yang buruk. Penyakit dapat diartikan sebagai organisme yang hidup dan berkembang di dalam tubuh ikan sehingga organ tubuh ikan terganggu. Jika salah satu atau sebagian organ tubuh terganggu, akan terganggu pula seluruh jaringan tubuh ikan . Pada prinsipnya penyakit yang menyerang ikan tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses hubungan antara tiga faktor, yaitu kondisi lingkungan (kondisi di dalam air), kondisi inang (ikan) dan kondisi jasad patogen (agen penyakit). Dari ketiga hubungan faktor tersebut dapat mengakibatkan ikan sakit. Sumber penyakit atau agen penyakit itu antara lain adalah parasit, cendawan atau jamur, bakteri dan virus. Di lingkungan alam, ikan dapat diserang berbagai macam penyakit. Demikian juga dalam pembudidayaannya, bahkan penyakit tersebut dapat menyerang ikan dalam jumlah besar dan dapat menyebabkan kematian ikan, sehingga kerugian yang ditimbulkannya pun sangat besar. Penyebaran penyakit ikan di dalam wadah budidaya sangat bergantung pada jenis sumber penyakitnya, kekuatan ikan (daya tahan tubuh ikan) dan kekebalan ikan itu sendiri terhadap serangan penyakit. Selain itu cara penyebaran penyakit itu biasanya terjadi

29

melalui air sebagai media tempat hidup ikan, kontak langsung antara ikan yang satu dengan ikan yang lainnya dan adanya inang perantara. Jumlah kisaran ikan dalam keadaan normal adalah untuk sel darah merah adalah 20.000-3.000.000 sel/ml, sedangkan sel darah putih sekitar 20.000-150.000 sel/ml. Dari hasil pengamatan dan perhitungan didapatkan bahwa ikan lele berada pada kisaran jumlah yang banyak untuk sel darahnya. Hal tersebut disebabkan karena adanya adaptasi fisiologi antara ikan lele dengan lingkungan tempat hidupnya, di lumpur. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuhnya pada kondisi lingkungan yang rendah kadar oksigen dan rentan akan serangan pada tubuhnya, maka ikan lele dilengkapi dengan jumlah sel darah yang tergolong banyak. 5.2. Saran Saran yang bisa diberikan untuk para praktikan adalah agar para praktikan benar-benar melakukan praktikum ini sesuai prosedur yang ada, sehingga hasil yang diperoleh bisa dipertanggung jawabkan. Karena ilmu yang bisa kita peroleh dari praktikum ini sangat banyak dan bermanfaat bagi kita kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

Adit 2010. Bahan Kimia Berbahaya dalam Kehidupan Sehari-Hari. From http://klikbelajar.com/pelajaran-sekolah/pelajaran-kimia/bahan-kimia-

30

berbahaya-dalam-kehdupan-sehari-hari/ . [diakses pada tanggal 07 Desember 2012]. Afrianto, E., 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius. Yogyakarta. Arif 2011. Kimia. http://k2oke.multiply.com/journal/item/43/Kimia . [diakses pada tanggal 07 Desember 2012]. Darmadi, Goenarso. 2005. Fisiologi Hewan. Penerbit Universitas Terbuka. Jakarta Fujaya, Y. 1999. Fisiologi Ikan. Jurusan Perikanan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Makassar Fujaya, Yusinta. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknologi Perikanan. PT Rineka Cipta, Jakarta. 179 hal. Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 3. Diakses Dari http://ftp.lipi.go.id/pub/Buku_Sekolah_Elektronik/SMK/Kelas %20XII/Kelas%20XII_smk_budidaya_ikan_gusrina.pdf. [ diakses pada tanggal 07 Desember 2012]. Heckmann, R. 2003. Other Ectoparasites Infesting Fish; Copepods, Branchiurans, Isopods, Mites and Bivalves, Aquaculture Magazine, USA. Karmana, Oman. 2007. Cerdas Belajar Biologi Kelas XI. Grafindo: Bandung. Kusumawati, Diah. 2004. Bersahabat Dengan Hewan Coba. Gadjah Mada Press.Yogyakarta. Matsjeh, Sabirin., dkk. 1996. Kimia Organik 2. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Nelson, J.S. 2001. Fisher Of The World. New York 524 p: John Wiley And Sons. Poedjiani, Anna dan Suryati, Titin. 2005. Dasar-Dasar Biokimia. UI-Press, Jakarta. Sachlan, M. 1952. Notes on parasites of freshwater fishes in Indonesia. Contrib. Inl. Fish.Res. Stat. No. 2. 1 - 60. Sarig, S. 1971. Diseases of Warmwater Fishes. TFH Publ., Neptune New Jersey. City,

Sukadi, F., 2004. Kebijakan pengendalian hama dan penyakit ikan dalam mendukung akselerasi pengembangan perikanan budidaya. Disampaikan pada Seminar Nasional Penyakit Ikan dan Udang IV di Univ. Jenderal Soedirman, Purwokerto.

31

Supriyadi, H. 1986. The susceptibility of various fish species to infection by the bacterium Aeromonas hydrophila. p. 241 - 242. In J.L. Maclean, L.B. Dizon and L.V. Hosillos (eds) The first Asian Fisheries Forum. Asian Fisheries Society, Manila, Philippines. Supriyadi, H. dan P. Taufik. 1983. Penelitian pendahuluan dengan cara vaksinasi. Bull. Pen. PD .4 (1): 34 -36. immunisasi ikan

Susanto, Heru. 2004. Budidaya Ikan di Perkarangan. Penebar Swadaya. Jakarta. 150 hal. Takashima, F dan Hibiya, T. 1995. Fish Histologi Normal and Parthological Features of Second Edition. Kadausha. Tokyo.Talunga, J. 2007. Tingkat Infeksi dan Patologi Parasit Monogenea (Cleiododiscus sp) pada Insang Benih Ikan Patin (Pangasius pangasius). Skripsi. Universitas Hasanuddin Walker, Peter. 2005. Problematic Parasites, Department of Animal Ecology and Ecophysiology Radboud University Nijmegen, Netherlands.

32

LAMPIRAN

Alat dan Bahan yang digunakan Selama praktikum

33

Ikan Sepat siam

Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Ikan Lele (Clarias Sp.)

Bayclin

Preparat Bakteri

Methanol

Safranin

Aquades

Giemsa

Oven

Mikroskop

Haemocytometer

34

Stopwatch

Nampan

Jarum suntik

Objek dan cover glass

Petri disk

Lampu Bunsen

Gunting bedah