Anda di halaman 1dari 9

1 I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang Secara ekonomis usaha budidaya ikan sangat menguntungkan dan juga sangat mendukung bagi pemenuhan gizi masyarakat. Sejalan dengan

meningkatnya kesadaran masyarakat akan manfaat ikan, maka tingkat kebutuhan akan daging ikan semakin meningkat. Usaha perikanan dinilai tetap prospektif di tengah krisis keuangan global saat ini. Sektor ini bahkan berpeluang mengurangi dampak krisis karena masih berpotensi dikembangkan dan menyerap tenaga kerja baru. Usaha budidaya ikan menyumbangkan pendapatan masyarakat dalam jumlah besar. Usaha ini juga prospektif di kembang karena potensi lahan, air, sumber daya manusia, dan jenis ikan melimpah di Indonesia (Hardjamulia, 1978) Budidaya merupakan suatu kegiatan dimana salah satu tujuannya yaitu untuk melestarikan suatu organisme atau makhluk hidup yang bernilai ekonomis dimana dilakukan dalam lingkup yang terkontrol. Dalam kegiatan budidaya tersebut, tentunya para pembudidaya harus benar benar mengelolah suatu usaha budidayanya dengan baik untuk kelangsungan hidup organisme yang

dibudidayakan, dalam hal ini terhadap para pembudidaya ikan. Reproduksi merupakan aspek biologis yang terkait mulai dari diferensiasi seksual hingga dihasilkan individu baru (Affandi dan Tang, 2002). Hal-hal yang perlu diketahui dalam proses reproduksi ciri reproduksi dan anatomi reproduksi. Pengetahuan tentang ciri reproduksi yaitu mengetahui tentang perubahan atau

2 tahapan-tahapan kematangan gonad untuk mengetahui perbandingan ikan-ikan yang akan atau tidak melakukan reproduksi. System reproduksi pada ikan terdiri atas alat-alat kelamin (organ genitalis) dan alat-alat pengeluaran (organ uropoetica/excretoria). Alat kelamin yang terdapat pada individu ikan disebut dengan gonat, gonad yang berada didalam tubuh ikan jantan disebut dengan testis sedangkan gonad yang berada didalam rongga tubuh ikan betina disebut ovary. Alat pengeluran pada terdiri atas mesonepros, ureter (ductus mesonephriducus) dan gelembung kencing (vesica urinaria). Huet (1971) mengatakan pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah keturunan, ketahanan tubuh terhadap penyakit dan kemampuan untuk memanfaatkan makanan, sedangkan faktor eksternal adalah kondisi lingkungan dan ketersediaan pakan bagi ikan. Pertumbuhan merupakan perubahan bentuk baik panjang maupun berat sesuai dengan perubahan waktu. Selanjutnya dijelaskan bahwa pertumbuhan dipengaruhi oleh makanan, ruang, suhu dan beberapa faktor lainnya 1.2. Tujuan dan Manfaat Tujuan dan manfaat dari pembuatan paper ini adalah agar mahasiswa mengetahui pengaruh pH terhadap reproduksi ikan.

3 II. TINJAUAN PUSTAKA

Keberhasilan suatu organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi mencerminkan keseluruhan toleransinya terhadap seluruh kumpulan variabel lingkungan yang dihadapi organisme tersebut. Artinya bahwa setiap organisme harus mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungannya. Adaptasi tersebut berupa respon morfologi, fisiologis dan tingkah laku. Pada lingkungan perairan, faktor fisik, kimiawi dan biologis berperan dalam pengaturan homeostatis yang diperlukan bagi pertumbuhan dan reproduksi biota perairan (Ghufran, Kordi dan Andi, 1991). pH Air - pH (singkatan dari puisance negatif de H ), yaitu logaritma negatif dari kepekatan ion-ion H yang terlepas dalam suatu perairan dan mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan organisme perairan, sehingga pH perairan dipakai sebagai salah satu untuk menyatakan baik buruknya sesuatu perairan (Fadiaz, 1992). Ghufran et al ,(1991) menyatakan Pada perairan perkolaman pH air mempunyai arti yang cukup penting untuk mendeteksi potensi produktifitas kolam. pH Air yang agak basa, dapat mendorong proses pembongkaran bahan organik dalam air menjadi mineral-mineral yang dapat diasimilasikan oleh tumbuh tumbuhan (garam amonia dan nitrat). pH Air Pada perairan yang tidak mengandung bahan organik dengan cukup, maka mineral dalam air tidak akan ditemukan. Andaikata kedalam kolam itu kemudian kita bubuhkan bahan organik seperti pupuk kandang, pupuk hijau dan sebagainya dengan cukup, tetapi kurang mengandung garam-garam

4 bikarbonat yang dapat melepaskan kationnya, maka mineral-mineral yang mungkin terlepas juga tidak akan lama berada didalam air itu. Untuk menciptakan lingkungan air yang bagus, pH air itu sendiri harus mantap dulu (tidak banyak terjadi pergoncangan pH air) (Alabaster dan Loyd, 1982). Menurut Ghufran (1991), keasaman air atau yang populer dengan istilah pH air sangat berperan dalam kehidupan ikan. Pada umumnya pH yang sangat cocok untuk semua jenis ikan berkisar antara 6,7 - 8,6. Namun begitu, ada jenis ikan yang karena hidup aslinya di rawa-rawa, mempunyai ketahanan untuk tetap bertahan hidup pada kisaran pH yang sangat rendah ataupun tinggi, yaitu antara 4 - 9,misalnya ikan sepat siam. Afrianto dan Liviawati (2012) Sebagian besar ikan dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan perairan yang mempunyai derajat keasaman (pH) berkisar antara 5-9. Untuk sebagian besar spesies ikan air tawar pH yang cocok berkisar antara 6,5 7,5 sedangkan untuk ikan laut 8,3. Pada kolam budidaya fluktuasi pH sangat dipengaruhi oleh proses respirasi, karena gas karbondioksida yang dihasilkannya. Pada kolam yang banyak dijumpai alga atau tumbuhan lainnya, pH air pada pagi hari biasanya mencapai angka kurang dari 6,5 sedangkan pada sore hari dapat mencapai 8-9. Pada kolam dengan sistem resirkulasi, air cenderung menjadi asam karena proses nitrifikasi dari bahan organik akan menghasilakan karbondioksida dan ion hidrogen. Nilai pH air yang normal adalah netral, yaitu antara pH 6 sampai pH 8 (Fardiaz, 1992). Air yang pH-nya kurang dari 7 bersifat asam, sedangkan yang pH-nya lebih dari 7 bersifat basa. Tanah yang bersifat asam akan mengakibatkan pelarutan dan ketersediaan logam berat yang berlebihan dalam tanah. Perubahan

5 pH yang sangat asam maupun basa akan mengganggu kelangsungan hidup organisme akuatik karena menyebabkan terganggunya metabolisme dan respirasi (Alabaster dan Loyd, 1982).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Berdasarkan literatur-literatur yang didapat berikut ini pengaruh pH terhadap reproduksi ikan : Tabel 1. Pengaruh perubahan pH terhadap ikan

Kisaran pH < 4.0 4.0 - 5.0 5.0 - 6.5 6.5 - 9.0 > 9.0

Pengaruh terhadap ikan Titik mati asam Tidak ada reproduksi Pertumbuhan lambat Kisaran yang layak untuk reproduksi Titik mati basa

Sumber : Swingle (1969) dalam Boyd (1982)

Tabel 2. Pengaruh derajat keasaman air (pH) di kolam terhadap ikan peliharaan di kolam Kisaran pH 4.0 - 5.0 4.0 - 6.5 6.5 - 9.0 > 11 Pengaruh terhadap ikan Tingkat keasaman yang mematikan dan tidak ada reproduksi Pertumbuhan lambat Baik untuk produksi Tingkat alkalinitas mematikan

Sumber : Afrianto dan Liviawaty (2012)

3.2. Pembahasan Pada tingkat pH 4 merupakan kondisi asam mematikan untuk sebagian besar spesies ikan. Ketika ikan salmon yang sedang matang gonad terkena pH 4.5 5.0 embrio ikan salmon mengalami penghambatan perkembangan, dan ketika pH mendekati 6.0 perilaku pemijahan terhambat (Ikuta, Yada dan Kitamura, 2001).

7 Kitamura dan Ikuta (2000) perubahan pH meneliti dalam tangki pengamatan,

sangat sedikit dari 6.8 6.4, secara signifikan menghambat

perilaku pemijahan pada ikan salmon. Hal ini menunjukkan bahwa ikan salmon sangat sensitif terhadap penurunan ataupun kenaikan dari keasaman sedikit saja. Berdasarkan penelitian dari Wibowo (2011) menyatakan pengaruh PH terhadap perkembangan embrio telur ikan lele (Clarias sp) menunjukan bahwa pH mempunyai pengaruh terhadap perkembangan embrio ikan lele. Data dari hasil penelitian menunjukan bahwa pada pH 4,5 embrio ikan lele lebih cepat berkembang dari pada embrio pada pH 10,5 dan pada pH 10,5 embrio ikan lele lebih cepat berkembang dari pada embrio ikan lele pada pH 7,0. Tingkah ikan menunjukkan tidak normal dan ikat cacat pada pH 4.5 5.2. Produksi telur dan daya tetas telur berkurang pada pH > 5.9 rupanya karena cangkang yang rapuh (Mount, 1973). .

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan Dari hasil dan pembahasan yang di peroleh dari berbagai literatur dapat di simpulkan bahwa nilai pH sangat berpengaruh pada kehidupan ikan salah satu nya reproduksi. Nilai pH yang bagus untuk reproduksi ikan maupun kehidupan ikan yang layak berkisar antara 6.5 9.0, sedangkan pH 4.0 -5.0 merupakan nilai pH yang tidak layak untuk ikan bahkan pada pH 4.0 5.0 sama sekali tidak ada terjadi reproduksi. 4.2. Saran Bagusnya di adakan penelitian yang lebih spesifik tentang pengaruh pH terhadap reproduksi ikan. Agar bisa mengetahui dengan jelas bagaimana kondisi reproduksi ikan jika terjadi penurunan ataupun kenaikan pH.

DAFTAR PUSTAKA
Affandi, R. dan Tang, U.M. 2002. Fisiologi Hewan Air. Pekanbaru: Unri Press Afrianto, E. dan Liviawaty, I. 2012. Pengendalian Hama dan Penyakit. http://books.google.co.id/books?id=iMDQOthcEbIC&printsec=frontcove r&dq=inauthor:%22Ir.+Eddy+Afrianto+%26+Ir.+Evi+Liviawaty%22&hl =id#v=onepage&q&f=false [15 November 2012] Alabaster, JS dan R Loyd. 1982. Water Quality Criteria for Freshwater Fish. Second Edition. Food and Agriculture Organization of United Nations. Butterworths. London. Boyd,C.E.1982.Water Quality In Ponds for Aquqculture. Birmingham Publishing Co.Birmingham.Alabama. Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Kanisius. Yogyakarta. Ghufran. H. M, Kordi K, dan Andi B.T. 2007. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya Perairan. Jakarta: Rineka Cipta Hardjamulia A. 1978. Budidaya Perikanan. SUPM Bogor. Hal 1-7. Huet, M. 1971. Text Book Of Fish Culture Breeding And Cultivation Of Fish Fishing (New Book.) Ltd. London. Ikuta, K. Yada, T. dan Kitamura, S. 2001. Effects of Acidification on Fish Reproduction. http://www.lib.noaa.gov/retiredsites/japan/aquaculture/proceedings/repor t28/Ikuta.pdf [15 November 2012] Kitamura, S. and K. Ikuta. 2000. Acid rain severely suppresses spawning of hime salmon (land-locked sockeye salmon, Oncorhynchus nerka). Aquat. Toxicol. 51: 107-113. Mount, D. I. 1973. Chronic Effect of Low pH on Fathead Minnow Survival, Growth and Reproduction. U.S. Environmental Protection Agency Papers. Paper 14. Wibowo, D. 2011. Pengaruh pH Terhadap Perkembangan Embrio Telur Ikan Lele. http://ritacuitcuit.blogspot.com/2011/05/pengaruh-ph-terhadapperkembangan.html [15 November 2012]