Anda di halaman 1dari 3

Kondisi Dan Potensi Fisik Wilayah Maritim Secara geografis Sulawesi Selatan terletak pada posisi 0 12 LS dan 116

6 48 - 122 36 BT, dan diapit oleh tiga wilayah laut, yaitu Teluk Bone di sebelah timur, Laut Flores di sebelah selatan dan Selat Makassar di sebelah barat dan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah sebelah utara, dan Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah timur. Potensi pembangunan yang terdapat di wilayah pesisir secara garis besar terdiri atas tiga yaitu sumberdaya dapat pulih, sumberdaya tidak dapat pulih, dan jasa-jasa lingkungan. Sumberdaya dapat pulih (renewable resources) juga terbagi atas sumberdaya perikanan laut, hutan mangrove, padang lamun dan rumput laut, dan terumbu karang. Sumberdaya perikanan laut memiliki potensi yang cukup besar, yang terdiri dari sumber daya perikanan pelagi besar (451.830 ton/tahun) dan pelagi kecil (2.423.000 ton/tahun), udang (100.720 ton/tahun), cumi (328.960 ton/tahun), dan ikan karang (80.082 ton/tahun). Hutan mangrove merupakan ekosistem utama pelindung kehidupan yang penting di wilayah pesisir. Memiliki dua fungsi yaitu fungsi ekologis dan ekonomi. Indonesia memiliki hutan mangrove yang luas dibandingkan denga negara lain. Hutan-hutan ini menempati bantaran sungai-sungai besar hingga 100 km masuk ke pedalaman seperti yang kita jumpai di sungai Mahakam dan sungai Musi. Padang lamun (ilalang laut) memiliki fungsi yang sangat vital dalam ekosistem perairan. Diman padang lamun berfungsi meredam ombak dan melindungi pantai, tempat makan (feeding ground), daerah asuhan larva (nursey ground), dan rumah tempat tinggal biota laut. Jasa-jasa lingkungan meliputi fungsi kawasan pesisir dan lautan sebagai tempat rekreasi dan pariwisata, media trasportasi dan komunikasi, sumber energi, pertahanan dan keamanan , dll.

Fakta Sosial Demografi Kemaritiman Konsep sosial demografi kemaritiman pada dasarnya merujuk kepada kumpulan manusia yang penghidupan sosial ekonominya bersumber dari pemanfaatan sumberdaya laut dan jasa-jasa laut . Negara-negara yang pada umumnya mempunyai wilayah laut, sebagian besar penduduknya bermukim di daerah pantai dan pulau-pulau salah satunya adalah Indonesia. Indonesia dapat diperkirakan jumlah penduduknya yang bergantung baik secara langsung maupun tidak langsung pada sektor-sektor ekonomi mencapai tidak kurang dari 30 juta jiwa. Berdasarkan hasil penelitian sosial ekonomi dan media massa, pandangan masyarakat, diketahui bahwa penduduk bahari terutama masyarakat pesisir dan pulau-pulau di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia sebagian besar dalam kondisi miskin. Kategori Penduduk Maritim dibedakan atas tiga kategoti besar, yaitu Penduduk nelayan, Pelayar /pengusaha transportasi laut , Pengguna sumber daya maupun jasa-jasa laut yang lain

Penduduk bahari terutama nelayan dan pelayar di dunia mempunyai ciri mobilitas geografi yang tinggi. Ciri yang tinggi ini dikondisikan karena adanya lingkunan laut yang luas dan dilakukan pemanfaatan secara terbuka Masyrakat maritim dalam menjalankan pekerjaannya memilki ketergantungan pada kondisi lingkungan, pada musim, dan pada pasar. Sejarah Kemaritiman Indonesia

Di Indonesia, ada dua kutub kekuasaan kerajaan maritim yang menjadi soko guru Negara maritim nusantara, yaitu Sriwijaya yang didirikan pada abad ke-7 hingga abad ke-13 masehi dan Majapahit pada abad ke-13 sampai abad ke-17 masehi. Puncak kejayaan Sriwijaya adalah sekitar abad ke-9 antara tahun 833-836 M. Konsep Dasar Sistem Sosial Dan Budaya

Menurut Garna(1994),sistem sosial adalah suatu perangkat peran sosial yang berinteraksi atau kelompok sosial yang memiliki nilai-nilai, norma dan tujuan yang bersama. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan seharihari, dan dapat diamati dan didokumentasikan. Masyarakat Maritim

Dengan mengacu kepada konsep masyarakat dikemukakan sebelumnya, maka masyrakat bahari dipahami sebagai kesatuan-kesatuan hidup manusia berupa kelompok-kelompok kerja yang menggantungkan kehidupan ekonominya secara langsung atau tidak langsung pada pemanfaatan sumber daya laut dan jasa-jasa laut yang dipedomani oleh dan dicirikan dengan kebudayaan baharinya. Masyarakat maritim ideal di Indonesia yaitu seluruh masayrakat Indonesia baik yang berdomisili di daerah pesisir maupun di daerah pedalaman dan pegunungan. Dikatakan demikian karena penduduk Negara kepulauan ini pada umumnya memiliki wawasan dan gambaran dunia laut yang luas, pulau-pulau besar dan kecil yang menaburi lautan tersebut, dan penduduk dengan keragaman etnis menghuni pulau-pulau yang berjejer dari Sabang sampai Merauke. Konsep masyarakat bahari yang aktual merujuk pada kesatuan-kesatuan sosial yang sepenuhnya atau sebagian besar menggantungkan kehidupan social ekonominya secara langsung atau tidak langsung pada pemanafaatan sumber daya laut adan jasa-jasa laut. Kalau melacak cikal bakal masyrakat maritime di Nusantara ini, maka diantara sekian banyak kelompok-kelompok suku bangsa (ethnics) pengelola dan pemanfaat sumber daya dan jasa-jasa laut yang ada (nelayan dan pelayar). Masyarakat maritim yang menggantungkan sebagian besar atau sepenuhnya kehidupan ekonominya pada pemanfaatan sumberdaya laut dan jasa laut memiliki karakteristik sosial yang mencolok. Karakteristik sosial masyarakat maritim yang mencolok yaitu :

Hubungan dengan dan ketergantungan secara pisik dan psiko-sosio-budaya pada lingkungan alamnya Pemanfaatan lingkungan dan sumber daya laut secara bersama Hubungan dengan dan kebutuhan secara mutlak pada kelembagaan lokal Hubungan dengan dan ketergantungan secara mutlak pada pasar lokal, regional, dan global Hubungan dengan dan ketergantungan pada berbagai pihak berkepentingan dari luar Mobilitas geografi yang tinggi dan jaringan kesukubangsaan yang luas.

Budaya Maritim