Anda di halaman 1dari 12

Hasil Diskusi e-Class Teori Politik Internasional Immanuel Kant Kelompok Rasuna Said

Selasa, 11 Desember 2012

Moderator: Okvan Dwi Pramudya 10/305135/SP/24367

Anggota Diskusi: Farha Kamalia Lady Mahendra Michael Yuli Arianto Dody I. M. Bisma Putra Sampurna Pricylia W. 10/305534/SP/24378 10/297220/SP/23952 09/282752/SP/23564 10/296686/SP/23861 10/296280/SP/23823 10/296556/SP/23850

Gusti Hening Pusthikaputra 10/297029/SP/23916 Dyah Dwi Astuti 09/282418/SP/23457

Pertanyaan Pertama Menurut Kant, untuk menuju masyarakat universal (universal civic society) manusia hanya bisa mencapainya melalui negara-negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai

kosmopolitanisme, seperti keadilan, kebebasan, HAM, dan jaminan keamanan manusia. Bagaimana pendapat anda mengenai persepsi tersebut? Michael Yuli Arianto: Setuju, dengan adanya pengakuan akan nilai-nilai tersebut sebagai nilai universal, karena salah satu syarat untuk terjadinya masyarakat universal adalah dengan adanya kesamaan nilai-nilai yang dianut diantara negara-negara. nilai tersebut dipilih untuk dijadikan norma bersama karena nilai-nilai tersebut merupakan implikasi dari hakikat kebaikan manusia, dan dengan mengimplementasikan nilai-nilai tersebut maka negara diharapkan dapat menjaga dan menjamin kehidupan warganegaranya agar tetap berjalan selayaknya bagaimana hidup manusia seharusnya, selain itu penggunaan nilai-nilai tersebut secara bersamaan akan memudahkan penciptaan norma internasional diantara negara-negara, dan perang akan dapat dihindari karena adnaya persamaan nilai normatif.

Lady Mahendra: Pada dasarnya, menurut saya universal civic society itu merupakan hal yang cukup muluk untuk dapat terwujud, dimana setiap pihak yang terlibat harus rela melepaskan egonya untuk menguniversalkan seluruh aspek-aspek kemasyarakatan. Mengingat definisi keadilan itu bersifat relative, sehingga cukup kecil kemungkinannya untuk membentuk situasi dimana tiap-tiap pihak merasa diperlakukan secara adil, maka saya beranggapan bahwa keadilan, kebebasan HAM, dan penjaminan keamanan manusia saja itu belum cukup untuk menyokong terciptanya masyarakat madani tersebut. 3 hal tersebut juga harus disempurnakan dengan adanya kesukarelaan masyarakat untuk menyerahkan sebagian kebebasannya untuk diatur oleh hukum (yang mana hal ini sering diinterpretasikan sebagai pengekang kebebasan oleh beberapa oknum).

Farha Kamalia: Saya sependapat dengan persepsi Immanuel Kant yang mengusung gagasan bahwa untuk menuju masyarakat universal (universal civic society) manusia hanya bisa mencapainya melalui negaranegara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kosmopolitanisme, seperti keadilan, kebebasan, HAM,

dan jaminan keamanan manusia. Dengan adanya kebebasan mereka dapat tinggal di mana pun tanpa memandang suatu Negara. Mereka juga dapat menikmati sumber daya alam secara merata. Akan tetapi, ketika kita menelik lebih dalam mengenai poin kebebasan, menurut saya poin ini dapat menjadi kritik tersendiri untuk masyarakat universal yang dipandang oleh Immanuel Kant. Hak kebebasan, dapat diartikan sebagai kebebasan untuk berekspresi salah satunya. Dengan jaminan kebebasan berekspresi, mereka bisa saja mengekspresikan sifat kedaerahan mereka secara berlebihan bahkan memaksakannya kepada yang lain. Hal ini dapat menimbulkan sifat patriotiesme yang berlebihan atau chauvinisme yang kontras dengan gagasan awal masyarakat universal.

LUQMAN-NUL HAKIM: kok tampil berkali-kali ya komennya? He. Menurutmu bagaimana mewujudkan agar negara memiliki nilai-nilai kosmopolitanisme?

Bisma Putra Sampurna: Jika berbicara mengenai metode untuk mencapai suatu bentuk masyarakat yang universal, saya setuju dengan pandangan Kant. Namun, dalam pandangan saya, hal tersebut pada dasarnya tidak mungkin untuk dilakukan secara menyeluruh pada masa kontemporer karena sifatnya yang utopis. Bagaimana mungkin sifat antagonisme manusia bisa dihilangkan. Juga adanya keinginan untuk memenuhi hasrat pribadi dan memaksimalkan sumber daya merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Memang dalam konteks ini, hukum memiliki peran besar dalam upaya penjaminan suatu bentuk masyarakat madani. Namun, bagaimana mengenai pengawasan atas tindakan tiap aktor (negara) jika tidak ada suatu bentuk institusi holistik yang memiliki legitimasi terhadap tindakan setiap aktor tersebut. Kecenderungan untuk memenuhi kepentingan nasional merupakan kondisi yang sangat sulit untuk direduksi. Sebagai contohnya, dalam PBB. Walaupun PBB merupakan institusi supra-nasional yang berusaha untuk menyatukan tindakan dan memberi pandangan seragam terhadap anggota-anggotanya, namun kepentingan nasional setiap negara terutama dalam DK PBB- seringkali menyebabkan kemandulan dalam langkah universalnya. Kemampuan negara untuk memiliki konstitusi sempurna demi adanya pengembangan kapasitas manusia-sebagai pre-kondisi universal civic society-pun sulit untuk dilakukan karena negara memiliki kapabilitas yang berbeda guna mewujudkan hal tersebut. Jadi, dalam hal ini saya setuju

bahwa nilai-nilai yang dijunjung Kant memiliki kemampuan untuk menciptakan masyarakat universal, namun saya berpandangan bahwa hal tersebut tidak mungkin untuk diwujudkan secara menyeluruh pada masa kontemporer.

Pertanyaan Kedua Menurut Kant, sebuah perdamaian itu bukanlah hal yang alami, akan tetapi adalah keadaan yang harus diciptakan di dunia ini. Terdapat tiga prinsip seperti, konstitusi negara harus berbentuk republik, hukum bangsa-bangsa harus didirikan di atas suatu federasi negara-negara merdeka, dan hukum hosmopolitan harus terbatas pada persyaratan keramahtamahan universal. apakah Anda setuju dengan tiga prinsip ini? Mengapa?

Michael Yuli Arianto: setuju, manusia memerlukan sebuah instittusi untuk mengatur jalannya hidup yang mereka jalani bersama-sama, karena tata hidup manusia yang anarki tidak akan dapat menjamin jalannya hidup mereka, jika diakitkan dengan bagaimana bentuk yang ideal, maka bentuk terrsebut harus dapat menyokong kehidupan manusia sebagai manusia, nilai normatif yang universal pun dibutuhkan untuk membentuk suatu tata internasional untuk menciptakan masyarkat madani universal. Pricylia Wulandari: Menurut saya, setiap manusia memiliki hasrat untuk memenuhi kepetingannya masing2 sehingga sehingga secara logika, setiap orang memiliki kemungkinan untuk berbuat anarki yang menciptakan chaos. Maka dari itu, ketiga prinsip yang disebutkan Adam Smith tersebut merupakan suatu sistem yang dibutuhkan untuk menciptakan dan menjaga perdamaian serta menghindari anarkisme. Saya setuju dengan prinsip2 tersebut. Konstitusi negara harus erbentuk republik sebab memungkinkan seluruh bagian dalam suatu neara untukberpartisipasi dan memungkinkan kontrol sosial sehingga kepentingan bersama lebih terakomodasi; hukum bangsa2 harus didirikan di atas suatu federasi negara merdeka agar suatu negara terjaga dan patuh terhadap hukum yang telah disepakati bersama dan hukum hosmopolitan harus terbatas pada persyaratan keramahtamahan universal agar setiap bangsa saling menghormati dan tidak ingin menguasai satu sama lain.

Bisma Putra Sampurna: Ya, saya setuju dengan prinsip ini. Karena tiga prinsip ini memiliki kemampuan untuk diimplementasikan secara nyata pada konstelasi politik internasional. Namun, dengan ini saya tekankan kembali bahwa persetujuan saya terhadap hal ini tidak mengartikan bahwa saya optimis terhadap terjadinya perdamaian abadi. Karena tidak ada yang dapat menjamin semua aktor bersikap serupa dalam menyikapi hal tersebut. Kondisi ini berkaitan pula dengan poin kedua mengenai pendirian federasi bangsa-bangsa. Dalam konteks ini, saya memandang bahwa hukum bangsa-bangsa tidak akan mungkin memiliki kemampuan mengikat seperti hukum domestik. Kedaulatan serta kepentingan nasional yang menyebabkan absennya hal tersebut memberikan pengaruh terhadap minimnya efektivitas pengimplementasian prinsip ini.

Dody Iswandi Maulidiawan: Melalui ketiga prinsip tersebut, saya melihat Kant berusaha membuat kepentingan individu tidak tersisihkan dengan adanya sistem politik yang kompleks. Kehadiran negara dalam bentuk republik, juga federasi di atasnya dan tendensi ramah-tamah membuat individu tetap dapat memperjuangkan hak-haknya. Saya setuju dengan ketiga prinsip ini, karena selain relevan dengan latar belakang pemikiran Kant, juga relevan dengan keadaan/ struktur politik dunia saat ini yang sudah terlanjut terkotak-kotakkan dalam bentuk negara.

okvan dwi pramudya: Lalu bagaimana agar setiap aktor (negara terutama) dapat mewujudkan ketiga prinsip ini? Michael Yuli Arianto: dengan membangun pemahaman normatif yang universal, salah satunya adalah dengan penciptaan institusi internasional yang anggotanya diwajibkan untuk mampu menjalankan prinsip-prinsip yang dimaksud, dengan menjadikannya norma unversal dalam pergaulan internasional. Bisma Putra Sampurna:

Dalam pandangan saya, tidak ada cara untuk mewujudkan hal tersebut. Karena jika berbicara dalam konteks norma universal-pun hal tersebut merupakan ide yang sangat utopis dan tidak mungkin tercipta. Bahkan, dalam upaya penciptaan norma universal, berdasarkan pengalaman selama ini, pihak-pihak yang memiliki power cenderung untuk memaksakan penggunaan nilainilai yang dianutnya untuk diadopsi oleh komunitas internasional. Hal ini menunjukkan bahwa dalam upaya penciptaan perdamaian-pun kepentingan untuk memaksakan norma tidak bisa dihindari. Cultural relativism merupakan hal yang lebih nyata dan secara tegas menunjukkan bahwa tidak ada cara untuk mewujudkan hal yang utopis seperti ini.

Lady Mahendra: Cara mewujudkannya seperti yang telah saya singgung sebelumnya, tetap harus diawali dengan pembangunan mutual understanding antar negara, dan kemudian selain menjamin HAM, Keamanan, dan keadilan, negara harus mampu mengendalikan masyarakatnya untuk mempertahankan integrasi dan sehingga mampu untuk turut berkontribusi dalam pematuhan hukum yang telah disepakati bersama di level internasional yang juga berarti berkontribusi dalam penciptaan perdamaian dunia

Gusti Hening Pusthikaputra: Saya tidak setuju untuk nomer 2ketiga prinsip di atas terlalu sulit..terutama yang hukum bangsa-bangsa harus didirikan di atas suatu federasi negara-negara merdeka. Ya menurut saya, ini terlihat seperti international law yang sangat tidak bisa mengikat negara-negara untuk mematuhinya.

Farha Kamalia: Saya setuju dnegan tiga prinsip tersebut. Namun pada kenyataannya pengimplementasiannya dapat dikatakan jauh dari apa yang diinginkan oleh Immanuel. Ketika federasi atau perkumpulan yang diikat oleh hukum bangsa-bangsa sudah terbentuk, seperti PBB namun tetap saja banyak pelanggaran-pelanggaran yang masih terjadi. Ketika hokum menjadi tataran tertinggi, lalu siapa yang menjadi control atas hokum itu sendiri. Apabila federasi/perkumpulan dari Negara-negara yang menjadi control, hal ini ditakutkan dapat kembali menjadi lebih pada orientasi kepentingan nasional suatu Negara yang ditransformasikan dalam hukum tersebut.

Dyah Dwi Astuti menjawab pertanyaan mas Aim, menurut saya agak sulit menanamkan kosmopolitanisme pada negara karena negara tentunya menginginkan nasionalisme dari warga negara, sedangkan kosmopolitanisme sangat mementingkan mobilitas individu tanpa terbatasi yang menimbulkan hilangnya rasa nasionalisme. meski begitu, adanya gelombang kosmopolitanisme memaksa negara untuk menerima kosmopolitanisme, contohnya adalah adanya PBB. dengan adanya PBB, negara berada di bawah payung perkumpulan dan terikat hukum yang ditaati bersama. Selain dengan adanya perkumpulan negara negara, kosmopolitanisme juga dapat tertanam dalam negara dalam kondisi ekonomi yang semakin maju. Untuk memenuhi tuntutan ekonomi, negara harus lebih terbuka dan mempermudah mobilitas agar mencapai keuntungan yang lebih. Jadi, menurut saya cara untuk menanamkan nilai kosmopolitanisme pada negara adalah dengan dibentuknya perkumpulan negara negara dan dengan isu ekonomi. Untuk pertanyaan kedua, saya setuju dengan prinsip kedua dan ketiga. Dalam membentuk perdamaian memang diperlukan lembaga yang menaungi negara negara agar tercipta hukum bersama yang dapat menciptakan perdamaian. Mengenai keramahtamahan saya juga setuju, sebebas apapun manusia tanpa konteks budaya, hal tersebut sangat sulit untuk dilepaskan sekarang sehingga dimanapun berada manusia hendaknya mengikuti aturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang ada. Mengenai prinsip pertama, saya rasa negara yang memegang nilai perdamaian tidak harus berbentuk republik, yang terpenting adalah usahanya dalam membentuk dan menjaga perdamaian. Contohnya banyak negara di Eropa yang berbentuk monarki konstitusional dapat menerapkan nilai kosmopolitanisme, sedangkan banyak negara berbentuk republik di dunia ketiga belum dapat menerapkan nilai kosmopolitanisme

Lady Mahendra: Secara garis besar saya setuju dengan pendapat tersebut. karena memang untuk upaya pencapaian tatanan dunia yang damai, dibutuhkan adanya mutual understanding antara tiap-tiap institusi yang terlibat, dalam hal ini negara, sehingga memang dibutuhkan aturan dan norma yang disepakati oleh semuanya yang tentunya hanya dapat tercapai di kerangka yang lebih besar yang menaungi semua institusi-institusi tersebut. kemudian, prinsip keramahtamahan juga menurut saya sedikit banyak memiliki kemiripan dengan asas toleransi yang menuntut

penghormatan hak-hak (untuk berkunjung ke negara lain) dan kewajiban (untuk mematuhi hukum yang berlaku di negara tersebut) dan berperan cukup besar untuk meminimalisir potensi konflik. Terakhir, konstitusi negara berbentuk republic juga dalam hal ini berperan sebagai pendukung kelancaran berjalannya dua poin sebelumnya dengan meratakan partisipasi tiap-tiap individu dalam negara, mengingat negara berbentuk republic turut melibatkan rakyat dalam pengambilan keputusannya.

Pricylia Wulandari: Setelah saya mencoba untuk memahami dengan lebih baik, saya menjadi kurang setuju dengan prinsip pertama (konstitusi negara harus berbentuk republik). Sistem republik memang merupakan suatu usaha yang dibuat untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya kekacauan dalam negara (eg: kediktatoran dsb). Namun yang jadi masalah, jika semua aktor dalam negara memiliki dan menggunakan haknya untuk berpartisipasi dalam hal kenegaran (misal: setiap pihak dan warga negara mengemukakan pendapat dalam pembentukan kebijakan pemerintah) maka justru dapat memicu konflik, sebab stuap pihak tentu membela kepentingannya masinmasing, dan jika ada suatu pihak yang tidak puas, maka kebijakan akan tertunda, lambat dan sulit untuk diputuskan. Padahal, ada beberapa kebujakan yang harus cepat diputuskan. Lagupila, tidak semua otang merupakan kaum terdidik yang mengerti etika, sehingga jika sudah menyangkut membela kepentingan dan keyakinan pribadi, mereka kerap kali melupakan cara penyampaian pendapat yang semestinya di depan umum sehingga berpotensi menyinggung perasaan pihak lain yang kurang sependapat dengannya, dan dapat memicu konfklik. Jadi menurut saya, negara harus lebih mampu mengatur sistem konstitusi republik tersebut agar tidak kacau. Seperti sekatang ini kan masih banyak semonstrasi yang berujung anarki.

Dody Iswandi Maulidiawan: menimbal balik jawaban Mas Gusti, betul bahwa sulit untuk mengikat negara-negara dalam suatu international law seperti federasi negara-negara merdeka. Akan tetapi, apabila ada pendelegasian kedaulatan yang ideal, sepertinya ada kemungkinan bagi terciptanya federasi tersebut. Ideal maksudnya negara tidak serta merta menyerahkan seluruh kedaulatannya kepada federasi.

Bisma Putra Sampurna: Menanggapi jawaban pricyl, sebelumnya perlu digarisbawahi bahwa Kant tidak serta merta memberikan usulan tanpa pertimbangan. Terkait yang disampaikan pricyl, Kant menegaskan bahwa terdapat distribusi kekuasaan untuk mengatur kegiatan politik dengan adanya yudikatif, legislative, dan eksekutif. Itu juga merupakan hasil dari proses social contract yang membuat semuanya lebih teratur dan tersistem.

Gusti Hening Pusthikaputra: teruntuk Dodi, sekarang, melihat realitanya, tidak ada yang anda bilang sebagai "pendelegasian kedaulatan yang ideal"..sekarang, saya balik tanya kepada anda, bagaimanakah seharusnya pendelegasian kedaulatan yg ideal, jika melihat keadaan politik dunia saat ini seperti ini.

Dody Iswandi Maulidiawan: Sebenarnya gambaran untuk pendelegasian kedaulatan ini sudah terlihat sejak sekarang, hanya saja bentuknya bukan federasi. Misal dalam hal perdagangan, ada WTO yang merangkul hampir semua negara di dunia untuk mengadopsi seperangkat hukum bersama. Negara-negara anggotanya harus menaati peraturan tersebut, karena jika tidak maka akan mendapat sanksi. Dalam contoh kasus ini, negara telah mendelegasikan kekuasaan untuk pengaturan hukum dagang kepada organisasi internasional.

Bisma Putra Sampurna: Jika boleh menanggapi perdebatan antara Gusti dengan Dodi, saya ingin menambahkan mengenai pendelegasian kedaulatan. Selama ini kedaulatan yang didelegasikan sifatnya simbolis dan procedural, tidak pernah sampai tahap substansial menyeluruh. Bagaimana mungkin kedaulatan negara akan rela diberikan, walau hanya sedikit. Pandangan pendelegasian kedaulatan sangatlah utopis dan tidak rasional.

Dody Iswandi Maulidiawan: Atau dalam contoh lain, keberadaan EU merupakan bentuk federasi yang paling konkrit. Terlihat utopis memang kalau kita membicarakannya di tahun 1960-an, tapi saat ini federasi tersebut

sudah terbentuk. Memang kedaulatan negara tidak seluruhnya diserahkan, tetapi ada tahapan tahapan yang menuju ke arah tersebut. Pembuatan federasi tengah berlangsung.

okvan dwi pramudya: menurut saya juga hampir sama dengan pendapat bisma. bahkan di dalam organisasi internasional terdapat prinsip escape clause yang mana anggotanya berhak untuk tidak menyetujui atau menaati sebuah perjanjian.

Dody Iswandi Maulidiawan: Jika boleh juga menanggapi interaksi Bisma dengan Prycil, saudari Prycil sudah mengatakan bahwa manusia mempunyai kepentingan individu, atau setidaknya kepentingan golongan yang perlu dipenuhi. Apabila sistemnya tidak republik, misalnya rezim, bukankah hal ini justru hanya mendukung penguasa saja dan membunuh kepentingan golongan - golongan lainnya secara telak.

Bisma Putra Sampurna: Untuk dalam beberapa kasus, mereka (WTO) tidak memiliki power untuk menekan negara agar menyesuaikan proses produksi mereka dengan kebutuhan internasional. WTO juga tidak bisa dijadikan representasi penuh dari hal tersebut. Perihal EU, bagaimana menanggapi keengganan Jerman untuk memberi bantuan terhadap negara-negara yang terkena krisis? Hal-hal seperti ini secara jelas memperlihatkan bahwa kepentingan nasional diatas segalanya dan tidak dapat di nomordua-kan dalam konteks apapun. Manusia pada dasarnya mementingkan dirinya sendiri.

Gusti Hening Pusthikaputra: apa ada sih negara yang mau menyerahkan kedaulatannya pada sebuah entitas yg lebih tinggi daripada negara, tapi beranggotakan negara2? kalau ada, bisa beri contoh negara mana? dan mengapa negara itu kok mau menyerahkan kedaulatannya?

Farha Kamalia: kalau bicara mengenai pendelegasian, boleh tidak apabila menganalogikan dengan representatif ala demokrasi?

Dyah Dwi Astuti: menjawab Gusti, ada. contohnya seperti yang sudah disebutkan di atas EU. negara anggota EU kan menggunakan uang sama. itu salah satu bentuk penyerahan kedaulatan pada entitas yang lebih tinggi dari negara. negara yang juga ikut menggunakan Euro kan harus mengikuti aturan tetek bengek ekonomi.

Dody Iswandi Maulidiawan: Begitulah dinamika proses. Ada maju, ada mundur. Kalau tidak ada pertentangan dari negaranegara terkait hukum WTO dan EU, tidak ada proses yang bisa dijadikan pembelajaran. Dalam kasus EU, yang disebutkan Bisma adalah contoh mundur. Contoh majunya ada lebih banyak lagi. Misalnya pembentukkan single market yang mengharuskan negara membebaskan pajak masuk barang dan jasa. Bukankah dalam contoh ini negara-negara sudah menyerahkan kedaulatan atas pengaturan pajaknya kepada EU (yang beranggotakan negara-negara lain). Menambah jawaban Mbak Dyah, negara anggota EU mau menyerahkan delegasinya karena menginginkan masa depan yang lebih baik dari negara mereka. EU dapat memberikan itu. Pendelegasian kedaulatan juga dilakukan atas dasar tersebut, yakni demi kesejahteraan negara yang lebih baik lagi.

Bisma Putra Sampurna: Menurut saya motif dibalik semua ini hanyalah kepentingan nasional dan kalkulasi rasional. Selama hal itu menguntungkan dan dapat memberi jaminan keamanan (konvensional maupun non-konvensional) hal tersebut akan dilakukan. Namun, jika sebaliknya yang terjadi, akan terdapat kecenderungan untuk meninggalkan hal tersebut.

Dyah Dwi Astuti: tentu saja kepentingan nasional. negara akan selalu logis dalam menentukan tindakan. mempertimbangkan untung rugi. kalau sedikit pengorbanan kedaulatan dapat diganti dengan profit yang jauh lebih besar, mengepa tidak? toh tidak melukai harga diri bangsa dengan mengorbankan sedikit kedaulatan tersebut.

Gusti Hening Pusthikaputra: intinya rational choice kan...

Dody Iswandi Maulidiawan: iya Gus, dan pendelegasian kedaulatan itu termasuk pilihan rasional. Kesimpulan Untuk menuju masyarakat universal (universal civic society) manusia hanya bisa mencapainya melalui negara-negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kosmopolitanisme, seperti keadilan, kebebasan, HAM, dan jaminan keamanan manusia. Ada berbagai tanggapan mengenai prinsip ini. Prinsip ini adalah hal yang sangat baik, adanya kesamaan nilai-nilai yang dianut diantara negara-negara. Nilai tersebut dipilih untuk dijadikan norma bersama karena nilainilai tersebut merupakan implikasi dari hakikat kebaikan manusia dan dengan

mengimplementasikan nilai-nilai tersebut maka negara diharapkan dapat menjaga dan menjamin kehidupan warga negaranya agar tetap berjalan selayaknya bagaimana hidup manusia seharusnya, selain itu penggunaan nilai-nilai tersebut secara bersamaan akan memudahkan penciptaan norma internasional diantara negara-negara, dan perang akan dapat dihindari karena adanya persamaan nilai normatif. Namun hal ini terlihat sangat muluk. Karena sifat antagonisme manusia sulit dihilangkan. Juga adanya keinginan untuk memenuhi hasrat pribadi dan memaksimalkan sumber daya merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Kemudian, sebuah perdamaian itu bukanlah hal yang alami, akan tetapi adalah keadaan yang harus diciptakan di dunia ini. Terdapat tiga prinsip seperti, konstitusi negara harus berbentuk republik, hukum bangsa-bangsa harus didirikan di atas suatu federasi negara-negara merdeka, dan hukum kosmopolitan harus terbatas pada persyaratan keramahtamahan universal. Konstitusi negara tidaklah harus berbentuk republik. Di daratan Eropa, banyak yang tidak berbentuk republik. Namun mereka tetap bisa menghormati kebebasan warga negaranya. Dengan adanya federasi internasional ini dapat menyelaraskan kepentingan antar negara, namun hal ini mendapat banyak keraguan karena sangat sulit untuk menghindari kepentingan nasional di atas kepentingan bersama. Sedangkan prinsip hospitality (keramahtamahan), dapat dipahami bahwa sebebas apapun manusia tanpa konteks budaya, hal tersebut sangat sulit untuk dilepaskan sekarang sehingga dimanapun berada manusia hendaknya mengikuti aturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang ada.