Anda di halaman 1dari 18

Bahan Kuliah Akuntansi Perpajakan Bagian 6 dan 7

Afif Sulfa, SE MSi. Ak.

BEBAN PENYUSUTAN FISKAL


A. PENDAHULUAN Pasal 9 ayat 2 UU no. 17 tahun 2000, pengeluaran untuk mendapatkan, menagih dan memelihara (3M) penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun tidak diperbolehkan untuk dibebankan sekaligus, melainkan dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 11 atau 11 A. Pengertian harta berwujud yang masa manfaatnya lebih dari satu tahun lebih luas dibanding pengertian aktiva tetap meenrut akuntansi namun dalam prakteknya sama. Sejak reformasi perpajakan tahun 1984, penyusutan fiskal dibagi 3 periode; a. Periode 1984 s/d 1994 berdasarkan pasal 11 UU No.7 /1983 b. Periode 1995 s/d 2000 berdasarkan pasl 11 UU no.10/1994

c. Periode 2001 dan seterusnya berdasarkan pasal 11 UU no.17 tahun 2000


Perubahan penyusutan fiscal dari UU no.10/1994(1995 s.d 2000) ke UU No.17/2000 (mulai tahun 2001) adalah dari tahun penuh ke bulan penuh. Contoh : Pada tanggal 10 desember 1995 dibeli furniture dari kayu (kel I) seharga Rp.48.000.000, penyusutan fiscal tahun 1995 sudah dihitung setahun penuh. Pada tanggal 10 desember 2001 dibeli furniture dari kayu (kel I) seharga Rp.48.000.000 penyusutan fiscal tahun 2001 dihitung satu bulan.. B. Harta Berwujud Yang Tidak Dapat Disusutkan Dalam pasal 11(1) UU no.17 tahun 2000, ditegaskan bahwa tanah yang berstatus hak milik, HGU (35 tahun dapat diperpanjang 25 tahun), HGB (20 tahun), Hak pakai (<10 tahun ), tidak dapat disusutkan untuk pengeluaran untuk memperoleh hak yang pertama kali; sedangkan biaya perpanjangan HGU, HGB, Hak Pakai diamortisasi selama jangka waktu perpanjangan tersebut. 1. Rumah milik perusahaan (bukan daerah terpencil) yang ditempati pegawai merupakan pemberian kenikmatan, sehingga tidak dapat disusutkan kecuali pegawai yang menempati diberikan tunjangan perumahan sebesar biaya penyusutan rumah tersebut.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK

2. Kendaraan termasuk sedan milik perusahaan yang dikuasai dan dibawa pulang pegawai tertentu tidak dapat disusutan sampai dengan 17 aparil 2001, mulai 18 april, berdasarkan KEP-220/PJ,50% dari harga perolehannya dapat disusutkan dalam kelompok II;untuk dimiliki sebelum tanggal 18 April 2002 dihitung NSBF 1 Mei 2002 dan 50% nya dapat disusutkan. B. Metode dan Tarif Penyusutan 1. Metode dan tarip penyusutan sudah ditentukan dalam pasal 11 (6) UU Np.17/2000, tidak berubah disbanding UU No.10/1994, yaitu: Kelompok harta Masa Manfaat Tarip penyusutan Garis lurus Bukan bangunan: Kelompok 1 2 3 4 Bangunan Permanen Tidak permanen 2. Kelompok Bangunan Kelompok harta berwujud untuk penyusutan fiscal ditetapkan Menteri Keuangan. Kelompok bangunan berdasarkan keputusan Menteri Keuangan RI No.961/KMK/1983 sampai sekarang tidak berubah, yaitu: a. Segala jenis bangunan yang diperuntukkan bagi kantor, tempat usaha, pabrik, gudang, bengkel, serta lain-lain bangunan yang mempunyai sifat dan tujuan khusus misalnya rumah pertanian dan sebsgainya b. Jalan c. Trotoar d. Terusan/kanal e. Pengairan/saluran irigasi f. Fasilitas drainasi g. Saluran h. Dermaga i. j. l. DOk kering, tidak termasuk DOK terapung Jembatan Kolam rang, lapangan tenas dna lapangan golf dan sebagainya 4 thn 8 thn 16 thn 20 thn 20 thn 10 thn 25% 12,5% 6,25% 5% 5% 10% 50% 25% 12,5% 10% Tarip penyusutan Slado menurun

k. Pagar

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK

m. Bendungan n. Lapangan terbang o. Harta tak gerak lain, bangunan yang tidak termasuk salah satu kelompok di atas 3. Kelompok Harta Berwujud- Bukan Bangunan Kelompok harta berwujud bukan bangunan sudah beberapa kali diadakan perubahan, keputusan menteri keuangan RI yaitu: No.961/KMK.04/1983, dan No.82/KMK.04/1995, Np.138/KMK.03/2002. Keputusan Menteri Keuangan RI No.138/KMK.03/2002 tanggal 8 April 2002 menyebutkan bahwa jenis-jenis harta yang termasuk dalam masing-masing kelompok harta berwujud bukan bangunan adalah sebagaimana ditetapkan dalam lampiran I,II,III,IV. Untuk jenis harta berwujud bukan bangunan yang tidak tercantum dalam lampiran I samapi dengan lampiran IV dimasukkan kedalam kelompok III. Apabila wajib pajak dapat menunjukkan bahawa berdasarkan masa manfaat yang sesungguhnya harta berwujud bukan bangunan tidak dapat dimasukkan kedalam kelompok III, wajib pajak harus mengajukan permohonan untuk menentapkan kelompok harta berwujud bukan bangunan tersebut sesuai dengan masa manfaat yang sesungguhnya kepada DIrektur Jenderal Pajak. Atas permohonan wajib pajak tersebut, DJP atas nama Menkeu memberikan suatu kepautusan paliang lama 1 satu bulan sejak siterimanya permohoanan beserta dokumen pendukung secara lengkap. Apabila jangka waktu tersebut satu bulan telah lewat dan Direktur Jendral Pajak belum memberikan suatu keputusan, maka permohonan dianggap diterima. No.450/KMK04/1999, 520/KMK.04/2000,

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK

C. Menghitung Penyusutan Fiskal 1. Pasal 11 ayat (3 dan 4) UU No.17 Tahun 2000 menyebutkan bahwa : a. Penyusutan dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran untuk harta berwujud yang diperoleh setelah tanggal 1 januari 2001; sedangkan untuk sebelumnya dimulai pada tahun pengeluaran. b. Untuk harta yang masih dalam proses pengerjaan, penyusutan fiscal dimulai sejak bulan selesainya pengerjaan harta tersebut.

c. Dengan persetujuan DJP, WP dapat memulai penyusutan sejak harta


tersebut digunakan atau menghasilkan (bulan produksi komersial) d. Dasar penyusutan fiscal adalah harga perolehan tanpa dikurangi taksiran nilai residu e. Penyusutan fiscal dilakuan perjenis aktiva tetap. Contoh : PT A didirikan akhir tahun 2004 mulai awal tahun 2005 membangun parik selesai pada akhir juli 2005 seharga Rp. 6 Milyar. Import Mesin pabrik (kel 2) dari Jerman, harga perolehan mesin Rp.15 Milyar PIB diselesaikan di BCA pada tanggal 10 juli 2005, mesin datang dan dipasang siap digunakan pada bulan oktober 2005. Produksi komersial dimulai pada awal tahun 2006, PT A dapat memmulai penyusutan bangunan bulan juli 2005 dan penyusutan mesin pada bulan oktober 2005. Apabila PT A akan memulai penyusutan fiscal sejak tahun 2006 atau sejak produksi komersial, harus minta persetujuan dulu dari KPP. 2. Penyusutan Fiskal Harta Berwujud Bukan Kelompok Bangunan Dengan Metode Saldo Menurun. a. Penyusutan pertahun = Tarip penyusutan X NSBF awal tahun b. Pada akhir masa manfaat, NSBF disusutkan sekaligus Contoh ; Pada tanggal 5 juli PT A membeli sepeda motor (kelompok I) untuk operasional seharga Rp.8.000.000,Tahun Penyusutan Fiskal 2001 6/12 X50%X 8.000.000=2.000.000 2002 50% X 6.000.000 = 3.000.000 2003 50% X 3.000.000 = 1.500.000 2004 50% X 1.500.000 = 750.000 2005 Sekaligus = 8.000.000 D. Pengalihan Harta Berwujud NSBF 6.000.000 3.000.000 1.500.000 750.000 0

1. Keuntungan (Kerugian) karena Penjualan / Pengalihan Harta

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK

Pengalihan harta sebagaimana dimaksud Pasal 4 (1) d UU No.17/2000 akan memungkinkan untuk timbulnya keuntungan atau kerugian akibat pengalihan harta, yaitu dengan formula : Laba (Rugi) Pengalihan = Harga pasar NSBF Keuntungan karena penjualan /pengalihan harta, termasuk;

a. Pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan dan badan lainnya sebagai


pengganti saham atau penyertaan modal;

b. Pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutua atau anggota;


c. Likuidasi, d. Hibah, tahun 2000. Contoh : PT.ABC perusahaan taksi (kelompok 1) pada tanggal 1 April 2001 membeli 100 mobil untuk taksi, dengan harga Rp.90 juta perbuah, pada tanggal 2 Januari 2005 dijual tunai 10 takp, 150 juta, penyusutan fiscal dengan metode saldo menurun 1 April 2001 Harga perolehan 10 taksi Penyusutan fiscal Tahun 2001 2002 2003 2004 Penyusutan fiskal 9/12 X 50% X 900.000.000=337.500.000 50% X 562.500.000 = 281.250.000 50% X 281.250.000 = 140.625.000 50% X 140.625.000 = 70.312.500 NBF per 31 Desember 2004 2 Januari 2005 harga jual Keuntungan Penjualan Taksi(objek PPh) 900.000.000 penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, pengambilalihan usaha bantuan, sumbangan kecuali yang termasuk Ps 4 (3)a UU No.17

829.687.500 70.312.500 150.000.000 79.687.500

2. Penggantian Asuransi Pasal 11 ayat 9 UU no.17 Tahun 2000; Apabila hasil penggantian asuransi yang diterima jumlahnya baru dapat diketahui dnegan pasti dimasa kemudian (tahun buku berikutnya), maka dnegan persetujuan DJP jumlah sebsar kerugian (NCBF) dibukukan pada tahun buku jumlah penggantian asuransi ketahui dengan pasti. Contoh; Bangunan yang selesai dibangun pada awal tahun 1995 seharga Rp. 10 Milyar diasuransikan, pada kahir tahun 2005 terbakar, penggantian asuranso baru diketahui pada tahun 2006, sebesar Rp.12 milyar WP mengajukan permohonan kepada KPP dan telah disetujui bahwa kerugian kebakaran bangunan tahun 2005 dibebankan tahun 2006. Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK

1995 Harga Perolehan Bangunan Penyusutan Fiskal 1995 s.d 2005 = 11 tahun x 5% Kerugian = NSBF = 2006 Penggantian asuransi = 2006 Keuntungan 2006 3. Penyusutan Alat-alat Kecil (small tools) Penjelasan pasal 11 (1,2) UU no. 17 tahun 2000

Rp.10.000.000.000 5.500.000.000 4.500.000.000 12.000.000.000 7.500.000.000

Sesuai dengan pembukuan WP, alat-alat kecil yang sama atau sejenis dapat disusutkan dalam satu golongan, mislanya sendok untuk usaha hotel, pembebanan biaya dapat berdsarkan jumlah penggantian atau pembelian baru. E. Perlakuan PPh

1. Perlakuan PPh atas Pengeluaran/Biaya Perolehan Perangkat Lunak (Soft Ware)


Komputer KEP- 316/PJ/2002, 17 juni 2002; a. Perangkat lunak computer adalah semua program yang digunakan pada system operasi computer, atas biat]ya pengeluaran dan up hrade berupa program aplikasi umum;

i. ii.

Dapat dibebankan sebagai biaya pada tahun pengeluaran; Dikapitalisasi pada hagra perolehan computer, pembebanannya melalui penyusutan fiscal (kel 1).

b. Program aplikasi khusus (kelompok 1) adalah program yan gdirancang


khusus untuk keperluan otomatiasi system administrasi; pekerjaan , kegiatan usaha tertentu, misalnya perbankan, asuransi, rumah sakit, dsb; pembebanannya melalui penyusutan fiscal kelompok 1 2. Penyusutan Komputer, Printer, Scanner, dan Sejenisnya Sebelum berlakunya keputusan MKRI No.138/KMK.03/2002 tanggal 8 April 2002 masuk kelompok II dan kemudian berubah menajdi kelompok I, yang diperoleh sebelum 8 April 2002, disusutkan berdasarkan kelompok II sampai dengan tanggal 31 Maret 2002, NSBF per 31 maret 2002 apabila masih ada sisa manfaat(kelompok I ) disusutkan berdasarkan I (SE.-07/pj.42/2002). 3. PPh Final Dan Norma Perhitungan Ph Netto Bagi perusahaan yang penghasilannya dikenakan PPh Final awau WP OP DN yang menggunakan norma perhitungan penghasilan neto, didalamnya sudah termasuk penyusutan fiscal Contoh;

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK

PT A meyewakan ruangan kantor, dikenakan PPh Final sejak tahun 1996. Tanah dibeli tahun 1994 seharga Rp.1 milyar dan gedung perkantoran selesai dibangun pada akhir tahun 1995 Rp. 6 milyar. Mulai digunakan atau disewakan awal tahun 1996, dan sudah mendapat persetujuan dari KPP mulai penyusutan tahun 1996. Pada tanggal 2 januari 2006, anah dan gedung perkantoran dijual tunai laku Rp.20 milyar. Perhitungan PPH; Harga perolehan bangunan Penyusutan fiscal (1996 s.d 2005)10 tahun x 5% NBF-bangunan 31 desember 2005 NBF-tanah NBF-Tanah dan Bangunan Dijual tunai Keuntungan Penjualan harta merupakan objek PPH 4. Penurunan Produksi Dan Berhenti Sementara SE-02/Pj.42/1999, 26 Januari 1999 Tidak diperkenankan melakukan penangguhan penyusutan fiscal, walaupun dalam tahun pajak terjadi penurunan atau perhentian produksi. 5. Kendaraan sedan (KEP.220/PJ/2002,SE-09/PJ.42/2002) a. Kendaraan sedan atau yang sejenis, termasuk juga kendaraan minibus sepanjang digunakan untuk seorang pegawai tertentu karena jabatannya atau pekerjaannya, dan penggunaannya full time baik untuk kepentingan perusahaan maupun keperluan pribadi dan keluarga pegawai yang bersangkutan. Rp.6.000.000.000 (3.000.000.000) 3.000.000.000 1.000.000.000 4.000.000.000 20.000.000.000 16.000.000.000

b. Atas biaya pemeliharaan kendaraan dna perbaikan rutin termasuk


pengeluaran rutin untuk pembelian atau pemakaian bahan bakar, dapat dibebankan sebagai biaya rutin perusahaan sebesar 50%;

c. Atas biaya perolehaan atau pembelian atau perbaikan besar, dapat


dibebankan sebagai perusahaan (deductible) sebesar 50% melalui penyusutan fiskla(S.174/PJ.42/2003) 27 maret 2003. 6. Kerugian Pengalihan Harta Pasal 6 ayat 1 UU No.17 tahun 2000 Dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan(deductible) kerugian karena perjualan atau pengalihan harta yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.. Kerugian pengalihan/penjaulan harta dapat diebebankan sebagai biaya perusahaan dengan syarat; Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK

a. WP menggunakan permbukuan, WPOPDN yang menggunakan norma perhitungan penghasilan neto, kerugian pengalihan/penjaulan harta tidak dapat mengurangi penghasilan netto berdasarkan norma perhitungan b. Harta tersebut dimiliki WP dan digunakan untuk usaha yang pengahasilannya dikenakan PPh Final, kerugian pengalihan /penjualan harta tdaik dapat mengurangi PPh-Final c. Harta yang dimiliki dna tidak digunakan untuk usaha, apabila dijual, dialihkan; i. ii. Laba merupakan objek PPH Rugi tidak dapat mengurangi Pph

F. Penyusutan Fiskal Menggunakan Penyusutan Dipercepat Apabila harga perolehan aktiva tetap komersial sama dengan harga perolehan fiscal, perbedaan antara penyusutan komersial dan penyusutan fiscal merupakan beda waktu. Aktiva Tidak Berwujud (Intangible Asset)

1. Hak Sewa (Lease Hold)


Adalah hak yang diperoleh atas suatu sewa aktiva tertentu (sewa tempat usaha, sewa gedung, sewa mesin) yang biasanya menggunakan kurun waktu tertentu, disahkan oleh pejabat pembuat akte (notaris). Hak sewa dinyatakan sebagai aktiva tetap (tak berwujud) karena dua alasan : a. Hak sewa memberikan kontribusi nyata bagi perusahaan, atau dengan kata lain, atas sumber daya (dana) yang dikeluarkan diharapkan hak sewa akan memberikan manfaat kembali (berpotensi menghasilkan kas atau manfaat) di masa yang akan datang. b. Manfaat yang akan diterima oleh perusahaan atas kepemilikan hak sewa, akan dinikmati oleh perusahaan untuk periode waktu lebih dari satu tahun buku. Melihat batasan (bisa dikatakan syarat) di atas, maka kita dapat memilah-milah atas kejadian sewa, apakah dibukukan sebagai aktiva tetap tak berwujud atau sebagai biaya sewa. Contoh Kasus : Tempat Usaha (Tanah dan Gedung) PT. Royal Bali Cemerlang diperoleh dengan cara menyewa selama 30 Tahun, dengan membayar sebesar Rp 750,000,000,-. Dalam perjalanan usahanya PT. Royal Bali Cemerlang juga menyewa sebuah mobil pick-up disewa Rp 150,000/hari. Mengacu pada batasan aktiva tetap tak berwujud atas Hak Sewa yang telah disebutkan sebelumnya, maka transaksi sewa yang ada pada PT. Royal Bali Cemerlang hendaknya diperlakukan sebagai berikut : Pencatatan : Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK

Atas sewa tanah dan gedung di catat sebagai aktiva tak berwujud : a. Pada saat pembayaran sewa dicatat : Lease Hold Kas PPh Pasal 4(2) PPh Pasal 4(2) Kas Penjelasan : Rp 750,000,000,Rp 675,000,000.Rp 75,000,000,-

b. Pada saat penyetoran PPh Pasal 4(2) : Rp 75,000,000,Rp 75,000,000,-

1)

Transaksi sewa ini diakui sebagai perolehan Aktiva Tetap Tak

Berwujud (intangible asset) yaitu berupa Hak sewa (Lease Hold), karena sewa tersebut berjangka waktu 30 tahun, yang artinya atas cost sewa yang dikeluarkan sekarang, perusahaan akan memperoleh manfaat (menjadikannya sebagai tempat usaha) untuk masa waktu yang lebih dari satu tahun buku, untuk itu transaksi sewa ini eligable diakui sebagai aktiva tetap tak berwujud.

2)

Persewaan suatu aktiva, merupakan Taxable Object, yaitu PPh

Pasal 4 (2), diakui sekarang atau nanti tetap akan mengakui. Jika tidak di akui sekarang toh nanti akan dikoreksi oleh pihak kantor pajak. Mengingat Conservatism principle, bukankah setiap potensi pengeluaran maupun kewajiban, hendaknya diakui sesegera mungkin Atas sewa mesin & mobil dicatat sebagai biaya : c. Pada saat pembayaran sewa dicatat : Biaya Sewa Kas PPh Pasal 23 Rp 150,000,Rp 135,000,Rp 15,000,-

d. Pada saat pembayaran PPh Pasal 23 : PPh Pasal 23 Kas Catatan : Sewa mobil yang dibayar harian langsung diakui sebagai biaya, karena atas pengeluaran perusahaan sebesar Rp 150,000,- perusahaan hanya akan memperoleh pemotong. 2. Organization Cost Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK manfaat selama satu hari (kurang dari 1 tahun buku). Sewa jenis ini adalah obyek PPh Pasal 23, dimana perusahaan bertindak selaku Rp 15,000,Rp 15,000,-

Adalah pengeluaran-pengeluaran perusahaan yang terjadi sehubungan dengan set-up perusahaan sebelum beroperasi, contohnya : pembayaran kepada notaris. Pengeluaran ini diakui sebagai perolehan aktiva tak berwujud, karena atas pengeluaran tersebut perusahaan akan memperoleh manfaat yang lebih dari satu tahun buku juga, yaitu selama perusahaan masih beroperasi. 3. Perijinan (Permit & Licences) Periijinan adalah hak perusahaan yang diperoleh dari pihak pemerintah baik daerah maupun pusat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu terkait dengan bidang usahanya. Ijin-ijin perusahaan tentu ada jangka waktunya, dan jika masa berlakunya telah habis maka ijin tersebut harus diperpanjang atau diperbaharui. Namun demikian ijin usaha atau aktivitas tertentu atas terkait dengan usaha biasanya memiliki jangka waktu 3 sampai 30 tahun, yang artinya lebih dari satu tahun buku. Untuk itu Ijin diakui sebagai aktiva tetap tak berwujud. 4. Hak Patent Hak Patent adalah hak yang diperoleh atas suatu penemuan tertentu. Dimana atas penemuan tersebut, penemu akan memperoleh manfaat tertentu untuk kurun waktu tertentu dan dapat diperpanjang. Penemuan tersebut bisa berupa suatu produk, atau rekayasa, atau formula, atau system, atau cara tertentu. 5. Merk Dagang (Trade Mark) Merk Dagang (Trade Mark) yang biasa disingkat TM, adalah hak yang diperoleh atas suatu merk komersial tertentu. Hak ini bisa berupa logo, tulisan, bentuk, symbol, atau kombinasinya, yang mewakili suatu organisasi/perusahaan tertentu. 6. Hak Penggandaan (Copyright) Copyright adalah hak yang berikan atas suatu penulisan, baik itu berupa karya ilmiah, puisi, novel, maupun lyric lagu, notasi lagu/irama tertentu, script atau scenario 7. Franchise Adalah hak yang diperoleh untuk melakukan suatu usaha tertentu, atau memasarkan produknya, sekaligus mengikuti pola usaha, cara pengelolaan, penggunaan logo maupun penggunaan alat usaha tertentu yang aslinya dimiliki oleh perusahaan yang memberikan hak franchise. film tertentu. Copyright meliputi hak untuk memperbanyak dan mengedarkannya.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK

8. Goodwill Adalah kelebihan-kelebihan, keistimewaan tertentu yang dimiliki oleh perusahaan, yang oleh karenanya menjadi dinilai lebih oleh pihak lain. Kelebihan/keisitimewaan tersebut bisa karena perusahaan memiliki reputasi manajemen yang sangat bagus, menghasilkan suatu produk unggul yang sulit dicari pesaingnya, letaknya strategis, dan lain-lain. Catatan penting : Goodwill hanya diakui (dibuatkan perkiraan) jika terjadi suatu transaksi, yang mana dalam transaksi tersebut perusahaan dinilai lebih oleh pihak lain. Transaksi yang dimaksudkan bisa berupa : penjualan perusaahaan, bergabung/berhentinya sekutu (anggota persero) baru, merger atau akuisisi. H. Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap Tak Berwujud Pada dasarnya permasalahan akuntansi atas aktiva tetap tak berwujud (intangible asset) sama saja dengan aktiva tetap berwujud, yaitu : 1. Perolehan (Acquisition Cost) Sama halnya dengan Tangible Asset, Perolehan atas Intangible Asset juga dicatat sebesar nilai faktur ditambah dengan pengeluaran-pengeluaran yang menyertainya. 2. Pengeluaran-Pengeluaran setelah perolehan (Expenditures) Jika terjadi pengeluaran-pengeluaran setelah perolehan, maka konsep kapitalisasi maupun pembebanannya sama saja dengan tangible asset (aktiva tetap berwujud). 3. Amortisasi (Amortization) Amortisasi adalah pengalokasian harga perolehan ke beban usaha (biaya), yang pada aktiva tetap dikenal dengan depresiasi (penyusutan). Penghitungan maupun pencatatan atas amortisasi sama saja dengan cara penghitungan maupun pencatatan atas penyusutan aktiva tetap berwujud. Hal penting yang perlu diketahui : a. Amortisasi kebanyakan merupakan biaya usaha dan jarang digolongkan ke dalam harga pokok produksi, kecuali merk dagang yang memang digolongkan ke dalam kelompok harga pokok penjualan. b. Amortisasi lebih baik jika dihitung menggunakan metode garis lurus saja, karena pada dasarnya intangible asset tidak dipengaruhi, bahkan tidak ada hubungannya dengan output produk yang dihasilkan oleh perusahaan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK

4. Pelaporan (disclosure) Intangible asset dilaporkan hanya nilai bersihnya (net value) setelah dikurangi akumulasi amortisasinya. Akumulasi amortisasi tidak pernah dimnculkan di dalam neraca. Akan tetapi ada kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkan perusahaan menjual aktiva tetapnya, antara lain: a. Karena perusahaan kekurangan supply dana, sehingga perusahaan dengan terpaksa menjual aktiva tetap-nya untuk memperoleh tambahan dana entah untuk modal kerja, atau untuk memenuhi kewajiban (bayar hutang) jangka pendek/panjang-nya. b. Karena perusahaan berganti jenis product, sehingga mesin-mesin dan perlatan tertentu tidak diperlukan lagi (tidak memberi manfaat lagi). Hal ini biasanya terjadi pada perusahaan-perusahaan manufaktur yang memproduksi fast moving product, misalnya: Perusahaan Apparel, perubahan trend mode akan membuat perusahaan tidak mempergunakan mesin untuk jenis pengerjaan bagian tertentu lagi.

c. Karena perusahaan berganti technology, misalnya: perusahaan menjual semua


computer ber spesifikasi Pentium III, karena perusahaan akan membeli computer yang berspefisifikasi Pentium IV. Atau perusahaan menjual monitor non-flat karena akan menggunakan flat-monitor. d. Karena perusahaan akan ditutup (berhenti beroperasi) karena alasan tertentu. I. Prosedur dan Perlakuan Akuntansi atas penjualan Aktiva Tetap Pada garis besarnya prosedur dan jurnal penjualan aktiva tetap hanya terdiri dari 2 (dua) langkah saja, yaitu : Step-1: Update Buku Aktiva yang dijual Step-2: Hapus Aktiva Tetap Tentu saja ada beberapa langkah detail dari masing-masing langkah di atas Contoh Kasus: Pada tanggal 18 April 2008, PT. ROYAL BALI CEMERLANG menjual salah satu mesin produksinya seharga Rp 15,000,000. Dahulunya dibeli pada tanggal 22 February 2005 dengan harga perolehan sebesar Rp 25,000,000. Catatan: PT. Royal Bali Cemerlang menggunakan metode garis lurus untuk menghitung penyusutan aktiva tetapnya, tanpa Salvage Value (nilai residu), umur ekonomis (life time) mesin diperkirakan 8 Tahun. Posisi Aktiva Tetap Mesin PT. Royal Bali Cemerlang per 31 Des 2007 adalah sebagai berikut: Perolehan = Rp 25,000,000 Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Accum Deprec Nilai Buku

= (Rp 8,854,167) = Rp 16,145,833

Prosedur dan Perlakuan-nya: Step-1: Update Buku Aktiva Tetap [-]. Hitung Penyusutan 01 January 18 Maret 2008: Karena mesin dijual pada tanggal 18 April 2008, dimana tanggal 18 sudah melewati tengah bulan, oleh karenanya untuk bulan April dianggap mesin telah dipergunakan selama satu bulan penuh (jika dibawah tanggal 15 maka dianggap belum dipergunakan), maka : Penyusutan 01 Jan 18 Apr 2008: 4/12 x (25,000,000/8) = Rp 1,041,667 [-]. Bebankan Penyusutan dengan jurnal: Depreciation Rp 1,041,667 Rp 1,041,667 Accum Deprec

Catatan: Jurnal di atas akan menambah "Depreciation Cost" dan menambah "Accum Deprec" mesin sebesar Rp 1,041,667. Sehingga "Accum Deprec Mesin" per tanggal 18 April 2008 adalah : Accum Deprec per 31 Dec 2007 Accum Deprec 01 Jan-18 Apr 2008 Accum Deprec per 18 April 2008 = Rp 8,854,167 = Rp 1,041,667 = Rp 9.895,834

Dan nilai "Buku Aktiva Tetap Mesin" per 18 April 2008 adalah: Rp 25,000,000 Rp 9,895,833 = Rp 15,104,167 Langkah berikutnya adalah penghapusan Step-2: Penghapusan Aktiva Tetap Mesin Aktiva Tetap Mesin dihapus dengan jurnal: Kas/Piutang Accum Deprec Mesin Rugi Penjualan Aktiva Aktiva Tetap Mesin Catatan: Jurnal di atas akan: (-). Menghapus Aktiva Tetap Mesin dan Akumulasi penyusutannya Penghapusan terjadi karena posting Aktiva Tetap Mesin di masukkan di credit (berlawanan dengan perolehan aktiva tetap mesin yang berada di debit) dan Deprec Rp 15,000,000,Rp 9,895,833 Rp 104,167 Rp 25,000,000

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK

Accum di masukkan ke sisi Debit (berlawanan dengan saldonya yang berada di sisi credit). (-). Mencatat Kas masuk atau mengakui piutang sebesar nilai penjualan (-). Mengakui Rugi Penjualan Aktiva Tetap sebesar selisih antara harga perolehan dengan (Kas+ Accum Deprec), dengan kata lain selisih antara nilai buku aktiva tetap setelah di-update dengan nilai penjualan. Jika mesin dijual seharga Rp 16,000,000, maka Jurnalnya: Kas/Piutang Accum Deprec Mesin Aktiva Tetap Mesin Laba Penjualan Aktiva Catatan: Terjadi Laba dan diakui sebagai Laba Penjualan Aktiva Tetap sebesar Rp 895,833, yang dihitung dengan cara mencari selisih antara Nilai Buku Aktiva Tetap Mesin dengan Nilai Penjualan (Rp 6,000,000 - Rp 15,104,167). J. Pelaporan Laba/Rugi Penjualan Aktiva Tetap Laba atau Rugi Penjualan Aktiva Tetap di laporkan pada Laporan Laba/Rugi masuk dalam kelompok Pendapatan Lain-Lain bernilai positif jika untung, dan bernilai negative jika rugi. K. Fasilitas PPH-Penyusutan Fiskal Pasal 31 A UU 17tahun 2000 PP No.148/2000 Mulai berlaku 1 januari 2001 Kepada Wp yang melakukan penanaman modal dibidang-bidang usaha tertentu dan didaerah tertentu dapat diberikan fasilitas perpajakan dalam bentuk penyusutan fiscal yang dipercepat, agar investor dapat menangguhkan pembayaran PPh. L. Amortisasi Harta Tidak Berwujud Pasal 11 A UU No.10 tahun 1994, tidak berubah pada UU no.17 tahun 2000, menyatakan bahwa atas pengeluaran untuk memperoleh harta tidak berwuju dan pengeluaran lainnya termasuk biaya HGB, HGU dan hak pakai yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun yan gdipergunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan; apabila diamortisasi dengan saldo menurun, pada akhir masa manfaaat nilai sisa bukunya diamortisasi sekaligus. Masa Manfaat dan tariff amortisasi dengan harta berwujud kelompok bukan bangunan, yaitu; Rp 16,000,000,Rp 9,895,833 Rp 25,000,000 Rp 895,833

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK

Kelompok Harta Tak Berwujud 1 2 3 4

Masa Manfaat

Tarif Amortisasi Garis lurus

Tarif amortisasi Saldo Menurun 50% X NSB 25% 12,5% 10%

4 thn 8 thn 16 thn 20 thn

25% X HP 12,5% 6,25% 5%

Pasal 9 ayat 2 UU no,17 tahun 2000, pengeluaran untuk mendapatkan , menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun tidak diperbolehkan untuk dibebankan seklaigus melainkan dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 atau 11 A Contoh; Pada awal tahun 2007 PT A memperpanjang HGU selama 25 tahun sejak awal 2007 dengan biaya perpanjangan melalui konsultan sebesar Rp. 1 milyar, masuk dalam kelompok 3 secara akuntansi diamortisasi dengan metode garis lurus selama 25 tahun, secara fiscal diamortisasi selama 20 tahun dengan metode garis lurus. Amortisasi komersial pertahun Rp.40 juta, amortisasi fiscal pertahun 50 juta merupakan beda waktu. Selisih amortisasi komersial dibawah amortisasi fiscal sebesar komersial Rp.10 juta selama 20 tahun merupakan penyesuaian fiscal negative; sebaliknya selisih amortisasi diatas amortisasi fiscal sebesar rp.40 juta selama 5 thn merupakan penyesuaian fiscal positif. Pengeluaran untuk biaya pendrian dan biaya perluasan modal suatu perusahaan dapat dibebankan seklaigus pada tahun terjadinya pengeluaran atau diamortisasi sesuai dengan masa manfaat yang ditetapkan, apabila secara komersial diamortisaso selama 10 thn, secara fiscal dapat dimasukkan kelompok 2. Pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial yang mempunyai masa manfaaat lebih dari satu tahun yang sesuai dengan pasal 6 ayat 1 UU no.17 tahun 2000, Dikapitalisasi dibukukan dalam akun biaya sebelum operasi (pre operating expense), kemudian diamortisasi sesuai dengan masa manfaat yang ditentukan. Pengeluaran untuk memperoleh hak dan pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun dibidang penambangan minyak dan gas bumi, diamortisasi dengan metode satuan produksi; apabila ternyata jumlah produksi yang sebenarnya lebih kecil dari yang diperkirakan, maka sisa pengeluaran diamortisasi sekaligus pada akhir masa produksi K. Penghasilan Bukan Obyek Pajak Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK

1. Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) huruf d UU Nomor 17 Tahun 2000 dijelaskan bahwa yang menjadi Objek Pajak adalah keuntungan karena penjualan atau pengalihan harta termasuk keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan dan sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau penguasaaan antara pihak-pihak yang bersangkutan. 2. Berdasarkan Pasal 4 ayat (3) huruf a UU Nomor 17 Tahun 2000 dijelaskan bahwa yang tidak termasuk objek pajak adalah harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan social atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. 3. Berdasarkan Pasal 10 ayat (4) UU Nomor 10 Tahun 1994 dijelaskan bahwa jika apabila terjadi pengalihan harta: a. yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, maka dasar penilaian bagi yang menerima pengalihan sama dengan nilai sisa buku dari pihak yang melakukan pengalihan atau nilai yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak; b. yang tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a, maka dasar penilaian bagi yang menerima pengalihan sama dengan nilai pasar dari harta tersebut. c. Berdasarkan Pasal 16 D UU Nomor 11 Tahun 1994 dijelaskan bahwa Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan aktiva oleh Pengusaha Kena Pajak yang menurut tujuan semula aktiva tersebut tidak untuk diperjualbelikan, sepanjang Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar pada saat perolehannya dapat dikreditkan. d. Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) huruf d UU Nomor 17 Tahun 2000 dijelaskan bahwa keuntungan berupa selisih antara harga pasar dengan nilai perolehan atau nilai sisa buku atas pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau sumbangan dianggap sebagai penghasilan bagi pihak yang mengalihkan, kecuali harta tersebut dialihkan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, serta badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial termasuk yayasan atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungannya dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat ditegaskan bahwa: 1. Apabila terjadi pengalihan harta yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, maka dasar penilaian bagi yang menerima pengalihan sama dengan nilai sisa buku dari pihak yang melakukan pengalihan 2. Apabila terjadi pengalihan harta yang tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a, maka dasar penilaian bagi yang menerima pengalihan sama dengan nilai pasar dari harta tersebut. 3. Apabila terdapat keuntungan berupa selisih antara harga pasar dengan nilai perolehan atau nilai sisa buku atas pengalihan harta tersebut maka selisih tersebut merupakan keuntungan dianggap sebagai penghasilan bagi pihak yang mengalihkan dengan tarif Pasal 17 yang diatur dalam UU Pajak Penghasilan. 4. Apabila terjadi penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh Pengusaha Kena Pajak, dikenakan pajak sepanjang memenuhi persyaratan, yaitu bahwa Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar pada saat perolehannya, sesuai ketentuan Undang-undang ini, dapat dikreditkan. Dengan demikian, penyerahan aktiva tersebut tidak dikenakan pajak apabila Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar pada waktu perolehannya tidak dapat dikreditkan berdasarkan ketentuan dalam Undang-undang ini, kecuali jika tidak dapat dikreditkannya Pajak Pertambahan Nilai tersebut karena bukti pengkreditannya tidak memenuhi persyaratan administratif, misalnya Faktur Pajaknya tidak diisi lengkap sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5). L. Saat Lain Pengakuan Penghasilan Dengan keputusan DJP, dapat ditetapkan saat pengakuan penghasilan biaya dalam hal-hal tertentu atau bagi wajib pajak tertantu sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah(PP 138/00) : 1. Kredit Non Performing Adalah kredit yang diberikan oleh bank yang digolongkan sebagai kredit kurang lancer, diragukan, dan macet(KEP 184/02) 2. Cash Basis Penghasilan bank berupa bunga kredit non performing diakui saat penghasilan bunga tersebut diterima oleh bank (cash basis)(KEP 184/02) 3. Pengurang Pokok-Setelah Pelunasan Pokok Dalam hal bank membukukan penerimaan bunga kredit non performing sebagai pengurang pokok kredit, saat pengakuan penghasilan ditunda hingga saat diterimanya penghasilan bunga setelah pelunasan pokok kredit(KEP 184/02) Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK

4. Addendum Perjanjian Kredit Bank dan debitur yang terkait terlebih dahulu harus membuat perjanjian tambahan atau addendum atas perjanjian kreditnya, yang menyatakan bahwa kdua belah pihak setuju untuk memperlakukan setiap pembayaran yang dilakukan oleh debitur kepada bank sebagai cicilan pokok kredit hingga lunasnya pokok kredit keseluruhan dan pembayaran-pembayaran setelah itu diperlakukan sebagai bunga(SE 08/02). Bank dapat lansung menerapkan pengakuan penghasilan berupa bunga kredit non performing pada saat penghasilan bunga tersebut diteria oleh bank (cash basis) atau dalam hal bank membukukan penerimaan bunga non performing sebagai pengurang pokok kredit, saat pengakuan penghasilan ditunda hingga saat diterimanya penghasilan bunga setalh pelunsasn pokok kredit (pasal 2, KEP 184/02), dengan menyerahkan satu dokumen perjanjian tambahan atau addendum bersamaan dengan penyerahan daftar debitur yang kreditnya digolongkan kurang lancar, diragukan, dan macet kepada kantor pelayanan pajak tempat bank terdaftar sebagai wajib pajak sebagai lampiran dari SPT Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang bersangkutan(SE 08/02). 5. Daftar Debitur Bank wajib menyerahkan daftar debitur yang kreditnya digolongkan kurang lancer diragukan dan macet kerpada KPP tempat bak terdaftar sebagai wajib pajak sebagai lampiran dan SPT Tahunan Pajak Penghasilan bersangkutan(KEP 184/02). Daftar debitur memuat nomor urut, nama debitur, alamat NPWP; jumlsh kredit non performing yang digolongkan kurang lancer , diragukan dan macet; serta jumlah bunga yang terutang (accrual basis) yan gbelum diakui sebagai penghasilan pada tanggal laporan keuangan (sesuai lampiran) I lampiran II dan Lampiran III Keputusan Direktur Jendral Pajak Nomor(KEP-/PJ/2002). Dalam hal debitur (jumlah kredit pajak tidak jauh lebih dari Rp.5.000.000 , terlalu banyak, maka dimungkinkan untuk dibutakan daftar global dari masingmasing golongan kredit dimaksud. Atas daftar global tersbeut bak harus dapat menyampaikan daftar kredit dimaksud. Atas dsar global tersbut bank harus dapat meyampaikan daftar rinciannya bila sewaktu-waktu diperlukan oleh DJP(SE 44/98). tahun pajak yang

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AKUNTANSI PAJAK