Anda di halaman 1dari 746

http://inzomnia.wapka.

mobi

Death Du Jour Kathy Reichs

Edit & Convert: inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi Djvu: Otoy http://otoy-ebookgratis.blogspot.com Para tokoh dan peristiwa dalam buku ini hanyalah fiktif dan diciptakan berdasarkan imajinasi pengarang. Berlatar belakang Montreal; Kanada; Charlotte; North Carolina; dan berbagai lokasi lainnya. Beberapa lokasi dan lembaga yang nyata disajikan dalam cerita ini, namun berbagai tokoh dan peristiwa yang dituturkan benar-benar fiktif.

http://inzomnia.wapka.mobi

1. Kalaupun mayat itu ada di situ, aku tidak bisa menemukannya. Di luar, angin menderu-deru. Di dalam gereja tua, yang terdengar hanyalah gesekan sekop, dengungan generator jinjing, serta pemanas yang bergema dengan menyeramkan di ruangan yang amat luas itu. Tinggi di atas, dahan pohon menggaruk-garuk jendela berkusen, jari-jemarinya mencakari dinding kayu lapis. Kerumunan orang berdiri dekat di belakangku, bergerombol, tetapi tidak menyentuh, tangan mengepal dalam saku masing-masing. Aku bisa mendengar pergerakan dari sisi yang satu ke sisi yang lain, satu kaki diangkat kemudian kaki yang satunya lagi. Sepatu lars menimbulkan suara menggerus di tanah yang beku. Tidak ada yang berbicara. Rasa dingin telah membius kami dalam kesunyian. Kuamati segumpal tanah menghilang melalui ayakan berlubang halus saat aku menebarkannya dengan lembut menggunakan sekop. Butiran tanah di lapisan bawah merupakan kejutan yang menyenangkan. Mengingat permukaannya, aku menduga akan menemukan lapisan tanah yang

http://inzomnia.wapka.mobi

membeku selama peng galian ini. Namun, dua minggu terakhir di Quebec ini, tidak seperti biasanya, cuaca cukup hangat sehingga salju meleleh dan tanah melunak. Ciri khas keberuntungan Tempe. Walaupun tetesan musim semi telah terusir oleh badai salju arktik, cuaca yang hangat itu telah membuat tanah menjadi lunak dan mudah digali. Bagus. Tadi malam suhu menukik sampai -14 derajat Celcius. Tidak bagus. Walaupun tanah tidak membeku kembali, cuaca terasa sangat dingin menusuk tulang. Jari-jemariku begitu kedinginan sehingga aku hampir tidak bisa mem bengkokkannya. Kami sedang menggali lapisan tanah yang kedua. Namun, masih belum ditemukan apa-apa, kecuali kerikil dan serpihan batu yang menumpuk di ayakan. Aku tidak berharap menemukan apa-apa di kedalaman seperti ini, tapi bisa saja keliru. Selama ini aku belum pernah mengalami penggalian mayat yang berjalan sesuai dengan rencana. Aku berbalik menghadap seorang lelaki yang mengenakan jaket panjang hitam dan sebuah topi rajut. Dia memakai sepatu lars dari kulit yang bertali sampai ke lututnya, sepasang kaus kaki yang melipat keluar dari puncak sepatu itu. Wajahnya merah seperti sup tomat.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Hanya beberapa sentimeter lagi." Aku memberikan tanda dengan menelungkupkan tanganku, seperti mengelus seekor kucing. Pelan-pelan. Dengan perlahan-lahan. Lelaki itu mengangguk. Kemudian, dia menancapkan sekop bergagang panjang ke lapisan tanah yang kedua, melenguh keras seperti Monica Seles, pemain tenis AS terkenal, ketika melakukan serve pertamanya. "Par pounces!" teriakku sambil menyambar sekop. Beberapa sentimeter lagi! Kuulangi gerakan meng iris yang telah kutunjukkan kepadanya sepagian ini. "Galinya jangan terlalu dalam, tipis-tipis saja." Ujarku kembali dengan lambat-lambat dalam bahasa Prancis yang cermat. Terlihat jelas bahwa lelaki itu tidak mengacuhkan permintaanku. Mungkin karena pekerjaan ini sungguh membosankan atau mungkin karena pemikiran bahwa dirinya sedang menggali sebuah kuburan. Lelaki bermuka merah ini hanya ingin melakukannya dengan cepat-kemudian cepat berlalu daritempat ini. "Ayolah, Guy, coba lagi?" ujar suara lelaki di belakangku. "Baik, Pastor." Gumamnya. Guy melanjutkan pekerjaannya; menggelengkan kepala, tetapi mengiris tanah seperti yang tadi kutunjukkan caranya, lalu melemparkannya ke atas

http://inzomnia.wapka.mobi

ayakan. Kualihkan lirikanku dari gumpalan tanah hitam ke lubang itu, menunggu munculnya tanda-tanda bahwa kami memang sedang menggali sebuah kuburan. Kami sudah menggali selama berjam-jam dan aku bisa merasakan ketegangan yang mencuat di belakangku. Ayunan tubuh para biarawati semakin gencar. Aku ber-balik untuk memberikan ekspresi wajah yang kuharap bisa menenangkan sekelompok wanita ini. Kedua bibirku begitu kaku sehingga aku tidak yakin apakah niatku itu terpan-carkan dengan baik di wajahku. Enam raut wajah membalas pandanganku, terlihat tirus karena kedinginan dan rasa gelisah. Kepulan asap muncul dan menghilang di depan wajah keenam wanita itu. Enam senyuman ditujukan kepadaku. Aku bisa merasakan mereka sedang giat berdoa. Sembilan puluh menit kemudian, kami sudah menggali sedalam satu setengah meter. Seperti satu setengah meter yang pertama, lubang ini hanya menghasilkan tanah. Setiap jari kakiku serasa sudah diserang radang dingin dan Guy sudah siap untukmen datangkan mesin pengeruk tanah. Sudah waktunya untuk menelaah situasi ini. "Pastor, sepertinya kita harus memeriksa lagi arsip pe-

http://inzomnia.wapka.mobi

nguburan." Sejenak dia terlihat ragu. Kemudian, "Ya. Tentu saja. Tentu saja. Dan kita semua bisa beristirahat dulu; ngopi sambil makan roti lapis." Pendeta itu melangkah menuju pintu kayu di ujung gereja tua kosong ini dan para biarawati mengikutinya dari belakang, kepala ditundukkan, dengan hati-hati sekali melangkah di tanah yang tidak rata itu. Kerudung putih mereka membentuk lengkungan yang sama di bagian belakang jaket wol hitam yang mereka kenakan. Pinguin. Siapa yang mengatakan itu? The Blues Brothers. Kumatikan cahaya lampu senter dan mulai melangkah, mata menatap tanah, tercengang saat melihat serpihan tulang yang terkubur di lantai tanah ini. Keterlaluan. Kami menggali di sebuah titik di dalam gereja ini yang ternyata tidak berisi kuburan. Pastor Menard mendorong salah satu pintu dan, dalam satu barisan, kami berjalan keluar bangunan itu ke dalam terangnya hari. Dalam beberapa saat mata kami sudah bisa menyesuaikan dengan cahaya di luar. Langit terlihat mendung dan sepertinya memeluk puncak menara semua bangunan di kompleks biara itu. Angin kering menerpa para biarawati St. Lawrence, menyebabkan kerah dan kerudung mereka berkibar-kibar.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kelompok kami yang kecil itu membungkuk menentang angin dan menyeberang ke bangunan di sebelah, yang dibangun dari batu berwarna abu-abu seperti gereja itu, tetapi lebih kecil. Kami menaiki undakan tangga menuju beranda kayu yang dihiasi ukiran, lalu masuk melalui pintu samping. Di dalam, udara terasa hangat dan kering, terasa nyaman dibandingkan dengan cuaca dingin yang menggigit di luar. Aku mencium bau teh dan kamper serta makanan yang sudah dikeringkan bertahun-tahun yang lalu. Tanpa berkata sepatah kata pun, para wanita melepaskan sepatu lars mereka, satu demi satu tersenyum padaku, dan menghilang ke balik pintu di sebelah kanan bersamaan dengan masuknya seorang biarawati berperawakan kecil yang mengenakan sweter ski berukuran raksasa. Dia melangkah masuk ke foyer (ruang kecil di bagian depan). Gambar rusa cokelat berbulu tebal merentang di dadanya dan menghilang di balik kerudungnya. Dia mengedipkan matanya kepadaku melalui lensa kacamata yang tebal dan meraih jaket panjangku. Aku agak ragu, takut kalau jaketku yang berat itu membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjerembab ke lantai. Dia mengangguk cepat dan memberi isyarat padaku

http://inzomnia.wapka.mobi

dengan menggerakkan jari telunjuknya, sehingga aku me lepaskan jaketku, meletakkannya di lengannya, lalu menambahkan topi serta sarung tanganku. Dia adalah wanita tertua yang masih hidup yang pernah kulihat. Kuikuti Pastor Menard menyusuri lorong yang panjang dan bercahaya redup menuju sebuah ruang belajar berukuran kecil. Di sini tercium aroma kertas yang sudah usang dan cat sekolah. Sebuah salib berukuran sangat besar tergantung di atas meja sehingga aku bertanya dalam hati bagaimana memasukkan salib besar itu ke dalam ruangan ini. Panel kayu ek berwarna gelap menjulang hampir mencapai langitlangit. Sejumlah patung menatap dari tempatnya di bagian atas ruangan, wajah mereka terlihat muram seperti sosok tubuh di atas salib. Pastor Menard duduk di salah satu dari dua kursi kayu yang menghadap meja, lalu menyuruhku duduk di kursi yang satunya lagi. Suara gemerisik jubahnya. Suara gemerisik rosarionya. Untuk sesaat aku merasa seakan kembali di St. Barnabas. Di dalam kantor Pastor. Dalam kesulitan lagi. Hentikan, Brennan. Usiamu sudah melewati empat puluh tahun, seorang profesional. Seorang ahli antropologi forensik.Orang-orang ini memanggilmu karena mereka memerlukan keahlianmu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sang pastor menarik sebuah buku bersampul kulit dari atas mejanya, membukanya di halaman yang diberi tanda dengan pita hijau, lalu meletakkan buku itu di antara kami berdua. Dia menarik napas panjang, mengerucutkan bibirnya, lalu mengembuskan napas melalui lubang hidungnya. Aku cukup kenal dengan diagram yang terpampang di halaman buku itu. Sebuah kisi-kisi dengan baris-baris melintang yang dibagi menjadi beberapa kotak segi empat, beberapa diisi nomor, beberapa diisi nama. Kami menghabiskan waktu berjam-jam lamanya mendiskusikan diagram ini kemarin, membandingkan berbagai tulisan dan arsip kuburan dengan posisinya di kisi-kisi tersebut. Lalu, kami memperhitungkan semuanya dan menandai semua lokasinya yang tepat. Suster Elizabeth Nicolet seharusnya berada di baris kedua dari dinding gereja sebelah utara, kotak ketiga dari sebelah barat. Tepat di sebelah Bunda Aurelie. Tetapi, ternyata dia tidak ada di situ. Begitu pula dengan Aurelie, yang tidak berada di tempat yang seharusnya. Kutunjuk sebuah kuburan di kuadran yang sama, tetapi beberapa baris ke bawah dan ke sebelah kanan. "Oke. Raphael sepertinya ada di tempat ini." Kemudian, menurun satu barisan. "Dan Agathe, Veronique, Clement,

http://inzomnia.wapka.mobi

Marthe, dan Eleonore. Mereka semua dimakamkan pada tahun 1840-an 'kan?" "C'estca." Kugerakkan jariku ke bagian diagram di sudut barat daya gereja. "Dan ini adalah beberapa kuburan yang terbaru. Tanda-tanda yang kita temukan sesuai dengan arsip Anda." "Ya. Itu adalah beberapa kuburan baru, tidak lama sebelum gereja itu ditinggalkan." "Dan kemudian ditutup pada tahun 1914." "Sembilan belas empat belas. Ya, 1914." Dia memiliki cara yang aneh dalam mengulangi kata dan frasa. "Elisabeth meninggal pada tahun 1888?" "C'estca. 1888. Bunda Aurelie pada tahun 1894." Semua itu tidak masuk akal. Bukti keberadaan kuburan itu seharusnya ada di situ. Sudah jelas bahwa berbagai artefak dari kuburan di tahun 1840-an ada di sana. Sebuah pengujian di daerah itu menghasilkan potongan kayu dan sisa-sisa peti mati. Dalam lingkungan yang terlindung di dalam gereja, dengan jenis tanah seperti itu, menurutku seharusnya tulangbelulangnya

http://inzomnia.wapka.mobi

masih berada dalam kondisi yang cukup bagus. Jadi, ke manakah Elisabeth dan Aurelie? Biarawati tua itu menyeruak masuk sambil membawa nampan berisi kopi dan roti lapis. Asap dari cangkir membuat kacamatanya berembun, sehingga dia berjalan dengan langkah pendek-pendek, tidak pernah mengangkat seluruh kakinya dari lantai. Pastor Menard bangkit untuk menyambut nampan tersebut. "Merci, Suster Bernard. Sungguh baik sekali. Baik sekali." Biarawati itu mengangguk dan menyeret kakinya keluar, tanpa menyeka kacamatanya. Aku mengamatinya saat meraih cangkir kopiku. Bahu biarawati itu sama lebarnya dengan pergelangan tanganku. "Berapa usia Suster Bernard?" tanyaku sambil mengambil sebuah croissant. Berisi salad salmon dan daun selada yang sudah layu. "Kami tidak tahu pasti. Dia sudah berada di biara ini ketika aku datang ke sini sewaktu kecil dulu, sebelum perang. Maksudku Perang Dunia II. Kemudian, dia pergi mengajar di gereja di luar negeri. Dia tinggal di Jepang untuk beberapa waktu lamanya, kemudian di Kamerun. Kupikir usianya

http://inzomnia.wapka.mobi

pasti sekitar sembilan puluh tahunan." Dia menghirup kopinya. Tipe penyeruput. "Dia dilahirkan di desa kecil di Saguenay, konon masuk ke biara ini saat berusia dua belas tahun." Seruput. "Dua belas. Arsip yang ada saat itu di daerah pedesaan di Quebec tidak begitu bagus. Tidak begitu bagus." Kugigit roti lapis itu, kemudian menggenggam cangkir kopi. Hangatnya sungguh nikmat sekali. "Pastor, apakah ada arsip lainnya? Surat-surat tua, dokumen, apa pun yang belum kita lihat?" Aku mencoba menggerak-gerakkan jari kakiku. Aku tidak bisa merasakan apa-apa. Dia menganggukkan kepala ke lembaran kertas yang berserakan di atas meja, lalu mengangkat bahu. "Ini semua arsip yang diberikan Suster Julienne kepadaku. Dia pengurus arsip di biara ini." "Ya." Aku dan Suster Julienne telah berbicara dan melakukan surat-menyurat cukup lama tentang masalah ini. Dialah yang pertama kali menghubungiku dan bercerita tentang proyek ini. Aku langsung tertarik saat mendengar ceritanya. Kasus ini sangat berbeda dengan pekerjaan forensikku yang biasa, yang melibatkan jenazah yang

http://inzomnia.wapka.mobi

ditangani koroner. Pihak keuskupan agung memintaku menggali kuburan dan menganalisis sisa-sisa mayat seorang santa. Memang, jenazah itu sebenarnya bukan seorang santa. Tetapi, itulah masalahnya. Elisabeth Nicolet telah diusulkan untuk diberkati menjadi seorang santa. Aku diminta untuk menemukan kuburannya dan memverifikasi bahwa tulangbelulangnya adalah memang miliknya. Urusan pemberkatan gelar santa diserahkan ke Vatikan. Suster Julienne meyakinkanku bahwa terdapat arsip yang akurat. Semua kuburan di gereja tua itu telah disusun dalam katalog dan dipetakan. Penguburan yang terakhir terjadi pada tahun 1911. Gereja itu kemudian ditinggalkan dan ditutup pada tahun 1914 setelah terjadi kebakaran. Sebuah gereja baru yang lebih besar dibangun untuk menggantikannya dan bangunan tua itu tidak pernah digunakan kembali. Ditutup. Dokumentasinya rapi. Mudah sekali. Jadi, di manakah Elisabeth Nicolet? "Mungkin tidak ada salahnya bertanya. Mungkin ada sesuatu yang belum diberikan Suster Julienne kepada Anda karena menurutnya mungkin tidak penting." Pastor hendak mengatakan sesuatu, tetapi kemudian berubah pikiran. "Aku yakin dia telah memberikan semuanya kepadaku, tetapi aku akan

http://inzomnia.wapka.mobi

menanyakannya nanti. Suster Julienne telah menghabiskan waktu yang cukup banyak untuk melakukan penelitian ini. Waktu yang cukup banyak." Aku mengawasinya keluar dari pintu, menghabiskan croissant-ku, kemudian melahap sepotong roti lagi. Kusilangkan kakiku, bersila, kemudian meremas jari kakiku. Nikmat. Aku mulai bisa merasakan jarijariku kembali. Sambil menghirup kopi, kuraih sehelai surat dari atas meja. Aku sudah pernah membacanya. 4 Agustus 1885. Campak mewabah di Montreal. Elisabeth Nicolet menulis surat kepada Uskup Edouard Fabre, memohon kepadanya untuk melakukan vaksinasi pada para jemaat yang masih sehat dan menggunakan rumah sakit untuk merawat mereka yang terjangkit campak. Tulisan tangannya sungguh rapi, dalam bahasa Prancis yang aneh dan kuno. Biara Notre-Dame de l'Immaculee-Conception benar-benar sunyi. Pikiranku melayang. Kukenang sebuah penggalian kubur lainnya. Polisi di St-Gabriel. Di pemakaman itu, peti mati ditumpuk tiga tingkat. Kami akhirnya menemukan Monsieur Beaupre, empat kuburan jaraknya dari lokasi yang ada di arsip, di bagian paling bawah, bukan yang paling atas. Lalu, ada seorang pria di Winston-Salem yang bahkan tidak berada di dalam peti

http://inzomnia.wapka.mobi

matinya sendiri. Peti mati itu malahan berisi seorang wanita yang mengenakan gaun panjang bercorak bunga. Hal itu memunculkan dua masalah di tanah pekuburan itu. Ke manakah jenazah yang dicari itu? Dan siapakah tubuh di dalam peti mati itu? Keluarganya tidak pernah bisa menguburkan kembali sang Kakek di Polandia dan para pengacaranya mempersiapkan tuntutan sengit saat aku meninggalkan kasus itu. Di kejauhan, kudengar suara bel berbunyi, kemudian, di koridor terdengar suara gemerisik. Biarawati tua itu sedang berjalan ke arahku. "Serviettes," ujarnya dengan suara melengking. Aku meloncat kaget, menumpahkan kopi ke lengan bajuku. Bagaimana mungkin suara senyaring itu muncul dari mulut orang sekecil ini? "Merci." Jawabku sambil meraih serbet. Dia tidak mengacuhkanku, menghampiri, dan menggosok lengan bajuku. Sebuah alat bantu dengar tampak menempel di telinga kanannya. Aku bisa merasakan napasnya dan melihat helaian uban menghiasi dagunya. Dari tubuhnya tercium wangi wol dan air mawar. "Eh, voila. Cucilah begitu sampai ke rumah. Air dingin." "Baik, Suster." Kata-kata itu terucap secara refl eks.

http://inzomnia.wapka.mobi

Matanya menatap surat di tanganku. Untunglah, surat itu tidak terkena tumpahan kopi. Dia membungkuk, mendekat. "Elisabeth Nicolet adalah wanita hebat. Seorang wanita pencinta Tuhan. Benar-benar suci. Benar-benar bersahaja." Purete. Austerite. Bahasa Prancisnya terdengar persis seperti bila surat-surat Elisabeth diucapkan. "Ya, Suster." Seakan-akan aku berusia Sembilan tahun. "Dia akan menjadi seorang santa." "Ya, Suster. Itulah sebabnya kami berusaha menemukan tulangbelulangnya. Agar dia bisa menerima penghormatan yang layak." Aku tidak yakin bagaimana penghormatan yang layak untuk seorang santa, tetapi kedengarannya pantas untuk diucapkan. Kuraih diagram dan menunjukkannya kepadanya. "Ini peta gereja lama." Kususuri barisan di dinding utara, lalu menunjuk sebuah persegi empat. "Ini kuburannya." Si biarawati tua mengamati peta itu selama beberapa saat, dengan kacamata hampir menempel ke halaman tersebut. "Dia tidak ada di situ," ujarnya. "Maaf?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dia tidak ada di situ," Sebuah jari yang montok mengetuk kotak itu. "Ini tempat yang salah." Pastor Menard masuk ke ruangan. Dia ditemani seorang biarawati bertubuh tinggi dan beralis tebal berwarna hitam pekat yang menyatu di pangkal hidungnya. Pastor itu memperkenalkan Suster Julienne, yang mengulurkan tangan sambil tersenyum. Tidak perlu menjelaskan apa yang dikatakan Suster Bernard. Mereka pasti telah mendengar ucapan wanita tua itu dari koridor. Mereka mungkin sudah mendengar biarawati tua itu ketika berada di Ottawa. "Itu tempat yang salah. Kalian mencari di tempat yang salah," ujarnya. "Apa maksudmu?" tanya Suster Julienne. "Mereka mencari di tempat yang salah," ujar Suster Bernard mengulangi perkataannya. "Dia tidak ada di situ." Aku dan Pastor Menard bertukar pandang. "Jadi, di mana dia, Suster?" tanyaku. Dia membungkukkan tubuhnya sekali lagi di atas diagram itu, kemudian menunjuk bagian tenggara gereja. "Dia ada di situ. Dengan Bunda Aurelie." "Tetapi Sus-"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Mereka memindahkan keduanya. Menyediakan peti mati baru dan meletakkan keduanya di bawah sebuah altar khusus. Di sana." Kembali dia menunjuk sudut sebelah tenggara. "Kapan?" Kami melontarkan pertanyaan itu pada waktu yang bersamaan. Suster Bernard memejamkan mata. Bibir tua yang keriput itu bergerak, menghitung-hitung tanpa suara. "Sembilan belas sebelas. Itu tahun ketika aku datang sebagai biarawati baru. Aku masih ingat, karena beberapa tahun kemudian gereja itu terbakar dan mereka menutupinya dengan papan. Tugasku adalah masuk ke gereja dan meletakkan bunga di atas altar itu. Aku tidak menyukai tugas itu. Sangat menakutkan masuk ke dalam sendirian. Tapi, kuserahkan semuanya kepada Tuhan." "Apa yang terjadi dengan altar itu?" "Dikeluarkan sekitar tahun tiga puluhan. Sekarang ada di Kapel Bayi Suci di dalam gereja yang baru." Dia melipat serbet dan mengumpulkan cangkir kopi. "Dulu ada sebuah plakat yang menandai keberadaan kuburan itu, tapi sekarang sudah tidak ada. Tidak ada seorang pun yang pergi ke tempat itu sekarang. Tanda itu sudah lama hilang."

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku dan Pastor Menard kembali bertukar pandang. Dia mengangkat bahunya. "Suster," ujarku pada akhirnya, "apakah Anda bisa menunjukkan kuburan Elisabeth kepada kami?" "Bien sur." "Sekarang?" "Kenapa tidak?" Cangkir porselen berdenting saat mengenai cangkir porselen lainnya. "Biarkan saja cangkir-cangkir itu," ujar Pastor Menard. "Pakailah jaket dan sepatumu, Suster, dan kita akan berjalan ke sana sekarang juga." Sepuluh menit kemudian, kami semua kembali berada di dalam gereja tua itu. Cuaca belum berubah dan malahan terasa lebih dingin dan lembap dibandingkan dengan cuaca pagi harinya. Angin masih men deru-deru. Dahan pepohonan masih mengetukngetuk. Suster Bernard memilih jalanan yang rusak menyeberangi gereja, aku dan Pastor Menard masing-masing memegangi sebelah lengannya. Melalui kain bajunya, tubuhnya terasa rapuh dan ringan sekali.

http://inzomnia.wapka.mobi

Biarawati lain mengikuti kami dengan bergerombol, Suster Julienne sudah siap dengan buku steno dan pulpennya. Guy mengikuti kami di barisan paling belakang. Suster Bernard berhenti di bagian gereja sebelah tenggara. Dia mengenakan topi chartreuse hasil rajutan tangan di atas kerudungnya, ditalikan ke dagunya. Kami mengamati kepalanya menengok kian-kemari, mencari-cari tanda, berusaha mengingat-ingat kembali. Semua mata tertuju ke sebuah titik di bagian dalam gereja yang suram. Aku memberikan isyarat kepada Guy untuk membetulkan posisi lampu. Suster Bernard tidak mengacuhkannya. Setelah beberapa saat lamanya, dia mundur menjauhi dinding. Kepala menengok ke kiri, ke kanan, kemudian ke kiri lagi. Ke atas. Ke bawah. Dia memeriksa posisinya sekali lagi, kemudian menggores tanah dengan tumit sepatu larsnya. Setidaknya dia mencoba menggores dengan tumit sepatunya. "Dia di sini." Suaranya yang melengking itu bergema, terpantul dari dinding batu. "Kau yakin?" "Dia di sini." Suster Bernard terlihat sangat yakin.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kami semua menatap tanda yang dibuatnya. "Mereka berada di peti mati berukuran kecil. Bukan peti mati yang seperti biasanya. Waktu itu hanya tersisa tulang-belulangnya sehingga semuanya bisa dimasukkan ke dalam peti mati kecil." Dia merentangkan lengannya yang kecil untuk menunjukkan ukuran peti mati untuk anak kecil. Salah satu lengannya gemetaran. Guy menyorotkan lampunya ke titik di dekat kaki Suster Bernard. Pastor Menard mengucapkan terima kasih kepada biarawati tua itu dan meminta dua orang biarawati lain untuk mengantarkannya kembali ke biara. Aku mengawasi mereka menjauh. Dia terlihat seperti seorang anak kecil di antara kedua rekannya, begitu kecilnya sehingga ujung jaketnya hampir tidak mencapai lantai yang kotor. Kuminta Guy membawa satu lagi lampu ke lokasi yang baru itu. Lalu, kutarik alat pemindaiku dari lokasi awal, meletakkan ujungnya di tempat yang telah dibuat Suster Bernard, dan mendorong pegangan berbentuk huruf T. Tidak berhasil. Tempat itu sama bekunya. Kugunakan sebuah alat pemindai ubin untuk menghindari kerusakan benda apa pun yang ada di bawah permukaan tanah, dan ujungnya yang berbentuk bola tidak bisa menembus lapisan tanah paling

http://inzomnia.wapka.mobi

atas yang sudah membeku itu. Aku mencobanya sekali lagi, dengan lebih keras. Tenang, Brennan. Mereka tidak akan senang kalau kamu menghancurkan kaca peti mati. Atau mengebor lubang di kepala biarawati itu. Kubuka sarung tanganku, mencengkeram alat itu dengan kesepuluh jariku, dan mendorong kembali. Kali ini permukaan tanah pecah dan aku merasakan ujung pemindai itu menembus lapisan tanah. Sambil menahan keinginan untuk melakukannya secara tergesa-gesa, kuuji lapisan tanah itu, dengan mata terpejam, merasakan perbedaan lapisan tanah yang sedang kutembus. Berkurangnya tekanan berarti adanya sebuah ruang hampa yang diisi oleh sesuatu yang telah lapuk. Tekanan yang lebih besar bisa berarti sebuah tulang atau artefak ada di bawah tanah. Tidak ada. Kutarik alat itu dan mengulangi proses itu kembali. Pada percobaan ketiga aku merasakan ada yang menahan. Aku menariknya kembali, menancapkan kembali alat itu lima belas sentimeter ke sebelah kanan. Sekali lagi terasa ada tekanan. Ada sesuatu yang keras tidak jauh dari permukaan tanah.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kuberikan isyarat berupa jempol ke atas kepada pastor dan para biarawati, dan meminta Guy membawa ayakan. Sambil berbaring di sebelah alat pemindai, kuraih sekop berujung rata dan mulai mengiris lapisan tanah. Kukupas tanah, sejengkal demi sejengkal, melemparkannya ke ayakan, dan mataku bergerak dari ayakan ke lubang. Dalam waktu tiga puluh menit, aku sudah melihat benda yang kucari. Beberapa lapisan tanah yang terakhir kugali terlihat berwarna lebih gelap dibandingkan dengan lapisan tanah cokelat yang kulemparkan sebelumnya ke ayakan. Kuraih sekop kecil, membungkuk di atas lubang itu, dan pelan-pelan menggaruk lapisan dinding tanah, menyingkirkan butiran tanah dan meratakan permukaannya. Saat itu juga aku melihat sebuah benda berwarna gelap berbentuk lonjong. Bercak itu berukuran satu meter panjangnya. Aku hanya bisa menduga-duga lebarnya karena setengahnya terkubur di bawah lapisan tanah yang sedang kugali itu. "Ada sesuatu di bawah sini," ujarku sambil menegakkan tubuh. Napasku mengembun di depan wajahku. Secara serentak, para biarawati dan pastor bergerak mendekat dan mengintip ke dalam lubang. Kutunjuk bercak yang lonjong itu dengan ujung sekop. Pada saat itu, kedua biarawati yang mengantarkan Suster

http://inzomnia.wapka.mobi

Bernard sudah kembali untuk bergabung dengan teman-temannya yang lain. "Ini bisa saja kuburan, walaupun terlihat lebih kecil dari biasanya. Aku tadi menggalinya ke arah kiri, jadi harus menggali bagian sebelah sini," ujarku sambil menunjuk lokasi tempatku berjongkok. "Aku akan menggali sekeliling kuburan itu dan kemudian menggali ke bagian bawahnya. Dengan begitu, kita akan mendapatkan gambaran kuburan itu saat menggalinya. Dan akan lebih mudah bagiku untuk menggalinya seperti itu. Lubang di sekelilingnya akan mempermudah kita untuk mengangkat petinya dari samping jika terpaksa." "Bercak apa itu?" tanya seorang biarawati muda yang wajahnya seperti anggota Pramuka. "Ketika sesuatu yang kandungan organiknya ting gi mengalami pembusukan, benda itu akan menye - babkan tanah di sekelilingnya lebih gelap. Bisa berasal dari kayu peti mati, atau bunga yang ikut dikuburkan di dalamnya." Aku tidak ingin menjelaskan proses pembusukan. "Bercak seperti ini hampir selalu merupakan tanda-tanda keberadaan sebuah kuburan." Dua orang biarawati membuat tanda salib di dadanya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apakah itu Elisabeth atau Bunda Aurelie?" Tanya seorang biarawati berusia setengah baya. Bagian bawah kelopak matanya bergetar. Kuangkat tanganku sebagai isyarat "entahlah." Sambil mengenakan sarung tanganku kembali, aku mulai mengiris tanah di sebelah kanan bercak itu, melebarkan lubang yang sedang kugali sehingga memperjelas bercak lonjong itu dan pinggiran peti sepanjang enam puluh sentimeter di sebelah kanannya. Lagi-lagi, satu-satunya suara yang terdengar adalah suara gesekan dan tanah yang menerpa ayakan. Kemudian, "Apa itu?" Biarawati yang paling tinggi menunjuk ke ayakan. Kutegakkan tubuh untuk melihatnya, bersyukur atas kesempatan untuk meregangkan otot tubuhku. Biarawati itu menunjuk sebuah potongan kayu kecil berwarna cokelat kemerahan. "Wah, berani berta-. Memang jelas ada sesuatu ya, Suster. Kelihatannya seperti potongan kayu peti mati." Kukeluarkan setumpuk kantong kertas dari tasku, lalu di sebuah kantong itu kutulis tanggal, lokasi, dan berbagai

http://inzomnia.wapka.mobi

informasi penting lainnya, meletakkannya di ayakan, dan meletakkan sisanya di tanah. Jarijemariku kini benar-benar terasa kebas. "Waktunya untuk bekerja. Suster Julienne, tolong catat semua hal yang kita temukan. Tuliskan di kantong kertas dan catat dalam buku catatan, seperti yang sudah kita diskusikan. Sekarang kita"-aku menatap ke dalam lubang"pada kedalaman sekitar setengah meter. Suster Marguerite, tolong dipotret." Suster Marguerite mengangguk sambil mengangkat kameranya. Mereka segera melakukan tugas masing-masing, dengan penuh semangat, setelah dari tadi hanya mengamati berjam-jam. Aku terus menggali, Suster Kelopak Mata dan Suster Pramuka membantu mengayak. Semakin banyak potongan kayu yang tergali dan tak lama kemudian kami bisa melihat garis yang berbentuk pada tanah yang dipenuhi bercak hitam itu. Kayu. Sudah sangat hancur. Pertanda buruk. Dengan menggunakan sekop kecil dan tangan telanjang, aku terus menggali dengan harapan bisa menemukan sebuah peti mati. Walaupun suhu berada di bawah titik beku dan seluruh jari tangan serta kakiku telah kehilangan indra perasanya, keringat mengucur deras di dalam jaketku. Ya

http://inzomnia.wapka.mobi

Tuhan, mudah-mudahan ini sisa-sisa tubuhnya, pikirku. Nah, sekarang siapa yang berdoa? Saat aku menggali lubang itu ke arah utara, semakin banyak kayu yang tampak, benda itu terlihat semakin lengkap. Pelan-pelan, bentuknya terlihat jelas: segi-enam. Bentuk peti mati. Aku berusaha keras untuk meredam keinginan untuk berteriak "Halleluya!" Teriakan berbau gereja, tetapi tidak profesional, begitu kataku dalam hati. Kusapu tanah yang tersisa, sedikit demi sedikit, sampai puncak benda itu benar-benar terlihat dengan jelas. Ternyata sebuah kotak kayu kecil dan sekarang aku menyapu dari bagian kaki menuju kepala. Kuletak kan sekop kecilku dan meraih sebuah kuas. Mata ku menatap sepasang mata salah seorang biarawati yang menjaga ayakan itu. Aku tersenyum. Dia membalas senyumanku. Kelopak mata kirinya berkedut- kedut. Kusapu permukaan kotak kayu itu berulang kali, menyingkirkan tanah yang telah menempel selama puluhan tahun. Semua orang mengamati sambil menahan napas. Pelan-pelan, sebuah benda muncul dari tutup peti mati itu. Tepat di bagian yang paling lebar. Tepat pada posisi diletakkannya sebuah plakat. Jantungku berdegup dengan kencang.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kusapu tanah dari benda itu sampai terlihat jelas bentuk aslinya. Bentuknya lonjong, dari logam, dengan pinggiran dihiasi benang emas yang sangat halus. Dengan menggunakan sikat gigi, pelan-pelan kubersihkan permukaannya. Tampak huruf terukir di situ. "Suster, bisa tolong ambilkan lampu senterku? Dari dalam tas?" Lagi-lagi, mereka membungkukkan tubuh bersama-sama. Mirip sekelompok burung penguin di atas kubangan air. Kusorotkan cahaya lampu senter ke atas plakat itu. "Elisabeth Nicolet-1846-1888. Femme contemplative." "Kita menemukannya," ujarku, tidak ditujukan kepada siapa pun. "Halleluya!" seru Suster Pramuka. Sepertinya melupakan etika kehidupan di gereja. Selama dua jam berikutnya kami menggali sisasisa jenazah Elisabeth. Para biarawati, dan bahkan Pastor Menard, melakukan kegiatan itu dengan penuh semangat seperti mahasiswa jurusan arkeologi pada tugas penggaliannya yang pertama. Jubah biarawati dan jubah pastor berkibar-kibar di sekelilingku saat tanah dilemparkan ke ayakan, tas diisi, diberi label, ditumpukkan, sementara kamera merekam seluruh kegiatan

http://inzomnia.wapka.mobi

itu. Guy ikut membantu, walaupun terlihat enggan. Sikapnya sungguh berbeda dengan para biarawati di sekelilingnya. Mengeluarkan peti mati itu bukanlah pekerjaan mudah. Walaupun ukurannya kecil, kayu peti mati itu sudah sangat lapuk dan bagian dalam peti dipenuhi tanah, menambah berat beban yang hendak diangkat menjadi sekitar sepuluh ton. Penggalian parit di sisi peti mati itu terbukti berguna, walaupun aku kurang cermat memperkirakan ukuran parit yang kami butuhkan. Kami harus memperluas lubang di sisi peti mati itu selebar setengah meter sebelum bisa menyelipkan papan ke bagian bawah peti mati tersebut. Akhirnya, kami berhasil mengangkat seluruh peti mati itu dengan menggunakan tali polipropilen. Pada pukul setengah enam, kami telah menikmati kopi di dapur biara, kelelahan, dengan jari tangan dan kaki, serta wajah mulai menghangat. Elisabeth Nicolet dan peti matinya sekarang sudah terkunci dengan aman di bagian belakang mobil van milik biara, bersama-sama dengan peralatanku. Besok, Guy akan mengantarkannya ke Labo-ratoire de Medecine Legale di Montreal, tempatku bekerja sebagai Ahli Antropologi Forensik untuk Provinsi Quebec. Karena jenazah bersejarah ini tidak

http://inzomnia.wapka.mobi

termasuk kasus forensik, izin khusus harus diperoleh dari Bureau du Coroner agar aku bisa melakukan analisis di situ. Aku diberi waktu dua minggu untuk menganalisis tulang-belulang itu. Kuletakkan cangkir dan mengucapkan salam perpisahan. Sekali lagi. Para biarawati mengucapkan terima kasih kepadaku, berulang kali, senyuman terpancar di sela-sela wajah yang tegang, sudah tidak sabar ingin mendengar hasil penelitianku. Mereka semua memberikan senyuman yang tulus. Pastor Menard mengantarku ke mobil. Hari telah beranjak gelap dan hujan salju ringan mulai turun. Anehnya serpihan salju terasa hangat saat menyentuh pipiku. Pastor itu bertanya sekali lagi apakah aku bersedia menerima undangannya untuk bermalam di biara. Salju tampak berkilat di belakang tubuhnya karena melayang-layang di hamparan cahaya lampu beranda. Sekali lagi aku menolaknya. Setelah men dapatkan beberapa petunjuk jalan, aku pun segera beranjak pergi. Setelah selama dua puluh menit melaju di jalan dua arah, aku mulai menyesali keputusanku. Serpihan salju yang tadi melayang dengan malasnya di hadapan cahaya lampu mobilku sekarang menukik dengan

http://inzomnia.wapka.mobi

tajamnya membentuk layar diagonal. Jalanan dan pepohonan di kedua sisi sekarang ditutupi kabut putih yang semakin tebal saja setiap detiknya. Kucengkeram kemudi dengan kedua tanganku, telapak tangan terasa lembap di dalam sarung tangan. Kuturun-kan kecepatan sampai enam puluh kilometer per jam. Lima puluh lima. Setiap beberapa menit aku menguji rem. Walaupun sudah tinggal di Quebec bertahun-tahun, kadang pindah dan kembali lagi, aku tidak pernah terbiasa mengemudi di musim dingin. Aku selalu menganggap diriku tangguh, tetapi saat duduk di dalam mobil di cuaca bersalju, maka aku berubah menjadi Putri Penakut. Aku masih memiliki reaksi orang Selatan dalam menghadapi badai musim dingin. Oh. Salju. Kalau begitu, kami tentu tidak jadi keluar rumah. Orang Quebec akan menatapku dan menertawakanku. Rasa takut memiliki efek yang setimpal. Rasa takut mengusir rasa lelah. Walaupun sangat lelah, aku tetap terjaga, gigi dirapatkan, leher tegak, dan otot tegang. Rute Kota Timur hanya sedikit lebih baik daripada jalan di pedalaman. Lac Memphremagog menuju Montreal biasanya makan waktu dua jam. Sekarang aku memerlukan waktu hampir empat jam. Tak lama setelah pukul sepuluh malam, aku berdiri di tengah gelapnya apartemenku, kelelahan, bersyukur karena telah tiba di rumah. Rumah di

http://inzomnia.wapka.mobi

Quebec. Aku telah berdiam di North Carolina selama hamper dua bulan. Bienvenue. Proses berpikirku sudah berubah ke gaya Prancis kembali. Kunyalakan alat pemanas dan memeriksa lemari es. Tidak ada apa-apa. Kupanaskan burito beku dalam microwave selama beberapa detik, lalu menyantapnya dengan bantuan root beer hangat. Bukan makan malam yang elegan, namun cukup menge nyangkan. Koper yang kuletakkan pada Selasa malam masih berada di tempatnya di dalam kamar tidur. Aku tidak berniat untuk membongkarnya malam ini. Besok saja. Kujatuhkan tubuhku ke atas tempat tidur, berencana untuk tidur sedikitnya sembilan jam. Suara telepon yang berdering empat jam kemudian mengacaukan rencanaku itu. "Oui, ya," gumamku, transisi bahasa sekarang bercampur baur. "Temperance. Ini Pierre LaManche. Maaf sekali karena mengganggumu selarut ini." Aku menunggu. Selama tujuh tahun bekerja dengannya, direktur lab itu tidak pernah menghubungiku pada pukul tiga subuh seperti ini. "Kuharap semuanya berjalan lancar di Lac Memphremagog." Dia mendehem-dehem. "Aku baru saja mendapat kabar dari koroner. Ada rumah kebakaran di St-Jovite. Para pemadam kebakaran masih berusaha

http://inzomnia.wapka.mobi

memadamkannya. Para penyelidik kebakaran akan mencapai tempat itu besok pagi dan koroner ingin kita hadir di sana juga." Kembali mendehemdehem. "Salah seorang tetangga mengatakan bahwa para penghuni rumah masih berada di dalamnya. Mobil mereka masih diparkir dijalan masuk." "Kenapa kamu membutuhkanku?" tanyaku dalam bahasa Inggris. "Rupanya kebakaran itu sangat parah. Bila ada orang yang terbakar, pasti sudah gosong. Mungkin yang tersisa hanya tulang-belulang dan gigi. Pasti sulit untuk meng-identifi kasinya." Sialan. Jangan besok dong. "Pukul berapa?" "Aku akan menjemputmu pukul enam pagi. Bagaimana?" "OK." "Temperance. Ini mungkin kasus kebakaran yang mengenaskan. Ada anakanak tinggal di rumah itu." Kupasang alarm pada pukul lima tiga puluh. Bienvenue.[J 2.

http://inzomnia.wapka.mobi

Setelah dewasa, aku tinggal di daerah selatan. Cuacanya tidak pernah terasa panas bagiku. Aku mencintai pantainya di bulan Agustus, baju renang, kipas angin di langit-langit, bau rambut anak-anak kecil yang berkeringat, suara kumbang menerpa jendela. Namun, aku selalu menghabiskan musim panas dan masa liburan sekolah di Quebec. Selama beberapa bulan dalam satu tahun ajaran, aku meninggalkan Charlotte, North Carolina, tempatku mengajar di fakultas antropologi, untuk bekerja di lab kedokteran hukum di Montreal. Jarak antara kedua tempat itu kirakira dua ribu kilometer. Ke arah utara. Saat pertengahan musim dingin, aku sering kali berdebat sendiri sebelum menyusun rencana. Cuacanya pasti dingin sekali, ujarku mengingatkan diri sendiri. Pasti luar biasa dinginnya. Tapi 'kan bisa mengenakan pakaian yang sesuai dan bersiap-siap menghadapinya. Ya. Aku pasti akan siap menghadapinya. Kenyataannya aku tidak pernah siap. Aku selalu kaget ketika menghadapi cuaca yang membeku saat melangkahkan kaki keluar bandara dan menghirup napas untuk pertama kalinya. Pada pukul enam pagi, di hari kesepuluh di bulan Maret, termometer di berandaku menunjukkan angka dua derajat Fahrenheit atau minus tujuh belas derajat Celcius. Kukenakan semua baju yang bisa kupakai. Rok

http://inzomnia.wapka.mobi

panjang, celana jins, dua sweter, sepatu lars untuk mendaki gunung, dan kaus kaki wol. Di dalam kaus kaki kukenakan baju hanoman ketat yang juga digunakan untuk menghangatkan tubuh para astronot saat mendarat di Pluto. Pakaian yang sama garangnya dengan hari kemarin. Kehangatan yang kurasakan mungkin akan sama dengan kemarin. Saat LaManche membunyikan klakson, kutarik retsleting jaketku, kukenakan sarung tangan serta topi ski dan melesat keluar dari lobi. Walaupun sama sekali tidak bersemangat menghadapi hari ini, aku tidak mau membuatnya menunggu. Dan aku merasa sangat kepanasan di dalam lobi tadi. Kukira LaManche membawa sedan hitamnya, tetapi dia melambaikan tangan dari sebuah mobil yang mungkin pantas disebut sebagai mobil sport. Beroda empat, merah menyala, bergaris-garis mirip mobil balap. "Boleh juga mobilnya," ujarku saat masuk ke dalamnya. "Merci." Dia menunjuk bagian tengah dasbor. Tampak dua buah gelas Styrofoam dan sekantong Dunkin Donut. Puji Tuhan. Aku memilih donat berisi serpihan apel.

http://inzomnia.wapka.mobi

Saat mengemudikan mobil menuju St-Jovite, LaManche menceritakan halhal yang diketahuinya. Jauh lebih teperinci dari cerita yang kudengar pada pukul tiga subuh tadi. Dari seberang jalan, seorang tetangga melihat para penghuni masuk ke rumah pada pukul sembilan malam. Kemudian, si tetangga pergi mengunjungi temannya yang rumahnya tidak terlalu jauh dan baru pulang setelah larut malam. Saat mendekati rumahnya sekitar pukul dua subuh, mereka melihat kilauan cahaya dari kejauhan, kemudian api menjulang dari rumah itu. Seorang tetangga lainnya mengira dia mendengar suara ledakan sesaat setelah tengah malam, merasa ragu-ragu, lalu kembali tidur. Daerah itu cukup terpencil dengan penduduk yang agak jarang. Para relawan pemadam kebakaran tiba pada pukul setengah tiga, dan segera meminta pertolongan begitu menyaksikan kebakaran yang mereka hadapi. Dibutuhkan dua regu pemadam selama tiga jam untuk memadamkan api itu. LaManche sudah bicara lagi dengan koroner pada pukul lima lewat empat puluh lima menit. Ada dua orang tewas dan diperkirakan masih ada yang lainnya. Beberapa bagian rumah masih terlalu panas, atau terlalu berbahaya, untuk diperiksa. Diperkirakan kebakaran ini disengaja.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kami mengemudi ke arah utara saat cahaya subuh mulai menampakkan wajahnya, ke kaki bukit di Pegunungan Laurentian. LaManche tidak banyak bicara, dan aku tidak keberatan sama sekali. Aku bukan orang yang langsung bersemangat di pagi hari. Namun, dia penggemar musik dan terus memutar serangkaian kaset tanpa putus. Lagu klasik, pop, bahkan C&W, semuanya diubah menjadi lagu santai. Mungkin lagunya dibuat untuk menenangkan para pendengarnya, seperti musik monoton yang dibunyikan di dalam lift dan ruang tunggu. Hal itu membuatku gelisah. "Seberapa jauh St-Jovite ini?" Kuraih donat cokelat berbalut madu. "Sekitar dua jam perjalanan. St-Jovite terletak sekitar dua puluh lima kilometer di sisi terdekat Mont Tremblant. pernah main ski di gunung itu?" Dia memakai jaket yang menjuntai sampai lututnya, berwarna hijau tentara dengan tudung kepala berlapis bulu binatang. Dari samping, yang bisa kulihat hanyalah ujung hidungnya. "Ehm. Gunung yang cantik." Jari-jemariku hampir terserang radang dingin di Mont Tremblant. Itu adalah saat pertama kalinya aku main ski di Quebec dan saat itu aku mengenakan pakaian yang

http://inzomnia.wapka.mobi

sebenarnya lebih pantas kalau dipakai ke Pegunungan Blue Ridge. Embusan angin di puncak Mont Tremblant sangat dingin sehingga bisa membekukan hidrogen cair. "Bagaimana keadaan di Lac Memphremagog?" "Kuburan itu tidak berada di tempat yang kami duga, seperti biasanya 'kan? Rupanya jenazahnya pernah diangkat dan dikebumikan lagi pada tahun 1911. Anehnya tidak ada catatan tentang hal itu." Sangat aneh, pikirku, sambil menghirup kopi. Terdengar lagu instrumental Springsteen. "Born in the USA." Aku mencoba untuk tidak mengacuhkannya. "Akhirnya kami berhasil juga menemukannya. Sisasisa tulang-belulangnya akan dikirimkan ke lab hari ini." "Sayang sekali ada musibah kebakaran ini. Aku tahu kamu pasti ingin menghabiskan waktu seminggu untuk berkonsentrasi pada analisis itu." Di Quebec, musim dingin bisa menjadi musim yang santai bagi para ahli antropologi forensik. Suhu jarang melebihi titik beku. Sungai dan danau membeku, tanah menjadi sekeras batu, dan salju membenamkan semua yang ada. Kumbang menghilang, dan banyak binatang pemakan bangkai bersembunyi di bawah tanah. Akibatnya: Mayat yang tergeletak di luar tidak membusuk. Mayat yang mengambang tidak diambil dari sungai St.

http://inzomnia.wapka.mobi

Lawrence. Orang juga lebih suka meringkuk di rumah masing-masing. Para pemburu, pendaki gunung, dan mereka yang senang berpiknik tidak lagi menjelajahi hutan dan padang, dan bangkai binatang buruan di musim sebelumnya baru ditemukan ketika salju sudah mencair di musim semi. Berbagai kasus yang dilimpahkan kepadaku, wajah tak dikenal yang perlu diidentifi kasi, merosot jumlahnya antara bulan November dan April. Pengecualian ada pada rumah yang terbakar. Selama bulan-bulan dingin, kasus seperti ini meningkat. Kebanyakan mayat yang terbakar dikirimkan ke ahli odontologi dan diidentifi kasi berdasarkan arsip gigi. Alamat dan penghuninya biasanya mudah dikenali, sehingga arsip antemortem hanya digunakan sebagai perbandingan saja. Bila mayat itu tidak dikenali, saat itulah bantuanku dibutuhkan. Atau dalam kasus pengenalan yang cukup sulit. LaManche memang benar. Aku tadinya berharap tidak akan disodori kasus apa pun dan merasa kurang senang saat diminta pergi ke St-Jovite. "Mungkin aku tidak akan dilibatkan dalam analisis itu." Sejuta satu alat gesek mulai menyanyikan "I'm Sitting on Top of the World." "Mungkin ada arsip tentang keluarga itu." "Mungkin."

http://inzomnia.wapka.mobi

Kami tiba di St-Jovite dalam waktu kurang dari dua jam. Matahari telah terbit, menyelimuti kota dan daerah pinggiran dengan cuaca pagi hari yang dingin menusuk tubuh. Kami mengarah ke barat menuju jalan dua jalur yang berbelok-belok. Seketika itu juga dua truk derek melewati kami ke arah yang berlawanan. Salah satu menarik Honda abu-abu yang penyok, yang lainnya menarik Plymouth Voyager ber warna merah. "Rupanya mereka sudah mengungsikan mobilmobilnya," ujar LaManche. Kuamati dari kaca spion mobil-mobil itu menghilang. Dalam mobil van itu ada kursi bayi di jok belakang dan sebuah gambar tempel kuning bergambar wajah tersenyum di bemper belakangnya. Ku bayangkan seorang anak di jendela, menjulurkan lidahnya, tangan di kedua telinganya, mengejek dunia di hadapannya. Mata lucu, itulah sebutan yang kuciptakan bersama adik perempuanku. Mungkin anak itu sudah tergeletak hangus tanpa bisa dikenali lagi di kamar di lantai atas. Beberapa menit kemudian, kami melihat apa yang kami cari. Beberapa mobil polisi, mobil pemadam kebakaran, truk barang, kendaraan wartawan, ambulans, dan beberapa mobil biasa yang berjejer memanjang di kedua sisi jalanan yang berkerikil.

http://inzomnia.wapka.mobi

Para wartawan berdiri bergerombol, beberapa di antaranya bercakap-cakap dan beberapa lagi mengutak-atik peralatan yang mereka bawa. Beberapa lagi duduk di dalam mobil, berusaha menghangatkan diri sambil menunggu kelanjutan berita. Berkat udara dingin dan waktu yang masih pagi, hanya ada beberapa orang yang sengaja menonton kejadian itu. Sesekali sebuah mobil melaju, kemudian pelan-pelan memutar untuk melihat apa yang terjadi. Orangorang yang penasaran. Tak lama lagi pasti akan semakin banyak orang berkumpul di tempat ini. LaManche memberi tanda hendak belok dan kemudian masuk ke halaman. Seorang polisi menghentikan kami. Dia memakai jaket hijau zaitun dengan kerah bulu binatang berwarna hitam, penutup mulut berwarna gelap, topi hijau zaitun, dan penghangat telinga. Telinga serta hidungnya berwarna merah cerah dan saat dia berbicara, kepulan asap terbentuk di depan mulutnya. Aku ingin mengatakan agar dia menutup telinganya, namun segera merasa seperti ibuku yang cerewet, dan tidak jadi mengatakannya. Dia sudah besar. Jika daun telinganya membeku, dia harus menghadapinya sendiri. LaManche menunjukkan tanda pengenal dan polisi itu mengizinkan kami lewat, memberi tanda agar kami memar-

http://inzomnia.wapka.mobi

kir mobil di belakang sebuah truk peneliti TKP (Tempat Kejadian Perkara) berwarna biru. SECTION D'IDENTITE 3UDICIAIR.E tertulis dalam huruf hitam yang tebal. Unit Peneliti TKP sudah berada di situ. Aku menduga pihak penyelidik pembakaran yang disengaja juga sudah tiba. Aku dan LaManche memegang erat topi dan sarung tangan saat keluar dari mobil. Langit kini berwarna biru, matahari terlihat berkilauan menerpa salju yang turun malam sebelumnya. Udara terasa sangat dingin sehingga tubuhku terasa mengkristal dan membuat semuanya terlihat jelas dan tajam. Mobil, bangunan, pepohonan, dan tongkat peralatan membentuk bayangan hitam di tanah yang bersalju, terlihat jelas, seperti gambar di film dengan tingkat kekontrasan yang tinggi. Kuamati keadaan ke sekelilingku. Puing-puing rumah yang berwarna hitam, serta garasi yang masih berdiri dan semacam bangunan kecil di ujung jalan masuk, semuanya dibangun dengan gaya Alpine murahan. Tapak untuk berjalan kaki membentuk segitiga di atas salju, menghubungkan ketiga bangunan tersebut. Beberapa pokok pohon pinus mengelilingi apa yang tersisa dari rumah itu, batangnya digelayuti salju sehingga ujungnya menjuntai ke bawah. Kuamati seekor tupai hinggap di salah satu dahan, kemudian lari mencari perlindungan ke batang pohon.

http://inzomnia.wapka.mobi

Di bekas jejaknya tampak gundukan salju berundak-undak ke bawah, membentuk lubang-lubang di salju yang putih. Rumah itu beratap tinggi berwarna merah-jingga, sebagian masih berdiri, tetapi sekarang warnanya sudah menghitam dan ditutupi es. Bagian dari permukaan dinding luar yang tidak terbakar ditutupi papan berwarna krem. Jendela-jendelanya tampak kosong dan gelap, semua kaca pecah berantakan, kusen berwarna biru kehijauan sudah terbakar atau menghitam. Bagian kiri rumah itu terbakar hangus dan bagian belakangnya benarbenar hancur. Di kejauhan kulihat kayu yang menghitam, tempat bertemunya atap dan dinding rumah. Kepulan asap masih terlihat dari bagian belakang rumah. Kerusakan di bagian depan tidak begitu parah. Beranda dari kayu terbentang sepanjang rumah, dan balkon-balkon kecil menjulur dari jendela lantai atas. Beranda dan balkon tersebut terbuat dari kayu berwarna merah muda, bagian atasnya berbentuk bundar dengan hiasan berbentuk hati. Kulihat ke belakangku, ke jalan di depan rumah. Di seberang terlihat sebuah vila kecil yang mirip dengan rumah ini, hanya warnanya merah dan

http://inzomnia.wapka.mobi

biru. Seorang lelaki dan wanita berdiri di depannya, dengan lengan dilipat di dada, tangan yang dibalut sarung tangan dikepit di ketiak. Mereka menonton tanpa berkata apa-apa, memicingkan mata di bawah tatapan matahari pagi, wajah mereka muram di bawah topi berburu warna Jingga. Merekalah tetangga yang melaporkan kebakaran itu. Mataku menyapu jalanan. Tidak ada rumah lain dalam jarak pandangku. Orang yang katanya mendengar suara ledakan pastilah memiliki telinga yang peka. Aku dan LaManche berjalan mendekati puingpuing rumah. Kami melewati belasan petugas pemadam kebakaran, tampak warna-warni dalam seragam kuningnya, topi merah yang kokoh, sabuk peralatan biru, dan sepatu lars karet berwarna hitam. Beberapa memakai tabung oksigen yang digantungkan di punggung. Kebanyakan dari mereka terlihat sedang mengumpulkan peralatan. Kami mendekati seorang polisi berseragam yang berdiri di dekat beranda. Seperti polisi yang menjaga jalan masuk tadi, dia adalah Surete du Quebec, mungkin dari pos di St-Jovite atau kota di dekat sini. SQ atau Quebec Provincial Police, memiliki juridiksi di semua tempat di luar Montreal, kecuali di kotakota yang memiliki pasukan polisinya sendiri. St-Jovite pastinya terlalu kecil untuk memiliki kantor polisi sendiri, sehingga SQ

http://inzomnia.wapka.mobi

telah diminta datang, mungkin oleh kepala pemadam kebakaran, mungkin oleh salah seorang tetangga. Mereka lalu memanggil petugas penyelidik kebakaran dari lab kami. Bagian d'Incendie et Explosif. Aku bertanya dalam hati siapa yang memutuskan untuk memanggil koroner. Berapa banyak korban yang akan kami temukan? Dalam kondisi seperti apa? Pasti kondisi yang tidak mudah, pikirku. Detak jantungku semakin kencang. Kembali LaManche mengacungkan lencananya dan orang itu memeriksanya. "Un instant, Docteur, s'ii vous plait," ujarnya sambil mengangkat tangannya yang memakai sarung tangan. Dia memanggil salah seorang petugas pemadam, mengatakan sesuatu, lalu menunjuk kepalanya. Segera kami diberi topi helm dan masker. Kami memakai topinya dan menggantungkan masker di tangan. "Attention!" seru sang polisi, lalu menelengkan kepalanya ke arah rumah. Kemudian, dia melangkah ke samping untuk memberi jalan. Oh ya, aku pasti akan berhati-hati. Pintu depan terbuka lebar. Saat melangkah masuk ke dalam rumah dan meninggalkan cahaya matahari, suhu langsung turun sekitar dua puluh

http://inzomnia.wapka.mobi

derajat. Udara di dalam terasa lembap dan beraroma kayu hangus, plaster dan kain yang lembap. Bercak hitam menghiasi seluruh permukaan. Di depan kami tampak sebuah tangga menuju lantai kedua, di bagian kiri dan kanan kami tampak puing-puing yang dulunya pasti ruang duduk dan ruang makan. Yang tersisa dari dapur berada di bagian belakang rumah. Aku telah beberapa kali mengunjungi lokasi kebakaran lain, tetapi tidak ada yang luluh lantak seperti rumah ini. Papan yang terbakar hangus berserakan di mana-mana seperti puing-puing yang di hentak kan ombak ganas. Semua papan dan kayu itu bertebaran di atas kerangka kursi dan sofa, di tangga, serta bersandar ke dinding dan pintu. Sisa-sisa perabotan rumah yang sudah menjadi arang bertumpuk menjadi satu. Kabel bergelantungan dari dinding dan langitlangit, dan pipa ledeng terpelintir ke dalam di tempat pipa itu semula melekat. Kerangka jendela, pegangan tangga, papan, semuanya menunjukkan pinggiran bergerigis seperti renda hitam. Rumah itu dipenuhi orang yang memakai topi helm, bercakap-cakap, mengukur, memotret, dan merekam dalam video, mengumpulkan bukti,

http://inzomnia.wapka.mobi

dan mencatat di buku catatan. Aku mengenali dua orang penyelidik kebakaran dari lab kami. Keduanya memegang ujung-ujung pita pengukur dan salah seorang jongkok di satu titik, sementara yang lain berjalan mengelilinginya, mencatat data setiap beberapa langkah. LaManche mengenali salah seorang staf koroner, dan berjalan mendekatinya. Aku mengikutinya, berjalan di antara serpihan logam yang terpelintir, pecahan kaca, dan sesuatu yang mirip kantong tidur merah yang sudah rusak, dengan bagian dalamnya hangus terbakar. Koroner itu bertubuh tambun dan terlihat kepanasan. Dia langsung menegakkan tubuhnya begitu melihat kami, mengembuskan napas ke udara, menjilat bibir bawahnya, dan menunjuk dengan tangannya ke kerusakan di sekeliling kami. "Jadi, Monsieur Hubert, ada dua orang korban tewas?" LaManche dan Hubert terlihat sangat berbeda, seperti bayangan yang kontras di roda berwarna. Sang ahli patologi bertubuh tinggi dan langsing dengan wajah yang panjang. Koroner itu bertubuh bulat. Hubert mengingatkanku akan garis horizontal dan LaManche garis vertikal. Hubert mengangguk, dan tiga lapisan dagu beriak di atas kerah kemejanya. "Di atas."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Yang lainnya?" "Belum ada, tapi kami belum selesai memeriksa lantai bawah. Apinya lebih dahsyat di bagian belakang rumah. Kami menduga berasal dari dapur. Daerah itu terbakar habis dan lantainya jatuh ke ruang bawah tanah." "Kamu sudah lihat mayatnya?" "Belum. Aku masih menunggu izin untuk naik ke atas. Kepala pemadam ingin memastikan bahwa semuanya cukup aman." Aku bisa memaklumi kewaspadaan sang kepala. Kami berdiri tanpa berkata apa-apa, mengamati puing-pu-ing di sekitar kami. Waktu berlalu. Kugerakgerakkan jari tangan dan jari kakiku, mencoba untukmembuatnya tetap lentur. Akhirnya tiga orang pemadam kebakaran menuruni tangga. Mereka memakai topi helm dan masker berkacamata, dan terlihat seakan-akan baru saja memeriksa keberadaan senjata kimia. "Sudah aman," ujar petugas yang terakhir, sambil membuka dan melepaskan maskernya. "Kalian bisa naik ke atas. Hanya saja hati-hati saat melangkah dan tetap pa-

http://inzomnia.wapka.mobi

kai topinya. Langit-langitnya bisa runtuh setiap saat. Tapi, lantainya cukup aman." Dia terus melangkah ke arah pintu, kemudian berbalik. "Korban ada di kamar di sebelah kiri." Hubert, LaManche, dan aku berjalan menaiki tangga, pecahan kaca dan arang bergemerisik di bawah injakan kaki kami. Perutku sudah menegang dan perasaan hampa mulai terbentuk di dalam dadaku. Walaupun ini memang tugasku, aku tidak pernah terbiasa dengan pemandangan kematian yang mengerikan. Di lantai atas, sebuah pintu terbuka di sebelah kiri kami, satu lagi di sebelah kanan, dan tampak sebuah kamar mandi di depan. Walaupun sudah rusak akibat asap, bila dibandingkan dengan di bawah, segala sesuatunya di lantai ini tidak terlalu luluh lantak. Melalui pintu sebelah kiri bisa kulihat sebuah kursi, rak buku, dan ujung tempat tidur kembar. Di atasnya terlihat sepasang kaki. Aku dan LaManche memasuki ruangan di sebelah kiri, Hubert melanjutkan pemeriksaan ke ruangan di sebelah kanan. Dinding belakang terbakar sebagian, dan di beberapa tempat tampak kayu-kayu kecil berukuran 5 x 10 cm mencuat di balik kertas-dinding bercorak bunga. Tiang-tiangnya sudah hangus, permukaannya kasar dan

http://inzomnia.wapka.mobi

retak-retak, seperti sisik buaya. "Bersisik", begitu yang mungkin ditulis salah seorang penyelidik kebakaran. Puing-puing yang sudah hangus dan membeku berserakan di kaki dan jelaga menutupi semuanya. LaManche melihat ke sekelilingnya dengan saksama, kemudian meraih sebuah Dictaphone kecil dari dalam sakunya. Dia merekam tanggal, waktu, dan lokasi, dan mulai menggambarkan kondisi para korban. Tubuh para korban tergeletak di atas tempat tidur kembar yang membentuk L di ujung sudut ruangan, dipe-rantarai sebuah meja kecil. Anehnya, kedua orang ini sepertinya memakai pakaian lengkap, walaupun asap dan arang telah menghilangkan tandatanda gaya pakaian yang dikenakan dan jenis kelamin masing-masing. Korban di dekat dinding belakang memakai sepatu olahraga, yang lainnya mengenakan stoking. Kuamati salah satu kaus kaki olahraga terlepas sebagian, menampakkan pergelangan kaki yang sudah hitam. Ujung kaus kaki itu terkulai menutupi jari kakinya. Kedua korban adalah orang dewasa. Salah satunya terlihat lebih tegap dari lainnya. "Korban nomor satu ..." LaManche melanjutkan. Kupaksa diriku untuk melihat dengan lebih teliti lagi. Korban nomor satu mengangkat lengannya tinggi-tinggi, dikepalkan, seakan hendak melawan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Pose pugilistic (seperti akan bertinju). Api tidak berkobar cukup lama atau cukup panas sehingga tidak sampai membakar seluruh daging, tapi api yang menjalar di dinding belakang memancarkan panas yang cukup hebat sehingga berhasil membakar tubuh bagian atas dan menyebabkan otot mengerut. Lengan di bawah siku tampak kurus. Kepingan daging menggantung di sepanjang tulang. Tangan itu kini hanya tinggal bonggol tulang berwarna hitam. Wajahnya mengingatkanku pada mumi Ramses. Bibirnya terbakar habis, menampakkan gigi berwarna gelap dan e-mail yang sudah mengelupas. Salah satu gigi seri memiliki guratan tepi yang rapi dari emas. Hidungnya terbakar dan remuk, lubang hidung mengarah ke atas seperti moncong kelelawar. Bisa kulihat serat otot mengelilingi tulang pipi dan jakunnya, seperti sebuah gambar dari buku anatomi. Setiap lubang mata berisi bola mata yang sudah kering dan mengerut. Rambutnya telah hilang, begitu juga dengan kulit kepala bagian atas. Korban nomor dua, walaupun juga sudah tewas, berada dalam kondisi yang lebih baik. Beberapa bagian kulit tampak gelap dan mengelupas, tetapi di kebanyakan tempat hanya kotor oleh asap. Garis-garis putih kecil

http://inzomnia.wapka.mobi

menyebar dari ujung matanya, dan bagian dalam telinga serta bagian bawah cuping tampak pucat. Rambutnya yang tersisa hanya di puncak kepalanya. Salah satu lengan terkulai, sementara yang lainnya merentang lebar, seakan hendak meraih rekannya yang sama-sama menjadi korban. Tangan yang dijulurkan itu sekarang telah menjadi cakar hitam bertulang. Nada suara LaManche yang monoton kelam terus terdengar, menggambarkan ruangan dan penghuninya yang sudah tak bernyawa itu. Aku setengah mendengarkan, lega karena ternyata tidak dibutuhkan. Atau apakah aku akan dibutuhkan? Katanya ada anak-anak di rumah ini. Di manakah mereka? Melalui jendela yang terbuka bisa kulihat cahaya matahari, kumpulan pohon pinus, dan salju putih yang berkilat. Di luar, kehidupan terus berlanjut. Kesunyian membuyarkan pikiranku. LaManche telah berhenti merekam dan mengganti sarung tangan wol dengan sarung tangan karet. Dia mulai memeriksa korban kedua, mengangkat kelopak mata korban dan mengamati bagian dalam hidung dan mulut. Kemudian, dia menggulingkan tubuh korban menghadap ke dinding, lalu mengangkat ujung bawah kemejanya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Bagian luar kulit telah terkelupas dan bagian pinggirnya tergulung ke dalam. Epidermis yang mengelupas itu terlihat tembus pandang seperti bagian dalam telur. Di bawahnya, terlihat daging berwarna merah terang, dan bercak putih di bagian yang bersentuhan dengan seprei yang kusut. LaManche menekankan jarinya yang terbungkus sarung tangan ke otot punggung dan bercak putih muncul pada daging merah ungu itu. Hubert bergabung kembali bersama kami saat LaManche mengembalikan korban ke posisinya yang terlentang. Kami berdua menatapnya dengan pandangan bertanya. "Kosong." Aku dan LaManche tidak mengubah ekspresi kami. "Ada dua buaian di sana. Pastinya kamar anakanak. Tetangga mengatakan ada dua orang bayi." Dia bernapas dengan terengah-engah. "Anak laki-laki kembar. Mereka tidak ada di dalam sana." Hubert mengeluarkan sapu tangannya dan menyeka wajahnya yang basah. Keringat dan udara dingin bukanlah kombinasi yang baik. "Ada apa di sini?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tentu saja kedua mayat ini akan membutuhkan autopsi lengkap," ujar LaManche dalam nada suara bassnya yang melankolis. "Tapi, berdasarkan pemeriksaan awalku, sepertinya kedua orang ini masih hidup saat api berkobar. Paling tidak yang satu ini masih hidup." Dia menunjuk korban nomor dua. "Aku masih butuh waktu sekitar tiga puluh menit, lalu kalian boleh memindahkan mereka." Hubert mengangguk dan pergi untuk member tahu anggota timnya yang mengurus transportasi. LaManche membuat tanda salib di atas korban pertama, kemudian kembali ke korban nomor dua. Aku mengamatinya tanpa berkata apa-apa, mengembuskan kehangatan ke balik sarung tanganku. Akhirnya, dia selesai. Aku tidak usah mengajukan pertanyaan apa pun. "Asap," ujarnya. "Di sekeliling lubang hidung, di dalam hidung dan jalan udara." Dia menatapku. "Mereka masih bernapas saat api berkobar." "Ya. Ada hal lainnya?" "Perubahan warna kulitnya. warna merah terang. Menunjukkan kandungan karbon monoksida di dalam darah." "Dan ...T'

http://inzomnia.wapka.mobi

"Pemutihan total saat kita menekan otot. Livor (pengendapan darah setelah seseorang mati) belum sempurna. Pemutihan total terjadi beberapa jam setelah perubahan warna yang pertama terjadi." "Ya." Dia menatap jam tangannya. "Sekarang pukul delapan lewat. Korban ini diperkirakan masih hidup pada pukul tiga atau empat subuh." Dia melepaskan sarung tangan karetnya. "Diperkirakan, tapi pemadam kebakaran tiba pukul setengah tiga, sehingga dia pasti sudah tewas sebelum jam setengah tiga. Livor memang sangat beragam. Apa lagi?" Pertanyaan itu tidak mendapatkan jawaban. Kami mendengar keributan di bawah, lalu terdengar derap langkah kaki menaiki tangga. Seorang pemadam kebakaran muncul di gerbang pintu, pipi merona dan napas tersengal. "Es tidecolis tabernac!" Kubuka kamus dialek quebec milikku. Tidak ada kata itu. Aku menatap LaManche. Tetapi, sebelum dia sempat menerjemahkan, lelaki itu sudah melanjutkan. "Ada yang bernama Brennan di sini?" tanyanya kepada LaManche.

http://inzomnia.wapka.mobi

Perasaan hampa menusuk ke dalam kalbu. "Kami menemukan sesosok tubuh di ruang bawah tanah. Mereka mengatakan kita akan memerlukan orang bernama Brennan ini." "Aku Tempe Brennan." Dia menatapku beberapa saat lamanya, helm dikepit di tangannya, kepala ditelengkan ke samping. Lalu dia menyeka hidungnya dengan bagian belakang tangannya, dan menoleh kembali kepada LaManche. "Kalian bisa ke bawah segera setelah Pak Kepala memberi izin. Dan lebih baik bawa sendok. Tidak banyak yang tersisa dari korban yang satu ini." 3. Petugas pemadam kebakaran sukarela itu memimpin kami menuruni tangga, lalu menuju bagian belakang rumah. Di sini, hampir seluruh atap telah hilang dan cahaya matahari membasuh dinding bagian dalam yang kelabu. Partikel jelaga dan debu menarinari di udara musim dingin. Kami berhenti di pintu dapur. Di sebelah kiri tampak puing-puing meja, bak cuci piring, dan beberapa peralatan besar lainnya. Mesin pencuci

http://inzomnia.wapka.mobi

piring terbuka, bagian dalamnya tampak hitam dan meleleh. Papan hangus berserakan di mana-mana, seperti beberapa tongkat kayu besar yang kulihat di kamar depan. "Tetap merapat ke dinding," ujar petugas, sambil memberi tanda dengan tangannya saat dia menghilang di balik pintu. Dia muncul kembali beberapa detik kemudian, berusaha menyusuri bagian barat ruangan itu. Di belakangnya, bagian atas meja dapur menggulung ke atas seperti gula-gula raksasa. Di dalamnya tampak pecahan botol wine dan gumpalan benda berbagai ukuran yang tidak bisa dikenali lagi. Aku dan LaManche mengikutinya, merapat ke dinding depan, kemudian mengelilingi sudut ruangan dan menyusuri meja. Sedapat mungkin kami menjauh dari bagian tengah ruangan, memilih jalan di antara puing-puing, wadah logam yang terbakar, dan tangki gas yang sudah hangus. Aku melangkah ke samping si petugas, dengan punggung menempel ke meja, dan memerhatikan kerusakan yang terjadi. Dapur dan ruangan di sebelahnya benar-benar hangus. Langit-langitnya sudah tidak ada, dinding yang memisahkan kedua ruangan tinggal berupa kepingan kayu gosong. Yang dulunya lantai sekarang hanya tinggal lubang hitam besar yang

http://inzomnia.wapka.mobi

menganga. Sebuah tangga muncul dari dalamnya di dekat kami. Melalui lubang itu aku bisa melihat beberapa orang yang memakai topi helm mengangkat puing-puing dengan melemparkannya atau mem bawanya keluar dari pandangan kami. "Ada mayat di bawah sini," ujar penuntunku, sambil menganggukkan kepalanya ke arah lubang itu. "Kami menemukannya saat mulai membersihkan puing-puing lantai yang runtuh." "Hanya satu, atau masih ada lagi?" tanyaku. "Wah, entahlah. Yang satu ini juga nyaris tidak berbentuk manusia." "Dewasa atau anak-anak?" Dia menatapku seakan-akan hendak mengajukan pertanyaan, "Bu, kamu ini bodoh atau bagaimana?" "Kapan aku bisa turun ke situ?" Matanya menatap LaManche, lalu menoleh kepadaku lagi. "Itu terserah Pak Kepala. Mereka masih membersihkan daerah itu dulu. Kami tidak mau ada apa-apa yang bisa menyakiti kepala Ibu yang cantik itu." Dia memberiku senyuman yang pasti dianggapnya memesona. Dia mungkin sudah melatihnya berulang kali di depan cermin.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kami terus mengawasi para petugas pemadam kebakaran mengangkat potongan kayu dan membersihkan puing-puing. Dari dalam lubang itu aku bisa mendengar suara senda gurau dan suara barangbarang dicabut dan diseret. "Apa mereka sadar bahwa mereka bisa menghancurkan barang bukti?" tanyaku. Petugas itu memandangku seakan aku mengatakan bahwa rumah itu baru dihantam oleh komet. "Hanya papan bekas lantai dan kotoran yang jatuh dari tingkat ini." "'Kotoran' itu bisa membantu memberikan gambaran tentang apa yang terjadi," ujarku, suaraku terdengar sama dinginnya dengan es yang membeku di meja di belakang kami. "Atau posisi mayat." Wajahnya langsung mengeras. "Di bawah sana mungkin masih ada tempat yang membara, Bu. Ibu tidak mau bara api membakar wajah Ibu 'kan?" Aku terpaksa mengakui bahwa aku tidak menginginkan hal itu. "Dan kurasa mayat di dalam sana tidak akan peduli." Di dalam topi helm yang kupakai, aku merasakan denyutan di batok kepalaku yang cantik itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bila korban terbakar parah seperti yang kausebutkan tadi, temantemanmu bisa saja secara tidak sengaja menghilangkan beberapa bagian organ tubuh yang tersisa." Rahangnya mengeras saat dia menatap ke belakangku mencari dukungan. LaManche tidak berkata apa-apa. "Lagi pula, Pak Kepala mungkin tidak akan memperbolehkan kalian masuk ke bawah sana," ujarnya. "Aku harus masuk ke sana sekarang juga untuk meneliti apa yang tersisa di bawah sana. Khususnya gigi geligi." Kubayangkan bayi kembar itu. Aku berharap bisa menemukan gigi. Banyak gigi. Semuanya dewasa. "Kalau masih ada yang tersisa." Petugas itu memandangku dari atas kepala sampai ke kakiku, mengukur tubuhku dengan tinggi seratus enam puluh tiga cm, enam puluh kilo. Walaupun pakaian hangat menyembunyikan ukuran tubuhku yang sebenarnya dan topi helm itu menelan rambut panjangku, dia merasa cukup untuk menilai bahwa aku seharusnya tidak berada di tempat ini. "Dia tidak bersungguh-sungguh ingin turun ke bawah sana 'kan?" Dia menatap LaManche untuk mencari dukungan. "Dr. Brennan akan melakukan penyelidikannya." "Es tidecolis tabernac!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Kali ini aku tidak membutuhkan terjemahan. Petugas Macho ini berpendapat bahwa tugas itu harus dilakukan seorang lelaki. "Tempat panas bukan masalah bagiku," ujarku, menatap matanya lekatlekat. "Bahkan, aku biasanya lebih suka bekerja di tengah api. Jadi lebih hangat." Dia langsung mencengkeram pegangan tangga, berayun ke tangga dan meluncur turun, tidak pernah menyentuh anak tangga dengan kakinya. Hebat. Dia pintar bergaya rupanya. Aku bisa membayangkan apa yang dia jabarkan kepada atasannya. "Mereka ini sukarelawan," ujar LaManche, tersenyum simpul. Dia mirip Mr. Ed yang memakai helm. "Aku harus menyelesaikan pengamatanku di atas, tapi akan segera bergabung denganmu." Aku mengamatinya menyusuri jalur tadi menuju pintu, tubuhnya yang besar membungkuk dengan penuh konsentrasi. Beberapa detik kemudian, Pak Kepala muncul dari ujung tangga. Ternyata dia orang yang menunjukkan tempat mayat di lantai atas. "Anda Dr. Brennan?" tanyanya dalam bahasa Inggris. Aku mengangguk sekali, siap-siap untuk berdebat. "Luc Grenier. Aku mengepalai sukarelawan dari St-Jovite." Dia membuka tali helm dari

http://inzomnia.wapka.mobi

dagunya dan membiarkannya menggantung. Dia lebih tua dari rekannya yang suka meremehkan wanita tadi. "Kami membutuhkan waktu sekitar sepuluh sampai lima belas menit lagi untuk mengamankan lantai bawah. Ini daerah terakhir yang kami bersihkan, jadi masih banyak tempat yang membara di bawah sana. "Tali helmnya berayun-ayun saat dia bicara. "Kebakaran ini parah sekali dan kami tidak ingin ada kecelakaan lebih lanjut." Dia menunjuk ke belakangku. "Coba lihat bagaimana pipa itu sampai berubah bentuknya." Aku menoleh. "Itu pipa tembaga. Untuk bisa melelehkan tembaga, diperlukan api sepanas seribu seratus derajat Celcius." Dia menggelengkan kepalanya dan tali itu mengayun kembali. "Ini benar-benar kebakaran yang dahsyat." "Anda tahu apa yang menyebabkannya?" tanyaku. Dia menunjuk sebuah tangki gas di dekat kakiku. "Sejauh ini kami menghitung ada dua belas tangki semacam ini. Entah ada orang yang memang sengaja meledakkan semua tabung gas ini atau dia telah berbuat salah ketika memasak daging panggang untuk keluarganya." Wajahnya sedikit memerah. "Maaf." "Kebakaran yang disengaja?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Grenier mengangkat bahu dan alis matanya. "Aku tidak berhak menentukannya." Dia mengaitkan kembali tali helmnya dan meraih ujung tangga. "Kami hanya bertugas membersihkan puing-puingnya untuk memastikan bahwa api sudah padam seluruhnya. Dapur ini dipenuhi barang tidak keruan. Barangbarang itulah yang memudahkan api berkobar. Kami akan lebih berhati-hati saat membersihkan daerah di sekitar korban. Aku akan membunyikan peluit saat semuanya sudah aman." "Jangan menyemprotkan air ke sisa-sisa mayat itu," ujarku. Dia menabik kepadaku dan hilang meluncur menuruni tangga. Baru setengah jam kemudian aku diperbolehkan turun ke ruang bawah tanah. Saat menunggu, aku kembali ke truk lab untuk mengambil peralatanku dan meminta bantuan seorang fotografer. Kuhubungi Pierre Gilbert dan memintanya menyiapkan ayakan dan lampu sorot di bawah. Ruang bawah tanah itu berupa sebuah ruangan terbuka yang luas, gelap, lembap, dan lebih dingin dari Vellowknife (kota di Kanada) di bulan Januari (sangat dingin). Di seberang ruangan tampak sebuah tungku pemanas, dengan pipa menjulur ke atas, hitam dan ber-kenjal-kenjal, seperti batang pohon ek raksasa yang sudah meranggas. Tempat ini

http://inzomnia.wapka.mobi

mengingatkanku pada sebuah ruangan bawah tanah yang kukunjungi beberapa waktu lalu. Di dalamnya bersembunyi seorang pembunuh berantai. Dindingnya terbuat dari batu bata sinder. Kebanyakan puing berukuran besar sudah dibersihkan dan ditumpuk di depan dinding, menampakkan lantai tanah. Di beberapa tempat, api telah menyebabkan lantai itu berubah menjadi cokelat. Di tempat lainnya tampak menghitam dan mengeras, seperti lantai keramik yang dibakar di dalam oven. Semuanya ditutupi dengan lapisan es tipis. Grenier membawaku ke sebuah lokasi di sisi kanan lantai yang runtuh. Katanya tidak ditemukan korban lain. Mudah-mudahan saja dia benar. Membayangkan keharusan mengayak seluruh ruang bawah tanah membuatku serasa hampir menangis. Sambil mengucapkan selamat bekerja, dia meninggalkanku untuk bergabung dengan anak buahnya. Cahaya yang menerobos dari dapur tidak mencapai lokasi ini sehingga aku mengeluarkan lampu senter bercahaya terang dari tas peralatanku dan menyorotkannya ke sekelilingku. Satu sapuan mata sudah berhasil meningkatkan kadar adrenalinku. Ini bukanlah sesuatu yang kuharapkan. Sisa-sisa mayat koban bertebaran di daerah yang panjangnya kira-kira tiga

http://inzomnia.wapka.mobi

meter. Yang tersisa hanyalah tulang-belulang yang menunjukkan berbagai tingkat pembakaran. Di salah satu tumpukan bisa kulihat sebuah tengkorak yang dikelilingi serpihan tulang yang ukuran dan bentuknya berbeda-beda. Beberapa tampak hitam dan berkilap, seperti tengkorak itu. Lainnya tampak putih seperti kapur dan kelihatannya hampir remuk. Dan memang pasti akan remuk bila tidak ditangani dengan hati-hati. Tulang yang mengeras seperti itu sangat ringan dan rapuh. Ya. Ini akan menjadi tugas penyelidikan yang sulit. Sekitar satu setengah meter di selatan tengkorak itu tampak tulang yang membentuk tulang belakang, rusuk, dan tulang panjang yang berada dalam posisi anatomi yang kasar. Juga sudah putih dan mengeras. Kuamati arah tulang belakang dan posisi tulang lengan. Mayat ini berbaring terlentang, salah satu lengannya menyilang di atas dadanya, yang lainnya terangkat ke atas kepalanya. Di bawah lengan atas dan dadanya tampak sebuah gumpalan hitam berbentuk jantung dengan dua potongan tulang yang cukup panjang mencuat dari ujungnya. Bagian panggul. Selain itu, bisa kulihat beberapa potongan tulang kaki yang hangus.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku merasa agak lega, tapi juga agak bingung. Ini mayat korban yang sudah dewasa. Atau, benarkah begitu? Tulang bayi berukuran kecil dan sangat rapuh. Tulang-belulang bayi akan dengan mudah tersembunyi di bawahnya. Aku berdoa agar tidak menemukan apa-apa ketika mengayak abu dan sedimen. Kutulis catatan, mengambil foto Polaroid, lalu mulai menyapu tanah dan abu dengan menggunakan kuas halus. Pelan-pelan, aku berhasil membersihkan potongan tulang itu, dengan hati-hati memeriksa puingpuing di atasnya, mengumpulkannya untuk diayak lagi nanti. LaManche kembali saat aku sedang membersihkan tumpukan debu yang menempel pada tulangbelulang itu. Dia mengamati tanpa berkata apa-apa saat aku mengambil empat pancang kayu, segumpal tali, dan tiga pita pengukur dari dalam tasku. Kutancapkan pancang itu di tanah, tepat di atas puing-puing tengkorak, dan mengaitkan ujung dua pita pengukur ke paku di atas pancang itu. Kutarik pita sekitar tiga meter ke arah selatan dan menancapkan pancang kedua. LaManche memegang pita itu di pancang kedua, sementara aku kembali ke pancang pertama dan menarik pita satunya dalam arah tegak lurus, sekitar

http://inzomnia.wapka.mobi

tiga meter ke sebelah timur. Dengan menggunakan pita ketiga, kuukur sebuah hipotenusa (garis miring segitiga) sepanjang kira-kira lima meter dari pancang LaManche ke ujung di sebelah timur laut. Kutancapkan pancang ketiga di tempat bertemunya pita kedua dan ketiga. Berkat Pitagoras, sekarang aku telah membentuk sebuah segitiga dengan dua sisi berukuran tiga meter. Kulepaskan pita kedua dari pancang pertama dan mengaitkannya ke pancang di sebelah timur laut, lalu menariknya sekitar tiga meter ke selatan. LaManche menarik pitanya sekitar tiga meter ke timur. Di tempat kedua pita ini bertemu kutancapkam pancang keempat. Kulingkari keempat pancang itu dengan tali, sehingga mayat itu berada di dalam bujur sangkar berukuran tiga kali tiga meter dengan sudut Sembilan puluh derajat. Aku akan bergerak dengan arah segitiga dari pancang itu saat mengukur. Bila diperlukan, aku bisa membaginya menjadi beberapa kuadran atau membaginya menjadi beberapa kisi untuk pengamata yang lebih akurat. Dua orang teknisi pengambilan barang bukti tiba saat aku meletakkan sebuah panah di dekat tengkorak. Mereka memakai kemeja biru laut tua, SECTION D'IDENTITE JUDICIAIRE tercetak di bagian punggung. Aku iri

http://inzomnia.wapka.mobi

kepada mereka. Rasa dingin yang lembap di ruang bawah tanah ini serasa menusuk seperti pisau, menembus pakaianku dan menghujam kulitku. Aku sudah pernah bekerja sama dengan Claude Mar-tineau. Teknisi yang satu lagi belum kukenal. Kami saling memperkenalkan diri saat mereka menyiapkan ayakan dan lampu jinjing. "Pasti dibutuhkan waktu cukup lama untuk menangani ini," ujarku sambil menunjuk daerah bujur sangkar yang dibatasi keempat pancang itu. "Aku ingin menemukan gigi yang mungkin tersisa, dan menstabilkannya bila diperlukan. Aku juga mungkin harus mengamankan bagian selangkangan dan tulang rusuk kalau kita bisa menemukannya. Siapa yang akan memotret?" "Halloran sebentar lagi datang," ujar Sincennes, teknisi yang kedua. "OK. Kata Pak Garnier tampaknya tidak ada mayat lain di sini, tapi tidak ada salahnya kita menyelidiki seluruh ruang bawah tanah ini." "Katanya ada anak-anak yang tinggal di rumah ini," ujar Martineau, wajahnya tampak kelam. Dia sendiri punya dua orang anak. "Aku menganjurkan pencarian sepetak-sepetak." Kutatap LaManche. Dia mengangguk menyetujui usulku.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Siap," sahut Martineau. Dia dan rekannya menyalakan lampu di helmnya, kemudian bergerak ke ujung ruang bawah tanah. Mereka berjalan maju dan mundur menyisir ruangan dalam garis sejajar, mulamula dari utara ke selatan, kemudian zigzag dari timur ke barat. Setelah selesai, setiap jengkal lantai sudah akan diperiksa masing-masing dua kali. Aku mengambil beberapa foto Polaroid lagi, kemudian mulai membersihkan bujur sangkar itu. Dengan menggunakan sekop kecil, tusuk gigi, dan pengki plastik, kulonggarkan dan kulepaskan kotoran yang menempel di tulang-belulang. Setiap tumpukan kotoran akan dilemparkan ke ayakan. Lalu, kupisahkan lumpur, sinder, kain, paku, kayu, dan plaster dari potongan tulang. Selanjutnya, tulang itu kuletakkan di atas kapas di dalam wadah plastik yang tertutup, mencatat dari mana asalnya di buku catatanku. Tak lama kemudian, Halloran tiba dan mulai melakukan perekaman video. Sesekali aku melirik kepada LaManche. Dia mengamati tanpa berkata apa pun, wajahnya tetap serius seperti biasanya. Selama mengenalnya, aku jarang melihatnya mengekspresikan emosinya. LaManche sudah terlalu banyak makan asam garam penelitian semacam ini selama bertahun-tahun

http://inzomnia.wapka.mobi

sehingga mungkin menunjukkan emosi akan terlalu berat baginya. Setelah beberapa saat, dia berkata. "Kalau tidak ada yang bisa kukerjakan di sini, Temperance, aku akan naik ke atas lagi." "Oke," sahutku, memikirkan cahaya matahari yang hangat. "Aku masih akan cukup lama di bawah sini." Kulihat jam tanganku. Sebelas lewat sepuluh menit. Di belakang LaManche bisa kulihat Sincennes dan Martineau, berdampingan, kepala menunduk, seperti pekerja tambang yang mencari emas. "Kalian memerlukan sesuatu?" "Aku akan membutuhkan sebuah kantong mayat dengan kain putih bersih di dalamnya. Pastikan mereka meletakkan papan tipis atau papan beroda di bawahnya. Setelah mengeluarkan semua potongan tulang ini, aku tidak mau semuanya bercampur-baur saat diangkut." "Oke." Aku kembali sibuk bekerja dengan sekop kecilku dan ayakan di sampingku. Tubuhku sangat kedinginan sehingga aku mulai menggigil dan harus berhenti sesekali untuk menghangatkan tanganku. Akhirnya tim dari kamar mayat tiba sambil membawa tandu dan kantong mayat. Petugas

http://inzomnia.wapka.mobi

pemadam kebakaran yang terakhir beranjak pergi. Ruang bawah tanah itu sekarang hening. Akhirnya, aku berhasil membersihkan seluruh tulang-belulang itu. Aku membuat catatan dan menggambar posisi mayat, sementara Halloran kembali memotret. "Tidak keberatan kalau aku istirahat minum kopi dulu?" tanyanya saat kami sudah selesai. "Silakan. Nanti kalau diperlukan, aku akan memanggilmu. Aku akan memindahkan tulang-belulang ini dulu." Setelah dia pergi, aku mulai memindahkan tulang-belulang itu ke dalam kantong mayat, mulai dari kaki sampai ke bagian kepala. Bagian panggul berada dalam kondisi yang baik. Kuraih dan kuletakkan ke atas kain. Bagian selangkangan terbenam dalam daging yang hangus. Bagian ini tidak perlu distabilkan. Tulang lengan dan kaki kubiarkan terbungkus dalam sedimen. Sedimen ini akan menjaga tulangtulang itu sehingga tidak terlepas-lepas sampai aku bisa membersihkannya dan mengurutkannya di ruang autopsi. Kulakukan hal yang sama dengan bagian dada, pelan-pelan mengangkat bagianbagiannya dengan sekop datar. Tidak ada bagian rusuk yang tersisa

http://inzomnia.wapka.mobi

sehingga aku tidak usah khawatir merusak bagian tersebut. Untuk saat ini kubiarkan tengkorak di tempatnya. Sesudah memindahkan tulang-belulang itu, aku mulai mengayak dua puluh sentimeter teratas dari sedimen itu, mulai dari pancang di sebelah barat daya dan bekerja menuju timur laut. Aku sedang menuntaskan pemeriksaan sudut terakhir saat melihatnya, kira-kira setengah meter di sebelah kiri tengkorak, pada kedalaman lima sentimeter. Perutku langsung bergejolak. Yes! Rahang. Dengan hati-hati kubersihkan tanah dan abu sehingga tampak sebuah rahang bawah sebelah kanan yang lengkap, potongan rahang bawah sebelah kiri, dan bagian depannya. Di bagian itu kutemukan tujuh gigi. Tulang bagian luar sudah retak-retak. Terlihat tipis dan putih seperti bedak. Bagian dalam yang seperti spons tampak pucat dan rapuh, seakan setiap helai fi lamen dirajut oleh laba-laba Liliput, kemudian dibiarkan mengering di udara. Email di giginya sudah mulai mengelupas dan aku yakin semuanya bisa hancur jika disentuh.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kuambil sebotol cairan dari dalam tasku, mengocoknya, dan memeriksa untuk memastikan tidak ada kristal yang mengendap di dalam botol itu. Kuraih beberapa pipet sekali-pakai berukuran lima mililiter. Sambil berlutut, kubuka botol itu, kubuka bungkus pipetnya dan kucelupkan pipet ke dalam botol. Kupencet pentolannya agar pipet itu terisi cairan, kemudian meneteskan cairan itu ke atas rahang. Setetes demi setetes kubasahi potongan tulang itu, memastikan cairannya meresap dengan baik. Karena asyiknya, aku sampai lupa waktu. "Sudut yang bagus." Bahasa Inggris. Tanganku tersentak, mencipratkan Vinac ke bagian lengan jaketku. Punggungku terasa kaku, lutut dan pergelangan kaki terkunci, sehingga tidak mungkin aku bisa menurunkan bokongku. Pelan-pelan, aku duduk. Aku tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa orang itu. "Terima kasih, Detektif Ryan." Dia mengelilingi kotak pancang itu dan menatapku dari atas. Bahkan di remang cahaya ruang bawah tanah, bisa kulihat matanya yang biru cemerlang. Dia memakai jaket kasmir hitam dan syal wol berwarna merah. "Sudah lama tidak bertemu," ujarnya. "Ya. Sudah lama. Kapan tepatnya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Di gedung pengadilan." "Pengadilan Fortier." Saat itu kami berdua sedang menunggu giliran untuk memberikan kesaksian. "Masih berkencan dengan Perry Mason?" Aku tidak mengacuhkan pertanyaan itu. Musim gugur yang lalu aku berkencan dengan seorang pengacara pembela yang kukenal sewaktu mengambil kursus Tai Chi. "Bukankah itu berarti berhubungan dengan pihak musuh?" Aku masih tidak menjawabnya. Rupanya kehidupan asmaraku menjadi topik pembicaraan para petugas bagian pembunuhan. "Apa kabarmu?" "Baik. Kamu?" "Lumayan. Kalau pun aku mengeluh, tidak ada yang mau mendengarkan." "Pelihara saja binatang kesayangan." "Boleh juga idenya. Apa isi tetes mata itu?" tanyanya sambil menunjukkan jarinya yang terbungkus sarung tangan kulit ke arah tanganku. "Vinac. Larutan resin polivinil asetat dan metanol. Rahang ini sudah hangus dan aku mencoba merekatnya kembali." "Dengan menggunakan cairan itu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kalau tulang ini kering, cairan itu akan meresap ke dalamnya dan merekatkan bagian-bagian tulang." "Kalau tulang itu tidak kering, bagaimana?" "Vinac tidak akan bercampur dengan air, jadi hanya akan menempel di permukaannya dan berubah warna menjadi putih. Tulang itu akan terlihat seakan baru disemprot dengan lateks." "Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai mengering?" Aku merasa seperti seorang cendekiawan hebat. "Cairan ini bisa mengering dengan cepat karena alkoholnya menguap, biasanya dalam waktu tiga puluh sampai enam puluh menit. Tapi, cuaca dingin seperti ini tidak akan mempercepat prosesnya." Kuperiksa potongan rahang itu, meneteskan beberapa tetes cairan itu lagi, lalu meletakkan pipet di atas tutup botol cairan. Ryan mendekat dan menjulurkan tangannya. Aku meraihnya dan bangkit, melipat lengan di depan pinggang dan meletakkan tangan di bawah ketiak. Aku tidak bisa merasakan jari-jemariku dan pasti warna hidungku sudah berubah seperti warna syal Ryan. Dan juga ingusan.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Di sini memang lebih dingin dari lemari es," ujarnya sambil mengamati isi ruang bawah tanah. Dia meletakkan salah satu lengannya di belakang tubuhnya dengan posisi yang aneh. "Sudah berapa lama kamu di bawah sini?" Kulirik jam tanganku. Tidak heran kalau aku terserang hipotermia. Sudah pukul satu seperempat. "Lebih dari empat jam." "Ya ampun. Kamu pasti membutuhkan transfuse darah." Tiba-tiba sebuah pikiran melintas di kepalaku. Ryan bekerja di departemen pembunuhan. "Jadi, kebakaran ini disengaja?" "Mungkin." Dia menarik sebuah kantong putih dari balik punggungnya, mengeluarkan sebuah gelas Styrofoam dan roti lapis, kemudian melambai-lambaikannya di hadapanku. Aku meloncat mendekatinya. Dia melangkah mundur. "Harus kau bayar." "Sudah pasti." Daging yang lembap dan kopi hangat. Sungguh lezat. Kami berbincangbincang sambil aku makan. "Cerita dong, kenapa kamu mengira ini kebakaran yang

http://inzomnia.wapka.mobi

disengaja?" tanyaku sambil mengunyah. "Cerita dong, apa yang kaudapatkan di bawah sini?" OK. Dia telah memberiku roti lapis. "Satu orang korban. Mungkin masih muda, tetapi bukan anak kecil." "Tidak ada bayi?" "Tidak ada bayi. Sekarang giliranmu." "Sepertinya ada orang yang menggunakan tipuan usang. Api menyala di bagian-bagian di antara papan lantai. Maksudku saat papan lantai itu belum runtuh. Itu berarti ada cairan yang mempercepat tersulutnya api, mungkin bensin. Kami menemukan lusinan kaleng bensin yang sudah kosong." "Hanya itu saja?" tanyaku sambil menghabiskan roti lapis. "Api itu berasal dari beberapa sumber. Begitu mulai berkobar, api menyebar dengan cepat karena menyulut kumpulan tangki gas yang jumlahnya sangat banyak di dalam rumah. Terdengar ledakan setiap kali ada tangki yang meledak. Begitu tangki lainnya tersulut, terjadi ledakan berikutnya." "Berapa banyak?" "Empat belas."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Semuanya dimulai di dapur?" "Dan ruangan sebelahnya. Entah ruangan apa. Sekarang sudah sulit diketahui." Aku memikirkannya kembali. "Itu menjelaskan kepala dan rahang." "Ada apa dengan kepala dan rahang?" "Kedua bagian itu berada sekitar dua meter dari bagian tubuh yang lainnya. Kalau sebuah tangki gas jatuh bersama korban dan kemudian meledak, maka hal itu akan menyebabkan kepalanya terlontar setelah tubuhnya terbakar. Begitu pula dengan rahangnya." Kuhabiskan kopi, berharap masih ada sepotong roti lapis lagi. "Apa mungkin tangki-tangki itu meledak sendiri?" "Semuanya mungkin saja." Kubersihkan remah-remah dari jaketku dan teringat pada donat LaManche. Ryan meraih ke dalam tasnya dan memberiku sehelai serbet. "OK. Api itu berasal dari beberapa tempat dan ada bukti cairan yang menyulutnya. Jadi, kebakaran yang disengaja. Pertanyaan berikutnya, kenapa?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Entahlah." Dia menunjuk ke kantong mayat. "Siapa itu?" "Entahlah." Ryan melangkah menuju lantai atas dan aku kembali mengumpulkan tulang-belulang itu. Rahangnya belum begitu kering, sehingga aku kembali mengalihkan perhatian ke tengkoraknya. Otak mengandung banyak air. Saat terkena api, air akan mendidih dan memuai, menimbulkan tekanan hidros-tatik di dalam kepala. Jika panasnya cukup, tengkorak bisa retak, bahkan meledak. Orang ini dalam kondisi yang cukup baik. Walaupun wajahnya sudah tidak ada dan tulang bagian luar sudah hangus dan rapuh, bagian tengkorak yang terbesar masih utuh. Aku cukup heran mengingat dahsyatnya kebakaran ini. Saat membersihkan lumpur dan abu, kemudian menatapnya lekat-lekat, aku mengerti. Untuk sejenak aku hanya bisa termenung. Kubalikkan tengkorak itu dan kuperiksa tulang bagian depan. Ya Tuhan. Aku menaiki tangga dan melongokkan kepala ke dapur. Ryan berdiri di dekat meja sambil berbicara dengan si fotografer. "Sebaiknya kalian ke bawah dulu," ujarku.

http://inzomnia.wapka.mobi

Mereka berdua mengangkat alis dan menunjuk ke dada masing-masing. "Ya, kalian berdua." Ryan meletakkan gelas Styrofoam yang sedang dipegangnya. "Ada apa?" "Yang satu ini mungkin sudah mati sebelum kebakaran itu terjadi." 4. Hari sudah menjelang malam saat tulang terakhir selesai dikemas dan siap untuk diangkut. Ryan mengamati saat aku dengan berhati-hati mengeluarkan dan membungkus potongan tengkorak, lalu meletakkannya di dalam wadah plastik. Aku akan menganalisis sisa-sisa mayat itu di laboratorium. Penyelidikan selanjutnya adalah tugas Ryan. Senja mulai turun saat aku keluar dari ruang bawah tanah. Menyatakan bahwa aku kedinginan sama saja seperti mengatakan Lady Godiva berpakaian kurang pantas. Selama dua hari berturut-turut aku mengakhiri sore hari tanpa bisa merasakan jari-jemariku. Semoga saja tidak perlu sampai diamputasi. LaManche sudah pergi, jadi aku menumpang Ryan ke Montreal bersama rekannya, Jean Bertrand. Aku duduk di kursi belakang, menggigil dan meminta agar alat pemanas dinaikkan suhunya. Mereka duduk di depan,

http://inzomnia.wapka.mobi

berkeringat, sesekali melepaskan satu per satu atribut yang dipakai di bagian luar baju mereka. Percakapan mereka masuk dan keluar telingaku. Aku benar-benar lelah dan hanya ingin mandi air panas, lalu menyusup masuk ke dalam baju tidurku yang terbuat dari fl anel. Selama sebulan. Pikiranku melayang. Aku membayangkan beruang. Gagasan yang bagus. Meringkuk dan tidur sampai musim semi tiba. Bermacam bayangan melayang-layang di dalam benakku. Korban di ruang bawah tanah. Kaus kaki tergantung di ujung jari kaki yang kaku. Sebuah pelat nama di peti mati kecil. Stiker gambar wajah yang tersenyum. "Brenann." "Apa?" "Selamat pagi, Nona Manis. Ada pesan dari bumi, 'Halo, halo.'" "Apa?" "Sudah sampai ke rumah." "Terima kasih. Sampai ketemu lagi hari Senin ya." Aku terhuyung keluar dari mobil dan menaiki undakan tangga di depan gedung apartemenku. Salju tipis menutupi lingkungan di sekitar rumahku

http://inzomnia.wapka.mobi

seperti bunga es di atas kayu manis. Dari mana datangnya salju sebanyak ini? Aku belum belanja bahan makanan, sehingga terpaksa hanya makan biskuit diolesi selai kacang dan dibarengi minum sup kerang. Kutemukan sekotak Turtles yang sudah lama di lemari dapur, cokelat pahit, kesukaanku. Cokelat itu sudah agak apek dan keras, tetapi aku tidak punya makanan lain. Hanya mandi air hangat yang sesuai dengan yang kubayangkan. Sesudah itu, aku memutuskan untuk menyalakan perapian. Akhirnya tubuhku terasa hangat, tetapi sangat capek dan kesepian. Cokelat tadi lumayan, membuatku merasa nyaman, tetapi aku butuh lebih nyaman lagi. Aku merindukan putriku. Sekolah Katy dibagi menjadi empat kuartal, universitasku memakai system semes-teran, jadi liburan musim semi kami tidak bersamaan. Bahkan Birdie tetap tinggal di selatan pada liburan kali ini. Dia membenci perjalanan udara dan mengeluhkan hal itu dengan kerasnya setiap kali naik pesawat terbang. Karena kali ini aku tidak akan begitu lama di Quebec, tidak lebih dari dua minggu, aku memutuskan untuk tidak membawa kucing itu terbang bersamaku.

http://inzomnia.wapka.mobi

Saat memegang korek untuk menyalakan balok kayu, aku memikirkan api. Dulu Homo erectus berhasil menjinakkannya. Selama satu juta tahun kita menggunakannya untuk berburu, memasak, menjadikannya sumber kehangatan, dan memberi penerangan. Itulah bahan kuliahku pada jam terakhir sebelum liburan. Kubayangkan mahasiswaku di North Carolina. Saat aku mencari Elisabeth Nicolet, mereka sedang menempuh ujian midsemester. Buku-buku biru kecil itu akan tiba di sini besok melalui pos kilat, sementara para mahasiswa menuju pantai untuk menghabiskan masa liburan. Kumatikan lampu dan kuamati api menjilat-jilat dan bergeliut di antara balok kayu. Bayangan berdansa- ria di sekeliling ruangan. Aku bisa mencium bau pohon pinus dan mendengar air mendesis dan menggelegak saat mendidih ke permukaan. Itulah sebabnya mengapa api sungguh memesona. Api melibatkan banyak indra. Kukenang kembali hari Natal dan perkemahan musim panas di masa kanak-kanakku. Sungguh, api adalah karunia bermuka dua. Api bisa memberikan rasa aman, menggugah kenangan indah. Tetapi, api juga bisa membunuh. Aku tidak ingin memikirkan St-Jovite lagi malam ini.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kuamati salju yang menggunduk di kusen jendela. Mahasiswaku pasti sedang merencanakan kegiatan pertama di pantai. Saat aku berjuang melawan radang dingin, mereka sedang mempersiapkan diri menghadapi sengatan matahari. Aku juga tidak mau memikirkan hal itu. Aku kemudian teringat pada Elisabeth Nicolet. Dia telah menjalani kehidupan seperti seorang pertapa. "Femme contemplative," begitulah yang tertulis di plakatnya. Tetapi, sudah lebih dari satu abad dia tidak melakukan perenungan. Bagaimana jika ternyata kami menggali peti mati yang salah? Hal itu juga bukan hal yang ingin kupikirkan. Paling tidak untuk malam ini, aku dan Elisabeth tidak memiliki banyak persamaan. Kulirik jam. Pukul sembilan lewat empat puluh menit. Di tahun keduanya, Katy dianugerahi gelar "Si Cantik dari Virginia." Walaupun dia mempertahan kan IPK 3,8 saat mengambil dua jurusan, yaitu Sastra Inggris dan Psikologi, dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk bersosialisasi. Kita tidak akan bisa menemukannya diam di rumah pada Jumat malam. Karena selalu merasa optimistis, kuraih telepon di atas perapian dan menekan nomor telepon Charlottesville. Katy menjawab pada deringan ketiga.

http://inzomnia.wapka.mobi

Karena menduga akan mendengar suara mesin penjawab, aku jadi tergagap. "Ma? Ini Mama?" "Ya. Halo. Kok kamu ada di rumah?" "Ada jerawat sebesar tinju di hidungku. Tampangku jelek dan aku tidak berani pergi keluar. Mama sedang apa, kok jam segini sudah di rumah?" "Kamu nggak mungkin terlihat jelek. Tidak ada komentar tentang jerawat itu." Kusandarkan tubuhku di bantal dan kuletakkan kakiku di atas perapian. "Mama menghabiskan waktu dua hari menggali orang yang sudah mati dan terlalu capek untuk pergi keluar." "Aku nggak akan tanya tentang itu deh." Kudengar kertas selofan diremas. "Jerawat ini benarbenar menyebalkan." "Nanti juga pasti akan hilang sendiri. Apa kabarnya si Cyrano?" Katy punya dua ekor tikus, Templeton dan Cyrano de Bergerat. "Sudah mendingan. Aku membeli obat di took binatang dan sudah memberikannya dengan menggunakan pipet. Dia sudah berhenti bersinbersin." "Bagus. Dia memang tikus kesayangan Mama." "Kurasa Templeton juga tahu."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Lain kali Mama akan lebih hati-hati deh, supaya tidak terlalu kentara. Ada kabar apa lagi?" "Tidak ada yang istimewa. Kencan dengan cowok yang namanya Aubrey. Dia cukup keren. Mengirimiku bunga mawar keesokan harinya. Dan aku akan piknik dengan Lynwood besok. Lynwood Deacon. Dia mahasiswa tahun pertama di Jurusan Hukum." "Begitukah caramu memilih mereka?" "Apa?" "Dari namanya," Dia tidak mengacuhkan celetukanku. "Bibi Harry menelepon." "Oh?" Nama adikku selalu membuatku sedikit gelisah, seperti seember paku yang diletakkan terlalu ke pinggir. "Dia menjual bisnis balonnya atau entah apa. Dia sebenarnya menelepon karena ingin bicara dengan Mama. Kedengarannya sedikit aneh." "Aneh?" Di hari yang normal pun adikku terdengar aneh. "Kukatakan Mama sedang di Quebec. Mungkin dia akan menelepon Mama besok." "OK." Seperti yang kubutuhkan saja, gangguan lagi.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Oh! Ayah baru membeli Mazda RX-7. Baik sekali ya. Tapi, dia tidak membolehkan aku mengendarainya." "Ya, Mama tahu." Suamiku yang sudah memisahkan diri itu memang sedang mengalami krisis pria setengah baya. Terdengar keragu-raguan pada suara Katy. "Sebenar nya, kami mau keluar makan pizza." "Bagaimana dengan jerawatmu?" "Aku akan menggambar ekor dan telinga di sekelilingnya dan mengatakan bahwa itu tato." "Boleh juga. Kalau ketahuan, gunakan nama samaran." "Aku sayang Mama." "Aku juga sayang kamu. Sampai nanti." Kuhabiskan sisa Turtles dan menggosok gigi. Dua kali. Lalu, kuempaskan tubuhku ke tempat tidur dan terlelap selama sebelas jam. Kuhabiskan sisa akhir pekan itu dengan mengosongkan koper, bersihbersih rumah, belanja, dan memeriksa hasil ujian. Adikku menelepon Minggu sore untuk mengatakan bahwa dia sudah menjual bisnis balon udaranya. Aku merasa lega. Selama tiga tahun aku menciptakan berbagai alasan agar Katy tidak ikut naik balon udaranya, sambil dengan cemas menunggu tibanya hari dia akan menaiki transportasi udara itu. Sekarang

http://inzomnia.wapka.mobi

energinya yang kreatif itu bisa dialihkan ke hal lain. "Kamu di rumah?" tanyaku. "Yap." "Cuacanya hangat?" Aku memeriksa salju di kusen jendela. Terlihat masih menebal. "Selalu hangat di Houston." Sialan. "Jadi, kenapa kamu menjual bisnis itu?" Harry selalu suka menjadi orang yang mencaricari, walaupun tujuannya tidak pernah jelas. Selama tiga tahun terakhir ini dia sungguh tergila-gila pada balon udaranya. Jika tidak sedang bersafari terbang di atas Texas, dia dan timnya mengendarai mobil pick-up-nya yang sudah tua dan menjelajahi Negara mencari perlombaan balon udara. "Striker dan aku akan berpisah." "Oh." Dia juga selalu tergila-gila pada Striker. Mereka bertemu pada sebuah perlombaan di Alburqueque, menikah lima hari kemudian. Itu terjadi dua tahun yang lalu. Untuk beberapa saat lamanya tidak ada yang bicara. Aku akhirnya membuka pembicaraan kembali. "Sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku mungkin akan ikut konseling." Hal itu mengejutkanku. Adikku jarang melakukan hal yang seharusnya dilakukan. "Mungkin aku bisa menemanimu menjalani semua ini." "Tidak. Tidak. Otak Striker itu isinya hanya Kool- Aid. Aku tidak meratapinya. Itu hanya akan membuatku kesal saja." Kudengar dia menyalakan rokok, menghirupnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya. "Ada sebuah kursus yang baru kudengar. Kalau kita mengikutinya, kita bisa membimbing orang lain tentang kesehatan holistik dan cara menghilangkan stres, semacam itulah. Aku sedang membaca tentang obat-obatan dari tetumbuhan dan meditasi serta metafi sika, dan ternyata asyik juga. Kurasa aku pasti akan sukses di bidang ini." "Harry. Sepertinya agak berat." Sudah berapa kali aku mengucapkan katakata itu? "Ya ampun. Tentu saja aku akan mempelajarinya dulu. Aku 'kan tidak bodoh." Tidak. Dia tidak bodoh. Tetapi, jika Harry menginginkan sesuatu, dia akan mengejarnya terus. Dan tidak ada cara apa pun yang bisa mengubah keputusannya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kututup telepon dengan merasa agak gamang. Membayangkan Harry memberikan nasihat kepada orang lain yang bermasalah benar-benar membuatku gelisah. Sekitar pukul enam aku memasak hidangan makan malam: tumis dada ayam, kentang merah rebus dengan mentega dan bawang putih, serta asparagus kukus. Segelas Chardonnay pasti akan membuat semuanya sempurna. Tetapi, tidak untukku. Minuman itu telah kutinggalkan selama tujuh tahun. Aku juga bukan orang bodoh. Setidaknya aku tidak bodoh di saat sedang tidak mabuk. Makanan itu berhasil mengalahkan menu biskuit tadi malam. Saat makan, aku memikirkan adikku. Harry tidak pernah betah mengikuti pendidikan formal. Dia menikah dengan pacarnya di SMA sehari sebelum wisuda, dan menikah lagi tiga kali setelah pernikahan yang pertama. Dia memelihara anjing Saint Bernards, menjalankan usaha Pizza Hut, menjual kacamata bermerek, memimpin tur di Yucatan, menangani Bagian Humas di Houston Astros, memulai dan meninggalkan bisnis pembersihan karpet, menjual real estate, dan yang terakhir ini menjalankan bisnis balon udara. Saat aku berusia tiga tahun dan Harry baru berumur satu tahun, aku tidak sengaja mematahkan kakinya karena melindasnya dengan sepeda roda

http://inzomnia.wapka.mobi

tigaku. Dia tidak pernah kapok. Harry belajar berjalan dengan menggunakan tongkat penopang. Walaupun sangat menjengkelkan dan benar-benar membuat orang selalu sayang padanya, adikku memiliki energi yang tidak ada habis-habisnya untuk menutupi kekurangannya karena tidak pernah ikut pelatihan atau karena tidak sanggup memusatkan perhatian. Aku benarbenar lelah setiap kali menghadapinya. Pada pukul setengah sepuluh, aku menonton pertandingan hoki di TV. Saat itu sudah akhir babak kedua dan Habs kalah empat kosong melawan St. Louis. Don Cherry dengan berapi-api mengatakan betapa tidak becusnya manajemen Kanada, wajahnya yang bundar dan merona merah bertengger di atas kerah kemejanya yang tinggi. Dia terlihat lebih mirip seorang penyanyi tenor pada kelompok kuartet penyanyi daripada komentator olahraga. Kuamati dia, merasa kagum karena jutaan orang mendengarkan ocehannya setiap minggu. Pada pukul sepuluh lewat seperempat kumatikan TV dan kembali tidur. Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi sekali dan langsung mengendarai mobil ke laboratorium. Senin biasanya hari yang sibuk untuk para peneliti medis. Selama akhir pekan biasanya terjadi peningkatan jumlah tindak

http://inzomnia.wapka.mobi

kejahatan, aksi sok jago yang tidak ada gunanya, sikap membenci diri sendiri, dan sikap uring-uringan pada waktu yang tidak tepat yang mengakibatkan kematian mengerikan. Mayat para korban tiba dan kemudian disimpan di kamar mayat untuk diautopsi pada hari Senin. Tidak ada bedanya pada hari Senin ini. Kuseduh kopi, kemudian mengikuti rapat pagi di kantor LaManche. Natalie Ayers sedang menghadiri pengadilan pembunuhan di Val-d'Or, tetapi ahli patologi lainnya hadir dalam rapat ini. Jean Pelletier baru saja kembali setelah memberikan kesaksian di Kuujjuaq, jauh di Quebec Utara. Dia sedang menunjukkan serangkaian foto kepada Emily Santangelo dan Michel Morin. Kucondongkan tubuhku ke depan. Kuujjuaq terlihat seakan-akan baru diterbangkan dan direkonstruksi di malam sebelumnya. "Apa itu?" tanyaku, menunjuk ke sebuah bangunan prefab yang bagian luarnya dilapisi plastik. "Aqua center." Pelletier menunjuk sebuah tanda segi-enam berwarna merah dengan huruf-huruf yang tidak kukenal di atasnya, tulisan Arret dengan huruf putih tebal tampak di bawahnya. "Semua tanda ditulis dengan bahasa Prancis dan Inuktitut." Aksennya sangat kental, bagi telingaku dia

http://inzomnia.wapka.mobi

seakan-akan sedang menggunakan bahasa Inuktitut. Aku sudah bertahuntahun mengenal Pelletier dan masih sulit memahami bahasa Prancisnya. Dia menunjuk ke sebuah bangunan lain. "Itu gedung pengadilan." Mirip seperti kolam renang, tanpa dibungkus plastik. Di belakang kota, tampak padang tundra luas yang berwarna abu-abu dan kelam, sebuah Serengeti yang terdiri atas bebatuan dan lumut. Seong gok tulang-belulang karibu (semacam rusa tundra) berwarna putih tampak di pinggir jalan. "Apakah karibu sering ditemui di sana?" Tanya Emily, menatap hewan tersebut. "Hanya kalau sudah mati." "Ada delapan autopsi hari ini," ujar LaManche, sambil membagikan daftarnya. Dia membahas semuanya satu per satu. Seorang lelaki berusia Sembilan belas tahun ditabrak kereta api, tubuhnya terbagi dua. Kejadiannya di sebuah jembatan rel kereta yang biasa dikunjungi anakanak muda. Sebuah mobil salju menerobos danau es di Lac Me-gantic. Dua tubuh ditemukan. Diperkirakan keduanya mabuk karena minuman keras. Seorang bayi ditemukan sudah meninggal dan membusuk di tempat tidurnya. Ibunya, yang berada di lantai

http://inzomnia.wapka.mobi

bawah sambil menonton acara game di TV saat polisi tiba, mengatakan bahwa sepuluh hari sebelumnya Tuhan menyuruhnya berhenti member makan kepada bayinya. Seorang lelaki kulit putih yang tidak dapat diidentifikasi ditemukan di bak sampah di kampus McGill. Tiga mayat lainnya ditemukan dalam kebakaran di St-Jovite. Pelletier ditugasi mengautopsi si bayi. Dia mengatakan bahwa mungkin akan membutuhkan konsultasi dengan ahli antropologi. Walaupun identitas bayi itu sudah jelas, menemukan penyebab dan waktu kematian pasti akan sulit. Santangelo mendapatkan kasus mayat dari Lac Megantic, Morin mendapatkan korban tabrakan kereta api dan kasus bak sampah. Dua korban di kamar tidur di St-Jovite cukup lengkap sehingga dapat menjalani autopsi yang normal. LaManche yang akan melakukan autopsi itu. Aku akan memeriksa tulangbelulang yang ditemukan di ruang bawah tanah. Setelah rapat, aku kembali ke kantorku dan membuka sebuah laporan dengan memindahkan informasi dari lembaran etiket pagi hari ke formulir kasus antropologi. Nama: Inconnu. Tidak dikenal. Tanggal lahir: kosong. Nomor Laboratoire de Medecine Legale: 31013. Nomor Kamar Mayat: 375.

http://inzomnia.wapka.mobi

Nomor arsip polisi: 89041. Ahli Patologi: Pierre LaManche. Koroner: JeanClaude Hubert. Peneliti: Andrew Ryan dan Jean Bertrand, Escouade de Crimes Contre la Personne, Surete de Quebec. Kutambahkan tanggal, lalu menyelipkan formulir itu ke dalam map arsip. Kami menggunakan warna yang berbeda-beda. Merah muda milik Marc Bergeron, ahli odon-tologi. Hijau adalah Martin Levesque, ahli radiologi. LaManche menggunakan warna merah. Jaket kuning muda milik ahli antropologi. Kumasukkan kunci dan lift turun sampai ke ruang bawah tanah. Di situ kuminta seorang teknisi autopsi untuk meletakkan LML 31013 di kamar nomor tiga, kemudian aku mengenakan seragam operasi. Keempat ruangan autopsi di Laboratorie de Medicine Legale berdampingan dengan kamar mayat. LML mengendalikan lab, sedangkan Bureau du Coroner menangani kamar mayat. Ruangan autopsy dua cukup luas dan berisi tiga meja. Ruangan lainnya diisi satu meja. Ruangan nomor empat dilengkapi ventilasi khusus. Aku sering bekerja di situ karena banyak kasus yang kutangani bukan mayat baru. Hari ini aku menyerahkan ruangan empat kepada Pelletier dan bayi itu. Tubuh yang hangus tidak menyebarkan aroma yang terlalu menyengat.

http://inzomnia.wapka.mobi

Saat tiba di ruangan tiga, sebuah kantong mayat hitam dan empat wadah plastik telah diletakkan di atas papan beroda. Kubuka tutup sebuah bak, mengeluarkan bantalan kapas, dan memeriksa potongan tengkorak. Tidak tampak kerusakan atas tengkorak itu akibat proses pengangkutan dari lokasi TKP ke tempat ini. Kuisi sebuah kartu identifi kasi kasus, membuka ret-sleting kantong mayat, serta menarik kain yang membungkus tulang-belulang dan sisa-sisa mayat itu. Kupotret beberapa kali dengan Polaroid, kemudian mengirimkan semuanya untuk dipotret dengan sinar- X. Bila ada gigi atau benda dari logam, aku ingin menandainya dulu sebelum mulai melakukan penelitian selanjutnya. Saat menunggu, aku memikirkan Elisabeth Nicolet. Peti matinya diletakkan di sebuah lemari pendingin berjarak tiga meter dariku. Aku penasaran, ingin sekali melihat apa yang terdapat di dalamnya. Salah satu pesan yang kuterima pagi ini berasal dari Suster Julienne. Para biarawati juga sudah tidak sabar. Setelah tiga puluh menit berlalu, Lisa mendorong kereta berisi tulangbelulang itu kembali dari radiologi dan menyerahkan hasil pemoretan

http://inzomnia.wapka.mobi

sinar-X kepadaku. Kupasang beberapa di antaranya di kotak lampu, mulai dari bagian kakinya. "Apa semuanya OK?" tanya Lisa. "Aku tidak yakin harus menggunakan seting apa pada semua benda di dalam kantong itu, jadi kupotret beberapa kali dari beberapa sudut yang berbeda-beda." "Semuanya bagus." Kami menatap sebuah bercak besar yang dikelilingi dua garis berwarna putih: isi kantong mayat dan risle-tingnya. Bagian dalamnya dipenuhi bercakbercak kecil, dan di sana-sini tampak bagian tulang yang pucat di depan latar belakang yang netral. "Apa itu?" tanya Lisa sambil menunjuk ke sebuah benda putih. "Sepertinya kuku." Kuganti beberapa foto yang pertama dengan tiga buah foto berikutnya. Tanah, kerikil, serpihan kayu, dan kuku. Kami bisa melihat tulang kaki dan pinggul dengan daging hangus yang masih menempel. Bagian panggul terlihat masih utuh. "Seperti serpihan logam di bagian femur (tulang paha) sebelah kanan," ujarku, menunjukkan beberapa titik putih di tulang paha. "Sebaiknya kita

http://inzomnia.wapka.mobi

berhati-hati saat menangani bagian itu. Kita buat lagi foto sinar-X-nya nanti." Foto-foto berikutnya menunjukkan bagian rusuk yang sudah hancur. Bagian lengan terlihat lebih baik, walaupun sudah retak dan tercerai-berai. Beberapa tulang punggung sepertinya masih bisa diselamatkan. Sebuah benda logam terlihat di bagian kiri dada. Tidak terlihat seperti kuku. "Kita juga harus berhati-hati saat menangani bagian itu." Lisa mengangguk. Berikutnya kami meneliti hasil si-nar-X beberapa wadah plastik. Tidak ada yang terlihat aneh dari foto itu. Bagian rahang terlihat utuh, bagian gigi terlihat menyatu dengan tulangnya. Bahkan bagian mahkotanya pun masih utuh. Aku bisa melihat bercak terang di dua gigi geraham. Bergeron pasti akan senang. Bila ada catatan gigi, bagian tambalan ini akan berguna untuk mengidentifi kasi jati diri orang ini. Lalu, perhatianku tertarik oleh tulang bagian depan. Tulang itu dihiasi banyak titik putih, seakan seseorang telah menaburinya dengan garam.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku juga ingin foto sinar-X bagian itu sekali lagi," ujarku pelan, sambil menatap berbagai partikel berwarna buram di dekat bagian tulang tempat bola mata kiri. Lisa menatapku dengan pandangan heran. "OK. Ayo kita keluarkan laki-laki ini," ujarku. "Mungkin dia seorang wanita?" "Ya, mungkin seorang wanita." Lisa menghamparkan kain di atas meja autopsy dan menyiapkan sebuah ayakan di atas wastafel. Kuraih sebuah celemek kertas dari salah satu laci meja baja nirkarat, memasukkannya lewat kepalaku, dan mengikatnya di sekeliling pinggangku. Lalu, kupakai masker di mulutku, sarung tangan operasi, dan membuka risleting kantong mayat itu. Mulai dari bagian kaki ke sebelah utara, kupindahkan benda dan potongan tulang yang paling besar dan mudah dikenali. Lalu, kuayak isi kantong untuk mencari berbagai serpihan kecil tulang yang mungkin terlewatkan sebelumnya. Lisa memeriksa setiap gumpalan tanah di bawah kucuran air. Dia mencuci dan meletakkan potongan artefak di atas meja, sementara aku menyusun tulang-belulang itu menurut susunan anatomi di atas kain.

http://inzomnia.wapka.mobi

Pada tengah hari Lisa istirahat untuk makan siang. Aku terus bekerja dan pada pukul setengah tiga proses yang melelahkan ini selesai. Setumpukan kuku, potongan logam, dan salah sebuah selongsong yang hangus tergeletak di atas meja, bersama sebuah botol plastik kecil berisi sesuatu yang kuduga sobekan kain. Sepotong tulang yang hangus dan terlepas juga diletakkan di atas meja, tulang tengkorak menyebar seperti kelopak bunga aster. Dibutuhkan waktu lebih dari satu jam lamanya untuk mencatat semuanya, mengidentifi kasi setiap tulang dan menentukan apakah berasal dari bagian tubuh sebelah kiri atau kanan. Kemudian, aku memikirkan pertanyaan yang pasti diajukan Ryan. Umur. Jenis kelamin. Ras. Siapa orang ini? Kuraih tumpukan tulang panggul dan tulang paha. Api telah membakar habis jaringan ototnya, membuatnya hitam dan keras seperti kulit. Pisau bermata dua. Tulang itu telah terlindungi, tetapi akan sangat sulit membersihkannya dari jaringan otot tersebut. Kuputar bagian panggul itu. Daging di sebelah kiri telah hangus, menyebabkan femur terbuka. Aku bisa melihat bidang potong sambungan

http://inzomnia.wapka.mobi

pinggul boladan-wadah-nya. Ku ukur diameter bagian pangkal paha. Tampak kecil, ukurannya lebih mengarah ke ukuran wanita. Kupelajari struktur bagian dalam pangkal paha itu, tepat di bawah permukaannya. Tonjolan tulang menunjukkan pola sarang lebah yang khas pada orang dewasa, tanpa adanya garis tebal untuk menandakan batok yang baru berkembang. Hal ini konsisten dengan bagian gigi geraham yang sudah lengkap di rahang yang kutemukan sebelumnya. Korban ini bukan anak-anak. Kuamati bagian luar sisi batok yang membentuk wadah pinggul dan bagian bawah pangkal paha. Pada kedua tempat itu tulang sepertinya meleleh ke bawah, seperti cairan lilin yang meleleh. Arthritis. Orang ini sudah tidak muda lagi. Aku sudah menduga bahwa korban ini seorang wanita. Tulang panjang di hadapanku memiliki diameter yang cukup kecil dengan beberapa otot polos menempel di permukaannya. Kualihkan perhatianku ke serpihan tengkoraknya. Tulang rawan di belakang telinga yang kecil dan tulang alis. Bagian pinggiran yang tajam dari tulang lubang bola mata. Bagian belakang

http://inzomnia.wapka.mobi

tengkorak itu tampak halus, sedangkan tengkorak lelaki pada umumnya akan kasar dan bergelombang. Kuperiksa bagian depan tengkorak tersebut. Bagian atas tulang hidung masih melekat. Kedua ujung tulang itu bertemu di bagian tengah, seperti sebuah menara gereja. Kutemukan juga dua potong tulang rahang. Bagian bawah lubang hidung berakhir di landaian tajam dengan potongan tulang mencuat di tengah-tengahnya. Hidung itu pasti berbentuk lancip dan tajam, wajah akan tampak lurus saat dilihat dari samping. Kutemukan potongan tulang rawan dan menyorotkan lampu senter ke bagian telinga. Bisa kulihat sebuah luang kecil di bagian dalam telinga. Itu adalah tanda-tanda orang dari ras Kaukasia. Wanita. Berkulit putih. Dewasa. Tua. Aku kembali ke bagian panggul, berharap akan membantuku menegaskan jenis kelaminnya dan lebih akurat dalam menentukan umurnya. Aku terutama tertarik pada bagian di mana kedua bagian tulang bertemu di bagian depan. Pelan-pelan, kubersihkan otot yang terbakar, menampakkan bagian di antara kedua tulang selangkangan, pubic symphisis. Tulang selangkangan itu cukup lebar, sudut di bawahnya juga lebar. Keduanya memiliki bum-

http://inzomnia.wapka.mobi

bungan yang tinggi di kedua sudutnya. Bagian bawah dari tulang selangkangan itu tampak ramping dan melengkung dengan mulusnya. Tandatanda khas tulang wanita. Kucatat kembali di dalam formulir dan mengambil foto Polaroid dari jarak dekat. Panas yang hebat telah menyebabkan menyusutnya tulang rawan penghubung dan meregangkan tulang selangkangan di bagian tengahnya. Kuputar bagian yang hangus itu, mencoba mengintip di sela-selanya. Ke liha-tannya bagian permukaan symphyses! masih melekat, tetapi aku tidak bisa melihat lebih teperinci lagi. "Ayo kita coba keluarkan bagian selangkangan ini," ujarku kepada Lisa. Aku mencium bau daging terbakar saat gergaji menembus bagian sayap yang menghubungkan tulang selangkangan ke sisa-sisa bagian panggul. Hanya membutuhkan beberapa detik saja. Bagian symphyses! tampak hangus, tetapi lebih mudah untuk diamati. Tidak ada tonjolan maupun kerut di kedua permukaannya. Bahkan, keduanya tampak berlubang-lubang, bagian luarnya melipat dengan anehnya. Serabut tulang mencuat dari bagian depan selangkangan, mengeras pada jaringan otot di sekitarnya. Wanita ini telah hidup cukup lama.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kubalikkan tulang selangkangan itu. Sebuah parut yang dalam tampak di kedua sisi bagian perut. Dan dia sudah pernah melahirkan. Kuraih kembali tulang bagian depan. Untuk sejenak aku berdiri di situ, cahaya terang menampakkan apa yang sudah kuduga di ruang bawah tanah, dan yang sudah ditegaskan kembali dengan munculnya sebaran potongan logam di foto sinar-X. Dari tadi aku sudah berusaha mengendalikan emosi, tetapi sekarang kubiarkan diriku berduka atas korban yang rusak di atas meja di hadapanku. Dan menduga-duga apa yang telah terjadi padanya. Wanita itu kira-kira berusia tujuh puluh tahun, tidak diragukan lagi adalah seorang ibu, mungkin seorang nenek. Mengapa ada orang menembaknya di kepala dan meninggalkannya terbakar di sebuah rumah di pegunungan Laurentian? 5. Pada hari Selasa siang aku telah menyelesaikan lapo-ranku. Aku bekerja sampai lewat dari pukul sembilan di malam sebelumnya karena tahu Ryan

http://inzomnia.wapka.mobi

pasti menginginkan jawaban. Anehnya, aku belum melihatnya sampai sekarang. Kubaca lagi apa yang telah kutuliskan, memeriksa kalau-kalau ada kesalahan. Kadang-kadang aku menilai pembedaan kata berdasarkan jenis kelamin dan aksen adalah kutukan Francophone yang khusus dirancang untuk menyiksaku. Aku selalu mencoba sebaik mungkin, tetapi pasti ada saja beberapa kekurangan di dalam la-poranku. Selain profil biologis korban yang tak dikenal ini, laporan itu menyertakan analisis trauma. Saat membedah, kutemukan serpihan berwarna buram di bagian femur sebagai akibat benturan setelah kematian. Potongan logam kecil-kecil yang melesat menembus tulang mungkin diakibatkan oleh ledakan tangki gas. Kerusakan selebihnya juga disebabkan oleh kebakaran. Beberapa kerusakan bukan akibat kebakaran. Kubaca ringkasan yang baru saja kutuliskan. Luka A adalah kerusakan melingkar, dan hanya setengahnya yang masih terlihat jelas. Luka ini terletak di bagian tengah depan, kira-kira 2 cm di atas glabella dan 1,2 cm sebelah kiri garis tengah. Kerusakan itu memiliki diameter 1,4 cm dan menunjukkan karakteristik menyerong di bagian

http://inzomnia.wapka.mobi

dalam. Bekas hangus juga tampak di sekeliling kerusakan itu. Luka A konsisten dengan lubang masuk luka tembak. Luka B adalah kerusakan melingkar dengan karakteristik menyerong ke bagian luar. Diameternya 1,6 cm di bagian endocranial dan 4,8 cm di bagian ectocranial. Kerusakan ini terpusat pada tulang occipital, 2,6 cm di atas opisthion dan 0,9 cm sebelah kiri garis misdagittal. Tampak hangus di sebelah kiri, kanan, dan bagian dalam kerusakan itu. Luka B konsisten dengan lubang keluar luka tembak. Walaupun kerusakan akibat kebakaran membuat rekonstruksi mustahil dilakukan, aku masih mampu meletakkan berbagai potongan cukup banyak untuk menentukan bagian yang berada di antara lubang masuk dan keluar peluru itu. Pola ini adalah pola klasik. Wanita tua itu telah ditembak di kepalanya. Peluru masuk di bagian tengah dahinya, menembus otaknya, dan keluar dari belakang kepalanya. Ini menjelaskan mengapa tengkoraknya tidak hancur akibat kobaran api. Sebuah lubang sebagai jalan keluar tekanan dari dalam tengkorak telah tercipta sebelum api berkobar. Aku berjalan ke bagian administrasi untuk menyerahkan laporan itu dan saat kembali kudapati Ryan sedang duduk di seberang mejaku, menatap

http://inzomnia.wapka.mobi

jendela di belakang kursiku. Kakinya diselonjorkan di sepanjang setengah ruangan kantorku. "Pemandangan yang indah," katanya dalam bahasa Inggris. Lima lantai di bawahnya, tampak Jembatan Jacques Cartier melengkung di atas sungai St. Lawrence. Aku bisa melihat beberapa mobil merayap di punggung jembatan itu. Pemandangannya memang indah. "Pemandangan itu mengalihkan pikiranku yang sering memikirkan betapa kecilnya kantor ini." Aku berjalan melewatinya, mengelilingi meja, dan duduk di kursiku. "Pikiran yang terganggu bisa berbahaya." "Tulang keringku yang memar membawaku kembali ke alam nyata." Kuputar kursiku ke samping dan kuletakkan kakiku ke atas langkan di bawah jendela, dengan tumit menyilang. "Korban itu wanita tua, Ryan. Ditembak di kepalanya." "Seberapa tua?" "Menurutku sekitar tujuh puluh tahun. Bahkan mungkin tujuh puluh lima. Symphyses selangkangannya memiliki jam terbang yang cukup lama, tapi setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda-beda di bagian itu. Dia pengidap arthritis akut dan sudah mengalami osteoporosis."

http://inzomnia.wapka.mobi

Ryan menurunkan dagu dan menaikkan alis matanya. "Dalam bahasa Prancis atau Inggris, Brennan. Jangan gunakan bahasa dokter." Matanya hamper sama dengan warna biru layar Windows 95. "Os-te-o-po-ro-sis." Kueja setiap suku katanya pelan-pelan. "Aku bisa menilai dari foto sinar-X-nya bahwa tengkoraknya cukup tipis. Aku tidak melihat ada bagian yang retak, tapi aku hanya mendapatkan beberapa bagian tulang panjangnya. Bagian panggul adalah bagian yang sering retak pada wanita tua karena menjadi tumpuan beban tubuhnya. Panggul korban ini baik-baik saja." "Kaukasia?" Aku mengangguk. "Data lainnya?" "Dia mungkin sudah melahirkan beberapa anak." Tatapan mata birunya yang tajam menatap wajahku lekat-lekat. "Tampak torehan yang cukup panjang di bagian belakang kedua tulang selangkangannya." "Bagus." "Satu hal lagi, kurasa dia sudah berada di dalam ruang bawah tanah saat kebakaran itu terjadi." "Tahu dari mana?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak ada puing-puing lantai di bawah tubuh korban. Dan kutemukan beberapa lapisan kain menempel di antara tubuh dan tanah liat. Dia pasti telah tergeletak di atas lantai." Ryan memikirkan hal itu untuk beberapa saat lamanya. "Jadi, menurutmu ada orang menembak mati si Nenek, menyeretnya ke ruang bawah tanah dan meninggalkannya untuk terbakar hangus?" "Tidak. Aku mengatakan Nenek itu ditembak di kepalanya. Aku tidak tahu siapa yang menembaknya. Mungkin dia sendiri yang melakukannya. Itu tugasmu, Ryan." "Kamu menemukan pistol di dekatnya?" "Tidak." Saat itu Bertrand muncul di pintu. Sementara Ryan terlihat rapi dan necis, kekusutan baju rekannya cukup tajam untuk memotong batu mulia. Dia mengenakan kemeja berwarna ungu tua yang disesuaikan dengan nada warna dasinya yang bermotif bunga, sebuah jaket wol ungu muda dan abuabu, dan celana wol dengan warna yang lebih muda sedikit dari warna jaketnya. "Apa yang kamu dapatkan?" tanya Ryan kepada rekannya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak ada tambahan selain yang sudah kita ketahui. Sepertinya orangorang ini muncul dari luar angkasa. Tidak ada yang tahu siapa yang tinggal di dalam rumah itu. Kami masih mencoba melacak pemilik rumah itu yang sedang berada di Eropa. Para tetangga di seberang jalan melihat seorang wanita tua dari waktu ke waktu, tapi dia tidak pernah berbicara dengan mereka. Menurut tetangga, pasangan suamiistri dengan anak-anak itu baru beberapa bulan di rumah itu. Mereka jarang melihatnya, tidak pernah tahu nama mereka. Seorang wanita di ujung jalan menduga mereka anggota kelompok fundamentalis." "Menurut Brennan korban kita seorang wanita. Septuagenarian." Bertrand menatapnya. "Berusia tujuh puluh tahunan." "Seorang wanita tua?" "Ada peluru bersarang di otaknya." "Kau bercanda?" "Aku tidak bercanda." "Ada orang menembaknya dan membakar rumah itu?" "Atau si Nenek menembak dirinya sendiri setelah menyalakan barbeque itu. Tapi, ke mana larinya senjata itu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Setelah mereka pergi, aku memeriksa permintaan untuk berkonsultasi denganku. Sebuah botol berisi abu tiba di Quebec City, hasil kremasi seorang kakek yang meninggal di Jamaika. Keluarganya menuduh kremasi itu penipuan dan membawa abunya ke kantor koroner. Dia ingin tahu pendapatku. Sebuah tengkorak ditemukan di dalam jurang di luar Pekuburan Cote des Neiges. Tengkorak itu sudah kering dan memutih, dan mungkin berasal dari sebuah kuburan tua. Koroner membutuhkan konfi rmasi atas hal tersebut. Pelletier memintaku memeriksa mayat seorang bayi untuk menemukan bukti kelaparan. Pasti dibutuhkan pengamatan mikroskopi. Bagian tulang yang tipis harus digerus, ditetesi cairan pewarna, dan diamati di bawah mikroskop sehingga aku bisa memeriksa sel-selnya dengan perbesaran tertentu. Walaupun sebagian besar tulang menunjukkan tulang bayi, aku akan mencari tanda-tanda porositas yang tidak umum dan pemodelanulang abnormal dalam mikro-anatominya. Beberapa contoh telah dikirimkan ke lab histologi. Aku juga harus mempelajari foto sinar-X dan tulang-belulangnya, tetapi masih terlalu

http://inzomnia.wapka.mobi

lembap untuk mengupas dagingnya. Tulang bayi terlalu rentan untuk direbus. Nah. Tidak ada yang mendesak. Aku bisa membuka peti mati Elisabeth Nicolet. Setelah melahap roti-lapis dingin dan segelas yogurt di kantin, aku berjalan menuju kamar mayat, meminta jenazahnya dipindahkan ke ruangan tiga, kemudian mengganti pakaianku. Peti mati itu lebih kecil dari yang kuingat, panjangnya kurang dari satu meter. Sebelah kirinya telah lapuk sehingga menyebabkan tutupnya melesak ke dalam. Ku-bersihkan tanah yang ada di situ, kemudian memotretnya. "Perlu linggis?" tanya Lisa yang berdiri di pintu masuk. Karena ini bukanlah kasus LML, sebetulnya aku harus bekerja sendirian, tetapi banyak yang menawarkan bantuan. Rupanya aku bukanlah satusatunya yang tertarik oleh Elisabeth. "Boleh juga." Dibutuhkan waktu kurang dari satu menit untuk melepaskan tutup peti itu. Kayunya lunak dan mudah

http://inzomnia.wapka.mobi

hancur, dan pakunya mudah dicabut. Kusekop tanah dari bagian dalam sehingga menampakkan lapisan timbal dari sebuah peti mati lainnya. "Mengapa petinya kecil sekali?" tanya Lisa. "Ini bukan peti mati yang asli. Elisabeth Nicolet telah digali dan dikebumikan kembali di awal abad ini, jadi hanya diperlukan ruangan seadanya untuk tulang-belulangnya." "Menurutmu ini dia?" Aku menatapnya dengan tajam. "Beri tahu aku kalau kau memerlukan sesuatu." Aku terus menyekop tanah itu sampai akhirnya tutup peti mati kedua terlihat jelas. Tidak ada plakat di atasnya, tetapi memiliki lebih banyak ornamen dibandingkan peti luarnya, dengan bagian pinggir yang diukir sejajar mengikuti sisi heksagonal di luarnya. Seperti peti mati yang di luarnya, peti ini juga telah hancur dan dipenuhi tanah. Lisa kembali dua puluh menit kemudian. "Aku punya waktu sedikit kalau kamu membutuhkan sinar-X." "Tidak bisa melakukan sinar-X karena lapisan timbal ini," kataku. "Tapi, aku sudah siap untuk membuka peti yang di dalam ini." "Oke."

http://inzomnia.wapka.mobi

Seperti sebelumnya, kayu itu lunak sekali dan pakunya langsung copot begitu kucungkil. Ada tanah lagi. Kuciduk dua kali, lalu tampak tengkoraknya. Hore! Ada orangnya! Pelan-pelan tulang-belulangnya bermunculan. Tulang-tulang itu tidak diletakkan sesuai dengan urutan anatomi, tetapi diletakkan paralel satu sama lain seakan diikat erat-erat saat diletakkan di dalam peti mati itu. Penempatan tulang-belulang itu mengingatkanku pada sebuah situs purbakala yang kugali di awal karierku. Sebelum masa Columbus, beberapa kelompok aborigin meletakkan mayat anggota kelompoknya di atas batu di udara terbuka sampai tinggal tulang-belulang, kemudian membungkusnya untuk dikebumikan. Elisabeth telah dibungkus persis seperti itu. Aku mencintai arkeologi. Masih mencintainya sampai sekarang. Aku menyesal karena hanya memiliki pengalaman yang terlalu sedikit, tetapi selama sepuluh tahun terakhir ini, karierku berubah haluan. Mengajar dan menangani kasus forensik sekarang menyita seluruh waktuku. Elisabeth Nicolet membuatku kembali ke karier lamaku, dan aku benarbenar menikmatinya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kukeluarkan dan kutata kembali tulang-belulang itu, seperti yang telah kulakukan kemarin. Semuanya kering dan rapuh, tetapi orang ini berada dalam kondisi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan wanita kemarin dari St-Jovite. Sepengetahuanku hanya tulang metatarsal dan enam tulang jari yang hilang. Tulang-tulang itu tidak muncul saat aku mengayak tanah, tetapi aku menemukan beberapa gigi seri dan taring, kemudian meletakkannya kembali ke tempatnya. Kuikuti prosedur yang biasa kulakukan, mengisi formulir seperti yang kulakukan untuk setiap kasus koroner. Aku mulai dengan bagian panggul. Tulang itu milik seorang wanita. Tidak ada keraguan lagi. Tulang selangkangan symphyises menunjukkan usia sekitar tiga puluh lima sampai empat puluh lima tahun. Para biarawati yang baik itu pasti akan senang mendengarnya. Saat mengukur tulang panjang, kuamati adanya penipisan yang tidak lazim di bagian depan tibia, tepat di bawah lutut. Kuperiksa metatarsalnya. Daerah di pangkal jari menunjukkan tandatanda arthritis. Yahoo! Pola pergerakan kaki yang sama telah meninggalkan tanda di tulang itu. Elisabeth pasti telah menghabiskan

http://inzomnia.wapka.mobi

waktu bertahun-tahun lamanya berdoa di lantai batu di dalam kamarnya di biara. Saat berlutut, kombinasi tekanan lutut dan peregangan jari kaki akan menimbulkan pola yang sedang kutatap saat ini. Aku teringat pada sesuatu yang kulihat saat menemukan sebuah gigi dari ayakan, dan memungut rahang itu. Setiap gigi seri bagian tengah bawah memiliki lekukan tepat di ujungnya. Kutemukan gigi atas. Tampak lekukan yang sama. Saat tidak sedang berdoa atau menulis surat, Elisabeth pasti rajin menyulam. Hasil sulamannya masih tergantung di biara di Lac Memphremahog. Giginya ter-pocel karena selama bertahun-tahun menarik benang atau menggigit jarum. Aku benar-benar menyukai penelitian ini. Lalu, kubalikkan batok tengkoraknya sampai menghadap ke atas dan memotretnya dua kali. Aku sedang berdiri, menatapnya, saat LaManche masuk ke dalam ruangan. "Jadi, inikah santa itu?" tanyanya. Dia berdiri di sampingku dan menatap tengkorak itu. "Mon Dieu." MT^a, analisisnya berjalan lancar." Aku sedang di dalam

http://inzomnia.wapka.mobi

JL kantor, berbicara dengan Pastor Menard. Tengkorak dari Memphremagog diletakkan di atas sebuah dudukan tengkorak di atas meja kerjaku. "Tulang-belulangnya ternyata sungguh awet." "Apakah Anda bisa memberikan konfi rmasi bahwa ia adalah Elisabeth? Elisabeth Nicolet?" "Pastor, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan lagi." "Apa ada masalah?" Ya. Mungkin ada masalah. "Tidak, tidak. Aku hanya menginginkan beberapa informasi lagi." "Informasi apa?" "Apakah Anda memiliki dokumen resmi mengenai orang tua Elisabeth?" "Ayahnya adalah Alain Nicolet dan ibunya bernama Eugenie Belanger, seorang penyanyi terkenal di zamannya. Pamannya, Louis-Philippe Belanger, adalah seorang wakil rakyat dan dokter yang sangat terkemuka." "Baik. Apa ada akta kelahirannya?" Dia terdiam sejenak. Kemudian, "Kami tidak pernah bisa menemukan akta kelahirannya." "Apakah Anda tahu di mana Elisabeth dilahirkan?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kurasa dia dilahirkan di Montreal. Keluarganya sudah tinggal di sini selama beberapa generasi. Elisabeth adalah keturunan Michel Belanger, yang tiba di Kanada pada 1758, di hari-hari terakhir Prancis Baru. Keluarga Belanger selalu memegang jabatan penting dalam permasalahan kota." "Baik. Apakah ada arsip rumah sakit atau surat baptis, atau apa pun yang secara resmi mencantumkan tanggal kelahirannya?" Hening kembali. "Dia dilahirkan lebih dari seratus lima puluh tahun yang lalu." "Apakah saat itu sudah ada kebiasaan orang menyimpan arsip?" "Ya. Suster Julienne telah mencarinya. Tapi, bisa saja ada benda-benda yang hilang setelah sekian lama. Sudah lama sekali." "Betul sekali." Untuk sejenak kami berdua membisu. Aku baru saja hendak mengucapkan terima kasih kepadanya saat dia berkata, "Kenapa Anda mengajukan berbagai pertanyaan ini, Dr. Brennan?" Aku ragu-ragu. Belum saatnya. Aku bisa saja salah. Aku bisa saja benar, tetapi hal itu tidak ada artinya. "Aku hanya ingin tahu latar belakang yang lebih jelas saja."

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku baru saja meletakkan gagang telepon saat telepon berdering kembali. "Oui. Dr. Brennan." "Ryan." Aku bisa mendengar ketegangan dalam nada suaranya. "Memang kebakaran itu disengaja. Dan siapa pun yang merencanakannya ingin memastikan bahwa tempat itu terbakar habis. Sederhana, tapi efektif. Mereka mengaitkan sebuah kumparan pemanas ke sebuah jam pengatur waktu, seperti yang biasa digunakan untuk menyalakan lampu saat orang ke spa." "Aku tidak pernah pergi ke spa, Ryan." "Kamu mau mendengarkan atau tidak?" Aku tidak memberikan jawaban. "Jam pengatur waktu itu menyalakan pelat pemanas. Benda itu menyebabkan kebakaran yang kemudian memicu tangki gas. Jam pengatur waktu itu hampir hancur seluruhnya, tapi kami berhasil menemukan sisasisanya. Sepertinya beberapa jam itu dinyalakan pada beberapa saat yang berbeda, tapi begitu api menyebar, semua langsung meledak." "Ada berapa banyak tangki?" "Empat belas. Kami menemukan sebuah jam yang tidak hancur di pekarangan. Kurasa jam itu tidak berfungsi. Ini jenis jam yang bisa dibeli di

http://inzomnia.wapka.mobi

took mana pun. Kami akan mencoba menemukan sidik jari, tapi kurasa kecil kemungkinannya." "Pemicunya?" "Bensin, seperti yang kuduga." "Kenapa dua-duanya?" "Karena ada orang yang ingin menghancurleburkan tempat itu dan tidak mau ada kesalahan. Mungkin pikirnya tidak akan ada kesempatan kedua." "Bagaimana kamu tahu itu?" "LaManche berhasil mengambil contoh cairan dari mayat di kamar tidur. Toksikologi menemukan kadar Rohypnol yang sangat tinggi." "Rohypnol?" "Nanti saja dia yang menceritakan bagian itu. Dikenal sebagai obat bius untuk memerkosa atau semacamnya karena tidak bisa dideteksi dari korban dan langsung membuat pingsan sampai berjam-jam." "Aku tahu apa Rohypnol itu, Ryan. Aku hanya kaget saja. Barang itu 'kan tidak bisa dibeli di mana saja?" "Ya. Itu bisa menjadi titik awal penyelidikan kita. Rohypnol dilarang di Amerika dan Kanada."

http://inzomnia.wapka.mobi

Begitu juga dengan narkoba, pikirku. "Ada lagi yang aneh. Ternyata bukan Ward dan June Cleaver yang ada di kamar tidur itu. Kata LaManche, lelaki itu mungkin berusia sekitar dua puluh tahunan dan wanitanya sekitar lima puluh tahun." Aku sudah tahu itu. LaManche menanyakan opiniku saat melakukan autopsi. "Sekarang bagaimana?" "Kami akan kembali ke tempat itu untuk memeriksa dua gedung lainnya. Kami masih menunggu kabar dari pemiliknya. Dia semacam petapa yang sekarang berada di pedalaman Belgia." "Semoga berhasil." Rohypnol. Nama itu membangkitkan sebuah kenangan di dalam kepalaku, tetapi saat aku mencoba mengingatnya kembali, langsung lenyap kembali. Kuperiksa apakah slides untuk kasus bayi yang kurang makan milik Pelletier sudah selesai. Teknisi histologi mengatakan contoh itu baru akan siap besok. Kemudian, kuhabiskan waktu satu jam berikutnya untuk memeriksa abu kremasi. Abu itu ditempatkan di dalam botol selai dengan label tulisan tangan yang menyatakan nama orang yang meninggal, nama krematorium, dan tanggal kremasi. Bukan jenis pembotolan abu jenazah

http://inzomnia.wapka.mobi

yang lazim ditemui di Amerika Utara, tapi aku tidak tahu bagaimana kebiasaan di Karibia. Tidak ada partikel yang lebih besar dari satu cm. Sudah lazim. Beberapa kepingan tulang biasanya selamat dari proses pengabuan yang digunakan crematorium modern. Dengan menggunakan pisau bedah, aku berhasil mengidentifi kasi beberapa benda, termasuk sebuah tulang rawan telinga yang lengkap. Aku juga berhasil menemukan kepingan logam yang sudah terpelintir yang kupikir pasti merupakan bagian dari gigi palsu. Aku memisahkannya untuk diperiksa dokter gigi. Biasanya, seorang lelaki dewasa akan menyusut akibat proses kremasi menjadi sekitar 3.500 cc debu. Botol ini hanya berisi sekitar 360 cc saja. Aku menulis laporan singkat yang menyatakan bahwa abu ini berasal dari seorang manusia dewasa dan tidak lengkap. Harapan untuk bisa mengidentifikasi ada pada Bergeron. Pada pukul setengah tujuh aku bersiap-siap, kemudian pulang. 6.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tengkorak Elisabeth membuatku gelisah. Apa yang kulihat seharusnya tidak seperti itu, tetapi bahkan LaManche pun telah melihatnya. Aku benar-benar penasaran untuk segera menemukan jawabannya, tetapi pagi berikutnya serangkaian tulang kecil di dekat tempat pembuangan di lab histo harus kutangani lebih dahulu. Slides kasus bayi Pelletier juga sudah selesai sehingga aku menghabiskan beberapa jam di pagi hari itu untuk menangani kasus itu. Karena tidak ada tugas lain di mejaku, pada pukul setengah sebelas kuhubungi Suster Julienne untuk menggali informasi sebanyak mungkin mengenai Elisabeth Nicolet. Kuajukan berbagai pertanyaan yang sama seperti yang kuajukan kepada Pastor Menard kemarin, dan hasilnya ternyata sama saja. Elisabeth adalah "pure laine." Orang asli Quebec. Tetapi, tidak ada dokumen yang menyatakan hari kelahiran atau silsilah keluarganya. "Bagaimana dengan di luar biara, Suster? Apakah Anda sudah memeriksa berbagai dokumentasi di luar sana?" "Ah, oui. Aku sudah memeriksa semua arsip di keuskupan. Kami juga memiliki perpustakaan yang tersebar di seluruh provinsi. Aku sudah mendapatkan bahan-bahan dari banyak biara dan gereja lain."

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku sudah melihat bahan-bahan ini. Kebanyakan dalam bentuk surat atau catatan pribadi yang mengandung referensi kepada keluarga itu. Beberapa di antaranya hasil pencarian dari catatan sejarah, tetapi tidak ada yang mirip dengan sesuatu yang oleh dekanku disebut sebagai "hasil penelaahan rekan sejawat." Kebanyakan hanya catatan menarik yang ditulis berdasarkan gosip atau kabar burung. Aku mencoba cara lain. "Dahulu, gereja menangani semua akta kelahiran di Quebec 'kan?" Pastor Menard telah menjelaskan hal tersebut. "Ya. Kebiasaan itu baru mengalami perubahan beberapa tahun yang lalu." "Tapi tidak ada dokumen mengenai Elisabeth?" "Tidak ada." Dia berhenti sejenak. "Kami mengalami beberapa kali musibah kebakaran yang tragis selama beberapa tahun ini. Di tahun 1880 Sisters of Notre Dame membangun sebuah biara khusus untuk biarawati di sebelah Mount Royal. Sayangnya, gedung itu terbakar habis tiga belas tahun kemudian. Biara khusus kami sendiri hancur pada tahun 1897. Ratusan dokumen yang berharga hilang pada musibah tersebut." Untuk sejenak kami berdua tidak berkata apaapa.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Suster, apakah Anda tahu kira-kira di tempat mana lagi aku bisa mendapatkan informasi tentang kelahiran Elisabeth? Atau mungkin data tentang orangtuanya?" "Aku ... yah, kurasa Anda bisa mencoba perpustakaan umum. Atau museum? Atau mungkin salah satu universitas. Di keluarga Nicolet dan Belanger terdapat beberapa tokoh penting dalam sejarah Kanada Prancis. Aku yakin mereka pasti disebut-sebut dalam sejarah." "Terima kasih Suster. Aku akan mencarinya." "Ada seorang profesor di McGill yang pernah meneliti arsip kami. Keponakanku mengenalnya. Profesor itu meneliti pergerakan agama, tapi dia juga tertarik pada sejarah Quebec. Aku tidak ingat apakah dia ahli antropologi atau bukan, atau seorang sejarawan, atau entah apalah. Dia mungkin bisa membantu." Dia terdengar ragu-ragu. "Tentu saja, sumber miliknya akan berbeda dengan yang kami miliki." Aku yakin akan hal itu, tetapi tidak berkomentar apa-apa. "Anda ingat siapa namanya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Suasana hening beberapa saat lamanya. Aku bisa mendengar suara beberapa orang berbicara di saluran telepon, seperti suara orang di seberang danau. Terdengar tawa orang. "Sudah lama sekali. Maaf. Kalau mau, aku bisa menanyakannya kepada keponakanku." "Terima kasih, Suster. Aku akan mengikuti petunjuk yang Anda berikan." "Dr. Brennan, kira-kira kapan Anda selesai meneliti tulang-tulang itu?" "Tidak lama lagi. Kecuali kalau ada informasi baru, aku akan bisa menyelesaikan laporanku pada hari Jumat. Aku akan mencatat semua penilaianku tentang usia, jenis kelamin, ras, serta berbagai pengamatan lainnya yang kubuat dan berbagai komentar tentang bagaimana penemuanku dibandingkan dengan berbagai fakta yang kuketahui tentang Elisabeth. Anda bisa menambahkan hal-hal yang Anda rasakan pantas untuk dimasukkan dalam surat Anda ke Vatikan." "Dan Anda akan menelepon kami?" "Tentu saja. Segera setelah penelitianku selesai." Sebenarnya, penelitianku sudah selesai, dan aku tidak meragukan apa yang akan kutulis dalam laporanku. Jadi,

http://inzomnia.wapka.mobi

mengapa aku tidak memberi tahu mereka saat ini saja? Kami mengucapkan salam, kemudian kututup gagang telepon, menunggu nada panggil, dan menekan nomor telepon lain. Telepon berbunyi di suatu tempat di seberang kota. "Mitch Denton." "Hai, Mitch. Ini Tempe Brennan. Kamu masih menjadi boss di tempatmu?" Mitch adalah pemimpin departemen antropologi yang pernah memintaku mengajar paruh waktu saat aku pertama kali ke Montreal. Kami terus berteman sejak saat itu. Spesialisasinya adalah Paleolitik Prancis. "Masih terjebak di sini. Kamu bersedia mengajar lagi di musim panas nanti?" "Tidak, terima kasih. Aku punya pertanyaan untukmu." "Pertanyaan apa?" "Kamu masih ingat kasus sejarah yang tempo hari kuceritakan? Kasus yang kulakukan untuk keuskupan?" "Tentang calon santa itu?" "Betul." "Masih. Kasus yang sampai menyingkirkan semua penelitian yang kamu lakukan. Kamu menemukancalon santa itu?" "Ya. Tapi, aku menemukan sesuatu yang aneh dan aku ingin mempelajari dirinya lebih jauh lagi." "Aneh bagaimana?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak terduga. Salah seorang biarawati menceritakan bahwa ada orang di McGill yang pernah melakukan penelitian tentang agama dan sejarah Quebec. Kamu tahu tentang hal itu?" "Tahu dong Pasti Daisy Jean." "Daisy Jean?" "Dr. Jeannotte. Profesor yang mengajar mata kuliah Kajian Agama dan dia sahabat mahasiswa." "Tolong diperjelas lagi, Mitch." "Namanya Daisy Jeannotte. Resminya dia mengajar di Fakultas Kajian Agama, tapi dia juga mengajar beberapa mata pelajaran sejarah. 'Pergerakan Agama di Quebec' 'Sistem Kepercayaan Kuno dan modern.' Semacam itulah." "Daisy Jean?" ulangku. "Hanya panggilan akrab di antara kami. Bukan untuk konsumsi umum." "Kenapa?" "Dia bisa sedikit ... aneh, seperti ungkapan yang kamu katakan tadi." "Aneh?" "Tidak dapat diduga. Dia dari Dixie, kamu ngerti 'kan?" Aku tidak mengacuhkan komentarnya. Mitch adalah orang dari daerah Vermont. Dia tidak pernah melupakan asal-usulku dari Selatan.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kenapa kamu bilang dia sahabat mahasiswa?" "Daisy menghabiskan seluruh waktu luangnya dengan mahasiswanya. Dia biasa mengajak mereka jalan-jalan, memberikan saran, bepergian dengan mereka, mengundang mereka ke rumahnya untuk makan malam. Selalu saja ada mahasiswa yang membutuhkan arahan dan konseling yang mengantre di luar pintu rumahnya." "Sepertinya orang yang patut dikagumi." Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi kemudian tidak jadi. "Begitulah." "Apa mungkin Dr. Jeannotte mengetahui sesuatu tentang Elisabeth Nicolet atau keluarganya?" "Bila ada orang yang bisa menolongmu, Daisy Jean-lah orangnya." Dia memberikan nomor telepon sang professor dan kami berjanji untuk bertemu kapan-kapan. Seorang sekretaris menginformasikan bahwa Dr. Jean-notte akan ada di kantornya pada pukul satu sampai tiga sore, jadi aku memutuskan untuk mampir setelah jam makan siang. Dibutuhkan keahlian analisis tinggi setingkat insinyur sipil untuk memahami kapan dan di mana kita boleh memarkir mobil di Montreal. Universitas McGill terletak di jantung Centre-Ville (pusat kota), jadi bahkan

http://inzomnia.wapka.mobi

sekalipun kita mampu memahami di mana letak tempat parkir yang sah, hampir mustahil bisa menemukan tempat yang kosong. Aku menemukan tempat yang kosong di Stanley yang menurut perkiraanku boleh ditempati mulai pukul sembilan sampai pukul lima, antara 1 April sampai 31 Desember, kecuali dari pukul 1 sampai 2 siang pada hari Selasa dan Kamis. Parkir di sini tidak membutuhkan izin darilingkungan se kitarnya. Setelah lima kali mundur dan memutar-mutar kemudi, akhirnya aku berhasil menyisipkan Mazdaku di antara sebuah mobil pick up Toyota dan sebuah Oldsmobile Cutlass. Lumayan juga, padahal tempatnya curam. Saat keluar dari mobil, keringatku mengucur deras walaupun cuaca dingin. Kuperiksa bemper. Ada ruangan kosong sekitar setengah meter. Depan dan belakang. Cuaca tidak sedingin sebelumnya, tetapi peningkatan suhu yang tidak begitu tinggi diiringi dengan peningkatan kelembapan. Kabut dingin dan udara lembap menyelimuti kota, dan warna langit menyerupai warna timah tua. Salju yang basah dan lebat mulai menghujani bumi saat aku berjalan menuruni bukit ke Sherbrooke dan membelok ke

http://inzomnia.wapka.mobi

timur. Serpihan salju pertama mencair saat menyentuh trotoar, kemudian yang lainnya mendarat di atasnya, bersiap-siap membentuk gundukan salju. Aku bergegas menaiki bukit di McTavish, kemudian masuk ke McGill melalui pintu gerbang barat. Kampus terlihat menjulang di hadapanku, bangunan batu abu-abu mulai dari kaki bukit di Sherbrooke sampai Docteur-Penfi eld. Orang-orang berjalan dengan bergegas, dengan bahu dirapatkan menghindari dinginnya dan lembapnya cuaca, buku dan bungkusan dilindungi dari sentuhan salju. Aku berjalan melewati perpustakaan dan memotong di belakang Museum Redpath. Setelah keluar dari gerbang timur, aku membelok ke kiri dan mengarah ke universitas, betisku seakan baru menempuh jalan lima kilometer jauhnya di Kutub Utara. Di luar Birks Hall, aku hampir bertabrakan dengan seorang lelaki muda tinggi yang berjalan sambil menundukkan kepalanya, kacamatanya diselimuti serpihan salju sebesar kupukupu. Birks terlihat seperti bangunan dari zaman dahulu kala, dengan bagian luar bergaya Gothic, dinding dan perabotan dari kayu ek yang diukir, dan jendela bergaya katedral berukuran raksasa. Di tempat ini kita cenderung berbisik, bukan bercakap-cakap dan saling bertukar catatan yang sering

http://inzomnia.wapka.mobi

kali terjadi di gedung universitas. Lobi lantai pertama sangat luas, dindingnya dihiasi potret para lelaki yang menatap dengan gaya serius cendekiawan penting. Aku menambahkan jejak salju yang mencair dari sepatuku di atas lantai marmer yang dipenuhi jejak kaki serupa, kemudian melangkah untuk melihat dari dekat beberapa karya seni agung. Thomas Cranmer Archbishop of Canterbury. Karya hebat, Tom. John Bunyan, Immortai Dreamer. Zaman sudah berubah. Saat masih menjadi mahasiswa, bila tertangkap basah sedang melamun, bisa-bisa kita ditegur dan dipermalukan karena tidak menyimak. Kunaiki tangga yang melingkar, melewati dua pintu kayu di lantai dua, yang satu pintu ke kapel, yang satu lagi ke perpustakaan, dan meneruskan ke pintu yang ketiga. Di sini keanggunan lobi sudah luntur, digantikan oleh tanda-tanda bangunan tua. Cat yang sudah terkelupas di sana-sini, baik di dinding maupun di langit-langitnya, dan di beberapa tempat tampak ubin yang sudah hilang dari tempatnya. Di puncak tangga aku berhenti sejenak untuk mengatur sikap. Semuanya begitu hening dan muram, mencekam. Di sebelah kiri bisa kulihat ruangan kecil dengan pintu ganda menuju balkon kapel. Dua koridor berada di

http://inzomnia.wapka.mobi

kedua sisi ruangan itu, dengan beberapa pintu kayu pada jarak tertentu di setiap ruangan. Kulewati kapel, kemudian mulai berjalan menyusuri koridor tersebut. Kantor terakhir di sebelah kiri tampak terbuka, namun tidak ada penghuninya. Sebuah plakat di atas pintu bertuliskan "Jeannotte" dengan huruf yang indah. Dibandingkan dengan kantorku, ruangan itu mirip dengan ruang sembahyang di St. Joseph. Panjang dan sempit, dengan jendela berbentuk bel di ujungnya. Melalui kaca yang sangat jernih, aku bisa melihat gedung administrasi dan jalanan menuju Strathcona MedicalDental Complex. Lantai ruangan terbuat dari kayu ek, papannya sudah menguning akibat diinjak kaki kaum terpelajar selama bertahun-tahun. Rak berjejer di setiap dinding, dipenuhi buku, jurnal, catatan, video, wadah slide, dan tumpukan kertas serta fotokopi. Sebuah meja kayu terletak di depan jendela dengan sebuah komputer di sebelah kanannya. Kulirik jam tanganku. Pukul dua belas lewat empat puluh lima menit. Aku datang terlalu awal. Aku kembali ke aula dan mulai mengamati deretan foto di koridor. School of Divinity, Lulusan Angkatan 1937, 1938, dan 1939. Pose yang kaku. Wajah-wajah yang muram.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku sedang mengamati foto dari tahun 1942 saat seorang wanita muda muncul. Dia memakai celana jins, kaus turtleneck, dan kemeja wol kotakkotak yang memanjang sampai ke lututnya. Rambut nya yang pirang dipotong sekenanya seleher dengan poni tebal menutupi alisnya. Wajahnya bersih dari riasan. "Ada yang bisa kubantu?" tanyanya dalam bahasa Inggris. Dia menelengkan kepalanya dan poninya tersibak ke samping. "Ya. Aku mencari Dr. Jeannotte." "Dr. Jeannotte belum datang, tapi beliau akan tiba sebentar lagi. Ada yang bisa kubantu? Aku asisten yang membantunya mengajar." Dengan gerakan cepat dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga kanannya. "Terima kasih, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada Dr. Jeannotte. Kalau boleh, aku akan menunggu." "Uh, oh, ya. OK. Kurasa boleh saja. Hanya saja dia... entahlah. Dia tidak mengizinkan orang lain masuk ke kantornya." Dia menatapku, melihat melalui pintu yang terbuka, kemudian kembali pada diriku. "Tadi aku di tempat fotokopi." "Tidak apa-apa. Aku akan menunggu di sini."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ah ya, jangan, dia mungkin masih lama. Dia sering terlambat. Aku ..." Dia berbalik dan melayangkan pandangannya ke koridor di belakangnya. "Anda bisa menunggu di kantornya." Lagi-lagi dia mengatur letak rambutnya. "Tapi, aku tidak tahu apakah dia akan menyukainya." Dia sepertinya tidak mampu membuat keputusan. "Tidak apa-apa, aku bisa menunggu di sini saja. Sungguh." Matanya menatap ke belakangku, kemudian kembali ke wajahku. Dia menggigit bibirnya dan kembali mengatur rambutnya. Dia sepertinya terlalu muda untuk menjadi mahasiswa. Penampilannya seperti gadis berusia dua belas tahun. "Anda siapa ya?" "Dr. Brennan. Tempe Brennan." "Anda dosen?" "Ya, tetapi bukan di sini. Aku bekerja di Laboratorie de Medecine Legale." "Kantor polisi?" Sebuah kerutan muncul di antara kedua matanya. "Bukan. Itu tempat peneliti medis." "Oh." Dia menjilat bibirnya, kemudian melirik jam tangannya. Arloji itu satu-satunya perhiasan yang dikenakannya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Silakan masuk kalau begitu. Aku 'kan ada di sini, jadi sepertinya tidak apa-apa. Aku baru saja dari tempat mesin fotokopi." "Aku tidak ingin menyebabkan ..." "Tidak apa-apa. Tidak merepotkan kok." Dia memberikan isyarat dengan gerakan kepala untuk mengikutinya dan masuk ke dalam kantor. "Silakan masuk." Aku masuk dan mengambil tempat duduk di sebuah sofa kecil yang ditunjukkannya. Dia bergerak melewatiku ke ujung ruangan dan mulai membereskan beberapa jurnal di rak buku. Aku bisa mendengar bunyi suara mesin listrik, tetapi tidak bisa melihat sumbernya. Aku melihat ke sekeliling ruangan. Belum pernah aku melihat sedemikian banyak buku memakan tempat di dalam sebuah ruangan. Kupindai judul-judul buku yang ada tepat di seberangku. The Elements of Celtic Tradition. The Dead Sea Scrolls and the New Testament. The Mysteries of Freemasonry. Shamanism: Archaic Techniques of Ecstacy. The Kingship Rituals of Egypt. Peake's Commentary on the Bible. Churches That Abuse. Thought Reform and the Psychology of Totalism. Armageddon in Waco. When Time Shall Be No More: Prophecy Belief in modern America. Koleksi yang beragam.

http://inzomnia.wapka.mobi

Menit-menit berlalu. Kantor itu terlalu panas dan aku mulai merasa sakit di bagian bawah batok kepala ku. Kubuka jaketku. Hmmmmmmmm. Kuamati sebuah lukisan di dinding sebelah kananku. Anak-anak yang telanjang menghangatkan diri di perapian, kulit mereka berkilauan diterpa cahaya dari tungku. Di bawahnya tampak tulisan After the Bath, Robert Peel, 1892. Lukisan itu mengingatkanku pada sebuah lukisan di ruangan music nenekku. Kulirik jam tangan. Pukul satu lewat sepuluh. "Sudah berapa lama Anda bekerja untuk Dr. Jeannotte?" Gadis itu sedang membungkuk di meja, tetapi segera menegakkan tubuhnya ketika mendengar suaraku. "Berapa lama?" Kebingungan. "Anda salah seorang mahasiswa S2-nya?" "SI." Dia berdiri diterangi cahaya dari jendela di belakangnya. Aku tidak bisa melihat wajahnya, tetapi kurasa tubuhnya sedikit tegang. "Kudengar dia akrab dengan mahasiswanya." "Kenapa Anda menanyakannya kepadaku?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Jawaban yang aneh. "Aku hanya penasaran saja. Aku sendiri tidak pernah punya banyak waktu untuk mahasiswaku di luar kelas. Aku kagum pada Dr. Jeannotte." Penjelasanku sepertinya melegakan hatinya. "Dr. Jeannotte bukan sekadar dosen bagi kebanyakan dari kami." "Kenapa Anda memilih bidang Kajian Agama?" Untuk sejenak dia tidak menjawab. Saat kukira dia tidak akan menjawab, dia berbicara perlahan. "Aku mengenal Dr. Jeannotte saat mengikuti salah satu seminarnya. Dia ..." Berhenti lagi, agak lama. Sulit juga melihat ekspresi wajahnya karena posisinya yang diterangi cahaya dari belakang. "... membuatku terinspirasi." "Seperti apa?" Hening kembali. "Dia membuatku ingin melakukan semuanya dengan benar. Belajar bagaimana melakukan semuanya dengan benar." Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, tetapi kali ini aku tidak usah memancingnya lebih lanjut. "Dia membuatku menyadari bahwa banyak jawaban yang sudah tertulis, kita hanya harus belajar untuk menemukannya." Dia menarik napas dalamdalam, kemudian mengembuskannya. "Sungguh sulit, sungguh sangat sulit, tapi aku mulai menyadari bahwa kita sudah begitu hebat

http://inzomnia.wapka.mobi

mengotori dunia, dan hanya beberapa orang yang mendapat pencerahan ..." Dia membalikkan tubuhnya perlahan sehingga aku bisa melihat wajahnya kembali. Matanya tampak melebar dan mulutnya menegang. "Dr. Jeannotte. Kami hanya sedang ngobrol." Seorang wanita berdiri di pintu. Tingginya tidak lebih dari satu setengah meter, dengan rambut hitam disisir ke belakang, disanggul. warna kulitnya pucat agak kemerahan, sama seperti warna dinding di belakangnya. "Aku tadi sedang di tempat fotokopi. Aku hanya keluar kantor beberapa detik saja." Wanita itu tetap membisu. "Dia tidak berada di dalam sendirian. Aku tidak akan mengizinkannya." Mahasiswa itu menggigit bibirnya dan menunduk. Dr. Jeannotte tidak bergerak sedikit pun. "Dr. Jeannotte, dia ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu, jadi kupikir tidak ada salahnya kalau dia menunggu di dalam. Dia seorang peneliti medis." Suaranya terdengar gemetaran. Jeannotte tidak menatap ke arahku. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku ... aku sedang merapikan jurnal di rak. Kami hanya mengobrol." Aku bisa melihat tetesan keringat dari bibir atas gadis itu. Untuk beberapa saat Jeannotte menatap mahasiswanya, kemudian pelanpelan mengalihkan pandangannya kepadaku. "Anda telah memilih waktu yang kurang tepat, Miss ...T' Lembut. Tennessee, mungkin Georgia. "Dr. Brennan." Aku berdiri. "Dr. Brennan." "Aku minta maaf karena datang tanpa membuat janji sebelumnya. Sekretaris Anda mengatakan bahwa ini adalah jam kerja Anda." Beberapa saat lamanya dia menatapku, menilai diriku. Matanya menatap tajam, bagian irisnya begitu pucat sehingga nyaris seperti tidak berwarna. Jeannotte membuat matanya lebih mencolok dengan menghitamkan bulu mata dan alisnya. Rambutnya juga terlihat tidak alami, hitam pekat. "Baiklah," akhirnya dia berkata, "karena Anda sudah di sini. Apa yang Anda cari?" Dia tetap berdiri tak bergerak di ambang pintu. Daisy Jeannotte termasuk orang yang memiliki aura ketenangan. Kujelaskan tentang Suster Julienne, dan tentang ke-tertarikanku pada Elisabeth Nicolet, tanpa menjelaskan alasan ketertarikan itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Jeannotte berpikir sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke asistennya. Tanpa berkata sepatah kata pun, gadis itu meletakkan jurnal yang sedang dipegangnya dan bergegas keluar kantor. "Maafkan asistenku. Dia gampang senewen." Dia tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya. "Tapi, mahasiswa yang hebat." Jeannotte bergerak mendekati kursi di seberangku. Kami berdua pun duduk. "Pada jam-jam ini di sore hari aku biasanya menerima mahasiswa, tapi hari ini sepertinya tidak ada yang datang seorang pun. Mau minum teh?" suaranya manis sekali, seperti petugas di country club di kampong halamanku. "Tidak usah merepotkan, terima kasih. Aku baru saja makan siang." "Anda peneliti medis?" "Tidak juga. Aku ahli antropologi forensik, staf akademis di Universitas North Carolina di Charlotte. Aku memberikan konsultasi kepada koroner di sini." "Charlotte kota yang indah. Aku sering mengunjungi kota itu." "Terima kasih. Kampus kami sangat berbeda dengan McGill, sangat modern. Aku iri melihat kantor Anda yang indah ini."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya. Memang memesona. Birks dibangun tahun 1931 dan dulu disebut Divinity Hall. Gedung ini milik Joint Theological Colleges sampai McGill mengakuisisinya di tahun 1948. Tahukah Anda bahwa School of Divinity (Sekolah Tinggi Ketuhanan) adalah salah satu fakultas tertua di McGill?" "Tidak, aku tidak tahu." "Sekarang kami menyebut diri kami Fakultas Kajian Agama. Jadi, Anda tertarik pada keluarga Nicolet." Dia menyilangkan pergelangan kakinya dan menyandarkan tubuhnya. Aku merasa warna matanya yang terlalu bening itu sedikit menggelisahkan. "Ya. Aku khususnya ingin tahu di mana Elisabeth dilahirkan dan apa pekerjaan orangtuanya saat itu. Suster Julienne tidak berhasil menemukan akta kelahirannya, tapi dia yakin bahwa Elisabeth dilahirkan di Montreal. Menurutnya Anda mungkin bisa membantuku untuk menemukan beberapa referensi." "Suster Julienne." Dia tertawa lagi, tawanya seperti air yang menggelegak di antara bebatuan. Lalu, wajahnya menjadi muram. "Sudah banyak yang ditulis mengenai keluarga Nicolet dan Belanger, dan oleh anggota keluarga Nicolet dan Belanger. Perpustakaan kami memiliki banyak sekali dokumen

http://inzomnia.wapka.mobi

sejarah. Aku yakin Anda akan menemukan banyak informasi di sana. Anda juga bisa mencoba Arsip di Provinsi Quebec, the Canadian Historical Society, dan Arsip Publik Kanada." Aksen Selatannya yang lembut hampir-hampir seperti bunyi mesin. Aku seakan-akan menjadi mahasiswa tingkat dua yang sedang melakukan penelitian. "Anda bisa memeriksa jurnal seperti Report of the Canadian Historical Society, the Canadian Annual Review, the Canadian Archives Report, the Canadian Historical Review, the Transaction of the Quebec Literary and Historical Society, atau the Transaction of the Royal Society of Canada." Suaranya seperti suara dari kaset. "Dan tentu saja ada ratusan buku lainnya. Aku sendiri hanya tahu sedikit tentang sejarah di masa itu." Wajahku pasti menunjukkan hal yang sedang kupikirkan. "Jangan kecil hati seperti itu. Memang membutuhkan waktu." Aku tidak punya banyak waktu untuk menelusuri bahan sebanyak itu. Kuputuskan untuk mencoba cara lain. "Apakah Anda mengetahui keadaan di masa itu, ketika Elisabeth dilahirkan?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak juga. Seperti yang kukatakan, masa itu bukan masa yang kuteliti. Aku tahu siapa dia, tentu saja, dan perannya dalam menangani epidemi campak di tahun 1885." Dia berhenti sejenak, memilih kata-kata yang hendak diucapkannya dengan berhatihati. "Pekerjaanku dipusatkan pada pergerakan messianic dan sistem kepercayaan baru, bukan agama ecclesiastical yang tradisional." "Di Quebec?" "Tidak hanya di sini." Dia kembali ke keluarga Nicolet. "Keluarga itu cukup terpandang di zamannya, jadi Anda mungkin akan lebih tertarik untuk menelusuri cerita-cerita di surat kabar tua. Ada empat surat kabar berbahasa Inggris waktu itu, The Gazette, Star, Herald, dan Witness." "Semua itu ada di perpustakaan?" "Ya. Dan, tentu saja, ada juga media berbahasa Prancis, La Minerve, La Monde, La Patrie, L'Etendard, dan La Presse. Surat kabar berbahasa Prancis kurang menguntungkan dan sepertinya lebih tipis dari koran berbahasa Inggris, tapi aku yakin keduanya memuat berita kelahiran." Tidak pernah terpikirkan olehku untuk mencari informasi di surat kabar. Pasti hal itu lebih ringan bagiku.

http://inzomnia.wapka.mobi

Dia menjelaskan tempat surat kabar itu disimpan dalam bentuk mikrofilm, dan berjanji untuk menuliskan daftar sumber informasi untukku. Untuk sejenak kami mengobrolkan berbagai hal lainnya. Aku menanggapi rasa penasarannya tentang pekerjaanku. Kami membandingkan pengalaman, dua orang professor wanita di dunia universitas yang didominasi kaum lelaki. Tak lama kemudian, seorang mahasiswi muncul di pintu. Jeannotte mengetuk jam tangannya dan mengacungkan kelima jarinya, dan gadis itu pun menghilang dari pintu. Kami berdua berdiri pada saat yang bersamaan. Kuucapkan terima kasih, mengenakan jaket, topi, dan syal. Aku baru saja hendak keluar pintu saat dia menghentikan langkah kakiku dengan mengajukan sebuah pertanyaan. "Anda beragama, Dr. Brennan?" "Aku dibesarkan dalam keluarga Katolik Roma, tapi saat ini aku tidak mengikuti gereja mana pun." Matanya yang putih itu menatap mataku. "Anda percaya pada Tuhan?" "Dr. Jeannotte, ada hari-hari di mana aku bahkan ti-dak memercayai adanya esok hari." Dari kantornya, aku mengunjungi perpustakaan dan menghabiskan waktu satu jam untuk membuka-buka buku sejarah, memindai indeks mencari

http://inzomnia.wapka.mobi

nama Nicolet atau Belanger. Kutemukan beberapa buku yang mengandung nama tersebut dan memeriksanya, bersyukur karena aku masih memiliki hak istimewa sebagai staf akademis. Hari sudah mulai gelap saat aku keluar dari perpustakaan. Salju turun, memaksa para pejalan kaki berjalan di jalan atau mengikuti jalur sempit di trotoar, berhati-hati dalam melangkah untuk menghindari tumpukan salju yang tebal. Aku berjalan di belakang sepasang muda-mudi, yang wanita di depan, teman lelakinya di belakang, tangannya diletakkan di pundak temannya. Tali ranselnya berayun-ayun saat pinggul menjaga agar kedua kaki tetap berada di jalur yang aman. Sesekali mahasiswi itu berhenti untuk mengeluarkan serpihan salju dari mulutnya. Suhu menukik tajam saat cahaya matahari menghilang dan ketika aku masuk ke mobil, kipas kaca mobil sudah tertutupi es. Kucari alat pengerik dan mulai membersihkannya, memaki naluriku yang ingin bermigrasi. Orang lain yang lebih waras akan memilih bersantai di pantai. Selama perjalanan pulang ke rumah, kubayangkan lagi kejadian di kantor Jeannotte, berusaha memahami perilaku aneh sang asisten. Mengapa dia begitu gugup? Dia sepertinya kagum sekali pada Jeannotte, bahkan melebihi kekaguman seorang mahasiswi pada umumnya. Dia menyebut-

http://inzomnia.wapka.mobi

nyebut pergi ke mesin fotokopi tiga kali, namun saat aku bertemu dengannya di aula, dia tidak membawa apa-apa. Aku baru sadar bahwa aku tidak menanyakan namanya. Aku juga memikirkan Jeannotte. Dia benar-benar anggun, begitu menguasai diri, seakan sudah terbiasa mengendalikan khalayak. Kubayangkan matanya yang tajam menusuk, benar-benar kontras dengan tubuhnya yang kecil dan aksen suaranya yang lembut. Dia membuatku merasa menjadi mahasiswi lagi. Mengapa? Lalu, aku ingat. Selama mengobrol, tatapan mata Daisy Jean tidak pernah meninggalkan wajahku. Tidak sekali pun dia memutuskan kontak mata di antara kami. Hal itu dan iris matanya yang aneh menjadi kombinasi yang tidak mengenakkan. Aku tiba di rumah dan mendapati ada dua pesan telepon. Pesan pertama membuatku agak gelisah sedikit. Harry telah mendaftarkan diri untuk mengikuti kursus yang diincarnya dan menjadi guru kesehatan psikis modern. Pesan kedua membuatku merinding sampai ke relung jiwaku. Kudengarkan pesan itu, kuamati salju yang menumpuk di dekat dinding tamanku di luar. Serpihan salju baru menutupi tanah yang kelabu, seperti bayi yang suci di atas hamparan dosa tahun sebelumnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Brennan, kalau kamu ada di situ, cepat angkat. Ini berita penting." Pause. "Ada perkembangan dalam kasus St-Jovite." Suara Ryan terdengar agak sedih. "Saat membereskan bangunan luar, kami menemukan empat mayat lagi di belakang tangga." Aku bisa mendengar suara asap rokok diisap ke dalam paru-parunya, kemudian diembuskan perlahan. "Dua orang dewasa dan dua bayi. Mereka tidak hangus, tapi mengerikan. Aku belum pernah melihat hal seperti ini. Aku tidak mau bercerita terlalu teperinci, tapi kita menghadapi sesuatu yang benar-benar berbeda, dan ini benar-benar memuakkan. Sampai besok. " 7. Bukan hanya Ryan yang merasa muak. Aku sudah pernah melihat anakanak yang disiksa dan dibiarkan kelaparan. Aku pernah melihat mereka setelah dipukuli, diperkosa, disiksa, dicekik, diguncangkan tubuhnya kuatkuat sampai mati, tetapi aku belum pernah melihat penyiksaan seperti yang telah dilakukan pada kedua anak kecil yang ditemukan di St-Jovite. Orang lain sudah menerima kabar itu pada malam sebelumnya. Saat aku tiba pukul delapan lewat lima belas, beberapa mobil van media massa

http://inzomnia.wapka.mobi

sudah memenuhi lapangan parkir di luar bangunan SQ, jendela penuh embun, dan knalpot mengembuskan asapnya. Walaupun hari kerja biasanya dimulai pukul setengah sembilan, kegiatan sudah memenuhi ruangan autopsi yang besar. Bertrand sudah ada di situ, bersama beberapa detektif SQ, dan seorang fotografer dari SD, La Section d'Identite Judiciare. Ryan belum tiba. Pemeriksaan luar sedang dilakukan, dan serangkaian foto Polaroid tampak berserakan di meja di sudut ruangan. Jenazah itu telah di sinar-X, dan LaManche tampak sedang menuliskan catatan saat aku masuk ke ruangan. Dia berhenti dan mendongak. "Temperance, aku senang kamu ada di sini. Aku mungkin membutuhkan pertolonganmu untuk menentukan umur anak-anak ini." Aku mengangguk. "Dan mungkin ada peralatan yang"-dia mencari kata yang tepat, wajahnya yang panjang tampak menegang- "tidak lazim, yang digunakan dalam kasus ini." Aku mengangguk dan berganti pakaian. Ryan tersenyum dan memberikan isyarat tanda hormat saat aku berjalan melewatinya di koridor. Matanya

http://inzomnia.wapka.mobi

tampak sembap, hidung dan pipinya memerah, seakan-akan dia baru berjalan-jalan cukup lama di cuaca yang dingin. Di dalam ruangan ganti pakaian, aku mempersiapkan diri untuk menghadapi apa-apa yang akan kuhadapi sebentar lagi. Sepasang bayi yang dibunuh dengan mengerikan. Apa yang dimaksud LaManche dengan peralatan yang tidak lazim? Kasus yang melibatkan anak-anak biasanya selalu sulit kuhadapi. Saat putriku masih kecil, setiap kali menghadapi kasus pembunuhan anak kecil, aku selalu memerangi keinginan untuk mengikat Katy ke tubuhku agar aku selalu bisa mengawasinya. Katy sekarang sudah dewasa, namun aku masih tetap takut membayangkan anak kecil yang sudah meninggal. Dari semua korban, anak-anaklah yang paling tidak berdaya, paling mudah percaya, dan paling tak berdosa. Aku selalu menggigil setiap kali ada jenazah anak yang tiba di kamar mayat. Bukti kualitas kemanusiaan yang bobrok terpampang di hadapanku. Dan rasa iba tidak berhasil membuatku merasa nyaman. Aku kembali ke ruangan autopsi, merasa sudah siap untuk mulai bekerja. Lalu, aku melihat jenazah kecil di atas nampan baja nirkarat. Sebuah boneka. Itulah kesan pertama yang kurasa-

http://inzomnia.wapka.mobi

kan. Boneka bayi plastik seukuran bayi sungguhan berwarna abu-abu karena sudah usang. Aku pernah punya boneka seperti itu sewaktu kecil dahulu, boneka bayi berwarna merah muda dan menebarkan wangi karet yang harum. Aku menyuapinya melalui lubang bulat kecil di antara bibirnya dan mengganti popoknya saat air mengalir keluar. Tetapi, ini bukan mainan. Bayi itu ditengkurapkan, lengan di kedua sisinya, jari-jemari mengepal kecil. Bokongnya rata dan garis putih tampak bersilangan di punggungnya yang berwarna ungu. Kepalanya yang kecil tampak berwarna merah. Bayi itu telanjang, hanya tampak gelang berupa balok kecil yang menghiasi per-gelangan tangan kanannya. Aku bisa melihat dua buah luka di dekat tulang belikat bahu kirinya. Sehelai piyama berkaki tertutup tampak di meja sebelah, gambar truk biru dan merah tersenyum dari piyama berbahan fl anel itu. Di sampingnya tampak popok kotor, singlet katun dengan kaitan di selangkangannya, sebuah sweter berlengan panjang, dan sepasang kaus kaki putih. Semuanya dinodai darah. LaManche berbicara kepada alat perekam. "Bebe de race blanche, bien develppe e t bien nourri

http://inzomnia.wapka.mobi

Bayi berkulit putih, sudah cukup berkembang dan diberi makan yang cukup, namun sudah mati, rasa geram mulai memuncak. "Le corps est bien preserve, avec une legere maceration epidermiquie ..." Kutatap jenazah mungil itu. Ya, memang terpelihara, hanya sedikit kulit mengelupas di tangannya. "Kurasa dia tidak usah mencari-cari luka akibat pembelaan diri." Bertrand sudah berdiri di sampingku. Aku tidak menanggapinya. Aku tidak berminat untuk menanggapi humor di kamar mayat. "Ada bayi lainnya di dalam alat pendingin," ujarnya melanjutkan. "Itulah yang dikabarkan kepada kami," ujarku dengan nada agak ketus. "Yah, tapi, ya Tuhan. Mereka ini 'kan bayi?" Kutatap matanya dan merasakan perasaan bersalah. Tadi itu Bertrand tidak sedang melucu. Dia terlihat seakan-akan anaknya sendiri yang mati itu. "Bayi. Ada orang yang dengan tega membunuh mereka dan meninggalkan mereka di ruang bawah tanah. Itu sama kejamnya dengan digilas di jalan. Bahkan lebih buruk lagi. Bajingan itu mungkin mengenal anak-anak ini." "Kenapa kau berpikiran begitu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Masuk akal 'kan? Dua anak, dua orang dewasa yang mungkin orangtua anak-anak itu. Se seorang menghabisi seluruh keluarga." "Dan membakar rumah itu untuk mengelabui kita?" "Mungkin." "Bisa saja orang yang tak dikenal." "Bisa saja, tapi aku meragukannya. Tunggu. Kamu akan melihatnya sebentar lagi." Dia kembali melanjutkan proses autopsi, tangan mengepal erat di belakang punggungnya. LaManche berhenti berbicara ke alat perekam dan bercakap-cakap dengan teknisi autopsi. Lisa meraih pita pengukur dari meja, lalu menariknya di sepanjang tubuh bayi itu. "Cinquante-huit centimetres." Lima puluh delapan cm. Ryan mengamati dari seberang ruangan, lengan disilangkan, jempol kanannya digerak-gerakkan di otot bisep lengan kirinya. Sesekali kulihat rahangnya mengeras dan jakunnya naik-turun. Lisa melingkarkan pita pengukur di sekeliling kepala, dada, dan tubuh bayi itu, menyebutkan ukurannya. Kemudian, dia mengangkat tubuhnya dan meletakkannya di timbangan. Biasanya timbangan itu digunakan untuk menimbang berat organ tubuh. Keranjangnya mengayun sedikit dan dia

http://inzomnia.wapka.mobi

menyeimbangkannya dengan tangan. Bayangan itu sungguh memilukan. Bayi yang tidak bernyawa di dalam buaian baja nirkarat. "Enam kilo." Bayi yang meninggal itu beratnya hanya enam kilo. Tiga belas pon. LaManche mencatat beratnya dan Lisa mengangkat mayat mungil itu, lalu meletakkannya kembali di atas meja autopsi. Saat Lisa melangkah mundur, napasku seakan berhenti di tenggorokanku. Aku menoleh pada Bertrand, tetapi sekarang matanya menatap sepatunya. Jenazah itu berjenis kelamin laki-laki. Dia berbaring terlentang, tungkai dan bagian kakinya melebar tajam di sendinya. Matanya menatap lebar dan bulat sekali, irisnya berwarna abu-abu. Kepalanya bergulir ke samping, dan salah satu pipinya yang tembam bertumpu pada tulang selangka. Tepat di bawah pipi kulihat lubang di dadanya sebesar kepalan tanganku. Pinggir luka itu tampak bergerigi, dan sebuah lingkaran ungu yang dalam tampak di sekelilingnya. Sayatan berbentuk bintang, masing-masing berukuran satu sampai dua cm, mengelilingi lubang itu. Beberapa tampak cukup dalam dan yang lainnya hanya di permukaan. Di beberapa tempat, sayatan itu saling menyilang, membentuk pola berbentuk L atau V.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tanganku melayang ke dadaku dan aku merasakan perutku mengeras. Aku menoleh pada Bertrand, tidak mampu mengajukan pertanyaan apa pun. "Sulit dipercaya!" ujarnya getir. "Bajingan itu mengeluarkan jantungnya." "Jantungnya tidak ada?" Dia mengangguk. Aku menelan ludah. "Bagaimana anak yang satunya lagi?" Dia menganggukkan kepalanya lagi. "Saat kita menganggap sudah pernah melihat semuanya, ternyata selalu saja ada hal yang baru lagi." "Ya Tuhan." Aku langsung menggigil. Diam-diam aku berdoa semoga anakanak itu dalam kondisi pingsan saat mutilasi itu dilakukan. Kutatap Ryan. Dia sedang mengawasi proses yang berlangsung di meja, wajahnya tidak memancarkan ekspresi apa pun. "Bagaimana dengan korban yang sudah dewasa?" Bertrand menggelengkan kepalanya. "Sepertinya mereka mengalami luka tusuk berulang kali, leher dirobek, tapi tidak ada yang memanen organnya." Suara LaManche terus berlanjut, menggambarkan bagian luar luka. Aku tidak harus mendengarkannya. Aku tahu apa arti hematoma. Kulit akan

http://inzomnia.wapka.mobi

memar hanya apabila darah masih beredar. Bayi itu masih hidup saat tubuhnya ditoreh pisau. Masih bayi. Kupejamkan mata, melawan keinginan untuk berlari keluar dari ruangan itu. Kuasai dirimu, Brennan. Lakukan tugasmu. Aku berjalan menuju meja tengah untuk memeriksa pakaiannya. Semuanya berukuran kecil, membuatku teringat lagi. Kulihat piyama berkaki tertutup, bagian leher dan pergelangan tangan yang lembut. Katy pernah memakai lusinan piyama seperti ini. Aku teringat bagaimana membuka dan mengaitkan kancingnya saat mengganti popoknya, kaki mungilnya yang gemuk menendang-nendang dengan gesitnya. Apa nama benda itu? Ada nama khusus untuk pakaian ini. Aku mencoba mengingatnya, tetapi pikiranku tidak mau memusatkan perhatiannya. Mungkin pikiranku berusaha melindungiku, mendorongku untuk berhenti menghubungkannya dengan kenangan yang kumiliki dan hanya melakukan tugasku saja sebelum aku mulai menangis atau merasa kebas. Pendarahan itu kebanyakan terjadi saat bayi berbaring di sisi kirinya. Lengan kanan dan bahu dari piyama itu dinodai bercak darah, namun darah membasahi sisi kirinya, membuat fl annel itu menjadi berwarna merah dan cokelat. Singlet dan sweternya dinodai bercak yang sama.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tiga lapisan," ujarku tidak kepada siapa pun. "Dan kaus kaki." Bertrand berjalan mendekati meja. "Ada orang yang berusaha menjaga agar bayi itu tetap hangat." "Ya, begitulah," ujar Bertrand menyetujui ucapanku. Ryan menghampiri kami, menatap pakaian itu. Setiap pakaian menunjukkan lubang bergerigi yang dikelilingi sayatan berbentuk bintang, menyerupai luka di dada bayi itu. Ryan mengeluarkan komentar terlebih dahulu. "Anak ini berpakaian ketika ..." "Ya," ucap Bertrand. "Kurasa bajunya tidak mengganggu ritual kejam yang dilakukan orang itu." Aku tidak mengucapkan apa-apa. "Temperance," ujar LaManche, "tolong bawa kaca pembesar ke sini. Aku menemukan sesuatu. " Kami berdiri mengelilingi ahli patologi itu dan dia menunjukkan perbedaan warna kecil di sebelah kiri di bawah lubang di dada bayi itu. Saat aku menyerahkan kaca pembesar itu, dia membungkuk dan mengamati memar itu, kemudian mengembalikan lensa itu kepadaku.

http://inzomnia.wapka.mobi

Saat melakukan hal yang sama, aku terperangah. Memar itu tidak menunjukkan karakteristik memar yang normal. Di bawah lensa pembesar, aku bisa melihat sebuah pola pada kulit bayi itu, bentuk garis silang dengan lingkaran di ujungnya seperti ankh pada huruf Mesir atau salib bangsa Malta. Gambar itu dihiasi pinggiran persegi empat yang cukup dalam. Kuserah kan lensa kepada Ryan dan menatap LaManche dengan penuh tanda tanya. "Temperance, ini jelas-jelas pola luka yang khas. Jaringan ini harus diawetkan. Dr. Bergeron tidak ada di sini hari ini, jadi aku akan sangat menghargai bantuanmu." Marc Bergeron, ahli odontologi di LML, telah mengembangkan sebuah teknik untuk mengangkat dan memperbaiki luka di jaringan lunak. Awalnya, dia men-ciptakan teknik itu untuk mengangkat tanda bekas luka gigitan dari tubuh para korban penganiayaan seksual yang ganas. Metode itu terbukti berguna untuk mengikis dan mengawetkan tato dan bekas luka yang berpola di kulit. Aku sudah pernah melihat Marc melakukannya dalam ratusan kasus, dan pernah membantunya dalam beberapa kasus.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kukeluarkan kotak peralatan Bergeron dari dalam lemari di ruangan autopsi pertama, kembali ke ruangan dua, dan meletakkan peralatan itu di atas kereta baja nirkarat. Pada saat aku sudah memakai sarung tangan, fotografer sudah menyelesaikan tugasnya dan LaManche sudah siap. Dia mengangguk tanda aku bisa memulai tugasku. Ryan dan Bertrand mengawasi kami. Kuambil lima sendok bubuk berwarna merah muda dari botol plastik dan memasukkan ke dalam vial kaca, kemudian menambahkan 20 cc monomer bening cair ke dalamnya. Kuaduk dan semenit kemudian campuran itu mengental sampai mirip dengan tanah liat merah muda. Kubentuk menjadi adonan seperti cincin dan meletakkannya di atas dada mungil itu, benar-benar mengelilingi memar itu. Adonan akrilik itu terasa hangat saat aku menepuk-nepuknya agar menutupi luka itu. Untuk mempercepat proses pengerasan, kuletakkan secarik kain basah di atas cincin itu, kemudian menunggu. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, akrilik itu sudah dingin. Kuraih sebuah tube dan mulai mengeluarkan cairan bening ke sekeliling pinggiran cincin itu. "Apa itu?" tanya Ryan. "Sianoakrilat."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Baunya seperti lem." "Memang lem." Ketika kurasa lemnya sudah mengering, aku mengujinya dengan menarik cincin itu pelan-pelan. Beberapa tetesan lagi, menunggu lagi, dan cincin itu mengeras dengan cepat. Kutuliskan tanggal, nomor kasus serta kamar mayat, dan mengindikasikan bagian atas, bawah, kanan, dan kiri menurut posisi di dada bayi itu. "Sudah siap," ujarku sambil melangkah mundur. LaManche menggunakan pisau pengiris untuk membebaskan kulit di sekeliling donat akrilik itu, mengiris cukup dalam untuk mengangkat jaringan lemak di bawahnya. Saat cincin itu akhirnya lepas, kulit yang memar itu sudah menempel dengan lekatnya, seperti lukisan yang dipaparkan di sebuah bingkai bundar berwarna merah muda. LaManche memasukkan spesimen itu ke dalam botol berisi cairan bening yang sudah kusiapkan. "Apa itu?" tanya Ryan lagi. "Cairan berisi buffer formalin sepuluh persen. Dalam waktu sepuluh sampai dua belas jam, jaringan itu akan mantap. Cincin itu memastikan tidak akan ada yang berubah. Sehingga bila nanti kita menemukan senjata,

http://inzomnia.wapka.mobi

kita akan bisa membandingkannya dengan luka itu untuk melihat apakah polanya sama. Dan tentu saja kita masih mempunyai beberapa foto." "Memangnya tidak cukup kalau hanya menggunakan foto saja?" "Dengan ini kita bisa melakukan trans-iluminasi bila diperlukan." "Trans-iluminasi?" Aku tidak berminat untuk memberikan penjelasan seperti dalam seminar ilmiah, jadi aku mencoba menyederhanakannya. "Kita bisa menyorotkan lampu menembus jaringan itu dan melihat apa yang terdapat di bawah kulitnya. Sering kali cara ini menunjukkan informasi lainnya yang tidak bisa dilihat dari permukaan." "Menurutmu apa yang menyebabkan luka itu?" tanya Bertrand. "Entahlah," jawabku, menutup botol itu dan menyerahkannya kepada Lisa. Saat membalikkan tubuh, aku merasakan kesedihan yang luar biasa, dan tidak bisa menahan dorongan untuk mengangkat tangan mungil itu. Tangan itu terasa halus dan dingin. Kuputar gelang balok di pergelangan tangannya. M-A-T-H-I-A-S. Aku turut bersedih, Mathias.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku mendongak dan menyadari LaManche sedang menatapku. Matanya menyorotkan kepedihan yang sama yang menyelimutiku. Aku melangkah mundur dan dia mulai melakukan pemeriksaan dalam. Dia akan melakukan irisan dan mengirimkan semua ujung tulang yang dipotong oleh sang pembunuh, tetapi aku tidak begitu optimistis. Walaupun aku belum pernah melihat bekas luka akibat alat pada korban semuda ini, aku menduga bahwa tulang rusuk bayi pasti terlalu kecil sehingga mustahil meninggalkan petunjuk. Kubuka sarung tanganku dan kembali mendekati Ryan saat Lisa membuat irisan berbentuk Y di dada bayi itu. "Foto dari lokasi ada di sini?" "Hanya salinannya." Dia menyerahkan sebuah amplop cokelat besar yang berisi beberapa foto Polaroid. Aku membawanya ke meja di sudut ruangan. Foto pertama menunjukkan bagian luar gedung yang terbesar di villa di StJovite. Gayanya sama dengan bangunan utama: Alpine murahan. Foto berikutnya diambil di bagian dalam, diambil dari puncak tangga mengarah ke bawah. Lorong terlihat gelap dan sempit, dengan dinding di kedua

http://inzomnia.wapka.mobi

sisinya, pegangan dari kayu di dinding, dan tumpukan sampah di kedua ujung setiap anak tangga. Ada beberapa foto dari ruang bawah tanah yang diambil dari berbagai sudut. Ruangan itu terlihat redup. Satu-satunya cahaya berasal dari jendela kecil segi empat di dekat langit-langit. Lantai linolium. Dinding pinus yang rumit. Bak mandi. Alat pemanas air. Sampah di mana-mana. Beberapa foto menyorot alat pemanas air, kemudian ruangan di antara alat itu dan dinding. Bagian itu dijejali dengan sesuatu yang mirip karpet tua dan beberapa kantong plastik. Foto berikutnya menunjukkan berbagai benda ini dijejerkan di linolium, mulamula tertutup, kemudian dibuka untuk menunjukkan isinya. Korban orang-orang dewasa dibungkus dalam kantong plastik bening berukuran besar, kemudian dimasukkan ke dalam karpet dan ditumpuk di belakang alat pemanas air. Tubuh keduanya menunjukkan pembengkakan dan pengelupasan kulit, tetapi semuanya masih terpelihara. Ryan datang mendekat dan berdiri di dekatku. "Alat pemanas itu pasti dalam keadaan mati," ujarku sambil menyerahkan foto itu. "Bila masih menyala, pasti akan menyebabkan pembusukan." "Kami menduga mereka tidak menggunakan bangunan

http://inzomnia.wapka.mobi

itu." "Kenapa?" Dia mengangkat bahunya. Aku kembali mengamati foto-foto Polaroid itu. Pria dan wanita itu berpakaian lengkap, walaupun tidak beralas kaki. Leher mereka digorok, dan darah membasahi pakaian dan menodai kantong plastiknya. Pria itu berbaring dengan satu lengan ke belakang dan aku bisa melihat torehan yang cukup dalam di telapak tangannya. Luka pembelaan diri. Dia mencoba untuk menyelamatkan dirinya. Atau menyelamatkan keluarganya. Ya Tuhan. Kupejamkan mataku sejenak. Pembungkus bayi itu lebih sederhana. Mereka dibungkus dengan kantong plastik, dimasukkan ke dalam kantong sampah, kemudian diletakkan di atas bungkusan berisi orang dewasa. Kutatap tangan-tangan mungil itu, buku jari yang montok. Bertrand memang benar. Tidak ada luka pembelaan diri pada bayi itu. Rasa duka dan geram bercampur di dalam benakku. "Aku ingin menangkap bajingan ini." Kutatap kedua mata Ryan. "Yeah."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku mau kamu menangkapnya, Ryan. Aku serius. Aku ingin bajingan ini ditangkap. Sebelum kita melihat bayi lainnya terbunuh. Apa gunanya kita kalau tidak bisa menghentikannya?" Mata biru itu menatapku. "Kita akan menangkapnya, Brennan. Tidak usah ragu." Kuhabiskan sisa hari itu dengan menaiki lift antara kantor dan ruangan autopsi. Paling sedikit dibutuhkan waktu dua hari untuk menyelesaikannya karena hanya LaManche yang memeriksa keempat korban itu. Ini prosedur standar dalam pembunuhan ganda. Menggunakan satu orang ahli patologi untuk menjamin kesamaan dalam sebuah kasus, dan memastikan konsistensi bila kasus ini sampai maju ke pengadilan. Saat aku kembali pada jam satu, Mathias sudah dikembalikan ke dalam alat pendingin kamar mayat dan autopsi bayi kedua sedang dilakukan. Pemandangan yang terlihat pagi tadi diulangi lagi. Para pemain yang sama. Lokasi yang sama. Korban yang sama. Kecuali kali ini sang korban memakai gelang bertuliskan M-A-L-A-C-H-Y. Pada pukul setengah lima, perut Malachy telah ditutup, batok kepalanya yang kecil dikembalikan, dan wajahnya diletakkan ke posisi semula. Kecuali irisan berbentuk Y dan mutilasi di dadanya, kedua bayi itu su-

http://inzomnia.wapka.mobi

dah siap untuk dimakamkan. Namun, kami tidak tahu di mana pemakaman itu akan dilakukan. Atau oleh siapa. Ryan dan Bertrand juga menghabiskan hari itu dengan keluar-masuk ruangan. Sidik kaki kedua bayi telah diambil, tetapi cap kaki dalam arsip kelahiran di rumah sakit sudah terkenal sulit dibaca, dan Ryan tidak begitu optimistis untuk mendapatkan kecocokan. Tulang di lengan dan pergelangan tangan mewakili 25 persen tulang di seluruh tubuh. Seorang manusia dewasa memiliki dua puluh tujuh tulang di setiap tangan, seorang bayi jauh lebih sedikit, tergantung pada usianya. Kuperiksa foto-foto sinar-X untuk melihat jumlah tulang dan seberapa jauh pembentukannya. Menurut penilaianku, Mathias dan Malachy berusia sekitar empat bulan saat dibunuh. Informasi ini disebarkan ke media, tetapi, selain orang gila yang biasa kami hadapi, tidak terlalu banyak tanggapannya. Harapan kami yang terbaik terletak pada jenazah kedua orang dewasa. Kami yakin bahwa di saat identitas kedua orang dewasa itu sudah diketahui, maka identitas anakanak itu akan diketahui juga. Untuk saat ini, kedua bayi itu tetap disebut sebagai Bayi Malachy dan Bayi Mathias.

http://inzomnia.wapka.mobi

8. Pada hari Jumat, aku tidak bertemu dengan Ryan maupun Bertrand. LaManche menghabiskan sepanjang hari di lantai bawah, menggarap kedua mayat orang dewasa dari St-Jovite. Aku telah merendam tulang rusuk kedua bayi itu di dalam botol kaca kecil di lab histologi. Setiap lekukan atau garis-garis yang mungkin ada pasti berukuran sangat kecil sehingga aku tidak mau merusaknya dengan merebus atau mengeriknya, dan aku tidak bisa mengambil risiko membuat pocelan baru dengan menggunakan pisau bedah atau gunting. Jadi, saat ini yang bisa kulakukan hanyalah mengganti airnya secara berkala dan melepaskan daging yang mengelupas. Kunikmati masa-masa istirahat sejenak dalam kegiatanku, dan menggunakan waktu itu untuk melengkapi laporanku tentang Elisabeth Nicolet, seperti yang kujanjikan tempo hari. Karena aku harus kembali ke Charlotte pada hari Senin, aku berencana untuk memeriksa tulang rusuk itu pada akhir pekan. Bila tidak ada hal lainnya, kurasa aku bisa menyelesaikan tugasku sebelum hari Senin. Aku tidak memperhitungkan telepon yang kuterima pada pukul setengah sebelas.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku amat sangat menyesal karena terpaksa menelepon Anda seperti ini, Dr. Brennan." Bahasa Inggris, diucapkan perlahan-lahan, setiap kata dipilih dengan cermat. "Suster Julienne, senang sekali mendengar kabar dari Anda." "Sekali lagi, aku minta maaf karena telah berulang kali menelepon Anda." "Berulang kali?" Kulihat sekilas catatan beberapa pesan di mejaku. Aku tahu bahwa dia menelepon hari Rabu, tetapi dia hendak menanyakan kembali hasil percakapan kami sebelumnya. Ada dua carik kertas lainnya bertuliskan nama dan nomor teleponnya. "Sebenarnya aku yang harus minta maaf. Aku benar-benar sibuk kemarin dan tidak sempat memeriksa pesan untukku. Maaf sekali." Tidak ada tanggapan. "Aku sedang menuliskan laporan itu sekarang." "Tidak, tidak, bukan itu. Maksudku, ya, tentu saja, laporan itu sangat penting. Dan kami semua tidak sabar ..." Dia terdengar ragu-ragu, dan aku bisa membayangkan alisnya yang gelap mempertajam mukanya yang serius. Suster Julienne selalu terlihat khawatir. "Sebenarnya aku merasa agak canggung, tapi aku tidak tahu lagi harus mengadu ke mana. Tentu saja, aku sudah berdoa dan aku tahu bahwa

http://inzomnia.wapka.mobi

Tuhan selalu mendengarkan, tapi rasanya aku harus melakukan sesuatu. Aku mengabdikan diri pada pekerjaanku, menjaga arsip milik Tuhan, tetapi, yah, aku juga punya keluarga duniawi." Dia berusaha menyusun kata-katanya dengan cermat, memolesnya seperti seorang tukang roti yang membuat adonan. Keheningan yang cukup lama berlalu di antara kami. Aku menunggunya. "Tuhan memang menolong orang yang mau berusaha." "Ya." "Ini tentang keponakanku, Anna. Anna Goyette. Dia gadis yang kubicarakan hari Rabu kemarin." "Keponakan Anda?" Aku tidak bisa membayangkan arah pembicaraan ini. "Dia anak adik perempuanku." "Oh begitu." "Dia .... Kami tidak tahu di mana dia sekarang ini." "Ya ..." "Biasanya dia anak yang bertanggung jawab, sangat bisa diandalkan, tidak pernah menginap tanpa pemberitahuan sebelumnya." "Oke." Aku mulai bisa meraba arah pembicaraannya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Akhirnya, dia menumpahkan semuanya. "Anna tidak pulang ke rumahnya tadi malam dan adikku benar-benar panik. Aku sudah menyuruhnya berdoa, tentu saja, tetapi, yah ..." Suaranya semakin lirih. Aku tidak tahu harus berkata apa. Ini bukan arah percakapan yang kuduga sebelumnya. "Keponakan Anda hilang?" "Ya." "Kalau Anda terus khawatir, mungkin sebaiknya menghubungi polisi." "Adikku sudah dua kali menghubungi polisi. Mereka mengatakan bahwa untuk anak seusia Anna, kebijakannya adalah menunggu empat puluh delapan jam sampai tujuh puluh dua jam." "Berapa usia keponakan Anda?" "Sembilan belas tahun." "Dia mahasiswi di McGill?" "Ya." Suaranya terdengar cukup tegang, bisa dipakai untuk menggergaji sekeping besi. "Suster, mungkin bukan apa ..." Aku bisa mendengarnya menahan tangisan. "Aku tahu, aku tahu, dan aku minta maaf karena telah mengganggu Anda, Dr. Brennan." Kata-katanya diucapkan di antara tarikan napas yang tajam,

http://inzomnia.wapka.mobi

seperti sedang cegukan. "Aku tahu Anda sedang sibuk, aku tahu itu, tapi adikku sudah histeris dan aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepadanya. Dia kehilangan suaminya dua tahun yang lalu dan sekarang Anna adalah satu-satunya miliknya yang berharga. Virginie meneleponku setiap setengah jam, memaksaku untuk menolongnya menemukan putrinya. Aku tahu ini bukan tugas Anda, dan aku tidak akan pernah menelepon Anda kecuali benar-benar terpaksa. Aku sudah berdoa, tapi, oh ..." Aku cukup terkejut saat mendengar tangisnya meledak. Air mata membuat kata-kata yang diucapkannya terdengar tidak jelas. Aku menunggu, kebingung an. Apa yang harus kukatakan? Lalu, tangisnya mereda dan aku mendengar suara tisu diambil dari kotaknya, kemudian suara hidung dibersihkan. "Aku ... aku .... Maafkan aku." Suaranya terdengar bergetar. Konseling bukanlah keahlianku. Bahkan dengan orang-orang yang dekat denganku pun, aku selalu merasa canggung dan kaku saat menghadapi curahan emosi. Aku lebih senang dengan hal-hal yang praktis. "Apakah Anna sudah pernah melarikan diri sebelumnya?" Selesaikan permasalahannya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kurasa tidak pernah. Tapi, aku dan adikku jarang berkomunikasi ... dengan baik." Dia sudah agak tenang dan kembali memerhatikan ucapannya dengan cermat. "Anna punya masalah di kampusnya?" "Sepertinya tidak." "Dengan temannya? Mungkin pacarnya?" "Entahlah." "Anda pernah melihat perubahan dalam perilakunya akhir-akhir ini?" "Maksud Anda?" "Apakah kebiasaan makannya berubah? Apakah dia lebih banyak atau mengurangi jam tidurnya? Apakah dia tiba-tiba susah berkomunikasi?" "Aku ... aku minta maaf. Sejak dia jadi mahasiswi, aku semakin jarang bertemu dengannya." "Apakah dia rajin menghadiri kuliahnya?" "Entahlah." Suaranya mengecil pada ucapannya yang terakhir. Dia terdengar benar-benar kelelahan. "Apakah hubungan Anna dengan ibunya baikbaik saja?" Hening untuk beberapa saat lamanya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Memang kadang-kadang tegang, tapi aku tahu Anna menyayangi ibunya." Bingo! "Suster, keponakan Anda mungkin memerlukan waktu untuk menyendiri. Aku yakin kalau Anda menunggu satu atau dua hari lagi, dia akan muncul atau menelepon." "Ya, mungkin Anda benar, tapi aku benar-benar tidak berdaya untuk menolong Virginie. Dia benarbenar kebingungan. Aku tidak bisa menenangkannya dan kupikir kalau aku bisa mengatakan kepadanya bahwa polisi sedang melakukan penyelidikan, dia mungkin bisa ... lebih tenang." Aku mendengar tisu ditarik lagi dari kotaknya dan langsung khawatir kalau ledakan tangis yang kedua akan segera menyusul. "Biar aku saja yang mencoba menghubungi polisi. Aku tidak yakin apakah akan ada gunanya, tetapi akan kucoba." Dia berterima kasih kepadaku dan menutup gagang telepon. Untuk sejenak aku termenung, memilah-milah pilihanku. Aku ingat pada Ryan, tetapi McGill terletak di Montreal. Communaute Urbaine de Montreal Police. CUM. Kutarik napas panjang dan memutar nomor telepon. Saat resepsionis menjawab, aku langsung menyampaikan permintaanku.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Monsieur Charbonneau, s'il vous plait." "Un instant, s'il voul plait. " Dia kembali beberapa saat kemudian dan mengatakan bahwa Charbonneau sedang keluar siang itu. "Bagaimana kalau ditangani Monsieur Claudel?" "Boleh." Seakan aku minta anthrax saja. Sialan. "Claudel," ujar suara yang berikutnya kudengar. "Monsieur Claudel. Ini Tempe Brennan." Saat menunggu jawaban, kubayangkan hidung Claudel yang bengkok dan wajahnya yang seperti burung kaka-tua, biasanya keruh saat berhadapan denganku. Aku sebal berbicara dengan detektif ini, seperti disuruh mencelupkan jari ke dalam air men didih. Tetapi, karena tidak tahu bagaimana me nangani anak remaja yang lari dari rumah, aku tidak tahu harus bicara dengan siapa lagi. Claudel dan aku sudah pernah menangani kasus CUM sebelumnya, dan dia mulai terbiasa denganku, jadi kuharap setidaknya dia bisa memberitahukan siapa yang harus kuajak bicara. Oui." "Monsieur Claudel. Aku ada permintaan yang sedikit aneh. Aku tahu bahwa ini sebenarnya bukan..."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ada apa, Dr. Brennan?" Tegas. Claudel termasuk orang yang bisa membuat bahasa Prancis terdengar sangat dingin. Langsung ke permasalahannya saja, Bu. "Aku baru saja menerima telepon dari seorang wanita yang mengkhawatirkan keponakannya. Anak ini adalah mahasiswi di McGill dan tidak pulang ke rumahnya tadi malam. Kurasa-" "Mereka harus mengisi laporan orang hilang." "Ibunya mendapat informasi bahwa tidak ada yang bisa dilakukan dalam waktu empat puluh delapan sampai tujuh puluh dua jam ke depan." "Usia?" "Sembilan belas tahun." "Nama?" "Anna Goyette." "Dia tinggal di kampusnya?" "Entahlah. Sepertinya tidak. Kurasa dia tinggal dengan ibunya." "Apa dia ikut kuliah kemarin?" "Entahlah." "Di mana terakhir kalinya dia terlihat?" "Entahlah." Berhenti sejenak. Kemudian, "Rupanya banyak yang tidak Anda ketahui. Ini mungkin bukan kasus CUM dan saat ini dapat dipastikan bukan kasus pembunuhan." Aku bisa

http://inzomnia.wapka.mobi

membayangkan Claudel mengetuk-ngetukkan jarinya, wajahnya terlihat tidak sabar. "Ya. Aku hanya ingin tahu pihak yang bisa kuhubungi," tukasku. Dia membuatku merasa tidak siap, membuatku kesal. Dan mengacaukan tata bahasaku. Seperti biasa, Claudel selalu bisa membuatku kesal, khususnya saat kritikannya tentang metodologi yang kupakai cukup akurat. "Coba hubungi bagian orang hilang." Kudengar nada yang menyatakan telepon sudah ditutup. Aku masih merasa geram saat telepon bordering kembali. "Dr. Brennan," aku menyalak dengan geram. "Oh, apakah ini waktu yang salah?" Suara dengan aksen Inggris Selatan benar-benar kontras dengan aksen Prancis sengau milik Claudel. "Dr. Jeannotte?" "Ya. Dan panggil saja aku Daisy." "Maafkan aku, Daisy. Aku-beberapa hari ini sungguh berat untukku. Apa yang bisa kubantu?" "Aku menemukan beberapa bahan menarik tentang Nicolet. Aku tidak ingin mengirimkannya melalui kurir karena beberapa bahan ini sudah

http://inzomnia.wapka.mobi

cukup tua dan mungkin berharga. Apa mungkin kamu bisa dating dan mengambilnya?" Kulirik jam tangan. Jam sebelas lewat. Ya, mengapa tidak. Mungkin saat di kampus nanti aku bisa menanyakan tentang Anna. Paling tidak aku punya sesuatu yang bisa kuceritakan kepada Suster Julienne. "Aku bisa datang sekitar tengah hari. Apa tidak mengganggu?" "Silakan. Tengah hari waktu yang baik." Kembali, aku tiba terlalu awal. Kembali, pintu terbuka dan kantor tampak kosong kecuali ada seorang wanita muda yang sedang merapikan jurnal di rak. Aku bertanya dalam hati apakah itu tumpukan yang sama yang dirapikan oleh asisten Jeannotte Rabu kemarin. "Selamat siang, saya mencari Dr. Jeannotte." Wanita itu membalikkan tubuhnya dan anting seperti gelang besar mengayun dan memantulkan cahaya. Dia cukup tinggi, mungkin sekitar dua meter, dengan rambut hitam dipotong pendek. "Dia sedang turun sebentar. Anda sudah membuat janji?" "Aku memang datang terlalu cepat. Tidak apa-apa."

http://inzomnia.wapka.mobi

Kantor itu sama panasnya dan penuh sesak seperti kunjunganku yang pertama. Kulepaskan jaket dan kumasukkan sarung tanganku ke dalam kantongnya. Wanita itu menunjuk ke sebuah tiang kayu tempat menggantungkan baju dan kugantungkan jaketku di situ. Dia mengamati diriku tanpa berkomentar apa pun. "Banyak sekali jurnalnya," ujarku, menunjuk tumpukan kertas di atas meja. "Aku menghabiskan hidupku untuk memilah-milah semua jurnal ini." Dia meraih dan menyelipkan salah satu jurnal itu ke dalam rak di atas kepalanya. "Ada untungnya punya tubuh tinggi, ya?" "Ada keuntungannya dalam beberapa hal." "Aku bertemu dengan asisten Dr. Jeannotte hari Rabu kemarin. Dia juga sedang mengatur ulang isi rak." "Hmm ..." Wanita muda itu meraih jurnal yang lainnya dan memeriksa judulnya. "Namaku Dr. Brennan," aku memancingnya. Dia memasukkan jurnal itu ke barisan yang setinggi matanya. "Dan Anda ...?" pancingku terus.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sandy O'Reilly," ujarnya tanpa membalikkan tubuhnya. Aku bertanya dalam hati apakah komentarku tentang tinggi tubuhnya telah menyinggung perasaannya. "Senang bisa berkenalan dengan Anda, Sandy. Sewaktu pulang hari Rabu itu, aku baru sadar tidak sempat menanyakan nama asisten itu." Dia mengangkat bahu. "Pasti Anna juga tidak peduli." Nama itu menghantamku seperti peluru. Apakah aku seberuntung itu? "Anna?" tanyaku. "Anna Goyette?" "Yeah." Dia akhirnya menolehkan wajahnya kepadaku. "Kenal dengannya?" "Tidak, tidak juga. Seorang mahasiswi dengan nama itu memiliki hubungan keluarga dengan kenalanku, dan aku jadi ingin tahu saja apakah orangnya sama. Apa dia ada di sini hari ini?" "Tidak. Kurasa dia sedang sakit. Itu sebabnya aku bekerja hari ini. Jadwalku sebenarnya bukan hari Jumat, tapi Anna tidak bisa datang, jadi Dr. Jeanotte memintaku untuk menggantikannya hari ini." "Dia sakit?" "Ya, sepertinya begitu. Sebenarnya, aku tidak tahu. Yang kutahu, dia tidak masuk lagi. Tidak apaapa. Aku perlu uangnya kok." "Tidak masuk lagi?" "Ya, begitulah. Dia sering tidak masuk. Aku biasanya yang menggantikannya. Uang tambahannya lumayan, tapi aku jadi kekurangan

http://inzomnia.wapka.mobi

waktu untuk menulis tesisku." Dia tertawa kecil, tetapi aku bisa merasakan kekesalan dalam nada suaranya. "Apakah Anna memang sering sakit?" Sandy memiringkan kepalanya dan menatapku. "Kenapa Anda begitu tertarik pada Anna?" "Tidak juga. Aku ke sini hendak mengambil beberapa dokumen dari Dr. Jeannotte. Tapi, aku teman bibi Anna dan aku mendapat kabar bahwa keluarganya khawatir karena sudah tidak bertemu dengannya sejak kemarin pagi." Dia menggelengkan kepalanya dan mencari jurnal lainnya. "Memang Anna perlu dikhawatirkan. Dia anak yang aneh." "Aneh?" Dia menyelipkan jurnal itu, kemudian membalikkan tubuh menghadapku. Matanya menatap mataku untuk beberapa saat lamanya, menilai diriku. "Anda teman keluarganya?" "Ya." Kira-kira begitulah. "Anda bukan detektif atau wartawan atau semacamnya 'kan?" "Aku ahli antropologi." Benar, walaupun tidak sepenuhnya akurat. Tetapi, citra Margaret Mead (ahli antropologi AS yang terkenal) atau Jean Goodall

http://inzomnia.wapka.mobi

(ahli hewan primata yang terkenal) mungkin lebih meyakinkan. "Aku menanyakannya karena bibi Anna meneleponku tadi pagi. Lalu, karena kita membicarakan orang yang sama Sandy berjalan menyeberangi kantor dan memeriksa koridor, kemudian menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu. Jelaslah bahwa tinggi badannya tidak membuat dirinya malu. Dia menegakkan kepalanya dan berjalan dengan langkah panjang. "Aku tidak mau mengatakan apa pun yang bisa membuat Anna kehilangan pekerjaannya. Atau aku kehilangan pekerjaanku. Jangan katakan kepada siapa pun bahwa Anda mendengarnya dariku, khususnya Dr. Jeannotte. Dia tidak suka kalau aku membicarakan mahasiswinya." "Anda bisa memercayaiku." Dia menarik napas panjang. "Menurutku, Anna benar-benar kacau dan butuh pertolongan. Dan, ini bukan karena aku harus menggantikannya bekerja. Anna dan aku dahulu berteman, atau paling tidak kami sering jalan sama-sama tahun lalu. Lalu, dia berubah. Sering melamun. Aku sudah lama berniat untuk menelepon ibunya. Harus ada yang tahu tentang hal ini." Dia menelan ludah dan mengubah posisi.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Anna menghabiskan setengah waktunya di pusat konseling karena dia merasa tidak bahagia. Dia kemudian menghilang berhari-hari lamanya dan saat dia masuk kuliah, sepertinya tidak punya kehidupan, hanya sering berada di sini saja. Dan dia selalu terlihat gelisah, seakan-akan sewaktuwaktu bisa melompat dari atas jembatan." Dia berhenti, matanya bertemu dengan mataku, mencoba mengambil keputusan. Kemudian, "Seorang teman bercerita padaku bahwa Anna terlibat sesuatu." "Terlibat apa?" "Aku benar-benar tidak tahu apakah gosip itu benar atau bahkan apakah aku boleh mengatakannya. Bukan sifatku untuk menyebarkan gosip, tapi kalau Anna terlibat dalam kesulitan, aku tidak akan pernah memaafkan diriku karena merahasiakannya." Aku menunggu. "Dan kalau benar, artinya dia dalam bahaya." "Menurutmu, Anna terlibat apa?" "Kedengarannya pasti aneh sekali." Dia menggelengkan kepala dan antingnya mengetuk-ngetuk rahangnya. "Maksudku, kita pernah

http://inzomnia.wapka.mobi

mendengar cerita seperti ini, tapi tidak pernah menimpa orang yang kita kenal." Dia menelan ludah lagi dan menoleh ke belakang bahunya ke luar pintu. "Temanku cerita bahwa Anna bergabung dengan sebuah sekte. Sebuah kelompok pemuja Setan. Aku tidak tahu apakah ..." Saat mendengar suara papan berderit, Sandy berjalan menyeberangi kantor dan meraih beberapa jurnal. Dia sedang sibuk merapikan rak saat Daisy Jeannotte muncul di pintu. 9. "Maaf," ujar Daisy sambil tersenyum hangat. "Seper-tinya aku selalu membuatmu menunggu. Sudah kenalan dengan Sandy?" Rambutnya ditata dengan gaya yang sama seperti pada hari Rabu. "Ya, kami sudah kenalan. Membicarakan asyiknya membereskan rak." "Aku memang sering meminta mereka melakukannya. Membuat fotokopi dan merapikannya di rak. Pekerjaan yang pasti sangat melelahkan. Tapi,

http://inzomnia.wapka.mobi

penelitian yang sebenarnya juga sangat melelahkan. Mahasiswaku dan para pembantuku sangat sabar menghadapiku." Dia kemudian tersenyum kepada Sandy, yang membalas senyumannya dan kembali merapikan jurnal. Aku benar-benar heran melihat betapa berbedanya Jeannotte saat menghadapi mahasiswi ini dibandingkan dengan saat menghadapi Anna. "Sekarang, mari kutunjukkan apa yang kutemukan. Kurasa kamu pasti akan menyukainya." Dia menunjuk sofa. Saat kami sudah duduk, dia mengeluarkan setumpukan bahan dari dalam meja kuningan kecil di sebelah kanannya, dan menunduk mempelajari cetakan yang terdiri atas dua lembar kertas. Belahan rambutnya membentuk garis putih yang membelah rambutnya. "Semua ini beberapa judul buku tentang Quebec pada abad kesembilan belas. Aku yakin banyak di antara buku ini yang menyebut-nyebut keluarga Nicolet." Dia menyerahkannya kepadaku dan aku menatap daftar itu sekilas, tetapi aku sedang tidak memikirkan Elisabeth Nicolet. "Dan buku yang ini tentang epidemi campak pada tahun 1885. Mungkin menceritakan Elisabeth dan usahanya memerangi epidemi itu. Paling tidak,

http://inzomnia.wapka.mobi

bisa memberikan gambaran mengenai zaman itu dan kepedihan yang melanda Montreal saat itu." Buku ini masih baru dan dalam kondisi yang baik sekali, seakan-akan belum pernah ada orang yang membacanya. Kubalik-balik beberapa lembar halamannya, walaupun tidak membaca apa yang tertulis di situ. Apa yang hendak dikatakan Sandy beberapa saat yang lalu? "Tapi, kurasa kamu pasti akan menyukai ini." Dia menyerahkan barang yang sepertinya tiga buku besar yang sudah tua, kemudian menyandarkan tubuhnya, senyuman masih tersungging di bibirnya, tetapi mengamati diriku dengan cermat. Sampul ketiga buku itu berwarna abu-abu dengan jilid berwarna ungu yang rapi. Perlahan-lahan, kubuka sampulnya dan membalik beberapa halaman. Baunya apek, seperti barang yang disimpan bertahuntahun di ruang bawah tanah atau loteng. Ternyata bukan buku besar, melainkan buku harian, yang ditulis tangan dengan tulisan yang jelas dan tebal. Kulirik catatan pertama: 1 Januari 1844. Kulihat halaman paling belakang: 23 Desember 1846. "Semuanya ditulis oleh Louis-Phillipe Belanger, paman Elisabeth. Dia terkenal sebagai penulis jurnal yang sangat produktif, jadi dengan

http://inzomnia.wapka.mobi

mengikuti naluriku, aku memeriksa bagian penyimpanan dokumen milik kami. Dan memang, McGill memiliki sebagian dari jurnalnya. Aku tidak tahu di mana buku catatannya yang lain, atau apakah masih ada, tapi aku bisa menolongmu mencarikannya. Aku harus menjual jiwaku untuk mendapatkan buku ini." Dia tertawa. "Aku meminjam buku-buku yang tanggalnya sekitar tanggal kelahiran Elisabeth dan masa kecilnya." "Ini benar-benar luar biasa," ujarku, untuk sejenak melupakan Anna Goyette. "Aku tidak tahu harus mengatakan apa." "Katakan saja bahwa kamu akan menjaganya baik-baik." "Aku benar-benar boleh meminjam buku-buku ini?" "Ya. Aku percaya padamu. Aku yakin kamu pasti tahu nilai buku ini dan akan menjaganya." "Daisy, aku benar-benar berterima kasih. Ini lebih dari yang kuharapkan." Dia mengangkat tangan, tanda tidak usah membesar-besarkannya, kemudian pelan-pelan meletakkan kembali tangan itu di pangkuannya. Untuk sejenak, kami berdua tidak berkata apa-apa. Aku sudah tidak sabar

http://inzomnia.wapka.mobi

untuk keluar dari situ dan membaca buku harian tersebut. Lalu, aku teringat pada keponakan Suster Julienne. Dan kata-kata Sandy. "Daisy, boleh aku bertanya tentang Anna Goyette?" "Boleh." Dia masih tersenyum, tetapi matanya tampak menyimpan rasa curiga. "Seperti yang sudah kamu ketahui, aku bekerja sama dengan Suster Julienne, yang adalah bibi Anna." "Aku tidak tahu mereka ada hubungan keluarga." "Ya. Suster Julienne meneleponku dan menyampaikan kabar bahwa Anna sudah sejak kemarin pagi tidak pulang ke rumahnya dan ibunya sangat cemas." Selama percakapan ini, aku mengamati gerakan tubuh Sandy saat dia memilah-milah jurnal dan meletakkannya di dalam rak. Bagian ujung kantor itu sekarang benar-benar hening. Jeannotte juga menyadari hal itu. "Sandy, kamu pasti sudah lelah. Kamu boleh pergi sekarang dan beristirahat dulu." "Aku baik-" "Sekarang."

http://inzomnia.wapka.mobi

Mata Sandy bertemu dengan mataku saat dia berjalan melewati kami dan keluar ruangan. Ekspresi wajahnya tidak bisa kutebak. "Anna adalah wanita muda yang sangat cerdas." Lanjut Jeannotte. "Sedikit gugup, namun sangat cerdas. Aku yakin dia baik-baik saja." Sangat tegas. "Kata bibinya tidak biasanya Anna tidak pulang seperti ini." "Anna mungkin memerlukan waktu untuk menyendiri. Aku tahu dia beberapa kali bertengkar dengan ibunya. Dia mungkin hanya pergi selama beberapa hari." Sandy tadi mengatakan bahwa Jeannotte sangat melindungi mahasiswanya. Itukah yang kulihat sekarang ini? Apakah profesor itu mengetahui sesuatu, tapi tidak mau mengatakannya? "Kurasa aku cenderung suka lebih khawatir daripada orang pada umumnya. Dalam pekerjaanku, aku sering menyaksikan banyak wanita muda yang tidak dalam kondisi baik-baik saja." Jeannotte memandang tangannya. Untuk sejenak dia tidak berkata apaapa. Lalu, dengan senyuman yang sama, dia berkata, "Anna Goyette sedang berusaha menjauhkan diri dari situasi rumahnya yang tidak nyaman. Itu

http://inzomnia.wapka.mobi

saja yang bisa kukatakan, tapi aku bisa memastikan bahwa dia baik-baik saja dan bahagia." Mengapa bisa begitu yakin? Haruskah aku memercayainya? Tapi, peduli amat. Kuungkapkan saja apa yang ada dalam pikiranku untuk melihat reaksinya. "Daisy, aku tahu ini pasti kedengarannya aneh, tapi aku mendengar kabar bahwa Anna terlibat dalam semacam sekte pemujaan setan." Senyuman itu hilang. "Aku bahkan tidak akan menanyakan dari mana kamu mendapatkan informasi itu. Hal itu tidak mengejutkanku." Dia menggelengkan kepalanya. "Para penganiaya anak-anak. Pembunuh psikopat. Juru selamat palsu. Peramal hari kiamat. Pemuja setan. Tetangga iri yang memberikan racun arsenik kepada anak-anak di hari Halloween." "Tapi, semua ancaman itu nyata." Aku mengangkat alis mata. "Apa iya? Atau mereka hanya dongeng saja? Peringatan untuk zaman modern." "Peringatan?" Aku bertanya dalam hati, apa hubungan semua itu dengan Anna. "Sebuah istilah yang digunakan penggemar dongeng untuk menggambarkan bagaimana orang mengaitkan rasa takut mereka dengan

http://inzomnia.wapka.mobi

berbagai dongeng tersebut. Itu cara untuk menjelaskan pengalaman yang membingunkan." Wajahku menunjukkan bahwa aku masih tidak mengerti. "Setiap kebudayaan memiliki cerita, dongeng rakyat yang mengungkapkan kegelisahan yang sama. Rasa takut pada hantu, orang asing, makhluk luar angkasa. Anak-anak yang menghilang. Saat sesuatu yang tidak bisa kita pahami terjadi, kita menghubungkannya dengan hikayat lama. Penyihir yang menculik Hans dan Gretel. Orang di mal yang menculik anakanak yang berjalan sendirian. Itu adalah cara untuk membuat pengalaman yang membingungkan itu sepertinya masuk akal. Jadi, orang menceritakan kisah penculikan UFO, penampakan Elvis, permen beracun saat Halloween. Selalu terjadi pada temannya teman, sepupu, anak atasan." "Bukankah peracunan permen di hari Halloween itu nyata?" "Seorang sosiolog menelaah artikel surat kabar dari tahun 1970-an sampai 1980-an dan hanya menemukan dua kematian yang terjadi pada saat kehebohan peracunan permen di hari Halloween, keduanya oleh anggota keluarga. Sangat sedikit kecelakaan lainnya yang ter-dokumentasikan di media masa. Tapi, dongeng itu terus bergulir karena mengungkapkan rasa

http://inzomnia.wapka.mobi

takut yang kita pendam: anak-anak hilang, rasa takut akan malam hari, rasa takut pada orang asing." Kubiarkan dia terus bercerita, menunggu penjelasan tentang hubungan semua itu dengan Anna. "Kamu sudah dengar mitos subversi? Ahli antropologi senang mendiskusikan hal itu." Aku mencoba mengingat kembali seminar S2 tentang mitologi. "Menyalahkan orang lain. Berbagai cerita yang memunculkan kambing hitam untuk berbagai permasalahan yang rumit." "Tepat sekali. Biasanya orang luar yang menjadi kambing hitam-kelompok ras, etnik, atau agama yang membuat orang lain tidak nyaman. Orang Romawi menyalahkan orang Kristen atas hubungan seks antarkerabat dan proses persembahan dengan anak kecil sebagai kurbannya. Kemudian, sekte Kristen saling tuduh, lalu orang Kristen menuduh orang Yahudi. Ribuan orang tewas karena keyakinan tersebut. Coba bayangkan pengadilan penyihir. Atau Holocaust. Dan bukan hanya kisah lama. Setelah demonstrasi mahasiswa di Prancis di akhir tahun enam puluhan, pemilik

http://inzomnia.wapka.mobi

toko Yahudi dituduh menculik gadisgadis remaja dari kamar ganti di sejumlah butik." Aku tidak terlalu ingat akan hal itu. "Dan belum lama ini imigran Turki dan Afrika Utara. Beberapa tahun yang lalu, ratusan orangtua Prancis menyatakan anak-anak mereka diculik, dibunuh, dan dikuliti oleh mereka, walaupun sebenarnya tidak ada anak yang dilaporkan hilang di Prancis. "Dan mitos itu terus berlanjut, bahkan di sini di Montreal, hanya saja sekarang ada hantu baru yang mempraktikkan ritual pembunuhan anak kecil." Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya melebar, dan hampir mendesiskan kata-katanya yang terakhir. "Pemuja setan." Itu adalah saat di mana dirinya terlihat sangat ekspresif. Kata-katanya menyebabkan sebuah bayangan terbentuk di benakku. Malachy berbaring di atas meja baja. "Sebenarnya, tidak mengejutkan," ujarnya melanjutkan. "Pemikiran tentang pemujaan setan selalu mengental selama periode perubahan sosial. Dan menjelang akhir milenium. Tapi, sekarang ancamannya datang dari Setan." "Bukankah Hollywood menciptakan banyak kisah seperti itu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tentu saja tidak secara sengaja, tapi memang mereka ikut berperan. Hollywood hanya ingin membuat film yang sukses secara komersial. Tapi, itu pertanyaan yang sudah ada sejak zaman dulu: Apakah seni menyebabkan terjadinya periode itu atau hanya merefleksikannya saja? Rosemary's Baby, The Omen, The Exorcist. Apa yang dilakukan semua film ini? Semuanya bercerita tentang kegelisahan sosial melalui penampilan pemujaan setan. Dan, masyarakat menonton dan menyimak." "Tapi, bukankah itu bagian dari semakin besarnya ketertarikan pada halhal berbau mistis di masyarakat Amerika selama tiga dasawarsa terakhir ini?" "Memang. Tapi, bagaimana dengan kecenderungan lainnya yang terjadi selama generasi terakhir ini?" Aku merasa seakan sedang diuji. Apa hubungan semua ini dengan Anna? Aku menggelengkan kepala. "Meningkatnya popularitas penganut Kristen fundamentalis. Tentu saja, ekonomi ada pengaruhnya pada hal tersebut. Penutupan pabrik. Pengurangan pegawai. Kemiskinan dan melemahnya ekonomi sangat membuat stres. Tapi, itu bukanlah satu-satunya sumber kekhawatiran.

http://inzomnia.wapka.mobi

Orang di berbagai tingkat ekonomi merasa cemas melihat perubahan norma-norma sosial. Hubungan telah berubah antara pria dan wanita, dalam keluarga, antar generasi." Dia menjentikkan jarinya. "Berbagai penjelasan lama telah ditinggalkan dan penjelasan baru belum ada. Gereja fundamentalis menyediakan rasa nyaman hanya dengan menyuguhkan jawaban sederhana terhadap berbagai pertanyaan rumit." "Setan." "Setan. Semua kejahatan di dunia ini disebabkan oleh Setan. Para remaja diajak ke acara pemujaan setan. Anak-anak diculik dan dibunuh dalam ritual setan. Pembunuhan hewan ternak oleh pemuja Setan menyebar ke seluruh pelosok negeri. Logo Procter and Gamble mengandung simbol rahasia pemuja setan. Frustrasi di tingkat akar rumput mengarah ke berbagai gosip ini dan terus mengobarkannya sehingga semakin berkembang." "Jadi, menurutmu sekte pemuja setan itu tidak ada?" "Aku tidak mengatakan itu. Memang ada beberapa, yang kita sebut sebagai kelompok pemuja Setan terkenal yang terorganisasi, seperti yang dipimpin Anton LaVey."

http://inzomnia.wapka.mobi

"The Church of Satan, di San Fransisco." "Ya. Tapi mereka kelompok yang sangat kecil. Kebanyakan 'Pemuja Setan'"dia mengangkat kedua jari telunjuknya, kemudian menekuknya, mengisyaratkan tanda kutip-"mungkin anak-anak kulit putih dari kelas menengah yang sedang bercanda memuja setan. Tentu saja, sesekali anakanak ini melewati batas, mencorat-coret gereja atau kuburan, atau menyiksa binatang, tapi seringnya mereka melakukan banyak ritual, kemudian melakukan napak tilas dongeng." "Napak tilas dongeng?" "Aku yakin istilah itu muncul dari para ahli sosiologi. Kunjungan ke berbagai tempat hantu, seperti kuburan atau rumah hantu. Mereka membuat api unggun, menceritakan kisah-kisah hantu, membacakan mantra, mungkin mencorat-coret. Itu saja. Kemudian, saat polisi menemukan grafi ti, batu nisan yang dibongkar, bekas api unggun, mungkin kucing yang sudah mati, mereka mengasumsikan anak-anak remaja setempat terlibat ke dalam sekte pemujaan setan. Media massa menyebarkan berita itu, kemudian para pendeta mengumandangkan tanda bahaya dan dongeng berikutnya pun terciptalah."

http://inzomnia.wapka.mobi

Dia, seperti biasanya, menguasai dirinya, tetapi lubang hidungnya melebar dan berkontraksi saat dia berbicara, menunjukkan ketegangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku tidak berkomentar apa-apa. "Menurutku ancaman para pemuja Setan sebenarnya dilebih-lebihkan. Sebuah mitos subversi lainnya, seperti yang mungkin dikatakan rekan-rekanmu." Tanpa peringatan sebelumnya nadanya meninggi dan menajam, menyebabkan aku meloncat kaget. "David! Apa kamu di situ?" Aku tidak mendengar apa-apa. "Ya, Bu." Terdengar gumaman. Seorang lelaki tinggi muncul di pintu, wajahnya ditutupi tudung jaketnya dan sebuah syal tebal di lehernya. Tubuh yang membungkuk itu sepertinya pernah kulihat sebelumnya. "Maafkan aku sebentar." Jeannotte bangkit dan menghilang di pintu. Aku hanya bisa mendengar percakapan mereka secara samar- samar, tetapi lelaki itu terdengar gelisah, suaranya naik turun seperti anak yang sedang merengek. Jeannotte sering kali harus memotongnya. Wanita itu berbicara pendek-pendek, nadanya

http://inzomnia.wapka.mobi

yang tenang sungguh berlawanan dengan nada lawan bicaranya yang melompat-lompat. Aku hanya bisa mendengar satu kata saja. "Tidak." Jeannotte mengulanginya beberapa kali. Kemudian hening. Beberapa saat kemudian, Jeannotte kembali, tetapi tidak duduk. "Dasar mahasiswa," ujarnya, tertawa sambil menggelengkan kepala. "Coba kutebak. Dia minta perpanjangan waktu lagi untuk menyelesaikan tugasnya." "Tidak ada yang pernah berubah." Dia melihat jam tangannya. "Jadi, Tempe, kuharap kunjunganmu ini berguna. Kamu akan menjaga buku harian itu? Semuanya sangat berharga." Aku dipersilakan pergi dengan halus. "Tentu saja. Akan kukembalikan paling lambat hari Senin." Aku bangkit, menyelipkan bahan yang diberikan Jeannotte ke dalam tasku, lalu mengambil jaket dan tasku. Dia tersenyum saat mengantarku keluar ruangannya. Di musim dingin, langit Montreal memamerkan gradasi warna abu-abu, mulai dari warna abuabu burung dara, besi, timah, dan seng. Saat aku

http://inzomnia.wapka.mobi

melangkah keluar dari Birks Hall, awan sepertinya telah berubah menjadi warna pewter yang muram. Kuselempangkan tas dan tas kerjaku di bahu, memasukkan tangan ke dalam saku, dan berjalan menuruni bukit menentang angin lembap. Belum sampai berjalan dua puluh langkah pun mataku sudah dipenuhi air mata, membuatku sulit melihat. Saat berjalan, bayangan Pulau Fripp melintas di benakku. Pohon palem Palmetto. Rerumputan pantai. Cahaya matahari bergulir di atas tanah berpasir. Hentikan, Brennan. Bulan Maret umumnya berangin dan dingin di kebanyakan tempat di planet ini. Berhentilah menggunakan Carolina sebagai dasar perbandingan cuaca di dunia ini. Bisa saja lebih buruk lagi. Bisa saja turun salju. Dan saat itu juga serpihan salju yang pertama menerpa pipiku. Saat membuka pintu mobil, aku mendongak dan tampak seorang lelaki muda tinggi sedang mengawasiku dari seberang jalanan. Aku mengenali jaket dan syalnya. Orang yang sedang membungkuk itu adalah David, yang tadi mengunjungi Jeannotte dan mengalami hal yang tak menyenangkan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tatapan kami beradu untuk beberapa saat dan amarah di matanya mengejutkanku. Lalu, tanpa berkata sepatah pun, mahasiswa itu berbalik dan bergegas menyusuri jalanan. Dengan ketakutan, aku masuk ke dalam mobil dan mengunci pintunya, bersyukur bahwa dia berurusan dengan Jeannotte dan bukan denganku. Saat mengemudikan mobil kembali ke lab, pikiranku melayang-layang ke tempat biasa, memikirkan hal yang baru terjadi dan mencernaskan berbagai tugas yang belum selesai. Ke mana Anna? Apakah kekhawatiran Sandy tentang sekte itu harus dianggap serius? Apakah Jeannotte benar? Apakah sekte pemuja setan hanya sekadar kelompok anak-anak muda? Mengapa aku tidak meminta Jeannotte untuk menjelaskan lebih jauh tentang pernyataannya bahwa Anna aman-aman saja? Percakapan kami demikian menariknya sampai-sampai membuatku lupa menanyakan Anna lebih jauh lagi. Apakah itu disengaja? Apakah Jeannotte dengan sengaja menyembunyikan sesuatu? Bila demikian, apa dan mengapa? Apakah profesor itu hanya melindungi mahasiswinya dari orang luar yang mencoba ikut campur? Apakah yang dimaksudkannya sebagai "situasi rumah yang tidak nyaman"? Mengapa sikap David sepertinya menyeramkan sekali?

http://inzomnia.wapka.mobi

Bagaimana aku bisa selesai meneliti ketiga buku besar ini pada hari Senin? Penerbanganku dijadwalkan pukul lima sore. Apakah aku bisa menyelesaikan laporan Nicolet hari ini, melakukan tugasku sehubungan dengan bayi-bayi itu besok, dan membaca buku besar ini di hari Minggu? Pantas saja aku tidak punya kehidupan sosial. Pada saat tiba di Jalan Parthenais, salju yang terus turun telah menempel di jalanan. Aku menemukan tempat parkir tepat di luar pintu, dan berdoa semoga mobil itu tidak terbenam dalam salju saat aku kembali nanti. Udara di lobi terasa panas dan bau wol basah. Kuhentakkan sepatuku, menambah cairan ke kubangan lelehan salju yang sudah menghiasi lantai, lalu menekan tombol lift. Pada perjalanan ke atas, aku berusaha membersihkan maskara yang meleleh dari kelopak mata bawah. Ada dua carik kertas pesan berwarna merah muda di mejaku. Suster Julienne menelepon. Tidak diragukan lagi bahwa dia pasti menanyakan Anna dan Elisabeth. Aku belum siap untuk menjawab kedua pertanyaan itu. Berikutnya. Ryan. Kutekan nomor teleponnya dan dia langsung menjawab. "Makan siangnya lama amat?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Kulirik jam tanganku. Jam satu lewat empat puluh lima. "Aku dibayar per jam. Ada apa?" "Kami akhirnya bisa melacak pemilik rumah di St-Jovite. Namanya Jacques Guillion. Dia berasal dari Quebec City, tapi pindah ke Belgia bertahuntahun yang lalu. Keberadaannya masih belum diketahui, tapi tetangganya yang orang Belgia mengatakan bahwa Guillion menyewakan rumahnya di St-Jovite kepada seorang wanita tua bernama Patrice Simonnet. Dia menduga penyewanya itu orang Belgia, tetapi tidak begitu yakin. Dia mengatakan bahwa Guillion juga menyediakan mobil bagi penyewanya tersebut. Kami sedang mengecek kebenaran informasi itu." "Tetangga yang tahu banyak." "Rupanya mereka cukup akrab." "Tubuh yang terbakar di ruang bawah tanah itu mungkin Simonnet." "Mungkin." "Kami berhasil membuat foto sinar-X giginya selama pemeriksaan. Sekarang ada di Bergeron." "Kami memberikan nama itu kepada RCMP. Mereka sedang menghubungi Interpol. Bila wanita tua itu orang Belgia, mereka bisa menyelidikinya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bagaimana dengan dua jenazah di kamar utama dan dua orang dewasa serta bayi itu?" "Kami masih menanganinya." Kami berdua berpikir sejenak. "Tempat yang cukup besar untuk seorang wanita tua." "Sepertinya dia tidak tinggal sendirian." Aku menghabiskan dua jam berikutnya di lab histologi, mencoba mengangkat jaringan terakhir dari tulang rusuk kedua bayi itu dan memeriksanya di bawah mikroskop. Seperti yang kukhawatirkan, tidak ada codetan yang unik atau pola tertentu di tulang. Tidak ada yang bisa kukatakan kecuali pembunuhnya telah menggunakan pisau yang sangat tajam dengan besi yang tidak bergerigi. Kabar buruk untuk polisi. Kabar bagus untukku. Laporanku akan singkat saja. Aku kembali ke kantorku saat Ryan meneleponku kembali. "Bagaimana kalau kita minum bir?" tanyanya. "Aku tidak menyimpan bir di kantorku, Ryan. Kalau aku menyimpannya, aku pasti sudah meminumnya." "Kamu 'kan tidak minum." "Lalu kenapa kamu mengajakku minum bir?" "Aku bertanya apakah kamu mau. Bisa saja hijau." "Apa?" "Kamu 'kan keturunan Irlandia, Brennan?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Kulirik kalender di dindingku. 17 Maret. Ulang tahun dari beberapa kinerjaku yang terbaik. Aku tidak mau mengingatnya. "Aku tidak bisa lagi, Ryan." "Ini adalah cara umum untuk mengatakan 'Istirahat dulu.'" "Memangnya kamu mengajakku kencan?" "Ya." "Denganmu?" "Bukan, dengan pendeta di gerejaku." "Wah. Apakah dia melanggar sumpahnya sendiri?" "Brennan, kamu bersedia makan denganku malam ini? Tanpa alkohol?" "Ryan, aku-" "Ini 'kan hari St. Paddy. Ini Jumat malam dan salju turun dengan amat lebat. Atau kamu punya tawaran yang lebih baik?" Tidak. Bahkan aku tidak punya tawaran apaapaTeta-pi, Ryan dan aku sering kali menyelidiki kasus yang sama dan aku selalu memiliki kebijakan untuk memisahkan dunia kerja dan di luar kerja. Selalu. Benar. Aku telah berpisah dari pasanganku dan tinggal sendiri selama kurang dari dua tahun belakangan ini. Dan selama dua tahun itu, aku hidup tanpa teman pria. "Kurasa itu bukan ide yang bagus." Hening sejenak. Kemudian,

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kami mendapatkan berita tentang Simonnet. Informasi mengenai dirinya berhasil ditemukan Interpol. Dilahirkan di Brussel, tinggal di sana sampai dua tahun yang lalu. Masih suka membayar pajak atas rumahnya di pedesaan. Wanita tua yang setia, menemui dokter gigi yang sama sepanjang hidupnya. Dokter gigi itu telah ber-praktik sejak Zaman Batu, menyimpan semua data pasiennya. Dia sekarang sedang mengirimkan arsip lewat faks. Kalau cocok, kita akan mendapatkan data aslinya." "Kapan nenek itu dilahirkan?" Aku mendengar kertas dibalik. "Sembilan belas delapan belas." "Kalau begitu cocok. Keluarga?" "Masih sedang diperiksa." "Kenapa dia meninggalkan Belgia?" "Mungkin karena dia menginginkan perubahan suasana. Begini, champ, kalau kamu memutuskan untuk ikut, aku akan berada di Hurley setelah jam sembilan. Kalau antreannya panjang, sebut saja namaku." Aku duduk sejenak, memikirkan mengapa aku menolaknya. Pete dan aku telah membuat kesepakatan. Kami saling mencintai, tetapi tidak bisa hidup bersama-sama lagi. Setelah berpisah, kami justru bisa berteman kembali.

http://inzomnia.wapka.mobi

Hubungan kami tidak pernah sebaik ini selama beberapa tahun terakhir. Pete sudah punya teman kencan, dan aku bebas untuk melakukan hal yang sama. Ya ampun! Berkencan. Kata itu mengingatkan aku pada jerawat dan kawat gigi. Sejujurnya, aku menilai Andrew Ryan sangat menarik. Tidak punya jerawat ataupun masalah dengan gigi. Sebuah kelebihan. Dan boleh dikatakan kami tidak bekerja bersama-sama. Tetapi, aku juga menilai dirinya sangat mengesalkan. Dan tidak dapat ditebak. Tidak. Ryan bisa mendatangkan masalah. Kuselesaikan laporanku tentang Malachy dan Mathias saat telepon berdering kembali. Aku tersenyum. Oke, Ryan. Kamu menang. Satpam memberitahukan bahwa aku kedatangan tamu di lobi bawah. Kulirik jam tangan. Pukul empat lewat dua puluh menit. Siapa yang datang sedemikian sorenya? Rasanya aku tidak membuat janji dengan siapa pun. Kutanyakan nama tamu itu. Saat satpam mengatakannya, jantungku seakan berhenti berdetak. "Ya ampun!" Ujarku tanpa tertahankan lagi. "Est-ce qu'il y a un probleme?" "Non. Pas de probleme." Kukatakan bahwa aku akan segera turun.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tidak masalah? Apa aku bercanda? Aku mengulangi kata-kata itu lagi di lift. Ya ampun! 10. "Sedang apa kamu di sini?" "Lho, mestinya kamu pura-pura senang bertemu denganku dong, kakakku sayang." "Aku-tentu saja, aku senang bertemu denganmu, Harry. Aku hanya terkejut." Aku sama kagetnya bila satpam itu menyebutkan Teddy Roosevelt yang datang berkunjung. Dia menyindir. "Kedengarannya tulus sekali." Adik perempuanku itu duduk di lobi gedung SQ dikelilingi tas belanjaan dari Neiman Marcus dan ransel kanvas berbagai bentuk dan ukuran. Dia memakai sepatu koboi berwarna merah berukirkan cincin dan jumbai hias berwarna hitam dan putih, serta memakai jaket kulit berjum-bai dengan warna senada. Saat dia berdiri, kulihat celana jinsnya sedemikian ketatnya sehingga bisa menghentikan peredaran darah. Kami semua melihatnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Harry memelukku, menyadari sepenuhnya celana ketatnya yang seronok itu, tetapi memilih untuk tidak mengacuhkan efeknya pada orang lain. Khususnya orang lain yang berkromosom Y, atau dengan kata lain, kaum lelaki. "Wow, dingin sekali di luar sana! Aku benarbenar kedinginan sehingga tequila pasti beku kalau kupegang." Dia membungkukkan bahu dan memeluk tulang rusuknya sendiri. "Ya." Aku tidak menangkap analoginya. "Penerbanganku seharusnya tiba tengah hari, tapi salju sialan itu menghambat kami. Yah, setidaknya aku sudah di sini, Kak." Dia menurunkan bahunya dan merentangkan tangannya yang menyebabkan jaket berjumbainya itu melambai-lambai. Pakaian Harry terlihat sangat tidak cocok untuk cuaca di sini sehingga terlihat aneh sekali. Seperti seekor trenggiling yang tinggal di gurun es. "OK. Bagus. Sungguh mengejutkan. Yah. Aku-apa yang membuatmu datang ke Montreal?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku baru saja hendak menceritakannya. Sungguh luar biasa. Ketika mendengar berita itu, aku tidak bisa memercayai telingaku. Maksudku, di sini, di Montreal." "Berita apa, Harry?" "Seminar yang kuikuti. Aku sudah menceritakannya kepadamu, Tempe, ketika aku meneleponmu minggu kemarin. Aku berhasil mengikutinya. Aku mendaftar untuk ikut kursus itu di Houston dan sekarang aku sedang mendalaminya. Aku belum pernah bersemangat seperti ini. Aku melewati tingkat pertama dengan mudah. Maksudku, benar-benar gampang. Ada orang yang perlu waktu bertahun-tahun untuk menyadari keadaannya sendiri dan aku melewati masa itu dalam waktu beberapa minggu saja. Maksudku, aku mempelajari beberapa strategi terapi yang hebat, dan sekarang aku mengendalikan hidupku sendiri. Jadi, saat mereka mengundangku untuk mengikuti seminar tingkat dua ini, dan tepat di sini di tempat tinggal kakakku, yah, aku langsung berkemas dan mengarahkan hidungku ke utara." Harry menatapku dengan bangga dengan mata birunya yang cerah yang sekarang dikelilingi mascara yang cukup tebal.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kamu di sini untuk menghadiri lokakarya?" "Tepat sekali. Semuanya gratis. Ya, hamper semuanya." "Aku ingin mendengar semua penjelasannya," ujarku, berharap bahwa kursus ini hanya berlangsung sebentar. Aku ragu apakah Provinsi Quebec dan Harry bisa hidup berdampingan. "Seminar ini keren sekali," ujarnya, mengulangi penilaian awalnya, tetapi tidak menambahkan informasi baru. "Ayo kita ke atas dan aku akan beres-beres. Atau kamu mau menunggu di sini saja?" "Enak saja. Aku ingin melihat kamar kerja dokter jenazah yang hebat ini. Ayo, ke mana jalannya?." "Kamu harus menyerahkan Kartu Pengenal yang ada fotonya untuk mendapatkan kartu tamu," ujarku, mengangguk kepada satpam di meja keamanan. Dia sedang mengamati kami, dengan senyuman tersungging di wajahnya dan berbicara sebelum kami berdua sempat berkata apa-apa. "Votre soeur?" dia berseru dari seberang lobi, bertukar pandang dengan satpam lainnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku mengangguk. Sekarang sudah jelas semua orang tahu bahwa Harry adalah adikku dan menganggap hal itu sangat menggelikan. Satpam itu melambaikan tangan ke arah lift. "Merci," gumamku, dan meliriknya dengan pandangan tak berdaya. "Mercy," ujar Harry memperpanjang setiap suku kata, melayangkan senyuman yang memesona kepada kedua satpam itu. Kami membawa semua barangnya dan naik ke lantai lima, dan kuletakkan semuanya di lorong di luar kantorku. Tidak mungkin semua barang itu masuk ke dalam kantorku. Jumlah barangnya meningkatkan kekhawatiranku tentang berapa lama dia akan tinggal di sini. "Gile bener, kantor ini kacau sekali, seperti baru diterjang badai." Walaupun tubuhnya berukuran seratus tujuh puluh tiga cm dan kurus seperti seorang model, sosok Harry sepertinya memenuhi ruangan yang sempit itu. "Memang agak berantakan sekarang. Biar kumatikan dulu komputernya dan mengumpulkan beberapa barang. Lalu kita akan segera keluar lagi." "Tenang saja, aku tidak terburu-buru kok. Aku akan mengobrol dengan teman-temanmu, ya." Dia menatap beberapa tengkorak yang dipajang, wajahnya dimiringkan sehingga ujung rambutnya menyentuh jumbai

http://inzomnia.wapka.mobi

terbawah jaketnya. Rambutnya terlihat lebih pirang dari yang kuingat sebelumnya. "Apa kabar," ujarnya kepada tengkorak pertama, "kamu memutuskan untuk berhenti saat kamu tinggal kepala, ya?" Aku tidak bisa menahan senyumanku. Lawan bicaranya tidak menyambut ucapannya. Saat Harry terus bercakap-cakap, kumatikan komputer dan kukumpulkan buku besar serta buku lainnya yang kuperoleh dari Daisy Jeannotte. Aku berencana untuk kembali pagi-pagi sekali sehingga tidak mengemas laporanku yang belum selesai kukerjakan. "Nah, apa yang baru denganmu?" tanya Harry kepada tengkorak keempat. "Tidak mau bicara? Oh, kamu seksi sekali kalau cemberut seperti ini." "Dia selalu cemberut." Andrew Ryan berdiri di ambang pintu. Harry berbalik dan menatap detektif itu dari atas sampai bawah. Lambatlambat. Kemudian, dua pasang mata yang biru itu saling menatap. "Siapa ini?" Senyuman adikku untuk para satpam di lantai bawah tadi tidak ada apaapanya dibandingkan dengan senyuman yang dipamerkannya kepada Ryan saat ini. Pada saat itu juga aku tahu bahwa malapetaka sudah pasti akan terjadi.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kami baru saja akan pergi," ujarku sambil mengencangkan risleting tas komputerku. "Nah?" "Nah apa, Ryan?" "Teman dari luar kota?" "Seorang detektif yang pintar pasti menyadari hal yang sudah jelas di depan matanya." "Harriet Lamour," ujar adikku, sambil mengulurkan tangannya. "Aku adik Tempe." Seperti biasa, dia menekankan urutan kelahirannya. "Sudah kuduga kamu bukan orang sini," ujar Ryan. Kebekuan langsung mencair saat mereka berjabatan tangan. "Lamour?" tanyaku sedikit tercengang. "Houston. Itu di Texas. pernah ke sana?" "Lamour?" ulangku. "Apa yang terjadi dengan Crone?" "Sekali atau dua kali. Wilayah yang sangat cantik." Ryan masih mencoba meniru gaya Brett Maverick (bintang film A.S. tahun 1950-an). "Atau Dawood?" Kata itu menarik perhatian adikku. "Kenapa juga aku akan kembali menggunakan nama idiot itu? Apa kamu masih ingat pada Esteban? Satu-satunya orang yang dipecat karena begitu

http://inzomnia.wapka.mobi

bodohnya sampai-sampai tidak becus merapikan rak barang di toko 7Eleven?" Estban Dawood adalah suaminya yang ketiga. Aku sudah tidak ingat wajah lelaki itu. "Kau dan Striker sudah bercerai?" "Belum. Tapi, aku sudah mencampakkan lelaki malang itu dan membuang namanya. Crone? Apa yang kupikirkan dulu itu? Siapa yang mau memilih nama seperti Crone? Nama macam apa yang akan kita turunkan kepada anak-cucu kita? Nyonya Crone? Sepupu Crone? Kakek buyut Crone?" Ryan melontarkan celetukan. "Tidak jelek juga kalau kamu seorang Crone penyendiri {lone Crone)." Harry tertawa geli. "Ya, tapi aku tidak pernah mau jadi Crone tua (old Crone)." "Sudah cukup. Kita pergi sekarang juga," ujarku sambil meraih jaket. "Kata Bergeron hasilnya positif," ujar Ryan. Aku berhenti dan menatapnya. Wajahnya sekarang berubah serius. "Simonnet?" Dia mengangguk. "Ada kabar tentang para korban di lantai atas?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bergeron menduga mereka mungkin orang Eropa juga. Atau paling tidak mereka dilahirkan dan dibesarkan di sana. Ada sesuatu yang khas tentang perawatan gigi mereka. Kami meminta bantuan Interpol melakukan pencarian di Belgia berdasarkan konfi rmasi mengenai Simonnet itu, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa. Wanita tua itu tidak punya kerabat, sehingga kita menemui jalan buntu. RCMP juga tidak mendapatkan hasil di Kanada. Begitu juga dengan NCIC. Juga tidak ada yang cocok di Amerika." "Cukup sulit mendapatkan Rohypnol di sini dan kedua orang itu penuh dengan obat itu. Kontak kita di Eropa mungkin bisa menjelaskan hal itu." "Mungkin." "LaManche mengatakan korban di bangunan luar tidak mengandung narkoba atau alkohol. Kondisi Simonnet terlalu hangus sehingga tidak mungkin dilakukan pengujian." Ryan tahu ini. Aku hanya mengucapkan apa yang kupikirkan. "Ya ampun, Ryan, sudah seminggu lamanya dan kita masih belum berhasil mengetahui identitas orangorang itu." "Yip." Dia tersenyum pada Harry, yang mendengarkan dengan cermat. Tingkah laku mereka yang saling menggoda mulai membuatku kesal.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kamu belum menemukan jejak lainnya di dalam rumah?" "Kamu mungkin pernah mendengar tentang keributan kecil di West Island pada hari Selasa yang lalu? Rock Machine menghajar habis dua anggota Hells Angels. Kelompok Angels membalas dendam dan menyebabkan kematian satu orang anggota Machine dan tiga lainnya ter-luka parah. Jadi, aku juga sedang disibukkan oleh kasus itu." "Patrice Simonnet ditembak di kepalanya." "Anak-anak geng motor itu juga menculik anak berusia dua belas tahun yang kebetulan sedang menuju ke tempat latihan hoki." "Ya ampun. Begini Ryan, aku tidak menuduhmu bermalas-malasan, tapi pasti ada orang yang kehilangan para korban tersebut. Kita membicarakan satu keluarga lengkap lho. Ditambah dua orang lainnya. Pasti ada sesuatu di dalam rumah itu yang bisa dijadikan petunjuk." "Bagian penyelidikan membawa empat puluh tujuh karton sisa-sisa kebakaran dari rumah itu. Kami sedang memilah-milahnya, tapi sejauh ini tidak menemukan apa pun. Tidak ada surat. Tidak ada cek. Tidak ada foto. Tidak ada daftar belanjaan. Tidak ada buku alamat. Semua tagihan listrik dan telepon dibayar oleh Simonnet. Oli mesin pemanas dikirimkan sekali

http://inzomnia.wapka.mobi

setahun, dan dia membayar di muka. Kita tidak bisa menemukan siapa pun yang pernah menginjakkan kakinya di tempat itu sejak disewa oleh Simonnet." "Bagaimana dengan pajak bumi dan bangunan?" "Guillion. Dibayar melalui cek yang diuangkan dari Citicorp di New York." "Ada senjata yang bisa ditemukan?" tanyaku. "Tidak ada." "Jadi, kemungkinan bunuh diri bisa disingkirkan." "Ya. Dan sepertinya tidak mungkin kalau sang Nenek yang menghabisi seluruh anggota keluarga." "Kamu sudah menyelidiki sejarah alamat rumah itu?" "Negatif. Polisi tidak pernah dipanggil ke rumah itu." "Ada catatan teleponnya?" "Sedang dikirimkan." "Bagaimana dengan mobil? Apakah ada yang terdaftar?" "Keduanya terdaftar atas nama Guillion. Dengan alamat di St-Jovite. Dia juga membayar asuransinya dengan cek." "Apakah Simonette punya SIM?" "Ya, SIM Belgia. Semuanya bersih." "Kartu asuransi kesehatan?" "Tidak ada." "Ada lagi yang lainnya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak ada informasi baru." "Siapa yang mengurus mobil ke bengkel?" "Sepertinya Simonnet yang membawanya ke bengkel di kota. Deskripsinya cocok. Dia membayar tunai." "Dan rumah itu? Wanita setua dia pasti tidak mampu memperbaiki kalau ada kerusakan." "Jelas ada orang lain yang tinggal di situ. Kata tetangga, pasangan suamiistri dengan kedua bayi itu sudah beberapa bulan tinggal di rumah itu. Mereka pernah melihat mobil lainnya diparkir, kadang-kadang dalam jumlah besar." "Mungkin wanita itu menampung orang yang menyewa kamar di situ?" Kami berdua menoleh kepada Harry. "Kalian mengerti maksudku 'kan. Mungkin dia menyewakan kamar di rumah itu." Aku dan Ryan membiarkan dia terus berbicara. "Kalian bisa memeriksa iklan di surat kabar. Atau buletin gereja." "Dia sepertinya bukan orang yang suka menghadiri kegiatan gereja." "Mungkin dia mengedarkan narkoba. Dengan orang bernama Guillion ini. Itulah sebabnya dia dibunuh. Itulah sebabnya tidak ada catatan tentang

http://inzomnia.wapka.mobi

dirinya." Matanya membesar dengan penuh semangat. Dia benar-benar menghayati khayalannya itu. "Mungkin dia sedang bersembunyi di rumah itu." "Siapa Guillion ini?" tanyaku. "Tidak ada catatan polisi tentang dirinya di sini. Polisi Belgia sedang memeriksanya. Orang itu benarbenar penyendiri, sehingga orang lain tidak tahu banyak tentang dirinya." "Seperti wanita tua itu." Aku dan Ryan menatapnya kembali. Kesimpulan yang bagus, Harry. Terdengar telepon berdering, menandakan sambungan telepon telah dialihkan ke layanan malam hari. Ryan melirik jam tangannya. "Yah, kuharap aku akan bertemu lagi dengan kalian malam ini." Si Maverick muncul kembali. "Mungkin tidak. Aku harus menyelesaikan laporan Nicolet ini." Harry membuka mulutnya, tetapi saat melihat tatapan mataku, ia menutup mulutnya kembali. "Tapi, terima kasih, Ryan." "Enchante," ujarnya kepada Harry, kemudian membalikkan tubuh dan berjalan menuju ke lorong. "Koboi yang ganteng sekali."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jangan mengejar dia, Harry. Buku catatannya berisi nama cewek lebih banyak dari dari buku putih Omaha." "Hanya naksir saja, Sayang. Boleh 'kan." Walaupun waktu baru menunjukkan pukul lima sore, kami berjalan menembus gelapnya senja. Lampu mobil dan lampu jalanan tampak terang di tengah hujan salju. Kubuka kunci dan kuhidupkan mesin mobil, kemudian menghabiskan waktu beberapa menit untuk membersihkan jendela dan kipas kaca depan saat Harry memilih saluran radio. Ketika aku masuk ke mobil, saluran Vermont Public Radio yang biasa kupasang sudah diganti dengan saluran radio musik rock setempat. "Keren sekali." Harry memuji lagu Mitsou. "Dia orang Quebec," ujarku sambil menggerakkan gigi mundur agar Mazda itu bisa melepaskan diri dari cengkeraman salju yang mulai membeku. "Sudah terkenal selama beberapa tahun di sini." "Maksudku, rock and roll dalam bahasa Prancis. Keren banget." "Yah." Ban depan sudah menyentuh trotoar dan kuikuti arus lalu lintas di hadapanku. Harry mendengarkan liriknya saat kami melaju ke arah barat menuju Centre-Ville.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apa dia sedang menyanyikan lagu tentang koboi? Mon koboi?" "Ya," jawabku, membelok ke arah Viger. "Kurasa penyanyi cewek ini menyukai laki-laki itu." Alunan Mitsou menghilang saat kami menembus masuk terowongan VilleMarie. Sepuluh menit kemudian, kubuka pintu ke apartemenku. Kutunjukkan kamar tidur tamu kepada Harry dan pergi ke dapur untuk memeriksa persediaan makanan. Karena aku sudah berencana untuk ke Atwater Market di akhir pekan besok, persediaan makanan sudah menipis. Harry menghampiriku saat aku sedang mencari-cari di dalam lemari kecil yang kusebut sebagai lemari makanan. "Aku mau mentraktirmu makan malam, Tempe." "Oh ya?" "Sebenarnya, Inner Life Empowerment yang mentraktirmu makan malam. Aku 'kan sudah bilang tadi. Mereka membayar semua biayaku. Ya, paling tidak sampai dua puluh dolar untuk makan malam. Kartu Diners Club Howie yang akan membayar sisanya." Howie adalah suami keduanya, dan mungkin yang membayar semua barang yang ada di dalam kantong Nei-man Marcus miliknya. "Kenapa Inner Life apaan tuh mau membayar biaya perjalanan ini?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Karena aku cukup sukses. Sebenarnya, ada sebuah perjanjian khusus." Dia mengedipkan matanya secara berlebihan, membuka mulutnya dan mengernyitkan sisi kanan wajahnya. "Mereka tidak biasanya membayar biaya perjalanan peserta, tapi mereka benar-benar ingin aku mengikuti kursus ini." "Ya, kalau kamu yakin. Kamu mau makan apa?" "Jalan yuk." "Maksudku, makanan." "Apa saja, asal bukan barbeque." Aku berpikir sejenak. "Makanan India?" "Shawnee atau Paiute?" Harry bersiul. Dia selalu menyukai leluconnya sendiri. "The Etoile des Indes hanya beberapa blok jaraknya dari sini. Khorma mereka enak sekali." "Asyiiik, Rasanya aku belum pernah makan makanan India. Dan jelas aku belum pernah makan makanan India Prancis. Lagi pula, kurasa kita tidak bisa makan karma." Aku hanya bisa menggelengkan kepala.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Penampilanku payah sekali," ujar Harry, sambil memeriksa beberapa kepang rambut panjangnya. "Akan kuperbaiki dulu di sana-sini." Aku masuk ke dalam kamar tidurku, mengganti pakaian dengan mengenakan celana jins, kemudian mengeluarkan pulpen dan kertas, dan menyandarkan diriku di atas bantal di tempat tidur. Kubuka buku besar pertama dan melihat tanggal pertama: 1 Januari 1844. Kuraih salah satu buku perpustakaan, membuka bagian tentang Elisabeth Nicolet dan memeriksa tanggal kelahirannya. 18 Januari 1846. Pamannya menuliskan catatan ini dua tahun sebelum dia dilahirkan. Walaupun Louis-Philippe Belanger menulis dengan tulisan tangan yang mantap, waktu telah membuat lapuk tulisannya. Tintanya sudah berubah menjadi warna cokelat muda, dan di beberapa tempat kata-katanya sudah terlalu kabur sehingga sulit dibaca. Selain itu, bahasa Prancisnya antik dan sarat dengan berbagai istilah yang tidak bisa kupahami. Setelah tiga puluh menit berlalu, kepalaku mulai berdenyutdenyut, namun aku telah mencatat beberapa informasi. Aku berbaring dan memejamkan mata. Masih bisa kudengar air mengucur di kamar mandi. Aku lelah, kecil hati, dan pesimistis. Aku tidak akan

http://inzomnia.wapka.mobi

mungkin bisa membaca semua ini dalam waktu dua hari. Lebih baik menghabiskan waktu beberapa jam di mesin fotokopi, kemudian membaca buku besar ini saat sedang santai. Jeannotte tidak secara jelas mengatakan jangan memfotokopi bahan ini. Dan mungkin bahkan lebih aman untuk buku aslinya, pikirku. Dan aku tidak harus segera menemukan jawabannya. Lagi pula, laporanku tidak membutuhkan penjelasan. Aku hanya tinggal melaporkan apa yang kulihat pada tulang-belulang itu. Aku akan melaporkan berbagai temuanku dan membiarkan para biarawati itu mendatangiku dengan menyampaikan berbagai teori. Atau pertanyaan. Mungkin mereka tidak akan memahaminya. Mungkin mereka tidak akan memercayaiku. Mungkin mereka tidak akan menyukai berita itu. Atau akan menyukainya? Apakah hal itu akan memengaruhi permohonan mereka ke Vatikan? Aku tidak bisa membantu dalam hal itu. Aku yakin bahwa aku memang benar tentang Elisabeth. Hanya saja aku tidak bisa membayangkan apa artinya. 11.

http://inzomnia.wapka.mobi

Dua jam kemudian, Harry mengguncang tubuhku sampai aku terbangun. Dia sudah selesai mandi, mengeringkan rambutnya, dan hal lainnya yang perlu dilakukannya untuk memperbaiki tata rambutnya. Kami memakai baju hangat dan berjalan keluar, berusaha menembus tiupan angin dingin saat berjalan menuju Ste-Catherine. Hujan salju sudah berhenti, namun lapisan salju menutupi semuanya, agak meredam hirukpikuk kota. Sejumlah rambu, pepohonan, kotak pos, dan mobil yang diparkir ditutupi selimut berwarna putih. Restoran itu tidak penuh dan kami segera mendapatkan tempat duduk. Saat kami sudah memesan, aku menanyainya tentang lokakarya itu. "Luar biasa. Aku belajar berbagai cara baru tentang berpikir dan menjalani hidup ini. Bukan sejenis omong-kosong mistis dari Timur. Dan aku tidak berbicara tentang ramuan obat sakti atau bola Kristal atau ramalan bintang yang konyol dan semacamnya. Maksudku aku belajar cara mengendalikan ke hidupanku." "Bagaimana?" "Bagaimana?" "Bagaimana." "Aku belajar tentang jati diri, aku sedang menjalani penguatan diri melalui kebangkitan spiritual. Aku memperoleh ketenangan batin melalui kesehatan dan cara pe-

http://inzomnia.wapka.mobi

nyembuhan holistik." "Kebangkitan spiritual?" "Jangan salah paham, Tempe. Ini bukanlah kelahiran kembali seperti yang dikhotbahkan para pastor evangelist bodoh itu. Tidak ada ajaran mengenai penyesalan atau melantunkan nyanyian pujaan yang berisik itu kepada Tuhan, atau orang suci yang bisa berjalan menembus api dan sebagainya." "Bedanya di mana?" "Bahwa semua itu berhubungan dengan penistaan, dan rasa bersalah, dan mengakui diri kita sebagai seorang pendosa, dan mengubah diri kita untuk menerima kehadiran Tuhan. Dia akan mengurus kita. Aku tidak pernah memercayai omong-kosong para biarawati dan hidup selama tiga puluh delapan tahun lamanya tidak pernah mengubah pola pikirku." Aku dan Harry menghabiskan masa kanak-kanak kami di sekolah Katolik. "Ini tentang bagaimana aku mengurus diriku sendiri." Dia menunjuk dadanya dengan jarinya yang sudah dimanikur itu. "Bagaimana?" "Tempe, apa kamu sedang mengejekku?" "Tidak. Aku ingin tahu bagaimana kamu melakukannya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ini adalah masalah menafsirkan pikiran dan tubuh kita sendiri, kemudian menyucikan diri sendiri." "Harry, kamu hanya menyebut-nyebut jargon saja dari tadi. Bagaimana caramu melakukan hal itu?" "Yah, makan dengan benar dan bernapas dengan benar dan-apa kamu sadar bahwa aku tidak minum bir? Itu bagian dari pembersihan diri juga." "Kamu membayar mahal untuk menghadiri seminar itu?" "Lho, 'kan sudah kukatakan. Semuanya gratis dan mereka memberiku tiket pesawat untuk terbang ke sini." "Bagaimana dengan yang di Houston?" "Yah, tentu saja aku membayar biaya kursus di situ. Mereka harus membebankan biaya 'kan. Mereka orang-orang terpandang." Saat itu makanan kami tiba. Aku memesan khorma-domba. Harry memesan nasi dan kari sayuran. "Kamu lihat 'kan?" Dia menunjuk makanannya. "Tidak ada lagi bangkai untuk makananku. Aku mulai semakin bersih." "Di mana kamu menemukan kursus ini?" "Di North Harris County Community College." Kedengarannya oke. "Kapan kamu mulai acara yang di sini?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Besok. Seminar itu berlangsung selama lima hari. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu, bene-ran deh. Aku akan pulang setiap malam dan menceritakan kepadamu apa yang kami lakukan. Boleh 'kan aku tinggal di apartemenmu?" "Tentu saja boleh. Aku benar-benar senang bertemu denganmu, Harry. Dan, aku penasaran sekali dengan apa yang kamu jalani. Tapi, aku akan pulang ke Charlotte hari Senin." Kurogoh bagian belakang tasku untuk mencari kunci cadangan yang kusimpan di situ dan menyerahkannya kepada adikku. "Kamu tinggal saja selama yang kamu perlukan." "Jangan ada pesta gila-gilaan ya," ujarnya, sambil mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengacungkan telunjuknya di hadapanku. "Aku akan menyuruh seorang wanita untuk menjaga rumah." "Ya, Bu," jawabku. Pengawas rumah fi ktif itu mungkin lelucon yang paling tua dalam keluarga kami. Dia memberiku senyuman khas Harry yang paling cemerlang dan memasukkan kunci ke dalam kantong celana jinsnya. "Terima kasih. Sekarang, cukup sudah cerita tentang diriku. Aku mau cerita tentang apa yang dilakukan Kit sekarang."

http://inzomnia.wapka.mobi

Selama setengah jam berikutnya kami membicarakan tingkah laku keponakanku yang terbaru. Christopher "Kit" Howard adalah hasil pernikahannya yang kedua. Anak lelaki itu baru berusia delapan belas tahun dan mewarisi sejumlah uang yang cukup besar dari ayahnya. Kit membeli dan merenovasi kapal layar berukuran enam belas meter. Harry tidak tahu mengapa dia melakukan hal itu. "Coba ceritakan sekali lagi, bagaimana Howie mendapatkan namanya?" Aku sudah tahu cerita itu, tetapi senang mendengarnya menceritakannya kembali. "Ibu Howie pergi begitu saja setelah dia dilahirkan, dan ayahnya sudah pergi jauh hari sebelumnya. Wanita itu meninggalkan Howie di undakan kaki di panti asuhan di Basic, Texas, dengan meninggalkan catatan yang disematkan di selimutnya. Katanya, dia akan segera kembali dan nama bayi itu Howard. Orang-orang di panti asuhan itu tidak tahu apakah Ibu itu bermaksud memberitahukan bahwa Howard itu nama depannya atau nama belakangnya, jadi mereka tidak mau mengambil risiko. Mereka membaptisnya dengan nama Howard Howard." "Apa kegiatan Howie sekarang?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Masih terus bersenang-senang dan mengejar setiap cewek di West Texas. Tapi, dia sangat dermawan kepadaku dan Kit." Saat kami sudah selesai makan, pelayan mengangkat piring dan aku memesan kopi. Harry tidak minum kopi karena stimulannya bertentangan dengan proses pembersihan yang tengah dijalaninya. Kami duduk dalam keheningan untuk beberapa saat lamanya, kemudian, "Jadi, si koboi tadi ingin bertemu denganmu di mana?" Aku berhenti mengaduk kopi dan pikiranku mencari- cari hubungan antara pertanyaan itu dengan percakapan kami sebelumnya. Koboi? "Polisi yang bokongnya seksi itu lho." "Ryan. Dia ke tempat bernama Hurley's. Hari ini hari St. Pat-" "Wah, iya, ya." Wajahnya langsung serius. "Menurut ku, kita bertanggung jawab kepada leluhur kita untuk bergabung dengan orang-orang yang menghormati seorang santo yang benar-benar hebat, dengan cara sekecil apa pun." "Harry, aku-" "Tempe, kalau bukan karena St. Pat, ular-ular itu sudah memakan leluhur kita dan kita tidak akan pernah ada di sini."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku bukan mengatakan-" "Dan sekarang, pada saat orang-orang Irlandia dalam keadaan yang kacau-" "Bukan itu masalahnya dan kamu juga tahu itu." "Seberapa jauh Hurley's dari sini?" "Beberapa blok." "Gampang." Dia menengadahkan tangannya. "Kita ke sana, mendengarkan beberapa lagu, lalu pulang. Kita bukan mau menghadiri opera semalam suntuk." "Aku sudah pernah mendengar alasan itu." "Tidak. Aku berjanji. Begitu kamu mau pulang, kita cabut dari sana. Hei, aku juga harus bangun pagi-pagi sekali lho.' Argumen itu tidak membuatku terkesan. Harry termasuk orang yang bisa tidak tidur selama berharihari. "Tempe. Kamu harus berusaha untuk bersosialisasi dong." Nah, argumentasi itu berhasil. "Oke. Tapi-" "Asyik! Asyik! Semoga para santo melindungi kita semua, wahai pendosa." Saat dia melambaikan tangan meminta bon, aku sudah merasa perutku melilit. Ada saatnya aku mencintai pub Irlandia. Pub jenis apa pun. Aku

http://inzomnia.wapka.mobi

tidak mau membuka kembali lembaran lama itu dan tidak berniat untuk membuka lembaran baru. Santai saja, Brennan. Apa sih yang kamu takutkan? Kamu sudah pernah ke Hurley's 'kan dan kamu bukan mau menenggelamkan dirimu dalam lautan bir. Memang benar. Jadi, mengapa harus begitu khawatir? Harry bercakap-cakap dengan riangnya saat kami berjalan menyusuri SteCatherine menuju Crescent. Pada pukul setengah sepuluh malam, trotoar sudah disesaki banyak orang, orang yang berpasangan dan pejalan kaki bercampur dengan orang yang berbelanja dan orang yang hanya ingin jalan-jalan saja. Semua memakai jaket tebal dengan topi dan syal tebal. Semua terlihat gemuk dan tambun, seperti semak-semak yang dibungkus dan dipak untuk musim dingin. Bagian Crescent di atas Ste-Catherine dinamai Anglo "Street of Dreams", yang di kedua sisinya tampak berbagai macam bar dan restoran bergaya masa kini. The Hard Rock Cafe. Thursdays. Sir Winston Churchill's. Di musim panas, balkon dipenuhi penonton yang menghirup minuman dan menonton tarian romantis di bawahnya. Di musim dingin, semua keasyikan pindah ke dalam.

http://inzomnia.wapka.mobi

Crescent di bawah Ste-Catherine jarang dipenuhi orang, kecuali para pelanggan tetap Hurley's. Tapi, hal itu tidak berlaku pada hari St. Patrick's. Saat kami tiba di situ, antrean dari pintu masuk sudah memanjang sampai trotoar dan ke sudut bangunan. "Ya ampun, Harry. Aku tidak mau mengantre dengan bokong membeku." Aku tidak mau mengungkit- ungkit tawaran Ryan. "Kamu tidak punya kenalan orang dalam?" "Aku bukan pelanggan tetap." Kami ikut mengantre dan berdiri tanpa berkata apa-apa, menggerakgerakkan kaki agar tetap hangat. Pergerakan antrean itu mengingatkanku pada para biarawati di Lac Memphremagog, yang membuatku teringat pada laporan Nicolet yang belum selesai. Dan buku besar di meja samping tempat tidur. Dan, laporan jenazah kedua bayi itu. Dan, beberapa mata kuliah yang harus kuajarkan di Charlotte minggu depan. Dan, makalah yang kurencanakan untuk diajukan dalam pertemuan Antropologi Fisik. Aku merasakan wajahku mulai kebas karena dinginnya cuaca. Bagaimana aku bisa membiarkan Harry membujukku terlibat dalam hal-hal seperti ini?

http://inzomnia.wapka.mobi

Ada sekelompok orang yang keluar dari pub pada pukul 10 malam. Sekitar lima belas menit kemudian, kami maju sekitar setengah meter dari tempat kami sebelumnya. "Aku merasa seperti makanan penutup beku di dalam lemari es," ujar Harry. "Apa betul kamu tidak punya kenalan orang dalam?" "Ryan memang bilang bahwa aku bisa menggunakan namanya kalau antreannya panjang." Prinsip egalitarianku benar-benar diuji oleh hipotermia yang nyaris tak tertahankan ini. "Kakak tersayang, kenapa gak bilang dari tadi?" Harry sama sekali tidak ragu untuk mengeksploitasi keuntungan apa pun yang tersedia. Dia melangkah menyusuri trotoar dan menghilang di kepala antrean. Sejenak kemudian, aku melihatnya di sisi pintu masuk, ditemani seseorang bertubuh besar yang anggota Irish National Football Club. Mereka berdua melambaikan tangan kepadaku. Sambil menghindari kontak mata dengan orang-orang yang sedang mengantre, aku bergegas menaiki undakan dan menyelinap ke dalam. Kuikuti Harry dan penjaga melalui labirin ruangan demi ruangan di dalam Hurley's Irish Pub. Setiap kursi, langkan, meja, kursi bar, dan setiap petak

http://inzomnia.wapka.mobi

lantai dipenuhi orang berkostum hijau. Berbagai tanda dan cermin mengiklankan Bass, Guinness, dan Kilkenny Cream Ale. Bau bir menyeruak di dalam ruangan itu dan asapnya sangat pekat. Kami berjalan merambat di sepanjang dinding batu, di antara meja, kursi berlengan dari kulit, dan drum bir, dan akhirnya mengelilingi meja bar dari pohon ek dan kuningan. Tingkat kebisingannya sudah melampaui ambang batas suara yang diizinkan di bandara. Saat kami mengelilingi meja bar utama, bisa kulihat Ryan sedang duduk di atas bangku tinggi dari kayu di luar sebuah ruangan tempat rapat. Dia memunggungi dinding batu, salah satu tumitnya diletakkan di kayu yang melintang di kaki kursi tinggi. Kaki lainnya ada di atas dua buah kursi tinggi kosong di sebelah kanannya. Di sekeliling kepalanya tampak lampu neon dengan bingkai kayu hijau. Di atas panggung kulihat sebuah trio memainkan fid- die , suling, dan mandolin. Beberapa meja mengelilingi ruangan itu dan lima orang penari memenuhi bagian tengah ruangan yang cukup sempit. Tiga penari wanita menggoyangkan tubuhnya, tetapi kedua remaja pria yang lainnya hanya melompat-lompat di tempat, sehingga bir berceceran dalam radius satu meter lebih di sekelilingnya. Sepertinya tidak ada yang peduli.

http://inzomnia.wapka.mobi

Harry memeluk pemain bola itu dan orang itu pun kembali tenggelam ke dalam kerumunan orang. Aku bertanya dalam hati, bagaimana Ryan bisa mendapatkan dua buah kursi tinggi kosong itu. Dan mengapa. Aku tidak bisa memutuskan apakah rasa percaya dirinya terasa mengesalkan atau menyenangkan hatiku. "Wah, syukurlah," ujar Ryan saat melihat kedatangan kami. "Senang kalian bisa datang. Silakan duduk dan nikmati." Dia harus berteriak agar suaranya bisa terdengar oleh kami. Ryan melepaskan kaitan kakinya dari salah satu kursi itu, menariknya, dan menepuk bantalannya. Tanpa ragu-ragu Harry melepaskan jaketnya, meletakkan di sandaran kursi dan segera duduk di atasnya. "Dengan satu syarat," teriakku kembali. Ryan menaikkan alis matanya dan matanya yang biru menatap wajahku. "Jangan bergaya koboi seperti tadi." "Kamu baik sekali," sindir Ryan sedemikian kerasnya sehingga urat nadi menyembul di lehernya. "Aku serius, Ryan." Aku tidak mampu berteriak terus-menerus seperti ini. "OK, OK. Duduklah." Aku bergerak menuju kursi paling ujung.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dan aku akan membelikan soda untukmu, Bu." Harry bersiul mengejek. Aku merasa mulutku terbuka, kemudian Ryan bangkit dan membantuku membuka risleting jaketku. Dia meletakkannya di atas kursi, kemudian aku duduk. Ryan memanggil seorang pelayan, memesan bir Guinness untuknya dan Diet Coke untukku. Kembali, aku merasa kesal. Apakah memang semudah itu menebak perasaanku? Ryan menatap Harry. "Sama deh." "Diet Coke?" "Bukan, yang satunya lagi." Pelayan itu menghilang, "Bagaimana dengan penyuciannya?" seruku di telinga Harry. "Apa?" "Penyucian?" "Satu bir tidak akan meracuniku, Tempe. Aku 'kan tidak fanatik." Karena untuk mengobrol kami harus berteriak, aku lebih memerhatikan band. Aku dibesarkan dengan sering mendengarkan musik Irlandia, dan lagulagu lama ini membangkitkan kenangan masa kecil. Rumah nenekku. Para wanita tua, aksen Irlandia, permainan kartu canasta. Tempat tidur

http://inzomnia.wapka.mobi

lipat. Danny Kaye di TV hitam putih. Tertidur sambil mendengarkan piringan hitam John Gary. Aku merasa para musisi ini terlalu keras dan tidak cocok dengan selera Nenek. Suaranya terlalu nyaring. Penyanyi utama mulai menyanyikan balada tentang seorang bajak laut yang liar. Aku kenal lagu itu dan menyiapkan diri. Saat mencapai korus, tangantangan pengunjung bertepuk dalam irama lima tepukan staccato. Bam! Bam! Bam! Bam! Bam! Pelayan tiba pada tepukan terakhir. Harry dan Ryan mengobrol, kata-kata mereka tenggelam dalam hirukpikuknya suasana. Kuhirup minumanku dan melihat ke sekeliling. Di bagian atas dinding bisa kulihat deretan perisai ukiran dari kayu, totem keluarga zaman dahulu kala. Atau mereka disebut klan? Kucari nama Brennan, tetapi ruangan itu terlalu gelap dan berasap sehingga tidak mungkin kita bisa membaca tulisan di totem itu. Crone? Bukan. Grup musik itu memulai lagu yang pasti akan disukai Nenek. Lagu tentang seorang wanita muda yang mengikat rambutnya dengan sehelai kain beludru hitam. Kutatap deretan foto dalam bingkai oval, foto close-up lelaki dan wanita dalam pakaian hari Minggu mereka yang terbagus. Kapan foto itu diambil-

http://inzomnia.wapka.mobi

1890? 1910? Semua wajah mereka sama muramnya dengan foto yang terpampang di Birks Hall. Mungkin kerah putih yang tinggi itu terasa tidak nyaman. Dua jam dinding besar menunjukkan waktu di Dublin dan Montreal. Setengah sebelas. Kulirik jam tanganku. Persis sama. Beberapa lagu kemudian, Harry menarik perhatianku dengan melambaikan kedua tangannya. Dia terlihat seperti seorang wasit yang menunjukkan lemparan yang gagal. Ryan mengangkat gelasnya yang sudah kosong. Aku menggelengkan kepala. Dia berbicara kepada Harry, kemudian mengangkat dua jari di atas kepalanya. Mulai lagi deh, pikirku. Saat band melanjutkan lagu berikutnya, kulihat Ryan menunjuk ke arah tempat kami masuk. Harry turun dari tempat duduknya dan menghilang di kerumunan orang banyak. Gara-gara jins yang ketat. Aku tidak mau memikirkan seberapa lama dia akan mengantre gilirannya. Itulah susahnya menjadi perempuan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ryan mengangkat jaket Harry, kemudian duduk di atas kursinya dan meletakkan jaket itu di tempat dia duduk tadi. Dia mendekatkan tubuhnya dan berteriak di telingaku. "Apa kamu yakin kalian berdua dilahirkan oleh ibu yang sama?" "Dan ayah yang sama." Tubuh Ryan tercium seperti rum dan bedak talk. "Sudah berapa lama dia tinggal di Texas?" "Sejak Nabi Musa memimpin eksodus dari Mesir. Sembilan belas tahun." Aku berputar dan menatap es di gelas Coke. Ryan berhak mengobrol dengan Harry. Lagi pula mustahil untuk tidak mengobrol, jadi mengapa aku geram? "Siapa Anna Goyette?" "Apa?" "Siapa Anna Goyette?" Band berhenti di tengah-tengah ucapannya dan nama itu terdengar jelas di keheningan yang sejenak melanda ruangan itu. "Ya ampun, Ryan, kenapa tidak pasang iklan saja sekalian?" "Sepertinya ada yang agak pemarah hari ini. Terlalu banyak kafein mungkin?" Dia tertawa geli. Aku melotot.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak bagus untuk orang seumuranmu." "Tidak bagus untuk usia berapa pun. Bagaimana kamu tahu tentang Anna Goyette?" Pelayan itu membawa minuman dan menunjukkan senyuman lebar kepada Ryan seperti yang ditunjukkan adikku tadi. Ryan membayar dan mengedipkan mata kepada pelayan itu. Ya ampun. "Kamu kok kaku sekali sih?" ujarnya setelah meletakkan salah satu bir di langkan di atas jaket Harry. "Aku sedang berusaha agar lebih rileks. Bagaimana kamu tahu tentang Anna Goyette?" "Aku bertemu dengan Claudel saat menangani geng motor itu dan kami membicarakan hal itu." "Kenapa kalian membicarakan hal itu?" "Dia bertanya kepadaku." Aku tidak pernah bisa menebak Claudel. Dia tidak mengacuhkan aku di telepon, tetapi kemudian mendiskusikan pertanyaanku dengan Ryan. "Jadi siapa dia?" "Anna adalah mahasiswi di McGill. Bibinya memintaku untuk mencarinya. Ini bukan kasus Hoffa." "Kata Claudel, Anna adalah wanita muda yang sangat menarik."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apa maksudnya?" Bisa-bisanya Harry memilih saat itu untuk kembali bergabung dengan kami. "Whoa, kalau kalian mau pipis, sebaiknya pikirpikir lagi deh." Dia duduk di bangku yang kosong di sebelah kiri Ryan. Seperti diperintahkan saja, band mulai menyanyi kan lagu tentang wiski di dalam gelas besar. Harry mengayunkan tubuh dan bertepuk tangan sampai seorang pemabuk tua yang memakai topi dan suspender hijau mendekat dan mengajaknya berdansa. Harry langsung meloncat dan mengikutinya ke lantai dansa, di mana dua orang lelaki muda kembali menari menirukan gerakan burung bangau. Teman dansa Harry berperut buncit dan berwajah bundar yang lembut. Kuharap Harry tidak membunuh lelaki itu. Kulirik jam tanganku. Jam sebelas lewat empat puluh. Mataku mulai perih karena asap dan kerongkonganku mulai gatal karena terus berteriak-teriak. Dan aku sedang menikmati suasana. Dan aku ingin minum. Sungguh.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku sedikit pusing. Begitu Ginger Rogers (bintang film lama AS yang juga pedansa) selesai berdansa, aku mau pulang saja." "Terserah deh, Manis. Kamu oke juga untuk kali pertamamu ini." "Ya ampun, Ryan. Aku 'kan sudah pernah ke sini." "Untuk mendengarkan dongeng?" "Tidak!" Tadi aku memang memikirkan hal itu. Aku sangat menyukai dongeng rakyat Irlandia. Kuamati Harry melompat dan berputar-putar, rambut pirangnya yang panjang beterbangan ke manamana. Semua orang menonton dirinya. Beberapa saat kemudian, aku berteriak di telinga Ryan. "Apa Claudel tahu di mana Anna?" Dia menggelengkan kepalanya. Aku menyerah. Sepertinya tidak ada gunanya mencoba untuk membuka percakapan. Harry dan lelaki tua itu terus berdansa. Wajah lelaki itu sudah memerah dan dipenuhi keringat dan dasinya menggantung dengan anehnya. Saat pasangan dansa Harry memutarkan tubuh adikku itu sehingga wajahnya menghadapku, aku langsung membuat gerakan memotong leher dengan jari telunjuk. Sudah. Selesai.

http://inzomnia.wapka.mobi

Harry melambaikan tangan dengan riangnya. Aku menunjuk pintu keluar dengan jempol, tetapi dia sudah mengalihkan pandangannya. Ya ampun. Ryan mengamatiku, sambil tersenyum geli. Aku memandangnya dengan tatapan yang bisa membekukan El Nino, dan dia menarik diri dan menengadahkan kedua lengannya ke atas. Kali berikutnya Harry menghadap ke arahku, aku memanggilnya lagi, tetapi dia sedang menatap sesuatu di belakangku dan wajahnya tampak aneh. Pada pukul dua belas lewat lima belas, doaku dijawab saat band itu berhenti untuk beristirahat. Harry kembali, wajahnya memerah, tetapi tampak gembira. Rekannya terlihat seakan-akan perlu masker oksigen. "Wow! Benar-benar asyik sekali!" Dia menarik kerah bajunya dan meloncat ke tempat duduknya, lalu menenggak bir yang sudah dipesan Ryan. Saat lelaki tua itu hendak duduk di sampingnya, Harry menepuk topinya. "Makasih, ya. Sampai nanti, oke?" Lelaki itu menabik dan menatapnya dengan pandangan memelas. "Bye bye."

http://inzomnia.wapka.mobi

Harry menggerakkan jari-jemarinya dan lelaki tua itu mengangkat bahu dan bergabung kembali dengan kerumunan orang di belakangnya. Harry mendekatkan tubuhnya ke Ryan. "Tempe, siapa yang duduk di sana?" Dia menganggukkan kepalanya ke bar di belakang kami. Aku hendak menoleh. "Jangan lihat dulu!" "Kenapa?" "Lelaki kurus tinggi berkacamata." Aku memutar mataku, yang tidak menolong menghilangkan rasa pusing di kepalaku. Harry menggunakan kebiasaan ini di SMA dulu saat aku mau pergi dan dia masih ingin tinggal. "Aku tahu. Orangnya imut-imut dan dia benarbenar tertarik padaku. Hanya saja dia malu-malu kucing. Basi sekali sih, Harry." Band memulai sesi kedua. Aku berdiri dan mengenakan jaketku. "Waktunya tidur." "Bukan begitu, sungguh. Lelaki itu mengamatimu sejak aku mulai turun berdansa. Aku bisa melihatnya dari jendela itu." Aku menatap ke arah yang dia tunjukkan. Tidak ada yang cocok dengan deskripsinya tadi. "Mana?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Harry menatap wajah-wajah di sekeliling bar, kemudian menatap ke belakang, ke arah lain. "Sungguh, Tempe." Dia mengangkat bahunya. "Tapi, aku tidak bisa menemukan orang itu lagi sekarang." "Dia mungkin salah seorang mahasiswaku. Mereka selalu kaget melihatku berjalan tanpa tongkat." "Ya, mungkin juga. Lelaki itu memang terlalu muda untukmu." "Makasih." Ryan mengamati seperti Kakek yang menonton anak-anak remaja. "Kamu sudah siap?" Aku mengancingkan jaket dan mengenakan sarung tanganku. Harry melirik jam Rolexnya, kemudian mengatakan persis seperti yang kuduga sebelumnya. "Baru lewat tengah malam. Bisa nggak kita-" "Aku mau pulang, Harry. Apartemenku hanya empat blok dari sini dan kamu punya kuncinya. Kamu bisa tinggal kalau mau." Untuk sejenak dia terlihat ragu-ragu, kemudian dia berbalik menghadap Ryan.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apa kamu masih mau di sini dulu?" "No probiemo, Nak." Harry menatapku dengan pandangan memelas seperti yang dilakukan lelaki tua tadi. "Betul nih, kamu nggak keberatan?" "Tentu saja tidak." Peduli amat? Kujelaskan penggunaan kunci, kemudian dia memelukku. "Aku antar kamu pulang, ya," ujar Ryan, meraih jaketnya. Pelindungku. "Tidak usah, terima kasih. Aku sudah besar." "Kalau begitu, biar kupanggilkan taksi untukmu." "Ryan, aku diizinkan untuk berjalan-jalan tanpa pengasuh lho.' "Terserah deh." Dia duduk kembali sambil menggelengkan kepalanya. Udara yang dingin terasa nyaman setelah tubuhku didekap panas dan kepulan asap di dalam pub. Nyaman untuk selama sepersekian detik. Suhu udara langsung turun dan angin bertiup kencang, menghujamkan rasa dingin jutaan derajat di bawah nol. Dalam beberapa langkah saja mataku sudah mencucurkan air mata dan aku bisa merasakan es mulai terbentuk di ujung lubang hidungku. Kutarik syalku menutupi mulut dan hidungku, dan mengikatnya di belakang kepala. Aku terlihat seperti ?rang idiot, tetapi paling tidak saluran napasku tidak akan membeku.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kubenamkan tanganku dalam-dalam ke dalam saku, menurunkan kepalaku, dan terus berjalan. Terasa lebih hangat, tetapi tidak bisa melihat, kuseberangi Crescent dan mengarah ke Ste-Catherine. Tidak ada siapa pun di sekitarku. Aku sedang menyeberangi MacKay saat merasakan syalku mengencang, dan kakiku tergelincir dari pijakannya. Mula-mula, aku mengira kakiku tergelincir di atas es, tetapi kemudian menyadari bahwa tubuhku sedang ditarik ke belakang. Aku sudah melewati Theater York tua dan sedang diseret menuju ke sisi gedung. Sepasang tangan memutar tubuhku dan mendorong wajahku mencium dinding. Tanganku sendiri masih terperangkap di dalam saku. Saat wajahku menghantam batu bata, tubuhku merosot ke bawah. Saat lututku menghantam tanah, wajahku dibenamkan ke salju. Sebuah pukulan telak menghantam punggungku, seakan-akan seseorang bertubuh besar menghunjamkan lututnya di tulang punggungku. Rasa sakit menjalar di punggungku dan napasku meledak keluar melalui syal. Aku dipiting ke tanah dalam posisi tidak berdaya. Aku tidak bisa melihat, tidak bisa bergerak, dan tidak bisa bernapas! Aku panik dan mencari-cari udara. Darah berdentum-dentum di telingaku.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kupejamkan mata dan berkonsentrasi mengarahkan mulutku ke samping. Aku terengah-engah menarik napas. Kemudian napas berikutnya. Rasa sesak mulai menghilang dan aku mulai bisa bernapas normal. Aku merasakan sakit di rahang dan wajahku. Kepalaku terkunci di posisi yang aneh, mata kananku ditekan ke salju yang membeku. Aku merasakan sesuatu di bawah tubuhku dan menyadari bahwa itu adalah tasku. Hal itu sedikit memberi semangat kepadaku. Berikan tas itu kepadanya! Aku berusaha melepaskan diri, tetapi jaket dan syalku masih mengikatku seperti jaket pengaman untuk orang gila. Aku merasakan tubuhnya bergerak. Tubuhnya seperti menyelimuti diriku. Kemudian, napasnya berembus di telingaku. Melalui syal, suaranya terdengar berat dan cepat, putus asa, seperti binatang liar. Jangan hilang kesadaran. Hilang kesadaran berarti mati dalam cuaca seperti ini. Bergerak! Lakukan sesuatu! Di bawah lapisan bajuku yang tebal, keringat membasahi tubuhku. Aku berusaha mengeluarkan tangan dari dalam saku, mencari-cari. Jariku terasa licin di dalam sarung tangan. Nah!

http://inzomnia.wapka.mobi

Kuraih kunci. Begitu dia bangkit, aku sudah siap. Dengan tidak berdaya, kutunggu kesempatan itu datang. "Jangan teruskan," sebuah suara berdesis di telingaku. Dia menangkap gerakanku! Aku tertegun. "Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan. Mundur!" Mundur dari apa ? Dia pikir aku ini siapa ? "Jangan teruskan," dia mengulangi kata-katanya, suaranya bergetar penuh emosi. Aku tidak bisa berbicara dan dia sepertinya tidak mengharapkan jawaban. Apakah dia orang gila dan bukan seorang perampok? Kami berbaring di situ seakan-akan berbaring dalam waktu yang sangat lama. Beberapa mobil melaju melewati kami. Aku sudah kehilangan rasa di wajahku, dan tulang di leherku seakan hendak remuk. Aku bernapas melalui mulut, air ludah membeku di syalku. Tetap tenang. Berpikir! Pikiranku menjelajahi berbagai kemungkinan. Apa dia mabuk? Teler oleh narkoba? Ragu-ragu? Apakah dia memiliki lamunan menjijikkan yang membuatnya melakukan hal ini? Jantungku berdetak sedemikian kencangnya sehingga aku khawatir hal itu akan mempercepat reaksinya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Lalu, kudengar suara langkah kaki. Dia juga pasti mendengarnya karena dia mempererat cengkeramannya di syalku dan meletakkan tangannya yang dibalut sarung tangan di wajahku. Teriak! Lakukan sesuatu! Aku tidak bisa melihatnya dan hal itu membuatku gila. "Lepaskan aku, jahanam busuk!" Aku menjerit melalui syalku. Tetapi, suaraku seakan berasal dari jarak jutaan kilometer, terhalang oleh lapisan wol tebal. Kupegang kunci erat-erat, tanganku terasa licin dalam sarung tangan dan berniat untuk menghujamkannya ke matanya begitu mendapat kesempatan. Tiba-tiba, aku merasa syalku mengencang dan tubuhnya bergerak. Dia kembali berlutut, mengonsentrasikan seluruh berat tu-bunya di tengah-tengah punggungku. Berat tubuhnya dan tasku mengimpit paruparu, membuatku terengah-engah mencari udara. Dengan menggunakan syal, dia mengangkat kepalaku, kemudian mengempaskannya dengan tangannya. Telingaku menghantam es dan kerikil, dan mataku berkunang-kunang. Dia mengangkat dan membanting tubuhku sekali lagi dan kunang-kunang itu mulai menyatu. Aku bisa

http://inzomnia.wapka.mobi

merasakan darah di wajahku dan merasakannya di mulutku. Kupikir aku merasakan sesuatu berbunyi di leherku. Jantungku berdentum keras di dalam tulang rusukku. Lepaskan diriku makhluk jelek! Aku pusing. Otakku yang tersiksa ini membayangkan laporan autopsi. Laporan autopsiku sendiri. Tidak ada apa-apa di bawah kukunya. Tidak ada luka pembelaan diri. Jangan pingsan! Aku menggeliat dan mencoba berteriak, tetapi kembali mulutku tidak mengeluarkan suara apa-apa. Tiba-tiba, bantingan itu terhenti dan penyerangku mendekatkan diri lagi. Dia berbicara, tetapi aku hanya menangkap suara gumaman yang tidak jelas di telingaku yang terus berdering tak berhenti. Lalu, aku merasakan tangannya di punggungku dan berat tubuhnya terangkat. Suara sepatu menjejak di atas kerikil dan dia pergi. Sambil masih pusing, kukeluarkan kedua tanganku, kudorong tubuhku dari atas tanah, dan kubalikkan tubuh ke posisi duduk. Serangan rasa pusing menghantamku dan aku mengangkat lutut dan menurunkan kepalaku di antaranya. Hidungku mengeluarkan cairan dan entah darah

http://inzomnia.wapka.mobi

atau air ludah mengalir dari mulutku. Tanganku gemetaran saat aku menyeka wajah dengan syalku, dan aku tahu bahwa aku berada di ambang tangis. Angin menderu-deru, membuat jendela yang rusak berderak-derak di teater yang ditelantarkan itu. Apa tadi namanya? Yale? York? Sepertinya sangat penting. Aku pasti tahu namanya, jadi mengapa sekarang aku tidak bisa mengingatnya? Aku kebingungan dan mulai menggigil dengan hebatnya, karena dingin, karena takut, dan mungkin karena lega. Saat pusing itu sudah berlalu, aku bangkit, berjalan tersaruk-saruk menyusuri gedung itu, dan mengintip di ujungnya. Tidak ada siapa pun di sekelilingku. Kakiku terasa lemas sekali saat berjalan pulang, selalu melihat ke belakang pada setiap langkahku. Beberapa pejalan kaki yang kulewati membuang muka dan mengecam. Mereka pasti mengira aku seorang pemabuk. Sepuluh menit kemudian, aku sudah duduk di tepi tempat tidurku, memeriksa apakah ada luka yang cukup parah di tubuhku. Kedua pupil mata terasa normal. Tidak ada yang terasa kebas. Tidak ada rasa mual. Syal itu bagai pisau bermata dua. Syal itu membuat penyerangku mudah mencengkeramku, namun juga membuat setiap hantaman tidak terlalu

http://inzomnia.wapka.mobi

terasa. Tampak beberapa goresan dan memar di sebelah kanan kepalaku, tetapi aku yakin tidak menderita gegar otak. Boleh tahan juga untuk korban perampokan yang selamat, pikirku saat menyusupkan tubuhku di bawah selimut. Tetapi, apakah barusan itu sebuah perampokan? Orang itu tidak merampok apa-apa. Mengapa dia lari? Apakah dia panik dan menyerah? Apakah dia mabuk? Apakah dia sadar telah keliru menyerang orang? Cuaca dingin di bawah nol derajat jarang mendorong seseorang untuk melakukan penyerangan seksual. Apakah motifnya yang sebenarnya? Aku mencoba tidur, tetapi pikiranku masih terus aktif. Atau apakah ini sindrom stres pasca-trauma? Tanganku masih gemetaran dan aku kaget setiap kali mendengar suara sekecil apa pun. Apakah aku harus menelepon polisi? Untuk apa? Lukaku tidak begitu parah dan tidak ada barang yang dicuri. Dan, aku tidak melihat wajah orang itu. Apakah aku harus memberi tahu Ryan? Tidak mungkin, karena aku tadi pergi dengan sikap sangat angkuh. Harry? Tidak mungkin. Ya, Tuhan. Bagaimana kalau Harry pulang ke rumah sendirian? Apakah orang itu masih di luar sana?

http://inzomnia.wapka.mobi

Kubalikkan tubuh dan menatap jam. Pukul dua lewat tiga puluh tujuh menit. Di mana sih Harry? Kusentuh bibirku yang pecah. Apakah Harry akan menyadari bahwa bibirku luka? Mungkin. Harry memiliki naluri seperti kucing liar. Tidak ada yang terlewatkan olehnya. Aku memikirkan cerita untuk membohonginya. Pintu selalu bisa dijadikan alasan bagus, atau jatuh dengan muka menghantam es saat tangan berada di dalam saku. Mataku mulai menutup, kemudian terbuka kembali saat aku merasakan lututnya di punggungku dan mendengar embusan napas beratnya. Aku melihat jam kembali. Jam tiga lewat lima belas menit. Apakah Hurley's masih buka pada jam selarut ini? Apakah Harry pulang ke rumah Ryan? "Ke mana kamu Harry?" ujarku kepada lampu hijau yang menyala dari bingkai jam. Aku berbaring di situ, berharap dia pulang ke rumah, karena tidak ingin melewatkan malam ini sendirian. 12.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku terbangun oleh cerahnya cahaya matahari dan dalam kesunyian, setelah tertidur dengan nyenyaknya. Sel-sel otakku melangsungkan rapat internal untuk menata berbagai masukan yang kuterima selama beberapa hari terdahulu. Mahasiswi yang hilang. Perampok. Santa. Dua bayi dan nenek yang tewas dibunuh. Harry. Ryan. Harry dan Ryan. Semuanya menyeruak di sekitar subuh tanpa menghasilkan apa pun. Aku berbaring telentang dan rasa sakit yang menyengat di leherku mengingatkanku pada kejadian yang menimpaku di malam sebelumnya. Kugerakkan dan kupanjangkan leher, tangan, dan kakiku. Cukup bagus. Diterangi cahaya pagi ini, penyerangan itu sepertinya tidak logis dan kabur. Tetapi, kenangan akan rasa takut itu terasa nyata sekali. Aku berbaring sejenak, mengeksplorasi luka di wajahku dan mendengarkan tanda-tanda keberadaan adikku. Terasa kulit yang empuk di beberapa sudut wajahku. Tidak ada suara adikku. Pada pukul tujuh lewat empat puluh, kupaksa diriku turun dari tempat tidur untuk meraih jubah mandi dan sandalku. Pintu kamar tamu terbuka, tempat tidurnya masih rapi. Apakah Harry pulang tadi malam? Kutemukan secarik kertas tempel di lemari es yang menjelaskan hilangnya dua kotak yogurt dan bahwa dia

http://inzomnia.wapka.mobi

akan kembali setelah jam tujuh. OK. Dia tadi ada di rumah, tetapi apakah dia tidur di sini? "Siapa yang peduli," ujarku, sambil meraih wadah kopi. Saat itu telepon berdering. Kubanting wadah itu dan kuseret kakiku ke telepon di ruangan duduk. "Ya!" "Hey, Ma. Tidak nyenyak tidurnya?" "Maaf, Sayang. Ada apa?" "Apa dua minggu lagi Mama akan ke Charlotte?" "Mama akan berangkat hari Senin dan akan di Charlotte sampai awal April, sampai pergi lagi ke pertemuan Antropologi Fisik di Oakland. Kenapa?" "Ya, mungkin aku akan pulang ke rumah selama beberapa hari. Liburan ke pantai ini tidak me nyenangkan." "Bagus. Eh, maksud Mama, bagus karena kita bisa menghabiskan waktu bersama-sama. Mama ikut prihatin karena perjalananmu menyebalkan." Aku tidak menanyakan alasannya. "Kamu akan tinggal dengan Mama atau dengan Ayah?" "Ya." "Ok. Ok. Kuliahmu lancar-lancar saja 'kan?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya, aku benar-benar suka psikologi abnormal. Dosennya juga oke. Dan Kriminologi juga lumayan. Kami tidak pernah diberi tenggat untuk tugas apa pun." "Hm. Bagaimana dengan Aubrey?" "Siapa?" "Ternyata jawabanmu sudah cukup jelas. Bagaimana dengan jerawatmu?" "Sudah hilang." "Kenapa kamu bangun pagi sekali di hari Sabtu begini?" "Aku harus menyelesaikan makalah untuk kelas Kriminologi. Menyusun profi I, mungkin akan menggunakan bahan yang diajarkan di psikologi abnormal." "Lho, bukannya tidak ada tenggat untuk tugas apa pun?" "Tugas ini seharusnya dikumpulkan dua minggu yang lalu." "Oh." "Apa Mama bisa membantuku memikirkan proyek untuk kelas antropologiku?" "Boleh." "Jangan yang terlalu rumit. Harus bisa kuselesaikan dalam satu hari." Aku mendengar suara bip-bip-bip. "Ada telepon masuk, Katy. Nanti Mama pikirkan lagi proyek itu. Beri tahu Mama kalau kamu sudah tiba di Charlotte."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Oke." Kutekan sambungan telepon dan kaget saat mendengar suara Claudel. "Claudel ici." Seperti biasa, tidak ada basa-basi dan dia tidak minta maaf karena meneleponku di hari Sabtu pagi seperti ini. Dia langsung ke pokok pembicaraan. "Apakah Anna Goyette sudah pulang ke rumahnya?" Aku terhenyak. Claudel tidak pernah meneleponku ke rumah. Anna pasti ditemukan sudah tewas. Aku menelan ludah dan menjawab. "Kurasabelum." "Usianya sembilan belas tahun?" "Ya." Terbayang wajah Suster Julienne. Aku tidak akan mampu menceritakan kabar ini kepadanya. "... caracteristiques physiques?" "Maaf. Apa tadi?" Claudel mengulangi pertanyaannya. Aku tidak tahu apakah Anna memiliki ciri fi sik yang khas. "Entahlah. Aku harus menanyakannya dulu kepada keluarganya." "Kapan terakhir kali orang melihatnya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kamis. Monsieur Claudel, kenapa Anda menanyakan berbagai pertanyaan ini kepadaku?" Claudel diam sejenak. Aku bisa mendengar suara berisik di latar belakang dan menduga dia menelepon dari ruangan tim kasus pembunuhan di kantor polisi. "Seorang wanita berkulit putih ditemukan pagi hari ini, telanjang, tanpa kartu identitas." "Di mana?" Rasa terhenyak itu menyodok tulang dadaku dengan keras. "Yle des Soeurs. Di belakang pulau ada sebuah daerah yang rimbun dan sebuah kolam. Tubuhnya ditemukan"-dia terdengar ragu-ragu-"di pinggir kolam." "Ditemukan bagaimana?" Dia sepertinya menyembunyikan sesuatu. Claudel memikirkan pertanyaanku beberapa saat. Aku bisa membayangkan hidungnya yang bengkok, matanya yang saling berdekatan sedang berpikir. "Korban tewas dibunuh. Keadaannya ..." Kembali dia ragu-ragu. "...janggal." "Tolong ceritakan selengkapnya." Telepon kualihkan ke tanganku yang lainnya, lalu menyeka tangan satunya ke jubah mandiku.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tubuh itu ditemukan di dalam bagasi mobil tua. Ada beberapa bekas luka. LaManche sedang melakukan autopsinya hari ini juga." "Luka seperti apa?" Aku menatap pola noda di jubahku. Dia menarik napas panjang. "Ada beberapa luka tusukan dan tanda bekas ikatan di pergelangan tangannya. LaManche juga menduga ada bekas serangan hewan." Menurutku cara Claudel menyingkirkan emosi dalam menangani kasusnya amat mengesalkan. Seorang wanita berkulit putih. Korban. Tubuh. Pergelangan tangan. Tidak ada satu pun yang merupakan kata ganti. "Dan korban itu mungkin telah dibakar," lanjutnya. "Dibakar?" "LaManche akan mendapatkan lebih banyak lagi informasi nanti. Dia akan melakukan autopsi korban hari ini." "Ya ampun." Walaupun ahli patologi dari lab selalu siap sepanjang waktu, jarang sekali autopsi dilakukan pada akhir pekan. Aku menduga pembunuhan ini pasti sesuatu yang luar biasa. "Sudah berapa lama dia meninggal?" "Tubuhnya belum seluruhnya membeku, jadi mungkin kurang dari dua belas jam. LaManche akan mencoba menentukan jam kematiannya."

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku tidak mau mengajukan pertanyaan berikutnya. "Kenapa Anda mengira wanita itu Anna Goyette?" "Umur dan deskripsinya cocok." Tubuhku langsung terasa lemas. "Ciri khas tubuh seperti apa yang Anda maksudkan?" "Korban itu tidak punya geraham bawah." "Apakah sudah dicabut?" Aku merasa bodoh begitu pertanyaan itu kuucapkan. "Dr. Brennan, aku bukan dokter gigi. Ada tato kecil di paha sebelah kanan. Gambar dua orang sedang memegang sebuah hati di antara keduanya." "Aku akan menelepon bibinya Anna dan kembali menghubungi Anda." "Aku bisa-" "Tidak usah. Biar aku saja yang menghubunginya. Aku masih harus mendiskusikan sesuatu dengannya." Dia memberikan nomor pager-nya, lalu menutup telepon. Tanganku gemetaran saat menekan nomor telepon biara. Terbayang olehku mata yang ketakutan terpancar dari bawah poni yang pirang. Sebelum aku bisa memikirkan cara mengajukan pertanyaan yang tepat, Suster Julienne sudah menjawab panggilan teleponku. Kugunakan

http://inzomnia.wapka.mobi

beberapa menit lamanya untuk berterima kasih kepadanya karena telah mengarahkan aku kepada Daisy Jeannotte, dan menceritakan buku harian itu kepadanya. Kuhindari apa yang seharusnya kubicarakan dan dia bisa segera menebak pikiranku. "Aku tahu, pasti telah terjadi sesuatu yang buruk." Suaranya terdengar lembut, tetapi aku bisa mendengar ketegangan yang berusaha ditutupinya. Aku bertanya apakah Anna telah pulang ke rumah. Ternyata belum. "Suster, seorang wanita muda telah ditemukan-" Kudengar suara gemerisik kain dan pasti dia sedang membuat tanda salib di dadanya. "Aku harus menanyakan beberapa pertanyaan pribadi tentang keponakan Anda." "Ya." Jawabnya dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar. Kutanyakan tentang geraham dan tato. Keheningan menyapu kami hanya satu detik lamanya, kemudian aku terkejut saat mendengarnya tertawa. "Oh, bukan, bukan, itu bukan Anna. Oh Tuhan, tidak, dia tidak akan pernah membiarkan dirinya ditato. Dan aku yakin gigi Anna masih lengkap. Bahkan dia sering membi-

http://inzomnia.wapka.mobi

carakan giginya. Itulah sebabnya aku tahu. Giginya sering bermasalah, dia selalu mengeluhkan rasa sakit saat makan sesuatu yang dingin. Atau panas." Kata-kata itu berhamburan demikian cepatnya sehingga aku hampir bisa merasakan kelegaan yang terpan-carkan dari seberang sana. "Tapi Suster, apakah mungkin-" "Tidak. Aku kenal keponakanku. Giginya masih lengkap. Dia memang tidak senang dengan kondisi giginya, tapi semuanya masih ada." Kembali terdengar tawa yang gugup itu. "Dan tidak ada tato, terima kasih Tuhanku." "Aku senang mendengarnya. Wanita muda ini mungkin bukan Anna, tapi apakah bisa Anda mengirimkan catatan gigi Anna kepadaku, hanya untuk memastikan." "Aku memang yakin." "Ya. Mungkin, untuk membuat Detektif Claudel lebih yakin. Tidak ada salahnya 'kan?" "Kurasa begitu. Dan, aku akan berdoa untuk keluarga gadis malang itu." Dia memberikan nama dokter gigi Anna dan aku menghubungi Claudel kembali.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dia yakin Anna tidak punya tato." "Hai, Bibi Suster! Coba tebak? Bokongku baru ditato minggu kemarin." "Aku sependapat. Memang tidak mungkin dia memberi tahu bibinya halhal seperti itu." Dia mendengus dengan keras. "Tapi, dia sangat yakin bahwa Anna masih memiliki semua giginya. Dia teringat keponakannya mengeluhkan giginya yang sakit." "Siapa orang yang dicabut giginya?" Persis seperti pikiranku. "Biasanya memang orang yang giginya bermasalah." "Ya." "Dan bibi ini juga yakin bahwa Anna tidak pernah pergi tanpa memberi tahu ibunya sebelumnya, ya 'kan?" "Itulah yang dikatakan olehnya." "Anna Goyette ternyata punya sejarah menghilang lebih hebat daripada pesulap kondang David Copperfi eld. Dia sudah hilang tujuh kali dalam delapan belas bulan terakhir. Paling tidak itulah laporan yang diajukan ibunya." "Oh." Rasa tak enak meluas dari tulang dadaku sampai ke dalam perutku.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kuminta Claudel untuk tetap mengabariku tentang perkembangan kasus ini, kemudian menutup gagang telepon. Aku tidak yakin apakah dia akan meneleponku kembali. Aku mandi, berganti pakaian, dan tiba di kantor pada pukul setengah sepuluh. Kuselesaikan laporanku tentang Elisabeth Nicolet, menjabarkan pengamatanku, seperti yang kulakukan pada kasus forensic lainnya. Rasanya aku ingin bisa menyertakan informasi dari buku harian Belanger, tetapi aku belum punya waktu untuk membacanya. Setelah mencetak laporan itu, kuhabiskan waktu tiga jam untuk memotret. Aku merasa tegang dan canggung, dan kesulitan menempatkan tulangbelulang itu. Pada pukul dua, aku membeli roti lapis dari kantin dan memakannya saat membaca ulang temuanku atas Mathias dan Malachy. Tetapi, pikiranku tertuju ke telepon dan tidak mau berkonsentrasi pada pekerjaan yang sedang kukerjakan. Aku sedang berada di mesin fotokopi, memfotokopi buku harian Belanger ketika melihat kedatangan Claudel. "Ternyata bukan gadis yang kaucari." Aku menatap matanya. "Benarkah?" Dia mengangguk. "Lalu siapa?" tanyaku.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Namanya Carole Comptois. Ketika catatan gigi menyatakan bahwa gadis itu bukan Goyette, kami langsung memeriksanya ke pusat data dan mendapatkan data yang cocok. Korban pernah ditahan beberapa kali karena menjajakan diri." "Usia?" "Delapan belas." "Cara kematiannya?" "LaManche masih menyelesaikan autopsinya." "Ada tersangka?" "Banyak." Dia menatap wajahku untuk beberapa saat, tidak mengatakan apa pun, kemudian beranjak pergi. Kuteruskan pekerjaanku memfotokopi, seperti robot ta pa emosi yang bergejolak di dalam. Kelega an yang kurasakan karena gadis itu bukan Anna langsung berubah menjadi perasaan bersalah. Ke nya taannya adalah seorang gadis tengah terbaring di atas meja di lantai bawah. Kami masih harus member tahu keluarganya tentang berita buruk ini. Angkat tutup mesin fotokopi. Balik halaman. Turun kan tutup. Tekan tombol. Delapan belas. Aku tidak ingin melihat autopsinya. Pada pukul setengah lima, aku selesai memfotokopi buku harian itu, dan kembali ke kantorku. Kuletakkan laporan tentang kedua bayi itu di kantor

http://inzomnia.wapka.mobi

sekretariat, kemudian meninggalkan sebuah pesan di meja LaManche yang menjelaskan tentang fotokopi itu. Saat melangkahkan kaki ke koridor, LaManche dan Bergeron tampak berdiri di luar kantor dokter gigi. Keduanya terlihat lelah dan muram. Saat aku berjalan mendekat, mereka menatap wajahku sejenak, tetapi tidak bertanya apa-apa. "Kasus yang buruk?" tanyaku. LaManche mengangguk. "Apa yang terjadi padanya?" "Yang harus ditanyakan justru apa yang tidak terjadi," ujar Bergeron. Kualihkan pandanganku dari satu pria ke pria lainnya. Walau sedikit bungkuk, dokter gigi itu tingginya lebih dari dua meter, dan aku harus mendongak untuk menatap matanya. Uban putihnya menjadi lebih cemerlang karena disorot oleh lampu di langit-langit. Aku teringat komentar Claudel tentang serangan hewan dan menduga itulah alasannya mengapa hari Sabtu Bergeron juga terganggu. "Sepertinya dia digantung pada pergelangan tangannya, kemudian dipukuli dan diserang oleh beberapa ekor anjing," ujar LaManche. "Menurut Marc sedikitnya ada dua ekor anjing yang menyerangnya."

http://inzomnia.wapka.mobi

Bergeron mengangguk. "Anjing bertubuh besar. Mungkin jenis anjing gembala atau Doberman. Ada sekitar enam puluh luka gigitan." "Ya Tuhan." "Cairan yang mendidih, mungkin air, ditumpahkan ke tubuhnya yang telanjang. Kulitnya mengelupas cukup parah, tapi aku tidak bisa menemukan jejak yang bisa di-identifi kasi," ujar LaManche. "Dia masih hidup waktu diperlakukan seperti itu?" Isi perutku melilit saat memikirkan rasa sakit yang dideritanya. "Ya. Dia akhirnya meninggal akibat tusukan berulang kali ke dada dan perutnya. Kamu mau melihat foto Pola-roidnya?" Aku menggelengkan kepala. "Apakah ada luka pembelaan diri?" tanyaku sambil mengingat pergulatanku sendiri dengan penyerangku tadi malam. "Tidak." "Kapan dia meninggal?" "Mungkin kemarin sore." Aku tidak ingin mengetahui lebih teperinci lagi. "Satu hal lagi." Mata LaManche diliputi kesedihan yang mendalam. "Dia sedang hamil empat bulan."

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku berjalan melewati mereka dengan cepat dan masuk ke dalam kantorku. Aku tidak tahu berapa lama duduk di situ, mataku bergerak memandangi berbagai barang dalam bidang pandanganku, namun tatapanku menerawang. Walaupun aku bisa menyembunyikan emosiku karena sudah sangat sering berhadapan dengan kekejaman dan kekerasan selama bertahun-tahun, ada saja kematian yang bisa menembus benteng itu. Pembunuhan yang baru-baru ini terjadi sepertinya lebih buruk dari berbagai kasus yang pernah kutangani. Atau apakah jaringan otakku sudah terlalu penuh sesak sehingga aku tidak bisa lagi menyerap berbagai peristiwa yang mengerikan? Carole Comptois bukan kasusku dan aku belum pernah melihat orangnya, tetapi aku tidak bisa meredam bayangan yang terus bermunculan dari kegelapan di pelosok pikiranku. Aku melihat dirinya pada sat-saat terakhirnya, wajahnya yang merasakan rasa sakit dan teror. Apakah dia memohon-mohon agar tidak dibunuh? Agar bayinya yang belum lahir bisa selamat? Monster seperti apa yang sekarang tengah gentayangan di dunia ini? "Sialan!!!" teriakku di kantor yang kosong itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kujejalkan catatanku ke dalam tas kerjaku, meraih peralatanku, dan membanting pintu di belakangku. Bergeron mengatakan sesuatu saat aku melewati kantornya, tetapi aku tidak menghentikan langkahku. Warta berita jam enam sore sudah dimulai saat aku melaju di bawah Jembatan Jacques Cartier, dan pembunuhan Comptois menjadi berita utama. Kutekan tombol radio, mengulangi lagi pikiranku yang terakhir. "Sialan!!!" Pada saat tiba di rumah, amarahku sudah reda. Beberapa jenis emosi terlalu kuat sehingga harus dipaksa agar reda. Kutelepon Suster Julienne dan meyakinkan dirinya tentang Anna. Claudel telah meneleponnya, tetapi aku ingin menginformasikannya secarapribadi. Dia pasti akan pulang ke rumah, ujarku. Ya, katanya, sependapat denganku. Namun, kami berdua tidak begitu meyakininya lagi. Kukatakan bahwa tulang-belulang Elisabeth sudah siap untuk dikirimkan, dan bahwa laporannya sedang diketik. Dia menimpali dengan mengatakan bahwa tulang-belulang itu akan diambil hari Senin pagi. "Terima kasih banyak, Dr. Brennan. Kami menunggu laporan Anda dengan tidak sabar."

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku tidak merasakan antusiasme yang sama dengannya.Aku tidak tahu bagaimana reaksi mereka saat membaca laporanku. Aku berganti pakaian dengan mengenakan celana jins, mempersiapkan makan malam, tidak mau memikirkan Carole Comptois lebih lanjut. Harry tiba jam setengah tujuh malam dan kami pun makan, tidak berkomentar banyak tentang pasta dan zucchini. Dia sepertinya lelah dan ada yang mengganggu pikirannya, dan bersedia menerima penjelasanku bahwa aku tergelincir di atas es. Aku benar-benar lelah setelah berbagai kejadian yang kuhadapi hari itu. Aku tidak menanyakan ke mana dia malam sebelumnya, atau tentang seminar, dan dia tidak menawarkan cerita apa pun. Tampaknya, kami berdua sama-sama merasa tidak siap untuk mendengarkan atau member tanggapan. Setelah makan malam, Harry membaca bahan lokakaryanya dan aku mulai membaca lagi ketiga buku harian itu. Laporan untuk para biarawati sudah lengkap, tetapi aku ingin mendapatkan lebih banyak informasi lagi. Fotokopi ternyata tidak memperbaiki mutu buku itu dan aku sama tidak bersemangatnya seperti hari Jumat kemarin. Lagi pula, Louis-Philippe bukanlah penulis ulung. Sebagai seorang dokter muda, dia bercerita

http://inzomnia.wapka.mobi

panjang lebar tentang hari-harinya di Hotel Dieu Hospital. Dalam empat puluh halaman pertama aku hanya menemukan beberapa cerita tentang adik perempuannya. Tampaknya, dia khawatir Eugenie ingin terus bernyanyi di depan umum setelah pernikahannya dengan Alain Nicolet. Dia juga tidak menyukai penata rambut adiknya. Louis-Philippe sepertinya orang yang berpandangan kolot. Pada hari Minggu, Harry sudah pergi lagi sebelum aku bangun. Aku mencuci baju, berolahraga di gym, dan memutakhirkan bahan kuliah yang akan kuberikan di kelas evolusi manusia pada hari Selasa. Pada sore hari, aku mulai merasa lelah. Kunyalakan perapian, lalu menyeduh secangkir teh Earl Grey, dan meringkuk di sofa, membaca buku dan makalahku. Aku mulai membaca dari halaman buku harian Belanger yang kutinggalkan kemarin, tetapi setelah sekitar dua puluh halaman, aku beralih ke buku tentang cacar. Buku itu menarik, begitu kontras dengan buku Louis-Phillipe yang membosankan. Aku membaca tentang jalanan yang kulewati setiap harinya. Montreal dan beberapa desa di sekelilingnya dihuni sekitar dua ratus ribu orang pada tahun delapan belas delapan puluhan. Kota itu memanjang dari Jalan Sherbrooke di utara ke pelabuhan di sepanjang sungai di selatan. Di

http://inzomnia.wapka.mobi

sebelah timur dibatasi oleh kota industri Hochelaga, dan di sebelah barat tampak desa para pegawai Ste-Cunegonde dan St-Henri yang terletak tepat di atas Kanal Lachine. Musim panas sebelumnya aku mengendarai sepeda sepanjang jalur kanal untuk sepeda. Dahulu, seperti sekarang, ada ketegangan. Walaupun sebagian besar wilayah Montreal di sebelah barat St-Laurent dihuni penduduk berbahasa Inggris, pada tahun delapan belas delapan puluhan penduduk berbahasa Prancis menjadi mayoritas di kota tersebut. Mereka mendominasi dunia politik, tetapi penduduk berbahasa Inggris menguasai bidang perdagangan dan media. Penduduk keturunan Prancis dan Irlandia beragama Katolik, sementara keturunan Inggris beragama Protestan. Kedua kelompok ini tetap terpisah, baik dalam kehidupan maupun saat kematian. Masing-masing memiliki pemakaman yang terpisah di gunung. Kupejamkan mata dan memikirkan hal itu. Bahkan, sampai sekarang pun bahasa dan agama berperan penting di Montreal. Sekolah Katolik. Sekolah Protestan. Kaum Nasionalis. Kaum Federalis. Aku bertanya dalam hati, ke pihak manakah Elisabeth Nicolet menyatakan kesetiaannya. Cahaya ruangan meredup dan lampu menyala. Aku terus membaca.

http://inzomnia.wapka.mobi

Di akhir abad kesembilan belas, Montreal menjadi pusat perdagangan, memiliki pelabuhan yang luar biasa, sejumlah gudang yang amat luas, pabrik penyamakan kulit, pabrik sabun, pabrik lainnya. McGill sudah menjadi universitas terkemuka. Tetapi, seperti kota-kota Victoria lainnya, Montreal adalah tempat penuh kontras, dengan sejumlah bangunan megah milik saudagar kaya menutupi gubuk kaum pekerja. Di samping jalanan luas yang beraspal, di Shrebrooke dan Dorchester, tampak ratusan jalan tanah dan gang yang tidak diaspal. Di masa itu, kota tersebut memiliki saluran pembuangan air yang jelek, dengan sampah dan bangkai binatang membusuk di selokan kosong, dan kotoran manusia di mana-mana. Sungai digunakan sebagai saluran pembuangan terbuka. Walaupun membeku di musim dingin, sampah dan kotoran membusuk serta menyebarkan bau tidak sedap di musim panas. Semua orang mengeluhkan bau busuk itu. Tehku sudah dingin sehingga aku meluruskan kaki, meregangkannya, dan membuat secangkir the baru. Saat membuka buku itu kembali, aku langsung meloncat ke bagian sanitasi. Hal itu merupakan salah satu keluhan Louis-Philippe tentang Hotel Dieu Hospital. Dan, ternyata memang

http://inzomnia.wapka.mobi

ada catatan tentang lelaki tua itu. Dia menjadi anggota Komite Kesehatan di Dewan Perwakilan Kota. Kubaca catatan yang mengasyikkan tentang dewan yang mendiskusikan tinja manusia. Sistem pembuangannya benar-benar kacau saat itu. Sejumlah penduduk Montreal sudah biasa buang air besar ke saluran pembuang air yang mengarah ke sungai. Ada juga yang menggunakan kloset dari tanah, menutupi tinjanya dengan tanah, kemudian mengeluarkannya untuk dikumpulkan oleh tukang sampah. Yang lainnya buang air besar di kakus umum. Pegawai kesehatan kota melaporkan bahwa penduduk kota menghasilkan sekitar 170 ton tinja setiap hari atau lebih dari 62.050 ton setiap tahun. Dia memperingatkan bahwa 10.000 kakus umum dan tangki septik di kota adalah sumber utama penyakit menular, termasuk tifus, penyakit jengkering, dan difteri. Dewan memutuskan untuk membentuk system pengumpulan dan pembakaran. Louis-Philippe menyetujui usul itu. Saat itu 28 Januari 1885. Pada hari setelah pemungutan suara itu, gerbong Grand Trunk Railway dari daerah barat masuk ke Stasiun Bonaventure. Seorang kondektur sakit dan dokter kereta dipanggil untuk memeriksanya. Orang itu diperiksa dan

http://inzomnia.wapka.mobi

didiagnosis menderita cacar. Sebagai orang Protestan, dia dibawa ke Montreal General Hospital, tetapi ditolak masuk. Pasien itu diizinkan untuk menunggu di sebuah ruangan isolasi di sayap bangunan khusus untuk penyakit menular. Akhirnya, atas permohonan dokter kereta, dia dimasukkan ke Catholic Hotel Dieu Hospital. Aku bangkit untuk mengisi perapian. Saat mengatur ulang kayu-kayunya, kubayangkan bangunan batu berwarna abu-abu yang berdiri di jalan des Pins dan rue St-Urbain. Hotel Dieu masih tetap berfungsi sebagai rumah sakit sampai saat ini. Aku sudah sering melewati rumah sakit itu. Aku kembali membaca buku itu. Perutku keroncongan, tetapi aku ingin terus membaca sampai Harry pulang. Para dokter di Montreal General mengira bahwa para petugas di Hotel Dieu telah melaporkan kasus cacar itu ke departemen kesehatan. Petugas di Hotel Dieu mengira sebaliknya. Tidak ada yang melaporkannya ke pihak yang berwenang dan tidak ada yang menyampaikan berita ini kepada para dokter dan karyawan di kedua rumah sakit itu. Pada saat epidemic berakhir, sekitar tiga ribu orang meninggal dunia, kebanyakan anak-anak.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kututup buku itu. Mataku terasa panas dan dahiku berdenyut-denyut. Jam menunjukkan waktu jam tujuh seperempat. Di mana Harry? Aku beranjak ke dapur, mengambil dan membersihkan steak salmon. Saat membuat sausnya, aku mencoba membayangkan keadaan lingkungan rumahku satu abad yang lalu. Bagaimana orang menghadapi cacar pada zaman itu? Obat racikan rumah macam apakah yang mereka gunakan? Sekitar dua pertiga korban yang meninggal adalah anak-anak. Bagaimana rasanya melihat anak-anak tetangga meninggal? Bagaimana orang menghadapi rasa tidak berdaya saat mengurus anaknya yang sekarat? Kukupas dua buah kentang dan memasukkannya ke dalam oven, kemudian mencuci selada, tomat, dan timun. Harry masih belum pulang. Walaupun membaca buku itu telah mengalihkan pikiranku dari Mathias dan Malachy dan Carole Comptois, aku masih merasa tegang dan kepalaku masih terasa sakit. Kunyalakan air panas di bak mandi dan menambahkan garam mineral laut untuk aroma terapi. Kemudian, kupasang CD Leonard Cohen dan berendam di dalam bak mandi. Kugunakan Elisabeth untuk menjauhkan pikiranku dari kasus-kasus pembunuhan yang tengah kuhadapi. Perjalanan menembus sejarah

http://inzomnia.wapka.mobi

memang mengasyikkan, tetapi aku belum mengetahui apa yang perlu kuketahui. Aku sudah mengetahui hasil kerja Elisabeth selama epidemi itu melalui informasi yang dikirimkan Suster Julienne sebelum penggalian. Elisabeth telah menjalani kehidupan pertapa selama bertahun-tahun, tetapi saat epidemi sudah tidak bisa dikendalikan, dia menjadi penasihat untuk modernisasi kedokteran. Dia menulis surat ke Dewan Kesehatan Provinsi, dan kepada Honore Beaugrand, walikota Montreal, memohon peningkatan kualitas kebersihan di kota itu. Dia mengirimkan banyak sekali tulisan ke berbagai surat kabar berbahasa Inggris dan Prancis dan menuntut dibukanya rumah sakit khusus penderita cacar dan meminta diadakannya vaksinasi terhadap masyakarat luas. Dia menulis surat kepada uskupnya, menyatakan bahwa demam telah menyebar di tempat-tempat orang banyak berkumpul dan memohon kepadanya untuk sementara ini menutup gereja. Uskup Fabre menolak, menyatakan bahwa penutupan gereja sama saja dengan menghina Tuhan. Uskup menganjurkan jemaatnya untuk datang ke gereja, mengatakan bahwa berdoa secara bersama-sama lebih kuat daripada doa yang dilakukan sendirian.

http://inzomnia.wapka.mobi

Huh, pemikiran yang bagus, Uskup. Itulah sebabnya orang Prancis yang beragama Katolik banyak yang meninggal, sementara orang Inggris yang beragama Protestan hanya sedikit yang menjadi korban. Orang-orang kafi r itu mendapatkan suntikan cacar dan tinggal di rumah. Kutambahkan air panas, membayangkan kejengkelan yang dirasakan Elisabeth dan siasat apa yang mungkin akan kugunakan waktu itu. OK, aku sudah tahu tentang hasil kerjanya dan tahu tentang kematiannya. Para biarawati sudah mengetahui hal itu pula. Kubaca lembaran kertas yang menceritakan penyakitnya dan pemakaman public yang dilaksanakan kemudian. Tetapi, aku harus tahu tentang kelahirannya. Kuraih sabun dan membuat busa. Tidak ada gunanya menghindari buku harian. Kusapukan sabun itu di bahuku. Tetapi, aku punya fotokopinya, jadi bisa menundanya sampai sesudah aku berada di Charlotte. Kucuci kakiku. Surat kabar. Itulah saran yang diajukan Jeannotte. Ya. Aku akan menggunakan waktu yang kumiliki di hari Senin untuk menelaah surat kabar tua. Lagi pula aku harus ke McGill untuk mengembalikan buku harian ini.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku menyelusup ke dalam air panas dan memikirkan adikku. Harry yang malang. Aku benar-benar tidak mengacuhkannya kemarin. Aku memang lelah, tetapi apakah itu sebabnya? Atau apakah gara-gara Ryan? Harry berhak untuk tidur bersamanya bila dia menginginkannya. Jadi, mengapa aku bersikap begitu dingin padanya? Kuputuskan untuk lebih ramah kepadanya malam ini. Aku sedang mengeringkan badan dengan handuk saat mendengar deringan alarm keamanan. Kutarik sebuah kemeja tidur fl anel Disney pemberian Harry pada hari Natal dan memakainya dengan menariknya lewat kepala. Kudapati Harry berdiri di ruangan duduk, masih memakai jaketnya, sarung tangan, dan topi, sementara matanya menerawang jauh. "Capek, ya?" "Ya." Pikirannya kembali ke saat ini dan dia tersenyum tipis kepadaku. "Lapar?" "Begitulah. Aku rehat dulu beberapa menit, ya." Dia melemparkan tasnya ke atas sofa dan menghenyakkan tubuh di sebelahnya. "Oke. Lepaskan jaketmu dan duduk-duduk dulu sebentar."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Oke. Sialan, kenapa dingin sekali di sini. Aku merasa seperti es lilin, padahal hanya jalan kaki sebentar dari metro (stasiun kereta bawah tanah)." Beberapa menit kemudian, kudengar dia masuk ke kamar tidur tamu, kemudian menghampiriku di dapur. Ku-panggang salmon dan mengaduk salad, sementara Harry menata meja. Saat kami sudah bersiap hendak makan, kutanyakan kabarnya hari ini. "Baik-baik saja." Dia memotong kentangnya, meremasnya, kemudian menambahkan saus asam. "Baik?" Aku memancingnya. "Ya. Kami membahas banyak hal." "Kamu sepertinya sudah melewati jalanan jelek sepanjang enam puluh kilometer." "Ya. Aku benar-benar capek." Dia sama sekali tidak tersenyum saat mendengar istilah yang kugunakan. "Jadi, apa saja yang kalian lakukan?" "Banyak ceramah, banyak latihan." Dia menyendokkan saus ke atas ikannya. "Apa butiran hijau kecil ini?" "Acar timun. Latihan seperti apa?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Meditasi. Permainan." "Permainan?" "Saling bercerita. Senam. Apa pun yang mereka suruh lakukan." "Kamu lakukan apa saja yang mereka suruh lakukan?" "Aku melakukannya karena aku memilih untuk melakukannya," ujarnya dengan ketus. Aku terkejut. Harry jarang membentakku seperti itu. "Maaf. Aku hanya capek sekali." Untuk sejenak kami makan tanpa berkata apaapa. Aku sebenarnya tidak ingin tahu tentang terapinya yang mengandalkan sentuhan dan rabaan itu, tetapi setelah beberapa menit berlalu, aku mencobanya kembali. "Berapa banyak orang yang hadir di sana?" "Cukup banyak." "Apakah orang-orangnya menarik?" "Aku melakukan ini bukan karena ingin mendapatkan teman baru, Tempe. Aku belajar untuk mengendalikan hidupku. Untuk bisa bertanggung jawab. Hidupku menyebalkan dan aku mencoba mencari jalan untuk memperbaikinya."

http://inzomnia.wapka.mobi

Dia menusuk saladnya. Aku tidak bisa mengingat kapan terakhir kalinya dia terlihat sedemikian murungnya. "Dan latihan itu ada gunanya bagimu?" "Tempe, kamu harus mencobanya sendiri. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang kami lakukan atau bagaimana cara kerjanya." Dia menyapukan saus acar timunnya dan menusuk ikan salmonnya. Aku tidak berkata apa -apa. "Kurasa kamu tidak akan bisa memahaminya. Kamu terlalu dingin." Dia mengangkat piringnya dan membawanya ke dapur. Percuma saja semua usahaku untuk tertarik pada kegiatannya. Aku menghampirinya di bak cuci. "Aku mau langsung tidur saja," ujarnya, menepuk bahuku. "Kita bicara besok saja, ya." "Aku sudah akan berangkat besok sore." "Oh. Kutelepon saja kalau begitu." Di kamar tidur, kuulangi lagi percakapan itu di dalam kepalaku. Aku tidak pernah melihat Harrytidak bersemangat seperti itu atau begitu galak saat kutanyai. Dia pasti benar-benar kelelahan. Atau mungkin karena Ryan. Atau perceraiannya dengan Striker.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kelak, aku akan bertanya-tanya mengapa aku tidak melihat tanda-tanda itu sebelumnya. Padahal, mungkin hal itu bisa mengubah banyak hal yang akan terjadi selanjutnya. 13. Pada hari Senin aku bangun di waktu subuh, berencana untuk membuat sarapan untukku dan untuk Harry. Dia menolak, katanya ini hari berpuasa. Dia pergi sebelum jam tujuh, memakai sweter tanpa rias wajah, sebuah pemandangan yang tidak pernah kuduga akan pernah kulihat. Ada beberapa catatan rekor yang menunjukkan tempat-tempat terdingin di bumi ini, tempat paling kering, dan paling rendah. Tempat yang paling muram tidak usah diragukan lagi adalah bagian majalah dan mikrofi s di Perpustakaan McLennan di McGill. Ruangannya sangat panjang dan sempit, terletak di lantai dua dengan lantai semen dan pencahayaan yang redup, dan lantainya berwarna merah darah. Dengan mengikuti arahan pustakawan, kulewati sederetan rak majalah dan surat kabar menuju rak logam yang berisi banyak kardus kecil dan kaleng logam bundar. Kutemukan beberapa kardus yang kuinginkan dan

http://inzomnia.wapka.mobi

membawanya ke ruang baca. Setelah memutuskan untuk memulainya dari surat kabar berbahasa Inggris, kukeluarkan satu rol mikrofilm dan mengaitkannya ke mesin pembaca. Pada tahun 1846, Montreal Gazette diterbitkan setiap tiga minggu, dengan format yang mirip New York Times masa kini. Banyak kolom sempit, sedikit gambar, berbagai iklan. Alat pembacaku sudah jelek dan begitu pula filmnya. Seperti mencoba membaca di bawah air. Film itu berubah-ubah fokusnya, lalu helaian rambut dan kotoran terus berseliweran di layar. Iklan menayangkan topi dari bulu binatang, peralatan kantor Inggris, kulit domba yang belum disamak. Dr. Taylor menawarkan balsem tumbuhan liverwort, Dr. Berlin menawarkan pil penyakit empedu. John Bower Lewis mempromosikan dirinya sebagai seorang pengacara andal. Pierre Gregoire dengan senang hati akan menata rambut Anda. Kubaca iklannya: Pria sopan menerima pelanggan pria dan wanita yang terhormat. Mampu menata rambut yang halus dan berminyak, betapa pun sulitnya. Akan melakukan penataan yang mengagumkan untuk menghasilkan rambut keriting yang indah dan memperbaiki rambut agar tampil cantik. Harga terjangkau. Hanya pelanggan tertentu saja.

http://inzomnia.wapka.mobi

Dan sekarang bagian berita. Antoine Lindsay tewas saat tetangganya menghantam kepalanya dengan sepotong kayu. Temuan koroner: Pembunuhan Direncanakan. Seorang gadis Inggris, Maria Nash, belum lama ini mendarat di Montreal, menjadi korban penculikan dan pengkhianatan. Dia tewas dalam kondisi gila di Emigrant Hospital. Saat Bridget Clocone melahirkan bayi lelaki di Women's Lying-in Hospital, dokter mendapati bahwa janda berusia empat puluh tahun ini telah melahirkan anak lainnya baru-baru ini. Polisi menyelidiki rumah majikannya dan menemukan mayat bayi lelaki yang disembunyikan di bawah pakaian di dalam sebuah kotak. Bayi itu menunjukkan "... tanda-tanda kekerasan seakan-akan mendapatkan tekanan jari-jemari yang kuat di lehernya". Temuan Koroner: Pem bunuhan Direncanakan. Ya ampun. Apakah semuanya tidak pernah berubah? Kupercepat pengamatanku dan kupindai daftar kapal yang datang dan pergi dari pelabuhan, dan daftar penumpang kapal laut yang meninggalkan Montreal menuju Liverpool. Berita yang tidak berguna. Tarif untuk naik kapal uap. Jasa kereta kuda ke Ontario. Pemberitahuan tentang pemindahan. Tidak banyak orang yang pindah minggu itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Akhirnya aku menemukannya. Kelahiran, pernikahan, Kematian. Di kota ini pada tanggal tujuh belas, Nyonya David Mackay, melahirkan anak lakilaki. Nyonya Marie-Claire Bisset melahirkan anak perempuan. Tidak ada yang menyebutkan Eugenie Nicolet dan bayinya. Kuamati posisi berita kelahiran di setiap surat kabar dan langsung meloncat ke bagian itu di setiap surat kabar untuk beberapa minggu berikutnya. Tidak ada berita apa-apa. Kuperiksa setiap surat kabar di rol film itu. Sampai akhir tahun 1846 tidak ada catatan mengenai kelahiran Elisabeth. Kucoba surat kabar berbahasa Inggris lainnya. Hasilnya sama. Tidak ada yang memberitakan Eugenie Nicolet. Tidak ada berita lahirnya Elisabeth. Aku beralih ke surat kabar berbahasa Prancis. Sama saja. Pada pukul sepuluh mataku mulai perih dan rasa sakit menyebar di punggung dan bahuku. Aku bersandar, meregangkan tubuh, dan memijat pelipis. Sekarang apa? Di seberang ruangan, seseorang yang sedang menggunakan mesin pembaca lainnya menekan tombol mundur. Ide bagus. Aku mencoba mundur. Elisabeth dilahirkan

http://inzomnia.wapka.mobi

pada bulan Januari. Mari kita cek periode ketika sperma dan sel telur bertemu. Kukeluarkan beberapa kotak dan memasang film ke alatnya. April 1845. Iklan yang sama. Peringatan yang sama tentang orang pindah. Daftar penumpang yang sama. Di surat kabar berbahasa Inggris. Surat kabar berbahasa Prancis. Pada saat aku membaca La Presse, mataku sudah hampir tidak bisa fokus lagi. Kulirik jam tanganku. Setengah dua belas. Dua puluh menit lagi. Aku bertopang dagu dan menekan tombol mundur. Saat film berhenti, aku akhirnya tiba di bulan Maret. Aku bergerak maju secara manual, berhenti di sana-sini untuk memeriksa bagian tengah layar, saat aku melihat nama Belanger. Aku duduk tegak dan mengatur alat fokus di mesin itu. Beritanya singkat. Eugenie Belanger berangkat ke Paris. Penyanyi terkenal dan istri Alain Nicolet berangkat ditemani dua belas orang pengiringnya dan akan pulang pada musim berikutnya. Kecuali berita tentang betapa dia akan dirindukan, tidak ada catatan lainnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Jadi, Eugenie pergi ke luar kota. Kapankah dia kembali? Di manakah dia pada bulan April? Apakah Alain pergi bersamanya? Apakah Alain menyusulnya? Kulirik jam tanganku. Sialan. Kuperiksa dompet, merogoh ke dasar tas, dan mencetak sebanyak mungkin halaman sesuai dengan uang receh yang kumiliki. Kugulung lagi film itu dan mengembalikannya, lalu bergegas menyeberangi kampus menuju Birks Hall. Pintu kantor Jeannotte tertutup dan dikunci, jadi aku langsung ke kantor departemen. Sekretaris itu memalingkan matanya dari layar komputer, dan berusaha cukup lama untuk meyakinkanku bahwa buku harian itu akan diserahkan dengan selamat kepada sang profesor. Kutulis pesan terima kasih, lalu pergi. Ketika berjalan kembali menuju apartemen, pikiranku masih pada sejarah yang baru kubaca. Kubayangkan rumah-rumah megah tua yang kulewati pada seratus tahun yang lalu. Apakah yang dilihat para penghuninya saat mereka menatap ke seberang Sherbrooke? Bukan Musee des Beaux-Arts atau Ritz- Carlton. Bukan penawaran terakhir dari Ralph Lauren, Giorgio Armani, dan etalase Versace.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku bertanya dalam hati apakah mereka akan menyukai para tetangga yang penuh gaya itu. Pasti pemandangan berbagai butik itu lebih menyegarkan daripada rumah sakit cacar yang dibuka kembali tak jauh dari halaman belakang rumah mereka. Setiba di rumah, kuperiksa mesin penjawab telepon, kalau-kalau Harry menelepon saat aku sedang tidak di rumah. Tidak ada pesan. Aku segera membuat roti lapis, kemudian mengendarai mobil ke lab untuk menandatangani laporan. Saat hendak pergi lagi, kutinggalkan sehelai catatan di meja LaManche, mengingatkannya pada tanggal aku akan kembali. Biasanya, aku menghabiskan sebagian besar bulan April di Charlotte, dengan asumsi bahwa aku akan segera kembali ke Montreal jika ada panggilan dari pengadilan atau hal-hal mendesak lainnya. Pada bulan Mei dan setelah akhir semester musim semi, aku kembali lagi untuk menghabiskan musim panas. Setiba di rumah lagi, aku memerlukan waktu satu jam untuk membereskan baju dan merapikan bahan kerja. Walaupun aku tidak termasuk golongan orang yang suka bepergian dengan membawa tas kecil, baju bukanlah masalah bagiku. Setelah bertahun-tahun lamanya pulang-pergi antara dua negara ini, aku

http://inzomnia.wapka.mobi

semakin sadar bahwa lebih praktis menyiapkan dua set segala macam barang di dua tempat yang kutempati. Aku memiliki koper beroda terbesar di dunia dan memenuhinya dengan buku, arsip, buku harian, naskah, bahan kuliah dan apa pun yang sedang kukerjakan. Pada perjalanan kali ini, koperku berisi beberapa kilo fotokopi Pada pukul setengah empat aku naik taksi ke bandara. Harry belum juga menelepon. Aku tinggal di apartemen yang mungkin paling unik di Charlotte. Apartemenku berukuran paling kecil di kompleks yang dikenal sebagai Sharon Hall, properti berukuran dua setengah acre di Myers Park. Akta tidak mencatat fungsi asli bangunan kecil ini, dan sekarang, karena tidak ada label yang lebih baik, para penghuninya menyebutnya sebagai Coach House Annex atau disingkat Annex. Rumah utama di Sharon Hall dibangun pada tahun 1913 sebagai rumah untuk tokoh industri perkayuan setempat. Ketika istrinya meninggal pada tahun 1954, bangunan bergaya Georgia berukuran 700 meter persegi itu disumbangkan kepada Queens College. Bangunan itu ditempati oleh jurusan musik sampai pertengahan sembilan belas delapan puluhan, pada saat properti itu dijual dan rumah megah serta paviliunnya diubah menjadi

http://inzomnia.wapka.mobi

apartemen. Pada waktu itu ditambahkan sayap bangunan dan annex yang menjadi sepuluh rumah, semuanya sama dengan gaya rumah aslinya. Batu bata tua dari dinding pekarangan digunakan untuk membangun gedung baru, dan jendela, tembok, dan lantai kayu dibuat semirip mungkin dengan gaya tahun 1913. Pada awal tahun sembilan belas enam puluhan sebuah gazebo dibangun di sebelah Annex dan bangunan kecil itu digunakan sebagai dapur kecil di musim panas. Akhirnya, dapur itu tidak digunakan lagi dan menjadi gudang selama dua dasawarsa berikutnya. Pada tahun 1993 seorang eksekutif Nations-Bank membeli Annex dan mengubahnya menjadi town house terkecil di dunia, mengubah gazebo itu menjadi bagian dari daerah tempat tinggal utama. Dia pindah tepat pada saat situasi pernikahanku yang memburuk menyebabkan aku harus mencari tempat tinggal baru. Aku mendapatkan rumah dua lantai seluas delapan puluh meter persegi dan walaupun penuh sesak, aku sangat menyukainya. Satu-satunya suara di rumah itu adalah detikan lambat jam besarku. Pete pasti pernah masuk ke kamar ini. Dia memang sudah terbiasa memutarkan jam itu untukku. Kupanggil-panggil Birdie, tetapi kucing itu tidak muncul.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kugantungkan jaket di lemari ruang depan dan menyeret tas menaiki tangga kecil menuju kamar tidurku. "Bird?" Tidak ada yang mengeong dan tidak ada wajah putih berbulu muncul di sudut ruangan. Di lantai bawah, kutemukan sebuah pesan di meja dapur. Pete membawa Birdie, tetapi dia akan ke Denver hari Rabu selama satu sampai dua hari dan memintaku mengambil kucing itu selambat-lambatnya besok. Mesin penjawab telepon berkedip-kedip seperti lampu tanda bahaya dan memang seharusnya begitu, pikirku. Kulirik jam tanganku. Setengah sebelas. Aku sebenarnya tidak mau keluar lagi. Kutekan nomor telepon Pete. Nomor rumahku dulu, selama bertahun-tahun. Kubayangkan pesawat telepon di dinding dapur, lekukan berbentuk V di sisi kanannya. Kami pernah menikmati masa-masa menyenangkan di rumah itu, khususnya di dapur, dengan perapian dan meja pinus tua yang besar. Tamu selalu tertarik untuk masuk ke tempat itu, meskipun kucoba untuk mengajak mereka ke ruangan lain.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kudengar mesin penjawab berfungsi dan terdengar suara Pete yang meminta penelepon untuk meninggalkan pesan. Aku pun meninggalkan pesan. Aku mencoba menelepon Harry. Rutinitas yang sama, hanya kali ini suaraku yang menyambut dari mesin penjawab. Kudengarkan pesan-pesan untukku. Pete. Kepala departemenku. Dua orang mahasiswa. Seorang teman mengundangku ke sebuah pesta pada hari Selasa yang lalu. Mertuaku. Dua panggilan telepon lainnya yang langsung ditutup. Sahabatku, Ann. Tidak ada kabar buruk. Selalu melegakan saat mendengar serangkaian monolog berlalu tanpa menggambarkan bencana yang telah atau akan terjadi. Aku makan pizza dingin dan hampir selesai membongkar isi koper saat telepon berdering. "Perjalanannya lancar?" "Lumayan. Seperti biasanya." "Bird mengatakan dia akan menuntut." "Untuk apa?" "Karena disia-siakan." "Dia mungkin bisa menang. Apa kamu yang akan jadi pengacaranya?" "Kalau dia bisa menunjukkan bahwa dia punya cukup uang."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ada kesibukan apa di Denver?" "Pernyataan seorang saksi. Seperti biasanya." "Boleh aku jemput Birdie besok saja? Aku sudah bangun sejak jam enam pagi dan benar-benar kecapaian." "Kudengar Harry datang mengunjungimu di sana." "Bukan gara-gara itu," tukasku. Adikku selalu menjadi sumber pertengkaran dengan Pete. "Hey, hey, tenang dulu. Bagaimana keadaannya?" "Luar biasa." "Besok juga boleh. Pukul berapa?" "Besok hari pertamaku di sini, jadi aku sepertinya baru akan keluar sore hari. Mungkin pukul enam atau tujuh." "Tidak apa-apa. Datang saja pukul tujuh dan aku bisa menyediakan makan malam." "Aku-" "Demi Birdie. Dia perlu bukti bahwa kita masih tetap berteman. Tampaknya dia merasa bahwa semua ini salahnya." "Oke."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kamu 'kan tidak mau kalau Birdie harus ikut terapi di dokter hewan." Aku tersenyum. Pete. "Ok. Tapi, aku akan membawa makanan." "Boleh saja." Hari berikutnya lebih kacau daripada yang kuperkirakan. Aku bangun jam enam, tiba di kampus pukul setengah delapan. Pada pukul sembilan aku memeriksa email, menyortir surat pos, dan menelaah bahan kuliah. Kuserahkan hasil ujian kedua kelasku, sehingga aku harus memperpanjang jam kerjaku. Beberapa mahasiswa ingin mendiskusikan nilainya, yang lainnya menginginkan keringanan karena tidak mengikuti ujian. Selalu saja ada keluarga yang meninggal saat ujian, dan berbagai krisis pribadi yang menerpa mereka. Tidak ada pengecualian untuk ujian tengah semester ini. Pada pukul empat, aku menghadiri rapat Komite Mata Kuliah dan Kurikulum yang menghabiskan waktu sembilan puluh menit untuk mendiskusikan apakah jurusan Filsafat bisa mengganti nama mata kuliah tentang Thomas Aquinas. Aku kembali ke kantorku dan melihat cahaya berkedip di pesawat teleponku. Dua pesan. Seorang mahasiswa lagi yang bibinya meninggal. Sebuah pesan dari keamanan kampus memperingatkan pencurian di Gedung Ilmu Fisika.

http://inzomnia.wapka.mobi

Berikutnya aku mengumpulkan diagram, jangka, cetakan, dan setumpuk bahan yang akan dipersiapkan asistenku untuk latihan di lab hari berikutnya. Kemudian, aku menghabiskan waktu satu jam di lab untuk memastikan bahwa berbagai spesimen yang kupilih sudah cukup. Pada pukul enam aku mengunci semua laci dan pintu lab. Tidak tampak ada orang di koridor di Gedung Colvard dan terasa sunyi, tetapi pada saat aku membelok di ujung lorong ke arah kantorku, aku terkejut saat melihat seorang wanita muda membungkuk di depan pintu kantorku. "Ada yang bisa kubantu?" Dia meloncat saat mendengar suaraku. "Aku ... Tidak. Maaf. Aku tadi mengetuk." Dia bicara tanpa membalikkan tubuhnya, membuatku sulit untuk melihat wajahnya. "Aku salah, bukan kantor ini yang seharusnya kudatangi." Bersamaan dengan itu dia membelok di sudut gedung dan menghilang dari pandangan. Aku tiba-tiba teringat pada pesan tentang seringnya terjadi orang masuk tanpa izin. Tenang, Brennan. Dia mungkin hanya mendengarkan untuk melihat apakah ada orang di dalam.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kuputar pegangan pintu yang langsung terbuka. Sialan. Aku yakin telah menguncinya tadi. Atau tidak? Tanganku penuh dengan buku sehingga tadi aku menutup pintu dengan kakiku. Mungkin kaitannya tidak mengunci. Aku segera melihat sekilas barang-barang di ruangan itu. Sepertinya tidak ada yang diganggu. Kuraih tas dari laci paling bawah dan memeriksanya. Uang. Kunci. Paspor. Kartu kredit. Semua yang pantas diambil masih ada di dalamnya. Mungkin dia memang salah kantor. Mungkin dia melihat ke dalam, menyadari kesalahannya, dan baru akan beranjak pergi. Aku tidak melihatnya membuka pintu. Pokoknya begitulah. Kubereskan tas kerjaku, memutar kunci dan menguji kuncinya, kemudian berjalan menuju lantai tempat parkir. Perbedaan Charlotte dengan Montreal seperti perbedaan antara Boston dengan Bombay. Sebagai kota yang memiliki beragam kepribadian, Charlotte dulunya merupakan kota terindah dari Old South dan juga pusat keuangan terbesar kedua di Negara ini. Di kota ini juga terdapat pusat Charlotte Motor Speedway, NationsBank dan First Union, serta Opera

http://inzomnia.wapka.mobi

Carolina dan Coyote's Joe. Tampak gereja di setiap sudut kota dan beberapa bar kecil di sana-sini. Ada country club dan tempat bar-begue, jalan raya yang penuh sesak dan kuldesak yang sepi. Pendeta Billy Graham yang terkenal itu dibesarkan di sebuah peternakan yang sekarang telah menjadi pusat perbelanjaan dan Pendeta Jim Baker memulai kariernya di gereja setempat dan berakhir di gedung pengadilan karena skandal seksnya. Charlotte adalah tempat dicanangkannya kebijakan untuk meraih keseimbangan rasial di sekolah negeri, dan tempat berbagai akademi swasta, beberapa di antaranya berorientasi agama dan yang lainnya benar-benar sekuler. Charlotte adalah kota yang mendiskriminasikan orang berdasarkan ras pada tahun 1960-an, tetapi kemudian sekelompok pemimpin kaum kulit hitam dan kaum kulit putih bekerja sama untuk mendirikan restoran, penginapan, tempat rekreasi, dan transportasi terpadu. Saat Hakim James B. McMillan menetapkan kebijakan pada 1969, tidak ada kerusuhan sama sekali. Hakim itu sendiri sering mengalami kritikan tajam, tetapi kebijakannya tetap berjalan dan seluruh kota mematuhinya. Aku selalu tinggal di bagian tenggara kota itu. D i 11- worth. Myers Park. Eastover. Foxcroft. Walaupun jauh dari universitas, berbagai lingkungan

http://inzomnia.wapka.mobi

perumahan ini termasuk yang paling tua dan paling indah, labirin jalanan dihiasi rumah yang serbaindah dan pekarangan yang luas dilindungi pohon elm dan ek yang umurnya lebih tua dari piramid. Kebanyakan jalanan di Charlotte, seperti banyak penghuni Charlotte, terlihat menyenangkan dan anggun. Kubuka jendela mobil dan kuhirup udara sore di bulan Maret. Ini adalah hari-hari transisi, belum memasuki musim semi, tetapi sudah bukan musim dingin, saat kita membuka dan mengenakan kembali jaket beberapa kali sehari. Bunga crocus mulai menyembul dari dalam tanah dan tak lama udara akan dihiasi dengan bau dogwoods, redbuds, dan azaleas. Lupakan Paris. Di musim semi, Charlotte adalah kota yang paling indah di muka bumi. Aku memiliki beberapa rute yang bisa kupilih saat pulang ke rumah dari kampus. Malam ini, aku memutuskan untuk mengambil jalan bebas hambatan sehingga aku menggunakan jalan keluar ke Harris Boulevard. Lalu lintas di Highway 1-85 dan 1-77 bergerak dengan mulus sehingga dalam waktu lima belas menit aku sudah masuk ke jalan raya dan mengarah ke tenggara di Providence Road. Aku berhenti di Pasta and Provisions Company untuk membeli

http://inzomnia.wapka.mobi

spageti, Caesar salad, dan roti bawang, dan tak lama setelah jam tujuh aku membunyikan bel pintu rumah Pete. Dia membuka pintu sambil mengenakan jins belel dan baju rugby berwarna kuning biru, terbuka di bagian leher. Rambutnya acak-acakan seakan baru disisir dengan tangannya. Dia terlihat tampan. Pete selalu terlihat tampan. "Kenapa tidak menggunakan kuncimu?" Betul juga, mengapa aku tidak menggunakannya? "Supaya bertabrakan dengan seorang gadis pirang bercelana spandex di ruang baca?" "Apa dia sudah datang?" ujarnya, melihat ke sekelilingnya seakan-akan sedang mencari. "Mimpi saja terus. Nih, masak air panas dulu." Kuserahkan pasta yang tadi kubeli. Ketika Pete meraih kantong berisi makanan itu, Birdie menampakkan dirinya, meregangkan salah satu kaki belakangnya, kemudian yang satunya lagi, dan duduk dengan rapinya. Matanya menatap wajahku, tetapi dia tidak mendekat. "Hey, Bird. Kangen sama aku?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Kucing itu tidak bergerak. "Kamu benar. Dia marah," ujarku. Kulemparkan tasku ke sofa, kemudian mengikuti Pete ke dapur. Kursi di sekeliling meja dipenuhi tumpukan surat, kebanyakan belum dibuka. Begitu pula dengan tempat duduk di bawah jendela dan rak kayu di bawah telepon. Aku tidak berkomentar apa-apa. Sekarang semuanya bukan masalahku lagi. Kami melewatkan satu jam berikutnya dengan makan spageti dan mendiskusikan Katy dan anggota keluarga lainnya. Kuceritakan ibunya menelepon, mengeluhkan bahwa Pete tidak mengacuhkannya. Pete berkomentar dengan mengatakan bahwa dia mempersembahkan ibunya dan Birdie dalam satu paket. Aku menyuruhnya untuk menelepon ibunya. Dia berjanji akan meneleponnya. Pada pukul setengah sembilan aku memangku Birdie ke mobilku, Pete mengikuti sambil membawa perlengkapan kucing itu. Kucingku membawa barang lebih banyak dariku saat bepergian. Ketika membuka pintu, Pete meletakkan tangannya di atas tanganku. "Kamu yakin tidak mau menginap di sini?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Dia meremas jari-jemariku dan dengan tangannya yang lain mengelus rambutku dengan lembut. Apa aku mau? Sentuhannya terasa begitu menyenangkan dan makan malam terasa normal, sungguh nyaman. Aku merasa sesuatu di dalam diriku mulai meleleh. Pikir, Brennan. Kamu lelah. Kamu bergairah. Cepat pulang saja. "Bagaimana dengan Judy?" "Ada sedikit gangguan dalam susunan kosmos." "Kurasa tidak, Pete. Kita sudah pernah membahas ini. Aku menikmati makan malamnya." Dia mengangkat bahu dan menarik kembali tangannya. "Pokoknya kamu tahu di mana tempat tinggalku," ujarnya sambil berjalan kembali ke dalam rumah. Aku pernah membaca bahwa ada sepuluh triliun sel dalam otak manusia. Semua sel milikku terjaga di malam itu, berkecamuk dalam diskusi yang hiruk-pikuk mengenai satu topik: Pete. Mengapa aku tidak menggunakan kunci milikku? Batasan, itu alasan yang dikemukakan sel otakku. Bukan sekadar alasan lama yang mengatakan:

http://inzomnia.wapka.mobi

"ini garisnya, jangan menyeberanginya", tetapi menetapkan batasan yang baru, baik secara nyata maupun simbolis. Mengapa pula kami dulu sampai berpisah? pernah ada saat ketika aku sangat mendambakan pernikahan dan tinggal dengannya seumur hidupku. Apa yang berubah antara diriku yang dahulu dan diriku yang sekarang ini? Aku masih sangat muda ketika menikah, tetapi apakah aku yang sedang berkembang dahulu itu begitu berbeda dengan diriku sekarang? Atau adakah kedua sosok Pete yang dulu dan yang sekarang yang berbeda? Apakah Pete yang kunikahi dulu benar-benar tidak bertanggung jawab? Sangat tidak bisa diandalkan? Apakah dulu aku berpikir bahwa hal itu adalah bagian dari pesonanya? Diskusi monologku mulai terdengar seperti lagu yang biasa dinyanyikan oleh Sammy Cahn, komentar sel otakku. Apakah yang terjadi di antara kami selama itu yang menyebabkan kami berpisah? Pilihan apakah yang telah kami buat? Apakah kami akan membuat pilihan itu sekarang? Apa salahku? Salah Pete? Takdir? Apa yang salah? Ataukah semuanya sudah berjalan dengan benar? Apakah aku sekarang berada di jalur baru yang benar, jalan yang telah diarahkan oleh pernikahanku?

http://inzomnia.wapka.mobi

Rangkaian pertanyaan yang cukup sulit, ujar sel otakku. Apakah aku masih bersedia tidur dengan Pete? Sebuah jawaban ya tanpa ragu lagi dilontarkansel-sel itu. Tetapi, ini adalah tahun yang kering untuk berhubungan seks, ujarku. Pilihan kata yang menarik, ujar salah satu sel. Kering. Tidak adanya daging. Menandakan rasa lapar. Ada seorang pengacara di Montreal, protesku. Bukan itu jawabannya, ujar salah satu sel di atas. Orang itu sama sekali tidak memberikan kenikmatan. Voltasenya berada di daerah merah dengan orang itu. Tidak ada gunanya berdebat dengan otak bila bagian tubuh itu sedang penuh gairah. 14. Pada hari Sabtu pagi, aku baru tiba di universitas saat telepon kantorku berdering. Suara Ryan benar-benar mengejutkanku. "Aku tidak menginginkan berita cuaca," ujarnya sebagai pembukaan.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Suhu lima belas derajat dan aku memakai krim tabir surya." "Kamu memang benar-benar keras kepala, Brennan." Aku tidak berkomentar apa-apa. "Mari kita bicarakan tentang St-Jovite." "Oke." Kuraih pulpen dan mulai membuat gambar se-gitiga. "Kita mendapatkan empat nama." Aku menunggu. "Ternyata memang satu keluarga. Ibu, ayah, dan bayi kembar laki-laki." "Kita kan sudah tahu tentang hal itu?" Kudengar suara gemerisik kertas. "Brian Gilbert, usia dua puluh tiga tahun, Heidi Schneider, usia dua puluh tahun, Malachy dan Mathias Gilbert, usia empat bulan." Kuhubungkan garis di bawah menjadi beberapa segi-tiga kecil. "Kebanyakan wanita akan terpesona oleh kemampuan penyelidikanku." "Aku bukan kebanyakan wanita." "Kamu marah?" "Apakah memang ada alasan aku harus marah?" Kulemaskan gerahamku dan kupenuhi paru-paruku dengan udara. Untuk beberapa saat lamanya dia tidak menyahut. "Bell Canada tidak tergesa-gesa seperti biasanya, tetapi catatan telepon itu akhirnya datang juga hari Senin. Satu-satunya nomor jarak jauh selama setahun terakhir dialamatkan ke kode area delapan-empattiga." Aku berhenti di tengah-tengah segitiga.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kelihatannya kamu bukanlah satu-satunya orang yang merindukan Dixie." "Lucu." "Kenangan lama sepertinya tidak akan pernah terlupakan." "Di mana?" "Beaufort, South Carolina." "Apa kamu yakin?" "Wanita tua itu sering menelepon ke nomor itu, kemudian panggilan telepon itu berhenti musim dingin kemarin." "Dia menelepon ke mana?" "Mungkin ke sebuah rumah. Sheriff setempat akan memeriksanya hari ini." "Itu tempat tinggal keluarga muda itu?" "Tidak juga. Petunjuk Beaufort ini membuatku berpikir. Panggilan telepon itu sepertinya cukup sering, kemudian berhenti pada tanggal dua belas Desember. Kenapa? Itu sekitar tiga bulan sebelum kebakaran. Ada sesuatu yang mengusikku. Bagian tiga bulan itu. Lalu, aku teringat. Itu adalah waktu ketika para tetangga mengatakan bahwa pasangan suami-istri dan bayi itu terlihat di St-Jovie. Kamu mengatakan kedua bayi itu berusia empat bulan, jadi kupikir mereka dilahirkan di Beaufort dan panggilan telepon itu berhenti saat mereka tiba di St-Jovite."

http://inzomnia.wapka.mobi

Kubiarkan dia meneruskan ceritanya. "Aku menelepon Beaufort Memorial, tapi tidak ada bayi kembar yang dilahirkan di sana selama setahun terakhir ini. Kemudian, aku mencoba menelepon beberapa klinik, dan menemukan sesuatu. Mereka ingat sang ibu di Kembali terdengar gemerisik kertas. "... Beaufort-Jasper Comprehensive Health Clinic di Saint Helena. Itu sebuah pulau." "Aku tahu itu, Ryan." "Itu klinik kesehatan di pedesaan, kebanyakan dokternya berkulit hitam, kebanyakan pasiennya berkulit hitam. Aku bicara dengan salah seorang dokter kandungan dan, setelah berdebat tentang rahasia pasien omongkosong itu, dokter wanita itu mengakui telah menangani kelahiran yang cocok dengan deskripsi yang kuberikan. Wanita itu datang saat hamil empat bulan, mengandung bayi kembar. Tanggal kelahirannya di akhir November. Heidi Schneider. Dokter itu mengatakan dia ingat Heidi karena berkulit putih dan karena anak kembar itu." "Jadi, Heidi melahirkan di situ?" "Tidak. Alasan lainnya kenapa dokter itu ingat pada Heidi adalah karena dia menghilang. Wanita itu terus memeriksakan diri ke dokter sampai hamil enam bulan, kemudian tidak pernah kembali lagi."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Itu saja?" "Itu saja yang dikatakan oleh dokter wanita itu sampai aku mengirimkan faks foto autopsi. Dia pasti akan membayang-bayangkan foto itu selama beberapa hari ini saat hendak tidur. Saat menelepon kembali, dia menjadi lebih terbuka. Tapi, bukan berarti info di chart-nya bisa membantu. Heidi tidak begitu jujur saat mengisi formulir di rumah sakit itu. Dia menuliskan Brian Gilbert adalah sang ayah, menuliskan alamat rumahnya di Sugar Land, Texas, dan tidak mengisi alamat setempat dan nomor teleponnya." "Ada apa di Texas?" "Kami sedang memeriksanya, Bu." "Jangan mulai, Ryan." "Apakah kepolisian di Beaufort cukup cerdas?" "Aku tidak mengenal mereka. Lagi pula, mereka tidak punya yurisdiksi di St. Helena. Daerah itu tidak termasuk ke daerah mana pun, jadi merupakan juridiksi sheriff." "Kita akan menemuinya." "Kita?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku akan naik pesawat ke sana hari Minggu dan perlu pemandu lokal dong. Kamu tahu 'kan, seseorang yang mengenal bahasanya, mengenal protocol lokalnya. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara kalian makan jagung bakar." "Aku tidak bisa. Katy akan pulang minggu depan. Lagi pula, Beaufort mungkin adalah salah satu tempat yang paling kusenangi di planet ini. Se andainya aku menjadi pemandumu, yang mungkin tidak akan kulakukan, bukan pada saat kamu sedang bertugas." "Atau kenapa." "Kenapa apa?" "Kenapa orang mau makan jagung bakar." "Tanya Martha Stewart." "Pertimbangkan dulu." Tidak perlu. Aku tidak ingin bertemu dengan Ryan di Beaufort. Sama seperti tidak ingin mendaftarkan diriku sebagai wanita lajang yang mencari pasangan di bagian People Meeting People di surat kabar setempat. "Bagaimana dengan dua mayat yang hangus di lantai atas?" Kembali ke StJovite. "Kami masih menyelidikinya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apakah Anna Goyette sudah pulang ke rumahnya?" "Sama sekali tidak tahu." "Ada perkembangan kasus pembunuhan Claudel?" "Yang mana?" "Gadis hamil yang melepuh itu." "Setahuku sih belum ada perkembangan apaapa." "Kamu memang sumber informasi yang berguna. Nanti ceritakan kepadaku apa yang kamu temukan di Texas." Kututup telepon dan kuambil sekaleng Diet Coke. Aku tidak mengetahuinya saat itu, tetapi hari itu ternyata hari yang sarat dengan pembicaraan melalui telepon. Sepanjang sore, aku menyelesaikan makalah yang akan disajikan di pertemuan American Association of Physical Anthropology pada awal April. Aku merasakan stres yang biasa kuhadapi karena menundanya terus sampai menit-menit terakhir. Pada pukul setengah empat, aku sedang memilah-milah foto hasil CATscan saat telepon bordering kembali. "Kamu harus lebih sering keluar rumah." "Beberapa di antara kita 'kan punya kerjaan, Ryan."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Alamat di Texas itu rumah Schneider. Menurut orang tuanya, yang menurutku tidak akan pernah memenangi permainan Final Jeopardy, Heidi dan Brian datang sekitar bulan Agustus dan terus tinggal di sana sampai kedua bayinya lahir. Heidi menolak perawatan sebelum kelahiran dan melahirkan di rumah dengan bantuan seorang bidan. Kelahiran yang mudah. Tidak ada masalah. Kakek dan nenek yang berbahagia. Kemudian, seorang lelaki mengunjungi pasangan suami-istri itu di bulan Desember dan seminggu kemudian datang seorang wanita tua menyupir mobil van dan mereka pun pergi." "Pergi ke mana?" "Orang tuanya tidak tahu. Anaknya tidak pernah menghubungi mereka lagi." "Siapa lelaki itu?" "Tidak tahu, tapi mereka mengatakan bahwa lelaki itu membuat Heidi dan Brian sangat ketakutan. Setelah dia pergi, mereka menyembunyikan kedua bayinya dan tidak mau keluar rumah sampai wanita tua itu tiba di sana. Papa Schneider juga tidak menyukai lelaki itu." "Kenapa?" "Tidak menyukai tampangnya. Orang itu mengingatkannya pada seekor .... Coba kulihat apa katakata persisnya." Aku bisa membayangkan Ryan

http://inzomnia.wapka.mobi

sedang membalikkan halaman catatannya. "... 'sigung keparat.' Sedikit puitis 'kan?" "Si Ayah memang seorang Yeat (nama keluarga Irlandia terpandang). Ada lagi?" "Berbicara dengan orang-orang ini seperti bicara dengan burung parkitku, tapi ada satu hal lagi." "Kamu punya burung?" "Mama mengatakan bahwa Heidi dan Brian anggota sebuah kelompok. Dan, semua anggota kelompok itu hidup bersama-sama. Dan, kamu siap mendengar berita ini?" "Aku baru saja minum empat butir Valium. Berita apa?" "Di Beaufort, South Carolina." "Semuanya cocok." "Seperti sepatu mahal yang pas di kaki pemiliknya." "Apa lagi yang mereka katakan?" "Tidak ada hal lain yang berguna." "Bagaimana dengan Brian Gilbert?" "Dia dan Heidi bertemu di kampus dua tahun yang lalu, keduanya putus sekolah tak lama setelah Itu. Mama Schneider menduga dia berasal dari Ohio. Katanya ak-sesnnya lucu. Kami sedang memeriksanya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kamu menceritakannya kepada mereka?" "Ya." Untuk sejenak kami berdua membisu. Menyampaikan berita pembunuhan adalah bagian terburuk dari pekerjaan seorang detektif, hal yang paling tidak mereka sukai. "Aku masih memerlukan bantuanmu di Beaufort." "Aku masih tidak akan datang. Ini pekerjaan detektif, bukan ahli forensik." "Tahu tentang lingkungan itu akan mempercepat proses penyelidikan." "Aku tidak yakin aku mengenal lingkungan itu sebaik yang kaukira." Sepuluh menit kemudian, telepon bordering kembali. "Bonjour, Temperance. Comment ga va?" LaManche. Ryan tidak membuang waktu sedikit pun, dan telah mengajukan argumentasinya dengan baik. Apakah aku bisa menolong Letnan Detektif Ryan dalam penyelidikannya di Beaufort? Ini adalah penyelidikan yang cukup sensitif dan media menjadi semakin tidak sabar. Semua biaya yang kukeluarkan akan diganti. Lampu tanda ada pesan masuk menyala saat kami sedang berbicara. Aku berjanji kepada LaManche bahwa aku akan mempertimbangkan dulu apa yang bisa kubantu, lalu meletakkan gagang telepon.

http://inzomnia.wapka.mobi

Pesan itu dari Katy. Rencananya untuk minggu depan sudah dapat dipastikan. Dia masih akan pulang pada akhir pekan, tetapi kemudian ingin bergabung dengan teman-temannya di Hilton Head Island. Saat duduk kembali untuk merenungkan semuanya, mataku beralih ke layar komputer yang menampilkan makalah yang belum selesai itu. Katy dan aku bisa pergi ke Beaufort untuk berakhir pekan dan aku bisa bekerja di sana. Lalu, dia bisa ke Hilton Head dan aku tinggal di sana untuk membantu Ryan. LaManche akan senang mendengarnya. Ryan akan senang pula. Dan, aku juga butuh penghasilan tambahan. Aku juga punya alasan untuk tidak pergi. Sejak Ryan menelepon, bayangan Malachy melayang-layang di benakku. Aku melihat matanya yang setengah terbuka dan dadanya yang koyak, jarijari kecilnya yang mengepal dalam kematian. Aku memikirkan saudara kembarnya yang juga meninggal, orang tuanya yang meninggal, dan kakek-neneknya yang dirundung kesedihan. Memikirkan kasus itu menenggelamkan diriku dalam suasana melankolis dan aku ingin menjauh dari suasana itu untuk beberapa waktu lamanya. Kuperiksa silabus kuliahku untuk minggu berikutnya. Aku harus menayangkan sebuah film dalam pelajaran tentang evolusi manusia pada

http://inzomnia.wapka.mobi

hari Kamis. Aku bisa mengganti harinya. Pelajaran tentang Don Johanson akan sama saja jika disampaikan pada hari Selasa. Sebuah ujian cepat tentang tulang dalam pelajaran osteologi, kemudian lab terbuka. Aku menelepon dan melakukan pembicaraan singkat. Tidak masalah. Alex bisa menggantikanku kalau aku mempersiapkan semua bahan untuknya. Kuperiksa buku agendaku. Tidak ada rapat komite lagi bulan ini. Setelah besok, tidak ada pertemuan dengan mahasiswa sampai minggu depan. Mengapa bisa begini? Aku yakin sudah bertemu dengan semua mahasiswaku di kampus kemarin. Semuanya bisa berjalan dengan baik. Dan sebenarnya, memang aku memiliki kewajiban untuk membantu kalau bisa. Tidak peduli seberapa kecil pun bantuanku itu. Aku tidak bisa mengembalikan warna ke pipi Malachy atau menutup luka yang mengerikan di dadanya. Dan, aku tidak bisa meng hilangkan rasa pilu keluarga Schneider atau mengembalikan anak dan kedua cucu kembar itu kepada mereka. Tetapi, aku bisa membantu menangkap bajingan psikopat yang telah membunuh mereka. Dan mungkin menyelamatkan jiwa Malachy-Malachy lainnya. Kalau kamu bersedia melakukannya, Brennan, lakukan saja.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kutelepon Ryan dan mengatakan bahwa aku bisa membantunya hari Senin dan Selasa. Aku akan memberitahukan di mana aku akan menginap di Beaufort. Aku memiliki ide lain, jadi aku mengangkat telepon lagi, dan menghubungi Katy. Kujelaskan rencanaku dan dia setuju dengannya. Jadi, kami akan bertemu di rumah pada hari Jumat dan berangkat dengan mengendarai mobilku. "Sekarang pergilah ke klinik dan lakukan tes TB," ujarku kepadanya. "Subdermal, bukan hanya tes goresan saja. Lalu, ambil hasilnya hari Jumat sebelum pergi." "Kenapa?" "Karena Mama punya ide bagus untuk proyekmu dan itu adalah persyaratannya. Dan waktu di klinik nanti, buat fotokopi catatan imunisasimu." "Catatan apa?" "Catatan semua suntikan yang pernah kamu dapatkan. Kamu harus memilikinya supaya bisa mendaftarkan diri ke universitas. Dan, bawa semua catatan yang diserahkan dosenmu untuk tugas proyek ini." "Kenapa?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Nanti kamu akan tahu sendiri alasannya." 15. Hari Kamis berlalu cepat dengan mengajar dan berdiskusi dengan mahasiswa. Setelah makan malam, kutelepon Pete untuk menitipkan Birdie selama akhir pekan. Harry menelepon sekitar jam sepuluh, mengabarkan seminarnya sudah selesai. Dia telah ditunjuk untuk bertemu dengan pengajarnya dan akan makan malam di rumahnya pada hari Jumat. Dia ingin menggunakan apartemenku selama akhir pekan. Kukatakan bahwa dia bisa tinggal selama yang diinginkannya. Aku tidak menanyakan dia ke mana saja sepanjang minggu ini atau mengapa tidak meneleponku. Aku sudah beberapa kali meneleponnya, tetapi tidak pernah diangkat, termasuk dua kali setelah tengah malam. Aku juga tidak mengatakan hal itu kepadanya. "Kamu akan bertemu dengan Ryan di Negeri Kapas minggu depan?" tanyanya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sepertinya sih begitu." Aku merasa gerahamku saling bersentuhan. Bagaimana dia bisa tahu hal itu? "Pasti akan senang di sana." "Ini urusan pekerjaan, Harry." "Ya. Tapi, dia memang lucu seperti seekor kepik yang mungil." "Leluhurnya memang dilahirkan untuk memanen ubi." "Apa?" "Nggak apa-apa." Jumat pagi kupilih potongan tulang, menuliskan beberapa pertanyaan, dan mempersiapkan semuanya di atas nampan. Alex, asistenku, akan mempersiapkan kartu dan spesimen dengan urutan angka, dan menentukan waktu yang disediakan bagi mahasiswa untuk bergerak dari satu nampan ke nampan berikutnya. Metode kuis tulang yang sangat lazim. Katy tiba tepat pada waktunya, dan pada tengah hari kami sudah mengendarai mobil menuju selatan. Suhu bertahan pada kisaran lima belas derajat Celcius, warna langit persis seperti yang tergambar di poster promosi Grand Strand. Kami menurunkan atap danj endela agar rambut kami melambai-lambai ditiup angin. Aku yang mengemudi dan Katy yang memilih musik rock and roli.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kami mengambil rute 1-77 ke selatan melalui Columbia, memotong di tenggara pada 1-26, kemudian ke selatan lagi dengan menggunakan 1-95. Di Yemassee, kami keluar dari jalan raya antar negara bagian dan melaju di jalanan pedesaan yang sempit. Kami mengobrol, tertawa, dan berhenti setiap kali ingin berhenti. Barbecue di Piggy Park milik Maurice. Berfoto di reruntuhan Gereja Old Sheldon-Prince Williams, yang dibakar oleh Sherman setelah perjalanannya menuju lautan. Dengan jadwal yang tidak padat, semuanya terasa menyenangkan, ditambah dengan kehadiran putriku, dan mengarah ke tempat yang paling kusenangi di seluruh dunia. Katy menceritakan beberapa mata kuliah yang diambilnya dan tentang lelaki yang dikencaninya. Menurutnya, tidak ada yang layak dipertahankan. Dia bercerita tentang halangan, yang sekarang sudah ditanganinya, yang telah mengancam berbagai rencananya untuk liburan musim semi. Dia bercerita tentang anak-anak perempuan yang akan menyewa apartemen dengannya di Hilton Head, dan aku tertawa sampai perutku sakit. Ya, ini memang putriku, dengan humor yang begitu kelam seperti cerita para vampir. Aku belum pernah merasa sedekat ini dengannya dan untuk beberapa saat lamanya aku menjadi muda dan bebas kembali, dan melupakan pembunuhan bayi-bayi itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Di Beaufort kami melewati lapangan udara marinir, berhenti sejenak di BiLo, kemudian melaju melewati kota dan melewati Jembatan Wood Memorial menuju Pulau Lady. Di puncaknya, aku membelok dan menatap kembali pantai Beaufort, pemandangan yang selalu membangkitkan semangatku. Aku menghabiskan musim panas masa kecilku di dekat Beaufort, dan sebagian besar kehidupanku setelah dewasa, rantai kehidupan yang barubaru ini terputus saat aku mulai bekerja di Montreal. Kusaksikan pertumbuhan pesat deretan restoran cepat saji dan pembangunan pusat pemerintahan daerah, yang dijuluki "Taj Mahal" oleh penduduk setempat. Jalanan telah diperlebar, lalu lintas semakin padat. Pulau-pulaunya sekarang menjadi resor golf dan apartemen. Tetapi, Bay Street tetap tidak berubah. Rumah-rumah besar masih berjejer dengan agungnya, diteduhi oleh deretan pohon ek yang digelantungi lumut Spanyol. Hanya sedikit yang masih sama dalam kehidupan ini; aku menemukan ketenangan dalam laju kehidupan Beaufort yang lamban. Alur waktu menyemut menuju lautan keabadian.

http://inzomnia.wapka.mobi

Saat kami menuruni ujung jembatan, melaju lurus ke depan dan membelok ke sebelah kiri, bisa kulihat beberapa kapal ditambatkan di Factory Creek, sebuah cekungan air dari Sungai Beaufort. Matahari sore mengintip dari balik jendela kapal dan menyinari tiang serta dek kapal. Kususuri jalan sekitar satu kilometer di Highway 21, kemudian membelok ke lapangan parkir di restoran Ollie's Seafood. Saat berkelok- kelok menembus kerimbunan pohon ek, aku menuju bagian belakang lapangan parkir itu dan menghentikan mobil di tepi sungai. Aku dan Katy mengumpulkan belanjaan dan tas kami, lalu berjalan menyeberangi Ollie's menuju Marina Pulau Lady. Di kedua sisi tampak tumpukan lumpur, rerumputan hijau musim semi menyeruak dari tumpukan jerami hitam tahun kemarin. Burung-burung kecil mengomel saat kami berjalan melewati mereka dan melesat keluar-masuk di antara rerumputan dan cattails. Kuhirup aroma campuran air payau, klorofi I, dan tumbuhan yang meranggas, dan merasa senang karena telah kembali ke daerah pedesaan. Jalan dari pantai mirip dengan sebuah lorong menembus markas marina, sebuah bangunan putih persegi empat dengan tingkat ketiga yang pendek

http://inzomnia.wapka.mobi

di sepanjang atapnya, dan pintu menuju lantai pertama. Di sebelah kanan, ada pintu ke toilet dan ruangan untuk mencuci baju. Kantor Apex Realty, pembuat kapal laut, dan pemimpin pelabuhan menempati ruangan di sebelah kiri kami. Kami berjalan melewati terowongan, menyusuri dermaga yang mengambang di air dengan anak tangga kayu horizontal, dan menyeberang menuju dermaga yang paling jauh. Saat menyusuri tangga itu, Katy mengamati setiap kapal yang kami lewati. The Ecstasy, kapal Morgan berukuran lima belas meter dari Norfolk, Virginia. The Blue Palm, kapal berukuran delapan belas meter buatan sendiri dengan lambung baja dan layar yang cukup untuk mengarungi seluruh dunia. The Hillbilly Heaven, kapal pesiar klasik tahun sembilan belas tiga puluhan, dahulu elegan, sekarang sudah rusak dan tidak pantas dinaiki lagi. The Melanie Tess, adalah kapal terakhir di sebelah kanan. Katy mengamati Christ Craft berukuran tiga belas meter, tetapi tidak berkata apaapa. "Tunggu sebentar," ujarku, sambil men jatuhkan barang bawaanku ke atas dek.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku naik ke buritan, ke anjungan, dan memencet beberapa tombol di kotak peralatan di sebelah kanan kursi kapten. Kemudian, kuraih sebuah kunci, membuka pintu masuk, mengaitkan kembali kaitannya, dan menurunkan diriku tiga langkah ke dalam kabin utama. Di dalam, udara terasa sejuk dan bau kayu, lumut, serta disinfektan pinus menusuk hidung. Kubuka pintu keluar dan Katy menyerahkan makanan dan tas pakaian kami, kemudian naik ke atas dek. Tanpa berkata sepatah pun, aku dan putriku meninggalkan semua barang bawaan kami di ruangan utama, kemudian berkeliling kapal, melihat-lihat dekorasinya. Ini adalah kebiasaan yang kami lakukan saat dia masih kecil dan tidak peduli seberapa tua umurku kelak, ini akan menjadi bagian yang paling kusenangi saat tinggal di tempat yang tidak kukenal. The Melanie Tess sebenarnya bukan tempat yang asing, tetapi aku sudah tidak pernah melihatnya lagi sejak lima tahun yang lalu, dan merasa penasaran untuk melihat perubahan yang dikatakan Sam. Kami melihat dapur yang terletak satu undakan di bawah ruangan utama. Terdapat kompor, tempat mencuci piring, dan lemari es dari kayu dengan pegangan kotak es gaya kuno. Lantainya dari kayu parket, sedangkan

http://inzomnia.wapka.mobi

dindingnya, seperti biasanya, dari kayu jati. Di sisi kanan kapal tampak tempat makan malam, dengan bantalan berwarna merah muda dan hijau. Di depan dapur tampak lemari makanan dan kotak tidur berbentuk V yang cukup besar untuk ditiduri dua orang. Di buritan tampak kabin utama dengan tempat tidur berukuran besar dan lemari dengan cermin. Seperti di ruangan utama dan tempat makan malam, semuanya terbuat dari kayu jati dan bantalan dari katun yang cerah dengan pola dedaunan. Katy terlihat lega saat melihat ada pancuran di kamar mandi utama. "Asyik sekali," katanya. "Aku boleh tidur di kotak tidur?" "Apa kamu yakin mau tidur di situ?" "Yakin sekali. Kelihatannya nyaman sekali, jadi aku akan membuat sarang kecil di sana, meletakkan semua barangku di atas rak-raknya." Dia membuat gerakan meletakkan berbagai barang kecil di atas rak. Aku tertawa. Rutinitias "barang" George Carlin adalah salah satu episode komedi yang kami sukai. "Lagi pula, aku hanya akan di sini selama dua malam, jadi Mama pakai tempat tidur yang besar saja." "OK."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Lihat, ada sebuah communique bertuliskan nama Mama." Dia meraih sebuah amplop dari meja dan menyerahkannya kepadaku. Kurobek lidah amplopnya dan mengeluarkan sehelai kertas pesan. Air dan listrik sudah dipasang, jadi semuanya sudah siap. Telepon aku kalau kalian sudah beresberes. Nanti kuajak makan malam. Selamat menikmati. Sam Kami merapikan barang belanjaan, lalu Katy langsung menata barangbarangnya saat aku menelepon Sam. "Hey, hey, Sayang, kalian sudah beresberes?" "Kami sudah di sini sekitar dua puluh menit. Kapalnya cantik, Sam. Aku tidak percaya bahwa ini kapal yang sama." "Hanya membutuhkan sedikit uang dan kerja keras." "Perbedaannya terlihat jelas. Apa kamu pernah tinggal di sini?" "Oh, ya. Itulah sebabnya telepon dan mesin penjawab ada di situ. Memang sedikit berlebihan untuk sebuah kapal, tetapi aku tidak boleh sampai ketinggalan pesan. Kamu boleh menggunakan nomor itu kapan saja." "Terima kasih Sam. Aku benar-benar menghargainya." "Aku jarang menggunakannya. Jadi, memang harus ada orang yang memakainya." "Ya, terima kasih lagi."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bagaimana dengan makan malam?" "Aku tidak mau merepotkan-" "Lho, aku 'kan perlu makan juga. Begini saja. Aku akan keluar ke Gay Seafood Market membeli bahan makanan untuk acara masak-masak Melanie besok. Bagaimana kalau aku bertemu dengan kalian di Factory Creek Landing. Letaknya di sebelah kanan, tepat setelah Ollie's dan sebelum jembatan. Memang tidak mewah, tapi udang di sana enak sekali." "Jam berapa?" "Sekarang pukul enam lewat empat puluh, bagaimana kalau sekitar setengah delapan? Aku akan ke toko itu dan mengambil motor Harley dulu." "Dengan satu syarat. Aku yang traktir." "Kamu memang keras kepala, Tempe." "Jangan main-main denganku." "Apa rencana kita besok masih sama?" "Kalau kamu tidak keberatan. Aku tidak mau-" "Yeah. Yeah. Kamu sudah memberi tahu dia?" "Belum. Tapi, dia akan tahu dengan sendirinya begitu kalian bertemu. Sampai ketemu satu jam lagi."

http://inzomnia.wapka.mobi

Kulemparkan tasku ke atas tempat tidur, kemudian berjalan ke anjungan. Matahari sudah terbenam, sisa-sisa berkas cahayanya membuat langit berwarna merah muda. Cahayanya mengilaukan payau di sebelah kananku dan menyorot seekor ibis putih yang sedang berdiri di atas rerumputan. Jembatan menuju Beaufort terlihat hitam di depan langit yang berwarna merah muda, seperti tulang dari monster kuno yang meregangkan tubuhnya di langit. Kapal-kapal di marina kota mengintip dari seberang sungai ke arah dermaga kami yang kecil. Walaupun hari telah semakin dingin, udara masih terasa halus seperti kain satin. Embusan angin meniup rambut dan membelai wajahku. "Apa acara malam ini?" Katy bergabung denganku. Kulirik jam tangan. "Kita akan bertemu dengan Sam Rayburn untuk makan malam setengah jam lagi." "Sam Rayburn? Kukira dia sudah meninggal." "Memang sudah. Yang ini adalah Sam sang walikota Beaufort dan seorang teman lama." "Seberapa tua usianya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Lebih tua dari Mama. Tapi, dia masih bisa jalan. Kamu pasti akan menyukainya." "Tunggu dulu." Dia mengacungkan jarinya kepadaku dan aku bisa melihatnya sedang berpikir melalui sorotan matanya. Lalu, kesimpulan terbersit. "Ini laki-laki monyet itu 'kan?" Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. "Apa kita akan ke sana besok? Tidak, jangan menjawab. Tentu saja besok kita akan ke sana. Itulah sebabnya kenapa aku harus disuntik kemarin." "Kamu sudah disuntik 'kan?" "Batalkan saja pesanan kamar di sanitarium," ujarnya, sambil menjulurkan lengannya. "Aku sudah bersih dari tuberculosis." Saat kami tiba di restoran, motor Sam telah diparkir di lapangan parkir. Musim panas yang lalu dia telah bergabung dengan Lotus, kapal layar itu, dan pesawat ultra-ringan sebagai tambahan terbaru dalam daftar mainannya yang cukup panjang. Aku tidak pernah yakin apakah semua mainan itu adalah cara Sam untuk menentang usianya yang sudah setengah baya atau hanya usahanya untuk berintegrasi dengan aktivitas manusia setelah sekian lama hanya meneliti kehidupan primata.

http://inzomnia.wapka.mobi

Walaupun usianya lebih tua sepuluh tahun dariku, aku dan Sam sudah berteman lebih dari dua puluh tahun lamanya. Saat aku masih duduk di bangku kuliah tahun kedua, Sam sudah menjadi mahasiswa pascasarjana tahun kedua. Kami menjadi dekat karena, menurut dugaanku, kehidupan kami saat itu sangat berbeda. Sam adalah orang Texas, putra tunggal pemilik asrama keturunan Yahudi. Pada usia lima belas tahun, ayahnya tewas saat mempertahankan kotak uang yang isinya hanya dua belas dolar. Setelah kematian suaminya, Nyonya Rayburn tenggelam dalam depresi yang tidak pernah bisa diatasinya. Sam memikul beban menjalankan bisnis setelah menyelesaikan SMA dan mengurus ibunya. Setelah kematian ibunya tujuh tahun kemudian, dia menjual asrama itu dan bergabung dengan marinir. Dia selalu gelisah, penuh amarah, dan tidak tertarik kepada apa pun. Kehidupan di dunia militer semakin mempersinis sikap Sam. Di tempat latihan calon marinir, dia menganggap hal-hal Jenaka yang dilakukan teman-temannya sangat mengesalkan dan membuatnya semakin pendiam. Selama perang Vietnam, dia menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengamati burung dan berbagai binatang, menggunakan mereka sebagai

http://inzomnia.wapka.mobi

tempat pelarian dari horor di sekelilingnya. Dia amat muak dengan pembunuhan yang dilihatnya selama perang dan merasa sangat bersalah karena ikut berperan dalam perang itu. Semua binatang terlihat sangat lugu dalam perang yang ganas itu, tidak termotivasi oleh berbagai rencana untuk membunuh sesamanya. Dia khususnya sangat tertarik pada monyet, kehidupan kawanannya yang teratur, dan cara mereka menyelesaikan masalah dengan hanya menimbulkan sedikit cedera. Untuk pertama kali dalam hidupnya Sam merasa benar-benar terpesona. Sam kembali ke Amerika Serikat dan masuk ke University of Illinois di Champaign-Urbana. Dia menyelesaikan gelar sarjananya dalam waktu tiga tahun dan saat aku bertemu dengannya dia adalah asisten di bagian pengenalan zoologi yang kuikuti. Dia terkenal di antara para mahasiswa karena cepat marah, punya lidah yang tajam, dan sangat mudah kesal. Khususnya oleh mahasiswa yang rendah daya tangkapnya dan tidak mempersiapkan diri dengan baik. Dia benar-benar teliti dan sangat cerewet, tetapi sangat adil dalam menilai hasil kerja mahasiswa. Semakin lama aku mengenal Sam, semakin kusadari bahwa dia hanya menyukai beberapa orang saja, tetapi sangat setia kepada mereka yang dia masukkan ke dalam

http://inzomnia.wapka.mobi

lingkaran kehidupannya yang kecil itu. Dia pernah mengatakan kepadaku bahwa, karena telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di dunia primata, dia merasa tidak cocok lagi di dunia manusia. Sudut pandang monyet, begitulah dia menyebutnya, telah menunjukkan kepadanya betapa konyolnya tingkah laku manusia. Sam akhirnya ganti jurusan ke antropologi fi sik, melakukan penelitian di Afrika, dan menyelesaikan gelar doktornya. Setelah beberapa kali mengajar di beberapa universitas, dia akhirnya tiba di Beaufort pada awal 1970-an sebagai ilmuwan yang bertanggung jawab atas fasilitas primata. Walaupun usia telah melunakkan hati Sam, aku ragu bahwa hal itu akan bisa mengubah rasa tidak nyamannya tentang interaksi sosial. Bukannya dia tidak mau berpartisipasi. Dia suka bergaul. Keikutsertaannya dalam pemilihan walikota membuktikan hal itu. Hanya saja kehidupan Sam tidak berjalan seperti kehidupan orang lain pada umumnya. Jadi, dia membeli sepeda motor dan gantole untuk terbang. Kedua benda tersebut menyediakan rangsangan dan keasyikan, tetapi tetap mudah diduga dan bisa dia tangani. Sam Rayburn adalah salah seorang dari sekian manusia yang paling kompleks dan paling cerdas yang pernah kukenal.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sang walikota yang terhormat itu ada di bar, sedang menonton pertandingan basket sambil minum bir. Aku menyapanya, dan seperti biasanya, Sam langsung mengambil alih, memesan segelas bir lagi untuk dirinya, Diet Coke untukku dan Katy, kemudian mengarahkan kami ke bilik tempat duduk di bagian belakang restoran. Putriku tidak menunda-nunda waktu lagi dan langsung menegaskan kecurigaannya tentang rencana esok hari, kemudian menghujani Sam dengan berbagai pertanyaan. "Sudah berapa lama Paman menangani pusat primata ini?" "Lumayan lama juga. Aku bekerja untuk orang lain sampai sekitar sepuluh tahun yang lalu, kemudian membeli perusahaan itu untuk kumiliki sendiri. Hal itu hampir membuatku jatuh bangkrut, tapi aku senang telah melakukannya. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menjadi boss sendiri." "Berapa banyak monyet yang tinggal di pulau ini?" "Sekarang sekitar empat ribu lima ratus ekor." "Mereka punya siapa?" "FDA. Perusahaanku memiliki pulau ini dan mengurus semua hewan itu."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dari mana asal mereka?" "Mereka dibawa ke Pulau Murtry dari sebuah koloni di Puerto Riko. Ibumu dan aku pernah bekerja di sana, entah kapan di Zaman Perunggu dulu. Tapi, mereka semua awalnya berasal dari India, termasuk golongan rhesus." "Macaca mulatta." Katy mengucapkan genus dan spesies itu dengan nada mengalun dan berirama. "Bagus sekali. Dari mana kamu belajar taksonomi primata?" "Aku mengambil jurusan psikologi. Banyak penelitian yang dilakukan terhadap rhesus. Mungkin Paman juga tahu, seperti Harry Harlow dan keturunannya?" Sam baru saja akan berkomentar saat pelayan tiba membawa piring berisi tiram dan kerang goreng, udang rebus, roti jagung, dan kubis kuah. Kami berkonsentrasi sejenak untuk menyendokkan saus ke piring masingmasing, memeras jeruk nipis, dan mengupas udang. "Monyet-monyet itu digunakan untuk apa?" "Populasi Murtry adalah koloni untuk dikembangbiakkan. Beberapa monyet kecil dikirim ke Food and Drug Administration, tapi kalau binatang itu terus tumbuh besar sampai berat badan tertentu, mereka akan tinggal di sana selamanya. Surga monyet."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ada apa lagi di luar sana?" Putriku sepertinya tidak kesulitan untuk mengunyah dan berbicara pada saat yang bersamaan. "Tidak banyak. Monyet-monyet itu dibiarkan bebas sehingga mereka bisa pergi ke mana saja. Mereka membentuk berbagai kelompok sosial dan memiliki peraturannya sendiri. Ada pos makanan, dan tempat untuk menangkap mereka, tetapi di luar perkemahan, mereka bebas untuk berkeliaran di pulau." "Perkemahan apa?" "Itulah sebutan kami untuk daerah di sebelah kanan dermaga. Ada sebuah pos makanan, sebuah klinik hewan kecil, kebanyakan untuk kasus gawat darurat, beberapa gudang untuk makanan monyet, dan sebuah trailer untuk tempat tinggal mahasiswa dan peneliti." Dia mencelupkan tiram ke dalam saus cocktail, memiringkan kepalanya, kemudian menjatuhkannya ke dalam mulutnya. "Ada sebuah perkebunan di pulau ini pada abad kesembilan belas." Setetes saus merah tersangkut di janggutnya. "Milik keluarga Murtry. Dari situlah pulau itu mendapatkan namanya." "Siapa yang boleh masuk ke pulau itu?" Tanya putriku sambil mengupas seekor udang lagi.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak ada seorang pun yang boleh masuk ke situ. Monyet-monyet itu bebas virus dan bernilai tinggi. Siapa saja, dan maksudku siapa saja, yang menjejakkan kaki di pulau itu harus mendapatkan izin dariku terlebih dahulu, dan harus mendapatkan beberapa macam imunisasi, termasuk tes negatif untuk TB dalam waktu enam bulan terakhir." Sam menoleh kepadaku dengan pandangan bertanya dan aku mengangguk. "Kukira di zaman sekarang sudah tidak ada lagi orang yang terjangkit TB." "Tes ini bukan untuk melindungimu, anak manis. Para monyet sangat rentan pada TB. Sebuah epidemic bisa menghancurkan sebuah koloni lebih cepat dibandingkan dengan kamu mengucapkan yang bener nih." Katy menoleh kepadaku. "Mahasiswa Mama juga harus disuntik semuanya?" "Setiap kali akan ke sini, ya." Di awal karierku, sebelum aku terpikat oleh forensik, penelitianku biasanya melibatkan monyet untuk mempelajari proses penuaan di tulang-belulang. Aku mengajar semua kuliah primatologi di UNCC, termasuk penelitian

http://inzomnia.wapka.mobi

lapangan di Pulau Murtry. Sudah empat belas tahun aku selalu membawa mahasiswa ke sana. "Hm," gumam Katy, memasukkan kerang ke dalam mulutnya. "Ini pasti akan mantap sekali." Pada pukul setengah delapan keesokan harinya, kami berdiri di dermaga di ujung utara Pulau Lady, tak sabar untuk segera berangkat ke Murtry. Perjalanannya seperti perjalanan menuju terarium. Kabut tebal menutupi semuanya, menyelimuti ujung kapal dan menyebabkan pemandangan di hadapan kami tidak begitu jelas. Walaupun jarak Murtry hanya kurang dari satu setengah kilometer, aku tidak bisa melihat apa-apa di lautan di hadapan kami. Saat mendekat, seekor ibis terkejut dan segera terbang, kakinya yang panjang dan ramping mengikuti dari belakang. Para karyawan telah tiba dan sedang membongkar dua kapal terbuka milik fasilitas tersebut. Tak lama kemudian, mereka sudah menyelesaikan pekerjaannya dan pergi lagi. Aku dan Katy menghirup kopi, menunggu tanda dari Sam. Akhirnya, dia bersiul dan melambai mengajak masuk. Kami meremas cangkir Styrofoam, melemparkannya ke drum minyak yang

http://inzomnia.wapka.mobi

berubah fungsi menjadi tempat sampah, dan bergegas menuruni dermaga sebelah bawah. Sam menolong kami masuk ke dalam kapal, kemudian melepaskan tali dan melompat ke dalamnya. Dia menganggukkan kepala kepada lelaki di kemudi dan kapal pun mulai melenggang meninggalkan dermaga .... "Berapa lama perjalanannya?" tanya Katy kepada Sam. "Air sudah pasang, jadi kita akan mengambil alur Parrot Creek, kemudian memutar sungai dan memotong di payau. Seharusnya, tidak lebih dari empat puluh menit." Katy duduk bersila di dasar kapal. "Kamu lebih baik berdiri dan bersandar di sisi," saran Sam. "Kalau nanti Joey melaju, kapal ini akan melompat-lompat. Getarannya sangat kuat sehingga sanggup menggetarkan tulang punggungmu." Katy bangkit dan Sam menyerahkan seutas tali kepadanya. "Pegang ini. Kamu mau memakai jaket pelampung?" Katy menggelengkan kepala. Sam menoleh kepadaku. "Putriku seorang perenang ulung," ujarku menenangkan lelaki tua itu. Saat itu Joey menyalakan mesin dan kapal mulai hidup. Kami melaju ke lautan lepas, angin menerpa rambut, baju, dan menghamburkan kata-kata

http://inzomnia.wapka.mobi

dari mulut kami. Pada satu titik, Katy menepuk bahu Sam dan menunjuk ke pelampung yang terapung-apung. "Sarang kepiting,"seru Sam. Lebih jauh lagi, dia menunjukkan sarang burung elang di atas tanda penunjuk kanal. Katy mengangguk penuh semangat. Tak lama kemudian, kami sudah meninggalkan lautan dan masuk ke daerah payau. Joey berdiri sambil meregangkan kedua kakinya, mata menatap ke depan saat dia memutar dan membalikkan kemudi, mengarahkan kapal menuju alur air yang sempit. Ku perkirakan hanya ada jalur selebar tiga meter yang bisa dilewati kapal. Kapal miring ke samping kiri, kemudian ke kanan, meliuk-liuk, cipratan air membasahi rerumputan di kedua sisi. Aku dan Katy saling berpegangan dengan erat dan memegang kapal, tubuh kami menyesuaikan diri dengan tekanan sentrifugal pada setiap belokan, tertawa dan menikmati keasyikan kecepatan dan keindahan hari itu. Walaupun aku sangat mencintai Pulau Murtry, kupikir aku lebih menyenangi perjalanan menyeberang ke pulau tersebut. Pada saat kami tiba di Murtry, kabut telah menghilang. Cahaya matahari menghangatkan dermaga dan menyentuh tanda di jalur masuk ke pulau

http://inzomnia.wapka.mobi

tersebut. Embusan angin menggoda dedaunan di hadapan kami, mengirimkan bercak bayangan dan tarian cahaya yang selalu berubah bentuk di atas kata-kata: MILIK PEMERINTAH. DILARANG MASUK. Saat isi kapal sudah dibongkar dan semua orang sudah berada di stasiun lapangan, Sam memperkenalkan Katy kepada para karyawan. Aku sudah mengenal hampir semuanya, walaupun ada beberapa wajah baru. Joey sudah bekerja sejak dua musim panas yang lalu. Fred dan Hank masih dalam program latihan. Saat memperkenalkan, Sam memberikan gambaran singkat tentang kegiatan stasiun itu. Joey, Larry, Tommy, dan Fred adalah para teknisi, tugas utama mereka memelihara fasilitas itu setiap hari dan menangani pengangkutan barang persediaan. Mereka melakukan pengecatan dan perbaikan, membersihkan batu karang dan pos makanan, dan menjaga agar monyet mendapatkan makanan dan air yang cukup. Jane, Chris, dan Hank lebih terlibat langsung dengan monyet, memantau data semua kelompok monyet. "Data apa?" tanya Katy. "Kehamilan, kelahiran, kematian, penyakit. Kami selalu menghitung populasi dengan cukup ketat. Ada beberapa proyek penelitian. Jane ikut

http://inzomnia.wapka.mobi

dalam kajian serotonin. Setiap hari dia mencatat berbagai perilaku, untuk melihat monyet mana yang menjadi lebih agresif, lebih impulsif. Kemudian, kami membandingkan data tersebut dengan kadar serotonin dalam tubuh mereka. Kami juga melihat rankingnya. Semua monyet Jane memakai kalung telemetrik yang mengirimkan sinyal sehingga dia bisa menemukan mereka. Kamu mungkin akan melihat salah seekor di antaranya." "Serotonin adalah senyawa kimia di dalam otak," ujarku menjelaskan. "Ya," sahut Katy. "Sebuah neurotransmiter yang diperkirakan berhubungan dengan perilaku agresif." Sam dan aku saling tersenyum. Dasar anak hebat! "Bagaimana menentukan apakah seekor monyet bersikap impulsif?" tanya Katy. "Monyet jantan akan lebih berani mengambil risiko. Melakukan lompatan yang lebih panjang, misalnya, jauh di atas pohon. Meninggalkan kelompoknya pada usia yang masih muda." "Jantan?" "Ini adalah kajian awal. Tidak melibatkan monyet beti-na."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kamu mungkin akan melihat salah seekor monyetku di perkemahan," ujar Jane, yang mengikatkan sebuah kotak berantena panjang ke pinggangnya. "J- 7. Dia ada di kelompok O. Mereka sering main ke sini." "Dia itu monyet yang klepto 'kan?" tanya Hank. "Ya. Dia suka mengambil apa pun yang berserakan. Dia mengambil sebuah pulpen minggu lalu. Dan jam tangan Larry. Larry nyaris kena stroke sewaktu mengejar si jahil itu." Ketika semua orang sudah mengenakan peralatannya, memeriksa tugasnya, dan pergi, Sam mengajak Katy tur di pulau itu. Aku mengekor, mengamati putriku menjadi pelacak monyet. Saat menyusuri jalur setapak, Sam menunjukkan pos makanan, dan menggambarkan setiap kelompok yang sering mengunjungi tempat-tempat itu. Dia membicarakan daerah kekuasaan dan hierarki penguasaan, dan garis keturunan, sementara Katy menempelkan teropong di wajahnya dan mengawasi pepohonan. Di pos makanan E, Sam melemparkan segenggam biji jagung kering ke atas atap logam. "Jangan bergerak dan perhatikan," katanya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tak lama kemudian, kami mendengar sibakan dedaunan dan melihat sekelompok monyet mendekat. Dalam waktu beberapa menit, kami sudah dikelilingi gerombolan monyet, beberapa di antaranya tetap di pohon, yang lainnya mendarat di tanah dan mulai mendekati biji jagung yang berserakan. Katy benar-benar terpesona. "Itu kelompok F," ujar Sam. "Memang kelompoknya kecil, tapi dikendalikan oleh sekelompok monyet betina yang paling tinggi rankingnya di pulau ini. Dia benar-benar pemimpin yang hebat." Pada saat kami kembali ke perkemahan, Sam telah membantu Katy merancang sebuah proyek sederhana. Putriku merapikan catatannya, sementara Sam mengambilkan sekantong jagung untuknya, kemudian Katy keluar lagi. Aku mengamatinya menghilang di kerumunan pohon ek, dengan teropong mengayun di pahanya. Aku dan Sam duduk di beranda yang dilindungi kerai dan berbincang sejenak, kemudian dia kembali bekerja dan aku mengeluarkan draf CAT scan. Walaupun sudah mencoba, aku masih tidak bisa memusatkan perhatian. Pola sinus tidak begitu menarik saat aku mendongak dan bisa

http://inzomnia.wapka.mobi

melihat sinar matahari berkilauan di atas ombak di muara dan menghirup bau garam bercampur pinus. Para karyawan kembali pada tengah hari, Katy berada di antara mereka. Setelah makan roti lapis dan keripik Fritos, Sam kembali mengerjakan datanya, dan Katy kembali menghilang ke dalam hutan. Aku kembali mencoba mengerjakan makalahku, tetapi masih tidak berhasil juga. Aku mulai melamun setelah tiga halaman. Aku terbangun saat mendengar suara yang sudah akrab dengan telingaku. Thunk! Rat a tat a tat a tat a tat. Thunk! Rat a tat a tat tat tat. Dua ekor monyet baru saja melompat dari pohon dan berlari di atas atap beranda. Sambil berusaha untuk tidak kentara, kubuka pintu, menyelinap keluar menuju undakan. Kelompok O telah memasuki perkemahan dan sedang beristirahat di dahan pohon di atas stasiun lapangan. Pasangan yang tadi membangunkanku sekarang meloncat dari stasiun ke atas trailer dan duduk di kedua ujung atapnya. "Itu dia." Aku tidak mendengar Sam datang ke belakangku. "Lihat." Dia menyerahkan teropongnya kepadaku. "Aku bisa melihat tatonya," ujarku, membaca dada di setiap monyet. "J-7 dan GN-9. 3-7 memakai kalung."

http://inzomnia.wapka.mobi

Kukembalikan alat itu dan Sam menempelkannya di matanya. "Apa yang dipegangnya? Apa dia masih memegang jam tangan Larry?" Hasil curiannya yang lain. "Barang itu berkilat. Seperti emas sewaktu ditimpa cahaya matahari." Saat itu GN-9 meloncat dan meneriakkan ancaman. 3-7 merecet dan meloncat dari atap, melompat-lompat dari dahan ke dahan sampai dia keluar dari sudut pandangan kami. Harta karunnya meluncur dari atas atap masuk ke saluran air. "Ayo kita lihat." Sam mengambil tangga dari samping rumah dan menyandarkannya di samping trailer. Dia membersihkan sarang laba-laba, menguji tangga itu, kemudian naik ke atas. "Apa-apaan ini?" "Apa?" "Sialan." "Apa Sam?" Dia memutar sesuatu di tangannya. "Kunyuk!" "Apa sih?" Aku mencoba melihat apa yang dijatuhkan monyet itu, tetapi tubuh Sam menghalangi pandanganku. Sam berdiri diam di puncak tangga, kepalanya menunduk.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sam, apa itu?" Tanpa mengatakan apa pun, dia menuruni tangga dan menjulurkan tangannya agar aku bisa melihat benda itu. Aku segera tahu apa benda itu dan tahu apa artinya, dan merasa cahaya matahari lenyap dari muka bumi. Kupandang mata Sam dan kami saling berpandangan tanpa berkata apaapa. 16. Aku berdiri sambil memegang benda itu, tidak mau memercayai apa yang terlihat oleh kedua mataku. Sam yang mulai bicara. "Itu rahang manusia." "Ya." Kulihat bayang-bayang yang tepinya bergerigi menyapu wajahnya. "Mungkin dari pekuburan Indian kuno." "Tidak mungkin karena ada gigi palsunya." Kuputar rahang itu dan cahaya matahari dipantulkan oleh gigi palsu dari emas. "Inilah yang menarik perhatian J-7," katanya, sambil menatap gigi palsu itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dan daging ini," ujarku, menunjuk bongkahan daging berwarna cokelat yang menggantung pada sendi tulang itu. "Apa artinya ini?" Kuangkat rahang itu dan kuendus-endus. Tercium bau kematian yang lembap dan membuat mual. "Dalam cuaca seperti ini, tergantung apakah tubuhnya dikubur atau dibiarkan di alam terbuka, aku menduga orang ini sudah mati kurang dari setahun lamanya." "Bagaimana mungkin!" Segaris pembuluh darah mencuat di dahinya. "Jangan teriak padaku. Rupanya tidak setiap orang yang masuk ke pulau ini meminta izinmu lebih dulu." Kupalingkan wajahku darinya. "Dari mana monyet itu mendapatkannya?" "Dia 'kan monyetmu, Sam. Kamu cari sendiri jawabannya." "Memang aku akan mencari jawabannya!" Dia bergegas menuju stasiun lapangan, menaiki dua tangga sekaligus, dan menghilang masuk ke dalamnya. Melalui jendela yang terbuka, aku bisa mendengar suaranya menyalak memanggil Jane.

http://inzomnia.wapka.mobi

Untuk sejenak aku berdiri di situ, mendengarkan suara gemerisik daun palem dan kebingungan. Apakah kematian sudah menembus pulau kedamaianku ini? "Tidak!" Jeritku di dalam hati. "Jangan di sini!" Kudengar gemerisik kerai saat pintu dibuka. Sam muncul bersama Jane, kemudian memanggilku. "Ayo, Quincy. Kita kumpulkan para tersangkanya. Jane tahu ke mana perginya kelompok O kalau mereka tidak ada di perkemahan, jadi kita bisa mengetahui keberadaan 3-7. Mungkin, para penjahat kecil itu bisa memberi kita informasi." Aku tidak bergerak. "Oh ya, aku minta maaf. Hanya saja, aku tidak suka potongan tubuh muncul di pulauku. Kamu tahu 'kan bagaimana sifatku." Aku tahu. Tetapi, bukan amarah Sam yang membekukan diriku. Aku mencium bau pinus dan merasakan embusan angin yang hangat di pipiku. Aku tahu apa yang ada di luar sana dan tidak mau menemukannya. "Ayolah." Kutarik napas panjang, sama enggannya seperti seorang wanita yang sedang dalam perjalanan menemui dokter ahli kanker.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tunggu." Aku masuk ke dalam stasiun lapangan dan mengaduk-aduk dapur sampai menemukan sebuah ember plastik. Kumasukkan rahang itu ke dalamnya, menyembunyikan ember itu di dalam lemari di kamar belakang, dan meninggalkan pesan untuk Katy. Kami mengikuti jejak di belakang stasiun lapangan dan mengikuti Jane menuju pusat pulau itu. Dia memimpin kami ke sebuah daerah yang pepohonannya besar-besar sebesar anjungan lepas pantai, dengan dedaunan yang rimbun di atas kepala. Tanah kaya dengan humus dan pohon cemara jarum, udara sarat dengan aroma tumbuhan yang mati dan kotoran binatang. Gerakan di antara dahan menunjukkan ada monyet di sekitar situ. "Ada monyet di sini," kata Jane, sambil menghidupkan pesawat penerimanya. Sam menjelajahi pepohonan dengan teropongnya, mencoba melihat kode yang ditato di tubuh binatangbinatang liar itu. "Itu kelompok A," ujarnya. "Hunh!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Seekor monyet muda merunduk di dahan di atasku, bahu diturunkan, buntut mengayun di udara, matanya menatap wajahku. Raungan yang tajam dan parau adalah caranya untuk mengatakan "Menjauhlah!" Saat kubalas tatapannya, monyet itu duduk, menundukkan kepalanya, kemudian menegakkannya lagi secara diagonal dari tubuhnya. Dia mengulangi gerakan itu beberapa kali, kemudian memutar tubuhnya dan melesat kencang ke pohon berikutnya. Sam memindai puncak pepohonan saat Jane berhenti lagi dan berputar searah jarum jam, memusatkanperhatian pada suara di headset-nya. Akhirnya, "Aku mendapatkan sinyal yang sangat lemah." Dia melirik ke arah monyet muda itu menghilang, berhenti, kemudian berputar lagi. "Sepertinya dia di dekat Alcatraz." Dia menunjuk ke arah jam sepuluh. Walaupun kebanyakan tempat di pulau itu diberi tanda dengan huruf, beberapa tempat lama memiliki nama seperti OK Corral atau Alcatraz. Kami bergerak menuju Alcatraz, tetapi saat berada di selatan tempat pengumpul, Jane keluar dari jalan setapak dan menembus hutan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tumbuhan terlihat lumayan tebal di sini, tanah terasa lembut saat diinjak. Sam menoleh kepadaku. "Hati-hati saat di dekat kolam. Alice melahirkan beberapa ekor bayi musim lalu, dan kurasa suasana hatinya sedang tidak bersahabat sekarang ini." Alice adalah buaya berukuran lima meter yang sudah tinggal di Murtry sepanjang ingatan orang. Tidak ada yang tahu siapa yang memberikan nama itu kepadanya. Para karyawan menghormati haknya untuk berada di situ dan membiarkannya tinggal dikolam tersebut. Kuacungkan jempol kepada Sam. Walaupun aku tidak takut pada mereka, buaya bukanlah makhluk yang ingin kujadikan teman. Kami berada sekitar tujuh meter dari jalan setapak saat aku menciumnya, awalnya masih samar, hanya campuran bau hutan organik yang gelap. Mulamula aku kurang yakin, tetapi saat kami berjalan semakin dekat, bau itu terasa lebih tajam dan ketegangan menyapu dadaku. Jane memotong jalan ke arah utara, menjauhi kolam, dan Sam mengikutinya, teropong selalu diarahkan ke danan di atas kami. Aku sedikit menjauh. Bau menyengat itu muncul dari depan kami. Kukelilingi permen karet bekas yang terjatuh di tanah dan berhenti. Aku bisa melihat alang-alang dan daun palem mengelilingi kolam

http://inzomnia.wapka.mobi

itu. Hutan itu menjadi hening saat Jane dan Sam menjauh, gemerisik kaki mereka semakin terdengar sayup-sayup pada setiap langkah. Bau daging yang membusuk sangat khas. Aku menciumnya di rahang itu, dan sekarang bau manis yang busuk itu mencemari udara sore, mengatakan kepadaku bahwa buruan kami sudah semakin dekat. Dengan nyaris tidak bernapas, aku bergerak melingkar seperti yang dilakukan Jane, mata terpejam, setiap indra dipusatkan pada indra perasa. Gerakan yang sama, fokus yang berbeda. Jane mencari dengan telinganya, sedangkan aku berburu dengan hidungku. Bau itu muncul dari arah kolam. Aku bergerak mendekat, hidungku mengikuti bau itu dan mataku mengawasi gerakan reptil. Di atas terdengar pekikan monyet, kemudian urin mengucur ke tanah. Dahan bergerakgerak dan daun melambai-lambai ke bawah. Bau busuk itu semakin kuat setiap kali aku melangkah. Aku melangkah sekitar tiga meter, berhenti, dan mengarahkan teropongku ke dedaunan palem yang tebal dan tumbuhan yaupon holly yang memisahkan aku dengan kolam itu. Awan yang berwarna-warni berubahubah bentuk tepat di pinggir kolam.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku bergerak maju, pelan-pelan menguji setiap pijakan. Di pinggiran semak, bau pembusukan semakin jelas. Aku mendengarkan. Hening. Kuamati bagian bawah semak itu. Tidak ada apa-apa. Jantungku berdegup kencang dan keringat membasahi wajahku. Cepat bergerak, Brennan. Bagi buaya, tempat ini sudah terlalu jauh dari kolam. Kutarik sebuah bandana dari saku celana, menutup mulut dan hidungku, kemudian berjongkok untuk melihat apa yang begitu menarik bagi lalatlalat di depanku. Kerumunan lalat itu terbang pada saat yang bersamaan, mendengung dan terbang di sekelilingku. Kulambai-lambaikan tangan mengusir mereka, tetapi lalat-lalat itu segera kembali lagi. Sambil menampar lalat itu dengan sebelah tanganku, kupegang bandana dengan tangan yang lainnya dan mengangkat dahandahan yaupon. Serangga berlompatan menerpa wajah dan lenganku, mendengung dan terbang karena merasa terganggu. Kerumunan lalat itu tertarik ke sebuah kuburan dangkal, tersembunyi dari pandangan karena tertutup dedaunan tebal. Dari permukaannya tampak wajah manusia menatapku, bentuknya berubah-ubah di bawah bayangan. Aku membungkuk, kemudian mundur lagi dengan perasaan ngeri.

http://inzomnia.wapka.mobi

Yang kulihat bukan lagi sebuah wajah, melainkan tengkorak yang sudah dipereteli oleh hewan pemakan bangkai. Yang terlihat sebagai mata, hidung, dan bibir sebenarnya hanyalah tumpukan kepiting mungil, bagian dari gerombolan kepiting yang lebih besar yang menutupi tengkorak dan memakan dagingnya. Saat melihat ke sekeliling, aku baru sadar bahwa ada pihak lain yang juga ikut memanfaatkannya. Peng galan tulang rusuk yang sudah koyak tergeletak di sebelah kananku. Tulang lengan, masih dihubungkan dengan otot sendi dari ligamen yang kering, mengintip dari bawah tanah sekitar dua meter jauhnya. Kusibakkan semak itu dan berjongkok dengan bertumpu di tumitku, tidak mampu bergerak karena perasaan dingin dan mual. Di ekor mataku kulihat kedatangan Sam. Dia mengucapkan sesuatu, tetapi kata-katanya tidak mampu menembus benakku. Entah di mana, jutaan kilometer jauhnya, sebuah motor terdengar meraung keras, kemudian berhenti. Aku ingin berada di tempat lain. Menjadi orang lain. Menjadi orang yang tidak menghabiskan waktu bertahun-tahun mencium kematian dan melihat tahap pembusukan yang paling akhir. Menjadi orang yang tidak

http://inzomnia.wapka.mobi

mau bekerja dari hari ke hari merekonstruksiulang jasad sisa pembunuhan oleh mucikari jagoan, rekan yang murka, orang sinting, dan psikopat. Aku datang ke pulau ini untuk melarikan diri dari kekejaman yang kuhadapi dalam pekerjaanku. Tetapi, bahkan di sini pun, kematian menemukanku. Aku kewalahan. Hari baru. Kematian baru. Death du jour. Ya Tuhan, berapa banyak lagi hari kematian yang harus kuhadapi? Kurasakan sentuhan tangan Sam di bahuku dan mendongak. Tangan lainnya menutup hidung dan mulutnya. "Apa yang kautemukan?" Kumiringkan kepalaku ke arah semak dan Sam merundukkan dedaunan dengan sepatunya. "Astaga!" Aku setuju dengannya. "Sudah berapa lama dia di sini?" Aku mengangkat bahu. "Beberapa hari? Minggu? Tahun?" "Lokasi kuburan itu sudah menjadi tempat berpesta bagi fauna di pulaumu, tetapi sebagian besar tubuhnya sepertinya tidak terganggu. Aku tidak bisa menilai kondisi mayat itu." "Pasti bukan monyet yang menggalinya. Mereka tidak suka makan daging. Ini pasti ulah burung pemakan bangkai." "Burung pemakan bangkai?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Turkey vultures. Mereka suka makan bangkai monyet." "Aku juga pasti akan menanyai rakun." "Oh ya? Rakun suka yaupon, tetapi kurasa mereka tidak suka makan bangkai." Kutatap kembali kuburan itu. "Mayat itu dibaringkan miring, dengan bahu kanan di bawah permukaan tanah. Tidak heran kalau baunya menarik hewan pemakan bangkai. Burung dan rakun mungkin menggali dan memakannya, kemudian menarik lengan dan rahang saat pembusukan melemahkan sendisendinya." Kutunjuk bagian tulang rusuk. "Mereka memakan bagian dada dan menariknya keluar. Sisa tubuhnya mungkin terlalu dalam atau terlalu sulit untuk digali, jadi mereka meninggalkannya di dalam situ." Dengan menggunakan sebatang kayu, kutarik lengan itu lebih dekat. Walaupun bagian sikunya masih terhubungkan, ujung tulang panjangnya sudah menghilang, bagian dalamnya yang seperti spons menonjol dengan pinggiran yang kasar dan bergerigi. "Lihat bagaimana ujungnya menunjukkan bekas kunyahan? Ini bekas gigi hewan. Dan ini?" Kutunjuk sebuah lubang kecil. "Itu bekas gigitan. Hewan kecil, mungkin rakun." "Sialan."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dan tentu saja kepiting dan serangga juga ikut berperan." Sam bangkit, memutar tubuhnya dan menendang tanah dengan tumit sepatunya. "Ya ampun. Sekarang bagaimana?" "Sekarang kamu panggil koroner setempat dan dia akan menghubungi ahli antropologi setempat." Aku bangkit dan membersihkan kotoran dari jinsku. "Dan semua orang menginformasikan apa yang mereka ketahui kepada sheriff." "Ini benar-benar mimpi buruk. Aku tidak mau ada sem-barangan orang berkeliaran di pulau ini." "Mereka tidak akan berkeliaran di pulau ini, Sam. Mereka hanya akan datang ke sini, menggali mayat ini, mungkin membawa seekor anjing pelacak untuk melihat apakah masih ada orang lain yang dikuburkan di pulau ini." "Bagaimana mungkin-? Sialan. Ini tidak mungkin terjadi." Butiran keringat mulai menetes dari pelipisnya. Otot rahangnya mengeras. Untuk sejenak kami berdua tidak berkata apaapa. Lalat mendengung dan beterbangan. Sam akhirnya memecahkan keheningan. "Kamu harus melakukannya." "Melakukan apa?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apa pun yang harus dilakukan. Menggali mayat itu." Dia menunjukkan lengannya ke arah kuburan itu "Enak saja. Ini bukan daerah yurisdiksiku." "Aku tidak peduli siapa yang punya yurisdiksi di sini. Aku tidak mau ada sekelompok orang bodoh berkeliaran di pulau ini, menyabot pulauku, mengacaukan jadwal kerjaku, dan kemungkinan besar menulari monyetmonyetku. Tidak bisa! Aku walikota daerah ini dan ini pulauku. Aku akan duduk di dermaga sambil membawa senapanku, aku tak akan membiarkan hal itu terjadi." Pembuluh darah di dahinya dan otot di lehernya mencuat keluar. Jarinya diacung-acungkan untuk menegaskan setiap perkataannya. "Wah, penampilan yang pantas mendapatkan Academy Award, Sam, tapi aku masih tidak mau melakukannya. Dan Jaffer ada di USC di Columbia. Dia yang menangani kasus antropologi di South Carolina, jadi mungkin dialah yang akan dihubungi koroner setempat. Dan punya sertifi kasi dan dia sangat hebat." "Dan Jaffer monyong itu mungkin mengidap TBI" Sepertinya tidak ada gunanya mendebat, jadi aku pun diam saja.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kamu melakukan pekerjaan itu setiap hari 'kan? Kamu bisa menggali mayat itu dan menyerahkan semuanya ke si Jaffer." Masih tidak ada ujung pangkalnya. "Kenapa tidak, Tempe?" tanyanya sambil melotot kepadaku. "Kamu tahu 'kan bahwa aku sedang menangani kasus lain di Beaufort ini. Aku sudah berjanji dengan orang ini bahwa aku akan bekerja sama dengannya dan aku harus kembali ke Charlotte pada hari Rabu." Aku tidak memberikan jawaban yang sesungguhnya, yaitu bahwa aku sama sekali tidak ingin ikut campur dalam kasus ini. Secara mental, aku belum siap untuk menyamakan pulau tempat istirahatku sebagai tempat kematian yang mengerikan. Sejak pertama kali melihat rahang itu, bayangan buruk sudah melintas-lintas di benakku, bekas-bekas kasus di masa lalu. Wanita yang dicekik, bayi yang dibantai, lelaki muda dengan leher digorok dan mata yang nanar. Kalau pembantaian mencapai pulau ini, aku tidak mau terlibat sedikit pun. "Kita akan membicarakannya lagi di perkemahan," ujar Sam. "Jangan bercerita tentang mayat itu kepada siapa pun." Tanpa memedulikan sifatnya yang diktator itu, kuikatkan bandanaku ke semak-semak dan kami berjalan pulang.

http://inzomnia.wapka.mobi

Saat kami sudah dekat ke jalan setapak, kulihat sebuah mobil bak terbuka yang usang di dekat tempat kami menembus masuk ke hutan. Mobil itu dipenuhi makanan monyet dan membawa tangki berisi tiga ratus galon air yang diikat di bagian belakang kendaraan. Joey sedang memeriksa tangki itu. Sam memanggilnya. "Tunggu sebentar." Joey menyeka punggung tangannya ke mulut, kemudian menyilangkan lengan. Dia memakai jins dan kemeja dengan bagian lengan dan leher yang sudah dipotong. Rambut pirangnya yang berminyak menggantung seperti mie di sekeliling wajahnya. Joey mengamati kami mendekat, matanya disembunyikan oleh kacamata hitamnya, mulutnya tampak seperti garis tipis di wajahnya. Tubuhnya terlihat tegang. "Aku tidak mau ada seorang pun mendekati kolam," ujar Sam kepada Joey., "Alice dapat monyet lagi?" "Tidak." Sam tidak memerinci jawabannya. "Makan an itu mau diantar ke mana?" "Pos makan nomor tujuh."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tinggalkan saja dan segera kembali ke stasiun." "Bagaimana dengan airnya?" "Penuhi tankinya dan segera kembali ke perkemahan. Kalau kamu melihat Jane, suruh dia ke markas juga." Bayang-bayang Joey mendarat di wajahku dan sepertinya beristirahat di situ untuk beberapa saat lamanya. Lalu, dia masuk ke dalam mobil dan melaju pergi, tangki berbunyi nyaring di belakangnya. Aku dan Sam berjalan tanpa berkata apa-apa. Aku mencernaskan peristiwa yang akan terjadi berikutnya, dan berniat untuk tidak membiarkan Sam memaksaku. Kuingat kembali kata-katanya, melihat wajahnya saat dia menemukan kuburan itu. Kemudian ada hal lainnya. Tepat sebelum Sam bergabung denganku, kupikir aku mendengar suara motor. Apakah itu suara mobil bak terbuka tadi? Aku bertanya dalam hati, sudah berapa lama Joey memarkir mobilnya di jalan setapak itu. Dan mengapa diparkir di situ? "Kapan Joey mulai bekerja untukmu?" tanyaku. "Joey?" Dia berpikir sejenak. "Hampir dua tahun yang lalu." "Apakah dia dapat diandalkan?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Yang pasti perasaan kasihannya melebihi akal sehatnya. Dia termasuk orang yang selalu merasa sendu, selalu membicarakan hak-hak binatang, dan khawatir kalau-kalau tindakan kami mengganggu kawanan monyet. Dia tidak tahu sedikit pun tentang binatang, tetapi dia pekerja yang bagus." Saat kami tiba di perkemahan, kudapati pesan dari Katy. Dia sudah menyelesaikan pengamatannya dan pergi ke dermaga untuk membaca. Saat Sam menghampiri telepon, aku berjalan menuju tepi laut. Putriku sedang duduk di salah satu kapal itu, sepatu ditanggalkan, kaki dijulurkan di hadapannya, lengan baju dan celananya digulung setinggi mungkin. Kulambaikan tangan dan dia membalasnya, kemudian menunjuk ke kapal itu. Aku menggelengkan kepala dan mengangkat kedua tanganku, memberikan tanda bahwa sudah waktunya untuk pergi. Dia tersenyum dan terus membaca. Saat aku masuk kembali ke stasiun lapangan, Sam sedang berada di samping meja dapur, berbicara dengan menggunakan ponsel. Aku duduk di bangku di hadapannya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kapan dia akan kembali?" tanyanya. Dia terlihat lebih gelisah dari sebelumnya. Hening. Dia mengetuk-ngetukkan pensil ke mejanya, bolak-balik dari satu ujung ke ujung lainnya, kemudian membiarkannya meluncur di sepanjang jarinya. "Ivy Lee, aku harus bicara dengannya sekarang juga. Kamu bisa menghubunginya?" Hening. Tap. Tap. Tap. "Tidak, seorang deputi saja tidak cukup. Aku perlu bicara dengan Sheriff Baker." Hening sejenak lagi. Tap. Tap-Ujung pensil itu patah dan Sam melemparkannya ke keranjang sampah di ujung dapur. "Aku tidak peduli apa yang dia katakan, coba terus. Suruh dia meneleponku ke pulau ini. Aku akan menunggu." Dia membanting ponsel itu. "Bagaimana mungkin sheriff dan koroner samasama tidak bisa dihubungi?" Dia mengelus rambut dengan kedua tangannya. Kumiringkan tubuhku, mengangkat kedua kakiku, dan bersandar ke dinding. Selama ini aku sudah memetik pengalaman bahwa cara terbaik

http://inzomnia.wapka.mobi

untuk menghadapi Sam adalah dengan tidak mengacuhkannya. Emosinya datang dan pergi dengan begitu saja. Dia bangkit dan berjalan mondar-mandir di dapur, memukulkan tinjunya ke telapak tangannya yang lain. "Ke mana perginya si Harley itu?" Dia melirik jam tangannya. "Sudah jam empat lewat sepuluh. Bagus sekali. Dalam waktu dua puluh menit lagi semua orang akan kembali ke sini, ingin segera pulang ke kota. Mereka seharusnya tidak bekerja di hari Sabtu begini. Ini hari pengganti untuk hari lain yang cuacanya buruk." Ditendangnya sepotong kapur ke seberang ruangan. "Aku tidak bisa memaksa mereka untuk tetap tinggal di sini. Atau apakah aku harus memaksa mereka? Mungkin aku bisa menceritakan mayat itu kepada mereka, memerintahkan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh keluar pulau ini, lalu membawa setiap orang ke dalam kamar dan menanyainya, seperti Hercule Poirot!" Mondar-mandir lagi. Melihat jam tangan. Mondar-mandir. Akhirnya dia mengempaskan bokongnya ke bangku di depanku dan meletakkan dahi dalam kepalan tangannya. "Omelanmu sudah selesai?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Tidak ada jawaban. "Boleh aku memberi saran?" Dia tidak mendongak. "Begini. Mayat itu ada di pulau ini karena ada orang yang mau menyembunyikannya. Jelas, mereka tidak memperhitungkan J-7." Aku berbicara kepada batok kepalanya. "Kulihat ada beberapa kemungkinan. Satu. Dia dibawa ke sini oleh salah seorang pegawaimu. Dua. Orang luar yang ikut dalam kapal, mungkin orang setempat yang tahu kegiatan rutinmu. Pulau ini tidak dijaga setelah para karyawan pulang ke kota 'kan?" Dia mengangguk tanpa mengangkat kepalanya. "Tiga. Mungkin salah seorang gembong narkoba yang naik kapal di perairan sini." Tidak ada tanggapan. "Bukankah kamu petugas cagar alam?" Dia mendongak. Dahinya berkilat oleh keringat. "Ya." "Kalau kamu tidak bisa memanggil koroner atau Sheriff Baker, dan kamu tidak memercayai seorang deputi, teleponlah teman-teman penjaga cagar alammu. Mereka memiliki yurisdiksi untuk daerah lepas pantai 'kan? Menelepon mereka tidak akan menimbulkan kecurigaan dan mereka bisa

http://inzomnia.wapka.mobi

memanggil seseorang untuk menutup tempat itu sampai kamu berbicara dengan sheriff." Dia menampar permukaan meja. "Kim." "Terserah siapa pun orangnya. Minta dia merahasia kannya sampai kamu berbicara dengan Baker. Tadi sudah kujelaskan apa yang harus dilakukannya." "Kim Waggoner bekerja untuk Departemen Sumber Daya Alam South Carolina. Dia sudah pernah menolongku dulu ketika aku terlilit masalah hukum. Aku bisa memercayai Kim." "Apakah dia bisa berjaga sepanjang malam?" Walaupun aku bukan wanita penakut, mengawasi pembunuh atau gembong narkoba bukanlah pekerjaan yang kuinginkan. "Tidak masalah." Dia sudah menekan tombol telepon. "Kim seorang eks marinir." "Dia bisa menangani orang yang mau menerobos masuk?" "Dia makan paku untuk sarapan." Seseorang menjawab dan Sam minta bicara dengan Waggoner. "Tunggu sampai kamu bertemu dengannya," ujarnya, menutup mulut telepon dengan tangannya.

http://inzomnia.wapka.mobi

ada saat karyawan berkumpul, segalanya sudah diatur. Para karyawan membawa Katy dengan kapal mereka, sementara Sam dan aku tetap tinggal di pulau. Kim tiba tak lama setelah pukul lima dan memang persis seperti yang dikatakan Sam. Dia memakai pakaian yang cocok untuk penjaga hutan, sepatu tempur, dan topi lebar Australia, dan membawa amunisi cukup banyak untuk memburu badak. Pulau itu akan aman dengan adanya dia di sini. Pada perjalanan pulang ke marina, Sam kembali memintaku untuk melakukan penggalian itu. Aku mengulangi apa yang tadi kukatakan kepadanya. Sheriff. Koroner. Jaffer. "Aku akan bicara denganmu besok," ujarku saat dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan. "Terima kasih karena sudah mengantarkan kami hari ini. Aku tahu Katy sangat senang." "No problemo." Kami mengamati seekor burung pelikan melaju di atas air, kemudian melipat sayapnya dan menghujamkan kepalanya di antara ombak laut. Ia muncul kembali dengan seekor ikan di paruhnya, cahaya matahari menerpa sisik ikan itu. Kemudian, pelican itu tersandung ombak dan ikan itu pun terjatuh kembali ke lautan.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sialan. Kenapa mereka harus memilih pulauku?" Sam terdengar lelah dan putus asa. Kubuka pintu mobil. "Nanti ceritakan kepadaku apa yang dikatakan Sheriff Baker." "Aku janji." "Kamu mengerti 'kan kenapa aku tidak bisa melakukannya?" Saat aku menutup pintu dan membungkukkan tubuh di jendela yang terbuka, dia mengajukan argumentasi baru. "Tempe, pikirkan dulu. Pulau monyet. Mayat yang terkubur. Walikota setempat. Kalau media mencium ini, mereka pasti akan merangsek, dan kamutahu betapa sensitifnya permasalahan hak asasi binatang. Aku tidak ingin media meliput Murtry." "Itu bisa saja terjadi, tak peduli siapa pun yang menangani kasus itu." "Aku tahu. Ini-" "Sudahlah, Sam." Saat aku mengamatinya menjauh, burung pelican itu kembali terbang melingkar dan menukik di atas kapal. Seekor ikan baru tampak berkilat di paruhnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sam memiliki kegigihan yang sama besarnya. Aku ragu apakah dia akan menyerah begitu saja, dan dugaanku memang benar. 17. Setelah makan malam di bar Steamer Oyster, aku dan Katy mengunjungi sebuah galeri di Saint Helena. Kami berjalan-jalan di berbagai ruangan gedung tua yang ber-keriut itu, melihat-lihat karya para seniman Gullah setempat, menghargai sudut pandang lain dari sebuah tempat yang kami pikir sudah kami kenal. Tetapi, saat aku mengkritik karya kolase, lukisan, dan foto, aku teringat pada tulang-belulang, kepiting, serta lalat yang menari-nari. Katy membeli sebuah miniatur burung bangau yang diukir dari kulit kayu dan dicat biru keunguan. Pada perjalanan pulang, kami berhenti untuk membeli es krim kopi, kemudian menyantapnya di haluan Melanie Tess, bercakap-cakap dan mendengarkan suara layar kapal di sekeliling kami saat ditiup angin. Bulan menghantarkan cahayanya di atas payau. Saat mengobrol, kuamati cahaya kuning yang lemah muncul dari kegelapan malam.

http://inzomnia.wapka.mobi

Putriku menceritakan ambisinya menjadi se seorang yang menyusun profil kasus kriminal dan berbagi kekhawatirannya dalam meraih cita-citanya itu. Dia mengoceh tentang keindahan Murtry dan mengungkapkan perilaku aneh kawanan monyet yang diamatinya. Pada satu saat, aku berniat untuk menceritakan temuanku kepadanya, tetapi kemudian menangguhkannya. Aku tidak mau menodai kenangan indah kunjungannya ke pulau itu. Aku pergi tidur pukul sebelas malam dan berbaring untuk beberapa saat lamanya mendengarkan suara layar dan memaksa diriku untuk tidur. Akhirnya aku pun jatuh tertidur, membawa kejadian hari itu bersamaku dan menganyamnya dengan berbagai pengalaman yang kualami beberapa minggu terakhir ini. Aku naik kapal bersama Mathias dan Malachy, berusaha menjaga mereka agar tetap berada di atas kapal. Kubersihkan kepiting dari sesosok mayat, melihat gerombolan kepiting itu kembali lagi begitu aku berhasil mengusirnya. Tengkorak mayat itu berubah menjadi wajah Ryan, kemudian menjadi tubuh Patrice Simonnet yang hangus terbakar. Sam dan Harry berteriak kepadaku, katakata mereka tidak dapat kupahami, wajah mereka keras dan penuh amarah.

http://inzomnia.wapka.mobi

Saat telepon membangunkanku, aku merasa pusing, tidak yakin sedang berada di mana atau mengapa aku berada di situ. Aku berjalan tersaruksaruk menuju dapur kapal. "Selamat pagi." Ternyata Sam, suaranya terdengar tegang dan gugup. "Jam berapa sekarang?" "Hampir jam tujuh." "Kamu di mana?" "Di kantor Sheriff. Rencanamu tidak akan berhasil." "Rencana?" Otakku berusaha keras untuk berkonsentrasi ke percakapan. "Temanmu ada di Bosnia." Aku mengintip melalui kerai. Di dermaga, seorang lelaki tua berjambang sedang duduk di atas dek kapal layarnya. Saat kulepaskan tali kerai, dia memiringkan kepalanya dan menenggak sekaleng Old Milwaukee. "Bosnia?" "Jaffer. Ahli antropologi di USC. Dia sedang ke Bosnia untuk menggali kuburan massal untuk PBB. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan dia akan kembali." "Siapa yang menangani kasus-kasusnya?" "Tidak jadi soal. Baxter ingin kamu yang menangani kasus ini." "Siapa Baxter?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Baxter Colker adalah koroner Beaufort County. Dia ingin kamu yang melakukannya." "Kenapa?" "Karena aku ingin kamu yang melakukannya." Penjelasan itu sudah cukup gamblang. "Kapan?" "Secepat mungkin. Harley sudah memanggil seorang detektif dan deputinya. Baxter akan bertemu dengan kita di sini pukul sembilan. Dia sudah menyiapkan tim transportasi. Kalau kita sudah siap untuk berangkat ke Murtry, dia akan menghubungi tim itu dan mereka akan menemui kita di dermaga Pulau Lady untuk membawa mayat itu ke Beaufort Memorial. Tapi, dia ingin kamu yang melakukan penggaliannya. Sebutkan saja peralatan yang kamu perlukan dan kami akan menyediakannya." "Apakah Colker ahli patologi forensik?" "Baxter adalah petugas yang ditunjuk dan tidak pernah mendapatkan pelatihan medis. Pekerjaannya mengurus rumah pemakaman. Tapi, dia sangat teliti dan ingin melakukan semua ini dengan benar." Aku memikirkannya sesaat. "Apakah Sheriff Baker punya dugaan siapa yang mungkin terkubur di sana?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Banyak perdagangan narkoba yang sedang terjadi di sini. Dia akan berbicara dengan orang-orang Bea Cukai AS dan DEA setempat. Juga petugas cagar alam. Kata Harley, mereka sedang mengintai payau dan Sungai Coosaw bulan lalu. Dia menduga itu adalah mayat salah seorang anggota gembong itu dan aku sependapat dengannya. Orang-orang ini membunuh orang seperti menepuk nyamuk saja. Kamu akan membantu kami 'kan?" Dengan enggan, aku menyanggupinya. Kusebutkan peralatan yang harus disediakan dan dia berjanji akan langsung mempersiapkannya. Aku diminta siap pada pukul sepuluh. Selama beberapa menit aku berdiri termenung, tidak yakin apa yang harus kulakukan tentang Katy. Aku bisa menjelaskan situasinya dan menyerahkan kepadanya tentang apa yang akan dilakukannya. Lagi pula, tidak ada alasan dia tidak bisa pergi bersama kami ke pulau itu. Atau, aku bisa mengatakan kepadanya bahwa ada sesuatu dan Sam meminta bantuanku. Katy bisa menghabiskan hari ini di sini atau pergi ke Hilton Head lebih cepat dari yang direncanakannya. Aku tahu bahwa pilihan kedua lebih baik, tetapi memutuskan untuk menceritakan lebih dahulu semuanya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kulahap semangkuk sereal Raisin Bran dan mencuci mangkuk serta sendoknya. Karena tidak bisa duduk diam, aku memakai celana pendek dan kemeja, kemudian beranjak keluar untuk memeriksa layar dan tangki air. Saat berada di situ, sekalian saja kubereskan kursi di anjungan. Masuk ke dalam lagi, kurapikan tempat tidur dan kukencangkan balutan handuk di kepala. Kurapikan juga bantal di sofa dan memungut bulu-bulu dari karpet. Kuputar jam dan melihat pukul berapa sekarang. Baru jam tujuh lewat lima belas menit. Katy pasti baru bangun beberapa jam lagi. Setelah mengenakan sepatu kets, diam-diam aku keluar dari kapal. Kukemudikan mobil ke Rute 21 ke timur ke seberang Saint Helena menuju Pulau Harbor, kemudian melewati Pulau Hunting, dan membelok di taman kota. Jalanan yang sempit itu menembus rawa yang hening dan gelap seperti dasar sebuah danau. Pohon palem Palmetto dan pohomek menjulang dari tanah yang kelam. Di sana-sini secercah cahaya matahari menembus kanopi, menyebabkan air berkilau keemasan. Kuparkir mobil di dekat mercusuar dan berjalan di atas jalan papan menuju pantai. Air tampak surut dan pasir basah berkilat seperti cermin. Kuamati seekor burung kedidi terbang di antara ombak, kakinya yang

http://inzomnia.wapka.mobi

ramping menghilang diterpa air laut. Pagi itu cukup sejuk dan bulu kudukku berdiri di sepanjang lengan dan kaki saat melakukan pemanasan. Aku berlari di sisi Samudra Atlantik, kaki sedikit tenggelam dalam pasir yang tebal. Cuaca benar-benar tenang. Kulewati sekelompok burung pelikan yang mengambang di laut. Rumput broom sedge dan sea oats tampak tak bergerak di puncak bukit pasir. Sambil berlari-lari kecil, kuamati sampah yang dimuntahkan laut. Kayu lapuk yang hanyut dan ditutupi lumut. Rumput liar yang berantakan. Tempurung kepiting berwarna cokelat yang berkilauan diterpa cahaya matahari pagi. Seekor bintang laut, mata dan organnya digerogoti kepiting dan burung camar. Aku berlari sampai paru-paruku serasa terbakar. Kemudian, aku terus berlari lagi. Saat tiba di jalan papan, kakiku yang gemetaran hampir tidak bisa mendaki tangga. Tetapi, di dalam, aku merasa segar kembali. Mungkin karena aroma ikan mati, atau bahkan kepiting itu. Mungkin aku telah meningkatkan kadar endorfi n dalam darahku. Yang jelas, aku tidak lagi murung menghadapi hari-hari di hadapanku. Kematian terjadi setiap menit setiap hari di setiap tempat di dunia ini. Itu adalah bagian dari daur kehidupan dan itu termasuk di Pulau Murtry. Aku

http://inzomnia.wapka.mobi

akan menggali mayat itu dan mengirimkannya ke pihak yang berwajib. Itu adalah tugasku. Saat aku masuk kembali ke kapal, Katy masih tidur. Kuseduh kopi, mandi, berharap suara pompa tidak akan mengusiknya. Saat sudah berpakaian, kupanggang dua muffi n Inggris, mengolesnya dengan mentega dan selai blackberry, dan membawanya ke ruangan tidur. Teman-teman pernah mengatakan kepadaku bahwa pengerahan tenaga yang berlebihan akan meningkatkan depresi. Tapi, tidak untukku. Olahraga membuatku ingin memanjakan tubuhku dengan makanan. Kuhidupkan TV, mengganti-ganti saluran, dan memilih salah satu dari sekian banyak saluran para penyebar agama yang sedang menyajikan ceramah Minggu. Kudengarkan nasihat yang dilontarkan Pendeta Eugene Highwater saat Katy tersaruk-saruk masuk ruangan dan menghenyakkan dirinya di sofa. Wajahnya tampak kusut dan tembam karena tidur, dan rambutnya mirip rumput laut yang kutemukan di pantai tadi. Dia memakai kaus Hornets yang menggantung sampai ke lututnya. "Selamat pagi. Kamu terlihat cantik hari ini." Tidak ada tanggapan dari putriku. "Kopi?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Dia mengangguk, mata masih terpejam. Aku beranjak ke dapur, menuangkan secangkir dan membawanya untuk putriku. Katy bangkit dengan posisi setengah duduk, pelan-pelan membuka kelopak matanya dan meraih cangkir kopi itu. "Aku terjaga sampai jam dua, membaca buku." Dia menghirup, memegang cangkir itu saat berdiri dan melipat kedua kaki dan bersimpuh, gaya India. Matanya yang baru terbuka menatap Pendeta Highwater. "Kenapa Mama mendengarkan ocehan itu?" "Mama berusaha memahami isi ceramahnya." "Kirim saja cek dan dia akan mengirimkan ceramahnya dengan lengkap kepada Mama." Kebaikan hati bukanlah salah satu sifat yang dimiliki anakku di pagi hari. "Siapa orang gila yang menelepon subuh tadi?" Ataupun kesopanan. "Sam." "Oh. Dia perlu apa?" "Katy, sesuatu telah terjadi kemarin yang belum Mama ceritakan kepadamu."

http://inzomnia.wapka.mobi

Matanya tampak bangun sepenuhnya dan menatapku. Aku agak ragu, tetapi kemudian menceritakan semua peristiwa yang terjadi kemarin. Sambil menghindari hal-hal teperinci, kuceritakan kondisi mayat itu dan bagaimana 3-7 telah menuntun kami ke tempat itu, lalu menceritakan pula percakapan telepon dengan Sam. "Jadi, Mama akan kembali ke sana hari ini?" Dia mengangkat cangkir itu ke mulutnya. "Ya. Dengan koroner dan tim dari kantor sheriff. Sam menjemput Mama nanti pukul sepuluh. Mama minta maaf karena harus membatalkan rencana kita hari ini. Tentu saja kamu boleh ikut dengan kami, tapi Mama mengerti kalau kamu tidak mau." Untuk beberapa saat lamanya dia tidak berkata apa-apa. Pendeta di layar TV terus bicara tentang Yesus. "Mereka sudah tahu siapa mayat itu?" "Sheriff memperkirakan korban adalah anggota gembong narkoba. Gembong yang menggunakan sungai dan jalur di sini untuk menyelundupkan barangbarang itu. Dia memperkirakan ada transaksi yang gagal dan seseorang akhirnya terbunuh." "Apa yang akan Mama lakukan di sana?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kami akan menggali mayat itu, mengumpulkan contoh, dan memotretnya." "Bukan, bukan, maksudku, jelaskan dengan teperinci apa yang akan Mama lakukan. Aku mungkin bisa menggunakannya dalam makalahku atau entah apa." "Setiap langkahnya?" Dia mengangguk dan bersandar ke bantalan sofa. "Semuanya cukup rutin. Kami akan membersihkan tumbuhan di sekitarnya, kemudian menyiapkan petak-petak untuk gambar dan pengukuran." Ruang bawah tanah di St-Jovite muncul di kepalaku. "Sesudah selesai mengumpulkan contoh di permukaan tanah, Mama akan membuka kuburan itu. Tim penggalian akan menggali selapis demi selapis. Sepertinya penggalian seperti itu tidak akan dibutuhkan pada kasus ini. Kalau ada orang menggali sebuah lubang, menjatuhkan mayat, dan menutupinya, kemungkinan tidak akan ada lapisan tanah. Tapi, Mama akan menjaga satu sisi agar tetap bersih sehingga Mama akan mendapat profi Inya saat Mama turun ke lubang kuburan itu. Dengan begitu, Mama akan bisa melihat apakah ada bekas-bekas alat penggali di dalam tanah." "Bekas-bekas alat penggali?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sebuah sekop atau alat penyodok yang mungkin meninggalkan bekas di dalam tanah. Mama belum pernah melihatnya, tapi beberapa rekan Mama bersumpah pernah melihatnya. Katanya kita bisa melihat bekas itu, kemudian membuat cetakannya dan mencocokkannya dengan alat yang dicurigai. Yang pernah Mama lihat adalah bekas jejak kaki di dasar kuburan, khususnya bila banyak tanah liat dan endapan lumpur. Mama pasti akan mencari jejak seperti itu." "Jejak orang yang menggali kuburan itu?" "Ya. Saat lubang itu mencapai kedalaman tertentu, si penggali mungkin melompat ke dalamnya dan bekerja dari bawah sana. Bila demikian, dia akan meninggalkan jejak sepatu. Mama juga akan mengambil contoh tanah. Kadang-kadang, tanah dari dalam kuburan bisa dicocokkan dengan kotoran yang ditemukan pada tersangka." "Atau di lantai lemarinya." "Tepat sekali. Dan Mama akan mengumpulkan serangga." "Serangga?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kuburan ini akan dipenuhi serangga. Pertama, kuburan itu terlalu dangkal dan burung pemakan bangkai serta rakun sudah menggali sebagian tubuh mayat itu. Lalat sekarang sedang berpesta di sana. Mereka akan berguna untuk menentukan PMI." "PMI?" "Postmortem interval. Selang waktu sejak orang itu meninggal." "Bagaimana caranya?" "Ahli entomologi telah meneliti serangga pemakan bangkai, kebanyakan lalat dan kumbang. Ter nyata spesies yang berbeda-beda akan tiba pada mayat dalam urutan yang selalu sama, kemudian masing-masing akan melalui daur hidup yang sudah bisa diramalkan. Beberapa spesies lalat akan tiba dalam waktu beberapa menit. Yang lainnya akan muncul setelah itu. Lalat dewasa akan bertelur, kemudian telur itu akan menetas menjadi larva. Itulah yang disebut belatung, larva lalat." Katy meringis. "Setelah beberapa waktu lamanya, larva itu akan meninggalkan mayat tersebut dan menyelubungi dirinya dengan cangkang luarnya yang dinamakan kepompong atau pupa. Akhirnya, mereka akan menetas

http://inzomnia.wapka.mobi

menjadi lalat dewasa dan terbang untuk memulai daur hidup itu kembali dari awal." "Kenapa semua serangga itu tidak datang pada saat yang bersamaan?" "Spesies yang berbeda memiliki aturan main yang berbeda. Ada serangga yang datang untuk mengunyah mayat. Serangga lainnya lebih suka makan telur lalat dan larva para pendahulunya." "Jijik banget." "Semua orang punya tugas sendiri-sendiri." "Apa yang akan Mama lakukan dengan serangga itu?" "Mama akan mengumpulkan contoh larva dan cangkang pupa, dan berusaha menangkap beberapa ekor serangga dewasa. Tergantung pada keawetan mayat itu, Mama juga mungkin akan menggunakan alat untuk mengukur suhunya. Saat belatung terbentuk, mereka bisa menaikkan suhu internal mayat dengan cukup berarti. Itu juga akan berguna untuk menentukan perkiraan PMI." "Kemudian apa?" "Mama akan menyimpan semua serangga dewasa dan sebagian dari larva di dalam cairan alkohol. Larva sisanya akan ditempatkan dalam sebuah kotak bersama hati dan vermikulit. Ahli entomologi akan

http://inzomnia.wapka.mobi

mengembangbiakkan larva itu sehingga menetas dan mengidentifi kasi serangga jenis apakah mereka." Aku bertanya dalam hati apakah Sam akan muncul dengan membawa jaring, wadah es krim, vermikulit, dan alat pengukur suhu di hari Minggu pagi seperti ini. Belum lagi ayakan, sekop kecil, dan berbagai peralatan penggalian yang kuminta. Tapi, itu urusannya. "Bagaimana dengan mayatnya?" "Tergantung kondisinya. Kalau masih utuh, Mama cukup mengangkatnya dan memasukkanya ke dalam kantong mayat. Kalau sudah tinggal tulang, agak susah karena Mama harus melakukan perhitungan tulang untuk memastikan bahwa semua tulangnya sudah terkumpul." Dia memikirkan hal itu. "Skenario yang paling bagus yang bagaimana?" "Sehari penuh." "Skenario yang paling buruk?" "Lebih lama dari satu hari." Dengan mengerutkan dahi, dia mengelus rambut dengan jari-jemarinya, kemudian mengikatnya di belakang leher.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Mama pergi saja ke Murtry. Aku akan tinggal di sini, lalu minta dijemput untuk pergi ke Hilton Head." "Temanmu tidak keberatan menjemput kamu lebih awal?" "Tidak. Mereka sudah dijalan." "Pilihan yang bagus." Dan aku bersungguhsungguh. Semuanya terjadi persis seperti apa yang kuungkapkan kepada Katy, tetapi dengan satu variasi besar. Ternyata ada stratigrafi , lapisan tanah. Di bawah mayat berwajah kepiting itu, dengan sangat terkejut kutemukan sesosok mayat lagi. Ia tergeletak di lubang berukuran satu meter lebih, wajah menghadap ke bawah, lengan terlipat di ba- wah perutnya, dengan sudut dua puluh derajat dari mayat di atasnya. Kedalaman memberikan keuntungan. Walaupun mayat di atas telah meranggas menjadi tulang dan daging yang masih menempel, mayat yang di bawah masih mengandung cukup banyak daging dan isi perut yang sudah berupa cairan kental. Aku bekerja sampai hari gelap, dengan berhati-hati mengayak setiap partikel kotoran, meraih tanah, tumbuhan, dan contoh serangga, dan memindahkan mayat itu ke kantongnya. Detektif dari kantor sheriff merekam semua itu dengan video serta mengambil foto.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sam, Baxter Colker, dan Harley Baker mengamati dari kejauhan, sesekali memberi komentar atau melangkah maju untuk bisa melihat lebih jelas lagi. Deputi memeriksa hutan di sekelilingnya dengan anjing dari Kantor Sheriff yang dilatih khusus untuk mengendus bau pembusukan. Kim mencari-cari bukti fi sik. Semuanya nihil. Kecuali kedua mayat itu, kami tidak menemukan apa-apa lagi. Korban telah ditelanjangi dan dijatuhkan ke dalam lubang, semua barang yang bisa menjadi tanda pengenal telah direnggut. Walaupun aku mengamati berbagai hal teperinci dengan sangat teliti, posisi tubuh atau apa pun yang kuteliti di dalam lubang kuburan itu tidak menunjukkan tanda apakah kedua mayat itu dikuburkan pada saat yang bersamaan atau mayat yang di atas dikuburkan beberapa saat setelah mayat yang di bawahnya. Waktu menunjukkan hampir pukul delapan saat Baxter Colker membanting pintu mobil van pengangkut dan menguncinya. Koroner, Sam, dan aku berkumpul di sisi jalan, di atas dermaga tempat kami menambatkan kapal. Colker terlihat seperti boneka berdasi kupu-kupu dan jas yang rapi, celananya ditahan dengan sabuk yang dinaikkan jauh di atas pinggangnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Walaupun Sam telah mengingatkanku tentang betapa rapinya koroner Beaufort County, aku tidak siap menghadapi pakaian yang dikenakannya untuk acara penggalian itu. Entah pakaian macam apa yang dikenakan orang itu kalau dia ke pesta makan malam. "Nah, sekarang semua sudah beres," ujarnya sambil mengelap tangannya dengan sapu tangan. Ratusan pembuluh darah kecil menonjol dan menyatu di pipinya, membuat wajahnya sedikit membiru. Dia menoleh kepadaku. "Kita bertemu di rumah sakit besok?" Terdengar lebih mirip dengan pernyataan daripada sebuah pertanyaan. "Lho. Tunggu dulu. Bukankah semua kasus ini akan dilimpahkan kepada ahli patologi forensik di Charleston?" "Ya, memang, aku bisa mengirimkan kasus ini ke departemen medis di kampus, Nyonya, tapi aku tahu apa yang akan dikatakan para pria terhormat di sana kepadaku." Colker menyapaku dengan sebutan "nyonya" sepanjang hari. "Axel Hardaway maksudmu?" "Ya, Nyonya. Dan, Dr. Hardaway akan mengatakan kepadaku bahwa aku membutuhkan seorang ahli antropologi karena dia tidak tahu apa-apa

http://inzomnia.wapka.mobi

tentang tulang-belulang. Itulah yang akan dikatakannya kepadaku. Dan menurut yang kutahu, Dr. Jaffer, ahli antropologi yang kami miliki, sedang berhalangan. Nah, mau dikemanakan lagi orang-orang malang ini?" Dia melayangkan tangannya yang kurus ke arah mobil jenazah. "Tidak peduli siapa yang melakukan analisis tulang, kamu pasti ingin melakukan autopsi penuh atas mayat kedua." Sesuatu bergerak di sungai, memecahkan cahaya bulan menjadi ribuan riak kecil. Embusan angin semakin menguat dan aku bisa mencium bau hujan di udara. Colker mengetuk sisi mobil van dan sebuah tangan muncul di jendela, melambaikannya, dan mobil itu pun melaju pergi. Colker memerhatikannya untuk beberapa saat lamanya. "Kedua mayat itu akan menginap di Beaufort Memorial malam ini karena ini hari Minggu. Sementara itu, aku akan menghubungi Dr. Hardaway dan menanyakan bagaimana pendapatnya. Bolehkah aku bertanya, Anda akan menginap di mana, Nyonya?" Saat kukatakan di mana, sheriff menghampiri kami.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Anda, Dr. Brennan. Anda telah melakukan pekerjaan yang bagus tadi." Baker sekitar 30 cm lebih tinggi dari si koroner, dan berat Sam serta Colker bila digabungkan masih tidak mampu mengalahkan berat tubuh si sheriff. Di bawah kemeja seragamnya, dada dan lengan sheriff terlihat seakan terbuat dari besi. Wajahnya tirus, kulitnya berwarna cokelat tua. Harley Baker terlihat seperti seorang penantang juara dunia dan berbicara seperti lulusan Harvard. "Terima kasih, Sheriff. Detektif dan deputi Anda sangat membantu." Ketika kami berjabat tangan, tanganku terlihat lebih pucat dan ramping dalam genggamannya. Cengkeraman tangannya bisa menghancurkan batu granit. "Terima kasih lagi. Aku akan bertemu dengan Anda dan Detektif Ryan besok. Dan, aku akan mengurus semua serangga Anda dengan baik." Aku dan Baker telah mendiskusikan serangga itu dan aku memberikan nama ahli entomologi yang kukenal kepadanya. Kujelaskan cara untuk mengirimkannya dan bagaimana cara menyimpan contoh tanah dan tumbuhannya. Semuanya sekarang dalam perjalanan menuju kantor sheriff di bawah pengawasan detektif Kantor Sheriff.

http://inzomnia.wapka.mobi

Baker berjabat tangan dengan Colker dan menepuk bahu Sam dengan sikap bersahabat. "Aku yakin akan melihat wajah jelekmu besok," ujarnya kepada Sam saat berjalan pergi. Satu menit kemudian, mobil patrolinya melewati kami menuju Beaufort. Aku dan Sam mengendarai mobil menuju Melanie Tess, berhenti sejenak untuk membeli makanan di tengah perjalanan. Kami tidak banyak bicara. Aku bisa mencium aroma kematian di kemeja dan rambutku, dan ingin segera mandi, makan, dan terjatuh ke dalam kondisi koma selama delapan jam. Sam mungkin ingin aku segera keluar dari mobilnya. Pada pukul sembilan lewat empat puluh lima menit, rambutku sudah dibungkus handuk dan aku mencium wangi pelembap White Diamond. Aku sedang mengangkat kotak makananku ketika Ryan me nelepon. "Kamu di mana?" tanyaku, sambil memencet saus ke atas kentang gorengku. "Di sebuah tempat kecil yang memesona bernama Lord Carteret." "Ada yang salah dengan tempat itu?" "Tidak ada lapangan golf."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kita akan bertemu di kantor sheriff jam sembilan besok." Kucium bau kentang goreng itu. "Jam nol sembilan ratus, Dr. Brennan. Kamu lagi makan apa?" "Roti lapis salami." "Jam sepuluh malam begini?" "Hari ini benar-benar sibuk." "Aku juga bukannya tidak ada kesibukan." Kudengar suara korek api, kemudian embusan napas. "Tiga penerbangan, kemudian mengemudi dari Savannah menuju Tara, dan aku bahkan tidak bisa menghubungi sheriff. Dia keluar sepanjang hari mengurus sesuatu dan tidak ada yang mau mengatakan di mana dia berada. Sangat rahasia. Dia dan Bibi Bee mungkin sedang menyamar untuk Cl A." "Sheriff Baker cukup baik." Kuseruput kubis kuah. "Kamu mengenalnya?" "Aku bersamanya sepanjang hari ini." Roti jagung. "Suara kunyahanmu terdengar lain." "Roti jagung." "Apa maksudnya roti jagung?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kalau kamu mau menyumbang uang, aku akan membelikannya untukmu besok." "Asyik. Apa sih itu?" "Makanan dari jagung yang dibakar." "Apa yang kamu dan Baker lakukan sepanjang hari?" Kuceritakan kegiatan penggalian mayat itu. "Dan, Baker menduga ada keterlibatan geng narkoba?" "Ya. Tapi, aku tidak sependapat dengannya." "Kenapa tidak?" "Ryan, aku lelah sekali dan Baker mengharapkan kedatangan kita pagipagi sekali. Aku akan bertemu denganmu besok. Apa kamu bisa menemukan sendiri Marina Pulau Lady?" "Tebakanku yang pertama pasti marina itu ada di Pulau Lady 'kan?" Kuberikan arahan kepadanya, lalu menutup gagang telepon. Kemudian, kuselesaikan makan malamku dan menjatuhkan diri ke atas tempat tidur, tanpa memakai piyama. Aku tidur telanjang dan seperti batu cadas, tidak memimpikan sesuatu yang bisa kuingat, selama delapan jam. 18. Pada pukul delapan hari Senin pagi, lalu lintas c ukup padat di Jembatan Woods Memorial. Langit mendung, sungai tampak berombak hijau. Berita

http://inzomnia.wapka.mobi

di radio mobil meramalkan hujan rintik-rintik dan suhu sekitar dua puluh dua derajat Celcius pada hari itu. Ryan terlihat aneh dengan celana dan jaket wolnya, seperti makhluk dari dunia es yang terempas ke daratan tropis. Dia sudah mulai berkeringat. Saat kami menyeberangi jembatan menuju Beaufort, kujelaskan yurisdiksi di county ini. Kujelaskan bahwa Kantor Kepolisian Beaufort hanya memiliki kewenangan di dalam batas kota, dan menceritakan tiga kotamadya lainnya, Port Royal, Bluffton, dan Hilton Head, masing-masing memiliki kantor polisi sendiri. "Bagian Beaufort County yang lain tidak termasuk ke dalamnya, dan menjadi wilayah kewenangan Sheriff Baker," ujarku menjelaskan. "Departemennya juga menyediakan jasa ke Pulau Hilton Head. Misalnya penyediaan detektif." "Seperti di Quebec," ujar Ryan. "Memang, hanya saja kita harus tahu sedang berada di daerah kewenangan siapa." "Simonnet pernah menelepon ke Saint Helena. Jadi, itu wilayah Baker." "Ya." "Kamu bilang dia polisi yang baik."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Silakan kamu menentukan pendapat sendiri." "Bisa kamu ceritakan mayat yang kamu gali kemarin?" Aku menceritakannya. "Ya ampun, Brennan, mau-maunya kamu terlibat dalam masalah itu!" "Itu tugasku, Ryan." Pertanyaan itu terasa menyengat. Semua hal tentang Ryan membuatku tersengat akhir-akhir ini. "Tapi, kamu 'kan sedang berlibur." Ya. Di Murtry. Dengan putriku. "Sepertinya itu lamunan kehidupanku yang selalu kudambakan," tukasku dengan ketus. "Aku memimpikan mayat, kemudian simsalabim, tiba-tiba saja mereka muncul di hadapanku. Aku memang menyukai semua itu." Kugertakkan gerahamku dan mengamati tetesan air menyatu di kipas kaca depan. Kalau Ryan ingin bercakap-cakap, dia bisa ngobrol sendiri. "Aku perlu sedikit petunjuk jalanan," ujarnya saat kami melaju melewati kampus USC-Beaufort. "Carteret akan membelok ke kiri dan masuk ke Boundary. Ikuti saja." Kami melaju ke barat melewati kondominium di Pigeon Point, dan akhirnya melaju di antara dinding bata merah yang merupakan bagian dari National Cemetery di kedua sisi jalan. Di Ribaut aku menyuruhnya belok ke kiri.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ryan memberi tanda, kemudian mengarah ke selatan. Di sebelah kiri, kami melewati Maryland Fried Chicken, stasiun pemadam kebakaran, dan Second Pilgrim Baptist Church. Di sebelah kanan tampak beberapa gedung pemerintahan daerah. Gedung yang berwarna putih menjadi kantor pemerintah daerah, pengadilan, kantor pengacara, berbagai badan penegak hukum, dan penjara. Deretan pilar tiruan dan atap yang melengkung dimaksudkan untuk menciptakan cita rasa pedesaan, namun kompleks itu terlihat seperti sebuah mal kedokteran bergaya Art Deco yang sangat besar. Di Ribaut dan Duke, kutunjuk gundukan pasir yang dibasuh bayangbayang pohon ek dan lumut Spanyol. Ryan berhenti dan memarkir mobil di antara jip Beaufort City Police dan trailer Haz Mat. Sheriff Baker baru saja tiba dan sedang meraih sesuatu di bagian belakang jipnya. Ketika melihatku, ia melambaikan tangannya, menutup bagasi, lalu menunggu kami untuk bergabung dengannya. Kuperkenalkan mereka dan kedua lelaki itu berjabatan tangan. Hujan telah membentuk kabut yang cukup tebal. "Maaf karena telah merepotkan Anda," kata Ryan. "Aku yakin Anda sudah cukup sibuk tanpa diganggu oleh seorang pendatang."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak apa-apa," ujar Baker. "Kuharap kami bisa membantu Anda." "Gedung yang hebat," ujar Ryan sambil menganggukkan ke arah bangunan tempat kantor Sheriff. Saat kami berjalan menyeberangi Duke, sheriff memberikan penjelasan singkat tentang kompleks tersebut. "Di awal sembilan belas sembilan puluhan, pemerintah daerah memutuskan untuk menempatkan semua lembaga di bawah satu atap, jadi mereka membangun tempat ini dengan biaya sekitar tiga puluh juta dolar. Kami mendapat tempat sendiri, begitu juga dengan kota Beaufort, tetapi kami menggunakan layanan yang sama seperti komunikasi, alat penghubung, dan arsip." Sepasang deputi melewati kami menuju lapangan parkir. Mereka melambaikan tangan dan Baker menganggukkan kepalanya, kemudian dia membukakan pintu kaca untuk kami. Kantor Sheriff Beaufort County terletak di sebelah kanan, setelah melewati rak kaca yang berisi seragam dan plakat. Kantor polisi kota terletak di sebelah kiri, melalui pintu bertanda HANYA YANG BERKEPENTINGAN. Di sampingnya tampak sebuah rak dan di situ terpasang sepuluh foto penjahat yang sedang dicari FBI, foto orang hilang, dan poster dari

http://inzomnia.wapka.mobi

Lembaga Anak Hilang dan Teraniaya. Di depan tampak lorong yang melewati lift menuju bagian dalam gedung tersebut. Kami memasuki koridor kantor sheriff dan melihat seorang wanita yang sedang menggantungkan payung di sebuah tiang. Walaupun sudah berusia lebih dari lima puluh tahun, dia terlihat seperti orang yang baru saja tampil dalam video Madonna. Rambutnya panjang berwarna hitam kelam, dan dia memakai blus renda bertali di atas baju mini dengan jaket bolero ungu di atasnya. Hak sepatu setinggi tujuh cm menambah tinggi tubuhnya. Dia berbicara dengan sheriff. "Pak Colker baru saja menelepon. Dan, beberapa detektif menelepon beberapa kali kemarin dengan tergesa-gesa tentang sesuatu. Ada di mejamu." "Terima kasih, Ivy Lee. Ini Detektif Ryan." Baker memperkenalkan kami. "Dan Dr. Brennan. Kita akan membantu mereka dalam kasus ini." Ivy Lee menatap kami berdua. "Mau minum kopi, Pak?" "Ya. Terima kasih." "Tiga, kalau begitu?" "Ya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Krim?" Aku dan Ryan mengangguk. Kami masuk ke dalam kantor sheriff dan semuanya duduk. Baker melemparkan topinya ke atas lemari arsip di belakang mejanya. "Ivy Lee memang bisa tampil penuh warna," ujarnya sambil tersenyum. "Dia pernah aktif dalam kesatuan Marinir selama dua puluh tahun, kemudian pulang dan bergabung dengan kami." Dia berpikir sejenak. "Sudah sekitar sembilan belas tahun lamanya. Wanita itu mengurus tempat ini dengan sangat efi sien. Sekarang dia sedang melakukan ..." Dia mencari- cari ungkapan yang tepat, "... eksperimen mode." Baker bersandar dan meletakkan jarinya di belakang kepalanya. Kursi kulitnya mendesis seperti sebuah bagpipe (alat musik tradisional dari Skotlandia). "Jadi, Pak Ryan, bisa Anda ceritakan apa yang Anda butuhkan?" Ryan menceritakan kematian di St-Jovite dan menjelaskan adanya beberapa kali panggilan telepon ke Saint Helena. Dia baru saja mengungkapkan percakapannya dengan dokter kandungan Klinik Beaufort-Jasper dan orang tua Heidi Schneider ketika Ivy Lee mengetuk pintu. Dia meletakkan

http://inzomnia.wapka.mobi

cangkir di hadapan Baker, dan dua lainnya di meja antara aku dan Ryan, lalu meninggalkan ruangan tanpa berkata sepatah kata pun. Kuhirup kopi seteguk. Kemudian tegukan kedua. "Dia yang menyeduh kopi ini?" tanyaku. Memang bukan kopi terenak yang pernah kuminum, tetapi peringkatnya berada di dekat puncak daftar kopi terenak. Baker mengangguk. Kuseruput sekali lagi, dan mencoba mengenali rasa kopi itu. Kudengar suara dering telepon di luar kantor sheriff, kemudian terdengar suara Ivy Lee. "Ada apa di dalamnya?" "Kami menganut kebijakan "jangan tanya dan jangan ceritakan" kalau berhubungan dengan kopi Ivy Lee. Aku memberinya uang setiap bulan dan dia yang membeli bahan-bahannya. Katanya tidak ada seorang pun yang mengetahui resepnya, kecuali kakak dan ibunya." "Apa mereka bisa disogok?" Sambil tertawa, Baker meletakkan lengannya di meja dan menyangga berat tubuhnya. Bahunya lebih lebar dari truk semen. "Aku tidak mau mencoba membuat Ivy Lee tersinggung," ujarnya. "Dan pasti tidak mau menyinggung ibunya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kebijakan bagus," ujar Ryan. "Jangan membuat nenek-nenek tersinggung." Dia membuka amplop plastik cokelat yang dibawanya, mencari-cari isinya, kemudian menarik selembar kertas. "Ini nomor telepon yang dilacak dari St-Jovite ke Jalan Adler Lyons, nomor empat-tiga-lima." "Benar, ini nomor Saint Helena," ujar Baker. Dia memutar tubuh menghadap lemari, membuka salah satu lacinya, kemudian menarik sebuah map. Setelah meletakkannya di atas meja, dia membuka- buka dokumen di dalamnya. "Kami sudah mencari alamat itu, tapi tidak menemukan arsip kepolisian. Bahkan tidak ada satu pun telepon ke tempat itu selama lima tahun terakhir." "Itu rumah pribadi?" tanya Ryan. "Mungkin. Bagian pulau itu kebanyakan diisi trailer atau rumah kecil. Aku bolak-balik tinggal di daerah itu sepanjang hidupku, tapi tetap saja harus menggunakan peta untuk bisa menemukan Adler Lyons. Beberapa jalan tanah di pulau itu hanya berupa jalan pribadi. Aku mungkin bisa mengenalnya kalau melihatnya langsung,

http://inzomnia.wapka.mobi

tapi tidak selalu tahu namanya. Atau apakah jalanan itu punya nama atau tidak." "Siapa pemilik properti itu?" "Aku belum tahu, tapi kita bisa memeriksanya nanti. Sementara ini, kenapa kita tidak berkunjung ke sana saja?" "Boleh saja," ujar Ryan, meletakkan kertasnya dan menutup kembali amplop plastik itu. "Dan kita bisa mampir di klinik kalau menurut Anda akan ada gunanya." "Aku tidak mau merepotkan Anda dengan urusan ini. Aku tahu Anda sudah cukup sibuk," ujar Ryan sambil berdiri. "Bila Anda bisa menunjukkan arahnya, aku yakin kami bisa mencarinya sendiri." "Tidak, tidak, aku berutang budi pada Dr. Brennan atas bantuannya kemarin. Dan aku yakin Baxter Colker belum selesai berurusan dengannya. Sebenarnya, bersediakah Anda menunggu sebentar sementara aku memeriksa sesuatu?" Dia menghilang ke kantor sebelah, kembali dengan cepat sambil membawa secarik catatan pesan. "Seperti yang kuduga, Colker menelepon lagi. Dia mengirimkan mayat itu ke Charleston, tapi dia ingin berbicara dengan Dr. Brennan." Dia

http://inzomnia.wapka.mobi

tersenyum kepadaku. Tulang pipi dan alisnya terlihat sangat jelas, kulitnya tampak hitam berkilat, wajahnya terlihat seperti keramik di bawah terpaan cahaya terang ini. Kutatap Ryan. Dia mengangkat bahu dan duduk kembali. Baker menekan nomor telepon, minta berbicara dengan Colker, kemudian menyerahkan telepon kepadaku. Aku merasakan perasaan tidak enak. Colker mengatakan persis seperti yang kuduga. Axel Hardaway akan melakukan autopsi atas kedua mayat yang ditemukan di Murtry, tetapi menolak untuk melakukan analisis tulang. Dan, Jaffer tidak bisa dihubungi. Hardaway akan memproses jenazah itu di fasilitas sekolah kedokteran, mengikuti setiap protokol yang sudah kuberikan, kemudian Colker akan memindahkan tulang-belulang itu ke labku di Charlotte jika aku bersedia melakukan pemeriksaannya. Dengan enggan, aku menyanggupinya, dan berjanji untuk berbicara langsung dengan Hardaway. Colker memberikan nomor Hardaway, lalu kami menyudahi percakapan telepon itu. "Allons-y," ujarku kepada kedua orang di hadapanku. "Allons-y," ulang sheriff, meraih topi dan mengenakannya di kepalanya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kami mengambil Highway-21 untuk keluar dari Beaufort menuju Pulau Lady, menyeberangi Cowan's Creek menuju Saint Helena, dan terus berkendara sejauh beberapa kilometer lagi. Di Jalan Eddings Point , kami membelok ke kiri dan melewati deretan rumah dan trailer yang sudah lapuk karena cuaca, yang terhampar sepanjang beberapa kilometer. Lembaran plastik ditempelkan ke jendela dan beranda yang sudah reyot karena beratnya kursi malas yang sudah dimakan ngengat dan peralatan tua. Di halaman, kulihat kerangka dan onderdil mobil tua, gubuk dan tangki septik yang sudah berkarat. Di sana-sini tampak papan yang ditulis tangan menawarkan bayam, kacang panjang, atau kambing. Tak lama kemudian, mobil membelok tajam ke kiri dan melaju di atas tanah berpasir, lalu membelok ke kanan. Baker membelokkan mobil dan kami pun masuk ke lorong yang panjang dan rimbun. Deretan pohon ek berjajar di sepanjang jalan, dedaunan yang rimbun, dahan yang melengkung di atas kami seperti kubah katedral hijau. Di kedua sisi jalan tampak selokan kecil berisi air berbalut ganggang. Ban mobil kami menyemburkan suara gemerisik saat kami melewati trailer dan rumah-rumah lapuk itu, beberapa halaman memiliki roda-putar dari plastik atau kayu, lainnya memiliki beberapa ekor ayam yang sedang

http://inzomnia.wapka.mobi

mengais-ngais. Selain mobil sedan dan mobil bak terbuka yang modelnya sudah tua, lapangan itu terlihat seakan tidak berubah sejak tahun sembilan belas tiga puluhan. Atau empat puluhan. Atau lima puluhan. Sekitar setengah kilometer kemudian, Jalan Adler Lyons bergabung dengan kami dari sebelah kiri. Baker membelok, melaju hampir sampai ke ujung, kemudian menghentikan mobilnya. Di seberang jalan tampak batu nisan berlumut yang dinaungi pohon ek dan bunga magnolia. Di sana-sini tampak salib kayu berkilat putih di bawah bayang-bayang yang kelam. Di sebelah kanan tampak sepasang bangunan, yang besar merupakan rumah peternakan bertingkat dua dengan papan berwarna hijau tua, sedangkan bangunan yang lebih kecil adalah sebuah bungalow, dahulu berwarna putih, tapi sekarang catnya telah berubah abu-abu dan mulai mengelupas. Di belakang rumah, tampak trailer dan ayunan. Dinding yang rendah membatasi kedua bangunan itu dengan jalanan. Dinding itu dibangun dari kayu cinder yang ditumpukkan menyamping sehingga tengahnya membentuk barisan dan lapisan lorong kecil. Setiap lorong dipenuhi akar tumbuhan merambat dan wisteria ungu yang merambat di sepanjang

http://inzomnia.wapka.mobi

dinding. Di pintu masuk tampak sebuah tanda dari logam bertuliskan MILIK PRIBADI dengan huruf Jingga yang cerah. Jalan itu memanjang sekitar tiga ratus meter melewati dinding, kemudian berakhir di padang rumput. Di balik alang-alang tampak air berwarna kelam. "Ini pasti rumah nomor empat-tiga-lima," ujar Sheriff Baker, memarkir mobil dan menunjuk rumah yang besar. "Beberapa tahun yang lalu, itu adalah gedung pemancingan." Dia menganggukkan kepalanya ke sungai. "Itu Eddings Point Creek. Mengalir ke lautan tak jauh dari sini. Aku sudah lupa tentang bangunan itu. Sudah ditelantarkan bertahun-tahun yang lalu." Kondisi tempat itu dahulu pasti lebih baik dari sekarang. Dinding rumah peternakan dipenuhi tambalan dan ditutupi lumut. Kusen yang dahulu berwarna putih, sekarang sudah terkelupas menampakkan lapisan bawahnya yang berwarna biru pucat. Beranda yang ditutupi ram nyamuk memanjang di lantai pertama, dan jendela berjejer dari lantai ketiga, kusen atasnya disesuaikan dengan kemiringan atap. Kami keluar, berjalan mengelilingi dinding, dan mengarah ke jalan di depan rumah. Kabut menggantung di udara seperti asap. Aku bisa

http://inzomnia.wapka.mobi

mencium bau lumpur dan dedaunan yang membusuk, dan dari kejauhan, aroma api unggun. Sheriff melangkah ke u ndakan, sementara aku dan Ryan menunggu di halaman. Pintu dalam terbuka, tetapi terlalu gelap sehingga tidak akan bisa melihat melalui ram nyamuk itu. Baker bergerak ke samping, lalu mengetukngetuk rangka pintu. Di atas kepala, suara burung bercampur dengan suara daun pohon palem. Dari dalam samar-samar kudengar suara tangisan bayi. Baker mengetuk pintu lagi. Beberapa saat kemudian, kami mendengar langkah kaki, lalu seorang lelaki muda muncul di pintu. Wajahnya penuh bintik-bintik dan rambutnya ikal berwarna merah, dan dia memakai baju overall dengan kemeja kotakkotak. Aku merasa seakan-akan kami akan mewawancarai boneka terkenal, Howdy Doody. "Yeah?" ujarnya melalui ram itu, matanya menyapu ka- mi bertiga satu per satu. "How are you doing?" tanya Baker, menyapanya dengan sapaan yang biasa dipakai orang Selatan untuk mengucapkan "halo". "Baik."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bagus. Aku Harley Baker." Seragamnya sudah jelas menunjukkan bahwa ini bukan kunjungan biasa. "Boleh kami masuk?" "Kenapa?" "Kami hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan." "Pertanyaan?" "Kamu tinggal di sini?" Howdy mengangguk. "Boleh kami masuk?" ulang Baker. "Bukankah kalian perlu membawa surat perintah atau semacamnya?" "Tidak." Aku mendengar suara dan Howdy berbalik dan berbicara kepada seseorang di belakangnya. Dalam sekejap, muncul seorang wanita separuh baya berwajah lebar dan rambut keriting. Dia memangku bayi di bahunya dan bergantian menepuk dan meng elus punggungnya. Gelambir di lengannya bergetar mengiringi setiap gerakannya. "Polisi," kata lelaki itu kepadanya, lalu mundur dari ram nyamuk. "Ya?" Sementara aku dan Ryan mendengarkan, Baker dan wanita itu saling mengucapkan dialog film picisan yang baru kami dengarkan sebelumnya. Kemudian, "Tidak ada orang di sini sekarang. Kalian kembali lain kali saja." "Anda ada di sini, Nyonya," balas Baker.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kami sedang sibuk dengan bayi-bayi ini." "Kami tidak akan pergi begitu saja, Nyonya," kata sheriff Beaufort County itu. Wanita itu mencibir, mengangkat bayi itu lebih tinggi di bahunya, dan mendorong pintu ram nyamuk itu sampai terbuka. Sandal rumahnya mengeluarkan ketukan lembut saat kami mengikutinya menyeberangi beranda dan masuk ke ruangan kecil. Rumah itu tampak kelam dan tercium sedikit asam seperti segelas susu yang dibiarkan terbuka semalaman. Di depan, tampak tangga menuju lantai dua, di sebelah kanan dan kirinya tampak ruangan besar yang dipenuhi sofa dan kursi. Wanita itu menuntun kami ke kamar di sebelah kiri dan menunjuk ke sekelompok kursi rotan. Saat kami duduk, dia membisikkan sesuatu kepada Howdy dan lelaki itu menghilang naik ke tangga. Kemudian, nyonya itu duduk bersama kami. "Ya?" tanyanya pelan, menatap Baker lalu Ryan. "Nama saya Harley Baker." Dia meletakkan topi di atas meja dan mencondongkan tubuh ke arah wanita itu, tangan di pahanya, lengan dijulurkan. "Nama Anda?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Wanita itu meletakkan lengannya di punggung bayi, memegang kepalanya, kemudian menjulurkan tangannya yang lain kepada sheriff. "Saya tidak bermaksud untuk tidak sopan, Sheriff, tapi saya ingin tahu apa yang Anda inginkan." "Anda tinggal di sini, Nyonya?" Dia terlihat ragu-ragu, kemudian mengangguk. Gorden bergerak di jendela di belakangku dan kurasakan embusan angin dingin di leher. "Kami ingin bertanya tentang panggilan telepon yang ditujukan ke rumah ini," lanjut Baker. "Panggilan telepon?" "Ya, Nyonya. Musim gugur yang lalu. Anda berada di sini pada waktu itu?" "Di sini tidak ada telepon." "Tidak ada?" "Hanya ada telepon kantor. Bukan untuk keperluan pribadi." "Oh begitu." Baker menunggu. "Kami tidak pernah mendapat panggilan telepon." "Kami?" "Ada sembilan orang yang tinggal di rumah ini, empat di rumah sebelah. Dan tentu saja trailer itu. Tapi, kami tidak pernah bicara lewat telepon. Kami tidak diizinkan."

http://inzomnia.wapka.mobi

Di atas, terdengar ada bayi lain yang menangis. "Tidak diizinkan?" "Kami ini sebuah komunitas. Kami hidup bersih dan tidak mengganggu orang lain. Tidak menggunakan obat terlarang, atau semacamnya. Kami hidup sendiri dan mengikuti kepercayaan kami. Tidak ada hukum yang melarang hal itu 'kan?" "Tidak, Nyonya, memang tidak ada. Seberapa besar kelompok Anda ini?" Dia berpikir sejenak. "Ada dua puluh enam orang." "Di mana yang lainnya?" "Beberapa orang sedang pergi bekerja. Mereka yang berintegrasi dengan orang luar. Sisanya sedang menghadiri pertemuan pagi di rumah sebelah. Jerry dan aku yang mengurus bayi." "Apa ini kelompok keagamaan?" tanya Ryan. Wanita itu menatapnya, kemudian menoleh kepada Baker. "Siapa mereka?" Tanyanya sambil mengarahkan dagunya kepada aku dan Ryan. "Mereka detektif bagian pembunuhan." Sheriff m-natapnya, wajahnya keras tanpa dihiasi senyuman. "Kelompok macam apa yang kita bicarakan ini, Nyonya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Dia memainkan selimut bayinya. Di kejauhan kudengar anjing menyalak. "Kami tidak mau ada masalah dengan pihak berwajib," ujarnya. "Anda bisa memercayai saya." "Memangnya Anda menduga akan ada masalah?" tanya Ryan. Dia menatap Ryan dengan pandangan aneh, kemudian melirik jam tangannya. "Kami warga yang ingin hidup damai dan sehat. Kami tidak pernah mengonsumsi obat terlarang atau melakukan kejahatan, jadi kami tinggal di sini. Kami tidak mau melukai siapa pun. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Kalian bisa bicara dengan Dom. Dia akan datang sebentar lagi." "Dom?" "Dia tahu apa yang harus dikatakan kepada kalian." "Bagus." Mata hitam Baker menatap wanita itu lagi dengan tatapan tajam. "Aku tidak ingin semua orang di sini diharuskan datang beramai-ramai ke kota." Saat itu aku mendengar beberapa suara dan mengamati lirikan mata wanita itu meluncur dari wajah Baker keluar jendela. Kami semua menoleh. Melalui ram nyamuk kulihat kegiatan di rumah sebelah. Lima orang wanita berdiri di beranda, dua orang memegang anak kecil, yang ketiga

http://inzomnia.wapka.mobi

membungkuk untuk meletakkan seorang anak ke tanah. Anak itu berjalan dengan limbung dan wanita itu mengikutinya menyeberangi pekarangan. Satu demi satu belasan orang dewasa muncul dan menghilang ke belakang rumah. Beberapa detik kemudian, seorang lelaki muncul dan berjalan ke arah kami. Nyonya rumah kami minta izin dan melangkah ke beranda depan. Tak lama kemudian, kami mendengar pintu ram nyamuk bergerak dan terdengar orang mengobrol dengan suara perlahan. Kulihat wanita itu menaiki tangga, kemudian lelaki dari rumah sebelah muncul di lorong. Kurasa usianya sekitar empat puluh tahunan. Rambutnya yang pirang mulai beruban, wajah dan lengannya tampak cokelat tersengat matahari. Dia memakai celana khaki, kemeja golf berwarna kuning pucat, dan sepatu Topsider tanpa kaus kaki. Dia terlihat seperti seorang anggota Kappa Sigma yang sudah tua. "Maaf," ujarnya. "Aku tidak tahu bahwa kami kedatangan tamu." Ryan dan Baker hendak bangkit. "Tidak usah berdiri." Dia berjalan menghampiri dan menjulurkan tangan. "Namaku Dom." Kami semua berjabat tangan dengannya dan Dom ikut

http://inzomnia.wapka.mobi

duduk bersama kami di salah satu sofa. "Anda ingin minum jus atau lemonade?" Kami semua menolak dengan sopan. "Jadi, Anda sudah berbicara dengan Helen. Dia mengatakan bahwa kalian punya pertanyaan tentang kelompok kami?" Baker mengangguk sekali. "Kami ini kelompok yang biasa disebut sebagai komune." Dia tertawa. "Tapi, tidak sama dengan arti komune pada umumnya. Kami jauh berbeda dengan para hippies yang menentang budaya umum pada tahun enam puluhan. Kami menentang obat terlarang dan polusi kimia, dan ingin menjaga kesucian, kreativitas, dan pernahaman diri sendiri. Kami hidup dan bekerja bersama dalam suasana yang harmonis. Sebagai contoh, kami baru saja selesai menghadiri pertemuan pagi. Dalam pertemuan itu kami mendiskusikan agenda hari ini dan secara bersa-masama memutuskan apa yang harus dilakukan dan siapa yang akan melakukannya. Persiapan makanan, tugas bersih-bersih, pada umumnya tugas mengurus rumah." Dia tersenyum. "Hari Senin bisa menjadi hari yang panjang karena pada hari itu kami mengutarakan semua kekhawatiran kami."

http://inzomnia.wapka.mobi

Lelaki itu menyandarkan tubuhnya dan meletakkan tangan di pangkuannya. "Helen mengatakan bahwa Anda menanyakan panggilan telepon yang masuk?" Sheriff memperkenalkan dirinya. "Dan nama Anda Dom ...T' "Hanya Dom saja. Kami tidak menggunakan nama belakang." "Kami menggunakan nama belakang," ujar Baker, suaranya dingin. Hening beberapa saat lamanya. Kemudian, "Owens. Tapi, sosok itu sudah lama mati. Aku sudah bertahun-tahun tidak menggunakan nama Dominick Owens." "Terima kasih, Pak Owens." Baker mencatat sesuatu di buku kecilnya. "Detektif Ryan sedang menyelidiki pembunuhan di Quebec dan memiliki alasan untuk mengatakan bahwa korban mengenal seseorang di alamat ini." "Quebec?" Mata Dom melebar, menunjukkan kerutan putih kecil di kulitnya yang cokelat. "Kanada?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Panggilan telepon ditujukan ke nomor ini dari sebuah rumah di St-Jovite," ujar Ryan. "Sebuah desa di Pegunungan Laurentian di sebelah utara Montreal." Dom mendengarkan, tampak kebingungan. "Anda pernah mendengar nama Patrice Simonnet?" Dia menggelengkan kepala. "Heidi Schneider?" Kembali gelengan kepala. "Maaf." Dom tersenyum dan mengangkat bahunya. "Sudah kukatakan tadi. Kami tidak menggunakan nama belakang. Dan para anggota sering mengganti nama lahirnya. Dalam kelompok ini, siapa pun bebas memilih nama yang mereka sukai." "Apa nama kelompok Anda ini?" "Nama. Label. Gelar. The Church of Christ. The People's Temple. The Righteous Path. Semuanya egomania. Kami memilih untuk tidak menggunakan nama apa pun." "Sudah berapa lama kelompok Anda tinggal di sini, Pak Owens?" "Tolong panggil saya Dom." Ryan menunggu. "Hampir delapan tahun."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Anda ada di sini musim panas dan musim gugur yang lalu?" "Aku sering bepergian dan kembali lagi ke sini." Ryan mengambil foto dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. "Kami sedang berusaha melacak wanita muda ini." Dom mencondongkan tubuh ke depan dan memeriksa foto itu, jarinya menyentuh pinggiran foto. Jarinya tampak panjang dan lentik, dengan bulu berwarna emas di antara buku-buku jarinya. "Wanita ini yang dibunuh?" "Ya." "Siapa lelaki ini?" "Brian Gilbert." Dom mempelajari kedua wajah itu untuk beberapa saat lamanya. Saat dia mendongak, matanya mengandung ekspresi yang tidak bisa kubaca. "Aku benar-benar ingin bisa menolong Anda. Sungguh. Mungkin, aku bisa menanyakannya pada acara kelas pengalaman pada malam ini. Itu adalah saat kami menganjurkan eksplorasi diri dan pergerakan menuju pernahaman jati diri. Acara itu bisa menjadi tempat yang cocok untuk menanyakan hal ini." Wajah Ryan tampak kaku saat matanya menatap mata Dom.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku tidak tertarik pada suasana keagamaan, Pak Owens, dan aku sangat tidak tertarik pada apa yang menurut Anda waktu yang cocok. Ini fakta yang kuketahui. Aku tahu ada panggilan telepon masuk ke nomor rumah ini dari rumah tempat Heidi Schneider dibunuh. Aku tahu bahwa korban berada di Beaufort musim panas lalu. Aku akan menemukan hubungan semua fakta ini." "Tentu saja. Sungguh mengerikan. Kekerasan semacam ini yang menyebabkan kami hidup seperti ini." Dia memejamkan matanya, seakan sedang mencari tuntunan dari Yang Mahakuasa, kemudian membuka dan menatap tajam kami satu per satu. "Mari kujelaskan. Kami menanam sayuran sendiri, beternak ayam untuk diambil telurnya, kami memancing, dan mengumpulkan kerang. Beberapa anggota bekerja di kota dan menyumbangkan gajinya. Kami memiliki keyakinan yang memaksa kami untuk menolak masyarakat, tapi kami tidak ingin mengganggu orang lain. Kami hidup sederhana dan dengan tenang." Dia menarik napas panjang. "Walaupun kami memiliki anggota yang sudah lama hidup bersama di tempat ini, banyak yang datang dan pergi. Cara hidup kami tidak cocok

http://inzomnia.wapka.mobi

untuk semua orang. Mungkin wanita muda ini pernah mengunjungi kami, mungkin sewaktu aku sedang tidak berada di sini. Anda boleh percaya pada katakataku. Aku akan berbicara dengan anggota kami yang lainnya," ujar Dom. "Ya," sahut Ryan. "Begitu juga dengan kami." "Tentu saja. Dan tolong beritahu aku sekiranya ada lagi yang bisa kulakukan." Saat itu seorang wanita muda menembus pintu ram nyamuk, sambil memangku anak kecil di pinggangnya. Dia tertawa dan menggelitik anak itu. Si anak tertawa geli dan memukulnya dengan jari-jemarinya yang montok. Tangan mungil Malachy yang pucat menyeruak dalam benakku. Ketika dia melihat kami, wanita itu membungkuk dan meringis. "Wah. Maaf." Dia tertawa. "Aku tidak tahu ada orang di sini." Anak itu mengetuk kepalanya dan dia menggelitik perut anak itu. Si anak melenguh dan menendang-nendang dengan kakinya. "Masuklah Kathryn," ujar Dom. "Kurasa kami sudah selesai."

http://inzomnia.wapka.mobi

Dia mengajukan tatapan bertanya kepada Baker dan Ryan. Sheriff meraih topinya dan kami semua bangkit. Anak itu menoleh ke arah suara Dom, mengenalinya, dan mulai menggeliat-geliut. Saat Kathryn menurunkannya, dia berjalan limbung menuju tangan Dom yang dibentangkan, Dom meraih anak itu. Tangan nya terlihat putih susu di sekeliling leher Dom yang gelap terbakar matahari. Kathryn menghampiri kami. "Berapa umur bayimu?" tanyaku. "Empat belas bulan. Ya 'kan, Carlie?" Dia menjulurkan jarinya yang segera direnggut oleh Carlie, kemudian menjulurkan tangannya ke arah Kathryn. Dom mengembalikan bayi itu kepada ibunya. "Maaf," ujar Kathryn. "Dia harus diganti popoknya." "Sebelum Anda pergi, boleh saya mengajukan satu pertanyaan?" Ryan mengeluarkan foto itu. "Anda mengenal orang-orang ini?" Kathryn menatap foto itu, memegangnya sehingga tidak bisa diraih oleh Carlie. Kuamati wajah Dom. Ekspresi wajahnya tidak pernah berubah sedikit pun.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kathryn menggelengkan kepalanya, kemudian menyerahkan kembali foto itu. "Tidak. Maaf." Dia mencium udara, kemudian mengernyitkan hidungnya. "Permisi dulu." "Wanita itu hamil," ujar Ryan. "Maaf," ujar Kathryn. "Anakmu lucu," komentarku. "Terima kasih." Dia tersenyum dan menghilang ke dalam rumah. Dom melirik jam tangannya. "Kami akan menghubungi Anda lagi," ujar Baker. "Ya. Bagus. Dan semoga berhasil." Di mobil, kami duduk dan mengawasi properti itu. Kubuka jendela penumpang dan kabut mengembus dan menggantung di wajahku. Kilatan wajah Malachy membuatku depresi, dan cuaca yang lembap dan kelam itu benar-benar mencerminkan perasaanku. Kutatap kedua ujung jalan, kemudian menatap rumah itu lagi. Bisa kulihat orang-orang bekerja di halaman di belakang bungalow. Beberapa kantong benih ditusukkan pada sebuah tongkat yang menandakan apa isi setiap kantong. Selain itu, tidak ada tanda kehidupan lainnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bagaimana menurutmu?" tanyaku, tidak ditujukan kepada siapa pun. "Kalau mereka telah tinggal di situ selama delapan tahun, mereka benarbenar tidak menonjolkan diri," ujar Baker. "Aku belum pernah mendengar cerita tentang mereka." Kami mengamati Helen meninggalkan rumah hijau dan berjalan ke salah satu trailer. "Tapi, sebentar lagi mereka akan dikenal," tambahnya, lalu meraih kunci. Sepanjang beberapa kilometer tidak ada yang berbicara. Kami menyeberangi jembatan menuju Beaufort saat Ryan memecahkan keheningan. "Pasti ada hubungannya. Tidak mungkin hanya kebetulan belaka." "Kebetulan kadang-kadang terjadi," ujar Baker. "Ya." "Satu hal yang menggangguku," ujarku. "Apa itu?" "Heidi berhenti pergi ke klinik pada usia kehamilan enam bulan. Orangtuanya mengatakan bahwa dia muncul di Texas pada akhir Agustus. Ya 'kan?" "Yap." "Tapi, telepon itu terus berlanjut ke nomor di sini sampai Desember."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya," ujar Ryan. "Itulah masalahnya." 19. Kabut berubah menjadi hujan saat kami melaju menuju Beaufort-Jasper Comprehensive Health Clinic. Kabut menyebabkan batang pepohonan menjadi gelap, berkilauan, dan menyebabkan aspal berkilat. Ketika membuka jendela, aku bisa mencium bau rumput dan tanah yang basah. Kami berhasil menemukan dokter yang telah berbicara dengan Ryan dan segera menunjukkan foto Heidi kepadanya. Dia mengenali Heidi sebagai pasien yang dirawatnya pada musim panas yang lalu, tetapi tidak yakin benar. Kehamilannya normal. Dia menuliskan resep obat ibu hamil yang standar. Selain itu, dia tidak bisa memberikan informasi lain. Dia sama sekali tidak ingat pada Brian. Pada tengah hari, Sheriff Baker meninggalkan kami untuk menangani masalah rumah tangga di Pulau Lady. Kami sepakat untuk bertemu dengannya di kantornya pada pukul enam sore. Dan saat itu, kami berharap sudah mendapatkan informasi mengenai properti di Adler Lyons.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku dan Ryan berhenti untuk makan barbecue di Sgt. White's Diner, kemudian menghabiskan sore hari itu dengan menunjukkan foto Heidi ke seluruh penjuru kota, dan mencari informasi tentang komune di Jalan Adler Lyons itu. Pada pukul empat, kami menarik dua kesimpulan: Tidak ada yang pernah mendengar tentang Dom Owens atau pengikutnya. Tidak ada yang ingat pada Heidi Schneider atau Brian Gilbert. Kami duduk di mobil sewaan Ryan dan melaju di Bay Street. Di sebelah kanan tampak para nasabah keluar-masuk Palmetto Federal Banking Center. Aku melihat ke seberang, ke deretan toko yang baru kami lewati. The Cat's Meow. Stones and Bones. In High Cotton. Ya. Beaufort membuka diri menyambut dunia turisme. Hujan telah berhenti, namun langit masih gelap dan kelam. Aku sudah lelah dan putus asa, dan tidak lagi yakin adanya hubungan antara Beaufort dan St-Jovite. Di luar pertokoan Lipsitz, seorang lelaki dengan rambut berminyak dan wajah seperti roti melambailambaikan kitab Injil dan berkhotbah tentang Sang Penebus. Maret adalah musim yang sepi untuk misi penyelamatan di trotoar, jadi dia memiliki seluruh panggung untuk dirinya sendiri.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sam pernah bercerita tentang perseteruannya dengan para pengkhotbah jalanan. Selama dua puluh tahun mereka telah datang ke Beaufort, masuk ke dalam kota seperti orang-orang yang sedang naik haji. Pada tahun 1993, walikota memerintahkan penangkapan Pastor Isaac Abernathy karena mengganggu para wanita bercelana pendek, menyebut mereka pelacur, dan berteriak-teriak tentang pengutukan abadi. Tuntutan diajukan kepada walikota dan ACLU segera melahap kesempatan untuk membela sang penginjil, dengan mempermasalahkan hak First Ammendment. Kasusnya ditunda oleh Fourth Circuit Court of Appeals di Richmond, dan para pengkhotbah itu masih terus berdatangan ke kota. Kudengarkan lelaki itu mengoceh tentang Setan, ?rang kafi r, dan Yahudi, dan merasakan bulu kudukku merinding. Aku membenci orang yang menganggap dirinya sebagai juru bicara Tuhan dan kerabatnya, dan terganggu oleh orang yang menafsirkan ajaran Injil untuk keuntungan politiknya. "Bagaimana menurutmu tentang peradaban Selatan?" tanyaku kepada Ryan, mataku tidak pernah berpaling dari si pengkhotbah. "Sepertinya ide yang bagus."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Wah, wah. Mencuri ucapan Gandhi," ujarku sambil menoleh kepadanya dengan terkejut. Kalimat itu adalah salah satu kutipan Gandhi yang sangat kusukai. "Ada juga detektif pembunuhan yang bisa membaca lho." Ada tekanan dalam suaranya. Kena kau, Brennan. Rupanya pendeta itu bukanlah satu-satunya yang menjadi korban stereotipe kebudayaan. Kuamati seorang wanita tua berjalan memutar untuk menghindari pengkhotbah itu dan bertanya dalam hati, penyelamatan seperti apa yang dijanjikan Dom Owens kepada para pengikutnya. Kulirik jam tanganku. "Sebentar lagi jam makan malam tiba," ujarku. "Waktu yang bagus untuk melihat orang menyiapkan burger tofu." "Kita baru bisa bertemu dengan Baker Sembilan puluh menit lagi." "Kamu siap melakukan kunjungan kejutan?" "Daripada duduk-duduk di sini." Ryan meraih kunci mobil saat tangannya berhenti. Kuikuti pandangan matanya dan tampak Kathryn sedang berjalan di trotoar, Carlie di punggungnya. Seorang wanita tua dengan rambut dikepang kecilkecil yang panjang

http://inzomnia.wapka.mobi

berjalan di sebelahnya. Embusan angin lembap meniup roknya ke belakang, melekatkan kain rok itu ke paha dan kakinya. Mereka berhenti dan rekan Kathryn berbicara kepada si pengkhotbah, kemudian keduanya melanjutkan perjalanan. Aku dan Ryan bertukar pandang, kemudian keluardan menyeberangi jalan menghampiri kedua wanita itu. Mereka berhenti berbicara saat kami mendekat dan Kathryn tersenyum kepadaku. "Apa kabar?" tanyanya sambil menyisir helaian rambut ikalnya. "Tidak begitu baik," jawabku. "Belum berhasil menemukan wanita yang hilang itu?" "Tidak ada yang ingat akan dirinya. Aneh juga karena dia berada di sini paling sedikit tiga bulan." Kuperhatikan apakah dia bereaksi, tetapi ekspresinya tidak berubah. "Kalian bertanya kepada siapa saja?" Carlie bergerak dan Kathryn meraih ke belakang untuk memperbaiki alat gendongnya. "Toko, toko makanan, toko obat, pom bensin, restoran, perpustakaan. Kami bahkan mencoba bertanya ke Boombears." "Ya. Itu ide yang bagus juga. Kalau dia sedang hamil, mungkin pergi ke toko mainan."

http://inzomnia.wapka.mobi

Bayi itu merengek, kemudian mengangkat tangan dan melentingkan tubuhnya ke belakang, menekankan kaki ke punggung ibunya. "Siapa ini yang bangun?" ujar Kathryn sambil meraih ke belakang untuk menenangkan anaknya. "Dan tidak ada yang mengenalnya dari foto itu?" "Tidak seorang pun." Rengekan Carlie semakin nyaring, dan wanita tua itu berjalan ke belakang Kathryn, lalu melepaskan bayi itu dari gendongan. "Oh, maaf. Ini El." Kathryn memperkenalkan temannya. Aku dan Ryan memperkenalkan diri. El mengangguk, tetapi tidak berkata apa-apa saat dia berusaha menenangkan Carlie. "Apa kami boleh mengajak Anda berdua minum Coke atau kopi?" tanya Ryan. "Tidak usah. Minuman seperti itu hanya akan menghancurkan potensi genetik kita." Kathryn mengernyitkan hidungnya, kemudian tersenyum. "Tapi, aku mau ditraktir minum jus. Begitu juga Carlie." Dia memutar matanya dan menyentuh tangan bayinya. "Dia bisa rewel sekali kalau sedang kesal. Dom baru akan menjemput kita empat puluh menit lagi 'kan, El?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kita sebaiknya menunggu Dom." Wanita itu berbicara dengan lirih sehingga aku hampir tidak bisa mendengar suaranya. "Oh, El, kamu tahu 'kan, dia pasti terlambat. Kita minum jus dan duduk di luar saja. Aku tidak mau pulang ke rumah sambil Carlie rewel sepanjang jalan." El membuka mulutnya, tetapi sebelum bisa berbicara, Carlie sudah menggeliat dan merengek lagi. "Jus," ujar Kathryn, mengambil bayi itu dan membiarkannya melompatlompat di atas pahanya. "Banyak pilihan di Blackstone. Aku sudah melihat menu mereka di jendela." Kami masuk ke warung minum itu dan memesan Diet Coke. Yang lain memesan jus, kemudian kami membawa minuman ke bangku di luar. Kathryn menarik selimut kecil dari dalam tas bahunya, menghamparkannya di kaki bangku, lalu meletakkan Carlie di atasnya. Kemudian, dia mengeluarkan sebotol air dan gelas kecil berwarna kuning. Gelas itu memiliki bagian bawah yang bundar dan tutup yang bisa dibuka yang dilengkapi dengan lubang untuk minum. Dia mengisi setengah gelas itu dengan Very Berry, menambahkan air, kemudian menyerahkannya kepada

http://inzomnia.wapka.mobi

Carie. Si anak langsung merenggut botolnya dengan kedua tangan dan mulai menyedot lubang air itu. Aku memerhatikan, terkenang, dan sensasi yang kurasakan di pulau itu membasuh diriku kembali. Aku merasa tidak sanggup mengikuti irama dunia ini. Dua mayat di Murtry. Mengingat Katy semasa bayi. Ryan di Beaufort, dengan pistol, lencana, dan pidato Nova Scotia-nya. Dunia di sekelilingku sepertinya aneh, tempat yang membuatku berpindah dari masa dan tempat lain, namun entah bagaimana ada di sini dan sangat nyata. "Coba ceritakan tentang kelompokmu," ujarku, memaksa pikiranku kembali ke saat sekarang. El menatapku, tetapi tidak menanggapi pertanyaan itu. "Apa saja yang ingin kamu ketahui?" Tanya Kathryn. "Apa yang kamu yakini?" "Mengenal pikiran dan tubuh kami. Menjaga energy kosmik dan molekul agar tetap bersih." "Apa yang kalian lakukan?" "Lakukan?" Pertanyaan itu sepertinya membuatnya bingung. "Kami menanam bahan makanan kami sendiri dan tidak makan apa pun yang menimbulkan polusi." Dia mengangkat bahunya. Saat mendengarkan katakatanya, aku jadi teringat pada Harry. Penyucian melalui diet. "... kami

http://inzomnia.wapka.mobi

belajar. Kami bekerja. Kami menyanyi dan bermain. Kadang, kami mengundang pembicara. Dom benar-benar cerdas. Dia benarbenar-" El menepuk lengannya dan menunjuk ke cangkir Carlie. Kathryn meraihnya, membersihkan lubang minum dengan roknya, lalu menyerahkannya kembali kepada anaknya. Bayi itu merenggut cangkir dan mengetukkan gelas itu ke kaki ibunya. "Sudah berapa lama kamu tingal dengan kelompokmu?" "Sembilan tahun." "Berapa usiamu sekarang?" Aku tidak bisa mencegah keheranan terucapkan dalam suaraku. "Tujuh belas tahun. Orangtuaku bergabung saat aku berusia delapan tahun." "Dan sebelum itu?" Dia membungkuk dan mengarahkan gelas itu ke mulut Carlie. "Aku ingat, dulu aku sering menangis. Aku sering sendirian. Aku selalu sakit. Orangtuaku bertengkar sepanjang waktu." "Lalu?" "Setelah mereka bergabung dengan kelompok ini, kami mengalami perubahan. Melalui penyucian." "Kamu bahagia?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tujuan hidup ini bukanlah kebahagiaan." El berbicara untuk pertama kalinya. Suaranya dalam dan berbisik, dengan aksen yang tidak bisa kukenali. "Lalu apa?" "Kedamaian, kesehatan, dan keharmonisan." "Tidak bisakah semua itu diraih tanpa menjauh dari masyarakat?" "Menurut kami tidak bisa." Wajahnya tampak berwarna perunggu dan dipenuhi kerutan, matanya berwarna mahoni. "Dalam masyarakat terlalu banyak hal yang bisa membuat kami tertarik untuk menyimpang. Obat terlarang. Televisi. Hak milik. Kerakusan. Keyakinan kami menentang semua itu." "El lebih bisa mengungkapkan semua itu daripadaku," ujar Kathryn. "Tapi, kenapa harus membentuk komune?" Tanya Ryan. "Kenapa tidak melupakan saja semua itu dan masuk biara?" Kathryn memberi tanda kepada El untuk "menerangkannya". "Alam semesta ini adalah sebuah lubang organic yang terdiri atas berbagai unsur yang saling berkaitan. Setiap bagian tidak bisa dipisahkan dan berinteraksi dengan unsur lainnya. Walaupun kami hidup terpisah, kelompok kami adalah bagian kecil dari semua realitas tersebut."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Anda bisa menjelaskan hal itu?" tanya Ryan. "Dengan hidup terpisah dari dunia ini, kami menolak rumah jagal hewan, pabrik kimia, dan pengilanganminyak, kaleng bir, ban bekas, dan got. Dengan hidup bersama sebagai sebuah kelompok, kami saling memberikan dukungan, kami member makanan jiwa dan raga sekaligus." "Semua untuk satu." El tersenyum kepada Ryan. "Semua mitos lama harus dihilangkan sebelum kesadaran sejati bisa diraih." "Semuanya?" "Ya." "Bahkan mitos orang itu juga?" Ryan menganggukkan kepalanya ke arah si pengkhotbah. "Semuanya." Kuarahkan kembali percakapan itu ke jalurnya. "Kathryn, kalau kamu ingin mendapatkan informasi tentang seseorang, kamu akan bertanya kepada siapa?" "Begini saja," ujarnya, tersenyum, "kamu tidak akan menemukan wanita itu." Dia meraih gelas Carlie kembali. "Dia mungkin sudah ada di Riviera sekarang, mengoleskan krim tabir surya kepada bayibayinya." Aku menatapnya beberapa saat. Dia tidak tahu. Dom belum memberitahukan kepadanya. Dia tidak ikut percakapan awal kami dan

http://inzomnia.wapka.mobi

tidak tahu mengapa kami menanyakan Heidi dan Brian. Aku menarik napas panjang. "Heidi Schneider sudah meninggal, Kathryn. Begitu juga dengan Brian Gilbert." Dia memandangku seakan-akan aku sudah gila. "Mati? Dia tidak mungkin sudah mati." "Kathryn!" Suara El terdengar tajam. Kathryn tidak mengacuhkan temannya. "Maksudku, dia masih sangat muda. Dan dia sedang hamil." Suaranya terdengar meratap, seperti anak kecil. "Mereka semua dibunuh kurang dari tiga minggu yang lalu." "Kalian ke sini bukan untuk membawa mereka pulang ke rumahnya?" Matanya bergerak dari Ryan kepadaku. Aku bisa melihat bercak kuning kecil di irisnya yang berwarna hijau. "Kalian bukan orangtuanya?" "Bukan." "Mereka sudah mati?" "Ya." "Kedua bayinya?" Aku mengangguk.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tangannya menutup mulutnya, kemudian melayang turun ke pangkuannya, seperti kupu-kupu yang tidak yakin harus mendarat ke mana. Carlie menarik roknya, dan tangannya turun untuk mengelus kepala anaknya itu. "Bagaimana orang bisa melakukan sesuatu seperti itu? Maksudku, aku tidak mengenal mereka, tapi bagaimana mungkin ada orang yang tega membunuh seluruh keluarga? Membunuh bayi-bayinya?" "Kita semua juga akan mati pada akhirnya," ujar El, meletakkan lengan di bahu wanita muda itu. "Kematian hanyalah sebuah peralihan dalam proses pertumbuhan." "Peralihan menjadi apa?" Tidak ada jawaban. Saat itu, sebuah mobil van putih membelok di hadapan People's Bank di ujung Bay Street. El meremas bahu Kathryn dan mengangguk ke arah mobil itu. Dia kemudian meraih Carlie, bangkit, dan menjulurkan tangannya. Kathryn menyambutnya dan juga ikut bangkit. "Semoga kalian baik-baik saja," ujar El, dan kedua wanita itu berjalan menuju mobil van tersebut.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kuamati mereka sejenak, kemudian meneguk Coke yang tersisa. Saat mencari keranjang sampah, sesuatu di bawah bangku tertangkap oleh mataku. Tutup gelas Carlie. Kucari sebuah kartu nama dari tasku, menuliskan sebuah nomor, kemudian meraih tutup itu. Ryan tampak heran saat aku melompat dari bangku itu. Kathryn baru saja hendak menaiki mobil van itu. "Kathryn," panggilku dari tengah jalan. Dia menoleh dan kulambai-lambaikan tutup gelas itu. Di belakangnya, jam di bank menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit. Dia berbicara ke dalam van, kemudian berjalan mendekatiku. Saat dia menjulurkan tangan, kuberikan tutup itu dengan diselipi kartu namaku di dalamnya. Matanya bertemu dengan mataku. "Telepon aku kalau kamu mau bicara." Dia berbalik tanpa berkata apa-apa, berjalan kembali ke van itu, dan masuk. Aku bisa melihat kepala Dom yang pirang di belakang kemudi saat mereka menghilang di ujung Bay Street. Aku dan Ryan menunjukkan foto itu di toko obat lainnya dan beberapa restoran cepat saji, kemudian kami melaju ke kantor Sheriff Baker. Ivy Lee

http://inzomnia.wapka.mobi

mengatakan bahwa masalah rumah tangga itu ternyata berkembang menjadi penyanderaan. Seorang pekerja kesehatan yang menganggur memasang barikade di dalam rumah, menyandera istri dan putrinya yang berusia tiga tahun, mengancam akan menembak mereka. Baker tidak akan bisa menemani kami malam itu. "Sekarang bagaimana?" tanyaku kepada Ryan. Kami berdiri lapangan parkir di Duke Street. "Kurasa Heidi tidak suka berkeliaran di malam hari, jadi kita tidak akan mendapatkan informasi apa pun dengan pergi ke berbagai bar dan klub malam." "Setuju." "Kita sudahi saja. Aku akan mengantarmu ke Love Boat." "Namanya Melanie Tes s." "Tess. Bukankah itu sesuatu yang kita makan dengan roti jagung dan kacang polong?" "Ham hocks dan kentang." "Kamu mau kuantar?" "Boleh." Kami mengendarai mobil tanpa berkata apa-apa. Aku merasa Ryan sangat mengesalkan sepanjang hari tadi dan tidak sabar untuk segera lepas darinya. Kami sedang di atas jembatan saat dia memecahkan keheningan. "Aku ragu apakah Heidi pernah pergi ke salon kecantikan atau salon pencokelatan kulit."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Luar biasa. Aku tahu sekarang kenapa kamu jadi detektif." "Mungkin kita harus memusatkan perhatian pada Brian. Mungkin dia pernah bekerja." "Kamu 'kan sudah mengecek dia. Tidak ada catatan pajak tentang dia 'kan?" "Tidak ada." "Bisa saja gajinya dibayar tunai." "Mempersempit kemungkinan." Kami membelok di Ollie's. "Jadi, kita ke mana sekarang?" tanyaku. "Aku belum pernah merasakan roti jagung itu." "Maksudku penyelidikannya. Kamu makan malam sendirian saja. Aku mau pulang ke rumah, mandi, dan membuat sepiring makaroni instan. Dalam urutan seperti itu." "Ya ampun, Brennan, makanan itu 'kan mengandung bahan pengawet lebih banyak dari mayat Lenin." "Aku sudah baca labelnya." "Sama saja dengan makan limbah industri. Kamu akan mengacaukan"-dia menirukan Kathryn-"potensi genetikmu."

http://inzomnia.wapka.mobi

Kenangan yang sudah setengah terlupakan mulai merayap masuk kembali ke dalam benakku, tanpa bentuk, seperti kabut di pagi hari. Aku mencoba menariknya masuk, tetapi semakin keras aku berkonsentrasi, semakin cepat saja kenangan itu menghilang. "-Owens lebih baik menjaga diri. Aku akan membuntutinya seperti lalat mengerubungi makanan terbuka di meja makan." "Menurutmu, khotbah seperti apa yang diutarakannya?" "Sepertinya kombinasi antara kiamat ekologi dan pengembangan diri melalui sereal gandum." Ketika sudah berhenti di dermaga, langit mulai terlihat cerah di atas payau. Garis kekuningan menerangi cakrawala. "Kathryn mengetahui sesuatu," ujarku. "Sama seperti kita semua." "Kamu kadang-kadang memang menyebalkan, Ryan." "Terima kasih karena sudah menyadarinya. Apa yang membuatmu mengira dia menyembunyikan sesuatu?" "Dia menyebutkan bayi-bayi." "Jadi?" "Bayibayi." Kulihat sebuah pikiran berkelebat di matanya. Kemudian, "Sialan."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kita tidak pernah mengatakan kepadanya bahwa Heidi mengandung anak kembar." TT1 mpat puluh menit kemudian, kudengar ketukan di pintu I a masuk anjungan. Aku sudah memakai kemeja Hornets yang ditinggalkan Katy, tanpa celana dalam, dan handuk yang membentuk sebuah turban cantik. Aku mengintip melalui kerai. Ryan berdiri di dermaga sambil memegang dua dus minuman dan pizza berukuran raksasa. Dia sudah melepaskan jaket dan dasinya, menggulung lengan bajunya tepat di bawah sikunya. Kulepaskan kaitan pintu dan menariknya. Aku bisa saja mematikan lampu dan menolak untuk membukakan pintu untuknya. Aku bisa saja tidak mengacuhkannya. Aku bisa saja menyuruhnya pergi. Aku mengintip kembali dan ternyata langsung menatap mata Ryan. "Aku tahu kamu belum tidur, Brennan. Aku 'kan detekSialan. tif?" Dia mengayunkan satu dus minuman di depan mukaku. "Diet Coke." Dasar.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku tidak membenci Ryan. Sebenarnya, aku senang ditemaninya daripada ditemani orang lain. Lebih dari yang bersedia kuakui. Aku menyenangi komitmennya pada pekerjaannya, dan rasa simpati yang ditunjukkannya kepada para korban dan keluarganya. Aku menyukai kecerdasan dan kejeliannya. Dan aku senang mendengar kehidupan Ryan, seorang anak kampus yang menjadi liar, dipukuli jagoan sepeda motor, kemudian beralih ke sisi lainnya. Anak jagoan menjadi polisi yang tangguh. Sepertinya kesejajaran yang sangat puitis. Aku benar-benar menyukai penampilannya, tetapi akal sehatku menasihatiku untuk tidak terlibat dengannya. Ah, peduli amat. Yang pasti lebih enak daripada mie dan keju sintetis. Aku masuk ke dalam kamarku, meraih celana pendek dan menyisir rambutku. Kunaikkan kerai dan menarik ram nyamuk untuk mengizinkan dia masuk. Dia menyerahkan minuman dan pizza, kemudian membalikkan tubuh dan menuruni tangga. "Aku punya Coke sendiri," ujarku sambil menutup ram nyamuk. "Tidak ada istilah kebanyakan Coke."

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku menunjuk ke lorong dan dia meletakkan pizza di atas meja, membuka tutup sekaleng bir untuknya dan sekaleng Diet Coke untukku, kemudian meletakkan kaleng lainnya di dalam lemari es. Kukeluarkan piring, serbet, dan pisau besar, sementara dia membuka kotak pizza. "Menurutmu, makanan itu lebih bergizi daripada pasta?" "Ini pizza veggie supreme, pizza sayuran." "Apa itu?" tanyaku sambil menunjuk ke gundukan cokelat. "Tambahan daging. Aku meminta semua kelompok makanan." "Ayo kita bawa ke ruang makan," ujarku. Kami menghamparkan makanan di atas meja dan duduk di atas sofa. Bau payau dan kayu basah melayang masuk dan bergabung dengan aroma saus tomat dan daun kemangi. Kami makan dan membicarakan berbagai kasus pembunuhan, dan menimbang-nimbang kemungkinan bahwa para korban di St-Jovite memiliki hubungan dengan Dom Owens. Akhirnya, obrolan menyambung ke masalah pribadi. Kuceritakan Beaufort di masa kanak-kanakku, dan berbagi kenangan musim panasku di pantai. Kubicarakan tentang Katy, dan bahwa aku berpisah dengan Pete. Ryan

http://inzomnia.wapka.mobi

menceritakan awal kehidupannya di Nova Scotia, dan mengungkapkan perasaannya tentang perpisahan yang baru dialaminya. Percakapan itu terasa mengalir begitu saja dan alami, dan aku mengungkapkan lebih banyak tentang diriku dari yang pernah kubayangkan. Dalam keheningan, kami mendengarkan suara air dan gemerisik rerumputan di payau. Kulupakan kekerasan dan kematian dan melakukan sesuatu yang sudah lama tidak kulakukan. Aku merasa santai. "Wah, cukup mengherankan, aku sudah terlalu banyak bercerita," ujarku, saat mulai membereskan pring dan serbet. Ryan meraih kaleng kosong. "Mari kubantu." Lengan kami bersinggungan dan aku merasakan kehangatan menyebar di permukaan kulitku. Tanpa berkata apa-apa, kami membersihkan bekas makan malam dan membawanya ke dapur. Saat kami kembali ke sofa, Ryan berdiri di hadapanku sejenak, kemudian duduk mendekat, meletakkan kedua tangan di bahuku dan membalikkan tubuhku, menjauhi tubuhnya. Sewaktu aku hendak protes, dia mulai memijat otot di pangkal leherku, di bahuku, dan menuruni lenganku sampai ke siku. Tangan nya menuruni punggungku, kemudian mengarah ke atas, setiap jempol bergerak memutar kecil di ujung tulang belikat. Saat

http://inzomnia.wapka.mobi

menyentuh ujung rambut, jari-jemarinya melakukan gerakan memutar yang sama di bawah batok kepalaku. Mataku terpejam. "Mmmmm." "Otot-ototmu tegang sekali." Semuanya terlalu indah untuk diganggu dengan pembicaraan. Tangan Ryan menyentuh bagian bawah punggungku dan jempolnya memijat otot di tulang punggungku, menekan semakin tinggi, sejengkal demi sejengkal. Napasku melambat dan aku merasakan diriku meleleh. Lalu, aku ingat Harry. Dan tubuhku yang tidak memakai pakaian dalam. Kubalikkan tubuh menghadapnya, hendak menghentikan semuanya, dan mata kami bertatapan. Ryan terlihat sedikit ragu, kemudian memegang wajahku dengan kedua tangannya, dan menempelkan bibirnya ke bibirku. Jari-jemarinya membelai rahangku, ke belakang melalui rambutku, kemudian lengannya merangkul bahuku dan menarikku mendekat kepadanya. Aku mulai mendorongnya, tapi kemudian berhenti, tanganku menyentuh dadanya. Tegap dan tegang, ototnya menyatu dengan tulangnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kurasakan panas tubuhnya dan mencium bau kulitnya, dan putingku menegang di bawah kemeja katunku yang tipis. Tubuhku terjatuh ke dadanya, kupejamkan mata dan membalas ciumannya. Dia memelukku erat-erat dan kami berciuman agak lama. Saat lenganku mengelilingi lehernya, dia menyelipkan tangannya di bawah kemejaku dan jarinya menari-nari di kulit tubuhku. Sentuhannya terasa sangat lembut dan bulu kudukku berdiri di punggung sampai ke puncak kepalaku. Tubuhku melenting di dadanya dan menciumnya dengan lebih bersemangat, membuka dan menutup mulutku mengikuti irama napasnya. Dia menurunkan tangannya dan menelusuri pinggangku dengan jarinya sampai ke perutku, melingkari payudaraku dengan sentuhan lembutnya. Putingku menegang dan api menjalari seluruh tubuhku. Dia memasukkan lidahnya ke dalam mulutku dan bibirku meraupnya. Tangannya menutupi payudara kiriku, kemudian pelan-pelan membelainya. Lalu, dia meremas puting dengan jempol dan jarinya, menekan dan melepaskannya seirama dengan ciuman bibir kami. Jemariku menelusuri tulang punggungnya dan tangannya menjelajahi ke bawah menuju lekukan pinggangku. Dia meremas perutku, melingkari

http://inzomnia.wapka.mobi

pusarku, kemudian mengaitkan jarinya di dalam karet celana pendekku. Aliran listrik seakan menyebar di bagian bawah tubuhku. Akhirnya, bibir kami terpisah dan Ryan menciumi wajahku dan memasukkan lidahnya ke dalam telingaku. Kemudian, dia mendorongku ke bantalan sofa dan berbaring di sampingku, matanya yang biru menusuk tajam menatap mataku. Dia bergerak menyamping, mengangkat pahaku dan menarikku kepadanya. Aku bisa merasakan tonjolan keras dari balik celananya, dan kami berciuman kembali. Sejenak kemudian dia melepaskan diri, membengkokkan lututnya dan menekan pahanya di antara kedua kakiku. Aku merasakan ledakan di dalam perutku dan merasa sulit bernapas. Sekali lagi Ryan meletakkan salah satu tangannya di bawah kemejaku dan menggeser ke atas menuju payudaraku. Dia membuat gerekan memutar dengan telapak tangannya, kemudian jempolnya menyapu putingku. Ku lentingkan tubuhku dan mengerang saat sensasinya membuat dunia di sekelilingku terasa lenyap. Aku sudah tidak ingat waktu lagi. Beberapa saat atau jam kemudian, tangannya merayap ke bawah dan aku merasakan tarikan di risletingku. Kubenamkan hidungku di lehernya dan

http://inzomnia.wapka.mobi

tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tanpa memedulikan Harry, aku tidak akan menolaknya. Lalu, telepon berdering. Tangan Ryan menutup telingaku dan mencium bibirku dengan penuh semangat. Aku menanggapinya, merenggut rambut di belakang kepalanya, memaki Southern Bell. Kami membiarkan telepon itu sampai deringan keempat. Saat mesin penjawab menyala, terdengar suara lirih yang sulit didengar, seakan pemilik suara itu berbicara dari ujung lorong yang panjang. Kami berdua meloncat, tetapi sudah terlambat. Kathryn sudah menutup gagang telepon. 20. Tidak ada gunanya memulihkan situasi itu setelah ada telepon dari Kathryn. Walaupun Ryan bersedia untuk mencobanya kembali, tetapi pikiran rasional kami sudah kembali dan suasana hatiku tidak mendukung. Bukan saja aku kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan Kathryn, tetapi aku tahu bahwa sekarang mau tak mau aku harus

http://inzomnia.wapka.mobi

menyadari adanya kekuatan seksual baru sang Detektif Jantan yang satu ini. Walaupun orgasme sudah lama kudambakan dan pasti akan kusambut dengan senang hati, aku meramalkan bahwa akibat yang kuhadapi nanti cukup berat. Kuusir Ryan dan kuempaskan tubuhku ke tempat tidur tanpa memedulikan kebersihan gigi dan rutinitas sebelum tidur. Bayangan terakhir yang melintas di benakku sebelum jatuh tertidur berasal dari kelas tujuh: Pelajaran Suster Luke tentang hukuman untuk setiap dosa. Aku merasa bahwa perbuatanku dengan Ryan akan membuat hukuman yang kuterima semakin berat. Aku bangun dengan wajah diterpa sinar matahari dan diiringi jeritan burung camar, dan pikiranku langsung teringat kembali pada kejadian di sofa tadi malam. Aku meringis dan menutupi wajah dengan kedua tanganku, merasa seperti anak remaja yang menyerahkan keperawanannya di dalam mobil Pontiac. Brennan, ke mana akal sehatmu tadi malam? Bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah apa yang sedang kupikirkan. Edna St. Vincent Millay pernah menulis sebuah puisi tentang hal itu. Apa

http://inzomnia.wapka.mobi

namanya? "I Being Born a Woman and Distressed." (Aku dilahirkan sebagai wanita dan tertekan). Sam menelepon jam delapan dan mengatakan bahwa kasus Murtry tidak mendapat kemajuan berarti. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat hal yang aneh. Tidak pernah terlihat kapal tak dikenal yang mendekat atau meninggalkan pulau itu dalam beberapa minggu terakhir. Dia ingin tahu apakah aku sudah mendengar kabar dari Hardaway. Kujawab bahwa aku belum mendapat kabar apaapa. Dia mengatakan akan ke Raleigh selama beberapa hari dan ingin memastikan bahwa semua keperluanku ada yang menangani. Oh, tentu. Dia menjelaskan bagaimana cara menutup kapal dan tempat meninggalkan kunci dan kami pun mengucapkan salam perpisahan. Aku sedang mengerik sisa-sisa pizza dan membuangnya ke dalam tempat sampah ketika mendengar ketukan di pintu masuk di dermaga. Aku sudah bisa menebak siapa yang datang dan tidak mengacuhkannya. Ketukan itu berlanjut, tidak menyerah seperti pengumpulan dana amal National Public Radio, dan beberapa saat kemudian aku tidak bisa bertahan lagi. Kuangkat kerai dan tampak Ryan berdiri tepat di tempatnya seperti tadi malam.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Selamat pagi." Dia mengacungkan sekantong donat. "Sudah berubah pekerjaan menjadi pengantar makanan?" Kuturunkan ram nyamuk. Kalau dia berani melontarkan sindiran, aku tahu akan kurobek lehernya. Dia naik ke kapal, tertawa, dan menawarkan permen berkalori-tinggi bergizi-rendah. "Cocok dengan kopi." Aku berjalan ke anjungan, menuangkan dua cangkir kopi dan menambahkan susu ke cangkirku. "Hari yang cerah." Dia meraih kotak susu. "Mmmm." Kuraih donat berbalut cokelat dan bersandar di tempat cuci piring. Aku tidak berniat untuk duduk di sofa itu lagi. "Aku sudah bicara dengan Baker," ujar Ryan. Aku menunggu. "Dia akan bertemu dengan kita jam tiga nanti." "Aku sudah akan di jalanan pada jam tiga," ujarku sambil meraih donat lainnya. "Sepertinya kita harus ke sana lagi," ujar Ryan. "Ya." "Mungkin kita bisa bicara sendiri dengan Kathryn." "Itu sepertinya keahlianmu." "Apa kita akan melakukan ini sepanjang hari?" "Aku mungkin akan menyanyi saat dijalan nanti." "Aku datang ke sini tidak

http://inzomnia.wapka.mobi

dengan niat merayumu." Hal itu malah membuatku semakin marah. "Maksudmu aku tidak sekelas dengan adikku?" "Apa?" Kami minum tanpa berkata apa-apa, kemudian kupenuhi cangkirku kembali dan mengisi lagi teko kopi itu. Ryan mengamati, kemudian menyeberang menghampiri Mr. Coffee, dan menuangkan cangkir kedua untuknya. "Menurutmu benar-benar ada yang akan disampaikan Kathryn kepada kita?" tanyanya. "Dia mungkin menelepon hanya karena ingin mengundangku makan tuna caserole." "Nah, sekarang siapa yang bersikap menyebalkan?" "Terima kasih karena sudah menyadarinya." Kubilas cangkirku dan meletakkannya terbalik di atas meja. "Kalau kamu malu tentang tadi malam "Apa aku harus malu?" "Tentu saja tidak." "Sungguh melegakan." "Brennan, aku tidak akan menggodamu di ruangan autopsi atau menggerayangimu saat sedang melakukan pengintaian. Hubungan pribadi kita tidak akan memengaruhi hubungan profesional kita." "Aku ragu. Yang pasti hari ini aku memakai baju dalam." "Oke." Dia tertawa geli.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku segera mengumpulkan barang-barangku. Setengah jam kemudian, kami sudah memarkir mobil di depan rumah peternakan itu. Dom Owens duduk di beranda, berbicara dengan sekelompok orang. Melalui ram nyamuk, kami tidak mungkin bisa mengenali orang-orang itu, kecuali jenis kelaminnya. Keempat orang itu lelaki semuanya. Sekelompok orang sedang bekerja di taman di belakang bungalow putih, dan dua orang wanita mendorong anak-anaknya main ayunan di dekat trailer, sementara beberapa orang lainnya menjemur cucian. Sebuah van biru diparkir di halaman, tetapi aku tidak melihat keberadaan van putih. Kuamati orang-orang di tempat ayunan. Aku tidak melihat Kathryn, walaupun kupikir salah satu bayi sepertinya mirip Carlie. Kuamati seorang wanita yang memakai rok bunga-bunga membuai si bayi dengan gerakan lembut. Aku dan Ryan berjalan ke pintu dan mengetuk. Para lelaki itu berhenti berbicara dan membalikkan tubuh menghadap kami. "Ada yang bisa kami bantu?" kata salah seorang dengan suara melengking. Owens mengangkat tangan. "Tidak apa-apa, Jason." Dia bangkit, menyeberangi beranda, dan medorong pintu ram nyamuk.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Maaf, rasanya aku belum tahu nama kalian." "Saya Detektif Ryan. Ini Dr. Brennan." Owens tersenyum dan melangkah keluar. Aku mengangguk dan berjabat tangan dengannya. Para lelaki di beranda mengawasi tanpa berkata apaapa. "Apa yang bisa kubantu hari ini?" "Kami masih ingin bisa menentukan di mana Heidi Schneider dan Brian Gilbert berada selama musim panas yang lalu. Anda sudah mengajukan pertanyaan itu selama acara jam keluarga?" Suara Ryan terdengar tanpa kehangatan sama sekali. Owens tersenyum lagi. "Acara kelas pengalaman. Ya, kami sudah mendiskusikannya. Sayangnya, tidak ada yang tahu apa-apa atau siapa kedua orang itu. Maaf. Tadinya aku berharap bisa memberi bantuan." "Kami ingin berbicara dengan orang-orangmu, kalau diperbolehkan." "Maaf, tetapi aku tidak bisa mengizinkannya." "Kenapa tidak?" "Anggota kami tinggal di sini karena mereka mencari kedamaian dan perlindungan. Banyak yang tidak ingin berhubungan dengan kekotoran

http://inzomnia.wapka.mobi

dan kekerasan masyarakat modern. Anda, Detektif Ryan, mewakili dunia yang telah mereka tolak. Aku tidak bisa menodai ketenangan mereka dengan meminta mereka untuk berbicara dengan Anda." "Beberapa anggota kelompokmu bekerja di kota." Owens memiringkan kepalanya dan menatap ke langit untuk memohon diberi kesabaran. Lalu, dia tersenyum kembali kepada Ryan. "Salah satu keahlian yang kami kembangkan adalah perlindungan diri. Tidak semua orang diberi anugerah yang sama, tapi beberapa anggota kami belajar untuk bisa terlibat dalam dunia sekuler namun tetap menutup diri, tidak tersentuh oleh polusi moral dan fi sik." Kembali senyuman yang sabar. "Walaupun kami menolak perusakan kebudayaan kami, Pak Ryan, kami bukan orang-orang bodoh. Kami tahu bahwa manusia tidak bisa hidup sendirian. Kami juga butuh makanan." Saat Owens berbicara, aku mengawasi orang-orang yang sedang berkebun. Kathryn tidak terlihat. "Apakah semua orang di sini bebas untuk dating dan pergi semaunya?" tanyaku, kembali mengalihkan perhatian kepada Owens. "Tentu saja." Dia tertawa. "Bagaimana aku bisa menghentikan mereka?" "Apa yang terjadi kalau seseorang ingin pergi selamanya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Mereka tinggal pergi begitu saja." Dia mengangkat bahunya dan merentangkan tangannya. Untuk beberapa saat lamanya tidak ada yang berbicara. Suara derikan ayunan terdengar dari seberang pekarangan. "Kalau tidak salah, pasangan muda yang kalian cari mungkin pernah tinggal beberapa waktu dengan kami, mungkin ketika aku sedang bepergian," ujar Owens. "Walaupun jarang, hal itu pernah terjadi. Tapi, sepertinya bukan begitu kejadiannya. Tidak ada seorang pun di sini yang ingat pada mereka berdua." Saat itu, Howdy Doody muncul dari rumah sebelah. Ketika melihat kami, dia terlihat ragu-ragu, kemudian membalikkan tubuh dan bergegas menuju ke arah kedatangannya. "Aku masih tetap ingin bicara dengan beberapa orang di sini," ujar Ryan. "Mungkin ada sesuatu yang diketahui seseorang yang mereka pikir tidak begitu penting. Itu sering terjadi." "Pak Ryan, aku tidak akan mengizinkan orangorangku diganggu. Aku telah menanyakan tentang pasangan muda itu dan tidak ada yang

http://inzomnia.wapka.mobi

mengenal mereka. Apa lagi yang hendak dicari? Kurasa aku tidak bisa mengizinkan Anda mengganggu rutinitas kami." Ryan memiringkan kepalanya dan membuat suaranya tercekat. "Kurasa kamu harus mengizinkannya, Dom." "Dan kenapa harus begitu?" "Karena aku tidak akan pergi. Aku punya teman bernama Baker. Kamu ingat dia? Dan dia memiliki teman yang bisa memberikan sesuatu yang disebut surat izin penggeledahan." Owens dan Ryan saling beradu pandang, dan untuk sejenak tidak ada yang berbicara. Kudengar para lelaki di beranda bangkit dan di kejauhan anjing menyalak. Kemudian, Ownes tersenyum danmendehem. "Jason, tolong ajak semua orang datang ke beranda." Suaranya terdengar rendah dan datar. Owens berdiri dan seorang lelaki yang mengenakan pakaian hangat berwarna merah berjalan melewatinya dan menuju kelompok perumahan. Tubuhnyabergelambir dan gendut, dan agak mirip dengan Julia Child (koki AS yang terkenal). Kulihat dia berhenti untuk mengelus seekor kucing, kemudian berjalan menuju kebun.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Silakan masuk," ujar Owens, membuka pintu ram nyamuk. Kami mengikutinya masuk ke ruangan yang kami duduki kemarin dan duduk di kursi rotan yang sama. Rumah itu sangat sunyi. "Kalau boleh, aku akan pergi sebentar. Anda ingin minum sesuatu?" Kami menolaknya dan dia meninggalkan ruangan. Di atas kepala, sebuah kipas angin mendengung lembut. Tak lama kemudian, kudengar suara orang bercakap-cakap dan tertawa, kemudian pintu ram nyamuk terbuka. Kelompok Owens masuk dan kuamati mereka satu demi satu. Kurasakan Ryan melakukan hal yang sama. Dalam beberapa menit ruangan itu sudah penuh dan aku bisa menyimpulkan satu hal. Orang-orang in terlihat biasa saja. Mereka sama saja dengan kelompok kajian Baptist yang sedang mengadakan acara piknik bersama. Mereka bergurau dan tertawa, tidak terlihat tertekan. Tampak beberapa bayi, orang dewasa, dan sedikitnya satu orang lansia, tetapi tidak ada remaja atau anak-anak. Aku segera menghitung dengan cepat: tujuh lelaki, tiga belas wanita, tiga anak-anak. Kata Helen ada dua puluh enam orang di komune tersebut.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku mengenali Howdy dan Helen. Jason berdiri menyandar ke dinding. El berdiri di dekat lengkungan. Carlie duduk di pangkuannya. Dia menatapku lekat- lekat. Aku tersenyum, teringat pada pertemuan kami di Beaufort sore hari kemarin. Ekspresinya tidak berubah. Kutatap wajah-wajah lainnya. Kathryn tidak ada. Owens kembali dan ruangan langsung hening. Dia memperkenalkan kami, kemudian menjelaskan alasan keberadaan kami. Orang-orang dewasa mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian menatap kami. Ryan menyerahkan foto Brian dan Heidi kepada salah seorang lelaki paruh baya di sebelah kirinya, lalu memaparkan kasus dengan menghindari hal-hal teperinci yang tidak perlu disebarkan. Lelaki itu menatap foto, kemudian memberikannya kepada orang di sebelahnya. Saat foto itu diedarkan, kuamati setiap wajah, mengamati apakah ada perubahan ekspresi yang mungkin menandakan mereka mengenal pasangan muda ini. Yang kulihat hanyalah kebingungan dan perasaan kasihan. Setelah Ryan selesai bicara, Owens kembali menanyai para pengikutnya tentang pasangan itu atau telepon ke rumah ini. Tidak ada yang berbicara.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Pak Ryan dan Dr. Brennan telah meminta izin untuk mewawancarai kalian satu per satu." Owens menatap wajah mereka satu per satu. "Silakan berbicara dengan mereka. Bila ada sesuatu yang kalian pikirkan, ungkapkanlah dengan penuh kejujuran dan kasih sayang. Kita bukan orang yang menyebabkan tragedi ini, tapi kita bagian dari alam semesta dan harus bertindak sesuai dengan kekuatan yang kita miliki untuk meluruskan masalah ini. Lakukanlah demi keharmonisan." Setiap mata memandangnya, dan aku merasakan ketegangan yang aneh di dalam ruangan itu. "Mereka yang tidak bisa berbicara jangan merasa bersalah atau malu." Dia bertepuk tangan. "Sekarang. Bekerjalah! Penegasan holistik melalui tanggung jawab bersama!" Ya ampun, pikirku. Saat mereka sudah pergi, Ryan berterima kasih kepadanya. "Ini bukan Waco, Pak Ryan. Tidak ada yang Kami sembunyikan." "Kami berharap bisa berbicara dengan wanita muda yang kami temui kemarin," ujarku. Dia menatapku sejenak dan berkata, "Wanita muda?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya. Dia datang dengan seorang anak. Carlie, kalau tidak salah?" Dia menatapku beberapa saat lamanya sehingga kupikir dia tidak ingat. Kemudian, Owens tersenyum. "Itu pasti Kathryn. Dia ada janji hari ini." "Janji?" "Kenapa Anda ingin berbicara dengan Kathryn?" "Dia sepertinya seumur dengan Heidi. Kupikir mereka mungkin saling mengenal." Aku merasa tidak perlu mendiskusikan pesta jus kami di Beaufort. "Kathryn tidak ada di sini musim panas yang lalu. Dia sedang mengunjungi orang tuanya." "Oh begitu. Kapan pulangnya?" "Aku tidak tahu kapan persisnya." Ram nyamuk terbuka dan seorang lelaki tinggi muncul di lorong. Tubuhnya benar-benar kurus seperti pengusir burung, dan tampak seberkas rambut putih menutupi alis dan bulu mata sebelah kanan, membuatnya terlihat aneh. Aku ingat siapa dia. Selama pertemuan tadi, dia berdiri di dekat aula, bermain-main dengan salah seorang balita. Owens mengacungkan satu jarinya dan si pengusir burung itu mengangguk dan menunjuk ke arah rumah. Dia memakai cincin besar

http://inzomnia.wapka.mobi

yang kelihatannya tidak pantas dipakai di jarinya yang kurus seperti tulang. "Maaf, tetapi ada sesuatu yang harus kukerjakan," ujar Owens. "Bicaralah dengan siapa pun yang kalian inginkan, tapi harap hormati keinginan kami untuk menjaga keharmonisan." Dia mengantar kami ke pintu dan menjulurkan tangannya. Yang pasti, Dom orang yang hebat dalam berjabatan tangan. Dia mengatakan senang menerima kunjungan kami dan semoga kami menemukan apa yang kami cari. Kemudian, dia pergi. Aku dan Ryan menghabiskan sisa pagi itu berbicara dengan para pengikutnya. Mereka cukup baik, dan kooperatif, dan benar-benar harmonis. Dan, mereka tidak tahu apa-apa. Bahkan, tidak tahu di mana Kathryn berada. Pada pukul setengah dua belas, kami kembali tanpa menemukan sesuatu yang baru. "Ayo kita temui pendeta itu dan mengucapkan terima kasih," ujar Ryan, meraih serangkaian kunci dari dalam sakunya. Semua kunci itu digantungkan pada sebuah cakram plastik besar, dan bukan kunci untuk mobil sewaan itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Buat apa?" tanyaku. Aku lapar dan kepanasan, siap untuk pergi. " Hanya untuk kesopanan." Aku mendelik, tetapi Ryan sudah setengah jalan menyeberangi pekarangan. Kulihat dia mengetuk pintu ram nyamuk, kemudian berbicara dengan si lelaki beralis mata pucat. Beberapa saat kemudian, Owens muncul. Ryan mengatakan sesuatu dan menjulurkan tangannya dan seperti boneka kayu, ketiganya berjongkok, lalu bangkit dengan cepat. Ryan berbicara lagi, membalikkan tubuh, dan berjalan menuju mobil. etelah makan siang, kami berusaha mencari lagi di beberapa toko obat, lalu mengemudikan mobil menuju pusat pemerintahan. Kutunjukkan kantor penyimpanan arsip kepada Ryan, kemudian kami me nyeberangi lapangan menuju kantor polisi. Seorang lelaki berkulit hitam berkemeja kutung dan bertopi sedang mengendarai traktor kecil di lapangan rumput, tulangnya yang kurus dijulurkan seperti kaki jangkrik. "Apa kabar?" tanyanya, sambil menyentuh pinggir topinya dengan jari. "Baik." Kuhirup bau rumput yang baru dipotong dan berharap keadaan memang baik seperti yang kukatakan kepadanya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Baker sedang berbicara di telepon saat kami masuk ke kantornya. Dia menunjuk ke kursinya, berbicara beberapa saat lagi, lalu menutup gagang telepon. "Jadi, bagaimana perkembangannya?" tanyanya. "Payah," sahut Ryan. "Tidak ada yang tahu apa-apa." "Apa yang bisa kami bantu?" Ryan mengangkat jaketnya, menarik sebuah kantong Ziploc (kantong plastik bertutup seperti risleting) dari dalam saku dan meletakkannya di atas meja Baker. Di dalamnya terlihat cakram plastic merah. "Tolong diperiksa sidik jarinya." Baker menatapnya. "Aku tidak sengaja menjatuhkannya. Owens berbaik hati memungutkannya untukku." Baker terlihat ragu sejenak, kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Kalian tahu mungkin hal ini tidak ada gunanya 'kan?" "Aku tahu. Tapi, mungkin bisa mengungkapkan siapa orang ini sebenarnya."

http://inzomnia.wapka.mobi

Baker meletakkan plastik itu ke samping. "Ada lagi?" "Bagaimana dengan alat penyadap?" "Tidak mungkin. Kamu belum punya cukup bukti untuk melakukan itu." "Surat penggeledahan?" "Dengan alasan apa?" "Telepon?" "Tidak cukup." "Menurutku juga begitu." Ryan mengembuskan napas dan menjulurkan kaki. "Kalau begitu, aku terpaksa harus melakukannya dengan cara yang lebih berbelit-belit. Aku akan memulainya dengan memeriksa surat tanah dan arsip pajak, memeriksa siapa pemilik padepokan di Adler Lyons itu. Aku akan memeriksa catatan listrik dan air, menemukan siapa yang membayar tagihannya. Aku akan bicara dengan kantor pos, memeriksa apakah ada orang yang memesan majalah Hustler atau memesan baju dari toko pakaian J. Crew. Aku akan memeriksa nomor Social Security Owens, bekas istrinya, hal-hal semacam itulah. Dia pasti punya SIM, jadi pasti akan tercatat. Kalau pendeta itu pernah kencing sembarangan pun, aku pasti akan mencecarnya. Mungkin aku akan mengintainya, mengamati mobil yang keluar masuk padepokan itu, mengecek nomor polisinya. Kuharap kamu tidak keberatan ka lau aku berkeliaran di kotamu ini untuk selama beberapa waktu."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Silakan tinggal di Beaufort selama mungkin yang diperlukan, Pak Ryan. Aku akan menugasi seorang detektif untuk membantumu. Dan Dr. Brennan, apa rencanamu?" "Aku akan berangkat sebentar lagi. Aku harus menyiapkan kuliah dan menangani kasus Pak Colker dari Murtry." "Baxter pasti akan senang mendengarnya. Dia menelepon dan mengatakan bahwa Dr. Hardaway ingin berbicara denganmu secepatnya. Bahkan, dia telah menelepon kami tiga kali hari ini. Apa mau menggunakan teleponku?" Aku yakin kami semua menangkap maksud tersiratnya. "Boleh." Baker meminta Ivy Lee untuk menelepon Hardaway. Sejenak kemudian, telepon berdering dan aku segera mengangkatnya. Ahli patologi itu sudah selesai melakukan semua hal yang bisa dilakukannya. Dia dapat menentukan jenis kelamin mayat yang berada di bagian bawah kuburan, dan orang itu mungkin berkulit putih. Menurut nya, korban meninggal akibat luka sayatan, tetapi tubuhnya sudah terlalu membusuk sehingga tidak dapat menentukan dengan pasti penyebab kematiannya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kuburan itu cukup dangkal sehingga serangga bisa masuk ke dasarnya, mungkin menggunakan mayat yang di atasnya sebagai perantaranya. Luka yang terbuka juga memacu terbentuknya kolonisasi. Tengkorak dan dadanya dipenuhi gerombolan belatung terbesar yang pernah dilihatnya. Wajah mayat sudah tidak mampu dikenali sehingga dia tidak mampu memperkirakan usianya. Dia menduga masih bisa menemukan sidik jari. Di belakangku, Ryan dan Baker mendiskusikan Dom Owens. Hardaway melanjutkan. Yang tersisa dari bagian tubuh mayat yang di atas hanyalah tulangnya, walaupun beberapa jaringan otot yang melekat masih ada. Dia tidak bisa menggunakannya untuk penelitian lebih lanjut dan memintaku untuk melakukan analisis lengkap. Kukatakan agar mengirimkan tengkorak, tulang paha, tulang selangkangan, dan dada bawah mulai dari rusuk ketiga sampai kelima dari bawah. Aku memerlukan seluruh tulang dari korban yang ada di atas. Aku juga minta dilakukan pemotretan sinar-X pada setiap korban, salinan laporan dia, dan fotofoto autopsi yang lengkap. Terakhir, kujelaskan bagaimana aku menginginkan tulang itu diproses. Hardaway sudah mengetahui prosedur itu dan mengatakan bahwa kedua

http://inzomnia.wapka.mobi

jenazah itu serta semua dokumentasi akan sampai di labku di Charlotte pada hari Jumat. Kututup gagang telepon dan melihat jam tangan. Bila aku ingin menyelesaikan semuanya sebelum menghadiri konferensi di Oakland, aku harus segera bersiap-siap. Aku dan Ryan menyeberangi lapangan parkir, tempatku meninggalkan mobilku pagi itu. Matahari bersinar terik dan rasanya sejuk berdiri di bawah bayang- bayang gedung seperti ini. Kubuka pintu dan meletakkan lenganku di atap mobil. "Ayo kita makan malam," ujar Ryan. "Boleh saja. Lalu, aku akan melumuri diriku dengan kue pie dan kita berfoto untuk New York Times." "Brennan, sudah dua hari ini kamu memperlakukan aku seperti permen karet yang dibuang di jalanan. Sebenarnya, setelah kupikirkan lebih dalam lagi, kamu sudah terlihat gelisah selama beberapa minggu terakhir. Oke. Aku bisa menerimanya." Dia meraih daguku dan menatap lurus ke mataku. "Tapi, aku mau kamu tahu satu hal. Tadi malam bukan hanya masalah kebetulan saja. Aku menyukaimu dan sangat menikmati masa-masa kita bersama.Aku tidak menyesal hal itu terjadi. Dan aku tidak bisa berjanji

http://inzomnia.wapka.mobi

bahwa aku tidak akan berusaha melakukannya lagi. Ingat, aku mungkin menjadi anginnya, tapi kamu yang mengendalikan layang-layangnya. Hatihati dijalan." Setelah mengatakan itu, dia melepaskan daguku dan berjalan ke mobilnya. Sambil membuka kunci mobil, dia melemparkan jaketnya ke kursi penumpang dan membalikkan tubuhnya menghadapku. "Omong-omong, kamu tidak pernah mengatakan kenapa kamu meragukan bahwa korban di Murtry adalah pengedar narkoba." Untuk beberapa saat aku hanya bisa menatapnya. Aku ingin tinggal di situ tetapi aku juga ingin menjauh darinya. Kemudian, pikiranku kembali dari lamunanku. "Apa?" "Kedua mayat di pulau itu. Kenapa kamu meragukan teori pembunuhan oleh gembong narkoba?" "Karena keduanya perempuan." 21. Selama perjalanan, kuputar beberapa kaset, tetapi berita dari Danau Wobegon tidak menarik perhatianku. Aku memiliki jutaan pertanyaan dan

http://inzomnia.wapka.mobi

sangat sedikit jawaban. Apakah Anna Goyette sudah pulang ke rumahnya? Siapakah kedua wanita yang dikuburkan di Murtry Island? Apa yang akan diungkapkan tulang-belulangnya kepadaku? Siapa yang membunuh Heidi dan kedua bayinya? Apakah ada hubungan antara St-Jovite dan komune di Saint Helena? Siapakah Dom Owens? Ke mana perginya Kathryn? Ke mana perginya Harry? Kepalaku menyingkirkan pikiran tentang tugas apa saja yang harus kulakukan. Dan apa yang ingin kulakukan. Aku belum membaca sedikit pun tentang Elisabeth Nicolet sejak meninggalkan Montreal. Pada pukul setengah sembilan, aku sudah kembali ke Charlotte. Selama kepergianku, lingkungan di Sharon Hall telah menyelimuti dirinya dengan pakaian musim semi yang paling indah. Bunga azaleas dan dogwood telah mekar dengan sempurna dan beberapa bradford pears dan crabapples yang sudah berbunga masih terus tumbuh. Udara tercium seperti pohon pinus dan serpihan kulit pohon. Di dalam, kedatanganku ke Annex seperti mengulangi ke datanganku seminggu sebelumnya. Jam sedang berdetik. Lampu pesan di mesin penerima telepon berkedapkedip. Lemari es kosong. Mangkuk Birdie berada di tempatnya yang biasa di ba-

http://inzomnia.wapka.mobi

wah jendela. Aneh juga, Pete belum mengosongkan mangkuk itu. Walaupun berantakan dalam hal lainnya, suamiku benar-benar teliti bila berhubungan dengan makanan. Kulakukan pemeriksaan sekilas untuk melihat apakah kucing itu sedang bersembunyi di bawah kursi atau lemari. Tidak tampak Bird. Kutelepon Pete, tetapi seperti sebelumnya, dia tidak ada di rumahnya. Begitu juga dengan Harry di apartemen di Montreal. Karena menduga dia mungkin sudah pulang ke rumahnya, aku mencoba menelepon rumahnya di Texas. Juga tidak ada jawaban. Setelah membongkar tas, aku membuat roti lapis tuna dan memakannya dengan acar dan keripik kentang sambil menonton akhir pertandingan basket Hornets. Pada pukul sepuluh, kumatikan TV dan mencoba menghubungi Pete lagi. Masih tidak ada jawaban. Aku berpikir untuk mendatangi rumahnya untuk mengambil Birdie, tetapi memutuskan untuk menundanya sampai besok pagi. Aku mandi, kemudian berbaring di tempat tidur dengan memegang fotokopi Belanger dan tenggelam ke dunia abad sembilan belas di Montreal. Walaupun sudah beberapa hari tidak membaca jurnalnya, kisah LouisPhilippe tetap tidak bisa membuatku terjaga dan dalam waktu satu jam

http://inzomnia.wapka.mobi

kelopak mataku sudah mulai menutup. Kumatikan lampu dan mengambil posisi tidur, berharap istirahat yang panjang akan membuat pikiranku teratur kembali. Dua jam kemudian, aku terduduk dari tidurku, jantungku berdegup kencang, otakku berusaha keras mencari alasannya. Kutarik selimutku sampai menutupi dadaku, hampir tidak bisa bernapas, berusaha mengenali ancaman yang telah membuatku terbangun. Hening. Satu-satunya cahaya di kamarku berasal dari jam di samping tempat tidur. Kemudian, suara pecahan kaca membuat bulu tengkukku berdiri. Adrenalinku langsung melonjak tinggi. Bayangan perampokan, mata seperti reptil, pisau berkilat terkena cahaya bulan, melintas di benakku lagi. Sebuah pikiran berderak-derak di kepalaku. Jangan sampai terjadi lagi! Gubrak! Gedubrak! Ya, terjadi lagi! Suara itu bukan dari luar! Tapi dari lantai bawah! Di dalam rumahku! Pikiranku dengan cepat mempertimbangkan beberapa pilihan. Mengunci

http://inzomnia.wapka.mobi

kamar tidur. Memeriksa ke bawah. Menelepon polisi. Kemudian, tercium bau asap. Sialan! Kulemparkan selimut dan dengan tersaruk-saruk menyeberangi kamar, menyingkirkan kengerian yang menyeruak untuk mencari unsur pemikiran yang rasional. Senjata. Aku memerlukan senjata. Apa? Apa yang bisa kugunakan? Mengapa dulu aku menolak gagasan untuk menyimpan senjata di rumahku? Aku bergegas ke meja rias dan meraba-raba mencari kerang yang kubawa pulang dari Outer Banks. Kerang itu tidak bisa digunakan untuk membunuh, tetapi ujungnya bisa menembus kulit dan daging manusia. Sambil mengarahkan ujungnya yang tajam ke depan, kugenggam kerang itu dan kutekan jempolku di bagian luarnya. Sambil menahan napas, aku merayap mendekati pintu, tanganku yang bebas meraba dinding seakan sedang mencari titik-titik huruf Braille. Meja rias. Pegangan pintu. Lorong. Di puncak tangga, aku terpaku dan mengintip ke bawah ke kegelapan ruang duduk. Darah berdentum di telingaku saat aku menggenggam kerang itu dan menajamkan pendengaran. Tidak ada suara

http://inzomnia.wapka.mobi

dari bawah. Kalau ada seseorang di bawah sana, aku seharusnya tetap di atas. Telepon. Kalau ada kebakaran di bawah, aku harus segera keluar. Kutarik napas dan kuletakkan salah satu kaki di undakan tangga, menunggu. Kemudian, undakan kedua. Ketiga. Lutut ditekuk, kerang dipegang setinggi dada, dan aku merayap menuju lantai bawah. Bau sangit itu semakin keras. Asap. Bensin. Dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang sudah akrab dengan indra penciumanku. Di undakan terbawah aku berhenti, pikiranku membayangkan kejadian yang terjadi di Montreal kurang dari setahun yang lalu. Saat itu dia, si pembunuh, sudah berada di dalam rumah, menunggu untuk menyerang. Ini tidak mungkin terjadi lagi! Telepon 911! Keluar! Kukelilingi sandaran tangga dan menatap ke ruangan makan. Gelap gulita. Aku segera mengundurkan diri ke kamar tamu. Gelap, tapi anehnya sedikit berubah. Ujung ruangan terlihat berwarna perunggu di tengah-tengah kegelapan. Perapian, kursi Queen Anne, semua perabotan dan lukisan tampak berkilauan dengan lembut, seperti barang yang terlihat dalam fatamorgana. Melalui pintu dapur, aku bisa melihat cahaya Jingga menarinari di depan lemari es.

http://inzomnia.wapka.mobi

Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee! Dadaku terasa menegang saat keheningan dipecahkan oleh suara melengking tinggi. Tubuhku meregang dan kerang itu menghantam dinding. Dengan gemetar, kutem-pelkan punggungku ke dinding. Suara itu berasal dari alat pendeteksi kebakaran! Kuamati apakah ada gerakan di dalam ruangan. Tidak ada apa-apa, kecuali kegelapan dan kerlapkerlip cahaya yang mencekam. Rumah sedang terbakar. Cepat lari! Jantungku berdentam-dentum, napasku terengah-tengah, aku berlari menuju dapur. Api membara di tengah ruangan, memenuhi udara dengan asap dan api terlihat dipantulkan oleh setiap permukaan yang berkilau. Tanganku yang gemetaran menemukan tombol lampu dan aku menyalakannya. Mataku mencari-cari ke kiri dan ke kanan. Lidah-lidah api tampak di tengah ruangan. Api belum menyebar. Kuletakkan kerang itu dan, sambil mengangkat ujung gaun tidurku menutupi mulut dan hidung, aku membungkuk dan bergerak ke lemari makanan. Kutarik alat pemadam kebakaran kecil dari bagian atas lemari. Paru-paruku menghirup asap dan air mata mengaburkan pandanganku, tetapi aku mampu memencet pegangannya. Alat itu hanya berdesis.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sialan! Sambil terbatuk-batuk dan tercekik, aku memencetnya kembali. Desisan kembali, kemudian karbon dioksida dan serbuk putih menyembur dari moncongnya. yes! Kuarahkan moncongnya ke api dan dalam waktu kurang dari satu menit api sudah padam. Alarm masih menjerit-jerit, suaranya seperti kepingan logam yang menusuk-nusuk telinga dan menembus otakku. Kubuka pintu belakang dan jendela di atas tempat cuci piring, kemudian mendekati meja. Aku tidak perlu repot-repot membuka jendela di atas meja. Kusennya tampak rusak dan pecahan kaca serta serpihan kayu tampak memenuhi lantai. Embusan angin meniup gorden, menarik dan meniupnya dari lubang jendela. Sambil memutari pecahan kaca di lantai, kunyalakan kipas di langit-langit, meraih sebuah handuk dan mengusir asap dari dalam ruangan. Pelanpelan ruangan mulai terlihat jelas kembali. Kuseka mataku dan berusaha mengendalikan napas. Terus kipaskan handuk! Alarm masih terus berbunyi.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku berhenti mengipaskan handuk dan melihat ke sekeliling ruangan. Sebuah balok kayu tergeletak di bawah meja, lainnya terlihat di dekat lemari di bawah tempat cuci. Di antaranya tampak gumpalan kain hangus yang menjadi sumber api itu. Ruangan sekarang dipenuhi bau asap dan bensin. Dan bau lainnya yang kukenal. Dengan kaki gemetaran, aku melangkah menuju gundukan barang yang masih membara itu. Kutatap, tidak sepenuhnya mengerti, saat alarm berhenti berbunyi. Keheningan itu sepertinya tidak alami. Hubungi 911. Tidak perlu. Saat meraih telepon, di kejauhan kudengar suara sirine. Suaranya terdengar semakin nyaring, sangat nyaring, kemudian berhenti. Dalam beberapa saat, seorang petugas pemadam kebakaran muncul di pintu belakangku. "Anda baik-baik saja, Nyonya?" Aku mengangguk dan melipat tangan di depan dada, menyadari pakaianku yang belum lengkap. "Tetangga Anda menelepon." Tali topi di dagunya mengayun. "Oh." Aku lupa gaun tidurku. Aku seakan-akan kembali ke St-Jovite.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Semuanya sudah bisa dikendalikan?" Aku mengangguk kembali. St.-Jovite. Hampir seperti sebuah rangsangan saraf. "Anda keberatan kalau aku memastikannya?" Aku melangkah mundur. Dia menyimpulkan dalam satu pandangan saja. "Gurauan yang cukup kejam. Anda tahu siapa kira-kira yang melemparkan ini menembus jendela rumah?" Aku menggelengkan kepala. "Sepertinya kaca jendela dipecahkan dengan balok kayu itu, kemudian barang ini dilemparkan ke dalam." Dia berjalan menuju timbunan yang membara itu. "Mereka pasti sudah merendamnya dalam bensin, menyulutnya, kemudian melemparkannya ke dalam." Aku mendengar kata-katanya, tetapi tidak mampu mengeluarkan jawaban. Tubuhku telah terkunci saat pikiranku berusaha mengeluarkan keinginan yang tertidur lelap di dalam otakku. Petugas pemadam kebakaran itu mengeluarkan sekop dari ikat pinggangnya, membuka ujungnya, dan menohok gundukan di lantai dapurku itu. Percikan api melayang ke atas, kemudian bergabung kembali dengan gundukan hitam di bawahnya. Dia menyelipkan sekop di bawah gundukan itu, membalikkannya, dan membungkuk.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kelihatannya seperti kain bekas. Mungkin kantong benih. Aku tidak tahu apa isinya." Dikeriknya barang itu dengan sekopnya dan partikel bara api meloncatloncat. Dia menusuk semakin keras dan menggulingkan barang itu. Baunya semakin tajam. St-Jovite. Ruangan autopsy tiga. Kenangan itu memecah kepala dan aku langsung merasa kedinginan. Dengan tangan gemetaran, kubuka laci dan mengeluarkan sebuah gunting. Tanpa memedulikan gaun tidurku, aku jongkok dan memotong gundukan kain itu. Tubuhnya tampak kecil, punggungnya melenting, kakinya mengerut karena panas api tersebut. Kulihat sebuah mata yang mengisut, rahang kecil dengan gigi-gigi yang hitam. Karena telah menduga akan ada kengerian dalam kantong itu, aku merasa ingin pingsan. Jangan! Aduuuh, jangan! Aku membungkuk, pikiranku terbangun oleh bau daging dan rambut yang terbakar. Di antara kedua kakinya, kulihat ekor yang melingkar dan sudah menghitam, tulang belakangnya menembus keluar seperti tanduk.

http://inzomnia.wapka.mobi

Air mata mengalir deras di pipi saat aku memotong kantong itu. Di dekat simpul ikatan kulihat bulu, yang sekarang sudah terbakar, tetapi di beberapa tempat tampak berwarna putih. Mangkuk yang setengah terisi. "Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!" Aku mendengar teriakan itu, tetapi aku tidak merasa teriakan itu berasal dari mulutku. "Tidak! Tidak! Tidak! Birdie! Jangan Tuhan, oh tidak!" Aku merasakan sentuhan tangan di bahuku, kemudian di lenganku, meraih gunting itu, pelan-pelan mengangkatku untuk bangkit berdiri. Terdengar suara-suara. Kemudian, aku sudah berada di ruang tamu, dengan selimut membungkus tubuh. Aku sedang menangis, gemetaran, tubuhku terasa sakit. Aku tidak tahu berapa lama aku menangis saat mendongak dan melihat tetanggaku. Dia menunjuk secangkir teh. "Apa itu?" Dadaku kembang kempis. "Pepermin." "Terima kasih." Kureguk cairan yang hangat-hangat kuku itu. "Jam berapa sekarang?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jam dua lewat sedikit." Wanita tetanggaku itu memakai sandal rumah dan jas hujan yang tidak menutupi gaun fl anelnya. Walaupun kami sering melambaikan tangan dari pekarangan kami, atau bertukar sapa di jalan, aku tidak begitu mengenalnya. "Maaf karena Anda harus bangun di tengah malam-" "Tidak apa-apa, Dr. Brennan. Kita 'kan bertetangga. Aku tahu Anda pasti akan melakukan hal yang sama kalau hal ini terjadi padaku." Kuhirup kembali teh itu. Tanganku terasa beku, tetapi sekarang sudah tidak gemetaran dengan hebat lagi. "Para petugas pemadam kebakaran masih ada di sini?" "Mereka sudah pergi. Mereka bilang Anda bisa melaporkan semuanya kalau sudah merasa baikan." "Apa mereka membawa-" Suaraku memecah dan air mata mengancam untuk menyembur keluar kembali "Ya. Apa aku bisa mengambilkan sesuatu untuk Anda?" "Tidak, terima kasih. Aku tidak apa-apa. Anda sudah sangat membantu." "Aku ikut prihatin karena rumah Anda jadi berantakan begini. Kami sudah memasang papan di depan jendela. Memang tidak elegan, tapi setidaknya bisa mencegah angin masuk ke dalam rumah."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Terima kasih banyak. Aku-" "Sekarang tidur saja dulu. Mungkin semuanya akan terasa lebih baik di pagi hari nanti." Aku memikirkan Birdie dan enggan menyambut pagi. Dalam keputusasaan, kuraih telepon dan menghubungi nomor telepon Pete. Tidak ada jawaban. "Anda akan baik-baik saja? Perlu dibantu naik ke atas?" "Tidak. Terima kasih. Aku akan baik-baik saja." Saat dia sudah pergi, aku merangkak ke tempat tidur dan menangis tersedu-sedu cukup lama sampai jatuh tertidur. Aku terbangun dengan perasaan ada sesuatu yang salah. Berubah. Banyak yang berubah. Kemudian, sepenuhnya sadar dan kenangan masuk ke dalam kepalaku. Aku terbangun di pagi musim semi yang hangat. Melalui jendela, aku bisa melihat langit biru, cahaya matahari, dan mencium bau parfum yang disemprotkan bunga yang baru bermekaran. Tetapi, kecantikan hari itu tidak bisa mengusir rasa pilu di hatiku. Saat menghubungi kantor pemadam kebakaran, aku di-beritahu bahwa bukti fi sik itu telah dikirimkan ke lab polisi. Dengan perasaan kelam, aku

http://inzomnia.wapka.mobi

melalui pagi itu dengan tidak bersemangat. Aku memakai baju, mengenakan riasan, menyisir rambut, dan mengemudikan mobil menuju kota. Isi kantong itu hanya kucingku. Tidak ada kalung. Tidak ada tanda pengenal lainnya. Sebuah pesan yang ditulis tangan ditemukan di salah satu balok kayu. Aku membacanya melalui kantong bukti dari plastik. Kali berikutnya bukan kucing lagi. "Sekarang bagaimana?" tanyaku kepada Ron Gillman, direktur lab polisi. Dia seorang lelaki jangkung berwajah tampan dengan rambut abu-abu dan gigi depan yang bolong. "Kami sudah memeriksa sidik jari. Tidak ada satu pun pada pesan maupun balok kayu itu. Tim penyelidikan akan ke tempatmu, tapi kamu juga tahu bahwa mereka pasti tidak akan menemukan apa-apa. Jendela dapurmu sangat dekat ke jalan sehingga orang ini mungkin bisa mengendarai mobilnya, mendekat, mengangkat tas itu, kemudian melemparkan semuanya dari trotoar. Kami akan mencari jejak kaki dan menanyai orangorang, tapi tentu saja pada jam setengah satu malam kemungkinan besar tidak ada seorang pun yang masih terbangun di lingkungan rumahmu."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sayangnya, aku tidak tinggal di Wilkinson Boulevard yang ramai." "Kamu sudah cukup menghadapi masalah seperti ini di mana pun tempat tinggalmu." Aku dan Ron telah bekerja sama bertahun-tahun. Dia tahu tentang pembunuh berantai yang pernah masuk ke apartemenku di Montreal. "Aku akan menyuruh tim penyelidikan ke dapurmu, tapi karena orang ini tidak masuk ke dalam rumah, sepertinya tidak akan ada jejak sedikit pun. Kamu tidak menyentuh apa-apa 'kan?" "Tidak." Aku belum masuk kembali ke dapur sejak malam itu. Aku belum sanggup melihat mangkuk makanan Birdie. "Apa kamu sedang mengerjakan sesuatu yang bisa membuat orang lain marah?" Kuceritakan pembunuhan di Quebec dan dua mayat yang kutemukan di Pulau Murtry. "Menurutmu, bagaimana mereka bisa mendapatkan kucingmu?" "Dia mungkin lari keluar saat Pete sedang memberinya makan. Dia sering melakukan itu." Hatiku terasa sakit kembali. Jangan menangis. Jangan sampai menangis. "Atau ..."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya?" "Yah, sebenarnya aku tidak yakin. Minggu sebelumnya aku menyangka mungkin ada orang yang menerobos masuk ke dalam kantorku di kampus. Yah, sebenarnya tidak persis seperti itu. Aku mungkin telah membiarkan pintu tidak terkunci." "Seorang mahasiswa?" "Entahlah." Kuceritakan kejadian itu. "Kunci rumahku masih ada di dalam tasku, tapi mungkin dia sempat menggandakannya." "Kamu sepertinya sedikit kebingungan." "Sedikit. Tapi, aku baik-baik saja." Untuk sejenak dia tidak berkata apa-apa. Kemudian, "Tempe, kalau menyimak penjelasanmu, aku menduga ini ulah mahasiswa yang memendam dendam kepadamu." Dia menggaruk hidungnya. "Tapi, ini mungkin lebih dari pada sekadar gurauan belaka. Hati-hati. Mungkin sebaiknya kau kabari juga Pete."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku tidak mau melakukannya. Dia pasti merasa berkewajiban untuk mengurusku dan dia tidak punya waktu untuk hal itu. Lagi pula, dia tidak pernah punya waktu sejak dulu." Setelah kami selesai bercakap-cakap, kuberikan kunci Annex kepada Ron, menandatangani laporan, dan pergi meninggalkannya. Walaupun lalu lintas tidak begitu padat, perjalanan menuju UNCC sepertinya lebih lama dari biasanya. Kepalan tinju yang beku mencengkeram isi perutku dan menolak untuk melepaskannya. Sepanjang hari perasaan itu masih terasa. Selama melakukan tugasku satu demi satu, aku selalu diganggu oleh bayangan kucingku yang terbunuh itu. Birdie yang mungil sedang berdiri, kaki depannya melambai-lambai seperti bayi burung. Birdie, berbaring di bawah sofa. Menggaruk sekeliling pergelangan kakiku. Menatapku manja minta diberi remah-remah sereal. Kepedihan yang menghantuiku selama beberapa minggu terakhir ini semakin menenggelamkanku ke dalam suasana pilu yang sulit kuhilangkan. Setelah jam kantor, kuseberangi kampus menuju gedung olahraga dan memakai sepatu olahragaku. Kupacu diriku sekeras mungkin, berharap kelelahan fi sik ini dapat menyingkirkan kesedihan dalam hati dan

http://inzomnia.wapka.mobi

ketegangan di sekujur tubuhku. Saat berlari mengelilingi lintasan, pikiranku melayang. Kata-kata Ron Gillman menggantikan bayangan binatang peliharaanku yang sudah mati. Membunuh binatang memang kejam, tetapi ini tindakan amatir. Apakah hanya seorang mahasiswa yang melampiaskan dendamnya? Atau kematian Birdie merupakan sebuah ancaman? Dari siapa? Apakah ada hubungannya dengan perampokan di Montreal? Dengan penyelidikan Murtry? Apakah aku telah terperosok ke dalam sesuatu yang lebih besar dari yang kuketahui? Aku berlari lebih kencang dan dengan berlalunya setiap putaran, ketegangan meleleh dari tubuhku. Setelah berlari sejauh enam kilometer, aku tergeletak di atas rerumputan. Dengan napas terengah-engah, kuamati pelangi kecil berkilauan di atas semprotan air dari pemancar air. Berhasil. Pikiranku kosong. Saat denyutan nadi dan napasku mulai teratur kembali, aku kembali ke ruangan ganti, dan memakai pakaian baru. Karena sudah merasa lebih baik, aku mendaki bukit menuju Colvard Building. Sensasi itu hanya terasa sebentar saja.

http://inzomnia.wapka.mobi

Lampu di pesawat teleponku berkerlap-kerlip. Kute-kan kode dan menunggu. Sialan! Aku kembali tidak sempat mengangkat telepon dari Kathryn. Seperti sebelumnya, dia tidak meninggalkan informasi apa pun, hanya pernyataan bahwa dia telah menghubungiku. Kuputar kembali pesan itu dan mendengarkan untuk yang kedua kalinya. Dia terdengar tergesa-gesa, kata-katanya tegang dan pendek. Kuputar pesan itu berulang kali, tetapi tidak bisa menangkap suara di latar belakangnya. Suara Kathryn terdengar bergumam, seakan berbicara dari ruangan kecil. Kubayangkan dirinya menutup gagang telepon, berbisik, dengan berhati-hati memeriksa keadaan di sekelilingnya. Apakah aku sudah paranoid? Apakah kejadian tadi malam telah membuat imajinasiku tidak terkendalikan lagi? Atau apakah Kathryn sedang berada dalam bahaya? Matahari bersinar menembus kerai, membentuk garis-garis cerah di mejaku. Di ujung lorong, sebuah pintu diempaskan. Pelan-pelan, sebuah ide terbentuk di kepalaku. Kuraih telepon.

http://inzomnia.wapka.mobi

22. "Terima kasih karena telah menyediakan waktu untuk-ku di hari sesore ini. Aku kaget juga waktu tahu kamu masih ada di kampus." "Apa menurutmu antropolog bekerja lebih keras dari pada sosiolog?" "Tidak pernah," ujarku sambil tertawa, menyandarkan tubuh ke kursi plastik yang dia tunjukkan "Red, aku ingin bermain-main dengan otakmu. Apa yang bisa kamu ceritakan tentang sekte setempat?" "Apa maksudmu dengan sekte?" Red Skyler duduk santai menyamping di belakang mejanya. Walaupun rambutnya sudah mulai beruban, janggut yang berwarna cokelat muda menjelaskan asal-usul julukannya. Dia memicingkan mata, memandangku dari balik bingkai kacamatanya yang terbuat dari baja. "Kelompok pinggiran. Sekte hari kiamat. Lingkaran pemuja setan." Dia tersenyum dan memberi tanda kepadaku untuk "meneruskan." "Keluarga Manson. Hare Krishna. MOVE. The People's Temple. Synanon. Kamu tahu 'kan. Sekte."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kamu menggunakan istilah yang sangat umum. Apa yang kamu sebut sebagai sekte mungkin dinilai orang lain sebagai agama. Atau keluarga. Atau partai politik." Aku teringat pada Daisy Jeanotte. Dia juga menentang penggunaan kata itu, tetapi hanya itu saja kemiripan di antara mereka. Waktu itu aku duduk di seberang wanita kecil dalam ruangan yang besar. Sekarang aku menghadapi seorang lelaki bertubuh besar di dalam ruangan yang kecil dan penuh sesak sehingga aku merasa pengap. "Oke. Jadi, apa yang dimaksud dengan sekte?" "Sekte bukan hanya sekelompok orang sinting yang mengikuti pemimpin yang aneh. Paling tidak itulah caraku menggunakan istilah itu, mereka adalah organisasi dengan beberapa aturan umum." "Oke." Kusandarkan tubuhku di kursi. "Sebuah sekte dibentuk di bawah kepemimpinan seorang individu yang karismatik, yang menjanjikan sesuatu. Individu ini memiliki pengetahuan khusus. Kadang-kadang, pernyataannya berhubungan dengan rahasia kuno, kadang-kadang sebuah penemuan baru yang hanya diketahui olehnya saja. Kadang-kadang, kombinasi antara keduanya. Pemimpin itu berbagi informasi itu dengan para pengikutnya. Ada pemimpin yang

http://inzomnia.wapka.mobi

menawarkan utopia. Atau jalan keluar. Pokok nya, ikuti aku. Aku akan membuat keputusan. Semuanya akan baik-baik saja." "Apa bedanya dengan seorang pendeta atau rabbi?" "Dalam sekte, sang pemimpin yang karismatik akhirnya menjadi sosok pujaan; dalam beberapa kasus, dia menjadi dewa. Dan saat itu terjadi, dia memegang kendali yang luar biasa atas kehidupan para pengikutnya." Dia melepaskan kacamatanya dan menggosok setiap lensa dengan kain hijau yang diraihnya dari dalam sakunya. Kemudian, dia mengenakannya kembali, meletakkan setiap gagang di belakang telinganya. "Sekte bersifat totaliter, otoriter. Pemimpinnya sangat berkuasa dan hanya sedikit mendelegasikan kekuasaannya. Moral pemimpin menjadi satu-satunya agama yang diterima. Satu-satunya perilaku yang diterima. Seperti yang kukatakan tadi, pemujaan dipusatkan pada dirinya, bukan pada makhluk yang lebih berkuasa atau prinsipprinsip abstrak." Aku menunggu. "Dan sering kali ada etika ganda. Anggota didorong untuk menjadi jujur dan saling mencintai antara sesamanya, tetapi menipu dan menutup diri dari dunia luar. Sebaliknya, agama lain yang sudah mantap cenderung mengikuti satu peraturan yang berlaku untuk semua orang."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bagaimana bisa seorang pemimpin mendapatkan kendali sebesar itu?" "Itu satu unsur penting lainnya. Reformasi pola pikir. Pemimpin sekte biasanya menggunakan proses psikologis untuk memanipulasi anggotanya. Ada pemimpin yang adil, tetapi ada juga yang tidak dan benar-benar mengeksploitasi idealisme para pengikutnya." Kembali aku menunggunya untuk meneruskan penjelasannya. "Menurutku, ada dua golongan utama sekte, dan keduanya menggunakan reformasi pola pikir. 'Program penyadaran' yang dibungkus secara komersial"-dia menyiratkan tanda kutip dengan tangannya-" menggunakan teknik bujukan yang sangat piawai. Kelompok ini mempertahankan anggotanya dengan membuat mereka mengikuti terus berbagai pelajaran." "Lalu, ada sekte yang menarik pengikutnya untuk mengikutinya seumur hidup. Kelompok ini menggunakan bujukan sosial dan psikologis untuk menghasilkan perubahan perilaku yang sangat ekstrem. Akibatnya, mereka memegang kendali yang sangat besar atas kehidupan para anggotanya. Mereka pintar memanipulasi, menipu, dan sangat pintar mengeksploitasi." Kucerna semua itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bagaimana cara kerja bisa mereformasi pola pikir?" "Kita memulainya dengan merontokkan penilaian seseorang atas dirinya sendiri. Aku yakin kamu sudah membahas ini dalam kelas antropologimu. Me misahkan. Memecah. Merekonstruksi." "Bidangku antropologi fi sik." "Benar. Sekte memutuskan hubungan para pengikutnya dengan pengaruh dunia luar, kemudian membuat mereka mempertanyakan semua yang mereka percayai. Membujuk mereka untuk menafsirkan dunia dan sejarah kehidupannya sendiri. Mereka menciptakan kenyataan yang baru untuk orang itu sehingga menciptakan ketergantungan pada organisasi dan ideologinya." Kupikirkan kembali pelajaran antropologi kebudayaan yang kuambil di sekolah pascasarjana. "Tapi, kita tidak berbicara tentang upacara penerimaan 'kan. Aku tahu bahwa dalam beberapa kebudayaan, anak-anak diisolasi selama kurun waktu tertentu dalam kehidupannya dan diharuskan mengikuti latihan, tetapi proses itu bermaksud untuk menguatkan berbagai pemikiran yang diajarkan kepada anak itu. Kamu tadi bicara tentang membuat orang

http://inzomnia.wapka.mobi

menolak nilai-nilai yang diajarkan kepada mereka, membuang semua yang telah mereka percayai. Bagaimana cara melakukan hal itu?" "Sekte mengendalikan waktu dan lingkungan pengikut barunya. Makanan. Tidur. Pekerjaan. Rekreasi. Uang. Semuanya. Sekte menciptakan ketergantungan, ketidakberdayaan bila terpisah dari kelompoknya. Saat melakukan semua itu, dia menanamkan moralitas baru, sistem logika yang diikuti kelompok itu. Dunia menurut pandangan pemimpinnya. Dan, biasanya merupakan sistem yang tertutup. Tidak boleh ada umpan balik. Tidak ada kritik. Tidak ada keluhan. Kelompok itu menekan kebiasaan dan perilaku lama dan, sedikit demi sedikit, menggan- tikannya dengan kebiasaan dan perilaku yang baru." "Kenapa ada saja orang yang mau mengikuti hal itu?" "Proses itu dilakukan secara perlahan sehingga orang ti- dak menyadari bahwa hal itu sedang terjadi pada dirinya. Mereka dibawa melalui serangkaian langkah kecil, semuanya sepertinya tidak penting. Anggota lain memanjangkan rambutnya. Kita ikutikutan memanjangkan rambut. Orang lain berbicara lembut, kita juga merendahkan suara. Semua orang mendengarkan pemimpinnya dengan tenang, tidak mengajukan

http://inzomnia.wapka.mobi

pertanyaan, dan kita pun melakukan hal yang sama. Ada perasaan diterima oleh kelompok. Anggota baru biasanya tidak menyadari agenda ganda yang sedang terjadi." "Apakah mereka akhirnya melihat apa yang sedang terjadi?" "Biasanya anggota baru didorong untuk memutuskan semua hubungan dengan teman dan keluarganya, memutuskan diri mereka dari lingkungan lamanya. Kadang-kadang, mereka dibawa ke tempat yang terasing. Pertanian. Komune. Padepokan. "Isolasi ini, baik fi sik maupun sosial, menanggalkan sistem dukungan yang normal dan meningkatkan ketidakberdayaan pribadi dan ketergantungan kepada penerimaan kelompok. Isolasi juga menghilangkan suara yang biasa kita gunakan untuk menilai apa yang kita hadapi. Rasa percaya diri orang akan penilaiannya dan sudut pandangnya sendiri akan runtuh. Tindakan mandiri menjadi tidak mungkin dilakukan." Aku teringat pada Dom dan kelompoknya di Saint Helena.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku mengerti bagaimana sebuah sekte punya kendali bila kita tinggal di dalamnya dua puluh empat jam sehari, tetapi bagaimana kalau anggotanya bekerja di luar markasnya itu?" "Mudah saja. Anggota diberi instruksi untuk menggumam atau melakukan meditasi pada saat sedang tidak bekerja. Jam makan siang. Istirahat. Pikirannya dipenuhi dengan perilaku yang diarahkan sekte. Dan di luar pekerjaan, semua waktu didedikasikan untuk organisasinya." "Tapi, apa daya tariknya? Apa yang mendorong seseorang mau melupakan masa lalunya dan mengabdikan dirinya kepada sebuah sekte?" Aku tidak bisa memahaminya. Apakah Kathryn dan yang lainnya berubah menjadi robot yang setiap gerakannya dikendalikan pemimpinnya? "Ada sistem imbalan dan hukuman. Kalau anggota itu berperilaku, berbicara, dan berpikir seperti yang seharusnya, dia akan dicintai oleh pemimpinnya dan anggota yang lain. Dan tentu saja dia akan terselamatkan. Diberi berkah. Dibawa ke dunia lain. Apa pun yang dijanjikan ideologi itu." "Apa yang mereka janjikan?" "Apa saja. Tidak semua sekte berhaluan agama. Masyarakat memiliki pandangan itu karena di tahun enam puluh dan tujuh puluhan banyak

http://inzomnia.wapka.mobi

kelompok yang mendaftarkan diri sebagai gereja untuk menghindari pajak. Sekte memiliki banyak bentuk dan ukuran dan menjanjikan berbagai hal. Kesehatan. Menggulingkan pemerintahan. Perjalanan ke luar angkasa. Keabadian." "Aku masih tidak mengerti kenapa ada orang, kecuali kalau dia sudah gila, yang mau tertipu oleh sampah seperti itu?" "Bukan begitu." Dia menggelengkan kepalanya. "Bukan hanya orang yang terpinggirkan yang terjebak olehnya. Menurut beberapa penelitian, sekitar dua pertiga responden berasal dari keluarga normal dan menunjukkan perilaku yang sesuai dengan umurnya saat mereka masuk ke dalam sebuah sekte." Kutatap karpet Navajo kecil di bawah kakiku. Rasa penasaranku muncul kembali. Apakah itu? Mengapa aku tidak bisa memunculkannya ke permukaan? "Apakah penelitianmu telah menjawab kenapa orang mencari kelompok semacam ini?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sering kali mereka tidak mencarinya. Kelompok itulah yang mencari mereka. Dan seperti yang kukatakan, para pemimpin ini bisa menjadi sangat memesona dan pintar membujuk." Dom Owens cocok sekali. Siapakah dia sebenarnya? Sosok ideolog yang memaksakan agenda pada pengikutnya yang mudah ditundukkan? Atau hanya seorang tabib yang mencoba menumbuhkan kacang polong organik? Kembali aku memikirkan Daisy Jeannotte. Apakah dia benar? Apakah masyarakat terlalu ketakutan pada pemuja Setan dan nabi yang meramalkan hari kiamat? "Berapa banyak sekte yang ada di Amerika ini?" tanyaku. "Tergantung pada definisimu"-dia tersenyum masam dan merentangkan tangannya-"antara tiga sampai lima ribu kelompok." "Kamu bergurau 'kan?" "Salah seorang rekanku memperkirakan bahwa dalam dua puluh tahun ini sebanyak dua juta orang pernah terlibat dalam suatu sekte. Dia yakin bahwa pada kurun waktu tertentu, anggotanya bisa mencapai dua sampai lima juta orang."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kamu sependapat dengannya?" Aku benar-benar tercengang. "Sungguh sulit untuk diketahui. Ada kelompok yang menggelembungkan jumlah anggotanya dengan menghitung setiap orang yang pernah menghadiri pertemuan atau meminta informasi tentang mereka. Kelompok lainnya benar-benar merahasiakan anggotanya dan berusaha untuk tidak diketahui orang lain. Polisi menemukan beberapa kelompok secara tidak sengaja, bila ada masalah, atau bila seorang anggota keluar dan mengajukan keluhan. Kelompok yang kecil biasanya sulit diketahui keberadaannya." "pernah mendengar tentang Dom Owens?" Dia menggelengkan kepalanya. "Apa nama kelompoknya?" "Mereka tidak punya nama." Di ujung lorong terdengar suara printer berbunyi. "Apakah ada organisasi di Carolina yang sedang diawasi polisi?" "Bukan tugasku, Tempe. Aku seorang sosiolog. Aku bisa mengatakan cara kerja berbagai kelompok ini, tapi tidak tahu siapa yang terlibat dalam kelompok semacam ini. Aku bisa mencoba mencarikan informasi bila memang penting." "Aku hanya tidak bisa memahaminya, Red. Bagai mana ?rang bisa mudah tertipu seperti itu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sungguh menyenangkan di kala mengetahui bahwa kita berada dalam kelompok elit. Terpilih. Kebanyakan sekte mengajarkan kepada anggotanya bahwa mereka adalah orang-orang yang terpilih dan memiliki kelebihan dari orang lain. Ini benar-benar hal yang sangat hebat." "Red, apakah kelompok-kelompok ini ganas?" "Kebanyakan tidak, tapi ada beberapa pengecualian. Ada Jonestown, Waco, Heaven's Gate, dan the Solar Temple. Dan ternyata anggotanya juga jahat. Ingat sekte Rajneesh? Mereka berusaha meracuni persediaan air di beberapa kota di Oregon dan membuat gerakan yang mengancam polisi di kota itu. Dan Synanon? Orang-orang baik itu meletakkan seekor ular di dalam kotak pos seorang pengacara yang menuntut mereka. Pengacara itu hampir tidak terselamatkan nyawanya." Aku samar-samar teringat kejadian itu. "Bagaimana dengan kelompok yang kecil, kelompok yang tidak begitu dikenal?" "Kebanyakan tidak berbahaya, tapi beberapa di antaranya cukup cerdas dan berpotensi untuk berbahaya. Menurutku hanya beberapa saja yang sudah melewati batas. Apa ini berhubungan dengan sebuah kasusmu?" "Ya. Tidak. Aku tidak yakin." Kucabut serpihan kuku di jempolku.

http://inzomnia.wapka.mobi

Dia sedikit ragu. "Apakah Katy?" "Apa?" "Apakah Katy terlibat dengan ..." "Oh, tidak, bukan seperti itu. Sungguh. Ini berhubungan dengan sebuah kasus. Aku mengenal sebuah komune di Beaufort dan mereka membuatku berpikir." Pangkal kukuku mulai berdarah. "Dom Owens." Aku mengangguk. "Apa yang terlihat sering kali tidak mencerminkan yang sebenarnya." "Tidak." "Aku bisa menghubungi beberapa orang kalau kau menginginkannya." "Aku akan sangat menghargai itu." "Kamu perlu Band-Aid?" Kuturunkan tanganku dan berdiri. "Tidak, terima kasih. Aku tidak mau mengganggumu lebih lama lagi. Penjelasanmu sudah sangat membantu." "Kalau masih ada pertanyaan lagi, datang lagi saja ke tempatku."

http://inzomnia.wapka.mobi

Kembali di kantorku, aku duduk dan mengamati bayang-pikiran yang masih samar terus mengganggu benakku. Gedung ini dilanda kesunyian seusai jam kerja. Apakah Daisy Jeannotte? Aku lupa menanyakan kepada Red apakah dia mengenalnya. Apakah itu jawabannya? Tidak. Apakah yang terus memanggilku dari labirin otakku? Mengapa aku tidak bisa menariknya ke permukaan? Hubungan apa yang dilihat alam bawah sadarku yang tidak bisa kulihat sampai saat ini? Mataku menatap koleksi buku misteri yang kusimpan di kampus untuk dipertukarkan dengan rekan- rekan kerjaku. Apa nama teknik yang disebut oleh para penulis ini? Teknik "Coba-Aku-Tahu-Sebelumnya." Itukah? Apakah tragedi sedang terbentuk karena pesan alam bawah sadar itu tidak mampu kutarik ke permukaan? Tragedi apa? Pembunuhan lainnya di Quebec? Lebih banyak pembunuhan di Beaufort? Kathryn mengalami kecelakaan? Serangan lainnya terhadap diriku, dengan akibat yang lebih serius? Entah di mana telepon berdering, kemudian berhenti tiba-tiba saat alat penerima telepon menyala. Hening.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku mencoba menghubungi Pete kembali. Tidak ada jawaban. Mungkin, dia sedang bepergian untuk menghubungi seorang saksi lagi. Tidak ada bedanya. Aku tahu bahwa Birdie tidak ada bersamanya. Aku bangkit dan mulai membereskan dokumen, mencari-cari di sela-sela tumpukan kertas, kemudian beralih merapikan rak. Aku sadar bahwa aku sedang menghindarinya, tetapi tidak mampu mengendalikan diri. Pemikiran pulang ke rumah tidak tertahankan lagi. Sepuluh menit melakukan kegiatan yang tidak ada gunanya. Jangan berpikir. Kemudian, "Oh, Birdie!" Kubanting buku Baboon Ecology ke meja dan mendaratkan tubuhku di kursiku. "Kenapa kamu harus ada di sana? Aku menyesal. Aku sungguh, sungguh menyesal, Bird." Kutelungkupkan kepalaku di atas pengering tinta dan menangis sejadijadinya. 23.

http://inzomnia.wapka.mobi

Pada awalnya hari Kamis terasa menyenangkan. Pada pagi hari, aku mendapatkan dua kejutan kecil. Panggilan telepon ke pihak asuransi berlangsung lancar. Kedua tukang bangunan yang kuhubungi tersedia dan bisa langsung bekerja. Sepanjang hari itu aku memberikan beberapa mata kuliah dan mengubah makalah CAT scan untuk konferensi antropologi fisik. Di sore harinya, Ron Gillman melaporkan bahwa unit Crime Scene Recovery tidak menemukan sesuatu yang berguna dalam sisasisa kebakaran di lantai dapurku. Tidak mengherankan. Dia meminta patroli untuk mengawasi rumahku. Aku juga mendapat kabar dari Sam. Tidak ada berita baru, tetapi menjadi semakin yakin bahwa kedua mayat itu dikuburkan di pulaunya oleh gembong narkoba. Dia menganggapnya sebagai tantangan pribadi dan mengeluarkan lagi senapan dua belas peluru dari simpanannya dan meletakkannya di bawah bangku di stasiun lapangan. Dalam perjalanan pulang dari universitas, aku berhenti di toko Harris Teeter di seberang Pusat Pertokoan South-park dan membeli semua makanan yang paling kusukai. Aku berolahraga di Harris YMCA dan tiba di Annex pukul setengah tujuh. Jendela sudah diperbaiki dan seorang tukang sedang menyelesaikan pekerjaan di lantai dapur. Setiap jengkal

http://inzomnia.wapka.mobi

permukaan dapur dilapisi debu putih halus. Kubersihkan tungku dan meja, kemudian membuat lumpia dan salad keju kambing, lalu menyantapnya sambil menonton ulangan serial "Murphy Brown". Murphy memang tangguh. Aku memutuskan untuk bisa menjadi lebih mirip dengannya. Di malam itu kuperbaiki lagi makalah CAT scan itu, menonton pertandingan basket Hornets, dan memikirkan laporan pajak. Aku juga berniat untuk mengerjakannya. Tetapi, tidak minggu ini. Pada pukul sebelas, aku jatuh tertidur ditemani fotokopian buku Louis-Philippe di tempat tidur. Hari Jumat seakan-akan sudah diatur oleh Setan. Saat itulah aku mendapatkan petunjuk pertama tentang kengerian yang akan terungkap sebentar lagi. Korban Murtry tiba dari Charleston di pagi buta. Pada pukul setengah sepuluh kupakai sarung tangan, kacamata pelindung, dan kasus itu dihamparkan di labku. Salah satu meja berisi tengkorak dan contoh tulang yang telah dipisahkan oleh Hardaway selama autopsinya pada mayat yang di bawah. Tampak tulang-belulang yang lengkap di meja satunya. Para

http://inzomnia.wapka.mobi

teknisi di bagian medis telah melakukan pekerjaan yang sangat baik. Semua tulang itu tampak bersih dan tidak rusak. Aku memulainya dengan tubuh dari bagian bawah kuburan. Walaupun sudah memutih, tulang-belulang itu masih mengandung jaringan otot sehingga bisa dilakukan autopsi penuh. Jenis kelamin dan ras sudah sangat jelas sehingga Hardaway hanya minta bantuanku untuk menentukan usianya saja. Ku kesampingkan dulu laporan ahli patologi dan foto-foto karena aku tidak mau mengaburkan kesimpulanku karena sudah mengetahui terlebih dahulu informasinya dari laporan tersebut. Kuletakkan potret sinar-X ke kotak cahaya. Tidak ada yang aneh. Dalam sinar-X bagian rahang tampak ketiga puluh dua gigi telah tumbuh, akarnya masih terlihat sempurna. Tidak ada perbaikan atau hilangnya gigi. Kucatat dalam lembaran formulir kasus. Aku berjalan ke meja pertama dan memeriksa tengkorak itu. Celah di dasar tengkorak terlihat sudah menyatu. Ini bukan mayat anak remaja. Kupelajari tulang rusuk dan permukaan bagian depan selangkangan, pubic symphyses. Tulang rusuknya memiliki lekukan yang dalam tempat terhubungkannya otot ke tulang dada. Gerigis yang bergelombang tampak

http://inzomnia.wapka.mobi

di permukaan pubic symphyseal, dan bisa kulihat tonjolan tulang kecil di sepanjang sisi luar tulangnya. Ujung setiap tulang belikat tampak menyatu. Bagian atas setiap bilah tulang paha terlihat sedikit terpisah. Kuperiksa model dan histogram, dan menuliskan perkiraanku. Wanita ini berusia sekitar dua puluh sampai dua puluh delapan tahun saat tewas. Hardaway menginginkan analisis lengkap pada mayat di bagian atas. Kembali aku memulainya dengan foto sinar-X. Kembali semuanya terlihat biasa saja, kecuali gigi-geligi yang sempurna. Aku sudah menduga korban ini juga wanita, seperti yang telah kukatakan kepada Ryan. Saat kuhamparkan tulang-belulang itu, tampak tengkorak yang masih mulus dan bentuk wajah yang halus. Pinggul yang lebar dan pendek dengan daerah kemaluan yang feminin mendukung penilaian pertamaku. Indikator usia wanita itu mirip dengan korban pertama, walaupun pubic symphases menunjukkan gerigis yang dalam di sepanjang permukaannya dan tidak terlihatnya tonjolan sedikit pun.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku memperkirakan usia korban ini sedikit lebih muda saat tewas, mungkin akhir masa remajanya atau awal dua puluh tahun. Untuk asal-usul keturunan, aku kembali memeriksa tengkorak. Bagian tengah wajahnya tampak klasik, terutama bagian hidungnya: tulang penghubung yang tinggi antara kedua mata, pembukaan yang sempit, bagian bawah dan tulang belakang yang sangat jelas. Kuukur bagian yang akan kuanalisis secara statistik, tetapi aku sudah tahu wanita itu berkulit putih. Lalu, kuukur tulang-tulang yang panjang, memasukkan data ke komputer, dan menjalankan persamaan regresi. Aku sedang memasukkan perkiraan tinggi tubuh ke dalam laporan saat telepon berdering. "Kalau aku harus tinggal di sini satu hari lagi saja, aku pasti akan membutuhkan pelatihan tata bahasa yang lengkap," ujar Ryan, kemudian menambahkan, "y'all." "Naik bis saja ke utara." "Kupikir tadinya hanya caramu berbicara yang aneh, tapi sekarang aku baru tahu bahwa hal itu bukan salahmu sepenuhnya." "Memang sulit menghilangkan masa kecil kita." "Yo."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ada hal baru di sana?" "Aku melihat stiker bemper yang bagus pagi ini." Aku menunggu. "Yesus mencintaimu. Orang lain menganggap dirimu berengsek." "Itukah sebabnya kamu meneleponku?" "Itu tulisan di stiker bempernya." "Kami 'kan orang-orang yang taat beragama." Aku menoleh ke jam. Jam dua lewat lima belas. Aku baru menyadari bahwa perutku sangat keroncongan, kemudian kuraih pisang dan Moon Pie yang kubawa dari rumah. "Aku menghabiskan waktu lama untuk mengamati sekte Dom. Tidak ada gunanya. Hari Kamis pagi, tiga orang pengikutnya masuk ke dalam van dan pergi. Selain itu, aku tidak melihat orang lain yang masuk atau keluar." "Kathryn?" "Tidak melihatnya." "Kamu sudah memeriksa nomor pelat mobilnya?" "Sudah, Nyonya. Kedua mobil itu didaftarkan atas nama Dom Owens di alamat Adler Lyons." "Dia punya SIM?" "Dikeluarkan oleh Palmetto State tahun 1988. Tidak ada catatan tentang SIM sebelumnya. Rupanya pendeta itu hanya datang dan mengikuti

http://inzomnia.wapka.mobi

ujiannya. Dia membayar asuransinya tepat waktu. Tidak ada catatan klaim. Tidak ada catatan pelanggaran lalu lintas atau tilang." "Listrik dan air?" Aku mencoba untuk tidak meremas kertas selofan itu. "Telepon, listrik, dan air. Owens membayarnya tunai." "Dia punya nomor Social Security?" "Dikeluarkan tahun 1987. Tapi, tidak ada catatan kegiatan apa pun. Tidak pernah membayar apa pun, tidak pernah meminta tunjangan apa pun." "Delapan puluh tujuh? Di mana dia sebelumnya?" "Pengamatan yang cermat, Dr. Brennan." "Surat?" "Orang-orang ini bukan orang yang sering melakukan surat-menyurat. Mereka menerima surat yang dialamatkan kepada 'Penghuni Rumah', dan tentu saja tagihan listrik, tapi hanya itu saja. Owens tidak punya kotak surat, tapi bisa saja dibuat dengan menggunakan nama lain. Aku mengintai kantor pos untuk beberapa waktu lamanya, tapi tidak melihat ada pengikut yang masuk ke kantor pos itu." Seorang mahasiswa muncul di pintu kantorku dan aku menggelengkan kepala.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bagaimana dengan sidik jari di gantungan kuncimu?" "Tiga sidik jari yang jelas, tapi tidak ada yang berguna. Rupanya Dom Owens ini anak manis." Keheningan berlalu di antara kami. "Ada anak-anak yang tinggal di padepokan itu. Bagaimana dengan Social Services?" "Ternyata kamu tahu juga hal-hal seperti itu, Brennan." "Aku 'kan sering menonton televisi." "Aku sudah menanyakannya ke Social Services. Seorang tetangga pernah menelepon sekitar satu setengah tahun yang lalu, mengkhawatirkan anakanak itu. Nyonya Joseph Espinoza. Jadi, mereka mengirimkan seorang petugas untuk menyelidikinya. Aku membaca laporannya. Dia menemukan rumah yang bersih dan anak-anak diberi makan yang baik dan tampak riang, tidak ada seorang pun yang sudah cukup umur untuk masuk sekolah. Dia tidak melihat adanya alasan untuk melakukan tindakan, tapi merekomendasikan kunjungan berikutnya dalam waktu enam bulan kemudian. Hal itu tidak dilakukan." "Kamu sempat bicara dengan tetangga itu?" "Sudah meninggal."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bagaimana dengan properti itu?" "Ada satu hal yang menarik." Beberapa detik berlalu. "Ya?" "Sepanjang Rabu sore aku meneliti akta kepemilikan rumah dan catatan pajak." Dia kembali terdiam. "Kamu mencoba untuk membuatku kesal?" hardikku. "Tanah itu punya sejarah yang cukup menarik. Kamu tahu bahwa ada sebuah sekolah di sana sejak awal 1860-an sampai akhir abad itu? Salah satu dari sekolah swasta di Amerika Utara yang didirikan khusus untuk murid berkulit hitam." "Aku tidak tahu itu." Kubuka sekaleng Diet Coke. "Dan Baker memang benar. Properti itu digunakan sebagai tempat pemancingan sejak tahun tiga puluhan sampai pertengahan tujuh puluhan. Saat pemiliknya meninggal, dia mewariskannya kepada keluarganya di Georgia. Kurasa mereka tidak menyenangi bisnis makanan laut. Atau mungkin sudah muak dengan pajak properti tersebut. Yang pasti, mereka akhirnya menjual tempat itu pada tahun 1988." Kali ini aku menunggunya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Pembelinya J.R. Guillion." Aku membutuhkan sepersekian detik untuk mengingat nama itu. "Jacques Guillion?" "Oui, madame." "Jacques Guillion yang sama?" ujarku cukup keras sehingga seorang mahasiswa di koridor berhenti untuk mengintipku. "Sepertinya begitu. Pajak itu dibayarkan ..." "Dengan cek dinas dari Citicorp di New York." "Betul sekali." "Wah, sialan." "Tepat sekali." Aku benar-benar kebingungan dengan informasi itu. Pemilik Adler Lyons ternyata juga pemilik rumah yang terbakar di St-Jovite. "Kamu sudah bicara dengan Guillion?" "Monsieur Guillion masih berada dalam pengasingan." "Apa?" "Kami belum bisa menemukannya." "Luar biasa. Ternyata memang ada hubungannya." "Sepertinya sih begitu." Terdengar bel berdering.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ada satu hal lagi." Aula kini dipenuhi suara hiruk-pikuk mahasiswa yang berjalan menuju kelasnya masing-masing. "Karena penasaran, aku mengirimkan nama itu ke Texas. Aku tidak menemukan properti apa pun milik Pendeta Owens, tapi coba tebak siapa yang memiliki sebuah peternakan?" "Ya ampun!" "Monsieur J.R. Guillion. Dua acre di Fort Bend County. Membayar pajaknya ..." "Dengan cek dinas!" "Nantinya aku akan mengarah ke sana, tapi untuk saat ini aku akan membiarkan sheriff setempat yang menyelidikinya. Dan, polisi setempat bisa memunculkan Guillion. Aku mau tinggal di sini dulu beberapa hari ini dan meningkatkan penyelidikanku terhadap Owens." "Cari Kathryn. Dia menelepon ke sini, tapi aku sedang pergi, jadi luput lagi. Aku yakin dia tahu sesuatu." "Kalau dia ada di sini, aku pasti akan menemukannya." "Dia bisa saja dalam bahaya." "Apa yang membuatmu mengira begitu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku mempertimbangkan untuk menceritakan percakapanku tentang sekte baru-baru ini, tetapi karena baru tahu sedikit, aku tidak yakin apakah ada yang relevan dengan kasus ini. Bahkan, sekalipun Dom Owens ternyata memimpin sebuah sekte, dia bukanlah Jim Jones atau David Koresh yang mencelakakan para pengikutnya, aku yakin akan hal itu. "Entahlah. Hanya perasaan saja. Dia terdengar cukup tegang saat menelepon kemari." "Menurutku Nona Kathryn itu orang yang lugu." "Dia berbeda." "Dan temannya El sepertinya tidak bisa dijadikan kandidat untuk Mensa (organisasi orang-orang genius). Kamu sedang sibuk?" Aku ragu-ragu sejenak, kemudian menceritakan serangan ke rumahku. "Astaga! Aku ikut berdukacita, Brennan. Aku suka kucing itu. Kamu tahu siapa yang mungkin melakukannya?" "Tidak." "Apa polisi sudah mengerahkan unit penjaga ke tempatmu?" "Polisi sudah menugaskan orang untuk mengawasi rumahku. Aku baikbaik saja."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jauhi lorong jalanan yang gelap, ya." "Kasus dari Murtry tiba pagi ini. Aku cukup sibuk di dalam lab." "Kalau kedua kematian itu ada hubungannya dengan bandar narkoba, kamu mungkin bisa membuat murka beberapa orang yang berpengaruh besar." "Aku juga sudah tahu itu, Ryan." Kulemparkan kulit pisang dan pembungkus Moon Pie ke keranjang sampah. "Kedua korban masih muda, berkulit putih, dan wanita, seperti yang kuduga." "Bukan profi I pengedar narkoba pada umumnya." "Bukan." "Tapi, jangan kau kesampingkan dulu kemungkinan itu. Mereka sering menggunakan wanita seperti kondom. Para wanita itu mungkin berada di tempat yang salah pada waktu yang salah." "Ya." "Penyebab kematian?" "Pengamatanku belum selesai." "Ayo kejar terus, Non. Tapi ingat, kami akan perlu bantuanmu pada kasus St-Jovite setelah aku berhasil menangkap semua bajingan ini." "Bajingan yang mana?" "Sekarang belum tahu, tapi nanti aku pasti tahu."

http://inzomnia.wapka.mobi

Setelah menutup telepon, kutatap laporanku. Kemu dian, aku bangkit dan berjalan bolak-balik di lab. Lalu, aku duduk. Lantas bangkit dan berjalan bolakbalik lagi. Pikiranku terus membayangkan St-Jovite. Bayibayi putih yang montok, kelopak mata dan kuku jarinya yang membiru. Tengkorak yang bolong ditembus peluru. Leher yang digorok, tangan yang dipenuhi luka pembelaan diri. Tubuh yang hangus terbakar, tubuhnya mengerut dan sudah tidak berbentuk lagi. Apa hubungan antara kematian di Quebec dengan tanah di Pulau Saint Helena? Mengapa bayi dan wanita tua? Siapa Guillion? Ada apa di Texas? Kejahatan seperti apakah yang menjerat Heidi dan keluarganya? Konsentrasi, Brennan. Para wanita muda di dalam lab ini memang sudah mati. Serahkan pembunuhan di Quebec kepada Ryan dan selesaikan kasus ini. Mereka berhak mendapatkan perhatianmu. Temukan kapan dan bagaimana mereka mati. Kuambil lagi sepasang sarung tangan dan memeriksa setiap tulang pada rangka korban kedua di bawah kaca pembesar. Tidak kutemukan apa pun yang menunjukkan penyebab kematiannya. Tidak ada luka akibat benda tumpul. Tidak ada lubang

http://inzomnia.wapka.mobi

tembakan. Tidak ada luka tusukan. Tidak ada retakan yang menunjukkan pencekikan. Satu-satunya kerusakan yang kulihat disebabkan oleh binatang yang memakan sisa-sisa tubuhnya. Saat kuletakkan tulang kakinya yang terakhir, seekor kumbang hitam kecil merangkak dari bawah tulang belakangnya. Aku menatapnya, teringat sore hari ketika Birdie mengejar kumbang di dalam dapurku di Montreal. Dia memainkan binatang itu berjam-jam lamanya sebelum akhirnya minatnya hilang. Air mata membasahi kelopak mataku, tetapi aku tidak mau menangis. Kucomot kumbang itu dan meletakkannya di wadah plastik. Tidak boleh ada kematian lagi. Aku akan melepaskan kumbang itu begitu aku meninggalkan gedung ini. OK, kumbang. Sudah berapa lama kedua wanita ini tewas? Kita akan mencari tahu hal tersebut. Kulihat jam. Sudah setengah lima. Sudah cukup sore. Kubolak-balik lembaran Rolodex (kumpulan kartu nama), menemukan sebuah nomor dan menekan nomor telepon. Dalam jarak lima zona waktu dari tempatku, sebuah telepon diangkat.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dr. West." "Dr. Lou West?" "Ya." "Dikenal juga sebagai Kaptain Kam?" Hening. "Dari Spam fame?" "Ikan tuna. Ini kamu, Tempe?" Aku bisa membayangkan dirinya, rambut dan janggut tebal yang memutih menjadi bingkai sebuah wajah yang cokelat permanen terbakar matahari Hawaii. Bertahun-tahun sebelum aku mengenalnya, sebuah agen iklan Jepang menghubungi Lou dan mempekerjakannya sebagai juru bicara untuk sebuah perusahaan tuna kaleng. Anting dan rambut ekor kudanya cocok sebagai sosok kapten kapal laut yang mereka inginkan. Orang Jepang sangat menyukai Kaptain Kam. Walaupun kami menggodanya dengan sengit, tidak ada orang yang kukenal yang pernah melihat iklannya. "Sudah siap untuk meninggalkan kumbang dan berjualan ikan tuna saja?" Lou mendapatkan gelar doktor di bidang biologi dan mengajar di University of Hawaii. Menurutku, dia adalah ahli entomologi forensik terbaik di negara ini.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak juga." Dia tertawa. "Bajunya bikin gatal." "Kalau begitu, berjualan dengan memakai baju biasa saja." "Kupikir orang Jepang belum siap untuk hal itu." "Apa itu pernah membuatmu kapok?" Lou dan aku, dan beberapa pakar forensik lainnya, mengajarkan mata kuliah tentang penelitian mayat di Akademi FBI di Quantico, Virginia. Sebuah kelompok tidak resmi, terdiri atas ahli patologi, entomologi, antropologi, botani, dan ahli tanah, kebanyakan berlatar belakang akademi. Suatu hari, seorang petugas pelestarian alam yang penuh semangat mengatakan kepada ahli entomologi itu bahwa antingnya tidak pantas untuknya. Lou mendengarkan dengan takzim, dan hari berikutnya anting emas bulat itu digantikan dengan bulu Cherokee berukuran dua puluh cm dengan manik-manik, berjumbai, dan bel perak kecil. "Aku sudah menerima kumbangmu." "Semuanya masih utuh?" "Tidak cacat sama sekali. Bagus sekali caramu mengumpulkan kumbangkumbang itu. Di Carolina, serangga yang berhubungan dengan pembusukan ada lebih dari lima ratus dua puluh spesies. Kurasa kamu sudah mengirimkan sebagian besar serangga itu." "Jadi, apa yang bisa kamu ceritakan kepadaku?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kamu mau mendengarkan cerita yang lengkap?" "Tentu saja." "Pertama-tama, menurutku korbanmu dibunuh pada siang hari. Atau, setidaknya tubuhnya terkena sinar matahari selama beberapa jam sebelum dikuburkan. Aku menemukan larviposition di dekat Sacophaga bulla ta." "Jelaskan dengan bahasa yang bisa kumengerti dong." "Itu adalah spesies lalat daging. Kamu mengumpulkan kepompong Sarcophaga bullata yang kosong dan kepompong yang masih utuh dari kedua tubuh mayat itu." "Dan?" "Sarcophagidae ini tidak terlalu aktif setelah matahari terbenam. Kalau kamu menjatuhkan mayat di samping mereka, maka mereka mungkin akan melahirkan larva, tapi mereka tidak begitu aktif di malam hari." "Melahirkan larva?" "Serangga menggunakan larviposition atau oviposisi. Ada yang bertelur dan ada juga yang melahirkan larva." "Serangga melahirkan larva?" "Awalnya berupa larva instar. Itu adalah tahap larva yang pertama sekali. Sarcophagidae termasuk kelompok yang melahirkan larva. Ini adalah

http://inzomnia.wapka.mobi

strategi yang menyebabkan mereka bisa mendahului spesies belatung lainnya, dan juga menyediakan perlindungan dari pemangsa yang suka makan telur." "Lalu, kenapa tidak semua serangga melahirkan larva lebih dulu?" "Ada kelemahannya. Para betina tidak bisa melahirkan larva sebanyak telur. Ini adalah sebuah pilihan." "Hidup memang penuh kompromi." "Tepat sekali. Aku juga menduga bahwa kedua mayat ditinggalkan di luar, setidaknya untuk jangka waktu yang tidak lama. Sarcophagidae ini tidak begitu berani masuk ke dalam bangunan seperti kelompok serangga lainnya. Misalnya spesies Calliphoridae." "Masuk akal. Mereka dibunuh di pulau itu atau tubuhnya dibawa ke sana dengan kapal." "Bagaimana pun caranya, aku menduga mereka dibunuh di siang hari, lalu dibiarkan di udara terbuka dan di permukaan tanah sebelum dikuburkan." "Bagaimana dengan spesies lainnya?" "Kamu mau mendengarkan seluruh ceritanya?" "Pasti."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Untuk kedua mayat itu, penguburan pasti akan menunda serangan serangga yang normal. Tapi, begitu mayat yang di atas diobrak-abrik oleh para pemakan bangkai, maka Calliphoridae akan menilainya sebagai tempat yang sangat menarik untuk bertelur." "Calliphoridae?" "Lalat blowflies. Mereka biasanya tiba dalam hitungan menit setelah kematian, bersama-sama dengan temannya lalat daging. Keduanya lalat yang jagoan terbang." "Menyebalkan." "Kamu mengumpulkan sedikitnya dua jenis spesies blowflies, Cochliomyia ..." "Mungkin kita sebaiknya menggunakan nama umumnya saja." "OK. Kamu mengumpulkan larva instar pertama, kedua, dan ketiga serta kepompong yang masih utuh dan kosong dari paling sedikit dua spesies blowfl ies." "Artinya apa?" "OK, anak-anak. Mari kita telaah kembali daur hidup lalat. Seperti kita, lalat dewasa sangat berhatihati dalam menemukan tempat yang cocok

http://inzomnia.wapka.mobi

untuk membesarkan larva mudanya. Mayat adalah tempat yang sempurna. Lingkungan yang terlindungi. Banyak yang bisa dimakan. Lingkungan yang sempurna untuk membesarkan anak-anaknya. Mayat adalah tempat yang sangat menarik, sehingga blowfl ies dan lalat daging mungkin akan tiba beberapa menit setelah kematian. Lalat betina akan segera bertelur atau untuk sejenak menyantap cairan yang merembes keluar dari mayat itu, kemudian baru bertelur." "Bagus sekali." "Hey, mayat mengandung banyak protein lho. Kalau ada luka pada mayat itu, mereka akan segera menggerogotinya dari situ, kalau tidak ada, mereka akan menggunakan berbagai lubang di tubuh manusia-mata, hidung, mulut, anus ..." "Aku mengerti maksudmu." "Blowflies bertelur banyak sekali sehingga bisa benar-benar menutupi lubang alami tubuh manusia dan tempat luka. Kamu bilang cuacanya cukup sejuk di sana, jadi mungkin tidak banyak yang bisa ditemukan di dalam kuburan itu." "Saat telur sudah menetas, maka belatunglah yang akan berperan selanjutnya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tepat sekali. Babak kedua. Belatung juga sangat hebat. Di bagian depannya terdapat sepasang kaitan mulut yang digunakan untuk makan dan sebagai indera pencium. Mereka bernapas melalui struktur kecil dan rata di bagian belakang." "Mereka bernapas melalui anusnya." "Seperti itulah. Nah, telur-telur yang dihasilkan pada saat yang bersamaan akan menetas pada saat yang bersamaan pula, dan belatung menjadi dewasa bersama-sama. Mereka juga makan bersama-sama, jadi kita bisa menemukan kumpulan belatung dalam jumlah yang sangat banyak di sekeliling mayat. Cara makan kelompok ini mengakibatkan penyebaran bakteri dan produksi enzim pencernaan, yang membuat belatung bisa memakan sebagian besar jaringan lunak mayat itu. Benar-benar efi sien. "Belatung tumbuh dewasa dengan cepat, dan saat sudah mencapai ukuran yang maksimal, mereka akan mengalami perubahan perilaku yang cukup dramatis. Mereka berhenti makan dan mencari tempat yang lebih kering, biasanya menjauh dari mayat." "Babak ketiga." "Yap. Larva itu bersembunyi di lubang tanah dan kulit luarnya mengeras serta membentuk cangkang untuk berlindung, dinamakan kepompong.

http://inzomnia.wapka.mobi

Wujud nya seperti bola football mini. Belatung ini akan hidup di dalam cangkangnya sampai sel-sel tubuhnya tersusun kembali, kemudian muncul sebagai lalat dewasa." "Itulah sebabnya cangkang kepompong yang kosong sangat penting artinya." "Ya. Ingat lalat daging?" "Sarcophagidae. Yang melahirkan larva." "Bagus sekali. Mereka biasanya yang pertama kali muncul sebagai lalat dewasa. Biasanya memakan waktu antara enam belas sampai dua puluh empat hari untuk menjadi dewasa, dengan suhu sekitar dua puluh enam derajat Celcius. Pertumbuhan mereka akan lebih lambat pada kondisi yang kamu ceritakan." "Ya. Tempatnya memang tidak sehangat itu." "Tapi, cangkang kepompong yang kosong berarti beberapa lalat daging itu sudah menyelesaikan perkembangannya." "Terbang sebagai lalat, seperti sebelumnya." "Seekor lalat blowfly biasanya membutuhkan sekitar empat belas sampai dua puluh lima hari, mungkin lebih lama dalam lingkungan basah di pulau itu."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Semua perkiraan itu cocok." "Kamu juga mengumpulkan larva Muscidae, belatung yang berasal dari lalat rumah dan keluarganya. Biasanya spesies ini baru muncul lima sampai tujuh hari setelah kematian. Mereka biasanya menunggu sampai muncul apa yang kita sebut sebagai tahap kesegaran terakhir atau pembengkakan awal. Oh, dan aku juga menemukan cheese skipper." Cheese skipper adalah belatung yang bisa meloncat. Walaupun tidak mudah, aku sudah terbiasa untuk tidak mengacuhkannya sewaktu menangani mayat yang sudah membusuk. "Pekerjaan yang paling kusenangi." "Semua orang harus bekerja, Dr. Brennan." "Kurasa kita harus mengagumi organisme yang bisa meloncat sejauh sembilan puluh kali panjang tubuhnya." "Kamu pernah mengukurnya?" "Perkiraan saja." "Serangga yang cukup berguna untuk memperkirakan PMI adalah lalat tentara hitam. Mereka biasanya baru muncul dua puluh hari setelah kematian dan boleh dikatakan cukup konsisten, bahkan juga pada mayat yang sudah dikuburkan."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Mereka ada juga?" "Ya." "Apa lagi?" "Kelompok kumbangnya cukup terbatas, mungkin karena habitatnya basah. Tapi, binatang pemakan bangkai yang biasa ditemui ada di situ, rupanya memakan belatung dan makhluk bertubuh lembut lainnya." "Jadi, bagaimana menurut perkiraanmu?" "Sekitar tiga sampai empat minggu." "Untuk keduanya?" "Menurut informasi yang kausampaikan, jarak sampai ke dasar lubang satu meter lebih, dan satu meter sampai ke bagian atas mayat di sebelah bawah. Kita sudah mendiskusikan produksi larva pra-penguburan oleh lalat daging, jadi itu menjelaskan kepompong yang kamu temukan pada mayat sebelah bawah itu dan di atas tubuhnya. Ada kepompong yang berisi lalat yang sudah tumbuh dewasa, dan ada yang masih dalam tahap perkembangan. Mereka pasti terperangkap oleh tanah saat mencoba untuk keluar. Piophilidae juga ada." "Apa?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Cheese skippers. Aku juga menemukan beberapa lalat peti mati dalam contoh tanah yang kamu ambil dari bagian atas mayat yang sebelah bawah, dan beberapa larva pada mayatnya. Semua spesies ini biasanya bersembunyi di dalam mayat untuk bertelur. Gangguan tanah di kuburan dan adanya mayat yang di atas pasti telah mempermudah jalan masuknya. Aku lupa menyebutkan bahwa aku menemukan lalat peti mati di mayat sebelah atas." "Apakah contoh tanah itu berguna?" "Sangat berguna. Kamu pasti tidak ingin mendengar bagaimana serangga itu memakan belatung dan bahan yang membusuk, tapi aku menemukan satu ekor yang berguna untuk PMI. Saat memproses tanah itu, aku mendapatkan sejumlah tungau yang mendukung dugaanku bahwa kematian itu minimum sudah tiga minggu lamanya." "Jadi, kamu menyimpulkan kedua mayat itu sudah meninggal tiga sampai empat minggu lamanya." "Itu dugaan awalku." "Ini sangat membantu, Lou. Kamu dan stafmu benar-benar mencengangkan." "Apa semua ini cocok dengan kondisi mayat itu?" "Cocok sekali."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan." Ucapan Lou yang berikutnya membuat tubuhku menggigil sampai ke dalam relung jiwaku. 24. "Maaf Lou. Coba katakan sekali lagi." "Ini bukan berita baru. Semakin banyaknya kematian yang berhubungan dengan narkoba selama beberapa tahun terakhir ini mengarahkan penelitian ke pengujian obat dalam serangga pemakan bangkai. Aku tidak perlu menjelaskan kepadamu bahwa mayat tidak selalu langsung ditemukan, sehingga para penyelidik mungkin tidak memiliki spesimen yang mereka perlukan untuk menganalisis racun. Maksud ku darah, urin, atau jaringan organ tubuh." "Jadi, kamu menguji kandungan narkoba pada belatung itu?" "Bisa juga, tapi kami mendapatkan hasil yang lebih baik dari kepompongnya. Mungkin, karena waktu makannya yang lebih lama dibandingkan dengan larvanya. Kami juga memeriksa exuviae dan frass dari kumbang "Apa itu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kulit kumbang yang sudah tanggal dan kotorannya. Tapi, kami menemukan kadar narkoba yang sangat tinggi pada kepompong lalat. Itu mungkin mencerminkan pemilihan makanannya. Kumbang lebih suka makanan yang kering, lalat lebih suka makan jaringan lunak. Kemungkinan besar kandungan narkoba yang paling besar terdapat di situ." "Apa yang kamu temukan?" "Daftarnya cukup panjang. Kokain, heroin, metamfetamine, amitriptilin, nortriptilin. Akhir-akhir ini, kami sedang meneliti 3,4metilenadioksimetamfetamin." "Nama awamnya?" "Umumnya dikenal sebagai ekstasi." "Dan kamu menemukan bahan itu di dalam kepompong?" "Kami menemukan obat induk dan metabolitnya." "Bagaimana?" "Metode pengujiannya mirip dengan yang digunakan untuk contoh patologi yang umum, tetapi kita harus memecahkan matriks khitin/protein yang keras dalam kepompong serangga dan kulitnya supaya racunnya bisa dipisahkan. Kita melakukannya dengan menghancurkan cangkangnya, kemudian menggunakan asam atau basa kuat. Setelah itu, dengan

http://inzomnia.wapka.mobi

penyesuaian pH, bisa digunakan teknik penyaringan obat yang biasa. Kita melakukan ekstraksi dengan basa yang diikuti dengan kromatografi cair dan spektrometri massa. Pemecahan ionnya menunjukkan apa yang terdapat dalam contoh yang kamu kirimkan dan berapa besar kandungannya." Aku menelan ludah. "Dan kamu menemukan fl unitrazepam dalam cangkang kepompong yang kukirimkan?" "Cangkang yang diambil dari mayat sebelah atas mengandung fl unitrazepam dan dua jenis metabolitnya, desmetilfl unitrazepam dan 7aminofl unitrazepam. Kadar obat induknya jauh lebih besar daripada metabolitnya." "Yang berarti asupan narkobanya terjadi belum lama ini, bukan dikonsumsi secara kronis." "Persis sekali." Kuucapkan terima kasih kepada Lou dan menutup gagang telepon. Untuk sejenak, aku hanya bisa duduk termenung. Rasa kaget mendengar hasil penemuan itu membuat isi perutku melilit dan aku merasa ingin muntah. Atau, mungkin juga karena Moon Pie yang baru kumakan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Flunitrazepam. Kata itu akhirnya membangkitkan kenangan lama. Flunitrazepam. Rohypnol. Itulah tanda yang telah didengungkan selama ini oleh sel-sel otakku. Dengan tangan gemetar, kutekan nomor telepon Motel Lord Cateret. Tidak ada jawaban. Kutekan nomor telepon sekali lagi dan meninggalkan nomorku di pager Ryan. Kemudian, aku menunggu, sistem saraf simpatisku terus memancarkan kewaspadaan tingkat rendah, mengatakan kepadaku untuk merasa takut. Takut akan apa? Rohypnol. Saat telepon berdering, aku langsung menerkamnya. Dari mahasiswa. Segera kuselesaikan urusanku dan menunggu kembali dengan kengerian yang kelam dan dingin. Rohypnol. Obat yang digunakan pemerkosa saat kencan. Gletser terbentuk. Air laut pasang dan surut. Sebuah bintang membentuk planet dari debu angkasa. Sebelas menit kemudian, Ryan meneleponku. "Aku menemukan satu hubungan lagi." "Apa?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Pelan-pelan. Jangan sampai rasa kaget ini mengganggu pikiranmu. "Pembunuhan di Pulau Murtry dan St-Jovite." Kuceritakan percakapanku dengan Lou West. "Salah satu mayat wanita di Murtry mengandung kadar Rohypnol yang sangat tinggi dalam jaringan tubuhya." "Begitu juga mayat di lantai atas di St-Jovite." "Ya." Sebuah ingatan lainnya menyeruak ke permukaan saat Lou menyebutkan nama obat itu. Hutan boreal. Pemandangan sebuah vila kecil yang terbakar, dilihat dari atas. Padang rumput, tubuhtubuh berselimut yang disusun melingkar. Petugas berseragam. Tandu. Ambulans. "Kamu masih ingat Order of the Solar Temple?" "Pemuja setan yang bunuh diri bersama-sama?" "Ya. Enam puluh empat orang tewas di Eropa. Sepuluh lagi di Quebec." Aku berusaha menegarkan suaraku. "Beberapa vila kecil itu sengaja diledakkan dan terbakar." "Ya. Aku juga sudah memikirkan kemungkinan itu." "Rohypnol ditemukan di kedua lokasi ini. Banyak dari korban meminum obat itu tidak lama sebelum mereka tewas." Hening.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Menurutmu Owens memindahkan lokasi kelompok the Temple ini?" "Entahlah." "Menurutmu mereka sedang melakukan pertukaran?" Pertukaran apa? Nyawa manusia? "Kurasa mungkin saja." Untuk beberapa saat lamanya, kami tidak berkata apa-apa. "Aku akan memeriksa orang-orang yang bekerja di Mo-rin Heights. Sementara itu, aku akan mengunci pantat si Dom Owens dengan gembok besi." "Masih ada informasi lagi." Sambungan telepon berdengung lembut. "Kamu masih mendengarkan?" "Ya." "West memperkirakan kedua wanita itu tewas tiga sampai empat minggu yang lalu. "Suara napasku terdengar keras di gagang telepon. "Kebakaran di St-Jovite terjadi pada tanggal 10 Maret. Besok tanggal satu." Kudengarkan dengungan itu saat Ryan sedang menghitung hari. "Ya Tuhan. Tiga minggu yang lalu." "Aku punya perasaan buruk, sesuatu akan terjadi,

http://inzomnia.wapka.mobi

Ryan." "Oke." Telepon terputus. Kalau mengingatnya kembali, aku selalu merasa bahwa peristiwa berkembang sangat pesat setelah percakapan itu, melaju cepat dan semakin kacau, dan akhirnya membentuk sebuah vorteks yang menyedot semuanya masuk ke dalamnya. Termasuk diriku. Malam itu aku bekerja sampai malam. Begitu juga Hardaway. Dia menelepon saat aku menarik laporan autopsinya dari dalam amplop. Kuinformasikan profi I mayat sebelah atas dan perkiraan umur untuk mayat sebelah bawah. "Cocok kalau begitu," ujarnya. "Dia berusia dua puluh lima tahun." "Kamu berhasil menemukan jati dirinya?" "Kami berhasil menemukan sidik jari yang masih bisa dikenali. Tidak menghasilkan apa-apa dari catatan polisi setempat atau negara bagian, jadi kukirimkan ke FBI. Juga tidak ditemukan apa-apa dalam AFIS. "Tapi, ada yang aneh. Tidak tahu apa yang menyebabkan aku melakukannya, mungkin karena aku tahu kamu juga bekerja di Kanada.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ketika orang FBI menyarankan kami mencoba RCMP, kukatakan, apa ruginya, lakukan saja. Pasti orang Kanada." "Apa lagi yang kamu temukan tentang dirinya?" "Sebentar." Kudengar suara derikan kursi dan gemerisik kertas. "Laporannya datang tadi sore. Namanya Jennifer Cannon. Kulit putih. Tinggi satu enam dua cm, berat lima puluh lima kg. Rambut cokelat. Mata hijau. Belum menikah. Terakhir kalinya terlihat ..." Dia berhenti sejenak saat menghitung-hitung. "... dua tahun tiga bulan yang lalu." "Dari mana asalnya?" "Sebentar." Diam sejenak. "Calgary. Di mana itu?" "Di sebelah barat. Siapa yang melaporkannya hilang?" "Sylvia Cannon. Alamatnya di Calgary, jadi pasti ibunya." Kuberikan nomor pager Ryan dan meminta Hardaway meneleponnya. "Kalau kamu bisa menghubunginya, tolong minta dia meneleponku. Kalau aku tidak di sini, berarti aku sudah di rumah." Kumasukkan tulang Murtry ke dalam kotaknya, lalu menguncinya. Kemudian, ke dalam tas kumasukkan disket dan laporan kasusku, laporan autopsi dan foto dari

http://inzomnia.wapka.mobi

Hardaway, dan makalah CAT Scan, lalu mengunci lab, dan pulang. Kampus sudah kosong, malam itu sungguh sunyi dan lembap. Anehnya cukup hangat, begitulah mungkin komentar peramal cuaca. Udara disemarakkan bau rumput yang baru dipotong dan hujan yang sebentar lagi akan turun. Kudengar suara gemuruh di kejauhan dan membayangkan badai meluncur turun dari pegunungan dan menyeberangi Piedmont. Dalam perjalanan pulang, aku berhenti untuk membeli makanan di Selwyn Pub. Kerumunan orang yang baru pulang kerja mulai menipis, dan anakanak muda dari Queens College belum tiba untuk mengambil alih tempat itu pada malam hari. Sarge, salah seorang pemiliknya yang keturunan Irlandia yang jahil, duduk di kursinya di ujung ruangan seperti biasa, mengemukakan pendapatnya tentang olahraga dan politik, sementara Neal, si bartender, mengisi belasan gelas bir. Serge ingin mendiskusikan hukuman mati, atau lebih tepatnya mengutarakan pendapatnya tentang hukuman mati, tetapi aku sedang tidak ingin berdebat. Aku membeli cheeseburger dan segera keluar.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tetesan hujan pertama mengelus bunga magnolia ketika aku memasukkan kunci ke dalam lubang kunci Annex. Tidak ada yang menyambutku selain suara detikan jam yang lembut. Waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh ketika Ryan menelepon. Sylvia Cannon sudah tidak tinggal di alamat yang dituliskan dalam laporan orang hilang sejak dua tahun terakhir. Juga tidak tinggal di alamat yang diberikan oleh kantor pos. Tetangga di alamat yang pertama masih ingat bahwa dia tidak bersuami dan hanya memiliki satu anak perempuan. Mereka menggambarkan Sylvia sebagai orang yang pendiam dan tertutup. Seorang penyendiri. Tidak ada yang tahu tempat kerjanya atau ke mana perginya. Salah seorang wanita menduga Sylvia punya seorang kakak lelaki di daerah itu. Kantor Polisi Calgary sedang mencoba menemukan wanita itu. Malam itu, di tempat tidur, di bawah selimut, kudengar suara hujan mengetuk-ngetuk atap dan dedaunan. Guntur bergemuruh dan petir menyambar nyambar, sesekali menyebabkan munculnya siluet gedung Sharon Hall. Kipas angin di langit-langit mengembuskan kabut sejuk dan tercium bau bunga petunia dan kerai jendela yang basah.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku mengagumi badai. Aku mencintai agungnya pertunjukan yang muncul: Hidrolik! Voltase! Perkusi! Alam yang berkuasa dan semua orang menunggu kibasannya. Kunikmati pertunjukan itu selama mungkin, kemudian bangkit dan berjalan menuju jendela. Gorden terasa lem-bap dan air sudah mulai menggenang di kusen. Kututup dan ku kunci jendela sebelah kiri, meraih jendela sebelah kanan dan menghirup napas dalam-dalam. Suara gemuruh membangkitkan kenangan masa kecil. Malam hari di musim panas. Suara petir. Tidur bersama Harry di beranda rumah Nenek. Pikirkan itu, kataku kepada diri sendiri. Dengarkan kenangan itu, bukan suara kematian yang berkeliaran di dalam benakmu. Petir menyambar dan napasku tertahan di kerongkongan. Apakah ada sesuatu yang bergerak di bawah semak-semak? Petir menyambar lagi. Aku menatap, tetapi semak-semak itu terlihat tidak bergerak dan kosong. Apakah aku hanya membayangkannya saja? Mataku mencari di keremangan malam. Pe karangan hijau dan semaksemak. Jalan yang tidak berwarna. Bunga petunia pucat dengan latar belakang pohon pinus dan bunga ivy yang gelap.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tidak ada yang bergerak. Kembali bumi seakan menyala dan suara Guntur yang membahana membelah malam. Sosok putih menyeruak dari semak-semak dan melaju menyeberangi pekarangan. Kupicingkan mata, berusaha melihat, tetapi bayangan itu langsung menghilang sebelum mataku bisa fokus. Jantungku berdegup begitu keras sehingga terasa sampai ke kepalaku. Kubuka jendela dan bertumpu pada langkan, mencari-cari di kegelapan malam tempat menghilangnya makhluk itu. Air membasahi baju tidurku dan bulu romaku berdiri di sekujur tubuhku. Kupindai halaman, dengan tubuh gemetar. Semua sunyi. Dengan melupakan jendela yang masih terbuka, aku berbalik dan berlari menuruni tangga. Aku baru saja akan membuka pintu belakang saat telepon berdering, membuat jantungku menyeruak ke kerongkonganku. Ya Tuhan. Apa lagi sekarang? Kuraih gagang telepon. "Tempe, maaf." Kulirik jam.

http://inzomnia.wapka.mobi

Jam satu lewat empat puluh menit. Kenapa tetanggaku menelponku? "... dia pasti datang hari Rabu ketika aku menunjukkan tempatnya. Waktu itu rumahnya kosong. Aku ke sana untuk memeriksa barang, padahal sedang badai seperti ini, dan dia berlari keluar membabi buta. Aku memanggilnya, tapi dia lari begitu saja. Mungkin kamu ingin tahu i Kujatuhka gagang telepon, membuka pintu dapur, dan bergegas keluar. "Sini, Bird," teriakku. "Ke sini, Sayang!" Aku melangkah ke beranda. Dalam beberapa detik saja rambutku langsung basah kuyup dan baju tidurku menempel ke tubuhku seperti tisu basah. "Birdie! Di mana kamu?" Petir menyambar, menerangi jalanan, semak-semak, taman, dan bangunan. "Birdie!" jeritku. "Bird!" Air hujan menghantam bata dan menampar dedaunan di atas kepalaku. Aku berteriak lagi. Tidak ada jawaban. Berulang kali aku memanggil namanya, seorang wanita gila, menyusuri halaman Sharon Hall. Tak lama kemudian, tubuhku sudah menggigil kedinginan. Kemudian, aku melihatnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Dia meringkuk di bawah semak-semak, kepala menunduk, telinganya merunduk ke depan dengan anehnya. Bulunya basah dan menggumpal, menunjukkan kulitnya yang pucat, seperti retakan di lukisan tua. Aku berjalan mendekatinya dan berjongkok. Dia terlihat seperti baru dicelupkan ke dalam air, kemudian berguling-guling. Ranting pinus, rumput, dan tumbuhan bergelantungan di kepala dan punggungnya. "Bird?" ujarku dengan lembut, menjulurkan tanganku. Dia mengangkat kepalanya dan mencari wajahku dengan mata bundarnya yang berwarna kuning. Petir menyambar. Birdie bangkit, menggeliat, dan mengeong, "Miauw." Kutengadahkan tanganku. "Ayo, Bird," bisikku. Dia terlihat ragu-ragu, kemudian berjalan mendekatiku, menempelkan tubuhnya di pahaku, dan mengulangi lagi. "Miauw." Kuraih kucingku, mendekapnya erat-erat, dan berlari ke dapur. Birdie meletakkan kaki depannya ke bahuku dan menempelkan dirinya kepadaku, seperti bayi monyet bergantung kepada ibunya. Kurasakan kukunya menembus baju tidurku yang basah kuyup karena hujan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sepuluh menit kemudian, aku sudah selesai menggosoknya. Bulu putih menghiasi beberapa buah handuk dan melayang di udara. Untuk sekali ini tidak ada protes yang mengiringinya. Birdie melahap semangkuk Science Diet dan sepisin es krim vanila. Kemudian, aku membawanya ke tempat tidur. Dia merangkak ke bawah selimut dan menggeliat di kakiku. Kurasakan tubuhnya menegang, kemudian santai saat menjulurkan cakarnya, dan meringkuk di kasur. Bulunya masih lembap, tetapi aku tidak peduli. Aku sudah mendapatkan kucingku kembali. "Aku sayang kamu, Bird," ujarku ke kegelapan malam. Aku tertidur mendengar duet antara dengkur kucing dan tetesan hujan. 25. Hari berikutnya Sabtu, jadi aku tidak ke universitas. Aku berencana untuk membaca temuan Hardaway, kemudian menuliskan laporanku tentang korban di Murtry. Setelah itu, aku akan membeli bunga di toko bunga dan menanamnya dalam beberapa pot besar yang kuletakkan di berandaku. Taman instan, itulah salah satu bakatku. Kemudian, mengobrol lama

http://inzomnia.wapka.mobi

dengan Katy, menghabiskan waktu yang berkualitas dengan kucingku, makalah CAT scan, dan menghabiskan malamnya dengan membaca tentang Elisabeth Nicolet. Tetapi, rencana tinggal rencana. Saat aku bangun, Birdie sudah tidak ada. Aku memanggilnya, tetapi tanpa hasil, jadi kukenakan celana pendek dan kaus oblong, kemudian ke bawah untuk mencarinya. Jejaknya mudah ditemukan. Dia menghabiskan makanan di mangkuknya dan sekarang tertidur lelap di bawah berkas sinar matahari di sofa di ruangan duduk. Kucing itu tidur terlentang, kaki belakangnya terkulai, cakar depannya menggantung di atas dadanya. Kuamati dia sejenak, tersenyum seperti anak kecil di pagi hari Natal. Kemudian, aku ke dapur, menyeduh kopi dan meraih roti bagel, mengambil Observer dari beranda, lalu duduk di meja dapur. Seorang istri dokter ditemukan tewas ditikam di Myers Park. Seorang anak diserang anjing buldog. Orangtuanya menuntut agar binatang itu dibunuh dan pemiliknya marah. Hornets mengalahkan Golden State 101 lawan 87.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kuperiksa ramalan cuaca. Diperkirakan matahari bersinar dan suhu sekitar dua puluh tiga derajat Celcius untuk Charlotte. Kulihat sekilas suhu di berbagai tempat di dunia. Pada hari Jumat suhu turun sampai delapan derajat di Montreal. Ada alasan bagi orang Selatan untuk menyombongkan diri. Kubaca seluruh isi surat kabar. Editorial. Iklan. Iklan obat. Ini adalah ritual akhir pekan yang kunikmati, tetapi terpaksa kulewatkan selama beberapa akhir pekan terakhir ini. Seperti seorang pecandu di hadapan alat suntiknya, kuserap setiap kata yang tercetak. Setelah selesai, kubersihkan meja dan menghampiri tas kerjaku. Kutumpuk foto autopsi di sebelah kiri dan menghamparkan laporan Hardaway di hadapanku. Tinta pulpenku habis pada coretan pertama. Aku bangkit, pergi ke ruangan duduk untuk mencari pulpen lainnya. Saat melihat sosok tubuh di beranda depan, jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Aku tidak tahu siapa orang itu atau seberapa lama dia sudah berada di sana. Orang itu berbalik, melangkah naik di dinding luar dan mendekatkan dirinya ke jendela. Mata kami bertemu dan aku menatapnya dengan tidak percaya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Segera aku bergegas dan membuka pintu. Dia berdiri dengan pinggul condong ke depan, tangan memegang tali ranselnya. Ujung roknya melambai- lambai di sekeliling sepatu larsnya. Matahari pagi menerpa rambutnya, membuat kepalanya terlihat mengilap. Ya Tuhan, pikirku. Apa lagi sekarang? Kathryn yang mulai berbicara. "Aku harus bicara. Aku-" "Ya, tentu saja. Silakan, masuk." Aku melangkah mundur dan menjulurkan tangan. "Biar kubawakan tasmu." Dia melangkah masuk, melepaskan ranselnya dan menjatuhkannya ke lantai, matanya tidak pernah lepas dari wajahku. "Aku tahu kedatanganku pasti sangat mengganggu dan aku-" "Kathryn, jangan begitu. Aku senang bertemu denganmu. Aku hanya sangat terkejut sehingga otakku membeku selama beberapa detik." Bibirnya terbuka, tetapi tidak berkata apa-apa. "Kamu mau makan sesuatu?" Jawabannya tergurat di wajahnya. Kurangkul bahunya dan mengajaknya ke meja dapur. Dia mengikuti dengan lemah. Kupindahkan tumpukan foto serta laporan ke samping, lalu menyuruhnya duduk.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ketika memanggang roti bagel, mengolesnya dengan krim keju, dan menuangkan jus jeruk, kulirik tamuku itu. Kathryn menatap meja, tangannya mera-pikan tatakan yang sebenarnya tidak kusut. Jarinya memainkan jumbai tatakan itu, meluruskannya, kemudian menyusunnya sehingga sejajar dengan jumbai di sebelahnya. Perutku melilit seperti tali simpul. Bagaimana dia bisa datang ke sini? Apakah dia melarikan diri? Di mana Carlie? Kutahan semua pertanyaanku sampai dia selesai makan. Setelah Kathryn selesai dan menolak roti yang kedua, kubersihkan piring dan menemaninya di meja dapur. "Nah. Bagaimana kamu bisa menemukanku?" Kutepuk tangannya dan tersenyum membesarkan hatinya. "Kamu memberikan kartu nama." Dia merogoh dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. Kemudian, tangannya kembali ke tatakan piring. "Aku menelepon nomor di Beaufort dua kali, tapi kamu sedang tidak ada. Akhirnya, seorang lelaki mengangkat telepon dan mengatakan bahwa kamu sudah kembali ke Charlotte." "Itu mungkin Sam Rayburn. Aku tinggal di kapalnya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku memutuskan untuk meninggalkan Beaufort." Dia menatap mataku, kemudian segera menunduk kembali. "Aku menumpang dari sana dan pergi ke universitas, tapi ternyata lebih lama dari yang kukira sebelumnya. Saat aku ke kampus, kamu sudah pulang. Aku menginap di rumah seseorang, kemudian pagi ini wanita itu menurunkan aku di sini dalam perjalanannya ke kantor." "Bagaimana kamu tahu tempat tinggalku?" "Dia mencari namamu entah di buku apa." "Oh begitu." Aku yakin alamat rumahku tidak terdaftar dalam buku alamat kampus. "Pokoknya, aku senang kamu ada di sini sekarang." Kathryn mengangguk. Dia terlihat sangat kelelahan. Matanya tampak merah dan cekungan hitam tampak di bawah kelopak matanya. "Aku ingin meneleponmu kembali, tapi kamu tidak meninggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi. Ketika detektif Ryan dan aku mengunjungi padepokan di hari Selasa, kami tidak melihatmu." "Aku ada di sana, tapi ..." Suaranya menghilang. Aku menunggu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Birdie muncul di pintu, kemudian menghilang kembali, mungkin karena merasakan ketegangan di dalam ruangan. Jam berdentang. Jari-jemari Kathryn memainkan jumbai. Akhirnya, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. "Kathryn, mana Carlie?" Kuletakkan tanganku di atas tangannya. Dia menatap mataku. Sorot matanya terlihat datar dan hampa. "Mereka menjaganya." Suaranya terdengar lirih, seperti suara anak-anak yang menjawab sebuah tuduhan. "Siapa?" Dia menarik tangannya, meletakkan sikunya di atas meja, dan menggosok pelipisnya dengan gerakan memutar. Matanya kembali menatap tatakan meja. "Carlie ada di Saint Helena?" Kembali mengangguk. "Kamu meninggalkannya dengan sukarela di sana?" Dia menggelengkan kepala dan tangannya meluncur ke depan sehingga telapak tangannya menekan pelipisnya. "Apa anak itu baik-baik saja?" "Dia anakku! Milikku!" Sentakannya itu mengejutkanku.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku bisa menjaganya." Ketika dia mengangkat kepala, tampak tetesan air mata di kedua pipinya. Matanya menatap mataku. "Siapa yang mengatakan kamu tidak bisa menjaganya?" "Aku ibunya." Suaranya terdengar bergetar. Karena apa? Kelelahan? Rasa takut? Kebencian? "Siapa yang mengurus Carlie?" "Tapi, bagaimana kalau aku salah? Bagaimana kalau semuanya benar?" Tatapannya kembali mendarat di atas meja. "Apa yang benar?" "Aku sayang bayiku. Aku mau yang terbaik untuknya." Jawaban Kathryn tidak berhubungan dengan pertanyaanku. Dia sedang meraba-raba kegelapan di dalam dirinya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Hanya saja kali ini dia melakukannya di dapurku. "Tentu saja kamu sayang dia." "Aku tidak mau bayiku mati." Jarinya gemetaran ketika meremas jumbai di tatakan mejaku. Gerakan yang sama yang pernah kulihat ketika mengelus rambut Carlie. "Carlie sakit?" tanyaku, terkejut.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak. Dia baik-baik saja." Kata-katanya hamper tidak terdengar. Air mata menetes ke tatakan. Kutatap bercak kecil hitam di tatakan, merasa benar-benar tidak berdaya. "Kathryn, aku tidak tahu bagaimana menolongmu. Kamu harus menceritakan kepadaku apa yang terjadi." Telepon berdering, tetapi aku tidak mengacuhkannya. Dari ruangan lain kudengar suara klik, suara mesin penjawab telepon, kemudian suara bipbip yang diikuti suara lirih. Klik lagi, kemudian hening. Kathryn tidak bergerak. Dia sepertinya lumpuh karena pikiran yang menyiksa dirinya. Dalam keheningan itu, aku ikut merasakan kesakitan yang dirasakannya dan menunggu. Tujuh bercak hitam menghiasi kain biru itu. Sepuluh. Tiga belas. Setelah beberapa saat lamanya, Kathryn mengangkat kepalanya. Dia menyeka kedua pipinya dan merapikan rambutnya kembali, kemudian menyilangkan jari-jemarinya dan meletakkan kedua tangannya dengan perlahan di tengah tatakan. Dia mendehem dua kali. "Aku tidak tahu bagaimana rasanya hidup normal." Dia tersenyum malu. "Baru tahun ini aku tahu bahwa selama ini aku menjalani kehidupan yang tidak normal."

http://inzomnia.wapka.mobi

Dia menundukkan matanya kembali. "Kurasa perasaan itu muncul setelah ada Carlie. Aku tidak pernah meragukan apa pun sebelum kelahirannya. Tidak pernah terpikirkan olehku untuk mengajukan pertanyaan. Aku sekolah di rumah, jadi semua hal yang kuketahui-" Senyuman itu kembali menghias wajahnya. "Yang kuketahui tentang dunia ini sangat terbatas." Dia berpikir sejenak. "Apa yang kuketahui tentang dunia ini hanyalah apa yang mereka ingin aku mengetahuinya." "Mereka?" Dia mengepalkan kedua tangannya sedemikian kerasnya sehingga bukubukunya menjadi putih. "Kami tidak boleh membicarakan permasalahan di dalam kelompok." Dia menelan ludah. "Mereka adalah keluargaku. Mereka sudah menjadi duniaku sejak aku berusia delapan tahun. Dia telah menjadi ayahku, penasihat, guru, dan-" "Dom Owens?" Matanya memandang mataku kembali. "Dia seorang lelaki hebat. Dia tahu semuanya tentang kesehatan, reproduksi, evolusi, polusi, dan bagaimana cara menjaga kekuatan spiritual, biologis, dan alam semesta agar tetap seimbang. Dia melihat dan memahami semua hal yang sama sekali tidak

http://inzomnia.wapka.mobi

kami ketahui. Bukan Dom. Aku percaya pada Dom. Dia tidak akan pernah melukai Carlie. Dia melakukan apa yang dia lakukan untuk melindungi kami. Dia menjaga kami. Aku hanya tidak yakin-" Dia memejamkan mata dan menengadah. Sebuah urat nadi kecil tampak menonjol di lehernya. Tenggorokannya naik-turun, kemudian dia menarik napas panjang, menurunkan dagunya dan menatap lurus ke mataku. "Perempuan itu. Yang kamu cari kemarin. Dia pernah ke sana." Aku harus memusatkan seluruh perhatian untuk bisa mendengar perkataannya. "Heidi Schneider?" "Aku tidak pernah tahu nama belakangnya." "Coba ceritakan semua yang kamu ingat tentang dirinya." "Heidi bergabung di tempat lain. Kurasa di Texas. Dia tinggal di Saint Helena selama kurang lebih dua tahun. Dia lebih tua dariku, tapi aku menyukainya. Dia selalu bersedia untuk berbicara atau menolongku. Dia juga amat Jenaka." Kathryn berhenti sejenak. "Heidi seharusnya punya anak dengan Jason-" "Apa?" Kupikir aku salah dengar.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Pasangannya untuk punya anak adalah Jason. Tapi, dia jatuh cinta pada Brian, lelaki yang sudah bersamanya ketika bergabung dengan kami. Dia lelaki yang ada di fotomu." "Brian Gilbert." Mulutku terasa kering. "Nah, dia dan Brian biasa bertemu dengan cara sembunyi-sembunyi." Matanya menerawang jauh. "Ketika Heidi hamil, dia ketakutan karena bayi itu tidak akan diakui. Dia mencoba menyembunyikannya, tapi mereka akhirnya mengetahuinya." "Owens?" Matanya kembali menatap diriku dan aku bisa menangkap pancaran rasa takut. "Tidak ada bedanya. Hal itu memengaruhi semua orang." "Apa yang memengaruhi?" "Sekte." Dia menggosok telapak tangannya ke tatakan, kemudian menangkupkannya kembali. "Ada beberapa hal yang tidak bisa kubicarakan. Kamu mau mendengarnya?" Dia menatapku lagi dan aku bisa melihat bahwa air matanya mulai tergenang kembali. "Teruskanlah." "Pada suatu hari, Heidi dan Brian tidak muncul di

http://inzomnia.wapka.mobi

pertemuan pagi. Mereka sudah pergi." "Ke mana?" "Entahlah." "Kamu mengira Owens mengirimkan orang untuk menemukan mereka?" Matanya meluncur ke jendela dan dia menggigit bibir bawahnya. "Masih ada lagi. Pada suatu malam di musim gugur yang lalu, Carlie bangun di tengah malam, jadi aku pergi ke bawah untuk membuatkan susu. Aku mendengar gerakan di dalam kantor, kemudian seorang wanita berbicara, dengan berbisik seakan-akan tidak mau didengar siapa pun. Dia pasti sedang bicara di telepon." "Kamu mengenali suaranya?" "Ya. Ternyata salah seorang wanita yang bekerja di kantor." "Apa katanya?" "Dia mengatakan kepada seseorang bahwa orang yang lainnya baik-baik saja. Aku tidak tinggal terlalu lama untuk mendengarkan lebih banyak lagi." "Teruskan." "Sekitar tiga minggu yang lalu, hal yang sama terulang lagi, hanya saja kali ini aku mendengar orangorang berdebat. Mereka kedengarannya marah, tapi pintunya tertutup, jadi aku tidak bisa mendengar apa kata-kata

http://inzomnia.wapka.mobi

mereka. Suara Dom dan wanita yang sama yang kudengar suaranya tempo hari." Dia menyeka air mata dari pipinya dengan punggung tangannya. Dia masih tetap tidak berani menatapku kembali. "Keesokan harinya, wanita itu pergi dan aku tidak pernah melihatnya kembali. Dia dan seorang wanita lainnya. Mereka menghilang begitu saja." "Bukankah orang boleh datang dan pergi sesuka hati dari kelompok kalian?" Matanya kembali menatap mataku. "Dia bekerja di kantor. Mungkin dia orang yang menerima telepon yang kamu tanyakan kemarin." Aku bisa melihat dadanya terengah-engah saat dia berusaha menahan tangis yang akan meledak kembali. "Dia sahabat Heidi." Aku merasa lilitan di perutku makin menguat. "Namanya Jennifer?" Kathryn mengangguk. Aku menarik napas panjang. Tetap tenang, demi Kathryn. "Siapa wanita lainnya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Entahlah. Dia belum lama tinggal di sana. Tunggu. Mungkin namanya Alice. Atau Anne." Degupan jantungku berubah. Ya Tuhan. Tidak. "Kamu tahu dari mana asalnya?" "Dari Utara. Tidak, mungkin dari Eropa. Kadangkadang, dia dan Jennifer berbicara dalam bahasa asing." "Apakah menurut perkiraanmu, Dom Owens menyuruh orang membunuh Heidi dan kedua bayinya? Itukah sebabnya kamu mencernaskan keselamatan Carlie?" "Kamu tidak mengerti. Bukan Dom. Dia hanya mencoba melindungi kami dan membantu kami menyeberang." Dia melirikku dengan tajam, seakanakan mencoba menembus kepalaku. "Dom tidak percaya pada Anti-Kristus. Dia hanya ingin memindahkan kami keluar dari kekacauan di dunia ini." Suaranya menjadi gemetaran dan helaan napas memberi penekanan pada setiap kata-katanya. Dia bangkit dan mendekati jendela. "Aku takut pada orang-orang yang lain. Wanita itu. Dom hanya ingin kami hidup selamanya." "Siapa?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Kathryn berjalan mondar-mandir di dapur seperti binatang di dalam kandang, jarinya memainkan bagian depan kemeja katunnya. Air mata meleleh di pipinya. "Tapi, tidak sekarang. Sekarang terlalu cepat. Tidak bisa sekarang." Suaranya memelas. "Apa yang terlalu cepat?" "Bagaimana kalau mereka salah? Bagaimana kalau tidak tersedia cukup energi kosmik? Bagaimana kalau tidak ada apa-apa di luar sana? Bagaimana kalau Carlie mati begitu saja? Bagaimana kalau bayiku mati?" Lelah. Gelisah. Rasa bersalah. Campuran semua perasaan itu menyeruak dan Kathryn mulai menangis tak terkendali. Dia mulai terlihat kebingungan dan aku tahu bahwa aku tidak akan mendapatkan informasi apa-apa lagi darinya. Kudekati dia, kemudian kupeluk erat. "Kathryn, kamu perlu istirahat. Ayo berbaring dulu sejenak. Kita akan bicara lagi nanti." Dia mengeluarkan suara yang tidak bisa kupahami dan membiarkan dirinya kutuntun ke lantai atas ke kamar tidur tamu. Kuambil handuk dan pergi ke ruang duduk untuk mengambil ranselnya. Saat kembali, dia sudah

http://inzomnia.wapka.mobi

berbaring di tempat tidur, salah satu lengan diletakkan di atas dahinya, mata terpejam, air mata mengalir membasahi rambut di pelipisnya. Kutinggalkan ransel itu di atas meja rias dan menutup gorden. Saat kututup pintu, dia berbicara lirih, dengan mata masih terpejam, bibir hampir tidak bergerak. Kata-katanya membuatku sangat ketakutan, melebihi kata-kata lain yang tidak pernah lagi kudengar selama ini. 26. "'Kehidupan abadi'? Kata-kata itu yang tepatnya di-ucapkan wanita itu?" "Ya." Kupegang telepon sedemikian eratnya sehingga otot di pergelangan tangan kananku terasa sakit. "Coba ceritakan sekali lagi." "Bagaimana kalau mereka pergi dan kami ditinggalkan?' 'Bagaimana kalau aku menyebabkan Carlie tidak mendapatkan kehidupan abadi?' "Aku menunggu, sementara Red mencerna kata-kata Kathryn. Ketika mengalihkan telepon ke tangan kiri, bisa kulihat bekas telepon di telapak tangan kananku.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Entahlah, Tempe. Cukup sulit juga. Bagaimana kita bisa tahu kapan sebuah kelompok berubah menjadi berbahaya? Beberapa pergerakan agama marginal memang bisa menjadi sangat ganas. Sementara kelompok lainnya tidak berbahaya sama sekali." "Apa tidak ada tanda-tandanya?" Bagaimana kalau bayiku mati? "Ada beberapa faktor yang bisa dijadikan tanda. Pertama, sekte itu sendiri, keyakinan dan ritualnya, organisasinya, dan tentu saja pemimpinnya. Kemudian, ada pengaruh luar. Seberapa besar kebencian masyarakat terhadap para anggotanya? Bagaimana pandangan masyarakat tentang kehidupan mereka? Dan, sikap masyarakat itu tidak harus selalu nyata. Bahkan, kesalah pahaman kecil saja sudah bisa menyebabkan sebuah organisasi menjadi murka." Dia hanya ingin memindahkan kami keluar dari kekacauan di dunia ini "Kepercayaan apakah yang mendorong kelompok semacam ini untuk melewati batas?" "Itulah yang mengkhawatirkanku tentang temanmu itu. Sepertinya dia sedang membicarakan sebuah perjalanan. Pergi ke suatu tempat untuk mendapatkan kehidupan abadi. Itu kedengarannya seperti kiamat."

http://inzomnia.wapka.mobi

Dia hanya mencoba melindungi kami dan membantu kami menyeberang. "Akhir dunia." "Tepat sekali. Hari akhir. Hari pembalasan." "Itu bukan barang baru. Kenapa pandangan kiamat mendorong terjadinya kekerasan? Kenapa tidak diam dan menunggu saja?" "Jangan salah tangkap. Tidak selalu seperti itu. Tapi, berbagai kelompok ini meyakini bahwa hari akhir pasti datang, dan mereka melihat diri mereka memiliki peranan kunci dalam berbagai kejadian yang akan terjadi. Mereka adalah orang-orang terpilih yang akan melahirkan dunia baru." Dia ketakutan karena bayinya tidak akan diakui. "Jadi, yang berkembang adalah semacam dualism dalam pemikiran mereka. Mereka termasuk orang-orang yang baik, sedangkan orang lain benar-benar sudah bejat, benar-benar tidak bermoral. Orang luar datang membawa pengaruh jahat." "Kamu memihakku atau kamu melawanku." "Tepat sekali. Menurut visi mereka, kiamat akan ditandai dengan kekerasan. Beberapa kelompok akan beralih ke sikap mempertahankan diri, menumpuk persenjataan dan mendirikan sistem pengintaian yang mutakhir untuk melawan kejahatan yang akan memburu

http://inzomnia.wapka.mobi

mereka. Atau para pemuja Setan, atau apa pun yang mereka lihat sebagai ancaman." Dom tidak percaya pada Anti-Kristus. "Keyakinan akan hari kiamat bisa menjadi beringas jika merasuki pemimpin yang karismatik. David Koresh melihat dirinya sebagai orang yang ditunjuk Tuhan." "Teruskan." "Begini, salah satu masalah yang dihadapi seseorang yang mengaku nabi adalah dia harus terusmenerus memperbarui dirinya. Dia tidak memiliki dukungan kelembagaan untuk mempertahankan kekuasaan jangka panjangnya. Juga tidak ada halangan kelembagaan mengenai perilakunya. Pemimpin itu mengendalikan semuanya, asalkan para pengikutnya masih menurutinya. Jadi, orang-orang ini bisa sangat beringas. Dan mereka bisa melakukan apa pun yang ada dalam kekuasaannya. "Beberapa orang yang paranoid akan menanggapi berbagai ancaman atas kekuasaannya dengan menjadi diktator yang sangat keji. Mereka mengajukan permintaan yang semakin aneh, memaksa pengikutnya untuk mematuhinya untuk menunjukkan kesetiaan mereka." "Misalnya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jim Jones melakukan pengujian keimanan, begitulah dia menamakan ritual itu. Anggota People's Temple dipaksa menandatangani pengakuan atau dipermalukan di depan orang banyak untuk membuktikan kesetiaannya. Salah satu ritualnya adalah mengharuskan orang minum cairan yang tidak dikenalnya. Ketika dikatakan bahwa cairan itu racun, orang itu tidak boleh menunjukkan rasa takut." "Bagus sekali." "Vasektomi adalah salah satu ujian yang paling populer. Ada pernyataan bahwa pimpinan Synanon mempersyaratkan semua anggota pria untuk melakukan operasi itu." Heidi seharusnya punya anak dengan Jason. "Bagaimana dengan pernikahan yang diatur?" "Jouret dan DiMambro, Jim Jones, David Koresh, Charles Manson. Semuanya menggunakan perjodohan yang dikendalikan. Diet, seks, aborsi, berpakaian, tidur. Tidak peduli seaneh apa pun permintaannya. Saat seorang pemimpin membuat pengikutnya mematuhi peraturannya, maka sebenarnya dia sedang menghancurkan halangan yang mungkin timbul. Akhirnya, penerimaan yang absolut akan berbagai perilaku ini membuat mereka terbiasa dengan konsep kekerasan. Awalnya adalah tindakan untuk

http://inzomnia.wapka.mobi

menunjukkan kesetiaan, berbagai permintaan yang sepertinya tidak berbahaya seperti gaya rambut atau meditasi di malam hari, atau bersanggama dengan sang juru selamat. Kelak permintaan sang pemimpin menjadi semakin mematikan." "Seperti mendewakan sebuah kegilaan." "Tepat sekali. Proses itu memiliki manfaat lainnya untuk sang pemimpin. Ia akan memilah-milah mereka yang komitmennya kurang kuat, karena mereka akan muak dan kemudian pergi." "OK. Jadi, ada beberapa kelompok seperti ini yang kehidupannya diatur oleh seorang pemimpin gila. Apa yang menyebabkan mereka bisa menjadi berbahaya di suatu saat tertentu? Kenapa hari ini dan bukan bulan depan, misalnya?" Tapi tidak sekarang. Sekarang terlalu cepat. "Sebagian besar kekerasan biasanya melibatkan apa yang disebut oleh para sosiolog sebagai 'meningkatnya ketegangan perbatasan'." "Jangan bicara dengan jargon begitu dong, Red." "OK. Kelompok semacam ini biasanya mengkhawatirkan dua hal, mendapatkan anggota dan mempertahankan anggota. Tapi, kalau pemimpin merasa terancam, penekanannya kadang bergeser.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kadangkadang, pencarian anggota dihentikan dan anggota yang sudah ada akan diawasi dengan lebih ketat. Permintaan untuk mematuhi peraturan yang eksentrik mungkin akan meningkat. Tema hari kiamat mungkin akan lebih sering didengungkan. Kelompok bisa semakin terisolasi dan semakin paranoid. Ketegangan dengan lingkungan sekitarnya, atau dengan pemerintah, atau pihak berwajib mungkin akan meningkat." "Apa yang biasanya mampu mengancam orangorang gila ini?" "Anggota yang meninggalkan mereka biasanya akan dipandang sebagai pengkhianat." Pada suatu pagi, kami bangun dan Heidi serta Brian sudah tidak ada. "Sang pemimpin mungkin merasa dia sudah mulai kehilangan kendali. Atau kalau sekte itu ada di beberapa tempat, dan dia tidak selalu bisa berada di tempat itu, dia mungkin merasa kekuasaannya melemah selama dia tidak berada di situ. Lebih gelisah. Lebih terisolasi. Lebih sewenangwenang. Lingkaran paranoid. Dan hanya dibutuhkan faktor eksternal untuk menarik pemicunya." "Seberapa besar gangguan eksternal itu?" "Macam-macam. Di Jonestown, gangguan itu hanya-

http://inzomnia.wapka.mobi

lah kunjungan dari anggota senat dan media massa, disertai usaha untuk kembali ke Amerika dengan membawa sekelompok anggota yang ingin meninggalkan sekte tersebut. Di Waco, serangan bergaya militer oleh Biro Alkohol, Tembakau, dan Senjata Api, dan masuknya gas CS, dan bolongnya dinding markas mereka oleh serudukan tank baja." "Kenapa harus berbeda-beda seperti itu?" "Hal ini berhubungan dengan ideologi dan pemimpinnya. Padepokan di Jonestown lebih berbahaya secara internal daripada komunitas di Waco." Jariku yang memegang gagang telepon terasa dingin. "Menurutmu Owens memiliki agenda kekerasan?" "Dia pasti perlu diawasi. Kalau dia menahan bayi temanmu secara paksa, kamu harus minta bantuan polisi." "Tidak jelas apakah temanku itu setuju meninggalkan anaknya di sana. Dia sangat enggan berbicara tentang sekte itu. Dia dibesarkan oleh orangorang itu sejak berusia delapan tahun. Aku belum pernah melihat orang yang sedemikian bingungnya. Tapi, kenyataan bahwa Jennifer Cannon tinggal di perkampungan Owens saat dia dibunuh seharusnya merupakan alasan yang cukup." Untuk sejenak kami berdua terdiam.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Mungkinkah Heidi dan Brian telah membuat Owens murka?" tanyaku. "Mungkinkah dia memerintahkan seseorang untuk membunuh mereka dan kedua bayinya?" "Bisa saja. Dan jangan lupa, dia juga mendapatkan pukulan lain. Sepertinya Jennifer Cannon telah merahasiakan telepon dari Kanada itu, kemudian menolak bekerja sama dengan Owens saat rahasianya terbongkar. Dan tentu saja ada kamu." "Aku?" "Brian menghamili Heidi di luar persetujuan sekte. Kemudian, pasangan itu pergi. Lalu, ada masalah dengan Jennifer. Kemudian, kamu dan Ryan muncul, ngomong-ngomong, ada sebuah kebetulan yang aneh juga." "Apa?" "Anggota senat yang muncul di Guyana. Namanya juga Ryan." "Beri aku sebuah perkiraan, Red. Berdasarkan apa yang baru kuceritakan ini, apa yang kamu lihat di bola kristalmu?" Dia terdiam beberapa saat lamanya. "Dari apa yang kamu ceritakan kepadaku, Owens mungkin cocok dengan profi I pemimpin yang karismatik dengan menganggap dirinya sebagai juru selamat. Dan sepertinya para pengikutnya sudah menerima visi itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Owens mungkin merasa mulai kehilangan kendali atas para anggotanya. Dia mungkin melihat penyelidikan yang kalian lakukan sebagai ancaman terhadap kekuasaannya." Diam lagi. "Dan Kathryn ini berbicara tentang menyeberang ke kehidupan abadi." Kudengar dia menarik napas panjang. "Berdasarkan semua itu, kurasa ada kemungkinan besar untuk terjadinya kekerasan." Kuselesaikan percakapan dengan Red, lalu menghubungi pager Ryan. Sambil menunggu, aku kembali menggarap laporan Hardaway. Aku baru saja hendak menariknya dari dalam amplop saat telepon berdering. Kalau aku tidak sedang gelisah, mungkin aku akan menganggapnya suatu hal yang ajaib. Aku seakan- akan memang tidak ditakdirkan untuk membaca dokumen itu. "Kamu pasti membentur dinding ketika lari pagi ini," ujar Ryan yang terdengar kelelahan. "Aku selalu bangun pagi-pagi. Aku kedatangan tamu." "Coba kutebak. Gregory Peck."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kathryn muncul pagi ini. Katanya dia menginap di UNCC dan menemukan alamatku melalui buku alamat kampus." "Bukan hal yang cerdas untuk mencantumkan alamat rumahmu di situ." "Memang aku tidak pernah mencantumkannya. Jennifer Cannon pernah tinggal di padepokan Saint Helena." "Waduh." "Kathryn tidak sengaja mendengar pertengkaran antara Jennifer dan Owens. Hari berikutnya Jennifer menghilang." "Informasi yang bagus, Brennan." "Dan berikutnya lebih bagus lagi." Kuceritakan bagaimana Jennifer bisa memakai telepon dan persahabatannya dengan Heidi. Ryan menanggapinya dengan berita hebat yang baru ditemukannya. "Waktu kamu bicara dengan Hardaway, kamu bertanya kapan saat terakhir kalinya orang melihat Jennifer Cannon. Yang tidak kamu tanyakan adalah di mana Jennifer terlihat terakhir kalinya. Ternyata bukan di Calgary. Jennifer sudah lama tidak tinggal di sana sejak pergi untuk belajar di universitas. Menurut ibunya, mereka terus berhubungan sampai beberapa waktu sebelum dia menghilang. Kemudian, panggilan telepon dari putrinya semakin jarang dan saat mereka berbicara, Jennifer sepertinya semakin menjauh dari ibunya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jennifer menelepon ke rumah pada hari Thanksgiving dua tahun yang lalu, kemudian menghilang begitu saja. Ibunya menghubungi sekolah, menelepon teman-teman putrinya, bahkan mendatangi kampus, tetapi dia tidak pernah tahu ke mana Jennifer pergi. Saat itulah dia melaporkan Jennifer hilang." "Dan?" Kudengar Ryan menarik napas panjang. "Jennifer Cannon terakhir kalinya terlihat meninggalkan kampus Universitas McGill." "Tidak mungkin." "Betul. Dia tidak ikut ujian atau ikut kuliah. Dia tiba-tiba berkemas dan pergi begitu saja." "Berkemas?" "Ya. Itulah sebabnya polisi tidak bekerja keras mencarinya. Dia mengepak semua barangnya, menutup rekening bank, meninggalkan pesan pada pengurus apartemen, dan menghilang. Tidak ada indikasi penculikan." Pikiranku membayangkan sesuatu, kemudian menolak untuk bisa melihatnya dengan lebih jelas lagi. Sebuah wajah berponi. Gerakan yang gugup. Kupaksa bibirku untuk mengucapkan apa yang kupikirkan. "Seorang wanita muda lainnya menghilang dari padepokan itu pada saat yang sama dengan hilangnya Jennifer Cannon. Kathryn tidak tahu

http://inzomnia.wapka.mobi

namanya karena wanita itu orang baru." Aku menelan ludah. "Menurut Kathryn gadis itu mungkin bernama Anne." "Aku tidak mengerti." "Anna Goyette pernah"-aku memperjelas katakataku-"maksudku, Anna adalah mahasiswi McGill." "Anna adalah nama yang umum." "Kathryn mendengar Jennifer dan gadis ini berbicara dalam bahasa asing." "Prancis?" "Aku tidak yakin apakah Kathryn mengenal bahasa Prancis." "Menurutmu korban Murtry yang kedua mungkin Anna Goyette?" Aku tidak menjawab. "Brennan, hanya karena seorang gadis muncul di Saint Helena, yang mungkin bernama Anna, tidak berarti ada reuni mahasiswa McGill. Cannon meninggalkan universitas itu dua tahun yang lalu. Goyette berusia sembilan belas tahun. Dia belum kuliah saat itu." "Benar. Tapi semua data lainnya cocok." "Entahlah. Dan seandainya pun Jennifer Cannon tinggal dengan Owens, tidak berarti lelaki itu membunuhnya." "Mereka bertengkar. Gadis itu menghilang. Tubuh nya di- temukan di dalam sebuah kuburan yang dangkal."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Mungkin dia suka menggunakan narkoba. Atau, temannya Anne yang terlibat. Mungkin, Owens menemukan hal itu dan mengusir mereka. Mereka tidak punya tujuan, jadi mereka memeras rekan bisnisnya. Atau mereka pergi sambil membawa sekantong narkoba." "Menurutmu, itukah yang terjadi?" "Begini, yang kita tahu hanyalah bahwa Jennifer Cannon meninggalkan Montreal dua tahun yang lalu dan tubuhnya ditemukan di Pulau Murtry. Dia mungkin pernah tinggal sebentar bersama komunitas di Saint Helena. Dia mungkin bertengkar dengan Owens. Kalau begitu adanya, semua fakta itu bisa jadi atau mungkin juga tidak relevan dengan kematiannya." "Semuanya cocok dengan pertanyaan tentang keberadaan dirinya selama dua tahun terakhir ini." "Ya." "Apa yang akan kamu lakukan?" "Pertama, aku akan menemui Sheriff Baker untuk melihat apakah dia bisa mengupayakan surat penggeledanan. Lalu, aku akan menyelidiki ke Texas. Aku mau tahu setiap jengkal tempat yang pernah dikunjungi Owens. Kemudian, kembali ke Padepokan Setan itu untuk melakukan pengintaian terang-terangan. Aku ingin

http://inzomnia.wapka.mobi

melihat warna keringat guru itu, dan aku tidak punya banyak waktu. Aku harus ada di Montreal hari Senin." "Menurutku dia berbahaya, Ryan." Dia mendengarkan tanpa memotong pembicaraanku saat kuceritakan percakapanku dengan Red Skyler. Setelah selesai, kami tidak berkata apaapa untuk beberapa saat lamanya, sementara Ryan mencerna kata-kata sosiolog itu, menghubungkannya dengan apa yang baru saja kami diskusikan. "Aku akan menghubungi Claudel dan menanyakan status Anna Goyette." "Terima kasih, Ryan." "Awasi Kathryn ya," ujarnya dengan suara lesu. "Oke." Aku tidak pernah mendapatkan kesempatan itu. Saat aku naik ke atas, Kathryn sudah tidak ada. 27. "Sialan!" seruku ke ruangan yang kosong. Birdie mengikutiku ke lantai atas. Dia terpaku saat mendengar ledakan emosiku, merendahkan kepalanya, dan menatapku dengan pandangan tajam. "Sialan!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Tidak ada yang menjawab. Ryan memang benar. Kathryn masih belum stabil. Aku tahu bahwa aku tidak bisa menjamin keselamatannya, atau keselamatan bayinya, jadi mengapa aku merasa bertanggung jawab? "Dia pergi, Birdie. Apa yang bisa kita lakukan?" Kucing itu tidak menawarkan solusi, jadi kuikuti polaku sendiri. Saat merasa gelisah, aku bekerja. Aku kembali ke dapur. Pintu terbuka dan tiupan angin telah menyerakkan foto-foto autopsi itu. Atau, apakah memang angin yang melakukannya? Laporan Hardaway masih berada di tempat yang kutinggalkan tadi. Apakah Kathryn telah melihat foto-foto itu? Apakah foto-foto yang mengerikan itu membuatnya melarikan diri dengan panik? Karena merasakan serangan perasaan bersalah, aku duduk dan memilahmilah foto itu. Setelah dibersihkan dari gerombolan belatung dan tanah, tubuh Jennifer Cannon terlihat lebih awet dari

http://inzomnia.wapka.mobi

yang kubayangkan. Walaupun pembusukan sudah menggerogoti wajah dan isi rongga perutnya, lukanya masih jelas terlihat di tubuhnya yang membengkak dan sudah membiru. Luka sayatan. Ratusan luka. Ada beberapa yang melingkar, ada yang lurus, berukuran satu sampai beberapa cm. Luka itu mengumpul di dekat lehernya, di bagian kepala, dan di sepanjang lengan dan kakinya. Seluruh tubuhnya seperti kanvas yang penuh luka, tetapi pembengkakan kulit membuat bekas luka ini sulit diamati. Bercak hematoma tampak di manamana. Kuperiksa beberapa foto jarak dekat. Walaupun luka di dada memiliki pinggiran yang halus, sayatan lain terlihat bergerigi dan tidak rata. Sebuah sayatan dalam di bagian atas lengan kanannya menunjukkan daging yang robek dan serpihan tulang. Aku beralih ke foto kepala. Walaupun ada pengelupasan, kebanyakan rambut masih menempel. Anehnya, sisi belakang menunjukkan tulang yang berkilat di antara rambut yang acak-acakan, seakanakan ada bagian kulit kepalanya yang hilang. Aku sudah pernah melihat pola itu sebelumnya. Di mana? Kuselesaikan pengamatan foto itu, lalu membuka laporan Hardaway.

http://inzomnia.wapka.mobi

Dua puluh menit kemudian, kusandarkan tubuhku dan kupejamkan mata. Kemungkinan penyebab kematian: habisnya darah akibat luka tusukan. Luka di dada dengan sayatan halus dibuat oleh pisau yang memotong beberapa pembuluh darah utama. Karena pembusukan, ahli patologi tidak merasa yakin mengenai penyebab luka sayatan lainnya. Kulewati hari itu dalam suasana gelisah. Kutuliskan laporan tentang Jennifer Cannon dan korban Murtry lainnya, kemudian beralih ke data CAT scan, berhenti beberapa kali untuk mendengarkan apakah Kathryn kembali ke rumah. Ryan menelepon jam dua untuk mengabarkan bahwa berita tentang Jennifer Cannon telah meyakinkan seorang hakim dan surat izin penggeledahan sudah diterbitkan untuk menggeledah padepokan Saint Helena. Dia dan Baker akan ke sana segera setelah surat itu sampai. Kuceritakan hilangnya Kathryn dan mendengarkan suaranya yang berusaha meyakinkanku bahwa itu bukan salahku. Aku juga menceritakan kembalinya Birdie. "Setidaknya ada berita bagus." "Ya. Sudah ada kabar tentang Anna Goyette?" "Belum." "Texas?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Masih menunggu. Akan kukabarkan nanti apa yang terjadi di sini." Saat menutup telepon, kurasakan belaian bulu di pergelangan kakiku dan melihat ke bawah, ke Birdie yang sedang membuat guratan angka delapan di antara kedua kakiku. "Ayo Bird. Bagaimana kalau kita makan?" Kucingku kadang-kadang senang dengan mainan anjing yang bisa digigitgigit. Aku pernah mencoba menjelaskan bahwa semua mainan itu sebenarnya untuk anjing, tapi dia tidak peduli. Kuambil sebuah mainan tulang kecil dari laci lemari dapur dan melemparkannya ke ruang duduk. Birdie berlari menyeberangi ruangan, mengintai, kemudian menerkam mangsanya. Dia menegakkan tubuhnya, memosisikan barang itu di antara kedua cakar depannya, dan mulai menggigit-gigit barang buruannya itu. Aku mengamatinya, bertanya dalam hati, apa yang menarik dari barang yang licin itu. Kucingku mengunyah ujungnya, kemudian membalikkan mainan itu dan menggigiti benda itu dari satu ujung ke ujung lainnya. Benda itu terjatuh dan Bird menariknya kembali dan menancapkan taringnya ke kulitnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku mengamatinya, terpaku. Apakah itu penyebabnya? Kudekati Birdie, berjongkok, dan menarik benda mainannya itu. Birdie meletakkan cakar depannya di lututku, berdiri dengan kedua kaki belakangnya dan mencoba merebut kembali hadiahnya itu. Degup jantungku semakin kencang saat aku melihat kulit yang sudah dikoyakkoyak itu. Ya Tuhan. Kubayangkan luka yang tidak jelas penyebabnya di kulit Jennifer. Sayatan buatan. Koyakan yang bergerigi. Aku berlari ke ruangan duduk, mencari kaca pembesar, bergegas ke dapur dan meraih foto-foto itu kembali. Kupilih foto kepala dan mengamatinya dari balik kaca pembesar itu. Daerah yang botak itu bukan disebabkan oleh pembusukan. Rambut yang tersisa masih menempel dengan kuat di kulit kepala. Bagian kulit dan rambut yang terlepas berbentuk segi empat, ujungnya tampak robek dan bergerigi. Kulit kepala Jennifer Cannon telah dirobek dari batok kepalanya. Aku memikirkan apa arti semua itu. Dan aku memikirkan hal lainnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Apakah aku memang benar-benar bodoh? Apakah pola pikirku yang sudah ditentukan sebelumnya telah membutakan mataku akan sesuatu yang sebenarnya sudah jelas? Kuraih kunci dan tasku, kemudian berlari keluar rumah. Empat puluh menit kemudian, aku sudah berada di universitas. Tulangbelulang korban Murtry yang belum teridentifi kasi menatap dari meja labku. Bagaimana aku bisa begitu ceroboh? "Jangan pernah mengasumsikan sumber luka." Kata-kata guruku muncul kembali dalam ingatanku setelah sekian puluh tahun tertanam di benakku. Aku telah masuk perangkap. Ketika melihat hancurnya tulang, aku ingat pada rakun dan burung pemakan bangkai. Aku tidak melihatnya dengan jelas. Aku tidak mengukurnya. Sekarang aku akan melakukannya. Walaupun ada kerusakan yang luas di batok kepala sebagai ulah para pemakan bangkai, luka lainnya sudah ada sebelumnya. Dua lubang di bagian belakang tengkorak adalah luka yang paling jelas. Masing-masing berukuran lima milimeter, dengan jarak tiga puluh lima milimeter di antara keduanya. Luka ini tidak disebabkan oleh burung

http://inzomnia.wapka.mobi

pemakan bangkai, dan pola itu terlalu besar sehingga tidak mungkin ulah rakun. Luka ini disebabkan oleh anjing yang cukup besar. Begitu juga goresan yang sejajar di tulang kepala dan lubang-lubang kecil yang sama di bagian bahu dan rusuk. Jennifer Cannon dan rekannya telah diserang oleh binatang, mungkin anjing besar. Gigi binatang itu telah merobek daging keduanya dan menembus tulangnya. Beberapa gigitan cukup kuat sehingga mampu menembus tebalnya tulang tengkorak. Pikiranku melompat. Carole Comptois, korban di Montreal yang digantung di pergelangan tangannya dan disiksa, juga diterkam seekor binatang. Kesimpulan yang bagus, Brennan. Ya. Tidak masuk akal. Tidak, ujarku kepada diri sendiri. Justru sebaliknya. Sebelumnya, sikapku yang skeptis tidak membantu korban-korban ini. Aku begitu ceroboh ketika memerhatikan luka akibat serangan binatang ini. Aku meragukan hubungan antara Heidi Schneider dan Dom Owens, dan

http://inzomnia.wapka.mobi

aku juga tidak berhasil melihat hubungan lelaki itu dengan Jennifer Cannon. Aku juga tidak menolong Kathryn atau Carlie, dan aku tidak melakukan apa pun untuk mencari Anna Goyette. Mulai sekarang, jika diperlukan, aku akan melakukan sesuatu. Jika ada kemungkinan sekecil apa pun bahwa Carole Comptois dan para wanita di Pulau Murtry ada hubungannya, aku akan membuka pikiranku untuk menerima kemungkinan itu. Kutelepon Hardaway, tidak terlalu berharap dia bekerja di Sabtu sore seperti ini. Dia tidak ada di kantornya. Begitu juga dengan LaManche, ahli patologi yang telah melakukan autopsi atas Comptois. Kutinggalkan pesan untuk keduanya. Dengan gemas, kuambil sebuah buku dan kutuliskan hal-hal yang telah kuketahui. Baik Jennifer Cannon maupun Carole Comptois berasal dari Montreal. Keduanya tewas akibat serangan binatang. Tulang-belulang yang dikuburkan dengan Jennifer Cannon juga memiliki tanda bekas gigitan binatang. Korban itu tewas dengan kadar Rohypnol yang sangat tinggi, menyiratkan keracunan akut. Rohypnol ditemukan pada kedua korban yang ditemukan bersama Heidi Schneider dan keluarganya di St-Jovite.

http://inzomnia.wapka.mobi

Rohypnol ditemukan pada beberapa mayat di lokasi pembunuhan/bunuh diri kelompok Order of the Solar Temple. The Solar Temple beroperasi di Quebec dan Eropa. Ada panggilan telepon dari rumah di St-Jovite ke komune Dom Owens di Saint Helena. Keduanya property milik Jacques Guillion, yang juga pemilik property di Texas. Jacques Guillion adalah orang Belgia. Salah seorang korban di St-Jovite, Patrice Simonnet, juga orang Belgia. Heidi Schneider dan Brian Gilbert bergabung dengan kelompok Owens di Texas dan kembali ke sana untuk melahirkan kedua bayinya. Mereka meninggalkan Texas dan dibunuh. Di St-Jovite. Korban St-Jovite tewas kira-kira tiga minggu yang lalu. Jennifer Cannon dan korban yang belum teridentifi kasi tewas tiga sampai empat minggu yang lalu. Carole Comptois mati kurang dari tiga minggu yang lalu. Kutatap halaman itu. Sepuluh. Sepuluh orang tewas. Kembali frasa aneh itu melesat di dalam benakku. Death du jour. Kematian hari ini. Kami

http://inzomnia.wapka.mobi

menemukannya hari demi hari, tetapi semuanya tewas pada saat yang bersamaan. Siapa yang berikutnya? Lingkaran setan apakah yang sedang kami masuki saat ini? etibanya di rumah, segera kuhidupkan komputer untuk merevisi laporanku tentang mayat Murtry dengan menyertakan luka akibat serangan binatang. Kemudian, kucetak dan kubaca ulang perbaikan yang baru kuketik. Setelah selesai, jam menyanyikan lagu Westminster yang lengkap, kemudian terdengar enam dentingan. Perutku menggeram, menandakan bahwa aku belum makan apa-apa sejak roti bagel dan kopi di pagi hari. Aku beranjak ke beranda, memetik daun kemangi dan bawang putih. Kemudian, kuiris lapisan keju, mengambil dua telur dari lemari es, dan menumis semuanya. Kupang-gang sekerat roti bagel, menuangkan segelas Diet Coke, dan kembali ke meja di ruangan duduk. Ketika melihat catatan yang kubuat di universitas, sebuah pikiran yang mengkhawatirkan muncul dalam benakku. Anna Goyette juga menghilang kurang dari tiga minggu yang lalu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Rasa laparku langsung hilang. Kutinggalkan meja dan duduk di sofa. Aku berbaring dan membiarkan pikiranku melayang, membiarkan berbagai hubungan yang mungkin terjadi untuk mengambang ke permukaan. Kuurutkan berbagai nama. Schneider. Gilbert. Comptois. Simonnet. Owens. Cannon. Goyette. Tidak ada hubungannya. Usia. Empat bulan. Delapan belas. Dua puluh lima. Empat puluh. Tidak ada pola. Tempat. Sf-Jovite. Saint Helena. Hubungan? Saint. Apa itu bisa menjadi penghubung? Aku menuliskan catatan. Tanya Ryan lokasi properti milik Guillion di Texas. Kugigit-gigit kuku jempolku. Apa yang membuat Ryan sedemikian lama? Mataku melayang ke beberapa rak yang merapat ke enam dinding ruangan untuk berjemur, yang semuanya berjumlah delapan dinding. Buku disusun dari lantai sampai langit-langit. Itu adalah hal yang tidak pernah bisa kusingkirkan. Aku benar-benar harus memilah-milah dan membuang buku yang tidak terpakai lagi. Aku memiliki belasan dokumen yang tidak pernah kubaca lagi, beberapa dari masa aku masih kuliah dulu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Universitas. Jennifer Cannon. Anna Goyette. Keduanya mahasiswa di McGill. Aku memikirkan Daisy Jeannotte, dan kata-kata aneh yang diucapkannya tentang asistennya. Mataku mendarat di komputer. Screen saver berbentuk tulang belakang yang meliuk-liuk seperti ular di sekeliling monitor. Tulang panjang menggantikan tulang belakang, kemudian tulang rusuk, pinggul, dan layar pun menjadi gelap. Pertunjukan dimulai lagi dengan menampakkan tengkorak yang berputar perlahan. Email. Ketika aku dan Jeannotte bertukar alamat, aku memintanya untuk menghubungiku saat Anna sudah kembali. Aku belum memeriksa pesan di komputerku selama berhari-hari. Kubuka internet, mengunduh surat, dan memindai nama para pengirim. Tidak ada satu pun dari Jeannotte. Keponakanku, Kit, mengirimkan tiga pesan. Dua dikirim minggu yang lalu dan satu dikirim pagi ini. Kit tidak pernah mengirimiku email. Kubuka suratnya yang terakhir. Dari: khoward Kepada: tbrennan Subjek: Harry Bibi Tempe:

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku meneleponmu, tapi sepertinya Bibi tidak ada di rumah. Aku benarbenar khawatir tentang Harry. Tolong telepon aku. Sejak usia dua tahun, Kit memanggil ibunya dengan namanya saja. Walaupun orangtuanya tidak setuju, anak itu tidak mau mengubahnya. Harry terdengar lebih cocok di telinganya. Saat aku berusaha mencari pesan-pesan sebelumnya dari keponakanku, kurasakan emosi yang bercampur-aduk. Mengkhawatirkan keselamatan Harry. Kesal karena sikapnya yang sembarangan. Rasa iba pada Kit. Rasa bersalah karena aku sering tidak peduli. Dia pasti menelepon ketika aku sedang berbicara dengan Kathryn. Aku masuk ke ruangan duduk dan menekan tombol mesin penjawab telepon. Hi, Bibi Tempe. Ini Kit. Aku menghubungimu untuk membicarakan Harry. Waktu aku menelepon ke apartemenmu di Montreal, dia tidak mengangkatnya dan aku tidak tahu ke mana dia pergi. Aku tahu dia masih di sana sampai beberapa hari yang lalu. Pause. Saat terakhir kalinya kami berbicara, dia

http://inzomnia.wapka.mobi

kedengarannya aneh, lebih aneh daripada biasanya. Tawa gugup. Apakah dia masih di Quebec? Kalau tidak, apakah Bibi tahu di mana dia? Aku khawatir. Aku belum pernah mendengar suaranya seaneh ini. Tolong telepon aku. Bye. Kubayangkan keponakanku, dengan matanya yang hijau dan rambutnya yang kecokelatan. Sungguh sulit dipercaya bahwa Howard Howard telah memberikan kontribusi gennya kepada Harry. Dengan tinggi lebih dari dua meter dan kurus seperti tangga, Kit adalah jelmaan ayahku. Kuputar pesan itu sekali lagi dan memikirkan apa ada sesuatu yang tidak beres. Tidak, Brennan. Tetapi, mengapa Kit sedemikian khawatirnya? Telepon dia. Harry baik-baik saja. Kutekan tombol otomatis. Tidak ada jawaban. Kucoba menelepon rumahku di Montreal. Sama saja. Kutinggalkan pesan. Pete. Dia belum mendapat kabar dari Harry. Tentu saja. Dia menyenangi adikku sama seperti dia menyenangi jamur kuku. Harry juga tahu itu. Cukup, Brennan. Kembali ke korban-korban tadi. Mereka membutuhkanmu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kukembalikan pikiranku ke adikku. Harry sudah pernah pergi tanpa berita. Aku harus mengasumsikan bahwa dia baik-baik saja. Aku kembali ke sofa dan berbaring. Saat terbangun, aku masih memakai baju yang tadi, telepon berdering di atas dadaku. "Terima kasih karena sudah menelepon, Bibi Tempe, aku-mungkin aku terlalu cemas berlebihan, tapi ibuku terdengar seperti sangat tertekan saat terakhir kalinya kami bicara. Dan sekarang dia menghilang.Tidak seperti Harry. Maksudku, biasanya dia tidak pernah terdengar begitu tertekan." "Kit, aku yakin dia baik-baik saja." "Bibi mungkin memang benar, tapi, yah, kami sudah menyusun rencana. Dia selalu mengeluhkan bahwa kami tidak pernah menghabiskan waktu bersama-sama lagi, jadi aku berjanji untuk pergi naik kapal dengannya minggu depan. Boleh dikatakan aku sudah selesai melaksanakan renovasi itu, jadi aku dan Harry akan berlayar di Teluk selama beberapa hari. Kalau dia berubah pikiran, dia 'kan bisa meneleponku." Kurasakan amarah yang biasa kurasakan saat berhadapan dengan kecuekan adikku.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dia pasti menghubungimu, Kit. Waktu aku meninggalkannya, dia sibuk dengan pelatihannya. Kamu tahu 'kan sifat ibumu?" "Ya." Dia berhenti sejenak. "Tapi, justru itu. Dia kedengarannya seperti ..." Dia mencari-cari katayang tepat. "Datar. Tidak seperti Harry." Aku teringat malamku yang terakhir dengan Harry. "Mungkin karena ada hal baru yang ditemukannya. Ketenangan yang indah." Kata-kataku bahkan terdengar tidak masuk akal untuk diriku sendiri. "Yah. Mungkin begitu. Apakah dia pernah mengatakan mau ke mana?" "Tidak. Kenapa?" "Kata-katanya membuatku berpikir bahwa dia sedang merencanakan untuk pergi ke suatu tempat. Tapi, sepertinya, bukan idenya sendiri, atau dia memang tidak mau pergi? Ah, entahlah." Dia menghela napas. Dalam benakku, kulihat keponakanku menyisir rambutnya ke belakang dengan tangannya, kemudian mengelus bagian atas kepalanya. Itu yang dilakukan Kit kalau sedang frustrasi. "Apa katanya?" Walaupun sudah membuat kesimpulan, aku mulai gelisah.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku tidak ingat jelasnya, tapi begini kira-kira. Tidak ada bedanya apa yang dia pakai atau bagaimana penampilannya. Apakah itu kedengarannya seperti ibuku?" Tidak. Sama sekali tidak. "Bibi Tempe, apakah Bibi tahu tentang pelatihan yang sedang diikuti Harry?" "Hanya namanya saja. Inner Life Empowerment, kalau tidak salah. Apakah kamu merasa lebih baik kalau aku mencari tahu?" "Ya." "Dan aku akan menelepon tetanggaku di Montreal dan menanyakan apakah mereka pernah melihat Harry. Ok?" "Ya." "Kit. Kamu masih ingat ketika dia bertemu dengan Striker?" Hening sejenak. "Ya." "Apa yang terjadi?" "Harry pergi mengikuti perlombaan balon udara, pergi selama tiga hari, dan tahu-tahu sudah menikah." "Ingat betapa khawatirnya kamu saat itu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya. Tapi, dia tidak lupa membawa alat pengikal rambutnya waktu itu. Tolong minta dia menghubungi aku ya? Aku sudah meninggalkan pesan, tapi mungkin dia memang sedang marah atau apa. Siapa tahu?" Kututup gagang telepon dan melihat jam. Jam dua belas lewat lima belas menit. Aku mencoba menghubungi Montreal. Harry tidak menjawabnya, jadi aku meninggalkan pesan lagi. Saat berbaring di kegelapan, pikiranku menyediakan diri untuk ditanyai sekali lagi. Mengapa aku tidak menghubungi ILE? Karena tidak ada alasan untuk melakukan hal itu. Harry ikut pelatihan itu melalui sebuah lembaga yang sah, dan tidak ada alasan untuk menjadi khawatir. Lagi pula, kalau aku ingin mengetahui semua rencana Harry, aku butuh waktu penyelidikan yang lama. Besok. Aku akan menelepon besok. Tidak malam ini. Kuakhiri penyelidikan ini. Kunaiki tangga, membuka baju dan merebahkan diri di bawah seprai. Aku butuh tidur. Aku butuh istirahat dan melepaskan diri dari segala kekacauan yang mendominasi pikiranku.

http://inzomnia.wapka.mobi

Di atas kepala, kipas di langit-langit berdengung dengan suara lembut. Kubayangkan kamar makan Dom Owens, dan walaupun aku berusaha keras menyingkirkannya, semua nama itu melayang-layang kembali. Brian. Heidi. Brian dan Heidi adalah mahasiswa. Jennifer Cannon adalah mahasiswa. Anna Goyette. Perutku melilit. Harry. Harry mendaftarkan diri mengikuti seminar pertamanya di North Harris County Community College. Harry seorang mahasiswa. Vang lain dibunuh atau hilang saat berada di Quebec. Adikku ada di Quebec. Atau apakah dia memang di sana? Ke mana sih Ryan? Saat akhirnya Ryan menelepon, perasaan khawatirku meningkat menjadi rasa takut yang nyata. 28.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Pergi? Maksudmu pergi bagaimana?" Aku sudah terti-dur nyenyak, dan ketika Ryan membangunkanku di pagi buta, aku sedikit pusing dan masih belum bangun sepenuhnya. "Ketika kami sampai ke sana dengan membawa surat izin penggeledahan, tempat itu sudah ditinggalkan." "Dua puluh enam orang menghilang begitu saja?" "Owens dan seorang wanita mengisi bensin mobilnya sekitar pukul tujuh pagi kemarin. Tukang pompa bensinnya ingat karena hal itu di luar kegiatan rutin mereka. Aku dan Baker mengunjungi komune itu sekitar pukul lima sore. Antara kedua waktu itu sang pendeta dan para pengikutnya pergi dari tempat itu." "Mereka pergi begitu saja?" "Baker sudah mengeluarkan APB (semacam perintah kepada kepolisian untuk melacak penjahat), tapi sejauh ini belum ada yang melaporkan melihat mobil van itu." "Ya ampun." Aku tidak memercayai apa yang kudengar. "Sebenarnya, ada berita yang lebih buruk lagi." Aku menunggu. "Sekitar delapan belas orang lainnya telah menghilang di Texas." Aku merasa diriku membeku.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ternyata ada sekelompok orang lainnya di dalam properti milik Guillion di sana. Kantor Sheriff Fort Bend County telah mengawasi mereka selama beberapa tahun dan tidak berkeberatan mengunjungi tempat itu. Sayangnya, saat tim polisi tiba di sana, mereka sudah menghilang. Mereka menemukan seorang lelaki tua dan seekor anjing cocker spaniel bersembunyi di bawah beranda." "Apa katanya?" "Lelaki itu sekarang ditahan, tapi entah dia itu sudah pikun atau tolol, dia belum memberikan keterangan apa pun." "Atau mungkin sangat ketakutan." Kuamati langit kelabu di luar jendelaku yang semakin terang. "Sekarang bagaimana?" "Sekarang aku akan menggeledah padepokan Saint Helena dan berharap polisi setempat bisa menemukan petunjuk ke mana Owens membawa mereka pergi." Kulirik jam. Tujuh lewat sepuluh dan aku sudah dihadapkan pada situasi berat begini. "Bagaimana ceritamu?" Kuceritakan tentang bekas gigitan di tulang dan kecurigaanku tentang Carole Comptois.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bukan modus operandi yang tepat." "Modus operandi apa? Simonnet ditembak, Heidi dan keluarganya disayatsayat dan digorok, dan kita belum tahu apa penyebab kematian yang dua orang di lantai atas. Cannon dan Comptois keduanya diserang binatang dan pisau. Itu bukan kejadian yang biasa kita temui." "Comptois dibunuh di Montreal. Cannon dan temannya ditemukan hampir dua ribu kilometer di selatan tempat itu. Apa anjing itu naik pesawat?" "Aku tidak mengatakan bahwa mereka diserang oleh anjing yang sama. Hanya dengan pola yang sama." "Kenapa?" Aku sudah mengajukan pertanyaan itu kepada diriku sepanjang malam. Dan siapa? "Jennifer Cannon adalah mahasiswi McGill. Begitu juga Anna Goyette. Heidi dan Brian juga sedang kuliah saat mereka bergabung dengan kelompok Owens. Apa kamu bisa mencari informasi apakah Carole Comptois kuliah di kampus mana? Apa dia mengambil kursus atau bekerja di kampus?" "Dia seorang WTS." "Mungkin dia memenangkan beasiswa," tukasku. Sikap nya yang negatif mulai membuatku kesal. "Ok, Ok. Jangan marah-marah seperti itu dong."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ryan ..." Aku ragu-ragu, tidak mau membuat ketakutanku menjadi kenyataan dengan mengungkapkannya dalam kata-kata. Dia menunggu. "Adikku mendaftar untuk ikut seminar di univesitas swasta di Texas." Untuk sejenak, hening. "Anaknya meneleponku kemarin karena dia tidak bisa menghubungi ibunya. Aku juga begitu." "Dia mungkin sedang dikucilkan sebagai bagian dari pelatihan itu. Kamu tahu 'kan, seperti retret begitu. Mungkin dia sedang merenung dan melakukannya dengan menyendiri. Tapi, kalau kamu benar-benar khawatir, telepon kampusnya saja." "Iya juga ya." "Meskipun dia mendaftar di Lone Star State tidak berarti-" "Aku tahu, aku seperti orang paranoid, tapi katakata Kathryn membuatku ketakutan, dan sekarang Dom Owens sedang merencanakan entah apa dan entah di mana." "Kita akan menangkapnya." "Aku tahu."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Brennan, entah bagaimana mengatakannya." Dia m narik napas panjang kemudian mengembuskannya. "Adikmu sedang mengalami sebuah transisi, dan sekarang ini dia membuka diri untuk menerima hubungan baru apa pun. Dia mungkin bertemu dengan seseorang dan pergi selama beberapa hari." Tanpa membawa alat pengikal rambutnya? Kegelisahan menghujam seperti gundukan salju tebal yang beku di dalam dadaku. Setelah kami memutuskan hubungan telepon, kucoba lagi menelepon Harry. Di dalam kepalaku kulihat telepon berdering di apartemenku yang kosong. Dia pergi ke mana sih jam tujuh di hari Minggu pagi begini? Minggu. Sialan! Aku bahkan tidak bisa menghubungi kampusnya sampai besok. Kuseduh kopi, kemudian menelepon Kit, walaupun di Texas baru jam enam pagi. Dia terdengar sopan, tetapi sekaligus gugup, dan tidak mengikuti alur pertanyaanku. Ketika akhirnya memahami perkataanku, dia tidak yakin apakah pelatihan yang diikuti ibunya itu merupakan mata kuliah rutin dari kampusnya. Dia ingat pernah melihat beberapa bukunya dan berjanji akan ke rumah ibunya untuk memeriksa.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku tidak bisa duduk diam begitu saja. Kubuka koran Observer, kemudian jurnal Belanger. Aku bahkan mencoba menonton pendeta yang berkhotbah di Minggu pagi. Baik berita kejahatan, Louis-Phillipe, ataupun khotbah itu tidak bisa menarik perhatianku. Jiwaku bersembunyi di jalan buntu tanpa bisa keluar. Karena suasana hatiku tidak enak, kukenakan sepatu olahraga dan keluar rumah. Langit terlihat cerah, udara lembut dan lembap saat kususuri Queens Road West, kemudian memotong di Princeton menuju Freedom Park. Bulir keringat mengalir deras seperti anak sungai ketika sepatu Nikeku dipacu mengelilingi laguna. Bebek-bebek kecil meluncur dalam satu barisan di belakang ibu mereka, suara mereka mengiringi cuaca di Minggu pagi itu. Pikiranku tetap kacau dan tidak menentu, para tokoh dan berbagai kejadian selama minggu-minggu terakhir ini berputar-putar di benakku. Aku mencoba memusatkan perhatian pada irama sepatuku, irama napasku, tetapi ucapan Ryan terus terngiang-ngiang di telingaku. Hubungan baru. Itukah sebutan yang diciptakannya bersama Harry untuk

http://inzomnia.wapka.mobi

malam di Hurley itu? Itukah sebutan untuk petualanganku dengannya di Melannie Tess? Kuseberangi taman, berlari ke utara menuju klinik, kemudian menyusuri jalanan sempit di Myers Park. Kulewati taman-taman yang indah dan pekarangan untuk parkir mobil, di sana-sini diurus dengan apiknya oleh pemilik rumah. Aku baru saja menyeberangi Providence ketika bertabrakan dengan lelaki bercelana cokelat, berkemeja merah muda, dan jaket olahraga yang kusut yang sepertinya asli dari Sears. Dia menjinjing tas kerja yang sudah usang dan tas kanvas yang menggelembung berisi korsel untuk slides. Ternyata Red Skyler. "Sedang menggelandang di tenggara sini?" tanyaku, mencoba mengatur napas kembali. Red tinggal di sisi lain dari Charlotte, di dekat universitas. "Aku mengajar di Myers Park Methodist hari ini." Dia menunjuk sebuah kompleks bangunan abuabu di seberang jalan. "Aku datang pagi-pagi untuk mempersiapkan slide-nya." "Oh oke." Aku sudah basah oleh keringat dan rambutku menempel ke kulit. Kucubit kaus oblongku dan melepaskannya dari tubuhku. "Bagaimana kemajuan kasusmu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak baik. Owens dan para pengikutnya menghilang ditelan bumi." "Mereka bersembunyi?" "Rupanya begitu. Red, boleh aku tanya sehubungan dengan pernyataanmu kemarin?" "Tentu saja." "Ketika kita mendiskusikan sekte, kamu katakana ada dua jenis sekte pada umumnya. Kita asyik membicarakan satu jenis sekte sampai lupa membicarakan jenis yang satunya lagi." Seorang lelaki berlari melewati kami sambil membawa anjing poodle Standard yang hitam. Keduanya sama-sama perlu dicukur. "Kamu bilang, ada program pengenalan diri yang dikomersialkan dalam defi nisimu tentang sekte." "Ya. Kalau mereka mengandalkan perubahan pola pikir untuk mendapatkan dan mempertahankan anggotanya." Dia menaruh tasnya di trotoar dan menggaruk-garuk hidungnya. "Kalau tidak salah, kamu bilang kelompok semacam ini mendapatkan anggotanya dengan membujuk pengikutnya untuk mengikuti kursus secara terus- menerus dan membayar?" "Ya. Tidak seperti sekte yang kita diskusikan kemarin,

http://inzomnia.wapka.mobi

berbagai program ini tidak bermaksud untuk menahan orang-orang ini selamanya. Mereka mengeksploitasi para pengikutnya sepanjang mereka mau membeli berbagai kursusnya itu. Dan membawa orang lain mengikuti kursus tersebut." "Jadi, kenapa kamu menganggap mereka sebagai sekte?" "Pengaruh yang dipaksakan dalam program pengembangan diri ini sungguh luar biasa. Mereka melakukan hal yang sama, pengendalian tingkah laku melalui perubahan pola pikir." "Apa yang terjadi dalam program pelatihan pengenalan diri ini?" Red melirik jam tangannya, "Aku akan selesai pukul sepuluh lewat empat puluh lima. Kita bisa bertemu untuk sarapan dan akan kuceritakan semua yang kuketahui tentang program itu." Mt~} rogram itu dikenal sebagai pelatihan pengenalan diri JL kelompok besar." Sambil berbicara, Red mengoleskan saus merah ke jagung bakarnya. Kami sedang berada di restoran Anderson's dan melalui jendela bisa kulihat gedung Presbyterian Hospital.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Program itu dikemas sedemikian rupa sehingga mirip dengan seminar, atau kursus di perguruan tinggi, tapi semua sesi dirancang untuk membuat para siswa tergugah secara emosional dan secara psikologis. Bagian itu tidak disebutkan dalam brosurnya. Begitu juga fakta bahwa orang-orang yang ikut akan dicuci otak untuk menerima pandangan dunia yang sangat baru." Dia menusuk sekeping daging panggang. "Bagaimana cara kerjanya?" "Kebanyakan program berjalan selama empat sampai lima hari. Hari pertama bertujuan untuk menetapkan kekuasaan sang pemimpin. Banyak kegiatan yang membuat siswa merasa malu dan diserang secara lisan. Hari berikutnya mereka dijejali fi losofi baru. Para pelatih meyakinkan siswanya bahwa hidup mereka tidak berguna dan satu-satunya jalan keluaradalah menerima pola pikir yang baru." Jagung bakar. "Hari ketiga biasanya dipenuhi dengan berbagai pelatihan. Menimbulkan keadaan setengah sadar. Mem belokkan kenangan. Bayangan yang dituntun. Pelatih membuat semua orang mengungkapkan kekecewaan, penolakan, kenangan buruk. Ajarannya berfungsi agar siswa mengungkapkan semua emosi dalam dirinya. Kemudian, di hari berikutnya

http://inzomnia.wapka.mobi

dilakukan curhat yang hangat antara sesama siswa, dan pemimpin berubah dari sosok pemberi tugas yang keras menjadi ibu atau ayah yang penuh kasih. Ini adalah awal dari serangkaian kursus atau mata kuliah berikutnya. Hari terakhir biasanya diisi dengan bersenang- senang dan kegembiraan, banyak yang berpelukan, berdansa, musik, dan permainan. Kemudian penawaran berikutnya yang lebih berat." Sepasang suami-istri berpakaian warna khaki dan kemeja golf yang sama masuk ke bilik di sebelah kanan kami. Yang lelaki memakai kemeja bercorak kerang dan yang wanita berwarna hijau busa. "Yang berbahaya adalah karena berbagai kursus ini bisa membuat orang menjadi sangat tertekan, baik secara fi sik maupun psikologis. Banyak orang tidak tahu akan seberapa besar tekanannya. Kalau saja mereka tahu, mungkin mereka tidak akan pernah mau ikut." "Apakah para siswa tidak membicarakan program itu setelah selesai mengikuti kursus?" "Mereka diharuskan menjaga kerahasiaan, bahwa mendiskusikan eksperimen itu akan mengganggu orang lain. Mereka disuruh menggembar-gemborkan kehidupan mereka telah berubah, tapi menutupnutupi prosesnya yang sarat benturan dan mengguncang jiwa."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Mereka biasanya merekrut peserta di mana?" Aku merasa sudah bisa menebak jawabannya. "Di mana saja. Di jalanan. Dari pintu ke pintu. Di sekolah, tempat bisnis, klinik kesehatan. Mereka beriklan di berbagai surat kabar, majalah New Age-" "Bagaimana dengan kampus atau universitas?" "Lahan yang sangat subur. Di papan buletin, di asrama dan ruang makan, di hari pendaftaran kegiatan ekstrakurikuler. Beberapa sekte menyuruh anggotanya bercokol di pusat konseling kampus untuk mencari mahasiswa yang datang sendirian. Sekolah tidak menyetujui atau memberi dukungan kepada orang-orang seperti ini, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk melarangnya. Bagian administrasi membuang iklan mereka dari papan buletin, tapi iklan itu selalu muncul kembali." "Tapi, ini perkara yang berbeda 'kan? Seminar pengenalan diri ini berbeda dengan jenis sekte yang kita diskusikan kemarin." "Tidak juga. Beberapa program digunakan untuk menarik anggota ke dalam organisasi yang ada di belakangnya. Kita ikut kursus itu, kemudian mereka mengatakan bahwa kinerjamu bagus sehingga kita dipilih untuk

http://inzomnia.wapka.mobi

mengikuti tingkat yang lebih tinggi, atau bertemu dengan sang guru, atau semacamnya." Kata-kata itu menghantamku seperti tumbukan ke dada. Makan malam Harry di rumah sang pemimpin. "Red, orang-orang macam apa yang biasanya masuk ke dalam perangkap semacam ini?" Kuharap suaraku terdengar lebih tenang dari perasaanku. "Penelitianku menunjukkan adanya dua factor utama." Dia mengacungkan dua jarinya. "Depresi dan hubungan yang memburuk." "Maksudmu bagaimana?" "Seseorang yang sedang dalam transisi biasanya sendirian dan kebingungan, sehingga biasanya rentan." "Dalam transisi?" "Mereka yang baru lulus SMU dan akan masuk perguruan tinggi, mereka yang lulus dari perguruan tinggi dan sedang mencari pekerjaan. Baru bercerai. Baru dipecat." Kata-kata Red mulai kabur dari hadapanku. Aku harus berbicara dengan Kit. Ketika memusatkan perhatianku kembali, kulihat Red sedang menatapku dengan aneh. Aku tahu bahwa aku sebaiknya mengatakan sesuatu.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kurasa adikku mungkin terlibat dalam salah satu kelompok pelatihan ini. Inner Life Empowerment." Dia mengangkat bahu. "Banyak kelompok semacam ini. Aku belum pernah mendengar yang satu itu." "Sekarang kami kehilangan jejaknya. Tidak ada yang bisa menghubunginya." "Tempe, kebanyakan program ini biasanya tidak berbahaya. Tapi, sebaiknya kamu harus berbicara dengannya. Efeknya bisa sangat berbahaya untuk beberapa orang tertentu." Seperti Harry. Campuran antara rasa takut dan kesedihan meresap ke dalam diriku. Kuucapkan terima kasih kepada Red, membayar bon makanan. Di trotoar, aku teringat akan satu pertanyaan lagi. "Kamu pernah mendengar seorang sosiolog bernama Jeannotte? Dia meneliti gerakan keagamaan." n "Daisy Jeannotte?" Salah satu alisnya terangkat, membuat kerutan menghiasi dahinya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku bertemu dengannya di McGill beberapa minggu yang lalu dan aku penasaran tentang penilaian rekan-rekannya terhadap dirinya." Dia terlihat ragu. "Ya. Kudengar dia berada di Kanada." "Kamu mengenalnya?" "Aku mengenalnya bertahun-tahun yang lalu." Suaranya terdengar datar. "Jeannotte tidak termasuk aliran mainstream." "Oh?" Kuamati wajahnya, tetapi tidak bisa membaca apa-apa. "Terima kasih untuk ham dan jagung bakarnya, Tempe. Kuharap kamu mendapatkan apa yang kamu cari." Tawanya terlihat dipaksakan. Kusentuh lengannya. "Apa yang kamu sembunyikan dariku, Red?" Senyumannya menghilang. "Apa adikmu ini murid Daisy Jeannotte?" "Bukan. Kenapa?" "Jeannotte menjadi pusat kontroversi beberapa tahun yang lalu. Aku tidak tahu dengan jelas ceritanya dan aku tidak mau menyebarkan gosip. Berhatihatilah kalau menghadapinya." Aku ingin bertanya lebih banyak lagi, tetapi setelah mengatakan itu, ia hanya mengangguk dan berjalan menuju mobilnya. Aku berdiri di bawah terpaan matahari dengan mulut terbuka. Apa maksudnya dengan mengatakan itu?

http://inzomnia.wapka.mobi

Setiba di rumah, kulihat Kit telah meninggalkan pesan. Dia menemukan katalog pelatihan itu, tetapi tidak ada informasi mengenai pelatihan yang diikuti Harry di daftar North Harris County Community College. Namun, dia berhasil menemukan selebaran Inner Life Empowerment di meja ibunya. Di kertas itu ada lubang bekas paku payung, dan dia menduga selebaran itu didapatkan dari papan buletin. Dia menghubungi nomor yang tercantum, tapi sudah tidak berfungsi lagi. Pelatihan Harry tidak ada hubungannya dengan kampus itu! Kata-kata Red bertautan dengan kata-kata Ryan, semakin mencekam kalbuku. Hubungan baru. Dalam transisi. Tidak berafi liasi. Rentan. Selama sisa hari itu, aku meloncat-loncat dari satu tugas ke tugas lainnya, konsentrasiku selalu buyar oleh perasaan khawatir dan tidak menentu, yang terus menghantui. Kemudian, saat bayang-bayang rumah memanjang di beranda, aku menelepon seseorang yang akhirnya membuat pikiranku tersusun dengan baik kembali. Kudengarkan dengan tercengang saat dia bercerita, kemudian aku mengambil keputusan. Kuhubungi dekan fakultas dan mengatakan bahwa aku akan pergi lebih cepat dari yang direncanakan. Karena aku telah mengambil cuti untuk

http://inzomnia.wapka.mobi

menghadiri konferensi antropologi fi sik, maka mahasiswaku hanya akan kehilangan satu jam pelajaran saja. Aku menyesal, tetapi aku harus pergi. Setelah kami memutuskan hubungan telepon, aku langsung melesat ke atas untuk membereskan tas. Bukan menuju Oakland, tetapi Montreal. Aku harus menemukan adikku. Aku harus menghentikan kegilaan yang berputarputar seperti guntur di Piedmont. 29. Saat pesawat lepas landas, kupejamkan mata dan ku-sandarkan tubuh ke kursi, terlalu kelelahan karena tidak bisa tidur nyenyak sehingga tidak punya tenaga untuk memerhatikan keadaan di sekelilingku. Biasanya aku menikmati perasaan yang dialami saat pesawat lepas landas dan mengamati dunia di bawah menjadi mengecil, tetapi tidak begitu perasaanku pada saat itu. Kata-kata seorang lelaki tua yang ketakutan melompat-lompat di benakku.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kuregangkan tubuhku, dan kakiku mengetukngetuk kotak yang kuletakkan di bawah tempat duduk. Dijinjing. Selalu terlihat olehku. Barang itu harus selalu ada dalam kepemilikanku. Di sampingku, Ryan membuka-buka majalah USAirways. Karena tidak berhasil mendapatkan tiket penerbangan dari Savannah, dia mengemudikan mobil ke Charlotte untuk mengejar penerbangan nomor enam tiga puluh lima. Di bandara dia menjelaskan pernyataan yang didapatnya dari Texas. Lelaki tua itu melarikan diri untuk melindungi anjingnya. Seperti Kathryn, pikirku, mengkhawatirkan bayinya. "Apakah dia mengatakan dengan jelas apa rencana mereka?" tanyaku dengan suara rendah. Pramugari sedang menunjukkan cara mengenakan ikat pinggang dan masker oksigen. Ryan menggelengkan kepala. "Lelaki itu Cuma menumpang. Dia berada di peternakan itu karena diberi tempat tinggal dan diizinkan memelihara anjingnya. Dia sebenarnya tidak tertarik pada pengajaran mereka, tapi dia memetik cukup banyak pelajaran." Majalah itu dijatuhkan ke pangkuannya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dia mengoceh tentang energi kosmik, dewi penolong, dan penghabisan yang berapi." "Maksudnya kiamat?" Ryan mengangkat bahunya. "Katanya orang-orang yang tinggal bersamanya tidak cocok untuk tinggal di dunia ini. Sepertinya mereka memerangi kekuatan jahat selama ini dan sekarang sudah waktunya untuk pergi. Hanya saja dia tidak boleh membawa Fido." "Jadi, dia bersembunyi di bawah beranda." Ryan mengangguk. "Siapa yang dimaksudkannya dengan kekuatan jahat itu?" "Dia sendiri tidak tahu." "Dan dia tidak bisa mengatakan ke mana perginya orang-orang suci itu?" "Utara. Ingat, kakek ini sudah tidak begitu jelas lagi ingatannya." "Dia tidak pernah mendengar nama Dom Owens?" "Tidak pernah. Pemimpinnya bernama Toby." "Tidak ada nama belakang."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Nama belakang hanya berlaku di dunia ini saja. Tapi, bukan itu yang membuatnya ketakutan. Tampak nya, hubungan antara Toby dan kakek itu baikbaik saja. Ada seorang wanita yang membuatnya sangat ketakutan." Apa yang pernah dikatakan oleh Kathryn? "Bu- kan Dom. Tapi wanita itu." Ada wajah berkelebat di hadapanku. "Siapa wanita itu?" "Dia tidak tahu namanya, tapi katanya wanita itu berkata kepada Toby bahwa Anti-Kristus sudah musnah dan kiamat sudah dekat. Itulah saatnya kereta gerbong akan melaju." "Dan?" Aku merasa kebas. "Anjing itu tidak ikut diundang." "Tidak ada lagi?" "Katanya wanita itu benar-benar pemimpin tertinggi." "Kathryn juga pernah berkata tentang seorang wanita." "Namanya?" "Aku tidak menanyakannya. Saat itu aku tidak begitu menyadari perlunya menanyakan namanya." "Apa lagi yang dikatakan Kathryn?" Kuulangi semua percakapan kami yang bisa kuingat.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ryan meletakkan tangannya ke atas tanganku. "Tempe, kita tidak tahu apa-apa tentang Kathryn. Kecuali bahwa dia menjalani seluruh hidupnya bersama masyarakat sekte itu. Dia muncul di tempatmu, mengatakan bahwa dia menemukan alamatmu dari direktori universitas. Padahal menurutmu alamatmu tidak terdaftar. Pada hari yang sama, empat puluh tiga orang teman terdekatnya kabur dari dua Negara bagian dan wanita itu juga menghilang." Benar. Ryan pernah mengungkapkan kecurigaannya tentang Kathryn. "Kamu tidak berhasil menemukan siapa yang mengancammu dengan pura-pura membunuh kucing itu?" "Tidak." Kutarik tanganku, kemudian memainkan kuku jempolku. Untuk sejenak, kami berdua tidak berkata apaapa. Kemudian, aku teringat pada suatu hal. "Kathryn juga mengatakan sesuatu tentang sang Anti-Kristus." "Bagaimana?" "Katanya Dom tidak percaya pada Anti- Kristus." Ryan tidak berkata apaapa selama beberapa saat. Kemudian, "Aku pernah bicara dengan para petugas yang menyelidiki kematian Solar Temple di Kanada. Kamu tahu apa yang terjadi di Morin Heights?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku hanya tahu bahwa ada lima orang yang mati. Waktu itu aku sedang di Charlotte dan media Amerika memusatkan perhatian pada kejadian di Swiss. Kejadian di Kanada tidak terlalu banyak diberitakan." "Mari kuceritakan apa yang terjadi. Joseph DiMambro mengirimkan sekelompok pembunuh untuk membunuh seorang bayi." Dia berhenti untuk membiarkan kata-katanya meresap ke dalam pikiranku. "Morin Heights menjadi pemicu kejadian yang terjadi di luar negeri. Sepertinya kelahiran anak itu tidak disetujui oleh Pemimpin Besarnya, jadi dia menilai bayi itu sebagai Anti-Kristus. Setelah bayi itu mati, para pengikutnya bebas melaksanakan penyeberangan." "Ya Tuhan. Apakah Dom Owens salah seorang anggota The Solar Temple?" Ryan mengangkat bahunya kembali. "Atau mungkin hanya meniru-niru saja. Sungguh sulit mengetahui apa arti ocehannya di Adler Lyons sampai para psikolog menafsirkannya." Sebuah buku catatan ditemukan di padepokan Saint Helena. Dan sebuah peta Provinsi Quebec. "Tapi, aku tidak peduli siapa yang memimpin kalau

http://inzomnia.wapka.mobi

orang-orang yang tidak berdosa itu antre menuju ke jurang kematian. Akan kutangkap bajingan itu dengan tanganku sendiri, lalu menggoroknya dan menggorengnya sendiri." Otot rahangnya mengeras saat dia memungut majalah itu. Kupejamkan mata dan mencoba beristirahat, tetapi bayangan itu tidak mau pergi juga. Harry, yang santai dan penuh kehidupan. Harry yang memakai baju olahraga tanpa riasan wajah sedikit pun. Sam, yang gemas karena pulaunya ada yang mengganggu. Malachy. Mathias. Jennifer Cannon. Carole Comptois. Seekor kucing yang terbakar. Isi paket yang sekarang ada di dekat kakiku. Kathryn, yang sorot matanya memelas. Seakanakan aku bisa menolongnya. Seakan-akan, aku bisa menarik jiwanya dan membuatnya menjadi lebih baik. Atau apakah fi rasat Ryan yang benar? Apakah aku sedang dijebak? Apakah Kathryn dikirim untuk tujuan tertentu yang tidak kusadari? Apakah Owens yang bertanggung jawab atas pembunuhan kucing itu?

http://inzomnia.wapka.mobi

Harry sudah pernah berbicara tentang kelompoknya. Kehidupannya menyebalkan dan kelompok itu akan membantunya memperbaiki dirinya. Begitu juga dengan Kathryn. Katanya kelompoknya memengaruhi semua pengikutnya. Brian dan Heidi kabur dari kelompok itu. Kelompok apa? Kelompok kosmik? Sebuah kelompok keagamaan? The Order of the Solar Temple? Aku merasa seperti seekor ngengat di dalam toples, menabrak kaca toples dengan berbagai pemikiran yang berseliweran, tetapi tidak mampu melarikan diri dari keterbatasan pemikiranku sendiri. Brennan, kamu membuat dirimu menjadi gila! Tidak ada yang bisa kamu lakukan dari ketinggian tiga puluh tujuh ribu kaki. Aku memutuskan untuk melepaskan diri dengan mundur ke seratus tahun yang lalu. Kubuka tas kerjaku, meraih buku harian Belanger, dan meloncat ke bulan Desember 1844, berharap hari-hari liburan membuat suasana hati LouisPhilippe menjadi lebih baik.

http://inzomnia.wapka.mobi

Dokter yang baik itu menikmati makan malam Natal di rumah Nicolet, menyukai pipa barunya, tetapi tidak menyetujui rencana adiknya untuk kembali menjadi penyanyi. Eugenie diundang untuk menyanyi di Eropa. Louis-Philippe memang tidak punya rasa humor, tetapi dia sangat gigih. Nama adiknya sering ditulis di beberapa bulan pertama tahun 1845. Kentara sekali bahwa dia sering mengungkapkan pandangannya. Tetapi, sang dokter sangat gusar karena Eugenie tidak mau dibujuk. Dia akan berangkat pada bulan April, ikut dalam konser di Paris dan Brussel, kemudian menghabiskan musim panas di Prancis, kembali ke Montreal di akhir Juli. Sebuah suara memerintahkan meja dan kursi ditegakkan kembali dan dikunci posisinya karena pesawat sebentar lagi akan mendarat di Pittsburgh. Satu jam kemudian, setelah pesawat terbang kembali, kubaca sekilas musim semi 1945. Louis- Philippe disibukkan dengan rumah sakit dan masalah kota, tetapi masih sempat melakukan kunjungan mingguan kepada adik iparnya. Rupanya Alain Nicolet tidak ikut ke Eropa bersama istrinya. Aku jadi penasaran, bagaimana hasil tur Eugenie.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tampaknya Paman Louis-Philippe tidak peduli, karena dia tidak begitu sering menyebut-nyebut hal itu selama bulan-bulan itu. Kemudian, sebuah catatan menarik perhatianku. 17 Juli 1845. Karena keadaan yang tidak biasanya, Eugenie akan tinggal lebih lama di Prancis. Semua persiapan telah dilakukan, tetapi LouisPhilippe tidak begitu jelas menceritakan apa penyebabnya. Kutatap awan putih di luar jendela. "Keadaan yang tidak biasanya" seperti apakah yang membuat Eugenie harus tinggal lebih lama di Prancis? Aku menghitung-hitung. Elisabeth dilahirkan pada bulan Januari. Astaga. Selama musim panas dan musim gugur, Louis-Philip-pe hanya sedikit bercerita tentang adiknya. Surat dari Eugenie. Semuanya baik-baik saja. Ketika roda pesawat kami menyentuh landasan di Bandara Dorval, cerita tentang Eugenie muncul kembali. Dia juga telah kembali ke Montreal. 16 April 1846. Bayinya berusia tiga bulan. Nah itu dia. Elisabeth Nicolet dilahirkan di Prancis. Alain pasti bukan ayahnya. Tetapi, kalau begitu, siapakah ayahnya?

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku dan Ryan turun dari pesawat tanpa berkata apa-apa. Dia memeriksa pesan-pesannya, sementara aku menunggu koper. Saat kembali, wajahnya menunjukkan bahwa ada kabar yang tidak baik. "Van itu ditemukan dekat Charleston." "Kosong." Dia mengangguk. Eugenie dan bayinya menghilang, dan aku kembali ke abad ini. Langit tampak mendung dan hujan rintik-rintik menerpa cahaya lampu ketika aku dan Ryan melaju di sepanjang Highway 20. Menurut pilot, suhu di Montreal sekitar tiga derajat Celcius dengan cuaca sejuk. Kami mengemudikan mobil dengan membisu karena telah sepakat tentang apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Aku sebenarnya ingin segera sampai ke rumahku, untuk mencari adikku dan menyingkirkan fi rasat yang sudah terpendam begitu lama dalam diriku. Namun, akan kulakukan apa yang diminta Ryan. Kemudian, aku akan melaksanakan rencanaku sendiri. Kami memarkir mobil di Parthenais, lalu aku dan Ryan berjalan menuju gedung itu. Aroma ragi tercium di udara, berasal dari tempat pembuatan bir Molson. Minyak menghiasi genangan air di trotoar yang tidak rata.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ryan keluar di lantai pertama, dan aku terus naik ke kantorku di lantai lima. Setelah melepaskan jaket, kutekan sebuah nomor ekstensi di dalam gedung. Mereka sudah menerima pesanku dan kami bisa memulainya kalau aku sudah siap. Aku langsung ke laboratorium. Kukumpulkan pisau bedah, penggaris, lem, dan penghapus sepanjang enam puluh cm, lalu meletakkan semua barang itu di atas meja kerjaku. Kemudian, kubuka paket yang tadi kujinjing, membukanya, lalu memeriksa isinya. Tengkorak dan rahang korban Murtry yang tidak ter-identifi kasi itu sama sekali tidak rusak selama perjalanan. Aku sering juga penasaran, apa yang dipikirkan para petugas bandara ketika memindai barang- barangku yang berisi tengkorak manusia. Kuletakkan tengkorak itu di atas cincin gabus di tengah meja. Kemudian, kupencet dan kumasukkan lem ke dalam sendi rahang, lalu meletakkan rahang itu di tempatnya. Sementara menunggu lem mengering, kuambil buku panduan ketebalan kulit wajah wanita Amerika berkulit putih. Setelah rahang terasa cukup padat, kuletakkan tengkorak itu ke sebuah pegangan, menyesuaikan tingginya, dan mengencangkannya dengan penjepit. Lubang mata yang

http://inzomnia.wapka.mobi

kosong menatap kedua mataku ketika aku mengukur dan memotong tujuh belas cincin karet kecil dan menempelkannya ke tulang wajah. Dua puluh menit kemudian, kubawa tengkorak itu ke ruangan kecil di ujung koridor. Sebuah plakat mengindikasikan bahwa ruangan itu adalah Section d'Imagerie. Seorang teknisi menyambutku dan mengatakan bahwa sistem sedang berjalan. Tanpa membuang waktu, kuletakkan tengkorak itu pada sebuah copy stand (pegangan untuk memotret), merekam gambarnya dengan kamera video, dan mengirimkannya ke komputer. Kulakukan evaluasi gambar digital di monitor dan memilih orientasi wajah dari bagian depan. Kemudian, dengan menggunakan stylus dan papan untuk menggambar yang menyatu dengan komputer, aku mulai menghubung-hubungkan tanda dari cincin karet kecil-kecil yang tadi kutempelkan pada tengkorak itu. Saat aku mengarahkan silang-kawat di seluruh layar, sebuah siluet yang mengerikan mulai muncul. Setelah puas dengan bentuk wajahnya, kulanjutkan ke bagian yang lain. Dengan menggunakan daftar tulang yang ada di komputer sebagai panduan, kucari contoh mata, telinga, hidung, dan bibir dari bank data

http://inzomnia.wapka.mobi

program tersebut, dan menempelkan semua bagian wajah yang cocok ke tengkorak tersebut. Kemudian, kupilih rambutnya, menambahkan gaya rambut yang menurutku paling sederhana. Karena tidak mengetahui apa pun tentang korban itu, aku memutuskan lebih baik untuk tampak samar daripada salah. Ketika sudah puas dengan berbagai komponen yang kutambahkan pada gambar kepala itu, kugunakan stylus untuk menyatukan semuanya dan membuat rekonstruksi itu menjadi lebih hidup. Semua proses itu memakan waktu kurang dari dua jam. Kusandarkan tubuhku dan mengamati hasil kerjaku. Sebuah wajah menatap dari layar. Mata yang sayu, hidung yang mancung, dan tulang pipi yang tinggi dan lebar. Semuanya terlihat kaku, tanpa ekspresi sedikit pun. Dan entah mengapa, tampaknya cukup kukenal. Aku menelan ludah. Kemudian, dengan sentuhan stylus, kuubah gaya rambutnya. Potongan pendek. Poni! Kutahan napas. Apakah rekonstruksiku itu mirip dengan Anna Goyette? Atau, apakah aku telah menciptakan wajah seorang wanita muda pada umumnya dan memberikan potongan rambut yang pernah kukenal?

http://inzomnia.wapka.mobi

Kukembalikan rambut itu ke gaya sebelumnya dan mengevaluasi kemiripannya. Ya? Tidak? Entahlah. Akhirnya, kusentuh sebuah perintah dalam menu drop-down dan empat kerangka muncul di layar. Kuban-dingkan gambar yang satu dengan yang lainnya, mencari tanda ketidakcocokan antara gambar yang kubuat dengan tengkorak itu. Pertama-tama, tengkorak yang tidak diubah dengan rahangnya. Berikutnya gambar yang terkelupas, dengan tulang di sebelah kiri tengkorak, dan di sebelah kanan tampak daging dan kulit yang menempel. Ketiga, wajah yang kuciptakan bertumpang tindih dengan bayangan tembus pandang yang mengerikan di atas tulang dan penanda jaringan. Yang terakhir, perkiraan bentuk wajah yang sudah selesai. Kusentuh gambar yang terakhir dengan mengklik mouse, sehingga memenuhi layar komputer dan menatapnya selama beberapa saat. Aku masih belum yakin. Kucetak gambar itu, kemudian menyimpannya, lalu bergegas ke kantorku. Ketika meninggalkan gedung, kuletakkan beberapa salinan gambar itu di meja Ryan. Kertas catatan yang kutempelkan berisi dua kata: Murtry, Inconnune. Tidak dikenal. Aku masih memikirkan banyak hal lainnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Saat aku turun dari taksi, hujan sudah reda, tetapi suhu telah menukik tajam. Lapisan es tipis terbentuk di permukaan genangan air dan membeku di sejumlah kabel dan dahan pohon. Apartemen terlihat remang-remang dan hening seperti kuburan. Setelah meletakkan jaket dan tasku di ruang duduk, aku langsung ke kamar tidur tamu. Peralatan rias wajah Harry tampak tergeletak di atas meja rias. Apakah dia menggunakannya tadi pagi atau minggu kemarin? Baju. Sepatu lars. Pengering rambut. Majalah. Tidak ada petunjuk yang menunjukkan ke mana Harry atau kapan dia meninggalkan tempat ini. Aku sudah menduga hal itu. Yang tidak kuduga adalah rasa kekhawatiran yang mencengkeramku saat aku mencari dari kamar ke kamar. Kuperiksa mesin penjawab telepon. Tidak ada pesan. Tenang. Mungkin dia menelepon Kit. Ternyata tidak. Charlotte? Tidak ada kabar dari Harry, tetapi Red Skyler telah menelepon dan mengatakan bahwa dia sudah menghubungi Jaringan Kewaspadaan Sekte (Cult Awareness Network, CAN). Tidak ada informasi mengenai Dom Owens, tetapi ada sebuah laporan mengenai Inner Life Empowerment (ILE). Menurut CAN, kelompok itu sah. ILE berkiprah di beberapa negara bagian, menawarkan seminar

http://inzomnia.wapka.mobi

yang tidak berguna, tetapi tidak berbahaya. Hadapi dirimu sendiri dan hadapi orang lain. Omong-kosong semuanya, tetapi mungkin tidak berbahaya dan aku tidak perlu terlalu khawatir. Kalau ingin mendapatkan informasi lebih banyak lagi, aku bisa menghubungi Red atau CAN. Dia meninggalkan kedua nomor yang bisa dihubungi. Aku tidak begitu memerhatikan pesan-pesan lainnya. Sam, minta diberi kabar. Katy melaporkan bahwa dia sudah kembali ke Charlottesville. Jadi, ILE tidak berbahaya dan Ryan mungkin benar. Harry sedang pergi berkencan lagi. Amarah membuat pipiku terasa panas. Seperti robot, kugantungkan jaket dan menyeret koper ke dalam kamar tidurku. Kemudian, aku duduk di pinggir tempat tidur, memijat pelipisku, dan membiarkan pikiranku mengembara. Digit di jamkupelan-pelan menunjukkan menit demi menit. Beberapa minggu terakhir ini telah menjadi masamasa yang paling sulit sepanjang karierku. Penyiksaan dan mutilasi yang dialami berbagai korban ini jauh melampaui apa yang biasa kulihat sebelumnya. Dan aku tidak bisa mengingat kapan aku pernah menangani sedemikian banyak korban kematian dalam jangka waktu yang demikian pendek. Bagaimanakah hubungan antara pembunuhan di Murtry dengan pembunuhan di St-

http://inzomnia.wapka.mobi

Jovite? Apakah Carole Comptois dibunuh dengan tangan sadis yang sama? Apakah pembantaian di St-Jovite hanyalah awalnya saja? Pada saat ini apakah ada seorang maniak yang sedang merencanakan pembantaian yang terlalu mengerikan untuk bisa dibayangkan? Harry harus menyelesaikan masalahnya sendiri. Aku tahu apa yang akan kulakukan berikutnya. Paling tidak, aku tahu di mana aku harus memulainya. Hujan sudah turun lagi dan kampus McGill diselimuti bunga es yang tipis dan membeku. Gedung itu tampak seperti siluet hitam, satu-satunya cahaya di sore hari yang kelam dan basah ini berasal dari deretan jendelanya. Di sana-sini, tampak sosok tubuh yang bergerak di dalam kotak yang terang, seperti boneka kecil di pentas wayang. Cangkang es yang berlubang-lubang kecil tampak remuk di undakan tangga ketika aku menggenggam pegangan tangan menuju Birks Hall. Gedung itu kosong, ditinggalkan oleh para penghuninya yang takut akan terjadinya badai salju. Tidak ada jaket di tiang gantungan, tidak ada sepatu lars yang sedang mencair di sepanjang dinding. Mesin cetak dan fotokopi tidak ada yang memakai, satu-satunya suara hanyalah ketukan air hujan di kaca.

http://inzomnia.wapka.mobi

Langkah kakiku bergema saat menaiki tangga ke lantai tiga. Dari koridor utama, aku bisa melihat bahwa pintu kantor Jeannotte tertutup. Aku memang tidak berharap dia akan berada di kantornya, tetapi memutuskan untuk mencari tahu. Dia tidak menduga kedatanganku dan orang biasanya akan mengatakan hal yang aneh saat didatangi di luar jam biasanya. Saat membelok di sudut, kulihat lampu kuning menyala dari bawah pintu. Aku mengetuk, tidak yakin apa yang akan kutemui. Ketika pintu kubuka, mulutku ternganga karena keheranan. 30. Sekeliling kelopak matanya tampak memerah, kulitnya terlihat pucat dan penampilannya lesu. Tubuhnya menegang saat melihatku, tetapi gadis itu tidak berkata apa-apa. "Apa kabar, Anna?" "Oke." Dia mengedipkan matanya dan poninya tampak tersentak. "Aku Dr. Brennan. Kita pernah bertemu beberapa minggu yang lalu." "Aku tahu." "Ketika aku ke sini lagi, katanya kamu sedang sakit."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku baik-baik saja. Aku hanya sedang pergi beberapa waktu lamanya." Aku ingin menanyakan pergi ke mana, tetapi memutuskan untuk menahan diri. "Dr. Jeannotte ada?" Anna menggelengkan kepalanya. Dia pelan-pelan merapikan rambutnya, ke belakang telinganya. "Ibumu cemas memikirkanmu." Dia mengangkat bahu, gerakannya perlahan dan hampir tidak terlihat. Dia tidak bertanya mengapa aku tahu tentang keluarganya. "Aku sedang menangani sebuah proyek bersama bibimu. Dia juga khawatir." "Oh." Dia menunduk sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Kejutkan dia dengan kabar itu. "Kata temanmu, kamu mungkin terlibat dalam sesuatu yang mungkin membuatmu gelisah." Matanya kembali menatap mataku. "Aku tidak punya teman. Siapa yang berkata begitu?" Suaranya terdengar kecil dan datar. "Sandy O'Reilly. Dia menggantikan kamu bekerja hari itu." "Sandy menginginkan jam kerjaku. Kenapa kamu ke sini?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Pertanyaan yang bagus. "Aku mau bicara denganmu dan dengan Dr. Jeannotte." "Dia tidak ada." "Kamu punya waktu untuk bicara denganku?" "Tidak ada yang bisa kamu lakukan untukku. Hidupku adalah urusanku sendiri." Nadanya yang datar membuatku miris. "Kuhormati hakmu itu. Tapi, sebenarnya aku berpendapat bahwa justru kamu yang bisa menolongku." Lirikannya mengarah ke koridor, kemudian kembali kepadaku. "Menolongmu bagaimana?" "Kamu mau menemaniku minum kopi?" "Tidak." "Bisakah kita ngobrol di tempat lain?" Dia menatapku beberapa lama, sorot matanya tampak datar dan kosong. Kemudian, dia mengangguk, mengambil syal dari tiang gantungan jaket, dan mendahuluiku menuruni tangga, lalu keluar lewat pintu belakang. Sambil membungkuk untuk menghindari hujan, kami bergegas menaiki bukit menuju pusat kampus, kemudian berputar kembali ke Redpath Museum. Anna mengambil kunci dari

http://inzomnia.wapka.mobi

sakunya, membuka pintu, dan berjalan di depanku menyusuri koridor yang remang-remang. Tercium bau lumut dan bau apek di udara. Kami naik ke lantai dua dan duduk di sebuah bangku kayu, dikelilingi oleh tulang-belulang makhluk yang sudah lama mati. Di atas kepala kami tergantung seekor paus beluga, korban keganasan zaman Pelistocene. Debu melayang di bawah terpaan cahaya yang terang. "Aku sudah tidak lagi bekerja di museum, tapi masih sering ke sini untuk merenung." Dia melirik ke rusa besar Irlandia. "Semua makhluk ini hidup di dunia yang berbeda jutaan tahun lamanya dan di lokasi dengan jarak ribuan kilometer, namun sekarang disatukan di sini, tidak bergerak dalam ruang dan waktu. Aku suka itu." "Ya." Itu salah satu cara pandang terhadap makhluk yang sudah punah. "Stabilitas adalah hal yang jarang ditemui di zaman sekarang." Dia menatapku dengan pandangan aneh, kemudian kembali menatap tulang-belulang itu. Kuamati bentuk wajahnya saat dia mengamati koleksi museum itu. "Sandy bercerita tentang kamu, tapi aku tidak terlalu menyimak." Dia berbicara tanpa memandangku. "Aku tidak tahu siapa kamu atau apa yang kamu inginkan."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku teman bibimu." "Bibiku orang baik." "Ya. Ibumu khawatir kamu mungkin terlibat dalam kesulitan." Dia tersenyum pahit. Rupanya kata-kataku bukan sesuatu yang menyenangkan hatinya. "Kenapa kamu peduli kalau ibuku khawatir?" "Aku khawatir karena suster Julienne cemas karena kamu menghilang. Bibimu tidak tahu bahwa sebelumnya kamu juga pernah kabur dari rumah." Matanya beralih dari tulang-belulang itu dan kembali menatapku. "Apa lagi yang kamu ketahui tentang diriku?" Dia mengibaskan rambutnya. Mungkin udara dingin telah membuatnya lebih terjaga. Atau mungkin juga karena telah menjauh dari bayangan gurunya. Dia sepertinya lebih hidup dibandingkan dengan ketika berada di Birks. "Anna, bibimu memohon kepadaku untuk menemukanmu. Dia tidak ingin ikut campur, dia hanya ingin bisa menenangkan hati ibumu." Dia terlihat tidak yakin. "Karena kamu sepertinya telah membuat diriku sebagai salah satu proyekmu, kamu juga pasti sudah tahu bahwa ibuku

http://inzomnia.wapka.mobi

gila. Kalau aku terlambat sepuluh menit saja, dia langsung menghubungi polisi." "Menurut polisi, kamu biasanya hilang lebih dari sepuluh menit.' Matanya tampak sedikit memicing. Bagus, Brennan. Sudutkan dia. "Dengarlah, Anna. Aku tidak mau ikut campur. Tapi, kalau ada yang bisa kubantu, aku akan sangat senang melakukannya." Aku menunggu, tetapi dia tidak berkata apa-apa. Balikkan lagi. Mungkin dia akan membuka diri. "Mungkin kamu yang bisa menolongku. Seperti yang kamu tahu, aku bekerja sama dengan koroner, dan beberapa kasus baru-baru ini membuat kami kebingungan. Seorang wanita muda bernama Jennifer Cannon menghilang dari Montreal beberapa tahun yang lalu. Tubuhnya ditemukan minggu yang lalu di South Carolina. Dia mahasiswi McGill." Ekspresi wajah Anna tidak berubah. "Kamu mengenalnya?" Dia masih diam seperti kerangka fosil di sekeliling kami. "Tanggal tujuh belas Maret, seorang wanita bernama Carole Comptois dibunuh dan dibuang di Yle des Soeurs. Usianya delapan belas tahun." Tangannya mengelus rambut.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jennifer Cannon tidak mati sendirian." Tangannya terjatuh ke pangkuannya, kemudian kembali ke telinganya. "Kami belum berhasil mengidentifi kasi orang yang dikuburkan bersamanya." Kukeluarkan gambar ciptaanku dan menunjukkannya kepada Anna. Dia mengambilnya, matanya menghindari mataku. Kertas itu bergetar sedikit saat dia menatap wajah ciptaanku itu. "Apa ini wajah sungguhan?" "Bentuk wajah adalah sebuah seni, bukan sebuah ilmu. Tidak ada yang pernah bisa meyakini ketepatannya." "Kamu membuat gambar ini dari sebuah tengkorak?" Ada sebuah getaran di dalam nadanya. "Ya." "Rambutnya salah." Hampir tidak terdengar. "Kamu kenal wajah ini?" "Amelie Provencher." "Kamu mengenalnya?" "Dia bekerja di pusat konseling." Dia tetap menghindari kontak mata. "Kapan terakhir kalinya kamu melihat dia?" "Dua minggu yang lalu. Mungkin lebih lama lagi, aku tidak yakin. Aku tidak ada di sini." "Dia mahasiswi di sini?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apa yang mereka lakukan kepadanya?" Aku ragu-ragu, tidak yakin seberapa banyak yang harus kuungkapkan. Suasana hati Anna yang berubah-ubah membuatku menduga dia sedang teler karena obat-obatan atau sedang tidak stabil. Dia tidak menunggu ja-wabanku. "Mereka membunuhnya?" "Siapa, Anna? Siapa 'mereka' itu?" Akhirnya, dia menatapku. Pupilnya tampak berkilauan di bawah cahaya lampu. "Sandy bercerita tentang apa yang kamu bicarakan. Dia memang benar sekaligus juga salah. Ada sebuah kelompok di kampus ini, tapi mereka tidak ada hubungannya dengan Setan. Dan, aku tidak ada hubungannya dengan mereka. Amalie yang berhubungan dengan mereka. Dia mendapatkan pekerjaan di pusat konseling karena mereka menyuruhnya melamar pekerjaan itu." "Kamu bertemu dengan Amalie di sana?" Dia mengangguk, menyekakan buku jari ke bawah matanya yang kiri dan kanan, kemudian menyekanya ke celana. "Kapan?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku tidak ingat lagi. Sudah lama. Waktu itu aku sedang benar-benar frustrasi, jadi kupikir mungkin ada baiknya mencoba konseling. Saat aku mendatangi pusat konseling itu, Amelie selalu berusaha mengobrol denganku, bersikap benar-benar penuh perhatian. Dia tidak pernah membicarakan dirinya sendiri atau masalahnya. Dia benar-benar mendengarkan apa yang kukatakan. Kami memiliki banyak kesamaan, jadi kami akhirnya berteman." Aku teringat kata-kata Red. Para pengikut biasanya diperintahkan untuk mempelajari calon anggota, untuk meyakinkan mereka bahwa mereka memiliki kesamaan, dan mendapatkan rasa percayanya. "Dia bercerita tentang kelompok yang diikutinya, mengatakan bahwa kelompok itu telah membuat hidupnya berubah. Aku akhirnya menghadiri salah satu pertemuan mereka. Kelihatannya baik-baik saja." Dia mengangkat bahu. "Ada yang memberikan ceramah, lalu kami makan, melakukan latihan pemapasan, dan sebagainya. Mula-mula aku tidak begitu tertarik, tapi aku kembali beberapa kali karena semua orang bersikap seakan-akan mereka benar-benar menyukaiku." Hujan kasih sayang.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Lalu, mereka mengundangku ke daerah pedesaan. Sepertinya asyik, jadi aku pun memutuskan untuk ikut. Kami ikut dalam permainan dan mendengarkan ceramah, berdoa, dan melakukan latihan. Amelia menyukainya, tapi tidak cocok untukku. Menurutku semuanya hanya omong kosong belaka, tapi kita tidak bisa menyatakan ketidaksetujuan kita. Lagi pula, mereka tidak pernah membiar-kanku sendirian. Semenit pun aku tidak diizinkan untuk sendirian. "Mereka ingin aku mengikuti pelatihan yang waktunya lebih lama lagi dan ketika aku menolak, sepertinya mereka marah. Aku harus bersikap benarbenar menyebalkan supaya boleh pulang ke kota. Setelah itu, kuhindari Amalie, tapi aku masih bertemu dengannya beberapa kali lagi." "Apa nama kelompoknya?" "Entahlah." "Apa menurutmu mereka yang membunuh Amalie?" Dia menyeka tangannya di kedua sisi pahanya. "Ada seorang lelaki yang kukenal waktu di sana. Dia mendaftarkan diri dari tempat lain. Nah, setelah aku pergi, dia masih tetap tinggal di sana, jadi lama juga aku tidak melihatnya. Mungkin setahun. Kemudian, aku bertemu

http://inzomnia.wapka.mobi

dengannya di sebuah konser di Yle Notre Dame. Kami sering pergi bersama untuk beberapa waktu, tapi tidak ada kelanjutannya." Dia mengangkat bahunya kembali. "Saat itu, dia telah meninggalkan kelompok itu, tapi dia punya banyak cerita seram tentang apa yang terjadi di sana. Tapi juga dia tidak mau banyak bercerita tentang hal itu. Dia benar-benar ketakutan." "Siapa namanya?" "John, dan aku tidak tahu nama belakangnya." "Di mana dia sekarang?" "Entahlah. Kalau tidak salah, dia sudah pindah." Dia menyeka air mata dari bulu mata sebelah bawah. "Anna, apakah Dr. Jeannotte ada hubungannya dengan kelompok ini?" "Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Suaranya terdengar serak pada kata yang terakhir. Kulihat pembuluh darah biru kecil menonjol di lehernya. "Ketika aku pertama kali bertemu denganmu, di kantornya, kamu sepertinya sedikit gugup saat berada dekat Dr. Jeannotte." "Dia benar-benar baik kepadaku. Dia lebih baik untukku dibandingkan dengan meditasi dan latihan pemapasan itu." Dia mengembuskan napas. "Tapi, dia juga banyak menuntut dan aku selalu khawatir, jangan sampai berbuat salah." "Katanya kamu sering menghabiskan waktu dengannya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Matanya kembali menatap tulang-belulang itu. "Bukankah kamu ingin tahu tentang Amalie dan orang-orang yang sudah mati itu?" "Anna, maukah kamu berbicara dengan orang lain? Apa yang kamu katakan kepadaku sangat penting dan polisi pasti ingin menindaklanjuti hal ini. Seorang detektif bernama Andrew Ryan sedang menyelidiki semua pembunuhan ini. Dia orang yang sangat baik dan menurutku kamu akan menyukainya." Dia menatapku dengan kebingungan, lalu menarik rambut di belakang kedua telinganya. "Tidak ada yang bisa kuceritakan kepadamu. John yang bisa banyak bercerita, tapi aku tidak tahu ke mana perginya orang itu." "Kamu masih ingat di mana tempat diadakannya seminar itu?" "Seperti di sebuah peternakan. Kami naik mobil van dan tidak memerhatikan keadaan sekitar karena mereka mengajakku bermain game. Sewaktu pulang, aku tidur sepanjang perjalanan. Mereka membuat kami selalu terjaga dalam waktu lama, membuatku sangat kelelahan. Selain John dan Amalie, aku tidak pernah melihat mereka lagi. Dan sekarang kamu bilang dia-"

http://inzomnia.wapka.mobi

Di lantai bawah terdengar sebuah pintu terbuka, kemudian terdengar suara orang. "Siapa di sana?" "Bagus. Sekarang kunciku pasti akan dia ambil," bisik Anna. "Memangnya kita tidak boleh berada di sini?" "Tidak juga. Ketika berhenti bekerja di museum, aku tidak mengembalikan kuncinya." Gawat. "Biar aku yang menghadapinya," ujarku sambil bangkit dari bangku itu. "Siapa di sana?" aku berseru. "Kami ada di sini." Terdengar langkah kaki di undakan tangga, kemudian seorang satpam muncul di pintu. Topinya tampak dilesakkan ke dekat matanya, dan sebuah syal yang basah hampir tidak bisa menutupi perutnya yang buncit. Napasnya terengah-engah dan giginya tampak kuning di bawah cahaya ungu. "Syukurlah, akhirnya kamu muncul juga," ujarku berlebihan. "Kami sedang menggambar Odocoileus virginianus dan kelupaan waktu. Semua orang pulang duluan karena hujan salju, dan tampaknya mereka lupa bahwa kami masih ada di dalam. Kami terkunci." Aku memberikan senyuman malu-malu. "Aku baru saja mau menelepon keamanan."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kalian tidak boleh ada di sini sekarang. Museum nya sudah tutup," ujarnya. Rupanya aktingku tidak ada gunanya. "Ya, aku mengerti. Kami harus segera pergi. Suaminya pasti akan mengkhawatirkan dia," ujarku sambil mengangguk ke arah Anna yang menganggukangguk seperti kura-kura mainan. Satpam itu mengalihkan matanya yang berair dari Anna kepadaku kembali, kemudian menganggukkan kepalanya ke tangga. "Kalau begitu, ayo pergi." Kami tidak membuang-buang waktu lagi. Di luar, hujan masih turun. Tetesannya sekarang sudah semakin lebat, seperti es serut Slushies yang pernah kubeli bersama adikku dari tukang es serut di musim panas. Wajahnya berkelebat di hadapanku. Di manakah kamu, Harry? Di Birks Hall, Anna menatapku dengan pandangan aneh. "Odocoileus virginianus?" "Nama itu muncul di kepalaku begitu saja." "Tidak ada rusa berekor putih di dalam museum."

http://inzomnia.wapka.mobi

Apakah sudut mulutnya membentuk senyuman atau hanya karena cuaca dingin? Aku mengangkat bahu. Dengan enggan, Anna memberikan nomor telepon rumah dan alamatnya. Kami berpisah dan aku meyakinkan dirinya bahwa Ryan akan segera menghubunginya. Saat bergegas menuju Universitas, sesuatu membuatku membalikkan tubuh. Anna tampak berdiri di bawah bangunan tua bergaya Gothic, tidak bergerak, seperti teman-temannya dari zaman Cenozoic. Setiba di rumah, aku langsung menekan nomor pager Ryan. Beberapa menit kemudian, telepon berdering. Kukatakan kepadanya bahwa Anna sudah muncul lagi dan kuceritakan secara garis besar percakapan kami tadi. Dia berjanji akan menghubungi koroner, sehingga sebuah pencarian dapat dimulai berdasarkan catatan medis dan gigi milik Amalie Provencher. Dia segera menutup gagang telepon karena berniat untuk menghubungi Anna sebelum dia meninggalkan kantor Jeannotte. Dia akan meneleponku kembali untuk menceritakan apa yang telah dialaminya sepanjang hari tadi. Aku makan salad nicoise dan roti croissant untuk makan malam, kemudian mandi agak berlamalama, dan memakai pakaian olahraga yang sudah agak usang. Aku masih merasa kedinginan dan memutuskan untuk

http://inzomnia.wapka.mobi

menyalakan perapian. Aku telah menggunakan kayu terakhir yang kumiliki sehingga kubuat surat kabar menjadi gumpalan bola dan meletakkannya di dalam perapian. Es mengetuk-ngetuk jendela saat aku menyalakan api dan mengamatinya melahap gumpalan surat kabar itu. Jam delapan lewat empat puluh menit. Kuraih jurnal Belanger dan memilih acara TV "Seinfeld", berharap irama dialog dan tawa dalam acara itu bisa membuatku tenang. Bila dibiarkan, aku tahu pikiranku akan menerawang seperti seekor kucing di malam hari, mengeong dan mengerang, dan meningkatkan kegelisahanku ke tingkat di mana aku tidak mungkin bisa tidur. Tidak ada gunanya. Jerry dan Kramer (pemain dalam film seri Seinfeld) sudah berusaha sekeras mungkin, tetapi aku tidak bisa memusatkan perhatian. Mataku mendarat ke perapian. Apinya telah meredup sehingga yang tersisa hanya beberapa jilatan api mengelilingi bagian bawah perapian. Kudekati perapian, memisah-misahkan gumpalan surat kabar, merobeknya dan membentuk gumpalan bola lagi, kemudian memasukkannya lagi ke dalam perapian.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku sedang mencolok-colok potongan kayu saat sesuatu meletup dalam benakku. Surat kabar! Aku sudah melupakan mikrofilm itu! Aku kembali ke tempat tidur, menarik halaman surat kabar yang aku fotokopi dari McGill dan membawanya ke sofa. Aku hanya membutuhkan beberapa detik saja untuk menemukan sebuah artikel di La Presse. Artikel itu singkat, persis seperti yang kuingat. 20 April 1845. Eugenie Nicolet berlayar ke Prancis. Dia akan menyanyi di Paris dan Brussel, menghabiskan musim panas di Prancis, dan kembali ke Montreal pada bulan Juli. Ada daftar orang-orang yang menyertainya, begitu juga tanggaltanggal konsernya. Lalu, ada ringkasan kariernya dan berbagai komentar tentang bagaimana orang-orang pasti akan merindukannya. Uang receh yang kumiliki untuk memfotokopi salinan hanya cukup sampai tanggal 26 April. Kubaca semua yang telah kucetak, tetapi nama Eugenie tidak pernah muncul lagi. Kemudian aku mundur lagi, mencari-cari di setiap cerita dan pengumuman. Artikel yang kucari kutemukan pada tanggal 22 April.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ada orang lain yang muncul di Paris. Bakat lelaki ini bukanlah di musik, tetapi pidato. Dia sedang melakukan tur untuk berpidato, menentang penjualan manusia dan menggalakkan perdagangan dengan Afrika Barat. Dia dilahirkan di Gold Coast, melanjutkan pendidikan di Jerman, dan mengajar di bidang fi losofi di Universitas Halle. Dia baru saja menyelesaikan serangkaian kuliah di McGill School of Divinity. Aku mundur terus dan menjelajahi sejarah. Delapan belas empat puluh lima. Perbudakan sedang mencapai puncaknya di Amerika Serikat, tetapi telah dilarang di Prancis dan Inggris. Kanada waktu itu masih menjadi koloni Inggris. Gereja dan kelompok misionaris memohon negara Afrika untuk menghentikan penjualan penduduknya, dan mendorong orang Eropa untuk terlibat dalam perdagangan yang mematuhi hukum dengan Afrika Barat untuk menggantikan perdagangan budak. Apa istilah yang mereka gunakan? "Perdagangan yang sah." Kubaca nama para penumpang dengan semangat yang semakin terpacu. Dan nama kapalnya. Eugenie Nicolet dan Abo Gabassa menyeberang dengan menggunakan kapal yang sama. Aku bangkit untuk menusuk-nusuk api di perapian.

http://inzomnia.wapka.mobi

Apakah itu jawabannya? Apakah aku telah menemukan rahasia yang telah tersembunyi selama seratus lima puluh tahun lamanya? Eugenie Nicolet dan Abo Gabassa? Sebuah perselingkuhan? Kukenakan sepatu, mendekati pintu bergaya Prancis, mengangkat pegangannya, dan mendorong pintu itu. Pintu itu terkunci, beku karena udara dingin. Kudorong dengan pahaku sampai kaitannya terlepas. Tumpukan kayu tampak membeku dan aku menghabiskan waktu cukup lama untuk melepaskan potongan kayu dengan menggunakan sekop taman. Saat akhirnya kembali ke dalam rumah, aku menggigil dan tubuhku berselimutkan butiran es kecil-kecil. Sebuah suara menghentikan langkahku ketika aku berjalan menuju perapian. Bel pintuku tidak berdering, tetapi berkicau. Dan sekarang kicauan itu terdengar, kemudian tiba-tiba berhenti, seakan-akan orang itu telah menyerah. Kujatuhkan potongan kayu, bergegas menuju kotak pengaman, dan menekan tombol video. Di layar, kulihat sesosok tubuh menghilang di pintu depan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kuraih kunci, berlari ke lobi, dan membuka pintu menuju ruang depan. Pintu luar masih berada di tempatnya. Kutekan lidah pintu dan membukanya lebar-lebar. Dasiy Jeannotte tergeletak di atas undakan tangga gedung apartemenku.

31. Sebelum aku sempat meraih tubuhnya, dia sudah bergerak lebih dahulu. Pelan-pelan dia menarik tangannya, berguling, dan mengambil posisi duduk, membelakangiku. "Kamu terluka?" Kerongkonganku begitu keringnya sehingga suaraku terdengar melengking. Dia meringis mendengar suaraku, kemudian membalikkan tubuh. "Es ini benar-benar membahayakan. Aku tergelincir, tapi tidak apa-apa." Kuulurkan tangan dan dia menerima bantuanku sehingga bisa berdiri lagi. Dia tampak gemetaran dan kondisinya terlihat tidak begitu baik. "Ayo, masuklah ke dalam dan akan kubuatkan teh."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak, aku tidak bisa lama-lama. Ada yang menungguku. Aku seharusnya tidak keluar di malam yang membahayakan seperti ini, tapi aku harus bicara denganmu." "Ayo masuk dulu, di dalam lebih hangat." "Tidak. Terima kasih." Nadanya sama dinginnya dengan suhu di luar. Dia membetulkan syalnya, kemudian menatap mataku tajam-tajam. Di belakangnya, curahan es menembus cahaya lampu. Batang pohon terlihat berkilauan hitam di antara uap natrium dari lampu jalan. "Dr. Brennan, kamu tidak boleh mengganggu mahasiswiku. Aku sudah berusaha membantumu, tapi tampaknya kamu malah menyalahgunakan kebaikanku. Kamu tidak bisa mengejar anak-anak muda itu dengan cara seperti ini. Dan, memberikan nomor teleponku kepada polisi dengan tujuan untuk mengganggu asistenku benar-benar keterlaluan." Tangan yang dibalut sarung tangan menyeka matanya, meninggalkan goresan hitam di pipinya. Amarahnya berkobar seperti kompor di dapur. Lenganku kusilangkan di atas pinggangku dan melalui kemeja fl anel aku merasa kukuku menancap ke kulit.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apa maksudmu? Aku tidak mengejar Anna." Aku membalas ucapannya. "Ini bukan proyek penelitian! Sejumlah orang ditemukan mati! Yang sudah pasti ada sepuluh orang, hanya Tuhan yang tahu berapa banyak lagi yang akan jadi korban." Butiran es mengenai dahi dan lenganku. Aku tidak merasakannya sama sekali. Kata-katanya membuatku murka dan kuluapkan semua perasaan putus asa dan frustrasi yang telah terpendam selama beberapa minggu terakhir ini. "Jennifer Cannon dan Amalie Provencher adalah mahasiswi McGill. Mereka dibunuh, Dr. Jeannotte. Tapi, bukan hanya dibunuh. Tidak. Pembunuhan saja belum cukup untuk orang-orang itu. Orang gila itu melemparkan mereka menjadi mangsa binatang, kemudian menonton di kala kulit mereka dirobek-robek dan tengkorak mereka digigit sampai menembus otaknya." Aku terus mengoceh, tidak lagi mengendalikan suaraku. Kulihat beberapa orang mempercepat langkah kaki mereka, walaupun berjalan di atas trotoar yang licin. "Satu keluarga dibantai dan tubuhnya dipotongpotong, dan seorang wanita tua ditembak di kepalanya sekitar

http://inzomnia.wapka.mobi

dua ratus kilometer dari sini. Bayi! Mereka membantai dua bayi mungil! Seorang gadis berusia delapan belas tahun dirobek, dimasukkan ke dalam bagasi dan dibuang di kota ini. Mereka semua mati, Dr. Jeannotte, dibunuh oleh sekelompok orang gila yang menganggap diri mereka teladan moral yang paling baik." Aku merasa pipiku memerah, walaupun dalam cuaca sedingin ini. "Nah, sekarang aku mau mengatakan sesuatu kepadamu." Kuacungkan jariku yang gemetaran. "Akan kutemukan para bajingan ganas yang merasa dirinya benar itu, akan kubuat mereka menghentikan semua perbuatannya, tidak peduli seberapa banyak anak gereja, atau pembimbing konseling, atau orang yang mengoceh tentang kitab suci di jalanan yang harus kuganggu! Dan itu termasuk murid-muridmu! Dan mungkin termasuk dirimu!" Wajah Jeannotte tampak pucat seperti hantu di tengah kegelapan malam, maskara yang luntur mengubah wajahnya menjadi sebuah topeng. Sebuah gundukan terbentuk di atas mata kirinya, menyebabkan timbulnya bayang-bayang sehingga menjadikan mata sebelah kanannya tampak lebih terang.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kuturunkan jariku dan kembali melingkarkan lenganku di tubuhku. Aku sudah terlalu banyak bicara. Ledakan emosiku sudah usai sehingga sekarang cuaca dingin membuatku menggigil kedinginan. Tidak ada orang di jalanan dan sekarang semuanya hening. Aku bisa mendengar napasku sendiri. Aku tidak tahu apa yang kuharap terjadi selanjutnya, tetapi bukan pertanyaan yang kemudian muncul dari bibirnya. "Kenapa kamu menggunakan perumpamaan seperti itu?" "Apa?" Apa dia mempertanyakan keteranganku tadi? "Kitab suci, tukang mengoceh, dan anak gereja. Kenapa kamu menggunakan istilah seperti itu?" "Karena aku yakin bahwa para pembunuh ini didorong oleh orang-orang fanatik yang berkedok agama." Jeannotte tampak diam. Ketika berbicara, suaranya terdengar lebih dingin dari malam itu dan katakatanya membuatku lebih beku daripada cuaca di luar. "Kamu benar-benar keterlaluan, Dr. Brennan. Kuperi-ngat kan dirimu untuk tidak ikut campur." Matanya yang tidak berwarna menusuk mataku. "Kalau kamu terus memaksa, aku terpaksa akan bertindak."

http://inzomnia.wapka.mobi

Sebuah mobil menyusuri lorong di seberang gedung apartemenku dan berhenti. Saat membelok ke jalanan, lampunya menyorot, menyapu blok dan untuk sejenak menyinari wajah Jeannotte. Tubuhku menegang, dan kuku jariku semakin menghujam tubuhku. Astaga. Ternyata bukan ilusi yang diciptakan oleh bayangan. Mata kanan Jeannotte terlihat sangat pucat. Karena tidak memakai riasan, alis dan bulu matanya tampak putih diterangi cahaya lampu mobil. Dia mungkin melihat sesuatu di wajahku karena dia langsung menarik syalnya ke atas, membalikkan tubuhnya, dan bergegas menyusuri jalanan. Dia tidak pernah menoleh ke belakang lagi. Ketika masuk kembali ke dalam, lampu di mesin penjawab telepon tampak menyala. Ryan. Aku meneleponnya kembali dengan tangan yang masih gemetaran. "Jeannotte terlibat," ujarku tanpa membuang waktu lagi. "Dia baru saja datang ke sini dan menyuruhku mundur. Sepertinya teleponmu kepada Anna benar- benar membuatnya panik. Ryan, ketika kita kembali ke Saint Helena, kamu masih ingat lelaki yang rambutnya beruban?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya. Lelaki kurus, sekurus boneka pengusir burung, tinggi. Dia masuk untuk berbicara dengan Owens." Ryan terdengar kelelahan. "Jeannotte memiliki pola kulit putih yang sama, mata yang sama. Tadinya tidak begitu jelas karena dia menyembunyikannya dengan rias wajah." "Berkas rambut putih yang sama?" "Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, mungkin karena dia memakai cat rambut. Pasti ada hubungan di antara keduanya. Kesamaan itu terlalu aneh sehingga tidak mungkin hanya kebetulan belaka." "Mereka kakak-beradik?" "Aku tidak menaruh perhatian waktu itu, tetapi kupikir lelaki di Saint Helena itu terlalu muda untuk menjadi ayahnya dan terlalu tua untuk menjadi anaknya." "Kalau Jeannotte berasal dari pegunungan di Tennessee, maka ada kemungkinan kesamaan genetik." "Ih, menyebalkan." Aku sedang tidak dalam suasana untuk bercanda. "Bisa saja seluruh klan mewarisi gen yang sama." "Ini serius, Ryan."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kamu tahu, garis yang berbeda terdapat pada orang yang berbeda." Dia meniru kata-kata Jeff Foxworthy (pelawak AS yang terkenal). "Kalau garismu sama dengan adikmu, maka mungkin-" Garis. Sesuatu tentang garis membuatku sadar. "Apa kamu bilang?" "Orang, bukankah itu yang kalian-" "Berhenti bercanda dong\ Aku baru saja teringat akan sesuatu. Kamu masih ingat apa yang dikatakan ayah Heidi Schneider tentang tamu mereka?" Hubungan telepon sunyi beberapa saat lamanya. "Dia mengatakan bahwa orang itu kelihatan seperti seekor sigung. Seekor sigung yang jelek." "Sialan. Jadi, mungkin si Ayah bukannya sok puitis." Di latar belakang kudengar telepon berdering beberapa kali. Tidak ada yang menjawabnya. "Apakah Owens mengirim si Rambut Putih itu ke Texas?" tanya Ryan. "Tidak, bukan Owens. Kathryn dan lelaki tua itu membicarakan seorang wanita. Mungkin maksudnya Jeannotte. Dia mungkin mengendalikan pertunjukan dari sini dan memiliki beberapa wakil di perkampungan yang

http://inzomnia.wapka.mobi

lainnya. Kurasa dia juga menarik orang-orang di kampus melalui acara seminar dan sebagainya." "Apa lagi yang bisa kamu ceritakan tentang Jeannotte?" Kuceritakan semua hal yang kuketahui, termasuk perilakunya terhadap para asistennya, dan bertanya apa yang dia dapatkan dari percakapannya dengan Anna. "Tidak banyak. Kurasa dia memendam banyak rahasia. Anak itu sangat tidak stabil." "Dia mungkin pecandu obat terlarang." Deringan telepon berbunyi lagi. "Kamu sendirian di situ?" Selain bunyi deringan telepon, kantor polisi itu sepertinya terdengar terlalu sunyi. "Semua orang sudah pulang karena badai salju ini. Apa kamu juga menghadapi masalah?" "Maksudmu?" "Kamu tidak mendengarkan berita? Badai salju ini benar-benar parah. Bandara ditutup, dan banyak jalan yang tidak bisa dilewati. Aliran listrik juga terganggu sepanjang hari dan sepanjang pantai

http://inzomnia.wapka.mobi

selatan sangat dingin dan gelap. Pemerintah kota mulai mengkhawatirkan para lansia. Dan juga penjarah." "Sejauh ini aku baik-baik saja. Apakah anak buah Baker menemukan sesuatu yang menghubungkan Saint Helena dengan kelompok di Texas?" "Tidak juga. Orang tua yang punya anjing itu banyak berbicara tentang pertemuan dengan dewi penolongnya. Sepertinya Owens dan para pengikutnya memiliki pemikiran yang sama. Semuanya ada di dalam buku harian mereka." "Buku harian?" "Ya. Rupanya beberapa pengikutnya kreatif juga." "Dan?" Aku mendengarnya menarik napas, kemudian mengembuskannya perlahan. "Cepat ceritakan dong," "Menurut beberapa ahli di sini, mereka membicarakan hari kiamat dan bahwa saatnya sudah dekat. Mereka menunggu kiamat besar. Sheriff Baker tidak mau mengambil risiko. Dia telah menghubungi FBI." "Dan FBI juga tidak menemukan petunjuk ke mana tujuan mereka? Maksudku, tujuan di bumi ini."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Untuk bertemu dengan dewi penolong dan menyeberang ke tempat yang lebih baik. Itulah berita konyol yang sedang kita hadapi. Tapi, mereka benarbenar terorganisasi dengan baik. Rupanya perjalanan itu telah lama direncanakan." "Jeannotte! Kamu harus menemukan Jeannotte! Pasti dia! Dialah dewi penolong yang mereka sebutsebut itu!" Aku tahu, suaraku pasti terdengar histeris, tetapi aku tidak bisa menahan diri. "Ok. Aku sependapat. Sudah waktunya untuk mengejar sang bidadari. Kapan dia meninggalkan tempatmu?" "Lima belas menit yang lalu." "Ke mana perginya?" "Entahlah. Katanya dia akan bertemu dengan seseorang." "OK, aku akan menemukannya, Brennan. Kalau duga-anmu benar tentang ini, profesor kecil itu adalah wanita yang sangat berbahaya. Jangan, kuulangi, jangan kau lakukan apa-apa sendiri. Aku tahu kamu mengkhawatirkan Harry, tapi seandainya Harry terjebak dalam kekusutan ini, dibutuhkan seorang ahli untuk menyelamatkannya. Kamu mengerti?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bolehkah aku menggosok gigi? Atau itu juga dianggap berisiko?" ujarku ketus. Sikapnya yang melindungiku membuatku kesal. "Kamu tahu apa maksudku. Coba cari lilin. Aku akan kembali menghubungimu begitu ada kabar baru." Kututup gagang telepon dan berjalan mendekati pintu bergaya Prancis. Aku ingin berada di ruangan yang lebih luas, lalu kugeser gordennya. Halaman di luar seperti sebuah taman mitologi, pepohonan dan semaksemak tampak seperti kaca. Ram nyamuk menutupi balkon di lantai atas dan menjuntai ke atas batu bata perapian dan dinding. Kucari lilin, korek api, dan lampu senter, kemudian mencari radio dan headphone dari tas olahraga dan meletakkan semua barang itu di atas meja dapur. Kembali ke ruangan duduk, kuhenyakkan tubuhku ke sofa dan memasang berita CTV. Ternyata Ryan benar. Badai itu menjadi berita utama. Aliran listrik mati di seluruh provinsi dan Hydro-Quebec tidak dapat memastikan kapan listrik akan hidup lagi. Suhu terus menurun dan hujan salju akan semakin lebat. Kukenakan jaket dan bolak-balik tiga kali mengambil potongan kayu. Kalau sampai listrik mati, aku masih mendapatkan kehangatan. Berikutnya, kuambil selimut tambahan dan meletakkannya di tempat

http://inzomnia.wapka.mobi

tidur. Saat kembali ke ruangan duduk, pembaca berita yang tampak murung itu sedang menjabarkan berbagai peristiwa yang dibatalkan penyelenggaraannya. Itu adalah ritual yang sering kudengar dan anehnya membuatku merasa nyaman. Jika ada salju yang mengancam di Selatan, sekolah ditutup, kegiatan masyarakat berkurang, dan pemilik rumah yang panic memborong barang di toko. Biasanya badai salju tidak muncul ataupun seandainya pun salju turun, salju itu langsung hilang keesokan harinya. Di Montreal, persiapan menghadapi badai dilakukan secara tertib dan teratur, bukan dengan kepanikan, didominasi dengan aura "kita bisa menghadapinya". Persiapanku menghabiskan waktu lima belas menit. TV menarik perhatianku selama sepuluh menit berikutnya. Istirahat sejenak. Ketika mematikan televisi, kegelisahan kembali melanda. Aku merasa tidak berdaya, seperti kumbang ditusuk jarum. Ryan memang benar. Tidak ada yang bisa kulakukan dan ketakberdayaanku membuatku lebih gelisah. Aku kembali melakukan rutinitasku di malam hari, berharap bisa menyingkirkan pemikiran buruk lebih lama lagi. Saat menyusup ke balik selimut, arus kegelisahan menerjang dengan hebatnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Harry. Mengapa aku tidak menyimak ceritanya? Bagaimana aku bisa begitu egois? Ke mana perginya adikku itu? Mengapa dia tidak menelepon anaknya? Mengapa dia tidak meneleponku? Daisy Jeannotte. Siapa yang akan ditemuinya? Rencana gila apa yang sedang disusunnya? Berapa banyak nyawa tidak bersalah yang akan diajaknya pergi bersamanya? Heidi Schneider. Siapa yang merasa terancam oleh kehadiran bayi kembar Heidi sehingga mengakibatkan pembunuhan bayi yang sedemikian sadisnya? Apakah ke-matian mereka menjadi pertanda akan terjadinya pertumpahan darah yang lebih banyak lagi? Jennifer Cannon. Amalie Provencher. Carole Comptois. Apakah pembunuhan mereka merupakan bagian dari kegilaan ini? Kebiasaan setan apakah yang telah mereka langgar? Apakah kematian mereka hanyalah akibat dari ritual setan? Apakah adikku akan mengalami nasib yang sama? Saat telepon berdering, aku langsung meloncat sehingga lampu senter jatuh ke lantai. Ryan, kataku penuh harap. Semoga Ryan dan dia sudah menangkap Jeannotte.

http://inzomnia.wapka.mobi

Suara keponakanku muncul di seberang saluran telepon. "Aduh, Bibi Tempe. Kurasa aku benar-benar bodoh. Harry pernah menelepon. Aku menemukan pesannya di kaset yang lain." "Kaset lain?" "Mesin penjawabku adalah mesin jenis lama yang berisi kaset perekam. Kaset yang mula-mula kupasang ternyata kurang bagus putaran pitanya, jadi aku memasukkan kaset baru. Aku sudah lupa pada kaset yang lama itu, sampai seorang teman perempuanku datang berkunjung. Aku benar-benar khawatir karena kami seharusnya pergi bersama minggu kemarin, tapi ketika aku menjemputnya, dia tidak ada di rumah. Ketika dia mampir malam ini, aku benarbenar marah dan dia bersikeras bahwa dia sudah meninggalkan pesan. Kami akhirnya berdebat, jadi kukeluarkan kaset lama dan memutarnya. Ternyata, dia memang meninggalkan pesan dan begitu juga Harry. Persis di akhir kaset." "Apa yang dikatakan ibumu?" "Dia sepertinya marah. Kamu tahu bagaimana Harry 'kan. Tapi, dia juga sepertinya ketakutan. Dia sedang berada di sebuah peternakan atau entah

http://inzomnia.wapka.mobi

apa, dan ingin pulang, tapi tidak ada yang mau mengantarkannya ke Montreal. Jadi, kurasa dia masih berada di Kanada." "Apa lagi katanya?" Jantungku berdebar demikian keras sehingga keponakanku pasti mendengarnya juga. "Katanya keadaan menjadi semakin mengerikan dan dia ingin pergi. Kemudian, kaset itu terputus atau mungkin sambungan teleponnya yang terputus atau entah apa. Aku tidak yakin. Pesan itu berakhir seperti itu." "Kapan dia meneleponmu?" "Pam menelepon hari Senin. Pesan Harry sesudah itu." "Tidak ada tanda tanggalnya?" "Mesin ini mesin kuno." "Kapan kamu mengganti kaset itu?" "Mungkin hari Rabu atau Kamis. Aku tidak yakin. Tapi, aku yakin sebelum akhir pekan." "Coba pikir lagi, Kit!" Sambungan telepon berdengung. "Kamis. Waktu aku pulang dari kapal, aku merasa lelah dan kaset itu tidak mau diputar mundur, jadi aku mengeluarkannya dan menyimpannya. Itulah saat aku memasukkan kaset yang baru. Sialan, itu berarti dia meneleponku setidaknya empat hari yang lalu, mungkin sudah enam hari. Ya Tuhan, kuharap dia baik-baik saja. Dia terdengar panik sekali, tidak seperti kebiasaannya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kurasa aku tahu dia bersama siapa. Dia akan baik-baik saja." Aku sendiri tidak memercayai katakataku itu. "Kabari aku begitu kamu berhasil bicara dengannya. Katakan kepadanya aku menyesali semua ini. Aku benar-benar ceroboh.' Aku berjalan ke jendela dan menempelkan wajahku ke kaca. Es yang membeku membuat lampu jalanan menjadi matahari kecil dan jendela tetanggaku menjadi segi empat yang berpendar. Air mataku meleleh di pipi saat memikirkan adikku, entah di mana di tengah badai salju. Kuseret tubuhku ke tempat tidur, menyalakan lampu, dan duduk diam menunggu telepon dari Ryan. Sesekali cahaya meredup, mati, kemudian kembali normal. Waktu berlalu. Telepon tetap bungkam. Aku tertidur. Mimpiku memberikan petunjuk terakhir. 32. Aku berdiri menatap gereja tua itu. Sekarang musim dingin dan pepohonan tampak telanjang. Walau pun langit tampak kelam, dahan-

http://inzomnia.wapka.mobi

dahan membuat bayang-bayang layaknya sarang laba-laba merambat di atas bebatuan berwarna abu-abu. Tercium aroma salju, dan keheningan yang biasanya mendahului badai terasa mencekam di sekelilingku. Di kejauhan kulihat sebuah danau yang membeku. Sebuah pintu terbuka dan sesosok tubuh diterpa cahaya lampu berwarna kuning. Ia tampak ragu-ragu, kemudian berjalan ke arahku, kepala ditundukkan menentang angin. Sosok itu semakin dekat dan kulihat bahwa dia seorang wanita. Kepalanya berkerudung dan dia memakai gaun hitam yang panjang. Saat wanita itu mendekat, serpihan salju pertama muncul dari langit. Dia membawa sebuah lilin dan baru aku sadar bahwa dia membungkuk untuk melindungi nyala api. Entah berapa lama lilin itu bisa bertahan menyala dalam cuaca seperti ini. Wanita itu berhenti dan memberikan isyarat dengan anggukan kepalanya. Sekarang, kerudungnya sudah dipenuhi salju. Aku berusaha mengenali wajahnya, tetapi tampak tidak jelas, seperti bebatuan yang berada di dasar kolam. Dia membalikkan tubuh dan aku mengikutinya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Wanita itu berjalan semakin jauh ke depan. Aku kaget dan mencoba mengejarnya, tetapi tubuhku tidak mau mendengarkan perintah otakku. Kakiku terasa berat dan aku tidak bisa mempercepat langkahku. Kulihat dia menghilang di balik pintu itu. Aku memanggilnya, tetapi tidak keluar suara apa pun dari mulutku. Kemudian, aku sudah berada di dalam gereja dan semuanya tampak redup. Dinding terbuat dari batu dan lantai dari tanah. Jendela besar-besar menghilang di kegelapan di atas kepala. Dari celah jendela, kulihat tete-san salju melayang seperti asap. Aku tidak ingat mengapa aku datang ke gereja ini. Aku merasa bersalah karena pasti aku ke situ karena ada sesuatu yang penting. Seseorang menyuruhku ke situ, tetapi aku tidak ingat siapa yang menyuruh. Saat berjalan dalam kegelapan sore, aku melihat ke bawah dan menyadari bahwa kakiku tidak memakai alas kaki. Aku malu karena tidak ingat di mana kutinggalkan sepatuku. Aku ingin pergi, tetapi tidak tahu jalannya. Aku merasa bahwa jika aku menelantarkan tugasku, aku tidak bisa pergi dari tempat ini. Kudengar suara bergumam dan membalikkan tubuh ke arah suara itu. Ada sesuatu di lantai, tetapi tidak jelas, sebuah bayangan yang tidak bisa

http://inzomnia.wapka.mobi

kukenali. Aku bergerak mendekat dan bayangan itu berubah menjadi beberapa benda. Sebuah lingkaran kepompong yang dibungkus. Kuamati kepompong itu. Semuanya terlalu kecil sehingga tidak mungkin berisi tubuh manusia, tetapi bentuknya seperti tubuh manusia. Kudekati salah satu di antaranya dan mengendurkan salah satu ujungnya. Terdengar suara dengungan. Kutarik kain itu dan kawanan lalat menyeruak dan terbang ke jendela. Kaca itu beku oleh salju dan kuamati kawanan serangga itu mengumpul di sekitarnya, tahu bahwa mereka tidak akan bisa terbang dalam cuaca dingin. Mataku kembali ke bungkusan itu. Aku tidak terburu-buru karena aku tahu ini bukan mayat. Orang mati tidak dibungkus seperti ini. Tapi, ternyata memang itulah yang kutemukan. Dan aku mengenali wajahnya. Amalie Provencher menatap diriku, bentuknya seperti lukisan kartun yang dilukis dengan berwarna abu-abu. Namun, aku masih tidak bisa bergerak cepat. Aku bergerak dari satu bungkusan ke bungkusan yang lain, membuka kainnya dan menyebabkan

http://inzomnia.wapka.mobi

lalat terbang ke kegelapan malam. Semua wajah itu terlihat putih, mata menatap lurus ke depan, tetapi aku tidak mengenali mereka. Kecuali satu. Aku bisa mengenali ukurannya sebelum membuka bungkusannya. Ia terlihat lebih kecil dari yang lainnya. Aku tidak mau melihat, tetapi tidak mungkin berhenti. Tidak! Aku mencoba menyangkal, tetapi tidak ada gunanya. Carlie berbaring menelungkup, jari-jemarinya terlipat menjadi kepalan tinju yang mengarah ke atas. Kemudian, kulihat dua sosok lainnya, kecil, berdampingan dalam lingkaran itu. Aku menjerit, tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Sebuah tangan menyentuh lenganku. Aku mendongak dan melihat wanita yang membimbingku. Dia berubah, atau paling tidak terlihat lebih jelas. Ternyata seorang biarawati, kerudungnya berjuntai dan ditutupi jamur. Saat berjalan, bisa kudengar suara rosarionya dan bau tanah serta bau apek. Aku bangkit dan melihat kulitnya yang cokelat ditutupi butiran merah yang bernanah. Aku tahu ini Elisabeth Nicolet. "Siapa kamu?" Aku memikirkan pertanyaan itu, tetapi dia menjawabnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Semuanya ada di gaun gandum yang paling gelap." Aku tidak memahaminya, "Kenapa kamu ada di sini?" "Aku datang dengan hati berat untuk menjadi pengantin Kristus." Kemudian, kulihat sosok lainnya. Sosok wanita itu berdiri di kejauhan, cahaya salju yang remang-remang mengaburkan bentuk tubuhnya dan membuat rambutnya berwarna abu-abu. Matanya menatap mataku dan dia berbicara, tetapi kata-katanya tidak dapat kupahami. "Harry!" Aku menjerit, tetapi suaraku terdengar lirih. Harry tidak mendengarku. Dia menjulurkan kedua lengannya dan mulutnya bergerak, sebuah lubang hitam merupakan wajahnya. Kembali aku berteriak, tetapi tidak ada suara yang keluar. Dia berbicara lagi dan aku mendengar suaranya, walaupun kata-katanya terdengar jauh, tetapi suaranya mengalir seperti air sungai. "Tolong! Aku sedang sekarat." "Tidak!" Aku mencoba berlari, tetapi kakiku tidak mau kuajak bergerak. Harry masuk ke jalan yang tidak kulihat sebelumnya. Di atasnya kulihat sebuah tulisan. DEWI PENOLONG. Dia menjadi sebuah bayangan yang menyatu dengan kegelapan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kupanggil-panggil dia, tetapi dia tidak menoleh lagi. Aku mencoba mengejarnya, tetapi tubuhku tidak bisa bergerak, tidak ada yang bergerak, kecuali air mata yang mengalir di pipiku. Temanku berubah. Sayap berbulu yang gelap muncul dari punggungnya dan wajahnya tampak pucat dan retak-retak. Matanya menggumpal menjadi batu. Ketika kutatap, irisnya menjadi bening dan warnanya menghilang dari alis dan bulu matanya. Seberkas warna putih muncul di rambutnya dan memanjang ke belakang, mengiris kulit kepala dan membuatnya melayang tinggi ke udara. Kulit itu mendarat ke lantai dan lalat menyerbu dari jendela, mengumpul di atasnya. "Sekte tidak boleh diacuhkan." Suara itu dating dari sekelilingku, tetapi entah dari mana. Latar belakang dalam mimpi berganti ke tanah pertanian. Cahaya matahari membelah lumut Spanyol dan bayangan besar menari-nari di antara pepohonan. Cuaca terasa panas dan aku sedang menggali. Aku berkeringat saat menyendok tanah berwarna darah kering dan melemparkannya ke tumpukan di belakangku. Sekop menyentuh sesuatu dan aku menggali bagian pinggirnya, perlahanlahan mengungkapkan apa yang terkubur di situ. Bulu putih bercampur

http://inzomnia.wapka.mobi

tanah berwarna merah bata. Kuikuti punggung yang melengkung. Sebuah tangan berkuku merah yang panjang. Kugali sampai ke lengan bagian atas. Jumbai koboi. Semuanya berkilauan di panas yang terik ini. Aku melihat wajah Harry dan memekik. engan jantung berdebar kencang dan bermandikan keringat, aku duduk tegak. Aku membutuhkan beberapa saat untuk sadar kembali. Montreal. Tempat tidur. Badai es. Lampu masih menyala dan ruangan itu terasa sunyi. Kulihat jam. Jam tiga lewat empat puluh dua menit. Tenang. Mimpi hanyalah mimpi. Mimpi sering kali mencerminkan rasa takut dan kegelisahan, bukan kenyataan. Lalu, pikiran lain muncul. Telepon Ryan. Apakah aku tertidur saat dia menelepon? Kulemparkan selimut dan berjalan ke ruangan duduk. Mesin penjawab telepon tampak gelap. Kembali ke tempat tidur, kubuka bajuku yang basah. Ketika menjatuhkan celanaku ke lantai, bisa kulihat bekas kuku yang melingkar di telapak tanganku. Aku memakai jins dan sweter tebal.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sepertinya aku tidak akan bisa tidur lagi, jadi aku ke dapur dan mendidihkan air. Aku merasa mual akibat mimpi itu. Aku tidak mau mengingatnya lagi, tetapi bayangan itu telah melepaskan sesuatu ke dalam pikiranku, dan aku harus menangkap apa artinya. Kubawa cangkir tehku ke sofa. Mimpiku biasanya bukanlah mimpi yang menyenangkan, tapi juga bukan mimpi yang menakutkan atau mengerikan. Biasanya terdiri atas dua jenis. Biasanya di dalam mimpi aku tidak bisa menelepon, melihat jalan, atau naik pesawat terbang. Aku harus ikut ujian, tetapi tidak pernah mengikuti kuliahnya. Artinya mudah ditebak: gelisah. Akhir-akhir ini, pesan mimpiku semakin membingungkan. Alam bawah sadarku membawa materi yang terkumpul dalam pikiranku dan memintalnya menjadi sebuah kisah yang tidak nyata. Aku harus menafsirkan apa yang dikatakan alam bawah sadarku. Mimpi buruk malam ini benar-benar sebuah tekateki. Kupejamkan mata untuk melihat apa yang bisa kupecah-kan. Bayangan berkelebat-kelebat, seperti mengintip melalui pagar kayu. Wajah Amalie Provencher buatan komputer.

http://inzomnia.wapka.mobi

Bayi-bayi yang mati. Daisy Jeannotte yang bersayap. Aku teringat kata-kataku kepada Ryan. Apakah dia benar-benar malaikat pembawa kematian? Gereja. Mirip dengan biara di Lac Memphremagog. Mengapa otakku memasukkan unsur itu ke dalam mimpiku? Elisabeth Nicolet. Harry, meminta pertolongan, kemudian menghilang ke lorong yang gelap. Harry, mati dengan Birdie. Apakah Harry berada dalam bahaya? Seorang pengantin yang enggan. Apa artinya itu? Apakah Elisabeth dipaksa? Apakah itu bagian dari kenyataan yang ada? Aku tidak punya waktu untuk menggalinya lebih dalam lagi, karena saat itu suara bel berbunyi. Teman atau musuh, pikirku saat berjalan tersaruksaruk ke panel keamanan dan mengangkat gagangnya. Tubuh Ryan yang tinggi dan langsing memenuhi layar. Kupencet tombol agar dia bisa masuk dan mengamati melalui lubang pengintip saat dia berjalan menyusuri koridor. Dia kelihatan seperti orang yang baru saja tercebur ke sungai. "Kamu kelihatannya lelah sekali."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku sibuk sekali dan sekarang masih harus kerja lembur. Aku bekerja sendiri, gara-gara badai sialan ini." Ryan menggosok-gosokkan sepatu larsnya di keset, lalu membuka risleting jaketnya. Es meluncur ke lantai saat dia melepaskan topi rajutnya. Dia tidak bertanya mengapa aku berpakaian lengkap pada jam empat pagi dan aku tidak bertanya mengapa dia dating sepagi ini. "Baker menemukan Kathryn. Wanita itu berubah pikiran pada saat-saat terakhir dan meninggalkan Owens." "Bayinya?" Jantungku berdegup kencang. "Ada bersamanya." "Di mana?" "Ada kopi?" "Yah, ada." Ryan melemparkan topinya ke atas meja dan mengikutiku ke dapur. Dia terus bicara saat aku menggerus biji kopi dan mengukur air. "Dia bersembunyi bersama seorang lelaki bernama Espinoza. Kamu masih ingat tetangga yang menghubungi Social Service sehubungan dengan Owens?" "Bukankah tetangganya itu sudah mati?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Memang. Ini putranya. Dia adalah salah seorang anggota yang setia, tapi dia masih memiliki pekerjaan dan tinggal di rumah ibunya di ujung jalan." "Bagaimana Kathryn bisa mendapatkan Carlie kembali?" "Anak itu sudah ada di sana. Kamu siap mendengar cerita selanjutnya? Seseorang mengemudikan van itu ke Charleston ketika kelompok itu menginap di rumah Espinoza. Mereka semua berada di sana selama ini. Kemudian, ketika suasana sudah aman, mereka pergi." "Bagaimana caranya?" "Mereka menyebar dan semua orang pergi dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang naik kapal, ada yang ikut mobil atau bersembunyi di bagasi. Seperti nya Owens memiliki taktik hebat. Dan seperti orang bodoh, kita hanya memburu mobil van itu saja." Kusodorkan cangkir yang panas kepadanya. "Kathryn seharusnya pergi dengan Espinoza dan seorang lelaki lainnya, tetapi wanita itu membujuknya untuk tidak pergi." "Ke mana lelaki yang satunya lagi?" "Espinoza tidak mau bicara kalau ditanya hal itu."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Yang lainnya ke mana?" Kerongkonganku terasa kering. Aku sudah tahu jawabannya. "Kurasa mereka ada di sekitar sini." Aku terdiam. "Kathryn tidak tahu persis ke mana mereka akan pergi, tapi dia tahu bahwa mereka harus menyeberangi perbatasan. Mereka berangkat berduaan atau bertigaan dan mendapatkan pengarahan untuk melewati jalanan yang tidak diawasi polisi." "Ke mana?" "Menurut Kathryn, dia pernah mendengar kata Vermont. Mobil patroli polisi dan INS sudah diberi tahu, tapi mungkin sudah terlambat. Mereka punya waktu hampir tiga hari lamanya dan penjagaan perbatasan Kanada tidak seketat di Libya." Ryan menghirup kopinya. "Kathryn mengatakan bahwa dia tidak menaruh perhatian serius karena mengira mereka akhirnya tidak akan pernah pergi. Tapi, dia yakin akan satu hal. Saat mereka bertemu dengan sang dewi penolong, semua orang akan mati." Aku menyeka meja dapur, walaupun sebenarnya sudah bersih.

http://inzomnia.wapka.mobi

Untuk beberapa saat lamanya kami membisu. Kemudiarij "Ada kabar tentang adikmu?" Perutku langsung melilit. "Tidak." Ketika berbicara kembali, suaranya terdengar lebih lembut. "Anak buah Baker menemukan sesuatu di padepokan Saint Helena." "Apa?" Rasa takut menembus tubuhku. "Sepucuk surat untuk Owens. Surat itu menyebut-sebut seseorang bernama Daniel yang membahas Inner Life Empowerment." Aku merasakan sebuah tangan mendarat di bahuku. "Sepertinya organisasi itu sudah ada lebih dahulu, sebab kalau tidak, para pengikut Owens pasti sudah memasuki institusi itu. Bagian itu tidak begitu jelas, tapi yang pasti mereka menggunakan ILE untuk menarik anggota baru." "Ya Tuhan." "Surat itu bertanggal sekitar dua bulan yang lalu, tapi tidak ada tanda yang menunjukkan dari mana surat itu dikirimkan. Kata-katanya amat samar, tapi kelihatannya ada sebuah kuota yang harus dipenuhi, dan Daniel berjanji akan menepatinya." "Bagaimana?" Aku hampir tidak bisa berbicara.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dia tidak mengatakan bagaimana caranya. Tidak ada hal lainnya yang bersangkut-paut dengan ILE. Hanya surat itu saja." Mimpi itu kembali merasuk ke dalam pikiranku dengan jelas dan bisa kurasakan es mengalir di pembuluh darahku. "Mereka berhasil mendapatkan Harry!" Ujarku dengan bibir bergetar. "Aku harus menemukannya!" "Kita akan menemukannya." Kuceritakan kepada Ryan apa yang dikatakan Kit. "Sialan." "Bagaimana bisa orang-orang ini tidak diketahui keberadaannya selama bertahun-tahun, dan saat kita menemukannya, mereka langsung kabur dan menghilang?" Suaraku terdengar bergetar. Ryan meletakkan cangkirnya dan membalikkan tubuhku dengan kedua tangannya. Kuremas spons sedemikian kerasnya sehingga berdesis. "Tidak ada jejak karena orang-orang ini memiliki sumber pendapatan yang sangat besar. Mereka memenuhi kebutuhannya dengan uang tunai, tapi sepertinya tidak terlibat dalam kegiatan ilegal." "Kecuali pembunuhan!" Aku ingin meronta, tetapi Ryan memegang erat tubuhku.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Maksudku, bajingan-bajingan ini tidak berhubungan dengan penjualan narkoba atau pencurian atau penipuan kartu kredit. Tidak ada jejak uang atau bukti kejahatan, padahal dari sinilah biasanya kita menemukan petunjuk." Sorot matanya tampak mengeras. "Tapi, mereka benar-benar salah langkah karena telah masuk ke halaman belakang rumahku dan aku akan menangkap semua orang gila ini!" Aku meronta dan berhasil lepas dari cengkeramannya dan melemparkan spons itu ke ujung dapur. "Apa kata Jeannotte?" "Aku mencoba menghubungi kantornya, kemudian mengintai rumahnya. Tidak kutemukan dia di kedua tempat itu. Jangan lupa, aku bekerja sendirian, Brennan. Badai telah membekukan seluruh provinsi." "Apa yang kamu temukan tentang Jennifer Cannon dan Amalie Provencher?" "Universitas menutup diri dengan berdalih melindungi data mahasiswa seperti biasanya. Mereka tidak akan mau memberikan informasi apa pun tanpa surat dari pengadilan." Hal itu membuat emosiku meledak. Aku mendorongnya dan lari ke kamar tidur. Aku sedang mengenakan kaus kaki wol saat dia muncul di pintu. "Apa yang kamu lakukan?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku akan memaksa Anna Goyette menjawab, lalu aku akan menemukan adikku." "Wah, wah, wah, tunggu dulu. Di luar sana sedang diselimuti es setinggi langit." "Aku bisa mengatasinya." "Dengan Mazda yang umurnya sudah lima tahun?" Tubuhku gemetaran dengan kerasnya sehingga tidak bisa menalikan sepatuku. Aku berhenti, membuka ikatannya, lalu menyilangkan talinya dengan cermat. Kemudian, kulakukan hal yang sama dengan sepatu yang satunya lagi, lalu berbalik menghadap Ryan. "Aku tidak akan duduk di sini dan membiarkan semua orang gila itu membunuh adikku. Peduli amat kalau mereka dirasuki keinginan untuk membunuh diri mereka sendiri, tapi mereka tidak boleh membawa Harry bersama mereka. Dengan atau tanpa bantuanmu, aku akan menemukannya, Ryan. Dan aku akan melakukannya seterang juga!" Selama satu menit, dia hanya menatapku. Kemudian, dia menarik napas dalam-dalam, mengeluarkannya melalui hidungnya, dan membuka mulutnya untuk berbicara. Saat itulah lampu berkedip, meredup, kemudian mati.

http://inzomnia.wapka.mobi

33. Lantai jip Ryan basah oleh es yang meleleh. Kipas menyapu kaca mobil, sesekali menyingkirkan gumpalan es. Di depan bisa kulihat jutaan butiran salju melayang turun diterangi cahaya lampu mobil. Pusat kota tampak gelap dan sepi. Tidak ada lampu jalan atau cahaya dari bangunan, tidak ada tanda dengan lampu neon, tidak ada rambu lalu lintas. Satu-satunya mobil yang kulihat hanyalah mobil polisi. Tali pengaman berwarna kuning dipasang di trotoar untuk mencegah kecelakaan karena tergelincir di atas es. Entah berapa banyak orang yang mencoba pergi ke tempat kerja hari ini. Sesekali kudengar suara berderak, kemudian lapisan es merekah di trotoar. Bentang alam itu mengingatkanku pada penggalan berita tentang Sarajevo, dan aku membayangkan semua tetanggaku meringkuk di kamarnya yang dingin dan gelap. Ryan mengemudikan mobil di tengah bagai salju, bahunya tegang, jarijemarinya mencengkeram kemudi mobil dengan erat. Dia menjaga kecepatan cukup rendah dan stabil, sesekali mempercepat laju dan melepas

http://inzomnia.wapka.mobi

pedal gas saat mendekati persimpangan jalan. Biarpun begitu, kami sering tergelincir. Ryan memang benar saat menganjurkan agar kami menaiki Jipnya. Mobil yang kami lihat di jalanan lebih tepat disebut sedang menggelincir daripada sedang melaju. Kami menyusuri rue Guy dan membelok ke timur ke Docteur-Penfi eld. Dari atas, kami bisa melihat Montreal General menyala dengan menggunakan listrik dari generatornya sendiri. Jari-jemariku menggenggam pegangan kursi sebelah kanan dan tangan kiriku mengepal. "Cuacanya dingin luar biasa. Tapi, kenapa salju ini tidak terasa dingin?" ujarku geram. Rasa tegangdan takut mulai menunjukkan tajinya. Mata Ryan tidak pernah lepas dari jalanan. "Menurut radio ada semacam inversi yang sedang terjadi, jadi lebih hangat di awan daripada di tanah. Salju ini turun dalam bentuk hujan, tapi langsung membeku saat tiba di sini. Berat es menyebabkan pembangkit listrik kelebihan beban." "Kapan cuaca akan kembali normal?" "Peramal cuaca mengatakan bahwa cuaca akan bertahan begini untuk beberapa waktu."

http://inzomnia.wapka.mobi

Kupejamkan mata dan mendengarkan suara di sekelilingku. Suara penghangat mobil. Kipas kaca mobil. Angin yang bersiul. Jantungku yang berdegup kencang. Mobil itu tergelincir ke samping dan kelopak mataku terbuka. Kulepaskan kepalan tanganku dan memukul radio. Suaranya terdengar serius, tetapi menenangkan. Sebagian besar provinsi kehilangan tenaga listrik dan Hydro-Quebec sudah mengerahkan tiga ribu karyawan untuk memperbaikinya. Mereka bekerja tak henti-hentinya, tetapi tidak ada yang bisa mengatakan kapan tepatnya listrik akan kembali menyala. Generator di pusat kota meledak karena kelebihan beban, tetapi menjadi prioritas utama. Dinas pengolahan air minum tidak berfungsi dan penduduk disarankan untuk mendidihkan air terlebih dahulu. Gawat kalau tidak ada listrik, begitu pikirku. Sejumlah tempat penampungan telah didirikan dan polisi akan mulai menyisir dari pintu ke pintu pada subuh untuk menemukan lansia yang terjebak. Banyak jalanan telah ditutup dan pengendara motor dianjurkan untuk tetap tinggal di rumah.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kumatikan radio, benar-benar berharap aku berada di rumah. Dengan adikku. Pemikiran tentang Harry menyebabkan sesuatu memukul-mukul di belakang kedua mataku. Jangan pedulikan rasa sakit kepala itu dan berpikir, Brennan. Kamu tidak akan ada gunanya kalau tidak bisa berkonsentrasi. Keluarga Goyette tinggal di daerah bernama Plateau, jadi kami mengarah ke utara, kemudian ke timur ke Avenue des Pins. Dari atas bukit bisa kulihat cahaya lampu dari Royal Victoria Hospital. Di bawah kami, McGill hanyalah sebuah gundukan hitam, di belakangnya tampak kota dan pelabuhan, satu-satunya bangunan yang terlihat adalah Place Ville-Marie. Ryan mengarah ke utara di St-Denis. Biasanya dipenuhi orang yang berbelanja dan turis, tapi jalanan itu sekarang tampak lengang dan hanya es serta angin yang hadir. Cahaya redup menyelimuti semuanya, menghapus semua nama butik dan bistro. Di Mont-Royal, kami mengarah ke timur kembali, membelok ke selatan di Cristophe Colomb, dan sesaat kemudian berhenti di alamat yang diberikan Anna kepadaku. Gedung itu bangunan berlantai tiga yang banyak dijumpai di Montreal dengan tangga sempit mengarah ke lantai kedua. Ryan mengarahkan Jip ke belokan dan memarkirnya di pinggir jalan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ketika kami turun dari mobil, es langsung menusuk pipiku seperti serpihan kayu dan menyebabkan mataku berair. Dengan kepala menunduk, kami naik ke fl at keluarga Goyette, tergelincir dan meluncur di atas undakan tangga yang membeku. Bel ditutupi es berwarna abu-abu, jadi aku mengetuk pintu. Be berapa saat kemudian, gorden disibakkan dan wajah Anna muncul di jendela. Melalui panel yang membeku aku bisa melihat kepalanya menggeleng. "Buka pintunya, Anna!" teriakku. Gelengan kepalanya semakin dipercepat, tetapi aku tidak sedang ingin berlama-lama. "Buka pintu keparat ini!" Dia tercenung dan sebuah tangan naik ke telinganya. Dia melangkah mundur dan aku menduga dia akan menghilang. Namun, kudengar suara kunci diputar, kemudian pintu terbuka sedikit. Aku tidak menunggu lagi. Aku langsung mendorong pintu keras-keras, lalu kami masuk ke dalam sebelum dia bisa bereaksi. Anna melangkah mundur dan berdiri sambil menyilangkan lengannya, tangan memegang lengan jaketnya. Sebuah lampu minyak tampak bergetar di atas meja kayu kecil, membuat bayangan bergerakgerak di dinding lorong rumahnya yang sempit.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kenapa kalian tidak bisa meninggalkanku sendiri?" Matanya tampak besar di bawah cahaya yang berkerlap-kerlip. "Aku membutuhkan pertolonganmu, Anna." "Aku tidak bisa menolongmu." "Ya, kamu bisa." "Aku sudah mengatakan hal yang sama kepadanya. Aku tidak bisa melakukannya. Mereka akan menemukanku." Suaranya gemetaran dan kulihat rasa takut tergurat di wajahnya. Tatapan matanya membuat hatiku nelangsa. Aku sudah pernah melihat tatapan seperti itu. Seorang teman, yang ketakutan karena diintai seseorang. Kuyakinkan dirinya bahwa bahaya itu tidak nyata dan dia bisa mati karena ketakutan yang tak beralasan. "Mengatakan kepada siapa?" Aku bertanya dalam hati, ke manakah ibunya. "Dr. Jeannotte." "Dia tadi ke sini?" Anna mengangguk. "Kapan?" "Beberapa jam yang lalu. Aku sedang tidur." "Apa yang dia inginkan?" Matanya menatap Ryan, kemudian menatap lantai.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dia mengajukan berbagai pertanyaan yang aneh. Dia ingin tahu apakah aku pernah melihat orang dari kelompok Amalie. Sepertinya dia akan pergi ke pedesaan, ke tempatku mengikuti pelatihan itu. Aku-dia memukulku. Aku belum pernah dipukul orang seperti itu. Dia seperti orang gila. Aku tidak pernah melihat dia seperti itu." Aku bisa merasakan kegundahan dan rasa malu dalam suaranya, seakanakan penyerangan itu adalah karena kesalahannya. Dia kelihatan sangat kecil berdiri dalam kegelapan, jadi aku mendekatinya dan memeluknya. "Jangan salahkan dirimu, Anna." Bahunya mulai gemetaran dan kubelai rambutnya. Rambut itu berkilauan diterpa cahaya lampu yang kerlap-kerlip. "Aku sebetulnya ingin membantunya, tapi sungguh, aku tidak ingat. Akuitu adalah salah satu pengalaman terburukku." "Aku tahu, tapi aku mau kamu mengingat kembali saat-saat itu dan berpikir keras. Pikirkan semua hal yang kamu ingat tentang tempat yang kamu datangi waktu itu." "Aku sudah mencoba. Tapi aku tidak bisa mengingatnya."

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku ingin mengguncang tubuhnya, agar bisa menumpahkan semua informasi yang bisa menyelamatkan adikku. Aku teringat pada mata kuliah tentang psikologi anak. Jangan abstrak, tanyakan pertanyaan yang spesifik. Dengan lembut, aku mendorongnya dan mengangkat dagunya dengan tanganku. "Ketika kamu pergi ke pelatihan itu, apakah kamu pergi dari kampus?" "Tidak. Mereka menjemputku ke sini." "Dari jalan ini, kamu belok ke jalan mana?" "Entahlah." "Apa kamu ingat bagaimana kamu meninggalkan kota?" "Tidak." Terlalu abstrak, Brennan. "Apa kamu menyeberangi jembatan?" Matanya memicing, kemudian dia mengangguk. "Yang mana?" "Entahlah. Eh, tunggu sebentar, aku ingat sebuah pulau dengan banyak bangunan tinggi." "Yle des Soeurs," ujar Ryan. "Ya." Matanya terbuka lebar. "Seseorang membuat lelucon tentang para biarawati yang tinggal di apartemen. Kamu tahu 'kan, soeurs, suster, biarawati." "Jembatan Champlain," ujar Ryan.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Seberapa jauh peternakan itu?" "Aku-" "Seberapa lama kamu naik van itu?" "Sekitar empat puluh lima menit. Ya. Saat kami tiba di sana, pengemudinya menyombongkan diri bahwa dia berhasil sampai ke sana dalam waktu kurang dari satu jam." "Apa yang kamu lihat sewaktu kamu keluar dari van itu?" Kembali kulihat keraguan terpancar dari matanya. Kemudian, pelan-pelan, seakan-akan dia sedang menggambarkan percikan Rorschach, "Tepat sebelum kami tiba di sana, aku ingat sebuah menara besar dengan banyak kabel dan antena. Kemudian, sebuah rumah yang sangat kecil. Mungkin ada orang yang membangun rumah itu untuk anakanaknya, untuk menunggu kedatangan bis sekolah. Aku ingat waktu itu aku mengira rumah itu dibuat dari roti jahe dan dihias dengan kembang gula." Saat itu, sebuah wajah muncul di belakang Anna. Ia tidak memakai rias wajah dan terlihat cemerlang sekaligus pucat diterpa cahaya yang kerlapkerlip.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Siapa kalian? Kenapa kalian datang di tengah malam seperti ini?" Bahasa Inggrisnya memiliki aksen yang sangat kental. Tanpa menunggu jawaban, wanita itu menyambar pergelangan tangan Anna dan menarik anak itu ke belakang tubuhnya. "Kalian jangan ganggu anakku." "Nyonya Goyette, aku yakin ada orang-orang yang akan mati. Anna mungkin bisa membantu kami menolong mereka." "Dia sedang sakit. Sekarang kalian pergilah." Dia menunjuk ke pintu. "Kuperintahkan kalian pergi, atau aku akan menelepon polisi." Wajah yang pucat. Cahaya remang-remang. Aula yang seperti lorong. Aku kembali berada dalam mimpi itu dan tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku tahu dan aku harus segera pergi ke tempat itu! Ryan mulai berbicara, tetapi aku memotongnya. "Terima kasih. Putri Anda sudah sangat membantu," ujarku. Ryan melotot saat aku berjalan melewati dirinya ke pintu. Aku hampir jatuh saat meluncur menuruni tangga. Aku tidak merasa begitu kedinginan lagi saat berdiri di dekat Jip, dengan tidak sabar menunggu

http://inzomnia.wapka.mobi

Ryan berbicara dengan Nyonya Goyette, memakai topi rajutnya, kemudian menuruni tangga dengan berhati-hati. "Apa-apaan-" "Ambilkan peta, Ryan." "Si gila cilik itu mungkin-" "Kamu punya peta provinsi ini nggak sih?" ujarku meradang. Tanpa berkata apa-apa, Ryan memutari Jip dan kami berdua masuk ke dalamnya. Dia mengambil peta dari laci di samping pengemudi dan aku mengeluarkan senter dari tasku. Saat kubuka lipatan peta, dia menyalakan mesin mobil, kemudian keluar untuk membersihkan kipas kaca. Kucari Montreal, kemudian mengikuti jembatan Cham-plain, menyeberang ke St. Lawrence dan menuju 10 East. Dengan jari yang kebas, kutelusuri rute yang pernah kujalani ke Lac Memphremagog. Di dalam pikiranku, aku melihat gereja tua itu. Aku melihat kuburan. Aku melihat papan penunjuk, terkubur setengahnya di dalam salju. Kugerakkan jariku di sepanjang jalan bebas hambatan, memperkirakan lamanya waktu tempuh. Namanama berkelebatan di bawah cahaya lampu. Marieville. St-Gregoire. Ste-Angele-de-Monnoir.

http://inzomnia.wapka.mobi

Jantungku berhenti saat melihat nama itu. Ya Tuhan, semoga kami tiba tepat pada waktunya. Kuturunkan jendela dan berteriak ke arah angin yang menderu. Kerikan di kaca mobil berhenti dan pintu terbuka. Ryan melemparkan alat pengerik ke kursi belakang dan bergeser ke belakang kemudi. Dia melepaskan sarung tangannya dan kuserahkan peta dan senter. Tanpa berkata apa-apa, kutunjuk sebuah titik kecil di peta itu yang kulipat ke atas. Dia mengamatinya, napasnya seperti kabut di bawah cahaya senter yang kuning. "Waduh." Sebuah kristal es meleleh dan menetes dari bulu matanya. Dia menyeka matanya. "Masuk akal juga. Ange Gardien. Ternyata bukan orang, tapi sebuah tempat. Mereka akan bertemu di Ange Gardien. Jaraknya sekitar empat puluh lima menit perjalanan dari sini." "Kenapa kamu bisa menarik kesimpulan begitu?" tanyanya. Aku tidak mau menyebutkan mimpi itu. "Aku teringat rambu-rambunya sewaktu mengunjungi Lac Memphrema-gog. Ayo kita pergi." "Brennan."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ryan, aku akan mengatakannya sekali lagi. Aku akan menyelamatkan adikku." Aku berusaha mengendalikan suaraku. "Aku akan pergi dengan atau tanpa kamu. Kamu bisa membawaku pulang atau kamu bisa membawaku ke Ange Gardien." Dia ragu-ragu, kemudian, "Sialan!" Dia keluar, memajukan kursi pengemudi dan mencari-cari sesuatu di belakang. Saat membanting pintu, kulihat dia menjatuhkan sesuatu ke dalam sakunya dan menarik risleting. Kemudian, dia kembali mengerik es dari kaca depan. Dalam sekejap, dia sudah kembali masuk ke dalam. Tanpa berkata apaapa, dia mengenakan sabuk pengaman, memasukkan gigi, kemudian melaju. Roda berputar, tetapi mobil tidak bergerak. Dia mengganti gigi mundur, kemudian segera kembali ke gigi satu. Mobil itu bergetar saat Ryan memindahkan dari gigi satu ke gigi mundur, kemudian ke gigi satu lagi. Jip itu melonjak dan kami berjalan pelan-pelan menyusuri jalanan. Aku tidak berkata apa-apa saat kami merayap ke selatan di Cristophe Colomb, kemudian ke barat ke Rachel. Di St-Denis, Ryan membelok ke selatan, membalikkan rute yang kami lewati sebelumnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sialan! Dia membawaku pulang ke rumah. Darahku langsung membeku saat memikirkan perjalanan menuju Ange Gardien. Kupejamkan mata dan mempersiapkan diri. Kamu punya rantai, Brennan. Kamu dapat memasangnya di roda mobilmu dan melakukan apa yang dilakukan Ryan saat ini. Ryan Sialan. Keheningan mengganggu pikiranku. Kubuka mata menatap ke kegelapan malam. Es kini sudah tidak tampak lagi di kaca mobil. "Kita di mana?" "Terowongan Ville-Marie." Aku tidak berkata apa-apa. Ryan melaju di sepanjang terowongan seperti pesawat luar angkasa yang menembus lubang cacing di angkasa luar. Saat dia keluar di jembatan Champlain, aku merasa lega sekaligus khawatir. Yes! Ange Gardien. Lama sekali rasanya waktu berlalu ketika akhirnya kami menyeberangi St. Lawrence. Sungai itu terlihat sangat padat, tidak seperti biasanya. Gedunggedung di Yle des Soeurs tampak gelap di langit menjelang subuh. Walaupun lampunya mati, aku mengenali semua gedung itu. Nortel. Kodak. Honeywell. Begitu normal. Begitu akrab di akhir milenium kedua

http://inzomnia.wapka.mobi

ini. Aku berharap sedang mengunjungi deretan perkantoran yang rapi ini, bukannya kegilaan yang mungkin sedang terjadi di depan sana. Atmosfer di dalam Jip sedemikian tegangnya. Ryan memusatkan perhatian ke jalanan dan aku mengutakatik kuku jariku. Kutatap pemandangan di luar jendela, menghindari pikiran tentang hal-hal yang mungkin menunggu kami. Kami merangkak di tengah bentang alam yang dingin dan penuh rintangan, rangkaian kejadian yang menyorot dari planet yang membeku ini. Saat kami bergerak ke timur, salju semakin lebat, melahap tekstur dunia di sekelilingku. Pinggiran gedung tampak semakin samar dan berbagai benda sepertinya menyatu seperti bagian dari sebuah patung raksasa. Tiang penunjuk arah, rambu, dan papan iklan hilang ditutupi salju, menghapus berbagai pesan dan batasan. Di sana-sini dalam kegelapan tampak asap yang mengepul dari corong perapian, sementara yang lainnya tampak membeku. Tepat di seberang Sungai Richelieu, jalanan membelok dan kulihat sebuah mobil pantai, terbalik seperti kepala kura-kura. Stalaktit menggantung dari bemper dan rodanya. Kami sudah mengemudi selama dua jam ketika aku

http://inzomnia.wapka.mobi

melihat papan penunjuk. Hari sudah subuh dan langit mulai berubah dari gelap menjadi abu-abu kelam. Di antara selimut es bisa kulihat sebuah panah dan rangkaian huruf nge Gardi. "Di sana." Ryan melepas pedal gas dan membelok keluar dari jalan raya. Ketika tiba di persimpangan T, dia menginjak rem dan Jip itu langsung berhenti. "Ke mana?" Kuraih alat pengerik, turun dari mobil, dan berusaha mengerik es di papan penunjuk itu, sekali aku tergelincir dan tempurung lututku berderak. Saat mengerik, angin mengelus rambutku dan meniupkan butiran es ke dalam mataku. Di atas kepalaku, angin mendesis di antara dahan dan kabel listrik dengan suara berderik yang mengerikan. Kucacah es itu seakan-akan sedang kerasukan. Akhirnya pisau itu patah, tetapi aku terus menghujamkan alat itu sampai bagian plastiknya juga pecah. Dengan menggunakan bagian kayunya, kukerik dan kucakar, sampai akhirnya aku bisa melihat huruf dan tanda panahnya. Saat kembali masuk ke dalam Jip, lutut kiriku terasa sakit sekali. "Ke sana." Tunjukku. Aku tidak minta maaf karena telah menghancurkan pengeriknya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ketika Ryan membelokkan mobil, bagian belakangnya berputar dan kami tergelincir tanpa terkendali. Kakiku menjejak ke depan dan mencengkeram pegangan kursi. Ryan mulai bisa mengendalikan mobilnya dan kulemaskan gertakan gigiku. "Tidak ada rem di sisi penumpang, lho." "'Makasih sudah mengingatkan." "Ini distrik Rouville. Ada pos polisi SQ tidak jauh dari sini. Pertama-tama, kita akan ke tempat itu dulu." Walaupun aku mengomel karena akan kehilangan waktu berharga, aku tidak berdebat dengannya. Jika kami hendak masuk ke sarang lebah, aku tahu bahwa kami mungkin akan membutuhkan bala bantuan. Dan, walaupun Jip Ryan bisa berjalan dengan baik di atas es, ia tidak memiliki radio dua arah. Lima menit kemudian, kulihat menara itu. Atau, paling tidak yang tersisa darinya. Besinya telah patah karena beratnya es, lalu tiang serta balok penopangnya tergeletak dan berserakan seperti bagian dari mainan Logo raksasa.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tepat di belakang menara yang runtuh itu, jalanan membelok ke kiri. Tiga meter kemudian, aku bisa melihat pondok roti jahe yang diceritakan Anna. "Di sini, Ryan! Belok di sini!" "Kita akan melakukannya dengan caraku atau tidak sama sekali." Katanya tanpa melambatkan laju mobil. Aku panik. Memikirkan argumentasi. "Sudah semakin terang. Bagaimana kalau mereka memutuskan untuk melakukannya subuh-subuh?" Aku memikirkan Harry, diberi obat bius dan tidak berdaya, sementara orang-orang itu menyalakan api dan berdoa kepada dewa. Atau, melepaskan anjing buasnya memangsa domba korban yang tidak berdaya. "Kita akan melapor lebih dulu." "Bagaimana kalau kita terlambat!" Tanganku gemetaran. Aku tidak bisa menahannya lagi. Adikku bisa saja berada sepuluh meter dari tempat kami. Aku merasa dadaku mulai terengah-engah dan membelakangi Ryan. Sebuah pohon tumbang membantu kami mengambil keputusan. Kami baru maju sekitar empat ratus meter ketika sebuah pohon raksasa menghalangi jalan kami. Pohon itu tumbang, dengan batangnya yang

http://inzomnia.wapka.mobi

berukuran empat meter menarik kabel listrik ke tengah jalan. Kami tidak akan bisa melanjutkan perjalanan. Ryan memukul kemudi dengan pangkal tangannya. "Sialan. Dasar pohon peach keparat!" "Itu pohon pinus." Jantungku berdegup kencang. Dia menatapku dengan muka masam. Di luar, angin mengerang dan melemparkan es ke jendela mobil. Kulihat rahang Ryan mengeras, melemas, kemudian mengeras kembali. Dan akhirnya, "Kita akan melakukannya dengan caraku, Brennan. Kalau aku bilang tunggu di jip, itulah tempatmu berada. Jelas?" Aku mengangguk. Saat itu aku akan menyetujui semua perkataannya. Kami memutar dan berhenti di menara yang runtuh itu. Jalanan tampak sempit dan dipenuhi pepohonan, beberapa di antaranya tumbang sampai ke akarnya, lainnya patah di pangkalnya. Ryan mengemudikan mobil di antara pepohonan itu. Di kedua sisi jalanan tampak pepohonan membentuk huruf U yang terbalik, puncaknya bengkok ke tanah karena terbebani oleh es. Sebuah pagar kayu tampak didirikan mulai dari pondok roti jahe itu. Ryan memperlambat mobil dan merayap di sepanjang jalan itu. Di beberapa

http://inzomnia.wapka.mobi

tempat, pohon tumbang telah menghancurkan pagar itu. Kemu dian, kulihat makhluk hidup pertama sejak kami meninggalkan Montreal. Hidung mobil itu terbenam di selokan, rodanya berputar, ditutupi asap dari pipa knalpot. Pintu pengemudi terbuka dan kulihat sebelah kaki yang dibungkus sepatu lars berdiri di tanah. Ryan menginjak rem dan memasukkan gigi netral. "Tunggu di sini." Aku ingin memprotesnya, tetapi menahan diri. Dia keluar dan mendekati mobil itu. Dari tempat dudukku, aku tak bisa melihat apakah pengemudi mobil itu lelaki atau wanita. Saat Ryan dan pengemudi itu bercakap-cakap, kuturunkan kaca jendela, tetapi aku tidak bisa mendengar sedikit pun katakata mereka. Napas Ryan diembuskan seperti letupan kabut. Dalam waktu kurang dari satu menit, dia sudah kembali masuk ke dalam Jip. "Bukan orang yang ramah." "Apa katanya?" "Oui dan non. Dia tinggal di ujung jalan, tetapi si berengsek itu tidak akan tahu seandainya pun Gengiz Khan pindah ke sebelah rumahnya.'

http://inzomnia.wapka.mobi

Kami terus mengendarai mobil sampai ke ujung pagar di jalanan berkerikil. Ryan masuk dan mematikan mesin mobil. Dua buah van dan setengah lusin mobil tampak diparkir sembarangan di depan sebuah penginapan yang sudah bobrok. Semuanya terlihat seperti gundukan bulat, kuda nil beku di sungai abu-abu. Es menetes dari dedaunan dan bangunan tersebut dan membuat jendela berwarna putih, menghalangi pandangan kami ke bagian dalam bangunan itu. Ryan menoleh. "Sekarang dengar baik-baik. Kalau ini ternyata tempat yang benar, kita akan mendapatkan sambutan yang tidak bersahabat." Dia menyentuh pipiku. "Berjanjilah bahwa kamu akan tetap di sini." "Aku-" Jarinya meluncur ke bibirku. "Tunggu di sini." Matanya tampak sangat birudalam cahaya subuh yang muram ini. "Ini omong kosong," ujarku di sela-sela jarinya. Dia menarik tangannya dan menunjuk kepadaku. "Tunggu di mobil."

http://inzomnia.wapka.mobi

Dipakainya sarung tangannya dan melangkah ke tengah badai salju. Saat dia membanting pintu, kuraih sarung tanganku. Aku akan memberikan waktu dua menit kepadanya. Apa yang terjadi berikutnya muncul dalam serangkaian bayangan yang tidak jelas, kepingan kenangan yang terpenggal-penggal dengan berjalannya waktu. Aku melihatnya, tetapi pikiranku tidak mau menerimanya sebagai suatu keseluruhan. Apa yang kulihat terkumpul di dalam otakku dan tersimpan dalam kerangka yang berbeda-beda. Ryan baru berjalan enam langkah saat kudengar letusan dan tubuhnya terpelanting. Tangannya melayang ke atas dan dia mulai membalikkan tubuhnya. Sebuah letusan terdengar lagi dan tubuhnya bergetar kembali, kemudian dia jatuh ke tanah, tidak bergerak sedikit pun. "Ryan!" jeritku sambil membuka pintu. Saat keluar, rasa sakit menusuk kakiku dan lututku melemas. "Andy!" jeritku kepada sosok tubuhnya yang tidak bergerak. Kemudian, cahaya meledak di dalam batok kepalaku dan aku diselimuti kegelapan yang lebih tebal dari es. 34.

http://inzomnia.wapka.mobi

Apa yang kurasakan saat sadarkan diri juga berupa kegelapan. Kegelapan dan rasa sakit. Pelan-pelan aku bangkit, tidak mampu melihat bentuk apa pun dalam kegelapan ini. Rasa nyeri yang mendera meledak di benakku dan sepertinya aku akan muntah. Rasa sakit makin terasa saat aku mengangkat lutut dan menggantungkan kepala di antara kedua lututku itu. Beberapa menit kemudian, rasa mual itu berlalu. Kupasang telinga. Tidak terdengar suara apa pun, kecuali degup jantungku. Kutatap tanganku, tetapi tidak terlihat dalam kegelapan yang pekat ini. Kuhela napas. Tercium bau kayu membusuk dan tanah yang lembap. Dengan gamang, kujulurkan tangan. Aku duduk di atas tanah. Di belakang dan sampingku terasa dinding batu bulat yang kasar. Dua puluh cm di atas kepalaku, tanganku menyentuh kayu. Napasku terengah-engah saat aku berpikir dengan panik. Aku ada dalam perangkap! Aku harus keluar! Tidaaaaaaak!

http://inzomnia.wapka.mobi

Jeritan itu membahana dalam benakku. Aku belum kehilangan kendali atas diriku sendiri. Kupejamkan mata dan mencoba mengendalikan napasku. Sambil mengepalkan tangan, kucoba memusatkan pikiranku. Tarik napas. Embuskan napas. Tarik. Embuskan. Pelan-pelan rasa panik itu berkurang. Aku berlutut dan menjulurkan tangan ke depan. Tidak ada apa-apa. Rasa sakit di lutut kiriku membuat air mataku meleleh, tetapi aku merangkak ke depan ke ruang kosong di hadapanku. Setengah meter. Dua meter. Tiga meter. Saat mampu bergerak tanpa menghadapi halangan, kengerianku mulai mereda. Sebuah lorong lebih baik daripada kurungan batu. Aku duduk dan mencoba berhubungan dengan sel otakku yang masih bekerja. Aku tidak tahu di mana aku berada, sudah berapa lama berada di sini, dan bagaimana aku bisa berada di dalam lorong ini. Aku mulai mengingat-ingat kembali peristiwa yang terjadi sebelumnya. Harry. Penginapan. Mobil. Ryan! Tuhan, Tuhanku, ya Tuhan! Aduuh, tidak! Aduuuh duh duuuh, jangan Ryan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Perutku terasa melilit lagi dan rasa asam menjalar ke mulutku. Kutelan ludah. Siapa yang menembak Ryan? Siapa yang membawaku ke sini? Di mana Harry? Kepalaku berdenyut-denyut dan tubuhku mulai beku karena dinginnya ruangan itu. Ini gawat. Aku harus melakukan sesuatu. Kutarik napas panjang dan berguling kembali ke posisi merangkak. Selangkah demi selangkah aku merangkak menyusuri lorong itu. Aku sudah kehilangan sarung tanganku, dan tanah liat yang dingin membuat tanganku kebas dan menggetarkan lututku yang terluka. Rasa sakit membuatku memusatkan perhatian sampai aku menyentuh sebuah kaki. Ketika mundur lagi, kepalaku menghantam kayu dan jeritan yang ingin kuteriakkan tersekat di tenggorokanku. Sialan, Brennan, kendalikan dirimu. Kamu seorang penyelidik profesional, bukan orang biasa yang mudah histeris. Aku membungkuk, masih kaku karena ngeri. Bukan karena ruangan yang terasa seperti kuburan ini, tetapi pada benda yang sekarang menemaniku. Waktu seakan-akan berlalu lama sekali ketika aku menunggu tanda-tanda

http://inzomnia.wapka.mobi

kehidupan dari sosok tubuh itu. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak. Kutarik napas dalam-dalam sekali lagi, kemudian bergerak ke depan dan menyentuh kaki itu lagi. Kaki itu memakai sepatu lars dari kulit, kecil, dengan tali seperti tali sepatuku. Kutemukan kaki yang sebelah lagi dan kuraba kaki itu sampai ke pangkalnya. Tubuhnya berbaring menyamping. Dengan hati-hati, kubalikkan tubuhnya dan kuteruskan eksplorasiku. Hem. Kancing. Syal. Kerongkonganku menegang saat jari-jemariku mengenali pakaiannya. Sebelum menyentuh bagian wajah, aku sudah tahu siapa orang itu. Tetapi, tidak mungkin! Sungguh tidak masuk akal. Kutarik syal itu dan kuraba rambutnya. Ya. Daisy Jeannotte. Ya Tuhan! Apa yang terjadi? Teruslah bergerak! Begitu perintah dari otakku. Kuseret tubuhku ke depan dengan bertumpu pada satu lutut dan satu lenganku, menempelkan telapak tangan di dinding. Jariku menyentuh sarang laba-laba dan benda-benda yang tidak kupedulikan. Serpihan kayu hancur yang rontok ketika aku bergerak perlahan menyusuri lorong itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Setelah beberapa meter, kekelaman lorong itu mulai berkurang. Tanganku menyentuh sesuatu dan aku mengikutinya. Pegangan dari kayu. Kudakuda. Saat mendongak, bisa kulihat cahaya lampu remang-remang berbentuk segi empat. Undakan tangga menuju ke atas. Kunaiki tangga itu, menguji setiap suara yang muncul setiap kali aku melangkahkan kaki. Tiga langkah membuatku bisa menyentuh langitlangit. Tanganku menyentuh bagian penutup, tetapi ketika kudorong, tutup itu tidak bergerak sama sekali. Kutempelkan telingaku ke kayu itu dan suara anjing menggonggong menyebabkan semua bulu kudukku berdiri. Suaranya terdengar jauh, tetapi aku bisa merasakan bahwa binatang-binatang itu kegirangan. Sebuah suara manusia berseru memberikan perintah, kemudian hening, kemudian suara salakan itu terdengar lagi. Tepat di atasku tidak terdengar suara gerakan sedikit pun, tidak ada suara apa pun. Kudorong dengan bahuku dan panel itu bergerak sedikit, tetapi tidak mau terbuka. Ketika mengamati segaris cahaya yang tembus, bisa kulihat bayangan di tengah-tengah di sebelah kanan. Aku mencoba mencongkelnya dengan jariku, tetapi celah itu terlalu sempit. Karena

http://inzomnia.wapka.mobi

frustrasi, kucolokkan jariku lebih jauh lagi dan menggesernya di sela-sela celah itu. Serpihan kayu menusuk jariku dan merobek kukuku, tetapi aku tidak bisa meraih ujungnya. Celah di ujungnya tidak cukup lebar. Sialan! Kupikirkan adikku, anjing, dan Jennifer Cannon. Kupikirkan diriku, anjing, dan Jennifer Cannon. Jariku beku sekali sehingga aku tidak bisa merasakannya, dan kumasukkan lagi ke dalam sakuku. Buku jari kananku menyentuh sesuatu yang keras dan rata. Dengan kebingungan, kutarik benda itu dan menempelkannya di depan celah itu. Bagian besi dari alat pengerik yang patah itu. Mudah -mudahan! Sambil berdoa, kuselipkan batang besi itu. Bisa masuk! Dengan gemetaran, kutarik ke ujung celah. Suara keri-kannya keras sekali sehingga pasti bisa didengar orang dari jarak beberapa kilometer. Aku tertegun dan menajamkan telinga. Tidak ada gerakan di atas. Dengan menahan napas, kugeser batangan besi itu lebih jauh lagi, tapi hanya beberapa cm lagi dari tempat yang kuduga kaitan kunci papan itu, kerikan tersebut lepas dari tanganku dan jatuh ke dalam kegelapan. Sialan! Sialan! Bajingan!

http://inzomnia.wapka.mobi

Kuturuni undakan tangga dengan kedua tanganku dan tanpa tertahankan lagi aku jatuh tungganglanggang ke lantai lorong. Sambil memaki kebodohanku, aku mulai mencari-cari di atas tanah liat yang berbau tengik itu. Tak berapa lama kemudian, tanganku berhasil menemukan batangan besi pengerik yang patah itu. Kembali menaiki tangga. Pada saat itu, setiap gerakan tubuh mengirimkan rasa sakit ke sekujur kakiku. Dengan menggunakan kedua tangan, kuselipkan lagi besi itu dan menggesernya mendekati kaitan. Tidak berhasil. Kutarik lagi dan kuletakkan potongan itu sedemikian rupa sehingga bisa bergerak miring di sepanjang celah itu. Sesuatu berbunyi. Kudengarkan. Hening. Kudorong dengan bahuku dan pintu kayu itu terangkat ke atas. Dengan mencengkeram sisi panel, kudorong ke atas, kemudian menurunkannya kembali dengan perlahanlahan ke lantai di atasku. Dengan jantung yang berdegup kencang, kuangkat kepala dan kuintip sekelilingku. Cahaya dalam ruangan itu berasal dari sebuah lampu minyak. Kuduga ruangan itu semacam dapur kecil. Tampak rak di ketiga sisi ruangan, beberapa di antaranya berisi kotak dan kaleng. Tumpukan karton

http://inzomnia.wapka.mobi

memenuhi sudut ruangan di sebelah kiri dan kananku. Saat melihat ke belakang, rasa dingin yang lebih hebat dari cuaca di luar terasa menghujam kalbu. Tumpukan tangki gas berjejer di dinding, lapisan luarnya tampak gemerlapan diterpa cahaya lampu. Sebuah bayangan memenuhi pikiranku, sebuah foto propaganda di masa perang tentang persediaan persenjataan dalam tumpukan yang rapi. Dengan tangan gemetar, kuturunkan tubuhku dan duduk di puncak undakan tangga. Apa yang bisa kulakukan untuk menghentikan mereka? Kulirik ke bawah tangga. Cahaya kekuningan berbentuk segi empat menerpa lantai ruangan bawah tanah, tepat menyentuh wajah Daisy Jeannotte. Kutatap wajah yang dingin dan tidak bergerak itu. "Siapakah kamu sebenarnya?" gumamku. "Kukira ini pertunjukanmu." Tetap hening. Kutarik napas panjang beberapa kali, kemudian naik ke dapur itu. Rasa lega karena telah keluar dari lorong sekarang digantikan oleh rasa takut tentang apa yang mungkin akan kutemukan berikutnya. Dapur itu bersebelahan dengan sebuah dapur raksasa. Aku berjalan tersaruk-saruk ke sebuah pintu di seberangku, menempelkan punggung ke

http://inzomnia.wapka.mobi

dinding dapur, dan bergerak merayap. Terdengar suara derikan kayu. Desir angin dan es. Suara ketukan dahan pepohonan. Dengan nyaris tak bernapas, kusentuh gagang pintu dan kumasuki sebuah lorong yang panjang dan gelap. Suara badai telah reda. Aku bisa mencium bau debu, asap kayu dan bau apek karpet tua. Aku membungkuk ke depan, menyandarkan diri di dinding. Tidak ada cahaya sediki pun yang masuk ke bagian rumah ini. Di manakah kamu, Harry ? Kudekati sebuah pintu dan kutempelkan telingaku. Tidak terdengar suara apa-apa. Lututku gemetaran dan entah seberapa jauh lagi aku harus berjalan. Kemudian, kudengar beberapa suara. Sembunyi! Jerit sel otakku. Gagang pintu berputar dan aku menghilang dalam kegelapan. Ruangan itu tercium lembap dan manis, seperti bunga yang dibiarkan mati di dalam vas. Tiba-tiba, bulu di lengan dan leherku berdiri. Apakah itu gerakan? Kembali, kutahan napas dan kuatur suara yang keluar. Sesuatu sedang bernapas! Dengan mulut kering, kutelan ludah dan berusaha untuk tidak bergerak sedikit pun. Selain suara tarikan dan embusan napas, ruangan itu sunyi

http://inzomnia.wapka.mobi

senyap. Pelan-pelan, aku merayap ke depan sampai sebuah benda muncul dari dalam kegelapan. Sebuah tempat tidur. Sesosok manusia. Sebuah meja dengan gelas berisi air dan botol berisi pil. Dua langkah lagi dan tampak rambut pirang panjang di atas selimut. Mungkinkah? Apakah doaku dikabulkan sedemikian cepatnya? Aku bergegas ke depan dan membalikkan kepalanya untuk melihat wajahnya. "Harry!" Ya Tuhan. Ternyata memang Harry. Kepalanya berguling dan dia mengerang pelan. Aku sedang meraih pil saat sebuah lengan menangkapku dari belakang. Tangan itu mencekik leherku, meremas saluran udara, dan menghentikan pasokan oksigen ke paru-paruku. Sebuah tangan membekap mulutku. Kedua kakiku menendang-nendang dan aku berusaha melepaskan diri. Entah bagaimana, aku bisa menggenggam pergelangan tangannya dan menarik tangan itu dari wajahku. Sebelum ia mencengkeram kembali, kulihat sebuah cincin. Sebuah cincin segi empat berwarna hitam dengan ukiran ankh (tanda salib yang bagian atasnya melengkung menjadi satu) dan pinggiran yang berlekuk-lekuk. Saat merontaronta dan mencakar, aku teringat pada sebuah memar di kulit tangan yang putih dan lembut. Aku

http://inzomnia.wapka.mobi

tahu bahwa aku berada dalam cengkeraman seseorang yang tidak akan segan-segan mencabut nyawaku. Aku mencoba berteriak, tetapi pembunuh Malachy telah mencengkeramku sedemikian rupa sehingga ia menekan leher dan membungkam mulutku. Kemudian, kepalaku disentakkan ke samping dan ditempelkan ke dada yang kurus kering. Di dalam ruangan yang gelap itu kulihat sebuah mata yang pucat, seberkas rambut putih. Waktu seakan-akan berlalu sangat lama ketika aku berusaha menarik napas. Paru-paruku terbakar, detak jantungku berdegup, dan aku berada antara sadar dan tidak. Kudengar beberapa suara, tetapi dunia sekelilingku terasa semakin memudar. Rasa sakit di lututku menghilang saat kehampaan menyelimuti pikiranku. Aku merasa tubuhku diseret. Bahuku menghantam sesuatu. Bagian bawah kaki yang lembut. Keras lagi. Kami melewati pintu, lengan itu menyentuh tenggorokanku. Ada tangan-tangan yang menarikku dan sesuatu yang keras diselipkan di pergelangan tanganku. Lengan ku ditarik ke atas, tetapi tekanan di kepala dan tenggorokanku dilepaskan sehingga aku bisa bernapas! Kudengar erangan dari tenggorokanku saat paru-paruku melahap udara yang kuhirup dengan rakusnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Setelah aku dapat merasakan kembali saraf di sekujur tubuhku, rasa sakit itu terasa kembali. Kerongkonganku terasa sakit dan napasku terengah-engah. Bahu dan siku terasa diregangkan, dan tanganku terasa dingin dan kebas di atas kepalaku. Lupakan tubuhmu! Gunakan otakmu Ruangan itu luas, seperti ruangan yang kita lihat di penginapan. Lantainya terbuat dari papan yang lebar dan dindingnya terbuat dari balok kayu raksasa, serta ada sebatang lilin sebagai satu-satunya sumber cahaya. Kedua tanganku digantung ke balok di langit-langit. Kuamati keadaan di sekelilingku dan bayang-bayang tengkorak tampak memanjang di bawah cahaya yang kerlap-kerlip. Pintu ganda tepat ada di hadapanku. Batu perapian di sebelah kiri. Jendela di sebelah kanan. Kuhafalkan isi ruangan itu. Saat mendengar suara-suara di belakangku, kumaju-kan salah satu bahu dan kutarik yang satunya lagi, dan mendorong dengan ujung jari kaki. Tubuhku berputar dan untuk sedetik aku berhasil melihat mereka sebelum tali itu memutarku kembali ke posisi semula. Aku mengenali rambut putih dan mata lelaki itu. Tetapi, siapa orang yang satunya lagi?

http://inzomnia.wapka.mobi

Suara percakapan itu berhenti, kemudian dilanjutkan dengan suara berbisik-bisik. Kudengar suara langkah kaki, diikuti keheningan. Aku tahu bahwa aku tidak sendirian. Kutahan napas dan menunggu mereka. Saat wanita itu melangkah di hadapanku, aku memang kaget, tetapi tidak heran. Hari ini kepangan rambutnya disusun di atas kepala dan tidak dibiarkan berjuntai seperti sebelumnya saat dia berjalan menyusuri jalanan Beaufort dengan Kathryn dan Carlie. Dia menjulurkan tangan dan menghapus air mata di pipiku. "Kamu takut?" Matanya terlihat dingin dan keras. Rasa takut akan membuatnya gemetaran seperti anjing jalanan! "Tidak, Ellie. Aku tidak takut kepadamu atau anak buahmu." Rasa sakit di tenggorokan membuatku sulit berbicara. Dia menyentuh hidungku dan melintasi bibirku. Jarinya terasa kasar di atas kulitku. "Bukan Ellie. Je suis Elle. Aku adalah Dia. Wanita penguasa." Kukenali suara yang dalam dan mendesah itu. "Pendeta kematian!" Aku meludah. "Kamu seharusnya tidak mengganggu kami." "Kamu seharusnya tidak mengganggu adikku."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kami memerlukannya." "Bukankah orang-orangmu sudah cukup banyak? Atau setiap pembunuhan membuatmu bergairah?" Ajak dia bicara terus. Menunda-nunda waktu. "Kami menghukum orang-orang yang keras kepala." "Itukah sebabnya kamu membunuh Daisy Jeannotte?" "Jeannotte." Suaranya terdengar kasar karena sebal. "Si tua yang ganas dan suka ikut campur itu. Akhirnya, dia membiarkan adik lelakinya." Apa yang harus kukatakan agar percakapan ini terus berlanjut ? "Dia tidak ingin adik lelakinya mati." "Daniel akan hidup selamanya." "Seperti Jennifer dan Amalie?" "Kelemahan mereka bisa menghambat kami." "Jadi, kaukorbankan yang lemah dan menonton mereka dicabik-cabik?" Matanya memicing, memancarkan sesuatu yang tidak bisa kupahami. Kegetiran? Penyesalan? Antisipasi? "Kubawa mereka keluar dari kelaparan dan kutunjukkan kepada mereka bagaimana cara menyelamatkan diri. Mereka memilih kehancuran."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apa dosa Heidi Schneider? Mencintai suami dan kedua bayinya?" Matanya mengeras. "Aku menunjukkan jalan dan dia membawa racun ke dunia ini! Kejahatan ganda!" "Anti-Kristus." "Ya!"desisnya. Pikir terus! Apa kata-kata yang diucapkannya di Beaufort? "Kamu mengatakan bahwa kematian hanyalah transisi dalam proses pertumbuhan. Apakah kamu menjalankan proses itu dengan membantai bayi dan wanita tua?" "Mereka yang ternoda tidak bisa diizinkan untuk mengotori para pembaharu." "Kedua bayi Heidi itu baru berusia empat bulan!" Rasa takut dan amarah membuat suaraku melengking. "Mereka adalah sesuatu yang tidak wajar!" "Mereka itu masih bayi!" Aku meronta dan mencoba menerkamnya, tetapi tali itu mengikatku dengan eratnya. Di belakang pintu bisa kudengar suara orangorang bergerak. Aku memikirkan anak-anak di Saint Helena dan merasakan dadaku berguncang. Ke mana Daniel Jeannotte?

http://inzomnia.wapka.mobi

"Berapa banyak anak-anak yang akan kaubunuh dan dibunuh oleh para penjagalmu?" Ujung matanya memicing. Terus ajak dia bicara. "Apakah kamu akan meminta semua pengikutmu mati?" Dia tidak berkata apa-apa. "Kenapa kamu membutuhkan adikku? Apa kamu sudah tidak mampu lagi mencari pengikut?" Suaraku terdengar gemetaran dan dua oktaf terlalu tinggi. "Dia akan menggantikan tempat orang lain." "Dia tidak percaya pada hari kiamat yang kamu ramalkan." "Duniamu akan berakhir." "Duniaku baik-baik saja." "Kalian membunuh pepohonan untuk membuat tisu dan membuang racun ke sungai dan lautan. Apa itu yang kamu sebut sebagai baik-baik saja?" Dia mendekatkan wajahnya ke mukaku sehingga aku bisa melihat pembuluh darah yang menonjol di pelipisnya. "Bunuh dirimu kalau menurutmu itu perlu, tetapi biarkan orang lain membuat keputusan sendiri." "Harus ada keseimbangan yang sempurna. Jumlahnya telah ditetapkan." "Benarkah? Dan apakah semuanya sudah ada di sini?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Dia menarik kembali kepalanya dan tidak menjawab. Kulihat sesuatu berkilat di matanya, seperti cahaya yang memantul dari pecahan kaca. "Tidak semuanya akan datang, Elle." Mata itu tidak pernah bergeming. "Kathryn tidak akan datang untuk mati bersamamu. Dia sekarang sudah berada jauh sekali dari sini, aman dengan bayinya." "Kamu bohong!" "Kamu tidak akan bisa mencapai kuota untuk kos-mikmu." "Tanda-tandanya telah dikirim. Kiamat sudah dekat dan kami akan bangkit dari kematian!" Matanya tampak seperti lubang hitam di bawah perci-kan cahaya. Aku segera bisa mengenali pandangan itu. Kegilaan. Aku baru saja akan menanggapinya saat terdengar suara geraman dan salakan anjing. Suaranya datang dari dalam penginapan itu. Aku berusaha keras melepaskan diri dari tali yang mengikat dengan eratnya. Napasku berubah menjadi napas terengah-engah yang panik. Semuanya usaha untuk melepaskan diri secara refl eks.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku tidak bisa melakukannya! Aku tidak bisa melepaskan diri! Dan, bagaimana kalau aku bisa melepaskan diri? Aku berada di tengah-tengah mereka. "Tolonglah," kataku dengan memelas. Elle menatap, matanya tidak memancarkan perasaan. Sebuah tangisan keluar dari mulutku saat salakan itu terdengar lebih keras. Aku terus meronta-ronta. Aku tidak mau menyerah begitu saja, walaupun usahaku sia-sia. Apa yang dilakukan korban-korban yang lain?Kulihat kembali daging yang tercabik-cabik dan tengkorak yang bolong-bolong. Salakan itu sekarang berubah menjadi geraman. Anjing-anjing itu sudah semakin dekat. Rasa takut yang tidak terkendalikan lagi menguasai diriku. Kuputar tubuhku agar bisa melihat dan mataku menyapu jendela. Jantungku membeku. Apakah aku melihat sosok tubuh bergerak di luar? Jangan tarik perhatian mereka ke arah jendela! Kuturunkan tatapanku dan kembali memutar tubuh menghadap Elle, masih menggeliat-geliat, namun pikiranku melayang keluar. Apakah masih ada harapan untuk melarikan diri?

http://inzomnia.wapka.mobi

Elle mengamatiku tanpa berkata apa-apa. Satu detik berlalu. Dua. Lima. Kuputar tubuhku ke kanan dan mengintip lagi. Melalui es dan kondensasi kulihat sebuah bayangan bergeser dari kiri ke kanan. Alihkan perhatiannya! Aku berputar kembali dan menatap mata Elle lekat-lekat. Jendela ada di sebelah kirinya. Salakan itu terdengar makin keras. Makin dekat. Katakan sesuatu! "Harry tidak percaya pada-" Pintu terbuka, kemudian kudengar suara-suara yang berat. "Polisi!" Suara sepatu lars terdengar menghantam lantai kayu. "Haut les mains'." Angkat tangan! Terdengar geraman dan salakan. Teriakan. Jeritan. Mulut Elle membulat, kemudian menjadi garis tipis yang gelap. Dia menarik sebuah pistol dari dalam bajunya dan mengarahkannya ke sesuatu di belakangku. Begitu matanya meninggalkanku, aku segera memegang tali itu, melontarkan pahaku ke depan, menendangnya dengan kakiku, dan

http://inzomnia.wapka.mobi

melenting ke arahnya. Rasa sakit menghujam bahu dan pergelangan tanganku saat tubuhku mengayun ke depan, tanganku terentang. Kulontarkan pahaku dan kuangkat sepatuku ke atas, menendang tangannya dengan seluruh beban tubuhku. Pistol itu terlempar ke seberang ruangan dan keluar dari sudut pandangku. Kakiku menghantam lantai dan aku terhenyak ke belakang untuk mengendurkan tekanan di bagian atas tubuhku. Saat aku mendongak, Elle tertegun, sebuah moncong pistol SQ tampak diarahkan ke dadanya. Salah satu kepangan hitam terlepas dan menghiasi dahinya seperti pita. Kurasakan tangan menyentuh punggungku dan suara-suara menyapaku. Kemudian, ikatanku dilepaskan dan sebuah tangan yang kuat setengah menyeret, setengah membimbingku ke sebuah sofa. Kucium bau udara dan wol basah. Kulit Inggris. "Calmez-vous, madame. Tout va bien." Lenganku dibimbing, lututku terasa lentur. Aku ingin menenggelamkan diri dan tidur selamanya, tetapi berusaha untuk berdiri. "Ma soeur! Aku harus menemukan adikku!" "Tout est bien, madame." Tangan itu mendorongku kembali ke sofa.

http://inzomnia.wapka.mobi

Semakin banyak sepatu lars. Pintu. Seruan perintah. Kulihat Elle dan Daniel Jeannotte diborgol dan digiring pergi. "Di mana Ryan? Kalian kenal Andrew Ryan?" "Tenanglah, kamu akan baikbaik saja." Bahasa Inggris. Kucoba untuk membebaskan diriku. "Ryan baik-baik saja?" "Tenanglah." Kemudian, Harry duduk di sampingku, matanya tampak besar. "Aku takut," gumamnya dengan suara yang kental dan berat. "Tidak apa-apa." Kuangkat lenganku yang mati rasa ke sekeliling bahunya. "Aku akan membawamu pulang ke rumah." Kepalanya terkulai ke bahuku dan kusentuhkan kepalaku ke kepalanya. Aku memegangnya selama beberapa saat, kemudian melepaskan dirinya. Kucoba mengingat kembali kenangan pendidikan keagamaan dari masa kanak-kanakku, kupejamkan mata, kukatupkan tanganku di depan dada, dan menangis tanpa bersuara saat aku berdoa kepada Tuhan, memohon agar nyawa Andrew Ryan diselamatkan. 35.

http://inzomnia.wapka.mobi

Seminggu kemudian, aku sedang duduk di beranda rumah di Charlotte, tiga puluh enam berkas ujian menumpuk di sebelah kanan, buku yang ketiga puluh tujuh ada di atas meja kecil di pangkuanku. Langit di Carolina tampak biru, rumput hijau menghiasi pekarangan rumah. Di atas bunga magnolia tampak seekor burung mockingbird berusaha menyanyikan kicauan terbaiknya. "Pekerjaan biasa yang sangat bagus," ujarku sambil memberi nilai C+ pada sampul biru dan melingkarinya beberapa kali. Birdie mendongak, menggeliat, dan meluncur dari kereta kudanya. Lututku sudah sembuh dengan baik. Retakan kecil di lutut kiriku tidak ada artinya dibandingkan dengan luka dalam batinku. Setelah teror di Ange Garden, kuhabiskan dua hari di Quebec, tersentak setiap kali mendengar suara dan setiap kali melihat bayang-bayang, khususnya suara salakan anjing. Kemudian, aku kembali ke Charlotte untuk menyelesaikan sisa semester itu dengan tertatih-tatih. Kupenuhi hari-hari itu dengan berbagai kegiatan yangtiada hentinya, tetapi malamnya selalu kulewati dengan susah payah. Di kegelapan malam, pikiranku melepaskan diri dengan bebasnya, melepaskan berbagai bayangan yang dikunci di siang harinya. Ada kalanya aku tidur dengan lampu menyala.

http://inzomnia.wapka.mobi

Telepon berdering dan kuraih gagangnya. Ternyata telepon yang sudah kunantikan sejak tadi. "Bonjour, Dr. Brennan. Comment ca va?" "Ca va bien, Suster Julienne. Tapi, yang lebih penting lagi, bagaimana kabar Anna?" "Kurasa pengobatannya itu banyak membantu." Suaranya terdengar lemah. "Aku tidak tahu apa-apa tentang gangguan bipolar, tapi dokter memberikan banyak bahan kepadaku dan aku sedang mempelajarinya. Aku tidak pernah memahami depresi yang dialaminya. Tadinya kukira Anna sering berubah-ubah suasana hatinya karena itulah yang dikatakan ibunya. Kadang-kadang dia depresi, kemudian tiba-tiba bersemangat kembali dan merasa nyaman dengan dirinya. Aku tidak tahu bahwa itu disebut sebagai, apa namanya tadi ...?" "Sebuah fase manik?" "C'est ca. Emosinya sepertinya naik turun dengan begitu cepat." "Aku senang dia sudah semakin membaik." "Ya. Puji Tuhan. Kematian professor Jeannotte membuatnya terpukul. Tolonglah, Dr. Brennan, demi Anna, aku harus tahu apa yang terjadi dengan wanita itu." Kutarik napas panjang. Apa yang bisa kukatakan?

http://inzomnia.wapka.mobi

"Masalah yang dihadapi Dr. Jeannotte berawal dari perasaan sayangnya kepada adik lelakinya. Daniel Jeannotte menghabiskan hidupnya mengelola sekte demi sekte. Daisy yakin bahwa adik lelakinya itu berniat baik, tapi dia diperalat oleh kelompok yang salah. Karier Dr. Jeannotte di dunia akademis di Amerika tercoreng oleh keluhan kepada universitas dari para orang tua mahasiswa yang anaknya diikutsertakan dalam berbagai konferensi dan pelatihan yang diadakan oleh Daniel. Dr. Jeannotte mengambil cuti dari pekerjaannya untuk melakukan penelitian dan menulis buku, dan akhirnya muncul kembali di Kanada. Selama bertahun-tahun dia terus memberikan dukungan kepada adiknya. "Ketika Daniel bertemu dengan Elle, Daisy mulai kehilangan kepercayaannya. Menurutnya Elle seorang psikopat, dan sebuah persaingan muncul di antara kedua wanita itu untuk mendapatkan kesetiaan Daniel. Daisy ingin melindungi adiknya, tetapi takut terjadi sesuatu yang membahayakan. "Jeannotte tahu bahwa kelompok Daniel dan Elle sangat aktif di kampus, walaupun universitas telah berusaha mengusir mereka. Jadi, ketika Anna berkenalan dengan mereka, Daisy ingin mengamati kegiatan mereka melalui Anna.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Daisy tidak pernah menjadi orang yang mengerahkan calon anggota untuk bergabung dengan kelompok itu. Dia mendapatkan informasi bahwa anggota sekte telah masuk ke pusat konseling, mencari mahasiswa untuk dijadikan teman. Adik perempuanku dipikat dengan cara yang sama di universitas swasta di Texas. Hal ini semakin membuat Daisy gelisah karena dia takut disalahkan akibat berbagai kasus di masa lalunya." "Siapa sebenarnya wanita bernama Elle ini?" "Nama aslinya Sylvie Boudrais. Informasi mengenai dirinya hanyalah sepotong-sepotong. Dia berusia empat puluh empat tahun, dilahirkan di Baie Comeau dari seorang ibu berdarah Inuit dan ayah dari Quebec. Ibunya meninggal saat dia berusia empat belas tahun, dan ayahnya seorang pemabuk. Ayahnya sering memukulinya setiap hari dan memaksanya menjadi pelacur saat dia berusia empat belas tahun. Sylvie tidak pernah menamatkan sekolah, tapi IQ-nya sangat tinggi." "Boudrais menghilang setelah putus sekolah, kemudian muncul di Quebec City pada pertengahan sembilan belas tujuh puluhan, menawarkan penyembuhan mental dengan menarik biaya yang tidak terlalu tinggi. Dia berhasil menarik beberapa orang pengikut dan akhirnya menjadi pemimpin kelompok yang tinggal di sebuah padepokan berburu di dekat

http://inzomnia.wapka.mobi

Ste-Anne-De-Beaupre. Selalu ada kesulitan keuangan dan masalah semakin besar akibat banyaknya anggota di bawah umur. Seorang anak berusia empat belas tahun hamil dan orang tuanya langsung melaporkannya ke pihak yang berwajib." "Kelompok itu dibubarkan dan Boudrais meneruskan perjalanan hidupnya. Dia mengikuti sebuah sekte Celestial Pathway untuk beberapa waktu lamanya di Montreal, tapi kemudian keluar lagi. Seperti Daniel Jeannotte, dia berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya, muncul di Belgia sekitar tahun 1980an dan di sana dia mengajarkan kombinasi shamanisme dan spiritualisme New Age. Dia mendirikan sebuah kelompok yang salah seorang anggotanya seorang lelaki kaya raya bernama Jacques Guillion. "Boudrais sudah pernah berkenalan dengan Guillion di Celestial Pathway, dan melihatnya sebagai solusi bagi kesulitan keuangan kelompoknya. Guillion jatuh ke dalam pengaruhnya dan akhirnya dibujuk untuk menjual propertinya dan menyerahkan semua asetnya." "Tidak ada yang protes?" "Semua pajak dibayar dan Guillion tidak punya keluarga, jadi tidak ada pertanyaan dari siapa pun." "Mon Dieu."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Pada pertengahan tahun sembilan belas delapan puluhan, kelompok itu meninggalkan Belgia dan menuju Amerika Serikat. Mereka mendirikan sebuah komune di Fort Bend County, Texas, dan Guillion sering pulang-pergi ke Eropa selama beberapa tahun, mungkin memindahkan uangnya. Dia terakhir kali masuk ke Amerika dua tahun yang lalu." "Apa yang terjadi padanya?" Suaranya terdengar kecil dan gemetar. "Menurut dugaan polisi, dia dikuburkan di peternakannya." Kudengar suara gemerisik kain. "Adik Jeannotte berkenalan dengan Boudrais di Texas dan langsung terpesona. Saat itu Boudrais sudah menyebut dirinya sebagai Elle. Itulah saat ketika Dom Owens bergabung dengan mereka." "Dia lelaki yang dari South Carolina itu?" "Ya. Owens adalah orang yang suka ikut-ikutan dalam mistik dan penyembuhan organik. Dia mengunjungi peternakan Fort Bend dan langsung terpesona oleh Elle. Dia mengundang Elle ke padepokan South Carolina di Saint Helena dan Elle langsung mengambil-alih kendali atas kelompoknya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tapi, sepertinya tidak berbahaya. Hanya berurusan dengan ramuan dan jampi-jampi serta obatobatan holistik. Bagaimana bisa berubah menjadi sumber kekejaman dan kematian?" Bagaimana kita menjelaskan masalah kegilaan? Aku tidak mau mendiskusikan penilaian psikiatris yang ada di mejaku, atau catatan tentang bunuh diri yang ditemukan di Ange Gardien. "Boudrais senang membaca, terutama tentang filsafat dan psikologi. Dia yakin bahwa bumi akan hancur dan sebelum hal itu terjadi, dia akan membawa semua pengikutnya pergi. Dia meyakini dirinya akan menjadi dewi penolong bagi mereka yang berbakti kepadanya dan penginapan di Ange Gardien akan menjadi titik perpindahannya." Untuk sejenak, kami tidak berkata apa-apa. Kemudian, "Apakah mereka benar-benar memercayai itu?" "Entahlah. Kurasa Elle tidak sepenuhnya berani mengandalkan kemampuannya dalam berbicara. Dia juga mengandalkan penggunaan obat terlarang." Hening kembali.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apakah para pengikutnya itu begitu memercayainya sampai-sampai bersedia untuk mati? Pikiranku melayang kepada Kathryn. Dan Harry. "Tidak semuanya." "Tuhan tidak akan mengampuni orang yang merencanakan pembunuhan atau bahkan menahan manusia lainnya sebagai tawanan." Sebuah jalan penghubung yang sempurna. "Suster, apakah sudah membaca informasi yang kukirimkan mengenai Elisabeth Nicolet?" Keheningan dari pihaknya terasa lebih lama. Diakhiri dengan helaan napas. "Ya, sudah." "Aku melakukan penelitian cukup teperinci tentang Abo Gabassa. Dia seorang fi Isuf yang sangat dihormati dan sering bicara di depan umum, dikenal di seluruh Eropa, Afrika, dan Amerika Utara atas usahanya untuk menghentikan perdagangan budak." "Aku mengerti." "Dia dan Eugenie Nicolet berlayar ke Prancis dengan kapal yang sama. Eugenie kembali ke Kanada dengan membawa seorang bayi perempuan." Aku menarik napas. "Tulang-belulang itu tidak berbohong, Suster Julienne.

http://inzomnia.wapka.mobi

Dan mereka tidak memihak. Sejak aku melihat tengkorak Elisabeth, aku sudah tahu bahwa dia memiliki ras campuran." "Itu tidak berarti dia seorang tahanan di biara." "Tidak, sama sekali tidak." Hening kembali. Kemudian, dia bicara dengan suara perlahan. "Aku setuju bahwa anak haram tidak akan diterima di dalam lingkungan keluarga Nicolet. Dan pada zaman itu, bayi dengan ras campuran tidak akan mungkin diterima. Mungkin Eugenie memandang biara sebagai solusi yang paling manusiawi." "Mungkin, Elisabeth mungkin tidak memilih sendiri takdirnya, tapi hal itu tidak mengesampingkan sumbangsihnya. Dinilai dari semua aspek pun, kinerjanya selama wabah cacar sungguh mengagumkan. Ribuan orang telah terselamatkan berkat usahanya." "Suster, apakah ada santa dari Amerika Utara yang memiliki darah keturunan Amerika Asli, Afrika, atau Asia?" "Entahlah, aku tidak tahu." Kudengar sepercik semangat dalam suaranya. "Elisabeth akan menjadi panutan yang luar biasa untuk orang-orang yang dilecehkan karena mereka tidak dilahirkan sebagai orang berkulit putih." "Ya. Ya. Aku harus bicara dengan Pastor Menard." "Bolehkan aku mengajukan pertanyaan, Suster?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bien sur." "Elisabeth memperlihatkan diri kepadaku dalam sebuah mimpi dan mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti. Ketika kutanyakan kepadanya siapa dia sesungguhnya, dia menjawab, 'Semuanya ada di gaun gandum yang paling gelap.'" '"Datanglah suster yang tafakur, mengabdikan diri dan murni; setia dan bersungguh-sungguh; Semuanya ada di gaun gandum yang paling gelap; Mengalir dengan kereta yang megah.' II Penseroso karya John Milton." "Otak memang arsip yang luar biasa," ujarku, tertawa. "Sudah bertahuntahun yang lalu aku membaca buku itu." "Kamu mau mendengarkan kalimat yang paling kusenangi?" "Tentu saja." Sebuah pemikiran yang sangat indah. Setelah kami menutup gagang telepon, kulirik jam tanganku. Sudah waktunya pergi. Selama perjalanan, kuhidupkan dan kumatikan radio, mencoba mencari penyebab suara gemerisik di dasbor, kemudian mengetuk-ngetukkan jarijemariku.

http://inzomnia.wapka.mobi

Pergantian lampu merah di Woodlawn dan Billy Graham Parkway terasa sangat lama. Ini gagasanmu, Brennan. Memang. Tetapi, apakah itu berarti gagasan ini bagus? Aku tiba di bandara dan langsung menuju ke bagian pengambilan bagasi. Ryan sedang menyampirkan tas pakaian di bahu kirinya. Lengan kanannya dibalut dan gerakannya tampak canggung. Tetapi, dia terlihat sehat. Bagus sekali. Dia di sini untuk memulihkan kesehatannya. Itu saja. Kulambaikan tangan dan memanggilnya. Dia tersenyum dan menunjuk ke sebuah tas olahraga yang sedang berputar menghampirinya. Aku mengangguk dan mulai memilah-milah kunciku, memutuskan kunci mana yang akan dipindahkan ke gantungan kunci yang baru. "Bonjour y'all." Kupeluk dia sekilas, seperti orang yang menjemput saudara iparnya. Dia melangkah mundur dan matanya yang terlalu biru itu menatapku dari atas ke bawah. "Bagus juga pakaianmu."

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku memakai jins dan kemeja yang tidak terlalu cocok dengan kruk yang kugunakan. "Bagaimana perjalananmu?" "Pramugarinya kasihan padaku dan memindahkanku ke bagian depan." Aku yakin pramugarinya pasti melakukan itu. Dalam perjalanan pulang, kutanyakan keadaan cederanya. "Tiga tulang rusuk patah dan paru-paru bocor. Peluru lainnya menancap di otot. Tidak apa-apa, tapi aku sempat kehilangan darah." Yang tidak apa-apa itu membutuhkan operasi selama empat jam. "Masih terasa sakit?" "Hanya kalau aku bernapas saja." Saat kami tiba di Annex, kutunjukkan kamar tidur tamu kepada Ryan dan beranjak ke dapur untuk menuangkan es teh. Beberapa menit kemudian, dia bergabung denganku di beranda. Cahaya matahari menyeruak di antara bunga magnolia dan kawanan burung pipit menggantikan burung mockingbird. "Pakaianmu bagus," ujarku sambil menyerahkan gelas. Ryan memakai celana pendek dan kaus oblong. Kakinya pucat seperti ikan cod yang masih mentah dan kaus kaki olahraga menjuntai di sekeliling pergelangan kakinya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Menikmati musim dingin yang panjang di Newfoundland?" "Berjemur menyebabkan melanoma." "Aku harus memakai kacamata hitam untuk menghalau silau." Aku dan Ryan telah mendiskusikan kejadian di Ange Gardie. Kami membicarakannya di rumah sakit, kemudian di telepon saat berbagai informasi tambahan mulai kami dapatkan. Ryan menggunakan ponselnya untuk menghubungi markas SQ di distrik Rouville ketika aku sedang mengerik rambu jalanan. Ketika kami tidak juga muncul, seorang petugas mengirimkan truk untuk membersihkan jalan sehingga sebuah unit kepolisian bisa datang untuk melakukan penyelidikan. Para petugas menemukan Ryan dalam keadaan pingsan dan meminta dikirim petugas tambahan sert ambulans. "Jadi, adikmu sudah kapok dengan penyembuhan kosmik?" "Ya." Aku tersenyum dan menggelengkan kepala. "Dia ke sini dan tinggal selama beberapa hari, kemudian kembali ke Texas. Pasti sebentar lagi dia akan kembali terpikat oleh kegiatan lain." Kami meneguk teh. "Sudah kamu baca laporan psikiaternya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Salah mengenali sesuatu karena halusinasi disertai unsur rasa cinta akan kemegahan dan paranoid yang signifi kan. Apa artinya semua itu?" Pertanyaan yang sama telah membuatku membedah literatur psikologi. "Halusinasi Anti-Kristus. Orang melihat dirinya sendiri atau orang lain sebagai setan. Dalam kasus Elle, dia mengarahkan ketakutannya pada kedua bayi kembar Heidi. Dia membaca tentang zat dan anti-zat, dan meyakini bahwa segala sesuatu harus berimbang. Dia mengatakan bahwa salah satu dari kedua bayi itu adalah Anti-Kristus, sementara yang satunya lagi cadangan kosmiknya. Apa dia masih terus mengoceh?" "Seperti seorang DJ yang sedang naik panggung. Dia mengakui telah mengirimkan tim pembunuh ke St-Jovite untuk membunuh anak-anak itu. Simonnet mencoba menghalang-halanginya, jadi mereka menembaknya. Kemudian, para pembunuh itu menyuntikkan narkoba dan membakar rumah itu." Kubayangkan wanita tua yang tulang-belulangnya telah kuperiksa. "Simonnet pasti berusaha melindungi Heidi dan Brian. Semua telepon ke Saint Helena itu, kemudian misi penyelamatan ke Texas setelah Daniel Jeannotte, bmuncul di kediaman Schneider." Jari-jemariku membentuk

http://inzomnia.wapka.mobi

sidik jari oval pada embun yang muncul di gelas tehku. "Menurutmu, kenapa Simonnet terus menelepon setelah Heidi dan Brian meninggalkan Saint Helena?" "Heidi terus berhubungan dengan Jennifer Cannon, dan Simonnet menelepon untuk mencari informasi. Ketika Elle mengetahuinya, dia menyuruh orang untuk membunuh Cannon." "Cara pengusiran setan yang sama dengan anjing, pisau, dan cairan asam yang diperintahkannya ketika mengetahui Carole Comptois hamil." Bayangan itu masih tetap membuatku menggigil ketakutan. "Apakah Comptois masih meneruskan pekerjaannya sebagai pelacur?" "Dia sudah berhenti. Ironisnya, dia diperkenalkan kepada Elle oleh mantan pelanggannya. Walaupun Comptois sering tinggal bersama kelompok itu dan pergi lagi, rupanya dia tetap mempertahankan hubungannya di dunia luar karena ayah bayinya bukanlah anggota kelompok sehingga tidak diakui sebagaidonor sperma yang sah oleh kelompok itu. Itulah sebabnya Elle memerintahkan acara pengusiran setan itu." "Bagaimana dengan Amalie Provencher?" "Yang itu tidak jelas. Amalie mungkin menghalangi pembunuhan Jennifer."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Elle meyakini bahwa dia memerlukan kekuatan psikis dari lima puluh enam jiwa untuk mengumpulkan energi untuk melakukan penyeberangan. Dia tidak memperhitungkan hilangnya Comptois. Itulah sebabnya dia memerlukan Harry." "Kenapa lima puluh enam?" "Ada hubungannya dengan lima puluh enam lubang Aubrey di Stonehenge." "Apa pula lubang Aubrey itu?" "Lubang kecil yang digali dan segera diisi kembali. Lubang-lubang itu mungkin digunakan untuk meramalkan gerhana matahari. Elle menjalin semua pengetahuan itu dalam khayalannya." Aku meneguk teh kembali. "Dia terobsesi oleh konsep keseimbangan. Zat dan anti-zat. pernikahan yang terkendali. Tepatnya lima puluh enam orang. Dia memilih Ange Gardien bukan hanya karena namanya, tetapi juga karena jarak dari tempat itu ke komune di Texas dan South Carolina sama jauhnya. Sebuah kebetulan yang menakjubkan." "Kebetulan apa?" "Adikku tinggal di Texas. Aku bekerja di Quebec dan

http://inzomnia.wapka.mobi

memiliki hubungan dengan Carolina. Ke mana pun aku pergi, pengaruh Elle ada di tempat itu. Jangkauannya sungguh mencengangkan. Menurutmu, berapa banyak orang yang terpengaruh oleh sekte?" "Tidak ada yang bisa memastikannya." Suara Vivaldi berkumandang dari beranda tetangga. "Bagaimana temanmu, Sam, ketika menerima kabar bahwa salah seorang pegawainya yang membawa kedua mayat itu ke Murtry?" "Dia geram." Aku teringat pada kegugupan Joey di truk air saat kami muncul dari tempat penguburan. "Joey Espinoza telah bekerja untuk Sam selama hampir dua tahun." "Memang. Dia pengikut Owens, tapi tinggal di rumah ibunya. Ibunyalah yang menghubungi Social Services. Vah, ternyata dia juga ayah Carlie. Itulah sebabnya Kathryn berpaling kepadanya ketika keadaan mulai kacau. Sepertinya dia tidak tahu apa-apa tentang semua pembunuhan itu." "Sekarang mereka di mana?" "Dia dan bayinya tinggal dengan salah seorang sepupunya. Joey mendiskusikan hal-hal yang telah terjadi dengan Sheriff Baker." "Apakah ada orang yang dituntut?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Elle dan Daniel masing-masing dituntut dengan tiga tuduhan pembunuhan tingkat pertama untuk kematian Jennifer Cannon, Amalie Provencher, dan Carole Comptois." Ryan memungut daun magnolia dan meletakkannya di pahanya. "Apa lagi yang didapatkan dari evaluasi itu?" "Menurut psikiater yang ditunjuk pengadilan, Elle menderita multidelusional psychosis yang akut. Dia meyakini bahwa hari kiamat akan segera terjadi dalam bentuk musibah lingkungan hidup dalam skala besar, dan dia berniat untuk menyelamatkan umat manusia dengan mengirimkan para pengikutnya menjauhi kiamat itu." "Mereka akan ke mana?" "Dia tidak mengatakannya. Tapi, kamu tidak termasuk dalam kelompok yang akan dibawanya." "Bagaimana orang bisa terbuai oleh omong kosongnya?" Ryan mengulangi pertanyaan yang pernah kulontarkan kepada Red Skyler. "Kelompok itu menarik orang-orang yang tersingkir dari teman-temannya dan terbuai oleh penerimaan kelompok, merasa dirinya berharga dan penting, dan diberi jawaban yang sederhana untuk setiap pertanyaan yang mereka miliki, dengan sedikit bantuan terapi obat-obatan."

http://inzomnia.wapka.mobi

Embusan angin mengangkat dedaunan magnolia sekaligus menghantarkan bau rumput yang basah. Ryan tidak berkomentar. "Elle mungkin memang gila, tapi dia cerdas dan kemampuannya membujuk orang sungguh luar biasa. Bahkan, sekarang pun para pengikutnya masih setia kepadanya. Walaupun dia mengoceh tak hentinya, mereka diam seribu bahasa." "Yah." Dia menggeliat, mengangkat tangannya yang dibalut, meletakkannya kembali di dadanya. "Dia memang sangat licik. Dia tidak pernah ingin memiliki pengikut yang banyak. Dia hanya ingin memiliki sekelompok pengikut yang kecil tetapi setia. Keadaan itu dan uang Guillion membuatnya tidak terdeteksi selama ini. Sebelum semuanya terungkap, dia tidak begitu banyak melakukan kesalahan." "Bagaimana dengan kucing itu? Itu tindakan yang sadis, tapi bodoh." "Itu ulah Dom Owens. Elle memerintahkannya untuk membuatmu berhenti ikut campur. Owens berkata bahwa dia tidak mau melukai manusia, jadi dia memerintahkan beberapa pengikutnya yang masih kuliah di Charlotte untuk melakukan sesuatu untuk menakut-nakutimu. Mereka memperoleh makhluk malang itu dari tempat penampungan binatang." "Bagaimana mereka bisa menemukanku?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Salah seorang dari mereka mengambil surat tagihan atau entah apa dari kantormu. Di situ tercantum alamat rumahmu." Ryan menghirup tehnya. "Ngomong-ngomong, pengalamanmu dirampok saat St. Paddy's Day di Montreal juga sebetulnya ulah seorang mahasiswa." "Bagaimana kamu tahu itu?" Dia tersenyum dan menggerakkan gelasnya. "Seperti nya tindakan melindungi dilakukan secara timbal-balik oleh Jeannotte dan mahasiswanya. Salah seorang mahasiswanya melihat Jeannotte marah, dan menyimpulkan bahwa kunjunganmu yang menjadi penyebabnya. Dia memutuskan untuk main hakim sendiri dan mengirimkan pesan pribadi." Kuganti pokok pembicaraan."Kamu percaya bahwa Owens terlibat dalam pembunuhan Jennifer dan Amalie?" "Dia menyanggahnya. Katanya, setelah bertengkar dengan Jennifer tentang panggilan telepon itu, dia melaporkannya kepada Elle. Katanya, Elle mengatakan kepadanya bahwa Elle dan Daniel akan membawa Jennifer dan Amalie kembali ke Kanada." "Kenapa Owens tidak berada di Ange Gardien?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Owens memutuskan untuk tidak jadi ikut. Entah karena dia takut pada apa yang akan dilakukan Elle karena telah kehilangan Joey, Kathryn, dan Carlie, atau mungkin dia tidak memercayai penyeberangan kosmik itu. Apa pun alasannya, dia membawa sekitardua ratus ribu dolar dari uang Guillion yang tersisa, jadi dia pergi ke barat, sementara yang lainnya ke utara. FBI menangkapnya di sebuah komune naturalis di Arizona. Elle bahkan tidak akan mendapatka lima puluh enam jiwa yang disyaratkan olehnya sekalipun ada Harry." "Kamu lapar?" "Ayo kita makan." Kami membuat salad, kemudian menusuk daging ayam dan sayuran untuk dibuat shish kebab. Di luar, matahari telah tenggelam ke balik cakrawala dan sore hari yang semakin larut memenuhi pepohonan dan tanah dengan bayang-bayang hitam. Kami makan di beranda, berbicara dan mengamati malam tiba. Akhirnya, percakapan mengarah kembali kepada Elle dan semua pembunuhan yang telah terjadi. "Kurasa Daisy Jeannotte merasa dia bisa menghadapi adiknya dan memaksanya untuk menghentikan semua kegilaan ini."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya, tetapi Elle melihat Daisy terlebih dahulu dan menyuruh Daniel membunuhnya dan melemparkannya ke dalam ruangan bawah tanah tempat mereka menyekapmu. Kamu dianggap ancaman yang tidak begitu besar dan sudah cukup kalau kepalamu saja yang dihantam, kemudian dimasukkan ke dalam lubang itu. Ketika kamu berhasil membebaskan diri dan menimbulkan semakin banyak masalah, Elle murka dan berniat untuk melakukan acara pengusiran setan yang sama yang dilakukannya pada Jennifer dan Amalie." "Daniel menolong Elle membunuh Jennifer dan Amalie, dan dia adalah tersangka utama pada pembunuhan Carole Comptois. Siapa yang melakukan pembunuhan di St-Jovite?" "Kita mungkin tidak akan pernah tahu. Tidak ada yang menyebutkan hal itu sampai sekarang." Ryan menghabiskan tehnya dan menyandarkan tubuh. Jangkrik telah mengambil alih posisi kawanan burung. Di kejauhan suara sirene membelah malam. Untuk beberapa saat, kami tidak berkata apa-apa. "Kamu ingat penggalian yang kulakukan di Lac Mem-phremagog?" "Santa itu."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Salah seorang biarawati itu adalah bibi Anna Goyette." "Berkat biarawati itu aku masih bisa menggunakan kepalan tanganku ini." Aku tersenyum. Lagi-lagi sebuah kesenjangan gender. Kuceritakan kisah Elisabeth Nicolet. "Mereka semua tawanan. Harry. Kathryn. Elisabeth." "Elle. Anna. Penjara dalam bentuk yang berbedabeda." "Suster Julienne berbagi sebuah kutipan denganku. Dalam Les Miserables Victor Hugo menyebutkan biara sebagai alat teropong, tempat kita bisa mengintip keabadian." Jangkrik berbunyi. "Bukan keabadian, Ryan, tapi kita sedang mendekati akhir abad. Apakah menurutmu ada makhluk lain di luar sana yang mengumbar kiamat dan mempersiapkan ritual kematian berkelompok?" Untuk sejenak dia tidak menjawab. Bunga magnolia gemerisik di atas kami. "Akan selalu ada penggemar mistis yang akan mem-peralat kekecewaan, keputusasaan, rasa percaya diri yang rendah, atau rasa takut untuk memantapkan agenda mereka. Tapi, jika orang-orang gila ini datang ke kotaku, perhitungannya akan terjadi dengan cepat. Itu ramalan menurut Ryan."

http://inzomnia.wapka.mobi

Kuamati sepucuk daun mendarat di atas batu bata. "Bagaimana denganmu, Brennan? Apakah kamu akan bersedia menolongku?" Sosok Ryan tampak gelap dengan latar belakang langit malam. Aku tidak bisa melihat matanya, tetapi aku tahu bahwa kedua mata itu menatap mataku lekat-lekat. Kujulurkan tangan dan meraih tangannya. UCAPAN TERIMA KASIH Ungkapan terima kasih saya ucapkan kepada Dr. Ronald Coulombe, pakar bidang kejahatan pembakaran; kepada Carole Peclet, pakar bidang kimia; dan kepada Dr. Robert Dorion, Responsible d'Odontologie, Laboratoire de Sciences Judiciaires et de Medecine Legale; dan kepada Louis Metivier, Bureau du Coroner de la Province de Quebec, karena telah berbagi pengetahuannya dengan saya. Dr. Walter Birkby, ahli antropologi forensik di Office of the Medical Examiner of Pima County, Arizona, karena telah menyediakan informasi mengenai cara pengumpulan kembali sisa-sisa jasad yang terbakar. Dr.

http://inzomnia.wapka.mobi

Robert Brouil-lette, Kepala Divisi Newborn Medicine and Respiratory Medicine di Rumah Sakit Anak di Montreal, karena menyediakan data pertumbuhan bayi. Curt Copeland, Koroner Beaufort County; Carl McC-leod, Sheriff Beaufort County; dan Detektif Neal Player dari departemen sheriff di Beaufort County yang telah sangat membantu saya. Detektif Mike Mannix dari Illinois State Police juga telah menjawab berbagai pertanyaan saya mengenai seluk-beluk penyelidikan suatu pembunuhan. Dr. James Taylor, Profesor Religious Studies di University of North Carolina di Charlotte, yang menyediakan informasi mengenai berbagai pergerakan sekte dan agama. Leon Simon dan Paul Reichs yang menyediakan informasi mengenai Charlotte dan sejarahnya. Saya juga sangat berutang budi kepada Paul Reichs atas komentarnya tentang naskah ini. Dr. James Woodward, rektor University of North Carolina di Charlotte, yang mendukung saya sepenuhnya saat penulisan buku ini. Terima kasih yang khusus saya ucapkan kepada tiga orang. Dr. David Taub, Walikota Beaufort dan ahli prima-tologi, yang selalu siap menjawab hujan pertanyaan yang saya kirimkan kepadanya. Dr. Lee Goff, Profesor Ento-mologi di University of Hawaii di Manoa, yang tidak mengabaikan

http://inzomnia.wapka.mobi

saya saat terusmenerus diganggu pertanyaan tentang serangga. Dr. Michael Bisson, Profesor ahli antropologi di McGill University, yang menjadi sumber informasi mengenai McGill University, di Montreal, dan pada dasarnya semua informasi yang perlu saya ketahui. Ada dua buku yang khususnya sangat berguna dalam penulisan cerita ini. Plague: A Story of Smallpox in Montreal (1991) oleh Michael Bliss, Harper Collins, Toronto; dan Cults in Our Midst: The Hidden Menance in Our Everyday Lives (1995) oleh Margaret Thaler Singer dan Janja Lalich, JosseyBass Publisher, San Fransisco. Saya sangat bersyukur atas kasih sayang agen saya, Jennifer Rudolph Walsh, dan editor saya Susanne Kirk dan Maria Rejt. Tanpa mereka, Tempe tidak akan bisa mengungkapkan berbagai cerita seperti yang dilakukannya. TENTANG PENERJEMAH Sofi a Mansoor-lahir di Bandung, 12 Oktober 1950- apoteker lulusan Farmasi ITB (1974). Sejak 1980 menekuni dunia penerjemahan dan penerbitan buku, khususnya ketika menjabat sebagai Kepala Bagian

http://inzomnia.wapka.mobi

Penyuntingan di Penerbit ITB (1982-2001). Dalam kurun waktu itu pula, ia terlibat dalam penataran penerjemahan, penulisan, dan penyuntingan buku ajar untuk para dosen perguruan tinggi negeri maupun swasta di seluruh Indonesia. Karyanya, Pengantar Penerbitan (Penerbit ITB, 1993), masih sering digunakan sebagai acuan dalam pelatihan di bidang penerbitan. Puluhan judul buku ajar, fi ksi, dan nonfiksi telah digarapnya, baik sebagai penerjemah maupun penyunting. Karya suntingannya yang terakhir antara lain Komplikasi (Serambi 2006) serta The She dan Void Moon (Serambi 2007).