Anda di halaman 1dari 7

Makalah Etika Kedokteran Gigi THE RIGHT TO SELF DETERMINATION

Disusun oleh : Kelompok 8 Genap Rieska Rachmasari (8452) Anjarwani Fitriasca (8454) Cyntia Dewi M.(8456) Permata Dydha P. (8458) Prihashinta U.H. (8462) Osa Amila H. (8464)

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 2012 INTISARI Tenaga medis professional termasuk dokter gigi perlu mewaspadai perkembangan sta ndar etika dalam menjalankan profesi. Perkembangan standar kode etik pada masa s ekarang terus berkembang dengan tempo yang cepat. Pembuatan kode etik oleh prof esi tertentu bertujuan untuk membangun dan menjaga sikap dan tidakan dari anggot a komunitas profesi tersebut untuk itulah dokter gigi yang professional harus ho rmat pada prinsip-prinsip etika dengan tidak melanggar kode etika yang telah dis usun. Prinsip utama etika dokter atau dokter gigi yaitu respect for person, bene ficence, non-maleficence, dan justice. Hubungan dokter dan pasien dalam transaks i teurapeutik (perjanjian medis) bertumpu pada dua macam hak asasi yang merupaka n hak dasar manusia, yaitu hak untuk menentukan nasib sendiri dan hak atas dasar informasi. Saat ini, pasien menjadi lebih kritis untuk mengetahui dan bertanya tentang penyakit yang diderita, dan perawatan yang akan dialami, untuk itulah se ring kali pasien ingin mencari pendapat lain yang disebut second opinion. Untuk itulah perlu dibahas lebih lanjut mengenai hak dan kewajiban pasien. Keyword : hak dan kewajiban pasien, hak dan kewajiban dokter, second opinion, pa tient autonomy PENDAHULUAN Tenaga medis profesional termasuk dokter gigi harus memenuhi kriteria perilaku y ang dapat menjadi panutan bagi masyarakat. Harapan masyarakat kepada dokter gigi kian meningkat seiring dengan bertambahnya waktu. Masyarakat menjadi sadar huku m dan mulai mengetahui hak-hak dan kewajibannya sebagai pasien. Untuk itulah pro fesi dokter gigi membentuk dan menerapkan kode etik profesi agar dapat mengawasi dan menjaga nilai-nilai luhur, etika dan legalitas dengan baik (Sasanti,-). Kode etik pada profesi manapun adalah hasil dari sekelompok profesi itu sendiri, diterima dengan suka rela, dan tidak terikat pada hukum. Pembuatan kode etik ol eh profesi tertentu bertujuan untuk membangun dan menjaga sikap dan tidakan dari anggota komunitas profesi tersebut (Prasad dkk., 2011). Etika dalam medis mempu nyai fungsi sebagai penerang bagi seorang tenaga kesehatan untuk mepertimbangkan dan mempertimbangkan kembali setiap tindakan yang dilakukan (Jessri dkk., 2007) . Sebagai tenaga medis professional dokter gigi harus mulai waspada dan bertanggun g jawab terhadap semua tindakan dan ucapannya. Dokter gigi harus hormat pada pri nsip-prinsip etika yang ada dengan cara membuat informed consent, menghargai pas

ien, membebaskan pasien untuk memilih perawatan yang akan pasien jalani, dan mer awat pasien dengan kualitas hasil terbaik yang mungkin dicapai tanpa harus membe bani dan membahayakan jiwa pasien (Jessri dkk, 2007). Kode etik yang telah dibua t bukan tidak mungkin untuk dilanggar baik secara sengaja maupun tidak sengaja, untuk itulah dibuat sanksi-sanksi yang diberikan bagi setiap pelanggar kode etik . Sanksi yang diberikan mulai dari teguran, peringatan tertulis sampai pencabuta n surat ijik praktek (Sasanti, -). LAPORAN KASUS Di Palembang terdapat seorang dokter gigi yang sangat terkenal bernama drg S. se orang dokter gigi senior yang sudah berpraktik selama 30 tahun. Pada suatu ketik a, datang seorang dokter gigi muda bernama drg P, seorang lulusan pendidikan dok ter gigi Universitas ternama di pulau Jawa. Setelah berpraktik selama 3 tahun di Jawa, drg P memutuskan untuk mencoba meni memperparah keadaan pasien. Selanjutn ya, Drg P memberikan alternatif pilihan perawatan yang berbeda dari drg S, dan s ering kali pasien mempertanyakan alasan mengenai perbedaan prosedur perawatan ya ng diberikan oleh drg P. Hal tersebut membuat pasien drg S mengajukan pertanyaan yang serupa kepada drg S, sehingga beliau merasa sangat jengkel dengan pasien-p asien yang datang kepadanya yang sebelum atau sesudahnya berkonsultasi dengan dr g P untuk masalah yang sama. Drg S menganggap ini merupakan pemborosan dan bahka n merugikan bagi kesehatan pasiennya. Selanjutnya, beliau memutuskan untuk berbi cara kepada pasien-pasiennya bahwa dia tidak akan merawat mereka jika mereka tet ap menemui dokter gigi lain untuk masalah yang sama. Seorang pasien berinisial F datang ke drg S, setelah sebelumnya datang ke drg P untuk mengkonsultasikan kembali permasalahan sakit pada gigi 36 yang tidak kunju ng sembuh. Sebelumnya, drg P menyarankan untuk melakukan PSA agar gigi tersebut bias dipertahankan. Alasan drg P untuk tetap mempertahankan gigi tersebut adalah bagian dari gigi 36 tersebut yang masih lengkap, hanya kavitasnya saja yang sud ah mengenai pulpa, dan gigi tersebut sudah non vital. Lain halnya dengan drg S y ang langsung menyarankan untuk mencabut gigi tersebut karena hanya membuang-buan g waktu jika gigi tersebut tetap dipertahankan. Menurut beliau, permasalahan pad a gigi tersebut akan datang kembali jika dilakukan PSA, dan pada akhirnya akan d icabut juga. Beliau berpendapat bahwa akan lebih baik jika gigi tersebut diambil saja, sehingga dapat langsung dibuatkan gigi tiruan lengkap serta biaya yang di keluarkan dapat diminimalkan. Namun, pasien F terlihat agak ragu untuk melakukan pencabutan. Dia tetap bertany a kenapa harus dicabut, karena pada dasarnya pasien menginginkan giginya tetap d ipertahankan. Akibatnya drg S marah dan menganggap pasien tersebut meremehkan di rinya yang notabene sudah lama berprofesi sebagai dokter gigi. Pasien pun juga b alik marah kepada drg S karena dia merasa dia berhak medapatkan informasi yang l engkap tentang permasalahan yang dialaminya. Sebaliknya drg S wajib untuk member ikan informasi secara detil tentang informasi apapun yang diperlukan oleh pasien . mba nasib di pulau Sumatera. Beliau mengawali praktiknya sekitar 6 bulan yang lalu di rumahnya yang letaknya sekitar 1 km dari lokasi praktik drg S. selama 6 bulan melakukan praktik dokter gigi, drg P menemui banyak kasus-kasus yang tidak tepat perawatannya, sehingga hal tersebut justru TINJAUAN PUSTAKA 1. Prinsip Utama Etika Berikut adalah prinsip utama etika yang dapat menuntun dokter gigi dalam menjala nkan tugasnya: a. To do no harm (non-maleficience). Prinsip ini mengutamakan untuk tidak m embahayakan pasien selama prosedur perawatan. b. To do good (beneficience). Dokter dan dokter gigi harus memberi keuntung an kepada pasien dan tidak menyebabkan kerugian. c. Respect for person (Autonomy). Dokter dan dokter gigi harus menghormati kapasitas pasien untuk menentukan perawatan yang akan diberikan kepada dirinya. Informed consent merupakan komponen yang penting pada hak otonomi pasien. d. Justice. Dokter dan dokter gigi tidak boleh membeda-bedakan pasien dan h arus memastikan kesamaan hak serta keuntungan bagi setiap pasien. (Prasad

dkk., 2011) 2. Hak dan kewajiban Dokter atau Dokter gigi dan Pasien di dalam transaksi terap eutik a. Hak dan Kewajiban Dokter atau Dokter Gigi Berikut adalah hak dan kewajiban dokter atau dokter gigi menurut UU No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran 1) Pasal 50 Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak : a. memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, b. memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional, c. memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya ; dan d. menerima imbalan jasa. 2) Pasal 51 Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiba n : a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar pro sedur operasional serta kebutuhan medis pasien; b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian a tau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan a tau pengobatan; c. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan jug a setelah pasien itu meninggal dunia; d. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila i a yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan e. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran ata u kedokteran gigi. Berdasarkan Kode Etik Kedokteran Gigi, kewajiban dokter gigi adalah: 1) Pasal 10 Dokter Gigi di Indonesia wajib menghormati hak pasien untuk men entukan pilihan perawatan dan rahasianya. Ayat 1 Dokter Gigi di Indonesia wajib menyampaikan informasi mengenai rencana p erawatan dan pengobatan beserta alternatif yang sesuai dan memperoleh persetuju an pasien dalam mengambil keputusan. Ayat 2 Dokter Gigi di Indonesia wajib menghormati hak pasien bila menolak peraw atan dan pengobatan yang diusulkan dan dapat mempersilahkan pasien untuk menc ari pendapat dari profesional lain (second opinion). Ayat 3 Dokter Gigi di Indonesia wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui nya tentang pasien, bahkan setelah pasien meninggal dunia. Rahasia pasien hanya dapat dibuka berdasarkan ketentuan peraturan undang-undang, diminta oleh Sidan g Pengadilan, dan untuk kepentingan pasien atau masyarakat. 2) Pasal 11 Dokter Gigi di Indonesia wajib melindungi pasien dari kerugia n. Ayat 1 Dalam memberikan pelayanan dokter gigi di Indonesia wajib bertindak efis ien, efektif dan berkualitas sesuai dengan kebutuhan dan persetujuan pasien. Ayat 2 Dalam hal ketidakmampuan melakukan pemeriksaan atau pengobatan, dokter gi gi wajib merujuk pasien kepada dokter gigi atau profesional lainnya dengan kompe tensi yang sesuai. Ayat 3 Dokter Gigi di Indonesia yang menerima pasien rujukan wajib mengembalikan kepada pengirim disertai informasi tindakan yang telah dilakukan berikut penda pat dan saran secara tertulis dalam amplop tertutup. Ayat 4 Dokter Gigi di Indonesia wajib memberikan ijin kepada pasien yang ingin m elanjutkan perawatannya ke dokter gigi lain dengan menyertakan surat rujukan ber isikan rencana perawatan, perawatan atau pengobatan yang telah dilakukan, dileng kapi dengan data lainnya sesuai kebutuhan. 3) Pasal 12 Dokter Gigi di Indonesia wajib mengutamakan kepentingan pasi en.

Ayat 1 Dokter Gigi di Indonesia dalam melayani pasien harus selalu mengedepankan ibadah dan tidak semata mata mencari materi. Ayat 2 Dokter Gigi di Indonesia wajib memberikan pertolongan darurat dalam bata s- batas kemampuannya sebagai suatu tugas kemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang lebih mampu melakukannya. Ayat 3 Dokter Gigi di Indonesia wajib mendahulukan pasien yang datang dalam kead aaan darurat. Ayat 4 Dokter Gigi di Indonesia wajib memberitahukan pasien bagaimana cara memp eroleh pertolongan bila terjadi situasi darurat. 4) Pasal 13 Dokter gigi di Indonesia wajib memperlakukan pasien secara ad il. Ayat 1 Dokter Gigi di Indonesia tidak boleh menolak pasien yang datang ke tempa t praktiknya berdasarkan pertimbangan status sosial-ekonomi, ras, agama, warna k ulit, jenis kelamin, kebangsaan , penyakit dan kelainan tertentu. Ayat 2 Dokter Gigi di Indonesia tidak dibenarkan menuntut imbalan jasa atas ke celakaan/kelalaian perawatan yang dilakukannya. 5) Pasal 14 Dokter Gigi di Indonesia wajib menyimpan, menjaga dan merahasia kan Rekam Medik Pasien. (PDGI, 2008) b. Hak dan Kewajiban Pasien Berikut adalah hak dan kewajiban pasien menurut UU No. 29 tahun 2004 tentang Pra ktik Kedokteran 1) Pasal 52 Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak: a) mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dima ksud dalam Pasal 45 ayat (3); b) meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain; c) mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis; d) menolak tindakan medis; dan e) mendapatkan isi rekam medis. 2) Pasal 53 Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai kewajiban : a) b) c) d) memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya; mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi; mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan; dan memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

Berdasarkan UU No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan kosumen, hak pasien adalah: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Kenyamanan, keamanan, dan keselamatan Memilih Informasi yang benar, jelas, dan jujur Didengar pendapat dan keluhannya Mendapatkan advokasi, pendidikan & perlindungan konsumen Dilayani secara benar, jujur, tidak diskriminatif Memperoleh kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian

PEMBAHASAN Persoalan yang terjadi pada kasus memuat beberapa penyimpangan dari prinsip kod e etik kedokteran gigi. Permasalahan tersebut adalah: 1. Pelanggaran pada keempat prinsip etika, yaitu right to self-determinatio n, to do no harm, to do good, dan justice. a. Pelanggaran utama drg. S atas prinsip etika adalah pelanggaran right to self-determination atau respect for person, yang di dalamnya terdapat prinsip au tonomy dan informed consent. Pada kasus digambarkan drg. S selalu memiliki penda pat sendiri mengenai jenis perawatan yang dianggap paling baik menurut sudut pan dangnya sendiri. Selain itu, drg. S tidak menginformasikan alternatif perawatan yang ada.

b. Perawatan yang dilakukan oleh drg. S juga terkadang tidak memperbaiki ke adaan pasien dan justru memperparah keadaan pasien. Hal ini tidak sesuai dengan prinsip etika to do no harm atau non-maleficience. Perawatan yang tidak baik ter sebut akan menambah pengeluaran pasien untuk perawatan yang tidak perlu atau tid ak tepat tersebut sehingga hal ini merugikan pasien, maka drg. S sekaligus juga melanggar prinsip etika to do good atau beneficience. c. Perasaan tersinggung dan marah drg. S pada pasiennya sehingga mengancam tidak akan melayani pasiennya melanggar asas justice karena drg. S membeda-bedak an pasien bahkan mengacam tidak memberikan pelayanan pada pasiennya dengan alasa berkonsultasi dengan drg. P. 2. Pelanggaran hak pasien untuk mendapatkan second opinion. Hal ini melanggar Kode Etik Kedokteran Gigi (KODEKGI) pasal 10 ayat 2 yang menje laskan hak pasien mendapatkan second opinion dan UU No. 29 tahun 2004 ayat 52 ya ng memuat hak pasien untuk meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain. 3. Melakukan perawatan yang tidak sesuai dengan indikasi Drg. S masih menganggap gigi yang nonvital sebaiknya dicabut. Kondisi mahkota gi gi pasien F yang masih baik namun nonvital merupakan kondisi indikasi perawatan saluran akar (PSA) pulpektomi (Baumann dan Beer, 2010). Melakukan perawatan yang tidak sesuai indikasinya juga melanggar UU No. 29 tahun 2004 pasal 51. Jika memang gigi pasien F belum merupakan indikasi pencabutan da n masih bisa dipertahankan dengan cara PSA, maka seharusnya drg. S tetap merawat nya sesuai indikasinya yaitu PSA. Pelayanan yang tidak optimal, tidak efisien, d an tidak efektif membuat drg. S juga melanggar pasal 11 KODEKGI. 4. Tidak mengikuti perkembangan ilmu kedokteran gigi Sikapdrg. S yang tidakmengikutiperkembanganilmukedokterangigimelanggar UU No. 29 tahun 2004 pasal 51 dan KODEKGI pasal 21. Pada ilmu kedokteran gigi yang terdah ulu, saat teknik PSA belum berkembang, untuk merawat karies pulpa yaitu dengan p encabutan, namun sekarang lebih baik mempertahankan gigi pasien dengan perawatan PSA. Hal ini sesuai dengan prinsip perawatan yang harus mempertahankan gigi-gel igi dalam mulut pasien da pencabutan merupakan solusi terakhir. 5. Tidak memberikan informasi lengkap dan detil mengenai penyakit yang dial ami pasien. Drg. S tidak memberikan informasi yang lengkap dan detil mengenai penyakit yang dialami pasien, hal ini melanggar UU No. 29 tahun 2009 pasal 52, yang memuat hak pasien untuk mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis. Saat ini, pasien seringkali kritis untuk mempertanyakan tentang penyakit, pemeri ksaan, pengobatan, dan tindakan yang akan dilakukan berkenaan dengan masalah yan g dihadapinya. Bahkan, pasien tidak jarang untuk berkonsultasi kepada lebih dari satu orang dokter gigi atau mencari pendapat kedua (second opinion). Menurut UU no. 29 tahun 2004 pasal 52 mengenai hak dan kewajiban pasien , bahwa pasien mempunyai hak untuk meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain dalam menerima pelayanan dalam praktik kedokteran. Sebagai dokter gigi yang profesional, sudah seharusny a dokter dapat menghormati hakpasien untuk meminta pendapat dari dokter gigi lai n tentang pilihan perawatan yang terbaik bagi masalahnya. Sikap pasien F yang me ncari second opinion ke dokter gigi lain yang tentunya telah memiliki SIP, sama sekali bukanlah hal yang merugikan bagi dokter maupun pasien. Hubungan transaksi terapeutik antara dokter dan pasien, pada dasarnya bertumpu pada patient s autonomy yaitu hak menentukan nasib sendiri (the right self-determination) dan hak infor masi (the right to information). Seperti pada kasus, pasien dapat memutuskan tin dakan apa yang terbaik bagi dirinyadan berhak untuk mencari pendapat dokter gigi lain tentang prosedur perawatan yang sesuai. Sementara itudokter gigi S tidak m emberikan informasi yang memadai untuk pasien dalam memutuskan pilihan perawatan yang diberikan dan cenderung memaksakan pilihan perawatan kepada pasien. Dokter gigi seharusnya dapat bersikap etis kepada pasien dengan menghormati hak dan ke wajiban masing-masing. Dokter gigi selayaknya dapat mengutamakan kepentingan pas ien dan memberikan informasi selengkap-lengkapnya kepada pasien, sebab keputusan akhir dapat tercapai apabila dalam pengambilan keputusan itu pasien memperoleh informasi yang lengkap dan terperinci tentang segala untung ruginya bila sesuatu keputusan diambil. Perkembangan ilmu kedokteran gigi yang sifatnya dinamis, mensyaratkan sebagai se

orang professional di bidang kesehatan harus terus melakukan pembaharuan atas il mu yang dimiliki. Kewajiban dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik k edokteran tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 P asal 51 bahwa dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran memp unyai kewajiban-kewajiban, di antaranya adalah menambah ilmu pengetahuan dan men gikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi. Kewajiban tersebut jug a tercantum dalam Kode Etik Kedokteran Gigi pasal 21. Dilihat dari kedua sumber tersebut, maka dokter gigi S seharusnya terus melakukan pembaharuan atas ilmu ya ng dimilikinya karena adanya perkembangan ilmu kedokteran gigi yang bersifat din amis. Pembaharuan tersebut seperti dicantumkan dalam Kode Etik Kedokteran Gigi d apat dilakukan secara mandiri maupun yang diselenggarakan oleh organisasi profes i. Sikap pasien untuk mendapatkan informasi detail tentang permasalahan yang dialam inya tidak dapat dipersalahkan karena hal tersebut merupakan hak pasien yang ter cantum dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2004 pada pasal 52, yaitu mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam pasal 45 ayat (3). Penyampaian informasi tersebut juga merupakan kewajiban dokter gigi terhadap pasien yang tercantum dalam Kode Etik Kedokteran Gigi pasal 10 ayat 1 bahwa dokter gigi di Indonesia wajib menyampaikan informas i mengenai rencana perawatan dan pengobatan beserta alternatif yang sesuai dan m emperoleh persetujuan pasien dalam mengambil keputusan. Informasi yang detil tentang masalah yang dialami pasien sangat penting untuk di jelaskan oleh dokter gigi kepada pasien. Hal ini merupakan hak pasien yang diatu r dalam UU no 29 tahun 2004 pasal 52, bahwa pasien dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis. Dalam kasus tersebut, pasien F berhak mendapat informasi secara detail dari dokter gigi S untuk kepentingan pemilihan perawatan yang tepat bagi masalahnya. Pasien F harus mengetahui perawatan mana yang lebih dapat memberika n manfaat yang besar dengan resiko yang minimal, apakah pencabutan gigi 36 atau PSA gigi 36. Dokter gigi sebaiknya menegakkan prinsip etika to do good (benefice nce), dimana segala tindakan yang akan dilakukan harus mendatangkan manfaat untu k pasien, bukan malah merugikan pasien dan dokter yang professional akan menghor mati terhadap pilihan-pilihan pasien berdasarkan informasi yang telah diberikan secara lengkap. KESIMPULAN Ilmu kedokteran gigi merupakan ilmu yang dinamis sehingga dokter gigi pe rlu menambah informasi mengenai etika Hubungan dokter dan pasien dalam transaksi teurapeutik (perjanjian medis) bertumpu pada dua macam hak asasi yang merupakan hak dasar manusia, yaitu hak untuk menentukan nasib sendiri dan hak atas dasar informasi. Dokter gigi yang professional harus menghormati hakpasien untuk memin ta pendapat dari dokter gigi lain tentang pilihan perawatan yang terbaik bagi ma salahnya (second opinion). DAFTAR PUSTAKA Bauman, M., Beer, R., 2010, Endodontology 2nd Edition, Georg Thieme Verlag: Stut tgart Jessri,M.,Fatemitabar S.A.2007, Implication of Ethical Principles in Chair-Side Dentistry, Iran J Allergy Asthma Immunol, 6(5): 53-9. PDGI, 2008, Kode Etik Kedokteran Gigi Indonesia, dapat diakses pada http://www.p dgi.or.id/assets/files/2010/KODEKGI%202008-2011.pdf Prasad, K.D., Hegde, C., Jain, A., Shetty, M., 2011, Philosophy and principles o f ethics: Its application in dental practice, Journal of Education and Ethics in Dentistry, 1(1): 2-6. Sasanti,H., Etika Kedokteran Gigi dan UU RI No.29 tahun 2004, dapat diakses pada http://staff.ui.ac.id/internal/130611236/material/ETIKAKEDOKTERANGIGI.pdf