Anda di halaman 1dari 20

REFARAT

GANGGUAN DISTIMIA DAN SIKLOTIMIA

DISUSUN OLEH : NI NYOMAN MEILAN M. WATI

080111038

BAGIAN/SMF ILMU PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT RSU PROF. R.D. KANDOU MANADO 2012

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI . 2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ....................................................... 3 3 ....

B. Tujuan 5 BAB II PEMBAHASAN .. .. 6 A. DEFINISI .. .. 6 1. Distimia .... 6 2. Siklotimia 6 B. KRITERIA DIAGNOSIS .. 6 1. Distimia .... 6 2. Siklotimia .. 8 C. ETIOLOGI DISTIMIA DAN SIKLOTIMIA . 8 D. GAMBARAN KLINIS . . 10 1. Distimia 10 2. Siklotimia . 11 E. TERAPI .. 12 1. Distimia .... 12 2. Siklotimia ..... 15 BAB III PENUTUP . .. 18 DAFTAR PUSTAKA . 19

BAB I PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG
Sehat adalah suatu keadaan yang sejahtera secara menyeluruh baik fisik,

mental dan juga sosial dan tidak hanya bebas dari suatu penyakit atau kelemahan. Apabila mental terganggu, maka individu tersebut dapat dikatakan sakit. Begitu pentingnya kesehatan mental terhadap konsep sehat itu sendiri. Kesehatan mental atau jiwa menurut UU No.3/1961 adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. Seseorang yang memiliki mental atau jiwa yang sehat berarti mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta memiliki sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain (Menkes 2005). Ketika hal-hal tersebut tidak dapat lagi dilakukan maka individu itu dapat dikatakan mengalami gangguan mental. Konsep gangguan jiwa dari DSM IV yang tercantum dalam buku PPDGJ III adalah adanya gejala klonis yang bermakna baik perilaku maupun psikologik yang dapat menimbulkan penderitaan (distress) serta disabilitas (disability). Buku PPDGJ III mengelompokan diagnosis gangguan jiwa ke dalam 100 kategori diagnosis salah satunya adalah gangguan suasana perasaan (mood/affektif) termasuk di dalamnya gangguan distimik dan gangguan siklotimik. Gangguan suasana perasaan (mood/affek disorder) merupakan hal yang umum dan lazim. Gangguan ini terbanyak ditemukan baik di pelayanan kesehatan mental maupun dalam praktek dokter medis umum. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa, diperkirakan 9-26% wanita dan 512% pria pernah mengalami depresi yang gawat didalam kehidupan mereka. Gangguan suasana perasaan itu sendiri didefinisikan sebagai perubahan suasana perasaan (mood) atau afek biasanya kea rah depresi dengan atau tanpa ansietas yang menyertainya atau ke ararh elasi (suasana perasaan yang meningkat). Apabila perubahan ini terjadi secara bergantian maka disebut unipolar, sedangkan apabila terjadi secara bersamaan

disebut bipolar. Perubahan afek ini biasanya disertai dengan suatu perubahan pada keseluruhan tingkatan aktivitas. Pengelompokan diagnosis gangguan perasaan (mood/affektif) terdiri dari : episode manik, gangguan affektif bipolar, episode depresif, gangguan depresi berulang, gangguan suasana perasaan (mood/affektif) menetap, ganguan suasana perasaan (mood/affektif) lainnya dan gangguan suasana perasaan (mood/affektif) yang tidak tergolongkan. Gangguan distimia dan siklotomia masuk dalam kelompok diagnosis gangguan suasana perasaan (mood/affektif) menetap. Pada penelitian komunitas yang dilakukan di New Haven, Baltimore, dan St. Louis pada tahun 1980 sampai 1982 didapatkan angka prevalensi enam bulan terbanyak dengan nomor urut satu sampai empat pada usia 65 tahun ke atas sebagai berikut : perempuan usia lanjut lebih banyak mengalami fobia, gangguan kognitif berat, distimia, dan depresi berat tanpa berkabung, sedangkan pada lakilaki usia lanjut lebih banyak mengalami gangguan kognitif berat, fobia, penyalahgunaan atau ketergantungan alkohol dan distimia. Perempuan usia 45-64 tahun lebih banyak mengalami fobia, distimia, depresi berat dan obsesif kompulsif, sedangkan laki-laki berumur 45-64 tahun lebih banyak mengalami penyalahgunaan atau ketergantungan alkohol, fobia, distimia, depresi berat (Myers dan kawan-kawan 1984). Gangguan afektif lebih banyak mengenai perempuan usia lanjut daripada laki-laki, sedangkan penyalahgunaan atau ketergantungan alkohol lebih banyak pada laki-laki usia lanjut daripada perempuan. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gannguan suasana perasaan antara lain faktor biologi termasuk didalamnya faktor genetik. Menurut penelitian, anak dari pasien bipolar kemungkin 18 kali lebih besar terkena gangguan suasana perasaan. Selain itu faktor biologis lainnya yang menjadi penyebab adalah neurotransmitter, endokrin, ritme tidur, dan aktifitas otak. Faktor psikologis dan faktor sosial juga dapat mempengaruhi angka kejadian terjadinya gangguan suasana perasaan seseorang.

B.

TUJUAN 1. Tujuan Umum Untuk memenuhi salah satu syarat dalam mengikuti program studi kepanitraan klinik madya di RSUP Prof. Dr. RD Kandou khususnya bagian psikiatri 2. Tujuan Khusus Untuk mengetahui dan memahami gangguan suasana perasaan (mood/afektif) khususnya gangguan distimia dan siklotimia

BAB II PEMBAHASAN

A. DEFINISI 1. DISTIMIA
Distimia atau gangguan distimik adalah suatu kondisi kronis yang ditandai dengan gejala depresi yang terjadi hampir sepanjang hari, lebih banyak hari daripada tidak, setidaknya selama 2 tahun (menurut kamus kesehatan). Gangguan distimik merupakan suatu gangguan kronis yang ditandai oleh adanya mood yang terdepresi (atau mudah marah pada anak-anak dan remaja) yang berlangsung hampir sepanjang hari dan ditemukan pada sebagian besar hari. Istilah distimia yang berarti humor yang buruk diperkenalkan pada tahun 1980 dan diganti menjadi gangguan distimik di dalam DSM-IV.

2. SIKLOTIMIA
Dalam DSM-IV, gangguan siklotimik dibedakan dari gangguan bipolar II, yang ditandai oleh adanya episode depresif berat dan episode hipomanik. Seperti gangguan distimik, kategorisasi gangguan siklotimik dengan gangguan mood menyatakan adanya hubungan, kemungkinan biologis, dengan gangguan bipolar I. Gangguan siklotimik merupakan gangguan yang lebih ringan dimana periode depresi dan kegembiraan tidak terlalu berat, berlangsung hanya beberapa hari, dan kambuh dalm selang waktu yang tidak beraturan. Pada akhirnya gangguan siklotimik berkembang menjadi gangguan manik-depresfif bukan mania maupun depresi.

B. KRITERIA DIAGNOSIS 1. DISTIMIA


a. Mood terdepresi untuk sebagian besar hari, lebih banyak hari dibandingkan tidak, seperti yang ditunjukkan keterangan subjektif atau pengalaman orang lain, sekurangnya 2 tahun. Catatan: pada anak-anak dan
6

remaja, mood dapat mudah tersinggung dan lama harus sekurangnya 1 tahun. b. Adanya saat terdepresi dua (atau lebih) berikut: (1) Nafsu makan yang buruk atau berlebihan (2) Insomnia atau hipersomnia (3) Energi lemah atau lelah (4) Harga diri yang rendah (5) Konsentrasi buruk atau sulit mengambil keputusan (6) Perasaan putus asa c. Selama periode 2 tahun (1 tahun untuk anak-anak atau remaja) gangguan, orang tidak pernah tanpa gejala dalam kriteria A dan B selama lebih dari 2 bulan suatu waktu. d. Tidak pernah ada episode depresif berat selama 2 tahun pertama gangguan (1 tahun untuk anak-anak dan remaja), yaitu gangguan tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan depresif berat kronis, atau gangguan depresif berat, dalam remisi parsial. Catatan: mungkin terdapat episode depresif berat sebelumnya asalkan terdapat remisi lengkap (tidak ada tanda atau gejala bermakna selama 2 bulan) sebelum perkembangan distimik. Di samping itu setelah 2 tahun awal dari gangguan distimik mungkin terdapat episode gangguan depresif berat yang menumpang pada kasus tersebut, kedua diagnosis dapat diberikan jika memnuhi kriteria untuk episode depresif berat. e. Tidak pernah terdapat episode manik, episode campuran, atau episode hipomanik, dan tidak pernah memenuhi kriteria untuk gangguan siklotimik. f. Gangguan tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan psikotik kronis, seperti skizofrenia atau gangguan delusional. g. Gejala tidak merupakan efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum. h. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.

2. SIKLOTIMIA
a. Selama sekurangnya 2 tahun, adanya banyak episode dengan gejala hipomanik dan banyak periode dengan gejala depresif yang tidak memenuhi kriteria untuk episode depresif berat. b. Selama periode 2 tahun di atas, orang tidak pernah tanpa gejala dalam kriteria A selama lebih dari 2 bulan. c. Tidak ada episode depresif berat, episode manik, atau episode campuran yang ditemukan selama 2 tahun pertama gangguan. Catatan: setelah 2 tahun pertama dari gangguan siklotimik, mungkin terdapat episode manik atau campuran yang menumpang atau episode depresif berat. d. Gejala dalam kriteria A tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan skizoafektif dan tidak menumpang pada skizofrenia, gangguan

skizofreniform, gangguan delusional, atau gangguan psikotik yang tidak ditentukan. e. Gejala bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum. f. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.

C. ETIOLOGI DISTIMIA DAN SIKLOTIMIA


Penyebab pasti seseorang bisa menderita gangguan distimia dan siklotimia belum diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya distimia dan siklotimia yang merupakan faktorfaktor yang juga menyebabkan gangguan suasana perasaan pada umumnya yaitu : 1. Faktor biologis : Dari penelitian yang ada didapatkan hipotesis bahwa gangguan mood adalah berhubungan dengan disregulasi heterogen pada amin biogenik. Dimana terjadi kelainan di dalam metabolit amin biogenik-seperti 5-hydroxyindoleacetic acid (5-HIAA), homovanillic acid (HVA), dan 3-methoxy-4-hydroxyphenylglycol (MHPG)- di dalam darah, urine, dan cairan serebrospinalis pada pasien dengan gangguan mood.

Norepinefrin dan serotonin dari amin biogenik merupakan dua transmitter yang paling berperan dalam patofisiologi mood. Norepinephrine terkait dengan gangguan bipolar dimana tingkat norephinephrine yang rendah menyebabkan depresi dan tingkat yang tinggi menyebabkan mania. Sedangkan untuk serotonin, tingkatnya yang rendah juga menyebabkan depresi. 2. Faktor genetik : dari data penelitian pada faktor genetik dinyatakan bahwa perkembangan gangguan mood sangat dipengaruhi oleh genetik. Peran dari faktor genetik pada bipolar lebih besar dari depresi. Penelitian yang dilakukan dalam keluarga, apabila satu orang dari orang tua penderita gangguan mood memiliki gangguan mood maka anak mereka memiliki faktor resiko 50%. Contoh lain pada anak kembar monozigotik, presentasi untuk bipolar sekitar 33%-90% sedangkan pada depresi memiliki presentasi sekitar 50%, tetapi untuk anak kembar dizigotik memiliki presentasi hanya 25%. Pola penurunan genetika adalah jelas melalui mekanisme yang kompleks bukan saja tidak mungkin menyingkirkan efek psikososial, tetapi faktor non genetik memungkinkan memainkan peranan kausatif dalam perkembangan gangguan mood sekurangnya pada beberapa orang. 3. Faktor Psikososial : Satu pengamatan klinis lama yang telah direplikasi adalah bahwa peristiwa kehidupan yang menyebabkan stress lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood daripada episode

selanjutnya. peristiwa kehidupan sangatlah memainkan peran dalam gangguan mood terutama depresi. Seperti adanya penelitian anak yang kehilangan orang tuanya pada saat mereka berusia kurang dari 11 tahun atau kehilangan pasangan merupakan stressor terbesar pada gangguan mood terutama depresi. Satu teori yang diajukan untuk menjelaskan pengamatan tersebut adalah bahwa stres yang menyertai episode pertama menyebabkan perubahan biologi otak yang bertahan lama. Perubahan bertahan lama tersebut dapat menyebabkan perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmiter dan sistem pemberi signal intraneuronal. Hasil akhirnya dari perubahan tersebut adalah menyebabkan seseorang berada

pada resiko yang lebih tinggi untuk menderita episode gangguan mood selanjutnya, bahkan tanpa adanya stresor eksternal. Tidak ada sifat atau tipe kepribadian tunggal yang secara unik mempredisposisikan seseorang kepada depresi. Semua manusia apapun pola kepribadiannya, dapat dan memang menjadi depresi dalam keadaan yang tepat; tetapi, tipe kepribadian tertentu -dependen-oral, obsesif-kompulsif, histeris- mungkin berada dalam resiko yang lebih besar untuk mengalami depresi daripada tipe kepribadian antisosial, paranoid, dan lainnya yang menggunakan proyeksi dan mekanisme pertahanan mengeksternalisasikan lainnya.

D. GAMBARAN KLINIS 1. DISTIMIA


Gangguan distimik merupakan suatu gangguan kronis yang ditandai bukan saja oleh episode penyakit, tetapi, malahan oleh adanya gejala secara menetap. Gejalanya serupa dengan gejala gangguan depresif berat, dan adanya mood terdepresi-ditandai oleh adanya perasaan muram, murung, kesedihan, atau berkurangnya dan tidak ada minat pada aktivitas pasien biasanya- adalah pusat dari gangguan. Keparahan gejala depresif dalam gangguan distimik biasanya lebih kecil daripada gangguan depresif berat, tetapi tidak adanya episode yang terpisah adalah hal yang paling mengarahkan pada diagnosis gangguan distimik. Pasien dengan gangguan distimik kadang-kadang dapat sarkastik, nihilistik, memikirkan hal yang sedih, membutuhkan, dan mengeluh. Mereka dapat juga tegang dan kaku dan menolak intervensi terapeutik, kendatipun mereka datang secara teratur pada perjanjian. Menurut definisinya, pasien gangguan distimik tidak memiliki adanya gejala psikotik Gejala penyerta adalah perubahan nafsu makan dan pola tidur, harga diri yang rendah, hilangnya energi, retardasi psikomotor, penurunan dorongan seksual, dan preokupasi obsesif dengan masalah kesehatan. Pesimisme, keputusasaan, dan ketidakberdayaan dapat menyebabkan pasien gangguan distimik terlihat sebagai masokistik. Tetapi, jika pesimisme diarahkan keluar, pasien dapat bersikap kasar terhadap dunia

10

dan mengeluh bahwa mereka telah diperlakukan buruk oleh sanak saudaranya, anak-anak, orang tua, dan teman sejawat. Gangguan di dalam fungsi sosial kadang-kadang merupakan alasan mengapa pasien dengan gangguan distimik mencari pengobatan.

2. SIKLOTIMIA
Gejala gangguan siklotimik adalah identik dengan gejala yang ditemukan pada pada gangguan bipolar I tetapi biasanya kurang parah.
Kadang-kadang gejala mungkin sama dalam keparahannya tetapi dengan

durasi yang lebih singkat daripada yang terlihat pada gangguan bipolar I. kira-kira setengah dari semua pasien gangguan siklotimik mengalami depresi sebagai gejala utamanya. Gejala klinis pada gangguan bipolar adalah episode manik dan depresi. Gambaran klinis dari episode manik : Rasa harga diri yang tinggi secara berlebihan. Ia merasa dirinya paling hebat dan dapat melakukan apa saja. Selalu gembira secara berlebihan Gangguan tidur. Pasien biasanaya hanya butuk waktu 3-4 jam untuk tidur tapi tidak merasa kelelahan. Bicara cepat, kata-kata dan idenya banyak secara berlebihan. Perhatian gampang teralih Aktivitasnya berlebihan Nafsu seksual yang meninggi Sedangkan gambaran klinis episode depresif sebagai berikut : Perasaan murung atau sedih Mudah menangis Minat dan kegembiraan hilang Kelelahan Nafsu makan terganggu Gangguan tidur (insomnia/hipersomnia) Putus asa Pesimis Sulit konsentrasi

11

Merasa bersalah Sering berpikir untuk bunuh diri.

E. TERAPI 1. DISTIMIA
Kombinasi farmakoterapi dan terapi kognitif maupun perilaku mungkin merupakan pengobatan yang paling efektif untuk gangguan distimik. Terapi tersebut antara lain : a. Terapi kognitif Terapi Kognitif adalah suatu teknik dimana pasien diajarkan cara berpikir dan berkelakukan yang baru untuk manggantikan sikap negatif yang salah terhadap dirinya sendiri, dunia dan masa depan. Terapi ini merupakan program terapi jangka pendek yang diarahkan pada masalah saat ini dan pemecahannya. b. Terapi perilaku Terapi perilaku untuk gangguan depresif didasarkan pada teori bahwa depresi disebabkan oleh hilangnya pendorong positif sebagai akibat perpisahan, kematian, atau perubahan lingkungan yang tiba-tiba. Berbagai metode pengobatan berpusat pada tujuan spesifik untuk meningkatkan aktivitas, untuk mendapatkan pengalaman

menyenangkan dan untuk mengajarkan pasien bagaimana cara bersantai. Mengganti perilaku pribadi pasien terdepresi dipercaya merupakan cara paling efektif untuk mengubah pikiran dan perasaan depresi yang menyertai. Terapi ini seringkali digunakan untuk mengobati keputusasaan yang dipelajari pada beberapa pasien yang tampaknya menghadapi setiap tantangan kehidupan dengan rasa ketidakmampuan. c. Psikoterapi berorientasi tilikan (Psikoanalitik) Pendekatan psikoterapeutik berusaha untuk menghubungkan

perkembangan dan pemeliharaan gejala depresif dan ciri kepribadian maladaptif dengan konflik yang tidak terpecahkan pada masa anakanak awal. Tilikan ke dalam ekivalen depresi (seperti penyalahgunaan

12

zat) atau ke dalam kekecewaan masa anak-anak sebagai pendahulu terhadap depresi dewasa dapat digali melalui terapi. Hubungan sekarang yang ambivalen dengan orang tua, teman, dan orang lain di dalam kehidupan pasien sekarng ini diperiksa. Gangguan distimik melibatkan suatu keadaan depresi kronis yang menjadi cara hidup orang tertentu. Mereka secara sadar mengalami dirinya sendiri berada di dalam belas kasihan dari objek internal yang menyengsarakan yang tidak henti-hentinya menyiksa mereka. d. Terapi interpersonal Di dalam terapi interpersonal untuk gangguan distimik, pengalaman interpersonal pasien sekarang ini dan cara mereka mengatasi stres dinilai untuk menurunkan gejala depresif dan menigkatkan harga diri. Terapi interpersonal terdiri kira-kira 12-16 sesi mingguan dan dapat dikombinasi dengan medikasi antidepresan. e. Terapi keluarga dan kelompok Terapi keluarga dapat membantu pasien dan keluarganya untuk menghadapi gejala gangguan, khususnya jika sindrom subafektif yang didasarkan secara biologis tampaknya akan timbul. Terapi kelompok dapat membantu pasien yang menarik diri untuk mempelajari cara baru mengatasi masalah interpersonalnya di dalam situasi sosial. f. Farmakoterapi Antidepresan dibutuhkan untuk mengatasi gangguan vegetatif yang sering dialami oleh penderita distimik, seperti gangguan tidur, rasa lelah, anhedonia dan rasa nyeri. Respon pengobatan dengan dengan antidepresan sebesar 55 persen. Dari beberapa pelaporan diperoleh bahwa SSRIs, trisiklik antidepresan dan monoamin oksidase inhibitor sama efektif, tetapi diantara obat tersebut SSRIs yang dapat

ditoleransi lebih baik. Penggunaan antidepresan harus memperhatikan efek samping yang ditimbulkan karena obat digunakan dalam jangka panjang. Pasien usia lanjut dan anak dengan riwayat gangguan perhatian dapat diberikan psikostimulan seperti amfetamin dan

13

metilfenidat. Hal-hal yang diperhatikan dalam pemilihan antidepresan adalah: Efek samping yang harus dihindari oleh individu tersebut Individu sebelumnya Apabila obat tersebut memiliki efektivitas yang baik bagi anggota keluarga lainnya yang memiliki gejala yang sama. Penggunaan antidepresan harus berhati-hati untuk pasien dengan gangguan distimik dengan komorbiditas gangguan kecemasan, karena dosis awal yang terlalu tinggi atau peningkatan dosis yang terlalu cepat akan memberikan efek samping yang akan mempengaruhi kepatuhan dalam berobat. Antidepresan golongan SSRIs yang seringkali diberikan adalah fuoxetin dengan dosis awal 20 mg (untuk orang dewasa), sekali sehari, yang diberikan pada saat pagi hari. Dosis dapat ditingkatkan perlahan dalam beberapa minggu sebesar 20 mg dengan dosis maksimal 80mg/hari. Selain itu dapat juga diberikan sertralin dengan dosis awal 50 mg (untuk orang dewasa), sekali sehari, yang diberikan pada saat pagi hari, dan dosis dapat ditingkatkan dalam beberapa minggu sebesar 50 mg, dengan dosis maksimal 200mg/hari. Antidepresan diberikan dengan waktu yang tidak terbatas, namun dosis dapat diturunkan sesuai dengan evaluasi perbaikan gejala. Namun obat tidak boleh diturunkan terlebih dahulu sampai 6 bulan stelah gejala membaik. Selain psikoterapi dan farmakoterapi, kegiatan olahraga juga dapat memperbaiki gejala. Pasien disarankan berolahraga sebanyak 34 kali seminggu. Olahraga yang digunakan adalah bersifat aerobik. memiliki riwayat penggunaan antidepresan

14

2. SIKLOTIMIA
Terapi pada gangguan bipolar ini adalah secara farmakoterapi dan psikoterapi 1. Farmakoterapi Medikasi yang diberikan sesuai dengan keadaan episode bipolar (manik atau depresi). Maka itu, beberapa obat diindikasikan untuk episode akut manik, terutama antipsikotik, valproat, dan

benzodiazepine(contoh: lorazepam, clonazepam). Pilihan dari obat tersebut tergantung dari gejala yang ada seperti gejala psikosis, agitasi, agresif, dan gangguan tidur. Antipsikotik atipikal digunakan untuk pengobatan mania akut dan untuk menstabilkan mood. Antidepresi spektrum luas dan ECT (Elecro Convulsive Therapy) digunakan untuk episode depresi akut (contoh: depresi mayor). a. Mood Stabilizing Medications (Medikasi Penstabil Mood) biasanya merupakan terapi lini pertama. Umumnya, pasien dengan gangguan bipolar melanjutkan terapi ini selama beberapa tahun. (1) Lithium sangat efektif mengontrol gejala mania dan mencegah rekuren episode mania dan depresi. (2) Asam valproat atau divalproex (Depakote), juga sama efektifnya dengan lithium. Asam valproat dan antikonvulsan lainnya dapat meningkatkan risiko pikiran bunuh diri. Pasien yang mengkonsumsi obat antikonvulsan harus diawasi dan mereka tidak diperbolehkan mengganti dosis tanpa konsultasi dengan dokternya. b. Atipikal antipsikotik kadang-kadang diberikan juga. (1) Olanzapine, jika diberikan bersama dengan antidepresan dapat meringankan gejala mania yang parah atau psikosis. Namun beberapa studi menyebutkan bahwa medikasi olanzapine dapat meningkatkan berat badan dan meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung. (2) Aripiprazole (3) Quetiapine (Seroquel) (4) Risperidone (Risperdal)

15

c. Antidepresan juga kadang-kadang diberikan untuk mengatasi gejala depresi pada gangguan bipolar. Baru-baru ini, studi yang didanai oleh NIMH menunjukkan bahwa penambahan antidepresan dengan mood stabilizer tidak lebih efektif dibandingkan dengan hanya memberikan antidepresan. 2. Psikoterapi Penatalaksanaan pasien dengan gangguan bipolar termasuk edukasi pasien saat awal dan terus menerus. Edukasi tidak hanya ditujukan kepada pasien, tetapi juga keluarga mereka. Tidak hanya untuk mengatasi saat gejala muncul, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. a. Terapi kognitif (Cognitive Behavioral Therapy) Untuk menghilangkan episode depresif dan mencegah rekurennya dengan membantu pasien mengidentifikasi dan uji kognitif negatif, mengembangkan cara berfikir alternatif, fleksibel dan positif, juga melatih kembali respon kognitif dan pikiran yang baru. b. Terapi interpersonal Memusatkan pada satu atau dua masalah interpersonal pasien yang sedang dialaminya sekarang. c. Terapi perilaku Dengan memusatkan pada perilaku mal adaptif di dalam terapi, pasien belajar untuk berfungsi di dunia dengan cara tertentu dimana mereka mendapat dorongan positif dari lingkungan. d. Terapi berorientasi psikoanalitik Pendekatan psikoanalitik didasarkan pada depresi dan mania. Tujuannya adalah untuk mendapatkan perubahan pada struktur atau karakter kepribadian pasien, bukan untuk hilangkan gejala. e. Terapi keluarga Diindikasikan jika gangguan membahayakan perkawinan atau fungsi keluarga pasien. 3. Terapi Lain

16

a. ECT (Electro Convulsive Therapy) dapat meringankan gangguan bipolar yang parah, yang tidak dapat diatasi dengan terapi lainnya. ECT sangat efektif untuk depresi yang parah, manik, atau episode campuran, tetapi bukan terapi lini pertama. b. Medikasi Tidur. Pasien dengan gangguan bipolar biasanya tidur lebih baik setelah mendapat terapi gangguan bipolar. Tetapi jika masalah tidur ini tetap ada, dokter dapat meresepkan sedatif atau obat tidur lainnya.

17

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN
Gangguan afektif merupakan sekelompok penyakit yang bervariasi beratnya. Gejala utamanya adalah perubahan mood yang secara periodik berganti-gantian antara manik dan depresi, biasanya diikuti oleh gejala-gejala yang khas. Mood adalah pengalaman emosional individu yang bersifat menyebar, kondisi perasaan yang terus ada yang mewarnai kehidupan psikologis kita. Perasaan sedih atau depresi bukanlah hal yang abnormal dalam konteks peristiwa atau situasi yang penuh tekanan. Namun orang dengan Gangguan Mood (Mood Disorder) mengalami gangguan mood yang sangat parah atau berlangsung sangat lama dan mengganggu kemamapuan mereka untuk berfungsi dalam memenuhi tanggung jawab secara normal. Faktor penyebab gangguan yang berperan penting adalah gangguan biologis, faktor genetika, dan psikososial. Gangguan mood adalah suatu kelompok kondisi klinis yang ditandai oleh hilangnya perasaan kendali dan pengalaman subjektif adanya penderitaan berat. Gangguan mood terdiri dari episode yang mendasari gangguan tersebut, yaitu episdoe depresi, manik, campuran, dan hipomanik. Gangguan distimik adalah bila terdapat episode depresi hampir setiap hari dalam kurun waktu 2 tahun. Pada pasien distimik tidak ditemukan adanya gejala psikotik. Pasien dengan gangguan distimik memiliki gejala mirip dengan gangguan depresi mayor namun lebih banyak gejala yang bersifat subjektif. Dan dikatakan gangguan siklotimik apabila selama sekurangnya 2 tahun, adanya banyak episode dengan gejala hipomanik dan banyak periode dengan gejala depresif yang tidak memenuhi kriteria untuk episode depresif berat.

18

DAFTAR PUSTAKA

1. Bridget F. Grant, Frederick S. Stinson, et al. Prevalence and Cooccurrence of Substance Use Disorders and Independent Mood and Anxiety Disorders. Results From the National Epidemiologic Survey on Alcohol and Related Conditions. (Arch Gen Psychiatry. 2004;61:807-816). 2. Elizabeth P. Hayden, B.A, Daniel N. Klein, Ph.D. Outcome of Dysthymic Disorder at 5-Year Follow-Up:The Effect of Familial Psychopathology, Early Adversity, Personality, Comorbidity, and Chronic Stress. (Am J Psychiatry 2001; 158:18641870). 3. Suryani Luh Ketut. Aspek Demografik dan Epidemiologik Pada Usia Lanjut : Tinjauan Psikiatri. Denpasar. 1990 4. Daniel N. Klein, Joseph E. Schwartz, et al. Five-Year Course and Outcome of Dysthymic Disorder: A Prospective, Naturalistic Follow-Up Study. (Am J Psychiatry 2000; 157:931939). 5. Daniel N. Klein, Stewart A. Shankman, Family Study of Chronic Depression in a Community Sample of Young Adults. (Am J Psychiatry 2004; 161:646653). 6. Anna Van Meter, Eric A. Youngstrom, Christine Demeter, Robert L. Findling. Examining the Validity of Cyclothymic Disorder in a Youth. Sample: Replication and Extension. J Abnorm Child Psychol 2012. 7. Ellen Leibenluft, M.D. Severe Mood Dysregulation, Irritability, and the Diagnostic Boundaries of Bipolar Disorder in Youths. (Am J Psychiatry 2011; 168:129142) 8. Robert Kohn, Shekhar Saxena, Itzhak Levav, Benedetto Saraceno. The treatment gap in mental health care. Bulletin of the World Health Organization 2004;82:858-866. 9. John W. Williams, James Barret, et al. Treatment of Dysthymia and Minor Depression in Primary Care. Jama 2000; Vol 284. 10. Arun V. Ravindran, Hymie Anisman, et al. Treatment of Primary Dysthymia With Group Cognitive Therapy and Pharmacotherapy : Clinical Symptoms and Functional Impairments. (Am J Psychiatry 1999; 156:16081617).

19

11. WHO. The ICD-10 Classification of Mental and Behavioural Disorders. Clinical descriptions and diagnostic guidelines. 12. Andri. Tatalaksana Psikofarmaka dalam Manajemen Gejala PsikosisPenderita Usia Lanjut. Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 9, September 2009 13. Anonymous. Gangguan Distimia dan Siklotimia. Available from : URL., http://www.scribd.com/doc/61884855/gangguandistimia&siklotimia. [diakses 3 Desember 2012] 14. Anonymous. Mood Disorder. Available from ; URL., http://www.scribd.com/doc/88999265/mood-disorder.[diakses 3 Desember 2012] 15. Anonymous. Gangguan Afektif. Available from : URL., http://www.scribd.com/doc/97419580/gangguan-afektif. [diakses 4 Desember 2012]

20