Anda di halaman 1dari 36

PROFIL DIARE BERDARAH DI BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK BLU.RSUP. PROF.DR.R.D.

KANDOU MANADO PERIODE 2008-2011

SKRIPSI

Disusun oleh

RONY HAKIM 070111181

Dosen Pembimbing

dr. Jeanette. I. Ch. Manoppo, Sp. A (K) Prof. dr. Max. F. J. Mantik, Sp. A (K)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO 2012

PROFIL DIARE BERDARAH DI BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK BLU.RSUP. PROF.DR.R.D. KANDOU MANADO PERIODE 2008-2011

SKRIPSI

Disusun oleh

RONY HAKIM 070111181

Dosen Pembimbing

dr. Jeanette. I. Ch. Manoppo, Sp. A (K) Prof. dr. Max. F. J. Mantik, Sp. A (K)

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO 2012

PROFIL DIARE BERDARAH DI BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK BLU.RSUP. PROF.DR.R.D. KANDOU MANADO PERIODE 2008-2011

Skripsi ini telah dibacakan dan disetujui pada Ujian Skripsi tanggal 03 Februari 2012

dr. Jeanette. I. Ch. Manoppo, Sp. A (K)

Dosen Pembimbing I

Prof. dr. Max. F. J. Mantik, Sp. A (K)

Dosen Pembimbing II

Prof. dr. Max. F. J. Mantik, Sp. A (K)

Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Anak

Prof. Dr. dr. S. M. Warouw, SpA(K)

Dekan

LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISM

Skripsi dengan judul, PROFIL DIARE BERDARAH DIBAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK BLU. RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 2008-2011

Adalah memang benar hasil karya, Nama NRI : Rony Hakim : 070111181

Mahasiswa semester 7 (tujuh) di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado dan semua bacaan, baik yang dikutip maupun yang dirujuk di dalamnya telah dinyatakan benar.

Manado, 21 Maret 2012 Penulis

Rony Hakim 070 111 181

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI Sebagai civitas akademik Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado, saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama NRI Program Studi Fakultas Jenis Karya : Rony Hakim : 070 111 181 : Pendidikan Dokter : Kedokteran : Skripsi

Demi Pengembangan ilmu pengetahuan, setuju untuk memberikan kepada Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Hak Bebas Royalti Nonekslusif (Nonexsclusive Royalty Free Right) atas skripsi saya yang berjudul: PROFIL DIARE BERDARAH DIBAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK BLU. RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 2008-2011 Dengan Hak Royalti Nonekslusif ini Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi berhak menyimpan, mengalih media/format, mengelola dalam bentuk pangkalan data, merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik hak cipta. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, agar dapat digunakan dengan baik dan benar, sebagaimana semestinya.

Manado, 21 Maret 2012 Penulis,

Rony Hakim 070 111 181

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah wa Syukrillah saya ucapkan atas segala nikmat, rahmat, hidayah dan inayah yang diberikan Allah SWT sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi guna memenuhi salah satu persyaratan gelar Sarjana Kedokteran di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP.Prof.Dr.R.D.Kandou dengan judul :

PROFIL DIARE BERDARAH DI BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK BLU. RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 2008-2011

Penulisan Skripsi ini adalah untuk memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Prof. Dr. dr. S. M. Warouw, Sp.A(K) sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado beserta para pembantu dekan.
Prof. dr. Max Mantik, Sp.A (K) sebagai Kepala Bagian Ilmu Kesehatan

Anak RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado dan sekaligus menjadi Dosen Pembimbing II yang telah memberikan waktu dan tenaga, serta bimbingan yang mengarahkan penulis mulai dari persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian hingga penyelesaian skripsi ini,

dr. Jeanette. I.Ch. Manoppo, Sp.A (K) sebagai Dosen Pembimbing I yang

telah memberikan waktu dan tenaga, serta bimbingan yang mengarahkan penulis mulai dari persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian hingga penyelesaian skripsi ini,
dr. Audrey Wahani, Sp.A (K) dan dr. BJ Waleleng, Sp.PD sebagai dosen

Penguji yang telah memberikan saran, koreksi dan penilaian terhadap skripsi ini. Dr. A.J.M. Rattu, MS, Phd. selaku dosen pembimbing akademik atas bimbingan dan arahan kepada penulis selama masa perkuliahan.
Seluruh

staf

di

Bagian/SMF

Ilmu

Kesehatan

Anak

RSUP.Prof.Dr.R.D.Kandou.
Papa dan Mama serta kakak-adik tercinta, Rahmat Jufri Hidayat, Rudy

Hakim tercinta, yang tak pernah berhenti memberikan kasih sayang, dukungan, semangat dan mendoakan penulis selama ini. Teman-teman seperjuangan dalam penelitian ini : Oman, Rify, Thomas dan Livi yang telah berbagi suka dan duka, memberikan bantuan dan semangat selama penyusunan skripsi ini beserta teman-teman

seperjuangan skripsi di Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Teman-teman KKN-T angkatan ke-94 posko 58 yang telah memberikan toleransi kepada penulis.
Senior-seniorita yang telah membantu dan menjadi inspirasi penulisan

skripsi ini khususnya dr.Taufik, dr.Fikri Suadu, dr.Lince Lasena, Delvin Darisse,S.Ked.

Teman-teman angkatan 2007 Fakultas Kedokteran Universitas Sam

Ratulangi Manado yang telah menjadi inspirasi dan motivasi penulis selama ini khusunya Fitrah, Ichal, Atho, Ayu, Hendra, Rio. Penulis menyadari dalam penyelesaian Skripsi Sarjana Kedokteran ini masih terdapat banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik, saran yang bersifat membangun sangat diharapkan dari pembaca sekalian. Semoga skripsi ini dapat berguna untuk ilmu pengetahuan dan penelitian yang berkaitan dengan skripsi ini. Manado, 21 Maret 2012

Penulis

Abstrak

Latar belakang. Diare berdarah merupakan suatu keadaan berbahaya dimana terdapat darah dalam tinja yang cair. Darah tersebut dapat berasal dari sepanjang traktus gastrointestinal. Diare yang berdarah adalah masalah umum pada anakanak. Sangat penting untuk membedakan diare berdarah dari penyebab lain pendarahan usus. Infeksi bakteri dan infestasi parasit yang bertanggung jawab untuk sebagian besar kasus diare berdarah. Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitas-nya yang masih tinggi. Metode. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian dekriptif-retrospektif. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui profil diare berdarah di Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak RSU Prof Dr.R.D. Kandou periode tahun 2008- 2011 dan untuk mengetahui jenis kelamin, kelompok umur, dan pola hasil pemeriksaan laboratorium pada kasus diare berdarah. Data berasal dari status penderita, buku register, di bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado. Sampel penelitian adalah Semua penderita baru yang berobat di Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak RSU Prof. Dr.R.D.Kandou Manado yang terdiagnosa sebagai diare berdarah, mulai dari tahun 2008-2011. Hasil. Enam puluh satu pasien telah terdiagnosa sebagai diare berdarah selama periode 2008-2011. Golongan umur 1 bulan- <1 tahun adalah yang paling banyak menjadi pasien diare berdarah dengan 22 kasus (36,1%). Pasien laki-laki lebih banyak menderita diare berdarah dengan 37 pasien sedangkan perempuan dengan 24 pasien. Didapatkan data penderita diare berdarah tanpa dehidrasi adalah yang paling banyak dengan jumlah 46 pasien (75,4%). Pasien diare berdarah dengan status gizi kurang yang paling banyak dengan jumlah 30 orang (49,2%). Hasil pemeriksaan feses yang menunjukkan positif bakteri sebanyak 48 kasus (78,7%). Berdasarkan hasil pemeriksaan darah ditemukan nilai hemoglobin dibawah normal terdapat 41 kasus (67,2 %). Pada pemeriksaan leukosit pada feses ditemukan kelompok yang memiliki hasil pemeriksaan lebih dari 2 leukosit/LPB sebanyak 39 kasus dengan presentase 64,3%. Berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis feses ditemukan kelompok yang memiliki hasil pemeriksaan >2 eritrosit/LPB sebanyak 40 kasus dengan presentase 65,6%. Kata kunci : Diare berdarah, Gastrointestinal,Pemeriksaan Laboratorium.

Abstract

Background. Bloody diarrhea is a dangerous situation where there is blood in the stool is liquid. The blood may come from throughout the gastrointestinal tract. Bloody diarrhea is a common problem in children. It's important to differentiate from other causes of bloody diarrhea intestinal bleeding. Bacterial infections and parasitic infestations are responsible for most cases of bloody diarrhea. Diarrheal disease remains a public health problem in developing countries such as Indonesia, because of its morbidity and mortality are still high. Method. This study is a retrospective stud. The purpose of this study is to know the profile of bloody diarrhea in Section / SMF of Pediatrics RSU Prof Dr.RD Kandou the period 2008 - 2011 and to know the sex, age group, and the pattern of laboratory test results in cases of bloody diarrhea. Data derived from the patient status, register book, in the department of Pediatrics Prof.Dr.RDKandou Manado. The samples are all new patients at the Section / SMF of Pediatrics RSU Prof. Manado Dr.RD Kandou diagnosed as bloody diarrhea, during period 2008-2011. Results. Sixty-one patients had been diagnosed as bloody diarrhea during the period 2008-2011. 1-month <1 year group of age is the most widely to patients with 22 cases of bloody diarrhea (36.1%). Male patients suffering from bloody diarrhea more of the 37 patients, while women with 24 patients. Data acquired bloody diarrhea without dehydration are the most by the number of 46 patients (75.4%). Patients with bloody diarrhea, malnutrition status with the most number of 30 persons (49.2%). The results of stool examination which showed positive bacteria as many as 48 cases (78.7%). Based on the results of blood tests found below the normal value of hemoglobin contained 41 cases (67.2%). On examination of leukocytes in the stool was found that the group has more than 2 results of leukocyte / LPB were 39 cases with a percentage of 64.3%. Based on the results of microscopic examination of stool found a group that has the results of> 2 erythrocytes / LPB as many as 40 cases with a percentage of 65.6%. Keyword : Bloody diarrhea, Gastrointestinal, Laboratorium test.

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR ................i ABSTRAK .............iv DAFTAR ISI..........................................................................................................vi DAFTAR TABEL.................................................................................................viii BAB I PENDAHULUAN A. B. C. D. Latar Belakang....................................................................................1 Rumusan Masalah...............................................................................3 Tujuan Penelitian................................................................................3 Manfaat Penelitian.............................................................................. 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Diare Berdarah....................................................................................4

A.1. Defenisi ..........................................................................4 A.2. Epidemiologi ............. 4 A.3. Etiologi............................................................................................... 5 A.4. Patofisiologi............6 A.5. Manifestasi Klinik ......... 8 A.6. Diagnosis........ 8 A.7. Penatalaksanaan..........10 A.8. Pencegahan......... 11

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. B. C. D. E. F. G. H. Jenis Penelitian................................................................................... 12 Tempat Penelitian............................................................................... 12 Waktu Penelitian.................................................................................12 Populasi dan Sampel Penelitian..........................................................12 Instrumen Penelitian........... 12 Variabel Penelitian............................................................................. 13 Defenisi Operasional.......................................................................... 13 Cara Kerja...........................................................................................14

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ..........15 Pembahasan ........... 21 BAB VI PENUTUP VI.1. Kesimpulan.........................................................................................25 VI.2. Saran................................................................................................... 26 DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 27

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Tahun Periode 2008 - 2011 ............................................................................. 15 Tabel 2. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Jenis Kelamin .......................................................................................15 Tabel 3. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Golongan Umur............ 16 Tabel 4. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Derajat Dehidrasi.............. 17 Tabel 5. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Status Gizi .......................................................................................................17 Tabel 6. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Hasil Pemeriksaan Mikroskopis Feses ............................................................................... 18 Tabel 7. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Nilai Hemoglobin .............19 Tabel 7.1 Nilai Rujukan Hemoglobin Anak ........................................ 19 Tabel 8. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Nilai Leukosit Feses..........20 Tabel 9. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Eritrosit Pada Pemeriksaan Feses........... 20

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diare berdarah merupakan suatu keadaan berbahaya dimana terdapat darah dalam tinja yang cair. Darah tersebut dapat berasal dari sepanjang traktus gastrointestinal.1 Diare yang berdarah adalah masalah umum pada anak-anak. Sangat penting untuk membedakan diare berdarah dari penyebab lain pendarahan usus. Infeksi bakteri dan infestasi parasit yang bertanggung jawab untuk sebagian besar kasus diare berdarah. Alergi susu adalah penyebab sering di bayi muda. Penyakit inflamasi usus kronis (Chronic inflammatory bowel disease) menjadi penyebab tersering pada anak-anak yang lebih tua. Penyebab pasti dapat diketahui dengan jelas setelah dilakukan anamnesis yang menyeluruh dan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang/laboratorium.2 Organisasi kesehatan dunia (WHO) mendefinisikan diare sebagai kejadian buang air besar dengan konsistensi lebih cair dari biasanya, dengan frekuensi 4 kali atau lebih selama 1 hari atau lebih. Definisi ini lebih menekankan pada konsistensi tinja daripada frekuensinya. Jika frekuensi BAB meningkat namun konsistensi tinja padat, maka tidak disebut sebagai diare. Diare menyerang anak pada tahun-tahun pertama kehidupannya. Insidensi diare tertinggi pada anak di bawah umur 2 tahun, dan akan menurun seiring bertambahnya usia. Diare merupakan masalah kesehatan terutama pada balita baik di tingkat global, regional maupun nasional. Pada tingkat global, diare menyebabkan 16% kematian, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pneumonia, sedangkan pada tingkat regional (negara berkembang), diare menyumbang sekitar 18% kematian balita dari 3.070 juta balita.3 Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitas-nya yang masih tinggi. Survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdit Diare, Departemen Kesehatan dari tahun 2000 s/d 2010 terlihat kecenderungan insidens naik. Pada tahun 2000 IR penyakit Diare 301/ 1000 penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374 / 1000 penduduk, tahun 2006 naik menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk. Kejadian Luar Biasa (KLB) diare juga masih sering

terjadi, dengan CFR yang masih tinggi. Pada tahun 2008 terjadi KLB di 69 Kecamatan dengan jumlah kasus 8133 orang, kematian 239 orang (2,94%). Tahun 2009 terjadi KLB di 24 Kecamatan dengan jumlah kasus 5.756 orang, dengan kematian 100 orang (CFR 1,74%), sedangkan tahun 2010 terjadi KLB diare di 33 kecamatan dengan jumlah penderita 4204 dengan kematian 73 orang (1,74 %).3 Upaya pemerintah dalam menanggulangi penyakit diare, terutama diare pada balita sudah dilakukan melalui peningkatan kondisi lingkungan baik melalui program proyek desa tertinggal maupun proyek lainnya, namun sampai saat ini belum mencapai tujuan yang diharapkan, karena kejadian penyakit diare masih belum menurun. Apabila diare pada balita ini tidak ditangani secara maksimal dari berbagai sektor dan bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja tetapi masyarakatpun diharapkan dapat ikut serta menanggulangi dan mencegah terjadinya diare pada balita ini, karena apabila hal itu tidak dilaksanakan maka dapat menimbulkan kerugian baik itu kehilangan biaya untuk pengobatan yang cukup besar ataupun dapat pula menimbulkan kematian pada balita yang terkena diare.4 Berdasarkan kenyataan diatas penulis terdorong untuk mengadakan penelitian tentang profil diare berdarah di bagian Ilmu Kesehatan Anak BLU.RSUP. Prof.Dr.R.D. Kandou Manado periode 2007-2010. B. Rumusan Masalah Bagaimana profil penderita diare berdarah di bagian Ilmu Kesehatan Anak BLU.RSUP. Prof.Dr.R.D. Kandou Manado periode 2007-2010? C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui profil diare berdarah di bagian Ilmu Kesehatan Anak

BLU.RSUP. Prof.Dr.R.D. Kandou Manado periode 2007-2010


2. Untuk mengetahui jenis kelamin, kelompok

umur, dan pola hasil

pemeriksaan laboratorium pada kasus diare berdarah. D. Manfaat Penelitian


1. Dapat digunakan sebagai informasi untuk kepentingan epidemiologi

penyakit diare berdarah.

2. Dapat digunakan sebagai acuan penelitian lebih lanjut tentang diare berdarah. 3. Dapat digunakan sebagai acuan dalam pencegahan kasus diare berdarah pada anak.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Diare berdarah A.1. Definisi Diare berdarah adalah peradangan usus yang di tandai dengan sakit perut dan buang air besar dengan konsistensi tinja yang melembek sampai cair yang disertai darah dan lender yang disebabkan oleh infeksi maupun non infeksi. Penyakit ini dapat menyebabkan penderita kehilangan banyak cairan dan darah.5 A.2. Epidemiologi Diare adalah merupakan salah satu masalah umum ditemukan diseluruh dunia. Di amerika serikat keluhan diare menempati peringkat ketiga dari daftar keluhan pasien pada ruang praktek dokter, sementara dibeberapa rumah sakit di Indonesia data menunjukan diare karena infeksi terdapat peringkat pertama s/d ke empat pasien dewasa yang datang berobat ke rumah sakit. Di Negara maju diperkirakan insiden sekitar 0,5-2 episode/orang/tahun sedangkan dinegara berkembang lebih dari itu. Di USA dengan penduduk sekitar 200 juta diperkirakan 99 juta episode diare pada dewasa terjadi setiap tahunnya. WHO memperkirakan ada sekitar 4 miliar kasus diare setiap tahun dengan mortalitas 3-4 juta pertahun.6 Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitas-nya yang masih tinggi. Survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdit Diare, Departemen Kesehatan dari tahun 2000 s/d 2010 terlihat kecenderungan insidens naik. Pada tahun 2000 IR penyakit Diare 301/ 1000 penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374 / 1000 penduduk, tahun 2006 naik menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk. Kejadian Luar Biasa (KLB) diare juga masih sering terjadi, dengan CFR yang masih tinggi. Pada tahun 2008 terjadi KLB di 69 Kecamatan dengan jumlah kasus 8133 orang, kematian 239 orang (2,94%). Tahun 2009 terjadi KLB di 24 Kecamatan dengan jumlah kasus 5.756 orang, dengan kematian 100 orang (CFR 1,74%), sedangkan tahun 2010 terjadi KLB diare di 33 kecamatan dengan jumlah penderita 4204 dengan kematian 73 orang (1,74 %).3 A.3. Etiologi Etiologi diare dibagi didalam beberapa factor menurut penyebabnya, yaitu: 1. Faktor infeksi7
1. Diare akibat virus maerupakan diare yang terjadi bertahan terus sampai

beberapa hari sesudah virus lenyap dengan sendirinya, biasanya dalam 3-6 hari 2. Diare akibat enterotoksin, diare jenis ini lebih jarang terjadi, penyebabnya adalah kuman-kuman yang membentuk enterotoksin,

yang terpenting adalah E. coli dan vibrio cholerae, jarang sekali shigella, salmonella, campylobacter dan entamoeba histolytica. Toksi melekat pada sel-sel mukosa dan merusaknya. Diare jenis ini bersifat self limiting deseases , artinya akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan dalam lebih kurang lima hari, setelah sel-sel yang rusak diganti sel-sel mukosa baru. 3. Diare bacterial atau diare invasive, hanya terjadi jarang sekali (lebih kurang 5-10%). Bakteri-bakteri non invasive dalam keadaan tertentu berubah menjadi invasive dan menyerbu kedalam mukosa. Dalam mukosa bakteri tersebut memperbanyak diri dan membentuk toksintoksin yang dapat diresorpi ke dalam darah dan menimbulkan gejalagejala hebat seperi demam tinggi, nyeri kepala dan kejang-kejang, disamping diare berdarah dan berlendir. Penyebab terkenal dari jenis ini adalah jenis salmonella, shigella, jenis-jenis coli tertentu dan champilobacter jejuni. 4. Diare parasiter, diare akibat parasit-parasit ini bercirikan mencret cairan yang bertahan lebih lama dari satu minggu. Gejala lainnya dapat berupa nyeri perut, demam, anorexia, nausea, muntah-muntah. Jenis parasitnya adalah protozoa, entamoeba histolitica, giardia lamblia, cryptosporidium dan cylospora.
2. Faktor non infeksi7

1. Malabsorpsi

: karbohidrat, lemak, dan protein

2. Keracunan

makanan

beracun

bakteri

clostridium

botulinium, stafilokokus) dan makanan kecampuran racun (bahan kimia) 3. Kwashiorkor, marasmus 4. Alergi : alergi susu sapi 5. Imunodefisiensi A.4. Patofisiologi Beberapa hal yang dapat menebabkan diare adalah menurunnya absorbsi normal larutan dalam air,(2) Meningkatnya sekresi elektrolit kedalam lumenintestinal,(3) Adanya absorbsi yang buruk secara osmosis larutan aktif di lumenusus,(4) Meningkatnya motilitas intestinal,(5) Penyakit Inflamasi yang menghasilkandarah,pus dan mucus.8 Ada 2 katergori diare, diare yang berhenti jika pemberian makanan ( atau obat-obatan) di hentikan disebut diare osmotic, sedangkan diare yang menetap walaupun penderita dipuasakan disebut diare sekretorik. Kelainan yang menyebabkan diare osmotik sering dijumpai. Sebaliknya, diare sekretorik jarang dan merupakan suatu kelainan pada bayi. Dicurigai diare sekretorik, apabila frekuensi buang air besar lebih dari 5 kali per 24 jam, diarenya encer dan volumenya banyak (memenuhi lebih dari 75% popok), serta diarenya terjadi siang malam. Jika ada kemungkinan diare sekretorik, penderita biasanya membutuhkan perawatan dirumah sakit, istirahat usus total, dan hidrasi intravena untuk menentukan dampak pada pola buang air besarnya, diare yang menetap selama 24-48 jam memberi kesan diare sekretorik.9 Diare segar mempunyai osmolalitas antara 280 dan 330 mOsm/L. baik pada diare osmotik ataupun sekretorik. Pada diare osmotic, osmolalitas tinja diare merupakan beban osmotik utama yang tidak terabsorbsi atau tidak bisa diabsorbsi. Transport aktif terus mengambil elektrolit dalam tinja. Sekresi klorida aktif merupakan mekanisme dasar yang menyebabkan diare sekretorik. Sekresi klorida aktif menciptakan gradien osmotik , sehingga mendorong pemindahan cairan sacara pasif dari plasma kedalam lumen usus. Osmolalitas tinja diare ini isismolar terhadap plasma dan dapat diketahui dari kandungan elektrolitnya. Jika diasumsikan osmolalitas tinja konstan 290 mOsm/L pada tinja diare, beda asmotik dapat dihitung dengan mengukur kadar elektrolit. Karena natrium (Na)dan kalium (K) merupakan kation utama dalam tinja, osmolalitas diperkirakan dengan mengalikan jumlah kadar Na dan K dalam tinja dengan angka 2. Perbedaan osmotik sama dengan 290-2(Na + K). pada diare osmotik, tinja mempunyai kadar Na rendah (<50 mEq/L) dan beda osmotiknya bertambah

besar (>160 mOsm/L).pada diare sekretorik, tinja diare mempunyai kadar Na tinggi (>90 mEq/L), dan perbedaan osmotiknya kurang dari 20 mOsm/L.9 A.5. Manifestasi klinik Manifestasi klinik dari diare berdarah berhubungan dengan etiologi dan jumlah agen ifeksius masuk traktus digestivus. Rasa mual dan muntah-muntah mendahului diare disebabkan oleh infeksi virus. Infeksi bias secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam, penurunan nafsu makan atau kelesuan. Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejala-gejala lain seperti flu misalnya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah dan lender.10 A.6. Diagnosis Diagnosis diare berdarah ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Perlu dilakukan konsistensi tinja dan frekuensi buang air besar bayi atau balita. Jika tinja encer dengan frekuensi buang air besar 3 kali atau lebih dalam sehari, maka bayi atau balita tersebut menderita diare. Pemeriksaan darah dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah sel darah putih. Namun, untuk mengetahui organism penyebab diare, perlu dilakukan pembiakan terhadap contoh tinja. 1. Anamnesis a. Gejala dan tanda-tanda Perut terasa mulas, kembung, dan kejang Demam, mual, dan muntah-muntah Buang air besar berupa cairan bercampur darah dan lender Mata cekung dan tubuh lemas karena terlalu banyak mengeluarkan cairan b. Riwayat ASI c. Riwayat terpapar d. Konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi e. Pengunaan antibiotic sebelumnya f. Cara perawatan sehari-hari g. Keadaan lingkungan tempat tinggal

2. Pemeriksaan fisik Berat badan sebelumnya


3. Pemeriksaan feses5,11, 12,13,14

Makroskopis Pemeriksaan secara rutin, perhatikan warna, konsistensi, lendir, darah dan bau. Pada kolera, tinja biasanya sangat cair berwarnah putih keruh menyerupai air cucian beras. Pada shigellosis dapat di temukan tinja dengan lendir dan darah. Pada anak dengan intoleransi laktosa, tinja berbau asam.

Mikroskopis Jumlah leukosit Jumlah eritrosit Adanya sel darah merah sebagai bukti adanya kuman invasive, misalnya shigella. Adanya trofozoit dan atau kista untuk mendiagnosis giardiasis dan amubiasis. Dan adanya telur atau cacing.

A.7. Penatalaksanaan Dasar pengobatan diare berdarah adalah memelihara hidrasi yang adekuat, dan memperbaiki darah yang berkurang lewat feses bila berlebihan.11,15,16 a. Dietetik (pemberian makanan) Secara oral maupun enteral tergantung respon penderita b. Obat-obatan Anti spasmolitik

Anti sekretorik : berfungsi meningkatkan absorbs air dan elektrolit dan mengurangi sekresi air dan elektrolit sehingga keseimbangan cairan dapat dikembalikan secara normal. Antara lain : racecadotril. Antibiotik : pada umumnya tidak diperlukan pada diare, karena biasanya bersifat self limited disease. c. Mikronutrien : pemberian suplemen zinc pada anak dinegara berkembang terbukti mengurangi durasi dan kegawatan diare. d. Menjaga kesehatan e. Hindari kontaminasi dengan makanan

A.8. Pencegahan Pencegahan diare yang berdarah dapat dilakukan dengan senantiasa menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Langkah awal yang paling sederhana adalah membiasakan mencuci tangan sebelum makan dan mengkonsumsi makanan yang bersih dan sehat.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian yang bersifat deskriptif-retrospektif. B. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Bagian Ilmu Kesehatan Anak BLU. RSUP. Prof.Dr.R.D. Kandou Manado. C. Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada Bulan November 2011-Januari 2012. D. Populasi dan Sampel Penelitian A. Populasi Seluruh anak yang dirawat dibagian ilmu kesehatan anak BLU Ilmu Kesehatan Anak RSUP. Prof Dr. R.D. Kandou Manado periode Januari 2008 sampai 2011. B. Sampel Semua anak dengan diagnosis diare berdarah yang berobat di Bagian Ilmu kesehatan Anak RSUP. Prof Dr. R.D.Kandou Manado periode Januari 2008 sampai Desember 2011. E. Instrumen Penelitian Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian seperti alat tulis-menulis, status penderita dan buku register di Instalasi Rawat Inap dan Poliklinik Ilmu Kesehatan Anak BLU. RSUP. Prof.Dr.R.D.Kandou Manado mulai dari Januari 2008- Desember 2011. F. Variabel Penelitian Variabel penelitian dalam bentuk tabel, diagram dan teks atau tulisan. Variabel penelitian yang dilakukan dikelompokkan menurut : 1. 2. 3. 4. Umur Jenis kelamin Derajat Dehidrasi Status Gizi

5.
6.

Feces mikroskopis Pemeriksaan Darah (Hb)

G. Definisi Operasional
1. Diare Berdarah : Buang air besar dengan konsistensi tinja

yang

melembek sampai cair yang disertai darah dan lendir yang disebabkan oleh infeksi maupun non infeksi.
2. Umur Anak : Umur adalah usia anak yang dihitung sejak lahir sampai

saat pengambilan data. Dalam Penelitian ini dibagi menjadi 3 kelompok yaitu Bayi (0-2 tahun), Anak (2-12 tahun), Pubertas (>12tahun)
3. Derajat Dehidrasi : Merupakan berkurangnya cairan tubuh total, yang

diklasifikasikan dengan tiga kelompok,yaitu dehidrasi ringan (<5% BB), sedang (5-10% BB),dan berat (>10% BB).
4. Status gizi adalah keadaan gizi anak yang diketahui melalui pengukuran

antropometri. Cara penentuan status gizi yang digunakan adalah dengan indeks TB/U, BB/TB dan IMT/U.
5. Pemeriksaan Mikroskopis : Pemeriksaan Laboratorium yang digunakan

untuk menegakkan diagnosis diare berdarah, dan menegakkan etiologi dari penyakit tersebut. Dalam penelitian ini lebih ditekankan pada pemeriksaan feses.
6. Pemeriksaan Darah : Pemeriksaan untuk melihat seberapa besar jumlah

kehilangan darah (eritrosit) dan menilai kecenderungan etiologi dari diare berdarah tersebut (leukosit)

H. Cara Kerja

Mengumpulkan data kasus secara retrospektif dari status penderita dan buku register di Bagian Ilmu Kesehatan Anak BLU. RSUP. Prof.Dr.R.D.Kandou Manado mulai dari Januari 2008- Desember 2011.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN Tabel1. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Tahun Periode 2008-2011 Tahun 2008 2009 2010 2011 Total Frequency 12 9 27 13 61 Percent 19,7 14,8 44,3 21,3 100,0

Pada Tabel 1 dapat dilihat insiden diare berdarah dengan jumlah total kasus 61 kasus, tahun 2008 ditemukan kasus diare berdarah sebanyak 12 kasus kemudian ditahun 2009 sebanyak 9 kasus, tahun 2010 sebanyak 27 kasus, dan tahun 2011 sebanyak 13 kasus. Tabel 2. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frequency Percent Laki-Laki 37 60,7 Perempuan 24 39,3 Total 61 100,0 Berdasarkan Tabel 2 penderita diare berdarah menunjukkan lebih banyak yaitu pada laki-laki 37 kasus pada pria dengan presentase 60,7% dan 24 kasus pada wanita dengan presentase 39,3%. Tabel 3. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Golongan Umur Golongan Umur Frequency Percent 1- <1 tahun 22 36,1 1- <2 tahun 6 9,8 2- <3 tahun 10 16,4 3- <4 tahun 8 13,1 4- 5 tahun 15 24,6 Total 61 100,0 Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa golongan umur 1- < 1tahun merupakan penderita terbanyak dengan 22 kasus (36,1%). Kemudian golongan umur 4-5 tahun dengan 15 kasus, setelah itu golongan umur 2- <3 tahun dengan 10 kasus, golongan umur 3- < 4 tahun dengan 8 kasus, dan golongan umur 1- <2 tahun dengan 6 kasus.

Tabel 4. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Derajat Dehidrasi Derajat Dehidrasi Frequency Percent Ringan 4 6,6 Ringan-Sedang 9 14,8 Berat 2 3,3 Tanpa Dehidrasi 46 75,4 Total 61 100,0 Berdasarkan hasil pemeriksaan (Tabel 4) didapatkan data penderita diare berdarah tanpa dehidrasi adalah sebanyak 46 orang dengan presentase 75,4%, derajat dehidrasi ringan 4 orang dengan presentase 6,6%, dehidrasi ringan-sedang 9 orang dengan presentase 14,8% dan dehidrasi berat sebanyak 2 orang dengan presentase 3,3%. Tabel 5. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Status Gizi Status Gizi Frequency Percent Gizi Buruk 6 9,8 Gizi Kurang 30 49,2 Gizi Baik 21 34,4 Overweight 3 4,9 Obesitas 1 1,6 Total 61 100,0 Tabel 5. menunjukkan bahwa didapatkan hasil pasien diare berdarah dengan status gizi kurang yang paling banyak dengan jumlah 30 orang (49,2%). Pasien diare berdarah dengan status gizi baik sebanyak 21 orang 34,4%, status gizi buruk 6 orang dengan presentase 9,8%, status gizi overweight sebanyak 3 orang dengan presentase 4,9%, dan obesitas sebanyak 1 orang dengan presentase 1,6%. Tabel 6. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Hasil Pemeriksaan Mikroskopis Feses Hasil Frequency Percent Bakteri 48 78,7 Cacing 4 6,6 Bakteri+T.Cacing 5 8,2 Bakteri+T.Cacing+Jamur 3 4,9 Bakteri+Jamur 1 1,6 Total 61 100,0 Berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis feses (Tabel 6) didapatkan data hasil pemeriksaan yang menunjukkan positif bakteri sebanyak 48 kasus dengan presentase 78,7%, positif bakteri dan telur cacing sebanyak 5 kasus (8,2%), positif Telur Cacing 4 kasus (6,6%), positif terdapat bakteri,telur cacing dan jamur sebanyak 3 kasus (4,9%) dan positif terdapat bakteri dan jamur sebanyak 1 kasus (1,6%). Jamur yang paling banyak ditemukan pada kasus diare berdarah adalah jamur jenis candida.

Tabel 7. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Nilai Hemoglobin Hasil Frequency < Normal 41 Normal 17 > Normal 3 Total 61

Percent 67,2 27,9 4,9 100,0

Berdasarkan hasil pemeriksaan darah ditemukan nilai hemoglobin dibawah normal terdapat 41 kasus dengan presentase 67,2 %, nilai hemoglobin dalam batas normal sebanyak 17 kasus dengan presentase 27,9%, dan jumlah hemoglobin diatas normal sebanyak 3 kasus dengan presentae 4,9%. Berikut adalah bagan penentuan nilai normal hemoglobin pada anak : Umur Nilai Rujukan Hb(g/dl) 0-30 hari 10,5 - 14,4 1 bulan- <1 tahun 6,5 - 8,6 1 tahun- <2 tahun 10,2 - 13,3 2 tahun- <3 tahun 7,3 - 8,2 3 tahun- <4 tahun 9,1 - 10,8 4 tahun- 5 tahun 9,2 - 12,4 Tabel 7.1. Nilai rujukan hemoglobin anak22

Tabel 8. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Nilai Leukosit Feses Hasil Frequency Percent 0-1/LPB 10 16,4 1-2/LPB 12 19,7 >2/LPB (+) 39 64,3 Total 61 100,0 Berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis feses, ditemukan 0-1 leukosit pada pemeriksaan feses terdapat 10 kasus dengan presentase 16,4 %, ditemukan 12 leukosit sebanyak 12 kasus dengan presentase 19,7%, dan ditemukan leukosit diatas normal atau positif terjadi infeksi (lebih dari 2 leukosit) sebanyak 39 kasus dengan presentase 64,3%. Tabel 9. Distribusi Pasien Diare Berdarah Menurut Eritrosit Pada Pemeriksaan Feses Hasil Frequency Percent 0-1/LPB 6 9,8 1-2/LPB(+) 15 25 >2/LPB(+) 40 65,6 Total 61 100,0

Berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis feses, ditemukan 0-1 eritrosit pada pemeriksaan feses terdapat 6 kasus dengan presentase 9,8 %, ditemukan 1-2 eritrosit sebanyak 15 kasus dengan presentase 25 %, dan ditemukan eritrosit >2 eritrosit sebanyak 40 kasus dengan presentase 65,6%. B. PEMBAHASAN Pada penelitian ini sampel penelitian adalah penderita baru yang berobat di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSU Prof. Dr.R.D.Kandou Manado yang terdiagnosa sebagai diare berdarah, mulai dari tahun 2008-2011 adalah berjumlah 61 kasus. Frekuensi kasus diare berdarah tiap tahunnya bervariasi, dimana angka kesakitan pasien dengan diare berdarah secara keseluruhan mulai dari tahun 20082009 mengalami penurunan, periode 2010 terjadi peningkatan, dan pada tahun 2011 kembali terjadi penurunan, dengan peerincian : pada tahun 2008 ditemukan kasus diare berdarah sebanyak 12 kasus kemudian ditahun 2009 sebanyak 9 kasus, tahun 2010 sebanyak 27 kasus, dan tahun 2011 sebanyak 13 kasus. Berdasarkan Tabel 2 tentang distribusi pasien diare berdarah menurut jenis kelamin, terdapat lebih banyak pada laki-laki yaitu dengan 37 kasus pada pria dengan presentase 60,7% dan 24 kasus pada wanita dengan presentase 39,3%. Sesuai dengan kepustakaan, jenis kelamin bukan merupakan faktor yang berpengaruh pada kejadian diare. Menurut penelitian yang dilakukan Wiku Adisasmito tentang faktor resiko diare pada bayi dan balita di Indonesia (systematic review) faktor risiko jenis kelamin terhadap diare menunjukkan hubungan yang kurang signifikan. Penyebab diare menurut faktor anak (usia,jenis kelamin,status gizi, ASI ekslusif, imunisasi,dll) dari beberapa aspek yang diteliti pada penelitian tersebut, status gizi memiliki faktor risiko yang paling signifikan dalam menyebabkan penyakit diare pada bayi dan balita, rendahnya status gizi pada bayi dan balita merupakan faktor risiko yang rentan untuk menyebabkan penyakit diare.17 Berdasarkan tabel 3 distribusi pasien menurut umur didapatkan data golongan umur 1 bulan- <1 tahun dengan 22 kasus (36,1%). Kemudian golongan umur 4-5 tahun dengan 15 kasus, setelah itu golongan umur 2- <3 tahun dengan 10 kasus, golongan umur 3- < 4 tahun dengan 8 kasus, dan golongan umur 1- <2 tahun dengan 6 kasus. Dapat dilihat bahwa golongan umur yang paling banyak menderita diare berdarah adalah golongan umur 1 bulan- < 1 tahun. Sebuah penelitian yang dilakukan Shintamurniwaty tentang faktor resiko diare pada balita, dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa jumlah balita penderita diare terbanyak pada kelompok umur 6 12 bulan. Pada kelompok umur 6 12 bulan biasanya balita sudah mendapat makanan tambahan/pendamping dan menurut perkembangannya mulai dapat merangkak sehingga kontak langsung bisa saja terjadi, kontaminasi dari peralatan makan dan atau intoleransi makanan itu sendiri yang dapat menyebabkan tinginya risiko terkena diare. 17 Masa perkembangan

tercepat dalam kehidupan anak terjadi pada masa balita. Namun masa balita merupakan masa yang paling rentan terhadap penyakit.6 Berdasarkan hasil pemeriksaan (Tabel 4) didapatkan data penderita diare berdarah tanpa dehidrasi adalah sebanyak 46 orang (75,4%), derajat dehidrasi ringan 4 orang (6,6%), dehidrasi ringan-sedang 9 orang (14,8%) dan dehidrasi berat sebanyak 2 orang ( 3,3%). Data yang diperoleh dari penelitian ini didapatkan bahwa pasien diare berdarah terbanyak yaitu tanpa dehidrasi. Tabel 5 menunjukkan bahwa didapatkan hasil pasien diare berdarah dengan status gizi kurang yang paling banyak dengan jumlah 30 orang (49,2%). Pasien diare berdarah dengan status gizi baik sebanyak 21 orang (34,4%), status gizi buruk 6 orang ( 9,8%), status gizi overweight sebanyak 3 orang (4,9%), dan obesitas sebanyak 1 (1,6%). Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa nilai terbanyak pada anak dengan status gizi kurang. Menurut kepustakaan, status gizi dan diare memiliki hubungan, terutama diare dengan gizi buruk. Diare berdarah pada anak disebabkan oleh kurangnya efektifitas usus dalam mengabsorbsi nutrisi akibat dari kerusakan vili oleh mikroorganisme patogen. Pada gizi buruk, proses re-epitelisasi tersebut tidak maksimal karena tubuh mengalami defisiensi mikronutrien antara zinc. Zinc berperan dalam pertumbuhan sel dan fungsi kekebalan. Kekurangan zinc menyebabkan re-epitelisasi usus menjadi lambat, vili yang rusak digantikan oleh sel-sel muda yang belum berfungsi dengan baik, dan fungsi kekebalan usus berkurang. Vili yang muda tersebut tidak mampu untuk menyerap nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh sehingga status gizi anak menjadi buruk. Makanan yang tidak diabsorbsi akan menumpuk dirongga usus sehingga terjadi peningkatan isi lumen yang kemudian akan membentuk diare, dan menginfeksi usus diare dapat disertai dengan darah.16,18 Berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis feses (Tabel 6) didapatkan data hasil pemeriksaan yang menunjukkan positif bakteri sebanyak 48 kasus (78,7%), positif bakteri dan cacing sebanyak 5 kasus (8,2%), positif Cacing 4 kasus (6,6%), positif terdapat bakteri,cacing dan jamur sebanyak 3 kasus (4,9%) dan positif terdapat bakteri dan jamur sebanyak 1 kasus (1,6%). Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa diare berdarah periode 2008-2011 yang disebabkan infeksi bakteri adalah yang paling banyak. Berdasarkan hasil pemeriksaan darah ditemukan nilai hemoglobin dibawah normal terdapat 41 kasus (67,2 %), nilai hemoglobin dalam batas normal sebanyak 17 kasus (27,9%), dan jumlah hemoglobin diatas normal sebanyak 3 kasus ( 4,9%). Nilai pasien terbanyak adalah pasien dengan nilai hemoglobin dibawah normal. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang mengatakan bahwa nilai hemoglobin pada diare berdarah akan berkurang karena terjadi anemia.19 Berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis feses, ditemukan 0-1 leukosit/LPB pada pemeriksaan feses terdapat 10 kasus dengan presentase 16,4 %, ditemukan 12 leukosit/LPB sebanyak 12 kasus dengan presentase 19,7%, dan ditemukan leukosit diatas normal atau positif terjadi infeksi (lebih dari 2 leukosit/LPB)

sebanyak 39 kasus dengan presentase 64,3%. Penemuan leukosit dinyatakan positif apabila ditemukan lebih dari 2 leukosit/LPB. Hal ini sejalan dengan hasil pemeriksaan feses dimana paling banyak didapatkan infeksi bakteri. Temuan leukosit dalam jumlah yang banyak ( >10 / LPB ) atau makrofag, mendukung diagnosis Shigella atau bakteri invasif lain.20 Berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis feses, ditemukan 0-1 eritrosit/LPB pada pemeriksaan feses terdapat 6 kasus dengan presentase 9,8 %, ditemukan 1-2 eritrosit/LPB sebanyak 15 kasus dengan presentase 25 %, dan ditemukan eritrosit >2 eritrosit/LPB sebanyak 40 kasus dengan presentase 65,6%. Berdasarkan kepustakaan, penemuan eritrosit pada kultur feses, menandakan sebuah keadaan patologis, normalnya tidak ditemukan eritrosit dalam feses.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Frekwensi diare berdarah yang bervariasi tiap tahunnya mulai dari tahun 2008-2011. 2. Jenis kelamin tidak mempengaruhi kejadian diare berdarah.
3. Diare berdarah sering terjadi pada balita umur 1bulan- <1tahun

4. Diare berdarah jarang menimbulkan dehidrasi. 5. Diare berdarah mempengaruhi status gizi anak. 6. Anak dengan diare berdarah sering menunjukkan nilai hemoglobin yang rendah. 7. Penemuan >2 leukosit/LPB dalam pemeriksaan feses menandakan adanya infeksi saluran cerna. 8. Diare berdarah karena infeksi bakteri adalah yang paling banyak selama periode 2008-2011. 9. Penemuan eritrosit pada kultur feses, menandakan sebuah keadaan patologis, normalnya tidak ditemukan eritrosit dalam feses.

B. Saran 1. Perlu ditingkatkan perawatan pada anak terutama usia <1 tahun. 2. Perlu ditingkatkan penyuluhan kepada masyarakat tentang diare berdarah dan gejala-gejala dini. 3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pemeriksaan laboratorium diare berdarah DAFTAR PUSTAKA MD. Bloody Diarrhea. 2011.

1. Williams,

Robert

Diunduh [cited

dari

http://health.bettermedicine.com/article/bloody-diarrhea. 2011]

November

2. Thomas

DW.

Bloody

diarrhea

in

children.

Diunduh

dari

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2487818. [cited November 2011]


3. Depkes

R.I.

Buletin

Diare

2010.

Diunduh

dari

http://www.depkes.go.id/downloads/Buletin%20Diare_Final%281%29.pdf. [cited November 2011]


4. Depkes R.I. Buku ajar diare, pegangan bagi mahasiswa. Jakarta;1999.hal.1-22.

5. Hassan R, Alatas H, editor. Gastroenterologi. Dalam : Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI; 2007. Hal. 283-311
6. Budianti

C.

Diare

berdarah

dan

berlendir.

Diakses

dari

: UI

URL:http://www.library.usu.ac.id/download/fk/penydalam-umar4.pdf.FK 2008. [cited November 2011]

7. Suraatmaja S, editor. Gastroenterology anak, Kapita Selekta. Jakarta. 2007. Hal. 22-23
8. Tarigan Pengarapen,Marpaung Betthin. Diare Kronik.Dalam : Suparman (Ed).

Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Balai Penerbit FK UI; 1990.p. 163.
9. J.Timothy. Boyle. Diare Kronik, Dalam : Buku Ilmu Kesehatan Anak. ed.15

Jakarta: EGC ;1999. p.1354-60. 10. Wyssocki. Overview of the health situation in south east asia. Regional

health forum, 1996, 11(1): 1-10


11. Bhutta Z. Gastroenteritis In Children. Dalam: Kliegman R, Behrman R,

Jenson H, Stanton B, editor. Nelson Textbook of Pediatrics 18th Edition. Phidelphia: Saunders; 2004. Hal 1605-17

12. Mclntosh K, Lauerb, Eller J, Infection: Bacterial and Spirochaetal. Dalam :

Current Pediatric Diagnosis and Treatment 6th Edition. California : Lange Medical Publication; 1980. Hal 782-91
13. Chambers HF. Infection diseases: bacterial and chlamydial. Dalam :

Tierney LM, McPhee SJ, Papadikis MA, editor. Current medical diagnosis and treatment 2001 14th Edition. USA: McGraw-Hill;2001. Hal. 1372-74 14. Taylor RB, editor. The 10-minute diagnosis manual: symptoms and signs in the time limited encounter. USA Lippincott William & wilkins; 2000.hal221-29
15. Boschi pinto C. bull of the world health organ. 2008. Diakses dari :

http://www.searo.who.int/LinkFiles/CDS nems letter vol-5 issue-3.pdf. [cited November 2011] 16. Shandhu BK. Practical guideline for the management of gastroenteritis in children. Dalam : J Ped Gastroenterol Nutr 2001 ; 33: s36-9 17. Wiku Adisasmito. Makalah Kesehatan. Faktor Resiko Diare Pada Bayi dan Balita di Indonesia. Vol.II. Depok: Universitas Indonesia; 2007.hal.1-10. 18. Labenthal E, editor. Chronic Diarrhea in Children. New York : Raven Press; 1984. p.31-56.
19. Dharma R, Immanuel S, Wirawan R. Penilaian Hasil Pemeriksaan

Hematologi

Rutin.

2008.

Diakses

dari

hhtp://www.kalbe.co.id/files/cdk/fils/10 PenilaianHasilPemeriksaan.pdf
20. Depkes

R.I.

Pedoman

Tatalaksana

Diare.

Available

from

http://www.depkes.go.id/downloads/tata%20laksana%20diare/buku %20panduan.pdf. [cited : Desember 2011]

21. Marcellus SK, Daldiyono, editor. Diare Akut. Dalam Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Balai Penerbit FKUI; 1990.p.408-13. 22. Budi. S. Diare Akut. Jakarta. 1991. hal.448-66.

RIWAYAT HIDUP

Rony Hakim (NRI 070111181) Lahir di Gorontalo 16 Maret 1989. Agama Islam. Anak dari pasangan Rahman Hakim dan Yohana Mandulangi. Merupakan anak kedua dari tiga bersudara (Rahmat Jufri Hidayat dan Rudy Hakim). Memulai pendidikan di TK Aisyah 2

Gorontalo dan tamat pada tahun 1995, kemudian menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SD 3 Abepura pada tahun 2001. Penulis melanjutkan pendidikan ke SLTP 7 Manado, Sulawesi Utara dan tamat pada tahun 2004. Kemudian penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas pada tahun 2007 di SMA Negeri 7 Manado. Penulis diterima di Fakultas Kedokteran Sam Ratulangi melalui jalur T2 pada tahun 2007, dan mengikuti KKN-T (Kuliah Kerja Nyata Terpadu) Angkatan 94, Posko 58.