Anda di halaman 1dari 2

Rancangan Undang-undang Pendidikan Dokter

RUU Pendidikan Dokter: Benarkah akan menjadi pintu gerbang menuju kualitas Dokter yang lebih baik??
Beberapa waktu terakhir ini ramai diperbincangkan tentang Rancangan Undang-undang Pendidikan dokter yang menjadi polemik tersendiri di dunia kedokteran Indonesia. Selain menjadi Rancangan Undang-undang Pendidikan Dokter pertama, isi dari rancangan undangundang ini juga dinilai belum mengatur secara spesifik dan komperhensif tentang penyelenggaraan pendidikan dokter di Indonesia. Walaupun pada dasarnya RUU Dikdok ini memiliki cita-cita yang mulia. Karena RUU Dikdok ini dibuat untuk memperbaiki kualitas pendidikan kedokteran di Indonesia yang berfokus pada standarisasi kualitas pendidikan kedokteran di setiap institusi dan penyediaan akses terjangkau bagi masyarakat dari seluruh kalangan untuk bisa mengenyam pendidikan dokter selain itu diharapkan adanya keseimbangan penyebaran ketersediaan dokter hingga ke bagian perifer Indonesia. Namun, pada kenyataannya isi dari pasal-pasal yang telah disosialisasikan dirasa sangat memberatkan banyak institusi. Untuk itu ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia) menyebarkan kuisioner secara online tentang tanggapan institusi kedokteran di seluruh Indonesia terkait RUU Dikdok dan dengan tegas menolak adanya RUU dikdok ini. Sekretaris Jenderal ISMKI, Fakih Nur Salimi Latief, mengatakan setidaknya ada tiga alasan penolakan. Pertama, RUU Dikdok yang ada dinilai belum memenuhi dan menjawab masalah dari tujuantujuan yang telah direncanakan dalam RUU itu sendiri. Kedua, masih adanya pasal-pasal di dalamnya yang belum sempurna sehingga perlu pembahasan lebih lanjut. Ketiga, belum disahkannya RUU Dikti yang menjadi salah satu acuan pembuatan RUU Dikdok. Begitu juga dengan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) yang menolak RUU Dikdok tersebut dan akhirnya dijadikan menjadi Panja (Panitia Kerja) bersama Komisi X DPR untuk mengkaji dan membahas kembali isi dari RUU Dikdok tersebut. Tentunya peran keterlibatan mahasiswa kedokteran, dokter dan seluruh komponen kedokteran yang merasakan dampak langsung bisa dilibatkan dalam pembahasan RUU dikdok. Ada beberapa pasal pada RUU Dikdok yang memerlukan Peninjauan ulang dan disoroti berdasarkan hasil kajian dari Pendidikan Profesi ISMKI, seperti: 1. Penyelenggaraan pendidikan kedokteran pasal 5 ayat 1 bahwa Perguruan Tinggi yang memenuhi persyaratan dapat membuka fakultas kedokteran 2. Penutupan program studi Pasal 5 ayat 2 poin (d); mengenai status kepemilikan atau kerjasama dengan Rumah sakit Pendidikan Utama Pasal 6 ayat 1 Fakultas Kedokteran yang tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 harus ditutup: bahwa minimal harus memiliki a. tenaga pendidik yang tersertifikasi; b. gedung untuk penyelenggaraan pendidikan; c. laboratorium biomedik, keterampilan Klinis, dan kesehatan masyarakat; dan d. rumah Sakit Pendidikan Pasal 5 ayat 2 poin (d); mengenai status kepemilikan atau kerjasama dengan Rumah sakit Pendidikan Utama

Pasal 12 ayat 3; mengenai pembekuan fakultas kedokteran dilakukan apabila tidak memenuhi syarat dalam jangka waktu tertentu. Pasal ini harus mampu mengantisipasi berhentinya kegiatan belajar mengajar (KBM) mahasiswa dan memberikan kejelasan status kepada mahasiswa kedokteran. 3. Seleksi penerimaan calon mahasiswa kedokteran Pasal 7 ayat (2) Seleksi penerimaan calon mahasiswa kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjamin adanya kesempatan bagi calon mahasiswa kedokteran dari daerah sesuai dengan kebutuhan daerahnya, kesetaraan gender, dan masyarakat berpenghasilan rendah Pasal 38; mengenai tentang kuota untuk mahasiswa asing, yang sebaiknya diatur dalam RUU Dikti agar tidak terjadi tumpang tindih 4. Tenaga pendidik Pasal 12 (1) Pendidik terdiri atas: a. dosen; dan b. dokter pendidik klinis 5. Kurikulum pendidikan Pasal 25 Fakultas kedokteran wajib menerapkan kurikulum berdasarkan Standar Nasional Pendidikan Kedokteran dan Standar Kompetensi Dokter sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1). (1) Fakultas kedokteran yang tidak menerapkan kurikulum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi administratif berupa: a. peringatan tertulis; b. penutupan sementara; dan c. pencabutan izin. Pasal 62; mengenai pembiayaan untuk fakultas kedokteran yang mengacu pada RUU Dikti 6. Jenjang pendidikan kedokteran Pasal 26 (1) Jenjang Pendidikan Kedokteran terdiri atas: a. program pendidikan akademik; dan b. program pendidikan profesi. 7. Lulusan Pasal 41 (3) Mahasiswa Kedokteran yang telah disumpah sebagai dokter wajib melaksanakan ikatan dinas, atau mengikuti wajib kerja sarjana, atau mengikuti pegawai tidak tetap. Pada akhirnya penundaan pengesahan RUU Dikdok yang sampai ini masih menjadi pembahasan lanjutan di tingkat DPR diharapkan bisa merancang sebuah undangundang pendidikan dokter pertama dan tentunya mampu mewujudkan sebuah penyelenggaraan pendidikan dokter yang baik sesuai dengan cita-cita mulia RUU Dikdok itu sendiri. Namun, semua itu membutuhkan pengawasan kita bersama untuk mengawalnya hingga disahkan ! (zha)