Anda di halaman 1dari 401

http://inzomnia.wapka.

mobi

V. Lestari PERTEMUAN DI SEBUAH MOTEL Edit & Convert: inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi BAB 1 Di dalam kamarnya, Ratna mengamati kotak perhiasannya yang terbuka. Belum penuh, pikirnya kesal. Padahal dulu kotak itu sempat penuh Sesak, tapi kemudian ludes tak bersisa. Bukan karena dirampok atau dicuri, tapi karena dijual untuk biaya pengobatan almarhum suaminya yang lama sakit padahal tak ada asuransi. Setelah perhiasannya ludes, suaminya malah meninggal. Sepertinya sia-sia saja pengorbanannya itu. Baginya menjual perhiasan patut disebut sebagai pengorbanan. Semakin banyak yang dijual, semakin besar pengorbanan itu walaupun yang membelikan barang-barang itu adalah suaminya juga. Siapa pun yang membelikan atau memberikan, itu sudah jadi miliknya. Setelah anak-anaknya punya penghasilan sendiri ia mewajibkan mereka untuk menghadiahinya perhiasan secara kontinu dari waktu ke waktu. Yang dianggap berpenghasilan besar wajib memberi lebih. Tapi ia kecewa karena pertambahannya seret. Sedang mutu perhiasan pemberian anak-anaknya itu kebanyakan kurang bagus dan kurang mahal di matanya. Berliannya cuma sedikit. Padahal anaknya ada tujuh orang! Mereka semua memang sudah berkeluarga hingga punya tanggungan. Tapi dia sebagai ibu punya posisi berbeda. Mereka harus berbakti kepadanya. Kalau sudah jelas bahwa yang disenanginya adalah emas berlian, kenapa mereka tidak berupaya untuk menyenangkan hatinya dengan memberikan barang-barang itu? Apalagi umurnya sudah tujuh puluh tahun. Sudah tua sekali, keluhnya. Tidak lama lagi hidupnya akan berakhir. Perhiasan itu pasti tak bisa dibawanya ke liang kubur. Masa hal itu tak terpikir oleh mereka?

http://inzomnia.wapka.mobi

Kekecewaan yang terpendam dan terus menumpuk membuat lidahnya yang dulu sudah tajam menjadi semakin tajam. Sumpah serapahnya dengan gampang berhamburan bila ada yang tak berkenan di hatinya. Yang paling dibencinya adalah putranya yang kedua, Agus, beserta seluruh keluarganya yaitu Delia istri Agus dan putra mereka satusatunya bernama Adam. Ratna menganggap Agus anak paling pembangkang dan penentang. Sejak kecil Agus sudah begitu. Biarpun sering dipukul dan dicubiti, tetap saja begitu. Sedang Delia sebagai menantu dinilainya ikut memanas-manasi dan menghasut walaupun di depannya selalu bersikap hormat dan santun. Bila Delia mau membujuk Agus supaya patuh, mustahil lelaki itu terus saja membangkang dan menentang. Sementara Adam, cucunya, suka terang-terangan memperlihatkan rasa tidak sukanya. Sekali ia pernah melihat anak itu menjulurkan lidah kepadanya! Di kota Bandung tempat mereka sama-sama bermukim, Agus punya toko pakaian yang cukup besar dan kelihatannya selalu ramai pembeli. Di mata Ratna, orang yang punya toko itu pastilah kaya. "Tapi Agus punya banyak alasan. Toko merugi. Banyak keperluan. Adam mau masuk perguruan tinggi jadi perlu biaya banyak. Dan entah apa lagi. Coba 10 saja lihat kotak perhiasan itu. Mana andil Agus di situ? Cuma seuntai kalung emas 22 karat dengan liontin sebesar jarum pentul. Padahal dalam suatu resepsi Ratna pernah melihat Delia mengenakan kalung yang indah berhiaskan berlian besar, juga anting, gelang, dan cincin berlian. Serbaberlian. Sungguh membuat iri dan panas hati. Maka sumpah serapahnya ditujukan untuk Agus dan keluarganya. "Kalian semua nggak bakal selamat! Kualat! Terkutuk! Biar pada mampus! Aku sudah tua tapi kalian bakal mati duluan!" Yang mendengar sumpahnya itu tidak berani menyanggah atau menasihati agar ia tidak bicara sem-barangan. Tentu yang paling banyak mendengar umpatannya itu adalah putra sulungnya, Rama, dan Maya istri Rama, serta dua anak mereka, karena mereka tinggal bersamanya. Mereka tidak akan berani macam-macam karena rumah yang ditempati

http://inzomnia.wapka.mobi

adalah rumahnya, satu-satunya peninggalan suaminya yang berharga. Jadi di rumah itu dia yang berkuasa sebagai pemilik sedang mereka cuma menumpang padanya. Kemudian terjadi sesuatu yang menggegerkan. Adam meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Tak lama sesudah itu menyusul Agus yang meninggal karena sakit. Bisa -diduga bahwa semua anak dan keluarga mereka menjadi heboh dan tentu saja bersedih. Mereka menghubungkan tragedi itu dengan kutukan yang sering sekali dilontarkan Ratna. Menyadari hal itu, sengaja ia memperlihatkan sikap takabur dan berkata, "Nah, benar, kan? Lidahku bertuah, tahu? Ayo, siapa lagi yang berani melawanku?" Bahkan kepada Delia pun ia tega berkata, "Makanya 11 jangan melawan orangtua! Kalau sudah mati, nyesel pun percuma!" Delia menatapnya dengan kemarahan di balik air mata. Tapi Ratna cuma menertawakan. Ia memang sengaja bersikap begitu untuk memberi pelajaran kepada anak-anaknya dan keluarga mereka. Hasilnya benarbenar ampuh. Bukan saja mereka jadi takut dan patuh kepadanya, kotak perhiasannya pun mulai terisi dengan lebih cepat! Ah, senangnya. Cuma sayangnya, ia sudah tua. Sangat tua. Mainannya tidak banyak lagi. Kesempatan dan kemampuan sudah tak ada. Ia cuma bisa bermain dengan koleksi perhiasannya. Tak ada lagi kesenangan yang lain. Setiap kali melihat cermin ia selalu ngeri melihat wajahnya sendiri. Ia tak berani becermin. Tak ingin melihat wajahnya yang keriput dan kedodoran. Padahal dulu ia cantik. Tapi sebagian usia mudanya habis di samping suami yang tak lagi bisa diajak "bermain". Satu-satunya yang bisa diberikan sang suami hanyalah perhiasan. Mungkin sebagai imbalan atau pelipur lara. Setelah sang suami akhirnya meninggal, koleksinya ludes dan ia mendapati dirinya sudah tua. Pelan-pelan ia menutup kembali kotak kesayangannya. Percuma dipandangi karena takkan jadi penuh karenanya. Saat akan memasukkannya kembali ke dalam lemari, tiba-tiba ia merasa angin

http://inzomnia.wapka.mobi

dingin berembus di belakangnya, meniup tengkuknya hingga ia jadi merinding. Segera ia menoleh ke pintu, mengira ada yang membukanya. Ternyata masih tertutup rapat. Lalu ia mendengar suara lelaki yang berat dan besar. Memanggil namanya dengan irama naik-turun. 12 "Ratnaaa... Ratnaaa..." Ia bergidik. Suara itu mengandung getaran yang membuat miris perasaannya. Harinya seperti disayat-sayat. Jantungnya ditusuk-tusuk. Ia menoleh berkeliling. Tapi di kamar ia tetap sendirian. Dari mana datangnya suara itu? Setelah perasaannya lebih tenang, ia lari ke pintu lalu membukanya dengan menyentakkannya. Jangan-jangan itu si Boy, putra Rama, yang mau menjailinya. Tapi tidak ada siapa-siapa. Biarpun kedengaran suarasuara, jelas bukan dari jarak dekat. Ia melihat Ipah, pembantunya, muncul dari belakang. Ipah menatapnya heran, tapi tidak bertanya. "Pah, tadi lihat ada orang di depan pintu ini nggak?" "Nggak, Bu. Memangnya ada siapa, Bu?" "Kalau aku tahu mah buat apa nanya, Pah?" bentaknya, lalu membuka pintu dan masuk kembali ke kamarnya. Ia bersandar ke pintu, lalu memandang seputar kamarnya yang luas dan berisi perabot antik. Semua perabot yang bagus dimasukkannya ke kamarnya. Yang sudah kumuh dan butut ditaruh di luar atau diberikan pada Rama dan Maya. Semua itu akan sesuai dengan kondisi rumah yang memang sudah tua dan butut. "Ratnaaa... Ratnaaa...." Suara berat itu memanggil lagi, masih dengan irama yang sama. Biarpun mendengar untuk kedua kalinya, masih saja perasaaan Ratna miris karenanya. Ngilu sekali. "Si...si...aaa...pa?" ia menggagap. Masih tak kelihatan siapa-siapa. 13 "Aku adalah aku. Kau boleh memanggilku "Tuan". Aku datang untuk menawarkan kerja sama."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ta...tapi si...siaaa...pa? Kok ngg...gaaak kelihatan?" "Ha-ha-haaa! Kalau bisa melihatku, kau akan pingsan. Nah, bagaimana? Mau?" "Mau apa, Tuan?" Ratna tak mengerti. Lebih tenang sekarang. "Aku bisa memberikan apa yang kauinginkan hanya dengan satu syarat." Ratna terperangah. "Se...semua yang... yang ku...kuinginkan?" ia menggagap lagi. "Ya. Syaratnya gampang saja. Kau jadi hambaku. Aku tuanmu." "Artinya?" "Kalau sudah mati, nyawamu untukku. Gampang, kan? Kau memang tak perlu nyawa lagi kalau sudah mati." "Kalau aku nggak mau?" "Ya nggak apa-apa. Aku akan pergi dan tidak akan kembali lagi. Tapi hidupmu akan tak punya warna. Begini saja terus. Cuma bisa memandangi kotak perhiasan yang takkunjung penuh dan memaki-maki anak-anakmu yang makin hari makin membencimu. Padahal yang penting itu kan hidup. Kalau sudah mati, apa lagi yang kaunikmati?" Ratna termangu. Ia bingung tak bisa memutuskan. "Pikirkanlah dulu. Tapi ingat, kau tak punya terlalu banyak waktu untuk berpikir. Nanti aku kembali untuk meminta jawaban." Lalu sepi. Ratna tahu, sang Tuan sudah pergi. Apa yang harus dikatakannya sebagai jawaban? Pikir. Pikir. Sambil tetap bersandar ke pintu, tubuhnya pelan14 pelan merosot ke bawah sampai akhirnya ia terduduk di lantai. Perasaannya masih gamang. Ia tahu, ke-putusan harus diambilnya sendiri. 15 BAB 2 Delia mengemudikan mobilnya dengan perasaan waswas. Ia sudah berusaha keras untuk berkonsentrasi penuh ke jalan dan tak membiarkan pikirannya melayang ke mana-mana. Tapi kekhawatiran

http://inzomnia.wapka.mobi

masih saja ada. Orang bilang, kalau nasib sedang sial, kesialan akan tetap datang biarpun sudah berupaya sebisanya. Sejak memulai perjalanan dari Bandung menuju Jakarta, dua kali ia hampir celaka. Sekali ia dipepet truk besar sampai hampir menabrak pohon, kedua kalinya ia hampir bertabrakan secara frontal dengan kendaraan yang menyalip sembarangan. Ia sudah berhati-hati, tapi orang lain tidak. Ia tidak mau mati di jalan atau mati karena kecelakaan seperti yang dialami Adam, putranya. Ia juga tak ingin mati karena penyakit seperti suaminya, Agus. Ia ingin mati dengan cara yang dipilihnya sendiri! Pilihan itu bukan karena ia tak ingin mengikuti jejak kedua orang yang dicintainya itu atau ia ingin lain sendiri. Bahkan sebelumnya ia tak pernah berpikir tentang hal itu. Seperti banyak orang, ia menganggap kematian sebagai bentuk kewajaran yang harus diterima, apa pun bentuknya. Semua orang harus mengakhiri kehidupan tanpa bisa mengetahui kapan. 16 terjadi dan bagaimana caranya. Padahal bisa saja kematian itu mengerikan dan menyakitkan. Apa yang didambakan Delia adalah kematian dengan persiapan! Dengan cara itu ia bisa memilih waktu yang dianggapnya tepat dan cara yang disukainya. Persiapannya terutama menyangkut materi. Bukankah orang mati tak bisa* membawa serta hartanya? Sekarang ini ia membawa serta sisa hartanya yang terakhir, yaitu mobil sedan tua yang sedang dikendarainya dan uang ratusan juta rupiah yang disimpannya dengan rapi di bawah karpet mobilnya. Itu juga salah satu faktor penyebab kehati-hatiannya. Kalau ia celaka di jalan, uang itu bisa ditemukan dan dijarah orang lain. Padahal uang itu adalah uang halal, warisan dari Agus dan hasil jerih payahnya sendiri. Lalu gagal pula rencananya untuk mendermakan uang itu di Jakarta. Uang itu adalah sisa penjualan toko dan rumahnya di Bandung. Sebagian sudah ia dermakan lebih dulu. Yang sebagian itu ia dermakan dengan cara mentransfer. Cara seperti itu lebih praktis dan tak ketahuan orang

http://inzomnia.wapka.mobi

lain. Lain halnya kalau dengan cara memberikan langsung. Menjadi Sinterklas mendadak pastilah gampang membuat heboh. Apalagi di kota Bandung bermukim Ratna dan empat anaknya serta keluarga. Berita bisa sampai ke telinga Ratna. Padahal itu yang paling dihindari Delia. Ratna tidak boleh tahu. Maka ia memilih Jakarta sebagai kota tempat ia akan menjadi Sinterklas, sekaligus tempat ia ingin mengakhiri hidupnya! Memang Jakarta tak terlalu jauh dari Bandung, tapi kota itu besar dengan penduduknya yang individualis. Ia bisa mati dengan tenang! Kebenciannya kepada Ratna selalu terobati bila 17 membayangkan kekecewaan dan kemarahan nenek tua itu bila mengetahui ia mati tanpa meninggalkan harta sedikit pun. Ratna akan senang sekali bila Delia mati, tapi bukan mati dengan cara seperti itu. Delia mati miskin bukan karena membawa serta hartanya ke liang kubur, tapi karena memang sudah tak punya apa-apa! *** Sekitar tiga tahun yang lalu Adam mengalami kecelakaan lalu lintas karena motornya ditabrak mobil. Meskipun lukanya parah, pemuda itu masih dalam keadaan sadar dan bisa berbicara dengan kedua orangtuanya. Keanehan tampak pada Adam karena dia yang biasanya cuek mendadak bisa bicara dengan bijak. Dia yang sakit dan sekarat malah menghibur mereka yang bersedih. "Tuhan memanggilku, Pa, Ma. Memang singkat banget hidupku. Habis mau apa? Kita kan nggak bisa menolak kalau dipanggil. Hidup cuma sekali. Mati juga begitu." Justru ucapan bijak itu malah membuat Agus dan Delia menjadi lebih sedih. Semakin tidak rela. Mana mungkin mereka bisa disuruh pasrah? Adam masih begitu muda, periang, dan penuh cita-cita. Tapi waktu bisa menyembuhkan luka hati meskipun tidak sepenuhnya. Mereka mencari penghiburan dari masing-masing, menjadi lebih dekat, lebih mengerti, dan lebih menyadari betapa berartinya yang satu bagi yang lain. Hikmah dari kehilangan bisa mereka peroleh.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sayangnya, waktu itu terlalu singkat bagi Delia. Hanya kurang-lebih setahun setelah kematian Adam, 18 ia kembali harus kehilangan. Agus terkena serangan jantung. Ia meninggal mendadak. Tak ada pesan atau kata-kata perpisahan seperti yang sempat disampaikan Adam. Untuk kedua kalinya kematian datang tanpa kompromi. Delia merasa hancur luluh. Kali ini ia harus berjuang sendirian agar dapat bertahan. Kehidupan baginya menjadi tak sama lagi. Masa depan tampak begitu kelam. Tak ada lagi kecerahan. Dulu, ketika ia dan Agus sama-sama saling memberi kekuatan atas kehilangan Adam, mereka suka membicarakan kata-kata bijak yang dilontarkan Adam di saat-saat akhir hidupnya. "Bagaimana mungkin anak muda bisa bicara begitu ya, Pa?" "Dia ingin menghibur kita. Mungkin pada saat seperti itu orang bisa jadi bijak, tak peduli usianya. Dia tahu, setelah mati takkan ada rasa apa-apa lagi. Yang mengalami adalah mereka yang masih hidup." "Apa dia kasihan pada kita karena kita masih hidup, Pa?" "Ah, masa iya, Ma?" "Kita kasihan padanya. Sebaliknya, dia juga kasihan pada kita." "Dia kasihan pada kita karena kita bersedih akan kehilangan dia." "Sementara dia sendiri tidak akan kehilangan kita." "Ah, mana kita tahu." Perbincangan seperti itu terasa menyenangkan dan menghibur. Tapi sekarang Delia tidak bisa lagi melakukannya. Sekarang ia cuma bisa bicara sendiri. Pada diri sendiri dan dengan diri sendiri. Untung saja ia tidak sampai mengalami gangguan mental. Ia menjalankan toko sendirian. Caranya otomatis 19 saja. Cuma meneruskan yang ada tanpa perubaha atau strategi baru. Untunglah para pembantunya bisa diandalkan. Ia juga menjalani kehidupan seperti robot. Ia bernapas, makan, dan minum, juga merasakan kebutuhan lainnya karena memang harus begitu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Satu-satunya yang bisa melegakan kesesakannya adalah ia bisa menangis. Ia juga bisa bicara sendiri, mengungkap penasarannya karena tak punya sahabat atau saudara dekat. Sebenarnya Agus punya banyak saudara. Ada enam orang. Yang empat, semuanya lelaki, tinggal sekota. Sedang yang dua, perempuan, tinggal di luar Jawa. Tapi hubungan Delia dan Agus dengan mereka kurang dekat meskipun ia menganggap mereka cukup baik. Lain lagi halnya dengan Ratna, ibu mertuanya. Agus sering bercerita tentang perilaku ibunya dan mengungkapkan ketidaksukaannya. Dari kecil sampai berkeluarga, ia tak pernah bisa menyukai ibunya. Ia paling segan bila diajak berkunjung ke rumah ibunya. Tapi Delia membujuknya. "Aku benci karena dia selalu menagih pajak, Ma." "Pajak?" "Ya. Emas berlian. Jadi buat apa menjenguk kalau kita tidak membawa barang itu? Dia tidak akan senang hanya karena melihat tampang kita." Lalu muncullah kutukan-kutukan itu. Delia merasa takut, tapi Agus menenangkan. "Jangan percaya," katanya. Tapi kemudian terjadilah tragedi Adam. Tanpa empati sedikit pun Ratna malah mengatakan bahwa peristiwa itu adalah hukuman bagi mereka karena tidak berbakti kepadanya. Tentu saja Agus sangat marah. Tapi kemarahan Agus hanya melahirkan ku20 tukan berikutnya dari mulut Ratna. "Kualat kamu nanti! Lihat saja!" Ternyata musibah benar-benar terjadi. Agus meninggal. Belum lagi Agus dimakamkan, Ratna sudah memperlihatkan sikapnya yang tidak berperasaan. "Seharusnya sebagai istri kau bisa membujuknya supaya tidak marah padaku! Kenapa tidak kaulakukan? Lihat akibatnya! Dulu sudah kejadian sama si Adam. Tapi kau nggak mau belajar! Jangan-jangan kau pula yang menyuruh dan menghasut Agus supaya marah padaku." Delia tidak lagi melihat sosok manusia di depannya, melainkan monster! Mana ada manusia yang mensyukuri kematian anak dan cucu, apalagi

http://inzomnia.wapka.mobi

menyatakan bahwa itu adalah akibat kutukannya? Itu berarti dengan segenap hati Ratna memang menginginkan kematian Adam dan Agus! *** Dibanding semua saudaranya, kehidupan Rama, putra tertua Ratna, tergolong paling sederhana. Ia mengusahakan sebuah bengkel motor di bagian depan rumah besar milik Ratna. Tampaknya ia bisa dibilang beruntung karena bisa menumpang tinggal dan tempat usaha di rumah ibunya. Tapi kalau boleh memilih, sebenarnya ia dan keluarganya lebih suka tinggal di gubuk daripada rumah besar tempat ia tak punya kemandirian. Belum lagi setiap hari mereka harus mendengar umpatan dan cercaan Ratna. Rama terpaksa tinggal bersama Ratna karena bujukan saudarasaudaranya. Mereka semua, sebanyak enam orang, termasuk yang tinggal di luar Jawa, 21 akan menyetor kepadanya setiap bulan sebesar masing-masing lima ratus ribu rupiah untuk biaya hidup ibunya. Jumlahnya menjadi tiga juta rupiah. Sangat lumayan untuk membantu perekonomiannya. Tapi ia melarang saudara-saudaranya untuk membe-ritahu kesepakatan itu kepada Ratna. Ia khawatir sebagian uang itu nanti diambil Ratna karena dianggap sebagai haknya. Sekitar tiga bulan setelah kematian Agus, Rama menelepon Delia. "Maaf ya, Del. Aku cuma mau mengingatkan bahwa kau belum mentransfer uang bulanan itu. Biarpun Agus sudah tak ada, kau akan tetap melanjutkan, bukan?" Sebenarnya Delia ingin mengatakan bahwa ia keberatan. Ia bukanlah anak Ratna. Dan setelah Agus tak ada, ia merasa tak punya hubungan apa-apa lagi. Apalagi Ratna tega "membunuh" anak dan cucunya sendiri. Jadi kenapa ia harus diikutsertakan dalam urusan membiayai hidup Ratna? Bukankah anak-anaknya banyak? Tapi ia mengatakan, "Baik. Nanti kutransfer untuk enam bulan. Bila aku lupa, ingatkan saja." "Oh, terima kasih, Del. Bagaimana kondisi toko?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Baik-baik saja" "Syukurlah. Jaga dirimu ya, Del." Suara Rama kedengaran ramah dan perhatian. Mungkin karena Delia tidak menolak permintaannya. Akankah seperti itu juga bila ia menolak? *** Di antara para keponakan Delia, ada satu orang yang cukup dekat dengannya. Dia adalah Donna, 22 putri Ramli adik Agus. Donna remaja belasan tahun, masih pelajar SMU. Kedekatan itu muncul setelah Adam meninggal. Dibanding yang lain, Donna-lah yang paling banyak dan hangat memberi simpati. Hampir tiap hari usai pulang sekolah Donna datang ke toko garmen milik Delia untuk membantu. Meskipun tak banyak yang bisa dibantunya, pekerjaannya cukup rapi dan cekatan. Sebagai tanda terima kasih, sesekali Delia memberinya hadiah kaus atau celana jins. Setelah Agus meninggal, Donna suka menginap di rumah Delia untuk menemaninya. Rumah Delia besar dan dilengkapi kolam renang. Delia sendiri tidak begitu suka berenang. Maka Donna-lah yang lebih sering memanfaatkan. Delia juga memiliki koleksi film dalam bentuk VCD dan DVD. Donna juga yang menikmati. Kadang-kadang muncul juga pikiran negatif. Benarkah Donna menemaninya karena sayang padanya? Sebenarnya Delia tidak selalu suka ditemani. Kadang-kadang ia ingin sendirian lalu melakukan apa saja yang disukainya tanpa mengundang prasangka. Misalnya ia ingin melamun lalu bicara sendiri keras-keras. Kalau ia melakukannya di depan Donna, pastilah gadis itu akan mengira ia sudah hilang ingatan lalu menyebarkan kehebohan itu kepada seluruh anggota keluarga. Dan kalau Ratna mengetahuinya, perempuan itu pasti akan mensyukuri juga. Kemudian ketenangannya terusik oleh pertanyaan Donna yang kedengaran polos, tapi baginya sangat mengejutkan. "Tante Del, jangan marah ya. Aku disuruh Nenek menanyakan apakah Oom Agus ninggalin warisan buat dia." 23

http://inzomnia.wapka.mobi

"Warisan? Apa sih maksudnya?" tanya Delia dengan muka merah. Tekanan darahnya melonjak. "Iya, Tan. Kelewatan, kan? Aku sebetulnya segan disuruh nanya begitu. Tapi Tante kan tau sendiri cerewetnya Nenek kayak apa. Jadi bilangnya apa, Tan? Aku disuruh bawa jawaban." "Bilang aja nggak ada, Don. Oom nggak bikin surat wasiat. Dengan sendirinya miliknya jadi milikku. Memang hukumnya begitu kok." "Iya. Papa dan Mama juga bilang begitu. Tapi maklumin aja, Tan. Nenek itu tua-tua matre. Buat apa sih harta untuk orang setua itu? Pakai baju bagus dan perhiasan numpuk juga nggak bakal bikin dia jadi cantik. Malah jadi kayak lenong nanti. Ya kan, Tan?" Delia merasa sedih. Tapi juga gusar. Ratna belum mau melepaskannya. Donna memeluk Delia. "Sudah, Tante. Jangan disedihin. Cuekin aja." "Kayaknya Nenek akan mengutukku kalau ja-wabanku tidak menyenangkan, Don." "Bener, Tante. Waktu dikasih tahu Papa, dia bilang, nanti juga Tante akan bernasib sama seperti Oom Agus. Nggak selamet. Kalo Tante nggak ada, pasti semua harta Tante akan jatuh ke tangannya karena dia ahli waris satu-satunya. Apa bener begitu, Tante?" Delia terkejut sampai jantungnya serasa berhenti berdenyut. Ratna bukan cuma monster, tapi juga nenek sihir! Donna tak menyadari perasaan Delia. Ia terus bicara, "Nenek memang seperti nenek sihir. Sekarang semuanya jadi takut padanya. Mereka jadi rajin menjenguk. Tapi mereka sepakat untuk dateng barengan. Jadi kalau dia rewel dan mengomel, bisa 24 dibagi rata. Semakin banyak kuping yang dengar, rasanya jadi semakin ringan." "Katakan, Don. Apa kalian semua percaya bahwa meninggalnya Adam dan Oom Agus karena kutukan Nenek?" Donna tampak kurang nyaman. "Percaya nggak percaya sih, Tante," sahutnya segan.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Menurut aku, Don. Hidup kita itu di tangan Tuhan. Bukan kutukan manusia." "Kalo yang namanya santet, guna-guna dan semacamnya, kan ada?" "Sudahlah. Jangan ngomongin soal itu lagi, Don." Tapi Delia menyimpan kerisauan. Sampai kemudian Donna kembali dengan masalah yang sama. "Nenek marah, Tan. Seperti biasalah. Mulutnya tajam." "Mengutukku?" "Ya. Biasa. Oh ya, Tante. Kayaknya Tante harus hati-hati kalau ada cowok mendekat." "Kenapa?" Delia heran. "Siapa tahu dia cuma menginginkan harta Tante. Bukankah nanti dia yang berhak atas harta Tante?" Delia tertegun. Sepertinya Donna terus memikirkan hal itu. Apakah itu pikirannya sendiri atau orang lain? "Ah, soal itu sih gimana nanti aja, Don." "Emangnya Tante mau sendirian terus?" "Bukan soal mau nggak mau, Don. Itu gimana nasib aja." "Apa saat ini sudah ada cowok yang mendekati Tante?" "Lupa ya, Don. Aku ini sudah tua." "Tante masih cantik. Belum tua kok. Kaya, lagi." "Kaya? Ah, yang bener? Punya toko bukan berarti kaya." 25 "Tante mah merendah aja." "Sekarang bisnis lagi sepi, Don. Saingan tambah banyak. Pembeli tambah sedikit." "Tapi kayaknya ramai aja, Tante." "Iya. Orang-orang cuma lihat-lihat dan pegang-pegang, tapi nggak beli." Donna memandang ke seputar rumah. Delia memahami arti pandangnya. Rumah sebagus itu pastilah rumah orang kaya. Makna kaya itu relatif. Ia jadi diingatkan dan sedih karenanya. Buat apa rumah besar dan bagus bila cuma ditempati sendirian? Tak ada lagi cinta dan kehangatan di situ. Yang terasa adalah sepi, dingin, dan hampa. "Seharusnya Tante membuat surat wasiat dari sekarang. Sebagai persiapan aja. Daripada nanti dicaplok Nenek."

http://inzomnia.wapka.mobi

Sebenarnya Delia merasa kesal. Donna bicara seakan kematiannya sudah di ambang pintu. Meskipun demikian, ia menganggap ucapan itu sebagai peringatan yang patut ia pikirkan. Yang pasti, ia takkan membiarkan apalagi merelakan hartanya jatuh ke tangan Ratna! *** Sekeluarnya dari tol Cikampek, Delia berbelok ke halaman parkir sebuah restoran. Ia merasa lapar. Bekal roti yang dibawanya dari Bandung sudah habis dimakan sedikit-sedikit di sepanjang jalan. Ia sudah bertekad tidak akan terlalu sering berhenti di jalan hanya untuk makan. Ia agak paranoid mengenai keselamatan uang yang dibawanya. Tapi sekarang ia tidak tahan lagi. Orang perlu makan supaya bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik, walaupun 26 sebentar lagi orang yang sama ingin mengakhiri hidupnya! Ia memarkir mobilnya di depan jendela besar, lalu duduk di balik jendela itu supaya bisa melihat mobilnya. Keadaan sepi. Mungkin karena saat itu belum saatnya makan malam tapi sudah lewat makan siang. Sambil menunggu pesanannya, ia mengambil koran dari atas meja yang terletak di sudut. Sebuah koran pagi Jakarta. Ternyata itu koran lama bertanggal dua minggu yang lalu. Sudah lusuh, tapi bisa digunakan sebagai bahan bacaan daripada merenung dan melamun. Atau berpikir tentang Ratna. Atau rencananya yang sudah matang. Terlalu banyak dipikirkan bisa membuatnya jadi mentah lagi. Padahal ia sudah setengah jalan. Tak mungkin mundur lagi. Sebuah berita menarik matanya. "Bunuh Diri di Sebuah Motel", demikian judul berita itu. Intinya, seorang wanita muda ditemukan petugas motel sudah menjadi mayat di kamarnya. Dari pemeriksaan diketahui bahwa wanita itu mengakhiri hidupnya dengan minum racun serangga. Sebenarnya berita semacam itu sudah tidak unik lagi. Sudah sering terjadi. Orang bisa bunuh diri di mana saja semaunya. Tapi tampaknya sering dilakukan di kamar penginapan, hotel atau motel dan sejenisnya. Mungkin karena situasinya lebih menjamin privasi dibanding tempat terbuka.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tetapi bukan berita itu yang menarik bagi Delia, melainkan motelnya. Namanya Motel Marlin. Ia mencatat nama motel dan lokasinya. Kepada pelayan yang mengantarkan makanannya ia bertanya perihal alamat tersebut kalaukalau bisa diberikan petunjuk. Ternyata pelayan itu bisa memberi keterangan dengan lengkap. Ia akan menuju Motel Marlin. 27 BAB 3 Yasmin duduk di depan meja riasnya dengan air mata berlinang. Sudah beberapa kali suaminya, Hendri, mengatarnya sebagai tua prematur. Sekarang ia mengamati wajahnya dengan cermat. Dengan perasaan pedih ia terpaksa mengakui kebenaran ucapan Hendri itu. Usianya dua puluh delapan tahun, tapi kelihatan sepuluh tahun lebih tua. Dahinya berkerut. Sudut matanya sudah memperlihatkan kerut-kerut halus. Pipinya kendur, bahkan tampak menurun hingga tertarik ke bawah ujung bibirnya. Ia kelihatan murung dan tidak segar. Sepertinya ia baru sembuh dari sakit yang lama dan perlu rehabilitasi yang intens dan lama juga. "Aku jelek... aku frigid...," keluhnya dengan perasaan tak berdaya. Air matanya mengalir semakin deras. Dalam keadaannya yang seperti itu bisakah ia mengharapkan masa depan yang cerah? Apalagi bila ia menggantungkan masa depan itu bukan pada dirinya sendiri, melainkan pada Hendri. Sedang Hendri tampaknya sulit diharapkan bisa mengubah sikap. Dialah yang harus berubah. Tapi justru itu yang sulit. Yasmin sesenggukan sekarang. Tapi tatapannya 28 tetap ke arah cermin, mengamati dirinya sendiri yang larut dalam keputusasaan. Kemudian tiba-tiba ia tersentak kaget. Matanya melotot ke cermin. Mulutnya ternganga. Sebuah ekspresi horor. Perempuan muda atau

http://inzomnia.wapka.mobi

nenek-nenekkah itu? Apakah itu gambaran dirinya yang sesungguhnya? Dia sudah berubah menjadi seorang nenek? Tangisnya berhenti. Lihatlah pipi yang menggantung, mata sembap berkantong, mulut yang tertarik ke bawah, dan kulit yang kering berkeriput itu. Muka seperti itu bukanlah miliknya setahun yang lalu. Usia perkawinannya baru setahun! Bisa dibandingkan dengan potret perkawinannya yang tergantung di dinding. Bisakah orang menemukan persamaan di antara fotonya itu dan dirinya yang sekarang? Palingpaling orang akan mengatakan bahwa itu foto lama! Mendadak ia disadarkan. Seperti pukulan keras ke kepalanya. Bukankah selalu ada sebab-akibat? Bahwa keadaan yang satu bisa menjadi sebab atau akibat dari keadaan yang lain? Penyebab keadaannya sekarang adalah air mata! Itulah yang membuatnya tua prematur. Tapi air mata juga ada penyebabnya. Tak ada air mata tanpa gejolak. Bagaimana mungkin mencegah keluarnya air mata? Bagaimana mungkin menghindari atau menyangkal adanya gejolak kalau itu memang nyata ada? Sulitnya, ia tidak tahu penyebabnya apa atau harus menyalahkan siapa. Ia pun tidak bisa membawa masalahnya pada seseorang yang mungkin bisa memahami dan mencarikan jalan keluar. Ia malu! Ia takkan sanggup mengungkapkannya. Pelan-pelan ia berdiri, tapi kemudian mengaduh dan meringis karena sakit dan nyeri yang amat sangat. Ia melangkah terseok-seok ke tempat tidur. 29 Setiap langkah terasa menyakitkan, membuat pedih dan perih. Ia membaringkan diri dengan posisi yang diatur begitu rupa hingga sakitnya minim. Di pagi hari seperti itu, setelah Hendri berangkat ke kantor, ia " punya banyak waktu untuk dirinya sendiri. Tadi ia memaksa diri menemani dan melayani Hendri sarapan dan berusaha keras melupakan sakitnya. Berpura-pura tersenyum seakan tak ada masalah. Tapi ia tahu Hendri tak bisa dibohongi. "Sakit lagi?" tanya Hendri.

http://inzomnia.wapka.mobi

Walaupun Hendri bertanya begitu, Yasmin merasa tak ada simpati atau empati pada sikap Hendri. "Ah, nggak," ia membantah. "Kok jalanmu kayak orang baru melahirkan bayi gede," Hendri memperoloknya. Yasmin menahan air matanya. Ucapan Hendri itu terasa seperti penghinaan. "Syukurlah kalau memang nggak sakit. Jadi sudah bisa menikmati? Enak?" Ia tak bisa menjawab. "Kalau memang enak, nanti kita lakukan lagi, ya?" Ucapan itu kedengaran menggoda, tapi ia tak bisa menyembunyikan kaget dan ngerinya. Wajahnya memperlihatkan perasaannya. Dengan gampang Hendri bisa membacanya. Lelaki itu pun terbahak-bahak, seakan melihat sesuatu yang menggelikan. Yasmin hanya bisa menundukkan kepala. Baru setelah Hendri pergi, ia bisa menjadi dirinya sendiri, memperlihatkan apa yang dirasa dan dipikirkannya. Sebenarnya ia tidak sendirian saat itu. Masih ada seorang pembantu bernama Inem, perempuan muda bertubuh sintal dengan pantat dan payudara besar. 30 Inem suka mengamatinya. Yasmin tidak suka tatapan Inem? Sepertinya ada cemooh di mata perempuan itu. Ia malu karena yakin Inem sudah tahu masalahnya. Padahal Inem tidak pernah bertanya kenapa jalannya suka tertatih-tatih dengan muka meringis. Ia marah karena Hendri suka membandingkannya dengan Inem. "Lihat si Inem itu. Dia begitu energik. Kuat dan gagah. Nggak seperti kamu yang loyo dan lesu," kata Hendri. Sebenarnya dia ingin menyahut, "Sebelum kawin aku juga energik. Kau tahu sendiri, kan? Dulu aku jago basket dan voli!" Tapi ia tidak ingin membuat Hendri berang lalu balas menyahut, "Jadi kau menyalahkan aku?" Jadi sebaiknya ia diam saja. Sudah terbukti itu lebih aman.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ia tidak berniat menyalahkan Hendri karena menganggap dirinyalah yang salah. Ada yang tidak beres dengan dirinya. Dulu ia mencari kebahagiaan lewat pernikahan. Apalagi ia menikah karena cinta. Tapi "apa yang ditemukannya jauh dari harapan. Bahkan horor yang didapatnya. Horor itu adalah seks! Dulu ia suka membaca novel romantis yang menggambarkan seks demikian indahnya. Kata-kata dirangkai begitu rupa hingga menimbulkan sensasi yang amat menyenangkan. Luar biasa. Pasangan yang sedang bercinta digambarkan mengalami puncak kenikmatan tak terhingga. Sepertinya tak ada kenikmatan yang lebih daripada itu. Sekarang, setelah mengalami sendiri, ia menganggap cerita itu sebagai kebohongan besar dan rekayasa pengarang semata-mata agar karyanya bisa membuai pembaca. Ia berpacaran dengan Hendri selama tiga tahun sebelum akhirnya mereka menikah. Selama masa 31 pacaran itu Hendri selalu berlaku romantis tapi tak pernah kelewat batas. Hendri selalu terkendali. Yasmin amat menghargainya atas sikap lelaki itu. Setahu dia, banyak pasangan sudah bertindak terlalu jauh termasuk teman-temannya. Bagi mereka seks bukan tabu lagi. Semua serba permisif. Katanya, hal itu disebabkan para lelaki kesulitan mengendalikan nafsu mereka. Orang berpacaran cenderung mencari dan mencuri kesempatan supaya bisa berduaan. Tapi sekalinya berduaan bisa lepas kontrol. Katanya lagi, bukan Cuma lelaki, perempuan pun bisa kesulitan mengendalikan nafsu. Jadi sama-sama. Semua itu memang cuma "katanya". Ia mendengarnya dari cerita orang lain. Pengalamannya sendiri tidak ada. Hanya dari cerita itu ia menilai diri sendiri dan juga diri Hendri. Adakalanya mereka bisa mendapat kesempatan berduaan. Bahkan kalau mau diusahakan, kesempatan itu banyak sekali. Tapi apa yang mereka lakukan hanya sebatas berpelukan dan berciuman. Tak ada raba-rabaan atau buka-bukaan. Jadi ia menunggu malam pertama perkawinan dengan penuh ketegangan. Seperti apa rasanya?

http://inzomnia.wapka.mobi

Hendri memang mengawalinya dengan baik. Ia pintar merayu dan mengarahkan. Yasmin merasa terbuai dan siap mengalami sensasi yang menyenangkan. Tapi ketika penetrasi terjadi, ia merasakan kesakitan yang luar biasa. Ia sampai menjerit. Mulut Hendri membekapnya dengan ciuman yang lekat. Maka ia hanya bisa ah-ah uh-uh menahan sakit. Kedua tangannya mencengkeram punggung Hendri sampai kuku panjangnya menusuk-nusuk, tapi Hendri seperti tidak merasakan sakit. Lelaki itu terus saja mengguncang tubuh Yasmin untuk melampiaskan gejolaknya. Harus dituntaskan. 32 Ketika pinggul Hendri bergerak dari pelan menjadi cepat, Yasmin merasa seperti berada dalam neraka, tempat ia tengah menjalani siksaan. Perut bagian bawah seperti dirobek-robek dan ditikam pisau panjang. Nyerinya tak kepalang. Ia menjerit, merintih, dan menangis, tapi Hendri seperti buta dan tuli. Dia asyik dengan dirinya sendiri. Ketika akhirnya proses itu selesai, Hendri menjatuhkan diri di samping Yasmin dengan kepuasan tak terhingga di wajahnya. Padahal Yasmin hampir pingsan. Baru ketika mendengar rintihan Yasmin, Hendri menoleh kepadanya dengan heran. "Kenapa kau?" "Sakiiit...," keluh Yasmin. Hendri mengamati istrinya. Ia melihat darah membasahi seprai di bawah Yasmin. Bukannya merasa prihatin, ia malah tersenyum dengan ekspresi puas tetap membayang di wajahnya. Yasmin terkejut. Baginya, itu senyum paling jahat dari orang yang dicintainya. "Itu sih biasa, Yas. Sakit di malam pertama itu wajar saja. Tanda kamu masih perawan," katanya ringan. "Tapi sakitnya kok gitu sih? Mau mati rasanya." "Sudah. Jangan cengeng begitu. Pergi bersihkan badanmu. Ganti seprainya." Dengan menahan sakit Yasmin melaksanakan perintah itu. Ia hampir tak bisa berjalan dan terpaksa beringsut-ingsut, tapi Hendri tak mau

http://inzomnia.wapka.mobi

membantunya karena menganggapnya melebih-lebihkan. Manja dan cengeng. Di kamar mandi Yasmin menangis. Waktu buang air kecil rasanya perih dan nyeri. Demikian pula bila terkena air. Ia memberitahu Hendri tentang hal itu. 33 "Sepertinya ada luka, Hen. Kok bisa ya?" Hendri tidak merasa perlu mencemaskan. "Itu wajar, Yas. Kau harus menerimanya. Nanti juga sakitnya hilang. Memangnya kau mau jadi perawan selamanya?" Dengan santai Hendri merebahkan diri di sofa sementara Yasmin mengganti seprai dengan susah payah. Yasmin merasa rasa sakit bukan hanya di tubuhnya, tapi juga di hatinya. Apakah selama ini dia salah menilai Hendri? Bukankah tiga tahun itu waktu yang cukup lama? Tapi selama tiga tahun itu ia tidak punya pengalaman seks bersama Hendri. Ia tidak tahu apa-apa tentang seks. Meskipun demikian, yang tetap membuatnya penasaran adalah sikap Hendri. Ke mana empatinya? Bagi Yasmin, malam pertama adalah malam horor. Hendri membujuknya bahwa malam-malam berikutnya tidak akan seperti itu lagi. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Setiap kali hubungan seks membuatnya kesakitan. Tak berbeda dan tak berkurang dari malam pertama. Celakanya, Hendri menginginkannya hampir tiap malam. Yasmin minta dijarangkan supaya bisa memberi kesempatan kepada rasa sakitnya agar berkurang atau hilang. Misalnya seminggu sekali. Tapi Hendri menolak. "Masa aku disuruh puasa? Kita kan masih pengantin baru!" katanya sengit. Yasmin merasa menghadapi dilema. Ia kesakitan. Ia tidak sanggup. Tubuhnya sudah terasa robek dan hancur. Tapi ia sering mendengar bahwa seks adalah bagian penting dari perkawinan. Mana mungkin suami disuruh puasa? Bukankah sudah kewajiban istri melayani suami? Beberapa kali terpikir untuk berkonsultasi ke dokter, 34

http://inzomnia.wapka.mobi

tapi rasa malu menahannya. Sementara Hendri juga tidak menganjurkan, malah bersikap sinis. "Pasti kau akan dianggap frigid," katanya tanpa perasaan. "Frigid? Nggak normal, gitu?" "Iya. Apalagi kalau bukan?" "Mungkin kau terlalu kasar, Hen. Mestinya pelan-pelan," Yasmin mencoba berargumentasi. Hendri melotot marah. "Apa? Kau nyalahin aku? Pelan-pelan gimana sih? Kalau sedang begitu mana bisa disuruh pelan-pelan? Gerakan itu kan terjadi secara spontan," katanya meremehkan. "Mungkin... mungkin anumu terlalu besar," Yasmin memaksa diri mengatakannya meskipun merasa malu. Sejak awal ia ingin mengomentari hal itu. Tapi selalu tertahan karena berpikir, bagaimana mungkin ia bisa menilai seperti itu kalau ia belum pernah melihat kepunyaan orang-orang lain untuk dijadikan perbandingan? Hendri tambah marah. "Dasar goblok! Mana ada istilah kebesaran atau kekecilan buat lelaki? Sok tahu. Perempuan kan dirancang untuk menerima ukuran berapa pun. Coba pikir, bagaimana perempuan bisa melahirkan?" Yasmin tak bisa menyahut. "Lantas maumu apa?" tanya Hendri galak. "Bagaimana kalau melakukannya jarang-jarang?" "Jarang bagaimana? Sebulan sekali? Setahun sekali? Dasar egois!" "Sakit, Hen. Betul-betul sakit." "Bagaimana nggak sakit kalau yang kaubayangkan adalah sakit melulu dan bukan kenikmatannya? Jelas yang terasa adalah sakit beneran." "Nikmatnya memang nggak ada." 35 "Nah itu. Kau memang frigid. Ah, aku sungguh kecewa. Terus terang saja. Kukira aku bisa menyenangkan kau dengan kejantananku. Kusimpan baik-baik sampai saatnya tiba. Karena itu aku bisa menahan diri dengan baik selama berpacaran denganmu. Tahu-tahu jadi begini. Kau malah

http://inzomnia.wapka.mobi

nangis-nangis. Boro-boro memuji. Sebagai lelaki, aku jadi merasa nggak berharga. Padahal perempuan lain merem-melek kesenangan. Tapi kau?" Yasmin terkejut. "Apa maksudmu dengan perempuan lain?" Hendri merasa sudah kelepasan bicara. Tapi masa bodoh. "Sudahlah," katanya cuek. "Aku mau tahu," Yasmin berkeras. "Buat apa? Kau bisa apa?" Hendri pergi menghindar. Yasmin tak mau mengejar. Ia takut akan ada kejutan lain dari Hendri. Tapi ia merasa cemas, juga terhina. Harga dirinya terus-menerus direndahkan. Tapi ia mencintai Hendri. Kata orang, seks itu penting buat lelaki. Tidak sepenting seperti bagi perempuan. Kalau tidak dilayani, dengan gampang lelaki akan lari ke perempuan lain. Maka selanjutnya Yasmin berusaha keras tetap meladeni keinginan Hendri. Ia berusaha membayangkan kenikmatan seperti yang digambarkan novel-novel romantis, tapi tetap saja ia merasa kesakitan seperti dirobek dan dikoyak-koyak. Dan Hendri tetap saja tidak berperasaan. "Kayaknya aku tengah bercinta sama boneka saja. Mukamu juga mengerut sepertinya sedang disiksa," gerutunya. Yasmin berusaha tidak mengeluh lagi. Tapi ekspresi kesakitan tidak bisa disembunyikannya. 36 Suatu ketika Yasmin menyadari frekuensi kegiatan seks yang diinginkan Hendri jadi berkurang. Lebih jarang daripada sebelumnya. Mestinya ia merasa lega karena sakitnya pun jadi berkurang dan ia punya waktu untuk memulihkan diri sebelum kegiatan berikutnya terjadi. Tapi ia malah cemas dan curiga. Orang dengan gairah seks seperti Hendri tak mungkin disuruh berpuasa seperti yang dikatakan Hendri sendiri. Tapi tentu saja Yasmin tidak bisa menanyakannya secara langsung. Lalu ia memergoki kejailan Hendri kepada Inem. Tangan Hendri sering mampir ke bagian tubuh Inem, terutama ke pantat dan payudaranya. Sedangkan Inem tampak senang dan tertawa genit. Itu indikasi yang bagi Yasmin sudah cukup untuk menyimpulkan ke mana Hendri beralih selama ini. Tentu saja ia sakit hati. Tapi lagi-lagi ia tak bisa apa-apa. Ia

http://inzomnia.wapka.mobi

cuma bisa berpura-pura tidak melihat dan sengaja tidak melihat supaya terhindar dari sakit hati. Sayangnya, kesimpulan sudah telanjur muncul dan menetap. Ia heran, kenapa Inem tidak tampak kesakitan atau berjalan seperti dirinya bila diandaikan bahwa ia memang melakukan hubungan seks dengan Hendri? Apakah Inem bisa menikmati kegiatan itu? Kalau begitu, memang dirinyalah yang tidak beres. Dan benar juga ucapan Hendri, bahwa perempuan lain malah merem-melek saat melakukannya bersamanya. Untuk mengetahui kebenarannya, Yasmin terpaksa pergi ke ahli kandungan, Dokter Minarti. Perginya diam-diam, tanpa memberitahu Hendri. "Ibu baik-baik saja. Tak ada kelainan pada vagina 37 dan mulut rahim. Semua normal, Bu," Dokter Minarti memastikan seusai pemeriksaan. "Tapi kenapa sakitnya bukan main, Dok?" "Apakah ukuran penis suami Ibu terbilang besar?" tanya Dokter Minarti seolah pertanyaan itu sangat biasa. Bagi Yasmin itu tidak biasa. Mukanya memerah. "Saya tidak tahu, Dok. Kan saya tidak pernah lihat punya orang lain." Dokter Minarti tersenyum. "Oh ya, tentu saja. Tapi begini, bagaimana saat penetrasi, apakah itu saja sudah sakit?" "Kalau itu sakitnya cuma malam pertama saja, Dok." "Sesudah itu tidak sakit?" "Tidak, Dok. Tapi kalau suami mulai bergerak, terasalah sakitnya. Makin lama makin sakit." "Apakah dia melakukannya dengan kasar?" "Ya, Dok." "Apa Ibu tidak bilang padanya bahwa perlakuannya itu menyakitkan?" "Sudah, Dok. Tapi katanya saya cengeng dan frigid karena perempuan lain bisa menikmati." Dokter Minarti tertegun. Tampak geram. "Apakah orangnya memang kasar, suka ringan tangan misalnya?" "Sama sekali tidak, Dok. Cuma soal itu saja."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apa dia menunggu di depan, Bu? Bisa dipanggil ke sini?" "Saya datang sendiri, Dok. Dia tidak tahu saya ke sini." "Ah, jadi Ibu ke sini bukan atas anjuran dia?" Yasmin menggeleng. Ia merasakan simpati dokter di depannya, tapi itu justru membuatnya semakin sedih. 38 "Bu, masalah ini tidak bisa diselesaikan sepihak karena kegiatan ini dilakukan dua orang. Obat penghilang rasa sakit tidak ada gunanya. Harus dicari upaya supaya dia tidak terus-terusan menyakiti Ibu. Bukankah Ibu hidup bersamanya bukan untuk sementara saja? Masih bisa dicari cara yang tetap bisa memuaskan tanpa menyakitkan." Dokter Minarti membuka laci mejanya. Ia menyodorkan sehelai kartu nama kepada Yasmin. "Ini nama psikiater yang spesialisasinya di bidang seks. Bujuklah suami Ibu agar mau diajak ke sana." Tapi Yasmin menyimpan kartu itu. *** Sebulan berlalu tanpa sentuhan Hendri. Yasmin senang karena tidak disakiti, tapi sedih karena memastikan Hendri melakukannya dengan orang lain. Mungkin Inem? Lalu Hendri mendekatinya. "Aku kangen padamu," katanya. Belum apa-apa bulu roma Yasmin sudah berdiri. Hendri mencumbunya dengan berbagai cara, tapi gairahnya sama sekali tidak terbangkitkan. Sebaliknya, ia ketakutan dan berkeringat dingin. Hendri menyadari hal itu dan menjadi gusar. "Hei, kau takut sama aku, ya? Memangnya aku monster?" hardiknya. "Dengar dulu, Hen. Tempo hari aku ke dokter. Katanya aku baik-baik saja. Tak ada yang salah pada diriku." "Lalu?" "Dia menganjurkan agar kita berdua konsultasi ke ahlinya." 39 "Ahli apa?" "Ahli seks."

http://inzomnia.wapka.mobi

Hendri tertawa mencemooh. "Bukankah yang bermasalah itu kau? Kenapa harus "berdua?" "Karena ini kegiatan berdua." "Tidak bisa. Perempuan lain tak ada yang mengeluh. Cuma kau. Jadi pastilah kau yang salah." Hendri meraih Yasmin. Tak lagi memberi kesempatan untuk berbicara. Ia melumat Yasmin habis-habisan. Bagi Yasmin saat itu merupakan puncak rasa sakit yang pernah dialaminya. Ia merasa tercabik dan terbelah-belah. Isi perutnya seperti dikocok-kocok. Dan tampaknya tak kunjung berakhir. Ia merintih, menangis, dan menjerit, tapi Hendri tidak menghentikan kegiatan atau melambatkan gerakannya. Sepertinya ekspresi kesakitan Yasmin justru membuatnya semakin bergairah. Setelah selesai, Yasmin terkulai setengah pingsan, tapi dengan tega Hendri mencubit pinggulnya. "Hebat ya aku?" katanya sambil tertawa. Yasmin merasa jadi orang paling menderita di dunia. Yang paling menyakitkan sebenarnya bukanlah sakit fisik seperti sekarang ini, tapi tak adanya perhatian dari Hendri. Dan tak ada empati barang sedikit pun. Ia teringat ucapan Dokter Minarti, "Ibu jangan pasrah saja. Lakukan sesuatu. Lindungi diri Ibu." Ia memang harus berbuat sesuatu. Tak mungkin begini terus. Dialah yang harus berinisiatif karena Hendri tak berniat mengubah keadaan. Tapi solusinya bukanlah bercerai. Kemudian ia menemukan selembar kartu nama di dalam saku celana kotor Hendri. Warnanya biru 40 muda. Tertulis di situ dengan huruf indah berwarna biru tua, "Motel Marlin" lengkap dengan alamat dan nomor telepon serta faks-nya. Tidak sulit bagi Yasmin untuk menduga apa hubungan Hendri dengan Motel Marlin. Tempat itu biasanya dipilih orang bukan cuma untuk menginap, tapi juga untuk bercinta. Di samping itu masih ada lagi yang lain.

http://inzomnia.wapka.mobi

Beberapa waktu yang lalu, entah berapa lama ia tak ingat lagi, ada peristiwa bunuh diri di situ. Ia membacanya di koran. Pasti bukan karena kebetulan ia menemukan kartu nama itu. 41 BAB 4 Motel marlin terletak di dekat jalan layang dan jalan tol yang ramai. Dari jalan layang, papan nama Motel Marlin jelas terlihat oleh mereka yang berkendaraan. Papan nama itu sudah pudar catnya, tapi hurufhurufnya masih jelas terbaca dari jarak jauh. Deretan kamar memanjang dan menyiku. Deretan itu terdiri atas barisan dua kamar yang saling membelakangi. Pintu-pintu menghadap ke halaman parkir. Jadi barisan kamar itu terletak di tengah halaman parkir. Jumlah kamar yang disewakan ada empat puluh. Motel itu menempati areal tanah yang cukup luas. Ideal untuk sebuah motel yang menyediakan tempat parkir di depan setiap pintu kamar. Letaknya di pinggir jalan besar dengan akses yang mudah ke segala penjuru kota. Cukup strategis. Tapi motel itu nyaris terkena penggusuran saat pembangunan jalan tol. Untung rencana jalan tidak melewati atau menembusnya. Menilik kondisi bangunan yang tampak sederhana dan berbentuk kaku, bisa diperkirakan motel itu sudah berusia lanjut dan tak pernah mengalami renovasi, tapi kelihatannya cukup terpelihara karena tidak berkesan kumuh. Dindingnya bercat putih, pintu-pintu dan kusen jendela dipelitur cokelat tua. 42 Jendelanya sendiri berkaca nako dan berjeruji besi dengan tirai dua lapis. Satu vitrage dan satu lagi kain tebal berwarna cokelat dengan motif bunga timbul. Tidak selalu tamu yang datang membawa mobil. Tapi biarpun tak ada mobil yang parkir di depan pintu, bisa diketahui apakah sebuah kamar terisi, yaitu dari tirai tebal yang menutup jendela rapat-rapat, demikian pula kaca nakonya sehingga dari luar tak bisa melihat ke dalam.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tentunya penghuni tak ingin kegiatannya di dalam kamar bisa terlihat orang di luar. Bila kamar kosong, maka selain tak ada mobil yang parkir di depan pintu, kaca nakonya terbuka dan tirai vitrage menutup jendela. Halaman parkirnya kering dan gersang. Tidak ada pepohonan barang satu pun. Pemiliknya menganggap fungsi halaman itu memang untuk parkir dan bukan untuk taman. Tanpa pepohonan, halaman akan tampak selalu bersih karena tak ada daun-daun kering berserakan. Jadi tak perlu disapu sering-sering. Pemiliknya adalah dua lelaki bersaudara. Kosmas dan Erwin. Mereka mewarisi motel itu dari ibu mereka yang ketika itu sudah menjanda. Sang ibulah yang membangunnya bersama ayah mereka. Masa kecil mereka berawal di situ. Saking akrabnya dengan tempat itu, tak pernah terpikir oleh mereka untuk ganti usaha apalagi pindah ke tempat lain. Padahal banyak pengusaha yang mengincarnya karena letaknya yang strategis. Ada yang ingin menjadikannya sebagai hotel berbintang, ada pula yang ingin membuat mal. Tawarannya cukup menggiurkan, tapi mereka tidak tertarik. Sesepi-sepinya bisnis mereka, mereka masih bisa melanjutkan kehidupan dengan pasang-surutnya sendiri. Memang tidak jadi kaya, tapi bisa hidup 43 dengan wajar. Jadi kaya bukanlah tujuan. Yang penting bisa menikmatinya. Uniknya, kedua bersaudara itu hampir selalu seia sekata. Bukan berarti yang satu mengekor yang lain atau yang satu menguasai yang lain. Tapi mereka punya kesamaan dalam memandang kehidupan. Sama persis tentu tidak, karena kadang-kadang mereka baru menghasilkan kesepakatan setelah berdebat seru. Ada beberapa hal yang membuat mereka rukun. Pertama, peran orangtua terutama ibu yang mendidik mereka. Kedua, mereka samasama belum beristri! Biasanya seorang istri mempunyai pendapat dan tuntutan sendiri yang bisa merenggangkan mereka. Kosmas sudah berusia empat puluh tahun, sedang Erwin tiga puluh lima. Jadi bisa dibilang mereka adalah bujang lapuk atau hampir lapuk.

http://inzomnia.wapka.mobi

Dibilang berat jodoh juga tidak. Mereka juga bukan tak ingin berkeluarga atau sengaja menghindari karena mementingkan kerukunan di antara mereka. Beberapa kali keduanya mendapat pacar, tapi sekian kali pula hubungan berakhir. Yang satu putus, yang lain pun putus. Ada saja penyebabnya. Yang sering adalah karena si pacar ingin mencampuri atau mengganggu hubungan mereka, menyangkut soal bisnis yang dijalani bersama-sama. Kebanyakan ingin si abang dan si adik menjalani bisnis terpisah. Bahkan ada yang terus terang menganjurkan supaya menjual saja motel itu lalu uangnya dibagi dua dan selanjutnya menggunakannya sebagai modal untuk berusaha sendiri-sendiri. Meskipun bersaudara, keduanya tidak memiliki kemiripan fisik. Kosmas bertubuh tinggi besar, berkulit hitam, dan berwajah sangar. Sebaliknya Erwin bertubuh langsing tapi sama tinggi, berkulit kuning 44 langsat, dan berwajah tampan. Tapi tak sulit untuk menemukan penyebabnya. Kosmas mirip ayahnya sedang Erwin mirip ibunya. Kosmas duduk di kantornya pada siang hari itu. Ia terkantuk-kantuk. Situasi sepi. Tamu yang datang sudah menyurut. Jam makan siang sudah lewat. Biasanya pada jam istirahat kantor itu, banyak pasangan yang datang untuk menyewa kamar jam-jaman. Minimal sejam yang biasanya diambil. Mereka bermaksud untuk "bobok siang". Pada saat yang sama, biasanya cukup banyak pasangan yang datang. Tapi dua minggu terakhir ini tamu yang datang berkurang hampir separuhnya. Penyebabnya gampang ditebak. Sekitar dua minggu yang lalu ada orang bunuh diri di kamar nomor 14. Mungkin mereka takut ada hantunya atau tak ingin ikut-ikutan diperhatikan karena ingin merahasiakan kedatangan mereka ke situ. Dalam sejarah berdirinya Motel Marlin, sudah beberapa kali terjadi peristiwa seperti itu dengan akibat yang sama sesudahnya. Perempuan itu datang naik taksi. Namanya Yuli, seperti yang tertera dalam KTP-nya. Ia masih muda dan cukup cantik. Tapi sendirian. Biasanya orang datang berpasangan. Barangkali pasangannya datang

http://inzomnia.wapka.mobi

belakangan? Apalagi dari KTP-nya itu jelas dia warga Jakarta. Kenapa harus menginap di motel dan bukan di rumah sendiri? Mungkin sedang ribut dengan suami dan ingin menyendiri? Tentu saja bukan baru sekali ada perempuan yang datang sendirian untuk menginap di situ. Ada banyak sebab yang mendorong orang melakukan sesuatu. Tetapi pertanyaan-perta45 nyaan itu tak perlu dicari jawabannya apalagi ditanyakan kepada yang bersangkutan. Tamu datang dan pergi membawa urusan dan masalah masing-masing. Yuli check in untuk semalam. Besok pagi ia akan keluar. Tapi dari sore sampai malam ia tidak pernah keluar untuk mencari makanan. Ada banyak warung makan dan restoran di sekitar tempat itu. Tapi tingkah Yuli tidak dianggap sebagai kejanggalan. Mungkin saja ia membawa makanan kering misalnya roti, dan malas keluar untuk mencari makanan. Kejanggalan baru terasa esoknya ketika ia seharusnya sudah keluar tapi belum juga keluar. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, Kosmas dan Erwin menghubungi polisi. Mereka menemukan Yuli sudah meninggal. Ada sisa racun serangga di dekatnya. Yang lebih mengejutkan adalah pengakuan yang ditulis Yuli dan ditemukan di atas meja. Ia menulis bahwa dirinya sedang hamil akibat hubungan dengan pacarnya yang kabur setelah diberitahu tentang kehamilannya. Padahal si pacar adalah orang yang tidak disukai orangtuanya. Karena itulah ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Kosmas yang berwajah sangar itu menjadi sedih. Meskipun memiliki penampilan seperti preman, ia berhati lembut dan perasa. Ia merasa ikut bersalah karena kejadian itu terjadi di tempatnya sedang ia tidak melakukan apa-apa. Ia juga marah kepada Yuli karena membawa serta janinnya kepada kematian. Ia marah kepada orangtua Yuli karena yakin pastilah mereka orang-orang otoriter yang sulit memaafkan. Tapi dia dan Erwin sepakat bahwa kejadian semacam itu sulit dicegah. Bagaimana memastikan orang yang datang sendirian itu bermaksud bunuh diri?

http://inzomnia.wapka.mobi

46 Mustahil ditanyai dulu saat mau check in. Atau memasang pengumuman "Dilarang bunuh diri!"? Kosmas tersentak dari kantuknya. Ke mana Erwin? Seharusnya adiknya itu menggantikannya berjaga di kantor. Kebetulan Adi lewat. Adi salah seorang karyawan yang biasa diberi tugas jaga kantor. Mereka bergiliran sesuai waktu masing-masing. Kosmas memanggilnya. "Di, jaga sebentar ya! Aku mau cari Erwin dulu." "Pak Erwin ada di kamar 14, Pak," Adi membe-ritahu. "Ngapain dia di sana?" "Nggak tahu, Pak. Mungkin ngecek aja." Kosmas bergegas menuju kamar 14. Kantornya sendiri terletak di bagian siku, diapit sebagian ke kiri dan sebagian lagi ke kanan. Sedang di bagian belakang terletak dapur dan ruang makan berikut beberapa kamar untuk karyawan di samping kamar-kamar yang disewakan. Sejak kejadian tragis itu, kamar 14 dibiarkan kosong meskipun sudah dalam keadaan bersih dan siap dihuni. Selama masih ada kamar lain yang bisa diberikan kepada tamu yang membutuhkan, kamar itu tetap kosong. Kamar 14 tertutup rapat. Kosmas membuka pintunya dan melongok ke dalam. Lalu tertegun keheranan. Di tengah ruang, di lantai samping tempat tidur, Erwin sedang duduk bersila. Posisinya membelakangi pintu. Sepertinya ia tengah bermeditasi, tampak hening dan asyik. Kosmas tak berniat mengganggu. Ia 47 merapatkan pintu kembali, lalu balik ke kantor. Adi disuruhnya beristirahat. Ia akan menunggu kedatangan Erwin. Lima menit kemudian Erwin muncul dengan ter-senyum-senyum. "Telat sedikit nggak apa-apa kan, Bang?" "Nggak apa-apa sih. Tapi ngapain kau di sana tadi? Meditasi kok bukan di kamar sendiri." "Aku lagi ngecek, Bang!" "Ngecek apa?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku mencoba melakukan komunikasi dengan roh halus kalau memang ada di situ. Jangan sebut hantu," sahut Erwin dengan tenang. "Sejak kapan kau bisa berhubungan dengan roh?" "Aku kan nggak bilang bisa, tapi mencoba." Erwin tersenyum misterius. "Lantas? Apa berhasil?" tanya Kosmas. "Kayaknya gitu." "Gitu gimana?" "Kamar itu sudah bersih, Bang! Bisa diisi lagi," kata Erwin penuh keyakinan. Kosmas geleng-geleng kepala. Dalam hati ia berpikir, "Sok tahu aja kau!" Tapi ia tak mau menyinggung Erwin. "Sekarang kalau ada tamu datang, kasih aja kamar yang itu, Bang. Kecuali dia punya pilihan nomor yang lain," Erwin menyarankan. "Ah, kenapa harus yang itu? Kan masih banyak yang lain. Nantilah kalau sudah tak ada lagi yang kosong. Aku kasihan sama si tamu kalau dapat yang itu." "Kamar itu sudah benar-benar bersih, Bang! Tempat tidurnya, perabotnya, dan juga udaranya. Kalau dibiarkan kosong terus kan nggak baik juga, Bang." 48 "Nggak baik gimana?" "Nanti..." Belum sempat Erwin menyelesaikan kalimatnya, mereka melihat sebuah mobil memasuki gerbang lalu melesat masuk dan berhenti di depan kantor. "Ada tamu tuh," kata Kosmas, tapi ia tidak beranjak keluar. Ia duduk di sebelah dalam. Seorang perempuan keluar dari mobil berpelat nomor D dengan tas tangan tersampir di bahu. Dari pintu mobil yang terbuka kelihatannya ia sendirian. Ia mengenakan celana jins dan blus putih yang pas di tubuhnya yang ramping. Ia kelihatan cantik meskipun tidak muda lagi. Langkahnya gesit ketika memasuki kantor.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kosmas buru-buru berdiri untuk mendampingi Erwin. Ia ingin ikut menyaksikan dan juga ingin tahu. Perempuan itu bernama Delia, warga Bandung, berusia 40 tahun. Di dalam ruang kantor yang terang wajahnya tampak lebih jelas. Kulitnya putih, matanya jernih dinaungi alis tebal dan hidung mancung. Pipinya tidak kencang lagi dan keriput sudah menggurat di bawah matanya, tapi ekspresinya menyenangkan. Senyumnya ramah. Kosmas terpesona. "Ibu berkendaraan dari Bandung?" tanyanya. "Ya." "Wah, capek tentunya." Delia tersenyum. "Saya mau nginap tiga hari." Erwin mencatat identitas Delia dalam buku tamu. Ketika Delia membubuhkan tanda tangannya, tampak jari-jarinya polos tanpa cincin. Kosmas menyimpulkan, kemungkinan Delia wanita lajang meskipun tidak selalu pasti. Perempuan bersuami bisa saja melepas cincinnya karena alergi atau sebab lain. 49 Delia menyelesaikan pembayaran. Lalu Erwin mengeluarkan kunci dari sakunya. Bernomor 14! "Ini, Bu. Kamar nomor 14." Kosmas melotot kepada Erwin, tapi Erwin pura-pura tidak melihat. "Barangkali Ibu punya pilihan nomor lain?" tanya Kosmas sambil menunjuk nomor-nomor di dinding samping dengan kunci tergantung di bawahnya. Ia tentu tidak mungkin menjelaskan mengenai kamar nomor 14 itu. Si Erwin benar-benar kurang ajar, gerutunya dalam hati. Delia menggeleng. "Empat belas juga boleh. Bahkan tiga belas juga nggak apa-apa." Kosmas dan Erwin berpandangan. "Nomor tiga belas nggak ada, Bu," kata Erwin. "Kalau begitu nomor tiga belas digabung dengan empat belas, bukan?" tanya Delia. "Ibu ganti saja dengan nomor lain," Kosmas menganjurkan sambil berharap Delia setuju.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sudah saya bilang, sama aja. Ini juga boleh." Dengan sikap cuek Delia keluar. Kosmas bergegas mengikuti. "Mari saya tunjukkan kamarnya, Bu," ia menawarkan. "Nggak usah, Pak. Terima kasih. Saya bisa cari sendiri. Nomornya gedegede kok." "Saya bisa bawakan tasnya." "Terima kasih. Saya bisa bawa sendiri." "Biar saya nyalakan AC-nya dulu, Bu." Delia cepat-cepat masuk ke mobilnya. Kosmas mengambil kunci cadangan lalu bergegas menuju kamar 14. Ia membuka pintu dan membiarkannya terpentang. Setelah menyalakan AC, ia keluar dan menunggu sampai mobil Delia parkir di depan pintu. 50 Sebelum Delia turun dari mobilnya, Kosmas segera kembali ke kantor menemui Erwin. "Win! Kamu kelewatan amat sih!" Kosmas mengomel. "Sudahlah, Bang. Jangan marah dong. Dia kan nggak menolak. Dia baikbaik saja kok. Apalagi orangnya kelihatan pemberani. Coba saja lihat. Dari Bandung dia bawa mobil sendirian. Dia bisa membantu kita dengan mengembalikan citra kamar itu." "Aku kasihan sama dia, Win," suara Kosmas melunak. "Dia kan nggak tahu, Bang." "Kalau ada yang kasih tahu, gimana?" "Ah, masa sih?" Kosmas termenung. Ia menopang dagunya dengan tangan di atas meja. Erwin mengamatinya dengan prihatin. "Sori, Bang," katanya dengan sesal. "Aku nggak nyangka kau sangat memerhatikan dia. Begini saja. Sekarang juga aku akan ke kamarnya lalu memintanya pindah kamar karena kamar itu belum dibersihkan. Gimana?" "Sudahlah. Soal itu tak ada gunanya lagi. Bukan itu yang kupikirkan." "Bukan itu? Lantas apa?" Erwin heran. "Hei, apa tak terpikir olehmu bahwa dia perempuan dan sendirian? Firasatku nggak enak."

http://inzomnia.wapka.mobi

Erwin terperangah. "Maksudmu, ada kemungkinan dia mau bunuh diri?" "Entahlah. Kenapa dia sendirian? Datang jauh-jauh sendirian." "Tapi coba bandingkan dengan Yuli, Bang. Yuli tinggal di kota ini. Dia datang naik taksi. Nginapnya 51 cuma semalam. Tapi ibu tadi datang dari Bandung. Jauh, kan? Kalau mau bunuh diri kenapa jauh-jauh amat? Memangnya di Bandung nggak ada hotel atau motel? Nanti mobilnya gimana? Kenapa pula nginap tiga hari, bayar di muka? Nginap saja semalam." Alasan itu masuk akal juga bagi Kosmas. Tapi ia toh masih risau. "Mungkin aku masih trauma, Win. Belum lama kejadian." "Ya. Mungkin. Sudahlah, Bang. Nggak usah dipi-kirin. Aku rasa perempuan itu pengusaha. Lihat saja gayanya. Mandiri dan pede. Banyak senyum, lagi. Orang seperti itu mana mungkin bunuh diri, Bang. Jadi tenanglah." "Apa kau yakin kamar itu sudah bersih, Win? Kasihan kalau dia terganggu. Siapa tahu dia mimpi buruk atau gimana." "Aku yakin, Bang. Tadi suasananya beda sekali dengan hari-hari awal sesudah kejadian itu." "Beda gimana, Win? Eh, ngomongnya yang jelas dong." "Beberapa hari setelah kejadian aku merasakan kekacauan di situ. Ribut sekali. Ada ratapan, tangisan, keluhan, dan suara-suara yang tak bisa kugambarkan. Aku sangat takut. Tak bisa lama-lama. Tapi tadi sebaliknya. Hening dan damai. Aku pun merasa damai. Betah berlamalama. Itu yang membuat aku yakin." "Kau nggak pernah ngomong soal seperti itu sebelumnya." "Aku tak mau membuatmu cemas." "Apa kau punya bakat paranormal, Win?" "Kukira nggak, Bang. Itu bukan sesuatu yang luar biasa. Kalau kita konsentrasi pada sesuatu, lalu 52 mengerahkan dan memusatkan pikiran, kita bisa seperti itu." "Mungkin halusinasi?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bukan. Aku yakin bukan." "Ya sudahlah. Mikirin soal itu otakku jadi kusut. Mau makan? Aku beliin di depan ya? Kita makan sama-sama di sini. Kau mau makan apa?" Erwin tersenyum. Kosmas tak pernah marah kepadanya. Kalaupun marah cepat baik lagi. Sebelum pergi Kosmas menghubungi kamar 14 dengan interkom. "Maaf mengganggu, Bu. Kalau Ibu perlu sesuatu, hubungi kantor dengan interkom. Misalnya mau makanan bisa suruh karyawan." Ia sengaja menyusuri lorong depan deretan kamar lebih dulu. Setelah melewati kamar 14 baru ia turun ke halaman. Ia melirik jendelanya yang tertutup rapat. Tampak lampunya menyala. Ia berharap Delia bisa tidur nyenyak malam itu. Sambil berjalan tatapannya tertuju ke perutnya yang membuncit. Seharusnya ia tidak membiarkan perutnya melar. Seharusnya ia mengikuti jejak Erwin yang suka berolahraga, lari pagi atau malam, tergantung waktu luangnya. Gemuk itu sarang penyakit, kata Erwin. Jadi membiarkan tubuh semakin gemuk sama saja dengan bunuh diri! 53 BAB 5 Delia memasukkan uangnya yang ia simpan di bawah karpet mobil ke dalam tas. Saat melakukan hal itu, berkali-kali ia melongok ke luar jendela kalau-kalau ada orang yang memerhatikan. Setelah semuanya dimasukkan, ia membawanya ke kamar untuk dirapikan lagi. Semua tumpukan uang itu ia taruh di dasar tas, atasnya ditutup dengan plastik hitam, lalu ditindih, dengan pakaian hingga penuh. Sesudah itu baru ia masukkan ke dalam lemari. Kemudian ia mengamati sekitarnya, termasuk kamar mandi. Cukup bersih dan rapi, pikirnya. Sebelumnya ia selalu menghubungkan motel dengan hal-hal negatif. Dulu kalau ia dan Agus bepergian, mereka selalu menginap di hotel berbintang, minimal bintang satu. Padahal kalau dipikir secara rasional, hal negatif itu bisa terjadi di mana saja.

http://inzomnia.wapka.mobi

Teringat kepada Agus, ia menjadi sedih lagi. Belum pernah ia menginap di luar sendirian. Apalagi memilih sebuah motel. Sebelum ia melihat nama Motel Marlin di koran, ia memang sudah berniat memilih motel karena faktor kerahasiaan dan privasinya. Setelah mandi dan menjadi segar kembali, Delia mengambil tas yang lebih kecil yang semula ia letakkan di lantai samping tempat tidur. Dari dalamnya ia keluarkan sebotol Aqua, satu peles kue kering, 54 sekantong apel, dan satu peles penuh berisi pil yang semuanya ia jajarkan di atas meja. Peles berisi pil itu ia raih lalu ia bawa ke tempat tidur. Ia merebahkan diri sambil memandanginya. Hebat sekali benda-benda kecil ini karena bisa membawa orang ke dunia lain, pikirnya. Tapi bukan hanya itu. Benda-benda itu pun bisa memberinya kebebasan! *** Ketika itu diam-diam Delia menjual rumahnya yang mewah dan berkolam renang. Ia merasa beruntung bisa menjual rumah dalam waktu yang cukup singkat. Mungkin karena harga yang dimintanya tidak tinggi atau lebih rendah dari pasaran. Biasanya orang perlu waktu lama supaya berhasil menjual rumah, apalagi rumah mewah. Uang hasil penjualan rumah ia depositokan. Sebagai gantinya, ia mengontrak sebuah rumah kecil dengan dua kamar. Itu lebih cocok untuknya yang sendirian. Apalagi rumah lamanya itu memiliki banyak kenangan yang terkadang menyakitkan untuk diingat. Ia pun tidak memakai pembantu. Benar-benar sendirian. Ia bekerja di luar dan di dalam rumah. Karena kelelahan, ia bisa cepat tertidur tanpa sempat berpikir macam-macam. Bekerja adalah obat stres. Donna terkejut ketika mengetahui hal itu. "Aku terpaksa, Don. Uangnya untuk bayar utang bank," Delia berbohong. Ia tahu, nanti Donna akan menyampaikan berita itu kepada orangtuanya dan selanjutnya sampai juga kepada Ratna. "Ah, sayang sekali," keluh Donna. 55

http://inzomnia.wapka.mobi

Sejak Delia tinggal di rumah kontrakan, Donna tak lagi datang berkunjung. Apalagi menginap. Delia menduga, mungkin Donna memang bukan bermaksud mengunjungi dirinya sebagai ekspresi sayang, melainkan menikmati rumahnya! "Wah, Tante nggak punya rumah lagi dong!" "Nggak apa-apa. Aku kan sendirian. Indekos juga bisa." "Ah, kasihan sekali." Delia tak ingin dikasihani oleh siapa pun. Tapi seperti yang sudah diduganya, Ratna bereaksi atas penjualan rumahnya. "Nenek marah sekali, Tante," Donna melaporkan. "Katanya, Tante nggak becus menjaga barang milik Oom Agus." "Ah, kenapa dia mesti marah? Ini kan bukan urusannya?" "Tante mesti hati-hati sama Nenek. Dia menyumpahi Tante. Waduh, mulutnya nyerocos kayak air bah." Meskipun sudah bertekad untuk tidak peduli lagi pada Ratna, tak urung Delia kesal juga. Ternyata Ratna masih tidak mau melepasnya setelah Agus tiada. Suatu hari Rama menelepon. Bicaranya ramah dan menanyakan kabarnya. Delia merasa tersentuh oleh perhatian yang diberikan. Ternyata masih ada yang ingat padanya. Tapi perasaan itu hilang setelah beberapa saat kemudian pintunya diketuk, lalu ia melihat Rama, istrinya Maya, dan Ratna berdiri di depannya! Di dalam rumah, Ratna memandang berkeliling dengan tatap selidik. Tak cukup hanya di ruang tamu, ia masuk ke dalam diikuti oleh Maya. Jelas maksudnya adalah untuk memeriksa. Rama hanya duduk dengan wajah lesu. Sikapnya canggung dan malu. "Maaf ya, Del," katanya pelan. Delia mengangguk saja. Ia tahu kesulitan Rama. Ratna keluar diikuti Maya yang tampak serbasalah karena disuruh terus mengikuti. "Jadi inilah rumah barumu. Kecil, tapi cukup nyaman untuk penghuni yang sendirian. Sayang aku belum sempat menginap di rumahmu yang dulu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Juga berendam di kolam renangmu. Aku pengen tuh. Tapi Agus nggak pernah mengundangku," komentar Ratna. "Ini bukan milik saya, Ma. Saya ngontrak setahun," kata Delia datar. Pasti Donna tidak bercerita tentang hal itu. Mungkin-Donna tidak percaya atau tak ingin menambah amarah Ratna. Wajah Ratna tambah mengerut karena mulai naik darah. "Bohong ah! Memangnya kamu sudah bangkrut? Uang jual rumah mewah itu pasti banyak sekali. Masa beli rumah kayak gini aja nggak bisa?" semburnya. "Saya pakai buat bayar utang, Ma." "Utang apa?" "Utang bank." "Bohong ah! Nggak percaya!" "Terserah Mama saja, mau percaya atau nggak. Suratnya ada, tapi saya nggak mau memperlihatkan karena itu bukan urusan Mama." "Kurang ajar kau! Terkutuk! Kualat!" "Ma, sabar..." Rama menepuk-nepuk lengan Ratna. "Sudahlah. Sekarang ini orang bisnis biasa berutang sama bank. Namanya kredit." Ratna menepis tangan Rama. Wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus. 57 56 "Kata Donna, tokonya ramai. Jualannya laris. Masa perlu berutang?" Ratna masih penasaran. Delia tidak menyahut. Ia berpikir, biarlah anjing menggonggong, kafilah akan tetap berlalu. Sebentar lagi orang-orang ini pergi dan ia bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang. Lalu tatapannya tertuju kepada Maya yang diam saja dari awal kedatangan. Maya menunduk dan kelihatan bingung. Delia merasa iba kepadanya. Tiba-tiba ia merasa lebih beruntung daripada Maya yang terpaksa harus hidup seatap dengan Ratna. Ratna marah melihat ketenangan Delia. Ia meletup lagi, "Sebagai ibu kandung Agus, seharusnya aku berhak mendapat bagian dari warisan!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Delia terkejut oleh keterusterangan itu. Sesaat muncul kemarahan, tapi ia bisa menjawab dengan tenang, "Jangan khawatir, Ma. Mama bisa mendapatkan semuanya kalau saya mati dan tidak kawin lagi!" Ketenangan Delia membuat Ratna semakin marah. Ia tidak menyangka Delia bisa setenang itu. Sesungguhnya ia mendapat kesenangan tersendiri dari ketakutan anggota keluarganya kepadanya. "Baik! Kalau gitu cepat mati aja kamu!" teriaknya, lalu bergegas keluar. Maya terbirit-birit di belakang Ratna, bagai anjing yang patuh pada tuannya. Tapi Rama sempat menyalami Delia. "Maafkan ya, Del. Tabahlah," katanya. "Terima kasih," sahut Delia. Delia merasa senang karena bisa melawan Ratna. Tapi adakalanya ia merasa bersalah. Uang yang ia depositokan itu toh tidak ia perlukan. Tak ada salahnya memberi sebagian kepada Ratna. Tapi ada 58 perasaan tidak rela. Apakah itu bisa menjamin ia akan lepas dari gangguan Ratna? Mungkin saja nanti muncul tuntutan lain. Seminggu setelah kejadian itu, Donna menelepon. "Maaf mengganggu, Tante." "Nggak apa-apa, Don." "Begini, Tante. Sebenarnya aku mau minta tolong, tapi..." "Bilang aja. Ada apa?" "Malu bilangnya nih. Begini. Mama masuk rumah sakit. Perlu uang muka. Tapi kami lagi bokek." "Perlu berapa, Don?" Di sana diam sebentar. Mungkin Donna merasa surprise kenapa ia langsung bertanya begitu. "Sepuluh juta, Tante. Tapi..." "Baik. Tolong sebutkan nomor rekening papamu. Nanti aku transfer." "Aduh, terima kasih, Tante!" Suara Donna kedengaran tidak seperti biasanya, pikir Delia. Apakah itu karena terharu atau sebab lain? Tapi tadi Delia sengaja tidak mau bertanya mendetail, karena sesungguhnya ia takut dibohongi!

http://inzomnia.wapka.mobi

Firasat buruknya jadi kenyataan. Dua hari setelah itu ia mendapat kejutan. Ratna menelepon. "Kamu bohong padaku, Del! Bilangnya nggak punya duit. Punya utang sampai jual rumah. Ternyata dengan gampang kau bisa ngasih duit sepuluh juta tanpa pikir panjang! Kalau betul nggak punya duit, mana bisa begitu?" "Mamanya Donna sakit..." "Sakit kentutmu!" Delia terkejut. Apakah Donna berbohong? Ia tidak mau menanyakan itu kepada Ratna. Ia juga tidak mau mendengarkan lagi ocehan Ratna. Dijauhkannya 59 gagang telepon dari telinganya hingga cuma mendengar dengungnya saja. Baru setelah mendengar suara tut-tut-tut, ia meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. Meskipun sudah berusaha tabah, hatinya terasa sakit sekali. Seharusnya Donna tidak ikut-ikutan membohonginya. Apalagi setelah ia menerima SMS dari nomor tidak dikenal, "Hati2 pd Donna. Dia antek. Pengen dpt warisan!" Sakit di hati itu berlanjut menjadi sakit fisik. Ia merasakan nyeri di perut bagian bawah yang terkadang hilang kemudian datang lagi. Lalu ia mendapati adanya bercak-bercak di celana dalamnya. Ia sudah mendengar bahwa gejala seperti itu merupakan indikasi adanya gangguan di rahimnya. Untuk memastikan, ia memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dari pemeriksaan pap smear ia didiagnosis menderita kanker rahim stadium dini! Ia perlu berpikir lama sekali ketika dokter menganjurkan untuk dioperasi. Ia tidak rela rahimnya diangkat. Akhirnya ia memilih pengobatan alternatif. Salah seorang karyawannya yang dinyatakan kena kanker berhasil sembuh dengan pengobatan itu. Dengan penuh kepercayaan dan ketekunan, Delia menjalani pengobatan. Semangat dan keinginan sembuhnya tinggi.

http://inzomnia.wapka.mobi

Lalu pada suatu malam telepon berbunyi. Ia kembali dikejutkan oleh suara Ratna. "Semoga aja kau bisa sembuh ya, Del!" Sesudah berkata begitu, Ratna tertawa dan hubungan putus tanpa menanti jawaban. Delia merasa shock. Terpukul sekali. Nada bicara Ratna jelas merupakan sindiran. Apalagi tawanya. Sesungguhnya yang diharapkannya adalah kebalikan60 nya. Dari mana Ratna mengetahui soal itu? Selama ini yang tahu cuma dokter dan penyembuh tradisional itu. Ada perasaan tak berdaya yang membuat semangat Delia anjlok. Ia menjadi pesimis. Bahkan nyeri yang dirasanya tidak lagi di perut bagian bawah melainkan di mana-mana! Ia tidak lagi melanjutkan pengobatannya. Apa gunanya? Mungkin tidak lama lagi ia akan mati. Benar-benar sesuai dengan yang diinginkan Ratna. Biarpun demikian, pesimisme itu tidak menghilangkan kebenciannya kepada Ratna. Malah semakin bertambah. Itulah yang menguatkan tekadnya untuk membalas dendam. Biarlah dirinya mati tapi Ratna tidak akan mendapatkan hartanya! *** Delia menjual tokonya dengan harga miring. Yang penting baginya adalah tunai dan segera seperti halnya penjualan rumahnya. Setelah urusan jual-beli selesai, barulah ia memberitahu para karyawannya sekalian mengenalkan pemilik baru kepada mereka. Seperti kesepakatan yang telah dicapai, para karyawan tetap bekerja di posisi masing-masing. Tidak ada yang diberhentikan. Uang hasil penjualan tidak ia depositokan seperti sebelumnya, melainkan ia dermakan sampai habis! Ia membagikannya kepada berbagai panti asuhan, yayasan sosial yang membiayai pengobatan orang tak mampu, dan mentransfer ke koran-koran dan stasiun televisi yang membuka pundi amal! Ia bagaikan Sinterklas yang membagi-bagikan hadiah gratis. Dalam waktu tak sampai seminggu, uang miliaran ludes! 61

http://inzomnia.wapka.mobi

Sama sekali tak ada rasa sayangnya. Ia tidak perlu minta izin kepada siapa pun. Ia juga tidak perlu minta maaf kepada Agus karena sekarang Agus tidak punya urusan lagi dengan masalah keduniawian. Justru ia merasa lega karena Ratna tidak perlu lagi mengejar dan mengutuknya karena ia tak punya harta lagi. Tapi masih ada uang hasil penjualan rumah. Itulah yang ia bawa ke Jakarta. Ia akan membagikannya kepada berbagai panti asuhan dan panti wreda. Untuk itu ia perlu membuat survei dulu, lalu ia akan membagikannya secara langsung. Karena itu ia membutuhkan waktu tiga hari. Dan tentu saja ia masih membutuhkan mobilnya, satu-satunya barang berharga yang masih dimilikinya. Tanpa uang Sepeser pun ia memang tidak bisa makan. Tapi orang mati tidak butuh makan! 62 BAB 6 Donna memasuki toko garmen Busana Indah. Ia masih mengenakan seragam SMU-nya dan menyandang tas sekolahnya. Sudah cukup lama ia tak berkunjung ke situ sejak ia menelepon Delia untuk minta bantuan. Ia malu ketemu Delia karena sudah membohonginya dengan semena-mena. Padahal Delia begitu baik. Ia begitu tulus menolong tanpa bertanya macam-macam. Mila, ibu Donna, juga marah-marah karena dirinya dikatakan sakit sampai masuk rumah sakit segala. Alasan seperti itu biasanya pantang dikatakan orang karena takut nanti jadi benar-benar sakit. Tapi ia tak bisa menolak perintah Ratna. Semuanya tak berani menolak. Akhirnya uang yang ditransfer Delia ke rekening ayah Donna itu diminta oleh Ratna. Ramli, ayah Donna, memberikan tanpa keberatan. Uang itu memang bukan haknya. Bisa juga dianggap sebagai uang haram, karena merupakan hasil penipuan. Sekarang Donna ingin menemui Delia untuk minta maaf. Untuk itu ia perlu mengumpulkan keberaniannya lebih dulu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Beberapa karyawan menyapanya. Mereka sudah mengenalnya. Tapi ia tidak bergabung dengan mereka. Ia langsung ke sudut belakang toko, tempat kasir. Biasanya Delia ada di situ. Langkahnya terhenti 63 ketika melihat seorang perempuan yang tidak dikenalnya berada di situ. Ia merasa heran, lalu buru-buru kembali ke depan. "Mbak Erna, Tante Del lagi keluar, ya?" Erna menatap heran hingga Donna jadi heran juga. "Mbak Donna nggak tahu, ya?" Erna balas bertanya. "Nggak. Tahu apa sih?" Donna menjadi cemas. "Ibu Del sudah menjual toko ini. Itu pemilik baru," Erna menunjuk ke belakang. "Hah?" Donna terkejut. "Ke mana Tante sekarang?" "Wah, Bu Del nggak bilang-bilang, ya?" "Ke mana dia?" "Cari aja di rumahnya, Mbak." Donna segera berlari ke luar lalu melompat ke dalam angkot. Tanpa ketemu dengan Delia berarti ia tak punya uang untuk jajan padahal ia lapar sekali. Biasanya kalau datang ke toko ia dibelikan mi bakso. Sekarang uangnya terpakai untuk ongkos angkot. Memang ia bisa saja pulang dulu ke rumah untuk makan dulu, sesudah itu baru pergi ke rumah Delia, tapi kecemasannya terlalu besar. Siapa tahu Delia sakit, terkapar sendirian di rumahnya. Penyesalan Donna bertubi-tubi. Pikirannya mencoba mencari hubungan antara penjualan toko dan kebohongan lewat telepon itu. Apakah memang ada? Kenapa pula toko yang jadi penunjang hidup itu dijual? Akhirnya ia tiba di depan rumah Delia. Di halaman tak ada mobil milik Delia. Biasanya mobilnya diparkir di situ. Pintu pagar tidak digembok jadi ia terus saja masuk sampai pintu depan. Ia mengetuk pelan lalu 64 keras. Sesudah itu ia memanggil nama Delia, dari pelan sampai keras. Biarpun sudah yakin rumah itu tidak berpenghuni, Donna terus saja mengetuk dan memanggil. Ia sudah capek dan ingin menangis, tapi tak

http://inzomnia.wapka.mobi

mau berhenti. Siapa tahu Delia ada di rumah dan sedang tidur. Jadi perlu waktu untuk membangunkan. Hasil dari kegaduhan yang ditimbulkannya adalah kemunculan seorang perempuan dari rumah sebelah. "Cari siapa, Dik?" tanya perempuan itu. "Tante Delia, Bu. Saya keponakannya." "Oh, Mbak Del nggak ada. Perginya tadi pagi." "Ke mana dan sama siapa, Bu?" "Dia pergi sendirian pakai mobil. Tapi ke mana nggak bilang. Saya kan nggak mungkin nanya-nanya, Dik." "Kapan kembalinya, Bu? Bilang nggak?" "Nggak sih. Tapi mungkin nggak cepat-cepat. Soalnya dia nitip kunci sama saya." Wajah Donna yang semula lesu menjadi segar! "Apa saya bisa pinjam kuncinya, Bu? Buku saya ketinggalan di sini padahal mau ulangan." "Tunggu sebentar ya." Ibu itu pergi lalu kembali membawa kunci. "Nanti kembaliin ya, Dik, kalau bukunya udah ketemu." "Tentu aja, Bu." Setelah masuk ke dalam rumah, Donna berlari ke dapur. Tujuannya adalah mencari makanan. Ia membuka tudung saji di atas meja makan. Hanya ada beberapa potong roti tawar di dalam kantong plastik, dan di sampingnya ada sebotol selai stroberi. Ia memperkirakan makanan itu sisa yang dimakan Delia tadi pagi. Tidak ada makanan lain. Lemari juga kosong. Karena rasa lapar sudah menggerogoti perut65 nya, ia menghabiskan makanan itu. Masih untung ada sisa, pikirnya. Sesudah itu ia mencari minum di kulkas yang sudah karatan di bagian bawahnya. Ternyata kulkas itu sudah diputuskan aliran listriknya. Tak ada apa-apa di dalamnya. Kosong melompong. Hanya ada sebotol air putih. Masih untung ada yang bisa diminum, pikirnya. Setelah kenyang baru ia mengamati sekitarnya. Ia menyadari, bukan cuma kulkas, lemari, dan meja makan yang kosong, tapi juga ruangan sekitarnya. Tidak ada hiasan dinding dan gambar yang sebelumnya

http://inzomnia.wapka.mobi

pernah ia lihat. Ia segera melompat dan memeriksa ruangan lain. Di setiap ruang kesannya sama. Hanya ada perabot besar. Di ruang tamu hanya ada sofa dan perangkat meja-kursi. Memang tidak kosong sama sekali. Tapi ia ingat cerita Delia bahwa rumah itu dikontraknya berikut perabotan, termasuk kulkas butut itu. Perabotan Delia yang ada di rumahnya yang dulu sudah dijual berikut rumahnya. Ia menuju kamar tidur Delia. Tidak dikunci. Seperti sudah diduganya, kamar itu sama saja keadaannya seperti ruangan lain. Kasur di ranjang tidak berseprai, bantal-guling tidak bersarung, dinding kosong, dan di atas meja tidak ada apa-apanya. Lemari pakaian pun kosong. Demikian pula laci-lacinya. Donna sadar, Delia tidak bermaksud pergi sebentar. Ke mana perginya? Kenapa tidak bilang-bilang? Begitu sakitkah hatinya hingga ia berbuat seperti ini? Penyesalan Donna kembali muncul. Pasti apa yang dilakukan Delia ini ada hubungannya dengan apa yang telah ia lakukan. Delia sangat kecewa kepadanya. Bukankah selama ini Delia memperlakukannya dengan baik seperti anak sendiri? 66 Donna kembali ke rumah tetangga sebelah untuk mengembalikan kunci. "Bu, apakah Tante Del pernah cerita tentang rencana pindah rumah?" ia bertanya. "Pindah? Nggak tuh. Emangnya kenapa?" ibu tetangga balik bertanya. "Ah, nggak. Nanya aja, Bu." Donna tak mau menceritakan apa yang dilihatnya tadi di dalam rumah Delia. Nanti ketahuan bohongnya. Ia harus cepat pulang untuk menceritakan apa yang telah terjadi. *** Sore itu juga Ramli, Mila, dan putri mereka Donna, berkunjung ke rumah Rama. Tujuannya untuk menyampaikan kepada Ratna mengenai menghilangnya Delia. Sebenarnya Mila dan Donna tidak setuju akan niat itu, tapi Ramli mengatakan ia tidak bermaksud menyudutkan Delia tapi berkewajiban

http://inzomnia.wapka.mobi

untuk memberitahu Rama apa yang telah terjadi sebagai akibat penipuan yang melibatkan dirinya itu. "Apa kalian tidak takut akan akibatnya bila dia tahu bahwa kita tahu tapi diam-diam saja?" tanya Ramli kepada anak dan istrinya. "Dia pasti akan menyumpahi kita habis-habisan." "Kasihan Delia," kata Mila. "Kasihan memang. Tapi salah dia sendiri juga sih. Kenapa dia nggak mau merendah sedikit terhadap Mama? Sudah tahu orangnya kayak gitu. Nggak bisa dilawan atau ditentang. Kasihlah Mama uang sedikit. Kan nggak rugi buat dia. Benar juga kesim67 pulan Mama. Kalau benar Del bokek, masa bisa memberikan sepuluh juta begitu saja." "Begitu saja katamu, Pa?" bantah Mila kesal. "Mungkin saja dia pun merasa berat, tapi karena ingin menolong dia berikan juga. Mestinya kita berterima kasih kepadanya. Coba kalau aku benar-benar sakit dan perlu bantuan." "Aku berterima kasih kepadanya. Tapi aku takut sama Mama. Kita kan harus menentukan pilihan kepada siapa kita harus berpihak. Mama adalah ibuku sedang Delia orang lain." "Tante Del orang yang baik, sedang Nenek..." Donna tidak meneruskan ucapannya karena dipelototi ayahnya. "Hati-hati kalau bicara. Bukankah kamu juga ikut berkomplot?" "Tapi aku nyesel, Pa! Nyesel banget!" "Sudahlah. Nyesel pun percuma," sahut Ramli. "Kalau ketemu, aku mesti minta maaf. Apakah Papa nggak mau minta maaf juga kepadanya?" "Kalau kau banyak omong, lebih baik nggak usah ikut. Nanti di depan nenekmu kau ngomong semba-rangan. Aku nggak mau kau dikutuk." Donna tak mau dilarang ikut. Ia ingin melihat bagaimana reaksi neneknya setelah mengetahui ke-pergian Delia yang diam-diam itu. Ia ingin tahu seperti apa rupa neneknya kalau sedang marah besar. Selama ini ia hanya mendengar cerita saja. Katanya rambut si nenek yang putih itu

http://inzomnia.wapka.mobi

jadi setengah berdiri seperti habis diblow dan mukanya merah. Matanya juga merah. Hiii, seperti apakah itu? Begitu bertemu Ratna, mereka bertiga terpesona. Ratna berpenampilan ceria dan berkilauan. Ia mengenakan daster baru berwarna merah. Wajahnya 68 yang sudah berkeriput itu berbedak hingga tampak semakin putih. Alisnya yang sudah gundul ditimpa pensil alis menjadi dua garis melengkung. Bibirnya pun disaput lipstik. Rambutnya masih putih dan pendek, tapi dikeriting! Tapi bukan itu yang membuat Ratna berkilau. Ia mengenakan semua perhiasannya! Hampir semua adalah pemberian anakanaknya. Tapi ada satu yang tampak paling mencolok. Di lehernya menjuntai sebuah kalung emas bertabur berlian! "Lihat ini!" katanya sambil meraba kalungnya. "Uang sepuluh juta itu kubelikan ini. Bagus nggak?" Donna merasa mual. "Bagus," kata Ramli. "Bagus," Mila mengikuti. "Nah, ada apa kalian ke sini? Pasti ada sesuatu. Bukan karena kangen padaku, kan?" Ratna tertawa. "Kulihat kalian nggak bawa oleh-oleh." Mila tersipu. Donna memalingkan muka. Di matanya, neneknya ini benarbenar tak ubahnya nenek sihir. Menakutkan dan memuakkan, tapi juga menggelikan! Di mata Ramli, ibunya bukan cuma menakutkan tapi mengagumkan! Licik, tapi pintar. Sedang di mata Mila, ibu mertuanya itu seperti setan! Sebagai orang tua berusia tujuh puluh tahun, Ratna sangat sehat. Biasanya orang seusianya bertubuh tambun, tapi ia tetap ramping meskipun perutnya sedikit buncit. Kecuali sel-sel tubuhnya yang memang sudah aus, semua organ vitalnya masih berfungsi sempurna. Dokter yang pernah memeriksanya memujinya sebagai orang tua yang langka. Biasanya orang setua itu sudah didekati dan dihinggapi penyakit. Bahkan orang yang jauh lebih muda pun banyak yang tidak sesehat dirinya. Gerak-geriknya pun gesit. "Tak tampak kesan lam-

http://inzomnia.wapka.mobi

69 ban atau loyo. Tulang-tulangnya kuat berkat rajin minum susu sejak muda. Kesempurnaan fisiknya memang bukan tanpa sebab. Makanannya selalu penuh gizi. Ia sangat memerhatikan soal itu untuk dirinya, tapi tak peduli pada apa yang dimakan keluarga anaknya. Biar saja mereka makan tahu dan tempe asal ia selalu makan daging, telur, dan susu! Sayangnya, fisiknya yang sehat itu tidak dibarengi dengan jiwa dan mental yang sehat juga. *** Usai mendengar cerita Ramli bahwa Delia pergi tanpa jejak, bangkitlah amarah Ratna. Ekspresinya yang mengerikan diamati dengan terpesona oleh Donna. Tak mengherankan kalau ayahnya dan lain-lainnya begitu ketakutan. Ia jadi bertanya-tanya dalam hati, seperti apakah Ratna semasa mudanya. Untunglah ia tidak memiliki ibu seperti Ratna. "Kalian harus mencarinya!" seru Ratna. Rama dan Ramli berpandangan. Maunya membantah, tapi kenyataannya mereka mengangguk-angguk. "Ya, Ma. Nanti dicari." "Dasar licik! Jual rumah! Jual toko! Sekarang kabur! Diapain uangnya?" teriak Ratna. Sebenarnya semua orang di seputar Ratna sama-sama berkata dalam hati, "Itu adalah hak Delia sendiri!" Tapi tentu saja tak ada yang berani berkata begitu. Mereka cuma mengangguk-angguk dengan wajah lesu. "Dia membawa lari harta anakku! Dia membawa lari bagian warisanku!" Orang-orang tercenung dan bingung. Meskipun sudah diberitahu bahwa warisan suami jatuh pada 70 istri, apalagi Delia ikut berusaha bahu-membahu bersama Agus, tetap saja Ratna tidak mau mengerti. Ia kukuh pada pendiriannya. Tapi semua paham sesungguhnya Ratna bukan tak bisa mengerti. Ia kukuh karena keinginannya sendiri. Tiba-tiba Donna nyeletuk, "Kan Nenek udah dapat ini!" katanya sambil menunjuk lehernya sendiri.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ayah-ibunya terkejut. Benar saja, anak itu ngomong sembarangan. Sebenarnya itu bukan sembarangan, tapi bagi Ratna maknanya adalah kelancangan. Benar saja. "Apa kau bilang? Anak kecil kamu!" bentak Ratna kepada Donna. "Sudah, Ma. Sudah," bujuk Ramli. "Namanya juga anak kecil." Tapi Donna tidak menyatakan penyesalan. "Biarpun anak kecil, aku kan udah bantuin Nenek." "Hei, diam kamu!" bentak Ramli. Ia sangat takut kalau-kalau anaknya kena kutuk. Ia percaya benar mulut ibunya bertuah. "Sudah, Don. Keluarlah," bujuk Mila. Sambil memonyongkan mulutnya, Donna melangkah ke luar ruangan. Tapi ia tidak benar-benar pergi. Ia cuma bersandar di balik dinding dan memasang kupingnya. "Si Del itu lagi sakit, tahu! Dia nggak bakal selamat! Hartanya yang mesti diselamatkan. Kalau dapat, kalian akan dapat bagian!" seru Ratna. Donna tersentak kaget. Delia sakit? Bagaimana neneknya bisa tahu? Dalam perjalanan pulang, Ramli bertanya, "Tante Del sakit apa, Don?" Donna tahu, ia harus berpura-pura. "Sakit? Kata siapa, Pa?" 71 "Nenek bilang Del sakit. Sakit apa sih?" "Nggak tahu, Pa. Nenek tahu dari mana?" "Bukan dari kamu?" "Bukan. Aku kan udah lama nggak ketemu Tante Del. Malu. Tadi aku ke sana karena dorongan hati nurani. Pengen minta maaf." "Habis, dia tahu dari mana?" "Nggak tahu. Mungkin ada informan lain, Pa." "Jangan-jangan..." Ramli tak melanjutkan ucapannya karena merasa takut. "Jangan-jangan apa?" desak Mila. "Mungkin Mama mengutuk Del!" 72 BAB 7

http://inzomnia.wapka.mobi

Delia bangun keesokan paginya dengan perasaan segar. Sesaat ia perlu mengingat lagi keberadaannya dan apa yang mau dikerjakannya. Ada juga rasa heran bagaimana ia bisa tidur nyenyak dalam kondisi seperti itu. Apakah karena ia sudah pasrah dan merasa tak punya beban lagi? Padahal kemarin-kemarin, justru di rumah sendiri ia sering sulit tidur. Usai mandi ia mengenakan celana panjang hitam dengan blus lengan pendek motif kembang-kembang warna biru muda yang cerah. Pakaian itu membuatnya kelihatan ramping dan wajahnya bersinar cerah, padahal ia tak mengenakan riasan. Ia sama sekali tak peduli apa ia kelihatan cantik atau tidak. Sekarang hal itu tak ada gunanya. Ada kesan baru yang diperolehnya. Ternyata menjelang akhir hidup bukanlah akhir harapan. Sebaliknya, justru merupakan harapan. Betapa senangnya bisa mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan dalam keadaan siap! Pintunya diketuk. "Bu Delia, nasi gorengnya sudah siap!" Ia membuka pintu. Lalu terheran-heran melihat Kosmas memegang baki berisi sepiring nasi goreng dengan sendok-garpu dibungkus tisu bersama segelas 73 teh panas. Bukankah Kosmas itu pemilik motel? Atau cuma karyawan? "Kok Bapak yang bawain?" "Memangnya nggak boleh?" "Lagi kekurangan karyawan rupanya." "Ah, nggak juga. Tapi kalau Ibu keberatan..." Kosmas berlagak akan membawa pergi barang bawaannya. "Tentu saja nggak keberatan, Pak. Terima kasih.". Delia mengulurkan tangannya untuk menyambut baki di tangan Kosmas. Tapi Kosmas masuk lalu meletakkannya di atas meja. "Silakan, Bu. Selamat makan. Mudah-mudahan enak. Ini bikinan warung di depan." "Kayaknya sih enak ya. Bapak udah makan?" "Saya sih gampang. Makan gantian dengan adik saya atau makan bareng kalau karyawan yang jaga." "Yang mana adik Bapak?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Itu, yang kemarin sore nerima Ibu bareng saya." "Oh itu. Tapi kok..." Delia tidak meneruskan ucapannya yang meluncur begitu saja. Apa urusannya? Kosmas melanjutkan kalimat Delia, "Kok nggak sama, ya? Memang banyak yang bilang begitu. Tapi kami memang bersaudara kandung. Satu ayah, satu ibu." "Ya. Itu memang bisa. Maaf ya, Pak. Saya mungkin usil." "Ah nggak. Wah, saya kelamaan ngomong. Nanti nasinya menjadi dingin. Ayo silakan makan." "Terima kasih, Pak... siapa ya?" Kosmas mengulurkan tangannya. Senang diberi kesempatan. "Saya Kosmas. Adik saya Erwin." "Saya Delia," kata Delia bergurau. "Udah tahu. ya?" 74 "Ya." Kosmas tersenyum. "Silakan, Bu. Kalau sudah selesai, Ibu bisa hubungi kami lewat interkom. Nanti karyawan yang ambil. Di situ ada bonnya. Ibu bisa titip uang padanya. Oh ya, apakah Ibu bisa tidur nyenyak semalam?" "Wah, nyenyak sekali. Bangun-bangun saya bingung ada di mana," sahut Delia dengan sebenarnya. "Jadi nggak ada mimpi buruk atau gangguan apa-apa?" "Nggak." "Syukurlah. Mari, Bu..." Ketika Delia menikmati nasi gorengnya, ia ter-senyum-senyum sendiri. Gila, pikirnya. Ternyata aku masih senang mendapat perhatian lelaki! Itu tidak fair. Tidak boleh terjadi. Apalagi lelaki itu jelek. Wajahnya seperti preman. Beda sekali bila dibandingkan dengan Agus. Ah, aku tidak boleh macam-macam! Tapi ada sesuatu pada diri lelaki itu yang membuat Delia terkesan. Tampang sangar tapi perilaku santun dan perhatian. Mungkin pura-pura saja? ***

http://inzomnia.wapka.mobi

Kosmas menemui Erwin dengan wajah gembira. "Aku sudah berkenalan dengan dia," ia melaporkan. "Dia siapa?" "Ibu Delia, kamar 14." "Wah. Gimana ceritanya?" Kosmas bercerita seadanya. "Ternyata dia bisa tidur nyenyak semalam. Justru aku yang jadi nggak bisa tidur mikirin dia." Erwin tertawa. "Benar, kan? Aku sudah bilang kamar itu bersih. Tapi harus dibuktikan supaya orang percaya." 75 "Mestinya jangan diberikan kepadanya, tapi orang lain." "Jangan-jangan kalau dia diberi kamar lain, kau malah nggak simpati kepadanya." "Ah, masa karena soal kamar. Orangnya dong." "Hati-hati, Bang. Jangan terburu-buru menyukainya. Kenal dulu." "Tentu saja. Aku lagi mikirin caranya. Yang pasti dia orang baik-baik. Dan tidak bermaksud bunuh diri!" "Ya. Itu melegakan." "Win, tolong bantu cari ide bagaimana bisa mendekatinya. Eh, jangan kritis dulu. Aku memang harus mengenalnya dulu sebelum bersikap. Tapi kalau nggak mendekati, bagaimana bisa kenal?" "Oke. Nanti aku pikirin. Dia toh masih dua malam di sini." Kosmas percaya akan kemampuan Erwin. Adiknya itu punya perbendaharaan ide yang lebih banyak daripadanya. Delia merapikan uangnya. Semua dibagi dalam amplop-amplop cokelat yang sudah disiapkan. Hari ini ia akan mencari informasi lebih dulu mengenai berbagai panti asuhan dan panti wreda yang ada di Jakarta. Lalu sambil jalan ia akan menyumbangkan uangnya kepada panti-panti terdekat yang dilaluinya. Selanjutnya, sebagian besar amplop-amplop itu dimasukkannya ke dalam tas jinjing sedang sebagian kecil masuk ke dalam tas tangan. Seperti sebelumnya, yang sebagian besar itu ditaruh di bagian dasar, lalu atasnya ditutupi pakaian. Tas itu akan dimasukkan ke 76

http://inzomnia.wapka.mobi

dalam mobil di tempat yang tidak mencolok. Ia tidak mau meninggalkannya di motel karena takut ada yang menggerayangi. Padahal ia juga ngeri membawanya ke mana-mana di dalam mobil. Tapi kalau dikir-pikir, mungkin itu lebih aman. Bukankah ia berhasil membawanya dengan selamat dari Bandung? Ia memutuskan untuk mempercantik penampilannya. Ia berdandan dengan rapi. Sebagai seorang penyumbang yang tak dikenal, ia perlu kelihatan bonafide. Kalau penampilannya sembarangan, mungkin saja orang menyangka buruk perihal dirinya. Siapa tahu ada yang mencurigai bahwa ia akan menyebar uang palsu atau uang hasil kejahatan. Sesudah itu ia tersenyum kepada cermin. Rasanya sudah lama benar ia tidak mengamati wajahnya atau berdandan dengan cermat. Ada perasaan tidak peduli. Tapi sekarang ia bisa bergaya. Ia merasa dirinya masih cukup cantik. Memang tak ada gunanya lagi semua itu kalau satu kakinya sudah berada di tepi liang kubur. Tapi ia membayangkan dirinya akan berpenampilan seperti itu bila nanti "ditemukan". Siapa yang "menemukan" dirinya nanti? Apakah karyawan motel, Kosmas, atau Erwin? Tiba-tiba ia terkejut. Tubuhnya menegang. Ia memekik kaget. Di cermin ia tidak hanya melihat wajahnya sendiri, tapi wajah Ratna! Wajah berkeriput itu tersenyum sinis kepadanya dan sorot matanya terlihat kejam dan benci. Delia cepat-cepat menoleh ke belakang. Entah kenapa ia melakukannya karena ia tahu ia cuma sendirian. Memang benar. Tidak ada siapa pun di belakangnya. Ia kembali memandang cermin. Kali ini di cermin hanya ada wajahnya. Ditatapnya lama-lama, tapi penampakan wajah Ratna tak ada lagi. 77 Ia menenangkan diri. Pasti itu halusinasi belaka. Ia meyakinkan dirinya untuk tidak lagi merasa takut. Sekarang ini ia sudah siap untuk kehilangan segalanya. Termasuk nyawanya sendiri. Bukan karena ketakutan, tapi sebagai perlawanan. Apa lagi yang mau dilakukan Ratna kepadanya? Ia menatap cermin.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Mama, jangan ganggu aku lagi! Aku tidak takut kepadamu!" serunya. Tidak ada yang tampak di cermin. Ketika ia sedang memasukkan tasnya ke dalam mobil, Kosmas mendekat. Entah dari mana munculnya. Tahu-tahu sudah ada. "Mau pergi, Bu?" sapa Kosmas. "Iya. Ada urusan." "Oh ya, apa Ibu perlu peta Jakarta? Kalau Ibu kurang paham jalan-jalan di sini, tinggal cari saja." Delia berpikir sejenak. "Boleh juga, Pak. Saya boleh pinjam?" "Tentu saja boleh. Sebentar ya. Saya ambil dulu." Kosmas berlari ke kantor. Delia tersenyum melihatnya. Gaya larinya lucu, pikirnya. Tak lama kemudian Kosmas muncul dengan buku peta di tangannya. Ia menyodorkannya kepada Delia. "Terima kasih, Pak. Nanti saya kembalikan." "Hati-hati di jalan, Bu." Kosmas melambaikan tangan. Senang bisa berbuat sesuatu. Ia juga berterima kasih kepada Erwin. Yang tadi itu idenya. "Berikan perhatian pada hal-hal kecil, maka dia akan terkesan!" begitu kata Erwin. Delia melirik kaca spion. Ia melihat Kosmas masih saja berdiri memandangi kepergiannya. Baru ketika ia keluar dari pintu gerbang, lelaki itu berjalan 78 menuju kantor. Ternyata di hari-hari akhir hidupnya ia masih mendapatkan perhatian dari seseorang. Rasanya menyenangkan. Tapi kemudian ia terkejut sendiri. Tidak seharusnya ia memberi harapan kepada siapa pun karena ia tidak bisa memberi apa-apa. Bukan tidak mau, tapi memang tidak bisa! Saat mengemudi, Delia teringat kembali kepada penglihatannya di cermin tadi. Ia meyakinkan diri bahwa itu cuma halusinasi, tapi masih saja ia merasa risau. Mungkin bukan takut, tapi khawatir rencananya tak bisa terwujud dengan mulus. Sepertinya apa yang tampak tadi,

http://inzomnia.wapka.mobi

halusinasi atau bukan, bisa dianggap sebagai peringatan. Sekarang ini, boleh dikata ia seolah sedang berperang dengan Ratna. Ia berusaha supaya Ratna tidak berhasil memperoleh hartanya, bukan dengan mempertahankannya karena hidupnya mungkin saja lebih singkat daripada Ratna. Maka ia menghabiskannya hingga pada akhirnya nanti Ratna hanya mendapatkan tubuhnya yang sudah tak bernyawa! Bukankah Ratna sering mengutuknya supaya ia cepat mati? Bila hal itu benarbenar terjadi, dan memang akan terjadi, ternyata dirinya sudah tidak berharta lagi. Oh, betapa marahnya Ratna! Membayangkan kemarahan Ratna membuat Delia senang. "Bukankah lebih baik bila uang itu diberikan pada mereka yang menderita daripada dibelikan emas berlian, Ma?" katanya, bicara sendiri. "Mama nggak bisa membawanya ke liang kubur. Pergi ke akhirat tak perlu bekal. Bisa aja sih dibawa ke liang kubur, tapi buat apa? Yang pasti Mama nggak bisa menikmatinya." Delia merasa, geli membayangkan sosok Ratna yang kaku dan kemudian membusuk itu dipenuhi perhiasan. Menilik tabiatnya, mungkin saja memang 79 itulah yang akan diperintahkannya kepada anak-anaknya. Relakah Ratna mewariskan hartanya pada mereka? Sedang mereka tentunya tidak rela juga bila harta itu ikut dikubur padahal bisa dimanfaatkan dalam kehidupan. Tapi beranikah mereka untuk tidak melaksanakan perintah Ratna, biarpun Ratna sudah tidak ada hingga tak bisa menyaksikan? Sayang Delia sendiri juga sudah tidak ada nanti supaya bisa memantau apa yang terjadi. Orang sekuat Ratna kemungkinan berusia panjang. Masih hidupkah ia sepuluh, bahkan dua puluh tahun lagi? Bila hal itu terjadi, kasihan sekali anak-anak dan menantunya, terutama mereka yang hidup bersamanya. 80 BAB 8

http://inzomnia.wapka.mobi

Ratna duduk di kursi goyangnya sambil bergoyang pelan. Matanya terpejam. Kedua tangannya mencengkeram pinggiran kursi. Tubuhnya terlihat tegang. Benaknya yang sudah tua itu sedang berpikir keras. Ia juga sedang kesal. Konsentrasi pikirannya tertuju kepada Delia. Firasatnya mengatakan, menantunya itu sedang bermain kucing-kucingan dengannya. Mempermainkan dirinya. Tapi ia juga diliputi perasaan takjub mengenai dirinya sendiri. Belakangan ini ia merasa dirinya seperti mendapat tambahan kekuatan, baik fisik maupun pikiran. Tak pernah ada lagi kepikunan yang kadang-kadang dialaminya. Bersamaan dengan itu, berbagai keinginan pun melonjak-lonjak lebih besar daripada biasanya. Keinginan-keinginan yang tak mungkin terpenuhi. Ia teringat kepada sang Tuan. Kenapa tak pernah muncul lagi? Bukankah ia belum memberikan jawaban terhadap permintaannya itu? Apakah sang Tuan tidak berminat lagi kepadanya? Ia merasa takut, tapi keinginankeinginan itu terasa mendera. Padahal umurnya mungkin tak lama lagi. Sedang hidup cuma sekali. Bila ia sedang duduk di kursi goyangnya ini, tak ada yang mau mendekatinya kecuali pembantunya yang bernama Ipah. Di depannya pesawat televisi 81 menyala. Cuma Ipah yang menonton. Ipah memang pembantu khusus Ratna. Pekerjaannya hanya melayani Ratna. Sementara keluarga Rama tidak memiliki pembantu. Maya, istri Rama, mengerjakan sendiri pekerjaan rumah tangganya. Terkadang Ipah membantunya di waktu luang, bila Ratna tidak memerlukannya. Maya tidak berani menggunakan tenaga Ipah terlalu sering biarpun Ipah menawarkan diri. Ia takut mertuanya tidak senang. Ratna sendiri tidak pernah menyuruh Ipah membantunya. Ratna tahu betul perihal ketakutan menantunya itu. Ia tidak berusaha meredakan, tapi justru menikmati. Biar sajalah anak, menantu, dan cucunya menjulukinya sebagai nenek sihir. Ia menyukai julukan itu. Ketakutan mereka menjadi kekuatannya. Bila ia tidak punya kekuatan,

http://inzomnia.wapka.mobi

padahal ia sudah tua, cepat atau lambat mereka akan melemparkannya ke panti jompo! *** Maya berada di belakang kursi goyang. Ia tak melihat sosok Ratna. Tapi kursi yang bergoyang itu menandakan ada yang mendudukinya. Jelas yang duduk di situ adalah pemiliknya. Tidak ada orang lain yang berani duduk di situ. Maya tidak tahu apakah Ratna sedang tidur atau menonton teve. Ipah sudah pergi ke belakang. Maya bermaksud pergi ke belakang. Untuk itu ia harus melewati kursi goyang Ratna. Ia tak ingin dipanggil Ratna yang nantinya minta ditemani lalu dijadikan tempat curhat. Ia tahu apa yang akan dijadikan topik pembicaraan. Pasti soal Delia yang belum ketahuan ke mana perginya. Padahal ia benci sekali mendengarkannya. Ia tidak pernah menanggapi 82 karena tahu tanggapannya memang tidak diperlukan. Ia cuma mengangguk-angguk membenarkan. Sama seperti yang lain, Maya membenci Ratna. Ia juga takut kepadanya. Ia takut dikutuk. Ia tak mau kehilangan suami dan anak-anaknya, seperti Delia kehilangan Agus dan Adam Awalnya mereka tidak percaya bahwa kutukan Ratna bisa ampuh. Ratna cuma bermulut tajam. Tapi lama-kelamaan mereka merasakan berbagai kejanggalan yang tampaknya membenarkan keampuhan kutukan Ratna. Jadi sebaiknya tidak mengambil risiko. Ada satu hal yang membuat Maya mampu bertahan. Sebagai orang yang sudah tua tentunya Ratna tidak akan hidup lama-lama. Pasti tidak selamanya. Biarpun fisiknya sehat, tetap saja dia sudah tua. Berulang-ulang dalam setiap kesempatan Ratna berkata, "Aku bisa hidup sampai seratus tahun! Bisa juga lebih!" "Kalau begitu, mungkin aku mati duluan," keluh Rama diam-diam. Maya tidak memercayainya. Pasti Ratna akan mati duluan. Ia yakin akan hal itu. Dan bila itu terjadi, pastilah perhiasan Ratna akan jatuh kepadanya! Bukankah dia tinggal serumah, paling tertekan dibanding yang lain? Dan karena tinggal serumah ia juga punya akses yang lebih

http://inzomnia.wapka.mobi

gampang ke lemari Ratna! Jadi ia bisa bersabar dan bertahan meskipun khawatir tidak bisa terlalu lama. Dengan memberanikan diri Maya pindah ke sisi yang lain, di mana ia bisa melihat Ratna dari pinggir. Jelas kelihatan mata Ratna terpejam. Maka Maya pindah lebih ke depan supaya bisa melihat lebih jelas. Biasanya ia tidak berani melakukan hal itu. Ia melihat kelopak mata Ratna berdenyut-denyut. Lidahnya men83 julur sedikit dari mulutnya yang terkatup. Cuping hidungnya bergerakgerak seperti tengah mencium bau. Wajahnya tampak aneh, tapi menggelikan. Ayo segera pergi! begitu kata hati Maya. Tapi ia tetap saja di situ. Entah apa daya tariknya. Tiba-tiba Ratna berteriak keras dengan nada penuh amarah dan benci. Maya terkejut bukan main. Kakinya tak mau disuruh berlari, malah gemetaran. Kedua lututnya lemah sekali sampai kemudian tak lagi sanggup menanggung beban tubuhnya. Ia terjerembap seperti karung kehilangan isi! Ratna melihatnya, tapi tak peduli. Ia malah berseru, "Sial kamu, Del! Siii...aaal!" Kedua tinjunya dikepalkan. Sumpah serapahnya berhamburan ditujukan kepada Delia. Baru sesudah itu ia mengarahkan tatapannya kepada Maya yang masih terduduk lemas di lantai. "Ngapain kamu di situ?" bentaknya. Bi Ipah berlari dari belakang, tapi tak berani mendekat. Jauh-jauh saja. Asal bisa melihat. Maya berdiri dengan susah payah. Semangat dan tenaganya anjlok. Tapi ia masih bisa mencari alasan. "A-a... aku ke...kebetulan lewat. Tiba-tiba Mama menjerit. Aku jadi kaget, Ma." Sesaat Ratna mengamati Maya penuh selidik. Lalu ia tertawa terkekehkekeh, geli sekali. "Aku lagi mikirin si Del," kata Ratna. "Oh."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kayaknya dia ada di Jakarta." "Oh!" Maya kaget. "Apaan sih kamu? Dongo amat! Ah-oh melulu!" bentak Ratna. Rama datang tergopoh-gopoh dari bengkelnya di bagian depan rumah. Walaupun rumah itu cukup 84 besar dan sudah diberi sekat tebal berbatasan dengan ruang yang dijadikan bengkel, lengking jeritan Ratna sampai juga ke situ. Ia merasa malu terhadap para karyawan, montir-montir di situ. "Ada apa, Ma?" tanyanya kepada Ratna dan Maya bergantian. "Katanya... katanya..." Maya tak meneruskan ucapannya karena segera disela oleh Ratna. "Delia ada di Jakarta! Cari ke sana!" "Mama tahu dari mana?" tanya Rama. "Dari iblis!" seru Rama sambil tertawa. Kedengarannya ucapan itu seperti guyon belaka, tapi Rama merasa bulu romanya berdiri. Maya mendekatinya lalu memegangi lengannya. Tangan Maya terasa dingin. "Jakarta-nya di mana, Ma?" tanya Rama. "Pokoknya Jakarta. Cari aja. Susah-susah amat! Minta bantuan saudarasaudaramu! Suruh mereka kumpul di sini nanti malam!" Rama termangu. Gampang amat kesan dari ucapan Ratna itu. Mencari satu orang di Jakarta itu sama saja dengan mencari jarum di tumpukan jerami. Kalau Rama memang tahu, kenapa tidak dikatakannya dengan pasti di mana alamat Delia di Jakarta? Setelah pergi sejauh mungkin dari Ratna, baru Rama membicarakannya dengan Maya. Itu pun dengan berbisik-bisik. "Heran, kenapa Mama semakin aneh saja?" kata Maya. "Bagaimana dia bisa tahu Del ada di Jakarta?" "Mana aku tahu. Dari i...iblis, katanya. Apa itu betul, Pa?" "Ah, jangan bikin aku takut, Ma. Biar gimanapun dia kan ibuku." 85 Bagi mereka, antara percaya dan tidak tampaknya lebih aman percaya! ***

http://inzomnia.wapka.mobi

Belum sampai tengah hari Delia sudah selesai menyalurkan sebagian sumbangan yang sudah dijadwalkannya. Satu-satunya penghalang hanya kemacetan lalu lintas. Setelah mendapatkan alamat yang dituju, maka semuanya lancar. Ia tinggal menyerahkan amplop tanpa perlu memberikan identitasnya. Yang diberi tentunya sangat senang. Mustahil penderma ditanyai macam-macam. Ia makan siang dulu sebelum kembali ke motel. Ia juga membawa bekal beberapa potong roti untuk makan malam. Dengan demikian ia bisa menghindari Kosmas yang kemungkinan akan menawarinya makanan. Dugaannya benar. Setelah memarkir mobilnya, ia melihat Kosmas mendekat. "Sudah makan siang, Bu?" tanya Kosmas. "Sudah, Pak. Tadi ada yang traktir," Delia berbohong. Kosmas tampak kecewa sejenak, lalu tersenyum. "Jadi sudah kenyang dong." Delia menepuk perutnya. "Iya. Sudah penuh. Buku petanya boleh pinjam lagi, Pak? Besok perlu pakai lagi." "Oh, pakai saja, Bu." Kosmas tampak ragu-ragu seperti memikirkan sesuatu. "Ada apa, Pak?" tanya Delia. Jangan-jangan sebenarnya Kosmas membutuhkan petanya tapi malu mengatakan. 86 "Begini, Bu. Saya dan Erwin ingin mengundang Ibu makan malam." Delia keheranan sejenak. "Tapi bukan di luar, Bu. Di sini. Di ruang makan kami. Makanannya pesan dari luar. Apa Ibu bersedia?" tanya Kosmas dengan pandang memohon. "Wah, saya sudah beli roti, Pak." "Masa makan malamnya roti? Itu sih buat sarapan, Bu. Mana kenyang? Oke ya. Bu? Pukul enam saya jemput." Delia jadi serbasalah. "Begini saja, Pak. Nanti saya kasih tahu kalau jadi, ya? Jangan pesan makanan dulu." Kosmas tak bisa memaksa. Tapi merasa tidak patut kecewa. "Baiklah. Silakan Ibu istirahat. Pasti capek, bukan?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Kosmas berlalu diiringi tatapan sesal Delia. Ada kesan tambahan di hatinya. Meskipun berwajah sangar, tatapan Kosmas tampak tulus. Bukan tatapan lelaki yang melulu tertarik secara fisik. Masih ada lainnya. Tatapannya seperti menyelidik dan mempelajari. Apakah Kosmas punya insting atau firasat akan apa yang mau dilakukannya? Delia masuk ke kamarnya dengan pikiran yang lain lagi. Ia merasa iba kepada Kosmas bukan karena tak bisa menerima perhatiannya, tapi karena apa yang akan dilakukannya nanti. Baru sekitar dua minggu lalu ada orang bunuh diri di motelnya, masa kejadian lagi? Motel itu akan mendapat citra buruk. Pelanggan semakin berkurang. Baru sekarang terpikir. Tadinya ia tak peduli. Seharusnya ia tidak menyusahkan orang lain. Tapi membatalkannya juga tidak mungkin. Mau ke mana lagi? Setelah berpikir lama, ia mulai menulis surat yang 87 ditujukan kepada Kosmas. Dalam surat itu ia memohon maaf karena telah menyusahkan. Ia juga mohon supaya Kosmas sudi mengurus jenazahnya karena ia tidak punya keluarga atau kerabat lagi. Untuk keperluan itu ia menyertakan sejumlah uang untuk biayanya. Sebagai penutup, ia mengucapkan terima kasih dan mendoakan semoga Kosmas mendapat pahala sebagai imbalan atas budi baiknya. Surat beserta uang ia masukkan ke dalam amplop yang sudah ditulisi nama Kosmas dengan alamat Motel Marlin. Lalu amplop itu ia masukkan ke dalam laci. Delia menangis. Pengakuan bahwa ia tidak punya keluarga atau kerabat sesungguhnya tidak benar. Tapi dalam situasi sekarang ia memang sendirian. Biarlah para kerabat itu tidak tahu.. Dan kalaupun nanti tahu juga, ia tak lagi ada untuk mengetahui reaksi mereka. Kemungkinan mereka tak mau mengakuinya dan lebih suka membiarkan ia dikubur sebagai orang sebatang kara. Tapi masih ada kemungkinan lain. Kalau Ratna masih mengincar hartanya dan mengira ia menyimpannya di bank, pastilah Ratna mengakui dirinya kerabat supaya bisa menuntut warisannya. Sebenarnya masih ada hartanya yang tertinggal yaitu mobilnya. Tapi besok, setelah selesai dengan urusannya membagikan uang, ia akan

http://inzomnia.wapka.mobi

menjual mobilnya. Bila dijual murah pasti cepat laku. Setelah itu ia akan pulang ke motel dengan taksi. Uang hasil penjualan mobil bisa untuk menambah biaya pengurusan jenazahnya. Kalau misalnya tidak laku, ia akan menyerahkannya kepada Kosmas. Tentang hal itu bisa ia tambahkan di bawah surat yang telah ditulisnya. 88 "Sikapnya itu justru menaikkan martabatnya, Bang," kata Erwin mengomentari sikap Delia. "Kok gitu?" "Iya. Itu menandakan dia bukan orang yang gampang diajak." "Oh begitu. Ya, benar juga. Tapi kalau dia nggak mau, berarti aku nggak mendapat kesempatan untuk mengenalnya lebih baik." "Jangan pesimis begitu, Bang. Kita kan sudah punya alamatnya di Bandung. Teleponnya juga ada. Dia tidak akan menghilang begitu saja kalau sudah keluar dari sini." "Betul sih. Tapi kan jadi susah lagi." "Susah gimana? Kau bertingkah aneh, Bang." "Aku? Dialah yang aneh, Win! Dia sering sekali terlihat kontradiktif. Sekali terlihat ceria dan optimis, tapi lain kali dia murung. "Kurasa setiap orang begitu. Ada saat sedih, ada saat senang." "Tapi tidak dalam waktu berdekatan, kan?" "Kau terlalu intens memerhatikannya, Bang!" Kosmas tidak puas. Apakah Erwin merasa prihatin atau menyesali? 89 BAB 9 Yasmin sudah berketetapan hati. Sebenarnya, sebelum memutuskan, ia ingin sekali bisa curhat dengan seseorang, berkonsultasi, dan minta saran. Tapi ia tidak punya siapa-siapa. Paling ada beberapa teman arisan, bekas teman kuliah. Tapi mereka pasti tidak cocok dijadikan teman curhat. Harus orang yang dekat. Padahal menjalin kedekatan itu butuh waktu dan kecocokan. Bukan itu saja. Permasalahannya adalah sesuatu yang sensitif. Memalukan. Jangan-jangan bukan simpati yang didapat, malah cemoohan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kalau saja ibunya masih ada, pasti kepadanyalah ia berlari, minta dukungan dan perlindungan. Ibunya memang tidak sempat tahu bagaimana kehidupan perkawinannya karena keburu meninggal sebelum ia menikah. Tapi ibunya menyukai Hendri dan menganggapnya sebagai calon suami ideal bagi putrinya. Pasti ibunya akan terheran-heran bagaimana pemuda ideal itu ternyata bisa begitu sadis. Tapi pasti ibunya tidak akan mencemoohnya atau menyalahkannya. Meskipun mungkin tidak bisa memberi jalan keluar, setidaknya ibunya bisa diajak berbagi. Sebenarnya Yasmin masih punya ayah. Tapi sudah bertahun-tahun ia dan ibunya menjauh dari ayahnya setelah si ayah kawin lagi. Kemudian kedua orangtua-nya itu bercerai dan Yasmin memilih bersama ibunya. 90 Mereka berdua sama-sama mendendam kepada si ayah karena merasa dikhianati. Mungkin saja ayahnya itu masih menyayanginya. Tapi untuk masalahnya ini Yasmin tak mungkin mengajaknya berbagi. Sebagai lelaki hampir pasti ayahnya memihak Hendri. Masa begitu saja kesakitan sih? Bukan saja tak ada gunanya, ia juga tak ingin mendekati ayahnya lagi. Ia masih merasa nyeri. Jalannya masih tertatih-tatih. Kalau dipaksakan berjalan normal, maka nyerinya bertambah. Mestinya ia menunggu dulu barang beberapa hari untuk pemulihan. Tapi bagaimana kalau Hendri memerkosanya lagi nanti malam? Atau besok? Ia mengemasi barang-barangnya. Hanya yang perlu saja. Yang penting adalah gaun tidurnya yang terbagus, sikat gigi, odol, sabun, handuk, dan satu setel pakaian dalam. Ia tidak memerlukan baju ganti untuk besok karena besok ia sudah tiada. Semua uang yang dimilikinya dan perhiasannya ia bawa. Siapa tahu diperlukan sebelum saat itu tiba. Masih ada satu benda lagi yang tidak boleh ketinggalan. Kartu nama Motel Marlin! Bila nanti sore Hendri pulang dan tak menemukannya, pasti Hendri tak segera menyangka jelek karena pakaiannya masih ada. Bila Yasmin bermaksud pergi untuk waktu yang lama atau tak punya niat kembali, pastilah ia akan membawa semua pakaiannya. Tanpa prasangka, maka Hendri tidak tergerak untuk segera mencarinya. Andaikata bermaksud

http://inzomnia.wapka.mobi

mencari pun ia tidak akan punya ide ke mana tujuannya. Paling-paling bertanya pada ayahnya yang pasti akan mengatakan tidak tahu. Hendri pun tidak akan mencemburuinya. Jadi ia tidak perlu merasa risau. Dengan sedih ia menyadari 91 bahwa hal itu pasti karena sekarang ia sudah menjadi tua prematur, seperti yang dikatakan Hendri. Yasmin menunggu saat terbaik, yaitu ketika Inem masuk ke kamarnya untuk tidur siang. Itulah kebiasaan Inem setiap hari. Pada saat itulah Yasmin segera berdandan serapi mungkin. Ia tahu, penampilan yang berantakan bisa membuat orang menaruh curiga. Apalagi kalau jalannya tertatih-tatih begitu. Setelah berusaha dengan saksama, ia cukup puas dengan penampilannya. Ia masih harus memperbaiki ekspresinya yang murung supaya tidak kelihatan seperti orang sedang stres. Lalu ia berupaya bisa berjalan dengan wajar tanpa meringis. Itulah yang sulit. Tapi ia yakin bisa. Ia hanya perlu melakukannya di depan pemilik motel. Itu tidak memerlukan waktu lama. Kalau sudah berada di dalam kamar, ia bisa melepaskan semua kepura-puraan. Ada juga rasa ibanya kepada pemilik motel. Bisa jadi motel itu akan terkenal sebagai tempat orang bunuh diri. Kalau mengikuti perasaan itu mungkin lebih baik ia melakukannya di rumah saja. Biarlah Hendri dan Inem kerepotan. Tapi ia takut tidak berhasil kalau mereka cepat menolongnya. Bila itu sampai terjadi, ia akan semakin sengsara. Hendri makin tak senang kepadanya dan Inem akan mengejeknya. Akan jadi apa dirinya nanti? Hidup tak ingin, mati tak bisa? Pilihannya kepada Motel Marlin juga sebagai balas dendam karena bisa dipastikan Hendri kerap berkencan di situ. Kalau nanti Hendri dibuat terkejut karena mayat istrinya ditemukan di situ, ada kemungkinan pria itu akan kapok melakukannya lagi. Memang Yasmin bisa saja memilih tempat lain, tapi ia masih berharap makna hidup bagi Hendri bukan melulu seputar seks belaka. 92

http://inzomnia.wapka.mobi

Barangkali kematiannya yang menggegerkan bisa memberi pelajaran berharga bagi Hendri. Siapa yang memilih mati selama kehidupan menyenangkan untuknya? Mereka yang mengatakan bahwa cuma orang picik yang melakukan bunuh diri pasti adalah orang-orang yang takut mati! Di depan kamar Inem, Yasmin mendengarkan sejenak. Terdengar dengkur perempuan itu. Dalam hati Yasmin merasa nelangsa ketika berpikir nanti malam pastilah Hendri bisa bebas tidur bersama Inem. Barangkali di ranjangnya sendiri. Membayangkan hal itu ia merasa mual. Cepat-cepat ia ke luar rumah. Ia mengunci pintu dari luar lalu melemparkannya ke dalam lewat lubang angin. Dengan demikian Inem akan tahu bahwa ia pergi. Erwin sedang berjaga di kantornya. Kosmas baru saja keluar dari kamarnya yang terletak di belakang kantor. Ada pintu yang membatasi. Jadi gampang keluar-masuk kantor. Sedang satu pintu lagi keluar ke ruang makan. Kamar itu digunakan mereka berdua. Keakraban membuat mereka merasa tidak perlu memiliki kamar sendiri untuk privasi. Kosmas mengerjakan pembukuan sedang Erwin di belakang meja penerimaan tamu. Pada saat itulah sebuah taksi dengan Yasmin sebagai penumpangnya memasuki halaman lalu berhenti di depan kantor. Erwin dan Kosmas mengarahkan pandangan ke sana. Tamu baru. Yasmin turun, lalu mengamati sekitarnya, kemudian beralih ke kantor. Sikap yang memperlihatkan bahwa kedatangannya ke situ adalah untuk pertama kalinya. 93 Wanita itu berjalan dengan langkah pelan. Seperti takut tersandung atau kakinya baru keseleo. "Selamat siang, Bu," Erwin menyapa. Kosmas mengikuti sapaan Erwin sambil mengangguk, tapi ia tetap di tempatnya dan meneruskan pekerjaannya. Cukup Erwin seorang yang menerima tamu. Pekerjaannya yang menghitung-hitung sungguh menjemukan.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Selamat siang," Yasmin membalas. "Ada yang kosong? Saya mau nginap semalam. Besok keluar jam sembilan." "Baik, Bu. Bisa saya catat KTP-nya?" Yasmin menyerahkan yang diminta. Pada saat menandatangani buku tamu, Erwin melihat jari-jari Yasmin tidak memakai cincin. "Kamar nomor 15, Bu? Oke? Masih ada pilihan nomor lain." "Lima belas juga boleh." "Mari saya antarkan," Erwin menawarkan diri sambil menyerahkan kunci. "Ah, nggak usah. Ke kiri atau ke kanan?" "Ke kiri, Bu." Mulanya Yasmin melangkah cepat karena ingin segera menghilang ke dalam kamarnya, tapi terpaksa memperlambatnya karena rasa nyeri yang menyerang. Ia bisa merasakan tatapan Erwin di punggungnya. "Kelihatannya kakinya sakit," kata Erwin kepada Kosmas. "Pincang?" "Jalannya pelan-pelan. Seperti diseret." "Jangan-jangan sakit, ya?" Kosmas khawatir. "Wajahnya sih nggak kelihatan seperti orang sakit. Kalau sakit pasti pergi ke rumah sakit. Bukan ke motel." 94 "Kok lagi-lagi dapat tamu cewek sendirian ya, Win?" "Curiga lagi, Bang? Sudahlah. Buktinya, Ibu Delia baik-baik saja." "Wanita tadi orang Jakarta, Win. Alamatnya nggak jauh-jauh amat." Kosmas mengamati buku tamu. "Emang kenapa?" "Dia orang Jakarta dan datang sendiri. Sama kayak si Yuli." "Sudahlah, Bang. Biarpun dia orang Jakarta, pasti ada alasannya kenapa nginap di motel dan bukan di rumah sendiri. Barangkali rumahnya lagi direnovasi. Atau gimana, gitu. Kita nggak tahu alasannya. Bukan urusan kita, Bang." "Iya. Habis trauma sih. Takut kejadian lagi. Kita juga termasuk orang kolot. Lihat cewek sendirian pikirannya jadi macam-macam. Oh ya, tadi kauberi dia nomor 15. Apa kau sengaja supaya dia bertetangga dengan Delia?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya. Supaya masing-masing punya teman. Siapa tahu keduanya berkenalan." "Bagus juga ide itu." "Gimana ajakan makan malam itu, Bang? Perlu ditanyain lagi atau dia akan memberitahu?" "Katanya dia yang akan memberitahu. Kita jangan pesan makanan dulu." "Biarpun belum pasti, aku akan menyuruh Tono membersihkan ruang makan. Jadi nggak terburu-buru nanti. Kalau dia mau, akan kupasang taplak meja kesayangan Mama. Tolong jaga sebentar ya. Bang. Aku pergi dulu." Kosmas terharu atas perhatian yang diberikan Erwin. Pikirannya sendiri tidak sampai ke situ. Ia 95 sama sekali tidak ingat akan taplak meja kesayangan ibunya itu. *** Delia menarik gorden tebal yang menutup jendela hingga tinggal gorden vitrage yang tembus pandang. Lalu ia duduk di depan jendela memandang ke luar. Ia bukan sedang menikmati pemandangan karena di luar tak ada yang menarik untuk diamati. Ia sedang memikirkan rencana hari esok. Apa saja yang belum dikerjakan dan terlupakan. Rasanya ingin sekali waktu cepat berlalu supaya ia bisa mengakhiri semuanya dengan tuntas. Tiba-tiba ia tersentak oleh perasaan menyengat di perutnya. Sakit itu datang lagi setelah beberapa hari sempat hilang. Ia merasa tidak pasti juga. Memang sakitnya hilang atau tidak terasa karena kesibukannya? Sekarang muncul lagi. Tapi ia tidak peduli. Ia masih bisa menanggungnya. Lusa tak akan ada rasa apa-apa lagi. Ia merasa bersyukur bisa mati dengan tubuh lengkap. Rahimnya masih ada. Dia komplet sebagai perempuan. Perhatiannya beralih. Ia melihat seorang perempuan muda berjalan pelan-pelan dengan menjinjing sebuah tas yang tak terlalu besar dan tidak kelihatan penuh. Tampaknya ringan. Yang menarik perhatiannya adalah ekspresi perempuan itu seperti menahan sakit. Lalu ia berhenti

http://inzomnia.wapka.mobi

di depan jendelanya dan bersandar. Terdengar keluhan panjang keluar dari mulutnya. Delia tidak mengamati lama-lama. Ia segera berlari ke luar kemudian merangkul perempuan itu. Yasmin juga kaget. Ia tidak menyangka ada orang yang mengamati gerak-geriknya. 96 "Kenapa, Dik? Sakit?" tanya Delia. "Nggak apa-apa, Kak. Cuma pusing sedikit." "Mau ke mana? Kamarnya di mana? Ayo kuantar." Yasmin menatap nomor di pintu. "Nomor lima belas, Kak. Tuh di sebelah." Delia menggandeng lengan Yasmin. Ia juga mengulurkan tangan satunya untuk mengambil alih tas Yasmin. Tapi Yasmin mempertahankan. "Nggak berat kok. Terima kasih." Meskipun tidak memaksa, Delia tetap menggandeng lengan Yasmin dan membimbingnya ke kamar sebelah. Langkah Yasmin tetap pelan. Delia memandang ke belakang. Ia masih berpikir Yasmin tidak sendirian. Tapi memang tidak ada siapa-siapa di belakang Yasmin. Setelah pintu terbuka, Delia tak segera pergi. "Terima kasih, Kak," kata Yasmin, sebagai isyarat bahwa ia ingin ditinggalkan. "Namaku Delia. Kamarku di sebelah. Kalau perlu bantuan, panggil saja." "Oh ya. Namaku Yasmin, Kak." Yasmin menyambut uluran tangan Delia. "Itu ada interkom. Kau juga bisa menghubungi kantor kalau mau memesan makanan atau butuh apa-apa." "Ya, Kak." Delia belum mau pergi. "Berapa lama nginepnya, Yas?" "Cuma satu malam. Besok pulang." "Asal mana?" "Jakarta," sahut Yasmin. Tak merasa perlu berbohong. "Sendirian?" "Ya. Kak Del sendiri?"

http://inzomnia.wapka.mobi

97 "Sendirian juga.. Sama dong, ya?" Yasmin mengangguk. Ternyata ada juga perempuan yang menginap sendirian di motel. Jadi dia tidak perlu khawatir akan dicurigai. Ia baru merasa lega setelah Delia pergi. Ia khawatir Delia akan bertanya macam-macam. Bisa saja ia keseleo lidah atau salah bicara. Bila hal itu terjadi, orang pertama yang akan mencurigainya adalah Delia. Belum sempat Yasmin melakukan sesuatu, pintunya diketuk. Semula ia berpikir Delia kembali lagi dan menjadi kesal. Tapi ia melihat Erwin di depan pintu, tersenyum dengan amat sopan. Tampak ganteng dengan tubuhnya yang tinggi semampai, bercelana jins dan berkemeja putih lengan panjang yang lengannya digulung. "Maaf mengganggu, Bu. Tadi saya lupa memberitahu. Kalau Ibu perlu apa-apa..." "Pakai interkom," Yasmin menunjuk. "Saya sudah tahu." "Oh begitu. Jangan ragu menggunakannya, Bu. Mau pesan makanan juga bisa. Tak usah turun sendiri ke jalan." "Ya. Terima kasih." Yasmin merasa senang dengan keramahan itu tapi juga bosan. Siapa yang bernafsu makan bila hidupnya akan berakhir beberapa jam lagi? "Silakan beristirahat, Bu." Erwin menyadari sikap kurang ramah yang diperlihatkan Yasmin. Ia cepat pamitan. Sebenarnya ia masih ingin menanyakan apakah Yasmin sakit dan memerlukan dokter. Tadi ia sempat melihat Delia membimbing Yasmin. Tapi kelihatannya Yasmin tidak suka ditanyai. Setelah Erwin pergi, Yasmin menyesali sikap 98 dinginnya. Seharusnya ia menggunakan saat-saat akhirnya dengan perilaku yang baik. Apalagi ia akan berbuat buruk pada motel ini. Perbuatannya akan membuat motel ini menanggung kesulitan. Polisi akan datang menyelidiki. Media akan menyebarkannya. Bagaimana kalau orang-orang di motel ini dicurigai? Ia sendiri tidak tahu apa-apa lagi. Yang menanggung adalah yang masih hidup. Ternyata sudah mati pun ia

http://inzomnia.wapka.mobi

masih menyusahkan orang lain. Sama sekali tidak mudah untuk mati. Seharusnya ia pergi ke tengah hutan lalu membiarkan dirinya dimakan binatang buas. Setidaknya ia memberi kebaikan bagi binatang itu. Sayang di sini tidak ada hutan dan binatang buas. Di sini hanya ada manusia yang terkadang juga buas. Mereka tidak memangsa daging, tapi perasaan. Ia tahu, untuk memberi kepastian kepada polisi ia harus meninggalkan surat. Dengan demikian ia bisa menghindarkan kecurigaan kepada orangorang yang tidak bersalah. Dalam setiap kasus dugaan bunuh diri, surat yang ditulis sendiri selalu dicari lebih dulu. Bila itu berhasil ditemukan dan diyakini memang ditulis oleh pelaku, kasusnya tidak akan berpanjang-panjang. Kertas sudah ia siapkan, berikut bolpoin beberapa buah kalau-kalau ada yang macet. Ia menujukan suratnya kepada Hendri. Tulisannya dibuat sebagus mungkin agar jelas terbaca. Ia mengucapkan selamat tinggal dan permohonan maaf karena tidak bisa terus mendampinginya sebagai istri. Ia menyesal tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai istri yang baik, dan berharap Hendri bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik daripada dirinya. Ia tidak mau menyinggung masalah seks atau persoalan sebenarnya karena ingin menjaga nama baik Hendri. Biarlah soal itu tidak pernah diketahui orang lain. 99 Usai menulis, ia melipatnya lalu memasukkannya ke dalam laci. Nanti malam, sebelum menjalankan aksinya, barulah surat itu ia taruh di atas meja supaya gampang terlihat. Sesudah itu ia merebahkan diri di tempat tidur. Tanpa dikehendaki, pikirannya mengembara lagi. Padahal ia merasa sudah mantap. Pelanpelan ia mulai merasa takut. Bagaimana rasanya mati? Sakitkah? Apakah lebih sakit daripada yang dirasakannya sekarang? Tapi bagaimanapun, sakit itu cuma sekali. Sesudah itu selesai. Beda dengan sekarang yang berulang dan berulang terus. Seharusnya ia bisa berkata "tidak" kepada Hendri. Tapi mustahil juga. Ia seorang istri, jadi berkewajiban melayani suami. Mana ada suami yang

http://inzomnia.wapka.mobi

mau ditolak terus? Atau ditentukan frekuensi kegiatan seksnya? Bukankah biasanya hal itu tergantung kapan gairah suami muncul? Kalau dia ingin sekarang, sekarang pulalah istri harus melayaninya. Demikian pula kalau dia menginginkannya tiap hari, atau lebih dari sekali dalam sehari! Ia juga tidak bisa mengatur cara dan gayanya. Sekali lagi itu terserah kepada suami. Ia sudah memberi saran pada Hendri agar berlaku lebih lembut dan melakukannya pelan-pelan. Tapi Hendri mengatakan hal itu terjadi secara otomatis dan spontan. Jadi tidak bisa. Benarkah? Ia tidak tahu karena tidak merasakan jadi lelaki. Tapi terpikir, apakah seks yang mengatur orang dan bukan sebaliknya? Pertanyaan yang tidak terjawab. Hendri tak mau mendiskusikan soal itu karena merasa dirinya benar. Bagi Hendri, Yasmin-lah yang salah dalam segala hal. Buktinya adalah perempuan lain. Ia tahu, masih ada satu solusi yang tersedia di 100 samping mati. Yaitu cerai! Tapi ia tak mau memilihnya atau memikirkan kemungkinannya. Kata itu tidak ada dalam kamus hidupnya. Ia sudah mengucapkan sumpah yang sakral ketika pernikahannya dengan Hendri diresmikan. Setia sampai mati dan menerima lelaki yang jadi suaminya dengan segala kebaikan dan keburukannya sebagai risiko kehidupan! Jadi ada satu hal yang terasa sebagai penghiburan, yaitu ia akan mati sebagai Nyonya Hendri! 101 BAB 10 Empat lelaki bersaudara berkumpul dalam suasana mencekam. Mereka adalah Rama, Ramli, Ridwan, dan Marta, para putra Ratna. Dua anak yang lain, keduanya perempuan, tinggal di luar Jawa. Suatu keuntungan bagi mereka karena tak perlu diikutkan dalam situasi yang tidak menyenangkan seperti itu. Satu-satunya menantu yang ikut hadir hanya Maya, karena rumahnya di situ. Lainnya menolak ikut dengan berbagai alasan. Tapi buat Rama mereka tidak penting.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Si Del harus secepatnya ditemukan sebelum dia meludeskan hartanya!" kata Rama dengan nada tinggi. Topik pembicaraan memang tentang Delia. Topik yang sama sekali tidak mengandung logika kebenaran bagi anak-anak Rama. Tapi mereka memilih sikap yang aman meskipun jadi merasa bodoh. Manggut-manggut saja dan mengiyakan apa pun yang dikatakan Ratna. "Kami akan suruh orang mencarinya," sahut Ramli, yang sudah ditunjuk sebagai juru bicara. "Siapa? Polisi?" "Bukan, Ma. Detektif amatir." "Apa dia bisa?" Rama ragu-ragu. "Sudah profesinya mencari orang hilang. Kalau 102 kita yang cari sendiri, bisa bingung atuh, Ma. Jakarta itu kan luas. Penduduknya padat." "Emangnya aku nggak tahu? Aku belum pikun! Tentu aja Jakarta lebih gede daripada Bandung!" "Iya, Ma." "Apa detektif itu harus dibayar?" "Tentu saja, Ma." "Kalau begitu kalian patungan, ya?" "Iya, Ma." "Apa sudah dapat detektifnya?" "Belum, Ma. Cari dulu." "Ya ampun," keluh Rama. "Gimana bisa cepat? Waktu sudah mendesak, tahu?" "Sekarang juga kami cari, Ma. Kan kita harus mendapatkan yang pintar." "Pendeknya, aku mau cepat!" "Apa maksud Mama dengan waktu sudah mendesak?" tanya Ramli memberanikan diri. "Nanti duitnya keburu habis!" "Habis buat apa, Ma?" Ramli keterusan bertanya. Ia merasa tergelitik ingin tahu karena cara Rama berbicara itu seakan sudah yakin. "Ya dipake dong!" seru Rama kesal. Ia menatap keempat putranya bergantian seolah mereka anak kecil yang bodoh. Ramli manggut-manggut saja. "Mau nyari orang kan perlu fotonya. Kalian udah punya fotonya?" tanya Ratna.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ramli terperangah. Belum terpikir ke situ. "Rasanya sih ada, Ma. Nanti cari dulu," sahutnya, kemudian menyadari kesalahan setelah terlambat. "Cari dulu?" teriak Rama. "Semuanya cari dulu! Sudah! Pergi sana! Cari!" Tanpa disuruh untuk kedua kali semuanya pergi. 103 Ramli, Ridwan, dan Marta melanjutkan pertemuan di rumah Ramli. Rama tidak ikut karena khawatir dicurigai ibunya. "Aku pikir, kalau Mama dibohongin juga nggak bakal tahu," kata Marta. "Kita bilang aja sudah berusaha tapi nggak ketemu." "Apa dia bisa dibohongin?" Ramli ragu-ragu. "Nyatanya dia bisa tahu Del ada di Jakarta. Padahal dia nggak ke mana-mana." "Kalau dia sudah tahu Del di Jakarta, kenapa nggak tanya sekalian sama informannya yang jelas di mana alamat Del," kata Ridwan sinis. "Kalau alamat sudah, ada, kan kita bisa mengunjunginya. Nggak perlu detektif segala." "Jangan-jangan dia sebenarnya sudah tahu, tapi mau menguji kita saja. Sampai mana keseriusan kita," kata Ramli. "Bukankah dia bilang waktu sudah mendesak? Buat apa pakai menguji segala? Itu kan buang waktu," komentar Marta. "Ah, aku bingung nih. Kenapa ya Mama jadi begini? Kok dia nggak mau mikirin kesulitan kita?" keluh Ridwan. "Sewa detektif itu kan mahal. Padahal iuran lima ratus ribu saban bulan udah berat buatku." "Iya. Berat tuh," Marta membenarkan. "Tapi masih lebih baik keluar uang daripada hidup bersamanya, kan?" kata Ramli. "Betul. Aku perhatikan Maya, makin lama makin stres saja," Mila membenarkan suaminya. "Kita harus ingat akan keselamatan anak istri. Jangan sampai kena kutuk Mama," Ramli mengingatkan. "Ingat nasib Agus dan Adam." 104 "Hi..." Mila bergidik. "Apakah kita harus percaya akan kutukan Mama? Aku pikir, apa yang dialami Agus dan Adam sudah menjadi takdir mereka," kata Marta.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Percaya nggak percaya..." Ramli tidak meneruskan. Ia tahu saudarasaudaranya sudah bosan dengan ucapannya itu. Sudah sering diucapkan. Lalu ia melanjutkan, "Ingat nggak, Mama bilang Del sakit. Kok dia bisa tahu?" Donna muncul. Malu-malu. "Boleh ikut ngomong nggak? Ada berita baru." "Tentu saja! Ayo sini," panggil Ramli. Donna duduk di sebelah ibunya. "Tadi pulang sekolah aku mampir lagi ke tokonya Tante Del. Eh, bukan. Sekarang bukan tokonya lagi..." Donna diam sejenak. Tersipu. "Ayo teruskan," desak Ramli. "Aku ketemu Sri, karyawan toko yang dekat sama aku. Sri bilang, Tante pernah nanya perihal tabib yang katanya bisa menyembuhkan kanker. Sri bilang tabib itu pernah menyembuhkan ibunya dari sakit kanker yang sudah parah. Tante minta alamatnya. Sri nanya siapa yang sakit. Tante bilang saudaranya. Padahal Tante kan nggak punya saudara. Jadi kayaknya yang sakit itu Tante." Semua terkejut. "Del sakit kanker? Aduh...," keluh Mila iba. Ia merangkul putrinya. Tentu ia masih ingat dan terkesan akan kedermawanan Delia yang tanpa berat hati menyumbang sepuluh juta untuknya yang dikatakan sakit. Sedang Delia sendiri sakit tanpa ada yang membantu dan sendirian pula. Masih pula dikejar Ratna. "Jadi benar dong ucapan Mama. Coba, tahu dari mana dia?" kata Ramli. 105 "Pantas dia bilang waktu sudah mendesak. Takut harta Delia keburu habis. Jelas dong, Del butuh uang untuk biaya pengobatannya. Mungkin untuk itulah dia ke Jakarta," Marta menyimpulkan. "Duh, Mama sih kelewatan amat. Udah ah, aku nggak mau ikutan dalam soal ini. Biarin dikutuk juga. Lebih baik dikutuk daripada ikut-ikutan berdosa." Marta berdiri lalu pergi. Saudara-saudaranya memandangi kepergiannya dengan resah. Seharusnya mereka juga memiliki keberanian itu. Tapi apakah keberanian jadi berarti bila nanti diikuti dengan kehilangan? ***

http://inzomnia.wapka.mobi

Sore itu Hendri pulang disambut Inem. Bukan Yasmin seperti biasanya. "Ibu pergi, Pak. Nggak tahu ke mana. Nggak bilang-bilang. Tahu-tahu ilang," Inem melaporkan. "liang gimana?" Hendri mengerutkan kening karena menganggap sikap Inem genit dan tidak hormat. Tapi itu tentu salahnya sendiri karena sudah menidurinya. Inem sudah menganggapnya sebagai kekasih. "Tadi saya tidur siang. Bangun-bangun Ibu udah nggak ada. Pintu dikunci dari luar. Saya nemu kuncinya di lantai." "Ya sudah. Orang pergi aja diributin. Mungkin tadi dia mau bilang sama kamu, tapi kamu molor!" "Biasanya sih Ibu nggak suka ke mana-mana." "Sudah. Jangan bawel." Inem pergi dengan kecewa. Bila Yasmin tidak ada di rumah, mestinya mereka berdua bisa lebih leluasa. Ia sudah berdandan rapi untuk menyambut kepulangan 106 Hendri. Mumpung Yasmin belum pulang. Tapi Hendri sama sekali tidak menyentuhnya. Hendri bergegas ke kamarnya. Barangkali Yasmin meninggalkan pesan di sana. Tapi ia tidak menemukan apa-apa. Perasaannya kurang enak. Buruburu ia membuka lemari pakaian lalu memeriksa. Ia menyimpulkan isinya masih lengkap. Koper juga ada. Jadi tak mungkin Yasmin minggat. Entah kenapa ia berpikir begitu. Padahal orang pergi itu wajar saja karena hari belum berganti. Mungkin perginya baru beberapa jam saja. Yang membuat perasaannya kurang enak adalah kondisi Yasmin. Ia tahu betul Yasmin sedang sakit karena hubungan seksual semalam. Apakah Yasmin marah? Tapi ia menganggap kepergian Yasmin itu juga menandakan bahwa sakitnya mungkin tidak terlalu serius. Kalau benarbenar sakit seperti yang biasanya dipertontonkannya di rumah, mustahil Yasmin bisa turun ke jalan. Apakah ia tidak malu atau khawatir kenapakenapa? Untuk pertama kalinya Hendri menyadari bahwa Yasmin memang jarang ke luar rumah seperti yang dikatakan Inem. Ia sendiri jarang mengajak,

http://inzomnia.wapka.mobi

sedang Yasmin tidak punya kegiatan di luar. Pernah Yasmin mengatakan ingin bekerja. Ia sarjana ekonomi. Tapi kemudian ia merasa terhalang oleh sakitnya itu. Bagaimana bisa bergiat di luar rumah kalau di dalam rumah saja jalannya sudah seperti itu? Memang ada saatnya Yasmin pulih, tapi setelah itu berulang lagi setelah berhubungan seks. Tak ada habisnya bagaikan lingkaran. Meskipun menyadari kondisi Yasmin itu sebagai akibat perbuatannya, Hendri tidak merasa bersalah. Ia tetap beranggapan bahwa Yasmin lembek dan 107 cengeng. Lama-kelamaan Yasmin pasti bisa menerima bahkan menikmati. Hendri yakin, otot-otot vagina Yasmin masih kaku. Tak bisa mulur dan mengerut seperti karet elastis. Jadi ia membutuhkan waktu. Karena itu menurut pendapatnya, selama menunggu kemampuan adaptasi otot-otot itu, kegiatan harus berjalan terus. Bila dihentikan bisa menjadi kaku lagi. Maka Yasmin harus dipaksa untuk menerima. Sesungguhnya ia bangga akan kejantanannya. Perempuan lain memuji, kenapa Yasmin malah sebaliknya? Baginya, reaksi Yasmin itu bukannya membangkitkan iba tapi perasaan terhina! Sebenarnya ada juga rasa heran. Kenapa situasi sekarang jadi berbeda sekali dibanding saat berpacaran dulu? Ke mana cinta yang menggebu dan perhatian besar yang dulu dirasakan dan dicurahkannya kepada Yasmin? Mestinya kalau ia masih cinta ia akan merasa khawatir. Sudah pudarkah cintanya? Singkat sekali umurnya. Ternyata cinta begitu sementara sifatnya. Mungkin itu tidak terjadi kalau saja Yasmin bisa mengimbanginya dalam masalah seks. Siapa sangka bisa terjadi hal seperti ini? Ia tak menyangka ada perempuan yang menganggap seks sebagai penderitaan. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak merisaukan kepergian Yasmin atau mencarinya. Nanti juga pulang sendiri. Memangnya mau ke mana? Ia yakin Yasmin tidak pergi ke rumah ayahnya yang bernama Winata. Ia sudah tahu perbuatan Winata dari cerita Yasmin. Sebenarnya ia menyayangkan retaknya hubungan Yasmin dengan Winata. Kata orang, Winata itu kaya. Tapi Yasmin sendiri tidak pernah mau bercerita

http://inzomnia.wapka.mobi

mengenai apa dan siapa ayahnya itu. Padahal ia punya feeling bahwa Winata sebenarnya ingin berbaikan dengan Yasmin. Hal itu diindikasikan oleh 108 kedatangan Winata ke pesta pernikahan mereka. Yasmin sendiri tidak berniat mengundang ayahnya, tapi, Hendri membujuk dengan mengatakan bahwa apa pun yang telah terjadi Winata tetaplah ayahnya. Ternyata memang tidak sia-sia. Winata menunjukkan perhatiannya dengan datang sendirian ke pesta mereka. Winata tentu tak mau mengajak istri keduanya karena tak mau menyinggung perasaan Yasmin. Tapi bukan itu saja hasilnya. Winata memberi angpau gede! Meskipun sudah memutuskan untuk tidak peduli, ingatan kepada Winata membangkitkan keingintahuan Hendri. Siapa tahu Yasmin memang ke sana. Hidup ini terkadang memberikan berbagai kejutan. Ia mencari nomor telepon Winata lalu menghubungi rumahnya. Suara lelaki menyambutnya. "Selamat sore! Bisa bicara dengan Pak Winata?" kata Hendri sopan. "Dari mana, Pak?" "Saya Hendri, suami Yasmin." "Tunggu sebentar, Pak." Tak lama kemudian suara lelaki yang lain lagi terdengar, "Saya Winata. Ini suami Yasmin, ya?" "Betul, Pak." "Tumben." "Bapak baik-baik saja?" "Seharusnya kau memanggilku Papa." "Ya, Pa. Begini. Saya cuma mau nanya apakah Yasmin ada di situ, di rumah Papa? Tadi dia pergi tanpa pesan. Saya tidak tahu dia ke mana." "Ah, bayangannya aja nggak ada tuh." "Kalau begitu, mungkin dia ke tempat lain. Maaf sudah mengganggu, Pa. Selamat sore!" "Tunggu dulu. Kebetulan kau nelepon. Aku mau 109 bicara. Mestinya sih sama Yasmin. Tapi karena dia nggak ada, biarlah sama kau saja. Siapa ya namamu?" "Hendri, Pa."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Oh ya, Hendri. Jangankan namamu, wajahmu pun aku tak ingat lagi. Habis baru lihat sekali. Bagaimana keadaan Yasmin? Apa dia baik-baik saja?" "Baik, Pa. Dia sehat," sahut Hendri, lalu menjulurkan lidahnya. "Kalian sudah punya anak?" "Belum, Pa." "Memang direncanakan?" "Nggak, Pa. Belum dikasih aja." "Begini, Hen. Ngomong di telepon itu nggak leluasa. Bisakah kau datang sekarang? Masalahnya penting." Hendri ragu-ragu sejenak. "Nggak bisa besok, Pa?" "Besok?" suara Winata meninggi. "Siapa tahu besok aku mati! Apa kau nggak tahu kalau keturunanku cuma Yasmin seorang?" "Oh ya, baiklah, Pa," sahut Hendri buru-buru. "Sekitar satu jam lagi saya datang." "Sudah tahu alamatku?" "Belum, Pa." "Ayo catat." Hendri jadi lebih bersemangat. Mungkin yang mau dibicarakan itu masalah warisan? 110 BAB 11 Di kamarnya, Delia sedang tiduran tanpa tertidur. Ia sedang merenungi hidupnya yang tinggal sebentar lagi. Biarpun tak menginginkan, ia berpikir lagi tentang penglihatannya di cermin tadi pagi. Bisa juga halusinasi. Tapi yang dipikirkannya sekarang bukanlah masalah kebenaran pengalaman itu. Ia tidak mau mempertentangkannya. Rasanya akan terlalu melelahkan. Lebih baik menerima saja sebagai suatu realitas. Tapi yang mengganggu pikirannya adalah perasaan bahwa sesungguhnya ia belum pasrah benar. Rama masih membayanginya

http://inzomnia.wapka.mobi

walaupun Delia sudah meyakinkan diri bahwa sekarang ia sudah bebas dari wanita itu. Mau tak mau Delia berpikir tentang kemungkinan Ratna punya kemampuan untuk menghambat upayanya. Ia bergidik membayangkannya. Adakah manusia yang memiliki kemampuan seperti itu? Apalagi bila orang itu adalah orang yang sudah ma. Dulu ia mengenal Rama sebagai orangtua yang otoriter. Agus sering bercerita tentang ibunya itu. Tapi sikap otoriter masih manusiawi. Belakangan Rama tidak lagi tampak manusiawi. Itu yang membuatnya jadi mengerikan. Tiba-tiba Delia tersentak kaget. Tangannya yang disandarkan ke dinding bergetar nyeri seperti dialiri listrik. Ia menarik tangannya. Mungkinkah ada arus 111 pendek hingga dinding dialiri listrik? Meskipun ada pemikiran begitu, ia tidak mau mencoba lagi. Mungkin sebaiknya ia memanggil pemilik motel untuk memberitahu. Kalau sampai terjadi kebakaran bisa celaka. Saat ia masih memikirkannya, ia mendengar suara tangisan yang memilukan. Sedih sekali bunyinya. Hatinya jadi serasa tersayat-sayat. Ia konsentrasi mendengarkan. Sepertinya suara itu datang dari kamar di sebelahnya, kamar 15 yang dihuni Yasmin! Tanpa pikir panjang ia berlari ke luar. Di lorong depan kantor, Erwin sedang wira-wiri untuk menghilangkan pegal-pegalnya karena duduk lama. Sambil melakukan hal itu, ia sekalian memikirkan apa yang mau dilakukannya bila Delia belum juga memberitahu keputusannya terhadap undangan makan malam yang disampaikan Kosmas. Hari sudah sore. Makanan harus dipesan dulu. Apakah sebaiknya menunggu atau bertanya dulu? Ia khawatir Delia ketiduran. Tiba-tiba saja ia melihat Delia melesat keluar dari kamarnya. Ia tertegun heran, tak segera bersikap. Barulah ketika ia melihat Delia mengetuk pintu kamar sebelahnya, dengan wajah cemas Erwin bergegas ke sana. "Ada apa, Bu?" tanya Erwin.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku dengar dia menangis," sahut Delia, lalu melanjutkan mengetuk sambil memanggil, "Yas! Yaaas! Kenapa?" Erwin ikut mengetuk pintu. Tak terdengar sahutan dari dalam. "Aku khawatir dia sakit," Delia menjelaskan. Delia menempelkan telinganya ke pintu. Tapi ia tak lagi mendengar suara tangisan itu. Erwin mempertimbangkan untuk membuka pintu 112 dengan kunci cadangan. Delia kembali mengetuk dan memanggil-manggil. Mendadak pintu terbuka dan wajah Yasmin yang tampak kesal muncul di kerenggangan pintu yang dibuka sedikit. "Ada apa?" tanyanya dengan tatap bergantian kepada Delia dan Erwin. Delia mengamati wajah Yasmin. Ia tidak melihat bekas tangisan. Matanya tidak merah atau sembap. Ia yakin, orang yang menangis seperti yang tadi didengarnya pastilah sulit menghilangkan bekasbekasnya dalam waktu singkat. Tanpa rias wajah, Yasmin tampak seperti apa adanya. Berbeda dibanding awal kedatangannya. Ditambah dengan ekspresi bingung, ia kelihatan lugu tapi cantik. Erwin terpesona sejenak, tapi kemudian buru-buru beringsut ke belakang Delia, berusaha tidak begitu kentara. Yang berinisiatif mengetuk pintu dan memanggil adalah Delia. Bukan dirinya. Ia cuma mau membantu. Delia jadi malu. "Maaf, Yas. Tadi aku mendengar suara orang menangis. Kupikir kau sedang kesakitan. Jadi..." "Aku nggak nangis kok. Mungkin di kamar sebelah satunya lagi," sahut Yasmin, menunjuk kamar 12. "Yang itu kosong, Bu," Erwin yang menyahut. Delia perlu dibela. "Lalu siapa yang nangis?" Delia jadi bingung. Yasmin mengangkat bahu. Ia menganggap tetangganya ini orang yang cepat tanggap. Mungkin terlalu cepat. "Maaf ya. Aku sudah mengganggu. Apa kau sedang tidur?" 113

http://inzomnia.wapka.mobi

"Nggak sih. Terima kasih atas perhatiannya, Kak," kata Yasmin ramah, menyadari kecanggungan Delia. Lalu ia mengangguk kepada Erwin kemudian merapatkan pintu dan menguncinya kembali. Kalau lupa dikunci bisa-bisa ada yang lancang masuk hanya karena merasa mendengar suara. Setelah itu Yasmin menjatuhkan diri di tempat tidur. Baru sekarang ia memperlihatkan ekspresi yang sesungguhnya. Ia berkata pelan, "Aku memang sedang menangis. Sedih sekali. Tapi di dalam hati! Bagaimana dia bisa mendengar?" *** "Aduh, aku jadi malu banget," kata Delia kepada Erwin. Erwin menatap simpati. "Nggak usah malu, Bu. Itu berarti Ibu bermaksud baik. Mau menolong. Masa dengar orang menangis dibiarkan? Padahal tadi Ibu sempat membimbingnya, kan? Nggak heran kalau Ibu berpikir dia sakit." "Tadi aku benar-benar mendengar tangisan, Pak." "Panggil aku Erwin aja, Bu." "Aku Delia," sahut Delia, terbawa oleh sikap Erwin. "Boleh aku memanggil Kak Del?" "Tentu saja boleh," kata Delia senang. Mendapat teman itu menyenangkan. "Aku percaya Kak Del memang mendengar tangisan. Mungkin dia malu mengakui." Erwin ingin" mengambil hati. "Entahlah. Tapi kalau dia memang nggak sakit, itu lebih baik. Oh ya, aku mau kasih tahu, Pak, eh, Win. Barusan tanganku seperti tersengat arus listrik 114 waktu bersandar ke dinding. Jangan-jangan ada arusnya." Erwin terkejut. Ia mengikuti Delia masuk ke kamarnya, lalu menempelkan tangannya ke dinding yang ditunjuk. Dari satu tempat ke tempat lain, berpindah-pindah. Ia menggelengkan kepala. "Nggak terasa apa-apa, Kak."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ah, masa?" Delia menghambur ke dinding lalu menempelkan tangannya juga. Kali ini ia tidak merasakan apa-apa. Seperti yang dikatakan Erwin. Ia surut dengan bingung. Ada apa dengan dirinya? Erwin merasa iba. Sebenarnya ia juga heran akan kelakuan Delia. Tapi ia tidak memperlihatkan perasaannya. "Sudahlah, Kak. Apa yang dilakukan Kakak itu bagus sekali. Segera bertindak bila merasakan kejanggalan. Daripada mendiamkan saja," ia menyemangati dan menghibur. "Tapi nggak ada apa-apa. Aku cuma bikin heboh saja," keluh Delia. "Jangan ngomong begitu, Kak. Jangan menyesali." Pada saat Delia mengalihkan pandang darinya, Erwin memandang berkeliling ruangan. Dahinya berkerut. Tatapannya mengandung keprihatinan. Mendadak Delia memandangnya. Buru-buru Erwin mengubah sikap. Tapi Delia keburu melihat. "Kenapa?" tanya Delia heran. "Nggak apa-apa. Tadi mendadak sakit perut. Sekarang sudah hilang." "Ah, masa sakit perut matanya ke mana-mana." Delia tidak percaya. "Memang begitu kebiasaanku." "Aneh." "Ya. Memang aneh." 115 Setelah pamit dan melangkah ke luar, Erwin- menahan langkahnya seakan ada yang kelupaan. "Oh ya, Kak. Bang Kosmas nitip pertanyaan, bagaimana makan malamnya? Jadi dong, ya?" Delia baru teringat. "Kau ikut juga, Win?" "Iya dong. Masa nggak diajak?" Delia tertawa. "Tapi jumlahnya janggal dong. Masa bertiga. Itu angka yang nggak bagus." Erwin terperangah. Sepertinya Delia setuju. Hanya masalah angka. Lalu siapa yang mau diajaknya lagi supaya menjadi empat orang? "Apa sudah biasa pemilik motel mengundang tamunya makan bersama?" Delia bertanya lagi sebelum Erwin sempat berbicara.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Nggak biasa sih, Kak. Cuma Kakak kami anggap tamu yang luar biasa." "Luar biasa gimana?" "Terus terang, jarang ada tamu perempuan yang nginap sendiri. Memang ada yang datang sendiri tapi untuk menunggu pasangannya yang datang kemudian. Terus Kakak bawa kendaraan sendiri dari jauh. Biasanya perempuan kan ada pengawalnya," celoteh Erwin. Padahal tentu saja alasannya bukan itu. "Kalau begitu mah bukan luar biasa. Yasmin itu juga nginap sendirian." "Dia orang Jakarta." Delia mendapat ide. Sebenarnya ia belum memutuskan untuk menerima atau tidak undangan makan malam itu. Sudah terpikir bahwa seharusnya ia menjaga jarak dari orang yang menaruh perhatian. Jangan beri harapan. Tapi ada keraguan. Bila ia masih bisa menyenangkan orang lain untuk hari ini, kenapa tidak? Ia takkan bisa melakukannya lagi di harihari berikutnya. Pasti ada yang sedih, tapi 116 setidaknya ia sudah disenangkan hari ini. Itu masih lebih baik dibanding sedih terus, baik hari ini apalagi besok. "Aku punya ide, Win. Bagaimana kalau Yasmin diajak? Dia bisa menggenapkan jumlah." Erwin setuju sekali. "Baik. Tapi kau yang ngajak, ya? Dan bila dia nggak mau, kau tetap mau, kan?" "Iya deh." Dengan gembira Erwin membawa kabar baik itu kepada Kosmas. Meskipun merasa senang, Kosmas agak kecewa karena ada tambahan orang baru. Apalagi itu adalah Yasmin yang diperkirakan sakit. Tapi bukan cuma itu yang dilaporkan Erwin. "Aku merasa kamar empat belas itu ada isinya, Bang!" Kosmas terkejut. "Apa maksudmu? Tentu saja kamar itu ada isinya. Delia, kan?" "Bukan itu. Kau tahu apa yang kumaksud." "Yang dulu?" "Entahlah. Aku tidak bisa membedakan." "Apakah Delia merasakan sesuatu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dia cuma heran kenapa kelakuannya aneh. Merasa mendengar tapi tidak ada. Merasakan sengatan tapi sebetulnya tidak ada juga." "Apa dia ketakutan?" "Kelihatannya sih nggak." "Win, aku khawatir dia akan mengalami gangguan lagi. Apa sebaiknya diberitahu saja supaya dia pindah ke kamar lain?" "Ah, jangan. Nanti dia marah sama kita kenapa diberi kamar yang itu." "Oh iya. Wah, nggak enak rasanya ya, Win." "Sudahlah, Bang. Tenang saja. Orang seperti Kak Del itu pasti bisa mengatasi." 117 "Kak Del?" "Oh iya. Aku sudah berteman dengannya, Bang," Erwin berkata bangga. "Aku pengen juga, Win!" seru Kosmas iri. Erwin tertawa. "Sabar, Bang. Giliranmu akan tiba. Sekarang aku pesan makanan dulu." Kosmas mengamati adiknya yang berjalan menuju pintu gerbang dengan perasaan bangga. Tanpa adiknya itu, hidupnya pasti akan lain. Ia bersyukur ibunya menghadiahinya seorang adik pada saat semua orang menyangka dia akan menjadi anak tunggal. *** Usai mandi, Delia kembali mengetuk pintu tetangganya. Ia mengatasi perasaan tak enak mengingat peristiwa tadi. Tapi kali ini ia punya alasan yang lebih kuat. Sebenarnya ia juga punya alasan sendiri kenapa berniat mengajak Yasmin. Bukan karena baik hati, tapi karena penasaran dengan peristiwa tadi. Ia yakin telinganya tidak salah. Jadi ia kesal karena Yasmin tidak mengaku hingga ia tampak bodoh. Apa salahnya mengaku saja? Ia tidak akan ikut campur urusan orang lain. Mungkin Yasmin malu karena kehadiran Erwin, sebagai pemilik motel. Karena itu bila berdua saja mungkin Yasmin mau berkata benar. Yang penting baginya hanya kepastian. Benarkah Yasmin menangis? Yasmin hanya perlu menjawab ya atau tidak. Itu saja.

http://inzomnia.wapka.mobi

Pintu kamar 15 terbuka. Yasmin pun baru selesai mandi. Masih tercium harum sabun mandi. Rambutnya agak basah. Belum disisir. Ia tidak kelihatan surprise melihat Delia. Mungkin sudah mengintip dari jendela. 118 "Ada apa, Kak?" tanya Yasmin. Kali ini lebih ramah. "Begini, Yas. Kita diundang makan sebentar lagi oleh pemilik motel. Pak Kosmas dan Erwin. Mau, ya?" "Ada apa memangnya? Apa tamu lain diundang juga?" Yasmin heran. "Aku nggak tahu ada apa. Tamu lain sih nggak diundang. Cuma kita." "Cuma kita? Apa mereka bermaksud baik, Kak? Masa yang diundang justru perempuan sendirian?" "Makannya nggak di luar, Yas. Tapi di ruang makan motel ini." "Kau nggak curiga, Kak?" "Cuma makan, apa salahnya?" "Makan aja sih nggak salah. Tapi gimana kalau makanannya atau minumannya dicampuri obat bius, lalu kita diapa-apain setelah nggak berdaya?" Delia tertegun sejenak. Tak menyangka pikiran Yasmin sejauh itu. "Mereka kan punya usaha baik-baik. Mustahil mempertaruhkan reputasi untuk berbuat seperti itu. Kalau mau gituan, di sini kan banyak. Bisa melakukannya mau sama mau. Tak perlu paksaan." "Siapa tahu. Ada film yang seperti itu." "Film kan bohong-bohongan. Eh, jadi kau mau atau nggak?" Yasmin berpikir dulu. Andaikata ia bersedia, itu bisa jadi makan malam terakhir dengan orang-orang lain di luar suaminya. Kenapa tidak menikmatinya-saja? Tapi ia agak paranoid. Bukan mengada-ada dengan persangkaannya tadi. Ia takut jadi korban perkosaan. Mau mati tak bisa, malah diperkosa orang. Melarikan diri dari perkosaan, malah diperkosa lagi. Padahal sakitnya itu masih terasa. 119 Delia mengamati wajah Yasmin. Ia berusaha tidak peduli akan apa yang mungkin terpikir atau dirisaukan Yasmin.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bagaimana? Jangan-jangan kau mencurigai aku juga, ya?" tanyanya bergurau. "Nggak sih, Kak. Baiklah, aku mau. Tapi... kita pakai baju yang ada saja, ya." "Tentu saja. Kita kan nggak diundang makan di hotel bintang lima!" Mereka tertawa. Kekakuan sudah mencair. Dia simpatik, pikir Yasmin. Sepertinya enak dijadikan teman. Tapi apa gunanya punya teman sekarang? Sudah terlambat. Mestinya aku tidak perlu berbuat seperti ini, pikir Delia. Jangan akrab dengan orang lain bila hidup tinggal sebentar. Tapi hidup ini memang aneh. Justru pada saat seperti ini, ketika ia bertekad tak mau hidup lebih lama lagi, muncul pengalaman yang menarik. Apakah itu bisa dianggap sebagai godaan agar ia membatalkan niatnya? Tapi mustahil membatalkan pada saat ia tak punya apa-apa lagi. Melanjutkan kehidupan itu memerlukan modal. Bayangkan saja wajah Ratna, maka tekadnya akan mantap kembali. "Nanti kujemput kau," kata Delia kemudian. "Kita sama-sama ke ruang makan." "Baik." Terpikir oleh Yasmin, pasti makanan itu belum sempat dicerna oleh tubuhnya nanti karena saat itu hidupnya keburu berakhir. Kasihan yang mentraktir karena niat baiknya jadi sia-sia. "Eh, boleh nanya, Yas?" "Oh, boleh saja," Yasmin heran. "Tadi siang itu apa kau betul-betul nggak nangis 120 waktu aku mengetuk pintu? Jangan salah paham, Yas. Aku cuma perlu jawaban ya atau tidak. Aku ingin kepastian, apakah pendengaranku nggak salah. Juga soal kewarasanku." Yasmin tak segera menjawab. Ia merasa sulit berterus terang. Mustahil ia mengatakan bahwa ia memang menangis tapi di dalam hati. Kedengarannya tidak logis. Apalagi jawaban seperti itu bisa memancing pertanyaan berikutnya. Kok menangis dalam hati? Kenapa dan kenapa? Mencurahkan isi hati di saat sekarang ini tak ada gunanya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bener, Kak. Aku nggak nangis waktu itu," katanya. "Ah, kalau begitu aku yang nggak beres," keluh Delia. "Mungkin saat itu ada yang pasang teve, Kak. Kan sekarang banyak sinetron yang suka nangis-nangis." "Oh ya. Mungkin juga. Baiklah, sampai nanti." Delia tidak puas, tapi tak bisa lain. Mungkin kejadiannya sama seperti halnya dinding yang dikiranya dialiri listrik tapi ternyata tidak. Ia harus menerima adanya keanehan dalam hidup sebagai sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan. Lagi pula, apa pedulinya? Di kamarnya ia menghubungi kantor dengan interkom. Suara Kosmas menyambutnya. Delia memberitahu soal kesanggupan Yasmin untuk ikut serta makan malam nanti. Kosmas kedengaran senang. "Tadi lupa ditanyakan, Bu. Apakah Ibu berpantang sesuatu? Udang misalnya? Atau Ibu vegetarian?" Delia tertawa. "Kalau memang begitu pasti aku sudah memberitahu." "Syukurlah, Bu. Jadi sampai nanti." 121 Kemudian Delia mempersiapkan diri. Ia berdandan dengan rapi dan mengenakan pakaiannya yang terbaik. Ia tidak boleh mengecewakan para pengundangnya. Sama dengan Delia, Yasmin pun melakukan hal yang sama. Semangatnya muncul. Tanpa sadar sakitnya hilang sebagian besar! Bahkan ia sempat menyesal karena tidak membawa pakaian lain. Terpaksa ia mengenakan pakaian yang tadi dipakainya saat datang. Mudah-mudahan tidak berbau. Untung saja ia membawa alat-alat riasnya dengan lengkap. Ia akan sekalian berdandan mempersiapkan diri menghadapi kematian, supaya tampak cantik biarpun sudah mati! 122 BAB 12 Hendri tertegun melihat rumah Winata. Rumah yang terletak di kawasan permukiman kelas menengah ke atas itu tampak megah dan

http://inzomnia.wapka.mobi

mewah. Dengan melihat rumah seperti itu bisalah menyimpulkan bahwa pemiliknya pasti orang kaya. Mendadak muncul penyesalan di hati Hendri kenapa mertua sekaya itu sampai dimusuhi. Ia juga tidak pernah berbuat sesuatu untuk membujuk Yasmin agar mau berbaikan dengan ayahnya. Bukankah Yasmin merupakan anak satu-satunya Winata, seperti yang dikatakan sendiri oleh lelaki itu? Bila demikian, itu berarti dengan istri keduanya Winata tidak memiliki keturunan. Kesempatan yang bagus sekali buat Yasmin. Hendri sempat berangan-angan. Ia disilakan masuk rumah. Kembali ia tertegun dan terpesona. Ruang tamu tampak berkilap dan berkilau. Dalam hati ia kembali menyesali kenapa tidak dari dulu membina hubungan dengan orang sekaya ini. Ia memang pernah mendengar bahwa ayah Yasmin itu kaya, tapi saat itu ia kurang peduli. Ia berpikir, biarpun kaya tapi bila sudah putus hubungan dan punya keluarga lagi pastilah Yasmin terlupakan. Tak ada harapan untuk Yasmin. Siapa sangka sekarang keadaan berubah atau memang tidak ia perhitungkan. 123 "Sebentar lagi Bapak keluar, Pak," kata seorang perempuan setengah tua yang diperkirakan pembantu. "Ya. Terima kasih," Sekitar lima menit ia menunggu. Lalu terdengar suara berdesir. Ia melihat sebuah kursi roda meluncur dari dalam, mendekat ke arahnya. Seorang lelaki tua dengan wajah keras, tegas, dan berwibawa, duduk tegak. Rambutnya sudah menipis dan putih semua. Ia menjalankan sendiri kursi rodanya dengan menekan tombol di sandaran tangan. Hendri segera berdiri. Ia mengulurkan tangan yang disambut dengan jabatan erat. Tangan Winata terasa lembap dan dingin. "Duduklah," kata Winata. "Bagaimana keadaan Papa?" tanya Hendri penuh perhatian. "Kurang baik. Yas gimana? Apa dia sudah pulang?" "Belum, Pa." "Jadi dia nggak tahu kau ke sini?" "Nggak, Pa. Saya sudah ninggalin pesan kalau dia pulang nanti." "Apa kau nggak tahu dia pergi ke mana sampai bertanya kepadaku?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Wajah Hendri terasa memanas. Pertanyaan itu terasa tajam bagai interogasi. "Soalnya dia pergi saat saya masih di kantor. Nggak meninggalkan pesan atau telepon." "Tahukah kau bahwa rumahku merupakan tempat yang paling tipis kemungkinannya untuk dia datangi?" "Tahu, Pak. Saya sudah menelepon ke tempat lain yang kira-kira dia datangi, tapi nggak ada," Hendri berbohong. "Mungkin saja dia pergi berbelanja. Belum lewat sehari, kan?" "Ya. Mungkin saja, Pak. Saya mencarinya karena ingin tahu saja." "Nyarinya sampai ke sini. Itu berarti kau cukup risau, ya? Atau perhatianmu memang sangat besar hingga ditinggal sebentar saja sudah bingung." "Saya nggak bingung, Pak." Hendri merasa tidak nyaman karena tatapan Winata yang tajam menyelidik. Ia datang ke situ bukan untuk didera pertanyaan bertubitubi. "Bajunya ada? Kopernya?" "Semua ada, Pa." "Nah, kenapa perlu dirisaukan? Apa kalian habis bertengkar?" "Nggak juga, Pa." "Bertengkar sih jamak. Tergantung sebabnya. Tapi... yah, sudahlah. Bukan hakku menanyaimu. Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada Yasmin. Lagi pula memang kebetulan kau menelepon aku. Ada hikmahnya. Kalau tidak begitu, kau pasti tidak akan menelepon, kan?" "Betul, Pa." "Baiklah. Langsung ke tujuan saja. Begini. Aku ini sudah tua. Sakitsakitan, lagi. Mungkin liang kubur sudah di depan mata. Tapi kalau masalahku dengan Yas belum selesai, bagaimana aku bisa mati dengan tenang? Aku perlu ketemu dan berbaikan dengannya. Tapi dia itu keras kepala. Ya, sama kayak aku. Dia juga pendendam. Mana pernah dia menelepon atau datang ke sini? Aku mau menelepon juga nggak tahu nomornya atau di mana alamat kalian."

http://inzomnia.wapka.mobi

Hendri buru-buru mengeluarkan kartu namanya dari saku. Ada alamat rumah, kantor, dan nomor telepon keduanya. Setelah menuliskan nomor HP Yasmin, ia menyodorkan kartu nama itu kepada Winata. Lelaki tua 125 124 itu mengamati sebentar, kemudian menekan sebuah tombol di dinding. Seorang lelaki bertubuh pendek, gempal, dan berwajah bulat cepatcepat keluar. "Ini, Yo. Simpan baik-baik," kata Winata sambil menyodorkan kartu nama yang diberikan Hendri. Sesudah menerima kartu itu, lelaki gempal itu menghilang ke dalam. Kemudian pembantu perempuan yang tadi keluar membawa gelas berisi minuman. "Silakan, Pak," katanya setelah meletakkan gelas di meja. "Terima kasih, Bu." "Ayo minum dulu," Winata menyilakan. Setelah Hendri selesai minum, Winata melanjutkan, "Apa dia pernah bercerita tentang aku kepadamu?" "Pernah. Tapi tidak banyak, Pak. Dia tidak mau cerita banyak. Hanya sepintas." "Sepintas gimana?" Winata tidak puas. "Katanya, Papa mengkhianati dia dan ibunya. Jadi dia sudah putus hubungan dengan Papa. Hanya itu. Saya nggak berani nanya banyakbanyak. Kelihatannya dia nggak suka." Winata menghela napas. "Ya, dia memang begitu. Tapi mana mungkin ayah dan anak putus hubungan? Itu cuma berlaku buat suami-istri. Sekarang kita bicara tentang posisimu. Sebagai menantu, kau tak ubah anakku. Kuharap kau tidak ikut-ikutan membenciku." "Nggak, Pa." "Bagus kalau begitu. Kau bisa jadi penengah yang baik. Kuharap kau bisa membujuknya agar mau memaafkan aku dan hubungan kami bisa jadi baik lagi." 126

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya, Pa. Akan saya usahakan." Hendri menyanggupi dengan ringan. Ia yakin tidak akan sulit membujuk Yasmin. "Masalah yang paling penting adalah hartaku. Keturunanku satu-satunya adalah Yas. Cuma dia yang berhak mewarisi." "Bagaimana dengan istri Papa?" "Oh, kami sudah bercerai. Tepatnya dia kuceraikan. Sekarang dia sudah kawin lagi dengan selingkuhannya. Hukum karma buat aku. Dengan dia aku tak punya anak. Jadi yang tinggal cuma Yas seorang. Tapi bagaimana kalau hubungan kami seperti ini? Dia tidak mau mengakui aku sebagai ayahnya. Tidak bisa begitu, kan? Tentu dia memang anak kandungku, tapi kalau dia tidak mau mengakui, bagaimana aku bisa mewariskan hartaku kepadanya? Aku punya harga diri juga dong. Aku tahu, kalau aku mati, dengan sendirinya hartaku jatuh pada Yasmin sebagai keturunanku satu-satunya. Orang mati tak bisa apa-apa lagi. Tapi sekarang, selagi masih hidup aku bisa berbuat sesuatu. Misalnya aku bisa menghibahkan sebagian besar hartaku pada badan amal dan kusisa-kan sebagian kecil sebagai biaya hidupku menjelang ajal. Bila itu terjadi, Yas hanya akan mendapat sedikit atau tidak sama sekali kalau keburu habis. Jadi terserah dia, mau dapat seutuhnya atau sedikit. Kalau mau yang utuh, dia harus baikan dulu denganku. Jadi bujuklah dia, Hendri. Gimana caranya terserah kau." Hendri termangu sejenak. Ia tidak menyangka masalahnya seperti itu. Winata melanjutkan, "Sekarang ini, kondisi kesehatanku sudah tidak memungkinkan aku aktif lagi di perusahaanku. Pernah dengar tentang PT Wahana? 127 Itu perusahaan pemegang lisensi pembuatan suku cadang mobil merek Jepang. Sekarang aku cuma jadi pemegang saham terbesar di situ. Nilainya besar. Tambah rumah ini dan beberapa harta tak bergerak lain. Sayang kalau dikasih ke orang lain, kan?" Hendri mengangguk-angguk dengan takjub. Winata senang melihat ekspresi Hendri yang tampak tertarik. Mana ada orang yang tak tertarik dengan iming-iming harta? Tapi ia menjadi murung kalau

http://inzomnia.wapka.mobi

teringat bahwa Yasmin belum tentu tertarik. Mungkin dendam Yasmin lebih besar daripada ketertarikannya. Jadi peran si suami ini sangat penting. "Tentu saja sayang sekali, Pa," Hendri membenarkan. "Saya akan berbicara dan membujuk Yasmin." "Pakai strategi, Hen. Jangan cuma bicara. Kau suaminya, jadi pasti tahu di mana kepekaan dan kelemahannya." Hendri tersenyum. Tentu saja ia tahu. "Baik, Pa. Saya akan segera memberi kabar." "Jangan lama-lama lho. Jangan lebih dari sebulan. Kalau lebih dari sebulan, aku menganggap Yas tidak mau." "Baik, Pa." Pulang dari rumah Winata, jantung Hendri berdegup lebih kencang. Ia bersemangat sekali. Tentu ia pernah mendengar perihal PT Wahana. Itu perusahaan besar. Angan-angannya kembali melambung tinggi. Tapi semua itu tergantung pada Yasmin. Ia harus bisa membujuknya. Tibatiba ia teringat bahwa perlakuannya kepada Yasmin selama ini jauh dari baik. Ia menyesal. Bahkan sekarang ia tidak tahu di mana Yasmin berada! Dengan ponselnya ia menelepon ke rumah. Inem yang menyahut mengatakan bahwa Yasmin belum 128 pulang dan belum pula ada kabarnya. Tapi Hendri tidak merasa khawatir. Orang lemah dan cengeng seperti Yasmin tidak akan ke mana-mana. Ia juga tidak khawatir akan kemungkinan Yasmin bersehngkuh dengan orang lain. Bagaimana mungkin ia bisa melakukannya dengan orang lain kalau dengan suami sendiri saja sudah ketakutan dan kesakitan? Ada kesimpulan yang menenangkan. Mungkin Yasmin ke dokter dan harus menunggu lama. Sedikit pun tak terpikir kenapa Yasmin harus pergi ke dokter bila ia memang pergi ke sana. Padahal orang yang pergi ke dokter itu pasti karena sakit. Bagi Hendri, sakit yang dialami Yasmin itu bukan jenis sakit yang perlu dikhawatirkan. Tak perlu berobat pun akan sembuh sendiri.

http://inzomnia.wapka.mobi

*** "Apa kaupikir menantuku itu bisa membujuk putriku, Yo?" tanya Winata kepada Aryo, perawat pribadinya. Lelaki bertubuh pendek gempal dan berwajah bulat itu tersenyum. Wajahnya tampak semakin lebar. "Mudah-mudahan saja bisa, Pak. Teleponnya itu saja sudah pertanda baik." "Baik memang. Aku tak perlu lagi memasang iklan. Cuma aku masih merasa aneh, kenapa dia sampai nelepon ke sini. Pasti bukan kebetulan belaka atau karena tiba-tiba ingat sama aku, padahal dia nggak kenal aku. Dia nelepon pasti karena putus asa nggak bisa menemukan Yas. Masa orang pergi belum lewat sehari saja sudah dicemaskan. Cuma kepengen tahu, katanya. Aku nggak percaya." "Barangkali dia sangat mencintai Bu Yas. Jadi selalu khawatir." 129 "Ah, aku kok nggak percaya, Yo. Selalu mengkhawatirkan itu kan nggak baik. Memangnya Yas itu anak kecil yang bisa kesasar atau nggak bisa pulang sendiri?" "Mungkin nanti malam perlu ditelepon, Pak. Untuk mencari tahu apakah Bu Yas sudah pulang atau belum." "Maunya sih begitu, Yo. Tapi kalau Yas memang sudah di rumah lalu menerima telepon, dia bisa mengenali suaraku. Sebaiknya dia dibujuk suaminya dulu. Sudahlah. Kalau ada apa-apa tentunya Hendri akan memberitahu." Winata termenung. Aryo menemani tanpa berbicara. Ia tahu kapan perlu bicara dan kapan tidak. Dalam hati cuma bisa berharap yang terbaik bagi majikannya dan Yasmin. 130 BAB 13 Ruang makan motel itu tampak sederhana tapi bersih. Dindingnya putih seperti semua dinding yang lain. Sebuah lukisan bunga krisan putih dan

http://inzomnia.wapka.mobi

kuning tergantung di dindingsatu-satunya hiasan yang melekat di dinding. Meja makan berbentuk oval ditutup taplak katun warna gading berukuran oval juga dengan bordiran sepanjang tepinya. Taplak itu tampak antik tapi cantik. Bekas lipatannya yang dalam dan kelihatan tak bisa licin walaupun disetrika menandakan sudah lama disimpan dan jarang dipakai. Mereka berempat duduk mengelilingi meja. Tidak ada yang duduk di ujung meja bagian lonjongnya. Posisinya dianggap kejauhan supaya bisa mengobrol. Delia dan Yasmin duduk berdampingan di satu sisi sedang Kosmas dan Erwin duduk berdampingan, di seberang mereka. Tak lama setelah duduk Erwin terkejut ketika matanya menatap tangan kiri Yasmin. Di jari manisnya melekat sebuah cincin polos. Padahal sewaktu baru datang ia tidak melihat adanya cincin di jari itu. Jadi Yasmin sudah kawin? Erwin merasa agak kecewa, tapi berusaha menyembunyikannya. Hari itu ia ingin menggembirakan Kosmas. "Jadi motel ini memang sudah tua seperti kelihatannya," kata Delia. 131 "Oh ya. Tapi belum bisa dibilang antik. Baru satu generasi tuanya. Orangtua kami yang membangun. Tadinya tanah kebun. Tanah ini punya kemujuran sendiri. Selalu selamat dari gusuran. Perluasan jalan, bikin jembatan, bikin jalan tol, bikin apa kek. Nggak pernah kena," cerita Kosmas. "Kalau begitu, ini namanya motel yang pintar berkelit," komentar Delia. "Setelah Papa nggak ada, Mama yang melanjutkan. Waktu itu kami masih SD. Setelah jadi sarjana kami nggak mencoba pekerjaan lain, tapi membantu Mama sepenuhnya. Pendidikan memang disesuaikan untuk itu. Bang Kos sarjana perhotelan. Aku sarjana ekonomi," tutur Erwin. "Kompak sekali," kata Yasmin. "Apa kalian nggak pernah berantem?" tanya Delia. "Tentu saja pernah," sahut Erwin. "Tapi akhirnya selalu baikan lagi. Punya usaha bersama kan harus rukun." "Nggak pernah mikir usaha yang lain?" tanya Delia.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Belum," jawab Kosmas. "Kami merasa mantap di sini. Tapi bukan berarti usaha ini selalu sukses. Ada pasang-surutnya. Hasilnya cukup untuk hidup sederhana bagi kami dan para karyawan." "Padahal tempat ini strategis," kata Delia. "Betul sekali, Bu. Kami sudah mendapat banyak tawaran menggiurkan kalau dilihat dari uangnya. Tapi buat apa uang banyak itu bagi kami dibanding tempat yang bersejarah ini?" "Mungkin kalian memang nggak ingin berpisah. Inginnya sama-sama terus. Pasti berkat jasa ibu kalian," kata Delia. "Oh iya. Dia ibu yang hebat," Kosmas bangga. 132 "Kenapa kalian belum punya nyonya?" tanya Yasmin. Tadinya ia cuma mau mendengarkan, tapi lama-lama ingin juga ikut serta dalam pembicaraan. Tak enak diam saja. Nanti disangka sakit atau apa. "Mungkin belum lahir," gurau Erwin. "Ah masa? Disembunyiin, kali," balas Delia. "Sungguh, nggak ada. Tepatnya, belum ada. Kami ini cowok berat jodoh," kata Kosmas sambil tersenyum, ingin memperlihatkan bahwa soal itu bukan masalah besar. "Mungkin syaratnya berat," kata Delia. "Kami nggak pakai syarat segala. Tapi kalaupun dibilang syarat, nggak berat juga," kata Erwin. "Nggak berat gimana?" Yasmin ingin tahu. "Syaratnya, mau menerima kami apa adanya. Kalau menerimaku berarti menerima Bang Kosmas juga sebagai saudaraku," jelas Erwin. "Maksudmu satu cewek untuk berdua?" tanya Yasmin heran. Mereka tertawa. Termasuk Yasmin. Pertanyaannya memang konyol. "Begini," Kosmas ganti meneruskan. "Selama ini cewek-cewek yang kami pacari selalu berniat memecah kami. Mereka bilang, jangan bisnis samasama kayak gini. Nanti dicurangi lho. Jual saja. Hasilnya bagi dua, lalu masing-masing jalan sendiri-sendiri. Pendeknya, belum apa-apa sudah mau mengatur. Tapi, mungkin lebih baik begitu daripada telanjur kemudian."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kayaknya aku ngerti juga perasaan mereka, Bang. Mungkin mereka juga cemburu akan keakraban kalian." "Ya. Mungkin. Ini nafkah kami bersama sejak lama. Jatuh-bangun bersama. Kalau mau cemburu, 133 mestinya juga pada tempat ini. Oh ya, Bu Del sudah memanggilku Bang. Boleh aku juga bersikap sama?" tanya Kosmas. "Aku nggak mau dipanggil Bang." "Tentu saja. Bukan itu." Kosmas tersipu. "Ya. Panggillah namaku saja." "Terima kasih. Dan..." Kosmas mengarahkan pandang pada Yasmin. "Ya. Sama-samalah. Yasmin atau Yas saja," kata Yasmin tak acuh. Apa pedulinya dipanggil apa saja? Erwin menatap Yasmin. "Maaf, Yas. Tadi kukira kau masih lajang. Rupanya nggak, ya?" "Aku sudah bersuami." Tiga orang menatap Yasmin hingga ia tersipu. Tadi ia sengaja mengenakan cincin kawinnya yang semula dilepasnya. Maksudnya supaya tidak ada yang macam-macam. "Kalau aku janda. Suami sudah lama meninggal. Demikian pula anak tunggal kami yang sudah meninggal duluan. Kegiatanku sekarang pengusaha garmen di Bandung," tutur Delia. Delia mendapat tatapan simpati. Terutama dari Kosmas. Pikirnya, benarlah dugaannya bahwa Delia perempuan mandiri yang kuat. Ia terdorong sekali untuk memberi penghiburan. Memang Delia tidak terlihat membutuhkan itu, tapi siapa tahu hatinya? Oh, aku ingin sekali memeluknya lalu membelai kepalanya dan membisikkan kata-kata lembut. Delia menatap sekelilingnya lalu tertawa. "Itu sudah lama berlalu. Orang tak bisa sedih terus-terusan. Hidup terus berjalan. Mau tak mau kita mesti menjalaninya." Tapi di dalam hati ia berkata, "Maaf, aku bohong!" Yasmin buru-buru berkata, "Aku sih cuma ibu 134

http://inzomnia.wapka.mobi

rumah tangga. Itu saja. Nggak ada yang istimewa." Nadanya mengisyaratkan, "Jangan tanya lebih banyak!" Erwin tidak menangkap isyarat itu. "Ada berapa anakmu?" "Belum punya!" sahut Yasmin agak ketus. Erwin terkejut. Ia menutup mulutnya. Delia cepat menyela, "Wah, nggak terasa waktu berlalu ya! Sudah malam nih. Kami harus pamit. Terima kasih banyak. Makannya enak sekali." "Ya. Terima kasih," Yasmin menambahkan. "Kami juga berterima kasih karena kalian mau memenuhi undangan kami. Padahal makanannya sederhana," kata Erwin. Mereka berjalan beriringan di lorong menuju kamar. Kosmas dan Delia di depan, Erwin dan Yasmin di belakang. "Kalau pertanyaanku tadi lancang, maafkan, Yas," kata Erwin pelan. "Aku juga minta maaf," sahut Yasmin. "Sama-samalah kalau begitu." "Sudahlah," kata Delia. "Nggak usah diantar. Kami tahu jalan pulang." Mereka berpisah. Kedua lelaki berbalik dan kedua perempuan berjalan terus. Begitu masuk ke kamarnya, Delia duduk di tepi tempat tidur lalu menarik laci mejanya. Ia meraih amplop cokelat yang sudah ditulisi nama "Kosmas Motel Marlin". Tutupnya sengaja dibiarkan terbuka. Kalau besok mobilnya laku dijual, hasil penjualannya akan ia masukkan ke dalam amplop itu sebagai tambahan. Dengan membiarkan terbuka ia juga memudahkan orang yang mau membacanya. Kalau mengenang acara makan malam tadi, ia 135 kembali merasa bersalah. Kasihan orang-orang itu. Kelihatannya Kosmas menyukainya. Tapi kalau ia melaksanakan niatnya besok malam, masihkah Kosmas menyukainya? Mungkin rasa suka itu berubah jadi benci. Di dalam suratnya ia memohon kepada Kosmas agar mau mendoakan arwahnya. Maukah Kosmas melakukannya? Dulu ketika Adam pergi, dia dan Agus mendoakannya. Lalu ketika Agus pergi, dia yang mendoakannya. Nanti kalau tiba gilirannya, adakah yang

http://inzomnia.wapka.mobi

mendoakannya? Pikiran yang membuat sedih. Jangan sentimental. Itu pasti cuma godaan agar ia membatalkan niatnya. *** Yasmin berjongkok depan tempat tidur. Ia merogoh ke kolong lalu menarik sebuah benda dari situ. Sebuah kaleng kecil sudah dibuka. Tapi ia masih ragu-ragu apakah akan melaksanakannya sekarang atau tidak. Pukul sembilan malam belum terlalu larut. Orang-orang masih ada yang terjaga. Mungkin Delia juga. Justru Delia-lah yang harus diwaspadainya. Siapa tahu ia mengetuk pintu pada saat yang tidak diharapkan. Ada saja yang diperlukannya. Ia menyukai Delia. Tapi sekarang ia tidak punya waktu lagi untuk menyukai seseorang. Sayang memang kenapa tidak dari dulu ia bertemu dengan orang seperti Delia. Atau Kosmas dan Erwin. Kelihatannya mereka orang baik. Ia memutuskan untuk melaksanakan niatnya selepas tengah malam. Pada saat itu pasti Delia sudah tidur. Akan halnya Kosmas atau Erwin tak perlu dirisaukan. 136 Mereka tidak akan sembarangan mengetuk pintu kamar tamu. Tapi masih ada waktu beberapa jam sebelum saatnya tiba. Bagaimana mengisinya? Ia bisa tidur dulu. Tapi bagaimana kalau terus ketiduran sampai pagi? Ia memilih duduk di lantai samping tempat tidur supaya tidak tergoda untuk merebahkan diri. Kedua lututnya ditekuk lalu dipeluk kedua tangannya. Kepalanya diletakkan di atas lutut. Bila tertidur ia akan mudah terbangun. Apa yang tengah dilakukan Hendri di rumah? Apakah Hendri mencemaskan dirinya? Ke mana Hendri akan mencarinya? Ataukah Hendri memanfaatkan ketiadaan dirinya untuk bercinta dengan Inem?Lalu tiba-tiba ia teringat kepada ayahnya. Ia terkejut. Bukankah seharusnya ia berbaikan dulu dengan ayahnya sebelum "pergi"? Ada banyak peristiwa di mana orang dipaksa berpisah oleh maut yang datang mendadak hingga tak punya kesempatan untuk ber-maaf-maafan. Maut

http://inzomnia.wapka.mobi

memang suka datang tanpa pemberitahuan. Itu wajar dimaklumi. Tapi dirinya tentu berbeda. Ia merencanakan sendiri kematiannya. Jadi seharusnya bisa melakukan persiapan. Harta memang tak bisa dibawa mati. Bagaimana dengan dendam dan kebencian? Apakah itu tidak menjadi beban? "Papa! Aku minta maaf! Aku maafkan Papa!" serunya sambil mendongakkan kepala. Jadi ia akan pergi dengan tenang. *** Winata masih duduk di kursi rodanya menghadap televisi. Ada acara menarik kegemarannya. Ia di137 dampingi Aryo, yang menjadi teman diskusi dan curhat. Saat itu tidak biasanya Winata menonton dengan diam. Aryo pun diam tak mau mengganggu. Kapan ia diajak bicara, baru ia menyahut. Ia memaklumi, pasti Winata masih memikirkan percakapannya dengan Hendri tadi sore. Atau Winata sedang risau karena Yasmin belum pulang ke rumah. Tadi ia menelepon ke rumah Hendri untuk menanyakan hal itu. Hendri yang menerima teleponnya, menyatakan bahwa Yasmin belum pulang. Menurut Hendri sebentar lagi ia akan berkeliling ke berbagai rumah sakit yang ada di Jakarta untuk mengecek korban kecelakaan. Dari jawaban itu sudah jelas bahwa kepergian Yasmin seperti itu tidak biasanya terjadi. Aryo melirik. Jelas perhatian Winata tidak tertuju pada televisi. Sesekali kepalanya terangguk-angguk. Mungkin juga mengantuk. Tapi Aryo tidak berani menganjurkan untuk tidur saja. Winata tak mau diatur seperti anak kecil atau orang ma jompo. Ia akan tidur kapan saja ia mau. Tiba-tiba Winata menegakkan kepala, lalu berseru, "Yaaas...! Yaaas...!" Aryo terkejut. "Ada apa, Pak?" "Yasmin, Yo. Yasmiiin..." "Kenapa Bu Yasmin, Pak?" tanya Aryo cemas. Winata tidak menjawab. Ia bengong saja. Lalu ia menangis tersedusedu!

http://inzomnia.wapka.mobi

138 BAB 14 Delia tak kunjung bisa tidur meskipun bekernya sudah menunjukkan jam sebelas malam. Berbeda dengan malam kemarin. Padahal kalau dibandingkan dengan sekarang, situasi hatinya sama saja. Lama-lama jadi terasa menjengkelkan. Akhirnya ia turun dari ranjang, menuju jendela, lalu menguak gorden. Sunyi sepi di luar. Pasti orang-orang sudah pada tidur. Suara gaduh masih terdengar jauh di jalan. Sebagai kota metropolitan, Jakarta tak pernah tidur. Sebagian orang masih bekerja, sebagian lagi masih membutuhkan hiburan. Ia tahu, di motel ini masih ada yang belum tidur. Atau tidak tidur. Dia adalah orang yang bertugas di kantor. Barangkali ia bisa berbincang sejenak. Sekadar untuk mengisi waktu daripada bengong menunggu tidur yang tak kunjung datang. Mungkin ia sudah ditakdirkan agar memanfaatkan saat-saat akhirnya untuk berinteraksi dengan orang lain. Delia membuka gaun tidurnya dan mengenakan kembali celana panjang dan blus yang barusan dipakainya, lalu ke luar kamar. Tapi ia masih ingat untuk mengunci pintu. Masih banyak uang tersimpan di kamarnya. Saat melewati kamar Yasmin ia menatap jendela, tapi tentu saja tak kelihatan apa-apa. Gorden menutup rapat dan lampunya sudah mati. 139 Delia terus melangkah ke kantor sambil menebak-nebak siapa yang akan ditemuinya nanti. Kosmas, Erwin, ataukah Adi. Ia tidak mengharapkan siapa-siapa. Ia hanya ingin berbincang. Barangkali mendengar cerita tentang sejarah motel, peristiwa menarik yang pernah terjadi, atau apa saja asal jangan ditanya tentang dirinya. Ia melihat Kosmas sedang menonton televisi. Tampaknya asyik sekali. Delia berdeham di ambang pintu yang terbuka separuh. Kosmas terkejut bagai kena sengatan listrik. Melihat Delia ia melompat bangun.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Oh, Del! Ada masalah?" tanyanya cemas. "Inter-komnya nggak jalan?" "Nggak ada masalah. Aku tak bisa tidur, jadi lebih baik jalan-jalan." Kosmas membuka pintu lebih lebar. "Ayo silakan masuk, Del." Tanpa ragu-ragu Delia duduk di kursi yang ditempatkan Kosmas berhadapan dengan televisi. "Nonton yuk? Filmnya seru nih," ajak Kosmas bersemangat. Kelihatan gembira sekali. Kedatangan Delia memang seperti mimpi untuknya. Delia ikut menonton. Ia tak mau mengganggu keasyikan Kosmas dengan mengajaknya berbicara. Ia ikut menonton meskipun tidak menyukai filmnya. Baru setelah jeda iklan ia melayaninya berbicara. "Sayang di kamar nggak ada teve ya? Kami nggak sanggup menyediakan. Nanti harga sewanya pun jadi mahal," kata Kosmas. "Aku mengerti." "Kenapa kau jadi nggak bisa tidur, Del? Kemarin kan nggak begini," Kosmas merasa waswas teringat 140 informasi Erwin bahwa kamar yang ditempati Delia. itu ada "isinya". "Entahlah. Mungkin karena kekenyangan " Kosmas tertawa. "Jadi bukan karena kamarnya nggak nyaman?" "Bukan, Bang. Kamarnya kan sama seperti kemarin." Kosmas mengangguk. Tentunya ia tak bisa menceritakan. "Erwin sudah tidur?" tanya Delia. - "Sudah." Kosmas menunjuk pintu di dinding belakang kantor. Delia terkejut. "Kamarnya di situ? Wah, apa nggak mengganggu nanti?" "Nggak, Del. Dia sih tidurnya lelap. Jangan khawatir." Kebetulan film yang ditonton itu ceritanya mengenai kisah supranatural yang dibuat seilmiah mungkin. Di saat jeda iklan Kosmas menceritakan bagian depan film yang terlewatkan oleh Delia. Dengan demikian ia bisa memahami jalan ceritanya. "Kau percaya pada kutukan?" tanya Delia, usai film. Kosmas menggaruk-garuk kepalanya. "Wah, susah jawabnya, Del. Aku nggak punya pengalaman sih. Jadi percaya nggak percaya." "Jadi belum pernah dikutuk orang?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Kosmas menatap heran. "Belum tuh. Tapi jangan ah. Takut." "Kalau takut artinya percaya." "Kan aku bilang, percaya nggak percaya. Siapa tahu. Tapi kalau aku dikutuk jadi kodok sih pasti nggak percaya." Kosmas tertawa. "Kenapa jadi nanya begitu, Del?" 141 "Film tadi seolah membenarkan, bukan? Mungkin juga tergantung pada siapa yang mengutuk dan seberapa intensnya." "Ah, namanya juga film, Del. Cerita itu kan karangan orang. Supaya menarik dibikin macam-macam. Jangan mikirin hal semacam itu, Del!" "Memang nggak dipikirin. Tapi ada yang mirip dengan..." Delia tidak melanjutkan ucapannya. Kele-pasan. Begitu enaknya berbincang hingga rasanya dia ingin sekali curhat. Padahal kalau dipikir panjang sedikit memang tak ada gunanya lagi, baik bagi dirinya maupun bagi pendengarnya. Bahkan bisa jadi beban bagi orang yang mendengar kalau ia sudah tidak ada. Kasihan Kosmas. "Mirip dengan apa, Del?" Kosmas penasaran. Delia menoleh, mengamati wajah Kosmas. Di wajah yang kasar itu ia melihat sesuatu yang sudah lama tak dijumpainya, yaitu perhatian tanpa pamrih. Bukan sekadar basa-basi bagi seorang tamu. Kesan itu menimbulkan dorongan. Kenapa tidak? Apalagi dengan mencurahkan isi hati bukan berarti ia akan mengubah keputusannya. Ia hanya mendapatkan kelegaan batin, bukan penyelesaian masalah. Mungkin ia lebih baik mati dengan batin yang lega, jiwa yang lapang. Bisakah itu? "Mirip dengan kehidupanku, Bang." Kosmas terkejut. Ia menatap Delia seolah baru pernah dilihatnya. "Siapa yang mengutukmu?" "Ibu mertuaku." Kosmas lebih terkejut lagi. Delia bicara serius. Demikian pula orangnya. Jadi pastilah tidak mengada-ada. "Kenapa bisa begitu, Del? Apa dia mencelakakan-mu? Ada buktinya?" 142 "Oh, tentu ada. Suamiku, anakku, dan hidupku."

http://inzomnia.wapka.mobi

Setelah mengatakan itu, Delia merasa lega. Selama ini ia tak pernah mengatakannya kepada siapa pun, meskipun orang-orang sekitarnya, saudara-saudara Agus, merasakan hal yang sama. Jadi karena sudah tahu sama tahu, tak perlu lagi dikatakan. Ternyata menyuarakannya dengan kata-kata, justru kepada orang yang baru dikenal, bisa teramat melegakan. Seperti mengeluarkan sumbatan di kerongkongan. "Del, kematian itu di tangan Tuhan. Bukan pada kutukan. Atau lidah berbisa seseorang." "Ya. Mestinya begitu," sahut Delia datar. "Mestinya?" seru Kosmas. Ia menggelengkan kepala lalu meraih tangan Delia yang dipegangnya dengan erat. "Bukan mestinya, Del! Tapi memang begitu! Percayakah kau kepada Yang Mahakuasa?" "Percaya." "Nah, karena Dia mahakuasa, maka Dia-lah yang menentukan kematian." Delia tersenyum pahit. Ia tak ingin berdebat soal itu. Tunggu saja. Lihat nanti. Aku bisa menentukan kematianku sendiri. Semua orang bisa kalau mau dan berani! "Kenapa kau tidak melawannya?" tanya Kosmas, masih penasaran. "Tidak ada gunanya. Selama ini aku sudah melawan, Bang." "Kalau kau di pihak yang benar, jangan takut, Del." "Aku tidak takut. Tapi dia itu... oh, kau tidak tahu seperti apa dia itu." "Seperti apa?" "Seperti bukan manusia." 143 "Ah..." Kosmas terperangah. "Bukankah dia sudah ma?" "Tentu saja. Umurnya tujuh puluh. Dia nenek sihir!" Kosmas terkejut. Kali ini mulutnya sempat ternganga. "Apakah dia dukun, tukang santet, atau apa?" "Kayaknya bukan. Mulutnya jahat. Bertuah." "Kalau dia mengurukmu, tentu karena dia membencimu. Dan itu pasti karena kau tidak memberi apa yang diinginkannya." "Betul sekali, Bang. Kau menduga tepat! Yang diinginkannya adalah harta! Ah, sudah larut malam. Sebaiknya aku kembali ke kamar. Terima kasih mau menemani ngobrol, Bang."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kalau belum ngantuk, ngobrol lagi saja, Del." "Oh, aku sudah ngantuk, Bang!" Kosmas mengantar Delia ke luar kantor. "Del, bolehkah aku memberi saran?" tanya Kosmas, menahan langkah Delia. Delia menatap Kosmas dengan pandang bertanya. "Berdoalah! Minta bantuan kepada-Nya!" Delia tersenyum, lalu melangkah pergi tanpa mengatakan apa-apa. Kosmas kembali ke kantornya dengan perasaan iba. Siapa sangka Delia yang tenang dan mandiri itu punya persoalan ruwet. Di kantor ia melihat Erwin keluar dari kamar. "Kau pasti sudah mendengarnya," kata Kosmas. "Ya. Cerita kutukan. Menarik." "Ceritanya baru sedikit." "Besok ajak dia ngobrol lagi." "Sekadar ingin tahu atau apa?" "Ingin membantu dong, Bang! Apa kau tidak ingin juga?" 144 "Tentu saja. Tapi dalam soal itu aku tidak tahu bagaimana membantunya. Aku cuma memberi saran kepadanya agar dia berdoa dan rninta bantuan-Nya." "Kupikir, itu bagus!" *** Sebenarnya Delia belum mengantuk. Ia masih ingin mengobrol. Ajakan Kosmas itu terasa sangat menggoda. Tapi ada kekhawatiran kalau-kalau ia akan kelepasan bicara. Saat melewati kamar Yasmin ia berhenti mendadak. Bulu romanya serentak berdiri. Kedua telinganya bergetar. Ia mendengar raungan kesakitan seperti orang tersiksa. Luar biasa mengerikan. Ia menoleh ke kiri-kanan. Tapi sekitarnya sepi-sepi saja. Akhirnya tatapannya mengarah ke jendela kamar Yasmin. Ia lari ke sana, lalu menempelkan telinganya ke kaca nako. Dari situ ia berlari ke pintu, menempelkan telinganya ke daun pintu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ia terkejut karena bunyi itu kedengaran lebih jelas. Salah dengar lagikah? Ia tidak peduli. Tangannya menjangkau hendel pintu dan mencoba membukanya. Tapi terkunci dari dalam. Sadar harus melakukan sesuatu secepatnya ia berlari seperti angin menuju kantor. Kosmas dan Erwin terperanjat melihat wajah Delia yang pucat dan rambutnya kusut. "Cepat! Tolong Yasmin!" seru Delia dengan tangan menggapai-gapai dan menunjuk-nunjuk. "Kenapa dia?" "Dia meraung kesakitan. Pintunya dikunci!" Sementara Kosmas dan Delia berlari menuju kamar Yasmin, Erwin mengambil kunci cadangan berikut 145 sebatang kawat yang selalu tersedia. Lalu ia berlari menyusul. Kosmas menempelkan telinganya ke daun pintu. Ia mengangguk. Delia merasa lega karena kali ini ia tidak salah. Kosmas mengetuk pintu. "Yaaas!" panggilnya. "Yas! Bisa buka pintu?" seru Delia. "Sudahlah," kata Erwin. "Nanti pada bangun semua. Biar kubuka pintunya." Erwin memasukkan kawat ke dalam lubang kunci lalu memutar-mutarnya untuk menjatuhkan kunci yang menempel di sebelah dalam. Sesudah berhasil, ia memasukkan kunci cadangan. Pintu terbuka. Mereka menghambur masuk. Segera tampak kekacauan di dalam. Yasmin sedang berguling-guling di lantai. Ia menyepak-nyepak dan menggeliat-geliat Raungannya sungguh menyayat hati. Bau racun serangga memenuhi kamar. Muntahan berserakan di berbagai tempat. Yasmin sendiri sangat kotor dengan muntahannya yang melekat di wajah dan rambut. "Dia minum racun itu!" seru Delia. "Cepat bawa ke rumah sakit!" seru Erwin. "Waduh! Mobil di bengkel!" seru Kosmas. "Pakai mobilku saja! Ayo gotong!" seru Delia. Ia berlari ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil dan tasnya. Pintu kamarnya terkunci, lalu ia

http://inzomnia.wapka.mobi

menyadari kuncinya ada di sakunya. Sesudah mendapatkan apa yang diperlukan, ia berlari lagi ke luar untuk membantu membawa Yasmin. Erwin mengemudi sedang Delia memangku Yasmin di kursi belakang. Erwin tentu lebih tahu di mana rumah sakit terdekat. "Tahan, Yas! Tahan ya, Sayang?" ucap Delia. Kosmas terpaksa tidak bisa ikut karena harus 146 menjaga motelnya. Membangunkan Adi perlu waktu. Ia tidak ingin membangunkan seluruh penghuni motel. "Tahan, Yas! Kau dengar aku? Jangan menyerah! Kau tidak boleh mati! Mengerti, Yas? Dengar aku?" Delia terus mengoceh, berupaya menjaga kesadaran Yasmin. Sebungkus tisu sudah habis digunakan untuk membersihkan Yasmin dari bekas muntahan. Tak terlalu bersih tapi tak lagi sekotor tadi. Dirinya sendiri juga ikut kotor tapi itu tidak ia pedulikan. Yasmin sudah tidak meraung seperti tadi lagi. Hanya rintihan keluar dari mulutnya. Tangannya mencengkeram lengan Delia hingga Delia merasa sakit. Perasaan Delia sangat aneh. 147 BAB 15 Kosmas sudah pernah mengalami peristiwa seperti itu. Tapi ia masih saja bingung. Kali ini berbeda dengan kejadian yang sudah-sudah. Dulu korban selalu ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Waktu menemukannya memang sudah terlambat karena tak ada prediksi akan apa yang mau dilakukan korban. Sekarang korban masih hidup dan mudah-mudahan bisa tertolong. Sebab perbedaannya tentu karena dulu tak pernah ada tamu yang peduli seperti Delia. Kenapa Delia tak bisa tidur? Padahal kemarin bisa. Tapi kalau Delia tidur nyenyak bisakah ia mendengar raungan Yasmin? Dan kalau ia tak peduli maukah ia bersusah payah menolong padahal sebelumnya kebenaran pendengarannya diragukan? Delia adalah orang yang spontan dan sangat peduli, pikirnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tapi kekaguman itu harus disingkirkan dulu. Ia mencari alamat Yasmin di buku tamu. Nomor telepon yang ditulis Yasmin ia hubungi. Agak lama ia menunggu. Tak mengherankan. Pasti penghuninya sudah tidur. Tapi ia terus berusaha. Akhirnya usahanya berhasil. Suara lelaki yang mengantuk menyambutnya. "Apakah ini kediaman Yasmin, Jalan Bola nomor 9?" "Bukan. Salah sambung, kali." 148 Kosmas mengulang lagi nomor seperti yang tertera di buku tamu. "Nomornya benar, tapi alamatnya salah." "Maaf, Pak." "Salahnya jangan diulang lagi, ya?" "Iya, Pak. Maaf." Kosmas menyadari, Yasmin sengaja menulis nomor yang salah. Mustahil wanita itu tidak ingat atau keliru menuliskan nomor telepon rumahnya sendiri. Akhirnya Kosmas menghubungi polisi. Biarlah petugas yang selanjurnya menghubungi keluarga Yasmin di rumahnya. Polisi yang sudah berpengalaman dengan peristiwa sebelumnya berjanji akan segera datang. Sekarang Kosmas sudah pasrah dengan pengalaman berulang seperti ini. Biarlah motelnya kembali menjadi berita heboh. Yang penting ia bertindak benar. Lalu ia teringat bahwa tadi Delia lupa mengunci kembali pintu kamarnya. Ia harus menguncinya untuk menjaga jangan sampai ada maling memanfaatkan kesempatan. Ia menghubungi kamar Adi untuk membangunkannya. Setelah menceritakan apa yang terjadi, ia memintanya segera ke kantor. Adi datang cepat. Masih mengantuk. "Jaga sebentar ya, Di. Ada yang mau kuurus di kamar 14. Kalau polisi datang, hubungi aku di sana. Tapi aku nggak lama kok." "Baik, Pak." Kosmas melihat kunci kamar 14 menggantung di sebelah luar. Tadi Delia membuka pintu dulu lalu masuk ke dalam. Setelah keluar ia cuma merapatkan pintu dan lupa menguncinya kembali. Semula Kosmas bermaksud mengunci pintu lalu menyimpan kuncinya untuk diserahkan

http://inzomnia.wapka.mobi

pada Delia bila sudah kembali. Tapi muncul pikiran lain yang didorong oleh keinginta149 huan. Barangkali ia bisa mengenal Delia lebih dalam bila melihat suasana kamarnya. Ia membuka pintu lalu masuk. Lampu kamar masih menyala. Perhatiannya tertarik pada meja kecil di samping tempat tidur. Ada peles obat di samping botol Aqua. Ia masuk, merapatkan pintu, lalu meraih peles obat itu untuk diamati. Isinya berupa. kapsul yang memenuhi seluruh peles. Apakah Delia sakit sampai harus minum obat atau cuma vitamin? Kalau vitamin tentunya ada labelnya. Ia meletakkan kembali peles itu di tempat semula. Iseng-iseng ia menarik laci. Tampak amplop cokelat di situ. Karena merasa tak enak, ia mengalihkan pandang tapi matanya kembali mengarah ke amplop itu. Sepertinya ia melihat namanya di situ. Setelah memelototkan mata, ia yakin memang namanya. Kepada Yth. Pak KosmasMotel Marlin. Jadi itu untuknya. Berarti ia berhak melihatnya. Ia meraihnya. Amplop itu lumayan tebal. Karena tak dilem, ia bisa membukanya dengan gampang. Di dalamnya ada sejumlah uang dan selembar kertas surat. Tulisan tangan dan singkat. Setelah selesai membaca ia memekik kaget. Jantungnya berdebar keras. Apa-apaan kau, Del? Interkom berbunyi. Suara Adi. "Pak! Polisi sudah datang." "Ya. Aku segera ke sana." Ia memasukkan kembali kertas surat ke dalam amplop, lalu memasukkan amplop ke dalam laci seperti semula. Sesudah itu ia bergegas ke luar, mengunci pintu, lalu memasukkan kuncinya ke dalam saku. Badannya terasa gemetar. *** 150 Yasmin mendapat pertolongan di ruang UGD Delia dan Erwin menunggu di luar.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tadi begitu buru-buru sampai lupa bawa HP," kata Erwin. "Mau nelepon siapa?" tanya Delia. "Bang Kos. Dia belum tahu kita ke rumah sakit mana dan bagaimana perkembangan Yasmin." "Pakai saja telepon umum." "Ya. Nantilah kita tunggu dulu apa kata dokter." Lalu mereka sama-sama diam dengan pikiran masing-masing yang dipengaruhi peristiwa itu. Bagaimana mungkin Yasmin juga berniat sama seperti aku? pikir Delia. Apakah itu merupakan pertanda agar ia membatalkan niatnya untuk saat ini atau mencari tempat lain? Kasihan betul Kosmas dan Erwin kalau peristiwa satu belum tuntas muncul lagi peristiwa sama dalam hitungan hari. Mungkin kedua orang itu mendapat perlindungan dari Yang Kuasa. Dia ingat, tadi Kosmas sempat menganjurkannya agar rajin berdoa. Mungkin Kosmas seperti itu juga. Apakah dia sendiri tidak seperti itu? Sementara Erwin berpikir, betapa malang nasib motelnya. Kejadian buruk silih berganti. Ia berdoa semoga Yasmin selamat. Bukan sematamata demi reputasi motel, tapi juga bagi Yasmin sendiri. Ia menyesal kenapa tidak bisa melihat lebih jeli kondisi Yasmin waktu datang. Sudah ada kecurigaan tapi diredam. Tapi memang serbasulit. Kalau sudah mencurigai, apakah sebaiknya menolak Yasmin? Wanita itu bisa saja melakukannya di tempat lain. Delia mengamati wajah Erwin. "Mudah-mudahan dia selamat," kata Delia. "Kayaknya dia nggak banyak minumnya. Pasti nggak 151 semua. Yang tumpah banyak. Dia juga muntah banyak sekali." "Ya. Kelihatannya begitu. Untunglah kau mendengarnya." "Untung memang. Coba kalau tadi aku nggak ngobrol dulu dengan Bang Kos. Atau tidur nyenyak. Atau justru ngobrolnya kelamaan..." "Aku tahu. Aku dengar dari kamar." "Apa obrolan kami membangunkan kau?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Nggak juga. Tapi materi obrolan itu menarik. Kalau nggak sih aku tidur lagi." "Kenapa nggak keluar dan ikut mengobrol?" "Enakan jadi pendengar." "Oh ya?" Erwin tidak mau mengatakan yang sebenarnya bahwa ia tidak ingin ikut hadir sebagai orang ketiga. Percakapan mereka terhenti ketika seorang perawat mendekati. Mereka segera berdiri. "Apa Bapak dan Ibu keluarga Bu Yasmin?" "Bukan. Kami temannya," sahut Delia cepat. "Bagaimana keadaannya?" "Oh, soal itu nanti dokter yang akan memberitahu. Bu Yasmin masih ditolong." "Apa ada harapan, Sus?" "Kelihatannya begitu. Tapi jelasnya nanti dokter yang beritahu. Yang mau saya tanyakan adalah urusan administrasi." "Jangan khawatir, Sus. Keluarganya sedang dibe-ritahu. Tapi untuk saat ini saya bersedia menalangi biayanya." "Baiklah. Terima kasih, Bu. Tapi ini kasus percobaan bunuh diri. Jadi polisi harus diberitahu. Apakah sudah?" 152 "Ya. Sudah, Sus. Saya dari pihak motel sudah tahu apa yang harus dilakukan," sahut Erwin. "Baik. Terima kasih." Perawat menghilang ke dalam ruangan. "Kak Del, punya uang receh? Aku mau nelepon dulu," kata Erwin. Delia membuka tasnya, memberikan Erwin se-genggam uang logam. Belum lama Erwin pergi, seorang dokter pria keluar. "Ibu Delia?" Delia melompat berdiri. "Betul, Dok." "Dia ingin bertemu Ibu." *** "Bagaimana di sana, Bang? Polisi sudah datang?" tanya Erwin di telepon.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sudah. Mereka masih memeriksa. Jadi kalian ke rumah sakit mana? Gimana Yasmin?" "Masih ditolong, Bang. Belum ada berita," sahut Erwin sambil memberitahu nama rumah sakit. "Suami Yasmin akan dihubungi polisi. Gimana Delia, Win? Dia baik-baik saja?" Erwin tersenyum. "Tentu saja dia baik, Bang. Yang mesti dirisaukan itu Yasmin." "Eh, awasi Delia, Win. Hati-hati. Dengar baik-baik. Dia juga bermaksud bunuh diri di motel kita!" Erwin melotot. "Apa? Bagaimana kau bisa tahu?" "Tadi aku bermaksud mengunci kamarnya. Tapi aku iseng. Aku masuk dan melihat-lihat. Di dalam lacinya kutemukan amplop surat yang ditujukan buatku. Ada namaku di luar amplop. Jadi aku merasa berhak membacanya. Wah, mengejutkan, Win. Ternyata itu surat pernyataan bunuh diri. Dia juga 153 minta maaf karena telah menyusahkan kita. Lalu mohon agar kita mau mengurus jenazahnya dan mendoakannya. Di situ juga ada sejumlah uang. Katanya buat biaya mengurus jenazahnya. Aduh, Win. Kita kok apes amat ya?" "Kok bisa begitu ya, Bang? Nggak sangka Kak Del," keluh Erwin. "Nanti kita bicara lagi. Yang penting kita sudah tahu niatnya. Jangan tunjukkan bahwa kita sudah tahu." Erwin merasa tubuhnya lemas saat berjalan kembali ke ruang gawat darurat. Lututnya menekuk-nekuk. Ia serasa melihat awan gelap menyelubungi motelnya. Delia memeluk Yasmin yang menangis tersedu-sedu. Delia membiarkan saja sambil membelai-belai kepalanya. Biar mereda dulu. Sesudah sedu sedan Yasmin berhenti, ia mengambil tisu lalu mengeringkan mukanya. "Sudah, Yas. Sudah. Jangan nangis lagi ya. Masih sakit?" Yasmin mengangguk. Ia menunjuk lehernya. "Ya. Pasti sakit. Panas, ya?" "Ya, Kak."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sudah. Jangan ngomong, Yas. Istirahat dulu. Kalau sudah enakan baru ngomong. Atau mau nulis aja? Aku bawa kertas dan bolpoin." Delia meraih tasnya. Yasmin menggeleng. Ia menarik tangan Delia dan-memeganginya. "Jangan pergi, Kak." 154 "Nggak. Aku nggak akan pergi. Aku tetap mendampingimu, Yas. Jangan khawatir." "Aku takut dia datang." "Dia siapa?" "Suamiku." Delia terkejut. "Jadi... kau melakukannya karena dia?" "Ya." "Apa dia menyiksamu?" tanya Delia gusar. Yasmin tidak menyahut. Wajahnya sedih. Bagi Delia itu sudah cukup sebagai jawaban. "Jangan mau mati karena dia, Yas. Kau harus melawannya." "Aku ingin mati, Kak. Tapi... hek-hek-hek..." Yasmin meraba lehernya. "Sakit? Sudah, jangan ngomong lagi. Nanti saja ceritanya kalau sudah enakan." "Minum dulu." Setelah minum pelan-pelan dengan wajah mengernyit pertanda sakit, Yasmin berkata pelan, "Aku masih bisa ngomong, Kak. Sakit sedikit nggak apa-apa. Aku mesti ngomong sekarang. Mumpung dia belum datang. Pasti dia datang, kan?" "Tentu. Im kalau dia bertanggung jawab." "Aku pengen mati, Kak. Tapi nggak bisa. Aku malu. Aku mau cerita tapi jangan sampaikan ke orang lain, ya? Lebih-lebih pada suamiku. Pasti dia akan mencemooh." "Aku janji, Yas. Percayalah. Tapi pelan-pelan saja ngomongnya. Jangan cepat-cepat." "Kak, tadi aku takut sekali. Saat aku mulai minum racun itu, aku sudah mantap. Tiba-tiba aku melihat sosok hitam besar bersayap. Ada tanduknya. Ada buntutnya. Dia duduk di pojok mengamati. Dia 155

http://inzomnia.wapka.mobi

tertawa-tawa. Kulempar kaleng racun itu. Aku baru minum sedikit. Aku merasa sakit bukan main. Aku berusaha memuntahkannya. Lalu kalian datang..." Delia terkejut. Cerita itu mengerikan sekali baginya. Tiba-tiba terpikir apakah ia pun akan mengalami hal yang sama seperti Yasmin. "Kak, jangan cerita sama orang lain, ya?" "Tentu saja nggak. Aku sudah berjanji. Sekarang tentang suamimu. Eh, apa kau masih bisa meneruskan?" Delia merasa keingintahuannya bisa menyakitkan bagi Yasmin. "Bisa, Kak. Sakit sedikit kok. Dia... dia, ah, malu ceritanya." "Kalau begitu nanti saja, Yas. Biarpun suamimu datang, di sini dia nggak akan bisa macam-macam. Aku akan membantumu," kata Delia bersemangat. Rasanya ingin sekali memberi tonjokan pada si suami. Yasmin memutuskan untuk bercerita. Setelah usaha bunuh dirinya gagal, ia sadar tak bisa lagi menyimpan masalahnya sendiri. Ia yakin, Delia orang yang cocok untuk berbagi. Walaupun ia tak bisa lepas, ada orang lain yang tahu. Maka ia bercerita. Tersendat pada mulanya. Lalu lancar kemudian. Bagi Delia, cerita itu sungguh menggetarkan perasaannya. Ia belum pernah mendengar yang seperti itu selama hidupnya. *** Ruang UGD itu terbagi dalam sekat-sekat berupa tirai putih yang panjangnya nyaris mencapai lantai. satu tempat tidur dikelilingi tirai bila ada pasien yang sedang ditangani di situ. Tempat tidur Yasmin 156 pun dikelilingi tirai. Di sebelahnya ada tempat tidur yang kosong. Di situ Erwin duduk, asyik mendengarkan! Delia dan Yasmin tidak menyadari kehadiran Erwin di sebelah mereka. Kalau saja Yasmin tahu, pasti ia tidak akan bercerita. Semula Erwin mau menunggu di ruang tunggu saja ketika perawat menyilakannya masuk. Tapi kemudian ia memutuskan untuk duduk saja di tempat tidur sebelah. Mumpung tak ada pasien. Im disebabkan karena ia mendengar suara-suara percakapan. Ia merasa kemunculannya bisa

http://inzomnia.wapka.mobi

menghentikan percakapan itu, tapi ia juga merasa berkepentingan untuk tahu. Ia terkejut dan marah mendengar cerita Yasmin. Suami seperti itu sungguh tidak menghargai karunia yang diperolehnya berupa seorang istri. Padahal orang-orang seperti dirinya dan Kosmas sangat mendambakan punya istri yang baik, tapi tak kunjung dapat. Tapi lelaki yang satu itu malah menyia-nyia-kan istrinya dengan penghinaan terhadap martabatnya. 157 BAB 16 Aneh, pikir Yasmin. Dulu ia tak pernah mengira bisa menyampaikan masalahnya kepada orang lain selain dokter. Ia berpikir hanya ibunyayang cocok. Tak ada ibu maka tak ada orang lain. Ternyata kepada Delia lain halnya. Bahkan ia bisa bercerita dengan mengabaikan rasa sakitnya Ia mengira bisa menemukan sebabnya. Ada sesuatu pada Delia yang membuatnya merasa, cocok. Sejak awal mengenalnya, ia tahu Delia orang yang care, memberi perhatian tanpa pamrih. Tapi karena saat itu ia sedang gundah, maka justru sikap orang seperti itu kepadanya tak disukainya. Ia ingin sendiri. Ia ingin mati. Kepedulian orang lain hanya jadi penghalang. Delia mencium dahinya. Yasmin memejamkan mata dengan senang. Ia teringat ibunya. "Bila nanti dia datang, jangan biarkan dia mengintimidasimu. Cuek saja. Apa pun yang dia katakan, jangan diambil hati. Pikirkan dirimu sendiri. Yang salah itu dia. Bukan kau," kata Delia yang merasa harus mempersiapkan mental Yasmin karena sebentar lagi suaminya akan datang. "Aku tidak tahu mesti bagaimana menghadapinya, Kak." "Biarkan dia bersikap lebih dulu. Kau jangan ngomong apa-apa. Lihat reaksinya. Baru pertimbangkan bagaimana sikapmu." 158

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya. Maukah kau memberi saran nanti?" "Yang penting, tanyalah pada hatimu." "Hatiku?" "Ya. Aku sendiri tidak tahu bagaimana memberi saran. Aku baru saja mengenalmu. Sedang suamimu tidak kukenal kecuali dari ceritamu. Yang bisa kusarankan dari sekarang adalah jangan menyerah. Dia suami, bukan penguasa. Jadi mumpung sekarang kau bisa beristirahat, renungkan kembali semuanya." "Ya, Kak. Dia nggak boleh tahu bahwa aku batal bunuh diri." "Pendeknya, yang tahu soal itu hanya kita berdua." "Jangan kasih tahu orang-orang di motel ya, Kak." "Tentu saja." "Kasihan ya, Kak. Aku merepotkan orang lain. Mereka jadi susah." "Betul." Di balik tirai Erwin mengerutkan kening. Jadi baik Yasmin maupun Delia cukup menyadari bahwa perbuatan seperti itu akan menyusahkan pihak motel. Tapi kenapa mau dilakukan juga? Kejengkelannya sudah berangsur lenyap mendengar cerita Yasmin. Orang yang melakukan bunuh diri pasti punya masalah yang tak tertanggungkan hingga memilih mati sebagai kebebasan. Perihal Yasmin sudah ia ketahui, tapi Delia belum. Ia merasa heran apa yang menjadi beban bagi Delia. Pastilah lebih berat daripada beban Yasmin. Padahal Delia tampak lebih tangguh. Dia bisa memberi saran yang baik bagi Yasmin. Kenapa dia tidak melakukannya bagi diri sendiri? "Maukah kau berjanji padaku, Yas, bahwa kau tidak akan mengulang perbuatan itu lagi?" kata Delia. 159 "Ya, Kak. Aku takut melihat setan itu. Ya, dia pasti setan, bukan?" "Kayaknya begitu." "Dia tertawa pasti karena senang melihat kelakuanku." "Ya. Kalau nggak senang masa tertawa." Mau tak mau Delia merasa tergetar juga. Apakah setan itu pun akan muncul bila dia melakukan hal serupa? Apakah pengalaman Yasmin itu bisa dianggap sebagai peringatan untuknya?

http://inzomnia.wapka.mobi

Di balik tirai Erwin tersenyum tipis. Apakah Delia masih akan melanjutkan niatnya setelah mendengar cerita Yasmin? Ia berharap Delia ikut merasa ngeri. Tapi ia tidak tahan juga berlama-lama jadi pendengar. Akhirnya ia berdiri lalu berdeham-deham, kemudian menongolkan wajahnya di antara sambungan tirai. Delia berdiri. "Kebetulan aku mau ke toilet. Duduklah," katanya memberikan kursinya kepada Erwin. "Bagaimana keadaanmu, Yas?" tanya Erwin. Yasmin tersipu dan menatap Erwin dengan cemas. "Kau... kau baru datang atau... sudah dari tadi?" tanyanya gugup. Erwin berpikir sejenak. Rasanya kurang fair kalau ia berbohong. Lebih baik berterus terang agar segera ada keterbukaan. "Aku berjanji tidak akan memberitahu siapa pun kecuali abangku sendiri," katanya serius. "Oh!" Yasmin terkejut. "Tapi abangku pun tidak akan memberitahu siapa pun. Kalau dia tidak tahu, dia tidak bisa membantu. Kami ingin membantumu, Yas." "Padahal aku sudah menyusahkan. Maafkan aku, Bang." "Sudahlah. Itu sudah nasib motelku." 160 "Maaf." "Jangan ngomong begitu. Nggak perlu. Yang penting kau selamat." "Bang Kos pasti marah." "Ah nggak. Dia cemas sekali memikirkan keadaanmu. Aku nelepon dia tadi. Katanya kau memberi nomor telepon salah. Jadi rumahmu nggak bisa dihubungi. Terpaksa polisi yang memberitahu suamimu." "Maaf." "Sudahlah. Maaf terus." "Kau marah, ya?" "Nggak. Kalaupun marah sudah terobati oleh baiknya keadaanmu." "Terima kasih. Ke mana Kak Del? Kok lama ya?" "Katanya ke toilet." "Aku takut..." "Takut sama aku?" "Bukan. Gimana kalau aku disuruh pulang sekarang kalau suamiku datang?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jangan khawatir. Tadi aku bicara sama dokter. Katanya dia akan menyuruhmu istirahat dua hari." "Dua hari?" "Ya. Apakah cukup untuk merenungkan langkah selanjutnya, asal jangan mengulangi?" "Ya, cukup." Delia kembali. Erwin berkata akan menunggu di ruang tunggu saja. Mereka harus menunggu kedatangan suami Yasmin sebelum bisa meninggalkan Yasmin. "Kak, dia sudah tahu. Dia nguping tadi," Yasmin memberitahu. "Dia mengakui itu?" "Ya. Tapi dia berjanji tidak akan memberitahu siapa pun kecuali abangnya." 161 Delia tersenyum. "Apakah dia menjanjikan bantuan?" "Ya." "Bagus. Mereka memang orang baik. Jadi kau tidak perlu putus asa, Yas. Masih ada orang-orang baik di dunia ini." "Ternyata susah sekali hidup sendiri ya, Kak? Rasanya tak ada yang peduli. Tak ada yang mau membantu. Bagaimana denganmu, Kak? Kau tabah sekali." Delia memalingkan mukanya. Apakah dia kelihatan tabah? Tapi dia merasa seperti orang munafik. Dia menasihati Yasmin dengan kata-kata yang tak diyakininya sendiri. Dia membuat Yasmin berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya, padahal dia sendiri bermaksud melakukannya. *** Hendri terkejut bukan main ketika dini hari pintu rumahnya digedor lalu mendapati polisi berseragam di depannya. "Ini rumah Pak Hendri, suami Bu Yasmin?" "Betul, Pak," sahut Hendri sambil menduga-duga apa yang terjadi dengan Yasmin. Sesungguhnya ia berbohong kepada Aryo yang menelepon tadi malam. Ia tidak mencari Yasmin ke berbagai rumah sakit seperti yang dikatakannya. Ia sangat yakin Yasmin akan pulang sendiri. Jadi kenapa harus capek-capek?

http://inzomnia.wapka.mobi

Sempat muncul kekhawatiran kalau-kalau Yasmin melaporkan perselingkuhannya dengan Inem. Apalagi saat itu Inem berdiri di belakangnya. Tapi kekhawatiran berubah menjadi kecemasan ketika polisi menjelaskan maksud kedatangannya. 162 "Apakah dia meninggal, Pak?" "Katanya tidak. Saya tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Cepatlah ditengok." Setelah polisi pergi, Hendri memelototi Inem yang bermaksud memberi komentar. "Ini gara-gara kamu! Pergi sana!" bentak Hendri. Inem sudah membuka mulutnya untuk membantah. Tapi melihat wajah garang Hendri, ia membatalkan niatnya lalu melenggang pergi. Ia kesal karena disalahkan. Padahal mereka baru saja bercinta seolah Yasmin tak pernah ada. "Hei! Seprainya dicuci!" seru Hendri. "Iya. Entar lagilah, Pak. Mau tidur dulu," sahut Inem tanpa menoleh. "Aku bilang sekarang!" gelegar suara Hendri. "Ya, ya!" Inem menciut. Tampaknya angan-angan menyingkirkan nyonya rumah tak akan berhasil. Dia hanya ban serep. *** Erwin menelepon Kosmas yang sudah tidak sabaran menunggu berita. "Kami masih menunggu si suami dulu, Bang. Kalau dia datang dan Yasmin baik-baik saja, baru kami pulang." "Udah tahu sebabnya kenapa Yasmin berbuat begitu?" "Siksaan suami." "Waduh. Suami macam apa itu." "Ceritanya nanti ya, Bang. Panjang. Tapi janji dulu kau tidak akan menceritakannya pada orang lain. Yang tahu hanya kita bertiga. Aku, kau, dan Del. Soalnya aku sudah berjanji." 163 "Ya, ya. Buat apa menyebar gosip. Eh, gimana Del?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dia kelihatan capek tapi baik-baik saja. Aneh dia itu. Punya rencana bunuh diri tapi dia justru menolong orang yang berniat sama. Dia juga membuat Yas berjanji untuk tidak mengulangi lagi. Nasihatnya pun bermutu." "Aku tadi mikir dan menyimpulkan jangan-jangan niat Del itu ada hubungannya dengan percakapan tadi. Tentang kutukan itu dan ibu mertuanya." "Maksudmu, dia mau bunuh diri karena dikutuk? Ah, Del bukan orang seperti itu." "Kita nggak tahu, Win. Kalau orang sampai nekat pastilah masalahnya juga berat. Aku khawatir dia menderita sesuatu, Win." "Penyakit, begitu?" "Ya. Jangan-jangan disantet mertuanya. Lalu dia jadi putus asa." "Tapi dia nggak kelihatan sakit, Bang. Yang jelas sakit itu si Yas!" "Siapa tahu? Mana kita tahu?" "Begini saja, Bang. Mumpung Del masih di sini, coba kau periksa lagi kamarnya. Siapa tahu ada informasi lain. Kita kan bisa membantu kalau bisa." "Baik." Setelah meminta Adi untuk berjaga di kantor, Kosmas bergegas ke kamar 14. Ia membuka pintu dengan kunci yang masih ada di sakunya. Ia memeriksa tas yang ada di dalam lemari. Isinya pakaian. Dengan hatihati ia mengeluarkannya sepotong demi sepotong dan meletakkannya di tempat tidur. Ternyata di bagian bawah terdapat setumpuk amplop cokelat ukuran kuarto yang gembung. Ia tidak sempat menghitung berapa jumlahnya. Salah satu diambilnya lalu 164 dibuka karena tutupnya tidak dilem. Isinya uang. Ia tidak mau capekcapek menghitung. Semua amplop itu sudah ditulisi kepada siapa akan dikirim, yaitu berbagai panti asuhan dan yayasan sosial di Jakarta. Kosmas tertegun. Delia seorang dermawan? Tidak sedikit jumlah uang yang terdapat di dalam amplop-amplop itu meskipun ia tidak menghitungnya. Setelah berpikir, ia merasa tidak sulit menyimpulkan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sebelum bunuh diri Delia akan menyumbangkan hartanya dulu. Karena itulah ia masih perlu menginap di situ. Ia belum selesai mendistribusikan sumbangannya. Adakah hubungannya dengan sang nenek sihir? Kosmas bertekad untuk menggagalkan niat Delia. Tidak dilakukan di motelnya, tidak pula di tempat lain. 165 BAB 17 Hendri merasa pandangan para perawat agak lain ketika ia ia memperkenalkan diri dan bertanya perihal Yasmin. Sepertinya mereka tidak menyukainya. Ataukah ada tuduhan kepadanya? Ia jadi khawatir kalau-kalau Yasmin menceritakan perlakuannya lalu menuduhnya sebagai penyebab tindakannya. Apakah ia akan berurusan dengan polisi? Sebelum berhadapan langsung dengan Yasmin, ia harus tahu lebih dulu supaya bisa menentukan sikap. "Dia ditemani penolongnya, Pak. Seorang ibu dari Motel Marlin bersama pemiliknya," perawat menjelaskan. "Siapa?" "Entahlah. Saya tidak tahu namanya. Temui saja." "Kondisinya bagaimana?" "Baik. Dia perlu istirahat. Rawat inap dua-tiga hari. Nanti akan dipindahkan ke ruang perawatan. Kalau Bapak mau tahu lebih jelas, sebaiknya temui mereka. Pasti ceritanya lengkap. Mereka sudah menunggu Bapak." Perawat menunjukkan letak tempat tidur Yasmin. Ternyata Yasmin sedang tidur. Hendri mengamatinya dengan diam. Ia melihat slang oksigen masuk ke hidung Yasmin dan infus di lengannya. Yasmin tampak damai dalam tidurnya. Hendri tidak mau 166 membangunkan. Ia takut Yasmin tiba-tiba histeris melihatnya. Ia keluar untuk menemui perawat. "Tidak ada yang menungguinya, Sus. Dia sedang tidur. Saya tidak mau membangunkan."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Oh, pasti nunggunya di ruang tunggu. Mungkin mereka ketiduran. Lama sih nunggunya." Erwin dan Delia sedang terkantuk-kantuk hingga tidak melihat kedatangan Hendri. Apalagi mereka juga tidak mengenalnya. Perawat memperkanalkan mereka lalu pergi. Hendri mengucapkan terima kasih pada mereka. Sesudah itu ia minta cerita lengkap. Delia meminta Erwin untuk menceritakan sedang ia sendiri masuk ke dalam ruangan untuk menjenguk Yasmin. Melihat Yasmin masih tidur, ia duduk di sampingnya. Saatnya sudah tiba, pikirnya. Yasmin membuka mata. Ia tersenyum melihat Delia. "Masih di sini, Kak?" "Ya. Suamimu baru saja datang, Yas. Sekarang dia bicara dengan Erwin. Sebaiknya kau ketemu dia untuk melihat bagaimana reaksinya. Tenang dan tabah menghadapinya, ya? Ingat, dia tidak bisa macam-macam di sini. Bicaralah dengannya. Katakan terus terang apa penyebab kau melakukannya. Bilang kau tidak tahan diperlakukan seperti itu olehnya. Sesudah kau selesai bicara dengannya, aku akan menemuimu dulu supaya aku bisa" tahu apa yang terjadi. Apakah dia bersikap baik atau tidak. Dan bagaimana keinginanmu. Kalau kau ingin aku menungguimu, aku bersedia, Yas. Ingatlah. Kau punya teman. Kau tidak sendirian." Yasmin mengangguk. 167 "Sudah berani? Aku panggil dia?" tanya Delia. "Ya, Kak." Delia mencium dahi Yasmin. Lalu ia keluar menemui Erwin dan Hendri. Rupanya cerita Erwin tentang kejadian tadi sudah selesai. Mereka berdua sudah diam-diaman. "Pak, Yasmin sudah bangun. Temuilah dia," kata Delia kepada Hendri. Hendri bergegas masuk. Ia senang bisa lepas dari samping Erwin. Ia merasa lelaki itu membencinya dan setiap saat bisa menghajarnya. Apakah Yasmin sudah bercerita tentang keburukannya ke sana kemari? Kalau saja ia tidak ingat pada Winata dan prospek bagus di depan, pasti ia sudah marah kepada Yasmin.

http://inzomnia.wapka.mobi

Delia duduk lagi di samping Erwin. "Kita tunggu dulu sampai situasi aman, baru kita kembali ke motel." "Aman bagaimana?" Delia menceritakan perjanjiannya dengan Yasmin. "Baiklah," kata Erwin sambil mengamati wajah Delia. Ia memang harus menahan Delia dulu sampai Kosmas selesai memeriksa barang-barang Delia. "Kenapa kau memandangku begitu?" tanya Delia. "Kasihan. Kau kelihatan capek sekali. Sementara menunggu, tidurlah dulu. Nanti kubangunkan kalau si suami keluar." "Ah, tanggung. Kayaknya nggak bakal lama." "Kalau kembali ke motel nanti, tidurlah sepuasnya dulu. Jangan pergi bermobil, Kak. Bisa ngantuk di jalan. Jangan ambil risiko." "Iya. Aku juga bermaksud begitu." Dalam hati Delia berkata, kalau aku bermobil membawa uang, pasti aku hati-hati. Uang itu tidak boleh diambil orang yang tidak berhak. 168 "Maukah kau kutemani bila bepergian besok, Kak? Aku mau jadi sopirmu." Delia tertawa. "Bang Kos bisa jengkel dong, Win." "Ah, nggak. Dia pasti setuju. Jangan-jangan malah dia yang kepengen jadi sopirmu." Delia memalingkan muka. "Mudah-mudahan di dalam baik-baik saja," katanya mengalihkan pembicaraan. *** Hendri duduk di kursi sementara Yasmin memalingkan muka. "Kenapa kau berbuat begitu, Yas?" tanya Hendri pelan. "Kau cukup tahu kenapa," sahut Yasmin dingin. "Soal itu?" "Apa lagi?" "Tapi aku nggak menyangka bisa berakibat seperti ini." "Nggak nyangka? Jadi kau mengira aku pura-pura sakit? Kau sangat tega, Hen." "Tapi jangan sampai beginf dong, Yas. Kita bisa membicarakannya." "Bukannya sudah? Aku sudah mengeluh, merintih, menjerit. Tapi kau..."

http://inzomnia.wapka.mobi

Hendri membungkukkan tubuhnya, memeluk Yasmin. "Maafkan aku, Yas. Aku memang lelaki egois. Brengsek! Nggak tahu diri! Maafkan. Ampuni aku, ya?" Lalu Hendri mengangkat kepala, menatap wajah Yasmin, ingin tahu efek ucapannya. Yasmin merasa heran. Sikap Hendri itu di luar 169 persangkaannya. Bila diukur dari kelakuan dan sikapnya sebelumnya, sepantasnya Hendri akan marah dan menuduhnya telah mempermalukan dia. "Aku berjanji nggak akan berbuat seperti itu lagi. Aku takut sekali kehilangan kau, Yas. Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku, Yas. Jangan pernah lakukan seperti itu lagi," ia memohon dengan suara mengiba-iba. "Cinta katamu? Aneh sekali definisi cintamu itu." "Ya. Cintaku egois. Aku menyesal. Aku benar-benar shock." Hendri menciumi tangan Yasmin. Wajahnya begitu memelas, hingga Yasmin jatuh iba juga. Mungkinkah getaran itu masih ada? Dan cinta tak seluruhnya berubah menjadi benci? Tapi ia ingat ucapan Delia. Ia merasa kuat oleh kehadiran Delia. Jangan terbawa perasaan. "Jangan-jangan kau ngomong begitu karena takut aku menuntutmu. Pasti polisi akan memeriksamu." Hendri tertegun. Dalam situasi berbeda pasti ia marah mendengarnya. Tapi sekarang ia bisa bersabar karena punya motivasi. Ia tetap menganggap Yasmin orang bodoh dan cengeng dengan pikiran yang pendek. Masa begitu saja sampai mau bunuh diri? Bukankah ia punya ayah kaya? Kenapa tidak menceraikannya saja lalu kembali kepada ayahnya? Tapi sudah tentu Yasmin tidak tahu apa yang terjadi pada ayahnya. Sekarang kata "cerai" itu pun menakutkan Hendri. Bagaimana kalau Yasmin benar-benar menceraikannya setelah tahu perihal ayahnya? Ia akan didepak jauh-jauh!

http://inzomnia.wapka.mobi

"Biarlah kau menuntutku. Aku terima. Asal kau jangan meninggalkan aku. Sekarang, setelah kejutan 170 ini, tiba-tiba aku disadarkan bahwa aku mencintaimu. Aku sadar telah memperlakukanmu dengan kejam. Aku sadar betapa bejatnya diriku ini. Beginilah manusia. Kalau sudah terancam kehilangan, baru dia sadar." Yasmin menatap wajah Hendri. Ada air mata di sudut mata lelaki itu. Apakah ucapan itu tulus? Dan air mata itu ekspresi dari hati? Betapa sulitnya membuat perkiraan. Alangkah senangnya kalau apa yang tampak di luar itu sesuai dengan yang di dalam. "Maukah kau menerimaku kembali, Yas? Kita akan mengawali hidup baru," ajak Hendri dengan ekspresi penuh harap. "Tapi bagaimana dengan yang satu itu?" "Aku janji tidak akan melakukan seperti itu lagi." "Tidak lagi? Kau sendiri bilang, seks itu segala-galanya bagi lelaki." "Oh ya. Tapi kita bisa berusaha dengan cara yang sesuai keinginanmu. Dulu kau bilang, aku harus melakukannya dengan pelan-pelan dan lembut. Aku akan berusaha." "Dulu kau bilang nggak bisa karena..." "Aku akan berusaha. Kau bisa mengingatkan aku. Percayalah, Yas. Kejadian ini pelajaran berharga untukku. Kita juga bisa ke dokter. Kau pernah mengajakku, kan? Aku menyesal tidak mengikuti anjuran-mu. "Bagaimana dengan perselingkuhanmu? Kau sering melakukannya di Motel Marlin, kan?" "Jadi itu sebabnya kau melakukannya di situ?" "Kau tidak menjawab pertanyaanku." "Aku janji tidak akan melakukannya lagi. Semua terserah padamu. Aku nurut." 171 "Kok sekarang jadi nurut?" "Aku tidak ingin kehilangan kau." Yasmin tertegun. Perkataan itu terasa mengangkat harga dirinya. Kalau saja memang benar. Tapi Yasmin bisa memastikan bahwa Hendri

http://inzomnia.wapka.mobi

mengatakan segala hal, membujuk dengan berbagai cara, supaya ia tidak mengulangi perbuatannya. Biarpun kelak ternyata gombal belaka, setidaknya ia sudah berusaha. Kalau tidak peduli buat apa ia merendahkan diri dengan janji-janji kosong? "Gimana dengan si Inem?" tanya Yasmin. "Aku akan menyuruhnya pergi. Kalau kau pulang nanti, dia sudah tidak ada lagi." "Baiklah. Aku hargai janjimu. Sekarang, tolong panggil Kak Del. Aku mau bicara dulu. Dia mau pulang. Kasihan." Hendri pergi ke luar untuk memanggil Delia. Saat Delia masuk, Hendri duduk tapi tidak dekat-dekat dengan Erwin. Tidak ada yang bicara duluan. Keduanya lebih suka diam. Delia mengamati wajah Yasmin yang tampak lebih ceria. Im pertanda baik. "Dia sudah minta maaf, Kak. Dia janji. Dia menyesal. Dia nangis." "Kau percaya?" "Entahlah. Masih harus dilihat dulu." "Baguslah. Yang penting kau harus kuat menghadapinya." "Kau mau pulang sekarang, Kak? Kau perlu tidur." "Ya. Apa dia akan menungguimu?" "Mungkin, Kak. Sampai aku dipindahkan ke ruang perawatan. Besok datang lagi ya, Kak?" "Tentu," sahut Delia ringan. Besok ia masih punya waktu. 172 Dalam perjalanan pulang Erwin menyetir mobil Delia. "Jadi mereka sudah baikan?" tegas Erwin. "Untuk sementara." "Heran. Sudah disakiti begitu, kenapa masih bertahan? Tinggalkan saja suami seperti itu," gerutu Erwin. "Orang yang bersedia memaafkan biarpun sudah disakiti adalah orang yang mulia." "Tahu-tahu nanti disakiti lagi." "Mudah-mudahan dia sungguh-sungguh dengan janjinya. Besok aku besuk Yas lagi, Win."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sore?" "Iya dong. Sekarang istirahat dulu." "Bangun siang ya, Del? Sudahlah, jangan ke mana-mana. Nginepnya diperpanjang aja. Nggak usah tambah bayarnya. Im sebagai tanda terima kasih kami." "Lihat nanti saja, Win." "Aku punya ide, Kak. Nanti malam kita kumpul lagi dan makan bersama, ya?" "Ah, apa yang mau dirayakan?" "Jelas ada, yaitu merayakan ketidakberhasilan Yasmin melakukan niatnya." Delia tersenyum. "Masa itu perlu dirayakan?" "Masih ada lagi yang lebih penting. Yaitu merayakan sesuatu yang belum pernah terjadi sejak motel ini berdiri. Pasti bukan karena kedatangan tamu bunuh diri." "Apa itu?" Delia ingin tahu. "Belum pernah ada seorang penyelamat singgah di motel kami. Yaitu Kakak!" Delia terperangah. Lalu tertawa. "Ah, kau melebih-lebihkan, Win. Itu kan kebetulan saja." 173 "Nggak juga. Kalau kau nggak singgah menjadi tamu kami, yang namanya kebetulan itu juga nggak ada." Delia terdiam. Kau tidak tahu saja apa yang kuniatkan, pikirnya. "Gimana, Kak? Mau, ya?" "Apakah Bang Kos sudah tahu perihal ajakanmu itu? Kan harus ada kesepakatan." "Dalam hal itu kami pasti sepakat, Kak. Jadi mau, ya?" "Oke deh." "Terima kasih, Kak. Jadi nanti sore kita besuk Yasmin sama-sama. Pasti Bang Kos mau ikut juga. Pokoknya hari ini kau libur saja, Kak." "Libur?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kan mau tidur sampai siang. Ini sudah pagi lho. Dari siang ke sore itu singkat. Mana cukup melakukan sesuatu kegiatan. Makanya tambah sehari saja." "Lihat nanti saja deh." "Kalau sudah janji harus ditepati, Kak." "Apa maksudmu?" "Bahwa kau mau besuk Yasmin nanti sore dan sesudah itu makan malam bersama kami." Delia heran. Kenapa Erwin begitu cerewet? "Sepertinya kau nggak percaya, ya?" "Kurang," Erwin mengakui terus terang. "Aku takut..." "Takut apa?" "Takut kau pergi diam-diam." Delia menatap heran. "Ah, masa sih?" "Janji, ya?" "Iya. Aku janji, Cerewet!" Erwin tertawa. Yang penting baginya Delia tidak akan melaksanakan niat bunuh dirinya pada hari ini 174 karena masih ada rencana yang perlu dilakukan Tidak ada yang bisa mengetahui apa yang akan dilakukan seseorang bila sudah berada di dalam kamar yang terkunci. Biarpun bingung, Delia tidak menaruh prasangka. Ia menganggap Erwin lucu. Setibanya di motel, Kosmas menyambut mereka dengan bubur ayam panas. Mereka menyantap dengan lahap sambil berbincang mengenai kejadian tadi. Tapi Delia tidak tahan berlama-lama. Ia pamit untuk tidur. Memanfaatkan hal itu, Erwin segera memberitahu Kosmas mengenai kesepakatan yang telah dibuatnya dengan Delia. "Bagus," Kosmas memuji. "Jadi kita masih punya kesempatan untuk berbuat sesuatu."

http://inzomnia.wapka.mobi

Lalu Kosmas bercerita tentang pemeriksaannya terhadap barang-barang Delia. "Jelas dia mau menghabiskan hartanya dulu sebelum bunuh diri. Sepertinya kemarin dia berkeliling untuk menyumbang sana-sini tapi tidak keburu menyelesaikan semuanya." "Kenapa dia habiskan dengan cara seperti itu? Apakah dia tidak punya ahli waris?" Erwin merasa sayang membayangkan hal itu. "Kayaknya ada hubungannya dengan ibu mertuanya yang dia ceritakan semalam. Herannya, kenapa dia sampai mau bunuh diri ya? Sama sekali tidak cocok dengan kepribadiannya. Dia tidak kelihatan stres atau murung. Bahkan dia membantu Yasmin sepenuh hati. Apakah ada orang stres berbuat seperti itu? Dia lebih asyik dengan dirinya sendiri," Kosmas tak habis pikir. "Urusan kenapa dan sebab apa itu nanti saja, 175 Bang. Yang bisa memberitahu hanya Delia seorang. Dia pasti takkan memberitahu. Yang penting buat kita adalah mencegah niatnya. Tapi caranya gimana ya? Dia kan tidak tahu bahwa kita tahu." "Dia harus membatalkan, Win. Bukan cuma dicegah. Kalaupun tidak di sini, dia bisa melakukan di mana saja. Pindah ke hotel lain misalnya." "Apa kausembunyikan obatnya, Bang?" "Ketahuan dong." "Tukar isinya." "Nggak sempat. Tukar sama apa?" Keduanya saling memandang dengan bingung. Baru kali ini mereka mengalami yang seperti itu. 176 BAB 18 Sore itu mereka bertiga pergi menjenguk Yasmin. Delia mengemudikan mobilnya. Kosmas duduk di sampingnya, sedang Erwin di belakang.

http://inzomnia.wapka.mobi

Mereka tak banyak berbicara. Delia mengemudi dengan hati-hati. Jelas ia tidak mau mati sekarang karena urusannya belum beres. Tapi ia tidak enak juga oleh kesunyian suasana. "Bang Kos kelihatan ngantuk," kata Delia, melirik Kosmas di sebelahnya. Kosmas tersipu. Sebenarnya ia sedang memikirkan Delia. "Dia memang kurang tidur," Erwin yang bicara. "Nggak juga. Aku bisa tidur di mana saja," sahut Kosmas. "Bagaimana kau sendiri, Del? Tidurnya enak?" "Oh iya. Begitu kena ranjang langsung pulas." "Wah!" seru Kosmas takjub. Bagaimana mungkin orang yang berniat bunuh diri bisa tidur nyenyak? Saking capeknya atau memang sudah pasrah hingga tak lagi ada beban? Kemungkinan kedua itulah yang menakutkannya. "Kulihat kau pintar membujuk dan memengaruhi seperti yang kaulakukan terhadap Yasmin," Erwin mengalihkan. "Dia langsung percaya padamu meskipun baru kenal. Kenapa kau tidak memengaruhinya untuk hal lain?" 177 "Yang lain apa?" tanya Delia. "Supaya dia berani meninggalkan suaminya." "Apa ada alasannya?" "Kalau mendengar ceritanya, si suami tergolong seks maniak. Punya libido tinggi. Mana mungkin orang seperti itu bisa jadi jinak hanya karena istrinya pernah mencoba bunuh diri? Meskipun dia tidak lagi memerkosa Yasmin, dia akan mencari kepuasan di luar. Tidak mungkin bisa setia." "Mungkin itu benar, Win. Tapi Yasmin berhak memutuskan sendiri. Dia yang paling tahu. Tak ada salahnya memberi si suami kesempatan. Lihat apa dia bisa menepati janjinya. Sekarang Yas sudah lebih tabah dan berani karena sudah punya teman. Punya backing gitu. Jadi tidak perlu putus asa lagi." "Jadi menurutmu orang yang punya teman tidak perlu putus asa sampai berbuat nekat?" tegas Erwin. "Tentu saja."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Itu pemikiran yang bagus. Jadi Yas sekarang mengharapkan dukunganmu. Bagaimana kalau kau pergi nanti? Tidakkah bisa membuatnya putus asa lagi?" tanya Erwin. Delia tak segera menyahut. Ia berpikir dulu. Pertanyaan itu terasa mengena. "Maksudmu aku pergi ke mana?" "Bukankah rumahmu di Bandung?" "Oh ya. Karena itu kuharap kalian mau jadi sahabat dia juga. Supaya dia tidak tergantung padaku seorang." "Kayaknya itu sulit, Del," kata Kosmas. "Kami kan lelaki. Suaminya bisa salah sangka. Dia pun tak mungkin bisa bersikap terbuka seperti halnya kepadamu. Setelah kau berhasil membangun rasa percaya dirinya, maka sayang kalau kautinggalkan." 178 "Betul. Kemungkinan dia pun masih rapuh. Apalagi si suami belum pasti menepati janji," Erwin ganti bicara. Maksudnya sudah jelas, yaitu mengingatkan Delia akan "tanggung jawabnya" terhadap Yasmin. Bagaimana reaksi Yasmin kalau nanti tahu bahwa orang yang menyelamatkannya justru melakukan bunuh diri juga? Delia tidak menjawab. Sampai tiba di rumah sakit ia tetap tidak memberi jawaban. Ternyata Yasmin sendirian. Tidak tampak Hendri di sisinya. Im melegakan buat mereka hingga bisa bicara lebih leluasa. Yasmin sangat senang melihat para penjenguknya. Ia sudah jauh lebih segar dibanding kemarin. Bicaranya pun lebih lancar dan keras. Melihat Kosmas ia malu. "Maaf ya, Bang." "Nggak perlu minta maaf. Bersyukurlah kau selamat," kata Kosmas. "Ya, Bang," sahut Yasmin pelan. Kemudian cepat-cepat ia mengalihkan. Ia menunjukkan sebuah ponsel kepada Delia. "Aku dikasih Hendri, Kak. Katanya supaya gampang berkomunikasi. Dulu dia bilang aku nggak perlu punya HP. Tapi yang ini pun bekas punya dia karena sekarang dia punya yang baru."

http://inzomnia.wapka.mobi

Erwin mencatat nomor HP Yasmin. "Memang ada bagusnya, Yas. Kami juga bisa berkomunikasi denganmu. Bukan begitu, Kak Del?" "Betul. Kapan dia datang lagi?" "Maksudmu Hendri? Nanti sepulang dari kantor. Mungkin sebentar lagi." "Semalam dia menungguimu?" tanya Erwin ingin tahu. 179 "Ya. Dia tidur di sini. Tapi waktu itu kan sudah, pagi. Cuma beberapa jam." Kosmas tidak ikut bicara. Dia berwajah murung. Yasmin tidak enak melihatnya. "Bang Kos masih marah sama aku, ya?" "Ya. Aku harus mengakui itu. Kok orang muda seperti kau tidak mau menghargai hidup?" Yasmin tertegun. Demikian pula Delia. "Tapi ini kan hidupku sendiri, Bang. Mau apa dan bagaimana adalah hakku," kata Yasmin datar, agak jengkel karena sikap Kosmas. Bukankah ia sudah menyesal dan minta maaf? "Tentu saja itu milikmu. Bukan milik orang lain. Tapi dengan kejadian itu tidakkah terbuka matamu, bahwa sesungguhnya hidupmu masih punya arti? Masih ada orang yang peduli dengan susah payah menyelamatkan hidupmu. Ada orang yang berdoa dan berharap supaya kau bisa diselamatkan. Ada yang menangis kalau kau tidak selamat. Masa orang lain lebih menghargai hidupmu daripada kau sendiri? Kau memilih mati padahal kau tidak tahu apa yang menunggumu di alam sana! Apa kaupikir lebih enaki di sana daripada di sini? Kau tidak tahu apa-apa!" Lalu Kosmas terdiam mendadak. Ia menyadari ucapan itu sesungguhnya tidak tertuju kepada Yasmin, melainkan Delia! Rasanya ia sudah melakukan sesuatu yang jauh melebihi kemampuannya. Sekarang ia menyadari ketiga orang dalam ruangan menatapnya dengan heran dan surprise. Wajahnya memerah. Lalui ia menghambur ke luar. Delia menghela napas panjang. Ia benar-benar merasa terkena ucapan Kosmas. Bulu romanya sam pai merinding. Erwin tidak menyangka abangnya bisa bertingkah,

http://inzomnia.wapka.mobi

180 seperti itu. Ia tahu apa yang mendorong Kosmas. Pasti Delia. Yasmin tidak menyangka apa-apa. Ia menangis karena merasa tersentuh. "Dia marah, ya? Tapi dia benar kok. Dia benar," katanya sambil tersedu. Delia memeluknya. "Dia bersikap begitu karena simpati dan empatinya kepadamu. Dia tak ingin kau mengulanginya lagi." "Ya. Sampaikan terima kasihku pada Bang Kos. Bilang, jangan marah lagi. Aku kan udah nyesel." "Akan kusampaikan padanya, Yas. Tapi kau nggak perlu risau. Dia akan baik lagi," sahut Erwin. "Sekarang bagaimana rencanamu, Yas?" Delia mengalihkan. "Sudah bicara dengan suamimu?" "Ya, Kak. Aku akan memberinya kesempatan. Dia sudah janji. Gombal apa nggak bisa ketahuan nanti." Erwin merasa kecewa mendengarnya. Ia menatap Delia untuk memberinya isyarat. Ayolah, bujuk dia untuk tidak melakukannya. Tapi Delia tidak memandang Erwin. "Ya, tapi kau harus mantap dengan pendirianmu, Yas. Kalau dia tidak menepati janji, jangan biarkan dia kembali menguasaimu Kalau itu sampai terjadi, apakah sudah kupikirkan apa yang akan kaulakukan?" "Belum. Aku akan melihat situasi dulu." "Baiklah. Aku senang kau sudah punya keputusan. Mudah-mudahan semuanya berjalan dengan baik." Erwin merasa sebal hingga tidak tahan lagi. Tanpa berkata apa-apa ia pergi ke luar. "Wah, Bang Erwin juga marah padaku," keluh Yasmin. "Maklumi saja, Yas. Motel itu kan milik dia dan kosmas." "Oh, aku sungguh menyesal telah menyusahkan 181 mereka, Kak. Apa mereka percaya aku benar-benar menyesal?" "Mereka percaya, Yas. Sekarang mereka bersikap begini kepadamu supaya kau tidak melakukannya lagi. Apa pun yang nanti dilakukan suamimu, jangan ambil jalan keluar seperti itu lagi." "Nanti kita terus berhubungan ya, Kak? Aku pasti memerlukan saranmu lagi."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kalau kau perlu bantuan cepat, jangan ragu-ragu hubungi Motel Marlin. Bang Kos dan Erwin selalu siap membantumu," kata Delia dengan maksud supaya Yasmin tidak lagi terlalu bergantung kepadanya. Bukankah dirinya tidak mungkin lagi bisa membantu Yasmin di kemudian hari? "Tapi mereka lelaki, Kak. Malu kalau ngomong soal itu." "Maksudku kalau ada masalah di luar itu." "Kak, kau belum memberikan nomor teleponmu padaku. Kalau kau pulang ke Bandung nanti, ke mana harus kuhubungi?" Delia berpikir sejenak. Kemudian ia memberikan nomor telepon rumah kontrakannya. Nomor itu segera disimpan Yasmin dalam ponselnya. "HP-nya, Kak?" "Nggak punya, Yas." "Ah, masa pengusaha nggak punya HP?" "Bener. Tadinya punya, sekarang nggak." "Sayang sekali. Nanti beli lagi dong, Kak." "Ya. Nantilah. Makanya kalau nanti kau perlu bantuan cepat, hubungi Motel Marlin lebih dulu." "Tapi kepadaku mereka nggak bilang apa-apa. Malu dong, Kak." "Belum saja, Yas. Pada saatnya mereka akan mengatakannya nanti. Yang jelas mereka tulus. Re182 nungkanlah cara Kosmas memarahimu tadi. Dia seperti bapak yang memarahi anaknya. Padahal dia bisa saja tak peduli. Kenapa harus emosional?" "Mungkin juga dia berpikir akan kesusahan yang pasti dialaminya kalau aku sampai mati." "Im wajar dong, Yas. Oh ya, ada satu hal yang ingin kutanyakan. Apakah kau masih punya orangtua atau kerabat dekat?" "Mama sudah nggak ada. Papa masih ada, tapi dia kuanggap nggak ada " "Kenapa begitu?" Yasmin bercerita tanpa ragu. "Kalau aku mengadu kepadanya, pasti dia mengejekku, Kak. Bagaimanapun dia pasti kesal karena dimusuhi anak sendiri. Aku malu, Kak. Setelah merasakan susah baru ingat padanya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kau mendendam atau malu?" "Mungkin dua-duanya. Bagaimana kalau dia mengatakan, "Rasain balasannya!" Bukankah menyakitkan sekali? Sudah jatuh ketimpa tangga pula." "Aku tidak tahu ayahmu. Jadi sulit memberi pendapat. Tapi cobalah kaurenungkan lagi masa lalu ketika dia belum nyeleweng. Bagaimana hubunganmu dengan dia, bagaimana sikapnya kepadamu, dan segalanya yang berhubungan dengan dia. Apakah dia menyayangimu? Pernah menyayangimu? Kau juga? Memori itu pasti masih ada untuk dikenang. Jangan menilai dia dari sisi penyelewengannya karena yang itu adalah karakter dia sebagai lelaki, bukan sebagai ayah." Yasmin termangu. Ia merasakan kebenaran kata-kata Delia. Tapi bukan itu saja. Ia teringat peristiwa malam kemarin. Sebelum ia melaksanakan niatnya mengeksekusi diri sendiri, ia ingat pada ayahnya 183 dengan cara yang berbeda. Ia pun sempat minta maaf dan menyatakan bahwa ia memaafkan ayahnya. Delia mengamati Yasmin. Tampaknya Yasmin sudah mulai terpengaruh, pikirnya Bukankah menurut Erwin, ia pandai membujuk dan memengaruhi orang? Kesempatannya tinggal sedikit untuk melakukan hal itu. Ia harus memanfaatkan waktu yang ada. Yasmin harus segera mendapat pengganti dirinya sebagai pendukung karena ia bukanlah orang yang tepat untuk itu. Ia tidak bisa membantu Yasmin atau siapa pun, padahal Yasmin masih membutuhkan bantuan. "Cobalah bandingkan. Ayahmu dan suamimu," Delia melanjutkan. "Kau sudah disakiti jiwa dan raga oleh suamimu sampai kau ingin mengakhiri hidupmu. Tapi setelah suamimu menyatakan penyesalan dan minta maaf padamu, kau segera memaafkan dan memberinya kesempatan. Kenapa hal yang sama tidak bisa kauberikan pada ayahmu?" "Aduh, Kak. Kau telah membuka mataku dan hatiku. Terima kasih." Delia tersenyum bahagia. Ia memeluk Delia. Kalau ia sudah berhasil memberikan jalan keluar yang terbaik bagi Yasmin tanpa melibatkan dirinya, ia bisa mati dengan tenang!

http://inzomnia.wapka.mobi

Hendri masuk. Ia heran melihat Yasmin berpelukan dengan Delia. Kelihatannya akrab sekali. Keningnya berkerut. Ia merasa tidak nyaman karena ada orang lain yang mendapat tempat di hati Yasmin. Tentu Delia adalah penolong Yasmin. Wajar bila mereka menjadi akrab. Tapi dengan demikian ia jadi merasa tersisih. Apalagi ia yakin Delia sudah dijadikan tempat curhat oleh Yasmin. Tentu saja ia tidak memperlihatkan perasaannya. "Apa kabar, Kak Del?" tanya Hendri ramah. 184 "Oh, baik, Pak." "Panggil Hendri saja," kata Hendri, memperlihatkan senyumnya yang memikat dan giginya yang bagus. Dia memang lelaki yang tampan dan menarik, pikir Delia. Tak mengherankan Yasmin mencintainya. "Sebaiknya aku pamit saja, Yas." "Kok buru-buru sih, Kak?" kata Hendri. "Sudah lama aku di sini," sahut Delia lalu mencium pipi Yasmin. "Sampaikan salam dan maafku buat mereka berdua, Kak," kata Yasmin. "Tentu." Delia tahu, Kosmas dan Erwin takkan mau lagi masuk menemui Yasmin karena kehadiran Hendri. "Kulihat mereka ada di lobi," kata Hendri sebelum Delia keluar. Setelah Delia tidak kelihatan lagi, Hendri memeluk dan mencium pipi Yasmin. "Kau tambah segar dan cantik, Yas." Ia memuji. Yasmin tersipu. Ia merasa pujian itu tidak sepenuhnya benar. Bukankah baru beberapa hari yang lalu Hendri mengatainya sebagai tua prematur? Tapi ia menganggap itu sebagai usaha Hendri untuk mengambil hatinya. "Sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengan orang-orang motel itu," kata Hendri kemudian. "Kenapa?" "Biasanya mereka bukan orang baik-baik. Kepo-losanmu bisa dimanfaatkan." "Siapa sebenarnya orang yang baik dan tidak baik itu, Hen?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Hendri terdiam. Ia kesal, tapi menahan diri. "Mereka penolongku. Lupa?" tegas Yasmin. "Tentu saja tidak. Aku pun berterima kasih pada 185 mereka. Tapi pantas dong kalau aku juga memintamu bersikap waspada karena mereka adalah lelaki. Aku kan manusia juga yang punya rasa cemburu." "Baiklah. Tidak usah meributkan soal itu." "Aku punya usul, Yas. Setelah kau pulih nanti, kita akan ke dokter samasama, ya? Im lho, ahli yang pernah kausebutkan itu. Oke?" Wajah Yasmin memerah. Ajakan malah yang paling menyentuh dibanding puja-puji. Ia merasa bahagia. Saat itu ia benar-benar menyadari betapa tipisnya jarak kesedihan dan kebahagiaan, kematian dan kehidupan. Hendri tersenyum tipis. Ia tahu, kata-katanya mampu menyentuh. Ia optimis mampu memengaruhi. Yang penting baginya adalah menjaga perasaan dan tindakan. Sekarang Yasmin bukan lagi istrinya sematamata, tapi juga anak tunggal orang yang kaya raya. Tadi pagi, sepulangnya dari rumah sakit, ia menelepon Winata dulu. Ia memberitahu bahwa Yasmin berada di rumah sakit karena kecelakaan lalu lintas. Tapi kondisinya stabil. Ia juga tidak keberatan memberitahu nama rumah sakitnya karena yakin Winata tidak akan datang menjenguk. Seandainya Winata menyuruh Aryo atau siapa saja untuk mengecek, lelaki itu juga tidak akan mendapatkan informasi yang sebenarnya. Kondisi pasien bukanlah cerita yang gampang disampaikan kepada siapa saja. Hendri menjanjikan akan membujuk Yasmin bila kondisinya sudah pulih seratus persen. Pasti tidak sampai sebulan. "Apa yang kaupikirkan?" tanya Yasmin. "Kau." Yasmin merasa senang. 186 19

http://inzomnia.wapka.mobi

Wajah murung Delia saat perjalanan pulang dari rumah sakit menjadi perhatian kedua rekannya. Kemurungan Delia menimbulkan kekhawatiran dan keprihatinan. "Apa ada yang kaupikirkan?" tanya Kosmas. "Nggak ada. Mana berani mikir macam-macam kalau sedang mengemudi?" sahut Delia. "Aku saja yang nyetir, ya?" Erwin menawarkan. "Ah, nggak apa-apa. Aku baik-baik saja." "Lantas apa yang ada dalam pikiranmu?" Kosmas tak puas. "Tentu saja soal Yasmin." "Tadi kau bilang, soal itu sudah beres. Yasmin masih punya ayah dan mau berbaikan," Erwin mengingatkan. "Tapi belum, kan? Aku khawatir juga kalau-kalau si ayah nggak peduli. Maklum, dia sudah punya istri lagi." "Sudahlah. Kan ada kita yang menjadi temannya. Terutama kau," pancing Erwin. "Aku tak ingin dia bergantung padaku seorang. Cuma mengandalkan aku saja." "Kenapa?" "Im nggak baik. Kalau aku nggak ada, dia bisa kehilangan." 187 "Memangnya kau mau ke mana?" tanya Kosmas cepat. Delia tertegun. Ia merasa dicecar. "Aku kan orang Bandung," sahutnya. Lalu ia mengalihkan, "Bang Kos, tadi ucapanmu hebat deh." "Oh ya? Aku pikir malah konyol." "Nggak sangka kau bisa meledak begitu. Kau betul-betul perhatian sama Yasmin." "Sebenarnya aku berkata begitu bukan cuma untuk Yasmin seorang." Kosmas merasa kelepasan setelah mengatakannya. "Memangnya buat siapa lagi?" tanya Delia. Di belakang, Erwin merasa tegang. Apakah Kosmas akan mengungkapkannya sekarang di saat Delia sedang mengemudi?

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kami sudah berkali-kali mengalaminya. Bukan begitu, Win?" kata Kosmas. "Betul," sahut Erwin. "Jadi sekalian melampiaskan unek-unek?" tanya Delia. "Kira-kira begitu." "Seharusnya kau juga mau memahami motivasi orang bunuh diri, Bang. Bukan semata-mata karena tidak menghargai hidup." "Lalu apa, Del?" tanya Kosmas. "Kematian adalah bagian dari kehidupan juga. Semua orang sudah sepakat tentang hal itu." "Kalau itu memang benar, kematian itu merupakan bagian akhir. Sesudah itu selesai. Tak ada kehidupan lagi. Mana bisa dibilang jadi bagian dari kehidupan." "Bagian akhir itu tetap merupakan bagian, Bang," bantah Delia. Sekarang ia bersemangat. "Banyak orang takut mati. Itu bisa saja karena mereka sangat menikmati kehidupan hingga tak mau meninggalkan. 188 Tapi ada juga orang yang takut mati padahal hidupnya menderita. Kan lebih baik mati? Jadi sebenarnya bukan karena takut hidup, tapi takut mati. Karena itu orang yang melakukan bunuh diri patut dibilang berani." "Wah, kalau jalan pikiran seperti itu diikuti banyak orang, akan banyak masalah dan urusan yang terbengkalai," bantah Erwin. "Kenapa begitu?" tanya Delia. "Habis, semuanya memutuskan untuk bunuh diri saja daripada menyelesaikan persoalan. Susah dikit bunuh diri!" "Nggak segampang itu orang bunuh diri. Butuh keberanian, Win!" "Ah, mana bisa logika begitu dipakai? Kacaulah kehidupan ini. Yang penting, dalam menilai situasi dan kondisi adalah cara pandang!" bantah Kosmas. "Yasmin mendapat hikmah dari upaya bunuh dirinya. Kalau dia tidak melakukannya, mana mungkin si suami menyesal?" bantah Delia.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya. Dia mendapat hikmah karena ada yang menolong hingga berhasil hidup. Biarpun racun itu tidak diminum semuanya, kalau nggak cepat ditolong siapa yang tahu akibatnya? Nah, kalau dia mati, mana hikmahnya?" bantah Kosmas dengan semangat tinggi. "Mana bisa? Biarpun mati, tetap ada hikmahnya!" Delia tak mau kalah. Kali ini ia tidak berpikir mengenai Yasmin, melainkan dirinya. Kalau dia nanti mati, Rama akan gigit jari. Itulah hikmahnya! Ganjaran bagi orang yang mata duitan. "Apa hikmah buat yang sudah mati?" tanya Kosmas penasaran. Erwin mendengarkan saja dengan arah pandang berpindah-pindah, ke kiri dan ke kanan. Mula-mula 189 asyik, kemudian tidak tahan. Kedua orang itu sesungguhnya punya alasan sendiri-sendiri kenapa begitu ngotot mempertahankan pendirian masingmasing. "Sudah! Sudah!" seru Erwin sambil menggeser duduknya ke depan di antara Kosmas dan Delia. Lalu ia menepuk-nepuk pundak Kosmas. "Sabar, Bang. Nanti saja diskusinya diteruskan kalau sudah pulang." Kosmas menarik napas panjang. Delia tersenyum. Kosmas senang melihat senyum Delia. Sesungguhnya Delia menyukai perdebatan itu. Ia juga suka argumentasi yang disampaikan Kosmas. Begitu bersemangatnya Kosmas hingga terkesan punya perhatian besar mengenai masalah itu. Sampai-sampai terpikir Kosmas ingin mencegahnya bunuh diri padahal dia tidak tahu apa-apa! Setibanya di motel, Kosmas bertanya, "Bagaimana, Del? Mau istirahat dulu atau kita lanjutkan perbincangan tadi?" Nada suaranya menantang seperti mengajak duel! Delia terheran-heran. Tak menyangka. "Ayolah, Del," Erwin menyemangati. "Biar aku jadi moderator." Erwin tahu maksud Kosmas. Bila Delia masuk ke kamar, dia sulit dicegah. Tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukannya. Mereka berdua sudah tahu, jadi harus berupaya mencegah.

http://inzomnia.wapka.mobi

Delia bimbang sejenak. Ia sudah mengambil kepu-tusan tidak akan melaksanakan niatnya di Motel Marlin. Itu berarti pengunduran waktu. Jadi ia masih membutuhkan uang untuk keperluan hidupnya. Berarti uang yang masih tersisa tidak boleh dihabiskan. Hidup membutuhkan uang betapapun singkatnya. "Kau capek?" tanya Kosmas. "Atau mau keluar untuk urusan bisnis? Tapi ini sudah sore." 190 "Aku nggak mau ke mana-mana. Cuma aku juga nggak mau menghambat pekerjaan kalian. Masa meladeni aku berdebat?" "Kita bisa berbicara di kantor sambil meladeni tamu," Erwin mengusulkan. Delia memandang keduanya dengan heran. "Aku tak mengerti..." "Ayolah. Tadi pembicaraannya menyenangkan sekali," bujuk Kosmas. "Nanti sajalah sambil makan malam. Bukankah kalian mengundangku?" "Nanti ya nanti. Sekarang ya sekarang," desak Erwin. "Aku mau istirahat dulu. Capek," Delia mengajukan alasan yang tak bisa dicegah. "Sekarang belum lapar, Kak?" tanya Erwin. "Oh, belum." "Jadi kau mau tidur lagi?" tegas Kosmas, kecewa karena penolakan Delia "Barusan kan sudah tidur lama. Apa belum cukup?" "Kayaknya belum, Bang." "Baiklah." Kosmas sadar tak bisa memaksa. "Tapi jangan lama-lama tidurnya. Nanti kubangunkan, ya? Jam enam?" "Ah, aku bisa bangun sendiri. Punya beker kok." "Kalau jam enam belum keluar, kugedor pintunya, ya?" tegas Kosmas. Delia tertawa. Lalu ia bergegas kembali ke kamarnya. Setelah menutup pintu" dan menguncinya, ia menggerutu, "Dasar cerewet!" Tapi kemudian ia tertawa sendiri. Rasanya senang juga diberi perhatian seperti itu meskipun aneh dan kurang logis. Sudah lama ia tak memperoleh perhatian dari siapa pun. Paling-paling yang diterimanya cuma basa-basi. 191

http://inzomnia.wapka.mobi

Tatapannya tertuju ke peles obat di atas meja. Diraihnya lalu dikocokkocoknya perlahan. Crik-crik bunyinya. Benda yang akan dipakai sebagai jembatan menuju kematian. Pasti nyaman sekali bisa mati dalam tidur. Kenapa Yasmin sebodoh itu dengan memilih cara yang menyakitkan? Muncul pikiran menggoda. Kenapa tak dilaksanakan sekarang saja? Telan isi peles itu, lalu selesai. Memang masih ada pekerjaan yang belum selesai. Sumbangan belum didistribusikan semuanya. Mungkin Kosmas dan Erwin mau membantu mendistribusikan. Alamatnya sudah tertera di amplop. Mereka pun pasti akan memaafkannya Sudah cukup sering kejadian orang bunuh diri di sini. Jadi tambahan orang satu lagi bukan masalah besar. Ia harus maju karena tak mungkin mundur. Bukankah ia sudah tidak punya apa-apa lagi? Orang yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi sebaiknya melenyapkan diri supaya tidak membuat sesak bumi ini. Beri tempat bagi orang lain. Apalagi ia sudah berpikir dan merencanakan semuanya dengan matang. Ia tidak melakukannya dengan mendadak. Setiap orang seperti Kosmas dan Erwin tentu punya pendapat lain karena mereka berada di sisi yang berbeda. Debat memang bisa seru kalau sudut pandang berbeda. Biarpun tergoda oleh pikiran itu, Delia tak kunjung membuka pelesnya. Ah, janjinya dengan Kosmas jadi ganjalan. Ia pun harus memperhitungkan waktunya. Ia harus realistis. Seandainya ia menelannya sekarang, berapa lama kerjanya? Apakah jam enam ia sudah mati? Jam enam pintunya akan digedor kalau ia tidak keluar. Bila ia salah perkiraan, nasibnya akan sama seperti Yasmin. Cuma setengah mati dan dira192 wat di rumah sakit. Kemudian jadi tertawaan dan cemoohan orang. Untuk kesekian kalinya ia kembali memutuskan untuk tidak melakukannya di situ. Tempat ini sudah membuat gerah. Kosmas dan Erwin tidak bisa disalahkan. Mereka berhak melindungi tempat ini dari gangguan para pencabut nyawa sendiri!

http://inzomnia.wapka.mobi

Delia merebahkan diri sambil meletakkan peles obatnya kembali ke atas meja. Tapi dudukannya tidak pas hingga peles itu menggelinding terus jatuh ke lantai, lalu menggelinding ke kolong tempat tidur. Ia membiarkan saja. Terlalu malas untuk mengambilnya. Nanti saja. Kantuk datang. Sebelum terlelap sempat terbayang wajah Kosmas yang sangar tapi penuh perhatian. Ada keprihatinan mendalam di wajahnya. Ah, kenapa? Delia tertidur. Tapi dalam tidurnya ia memimpikan Ratna! *** Kosmas dan Erwin memanfaatkan waktu untuk berunding bagaimana menghadapi Delia dalam pertemuan nanti. "Aku takut dia tidak keluar lagi," kata Kosmas cemas. "Kalau sekarang dia menelan obatnya, pasti sudah terlambat nanti. Tapi masa sih kita membangunkannya sekarang?" Erwin pun bingung. "Barangkali kita salah, Bang," keluhnya. "Salah gimana?" Kosmas bertambah cemas. "Mestinya kita tidak membiarkan dia masuk kamar." "Hah? Habis dia mesti diapain? Kita kan nggak bisa melarang!" 193 "Mestinya kita buka kartu aja, Bang. Terus terang kepadanya bahwa kita sudah tahu apa yang mau dia lakukan. Terserah dia mau marah atau apa. Lalu kita sita pilnya. Kita ajak diskusi, tanya masalahnya apa dan bagaimana kita bisa membantunya." Kosmas menepuk kepalanya sendiri. "Waduh! Kenapa kau baru ngomong sekarang? Kenapa nggak dari tadi?" Erwin pun menyesal. "Habis baru sekarang kepikir. Tadi kok nggak ya? Rasanya segan bicara begitu pada orang yang kelihatan tidak punya masalah. Dia juga kelihatan ceria." "Iya. Aku juga sama. Aku ingin meyakinkannya lewat cara lain. Berat rasanya memberitahu terus terang bahwa diam-diam isi lacinya sudah kuintip. Juga lemarinya. Dia pasti marah, ya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Pasti. Harga dirinya akan tersinggung. Lalu tanpa ba bi-bu dia segera angkat kaki dari sini. Kalau sudah begitu habislah. Tak ada" kesempatan lagi." Kosmas tertegun. Ngeri membayangkannya. Ia melihat jam. Baru lewat setengah jam. Tapi rasanya sudah lama sekali. Keringat dingin sudah membasahi bajunya. Ia ingin sekali menangis karena cemas dan putus asa. "Habis gimana ya, Win?" ia merengek. "Seumur hidup aku belum pernah kayak gini." Erwin menatap abangnya penuh selidik. "Kau jatuh cinta kepadanya ya, Bang? Awal dari cinta adalah perhatian." "Ah, tak ada gunanya mempersoalkan itu. Yang penting bagaimana cara menyelamatkan nyawanya." "Susah, Bang. Soalnya orang yang mau kita selamatkan itu tak ingin diselamatkan!" 194 BAB 20 Ratna cukup menyadari bahwa waktu yang lewat sejak ia memberi instruksi kepada anak-anaknya baru hitungan hari. Tapi ketiadaan berita atau perkembangan membuat ia geram. Ia gampang marah-marah tanpa alasan. Anak, menantu, dan cucu menjadi sasaran. Tapi ia tetap baik kepada Ipah, pembantunya Hal itulah yang membuat Ipah bisa bertahan di situ. Gaji lumayan, makan cukup, dan pekerjaan ringan, adalah faktor lain di samping perlakuan baik yang membuat betah seorang pembantu rumah tangga. "Sudah dapat detektifnya?" tanya Rama kepada Rama. "Sudah, Ma. Dia sudah mulai kerja," sahut Rama, mengikuti kesepakatan saudara-saudaranya. Padahal sesungguhnya tak ada detektif yang mereka sewa. Mereka juga tak berupaya mencari detektif. Bagi mereka, sudah jelas kesia-siaan upaya semacam itu. Apa yang mau dilakukan setelah Delia. ditemukan? Mereka tidak berwenang untuk

http://inzomnia.wapka.mobi

menangkapnya. Delia adalah orang bebas yang berhak pergi ke mana pun dia suka. "Apa yang dilakukan detektif itu?" tanya Ratna. "Dia menanyai orang-orang yang diperkirakan mengenal Del." "Huh, itu sih cara yang lelet. Kapan ketemunya, kalau gitu." 195 Tiba-tiba Boy, putra Rama, nyeletuk, "Mestinya sih nyarinya nggak pakai orang, tapi anjing herder!" "Apa?" Ratna melotot. Cepat-cepat Maya mengusir Boy pergi. Ia takut anaknya kena kutuk. "Sabar saja, Ma. Sabar," bujuk Rama. Ia juga ngeri. Dalam keadaan marah, biasanya mulut Rama menjadi jahat. Lidahnya akan kehilangan kendali. Percaya atau tidak percaya, kenyataan yang dialami Delia sekeluarga sudah jelas. ""Huh, sabar! Sabaaar...!" Ratna mengomel. Mulutnya dimonyongkan. Matanya yang kecil bergerak-gerak. Hidungnya kembang-kempis. Bagi yang tidak mengenalnya pasti akan menganggap penampilannya itu lucu. Seperti nenek-nenek yang kembali bertingkah seperti anak kecil. Proses biasa dari perubahan perilaku orang ma. Tetapi bagi orang-orang yang mengenal Rama, khususnya anggota keluarga, itu adalah ekspresi yang mengerikan. Maka menghadapi kemarahan Rama yang paling aman adalah diam dan menerima hardikan apa pun dengan lapang dada. Tak menyahut apalagi membantah. Menatap langsung pun tak berani. Hanya menunduk saja. Menghadapi sikap seperti itu Ratna tak lagi punya alasan untuk menyumpah dan mengutuk. Kali ini Rama sudah kehilangan kesabarannya. "Ambilin menyan sama wadah arangnya, Pah! Arangnya dibakar ya," ia memerintahkan. Bi Ipah selalu melaksanakan perintah tanpa bertanya untuk apa dan kenapa. Ia hanya bertanya kalau perintahnya tak jelas. Setelah mendapat apa yang diinginkannya, Ratna masuk ke kamar. Ia duduk bersila di lantai. Wadah kemenyan ia letakkan di depannya. Di atas bara

http://inzomnia.wapka.mobi

196 arang ia tebarkan kemenyan. Segera asap berbau kemenyan merambah ke segala sudut lalu keluar lewat lubang angin dan sela pintu terus ke ruangan lain. Mulut Ratna komat-kamit. *** "Aduh, Pa. Mama lagi bakar menyan," lapor Maya kepada suaminya. "Ya. Aku juga menciumnya." "Biasanya kan dia nggak pakai bakar menyan segala, ya? Kenapa sekarang pakai itu?" tanya Maya dengan ekspresi cemas. "Entahlah. Artinya dia serius." "Mau mengutuk siapa? Aduh, Pa, takuuut...," suara Maya meninggi. "Tenang, Ma. Kita mah nggak usah takut. Dia kan tinggal sama kita. Masa tega mengutuk kita?" "Habis siapa? Delia?" "Siapa lagi? Tadi kan marahnya sama Del." "Kasihan ya. Mau diapain si Del itu?" "Kita berharap yang baik saja." "Yang baik? Cara itu kan nggak baik?" suara Maya lebih meninggi lagi. "Ssst..., Maaa..., jangan keras-keras. Biarkan saja dia berlagak seperti dukun." "Dia bukannya berlagak, Pa. Dia benar-benar dukun jahat!" Dengan khawatir Rama memeluk istrinya. Ia merasakan mbuh Maya gemetar. Baru disadarinya bahwa Maya benar-benar ketakutan. Ia memeluk lebih keras sambil menepuk-nepuk punggung Maya. "Tenanglah, Ma. Demi keluarga kita, tenanglah. Sabar." 197 Maya menangis tertahan. Rama terus menepuk-nepuknya untuk menenangkan. Akhirnya sedu sedan Maya berhenti. "Cuek saja, Ma. Cuek, ya. Jangan diambil hati. Jangan anggap serius," bisiknya di telinga Maya. "Maunya sih begitu, Pa. Tapi lama-lama berat juga rasanya." "Tentu. Aku mengerti. Tapi berusahalah, Ma. Demi kita semua. Ingat anak-anak."

http://inzomnia.wapka.mobi

Kata-kata itu bisa lebih menenangkan Maya. "Dulu dia nggak pakai menyan. Berarti ada peningkatan," keluh Maya. "Kita harus beradaptasi juga, Ma. Pokoknya kita kan nggak ikut-ikutan. Dosanya adalah tanggungannya sendiri." "Aku sering bergidik kalau ada di dekatnya. Dili-hatin aja udah merinding." "Tapi kita nggak boleh larut dalam ketakutan, Ma. Bisa ambruk nanti. Makanya supaya bisa survive, kita harus berupaya sesuai kemampuan kita. Karena nggak bisa melawan, maka kita menghindar saja. Jadi bersabarlah." Maya senang akan perlakuan Rama yang sabar dan perhatian. Ia berjanji untuk memenuhi permintaan Rama. Tapi dalam hati ia berkata dengan gemas, "Semoga nenek itu cepat mati!" *** Di kamar Ratna yang luas, asap menyan sudah memenuhi kamar hingga memutih seperti kabut. Tapi Ratna tidak memedulikan. Ia berkonsentrasi sepenuhnya. Sesekali ia menaburkan kemenyan di atas bara arang. Asapnya tidak putus-putus. 198 "Tuan! Tuan!" ia memanggil. Tatapannya ke arah depan. Ia memang tidak berharap bisa melihat sesuatu. Dulu pun ia tidak melihat apa-apa. Ia cuma mendengar suaranya. Sudah berkali-kali ia memanggil, tapi tak ada sahutan. Ia hampir putus asa. "Tuan! Tempo hari kau janji untuk datang lagi! Mana? Sudah lupa sama aku atau asyik sama orang lain?" Ia merasa sudah cukup lama menunggu janji sang Tuan. Ia tidak punya kesabaran untuk membiarkannya datang sendiri. Kapan mau datang kalau ia sudah membutuhkannya sekarang? Ia membutuhkan banyak hal. Salah satunya adalah Delia! Ia tidak ingin jadi orang yang cuma pintar menyumpah dan mengutuk. Ia ingin lebih. Dulu ia mengutuk suaminya yang sakit-sakitan serta menghabiskan harta dan perhiasannya agar cepat mati saja. Ternyata

http://inzomnia.wapka.mobi

kemudian suaminya benar-benar meninggal. Tapi saat itu ia tidak pernah berpikir bahwa kematian itu adalah akibat dari kutukannya. Bila orang sakit parah, suatu saat pasti akan meninggal juga. Sesudah itu ia mengutuk Adam dan Agus yang dianggapnya kurang ajar. Keduanya pun meninggal meskipun oleh sebab yang berbeda dan saat yang berbeda juga. Tapi kejadian berturutan itu tidak membuatnya yakin bahwa lidahnya memang bertuah. Im tentu kebetulan belaka. Baru belakangan ini saja ia merasa memiliki kemampuan yang lebih dari biasanya. Instingnya lebih kuat. Sepertinya ia punya indra keenam. Fisiknya pun begim. Tapi bukan cuma itu yang diinginkannya. Ia ingin lebih. "Ke mana kau, Tuan yang kupuja? Ketahuilah, 199 hanya engkau satu-satunya yang bisa memenuhi keinginan-keinginanku!" Tiba-tiba terdengar suara tawa yang sudah dikenalnya. Biarpun begitu ia terkejut karena bunyi itu menggiriskan perasaan. Ia jatuh terjengkang dengan kedua kakinya masih menekuk! "Ha-ha-ha! Jadi kau memujaku?" Ratna cepat bangun dengan susah payah. Kakinya terasa kaku. Ia kembali ke posisi bersila. "Ya, Tuan! Betul, Tuan! Aku memujamu!" "Kalau begitu, kau bersedia menjadi hambaku?" "Ya." "Dan kalau kau mati, nyawamu menjadi milikku?" "Ya." "Sudah kaupikirkan? Aku memberimu waktu cukup banyak untuk berpikir." "Sudah, Tuan." "Baiklah. Bagus kalau begitu. Artinya kau memutuskan tanpa paksaan." "Ya, Tuan." Suara tawa itu kedengaran lagi. Senang dan puas. Menggiriskan dan membangkitkan bulu roma. Tapi kali ini Ratna bergeming. Ia tidak kaget lagi atau merasa ngeri. Sebaliknya ia duduk dengan leher tegak. Ia merasakan sensasi mengaliri darahnya. Wajahnya menampakkan keinginan-keinginan dan dambaan

http://inzomnia.wapka.mobi

yang membuatnya tampak ganas dan energik oleh semangat keserakahan. Pelan tapi pasti wajahnya memperlihatkan perubahan. Keriput menghilang, tinggal garis-garis tipis. Pipinya mengencang, gelambir di dagu lenyap. Dan rambutnya yang putih berubah hitam! Ia tidak tahu apa yang terjadi pada wajahnya. Ia hanya merasakan kelainan. Tapi ia tidak berani beralih 200 dari duduknya untuk mengecek di cermin. Ia khawatir sang Tuan keburu pergi. Ia tidak akan tahu kalau hal itu terjadi. "Tuan! Tuan! Aku ingin..." "Aku tahu apa yang kauinginkan!" gelegar suara sang Tuan memutus perkataannya. Sesudah itu sepi. Ratna tahu sang Tuan sudah pergi. Ia segera melompat bangun dengan enteng, lalu berlari ke cermin besar yang melekat di depan lemari pakaiannya. Di sana ia berteriak penuh kejutan. Betulkah itu dirinya yang sudah berusia tujuh puluh tahun? Itu memang dirinya, tapi dengan usia puluhan tahun lebih muda! Ia tak bosannya mengamati cermin. Ia ingat dirinya saat itu. Masih tergolong muda tapi memiliki suami yang tak punya kemampuan lagi untuk memuaskan libidonya. Cepat-cepat ia membuka dasternya. Beha dan celana dalamnya yang melorot ia buka juga. Kini ia bugil! Untuk kedua kalinya ia terpesona. Itu adalah tubuhnya di masa lalu. Tubuhnya indah. Padat dan kencang. Tak ada selulit. Pikirannya kembali melayang ke masa itu. Tubuhnya itu pernah mendambakan cinta tapi tak bisa diperolehnya. Untuk menyeleweng ia tak bisa karena tak punya keberanian. Maka pelan-pelan seiring waktu yang berjalan, tubuh padat dan kencang itu berangsur-angsur menjadi peot, lembek, dan bergelayut! Proses menua itu terjadi dalam kesibukannya mengurus suami yang sakit-sakitan dan tujuh orang anak! Setelah bebas dari kesibukan itu, tahu-tahu ia melihat dirinya sudah renta. Masa yang sudah lewat tak bisa diraih kembali. Ia harus menerima apa yang ada dengan amarah!

http://inzomnia.wapka.mobi

Tetapi sekarang mimpinya menjadi kenyataan. 201 Ipah duduk di lantai depan kamar Rama, tak jauh dari pintu. Tidak dekat-dekat karena takut nanti disangka menguping. Ia mendengar suara-suara. Tapi serba tak jelas. Ia mengira Ratna bicara sendiri dengan suara yang berubah-ubah. Ia takut majikannya itu sudah menjadi gila. Karena merasa berkewajiban, maka ia tetap di situ menunggui kalau-kalau Ratna perlu bantuan. Maya sesekali melongok dari jauh. Cukup lama Rama di dalam kamar. Ia yakin Rama tidak sedang tidur karena asap kemenyan menandakan ada kegiatan di dalam kamar. Ia melihat Ipah masih duduk di depan kamar. Ia tak berani mendekat karena takut bila pada saat yang sama tiba-tiba Ratna keluar. Maka ia cuma memberi isyarat bertanya dengan tangannya kepada Ipah. Tapi Ipah menggelengkan kepala dan tangannya. Tanda tidak tahu. Lalu pintu terbuka. "Pah!" terdengar panggilan Rama. "Nih, bawa ke belakang!" Ipah berdiri lalu mendekat. Ia menerima wadah kemenyan yang disodorkan Rama kepadanya tanpa memandang wajah Ratna seperti sikapnya yang biasa. Tapi ia merasakan adanya kelainan. Ia memandang Rama, lalu tatapannya menjadi lekat untuk sesaat. Wajahnya penuh dengan kejutan luar biasa. Ia membuka mulut. "A-a-aaa... u-u-uuu...," suaranya keluar dengan susah. Lalu mulurnya membuka lebih lebar, kerongkongannya bergetar. Lalu keluarlah jeritannya yang melengking! Sesudah itu ia jatuh pingsan! Wadah 202 kemenyan lepas dari tangannya, jatuh dan pecah berantakan! Arangnya berhamburan ke mana-mana. Rama tertawa geli melihat kejadian itu. Ia membiarkan saja dan menganggapnya sebagai tontonan menarik. Sengaja ia menarik diri lebih ke pinggir supaya tidak tampak dari ruang dalam. Ia menunggu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Maya datang dengan tergopoh-gopoh diikuti Rama. Mereka berhenti mendadak setelah melihat Rama. Pandang mereka membelalak, terkejut dan tidak percaya. "Ma...ma?" gagap Maya, diikuti seruan Rama. Rama tersenyum lebar dan memperlihatkan barisan giginya yang utuh, padahal semula ada beberapa yang tanggal! Maya menjerit lalu jatuh pingsan! Hanya Rama yang masih berdiri tegak. Kaku sejenak. Ia memelototi ibunya. Meskipun terkejut luar biasa, ia masih bisa mengendalikan diri. Tiba-tiba ia merasa kembali ke masa lalu. Ketika itu ia masih pelajar SMU. Kira-kira seperti itulah penampilan ibunya yang sekarang dilihatnya. Tapi sekarang ia bukan lagi pelajar SMU. Ia seorang bapak dua anak, berusia empat puluhan! Yang kembali ke masa lalu bukanlah dirinya, melainkan ibunya! Rama segera tersadar melihat Maya terkulai di lantai. Ia harus menolong istrinya. Rama tertawa sejadi-jadinya. Aduh, senang sekali! 203 BAB 21 Delia terbangun dengan kaget. Ia langsung duduk dengan wajah pucat. Keringat dinginnya bercucuran. Jantungnya berdebar kencang. Tubuhnya gemetaran. Barusan ia memimpikan Ratna! Tetapi berbeda dari biasanya, mimpinya barusan terasa begitu riil. Sepertinya ia berhadapan langsung dengan Ratna. Jadi sekarang setelah sadar, ia memandang berkeliling kalau-kalau Ratna berada di kamarnya. Setelah yakin itu memang hanya mimpi, ia kembali menjatuhkan diri di kasur. Di dalam mimpinya ia melihat Ratna menatap marah kepadanya sambil mengulurkan kedua tangan dengan telapak tangan ke atas. "Berikan padaku!" teriaknya. Wajahnya mengerikan karena selain ekspresi kemarahan, di atas kepalanya mencuat sepasang tanduk kecil! Matanya menyala seperti memancarkan api! Delia tahu apa yang diminta Ratna. Masih tetap sama. Tetapi baginya, memberikan itu berarti menyerah. Dan menyerah berarti membiarkan diri dikuasai.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak!" sahutnya tegas. "Oh, tidak?" tegas Ratna. "Pelit amat sih kau! Daripada kauhamburkan buat orang lain kan lebih baik buat aku saja! Dasar jahat!" "Aku berhak memberikan milikku kepada siapa saja!" 204 "Oh ya? Dasar busuk! Kalau begitu, kau nggak bakal mati dengan tenang! Pikirmu aku nggak tahu ya? Kau nggak bisa mati sebelum memberikan apa yang jadi hakku!" "Kalau aku mati, baru Mama boleh ambil karena sudah jadi hak Mama!" "Huh! Bukankah kau punya rencana mati tanpa meninggalkan apa-apa? Buat apa mayatmu bagiku?" Lalu wajah Ratna yang mengerikan itu mendekat kepadanya. Semakin lama semakin dekat hingga ia merasa akan dimakan olehnya. Delia ketakutan, tak bisa bergerak. Baru kemudian ia merasa "terlempar" kembali ke dunia nyata. Setelah merasa lebih tenang, ia kembali memikirkan mimpi itu. Meskipun merasa aneh, ia sadar itu bukan sembarang mimpi. Sesungguhnya ia masih merasa takut kepada Ratna. Ia melawan dalam ketakutan dan ketidakberdayaan. Sekarang muncul kecemasan lain. Bisakah Ratna mencegah ia mati? Punya kemampuankah dia melakukannya? Bila Rama benar mampu, apakah itu berarti ia tidak bisa mengatur diri sendiri? Padahal ia percaya setiap orang berhak mati kapan saja ia mau karena ia memiliki dirinya sendiri. Tubuh Delia terasa lemas. Pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab itu melelahkan otaknya. Ia tak bisa berpikir lagi. Otot-otot di tubuhnya ingin beristirahat. Maka ia pun diam dalam kekosongan dan keheningan. Dalam keadaan itu ia bisa merasakan dengan jelas denyut jantungnya dan gerak aliran darah ke sekujur tubuhnya. Kemudian perutnya berbunyi dengan irama teratur, bukan karena adanya gas, tapi karena kerja mesin pencernaan makanan. Di dalam tubuhnya sedang berlangsung proses rutin 205

http://inzomnia.wapka.mobi

pertanda kehidupan. Semua organ aktif bekerja untuk menunjang kehidupan. Kalau berhenti berarti mati. Dalam diamnya ia menikmati gemuruh kerja organ-organ tubuhnya itu. Ia membayangkan suatu saat semua itu akan berhenti bekerja. Bermacam sebabnya. Salah satunya adalah pemaksaan atau bunuh diri! Tiba-tiba muncul rasa sayang. Ada rasa bersalah kalau ia sampai mencederai dan menghancurkannya. Matanya menjadi basah. Lalu perlahan-lahan ototnya kembali bergerak. Kaki dan tangannya meregang. Tubuhnya bergeser untuk menyamankan posisi. Otaknya siap bekerja lagi. Ada ajakan, "Ayo kita berpikir lagi!" Apa yang harus dilakukannya sekarang setelah menyadari kekuatan Ratna? Mimpi tadi itu adalah show of force! Jelas ia tidak bisa lagi berpegang pada keyakinan sebelumnya bahwa Ratna hanya perempuan tua yang berlidah tajam. Dari mana kekuatan yang dimilikinya itu? Selama ini Delia meyakini bahwa kekuatan yang bertujuan jahat pasti dikendalikan oleh iblis. Sementara kebalikannya, yaitu yang baik, dimiliki atau berada di pihak Yang Mahakuasa. Ia memang tidak pernah berpaling kepada yang jahat karena memercayai hati nuraninya. Tapi ia pun tidak berpaling kepada-Nya. Hal itu terjadi sejak kemalangan menimpanya berturut-turut. Ia menganggap dirinya sudah dilupakan dan ditinggalkan oleh-Nya. Jadi buat apa lagi memohon dan berdoa? Ia percaya, sekarang ini hanya Dia yang bisa menolongnya. Tapi ia merasa malu untuk kembali memohon setelah menganggapnya sebagai kesia-siaan belaka. 206 Ternyata ingatan kepada-Nya saja mampu memberinya ketenangan. Tanpa terasa ia kembali tertidur! Sambil menunggu tibanya jam enam, kedua bersaudara terus berbincang mencari jalan keluar bagi Delia. "Kalau kita sudah terbuka kepadanya, sebaiknya kita ajak dia ke psikiater," Kosmas mengusulkan.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kukira, orang seperti Delia nggak butuh nasihat, Bang. Dia butuh sesuatu yang nyata," sahut Erwin. "Masalahnya seperti apa saja kita nggak tahu," Kosmas berkata dengan lesu. "Ya. Kita harus menunggu dulu. Dalam hal ini kita harus bertindak selangkah demi selangkah. Lihat reaksinya untuk menentukan reaksi kita." "Jadi sebaiknya kita tunggu saja. Biarpun menunggu itu meresahkan." "Bicara topik lain saja, Bang." "Apa?" "Aku mau curhat, Bang. Begini. Aku punya perasaan khusus terhadap Yasmin." "Sudah kuduga." "Tapi kenapa aku mesti jatuh cinta pada istri orang sementara dia sendiri kelihatannya tidak peduli padaku?" keluh Erwin. "Jangan putus asa dulu, Win. Sekarang dia memang istri orang, tapi besok-besok kan belum tentu. Kau harus bersabar. Suaminya itu gombal. Lihat saja. Yasmin akan menderita lagi." "Kelihatannya dia mencintai suaminya. Cinta membuat dia percaya, betapapun gombalnya omongan si suami. Kenapa yang mendapatkan cinta dari orang yang kucintai justru tidak bisa menghargai?" 207 Kosmas menepuk pundak Erwin. "Jangan pesimis, Win. Hidup ini nggak kelihatan ujungnya. Kita nggak tahu apa yang ada di sana." "Aku juga takut dia akan mengulangi perbuatannya kalau ternyata si suami kembali berbuat jahat kepadanya." "Kita senasib lagi, Win. Sama-sama jatuh cinta pada perempuan putus asa." "Sama tapi tak serupa. Kau lebih beruntung, Bang. Delia bukan istri orang." "Sekarang Yasmin memang istri orang Tapi besok belum tentu, Win." Erwin tertawa. "Jangan-jangan kita senasib juga. Bertepuk sebelah tangan!"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Eh, hampir jam enam tuh. Kau mandi dulu, gantian." Kosmas menepuk pundak adiknya. Sambil menunggu Erwin selesai mandi dan menggantikannya, Kosmas mondar-mandir di depan kantor dan menatap ke arah kamar 14, berharap Delia keluar dari sana. Tamu-tamu bermunculan keluar-masuk, tapi bukan Delia. Usai mandi kembali Kosmas mondar-mandir. "Bang! Duduklah di sini," panggil Erwin. "Sudah lewat sepuluh menit, Win!" Kosmas menunjuk arlojinya. "Tunggulah barang sebentar lagi." "Aku akan menjemputnya." Sebelum Erwin sempat berbicara, Kosmas sudah bergegas pergi. Spontan Erwin mau mengikuti, tapi kemudian ia teringat untuk memanggil Adi dulu supaya ada yang menggantikan. Erwin khawatir Kosmas akan bertindak emosional. Kosmas mengetuk pintu kamar 14. "Del! Del!" ia memanggil. Mula-mula pelan, kemu208 dian keras. Lalu ia menyadari, ada gorden terkuak di kamar sebelah. Nanti bukan cuma gorden terkuak, melainkan penghuninya yang keluar. Satu keluar lainnya keluar juga. Bisa terjadi kehebohan. Apalagi dia pemilik motel. Ia menghentikan ketukan dan panggilannya. Tapi semakin resah. Kenapa Delia tidak menyahut atau membuka pintu? Erwin datang, Ia membawa kunci cadangan. "Gimana, Bang? Kita buka saja atau mencoba lagi menggedor pintunya hingga orang-orang pada heboh?" "Buka saja! Tapi tengok dulu kiri-kanan." Setelah memastikan lorong sepi dan gorden di kamar sebelah tertutup rapat, Erwin membuka pintu kamar dengan cara yang sudah dilakukannya sebelumnya. Risikonya besar. Kalau Delia sedang tidur, wanita itu bisa marah besar atas kelancangan mereka. Tapi risiko itu harus ditempuh.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kosmas dan Erwin menerobos masuk. Tubuh mereka bertabrakan di ambang pintu karena mau masuk berbarengan. Mereka melihat Delia berbaring diam. Kosmas cepat mendekati. Erwin masih ingat untuk menutup pintu kembali. Jangan sampai ada orang tak berkepentingan ikut masuk. Delia tampak begitu diam. Ia tidak terbangun atau terusik meskipun kedua orang yang lancang itu membuat suara-suara yang cukup berisik. Tapi dadanya yang naik-turun menandakan ia masih hidup. Kosmas merasa lega sampai kemudian matanya tertuju ke meja di samping tempat tidur. Ia terkejut sekali. Peles berisi pil yang semula ada di situ sudah tak ada. 209 "Win! Lihat! Nggak ada!" ia berseru sambil menunjuk. Erwin ikut kaget. Ia dan Kosmas menghambur ke sisi Delia. Satu di sebelah kiri, satu di kanan. "Bangun, Del! Bangun! Ayo bangun!" keduanya berseru. Dengan nekat Kosmas mengguncang-guncang lengan Delia. Tapi ia masih ingat untuk melakukannya dengan hati-hati. Biarpun cemas, masih ada harapan. Sebenarnya Delia sedang tidur. Tapi tidur yang dijalaninya ini berbeda dari biasa. Begitu nyenyaknya hingga seolah berada di dunia lain. Hampir seperti koma. Pancaindranya tumpul, hampir tak berfungsi. Dalam keadaan demikian tentu saja ia sulit dibangunkan. Optimisme Kosmas luruh. Ia menjadi panik. Guncangannya di lengan Delia makin keras. Panggilannya pun terus bersahut-sahutan dengan Erwin. "Bangun, Del! Bangun! Jangan mati! Jangan!" Akhirnya guncangan Kosmas yang keras berhasil membangunkan Delia. Delia membuka mata, menyipit pada mulanya. Masih bingung. Belum sempat sadar sepenuhnya, tubuhnya sudah ditarik Kosmas hingga terduduk. Sesudah itu dengan dibantu Erwin, Kosmas menurunkannya dari tempat tidur. Kedua orang itu menopang tubuh Delia, satu di kiri satu di kanan. Mereka memaksa Delia berjalan!

http://inzomnia.wapka.mobi

Mata Delia terbuka semakin lebar. Kesadarannya kembali. Setelah heran dan bingung, ia berontak dari pegangan. Tapi Kosmas dan Erwin semakin kuat memegangnya sambil menyeretnya terus berjalan keliling kamar. Delia tak mampu mengatasi tenaga dua lelaki. "Del! Kau nggak boleh mati, tahu? Kenapa senekat 210 itu sih?" Kosmas memarahi. "Aduh, Del! Jangan begitu dong!" Ucapan itu membuat Delia bertambah bingung. Apakah tadi ia benarbenar menelan pilnya lalu keburu ditolong Kosmas dan Erwin sebelum sempat mati? "A-a-ada a-a-apa?" Delia setengah memaksa mulutnya untuk berbicara. Lidahnya terasa kelu. Gila benar, pikirnya. Bahkan aku tidak ingat apa yang barusan kulakukan. Siapa sebenarnya yang gila? Dirinya atau kedua orang ini? Ia merasa lega karena Kosmas dan Erwin tidak lagi menyeretnya. Jalanjalan sudah berhenti. "Nah, dia sudah bisa ngomong, Win! Sekarang kita bawa dia ke rumah sakit!" kata Kosmas. "Hah? Ke-kenapa?" Delia bicara lebih keras. Nadanya menuntut. Kosmas bertukar pandang dengan Erwin. "Perutmu harus dipompa, Del! Aturannya gitu, kan? Ayolah cepat!" Delia menepis pegangan di kiri dan kanannya. Ia berhasil. Lalu ia berkacak pinggang dengan ekspresi galak. "Memangnya perutku kenapa?" tanyanya lancar. Sekarang giliran Kosmas dan Erwin yang bingung. Apakah mereka melakukan kesalahan? Delia terhuyung. Ekspresi galaknya hilang. Ia merasa pusing karena jalan berputar-putar tadi. Dengan sigap Kosmas dan Erwin memegangnya, tapi. kembali Delia menepis kiri-kanan. Kosmas dan Erwin melepas pegangan. Buru-buru Delia duduk di tepi tempat tidur. "Bagaimana perasaanmu, Del? Sudah enakan? Apa benar nggak perlu ke rumah sakit?" tanya Kosmas. "Memangnya ada-apa sih? Kalian ini kenapa?"

http://inzomnia.wapka.mobi

211 "Obat di situ ke mana?" tanya Kosmas, menunjuk meja. "Obat?" ulang Delia. Ia pun memandang ke sana. Keningnya berkerut. Ya, ke mana peles obat itu? "Kauminum, ya?" tanya Kosmas. Delia menggeleng. Kemudian teringat. "Masuk ke kolong," katanya, menunjuk ke bawah. Erwin membungkuk ke arah kolong tempat tidur. "Oh ya, ini dia." Ia meraih peles obat itu, menunjukkannya kepada Kosmas, lalu mengamati peles itu. "Masih penuh," katanya. Kemudian ia memasukkannya ke dalam saku celananya. "Hei, itu milikku!" seru Delia. "Kenapa kauambil?" Kosmas merasa lega bukan main. Jadi Delia belum meminumnya. Tapi ia tidak menyesal telah berlaku lancang. Kalau tidak melakukannya, ia akan merasa bersalah bila ternyata benar-benar terjadi sesuatu pada Delia. Kemudian ia menjatuhkan diri, berlutut di depan Delia lalu memegang kedua tangannya. "Del, aku mohon. Jangan bunuh diri. Apa pun masalahmu, jangan berbuat begitu. Aku dan Erwin mau menolong dengan segenap kemampuan kami. Sungguh, Del," kata Kosmas dengan suara memohon. Erwin ikut berlutut di samping Kosmas. Ikut pula memohon, "Benar, Kak. Aku tahu kau punya masalah berat. Tapi jangan diputuskan dengan cara itu. Masih ada cara lain, kan? Kau punya pandangan luas. Aku tahu itu. Caramu menasihati Yasmin bisa membuktikan. Jangan bunuh diri, Kak. Kami tahu, kalau tidak di sini kau mungkin pindah ke tempat lain. Jangan, Kak." "Ya, jangan lakukan, Del," sambung Kosmas. Delia terheran-heran, menatap kedua orang di depannya bergantian. Ia mengerti maksud mereka tapi juga tidak paham. 212 "Dari mana kalian bisa tahu?" tanyanya. "Maafkan aku, Del. Aku sudah lancang. Tapi semua itu terjadi tanpa sengaja. Kebetulan saja."

http://inzomnia.wapka.mobi

Kosmas bercerita tentang kejadian malam itu, ketika Delia dan Erwin sibuk membawa Yasmin ke rumah sakit. "Maafkan aku. Tapi aku tidak menyesal telah berlaku lancang. Kalau tidak begitu, aku tidak mungkin bisa tahu." Delia tertegun sejenak. "Jadi kau mengacak-acak tasku?" "Ya. Maaf, Del." Delia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sudah. Kalian bangunlah. Duduk sini," katanya sambil menepuk-nepuk kasur di kedua sisinya. Kosmas dan Erwin merasa lega. Jadi Delia tidak marah. Mereka segera duduk di sisi kiri-kanan Delia. "Ya, aku maafkan kalian. Habis mau apa lagi? Sudah kejadian. Marah pun percuma. Lagi pula kalian berniat baik. Sangat baik! Akulah yang seharusnya berterima kasih. Supaya kalian lega dan plong, aku beritahu bahwa aku sudah membatalkan niatku." "Betul, Del? Apa bukan supaya kami tidak mem-buntutimu lagi?" Kosmas setengah percaya. Segampang itukah Delia membatalkan niatnya? "Betul. Tapi sebabnya bukan karena nasihat kalian." "Lalu karena apa?" tanya Kosmas dan Erwin hampir berbarengan. "Dia," sahut Delia sambil menunjuk ke atas. "Dia?" kembali Kosmas dan Erwin bersuara berbarengan. "Tadi aku mengalami sesuatu yang aneh. Aku dua kali tidur. Tidur yang pertama aku mimpi buruk 213 sekali. Mimpi tentang iblis. Aku bangun dengan ketakutan. Dalam keadaan itu aku teringat kepada-Nya. Sesudah itu aku merasa tenang, lalu aku tidur lagi. Tidur yang kedua itulah yang sedang kujalani ketika kalian membangunkan aku. Dalam tidur itu aku pergi jauh sekali sampai ke luar dunia ini. Itu sebabnya aku jadi susah bangun." Kosmas dan Erwin menyimak cerita itu dengan perasaan takjub. "Lalu kapan kau memutuskan untuk membatalkan niat itu?" tanya Erwin. "Pada saat aku merasa tenang dan damai, sebelum aku jatuh tertidur untuk kedua kalinya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jadi baru saja, kan? Ketika kita berdebat di mobil, masih adakah niat itu?" "Oh ya. Tapi aku tidak akan melakukannya di sini seperti yang kurencanakan semula." "Oooh...," keluh Kosmas dalam-dalam. "Aku mengerti sekarang, kenapa kalian membujukku untuk melanjutkan perdebatan. Kalian takut aku masuk ke kamar lalu..." "Betul," potong Erwin. "Kami begitu takut. Bang Kos seperti cacing kena abu." "Terima kasih kalian begitu memerhatikan aku," kata Delia penuh syukur. "Aduh, lupa pesan makanan!" seru Erwin sambil melompat. "Aku pergi ya? Kalian berbincang dululah." Setelah Erwin pergi, Delia meraih laci lalu membukanya. Ia mengambil amplop yang ditujukan untuk Kosmas. Suratnya ia keluarkan dan amplopnya ia masukkan kembali. Surat itu ia sobek-sobek hingga kecil kemudian dibuangnya ke tempat sampah. "Aku menyesal telah menyusahkan kalian berdua," kata Delia. "Rasanya maaf saja nggak cukup." 214 "Apa kau menyesal telah memilih motel ini?" Kosmas ingin tahu. "Ya." "Ah, aku malah senang. Bila kau memilih tempat lain, mungkin kau sudah mati. Dan Yasmin pun mati. Aku tidak pernah berkenalan denganmu. Tidak pernah tahu ada orang seperti kau. Tidak terpikirkah olehmu akan semua itu?" "Tapi bisa saja jalan nasib kita pun akan lain." "Memang. Tapi nyatanya jadi seperti ini. Aku sama sekali tidak bisa mengerti kenapa kau, orang seperti kau, bisa memilih mati padahal hidupmu masih berguna." "Kadang-kadang mati itu bisa memberi kebaikan bagi yang hidup." "Mana ada yang seperti itu? Kematian selalu menyedihkan bagi yang hidup." "Tidak demikian dengan kematianku."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kau salah. Aku akan sangat bersedih. Sangat kehilangan." "Kenapa? Aku bukan apa-apa bagimu." "Aku mencintaimu!" Delia terkejut. Wajahnya memanas. Tentu ia sudah menyadari perhatian Kosmas sebelumnya. Tapi kenapa harus dirinya? "Kau ngomong begitu hanya untuk mencegah niatku. Kau masih khawatir." "Bukan begitu. Aku harus bicara sebelum kau pergi. Waktunya singkat." "Jangan, Bang Kos. Kau tidak tahu siapa dan bagaimana aku ini. Baru dua hari kenal, kan?" "Untuk mencintai tak perlu tahu secara detail. Im spontan." "Ah, mana bisa. Harus tahu. Nanti rugi." 215 "Pendeknya, aku mencintaimu. Aku yakin. Aku tidak tahu apa perasaanmu padaku. Apa ada pertimbangan untung-rugi?" "Kaulah yang akan rugi, Bang! Bukan aku." "Masalah apa yang kauhadapi, Del? Ayolah, ceritakan. Aku selalu punya waktu untuk mendengarkan." "Aku tidak mau menyeret orang lain." "Menyeret ke mana? Biar saja. Aku senang diseret olehmu. Itu berarti aku bisa terus mendampingimu." "Orang seperti aku lebih baik sendirian. Kau bisa celaka kalau mendampingku." "Aku tidak takut. Biarkan aku membantumu. Aku senang dan ingin." "Kau orang baik, Bang. Terima kasih." "Jadi, maukah kau menerima bantuanku dan juga cintaku?" tanya Kosmas penuh harap. "Soal cinta aku tidak tahu, Bang. Tapi bantuan, aku mau." "Baiklah," kata Kosmas girang. Yang penting Delia tidak menolaknya. Cinta bisa belakangan. "Aku mau bercerita, Bang. Tapi sebaiknya Erwin juga mendengarnya. Dia ingin tahu juga, kan? Lebih baik bila dia mendengar langsung." "Jadi kita bisa mendiskusikannya bersama-sama, ya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Kosmas mengatakannya dengan penuh sayang hingga perasaan Delia bergetar. Mungkinkah ini solusi yang diberikan oleh-Nya? Dengan spontan ia memeluk Kosmas. Tanpa ragu-ragu Kosmas balas memeluk. Perasaannya selangit. Delia menyandarkan kepalanya di dada Kosmas lalu memejamkan mata. Ia merasa nyaman dan aman. Kosmas tidak berani bergerak. Terdengar ketukan pintu. Lalu pintu terbuka sedikit, 216 hanya memunculkan kepala Erwin. Melihat pemandangan di dalam kamar, wajahnya tampak surprise. Ia tak jadi masuk. Kebetulan posisi Kosmas menghadap pintu. Delia tidak menoleh. Mungkin tidak mendengar.. Kosmas tersenyum kepada Erwin sambil mengedipkan mata! 217 BAB 22 Setelah Hendri pulang, Yasmin meraih ponselnya. Ia memutuskan untuk mengikuti anjuran Delia. Ia akan menghubungi ayahnya. Bukan untuk minta bantuan atau memberitahu keberadaannya di rumah sakit, tapi sekadar basa-basi. Im bisa sebagai pendahuluan. Lainnya disesuaikan kemudian. Ia masih ingat nomor telepon rumah ayahnya. Nomornya bagus, jadi gampang diingat. Suara seorang lelaki menyambutnya. Pasti bukan ayahnya. Yasmin merasa lega karena bukan suara perempuan yang menyambutnya. Memang bisa saja itu pembantu. Tapi bisa juga ibu tirinya. "Bisa bicara dengan Pak Winata, Pak?" "Ini siapa, ya?" "Yasmin." "Tunggu sebentar, Bu." Tak lama kemudian terdengar suara ayahnya, "Halo, Yas." Kedengaran surprise sekali. "Gimana keadaanmu? Sudah baikan? Pasti sudah ya? Kamu kecelakaan apa?" Yasmin terkejut. "Dari mana Papa tahu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Di sana diam sejenak. "Dari Hendri. Memangnya dia nggak ngomong?" "Ngomong apa, Pa?" "Jadi belum ngomong?" 218 "Ngomong apa sih, Pa? Aku kecelakaan apa katanya?" "Katanya keserempet motor." Meskipun bingung, Yasmin lega. Jadi Hendri berbohong. Itu lebih baik daripada berterus terang. Tapi kenapa Hendri tidak berkata apa-apa tentang ayahnya? "Jadi benar kamu keserempet motor?" "Iya, Pa." "Sekarang masih di rumah sakit? Kapan pulang?" "Satu-dua hari lagi. Disuruh istirahat. Apakah Hendri yang memberitahu Papa?" Di sana diam lagi sejenak. "Ya. Apakah Hendri yang menyuruhmu menelepon aku?" "Nggak, Pa. Nggak ada yang nyuruh. Pengen sendiri." "Ada apa? Perlu bantuan?" "Nggak. Cuma pengen nanya keadaan Papa." "Hendri nggak bilang? Nggak cerita?" Yasmin mengerutkan kening. Apa yang disembunyikan Hendri darinya? "Cerita apa sih, Pa?" "Ah, nanti tanya Hendri saja deh. Jadi kau menelepon aku atas keinginan sendiri?" "Iya. Emangnya nggak boleh, Pa?" "Oh, tentu aja boleh. Aku senang. Terima kasih. Apa kau masih marah sama aku, Yas?" "Nggak, Pa," sahut Yasmin ringan. Aneh, pikirnya. Tidak ada lagi keraguan mengatakan itu. "Betul begitu, Yas?" suara ayahnya kedengaran senang. "Oh, aku senang sekali. Apalagi kau menelepon sendiri, ya? Wah, nggak nyangka deh. Jadi kau memaafkan aku?" "Iya dong, Pa. Gimana keadaan Papa sekarang?" 219

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kurang baik, Yas. Tempo hari aku terserang stroke. Untung ringan. Sekarang aku pakai kursi roda karena kakiku lemah." "Apakah Tante merawat Papa dengan baik?" "Dia sudah nggak ada, Yas. Sudah pergi dengan orang lain. Sama seperti aku dulu. Apakah kau mensyukuri aku?" Yasmin terkejut. Ternyata ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. "Yas! Kok diam?" "Entahlah, Pa. Aku nggak bisa jawab. Bisa iya bisa nggak. Supaya Papa tahu, sekarang aku nggak seperti dulu lagi. Perasaanku lain," Yasmin menjawab seperti apa adanya. "Kenapa begitu, Yas? " "Ada sesuatu yang membuka mataku." "Oh ya? Mau ceritakan padaku?" "Wah, panjang, Pa. Baterai HP-ku bisa habis." "Apakah itu si Hendri?" "Bukan, Pa. Aku punya teman baru. Seorang sahabat sejati. Dialah yang mendorongku supaya menelepon Papa." "Perempuan atau lelaki?" "Perempuan dong, Pa. Namanya Delia." "Syukurlah. Kapan-kapan aku pengen juga ketemu dia. Pasti orang yang baik." "Habis, siapa yang ngurusin Papa sekarang?" "Ada Aryo, perawatku. Lalu istrinya Tari, pengurus rumah tangga. Masih ada dua lagi pembantu. Cukuplah." "Anak?" "Nggak ada. Anakku cuma kau seorang." Yasmin tertegun. Cara ayahnya mengatakan itu seperti mengingatkan hubungan mereka yang tak 220 bisa digantikan orang lain. Ia merasa terharu. Arogansinya yang masih tersisa jadi lenyap. "Yas! Si Hendri nggak datang?" "Dia baru saja pulang." "Jadi Hendri nggak ngomong apa-apa tentang aku?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"ih, Papa kok ngulang lagi? Udah dibilangin dia nggak ngomong apa-apa. Memangnya ngomong apa, Pa?" "Terus terang, sebelum kau masuk rumah sakit aku pernah ngomongngomong sama dia. Aku nanyain kabarmu. Itu aja kok." "Oh, begitu. Mungkin dia lupa nyampein." "Ah, masa lupa? Kan baru aja. Ya sudahlah, nggak apa-apa. Tapi gini, Yas. Sebaiknya jangan tanya dia soal aku dan jangan bilang bahwa kau menelepon aku, ya? Diam-diam aja supaya dia mengira kita belum berhubungan." "Kenapa, Pa?" "Nanti dia tersinggung." "Masa gitu aja tersinggung?" "Ayolah janji, Yas. Nanti aku jelaskan kalau ketemu. Ceritanya panjang. Nanti baterai HP-mu habis." "Iya deh. Janji. Mudah-mudahan aja nggak keceplosan, ya?" Yasmin tertawa. "Ah, kamu." Winata tertawa juga. Kedengaran senang. "Nanti kalau udah sembuh betul, datanglah ke sini, Yas. Aku ingin sekali memanfaatkan sisa umurku ini dengan memperbaiki hubunganku denganmu." "Ya. Tentu saja, Pa." "Begini saja, Yas. Kalau kau mau datang, sendiri tentunya ya, telepon aja. Nanti Aryo bawa mobil ke sana." "Ya, Pa." 221 "Udah dulu ya. Pengennya sih terus ngomong. Tapi kau perlu istirahat. Ingat janjimu, ya?" Sambil tersenyum Yasmin meletakkan ponselnya di meja lalu merebahkan dirinya lagi. Dalam keadaan seperti sekarang baru terasa mengherankan kenapa orang bisa menyimpan dendam begitu lama. Jalan berliku mesti ditempuh dulu sebelum orang bisa saling memberi kedamaian. Bagaimana kalau jalan itu tak bisa ditemukan? ***

http://inzomnia.wapka.mobi

Winata bertepuk tangan sambil tertawa seperti anak kecil. Aryo menyaksikan tingkahnya sambil tersenyum. "Bayangin, Yo! Dia nelepon sendiri tanpa disuruh atau dibujuk si Hendri. Hebat nggak tuh?" "Ya. Hebat, Pak. Padahal Pak Hendri belum ngomong apa-apa?" "Si Hendri kan bilangnya mau nunggu sampai Yas sembuh betul baru mau ngomong dan kemudian membujuknya. Tahu-tahu Yas nelepon sendiri. Kalau tahu gitu buat apa aku manggil si Hendri ya? Pakai mengancam segala, lagi. Ah, aku jadi nyesel, Yo. Kalau Yas dengar soal ancaman itu, apa dia nggak jadi marah lagi, ya?" "Nggak ah, Pak. Dia kan udah berubah. Pasti caranya melihat persoalan udah lain. Dia mau nelepon sendiri tanpa dibujuk pun udah memperlihatkan hal itu." "Ya, dia bilang ada teman barunya bernama Delia yang memberinya nasihat. Kalau gitu aku berutang budi sama temannya itu. Aneh juga, Yo. Malah orang lain yang membujuk, bukan si Hendri." 222 "Nggak aneh juga, Pak. Kan Bapak udah lama sekali nggak ketemu Bu Yas. Gimana perkembangannya kan nggak tahu." "Iya. Memang benar. Oh, aku kangen banget sama dia, Yo. Dia itu seperti anak hilang." "Kalau nanti dia nanya soal Pak Hendri, gimana, Pak?" "Aku mau pikirin dulu. Menurutmu gimana?" "Menurutku, daripada membiarkan Pak Hendri yang ngomong, lebih baik Bapak sendiri. Bapak kan nggak tahu kalau yang dibicarakan Pak Hendri itu ada yang berubah." "Iya. Bener juga. Tapi kita mesti lihat perkembangan situasi juga, Yo. Apakah Yas keburu datang ke sini sebelum Hendri membicarakannya atau terbalik?" "Kalau begim Bu Yas mesti datang diam-diam ke sini tanpa memberitahu suaminya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tentu aja. Pasti dia udah tahu sendiri. Dia kan udah janji nggak akan bilang-bilang bahwa dia nelepon aku." Mereka asyik membicarakan Yasmin. Winata bercerita tentang masa kecil Yasmin. Baginya, Aryo bukan cuma perawat pribadi tapi juga teman curhat dan diskusi. Sebelum ia sakit dan masih aktif bekerja, Aryo bekerja di rumah sakit. Tapi istrinya, Tati, sudah bekerja di rumah Winata sebagai pengurus rumah tangga. Ketika itu keduanya tinggal di rumah sendiri bersama anak mereka yang sudah dewasa. Setelah Winata sakit dan perlu dirawat di rumah padahal istrinya sudah pergi meninggalkannya, Aryo beralih menjadi perawat pribadi. Dia dan istrinya tinggal di situ. Saat mereka tengah asyik berbincang itulah telepon dari Hendri berbunyi. 223 "Ini Hendri, Pa." Wajah Winata pun menjadi tegang. Ingin tahu sekali. "Bagaimana keadaan Yas, Hen? Kapan dia pulang?" "Sudah baik, Pa. Pulangnya besok atau lusa. Mungkin lebih baik lusa saja supaya bisa istirahat lebih lama." "Sudah kausampaikan?" "Wah, belum, Pa. Kayaknya perlu waktu." Winata mengerutkan kening. "Kenapa? Kan dia sudah sembuh." "Masalahnya begini, Pa. Tadi waktu aku besuk dia, aku menyinggung soal Papa. Aku bilang, udah lama ya nggak ketemu Papa. Ada baiknya menelepon atau menjenguknya. Yasmin bilang nggak mau karena masih sebal sama Papa. Apalagi ada Tante di sini. Aku tentu nggak berani memberitahu bahwa Tante sudah pergi." "Dia bilang begitu, ya?" kata Winata sambil melirik Aryo. Ketika Aryo menangkap tatapannya, Winata mengarahkan telunjuknya ke dahinya. "Iya, Pa. Jadi dari penjajakan itu aku tahu perasaannya kepada Papa. Harus cari cara lain untuk membujuk." "Atur sajalah gimana baiknya. Pendeknya jangan lebih dari sebulan," kata Winata dingin.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tapi ada harapan, Pa. Dia nggak bilang benci, tapi sebal. Maknanya kan lain." "Aku tahu beres saja deh." "Aku akan berusaha membujuknya, Pa. Tapi bukan dengan cara memaksa seperti yang Papa ajarkan itu. Justru ancaman seperti itu bisa membuat dia tambah marah. Dia keras kepala tapi tetap punya kelemahan." Winata tak ingin bertanya macam-macam karena 224 perasaannya kesal. Padahal tampaknya Hendri masih ingin berbincang lebih lama. "Baiklah. Sampai nanti. Aku tunggu beritanya. Sekarang aku mau dipijit. Terima kasih." Setelah menutup telepon, Winata menggeleng-gelengkan kepala. Aryo tak bertanya. Ia hanya menunggu. "Orang itu nggak beres, Yo! Dia mau menimbulkan kesan bahwa Yasmin susah dibujuk karena sebal sama aku. Jadi kalau nanti berhasil, pastilah dia punya nilai jual yang tinggi!" "Dia mau jual apa, Pak?" "Entah. Pasti ada maunya. Lihat saja. Kita akan segera mendengar lagi darinya." "Yang penting Bu Yas kan sudah baikan sama Bapak." "Ya. Tapi aku marah sekali sama suaminya itu." "Sudahlah, Pak. Entar tekanan darahnya naik." "Aku bisa tenang kalau ingat Yas. Kasihan ya, punya suami seperti itu." "Dia membohongi tapi juga dibohongi." Mereka tertawa. *** Yasmin menikmati makan malamnya berupa nasi yang diblender dengan daging giling dan sayuran yang dihaluskan. Meskipun sudah serbahalus, masih terasa perih bila ditelan. Harus sedikit-sedikit dan pelan-pelan. Kerongkongannya memang sempat terbakar, demikian pula lambungnya, waktu racun itu melewati. Tapi untuk berbicara ia tak begitu merasakan sakit. Apalagi belakangan ini ia selalu ingin bicara.

http://inzomnia.wapka.mobi

225 Untunglah Hendri memberinya ponsel. Barang itu menjadi penghiburan untuknya. Usai makan ia kembali meraih ponselnya. Ia menghubungi Motel Marlin. "Bisa bicara dengan Ibu Delia?" "Oh, Ibu Delia sedang makan, Bu. Ini dari mana?" "Yasmin." "Oh, Bu Yasmin. Sudah sehat, Bu?" "Sudah. Terima kasih. Ini siapa ya?" "Saya Adi." "Ke mana Bang Kos dan Bang Erwin?" "Lagi makan bersama Ibu Delia." "Oh, begim. Baiklah. Nggak usah dipanggil. Nanti saya telepon lagi." Yasmin membayangkan ketiga orang itu berkumpul di ruang makan. Tibatiba ia ingin sekali bergabung dengan mereka. Kalau hal itu sampai terjadi, pastilah suasananya berbeda. Ia mulai berangan-angan. Kalau nanti sudah sembuh seperti sediakala, ia perlu menata ulang hidupnya. Ia ingin berubah. Tak lagi jadi katak dalam tempurung seperti dulu. Hendri tak boleh lagi melarang dan membatasi. Sekarang ia tak lagi sendiri. Ia punya ayah dan teman-teman. Situasi sudah berubah. Dirinya pun begim. Kalau sekarang ia melihat ke belakang, sepertinya ia melihat dirinya sebagai perempuan bodoh yang tak punya harga diri. Masih mending bodoh saja tapi punya harga diri. Bukan malah dua-duanya! Ia tahu, dalam hal itu takkan mendapat dukungan dari Hendri. Meskipun menyesal dan minta maaf, tidak berarti Hendri mau mengubah semuanya. Perjuangannya akan sulit. Tapi ia sudah siap. 226 BAB 23 Rama dan semua saudaranya berikut keluarga masing-masing menjadi heboh luar biasa. Dalam waktu singkat berita menyebar di antara mereka, termasuk mereka yang tinggal di luar Jawa. Apa yang telah

http://inzomnia.wapka.mobi

terjadi atas ibu mereka? Masuk kamar dalam kondisi biasa, keluar kamar berubah jadi luar biasa. Tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba dia berubah jadi jauh lebih muda. Penampilannya seperti ibu mereka saat mereka masih duduk di bangku sekolah! Setelah berita tersebar, mereka datang berbondong-bondong untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Sementara dua saudara di luar Jawa minta dikirimi foto. Secepatnya mereka akan datang begitu mendapat kesempatan. Janji mereka itu segera dibalas dengan katakata, "Jangan lupa oleh-olehnya! Mama suka yang berkilau!" Ratna sendiri senang ditonton dan dikomentari. Apalagi dipuji. Ia tersenyum semanis manisnya, memperlihatkan kecantikannya semasa muda. Ia ditanya dan didesak untuk menjelaskan bagaimana caranya bisa mengubah diri seperti itu. Ia menjawab, "Bukan aku yang melakukannya!" "Habis siapa?" "Ini keajaiban! Aku orang yang beruntung!" 227 "Tapi mesti ada yang melakukannya dong. Masa simsalabim!" "Ada aja. Kalian nggak perlu tahu." "Mama minta, ya?" "Ah, minta sama siapa? Aku sendiri kaget melihat cermin." "Tapi Mama pakai kemenyan. Biasanya nggak," kata Rama. "Itu buat nyari si Del," sahut Ratna terus terang. "Apa sekarang sudah dapat, Ma?" "Oh, sudah. Dan ini bonusnya!" Ratna menunjuk wajahnya sendiri sambil tertawa. "Ada di mana Del sekarang?" "Dia di Jakarta. Tapi nggak perlu dicari lagi. Detektif kalian itu diberhentikan saja." "Kenapa nggak perlu dicari lagi, Ma? Apa Mama sudah mengikhlaskan dia sampai Mama dikasih bonus?" Saking penasaran dan takjub, anak-anak dan menantu melupakan ketakutan dan kengerian mereka. Tapi pertanyaan terakhir itu membuat Ratna melotot. Yang ditatap mengkeret ketakutan. Wajah manis Ratna

http://inzomnia.wapka.mobi

memang melenyapkan kesan ngeri, tapi tatapannya masih tajam menusuk. Matanya masih yang dulu. Mata yang memancarkan hasrat. "Delia nggak perlu dicari lagi karena nanti dia akan datang sendiri padaku!" kata Ratna sombong. Ucapan ini membungkam mulut anak-anak dan menantu. Ketakutan yang dulu kembali menguasai mereka. Sekarang Ratna lebih berbahaya dibanding dulu. Kekuatan yang dimilikinya sudah tampak jelas. Apalagi dengan perubahan fisik seperti itu, dia jadi kelihatan tidak manusiawi. Masih seorang manusiakah dia? 228 "Kebetulan sekarang kita sudah berkumpul lengkap, ayo kita berpesta!" seru Ratna antusias. Anak-anak dan menantu berpandangan. Tidak setuju, tidak suka, tapi tidak bisa membantah. "Pesta apa, Ma?" tanya Rama. Ia membayangkan pesta ritual berdarahdarah seperti yang ditayangkan film horor. "Kita makan-makan di restoran yang enak!" Mereka tertegun. Pasti itu akan menjadi pesta yang murung dan mencekam. Tapi siapa yang berani membantah? Kutukan ada di depan mata. Sekarang tidak ada lagi istilah percaya nggak percaya. "Sesudah makan, antar aku ke mal," Ratna masih belum selesai dengan tuntutannya. "Aku mau beli baju. Penampilanku yang baru tentunya membutuhkan baju yang baru! Sandal! Kosmetik! Uh, apa lagi ya?" Mereka lebih terkejut lagi. Masa depan jadi suram dengan tiba-tiba! *** Di ruang makan Motel Marlin, Kosmas, Erwin dan Delia sudah selesai makan. Meja sudah dibersihkan. Hanya tinggal gelas berisi air putih untuk masing-masing. Delia bercerita tentang permasalahan yang dihadapinya. "Nah, itulah kisahku yang malang. Percaya atau tidak. Ratna, ibu mertuaku, memang seperti nenek sihir."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku nggak percaya ada orang bisa mengutuk orang lain sesukanya. Ngomong saja sih gampang. Semua orang juga bisa. Tapi nggak mungkin kejadian," kata Erwin. 229 "Ada saat aku pun tidak percaya. Tidak mau percaya. Kematian adalah takdir. Tapi pada. awalnya aku membenci dia karena mensyukuri kematian anak dan suamiku, padahal mereka adalah cucu dan anak kandungnya sendiri. Lalu beberapa kejadian, terutama belakangan ini, memperlihatkan bahwa dia memang punya kemampuan yang tidak manusiawi. Salah satu yang paling mengejutkan adalah ketika dia menanyakan sakitku. Padahal tidak ada yang tahu. Itu salah satu sebab yang memicu keputusanku untuk bunuh diri. Aku menderita penyakit mematikan. Tak lama lagi mati. Padahal aku masih punya sedikit harta. Bukankah dia akan mengambilnya nanti? Jadi itulah yang kulakukan. Semata-mata untuk mencegah dia." "Aku akan membantumu untuk melawannya, Del. Aku percaya, Tuhan akan membantu orang yang benar. Bukankah tadi kau mengalami sendiri? Bahwa Dia sesungguhnya tidak melupakanmu?" "Ya. Aku sungguh berterima kasih pada kalian. Tapi aku tidak mau kalian dikutuk juga." "Aku tidak takut," kata Erwin. "Aku juga," tambah Kosmas. "Bagaimana melawannya? Ini kan bukan perang fisik." "Menurutku, satu-satunya cara adalah dengan berdoa dan percaya kepada-Nya. Nenek itu punya tujuan jahat. Ilmunya pun jahat. Jadi jelas kepada siapa dia menghamba," kata Erwin. "Betul. Aku mengalaminya sendiri tadi. Pengalaman yang luar biasa. Keputusanku yang sudah begim mantap dan kuambil setelah lama berpikir ternyata bisa kubatalkan dalam waktu yang begim singkat," sahut Delia. 230 "Biarpun kau membatalkannya, jangan sesali harta yang hilang, Del," hibur Kosmas.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ah, nggak mungkin kusesali. Aku memang harus melakukannya. Jadi pada saat aku mati nanti, paling-paling yang tersisa tinggal sedikit. Mungkin juga malah habis. Rama tetap akan gigit jari." "Memangnya kapan saat kau mati?" tanya Kosmas curiga. "Bukankah aku punya penyakit yang sulit disembuhkan? Ujungnya mati, kan? Aku masih punya uang untuk keperluan mengurus diriku. Jadi aku minta tolong pada kalian untuk membantuku." Delia mengatakannya tanpa emosi. Sepertinya dia tengah membicarakan orang lain. Kosmas dan Erwin terbelalak. "Apa benar penyakit itu sulit disembuhkan? Itu kau yang ngomong sendiri," bantah Kosmas. "Kau harus periksa lagi ke dokter untuk mendapat kepastian," Erwin membenarkan. "Sebelum itu, jangan dulu berpikir yang bukan-bukan." "Dulu aku pernah dianjurkan dokter untuk operasi pengangkatan rahim. Tapi aku tidak mematuhi. Aku mencari pengobatan alternatif. Tapi itu pun kutinggalkan setengah jalan. Beberapa hari yang lalu aku merasa nyeri lagi di tempat yang sama." "Tidak!" seru Kosmas. "Jangan sembarangan menilai! Besok kuantar kau ke rumah sakit, ya? Jangan hanya datang ke satu dokter, tapi beberapa dokter sebagai pembanding. Siapa tahu dokter pertama kurang pintar." Antusiasme Kosmas mengejutkan Delia. "Betul sekali, Del," Erwin membenarkan. "Penyakit itu harus dilawan. Sama seperti nenek sihir itu. Kau tidak mau menyerah kepada si nenek sihir. Masa 231 mau menyerah kepada penyakit? Jangan-jangan penyakit itu pun perwujudan dari iblis, Del!" Sengaja Erwin berkata seperti itu untuk membangkitkan semangat Delia yang pantang menyerah. Niatnya untuk bunuh diri itu pun sebenarnya adalah bentuk perlawanan versinya sendiri. Delia termenung. Tapi ia merasakan kebenaran kata-kata Erwin. Mungkin juga ia terlalu cepat me-nyerah.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jadi besok kuantar kau ke rumah sakit, ya?" Kosmas membujuk. "Yang pasti akan ada tes-tes dan berbagai pemeriksaan. Semua itu harus kaujalani dengan tekun. Im bentuk perlawanan, Del!" "Baiklah. Terima kasih, Bang." "Jadi untuk soal itu sudah ada penyelesaiannya," kata Erwin. "Sekarang aku mau minta maaf, Kak. Sebenarnya aku telah melakukan kesalahan kepadamu. Kamar yang kautempati itu sebenarnya kamar yang dulu ditempati korban bunuh diri. Namanya Yuli." Kosmas terkejut atas keterusterangan Erwin. Seharusnya Erwin tidak perlu mengatakan itu. Lebih baik Delia tidak tahu. "Oh ya? Kenapa kauberikan itu padaku?" tanya Delia. Sikapnya biasa saja. Cuma heran. "Sebelumnya aku sudah yakin bahwa kamar itu bersih. Maksudku, tidak ada apa-apanya. Aku bermeditasi di sim, mencoba merasakan kehadiran roh, kalau memang ada. Tapi suasananya tenang dan damai. Berbeda dengan sebelumnya, ketika peristiwa baru saja berlalu. Jadi kusimpulkan kamar itu sudah bersih, siap untuk dihuni lagi." "Apakah tak ada kamar lain yang kosong saat itu?" tanya Delia, ingin tahu. "Ada. Beberapa." 232 "Aku ngerti. Kau memakaiku untuk ngetes kamar itu, kan?" "Maafkan aku." "Kalau kau mau pindah, Del, masih ada kamar lain," Kosmas menawarkan. "Ah, nggak perlu. Di kamar itu aku mengalami banyak hal. Mungkin ada hikmahnya bagiku mendapat kamar itu." "Jadi kau nggak marah, Kak?" tanya Erwin. "Kenapa mesti marah? Aku senang di situ. Tapi yakinkah kau bahwa kamar itu memang sudah bersih?" "Ketika kau merasakan sengatan listrik di dinding padahal aku tidak merasakannya, aku pikir ada se suatu di sim. Kau juga mendengar tangis Yasmin padahal Yasmin tidak sedang menangis."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tapi kalaupun ada sesuatu, dia bermaksud baik padaku. Sudahlah, soal itu tidak usah diributkan." "Jadi nggak mau pindah?" tegas Kosmas. "Nggak." "Tapi aku memintamu tinggal di sini untuk waktu yang lebih lama, Del," kata Kosmas. "Bukankah kau harus periksa kesehatan? Berapa pun waktu yang diperlukan, tinggallah di sini. Jangan membayar. Kami ingin berbuat sesuatu unmkmu." "Aku masih punya uang. Masa tak bisa membayar?" "Uang itu kaugunakan saja untuk biaya rumah sakit. Sudah. Jangan malu hati." Mata Delia berkaca-kaca. Ia terharu. "Jadi masalah satu lagi sudah kita dapatkan penyelesaiannya," kata Erwin lega. "Tapi masih ada yang lain. Kita bicarakan sekalian. Mengenai masa depanmu, Del." 233 Delia mengerutkan kening. "Apakah aku punya masa depan?" "Pertanyaan itu bernada pesimistis, Del. Jangan begitu. Kita memang tidak tahu apa yang ada di depan. Semua ada di tangan-Nya." "Baik. Aku percaya. Jadi bagaimana?" "Maukah kau membantu kami di sini?" tanya Kosmas. "Kau tidak mungkin kembali ke Bandung lagi, kan? Apa yang mau kaulakukan di sana? Tapi di sini, kau bisa berbuat banyak. Kau lihat sendiri, kan? Kami memerlukan tenaga pembukuan. Dulu kau berpengalaman." "Oh ya. Aku sarjana akuntansi." "Nah, bagus sekali! Tapi terus terang, kami nggak bisa memberi honor besar." Delia berpikir sejenak. Jalan keluar seperti itu sangat menolong. "Baiklah. Terima kasih, Bang. Tapi aku nggak mau dibayar dulu sebelum benar-benar bisa bekerja secara profesional. Apalagi masalah kesehatanku belum ada kepastian." "Jadi kau setuju?" Kosmas gembira.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya. Kalian benar-benar memberiku jalan keluar yang bagus. Terima kasih banyak." Delia mengulurkan kedua tangannya yang dijabat oleh Kosmas dan Erwin. Ketika Kosmas menatapnya dengan lekat, ia tersipu. Ia teringat ketika berada di kamar dan memeluk Kosmas. Cukup lama ia melakukannya sampai kemudian menyadari bahwa tubuh Kosmas terasa kaku tak bergerak. Pasti Kosmas tidak lagi menikmati pelukan itu karena tubuhnya sudah pegal! Mereka kembali ke kantor. Tiba saatnya bagi Adi untuk digantikan. 234 "Bu Del, tadi ada telepon dari Bu Yasmin," Adi memberitahu. "Karena Ibu lagi makan, katanya nggak usah dipanggil. Nanti dia telepon lagi." "Kau saja yang telepon. Nanti dia keburu tidur," kata Kosmas. Sebenarnya Delia memang bermaksud begitu, tapi malu. Biaya telepon naik terus. Yasmin menyahut dengan senang, "Aku mau nele-pon lagi, tapi takut makannya belum selesai. Gini, Kak. Nggak lama-lama kok. Aku juga udah ngantuk nih. Aku mau memberitahu, tadi aku sudah nelepon Papa. Dia girang sekali kutelepon. Kami udah baikan lagi. Terima kasih untuk nasihatnya, Kak. Papa juga berterima kasih padamu. Katanya nanti ingin ketemu kau." Delia tersenyum. Kosmas mengamatinya. Ia menganggap itu senyum paling manis yang pernah dilihatnya. "Bagus sekali, Yas. Aku senang mendengarnya." "Aku juga memutuskan untuk mengubah hidupku ke depan. Pokoknya nggak seperti dulu. Konkretnya belum tahu seperti apa. Mungkin aku akan cari pekerjaan, atau kegiatan yang menyenangkan." "Bagus, Yas. Istirahat panjang ada hasilnya, kan?" "Besok ngomong lagi ya, Kak? Ngantuk nih." "Ya, tidurlah yang nyaman. Sampai besok." Delia menutup telepon. Segera Erwin bertanya, "Apa katanya, Kak?" Delia menyampaikan laporan Yasmin.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Padahal aku membujuknya untuk nelepon ayahnya adalah supaya dia punya tempat berlindung yang kuat. Bukan diriku yang hidupnya tinggal sebentar lagi," Delia mengakui. "Itu bagus. Jadi suaminya tidak lagi berani sewenang-wenang," kata Erwin. 235 "Sekarang giliranku yang ngantuk," Delia pamitan. "Aku juga ingin merenungkan percakapan kita tadi. Harus buat rencana ke depan." Kosmas merasa berat melepas Delia. "Ingat janjimu, Del. Jangan berubah pikiran," katanya. Delia tertawa. "Kalaupun berubah pikiran, pilnya sudah diambil Erwin. Percayalah, Bang." Kosmas dan Erwin mengamati kepergian Delia. Lalu mereka saling pandang dengan tersenyum. Kelegaan terpancar di wajah mereka. "Ternyata berakhir dengan baik ya, Win." "Satu babak sudah lewat. Masih ada banyak babak berikutnya, Bang!" "Aku tahu. Tapi yang paling kritis sudah lewat." "Bang, sadarkah kau bahwa sekarang kau berubah? Dulu sama cewek yang lain-lain itu kau nggak seperti ini. Sekarang kau jadi romantis. Dan yang paling menonjol adalah kau jadi pinter ngomong. Rupanya bakat terpendam. Padahal tadinya pendiam." "Aku juga nggak tahu kenapa bisa begim. Rasanya ada sesuatu yang bergejolak dalam diriku, membuatku lebih intens dan terbuka melihat sekitar. Mungkin itu yang menggerakkan lidahku hingga aku bisa berceloteh sepertinya aku ini orang bijak!" "Betul, Bang. Kau sudah jadi orang bijak, tapi terlambat lahir! Sori, bercanda. Tapi aku kira, dorongannya adalah cinta!" "Bukankah dulu pun aku pernah mengalami jatuh cinta? Tapi nggak seperti ini. Mungkin karena situasi-nya yang khas." "Bukan cuma situasinya yang beda, tapi juga orangnya!" "Betul. Tak ada orang yang sama. Tapi dia belum 236 menanggapi pernyataan cintaku. Apa aku terlalu optimis, Win?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kalau aku boleh memberi saran, biarpun kau optimis, jangan perlihatkan. Nanti dia jadi serbasalah. Perlihatkan bahwa kita menolong tanpa pamrih, bukan dengan harapan dia mau membalas cintamu." "Tentu. Aku sudah cukup bahagia karena dia tak jadi bunuh diri. Selama dia masih hidup, harapan tetap ada, kan?" "Kelebihan lain adalah kesediaannya tinggal di sini. Kalian jadi berdekatan terus. Cinta bisa tumbuh dari kedekatan. Tapi cinta itu perjuangan juga, Bang. Kalau terlalu mudah didapat rasanya kurang membanggakan, bukan?" "Kau ngomong untuk dirimu sendiri juga rupanya, Win!" "Tentu. Aku perlu menghibur diriku juga. Jarakmu dengan Delia cuma sejengkal, tapi aku dengan Yasmin jauh banget sampai tak kelihatan ujungnya." "Katamu cinta adalah perjuangan." "Betul. Tapi bagaimana menyingkirkan si suami?" "Eh, kau tak berpikir buruk, kan?" Kosmas terkejut. Erwin tertawa. "Tentu saja nggak, Bang. Aku masih waras." "Sebaiknya kau bersaing saja. Berikan perhatianmu pada Yasmin. Telepon dia tiap hari. Ngomong apa aja. Cerita kan banyak. Dengan demikian dia jadi terus ingat padamu. Segala sesuatu kan harus ada awalnya." "Im ide yang bagus, Bang! Terima kasih." 237 BAB 24 Esoknya, sepulang dari kantor, Hendri menelepon Winata. "Bisakah saya datang ke rumah Papa sekarang?" tanyanya. "Tentu saja bisa. Datanglah. Aku tunggu." Hendri agak surprise karena jawaban Winata singkat dan tak banyak bertanya. Semula ia menyangka akan ditanya macam-macam atau disuruh bicara saja di telepon tanpa perlu datang sendiri. Meskipun sudah mempersiapkan diri, masih ada rasa malu hingga enaknya bicara di telepon saja. Tapi ia perlu datang.

http://inzomnia.wapka.mobi

*** Winata menunggu di ruang tamu ditemani Aryo. Keduanya membaca. Winata membaca buku sedang Aryo membaca koran. Sesekali Aryo melirik majikannya. Ia tahu, Winata merasa tegang karena ingin tahu apa maksud kedatangan Hendri. Yang pasti Winata akan lebih tegang lagi andaikata Yasmin tidak mendahului menelepon. Sekarang Winata sudah tenang. Aryo merasa bersyukur atas majikannya itu. Bagi Winata, apa yang dilakukan Yasmin itu membuatnya jadi bernilai lebih karena mau berbaikan tanpa bujukan 238 dan tanpa takut kehilangan harta. Hal itu membuat Winata senang dan bangga. Terus terang ia menyatakan bersyukur karena dari istri keduanya ia tak beroleh anak. Boleh dikata hampir tak ada yang dirahasiakannya dari Aryo. Aryo senang bekerja di situ meskipun tak ada hari libur khusus. Kalau memang ada keperluan, ia bisa saja minta izin untuk keluar. Istrinya akan menggantikan menemani Winata. Pekerjaannya tidak berat bila dibandingkan dengan di rumah sakit biarpun di sana ada sistim shift. Kalau Winata tidur, Aryo pun istirahat. Tapi kalau Winata duduk-duduk seperti itu, ia pun bisa istirahat juga. Pekerjaannya bukan melulu sebagai perawat, tapi juga asisten. Gajinya jauh lebih besar daripada gaji di rumah sakit. Ia pun bisa berdekatan dengan Tati, istrinya. Juga bolak-balik ke dapur bila dirinya sedang tidak dibutuhkan. Maka tak mengherankan bila bobot tubuhnya bertambah. Bukan cuma hal itu yang membuat Aryo betah. Winata selalu baik kepadanya. Bahkan ketika ia belum bekerja sebagai perawat Winata dan datang ke situ untuk menjenguk Tati atau menjemputnya untuk pulang, Winata suka mengajaknya berbincang dan memberikan perhatian. Saat Winata terkena serangan stroke, ia kebetulan datang untuk menjemput Tati pulang bersama-sama. Sebagai perawat berpengalaman ia sigap dan cepat. Bersama Tati ia membawa Winata ke rumah sakit dengan mobil Winata yang dikemudikannya karena Winata tak punya

http://inzomnia.wapka.mobi

sopir. Tindakan cepat memang dibutuhkan untuk menangani serangan itu. Dari situlah awalnya. Aryo bukan hanya menjadi perawat tapi juga teman dalam kesepian. Sebenarnya Winata memiliki kerabat dekat seperti 239 para keponakan dan keluarga mereka. Setelah ia dan ibu Yasmin bercerai, mereka menjauh darinya. Tambahan lagi sikap arogannya tak disukai. Tapi ia malah senang dijauhi. Daripada didekati hanya untuk dimintai uang, pikirnya. Bahkan kadang-kadang ia terus terang menyatakan kecurigaannya itu. Maka ia semakin dijauhi. Daripada disangka mau minta sedekah kalau mendekat, lebih baik jauh-jauh saja. Karena itu ketika ia sakit tak ada kerabat yang menengok. Yang datang hanya relasi dan karyawan. Semula Winata tidak terlalu risau ketika Yasmin memutuskan untuk ikut ibunya bahkan marah kepadanya. Ia yakin akan punya anak lagi dengan istri barunya sebagai pengganti. Ia ingin punya anak banyak supaya kehilangan satu masih ada yang lain. Ternyata, jangankan banyak, satu saja tak ia peroleh. Bahkan istri baru pun pergi. Lalu ia dilanda ketakutan kalau-kalau sampai mati pun ia sendirian. Ia merindukan Yasmin dan ingin ditemani olehnya. Ingin merasakan kasih sayang sebelum ajal merenggutnya. Kasih sayang yang hanya bisa diberikan seorang anak, yang punya ikatan batin dengannya. Bukan orang-orang seperti Aryo dan Tati. Mereka dekat dengannya karena ikatan kerja. Sebenarnya dokter sudah menenangkannya. Ia belum masuk kategori sekarat, Harapan hidup masih panjang asal ia pandai menjaga diri. Tapi ia tetap merasa takut. Untuk apa umur panjang kalau badan loyo tak punya semangat? Winata menarik napas panjang. "Kenapa, Pak?" tanya Aryo. "Kenapa dia nggak ngomong lewat telepon aja ya?" "Mungkin penting, Pak. Atau ceritanya panjang." "Ngarangnya kepanjangan, kali."

http://inzomnia.wapka.mobi

240 "Mungkin, Pak." "Aku benci dibohongin, Yo. Rasanya dianggap bodoh." "Jangan berandai-andai dulu, Pak. Lihat saja nanti." Winata memang tak perlu berpikir lebih lama. Hendri sudah datang. Aryo menyilakannya masuk. Setelah Hendri duduk berhadapan dengan Winata, Aryo masuk ke dalam. Dengan cepat ia keluar lagi membawa dua cangkir teh manis panas. Sesudah itu ia kembali masuk. Tapi ia tidak jauh-jauh supaya bisa mendengar kalau dipanggil. Memang di dinding ruang tamu ada bel listrik. Tapi bukan cuma soal panggilan yang dipikirkannya. Ia juga perlu mendengar pembicaraan. Bukan untuk memenuhi keingintahuannya, tapi supaya bisa melayani dan memahami curhat Winata. Kalau Hendri pulang, hal itu pasti dilakukannya. "Papa kelihatan lebih segar," Hendri memulai. "Oh ya, Yas gimana? Sudah kautengok?" "Sudah, tadi saat istirahat siang. Dia pulang besok." "Sudah sembuh benar?" "Sudah, Pa." "Soal itu gimana? Sudah dibicarakan?" "Kayaknya sih ada harapan, Pa. Tadi aku bilang padanya bahwa Papa sedang sakit dan nanyain dia, kangen sama dia. Tapi dia nggak memberi jawaban pasti. Katanya mau ziarah ke makam Mama dulu." Winata ternganga. Tapi segera sadar. Ia tidak boleh memperlihatkan perasaannya. "Kau tidak berusaha membujuknya?" "Tentu saja, Pa. Dia keras sekali. Katanya waktu Mama sakit dulu Papa tak pernah menjenguk." Winata berusaha menekan amarahnya. Kurang ajar 241 sekali lelaki ini. Yasmin sendiri tidak berkata begitu. Pasti dia mengadaada saja. Winata memalingkan muka, tak ingin menatap wajah Hendri yang menyebalkan. Hendri mengira sikap Winata itu menggambarkan penyesalan.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tapi jangan khawatir, Pa. Sekeras-kerasnya Yasmin pasti bisa diatasi. Aku yakin bisa membujuknya. Selama ini dia selalu patuh padaku. Sebaiknya jangan dipaksa. Keikhlasan itu harus datang dari kemauan sendiri." "Apa kausampaikan padanya soal warisan itu?" "Oh, itu belum, Pa. Jangan dulu. Kalau bisa dibujuk dengan cara biasa, nggak usahlah ngomong begitu. Takutnya dia malah jadi marah." "Bagaimana kalau aku nelepon langsung ke dia?" Hendri terkejut. "Jangan, Pa. Nanti dia menyahuti Papa dengan judes. Sabarlah dulu." "Pokoknya jangan lebih dari sebulan." "Kukira nggak sampai sebulan juga beres." "Baik. Ada lagi lainnya?" Pertanyaan itu singkat dan terkesan dingin. Tak mau berpanjangpanjang. Padahal Hendri ingin berbincang lebih akrab. Ingin ditanyai soal pekerjaan dan hal-hal lain seputar pribadinya. Bukankah dia menantu satu-satunya? Ia merasa kecewa dan kesal. Tapi ia masih tetap yakin Winata membutuhkannya. "Memang ada, Pa. Aku bermaksud minta bantuan Papa," katanya, sedikit malu. "Katakan saja." "Begini, Pa. Besok Yasmin pulang. Tapi aku... aku kebetulan lagi bokek untuk membayar biaya rumah sakit. Untuk meminjam dari kantor nggak mungkin." "Berapa?" tanya Winata tanpa basa-basi. 242 Hendri terkejut juga oleh pertanyaan langsung itu. "Lima belas juta, Pa." Winata tidak bertanya atau mempersoalkan jumlahnya. Ia memanggil Aryo yang muncul dengan cepat. "Ambilin buku cek, Yo." Hendri terkejut lagi oleh cepatnya reaksi Winata. Ia tak menyangka. Segera muncul sesalnya kenapa tidak minta lebih banyak.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Nanti kuberikan perincian biayanya kalau sudah dapat, Pa." "Nggak usah." "Terima kasih, Pa." Hendri berdiri. Winata mengangguk lalu menjalankan kursi rodanya masuk ke dalam. Dalam sekejap tak kelihatan lagi. Hendri diantar Aryo ke luar. Aryo memegangi pintu mobil yang terbuka, siap menutupkan kalau Hendri masuk. Tapi Hendri belum mau buru-buru pergi. Ia memandang ke sekitarnya. "Sudah lama merawat Papa, Pak?" tanya Hendri kepada Aryo. "Cukup lama. Sejak sakit. Setahun lebih." "Sakit apa?" "Maklumlah. Orang sudah tua." "Papa belum terlalu tua. Apakah dia lumpuh?" "Nggak. Cuma kakinya lemas." "Bapak tinggal di sini juga?" "Iya." "Emangnya nggak punya keluarga?" "Istri saya kerja di sini juga." "Oh begitu. Memang kasihan kalau Papa tinggal sendirian di rumah sebesar ini." Hendri masih mengagumi rumah itu, tak menyadari tatap cemooh dari Aryo. Ia membayangkan dirinya 243 dan Yasmin tinggal di situ. Mungkin saja bisa menjadi kenyataan. Ia teringat akan kontrak rumahnya yang akan habis beberapa bulan lagi. Ia juga menyesalkan kebodohan Yasmin. *** "Dia itu brengsek, Yo!" Winata mengumpat. "Betul, Pak." "Aku bener-bener kasihan sama Yasmin. Hati orang memang susah ditebak." "Betul, Pak. Bahkan peramal aja suka bohong." "Apa hubungannya sama peramal?" Aryo tersipu. "Aku nggak percaya sama peramal, Yo. Apa kau suka meramal nasib?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kadang-kadang aja, Pak. Oh ya, Bapak nggak mau nelepon Bu Yasmin?" "Entar ada si Hendri di sana. Dia pasti ke sana." "Dia kan baru jalan. Pasti belum nyampe. Mau saya sambungkan?" "Iya deh." Setelah mengeluarkan kartu nama pemberian Hendri, Aryo menghubungi nomor ponsel Yasmin. "Bu Yasmin? Pak Winata mau bicara." Cepat Winata mengambil alih. "Halo, Yas! Lagi ngapain?" "Lagi nonton teve, Pa." "Hendri di situ?" "Nggak. Dia sudah datang tadi siang. Katanya sore nggak bisa datang." "Kenapa? Masa datang sebentar aja nggak bisa?" "Katanya mau cari duit buat bayar rumah sakit. Besok kan aku pulang, Pa." 244 "Cari duit ke mana?" "Taulah dia. Nggak ngomong." "Yas, mau kubantu?" "Nanti ketahuan kalau kita berhubungan, Pa." "Oh iya. Aku hanya ingin membantu." "Biarin aja, Pa. Supaya dia bertanggung jawab." Winata tertegun. Tapi tak bisa heran lama-lama. "Habis, kalau dia nggak berhasil dapat duit, gimana, Yas?" "Paling-paling aku disandera rumah sakit. Nggak boleh pulang!" Yasmin tertawa. "Kok ketawa? Nggak takut disandera?" Winata tertawa juga. Ia tentu" tidak khawatir Yasmin akan disandera. Hendri sudah mendapat uangnya. "Aku masih punya teman-teman, Pa. Nggak usah khawatir." "Yang namanya Delia itu?" "Bukan cuma dia. Masih ada yang lain, Pa." "Baguslah kalau begitu. Aku senang kau besok pulang. Berarti kita bisa ketemu nanti, ya." "Iya. Pa, seandainya Tante masih ada dan aku punya adik, apakah Papa akan baik padaku?" Winata tak segera menjawab. Pertanyaan itu wajar tapi tajam untuknya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Papa tersinggung, ya?" "Ah nggak. Cuma menyentuh saja. Boleh aku terus terang, Yas? Bila Tante masih ada dan kami punya anak, mungkin aku tidak akan mengejarmu. Karena dulu aku sombong. Dengan memiliki istri dan anak, aku pasti berpikir, buat apa aku peduli? Tapi aku diberi pelajaran dan kesadaran. Dalam kesepian dan kesendirian aku jadi lebih diingatkan akan kebahagiaan masa lalu dan apa yang hilang dari hidupku. Tapi kau belum hilang. Kau masih ada untuk diperjuangkan." 245 Bagi Yasmin, jawaban itu- cukup jujur. "Pa, aku mewarisi arogansi Papa. Benci dan dendam sulit hilang. Kita sama-sama mengalami situasi dan kondisi yang memberi perubahan. Semuanya sudah terjadi. Takdir kali, Pa." Winata tertegun takjub. Yasmin kedengaran dewasa. Bukan lagi anak manja dan cengeng yang dulu itu. "Tapi kita beruntung masih diberi kesempatan untuk memperbaiki yang salah. Bukan begim, Yas?" "Betul, Pa." Setelah menutup telepon, Winata menceritakan perbincangannya dengan Yasmin kepada Aryo. Ia senang sekali. "Dia bilang, biar si Hendri bertanggung jawab. Aku jadi prihatin. Jangan-jangan si Hendri memang kurang bertanggung jawab. Lihat saja kebohongannya itu," kata Winata. "Kalau Bu Yas sudah lebih dewasa, dia pasti bisa menerima kalau dia tahu, Pak." "Kuharap begitu. Aku tak mau kehilangan lagi, Yo." *** Yasmin tersenyum ketika merenungkan percakapannya dengan ayahnya. Semakin sering mereka berbincang, semakin dekat rasanya. Hilang sudah segala penghalang yang pernah ada. Ia sudah menduga ayahnya akan menawarkan bantuan kalau memberitahu soal biaya itu. Tapi bila diterima, Hendri akan keenakan dan tidak mau berupaya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kenapa Hendri tidak menelepon untuk memberitahu apakah usahanya mencari uang berhasil atau tidak? Kenapa ia tidak mengucapkan selamat malam dan 246 selamat tidur seperti yang dilakukannya kemarin malam? Im menyenangkan sekali rasanya. Tanda perhatian. Lalu ponselnya berbunyi seperti mengabulkan keinginannya. Tapi itu bukan dari Hendri, melainkan Erwin. "Apakah aku mengganggu? Jangan-jangan kau sudah tidur." "Oh, belum. Ada apa, Bang?" "Nggak ada apa-apa, Yas. Cuma nanya kabar. Jadi pulang besok, ya?" "Jadi, Bang. Keadaan di sana gimana?" "Semuanya baik-baik. Hendri ada di situ?" "Nggak ada. Dia nggak datang." "Nggak datang?" "Tadi siang sudah, Bang." "Oh begim. Kasihan kau nggak ada yang nemenin." "Nggak usah. Aku kan sudah sembuh." "Baiklah. Kalau nanti kau sudah pulang, boleh aku nelepon?" "Tentu aja boleh." "Terima kasih, Yas. Selamat malam dan selamat tidur!" "Sama-sama." Ternyata orang lain yang memenuhi keinginannya, pikir Yasmin. Bukan Hendri, tapi Erwin. Biarpun demikian ia senang. Tak lama setelah ia tertidur, ponselnya berbunyi lagi. Kali ini dari Hendri! Tapi ia tidak terbangun. Ia justru bermimpi melihat Hendri terbaring dalam pelukan perempuan lain! 247 BAB 25 Pulang ke rumah, Yasmin melihat keadaan rumah sudah rapi dan bersih. Termasuk kamar mandi dan dapur. "Aku yang membersihkan," kata Hendri bangga.

http://inzomnia.wapka.mobi

Yasmin terheran-heran, hampir tak percaya Hendri mau melakukan pekerjaan itu. "Tapi aku nggak bisa ngerjain setiap hari, Yas." "Tentu saja. Itu kan kewajibanku." "Apa sebaiknya kita cari pembantu lagi supaya kau nggak capek?" Yasmin terkejut mendengar usul itu. Cari Inem baru? Hendri memahami pikiran Yasmin. "Kita cari yang sudah tua, jelek, dan peot. Yang penting dia bisa kerja. Bisa masak. Jadi kau bisa punya waktu lebih banyak." "Nggak ah. Aku kerja sendiri juga nggak masalah." Kemudian Hendri memeluk Yasmin lalu menciumnya. "Aku kangen sekali padamu, Yas," bisiknya. Tubuh Yasmin menegang. Kecemasan itu muncul lagi. Hendri merasakannya. Ia segera melepaskan pelukan. "Rileks, Yas. Jangan berpikir peluk dan cium pasti berakhir di atas ranjang," katanya tanpa emosi. 248 Yasmin tersipu. "Aku perlu waktu, Hen. Perlu waktu," ia mengingatkan. "Tentu. Kadang-kadang aku bisa lupa. Jadi ingatkan aku," kata Hendri sambil tersenyum pahit. Yasmin kembali-diingatkan pada realitas hidupnya. Ketabahan yang sudah dibangun dan dipupuk selama berada di rumah sakit mendapat ujian. Hendri tetaplah lelaki yang punya gairah seksual tinggi. Bagaimana mungkin hidup bersama dan tidur seranjang dengan lelaki seperti itu tanpa membangkitkan gairahnya? Dia punya kewajiban memenuhi hasrat suami, tapi dia juga punya hak untuk menolak. Tapi bisakah menolak terus-terusan? Malam itu, ketika mereka merebahkan diri berdampingan, kembali, keringat dingin membasahi tubuh Yasmin. Padahal Hendri belum melakukan apa-apa. "Sebenarnya Yasmin sudah bertekad untuk menghadapi Hendri dengan berani, tapi rupanya tekad saja tidak cukup. "Apa kau tidak rindu padaku, Yas?" tanya Hendri. Lalu ia meraih dan memeluk Yasmin.

http://inzomnia.wapka.mobi

Yasmin tidak bisa menjawab karena cumbu rayu Hendri membuatnya gelagapan. Napasnya sesak dan tubuhnya mengentak-entak seperti serangan ayan! Bukan karena terangsang, tapi ketakutan! Setelah berusaha susah payah, ia berhasil juga menguasai diri. Ia mendorong tubuh Hendri. "Jangan, Hen. Jangan sekarang," katanya lemah. Sebenarnya penolakan itu adalah kemajuan, karena biasanya ia tidak bisa menolak. "Aku akan melakukannya pelan-pelan," bujuk Hendri. "Biarkan aku melakukan pemanasan dulu supaya gairahmu bisa bangkit. Aku tidak akan buru-buru. Kutunggu sampai kau bergairah, baru kulakukan 249 penetrasi. Oke? Jadi rilekslah. Santai saja. Kendurkan otot-ototmu. Jangan tegang begini." Tapi ketakutan Yasmin tidak bisa diredakan dengan bujukan. Ingatan bagaimana ia merasa tubuhnya dihunjam dan dirobek-robek masih kuat sekali. Kalau ketakutan seperti itu sudah menguasai, tak ada pengaruh lain bisa mengatasi. "Kau mau, kan? Mau, ya?" gumam Hendri di telinga Yasmin sementara kedua tangannya sibuk melakukan "pemanasan". Tapi apa yang dilakukan Hendri itu malah membuat Yasmin merinding. "Tidaaak!" serunya keras sambil mendorong tubuh Hendri dengan keras pula. Tubuh telanjang Hendri yang sama sekali tak siap lalu terdorong dan terje-rembap ke lantai! Yasmin terkejut. Getar ketakutannya mereda melihat Hendri terpuruk. Ia mengulurkan tangan untuk membantu Hendri bangun. "Maaf, Hen. Nggak sengaja," katanya penuh sesal. Hendri menepis tangan Yasmin lalu melompat berdiri. Ia tak berkatakata tapi wajahnya yang muram memperlihatkan perasaannya. Setelah menyambar pa-kaiannya ia melangkah ke pintu. Ia keluar dengan membanting pintu keras-keras. Kamar seolah bergetar. Yasmin tertegun tanpa daya. Ia menyesal atas kejadian itu tapi tidak menyesali penolakannya. Sejak berada di rumah sakit ia sudah bertekad tidak akan lagi mengalami sakit dan nyeri seperti sebelumnya. Ia tidak

http://inzomnia.wapka.mobi

mau lagi diperlakukan semena-mena secara seksual. Hal itu juga ditekankan berulang-ulang oleh Delia. Jangan mau! Jangan mau! Ketika Yasmin masih merenungi kejadian itu dengan 250 sedih, pintu terbuka dan Hendri melangkah masuk. Wajahnya masih terlihat kusut. Segera Yasmin menegang dengan perasaan takut. Ia bersikap siaga. Hendri berlutut di tepi ranjang lalu menatap Yasmin. Ekspresinya murung. "Maafkan aku, Yas. Aku khilaf. Betapa sulitnya bagiku menahan diri. Sungguh aku tidak ingin menyakitimu seperti dulu. Aku tidak mau mengulangi. Aku sadar dulu telah memperlakukanmu secara kasar. Aku juga sudah berjanji padamu dan pada diriku sendiri untuk berubah. Aku tidak ingin kau mencoba bunuh diri lagi. Itu pelajaran keras buatku. Tadi aku ingin mencoba dengan cara yang berbeda. Nggak seperti dulu. Sepatutnya kau sendiri mau mencoba juga. Jangan belum apa-apa sudah ketakutan," kata Hendri dengan suara lembut. Yasmin merasa tersentuh mendengar suara Hendri. Ketakutannya menyurut. Sudah lama ia tak mendengar Hendri bicara dengan gaya seperti itu. "Maafkan aku, Yas. Maukah kau memaafkan aku?" Hendri mengiba penuh sesal. "Jangan ulangi lagi." "Ya. Aku berjanji. Oh, betapa susahnya menepati janji. Ayolah, kau belum mengatakan apakah kau memaafkan aku atau tidak. Aku akan terus berlutut di sini sebelum kau memaafkan aku." "Iya. Aku maafkan. Bangunlah." Belum lagi Yasmin berhenti bicara, Hendri sudah melompat bangun. Ia duduk di samping Yasmin. "Apakah kau melihatku sebagai monster?" tanya Hendri. "Kenapa kau bertanya begim?" "Sikapmu seperti itu. Seolah kau akan dimakan olehku, monster keji." 251

http://inzomnia.wapka.mobi

"Mungkin juga begitu. Aku takut melihatmu telanjang dan dalam keadaan terangsang." "Kalau begitu, bagaimana kalau kita bercinta tanpa membuka pakaian?" "Tapi... tapi nantinya kan dilepas juga." Hendri tertawa. "Nyatanya, aku memeluk dan mencium dengan pakaian lengkap pun kau takut juga. Takutmu tidak rasional." "Aku trauma." "Tapi trauma itu mesti dihilangkan dengan cara menghadapi. Bukan menghindari." "Entahlah. Pendeknya, aku tidak mau mengalami seperti dulu lagi." Yasmin merasa lega setelah mengucapkannya. Sewaktu berada di ranjang rumah sakit, ia pernah mengatakannya. Tapi situasinya berbeda dengan sekarang. Ketika itu ia merasa aman karena Hendri tidak berani macam-macam di situ. Di rumah sendiri menjadi lain. Di sini Hendri berkuasa. Dan janji yang pernah diucapkannya terbukti mau dilanggar di hari pertama mereka berada di rumah! "Apa itu berarti kau tidak mau bercinta lagi denganku?" Yasmin diam. "Coba katakan. Apa kau masih mencintaiku?" "Ya," sahut Yasmin. Aneh memang. Tadi ia marah dan benci, tapi setelah Hendri mengiba minta maaf, cinta datang lagi. "Aku heran. Orang yang mencintai itu punya dorongan untuk memeluk, membelai, dan mencium. Kau nggak," kata Hendri. "Kalau kulakukan itu pasti kau terangsang lalu..." Yasmin tidak meneruskan. "Ah, aku ngerti. Mestinya aku jadi robot. Tidak 252 membalas aksi dengan reaksi. Ya sudah. Betapapun mengherankan, kau masih mencintaiku. Aku senang mendengarnya. Begini saja. Untuk menghindari kejadian itu terulang lagi, biar kita pisah kamar saja. Bagaimana menurutmu?" Yasmin tersenyum. Ia menyukai ide itu! ***

http://inzomnia.wapka.mobi

Dokter Zainal, psikiater dan seksolog, menerima kedua pasiennya secara bergiliran. Dari pengalamannya ia mendapatkan suami-istri yang punya masalah dalam soal hubungan seksual sering susah bicara leluasa bila didampingi pasangannya. Awalnya ia mendengarkan curahan hati Yasmin. Tak lupa Yasmin memberikan surat rujukan dari Dokter Minarti, ginekolog yang pernah memeriksanya. Di situ lengkap tertulis kondisi organ seksualnya sesuai hasil pemeriksaan. Di luar dugaan Yasmin, ternyata ia bisa menceritakan permasalahannya tanpa merasa malu. Yasmin melihat seorang lelaki setengah baya bertubuh kurus dengan wajah panjang berekspresi serius mengangguk-angguk setiap kali ia berhenti bicara. Mata kecilnya di balik kacamata hanya sesekali menatapnya, lalu beralih ke atas meja yang membatasi mereka berdua. Ia mendapat kesan Zainal memang tekun mendengarkan meskipun tidak memandang kepadanya. Hal itu membuat rasa malunya lenyap. "Saya patut mengacungkan jempol pada Ibu karena berhasil mengatasi tekanan itu," puji Zainal. "Lepas dari usaha bunuh diri dan bisa membuat suami menyesali perbuatannya, Ibu juga tabah karena mau 253 kembali kepadanya meskipun menghadapi risiko terulangnya kejadian yang sama." "Itu karena saya berhasil ditolong teman, Dok. Tanpa teman saya juga tidak tahu apa yang terjadi." "Ibu memang beruntung. Sepatutnya keberuntungan itu jangan disiasiakan. Terutama manfaatkanlah untuk hidup Ibu ke depan. Jangan biarkan suami merusak hidup Ibu. Jadi waspadalah. Kalau ia tidak bisa dan tidak mau menepati janjinya, beranilah untuk segera bertindak. Secara fisik Ibu kalah darinya. Dan kalau dia stres akibat penolakan Ibu, saya khawatir dia bisa kehilangan kendali. Sebaiknya Ibu berbuat sesuatu sebelum hal itu terjadi." "Maksud Dokter, sebaiknya saya meninggalkan dia? Bercerai begitu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kalau memang itu jalan keluarnya, kenapa tidak? Kezaliman harus dilawan. Tapi bila menyangkut fisik, jelas tidak mungkin Ibu bisa menang." "Apakah saya bisa disebut frigid, Dok? Suami sering mengatai saya begitu." "Kalau saya menelaah cerita Ibu, bisa disimpulkan begitu. Ibu tidak bisa terangsang, benci dan muak terhadap seks. Setiap didekati dan dirayu, Ibu langsung ketakutan. Tapi untuk sementara saya simpulkan kondisi Ibu itu hanya tertuju kepada satu orang, yaitu suami. Pengalaman pertama dengannya adalah horor, demikian pula seterusnya. Dia membuat Ibu trauma. Jadi jangan segera berpikir bahwa diri Ibulah yang bermasalah. Bukan. Dia adalah penyebab. Pendekatan yang dilakukannya terhadap Ibu salah besar. Kalau Ibu bisa meyakini hal itu, Ibu tidak perlu rendah diri atau menganggap Ibu punya kelainan." "Ada satu hal yang mengganjal, Dok. Apakah 254 rasa sakit itu disebabkan oleh besar-kecilnya organ vital atau gerakan yang kasar?" "Organ lelaki memang tak sama ukurannya satu sama lain, Bu. Ada memang yang superbesar. Im sering terdapat pada orang dari ras tertentu. Pada orang kita juga ada. Ukuran itu pun tidak bisa dilihat dari postur tubuh. Orang tinggi besar belum tentu organnya itu besar pula. Demikian pula dengan orang yang tubuhnya kecil. Perempuan pun memiliki ukuran liang vagina yang tidak sama satu sama lainnya. Elastisitas otot-ototnya pun begim. Makanya banyak yang suka senam. Semakin elastis semakin mampu menerima ukuran penis meskipun tergolong besar. Dan karenanya ia bisa pula menikmati. Saya sendiri tidak tahu, seberapa besar ukuran penis suami. Apakah tergolong besar atau sedang. Ibu pernah mengatakan, saat penetrasi tidak sakit tapi setelah bergerak baru sakit Seharusnya suami tidak melakukannya dengan kasar. Dia harus mengimbangi perasaan istri, jangan mau enak sendiri." "Jadi yang mesti diperbaiki adalah suami, Dok?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Pertama-tama, ya. Tapi setelah dia menyatakan mau berubah, Ibu harus belajar melihatnya dari sisi lain. Tentu dia pun tidak cukup hanya ngomong saja. Yang penting adalah perbuatan. Itulah yang bisa membuat Ibu melihatnya secara berbeda. Bukan lagi sebagai mamak seks." "Jadi masih ada harapan bagi kami, Dok?" "Harapan selalu ada kalau disertai usaha, Bu. Dan jangan lupa, perlu saling menghargai. Kalau Ibu bisa menghargai susahnya menahan diri bagi lelaki yang punya libido tinggi, pandangan Ibu kepadanya bisa pelanpelan berubah." "Dia tidak perlu menahan diri, Dok. Terhadap 255 saya memang iya, tapi dia mencarinya di luar. Untuk menghindari sakit, saya lebih suka dia melakukannya dengan orang lain. Tapi kalau dia lakukan itu, saya juga merasa kesal, Dok." "Tentu. Itu lingkaran setan yang menyulitkan. Tapi kalau Ibu menahan sakit terus-terusan demi mempertahankan dia supaya tidak nyeleweng juga salah. Daya tahan Ibu kan terbatas. Dia pun jadi manja dan tidak mau berubah." "Apakah itu berarti kami tidak cocok satu sama lain?" "Kecocokan itu kan tidak bisa dilihat hanya dari satu segi, Bu. Dari segi seks, saya kira memang iya." "Apakah Dokter akan mengatakan hal itu juga kepadanya?" "Kira-kira begitu. Tapi sudah tentu ada perbedaannya. Inilah kegunaannya bicara dengan masing-masing secara terpisah. Pernah saya bicara dengan satu pasangan secara bersama-sama. Akhirnya mereka bertengkar di depan saya, karena masing-masing merasa benar. Bagi saya pembicaraan pertama penting karena harus mengetahui permasalahannya dari sudut masing-masing. Baru sesudah itu tampil bersama-sama untuk mencoba memberikan solusi." "Jadi nanti kami tampil bersama, Dok?" "Ya. Tapi saya anjurkan, sebaiknya sebelum itu Ibu dan suami berdiskusi di rumah, berusaha dan mencoba sendiri. Kesulitan yang ditemui bisa dibicarakan dengan saya."

http://inzomnia.wapka.mobi

Sesudah Yasmin selesai, ia diminta keluar dan Hendri menggantikannya masuk ke dalam. Hendri bercerita mengenai masalahnya dari sudut pandang dan kepentingannya. Ia yakin dokter yang sama256 sama lelaki pasti akan lebih memahami dan bersimpati kepadanya. Tapi setelah bercerita panjang-lebar, ia terkejut dan gusar ketika pada akhir ceritanya Zainal cenderung menyalahkannya. "Tidak sepatutnya Anda memperlakukan istri sebagai objek seks. Biarpun Anda punya libido tinggi, jangan jadi alasan yang perlu dimaklumi. Dia istri yang Anda cintai, kan? Seharusnya Anda menyayangi dan melindungi. Bukan menyakiti tubuh dan perasaannya. Dia bukan pekerja seks yang bisa diperlakukan semaunya demi uang. Juga tidak semua perempuan suka dengan gaya atau cara Anda dalam berhubungan. Kalau perempuan yang Anda gauli bilang Anda hebat, mungkin dia nggak ngomong yang sebenar-nya. Dia cuma mau mengambil hati demi materi. Mungkin saja dia juga merasa sakit tapi nggak mau bilang. Tambahan lagi perempuan yang sering berhubungan seks dengan banyak orang berbeda mungkin sudah terbiasa dan kebal. Tapi istri Anda? Pengalamannya cuma dengan Anda seorang. Betapa terkejutnya ketika pengalaman pertamanya menjadi horor baginya. Tapi Anda tidak peduli. Sampai dia hampir tak bisa jalan pun Anda tak peduli. Tak kasihankah Anda?" Sesungguhnya Zainal sendiri terkejut oleh ucapannya. Tak biasanya ia jadi emosional sampai cenderung menghakimi. Tapi dari penglihatan pertama ia sudah bisa memperkirakan siapa yang bisa lebih dipercayainya. Bahkan ia mengira ada bagian yang diperhalus dari cerita Yasmin. Tapi sebaliknya dengan Hendri. Ceritanya mengandung pembenaran pada perbuatannya dan tuduhan kepada Yasmin. "Tidak seharusnya Dokter langsung percaya kepada ceritanya. Dokter harus objektif." 257 "Dia menyerahkan pada saya surat pengantar dari Dokter Minarti, ginekolog yang pernah memeriksanya. Tanggalnya sudah cukup lama. Yang pasti sebelum dia berusaha bunuh diri."

http://inzomnia.wapka.mobi

Hendri terkejut. Jadi Yasmin mengungkapkan soal bunuh dirinya itu? Padahal ia sendiri ingin menyembunyikan. Zainal melanjutkan, "Surat pengantar itu menyertakan hasil pemeriksaan Dokter Minarti. Menurut istri Anda, dia tidak memperlihatkan surat itu kepada Anda. Saya akan memberitahu. Ada luka robek pada vagina istri Anda! Bahkan ada luka yang tadinya sudah kering jadi terobek lagi!" Hendri terkejut lagi. "Tadinya saya pikir dia cuma pura-pura. Orangnya memang cengeng," katanya. "Ketika dia mengatakan sakit, kenapa Anda tidak berusaha memeriksa sendiri? Itu kan kelihatan jelas! Dan kalau dia memang cengeng seharusnya Anda memperlakukannya dengan lembut sesuai dengan sifatnya." "Lantas jalan keluarnya gimana, Dok? Apa dia tidak boleh saya dekati lagi?" "Dia mengalami trauma, Pak. Itu karena perbuatan Anda. Kalau sekarang yang Anda pikirkan melulu tentang seks, Anda tak akan bisa mendekatinya." "Saya sudah berjanji kepadanya untuk berubah, Dok. Saya berusaha mendekatinya dengan cara yang berbeda. Tapi baru dipegang dia sudah gemetaran. Padahal saya sudah lembut sekali. Dan saya juga bilang bahwa saya akan melakukannya perlahan-lahan. Tapi dia tetap saja begitu. Kok sulit amat." "Sebenarnya tidak sulit. Asal ada kemauan, Pak. Anda harus bersabar. Jangan buru-buru. Berikan perhatian tanpa menjurus ke seks. Selama ini dia 258 telanjur menganggap segala bentuk perhatian dan sentuhan Anda pasti menjurus ke seks." "Jadi selama itu saya harus puasa, Dok?" "Anda sudah berpengalaman. Pasti tahu bagaimana caranya. Asal jangan lupa pakai pengaman supaya tidak mendapat masalah baru. Yang penting

http://inzomnia.wapka.mobi

Anda harus menjaga dan melindungi istri yang Anda sayangi. Cobalah tempatkan diri Anda pada dirinya." "Apakah Dokter tidak menasihati dia supaya berusaha menghilangkan takutnya yang berlebihan?" "Takutnya itu hanya bisa dihilangkan oleh Anda sendiri. Tunjukkan bahwa Anda memang ingin berubah dan tidak sama lagi seperti dulu. Jangan cuma dengan kata-kata. Percuma. Kalau Anda ingin berhasil, Anda harus bisa mengendalikan diri. Bukan cuma dalam soal seks Anda harus bersikap lembut dan penuh perhatian, tapi juga dalam keseharian. Saya percaya Anda mampu. Awalnya adalah iktikad. Dan itu sudah Anda tunjukkan." "Apa yang dikeluhkan istri saya, Dok? Mungkin ada hal-hal yang tidak mau disampaikannya pada saya." "Dia tidak, mengeluh. Dia cuma bercerita mengenai pengalamannya. Yang ditanyakan adalah bagaimana dia harus bersikap dan membantu Anda supaya bisa berubah." "Ah, jadi dia ingin saya bisa dibentuk sesuai kehendaknya?" Zainal tertegun. Ucapan Hendri itu sepertinya tidak sesuai dengan niat baik yang diutarakan sebelumnya. "Saya kira nggak begitu, Pak. Dia juga ingin berubah. Dia sadar punya kelainan. Tapi menurut saya, itu bukan kelainan. Dia terlalu sensitif. Gampang trauma." 259 Sebelum pamitan, Hendri bertanya, "Apakah orang yang pernah mencoba bunuh diri cenderung mengulanginya, Dok?" "Tidak selalu, Pak." "Tidak selalu berarti mungkin ya, Dok?" "Usahakan supaya itu tidak terjadi lagi, Pak!" Setelah Hendri keluar, Zainal tidak lagi menyembunyikan kejengkelannya. Ia memonyongkan mulutnya. "Huuu..." 260 BAB 26

http://inzomnia.wapka.mobi

Sebenarnya Hendri punya motivasi cukup kuat untuk memperbaiki sikapnya kepada Yasmin, yaitu kekayaan ayah mertuanya. Bagaimanapun ia harus berbaik-baik dengan Yasmin. Jangan sampai ditinggalkan apalagi diceraikan. Ia pernah punya angan-angan yang sangat buruk. Bila Yasmin yang jadi ahli waris kelak meninggal, misalnya dengan bunuh diri lagi, tentu dialah yang jadi ahli waris berikutnya! Betapa senangnya mendapat harta tanpa susah payah. Padahal selama ini dengan bekerja setiap hari, capek badan dan capek hati, ia hanya mendapat penghasilan pas-pasan. Ia menyadari, sebaiknya tidak mengulur waktu terlalu lama untuk memberitahu Yasmin soal ayahnya itu. Biarpun Winata memberi waktu sebulan, Hendri tak mau menunggu sampai selama itu. Bisa merugikan dirinya sendiri. Untuk meyakinkan dan mengambil hati Yasmin, di samping pisah kamar ia juga membuat kesepakatan bahwa ia tidak akan mengajak Yasmin berhubungan seks bila Yasmin tidak suka. Dengan demikian Yasmin tidak usah ketakutan lagi bila didekati dan disentuh. Perjanjian ini melegakan hati Yasmin. Perasaannya kepada Hendri melembut karena sadar itu kesepakatan yang berat bagi Hendri. Yasmin menganggapnya 261 sebagai pengorbanan. Orang yang mau berkorban tentulah baik sekali. Patut dihargai. Dengan adanya kesepakatan itu berarti jalan keluar sudah diperoleh. Jadi mereka sepakat juga untuk tidak perlu berkunjung lagi ke Dokter Zainal. Bagi Hendri, kesepakatan itu bukanlah masalah berat seperti yang diperlihatkannya di depan Yasmin. Itu hanya strategi untuk mendapatkan sesuatu yang lebih berarti untuknya. Apa senangnya bercinta dengan orang yang mengerut karena ketakutan dan kesakitan? Ia bisa memuaskan dahaganya di tempat lain. Yasmin boleh saja mencurigainya mengenai hal itu, tapi ia tahu Yasmin tidak akan mempersoalkan. Yang penting ia harus lebih berhati-hati dan tidak mengumbarnya terang-terangan seperti dulu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Selama beberapa hari itu hubungan mereka berjalan baik. Yasmin mulai menikmati kehidupannya sebagai ibu rumah tangga. Dulu ia tidak bisa menikmatinya karena ketakutan dan kesakitan lebih mendominasi kehidupan sehari-hari. Karena itu ia belum memikirkan soal lainnya, termasuk keinginan untuk melakukan kegiatan di luar rumah. Misalnya bekerja atau menambah ilmu. Tanpa diketahui Hendri, setiap hari Yasmin bicara dengan ayahnya lewat telepon. Setiap kali pula Winata berpesan agar tidak memberitahu Hendri mengenai hal itu. Bila ditanyakan kenapa, selalu dijawab bahwa pada saatnya ia akan tahu. Ia tidak tahan lagi. Ia harus tahu. "Mungkin tak lama lagi Hendri akan mengatakan sesuatu perihal aku, Yas. Jangan kaget dan jangan menyangka jelek dulu ya." "Supaya aku nggak kaget, bukankah sebaiknya Papa memberitahu dulu apa yang akan dia katakan itu?" 262 "Ah... baiklah. Dia ingin membujukmu supaya mau baikan denganku. Aku yang memintanya." "Oh begitu. Masa begitu aja kaget sih, Pa?" "Aku ingin kau tidak terpengaruh oleh pemberitahuan itu. Biar kau menilai sendiri. Tapi sebaiknya kau berpura-pura tidak tahu. Bukankah kau sudah berjanji tidak akan bercerita perihal hubungan kita ini? Bayangkan. Aku meminta dia sebagai perantara untuk membujukmu. Tahu-tahu kau sudah baikan denganku tanpa bantuan dia. Padahal dia tidak dibe-ritahu. Aku kira dia bakal tersinggung." "Tapi kenapa Papa nggak sejak pertama saja memberitahu aku?" "Begini. Aku surprise sekali ketika sehari setelah aku minta bantuannya, kau nelepon sendiri. Padahal nggak dibujuk si Hendri. Makanya waktu itu aku cerewet menanyai kau. Tapi aku senang sekali. Luar biasa rasanya." "Kenapa Papa nggak mengizinkan aku memberitahu dia saat itu juga? Kan jadi cepat beres." "Aku ingin ngetes dia, Yas. Kelihatannya dia bersemangat sekali. Ingin jadi perantara yang sukses. Apalagi dia cerita betapa keras kepalanya kau dan besarnya dendammu padaku. Pendeknya, dia menggambarkan

http://inzomnia.wapka.mobi

betapa susahnya membujukmu agar mau memaafkan aku. Makanya aku ingin dia nggak tahu dulu. Apalagi sehari kemudian dia bilang sudah ngomong sama kau tapi kau tetap nggak mau baikan denganku biarpun sudah diberitahu bahwa aku sakit. Jadi dia bohongi aku." "Wah, begitu ya? Mestinya Papa kasih tahu aku." "Ketika itu kau masih di rumah sakit. Aku tak mau membuatmu marah." "Baiklah. Aku ngerti, Pa." 263 "Aku minta padamu, Yas. Apa pun yang dikatakannya nanti, jangan sampai memengaruhi hubungan kita, ya?" "Ya," sahut Yasmin. Tak ingin bertanya lagi. Pemberitahuan ayahnya itu tidak memengaruhi Yasmin. Ia tetap bersemangat dan gembira. Bila" Hendri pergi ke kantor, ia sibuk berteleponan. Bukan hanya dengan ayahnya, tapi juga dengan Delia dan Erwin. Setiap pagi jam sembilan Erwin menelepon untuk menanyakan kabarnya dan bercerita mengenai berbagai peristiwa yang terjadi di motel. Yasmin senang mendengarnya. Ia lebih senang lagi setelah tahu bahwa Delia akan bekerja di motel bila pemeriksaan kesehatan yang sedang dijalaninya menyatakan dia sehat. Yasmin terkejut karena mengira Delia jatuh sakit. Tapi Delia menenangkannya dengan mengatakan dia hanya menjalani general check up. Setiap hari Yasmin menunggu Hendri membuka pembicaraan perihal ayahnya. Ia tak perlu menunggu lama. Saat itu tiba juga. "Waktu kau pergi ke motel itu dan nggak pulangi pulang, aku menelepon ayahmu. Siapa tahu kau ada di sana. Ternyata memang nggak ada. Dia senang kutelepon lalu memintaku datang karena perlu bicara, Jadi aku datang dan kami berbincang. Dia ingin sekali berbaikan denganmu, Yas. Dia minta kaul memaafkan dia. Sekarang dia sakit. Hampir sepanjang hari duduk di kursi roda," tutur Hendri. Yasmin merasa kesal kenapa baru sekarang Hendri mengatakannya. "Aku baru bilang sekarang karena takut kau malah jadi tambah stres. Sekarang kan kau sudah gembira. Aku juga bilang pada Papa. Tunggulah sampai Yasmin sehat dan pulang dari rumah sakit."

http://inzomnia.wapka.mobi

264 "Apakah kau memberitahu Papa soal kenapa aku masuk rumah sakit?" tanya Yasmin meskipun ia sudah tahu. "Aku bilang kau keserempet motor." "Oh begitu. Apa kau ketemu Tante?" "Papa sudah cerai. Tante pergi sama lelaki lain." "Oh begitu. Pantas dia mau baikan sama aku. Dasar egois!" seru Yasmin. Senang bisa berpura-pura. "Kau mau kan baikan sama dia?" "Nggak ah." "Kasihan dia sendirian, Yas. Cuma ditemani perawat dan pembantu." "Biar sajalah. Biar tahu rasa." "Dia kan ayahmu, Yas. Jangan kejam dong." Yasmin melotot. Bisa-bisanya Hendri menyebut ia kejam. Siapa yang lebih kejam? "Jangan marah, Yas. Aku bermaksud baik mau mendamaikan kalian." "Apakah anak-anaknya dengan Tante juga dibawa serta?" "Mereka tidak punya anak, Yas. Jadi kau anak satu-satunya. Ingatlah. Dia kaya, Yas. Rumahnya besar dan mewah." "Jadi kenapa?" "Kau tak ingin jadi ahli warisnya?" "Aku memang ahli warisnya. Dia tak punya istri dan anak lain, kan?" "Memang betul. Tapi dia bilang akan menyerahkan hartanya kepada yayasan sosial atau apalah bila dalam waktu sebulan kau belum juga mau baikan dengannya. Jadi kau tak bisa mendapatkan hartanya. Palingpaling kebagian sedikit. Kan sayang, Yas." Sekarang Yasmin benar-benar terkejut. 265 "Benar dia bilang begitu? Atau kau ngarang saja?" "Iya. Bener." "Coba aku tanya dia apa bener begitu." Yasmin melompat menuju pesawat telepon, pura-pura mau menelepon. Tapi Hendri menyambar lengannya. "Jangan, Yas! Kau mau apa? Marahmarah, ya? Itu cuma membuat dia marah juga. Bisa dipastikan besok dia hibahkan hartanya kepada orang lain." "Peduli amat! Buat apa harta?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Hei, jangan begitu, Yas! Buat apa katamu?" seru Hendri gemas. "Apa kau tidak ingin kaya dan hidup senang di rumah besar dan mewah? Apa kau merasa cukup dengan gajiku yang kecil?" "Aku suka hidup sederhana. Bukankah aku tak pernah menuntut ini-itu kepadamu?" Hendri menatap Yasmin dengan geregetan. "Pikiranmu sungguh pendek, Yas. Bagaimana kalau aku dipecat? Perusahaanku lagi gonjang-ganjing, tahu?" "Nantilah. Kupikirkan." "Ya, pikirkan dengan baik. Jangan langsung menelepon dia. Bilang aku dulu." Yasmin mengiyakan. Tapi pikirannya berjalan dengan sendirinya. Sebelum Hendri mengetahui apa yang dilakukan Yasmin di Motel Marlin, lelaki itu bicara dengan Winata. Hendri ingin jadi perantara yang sukses, begitu penilaian Winata. Apakah itu yang membuatnya jadi begitu baik dan perhatian kepadanya? Yasmin menjadi sedih. Bukan cuma mengenai Hendri, tapi juga ayahnya! Jadi itulah rupanya yang membuat ayahnya berpesan agar ia tidak kaget mendengar penuturan Hendri. Ayahnya memang tidak memahami dirinya. *** 266 Esok pagi, begitu Hendri berangkat ke kantor, Yasmin langsung menelepon ayahnya. "Dia sudah ngomong, Pa. Jadi itu yang Papa sembunyikan? Kok tega sih Papa menggunakan harta sebagai senjata?" "Maafkan aku, Yas. Aku sudah putus asa. Aku sakit. Aku... aku takut mati tanpa bisa berbaikan denganmu lebih dulu. Aku takut mati sebagai orang yang kesepian. Aku sungguh terpaksa. Kontak denganmu benarbenar tak ada. Aku orang yang panik." Yasmin tertegun. Kata-kata itu membangkitkan iba. Tapi ia masih kesal. "Kenapa Papa tidak segera mengatakannya saja waktu kutelepon? Kenapa Papa mengulur waktu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku tidak mau merusak suasana. Kau sudah begitu baik padaku dengan menelepon duluan. Masa aku mengejutkanmu dengan pengakuan itu? Kau pasti marah, kan? Maka awal yang baik itu menjadi sia-sia. Aku menyesal pun percuma karena sudah terjadi. Padahal kau menelepon aku tentu tidak gampang. Lewat pertimbangan dan hati nurani dulu, kan? Tapi sekarang ini berbeda karena hubungan kita sudah terjalin. Kalaupun kau berpikir negatif, pasti ada pertimbangannya." Yasmin bisa merasakan kebenaran kata-kata itu. Sebenarnya, kalau ia sendiri tidak mengalami derita, mungkin reaksinya akan lain. Orang yang pernah menderita lebih bisa merasakan derita orang lain. "Iya deh. Aku ngerti. Mengenai Hendri, berapa komisi yang dimintanya dari Papa?" "Komisi?" "Bukankah Papa mengatakan dia ingin menjadi perantara yang sukses? Pasti ada komisinya dong." "Ah, nggak ada. Dia nggak minta komisi. Malu 267 dong. Cuma aku menganggap dia ingin menimbulkan kesan bahwa usaha membujukmu itu akan sulit sekali. Jadi kalau berhasil, pasti hebat. Jelas Citranya di mataku tentu akan naik. Sayangnya dia tidak berhasil karena dia berkata begitu setelah kau menelepon aku dengan kemauan sendiri. Jadi gambarannya tentang dirimu sama sekali tidak benar." "Aku nggak percaya dia nggak minta apa-apa sama Papa." "Baiklah. Terus terang saja, ya. Nanti aku dibilang menyembunyikan. Dia minta bantuanku membayar biaya rumah sakit." "Oh begitu." Yasmin merasa tidak perlu kaget. "Berapa?" "Lima belas juta." "Jadi dua kali biaya sesungguhnya." "Ya sudahlah. Nggak apa-apa. Banyak orang suka begitu. Sebaiknya kau nggak usah menanyakannya. Nanti kalian jadi ribut. Itu masalah kecil. Aku kan punya uang dan ingin membantumu." Yasmin tidak merasa terhibur oleh ucapan itu. Ia sudah tahu Hendri tidak jujur. Tapi ayahnya sekarang tahu. "Yas, masih marah?" "Nggak, Pa."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sedih? Jangan, Yas. Aku menyesal sekali." "Nggak, Pa. Aku nggak marah dan nggak sedih. Kecewa sih iya. Tapi sudahlah. Seperti Papa bilang tadi, banyak orang begitu kok. Tambah satu lagi nggak masalah." "Aku menyesal kau harus tahu. Tadinya aku nggak mau bilang. Tapi aku takut dibilang menyembunyikan kalau suatu saat kau tahu juga." "Betul, Pa. Aku malah senang dikasih tahu." 268 "Yas, ngomong di telepon gini nggak pernah bisa cukup. Kenapa nggak datang saja?" "Sekarang?" "Ya. Kapan lagi? Kecuali kau merasa kurang sehat." "Baiklah." "Tunggu saja. Nanti Aryo datang menjemputmu." * * * Yasmin mengagumi rumah ayahnya. Hasil renovasinya spektakuler, pikirnya. Tapi untuk apa rumah besar dan mewah kalau penghuninya sendirian dan kesepian? Ia terkejut lalu menangis ketika berjumpa dengan ayahnya. Rasa ibanya menghapus semua perasaan negatif yang masih tersisa. Ayahnya yang terakhir dilihatnya tampak gagah dan berwibawa kini berwajah cekung, kurus, dan loyo. Sorot matanya tak lagi setajam dulu. Keangkuhannya tak ada lagi. Bagi orang yang tak pernah mengenalnya, pasti bukan kejutan. Tapi bagi Yasmin yang mengenal dan dekat di masa kecil, kejutannya besar sekali. Winata pun kritis mengamati dan menilai putrinya. Ia juga terkejut karena melihat gurat-gurat kesedihan di wajah Yasmin. Itu membuat usianya tampak lebih tua. Apakah dia tidak bahagia? Orang yang bahagia dalam hidupnya, ceria dan banyak tawa, biasanya akan tampak lebih muda dari usianya. Biarpun demikian ia menganggap Yasmin tetap cantik seperti yang selalu dikenal dan dikenangnya. Dibantu Aryo, Winata turun dari kursi roda. Ia mengulurkan kedua tangannya. Yasmin masuk dalam pelukannya. Mereka berpelukan sampai Winata tak 269

http://inzomnia.wapka.mobi

sanggup lagi berdiri. Ia kembali ke kursi roda. Air mata kegembiraan mengalir di pipinya. Sementara itu Aryo segera masuk ke dalam untuk menempati posnya yang biasa. Ia pun dilanda keharuan. Yasmin mengambil tempat di sisi kursi ayahnya. "Ah, kau nangis, Yas." "Papa juga." Mereka tertawa. Yasmin menyandarkan kepalanya di lengan Winata. Dulu ia suka berbuat begitu. Winata pun menikmati. "Jadi kau sudah tidak membenciku lagi, Yas?" "Ah, Papa ini gimana sih? Kalau benci masa ke sini." "Habis kayak mimpi sih." "Jangan gitu, Pa. Papa membuatku merasa jadi anak durhaka." "Ah masa? Nggak deh. Aku nggak gitu lagi." "Pa, aku yakin Mama juga akan memaafkan Papa." "Oh ya? Aku sudah sering minta maaf padanya, tapi sudah tentu aku takkan mendapat jawaban. Hanya kau yang bisa memberi jawaban. Aku ingat, Hendri bilang kau perlu ziarah dulu ke makam Mama sebelum memberi jawaban." "Aku seperti orang bodoh dong. Masa harus ke makam dulu kalau jawabannya ada di sini." Yasmin menunjuk dadanya. "Betul sekali. Mulai sekarang aku nggak akan percaya lagi pada mulut si Hendri. Apakah dia sering berbohong juga padamu?" "Kalaupun berbohong aku nggak tahu, Pa," jawab Yasmin diplomatis. "Oh ya. Setelah Hendri bercerita tentang pertemuannya denganku, apa yang terjadi?" 270 "Dia membujukku, aku pura-pura nggak mau. Lalu dia ngomong soal harta yang Papa mau hibahkan kepada orang lain kalau aku nggak mau. Tapi aku bilang, perlu pikir-pikir dulu." "Bagus! Biar dia tahu rasa sudah bikin susah orang!" Yasmin tersenyum. Ia beranggapan sama. Hitung-hitung membalas perbuatan Hendri kepadanya. Terpikir olehnya, apa reaksi ayahnya bila tahu apa saja yang dilakukan Hendri terhadapnya selama masa

http://inzomnia.wapka.mobi

perkawinan mereka. Tapi ayahnya tidak perlu tahu. Itu masalah pribadinya. Winata membelai kepala Yasmin. Dulu dia sering melakukannya. "Sekarang kau dewasa sekali, Yas. Caramu bersikap dan kata-kata yang kauucapkan menunjukkan itu." "Pengalaman hidup yang membuat orang berubah, Pa." "Betul sekali. Boleh aku tahu apa yang membuatmu berubah?" "Wah, jangan dulu deh, Pa. Ceritanya panjang." Winata tertawa. "Kau membalasku, ya? Padahal kau punya banyak waktu untuk bercerita. Ini kan bukan di telepon." "Justru itu, Pa. Kita masih punya banyak waktu. Besok dan besoknya lagi." "Apa itu berarti kau akan sering-sering datang kemari?" "Ya, Pa. Kalau Papa nggak bosan." "Aduh! Bosan? Masa sih? Tapi ingat kondisiku. Aku ini sudah tua dan sakit." "Pa, umur itu di tangan Tuhan. Ingat saja itu." Yasmin mengatakannya dengan serius. Winata mengangguk respek. 271 Mereka berbincang tentang masa lalu dengan asyik. Yang sama-sama dihindari keduanya adalah kehidupan perkawinan mereka. Akhirnya Yasmin sadar dengan terkejut. "Pa, aku mesti pulang!" "Kenapa? Ada janji?" "Bukan. Aku ke sini tanpa rencana. Jadi nggak siap. Aku belum masak, Pa. Dia rumah nggak ada pembantu." "Im sih soal kecil. Bu Tati sudah masak ekstra hari ini. Kau bawa rantang pulang, ya?" "Wah, Hendri akan terheran-heran melihat masakanku yang lain dari biasanya." "Bohongin aja." "Dia pasti tahu kalau aku pergi. Aku harus berbohong yang lain lagi." "Tahu dari mana?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tiap hari dia menelepon dan kantor, Pa. Kalau nggak diangkat pasti nggak ada orang, kan?" "Menelepon tiap hari itu tanda perhatian atau mau ngecek keberadaanmu?" "Bisa dua-duanya, Pa." Jawaban itu cukup bagi Winata untuk memastikan bahwa Hendri bukanlah suami yang ideal. "Pa, aku punya ide! Daripada berbohong terus, lebih baik terus terang aja. Aku akan beritahu Hendri bahwa aku sudah baikan sama Papa dan hari ini datang ke sini. Pulangnya bawa masakan dari sini." Winata terperangah sejenak. "Kenapa kau memutuskan begitu?" "Aku sudah bosan berbohong terus. Lain kali kalau aku ke sini lagi, masa bohong lagi?" "Apa kau akan cerita semuanya dari awal?" "Yang sudah lalu biarlah berlalu." "Terserah kau bagaimana baiknya. Apa dia nggak akan marah padamu?" 272 "Aku akan mengatakan bahwa kita baru baikan hari ini. Lalu aku datang ke sini. Im saja." "Kalau kau diapa-apakan, kasih tahu aku, ya?" Yasmin tersenyum. "Jangan khawatir, Pa. Dia akan baik-baik saja." Perkiraan Yasmin memang benar. Ketika Hendri pulang, tanpa buang waktu atau ditanyai lebih dulu, ia segera mengatakan, "Aku tadi ke rumah Papa. Masalah di antara kami sudah selesai. Kami sudah baikan. Yang lalu sudah dimaafkan." Hendri terkejut sekali. "Kenapa kau pergi nggak bilang-bilang? Kau bisa menelepon ke kantor, kan? Kenapa nggak tunggu aku? Kan kita bisa pergi sama-sama? Bukankah sudah kukatakan, kalau hendak memutuskan sesuatu katakan padaku dulu," Hendri menyesali. "Semuanya terjadi spontan. Aku memutuskan tadi. Aku menelepon Papa, terus Papa kirim mobil. Im makanan bawa dari sana. Enak sekali." "Mestinya, habis memutuskan kau menelepon aku. Nanti sore kita bisa pergi sama-sama. Kau melupakan peranku, Yas."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Peranmu?" "Ya. Bukankah aku yang berinisiatif menelepon Papa waktu kau pergi ke motel?" "Tapi..." "Jangan lupa. Berkat bujukanku juga kau mengambil keputusan itu." "Sori deh. Lain kali kita pergi sama-sama ke sana." "Sayang aku melewatkan perjumpaan pertama kalian setelah dendam bertahun-tahun." "Ah, tak usah mendramatisir. Biasa-biasa aja." "Ada pelukan dan ciuman?" 273 "Ada." "Mestinya untukku juga ada dong." Yasmin tersenyum. Hendri mengira itu pertanda positif. Ia mendekat sambil mengulurkan kedua tangannya. Senyum Yasmin serta-merta lenyap dan wajahnya berubah. Cepat-cepat Hendri menjatuhkan kedua tangannya dan menghentikan langkahnya. Ia mengangkat bahu. "Kalau begitu, aku mengucapkan selamat saja," katanya, berusaha tidak memperlihatkan kejengkelannya. "Terima kasih, Hen. Kau baik sekali." Lalu Hendri teringat akan uang yang diberikan Winata untuk biaya rumah sakit. Dan cerita bohong-" nya yang lain. "Apakah Papa cerita yang lain, Yas?" "Yang lain apa?" "Tentang kunjunganku ke sana dan apa yang kami bicarakan?" "Oh, yang itu sedikit. Kami lebih banyak bicara tentang masa lalu. Nostalgia. Memangnya ada yang istimewa?" "Nggak. Nggak ada." Aku tahu dia sebenarnya marah, pikir Yasmin. Tapi aku yakin dia tidak akan melampiaskannya kepadaku. Sekarang aku terlalu berharga untuk disia-siakan. 274 BAB 27

http://inzomnia.wapka.mobi

Hari itu merupakan hari bahagia bagi Delia, Kosmas, dan Erwin. Ada berita menakjubkan dari rumah sakit berupa hasil pemeriksaan terhadap Delia. Ia dinyatakan tidak menderita kanker rahim! Kista yang dulu ditemukan di dalam rahim sudah lenyap! Awalnya Delia datang ke dokter yang pertama memeriksanya dulu lalu menentukan adanya kanker kemudian menganjurkan agar ia menjalani operasi pengangkatan rahim. Tentu saja dokter itu takjub sekali ketika hasil pemeriksaan menunjukkan ra-himnya bersih dari tumor. Ia tidak percaya hasil pemeriksaannya dulu salah atau tertukar dengan milik orang lain. Itu sangat tidak mungkin. Tapi kenyataan menunjukkan demikian. Ia bukan saja takjub, tapi juga sempat takut kalau-kalau disangka melakukan malapraktik. Bayangkan kalau rahim sesehat itu sampai diangkat karena anjurannya! Tapi Delia mengatakan padanya bahwa ia menjalani pengobatan alternatif. itu membuat si dokter terhibur. Jadi bukan dia yang salah, melainkan si pengobat alternatif itulah yang lebih pintar. Tapi Delia tidak hanya memeriksakan diri di satu rumah sakit. Ia juga pergi ke rumah sakit lain dan melakukan pemeriksaan yang sama. Di rumah sakit kedua itu pun hasilnya sama. Tapi ia sendiri tidak 275 yakin apakah benar pengobat alternatif itulah yang menyembuhkannya. Bukankah ia tidak melakukan pengobatan sampai tuntas? Jawabannya tidak perlu dicari, hanya diterima saja. Mereka bertiga merayakannya dengan melakukan meditasi dan doa bersama. Kemudian Delia resmi menjadi karyawan Motel Marlin. Ia pindah dari kamar 14 ke bagian belakang, kamar para karyawan yang tinggal di dalam. Semula Kosmas memaksanya menetap di kamar 14, mengingat kamar itu bersejarah. Tapi Delia tidak mau. Kamar itu untuk tamu, bukan untuk karyawan. Ia tidak ingin diperlakukan berbeda. Bagaimana nanti anggapan karyawan lain? Tapi Delia tidak melupakan Ratna.

http://inzomnia.wapka.mobi

*** Perubahan fisik Ratna menimbulkan problem baru. Orang-orang di luar anggota keluarga tentu saja tidak pernah menyangka bahwa Ratna yang sekarang mereka lihat sama dengan Ratna yang dulu. Mereka itu para tetangga dan karyawan di bengkel Rama. Dalam berbagai kesempatan Rama dan Maya mengatakan pada mereka bahwa Ratna sudah pindah untuk tinggal bersama anaknya yang lain. Sementara Ratna yang sekarang adalah kerabat dekat yang akan tinggal sementara dengan mereka. Rahasia harus dijaga rapat-rapat. Mereka menyadari keharusan itu karena rasa takut. Bahkan anak-anak seperti Boy, Lisa, Donna, dan sepupu-sepupunya yang masih remaja dan umumnya suka sensasi tahu betul apa bahayanya bila mereka sampai membocorkan rahasia itu. Di samping belum tentu ada yang 276 percaya, masih ada lain yang menakutkan, yaitu hukuman dari Rama. Sudah terbukti bagaimana keampuhan ilmu yang dimiliki Ratna hingga mereka tunduk. Bukan cuma rasa takut dikutuk yang membuat mereka mampu menjaga rahasia, melainkan ketakutan yang lain. Bila sampai terjadi kehebohan di masyarakat sekitar yang kemudian meluas, Ratna bisa dituduh sebagai dukun hitam atau tukang santet! Sudah terbukti banyak orang yang dituduh sebagai tukang santet dibunuh ramai-ramai walaupun tak ada bukti. Rama dan Maya semakin stres. Lebih-lebih Maya. Tetapi keadaan itu membuat hubungan mereka berdua menjadi lebih baik dan dekat. Demikian pula anak-anak mereka. Mereka jadi lebih bersatu. Hal itu menghibur perasaan Maya hingga ia menjadi lebih diringankan. "Bagaimanapun kita masih lebih baik daripada Del. Dia sendirian dan dikejar-kejar," bisik Rama, sekalian menghibur diri sendiri. "Tapi kita serumah dengan Mama, Pa," balas Maya dengan berbisik juga. "Serumah atau tidak serumah baginya pasti bukan masalah."

http://inzomnia.wapka.mobi

Ternyata bila sedang membicarakan Ratna di rumah mereka melakukannya dengan berbisik-bisik walaupun Ratna sedang keluar. Bagaimana kalau Ipah mendengar lalu menyampaikan? Mereka tidak tahu apakah Ipah sudah menjadi kaki tangan atau tidak. Lebih baik berhatihati. Setelah menjadi muda kembali, Rama jadi lebih sering jalan-jalan, terutama ke mal. Dulu ia hanya pergi kalau ikut serta dengan Rama sekeluarga atau ada yang mengajak. Biasanya ia segan karena kakinya 277 tidak kuat berjalan jauh. Tapi sekarang fisiknya menjadi kuat dan energik. Encoknya pun hilang tak berbekas. Meskipun ia suka pergi keluyuran sendiri, tak ada anggota keluarganya yang mengkhawatirkan keselamatannya. Tak ada yang meragukan kemampuannya menjaga diri. Yang di rumah pun merasa lega kalau ia pergi. Sepertinya udara menjadi lebih nyaman untuk dihirup. Bebas berteriak dan bernyanyi. Asal tidak membicarakan dirinya. Kalau perlu, juga dilakukan dengan berbisik-bisik. Tetapi kesenangan baru Ratna itu membawa ekses lain. Ia perlu uang untuk biaya jalan-jalan dan belanja. Terpaksa Rama menyisihkan uang yang diperolehnya dari iuran saudara-saudaranya, padahal itu pun sudah berkurang karena Delia tidak lagi ikut serta dalam iuran itu. Maka terpaksa ia minta tambahan dari saudara-saudaranya. Ada yang bersedia, ada yang tidak. Akhirnya Rama terpaksa meminta Ratna untuk menerima jatah tertentu setiap bulannya. Tidak bisa minta lagi dan minta lagi setiap kali uangnya habis. Biarpun takut, Rama bisa juga melakukannya. Demi kehidupan keluarganya. Tak mungkin ia membiarkan Ratna berbelanja tanpa batas padahal dirinya sekeluarga berhemat habis-habisan. "Sekarang cari duit susah, Ma. Bengkel banyak saingan. Anak-anak butuh biaya besar untuk sekolah. Harga-harga kebutuhan pokok naik terus," ia menjelaskan. Ratna tidak memaksa meskipun wajahnya cemberut. Rama merasa lega karena tidak mendengar sumpah serapah dari mulut Ratna.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jangan lega dulu," bisik Maya. "Kalau mau 278 mengutuk, dia tidak perlu terang-terangan. Bisa saja dia melakukannya di kamar sambil membakar kemenyan." "Tenang, Ma," bisik Rama. "Kalau dia mengutuk kita dan membuat kita hancur, siapa yang mau tinggal bersamanya? Memang ini rumahnya? Apa dia mau tinggal sendiri? Dan siapa yang membiayainya? Kalau semua anak, menantu, dan cucu dikutuknya, bukankah berarti ia akan hidup sendirian?" Ratna sedang dalam kondisi terlalu gembira untuk mengutuk siapa pun. Ia menikmati keadaannya dan memaksimalkan penampilannya. Sekarang ia bisa memperoleh apa yang diinginkannya yang tak bisa didapatkannya di masa lalu. Ia juga lebih menyukai situasi sekarang daripada dulu. Model pakaian lebih menarik dan seronok dibanding dulu. Demikian pula urusan rias wajah dan rambut. Untuk pakaian ia mencari sendiri di toko dan urusan rambut ia pergi ke salon. Alat kosmetik bisa digunakannya sendiri. Maka penampilan Ratna tampak mencengangkan. Ia menyingkirkan daster-dasternya yang longgar dan berwarna tua. Sebagian diberikannya kepada Ipah. Sebagai gantinya ia mengenakan pakaian yang baru dibelinya. Ada rok ketat, celana panjang ketat atau cutbrai, atau celana ukuran sebetis atau selutut dengan atasan blus pendek yang pas di badan atau kaus ketat! Tubuhnya yang ramping, dada penuh, dan perut rata, membuat ia pantas saja mengenakan pakaian itu. Bahkan sanggup memesona mata yang memandang. Penampilan Ratna jadi lebih cantik, lebih muda, dan lebih modis dibanding Maya. Ia kelihatan seperti ibu Lisa dan Boy, bukan nenek mereka! Melihat itu, bertambah saja rasa muak dan keben279 cian Maya. Ditambah dengan rasa iri. Ia sendiri tidak mungkin bisa mengenakan pakaian seperti yang dikenakan Ratna karena perutnya yang membesar. Dan tentu saja karena Ratna tampak jauh lebih muda dari

http://inzomnia.wapka.mobi

dirinya. Padahal ia sadar sepenuhnya bahwa Ratna mendapatkan semua itu secara tidak wajar. Akhirnya suatu waktu Maya tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya dari pandangan Ratna. Setelah sadar, ia terkejut bahwa dirinya tengah menatap Ratna dengan mata menyorotkan kebencian dan mulutnya berkerut mengekspresikan kemuakan padahal Ratna sedang memandang kepadanya. Sudah telanjur menyembunyikannya kembali. Ia buru-buru berpaling dan pergi. Tapi telinganya menangkap bunyi tawa Ratna yang sinis. Biarpun sudah menghindar, ternyata Maya tidak selamat. Ia melihat cermin lalu terkejut melihat wajahnya dipenuhi jerawat besar-besar. Tidak mungkin hal itu terjadi tanpa sebab. Ia tidak punya alergi atau sedang makan obat yang bisa menimbulkan reaksi kulit. Dengan ketakutan ia melaporkan hal itu kepada Rama. Didampingi Rama, ia menghadap Ratna dan minta maaf. Segera sesudah itu wajahnya bersih kembali. Peristiwa itu telah memberinya pelajaran. Ratna merasa puas tidak terkira. Jangan main-main denganku! Lalu ia berkonsentrasi kembali kepada Delia. Setelah sempat menyisihkannya dari pikiran, ia teringat kembali. Ia terkejut mendapati Delia sekarang semakin jauh dijangkau. Ia harus mengakui kekuatan Delia sekarang lebih besar daripada dulu. Tapi dirinya juga jauh lebih kuat dibanding dulu. Ia yakin, Delia pasti datang menemuinya. 280 Delia sibuk dengan kegiatannya yang baru. Ia mengambil alih pekerjaan pembukuan dari tangan Kosmas dan sesekali juga menjadi penerima tamu. Ia pun tak segan membantu apa saja. Sebagai perempuan, ia lebih fleksibel dibanding Kosmas dan Erwin yang juga tak membedakan pekerjaan. Ia belajar dari kedua orang itu mengenai perhotelan, terutama perkembangan Motel Marlin. Ia sangat serius hingga mencengangkan Kosmas dan Erwin, juga karyawan lain. Apakah semangat yang tinggi itu sifatnya hanya sementara? Dengan uangnya sendiri Delia membeli pohon-pohon peneduh untuk ditempatkan di sudut-sudut halaman parkir. Ia memilih akasia dan

http://inzomnia.wapka.mobi

mahoni. Dibantu karyawan lelaki yang mencangkul tanah, Delia menanam sendiri dan memberi pupuk. Ia menempatkan pot-pot pohon palem hijau di lorong depan kamar-kamar. Tetapi sebelum melakukan itu ia minta izin dulu pada Kosmas dan Erwin. Segera tampak sentuhan feminin pada motel itu. "Bagus," puji Kosmas dan Erwin. Delia senang mendapat pujian itu. "Tapi seharusnya kau tidak menggunakan uang sendiri. Nanti kami ganti, Del," kata Kosmas. "Iya. Kau harus berhemat dengan uangmu," tambah Erwin. "Sudahlah. Anggap itu sebagai hadiah dariku. Jangan diganti." Sebenarnya Delia mengakui kebenaran ucapan Erwin. Ia harus berhemat. Tapi sekarang ia memerlukan pakaian, luar dan dalam, karena yang dimilikinya sekarang cuma beberapa potong. Sebagian besar 281 pakaiannya sudah ia sumbangkan. Yang meringankan adalah ia tak perlu memikirkan akomodasi. Tetapi ia tetap tidak bisa melupakan Ratna! Perempuan tua itu masih suka muncul dalam mimpinya dan pikirannya. "Biarkan saja. Nanti juga kau bisa melupakannya," kata Kosmas. "Tidak. Dia masih tetap berusaha, Bang Kos. Itu karena dia masih menginginkan hartaku. Setidaknya sebagian. Atau yang masih tersisa." "Kau bilang dia sepertinya sudah tahu, lewat kemunculannya dalam mimpimu, mengenai apa yang telah kaulakukan. Uangmu tinggal sedikit. Apa itu pun masih diincarnya?" tanya Kosmas geram. "Sepertinya begitu. Yang penting dia diberi." "Jahat sekali." "Tapi aku rela menghabiskan hartaku kemudian bunuh diri semata-mata karena aku tak mau menyisakan sedikit pun untuknya. Kalau dipikir, apakah aku nggak jahat juga?" "Ah, nggak. Kau mempertahankan milikmu. Tapi dia mengincar milik orang lain, padahal dia tidak berhak."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Entah. Kadang-kadang aku berpendirian seperti itu, tapi kadang-kadang aku merasa jahat. Aku masih belum selesai berpikir apa yang harus kulakukan terhadapnya. Selalu terasa ada yang belum selesai. Dan kalau itu belum selesai, aku tak bisa mendapatkan ketenangan." "Kau bermaksud menemuinya atau apa?" "Entahlah. Aku belum tahu juga. Tapi dari pengalaman aku tahu bahwa berkunjung dengan tangan kosong tidak akan menyenangkan dia. Sebaliknya, dia malah marah. Kalau mau datang aku harus 282 konsekuen dengan merelakan sesuatu untuk kuberikan. Dia sangat suka perhiasan. Tapi semua perhiasanku sudah kujual." "Apa itu berarti kau mau menyerah padanya, Kak?" tanya Erwin. "Entahlah, apakah itu berarti menyerah atau bukan." "Dulu kaubilang..." "Ya. Dulu lain. Heran ya? Melihat persoalan yang sama, antara dulu dan sekarang, kok bisa beda ya? Dulu kesannya adalah menyerah. Tapi sekarang terpikir jangan-jangan bukan menyerah tapi mengalah. Bukankah itu beda?" Kosmas dan Erwin berpandangan. "Andaikata kau memutuskan ingin mengabulkan permintaannya, berapa yang mau kauberikan? Punyamu tinggal sedikit. Padahal dia kan pengennya banyak," kata Kosmas. "Di situlah herannya. Sesudah tinggal sedikit, muncul pemikiran untuk mengalah." "Pikirkanlah lagi, Del," Kosmas menganjurkan. Juga menghibur. "Jangan lupa tetaplah berdoa," Erwin menambahkan. "Oh, tentu saja." Lalu Kosmas mengusulkan agar Delia menjadi warga Jakarta dengan mengganti KTP-nya. "Kau toh tidak akan tinggal di Bandung lagi," alasan Kosmas. "Nanti kubantu mengurusnya di kelurahan. Tapi kayaknya kau perlu ke Bandung untuk mengurus surat pindah di kelurahan tempat tinggalmu. Tentu kau tidak perlu cepat-cepat. Kapan saja kau mau dan siap."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ah, itu usul yang kebetulan. Aku perlu menjenguk rumah kontrakanku. Masih ada sisa waktu kontraknya. 283 Aku ingin menyelesaikan baik-baik dengan pemiliknya. Biarpun masih ada sisa waktu, sebaiknya kukembalikan saja. Tempo hari kutinggalkan begim saja, karena aku yakin takkan kembali lagi." "Jadi kapan mau ke sana?" tanya Kosmas. "Secepatnya saja. Mungkin lusa. Aku akan nginap satu malam." "Mau kuantarkan?" "Nggak usah. Aku nggak pakai mobil. Capek. Enaknya naik kereta saja." "Baiklah. Nanti kuantar kau ke stasiun." Sebenarnya ada sebab lain yang mendorong Delia ingin berdamai dengan Ratna. Di samping merasa terganggu oleh pikiran dan mimpi perihal Ratna, ia juga mengkhawatirkan keselamatan Kosmas dan Erwin. Ia takut mereka akan diganggu oleh Rama. Kosmas menyampaikan masalah lain yang disampaikannya saat bicara berdua dengan Delia. "Kasihan Erwin. Tiap hari dia menelepon Yasmin hanya untuk menanyakan kabarnya atau bercerita sendiri. Kelihatannya dia cukup senang bisa bicara sebentar, tapi dia pasti ingin lebih dari itu. Dia juga ingin seperti kita yang bisa bergaul tanpa penghalang. Kenapa pula tertarik pada istri orang?" "Mungkin dia perlu waktu untuk bisa menerima keadaan. Beberapa kali aku bicara dengan Yasmin di telepon, tampaknya dia tersentuh oleh perhatian yang diberikan Erwin. Dia takut kalau-kalau Erwin berharap terlalu banyak padahal dia tak bisa membalas." "Ah, bagus kalau Yasmin berpendapat begim." "Yang penting kita tidak boleh menyisihkan dia. Meskipun hubungan kita akrab, kita jangan berduaan saja tanpa mengikutsertakan dia." "Terima kasih, Del. Erwin menyukaimu. Dia tak 284

http://inzomnia.wapka.mobi

pernah menganggapmu saingan. Dia bilang, kau seperti ibu kami. Mamalah pemersatu kami. Biarpun Mama sudah nggak ada, spiritnya tetap memengaruhi kami." "Punya saudara itu menyenangkan, bukan? Apalagi kalau akrab seperti kalian." "Tapi pacar-pacar kami tidak menyukai hal itu." Delia tersenyum. "Ada saja orang yang kadar cemburunya lebih daripada yang lain. Kau harus maklum juga." Sementara itu Erwin merasa harus tetap optimistis. Selama Yasmin masih hidup, jalan itu masih ada, biarpun berliku dan tak jelas berapa panjangnya. Ia tahu, ada kode etik yang mestinya tak boleh dilanggar kalau ia masih ingin disebut sebagai orang bermoral. Mungkin menelepon tiap hari di saat si suami tak ada di rumah bisa juga disebut sebagai pelanggaran. Ia memang hanya menanyakan keadaan Yasmin dan bercerita yang sopan dan tidak menjurus. Tapi maksudnya sudah jelas. Ada pesan yang terkandung, "Jangan lupakan aku!" 285 BAB 28 Donna merasa stres belakangan ini. Nilai-nilainya di sekolah menurun. Padahal ia rajin belajar. Ia selalu rajin. Penyebabnya adalah ia sulit berkonsentrasi dan gampang lupa. Sudah menghafal setengah mati, tapi setelah tiba saatnya menghadapi ulangan hampir semua menguap dari otaknya. Orang lain mengira ia berbohong. Bahkan kedua orangtuanya juga tidak percaya. Padahal mereka melihat sendiri bagaimana tekunnya Donna belajar. "Jangan-jangan kau kebanyakan melamun," kata Mila, ibunya. Ramli, ayah Donna, membelikannya suplemen yang konon berkhasiat menguatkan daya ingat. "Kayak orang tua pikun aja," ejek Ines, adik Donna. Donna paling kesal kalau diganggu Ines, karena sudah lama ia menyimpan rasa iri pada adiknya itu. Penampilan fisik mereka berbeda. Ines punya wajah cantik dan lembut. Sedang Donna tomboi dan tidak cantik, juga

http://inzomnia.wapka.mobi

suka bicara seenaknya. Tak mengherankan kalau Ines populer di antara teman-temannya, bahkan punya banyak pacar. Sedang Donna tak punya teman dan belum menemukan cowok yang tertarik padanya. Karena itu ia memfokuskan diri pada belajar. Hal itu membuat prestasinya di sekolah 286 cukup tinggi. Nilai-nilainya selalu bagus. Tapi sekarang keberhasilan dan kebanggaan satu-satunya itu pun terancam lenyap. Ia merasa sedih dan putus asa. Ternyata kemudian suplemen yang dibelikan ayahnya dan rajin diminumnya itu tidak cukup berkhasiat. Tak ada kemajuan dengan daya ingat dan kemampuan otaknya. Ia tambah panik karena ujian akhir SMU kian dekat. Ia tidak ingin lulus dengan nilai pas-pasan. Apalagi kalau sampai tidak lulus. Betapa memalukan bila hal itu sampai terjadi. Lebih baik ia mati saja. Dalam keadaan seperti itu ia teringat kepada neneknya, Ratna. Sejak Delia menghilang, Donna tak suka menemui Ratna lagi. Bukan hanya karena larangan orangtuanya, tapi ia sendiri merasa muak dan benci. Di matanya Ratna adalah nenek sihir yang keji dan menyeramkan. Di zaman modern ini mestinya tak ada yang namanya nenek sihir. Tapi kenapa ternyata ada dan justru neneknya sendiri? Ia benci tapi juga takut. Ia pernah diajak Ratna ke mal. Terpaksa ia mau karena takut akan akibatnya kalau menolak. Waktu itu Ratna belum berpengalaman jalanjalan sendiri, jadi minta ditemani dulu. Sepanjang jalan Donna harus menahan perasaannya. Sebelumnya ia sudah diingatkan oleh orangtuanya, "Jangan perlihatkan rasa benci di wajahmu kepadanya. Ingat pengalaman Tante Maya." Jadi betapapun tak sukanya, ia harus tetap tersenyum dan mengangguk-angguk. Padahal berjalan-jalan dengan Ratna sering kali membuatnya malu. "Nenek itu genit banget," lapornya kepada orangtuanya. "Kalau ada cowok menegur, dilayani dengan ketawa ha-ha hi-hi. Padahal yang negur itu banyak. Habis dandanannya menor sih! Makanya jalan-jalan 287

http://inzomnia.wapka.mobi

sama dia itu makan waktu lama karena kebanyakan bercanda sama orang yang nggak dikenal. Jadi kalau dia lagi bercanda, aku jauh-jauh aja. Pura-pura nggak kenal." "Ya. Mendingan begitu aja, Don," ibunya setuju. "Kalau menolak ikut, nanti dikutuk!" Tapi setelah dua kali menemani Ratna, Donna tidak tahan lagi. Ia menolak dengan berbagai alasan. Mau ulangan, katanya. Ratna tidak marah karena belakangan ia lebih suka jalan-jalan sendiri. Yang penting baginya ia sudah tahu jalan dan sarananya Kendaraan umum cukup banyak. Di luar dugaan Donna, ia mendapat hadiah dari Ratna berupa sebuah ponsel lengkap dengan nomor dan pulsa. Tinggal pakai. "Bukankah kau sangat ingin punya itu?" kata Ratna. "Nih, aku juga punya. Sudah kumasukkan nomorku ke dalam ponselmu. Dan nomormu sudah pula kusimpan. Jadi kita gampang berhubungan." Donna terperangah. Ia tidak tahu mesti berterima kasih atau mencurigai pemberian itu. "Tahukah kau, uang yang dipakai untuk membeli barang itu adalah uang kami juga, anak-anaknya?" Ramli mengingatkan dengan emosi. "Tahu, Pa. Habis mau gimana lagi? Aku kan nggak minta. Apa mesti dikembaliin?" sahut Donna. Ramli terkejut. "Ah, jangan. Nanti dia marah." "Betul. Sudah, terima aja," Mila membenarkan. Ines punya bahan ejekan baru. Ia sebenarnya ingin memiliki ponsel juga, tapi tidak dibelikan. Tak punya uang, begitu alasan orangtuanya. Habis, banyak uang terserap oleh Rama. "Kalau aku sih nggak mau dikasih apa-apa sama Nenek," begim kata Ines. "Kau tahu maksud dia 288 memberimu ponsel? Im supaya dia bisa SMS-an sama kamu!" Kejengkelan Donna bertambah. Ines benar, ponsel itu jadi memudahkan Rama berhubungan dengannya. Entah itu sekadar bertanya perihal keadaan keluarganya atau instruksi. Mau tak mau harus dijawab.

http://inzomnia.wapka.mobi

Akibatnya, ponsel itu jadi beban. Sering kali dengan sengaja ia matikan saja. Lalu telepon rumah berbunyi. Ratna menegur dan mengingatkan. Dulu Donna cucu kesayangan Rama. Ia memang menikmati keadaan itu. Ia senang karena sering mendapat hadiah dan makanan enak. Ia tak keberatan disuruh ini-itu oleh Ratna. Banyak hal yang tak dipedulikan atau dijadikan keberatan olehnya. Misalnya kesenangan Rama melontarkan kutukan dan sumpah serapah. Bukan dirinya yang jadi sasaran. Bahkan disuruh memata-matai Delia pun ia mau saja. Tetapi setelah semakin dekat mengenal Delia, ia mulai merasa kurang enak. Ada perasaan telah mengkhianati atau melakukan sesuatu yang tidak patut. Lalu muncul perasaan bersalah. Terakhir adalah penipuan terhadap Delia, yaitu membohonginya dengan mengatakan ibunya sakit lalu membutuhkan uang sepuluh juta untuk biaya rumah sakit. Donna merasa muak terhadap Ratna. Apalagi kesan bahwa Delia orang yang baik semakin kuat. Tanpa segan dan pertimbangan ini-itu Delia bersedia membantu keluarganya. Donna bisa membayangkan betapa sakitnya perasaan Delia ketika tahu dibohongi. Bahkan untuk perbuatan itu ia dan keluarga tidak meminta maaf! Sungguh memalukan. Karena itu ketika Rama mau menyisihkan lima ratus ribu rupiah untuknya dari uang sepuluh juta itu, Donna menolak. Biarlah si nenek memakannya sendiri dan menanggung dosanya sendiri 289 juga. Tapi ia sadar dirinya punya andil dalam dosa itu. Sekarang ia menyesal menjadi cucu kesayangan Ratna. Ia mulai berpikir bagaimana caranya melepaskan diri dari Ratna. Ia mencari seribu satu alasan untuk menolak perintah Ratna. Ponselnya ia bawa ke mana-mana dan terang-terangan ia pamerkan di depan umum, misalnya dengan mencantelkannya di pinggang saat berada di jalan. Tujuannya bukan untuk memudahkan Ratna menghubunginya di mana saja dan kapan saja, tapi supaya gampang dijambret orang! Sayang sekali, "undangan" itu tak diminati siapa pun. Tak ada penjahat yang tertarik. ***

http://inzomnia.wapka.mobi

Donna mendapat ide untuk belajar di rumah kontrakan Delia yang kosong. Mungkin di situ ia bisa berkonsentrasi dengan lebih baik. Pulang sekolah ia ke sana dengan membawa bekal. Air mineral, roti, dan gorengan. Ibu Sulis, tetangga sebelah yang dititipi kunci oleh Delia, sudah mengenalnya. Jadi tidak keberatan memberikan kunci kepadanya. "Ke mana sih Bu Del? Kok nggak muncul-muncul ya?" tanya Bu Sulis ingin tahu. "Tante Del di Jakarta, Bu. Lagi berobat," sahut Donna ringan. "Sakit apa?" "Nggak tahu, Bu. Sekalian ngurus bisnis." "Oh, kalau berobat sambil bisnis pasti nggak berat sakitnya, ya?" "Kayaknya gitu, Bu." 290 "Rumahnya mesti dibersihin dulu, Don. Pasti banyak debunya." "Beres, Bu. Saya akan bersihin." Donna tidak keberatan membersihkan rumah itu. Semula ia memutuskan untuk membersihkan ruang tamu saja, karena di situlah tempat yang dipilihnya untuk belajar. Alat pembersih masih lengkap di belakang rumah. Air juga ada. Tapi setelah ruang tamu bersih, ia merasa masih punya energi dan semangat untuk membersihkan ruang yang lain. Akhirnya ia mengepel seluruh lantai rumah, kecuali kamar tidur. Ia membuka semua jendela supaya udaranya bisa berganti. Setelah itu ia duduk di sofa dan menikmati dulu makan siangnya. Andaikan punya rumah sendiri meskipun kecil, alangkah senangnya, pikirnya. Seperti sekarang ini. Memang harus membersihkan sendiri, tapi nyaman dan tenang, tak ada yang mengganggu. Baru saja ia membuka-buka bukunya, ponselnya berbunyi. Dengan sebal ia melihat pesan dari Ratna. "Kau ada di mana?" Mungkin neneknya menelepon ke rumah lalu di-beritahu ia belum pulang. Tidak mungkin ibunya mau memberitahu di mana ia berada. Ibunya tahu ia ke situ untuk belajar. Jadi tak mau diganggu. Ia menyesal menghidupkan ponselnya. Tadi ia hidupkan supaya ibunya bisa menghubunginya. Misalnya kalau ia ketiduran. Ia tidak

http://inzomnia.wapka.mobi

memperhitungkan Ratna. Terpaksa ia membalas, "Di rumah Tante Del. Lagi belajar!" Ia berharap neneknya tidak mengganggu lagi. Tapi masih ada balasan, "Kalo dia datang, kasih tahu!" Kali ini Donna terheran-heran. Tentu saja ia me291 ngerti siapa yang dimaksud dengan "dia" oleh neneknya itu. Tidak mungkin neneknya sudah pikun. Donna tidak menjawab. Untung tidak ada pesan lagi. Tapi ia memerlukan waktu agak lama sebelum berkonsentrasi. Sesudah itu, baru sedikit yang masuk ke otaknya, ia sudah mengantuk. Ia pun menjatuhkan diri di sofa. Begitu kepalanya mendarat, ia segera mendengkur. Entah berapa lama kemudian ia terbangun karena ada yang mengguncang-guncang tubuhnya. Guncangannya pelan saja, tapi ia tersentak kaget. Lebih-lebih setelah melihat siapa yang membangunkannya. Delia! "Tante!" serunya sambil melompat. Ia mengucek-ucek matanya kalaukalau salah lihat. "Ya. Aku," sahut Delia sambil tersenyum. "Apa aku mengganggu tidurmu? Pintunya nggak dikunci. Oh, lagi belajar, ya?" Baru Donna sadar sepenuhnya bahwa ia tidak bermimpi. Kesadaran itu cuma sebentar karena kemudian ia dicekam ketakutan. Bagaimana neneknya bisa tahu? Delia tertawa melihat Donna masih saja melongo. "Wah, kau masih bermimpi rupanya. Ayolah belajar lagi. Atau mau tidur lagi?" Donna menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa Tante udah janjian sama Nenek?" "Nenek?" tanya Delia, terkejut. Donna memberitahu sambil memperlihatkan pesan Rama di ponselnya. Delia tertegun sambil menatap Donna. Mereka berpandangan sejenak. Donna sadar, Delia tidak membuat janji dengan Ratna.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jadi dia tahu," gumam Delia. Kemudian ia menjatuhkan diri di sofa. Ia duduk berdampingan dengan Donna. 292 "Sekarang Nenek udah sakti, Tante. Tapi kenapa Tante datang ke sini?" "Ini masih rumahku, kan?" "Mendingan di Jakarta aja, Tante." Delia terkejut lagi. "Dari mana kau tahu aku di Jakarta?" "Nenek. Ah, Tante jangan kaget. Dia kan nenek sihir. Oh ya, Tante belum tahu aja apa yang telah terjadi. Luar biasa mengerikan!" "Tunggu dulu. Dia kan berpesan, kalau aku datang kau disuruh kasih tahu. Ayolah, beritahu saja." "Boleh, Tante?" "Iya. Nggak apa-apa. Nanti kamu dapat masalah kalau nggak buru-buru memberi kabar. Mungkin dia juga sudah tahu." Donna meraih ponselnya untuk mengirim pesan. "Udah, Tante," katanya. "Sekarang gimana?" "Kita tunggu saja. Sebentar lagi telepon di kamar pasti berbunyi. Dia kepengen ngomong sama aku." "Dia lagi ngejar-ngejar Tante, tuh. Mau minta duit." "Yang sepuluh juta itu belum cukup rupanya." "Oh, belum. Tante, maafkan aku ya? Aku merasa bersalah sekali telah menipu Tante waktu itu. Padahal Tante berniat baik. Pasti Tante marah sekali pada kami sekeluarga." "Sudahlah. Aku sudah memaafkan kok, Don." Donna memeluk Delia. Tindakan spontan yang belum pernah ia lakukan kepada orang lain. Bahkan kepada ibunya sendiri. "Aku malu sekali, Tante. Papa dan Mama juga malu. Mereka ingin sekali minta maaf kalau ketemu Tante." "Ya. Sudahlah. Aku mengerti posisi kalian. Nggak apa-apa." 293 "Terima kasih, Tante. Kau baik sekali. Aku juga minta maaf untuk yang dulu-dulu. Perbuatanku sangat memalukan."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sudahlah. Semua sudah berlalu, Don. Tadi katanya mau cerita. Apa yang luar biasa mengerikan itu?" "Nenek sudah berubah jadi muda, Tante! Kata Papa, penampilannya seperti saat Papa masih duduk di SMU!" "Ha? Bukan karena bedah plastik, kan?" Donna tertawa. Ia segera menceritakan apa yang telah terjadi. "Tante Maya dan Bi Ipah pada pingsan, Tante! Kami semua datang ramai-ramai ingin melihatnya. Wah, Nenek berlagak dan bergaya deh. Sesudah itu Papa dan oom-oom terpaksa keluar duit banyak untuk makan-makan di restoran dan beliin baju buat Nenek." Delia termenung. Jadi mimpinya yang mengerikan itu memang merupakan petunjuk bahwa Ratna yang sekarang tak lagi sama dengan yang dulu. "Tante harus hati-hati sama dia. Tempo hari Tante Maya dikerjain Nenek, karena kedapatan memandanginya dengan benci. Mukanya jadi penuh jerawat. Sesudah minta maaf, baru mukanya bersih lagi. Serem, Tante!" "Ya. Menyeramkan memang. Apa kau mau menginap di sini, Don?" "Nggak, Tante. Entar sore pulang." "Kau jangan pulang dulu, ya. Aku mau ke kelurahan sebentar. Takut keburu tutup. Belajarlah dulu. Aku nggak lama. Nanti kita bicara lagi, ya?" Delia pergi meninggalkan Donna termangu. Kedatangan Delia yang mengejutkan membuat ia kehilangan semangat belajar. Tapi ia merasa lega karena 294 berhasil menyampaikan permohonan maafnya yang diterima oleh Delia. Ia berpikir, mungkin kelegaan itu bisa membuatnya lebih mampu berkonsentrasi. Kata orang, perasaan bersalah bisa mengganggu pikiran Ia melirik ponselnya. Belum berbunyi lagi. Semula mau dimatikan, tapi tak jadi. Ada juga rasa ingin tahu, apa lagi yang mau disampaikan neneknya setelah tahu bahwa Delia ada bersamanya. Kenapa malah diam? Delia kembali. "Untung keburu, Don. Ambilnya besok."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ambil apa, Tante?" "Surat pindah. Aku mau tinggal di Jakarta. Supaya nggak susah, aku mau jadi warga sana aja." "Ngapain di sana, Tante?" "Aku kerja. Oh ya, punya kertas, Don? Aku tulis nomor telepon kantorku ya. Kalau ada apa-apa atau berita baru, bisa gampang menghubungiku." Delia menyodorkan kertas yang sudah ditulisi nomor telepon Motel Marlin. "Simpan, Don." Donna memasukkannya ke dalam tas. "Kok alamatnya nggak ditulis, Tante?" "Alamatnya belakangan. Aku belum punya tempat tinggal tetap. Masih kos." "Jadi Tante memang bermaksud mau menemui Nenek?" "Ya." "Wah, dia bener lagi, Tante. Dia sudah bilang begitu kepada kami. Katanya, Tante nggak usah dicari. Nanti juga datang sendiri." "Dia memang mengejutkan." "Kasihan mereka yang serumah, Tante. Si Boy dan Lisa jadi sering nginap di rumah kami. Katanya, 295 di rumah sendiri sulit belajar. Bau kemenyan melulu. Bikin tengkuk meremang. Aku pun jadi susah konsentrasi dan gampang lupa, Tante." Lalu Donna menunjuk ponselnya di atas meja. "Itu hadiah dari Nenek, Tante. Tapi aku tahu, maksudnya supaya gampang menghubungi aku. Pengennya sih nggak nanggapin. Tapi takut. Semua orang takut." "Kau tidak boleh takut bila ada di pihak yang benar," hibur Delia. "Tapi gimana nggak takut, Tante? Dia mengerikan. Dia bukan lagi nenekku. Dulu, biar mata duitan, dia tetap nenekku. Tapi sekarang dia jadi orang asing." "Ya, memang mengerikan. Aku cuma bisa ngomong, ya? Tapi sampai saat ini, motivasinya masih berupa materi, kan?" "Maksud Tante?" "Maksudku, tak ada niat mencelakakan orang misalnya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kayaknya nggak. Dia lagi asyik belanja, jalan-jalan, dan mempercantik diri. Si Lisa bilang meja rias Nenek penuh kosmetik. Dia genit deh, Tante. Mungkin lagi nyari pacar!" Delia tertawa. "Tante, cerita dong mengenai Tante. Apa yang Tante kerjain di Jakarta sekarang?" "Im nggak penting, Don. Yang penting cuma satu. Aku nggak takut lagi pada kutukannya." "Caranya, Tante?" "Kau percaya sama Yang Mahakuasa, Don? Percaya, bukan? Tapi sering kali kita tidak sebegitu percayanya sampai mau berserah diri kepadaNya. Takut itu wajar. Semua orang punya rasa takut. Tapi kita harus melawan sesuai kepercayaan kita 296 kepada-Nya. Berdoa, Don! Jangan hanya ritual, tapi sungguh-sungguh dan tulus!" Donna termangu. Ia merasa terpesona oleh ucapan Delia itu. Tapi Delia yang mengamati wajah Donna jadi terkejut. Ia melihat gurat-gurat keriput di wajah Donna! Kulitnya tampak kering bersisik di sana-sini! Dia tampak seperti ular mau berganti kulit! Tak tahan Delia memekik. "Ada apa, Tante? Ada apa?" seru Donna cemas. "Tenang dulu, Don." Delia memeluk Donna lalu membimbingnya ke depan cermin. Donna menjerit keras lalu menangis. "Aduh, mukaku! Betulkah itu mukaku, Tante?" jeritnya. "Tenang, Donna. Menangis tidak menyelesaikan masalah. Panik apalagi." "Habis gimana, Tante? Masa aku jadi lebih ma dari Nenek? Lebih baik aku mati aja!" Kata-kata itu menyadarkan Delia. Im pasti perbuatan Rama. "Dengar, Don. Bukankah Maya pernah dikerjain Nenek? Jangan-jangan kau juga begitu." Donna tersentak. "Oh iya. Kalau begitu aku harus minta maaf padanya."

http://inzomnia.wapka.mobi

Ia mengambil ponselnya, tapi Delia menahannya. "Jangan, Don! Jangan menyerah. Im hanya membuat kau takluk padanya." "Tapi aku nggak mau punya muka kayak gini, Tante," keluh Donna. "Kita berdoa yuk?" Delia mengajak Donna bersila di atas sofa. Kepala tegak, kedua tangan di atas lutut. Gaya meditasi. "Kosongkan pikiran dan perasaan dari emosi, Don. Susah, tapi pasti bisa. Lalu berdoalah kepada Yang 297 Kuasa. Kita mohon diberi kekuatan melawan keburuk-an. Beberapa saat lamanya mereka melakukan hal itu. Tak terasa dan tak terhitung lagi waktu yang lewat. Hening dan sepi. Suara yang terdengar pun tak lagi terasa mengganggu. Bahkan ponsel Donna sempat berbunyi cukup lama, tapi dibiarkan saja. Lalu Delia membuka mata lebih dulu. Sekeliling sudah mulai gelap. Ia menoleh ke arah Donna yang masih diam dengan mata terpejam. Diamdiam Delia mendekatkan mukanya untuk mengamati wajah Donna. Meskipun suasana agak gelap, ia meyakini wajah Donna sudah kembali normal. Ia melihatnya dengan mata hati! Donna membuka mata, lalu menoleh kepada Delia. "Tante! Aku yakin sudah pulih!" serunya. Kedua tangannya merabai wajahnya. Sementara itu Delia melompat lalu menyalakan lampu. "Ayo lihat cermin, Don! Sini!" Donna berteriak girang. Ia memeluk Delia kemudian berputar-putar keliling ruangan! Dalam perjalanan pulang, Donna bersenandung riang. Ia merasa tubuhnya ringan. Ingin sekali melompat-lompat, bahkan terbang. Tapi masih sadar untuk tidak melakukannya karena takut disangka gila. Lalu ia mendengar bunyi ponselnya dari dalam tas punggungnya. Ia mengeluarkan benda itu lalu menggenggamnya saja. Itu bunyi SMS. Tapi ia tidak menjenguk ponselnya untuk mengetahui apa isi pesan dan dari

http://inzomnia.wapka.mobi

siapa. Sambil menggenggam ponsel itu, ia terus berjalan. Akhirnya ia menemukan tempat sam298 pah yang dianggapnya bagus. Tempat sampah itu bertutup dengan lubang di bagian depannya untuk memasukkan sampah. Donna mengulurkan tangannya yang menggenggam ponsel ke dalam lubang pembuangan tempat sampah. Ketika tangannya ditarik kembali, ponsel itu sudah tak ada lagi dalam genggamannya! Ia tertawa lalu menepuk-nepuk kedua tangannya seakan menepiskan kotoran. Lalu ia berjalan kembali. Di dalam tempat sampah ponsel itu berbunyi lagi. Donna tidak lagi mendengarnya. Kalaupun mendengar, ia tidak peduli. Sementara itu Delia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sudah dialasi seprei yang dibawanya dari Jakarta. Tidak nyaman kalau tidur di kasur yang tidak dialasi. Rasanya gatal-gatal. Ia merasa capek sekali. Lebih baik tidur siang-siang supaya besok bangun segar dan kembali ke Jakarta dalam keadaan segar juga. Telepon di atas meja di sampingnya berbunyi. Belum mengangkatnya ia sudah berdebar-debar. "Jadi kau mau menemuiku, Del?" Suara itu dikenalnya meskipun sekarang memiliki vibrasi dan tekanan yang berbeda. Tadinya suara orang tua, sekarang suara orang yang jauh lebih muda. "Betul, Ma. Tapi nggak sekarang." "Baik. Tapi pastikan kalau datang jangan dengan tangan kosong! Aku paling benci!" Hanya itu yang dikatakan Rama. Tenang dan dingin, tanpa sumpah serapah. 299 BAB 29 Ratna sangat marah. Bukan hanya kepada Delia, tapi juga kepada Donna. Tapi ia tahu dirinya tak punya kendali lagi terhadap kedua orang itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sepertinya mereka licin sekali hingga selalu lepas dari genggaman. Mengucapkan sumpah serapah atau kutukan pun percuma. Betapa kurang ajarnya Donna dengan mengabarkan, "Maaf ya, Nek! HP saya hilang di jalan. Tapi nggak usah beliin lagi. Sayang duitnya, Nek!" Kemarahannya terhibur dengan janji Delia yang akan datang menemuinya. Berapa kira-kira yang akan diberikan Delia untuknya? Ia yakin, Delia tidak akan datang tanpa membawa apa-apa. Dengan kepastian itu ia sibuk membuat rencana. *** Setibanya di Motel Marlin, Delia membicarakan hal itu dengan Kosmas dan Erwin. Mereka terheran-heran mendengar cerita mengenai Ratna. Bagaimana mungkin ada kejadian seperti itu. Kalau bukan Delia yang menceritakan dan mengalaminya sendiri, pasti mereka tidak percaya. Ternyata orang tak bisa selalu memastikan bahwa sesuatu yang tak masuk akal itu tak mungkin terjadi. 300 "Jadi dia masih tetap menginginkan bagian dari hartaku," kata Delia. "Kasihan, bukan?" "Kasihan?" tanya Kosmas heran. "Ya. Ternyata ada orang yang bisa diperbudak materi begitu rupa sampai rela membiarkan diri dikuasai setan. Apalagi kalau bukan begitu? Materi dekat dengan setan, bukan? Cerita Donna cuma memperjelas. Orang seperti itu patut dikasihani." Kosmas geleng-geleng kepala. Ia tidak sependapat tapi tak ingin membantah. "Bukankah mestinya orang seperti itu dibenci, Kak?" tanya Erwin. "Aku dulu membencinya setengah mati. Tapi sekarang benci itu menjadi kasihan. Aneh nggak? Tapi tak perlu dipertanyakan. Terima saja sebagai bagian diriku yang berubah." Erwin mengangguk respek. Masalah seperti itu memang sulit diperdebatkan.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kembali ke hal tadi, Del," kata Kosmas. "Bagaimana rencanamu sekarang terhadap dia? Kapan kau mau ketemu dia dan apa yang mau kaubawa sebagai upeti?" Delia tertawa. "Ah, upeti ya? Mirip juga. Aku sebenarnya sudah punya ide. Kupikirkan di kereta tadi. Tapi aku mau minta pendapat kalian." "Apa yang bisa kauberikan bila uangmu tinggal sedikit? Jangan, Kak," kata Erwin. "Kalian lupa. Aku masih punya satu benda berharga, yaitu mobilku!" Kosmas dan Erwin saling memandang dengan terkejut. "Memang itu bukan mobil mewah. Umurnya juga sudah lima tahun. Tapi sangat terawat, baik mesinnya maupun bodinya. Masih lumayan bagus, kan?" 301 "Jadi kau mau memberikan mobil itu kepadanya supaya dia bisa jalanjalan ke sana kemari?" tanya Kosmas. Delia tertawa geli. Ia membayangkan Ratna me-ngemudi. Tapi kemudian teringat bahwa ia memba-yangkan sosok Ratna yang tua, bukan yang muda. "Dia nggak bisa nyetir. Kalau belajar sih bisa aja. Apalagi fisiknya kan sudah muda lagi. Tapi aku tidak bermaksud memberikan mobil itu kepadanya. Aku mau jual, lalu uangnya kuberikan padanya. Kira-kira berapa ya harganya? Besok mau kubawa ke pedagang mobil bekas." Kosmas menarik Erwin, menjauh sedikit dari Delia. Lalu mereka berbisik-bisik. Delia mengamati dengan heran. Tak lama Kosmas berunding. Ia segera mendekati Delia. "Kami akan membeli mobilmu, Del! Berapa mau kaujual?" "Kalian cuma mau membantuku, kan? Bila itu memberatkan perusahaanmu...," Delia ragu-ragu. "Sama sekali tidak. Kami memang perlu mobil sebagai aset motel kami. Selama ini kami hanya punya satu. Pick-up, lagi. Kalau masuk bengkel tak ada yang lain," Kosmas meyakinkan Delia.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tapi Delia tidak sepenuhnya percaya. Namun ia menghargai usul itu. Baginya tentu lebih baik lagi karena sekali waktu ia masih bisa memakainya meskipun sudah bukan miliknya lagi. "Aku nggak tahu harganya. Kalian lebih tahu." "Begini saja. Besok kita bawa ke show room mobil bekas. Tanya-tanya harga. Dari situ kita bisa mendapat patokannya." Delia setuju. 302 Erwin terkejut ketika wanita pujaannya tiba-tiba muncul di kantor ketika ia sedang berjaga sendirian. "Kenapa nggak memberi kabar dulu, Yas?" tanyanya. "Kan aku bisa siapsiap?" "Siap-siap apa?" Yasmin tertawa. "Menghidangkan yang enak-enak untukmu." Erwin menatap Yasmin lekat-lekat. Pujaannya ini tampak jauh lebih segar dan ceria dibanding terakhir dilihatnya. Im membuatnya cantik dan memesona. Mata Erwin susah benar beralih. Tapi bersamaan dengan itu muncul rasa cemburu. Apakah perubahan besar itu disebabkan pulihnya hubungan Yasmin dengan Hendri? Apakah sekarang Yasmin sudah bisa menikmati cintanya dengan Hendri? Erwin mengagumi, tapi juga mencemburui. Yasmin jadi salah tingkah dipandangi Erwin "Hei, kenapa aku kaupandangi seperti itu? Takut ah," katanya bercanda. Erwin tersadar. "Oh, sori, Yas. Terus terang aku terpesona. Kau kelihatan cantik sekali! Pasti kau sudah benar-benar sehat, ya?" Yasmin tertawa senang karena dipuji. "Oh ya. Aku sudah benar-benar sehat, Bang! Aku datang ke sini karena tidak ada yang nengokin aku di rumah. Jadi biarlah aku yang ke sini. Aku sudah kangen sekali sama Kak Del. Ngomong di telepon nggak memuaskan." "Sayang Kak Del lagi pergi sama Bang Kos. Ada urusan. Perginya sudah cukup lama. Mungkin sebentar lagi juga kembali." "Katanya Kak Del kerja di sini ya, Bang?" "Iya."

http://inzomnia.wapka.mobi

303 "Gimana dengan toko busananya di Bandung?" "Itu sudah dijual, Yas. Jelasnya nanti tanya dia aja. Aku takut salah ngomong." "Yah, sayang sekali. Apakah tokonya bangkrut?" "Nanti tanya dia aja, Yas. Ngomong-ngomong, gimana kabarmu sekarang? Sibuk di rumah atau ada kegiatan lain?" Erwin cepat mengalihkan. Ia tahu, Delia belum bercerita banyak kepada Yasmin mengenai masalah dirinya. Tapi Erwin tidak mau bercerita tentang Delia biarpun ia tahu Delia pasti akan bersikap terbuka kepada Yasmin. Biarlah Delia yang bercerita tentang dirinya sendiri. "Aku masih menikmati kebebasanku, Bang. Tapi aku sudah punya rencana." "Apa itu? Boleh tahu?" "Aku ingin punya toko busana seperti Kak Del. Tadinya aku ingin mengajak dia bekerja sama. Tapi dia sudah bekerja di sini." "Wah, dia senang di sini, Yas! Kau lihat pepohonan itu? Tadinya kan nggak ada." Erwin khawatir kalau-kalau Delia diajak pergi oleh Yasmin. Tentu Yasmin bisa bicara begitu sekarang karena dia memiliki ayah yang kaya. "Ya. Jadi bagus memang. Aku sudah menduga itu pasti sentuhan Kak Del. Tapi kalau dia nggak mau berbisnis busana lagi juga nggak apa-apa. Aku minta nasihatnya aja." "Betul. Mendingan begitu. Bagaimana kabar ayahmu? Katanya sakit?" "Oh, dia sudah lebih baik. Aku sudah bertemu dengan dia, Bang. Sekarang aku lega sekali karena tidak punya dendam lagi. Demikian pula Papa." "Bagus sekali. Sudah berapa kali ketemunya? Tentu suasananya mengharukan." 304 "Baru sekali. Kami berdua nangis, Bang. Pada saat itu aku bersyukur karena masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk berbaikan dengan Papa. Coba kalau Papa keburu meninggal atau aku yang meninggal duluan,

http://inzomnia.wapka.mobi

bukankah kesempatan itu hilang? Bagi siapa pun yang ditinggal duluan pasti menyesal sekali." "Apakah atas keberuntunganmu itu kau berterima kasih kepada-Nya?" "Tentu saja. Yang kuingat paling dulu adalah Dia. Kau tahu apa yang kulakukan sebelum aku minum racun? Aku minta maaf sama Papa. Aku baru ingat ada hal yang belum kuselesaikan. Karena itu kemudian aku tak merasa segan lagi untuk menelepon dia." "Ya. Hidup ini memang mengandung kejutan, Yas. Aku senang semua berakhir dengan baik untukmu." "Berkat bantuanmu, Kak Del, dan Bang Kos." "Itulah yang kumaksudkan bahwa hidup ini mengandung kejutan. Pertemuan di motelku ini telah mendatangkan kebaikan bagi semua pihak meskipun awalnya adalah kesedihan." "Apakah perbuatanku itu mendatangkan kebaikan bagimu dan Bang Kos? Cuma menyusahkan saja." "Ah, siapa bilang? Aku senang bisa mengenalmu, demikian pula Bang Kos." "Bang Kos kayaknya suka sama Kak Del, ya?" "Dari mana kau tahu?" "Nah, bener, kan? Aku punya feeling kok." "Feeling-mu tajam, ya? Ada feeling lain nggak?" Yasmin melengos. Tatapan Erwin membuatnya tak enak hati. Ia senang berbincang dengan Erwin, tapi tatapan pria itu membuatnya salah tingkah. Tentu saja ia punya feeling tentang hal itu. Tapi itu tidak patut. Dirinya bukanlah orang yang bebas hingga bisa menanggapi perhatian orang lain. 305 Sikap Yasmin itu kembali membangkitkan rasa cemburu Erwin. Apakah Yasmin tidak menyukainya barang sedikit saja? Apakah itu karena Hendri? Apakah sekarang Yasmin bisa bercinta dengan Hendri tanpa penderitaan seperti dulu, bahkan bisa menikmatinya? Apakah Hendri menggunakan pendekatan dan teknik baru? Apakah Yasmin tetap mencintai Hendri meskipun pernah diperlakukan buruk?

http://inzomnia.wapka.mobi

Yasmin heran melihat perubahan wajah Erwin. "Kenapa, Bang? Kau kelihatan seperti orang sakit!" Ya, aku memang sakit hati, kata Erwin dalam hati. Tapi ia menggeleng. "Aku baik-baik kok. Tapi aku ingin tahu, Yas. Apakah teleponku setiap hari itu merupakan gangguan?" "Oh, nggak, Bang! Aku justru senang kalau ditelepon. Bila jam sembilan telepon bunyi, aku bilang, "Pasti itu Bang Erwin!" Erwin ceria kembali. "Hei, itu mereka pulang!" seru Yasmin, lalu berlari keluar untuk menyambut. Mobil yang membawa Delia dan Kosmas meluncur masuk halaman parkir lalu berhenti di depan kantor. Delia melambai. Kemudian Yasmin berpelukan dengan Delia. "Sudah lama, Yas?" tanya Delia. "Belum. Lagi ngobrol sama Bang Erwin. Kebetulan nggak ada tamu yang datang." "Kenapa kalian nggak ngobrol saja?" Kosmas menganjurkan. "Sudah lama kalian nggak ketemu. Ngomong di telepon nggak cukup, kan?" Anjuran itu menyenangkan Delia. Demikian pula Yasmin. Keduanya punya banyak sekali bahan untuk diceritakan. 306 "Boleh kami menggunakan kamar 14?" tanya Delia. "Tentu aja. Silakan," kata Kosmas. "Kalau ada tamu yang mau pakai, kasih tahu aja lewat interkom." "Ah nggak. Masih ada kamar lain." Dengan bergandengan tangan, Delia dan Yasmin menuju kamar 14. Di belakang mereka Kosmas dan Erwin memandangi. "Apa kaupikir mereka akan saling membuka diri?" tanya Kosmas. "Kukira begitu. Pasti keluar semuanya, sampai tak ada yang tersisa. Kuharap aku bisa mendapat bocoran dari Delia," sahut Erwin. "Bocoran apa?" "Tentang Yasmin."

http://inzomnia.wapka.mobi

Kosmas tertawa keras lalu memukul pelan punggung Erwin. Mereka berjalan masuk ke kantor. "Tentang mobil Delia tadi, Win, kami sudah mendapat patokan harga," Kosmas melaporkan. *** Mereka benar-benar saling membuka diri. Yasmin bercerita tentang kehidupannya pasca keluar dari rumah sakit. Sedang Delia tentang masa lalu dan apa yang terjadi belakangan. Semula Delia masih ragu-ragu bercerita tentang keinginannya bunuh diri. Takut kalau-kalau berpengaruh buruk bagi Yasmin. Tapi cerita Yasmin mengesankan bahwa dia sudah lebih kuat dari sangkaannya semula. "Ketika itu kita sama-sama orang yang sendirian, Kak. Dalam hal itu kita senasib," kata Yasmin. "Rupanya masalah "sendiri" itu selalu paling berat, ya?" 307 "Bisa iya, bisa nggak. Aku sudah terbiasa sendiri. Dipaksa oleh keadaan, dan boleh dikata aku berhasil mengatasi. Pemicu keputusanmu dan keputusanku berbeda." "Bisakah dibilang kita adalah orang-orang yang beruntung karena berhasil lepas dari jeratan keinginan bunuh diri itu?" "Kukira begitu, Yas. Kita diberi kesempatan kedua." "Mungkin karena itu aku bisa melihat masalah dengan pandangan beda. Benci kepada Papa sudah hilang. Dulu kalau ingat Papa pasti yang jelekjelek melulu. Tapi sekarang beda. Bukan karena istrinya sudah pergi atau warisan menunggu. Itu karena kita jadi lebih menghargai kehidupan. Aku pernah berpikir buat apa hidup kalau menderita terusmenerus. Sekarang aku tahu, orang yang hidupnya senang terusmenerus juga tak ada." "Kita memang pernah merasa senang. Tapi bagaimana sikapmu terhadap Hendri?" "Oh, sekarang aku sudah tidak punya rasa apa-apa lagi terhadapnya. Kalau diumpamakan makanan sih tawar bener-bener. Aku sudah tahu kemunafikannya. Biar sajalah. Karena sudah tahu, aku jadi merasa aman.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tidak takut lagi. Kami sudah pisah kamar, Kak. Dia tidak akan menyentuhku kalau aku tidak mau. Tapi aku tahu kesediaannya itu bukan tanpa sebab. Kalau aku bukan ahli waris kaya, mungkin dia tidak begitu." Delia mengerutkan kening. "Biarpun kau sudah merasa aman, kau tidak boleh melupakan kewaspada-anmu terhadapnya, Yas. Kerelaannya itu tentu disebabkan dia punya keinginan dan rencana." "Oh ya. Aku tahu. Tak lama lagi kami akan pindah ke rumah Papa karena kontrak rumah sudah 308 habis. Dia yang mengusulkan begitu. Daripada susah-susah cari kontrakan dan bayar mahal, kan lebih baik tinggal di sana. Rumahnya besar dan milikmu juga, kata Hendri. Itu baru pertama, mungkin ada kelanjutannya lagi. Tapi aku justru senang tinggal bersama Papa. Di sana aku punya pelindung. Hendri nggak berani macam-macam." "Aman sih aman. Tapi kau tetap harus hati-hati." "Tentu saja. Oh ya, gimana hubunganmu dengan Kosmas? Serius nih?" "Aku belum memberi jawaban pernyataan cintanya, Yas." "Kau nggak mencintai dia juga?" "Entahlah. Tapi bukan itu alasan kenapa jawaban belum kuberikan. Aku tidak hirau soal cinta lagi. Bukan itu yang kucari dalam hidup ini. Aku suka dia karena pribadinya. Mungkin lebih menyenangkan kalau dia tetap sebagai sahabat saja. Tapi kayaknya nggak mungkin juga kalau salah satu pihak ingin lebih dari itu." "Jadi kapan memutuskan?" "Aku harus membereskan masalahku dengan mertuaku lebih dulu. Kita memerlukan ketenangan dalam hidup ini, bukan?" "Kalau kau sudah memutuskan, kasih tahu aku, Kak." "Tentu." "Bagaimana dengan ideku untuk berbisnis garmen, Kak?" "Itu bagus sekali. Nanti aku bantu dengan bekal pengalamanku. Apakah Hendri mendukung?" "Dia belum tahu. Bahkan aku belum ngomong dengan Papa. Padahal modalnya dari Papa. Siapa lagi?"

http://inzomnia.wapka.mobi

309 "Aku yakin, ayahmu setuju. Dia pasti senang kau punya kegiatan. Demikian pula Hendri." "Mudah-mudahan saja, Kak." "Oh ya, ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Dulu kau mengatakan masih punya rasa cinta kepada Hendri. Tentu itu yang membuatmu tak mau bercerai. Tapi sekarang kau mengaku tak ada lagi rasa cinta itu. Apa masih tak berpikir untuk bercerai saja supaya kau bisa lebih mampu menata hidupmu? Maaf ya nanya begitu." "Nggak apa-apa, Kak. Aku tak mungkin bercerai karena sudah mengucapkan janji dan sumpah setia. Pada saat menikah dengan Hendri aku mengatakan akan menerima dia, baik ataupun buruk. Tidak ada yang bisa tahu apa yang terjadi kemudian, setelah perkawinan. Aku harus tetap menerima dia dalam suka dan duka. Jadi yang penting adalah bagaimana penyesuaiannya saja." Delia terperangah, tidak menyangka bahwa seorang Yasmin bisa berkata seperti itu. "Kau nggak nyangka ya, Kak?" Yasmin melanjutkan. "Baiklah, kuceritakan mengenai orangtuaku lebih dulu. Semasa mudanya, ibuku cantik, bertubuh ramping dan modis. Ayah dan ibuku pasangan serasi. Mereka rukun. Kami hidup bahagia sebagai keluarga. Kemudian terjadi perubahan pada diri ibuku. Makin lama ia makin malas merawat diri dan menjaga penampilan. Tubuhnya melar dan wajahnya tembam. Kata orang, kebanyakan perempuan akan seperti itu kalau sudah dekat menopause. Pikiran yang menjadikan orang malas berusaha. Padahal banyak perempuan seusia ibuku tetap ramping dan cantik. Tak hanya itu, ibuku tak lagi memedulikan pakaian yang dikenakannya. Dia benar-benar slebor. Alasannya, 310 pakai baju apa pun kalau gendut tetap saja nggak pantas. Mungkin sebagai ekses dari keadaan itu ia jadi cerewet. "Dari situlah Papa mulai melirik perempuan lain. Apa pun alasannya, aku tidak bisa terima kelakuan Papa itu. Manusia bukanlah barang yang bisa

http://inzomnia.wapka.mobi

ditukar kalau sudah usang dan tidak menarik lagi. Bukankah Papa sudah mengucapkan janji dan sumpah perkawinan yang begitu sakral? Papa janji akan tetap mencintai Mama dalam suka dan duka. Rasa cinta memang susah dipertahankan, tapi kesetiaan? Bukankah pada saat janji diucapkan orang tidak akan pernah tahu apa yang terjadi kemudian? Siapa menduga bahwa pasangannya yang semula cantik dan ramping akan berubah menjadi jelek dan gembrot? Tak selalu keduanya menjadi keriput bersama, jelek dan cerewet bersama juga, meskipun tua bersama. "Prinsip itulah yang kupertahankan sampai aku sendiri menikah. Aku tidak menyangka Hendri bisa seganas itu di tempat tidur. Tapi bukankah Hendri juga tidak menyangka perempuan yang dinikahinya tak bisa memuaskan hasratnya?" Yasmin bertutur panjang. Delia memeluknya dengan penuh keharuan. "Tapi dia mengkhianatimu, Yas. Dia tidak seperti dirimu." "Itulah. Aku memang bukan dirinya. Aku tidak sama." Sampai mereka puas berbincang, tidak ada gangguan lewat interkom. "Makan siang di sini, Yas," ajak Delia. Mereka kembali ke kantor. Kosmas dan Erwin sudah menunggu. Kepada Yasmin, Kosmas menunjukkan jempolnya. 311 "Apa itu?" tanya Yasmin. "Kau tambah cakep, Yas! Tadi Erwin juga bilang begitu." Yasmin tersenyum. "Bang Kos juga kurasan sekarang." Kosmas tertawa senang. Ia bangga kalau ada yang mengatakan demikian. Belakangan ia memang berusaha keras menurunkan berat badannya. Mereka makan siang bersama dalam suasana yang berbeda dibanding pertama kali melakukannya. Kali, ini gelak tawa dan canda mewarnai acara itu. Usai makan Delia mengantarkan Yasmin pulang. Yasmin tak mau pulang sore karena tak mau terlibat konflik dengan Hendri bila pria itu mendapatinya baru pulang.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Mobil ini tak akan jadi milikku lagi, Yas. Tapi masih bisa kupakai. Itulah untungnya," kata Delia sambil tertawa. "Aduh, Kak. Kau sampai tak punya apa-apa lagi," Yasmin prihatin. "Aku masih punya hati, Yas." Mereka saling mengagumi. 312 BAB 30 Rama sangat terkejut ketika pagi itu mendadak Ratna minta diantarkan ke Jakarta. "Nih, aku minta diantarkan ke sini." Rama menunjukkan secarik kertas yang bertuliskan nama Motel Marlin beserta alamatnya. "Motel?" Rama terbelalak. "Ngapain ke motel, Ma?" Rama menatap wajah ibunya. Padahal biasanya ia tidak berani berbuat begitu. Ia mulai berpikir yang bukan-bukan. "Hei! Pikiranmu ngeres ya! Dasar!" bentak Ratna. Rama terkejut lagi, bara disadarkan bahwa ia harus berhati-hati terhadap ibunya. "Aku punya urusan di sana. Kau nggak perlu tahu." "Ke sana pakai apa, Ma? Pakai mobilku? Jangan deh, Ma. Udah butut gitu mana tahan dibawa ke Jakarta, Ma!" "Kita naik kereta api! Aku udah lama nggak naik kereta. Nanti kita naik yang ekspres ya!" Ratna bersemangat sekali. "Lalu di motel ngapain?" "Aku mau nginap di sana satu malam. Aku bisa pulang sendiri. Gampang. Di sana taksi lebih banyak daripada di sini." 313 "Nginapnya sendiri?" tanya Rama bingung. "Tentu aja atuh! Emangnya sama siapa?" "Kalau cuma mau ngerasain nginap di Jakarta mah di hotel saja, Ma. Jangan di motel. Itu mah biasanya buat orang pacaran." "Sebodo amat!" seru Ratna. "Itu kan semau aku. Di mana kek maunya. Yang penting kamu nyiapin sangu. Aku perlu duit!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Rama cukup kelabakan menghubungi saudara-saudaranya untuk mengumpulkan uang. Tambahan lagi waktunya mendesak. Butuhnya pagi itu juga. Mereka terpaksa memberikan. Lebih baik menguras kantong daripada kena kutukan. Rama yang mendatangi rumah Ramli untuk minta uang sempat bertemu dengan Donna yang mau berangkat ke sekolah. "Jangan-jangan Nenek punya janji dengan seseorang. Mau pacaran di sana," kata Donna. "Eh, sembarangan ngomong kamu!" bentak ibunya. "Entar dia dengar. Kamu bisa celaka." "Nggak takut, Ma. Nenek itu mesti dilawan. Jangan dibiarkan aja." "Tapi dia itu ibu kami dan nenek kamu" kata Rama. "Dia bukan lagi nenekku. Sosoknya aja udah lain. Luarnya lain. Dalamnya juga." "Kamu cuma cucu. Tapi kami ini anak yang dilahirkan olehnya. Masa melawan ibu sendiri?" kata Ramli. "Sudahlah, Don. Kamu jangan banyak bicara," kata Mila. "Ma, menurut Tante Del, yang kita lawan itu bukan Nenek, tapi iblis di dalamnya." "Ala, dia bisa ngomong macam-macam karena nggak menghadapi sendiri," kata Rama. 314 "Biar sajalah. Selama Mama hanya minta uang, bisa kita usahakan. Dia toh cuma mau senang-senang," kata Ramli, lalu menyuruh putrinya cepat pergi ke sekolah. Donna berangkat ke sekolah dengan pikiran tertuju kepada Delia. Ia bingung, apa yang mau dituju Ratna di Jakarta. Ke sebuah motel? Jadi bukan untuk mencari Delia? Lagi pula untuk apa dia mencari Delia kalau sudah yakin bahwa Delia akan datang sendiri ke sini untuk menemuinya? Delia sendiri menjanjikan hal itu. Donna lebih memercayai teori yang diucapkannya tadi. Bahwa neneknya punya pacar dan janjian di motel itu! Mungkin pacarnya orang Jakarta.

http://inzomnia.wapka.mobi

Atau mencari tempat yang jauh, tidak di Bandung, supaya tidak ada yang melihat. Pemikiran itu membatalkan niatnya untuk menelepon Delia. Ia tidak punya uang untuk pergi ke wartel. Kalau menelepon dari rumah pasti dimarahi karena biaya telepon interlokal mahal. Lagi pula ia bisa membuat Delia resah tidak keruan. Padahal Delia juga tidak tahu seperti apa rupa Ratna sekarang. Pada suatu. saat Donna harus menelepon Delia, punya atau tidak punya uang. Ia akan mengingatkan orangtuanya pada "utang" mereka kepada Delia. Donna melangkah dengan ringan sekarang. Ia gembira ke sekolah karena masalahnya sudah tak ada lagi. Ia sudah bisa berkonsentrasi dan mengingat dengan baik. *** Pagi itu Yasmin menemani Hendri sarapan. Sebentar-sebentar Hendri mengamati Yasmin. 315 "Ada apa?" tanya Yasmin. "Kau kelihatan ceria sekali. Sampai bersinar-sinar." "Ah, masa?" Yasmin bertanya-tanya dalam hati apakah ucapan Hendri itu menjurus ke sesuatu. "Iya. Kau kelihatan cantik." "Gombal ah." "Bener. Dulu pernah aku mengatai kau, bahwa kau ma prematur. Aku minta maaf telah berkata begim. Tapi itu memang benar. Sekarang juga benar. Bukan gombal. Ketuaan dini itu sudah hilang. Kau jadi secantik dulu, saat kita masih pacaran." Yasmin tersenyum. Hendri sedang berupaya mengambil hati. "Gimana Papa kemarin?" tanya Hendri. Yasmin bingung sejenak. Kemarin ia ke Motel Marlin. Kemudian ia teringat, pasti Hendri mengecek dengan meneleponnya. Setelah mendapati rumah kosong, Hendri tentu mengira Yasmin pergi ke rumah ayahnya. Tapi sorenya dia tidak bertanya mengenai hal itu. Baru sekarang. "Papa? Aku tidak ke rumah Papa kemarin." "Lantas ke mana? Aku nelepon berulang-ulang, tapi kau nggak ada."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku menemui Kak Del di Motel Marlin." Hendri berhenti mengunyah. Diam sebentar. Lalu berkata dengan sikap biasa, "Oh, begitu. Lama ngobrolnya?" "Lama. Aku makan siang di sana." "Bersama pemiliknya?" "Ya. Bang Kosmas dan Bang Erwin." "Bagaimana keadaan mereka?" Yasmin heran atas pertanyaan itu. "Baik. Semuanya baik. Kak Del sekarang bekerja di motel itu." 316 "Lho? Katanya dia punya toko di Bandung. Ke mana tokonya?" "Dijual." Yasmin tak enak membicarakan Delia. "Kasihan. Sekarang memang susah punya toko garmen. Di Bandung itu toko busana banyak banget. Saingan banyak. Mestinya kau bisa membantunya. Bukankah dia penolongmu?" Yasmin tak menyangka Hendri bersimpati pada Delia. Kecurigaannya lenyap. Tentu Hendri ikut senang Yasmin masih hidup saat ayahnya sedang berusaha menghubunginya. Jadi wajarlah kalau Hendri berterima kasih kepada Delia. "Percuma, Hen. Dia sudah menjualnya lama sebelum aku mengenalnya. Ketika bertemu itu, dia memang berbohong seakan masih punya toko. Tapi itu tentu wajar. Masa bilang-bilang keadaan sebenarnya pada orang tak dikenal?" "Pasti dia terpaksa kerja di motel itu." "Ah nggak. Dia senang dan bersemangat." "Aku pikir motel itu bukan tempat yang layak baginya. Apa latar belakang pendidikannya?" "Sarjana akuntasi. Dia mempraktikkan keahliannya itu di motel." "Kalau dia mau pindah kerjaan, aku bisa bantu cariin." "Nantilah. Aku tanyakan." "Jadi dia nggak kembali ke Bandung?" "Di sana dia dikejar mertuanya, nenek sihir!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Sesudah berkata begim, Yasmin terkejut. Dia sudah keceplosan bicara. Mungkin dia terpengaruh oleh perhatian yang diberikan Hendri kepada Delia. Hendri tertawa. "Mertuanya nenek sihir? Yang suka terbang naik sapu itu?" "Tentu saja bukan." 317 "Oh, aku tahu. Dukun santet?" "Juga bukan." "Habis apa dong?" "Nggak mau ngomongin itu ah. Takut kena kutuk!" "Wah, jadi nenek itu bisa mengutuk?" "Hati-hati kau! Nanti kaulah yang dikutuknya." "Jadi kodok?" Hendri tertawa geli. Yasmin ikut tertawa. Perasaannya sedang gembira. Sikap Hendri menambah kegembiraannya. "Dia pasti dukun. Atau punya ilmu," kata Hendri lagi. "Ya. Dia memang punya ilmu. Sudahlah. Nggak mau ngomongin dia lagi. Takut." "Aku justru tertarik, Yas. Aku ingin ketemu dia. Orang berilmu itu kan bisa menyembuhkan orang." "Menyembuhkan siapa?" tanya Yasmin dengan mata membesar. Ia mengira ayahnyalah yang dimaksud Hendri. "Kita berdua." "Memangnya kita sakit apa?" Yasmin tak mengerti. Hendri tersenyum. Yasmin mengerti. Mukanya jadi memerah. "Aku bukan nggak peduli, Yas. Aku sangat ingin mencari jalan keluar yang terbaik buat kita." Yasmin tidak menyahut. Tentu dia tak bisa mengatakan bahwa dia sendiri lebih suka keadaan seperti sekarang saja. Tak perlu perubahan lagi. "Kayaknya kita lebih cocok pergi ke orang pintar saja, daripada ke Dokter Zainal. Bisanya cuma ngomong doang." "Tapi kau salah, Hen. Mertua Kak Del itu bukan dukun atau orang pintar yang bisa menyembuhkan orang."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kan tak ada salahnya mencoba. Siapa tahu. 318 Jangan bilang-bilang sama Kak Del tentang maksud kita. Tanya saja alamatnya. Nanti aku cari informasi ke Bandung." Yasmin terbelalak. "Wah, kau serius!" "Tentu saja aku serius. Aku kan ingin perbaikan. Apa kau sendiri tak ingin?" "Bukankah kita sudah sepakat?" "Ya. Tapi keadaan seperti ini nggak mungkin terus-terusan, kan? Apa kau nggak ingin punya anak, misalnya?" "Nantilah, Hen. Jangan ngomongin itu sekarang. Aku masih trauma." "Baiklah," sahut Hendri lesu. "Satu hal lagi, Hen. Tentang perempuan lain. Hanya soal pelampiasan, kan? Aku rela kau melakukannya. Asal dengan pengamanan. Jangan sampai ketularan penyakit." "Ya. Terima kasih." Hendri memikirkannya. Perkataan Yasmin itu bisa bermakna ganda, pertama, Yasmin tak lagi mencintainya. Kedua, Yasmin masih mencintainya hingga rela berkorban perasaan. Sulit menentukan mana yang benar. Sekarang ia bingung menghadapi Yasmin. Dulu ia lebih gampang menilai, karena Yasmin lugu dan mudah dibaca. Kalau Yasmin memang berubah, perubahan itu besar sekali. Apakah Yasmin mendendam padanya? Kalau benar begitu, kenapa Yasmin tak minta cerai saja sejak dulu? Bahkan sekarang, setelah punya beking kuat dalam diri ayahnya pun dia tidak pernah menyinggung kata cerai. Kalau sudah tak suka kepadanya, kenapa tidak minta cerai saja? Hendri merasa bingung. Dalam keadaan demikian, tampaknya seorang nenek sihir bisa sangat membantu. 319 Yasmin pun termenung setelah kepergian Hendri. Ia bertanya-tanya apa sebenarnya yang diinginkan Hendri darinya. Kalau cuma ingin memuaskan libidonya, seharusnya Hendri puas dengan kebebasannya mencari

http://inzomnia.wapka.mobi

perempuan lain. Kenapa masih saja menginginkan dirinya? Benarkah Hendri ingin punya anak? Ketika Erwin menelepon, seperti biasa, Erwin lebih banyak berbicara daripada dirinya. Ada saja yang diceritakan. Setiap hari ada sesuatu yang terjadi. Lalu Yasmin minta bicara dengan Delia. "Kalau dia sedang nggak sibuk tentunya, Bang." "Wah sayang. Dia ke Bandung bersama Bang Kos." Yasmin terkejut. "Ke Bandung? Ngapain?" "Bukankah kau sudah tahu rencananya?" "Oh ya, sudah. Dia mau memberikan uang hasil penjualan mobilnya itu kepada mertuanya. Tak kusangka secepat itu. Baru kemarin ngomong soal rencana." "Dia berpesan kepadaku untuk menyampaikan kepadamu kalau kau menelepon. Tapi saking asyiknya ngomong, aku lupa. Sori, Yas." "Apa mereka pulang nanti sore atau bermaksud menginap di sana?" "Pulang dong." Sesudah itu ayahnya menelepon, menanyakan apakah ia mau datang. Yasmin segera menyanggupi. Daripada termenung di rumah memikirkan hal-hal yang tak bisa ia temukan jawabannya, lebih baik ia menemui ayahnya. Ia memang perlu bicara dengan ayahnya untuk membicarakan ide-idenya. 320 BAB 31 Kosmas menemani Delia pergi ke Bandung dengan mengendarai mobil yang dulunya milik Delia tapi sekarang sudah berpindah tangan jadi milik Motel Marlin. Mereka mengemudi bergantian. Semula Delia ingin pergi sendiri saja, tapi Kosmas mendesak dan membujuk. Alasannya masuk akal. Ia bisa berfungsi sebagai pengawal mengingat Delia membawa uang lumayan banyak. Jumlahnya dua puluh lima juta. Itu upeti untuk Ratna. Bagi Delia jumlah uang itu kecil sekali bila dibandingkan dengan jumlah yang dibawanya dulu, ketika berangkat dari Bandung menuju Jakarta.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tetapi kondisinya tentu berbeda. Sekarang jumlah uang itu besar sekali untuknya. "Sayang ya, Del." Delia mengerti apa yang dimaksud Kosmas. Ia tertawa. "Mungkin aku sudah ditakdirkan menjadi Sinterklas, Bang! Tukang bagi-bagi duit!" Kosmas tahu, ia tak boleh menyesali atau membangkitkan sesal di hati Delia. Yang paling tahu bagaimana beratnya beban yang dipikul adalah yang memikul. Tapi sebagai pengusaha yang tidak tergolong kelas besar, ia tahu betul bagaimana sulitnya mencari uang di tengah iklim usaha yang redup seperti sekarang ini. Jadi dirinyalah yang lebih menyesal 321 daripada Delia yang sudah pasrah, padahal uang yang dihamburkan Delia itu bukanlah miliknya. Kosmas sebenarnya berharap uang yang diberikannya kepada Delia sebagai hasil pembelian mobil itu tidak seluruhnya dijadikan upeti untuk Rama. Biarlah sebagian untuk Delia sendiri. Tapi Delia memasukkan semuanya ke dalam amplop. Kosmas melihat sendiri. Ah, sayang sekali. Delia merasakan apa yang tengah dipikirkan Kosmas. "Sudahlah. Jangan disesali, Bang. Uang masih bisa dicari. Tapi ketenangan hidup?" "Kau sepertinya yakin sekali bahwa dengan memberikan uang itu kau bisa mendapat ketenangan. Belum tentu, Del." "Ya. Memang belum tentu. Tapi dengan memberikan itu aku tidak lagi merasa bersalah karena telah melakukan apa yang dulu kuperbuat itu. Aku perlu menenangkan diriku sendiri. Bukan dia." "Kalau nanti dia minta lagi atau bilang belum cukup, gimana?" "Aku akan bilang tidak. Dia pasti tahu aku tidak punya uang lagi untuk diberikan." "Benarkah dia sesakti itu, Del?" "Dari cerita Donna, memang iya. Mana ada orang biasa bisa mengubah penampilan menjadi lebih muda kecuali dengan operasi plastik?" "Aku senang kau bisa merasa tenang sekarang, Del. Apakah ketenangan juga memberikan kebahagiaan?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tentu saja. Di samping ketenangan, aku juga mendapat banyak hal. Aku kehilangan, tapi aku juga mendapat gantinya. Salah satunya adalah kau." Kosmas terlonjak girang. Sampai saat itu Delia 322 belum menjawab lamarannya. Ia tidak berani mendesak meskipun optimis. Apakah kata-kata Delia itu cukup sebagai jawaban? Delia melanjutkan kata-katanya, "Maksudku bukan cuma kau, tapi juga Erwin dan Yasmin. Tadinya aku luntang-lantung sendiri. Siapa sangka bisa mendapat sahabat banyak." "Sahabat?" keluh Kosmas kecewa. Delia tersenyum. Ia tak ingin mempermainkan perasaan Kosmas. "Ya. Sahabat dan calon suami," katanya. Kosmas tertawa gembira. "Oh, Del! Terima kasih!" serunya. "Kok terima kasih? Aku kan nggak memberi apa-apa?" "Siapa bilang? Kau telah memberiku banyak sekali. Yang paling berharga dari semuanya adalah hatimu." "Wah, mana bisa hatiku diberikan padamu? Hatiku tetap milikku. Ah, bercanda, Bang! Kata Erwin, kau sekarang jadi pintar ngomong. Dulu nggak begini?" "Nggak. Mungkin bakat terpendam. Baru keluar setelah bertemu orang yang cocok, yaitu orang yang bernama Delia." Mereka tertawa. Perjalanan jadi terasa menyenangkan sekali. Ketegangan yang menunggu di depan tidak lagi mencemaskan. "Aku ingin sekali melihat Ratna dalam penampilannya yang baru. Dulu, sewaktu almarhum suamiku masih duduk di bangku SMU, aku belum pernah melihatnya. Kata Donna, dia cantik dan tubuhnya ramping. Menantu-menantunya kalah dibanding dia." "Biarpun luarnya kelihatan muda, dalamnya pasti tetap tua. Kayak rumah kuno yang direnovasi bagian luarnya aja." 323 Delia tertawa. Ia bersyukur karena perjalanannya ditemani Kosmas. Bila sendirian ia akan merasa lebih tegang.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kosmas berulang-ulang melirik Delia dengan perasaan selangit. Ah, ia sudah punya calon istri sekarang. Tapi dalam kebahagiaannya ia masih ingat kepada Erwin. Kasihan Erwin yang saat ini hanya bisa berharap. "Perjuangan Erwin akan sulit," kata Delia. "Jadi Yasmin tidak berniat pisah dari Hendri." "Masalahnya bukan terletak pada Hendri. Yang ini lebih sulit. Dia punya prinsip tidak akan cerai karena sudah mengucapkan janji dan sumpah setia. Betapapun menderitanya, dia akan tetap berpegang pada prinsip itu." "Ooh...," keluh Kosmas. Memang langka dan mengagumkan perempuan seperti itu, tapi tidakkah itu terlalu berlebihan? "Tapi sebaiknya Erwin jangan diberitahu soal itu," kata Delia. "Bukankah itu tidak fair? Lebih baik dia mundur sebelum maju terlalu jauh." "Maksudku, jangan kita yang memberitahu. Biar Yasmin sendiri yang ngomong begim kepadanya." "Ya. Kukira lebih baik begim. Tapiii... gimana kalau pihak Hendri yang menuntut cerai? Apakah Yasmin bersedia, atau tetap pada pendiriannya? Nggak mungkin juga ya?" "Yasmin merasa yakin Hendri tidak akan minta cerai." "Tidakkah itu terlalu percaya diri? Padahal sebagai istri, dia tidak bisa memberikan yang diinginkan suaminya." "Justru itu. Sudah jelas dia tidak bisa melayani 324 suaminya. Menolak, lagi. Tapi Hendri tidak pernah menyinggung soal cerai. Im karena sekarang Yasmin sudah kaya." "Ah, sungguh menyebalkan." Delia tahu, Kosmas sangat memerhatikan Erwin. Kosmas tidak ingin bahagia sendirian. Mungkin perannya menghadapi dua bersaudara itu menjadi lebih berat. Tapi Delia sudah siap. Saat Kosmas dan Delia tiba di Bandung, Ratna dan Rama pun tiba di Jakarta.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tapi Ratna tidak mau segera pergi ke Motel Marlin. Dari stasiun Gambir ia bertanya dulu kepada sopir taksi di mana mal yang terdekat, lalu minta diantar ke sana! Rama yang mendampinginya tidak berdaya membantah atau membujuk agar Rama membatalkan niatnya. Im hal yang tidak mungkin ia lakukan. Tadinya Rama mengira- tugasnya akan cepat selesai. Setelah tiba di Jakarta, ia langsung menuju motel yang dimaksud, lalu pulang. Tak perlu mengkhawatirkan orang sesakti ibunya. Tiba-tiba sekarang ada tugas tambahan yang lebih menyebalkan lagi. Sebelumnya ia sudah mendengar tentang acara jalan-jalan bersama Rama keliling mal. Sekarang ia akan mengalami sendiri. Bukan hanya itu. Ia benar-benar merasa capek secara fisik, juga takut kalau-kalau dalam acara jalan-jalan itu Rama minta tambahan uang. Bekalnya hanya pas-pasan untuk ongkos pulang dan jajan sedikit. Bukan karena di rumah uangnya sudah habis, tapi disengaja supaya Rama tidak minta lebih dari yang sudah diberikan untuknya. Kalau ia 325 membawa uang lebih, bisa jadi diminta lagi oleh Rama. "Jakarta itu terkenal dengan mal-malnya yang seabrek. Bagus-bagus barangnya!" "Tapi di sini malnya gede-gede, Ma! Satu lantai saja luasnya bukan main. Mama bisa kecapekan," Rama sengaja menakut-nakuti. Semangat Ratna malah bertambah. "Kebetulan aku mau ngetes kekuatan sendi-sendi kakiku!" serunya. Rama cuma bisa mengeluh dalam hati. Bagaimana dengan kekuatan sendisendi kakinya sendiri? Sebelum memasuki mal, Ratna mengambil ponselnya. Rama mengamati, ingin tahu siapa yang ditelepon Ratna. Dengan keheranan ia mendengar Ratna bicara dengan Maya, istrinya! "Maya, aku dan Rama udah sampai di Jakarta. Aku mau pesan. Kalau nanti Delia datang, jangan sekali-kali beritahu aku ke Jakarta dan tujuannya apa. Cari alasan lain. Awas ya kalau kau berani kasih tahu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Pokoknya kalau Del kasih sesuatu, terima aja. Nggak usah ngomong banyak-banyak. Ngerti?" Rama tidak berani bertanya. Ia selalu berjalan di belakang Ratna, tidak di sampingnya. Mal itu ditelusuri mereka berdua, lantai demi lantai, dari ujung ke ujung. Sebentar-sebentar mereka berhenti karena Ratna mengamati barangbarang. Lagaknya seperti orang berminat yang banyak uang. Rama menjaga jarak. Tak mau dekat-dekat. Takut diajak bicara atau dimintai pertimbangan. Ia berharap Ratna cukup tahu diri dengan memperhitungkan uang yang dimilikinya. Ia bertanya-tanya dalam hati, kenapa Ratna tidak menggunakan kesaktiannya untuk menggandakan uangnya atau bagaimanalah supaya 326 bisa punya banyak uang tanpa membebani anak-anaknya. Belum selesai mal itu ditelusuri semua lantainya, sepasang kaki Rama sudah bergoyang-goyang dan matanya berkunang-kunang. Ia merasa akan jatuh pingsan setiap saat tapi mencoba bertahan. Padahal Ratna masih terlihat segar dan bersemangat. Ia berjalan ke sana kemari tanpa menengok ke belakang untuk melihat keadaan Rama. Saking cerianya, ia sama sekali tidak peduli apakah Rama masih ada di belakangnya atau tidak. Tapi ada yang melegakan perasaan Rama. Setelah menelusuri mal itu, lantai demi lantai, Ratna cuma membeli sebuah lipstik! Padahal ia sudah memegang-megang dan merabai berbagai benda yang mahal-mahal dengan ekspresi tertarik. Ketika diajak Rama beristirahat sambil makan siang, barulah Rama bisa memulihkan tenaganya. Tapi itu hanya sementara. Di luar dugaan Rama, penjelajahan dilanjutkan ke mal berikutnya! Rama kembali hanya bisa mengeluh. Berkali-kali muncul godaan. Bagaimana kalau ia kabur saja? Ratna berjalan tanpa menengok ke belakang. Jadi kalau ia menghilang takkan ketahuan. Kemudian ia teringat bahwa ia bisa saja melakukannya terhadap orang lain, tapi tidak pada Ratna. Entah apa hukuman yang akan dijatuhkan Ratna terhadap dirinya bila ia sampai melakukan hal itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Maka ia hanya berharap Rama menjadi bosan sendiri supaya pemalangan itu segera berakhir. Tetapi harapan Rama itu tidak terpenuhi. Keluar dari mal yang kedua, Rama memanggil taksi, lalu bertanya lagi pada sopir taksi di mana ada mal berikutnya! Maka pemalangan berlanjut kembali. Rama bukan saja capek di kaki tapi juga capek mata dan 327 hidung. Ia pusing melihat barang yang penuh sesak beragam dan menghirup bermacam-macam bau, dari parfum menyengat sampai kulit sepatu! Benar-benar memabukkan. "Untunglah kita nggak pakai mobil bututmu ya. Di sini taksi banyak banget," komentar Ratna. "Kabarnya ada juga sopir taksi yang jahat, Ma. Suka muter-muter dan ada yang merampok." "Ah, mana mungkin ada yang berani sama aku!" kata Ratna takabur. Rama memercayai perkataan itu. Mereka menjelajahi mal demi mal. Ratna tak kenal lelah. Sementara Rama kelelahan. Ia merasa mendengar sendi-sendi lututnya berkeretekan seakan pada lepas berantakan. Akhirnya ia tak tahan lagi, lalu menggelosor duduk di lantai pojok ruang dan berusaha mengecilkan tubuhnya supaya tidak kelihatan mencolok. Seorang pramuniaga buru-buru mendekat. "Kenapa, Pak?" tanyanya cemas. Ia melihat wajah yang pucat dan tubuh yang lunglai. "Maaf, Mbak. Boleh duduk di sini sebentar? Kaki saya sakit," kata Rama, menyeringai malu. Untuk menguatkan perkataannya ia menggosok-gosok kakinya. "Boleh, boleh," sahut pramuniaga tadi. Tak urung ia menatap curiga sebelum menjauh. Tapi tak terlalu jauh. Ia harus mengamati. Siapa tahu orang itu hanya pura-pura, tahu-tahu mencuri. Ratna datang tergopoh-gppoh. Ia sudah berjalan cukup jauh tanpa menyadari Rama tak ada di belakangnya. Lalu ia menemukan Rama duduk

http://inzomnia.wapka.mobi

di pojok lantai dengan menekuk kedua lutut. Kepalanya disandarkan ke dinding. Rama terkejut melihat ibunya 328 menatapnya gusar. Ia bergerak untuk berdiri, tapi ternyata tidak sanggup melakukannya! Sepasang kakinya kehilangan tenaga. "Ayo bangun, Ram!" bentak Ratna. Ditekannya suaranya supaya tidak menarik perhatian orang. Ia tidak mau jadi tontonan. "Capek, Ma. Ngaso dulu, ya?" "Ayolah! Malu-maluin aja kamu! Masa kalah sama orang tua?" Sambil berkata begitu, Ratna menampar keras lutut Rama. Spontan Rama memekik kesakitan karena rasa nyeri yang menghantamnya. Tapi serentak ia berdiri seolah tertarik ke atas. Lalu dengan cepat nyerinya hilang. Ia cepat berjalan mengikuti Ratna yang sudah melangkah lebih dulu. Anehnya, Rama tak lagi merasa capek. Ia bisa terus berjalan dan berjalan, baik menaiki maupun menuruni tangga tanpa lelah sedikit pun. Biarpun aneh, ia tak merasa heran. Hal itu justru membuatnya semakin takut kepada Ratna. Ia hanya menyesali, meskipun di dalam hati, kenapa tidak dari awal saja Ratna memberinya kekuatan. Pada setiap kesempatan Rama mencuri pandang ke wajah ibunya. Apakah perilaku yang diperlihatkan Ratna sekarang ini sama seperti dulu? Ketika itu ibunya memang galak dan cerewet. Mungkin sama, tapi ia merasa asing. Bukan semata-mata karena perubahan fisik, tapi ada sesuatu yang lain. Tiba-tiba Ratna menoleh dan menatapnya. Rama terkejut, merasa kepergok. Seerrr... Bulu romanya berdiri. *** 329 Delia dan Kosmas disambut Maya dengan sikap gelisah dan gugup. Tangannya yang menyalami Delia dan Kosmas terasa dingin dan gemetar. Ia dipeluk Delia yang mencium pipinya tapi tidak membalas pelukan. Ia pasif sekali.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kenapa, May? Sakit?" tanya Delia. "Ah, nggak. Nggak." Maya sama sekali tidak memerhatikan Kosmas, meskipun menyambut uluran tangan lelaki itu. Ia cuma fokus pada Delia seorang. Delia menatap sekeliling. Kecuali para montir yang sedang bekerja di bengkel depan rumah, sekitarnya sepi-sepi saja. Rumah itu besar, jadi kesepian amat terasa. "Kalau kau mencari Mama, dia nggak ada. Lagi pergi," kata Maya. "Pergi ke mana? Lama? Biar kutunggu aja. Kau tak usah menemani kami. Mungkin lagi sibuk, ya? Atau kami pergi dulu, nanti balik lagi?" tanya Delia. "Oh, jangan, Del. Dia nginap di luar kota. Kalau kau bawa sesuatu untuknya, titipkan saja padaku. Nanti kusampaikan." "Luar kota mana, May?" tanya Delia. Maya menutup mulutnya. Matanya menatap dinding. Delia sadar sikap Maya itu menandakan takkan ada informasi yang mau diberikannya. "Baiklah," katanya. Delia membuka tas, tapi kosmas mencondongkan kepalanya lebih dekat lalu berbisik, "Apa aman bila dititipkan, Del?" Delia mengangguk. "Ya. Kukira aman," bisiknya juga. Kosmas tak mendebat lagi. Rasanya kurang nya330 man menerima tatapan tak suka dari nyonya rumah. Mungkin Maya bisa menebak apa yang dibisikkannya tadi dan merasa kurang senang. Delia mengeluarkan sebuah amplop cokelat lalu menyerahkannya kepada Maya. "Isinya uang, May. Jumlahnya dua puluh lima juta rupiah." "Perlu tanda terima?" tanya Maya. "Ah, nggak perlu. Mama pasti sudah tahu, baik kedatanganku maupun isi amplop ini. Dia tak mau ketemu aku, bukan? Mungkin takut aku kaget melihat perubahan penampilannya, ya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Maya tidak menyahut. Ia hanya tersenyum kaku. Dalam hati berkata, tentu Delia sudah diberitahu Donna. Jadi ia tidak perlu menjelaskan lagi. Ia ingat pesan Ratna yang melarangnya banyak bicara. "Bagaimana anak-anak dan Rama, May?" "Baik. Baik. Semuanya baik." "Rama sedang keluar juga?" "Ya." "Kau kelihatan pucat, May. Sebaiknya periksa ke dokter. Mungkin kau kurang darah." "Ah, aku baik-baik saja." "Syukurlah kalau begitu." Delia berdiri, diikuti Kosmas dan Maya. Mereka bersalaman lagi. "Terima kasih, May. Sampaikan salam dan maafku pada Mama. Semoga Mama merasa senang dan puas," kata Delia. "Ya. Terima kasih kembali," sahut Maya, tanpa basa-basi untuk menahan tamunya. Bahkan tampak lega karena tamunya cepat pamitan. Ia pun tidak mengantarkan kedua tamunya sampai ke pintu pagar. Maya buru-buru masuk rumah kembali lalu me331 nyimpan amplop cokelat pemberian Delia ke dalam lemarinya. Ia memperlakukan benda itu seolah barang pecah belah bernilai tinggi. Kalau hilang ia bisa celaka. Sementara itu Kosmas dan Delia melakukan perjalanan kembali ke Jakarta. Mereka sama-sama ingin cepat pulang. "Maya tampak ketakutan. Kasihan ya?" kata Delia. "Seharusnya dia bersimpati padamu. Setidaknya bertanya tentang keadaanmu. Bukannya setengah mengusir. Dingin amat orang itu. Bahkan menyuguhi minuman pun tidak," Kosmas kesal. "Aku mau terpikir positif saja, Bang. Mungkin dia bersikap begitu supaya aku jangan ketemu Ratna. Dia takut aku diapa-apain." "Sesungguhnya nenek itu ada di rumah atau nggak, ya?" "Kayaknya nggak." "Kok yakin?" "Kalau dia memang ada di dalam dan tak mau keluar, tentu sikap Maya lebih gelisah lagi. Tatapannya juga akan sebentar-sebentar ke dalam rumah. Tapi tadi dia terus menatap lurus ke depan."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kalau begitu mertuamu itu memang sudah tahu kau mau datang. Jadi dia pergi untuk menghindar." "Kenapa ya?" Delia bertanya-tanya sendiri. "Mungkin dia tahu kau tidak sendiri. Ada aku," gurau Kosmas. Delia tertawa. "Ya, mungkin begitu. Padahal kita ingin melihatnya, bukan?" "Sayang sekali. Apakah itu berarti dia malu dilihat kita?" "Mana mungkin? Mestinya dia merasa bangga. Ah, sudahlah. Aku cuma ingat akan bau menyan tadi. Apa kau menciumnya juga, Bang?" 332 "Ya. Jelas baunya." "Dia memuja sesuatu. Dan yang dipuja itu memberinya apa yang diinginkannya." "Apakah ada imbalannya?" tanya Kosmas. "Mestinya ada." "Sebaiknya kita tidak membicarakannya." "Betul. Aku pikir juga begitu." "Sebaiknya kita bicarakan masa depan kita bersama." "Ya. Itu lebih menyenangkan," Delia setuju. Dia memang luar biasa, pikir Kosmas untuk kese-kian kalinya. 333 BAB 32 "Sekarang kau pulang saja, Ram! Balik ke stasiun," kata Rama setelah taksi berhenti di depan gerbang Motel Marlin. Ia turun sendiri. Rama tidak membantah. Dengan taksi yang sama ia meninggalkan ibunya. Tak ada kekhawatiran. Ia juga tidak merasa perlu berpesan agar Ratna berhati-hati. Biarpun ucapan itu sekadar basa-basi, ia tetap tidak berani mengatakannya karena khawatir Rama malah marah. Terlalu banyak yang dialaminya hari itu hingga keinginannya hanya satu, yaitu cepat pulang. Ratna melenggang di halaman parkir menuju kantor. Ia menjinjing belanjaannya di dalam tas jinjing yang berlogo nama toko bergengsi. Tangannya yang lain menjinjing tas ukuran sedang berisi pakaian ganti. Tidak berat. Padahal ia bisa menitipkan belanjaannya itu pada Rama

http://inzomnia.wapka.mobi

untuk dibawa pulang supaya ia tidak repot. Tapi ia tidak mau karena ingin kelihatan sebagai perempuan berduit yang suka belanja. "Selamat sore. Bu!" Erwin menyapa ramah. "Sore, Pak. Saya mau nginap satu malam. Besok keluar jam sembilan." "Baik, Bu." Erwin menyodorkan buku tamu. Rama menulis namanya sebagai Ratih Sutisna dengan alamat Cianjur.. 334 "Nomor telepon tolong ditulis juga, Bu." "Nggak ada telepon. Ada juga HP." Erwin memutuskan untuk tidak mempersoalkan. "Bisa lihat KTP-nya, Bu? Mau dicocokkan." Rama membuka tasnya lalu mengaduk-aduk isinya. Segera wajahnya memperlihatkan kecemasan. "Waduh, kok nggak ada ya. Jangan-jangan ketinggalan di tas yang lain. Beginilah kalau ganti-ganti tas. Wah, gimana ya? Apa saya nggak boleh nginap di sini kalau nggak bawa KTP?" Erwin merasa iba. Melihat penampilan Rama, ia yakin perempuan ini pastilah orang baik-baik dan cukup berada meskipun datang sendirian. "Ibu ke Jakarta ada keperluan penting?" "Ah, nggak. Jalan-jalan aja. Abis belanja. Nih." Rama mengangkat jinjingannya tinggi-tinggi agar terlihat oleh Erwin. Erwin tertegun. Jalan-jalan sendirian. Ke Jakarta, lagi. Ia mendapat kesan perempuan ini orang yang mandiri yang sudah biasa pergi sendirian ke mana-mana. "Bu, KTP itu penting di sini. Kadang-kadang ada razia. Yang tidak bawa KTP bisa kesulitan, ditilang dan didenda." "Terima kasih, Pak. Ya, lain kali saya lebih berhati-hati," kata Rama dengan senyum manis. Rama membayar, lalu Erwin menyerahkan kunci kamar. "Nomor lima, Bu." "Terima kasih." "Tasnya mau dibawakan, Bu?" Rama tak segera menjawab tawaran itu. Saat ia masih menimbang-nimbang, Erwin melangkah ke luar kantor lalu

http://inzomnia.wapka.mobi

menengok kiri-kanan kalau-kalau ada anak buahnya yang bisa segera dipanggil. Bila di335 panggil lewat interkom perlu waktu sampai orangnya muncul. Tapi ia tak melihat siapa-siapa. Ia segera kembali ke kantor. Ratna sedang berjongkok membenahi tasnya. "Mari saya bawakan saja tasnya, Bu," Erwin menawarkan. "Nggak jauh kok." Ratna tidak menolak tawaran itu. Ia membiarkan Erwin membawakan tasnya tapi jinjingan ia bawa sendiri. Erwin membukakan pintu kamar, menyalakan AC, lalu menjelaskan soal interkom meskipun di dinding sudah tertulis penjelasannya. Ketika Ratna mau- memberi tip, Erwin menolak. Ia buru-buru kembali ke kantornya. Pengalaman dengan Delia dan Yasmin membuat ia jadi terbiasa melihat perempuan yang datang menginap sendirian biarpun dari luar kota. Tak ada prasangka buruk. Mustahil orang mau bunuh diri belanja dulu. Bukan itu saja. Ia sudah pasrah sekarang. Tak usah terus-menerus mengkhawatirkan orang lain. Mereka bertanggung jawab atas diri sendiri. Tamu-tamu berdatangan. Sesudah itu lama sepi. Lalu ada telepon dari Kosmas. Mereka dalam perjalanan pulang. Semua baik-baik saja. Ia menunggu mereka. Pikirannya mengembara. "Aku tidak mau mendesak Del," begitu kata Kosmas kepadanya. "Tapi bila ia menerima lamaranku, aku ingin segera menikah, Win. Usia kami berdua kan nggak muda lagi." "Tentu saja, Bang. Tunggu apa lagi?" Erwin menyahut. "Aku mikirin kau." "Aku? Buat apa, Bang? Kok aku yang dipikirin? Aku kan bukan anak kecil. Masa kalau kau kawin, aku harus kawin juga. Padahal calon belum ada." 336 "Aku ingin kita berdua bisa menikmati kebahagiaan yang sama, Win."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Nonsens, Bang! Itu kan mustahil. Kau harus cepat mengikat Delia. Jangan sampai lepas. Kan sayang." "Mestinya kau jangan mikirin Yasmin saja, Win. Buka mata juga terhadap cewek lain. Kan masih banyak. Apalagi modalmu lebih dari cukup." "Modal yang tak disertai nasib baik itu percuma, Bang." "Kau pesimis." "Bukan pesimis. Tapi ngomong fakta." Lamunannya terhenti oleh kemunculan tamu perempuan yang baru masuk tadi. Ratih dari Cianjur atau Rama. "Saya mau nanya, Pak. Di depan banyak warung makan. Mana yang enak dan bersih?" "Oh, Ibu mau makan apa? Bisa pesan dari sini kok. Nanti dianterin ke kamar. Cuma kasih tip aja." "Enakan makan di sana aja. Bisa lebih leluasa." "Silakan, Bu. Hati-hati dompetnya. Mendingan bawa uang secukupnya saja." "Memang gitu kok. Terima kasih." Ratna melenggang pergi. Dengan kaus ketat dan celana jins pas di pinggul ia kelihatan seperti gadis muda. Erwin menilainya sedikit genit. Mungkin saja dia bukan perempuan baikbaik. Atau seorang kekasih gelap yang janjian di tempat itu. Tapi itu bukan urusannya. Yang penting baginya tamu tidak berniat bunuh diri. Erwin tak bisa kembali merenung. Sebuah mobil berhenti di depan kantor. Dengan keheranan ia melihat Hendri keluar. Dia sendirian saja. Hendri membawa sebuah dus pizza. 337 "Selamat sore, Mas," Hendri menyapa. "Di sini ada yang pesan pizza?" "Selamat sore. Sejak kapan kau jadi pengantar pizza?" "Sejak hari ini. Aku membawakan buat teman-teman di sini." Erwin menerima dus yang disodorkan. Ia meletakkannya di meja sebelah belakang. "Silakan duduk, Mas," katanya menyilakan. "Sendirian, Mas?" tanya Hendri sambil duduk.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Iya. Kak Del sama Bang Kos ke Bandung." "Nginap?" "Nggak. Sebentar lagi juga pulang. Mau ketemu Kak Del?" "Ah, nggak. Cuma mampir aja. Aku beli pizza buat di rumah. Sekalian aja buat di sini juga." "Oh, begitu." Erwin masih bingung dengan keramahan Hendri. "Nanti kami akan pindah ke rumah ayah Yasmin. Rumahnya besar. Kami menempati paviliunnya. Kepastian pindahnya akan kukabari lagi. Nanti mampirlah ke sana." "Ah, nggak enak. Kabarnya ayah Yasmin sakit. Bisa mengganggu ketenangannya." "Kami di paviliun. Dia di rumah besar. Tidak saling mengganggu." "Oh, begitu. Baiklah. Nanti kuberitahu Kak Del." "Ya. Sampaikan salamku padanya. Juga buat Bang Kosmas." Hendri menepuk pundak Erwin dengan sikap bersahabat, lalu kembali ke mobilnya. Setelah mobil Hendri meluncur ke luar, Erwin menoleh ke belakang, menatap dus pizza. Apakah dengan keramahannya itu Hendri bermaksud mendekat dan ikut menjalin 338 persahabatan dengan mereka seperti Yasmin? Tapi Erwin tidak ingin bersahabat dengan Hendri! *** Setelah keluar dari pintu gerbang Motel Marlin, Hendri membelokkan mobilnya. Di saat bersamaan seorang perempuan melintas di depan mobilnya, lalu tersenggol. Perempuan itu jatuh. Orang-orang yang ada di sekitar mulai riuh mendekat. Dengan cemas Hendri buru-buru keluar dari mobilnya. Betapa leganya ia ketika perempuan itu tampak baik-baik saja. Perempuan itu, Ratna, menerima uluran tangan Hendri. Ia berdiri dan kelihatan cukup kuat untuk tetap tegak. "Ibu nggak apa-apa?" tanya Hendri, mengamati Ratna dari atas ke bawah.

http://inzomnia.wapka.mobi

Orang-orang sekitar yang tadinya siap untuk membuat keributan mundur dan menjauh. Mereka tidak tertarik lagi. Rama mencoba melangkah tapi kemudian meringis. "Sakit sedikit," katanya, menunjuk kakinya. "Baiknya kita ke dokter aja, Bu. Periksa sekalian. Apakah Ibu bawa keluarga? Suami atau anak?" tanya Hendri sambil celingukan. "Nggak. Aku sendirian. Nginap di situ," sahut Rama, menunjuk Motel Marlin. "Oh, sendirian?" Hendri membantu Rama masuk mobil, duduk di depan. "Ya. Sendirian. Memangnya kenapa?" Ratna tertawa. "Nggak apa-apa." Hendri mulai berprasangka. Ia juga kesal. Tadi 339 perempuan ini meringis menahan sakit. Setelah duduk di dalam mobil wajahnya jadi ceria. "Sudah berapa lama nginap di situ, Bu?" "Baru masuk tadi. Habis belanja." "Belanja? Memangnya Ibu bukan warga Jakarta?" "Bukan. Aku dari Cianjur." "Wah, jauh amat. Jauh-jauh sendirian ke sini hanya untuk belanja?" "Memangnya kenapa? Apakah aneh? Perempuan nggak boleh jalan sendiri?" "Bukan begitu, Bu. Biasanya perempuan segan jalan sendirian kayak Ibu. Kalau jarak dekat sih nggak apa-apa. Maklum, banyak orang suka iseng, Bu." Beberapa kali Hendri melirik, mengamati lebih jelas wajah Ratna. Dia cukup cantik, pikir Hendri. Kulitnya putih halus. Hidungnya mancung dan bibirnya terkesan sensual. Hendri memperkirakan umurnya belum lewat empat puluh. "Kok ngeliatin?" Hendri terkejut dan tersipu. "Maaf, Bu. Cuma pengen lihat lebih jelas aja. Tadi tempatnya gelap."

http://inzomnia.wapka.mobi

Rama tersenyum. Hendri menganggap senyum itu manis sekali. Apakah perempuan ini orang baik-baik? "Gimana sakitnya, Bu?" "Udah mendingan." "Pikir-pikir, heran juga ya tadi itu. Rasanya saya nyenggolnya pelan aja, tapi kok Ibu sampai jatuh ya?" "Jadi kau menuduhku pura-pura jatuh? Memangnya aku mau merampok? Mau memeras?" sembur Rama berang. Hendri terkejut. Ia menatap Rama dan merasakan 340 sorot mata yang tajam ke arahnya. Dalam cuaca senja yang mulai gelap, sepasang mata Ratna terlihat seperti mata kucing dalam kegelapan. Tiba-tiba perasaan Hendri seolah akan diterkam. Ia menjadi ngeri. Biasanya perempuan berkuku panjang. Kalau ia sampai dicakar, bisa celaka. "Wah, jangan marah dong, Bu. Masa gitu aja marah sih? Aku kan nggak nuduh. Yang ngomong begitu Ibu sendiri kok." Rama cemberut. "Maaf ya, Bu?" "Ya sudah." Rama melunak. "Tadi aku belum lihat kaki Ibu. Bisa lihat dulu nggak, Bu? Mungkin perlu obat merah atau plester. Kalau hanya itu sih aku ada," Hendri mengusulkan. Ia segan ke doker atau rumah sakit karena biayanya pasti tidak sedikit. "Lihat aja sendiri." Hendri meminggirkan mobilnya di tempat yang diterangi lampu. Ia menyalakan lampu mobil. Rama mengangkat kakinya lalu menaikkan kaki celananya. Betisnya kelihatan. Ada baret-baret sedikit. Hanya itu saja. Tidak ada bengkak atau luka terbuka. Hendri kembali merasa kesal. Masa cuma begitu saja sampai meringis kesakitan seperti yang tadi diperlihatkannya? "Cuma gini aja sih cukup pakai obat merah, Bu. Ngapain ke rumah sakit? Nanti di sana Ibu diperiksa macam-macam. Dipotret segala. Terus disuntik tetanus. Dikasih obat. Biarpun nggak apa-apa, tetap aja

http://inzomnia.wapka.mobi

digituin. Tahu kenapa? Supaya mereka kelihatan sibuk dan ada yang mesti dibayar!" "Ya udah. Pakein obat merah sana. Nggak usah ke rumah sakit." Buru-buru Hendri mengambil kotak obatnya. Ia 341 memakaikan obat merah. Tapi sempat terlintas dalam pikirannya, betapa indah betis yang dimiliki perempuan ini! Ia senang karena bisa lepas dari jeratan. "Nah, sudah beres, Bu. Sekarang kuantarkan kembali ke motel, ya?" "Traktir makan dong. Tadi aku belum sempat makan tuh. Di sana nggak ada yang enak." Hendri melongo. "Makannya di restoran yang enak ya. Jangan yang murahan," Rama melanjutkan. Hendri menggerutu dalam hati, tapi tak bisa menolak. Ia sempat melihat senyum kemenangan di bibir Rama. Dirinya memang sudah diperdaya. Tapi lama-kelamaan kejengkelannya mereda. Ada sesuatu yang misterius dalam diri perempuan ini yang membuatnya menarik. Sempat terpikir, jangan-jangan dia penipu yang berniat merampoknya atau menguras uangnya dengan hipnotis seperti yang sering terjadi. Tapi ia. sudah siap dan waspada menghadapi kemungkinan itu. Orang yang siap pasti lebih kuat posisinya dibanding orang yang gampang percaya. Lagi pula ia punya keyakinan, perempuan lebih gampang dihadapi dibanding lelaki. Ratna menunjuk sebuah restoran besar yang kebetulan dilewati. Hendri menyesal melewati restoran itu. Tapi mau tak mau ia terpaksa memenuhi keinginan Ratna. Ia menghibur diri dengan menghitung-hitung, mungkin biaya rumah sakit lebih besar daripada biaya makan. "Tadi kau keluar dari .motel itu. Nginap di situ juga?" tanya Ratna. "Nggak. Pemiliknya adalah temanku." "Oh, begitu. Sudah punya istri, kan?" "Ya. Sudah," sahut Hendri. 342 "Belum punya anak, kan? Lagi ada masalah, ya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Hendri terkejut. Nada pertanyaan itu bisa sekadar perkiraan, tapi lebih terkesan sebagai kesimpulan. "Bagaimana Ibu bisa tahu?" "Wajahmu memperlihatkan itu." "Ah, masa? Memangnya ada apa di wajahku?" "Ada gurat-gurat yang bercerita," sahut Rama, tenang tidak bercanda. "Gurat-gurat? Apakah aku sudah kelihatan ma?" Hendri meraba mukanya. "Ah, nggak. Kamu cakep kok." Rama tertawa. Semakin familier saja sikapnya. "Baiklah. Apa yang Ibu baca di wajahku?" "Masalah seks, kan?" Kali ini Hendri ternganga. Sekarang Rama tampak lain di matanya. Perempuan luar biasa, pikirnya. "Kok Ibu bisa tahu sih? Apakah Ibu... paranormal?" Rama hanya tersenyum lalu menghirup pelan-pelan minumannya. Ia menatap Hendri dengan ekspresi "Jangan main-main denganku!" Situasi sudah berubah bagi Hendri. Perasaan dan pikirannya mengenai Rama sudah berubah total. Bukankah ia baru saja menyampaikan idenya kepada Yasmin untuk minta bantuan paranormal? Bila orang sudah kesulitan memecahkan masalah dengan cara yang wajar, tak ada salahnya berpaling pada cara yang tak wajar. Segala cara sepatutnya ditempuh. Karena sadar Yasmin tidak tertarik, maka Hendri memutuskan untuk mendekati Delia. Itulah tujuannya datang ke Motel Marlin tadi. Barangkali ia bisa menjalin komunikasi dengan Delia hingga Delia mau memberi masukan perihal ibu mertuanya yang dikatai, nenek sihir itu. Setidaknya Delia bisa memberitahukan 343 alamat sang nenek. Selanjutnya Hendri bisa mencari informasi sendiri. Memang orang yang menyebut dirinya paranormal cukup banyak. Tapi belum tentu semuanya asli.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tiba-tiba sekarang ia berhasil menemukan sendiri seseorang yang berilmu. Jadi ia tak perlu lagi bersusah payah mendekati Delia dan teman-temannya. Suatu kebetulan karena ia tidak menyukai mereka. Sesungguhnya ia juga merasa aneh akan peristiwa yang sepertinya kebetulan itu. Tapi sebaiknya ia tidak berpikir tentang "bagaimana mungkin", tapi bagaimana memanfaatkan keberuntungannya itu. "Ya. Aku memang orang bermasalah, Bu. Ke dokter sudah, tapi dia cuma menyuruh bersabar. Perlu waktu dan sebagainya. Demikian pula yang dikatakan istriku. Masa suami disuruh ke orang lain, Bu." Rama tertawa geli. "Punyamu itu memang kebesaran sih." Hendri tertegun oleh sikap dan gaya bicara Rama yang santai tapi tidak main-main. Ia juga malu. Rasanya ia telanjang di depan Ratna. Kalau tidak begitu, mana bisa Ratna tahu? Sudah dari sononya begitu sih," sahut Hendri. "Mau dikecilin nggak?" "Apa? Nggaaak!" seru Hendri dengan perasaan horor. Lupa akan sekeliling. Ia baru sadar kemudian setelah melihat orang-orang memandang padanya dengan heran. Wajahnya memerah karena malu. Bukan hanya karena dipandangi orang, tapi lebih-lebih karena pertanyaan Ratna. "Kalau nggak mau, ya sudah. Aku memang nggak bawa alatnya kok," kata Rama tenang. Tidak tertawa. 344 "Aduh, Bu. Kok nakutin orang kayak gitu." Hendri benar-benar merasa takut. "Tenang. Aku kan cuma nanya." "Untunglah Ibu nanya dulu. Tapi kalau Ibu sungguh-sungguh mau menolong, jangan dengan cara itu." "Sebetulnya apa yang kauinginkan? Berhubungan dengan istri, kan? Tapi kau membuatnya sakit." "Dia itu kelewatan, Bu. Belum diapa-apain udah ketakutan." "Awalnya kamu yang salah sih. Aku ini kan perempuan. Jadi aku solider dong sama kaumku."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya, Bu. Aku memang salah. Tapi yang penting ke depannya. Bagaimana supaya bisa memperbaiki kesalahan itu. Gimana bisa harmonis kalau nggak ada hubungan seks?" "Sebenarnya keinginan kamu itu bukan karena cinta padanya, tapi karena ingin menguasainya. Baik orangnya maupun hartanya. Ya, kan?" Hendri terkejut untuk kesekian kalinya. Wajahnya sampai memucat. Rama tertawa geli. Ia senang betul bisa membuat Hendri terkejutkejut. Hendri kehilangan selera makan. Ia bingung menghadapi Ratna. Tapi ia percaya betul bahwa Ratna memang punya kelebihan. Hanya ia belum tahu apakah Ratna bersimpati kepadanya atau tidak. "Apakah Ibu kenal istriku?" Ratna menggeleng. "Kau curiga, ya?" tanyanya. "Nggak, Bu. Pengen tahu aja." Rama melanjutkan makan dengan lahap. Hendri mengamatinya dengan heran. Cara Ratna makan itu seperti kelaparan, hingga membuat ia merasa mual. Tapi ia tahu tidak boleh memperlihatkan perasaannya 345 kalau ingin mendapat simpati. Ia menunggu dengan sabar sampai Rama melicintandaskan piringnya. "Ibu mau menolongku?" tanya Hendri. "Bener nih? Serius?" "Iya, Bu. Serius." "Tapi ada syaratnya. Di mana-mana begitu. Mana ada bantuan gratis?" "Katakan saja apa syaratnya, Bu," Hendri bersemangat. Rama menatap Hendri. Susah payah Hendri berusaha untuk tidak bergidik. Tajamnya tatapan Rama seakan bisa menyayatnya dan menembus kepalanya. Muncul perasaan takut. Dulu ia pernah minta bantuan dukun dan orang pintar, tapi tidak sampai menimbulkan perasaan seperti itu. Ada suara tentangan. Jangan! Pergilah! Jauhi dia! Tetapi Hendri menetap di tempatnya. Keinginan-keinginannya lebih besar daripada tentangan yang muncul. 346

http://inzomnia.wapka.mobi

BAB 33 Mobil yang dikemudikan Kosmas memasuki halaman parkir. Dari kantor, Erwin bisa melihat kedatangan mereka. Ia menyimpulkan, Delia duduk lebih dekat pada Kosmas dibanding saat berangkat. Ia mengangkat tangannya. Kedua orang di dalam mobil membalas. Kemudian mobil hilang dari pandangan Erwin karena parkir di bagian samping. Erwin merasa lama menunggu kedatangan mereka. Apakah mereka tidak menemuinya dulu? Ataukah mereka melakukan sesuatu di dalam mobil? Berciuman dan bermesraan dulu? Ah, sepertinya mulai sekarang ia akan sering memergoki adegan mesra kedua orang itu. Teganya mereka melakukan itu di depan dirinya yang sedang merindukan bulan! Ia membayangkan betapa tersiksanya dirinya yang sendirian. Tambahan lagi ada peristiwa kedatangan Hendri barusan. Hendri sudah tampil jadi lelaki baik, perhatian, dan simpatik. Apakah dia pun sudah menjadi suami yang baik? Erwin membayangkan Yasmin dalam pelukan Hendri, lalu bermesraan. Mereka suami-istri, jadi sah-sah saja melakukannya. Erwin jadi sedih dan nelangsa. Kosmas masuk diiringi Delia. Keduanya tampak ceria sekali. "Kenalkan, Win! Calon istriku!" kata Kosmas, menunjuk Delia. 347 Dengan kata-kata itu Kosmas memberitahu bahwa Delia telah menerima lamarannya. Erwin memaksa dirinya tersenyum. Ia menyalami dan memeluk mereka bergantian. "Selamat! Selamat! Aku ikut senang!" katanya. Kemudian, untuk menutupi kegalauan perasaannya, ia menunjuk dus pizza di meja belakangnya. "Itu ada oleh-oleh dari Hendri. Dia titip salam untukmu, Kak Del." "Hendri?" tegas Delia heran. "Bukan dari Yasmin?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bukan. Dia datang ke sini sendirian. Katanya sekalian lewat lalu mampir. Dia beli pizza buat di rumah lalu beli sekalian buat di sini." Delia meraih dus lalu membukanya. "Kalian mau?" ia menawari Kosmas dan Erwin. Erwin menggeleng. "Nggak ah." "Aku juga nggak." "Wah, pada nggak mau. Aku pun nggak berselera," kata Delia. "Kasih anak-anak aja, ya?" Delia menyebut para karyawan sebagai "anak-anak". "Ya. Sebaiknya begitu," Kosmas setuju. Delia pergi membawa dus pizza. Kosmas melongok buku tamu. "Ada belasan tamu yang masuk hari ini. Lumayan," Erwin memberitahu. "Wah. Ada tamu perempuan sendirian. Luar kota lagi." "Dia masuk paling akhir. Habis belanja katanya. Besok pulang ke Cianjur. Rupanya di sana nggak ada toko." "Nggak ada yang antar?" "Nggak ada. Tapi kita nggak perlu khawatir, Bang. Tampangnya meyakinkan." 348 "Baguslah. Mudah-mudahan nggak ada lagi yang nekat." "Tadi katanya dia mau pergi makan di luar. Entah sudah pulang atau belum. Tapi masa sih belum? Dia kan perempuan sendirian. Ngapain lama-lama di luar sana." Delia masuk. "Sudah makan. Win? Makan duluan aja. Sudah siap tuh. Kami berdua sudah makan di jalan." "Baik. Aku juga mau mandi dulu." Erwin pergi. "Kelihatannya Erwin nggak ceria ya? Kukira dia bakal menggoda kita habis-habisan," kata Delia. "Mungkin dia lagi kesal karena kedatangan Hendri." "Ya. Mungkin begim. Makanya dia nggak mau makan pizzanya. Aku sih solider aja sama dia." Delia melihat-lihat buku tamu.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Oh, ada tamu baru di kamar 5! Tadi aku lewat di situ kelihatan gelap. Masa sudah tidur?" "Dia perempuan sendirian, Del. Dari Cianjur katanya. Kata Erwin tadi dia pergi makan." "Kenapa dia nggak pesan aja ya? Rupanya dia pemberani," Delia menyimpulkan. "Kau jaga dulu ya, Del. Aku mau bicara sama Erwin." "Ya. Temanilah dia makan, Bang." Kosmas melihat Erwin sedang merenung di depan piring makan yang masih banyak tersisa. "Apa yang kaupikirkan, Win?" tanya Kosmas, lalu duduk di sisi Erwin. Erwin tersentak kaget. "Oh, nggak. Mikir apa sih?" "Ngelamun?" "Mungkin." 349 "Apa si Hendri ngomongnya nggak menyenangkan?" "Ah nggak. Sebaliknya, dia justru bersikap simpatik." "Apa kau nggak enak badan?" "Mungkin juga. Aku ke kamar saja, ya?" Erwin tampak senang bisa menghindar. "Istirahatlah. Kau sudah bebas tugas, kan?" "Oh ya, Bang. Aku mau pindah ke kamar belakang." Kosmas terkejut. "Kenapa?" "Kukira sudah saatnya kita menempati kamar sendiri-sendiri, Bang. Biar masing-masing punya privasi." "Oh, jadi kau ingin privasi. Tentu saja terserah kau." Erwin pergi tanpa menjelaskan lebih jauh. Kosmas merasa tidak puas. Tidak biasanya Erwin bersikap begitu. Kalau ada apa-apa pasti dia akan mengatakannya terus terang. Tidak mungkin itu mengenai dirinya dan Delia, pikir Kosmas. Delia selalu bijak dalam bersikap. Sikap Erwin itu sangat di luar dugaan. Sejak masih di perjalanan Kosmas sudah tak sabar ingin berbagi kebahagiaan dengan Erwin mengenai kepastian hubungannya dengan Delia. Ia juga ingin membicarakan rencana

http://inzomnia.wapka.mobi

pernikahan. Ternyata semua itu tidak terwujud. Ia sangat kecewa. Kenapa Erwin tidak berterus terang saja mengenai perasaan dan permasalahannya? Ia mengadukan hal itu kepada Delia. Mereka membicarakannya dengan intens. "Aku yakin bukan kita yang mengganggu perasaannya," Delia berkata dengan pasti. "Kita kan pergi hampir sepanjang hari. Pulang-pulang dia jadi begitu. 350 Pasti ada sesuatu yang dialaminya sebelum kita tiba. Siapa lagi kalau bukan si Hendri? Pasti ada yang dikatakan Hendri perihal Yasmin. Itu yang membuatnya sedih." "Aku sudah menanyakan hal itu kepadanya. Tapi dia tidak mengakui. Katanya si Hendri bersikap simpatik. Pasti ada yang disembunyikan. Dia malu atau segan berterus terang. Aku kecewa sekali. Biasanya dia selalu terbuka. Kalau kayak gini, aku jadi terus bertanya-tanya, salah apa ya aku ini?" "Sebaiknya jangan berprasangka dulu, Bang. Biar dia istirahat. Besok kita lihat." "Ya. Memang hanya itu yang bisa kita lakukan. Kadang-kadang aku berpikir, apakah dia iri padaku?" "Wah, jangan mikir begitu, Bang. Itu nggak mungkin!" "Mudah-mudahan memang begitu, Del." Di kamarnya yang baru tapi lama, Erwin terbaring dengan wajah murung. Dalam kesendirian ia bebas berekspresi. Tak ada yang bertanya kenapa begini dan kenapa begitu. Yang menyenangkan adalah ia tak perlu mendengar suara-suara dari kantor bila ia menempati kamar di belakangnya. Bayangkan kalau ia di situ dan di kantor ada Kosmas bersama Delia. Mereka tentu tidak hanya berbincang, tapi bermesramesraan juga. Aduh, betapa menyebalkan. Bagaimanapun, mulai sekarang dia dan Kosmas memang harus pisah kamar. Kalau nanti menikah, tentunya Kosmas akan sekamar dengan

http://inzomnia.wapka.mobi

Delia. Lebih baik menyingkirkan diri dari sekarang daripada tersingkir kemudian. 351 Erwin merasa kemarahan menggumpal di dadanya. Ia ingin sekali meledakkannya dengan berteriak sekeras-kerasnya, tapi masih cukup sadar untuk tidak melakukannya. Entah apa yang akan terjadi bila ia berbuat begitu. Seisi motel akan berlarian keluar. Lalu dia akan dianggap tidak waras. Ia tidak mau dianggap tidak waras atau gila. Bila ia sampai dikucilkan di rumah sakit jiwa, pastilah Kosmas dan Delia yang jadi penguasa di motel ini. Dirinya dipenuhi kebencian. Perempuan itu, Delia, telah merampas abang yang ia cintai. Mula-mula mendepaknya dari kamar depan, lalu mendepaknya keluar dari motel yang ia cintai juga. Semua yang ia cintai dirampas darinya. Sementara orang yang ia cintai pun tak mungkin bisa ia peroleh. Ia akan jadi orang paling malang di dunia. Bukankah bunuh diri adalah jalan keluar paling baik daripada menjadi orang paling malang di dunia? Erwin terkejut lalu melompat duduk di tempat tidurnya. Keringat dingin membasahi bajunya. Ia gemetar. Oh, Tuhan, ia tidak mau bunuh diri! Tidak! Tidak! Sesaat ketidakberdayaan menguasainya. Rasanya bodoh sekali. Pikirannya tumpul. Tidak tahu mesti berbuat apa. Sekuat tenaga ia menjatuhkan diri ke lantai. Di lantai yang dingin ia memaksa kedua kakinya untuk menekuk. Kaku sekali. Ia bersila. Kemudian ia berupaya keras untuk bermeditasi. Susahnya bukan main. Pikirannya butek dan tumpul. Sepertinya ada selaput yang menutupi, ia harus berusaha menyingkirkan selaput itu lebih dulu. Harus bisa! Perlahan-lahan ia berhasil menenangkan pikiran, membuang kemarahan dan kebencian, rasa iri dan terpuruk. 352 Di kamar hotel kelas melati, Ratna dan Hendri rebah berdampingan dengan tubuh telanjang, berkilau oleh keringat. Wajah keduanya memerah dengan ekspresi kelelahan tapi nikmat tak terhingga. Sesaat keduanya tak berkata-kata, merenungi momen yang barusan terlewati.

http://inzomnia.wapka.mobi

Lalu Hendri memiringkan tubuhnya dan menatap Rama dengan sorot mata takjub. Kagum dan heran. "Ibu hebat sekali ya!" puji Hendri. "Ala, masih panggil Ibu aja. Panggil aku Ratih!" "Ya, ya, Ratih sayang. Aku kan mau ikut etika aja kepada orang yang lebih tua. Nanti dibilang kurang ajar." "Jadi kau menganggapku tua?" "Bukan gitu. Tapi kau memang lebih tua dari aku, kan? Coba, berapa umurmu?" "Eh, nggak etis bertanya umur kepada seorang perempuan. Yang penting bukan umur, tapi kemampuan!" Hendri tertawa. Ia benar-benar terpikat kepada Ratna. "Betul sekali, Bu, eh, Ratih. Kau bisa mengalahkan perempuan yang jauh lebih muda. Lihat. Kau begitu kenyal dan liat, tapi juga elastis," kata Hendri sambil mengelus dada Ratna. Memain-mainkan putingnya dengan jarinya. Ratna terkikik, merasa geli dan senang. "Banyak perempuan pada meringis saat menandingi aku, bahkan istriku sampai robek-robek, tapi kau... wah, sulit digambarkan dengan katakata. Kau lain sendiri. Pokoknya hebat, hebat, hebat!" 353 "Sekarang kau ngomong begitu. Mulanya mah terpaksa ya?" "Oh, sori, Rat. Mana aku tahu kau sehebat ini? Kalau aku tahu, pasti aku yang mengajak, bukan diajak! Tapi aku heran juga. Bagaimana kau bisa memelihara tubuhmu sampai bisa begitu liat dan sintal? Apa kau sudah lama tidak melakukannya?" "Oh ya. Lamaaa sekali," Rama mengakui sambil tersenyum. "Berapa lama?" "Pokoknya lamaaa." Rama merasa geli. Kalau kuberitahu terus terang, kau pasti akan semaput, pikirnya. Bayangkan. Sudah sedemikian lamanya. Pendeknya, sudah setengah umurnya. Sampai-sampai sudah terlupakan bagaimana rasanya. Mungkin juga ketika itu libidonya sudah padam. Tapi begitu

http://inzomnia.wapka.mobi

fisiknya kembali disegarkan, bagaikan tanaman layu disiram sebelum mati, maka libido itu muncul kembali. Bahkan bukan sekadar muncul, tapi menyeruak dengan ganas. Dalam diri Hendri ia mendapatkan lawan seimbang. Mereka mengulang lagi permainan mereka. Hendri merasa terkuras, tapi Ratna bagaikan mendapat tonik penguat. "Habis ini udahan ya, Rat. Aku bisa kering kerontang," pinta Hendri. Rama tertawa. "Baik. Ayo kita pulang." "Bagaimana dengan jimat penakluk yang kaujanjikan itu?" "Tentu saja akan kuberikan. Tapi aku harus membuatnya dulu. Masa simsalabim?" "Habis, kapan jadinya dan di mana aku bisa mengambilnya?" 354 "Kita berhubungan lewat HP saja. Nanti kuhubungi kau." "Jangan salah, Rat. Aku perlu sekali." "Aku tahu. Sekarang antar aku kembali ke Motel Marlin." Setelah menurunkan Ratna di depan pintu gerbang Motel Marlin, Hendri bergegas pulang. Keinginan satu-satunya ketika itu adalah merebahkan diri di ranjang lalu tidur pulas untuk mengistirahatkan otot-ototnya yang kelelahan. *** Ketika Delia melewati lorong depan kamar-kamar, ia melihat dari bawah pintu kamar nomor 5 lampu di dalam ruang menyala. Berarti penghuninya sudah ada di dalam. Atau sejak tadi ada di dalam tapi baru sekarang menyalakan lampu. Yang pasti di dalam kamar itu ada kegiatan. Jadi pastilah penghuninya tidak mati. Tadi Kosmas menyuarakan kekhawatiran tentang penghuni baru yang perempuan dan datang sendirian. Menginap hanya semalam. Tidak bawa KTP dan tidak mencantumkan nomor telepon. Lucunya, sekarang kekhawatiran semacam itu pun jadi kekhawatiran Delia juga. Padahal dulu ia berniat mati di situ. Betapa gampang dan cepatnya kehidupan berubah.

http://inzomnia.wapka.mobi

Baru saja melewati kamar 5, Delia merasa seolah ada yang menatapnya dan mengamati gerak-geriknya. Ia cepat menoleh ke jendela. Tidak ada tirai yang tersibak atau gerakan menutup yang mendadak. Tak tampak siapa-siapa. Ia mempercepat langkah menuju kantor. 355 "Kamar lima sudah ada penghuninya. Lampunya nyala," ia melapor kepada Kosmas. "Memangnya kenapa? Sudah terisi, kan?" "Iya. Aku mau ngecek saja apakah penghuninya baik-baik saja. Bukankah kau selalu mencemaskan tamu perempuan yang datang sendirian?" "Oh, itu. Kita memang harus menerima perubahan zaman. Kalau nanti kita punya anak perempuan, pasti lebih besar lagi kemandiriannya." "Anak?" Kosmas merasa bicaranya terlalu lepas. "Sori, Del. Aku kelepasan ngomong." "Sejak sekarang kita sudah harus siap menerima kenyataan bahwa kemungkinan besar kita takkan punya anak. Umurku sudah empat puluh. Kalau kau berharap punya anak, mestinya kau mengawini perempuan yang lebih muda," Delia agak emosional, tapi menyesal kemudian. "Sungguh, aku nggak bermaksud begitu. Sori, Del." "Ya. Aku juga minta maaf, Bang. Heran, kenapa aku jadi peka begini ya? Barangkali kita kecapekan ya, Bang?" "Barangkali begitu. Mungkin kita harus istirahat. Sebentar lagi si Adi menggantikan. Kau duluan saja, Del. Pergilah." "Sebentar lagi. Masih ingin ngobrol. Pilar-pilar, ada baiknya juga Erwin pindah. Mungkin dia terganggu oleh pembicaraan yang berlangsung di sini." "Dia kan sudah lama tidur di situ tanpa pernah komplain. Sepi atau berisik baginya tak jadi soal." "Sekarang dia jadi peka. Kuharap bukan kita yang jadi penyebab." "Bukankah kita sudah berusaha supaya dia tidak 356

http://inzomnia.wapka.mobi

merasa tersinggung atau iri? Habis gimana lagi? Bukan salah kita kalau dia jadi begitu. Salah dia sendiri kenapa tertarik pada perempuan bersuami. Istri orang dikejar-kejar." Ucapan Kosmas yang bernada kesal itu membuat perasaan Delia tidak enak. Baru kali ini ia mendengar Kosmas bicara seperti itu perihal Erwin. Biasanya lelaki itu selalu bersikap penuh pengertian. "Ah, hari ini melelahkan semua orang rupanya. Kelelahan memang bisa membuat orang marah-marah," kata Delia, lalu berpikir sebaiknya ia pergi saja supaya tidak muncul lagi pembicaraan emosional. Tetapi sikap Kosmas berikutnya membuat Delia tertegun. "Bolehkah aku menciummu, Del?" Delia tersipu. Ia merasa dirinya kuno. Ketinggalan zaman. Lupa bagaimana berpacaran. Mereka berciuman. Kemudian Delia melepaskan diri. "Malu, Bang. Entar ada tamu." "Kan kedengaran duluan." Kosmas berjalan ke pintu lalu merapatkan dan menguncinya. Delia terperangah. Sebelum ia sempat berkomentar, Kosmas sudah meraihnya dan memeluknya erat-erat sampai ia merasa sulit bernapas. Kosmas menciumnya lama sekali. Biarpun Delia merasa terbuai, ia sempat heran dan terkejut kenapa Kosmas yang biasanya dingin dan terkendali sekarang menjadi panas dan lepas kontrol. Kosmas mendekap Delia seolah mereka harus berpisah sebentar lagi. "Mari kita ke kamar, Del," ajak Kosmas. Delia terkejut. Bulu romanya serentak berdiri. 357 Rayuan Kosmas memang mampu menghanyutkan, tapi tidak sampai membuat ia hanyut. "Mau apa ke kamar, Bang?" tanyanya sambil berusaha melepaskan diri. "Kita bercinta yuk? Bukankah kita akan segera menikah? Apa bedanya sekarang dan nanti?" Kosmas berterus terang. "Itu beda sekali, Bang! Jangan!" "Ayolah, Del. Aku sangat menginginkannya."

http://inzomnia.wapka.mobi

Delia juga tidak tahan lagi tapi dalam artian berbeda. Sekarang ia takut. Jari-jarinya mencubit lengan Kosmas sekuat-kuatnya. "Sadarlah, Bang!" Kosmas mengaduh kesakitan. Serta-merta ia melepaskan dekapan. Ia mengusap-usap lengannya yang tampak merah kebiruan. "Sakit sekali, Del. Kamu sadis amat sih." "Sori, Bang. Aku terpaksa." "Kau tega..." Sebelum Kosmas menyelesaikan ucapannya, Delia melompat ke pintu. "Hei! Siapa di situ?" ia berseru, lalu membukanya. Tak ada sahutan. Delia cepat keluar, lalu mengamati sekitarnya. Angin malam yang dingin menerpanya. Tengkuknya kembali meremang. Tidak ada siapa pun di luar, baik di halaman parkir maupun di lorong samping deretan kamar. Kucing yang suka mengaduk-aduk tempat sampah pun tak ada. Andaikata ada seseorang di balik pintu, seperti perkiraannya, pastilah tidak secepat itu menghilang. "Ada apa sih?" tanya Kosmas. Wajahnya masih kelihatan memerah. "Rasanya aku mendengar langkah orang lalu berhenti di depan pintu. Tapi nggak ada siapa-siapa." 358 "Sempat-sempatnya kau mendengar. Aku nggak dengar apa-apa." "Sudahlah. Aku pergi saja ya." "Maafkan aku, Del." "Sudahlah. Nggak usah dipikirin." Delia berlalu. Kosmas menutup muka dengan kedua tangan. Malu rasanya. Bukan hanya karena menyesali perbuatannya, tapi lebih lagi karena ditolak! 359 BAB 34 Pagi sekali, karyawan Motel Marlin mendapati kamar nomor 5 sudah kosong melompong. Tidak ada yang melihat penghuninya pergi. Orang itu juga tidak pamit lebih dulu. Memang tidak jadi masalah karena segala

http://inzomnia.wapka.mobi

kewajiban administrasi sudah dia selesaikan. Mungkin karena tidak membawa kendaraan, dia lebih gampang menyelinap. Tamu yang tidak berkendaraan bisa disangka keluar makan hingga tak menarik perhatian. Padahal Delia ingin melihat tamu yang satu itu. Rasanya ada kesamaan dengan dirinya dulu. Perempuan datang sendirian dari luar kota mau menginap. Rasanya ia ingin melihat atau menemukan kesamaan yang lain. Barangkali menarik. Setidaknya bisa memenuhi keingintahuannya. Ternyata tamu ini sama sekali tidak bermaksud bunuh diri. Ia hanya berjalan-jalan dan berbelanja. Harusnya Delia lega karena tidak ada usaha bunuh diri. Seorang karyawan, Wati, masuk ke kamar nomor 5 untuk membersihkan dan mengganti seprai serta sarung bantal. "Kamu lihat dia, Wat?" tanya Delia. "Lihatnya kemarin, Bu. Waktu dia keluar untuk cari makan, katanya. Orangnya cantik juga, Bu. Kulitnya putih halus. Badannya bagus. Cuma kelihat360 annya nggak muda lagi. Mungkin usianya empat puluhan gitu. Pendeknya, dia menarik." "Oh, begim." "Cuma kayaknya genit, Bu," Wati mulai bergosip. "Kata Pak Pendi yang jaga gerbang semalam, dia pulang larut diantar lelaki bermobil. Turunnya di depan gerbang, lalu jalan kaki sendirian terus ke kamarnya. Waktu disapa Pak Pendi, dia nggak menyahut. Nengok aja nggak." "Ah, bukankah yang seperti itu sering kejadian di sini, Wat?" "Bener, Bu. Cuma ada bedanya. Biasanya yang mau gituan melakukannya di sini. Bukan di luar." Delia tertawa. "Yah, mana kita tahu urusan orang, Wat!" Delia membantu Wati merapikan kamar supaya siap menerima tamu berikut. Setelah beres, Wati pergi lebih dulu meninggalkan Delia di kamar itu. Ada dorongan untuk memeriksa kamar itu lebih teliti. Siapa tahu ada yang lepas dari pengamatan. Ia tak menemukan apa-apa. Tapi

http://inzomnia.wapka.mobi

perasaannya tidak nyaman. Padahal ia juga melakukan hal yang sama di kamar-kamar lain yang barusan ditinggalkan tamu. Lalu hidungnya kembang-kempis. Bau apakah itu? Bau atau wangi? Apakah itu sejenis pewangi yang digunakan tamu untuk mengharumkan ruangan sesuai keinginan mereka? Sering kali tamu juga meninggalkan bau badan mereka yang khas. Atau bau minyak angin, obat gosok, balsem, dan sebagainya. Ada yang nyaman, ada yang menyengat. Kemudian ia menyadari, yang tercium olehnya itu bukanlah sesuatu yang harum, tapi benar-benar bau yang memuakkan! Ia juga heran kenapa saat bersama 361 Wati tak tercium apa-apa. Ia cepat-cepat keluar untuk menghirup udara yang lebih bersih. Erwin mendekat. "Kenapa, Kak Del?" "Di dalam sana ada bau yang nggak enak." Delia menunjuk kamar nomor 5. Erwin terkejut. Ia mengira itu bau bangkai. Segera ia masuk ke dalam kamar. Delia menyusul di belakangnya dengan tisu menutup hidungnya. "Bau apa ya?" Erwin mengendus-endus di tengah kamar. "Kok aku nggak mencium bau apa-apa." Delia melepas tisu yang menutup hidungnya. "Masih ada sedikit, Win. Tidak setajam tadi. Mungkin terbawa angin karena pintu terpentang." Mereka memeriksa semua sudut. Lalu ke kamar mandi. Mereka mundur dengan terkejut. "Nah, bau lagi!" seru Delia. "Ya. Aku juga menciumnya." Erwin membenarkan. Delia merasa lega. Peristiwa Yasmin duluketika Delia mendengar tangisan padahal Yasmin tidak me-nangiskali ini tak sampai terulang. Kali ini Erwin bisa jadi saksi bahwa hidungnya tidak berbohong. "Apa ada bangkai tikus, ya?" kata Delia. "Bau bangkai nggak seperti ini," Erwin meyakinkan. "Baunya seperti... ah, bau sumpek, atau bau orang nggak mandi setahun, atau bau ketiak, atau..."

http://inzomnia.wapka.mobi

Delia tertawa. "Ayo keluar," ajak Erwin. "Biar pintunya dipentang saja. Nanti kusuruh orang menyemprot di sini." "Pakai apa?" "Obat nyamuk saja. Biar kalah baunya dan nyamuk pada mati sekalian." Mereka keluar dan merasa lega. "Aneh juga ya," kata Erwin. "Kok bisa bau begitu?" 362 "Betul. Begitu banyak orang keluar-masuk. Ada yang berbau, ada yang tidak. Kenapa justru yang satu itu baunya bikin kita heboh?" "Sudahlah. Nggak usah dipikirin." Erwin meninggalkan Delia. Sepertinya ada pekerjaan penting menunggunya. Sebenarnya Delia ingin mengajaknya berbincang sejenak. Tapi melihat lagak sibuk Erwin, ia tidak berani memanggilnya. Ia ingin membicarakan kekhawatiran Kosmas semalam. Benarkah Erwin punya masalah? Tapi Erwin tidak tampak bermasalah. Biarpun demikian Delia ingin membicarakan hal lain juga. Dalam satu hal Kosmas benar. Erwin tidak menyinggung soal hubungannya dengan Kosmas. Apakah Erwin sengaja menghindari atau memang tak suka membicarakannya? Tapi itu bukan kebiasaan Erwin. Semalaman Delia hampir tak bisa tidur memikirkan kelakuan Kosmas. Biasanya perilaku lelaki itu tak pernah agresif. Kalau mencium hanya di pipi. Memeluk pun jarang. Sepertinya dia bukan orang romantis. Kenapa semalam tiba-tiba berubah jadi ganas? Apakah kesepakatan untuk jadi suami-istri bisa membuat lelaki lupa diri? *** Yasmin juga memasalahkan soal bau. Ketika Hendri muncul di ruang makan untuk sarapan pagi, ia terkesiap oleh bau tak enak yang menyergap hidungnya. Ia mengamati Hendri untuk menemukan sumber bau. Tapi tidak mau dekat-dekat. "Kenapa?" tanya Hendri. Ia juga,menunduk mengamati dirinya sendiri kalau-kalau ada yang salah. "Kau sudah mandi dan ganti baju?" tanya Yasmin. 363

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sudah. Memangnya kenapa sih?" "Apa kau sendiri tidak merasakan, Hen? Kau bau deh." "Bau? Bau apa sih?" Hendri sibuk mengendus-endus dirinya sendiri Ia tidak mungkin ke kantor dengan tubuh yang bau. "Entahlah. Pokoknya bau nggak enak. Mendingan kau mandi lagi dan ganti baju." "Ini baju baru. Dan aku sudah mandi." "Kalau nggak percaya ya sudah. Buat apa aku bohong? Buktikan saja di kantor nanti." "Habis aku mesti gimana?" tanya Hendri kesal. "Sudah kuusulkan tadi. Habis mandi dan ganti baju, pakailah deodoran. Yang banyak pakainya." Hendri segera melaksanakan usul itu meskipun tidak begitu yakin. Ia takut juga kalau-kalau memang benar. Siapa tahu ia sendiri tidak bisa mencium. Apalagi ia teringat dengan siapa ia bercinta semalam. Seorang paranormal! "Bagaimana kalau deodorannya nggak tahan lama lalu bau itu keluar lagi?" ia bertanya cemas. "Heran ya. Bukankah dulu kau nggak bau?" kata Yasmin. Hendri cemberut. Ia merasa tersinggung. "Sudah. Bawa aja deodorannya ke kantor. Nanti dipakai lagi. Lebih baik terlalu wangi daripada bau." Hendri menyambar botol deodoran lalu pergi tanpa mengatakan apa pun. Yasmin tertawa diam-diam. Tapi ia termenung kemudian. Apa yang dilakukan Hendri semalam sampai tubuhnya bau? Berendam di air comberan? Ketika Hendri pulang semalam ia tidak melihatnya-karena ia sudah tidur. Hendri selalu membawa kunci sendiri. Sepanjang pagi tidak ada telepon dari Erwin. 364 Yasmin menunggu-nunggu. Ketika jam sembilan sudah lama lewat, ia tahu percuma menunggu. Semula ia bermaksud menelepon. Kalau tidak ditelepon biarlah ia yang menelepon. Tapi ia membatalkan. Mungkin saat

http://inzomnia.wapka.mobi

itu Erwin sibuk. Ada kegiatan luar biasa di motel hingga tak bisa meluangkan waktu untuk menelepon. Yasmin tidak punya banyak waktu untuk melamun. Hari itu ia sibuk mengepak barang. Kalau semua selesai diangkut dan dirapikan, ia dan Hendri siap pindah ke rumah Winata. Paviliun di samping rumah Winata sudah dibereskan, siap menampung mereka. Sambil mengemudikan mobilnya menuju kantor, Hendri sering-sering mengendus-endus tubuhnya sendiri. Masih bau atau tidak? Sebenarnya memang bau atau tidak? Anehnya kenapa ia tidak mencium bau yang dikatakan itu? Jangan-jangan Yasmin memperdayainya. Tapi apa untungnya buat Yasmin? Lagi pula Yasmin tak pernah berbuat begim kepadanya. Yasmin pun tidak tahu apa yang dilakukannya semalam. Mungkin saja Yasmin menduga jelek, tapi apa yang dilakukannya bukanlah pengkhianatan. Itu sudah menjadi bagian dari kesepakatan. Sebelum turun dari mobil, Hendri kembali mengoleskan deodoran yang dibekali Yasmin tadi. Di leher dan di ketiak. Untung saja Yasmin punya persediaan deodoran. Rasanya bodoh, tapi Hendri tidak mau mengambil risiko. Setelah selesai melakukannya, ia tak segera keluar dari mobil. Ia termenung sejenak. Sebenarnya Yasmin orang yang baik. Hendri harus mengakui hal itu. Satu hal yang paling dihargainya dari Yasmin adalah kesediaannya untuk tidak menceritakan pada Winata apa yang terjadi di motel dan 365 kenapa ia sampai berada di rumah sakit. Bila hal itu sampai diceritakan, tentunya Winata ingin tahu kenapa Yasmin sampai berniat bunuh diri. Tentunya ada sebab-akibat. Begitu Winata tahu bahwa Hendri yang jadi penyebab, bisa dipastikan takkan ada ampun untuk Hendri. Winata akan menyepaknya jauh-jauh dan Yasmin pun tidak merasa perlu membelanya. Hal lain adalah mengenai uang lima belas juta yang dimintanya dari Winata. Ia yakin Winata menyampaikannya kepada Yasmin, tapi Yasmin tidak pernah menyinggungnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Begitu mendapat kesempatan, Hendri menelepon Yasmin. Ia memang biasa melakukannya untuk mengecek keberadaan Yasmin. Tapi kali itu tujuannya lain. Ia senang karena Yasmin ada di rumah. "Yas, aku mau minta maaf karena sikapku kasar tadi pagi." "Ya. Nggak apa-apa. Gimana baunya? Sudah hilang?" "Aku nggak tahu. Kayak apa baunya aja nggak tahu. Orang lain nggak ngomong apa-apa tuh." "Syukurlah kalau begitu." "Lagi ngapain sekarang?" "Ngepak barang. Duh, barang kita kayaknya sedikit tapi kok nggak selesai-selesai ya?" "Sudah. Jangan capek-capek. Entar aku bantuin. Aku akan pulang lebih siang." "Ya. Baguslah kalau begitu." Perasaan Hendri melembut tapi juga mengeras kalau ingat hubungannya dengan Yasmin. Seharusnya, bila muncul rasa sayang, ada keinginan memesrai. Itu terjadi secara spontan dan tentunya wajar. Tapi ia tidak bisa melakukannya. Ia terikat pada kesepakatan. Rasanya seperti bukan suami. Karena itu ia 366 membutuhkan bantuan perempuan bernama Ratih itu. Ratih menjanjikannya jimat pemikat. Menurut Ratih, jimat itu bisa membuat Yasmin terpikat padanya hingga tak ada lagi rasa takut. Demikian pula sakitnya akan punah. Sebaliknya, Yasmin akan menikmati bahkan ketagihan. Bila itu benar, ia bisa menguasai Yasmin sepenuhnya. *** Begitu tiba di rumahnya, Rama disambut oleh Rama yang tak segera berbicara melainkan mengamatinya dulu dari atas ke bawah, seakan ibunya itu orang asing yang salah masuk rumah. "Kenapa?" tanya Rama kurang senang. Tapi khawatir juga kalau-kalau ada yang kurang beres pada penampilannya. Rama tersipu. Tanpa sadar ia memandangi Rama, ingin menemukan sesuatu padanya yang bisa menjelaskan apa saja yang dilakukan Ratna

http://inzomnia.wapka.mobi

semalaman di Motel Marlin. Tapi tentu saja Rama tidak bisa menemukan apa-apa. "Oh, nggak, Ma. Apa Mama baik-baik aja di jalan? Nggak capek, Ma?" "Wah, aku senang banget." "Senang ya." Hampir terlontar pertanyaan apa saja yang membuat Ratna senang. Tapi Rama sempat menahan lidahnya. Bukan saja keingintahuannya tidak akan terpenuhi, malah akan memancing kemarahan. Biarkan saja ibunya senang. Itu tentu jauh lebih baik daripada kebalikannya. "Eh, mana titipan untukku dari Del?" tanya Rama. Maya segera muncul membawa amplop cokelat 367 yang kemudian disodorkannya pada Rama dan selanjutnya Rama memberikannya kepada Rama. "Isinya dua puluh lima juta, kan?" "Nggak tahu, Ma," sahut Maya dan Rama berbarengan. "Nggak lihatlihat isinya." "Ya. Aku tahu. Isinya masih utuh. Mana mungkin kalian berani mengutil?" Rama tertawa. Ia melenggang menuju kamarnya dengan menenteng amplop dan jinjingan belanjaan. Sedang tasnya diambil alih oleh Ipah. Kedua orang itu beriringan masuk ke dalam. Rama bertukar pandang dengan Maya. Tiba-tiba Ratna berhenti melangkah hingga Ipah hampir menubruknya. Cepat-cepat Ipah menyisih lalu jalan duluan. Rama menoleh kepada Maya. Yang dipandang merasa gentar. "Del datang sama siapa?" "Nggak tahu, Ma. Dikenalin sih, tapi nggak jelas namanya." "Pacarnya?" "Nggak tahu, Ma. Dia nggak bilang." "Nanya dong. Nggak tahu melulu," gerutu Ratna, lalu membalik tubuhnya kemudian meneruskan langkahnya. Rama segera, menarik istrinya keluar. Sejauh mungkin dari Ratna. "Dia kan udah tahu. Buat apa nanya," bisik Maya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sudahlah. Biarin aja. Jadi isinya duit. Akhirnya si Del nyerah juga ya," bisik Rama. "Lumayan banyak tuh. Untung aja kita nggak lihat-lihat isinya, padahal aku ingin sekali tahu. Udah menduga sih isinya duit. Cuma jumlahnya aja nggak tahu," bisik Maya. 368 "Baguslah dia dapat duit. Mudah-mudahan untuk waktu yang lama dia nggak merongrong kita," bisik Rama. "Lihat dulu belanjanya apa, Pa. Kalau dia pakai untuk membeli emas berlian, sebentar aja juga habis." "Ah...," keluh Rama. Kemarin sore mereka sekeluarga bisa menikmati sedikit kelegaan tanpa kehadiran Rama di rumah. Tapi mereka tetap tak berani membicarakan Ratna keras-keras. Takut kedengaran Ipah. Siapa tahu Ipah" menyampaikan nanti. Sebenarnya mereka cukup menyadari bahwa Rama yang tampaknya serbatahu itu mungkin saja bisa tahu apa yang mereka bicarakan tanpa perlu diberitahu orang lain. Tapi mereka ingin bicara, ingin berdiskusi. Mereka berharap Rama tidak sebegitu serbatahunya sampai segala sesuatu terbuka di depannya. Mustahil tidak ada segi manusiawi sama sekali pada diri Ratna. Di kamarnya, Rama membenahi barang-barangnya. Isi amplop cokelat tidak dijenguk, apalagi dihitung. Ia sudah meyakini isinya. Ia menyimpannya di dalam lemari. Di luar, Ipah duduk di lantai dekat pintu. Ia terkantuk-kantuk. Pintu terbuka. Ipah cepat berdiri. Rama muncul, menyodorkan uang sepuluh ribu. "Mau beli apa, Bu?" "Buat kamu. Persenan." "Terima kasih, Bu." "Kamu masak apa tadi?" tanya Ratna. "Sayur asem, goreng ikan jambal, sambel terasi." "Siapin meja, Pah. Aku mau makan!" Ipah bergegas ke dapur. Apa yang dimasaknya

http://inzomnia.wapka.mobi

369 khusus untuk Ratna seorang. Ia juga membantu Maya memasak untuk keluarganya. Semua serba terpisah. Apa yang diperuntukkan bagi Rama tidak boleh dicicipi atau diambil orang lain, meskipun orang-orang itu adalah anak, menantu, dan cucu-cucu. Tapi tidak ada masalah baginya untuk mencicipi atau mencomot masakan Maya. Memang tidak adil. Tapi tidak ada yang berani memprotes. 370 BAB 35 Kosmas sudah meminta maaf kepada Delia atas peristiwa malam hari yang memalukan itu dan Delia pun sudah memaafkan, tapi hal itu sepertinya telah menjadi cacat dalam hubungan mereka yang sulit diperbaiki. Padahal Delia sendiri bisa menerima perilaku Kosmas itu sebagai kekhilafan manusiawi yang masuk akal. Namun tidak demikian dengan Kosmas yang bersikap menjaga jarak dan selalu hati-hati seolah takut terulang lagi untuk kedua kalinya. Sikap demikian menghilangkan spontanitas dan kehangatan yang biasanya ada dalam hubungan mereka. Kalau mereka sama-sama bekerja di kantor, Kosmas menerima tamu dan Delia mengerjakan akun-tasi, mereka lebih sering diam-diaman. Bicara seperlunya saja. Akhirnya Delia tak tahan. "Kau marah sama aku, Bang?" tanya Delia. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" Kosmas balas bertanya. Tampak heran. Delia tertegun. Apakah Kosmas pura-pura? Padahal ia mengenal Kosmas sebagai orang yang tak suka pura-pura. Kalau bicara lebih suka langsung ke tujuan. "Jadi nggak marah?" "Maksudmu?" Kosmas mengerutkan kening. 371

http://inzomnia.wapka.mobi

"Oooh... peristiwa itu ya? Ah, nggak dong. Kenapa mesti marah? Justru kaulah yang seharusnya marah padaku karena aku sudah berlaku kurang ajar." Delia menjadi sedih. Apakah ia menganggap Kosmas kurang ajar? Atau Kosmas menilai dirinya sendiri seperti itu? "Kalau kau tidak marah, kenapa sikapmu dingin seperti itu?" tanya Delia. "Oh ya? Apakah aku dingin? Kalau aku panas, nanti malah jadi hilang kendali. Terus kurang ajar." Delia merasa ada kesinisan dalam ucapan Kosmas. Tapi Kosmas bersikap biasa-biasa. Menengok kepadanya pun tidak. Delia yakin ada ganjalan yang dipendam Kosmas tapi tak mau diungkapkannya. Sikap seperti itu jelas bertolak belakang dengan kegembiraan yang diperlihatkannya ketika mereka dalam perjalanan pergi dan pulang dari Bandung. Ketika itu Kosmas mengutarakan banyak rencana yang akan dilakukannya kalau mereka menikah nanti. Tapi setelah kejadian itu tak sekali pun Kosmas menyinggungnya kembali. Pikiran itu menjengkelkan perasaan Delia. Mungkinkah Kosmas menyesali hubungan mereka? Masa ditolak saja tersinggung seperti itu. Harus diakuinya ia telah mencubit terlalu keras. Tapi kalau tidak menyakitkan, Kosmas tidak akan sadar. Apakah Kosmas sebenarnya picik? Mungkin ada sisi lain dari watak Kosmas yang belum dikenalnya. Tapi ia tidak yakin akan hal itu. Delia memutuskan untuk curhat kepada Erwin. Sejak malam itu mereka belum punya kesempatan untuk berkumpul bertiga lalu mengobrol atau mendiskusikan sesuatu. Biasanya selalu ada sesuatu untuk dibicarakan. Masalah motel atau masalah masing372 masing. Kesempatan untuk berbincang itu mereka dapatkan di ruang makan pada saat makan bersama, pagi, siang atau malam. Anehnya sekarang tak ada kesempatan seperti itu. Selalu ada alasannya. Entah belum bangun tidur, lagi tidur, atau lagi sibuk. Akibatnya ia sering makan sendirian atau bersama karyawan lain.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Win, apakah Bang Kosmas pernah cerita soal unek-uneknya tentang aku?" Delia mulai. Erwin tampak heran. "Unek-unek apa, Kak?" "Justru itu yang mau kutanyakan. Barangkah dia curhat sama kau." Erwin menggeleng. "Nggak ada, Kak. Emangnya ada apa sih antara kalian?" Delia merasa heran. Ia mengenal Erwin sebagai orang yang peka. Mustahil sekarang Erwin tidak menyadari adanya sesuatu yang berubah dari biasa. Tidakkah Erwin juga merindukan saat-saat akrab mereka bertiga? Sebenarnya baru hitungan hari, tapi Delia sudah merasa kehilangan. Apakah kedua orang itu tidak merasakan kehilangan yang sama? "Ya sudahlah," Delia menyerah. "Nggak apa-apa, Win. Aku cuma merasakan adanya kerenggangan." Delia akan berlalu, tapi Erwin memegang lengannya. Delia terkejut karena pegangan Erwin seperti cengkeraman yang kuat. Erwin merasakan sikap Delia lalu melepaskan pegangannya. "Sori," kata Erwin. "Pasti ada apa-apa. Tak mungkin kau begitu kalau tak ada apa-apa. Kalian bertengkar?" Bukan sikap seperti itu yang diharapkan Delia. Sepertinya Erwin cuma ingin tahu. Bukan tanda perhatian. Delia tidak merasa senang. "Sudahlah, Win. Kalau kau mau tahu, tanya aja sama Bang Kos." 373 "Bagaimana aku mau bertanya kalau tidak tahu masalahnya?" "Kalau begitu, tak usahlah bertanya." Delia terkejut sendiri. Ia telah bersikap judes. Padahal tidak pernah begitu sebelumnya. Erwin merengut kesal. Kemudian ia mengangkati bahu. "Ya sudah. Memangnya siapa yang ingin tahu?" katanya masa bodoh lalu ngeloyor pergi. Delia terperangah. Ia bersandar sejenak ke dinding karena tubuhnya terasa limbung. Hampir ia berlari mengejar Erwin untuk menanyakan

http://inzomnia.wapka.mobi

kenapa bersikap begitu. Tapi kemudian ia teringat bahwa ia pun bersikap tidak menyenangkan. Erwin sebenarnya ingin tahu. Ia mendatangi Kosmas. "Bang, ada apa sih antara kau dan Kak Del?" Kosmas mengerutkan kening. "Ada apa gimana?" ia balik bertanya. "Aku nanya duluan kok dibalas "nanya?" sahut Erwin. "Apakah dia mengadu padamu?" "Kalau dia memang mengadu, pasti aku tahu. Jadi nggak perlu nanya!" "Sudahlah. Mau tahu urusan orang aja!" Nada percakapan keduanya semakin meninggi. "Abang bukan sembarang orang bagiku. Biasanya kita selalu terbuka. Nggak ada rahasia." "Nggak harus begitu. Memangnya aku nggak boleh punya privasi?" "Setelah ada dia, kau sekarang punya privasi, ya?" "Kau sendiri pindah kamar. Pengen punya privasi. Nah, apa nggak sama?" "Nggak! Abang tahu semua tentang diriku!" 374 Mereka saling memandang dengan mata melotot. Di luar kantor, Delia berdiri mendengarkan. Yang di dalam tidak melihatnya. Ia bukan sengaja mau menguping, tapi bermaksud mengambil bukunya. Ia mendengar semuanya. Perasaannya menjadi sedih dan kecewa. Ia cepat berlalu. Tak jadi masuk. Ia takut kemunculannya malah membuat kedua orang itu meledak. Ia benar-benar tak mengerti. Bukankah permasalahannya sebenarnya sepele? Kenapa hal kecil membuat keakraban dua orang yang sudah diawali sejak mereka mengenal kehidupan menjadi retak? Ataukah itu pertengkaran biasa yang bisa terjadi pada siapa pun? Yang membuat Delia sedih adalah dirinyalah yang jadi sebab. Ketika mendapat kesempatan, ia keluar sebentar mencari telepon umum. Ia tidak mau menggunakan telepon kantor, karena percakapannya bisa terdengar oleh Kosmas bila lelaki itu berada di kamarnya. Bisa juga terdengar oleh Erwin bila dia kebetulan berada di luar tanpa terlihat. Nanti bisa memicu konflik lain.

http://inzomnia.wapka.mobi

Delia menelepon Yasmin. Selain Kosmas dan Erwin ia masih punya seorang teman lagi untuk diajak berbagi. "Kak Del! Tumben! Senang sekali mendengar suaramu!" Suara Yasmin begitu ceria. Perasaan Delia jadi terhibur. Masih ada orang yang sayang kepadanya. "Kebetulan sekali, Kak. Aku sudah pindah ke rumah Papa dua hari yang lalu. Saking sibuknya membereskan rumah, aku sampai nggak sempat memberitahu." "Sekarang sudah beres? Barangkali aku bisa membantu." 375 "Wah, baru aja beres, Kak. Kapan mau main ke rumahku yang baru?" "Secepatnya, Yas. Aku juga ingin ketemu kau. Pengen ngomong." Diam sejenak. Lalu dengan nada berhati-hati Yasmin bertanya, "Ada masalah, Kak?" "Sebenarnya nggak sih. Pengen curhat aja." "Kalau gitu sekarang aja, Kak. Aku tunggu. Kebetulan Papa sudah nanyain tuh. Dia pengen sekali kenalan denganmu." Semangat Yasmin membuat Delia tersenyum. "Ah, jangan sekarang. Besok saja, ya?" "Besok oke. Cuti dong, supaya bisa seharian di rumahku. Kita bisa ngobrol banyak tanpa ada batasan waktu. Oh ya, Kak, ke mana aja Bang Erwin?" "Ada. Kenapa?" "Sudah beberapa hari dia nggak pernah nelepon aku lagi. Im waktu masih di rumah lama. Entah sekarang. Dia nggak tahu nomor baruku. Tapi dia kan punya nomor HP-ku." "Nanti aku kasih tahu kau udah pindah." "Barangkah dia udah bosan nelepon aku." "Ah, masa? Dia nggak pernah ngomong apa-apa." "Iya deh. Aku nggak nyalahin dia kalau nggak mau nelepon lagi. Mungkin lebih baik begitu."

http://inzomnia.wapka.mobi

Biarpun ucapan itu mengandung keikhlasan, Delia menangkap kekecewaan. Tampaknya kekecewaan mulai membayangi mereka berempat. Setelah cuaca cerah, mendung mulai datang. *** Delia disambut dengan pelukan oleh Yasmin. "Rumah yang bagus," puji Delia. 376 "Ayo, kita ke tempatku. Aku di paviliun.. Kalau sudah selesai ngobrol, baru kita ke rumah besar menjumpai Papa. Nggak usah buru-buru ke sana. Dia lagi latihan fisioterapi dan dipijit." Yasmin merasakan kemurungan Delia. Ia merangkulnya dengan perasaan aneh, kenapa situasi bisa berbalik dengan cepat. Dulu dia yang murung dan putus asa sedang Delia memberi kekuatan dan penghiburan kepadanya. Sekarang jadi terbalik meskipun ia sendiri tidak merasa kuat. Ia biasa-biasa saja, hanya situasi dan kondisilah yang membuatnya kuat. Sebenarnya dulu pun kondisi. Delia tak beda dengannya. Mereka sama-sama berniat bunuh diri. Jadi sesungguhnya nilai jasa Delia kepadanya jauh lebih besar dibanding orang yang kondisi kejiwaannya normal, misalnya Erwin dan Kosmas. Yasmin senang karena bisa mendapat kesempatan menghibur dan meredakan kesedihan Delia. Syukur-syukur bisa membantu. Delia bercerita tentang permasalahan yang dihadapinya. Ia tidak mengharapkan Yasmin bisa memberinya jalan keluar, tapi dengan mengungkapkannya ia sudah merasa lebih ringan. "Kenapa bisa begitu ya, Kak? Apa kau nggak merasa aneh?" tanya Yasmin. "Aneh? Entahlah. Aku nggak mau berpikir begim. Kenyataannya aku merasa jadi orang yang telah memecah belah keakraban mereka. Padahal semula aku bangga bisa menjadi bagian dari keakraban itu. Taunya nggak." "Mereka memang akrab dengan cara yang aneh. Satu pacaran, lainnya juga. Tapi kalau satu putus, lainnya juga ikut-ikutan. Jangan-jangan Erwin me-

http://inzomnia.wapka.mobi

377 mang nggak suka abangnya akan menikah karena dia belum dapat pacar. Dia jadi merasa tersisih." "Aku tidak percaya dia seperti itu." "Tapi kenyataannya begitu." "Kuakui aku belum terlalu lama mengenal mereka. Tapi kukira bukan waktu yang menentukan dalamnya pengenalan. Mereka orang yang terbuka. Jadi cepat kenalnya." "Entahlah, Kak. Aku susah mengenali orang kecuali pakai hati." "Ya, aku memang tidak boleh terlalu yakin dengan penilaian terhadap orang lain. Tapi aku yakin Kosmas mencintai aku. Dia orangnya tulus. Maka aku heran kenapa dia jadi cuek. Diajak diskusi nggak mau, katanya nggak ada apa-apa. Tapi diam-diaman seperti menyimpan sesuatu. Kan nggak enak, Yas. Sama Erwin juga begitu." "Makanya aku bilang itu aneh." Delia termenung. Aneh itu sama dengan tidak wajar. Di mana letak ketidakwajarannya? "Menurutku, kalau mereka diam-diam saja dan membiarkan kau bingung sendiri, kau harus berbuat sesuatu, Kak. Masa kau ikut arus saja? Entar jadi stres dong." "Maksudmu aku harus melakukan sesuatu?" "Ya!" "Tapi aku tidak tahu mesti bagaimana?" "Mereka pikir kau tergantung pada mereka, makanya mereka mendiamkan saja tanpa penyelesaian. Kau harus berani untuk keluar dari sana, Kak. Jangan khawatir tak punya tempat. Tinggallah di sini. Aku akan senang sekali. Di rumah besar masih banyak kamar yang bisa kautempati. Gimana, Kak?" 378 Yasmin menatap Delia, berharap mau menerima usulnya. "Terima kasih, Yas. Kau baik sekali." "Jadi mau, ya? Mau? Pindahlah secepatnya." "Aku senang bekerja di sana."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Untuk sementara saja, Kak. Lihat reaksi mereka. Terutama Bang Kos. Apakah dia mencegah dan keberatan? Ataukah dia setuju tanpa keberatan?" Delia berpikir sejenak. "Itu usul yang bagus sekali, Yas. Jalan keluar yang bagus. Tapi aku masih ingin melihat perkembangannya selama beberapa hari lagi. Kalau tak bisa diperbaiki lagi, terpaksa aku keluar. Terima kasih, Yas. Dengan adanya jalan keluar ini aku jadi lega. Nggak bingung lagi." "Kalau begitu aku siapkan kamarmu dari sekarang. Jadi kau tinggal masuk. Ayo kita temui Papa sekarang!" Delia berkenalan dengan Winata. Keduanya saling tatap dan mempelajari. "Terima kasih karena kau telah membujuk Yas," kata Winata. "Itu bukan apa-apa, Pak." "Bagiku itu sesuatu yang besar sekali artinya. Dan seingatku, dulu Yas itu sulit punya teman. Kalau sekarang bisa punya sahabat, itu pun sesuatu yang bermakna. Aku pikir, mendapat sahabat itu seperti mendapat jodoh." "Betul, Pak. Nasib mempertemukan kami," sahut Delia. "Nasib?" Winata membuka matanya lebar-lebar. "Ya, kami ketemu di rumah sakit, Pa," sahut Yasmin. Sesudah bicara Yasmin terkejut karena kelepasan. Lalu buru-buru melanjutkan, "Kak Del dirawat di 379 rumah sakit yang sama, Pa. Dia juga mengalami kecelakaan." "Wah, sekarang sudah sembuh benar?" "Sudah, Pak," jawab Delia. Ia merasa kurang enak telah membohongi orang ma Yasmin tersenyum saja. Sekalinya berbohong, harus jalan terus. Yang penting tujuannya, begitu ia meyakini. "Sekarang kerja atau ibu rumah tangga?" "Saya kerja di Motel Marlin, Pak," jawab Delia. "Motel?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dia ngerjain akuntansi, Pa. Kak Del itu sarjana akuntansi," sahut Yasmin. "Oh, begitu. Nanti sering-seringlah main ke sini, Del. Kalau libur ke sini saja." Winata mengundang. "Terima kasih, Pak." Delia berpikir, seharusnya Yasmin bicara dulu dengan ayahnya sebelum mengajaknya tinggal di situ. Biarpun rumah itu besar dan berkamar banyak, ketumpangan seseorang yang belum begitu dikenal bisa mengganggu. Sebelum pergi Delia menyampaikan hal itu kepada Yasmin. "Jangan khawatir. Papa pasti senang menerimamu." "Kalau dia sehat mungkin saja senang. Tapi dia kan sakit, Yas. Orang sakit itu membutuhkan ketenangan." "Memangnya kau suka bikin ribut? Aku yakin Papa pasti senang mendapat tambahan teman. Apalagi dia suka sama kau." "Tapi dia nggak ngomong sendiri, kan?" Delia tersenyum. Setelah Delia pergi, Yasmin berlari masuk untuk menemui ayahnya. 380 Winata sedang membicarakan Delia dengan Aryo. "Delia itu simpatik. Matanya ramah. Tapi ada kesusahan dan penderitaan di sana." "Wah, Bapak sekarang pintar menilai orang!" seru Aryo kagum. "Aku semakin tua dan semakin dekat ke liang kubur, Yo. Dalam keadaan seperti ini mata bukannya jadi semakin rabun, tapi semakin jeli! Pikiran pun begitu. Gejala apa, Yo?" "Bapak jadi semakin bijak," jawab Aryo diplomatis. Kemudian Yasmin datang bergabung. Karena tak ada larangan dari Delia, ia bercerita tentang riwayat Delia kepada ayahnya. Yang ia sembunyikan adalah niat Delia untuk bunuh diri karena bisa membongkar rahasianya juga. Winata merasa takjub mendengarnya. "Tuh, bener nggak, Yo! Aku bilang juga apa. Ada kesusahan dan penderitaan di mata Delia." "Betul, Pa. Rumahnya yang besar, tokonya, mobilnya, semua dia jual. Lalu sebagian besar dia sumbangkan untuk yayasan sosial dan panti-panti.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tapi uang hasil penjualan mobilnya dia berikan pada mertuanya, nenek sihir itu. Uangnya sendiri tinggal sedikit. Akhirnya dia bekerja di motel itu." "Wah, seram amat ya? Apa bener ada orang seperti nenek itu?" "Nyatanya ada, Pa. Ini bukan dongeng. Katanya sekarang nenek sihir itu berubah fisiknya jadi jauh lebih muda. Genit dan senang dandan." "Kalau gitu dia mintanya sama iblis." "Dikasih gratis, Pa?" "Mana mungkin. Pasti ada tukarannya." "Jadi budak gitu, Pa?" "Ya. Kira-kira begitu." 381 "Tapi Kak Del sekarang udah nggak takut lagi sama nenek itu. Dia udah punya kiatnya." "Apa?" "Rajin berdoa." "Wah, itu bagus" "Sekarang dia perlu bantuan kita, Pa." Yasmin menceritakan kesulitan Delia. "Aku setuju dengan idemu itu. Ajaklah dia tinggal di sini!" Yasmin memeluk ayahnya dengan gembira. Ia ingin sekali menelepon Delia saat itu juga untuk memberitahu bahwa ayahnya pun mendukung. Tapi Delia tidak punya ponsel. Ia tak ingin menelepon ke motel. Yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu sampai ada berita dari Delia. 382 BAB 36 Ketika Delia kembali ke motel, hari sudah sore. Ia menemui Kosmas di kantor. "Hai!" sapa Delia. Kosmas mengangkat sedikit kepalanya. Ia tersenyum tipis. "Hai!" sambutnya. Delia duduk di sudut. Kosmas tidak mendekatinya. Ia terus saja menekuni buku tamu seakan ada yang penting di sim. Delia merasa disepelekan. Tak tampak keingintahuan atau perhatian seperti yang biasa diperlihatkan Kosmas kepadanya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Banyak tamu yang masuk, Bang?" "Lumayan. Yang banyak tamu kencan siang," sahut Kosmas. "Kau capek, Bang?" "Ah, nggak. Kenapa nanya begim?" "Kau kelihatan lesu dan pucat. Mau istirahat? Bisa kugantikan sebentar," Delia menawarkan. "Ah, aku nggak apa-apa. Kau kan libur hari ini. Pergilah manfaatkan waktumu." "Siapa yang nanti menggantikanmu? Erwin atau Adi?" "Erwin." "Kalau sudah selesai nanti kita bicara ya, Bang?" kata Delia dengan nada ringan. Kosmas menatap Delia. "Bicara apa sampai harus tunggu nanti? Sekarang aja." 383 "Kalau sekarang bisa terganggu tamu yang datang. Aku nggak mau disela." "Ngomong saja sama Erwin." "Ini mengenai kita berdua. Nggak ada urusannya dengan Erwin." "Baiklah. Nanti." Delia berdiri. Saat berjalan keluar, ia melewati Kosmas. Tapi Kosmas tidak bergerak dari tempatnya. Pria itu tidak mengulurkan tangan untuk meraih lengan Delia. Seolah tidak peduli, ia kembali menundukkan kepala mengamati buku tamu di atas meja. Delia melirik Kosmas sejenak lalu melangkah cepat-cepat. Ia semakin yakin akan adanya sesuatu yang terpendam. Setelah Delia berlalu, Kosmas mengangkat kepalanya. Wajahnya terlihat murung. Ia melayangkan pandang jauh ke depan, ke halaman parkir. Menerawang tanpa arah pasti. Ketika tatapannya kembali ke dalam ruangan, tampak kegusaran di wajahnya. "Aku tahu apa yang mau kaulakukan!" gumamnya. Delia mencari Erwin. Biarlah ia bicara dulu dengan Erwin. Selama ini Erwin sudah dianggapnya sebagai adik. Ia ingin mengikutsertakan Erwin

http://inzomnia.wapka.mobi

dalam permasalahannya dengan Kosmas. Kadang-kadang Erwin terkesan lebih bijak daripada Kosmas. Seseorang mengatakan, Erwin berada di kamarnya. Delia mengetuk pintunya. Pelan saja. Tak ada sahutan. Lebih keras. Tak pula ada sahutan. Jangan-jangan Erwin tak ada di situ. Meskipun merasa lancang, Delia membuka pintu. Erwin sedang duduk bersila di lantai yang dialasi tikar. Jelas ia sedangbermeditasi. Posisinya menyamping dari letak pintu. Delia merasa telah mengganggu. Buru-buru ia 384 menutup pintu kembali. Belum sempat pintu merapat, ia mendengar suara. "Ada apa?" Suara Erwin terdengar lebih berat dari biasanya. Delia ragu-ragu sejenak. Hendel pintu masih dipegangnya. "Maaf, Win. Nanti saja," katanya. "Tunggu!" Delia melebarkan daun pintu. Erwin masih bersila tapi kepalanya berpaling. Wajahnya diarahkan kepada Delia. "Ada apa?" tanya Erwin. Delia terkejut karena suara dan ekspresi wajah Erwin mengandung kekesalan. Jelas merasa terganggu. Delia merasa bersalah. "Maaf, Win. Nggak apa-apa. Maaf." Delia kembali menutup pintu, lalu bergegas menuju kamarnya. Setengah berlari. Ada kecemasan kalau-kalau dikejar. Padahal tak ada siapa-siapa di belakangnya. Setelah menutup pintu, ia bersandar dengan memejamkan mata. Entah kenapa muncul rasa takut. Perasaan yang sudah amat dikenalnya. Apakah itu berarti Ratna masih saja mengejar dan tetap berniat menghancurkannya? Uang dua puluh lima juta pastilah dianggapnya kurang! Buru-buru Delia bersila di lantai. Ia bermeditasi, mencoba mengusir perasaan itu dan menjernihkan pikirannya. Lalu ia berdoa. Konsentrasinya mendalam. Ia sampai setengah sadar, setengah melayang. Tapi ia masih bisa mendengar pintunya yang tak dikunci

http://inzomnia.wapka.mobi

terbuka pelan-pelan. Ia tidak menoleh atau memandang ke arah pintu. Bahkan berusaha keras untuk tidak peduli. Setelah beberapa saat, pintu terdengar ditutup. 385 Delia tidak beranjak atau mengubah posisi. Ia juga tidak mencoba ingin tahu siapa yang barusan membuka pintu kamarnya. Mungkin orang itu pergi karena tak ingin mengganggu. Tapi kenapa tidak mengetuk dulu seperti yang tadi dilakukannya di kamar Erwin? Setelah selesai, Delia merebahkan diri. Pikirannya menjadi lebih tenang dan terkendali. Ia bisa kembali berpikir tentang Ratna tanpa panik dan takut. Sekarang ia tidak lagi memikirkan ancaman Ratna terhadap dirinya melainkan terhadap Kosmas dan Erwin! Seharusnya Ratna tidak mengganggu kedua orang itu karena mereka tidak punya urusan dengannya. Delia keluar dari kamar untuk menyiapkan makan malam. Tapi Bu Sofi sudah menyelesaikan semuanya. Lalu ia pergi mandi. Tapi setelah selesai dan kembali ke ruang makan, terheran-heran ia melihat Kosmas dan Erwin sedang makan berdua. Mereka tak menunggu dirinya untuk makan bersama seperti biasanya. Masih ada lagi yang terasa berbeda. Kedua orang itu tampak akrab setelah sebelumnya kelihatan saling menjaga jarak. Mestinya itu sesuatu yang menyenangkan. Tapi Delia jadi merasa semakin terkucil. Kenapa mereka tak menyertakan dirinya? Erwin menunjuk kursi yang biasa diduduki Delia. "Ayo makan, Kak," katanya dengan mulut penuh. "Ayo," sambung Kosmas. Hanya itu ajakan mereka. Keduanya melanjutkan makan tanpa memandang kepadanya. Delia termangu sejenak. Ia memang diajak, tapi rasanya ada yang kurang. Laparnya hilang seketika. Ia melangkah pergi. Sengaja berjalan lambat-lambat, berharap dipanggil. Tapi tak ada yang memanggilnya. Ketika ia menoleh, 386 ternyata tak ada yang memandang kepadanya. Kedua orang itu terus saja makan seolah itu yang terpenting. Delia pergi ke kantor. Adi di sana. "Kau sudah makan, Di?" "Belum."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Pergilah makan dulu. Aku gantiin." "Ibu sudah?" "Belum lapar, Di." Adi pergi. Delia duduk dan mengamati buku tamu. Ia membalik-balik halamannya. Setiap kali matanya selalu tertuju kepada nama Ratih Sutisna dari Cianjur yang menempati kamar nomor 5. Lalu ia teringat pada bau tak enak yang tercium di kamar itu pada hari pertama penghuninya keluar. Ratih-Ratih. Ratna-Ratna. Mirip. Pada hari itu Delia tidak bisa menjumpai Ratna di rumahnya di Bandung karena katanya sedang keluar. Ke mana? Maya tidak mau mengatakan padahal sebenarnya tahu. Pasti dia sudah dipesan agar tidak memberitahu. Ratna sudah tahu Delia akan datang. Kenapa sengaja menghindar dari pertemuan dengannya? Ratna malah pergi. Janganjangan disengaja. Pikiran itu benar-benar mengganggu. Terus-menerus menerpa Delia, menuntut jawaban. Adi datang untuk menggantikannya kembali. Tapi Kosmas dan Erwin tidak muncul. Delia pergi ke kamarnya dulu untuk mengambil dompetnya lalu kembali ke kantor. Adi masih sendiri di situ. "Di, aku mau ke luar sebentar ya?" "Baik, Bu." Adi merasa tak patut bertanya ke mana. Di luar sana ada banyak kegiatan. Ada restoran, warung, toko, dan sebagainya. Delia pergi ke wartel. Ia bermaksud menghubungi 387 Donna di Bandung. Bila menggunakan telepon kantor, ia akan membebani dengan biaya interlokal. Yang menerima telepon adalah Maya, ibu Donna. Delia sudah mengenal suara Donna. Jadi suara yang didengarnya bisa suara Maya atau Ines, adik Donna. "Bisa bicara dengan Donna, Tante? Saya Susi, temannya," sengaja Delia berbohong. "Tunggu sebentar ya." Lalu terdengar suara Donna. "Ini Susi yang mana ya?" "Don, ini Tante Del! Jangan sebut namaku!" "Oh ya. Susi yang itu!" seru Donna. "Mamamu masih dekat situ?" "Ya. "

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sekarang kau cukup jawab seperlunya saja, Don. Hati-hati. Apakah Nenek pergi ke Jakarta dua hari yang lalu?" "Ya. Betul sekali. Dia mau jalan-jalan katanya. Heboh deh, Sus. Di sana dia nginep lho," suara Donna bergaya orang menggosip. "Apakah kau tahu di mana dia menginap?" "Tahu bener. Pada heboh." "Apa dia menginap di hotel?" "Bukan. Yang mirip sama itu." "Motel?" "Ya. Namanya berawal dengan huruf M." "Motel Marlin?" "Betul sekali! Perkiraanmu tepat!" "Baiklah. Terima kasih ya, Don." "Kapan mau ke Bandung, Sus?" "Nanti kalau sempat. Pokoknya kau kuhubungi. Sudah ya. Daaah!" Delia kembali ke Motel Marlin dengan perasaan 388 sedih. Ia sudah tahu sekarang apa yang dituju Ratna. Perempuan itu memang tidak puas. Awalnya yang dikehendaki hanya materi. Sesudah itu tambah yang lain. Kosmas menyambut Delia di pintu gerbang. Lalu mereka jalan bersisian. "Dari mana?" tanya Kosmas. Delia tahu tak mungkin berbohong. Pasti Kosmas sudah melihat kepergiannya dan ke mana arahnya, "Dari wartel. Nelepon ke Bandung." "Kenapa nggak pakai telepon kantor aja?" "Nggak apa-apa. Katanya di wartel lebih murah." "Mungkin kau tak ingin didengar, ya?" Delia terkejut oleh pertanyaan sinis itu. "Ah, nggak begitu, Bang. Aku cuma ingin berhemat." "Nelepon siapa di Bandung?" "Donna. Aku nitip rumah kontrakanku." "Oh begitu." Delia masih bimbang apakah ia akan memberitahu Kosmas dan Erwin perihal informasi mengenai Ratna tadi. Betapa terkejutnya mereka

http://inzomnia.wapka.mobi

kalau tahu bahwa salah seorang tamu mereka adalah Rama! Tetapi situasi sekarang tidak sama dengan sebelumnya. Kali ini Delia tidak tahu dan tidak bisa memperkirakan seperti apa reaksi kedua orang itu. Apakah mereka akan memercayainya? Sekarang Kosmas dan Erwin berbeda. Orangnya memang sama, tapi suasana hati mereka lain. "Tadi katanya mau ngomong," kata Kosmas. "Aku makan dulu ya, Bang. Lapar," kata Delia terus terang. Sekarang ia merasa benar-benar lapar. Sepertinya ia akan berjuang dan untuk itu diperlukan kekuatan. 389 "Kukira kau nggak mau makan. Atau memang sengaja nggak mau barengbareng?" Delia terkejut. "Itu tuduhan yang jelek, Bang!" "Habis tadi ngeloyor begitu aja. Katanya pengen kumpul kayak dulu. Sekarang malah kau yang menghindar." "Bukan begitu, Bang. Ah, perlukah kujelaskan sekarang?" "Sudah. Makanlah dulu." Kosmas mempercepat langkah, meninggalkan Delia. Melihat itu Delia sengaja memperlambat langkahnya. Ia langsung ke ruang makan. Bu Sofi baru membenahi meja. "Wah, Bu Del belum makan, ya?" Bu Sofi terkejut. "Sayurnya tinggal sedikit. Kuah melulu." "Nggak apa-apa, Bu. Yang penting kenyang." "Masih ada telor asin dan keripik tempe. Mau, Bu?" "Mau. Bu Sofi udah makan?" "Semuanya udah pada makan. Tinggal Bu Del sendiri. Makanya kehabisan." Ketika Delia sedang makan, Erwin datang lalu duduk di sebelahnya. "Makan, Win?" Delia menawarkan. "Kan udah tadi. Kenapa sih tadi kau nggak mau makan bareng kami, Kak? Marah sama Bang Kos atau sama aku?" "Dua-duanya nggak. Tadi suasana hatiku nggak enak. Kalian makan duluan. Nggak nunggu aku."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tapi kami mengajakmu, kan?" "Kalian mengajak karena aku sudah ada di dekat kalian. Itu kan beda." "Jadi ngambek, kan?" "Sebetulnya nggak begitu. Justru aku berpikir kalian berubah sikap terhadapku." 390 "Soal makan aja diributin." "Bukan cuma soal makan, Win. Aku punya feeling nggak enak. Sejak kemarin-kemarin. Aku mau ngomong sama Bang Kos. Sama kau. Tapi kalian bersikap sinis." "Oh ya? Sinis gimana sih? Aku nggak ngerti." Delia tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Lalu Kosmas datang bergabung. Delia merasa senang. Ia cepat-cepat menghabiskan makannya. Sekarang mereka bertiga lagi. Ini kesempatan baik. "Tadi aku ke wartel nelepon Donna di Bandung. Sebenarnya bukan bicara soal rumah. Sori tadi ngomong gitu, Bang. Sekarang kita ngomong bertiga dengan suasana yang lebih nyaman. Begini. Tadi kuamati buku tamu. Tatapanku terus-terusan mengarah ke nama Ratih Sutisna di kamar nomor 5 itu. Aku ingat bau tak enak di situ. Ingat, Win? Ada perasaan tak nyaman mengenai tamu itu. Aku juga berpikir tentang Ratna yang tidak ada di rumah, Bang Kos. Dia tahu aku mau datang, kok malah pergi. Donna memberitahu ke mana perginya. Tahu ke mana? Motel Marlin!" Delia menikmati kejutan di wajah Kosmas dan Erwin. Tapi tidak lama. Setelah kejutan lenyap, mereka tertawa. "Jadi Ratna itu sama dengan Ratih?" tegas Erwin. "Tapi dia tidak lebih tua darimu, Kak!" "Ah, kau lupa rupanya. Bukankah penampilannya sudah berubah?" "Iya. Sudah dioperasi plastik," gurau Kosmas tertawa. "Bang, ini serius," kata Delia. "Jadi menurutmu, dia tahu semuanya? Apa dia 391 punya semacam cermin ajaib, gitu?" tanya Kosmas. Masih bernada gurau.

http://inzomnia.wapka.mobi

Erwin tersenyum. Tapi Delia merasa kesal. Ia berharap bisa membicarakan masalah itu dengan serius. "Aku sudah bilang. Dia belum tentu puas dikasih duit, Del," kata Kosmas. "Kau sudah bilang? Bilang apa sih?" Delia heran. "Lupa ya? Aku bilang, sesudah dikasih duit entar dia nuntut yang lain." "Menuntut apa maksudmu?" "Menuntut nyawamu!" kata Kosmas datar. Tak ada emosi dalam sikapnya. Delia terkejut. Ia menatap Kosmas, tak percaya pada apa yang didengarnya. Kosmas memalingkan muka. "Kalau dia benar datang ke sini, apa yang dia tuju? Ratih itu bilang dia hanya jalan-jalan dan belanja. Tampangnya sama sekali tidak mengesankan nenek sihir," kata Erwin. Delia merasa kecewa karena Erwin tidak bereaksi atas kata-kata yang diucapkan Kosmas tadi. Menurutnya, Kosmas mengucapkannya dengan tega. "Mana aku tahu apa yang dia mau lakukan di sini.. Itu harus kautanyakan kepadanya," sahut Delia tajam. "Aku kan nggak mungkin bertanya kepadanya. Setidaknya kau bisa memberi pendapat," kata Erwin. "Aku khawatir dia berniat jahat." "Jahat gimana? Meninggalkan bau?" Kosmas tertawa. "Aku tahu sekarang!" seru Delia tanpa memedulikan gurauan Kosmas. "Dia telah membuat kalian berubah!" 392 "Berubah?" tanya Kosmas dan Erwin berbarengan. "Aku barusan melihat cermin. Tapi wajahku masih yang dulu," kata Kosmas. "Aku juga," Erwin menyambung. "Bukan itu. Sikap kalian yang berubah," Delia mencoba bersabar. "Pertama, Bang Kos jadi dingin kepadaku." "Oh ya? Berapa derajat?" tanya Kosmas. Di mata Delia sikap Kosmas itu memuakkan.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kedua," Delia melanjutkan, "kalian berdua bertengkar karena aku. Sebelumnya tak pernah." Kosmas dan Erwin berpandangan. "Ah, masa iya?" bantah Erwin. "Apa betul kita bertengkar, Bang?" "Nggak. Kapan itu?" tanya Kosmas. "Aku dengar sendiri. Itu terjadi sehari sesudah kepulangan kita dari Bandung, Bang. Mungkin aku terlalu sensitif tapi aku bisa merasakan perubahan sikap kalian kepadaku. Kalau memang benar kalian berubah tanpa dipengaruhi siapa-siapa, itu berarti kalian menyesali kehadiranku di sini." Kosmas dan Erwin termangu. Sikap mereka semakin mengecewakan Delia. Sebenarnya Delia ingin mereka spontan membantah dugaannya. "Jadi sebelum terjadi sesuatu, lebih baik aku pergi saja," kata Delia. "Pergi ke mana?" tanya Kosmas. "Aku masih punya seorang teman." "Yasmin, kan?" kata Erwin. "Dia sudah pindah rumah. Katanya rumahnya bagus dan besar. Pasti jauh lebih menyenangkan tinggal di sana daripada di sini." "Sadarkah kau bahwa ucapanmu itu sangat sinis, 393 Win?" tanya Delia. "Tidak biasanya kau seperti itu. Sekarang kalian berdua benar-benar tak punya perasaan." "Tapi aku tidak merasa berubah," kata Kosmas. "Kau, Win?" "Aku juga nggak," sahut Erwin ragu-ragu. Wajahnya menampakkan kebingungan. Tapi di mata Delia, bisa jadi itu kepura-puraan belaka. "Begini saja," kata Delia. "Apa kalian ingin aku pergi?" "Kalau kau yang ingin, kami tidak berhak melarang!" sahut Kosmas. "Iya kan, Win?" "Iya," kata Erwin. "Setiap orang berhak mencari yang lebih baik." Delia mengeluh dalam hati. Orang-orang ini tak punya logika.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bukan begim, Win. Aku ingin kita sama-sama introspeksi. Mungkin kepergianku membuat suasana di sini lebih tenteram." "Apa itu berarti kita putus?" Kosmas bertanya gusar. "Tentu tidak. Hanya mendinginkan suasana." "Dingin lagi! Dingin lagi!" seru Kosmas. "Sabar, Bang!" bujuk Erwin. "Biarlah Delia pergi untuk sementara. Mungkin memang itu cara terbaik." Nada suara Erwin membuat Delia mengamatinya dengan cermat. Apakah Erwin sudah pulih? "Kapan kau mau pergi?" tanya Erwin. "Besok saja." Delia berlalu. Kosmas menatapnya dengan geram. Erwin menepuk-nepuk punggungnya. Masih sempat Delia mendengar hardikan Kosmas kepada Erwin. Langkahnya terhenti sejenak. 394 "Sudah! Jangan munafik! Kau pasti senang kalau aku putus! Maumu kita senasib terus, kan?" Delia berlari ke kamarnya. 395 BAB 37 Sejak Kepulangannya dari Jakarta, Ratna semakin terlihat cantik dan menor. Biarpun berada di rumah, ia tetap berdandan. Pakaian yang dikenakannya selalu menampakkan lekuk liku tubuhnya. Tapi bukan hanya di segi penampilan, kelakuannya pun lebih berani. Hal itu menimbulkan masalah baru bagi Rama. Dulu Ratna tak pernah meninjau bengkelnya. Sekarang ia sering mondarmandir di situ. Berlagak seperti mandor. Lihat ini-itu. Tanya ini-itu. Sering juga hanya mengamati. Ia menimbulkan bisik-bisik di antara para montir. Juga tatapan iseng. Tapi Ratna tampaknya senang dicandai. Ia menanggapi canda vulgar dengan canda yang lebih vulgar lagi. Suatu kali Rama terkejut ketika ia mendapati ke mana arah tatapan Rama kerap kali tertuju, yaitu ke bokong para montir yang sedang membungkuk atau menungging! Rama sangat malu dan berharap tak ada orang lain melihat hal yang sama. Tentu saja ia tak berani melarang atau

http://inzomnia.wapka.mobi

mengkritik Rama. Satu-satunya hal yang terasa meringankan adalah para montir tidak tahu bahwa Ratna yang sekarang ini sama dengan Ratna yang dulu. Jadi bukan ibunya. Kalaupun diberitahu, siapa yang akan percaya? Rama melaporkan hal itu kepada semua saudaranya. Tapi seperti dirinya, mereka pun tidak berdaya mela396 kukan sesuatu. Mereka hanya bisa menghibur Rama dan keluarganya, dan meminta mereka bertahan. Habis mau apa lagi? Sebenarnya mereka juga takut kalau-kalau nanti terjadi sesuatu yang memalukan. Suatu skandal misalnya. Hal lain yang ditakuti Rama adalah kalau-kalau Ratna minta ditemani lagi ke Jakarta. Ia benar-benar kapok. Di sana ia mendapat pengalaman paling aneh yang tak ingin dijalaninya lagi untuk kedua kali. Keluarga dan semua saudaranya sangat takjub mendengar ceritanya. Juga bertambah takut. Komunikasi di antara Ratna dan anggota keluarganya nyaris tak ada lagi. Semua anak, menantu, dan cucu lebih suka menghindar, takut diajak bicara dan takut disuruh-suruh. Masih mending kalau disuruh melakukan sesuatu yang wajar, kalau tidak? Misalnya seperti yang dialami Rama. Hanya Donna yang masih punya keberanian. Tapi tak ada yang mau mengikuti langkahnya. Donna pernah mendapat hukuman dari Rama tapi berhasil lepas. Bagaimana kalau tak berhasil? Bi Ipah masih bertahan menemani Ratna. Sebenarnya bukan karena gaji lumayan yang diterimanya, tapi lebih disebabkan oleh ketakutan. Ia tahu apa saja yang dialami anggota keluarga Rama. Jadi ia tak mau mengalami nasib sama. Ia toh bukan apa-apanya Ratna hingga beban batin boleh dikata tak ada. Lama-lama ia semakin yakin bahwa dirinya aman-aman saja karena Rama membutuhkannya. Dalam keadaan tertekan itu Rama sangat senang ketika Ratna menyuruhnya mencarikan rumah kontrakan. Uang yang diperoleh Ratna dari Delia akan digunakannya sebagian untuk mengontrak rumah selama setahun. Sisanya masih cukup untuk meme-

http://inzomnia.wapka.mobi

397 nuhi kebutuhannya yang lain. Paling tidak untuk sementara. "Rumahnya yang kecil saja, Ram. Buat aku dan Ipah doang. Tapi jangan jauh-jauh dari rumah ini supaya aku gampang ke sini sewaktu-waktu," pesannya. Rama tidak bertanya kenapa tiba-tiba Ratna ingin pindah rumah. Ia sudah belajar untuk tidak bertanya. Tapi Ratna masih sempat berkata, "Seharusnya kalian yang pergi karena ini rumahku. Tapi aku masih punya rasa kasihan. Mau ditaruh di mana bengkelmu nanti?" Ucapan itu membuat Rama sedih dan gusar. Padahal Ratna memang tak ingin tinggal di rumah yang besar karena ia cuma berdua. Rumah terlalu besar hanya merepotkan dan melelahkan. Rama dan semua saudaranya bersemangat mencari rumah dimaksud. Meskipun jaraknya tidak jauh, yang penting Ratna tidak lagi serumah. Sudah tentu Maya pun senang meski berusaha keras menyembunyikan. Ia takut kalau-kalau rasa senangnya bisa membuat gusar Ratna. Memang ada eksesnya bagi Rama, yaitu ia tidak lagi menerima uang iuran dari semua saudaranya, karena uang itu akan langsung ke tangan Ratna yang akan mengelolanya sendiri untuk biaya kebutuhannya sehari-hari. Tetapi bila dibandingkan dengan kelegaan batin, uang menjadi tidak berarti. Rama dan saudara-saudaranya membiarkan saja sepak terjang Ratna dan mengabulkan apa pun yang dikehendakinya. Tanpa protes dan tanpa tanya-tanya. Mereka sama sekali tidak mengkhawatirkan sang ibu yang hidup terpisah. Orang seperti Ratna tidak perlu dikhawatirkan 398 Sementara itu, satu hal yang perlu dimiliki semua orang yaitu kartu identitas atau KTP untuk Ratna sudah selesai dibuat. Dengan penampilannya yang baru Ratna membutuhkan KTP baru dengan fotonya yang terbaru! KTP itu mencantumkan tanggal kelahiran yang dimajukan 20 tahun! Ia tak lagi membawa-bawa KTP lamanya yang berlaku seumur hidup. Tidak mungkin lagi baginya bertahan dengan KTP lama. Siapa yang

http://inzomnia.wapka.mobi

akan percaya bahwa dirinya adalah orang yang sama dengan foto yang tercantum? Juga dengan tanggal kelahiran lama yang menyatakan usianya sudah tujuh puluh tahun? Sudah tentu KTP baru itu aspal, asli tapi palsu. Rama menyuruh seseorang yang menjadi spesialis pembuat KTP aspal dengan biaya tertentu. Sama sekali tidak sulit asal ada uang dan ada orang yang mendewakan uang. Perlahan tapi pasti, anggota keluarga Ratna tidak lagi memandangnya sebagai ibu dan nenek mereka, tapi semata-mata orang lain meskipun mereka tetap memanggilnya "Mama" dan "Nenek". Tentu Rama mengetahui hal itu. Ia menyadari, kini ia kehilangan anak dan cucu, juga kasih sayang yang selayaknya ia dapatkan. Yang dimilikinya cuma penguasaan atas diri mereka. Tapi itu tidak jadi masalah baginya. Ia tidak membutuhkan kasih sayang mereka. Ia menikmati kehidupannya yang sekarang beserta segala kemungkinan yang bisa diraihnya. Kalau punya ilmu, siapa yang membutuhkan orang lain? Masih dalam minggu itu juga Ratna mendapatkan rumahnya yang terletak di Jalan Angsana. Tak terlalu jauh tapi juga tak terlalu dekat dengan rumah Rama. Semua saudara Rama membantu memindahkan barang-barang Ratna. Ternyata barang-barang itu ba399 nyak sekali, dari perabot kamar mandi, perabot dapur, perabot kamar tidur, sampai perabot ruang tamu. Kebanyakan adalah perabot lama yang dimilikinya. Termasuk kulkas ma yang sudah berkarat, yang selama ini digunakan juga oleh keluarga Rama, dibawanya serta, padahal ia bisa membeli yang baru. Rumahnya yang kecil menjadi padat. Sebaliknya, rumahnya yang ditempati Rama sekeluarga menjadi kosong melompong karena besar tapi kekurangan perabot. "Kita bisa main bola di ruang tamu," kata Boy. "Nanti meja pingpong yang disimpan di gudang Oom Ridwan bisa dipasang di sini!" seru Lisa. "Horeee...! Horeee...!" Kedua anak itu melompat-lompat gembira.

http://inzomnia.wapka.mobi

Maya meredam tingkah mereka. "Jangan berlebihan senangnya! Ingat. Di sana Nenek cuma ngontrak setahun. Kalau nggak betah, dia akan kembali ke sini." "Mudah-mudahan dia betah ya, Ma," harap Lisa. Maya tersenyum. Tentu saja dia juga berharap begitu. "Aku senang kau bisa tersenyum lagi," bisik Rama. "Eh, sekarang kau nggak perlu berbisik," kata Maya tertawa. Mereka mengunci kamar yang semula ditempati Ratna lalu menyimpan kuncinya. Mereka tak ingin memeriksa meskipun tahu kamar itu sudah kosong. Anak-anak pun tak diizinkan masuk biarpun cuma sebentar. Setahun itu tidak lama. Tapi siapa bisa meramal apa yang mungkin terjadi dalam waktu itu? *** 400 Setelah rumah barunya rapi, Rama segera menghubungi Hendri lewat SMS. "Aku pindah ke Bandung. Jl. Angsana nomor 2. Datanglah Sabtu! Jimat selesai." Pesan itu diterima Hendri dengan gembira. Sebelumnya ia sudah berulang kali mengirim SMS menanyakan jimat pemikat atau jimat penakluk yang dijanjikan Rama untuknya. Ia menganggap Ratna berutang karena ia sudah memuaskan libido Rama tapi tidak mendapat imbalannya. Padahal ia tahu betul, tanpa imbalan pun ia mau melakukannya karena ia sendiri terpuaskan. Bahkan ia merindukannya setiap saat. Apalagi kalau kehausan itu datang. Tak ada perempuan bisa menandingi Ratna atau Ratih. Setiap kali pesannya dibalas oleh Rama bahwa jimatnya belum selesai. Hendri harus bersabar. Ia memerlukan jimat itu untuk menaklukkan Yasmin. Ia memang ingin menguasainya. Ia percaya bahwa perempuan dengan masalah seks seperti Yasmin pada awalnya memang dingin, tapi kalau sudah berhasil ditaklukkan dalam arti mendapat kenikmatan seksual, ia akan berbalik. Suatu lompatan besar akan dilakukannya. Dari perempuan frigid menjadi hiperseks!

http://inzomnia.wapka.mobi

Kemudian Delia ikut menumpang di rumah itu. Padahal sebelumnya Hendri tidak diberitahu. Boro-boro dimintai saran atau ditanyai. Tapi ia maklum, tentu saja Yasmin merasa tidak perlu melakukannya karena rumah itu milik ayahnya atau miliknya juga. Hendri memang tidak punya kuasa apa-apa di situ. "Ada konflik di motel. Kak Del dan Bang Kos perlu introspeksi. Jadi sebaiknya berpisah dulu untuk sementara," Yasmin menjelaskan. "Kenapa harus di sini? Kan dia bisa kos." 401 "Aku ingin menolongnya. Begitulah antara sahabat. Harus saling menolong. Dulu dia menolongku. Ingat?" Bila diingatkan peristiwa itu, Hendri tak bisa bicara lagi. Delia menempati rumah besar. Sama sekali tidak mengganggu mereka yang tinggal di paviliun. Tapi Yasmin jadi lebih sering ke rumah besar. Kalau mau ketemu Delia, dia ke sana. Hendri sendiri jarang ke rumah besar kecuali kalau perlu saja dan sesekali menjenguk Winata. Menurutnya, Winata tidak suka padanya dan karenanya tidak suka pula dijenguk. Hendri selalu salah tingkah bila berada di dekat Winata. Kemudian ia melihat bagaimana Delia dan Winata bisa bergaul dengan akrab. Keduanya bisa mengobrol dengan asyik. Hendri menjadi iri dan marah. Ia merasa terkucil sendirian. "Hati-hati, Yas. Papa bisa lebih sayang Delia daripada kau," Hendri mencoba menghasut. Kata-kata itu membuat gusar Yasmin. "Jangan ngomong begim! Kau nggak tahu apa-apa!" "Aku ngomong begitu untuk kepentinganmu. Jangan percaya pada sembarang orang." "Kak Del bukan orang sembarangan. Kalau dia tak ada, aku juga tak ada!" "Tapi..." "Aku tak mau dengar lagi omongan seperti itu!" Bagi Hendri, kini Delia menjadi saingan. Ia memang tidak paham. Ia mengira Delia mendekati Yasmin karena kekayaannya. Ia semakin gusar karena Yasmin semakin banyak menghabiskan waktu di rumah besar.

http://inzomnia.wapka.mobi

Dulu sebelum ada Delia, Yasmin ke sana hanya di waktu siang saat Hendri berada di kantor. Pernah Hendri ke sana untuk menjenguk, lalu tercengang melihat mereka berkumpul dengan riang gembira. 402 Termasuk Aryo. Hendri tahu, seharusnya ia ikut bergabung saja kalau tak ingin merasa sendiri. Tapi ia malu. Rasanya ia harus menebalkan muka dulu kalau mau ikut serta! *** Kepergian Delia dari Motel Marlin membuat suasana jadi murung di antara para karyawan. Juga Kosmas dan Erwin. Terasa ada yang hilang walaupun sebenarnya Delia belum lama berada di sim. Keramahan dan keceriaannya mampu menghidupkan suasana yang monoton. Kalau mereka melihat pepohonan di sekitar motel, mereka teringat kepada Delia. Kosmas jadi pendiam dan gampang tersinggung. Erwin banyak merenung dan lebih suka menyendiri. Mereka berdua kian jarang berkomunikasi kecuali mengenai urusan motel. Dalam satu hal keduanya sepakat, yaitu menghindari pembicaraan mengenai Delia. Jangankan menelepon Delia untuk sekadar menanyakan kabarnya, menyebut namanya pun terasa pantang dilakukan. Erwin pun tidak suka lagi menelepon Yasmin. Tanpa kehadiran Delia, ia jadi kehilangan tempat curhat. Sedang Kosmas bukanlah orang yang cocok untuk itu. Tak ada yang tahu kecuali dirinya sendiri apakah ia sudah kehilangan harapan hingga tak mau lagi menelepon atau cintanya memang sudah padam. Bisa juga ia puas karena hubungan Kosmas dengan Delia sudah tak menentu bahkan terancam putus. Maka mereka berdua kembali jadi pria lajang. Satu tak punya kekasih, satunya lagi pun begim! Erwin masih suka bermeditasi dan berdoa tapi tidak sesering dan seintens seperti saat Delia masih 403 ada. Ada yang hilang dari dirinya, entah semangat atau percaya diri. Kosmas lebih lagi. Dia benar-benar malas dan kehilangan semangat. Baginya hidup seperti rutinitas yang mau tak mau harus dijalani.

http://inzomnia.wapka.mobi

Pernah sekali Delia meneleponnya untuk menanyakan kabarnya dan Erwin. Ia menjawab dingin dan angkuh, "Semuanya baik-baik saja. Bahkan kami lebih baik daripada dulu!" Ia tahu betul, ucapannya itu pastilah menyakitkan. Tapi ia heran karena Delia menyahut dengan nada lega, "Syukurlah kalau begitu, Bang. Mudah-mudahan kalian tetap akur dan rukun ya?" Karena itu Kosmas tidak pernah mau menelepon Delia. Ia takut mendengar betapa baiknya keadaan Delia sekarang. Jauh lebih baik daripada di Motel Marlin! Bila itu terjadi, ia akan merasa sangat iri. Tamu-tamu datang dan pergi, baik yang sudah langganan maupun yang baru pernah menginap di situ. Tapi selama waktu itu kamar nomor 5 belum juga terisi sejak ditempati perempuan yang mengaku bernama Ratih. Bila ada tamu yang datang, selalu diberi kamar nomor lain. Sebenarnya bukan kesengajaan karena penerima tamu biasanya menjulurkan tangannya ke belakang, tempat kunci tergantung, tanpa memilih-milih kunci yang mau diambil. Mana yang duluan teraih, itulah yang diambil. Sampai saat itu belum pernah semua kamar terisi penuh hingga tak menyisakan kunci yang tergantung. Maka kunci nomor 5 tetap tergantung. Tak ada yang menyadari hal itu. Soal nomor kamar tidaklah penting. Tamu pun tidak mempersoalkan nomor. Mana saja yang diberikan diambil tanpa keberatan. Buat mereka semua kamar sama saja, tidak dibedakan oleh nomor. Hanya sekali-sekalinya Erwin dengan sengaja mem404 berikan nomor tertentu kepada tamu, yaitu Delia yang diberinya kunci bernomor 14. Ketika itu situasinya memang berbeda. Termasuk suasana hati! 405 BAB 38 Sabtu pagi, Hendri bersiap berangkat ke Bandung, memenuhi janjinya dengan Ratna.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku ada tugas luar ke Bandung, Yas," jelasnya kepada Yasmin. "Besok sore baru pulang." Yasmin agak heran. "Biasanya kau nggak pernah tugas ke luar kota. Apalagi di akhir pekan." "Yang biasanya tugas luar lagi sakit, Yas. Memang sih libur, tapi kan dihitung lembur. Lumayan." "Baiklah. Hati-hati saja di jalan." "Mau oleh-oleh apa?" "Ah, apa ya?" Yasmin berpikir. "Peuyeum Bandung?" "Oh ya. Boleh. Pilih yang bersih, Hen!" "Tentu. Aku nggak pamit sama Papa ya? Pasti belum bangun. Tolong sampaikan aja." "Baik." Lalu Hendri merentangkan kedua tangannya. "Apa aku nggak dapat cium, Yas?" Yasmin maju dan memberikan ciuman yang cepat di pipi Hendri. Dengan cepat pula kedua tangan Hendri memeluk tubuh Yasmin. Ia memonyongkan mulutnya. Minta ciuman di bibir! Yasmin jadi ragu-ragu. Dengan tersenyum ia menggelengkan kepala. Bagaimana kalau Hendri terangsang? Sekalinya ia mencium bibir Hendri, ia bisa terperangkap dan sulit lepas. 406 Bagi Hendri senyum Yasmin itu menggemaskan. "Masa cium bibir saja takut sih? Aku nggak bakal ngapa-ngapain, Yas. Dijamin." "Bukan itu." Pelan-pelan Yasmin melepaskan diri dari pelukan Hendri. "Ya sudahlah. Aku pergi." Yasmin melambaikan tangan. Bila Hendri bersikap baik dan lembut, kadang-kadang ia tersentuh juga dan merasa iba. Tapi kalau ingat masa lalu, ia jadi tegar lagi. Andaikata ia tak punya ayah kaya, maukah Hendri bersikap seperti itu? Sejak keluar dari rumah sakit mereka tak pernah tidur bersama. Pasti Hendri tidak tahan berpuasa selama itu. Ia tidak

http://inzomnia.wapka.mobi

tahu dan tidak peduli dengan siapa Hendri tidur. Barangkah betul bahwa cintanya sudah mati. Orang bilang tanpa cemburu tak ada cinta. Begim pula sebaliknya. Tapi ia tak bisa memberikan apa yang dibutuhkan Hendri. Awalnya ia memang tidak ikhlas bila Hendri mencari kepuasan pada perempuan lain. Mungkin saat itu yang dinamakan cinta masih ada. Yasmin tahu, ada kemungkinan Hendri berbohong tentang alasan kepergiannya ke Bandung. Bisa seluruhnya bohong atau sebagian. Tapi situasi hubungan mereka sekarang membuat ia tak bisa menuntut apaapa. Delia terkejut ketika diberitahu. "Ke Bandung?" tegasnya. "Memangnya kenapa?" Yasmin heran melihat reaksi Delia. Delia tersenyum menenangkan. "Nggak apa-apa. Sori, Yas. Kalau nyebut Bandung aku selalu ingat masa lalu. Trauma, kali. Padahal di sim bukan hanya pengalaman buruk yang kudapat, tapi juga 407 yang menyenangkan. Kok yang dominan malah yang buruk." "Aku mengerti. Di sana bermukim nenek sihir. Kau masih ngeri sama dia, ya?" "Ya. Aku cukup percaya diri sekarang, tapi masih terbatas dalam hal yang menyangkut diriku sendiri. Aku percaya dia tak akan bisa mencelakai aku karena aku yakin Tuhan tidak akan membiarkan hal itu terjadi." "Lantas kenapa masih ngeri?" "Aku memikirkan orang yang dekat denganku. Biarpun dia tidak bisa mencederai atau menyakiti aku secara langsung, dia bisa saja memanfaatkan orang lain. Apa yang terjadi pada Kosmas dan Erwin mungkin saja akibat perbuatannya. Kenyataannya, Rama datang dan menginap di Motel Marlin. Coba, ngapain dia ke sana kalau bukan untuk melakukan sesuatu? Aku tidak bisa memastikan atau membuktikan, tapi aku merasa perubahan sikap kedua orang itu tidak wajar." "Kalau dugaanmu itu betul, bagaimana dia melakukannya? Dia hanya menginap semalam. Ketemunya dengan Erwin seorang. Kosmas sedang bersamamu. Apakah dia bisa menghipnotis orang?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sudah terbukti dia bisa melakukan sesuatu yang jahat dari jarak jauh tanpa perlu berhadapan. Misalnya apa yang terjadi pada Maya dan Donna. Bedanya, apa yang terjadi pada mereka sebatas masalah fisik. Bukan perilaku." "Kalau mikir ke situ, kayaknya memang dialah penyebabnya, Kak." "Aku juga ingat pada masalah bau tak enak di kamar nomor lima, kamar yang diduga kuat ditempati Rama. Pada hari itu satu-satunya tamu yang datang 408 dan deskripsinya cocok dengan Rama adalah dia. Tamu lain berpasangan. Tak ada cewek sendirian." Yasmin teringat pada bau tubuh Hendri beberapa hari yang lalu. Ia meributkan bau itu padahal Hendri sendiri tidak merasakan. "Ngomong-ngomong soal bau tak enak itu, kayak apa sih, Kak?" "Pokoknya memuakkan. Bau busuk bukan. Bau amis juga bukan. Menurut Erwin, itu seperti bau orang yang nggak mandi setahun, bau sumpek, bau ketiak." Delia tertawa. "Duh, mengingat-ingat bau itu aku jadi enek, Yas! Kenapa kau ingin tahu?" "Aku teringat bau yang tercium dari tubuh Hendri ketika menemaninya sarapan. Baunya seperti yang digambarkan Erwin itu. Malam sebelumnya dia pulang larut. Aku tidak tahu jam berapa karena kutinggal tidur. Dia bawa kunci sendiri. Kamarnya pun terpisah. Herannya dia sendiri tidak bisa mencium bau itu Kusuruh pakai deodoran. Katanya dia pakai terus selama di kantor. Tapi pulang kantor usai mandi bau itu nggak ada lagi. Dia sampai bilang aku mengada-ada." Delia terkejut mendengar cerita itu. "Kapan kejadiannya, Yas?" Yasmin mengingat-ingat. "Tanggalnya aku nggak ingat persis, Kak. Tapi sehari sebelum itu kau pergi ke Bandung bersama Bang Kos. Erwin yang bilang di telepon." "Pada malam itu Hendri datang ke motel, ketemu Erwin. Dia membawakan pizza. Apa dia nggak cerita?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Nggak tuh. Wah, ngapain dia ke sana? Apakah dua peristiwa itu ada hubungannya, Kak?" tanya Yasmin ngeri. "Pada saat Hendri ke Motel Marlin, 409 Ratna juga ada di sana. Mungkinkah mereka bertemu, Kak?" "Hendri datangnya sudah lewat senja hari. Kata Erwin, dia mampir cuma sebentar. Ratih yang kemungkinan adalah Rama check in sebelumnya. Erwin tidak melihat kedua orang itu bertemu. Saat Hendri datang, Ratih atau Rama sedang keluar cari makan. Jadi kemungkinan ketemunya di luar motel. Tapi," bukankah mereka tidak saling mengenal?" Keduanya saling memandang dengan rupa bingung. Dua peristiwa yang sama-sama mengandung bau tak enak sepertinya ada hubungannya. Tapi di mana tersambungnya, tak bisa diketahui atau diperkirakan. "Aku mau mengaku salah padamu, Kak," kata Yasmin kemudian. "Aku pernah salah omong sama Hendri. Aku bilang mertuamu nenek sihir yang bisa mengutuk orang. Tapi hanya itu. Dia mendesak ingin tahu tapi aku nggak cerita lagi. Lalu dia bilang ingin kenalan sama mertuamu itu. Dia yakin orang seperti mertuamu itu pasti punya ilmu. Jadi dia mau minta tolong supaya masalah antara aku dan dia bisa diatasi. Maksudnya supaya kami bisa rukun dan aku bisa menikmati seks dengan dia. Tentu saja aku keberatan. Maafkan aku ya, Kak?" Delia termenung. Mungkinkah itu sambungannya? Tapi tampaknya masih tak jelas. Meskipun Hendri datang ke Motel Marlin saat Ratna ada di sana, keduanya tidak saling mengenal dan belum pernah bertemu. Bahkan Delia pun belum pernah melihat Rama dalam rupanya yang baru. "Kak Del marah, ya?" Yasmin khawatir melihat Delia diam saja. "Oh, nggak kok. Salah ngomong itu wajar. Nggak 410 sengaja. Aku juga suka begitu. Aku cuma mikir benang merahnya di mana ya? Feeling sih kayaknya ada. Tapi kita kan nggak bisa menyimpulkan berdasarkan feeling doang." "Soal bau?" "Belum tentu baunya sama." "Dia mau ke Bandung, Kak."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Belum tentu dia mau menemui Rama." "Memang semuanya belum tentu. Yang bersamaan adalah saat pergi ke motel. Hendri ke sana saat Rama di sana juga. Setelah Rama keluar dari motel, kamarnya bau. Pagi-pagi Hendri juga bau. Deskripsi bau mirip. Kita bisa mengasumsikan bahwa mereka setidaknya bertemu dan dekat satu sama lain." "Jadi kau cenderung yakin?" Delia senang ada seseorang yang bisa diajak berdiskusi. "Sebenarnya aku takut untuk merasa yakin, karena Hendri suamiku. Apalagi kalau ingat dia pernah mengutarakan keinginannya untuk minta bantuan Rama supaya kami bisa rukun. Aduh, Kak, gimana kalau perkiraan itu benar?" "Memangnya kau tak ingin rukun kembali dengan Hendri?" Delia ingin tahu. "Kak, maksud Hendri dengan rukun itu adalah supaya dia bisa berhubungan seks denganku tanpa hambatan. Dia ingin aku tidak takut lagi dan bisa menikmatinya." "Apa kau sendiri tidak ingin bisa begitu?" Yasmin cemberut. Ia menggelengkan kepala. "Masalahku dengan dia sekarang bukan hanya seks, Kak. Sejak dia tega kepadaku dulu, perlahan-lahan aku kehilangan cinta kepadanya. Belakangan tambah lagi dengan kebohongan-kebohongannya yang dikiranya aku nggak tahu. Aku kehilangan respek padanya. 411 Bagaimana aku bisa menikmati hubungan dengannya bila perasaanku seperti itu?" "Jadi apa yang kautakutkan?" "Bila dia memerlukan bantuan nenek sihir, sudah jelas apa jenis bantuannya. Secara wajar tak bisa, maka dipakai cara tak wajar. Aku mau disihirnya!" Delia terkejut oleh kemungkinan itu. Mungkin saja dugaan itu terlalu jauh. Tapi kemudian ia terkejut oleh sesuatu yang lain. Ia memeluk

http://inzomnia.wapka.mobi

Yasmin dengan tiba-tiba hingga Yasmin mengira Delia ketakutan. "Ada apa, Kak?" "Maafkan aku, Yas. Jangan-jangan kedatanganku ke sini akan membawa akibat yang sama seperti pada Kosmas dan Erwin. Aku membawa sial," kata Delia sedih. Tak tahan lagi ia menangis. Dulu pemah ada kecemasan kalau-kalau orang yang dekat dengannya akan dicelakai juga. Sekarang kecemasan itu sepertinya akan menjadi kenyataan. Suatu saat semua orang yang dekat itu akan menjauh dan memusuhinya lalu ia kembali sendirian. Apakah memang itu tujuan Ratna? "Sudah, Kak. Sudah." Yasmin menepuk-nepuk punggung Delia. "Aku tahu apa yang kautakutkan. Percayalah. Aku dan Papa tidak akan seperti Bang Kos dan Erwin." "Kau tidak tahu kemampuan Ratna." "Aku tahu. Kau sudah menceritakannya. Tapi kau sendiri bilang sudah punya cara ampuh untuk melawan Rama. Aku akan melakukan hal yang sama. Kita akan bermeditasi dan berdoa bersama, Kak." "Terima kasih, Yas." "Ah, terima kasih melulu. Sudahlah." "Aku menyesal telah menyusahkan orang-orang yang kusayangi." 412 "Seharusnya dia berhenti mengejarmu." "Dia membenciku. Dia juga tahu aku membencinya. Dia ingin aku takut padanya." "Jangan takut. Kak. Kita harus melawannya. Dia tidak akan semudah itu menguasaiku. Aku tidak akan segampang itu berubah seperti Kosmas dan Erwin." Yasmin mengucapkannya penuh percaya diri. Delia bersyukur, tapi ia menganggap Yasmin kurang menyadari kemampuan Ratna. "Kalau begitu aku harus berhati-hati terhadap Hendri," Yasmin menyimpulkan. "Betul sekali. Kalau dia pulang nanti, perhatikan dia baik-baik. Apakah dia bau lagi atau tidak. Juga kelakuannya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tentu. Oh, aku senang sekali ada kau di sini, Kak! Aku senang ada orang yang mendampingiku melawan kejahatan." "Tapi..." "Berjanjilah, Kak. Apa pun yang terjadi jangan pergi meninggalkan kami." "Apa pun yang terjadi?" "Ya. Apa pun yang terjadi." Yasmin menatap Delia dengan permohonan di wajahnya. "Tentu saja, Yas. Tentu saja," jawab Delia. Sepertinya ada perbedaan dengan kasus Kosmas dan Erwin, pikir Delia. Ketika itu mereka sama sekali tidak siap. Sekarang berbeda. Dia dan Yasmin sudah memperhitungkan segala kemungkinan. Yang sangat disayangkannya ia tak bisa mengajak Kosmas dan Erwin untuk berbagi dalam hal itu. *** 413 Beberapa kali Erwin meraih telepon dan sudah pula menekan nomornomornya, tapi setiap kali pula ia meletakkannya kembali. Keinginannya untuk menelepon Yasmin dan Delia hanya sebatas keinginan tapi tak terwujud. Sedang Kosmas lain lagi tingkahnya. Bila berada di kantor ia bengong saja memandangi pesawat telepon. Hanya memandang tapi tak sampai meraih. Bila tiba-tiba berdering ia terkejut bukan main, tapi ragu-ragu mengangkatnya. Setelah berkali-kali berdering dan muncul seseorang yang mengira tak ada orang di kantor, barulah ia mengangkatnya. Setiap dering disangkanya dari Delia. Kalau ternyata bukan, ia menjadi murung. Biarpun sama-sama merasa galau oleh sebab yang sama, keduanya bertahan untuk tidak membicarakannya. Mereka mengalihkan dengan bekerja lebih intens. Kosmas rajin merawat tanaman yang ditinggalkan Delia. Kadang-kadang ia berbicara kepada tanaman-tanaman itu. Tapi tak ada yang tahu atau mendengar apa yang dikatakannya. Akhirnya kamar nomor 5 diisi oleh sepasang pria-wanita yang mengaku suami-istri. Tuan dan Nyonya Hartono. Kunci kamar itu terambil juga

http://inzomnia.wapka.mobi

karena tak ada lagi kunci lainnya yang tergantung. Semua kamar terisi kecuali kamar yang satu itu. Kepergian Delia ternyata menambah kerepotan. Padahal sebelum ada Delia mereka sudah terbiasa dengan kerepotan dan kerja serabutan. Setelah ada Delia suasana kerja menjadi teratur dan menyenangkan. Untuk kembali ke suasana dulu juga tidak mungkin. Delia bukan hanya bisa mengatur, tapi juga membantu hampir dalam segala hal bila punya waktu untuk itu. Dia tak membeda-bedakan orang. Senyum, tawa, dan kelakarnya memberi keceriaan 414 dan kesegaran. Begitu pula semangatnya yang tinggi. Mereka merasa kehilangan, jadi pendiam, dan seperti kekurangan darah. Ada yang bertanya kepada Kosmas apakah Delia akan kembali. Tapi jawabannya adalah bentakan. Maka tak ada lagi yang bertanya. Mereka hanya berbicara di belakang. Mereka yakin, hubungan Kosmas dengan Delia sudah putus karena kelakuan Kosmas bagai orang patah hati. Padahal mereka sudah meyakini dan merasa pasti bahwa tak lama lagi akan ada pernikahan di antara keduanya. Lalu muncul isu bahwa penyebab putusnya hubungan itu adalah Erwin. Si adik ini iri hati lalu melancarkan hasutan hingga hubungan itu retak dan akhirnya pecah. Sudah bukan rahasia lagi bahwa keakraban abang-adik ini sangat menonjol. Mereka pun punya riwayat percintaan yang unik. Kalau satu dapat pacar, lainnya dapat juga. Tapi kalau satu putus, yang lain pun begitu. Padahal Erwin itu jauh lebih tampan dibanding abangnya. Tidak susah baginya mendapat pacar. Erwin bisa merasakan adanya omongan tak sedap tentang dirinya. Ia tak bisa membantah apalagi marah karena ia tidak mendengar sendiri. Ia hanya merasakan sikap dan tatapan dingin para karyawan kepadanya. Tentu saja itu sangat tidak menyenangkan. Tapi ia tidak bisa berbuat lain kecuali pura-pura tidak melihat dan mendengar. Saat bermeditasi, ia kerap teringat pada Delia dan Yasmin. Sulit menghilangkan keduanya dari pikiran. Kedua wanita itu seperti berlomba menguasai pikirannya. Biarpun sulit dan lama, akhirnya Erwin berhasil

http://inzomnia.wapka.mobi

juga mengosongkan pikiran. Ada ketakutan kalau ia membiarkan dirinya dikuasai maka ia akan kalah. Ia akan diperbudak seumur hidupnya. Ia bukan lagi 415 orang yang merdeka jiwa dan raga. Bukan cuma iblis yang ingin memperbudak manusia, tapi juga manusia terhadap sesamanya. Erwin tak menyadari, semakin sering ia melakukan hal itu, semakin jauh ia dari kedua orang yang sebenarnya ia sayangi itu. Ia lupa bahwa dengan mencintai seseorang sesungguhnya ia bukan lagi orang yang bebas, karena pikiran dan jiwanya dibebani dan dibagi dengan orang yang ia cintai. Cinta membuat orang tak lagi egois. Seharusnya begim. *** Tidak sulit bagi Hendri untuk menemukan Jl. Angsana nomor 2. Rumah itu terletak di tepi jalan yang cukup besar, bukan di tengah gang yang berliku-liku. Ia merasa surprise melihat Ratna berdiri di balik pintu pagar melambai-lambai ke arahnya. Setelah ingat siapa Rama, ia merasa tak perlu heran lagi. Ratna sudah tahu perihal kedatangannya. Begitu masuk ke dalam rumah dan pintu ditutup, Rama langsung memeluk Hendri dengan dekapan yang kuat. Disusul dengan ciuman bibir yang lekat. "Sabaaar... sabaaar...," kata Hendri sambil tertawa. Padahal pelukan dan ciuman itu saja sudah membuatnya terangsang. Tiba-tiba ia melihat seorang perempuan ma di ambang pintu sebelah dalam rumah, berdiri mematung memandanginya. Wajahnya menampakkan kejutan luar biasa. Hendri pun terkejut karena melihatnya setelah-beberapa saat kemudian. Entah sudah berapa lama perempuan tua itu berdiri di sim. Hendri cepat-cepat melepaskan pelukan. Dari ekspresi perempuan tua itu rasanya ia telah melakukan sesuatu yang memalukan. 416 Ratna menoleh karena posisinya membelakangi. Wajahnya segera memperlihatkan kegusaran. "Hei! Ngapain kamu di sim? Masuk sana!" bentaknya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Perempuan ma itu, Ipah, disadarkan. Dari semula kaget dan heran, ekspresinya berubah takut, lalu ia lari ke belakang. "Dia pembantuku, Ipah. Pasti dia sangat heran melihatmu. Dia belum pernah melihat lelaki memeluk dan menciumku." Rama tertawa geli. "Sejak kapan kau pindah ke sini? Katanya tinggal di Cianjur," kata Hendri. "Baru beberapa hari. Di Cianjur aku tinggal sama saudara. Kalau di sini sendiri sama pembantu yang tadi itu. Jadi kita bebas." "Bagaimana jimat yang kaujanjikan itu? Sudah jadi?" "Kalau sudah, kau mau pulang sekarang juga?" Hendri termangu. Apakah itu pertanyaan atau perintah? Tentu saja ia tak mau segera pulang. Ada waktu yang bisa dimanfaatkan. "Nggak dong," ia menjawab. "Nginep?" tanya Ratna. "Boleh?" "Tentu saja!" seru Rama. Bahkan ia segera melompat duduk di sisi Hendri. Tangannya langsung meraba selangkangan Hendri lalu menarik ritsleting celananya! Hendri melenguh seperti sapi! 417 BAB 39 Sekitar jam sepuluh malam itu Kosmas mendapat giliran jaga. Ia merapatkan pintu kantor setelah memasang karton bertulisan "KAMAR PENUH" pada kaca pintu sebelah luar. Kerjanya menjadi lebih ringan karena tak perlu menerima tamu. Ia hanya berjaga kalau-kalau ada tamu memerlukan sesuatu. Ia mengisi waktu dengan menonton televisi. Lalu terdengar gedoran keras di pintunya dan suara teriakan perempuan bernada histeris. Ia melompat dan membuka pintu. Tampak sepasang perempuan dan lelaki dalam pakaian tidur berdiri dengan wajah resah. Kosmas tak segera mengenali.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ada apa. Pak?" tanyanya seramah mungkin. Padahal perasaannya tidak enak. "A...a...da se...se...tan!" kata yang perempuan. Suaranya gemetar. "Di mana, Bu?" tanya Kosmas terkejut. Ia jadi ikut takut. Perempuan itu tidak bersandiwara. "Di kamar nomor lima, Pak!" seru yang lelaki dengan suara melengking. "Oooh, Bapak dan Ibu Hartono," kata Kosmas. "Tenang dulu. Mari masuk." Kosmas membimbing kedua tamunya masuk kantor dan menyilakan mereka duduk. Kursi hanya ada dua. Ia sendiri berdiri saja. Dari pengalaman ia 418 sudah tahu bagaimana menenangkan orang biarpun perasaannya sendiri gelisah. Ia mengambil air putih untuk kedua tamunya. "Minum dulu, Bapak dan Ibu. Saya akan panggil adik saya dulu ya." Nyonya Hartono menahan lengan Kosmas. "Jangan tinggalkan kami, Pak," katanya. Tiba-tiba kelihatan panik lagi. "Tenang, Bu. Saya nggak pergi. Pakai ini kok," Kosmas menunjuk interkom. "Di sini kok dingin, ya?" kata Nyonya Hartono, merapatkan tubuh pada suaminya. Ia memandang berkeliling. "Iya. Nggak nyaman di sini," balas Hartono. Ia merangkul istrinya. Kosmas memandang mereka sejenak sebelum memutar nomor kamar Erwin dan Adi berturutan. Untunglah keduanya bisa cepat dibangunkan. Mereka datang hampir bersamaan. Wajah keduanya tampak kusut oleh kantuk dan kejutan. "Nah, sekarang kami bertiga," kata Kosmas. "Coba dijelaskan situasinya, Pak." Hartono menggeleng. Matanya jelalatan ke seputar ruangan. Ketakutan masih tampak di wajahnya. "Nggak mau di sini," katanya. "Ya. Jangan di sini," Nyonya Hartono membenarkan. "Kenapa?" tanya Erwin heran.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Di sini nggak... nggak nyaman!" Kosmas, Erwin, dan Adi berpandangan. Mereka ikut-ikutan memandang seputar ruangan. Tapi tak melihat sesuatu yang ganjil. "Kita ke ruang makan saja," Erwin mengusulkan. "Biar Adi tetap di sini menjaga." 419 Adi terpaksa setuju meskipun ia sangat ingin ikut Di ruang makan mereka duduk berhadapan. Kedua tamu sudah lebih tenang setelah memandang berkeliling dan memastikan ruangan itu cukup "nyaman". "Mulanya sih nggak ada apa-apa. Biasa-biasa aja," Hartono mulai dengan ceritanya. "Sebelum tidur kami bercinta. Mulai terasa ada yang aneh. Tiba-tiba saja tercium bau yang nggak enak. Pastinya bukan dari tubuh kami. Kayaknya dari ruangan sekitar. Entah masuk dari mana. Lalu ada suara ketawa mengikik. Ih, menyeramkan. Bulu kuduk kami berdiri. Itu masih belum cukup. Kami melihat bayang-bayang melintas. Sepasang mata tajam mengawasi. Muncul sekejap lalu samar dan lenyap. Yang paling menyeramkan adalah rabaan pada tubuh saya, tapi yang pasti bukan oleh tangan istri saya. Kemudian rabaan itu menjadi kurang ajar, karena meremas-remas... eh, anu saya. Maaf. Memang seperti itu kok. Lalu kami kabur." Kosmas dan Erwin terkejut bukan main. Pengalaman tamu seperti itu adalah yang pertama sepanjang sejarah berdirinya motel mereka. Tak pernah ada setan dan sejenisnya. Tapi yang mengejutkan mereka bukan hanya itu. Masalah bau yang dikemukakan Hartono itu mengingatkan mereka akan bau yang dulu tercium di kamar itu juga. Bau yang ditinggalkan oleh tamu bernama Ratih. Kesamaan itu pun menghilangkan dugaan buruk kalau-kalau Hartono mengada-ada, sengaja mengarang cerita dengan tujuan memeras atau menjelek-jelekkan motel. Sikap Kosmas dan Erwin yang tak segera memberi komentar ternyata membangkitkan kecurigaan Hartono. "Jangan-jangan kamar itu memang angker ya! 420

http://inzomnia.wapka.mobi

Apa pernah ada yang mati di sim? Bunuh diri? Kenapa kami dikasih yang itu?" tanya Hartono. "Bukan begitu, Pak," sahut Erwin. "Kami kaget karena belum pernah mengalami yang seperti itu." "Jadi cerita saya dianggap bohong?" tanya Hartono. "Tentu saja nggak, Pak. Kami percaya," kata Kosmas. "Nah, gitu dong. Buat apa sih kami bohong." "Masalahnya, semua kamar sedang penuh. Jadi nggak ada kamar lain yang bisa digunakan Bapak dan Ibu," kata Kosmas. "Im nggak masalah," sahut Hartono. "Kami mau keluar malam ini juga. Masih banyak hotel lain." "Silakan saja, Pak," kata Erwin ramah. "Tapi saya minta uang saya dikembaliin, Pak. Saya sudah rugi mental." "Tentu saja, Pak. Im wajar. Kami juga mohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian itu. Sungguh kami tidak sangka apalagi menginginkan," kata Erwin. Sikap pemilik motel yang merendah bisa meredakan kegusaran Hartono. Kemudian ia minta diantar dan ditemani ke kamar untuk berkemas. Di kamar nomor 5, sementara Hartono dan istrinya membenahi barangbarang mereka, Kosmas dan Erwin memandang berkeliling. Sambil berbuat begitu mereka berusaha menajamkan indra mereka. Tapi tak ada yang terasa aneh. Bau pun tak tercium. "Sudah pergi," kata Hartono. "Ya. Udah nggak ada lagi," istrinya menimpali. Kosmas dan Erwin hanya mengangguk. Mereka tak ingin mendiskusikan hal itu. Meskipun barang-barang Hartono hanya sedikit, mereka membantu membawakannya ke mobil. Sikap 421 mereka telah melunakkan hati Hartono. Ia menjadi lebih simpatik. "Tadi saya bener-bener nggak bohong lho. Saran saya, sebaiknya kamar itu dijampi-jampi dulu. Panggil dukun atau paranormal. Kalau langsung

http://inzomnia.wapka.mobi

dikasih tamu lagi, bisa terulang kejadian yang sama. Nanti nama motel ini bisa rusak. Orang akan takut menginap di sini." "Terima kasih, Pak. Maaf sekali lagi." Kosmas dan Erwin membungkuk dalam-dalam, melepas Kepergian tamu mereka. Sesudah itu keduanya buru-buru kembali ke kamar nomor 5. Di sana mereka kembali memeriksa dengan cermat. Tapi sekali lagi mereka tak merasakan atau menemukan apa-apa. "Aku yakin dia tidak bohong," kata Erwin. "Apa karena ada bau itu?" tanya Kosmas. "Ada persamaannya. Tapi belum tentu baunya sama." "Perasaanku kuat sekali, Bang. Lagi pula mereka benar-benar ketakutan tadi." "Ya," Kosmas membenarkan. Dialah yang menerima kedua tamu itu saat mengadu pertama kali. Keduanya duduk di tempat tidur. Termangu, saling memandang, mencoba menemukan jawaban di wajah masing-masing. Kosmas bicara duluan. "Delia," katanya. Singkat tapi bermakna. "Nenek sihir," sambung Erwin. "Delia benar." "Iya." Hanya itu kata-kata yang diucapkan keduanya. Lalu Kosmas keluar untuk kembali ke kantor menggantikan Adi. Erwin tetap di kamar itu. Tak lama kemudian Adi 422 datang. Ia sudah mendapat cerita singkat dari Kosmas. Adi ingin membuktikan apakah suasana di kamar nomor 5 itu memang menyeramkan atau tidak. Ia sepakat dengan Erwin bahwa tamu tadi pastilah mengada-ada karena pada kenyataannya tak ada apa-apa di situ. Mesti ada maksud tersembunyi. Orang berbisnis selalu berupaya saling menjatuhkan dengan cara wajar atau tidak wajar. Sebagai karyawan, Adi memang perlu ditanamkan keyakinan itu. Kalau dia sampai tahu semuanya, pastilah akan menimbulkan kehebohan di antara karyawan lain. Bisa jadi sebagian atau semuanya akan angkat kaki

http://inzomnia.wapka.mobi

karena ketakutan. Hal itu akan menyulitkan karena sebagian besar karyawan sudah lama bekerja dan terbukti kemampuannya. Setelah merasa puas, Adi memutuskan untuk melanjutkan tidurnya. "Ya. Pergilah tidur," kata Erwin. "Aku sendiri mau tidur di sini." "Oh ya? Berani, Pak?" "Harus dong. Aku kan mau membuktikan." "Perlu ditemani, Pak?" tanya Adi. Dia hanya berbasa-basi. Sesungguhnya dia tidak ingin. "Ah, jangan. Nggak usah." "Besok cerita ya, Pak?" "Beres. Nanti kasih tahu Pak Kosmas bahwa aku mau tidur di sini, ya?" Kemudian Erwin merapatkan, pintu. Untunglah hiruk-pikuk itu tidak membuat tamu lain keluar dari kamar masing-masing. Bila hal itu terjadi, bisa berarti musibah. Ia tidak bermaksud tidur di ranjang yang barusan ditiduri pasangan Hartono. Ia bersila di lantai untuk bermeditasi. Entah berapa lama ia tak bisa memper423 kirakan. Kakinya sudah kesemutan. Ia lebih mudah berkonsentrasi sekarang. Tak ada yang aneh. Tak terasa dingin di tengkuk. Sangat biasa. Baginya itu merupakan indikasi bahwa kamar itu "bersih". Ataukah baru sekarang "bersih" sedang tadi tidak? Mungkinkah tergantung pada siapa yang menempati kamar? Erwin punya perkiraan bahwa si nenek sihir, yang diduga sebagai penyebab, pasti segan kepadanya. Ia bukan jenis orang yang akan lari tunggang-langgang kalau mendapat gangguan. Ia akan melawan. Seperti Delia. Ah, Delia. Yasmin. Sekarang ia membiarkan kedua orang itu memasuki pikirannya. Ia tidak lagi mengusir pemikiran tentang mereka, Ia merindukan mereka dengan segenap jiwa-raga. Ternyata dengan melakukan hal itu ia jadi merasa tenteram. Ia merasa bahagia mengenang semua kasih sayang dan perhatian yang pernah diterimanya. Dari ibunya, Kosmas, Delia, dan mungkin juga Yasmin pada suatu hari nanti. Ia bagaikan, tanaman kering

http://inzomnia.wapka.mobi

yang mendapat siraman air hujan secara mengejutkan tapi menyenangkan dan menguatkan. Akhirnya Erwin menjatuhkan badannya ke belakang, rebah ke lantai. Kakinya yang kaku perlu diluruskan pelan-pelan. Ia memejamkan mata dan sesaat melupakan tujuannya berada di kamar itu. Ketika membuka mata, ia merasa air mata mengaliri pelipis dan pipinya. Air mata yang menyadarkan. Ia melompat bangun. Tubuhnya terasa ringan. Semangatnya membubung tinggi. Ia disadarkan bahwa seharusnya ia memeriksa kamar itu lebih cermat. Bila Ratna sudah lama pergi, kenapa pengaruhnya masih saja ada? Bukankah seharusnya wanita itu 424 hanya bisa memengaruhi orang-orang yang dekat, yang kenal, dan punya hubungan keluarga dengannya? Pemikiran seperti itu tadinya tak pernah muncul. Yang mendominasi adalah kekesalan dan kesinisan kepada Delia, Kosmas, dan Yasmin. Perasaan-perasaan yang memblokir pikiran hingga tak bisa berkembang, tak bisa jernih. Cupet dan buntu. Ia memang sudah pernah memeriksa kamar itu bersama Delia pada hari penghuninya pergi. Tapi saat itu mereka hanya memeriksa tempattempat yang terlihat seperti lemari, laci, kolong ranjang, dan di bawah kasur. Sekarang, di samping memeriksa lagi tempat yang terlihat, ia juga memeriksa tempat-tempat tersembunyi, mengamati dan menjelajahi dengan ujung-ujung jarinya. Kalau ada benda yang dimasukkan atau disembunyikan tentunya teraba, atau pada tutupan kain ada bekas bukaan dan jahitan baru. Sudut-sudut lemari, laci, kolong lemari, dan di atas lemari tak luput dari pengamatan dan pemeriksaan. Demikian pula kusen jendela, pintu, lubang angin, dan segala tempat yang memungkinkan penyusupan benda kecil. Yang tergambar di benaknya adalah benda kecil yang biasa digunakan pemakai ilmu gaib sebagai jimat. Ia sudah tahu dari orang-orang yang biasa berkecimpung di bidang itu. Benda seperti itu idealnya harus kecil supaya mudah disembunyikan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Maka dengan giat ia mencari ke segala pelosok sampai ke tempat yang tampaknya mustahil. Akhirnya ia sampai ke kamar mandi. Di tempat inilah ia berhasil. Ia menemukan sebuah benda pipih dari kain putih, lebih besar sedikit dari teh celup, diselipkan di celah antara plafon dengan dinding. Ada kerenggangan di sim. Lalu ia teringat akan kereng425 gangan serupa di plafon atas tempat tidur yang menempel ke dinding. Ia mencari ulang di sana dan ternyata menemukan lagi sebuah! "Gila! Sampai dua!" serunya. Ia memeriksanya lebih cermat. Benda pipih itu mengandung isi. Kalau ditekan dan digosok-gosok terasa berkeresek seperti sesuatu yang kering. Ia tidak ingin mengamatinya berlama-lama. Takut nanti malah memengaruhinya. Biarpun yakin bisa melawan, sebaiknya ia tidak mengambil risiko. Ia memasukkannya ke dalam saku lalu buru-buru keluar. Mungkin saja yang lainnya masih bisa ditemukan. Tapi itu bisa dilakukan belakangan. Yang penting ia harus memusnakan apa yang sudah diperolehnya. Saat itu sudah jam dua dini hari. Tak terasa waktu berlalu. Ia merasa sangat lelah. Ketika berjalan di lorong menuju kantor, ia merasa dingin. Angin malam menerpanya. Tapi ia merasa itu bukan melulu disebabkan oleh angin. Sepertinya ada kemarahan yang mau merobeknya. Tapi ia tak peduli. "Ada apa?" tanya Kosmas dengan wajah kusut. "Lihat ini! Aku menemukannya!" seru Erwin. "Apa ini?" Kosmas mengamati kedua benda putih di atas meja dengan perasaan jijik. "Jimat si nenek sihir! Dia adalah Ratih atau Ratna. Perkiraan Delia memang benar, Bang!" "Mau diapain itu, Win? Dibuang?" "Dibakar! Biarlah aku membakarnya di dapur. Aku ingin menunjukkannya dulu padamu supaya kau tidak menganggapku berbohong. Ini juga bukti bahwa Delia nggak bohong." Erwin pergi meninggalkan Kosmas termangu.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Del..., maafkan aku," gumam Erwin. Tak lama kemudian Erwin kembali. "Sudah beres," 426 katanya. "Aku sudah membakarnya menjadi abu, lalu membuangnya ke dalam kakus." "Apa sekarang kita sudah bebas?" tanya Kosmas. "Entah. Tapi kayaknya belum. Kau ingat kelakuan kedua tamu kita tadi? Mereka ketakutan di sini. Katanya di sini nggak enak, nggak nyaman. Jangan-jangan di sini juga ada. Aku ingat waktu nenek sihir itu datang untuk check in, aku sempat meninggalkannya sebentar. Aku hanya keluar untuk melihat apakah ada orang yang bisa kusuruh. Paling juga satu menit. Dia sedang berjongkok membereskan tasnya yang terbuka. Nih, di sini," Erwin menunjuk bagian depan meja. "Saat itu dia pasti memiliki kesempatan untuk menyisipkan benda itu. Tentunya nggak mungkin jauhjauh dari sini. Di mana menurutmu yang paling mungkin?" "Ayo kita cari!" seru Kosmas bersemangat. Mereka mencari di atas meja. Di sela-sela kertas dan buku, di bawah buku dan kertas-kertas, di dalam tempat pensil. Yang satu mengangkat komputer, yang lain mengamati bawahnya. Di atas meja tidak ditemukan. Kemudian Erwin berjongkok di tempat ia melihat Ratna dalam posisi sama. Tatapannya tertuju ke kolong meja. Kolong itu sangat rendah karena mejanya tak punya kaki. Jadi sapu dan kain pel Sulit mencapainya. Dengan sebuah penggaris besi panjang, Erwin menyodok kolong dari satu sisi lalu menyapunya ke luar di sisi yang lain. Keluarlah berbagai benda berikut kotoran. Ada kecoa kering, remah-remah makanan, bolpoin, pensil dan... sebuah benda putih! "Itu dia!" seru Kosmas lalu menyambar benda putih itu. Mereka memerhatikan. 427 "Sama, kan?" tanya Erwin. "Persis!" "Benar kan dugaanku?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Biar yang satu ini aku yang bakar," kata Kosmas. Ia pergi membawa benda itu. Erwin masih terus mencari tanpa kenal lelah. Semangatnya bertambah setelah tadi berhasil menemukan. Ia mencari di semua tempat dan pelosok termasuk yang paling kecil kemungkinannya. Ia juga naik ke atas kursi untuk memeriksa plafon. Padahal hampir tak mungkin Ratna punya waktu dan kesempatan untuk menyembunyikannya di sana. Kosmas melampiaskan kemarahannya dengan membakar benda kecil itu. "Pergilah kau, iblis! Dan jangan ganggu kami lagi!" Sesudah itu ia teringat sesuatu. Ia berdoa. Ia menyesal karena sempat melupakan-Nya. Seharusnya ia melawan kekuatan hitam itu dengan minta bantuan-Nya. Tapi ia tidak melakukan apa-apa dan membiarkan saja. Bahkan merasa lebih enak begim. Seperti orang malas, biarpun jelas ada yang tidak beres tapi tidak mau capek-capek berusaha untuk mengatasi. Sebegitu bodohnya. Tentu sekarang sudah jelas bahwa ia diperbodoh tanpa sadar. Tapi seharusnya ia masih punya sedikit akal sehat. Bahkan ia pun punya cinta. Sebegitu dangkalnyakah cintanya itu? Ia malu kalau ingat akan perbuatannya kepada Delia malam itu. Mungkin ia juga bisa melemparkan kesalahan kepada iblis yang merasukinya karena pada saat itu benda laknat tersebut sudah berada di kolong meja. Tapi seharusnya ia juga memiliki kendali diri. Padahal sesudah itu ia malah marah kepada Delia. 428 Erwin datang dengan rupa khawatir. "Lama amat, Bang? Kenapa?" "Nggak apa-apa. Aku berdoa dulu." "Sudah dibakar, kan?" "Tentu saja. Gimana pencariannya?" "Bersih. Nggak ada lagi. Tapi kamar nomor lima masih perlu diperiksa. Sementara jangan dikasih tamu dulu." Bersama mereka kembali ke kantor. "Besok kita harus nelepon, Bang." "Tentu saja," sahut Kosmas tanpa menanyakan siapa yang harus ditelepon.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apa kaupikir sebaiknya kita datangi saja, Bang?" "Wah, itu lebih bagus lagi." "Sekarang kita pikirin dulu apa yang mau dibicarakan." "Ah, nggak usahlah, Win." "Apa bisa?" "Bisa aja. Nanti akan mengalir dengan sendirinya." Keduanya berpandangan sambil tersenyum. Kekakuan di antara mereka sudah mencair. Erwin melihat optimisme di wajah Kosmas. Memang sepatutnya Kosmas optimis dan gembira. Hubungannya dengan Delia sudah memiliki kepastian. Berbeda dengan hubungan dirinya dengan Yasmin yang sepertinya tak punya prospek. Tapi kali ini Erwin tidak merasa iri. 429 BAB 40 Malam itu Ratna berbaring di sisi Hendri yang sudah tertidur pulas. Dengkurnya kedengaran nyaman sekali. Dengkuran yang bukan disebabkan salah posisi atau kelainan kerongkongan, tapi merupakan dengkur kepuasan. Tapi Ratna tidak merasa terganggu oleh bunyi itu. Sebaliknya, ia suka sekali. Dengkur lelaki, bau tubuh lelaki, dan segala sesuatu yang berasal dari lelaki kini berada di sampingnya. Bahkan miliknya. Ia bisa menikmati semuanya. Ia juga memuaskan dahaganya selama puluhan tahun. Libidonya hanya terpendam oleh faktor usia dan situasi, tapi tak mati. Itu tersimpan bagai gunung berapi yang hanya menunggu saat tepat untuk meledak dengan dahsyat. Tuannyalah yang telah mempertemukan dirinya dengan Hendri sebagai orang yang tepat untuknya. Tidak ada lelaki lain yang lebih cocok untuknya selain Hendri. Mustahil ia bisa bertemu sendiri dengan Hendri kalau tidak dibantu oleh sang Tuan. Jadi kepada sang Tuan-lah ia berterima kasih. Ia membelai kepala Hendri dengan perasaan sayang sekali. Dulu ia juga pernah mengenal rasa sayang kepada suami dan anak-anak serta cucu. Tapi yang dirasakannya sekarang ini berbeda. Yang dulu itu" sekarang sudah tak ada lagi. Pernah punya tapi sekarang tidak lagi.

http://inzomnia.wapka.mobi

430 Hendri melenguh lalu berbalik memunggunginya. Punggungnya yang telanjang tampak berkilat. Punggung yang perkasa. Jari-jari Ratna mengusap pelan. Bagai mainan yang disayangi, maka Hendri harus dijaga dengan baik dan hati-hati supaya tidak rusak. Kalau sampai rusak dan tak bisa memberi kenikmatan lagi, jelas tak ada gunanya. Hendri adalah miliknya. Sementara dirinya adalah milik sang Tuan. Jadi masing-masing punya milik sendiri-sendiri. Tapi tentu saja Hendri tidak memahami hal itu. Bagi Ratna, keinginan Hendri untuk bercinta dengannya sudah menandakan penyerahan diri. Andaikata Hendri tahu sebelumnya tentang hal itu, maukah ia bercinta dengannya? Mungkin tidak. Tapi rasa keberatannya pasti tipis dan rapuh. Hendri dan dirinya adalah jenis orang yang sama. Buat mereka berdua, tujuan hidup adalah kenikmatan. Tiba-tiba ia merasakan getaran dalam dirinya. Lalu terdengar suara sang Tuan yang hanya bergaung di benaknya. Sang Tuan memberitahu tentang proyeknya yang gagal di Motel Marlin. Jimatnya sudah ditemukan. Berarti pengaruhnya tak ada lagi di sana. Bibir Ratna mengerucut karena amarah. Tapi tak lama kemudian bibir itu menyunggingkan senyum. Bila itu terjadi, Delia pasti kembali ke Motel Marlin. Dengan demikian dia tak lagi jadi penghalang bagi Hendri. Sebenarnya Ratna sudah tidak peduli lagi kepada Delia. Sejak Delia datang dan menyerahkan uang, ia sudah menganggap Delia menyerah. Tapi sang Tuan menginginkan ia tetap menghancurkan Delia. Bagusnya adalah kalau Delia melanjutkan usaha bunuh dirinya yang dulu batal dia lakukan. Dan lebih bagus lagi kalau Yasmin pun melakukan hal yang sama. 431 "Tapi aku tak bisa lagi menjangkau Delia, Tuan. Dia memang sempat lemah. Tapi sekarang sudah kuat. Lebih kuat dari dulu." "Yasmin?" "Itu tergantung pada Hendri. Aku akan berusaha menggarapnya." "Lakukanlah. Jangan keenakan sendiri. Ingat, kau belum melakukan apaapa untukku."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Beres, Tuan! Beres!" Ratna tidak mengenal Yasmin. Tapi dari cerita Hendri yang suka meremehkan istrinya, ia menyimpulkan bahwa Yasmin orang yang lemah. Dulu motivasi bunuh dirinya itu dangkal sekali. Jauh berbeda dengan Delia. Baru menderita sedikit sudah tak mau hidup. Kalau saja Yasmin tidak bertemu dengan Delia, pasti nyawanya sudah jadi milik sang Tuan, begitu keyakinannya. Kalau tidak, kenapa sang Tuan menginginkan Delia dan Yasmin bunuh diri? Ratna memang tidak bernafsu lagi mengejar Delia. Di samping merasa sulit, ia tak punya motivasi kuat lagi untuk itu. Uang sudah ia peroleh. Tampaknya urusan uang tak akan jadi masalah baginya karena anakanaknya yang ketakutan tidak keberatan memenuhi segala kebutuhannya. Demikian pula motivasi mengoleksi emas berlian sudah tersingkir oleh yang lainnya, yaitu seks! Tapi ia tidak boleh mengecewakan sang Tuan. *** Bi Ipah sudah menyiapkan sarapan. Lalu ia membersihkan rumah. Saat itu sudah cukup siang, hampir jam sepuluh. Tapi majikan dan tamunya belum juga keluar dari kamar. Berkali-kali sambil lewat ia me432 mandang ke arah pintu. Tapi tak berani lama-lama. Ia takut kalau tibatiba Ratna membuka pintu tanpa kedengaran. Malah jangan-jangan bisa keluar tanpa membuka pintu! Kemarin, saat terkejut melihat Rama berpelukan dan berciuman dengan tamunya dan sampai lupa bahwa ia memandang kelamaan, ia mendapat bentakan yang mengejutkan. Begitu besar kejutannya hingga ia terkencing-kencing! Belakangan Ratna menghiburnya sambil minta maaf, tapi ia tak bisa melupakan ketakutannya. Ia tahu, Ratna buru-buru menghiburnya karena khawatir ia angkat kaki. Bahkan Ratna memberinya uang. Cukup menghibur meskipun tak bisa menghilangkan traumanya. Sebenarnya Ipah memang takut berada bersama Ratna berdua saja dalam satu rumah. Dulu ada banyak orang di rumah Rama. Tapi ia tidak

http://inzomnia.wapka.mobi

berani menolak ketika diajak Ratna. Ia sudah tahu dan mengenal siapa Ratna. Bila kepada anggota keluarganya saja Rama berlaku tega, bagaimana pula dengan dirinya yang bukan siapa-siapa. Tapi Ratna meyakinkan dirinya bahwa ia aman-aman saja dan menjamin tidak akan "menyentuhnya". Di samping itu Ratna menaikkan gajinya berlipat ganda. Untuk itu Ratna meminta kesediaannya untuk tidak peduli pada apa pun yang terjadi di rumah itu dan tentu saja tidak boleh bicara pada siapa pun mengenai hal-hal yang dilihat dan dialaminya. Ipah sama sekali tidak keberatan untuk berjanji. Ia memang tidak suka banyak bicara. Baru beberapa hari menempati rumah itu majikannya sudah mendapat pacar! Heboh betul perasaan Ipah. Rupanya majikannya itu manusia biasa juga, pikirnya. Saat Ratna dan Hendri menikmati sarapan, Ratna 433 menyuruh Ipah ke pasar. Maksudnya supaya ia bisa bicara leluasa dengan Hendri. "Apa kau nggak kesepian tinggal sendirian di sini?" tanya Hendri. "Ah, justru enak sendirian" "Berapa anakmu? Apa mereka tidak suka ke sini?" "Jangan ngomongin soal keluarga. Tentu aku punya keluarga. Tapi aku nggak mau ngomongin mereka." Bagi Hendri, keluarga Ratna memang bukan urusannya. Tapi kadangkadang muncul juga keingintahuannya. Ia melihat perabot serba antik. Ada yang masih bagus, tapi ada juga yang sudah agak rombeng. Apakah keantikan perabot rumah juga menandakan "keantikan" pemiliknya? Ia tidak pernah bisa memperkirakan umur Ratna. Sedang Ratna sendiri pantang ditanya soal umur. Kalau saja ia bisa tahu berapa anak Ratna dan berapa usia mereka, ia mungkin bisa membuat perkiraan. Tentu saja soal umur Ratna bukan pula urusannya. Yang penting bukan umur. Tapi beberapa kali ia merasakan adanya keganjilan. Ada sesuatu yang tidak seimbang. Kadang-kadang omongan Ratna terkesan ketinggalan zaman. Ratna bukan pula jenis perempuan yang suka olahraga, senam, atau yang lain. Bagaimana caranya ia bisa memiliki

http://inzomnia.wapka.mobi

tubuh yang begim lentur dan kenyal, tanpa lemak dan selulit? Untuk memiliki tubuh seperti itu banyak perempuan perlu berusaha keras. Dan wajahnya yang halus dan licin itu jelas milik orang yang belum ma. Tapi ada saat-saat Hendri mendapati ekspresi orang yang sudah ma di wajah Ratna, yaitu kedua ujung mulut yang tertarik ke bawah! Pernah ia mengira Ratna menjalani 434 bedah plastik. Tapi ia tidak menemukan bekas-bekasnya. "Baik. Aku nggak akan nanya soal itu lagi," ia berjanji. Memang apa pedulinya? "Nggak ngambek, kan?" "Nggak. Masa gitu aja ngambek." "Syukurlah kalau nggak. Aku takut kau kapok datang lagi ke sini." "Ah, masa." "Kau datang lagi minggu depan, ya?" pinta Ratna. Hendri tertegun. Menempuh jarak Jakarta-Bandung hanya untuk mendapatkan kenikmatan seks rasanya malas juga. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan jimat. Seks adalah sampingan. Ia memang amat suka bercinta dengan Ratna, tapi itu bukan berarti ia mencintainya. Ia melihat Ratna seperti Inem. Hanya sebagai objek. Jadi kalau sudah terpuaskan ya sudah. Tak ada daya tarik lain. Misalnya untuk curhat atau sekadar mengobrol. Ratna bukan orangnya untuk itu. Ia juga tahu bahwa Ratna menganggap Hendri sama. Cuma sebagai objek seks. "Kenapa? Ragu-ragu?" tanya Ratna, menatap tajam. Muncul rasa takut. Bagaimana pula kalau jimat yang dijanjikan itu tidak diberikan? "Ah, masa ragu-ragu. Pengennya sih kau pindah ke Jakarta aja, Rat. Bandung kejauhan." "Lain kali jangan bawa mobil. Capek. Naik kereta api aja. Yang ekspres." Hendri merasakannya lagi. Cara Ratna mengatakan "yang ekspres" itu seperti orang yang tidak banyak memahami situasi. Atau seperti orang tua yang ketinggalan zaman.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya. Nyetir jauh-jauh itu melelahkan." 435 "Sebenarnya untuk kelelahan itu kan ada imbalannya, Hen!" "Oh iya. Tentu saja. Kau memang hebat." Untuk membuktikan kehebatan itu mereka kembali bercinta usai sarapan. Sesudah selesai, mereka mendapatkan Ipah duduk di lantai di samping pintu rumah yang dikunci dari dalam dengan keranjang penuh belanjaan di sampingnya. Kepalanya bersandar ke dinding. Matanya terpejam. Ia tertidur karena menunggu kelamaan! Lalu mereka tidur siang. Kemudian makan hasil masakan Ipah. Sesudah itu mengobrol sejenak. Lalu bercinta lagi menjelang sore ketika tiba saat Keberangkatan Hendri kembali ke Jakarta. Saking seringnya bercinta, seprai sampai basah karena keringat mereka. Hendri jadi ingat pada masalah bau badannya yang diributkan Yasmin. Janganjangan karena keringat yang kebanyakan itu. "Kalau begitu, nanti berendam dulu di bak yang kutaburi bunga. Baru mandi dengan sabun wangi khusus. Pasti kau tidak akan bau lagi," Rama meyakinkan Hendri. Setelah mandi dan berpakaian rapi, Hendri berhati-hati menjaga jarak dari Ratna supaya tidak terangsang lagi. Ia akan kerepotan kalau kembali berkeringat banyak usai bercinta. Itu berarti berendam dan mandi lagi. Kapan selesainya? Lama-lama ia merasa menjadi sapi perah. "Mana itu, Rat?" "Itu apa?" "Ih lupa. Jimatnya dong." "Oh ya. Tentu saja. Sudah kusiapkan kok." Ratna menyodorkan sebuah benda terbungkus kain putih. Kecil dan pipih. 436 "Ini jimatnya?" tegas Hendri. Ia kurang percaya. Dikiranya Ratna membohongi dengan memberikannya teh celup. "Kalau kau kurang percaya, nanti nggak manjur." "Oh, percaya. Percaya." "Simpan baik-baik. Kalau hilang nggak kubuatkan lagi." "Baik. Lalu syaratnya apa lagi, Rat?" Rama berbisik di telinga Hendri. ***

http://inzomnia.wapka.mobi

Boy mengendarai sepedanya sepanjang Jalan Angsana. Ia mengenakan topi pet yang agak kebesaran. Tujuannya memang sengaja supaya tidak gampang dikenali. Begitu mendekati rumah neneknya yang bernomor 2, ia mengayuh pelan-pelan. Tiap hari ia melakukan kegiatan itu. Bukan untuk senang-senang atau berolahraga, melainkan karena disuruh Rama, ayahnya. Biarpun merasa senang karena Ratna memutuskan untuk memisahkan diri, Rama merasa penasaran. Mestinya ada sebab kenapa Ratna melakukan hal itu. Bukankah tinggal di rumah sendiri lebih merepotkan biarpun punya pembantu? Keingintahuan Rama mengalahkan rasa takutnya. Ia tidak mau ikut campur atau berniat mengganggu. Ia cuma ingin tahu. Maka Boy disuruhnya memata-matai. Tak perlu sampai mampir atau masuk ke dalam rumah. Nanti ketahuan. Cukup lewat saja. Rama juga berpesan agar tidak bertanya apa-apa kepada Ipah kalau perempuan itu kebetulan berada di luar. Malah sebaiknya berusaha supaya Ipah tidak mengenali. Beberapa hari lewat tanpa hasil. Boy tidak pernah melihat sesuatu yang lain dari biasanya. 437 Tapi sore itu ia melihat sebuah mobil sedan diparkir di halaman rumah. Ia menghentikan sepedanya dan mencari perlindungan di balik sebatang pohon rindang di tepi jalan. Ia menekan topi petnya lalu memasang mata. Tak berapa lama menunggu, ia melihat seorang lelaki bertubuh tinggi dan berpakaian rapi keluar didampingi neneknya. Ia terkejut karena neneknya menggandeng lengan lelaki itu dengan mesra. Ratna bicara dengan tertawa-tawa riang. Ia mengantarkan lelaki itu sampai ke samping mobil. Lelaki itu memasukkan tasnya ke dalam bagasi kemudian membuka pintu depan mobil. Rama memegangi pintu mobil. Mereka berbincang lagi sebelum pintu ditutup. Boy membelalakkan mata sebesar-besarnya. Meskipun jarak cukup jauh, hari masih terang hingga ia bisa melihat wajah si lelaki. Ia menunggu dulu sampai mobil lelaki itu keluar dari halaman lalu meluncur pergi dan

http://inzomnia.wapka.mobi

Ratna kembali ke dalam rumahnya, baru ia mengayuh sepedanya. Tapi ia tidak mengambil jalan yang melewati rumah Ratna melainkan memutar arah. Siapa tahu Ratna ada di balik jendela mengamati situasi jalanan. Boy pulang membawa berita menghebohkan. "Nenek punya pacar! Cowoknya masih muda dan cakep! Mobilnya pake pelat Jakarta!" Tak lama kemudian berita itu sudah menyebar ke semua saudara Rama. 438 BAB 41 Hari Minggu itu Yasmin dan Delia menunggu kedatangan Kosmas dan Erwin dengan gembira. Sebelumnya Erwin sudah menelepon lebih dulu. Ia menjelaskan apa yang telah terjadi secara singkat. Tentu saja ia menyertakan permohonan maaf karena tak pernah menelepon seperti biasanya. Ia tidak menanyakan apakah dibolehkan datang karena pada hari itu tentunya Hendri ada di rumah. Tapi Yasmin meminta mereka datang karena Hendri sedang ke luar kota. Sengaja ia tidak mengatakan di mana luar kota itu. Erwin menanyakan Delia karena Kosmas mau bicara juga. Tapi saat itu Delia berada di rumah besar menemani Winata. Perlu waktu untuk memanggilnya. Maka Yasmin mengatakan lebih baik Kosmas bicara langsung dengan Delia saja bila sudah berhadapan. "Ternyata dugaanmu semuanya benar, Kak!" seru Yasmin setelah menyampaikan kabar itu. "Erwin memang lebih cermat daripada abangnya," kata Delia gembira. "Aku senang, Kak. Hubunganmu dengan Bang Kos pasti akan lebih erat dibanding sebelumnya." "Semoga begim. Sejak saat ini aku dan dia bisa lebih berhati-hati dalam menilai satu sama lain. Per439 ubahan sikap tidak selalu disebabkan oleh kehendak sendiri."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Mereka pasti akan memintamu kembali ke sana, Kak," kata Yasmin khawatir. Delia tertawa menenangkan. "Bukankah tempatku memang di sana, Yas?" "Aku punya usul, Kak. Sebelum kau kawin dengan Bang Kos hendaknya kau tetap di sini. Biarlah aku dan Papa melepasmu sebagai pengantin. Bagaimana, Kak?" Delia tersipu. "Malu ah. Kalau aku kawin nggak mau ramai-ramai. Tahu diri dong." "Jangan begitu, Kak. Ini bukan soal ramai-ramai. Tapi kan nggak baik kalau belum kawin sudah tinggal serumah." "Aduh, bisa saja kau mencari alasan." "Pikirkan ya, Kak? Jadi kalau nanti mereka menyampaikan soal itu, kau sudah punya jawaban." "Iya deh. Baik." "Papa pasti mendukung ideku, Kak." "Wah, jangan merepotkan papamu." "Sebaiknya sekarang kita beritahu Papa. Supaya kita semua sepakat," Yasmin mendesak. Biarpun merasa malu, terpaksa Delia mengikuti kehendak Yasmin. Ternyata Winata mendukung ide Yasmin itu sepenuhnya. Ia bersemangat sekali. Maka Delia ikut setuju. Ia tak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah menolongnya. Apalagi ide itu cukup baik. Pertemuan berlangsung di paviliun. Sudah diputuskan bahwa Kosmas dan Erwin baru akan diperkenalkan dengan Winata setelah semua permasalahan menjadi jelas. Kosmas memeluk Delia, lalu saling mencium pipi. Erwin dan Yasmin menyaksikan dengan tersenyum. 440 "Maafkan aku, Del," kata Kosmas. "Ya. Sudahlah." "Aku juga minta maaf, Kak," sambung Erwin. "Seharusnya aku bisa mendamaikan kalian. Bukannya menambah panas. Sikapku padamu sungguh kasar. Aku malu sekali." "Sekarang sudah jelas. Itu bukan salah kalian," hibur Delia.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ternyata aku ini lemah," Erwin mengakui. "Semula kukira aku tidak akan gampang dipengaruhi." "Kau bukan lemah. Tapi lengah," kata Delia. "Mungkin aku terlalu percaya diri. Sok." "Ah, nggak juga. Jangan menyalahkan diri sendiri." "Akulah yang benar-benar lemah. Sudah begitu kerasa kepala, lagi," kata Kosmas. "Ya sudahlah. Kita memang tak boleh meremehkan pengaruh seperti itu," hibur Delia. "Tapi kau sendiri tidak terpengaruh, Kak. Kau bisa bersikap wajar," puji Erwin. "Jangan melebihkan, Win. Di situ aku yang jadi korban. Aku sempat takut. Aku jadi sedih, putus asa, dan merasakan berbagai emosi negatif sampai muncul pikiran untuk bunuh diri..." "Apa???" Tiga suara kaget berseru hampir berbarengan. Kosmas langsung merangkul Delia begitu cemasnya sampai Delia tertawa. "Hei, sudahlah. Aku nggak sampai berbuat begitu, kan?" "Niat itu saja sudah mengerikan," kata Kosmas. "Cuma melintas sebentar kok. Aku berdoa. Aku diingatkan, masih punya teman. Yasmin." Yasmin merasa terharu. "Kita saling menolong, 441 Kak. Kau pernah menolongku dan memberiku semangat hidup." "Saat itu kayaknya aku berbuat setengah hati. Aku lebih mendorongmu untuk minta bantuan Kosmas dan Erwin." "Aku mengerti keadaanmu ketika itu, Kak. Kau sedang tidak berdaya dan patah semangat. Tapi kau toh membantuku. Bagiku itu luar biasa!" Yasmin memeluk Delia. Kosmas dan Erwin mengawasi dengan berbagai perasaan. Ada kebahagiaan, tapi masih ada kecemasan. "Ke mana Hendri, Yas?" tanya Erwin. "Bandung," sahut Yasmin sambil melirik Delia. Erwin menangkap isyarat. "Ada apa?" tanyanya. "Kau cerita sajalah," kata Delia kepada Yasmin.

http://inzomnia.wapka.mobi

Yasmin menceritakan semua yang pernah didiskusi-kannya dengan Delia menyangkut Hendri. "Maksudmu ada indikasi mereka saling mengenal dan kepergian Hendri ke Bandung untuk bertemu dengannya?" tanya Erwin. "Ya." "Tapi indikasinya belum begim kuat," komentar Kosmas. "Berdasarkan pengalaman kita, sebaiknya waspada," pendapat Erwin. "Mungkin saja Hendri minta jimat sama nenek sihir mertua Kak Del. Kalau sekarang kita anggap dia sudah mengenal si nenek, mungkin di luar motel seperti perkiraan, maka berhati-hatilah terhadap apa yang dibawanya dari Bandung nanti." "Jimat!" seru Yasmin dengan ekspresi horor. "Betul sekali. Mungkin bentuknya sama seperti benda yang kami temukan di motel." Erwin menggambarkan bentuk jimat tersebut. 442 "Benda itu kecil, jadi gampang disembunyikan tanpa ketahuan. Mungkin pengaruhnya terasa lebih dulu sebelum benda itu berhasil ditemukan. Jadi waspadalah. Rajinlah berdoa, Yas. Kalau pikiran terasa kacau dan tidak wajar, segeralah bermeditasi untuk mengusirnya." "Ya. Aku akan melakukan itu," sahut Yasmin. "Mungkin sebaiknya si Hendri langsung digeledah begitu pulang," kata Kosmas. Tapi usulnya itu dianggap mustahil oleh rekan-rekannya. Termasuk dirinya sendiri. Lalu percakapan sampai pada permintaan Kosmas dan Erwin kepada Delia supaya Delia bersedia kembali ke motel. "Semua orang di sana merindukanmu. Mereka merasa kehilangan," kata Kosmas. "Para karyawan menganggap akulah biang penyebab kepergianmu," kata Erwin. "Sebaiknya aku di sini dulu," sahut Delia. Ia merasa menemukan alasan lain yang lebih baik saat itu. "Aku bisa membantu Yasmin menghadapi kemungkinan buruk dari Hendri. Bukankah sebaiknya begim, Yas?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Oh ya. Tentu saja. Bila ada teman, aku bisa lebih kuat. Kak Del bisa membantuku mencari di mana jimat disembunyikan. Dan dia orang terdekat yang mampu memantau tingkah lakuku." Kosmas dan Erwin berpandangan. Mereka menganggap alasan itu masuk akal. Terutama Erwin yang merasa lebih nyaman bila Yasmin didampingi Delia. Hanya Kosmas agak kecewa karena tak bisa lebih sering berdekatan dengan Delia. Tapi tentu saja ia pun menganggap itu ide yang baik. "Bagaimana tanamanku?" tanya Delia. 443 "Jangan khawatir. Aku merawatnya sendiri," sahut Kosmas. "Dan mengajaknya bicara." sambung Erwin. Kosmas tersipu. Delia tersenyum. Yasmin dan Erwin tertawa. Setelah mencapai kesepakatan, mereka menemui Winata. Delia mengenalkan Kosmas sebagai calon suaminya. Kemudian mereka berbincang. Winata bertanya banyak mengenai bisnis motel. Bersemangat sekali. Pengetahuannya cukup mencengangkan bagi kedua orang pemilik Motel Marlin. Winata bisa memberi masukan lumayan bagi motel mereka. Winata menganjurkan agar motel itu tetap dipelihara dan dikembangkan sebagai motel. Jangan dijadikan hotel besar. "Jakarta sudah penuh hotel. Di segala pelosok ada hotel," katanya memberi alasan. Kosmas dan Erwin mengangguk-angguk seperti sedang menerima perkuliahan. Sementara Delia dan Yasmin mendengarkan saja. Yasmin senang melihat ayahnya begitu bersemangat. Setelah sakit dan mundur dari kegiatan bisnisnya lalu hanya menjadi salah satu pemegang saham, Winata semakin jarang dikunjungi teman-temannya termasuk mantan rekan bisnisnya. Dia merasa dirinya tidak berharga lagi dan tak ada. yang mau mendekat. Tak ada lagi yang memerlukan petunjuk atau nasihatnya. Dia sudah dilupakan. Yasmin mengetahui hal itu dari Aryo. Menurut cerita Aryo yang lain, pernah ada beberapa teman Winata menelepon untuk menanyakan kabar Winata. Mereka tidak bermaksud bicara dengan Winata, tapi hanya

http://inzomnia.wapka.mobi

memerlukan keterangan Aryo. Menanggapi hal itu Winata berkata dengan gusar, "Lain kali bilang 444 saja aku sudah mati, Yo! Mereka bukan mau memberi perhatian, tapi cuma mau ngecek apa aku masih hidup atau sudah mati!" Mungkin juga persangkaan negatif Winata itu tidak sepenuhnya benar. Orang yang stres memang lebih mudah berprasangka buruk. Mungkin juga teman-teman Winata segan menjenguk atau bertemu langsung karena kondisi dan sikap Winata sendiri menimbulkan perasaan tidak enak. Sesudah pamitan dari Winata, mereka kembali ke paviliun. Kosmas bertanya kepada Delia, "Del, bisa bicara empat mata denganmu?" "Tentu." Yasmin menyilakan mereka ke teras sementara ia dan Erwin berbincang di ruang tamu. "Aku rindu padamu, Del," Kosmas mulai. "Aku juga." "Kau setuju kalau kita segera mencari tanggal perkawinan?" "Setuju." "Tahun ini juga?" "Ya." Kosmas merasa surprise karena cepatnya Delia menyetujui. "Kau heran?" tanya Delia. "Mungkin aku masih dipengaruhi nenek sihir itu. Aku sudah siap menerima tentangan darimu." Delia tersenyum. Ia tidak mau mengatakan bahwa kali ini semua usul Kosmas itu masuk akal. Tidak seperti dulu ketika mereka berada di ruang kantor berdua. Memang tidak sepatutnya mengulang cerita itu karena sudah jelas saat itu Kosmas bukan dirinya sendiri. 445 Menjelang malam Hendri tiba dengan membawa beberapa kilo peuyeum Bandung. "Aduh! Banyak amat! Siapa yang akan memakannya?" seru Yasmin. "Kita dong. Siapa lagi?" "Sebanyak itu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya. Digoreng pakai mentega kan enak. Atau pakai tepung. Dimakan begitu aja juga enak." "Terlalu banyak. Bisa sakit perut." "Kalau tidak habis, bagi tetangga." Yasmin tidak mempersoalkan hal itu. Ia sibuk mengaktifkan penciumannya dengan mengendus-endus tubuh Hendri. Terutama kalau berada di belakangnya. Tapi ia tidak mencium bau apa-apa. Hendri sama sekali tidak berbau. Ketika Hendri mandi, Yasmin dan Delia sepakat untuk membuang saja semua peuyeum bawaan Hendri itu. Mereka takut makanan itu sudah diberi guna-guna yang bisa mencelakakan mereka. Sebaiknya tidak mengambil risiko, sekecil apa pun. Masalah bau yang tak ditemukan pada tubuh Hendri bukan lagi merupakan petunjuk bahwa Hendri "bersih". Lebih baik mencurigai daripada terlalu percaya. Delia pergi membawa peuyeum itu ke pasar swalayan lalu membuangnya di tempat sampah yang ada di depannya. Sesudah itu ia masuk ke dalam lalu membeli tape yang sudah dikemas. Setibanya di rumah, ia membawanya ke dapur dan menyerahkannya kepada Tati untuk digoreng. Hendri tidak tahu bahwa tape yang dimakannya bukanlah peuyeum Bandung yang dibawanya. "Ingat, Yas. Jangan biarkan dia masuk ke kamar446 mu tanpa diawasi. Kalau kau meninggalkan kamar, kunci saja dan kantungi kuncinya," Delia mengingatkan. "Dia bisa saja menyelipkan jimat itu di dapur misalnya. Benda itu kan kecil sekali," keluh Yasmin. "Yang paling berbahaya adalah di kamar tidur," Delia menyimpulkan. "Aduh, Kak! Bagaimana kalau dia berhasil merayuku dan aku... aku tergoda olehnya?" "Ingatlah akan rasa sakit dan penghinaan yang dulu kauterima." "Im tak pernah kulupakan, Kak. Dalam keadaan waras memang iya. Tapi kalau aku dipengaruhi? Erwin dan Kosmas saja bisa terpengaruh."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak. Mereka beda karena mereka tidak menyangka hingga tak punya persiapan sama sekali. Kita kan sudah siap. Ingat saran Erwin tadi?" "Ya." "Jadi jangan panik. Jangan lupa berdoa. Aku akan membantu dengan doa juga." Malam itu Yasmin mengunci pintu kamarnya. Masih pula ditambah dengan ganjalan meja yang ditindih kursi. Tapi ia masih sulit tidur. Perasaannya sulit ditenangkan. Ia bermeditasi dan berdoa.. Sampai kemudian ia mendengar suara langkah kaki yang pelan tapi tetap terdengar. Berhenti di depan pintu. Ia menahan napas. Hendel pintu berputar pelan, beberapa kali berulang. Kemudian berhenti. Pasti orang di luar menyadari bahwa pintu terkunci. Lalu bunyi langkah terdengar lagi. Sekarang menjauh. Yasmin terkapar melepas ketegangan. Itu pasti Hendri. Tidak ada orang lain di paviliun. Kalau memang Hendri ada keperluan, ia bisa mengetuk 447 pintu. Bukan dengan berusaha membuka pintu diam-diam. Dan seandainya ia berhasil masuk, apa gerangan yang mau dilakukannya? Yasmin bergidik. Bila ia sampai dipengaruhi, apakah ia akan jatuh hati pada Hendri begitu rupa hingga tidak takut lagi bercinta dengannya? Dan tidak pula merasa sakit sedikit pun? Bahkan bisa menikmatinya? Kalau kemungkinan itu terjadi dulu, mungkin saja ia merasa senang dan menganggapnya sebagai jalan keluar paling baik. Tapi sekarang tidak lagi. Ia merasa takut. *** Ternyata Erwin pun memiliki ketakutan yang sama. "Seharusnya dia tegas saja," komentar Kosmas. "Kalau memang sudah tidak suka apalagi takut, kenapa tidak cerai saja? Paling tidak, pisah rumah gitu. Suami begitu kok dipertahankan." "Kata Kak Del, Yas sangat mengagungkan perkawinan. Dia merasa terikat dengan sumpah yang pernah diucapkan. Susah dan senang harus ditanggung sebagai risiko." Kosmas geleng-geleng kepala. Kalau begitu betapa tipis harapan Erwin.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tapi aku tidak akan berpaling darinya, Bang, walaupun aku tak punya harapan." "Aku salut padamu, Win." "Entah kenapa, Bang. Semakin memahami keadaannya aku semakin mencintainya. Tapi rasanya aku lebih tenang sekarang. Tidak lagi emosional seperti sebelumnya. Aku tidak lagi dikuasai keinginan memiliki. Aku cuma ingin melindunginya dari suami jahat." Kosmas merasa iba kepada Erwin. Bisakah Delia 448 membujuk Yasmin agar menceraikan saja suaminya itu? "Tapi kau belum tahu apakah dia juga mencintaimu," kata Kosmas. "Aku tahu, Bang." "Oh ya? Dia bilang begitu?" "Dia nggak bilang. Tapi sorot matanya mengatakan itu." "Sorot matanya?" Kosmas terheran-heran. "Ya." "Itu kan nggak cukup, Win." "Bagiku sudah cukup. Aku yakin, Bang. Kita sama-sama tahu. Aku tidak mungkin melamarnya dan dia pun tak mau selingkuh." Kosmas terharu. Dalam hati ia memarahi Yasmin sebagai perempuan paling bodoh di dunia! 449 BAB 42 Hari Senin pagi esoknya, begitu Hendri berangkat ke kantor, Delia dan Yasmin bergegas menelusuri paviliun. Seperti pengalaman Kosmas dan Erwin, mereka memeriksa semua ruangan, terutama dapur. Isi perabot seperti lemari dan laci berikut celah-celah dan kerenggangan. Sepanjang dinding, lantai, plafon. Perabot dapur sampai kompor. Pendeknya, segala benda yang ada. Dengan kerja sama berdua mereka bisa lebih cermat. Tapi sejauh itu mereka tak berhasil menemukan benda yang dicari.

http://inzomnia.wapka.mobi

Mereka mengawali pencarian dengan bersemangat dan segar, tapi lamakelamaan menjadi lelah dan bosan. Rasanya seperti orang gila yang tengah mencari benda kecil. Apalagi menurut Erwin tempat persembunyiannya bisa tak terduga. Im yang sulit. Sebegitu pintarnyakah Hendri? Setahu Yasmin, Hendri biasanya ceroboh dan mau gampangnya saja. Untung saja ia menempati paviliun. Bukan rumah besar. "Dia tidak ke rumah besar semalam," Yasmin menegaskan. Meskipun Yasmin meyakini kamarnya tidak dimasuki Hendri, mereka tetap mencari di sim. "Semalam ada yang mencoba membuka pintu kamarku. Pasti dia," kata Yasmin. 450 "Kalau begim, targetnya memang kamarmu." "Oooh...," keluh Yasmin. "Apakah kita harus mencari tiap hari? Kita tidak tahu kapan dia meletakkannya. Sebentar lagi, atau besok." "Kita memang harus mencari tiap hari, Yas. Tidak apa. Kan ada aku yang membantu," Delia memberi semangat. "Aku bukannya patah semangat, Kak. Aku cuma mikir betapa tidak efisiennya waktu terbuang-buang untuk mencari sesuatu yang tidak pasti. Bagaimana ya caranya supaya kita bisa dapat hasil maksimal dalam waktu singkat?" Delia termenung. Ia membenarkan ucapan Yasmin, tapi tidak tahu jawabannya. "Sebaiknya kita bertindak mendahului Hendri, Kak." "Maksudmu?" "Kita anggap saja dia belum mendapat kesempatan menemukan tempat yang cocok untuk jimatnya. Kemarin waktunya memang sempit. Kalau benar, berarti dia masih menyimpannya di tempatnya sendiri. Di mana lagi itu kalau bukan di kamarnya?" "Jadi kita cari di kamarnya?" "Ya!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Mereka bergegas menuju kamar. Hendri. Tapi betapa kecewanya mereka setelah mendapati pintunya terkunci. "Sejak kapan dia mengunci kamarnya?" kata Yasmin kesal. "Bisa berarti dia menyembunyikan sesuatu yang tak boleh ditemukan olehmu. Makanya dikunci." "Im mungkin saja. Tapi dia kan tidak tahu bahwa kita tahu. Itu kelebihan kita, kan?" "Meskipun tipis, masih belum tentu benar, Yas." 451 "Aku yakin memang benar, Kak. Semakin lama semakin yakin." "Baiklah. Tapi begini, Yas. Bukankah kau tak ingin berlarut-larut dalam kondisi seperti ini? Maukah kau ketakutan terus? Aku pikir, sepatutnya kau tidak menyiksa dirimu sendiri dengan membiarkan dia menyiksamu. Kau harus bersikap tegas." Delia merasa kurang enak bicara seperti itu. Tapi ia kasihan kepada Yasmin. "Aku tahu apa yang kaumaksud," kata Yasmin. "Cerai, bukan? Tapi aku nggak ingin jalan keluar seperti itu." "Kalau kau takut padanya, bagaimana mungkin kau bisa bertahan hidup bersamanya?" "Aku memang takut padanya. Tapi sumpah yang kuucapkan dulu rasanya juga menakutkan untuk dilanggar." "Bukankah dia sendiri melanggar, Yas? Dia tidak setia. Dia jahat. Dan dia memakai tangan iblis untuk menaklukkan kau." "Tapi tujuannya bukan untuk mencelakai aku. Dia ingin menjalin hubungan yang baik denganku. Aku juga bukan istri yang baik." Delia merasa bingung menghadapi Yasmin. Ia sulit memahami jalan pikirannya. Mungkinkah hal itu karena mereka berbeda karakter? "Apa kau sesungguhnya ingin menjadi istri yang baik, Yas? Tapi istri yang baik itu yang bagaimana? Yang bisa melayani keinginan seksual suaminya?" "Aku merasa nggak normal, Kak."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ah, kau balik lagi ke situ. Yang bilang begitu kan dia untuk memojokkanmu. Kau sendiri juga bilang bahwa cintamu sudah mati." Yasmin menjadi murung. Setiap pembicaraan me452 ngenai hal itu selalu membuatnya merasa gamang. Dan Delia semakin gemas saja. "Aku memang munafik, ya?" Yasmin mengakui. "Aku mau tetap jadi istrinya karena terikat sumpah perkawinan. Tapi aku takut bercinta dengannya. Aku membolehkan dia mencari kepuasan dengan perempuan lain supaya dia tidak menggangguku. Kadang-kadang aku merasa kasihan. Tapi kalau ingat yang dulu, aku suka benci. Dia selalu bilang ingin membina hubungan baik denganku. Tapi aku merasa, kalau dia sampai berhasil, aku adalah orang yang kalah. Aku akan kembali menjadi budaknya. Bahkan mungkin lebih buruk lagi. Mungkin aku hanya terbius sementara lalu kesakitan itu datang lagi." "Kalau begitu yang kautakutkan semata-mata adalah rasa sakit itu, bukan sarana yang digunakannya untuk menaklukkanmu?" "Oh, tentu saja itu juga. Bila aku menjadi budaknya, bukankah sama dengan jadi budak iblis juga?" "Tapi kau tidak sadar dan tidak menginginkannya. Itu beda dengan orang yang meminta." "Ah, kau pasti menganggapku orang yang tidak berprinsip," keluh Yasmin. "Kau cukup berprinsip kok. Kau berpegang pada sumpah perkawinan." "Entahlah. Aku jadi bingung." "Jangan. Nanti kita bisa kehilangan pegangan." Telepon dari Erwin menghentikan pembicaraan. Yasmin berbincang dengannya. "Dia menanyakan hasilnya. Aku bilang nggak ketemu," kata Yasmin kemudian. "Apa sarannya?" "Katanya, jangan bosan dan capek mencari. Sama 453

http://inzomnia.wapka.mobi

seperti dia dulu. Kalau kita kecapekan, dia akan datang membantu." Delia tersenyum. Yasmin tampak senang ditelepon Erwin. "Aku punya ide, Yas. Daripada capek-capek begini, bagaimana kalau kita berikan saja kesempatan kepada Hendri sebanyak-banyaknya untuk memasuki kamarmu? Nanti malam kau ke rumah besar tanpa mengunci kamarmu. Besok paginya kita cari." "Itu ide yang bagus. Tapi malamnya kan aku tidur di sim. Bagaimana kalau jimat itu segera mempengaruhiku lalu aku membukakan pintu untuknya begim dia mengetuk? Ih..." "Gampang. Malam nanti tidurlah di kamarku." "Bagus!" Sore itu setelah Hendri pulang, Yasmin tidak mengunci pintu kamarnya kecuali bila ia berada di dalamnya. Setelah makan malam bersama Hendri, ia pergi ke rumah besar. Sebagai basa-basi ia mengajak Hendri. Seperti sudah diduga, Hendri menolak. Yasmin pergi tanpa mengunci kamarnya seperti yang direncanakan. Jam sembilan malam itu Yasmin kembali. Ia melihat Hendri masih menonton teve. "Aku mau nginap di kamar Kak Del ya?" kata Yasmin. Bukan minta izin tapi memberitahu. "Apa?" Hendri tampak terkejut dan kecewa. "Mau nginap. Nggak takut sendirian, kan?" "Memangnya ada apa sih sampai nginap segala?" "Pengen ngobrol aja. Sudah ya." "Hei! Bantal dan gulingmu nggak dibawa?" "Nggak. Di sana juga ada." Yasmin pergi terburu-buru. Bantal dan guling? Jangan-jangan di situ ditaruhnya! 454 Hendri merasa gusar. Ia meninju bantal sofa berulang-ulang. Lalu ia berjalan hilir-mudik dengan muka memerah. Kemudian ia bergegas ke kamar Yasmin. Dengan surprise ia mendapati pintunya tidak terkunci. Ia

http://inzomnia.wapka.mobi

masuk lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur Yasmin. Mana efektivitas jimat itu? Ia merenungi langit-langit. Ia membayangkan wajah Yasmin di sim. Perempuan itu istrinya, tapi ia tak bisa menyentuhnya. Sudah lama Sekali. Rasanya seperti bertahun-tahun. Apa itu yang terasa sekarang? Kerinduan atau kemarahan? Tapi apa pun yang terasa tidak penting lagi. Yasmin tetap menghindar. Dia tak bisa memuaskan dirinya. Kemudian wajah Yasmin memudar, lalu lenyap. Ada gantinya di sana. Rama! *** Malam itu Rama menerima SMS dari Hendri seperti berikut, "Aku rindu padamu. Ingin sekali berada di sisimu. Mengecupmu. Menyatu denganmu." Rama tersenyum. Ia senang sekali. Ia membalas, "Aku juga, Sayang. Lama ya menunggu sampai akhir pekan!" Hendri membalas lagi, "Lusa cuti dua hari. Aku berangkat besok pulang kantor." Rama terkikik-kikik. Luar biasa, pikirnya. Ipah yang sedang menonton televisi ukuran 14 inci, satu-satunya hiburan untuknya, mendengar cekikikan majikannya di dalam kamar. Bulu romanya berdiri seketika. Perlu waktu sejenak untuk meredamnya lalu beralih menjadi ketidakpedulian. Biar sajalah Rama mau berbuat apa pun asal dirinya tidak diganggu. Im sudah semacam perjanjian tidak tertulis 455 di antara mereka. Ia merasa aman meskipun kadang-kadang muncul rasa ngeri itu. Tapi dari pengalaman, ia selalu bisa mengatasi. Hanya perlu waktu sebentar untuk merasa terbiasa. Biarpun demikian, kadangkadang muncul pertanyaan di benaknya sampai kapan ia bisa bertahan seperti itu. Sesederhana apa pun pikirannya, ia cukup memahami bahwa segala sesuatu akan berakhir. Ipah mematikan televisi dan memutuskan untuk tidur. Dari dalam kamar Rama sudah tidak terdengar suara-suara. Mungkin sudah tidur. Pada malam hari Rama tidak memerlukan bantuannya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ia memeriksa lagi pintu dan jendela. Sudah dikunci atau belum. Kebiasaan itu sudah rutin dilakukannya. Rama sendiri kurang peduli. Tapi Ipah takut pada maling atau perampok yang kepergok. Majikannya punya ilmu, tapi dia tidak. Paling-paling dirinyalah yang dianiaya atau dibunuh. Bukan majikannya. Ketika akan masuk ke kamarnya, ia terkejut ketika mendengar suara yang berat memanggilnya. "Ipah! Ipaaah...!" Jantungnya serasa berhenti berdenyut. Itu bukan suara majikannya. Bulu romanya berdiri lagi. Perasaannya dingin sekali. Suara itu begitu berat sampai bergaung, membuat ngilu dan nyeri di gendang telinganya. Ia cepat menengok ke belakang dan ke sekitarnya. Tidak ada siapasiapa. "Ipaaah...! Ipaaah...!" Panggilan berlanjut. Makin jelas baginya bahwa itu bukan suara manusia. Suara itu datang dari ketiadaan. Kaki Ipah lemas dan menekuk-nekuk. Tubuhnya gemetar. Celananya basah oleh kencing yang tak bisa ditahan. Ia merasa tak kuat lagi berdiri. Ia perlu bersandar ke dinding. 456 "Ipah! Aku adalah sang Tuan!" Ipah menggelosor ke bawah, duduk di lantai. Kepalanya melekat ke dinding. Mulutnya ternganga. Matanya membesar. Tubuhnya kaku tak bergerak. Hanya pupil matanya yang bergerak ke sana kemari. "A...a...a...da a...a...apa? Ma...ma...uu a...a...pa, Tu...tu...aaan?" gagapnya dengan suara parau, susah payah mengeluarkan suara. "Apa kamu mau seperti majikanmu, Pah? Jadi muda dan cantik?" Ipah terperangah. Kaget, takut, tapi bingung. "O...ooo...ooo, e...e...e...," ia menggagap. Terdengar suara tawa yang mengerikan. "Kalau mau, kamu tinggal bilang iya. Lihat majikanmu itu. Dia senang sekali, kan? Masa kamu mau jadi pembantu terus sampai mati?" Ipah tak segera bisa bicara. Mulutnya membuka dan menutup tanpa suara yang keluar. Pikirannya buntu karena shock.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sang Tuan kembali menertawakan keluguan dan mungkin kebodohan Ipah. Mungkin juga menganggapnya sebagai calon mangsa yang paling gampang digarap. "Menyahut saja susah. Dasar! Kalau kamu mau, apa pun yang kamu minta akan kuberikan. Syaratnya gampang. Kamu patuh padaku karena aku jadi tuanmu. Dan kalau kau mati, nyawamu ikut aku. Tapi buat apa memikirkan soal itu? Kalau sudah mati, kau kan nggak tahu apa-apa lagi." "Ya, Tuan," bisik Ipah. "Ya? Jadi kamu mau?" "Ng...ng...nggaaak. Bu...bu...kan gitu, Tu...tuan. Sa... saya bi... ngung." 457 "Baik. Aku kasih kamu waktu untuk berpikir. Supaya lebih mantap." "Ya, Tuan," sahut Ipah lega. Kemudian hening. Sang Tuan sudah pergi. Ipah menyusut keringat dinginnya. Bajunya basah. Celananya juga. Ketika ia bangkit, lantai yang didudukinya pun basah. Ia melangkah terseok-seok ke kamarnya. Setelah membuka pintu ia segera menggabrukkan diri di atas dipan. Tak kuat lagi untuk berganti pakaian. Ada beban yang menindihnya. Berat sekali. Sesaat sebelum jatuh tertidur ia sempat berpikir, jangan-jangan ia tak bisa lagi melihat hari esok. Delia dan Yasmin tak bisa tidur sampai larut malam. Mereka mengisi waktu dengan mengobrol. Tumpah ruah riwayat hidup masing-masing dari kecil sampai dewasa. Padahal dalam keadaan biasa, cerita yang begim tidak sampai dikeluarkan. Mereka bagai bicara dengan psikiater yang suka sekali mengorek masa kecil pasien untuk menemukan mata rantai sebab-akibat dari segala perilaku. "Hendri punya waktu banyak sekali untuk menjungkirbalikkan kamarku," kata Yasmin. "Kita akan menjungkirbalikkannya lagi besok!" sahut Delia. "Kalau berhasil menemukan, kita apain ya, Kak? Apa kita akan membakarnya seperti yang dilakukan Kosmas dan Erwin?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Oh ya. Tentu saja. Biar musnah." "Nanti dia akan menyalahkan dukunnya karena jimatnya nggak manjur." Mereka tertawa geli. 458 Hendri, orang yang sedang diperbincangkan, tidur nyenyak di kamarnya sendiri. Ratna pun tidur nyenyak di rumahnya sendiri. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi atas diri Ipah. Andaikata tahu, ia pasti akan merasa resah karena bisa mendapat saingan. Baginya, Ipah jenis orang yang sama sekali tidak perlu diperhitungkan kecuali tenaganya saja. Rama dan Hendri melanjutkan tidur untuk kemudian bertemu dalam mimpi. 459 BAB 43 Esok paginya, dengan bersemangat Yasmin dan Delia memeriksa kamar Yasmin. Terutama bantal dan guling serta daerah ranjang. Sarung bantal dan guling dicopot, demikian pula seprai, penutup kasur, selimut. Semuanya diperiksa jengkal demi jengkal, inci demi inci. Di situ tidak ditemukan apa-apa. Kasur pun tidak bercacat. Seandainya Hendri mengirisnya lalu menyelipkan jimatnya kemudian bekas irisan dijahit kembali, pastilah bekasnya akan tampak. Hendri bukan orang yang terampil dalam hal itu. Berjam-jam mereka habiskan tanpa hasil. "Kok nggak ketemu ya?" keluh Yasmin. Delia tak menyahut. Ia memikirkan kemungkinan lain. "Apa barangnya memang nggak ada?" kata Yasmin. "Kita memang nggak tahu pasti, Yas." "Mungkinkah sebenarnya dugaan kita keliru, Kak?" "Kenapa kau berkata begitu?" "Pertama, kita mendasarkan dugaan pada perkiraan yang tak ada bukti konkretnya, seperti soal bau dan kedatangan Hendri ke motel yang waktunya pas saat Ratna di sana, juga Kepergiannya ke Bandung yang

http://inzomnia.wapka.mobi

tidak kita ketahui tujuannya. Kedua, jimat itu tak bisa kita temukan biarpun dia sudah diberi kesempatan seluas-luasnya." 460 "Ya. Itu mungkin saja. Tapi apa yang kita lakukan ini kan untuk menjaga diri dari kemungkinan buruk. Daripada kita tidak melakukan apa-apa lalu terjadi sesuatu." "Jadi apakah sekarang kita patut menganggapnya bersih?" Delia terkejut. "Jangan dulu! Kita tetap tidak boleh kehilangan kewaspadaan, Yas." "Bingung, ya." "Yas, dari pengalaman sebelumnya Ratna selalu bisa mengetahui apa yang kita lakukan. Mungkin saja dia tahu kita sudah mengantisipasi dengan berjaga-jaga dan melakukan pencarian. Bukan tidak mungkin dia juga sudah tahu bahwa jimat yang ditaruhnya di Motel Marlin sudah ditemukan dan dimusnahkan. Jadi dia pakai taktik lain." "Wah!" Yasmin melotot. "Karena itu kita harus tetap waspada. Sekarang kita jangan hanya berpatokan pada jimat seperti yang ditemukan Kosmas dan Hendri saja." "Lantas pada apa, Kak?" "Pada perilaku Hendri. Itu kelihatan dan bisa dinilai." "Benar juga." "Kau tidak perlu cemas, Yas. Aku akan menjagamu kalau kau kehilangan kesadaran dan kewarasan." Yasmin mengangguk. "Apa kita perlu beritahu Papa, Kak?" Delia tertawa. "Kalau kau memberitahunya, bisa dipastikan Hendri akan disuruhnya angkat kaki dari sini. Dan kau tak bisa lagi menyembunyikan apa yang selama ini kausembunyikan darinya." "Ah iya. Kita memang harus berusaha sendiri." Telepon berdering. 461 "Nah, itu pasti Erwin. Sampaikan saja, Yas." Yasmin pergi untuk menerima telepon. Beberapa waktu kemudian ia kembali.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kak! Erwin minta izin untuk membantu mencari. Kasih jangan, Kak?" tanya Yasmin. "Terserah kau dong, Yas." "Kasih aja ya, Kak? Supaya dia nggak penasaran. Dikiranya kita nggak becus. Lagi pula dia sudah berpengalaman." "Baiklah. Lumayan ada yang bantu." Ternyata kemudian yang datang bukan cuma Erwin tapi juga Kosmas. Mereka dengan bersemangat dan tekad membara sangat serius mencari. Delia dan Yasmin mengamati saja, membiarkan kedua orang itu mengambil alih. Akhirnya semua tempat sudah ditelusuri tanpa hasil. Seperti biasa, kamar Hendri dilewatkan. Di samping terkunci, secara logika tempat itu paling tidak mungkin. Kalau jimat memang sudah dimilikinya, kenapa masih saja disimpan? Kosmas dan Erwin menyerah. "Tapi kita tidak boleh putus asa. Siapa tahu dia sengaja menunggu sampai kita bosan dan malas mencari? Saat itulah baru dia melakukannya," kata Kosmas. "Ya. Tadi aku sudah bilang sama Yas, kemungkinan Ratna sudah tahu tentang usaha kita ini," kata Delia. "Dari mana dia tahu? Apa dia punya cermin ajaib?" kata Erwin kesal. "Biarlah. Kalau betul begitu, dia tak akan pernah punya kesempatan!" Yasmin berkata sengit. Semua mata menatap Yasmin. "Jadi kau tidak akan" berhenti mencari?" tanya Erwin. "Tentu saja. Maksudku begitu." 462 Sebenarnya Erwin ingin sekali mengatakan, kalau mau aman tanpa risiko, suruh saja Hendri pergi. Tapi itu mustahil dikatakan lebih-lebih dilaksanakan. Akhirnya ia berkata, "Kalau perlu, tiap hari aku ke sini untuk bantu mencari. Boleh?" "Boleh. Itu bagus," sahut Yasmin. Diam-diam Kosmas dan Delia bertukar pandang. Barangkali situasi itu bisa juga digunakan sebagai alasan untuk lebih sering bertemu.

http://inzomnia.wapka.mobi

*** Yasmin ternganga ketika sepulang kantor Hendri mengatakan akan segera berangkat ke Bandung meng- gunakan kereta api. "Ke Bandung lagi?" "Tugas tempo hari belum selesai, Yas. Mungkin dua hari di sana." "Kerjaan apa sih, Hen?" "Promosi mesin. Ah, kau kan tahu kerjaanku." "Ya nggak apa-apa. Cuma mendadak amat ya." "Aku juga nggak nyangka sih. Apa kau keberatan?" "Tentu saja nggak. Aku kan nggak berhak keberatan. Mari kubantu membereskan tasmu." "Nggak usah. Biar kulakukan sendiri saja." Yasmin tidak mendesak. Ia masih bingung. "Untung juga Kak Del di sini, ya? Bisa menemanimu," kata Hendri ramah. "Ya." "Mau dibawain peuyeum lagi?" "Ah nggak. Nggak usah bawa apa-apa. Bosan peuyeum melulu." "Lainnya barangkali?" "Nggak ah. Hati-hati aja." 463 "Doakan aku selamat." "Tentu saja," sahut Yasmin. Tapi kemudian merasa dirinya munafik. "Baiklah. Aku pergi." Kali ini Hendri tidak meminta peluk-cium seperti sebelumnya. Ia pergi tanpa menyentuh Yasmin sedikit pun. Delia tidak kurang terkejutnya. "Ke Bandung lagi?" "Katanya kerjaan yang kemarin dulu belum selesai. Entahlah. Benar atau nggak." "Mungkin mau atur strategi." "Strategi apa, Kak?" "Tenang. Kita lihat saja nanti. Pokoknya selama dua hari kita bebas dari pekerjaan mencari jimat." "Besok kita tetap mencari. Lusa baru libur." "Bagaimana kalau nanti malam gantian tidur di kamarku, Kak?" "Baik." Sebelum tidur mereka kembali memeriksa kamar. Meskipun merasa bosan dan yakin tidak akan menemukan barang yang dicari, mereka

http://inzomnia.wapka.mobi

tetap mencari dengan cermat. Itu penting untuk rasa aman dan percaya diri. "Padahal kita tidak perlu mencarinya sekarang, Yas. Malam ini tidur saja di kamarku dulu. Atau kau bermaksud membuktikan kondisi kamarmu?" "Betul sekali. Tapi aku takut sendiri." Yasmin tersenyum. Mereka memang tidak menemukannya. "Andaikata di sini ada jimatnya, tapi tak berhasil kita temukan, maka yang terkena pengaruhnya bukan cuma aku, tapi kau juga." Yasmin tertawa terbahak. "Maksudmu, aku akan terpikat juga pada Hendri? 464 Wah... kasihan Bang Kos dong." Delia ikut tertawa geli. Yasmin berhenti tertawa. "Aku kasihan sama Erwin," katanya serius. "Kenapa?" "Tak pantas dia menaruh hati padaku." "Apakah dia sudah menyatakan isi hatinya?" "Belum. Tapi aku bisa menebak. Begitu gamblang sikap dan ekspresinya. Aku pasti buta kalau tidak merasakan." "Katanya cinta tak harus memiliki. Klise." "Memang klise, tapi menyentuh. Aku jadi tidak enak. Sepertinya aku ini kelewatan. Hubungan sama suami udah kayak gini tapi mau terus dipertahankan. Mungkinkah aku sakit, Kak?" "Kukira nggak. Kau cuma ingin setia." "Kau pasti berpikir aku gila." "Ah nggak. Setiap orang punya sudut pandang sendiri-sendiri. Tapi aku mau tanya, bagaimana kalau dia yang berniat menceraikanmu?" "Aku sudah mengatakannya. Dia tidak mungkin mau menceraikan aku sekarang. Kalau dulu mungkin iya. Bukannya sombong, Kak. Dia memang mengincar harta. Coba pikir. Terakhir dia gajian pun aku tidak diberinya barang sedikit untuk belanja sehari-hari. Katanya aku sudah punya banyak dari Papa. Ya sudah. Papa memang menyerahkan manajemen rumah tangga ini, termasuk keperluan Papa, kepadaku. Boleh dibilang rumah tanggaku ikut dibiayai. Hendri sudah lepas tangan."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kau terlalu baik padanya atau kau memang ingin mempertahankan dia?" "Entahlah. Tapi ada satu yang pasti. Aku masih punya rasa bersalah karena tidak bisa berfungsi 465 sebagai istri yang seharusnya. Jadi biarlah minus di sini tapi plus di sana." "Perasaan itu memang susah dihilangkan ya? Tapi kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana kalau dia berniat menceraikanmu meskipun kau sendiri menganggapnya tidak mungkin? Siapa tahu situasi dan kondisi berubah untuknya." Ternyata Yasmin tidak bisa menjawab. Dia kelihatan bingung. Delia menjadi iba. "Sudahlah. Tak usah dijawab. Biarlah hidup ini berjalan seperti air mengalir. Yang sekarang dijalani saja apa adanya. Yang nanti lihat nanti," kata Delia. "Aku jadi merasa bodoh, Kak." "Jangan kira hanya kau yang begitu, Yas. Aku juga. Tapi setiap kali aku mengingatkan diri bahwa setiap saat itu punya situasi dan kondisi yang berbeda. Cara berpikir dan perasaan jadi beda juga. Jadi tak perlu merasa bodoh." "Seperti apa ya hidup kita kalau kita tidak pernah bertemu?" "Entahlah. Mungkin kau tetap jadi istri menderita dan aku jadi menantu menderita. Kita bertemu karena penderitaan kita." "Kalau begitu mestikah aku berterima kasih pada Hendri karena dia telah membuatku menderita?" "Ah, jangan. Kalau dia baik padamu dari dulu mungkin jalan hidupmu akan lain lagi. Kau tidak akan mengalami problem seksual. Kau punya anakanak. Pendeknya, keluarga bahagia." "Ya. Tapi aku suka berpikir, andaikata mertuamu tidak suka mengutuk dan menyumpahi, apakah suami dan anakmu masih ada?" "Aku tidak bisa menjawab karena aku memang tidak tahu jawabannya. Aku tidak percaya pada 466

http://inzomnia.wapka.mobi

kutukannya. Aku marah dan benci karena dia sangat tidak berperasaan." "Nyatanya ilmu hitam itu ada, Kak. Kita membuktikannya." "Sepertinya begitu. Tapi aku yakin, dulunya Ratna tak punya ilmu. Dia hanya bermulut jahat dan tak punya perasaan. Baru belakangan ini jelas dia berubah." "Mungkin dia sendiri punya jimat atau berguru pada orang pintar," Yasmin memperkirakan. "Ah, ngomongin dia tidak menyenangkan, Yas." "Baiklah. Ngomong yang lain saja. Tentang rencana masa depanmu kalau sudah menikah, Kak." "Tentu saja tetap di motel. Aku suka di sana. Dan kau? Katanya mau usaha garmen?" "Oh ya. Sekarang belajar dulu. Nanti bantu aku ya, Kak? Kau sudah punya pengalaman." "Pasti kubantu." "Masa depanmu lebih pasti daripada aku, Kak." "Jangan bilang begitu. Mana ada yang pasti? Segala sesuatu bisa berubah. Jadi kita jalani saja hidup ini dengan sebaik-baiknya sambil mengantisipasi segala kemungkinan." "Maksudmu kita tidak boleh pasif menghadapi sesuatu, baik atau buruk?" "Ya." "Bagaimana kalau kita melakukannya dengan salah?" "Pakailah nurani. Itu selalu ada pada diri kita." Yasmin merenung. "Bicara tentang mengantisipasi, aku jadi dapat ide, Kak," katanya kemudian. "Besok aku akan ngecek ke kantor Hendri untuk menanyakan soal tugasnya itu. Itu satu-satunya cara untuk mendapat kepastian dia berbohong atau nggak." 467 "Itu bagus sekali, Yas!" Sebelum Yasmin terlelap, sebuah pertanyaan terbawa tidur: Apa yang akan dilakukannya bila Hendri berbohong?

http://inzomnia.wapka.mobi

Ipah terheran-heran melihat Hendri berada di depan pintu padahal sudah hampir tengah malam. Semula ia takut membukakan pintu ketika mendengar gedoran, tapi Rama memerintahkan ia membuka pintu Baru ia sadar bahwa Rama sudah tahu siapa yang mau datang. Ipah melongokkan kepala ke luar tapi tak melihat ada mobil yang diparkir. "Aku nggak pakai mobil, Bi," kata Hendri. Ipah mengangguk. Ia tak bertanya macam-macam. Dari tas yang dibawa Hendri sudah jelas baginya bahwa lelaki itu bermaksud menginap. Ia mengunci pintu kembali. Sedang Hendri langsung masuk menuju kamar Ratna dengan menjinjing tasnya. Rama sendiri belum keluar. Ipah memahami kewajibannya. Tamu dari jauh itu pasti perlu diberi makan. Pantas tadi majikannya menyuruh masak lebih banyak dari biasa. Jadi ia tinggal menghangatkan. Ia bergegas ke dapur. Saat melewati pintu kamar Ratna, ia melihat pintu menganga sedikit. Ia berusaha tidak melirik ke dalam. Tapi telinganya menangkap bunyi cup-cup-cup yang riuh hingga mukanya jadi merah karena rasa malu yang menyergap. Hendri dan Ratna bertingkah bagai sepasang kekasih yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Panas dan bergelora. Makanan bagi mereka menjadi urusan kedua. Urusan pertama belum selesai-selesai 468 hingga makanan yang dihangatkan Ipah menjadi dingin kembali. Ipah menunggu di dapur dengan terkantuk-kantuk. Ia duduk di atas bangku kecil di pojok. Kalau tertidur, ia bisa dibangunkan dengan lebih gampang dibanding kalau tidur di kamar. Ketika hampir terlelap, mendadak ia dikejutkan oleh goyangan keras pada pundaknya. Ia mengira Ratna yang membangunkan. Tapi ia tak melihat siapa pun di dekatnya. "Apa, Bu? Mau diangetin lagi?" katanya sambil mengucek mata supaya bisa melihat lebih jelas. Kemudian ia mendengar suara tertawa yang sudah dikenalnya. Suara bernada rendah dan bergetar. Ia kaget dan takut. Itu suara sang Tuan! "Ipah! Apa sudah kaupikirkan?" tanya sang Tuan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ipah termangu dengan bingung. Ia merasa terpojok. Ia sangat takut kalau-kalau jawabannya bisa membuat sang Tuan marah. Ia juga tak siap ditanyai pada saat itu. Setelah melewati ketegangan menunggu selama beberapa hari, ia mengira pengalamannya tempo hari itu cuma mimpi. "Hei! Sudah kaupikirkan atau belum?" "Oh...eh... aduuuh... gi...gi...mana ya?" Ipah menggagap. "Goblok! Ditanya jawabnya begitu!" bentak sang Tuan. Dikatai begim Ipah menjadi lebih berani. "Sa...saya memang goblok, Tuan. Ke...kenapa ng...nggak nyari yang pintar aja?" "Dasar! Ini bukan urusan pintar atau goblok! Kamu mau nggak? Tuh lihat majikanmu. Bukan saja dia jadi muda dan cantik, dia juga dapat pacar yang cakep! Ha-ha-ha!" 469 Ipah terperangah. Otaknya yang sudah mulai mengerut bekerja keras untuk berpikir. Ah, perlukah berpikir lagi? Sepertinya itu tidak memerlukan pikiran. "Ingat nggak masa lalumu? Dulu kamu itu kembang desa, Pah! Cantik dan digilai banyak pemuda. Kamu nggak kepengen kayak dulu lagi? Kalau mau gampang sekali!" "Gampang?" gumam Ipah. "Ya. Gampang. Kamu tinggal mengakui aku sebagai tuanmu yang menguasaimu jiwa dan raga, maka kuberikan kamu apa pun yang kau mau." Dengan mengerahkan segenap keberaniannya Ipah menggelengkan kepala. "Nggak mau ah, Tuan," katanya. "Nggak mau? Kenapa?" Sang Tuan bernada gusar. Kegusaran itu menakutkan Ipah, hingga dia kembali gemetar. Ia perlu mengerahkan segala keberanian sampai bisa menyahut, "Sa...saya mah udah pu...pu...punya gusti, Tuan!" "Gusti? Siapa itu?" "Gusti Allah, Tuan," sahut Ipah, lebih mantap. Kedua tangannya ditangkupkan di depan dada. Kepalanya ditundukkan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Terdengar teriakan marah. Sesaat berikutnya Ipah merasakan tamparan keras pada kepalanya hingga ia terjerembap ke lantai. Ia tidak segera bangun dan tetap diam di posisinya karena mengira akan ada pukulan berikut. Sesudah itu memang ada tamparan lagi, tapi tidak sekeras sebelumnya. "Apa-apaan sih kamu ini, Pah?" Itu suara Rama. Ipah cepat bangun lalu tersipu. Ia tak berkata apa-apa. "Kukira kau sudah mati!" kata Rama. 470 Ipah tetap tak berbicara. Ia melangkah ke kamarnya. Sekarang ia merasa berbeda daripada sebelumnya. Tak ada rasa takut lagi kepada Rama. "Eh, mau ke mana?" seru Ratna. "Tidur, Bu. Udah ngantuk." Rama terperangah. Sikap Ipah seperti itu baru pernah dilihatnya. Sebelum ia kembali marah-marah, Hendri muncul. "Sudahlah, Rat. Kasihan dia sudah mengantuk. Biarin makan makanan dingin juga enak." Ipah memandang kedua orang itu bergantian lalu melangkah pergi, masih tanpa berkata apa-apa. Rama mengulurkan tangan untuk menangkap lengan Ipah, tapi Hendri menahannya. "Sudah, Rat. Biarkan dia tidur. Mungkin dia capek." Rama mengalah. Ia menyiapkan makan untuk Hendri. "Heran. Kenapa si bego itu jadi berani melawan ya? Biasanya nurut," keluh Rama. "Sudah, kita makan saja. Lapar nih." "Ayo, makan yang banyak." "Enak sekali. Masakanmu atau Bi Ipah?" "Masakanku dong. Ayo, ambil lagi. Biar tambah tenaga." Mereka saling memandang lalu tersenyum. Saat itu hidup ini sepertinya melulu terisi cinta. Atau nafsu? 471 BAB 44

http://inzomnia.wapka.mobi

Esoknya, Yasmin dan Delia bangun dengan perasaan nyaman. "Apa kau merasa ada yang mengganggu?" tanya Yasmin. "Nggak." "Aku juga nggak. Jadi kamar ini bersih, kan?" Delia tersenyum. "Hari ini kita bebas dari pencarian." "Ya. Sebentar ya, aku nelepon kantor dulu, menanyakan soal Hendri." "Tapi jangan bilang kau istrinya. Nanti mereka merasa aneh kok istri nggak tahu." "Betul sekali." Yasmin menghubungi kantor Hendri. "Saya teman Pak Hendri, Bu. Bisa bicara dengan beliau?" kata Yasmin. "Oh, hubungi rumahnya saja, Bu. Dia lagi cuti dua hari." "Cuti? Bukan tugas ke luar kota?" "Bukan." "Minggu lalu beliau tugas ke Bandung, kan?" tanya Yasmin. "Ke Bandung? Ah, nggak tuh." "Baiklah. Terima kasih, Bu." Yasmin mengakhiri percakapan karena apa yang 472 ingin diketahuinya sudah diperoleh. Lalu ia menyampaikannya kepada Delia. "Dia bohong tentang tugas luar. Tapi tentang ke Bandung, bohong nggak ya? Dia memang bisa saja ke tempat lain, kenapa memilih Bandung?" Yasmin bertanya-tanya. Delia tidak bisa menjawab. "Mungkinkah dia punya pacar, Kak?" "Mungkin saja." "Dalam hal yang satu itu kami sudah punya kesepakatan. Dia tidak perlu berbohong." "Tapi biasanya tidak sampai menginap, Yas. Untuk itu dia harus mencari alasan. Tak mungkin dia bilang mau nginap di rumah pacar, kan?" "Membingungkan sekali dia itu," kata Yasmin kesal. "Mungkin juga dia benar ke Bandung. Yang pasti untuk urusan pribadi. Bukan tugas kantor."

http://inzomnia.wapka.mobi

Erwin yang diberitahu lewat telepon menganjurkan supaya mereka memeriksa kamar Hendri. "Buat apa, Bang?" tanya Yasmin. "Siapa tahu di sana tersimpan bukti kebohongannya. Bukankah kamar itu belum pernah diperiksa?" "Betul. Tapi kamar itu selalu dikunci, Bang." "Justru itulah, Yas. Kalau memang tak ada yang disembunyikan buat apa dikunci? Cobalah tanyakan ayahmu, barangkali ada kunci serep untuk kamar itu." "Baik." "Nanti kabari lagi, Yas!" Yasmin berlari ke rumah besar untuk mencari Aryo. Ia tak mau memberitahu Winata karena khawatir ayahnya akan mencurigai sesuatu. Aryo menyerahkan serenceng kunci paviliun. "Ini semua dijadikan satu, Bu Yas. Tapi saya nggak tahu itu kunci mana saja. Mesti dicoba satusatu." 473 "Iya. Beres. Terima kasih, Pak. Tapi jangan bilang-bilang Papa ya, Pak." "Baik, Bu." Dibantu Delia, Yasmin mencobai kunci-kunci itu pada pintu kamar Hendri. Akhirnya setelah yang kesekian, pintu berhasil terbuka diiringi teriakan girang Yasmin. Keduanya menyerbu masuk. Sesaat mereka melayangkan pandang ke sekeliling ruangan. Yasmin menganggap kamar itu cukup rapi bagi orang yang ceroboh seperti Hendri. Selama kamar itu dikunci, Hendri merapikan dan membersihkan kamarnya sendiri. Mereka membagi dua tugas memeriksa. Delia ke lemari pakaian sedang Yasmin ke tempat tidur dan meja di sampingnya. Dalam pikiran mereka, - yang harus dicari atau ditemukan adalah surat cinta atau foto perempuan. Jimat itu sudah terlupakan atau tidak lagi mendominasi pikiran. Yasmin mengangkat bantal yang hanya ada satu. Saat berikutnya ia berteriak, terkejut dan ngeri! Delia menghambur ke dekatnya,

http://inzomnia.wapka.mobi

memandang ke arah yang sama. Di sana, di tempat bantal berada, terletak sebuah benda putih kecil dan pipih! Warna seprai yang biru muda jelas memperlihatkan benda itu. "Itu dia!" seru Yasmin. "Betul!" Delia membenarkan sambil meraih benda itu. Mereka menelitinya bersama-sama. "Persis seperti yang digambarkan Kosmas dan Erwin ya? Pasti yang ini." "Kenapa ditaruhnya di sini ya?" Yasmin tak habis pikir. "Apakah ini berarti dia mengguna-gunai dirinya sendiri?" 474 "Mungkin memang khusus untuk dia supaya punya daya pikat besar untukmu. Jadi kau melihat dia tampan, gagah, dan menarik. Bila diletakkan di sini tentunya aman dari penggeledahan." Yasmin mengerutkan kening. "Tapi aku tidak terpikat sedikit pun. Dia kelihatan biasa-biasa saja di mataku. Nggak lebih nggak kurang. Bahkan kemarin saat mau pergi dia sama sekali tidak berusaha memeluk dan mencium. Dingin-dingin saja." "Coba kautelepon Erwin, Yas. Kalau bisa supaya dia mengindentifikasi benda ini. Sama atau nggak." Yasmin berlari ke luar sedang Delia meletakkan kembali benda itu di tempat semula lalu menutupinya dengan bantal. Ia menutup pintu kamar lalu menemui Yasmin. "Mereka akan segera ke sini," Yasmin melaporkan. Mereka menunggu kedatangan Kosmas dan Erwin di teras paviliun. Perasaan mereka jadi tak enak setelah mengetahui keberadaan benda itu. "Kalau begitu, dia benar-benar ke Bandung dan punya hubungan dengan Rama," kata Yasmin. "Ya. Sekarang dia sudah mendapatkan jimatnya, kenapa dia perlu kembali lagi ke sana?" Delia bingung. "Mungkin mau melaporkan bahwa jimatnya tidak berkhasiat. Bukankah dia tidak berhasil memikat aku?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Kosmas dan Erwin yang datang kemudian memastikan bahwa memang benda seperti itulah yang mereka temukan di motel. "Bakar saja!" kata Kosmas. "Ya. Memang harus dibakar. Tapi kalau pulang nanti dia tentu heran karena jimatnya hilang. Pasti dia curiga pada Yasmin. Kita harus berhati-hati," sanggah Erwin. 475 "Ditukar saja dengan yang palsu," kata Yasmin. "Ya. Kita buat sama persis dengan ini, lalu yang ini kita bakar," Delia setuju. "Ide yang bagus!" Kosmas dan Erwin setuju. "Aku akan minta sedikit kain putih pada Bu Tati. Mudah-mudahan dia punya. Tunggu ya?" Dengan bersemangat Yasmin pergi. "Akhirnya ketemu juga ya?" kata Erwin. "Berarti teorimu benar tentang Hendri dan Rama, Kak Del. Mereka bertemu di motel." "Tidak mungkin di motel," sahut Delia. "Tapi di luar." "Ya. Pasti begim. Tapi siapa yang mempertemukan mereka?" Tak ada yang menjawab. Mereka hanya saling memandang. Lalu Yasmin kembali dengan membawa sepotong kain putih, jarum, benang, dan sebuah teh celup! "Teh celup ini untuk bagian dalamnya. Mirip, kan? Cuma putihnya beda, ya?" Yasmin membandingkan kain putih yang dibawanya dengan bagian luar jimat. "Nggak apa-apalah. Dia kan nggak bisa membandingkan kalau bahan pembandingnya sudah nggak ada," kata Delia tertawa. Delia mengerjakan pembuatan jimat palsu sedang Yasmin bersama Erwin pergi ke dapur untuk, membakar jimat asli. Kosmas lebih memilih menemani Delia. "Aneh si Yasmin itu ya," bisik Kosmas. "Suami udah jelas kayak gitu masih dipertahankan."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dia masih bingung, Bang. Aku nggak tahu bagaimana perasaannya sekarang setelah menemukan bukti 476 "Ya sudahlah. Aku jadi ikut bingung. Lebih baik bicara soal kita saja, Del. Nanti kau mau merayakan di mana perkawinan kita? Apa di motel saja?" "Ah, masa di sim. Lucu dong. Nanti tamu motel ikutan. Yas dan papanya minta kita merayakan di sini, Bang. Nggak usah mewah. Sederhana aja. Bagaimana, Bang?" "Malu juga ya." "Kau nggak usah malu, Bang. Mereka sudah seperti keluarga." "Jadi kau setuju?" "Aku minta pendapatmu dulu. Kalau kau setuju, aku oke." "Aku ikut kau sajalah. Tempat tidaklah penting. Pendeknya, kita bersiap dari sekarang." "Kita pun harus saling berjanji untuk tabah menghadapi halangan yang muncul. Kita harus selalu ingat bahwa Rama masih ada di luar sana dan kita tidak tahu apa lagi yang akan dilakukannya." "Betul. Aku berjanji padamu, Del!" "Aku juga berjanji padamu, Bang!" "Ingatan kepada Ratna membuatku berpikir apakah tidak riskan memakai tempat ini, Del? Di sini kan ada Hendri." "Biar saja. Aku tidak takut kepadanya." Sikap Delia membuat Kosmas lebih tenang. "Kita harus banyak berdoa dan minta kekuatan kepada-Nya. Aku percaya sekarang, kekuatan itu tidak datang dengan sendirinya," kata Kosmas. "Kondisi jiwa itu seperti fisik. Kalau tidak dijaga, dipelihara, dan dipupuk, tak mungkin bisa kuat. Saat kita lemah, iblis bisa masuk. Sama halnya dengan virus dan kuman yang gampang memasuki tubuh yang lemah." 477 "Kita saling memberi kekuatan, Bang!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Ketika Yasmin dan Erwin kembali, Delia sudah selesai membuat jimat palsu itu. Sekali lagi mereka mengamati dan meneliti kalau-kalau ada yang salah. Setelah semua meyakini akan kemiripannya, benda itu diletakkan kembali di atas tempat tidur lalu ditutupi bantal. Mereka merapikan kembali kamar itu seperti keadaan semula lalu menguncinya. "Apa kalian sudah yakin bahwa barang itu hanya ada satu?" tanya Erwin. "Yakin," sahut Delia dan Yasmin berbarengan. "Kalau begitu, kerja kita sudah beres untuk sementara ini," kata Erwin. "Untuk sementara?" tanya Yasmin. "Iya. Bukankah kita belum tahu apa lagi yang dibawa Hendri dari Bandung nanti?" "Oooh," keluh Yasmin. Bukan hanya Yasmin, tapi mereka semua sama-sama merasakan ketidakpastian dan tantangan. Di tempat tidur yang beralaskan seprai merah jambu, Hendri masih tergolek. Di sampingnya Rama pun masih lelap. Padahal hari sudah menjelang siang. Semalam saat mereka tidur sudah dini hari. Mereka juga sangat capek karena seringnya bercinta. Dalam semalam itu frekuensinya sampai tiga kali! Itu pengalaman yang baru bagi keduanya. Termasuk bagi Hendri. Tiba-tiba Hendri tersentak bangun. Ia membuka mata dan sesaat mengira sedang bermimpi. Perasaannya ia sedang tidur di kamarnya sendiri. Tapi ia heran melihat warna seprai merah jambu, padahal 478 seprainya di rumah berwarna biru. Setelah melihat sosok Rama di sampingnya, barulah ia teringat akan semua kejadian yang dialaminya. Keheranan yang lain menerpanya. Kenapa ia berada di situ padahal seharusnya ia berada di kantor untuk melakukan kerja rutinnya? Oh ya, ia minta cuti dua hari. Tapi kenapa dan untuk apa? Ia benar-benar tak habis pikir. Sungguh tidak logis mengambil cuti dua hari hanya untuk melampiaskan kerinduan kepada Rama. Memang tadi ia mengalami kenikmatan tak terhingga. Tapi sekarang setelah kenikmatan itu lewat, muncul pikiran rasional. Ia merasa sangat bodoh. Susah untuk memahami

http://inzomnia.wapka.mobi

sekarang, sebegitu besar-nyakah kerinduannya kepada Ratna. Ia menjadi bimbang dan bingung. Sebelum ini ia datang dengan tujuan yang jelas yaitu meminta jimat untuk memikat Yasmin. Sekarang sepertinya tidak jelas sama sekali. Bukankah jimat sudah ia peroleh dan sudah pula ia letakkan di tempat yang seharusnya, sesuai instruksi yang diberikan Ratna? Tapi kenapa bukan Yasmin yang masuk ke dalam pelukannya melainkan Rama? Ia merasa ada yang salah. Tapi ia tidak tahu di mana salahnya. Ia juga takut bertanya kepada Rama. Rama menggerakkan tubuhnya. Pertanda mulai bangun. Cepat-cepat Hendri memejamkan mata. Ia tahu apa yang akan terjadi bila Rama melihatnya dalam keadaan sadar. Pasti Rama akan mengajaknya bercinta lagi! Ia merasakan tatapan tajam Ratna mengamatinya. Jantungnya berdebar lebih kencang tanpa bisa ditahan. Apakah Rama bisa mengetahui kepurapuraannya lalu sebentar lagi akan menggelitikinya begitu rupa sampai ia tidak tahan? Entah kenapa ia kehilangan selera. 479 Apakah capeknya belum hilang hingga merasa tak bertenaga atau sudah jenuh? Padahal dalam masalah seks ia tak pernah mengenal istilah jenuh. Lebih-lebih dalam hubungannya dengan Rama. Ternyata Ratna tidak melakukan apa yang dikhawatirkannya. Wanita itu turun dari tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi. Setelah Rama pergi, barulah Hendri membuka matanya kembali. Lalu melanjutkan lagi pemikirannya. Bukankah Rama sudah tahu apa yang diinginkannya? Untuk memenuhi keinginan itulah jimat tersebut diberikan kepadanya. Ternyata benda itu tidak berfungsi seperti semestinya. Ada yang salah. Hendri sendiri tidak memahami salahnya di mana. Ratna-lah yang seharusnya tahu dan segera memperbaiki kesalahannya. Hendri datang ke sim untuk menemui Rama sudah menandakan adanya kesalahan. Tapi kenapa Rama malah menyambutnya dengan senang? Hendri merasa bagai diguyur air dingin.

http://inzomnia.wapka.mobi

480 BAB 45 Ratna keluar dari kamar setelah sekali lagi melempar pandang ke arah Hendri yang masih saja tak bergerak di tempat tidur. Di ruang depan kamar ia melihat Ipah sedang duduk dengan pakaian rapi. Di lantai sampingnya terletak sebuah koper kuno dan sebuah kantong plastik besar yang gembung. Ratna terkejut. "Mau ke mana kamu?" tanya Rama, heran tapi waswas. "Saya mau pulang kampung, Bu. Mau brenti kerja," sahut Ipah tanpa menatap mata Rama. "Apa?" Ratna melotot. Tapi percuma menunjukkan kegarangan karena Ipah tidak memandangnya. Ipah memang sengaja supaya tidak sampai terpengaruh. "Iya, Bu. Saya mau brenti kerja. Jadi saya mau minta gaji saya. Udah dua taun, kan? Jumlahnya udah dua juta empat ratus ribu!" Ipah menyodorkan selembar kertas berisi catatan bulan dan tahun. Ternyata ia bisa menghitung dan teliti mencatat. Kertasnya sudah kumal dan menguning. Selama dua tahun ia mencatat, kertas ditulisi lalu disimpan. Begim yang terjadi, bulan demi bulan. Ratna mengamati sebentar. Ia terkejut melihat jumlah sebesar itu yang harus dibayarnya. Keningnya berkerut kemudian tampak kegusaran di wajahnya. Ia meremas kertas itu lalu melemparnya jauh-jauh. 481 "Enak aja! Dua taun katamu? Memangnya siapa yang harus bayar gajimu selama ini? Bukan aku, tapi si Rama!" Ipah terkejut. Ia tidak mengetahui soal itu. Selama berada di rumah Rama gajinya tak pernah diambil. Ketika mengikuti Rama ke rumah di Jalan Angsana itu ia mengira Rama akan mengambil alih atau Rama menitipkan gajinya kepada Rama. Rupanya ia tidak dianggap sebagai orang yang punya arti. Atau mereka memang tidak peduli padanya. Rasanya menyakitkan dan menyedihkan.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kalo gitu biar saya ke rumah Pak Rama aja sekarang. Saya pamit ya, Bu." Ipah berdiri lalu meraih koper dan kantong plastiknya. "Eh, tunggu dulu!" seru Rama. Ia tahu apa yang akan terjadi kalau Ipah ke rumah Rama. Ipah akan ditanyai. Lalu Ipah akan bercerita seperti apa adanya. Rama tidak suka hal itu terjadi. "Ada apa, Bu?" tanya Ipah berharap. "Bilang dulu, kenapa kamu mendadak mau berhenti. Ngambek karena peristiwa semalam, ya?" "Bukan ngambek, Bu. Saya memang mau brenti aja." "Kamu nggak takut keluar dari sini?" tanya Rama dengan nada mengancam. "Di sini saya lebih takut, Bu," sahut Ipah tegas. Ia tetap tidak menentang mata Ratna. Ia menunduk saja. "Apa? Kok berani kamu ngomong begitu?" bentak Ratna. Ipah diam. Ia tahu akan diomeli dan dicerca. "Kamu nggak takut akan kukutuk dan kusumpahi, Pah? Kamu bisa ketabrak mobil kalau keluar dari 482 sini! Kamu bisa dirampok dan dibunuh orang! Kamu bisa kudisan! Tahu?" "Saya mah pasrah sama Gusti Allah aja, Bu!" kata Ipah sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Rama terkejut. Begitu kagetnya sampai terhuyung ke belakang. Ia mengamati Ipah dari kepala sampai kaki seakan Ipah telah berubah jadi orang asing yang tidak pernah dikenalnya. Lalu Hendri muncul di ambang pintu. "Ada apa?" ia bertanya. Sebenarnya ia sudah mendengarkan keributan itu, lalu khawatir kalau Ipah diapa-apakan. Ia melihat Ipah yang sudah rapi dengan koper dan kantong plastiknya. "Bibi mau pergi, ya?" ia bertanya. Ipah mengangguk. "Iya, Pak," ia menyahut dengan perasaan bersyukur. Kehadiran Hendri bisa menguntungkan dirinya. Rama cepat memutuskan Kehadiran Hendri dan kekeraskepalaan Ipah tidak memungkinkan baginya untuk berkeras juga.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Baiklah. Aku akan bayar gajimu. Tapi kamu harus janji dulu, Pah. Kalau kamu nggak mau janji, aku juga nggak mau bayar." "Janji apa, Bu?" tanya Ipah cemas. Ia memerlukan uang tapi takut disuruh janji macam-macam "Kamu langsung pulang ke kampung dan tidak kembali ke rumah Pak Rama biarpun cuma singgah sebentar." Janji itu tidak sulit bagi Ipah. "Saya memang mau langsung pulang, Bu. Ngapain singgah-singgah." "Kampungnya di mana, Bi?" tanya Hendri. "Ciawi, Pak." "Nggak jauh-jauh amat ya. Naik bus?" "Iya, Pak." 483 "Pegang janjimu, ya?" tegas Ratna. "Awas, jangan melanggar!" "Nggak, Bu. Saya mau tinggal di kampung aja." "Baik. Aku percaya kamu. Tunggu sebentar." Ratna kembali ke kamar. Ipah menarik napas lega. Hendri masih berdiri di ambang pintu. Ia hanya memutar kepala untuk mengamati Ratna. Ia melihat Ratna menarik sebuah tas hitam dari lemari pakaian. Sesudah itu ia tak bisa melihat apa-apa lagi karena Ratna membalik tubuhnya hingga membelakanginya. Hendri memanjangkan leher tapi tak bisa melihat apa-apa selain punggung Rama. Ia tak berani terus mencoba. Takut ketahuan. Maka ia memalingkan muka lagi kepada Ipah. "Punya anak di kampung, Bi?" "Punya, Pak. Cucu juga ada." Perbincangan tidak berlangsung lama. Ratna sudah kembali dengan lembaran uang di tangannya. "Nih, hitung dulu. Dua juta empat ratus ribu." Ipah menerima dengan gembira. "Terima kasih, Bu." "Hati-hati bawa uang banyak naik bus, Bi," Hendri menasihati. "Sebaiknya jangan dimasukkan dalam dompet atau tas, tapi di sini." Hendri menepuk perutnya. "Dan kalau di bus ada yang nawarin minuman jangan mau. Nanti di dalam minuman itu ada obat biusnya. Kalau Bibi tidur, tau-tau barang ludes semua dibawa kabur."

http://inzomnia.wapka.mobi

Ratna kurang senang mendengar Hendri menasihati Ipah. Tapi Ipah mengangguk sambil mengiyakan. Ia tampak berterima kasih karena dinasihati. Setelah Ipah pergi, Ratna berkata, "Dia pasti ngambek karena semalam." "Cari saja pembantu baru," kata Hendri. 484 "Ah, mendingan sendiri aja." "Nggak takut sendirian?" Setelah bertanya begim, Hendri teringat bahwa Rama pasti tidak takut pada apa pun dan siapa pun. Buru-buru ia memperbaiki ucapannya, "Maksudku, kau bisa kesepian." "Ah, nggak." "Siapa Rama itu?" "Anakku," sahut Rama singkat. Ia tidak suka ditanyai perihal keluarganya. Hendri sudah mengetahui hal itu. "Kau belum mandi, Hen. Pergilah mandi dulu. Aku mau masak." Mereka sarapan mi instan karena Ipah tidak masak apa-apa. Rama menolak ketika diajak Hendri makan di luar. Sebenarnya Rama khawatir kalau-kalau Rama atau Maya melihatnya. Ia menyesal memilih rumah yang berdekatan. Hendri berusaha keras untuk tidak memperlihatkan perubahan sikap. "Jimat itu sudah kuletakkan di bawah bantalku, Rat. Tapi sikap istriku dingin-dingin saja. Masih seperti dulu. Kenapa begim ya?" "Oh ya. Memang belum." "Kenapa belum?" "Kau masih memiliki kebencian yang belum dituntaskan. Im harus dituntaskan lebih dulu." Hendri keheranan. "Kebencian pada siapa?" "Pada ayahnya. Bukan begitu?" "Oh. Iya sih. Lantas aku mesti apa?" "Bunuh dia dulu. Lantas lainnya akan lancar."

http://inzomnia.wapka.mobi

Hendri ternganga. Rama bicara dengan begitu tenang seakan masalahnya adalah membunuh nyamuk. "Kaukira membunuh itu gampang? Mana mungkin 485 aku bisa melakukannya? Dia selalu didampingi perawatnya. Istriku juga sering di situ. Pembantu banyak. Kau ingin aku masuk penjara?" "Bukankah kau ingin sekali melenyapkannya kemudian melenyapkan istrimu juga supaya kau bisa menguasai hartanya?" Hendri terkejut lagi. Pikiran seperti itu memang pernah muncul tapi sebatas angan-angan. Membunuh mungkin bisa saja, tapi bagaimana supaya tidak ketahuan itulah yang susah. Belum sempat menikmati harta sudah keburu masuk penjara. Itu bodoh sekali. "Pakai racun saja. Nanti kubuatkan supaya nggak ketahuan." "Aku hanya ingin jimat pemikat istriku, Rat. Bukan racun." "Ala, dia itu istri tak berguna. Buat apa dipertahankan?" Sekarang Hendri menjadi semakin disadarkan. Ratna sudah berubah dari seorang yang tadinya hanya ingin bersenang-senang menjadi seorang yang posesif terhadap dirinya. Ia merasa takut karena tak bisa melawan ilmu Ratna. Ia merasa terjebak dalam perangkap. Ia berjuang keras untuk tidak memperlihatkan perasaan sesungguhnya. Ia juga takut kalau-kalau pikirannya bisa dibaca Ratna. "Aku tidak mau masuk penjara, Rat." "Ah, kau kurang ambisius. Kurang dorongan," keluh Rama kecewa. "Mungkin." "Kau kurang percaya pada kemampuanku sih. Bukankah aku ada di belakangmu? Aku akan membantumu." Hendri tak menjawab. Dalam hati ia berkata, "Ya. Kau di belakang. Aku di depan. Yang ketangkap 486 aku. Kau menghilang." Tapi tentu saja ia tak berani menyuarakannya. Rama menatap Hendri dengan tajam, tapi tak mampu menembus benaknya. Ada yang menghalangi. Itu mengherankan tapi juga mengkhawatirkan. Sama seperti saat menghadapi Ipah tadi. Ia tak

http://inzomnia.wapka.mobi

mampu mengorek apa yang ada dalam pikiran Ipah. Padahal ia yakin mesti ada sebabnya kenapa tiba-tiba Ipah mau pergi, dan yang penting kenapa tiba-tiba Ipah punya keberanian untuk menentangnya. Apakah itu kemunduran atau pertanda kelemahan? Padahal kekuatan itu satusatunya modal untuknya dalam kehidupannya sekarang. "Mungkin kau cuma perlu waktu, Hen," Rama berkata dengan nada lembut membujuk. Ia memutuskan untuk tidak mendesak. Jangan sampai ia kehilangan Hendri seperti kehilangan Ipah tadi. "Mungkin begitu," sahut Hendri. "Nanti kuberikan jimat keberanian." "Jimat lagi? Bagaimana dengan jimat sebelumnya? Yang itu aja, Rat. Tapi diperkuat dan difokuskan." "Kan sudah kubilang, kau perlu menuntaskan kebencianmu dulu kepada mertuamu." "Maksudmu, aku harus membunuhnya dulu sebelum dapat jimat yang efektif?" Hendri tak dapat menyembunyikan kejengkelannya. "Ya." "Dulu kau nggak bilang ada syarat semacam itu?" "Aku baru tahu belakangan bahwa ada hambatan seperti itu." Hendri tahu Ratna berbohong. Tapi ia juga tahu ia tak bisa membantahnya. "Dengar dulu, Hen. Bila mertuamu itu sudah tak ada, yang tinggal adalah kau dan istrimu. Saat itulah 487 jimat pemikat menjadi efektif. Sebenarnya bukan cuma kau yang membenci mertuamu, dia pun begitu kepadamu. Dia ingin sekali mendepakmu dari rumahnya. Maka sebelum kau didepaknya, bukankah paling baik bila kau mendahului? Setelah dia nggak ada, bagimu menjadi lebih mudah menguasai istrimu. Dia akan patuh padamu dalam segala hal. Termasuk seks. Jimat akan membuat dia memujamu. Lebih dari sekadar patuh." Dalam keadaan berbeda Hendri pasti akan terpengaruh ucapan itu. Sekarang tidak lagi. Ia menganggap Ratna hanya mengulur waktu supaya

http://inzomnia.wapka.mobi

bisa menguasai dan memilikinya lebih lama. Ratna sedang mempermainkannya supaya ia bolak-balik Jakarta-Bandung untuk bercinta habis-habisan. Benar-benar jadi sapi perah. "Hei, ngambek ya?" tegur Ratna. "Ah nggak. Aku cuma takut." "Nanti kalau sudah dapat jimat, kau akan berani." "Baiklah. Kalau menurutmu begitu, apa lagi yang bisa kukatakan?" "Bagus. Seharusnya kau percaya padaku." Hendri mengangguk. Ia memikirkan cara bagaimana bisa menghindar secepatnya dari Ratna. Tapi belum sempat menemukan caranya, Ratna sudah kembali merayunya. Kalau semula ia cepat terangsang, sekarang ia merasa muak. Aku akan diperah lagi, pikirnya dengan nelangsa. Ratna menciumnya, menggelitikinya, bahkan me-remas-remasnya. Tapi Hendri tidak juga terangsang. Ratna menjadi kesal dan penasaran. Kemudian gusar. Lalu khawatir. "Kenapa sih kau loyo begini, Hen? Ke mana keperkasaanmu?" 488 "Entahlah. Aku sendiri heran. Mungkin lagi capek atau nggak enak badan. Mungkin perlu Viagra atau Pasak Bumi," Hendri tertawa. Dalam keadaan biasa ia tentu merasa cemas akan keloyoannya itu. Tapi sekarang ia malah senang. Ratna tidak bisa berbuat apa-apa meskipun kecewa sekali. Apa pun yang diperbuatnya tak bisa membangkitkan gairah Hendri. Keadaan seperti itu tak pernah terpikirkan olehnya. Mustahil cuma sampai di situ saja keperkasaan Hendri. "Kalau begitu kau beristirahat saja," ia menganjurkan. "Aku pikir, sebaiknya aku pulang saja, Rat. Nanti aku kembali lagi untuk mengambil jimatnya." Ratna terkejut. "Bukankah rencanamu masih semalam lagi di sini?" "Iya sih. Tapi aku merasa nggak enak." "Nggak enak gimana?" Ratna menatap curiga. "Tepatnya nggak enak badan."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Justru kalau begitu kau nggak boleh bepergian. Kalau ada apa-apa di jalan siapa yang menolong? Istirahat saja, ya? Nanti kuambilkan obat." "Obat apa? Nanti aku malah tidur terus." "Ah, nggak. Cuma obat penyegar tubuh. Sementara kau beristirahat, kubuatkan jimatnya. Besok pagi-pagi kau bisa pulang." Hendri terpaksa setuju. Kalau ia memaksa, Rama bisa marah. Ia tahu maksud Rama menahannya adalah untuk mendapatkan kesempatan bercinta lagi dengannya. Benar-benar memuakkan. Kalau ia memang dijadikan sapi perah, lebih baik kering saja sekalian. Setidaknya untuk waktu ini saja. Ketika Rama membawakan sebutir pil dan segelas air, Hendri menjepit pil itu dengan jari tangan lalu 489 memasukkannya ke dalam mulut, kemudian meminum airnya sampai habis. Padahal pilnya masih dalam jepitan jari tangan. "Nah, istirahatlah," kata Ratna, menunjuk tempat tidur. Hendri membaringkan tubuhnya. Ratna mencium pipinya dan membelai kepalanya. Sikapnya seperti seorang ibu kepada anaknya. "Terima kasih," kata Hendri pelan. Ia tidak merasa tersentuh oleh perlakuan yang penuh perhatian itu. Keinginannya cuma satu, yaitu pergi secepatnya dari rumah itu. Kepercayaannya kepada Ratna sudah lenyap hingga keinginan mendapatkan jimat sudah tak ada lagi. "Kau tidurlah. Aku akan membuat jimat lalu masak untuk makan malam. Sialan si Ipah itu!" Ratna keluar dengan merapatkan pintu Hendri menunggu sekitar setengah jam lalu bangun. Ia membuka pintu kamar, menengok kanan-kiri sambil memasang kuping. Ia mendengar suara-suara dari arah dapur. Ratna sedang sibuk di sana. Buru-buru ia merapatkan pintu lagi lalu berlari ke lemari pakaian, membuka dan mengamati isinya. Setelah menemukan sebuah tas hitam, ia menariknya. Ia menengok dulu ke pintu sebelum membuka tas itu. Jantungnya berbunyi dag-dig-dug kencang sekali. Kupingnya bisa mendengarnya. Ia takut juga kepergok Rama.

http://inzomnia.wapka.mobi

Matanya membelalak. Isi tas itu bukan hanya uang beberapa gepok, tapi juga sebuah kotak kecil. Kotak itu ia buka. Isinya penuh perhiasan emas dan berlian. Tangannya gemetar. Yasmin sendiri tidak memiliki perhiasan sebanyak itu. Beberapa perhiasan miliknya sebagian sudah terjual untuk berbagai keperluan. 490 Hendri tidak berani lama-lama memeriksa isi tas itu. Buru-buru ia meletakkannya kembali di tempatnya. Cermat supaya tidak salah letak. Sesudah itu, dengan jantung masih berdebar, ia buru-buru kembali ke tempat tidur. Jelas baginya bahwa Ratna percaya kepadanya karena selama ini membiarkan Hendri berada di kamarnya dengan lemari tidak dikunci. Hendri memang tak pernah tertarik untuk memeriksa barang Rama, apalagi berniat untuk mencuri. Ia terlalu takut untuk melakukannya. Ketika itu ia tak punya persangkaan sedikit pun akan kemungkinan Rama memiliki harta. Ia baru tertarik setelah tadi melihat Rama mengambil uang untuk membayar gaji Ipah. Sepertinya bagi Ratna tak ada keberatan mengeluarkan uang sebesar itu. Jadi pastilah ia punya persediaan uang yang jauh lebih banyak lagi. Selintas ada rasa heran dari mana Rama menafkahi dirinya. Tampaknya dia punya anak-anak. Tapi menilik penampilan Ratna yang belum tua, mestinya anak-anaknya belum cukup dewasa untuk mencapai kehidupan yang mapan. Soal itu memang tak ingin dipikirkan Hendri. Ia tak berkepentingan. Yang ia pikirkan adalah harta Ratna di dalam tas hitam itu! 491 BAB 46 Hendri tidak tahan berlama-lama di tempat tidur. Perutnya terasa lapar. Cukup lama Rama pergi. Pasti Rama mengira ia tengah tidur nyenyak. Begim keluar, ia mencium bau kemenyan yang pekat. Mungkin Ratna sedang membuat jimat, pikirnya. Jadi ia diberi obat tidur supaya tidak

http://inzomnia.wapka.mobi

bisa melihat proses pembuatannya. Karena itu ia melangkah pelan-pelan menuju dapur. Datangnya bau kemenyan memang dari sana. Kemudian ia tertegun. Ia mendengar suara orang bicara. Dengan siapakah Ratna bicara? Suara lawan bicara Ratna adalah suara lelaki. Rendah dan bergaung. Apakah Ratna punya pacar baru? Hendri sangat ingin tahu. Ia melangkah lagi, lebih mendekat. Tapi semakin jelas suara itu, semakin aneh rasanya. Suara itu bernada bariton yang menggetar dan bergema. Ia merasa giris mendengarnya, seolah sarafnya tercabik dan teriris. Ia terus saja mendekat. Keingintahuannya lebih besar daripada rasa takut. Ia ingin tahu siapa empunya suara aneh itu. Dapur tidak memiliki pintu, jadi Hendri menjulurkan kepala pelan-pelan dari pinggir dinding yang menyiku, dan siap untuk cepat-cepat menarik kepalanya kembali. Tubuhnya sendiri terlindung di balik dinding. Ratna sedang duduk bersila di lantai tanpa alas. 492 Posisinya menguntungkan bagi Hendri karena membelakanginya. Yang tampak hanya punggung dan belakang kepala. Dari asap yang tebal mengepul di depan Rama ia menyimpulkan wadah kemenyan ada di lantai depan kaki Ratna. Karena yakin dirinya aman, Hendri menjulurkan kepala lebih ke depan untuk melihat situasi di ruang dapur dengan lebih jelas. Betapa terkejutnya ia karena di sim tak ada orang lain. Rama hanya sendirian. Padahal wanita itu jelas tengah berbincang dengan seseorang. Karena takut, Hendri buru-buru menarik kembali kepalanya. Ia hanya mendengarkan. "Tuan! Apa yang mesti kulakukan? Aku masih ingin menikmati hidupku!" kata Ratna. "Kau terlalu asyik dengan nafsumu! Rakus!" "Ampun, Tuan." "Belum ada yang kauberikan untukku." "Aku sedang membujuknya untuk membunuh mertuanya. Dia mau, Tuan!" "Mau apaan? Kau dikibuli, tahu? Jadi bunuh dia saja!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Tubuh Hendri terasa membeku. Ia ingin sekali kencing. Ada suara dalam dirinya yang menyerukannya supaya lari sekarang juga, keluar dari rumah itu dan tidak menoleh lagi. Tapi ketakutan yang amat sangat membuat ia tidak bisa segera bergerak. "Si...si...sia...siapa, Tuan?" "Siapa lagi? Pacarmu tentu saja!" "Tapi... tapi..." "Tapi apa?" "Orang lain saja, Tuan." Dengan harapan sang Tuan mau memenuhi permintaan Ratna, Hendri jadi lebih optimis. Kepalanya kembali dijulurkan sedikit agar cukup untuk melihat 493 Ratna. Tapi kejutan lain menantinya. Tampak Rama sedikit memiringkan mukanya hingga bisa terlihat bagian sisinya. Wajah itu kelihatan ma, penuh kerut dan ada gelambir di leher! Rambutnya pun memutih! Hendri tak bisa lagi menahan kencingnya. Celananya basah dan menetes ke lantai. Ketakutannya sudah merayap ke puncak. Kakinya gemetar. Tubuhnya terpaksa disandarkan ke dinding kalau tak mau jatuh. "Orang lain siapa?" tanya sang Tuan. "Ya. Orang lain, Tuan. Aku akan melakukannya secepatnya. Kau mau siapa? Anakku? Cucuku?" Sang Tuan tertawa. "Tidak! Aku mau dia!" "Gimana membunuhnya, Tuan? Nanti aku ditangkap polisi." "Aku akan membantumu supaya nggak ketahuan!" "Pakai apa, Tuan? Racun?" "Goblok! Ambil pisau sana! Aku ingin yang berdarah-darah!" "Tapi...," Rama tersedu-sedu. "Kalau kau nggak mau, kuambil lagi semuanya. Termasuk nyawamu!" Sambil tersedu-sedu Rama berdiri. Penampilan fisiknya sudah berubah menjadi muda kembali. Hendri sudah berhasil menggerakkan kedua kakinya. Tertatih-tatih ia kembali ke kamarnya. Larinya sempoyongan. Tapi ia tidak terus berlari

http://inzomnia.wapka.mobi

ke luar rumah, melainkan masuk dulu ke kamar. Ia mengenakan jaketnya dan mengambil tasnya. Di dalam saku jaket tersimpan dompetnya. Mustahil pergi tanpa uang sepeser pun. Biarpun ketakutan, ia masih percaya diri. Ia lelaki yang kuat, sementara Rama perempuan yang lebih tua. Biarpun ada iblis atau setan di belakangnya, iblis itu tidak menampakkan bentuknya. Ia bukan pula hambanya. 494 Ketika akan ke luar kamar, ia mendengar langkah kaki. Ia tahu sudah terlambat keluar tanpa berpapasan dengan Rama. Dengan kesiapan dan kesadaran akan diserang, ia merasa lebih kuat dibanding Ratna yang tidak tahu akan kesiapannya. Ratna mengira Hendri sedang tidur. Jadi gampang untuk dibunuh. Pintu terbuka ke arah dalam. Hendri berada di belakang daun pintu. Ia menunggu dengan tekad membela diri. Kekuatannya sudah kembali. Bila cengeng seperti tadi, mana mungkin ia bisa mempertahankan diri. Lalu pintu terbuka pelan-pelan. Yang tampak paling dulu adalah kilatan pisau di tangan Ratna. Segera Hendri bergerak. Ia memukulkan tasnya keraskeras ke tangan Rama. Disertai-pekikan keras Rama, pisau itu jatuh ke lantai. Hendri melepas tasnya lalu menyerbu Ratna. Perempuan itu terjatuh. Hendri menindihnya lalu melingkarkan kedua tangannya di seputar leher Ratna. Ia mencekiknya kuat-kuat. Ratna meronta, mencakar, dan memukul. Dengan terkejut Hendri merasakan kuatnya perlawanan Rama. Perempuan yang sudah berumur itu memiliki tenaga lelaki yang setara dengannya. Biarpun memiliki kekuatan lelaki, Rama berkelahi seperti perempuan. Ia mencakar, menjambak, dan menggigit! Mereka bergumul dan berganti-ganti posisi, di atas dan di bawah. Hendri kewalahan. Beberapa kali ia merasa akan kalah. Kini dialah yang ganti dicekik. Kedua tangan Rama ternyata memiliki cengkeraman yang lekat dan kuat. Tapi Hendri memiliki kaki yang kuat. Dengkulnya mencapit tubuh Rama yang kecil lalu melemparkannya ke bawah. Gantian Hendri yang berada di atas menindih Ratna, kemudian mencekiknya dengan

http://inzomnia.wapka.mobi

495 kedua lutut menekan lengan Ratna hingga wanita itu tak bisa bergerak. Mata Ratna melotot sampai mau melompat keluar. Wajahnya mengernyit kesakitan. Lalu tiba-tiba wajah itu berubah penuh kerut-merut dan rambutnya putih semua! Ia kembali ke asal! Meskipun terkejut oleh perubahan itu, Hendri tidak melepaskan tekanannya. Tadi ia sempat melihat sedikit perubahan itu hingga tak lagi kehilangan akal sehatnya. Tetapi perubahan fisik Ratna ternyata diikuti pula dengan perubahan tenaga. Ratna kembali menjadi perempuan berusia tujuh puluh, baik fisik maupun tenaganya. Sudah tentu ia bukan tandingan lelaki muda bertubuh tegap seperti Hendri. Biarpun demikian, Hendri tidak berani melonggarkan impitan maupun cekikannya. Ia khawatir apa yang tampak dan terasa itu cuma tipuan. Tak lama kemudian tubuh Ratna lunglai. Tak ada lagi perlawanan sedikit pun. Apakah dia sudah mati? Hendri tak merasa perlu untuk memeriksa lebih cermat. Ia juga tak punya kebanggaan karena bisa memenangi pertempuran dengan seorang nenek! Ia harus kabur secepatnya. Setelah meraih tasnya, ia segera teringat kepada tas hitam milik Ratna. Alangkah sayangnya kalau ditinggalkan. Hendri melangkahi tubuh Ratna lalu bergegas ke lemari, mengambil tas hitam itu, lalu memasukkannya ke dalam tasnya sendiri. Saat Hendri melakukan hal itu, sepasang mata Ratna bergerak mengikuti gerak-geriknya! Ia belum mati! Tiba-tiba darah Rama bergolak oleh emosi yang meningkat ketika mengetahui Hendri mengambil tas kesayangannya. Emosi itu memberinya kekuatan besar. Dengan teriakan penuh amarah ia melompat 496 berdiri, meraih pisau yang tergeletak di lantai, lalu menyerang Hendri! Gerakannya cepat sekali. Hendri terkejut dan terkesiap. Ia tak punya waktu untuk menangkis serangan. Pisau menancap di dadanya! Ia menjerit kesakitan. Tasnya terlepas, jatuh ke lantai. Rama menubruk tas itu lalu memeluknya eraterat. Dengan tenaga yang tersisa, Hendri memukul Rama. Sementara itu

http://inzomnia.wapka.mobi

darah terus mengalir deras dari dadanya. Rama jatuh terjerembap tapi tak melepaskan pelukannya pada tas milik Hendri karena tas hitam miliknya ada di dalamnya. Hendri menendang Rama lalu berusaha menarik tasnya. Berkali-kali tendangannya mampir ke tubuh Rama. Tak cukup menendang, ia pun memukuli kepala Rama. Perempuan itu menelungkup tak bergerak. Hendri tak memedulikan lukanya yang terus mengucurkan darah. Ia seperti melupakan rasa sakit dan darahnya yang hilang karena bertekad mendapatkan tasnya. Putus asa Hendri menarik tangan Ratna yang mencengkeram tas, lalu membengkokkan dan mematahkan tangan itu! Ia juga tak henti-henti menendangi tubuh Rama sementara darah dari lukanya bergumpalgumpal keluar dan membasahi tubuh Rama. Wajah Hendri sudah kelabu. Tubuhnya mulai lemas. Pandangannya berkunang-kunang. Tetapi dengan segala upaya ia tetap tak berhasil melepaskan tas dari cengkeraman Rama. Padahal Ratna sudah kehilangan nyawa! Tiba-tiba terdengar bunyi tawa mencemooh. Hendri mengenali suara itu. Tadi ia mendengarnya di dapur. "Ha-ha-ha! Percuma, Hendri! Percuma! Kau akan mati bersama kekasihmu si nenek!" ejek sang Tuan. Hendri tertegun. Ia segera menyadari kondisinya. 497 Baru terasa sakit dan lemasnya. Ia terhuyung-huyung mau jatuh lalu cepat-cepat duduk di tempat tidur. Ia kehilangan akal. Pikirannya sudah tak jernih. Tatapannya masih tertuju pada sosok Ratna yang membungkuk dengan memeluk tas. Posisi yang aneh. Tatapan Hendri masih menampakkan dambaan kepada tasnya. "Apa kau mau selamat, Hendri?" tanya sang Tuan. Hendri mengangkat kepala lalu menatap ke arah suara. "Mau!" sahutnya lemah. "Kau bisa selamat dan mendapatkan kembali tasmu! Pisau akan lepas dari dadamu dan lukamu sembuh dalam sekejap!" "Mau!" seru Hendri bergairah.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Syaratnya gampang. Aku jadi tuanmu. Maka segala yang kauinginkan akan tercapai asal kaupenuhi segala permintaanku." "Permintaan apa?" "Kelak bila saatnya tiba, nyawamu akan jadi milikku, seperti kekasihmu si nenek itu. Tapi buatmu itu tentu tak ada artinya. Kalau sudah mati kau tidak akan merasakan apa-apa lagi." Dalam keadaan lemah Hendri masih bisa berpikir. Ia teringat akan percakapan Ratna dengan sang Tuan yang barusan didengarnya. Ratna sudah memenuhi permintaan sang Tuan untuk membunuhnya, tapi ternyata Ratna dikorbankan juga. Padahal kalau mau, sang Tuan bisa saja menolong Rama. Apakah itu karena sang Tuan sudah tak sabar ingin memiliki nyawanya? Bisa jadi atau kemungkinan besar hal yang sama akan terjadi pula atas diri Hendri. "Tidaaak! Aku tidak mau! Tida...a...a...kk!" serunya sekeras-kerasnya, mengerahkan tenaga yang ma498 sih dimilikinya. Lalu ia berlari sempoyongan ke luar. Berkali-kali ia mau jatuh tapi berusaha keras untuk tetap tegak. Ia sudah tidak hirau lagi akan tasnya. Yang penting sekarang adalah keluar dari rumah mengerikan itu. Dengan berpegangan ke sana ke sini ia berhasil mencapai pintu. Setelah pintu terbuka, ia tidak tahan lagi. Ia jatuh menggabruk. Darahnya mengucur sepanjang jalan yang dilaluinya. Tapi ia bangun lagi lalu merangkak dengan kedua tangan dan kaki, terus menuju pintu pagar. Dengan susah payah ia berhasil juga mencapai jalan! "To...looo...ng! To...looo...ng!" rintihnya. Orang-orang yang lewat menjadi gempar lalu bergegas menolongnya. Mereka mengangkutnya ke rumah sakit. Hiruk-pikuk itu segera beralih ke rumah Ratna karena di situ tampak kobaran api yang membesar dengan cepat. "Apiii! Apiii!" Tiang listrik diketok-ketok. Orang-orang berteriak histeris dan berlarian ke sana kemari. Kepanikan terutama terjadi di seputar rumah

http://inzomnia.wapka.mobi

Ratna. Tetapi dalam waktu singkat rumah Ratna terbakar habis tanpa menjalar ke mana-mana! Rumah itu seperti api unggun yang terbakar di satu tempat saja, lalu semakin mengecil dan kemudian padam setelah kayunya habis. Kepanikan yang begitu luar biasa berubah menjadi keheranan dan rasa takjub yang menyebabkan orang-orang bengong dan bingung. Pemadam kebakaran yang datang seperempat jam kemudian hanya menemukan puing teronggok dan kesibukan warga yang kembali memasukkan barang-barang ke dalam rumah setelah tadinya dikeluarkan dengan tergesa-gesa. Mereka gembira karena rumah itu selamat. 499 Setelah kehebohan berlalu, muncul kehebohan berikutnya. Warga sekitar baru teringat akan penghuni rumah yang terbakar itu. Ke mana mereka? Apakah mereka sempat keluar menyelamatkan diri ataukah menjadi korban? Setelah dilakukan pencarian intensif, di bawah puing-puing ditemukan kerangka yang hangus. Kerangka dan tulang belulang yang ditemukan itu sebegitu hangusnya hingga sentuhan beberapa kali membuatnya hancur menjadi abu! Dengan demikian sulit untuk memastikan apakah tulangtulang itu berasal dari satu orang atau dua orang. Perlu pemeriksaan yang lebih detail untuk itu. Bisa disimpulkan bahwa korban merupakan penghuni rumah karena tidak ada tetangga yang melihat satu atau keduanya berada di luar rumah dalam keadaan selamat. Kalau hanya salah satu yang selamat, pasti dia akan berlari keluar untuk minta pertolongan. Sementara itu Hendri tidak bisa mencapai rumah sakit dalam keadaan hidup. Ia meninggal dalam perjalanan karena kehabisan darah. Tidak ada warga sekitar yang mengenalinya atau pernah melihatnya berada di rumah Ratna. Wajahnya telah banyak berubah karena trauma yang menerpanya. Untunglah dari dalam saku jaketnya ditemukan dompetnya. Di sim ada identitasnya sebagai warga Jakarta! 500 BAB 47

http://inzomnia.wapka.mobi

Dari karyawan bengkelnya Rama mendengar ada kebakaran di Jalan Angsana. Letaknya hanya satu blok dari rumahnya. "Tapi sekarang mah udah padam, Pak. Cuma satu rumah yang habis terbakar." "Jalan Angsana nomor berapa?" tanya Rama dengan jantung berdebar. Firasatnya tidak enak. "Kalau nggak salah sih nomor dua, Pak." "Terus penghuninya gimana?" "Mati hangus, Pak. Ada miang belulangnya yang sudah hitam." Rama sangat terkejut hingga wajahnya pucat pasi. "Kenapa, Pak? Bapak kenal?" "Ya. Kenal!" Rama segera berlari memberitahu Maya, istrinya. Lisa dan Boy yang juga mendengar mau ikut serta untuk melihat, tapi Rama melarang. "Kalian jaga rumah dulu. Nanti kalau kami kembali, baru kalian boleh ke sana untuk melihat. Sementara itu telepon oom-oom kalian. Kasih tahu." Rama dan Maya melihat situasi rumah di Jalan Angsana nomor 2 yang sudah tinggal puing. Sekitar rumah itu sudah dilingkari pita kuning kepolisian. Beberapa petugas forensik masih menyelidiki tempat itu. Rama bergerak maju tapi seorang petugas mencegahnya. 501 "Saya kerabat penghuni rumah ini, Pak." "Oh ya? Wah, menyesal sekali, Pak. Beritanya buruk." "Apa betul penghuninya terbakar?" "Ya. Kami menemukan kerangka yang terbakar. Tapi itu sudah dibawa ke ruang jenazah RS Hasan Sadikin. Anda bisa mengurusnya di sana." "Berapa orang, Pak? Satu atau dua? Soalnya penghuninya ada dua." "Saya sudah dengar dari warga bahwa penghuninya ada dua. Tapi masih perlu pemeriksaan teliti untuk memastikan apakah yang tewas ada dua atau satu. Kerangka yang hangus berikut abunya terkumpul di satu tempat. Di tempat lain tak ada." "Apa penyebab kebakaran ini, Pak? Kelihatannya aneh ya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jangan sembarangan menyangka dulu, Pak. Masih perlu penyelidikan." Petugas itu kelihatannya segan bicara lebih banyak. Rama menarik Maya menjauh. Mereka memandang berkeliling. Tak ada yang tersisa dari rumah itu. Tetapi rumah tetangga yang bersebelahan sama sekali tidak tersentuh api karena tidak tampak bekas hangus kehitaman. Sebatang pohon belimbing sayur di halaman masih segar bugar dengan daundaunnya yang hijau dan buahnya yang rimbun bergantungan. Demikian pula beberapa pepohonan lainnya yang lebih kecil. Pohon-pohon itu tidak terusik sedikit pun dengan hawa panas yang pernah melanda tempat itu. Tak ada yang hangus atau kering dan layu. Pintu pagar pun masih utuh. Tanamannya rusak dan ringsek karena injakan kaki orang banyak yang berusaha memadamkan api. Jelas bedanya antara rusak karena terinjak dan rusak karena terbakar. 502 Ketika secara tak sengaja tatapan Rama tertuju ke bawah, ia melihat ada bercak merah di dekat tanaman yang ringsek. Ia berjongkok dan mengamati. Maya ikut-ikutan. "Apa, Pa?" tanya Maya. "Sepertinya darah, ya?" "Ah masa? Tadi kan udah diperiksa, masa mereka nggak lihat?" "Siapa tahu terlewatkan. Kalaupun memang itu darah, kayaknya lebih dari segitu. Tapi sudah hilang karena diinjak-injak orang dan tersiram air." "Darah siapa? Dan kenapa ada di situ?" "Mana aku tahu? Tapi aku punya perasaan nggak enak, Ma. Ini sepertinya bukan kebakaran biasa." "Habis apa? Disengaja?" "Ssst... Jangan keras-keras ngomongnya. Ayo kita pulang. Bicara sambil jalan." Setelah pamit pada petugas dan memberikan alamat mereka, Rama dan Maya berjalan dengan bergandengan tangan. Pelan-pelan saja. Mereka perlu menenangkan diri dari kejutan yang barusan menimpa.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aneh ya, Ma. Kenapa aku nggak merasa sedih dan kehilangan? Kenapa aku malah lega karena terlepas dari beban? Padahal bagaimanapun dia kan ibuku," kata Rama dengan perasaan bersalah. "Ya. Aku juga begitu." "Kau masih mending. Kau hanya menantu. Tapi aku kan anak kandung, Ma." "Kau bisa berbagi perasaan dengan saudara-saudara yang lain." "Itu pasti. Ngomong-ngomong tentang kebakaran itu, aku curiga janganjangan ada yang jahat, Ma. Siapa tahu ada yang berniat merampok, mentang503 mentang mereka hanya berduaan. Mama kan punya sedikit harta." "Maksudmu, mereka dibunuh lalu dibakar untuk menghilangkan jejak?" "Ya." "Tapi itu nggak mungkin, Pa!" "Nggak mungkin gimana?" "Mama kan punya ilmu. Siapa yang bisa mengalahkannya?" "Oh iya." Rama tertegun sejenak. Ia sempat melupakan hal itu. "Ah, aku jadi bingung, Ma." "Jangan-jangan..." Maya tak melanjutkan ucapannya. Ia tampak takut. "Jangan-jangan apa?" "Takut ah ngomongnya." "Ayolah, kenapa mesti takut? Mama kan sudah nggak ada." "Justru itu. Bagaimana kalau yang tewas terbakar itu Bi Ipah, bukan dia?" "Lantas dia ke mana?" "Dia pergi. Muncul-muncul berganti rupa." "Ah masa? Jadi menurutmu dia yang membakar Bi Ipah? Tapi mana mungkin dia pergi sendirian? Dia kan memerlukan kita. Dan kalau dia sampai berganti rupa lagi, kita punya alasan untuk tidak mengakuinya." "Siapa tahu... Ah, sudahlah, Pa. Kita nggak tahu apa-apa. Cuma berandaiandai saja. Jadi takut sendiri. Sudah, ah. Mendingan kita bicara dengan saudara-saudara."

http://inzomnia.wapka.mobi

Maya sangat menyayangkan lenyapnya koleksi perhiasan Rama. Sekarang Rama diperkirakan tewas, tapi ternyata ia membawa serta hartanya! 504 Sore itu juga mereka berkumpul di rumah Rama setelah menjenguk lokasi di Jalan Angsana. "Kita harus mengambil abunya lalu memakamkannya," kata Rama. "Biarpun tercampur dengan abu Bi Ipah?" tanya Ramli. "Kalaupun tercampur, bagaimana memisahkannya?" "Ah iya. Bener juga. Baiklah. Jadi kita harus mengakui dia sebagai apa? Ibu atau bibi?" tanya Ramli. Semua terdiam. Tak ada yang bisa menjawab. Sungguh membingungkan. "Kalau kita akui dia sebagai ibu kita, seperti yang sesungguhnya, bagaimana tanggapan warga di sekitar rumahnya? Hampir pasti berita seperti ini akan masuk koran. Pernyataan kita akan dimuat. Mereka pasti tidak percaya karena mereka sudah melihat rupa Mama. Nanti bisa timbul kecurigaan. Kita bisa repot menjelaskan. Celaka, kan? Jadi sudahlah, sebaiknya kita tetap menganggapnya sebagai bibi kita. Itu sesuai dengan yang tertera di kartu keluarga," jelas Rama. "Apa itu nggak munafik namanya?" tanya Ramli. "Ah, kita sudah lama jadi orang munafik saat berhadapan dengan Mama," sanggah Marta. "Misalnya terhadap Delia. Ketika dia ditindas dan dikejar-kejar Mama, kita tidak menolongnya. Kita malah membantu Mama." Ramli dan Mila berpandangan. Tentu mereka masih ingat bagaimana Donna disuruh memperdaya Delia dengan meminta bantuan sepuluh juta. Dengan tulus Delia memberikan padahal mereka sendiri diam saja. 505 Hanya Donna yang berani meminta maaf. Diingatkan hal itu mereka jadi malu. "Aku kira, Delia harus diberitahu mengenai kejadian ini," kata Mila. "Tentu saja. Kita semua berutang maaf kepadanya," Ridwan membenarkan.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sebaiknya Donna saja yang memberitahu. Hanya dia yang akrab dengan Del. Kayaknya dia punya nomor telepon Del di Jakarta," kata Mila. *** Yasmin mendapat berita Kematian Hendri lewat telepon. Ia menyampaikannya kepada Delia lalu kepada Erwin. Lewat telepon Erwin mengajaknya bersama-sama ke Bandung mengurus jenazah Hendri hari itu juga. Sementara Kosmas tak bisa ikut karena harus menjaga motelnya. Delia memutuskan untuk ikut. Winata mendukung Kepergian mereka. Belum sempat mereka berangkat, telepon berdering. Dari Kosmas untuk Delia. "Del, ada telepon dari Bandung. Dari Donna. Supaya jelas, kusuruh dia langsung menghubungi rumah Yasmin. Sudah ya. Tunggulah. Sebentar lagi dia nelepon." Segera setelah Delia menutup telepon dari Kosmas, telepon kembali berdering. Kali ini dari Donna. "Ada apa, Don?" "Aku disuruh Mama, Tante. Jadi ngomongnya terang-terangan. Ada berita besar." Cerita Donna mengalir lancar. Delia terkejut hingga tanpa terasa ia memekik. Yasmin dan Erwin mendekati dengan khawatir. "Baiklah, Don. Sudah jelas. Kebetulan sekarang 506 juga aku mau berangkat ke Bandung sama teman-teman. Nanti aku mampir," kata Delia menutup telepon. Erwin dan Yasmin sangat terkejut mendengar berita yang disampaikan Donna. "Mungkinkah ada hubungannya dengan Hendri?" tanya Yasmin. "Kayaknya ada. Bukankah menurut perkiraan Hendri berada di rumah Ratna?" "Oh, jangan-jangan ada hubungannya dengan jimat yang kita ganti itu!" Yasmin mulai menangis. Ia merasa bersalah.

http://inzomnia.wapka.mobi

Delia memeluk Yasmin. Baru saat itu Yasmin memperlihatkan emosinya. Semula dia tenang-tenang saja mendengar berita itu. Bahkan seperti tidak bersedih. Dan Delia sempat melupakan bahwa orang yang diberitakan meninggal itu adalah suami Yasmin, karena itu ia juga tidak berpikir untuk menghiburnya. Bagaimana mau menghibur seseorang yang tidak merasa perlu dihibur? Ternyata Yasmin masih memiliki perasaan terhadap Hendri. Erwin memandangi saja dengan galau. Ia tidak tahu mesti berkata apa. "Tentu nggak ada hubungannya, Yas," kata Delia sambil menepuk-nepuk punggung Yasmin. "Hendri ditusuk orang dan ditemukan di jalanan. Sedang Ratna mati terbakar di rumahnya. Lokasinya beda. Itu nggak ada hubungannya dengan jimat." "Aku yakin ada." Yasmin melepaskan pelukan lalu menyusut matanya. "Hendri ke sana pasti masalah jimat. Mungkin dia dibunuh nenek sihir itu, Kak!" Delia dan Erwin terkejut. Sepertinya tuduhan -itu terlalu mengada-ada. Tapi siapa tahu? Orang seperti Ratna bisa memberikan kejutan. 507 "Jangan berpikir macam-macam dulu, Yas. Mung-kin di sana kita bisa mendapat informasi yang lebih jelas." "Ya. Mudah-mudahan begitu." Erwin lebih banyak diam. Ia berpikir tentang ucapan Yasmin. Begitu besar keinginan Hendri untuk bisa menggauli Yasmin kembali sampai perlu meminta jimat lagi. Mungkin karena jimat pertamanya kurang manjur. Tapi kenapa Hendri begitu terburu-buru sampai tak bisa menunggu akhir pekan? Ia tak perlu minta cuti supaya bisa ke sana hari itu juga. Apalagi situasi hubungannya dengan Yasmin pun tidak sedang kritis sampai harus darurat diselesaikan. Tak ada salahnya bersabar beberapa hari. Logikanya, ada sesuatu yang lain. Mungkin jimat itulah yang membuat Hendri ingin buru-buru menemui Ratna. Apakah jimat itu salah sasaran? Tapi pemberinya adalah Ratna sendiri. Tak mungkin Ratna salah beri kecuali disengaja.

http://inzomnia.wapka.mobi

Hanya Erwin yang pernah bertemu Ratna dalam penampilan barunya. Rekan-rekannya tidak. Ia tahu bagaimana tampilan Ratna. Cukup cantik, menarik, seksi, dan genit! Apa lagi motivasi orang yang sebenarnya sudah tua renta tapi ingin muda kembali kecuali supaya menarik lawan jenisnya? Kenapa pula Ratna memilih tinggal di rumah kontrakan, tak lagi serumah dengan keluarga anaknya, kalau bukan untuk mendapatkan kebebasan melakukan apa saja? Tetapi ia tidak tega menyampaikan pemikirannya itu. Ia tidak ingin menambah kesedihan Yasmin. Sesungguhnya ia tidak munafik untuk tidak merasa senang oleh kematian Hendri. Hanya keadaan itu satusatunya yang bisa memuluskan hubungannya dengan Yasmin. 508 Yasmin merasa terhibur oleh kehadiran teman-temannya di saat seperti itu. Ia tidak tahu sepatutnya merasa senang atau sedih karena kematian Hendri. Itu terjadi secara mendadak. Secara tak disangka ia terlepas dari ikatan yang tak dikehendakinya tapi tak bisa ia putuskan. Ia tak pernah berpikir tentang kematian Hendri sebagai solusi kecuali kematian dirinya sendiri. Barangkali perasaan bersalah muncul karena sesungguhnya ia merasa senang. Ia malu oleh perasaan itu. 509 BAB 48 Sejak keberangkatan dari Jakarta, Yasmin dan kawan-kawan sudah mempersiapkan keterangan yang nanti harus diberikan kepada polisi mengenai Hendri. Hal itu penting supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Keterangan harus pasti dan tidak berubah-ubah. Hendri mati secara tidak wajar, jadi pemeriksaannya akan lebih mendetail. Biasanya dalam hal seperti itu orang pertama yang dicurigai adalah keluarga, kalaukalau ada persekongkolan atau orang ketiga. "Suami saya minta cuti dua hari karena ada urusan bisnis yang mau dibicarakan dengan orang yang katanya merupakan kerabat jauh. Biarpun orang kantoran, dia ingin punya usaha sampingan. Garmen, Pak," tutur Yasmin kepada polisi.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apa yang dibawanya dari Jakarta, Bu?" "Sebuah tas travel merek Presiden warna hitam, Pak. Isinya, selain pakaian, ada sejumlah uang dan surat-surat. Dompet biasanya dimasukkan ke dalam saku jaketnya. Isi dompet itu KTP, kartu nama, kartu kredit, dan uang tunai. Dia naik kereta api." "Tas itu tak ada padanya saat ditemukan, Bu. Orang-orang yang menolong dan saksi yang melihatnya mengatakan dia tak membawa apaapa. Dia merangkak di jalan karena tak dapat lagi berjalan." "Apakah tas itu dirampas orang yang membunuhnya, Pak?" 510 "Mungkin saja. Lantas di mana alamat orang yang mau dikunjungi dan siapa namanya?" "Dia tidak bilang, Pak. Katanya mau ketemu di hotel, tapi hotel mana dia nggak kasih tahu. Karena dia bawa HP, saya pikir gampanglah kalau mau menghubunginya." Petugas yang mewawancara memandang Yasmin seolah dia kurang cerdas. "Ah, Ibu ceroboh. Kalau suami keluar kota mestinya ditanya alamat tujuannya. Jangan-jangan bilang ke Bandung, tahu-tahu ke Surabaya." "Saya nggak mau cerewet, Pak. Kalau nggak percaya, gimana? Saya juga nggak mungkin bisa tahu pasti kecuali saya membuntutinya." Petugas itu tertawa. Tapi Yasmin tidak ikut tertawa. Ia tahu itu bukan saat yang tepat untuk bercanda. "Ibu nggak cemburu?" "Cemburu sih iya. Tapi mau gimana lagi. Pak? Saya nggak mau ribut. Orang harus punya alasan kuat untuk cemburu." "Bagus. Istri yang baik memang harus begitu. Apa Ibu mencurigai suami Ibu?" "Curiga apa, Pak?" "Selingkuh atau gimana." "Saya kira itu nggak pantas ditanyakan pada saat seperti ini. Orangnya sudah nggak ada," kata Yasmin dengan wajah murung. Ia memang tak suka ditanyai seperti itu, apa pun alasannya. Petugas mengangguk-angguk. Tampak terkesan.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Maaf, Bu. Saya ikut prihatin." "Di mana suami saya ditemukan, Pak?" "Di Jalan Angsana. Kalau Ibu mau ke sana gampang. Di dekatnya ada rumah terbakar, tinggal puing." 511 "Terima kasih, Pak." Ketika Yasmin menyampaikan hal itu kepada Erwin dan Delia, keduanya menjadi gempar. "Wah, itu rumah Ratna! Donna bilang alamatnya Jalan Angsana!" seru Delia. "Nah, kubilang apa. Memang ada hubungannya," kata Yasmin. "Ya, sepertinya begitu," kata Erwin. Tak bisa lain. Sesudah itu mereka berpencar. Erwin menemani Yasmin menjenguk jenazah Hendri di rumah sakit, sedang Delia pergi ke rumah orangtua Donna. Mereka berjanji akan menjemput Delia bila urusan di rumah sakit sudah selesai. Rencananya jenazah Hendri akan dibawa ke Jakarta setelah diautopsi. Ramli dan Mila bersama Donna menyambut Delia dengan hangat. Ramli dan Mila memanfaatkan saat itu untuk minta maaf kepada Delia. "Sudah kumaafkan. Biarkan masa lalu berlalu. Aku kan tahu betul bagaimana Mama." "Kami juga ingin minta maaf untuk Mama," kata Ramli. "Oh ya. Aku tak punya dendam lagi padanya. Nasibnya tragis." "Ya. Bukan hanya tragis, tapi juga mengerikan. Tak ada yang tersisa dari Mama. Cuma abu. Itu pun tidak jelas apakah abu itu termasuk abu Ipah atau justru hanya abu Ipah sedang Mama tidak jelas di mana. Semuanya sudah jadi puing. Kau sudah lihat tempatnya, Del?" tanya Mila. "Belum. Sebentar aku ke sana bersama dua kawan dari Jakarta yang menemani. Bagaimana dengan barang-barang Mama?" "Tidak ada juga. Koleksi perhiasan Mama sudah raib. Entah ikut jadi abu atau diambil orang. Puingnya 512 belum dicermati. Tapi kami sudah tak punya harapan lagi"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bagaimana dengan keluarga Ipah? Apa dia masih punya keluarga? Tentunya mereka harus diberitahu." "Menurut Maya, Ipah pernah cerita bahwa dia punya anak dan cucu yang tinggal di Ciawi. Tapi di mana tempatnya tidak jelas. Dia memang punya KTP, tapi itu kan ada sama dia. Selama bekerja di rumah Rama, tak ada kerabatnya yang pernah datang menjenguk. Padahal orang bernama Ipah atau Saripah tentunya tidak hanya ada satu di sana ya? Tapi kami tentu tidak boleh menyepelekan. Maya punya foto Ipah. Jadi kami akan suruh orang mencari keluarganya di sana." "Itu bagus." "Tante Del," Donna ikut bicara. "Sejak tinggal di Jalan Angsana itu, Nenek punya pacar. Si Boy yang lihat. Mobilnya pelat Jakarta." "Bagaimana si Boy bisa memastikan bahwa itu pacarnya?" Delia ingin tahu. "Mereka mesra satu sama lain. Kalau gitu berarti pacaran dong." Delia tertawa. "Untung si Boy nggak ketahuan Nenek." "Ya. Mungkin Nenek terlalu asyik," kata Donna. Ridwan dan Mila geleng-geleng kepala. Anak dan cucu tidak ada yang respek lagi terhadap Rama. Bahkan sesudah meninggal pun. Semasa hidup ditakuti, setelah meninggal dicemooh. "Oh ya, Del, Rama dan Maya punya perkiraan buruk mengenai Kematian Mama," kata Ridwan. "Mungkin si pacar itu terlibat dengan peristiwa itu. Rama melihat bercak darah di tanah dekat semak-semak. Katanya, kemungkinan tadinya lebih banyak 513 tapi sudah terinjak-injak orang dan tersiram air. Maklum saat itu orang pada panik. Lalu ada satu hal lagi yang siapa tahu ada hubungannya. Sebelum rumah itu terbakar, tak jauh dari situ warga menemukan seorang lelaki merangkak minta tolong. Dadanya tertusuk pisau. Mungkinkah dia yang meninggalkan jejak darah? Mungkinkah dia punya hubungan dengan Mama? Apakah dia yang menyebabkan kebakaran?" Delia terkejut oleh dugaan itu. Mereka tentu tidak tahu siapa lelaki korban penusukan itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tapi bagaimana dia bisa menyebabkan kebakaran kalau dia sendiri luka parah? Lantas siapa yang menusuknya? Mama? Bukankah Mama punya ilmu?" "Itulah yang kami pertanyakan. Bagaimana Mama yang sudah jelas punya ilmu bisa membiarkan dirinya mati terbakar?" "Berantem sama pacarnya," Donna menyimpulkan. "Kenapa kau menyangka begitu?" tanya Delia. "Ketusuknya kan di bagian depan. Di dada. Itu berarti ada perkelahian sebelumnya. Kalau tusukannya dari belakang berarti dia nggak siaga," sahut Donna. "Tapi kenapa harus berkelahi?" tanya Mila. "Mungkin si pacar mau merebut perhiasan Nenek," sahut Donna ringan. "Apakah ada barang Mama yang ditemukan pada korban penusukan itu?" tanya Delia. "Katanya dia nggak bawa apa-apa saat ditemukan. Entah di sakunya. Perhiasan kan gampang dimasukkan ke dalam saku," jelas Ridwan. "Ah, Mama nggak perlu menusuknya. Pakai saja ilmunya," Delia tidak bisa menerima cerita itu. "Ya. Memang sulit dicerna. Karena itu kami juga nggak berani menyampaikannya kepada polisi. Bahkan 514 Rama juga nggak mau memberitahu bahwa dia melihat bercak darah di halaman. Takut jadi macam-macam nanti. Bagaimana kalau polisi terus mengorek? Bisa ketahuan dong siapa sesungguhnya Mama itu." Delia mengangguk dengan perasaan lega. Bila Hendri bisa dipisahkan dari kasus terbakarnya rumah Ratna, maka Yasmin tidak perlu terbawabawa. "Lantas kalian mengakui Mama sebagai apa?" Delia ingin tahu. "Sebagai bibi," jawab Ridwan malu. "Habis mau gimana, Del? Warga di situ kan sudah melihat penampilan Mama. Dia terlalu muda untuk jadi ibu kami." "Ya. Memang nggak ada jalan lain," Delia memahami.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ketika masih hidup dia memang tidak ingin kami memanggilnya Mama di depan orang lain. Anak-anak juga dilarang memanggil Nenek," kata Ridwan. "Oh ya, Del, kami juga ingin mengucapkan terima kasih atas bantuanmu membimbing Donna hingga dia bisa lepas dari jerat Mama," kata Mila. "Im sudah kewajibanku. Aku senang bisa membantu Donna. Bukankah kita saling membantu ya, Don?" tanya Delia. Donna tersenyum lalu menggelendot manja pada Delia. Satu tangan merangkul bahunya. "Ceritakan tentang dirimu, Del. Apa yang kauker-jakan di Jakarta?" tanya Mila. Tanpa ragu-ragu Delia memaparkan rencananya. Para pendengarnya menyambut dengan antusias. "Selamat, Del! Kami sungguh senang kau tak sendiri lagi. Selama ini kau mendapat perlakuan sangat tak adil dari Mama dan tak ada seorang pun dari kami yang membantu," kata Ridwan dengan sesal. 515 "Sudahlah. Nggak apa-apa. Aku kan tahu betul kesulitan kalian." Mereka masih sempat membicarakan banyak hal sampai Erwin dan Yasmin datang menjemput. Delia mengenalkan mereka sebagai temantemannya di Jakarta. "Kebetulan mereka ada urusan ke sini. Jadi aku bisa sekalian ikut." Keterangan Delia itu memang ada benarnya. Dari rumah Ridwan mereka mencari hotel untuk menginap malam itu. Yasmin mengirim berita kepada ayahnya mengenai Hendri. Ia minta Aryo mengabari kerabat Hendri perihal peristiwa yang menimpanya lalu mempersiapkan pemakamannya esok hari. Ia akan kembali ke Jakarta dengan membawa jenazah Hendri. Esok paginya mereka ke Jalan Angsana untuk melihat lokasi kejadian. Memang tak sulit menemukannya. Cari saja rumah yang sudah jadi puing. Masih banyak orang di sana yang datang ingin melihat-lihat. Kedengarannya cerita sudah berkembang menjadi isu yang aneh-aneh. Ada yang mengatakan rumah itu dihuni oleh hantu api karena dulunya

http://inzomnia.wapka.mobi

pernah terbakar juga. Isu-isu seperti itu, andaikata tidak cepat dilupakan orang, pasti akan membuat rumah yang kembali dibangun di situ tidak laku terjual. Mereka mengamati tempat itu dengan beragam perasaan. Yasmin membayangkan Hendri merangkak keluar dari rumah itu dengan pisau menancap di dada. Betapa sakit dan menderitanya. Sepertinya dia bisa melihat Hendri melakukan itu. Kenapa Hendri berusaha ke/uar biarpun dalam keadaan sekarat? Pasti karena 516 ada ancaman di dalam rumah. Dan ancaman itu tidak lain berasal dari Ratna. Yang itu bisa diperkirakan. Yang misterius adalah menyangkut Ratna. Kenapa dia membiarkan dirinya dikalahkan? Atau dia memang bisa dikalahkan? Bagi Yasmin, Ratna hanyalah cerita. Ia tak pernah bertemu, tak pernah melihat orangnya. Tapi Hendri adalah suaminya. Orang yang pernah mencintainya. Ada kenangan manis dan pahit bersamanya. Selamat jalan, Hendri! Satu-satunya hal yang disyukurinya adalah Hendri tidak ikut terbakar bersama Ratna di rumah itu. Delia terkenang kepada Ratna. Misteri menyelimuti perempuan itu. Tak mungkin bisa melupakannya karena Ratna sudah jadi bagian dari kehidupannya. Bahkan penentu! Erwin mengenang Hendri ketika datang menemuinya dengan membawa pizza. Sebelumnya Ratna datang untuk check in. Tentu saja ia tak pernah mengira bahwa kedua orang itu kemudian bertemu dan berkenalan. Tak ada yang tahu siapa yang mengatur. Ratna dengan ilmunya atau yang lain. Yang pasti Rama telah mengubah arah hidup Hendri, yaitu menuju kematian! Di samping itu Ratna pun telah memberi Yasmin kebebasan! Ah, bukan. Sesungguhnya bukan Ratna yang punya kemampuan mengarahkan hidup seseorang, melainkan Yang Kuasa! BAB 49 Dua hari kemudian, Delia ditelepon Rama.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Del, ada berita baru. Ipah sudah ditemukan di kampungnya di Ciawi. Orang suruhan kami mengajaknya ke rumahku untuk berbincang. Sudah tentu kami nggak bisa menitipkan masalah kepada orang lain. Tapi dia menolak karena katanya dia sudah berjanji kepada Ibu Ratna untuk tetap tinggal di kampung. Dia nggak boleh singgah ke rumahku apalagi bekerja. Dia memang nggak tahu apa yang telah terjadi atas diri Mama. Menurutmu gimana ya? Apa kita masih memerlukan keterangan dan ceritanya tentang Mama? Katanya, dia berhenti baik-baik dan gajinya sudah dibayar penuh oleh Mama. Kau tahu tanggal berhentinya itu? Pada hari yang sama dengan kejadian tragis itu! Dia keluar dari rumah itu pagi hari. Jadi semestinya dia tahu apa saja yang terjadi di hari terakhir itu dan kenapa dia sampai minta berhenti. Aku heran, dia kan penakut sekali dan sangat patuh kepada Mama. Bagaimana dia sampai punya keberanian untuk minta berhenti? Kami sangat tergelitik ingin tahu. Apa sebaiknya aku dan seorang saudara datang ke rumah Ipah untuk bicara langsung dengannya?" Delia termenung sejenak. Ia cukup terkejut dengan berita itu. Ia juga sangat menghargai informasi Rama. 518 Itu berarti Rama dan saudara-saudaranya masih menganggap dirinya sebagai kerabat mereka yang perlu diajak berbagi. "Aku punya pemikiran begini, Ram. Ipah masih hidup. Seharusnya kita mensyukuri hal itu. Tapi misteri seputar Mama tak mungkin Ipah bisa tahu. Dia kan sudah keluar. Mungkin juga dia keluar karena Mama menghendaki. Kalau kita bertanya-tanya dengan sikap yang begitu ingin tahu, dia juga terpancing ingin tahu. Ada apa sebenarnya. Bukankah sebelumnya dia sudah tahu seperti apa Mama itu? Bagaimana kalau dia cerita kepada setiap orang? Dia nggak tahu apa yang telah terjadi atas diri Mama dan rumah itu. Padahal dia tentunya ingin diberitahu. Masa tiba-tiba kalian datang mencarinya. Kalau dia tahu mungkin dia bisa histeris. Kau bisa repot. Di samping itu ada bahaya lain. Selama ini dia tutup mulut tentu karena karena takut pada Mama. Bagaimana kalau dia tahu Mama sudah meninggal? Mungkin saja dia akan buka mulut kalau

http://inzomnia.wapka.mobi

tahu orang yang ditakutinya sudah tidak ada. Hati-hatilah, Ram. Orang sangat menyukai cerita-cerita seperti itu. Apalagi peristiwanya baru terjadi." Di sana diam sejenak. Ketika Rama bicara lagi, nada suaranya tak lagi bersemangat seperti tadi. "Kau benar sekali, Del. Saking kepengen tahu kami nggak mikir ke situ." "Aku pikir, dia tidak akan bercerita seperti yang kalian inginkan. Pasti Mama sudah berpesan padanya agar tidak cerita apa-apa tentang dirinya. Aku hampir yakin akan hal itu. Karena Ipah mau berjanji maka dia diizinkan keluar. Mana mungkin Mama mau begitu saja membiarkan dia pergi dengan membawa rahasianya? Kita tidak pernah tahu isi hati dan 519 kepala Ipah. Mungkin saja dia kelihatan lugu dan sudah tua pula, tapi siapa yang tahu apa yang bisa dilakukannya? Jadi sebaiknya jangan berhubungan dengan Ipah lagi. Dia sudah tenang di kampungnya." "Terima kasih, Del. Pemikiranmu itu berharga sekali." "Aku juga berterima kasih karena diberitahu." Delia menyampaikan berita yang didengarnya itu kepada rekanrekannya. "Aku bersyukur Ratna terbakar sendirian," kata Yasmin. Erwin membenarkan. "Aku salut dengan pemikiranmu, Del," puji Kosmas. "Kau memberi masukan yang berharga sekali buat mereka." "Sebenarnya aku juga ingin melindungi Hendri," Delia mengakui. "Kalau Ipah disuruh jadi saksi, bisa repot, kan? Selanjutnya bisa menyusahkan Yasmin." Yasmin memeluk Delia dengan perasaan bersyukur. "Mudah-mudahan saja Rama mengikuti saranku. Kita belum tahu bagaimana Keputusannya meskipun dia bilang saranku bagus. Saudaranya banyak. Masing-masing punya keinginan sendiri," Delia melanjutkan. Tapi Delia mendapat berita selanjutnya dari Rama sehari setelannya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kami mengadakan rapat, Del," cerita Rama. "Maklum harus memutuskan bersama. Ternyata semua sepakat dengan saranmu. Demikian pula kedua saudara di luar Jawa. Kami akan pasrah, Del. Kami menerima keadaan. Tak perlu mencari tahu. Tak perlu mengorek. Biar semua orang hidup tenang." "Salut, Ram." "Terima kasih sekali lagi, Del. Dari kami semua. Salam untuk Kosmas." 520 Erwin melamar Yasmin yang menerimanya dengan catatan. "Aku ini perempuan bermasalah dalam seks. Kau sudah tahu itu dari kasusku dengan Hendri. Yang itu belum ada penyelesaiannya. Aku tak mau ada masalah lagi dalam kehidupan perkawinan kita nanti." "Ya. Aku tahu kau akan memunculkan hal itu. Aku sudah siap. Aku percaya, kelak masalah itu takkan ada lagi. Sebabnya pertama, aku bukan Hendri dan tidak akan mengikuti jejaknya. Kedua, sikap dan perlakuanku padamu pasti beda juga. Padahal kau punya masalah seperti itu karena dua hal itu. Jadi kita jalani saja, Yas. Pelan-pelan kita perbaiki apa yang kurang." "Bagaimana kalau tak bisa diperbaiki?" "Kita harus menjalaninya dengan keyakinan, Yas. Kalau perlu dengan bimbingan orang yang ahli. Tapi aku yakin tanpa bantuan ahlinya pun aku bisa memperbaiki." "Bagaimana kalau menunggu dulu sampai ada perbaikan, baru kita menikah? Aku khawatir kau akan menyesal, Bang!" "Aku kan sudah siap. Orang yang siap dan yang belum pasti berbeda. Kita harus menikah dulu, Yas. Bagaimana kita bisa berusaha kalau tidak menikah? Nanti namanya zinah dong." "Oh iya," Yasmin tersipu. "Boleh aku menciummu sekarang?" Mereka berciuman. Yasmin tidak berkeringat dingin. Juga tidak gemetar ketakutan. Sebaliknya, ia merasakan getaran dan debar sensasi. Nalurinya mengatakan ia boleh merasa optimis. 521

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ada satu permintaanku, Bang." "Katakan saja." "Maukah kau menunggu setahun? Aku ingin menjalani masa berkabung dulu. Bagaimanapun Hendri suamiku. Itu suatu penghargaanku kepadanya." Erwin mengeratkan pelukannya. "Tentu saja aku mau. Aku sangat menghargai ketulusan dan kebaikan-mu. Setahun tidak akan terasa lama bila orang pandai mengisi waktu dengan kegiatan yang menyenangkan. Apalagi Yasmin berencana membuka butik. Erwin berjanji untuk membantunya di waktu luangnya. Bersama-sama mereka mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan bisnis itu. Winata menerima Erwin tanpa ragu-ragu. Ia menyukai Erwin sebagai orang dengan kepribadian rendah hati. Tapi yang paling membuatnya senang adalah sikap Yasmin yang menyatakan ingin berkabung dulu sebelum menikah dengan Erwin. Ia bangga karena punya anak yang terbukti berakhlak baik. Pepatah yang mengatakan bahwa begitu orangtua begitu pula anak ternyata tak selalu benar. Ayah yang kurang bermoral seperti dirinya ternyata tidak sampai memiliki anak berakhlak sama. *** Seperti sudah disepakati, Kosmas dan Delia merayakan pernikahan mereka di rumah Winata. Pestanya sederhana saja. Tamunya terbatas, hanya kerabat kedua mempelai dan kerabat Winata serta tetangga. Kepada semua orang Winata memperkenalkan Delia sebagai anak angkat. Meskipun bukan adopsi secara resmi, Winata menganggap Delia sebagai anak. 522 Yang menyenangkan hati Delia ialah semua saudara Rama berikut keluarga masing-masing, termasuk dua saudara yang tinggal di luar Jawa ikut hadir. Ia tahu mereka ingin memperbaiki kesalahan di masa lalu. Rantai kekeluargaan tidak perlu putus oleh kesalahan, berapapun besarnya. "Dulu Tante pernah sendirian," kata Donna. "Tapi orang yang baik tidak akan sendirian terus!"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kau pintar ngomong ya!" sahut Delia. "Betul, Tante. Aku pikir aku bisa belajar dari situ." Delia dan Kosmas saling pandang sambil tersenyum. "Anak itu cerdas," kata Delia setelah Donna menjauh. "Dengan keyakinan seperti itu dia tidak akan merasa kesepian bila tak punya teman." "Dia bisa seperti itu kan berkat kau juga." "Jangan terlalu memuji." "Itu bukan pujian, tapi kenyataan." Delia tersenyum. Ia senang mendengar ucapan Kosmas. Memang bukan pujian, tapi lebih sebagai perhatian terhadap dirinya sebagai pribadi. Kebahagiaan menjadi milik mereka ketika mereka mendapat anugerah tak ternilai. Dua bulan setelah menikah Delia dinyatakan hamil! Di usianya yang sudah empat puluh dan pernah dinyatakan kena kanker rahim, hal itu sungguh menakjubkan. Awalnya ia sempat khawatir kalaukalau bayinya nanti lahir cacat sebagai risiko kehamilan usia baya. Tapi Kosmas meyakinkannya untuk pasrah, menerima apa pun yang terjadi. Sudah diberi anugerah kenapa justru merasa cemas? Dari pemeriksaan yang cermat dan rutin selama kehamilannya, dokter meyakinkan Delia bahwa janin523 nya normal. Dia hanya perlu menjaga kesehatannya. Kosmas pun menjaganya bagai mutiara yang tak boleh retak. Menjelang perkawinan Yasmin dan Erwin, Delia melahirkan seorang bayi lelaki yang sehat sempurna. "Boleh aku menamainya Adam, Bang?" "Tentu saja boleh, Sayang! Tentu saja!" TAMAT