Anda di halaman 1dari 750

LAPORAN

PRAKTIKUM

KIMIA FISIKA

KELARUTAN

TIMBAL BALIK

SISTEM BINER

FENOL AIR

NAMA

INDAH

PUJI

RAHAYU

NIM

4301409017

TANGGAL

26

OKTOBER 2011

KELOMPOK

(LIMA)

DOSEN

: Ir.

SRI

WAHYUNI

M,Si

A. TUJUAN

Setelah

melakukan

percobaan

ini

diharapkan

mahasiswa dapat:

1.

Memperoleh kurva

komposisi

sistem

fenol air terhadap

suhu

pada

tekanan

tetap.

2.

Menentukan

suhu

kritis kelarutan timbal

balik sistem fenol

air.

B. DASAR TEORI

Sistem

biner

fenol air merupakan

sistem

yang

memperlihatkan sifat

solubilitas

timbal

balik antara fenol dan

air pada suhu tertentu

dan

tekanan

tetap.

Solubilitas (kelarutan)

adalah

kemampuan

suatu

zat

kimia

tertentu, zat terlarut

(solute), untuk larut

dalam suatu pelarut

(solvent).

Kelarutan

dinyatakan

dalam

jumlah maksimum zat

terlarut

yang

larut

dalam suatu pelarut

pada kesetimbangan.

Larutan hasil disebut

larutan jenuh. Zat-zat

tertentu dapat larut

dengan perbandingan

apapun terhadap suatu

pelarut.

Contohnya

adalah

etanol

di

dalam air. Sifat ini

lebih dalam bahasa

Inggris lebih tepatnya

disebut

miscible.

Pelarut

umumnya

merupakan

suatu

cairan

yang

dapat

berupa

zat

murni

ataupun campuran.

Campuran

terdiri dari beberapa

jenis. Di lihat dari

fasenya, Pada system

biner

fenol

air,

terdapat

jenis

campuran yang dapat

berupah pada kondisi

tertentu. Suatu fase

didefenisikan sebagai

bagian system yang

seragam

atau

homogeny

diantara

keadaan

submakroskopiknya,

tetapi benar benar

terpisah dari bagian

system yang lain oleh

batasan yang jelas dan

baik.

Campuran

padatan

atau

dua

cairan

yang

tidak

saling

bercampur

dapat

membentuk

fase

terpisah.

Sedangkan campuran

gas-gas adalah satu

fase karena sistemnya

yang

homogen.

Symbol umum untuk

jumlah fase adalah P,

(Dogra SK & Dogra

S, 2008 ).

Zat

yang

terlarut, dapat berupa

gas, cairan lain, atau

padat.

Kelarutan

bervariasi dari selalu

larut

seperti

etanol

dalam air, hingga sulit

terlarut, seperti perak

klorida

dalam

air.

Istilah

"tak

larut"

(insoluble)

sering

diterapkan

pada

senyawa yang sulit

larut,

walaupun

sebenarnya hanya ada

sangat sedikit kasus

yang

benar-benar

tidak ada bahan yang

terlarut.

Dalam

beberapa kondisi, titik

kesetimbangan

kelarutan

dapat

dilampaui

untuk

menghasilkan

suatu

larutan yang disebut

lewat

jenuh

yang

metastabil

atau

mengendap.

Kelarutan

timbal balik adalah

kelarutan dari suatu

larutan

yang

bercampur

sebagian

bila temperaturnya di

bawah

temperatur

kritis. Jika mencapai

temperatur

kritis,

maka larutan tersebut

dapat

bercampur

sempurna (homogen)

dan

jika

temperaturnya

telah

melewati

temperatur

kritis

maka

sistem

larutan tersebut akan

kembali

dalam

kondisi

bercampur

sebagian lagi. Salah

satu

contoh

dari

temperatur

timbal

balik adalah kelarutan

fenol dalam air yang

membentuk

kurva

parabola

yang

berdasarkan

pada

bertambahnya

fenol

dalam

setiap

perubahan temperatur

baik

di

bawah

temperatur kritis. Jika

temperatur dari dalam

kelarutan

fenol

aquadest dinaikkan di

atas

50C

maka

komposisi larutan dari

sistem larutan tersebut

akan

berubah.

Kandungan

fenol

dalam

air

untuk

lapisan

atas

akan

bertambah (lebih dari

11,8

%)

dan

kandungan fenol dari

lapisan bawah akan

berkurang

(kurang

dari 62,6 %). Pada

saat suhu kelarutan

mencapai 66C maka

komposisi

sistem

larutan

tersebut

menjadi seimbang dan

keduanya

dapat

dicampur

dengan

sempurna.

Sistem

biner

fenol - air merupakan

sistem

yang

memperlihatkan sifat

kelarutan timbal balik

antara fenol dan air

pada

suhu

tertentu

dan

tekanan

tetap.

Disebut sistem biner

karena

jumlah

komponen campuran

terdiri dari dua zat

yaitu fenol dan air.

Fenol

dan

air

kelarutanya

akan

berubah

apabila

dalam campuran itu

ditambahan salah satu

komponen

penyusunnya

yaitu

fenol atau air. Jika

komposisi campuran

fenol air dilukiskan

terhadap suhu akan

diperoleh kurva yang

ditunjukan

pada

gambar 1..

Gambar

1.

komposisi campuran

fenol air

L1

adalah

fenol dalam air, L2

adalah

air

dalam

fenol, XA dan XF

masing-masing adalah

mol fraksi air dan mol

fraksi

fenol,

XC

adalah

mol

fraksi

komponen pada suhu

kritis (Tc). Sistem ini

mempunyai

suhu

kritis

(Tc)

pada

tekanan tetap, yaitu

suhu minimum pada

saat

dua

zat

bercampur

secara

homogen

dengan

komposisi Cc. Pada

suhu

T1

dengan

komposisi di antara

A1 dan B1 atau pada

suhu

T2

dengan

komposisi di antara

A2 dan B2, sistem

berada pada dua fase

(keruh). Sedangkan di

luar

daerah

kurva

(atau

diatas

suhu

kritisnya, Tc), sistem

berada pada satu fase

(jernih).

Temperature

kritis atas Tc adalah

batas atas temperature

dimana

nterjadi

pemisahan fase.Diatas

temperatur

batas

atas, kedua komponen

benar-benar

bercampur.Temperatu

ini ada gerakan

termal

yang

lebih

besar

menghasilkan

kemampuan

campur

yang lebih besar pada

kedua

komponen,

(Atkins PW, 1999).

Beberapa

system

memperlihatkan

temperatur kritis Tc .

dimana

dibawah

temperature itu kedua

komponen bercampur

dalam

segala

perbandingan

dan

diatas temperature itu

kedua

komponen

membentuk dua fase.

Salah satu contohnya

adalah

air-

trietilamina.

Dalam

hal

ini

pada

temperature

rendah

kedua

komponen

lebih dapat campur

karena

komponen-

komponen

itu

membentuk kompleks

yang

lemah,

pada

temperature

lebih

lebih tinggi kompleks

itu terurai dan kedua

komponen

kurang

dapat bercampur, (

Atkins PW ,1999).

C.

ALAT

DAN

BAHAN

a.

Alat:

1.

Tabung reaksi

diameter 4 cm

buah

2.

Sumbat tabung

buah

3.

Pengaduk

1 buah

4.

Gelas kimia 400

ml

buah

5.

Kaki tiga dan

kasa

1 set

6.

Pembakar

1 set

7.

Buret

50

ml

buah

8.

Statif

dan

klem

1 buah

9.

Termometer

1 buah

b. Bahan

1. Fenol

2. Aquades

D.

CARA KERJA

Susun alat

E.

DATA

PENGAMATAN

Massa fenol yang

ditimbang = 5.32

gram

1. Penambahan aquades,

sampai terjadi

kekeruhan pertama

A q P u e a n N o . d g e a TT s m a ( t
1 2

T
r a t a r a t a

m a l n

k 1 . 3 e . r

4 4 4 3 4 3 , 5

4 u h

2. Penambahan aquades,

setelah terjadi

kekeruhan

AM N q as o u sa . a (g d ) e s Suh u (oC)

% M as sa

( m l

F e A n i o r l TT
1 2

F e A Tn i o r l

1 .

0 , 2

5 . 3 2

5 4 3 . 6 5 5 5 3 1 2 9 0 . . 6 3 4 6

5 5 5 4 5 . 0 3 2 8 1 2 3 5 1 , 2 . . . . . 4 . 3 7 7 9 0 5 5 8 2

5 5 5 5 . 0 3 4 8 3 3 4 5 , 2 . . . . . 4 4 8 2 3 5 5 3

4 1 . 6 7

5 5 5 . 0 3 7 4 3 5 5 4 , 2 . . . 5 4 . 5 9 6 5 1

4 2 . 3 9

5 5 5 4 5 . 0 4 5 7 2 5 3 5 4 , 2 . . . . . 6 . 6 0 2 0 9 5 5 8 2

5 5 5 4 5 . 0 4 6 5 4 6 3 5 5 , 2 . . . . . 7 . 8 2 2 8 1 5 5 8 2

5 5 5 . 1 4 4 7 3 5 5 7 , 2 . . . 8 7 . 0 4 7 5 3

4 5 . 2 7

5 5 5 4 5 . 1 4 8 2 7 8 3 5 8 , 2 . . . . . 9 . 5 9 7 0 9 5 5 5 5

5 4 . 2 5 7 9 3 6 6 6 , 2 . . . 2 2 2 5 9 4

5 2 . 5

2 8

5 3 . 1 5 8 8 3 6 6 6 0 , 2 . . 4 4 4 . 0 4 7

6 1 . 2

8 2

5 2 7 1 . 1 1 5 4 2 3 56 6 6 1 2 . . , . 2 3 2 . 0 9 5 9 7 3

5 1 . 1 1 5 3 86 6 2 2 , . 0 2 . 0 4

6 0 . 5

2 7 2 7 . . 4 5 3 7

5 2 7 1 . 2 1 0 9 7 3 05 6 6 3 2 . . , . 9 1 0 . 2 7 5 9 9 1

5 2 . 2 1 0 3 35 6 4 2 , . 7 0 . 0 4

5 8 . 5

1 8 8 1 . . 5 4 2 8

F.

HASIL

DAN

PEMBAHASAN

Pada

praktikum

ini

dilakukan percobaan

suatu

pencampuran

dengan

komposisi

tertentu

di

mana

campuran campuran

ini

mengalami

pemanasan

dan

pendinginan

pada

suhu

kelarutannya

masing

masing.

Pada pencampuran air

fenol

di peroleh

larutan

yang

tidak

saling

bercampur

yang membentuk dua

lapisan , lapisan atas

air dan lapisan bawah

adalah fenol, hal ini di

sebabkan karena air

memiliki massa jenis

yang lebih rendah dari

pada fenol. Setelah

terjadi percampuran

antara air dan fenol

dalam tabung yang

berbeda

dengan

perbandingan

kompsisi

yang

berbeda

pula,

di

lakukan

pemanasan

kemudian

pendinginan, di mana

saat mencapai suhu

tertentu

larutan

ini

akan bercampur dan

akan saling memisah

dan membentuk dua

fasa lagi, di mana

larutan

tersebut

menjadi keruh lagi.

Perubahan

warna

larutan

dari

keruh menjadi jernih

dan jernih

menjadi

keruh,

menandakan

kalau zat mengalami

perubahan

kelarutan

yang dipengaruhi oleh

perubahan suhu. Pada

percobaan

ini

komponen air selalu

ditambahkan

dan

jumlah fenolnya tetap

sehingga

perubahan

larutan

dari

jernih

menjadi keruh atau

sebaliknya

terjadi

pada

suhu

yang

berubah-ubah.

Perubahan

suhu

bergantung

pada

komposisi atau fraksi

mol kedua zat.

Eksperimen

ini akan membuktikan

kelarutan sistem biner

fenol air. Fenol dan

air kelarutanya akan

berubah apabila ke

dalam campuran itu

ditambahkan dengan

salah satu komponen

penyusunnya

yaitu

fenol

dan

air.

Perubahan

warna

larutan

dari

keruh

menjadi

jernih

dan

dari jernih menjadi

keruh

menandakan

kalau zat mengalami

perubahan

kelarutan

yang dipengaruhi oleh

perubahan suhu. Pada

percobaan

ini

komponen air selalu

ditambahkan

dan

jumlah fenolnya tetap

sehingga

perubahan

larutan

dari

jernih

menjadi keruh atau

sebaliknya

terjadi

pada

suhu

yang

berubah-ubah.

Perubahan

suhu

bergantung

pada

komposisi atau fraksi

mol kedua zat.

Dari

data

antara suhu (T) dan

fraksi

mol

yang

diperoleh

dari

percobaan

dapat

dibuat grafik sistem

biner fenol air, yaitu

antara fraksi mol vs

suhu (T). Grafik yang

terbentuk seharusnya

berupa

parabola

dimana

puncaknya

merupakan suhu kritis

yang

dicapai

pada

saat

komponen

mempunyai

fraksi

mol

tertentu.

Pada

percobaan

suhu

kritisnya adalah 64C

dengan

komposisi

campurannya

adalah

fraksi mol fenol 0.107

dan fraksi mol airnya

0,893.

Ini

menunjukkan

kalau

pada suhu

62 C,

komponen

yang

berada di dalam kurva

merupakan sistem dua

fase dan komponen di

luar kurva atau di luar

titik kritis komponen

merupakan

sistem

satu fase.

Komponen

berada pada satu fase

pada

saat

campurannya

larut

homogen

(jernih),

sedangkan komponen

berada pada dua fase

ketika

dilakukan

penambahan air yang

menghasilkan

dua

lapisan

(keruh).

Grafik yang terbentuk

pada percobaan ini

kurang

sempurna

karena

bentuknya

tidak

simetris

dan

kurva lebih dominan

di bagian kiri. Paling

tidak

kurva

ini

cenderung

membentuk parabola.

Kurva

ini

adalah

kurva kelarutan fenol

dalam air dan tidak

menunjukkan

kelarutan timbal balik

fenol

terhadap

air.

Kyrva

komposisi

system biner fenol air

dapat

dilihat

pada

gambar 2.

Gambar 2. Kurva

komposisi fenol air

hasil percobaan

Bentuk kurva

yang diperoleh kurang

sesuai dengan teori,

hal

ini

mungin

disebabkan

karena

hal-hal berikut.

1.

Kekurangtelitian

praktikan

saat

percobaan,

misalnya

pada saat membaca

termometer.

2.

Validitas alat yang

digunakan.

3.

Kesalahan

analisa

data.

Setelah

dilakukan percobaan

ini, ternyata saat fenol

yang

ditambahkan

kedalam air dengan

perbandingan jumlah

volume fenol

yang

tetap dan volume air

yang

berbeda-beda,

temperatur

yang

dihasilkan

semakin

tinggi

pada larutan

yang jumlah volume

airnya paling banyak.

Perubahan

yang

ditunjukkan

dari

larutan

ini

ialah,

perubahan

warna

larutan

dari

keruh

menjadi jernih setelah

dipanaskan dan dari

jernih menjadi keruh

setelah

didiamkan.

Perubahan

warna

tersebut

diakibatkan

karena

zat

tersebut

mengalami perubahan

kelarutan

yang

dipengaruhi

oleh

perubahan suhu.

Analisa yang

kita

gunakan

pada

percobaan ini antara

lain analisa kualitatif

dan

analisa

kuantitatif.

Analisa

kualitatif

dapat

diartikan

sebagai

analisa

yang

didasarkan

atas

pengamatan

dengan

panca

indra

kita

dengan membuktikan

ada tidaknya analit.

Sedangkan

analisa

kuantitatif merupakan

analisa

yang

didasarkan

pada

perhitungan

secara

matematis,

seperti

pengukuran

suhu,

perhitung mol air dan

fenol,

serta

perhitungan

fraksi

mol.

G.

SIMPULAN DAN

SARAN

a. Simpulan

Dari

hasil

pembahasan

dapat

disimpulkan bahwa:

1.

Keadaan dimana

terjadinya perubahan

warna

dari

keruh

menjadi

jernih

dan

kembali

lagi

dari

jernih menjadi keruh

termasuk salah satu

contoh

kelarutan

timbal balik.

2.

Temperatur akan

semakin

tinggi

apabila

semakin

banyak

volume

air

yang digunakan.

3. Yang mempengaruhi

keadaan dari keruh

menjadi bening dan

sebaliknya

dari

bening ke keruh yaitu

perubahan temperatur.

4.

Faktor faktor

kelarutan

pada

percobaan ini antara

lain

konsentrasi,

temperatur,

ion

senama, pengadukan,

serta luas permukaan.

5.

Kelarutan timbal

balik

sistem

biner

fenol

air

mempunyai

suhu

kritis 64oC.

6.

Pada suhu kritisnya

nilai fraksi mol fenol

0,107 dan fraksi mol

airnya 0,893.

b. Saran

Banyaknya kesalahan

yang

terjadi

dalam

praktikum

maka,

disarankan:

1.

Sebelum melakukan

percobaan, sebaiknya

praktikan hendaknya

melakukan persiapan

secara matang.

2.

Saat melaksanakan

percobaan, praktikan

sebaiknya lebih teliti

dalam

melakukan

pengamatan.

3.

Praktikan harus lebih

hati-hati

selama

percobaan

berlangsung,

karena

zat yang digunakan

adalah

fenol

yang

apabila terkena kulit

dapat

menyebabkan

luka.

H.

DAFTAR

PUSTAKA

Dogra,S& Dogra SK

.2008.

Kimia

Fisik

dan Soal Soal. UI

Press : Jakarta

P.W Atkins . 1999.

Kimia

Fisika.

Erlangga : Jakarta

Tim

Dosen

Kimia

Fisika. 2011. Petunjuk

Praktikum

Kimia

Fisika. Semarang.

Jurusan

Kimia

FMIPA UNNES.

Wahyuni,

Sri.2003.Buku

Ajar

Kimia

Fisika

2.Semarang:UNNES.