Anda di halaman 1dari 29

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

BAB I PENDAHULUAN

Perkembangan kota yang tidak terkendali di daerah pinggiran disebabkan oleh faktor kesenjangan antara kebutuhan rumah dengan ketersediaan perumahan yang tidak terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Hal ini berawal dari masyarakat yang tidak mampu membeli rumah dengan harga tinggi yang membangun rumah di lahan-lahan kosong yang bukan milik pribadi masyarakat dan kebanyakan tidak sesuai dengan peruntukan untuk pembangunan rumah. Akibatnya persediaan infrastruktur juga menjadi tidak efisien. Pembangunan kawasan perumahan yang tidak sesuai dan tidak terpadu dengan sarana dan prasarana kota sering menimbulkan permasalahan seperti pelayanan yang tidak optimal, sanitasi buruk, kemacetan, system drainase yang bermasalah dan harga tanah yang tidak terkendali. Salah satu pendekatan yang dilakukan oleh Kementerian Perumahan Rakyat untuk meminimalisir berbagai permasalahan yang timbul karena perkembangan kota yang tidak terkendali adalah dengan pengembangan permukiman berbasis kawasan. Pendekatan kawasan ini dibagi dua, yakni pengembangan permukiman skala besar melalui pola pembangunan kasiba (kawasan siap bangun) dan pengembangan permukiman berdasarkan pola lisiba BS (lingkungan siap bangun berdiri sendiri), sesuai dengan UU No 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Upaya untuk menyediakan perumahan dan peningkatan kualitas lingkungan permukiman didasari pada pembangunan kawasan permukiman skala besar melalui penyediaan Kawasan Siap Bangun (Kasiba) dan Lingkungan Siap Bangun (Lisiba). Harapan dari pendekatan penyediaan Kasiba dan Lisiba yaitu adanya struktur kawasan, arah pertumbuhan dan kualitas lingkungan permukiman akan lebih terkendali dengan baik, serta terwujudnya pemenuhan kebutuhan rumah untuk segala golongan masyarakat.

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

Pengembangan kawasan permukiman melalui Kasiba dan Lisiba-BS diharapkan dapat menciptakan keterpaduan pelaksanaan pembangunan kawasan permukiman melalui sistem pembangunan yang efektif dan efisien, serta mendapat dukungan dari pemerintah, baik pusat, provinsi dan kabupaten/kota.

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

BAB II PEMBAHASAN Definisi Kasiba Lisiba yang Berdiri Sendiri (BS) Pengertian Kasiba dan Lisiba menurut aPP Nomor 80 Tahun 1999 Tentang Kawasan Siap Bangun (Kasiba), dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri (Lisiba-BS) adalah sebagai berikut: 2.1.1 Definisi Kawasan Siap Bangun (Kasiba) Kawasan Siap Bangun (Kasiba) adalah sebidang tanah yang fisiknya telah dipersiapkan untuk pembangunan perumahan dan permukiman skala besar (antara 3.000 - 10.000 unit rumah) yang terbagi dalam satu Lisiba atau lebih yang pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dengan lebih dahulu dilengkapi dengan jaringan primer dan sekunder prasarana dan sarana lingkungan sesuai rencana tata ruang lingkungan dan memenuhi syarat pembakuan pelayanan prasarana dan sarana lingkungan yang telah ditetapkan oleh Kepala Daerah dan telah memenuhi persyaratan standart pelayanan. 2.1.2 Definisi Lingkungan Siap Bangun (Lisiba) Pengertian dari Lingkungan Siap Bangun (Lisiba) adalah sebidang tanah yang merupakan bagian dari Kasiba ataupun berdiri sendiri (kapasitas antara 1.000 - 3.000 unit rumah) yang telah dipersiapkan dan telah dilengkapi dengan prasarana lingkungan serta sesuai dengan persyaratan pembakuan tata lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan pelayanan lingkungan untuk membangun kaveling tanah yang telah siap. 2.1.3 Definisi Lingkungan Siap Bangun (Berdiri Sendiri) Lisiba yang bukan bagian dari Kasiba yang dikelilingi oleh lingkungan perumahan yang sudah terbangun atau dikelilingi oleh fungsifungsi lain. Selain itu PP ini juga mengatur beberapa hal yang terkait dengan pengembangan permukiman skala besar termasuk aspek pengelolanya.

2.1

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

2.2

Tujuan Kasiba Lisiba (BS) Berdasarkan PP Nomor 80 Tahun 1999 Tentang Kawasan Siap Bangun

(Kasiba), Lingkungan Siap Bangun (Lisiba), dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri (Lisiba-BS), maksud dan tujuan kasiba lisiba adalah sebagai berikut: 1. Kasiba Lisiba (BS) adalah alat untuk pengembagan ekonomi lokal dan alat bagi perkembangan kota 2. Kasiba Lisiba (BS) adalah alat bagi penyediaan prasarana dan sarana yang memenuhi pembakuan pelayanan serta sesuai dengan rencana tata ruang wilayah 3. Kasiba Lisiba (BS) alat untuk penyediaan kavling tanah matang beserta rumah dengan pola hunian yang berimbang, terencana dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat (kel. Sasaran yang berpenghasilan Rp. 350.000 - Rp. 1,5 juta per bulan) 4. Kasiba Lisiba (BS) adalah alat untuk pengendali harga tanah Penyelenggaraan, Pelaksanaan, dan Pengelolaan Kasiba Lisiba yang Berdiri Sendiri (BS) 2.3.1 Penyelenggaraan Kasiba Lisiba (BS) Dalam pembangunan KASIBA dan LISIBA adalah diawasi langsung oleh pemerintah. Penyelenggaraan KASIBA ataupun LISIBA harus sesuai dengan peraturan ataupun kebijakan yang berlaku. Dalam penyelenggaraannya, KASIBA maupun LISIBA bisa dilaksanakan oleh pihak pemerintah maupun pihak swasta. Penyelenggaraan Kasiba dan Lisiba dilakukan melalui tahap perencanaan pembangunan, pelaksanaan pembangunan dan pengendalian pembangunan. Rencana dan program penyelenggaraan Kasiba harus sesuai dan terintegrasi dengan program pembangunan daerah dan sektor mengenai prasarana lingkungan, sarana lingkungan serta utilitas umum di daerah yang bersangkutan. Sedangkan Rencana dan program penyelenggaraan Lisiba harus sesuai dan terintegrasi dengan rencana dan program penyelenggaraan Kasiba yang bersangkutan.
Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

2.3

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

Gambar 1 Penyelenggaraan Pengelolaan Kasiba, Lisiba dan Lisiba BS

Sumber: Pasal 3 Kepmenpera No 16 Tahun 2007

2.3.2

Pelaksanaan Kasiba Lisiba (BS) Pelaksanaan pembangunan Kasiba meliputi kegiatan perolehan tanah,

pembangunan serta pemeliharaan jaringan primer dan sekunder prasarana lingkungan. Jaringan primer dan sekunder prasarana lingkungan yang dibangun oleh Badan Pengelola harus sudah dimulai selambat-lambatnya dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak diumumkan sebagai Badan Pengelola dan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun telah mencapai sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima per seratus) dari luas Kasiba dan minimum dapat melayani 1 (satu) Lisiba.
Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

Dalam melaksanakan pembangunan Kasiba, Badan Pengelola dapat Melakukan kerja sama dengan badan usaha yang bergerak di bidang pembangunan perumahan dan permukiman. Badan Pengelola yang melakukan kerja sama pembangunan wajib memberikan laporan kepada Kepala Daerah. 2.3.3 Pengelolaan Kasiba Lisiba (BS) Pengelolaan Kasiba bertujuan agar tersedia 1 (satu) atau lebih Lisiba yang telah dilengkapi dengan jaringan primer dan sekunder prasarana lingkungan, serta memenuhi persyaratan pembakuan pelayanan prasarana, sarana lingkungan dan utilitas umum untuk pembangunan perumahan dan permukiman sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. Pada Keputusan Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat RI yang berisi tentang Petunjuk Pelaksanaan Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri di Tahun 2005 menyatakan bahwa, pemerintah Kabupaten atau Kota tersebut yang melaksanakan pengelolaan Kasiba yang mana penyelenggaraannya dilakukan oleh badan pengelola yang telah ditunjuk atau ditetapkan oleh Bupati/ Walikota melalui sebuah kompetisi yang diikuti oleh Badan Usaha Miliki Negara (BUMN) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau badan usaha lain yang dibentuk oleh pemerintah. Sedangkan untuk Lisiba pengelolaannya dilakukan oleh masyarakat pemilik tanah atau badan usaha di bidang pembangunan perumahan dan permukiman sebagai penyelenggara.

2.4

Letak Lokasi, Penyediaan, Penetapan Tanah, dan Persyaratan Terhadap Kegiatan Kasiba Lisiba

2.4.1

Penetepan Lokasi Menurut PP nomor 80 tahun 1999, penetapan lokasi untuk Kasiba

diselenggarakan dalam kawasan permukiman skala besar pada kawasan perkotaan dan atau kawasan perdesaan dan atau kawasan tertentu yang terletak dalam 1 (satu) Daerah Kabupaten/Kota atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta, sesuai dengan rencana tata ruang wilayah.

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

Sedangkan penetapan lokasi untuk Lisiba yang berdiri sendiri ditetapkan dalam kawasan permukiman yang bukan dalam skala besar pada kawasan perkotaan dan atau kawasan tertentu yang terletak dalam 1 (satu) Daerah Kabupaten/Kota atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. Penetapan suatu lokasi Kasiba dilakukan dengan Keputusan Kepala Daerah, dan untuk dapat ditetapkannya sebagai Kasiba, Pengelola harus membuat minimal rencana terperinci tata ruang yang dapat digunakan untuk menetapkan lokasi Lisiba. Disamping itu, penetapan lokasi Lisiba yang berdiri sendiri ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah. Persyaratan yang harus dipenuhi pada lokasi penetapan Lisiba yang berdiri sendiri sekurang-kurangnya adalah: 1) Sudah tersedia data mengenai luas, batas dan kepemilikan tanah sesuai dengan tahapan pengembangan dalam rencana dan program penyelenggaraannya; 2) Lokasi tersebut telah dilayani jaringan primer dan sekunder prasarana lingkungan; 3) Lokasi tersebut telah dilayani fasilitas sosial, fasilitas umum dan fasilitas ekonomi setingkat kecamatan.

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

Gambar 2 Bagan Alir Penetapan Lokasi Kasiba

Sumber: Kementrian Negara Perumahan Rakyat RI Petunjuk Pelaksanaan Kawasan Siap Bangun 43. dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri, Tahun 2005, hal-

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

Gambar 3 Bagan Alir Penetapan Lokasi Lisiba BS

Lisiba

Sumber: Kementrian Negara Perumahan Rakyat RI Petunjuk Pelaksanaan Kawasan Siap Bangun 44. dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri, Tahun 2005, hal-

2.4.2

Penyediaan, dan Penetapan Tanah Penyediaan tanah untuk Kasiba atau Lisiba yang berdiri sendiri dapat

dilakukan di atas tanah negara dan atau tanah hak sesuai ketetapan yang ada pada PP nomor 80 tahun 1999. a. Tanah Negara Berdasarkan PP nomor 80 tahun 1999, tanah negara yang dimaksud adalah:

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

- Tanah yang tidak ada pemakainya, maka Badan Pengelola atau penyelenggara dapat langsung mengajukan permohonan hak atas tanah negara tersebut sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. - Tanah yang dikuasai oleh masyarakat hukum adat sebagai hak ulayatnya, maka perolehan hak atas tanah negara tersebut dapat dilakukan oleh Badan Pengelola atau penyelenggara dengan memberikan penggantian yang layak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. - Tanah yang merupakan bekas tanah hak yang dipakai oleh perseorangan atau badan hukum, maka perolehan hak atas tanah negara tersebut dapat dilakukan oleh Badan Pengelola atau penyelenggara dengan mengadakan penyelesaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. Tanah Hak Berdasarkan PP nomor 80 tahun 1999, perolehan hak atas tanah yang dikuasai oleh perseorangan atau badan hukum dilakukan oleh Badan Pengelola atau penyelenggara dengan mengadakan penyelesaian dengan pemegang hak atas tanah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyelesaian yang dimaksud, dilakukan melalui konsolidasi tanah, jual beli, tukar menukar, dan pelepasan hak. 2.4.3 Persyaratan Pembangunan Kasiba Lisiba BS

a. Persyaratan Pembangunan Kasiba Pelaksanaan pembangunan harus sesuai dengan rencana dan program yang sudah ditetapkan Persiapan tender dan penunjukan pemenang perlu dilakukan oleh Badan Pengelola bila akan menunjuk Badan Usaha lain untuk melaksanakan pembangunan, sesuai dengan tata cara pengadaan barang dan jasa yang berlaku.

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

Persiapan tender dan penunjukan pemenang untuk konsultan pengawas perlu dilakukan oleh Badan Penyelenggara Lisiba bila akan menggunakan konsultan pengawas untuk membantu pengelola dalam mengawasi pekerjaan Badan Usaha yang akan melaksanakan pekerjaan

Land clearing dan staking out harus dilakukan sesuai dengan persyaratan spesifikasi yang telah ditetapkan.

b. Persyaratan Pembangunan Lisiba Pelaksanaan pembangunan di Lisiba harus sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan Persiapan tender dan penunjukan pemenang perlu dilakukan oleh

Penyelenggara Lisiba bila akan menunjuk badan usaha lain yang bergerak di bidang perumahan dan permukiman untuk melaksanakan pembangunan di kawasan Lisiba sesuai dengan tata cara pengadaan barang dan jasa yang berlaku. Apabila akan menunjuk Badan Usaha lain yang bergerak di bidang Perumahan dan Permukiman untuk melaksanakan pembangunan Kasiba, persiapan tender dan penunjukan pemenang untuk konsultan pengawas dilakukan oleh penyelenggara Lisiba. Pelaksanaan pembangunan perumahan dan kaveling tanah matang harus sesuai dengan persyaratan spesifikasi yang telah ditentukan. Pelaksanaan pembangunan prasarana, sarana dan utilitas umum harus sesuai dengan persyaratan spesifikasi yang telah ditentukan Jadwal pelaksanaan pembangunan perumahan dan kaveling tanah matang harus sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan di dalam dokumen tender. Jadwal pelaksanaan pembangunan prasarana, sarana dan utilitas umum harus sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan di dalam dokumen tender.

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

c. Persyaratan Pembangunan Lisiba BS Kajian pertumbuhan penduduk baik yang alamiah maupun migrasi mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS). Kebutuhan rumah dapat didekati dengan melihat selisih antara jumlah rumah yang ada dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) yang ada. Lokasi Lisiba harus berada pada kawasan permukiman menurut Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten / Kota. Seluruhnya terletak dalam wilayah satu daerah administratif. Lokasi Lisiba Yang Berdiri Sendiri dapat dikembangkan mengikuti kecenderungan perkembangan yang ada atau untuk merangsang terjadinya pengembangan baru. Calon lokasi Lisiba Yang Berdiri Sendiri bukan/tidak merupakan tanah sengketa atau berpotensi sengketa. Dalam menentukan urutan prioritas calon-calon lokasi Lisiba yang Berdiri Sendiri, pertimbangan utama sekurang-kurangnya adalah strategi pengembangan wilayah, biaya terendah untuk pengadaan prasarana dan utilitas, berdekatan dengan tempat kerja atau lokasi investasi yang mampu menampung tenaga kerja. Lokasi Lisiba Yang Berdiri Sendiri yang akan ditetapkan mencakup lokasi yang belum terbangun yang mampu menampung sekurang-kurangnya 1.000 unit. Lokasi Lisiba Yang Berdiri Sendiri bagi tanah yang sudah ada permukimannya, akan merupakan integrasi antara pembangunan baru dan yang sudah ada sehingga seluruhnya menampung sekurang-kurangnya 1.000 unit.

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

2.5

Pengendalian Pembangunan Kasiba Lisiba BS Pengendalian pembangunan Kasiba dan Lisiba meliputi kegiatan pengawasan,

penertiban terhadap perolehan tanah dan pembangunan fisik seperti yang terdapat pada PP nomor 80 tahun 1999. 2.5.1 Pengawasan Pengawasan terhadap perolehan tanah dan pembangunan fisik Kasiba dilakukan secara rutin, dan secara periodik hasil pengawasan rutin dievaluasi oleh Kepala Daerah sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang ditangani dalam rangka pelaksanaan pembangunan sesuai rencana dan program. Sedangkan pengawasan terhadap pembangunan fisik Lisiba dilakukan secara rutin dan secara periodik hasil pengawasan rutin dievaluasi oleh Badan Pengelola sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang ditangani dalam rangka pelaksanaan pembangunan sesuai rencana dan program. 2.5.2 Penertiban terhadap perolehan tanah dan pembangunan fisik Penertiban terhadap perolehan tanah dan pembangunan fisik Kasiba dan Lisiba dilakukan berdasarkan laporan pengawasan seperti: Dalam tahap pembangunan Kasiba pengawasan oleh Kepala Daerah dilakukan dengan menyampaikan perkembangan pembangunan Kasiba kepada Menteri setiap 3 (tiga) bulan sekali mengenai: 1) perkembangan perolehan tanah; 2) pembangunan jaringan rumah, sekunder dan prasarana lingkungan. Dalam tahap pembangunan Lisiba pengawasan oleh Badan Pengelola dilakukan dengan menyampaikan laporan bulanan kepada Kepala Daerah dengan materi laporan yang terdiri dari: 1) perkembangan pembangunan rumah; 2) perkembangan izin mendirikan bangunan; 3) masalah-masalah yang perlu segera diatasi; 4) masalah-masalah yang akan muncul dan perlu diantisipasi.
Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

Gambar 3 Diagram Pengendalian Pembangunan Kasiba Lisiba BS


Pengendalian oleh penyelenggara Lisiba pembangunan prasarana, sarana, dan utilitas umum pembangunan rumah izin mendirikan bangunan masalah yang ditemui dan pemecahannya masalah yang diantisipasi

Pengendalian oleh Badan Pengelola Kasiba

Perolehan tanah Pembangunan prasarana primer dan sekunder Pembangunan prasarana lainnya, sarana, dan utilitas umum Pembangunan rumah Perizinan mendirikan bangunan Masalah yang ditemui dan pemecahannya Masalah yang diantisipasi

Pengendalian oleh Walikota atau Bupati

Pengendalian oleh Menteri

Pengendalian oleh Penyelenggara Lisiba BS

Perolehan tanah Pembangunan prasarana, sarana, dan utilitas umum Pembangunan rumah Perizinan mendirikan bangunan Masalah yang ditemui dan pemecahannya Masalah yang diantisipasi

Sumber: Peraturan Pemerintah No. 80 Tahun 1999

2.6 2.6.1

Pembagian Peran Pengelolaan Terhadap Kasiba Lisiba Pemerintah Pusat Dalam kaitan pengembangan Kasiba dan Lisiba BS, peran Pemerintah Pusat

adalah sebagai berikut: a) Menteri bidang Pekerjaan Umum melakukan pembinaan teknis pembangunan fisik. b) Menteri bidang pertanahan melakukan pembinaan teknis pertanahan.

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

c) Menteri bidang perumahan dan permukiman melakukan pembinaan koordinasi pembangunan perumahan dan permukiman. d) Menteri dalaam negeri melakukan pembinaan umum pemerintahan.

2.6.2

Pemerintah Daerah Dalam kaitan pengembangan Kasiba dan Lisiba BS, peran Pemerintah Daerah

adalah sebagai berikut: a) Memberikan pembinaan kepada Badan Pengelola Kasiba dan Penyelengara Lisiba BS. b) Bersama Badan Pengelola Kasiba atau Penyelenggara Lisiba BS memberikan penyuluhan kepada masyarakat. c) Menyusun RP4D. d) Menetapkan lokasi Lisiba dan Kasiba. e) Pembebasan Lahan. f) Pembangunan prasarana, sarana, dan utilitas kawasan.

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

Tabel 1 Pembagian Peran Pengelolaan Kasiba Lisiba BS Berdasarkan PP No. 80 Tahun 1999
PERAN/TANGGUNG JAWAB NO KEGIATAN Pembentukan BP (BUMN/BUMD) Penetapan Lokasi sesuai RTRW Penyediaan tanah Perencanan Teknis Pembangunan
(3) (2)

PUSAT V

PEMKAB/PEM KOT V

Badan Pengelola X

Penyelengg ara (1) X

2 3 4 5 6 7

Bupati/Walikota Fasilitasi Persetujuan Perubahan Fasiltasi (jaringan primer) Fasilitasi Perolehan Tanah dan Pembangunan MENPU dan MEMPERA KEPALA BPN MEN PU dan MEMPERA MENDAGRI V V V Pemb.Fisik V V V (Lisiba BS ) Saran-saran

Pengendalian Pembangunan (4) Pembinaan: - Pembinaan Teknis, Pembangunan Fisik - Pembinaan Teknis Agraria - Pembinaan kordinasi BangPerkim - Pembinaan Umum pemerintahan

Penyerahan PS Lingkungan Terbangun (5)

Sumber: Peraturan Pemerintah No. 80 Tahun 1999

Keterangan: 1) Masyarakat pemilik, Badan Usaha yang ditetapkan BP/Pemda untuk Lisiba 2) Rencana Teknik Tata Ruang, perolehan tanah, fisik pembangunan 3) Kegiatan perolehan tanah, pembangunan serta pemeliharaan jaringan primer dan sekunder prasana lingkungan serta utilitas Untuk Lisiba LS dapat dilaksanakan oleh Penyelenggara

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

4) Kegiatan Pengawasan, Penertiban terhadap perolehan tanah dan pembangunan fisik; Pengendalian Pembagunan Fisik langsung oleh BP dan dilaporkan ke Pemerintah Daerah. Masyarakat Pemilik dapat memberikan saran-saran 5) Penyerahan PS Lingkungan terbangun dan kavling matang dari BP ke Pemda 2.7 Kebijakan Operasional Permukiman Baru Serta Kasiba Lisiba BS Kebijakan operasional permukiman baru serta Kasiba Lisiba BS meliputi, pembangunan infrastruktur pada kawasan permukiman yang baru melalui kemitraan antara pemerintah, swasta dan masyarakat mengacu pada Tata Ruang

Kota/Kabupaten, yang mana infrastruktur memiliki peranan yang penting dalam suatu permukiman, tanpa adanya infrastruktur yang baik maka permukiman tidak dapat berfungsi dengan baik, dan pembangunan infrastruktur tersebut diserahkan kepada pihak swasta yang diawasi langsung oleh pemerintah dan masyarakat. Selanjutnya kegiatan akan diarahkan pada pendampingan dalam rangka pengembangan permukiman baru serta Kasiba/Lisiba dan bantuan prasarana dan sarana, sehingga permukiman baru dapat berkembang dengan baik dan sesuai yang diharapkan. Pembangunan Kasiba Lisiba BS diprioritaskan pada Kota Metropolitan, Kota Besar cepat tumbuh serta Ibukota kabupaten/propinsi baru.

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

BAB III STUDY KASUS DAN REVIEW

1. Maya Errian Yolitta a) Study Kasus

Perumnas Rintis Kerja Sama dengan REI


Penulis : Brigita Maria Lukita | Senin, 28 Juli 2008 | 20:01 WIB JAKARTA, SENIN - Perum Perumnas merintis kerja sama pengelolaan kawasan seluas 10.000 hektar dengan Real Estat Indonesia atau REI. Pengelolaan dengan pola kawasan siap bangun dan lingkungan siap bangun (kasiba-lisiba) itu diharapkan mendorong penyediaan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Direktur Utama Perumnas, Himawan Arief Sugoto, di Jakarta, Senin (28/7), mengemukakan, pengelolaan kawasan itu direncanakan berlangsung di Maja, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Kerja sama dilakukan dengan

memanfaatkan lahan-lahan yang dimiliki oleh perumnas dan beberapa pengembang REI dalam satu kawasan. "REI mempercayakan lahan mereka untuk dikelola perumnas bagi penyediaan permukiman siap bangun," kata Himawan. Dari total lahan seluas 10.000 hektar di Maja, sekitar 300 hektar di antaranya milik Perumnas, dan selebihnya dimiliki pengembang yang tergabung dalam REI. Penandatanganan kerja sama itu ditargetkan berlangsung mulai tahun ini. Direktur Pemasaran Perumnas, Teddy Robinson, mengemukakan, kerja sama Perumnas dan REI dalam pengelolaan kawasan diharapkan mempercepat pembangunan permukiman dalam satu kawasan dengan fasilitas dan infrastruktur yang lebih lengkap. Pembangunan yang sporadis

menyebabkan pengembang permukiman kerap terganjal biaya pembangunan. Selain itu, mensiasati semakin terbatasnya lahan perumahan.

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

"Kawasan diharapkan akan dikembangkan menjadi konsep kota hunian baru, dengan peruntukan mayoritas untuk masyarakat berpenghasilan rendah," katanya. Ketua Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (REI), Teguh Satria, mengemukakan, kawasan Maja sebenarnya diarahkan menjadi kota satelit yang disebut Kota Kekerabatan Maja sejak 1996. Namun,

pelaksanaannya tersendat akibat krisis moneter tahun 1998. Pihaknya telah membentuk tim revitalisasi dan menyerahkan kawasan Maja kepada Perum Perumnas untuk dikelola menjadi kasiba, meliputi pembangunan infrastruktur berupa jalan utama, jaringan transmisi listrik dan air, jalan, serta pengelolaan tata ruang. Sementara itu, pembangunan permukiman dan fasilitas hunian akan dilakukan oleh pengembang REI. "Pengembangan kawasan Maja menjadi kota setelit direncanakan berlangsung selama 30 tahun," kata Teguh.

Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2008/07/28/20011975/perumnas.rintis.kerja.sama.dengan.rei

b) Review Konsep pengembangan dengan cara membentuk kerjasama antara pihak Perumnas dengan REI merupakan penerapan yang baik untuk pengembangan kawasan perumahan. Apalagi dengan memihak kepada masyarakat

berpenghasilan rendah (MBR) yang menjadi fokus tujuan pembangunannya. Hal itu merupakan suatu bentuk peningkatan kualitas yang diharapkan dapat meminimalisir adanya kawasan-kawasan permukiman yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.Ditinjau dari segi positif, kerjasama antara pihak Perumnas dengan REI dapat memunculkan adanya persebaran sarana dan fasilitas pelengkap lainnya, karena perencanaan kawasan tersebut ditujukan untuk menjadi kota satelit. Dimana kota satelit tersebut merupakan kota kecil yang menjadi pengembang untuk kota besar yang ada disekitarnya, melalui pola pengembangan yang menyebar dan tidak sporadis. Pengendalian pembangunan juga dapat dilakukan karena adanya kawasan siap bangun (Kasiba) dan
Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

Lingkungan siap bangun (Lisiba) yang berorientasi pada masyarakat berpenghasilan rendah yang notabennya merupakan faktor utama dalam isu pembangunan yang sulit terkendali. Disamping itu, ada segi negatif dari pengelolaan kawasan permukiman yang rencananya akan dipercepat dalam pembangunan perumahan pada satu kawasan dengan fasilitas dan infrastruktur yang lebih lengkap. Karena kenyataannya, bukan masyarakat berpenghasilan rendah saja yang akan tertarik untuk menghuni kawasan dengan kelengkapan sarana maupun utilitas yang baik. Hal tersebut dapat menarik masyarakat dengan kemampuan financial menengah ke atas untuk memilih kawasan permukiman tersebut dan akhirnya menggeser masyarakat berpenghasilan rendah dan dampaknya akan kembali membangun kawasan-kawasan permukiman yang tidak terkontrol dan tidak sesuai dengan tata guna lahan yang tersedia. Jadi dalam hal ini, pembangunan permukiman untuk masyarakat berpenghasilan rendah tidak dicampur adukkan dengan arahan rencana menjadi kota satelit karena hal tersebut dapat mengubah cara pandang dan dampak akhirnya adalah ketidak sesuaian harapan dengan kenyataan yang akan terjadi nantinya. Pemerintah dan pihak-pihak terkait yang bekerja sama dalam pengembangan permukiman ini tetap konsisten dan tetap menjalankan sistem sesuai dengan rencana yang ditetapkan.

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

2. Yaniar Dien Rachma a) Study Kasus

MENPERA CANANGKAN KASIBA DI BONE Menpera Suharso Monoarfa melakukan pencanangan pembangunan kawasan siap bangun (Kasiba) seluas 500 hektar untuk sekitar 5.000 unit rumah di Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Pembangunan Kasiba tersebut diharapkan dapat menampung 15.000 penduduk dan menjadi kota satelit baru di Gorontalo. Pencanangan Kasiba di wilayah Bone Bolango untuk 5000 unit rumah ini diharapkan dapat memunculkan sebuah komunitas baru dan menampung sekitar 15.000 penduduk, ujar Suharso Monoarfa di Bone Bolango, Gorontalo beberapa waktu lalu. Suharso Monoarfa menjelaskan, saat ini jumlah Kasiba di Indonesia memang belum terlalu banyak. Oleh karena itu, dirinya sangat bersyukur bisa mencanangkan Kasiba untuk kawasan perumahan dan permukiman di Gorontalo. Suharso Monoarfa optimistis Kasiba di Kabupaten Bone Bolango ini bisa lebih dikembangkan menjadi kota satelit baru. Adanya pembangunan jalan lingkungan, drainase, pemancangan tiang listrik,

pembangunan saluran air minum dan saluran air buangan yang tertata dengan baik dapat membuat Kasiba ini ke depan menjadi sebuah kota satelit. Untuk itu, dirinya meminta pemerintah daerah setempat untuk memberikan perhatian khusus mengingat kebutuhan rumah bagi masyarakat akan terus meningkat. Adanya Kasiba ini menunjukkan adanya perhatian Pemda terhadap kebutuhan lahan untuk perumahan bagi masyarakat. Saya juga minta kalau Pemda memiliki sisa anggaran lebih jangan dibelanjakan tidak karuan. Belanjalah tanah sebab itu tanah itu tidak akan pernah bertambah dan bisa dibukukan dalam neraca daerah kekayaan daerah menjadi Barang Milik Daerah, katanya.
Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

Suharso Monoarfa juga mengingatkan agar pembangunan perumahan tidak mengikis lahan-lahan yang produktif yang bermanfaat bagi masyarakat. Dalam hal pembangunan kasiba, Kemenpera juga akan membantu pembangunan prasarana, sarana dan utilitas (PSU) dan melakukan bedah kampung nelayan sehingga mampu membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat

Sumber: http://www.konsumenproperti.com/Infrastruktur/menpera-canangkanpembangunan-kasiba-di-bone-bolango.html

b) Review Dengan akan diadakannya pembangunan Kasiba di wilayah Tilongkabia Kabupaten Bone Bolango, Kota Gorontalo, maka dapat meningkatkan kegiatan yang ada di wilayah tersebut. Kasiba dengan luas 500 hektar untuk sekitar 5000 unit rumah daan dapat menampung 15.000 penduduk. Untuk membuat dan menata Kasiba harus diperhatikan pula infrastruktur yang memadai, seperti pembangunan jalan lingkungan, drainase, pemancang tiang listrik,

pembangunan saluran air minum, dan saluran air buangan agar Kasiba tersebut dapat menjadi kawasan maju. Disediakannya kasiba ini menunjukkan bukti bahwa PEMDA daerah Tilongkabia Kabupaten Bone Bolango peduli terhadap warga yang belum memiliki tempat tinggal tetap. Dengan adanya kasiba ini maka warga dapat membangun permukiman di daerah tersebut sehingga kemungkinan warga membangun permukiman di daerah yang dilarang dapat menurun. Apalagi warga daerah Tilongkabia ini merupakan warga atau masyarakat yang belum memiliki rumah yang layak huni, dan berada pada tingkat ekonomi menengah kebawah.

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

3. Nugraha Eka Pramudita a) Study Kasus

Pengembang Mesti Bangun Lingkungan Hunian Berimbang


Senin, 3 Januari 2011 | 15:04 WIB JAKARTA - Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) meminta kepada para pengembang agar membangun lingkungan hunian berimbang dalam proyek pembangunan perumahan dan permukiman bagi masyarakat. "Kami akan mendorong para pengembang untuk membangun lingkungan hunian berimbang bagi masyarakat," kata Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat (Sesmenpera) Iskandar Saleh kepada pers di Jakarta, Senin.

Menurut Sesmenpera, ketentuan untuk membangun hunian berimbang tertuang dalam UU Perumahan dan Kawasan Permukiman. Oleh karena itu, para pengembang diharapkan dapat mematuhi aturan itu. Dalam hal ini, ujar Iskandar Saleh, pengembang diwajibkan membangun hunian berimbang dalam satu hamparan. "Pembangunan hunian bisa dilakukan dalam Kawasan Siap Bangun (Kasiba) maupun Lingkungan Siap Bangun (Lisiba)," katanya. Selanjutnya, Kasiba dan Lisiba tersebut nantinya bisa dikelola oleh para pengembang maupun dalam bentuk perumahan swadaya. Untuk itu, pemerintah melalui Kemenpera akan terus berkomitmen membantu masyarakat

berpenghasilan rendah (MBR) khususnya dalam bidang perumahan swadaya. Sejumlah bantuan untuk masyarakat diberikan untuk membangun rumah secara swadaya guna perbaikan rumah maupun pembangunan rumah baru.

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

"Kami memberikan bantuan sekitar Rp 5 juta hingga Rp 10 juta untuk masyarakat yang membangun rumah secara swadaya. Meski tidak mencukupi tapi setidaknya bisa membantu mengurangi beban masyarakat," katanya.

Pada 2010-2014, pemerintah bertekad mampu membantu sertifikasi hak atas tanah 30.000 unit rumah swadaya Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). "Itu target dalam RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Kemenpera dan telah dimulai prasertifikasi pada 2010," kata Deputi Bidang Perumahan Swadaya, Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera), Jamil Anshari usai menandatangani perjanjian kerja sama Pemberdayaan MBR untuk Membangun Rumah Secara Swadaya Melalui Sertifikasi Hak Atas Tanah.

Jamil menjelaskan, pada 2010 telah dilakukan pendampingan prasertifikasi di 17 provinsi dan 67 kabupaten/kota. "Targetnya 7.500 sertifikat atas unit rumah per tahunnya," katanya. Kemenpera pada 2011 akan melanjutkan proses

pendampingan bagi MBR untuk mengurus sertifikasi hak atas tanah rumahnya di 20 provinsi dan 60 kabupaten/kota.

b) Review Pembangunan permukiman skala besar yang diwujudkan dalam pembangunan kasiba dan lisiba, seperti yang dijelaskan dalam Pasal 23 Undang-Undang No. 4 Tahun 1992 bertujuan agar pembangunan perumahan dan permukiman dapat lebih terarah dan terpadu sesuai dengan arah pembangunan Kabupaten/Kota, sehingga mengarahkan pertumbuhan Kabupaten/Kota membentuk struktur lingkungan yang lebih efektif dan efisien. Oleh karena itu, Kementerian Perumahan Rakyat (kemenpera) meminta para pengembang untuk membangun hunian yang dilakukan dalam Kawasan Siap Bangun (Kasiba) dan Lingkungan Siap Bangun (Lisiba) demi terciptanya lingkungan hunian yang berimbang bagi masyarakat. Kasiba dan Lisiba tidak hanya dapat dikelola oleh para pengembang, namun juga dapat diwujudkan dalam bentuk perumahan swadaya. Dalam pembangunan perumahan swadaya, fokus pemerintah adalah untuk membantu masyarakat yang
Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

berpenghasilan rendah (MBR) dengan memberikan bantuan dana kepada masyarakat. Jadi,melihat kondisi eksisting wilayah permukiman di Kabupaten/Kota saat ini yang semakin tidak teratur, konsep Kasiba dan Lisiba sesuai diterapkan dalam Kabupaten/Kota agar terciptanya pembangunan permukiman dan perumahan yang terarah.

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

4. Oscar Wanggai a) Study Kasus KASIBA BANTUL, PROVINSI DI. YOGYAKARTA Penggunaan konsep Kasiba dalam pengadaan lahan perumahan

memungkinkan terciptanya permukiman harmonis dengan pola hunian yang berimbang (antara rumah sederhana, rumah menengah, dan rumah mewah). Selain itu konsep Kasiba memungkinkan pula diterapkannya mekanisme subsidi-silang dari harga KTM rumah mewah (dan rumah menengah bila perlu) kepada harga Kavling Tanah Matan rumah sederhana, dalam rangka pemenuhan kebutuhan lahan permukiman yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat (terutama kelompok masyarakat berpenghasilan rendah). Dalam pelaksanaan penyelenggaraan pengembangan dan pembangunan Kasiba, sebaiknya perlu didukung oleh aspek kelembagaan pengelola yang memadai. Tulisan ini merupakan suatu usulan yang telah melalui beberapa telaah kebijakan, guna mencari sebuah konsep kelembagaan yang memadai. Adapun lokasi studi kasus dalam merumuskan suatu konsep tersebut adalah Kasiba di Bantul yang dikenal dengan Bantul Kota Mandiri (BKM) di Kabupaten Bantul, Provinsi D.I. Yogyakarta. Konsep kelembagaan ini tidak mengikat dan tentunya disesuaikan dengan kondisi permasalahan dalam pelaksanaannya di lapangan serta kondisi organisasi pemerintah Kabupaten Bantul. A. Menetapkan Lokasi dan Penyediaan Tanah Kasiba/Lisiba BS Lokasi Kasiba/Lisiba BS ditetapkan bersama oleh para stakeholder dengan mengacu pada RTRW Kota/Kab, atau RDTR Kota/Kabupaten bila sudah ada.Tantangan besar Kasiba Lisiba adalah cara memperoleh tanah. PP 80/99 telah mensyaratkan beberapa cara perolehan tanah yang disesuaikan dengan aturan yang berlaku. Apabila perolehan tanah dilakukan bukan
Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

dengan cara ganti rugi murni, maka pola-pola konsolidasi lahan, land sharing dan sebagainya dapat dilakukan. PP 80/99 mengharuskan Badan

Pengelola melakukan penyuluhan dan penjelasan kepada masyarakat pemilik tanah mengenai hal tersebut. Pola yang paling gampang dan sederhana bagi Badan Pengelola/Penyelenggara adalah memberi ganti rugi. Namun apabila pola ganti rugi sulit dilakukan, maka pola pendekatan lain seperti konsolidasi lahan juga dapat dilakukan. Kegiatan ini membutuhkan energi dan perhatian yang khusus dan lagi-lagi, kelihatannya Badan Pengelola/Penyelenggara butuh pendampingan atau bantuan teknis untuk melaksanakan hal tersebut. B. Dasar-dasar pengembangan kelembagaan pengelolaan Kasiba Bantul Kota Mandiri (BKM) Pelaksanaan penyelenggaraan pengembangan dan pembangunan Kasiba BKM di Kabupaten Bantul perlu didukung oleh aspek kelembagaan pengelola yang memadai, yang tentunya akan disesuaikan dengan kondisi permasalahan dalam pelaksanaannya di lapangan serta kondisi organisasi pemerintah Kabupaten Bantul. Aspek kelembagaan pengelolaan ini akan terkait dengan 4 (empat) hal sebagai berikut : a. Revitalisasi PT. Bantul Kota Mandiri sebagai unit pengelola Kasiba BKM yang telah ditunjuk oleh Pemerintah Kabupaten Bantul b. Pola pembagian peran stakeholder kegiatan pembangunan perumahan dan permukiman untuk mengoptimalkan upaya partisipasi seluruh pelaku pembangunan di bidang perumahan dan permukiman Kabupaten Bantul. c. Tata laksana program pembangunan dan peningkatan perumahan dan permukiman Kabupaten Bantul. d. Sistem dan pola pendanaan penyelenggaraan kegiatan perumahan dan permukiman Kabupaten Bantul termasuk didalamnya pengenalan model
Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

pembiayaan Badan Pengelola Kasiba BKM melalui pola Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

C. Review Mekanisme penyiapan Badan Pengelola Kasiba BKM di Bantul, akan melaluli tahapan-tahapan sebagai berikut : a) Upaya pembentukan kelembagaan bidang perumahan dan permukiman kota, dapat melalui pemanfaatan kelembagaan yang sudah ada (refungsionalisasi Pokjanis / Forum Kota) maupun b) membentuk kelembagaan baru, yang nantinya akan diserahi pula tugas-tugas penyiapan / kepanitian untuk penyiapan / pengadaan Badan Pengelola Kasiba. c) Penyusunan mekanisme pemilihan dan penunjukkan Badan Pengelola Kasiba, termasuk arahan-arahan yang mengatur pengelolaan Kasiba oleh Badan Pengelola dan ketentuan koordinasi kegiatan antara Badan Pengelola dengan kelembagaan bidang perkim Kabupaten Bantul. d) Legalisasi kelembagaan bidang perkim Kabupaten Bantul dan penyiapan legalisasi penunjukkan Badan Pengelola Kasiba serta mekanisme kerja (Tupoksi) dan koordinasinya. Secara teknis tatacara penunjukan Badan Pengelola Kasiba Bantul akan mengacu pada pedoman Badan Pengelola Kasiba dan Lisiba, namun dalam kondisi tertentu, Kepala Daerah dapat mengupayakan pembentukan Badan Pengelola Kasiba melalui : Pembentukan badan yang ditugasi mengelola Kasiba untuk dikukuhkan kemudian menjadi BUMD bidang perkim. e) Menunjuk Sekda sebagai Ketua Badan Pengelola Kasiba dengan keanggotaan yang meliputi unsur Dinas PU, Dinas Perumahan dan Permukiman, Dinas Tata Kota / Ruang, Badan Pertanahan, dan dinasPerencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Tukar Materi TGPL C

Kasiba Lisiba (BS)

dinas lainnya yang terkait serta unsur profesional di bidangnya yang ditunjuk langsung.

f) BUMN / D bekerjasama dengan swasta untuk membentuk suatu badan usaha / perusahaan baru di bidang perkim dengan kepemilikan saham Pemda minimum 51%. Proses pembentukan badan pengelola Kasiba BKM di Bantul dilakukan oleh Bupati dengan membentuk tim penyiapan Badan Pengelola Kasiba yang diketuai oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul. Anggota tim di bentuk dari unsur-unsur dinas teknis yang terkait dengan pembangunan perumahan dan permukiman di Kabupaten Bantul, yaitu Bappeda, Dinas PU, Dinas Tata Kota, Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman Umum, Badan Pertanahan serta unsur dari instansi lain yang diperlukan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam skema berikut ini. Setiap anggota tim bertugas dan bertanggung jawab melakukan penilaian terhadap proposal yang diajukan calon penyelenggara Lisiba, sesuai bidang tugasnya masing-masing.

Perencanaan Wilayah dan Kota | Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Anda mungkin juga menyukai