Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN TPI BLANAKAN, SUBANG, JAWA BARAT

Oleh : Kelompok I A

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan (Archipelagic State) dengan wilayah perairan yang luas. Indonesia memiliki sumberdaya ikan yang besar dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Pengetahuan mengenal berbagai jenis ikan diperlukan untuk mengetahui sumberdaya ikan tersebut. Koleksi ikan dibutuhkan untuk informasi ilmiah tentang berbagai jenis ikan, perkembangan ilmu pengetahuan mengenai evolusi ikan, serta untuk kepentingan dokumen ilmiah. Blanakan merupakan daerah pantai atau pesisir yang berada di kawasan utara di wilayah kabupaten Subang. Blanakan memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah terutama hasil perikanan laut dan mempunyai Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang dikelola oleh KUD Fajar Sidik. Oleh karena itu, untuk mengenal berbagai jenis ikan yang berada di sekitar perairan Blanakan dapat diketahui melalui hasil tangkapan yang berada di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Blanakan kemudian mengoleksi ikan tersebut untuk diidentifikasi lebih lanjut.

1.2 Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk mengenal jenis ikan yang tertangkap di sekitar Blanakan dan didaratkan di TPI Blanakan, serta mampu mengoleksi ikan berdasarkan kaidah-kaidah yang tepat.

BAB II. BAHAN DAN METODE

2.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 12 Mei 2012 bertempat di Blanakan, Subang, Jawa Barat. Sedangkan identifikasi ikan hasil koleksi dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 25 Mei 2012 di Laboratorium BIMA 1, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

2.2. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat bedah, styrofoam sebanyak 1 buah, jarum pentul, kuas lukis sebanyak 2 buah, wadah yang berukuran 30 x 20 x 15 cm3. Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan yang akan dikoleksi dan pengawet.

2.3. Metode Pelaksanaan Ikan yang akan di koleksi adalah ikan hasil tangkapan oleh nelayan di Blanakan. Ikan tersebut dalam kondisi baik saat akan di koleksi. Hal pertama yang dilakukan dalam pengawetan ikan yaitu dengan menyuntikkan formalin ke dalam tubuh ikan, ikan disuntik di bagian anus. Kemudian ikan diletakkan diatas styrofoam, sirip- sirip ikan diregangkan dengan menggunakan jarum pentul. Setelah itu, seluruh tubuh ikan beserta siripnya dioleskan formalin secara merata dengan menggunakan kuas, dan ditunggu hingga formalin di tubuh ikan mengering. Lalu ikan dimasukkan ke dalam wadah yang telah berisi pengawet. Kemudian ikan hasil koleksi diidentifikasi.

BAB III. DESKRIPSI IKAN 1. Ikan Remang (Congresox talabon) Nama lokal ikan ini diantaranya ikan remang, ikan cunang, dan ikan tonang.

Gambar 1. Ikan Remang (Congresox talabon)

Karakteristik: Ikan ini tergolong sebagai ikan buas, predator dan pemakan organism dasar. Warna kepala dan badan ikan remang adalah kuning, bagian atas sedikit coklat kehitaman. Panjang tubuh ikan ini mencapai 200 cm, namun pada umumnya 100-150 cm (Fishbase 2003). Habitat: Ikan remang (Congresox talabon) merupakan ikan demersal yang tersebar di perairan Indonesia (Fishbase 2003). Distribusi: Meliputi perairan pantai, lepas pantai, karang-karang di seluruh Indonesia dan melebar di sepanjang pantai Samudera Hindia, Filipina, serta Laut Cina Selatan (Fishbase 2003). Pemanfaatan: Ikan ini ditangkap dengan alat tangkap dogol (Danish seine), jaring insang hanyut (drift gill net), rawai hanyut (drift long line) dan rawai tuna (tuna long line) Gambar 2. Sebaran Congresox talabon (Fishbase 2003).

2. Ikan Sebelah/Lamkau (Psettodes erumei) (Bloch & Schneider 1801)

Gambar 3. Ikan Sebelah (Psettodes erumei)

Karakteristik: Secara morfologi ikan sebelah mempunyai bentuk badan yang pipih mendatar tetapi lebih tebal dari pada jenis flatfishes lainnya, kedua mata hanya berada pada satu sisi saja, memiliki rahang dan susunan gigi pada kedua belah pihak hampir sama. Ikan sebelah termasuk ikan yang asimetris bilateral, karena apabila ikan tersebut dibelah secara membujur tidak memnghasilkan kedua bagian yang sama. Mulut ikan ini besar dan memiliki gigi yang kuat. Rahang atas menunjang keluar. Warna tubuh umumnya kacoklatan atau keabu-abuan (Fishbase 2003). Aspek biologi: Ikan sebelah (Psettodes erumei) memiliki sirip dorsal 49-54, sirip anal 36-44, sirip pectoral 14-15, sirip ventral terdiri dari 1 sirip keras melemah dan 5 sirip lemah, dan sisik yang dilalui gurat sisi yaitu 72-73 (Saanin, 1984). Psettodes erumei memiliki panjang maksimum 64 cm, panjang umum 50 cm dan memiliki berat maksimum sebesar 9 kg. Makanan utama ikan sebelah adalah hewan-hewan benthic, umumnya yang berkulit keras dan tidak memiliki tulang punggung. Ikan sebelah biasanya memijah di daerah lepas pantai, namun ada juga yang memijah di muara sungai. Dalam sekali reproduksi ikan sebelah mampu melepaskan ratusan ribu telur sampai dua juta telur. Pada saat masih berbentuk larva sampai menjadi ikan sebelah dewasa, bentuk tubuhnya makin pipih dan salah satu matanya bergerak ke arah salah satu sisi tubuhnya (Fishbase 2003). Habitat: Ikan sebelah hidup di dasar perairan yang berlumpur atau berpasir dengan kedalaman 1-100 m, namun paling sering tertangkap sekitar kedalaman 20-50 m (Fishbase 2003).

Distribusi: Daerah penyebaran ikan sebelah meliputi teluk Persia, pantai timur Afrika, Jepang, pantai utara sampai selatan Australia, dan IndoPasifik (Betty Rachmawati 2009).
Gambar 4. Sebaran Psettodes erumei

3. Ikan Etong (Abalistes stellaris) (Bloch & Schneider, 1801) Nama lain Abalistes stellaris, Starry triggerfish, ikan ayam laut dan ikan jebong.

Gambar 5. Ikan Etong (Abalistes stellaris)

Karakteristik: Tubuh ikan ini memanjang dan pipih dengan sirip punggung (D,III+2527), sirip anal (A,24-26), sirip pectoral (P,14-15). Memiliki mulut terminal, kecil dan tipis, giginya meruncing. Memiliki keel pada bagian posterior (Keiichi Matsuura dan Tetsuo Yushino 2004). Aspek biologi: Ikan etong (Abalistes stellaris) memiliki panjang maksimum 60 cm, rata-rata ikan ini memiliki panjang 40 cm (Fishwise. 2012) Habitat: Ikan etong merupakan ikan laut demersal yang berada pada kedalaman 4 sampai 1170 meter di bawah laut (Fishbase 2003).
Gambar 6. Sebaran Abalistes stellaris

Distribusi: Ikan ini hidup di daerah yang beriklim tropis pada 46U - 36S, 6B 178B. Indo-Pasifik, laut merah dan wilayah Tomur Afrika, Slatan Asia, Utara Jepang sampai Utara Australia. Atlantik Timur yaitu Helena dan daerah selatan coast di Afrika (Fishbase 2003). Pemanfaatan: Merupakan ikan ekonomis dan ikan hias. Kulit keras ikan ini dimanfaatkan untuk keripik. 4. Ikan Selar Kuning (Selaroides leptolepis) (Cuvier, 1833)

Gambar 7. Ikan Selar Kuning (Selaroides leptolepis)

Karakteristik: Ikan selar kuning termasuk ke dalam golongan ikan pelagis kecil, bentuk ikan selar kuning lebih kecil daripada ikan selar lainnya, bentuk badan mendekati lonjong agak gepeng. Jenis ikan ini ditandai dengan garis lebar berwarna kuning dari mata sampai ekor. Sirip punggung ikan selar kuning terpisah dengan jelas, bagian depan disokong oleh jari-jari keras dan banyak jari-jari lunak. Sirip ekor bercagak dua dengan lekukan yang dalam. Sirip perut terletak di bawah sirip dada. Jari-jari keras sirip punggung berjumlah 9 buah, jari-jari lemah sirip punggung berjumlah 24-26 buah, sirip anal berjari-jari keras 3 buah, sirip anal berjari-jari lemah 21-23 buah. Posisi sirip ventral dan pectoral adalah torasik, bentuk ekornya cagak. Gurat sisi sempurna, pada bagian depan melengkung ke atas, pada bagian belakang melurus sampai pada ujung ekor. Mempunyai skut kaudal sebanyak 25-34 buah, mempunyai spine di depan sirip anal. Ikan selar kuning termasuk ikan laut perenang cepat dan kuat. Warna tubuh ikan memiliki daya tarik tersendiri, bagian atas berwarna biru metalik, sedangkan bagian bawah berwarna putih keperakan. Terdapat

garis kuning yang memanjang dari belakang mata sampai batang ekor dengan titik hitam yang mencolok pada belakang operculum. Sirip dorsal, anal, dan kaudal berwarna pucat sampai kekuningan, serta sirip pelvic berwarna putih ) (A. Wiranti 2008). Aspek Biologi: Selar kuning dapat mencapai panjang 22 cm. Kematangan organ sexual ikan selar dipengaruhi oleh ukuran tubuhnya, memijah antara bulan OktoberNovember. Selar muda biasa hidup berkelompok di sekitar karang. Dan ketika mereka dewasa cenderung menyendiri. Makanannya biasanya adalah ikan kecil dan crustacea. Dan anak selar biasa memakan fitoplankton atau larva ikan lain ) (A. Wiranti 2008). Habitat: Ikan selar kuning termasuk ikan pelagis, yaitu ikan yang umumnya berenang mendekati permukaan perairan hingga kedalaman 200m. Ikan pelagis umumnya berenang berkelompok dalam jumlah yang besar, dan ikan selar kuning sering tertangkap di perairan pantai dan hidup berkelompok hingga kedalaman 80m. Lingkungan hidup ikan selar kuning berasosiasi dengan karang, amphidromus, habitatnya di air payau, dan air laut (Susan M Luna 2011). Distribusi: Daerah penyebaran ikan ini adalah semua laut di daerah tropis dan semua lautan Indo Pasifik, meliputi

Sumatera (Teluk Betung, Tarusab dan Sibolga), Palu, Nias, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Sulawesi (Makasar, Bulukumba dan Manado), Laut Banda, Gisser, Kei Island-Red Sea, Zanzibar, Natal Coust,
Gambar 8. Sebaran Selaroides leptolepis

Madagaskar, Bourhan, South Arabia, India, Solomon Island, SanWich Island, Admirality Island Circumtropical (Susan M Luna 2011). Pemanfaatan: Alat tangkap paling efektif untuk menangkap ikan Selar Kuning adalah Purse Seine, namun juga sering tertangkap dengan menggunakan alat Payang, Perangkap, Gill Net dan Trawls. Ikan ini ditangkap pada siang hari dengan menggunakan kapal dan alat bantu berupa rumpon. Nilai ekonomis dari ikan ini

adalah dipasarkan dalam bentuk segar, asin-kering, asin-rebus dengan harga yang sedang yang mencapai Rp 100.000,00 per bakul (satu bakul ada 20 kg) (A. Wiranti 2008). 5. Ikan Lemadang (Coryphaena hippurus)

Gambar 9. Coryphaena hippurus

Karakteristik: Ikan lemadang merupakan salah satu komoditas ikan dari perairan Indonesia. Ikan lemadang termasuk kedalam ikan pelagis yang terkenal juga dengan nama mahi-mahi, dorado atau pun dolphin fish. Ikan lemadang bertubuh pipih memanjang dengan bentuk ekor cagak. Ikan ini memiliki kombinasi warna di sisi tubuhnya yaitu kuning keemasan dengan berwarna-warni hijau dan biru, dan perut mereka adalah putih dan kuning. Warna-warna ini dapat berubah dengan cepat ketika ikan mati yaitu berubah warna menjadi keperakan dengan bintik-bintik biru di bagian batang ekornya. Memiliki sirip punggung yang memanjang hingga pangkal ekor (Survey dan Peme 2008). Ikan lemadang suka bermain-main disekitar karang-karang gosong atau bukitbukit karang untuk mencari mangsa makanannya dan ikan ini juga suka berkelompok baik dalam jumlah besar maupun dalam jumlah kecil. Ikan ini termasuk ikan yang buas (iftfishing 2011). Aspek Biologi: Ikan lemadang merupakan ikan yang berukuran cukup besar. Ukuran ikan ini saat masih muda sekitar 30 cm dan saat dewasa mencapai 200 cm. Ikan ini dapat mencapai panjang 200 cm dan umumnya dapat mencapai panjang 70-100 cm. Ikan lemadang memiliki berat tubuh berkisar 0,5 kg hingga 25 kg dan dapat

mencapai 40 kg lebih. Ikan lemadang mengalami kematangan seksual ketika telah berumur 4-5 bulan (fishbase 2003).

Makanan ikan lemadang yaitu cumi-cumi, zooplankton, krustasea ,dan juga ikan terbang. Ikan lemadang bertelur di dalam arus laut yang hangat sepanjang tahun. Ikan lemadang kecil banyak ditemukan di antara rumput laut (Survey dan Peme 2008). Ikan lemadang adalah spesies hidup yang relatif singkat, dengan masa hidup hanya empat atau lima tahun. Ikan lemadang adalah salah satu ikan yang paling cepat berkembang dengan waktu penggandaan populasi minimum di bawah 15 bulan (iftfishing 2011). Habitat: Habitat dari ikan ini adalah daerah perairan lepas pantai dan daerah pantai yang berbatasan langsung dengan laut terbuka. Ikan lemadang banyak ditemukan di perairan terbuka di seluruh dunia terutama di perairan tropis dan subtropis dengan kedalaman sampai 85 m, tetapi biasanya banyak dijumpai di kedalaman 10-35 m (fishbase 2003). Distribusi Ikan: Ikan lemadang banyak tersebar di daerah pantai lepas, pantai seluruh Indonesia, perairan Indo-Pasifik lainnya dan meluas sampai perairan sub-

tropis. Ikan lemadang merupakan salah satu komoditi dari perairan


Gambar 10. Sebaran Coryphaena hippurus

Indonesia. Ikan lemadang banyak terdapat di wilayah perairan Maluku, bagian Utara Jawa, bagian Selatan Jawa, dan perairan Sulawesi. (iftfishing 2011). Pemanfaatan: Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan ini adalah dengan menggunakan jaring. Ikan yang telah tertangkap di sortir berdasarkan jenis ikan yang tertangkap dan dimasukkan kedalam palka. Didalam palka telah diberi es balok yang telah dipecahkan untuk memperkecil ukuran es. Adawyah (2008) mengatakan bahwa fungsi es dalam hal ini adalah menurunkan suhu daging hingga mendekati 00 C, mempertahakan suhu ikan tetap dingin, mempertahankan keadaan berudara (aerobik) pada ikan selama disimpan dalam palka. Pada prinsipnya, penggunaan es dalam pendinginan ikan adalah sebagai pengawetan ikan agar ikan tidak cepat busuk dan tetap segar selama ikan disimpan dalam palka.

Pemanfaatan pasca panen ikan etong adalah dijual secara segar dipasar atau berupa ikan yang telah dikering-asinkan. Sampai saat ini belum ada usaha ekspor ikan lemadang. Hal itu mungkin disebabkan karena minat konsumen mancanegara tehadap ikan ini sangat kecil. Oleh karena itu konsumen ikan ini adalah konsumen lokal dan konsumen antar pulau.

BAB IV. PENUTUP Berbagai jenis ikan yang tertangkap di Blanakan, diantaranya adalah ikan Ikan Remang (Congresox talabon), Ikan Sebelah/Lamkau (Psettodes erumei), Ikan Etong (Abalistes stellaris), Ikan Selar Kuning (Selaroides leptolepis), Ikan Lemadang (Coryphaena hippurus).

DAFTAR PUSTAKA Adawya, Ir. Rabiatul,M.P. 2008. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. Bumi Aksara: Jakarta. FAO .Psettodes erumei. (terhubung berkala) http://www.fao.org/fishery. Diakses 25 Mei 2012. FAO . Congresox talabon. (terhubung berkala) Diakses 25 Mei 2012. http://www.fao.org/fishery.

Fishbase. 2003. Coryphaena hippurus. http://www.fishbase.de/summary/ Coryphaenna-hippurus. html. Diakses 25 Mei 2012. Fishbase. 2003. Congresox talabon .(terhubung berkala)http://www.fishbase.de/ summary. Diakses 23 Mei 2012. Fishbase. 2003. Abalistes stellaris .(terhubung berkala)http://www.fishbase.de/ summary. Diakses 25 Mei 2012. Fishwise. 2012. Abalistes stellaris (Schneider & Bloch 1801). (terhubung berkala) http://www.fishwise.co.za/Default.aspx?TabID=110&SpecieConfigId=25819 8&GenusSpecies=Abalistes_stellaris. Diakses 26 Mei 2012. Iftfishing. 2011. Ikan Lemadang. http://www.iftfishing.com/fishingguide/fishypedia/lemadang. Diakses 25 Mei 2012. Luna, Susan M. Indian Halibut. http://fishbase.sinica.edu.tw/Summary. Diakses 25 Mei 2012. Luna, Susan M. 2011. Selaroides leptolepis. http://www.fishbase.org. Diakses 26 Mei 2012. Matsuura, Keiichi, & Tetsuno Yushino. 2004. A new triggerfish of the genus Abalistes (Tetraodontiformes:Balistidae). (terhubung berkala) www.amonline.net.au/pdf/publications/1431_complete.pdf. diakses 26 Mei 2012. Rachmawati, Betty. 2009. Ikan Sebelah. http://www.perikanan-diy.info/home. Diakses 26 Mei 2012. Wiranti, A. 2008. Isolasi dan Identifikasi Kapang dari Kecap Ikan Selar Kuning (Caranx leptolepis) dan Aplikasinya sebagai Starter. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.