Anda di halaman 1dari 5

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar belakang ADL (Activity Daily Living) pada lansia merupakan kegiatan atau pekerjaan rutin yang harus dilakukan lansia sehari-hari digunakan sebagai perawatan diri untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup dari lansia, ADL meliputi antara lain mandi, berpakaian, toileting, BAB dan BAK, berjalan, berpindah tempat, makan dan minum (Hardywinito & Setiabudi, 2005). Yang diharapkan dari seorang yang memasuki masa lansia, yakni membutuhkan perhatian khusus dari keluarga, aman, nyaman, selalu diperdulikan. Kebutuhan ADL terpenuhi secara optimal serta diharapkan keluarga berperan aktif dan sangat diperlukan untuk dapat membantu kebutuhan lansia terutama dalam segi kesehatan. Menjadi sangat berharga serta menambah ketentraman hidup dari lansia jika kebutuhan tersebut terpenuhi (Simbolon Teddy. 2007). Tetapi dalam kenyataannya dimasyarakat pada saat sekarang ini keluarga kurang

berpengetahuan baik dalam perawatan terhadap lansia dan bahkan banyak keluarga menganggap bahwa lansia dipersepsikan secara negatif sebagai beban keluarga. Sehingga banyak lansia yang kurang perhatian dari keluarga serta kebutuhan ADL (Activity Daily Living) tidak dapat terpenuhi secara optimal. Dari hasil studi pendahuluan di RW 01 Desa Tulangan Kecamata Tulangan Kabupaten Sidoarjo masih banyak yang mengalami penurunan ADL, misalnya masih memerlukan bantuan untuk berjalan, memakai pakaian, makan dan lain-lain.

Menurut biro pusat statistic (BPS) jumlah lansia diindonesia sebesar 27.992.553 (19,55%), penduduk lansia dijawa timur sebesar 228.018.900 Secara demografi berdasarkan data sensus penduduk tahun 2010 meningkat menjadi 24 juta jiwa atau (9,77%) dari total penduduk (Biro Pusat Statistik, 2010). Tahun 2015 diperkirakan angka ketergantungan lansia pada aktifitas berkisar 8,74% (Ratna, 2004). Data yang didapat dari hasil studi pendahuluan di Desa Tulangan Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo pada tanggal 24 November 2012 jumlah lansia sebanyak 1026 lansia, yang terdiri dari 537 lansia laki-laki (52%), dan 489 lansia perempuan (48%). serta hasil studi pendahuluan di RW 01 Desa Tulangan Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo, yang diperoleh tanggal 1-2 Desember 2012 adalah 65 lansia berusia 65-90 tahun. Sebanyak 20 keluarga didapatkan 5 keluarga berpengetahuan baik, 7 keluarga berpengetahuan sedang, dan 8 keluarga dengan pengetahuan kurang, serta dari 20 lansia berusia 65-90 tahun, 4 tergolong lansia yang mandiri, 11 lansia yang tergolong memerlukan bantuan perawatan sebagian (parcial), dan 5 lansia tergolong berkebutuhan total. Ketergantungan yang terjadi pada lansia dalam ADL disebabkan karena faktor usia, kondisi fisik yang menurun, faktor penyakit, kurangnya pengetahuan keluarga tentang ADL pada lansia, kurangnya perhatian keluarga, dimana sebagian besar anggota keluarga lansia sibuk dengan pekerjaan mereka, sehingga kurang memperhatikan kondisi serta kurang optimalnya kebutuhan ADL dari lansia. Pada lansia yang kesehatannya baik dapat melakukan aktifitas secara mandiri, sedangkan lansia yang mengalami kebutuhan ADL kurang, lebih

cenderung berada pada kondisi kesehatan kurang baikdan membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan segala aktifitasnya. Melalui pengetahuan keluarga yang baik masalah kesehatan pada lansia bisa sekaligus dapat diatasi, dengan adanya berbagai permasalahan yang terjadi pada lansia, dapat diambil langkah tepat, langkah tersebut meliputi memberikan penyuluhan, konseling kepada keluarga untuk meningkatkan pengetahuan keluarga, dalam hal ini keluarga mempunyai peran sebagai motivator, dengan memberikan dukungan kepada lansia untuk dapat menjalani sisa hidupnya dengan baik, educator, dimana keluarga memberikan informasi tentang kesehatan pada lansia, dan fasilitator, keluarga mampu membimbing, membantu,untuk memenuhi kebutuhan lansia. Perawatan terhadap lansia diharapkan dapat mensejahterakan kehidupan lansia, mempertahankan kesehatan lansia 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti melihat adanya pengetahuan keluarga yang kurang terhadap pemenuhan kebutuhan ADL pada lansia usi 65-90 tahun, maka rumusan permasalahan di atas dapat dirumuskan: Apakah ada hubungan antara pengetahuan keluarga dengan pemenuhan kebutuhan ADL pada lansia usia 65-90 tahun di RW 01 Desa Tulangan Kecamatan Tulangan Kabupaten. Sidoarjo? 1.2.1 Identifikasi Masalah Dari hasil pengamatan lansia di RW 01 Desa Tulangan Kecamatan Tulangan Kabupaten. Sidoarjo, diantaranya banyak lansia yang mengalami penurunan ADL, misalnya masih memerlukan bantuan untuk berjalan,

memakai pakaian, makan dan lain-lain, beberapa penyebab adalah karena kondisi fisik yang menurun karena factor usia, faktor penyakit, kurangnya pengetahuan keluarga tentang ADL pada lansia selain itu juga dikarenakan kurangnya perhatian keluarga, dimana sebagian besar anggota keluarga lansia sibuk dengan pekerjaan mereka, sehingga kurang memperhatikan kondisi dari lansia sehingga lansia banyak yang kurang optimal dalam kebutuhan ADL. 1.3 1.3.1 Tujuan Penelitian Tujuan Umum Mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan keluarga dengan

pemenuhan kebutuhan ADL (Activity Dealing Live) pada lansia usia 65-90 tahun di RW 01 Desa Tulangan Kecamatan Tulangan Kabupaten. Sidoarjo 1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga di RW 01 Desa Tulangan Kecamatan

Tulangan Kabupaten. Sidoarjo


2. Mengidentifikasi kebutuhan ADL pada lansia usia 65-90 tahun di RW 01

Desa Tulangan Kecamatan Tulangan Kabupaten. Sidoarjo


3. Menganalisa hubungan pengetahuan keluarga dengan pemenuhan kebutuhan

ADL pada lansia umur 65-90 tahun di RW 01 Desa Tulangan Kecamatan Tulangan Kabupaten. Sidoarjo

1.4 1.4.1

Manfaat Penelitian Secara Teoritik Memperjelas serta membuktikan berdasarkan teori dan fakta bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan keluarga yang baik dengan meningkatnya kebutuhan ADL pada lansia.

1.4.2

Secara Praktik Menambah pengetahuan dan pemahaman bagi peneliti maupun keluarga tentang pentingnya pemenuhan kebutuhan ADL pada lansia serta sebagai masukan untuk dapat menerapkan dalam pemberian kebutuhan ADL pada lansia.