Anda di halaman 1dari 35

Neutron Porosity dan Density Logging

Pengukuran Neutron Porosity pada evaluasi formasi ditujukan untuk mengukur indeks hydrogen yang terdapat pada formasi batuan. Indeks hydrogen didefinsikan sebagai rasio dari konsentrasi atom hydrogen setiap cm kubik batuan terhadap kandungan air murni pada suhu 75oF. Jadi, Neutron Porosity log tidaklah mengukur porositas sesungguhnya dari batuan, melainkan yang diukur adalah kandungan hidrogen yang terdapat pada pori-pori batuan. Secara sederhana, semakin berpori batuan semakin banyak kandungan hydrogen dan semakin tinggi indeks hydrogen. Sehingga, shale yang banyak mengandung hydrogen dapat ditafsirkan memiliki porositas yang tinggi pula.

Untuk mengantisipasi uncertainty tersebut, maka pada praktiknya, interpretasi porositas dapat dilakukan dengan mengelaborasikan log density logging.

Density logging sendiri dilakukan untuk mengukur densitas batuan disepanjang lubang bor,. Densitas yang diukur adalah densitas keseluruhan dari matrix batuan dan fluida yang terdapat pada pori. Prinsip kerja alatnya adalah dengan emisi sumber radioaktif. Semakin padat batuan semakin sulit sinar radioaktif tersebut ter-emisi dan semakin sedikit emisi radioaktif yang terhitung oleh penerima (counter).

Gambar dibawah ini menunjukkan teknik interpretasi porositas dan litologi dari data density log (RHOB) dan neutron porosity (NPHI) . Pada contoh dibawah, jika kita memiliki data dengan NPHI=15% dan RHOB=2.4 g/cc maka porositas yang sesungguhnya adalah 18% dan batuannya berupa SS (Sandstone).

Courtesy Schlumberger Penggabungan neutron porosity dan density porosity log sangat bermanfaat untuk mendeteksi zona gas dalam reservoir. Zona gas ditunjukkan dengan cross-over antara neutron dan density. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar dibawah ini:

Courtesy Geomore

Pada gambar di atas terlihat pada zona reservoir (low gamma ray), terdapat crossover antara density dan neutron., dalam hal ini neutron porosity lebih rendah dari density porosity.

Reference: John T. Dewan, "Open-Hole Nuclear Logging - State of the Art" - SPWLA TwentySeventh Annual Logging Symposium, June 9-13 1986.

Density log
Awalnya penggunaan log ini dipakai dalam industri explorasi minyak sebagai alat bantu interpretasi porositas. Kemudian dalam explorasi batubara malah dikembangkan menjadi unsur utama dalam identifikasi ketebalan bahkan qualitas seam batubara. Dimana rapat masa batubara sangat khas yang hampir hanya setengah kali rapat masa batuan lain pada umumnya. Lebih extrem lagi dalam aplikasinya pada idustri batubara karena sifat fisik ini (rapat masa) hampir linier dengan kandungan abu sehingga pemakaian log ini akan memberikan gambaran khas bagi tiap daerah dengan karakteristik lingkungan pengendapannya

Dalam operasinya logging rapat masa dilakukan dengan mengukur sinar g yang ditembakan dari sumber melewati dan dipantulkan formasi batuan kemudian direkam kembali oleh dua detector yang ditempatkan dalam satu `probe' dengan jarak satu sama lain diatur sedemikan rupa. Kedua detector 'short' dan `long space' diamankan dari pengaruh sinar g yang datang langsung dari sumber radiasi. Sehingga yang terekam oleh kedua detector hanya sinar yang telah melewati formasi saja. Dalam hal ini efek pemendaran sinar radiasi seperti ditentukan dalam efek pemendaran Compton. Dimana menurutnya, jumlah sinar yang terpendarkan sebanding dengan jumlah electron per satuan volume. Jumlah electron dalam suatu unsur adalah

equivalent dengan jumlah proton (nomor atom Z). Untuk kemudian seperti kita ketahui bahwa nomor atom adalah proporsional dengan nomor masa (A) yang untuk selanjutnya proporsional dengan rapat masa. Seperti diketahui pula bahwa secara umum perbandingan antara nomor atom (Z) terhadap nomor masa (A) selalu mendekati harga 0.5 kecuali untuk unsur hydrogen yang mendekati 1. Dari sini akan sampai pada permasalahan bagi lapisan yang banyak mengandung hydrogen seperti halnya batubara dan air yang akan menggiring pada kesalahan aparansi. Sehingga untuk memperkecil kesalahan tersebut, alat harus sering dikalibrasi dengan menggunakan aluminium yang perbandingan Z/A = 0.5.

Dalam hal formasi yang mengandung hydrogen secara menyolok sehingga nilai Z/A menjauh dari nilai 0.5, koreksi sangat diperlukan untuk mengeliminir efek tersebut (factor koreksi ini tidak diuraikan panjang lebar di sini karena hanya menyangkut pekerjaan logging engineer yang bertanggung jawab pada acurasi grafik yang dihasilkannya). Tapi secara selintas dapat disinggung sebagai berikut :

Batubara dimana perbandingan Z/A bervariasi antara 0.51 sampai 0.54 (naik seiring dengan kenaikan kandungan hydrogen. Untuk mengilustrasikannya katakanlah batubara dengan kadar hydrogen 6%. Dalam hal ini Z/A bisa diprediksikan dengan rumus sbb :

Z/A = 0.5(1 - H) + 1 x H

Dimana H adalah kandungan hydrogen dalam decimal sehingga persamaan di atas menjadi :

= 0.5(1 - 0.06) + 1 x 0.06 = 0.53

Well-Log Data

Pembahasan mengenai beberapa konsep well logging telah dijelaskan pada artikel Gamma Ray, Resistivity, Neutron Porosity dan Density Logging. Untuk keperluan studi dan penelitian, well log data dapat anda peroleh di sini, yang dipublikasikan oleh Department of the Interior U.S. Geological Survey untuk 14 Wildcat Wells di Alaska.

Ke-14 data well tersebut memiliki data log dengan format LAS yang anda dapat buka dengan text editor biasa seperti notepad, nedit atau gedit.

Berikut adalah contoh well-log untuk Tulageak-1 (klik untuk memperbesar):

Data well-log dengan format LAS dapat ditampilkan dengan software gratis dengan platform Windows seperti LASReader atau dengan software gratis lainnya seperti octave atau gnuplot.

Berikut adalah contoh cara menampilkan dan memanipulasi Tulageak-1 well log data

dengan octave atau matlab. Dengan Text editor bukalah TL1.LAS sehingga anda memperoleh penampilan seperti di bawah ini:

Baris 1 s/d 35 merupakan LAS header yang berisikan informasi mengenai data ini i.e. kolom pertama merupakan measured depth dengan satuan ft, kolom kedua merupakan data Spontaneous Potential (MV), dst.

Perhatikan pada tabel tersebut terdapat angka -999.00000, angka ini merupakan null value yang artinya tidak ada informasi pengukuran.

Pada terminal Linux, gunakan perintah sed untuk mengganti nilai -999.0000 dengan NaN (Not a Numeric). sed -e 's/-999.00000/NaN/g' TL1.LAS > TL1_edit.LAS

Lalu gunakan kode berikut untuk membaca dan menampilkan. Download function hdrload.m terlebih dahulu.

clear; clc [h, d] = hdrload('TL1_edit.LAS'); %plot gammaray subplot(1,4,1); plot(d(:,3),d(:,1),'r'); set (gca (), 'ydir', 'reverse','XGrid','on','YGrid','on'); axis([min(d(:,3)) max(d(:,3)) min(d(:,1)) max(d(:,1))]); xlabel('GR(API)'); ylabel('Measured Depth(ft)'); %plot LLD subplot(1,4,2); semilogx(d(:,6),d(:,1),'m'); set (gca (),'ydir', 'reverse','XGrid','on','YGrid','on'); axis([min(d(:,6)) max(d(:,6)) min(d(:,1)) max(d(:,1))]); xlabel('LLD(ohmM)'); %plot density subplot(1,4,3); plot(d(:,8),d(:,1),'b'); set (gca (), 'ydir', 'reverse','XGrid','on','YGrid','on'); axis([min(d(:,8)) max(d(:,8)) min(d(:,1)) max(d(:,1))]); xlabel('Density(g/cc)'); %plot sonic subplot(1,4,4); plot(d(:,10),d(:,1),'g'); set (gca (), 'ydir', 'reverse','XGrid','on','YGrid','on'); axis([min(d(:,10)) max(d(:,10)) min(d(:,1)) max(d(:,1))]); xlabel('Sonic(us/ft)');

Perhatikan manipulasi NaN values sebelum diterapkan whittf.

figure; sonic=d(:,10); depth=d(:,1); loc=find(isnan(sonic) == 0); sonic=sonic(loc); depth=depth(loc); plot(sonic,depth,'g',whittf(sonic,10^3),depth,'r',whittf(sonic,10^9),depth,'b'); legend('original','smooth-10^3','smooth-10^9') set (gca (), 'ydir', 'reverse', 'xdir', 'reverse','XGrid','on','YGrid','on'); axis([min(sonic) max(sonic) min(depth) max(depth)]);

xlabel('Sonic(us/ft)'); ylabel('Measured Depth(ft)');

Di bawah ini saya melakukan despike untuk data sonic dan density, konversi data sonic menjadi kecepatan serta kedalaman dari feet ke meter dan lalu menyimpannya dalam format ascii.

%sonic sonic=d(:,10); depth=d(:,1); loc_sonic=find(isnan(sonic) == 0); sonic_edited=whittf((1000000./(3.28084.*sonic(loc_sonic))),10^4); depth_sonic=depth(loc_sonic)./3.28084; subplot(1,2,1) plot(sonic_edited,depth_sonic);set (gca (), 'ydir', 'reverse','XGrid','on','YGrid','on'); xlabel('Velocity(m/s)'); ylabel('Measured Depth(m)');

%%%density density=d(:,8); depth=d(:,1); loc_density=find(isnan(density) == 0); density_edited=whittf(density(loc_density),10^4); depth_density=depth(loc_density)./3.28084; subplot(1,2,2) plot(density_edited,depth_density);set (gca (), 'ydir', 'reverse','XGrid','on','YGrid','on'); xlabel('density(g/cc)'); ylabel('Measured Depth(m)'); dvfile=[depth_sonic,sonic_edited]; drfile=[depth_density,density_edited]; save dvfile.asc dvfile -ascii save drfile.asc drfile -ascii

Konversi ascii ke binary, dan membuat seismogram sintetik dengan Seismic Unix.

a2b n1=2 < dvfile.asc > dvfile.bin a2b n1=2 < drfile.asc > drfile.bin suwellrf dvfile=dvfile.bin drfile=drfile.bin ntr=100 nval=7591 | suxwigb &

Analisa Penilaian Formasi (Analisa Logging)

Secara umum, analisa log dibedakan atas tiga kompenen, berupa Log Lithologi, Log Resistivity dan Log Porosity. Log Lithologi antara lain Gamma Ray (GR) Log dan Spontaneous Potential (SP) Log. Untuk Log Resistivity diantaranya adalah Induction Log, Short Normal Log, Microlog, Lateral Log dan MSFL. Sedangkan untuk Log Porosity terdiri dari Neutron Log dan Sonic Log.

Pada prakteknya di lapangan tidak semua jenis log diatas dapat dilakukan. Hal ini mengingat biaya (cost) yang besar untuk tiap jenis log sehingga hanya digunakan beberapa jenis log tertentu dan kecenderungan untuk mengkombinasikan beberapa jenis log (combination log) dan ini yang biasa digunakan.

Beberapa analisa jenis log yang umum digunakan antara lain Analisa Spontaneous Potential (SP) Log, Analisa Log Induksi, dan Analisa Log Radioaktif yang terdiri dari Gamma Ray Log, Neutron Log, dan Formation Density Log.

Analisa Sponteneous Potential Log (SP) Log

Pada sumur yang mempunyai kandungan hidrokarbon perlu dilakukan logging dengan berbagai jenis alat log. Log tersebut dapat berupa Log Listrik, Log Radioaktif serta berbagai jenis log lainnya. Tahap pertama dalam analisa log adalah mengenal lapisan permeable dan serpih yang non permeable. Log yang digunakan adalah Spontaneous Potential (SP) Log. Log SP merupakan rekaman perbedaan potensial listrik antara elektroda di permukaan yang tetap dengan elektroda yang terdapat di dalam lubang bor yang bergerak naik turun, pada sebuah lubang sumur yang terdiri dari lapisan permeable dan non permeable. Secara alamiah karena perbedaan kandungan garam air, arus listrik hanya dapat mengalir di sekeliling perbatasan formasi di dalam lubang bor. Pada lapisan serpih yang tidak terdapat aliran listrik, potensialnya adalah konstan dengan kata lain pembacaan log SP nya rata.

Analisa Log Induksi Log induksi digunakan untuk mendeteksi konduktivitas formasi yang selanjutnya dikonversi dalam satuan resistivity. Pengukuran dengan log induksi banyak menggunakan parameter dan korelasi grafik. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh hasil yang valid sehingga mempermudah analisa.

Analisa Log Radioaktif 1. Gamma Ray Log

Untuk membedakan lapisan-lapisa shale dan non shale pada sumur-sumur open hole atau cased hole dan juga pada kondisi ada lumpur maupun tidak.

Sebagai pengganti SP Log untuk maksud-maksud pendeteksian lapisan permeable, karena untuk formasi yang tidak terlalu resistif hasil SP Log tidak terlalu akurat

Untuk mengetahui korelasi batuan dan prosentase kandungan shale pada lapisan permeable Mendeteksi mineral-mineral radioaktif Menentukan kedalaman perforasi yang telah diinjeksi air (water plugging)

2. Neutron Log Untuk menentukan total porosity Mendeteksi adanya formasi gas setelah dikombinasikan dengan porosity tool lainnya seperti Density Log) Penentuan korelasi batuan

3. Formation Density Log Untuk mengukur porositas batuan Mengidentifikasi mineral batuan Mengevaluasi shally sand dan lithologi yang kompak Log ini juga dapat digunakan sebagai indikasi adanya gas

Gamma Ray Log merupakan rekaman tingkat radioaktivitas alami yang terjadi karena tiga unsur yaitu Uranium (U), Thorium (Th) dan Potasium (K) yang dipancarkan oleh batuan. Pemancaran yang terus menerus terdiri dari semburan pendek tenaga tinggi sinar gamma yang mampu menembus batuan sehingga dapat dideteksi oleh detektor. Sinar gamma sangat efektif dalam membedakan lapisan permeable dan non permeable karena unsur-unsur radioaktif cenderung berpusat di dalam serpih yang non permeable dan tidak banyak terdapat dalam batuan karbonat atau pasir yang secara umum besifat permeable. Kadangkala lumpur bor mengandung sejumlah unsur Potasium karena zat Potassium Chloride ditambahkan kedalam lumpur untuk mencegah pembengkakan serpih.

Radioaktivitas dari lumpur akan mempengaruhi pembacaan Log Gamma Ray berupa tingkatan latar belakang radiasi yang tinggi.

Analisa Log Kombinasi Log kombinasi diaplikasikan untuk semua junis log sebelumnya seperti Log Listrik, Log Induksi dan Log Radioaktif untuk mendapatkan kepastian jenis formasi beserta kandungan formasi tersebut.

Kombinasi log yang sering digunakan dua jenis log yaitu Log Listrik dan Log Radioaktif. Log Listrik yang dimaksudkan adalah SP Log dan Log Induksi untuk Short Normal Log. Sedangkan Log Radioaktif yang dimaksud adalah Gamma Ray (GR) Log, Neutron Log dan Formation Density Log (FDL). Dari analisa Log Kombinasi ini dapat ditentukan kandungan HC dari formasi pada interval kedalaman tertentu.

Interpretasi log dilakukan untuk mengetahui harga Rw dan Sw serta menentukan lithologi batuannya. Interpretasi ini dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu interpretasi kualitatif dan interpretasi kuantitatif. Interpretasi kualitatif meliputi penentuan lapisan permeable, penentuan batas lapisan dan penentuan zona interest. Log yang digunakan berupa SP Log, GR Log dan Resistivity Log. Sementara interpretasi kuantitatif meliputi penentuan porositas dan saturasi air (Sw). Jenis Log yang digunakan Neutron Log, Density Log, Sonic Log dan Resistivity Log. Adapun kondisi interpretasi yang dilakukan berupa Clean Formation (quick look) dan Shally Sand Formation (detailed).

Pengukuran dengan SP Log dilakukan untuk menentukan Vclay sehingga dapat diketahui jenis fluida yang terdapat dalam formasi yang dianalisa serta kandungan batuan dan kondisi dari kedalaman formasi tersebut.

Pada GR Log didapatkan suatu kurva yang menunjukkan besarnya intensits radioaktif yang ada dalam formasi. Dengan menarik garis GR yang mempunyai harga minimum dan

harga maksimum pada penampang log maka kurva GR yang jatuh diantara kedua lapisan kurva tersebut merupakan indikasi adanya lapisan shale.

Pada Neutron Log, bila konsentrasi hidrogen didalam formasi besar maka semua partikel neutron akan mengalami penurunan energi serta tertangkap tidak jauh dari sumber radioaktifnya. Hal yang perlu digarisbawahi bahwa neuton hidrogen tidak mewakili porositas batuan karena penentuannya didasarkan pada konsentrasi hidrogen. Neutron tidak dapat membedakan antara atom hidrogen bebas dengan atom hidrogen yang secara kimia terikat dengan mineral batuan, akibatnya pada formasi lempung yang banyak mengandung atom-atom hidrogen didalam susunan molekulnya seolah-olah mempunyai porositas tinggi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk kurva Neutron Log adalah shale atau clay dimana semakin besar konsentrasinya dalm lapisan permeable akan memperbesar harga porositas batuan. Kekompakan batuan juga akan mempengaruhi defleksi kurva Neutron Log dimana semakin kompak batuan tersebut maka harga porositas batuan akan menurun dan kandungan fluida yang ada dalam batuan apabila mengandung minyak dan gas maka akan mempunyai harga porositas yang relatif kecil, sedangkan air asin atau air tawar akan memberikan harga porositas neutron yang mendekati harga porositas sebenarnya.

Density Log menunjukkan besarnya densitas lapisan yang ditembus oleh lubang bor sehingga berhubungan dengan porositas batuan. Besar kecilnya density juga dipengaruhi oleh kekompakan batuan dengan derajat kekompakan yang variatif, dimana semakin kompak batuan maka porositas batuan tersebut akan semakin kecil. Pada batuan yang sangat kompak, harga porositasnya mendekati harga nol sehingga densitasnya mendekati densitas matrik.

Kombinasi Log digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan untuk mengevaluasi formasi serta menentukan potential productivity yang dikandungnya. Pada kombinasi log antara Neutron Log dan Density Log maka akan terdapat tampilan Log

Density yang dari kiri ke kanan satuannya semakin besar sedangkan Neutron Log dari kiri ke kanan satuan porositasnya semakin kecil sehingga dapat diinterpretasikan sebagai berikut : 1) Lapisan shale akan memberikan separasi negatif berdasar harga densitas yang besar pada Density Log dan harga porositas neutron yang besar pada Neutron Log. 2) Lapisan hidrokarbon akan memberikan separasi positif dimana kurva Density Log akan cenderung mempunyai defleksi ke kiri dan Neutron Log cenderung mempunyai defleksi ke kanan. 3) Lapisan air asin atau air tawar akan memberikan separasi positif sehingga untuk dapat membedakan antara separasi positif pada lapisan air dengan lapisan hidrokarbon maka jalan terbaik adalah dengan melihat kurva Resistivity Log dan SP Log.

Logging dan Jeni-jenisnya LOGGING


Proses perekaman data bawah permukaan dengan energi listrik yang diturunkan ke dalam sumur kemudian mengangkatnya dengan kecepatan konstan kemudian mencatat hasil pengukuran yang berupa defleksi-defleksi pada suatu chart. Untuk mendapatkan data yang akurat maka logging dilakukan beberapa kali perekaman dengan kombinasi alat yang berbeda. Tipe Logging: 1. Open Hole Logging, untuk mengetahui data-data bawah permukaan. 2. Cased Hole Logging, untuk mengetahui kualitas semen. 3. Perforated and Production Logging.

Jenis Logging No. Jenis Log Macam-macam Log Fungsi Identifikasi permeabel 2. Mencari permeabel sumur batas-batas dan korelasi lapisan antar lapisan-lapisan

1. Log Permeable a. Log Spontaneous Potential 1.

berdasarkan

batasan

lapisan itu. 3. Menentukan nilai resistivitas air formasi, Rw 4. Memberikan indikasi kualitatif

lapisan serpih b. Log GR (Gamma Ray) 1. Evaluasi kandungan serpih 2. Menentukan lapisan permeabel 3. Evaluasi biji mineral yang radioaktif 4. Evaluasi lapisan mineral yang bukan radioaktif 5. Korelasi berselubung 6. Korelasi antar sumur 2. Log Resistivity a. Log Induction 1. Mengukur Dalam dialirkan conductivitas batuan log pada sumur

kumparan arus

transmitter bolak balik dengan yang akan

berfrekwensi amplituda

tinggi

konstan

menimbulkan medan magnet dalam batuan. 2. Medan magnet ini menimbulkan arus Eddy atau arus Foucault b. Log Lateral direkayasa untuk mengukur

resistivitas batuan yang dibor dengan salt mud atau lumpur yang sangat konduktif mendeteksi serta dipakai untuk yang

zonazona

mengandung hidrokarbon. 3. Log Porosity a. Log Density 1. Alat density mengukur berat jenis batuan. 2. Bersama log lain misalnya log neutron, lithologi batuan dan tipe fluida yang dikandung batuan dapat

ditentukan. 3. Log density dapat membedakan minyak dari gas. 4. Alat density yang modern juga mengukur PEF (photoelectric effect) yang berguna untuk menentukan lithologi batuan, Log density juga dipakai untuk menentukan Vclay 1. Alat neutron dipakai untuk menentukan primary porosity

b. Log Neutron

batuan, yaitu ruang pori-pori batuan yang terisi air, minyak bumi atau gas. 2. Bersama log lain misalnya density, dapat menentukan jenis

batuan/lithologi serta type fluida yang mengisi pori-pori batuan. c. Log Sonic 1. Untuk menentukan sonic porosity (s) 2. Untuk menentukan volume of clay (Vs) 3. Bersama log lain untuk menentukan litologi 4. Time-depth relationship 5. Menentukan reflection coefficients 6. Mechanical properties 7. Menentukan kualitas semen CBL-VD

GEOFISIKA

Metode geofisika sudah dipergunakan dalam investigasi pengeboran, yaitu teknik elektroda yang digunakan juga pada eksplorasi pada permukaan. Bermacam alat dan dan teknik, didesain secara khusus sesuai dengan tempat pengeboran yang bervariasi, dan digunakan dalam eksplorasi, mengindentifikasi formasi geologi dan formasi fluida, serta korelasi antar lubang. Sejak 1928, ketika Scllumberger bersaudara pertama kali membuat alat ukur listrik di Perancis, geofisika well loging telah mnjadi standard operasi pada eksplorasi minyak. Korelasi dan evaluasi dan kemampuan produksi dan formasi reservoir biasanya merupakan objek yang dicari. Well logging tidak digunakan secara ekstensive dalam pencarian mineral logam untuk beberapa alasan tertentu. Lubang yang berukuran kecil obtained dengan pemboran intan, secara umum kurang dan 1-3 diameter dan sumur minyak, memaksakan pembatasan pada peralatan. Stuktur geologi yang kompleks terjadi di daerah mineral, dibandingkan opada formasi sedimen yang relatif seragam yang berasosiasi dengan minyak, membuat pengidentifiakasian dan pengkorelasian bertambah sulit. Pada umumnya, obyek utama dari well logging dalam peminyakan adalah untuk mengidentifikasi potensi dan batuan reservoir, menentukan porositas, permeabilitas dan tempat fluida. Porositas adalah porsi fraksional dan volume batuan yang ditempati oleh ruang pod-pod, seringkali dinyatakan dalam persen. Porositas dan batuan reservoir biasanya memiliki rentang 30% sampai 10%, meskipun batuan yang memiliki porositas lebih kecil terkadang dapat menjadi reservoir hidrokarbon. Hasil dari porositas, luas, dan ketebalan dan

reservoir yaitu dapat memberikan jumlah kandungan fluida. Porositas dapat ditentukan dari resistivity, acoustic velocity, density dan log neutron. Pada kebanyakan reservoir, ruang pori yang terisi oleh fluida hanya setengah yang disebut sebagai hydrocarbon saturation. Dimana air merupakan fluida yang lain yang ada, air saturation ditambah dengan hydrocarbon saturation sama dengan satu. Water saturation didapat dan pengukuran resistivity menggunakan rumusan Archie. Hasil dan pengukuran tadi menampakkan perbedaan formasi yang akan menentukan produksi hydrokarbon. Selain porositas, sifat penting lain yaitu permeabilitas. Satuannya adalah darcy dimana satu darcy artinya permeabilitas akan melewatkan 1 mi/s fluida dan satu centipoise viskositas sampai satu sentimeter persegi pada tekanan 1 Atm. Commercial reservoir biasanya memilki rentang dan darcy-milidancy, permeabilitas ditentukan dengan menggunakan aturan empiris log. Identifikasi formasi dan korelasi antar sumur bor sering dilakukan, sebagai determinasi porositas dan penentuan permeabiitas. Formasi tertentu akan menunjukkan kurva log dan pola distinctive yang membuat korelasi yang mungkin tidak hanya litologi utama tapi banyak titik pada forrnasi itu sendiri. Sesar dan ketidakselanasan dapat ditentukan lokasinya secara pasti dengan memperhatikan bagian yang hilang atau diduplikasikan pada satu sumur dibandingkan dengan sumur lain di dekatnya. Detail detail stratigrafi yang sering kali dikerjakan dengan cara mengobservasi pola dan variasi sistematik dalam bentuk log. Analisis korelasi well log dan pembentukan evaluasi dilakukan dengan menggunakan sinar gamma, potensi spontan, resisitvity, kaliper, sonik, neutron dan log densitas. Bagian atas waduk didefinisikan menggunakan pendekatan stratigrafi. Penanda tempat tidur stratigrafi digunakan untuk menggambarkan interval parameter (reservoir pasir) dari log dan berkorelasi di lapangan.

Logging sinar gamma Log sinar gamma pertama di aplikasikan di sumur minyak pada tahun 1939 yang digunakan kusus untuk menetukan lokasi dan korelasi formasi pada sumur dimana log electric digunakan. Didalam log sinar gamma pada batuan sedimen umumnya merefleksikan serpih Karena unsur radio aktif cenderung berkonsentrasi pada lempung dan serpih. Meskipun secara essensial log bekerja dengan maksud yang sama seperti log SP dan umumnya berhubungan dengan log SP. Log ini juga digunakan untuk menempatkan log SP pada formasi yang sangat resistif atau hanya sedikit perbedaan lumpur dan salinitas lumpur dan air bisa melewati bidang kosong dan lubang berisi. Pengaruh lubang bor mempunyai arti kecil dalam log sinar gamma (y) dan bisa dikoreksi. Permukaaan antara daerah tandus yang berdekatan dan lapisan radioaktif dapat dapat ditentukan lokasinya secara akurat pada defleksi maksimum ketika lapisan masili tebal (>6 ft) .Untuk daerah tipis , pusatnya dapat diambil sebagai defleksi puncak atau ujung . Resolusi terbaik didapatkan dengan detektor rendah kususnya untuk lapisan tipis.

Resistivitas Logging. `Tiga pengukuran penting yang dilakukan pada pengerjaan minyak untuk menghubungkan resistivitas dan batuan yaitu resistivitas dan fluida pada rongga batuan, porositas dan banyaknya air pada rongga. Metode dasar dari logging resistivitas sama dengan yang digunakan pada resistivitas permukaan. Biasanya arus searah atau arus rendah digunakan di antara eletroda arus dan potensial diukur diantara dua atau lebih elektoda potensial.

Instrumen ml memberikan energi pada sekelilngnya dengan induksi, sebagaimana dalam efek elektromagnetik (EM). Hal ml pertama diaplikasikan tahun 1948 pada pengeboran sumur yang menggunakan oil-based muds beresistivitas tinggi. Medan EM dihasilkan dengan mentransmisikan kumparan yang terinduksi oleh arus Eddy yang mengalir dekat dengan fonnasi konduktif pada pusat loop bagian axis lubang tersebut. Arus Eddy menggerakkan EM sekunder yang menginduksi voltase/tegangan pada kumparan penerima (receiver coil); tegangan ml kemudian dikuatkan, dikoreksi dan ditransmisikan melalui kabel. Beberapa tipe kompensasi (~ 7.4.7) hams digunakan untuk meniinimalisir kopeling/perangkai langsung dan medan utama ke kumparan penerima. Sinyal log induksi adalah proporsional pada konduktivitas formasi tersebut (dibandingkan resistivitasnya). Resistfiity logging sudah tidak digunakan lagi selain hubungannya dengan IP logging juga pada percobaan akademik. Mungkin hanya beberapa sistem elektroda, seperti elektroda tunggal atau focused two-electrode dan log induksi (induction log), yang dapat berguna dalam pencarian mineral. Dikarenakan struktur pada area mineral lebih kompleks, interpretasi secara qualitatif yang mungkin dapat dilakukan. Sehingga diharapkan dapat menemukan zona berkonduktivitas tinggi dan mungkin membantu dalam mengidentifikasj dan mengorelasikannya. Density Log (Log kepadatan) Ketika pertama di kenalkan pada tahun 1953. Log kepadatan atau log gamma-gamma dikabarkan sebagai tambahan sebagai prospect gravitasi dengan mengukur kepadatan saja. Sebagaimana hasilnya tercermin dalam pengamatan formasi .karena kepadatan

berhubungan sekali dengan porositas. Peralatan harus disesuaikan dengan intensitas sumber , sensitivitas detector , kekentalan lumpur dan diameter lubang . Log lengkungan lubang adalah hasil pembantu. Sejak peralatan rendah lapisan yang berdekatan atau ketebalan lapisan sedikit terjadi efek

distorsi. kecepatan logging juga harus diatur dalam dalam hubungan dengan konstanta waktu peralatan untuk menghindani terjadi distorsi gans atau kehilangan sensitivitas. Sonde (alat) logging kepadatan pengganti terbaru, yang menggunakan 2 detektor pada spasi yang berbeda dan sumbernya. Spasi yang terendah lebih banyak diakibatkan karena lumpur dan perbedaan dalam pembacaan antana 2 detektor yang digunakan untuk membetulkan kepadatan , ketebalan batang atau bekas lumpur. Log kepadatan banyak memberikan respon pada kepadatan elektron di formasi unsur-unsur yang banyak mempengaruhi atau kurang dari elektron per unit berat atom Hidrogen adalah pengecualian dan beberapa unsur yang lam yang menyimpang secara jelas dan rasional . Alat-alat kepadatan biasanya disesuaikan dengan batu gampimg yang terisi air tawar karena diberikan untuk memberikan kepadatan dalam batu pasir, dolomit, dan substansi-substansi lain seperti batu garam, Anhidrit, Gypsum, batubara ,dan gas.

EVALUASI FORMASI
a. Mud Logging Mud logging sering disebut juga logging hidrokarbon atau logging formasi secara fisik, termasuk monitoring dan mencatat berbagai data yang berhubungan dengan sumur bor dan proses pemboran. Mud logging termasuk analisis gas dan cutting dengan menggunakan informasi pemboran untuk menciptakan suatu catatan evaluasi formasi yang menerus sewaktu sumur sedang dibor. Peralatan dan pelayanan dari mudlogging dapat bervariasi dari monitoring yang sederhana samapai modeling computer yang terintegrasi daripada lingkungan wellsite dan sumur pemboran (borehole). b. Well logging: - Open hole logging Open hole logging dipakai untuk mengetahui keadaan formasi di bawah permukaan. Logging dilakukan sebelum dilakukannya pemasangan casing pada lubang bor. Atribut formasi yang umum yang mungkin diketahui yaitu: 1. Kapasitas simpan (storage capacity) dari formasi, dimana normalnya termasuk porositas dan kejenuhan fluida 2. Sifat dari fluida, termasuk densitas, gas oil ratio, API gravity, resistivitas air dan kegaraman, suhu dan tekanan 3. Seting geologi, dimana termasuk kemiringan stratigrafi atau struktur, karakteristik fasies, dan heterogenitas dari reservoar - Case hole logging Case hole logging merupakan proses logging yang dilakukan setelah dilakukan pemasangan casing pada lubang bor. Terdapat beberapa alasan mengapa case hole logging dilakukan:

1. Sebagai pengukuran tambahan dari pengukuran yang dilakukan pada open hole. Sangatlah penting untuk melakukan pengukuran tambahan ini dikarenakan kondisi sumur yang memungkinkan ketidakakuratan data open hole, atau adanya pengukuran yang tak semestinya pada beberapa zona saat open hole

2. Untuk memonitor perubahan yang terjadi pada formasi yang terjadi pada saat terakhir
casing telah dipasang. Selama masa hidup suatu sumur, perubahan saturasi dari ruang pori oleh minyak, gas atau air dapat dipengaruhi oleh adanya proses produksi. Ketika perubahan ini terjadi, evaluasi dari sebab perubahan ini mungkin diperlukan untuk merancang strategi recovery daripada hidrokarbon 3. Untuk menyediakan kedalaman referensi antara pengukuran open hole dan case hole c. Proses pengambilan data

Pengambilan data dilakukan dengan memasukkan alat berupa sonde atau elektroda yang dimasukkan ke dalam lubang sumur dengan menggunakan kabel elektrik. Instrumen yang ditempatkan di dalam kendaraan khusus akan mencatat electrical properties dari batuan dan fluida yang dilewati oleh sonde bersamaan ketika sonde tersebut ditarik dari bawah ke atas. d. Basic well log analysis d.1 Radioactive log d.1.1. Gamma ray log Gamma ray log mengukur emisi dari gamma ray alam pada berbagai lapisan pada sumur pemboran. Pengukuran ini berhubungan dengan kandungan isotop radiogenic dari potassium, uranium dan thorium. Elemen tersebut (terutama potassium) sangat umum dijumpai pada mineral clay dan beberapa jenis evaporit. Pada suatu lapisan klastik terrigenous, log akan menunjukkan cleanness (kurangnya clay) atau shaliness (radioaktivitas tinggi pada skala API) daripada batuan. Dikarenakan karakteristiknya, maka log gamma ray akan menunjukkan suatu suksesi yang sama antara lapisan pasir dan lapisan karbonat.

Perlu ditekankan disini bahwa pembacaan gamma ray bukan fungsi dari ukuran butir atau kandungan karbonat, tetapi akan berhubungan dengan banyaknya kandungan shale. Membedakan litologi seperti batupasir, konglomerat, dolomit atau batugamping lebih baik jika dilakukan kalibrasi dengan satu atau lebih macam log yang lain atau dengan core dan cutting. Log ini umumnya berada di sebelah kiri kolom
kedalaman dalam satuan API units. Log SP dan log sinar gamma terutama digunakan untuk membedakan antara batuan reservoar dan non reservoar. Selain itu juga penting di dalam pekerjaan korelasi dan evaluasi kandungan seprih di dalam suatu formasi. d.1.2 Density Log Log densitas mengukur densitas semu formasi menggunakan sumber radioaktif yang ditembakkan ke formasi dengan sinar gamma yang tinggi dan mengukur jumlah sinar gamma rendah yang kembali ke detektor. d.1.3 Neutron Log Log neutron mengukur hydrogen index formasi menggunakan sumber neutron radioaktif yang ditembakkan ke formasi deengan neutron yang cepta. Neutron bertumbukan dengan atom dari formasi, mentransfer energi melalui tumbukan. Transfer energi yang paling efisien adalah dengan atom hydrogen karena massa hydrogen diperkirakan sama dengan massa neutron. Gas mempunyai hydrogen index yang rendah dibandingkan air, sehingga menyebabkan alat akan mencatat porositas yang rendah pada formasi yang mengandung gas. Jika digunakan bersama log densitas, akan sangat gampang untuk mengidentifikasi interval formasi yang mengandung gas. d.2 Electric log d.2.1. Resistivity Log Resistivity log atau log tahanan jenis/resistivitas akan mengukur tahanan dari fluida dalam pori-pori batuan terhadap aliran elektrik. Aliran elektrik ini ditransmisikan secara langsung kepada batuan melalui elektroda jauh ke dalam formasi. Istilah dalam disini

berarti arah horizontal dari lubang bor. Resistivitas pada kedalaman yang berbeda akan diukur oleh berbagai panjang alat yang bervariasi. Beberapa kurva resistivitas biasaya ditampilkan pada satu track saja.

Log resistivitas digunakan untuk evaluasi fluida di dalam formasi. Alat ini juga dapat digunakan untuk indentifikasi batubara (tahanan tinggi). Pada sumur-sumur tua dimana hanya sedikit jenis log yang digunakan, log resisitivitas sangat berguna untuk picking bagian top dan bottom dari formasi, dan untuk korelasi sumur. Batuan berpori yang dijenuhi freshwater mempunyai resistivitas tinggi, oleh karena itu log ini dapat digunakan untuk memisahkan shale dari batupasir dan batugamping berpori. Batuan yang kering dan hidrokarbon merupakan konduktor yang jelek kecuali klorit, grafit, dan sulfide yang mengandung unsur logam. Ketika suatu formasi dibor, maka air pemboran akan masuk ke dalam formasi dari dinding lubang bor sehingga membentuk tiga zona yaitu zona terinvasi (flushed zone), zona transisi (transisition zone) dan zona yang tak terinvasi air lumpur pemboran (uninvaded zone). Log tahanan jenis ada dua macam yaitu dual laterolog-Rxo log dan dual induction-spherically focused log. Kedua macam log tahanan jenis ini mempunyai fungsi yang sama yaitu untuk mengetahui tahanan jenis darui formasi. d.2.2. Log SP (Spontaneous Potential) Log SP merupakan hasil dari pengukuran beda potensial arus searah antara elektroda di dalam lubang bor dengan elektroda di permukaan. Beda potensial inilah yang kemudian direkam dalam bentuk log. Untuk lebih memahami proses pengukuran beda potensial sehingga dihasilkan log SP, maka dapat dipahami mengenai aliran arus SP di dalam formasi yang diukur. Log ini selalu diletakkan di sebelah kiri kolom kedalaman bersama-sama dengan log GR. Satuannya yaitu milivolt (mV). Log SP terdiri atas garis dasar yang agak lurus dengan puncak-puncak (peaks) yang berarah ke kiri. Garis dasar ini menunjukkan lapisan-lapisan impermeable sedangkan puncak-puncaknya berhadapan dengan lapisan permeable. Log SP hanya dapat menunjukkan lapisan permeable, namun tidak dapat mengukur harga absolut dari permeabilitas maupun porositas dari suatu formasi. Log SP sangat

dipengaruhi oleh bebeapa parameter seperti resistivitas formasi dan air lumpur pemboran, ketebalan formasi dan parameter yang lain. d.3Sonic log Log sonik mengukur kecepatan gelombang suara di dalam batuan. Kecepatan ini tergantung pada 1) litologi 2) jumlah ruang pori yang saling berhubungan 3) Jenis fluida yang ada dalam pori. Log ini sangat berguna untuk memisahkan lapisan dengan kecepatan yang sangat rendah seperti batubara atau poorly cemented sandstone

d.4 Repeat Formation Tester, Side Wall Core, Dipmeter, dll d.4.1. Repeat formation tester Side wall core telah dikembangkan untuk mendapatkan data core yang diambil setelah sumur telah dibor dan dilakukan logging. Alat dapat secara tepat diletakkan pada zona yang ingin diteliti menggunakan referensi log gamma atau SP sebagai petunjuk. Sidewall core adalah suatu alat yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan tentang formasi. Namun bagaimana pun, side wall core tidak dapat digunakan sebagai pengganti dari core dikarenakan sampling yang tidak kontinyu dalam menjadi mis-interpretasi pada sekuen geologi. d.4.2. Dipmeter Dipmeter adalah alat logging yang digunakan untuk mengukur arah dan besarnya kemiringan lapisan yang melalui lubang bor. Sebelum adanya dipmeter, arah dan besarnya kemiringan lapisan diperoleh dari formasi bagian atas pada tiga lubang bor yang berbeda. Dari data yang didapat, arah dan besarnya kemiringan dapat ditentukan. Sedangkan dengan dipmeter, besar dan arah kemiringan formasi diperoleh dari satu lubang bor saja. Informasi dipmeter ini berguna didalam menentukan kemungkinan adanya struktur geologi, menentukan arah pemboran selanjutnya, memperkirakan adanya

reservoar, ketidaselarasan dan informasi stratigrafi. Semua informasi ini diperlukan oleh geologi perminyakan di dalam mengembangkan lapangannya.

e. Analisis kualitatif Wireline log merupakan data yang sangat penting di dunia perminyakan. Hal ini dikarenakan melalui data wireline log dapat diketahui sifat petrofisika yang meliputi porositas dan kejenuhan air dari batuan yang ditembus oleh lubang bor. Sifat petrofisika batuan ini dapat digunakan untuk mengetahui besarnya kandungan hidrokarbon pada batuan reservoar di bawah permukaan. Karena peranannya yang sangat penting ini menyebabkan wireline log mengalami perkembangan yang sangat cepat baik teknologi ataupun jenisnya. Analisa kualitatif adalah termasuk: - Interpretasi litologi Interpretasi litologi umumnya dilakukan menggunakan log gamma ray. Untuk analisis tingkat lanjut, maka bermacam-macam jenis log yang lain dapat digunakan untuk mendukung interpretasi litologi, seperti log SP, log tahanan jenis, log sonik, dan log densitas. - Interpretasi fluida reservoar Untuk melakukan interpretasi fluida, log yang dapat digunakan secara efektif adalah log tahanan jenis. Log ini secara langsung akan mengukur tahanan jenis daripada fluida yang berada di dalam pori batuan. Dengan mengetahui nilai daripada tahanan itu, maka fluida reservoar dapat diinterpretasi. Beberapa jenis log lain juga dapat dipakai untuk mendukung interpretasi, misalnya seperti log sonik. - Interpretasi GOC, GWC dan OWC Untuk melakukan interpretasi GOC, GWC dan OWC maka diperlukan beberapa jenis log secara bersama, yaitu log GR, log tahanan jenis, log sonik dan log densitas. f. Evaluasi formasi

Evaluasi formasi adalah studi tentang karakteristik lubang sumur dan reservoar, utamanya berdasarkan log yang dijalankan pada sumur tersebut. g. Analisis kuantitatif Analisa log kuantitatif membedakan antara clean formation dan shaly formation. Shaly formation membutuhkan perlakukan yang berbeda di dalam penghitungan sifat petrofisikanya. Hal ini dikarenakan hadirnya serpih (shale) yang cukup tinggi di dalam batuan reservoar. Hasil studi berbagai cekungan di dunia menunjukkan bahwa serpih terutama terdiri atas 50% lempung (clay) sedangkan sisanya 25% silika, 10% feldspar, 10% karbonat, 3% oksida besi, 1% bahan organik dan 1% mineral lain (Dewan, 1983). Peralatan logging di dalam melakukan pengukuran akan merespon formasi yang mempunyai ketebalan vertikal minimal 2-4 feet. Hal ini mengakibatkan ketiga jenis bentuk serpih ini tidak dapat dibedakan oleh peralatan logging. Penghitungan sifat petrofisika batuan reservoar dapat dilakukan tanpa memperhatikan ketiga jenis bentuk serpih ini. Analisis log secara kuantitatif mempunyai tujuan yaitu menghitung porositas efektif (e ) dan kejenuhan air (Sw) pada suatu batuan reservoar yang mengandung hidrokarbon. Kedua parameter ini sangat penting di dalam meng-estimasi cadangan hidrokarbon yang ada di dalam batuan reservoar tersebut. Di dalam menghitung kejenuhan air (Sw) parameter yang harus dicari terlebih dahulu adalah tahanan jenis air formasi (Rw) dan tahanan jenis foramsi (Rt). - Perhitungan porositas Porositas () meruipakan fraksi ruang pori yang berada pada suatu batuan. Porositas efektif merupakan fraksi ruang pori yang saling berhubungan yang terdapat pada suatu batuan. Porositas ini ditunjukkan sebagai suatu fraksi bulk volume dari suatu batuan, jadi selalu mempunyai harga antara 0 dan 1. Porositas biasa dinyatakan dalam persentase atau porosity unit (PU), misalnya suatu batuan yang mempunyai porositas 25% dapat dinyatakan dalam 25 PU Log untuk mengukur porositas yang utama adalah densitas, neutron, sonik dan Rxo (Heysse, 1991).

Alat untuk mengukur porositasini sangat sensitif terhadap matrik batuan dan fluida yang berada di dalam pori. Log-log di atas tidak dapat megukur porositas sesungguhnya dari batuan. Log-log ini hanya mengukur parameter tertentu yang kemudian digunakan untuk mengukur porositas. Di dalam penghitungan porositas, beberapa asumsi digunakan yaitu tentang matrik dan fluida. Selain itu, pengukuran porositas dilakukan pada zona terinvasi. Hal ini nantinya akan mempengaruhi harga porositas yang didapatkan. Log densitas mengukur bulk density (b), parameter ini digunakan untuk menghitung porositas setelah diasumsikan densitas matrik (ma) dan densitas fluida (f). Rumus yang digunakan adalah: D = ma b/ ma f Log neutron akan sangat dipengaruhi oleh jumlah hidrohgen di dalam formasi, selain itu juga dipengaruhi batuan, salinitas, suhu fluida dan tekanan formasi. Setelah mengasumsi hal ini, maka N dapat diketahui dengan membaca pada log. Cara menghitung porositas yang sering digunakan adalah dengan menggunkan kombinasi antara log densitas dan log neutron. Untuk shaly formation, penambahan serpih akan mengurangi porositas dari batuan (Heyse, 1991). Kombinasi dari log neutron dan log densitas dapat digunakan untuk mengoreksi porositas pada shally formation yang dipengaruhi serpih, yaitu dengan menggunakan rumus: e = Nsh.D-Dsh.N/ Nsh-Dsh

Demikian juga untuk menghitung harga Vsh digunakan rumus Vsh = N D/ Nsh Dsh

- Perhitungan volume lempung reservoar - Perhitungan kejenuhan air dan minyak

Kejenuhan air (Sw) didefinisikan sebagai fraksi dari pori batuan yang mengandung atau diisi oleh air. Bulk volume dari air merupakan hasil kali dari dan Sw sementara bulk volume dari hidrokarrbon adalah (1- Sw). Harga Sw dapat dihitung dengan berbagai metode:

o Clean sand formation o Shaly sand formation

h. MWD (Measurement While Drilling) dan LWD (Logging While Drilling) Teknologi MWD memberikan evaluasi bawah permukaan yang meliputi sinar gamma (GR), tahanan jenis, dan porositas ketika pemboran sedang berlangsung. Teknologi MWD yang didapat ketika sedang melakukan pemboran ini umumnya digunakan sebagai data tambahan atau untuk menggantikan data log untuk evaluasi formasi atau korelasi geologi pada daerah dengan resiko yang tinggi atau ongkos operasi yang besar. Evaluasi formasi Evaluasi formasi dengan menggunakan MWD mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan log konvensional, yaitu: - Karena pengukuran MWD dilakukan segera setelah interval yang dipenetrasi oleh bit, efek dari invasi fluida dapat dikurangi. Dengan berkurangnya efek dari invasi fluida ini, maka evaluasi karakteristik suatu formasi yang kritis akan dapat dicapai. - Dalam suatu directional well dimana sudut dari lubang bor dapat berdeviasi sampai 80 dari vertikal, log konvesional sangat sulit dan mahal untuk dapat dijalankan. Dalam kasus yang demikian, maka data MWD akan menyediakan satu-satunya catatan permanen daripada lubang sumur. Log MWD juga menyediakan asuransi dalam satu kasus dimana suatu sumur harus ditinggal karena alasan-alasan teknis.

- Jarak tiap elektroda dan juga rerata penetrasi yang lebih lambat daripada alat MWD akan memberikan suatu angka sample per feet yang lebih besar. Naiknya densitas sampel sering mengakibatkan resolusi yang lebih baik pada lapisan batuan yang tipis, terutama untuk peralatan resistivitas. Dikarenakan kecepatan logging tergantung pada rate of penetration, maka pemboran dapat dikontrol melalui zona tujuan untuk mencapai resolusi yang maksimum. Korelasi geologi Sebelum adanya MWD, plot waktu pemboran dan plot dari rate of penetration digunakan untuk korelasi geologi ketika pemboran masih dalam proses. Plot ini sulit untuk digunakan, terutama untuk suatu area yang kompleks, dikarenakan rate of penetration dapat dikontrol secara mekanis. Dengan MWD berupa gamma ray atau tahanan jenis, korelasi dengan sumur-sumur offset dapat dilakukan dengan lebih terpercaya. MWD telah sukses digunakan sebagai alat korelasi dengan menyediakan beberapa fungsi: 1. Penentuan untuk tempat coring dilakukan 2. Pemilihan casing yang optimum dan kedalaman total pemboran 3. Penentuan titik kick off untuk sumur-sumur sidetrack 4. Membantu dalam mengendalikan sumur-sumur mempunyai deeviasi yang tinggi atau sumur horizontal