P. 1
AMPL NTT Newsletter Oktober 2009

AMPL NTT Newsletter Oktober 2009

|Views: 9|Likes:
Dipublikasikan oleh Oswar Mungkasa

merupakan media informasi yang diterbitkan oleh Pokja AMPL NTT sebagai upaya keterbukaan informasi dalam pelaksanaan proyek WES kerjasama Unicef dan pemerintah.

merupakan media informasi yang diterbitkan oleh Pokja AMPL NTT sebagai upaya keterbukaan informasi dalam pelaksanaan proyek WES kerjasama Unicef dan pemerintah.

More info:

Published by: Oswar Mungkasa on Dec 13, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/05/2013

pdf

text

original

VOLUME I’ AIR BERSIH LINGKUNGAN SEHAT

A M P L
OKTOBER 2009

N T T

N E W S L E T T E R

DAFTAR ISI
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN AMPL NTT SEKRETARIAT

1

2

M

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Kualitas Pendidikan Meningkatkan derajat dan kualitas kesehatan masyarakat melalui pelayanan yang dapat dijangkau seluruh masyarakat, dengan agenda Pembangunan Kesehatan • Memberdayakan ekonomi rakyat dengan mengembangkan pelaku ekonomi yang mampu memanfaatkan keunggulan potensi lokal, dengan agenda Pembangunan Ekonomi • Meningkatkan infrastruktur yang memadai agar masyarakat dapat memiliki akses untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak, dengan agenda Pembangunan Infrastruktur • Meningkatkan penegakan supremasi hukum dalam rangka menjelmakan pemerintahan yang bersih dan bebas dari KKN serta mewujudkan masyarakat yang adil dan sadar hukum, dengan agenda Pembenahan sistem hukum (daerah) dan keadilan • Meningkatkan pembangunan yang berbasis tata ruang dan lingkungan hidup, dengan agenda Konsolidasi Tata Ruang dan Lingkungan Hidup • Meningkatkan akses perempuan, anak dan pemuda dalam sektor publik, serta meningkatkan perlindungan terhadap perempuan, anak dan pemuda, dengan agenda Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Pemuda • Mempercepat penanggulangn kemiskinan, pengembangan kawasan perbatasan, pembangunan daerah kepulauan, dan pembangunan daerah rawan bencana alam. Terkait dengan pembangunan AMPL maka agenda pembangunan daerah terkait adalah pembangunan infrastruktur yang memiliki tujuan Meningkatan pembangunan perumaham dan pemukiman serta target capaian pembangunan tertera pada Tabel 1. Indikator hasil penyediaan air minum berdasarkan perkembangan persentase rumah tangga pengguna sumber air minum. Tahun 2007 sumber air minum penduduk didominasi dari mata air, sumur/perigi dan leding. Perkembangan persentase rumah tangga pengguna air dalam kemasan, pompa air dan sumur/perigi menunjukkan pertamba-

KISAH SUKSES DS. PILI

5

KISAH SUKSES DARI ENDE

7

HCPTSS SUMBA

9

WATER VENDOR DESA NOELMINA KISAH SUKSES FESTIVAL PHBS DI TTS

10

11

AMPL NTT Newsletter diterbitkan oleh POKJA AMPL NTT untuk berbagi informasi perkembangan kegiatan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan di Provinsi Nusa Tenggara Timur

illenium Development Goals menetapkan target bahwa sebanyak 50% dari penduduk dunia yang belum mendapatkan akses terhadap air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) pada tahun 2015 harus terlayani dan Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memenuhi-nya. Penanganan infrastruktur air minum dan sanitasi di Provinsi NTT membutuhkan biaya yang cukup besar, terkait dengan persebaran permukiman, kondisi geografis, iklim, topografi, geologi dan hidrologi yang ada. Pembangunan infrastruktur AMPL sudah dilakukan berbagai pemangku kepentingan, baik lintas sektoral maupun kewenangan pemerintahan, swasta serta masyarakat. Pembangunan tersebut dilakukan melalui pendekatan proyek/ kegiatan maupun melalui pemberdayaan masyarakat. Dalam rangka pencapaian target pembangunan MDG’s tersebut maka Pemerintah Daerah Provinsi NTT memiliki kebijakan pembangunan daerah yang mengakomodir kebijakan pembangunan AMPL. Kebijakan pembangunan daerah yang dikenal dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi NTT tahun 2009 – 2013 merupakan pedoman pembangunan daerah selama kurun waktu tersebut, yang telah dilegalkan melalui Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2008. Visi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi NTT 2009 – 2013 adalah “Terwujudnya masyarakat Nusa Tenggara Timur yang berkualitas, sejahtera, Adil dan Demokratis, dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Visi tersebut mengandung pengertian bahwa kondisi Provinsi Nusa Tenggara Timur yang ingin diwujudkan dalam lima tahun mendatang adalah wilayah yang memiliki SDM yang berkualitas, memperhatikan keseimbangan antara kewajiban dan hak, menghargai pendapat dan menerima pendapat orang lain. Untuk mewujudkan visi tersebut di atas, maka misi pembangunan daerah tahun 2009 -2013 adalah: • Meningkatkan pendidikan yang berkualitas, relevan, efisien dan efektif yang dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat, dengan agenda Pemantapan

PENGANTAR

Salam pembaca AMPL NTT Newsletter Pertama-tama kami ucapkan Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga kita bertemu dalam edisi perdana bulan Oktober Newsletter AMPL NTT. Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) adalah pembangunan kebutuhan dasar manusia, yang menjadi salah satu prioritas pembangunan Provinsi NTT, yang juga merupakan bagian dari pencapaian target-target Millenium Development Goals. Pembangunan AMPL merupakan pembangunan yang dilakukan oleh berbagai pihak yang dilaksanakan melalui berbagai pendekatan pembangunan. Banyak permasalahan dan juga kisah sukses yang terdapat pada penyelenggaraan pembangunan prasarana dan sarana AMPL, yang dapat menjadi pembelajaran bersama oleh berbagai pihak dalam mengambil langkah-langkah Pembangunan AMPL berikutnya. Namun kebanyakan potret dari peristiwa-peristiwa tersebut hanya menjadi konsumsi bagi pelaporan pelaksanaan kegiatan secara internal pada masing-masing instansi. Melalui newsletter ini diharapkan dapat terjadi pertukaran informasi mengenai peristiwa-peristiwa Pembangunan AMPL, khususnya di Provinsi NTT, serta merupakan ajang bagi para pembaca untuk dapat lebih mengenal program-program Pembangunan AMPL NTT yang dilaksanakan oleh berbagai pemangkukepentingan atau sektor/ instansi terkait yang bergerak diberbagai lintas kewenangan pemerintahan. Untuk itu sangat diharapkan peran serta dari berbagai pihak terkait untuk dapat berbagi pengalaman melalui naskah dan ilustrasi peristiwa-peristiwa pembangunan AMPL di Provinsi NTT. Terima kasih kami sampaikan kepada berbagai pihak yang mendukung terbitnya newsletter ini. Kami menyadari bahwa media ini masih memiliki banyak keterbatasan, sehingga kami sangat mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan dikemudian hari. Semoga media ini dapat bermanfaat bagi Pembangunan AMPL pada khususnya dan Pembangunan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur pada umumnya. Kiranya Tuhan menyertai senantiasa.

Oktober 2009

Ir. Benny R. Ndoenboey,MSi Kepala Bappeda Provinsi NTT/ Ketua Pokja AMPL NTT

Sekretariat Pokja AMPL Provinsi NTT Kantor Bappeda Provinsi (Bidang PP. III) Jl. Polisi Militer 2 Kupang Telp/fax. (0380) 833462 — 832975 Email : amplntt@yahoo.co.id
Redaksi menerima sumbangan tulisan, artikel, berita dari berbagai pihak yang berkaitan dengan kegiatan AMPL di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan dapat dikirimkan ke Sekretariat AMPL Provinsi Outline tulisan yang diterima secara garis besar menggambarkan tentang: • Kebijakan dan target pembangunan AMPL dari masing-masing instansi • Pembangunan AMPL yang telah dilakukan oleh masing-masing instansi dalam pencapaian target pembangunan • Permasalahan yang dihadapai dalam pencapaian target-target pembangunan AMPL • Saran upaya tindak lanjut dalam pembangunan AMPL • Cerita sukses untuk berbagi pengalaman

REDAKSI Ir. Danny Suhadi Mamun Patty, SH MSi L.Melchias J. David Makuago Johnny Umbu R. A. John M. Subani Jacobus B. Botoor

AMPL NTT NEWSLETTER

AMPL NTT NEWSLETTER Tabel 1. Tabel Indikator Pembangunan AMPL di Provinsi NTT 2009—2013 Indikator Sasaran Pengembangan rumah dengan fasilitas air minum sendiri (%) Pengembangan rumah dengan fasilitas jamban sendiri (%) han sejak tahun 2002 hingga tahun 2007. Sedangkan persentase keluarga pengguna leding, mata air, sungai dan air hujan, serta sumber air lainnya cenderung berkurang, yang ditunjukkan oleh Tabel 2. Dari perkembangan rumah tampak bahwa pada tahun 2006 hanya 22.34% rumah tangga yang memiliki fasilitas air minum sendiri. Kecenderungan pembangunan air minum memperlihatkan bahwa pada tahun 2013 memperlihatkan bahwa 26.90% rumah tangga akan memiliki fasilitas air minum sendiri, sedangkan target pembangunan pada RPJMD pada tahun 2013 memperlihatkan bahwa 46.98% rumah tangga yang memiliki fasilitas air minum sendiri. Sehingga perkiraan gap pembangunan air minum pada tahun tersebut adalah 20%. Distribusi keluarga yang memiliki akses sanitasi pada tahun 2006 memperlihatkan 67.17% rumah tangga yang memiliki jamban sendiri. Sedangkan kecenderung-an pembangunan penye-hatan lingkungan pada tahun 2013 memperlihat-kan bahwa 70.63% rumah tangga akan memiliki jamban sendiri. Sedangkan target pembangunan RPJMD pada tahun 2013 memperlihatkan bahwa 77.83% keluarga yang memiliki jamban sendiri. Sehingga pada tahun tersebut diperkiraan gap pembangunan penyehatan lingkungan, dalam hal ini jamban, adalah sebesar 7% Ilustrasi perkembangan, kecenderungan dan target Pembangunan AMPL di Provinsi NTT dapat dilihat pada Gambar 1. Pelaku pembangunan air di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah: 1. Pemerintah, yang terdiri dari: • Pemerintah Pusat 68.75 71.02 73.29 75.56 2009 23.28 2010 29.28 2011 35.18 2012 41.08

Halaman 3

2013 46.98 77.83

• •

Pemerintah Daerah Provinsi NTT (Pokja PAMSIMAS, SK Gubernur Nomor 115/KEP/ HK/2006 - 239/KEP/HK/2007) Pemerintah Kabupaten/ Kota se-provinsi NTT

2. Pengusaha 3. Lembaga Donor/mitra, diantaranya: • Peningkatan akses dan mutu pelayanan dasar: Aus AID ANTARA • Equitable Payment for Watersheed Services (EPWS): CARE Indonesia • Air bersih untuk sanitasi lingkungan: PLAN Indonesia, UNICEF, WVI, CCF, ProAir, ACF 4. Masyarakat Terkait dengan kebijakan daerah dan kondisi pembangunan AMPL tersebut maka dapat diidentifikasikan permasalahan dalam pembangunan AMPL dan saran upaya tindak lanjut penanganan pembangunan AMPL di Provinsi NTT. Beberapa permasalahan dalam pembangunan AMPL adalah sebagai berikut: 1. Aspek Fisik dan Lingkungan: • Kondisi fisik wilayah dan permukiman yang tidak terkonsentrasi; • Terjadinya kerusakan lingkungan dan pencemaran di sekitar kawasan tangkapan air dan sumber mata air. 2. Aspek Ekonomi: • Kondisi lemahnya daya beli, membangun dan memelihara prasarana AMPL • Masih tingginya ketergantungan pendanaan pembangunan dan pemeliharaan 3. Aspek Sosial Budaya: • Pertumbuhan penduduk yang cukup pesat di perkotaan menyebabkan kekumuhan di beberapa lokasi; • Masih lemahnya kesadaran masyarakat untuk memelihara hasil pembangunan sarana – prasarana lingkungan. 4. Aspek Hukum: • terjadinya konflik pemanfaatan sumber daya air. 5. Aspek Khusus:

Tabel 2. Persentase Rumah Tangga Pengguna Sumber Air Minum Tahun 2002 – 2008

Sumber Air Minum 2002 Air Dalam Kemasan Leding Pompa Air Sumur Perigi Mata Air Sungai Air Hujan Lainnya 0.06 14.85 0.656 28.417 46.336 6.068 3.029 0.548 2003 0.095 17.081 0.918 26.28 46.88 5.23 2.479 1.038 2004 0.136 18.154 0.907 28.381 45.624 4.643 1.774 0.381

Tahun 2005 0.77 19.53 0.45 18.28 21.57 6.83 2.91 29.66 2006 0.731 22.337 0.991 30.592 36.878 5.671 2.595 0.205 2007 0.827 14.137 1.115 29.342 46.143 5.441 1.314 1.681 2008 0.994 15.713 1.462 28.267 46.613 4.991 2.488 0.472

VOLUME I’ AIR BERSIH LINGKUNGAN SEHAT

Halaman 4

Gambar 1. Persentase Kondisi, Kecenderungan dan Target Pembangunan AMPL di Provinsi NTT 2000 - 2013
77.83  80.10  71.02 

90.00  80.00  70.00 
67.17  67.81  64.75 
68.75 

73.29 

75.56 

60.00  50.00  40.00  30.00 

68.28 

68.75 

69.22 

69.69 

70.16 

70.63 

82.38 
58.78  52.88 

46.98  41.08  23.38  29.28  35.18 

22.34 

2000

17.55 

10.00 

2006

2007

21.61 

2008

22.49 

2009

23.38 

2010

24.26 

2011

25.14 

2012

26.02 

2013

26.90 

20.00 

2014

2015

Target Water Development (pipe) Trend Toilet Development 

Trend Water Development (pipe) Target Toilet Development 

Terdapatnya Korban Bencana Sosial (KBS) yang menetap dibarakbarak di pulau Timor; • Terdapat korban bencana alam yang rumahnya mengalami kerusakan Dalam rangka menghadapi permasalahan tersebut maka upaya tindak lanjut pembangunan AMPL adalah sebagai berikut: 1. Aspek Fisik dan Lingkungan: • Konsolidasi/ resettlement permukiman/ transmigrasi agar permukiman penduduk lebih terkonsentrasi • Penghijauan di daerah tangkapa air dan Wilayah Aliran Sungai; Meningkatkan kualitas pelayanan prasarana & sarana AMPL terutama pada kawasan kumuh perkotaan dan pesisir/nelayan. 2. Aspek Ekonomi: • Meningkatkan fasilitasi dan pemberdayaan masyarakat berpendapatan rendah dalam penyediaan lahan, sumber pembiayaan dan prasarana dan sarana AMPL; 3. Aspek Sosial: • Pemberdayaan Masyarakat Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat/ Perubahan perilaku 4. Aspek Hukum: • Memperjelas status kepemilikan lahan untuk menghindari konflik pemanfaatan lahan bagi kepentingan pembangunan AMPL • Mengembangkan lembaga yang bertanggungjawab dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sarana dan prasarana AMPL pada semua tingkatan pemerintahan serta fasilitasi pelaksanaan penataan ruang kawasan permukiman yang transparan dan partisipatif; 5. Aspek Lainnya/ Perencanaan: • Mengoptimalkan koordinasi pembangunan lintas kewenangan pemerintahan dan antar pemangkukepentingan, terutama dalam pelaksanaan program dan penganggaran pembangunan; • Penyusunan Rencana Strategis Pembangunan AMPL

Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis dalam perencanaan pembangunan (Sekretariat Pokja AMPL Provinsi NTT)

Strategi Pembangunan AMPL Provinsi NTT Mengoptimalkan koordinasi pembangunan lintas kewenangan pemerintahan dan antar pemangkukepentingan, terutama dalam pelaksanaan program dan penganggaran pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

AMPL NTT NEWSLETTER

Halaman 5

“A I R

D I B AYA R

LU N A S ”
KI E,

CERI T A SU K SES PROA I R DARI DESA PI LI, K ECAMAT AN K AB U PAT E N TI MOR TEN G AH SEL AT AN , P R OV IN SI N TT

Desa Pili merupakan salah satu desa penyelenggara program ProAir di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Propinsi Nusa Tenggara Timur yang boleh dikatakan sangat sukses didalam menjalankan program ini, jika disimak dari proses pengajuan usulan, perencanaan, pelaksanaan konstruksi sampai pada kemandirian pengelolaan, pemeliharaan dan perawatan sarana air bersih oleh masyarakat itu Sendiri. Ingin tahu bagaimana kisahnya?

Terdorong oleh Kesulitan Air Masyarakat yang menjadi cakupan layanan air bersih di desa ini, sebelumnya sangat sulit dalam hal mendapatkan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan air minum biasanya mereka harus berjalan tidak kurang dari 2 kilometer ke Mata Air atau pilihan lainnnya mengambil air di sungai yang berjarak 1,5 km. Terdorong oleh kesulitan untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih yang mereka rasakan selama bertahun-tahun, maka ketika masyarakat Desa Pili mendapat informasi bahwa ProAir menawarkan kerjasama untuk pembangunan sarana air bersih, beberapa tokoh masyarakat Desa Pili berinisiatif mengumpulkan masyarakat untuk berdiskusi guna mempersiapkan kontribusi yang menjadi persyaratan ProAir. Dalam pertemuan tersebut, masyarakat membahas beberapa hal yang menjadi persyaratan untuk terlibat dalam program dukungan ProAir, termasuk didalamnya adalah pengumpulan dana incash yang harus ditunjukkan melalui tabungan awal pemeliharaan. Segera setelah pertemuan itu masyarakat Desa Pili berhasil mengumpulkan dana incash sesuai yang diharapkan dalam waktu yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan desa-desa lain yang juga menjadi wilayah sasaran program ProAir. Faktanya masyarakat Desa Pili berhasil mengumpulkan dana pemeliharaan tidak lebih dari tiga minggu. Beberapa wakil masyarakat Desa Pili kemudian mendatangi kantor ProAir membawa usulan, lengkap dengan tabungan awal (incash) berupa foto copy buku rekening bank senilai Rp. 7.000.000,- dan beberapa dokumen kesepakatan masyarakat

sebagaimana yang disyaratkan oleh ProAir. Menanggapi ususlan tersebut, ProAir menindaklanjuti dengan beberpa kegiatan ikutan, baik perencanaan bersama masyarakat, pelatihanpelatihan maupun kegiatan konstruksi dimana masyarakat sangat antusias dan proaktif didalam mengikuti proses tersebut hanya karena masyarakat benar-benar ingin keluar dari kesulitan yang mereka alami selama ini. Selanjutnya apa yang terjadi ? Berkat kerjasama dengan ProAir, partisipasi aktif, ketekunan dan kerja keras mereka akhirnya membuahkan hasil dengan terbangunnya sarana air bersih sistim perpipaan gravitasi dengan jalur pipa sepanjang 5.403 meter dan 11 buah Tugu Kran (TK). Sistem tersebut dapat melayani 74 Kepala Keluarga atau populasi berjumlah 280 jiwa. Selain itu terdapat juga 5 unit Sumur Gali yang melayani 66 Kepala Keluarga atau sekitar 301 Jiwa. Untuk sarana sanitasi, terdapat 14 unit Lantai Cuci/Kamar Mandi dan 1 buah WC sehat sebagai percontohan. Kini masyarakat cukup puas dan senang dengan hadirnya sarana-sarana yang ada. Karena air yang ada, ternyata tidak hanya untuk kebutuhan mandi, cuci, masak dan minum, tapi kelebihan penggunaan air yang ada, mereka dapat memanfaatkan juga untuk usaha pekarangan seperti menanam sayur demi pemenuhan kebutuhan gizi keluarga disamping dapat dijual untuk tambahan dalam membayar iuran bulanan. Rupanya dengan mengalami proses pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama benar-benar membangun rasa kepemilikan

VOLUME I’ AIR BERSIH LINGKUNGAN SEHAT

Halaman 6

“Bila Pemerintah mau memperbaiki kondisi hidup masyarakat, maka sebaiknya Pemerintah belajar dari ProAir”

masyarakat terhadap hasil pembangunan yang ada sekaligus mendorong kesadaran agar masyarakat bertanggung-jawab terhadap keberlanjutan daripada hasil pembangunan itu sendiri. Rasa kepemilikan dan kesadaran untuk menjaga keberlanjutan hasil pembangunan inilah yang mendorong masyarakat yang terwadah didalam Badan Pengelola Sarana Air Bersih (BP-SAB) “Banum Aitium” untuk secara serius membenahi kelompoknya, berupa : pembangunan sebuah gedung semi permanen untuk kantor kelompok berukuran 6 x 16 m, penyusunan aturan main (AD/ART) yang kemudian dilegalisir dengan diterbitkannya Akte Notaris Kelompok, penyusunan Rencana Kerja dan Cashflow Tahunan kelompok, pengumpulan iuran bulanan untuk peningkatan keuangan kelompok. Khusus untuk keuangan kelompok Banum Aitum ini, hingga Bulan September 2009 tercatat pemasukan sebesar Rp. 25.974.370.– yang berupa kumpulan incash dan iuran. Sedangkan pengeluaran digunakan untuk biaya insentif pengurus, biaya rapat, pengadaan inventaris, perawatan sistim (penggantian mata kran), transport, ATK dll, sebesar Rp. 7.495.549,-. Sehingga saldo kas Kelompok Banum Aitum ini sampai akhir Bulan September 2009 sebesar Rp. 18.478.821,-. Menariknya, tercatat bahwa iuran bulanan sudah dilunasi oleh masyarakat (anggota cakupan) sampai dengan Desember 2010 yang secara administratif dibukukan dengan baik dan teratur oleh Bendahara kelompok. Demikian pun dari sisi teknis, kelompok sudah memiliki tenaga-tenaga teknis yang trampil. Para tenaga ini telah mengikuti magang pada saat pekerjaan konstruksi berlangsung. Disamping itu, mereka juga telah dibekali dengan peralatan dan

pelatihan teknis oleh tenaga-tenaga profesional dari ProAir sebelum system diserah-terimakan kepada masyarakat. Sehingga dengan bekal pengetahuan dan ketrampilan yang mereka miliki, setiap bulan secara rutin mereka melakukan monitoring dan perawatan terhadap system yang ada. Atas semua keberhasilan yang dicapai oleh kelompok ini maka ProAir pernah dua kali mengikut-sertakan wakil kelompok untuk membagikan pengalamannya dalam pertemuan Departement Dalam Negeri di Denpasar-Bali pada bulan Agustus tahun 2008 dan pertemuan Depkes di Bandung-Jawa Barat pada bulan November tahun 2008 dan rupanya ceritera tentang keberhasilan kelompok ini mengundang perhatian dari pihaklain yang ingin tau dari dekat sehingga tidak heran kalau pada bulan Mei 2009 kelompok ini juga dikunjungi oleh Tim Study Banding dari program Water Aid – AusAid Timor Leste . Tentu saja semuanya ini menjadi suatu kebanggaan bagi masyarakat karena ternyata hasil dari jerih payah dan kerja keras mereka juga mendapatkan apresiasi positip dari pihak luar yang terpanggil untuk menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pembangunan demi keberlanjutan hasil pembangungan itu sendiri. Karena itu tidak berlebihan jika salah seorang Bapak yang mengatakan bahwa “ kaul ana plenat hen paloil ma naloitan to ana ini monit so naiti heta nako pro oe in mepu ma in bani”…. demikian ungkapan dari Bapak Melianus Nubatonis, Sekretaris BP-SAB “Banum Aitium” Desa Pili-Kecamatan KiE dalam bahasa Dawan (30/9/2009), yang artinya “bila Pemerintah mau memperbaiki kondisi hidup masyarakat, maka sebaiknya Pemerintah belajar dari ProAir”. (domi/dcproair/tts)

AMPL NTT NEWSLETTER

Halaman 7

PULAU ENDE YANG LUAR BIASA! Lomba Media Promosi PHBS di Kecamatan Pulau Ende, Kabupaten Ende

Rangkaian tulisan dan gambar dengan warna-warna terang yang kontras terlihat dengan jelas dari atas perahu motor yang melaju dipelipir pantai Pulau Ende. Tulisan dan gambar itu ditoreh diatas dinding batu yang diplester halus dan diberikan warna warna bernuansa eye catching, sehingga menggoda setiap orang untuk melihat dan membacanya. “Ari Kae Mae Tai Re Mau Aurat Kita Ata Tei Miu Iwa Mea?” Salah satu tulisan dipantai Dusun Paribajo, Desa Redodori itu artinya, ”Saudara-saudari, jangan buang tinja di pantai, aurat kita dilihat orang. Tidak Malukah, anda?”

Halaman 8

Sementara itu di Dusun Tanjung, Desa Rendoraterua terdapat pesan yang mengutip Al Quran atau hadist Nabi. Misalnya, hadis yang menyatakan bahwa, ”kebersihan itu adalah sebagian dari iman.” Pesan tambahan pada tugu pengumuman itu adalah, ”Jagalah Kebersihan Lingkungan Dengan Tidak Membuang Hajat dan Sampah Di Sepanjang Pantai.” “Luar biasa!” Ya, ’luar biasa’ adalah kata yang tepat untuk menggambarkan upaya masyarakat 7 desa di Pulau untuk merubah perilakunya. Masyarakat di Desa Aejeti, Rorurangga, Puutara, Padarape, Rendoraterua, Ndoriwoi, dan Redodori di Kecamatan Pulau Ende kini selangkah lebih maju dari tahun-tahun sebelumnya. Sepanjang bulan Februari hingga Maret 2009, masyarakat di 7 Desa di Pulau Ende ini menyelenggarakan perlombaan Media Promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). ”Media Promosi PHBS dipilih karena dianggap bisa menjadikan alat untuk menyampaikan pesan-pesan yang menggugah masyarakat untuk peduli dan mau merubah perilakunya,” demikian disampaikan oleh Petrus H. Djata, penanggung jawab operasional kegiatan Dinas Kesehatan untuk program Air Minum dan Penyehatan Lingkungan kerjasama Pemerintah Kabupaten Ende dengan UNICEF Menurut Piet, panggilan akrab Petrus H. Djata, isi pesan dan tulisan digali dari permasalahan kesehatan lingkungan yang ada disetiap dusunnya. Sehingga isi dan tulisan promosi PHBS disetiap dusun berbeda dengan dusun lainnya. ”Isi pesan dalam Media Promosi PHBS pada dusun yang masyarakatnya masih banyak melakukan praktik buang air besar sembarangan, pasti berbeda dengan dusun yang masyarakatnya sudah banyak memiliki dan menggunakan jamban,” terang Piet dengan bersemangat. Pria yang biasa dipanggil dengan sebagai, Pua Haji Djata oleh masyarakat Pulau Ende ini berupaya agar Pulau Ende bisa menjadi Serambi Mekah di Indonesia setelah Aceh. Disebut sebagai Serambi Mekah, bukan hanya karena 100% masyarakat Pulau Ende adalah pemeluk agama Islam, namun juga karena lingkungannya yang bersih dan sehat.

“Masyarakat terlibat aktif mulai dari perencanaan, pembangunan media promosi hingga pengawasan paska pembangunan”

dan penyehatan lingkungan, hingga arisan jamban. ”Kegiatan perlombaan media ini, semakin meyakinkan kami masayrakat Pulau Ende untuk terus dan semakin meningkatkan pola hidup bersih dan sehat serta menjaga pelestarian dan sanitasi lingkungan di wilayah kecamatan ini,” tambahnya. Ayub, salah seorang dari 4 fasilitator pemberdayaan masyarakat di Pulau Ende menjelaskan bahwa perlombaan promosi melalui media dilaksanakan dengan metode partisipatif. Masyarakat pada satu dusun, diajak duduk bersama untuk mengidentifikasikan persoalan berkaitan kesehatan lingkungan yang dialaminya. “Masyarakat terlibat aktif mulai dari perencanaan, pembangunan media promosi hingga pengawasan paska pembangunan,” terang Ayub. Pengawasan dimaksudkan untuk melihat seberapa efektif media PHBS tersebut mempersuasi masyarakat untuk berubah dan menjadi lebih baik.

Berdasarkan penilaian Tim Juri Lomba Media Promosi PHBS ini, dari 19 dusun yang tersebar di 7 Desa wilayah Kecamatan Pulau Ende, yang mengikuti perlombaan, semua media promosinya dibuat dengan cukup menarik. “Ada larangan Buang Air Besar sembarangan yang menggunakan bahasa setempat disertai gambar, ada yang menggunakan bahasa arab, juga larangan dimaksud dikaitkan dengan pesan-pesan Al-Quran,” ungkap Piet, yang juga anggota tim juri ini. Dia menambahkan bahwa, “media-media ini dibangun diberbagai lokasi. Ada yang ”Kegiatan lomba media PHBS ini merupakan rangkaian dipinggir pantai, ada yang dipintu masuk dusun dan ada dari berbagai-kegiatan lain yang khusus ditujukan untuk juga ditengah kampung.” merubah perilaku masyarakat di Pulau Ende agar bisa mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat yang Hasil penilaian juri lomba media PHBS menyatakan bahwa lebih baik,” demikian disampaikan Dahlan, Camat Pulau Juara pertama diraih oleh Dusun Ekoreko, Desa Ende dengan antusias. Dahlan kemudian menceritakan Rorurangga. Sementara juara kedua adalah Dusun beberapa kegiatan lain yang sudah dilakukan, antara lain Tanjung, Desa Rendoraterua dan juara ketiga Dusun pelatihan promosi PHBS pada tokoh agama, mubaligh dan Paribajo, Desa Redodori. (Diolah dari laporan kegiatan ustad, penyusunan peraturan desa mengenai air minum Dinas kesehatan Kabupaten Ende)

AMPL NTT NEWSLETTER

Halaman 9

Peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPSS)
“Mari Cuci Tangan Pakai Sabun Untuk Mengurangi Diare”
Di Desa Kori-Kec. Kodi Utara-Kab Sumba Barat Daya

Peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPSS) yang kedua sejak diputuskan pelaksanaannya oleh WHO pada 15 oktober 2008 kini masih belum juga dilaksanakan secara serempak di seluruh Indonesia. Beberapa kabupaten yang jaringan komunikasinya kurang baik malah belum mengetahui, bahwa 15 oktober telah ditetapkan sebagai HCTPSS. .
ProAir sebagai lembaga yang bekerja di bidang Air bersih dan Sanitasi merasa perlu untuk meggerakan kegiatan terhadap masyarakat dampingan karena setelah menyediakan air bersih maka masayarakat akan dapat menggunakan air bersih untuk meningkatkan kesehatan keluarga yang salah satunya dengan membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun. Peringatan hari cuci tangan pakai sabun sedunia di kecamatan Kodi Utara ini dibuat dengan tema “Mari cuci tangan pakai sabun untuk mengurangi Diare” diinisiasi oleh ProAir Sumba Barat Daya. Dalam sambutan Bupati SBD yang dibacakan oleh Asisten III mengatakan bahwa mencuci tangan pakai sabun dapat mencegah penularan berbagai penyakit menular seperti Diare, Flu Burung dan H1N1 yang kini sedang marak. Beliau juga mengatakan “baiknya mencuci tangan pakai sabun ini bisa menjadi kebiasaan dalam rumah tangga masing -masing untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan keluarga”. Peringatan hari cuci tangan pakai sabun ini dibuka dengan arahan dari Kepala Dinas Kesehatan Sumba Barat Daya mengenai mengapa penting untuk mencuci tangan pakai sabun sebelum makan. Kepala Dinas Kesehatan menegaskan agar “mencuci tangan pakai sabun harus menjadi kebiasaan yang kemudian membudaya dalam masyarakat”. Diare dan ISPA merupakan penyakit yang cukup tinggi di Kodi karenanya penting membiasakan mencuci tangan pakai sabun untuk mengurangi penularan penyakit ini. Peringatan HCTPSS ini merupakan yang pertama di kabupaten Sumba Barat Daya dan difasilitasi oleh ProAir. Setiap orang yang hadir harus mencuci tangan pakai sabun terlebih dahulu sebelum makan. Masing-masing orang mendapat kupon yang telah disediakan oleh panitia yang akan ditunjukan kepada petugas di meja makan sebagai syarat boleh menikmati makan siang bersama.Masyarakat mengakui bahwa ini merupakan hal baru bagi mereka dan kekurangan air juga menjadi faktor yang sulit dilakukan oleh mereka. Mengingat kegiatan ini dilakukan di daerah yang sangat kurang air maka Team Sanitasi ProAir Sumba Barat Daya membuat sebuah alat dari jerigen yang didesain hemat air yang dapat digunakan untuk mencuci tangan sebanyak 400 orang. Sebagai salah satu bentuk motivasi yang dilakukan oleh ProAir adalah memberikan alat cuci tangan yang hemat air dengan sabun dan kain lap kepada 25 warga yang hadir. Yang berhak mendapatkannya adalah mereka yang memperoleh kupon yang ditandai sehingga adil bagi semua bahwa yang mendapatkan adalah mereka yang beruntung. Alat ini harus digunakan di rumah masing-masing sesuai fungsinya dan harapan lain bahwa tetangga yang tidak memiliki akan belajar membuatnya sehingga semakin banyak orang yang mulai mencuci tangan pakai sabun. Dalam pembicaraan terpisah dengan seorang bidan (ibu Yustina) dari Rumah Sakit Karitas cabang Kodi Utara, dikatakan bahwa salah satu penyakit yang sering diderita anak-anak di Kodi adalah cacingan yang disebabkan oleh kebiasaan makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu dan jarang memotong kuku. (Lidya Arif,DS-HS ProAir SBD)

VOLUME I’ AIR BERSIH LINGKUNGAN SEHAT

Halaman 10

Gerobak Air Nona Yunce
Kisah seorang “Water Vendor” di Desa Noelmina, Kabupaten Kupang Propinsi NTT
‘Ketika ketidak tersedianya air bersih untuk minum dan keperluan pokok lainnya, apakah makluk hidup dapat melanjutkan hidupnya? Dan sebaliknya apakah yang akan terjadi bila sumber air bersih ada tapi pada kenyataannya air bersih masih sulit didapatkan?” Kecamatan Takari terletak sekitar 68 Km dari Kupang sebagai ibukota Provinsi NTT dan merupakan wilayah adminitratif Kabupaten Kupang dengan jumlah penduduk sebanyak 18.553 jiwa dengan sumber mata pencaharian sebagai petani,Kecamatan Takari dilewati dua buah sungai yaitu sungai Bokong dan Sungai Noelmina. Bappeda Provinsi NTT bekerjasama dengan Oxfam GB Yogyakarta serta CIS Timor melaksanakan survey kondisi air,sanitasi dan kesehatan lingkungan, dimana maksud dari survey ini adalah pemerintah dan Oxfam GB ingin mengetahui tingkat kebutuhan, ketersedian air bersih dan perilaku hidup sehat masyarakat di kecamatan Takari. Dalam survey ini ada beberapa lokasi tujuan yang akan disurvey yakni kantor pemerintah (kantor camat/kantor desa), fasilitas kesehatan (puskesmas/pustu), fasilitas pendidikan (sekolah SD,SM,SMU) dan masyarakat umum. Sampel kelurahan/desa yang diambil adlah kelurahan Takari,Ds. Oesusu Dalam,Ds Noelmina dan desa Hapit. Dari survey dengan beberapa sample lokasi yang diambil maka kebutuhan air bersih untuk wilayah kecamatan Takari sangat tinggi tapi ketersediaan air bersih sangat kurang makanya tingkat kesehatan masyarakat juga sangat kurang (kasus ISPA dan Diare tertinggi). Masyarakat kecamatan Takari sejak tahun 1997 sudah terlayani oleh PDAM kabupaten kupang dengan mengambil air dari sumber mata air desa Benu, namun dalam 7 tahun terakhir ini kondisi air bersih dari PDAM sangat memprihatinkan karena air bersih dari Ds. Benu disalah gunakan peruntukannya oleh masyarakat desa sekitarnya dimana Pipa induk dari mata air di lubangi lalu air dari pipa itu diairi ke sawah-sawah penduduk sekitar desa Benu. Desa Noelmina merupakan salah satu desa diwilayah kecamatan takari dan berjarak + 6 km dari ibu kota kecamatan yang dilayani oleh PDAM dan 7 tahun sudah fasilitas air bersih dari pipa PDAM tidak dapat dirasakan oleh masyarakat desa noelmina sehingga sumber air bersih untuk minum, masak,cuci,kakus,makan hewan diambil dari sungai dan air hujan. Sebenarnya masyarakat dapat membuat sumur gali sebagai sumber air bersih pengganti PDAM tetapi yang menjadi kendala adalah air dari sumur gali rasanya asin sehingga tidak dapat dikomsumsi oleh masyarakat, menyiram tanaman dan minuman hewan/ternak. Dari kondisi keprihatinan itu muncullah sosok perempuan sebagai penyelamat masyarakat ds.noelmina dari masalah kekurangan air bersih untuk pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Nona yun Ce adalah sosok perempuan pekerja keras dimana dia sebagai perempuan dapat mengganti peran laki-laki dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat ds. Noelmina yang membutuhkan air bersih. Nona Yun Ce adalah perempuan berusia 30 tahun dan sehari-hari bekerja sebagai penjual air keliling dimana mulai jam 5.30 sampai jam 16.00 berkeliling dengan menggunakan kereta dorong (gerobak) sewaan yang berisi 12 jerigen air (@ 5 ltr),dimana dalam sehari dia dapat memperoleh pemasukan Rp. 30.000-45.000,-. Sumber air bersih yang digunakan oleh Nona Yun Ce adalah sungai bokong atau noelmina, dimana kebiasaan orang kampong adalah membuat mata air resapan dari sungai yang kesehatannya belum terjamin sama sekali. Nona yun ce menyampaikan bahwa kereta dorong/gerobak yang digunakan adalah milik tetangganya dan dalam penggunaan gerobak itu nona yun ce dalam system sewa tidak harus membayar dengan uang tapi cukup setiap hari membawa 2 reit air untuk majikan gerobak itu. Nona Yun Ce mengatakan sangat bersyukur dengan apa yang dilakukannya sekarang karena dengan melakukan pekerjaan ini maka kebutuhan masyarakat akan air bersih dapat terpenuhi dan dia juga dapat menghidupi dia dan adiknya dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.(by john subani)

AMPL NTT NEWSLETTER

Halaman 11

C U C I

kakinya bergemerincing seirama dengan bait-bait pantun yang dilantukan, “PHBS lo lais Palo Let, Pa Lole Neum Hai To Ok Oke, Na Fena Kit Het Moin Alekot, Moin Ta Na Leok, Pahe Nao Mat.”
Syair pantun dalam Bahasa Timor Amanatun itu dialunkan oleh, Demas bersama dengan Yoseph Mafeo, Agustinus Asbanu, Sulce Benu, Veronika Tafuli dan 20 orang kawan-kawannya sambil menari dalam bentuk lingkaran. Syair tersebut memiliki makna ajakan kepada masyarakat untuk membudayakan hidup bersih dan sehat karena dengan perilaku hidup bersih dan sehat dapat mengatasi gizi buruk, kemiskinan, dan mengurangi angka kematian ibu dan bayi. Demas, murid kelas IV, Sekolah Dasar Negeri Bimate, Desa Snok, Kecamatan Amanatun Utara, Kabupaten Timor Tengah (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur itu sedang memimpin kawan-kawannya berbalas berpantun dengan cara bersenandung mengikuti ritme irama dan pola gerakan tertentu. Masyarakat Timor menyebutnya sebagai Bonet, sebuah seni tradisional yang walaupun populer ditingkat masyarakat, kini mulai jarang dipentaskan dihadapan umum. Berbalas Pantun Demas dan kawan-kawannya dari SD Negeri Bimate merupakan salah satu dari 20 Sekolah Dasar yang diundang untuk mengikuti kompetisi Promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat melalui media seni tradisional Bonet, yang dilaksanakan oleh POKJA AMPL Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) pada tanggal 18 dan 19 Mei 2009 di Lapangan Puspemnas, Kota Soe. Cornelis Metta, selaku Ketua Panitia Pelaksana menambahkan bahwa kompetisi ini bertujuan untuk dapat meningkatkan kesadaran masyarakat utamanya anak-anak agar dapat memperbaiki pola perilakunya menjadi lebih bersih dan sehat. “Bonet dipilih sebagai media untuk menyampaikan pesan PHBS karena selain menggunakan bahasa lokal, seni tradisi ini sangat populer di masyarakat Kabupaten TTS,” terang Cornelis yang juga Kepala Bidang Penyehatan Lingkungan pada Dinas Kesehatan Kabupaten TTS. Bonet merupakan seni berbalas pantun, yang biasa terdapat di belahan tengah Pulau Timor, salah satu pulau utama di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Seni tradisional

D

M E M B A L U T P E SA N TAN G AN PA K AI SA B U N M E L A L U I PA N T U N

emas Tafuli menghentakhentakkan kakinya mengikuti irama pantun yang dilagukan. Suara giring dari pergelangan

yang umurnya ratusan tahun ini banyak ditemui pada sub-suku Dawan seperti Amanatun, Amanuban dan Mollo yang mendiami wilayah yang terbentang luas dari daerah Mollo di ujung barat hingga Boking diwilayah timur. Mengingat wilayah Kabupaten TTS yang luas dan jumlah sekolah dasar yang begitu banyak, maka panitia penyelenggara membatasi jumlah peserta ini hanya 20 Sekolah Dasar saja. “Selain karena keterbatasan biaya, kami ingin membina rasa kebersamaan melalui kolaborasi dengan berbagai organisasi dan proyek dalam jejaring Air Minum dan Penyehatan Lingkungan yang beroperasi di Kabupaten TTS,” lanjut Cornelis bersemangat. Kolaborasi POKJA AMPL Kegiatan yang rencananya akan dilakukan secara rutin tiap tahun ini, dilaksanakan oleh Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (POKJA AMPL) Kabupaten TTS dibawah koordinasi Dinas Kesehatan Kabupaten TTS dan mendapatkan dukungan penuh dari UNICEF. Salah satu hal yang patut dibanggakan dari kegiatan ini adalah dukungan jejaring AMPL yang beroperasi di Kabupaten TTS. Jejaring AMPL itu antara lain adalah GTZ-ProAir, ACF, Plan International, CARE International, Church World Service (CWS), dan PAMSIMAS. Setiap anggota jejaring pendukung kegiatan festival PHBS ini berbagi tugas dengan memberikan dukungan

VOLUME I’ AIR BERSIH LINGKUNGAN SEHAT

Halaman 12

teknis dan fasilitas pada sekolah-sekolah yang berada dilokasi dampingan. GTZ-ProAir misalnya, memfasiltasi SDN Kolon dan SDG Pili yang berada diwilayah Desa sasaran ProAir di Kabupaten TTS. Begitu juga dengan PLAN International yang memberikan dukungan pada 4 Sekolah Dasar, yaitu, SDN Oekiu, SDI Siso, SDG Kokoi, dan SDI Nenonaheun. Sedangkan ACF dan PAMSIMAS masing masing mendukung dua sekolah, berturut-turut yaitu; SDI Boking, SDN Bimate, SDG ofu, dan SDI Oeupun. Adapun SDI Klofo, SDI Oehala, dan SDG Biloto berada dalam wilayah pendampingan CWS. Sementara itu CARE memberikan dukungan pada SDG Kolbano dan sisanya difasilitasi oleh UNICEF, antara lain, Fatukoto, SDN Oeusapi, SDI Oenali, SDI Kobelete, SDN Kesetnana dan SDI Sekip.

“Setiap dollar yang diinvestasikan dalam air dan sanitasi akan menghasilkan keuntungan atas kegiatan produktif senilai kira-kira tujuh dollar”

-UN Secretary-GeneralBan Ki-moon World Water Day, 2008

Kalau ingin Buang Hajat, Masuklah kedalam Jamban Berdasarkan pemantauan Timatius Benu, salah seorang juri kompetisi ini, isi pantun yang dibawakan oleh setiap sekolah cukup menarik dan unik. SDI Boking misalnya, lirik pantun mereka menekankan penggunaan jamban keluarga, “Kalu Teka Na Men, Tama Neuwa Kakus, Kakus So Ma Obe Kakus So Tao Oe.” Syair pantun tersebut memiliki makna, “Kalau ingin Buang Hajat Besar, Masuklah kedalam Jamban, Jamban harus ditutup, Jamban harus tersedia air,” jelas Timatius yang juga bekerja dilingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten TTS ini. Tema kompetisi Bonet kali ini sangat jelas, yaitu tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Namun penekanan syair Bonet dari setiap sekolah berbeda-beda. Ada yang menekankan syair pantun pada penggunaan jamban yang sehat, ada pula yang menyarankan untuk selalu mencuci tangan pakai sabun. Seperti Bonet dari SDN Fatukoto yang menghimbau masyarakat untuk terbiasa mencuci tangan dengan sabun. “Secara umum, semua tampilan bonet dari berbagai peserta sangat menarik, baik dari makna syairnya, cara pelantunannya dan gerak tariannya,” Timatius menambahkan. Setelah melalui perundingan dewan juri yang cukup alot, maka SDI Boking terpilih sebagai juara pertama kompetisi Promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat melalui media seni tradisional Bonet ini. Menurut dewan juri yang terdiri dari unsur Dinas Kesehatan, unsur Dinas Pariwisata dan pemilik sanggar atau praktisi budaya, SDI Boking memiliki angka diatas rata-rata untuk semua kriteria penilaian yang telah ditetapkan oleh panitia penyelenggara. Pemenang kedua hingga ketiga kompetisi ini adalah SDG Ofu dan SDI Kobelete. Sedangkan pemenang harapan satu hingga tiga berturut turut adalah SDI Oehala, SDN Bimate dan SDI Klofo. (Diolah dari Laporan Kegiatan Dinas Kesehatan Kabupaten TTS)

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->