Anda di halaman 1dari 14

Open Fraktur

Pengertian
Fraktur terbuka adalah fraktur dimana terdapat hubungan fragment fraktur dengan dunia luar, baik ujung fragmen fraktur tersebut yang menembus dari dalam hingga kepermukaan kulit atau kulit di permukaan yang mengalami penetrasi suatu objek yang ta jam dari luar hingga kedalam (Salter ,1994).

Etiologi
Penyebab dari Fraktur terbuka adalah
Trauma langsung: benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur pada tempat itu Trauma tidak langsung: bilamana titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan.

Proses penyakit (osteoporosis yang menyebabkan fraktur yang patologis). Sedangkan Hubungan dengan dunia luar dapat terjadi karena penyebab rudapaksa merusak kulit, jaringan lunak dan tulang. Fragmen tulang merusak jaringan lunak dan menembus kulit.

Patofisiologi

Pemeriksaan Diagnostik
Rontgen Menunjukkan lokasi / luasnya fraktur / trauma Scan tulang, tonogram, CT scan / MRI Memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak. Arteriogram Bila dicurigai adanya kerusakan vaskuler Hitung darah lengkap Hematokrit mungkin meningkat atau menurun. Peningkatan jumlah sel darah putih adalah respon stress normal terhadap trauma. Kreatinin Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal. Profil koagulasi Perubahan dapat terjadi pad kehilangan darah, transfusi, multipel / cedera hati.

Penatalaksanaan
Obati fraktur terbuka sebagai suatu kegawatan daruratan. Adakan evaluasi awal dan diagnosis akan adanya kelainan yang dapat menyebabkan kematian Berikan antibiotik dalam ruang gawat darurat,di kamar operasi dan setelah operasi Segera dilakukan debridemen dan irigasi yang baik Ulangi debridemen 24-72 jam berikutnya Stabilisasi fraktur Biarkan luka terbuka antara 5-7 hari Lakukan bone graft autogenous secepatnya Rehabilitasi anggota gerak lainnya

ASKEP

Primary
Airway : Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk. Breathing : Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi.

Circulation : TD dapat normal atau meningkat, pendarahan hebat, hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut. Disability :
Tentukan tingkat kesadaran dan menilai pupil. Pengkajian menggnakan GCS

Pengkajian Sekunder
Anamnesa ; Bila tidak ada riwayat truma, berarti fraktur patologis. Trauma harus di perinci kapan terjadinya, dimana terjadinya, jenisnya, berat ringan trauma, dan posisi klien atau extremitas yang bersangkutan. Aktivitas/istirahat : kehilangan fungsi pada bagian yang terkena Keterbatasan mobilitas

Sirkulasi: Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas) Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah) Tachikardi Penurunan nadi pada bagian distal yang cidera Capilary refil melambat Pucat pada bagian yang terkena Masa hematoma pada sisi cedera Neurosensori : Kesemutan Kelemahan Deformitas lokal, agulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi (bunyi berderit), spasme otot, terlihat kelemahan / hilang fungsi. Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri / anxietas

Kenyamanan : Nyeri hebat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan / kerusakan tulang, dapat berkurang dengan imobilisasi) tak ada nyeri akibat kerusakan syaraf. Spasme / kram otot (setelah immobilisasi). Keamanan: laserasi kulit perdarahan perubahan warna pembengkakan local

Diagnosa
Gangguan jalan nafas Ganggan pola nafas berhubungan berhubungan dengan adanya Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai o2