Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA IKAN Hibridisasi Ikan Nila-Tawes dan Sex Reversal Pada Ikan Nilem Dibuat untuk

memenuhi salah satu tugas pada Praktikum Genetika Ikan

Dibuat Oleh:

Mohammad R Baidowi Anyya Ismoyo Putra Sanay Reza Alfurqon Nurussahra Syabani Riandi Saputro Annisa Hidayanti Rosi indriawati

230110110044 230110110041 230110110047 230110110037 230110110042 230110110052 230110110004

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN PROGRAM STUDI PERIKANAN JATINANGOR 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan akhir praktikum Genetika ikan. Laporan akhir ini disusun sebagai syarat untuk memenuhui tugas mata kuliah Genetika Ikan. Namun tanpa bantuan dari berbagai pihak, laporan ini tentu tidak dapat terselesaikan. Maka dari itu penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendorong dan membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini, terutama pada Tim Pengajar Dosen Mata Kuliah Genetika ikan khususnya Koordinator Dosen Mata Kuliah Genetika ikan yang telah memberikan bimbingan hingga laporan ini dapat terselesaikan Walaupun laporan ini telah tersusun, namun penulis mengetahui masih banyak kekurangan yang terdapat dalam laporan ini, maka untuk itu penulis mohon maaf bila terdapat kesalahan, penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

Jatinangor, 28 November 2012

Penulis,

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan Praktikum 1.2.1 1.2.2 1.3 Manfaat 1.3.1 1.3.2 Hibridisasi Sex Reversal Hibridisasi Sex Reversal

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Hibridisasi 2.1.2 Sex Reversal 2.2 Ikan Nilem 2.2.1 Klasifikasi Ikan Nilem 2.2.2 Morfologi Ikan Nilem 2.2.3 Biologi Ikan Nilem 2.3 Ikan Tawes 2.3.1 Klasifikasi Ikan Tawes 2.3.2 Morfologi Ikan Tawes 2.3.3 Biologi Ikan Tawes BAB III. METODELOGI PRAKTIKUM 3.1 Hibridisasi 3.1.1 Alat 3.1.2 Bahan 3.2 Sex Reversal 3.2.1 Alat

3.2.2 Bahan BAB IV. HASIL DAN ANALISIS 4.1 Hasil 4.1.1 Hibridisasi 4.1.2 Sex Reversal 4.2 Analisa Data 4.2.1 Hibridisasi 4.2.2 Sex Reversal BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Semakin majunya ilmu teknologi dan pengetahuan membuat banyaknya bermunculan strain-strain baru pada spesies-spesies ikan. Sebagai ahli perikanan sudah sepatutnya menguasi teknik pemijahan dan pembenihan ikan. Dan hal tersebut itulah yang melatar belakangi adanya praktikum Hibridisasi ikan ini. Dengan adanya praktikum ini praktikan diharapkan menguasai ilmu dan teknik hibridisasi dan sex Reversal untuk kemudian dapat diterapkan diluar kampus. Dengan hibridisasi dan sex reversal juga diharapkan dapat mengendalikan populasi ikan untuk kemudian dapat digunakan sebaik-baiknya dan dilestarikan untuk kehidupan selanjutnya.

1.2 Tujuan 1.2.1 Hibridisasi Tujuan Praktikum Hibridisasi ini adalah yang utama mahasiswa dapat melakukan perkwinan silang antar spesies. Mahasiswa diharapkan mampu menguasai teknik-teknik Hibridisasi

1.2.2

Sex Reversal Tujuan Praktikum Sex Reversal adalah mahasiswa dapat menguasai

teknik-teknik Sex Reversal dengan baik, yang artinya diharapkan lahirnya larva dari pembenihan metode Sex Reversal ini.

1.3 Manfaat 1.3.1 Hibridisasi Manfaat yang didapat dari pelaksanaan praktikum ini adalah

bertambahnya kemampuan mahasiswa, bertambah pengetahuan mengenai metode-metode budidaya genetik, yakni Hibridisasi.

Melalui praktikum ini juga dapat bermanfaat lahirnya strain-strain baru pada suatu jenis famili ikan.

1.3.2

Sex Reversal Manfaat yang dapat diperoleh dari melakukan praktikum ini adalah

bertambahnya ketrampilan mahasiswa dalam melakukan proses budidaya genetik. Manfaat dari Sex Reversal sendiri pada praktikum ini adalah lahirnya jantan fungsional. Yaitu ikan dengan fenotip jantan namun memiliki genotip betina (xx). Sehingga bila jantan fungsional dikawinkan dengan betina dapat menghasilkan galur murni.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Hibridisasi Falconer (1996) menerangkan bahwa hibrida sebagai hasil hibridisasi mempunyai karakter gabungan ant31'a tetuanya yang dimunculkan sebagai efek heterosis yang llnggul. Hibridisasi ini dapat memperbaiki produktifitas suatu ras karena eksplorasi dari variasi dominan dari allele pada suatu lokus (Tave, 1993). Efek doninasi tersebut mewakili interaksi antar pasangan allele pada lokus yang sarna, dimana genotipa tersebut terpisah pada saat meiosis dan tersusun kembali secara acak pada \Vaktu penyusunan garnet. Karena sifatnya tergantung pada interaksi maka tidak dapat diturunkan dari induk kepada turunannya (Beaumont and Hoare, 2003) Falconer (1996) menyatakan bahwa pembentukan hibrida merupakan cara yang lebih baik dalam meningkatkan nilai karakter rata-rata yang diharapkan. Jika terdapat overdominan atau terkait dengan sifat non aditif maka hibridisasi merupakan cara untuk menghasilkan kelompok heterozygote. Jenis hibridisasi dapat dibedakan menjadi tiga yaitu intraspesifik, interspesifik dan intergenerik (Hickling (1968). Hibridisasi antar ikan dari satu ras atau ras yang berbeda dari lokasi atau sistem budidaya disebiut hibridisasi intraspesifik. Sedangkan hibridisasi interspesifik terjadi antara ikan dari spesiec yang berbeda. Hibridisasi yang terjadi antar ikan dari genus ynag berbeda disebut hibridisasi intergenerik. Pada umumnya hasil hibridisasi mempunyai karakter spesifik yang lebih baik dibandingkan dengan induk asalnya. Sebagai misal, sembilan dari sebelas hasil hbrid pada ikan lele ameriku: (Chane I catfish) mempunyai pertumbuhan yang meningkat sebesar 18% dibandingkan pure breednya (Dunham and Smithem1, 1984). individu yang semuanya

Hibridisasi Seksual, dimana Inti haploid dari jenis kelamin berbeda bergabung dalam satu sel (kariogami) membentuk inti diploid selajutnya mengalami miosis dan selama miosis terjadi penyusunan ulang dan reorganisasi kromosum yang mengakibatkan terjadi rekombinasi elemen genetik. Hibridisasi Paraseksual yaitu proses rekombinasi terjadi pada sel vegetative yang dapat terjadi pada 6 proses yaitu konjugasi, transduksi, transpormasi, rekombinasi mitosis, dan usi protoplas. Hibridisasi mempunyai tujuan memperbaiki kualitas benih, seperti perbaikan terhadap laju pertumbuhan, penundaan kematangan gonad agar tercapai pertumbuhan maksimal serta meningkatkan ketahanan terhadap penyakit dan lingkungan yang kurang baik. Perbaikan tersebut diperoleh karena adanya sifat yang dihasilkan (Gustiano, 1991 :Gustiano, 1995). Menurut Hickling (1968) hibridisasi intraspesifik dapat dibedakan menjadi intraspesifik (spesies yang sama), interspesifik (antar spesies, genus sama) dan intergenerik (genus berbeda). Jenis-jenis patin yang berdaging putih di Indonesia adalah patin Jambal dan patin Nasutus, serta patin Pasupati yang merupakan hibrid patin Siam dan Jambal. Namun hibrid patin Pasupati oleransinya terhadap oksigen kurang, sehingga mudah mengalami kematian jika oksigen terlarut di dalam air rendah (Sularto, 2008). Saat ini Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Air Tawar (LRPTBAT) Sukamandi telah berhasil membuat hibrid ikan patin Nasutus yang mempunyai karakter lebih unggul dari patin Pasupati dan mempunyai warna daging putih. Hibrid ini berasal dari induk betina patin Siam dan jantan patin Nasutus. Dalam rangka pengembangan varietas ikan, perlu dilakukan berbagai macam pengujian, selain dari segi budidayanya juga perlu diamati sifat fisik maupun kimiawi terhadap varietas yang dihasilkan (Suryaningrum et al.,2010) Di Indonesia hibridisasi intraspesifik baik antar ikan satu ras ataupun yang berbeda ras dan hibridisasi interspesifik telah banyak dilakukan dan dapat dihasilkan hibrida unggul Suseno et al., 1983 ; Suseno et al., 1986; Suseno, 1983 : Sumandinata dan Subarja, 1979). Persilangan interspesifik pada ikan dapat diharapkan untuk menghasilkan hibrida dengan karakter-karakter yang berharga

untuk kepentingan budi daya (steril, populasi kelamin seragan monosex, heterosis dan lain-lain).

2.1.2 Sex Reversal Sex reversal merupakan cara pembalikan arah perkembangan kelamin ikan yang seharusnya berkelamin jantan diarahkan perkembangan gonadnya menjadi betina atau sebaliknya. Teknik ini dilakukan pada saat belum terdiferensiasinya gonad ikan secara jelas antara jantang dan betina pada waktu menetas. Sex reversal merubah fenotif ikan tetapi tidak merubah genotifnya. Teknik sex reversal mulai dikenal pada tahun 1937 ketika estradiol 17 disintesis untuk pertama kalinya di Amerika Serikat. Pada mulanya teknik ini diterapkan pada ikan guppy (Poeciliareticulata).Kemudian dikembangkan oleh Yamamato di Jepang pada ikan medaka (Oryzias latipes). Ikan medaka betina yang diberi metiltestosteron akan berubah menjadi jantan. Setelah melalui berbagai penelitian teknik ini menyebar keberbagai negara lain dan diterapkan pada berbagai jenis ikan. Awalnya dinyakini bahwa saat yang baik untuk melakukan sex reversal adalah beberapa hari sebelum menetas (gonad belum didiferensiasikan).Teori ini pun berkembang karena adanya fakta yang menunjukkan bahwa sex reversal dapat diterapkan melalui embrio dan induk yang sedang bunting. Penerapan sex reversal dapat menghasilkan populasi monosex (kelamin tunggal). Kegiatan budidaya secara monosex (monoculture) akan

bermanfaat dalam mempercepat pertumbuhan ikan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan tingkat pertumbuhan antara ikan berjenis jantan dengan betina. Beberapa ikan yang berjenis jantan dapat tumbuh lebih cepat daripada jenis betina misalkan ikan nila dan ikan lele Amerika. Untuk mencegah pemijahan liar dapat dilakukan melalui teknik ini. Pemijahan liar yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kolam cepat penuh dengan berbagai ukuran ikan. Total biomass ikan tinggi namun kualitasnya rendah. Pemeliharaan ikan monoseks akan mencegah perkawinan dan pemijahan liar sehingga kolam tidak cepat dipenuhi ikan. Selain itu ikan yang dihasilkan akan berukuran besar dan seragam. Contoh ikan yang cepat berkembangbiak yaitu ikan nila dan mujair.Pada beberapa jenis

ikan hias seperti cupang, guppy, kongo dan rainbow akan memiliki penampilan tubuh yang lebih baik pada jantan daripada ikan betina. Dengan demikian nilai jual ikan jantan lebih tinggi ketimbang ikan betina. Sex reversal juga dapat dimanfaatkan untuk teknik pemurnian ras ikan. Telah lama diketahui ikan dapat dimurnikan dengan teknik ginogenesis yang produknya adalah semua betina. Menjelang diferensiasi gonad sebagian dari populasi betina tersebut diambil dan diberi hormon androgen berupa metiltestosteron sehingga menjadi ikan jantan. Selanjutnya ikan ini dikawinkan dengan saudaranya dan diulangi beberapa kali sampai diperoleh ikan dengan ras murni. Sex reversal dapat dilakukan melalui terapi hormon (cara langsung) dan melalui rekayasa kromosom (cara tidak langsung). Pada terapi langsung hormon androgen dan estrogen mempengaruhi fenotif tetapi tidak mempengaruhi genotif. Metode langsung dapat diterapkan pada semua jenis ikan apapun sek kromosomnya. Cara langsung dapat meminimalkan jumlah kematian ikan. Kelemahan dari cara ini adalah hasilnya tidak bisa seragam dikarenakan perbandingan alamiah kelamin yang tidak selalu sama. Misalkan pada ikan hias, nisbah kelamin anakan tidak selalu 1:1 tetapi 50% jantan:50% betina pada pemijahan pertama, dan 30% jantan:50% betina pada pemijahan berikutnya.

2.2 Ikan Nilem 2.2.1 Klasifikasi Ikan Nilem Menurut Saanin (1968), ikan nilem di klasifikasikan sebagai berikut: Kingdom Phylum Subphylum Class Subclass Ordo Subordo Famili : Animalia : Chordata : Craniata : Pisces : Actinopterygi : Ostariophysi : Cyprinoidae : Cyprinidae

Genus Species

: Osteochillus : Osteochillus hasselti

2.2.2 Morfologi Ikan Nilem Ikan nilem (Osteochillus hasselti)

merupakan ikan endemik (asli) Indonesia yang hidup di sungai sungai dan rawa rawa. Ciri ikan nilem hampir serupa dengan ikan mas. Ciri cirinya yaitu pada sudut mulutnya terdapat dua pasang sungut peraba. Sirip punggung disokong oleh 3 jari jari lemah mengeras dan 12 18 jari jari lemah. Sirip ekor bercagak dua bentuknya simetris, sirip dubur disokong oleh 3 jari jari lemah mengeras dan 5 jari jari lunak. Sirip perut disokong oleh 1 jari jari lemah mengeras dan 13 15 jari jari lemah. Jumlah sisik gurat sisi ada 33 36 keping, bentuk tubuh ikan nilem agak memanjang dan pipih, ujung mulut runcing dengan moncong (rostral) terlipat, serta bintik hitam pada ekornya merupakan ciri utama ikan nilem. Ikan ini termasuk kelompok omnivora, makanannya berupa ganggang penempel yang disebut epifiton dan perifiton
Gambar 1. Ikan Nilem

2.2.3 Biologi Ikan Nilem Di perairan, pakan yang tersedia untuk kebutuhan ikan berupa pakan alami, yang banyak sekali ragamnya baik hewan, tumbuhan maupun detritus. Ikan nilem tergolong jenis ikan pemakan plankton, perifiton dan tumbuhan air. Menurut Hardjamulia (1978), benih ikan nilem mengkonsumsi fitoplankton dan zoopankton, yang tergolong kelas Bacillariophyceae, Chlorophyceae,

Cyanophyceae, sedangkan ikan dewasa memakan Bacillariophyceae, daun-daunan tumbuhan tinggi yang lunak, dan detritus. Menurut Tainboth, ikan nilem

bersifat herbivor, memakan bagian tubuh yang kecil. Selanjutnya menurut Ristiyani (1998), ikan nilem dari Pureakarta dan Karawang mengkonsumsi fitoplankton yang tergolong kelas Bacillariophyceae, Demidiace dan

Cyanophyceae, demikian halnya dengan ikan nilem dari Cianjur dan Sukabumi. Fitoplankton yang dominan dikonsumsi dari empat kabupaten tersebut adalah Bacillariophyceae. Ikan nilem yang berasal dari Pureakarta dan Garut lebih memilih makanan dari kelas Chlorophyceae. Salah satu fungsi makanan bagi ikan termasuk ikan nilem adalah untuk pertumbuhan.

2.3 Ikan Tawes 2.3.1 Klasifikasi Ikan Tawes Klasifikasi ikan tawes menurut Nelson (2006) adalah sebagai berikut : Kelas Subklas Divisi Subdivisi Superordo Ordo Superfamili Famili Subfamili Genus : Actinopterygii : Neopterygii : Teleostei : Ostariclopeomorpha (Otocephala) : Ostariophysi : Cypriniformes, : Cyprinoidea : Cyprinidae : Barbinae : Barbonymus

Specific name : gonionotus Spesies : Barbonymus gonionotus

2.3.2 Morfologi Ikan Tawes Ikan tawes termasuk ke dalam famili Cyprinidae seperti ikan mas dan ikan nilem. Bentuk badan agak panjang dan pipih dengan punggung meninggi, kepala kecil, moncong meruncing, mulut kecil terletak pada ujung hidung, sungut sangat kecil atau rudimenter. Di bawah garis rusuk terdapat sisik 5 buah dan 3-3 buah di antara garis rusuk dan permulaan sirip perut. Garis rusuknya sempurna berjumlah antara 29-31 buah.
Gambar 2. Ikan Tawes

Badan berwarna keperakan agak gelap di bagian punggung. Pada moncong terdapat tonjolan-tonjolan yang sangat kecil. Sirip punggung dan sirip ekor berwarna abu-abu atau kekuningan, dan sirip ekor bercagak dalam dengan lobus membulat, sirip dada berwarna kuning dan sirip dubur berwarna oranye terang. Sirip dubur mempunyai 6 jari-jari bercabang. Sisik dengan struktur beberapa jari-jari sejajar atau melengkung ke ujung, sedikit atau tidak ada proyeksi jari-jari ke samping. Ada tonjolan sangat kecil, memanjang dari tilang mata sampai ke moncong dan dari dahi ke antara mata. Sirip dubur mempunyai 6 jari-jari bercabang, 3-3 sisik antara gurat sisi dan awal sirip perut.

2.3.3 Biologi Ikan Tawes Ikan tawes merupakan salah satu ikan asli Indonesia. Ikan tawes dalam habitat aslinya adalah ikan yang berkembang biak di sungai, danau dan rawa rawa dengan lokasi yang disukai adalah perairan dengan air yang jernih dan terdapat aliran air, mengingat ikan ini memiliki sifat biologis yang membutuhkan banyak oksigen dan hidup di perairan tawar dengan suhu tropis 22 28C, serta pH 7. Ikan ini dapat ditemukan di dasar sungai mengalir pada kedalaman hingga lebih dari 15 m, rawa banjiran dan waduk. Ikan tawes adalah termasuk ikan herbivore atau pemakan tumbuhan.

BAB III METODELOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum hibridisasi ini dilaksanakan pada : Hari/Tanggal : Senin, 19 Novemeber 2012 Tempat : Laboratorium Genetika Gedung Dekanat

3.2 Alat Peralatan yang diperlukan dalam pelaksanaan praktikum yaitu sebagai berikut: a. Aquarium b. Aerator c. Petri disk d. Sendok e. Pipet f. Baskom g. Suntikan

3.3 Bahan Adapun bahan utama dalam praktikum kali ini diantaranya: a. Ikan nilem betina b. Ikan jantan tawes c. NaCl d. Air bersih

3.3 Prosedur kerja Berikut prosedur kerja praktikum yang harus dilakukan oleh praktikan: 1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam kegiatan praktikum hibridisasi 2. Bersihkan akuarium dengan dicuci hingga bersih, kemudian isi dengan air bersih sampai setengah dari volume aquarium tsb.

3. Pasangkan aerator kedalam aquarium dengan benar yang nantinya berguna untuk menyediakan udara yang dibutuhkan oleh larva ikan nilem di dalam aquarium. 4. Keluarkan sperma dari ikan, masukan kedalam baskom. Dan keluarkan ovum dari ikan, simpan pada baskom yang berbeda. 5. Ambil satu tetes sperma kedalam petridisk lalu homogenkan dengan NaCl, 6. Masukan ovum kedalam petridisk yang sudah berisi sperma, goyanggoyangkan. 7. Setelah itu masukkan sampel larva ikan nilem ke dalam aquarium. 8. Amati perkembangannya tiap hari.

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

4.1 Hasil 4.1.1 Hibridisasi Pada praktikum pemijahan antara ikan Nilem dengan ikan Tawes melalui metode hibridisasi. Praktikum ini gagal, karena tidak ada satupun larva ataupun telur yang dapat terbuahi dan berkembang menjadi larva. Dan pada saat pengamatan pergantian air setelah 12 jam pembenihan terjadi sudah terlihat bahwa kondisi telur sudah mati semua.

4.1.2 Sex Reversal Hasil yang sama juga terdapat pada pemijahan ikan Nilem melalui metode Sex Reversal ini tidak ada satupun telur yang mampu berkembang menjadi larva. Dan pada saat pengamatan pergantian air setelah 12 jam pembenihan terjadi sudah terlihat bahwa kondisi telur sudah mati semua.

4.2 Analisa Data 4.2.1 Hibridisasi Praktikum cross breeding atau hibridisasi yang dilakukan mengalami kegagalan yang disebabkan oleh factor kematangan telur yang belum merata dan kualitas air yang fluktuatif. Kematangan gonad dalam melakukan proses pembuahan secara buatan adalah hal pokok yang harus diperhatikan sehingga proses pembuahan akan terjadi dengan baik. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu pemijahan. Faktor-faktor tersebit adalah faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal meliputi hormon, kematangan gonad dan volume kuning telur. Hormon yang mempengaruhi dalam proses pemijahan ini adalah hormon yang dihasilkan kelenjar Hipofisa dan Tyroid yang berperan dalam proses metamorfosa. Kematangan gonad khususnya pada ikan betina terlihat dari keseragaman ukuran dan besar kecilnya ukuran telur yang ada, dalam praktek ini

terjadi kegagalan karena ukuran telur yang tidak seragam dan tingkat kematangan yang masih rendah terlihat dari ukuran telur yang kecil-kecil. Sedangkan kuning telur berkaitan dengan pasokan makanan untuk larva apabila telah menetas sedangkan faktor eksternal adalah kualitas dan kuantitas air serta SDM yang menguasai teknik ini atau tidak. Dari seg kuantitas air, dalam pelaksanaan praktik ini sudah cukup memenuhi standart, namun dari segi kualitas, terjadinya fluktuasi suhu yang sangat tinggi hingga membuat telur yang akan ditetaskan mengalami kematian. Dari segi SDM, kemingkinan kegiatan ini tidak bersil dikarenakan tingkat kemampuan praktikan yang melaksanakan praktik ini sangat rendah. Croos breeding merupakan menyilangkan pada satu rumpun ataupun jauh yang bertujuan untuk melakukan hibridisasi, sehingga akan diperoleh individu yang unggul ataupun strain baru. Aplikasi croos breeding tidaklah rumit sehingga sangat mudah untuk diaplikasikan, yang perlu dierhatikan jika melakukan croos breeding dengan berbeda jenis adalah ukuran dari lubang mikrofil dengan ukuran kepala sperma sehingga akan mudah diperhitungkan factor-faktor terjadinya kegagalan

4.2.2 Sex Reversal Proses pembentukan jenis kelamin jantan maupun betina dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yaitu endogenus, eksogenus hormon dan faktor

lingkungan.Diduga kegagalan pada praktikum sex reversal ini karen aerator yang mati karena alat tersebut menyuplai oksigen ke embrio. Dan juga pemilihan telur yang sudah dibuahi atau belum karena mengambil telur tersebut sulit dengan menggunakan pipet yang masih tercampur. Turbiditas air akuarium yang tinggi atau tidak bersih, jumlah air yang kurang atau berlebih, dosis hormon ovaprim, 17 metiltestoteron dan alkohol yang tidak sesuai takaran yang ditentukan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan 5.1.1 Hibridisasi Pada praktikum Genetika ini kami melakukan praktikum Hibridisasi. Hibridisasi merupakan teknik rekayasa genetika dengan cara buatan (tidak alami) dengan tujuan untuk menghasilkan keturunan yang kita inginkan. Pada hibridisasi untuk menghasilkan warna yang dominan. Pada dasarnya kami telah mengikuti praktikum sesuai dengan prosedur kerjanya, namun pada akhirnya praktikum yang kami lakukan tidak berhasil. Banyak factor yang mempengaruhi tidak berhasilnya praktikum yang kami lakukan diantaranya faktor lingkungan, seperti kualitas air serta aerasinya yang kurang diperhatikan setelah terjadi pembuahan, sehingga telur tersebut mengalami kematian. Selain itu juga dalam setiap takaran NaCl yang dibutuhkan mungkin terlalu banyak bila dibandingkan dengan sperma yang dicampur, sehingga telur kebanyakan meresap NaCl nya dibandingkan dengan sperma dari induk jantannya. Berdasarkan dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa : 1. Untuk mendapatkan hibrida hibrida yang unggul ataupun memproleh benih yang baik, dibutuhkan induk yang baik pula baik dari jantan maupun betina guna menghasilkan sperma dan telur dengan kusntitas dan kualitas yang baik. 2. Selain itu, untuk mendapatkan atau mencapai tingkat keberhasilan yang tinggi dan juga memuaskan perlu dibutuhkan penanganan yang tepat dan sesuai dengan prosedur dalam setiap perlakuan seperti dalam Ginogenesis, Triploidisasi, maupun control hybrid (Hibridisasi).

5.1.2 Sex Reversal Pada praktikum Genetika ini kami melakukan praktikum Sex Reversal. Sex Reversal merupakan teknik rekayasa genetika dengan cara buatan (tidak alami) dengan tujuan untuk menghasilkan keturunan yang kita inginkan apakah ingin keturunan jantan atau betina.. Pada praktikum Sex Reversal ini melakukan proses maskulinisasi telur ikan nilem ( proses jantanisasi ). Pada dasarnya kami telah mengikuti praktikum sesuai dengan prosedur kerjanya, namun pada akhirnya praktikum yang kami lakukan tidak berhasil. Banyak faktor yang mempengaruhi tidak berhasilnya praktikum yang kami lakukan diantaranya faktor lingkungan, seperti kualitas air serta aerasinya yang kurang diperhatikan setelah terjadi pembuahan, sehingga telur tersebut mengalami kematian. Selain itu juga dipengaruhi alcohol yang belum larut ketika dimasukkan ke dalam akuarium sehingga telur ikan mengalami kematian.

5.2 Saran Laboratorium sebenarnya telah memberikan fasilitas yang baik dan cukup bagi praktikan. Namun berkaca dari kegagalan praktikum ini sebaiknya dijadwal praktikan menginap di laboratorium. Karena perkembangan pada masa te selur hingga larva terjadi pada hitungan jam, oleh karena itu diperlukan kesigapan praktikan untuk memahami kemajuan dari perkembangan telur secara berkala. Dengan menginap praktikantidak perlu lagi mengkhawatirkan kaulitas air yang memburuk, karena dilakukan dalm kondisi terkontrol. Artinya dengan itu praktikan dapat mengganti air secara berkala yang berakibat berkurangnya tingkat mortalitas telur,

DAFTAR PUSTAKA

Kusdiarti. 2011. Kajian Peranan Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) dalam Mengendalikan Perifiton dan Pengaruhnya terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Ikan Mas pada Karamba Jaring Apung di Waduk Cirata. Jurnal. IPB Bogor. Nugroho, Estu dkk. 2010. Optimasi Budidaya Ikan Gurame (Osphronemus gouramy Lac.). Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor. Tarigan, Rani. 2012. Teknik-Teknik Untuk Mendapatkan Hibrida Unggul Ikan Patin. http://blog.ub.ac.id/ranitarigan Diakses pada tanggal 23 November 2012 pukul 18.43 WIB Ulfa, Maria. 2011. Universitas Hasanuddin. Makasar.

Kusdiarti. 2011. Kajian Peranan Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) dalam Mengendalikan Perifiton dan Pengaruhnya terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Ikan Mas pada Karamba Jaring Apung di Waduk Cirata. Jurnal. IPB Bogor. Masduki, Endang S.St.Pi. 2010. Sex Reversal. http://www.supm-bone.net/ Diakses pada tanggal 23 November 2012 pukul 18.05 WIB