Anda di halaman 1dari 30

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i DAFTAR ISI .. ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Tujuan . 2 BAB II PEMBAHASAN SISTEM KARDIOVASKULER .. 3 1. Obat inotropik positif . 6 2. Obat anti-aritmia . 8 3. Obat antihipertensi ... 10 4. Obat anti-angina ... 13 5. Diuretik . 20 6. Obat yang mempengaruhi sistem koagulasi darah ... 23 7. Obat hipolipidemik ... 24 8. Obat untuk syok dan hipotensi . 26 9. Obat untuk gangguan sirkulasi darah (serebral, arteri, vena) ... 27 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ... 28 B. Saran . 28 REFERENSI . 29

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kardiovaskuler berarti berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah. Istilah yang mungkin terkait dengan Kardiovaskuler :

Penyakit Kardiovaskuler Kardiovaskular Iskemik Otot Jantung Kardiologi

Obat kardiovaskuler dibedakan: 1. Obat Antiangina 2. Obat Antiaritmia 3. Obat Glikosida 4. Obat Antihipertensi Obat yang bekerja pada jantung dan pembuluh darah, baik arteri maupun vena dibagi dalam sembilan sub kelas sebagai berikut: 1. Obat inotropik positif 2. Obat anti-aritmia 3. Obat antihipertensi 4. Obat anti-angina 5. Diuretik 6. Obat yang mempengaruhi sistem koagulasi darah 7. Obat hipolipidemik

8. Obat untuk syok dan hipotensi 9. Obat untuk gangguan sirkulasi darah (serebral, arteri, vena) Obat-obat untuk syok dan hipotensi Syok merupakan sindrom kardiovaskuler akut yang rumit, terutama terkait dengan ketidakcukupan pasok dan konsumsi oksigen pada organ-organ yang penting bagi kehidupan (vital), yang pada umumnya disebabkan oleh peristiwa hipotensi. Hipovolemia, suatu penyebab hipotensi, dikaitkan dengan hilangnya darah karena cedera atau pendarahan, atau hilagnya cairan karena diare, muntah, luka bakar, atau yang lainnya. B. Tujuan
1.

Untuk memenuhi tugas farmakologi dari dosen pengampu mata kuliah farmakologi Sebagai refrensi pembelajaran farmakologi tentang obat obat kardiovaskuler

2.

BAB II PEMBAHASAN

SISTEM KARDIOVASKULER Jantung merupakan suatu organ otot berongga yang terletak di pusat dada. Bagian kanan dan kiri jantung masing-masing memiliki ruang sebelah atas (atrium yang mengumpulkan darah dan ruang sebelah bawah (ventrikel) yang mengeluarkan darah. Agar darah hanya mengalir dalam satu arah, maka ventrikel memiliki satu katup pada jalan masuk dan satu katup pada jalan keluar. Fungsi utama jantung adalah menyediakan oksigen ke seluruh tubuh dan membersihkan tubuh dari hasil metabolisme (karbondioksida). Jantung melaksanakan fungsi tersebut dengan mengumpulkan darah yang kekurangan oksigen dari seluruh tubuh dan memompanya ke dalam paru-paru, dimana darah akan mengambil oksigen dan membuang karbondioksida. Jantung kemudian mengumpulkan darah yang kaya oksigen dari paru-paru dan memompanya ke jaringan di seluruh tubuh.

Gambar1. Jantung tampak depan

Fungsi Jantung

Pada saat berdenyut, setiap ruang jantung mengendur dan terisi darah (disebut diastol), selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa darah keluar dari ruang jantung (disebut sistol). Kedua atrium mengendur dan berkontraksi secara bersamaan, dan kedua ventrikel juga mengendur dan berkontraksi secara bersamaan. Darah yang kehabisan oksigen dan mengandung banyak karbondioksida dari seluruh tubuh mengalir melalui 2 vena berbesar (vena kava) menuju ke dalam atrium kanan. Setelah atrium kanan terisi darah, dia akan mendorong darah ke dalam ventrikel kanan. Darah dari ventrikel kanan akan dipompa melalui katup pulmoner ke dalam arteri pulmonalis, menuju ke paru-paru. Darah akan mengalir melalui pembuluh yang sangat kecil (kapiler) yang mengelilingi kantong udara di paru-paru, menyerap oksigen dan melepaskan karbondioksida yang selanjutnya dihembuskan. Darah yang kaya akan oksigen mengalir di dalam vena pulmonalis menuju ke atrium kiri. Peredaran darah diantara bagian kanan jantung, paru-paru dan atrium kiri disebut sirkulasi pulmoner. Darah dalam atrium kiri akan didorong ke dalam ventrikel kiri, yang selanjutnya akan memompa darah yang kaya akan oksigen ini melewati katup aorta masuk ke dalam aorta (arteri terbesar dalam tubuh). Darah kaya oksigen ini disediakan untuk seluruh tubuh, kecuali paru-paru.

Gambar2. Ruang dan Katup Jantung

Gambar3. Jantung (potongan melintang/bagian dalam)

Pembuluh Darah Keseluruhan sistem peredaran (sistem kardiovaskuler) terdiri dari arteri,

arteriola, kapiler, venula dan vena. Arteri (kuat dan lentur) membawa darah dari jantung dan menanggung tekanan darah yang paling tinggi. Kelenturannya membantu mempertahankan tekanan darah diantara denyut jantung. Arteri yang lebih kecil dan arteriola memiliki dinding berotot yang menyesuaikan diameternya untuk meningkatkan atau menurunkan aliran darah ke daerah tertentu. Kapiler merupakan pembuluh darah yang halus dan berdinding sangat tipis, yang berfungsi sebagai jembatan diantara arteri (membawa darah dari jantung) dan vena (membawa darah kembali ke jantung). Kapiler memungkinkan oksigen dan zat makanan berpindah dari darah ke dalam jaringan dan memungkinkan hasil metabolisme berpindah dari jaringan ke dalam darah. Dari kapiler, darah mengalir ke dalam venula lalu ke dalam vena, yang akan membawa darah kembali ke jantung. Vena memiliki dinding yang tipis, tetapi biasanya diameternya lebih besar daripada arteri, sehingga vena mengangkut darah dalam volume yang sama tetapi dengan kecepatan yang lebih rendah dan tidak terlalu dibawah tekanan. Obat yang bekerja pada jantung dan pembuluh darah, baik arteri maupun vena dibagi dalam sembilan sub kelas sebagai berikut: 1. Obat Inotropik Positif

2. Obat Anti-aritmia 3. Obat Antihipertensi 4. Obat Anti-angina 5. Diuretik 6. Obat yang mempengaruhi Sistem Koagulasi Darah 7. Obat Hipolipidemik 8. Obat untuk Syok dan Hipotensi 9. Obat untuk Gangguan Sirkulasi Darah (serebral, arteri, vena) Jantung dan pembuluh darah merupakan alat dalam tubuh yang mengatur peredaran darah sehingga kebutuhan makanan dan sisa metabolisme jaringan dapat terangkut dengan baik. Jantung sebagai organ pemompa darah sedangkan pembuluh darah sebagai penyalur darah ke jaringan. Sistem kardiovaskuler dikendalikan oleh sistem saraf otonom melalui nodus SA, nodus AV, berkas His, dan serabut Purkinye. Pembuluh darah juga dipengaruhi sistem saraf otonom melalui saraf simpatis dan parasimpatis. Setiap gangguan dalam sistem tersebut akan mengakibatkan kelainan pada sistem kardiovaskuler. Obat kardiovaskuler merupakan kelompok obat yang mempengaruhi dan memperbaiki sistem kardiovaskuler secara langsung ataupun tidak langsung. 1. Obat Inotropik Positif Obat inotropik positif bekerja dengan meningkatkan kontraksi otot jantung (miokardium) dan digunakan untuk gagal jantung, yakni keadaan dimana jantung gagal untuk memompa darah dalam volume yang dibutuhkan tubuh. Keadaan tersebut terjadi karena jantung bekerja terlalu berat atau karena suatu hal otot jantung menjadi lemah. Beban yang berat dapat disebabkan oleh kebocoran katup jantung, kekakuan katub, atau kelainan sejak lahir dimana sekat jantung tidak terbentuk dengan sempurna. Ada 2 jenis obat inotropik positif, yaitu a. Glikosida Jantung Digitalis adalah obat yang meningkatkan kontraksi miokardium

Digitalis mempermudah masuknya Ca dari tempat penyimpananya di sarcolema kedalam sel digitalis mempermudah kontraksi Digitalis menghambat kerja Na-K-ATP-ase ion K didalam sel menurun aritmia (diperberat jika dikombinasi dengan HCT)

Glkosida jantung adalah alkaloid yang berasal dari tanaman Digitalis purpurea yang kemudian diketahui berisi digoksin dan digitoksin. Keduanya bekerja sebagai inotropik positif pada gagal jantung. Digoksin, kodenya 7-211 Digitoksin, kodenya 7-211

Farmakodinamik

Efek pada otot jantung: meningkatkan kontraksi Mekanisme kerjanya: Menghambat enzim Na, K ATP-ase Mempercepat masukanya Ca kedalam sel Efek pada payah jantung: menurunya tekanan vena, hilangnya Konstriksi vaskuler, sal cerna (mual, muntah, diare), nyeri pada

edema, meningkatnya diuresis, ukuran jantung mengecil

tempat suntukan (iritasi jaringan) Farmakokinetik

Absorbsi dipengaruhi makanan dalam lambung, obat (kaolin, Distribusi glikosida lambat Eliminasi melalui ginjal Keracunan biasanya terjadi karena: Pemberian dosis yang terlalu

pectin) serta pengosongan lambung


Intra-indisikasi

cepat, Akumulasi akibat dosis penunjang yang terlalu besar, Adanya predisposisi keracunan Dosis berlebihan

Gejala: sinus bradikardi, blokade SA node, takikardi ventrikel,

fibrilasi ventrikel, gangguan neurologik (sakit kepala, letih, lesu, pusing, kelemahan otot), penglihatan kabur

Sediaan

Tablet Lanatosid C (cedilanid) 0,25 mg Digoksin 0,25 mg Beta-metildigoksin 0,1 mg

b. Penghambat Fosfodiesterase Obat-obat dalam golongan ini merupakan penghambat enzim fosfodiesterase yang selektif bekerja pada jantung. Hambatan enzim ini menyebabkan peningkatan kadar siklik AMP (cAMP) dalam sel miokard yang akan meningkatkan kadar kalsium intrasel. Milrinon Aminiron 2. Obat-obat Antiaritmia Obat-obat abtiaritmia dapat dibagi berdasarkan penggunaan kliniknya dalam obat-obat untuk aritmia supraventrikel (misal verapamil). Obat-obat untuk aritmia supraventrikel dan aritmia ventrikel (misal disopiramid), dan obat-obat untuk aritmia ventrikel (misal lidokain). a. Aritmia Supraventrikel Adenosin biasanya obat terpilih untuk menghentikan takikardia supraventrikel paroksismal. Karena masa kerjanya pendek sekali (waktu paruhnya hanya 8-10 detik, tapi memanjang juka diberikan bersama dipiradamol), kebanyakan efek sampingnya berlangsung singkat. Berbeda dengan verapamil, adenosin dapat digunakan setelah beta-bloker. Pada asma, lebih baik dipilih verapamil daripada beta-bloker. Glikosida jantung oral merupakan obat terpilih untuk memperlambat respon ventrikel pada kasus fibrilasi dan flutter atrium. Digoksin intravena, yang diinfus pelan-pelan, kadang-kadang dibutuhkan bila kecepatan ventrikel perlu dikendalikan dengan cepat. Verapamil biasanya efektif untuk takikardia ventrikel. Dosis intravena awal dapat diikuti dengan dosis oral, hipotensi dapat terjadi dengan dosis yang lebih besar. Adenosin Verapamil, kodenya 7-208

Glikosida jantung, kodenya 7-211 b. Aritmia Supraventrikel dan Ventrikel Obat-obat klinidin. Amiodaron Beta-bloker, kodenya 7-208 Disopiramid, kodenya 7-208 Flekainid Prokainamid, kodenya 7-204 Propafenon, kodenya 7-208 Kinidin c. Aritmia Ventrikel Bretilium hanya digunakan sebagai obat antiaritmia pada resusutasi. Obat ini diberikan itramaskuler dan intravena tapi dapat menyebabkan hipotensi berat, terutama setelah pemberian intravena (mual dan muntah dapat terjadi). Lidokain (lignokain) ralatif aman bila diberikan sebagai injeksi intravena lambat dan harus menjadi pilihan utama dalam keadaan darurat. Meksiletin diberikan sebagai injeksi intravena lambat bila lidokain tidak efektif, obat ini memiliki kerja yang serupa. Morasilin adalah obat untuk profilaksis dan pengobatan aritmia ventrikel yang serius dan mengancam jiwa. Fenitoin dulu dipakai untuk aritmia ventrikel, dengan injeksi intravena lambat terutama yang disebabkan oleh glikosida jantung, tapi penggunaan ini sekarang sudah ditinggalkan. Tokainid dulu digunakan untuk takiaritmia ventrikel yang mengancam jiwa dan disertai dengan gangguan berat fungsi ventrikel kiri pada pasien yang tidak responsif dengan terapi lain atau yang terapi lain merupakan kontraindikasi, sekarang obat ini tidak lagi tersedia. Bretilium, kodenya 7-250 Lidokain, kodenya 6-851 untuk aritmia supraventrikel dan ventrikel misalnya amiodaron, beta-bloker, disopiramid, flekainid, prokainamid, propafenon, dan

Meksiletin, kodenya 7-208 Morasilin Fenitoin, kodenya 6-610 Tokainid 3. Obat Antihipertensi

Obat yang dipergunakan untuk menurunkan tekanan darah Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah arteri melebihi normal dan

kenaikan ini bertahan. Menurut WHO, tidak tergantung pada usia. Hipertensi mungkin dapat diturunkan dengan terapi tanpa obat (non-farmakoterapi) tau terapi dengan obat (farmakoterapi). Semua pasien, tanpa memperhatikan apakah terapi dengan oabt dibutuhkan, sebaiknya dipertimbangkan untuk terapi tanpa obat. Caranya dengan mengendalikan bobot badan, pembatasan masukan sodium, lemak jenuh, dan alkohol serta pertisipasi dalam program olah raga dan tidak merokok. a. Penghambat Saraf Adrenergik Obat dolongan ini bekerja dengan cara mencegah pelepasan noradrenalin dari pasca ganglion saraf adrenergik. Obat-obat golongan ini tidak mengendalikan tekanan darah berbaring dan dapat menyebabkan hipotensi postural. Karena itu, obat-obat ini jarang digunakan, tetapi mungkin masih perlu diperlukan bersama terapi lain pada hipertensi yang resisten. Debrisokuin, kodenya 7-260 Reserpin, kodenya 7-261

Penghambat Saraf Adrenergik

Penghambat saraf adrenergik: Reserpin, Rauwolfia (akar), Guanetidin, guanadrel Reserpin dan Alkaloid Rauwolfia mengurangi resistensi perifer, denyut jantung dan curah jantung TD turun

Efek samping: bradikardi, mulut kering, diare, mual, muntah, anoreksia, bertambahnya nafsu makan, hiperasiditas lambung, mimpi buruk, depresi mental, disfungsi seksual

b. Alfa - Broker Sebagai Alfa - Broker

Alfa-1 bloker menghambat reseptor alfa-1 di pembuluh darah terhadap efek vasokontriksi NE dan E terjadi dilatasi arteriole dan vena tekanan turun

Efek NE di jantung tidak dihambat kontraksi jantung meningkat alfa bloker yang non selektif tidak efektif sbg AH Efek samping: hipotensi ortostatik (pada dosis awal besar), sakit kepala, palpitasi, rasa lelah, udem perifer, hidung tersumbat, nausea Prazosin menyebabkan vasodilatasi arteri dan vena sehingga jarang

menimbulkan takikardi. Obat ini menurunkan tekanan darah dengan cepat setelah dosis pertama, sehingga harus hati-hati pada pemberian pertama. Untuk pengobatan hipertensi, alfa-broker dapat digunakan bersama obat antihipertensi lain.

Deksazosin Indoramin, kodenya 7-138 Prasozin Hidroklorida, kodenya 7 268 Terazosin Bunazosin

c. Penghambat Enzim pengubah Anglotensin ( penghambat ACE )

Mengurangi pembentukan A2 (angiotensin2) vasodilatasi dan penurunan sekresi aldosteron ekskresi natrium dan air serta retensi K penurunan TD

Efek samping: batuk kering, rash, gangguan pengecap (disgeusia), GGA, hiperkalemia Penghambat ACE bekerja dengan cara menghambat pengubahan

angiotensin I menjadi angiotensin II. Obat-obat golongan ini efektif dan pada umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Obat-obat golongan ini terutama diindikasikan untuk hipertensi pada diabetes tergantung insulin dengan nefropati, dan mungkin untuk hipertensi pada semua pasien diabetes. Kaptopropril Benazepril Delapril Enalapril maleat Fisonopril Perinopril Kuinapril Ramipril Silazapril

d. Antagonis Reseptor Angiotensin II Sifatnya mirip penghambat ACE, bedanya adalah obat-obat golongan ini tidak menghambat pemecahan bradikin dan kinin-kinin lainnya, sehingga tampaknya tidak menimbulkan batuk kering parsisten yang biasanya mengganggu terapi dengan penghambat ACE. Karena itu, obat-obat golongan ini merupakan alternatif yang berguna untuk pasien yang harus menghentikan penghambat ACE akibat batuk yang parsisten. Losaktan kalium Valsatran e. Obat-obat untuk Feokromositoma Fenoksibanzamin adalah alfa-broker kuat dengan banyak efek samping. Obat ini digunakan bersama bata-bloker untuk pengobtan jangka pendek episode hipertensi berat pada feokromositoma.

Fentolamin adalah alfa-broker kerja pendek yang kadang-kadang juga digunakan untuk diagnosis feokromositoma. Fenoksibanzamin, kodenya 7-134 Fentolamin, kodenya 7-130 f. Obat Antihipertensi yang bekerja sentral Kelompok ini termasuk metildopa, yang mempunyai keuntungan karena aman bagi pasien asma, gagal jantung, dan kehamilan. Efek sampingnya diperkecil jika dosis perharinya dipertahankan tetap dibawah 1 g. Klobidin hidroklorida, kodenya 7-263 Metildopa, kodenya 7-262 Guanfasin 4. Obat - obat Antiangina

Antiangina adalah obat untuk angina pectoris (ketidak seimbangan antara permintaan (demand) dan penyediaan (supply) oksigen pada salah satu bagian jantung

Penyebab angina: Kebutuhan O2 meningkat exercise berlebihan, Penyediaan O2 menurun sumbatan vaskuler Sebagian besar pasien angina pektoris diobati dengan beta-bloker atatu

antagonis kalsium. Meskipun demikian, senyawa nitrat kerja singkat, masih berperan penting untuk tindakan prefilaksis sebelum kerja fisik dan untuk nyeri dada yang terjadi sewaktu istirahat. Cara kerja Antiangina:

Menurunkan kebutuhan jantung akan oksigen dengan jalan menurunkan kerjanya. (penyekat reseptor beta) Melebarkan pembuluh darah koroner memperlancar aliran darah (vasodilator) Kombinasi keduanya

Farmakodinamik, Khasiat farmakologik:

Dilatasi pembuluh darah dapat menyebabkan hipotensi sinkop Relaksasi otot polos nitrat organik membentuk NO menstimulasi guanilat siklase kadar siklik-GMP meningkat relaksasi otot polos (vasodilatasi)

Menghilangkan nyeri dada bukan disebabkan vasodilatasi, tetapi karena menurunya kerja jantung Pada dosis tinggi dan pemberian cepat venodilatasi dan dilatasi arteriole perifer tekanan sistol dan diastol menurun , curah jantung menurun dan frekuensi jantung meningkat (takikardi)

Efek hipotensi terutama pada posisi berdiri karena semakin banyak darah yang menggumpul di vena curah darah jantung menurun Menurunya kerja jantung akibat efek dilatasi pembuluh darah sistemik penurunan aliran darah balik ke jantung Nitrovasodilator menimbulkan relaksasi pada hampir semua otot polos: bronkus, saluran empedu, cerna, tetapi efeknya sekilas tidak digunakan di klinik

Farmakokinetik

Metabolisme nitrat organik terjadi di hati Kadar puncak 4 menit setelah pemberian sublingual Ekskresi sebagian besar lewat ginjal

Sediaan dan Posologi Untuk serangan, baik digunakan sediaan sublingual: isosorbit dinitrat 30%: 2,5 10 mg dan nitrogliserin 38%: 0,15 0,6 mg Untuk pencegahan digunakan sediaan per oral: kadar puncak 60 90 menit, lama kerja 3 6 jam Par enteral (IV) baik digunakan untuk vasospasme koroner dan angina pectoris tidak stabil, angina akut dan gagal jantung kongestif Salep untuk profilaksis: puncak 60 menit, lama kerja 4 8 jam Sediaan Nitrat kerja singkat (serangan akut) Sediaan sublingual (nitrogliserin, isosorbit dinitrat, eritritil tetranitrat) Amil nitrit inhalasi

a. Golongan Nitrat Senyawa nitrat bekerja langsung merelaksasi oto polos pembuluh vena, tanpa bergantung pada sistem persarafan miokardium. Dilatasi vena menyebabkan alir balik vena berkurang sehingga mengurangi beban hulu jantung. Selain itu, senyawa nitrat juga merupakan vasodilator koroner yang poten Gliseril trinitrat, kodenya 7-240 Isosorbid dinitrat, kodenya 7-242 Isosorbid mononitrat, kodenya 7-242 Pentaeritritol tetranitrat, kodenya 7-241 Nitrat kerja lama: Sediaan oral (nitrogliserin, isosorbit dinitrat, eritritil tetranitrat, penta eritritol tetranitrat) Nitrogliserin topikal (salep 2%, transdermal) Nitrogliserin transmucosal/buccal Nitrogliserin invus intravena

Efek Samping Efek samping: sakit kepala, hipotensi, meningkatnya daerah ischaemia

Indikasi: Angina pectoris Gagal jantung kongestif Infark jantung

b. Golongan Antagonis Kalsium

Nama lain Ca antagonis = Calcium entry blocker = Calcium channel blocker Macam:
o

Dihidropiridin: nifedipin, nikardipin, felodipin, amlodipin

o o o o

Difenilalkilamin: verapamil, galopamil, tiapamil Benzotizepin: diltiazem Piperazin: sinarizin, flunarizin Lain-lain: prenilamin, perheksilin

Ca antagonis menghambat masuknya Ca kedalam membran sel (sarkolema) kontraksi menurun TD menurun Gol dihidropiridin (nifedipin, nikardipin, isradipin, felodipin, amlodipin): bersifat vaskuloselektif (1) tidak ada efek pd nodus AV dan SA, (2) menurunkan resistensi perifer tanpa depresi fungsi jantung, (3) relatif aman dlm kombinasi dng beta bloker

Efek samping: hipotensi berlebihan, takikardi, palpitasi, sakit kepala, pusing, muka merah Antagonis kalsium bekerja dengan cara menghambat influks ion kalsium

transmembran, yaitu mengurangi masuknya ion kalsium melalui kanal kalsium lambat ke dalam sel otot polo, otot jantung dan saraf. Berkurangnya kadar kalsium bebas di dalam sel-sel tersebut menyebabkan berkurangnya kontraksi otot polos pembuluh darah (vasodilatasi), kontraksi otot jantung (inotropik negatif), serta pembentukan dan konduksi impuls dalam jantung (kronotropik dan dromotropik negatif). Amplidipin besilat Diltiazem hidroklorida Nikardipin hidroklorida Nifedipin Nimodipin Farmakodinamik

Ion ca diperlukan untuk kontraaksi otot polos dan jantung Ca antagonis menghambat masuknya Ca kedalam membran sel Mekanisme antiangina: Vasodilatasi perifer Pengurangan kontraktilitas miokard

(sarkolema) kontraksi menurun


Penurunan frekuensi jantung

Farmakokinetik

Mudah diabsorbsi pada pemberian po dan sublingual Nifedipin,

verapamil dan diltiazem mudah larut dalam lemak Dosis:


Nifedipin (3x10-20mg), Verapamil (3x80-120mg) dan Diltiazem (3-4x60mg) Nyeri kepala berdenyut Muka merah Pusing Edema perifer Hipotensi Takikardia Kelemahan otot Mual Konstipasi Gagal jantung Syok kardiogenik

Efek Samping

c. Golongan Beta-Bloker

Beta bloker adalah obat yang memblok reseptor beta dan tidak mempengaruhi reseptor alfa Beta Bloker menghambat pengaruh epineprin frekuensi denyut jantung menurun Beta bloker meningkatkan supply O2 miokard perfusi subendokard meningkat Obat-obat penghambat adrenoseptor beta (beta-bloker) menghambat

adrenoseptor-beta di jantung, pembuluh darah perifer, bronkus, pankreas, dan hati. Saat ini banyak tersedia beta-bloker yang pada umumnya menunjukkan

efektifitas yang sama. Namun, terdapat perbedaan-perbedaan diantara berbagai beta-bloker, yang akan mempengaruhi pilihan dalam mengobati penyakit atau pasien tertentu. Beta-bloker dapat mencetuskan asma dan efek ini berbahaya. Karena itu, harus dihindarkan pada pasien dengan riwayat asma atau penyakit paru obstruktif menahun. Cara kerja:

Pengurangan denyut jantung dan kontraktilitas miokard curah Hambatan pelepasan NE (nor epineprin) melalui hambatan reseptor Hambatan sekresi renin melalui hambatan reseptor beta-1 di ginjal Efek sentral Farmakodinamik

jantung berkurang

beta-2

Beta bloker menghambat efek obat adrenergik, baik NE dan epi Beta bloker kardioselektif artinya mempunyai afinitas yang lebih Propanolol, oksprenolol, alprenolol, asebutolol, metoprolol,

endogen maupun obat adrenergik eksogen

besar terhadap reseptor beta-1 daripada beta-2 pindolol dan labetolol mempunyai efek MSA (membrane stabilizing actvity) efek anastesik local

Kardiovaskuler: mengurangi denyut jantung dan kontraktilitas Menurunkan tekanan darah Antiaritmia: mengurangi denyut dan aktivitas fokus ektopik Menghambat efek vasodilatasi, efek tremor (melalui reseptor betaEfek bronkospasme (hati2 pada asma) Menghambat glikogenolisis di hati Menghambat aktivasi enzim lipase Menghambat sekresi renin antihipertensi Farmakokinetik

miokard

2)

Beta bloker larut lemak (propanolol, alprenolol, oksprenolol, Beta bloker larut air (sotolol, nadolol, atenolol) kurang baik Sediaan Kardioselektif: asebutolol, metoprolol, atenolol, bisoprolol Non kardioselektif: propanolol, timolol, nadolol, pindolol,

labetalol dan metoprolol) diabsorbsi baik (90%) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

absorbsinya

oksprenolol, alprenolol Contoh Obat Beta Blocker: Propanolol: tab 10 dan 40 mg, kapsul lepas lambat 160 mg Alprenolol: tab 50 mg Oksprenolol: tab 40 mg, 80 mg, tab lepas lambat 80 mg Metoprolol: tab 50 dan 100 mg, tab lepas lambat 100 mg Bisoprolol: tab 5 mg Asebutolol: kap 200 mg dan tab 400 mg Pindolol: tab 5 dan 10 mg Nadolol: tab 40 dan 80 mg Atenolol: tab 50 dan 100 mg Efek Samping Akibat efek farmakologisnya: bradikardi, blok AV, gagal jantung, Sal cerna: mual, muntah, diare, konstipasi Sentral: mimpi buruk, insomnia, halusinasi, rasa capai, pusing, Alergi; rash, demam dan purpura Dosis lebih: hipotensi, bradikardi, kejang, depresi bronkospasme

depresi

Indikasi Dan Kontraindikasi

Indikasi: angina pectoris, aritmia, hipertensi, infark miokard,

kardiomiopati obstruktif hipertropik, feokromositoma (takikardi dan aritmia akibat tumor), tirotoksikosis, migren, glaukoma, ansietas

Kontra indikasi: Penyakit Paru Obstruktif, Diabetes Militus

(hipoglikemia), Penyakit Vaskuler, Disfungsi Jantung 5. Diuretika

Cara kerja: meningkatkan ekskresi Na, Cl dan air mengurangi volume plasma dan cairan ekstrasel tekanan turun Efek samping: hipokalemia, hipomagnesemia, hiponatremia, hiperuresemia, hiperkalsemia, hiperglikemia, hiperkolesterolemia, dan hipertrigliseridemia mengurangi efek dengan dosis rendah dan pengaturan diet

Diuretik tiazid: Hidroklorotiazid, Klortalidon, Bendroflumetiazid, Indapamid, Xipamid Diuretik kuat: furosemid Diuretik hemat kalium: Amilorid, Spironolakton Diuretika golongan tiazid digunakan untuk mengurangi edema akibat

gagal jantung dan dengan dosis yang lebih rendah, untuk menurunkan tekanan darah. Diuretika kuat digunakan untuk edema paru akibat gagal jantung kiri dan pada pasien dengan gagal jantung yang sudah lama dan kombinasi diuretika mungkin selektif untuk edema yang resisten terhadap pengobatan dengan satu diuretika, misalnya diuretika kuat dapat dikombinasi dengan diuretika hemat kalium. a. Diuretika Golongan Tiazid Tiazid dan senyawa-senyawa terkaitnya merupakan diuretika dengan potensi sedang, yang bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi natrium pada bagian awal tubulus distal. Mula kerja diuretika golongan ini setelah pemberian peroral lebih kurang 1-2 jam, sedangkan masa kerjanya 12-24 jam. Lazimnya tiazid diberikan pada pagi hari agar diuretika tidak mengganggu tidur pasien. Bendrofluazid, kodenya 7-434 Klortalidon, kodenya 7-430 Hidroklortiazid, kodenya 7-433 Indapamid Metolazon Xipamid

b. Diuretika Kuat Diuretika kuat digunakan dalam pengobatan edema paru akibat gagl jantung kiri. Pemberian intravena mengurangi sesak nafas dan prabeban lebih cepat dari mula kerja diuresisnya. Diuretika ini juga digunakan pada pasien gagal jantung yang telah berlangsung lama. Frusemid, kodenya 7-431 Bumetanid, kodenya 7-438 Torasemid c. Diuretika Hemat Kalium Amilorid dan triamteren merupakan diuretika yang lemah. Keduanya menyebabkan retensi kalium dan karenanya digunakan sebagai alternatif yang lebih efektif daripada memberikan suplemen kalium pada pangguna tiazid atau diuretika kuat. Suplemen kalium tidak boleh diberikan bersama diuretika hemat kalium. Juga penting untuk diingat bahwa pemberian diuretka hemat kalium pada seorang pasien yang menerima suatu penghambat ACE dapat menyebabkan hiperkalemia yang berat. Amilorid hidroklorida, kodenya 7-450 Antagonis aldosteron, kodenya 7-443 Sprironolakton, kodenya 7-443 d. Diuretika Merkuri Meskipun efektif, diuretika merkuri sekarang hampir tidak pernah digunakan karena efek nefrotoksisitasnya. Mersalil harus diberikan lewat injeksi intramuskuler. Penggunaan intravena dapat menyebabkan hipotensi berat dan kematian mendadak. Obat ini sudah absolete dan telah diganti dengan loop diuretic yang jauh lebih aman. Mersalil, kodenya 7-402 e. Diuretika Osmotic Diuretika golongan ini jarang digunakan pada gagal jantung karena mungkin meningkatkan volume darah secara akut.

Manitol, kodenya 7-441 f. Diuretika penghambat Enzim Karbonik Anhidrase Diuretika penghambat enzim karbonik anhidrase (asetazolamid) merupakan diyretika yang lemah dan jarang digunakan berdasarkan efek diuretikanya. Obat ini digunakan untuk profilaksis mountain sickness tetapi tidak menggantikan aklimatisasi. Asetazolamid, kodenya 7-420 Dorzolamid g. Kombinasi Diuretika Disamping penambahan satu golongan diuretika pada diuretika yang lain, kekhawatiran terjadinya hipokalemia atau ketidakpatuhan pasien meningkatkan penggunaan kombinasi dengan diuretika hemat kalium. Bila digunakan untuk hipertens, perhatian khusus harus dicurahkan pada dosis tiazidnya, dimana dosis yang lebih rendah lebih dianjurkan. 6. Obat yang Mempengaruhi Sistem Koagulasi Darah Pembentukan suatu trombus berlangsung melalui tiga tahap, yaitu (1) pemaparan darah pada suatu permukaan trombogenik vaskuler yang rusak. (2) suatu rangkaian peristiwa yang terkait dengan trombosit. (3) pengaktifan mekanisme pembekuan dengan sutu peran penting bagi trombin dalam pembentukan fibrin. Trombin sendiri merupakan suatu perangsang agragasi dan adhesi patelet yang sangat kuat. Sekali terbentu, trombus mungkin dipecah oleh fibrinolisis-terangsang plasmin. a. Antikoagulan Dibagi menjadi 2 sub-kelompok, yaitu 1) Antikoagulan Parenteral, yang dibagi dalam sub-kelompok lagi, yaitu: a) Heparin Memulai antikoagulasi dengan cepat, namun mempunyai masa kerja yang singkat. Sekarang sering kali diacu sebagai heparin standar atau tidak terfraksinasi, untuk membedakannya dengan heparin bobot molekul rendah yang memiliki masa kerja yang lebih panjang.

Heparin, kodenya 6-243 b) Heparin bobot molekul Rendah Terdapat bukti bahwa heparin bobot molekul rendah ternyata selektif dan seaman heparin standar dalam pencegahan tromboembolisme vena. Namun, pada praktek ortopedi golongan heparin ini mungkin lebih selektif. Anoksaparin Heparinoid, kodenya 6-342 2) Antikoagulan Oral Antikoagulan oral mengantagonisasi efek vitamin K, dan perlu paling tidak 48-72 jam untuk efek antikoagulannya berkembang sempurna. Jika efek yang segera diperlukan, heparin harus diberikan bersama. Efek samping utama semua antikoagulan oral adalah pendarahan Natrium warfarin, kodenya 6-420 Protamin sulfat, kodenya 6-452 b. Antiplatelet Antiplatelet (antitrombosit) bekerja dengan cara mengurangi agragasi platelet, sehingga dapat menghambat pembentukan trombus pada sirkulasi arteri, dimana trombi terbentuk melalui agragasi platelet dan antikoagulan menunjukkan efek yang kecil. Asetosal Dipiridamol, kodenya 7-244 c. Fibrinolitik Fibrinolitik yang bekerja sebagai trombolitik dengan cara mengaktifkan plasminogen utnuk membentuk plasmin, yang lebih lanjut mendegradasi fibrin dan dengan demikian memecah trombus. Termasuk dalam golongan obat ini diantaranya streptokinase, urokinase, alteplase, dan anistreplase. Alteplase Streptokinase, kodenya 6-342

Urokinase, kodenya 6-443 d. Hemostatik dan Antifibrinolitik Defisiensi faktor pembekuan darah dapat menyebabkan pendarahan. Pendarahan spontan timbul apabila aktivitas faktor pembekuan kurang dari 5% normal. Fraksi faktor VIII, kering, kodenya 6-473 Fraksi faktor IX, kering, kodenya 6-473 Aprotinin, kodenya 6-411 Etamsilat, kodenya 6-453 Asam traneksamat, kodenya 6-411

7. Obat Penurun Lipid Obat-obat penurun lipid diindikasikan untuk pasien dengan penyakit jantung koroner atau dengan hiperlipidemia berat, yang tidak cukup terkendali dengan diet rendah lemak. Pengobatan juga harus dipertimbangkan bagi pasien dengan resiko tinggi terjadinya penyakit jantung koroner karena adanya berbagai faktor resiko (termasuk merokok, hipertensi, diabetes, dll). a. Resin Penukar Anion Kolestiramin dan kolestipol adalah resin penul\kar anion yang digunakan dalam penatalaksanaan hiperkolesterolemia. Obat-obat tersebut bekerja dengan cara mengikat asam empedu (metabolit kolesterol) di dalam lumen usus dan mencegah reabsorpsinya. Kolestiramin, kodenya 7-228 Kolestipol hidroklorida b. Kelompok Klofibrat Klofibrat (turunan asam ariloksibutirat) dan beberapa analognya (bezafibral, siprofibral, finofibrat, gemfibrosil) dapat dianggap sebagai hipolipidemik berspektrum luas. Klofibrat dan beberapa analognya digunakan dalam pengobatan hiperlipidemia tipe II maupun IV. Efek utamanya berupa gangguan saluran cerna.

Bezafibrat Fenofibrat Gemfibrozil Klofibrat c. Statin Statin menghambat secara kompetitif enzim HMG CoA reduktase, yakni enzim oada sintesis kolesterol, terutama dalam hati. Obat-obat ini lebih efektif dibanding resin penukar anion dalam menurunkan kolesterol LDL tetapi kurang efektif dibanding kelompok klofibrat dalam menurunkan trigliserida dan meningkatkan kolesterol HDL. Atorvastatin Fluvastatin Pravastatin Simvastatin Lovastatin d. Kelompok Asam Nikotinat Asam nikotinat (niasin) merupakan vitamin larut air yang mampu menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol plasma. Mekanisme kerjanya melalui hambatan mobilisasi lemak serta hambatan sintesis VLDL dalam hati dan lebih lanjut kolesterol LDL. Selain itu, asam nikotinat juga meningkatkan kolesterol HDL. Asam nikotinat, kodenya 7-222 e. Minyak Ikan Sediaan minyak ikan yang kaya akan trigliserida laut omega-3, bermanfaat dalam pengobatan hipertrigliseridemia berat. Meskipun demikian, kadangkadang minyak ikan dapat memperburuk hiperkolesterolemia 8. Obat-obat untuk Syok dan Hipotensi Syok merupakan sindrom kardiovaskuler akut yang rumit, terutama terkait dengan ketidakcukupan pasok dan konsumsi oksigen pada organ-organ yang

penting bagi kehidupan (vital), yang pada umumnya disebabkan oleh peristiwa hipotensi. Hipovolemia, suatu penyebab hipotensi, dikaitkan dengan hilangnya darah karena cedera atau pendarahan, atau hilagnya cairan karena diare, muntah, luka bakar, atau yang lainnya. Hipotensi juga dikaitkan dengan syok septik. Meskipun demikian pasien dengan infark miokard yang berkembang menjadi syok kardiogenik, tidak selalu hipotensif. Tujuan terapi syok adalah menjamin aliran darah yang cukup untuk pasok oksigen yang memadai ke organ-organ vital. Dopamin hidroklorida, kodenya 7-128 Dobutamin, kodenya 7-578 Isoprenalina hidroklorida, kodenya 7-573 Norepinefrin bitatrat Epinefrin, kodenya 7-120 9. Obat untuk Gangguan Sirkulasi Darah ( serebral, arteri, vena )

Vasodilator: Hidralazin, Minoksidil, Diazoksid, Na Nitroprusid Merelaksasi otot polos vasodilatasi TD turun Hidralazin menurunkan TD diastol > TD sistol dengan menurunkan resistensi perifer lebih selektif mendilatasi arteriole daripada vena hipotensi postural jarang terjadi

Efek samping: retensi Na dan air, sakit kepala, takikardi

a. Vasodilator Perifer Kurangnya pasokan darah arteri di perifer dapat disebabkan oleh angioneuropati (kegagalan pengaturan sirkulasi akibat tidak sempurnanya pembuluh kecil bereaksi terhadap rangsang) atau angioorganopati (meliputi penyakit penyumbatan arteri, giitis, penyumbatan arteri karena emboli). Penyebab penyakit penyumbatan arteri terutama aterosklerosis dan tramboangitis obliterans. Turunan asam nikotinat, kodenya 7-222 Pentoksifilin Sinarisin, kodenya 6-305 Naftidrofuril oksalat, kodenya 7-208

Isoksuprin, kodenya 7-258 Xantinol nikotinat, kodenya 7-258 Nicegolin Bensiklan Flunarisin

b. Vasodilator Serebral Obat-obat golongan ini dinyatakan memperbaiki fungsi mental. Beberapa telah dilaporkan memperbaiki kinerja uji psikologis, tetapi obat-obat tersebut secara klinis belum terbukti bermanfaat untuk demensia (pikun). Co-dergokrin meksilat

c. Obat Gangguan Darah Vena Penyakit pembuluh vena yang sering terjadi adalah gejala verikosis (dilatasi pembuluh vena permukaan kaki dan akibat-akibat yang menyertainya (edema lokal, indurasi, atrofi, pigmentasi hebat, sianosis kulit, borok kaki, tromboflebitis) yang timbul akibat pengaruh mekanik dan hormonal pada jaringan ikat lemah. 1) Senyawa tonik vena Dihidroergotamin, kodenya 7-265 Glikosida triterpen 2) Senyawa sklerosan Garam natrium asam lemak dari minyak ikan Etanolamin oleat, kodenya 7-272 Natrium tetradesil sulfat

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN Darah yang menganlir keseluruh tubuh yang pada setiap darah tersebut mengandug O2, dan pada saat obat yang dimasukkan kedalam darah melalui IV juga secara otomatis ikut bersama dengan aliran darah dan langsung menganlir kejantung dan secara bertahap kerja obat mulai bekerja sesui dengan obat yang dibrikan untuk mengirangi rasa sakit yang didrita oleh pasien tersebut. Obat yang bekerja pada jantung dan pembuluh darah, baik arteri maupun vena dibagi dalam sembilan sub kelas sebagai berikut: 1. Obat Inotropik Positif 2. Obat Anti-aritmia 3. Obat Antihipertensi 4. Obat Anti-angina 5. Diuretik 6. Obat yang mempengaruhi Sistem Koagulasi Darah 7. Obat Hipolipidemik

8. Obat untuk Syok dan Hipotensi 9. Obat untuk Gangguan Sirkulasi Darah (serebral, arteri, vena) B. SARAN Sebaiknya kita / pasien menjaga pola makan yang masuk kedalam tubuh kita agar kita juga dapat mengantisipasi tidak terkena penyakir jantung.

REFERENSI
ICOPIM (International Classification of Prosedure in Medicine) IONI (Informatorium Obat Nasional Indonesia) Browsing site internet on www.medicastore.com Searching gambar di www.google.com, kata kunci kardiovaskuler Deglin, Vallerand, 2005, Pedoman Obat Untuk Perawat, Jakarta, EGC Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi, Jakarta, FKUI Kee, Hayes, 1996, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta, EGC