Anda di halaman 1dari 10

TUGAS INDIVIDU

MATA KULIAH KESEHATAN REPRODUKSI II GENDER ANALISIS PATHWAY (GAP) VIRUS CAMPAK PADA ANAK BALITA DOSEN : HASNERITA S.SiT, M.Kes

Disusun Oleh:

CERTIANA SIREGAR (07.11.000.805) KELAS : PENDIDIK 1

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU D IV KEBIDANAN PENDIDIK 2011/2012

GENDER ANALYSIS PATHWAY (GAP) PENYAKIT CAMPAK PADA ANAK BALITA

PROGRAM

: PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN CAMPAK PADA ANAK BALITA

I.

LATAR BELAKANG, KEBIJAKAN PROGRAM DAN TUJUAN a. Latar Belakang 1. Campak adalah penyakit infeksi yang sangat menular, disebabkan oleh virus dengan gejala eksantem akut, demam, kadang kataral selaput lendir dan saluran pernapasan, gejala mata, diikuti erupsi makulopapula berwarna merah dan diakhiri dengan deskuamasi kulit. 2. Pada periode sebelum ditemukannya vaksin campak di seluruh dunia, 100 juta penderita dengan 6 juta kematian (CFR 6%) dilaporkan setiap tahun. Sedikit sekali orang yang terbebas dari serangan campak selama hidupnya. 3. Berdasarkan data yang dilaporkan kepada WHO sekurangnya terjadi 15.853 kasus campak, kemudian pada tahun 2006 terdapat sebanyak 20.422 kasus, tetapi tahun 2007 dan 2008 terjadi penurunan jumlah kasus menjadi masing-masing 19.456 dan 15.369 penderita. 4. Pada tahun 2002, kematian campak di dunia yang dilaporkan sebanyak 777.000. Dari jumlah itu 202.000 atau 25,9% diantaranya berasal dari negara ASEAN serta 15% kematian campak tersebut berasal dari Indonesia. 5. Sekitar tahun 1990-an di Amerika Serikat kematian karena campak sebesar 2-3 per 1000 kasus dengan kematian terutama pada anak-anak terutama dibawah 5 tahun, sedangkan di negara berkembang tingkat fatalitas diperkirakan sebesar 3-5% tetapi di beberapa lokasi sering kali berkisar antara 10%-30%. 6. Anak yang mendapatkan vaksinasi campak pada usia <12 bulan memiliki risiko 6 kali untuk terkena campak. Sedangkan anak yang mendapatkan vaksinasi campak pada usia 12-14 bulan memiliki risiko 3 kali untuk terkena campak dibanding dengan anak yang mendapat vaksinasi pada usia 15 bulan. 7. Profil Kesehatan Sumatera Utara tahun 2007, jumlah penderita campak adalah 1.146 orang. Penelitian ini bersifat analitik dengan desain cross sectional. Tujuan penelitian menganalisis kejadian campak pada anak balita. Penelitian dilakukan di Kelurahan Tegal Sari Mandala III Kecamatan Medan Denai. Populasi adalah anak balita berusia 12 59 bulan di Kelurahan Tegal Sari Mandala III. Besar sampel adalah 112 orang 8. Mendapatkan hasil bahwa berdasarkan jenis kelamin, penderita campak lebih banyak pada anak laki-laki yakni 62%.

9. Proporsi anak balita berdasarkan umur dan jenis kelamin terbanyak pada anak yang tidak terkena campak kelompok umur 48-53 bulan dengan jenis kelamin perempuan 7,15%. b. Kebijakan Program 1. Penyebab infeksi adalah virus campak, anggota genus Morbilivirus dari famili Paramyxoviridae . 2. Berdasarkan data Susenas 2001, proporsi penderita campak di daerah perkotaan yang mengalami keluhan campak adalah sebesar 0,1%, sedangkan proporsi penduduk yang mengalami keluhan kesehatan dan disertai gangguan aktivitas adalah sebesar 0,07% dari total jumlah penduduk perkotaan 86.558.539 orang. 3. Jumlah penderita campak di Indonesia selalu mencapai jumlah yang besar. Kasus yang pernah tercatat sepanjang tahun 2002 adalah sebanyak 14.492 penderita, tahun 2003 terdapat peningkatan kasus menjadi 24.457 penderita, dan tahun 2004 terjadi 29.171 kasus campak. 4. Kejadian kematian karena campak lebih tinggi pada kondisi malnutrisi, tetapi belum dapat dibedakan antara efek malnutrisi terhadap kegawatan penyakit campak dan efek yang ditimbulkan penyakit campak terhadap nutrisi yang dikarenakan penurunan selera makan dan kemampuan untuk mencerna makanan. 5. Sedangkan di daerah pedesaan proporsi penderita yang mengalami keluhan campak adalah sebesar 0,1% dan yang mengalami keluhan campak yang disertai gangguan aktivitas adalah 0,08% dari total penduduk 113.122.012 orang. 6. Agar penularan campak pada anak balita tidak meningkat maka dibuatlah kebijakan dan strategi antara lain: a. Menyediakan informasi, pengetahuan serta keterampilan sehinggah penularan campak pada anak balita dapat teratasi. b. Team kesehatan dapat melakukan penyuluhan di puskesamas untuk pencegahan dan program terjadinya campak pada anak balita. c. Meninggkatkan pemeriksaan kesehatan anak balita di posyandu dan untuk mengenali tanda gejala penyakit campak. d. Menganjurkan kepada masyarakat supaya anak balita ikut serta melakukan program dari pemerinta imunisasi campak. e. Playanan kesehatan harus memberitahukan kepada masyarakat dan menganjurkan bayi yang berusia 9 bulan harusi harus mendapatkan imunisasi campak. c. Tujuan 1. Menurunkan angka infeksi campak pada anak balita. 2. Untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan akibat penyakit menular dan tidak menular penyakit campak pada anak balita. 3. Agar masyarakat mengerti dan paham akan bahaya terjadinya penyakit campak pada anak balita.

4. Untuk mengetahui distribusi proporsi anak balita berdasarkan umur dan jenis kelamin, status gizi, ASI Eksklusif, status imunisasi, serta umur pemberian imunisasi dan jenis kelamin.

II.

DATA PEMBUKA WAWASAN 1. Kematian campak di dunia yang dilaporkan sebanyak 777.000. Dari jumlah itu 202.000 atau 25,9% diantaranya berasal dari negara ASEAN serta 15% kematian campak tersebut berasal dari Indonesia. 2. Pada tahun 1999 campak menyebabkan hampir 1 juta kematian, sekitar 10% dari kematian adalah anak-anak dibawah 5 tahun. 3. Pada tahun 2006, jumlah penderita campak di Jerman sebanyak 2307 orang, kemudian jumlah tersebut menurun pada tahun 2007 menjadi 567 orang, dan pada tahun 2008 meningkat menjadi 917 orang. 4. Di Spanyol jumlah penderita campak sepanjang tahun 2006 sebanyak 362, kemudian pada tahun 2007 sebanyak 267 orang penderita, dan pada tahun 2008 sebanyak 297 orang yang dilaporkan menderita campak. 5. Di Zambia pada tahun 2006 sebanyak 459 penderita campak yang dilaporkan, kemudian pada tahun 2007 terdapat 535 penderita dan ada sebanyak 140 penderita pada tahun 2008. 6. Di Thailand pada tahun 2006 terdapat 3.499 penderita campak, kemudian sebanyak 3.893 penderita pada tahun 2007 dan jumlah kasus meningkat tajam pada tahun 2008 yakni sebanyak 7.016 penderita. 7. Di Amerika Serikat terjadi 66 kasus campak pada tahun 2005, kemudian pada tahun 2006 dilaporkan terjadi 55 kasus campak dan sepanjang tahun 2007 terjadi penurunan kasus campak yang dilaporkan menjadi 43 kasus. 8. Sedangkan pada tahun 2006 di Malaysia tercatat 564 kasus campak, 394 kasus pada tahun 2007 dan 334 penderita campak pada tahun 2008. 9. Di India tercatat sebanyak 60.751 penderita pada tahun 2006, kemudian pada tahun 2007 terdapat 36.900 penderita dan tahun 2008 terjadi 4.818 kasus campak. 10. Jumlah penderita campak di Indonesia selalu mencapai jumlah yang besar. Kasus yang pernah tercatat sepanjang tahun 2002 adalah sebanyak 14.492 penderita. 11. Profil Kesehatan Sumatera Utara tahun 2007, jumlah penderita campak adalah 1.146 orang. Penelitian ini bersifat analitik dengan desain cross sectional. Tujuan penelitian menganalisis kejadian campak pada anak balita. Penelitian dilakukan di Kelurahan Tegal Sari Mandala III Kecamatan Medan Denai. Populasi adalah anak balita berusia 12 59 bulan di Kelurahan Tegal Sari Mandala III. Besar sampel adalah 112 orang.

III.

ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN Mengacu pada pada data pembuka wawasan dengan memperhatikan 4 pisau analisa, yaitu:
3

a)

Akses 1. Kurangnya pengetahuan tanda gejala virus campak pada anak balita. 2. Faktor lingkungan yang tidak bersih sehingga mengakibatkan campak pada anak balita. 3. Kurangnya antibody pada anak balita pada saat bayi tidak mendapatkan asupan gizi dan asi dari ibunya. 4. Sulitnya mendapatkan informasi pengetahuan tentang penyakit campak pada anak balita. b) Kontrol 1. Masih ada budaya dimana semua keputusan berada di tangan suami. 2. Sering menunda melakukan imunisasi pada anak balita. c) Manfaat 1. Kurangnya kesadaran sebagai orangtua untuk melakukan pengobatan pada anak balita. 2. Tertularnya virus campak karena tidak menjaga kebersihan dalam rumah tangga. 3. Sulit bagi yang tidak mampu untuk jangkauan pengobatan. 4. Kurangnya pendidikan dalam pengetahuan penularan infeksi campak. d) Partisipasi 1. Kurangnya peran serta dan partisipasi dari orangtua dalam melakukan program imunisasi campak. 2. Laki-laki dan perempuan dapat terinfeksi virus campak tanpa terkecuali. SEBAB INTERNAL a. Pemahaman konsep gender bagi pengambilan keputusan dan penyusunan perencanaan program masih kurang. b. Masih kurangnya perhatian lembaga program/lembaga kesehatan terhadap rendahnya kunjungan imunisasi campak pada anak balita. c. Memberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya pelaksanaan imunisasi campak untuk semua bayimasih kurang. d. Ditujukan untuk mendeteksi penyakit sedini mungkin untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Dengan demikian pencegahan ini sekurang-kurangnya dapat menghambat atau memperlambat progrefisitas penyakit, mencegah komplikasi, dan membatasi kemungkinan kecatatan bagi anak balita. SEBAB EKSTERNAL a. Masih banyak masyarakat belum mengikuti program imunisasi campak yang di tetapkan oleh pemerintah. b. Masih banyak masyarakat belum mengetahui bahwa memberikan Asi esklusif dapat mengurangi resiko infeksi campak. c. Masih banyak masyarakat bahwa belum mengetahui Mencegah perluasan infeksi. Anak yang menderita campak jangan masuk sekolah selama empat hari setelah timbulnya rash.
4

IV.

KEBIJAKAN ATAU RENCANA AKSI REFORMULASI PROGRAM/KEGIATAN 1. 2. Diagnosis campak dengan benar baik melalui pemeriksaan fisik atau darah. Menempatkan anak pada ruang khusus atau mempertahankan isolasi di rumah sakit dengan melakukan pemisahan penderita pada stadium kataral yakni dari hari pertama hingga hari keempat setelah timbulnya rash yang dapat mengurangi keterpajanan pasien-pasien dengan risiko tinggi lainnya. Pemberian vitamin A dosis tinggi karena cadangan vitamin A akan turun secara cepat terutama pada anak kurang gizi yang akan menurunkan imunitas mereka.

3.

RENCANA AKSI 1. Memberikan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat mengenai pencegahan, pemberantasan, dan pengobatan bagi terkena infeksi campak. 2. Memberikan pendidikan kesehatan tentang tanda-tanda timbulnya gejalah campak pada anak balita. 3. Melakukan Penyuluhan ke sekolah-sekolah, dan dimulai dari anak-anak yang duduk di bangku SD,SMP,SMA dan terdekat dengan kita. 4. Pemberian obat dan vaksin gratis dari pemerintah di puskesmas yang dekat ke daerah kita.

V.

PENGUKURAN HASIL BASELINE 1. Jumlah penderita campak di Indonesia selalu mencapai jumlah yang besar. Kasus yang pernah tercatat sepanjang tahun 2002 adalah sebanyak 14.492 penderita, tahun 2003 terdapat peningkatan kasus menjadi 24.457 penderita, dan tahun 2004 terjadi 29.171 kasus campak. 2. Di Indonesia program imunisasi campak sudah dimulai sejak tahun 1984 dengan pemberian satu kali secara rutin kepada bayi umur 9 bulan. 3. Profil Kesehatan Sumatera Utara tahun 2007, jumlah penderita campak adalah 1.146 orang. Penelitian ini bersifat analitik dengan desain cross sectional. Tujuan penelitian menganalisis kejadian campak pada anak balita. Penelitian dilakukan di Kelurahan Tegal Sari Mandala III Kecamatan Medan Denai. Populasi adalah anak balita berusia 12 59 bulan di Kelurahan Tegal Sari Mandala III. Besar sampel adalah 112 orang. 4. Campak merupakan penyakit menular yang sering menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan pada saat ini campak masih dalam taraf reduksi berdasarkan kesepakatan global. 5. Mencegah penularan dimulai dengan memfokuskan pada penanganan dan strategi pencegahan dan bahaya virus campak.

INDIKATOR a. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat khususnya anak balita. b. Konseling yang efektif, dukungan, terapi pengobatan yang telah di anjurkan oleh tenaga kesehatan.

KEBIJAKAN/ PROGRAM/ KEGIATAN

DATA PEMBUKA WAWASAN FAKTOR KESENJANGAN

ISU GENDER INTERNAL -Pemahaman konsep gender bagi pengambilan keputusan dan penyusunan perencanaan program masih kurang -Masih kurangnya perhatian lembaga program/lembaga kesehatan terhadap rendahnya kunjungan imunisasi campak. EKSTERNAL -Masih banyak masyarakat belum mengikuti program imunisasi campak yang di tetapkan oleh pemerintah. -Masih banyak masyarakat belum mengetahui bahwa memberikan Asi esklusif dapat mengurangi resiko infeksi campak

KEBIJAKAN/ RENCANA AKSI REFORMULASI PROGRAM -Diagnosis campak dengan benar baik melalui pemeriksaan fisik atau darah. -Pemberian vitamin A dosis tinggi karena cadangan vitamin A akan turun secara cepat terutama pada anak kurang gizi yang akan menurunkan imunitas mereka. RENCANA AKSI -Rencana memberikan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat mengenai pencegahan, pemberantasan, dan pengobatan virus campak pada anak balita. -Memberikan pendidikan kesehatan tentang tanda-tanda timbulnya gejalah campak pada anak balita. -Melakukan Penyuluhan ke sekolah-sekolah,

PENGUKURAN HASIL BASELINE -Jumlah penderita campak di Indonesia selalu mencapai jumlah yang besar. Kasus yang pernah tercatat sepanjang tahun 2002 adalah sebanyak 14.492 penderita, tahun 2003 terdapat peningkatan kasus menjadi 24.457 penderita, dan tahun 2004 terjadi 29.171 kasus campak. -Di Indonesia program imunisasi campak sudah dimulai sejak tahun 1984 dengan pemberian satu kali secara rutin kepada bayi umur 9 bulan. -Penelitian dilakukan di Kelurahan Tegal Sari MandalaKecamatan Medan Denai. Populasi adalah anak balita berusia 12 59 bulan di Kelurahan Tegal Sari Mandala III. Besar sampel adalah 112 INDIKATOR -Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat khususnya anak balita. -Konseling yang efektif, dukungan, terapi pengobatan yang telah di anjurkan oleh tenaga kesehatan.

Kebijakan Program: Program Pencegahan dan Penanggulangan virus campak pada anak balita. Kegiatan : Upaya mencegah dan menanggulangi virus campak pada anak balita. Tujuan : Untuk menurunkan angka kejadian yang disebabkan oleh virus campak padaanak balita.

-Kematian campak di dunia yang dilaporkan sebanyak 777.000. Dari jumlah itu 202.000 atau 25,9% diantaranya berasal dari negara ASEAN serta 15% kematian campak tersebut berasal dari Indonesia. -Pada tahun 1999 campak menyebabkan hampir 1 juta kematian, sekitar 10% dari kematian adalah anak-anak dibawah 5 tahun. -Di Thailand pada tahun 2006 terdapat 3.499

Akses : -Akses ke tempat pengobatan masih sulit. -Kurang mendapatkan informasi tentang virus campak pada anak balita. Kontrol : Masih ada budaya dimana semua keputusan berada di tangan suami Manfaat : Tertularnya virus campak karena tidak menjaga kebersihan dalam rumah tangga Partisipasi : Kurangnya peran serta dan partisipasi dari orangtua dalam melakukan program imunisasi

dan dimulai dari anak-anak yang duduk di bangku SD,SMP,SMA

penderita campak, kemudian sebanyak 3.893 penderita pada tahun 2007 dan jumlah kasus meningkat tajam pada tahun 2008 yakni sebanyak 7.016 penderita. -Jumlah penderita campak di Indonesia selalu mencapai jumlah yang besar. Kasus yang pernah tercatat sepanjang tahun 2002 adalah sebanyak 14.492 penderita. - Penelitian dilakukan di Kelurahan Tegal Sari Mandala III Kecamatan Medan Denai. Populasi adalah anak balita berusia 12 59 bulan di Kelurahan Tegal Sari Mandala III. Besar

campak.

dan terdekat dengan kita. -Pemberian obat dan vaksin gratis dari pemerintah di puskesmas yang dekat ke daerah kita.

orang. -Mencegah penularan dimulai dengan memfokuskan pada penanganan dan strategi pencegahan dan bahaya virus campak.

sampel adalah 112 orang.