Anda di halaman 1dari 54

ASUHAN KEPEPERAWATAN GAWAT DARURAT DENGAN OBSTRUKSI & TRAUMA SALURAN KEMIH

DISUSUN OLEH: RATIH KUSUMANING PUSPITA 10.895

AKADEMI KESEHATAN ASIH HUSADA PRODI KEPERAWATAN SEMARANG 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas karunia, rahmat, dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini.Dengan terselesaikannnya makalah ini, diharapkan dapat memperluas dan menambah wawasan para pembaca. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu selesainya makalah ini.Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada : 1. I Made Adi P, S.Kep selaku koordinator IGD 2. Adi Daru.P ,S.Kep selaku dosen pengampu 3. Teman-teman dan seluruh pihak yang terkait

Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat beberapa kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharap kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Semarang, Desember 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan akan berkemih selalu menjadi kebutuhan yang sangat vital bagi kita.Karena berkemih adalah membuang sisa-sisa cairan dan zat-zat yang tidak sudah berguna bagi tubuh. Namun, jika kebutuhan akan berkemih mengalami gangguan maka tubuh akan mengalami sakit. Salah satunya adalah dapat mengalami obstruksi system perkemihan. Trauma saluran kemih sering tak terdiagnosa atau terlambat terdiagnosa karena perhatian penolong sering tersita oleh jejas-jejas ada di tubuh dan anggota gerak saja, kelambatan ini dapat menimbulkan komplikasi yang berat seperti perdarahan hebat dan peritonitis, oleh karena itu pada setiap kecelakaan trauma saluran kemih harus dicurigai sampai dibuktikan tidak ada. Trauma saluran kemih sering tidak hanya mengenai satu organ saja, sehingga sebaiknya seluruh sistem saluran kemih selalu ditangani sebagai satu kesatuan. Juga harus diingat bahwa keadaan umum dan tandatanda vital harus selalu diperbaiki/dipertahankan, sebelum melangkah ke pengobatan yang lebih spesifik. Oleh karena itu, di dalam makalah ini penulis tertarik untuk mengetahui dan membahas lebih lanjut bagaimana Asuhan keperawatan pada klien dengan kondisi obtruksi dan trauma pada saluran kemih.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum Untuk mengetahui tentang asuhan keperawatan

kegawatdaruratan pada saluran kemih

2. Tujuan Khusus Untuk mengetahui tentang obstruksi saluran kemih Untuk mengetahui tentang trauma saluran kemih

BAB II TINJAUAN TEORI


OBSTRUKSI SALURAN KEMIH
ASUHAN KEPERAWATAN RENTENSI URINE A. Definisi Retensio urine adalah kesulitan miksi karena kegagalan urine dari fesika urinaria. (Kapita Selekta Kedokteran). Retensio urine adalah tertahannya urine di dalam akndung kemih, dapat terjadi secara akut maupun kronis. (Depkes RI Pusdiknakes 1995). Retensio urine adlah ketidakmampuan untuk melakukan urinasi meskipun terdapat keinginan atau dorongan terhadap hal tersebut. (Brunner & Suddarth). Retensio urine adalah sutau keadaan penumpukan urine di kandung kemih dan tidak punya kemampuan untuk mengosongkannya secara sempurna. (PSIK UNIBRAW).

B. Etiologi Adapun penyebab dari penyakit retensio urine adalah sebagai berikut: a. Supra vesikal berupa kerusakan pada pusat miksi di medulla spinallis S2 S4 setinggi T12 L1. Kerusakan saraf simpatis dan parasimpatis baik sebagian ataupun seluruhnya, misalnya pada operasi miles dan mesenterasi pelvis, kelainan medulla spinalis, misalnya miningokel, tabes doraslis, atau spasmus sfinkter yang ditandai dengan rasa sakit yang hebat. b. Vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang, atoni pada pasien DM atau penyakit neurologist, divertikel yang besar. c. Intravesikal berupa pembesaran prostate, kekakuan leher vesika, striktur, batu kecil, tumor pada leher vesika, atau fimosis. d. Dapat disebabkan oleh kecemasan, pembesaran porstat, kelainan patologi urethra (infeksi, tumor, kalkulus), trauma, disfungsi neurogenik kandung kemih.

e.

Beberapa obat mencakup preparat antikolinergik antispasmotik (atropine), preparat antidepressant antipsikotik (Fenotiazin), preparat antihistamin (Pseudoefedrin hidroklorida = Sudafed), preparat penyekat adrenergic (Propanolol), preparat antihipertensi (hidralasin).

C. Patofisiologi Pada retensio urine, penderita tidak dapat miksi, buli-buli penuh disertai rasa sakit yang hebat di daerah suprapubik dan hasrat ingin miksi yang hebat disertai mengejan. Retensio urine dapat terjadi menurut lokasi, factor obat dan factor lainnya seperti ansietas, kelainan patologi urethra, trauma dan lain sebagainya. Berdasarkan lokasi bisa dibagi menjadi supra vesikal berupa kerusakan pusat miksi di medulla spinalsi menyebabkan kerusaan simpatis dan parasimpatis sebagian atau seluruhnya sehingga tidak terjadi koneksi dengan otot detrusor yang mengakibatkan tidak adanya atau menurunnya relaksasi otot spinkter internal, vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang, intravesikal berupa hipertrofi prostate, tumor atau kekakuan leher vesika, striktur, batu kecil menyebabkan obstruksi urethra sehingga urine sisa meningkat dan terjadi dilatasi bladder kemudian distensi abdomen. Factor obat dapat mempengaruhi proses BAK, menurunkan tekanan darah, menurunkan filtrasi glumerolus sehingga menyebabkan produksi urine menurun. Factor lain berupa kecemasan, kelainan patologi urethra, trauma dan lain sebagainya yang dapat meningkatkan tensi otot perut, peri anal, spinkter anal eksterna tidak dapat relaksasi dengan baik. Dari semua factor di atas menyebabkan urine mengalir labat kemudian terjadi poliuria karena pengosongan kandung kemih tidak efisien. Selanjutnya terjadi distensi bladder dan distensi abdomen sehingga memerlukan tindakan, salah satunya berupa kateterisasi urethra

D. Tanda dan gejala Adapun tanda dan gejala atau menifestasi klinis pada penyakit ini adalah sebagai berikut: a. Diawali dengan urine mengalir lambat.

b. Kemudian terjadi poliuria yang makin lama menjadi parah karena pengosongan kandung kemih tidak efisien. c. Terjadi distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih. d. Terasa ada tekanan, kadang terasa nyeri dan merasa ingin BAK. e.Pada retensi berat bisa mencapai 2000 -3000 cc.

E.

Pemeriksaan diagnostik Adapun pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan pada retensio urine adalah sebagai berikut: Pemeriksaan specimen urine.

Pengambilan: steril, random, midstream. Penagmbilan umum: pH, BJ, Kultur, Protein, Glukosa, Hb, KEton, Nitrit. Sistoskopy, IVP.

F. Penatalaksanaan Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada retensio urine adalah sebagai berikut: a. Kateterisasi urethra. b. c. Dilatasi urethra dengan boudy. Drainage suprapubik.

KONSEP KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN RETENSIO URINE 1. PENGKAJIAN a. Identitas klien b. Riwayat kesehatan umum, Riwayat kesehatan keluarga,Riwayat kesehatan klien

c. Riwayat kesehatan sekarang Bagaimana frekuensi miksinya Adakah kelainan waktu miksi Apakah rasa sakit terdapat pada daerah setempat atau secara umum Apakah penyakit timbul setelah adanya penyakit lain Apakah terdapat mual muntah atau oedema bagaimana keadaan urinya Adakah secret atau darah yang keluar Adakah hambatan seksual Bagaimana riwayat menstruasi Bagaimana riwayat kehamilan -Rasa nyeri d. Data fisik Inpeksi : seluruh tubuh dan daerah genital Palpasi : pada daerah abdomen Auskultasi : kuadran atas abdomen dilakukan untuk mendeteksi bruit - Tingkat kesadaran - TB, BB - TTV e. Data psikologis Keluhan dan reaksi pasien terhadap penyakit Tingkat adaptasi pasien terhadap penyakit Persepsi pasien terhadap penyakit f. Data social, budaya, spiritual Umum : hubungan dengan orang lain, kepercayaan yang dianut dan keaktifanya dalam kegiatan 2. DIAGNOSA a. Retensi urin b.d ketidakmampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat. b. Gangguan rasa nyaman: nyeri c. Intoleransi aktivitas d. Ansietas b.d krisis situasi

3. PERENCANAAN 1. Retensi urin b.d ketidakmampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat. Kriteria evaluasi : - Berkemih dengan jumlah yang cukup - Tidak teraba distensi kandung kemih

Intervensi

Rasional

1. Dorong pasien utnuk berkemih tiap 2-4 jam Meminimalkan retensi urin distensi 1. dan bila tiba-tiba dirasakan. 2. Tanyakan pasien tentang inkontinensia stres. 3. Observasi aliran urin, perhatikan ukuran dan ketakutan. 4. Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap berkemih.. 5. Perkusi/palpasi area suprapubik berlebihan pada kandung kemih. 2. Tekanan ureteral tinggi menghambat pengosongan kandung kemih. 3. Berguna untuk mengevaluasi obsrtuksi dan pilihan intervensi. 4. Retensi urin meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan atas. 5. Distensi kandung kemih dapat dirasakan diarea suprapubik.

2. Gangguan rasa nyaman: nyeri Kriteria evaluasi : Menyatakan nyeri hilang/ terkontrol Menunjukkan rileks, istirahat dan peningkatan aktivitas tepat dengan

Intervensi 1. Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas nyeri. 2. Plester selang drainase pada paha dan kateter pada abdomen.

Rasional 1. Memberikan informasi untuk membantu dalam menetukan intervensi. 2. Mencegah penarikan kandung kemih dan erosi pertemuan penis-skrotal.

3. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan. Tirah baring mungkin diperlukan pada awal 3.

4. Berikan tindakan kenyamanan

selama fase retensi akut. 4. Meningktakan relaksasi dan mekanisme

5. Dorong menggunakan rendam duduk, sabun koping. hangat untuk perineum. 5. Meningkatkan relaksasi otot.

3. Intoleransi aktivitas Kriteria evaluasi :

- Menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tidak adanya dispnea, kelemahan, tanda vital dalam rentang normal. Intervensi Rasional

1. Evaluasi respon klien terhadap aktivitas. 1. Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi. 2. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. 3. Jelaskna pentingnya istirahat dalam rencana Tirah baring dapat menurunkan kebutuhan 3. pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat. metabolik, menghemat energi untuk penyembuhan. Pembatasan aktivitas ditentukan dengan respons individual pasien terhadap aktivitas dan perbaikan kegagalan pernapasan. 2. Menurunkan stres dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.

4. Bantu aktivitas perawatan diri yang

4. Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.

diperlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan.

4. Ansietas b.d krisis situasi Kriteria evaluasi : - Mengakui dan mendiskusikan takut/masalah - Menunjukkan rentang perasaan yang tepat dan penampilan wajah tampak rileks/istirahat

Intervensi 1. Identifikasi persepsi pasien tentang ancaman yang ada dari situasi.

Rasional 1. Mendefinisikan lingkup masalah individu dan mempengaruhi pilihan intervensi. 2. Berguna dalam evaluasi derajat masalah

2. Observasi respon fisik,seperti gelisah, tanda vital, gerakan berulang.

khususnya bila dibandingkan dengan pernyataan verbal.

3. Memberikan kesempatan untuk menerima 3. Dorong pasien/orang terdekat untuk mengakui dan menyatakan rasa takut. masalah, memperjelas kenyataan takut dan menurunkan ansietas. 4. Memberikan kayakinan untuk membantu ansietas yang tak perlu. 4. Identifikasi pencegahan keamanan yang diambil, seperti marah dan suplai oksigen. Diskusikan.

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN UROLITHIASIS A. DEFINISI Urolithiasis adalah suatu keadaan terjadinya penumpukan oksalat, calculi (batu ginjal) pada ureter atau pada daerah ginjal. Urolithiasis terjadi bila batu ada di dalam saluran perkemihan. Batu itu sendiri disebut calculi. Pembentukan batu mulai dengan kristal yang terperangkap di suatu tempat sepanjang saluran perkemihan yang tumbuh sebagai pencetus larutan urin. Batu dalam perkemihan berasal dari obstruksi saluran kemih, obstruksi mungkin terjadi hanya parsial atau lengkap. Obstruksi yang lengkap bisa menjadi hidronefrosis yang disertai tanda-tanda dan gejala-gejalanya. Calculi bervariasi dalam ukuran dan dari fokus mikroskopik sampai beberapa centimeter dalam diameter cukup besar untuk masuk dalam velvis ginjal. Gejala rasa sakit yang berlebihan pada pinggang, nausea, muntah, demam, hematuria. Urine berwarna keruh seperti teh atau merah. B. ETIOLOGI Faktor faktor yang mempengaruhi pembentukan batu: a. Faktor Endogen Faktor genetik, familial, pada hypersistinuria, hiperkalsiuria dan hiperoksalouria. b. Faktor Eksogen Faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi dan kejenuhan mineral dalam air minum. c. Faktor Lain a) Infeksi Infeksi Saluran Kencing (ISK) dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti pembentukan Batu Saluran Kencing (BSK) Infeksi bakteri akan memecah ureum dan membentuk amonium yang akan mengubah pH Urine menjadi alkali.

b) Stasis dan Obstruksi Urine Adanya obstruksi dan stasis urine akan mempermudah Infeksi Saluran Kencing. c) Jenis Kelamin Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding wanita dengan perbandingan 3 : 1 d) Ras Batu Saluran Kencing lebih banyak ditemukan di Afrika dan Asia. e) Keturunan Anggota keluarga Batu Saluran Kencing lebih banyak mempunyai kesempatan f) Air Minum Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan mengurangi kemungkinan terbentuknya batu, sedangkan kurang minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urine meningkat. g) Pekerjaan Pekerja keras yang banyak bergerak mengurangi kemungkinan terbentuknya batu dari pada pekerja yang lebih banyak duduk. h) Suhu Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringat. i) Makanan Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditas Batu Saluran Kencing berkurang. Penduduk yang vegetarian yang kurang makan putih telur lebih sering menderita Batu Saluran Kencing (buli-buli dan Urethra).

C. MANIFESTASI KLINIS

a. Disamping adanya serangan sakit hebat yang timbul secara mendadak yang berlangsung sebentar dan kemudian hilang tiba-tiba untuk kemudian, timbul lagi, disertai nadi cepat, muka pucat, berkeringat dingin dan tekanan darah turun atau yang disebut kolik, dapat pula disertai rasa nyeri yang kabur berulang-ulang di daerah ginjal dan rasa panas atau terbakar di pinggang yang dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. b. Hematuri dapat juga terjadi apabila terdapat luka pada saluran kemih akibat pergeseran batu. c. Bila terjadi hydronefrosis dapat diraba pembesaran ginjal. Urin yang keruh dan demam akan juga dialami penderita batu ginjal. Demam menandakan infeksi penyerta. Jika terjadi penyumbatan saluran kemih menyeluruh, suhu tubuh bisas mendadak tinggi berulang-ulang. Anuria akan terjadi jika ada batu bilateral atau jika hanya ada satu ginjal penderita.

D. PATOFOSIOLOGI Batu dalam perkemihan berasal dari obstruksi saluran kemih, obstruksi mungkin terjadi hanya parsial atau lengkap. Obstruksi yang lengkap bisa menjadi hidronefrosis yang disertai tanda-tanda dan gejala-gejalanya. Proses patofisiologisnya sifatnya mekanis. Urolithiasis merupakan kristalisasi dari mineral dari matriks seputar, seperti pus, darah, jaringan yang tidak vital, tumor atau urat. Peningkatan konsentrasi larutan urin akibat intake cairan rendah dan juga peningkatan bahan-bahan 14mmoniu akibat ISK atau urin statis, mensajikan sarang untuk pembentukan batu. Di tambah adanya infeksi meningkatkan ke basahan urin (oleh produksi 14mmonium), yang berakibat presipitasi kalsium fosfat dan magnesium 14mmonium fosfat.

Mekanisme pembentukan batu ginjal atau saluran kemih tidak diketahui secara pasti, akan tetapi beberapa buku menyebutkan proses terjadinya batu dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut : Adanya presipitasi garam-garam yang larut dalam air seni, dimana apabila air seni jenuh akan terjadi pengendapan. Adanya inti ( nidus ). Misalnya ada infeksi kemudian terjadi tukak, dimana tukak ini menjadi inti pembentukan batu, sebagai tempat menempelnya partikel-partikel batu pada inti tersebut. Perubahan pH atau adanya koloid lain di dalam air seni akan menetralkan muatan dan meyebabkan terjadinya pengendapan. Kecepatan tumbuhnya batu tergantung kepada lokasi batu, misalnya batu pada buli-buli lebih cepat tumbuhnya disbanding dengan batu pada ginjal. Selain itu juga tergantung dari reaksi air seni, yaitu batu asam akan cepat tumbuhnya dalam urin dengan pH yang rendah. Komposisi urin juga akan mempermudah pertumbuhan batu, karena terdapat zat-zat penyusun air seni yang relatif tidak dapat larut. Hal lain yang akan mempercepat pertumbuhan batu adalah karena adanya infeksi. Batu ginjal dalam jumlah tertentu tumbuh melekat pada puncak papil dan tetap tinggal dalam kaliks, yang sampai ke pyelum yang kemudian dapat berpindah ke areal distal, tetap tinggal atau menetap di tempat dimana saja dan berkembang menjadi batu yang besar.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG Diagnosis ditegakkan dengan studi ginjal, ureter, kandung kemih (GUK), urografi intravena, atau pielografi rektrograde.Uji kimia darah dan urine 24 jam untuk mengukur kadar kalsium , asam urat, kreatinin, natrium, pH, dan volume total merupakan bagian dari upaya diagnostik. Riwayat diet dan medikasi serta riwayat adanya batu ginjal dalam keluarga didapatkan untuk mengidentifikasi faktor yang mencetus terbentuknya batu pada pasien.

1) Airway Tidak ada benda asing / darah di rongga mulut Tidak ada obstruksi akibat fraktur 2) Breathing Nadi > 120 x permenit Pernapasan > 28 x permenit Pengisian kapiler > 3 detik 3) Circulation Tidak ada shock Urine out put < 50 cc perjam Daerah perifer dingin pucat

F. PENATALAKSANAAN Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi, dan mengurangi obstruksi yang terjadi. Pengurangan nyeri bertujuan untuk mengurangi nyeri sampai

penyebabnya dapat dihilangkan, morfin atau periden diberikan untuk mencegah syok dan sinkop akibat nyeri yang luar biasa.Selain itu, dapat juga dengan cara mandi air panas atau air hangat di area panggul. Pengangkatan batu dilakukan ketika batu ditemukan, analisis kimiawi dilakukan untuk menentukan komposisisnya.Sebagai contoh, batu kalsium oksalat atau kalsium fosfat biasanya menunjukkan adanya gangguan metabolisme kalsium atau oksalat sedangkan batu urat menunjukkan adanya gangguan metabolisme asam urat.Agens

antibacterial spesifik diberikan jika terjadi infeksi. (AIRWAY) Jalan Napas Setelah selesai melakukan prosedur dasar, kemudian dilanjutkan dengan melakukkan tindakan :

1) Pemeriksaan jalan napas. Tindakan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan napas oleh benda asing. Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu, kalau sumbatan berupa cairan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi dengan sepotong kain, sedangkan sumbatan oleh benda keras dapat dikorek dengan menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan. Mulut dapat dibuka dengan tehnik Cross Finger, dimana ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk Pada mulut korban.

2) Membuka jalan napas. Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing, biasa pada korban tidak sadar tonus otot-otot menghilang, maka lidah dan epiglotis akan menutup farink dan larink, inilah salah satu penyebab sumbatan jalan napas. Pembebasan jalan napas oleh lidah dapat dilakukan dengan cara Tengadah kepala topang dagu (Head tild chin lift) dan Manuver Pendorongan Mandibula. Teknik membuka jalan napas yang direkomendasikan untuk orang awam dan petugas, kesehatan adalah tengadah kepala topang dagu, namun demikian petugas kesehatan harus dapat melakukan manuver lainnya. (BREATHING) Bantuan napas Terdiri dari 2 tahap : 1. Memastikan korban/pasien tidak bernapas. Dengan cara melihat pergerakan naik turunnva dada, mendengar bunyi napas dan merasakan hembusan napas korban/pasien. Untuk itu penolong harus mendekatkan telinga di atas mulut dan hidung korban/pasien, sambil tetap mempertahankan jalan napas tetap terbuka. Prosedur ini dilakukan tidak boleh melebihi 10 detik. 2. Memberikan bantuan napas.

Jika korban/pasien tidak bernapas, bantuan napas dapat dilakukkan melalui mulut ke mulut, mulut ke hidung atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali hembusan, waktu yang dibutuhkan untuk tiap kali hembusan adalah 1,5 2 detik dan volume udara yang dihembuskan adalah 7000 1000 ml (10 ml/kg) atau sampai dada korban/pasien terlihat mengembang. Penolong harus menarik napas dalam pada saat akan menghembuskan napas agar tercapai volume udara yang cukup. Konsentrasi oksigen yang dapat diberikan hanya 16 17%. Penolong juga harus memperhatikan respon dari korban/pasien setelah diberikan bantuan napas. Cara memberikan bantuan pernapasan :

Mulut ke mulut Bantuan pernapasan dengan menggunakan cara ini merupakan cara yang tepat dan efektif untuk memberikan udara ke paru-paru korban/pasien. Pada saat dilakukan hembusan napas dari mulut ke mulut, penolong harus mengambil napas dalam terlebih dahulu dan mulut penolong harus dapat menutup seluruhnya mulut korban dengan baik agar tidak terjadi kebocoran saat mengghembuskan napas dan juga penolong harus menutup lubang hidung korban/pasien dengan ibu jari dan jari telunjuk untuk mencegah udara keluar kembali dari hidung. Volume udara yang diberikan pada kebanyakkan orang dewasa adalah 700 1000 ml (10 ml/kg). Volume udara yang berlebihan dan laju inpirasi yang terlalu cepat dapat menyebabkan udara memasuki lambung, sehingga terjadi distensi lambung.

Mulut ke hidung Teknik ini direkomendasikan jika usaha ventilasi dari mulut korban tidak memungkinkan, misalnya pada Trismus atau dimana mulut korban mengalami luka yang berat, dan sebaliknya jika melalui mulut ke hidung, penolong harus menutup mulut korban/pasien.

Mulut ke Stoma Pasien yang mengalami laringotomi mempunyai lubang (stoma) yang menghubungkan trakhea langsung ke kulit. Bila pasien mengalami kesulitan pernapasan maka harus dilakukan ventilasi dari mulut ke stoma.

(CIRCULATION) Bantuan sirkulasi Terdiri dari 2 tahapan : 1. Memastikan ada tidaknya denyut jantung korban/pasien. Ada tidaknya denyut jantung korban/pasien dapat ditentukan dengan meraba arteri karotis di daerah leher korban/ pasien, dengan dua atau tiga jari tangan (jari telunjuk dan tengah) penolong dapat meraba pertengahan leher sehingga teraba trakhea, kemudian kedua jari digeser ke bagian sisi kanan atau kiri kira-kira 1 2 cm raba dengan lembut selama 5 10 detik. Jika teraba denyutan nadi, penolong harus kembali memeriksa pernapasan korban dengan melakukan manuver tengadah kepala topang dagu untuk menilai pernapasan korban/pasien. Jika tidak bernapas lakukan bantuan pernapasan, dan jika bernapas pertahankan jalan napas. 2. Memberikan bantuan sirkulasi. Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung, selanjutnya dapat diberikan bantuan sirkulasi atau yang disebut dengan kompresi jantung luar, dilakukan dengan teknik sebagai berikut :

Dengan jari telunjuk dan jari tengah penolong menelusuri tulang iga kanan atau kiri sehingga bertemu dengan tulang dada (sternum).

Dari pertemuan tulang iga (tulang sternum) diukur kurang lebih 2 atau 3 jari ke atas. Daerah tersebut merupakan tempat untuk meletakan tangan penolong dalam memberikan bantuan sirkulasi.

Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak tangan di atas telapak tangan yang lainnya, hindari jari-jari tangan menyentuh dinding dada korban/pasien, jari-jari tangan dapat diluruskan atau menyilang.

Dengan posisi badan tegak lurus, penolong menekan dinding dada korban dengan tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak 15 kali dengan kedalaman penekanan berkisar antara 1.5 2 inci (3,8 5 cm).

Tekanan pada dada harus dilepaskan keseluruhannya dan dada dibiarkan mengembang kembali ke posisi semula setiap kali melakukan kompresi dada. Selang waktu yang dipergunakan untuk melepaskan kompresi harus sama dengan pada saat melakukan kompresi. (50% Duty Cycle).

Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada dan atau merubah posisi tangan pada saat melepaskan kompresi.

Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian napas adalah 15 : 2, dilakukan baik oleh 1 atau 2 penolong jika korban/pasien tidak terintubasi dan kecepatan kompresi adalah 100 kali permenit (dilakukan 4 siklus permenit), untuk kemudian dinilai apakah perlu dilakukan siklus berikutnya atau tidak. Dari tindakan kompresi yang benar hanya akan mencapai tekanan sistolik 60 80 mmHg, dan diastolik yang sangat rendah, sedangkan curah jantung (cardiac output) hanya 25% dari curah jantung normal. Selang waktu mulai dari menemukan pasien dan dilakukan prosedur dasar sampai dilakukannya tindakan bantuan sirkulasi (kompresi dada) tidak boleh melebihi 30 detik

G. KOMPLIKASI Obstruksi Ginjal Perdarahan Infeksi Hidronefrosis

Jika batu dibiarkan dapat menjadi sarang kuman yang dapat menimbulkan infeksi saluran kemih, pylonetritis, yang pada akhirnya merusak ginjal, kemudian timbul gagal ginjal dengan segala akibatnya yang jauh lebih parah.

KONSEP KEPERAWATAN DENGAN UROLITIASIS I. PENGKAJIAN 1. Riwayat atau adanya faktor resiko 1) Airway 2) Tidak ada benda asing / darah di rongga mulut Tidak ada obstruksi akibat fraktur Nadi > 120 x permenit Pernapasan > 28 x permenit Pengisian kapiler > 3 detik 3) Circulation Tidak ada shock Urine out put < 50 cc perjam Daerah perifer dingin pucat

Breathing

2. Pemeriksaan fisik berdasarka pada survei umum dapat menunjukkan : a. Nyeri, Batu dalam pelvis ginjal menyebabkan nyeri pekak dan konstan. Batu ureteral menyebabkan nyeri jenis kolik berat dan hilang timbul yang berkurang setelah batu lewat. b. Mual dan muntah serta kemungkinan diare c. Perubahan warna urine atau pola berkemih, Sebagai contoh, urine keruh dan bau menyengat bila infeksi terjadi, dorongan berkemih dengan nyeri dan penurunan haluaran urine bila masukan cairan tak adekuat atau bila terdapat obstruksi saluran perkemihan dan hematuri bila terdapat kerusakan jaringan ginjal.

II.

DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan rasa nyaman: adanya rasa nyeri yang berlebihan pada daerah pinggang b.d adanya batu pada daerah yang sempit pada ureter atau pada ginjal. 2. Perubahan pola eliminasi b.d adanya obstruksi (calculi) pada renal atau pada uretra. 3. Kurang pengetahuan tentang kondisi penyakitnya b.d kurang informasi

III.

INTERVENSI 1. Gangguan rasa nyaman: adanya rasa nyeri yang berlebihan pada daerah pinggang b.d adanya batu pada daerah yang sempit pada ureter atau pada ginjal. Tujuan: Rasa sakit dapat diatasi/hilang. Kriteria Hasil: Kolik berkurang/hilang Pasien tidak mengeluh sakit Pasien dapat beristirahat dengan tenang.

Intervensi: Kaji intensitas, lokasi dan area serta penjalaran dari rasa sakit Observasi adanya abdominal pain Jelaskan kepada pasien penyebab dari rasa sakit Anjurkan pasien banyak minum Berikan posisi serta lingkungan yang nyaman Ajarkan teknik relaksasi, teknik distorsi serta guide imagine untuk

menghilangkan rasa sakit tanpa obat-obatan. Kolaborasi: Pemberian obat-obatan narkotika Pemberian anti spasmotika

2. Perubahan pola eliminasi b.d adanya obstruksi (calculi) pada renal atau pada uretra. Tujuan: Gangguan perfusi dapat diatasi Kriteria Hasil: Produksi urine 30-50 cc perjam Perifer hangat Tanda-tanda vital dalam batas normal Pengisian kapiler < 3 detik

Intervensi: Observasi tanda-tanda vital Observasi produksi urine setiap jam Observasi perubahan tingkat kesadaran

Kolaborasi: Pemeriksaan laboratorium: kadae ureum/kreatinin, Hb, Urine HCT 3. Kurang pengetahuan tentang kondisi penyakitnya b.d kurang informasi. Tujuan : Pengetahuan pasien tentang penyakitnya meningkat Kriteria Hasil : Pasien memahami tentang proses penyakitnya Diskusikan tentang proses penyakitnya

Intervensi: Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga Beri kesempatan pasien/keluarga untuk mengekspresikan perasaannya Diskusikan pentingnya pemasukan cairan Anjurkan pasien minum air putih 6-8 liter perhari selama tidak ada kontra indikasi

Batasi aktifitas fisik yang berat Diskusikan pentingnya diet rendah kalsium

Kolaborasi: Diet rendah protein, rendah kalsium dan posfat Pemberian ammonium chlorida dan mandelamine

TRAUMA SALURAN KEMIH


ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA RENAL A. DEFINISI Trauma ginjal merupakan adalah suatu penyakit ginjal yang disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma tajam.Trauma ini sering terjadi pada sistem urologi. Kejadian penyakit ini sekitar 8-10% dengan trauma tumpul atau trauma abdominal. Pada banyak kasus, trauma ginjal selalu dibarengi dengan trauma organ penting lainnya (Baverstock, 2001). Pada trauma ginjal akan menimbulkan ruptur berupa perubahan organik pada jaringannya. Sekitar 8590% trauma ginjal terjadi akibat trauma tumpul yang biasanya diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas. Trauma ginjal biasanya terjadi akibat kecelakaan lalulintas atau jatuh. Trauma ini biasanya juga disertai dengan fraktur pada vertebra thorakal 1112. Jika terdapat hematuria kausa trauma harus dapat diketahui. Laserasi ginjal dapat menyebabkan perdarahan dalam rongga peritoneum.

B. ETIOLOGI 1) Trauma abdomen 2) Trauma punggung Mekanisme trauma pada ginjal perlu diperhatikan benar oleh klinisi. Berikut adalah mekanisme yang umunya terjadi pada trauma ginjal; 1) 2) 3) 4) 5) Trauma tembus Trauma tumpul Iatrogenic Intraoperatif Lain-lain

C. KLASIFIKASI 1) Trauma renal minor mencakup kontusi, hematom dan beberapa laserasi dikorteks ginjal.

2) Cedera renal mayor mencakup laserasi mayor disertai rupture kapsul ginjal. 3) Trauma vaskuler (renal kritikal) meliputi laserasi multiple yang parah pada ginjal disertai cedera panda suplay vaskuler ginjal.

Klasifikasi trauma ginjal menurut Sargeant dan Marquadt dimodifikasi oleh Federle : Grade I Lesi meliputi Kontusi ginjal

yang

Minor laserasi korteks dan medulla tanpa gangguan pada sistem pelviocalices Hematom minor dari subcapsular atau perinefron (kadang kadang) 75 80 % dari keseluruhan trauma ginjal

Grade II Lesi meliputi Laserasi parenkim yang berhubungan dengan tubulus kolektivus sehingga terjadi extravasasi urine Sering terjadi hematom perinefron Luka yang terjadi biasanya dalam dan meluas sampai ke medulla 10 15 % dari keseluruhan trauma ginjal

Grade III Lesi meliputi Ginjal yang hancur Trauma pada vaskularisasi pedikel ginjal 5 % dari keseluruhan trauma ginjal

Grade IV Meliputi lesi yang jarang terjadi yaitu Avulsi pada ureteropelvic junction Laserasi dari pelvis renal

D. PATOFISIOLOGI Trauma tumpul merupakan penyebab utama dari trauma ginjal. Dengan lajunya pembangunan, penambahan ruas jalan dan jumlah kendaraan, kejadian trauma akibat kecelakaan lalu lintas juga semakin meningkat. Trauma tumpul ginjal dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Trauma langsung biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, olah raga, kerja atau perkelahian. Trauma ginjal biasanya menyertai trauma berat yang juga mengenai organ organ lain. Trauma tidak langsung misalnya jatuh dari ketinggian yang menyebabkan pergerakan ginjal secara tiba tiba di dalam rongga peritoneum. Kejadian ini dapat menyebabkan avulsi pedikel ginjal atau robekan tunika intima arteri renalis yang menimbulkan trombosis. Ginjal yang terletak pada rongga retroperitoneal bagian atas hanya terfiksasi oleh pedikel pembuluh darah serta ureter, sementara masa ginjal melayang bebas dalam bantalan lemak yang berada dalam fascia Gerota. Fascia Gerota sendiri yang efektif dalam mengatasi sejumlah kecil hematom , tidak sempurna dalam perkembangannnya. Kantong fascia ini meluas kebawah sepanjang ureter ,meskipun menyatu pada dinding anterior aorta serta vena cava inferior, namun mudah untuk sobek oleh adanya perdarahan hebat sehingga perdarahan melewati garis tengah dan mengisi rongga retroperitoneal. (Guerriero, 1984). Karena miskinnya fiksasi, ginjal mudah mengalami dislokasi oleh adanya akselerasi maupun deselerasi mendadak, yang bisa menyebabkan trauma seperti avulsi collecting system atau sobekan pada intima arteri renalis sehingga terjadi oklusi parsial maupun komplet pembuluh darah. Sejumlah darah besar dapat terperangkap didalam rongga retroperitoneal

sebelum dilakukan stabilisasi. Keadaan ekstrem ini sering terjadi pada pasien yang datang di ruang gawat darurat dengan kondisi stabil sementara terdapat perdarahan retroperitoneal. Korteks ginjal ditutupi kapsul tipis yang cukup kuat. Trauma yang menyebabkan robekan kapsul sehingga menimbulkan perdarahan pada kantong gerota perlu lebih mendapat perhatian dibanding trauma yang tidak menyebabkan robekan pada kapsul. Vena renalis kiri terletak ventral aorta sehingga luka penetrans didaerah ini bisa menyebabkan trauma pada kedua struktur. Karena letaknya yang berdekatan antara pankreas dan pole atas ginjal kiri serta duodenum dengan tepi medial ginjal kanan bisa menyebabkan trauma kombinasi pada pankreas, duodenum dan ginjal.. Anatomi ginjal yang mengalami kelainan seperti hidronefrosis atau tumor maligna lebih mudah mengalami ruptur hanya oleh adanya trauma ringan. (McAninch,2000).

E. MANIFESTASI KLINIS Nyeri Hematuria Mual dan muntah Distensi abdomen Syok akinat trauma multisystem Nyeri pada bagian punggung (akibat ekimosis) Hematoma di daerah pinggang yang semakin hari semakin besar Massa dirongga panggul Ekimosis Laserasi atau luka pada abdomen lateral dan rongga panggul.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1) Laboratorium 2) Plain photo 3) Intravenous Urography (IVU)

4) CT Scan 5) Arteriografi 6) USG

G. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. Konservatif 2. Eksplorsi a) Indikasi absolute b) Indikasi relative

H. KOMPLIKASI Komplikasi awal terjadi I bulan pertama setelah cedera. 1. Urinoma 2. Delayed bleeding 3. Urinary fistula 4. Abses 5. Hipertensi Komplikasi Lanjut 1. Hidronefrosis 2. Arteriovenous fistula 3. Pielonefritis.

KONSEP KEPERAWATAN DENGAN TRAUMA RENAL


A. Pengkajian a. Riwayat Penyakit a) Keluhan utama atau alasan utama mengapa ia datang ke dokter atau ke rumah sakit b) Adanya rasa nyeri : lokasi, karakter, durasi, dan hubungannya dengan urinasi, faktor- faktor yang memicu rasa nyeri dan yang meringankannya.

c) Riwayat infeksi trauma urinarius: Terapi atau perawatan rumah sakit yang pernah dialami untuk menangani infeksi traktus urinarius Adanya gejala panas atau menggigil Sistoskopi sebelumnya, riwayat penggunaan kateter urine dan hasilhasil pemeriksaan diagnostik renal atau urinarius. d) Gejala kelainan urinasi seperti disuria, hesitancy, inkontinensia e) Riwayat penyakit masa lalu, misal hematuria, nokturia, batu ginjal, Dm, hipertensi, dll. f) Adanya riwayat lesi kongenital g) Adanya riwayat merokok h) Riwayat Penyalahgunaan obat dan alkohol

b. Pemeriksaan Fisik Inspeksi Mengkaji adanya gejala edema yang menunjukkan retensi cairan; daerah muka dan ekstremitas dikaji secara khusus. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vulva, uretra, dan vagina. Palpasi Pemeriksaan letak ginjal, pemeriksaan rektal, kelenjar prostat, pembesaran nodus limfatikus, hernnia inguinal, atau femoral. Perkusi Penyakit renal dapat menimbulkan nyeri tekan atau ketuk pada daerah angulus kostovertebralis yang terletak pada tempay iga ke-12 atau iga paling bawah. Auskultasi Auskultasi kuadran atas abdomen dilakukan untuk mendeteksi bruit (suara vaskuler yang dapat menunjukkan stenosis pembuluh arteri renal).

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri akut b/d trauma 2. Gangguan eliminasi urine b/d trauma 3. Ketidakefektifan perfusi jaringan; ginjal b/d trauma 4. Resiko hipertensi b/d infark parenkim renal

C. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Diagnosa Nyeri b/d trauma Tujuan: Nyeri dapat terkontrol Intervensi: a) Kaji intensitas Nyeri, perhatikan lokasi, karakteristik R/: hasil pangkajian membantu evaluasi derajat ketidaknyamanan dan ketidak efektifan analgesik atau menyatakan adanya komplikasi. b) Bedrest dan atur posisi yang nyaman bagi pasien R/: posisi yang nyaman dapat membantu meminimalkan nyeri. c) Anjurkan pasien untuk menghindari posisi yang menekan lumbal, daerah trauma. R/: Nyeri akut tercetus panda area ginjal oleh penekanan. d) Lakukan kompres dingin area ekimosis bila tanpa kontra indikasi R/: kompres dingin mengkontriksi vaskuler. e) Berikan analgesik sesuai dengan resep R/: analgesic dapat menghilangnkan nyeri dan ketidaknyamanan

2. Diagnosa Gangguan eliminasi urine b/d trauma Tujuan : Eliminasi urine cukup atau kembali normal Intervensi: a) Monitor asupan dan keluaran urine R/: hasil monitoring memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi. Contohnya infeksi dan perdarahan. b) Monitor paralisis ileus (bising usus)

R/: Gangguan dalam kembalinya bising usus dapat mengindikasikan adanya komplikasi, contoh peritonitis, obstruksi mekanik c) Amankan inspeksi, dan bandingkan setiap specimen urine R/: berguna untuk mengetahui aliran urine dan hematuria d) Lakukan kateterisasi bila di indikasikan R/: kateterisasi meminimalkan kegiatan berkemih pasien yang kesulitan berkemih manual. e) Pantau posisi selang drainase dan kantung sehingga memungkinkan tidak terhambatnya alirann urine. R/: hambatan aliran urine memungkinkan terbentuknya tekanan dalam saluran perkremihan, membuat resiko kebocoran dan kerusakan parenkim ginjal.

3. Diagnosa ketidakefektifan perfusi jaringan; ginjal b/d trauma Tujuan: Mempertahankan fungsi renal agar maksimal Intervensi: a) Kaji tanda-tanda vital R/: pengamatan tanda-tanda vital membantu memutuskan tindakan keperawatan yang tepat b) Kolaborasi dalam terapi nutrisi dan vitamin yang tepat R/: keseimbangan diet yang tepat perlu untuk penyembuhan dan regenerasi jaringan. c) Kaji daerah abdomen, dada dan punggung R/: mengetahui adanya pembengkakan, palpasi massa, edema, ekimosis, perdarahan atau ekstravasasi urine. d) Beri tanda lingkaran masssa dengan pena R/: teknik untuk membandingkan ukuran lanjut. e) Berikan cairan intra vena R/: terapi intra vena berguna dalam memperbaiki tekanan darah dan perfusi ginjal f) Monitor hematuria

R/: hematuria mengidentifikasi perdarahan renal g) Anjurkan pasien untuk meningkatkan asupan cairan bila di indikasikan R/: peningkatan pemasukan cairan membantu pelancaran haluaran urine; menilai faal ginjal. 4. Diagnosa resiko hipertensi b/d infark parenkim ginjal Tujuan: untuk meminimalkan resiko/ mencegah hipertensi. Intervensi: a) Awasi denyut jantung, tekanan darah dan CVP R/: Takikardi dan hipertensi terjadi karena (1) Kegagalan ginjal untuk mengekskresi urine, (2) Perubahan fase oliguria,dan atau (3) Perubahan panda system aldosteron rennin-angio tensin. b) Amati warna kulit, kelembapan, suhu dan masa pengisian kapiler R/: Adanya pucat, dingin, kulit lembab dan pengisian kapiler lambat mungkin berkaitan dengan vasokontriksi. c) Berikan lingkungan tenang dan nyaman R/: Lingkungan yang tenang dan nyaman membantu menurunkan ransang simpatis , meningkatkan relaksasi. d) Pertahankan pembatasan aktivitas, seperti istirahat ditempat tidur atau kursi, jadwal periode istirahat tanpa gangguan R/: Aktivitas yang minimal dan periode istirahat yang tepat dijadwalkan membantu menghindari stress dan ketegangan yang mempengaruhi tekanan darah. e) Kolaborasi terapi obat-obatan R/: Inhibitor simpatis dapat menekan pelepasan renin.

ASUHAN KEPERAWAN TRAUMA VESIKA URINARIA A. DEFINISI Trauma buli-bulu atau trauma vesika urinaria merupakan keadaan darurat bedah yang memerlukan penatalaksanaan segera, bila tidak ditanggulangi dengan segera dapat menimbulkan komplikasi seperti perdarahan hebat, peritonitis dan sepsis. Secara anatomic buli-buli terletak di dalam rongga pelvis terlindung oleh tulang pelvis sehingga jarang mengalami cedera. ( R. Sjamsuhidayat, 1998) Cedera kandung kemih disebabkan oleh trauma tumpul atau penetrasi. Kemungkinan cedera kandung kemih bervariasi menurut isi kandung kemih sehingga bila kandung kemih penuh akan lebih mungkin untuk menjadi luka daripada saat kosong (Arif muttaqin : 211)

B. ETIOLOGI Ruptur kandung kemih terutama terjadi sehingga akibat trauma tumpul pada panggul, tetapi bisa juga karena trauma tembus seperti luka tembak dan luka tusuk oleh senjata tajam, dan cedera dari luar, cedera iatrogenik dan patah tulang panggul. Pecahan-pecahan tulang panggul yang berasal dari fraktur dapat menusuk kandung kemih tetapi rupture kandung kemih yang khas ialah akibat trauma tumpul pada panggul atas kandung terisi penuh. Tenaga mendadak atas massa urinaria yang terbendung di dalam kandung kemih yang menyebabkan rupture. Penyebab iatrogenic termasuk pascaintervensi bedah dari ginekologi, urolodi, dan operasi ortopedi di dekat kandung kemih. Penyebab lain melibatkan trauma obstetric pada saat melahirkan.

C. PATOFISIOLOGI Trauma vesikaurinaria terbanyak karena kecelakaan lalu lintas/kecelakaan kerja yang menyebabkan fragmen patah tulang pelvis mencederai buli-buli. Trauma vesika urinaria tumpul dapat menyebabkan rupture buli-buli terutama bila kandung kemih penuh atau terdapat kelainan patelegik sepetrti tuberculosis, tumor

atau obstruksi sehingga menyebabkan rupture. Trauma vesika urinaria tajam akibat luka trusuk atau luka tembak lebih jarang ditemukan. Luka dapat melalui daerah suprapubik ataupun transperineal dan penyebablain adalah instrumentasi urologic.Fraktur tulang panggul dapat menimbulkan kontusio atau rupture kandung kemih, pada kontusio buli-buli hanya terjadi memar pada dinding bulibuli dengan hematuria tanpa eksravasasi urin. Ruptur kandung kemih dapat bersifat intraperitoneal atau ekstraperitoneal. Rupture kandung kemih

ekstraperitoneal biasanya akibat tertusuk fragmen fraktur tulang pelvis pada dinding depan kandung kemih yang penuh. Pada kejadian ini terjadi ekstravasasi urin dari rongga perivesikal.

D. TANDA DAN GEJALA a. b. c. Fraktur tulang pelvis disertai perdarahan hebat Abdomen bagian tempat jejas/hemato Tidak bisa buang air kecil kadang keluar darah dari uretra.

d. Nyeri suprapubik e. f. Ketegangan otot dinding perut bawah Trauma tulang panggul

E. KLASIFIKASI. a. Rupture ekstaperitoneal kandung kemih. Ruptur ekstraperitoenal biasanya berhubungan dengan fraktur panggul (89%-100%). Sebelumnya , mekanisme cidera diyakini dari perforasi langsung oleh fragmen tulang panggul. Tingkat cidera kandung kemih secara langsung berkaitan dengan tingkat keparahan fraktur. b. Rupture kandung kemih intraperitoneal. Rupture kandung kemih intraperitoneal digambarka sebagai masuknya urine secara horizontal kedalam kompartemen kadung kemih.mekanisme cidera adalah peningkatan tingkat tekanan intravesikel secara tiba-tiba kekandung kemih yang penuh. Kekuatan daya trauma tidak mampu

ditahan oleh kemampuan dinding kandung kemih sehingga terjadi perforasi dan urine masuk kedalam peritoneum. c. Kombinasi rupture intraperitoneal dan ekstraperitoneal. Meknaisme cidera penetrasi memungkinkan cidera menembus kandung kemih seperti peluru kecepatan tinggi melintasi kandung kemih atau luka tusuk abdominal bawah. Hal itu akan menyebabkan intraperitoneal, ekstraperitoneal, cidera, atau gabungan kandung kemih.

F. KOMPLIKASI a. Urosepsis. Keracunan septic dari penahanan dan absorbs substansi urin. b. Klien lemah akibat anemia.

G. PEMERIKSAAN LABORATORIUM / DIAGNOSTIK Hematokrit menurun. Cystografi : menunjukkan ekstravasase urine, vesika urinaria dapat pindah atau tertekan.

H. PENATALAKSANAAN 1. Atasi syok dan perdarahan. 2. Istirahat baring sampai hematuri hilang. 3. Bila ditemukan fraktur tulang punggung disertai ruftur vesica urinaria intra peritoneal dilakukan operasi sectio alta yang dilanjutkan dengan laparatomi.

KONSEP KEPERAWATAN TRAUMA VESIKA URINARIA. A. PENGKAJIAN. Kaji mekanisme dari riwayat trauma pada kandung kemih. Kaji keluhan nyeri di daerah suprasimfisis, miksibecampur draah atau mungkin pasian tidak dapat miksi.pemeriksaan secara umum sering didapatkan adanya syok hipovolemik yang berhubungan dengan fraktur pelvis dan perdarahan dalam massif. Sering didapatkan adanya tanda dan gejala sepsis peritonesis akibat masuknya urine kedalam peritoneum.tanda-tanda klinis cedera landing kemih relative spesipik, trias gejala (gross hematuria, nyeri suprapubik, kesulitan ketidakmampuan untuk miksi). Inspeksi lokalis terdapat adanya tanda fraktur pubis, hematom perivesika. Pada urine output didapatkan adanya hematuria, penurunan jumlah urine sampai anuria. Klien terlihat nyeri saat berkemih. Pemeriksaan abdominal distensi, guarding, rebound tenderness,

hilangnya/ penurunan suara usus dan tanda-tanda iritasi [eritoneal menunjukan kemungkinan pecahnya kandung kemih intraperitoneal. Pemeriksaan dubur harus dilakukan untuk mengevalasi posisi prostat. Posisi prostat yang melayang atau pada posisi anatomis normal

mengidinkasikan adanya cedera kandung kemih disertai adanya cedera kandung kemih disertai adanya ruptur pada uretra. Pemeriksaan rigiditas cincin panggul dilakukan untuk menentukan stabilitas panggul apabila didapatkan adanya riwayat trauma paggul.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN. 1) Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) s/d Kerusakan jaringan ( trauma ) pada daerah bladder, ditandai dengan : Klien mengeluh nyeri pada daerah abdomen bawah yang terkena. Adanya nyeri tekan pada daerah bladder yang terkena. Ekspresi wajah meringis / tegang.

Intervensi : 1) Kaji skala nyeri, catat lokasi, lama, intensitas dan karakteristiknya. Rasional : Perubahan dalam lokasi atau intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan adanya komplikasi 2. Atur posisi sesuai indikasi, misalnya semi fowler. Rasional : Mmemudahkan drainase cairan / luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan. 2) Berikan tindakan kenyamanan, misalnya nafas dalam, tekhnik relaksasi / visualisasi. Rasional : Meningkatkan kemampuan koping dengan memfokuskan perhatian pasien. 3) Kolaborasi untuk pemberian analgesik. Rasional : Menurunkan laju metabolisme yang membantu menghilangkan nyeri dan penyembuhan. 2) Gangguan eliminasi urine s/d trauma bladder ditandai dengan hematuria. Intervensi : 1. Kaji pola berkemih seperti frekwensi dan jumlahnya. Rasional : Mengidentifikasi fungsi kandung kemih, fungsi ginjal dan keseimbangan cairan. 2. Observasi adanya darah dalam urine. Rasional : Tanda-tanda infeksi saluran perkemihan / ginjal dapat menyebabkan sepsis. 3. Istirahat baring sekurang-kurangnya seminggu sampai hematuri hilang. Rasional : Menurunkan metabolisme tubuh agar energi yang tersedia difokuskan untuk proses penyembuhan pada ginjal. 4. Lakukan tindakan pembedahan bila perdarahan terus berlangsung. Rasional : Tindakan yang cepat / tepat dapat meminimalkan kecacatan

3) Gangguan pemenuhan aktifitas s/d kelemahan fisik sekunder terhadap trauma, ditandai dengan : Klien tampak lemah. Aktifitas dibantu oleh orang lain / keluarga. Intervensi : 1. Kaji kemampuan fungsional dengan skala 0 4. Rasional : Untuk menentukan tingkat aktifitas dan bantuan yang diberikan 2. Ubah posisi pasien setiap 2 jam sekali. Rasional : Meningkatkan sirkulasi darah seluruh tubuh dan mencegah penekanan pada daerah tubuh yang menonjol 3. Lakukan rentang gerak aktif dan pasif. Rasional : Menurunkan resiko terjadinya trauma dan

mempertahankan fungsi sendi dan mencegah penurunan tonus 4. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan ADL. Rasional : Bantuan yang memberikan sangat bermanfaat untuk menghemat energi yang dapat digunakan untuk membantu proses penyembuhan luka 4) Potensial syok hipovolemia s/d pemutusan pembuluh darah. Intervensi : 1. Observasi tensi, nadi, suhu, pernafasan dan tingkat kesadaran pasien. Rasional : Terjadinya perubahan tanda vital merupakan manifestasi awal sebagai kompensasi hypovolemia dan penurunan curah jantung. 2. Berikan cairan IV sesuai kebutuhan. Rasional : Perbaikan volume sirkulasi biasanya dapat memperbaiki curah jantung. 3. Berikan O2 sesuai kebutuhan. Rasional : Kadar O2 yang maksimal dapat membantu menurunkan kerja jantung

4. Kolaborasi pemberian obat-obatan anti perdarahan Rasional : Untuk menghentikan atau mengurangi perdarahan yang sedang berlangsung 5. Bila perdarahan tetap berlangsung dan KU memburuk pikirkan tindakan bedah. Rasional : Tindakan yang segera dapat menghindarkan keadaan yang lebih memburuk

ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA URETHRA A. DEFINISI Ruptur uretra adalah ruptur pada uretra yang terjadi langsung akibat trauma dan kebanyakan disertai fraktur tulang panggul, khususnya os pubis (simpiolisis).

B. RUPTUR URETRA DIBAGI DUA MACAM : a. Ruptur uretra anterior : paling sering pada bulbosa disebut Straddle Injury, dimana robekan uretra terjadi antara ramus inferior os pubis dan benda yang menyebabkannya. b. Ruptur uretra posterior : paling sering pada membranacea.

C. ETIOLOGI Adanya trauma pada perut bagian bawah, panggul, genetalia eksterna maupun perineum.

D. PATOFISOLOGI Ruptur uretra sering terjadi bila seorang penderita patah tulang panggul karena jatuh atau kecelakaan lalu lintas. Ruptur uretra dibagi menjadi 2 yaitu ; rupture uretra posterior dan anterior. Ruptur uretran posterior hampir selalu disertai fraktur pelvis. Akibat fraktur tulang pelvis terjadi robekan pars membranaseae karena prostat dan uretra prostatika tertarik ke cranial bersama fragmen fraktur. Sedangkan uretra membranaseae terikat di diafragma urogenital. Ruptur uretra posterior dapat terjadi total atau inkomplit. Pada rupture total, uretra terpisah seluruhnya dan ligamentum puboprostatikum robek, sehingga buli-buli dan prostat terlepas ke cranial. Rupture uretra anterior atau cedera uretra bulbosa terjadi akibat jatuh terduduk atau terkangkang sehingga uretra terjepit antara objek yang keras seperti batu, kayu atau palang sepeda dengan tulang simpisis. Cedera uretra anterior selain oleh cedera kangkang juga dapat di sebabkan oleh

instrumentasi urologic seperti pemasangan kateter, businasi dan bedah endoskopi. Akibatnya dapat terjadi kontusio dan laserasi uretra karena straddle injury yang berat dan menyebabkan robeknya uretra dan terjadi ekstravasasi urine yang biasa meluas ke skrotum, sepanjang penis dan ke dinding abdomen yang bila tidak ditangani dengan baik terjadi infeksi atau sepsis.

E. GAMBARAN KLINIK a) Ruptur Uretra Posterior Terdapat tanda patah tulang pelvis. Pada daerah suprapubik dan abdomen bagian bawah dijumpai jejas, hematom dan nyeri tekan. Bila disertai ruptur kandung kemih bisa ditemukan tanda rangsangan peritoneum. b) Ruptur Uretra Anterior Terdapat daerah memar atu hematom pada penis dan scrotum (kemungkinan ekstravasasi urine). c) Ruptur Uretra Total Penderita mengeluh tidak bisa buang air kecil sejak terjadi ruda paksa. Nyeri perut bagian bawah dan daerah supra pubic. Pada perabaan mungkin dijumpai kandung kemih yang penuh.

F. PENATALAKSANAAN Pada ruptur anterior yang partial cukup dengan memasang kateter dan melakukan drainase bila ada. Pada anterior ruptur yang total hendaknya sedapat mungkin dilakukan

penyambungan dengan membuat end-to-end, anastomosis dan suprapubic cystostomy. Pada ruptur uretra posterior yang total minggu. suprapubic cystostomy 6-8

Pada ruptur uretra posterior yang partial cukup dengan memasang douwer kateter.

G. KOMPLIKASI a) Komplikasi dini setelah rekonstruksi uretra Infeksi Hematoma Abses periuretral Fistel uretrokutan Epididimitis b) Komplikasi lanjut Striktura uretra Khusus pada ruptur uretra posterior dapat timbul : * Impotensi * Inkontinensia

KONSEP KEPERAWATAN RUPTUR URETHRA TRAUMATIK 1. PENGKAJIAN a. Biodata Jenis kelamin laki-laki lebih dari pada wanita b. Riwayat Kesehatan Pasien Riwayat penyakit dahulu : Riwayat penyakit sekarang : Nyeri tekan , memar atau hematum , hematuri. Bila terjadi ruptur total urethra anuria c. Pemeriksaan Fisik adanya trauma didaerah perineum adanya perdarahan per urethra adanya nyeri tekan pada daerah supra pubik dan abdomen bagian bawah adanya jejas pada daerah supra pubik dan abdomen bagian bawah

adanya fraktur tulang pelvis d. Pemeriksaan Penunjang Radiologi Tampak adanya defek urethra anterior daerah bulbus dengan ektra vasasi bahan kontras uretrografi retrograd

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. 2. 3. 4. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) b-d adanya trauma urethra Anxietas b-d kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya Potensial infeksi b d efek pemasangan Dower Cateter Gangguan eliminasi urine ( retensio urine ) b-d adanya hematoma dan ekstravasasi 5. Intoleransi aktivitas b-d adanya trauma urethra

3. INTERVENSI KEPERAWATAN 1) Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) b-d adanya trauma urethra Tujuan : menyatakan atau menunjukkan nyeri hilang

Kriteria hasil : menunjukkan kemampuan untuk membantu dalam tindakan kenyamanan umum dan mampu untuk istirahat dengan tenang Intervensi : 1. Kaji nyeri meliputi lokasi , karakteristik , lokasi, intensitas ( skala 0-10 ) R/ membantu evaluasi derajat ketidak nyamanan dan deteksi dini terjadinya komplikasi. 2. Perhatikan aliran dan karakteristik urine R/ penurunan aliran menunjukkan retensi urine (s-d edema), urine keruh mungkin normal (adanya mukus) atau mengindikasikan proses infeksi. 3. Dorong dan ajarkan tehnik relaksasi R/ mengembalikan perhatian dan meningkatkan rasa control 4. Kolaborasi medis dalam pemberian analgesik R/ menghilangkan nyeri

5. Lakukan

persiapan

pasien

dalam

pelaksanaan

tindakan

medis

pemasangan DK, drainase, cistostomy R/ persiapan secara matang akan mendukung palaksanaan tindakan dengan baik

2) Anxietas b-d kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya Tujuan : menunjukkan penurunan anxietas dan menyatakan pemahaman tentang proses penyakitnya Kriteria hasil : mengungkapkan masalah anxietas dan tak pasti pada pemberi perawatan atau orang terdekat Intervensi 1. Ajarkan tentang proses penyakit dan penyebab penyakit R/ dengan pengajaran meningkatkan pengetahuan pasien , menurunkan kecemasan pasien 2. Anjurkan pasien dan orang terdekat untuk mengungkapkan tentang rasa takut , berikan privasi tanpa gangguan , sediakan waktu bersama mereka untuk mengembangkan hubungan R/ pasien yang merasa nyaman berbicara dengan perawat , mereka sering dapat memahami dan memasukkan perubahan kebutuhan dalam praktek dengan sedikit kesulitan. 3. Beri informasi dan diskusikan prosedur dan pentingnya prosedur medis dan perawatan R/ informasi yang adekuat meningkatkan pengetahuan dan koopereratif pasien 4. Orientasikan pasien terhadap lingkungan , obat-obatan , dosis , tujuan , jadwal dan efek samping , diet , prosedur diagnostik R/ pengorientasian meningkatkan pengetahuan pasien

3) Potensial infeksi b-d efek pemasangan DK Tujuan : menurunkan atau mencegah terjadinya infeksi

Kriteria hasil : tidak terdapat tanda-tanda infeksi

Intervensi

1. Pertahankan tehnik steril dalam pemasangan kateter , berikan perawatan kateter steril dalam manipulasi selang R/ mencegah pemasukan bakteri dan kontaminasi yang menyebabkan infeksi 2. Gunakan tehnik mencuci tangan yang baik dan ajarkan serta anjurkan pasien melakukan hal yang sama R/ mengurangi kontaminasi yang menyebabkan infeksi 3. Observasi tanda-tanda infeksi R/ deteksi dini adanya infeksi dan menentukan tindakan selanjutnya 4. Perhatikan karakter, warna, bau, dari drainase dari sekitar sisi kateter R/ drainase purulent pada sisi insersi menunjukkan adanya infeksi lokal 5. Intruksikan pasien untuk menghindari menyentuh insisi, balutan dan drainase R/ mencegah kontaminasi penyebab penyakit 6. Kolaborasi dalam pemberian anti biotika sesuai indikasi R/mengatasi infeksi dan mencegah sepsis

ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA PENIS A. DEFINISI Taruma penis adalah luka yang terjadi pada penis karena suatu benturan benda tumpul, benda tajam, kekurangan lubrikan (pelumas) ketika berhubungan seksual, atau karena sebab yang lainnya. Trauma penis adalah trauma yang mencederai penis dapat berupa trauma tumpul, trauma tajam, terkena mesin pabrik, ruptur tunika albuguinea, atau strangulasi penis. Pada trauma tumpul atau terkena mesin, jika tidak terjadi amputasi total, penis cukup dibersihkan dan dilakukan penjahitan primer. Jika terjadi amputasi penis total) dan bagian distal dapat diidentifikasi, dianjurkan dicuci dengan larutan garam fisiologis kemudian disimpan di dalam kantung es, dan dikirim ke pusat rujukan. Jika masih mungkin dilakukan replantasi (penyambungan) secara mikroskopik.

B. MANIFESTASI KLINIS Pada luka tembak tampak luka compang-camping, cedera daerah sekitarnya, jaringan nekrotik, perdarahan serta amputasi penis. Luka oleh benda tajam biasanya disertai perdarahan yang banyak, renjatan, pinggir luka tajam, atau amputasi penis. Pada luka avulsi akibat mesin, kulit penis dan skrotum terlepas. Pada strangulasi tampak bekas jepitan pada penis akibat kateter kondom atau balutan yang terlalu ketat. Pada cedera setelah aktivitas seksual tampak penis bengkok dan hemaotom pada penis dan skrotum.

C. ETOLOGI Trauma pada penis yang sedang ereksi disebabkan oleh pembalut karet atau penyempit lain yang merobek jaringan kavernosa dan dapat menyebabkan necrosis. Kadang-kadang terjadi kerusakan jaringan penis pada kecelakaan industri dalam hal ini mungkin diperlukan skin graf.

D. PATOFIOLOGI Pada fase flasid, jarang terjadi trauma karena adanya gerakan yang lentur dari penis. Tetapi pada waktu ereksi, darah mengalir ke penis yang menyebabkan badan erektil membesar secara longitudinal dan tranversal. Hal ini menyebabkan penis yang flasid menjadi ereksi penuh dan mengeras (tumescence). Ketika penis berubah dari fase falsid ke ereksi, tunika albuginea merenggang dari 2 mm menjadi 0,25-0,5 mm, mengeras dan tidak lentur. Perenggangan dan mengerasnya tunika albuginea menghalangi aliran balik vena dan menyebabkan penis mengeras selama pria ereksi. Trauma yang tibatiba terjadi pada penis atau bengkoknya penis yang tidak normal pada saat ereksi dapat menyebabkan robekan tranversa dari tunika albuginea sebesar 0,5-4 cm, dengan trauma di dasar corpus kavernosum. Robekan miring atau irregular bisa saja terjadi. Hal ini juga dapat disertai dengan atau tanpa adanya kerusakan kerusakan pada uretra.

E. KOMPLIKASI Trauma penis adalah keadaan darurat dan pembedahan untuk memperbaiki harus dilakukan dengan segera. Keterlambatan dalam penanganan akan meningkatkan angka komplikasi. Non pembedahan mengakibatkan 10% 50% angka komplikasi mencakup disfungsi ereksi, kurvatura penis yang permanen, kerusakan uretra dan nyeri pada saat berhubungan seksual.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pada pasien dengan fraktur penis, pemeriksaan radiologi diperlukan untuk memastikan diagnosis dari pemeriksaan klinik atau ketika nyeri hebat pada tempat tertentu dan bengkak menghalangi pemeriksaan fisis. 1. ULTRASONOGRAPHY Ultrasonography digunakan untuk mengetahui tempat sobekan yang tepat sebagai gangguan dari jalur echogenic dari tunika albuginea. Ruptur albuginea yang kecil dapat di identifikasi menggunakan color Doppler

ultrasonography dengan menekan batang penis dan menggambarkan blood flush dari corpus cavernosa hingga lesi. 2. MRI MRI lebih akurat dalam menggambarkan lokasi, dan robekan tunika yang luas, yang mana bermanifestasi untuk diskontinuitas dari tunika albuginea. Selebihnya karena tunika albuginea ditunjukkan dengan low signal kedua struktur gambaran T1 dan T2, MRI optimal untuk evaluasi struktur anatomi pasien dengan nyeri hebat dan bengkak pada penis. a. Integritas dari Tunika Albuginea Fedel et al melaporkan bahwa empat kasus yang menggunakan US, Cavernosography dan MRI, rupture korpus kavernosa dapat di identifikasi hanya dengan MRI. Pada gambar di bawah ini kita dapat melihat diskontinuitas sinyal rendah intensitas tunika albuginea . Nampak gambaran MRI tunika albuginea dengan hematom

intracavernosa lainnya atau hematom ekstratunica b. Ukuran dan Lokasi dari Robekan Tunika Albuginea MRI dapat menemukan ukuran, lokasi dan orientasi dari robekan tunika untuk konfirmasi bagi pembedahan. Robekan dapat berupa transversa maupun longitudinal 3. CAVERNOSOGRAPHY Digunakan untuk mengetahui dimana letak ruptur. Kontras dimasukkan ke dalam korpus kavernosum dan dilihat apakah ada ekstravasasi kontras keluar dari tunika albuginea.

G. PENATALAKSANAAN a. Konservative
Gunakan kompres dingin pada penis; analgetik dan obat anti inflamasi; tidak berhubungan seksual selam 8 minggu hingga sembuh. b. Pembedahan Membuka tempat fraktur di tunika albuginea, keluarkan hematom, dan tutup defek pada tunika.

KONSEP KEPERAWATAN TRAUMA PENIS


1) Pengkajian

a. Biodata Jenis kelamin laki-laki lebih dari pada wanita b. Riwayat Kesehatan Pasien Riwayat penyakit dahulu : Riwayat penyakit sekarang : Nyeri tekan , memar atau hematum , hematuri. c. Pemeriksaan Fisik adanya trauma didaerah penis adanya perdarahan penis adanya nyeri tekan, dan jejas pada daerah penis 2) Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan pereganggan kulit penis, cedera jaringan saraf, luka operasi 2. Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan edema jaringan penis 3. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi 4. Ansietas berhubungan dengan kehilangan fungsi alat vital

3) Intervensi Keperawatan 1. Dx 1. kaji intensitas nyeri Latihan manajemen nyeri dengan teknik relaksasi nafas nafas dalam Kolaborasi untuk pemberian analgetik 2. Dx 2. Kaji tanda-tanda vital Inspeksi balutan seberapa besar luas perdarahan Berikan tekanan langsung pada sisi perdarahan Kolaborasi untuk pemberian cairan parenteral

Kolaborasi untuk pemberian antikoagulasi Kolaborasi laboratorium; Hb/Ht

3. Dx 3. Pertahankan teknik antiseptik bila mengganti balutan/ merawat luka Awasi tanda vital Kolaborasi untuk pemberian antibiotic Lakukan kultur luka 4. Dx 4. Berikan penjelasan dengan sering dan informasi tentang

penyakitnya Libatkan pasien/ keluarga terdekat dalam pengambilan keputusan Awasi perubahan mental Dukung pasien untuk tetap percaya

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan


Cedera kandung kemih disebabkan oleh trauma tumpul atau penetrasi. Kemungkinan cedera kandung kemih bervariasi menurut isi kandung kemih sehingga bila kandung kemih penuh akan lebih mungkin untuk menjadi luka daripada satu kosong (arif muttaqin : 211) Trauma saluran kemih sering tak terdiagnosa atau terlambat terdiagnosa karena perhatian penolong sering tersita oleh jejas-jejas ada di tubuh dan anggota gerak saja, kelambatan ini dapat menimbulkan komplikasi yang berat seperti perdarahan hebat dan peritonitis, oleh karena itu pada setiap kecelakaan trauma saluran kemih harus dicurigai sampai dibuktikan tidak ada. Trauma saluran kemih sering tidak hanya mengenai satu organ saja, sehingga sebaiknya seluruh sistem saluran kemih selalu ditangani sebagai satu kesatuan. Juga harus diingat bahwa keadaan umum dan tanda-tanda vital harus selalu diperbaiki/dipertahankan, sebelum melangkah ke pengobatan yang lebih spesifik. B. Saran Semoga dengan makalah para pembaca dapat mengambil ilmu dan apabila terdapat kekurangan dan kesalahan dalam pembuatan makalah ini agar kiranya pembaca dapat memberikan saran dan kritik yang membangun untuk kebaikan semua.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Renal Trauma. (online) 2008. (cited) 22 Desember 2008. Available in URL :http://http://www.merck.com.mmpe.sec21.ch314.ch314d.html/ Anonim. Stabilitation Of Trauma In The ER Abdominal Trauma. (online) 2008. (cited) 22 Desember 2008. Available in URL :

http://http://www.medscientist.com/

Carpenito,

Lynda

Juall.2009.Buku

Saku

Diagnosa

Keperawatan.Edisi

8.Jakarta:EGC.

Dincel C, Cascurlu T, Resim S, Bayraktar Z, Tasci A, Sevin G. Fracture of the Penis. Eastern Journal of Medicine. 1998.3 (1) : 17 19.

Doenges E, Marillyn,dkk.2009.Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan 3.Jakarta:EGC. dan Pendokoumentasian Perawatan Pasien.Edisi

Jack GS, Garraway I, Reznichek R, Rajfer J. Current Treatment Options for Penile Fractures. Reviews in Urology. 2004. 6(3):115-20. Kolfman L, Cavalcanti AG, Manes CH, Filho DR, Favorito LA. Penile Fracture Experience in 56 Cases. International Braz.J.Urol. 2003.29(1):3539.

Price,dkk.2010.Patofisiologi 4.Jakarta:EGC.

Konsep

Klinis

Proses-Proses

Penyakit.Edisi

Smeltzer,dkk.2009.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Edisi 8.Jakarta:EGC.