Anda di halaman 1dari 15

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Vitamin C Vitamin C (nama kimia : asam askorbik dan askorbat) adalah enam karbon lactone yang disintesis dari glukosa oleh hewan. Vitamin C disintesis di hati oleh beberapa hewan mamalia dan di ginjal oleh burung dan reptil. Akan tetapi, ada beberapa spesies yang tidak dapat mensintesis vitamin C sendiri, contohnya : manusia, primate, kuda nil, kelelawar Indian fruit, dan burung bulbul jenis Nepalese red-vented. Ketika terjadi kekurangan vitamin C dalam tubuh, manusia akan menderita karena ada kecenderungan mengalami penyakit lethal : scurvy. Manusia dan primata yang mengalami penyakit tersebut akan kekurangan enzim terminal dalam proses biosintetik asam askorbat (l-gulonolactone oxidase), karena gen yang menjadi kode enzim tersebut mengalami mutasi sehingga protein tidak diproduksi. 2.1.1. Fungsi Vitamin C a. Fungsi Enzimatik Vitamin C berperan sebagai pendonor electron untuk 11 enzim. Tiga di antara enzim tersebut hanya dapat ditemukan pada fungi. Fungi ikut serta dalam penggunaan kembali pyrimidines dan deoxyribose, bagian dari deoxynucleosides. Dari delapan enzim sisanya, tiga di antaranya berpastisipasi dalam hidroksilasi kolagen dan dua di antaranya dalam biosintesis carnitine; tiga enzim terakhir berperan dalam hidroksilasi kolagen : satu berperan dalam biosintetis catecholamine norepinephrine, yang lain dalam amidasi hormone peptide, sisanya berperan dalam metabolisme tirosin. Askorbat berinteraksi dengan enzim, saling memiliki aktivitas monooxygenase atau dioxygenase. Monooxygenase dopamine bmonooxygenase dan peptidyl-glycine a-monooxygenase menggabungkan sebuah atom oksigen menjadi substrat daripada dopamine atau glycineterminating peptide. Enzim sisanya, dioxygenase, menggabungkan dua atom 3

oksigen dalam dua cara yang berbeda. Enzyme 4-hydroxyphenylpyruvate dioxygenase menggabungkan dua atom oksigen menjadi satu produk, sementara dioxygenase yang lain menggabungkan satu atom oksigen menjadi suksinat dan substrat enzim yang spesifik. Konsentrasi vitamin C tinggi dalam getah lambung. Schorah et al. menemukan bahwa konsentrasi vitamin C dalam getah lambung beberapa kali lipat lebih tinggi (median, 249 mmol/l; range, 43909 mmol/l) daripada di plasma (median, 39 mmol/l; range, 14101 mmol/l). Gastric juice vitamin C dapat mencegah pembentukan senyawa N-nitroso, yang berpotensi mutagenik. Asupan tinggi vitamin C berkorelasi dengan berkurangnya risiko kanker lambung, tetapi hubungan sebab-akibat belum ditetapkan. Vitamin C melindungi low-density protein lipid ex vivo terhadap oksidasi dan dapat berfungsi sama dalam darah. b. Sebagai Antioksidan Oksidan adalah senyawa penerima elektron (electron acceptor), yaitu senyawa yang dapat menarik elektron. Oksidan dapat mengganggu integritas sel karena dapat bereaksi dengan komponen-komponen sel yang penting untuk mempertahankan kehidupan sel, baik komponen struktural (misalnya molekul- molekul penyusun membran) maupun komponen-komponen fungsional (misalnya enzim-enzim dan DNA). Organisme aerobik memerlukan oksigen untuk menghasilkan ATP, dalam proses tersebut berjalan kurang sempurna sehingga terjadi SOR yang sangat berbahaya, yang akan merusak sel apabila tidak diredam. Radikal bebas adalah atom atau molekul yang memiliki elektron yang tak berpasangan (unpaired electron), yang cenderung untuk membentuk pasangan dengan menarik elektron dari senyawa lain sehingga terbentuk radikal baru. Radikal bebas mempunyai sifat reaktifitas tinggi, karena kecenderungan menarik elektron serta dapat mengubah suatu molekul menjadi suatu radikal. Apabila radikal bebas ini kemudian menjumpai molekul lain maka akan membentuk radikal baru lagi, sehingga terjadilah reaksi rantai (chain reaction) dan bersifat merusak. Reaksi rantai tersebut baru berhenti apabila radikal tersebut dapat diredam. 4

Antioksidan adalah senyawa-senyawa pemberi elektron (elektron donors). Dibagi menjadi dua yaitu antioksidan pencegah(preventif antioxidants) dan pemutus rantai(chain-breaking antioxidants). Antioksidan pencegah diantaranya adalah superoksida dismutase (SOD), katalase (CAT) dan glutation peroksidase (GPx). Antioksidan pemutus rantai diantaranya adalah vitamin E (tocopherol), vitamin C (asam askorbat), dan -karoten. Senyawa glutation tereduksi (GSH) dan sistein (Cys- SH) dapat berperan sebagai antioksidan pencegah maupun antioksidan pemutus rantai. GSH berfungsi sebagai pemecah peroksida dan oksidan radikal H2O2.17,18 Vitamin E dan -caroten bersifat lipofilik, sehingga dapat berperan pada membran sel untuk mencegah peroksidasi lipid. Sebaliknya, vitamin C, glutasi, dan sistein bersifat hidrofilik dapat berperan dalam sitosol.

Gambar 1. Interaksi dan sinergisme antara sistem antioksidan fase lipid dan sitosol. Dampak oksidan dapat terjadi pada : membran sel, DNA dan protein. Dampak pada membrane sel dapat merusak komponen sel terutama fosfolipid dan glikolipid yang penting untuk mempertahankan integritas dan kehidupan sel, dikenal dengan nama peroksidasi lipid (lipid peroxidation), berdampak terputusnya rantai asam lemak menjadi berbagai senyawa yang bersifat toksik terhadap sel, antara lain aldehida, seperti malonaldehida (MDA), 9-hidroksinonenal serta bermacam-macam hidrokarbon seperti etana (C2H6) dan pentana (C5H12). Hal-hal tersebut menyebabkan kerusakan parah membran sel tak terkecuali membran eritrosit. 5

Vitamin C merupakan metabolit dari glukosa pada sebagian besar spesies, pada sebagian kecil spesies termasuk manusia, tubuh tidak dapat mensintesis vitamin C sehingga membutuhkan asupan dari luar untuk memenuhi kebutuhannya. Manusia mengabsorbsi vitamin C melalui proses saturasi dengan mekanisme tranport aktif yang tergantung Na dan penghambatan oleh aspirin. Mekanisme yang lain yaitu mekanisme difusi pasif terjadi pada asupan vitamin C yang tinggi. Efisiensi absorbsi vitamin C tinggi terjadi pada dosis fisiologis (180 mg/hari orang dewasa) yaitu sekitar 80-90% dan akan menurun pada dosis diatas 1 gram. Vitamin C sangat penting pada banyak fungsi fisiologis, beberapa fungsi diantaranya termasuk fungsi redoks yang memainkan peran sangat penting pada - tocopherol, reduced gluthatione, dan faktor lain sebagai antioksidan yang memproteksi sel. Vitamin C mewakili sebagian besar water-soluble antioxidant (hidrofilik) pada plasma, menunjang redoks tocopherol recycling, membantu bioavailabilitas besi serta berperan pada ikatan enzim metal. Struktur vitamin C sangat mirip dengan glukosa, dari glukosa inilah vitamin C diturunkan pada sebagian besar mamalia.

Gambar 2. Reaksi Vitamin C menjadi asam dehidroaskorbat Manusia tidak bisa mensintesis sendiri vitamin C disebabkan tidak adanya enzim L- gulonolakton oksidase yang mengkatalisis perubahan Lgulonolakton menjadi L- askorbik acid maka tidak terbentuk vitamin C sehingga tergantung asupan dari luar tubuh.

Gambar 3. Biosintesis vitamin C Transportasi vitamin C plasma dalam bentuk tereduksi (asam askorbat). Dehidroaskorbat tidak terlihat dalam plasma, kecuali setelah berubah bentuk melalui oksidasi asam askorbat ekstraseluler. Ambilan vitamin C melalui dua mekanisme : pertama melibatkan transport aktif Na dan energy-dependent transporter, yang kedua melibatkan transport asam dehidroaskorbat melalui satu atau lebih transporter glukosa. Asam dehidroaskorbat sangat cepat tereduksi intraseluler menjadi asam askorbat, kemungkinan oleh glutaredoxine reduktase dan mungkin secara kimiawi oleh GSH. Insulin mendorong pengambilan dehidroaskorbat seluler sedangkan glukosa akan menghambatnya. Vitamin C diresosrbsi kembali oleh ginjal melalui sistem tranport aktif yang tergantung Na. Vitamin C terdistribusi pada beberapa jaringan organ dengan berbagai konsentrasi. Eritrosit mengandung fraksi substansial vitamin C dalam darah, konsentrasi vitamin C pada lekosit mempunyai nilai diagnosis tersendiri tergambar pada konsentrasi vitamin C pada plasma. Metabolisme vitamin C terdiri dari : oksidasi, ekskresi dan regenerasi. Hasil oksidasi vitamin C yang pertama adalah radikal bebas askorbil yang bisa berubah secara reversibel menjadi bentuk vitamin C kembali atau akan mengalami oksidasi ireversibel menjadi dehydro-L-ascorbid acid.. Vitamin C dapat juga mengalami oksidasi setelah bereaksi dengan vitamin E atau radikal urat. Vitamin C dapat dengan mudah melepaskan elektron karena oksidasi monovalen reversibel menjadi radikal askorbil, sehingga dapat berperan dalam sistem redoks biokimia. Peranan vitamin C sebagai antioksidan karena kemampuan bereaksi dengan radikal bebas : SOR, anion superoksida dan radikal hidroksil. Vitamin C bersifat hidrofilik lebih berperan menjadi proteksi sel di dalam sitosol dengan cara menurunkan semistabil radikal kromanoksil dan meregenerasi vitamin E. Efisiensi antioksidan vitamin C sangat besar pada konsentrasi vitamin yang rendah, pada kondisi tersebut reaksi yang predominan adalah reaksi pemutus. Pada konsentrasi tinggi, vitamin C menghambat secara signifikan reaksi rantai yang berlanjut antara 7

asam askorbil dan molekul oksigen. Fungsi metabolik vitamin C sebagai kofaktor enzim (hydroxilating enzymes), agen protektif (hydroxylases pada biosintesis collagen), dan sebagai radikal yang bereaksi dengan metal ion. Asupan vitamin C pada bayi direkomendasikan sebesar 25 mg/hari berdasarkan batas bawah konsentrasi vitamin C pada air susu ibu (ASI) sebesar 3-8 mg/dl dengan rata-rata pengeluaran sebesar 750 ml/hari dan efisiensi absorbsi 90%. Asupan dan kadar vitamin C pada ASI seperti tersebut diatas akan memproteksi bayi dari penyakit scurvy. Pada saat didalam kandungan kadar vitamin C plasma pada fetus 50% lebih tinggi dibanding kadar plasma darah ibu, hal ini mengindikasikan adanya tranport aktif vitamin C yang melewati plasenta. Pada masa laktasi kadar pada ASI 3-10 kali lebih besar dibanding kadar plasma darah ibu. Kadar vitamin C ini akan meningkat jika asupan vitamin C ibu meningkat, tetapi asupan melebihi 90 mg/hari tidak akan meningkatkan kadar vitamin C pada ASI. 2.2. Defisiensi Vitamin C Kekurangan vitamin C dapat berakibat anemia. Sifat antioksidan vitamin C dapat menstabilkan folat dalam makanan dan dalam plasma; ekskresi peningkatan derivatif folat teroksidasi pada manusia dengan penyakit scurvy telah dilaporkan. Vitamin C meningkatkan penyerapan larutan nonheme besi kemungkinan oleh khelasi atau hanya dengan mempertahankan besi dalam bentuk tereduksi (ferro, Fe2+). Efek tersebut dapat dicapai dengan jumlah vitamin C yang diperoleh dari makanan. Namun, jumlah diet vitamin C yang diperlukan untuk meningkatkan penyerapan zat besi berkisar dari 25mg ke atas dan tergantung pada jumlah inhibitor, seperti phytates dan polifenol, yang ada dalam makanan. Defisiensi vitamin C terjadi jika asupan kurang atau terganggu absorbsinya terutama pada bayi. Pada penelitian Wen Y9 dkk disebutkan peranan vitamin C meningkatkan GSH serta menurunkan kadar MDA sel eritrosit sehingga proses hemolisis dapat dikurangi atau dicegah.8 Smith AR dkk mendapatkan perbedaan hasil pemeriksaan kultur sel endotel aorta manusia yang diberikan vitamin C dan tanpa pemberian vitamin C. Kerusakan oksidatif lebih besar didapatkan pada sampel tanpa pemberian 8

vitamin C. Pada penelitian tersebut digunakan parameter oksidatif : kadar vitamin C intraseluler, GSH, rasio GSH/GSSG, dan rasio NADPH/NADP. Scurvy esensial terjadi pada sel endotel aorta pada manusia yang diterapi vitamin C.16 Defisiensi akut vitamin C bisa menimbulkan penyakit scurvy. Manifestasi Scurvy yang klasik berhubungan dengan gangguan sintesis kolagen yang diperlihatkan dalam bentuk perdarahan subkutan serta perdarahan lain, kelemahan otot, gusi membengkak dan lunak, serta tanggalnya gigi. Pada anak sindrom defisiensi vitamin C disebut MollerBarlow disease didapatkan pada bayi tanpa ASI, biasanya pada umur 6 bulan dengan ciri-ciri pelebaran batas kartilago tulang khususnya tulang rusuk, penekanan kartilago epifiseal ekstremitas, nyeri sendi, anemi dan sering panas. Dari abad 15, penyakit scurvy telah ditakuti para pelaut dan penjelajah yang dipaksa untuk hidup selama berbulan-bulan dengan daging sapi kering dan biskuit. Scurvy digambarkan oleh Tentara Salib selama pengepungan kota-kota Eropa banyak, dan juga akibat dari bencana kelaparan di Irlandia abad ke-19. Tiga manifestasi penting dari penyakit scurvy : perubahan pada gusi, nyeri pada kaki, edema, ulserasi, dan akhirnya kematian. Lesi tulang dan pembuluh darah yang berhubungan dengan penyakit scurvy mungkin timbul dari kegagalan pembentukan osteoid. Dalam scurvy kanakan perubahan terutama di lokasi pertumbuhan tulang yang paling aktif; tanda-tanda karakteristik adalah pseudoparalysis anggota badan disebabkan oleh rasa sakit yang hebat pada gerakan dan disebabkan oleh pendarahan di bawah periosteum, serta pembengkakan dan pendarahan pada gusi gigi sekitarnya meletus . Pada orang dewasa, salah satu efek samping prinsip awal dari kolagen yang berhubungan dengan patologi adalah gangguan penyembuhan luka. Defisiensi vitamin C dapat dideteksi dari tanda-tanda awal kekurangan klinis, seperti hiperkeratosis folikuler, pendarahan petechial, gusi bengkak atau berdarah, dan nyeri sendi, atau dari konsentrasi ascorbate yang sangat rendah dalam plasma, darah, atau leukosit. Penelitian Sheffield dan studi kemudian di Iowa merupakan upaya besar pertama untuk mengukur 9

kebutuhan vitamin C. Studi-studi menunjukkan bahwa jumlah vitamin C yang diperlukan untuk mencegah atau mengobati tanda-tanda awal kekurangan adalah antara 6,5 dan 10 mg / hari. Kisaran ini merupakan kebutuhan fisiologis terendah. Iowa dan Kallner dkk menetapkan bahwa pada saturasi jaringan, seluruh tubuh kadar vitamin C sekitar 20mg/kg, atau 1500mg, dan bahwa selama deplesi vitamin C hilang 3% dari seluruh tubuh per hari. Tanda-tanda klinis penyakit scurvy muncul pada pria dengan intake lebih rendah dari 10 mg / hari (27) atau saat kandungan vitamin C seluruh tubuh turun di bawah 300 mg (28). Intake tersebut dikaitkan dengan konsentrasi askorbat plasma di bawah tingkat 11mmol / l atau Leuko-cyte kurang dari 2nmol/108 sel. Namun, konsentrasi plasma jatuh ke sekitar 11 mmol / l bahkan ketika diet vitamin C adalah antara 10 dan 20 mg / hari. Pada intake lebih besar dari 25-35mg/hari, konsentrasi plasma mulai meningkat tajam, menunjukkan ketersediaan lebih banyak vitamin C untuk kebutuhan metabolik. Secara umum, askorbat plasma dekat mencerminkan asupan makanan dan rentang antara 20 dan 80mmol / l. Selama infeksi atau trauma fisik, jumlah leukosit yang beredar meningkat dan ini mengambil vitamin C dari plasma (31, 32). Oleh karena itu, baik plasma dan kadar leukosit mungkin tidak indikator yang sangat tepat dari isi tubuh atau status di saat seperti itu. Namun, Leuko-cyte askorbat tetap menjadi indikator yang lebih baik status vitamin C dari askorbat plasma sebagian besar waktu dan hanya pada periode segera setelah terjadinya infeksi adalah kedua nilai tidak bisa diandalkan. Penyerapan vitamin C di usus adalah dengan mekanisme transpor aktif, bergantung pada natrium, memerlukan energi, carrier-mediated dan dengan meningkatnya asupan, jaringan menjadi semakin lebih jenuh. Tubulus ginjal melakukan mekanisme reabsorpsi dengan mempertahankan vitamin C dalam jaringan sampai isi seluruh tubuh dari askorbat dari sekitar 20mg/kg berat badan (30). Namun, dalam kondisi mapan karena makanan meningkat dari sekitar 100mg/hari, ada peningkatan output urin sehingga pada 1000mg/day hampir semua vitamin C yang diserap diekskresikan.

10

2.3. Periodontitis 2.3.1. Definisi Kata periodontitis berasal dari peri (sekitar), odont (gigi), dan itis (peradangan). Periodontitis adalah radang gusi (gingivitis) parah di mana peradangan gusi meluas hingga ke struktur pendukung gigi. Periodontitis adalah peradangan atau infeksi pada jaringan penyangga gigi (jaringan periodontium). Yang termasuk jaringan penyangga gigi adalah gusi, tulang yang membentuk kantong tempat gigi berada, dan ligamen periodontal (selapis tipis jaringan ikat yang memegang gigi dalam kantongnya dan juga berfungsi sebagai media peredam antara gigi dan tulang). Suatu keadaan dapat disebut periodontitis bila perlekatan antara jaringan periodontal dengan gigi mengalami kerusakan. Selain itu tulang alveolar ( tulang yang menyangga gigi) juga mengalami kerusakan. Periodontitis dapat berkembang dari gingivitis yang tidak dirawat. Infeksi akan meluas dari gusi ke arah tulang di bawah gigi sehingga menyebabkan kerusakan yang lebih luas pada jaringan periodontal.

Gambar 4. Periodontitis Bila ini terjadi, gusi dapat mengalami penurunan, sehingga permukaan akar terlihat dan sensitivitas gigi terhadap panas dan dingin meningkat. Gigi dapat mengalami kegoyangan karena adanya kerusakan tulang. Periodontitis kronis merupakan bentuk paling umum. Berkembang relatif lambat dan biasanya menjadi klinis dimasa dewasa. Periodontitis agresif adalah bentuk yang jarang dialami, berlangsung lebih cepat dan 11

menjadi klinis pada masa remaja. Meskipun bentuknya berbeda keduanya disebabkan oleh mikroorganisme dan infeksi mikotik, berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat keparahan penyakit. Faktor risiko termasuk merokok, diabetes yang kurang terkontrol, da penyakit menurun penting diperhatikan. Dokter gigi atau dokter spesialis periodonti mendiagnosis periodontitis dengan memeriksa jaringan gusi lunak di sekitar gigi melalui uji klinis dan radiografi (rontgen gigi). 2.3.2. Periodontitis Epidemiologi Periodontitis sangat umum, dan secara luas dianggap sebagai penyakit kedua yang paling umum di seluruh dunia, setelah pembusukan gigi. Di Amerika Serikat memiliki prevalensi 30-50% dari populasi, tetapi hanya sekitar 10% memiliki bentuk parah. Studi menemukan hubungan antara asal-usul etnis dan penyakit periodontal. Di Amerika Serikat, Afrika-Amerika memiliki prevalensi tinggi penyakit periodontal dibandingkan dengan individu Latin serta non-Hispanik orang-orang keturunan Eropa. Dalam populasi Israel, individu Yaman, Afrika Utara, Asia, atau asalusul Mediterania memiliki prevalensi tinggi penyakit periodontal daripada individu dari keturunan Eropa. Faktor lain yang berpengaruh adalah gizi buruk dan masalah medis yang mendasari seperti diabetes. Pada beberapa orang, gingivitis berkembang menjadi periodontitis dengan penghancuran dari serat gingiva, jaringan gusi yang terpisah dari gigi dan diperdalam sulkus, disebut saku periodontal. Mikroorganisme subgingiva (ada di bawah garis gusi) menjajah kantong periodontal dan menyebabkan peradangan lebih lanjut dalam jaringan gusi dan keropos tulang progresif. Contoh etiologi sekunder akan hal-hal yang menyebabkan akumulasi plak mikrobik, seperti overhang restorasi dan kedekatan akar. Jika dibiarkan, akan terjadi kalsifikasi plak mikrobik untuk membentuk kalkulus, yang biasa disebut karang gigi. Kalkulus atas dan di bawah garis gusi harus dihilangkan seluruhnya oleh dokter gigi untuk mengobati gingivitis dan periodontitis. Meskipun penyebab utama dari 12

keduanya adalah mikrobik plak yang melekat pada permukaan gigi, ada banyak faktor modifikasi lainnya. Faktor risiko yang sangat kuat adalah kerentanan genetik seseorang. Beberapa kondisi dan penyakit, termasuk sindrom Down, diabetes, dan penyakit lain yang mempengaruhi resistensi seseorang terhadap infeksi juga meningkatkan kerentanan terhadap periodontitis. Faktor lain yang perlu dipahami bahwa respon host manusia juga dapat mempengaruhi resorpsi tulang alveolar. Respon host terhadap bakterimikotik terutama ditentukan oleh genetika, namun, pengembangan kekebalan tubuh mungkin memainkan beberapa peran dalam kerentanan. 2.3.3. Penyebab Periodontitis umumnya disebabkan oleh plak. Plak adalah lapisan tipis biofilm yang mengandung bakteri, produk bakteri, dan sisa makanan. Lapisan ini melekat pada permukaan gigi dan berwarna putih atau putih kekuningan. Plak yang menyebabkan gingivitis dan periodontitis adalah plak yang berada tepat di atas garis gusi. Bakteri dan produknya dapat menyebar ke bawah gusi sehingga terjadi proses peradangan dan terjadilah periodontitis. Gambar 5. Plak dan karang gigi penyebab periodontitis

Selain faktor utama penyebab periodontitis, ada faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko periodontitis antara lain:
a. b. c. d. e.

Gingivitis Keturunan Kebersihan gigi yang rendah Penggunaan tembakau Diabetes 13

f. g.

Berusia lanjut Rendahnya imunitas tubuh, seperti pada mereka dengan leukemia atau HIV/AIDS Kurang gizi Obat tertentu Perubahan hormon, seperti yang berkaitan dengan kehamilan Penyalahgunaan zat

h. i. j. k.

2.3.4. Gejala Periodontitis pada awalnya tidak menyakitkan penderitanya, namun pada tahap lanjut bisa membuat gigi-gigi mudah lepas. Infeksi bakteri menggerus tulang tempat berpijak gigi dan melemahkan perlekatannya. Selain karies gigi, periodontitis adalah penyebab umum kehilangan gigi pada orang dewasa. Periodontitis memiliki gejala yang sangat sedikit sehingga banyak pasien yang baru berobat setelah penyakit itu berkembang secara signifikan. Kadang pasien tidak merasakan rasa sakit ataupun gejala lainnya. Biasanya tanda-tanda yang dapat diperhatikan adalah :
a. Gusi berdarah saat menyikat gigi. b. Gusi berwarna merah, terang, keunguan. c. Gusi bengkak, dan lunak.

d. Terlihat adanya bagian gusi yang turun dan menjauhi gigi. e. Terdapat nanah di antara gigi dan gusi. f. Gigi goyang.
g. Napas bau (halitosis). h. Rasa tidak enak pada mulut. i. Perubahan pada bentuk barisan gigi.

14

Gambar 6. Gusi turun akibat periodontitis 2.3.5. Pemeriksaan Dokter gigi biasanya akan melakukan pemeriksaan klinis pada jaringan gusi dan melihat apakah ada gigi-gigi yang mengalami kegoyangan. Hubungan antara gigi-gigi rahang atas dan bawah saat menggigit juga akan diperiksa. Gambar 7. Pemeriksaan kedalaman poket

Kemudian dokter gigi akan melakukan pemeriksaan yang disebut periodontal probing, yaitu teknik yang digunakan untuk mengukur kedalaman poket (kantong yang terbentuk diantara gusi dan gigi). Kedalaman poket ini dapat menjadi salah satu petunjuk seberapa jauh kerusakan yang terjadi. Sebagai tambahan, pemeriksaan radiografik (x-rays) juga perlu dilakukan untuk melihat tingkat keparahan kerusakan tulang.

15

2.3.6. Perawatan dan Pengobatan Pada kasus-kasus periodontitis yang belum begitu parah, biasanya perawatan yang diberikan adalah root planing dan kuretase, yaitu pengangkatan plak dan jaringan yang rusak dan mengalami peradangan di dalam poket dengan menggunakan kuret. Tujuan utamanya adalah menghilangkan semua bakteri dan kotoran yang dapat menyebabkan peradangan. Setelah tindakan ini diharapkan gusi akan mengalami penyembuhan dan perlekatannya dengan gigi dapat kembali dengan baik. Pada kasus-kasus yang lebih parah, tentunya perawatan yang diberikan akan jauh lebih kompleks. Bila dengan kuretase tidak berhasil dan kedalaman poket tidak berkurang, maka perlu dilakukan tindakan operasi kecil yang disebut gingivectomy. Tindakan operasi ini dapat dilakukan di bawah bius lokal. Pada beberapa kasus tertentu yang sudah tidak bisa diatasi dengan perawatan di atas dapat dilakukan operasi dengan teknik flap, yaitu prosedur yang meliputi pembukaan jaringan gusi kemudian menghilangkan kotoran dan jaringan yang meradang di bawahnya. Antibiotik biasanya diberikan untuk menghentikan infeksi pada gusi dan jaringan di bawahnya. Perbaikan kebersihan mulut oleh pasien sendiri juga sangat penting untuk mendukung perawatan yang dilakukan. Tujuan pengobatan periodontitis adalah membersihkan plak dan tartar, mengurangi peradangan, menghilangkan lubang jika ada, dan mengatasi kerusakan pada gusi dan gigi. Pembedahan mungkin diperlukan untuk mengoreksi lubang gusi dan menguatkan gigi yang goyah. Dokter gigi mungkin terpaksa harus mencabut gigi agar penyakitnya tidak bertambah buruk dan menyebar ke gigi lain di sekitarnya. 2.3.7. Pencegahan Periodontitis a. Sikat gigi dua kali sehari, pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur.
b. Lakukan flossing sekali dalam sehari untuk mengangkat plak dan sisa

makanan yang tersangkut diantara celah gigi-geligi. 16

c. Pemakaian obat kumur anti bakteri untuk mengurangi pertumbuhan bakteri

dalam mulut, misalnya obat kumur yang mengandung chlorhexidine. Lakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter gigi dalam penggunaan obat kumur tersebut.
d. Berhenti merokok. e. Melakukan kunjungan secara teratur ke dokter gigi setiap enam bulan

sekali untuk kontrol rutin dan pembersihan.

17