Anda di halaman 1dari 27

BAB II WAHAM

A. Pengertian Proses Pikir dan Waham


1. Proses Pikir
Proses berpikir adalah proses pertimbangan (judgement), pemahaman (comprehention), ingatan serta penalaran (reasoning). Proses nerpikir juga normal mengandung arus ide, simbol dan asosiasi yang terarah kepada tujuan dan yang dibangkitkan oleh suatu masalah atau tugas dan yang menghantarkankepada suatu penyesaian yang berorientasi kepada kenyataan.

2. Waham
Waham adalah kepercayaan yang benar-benar salah dan berpikir yang tidak sesuai dengan orang laindan bertentangan dengan realitas sosial. (Stuart and Sundeen, 1995) Waham adalah keyakinan tentang suatu yang dipikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensi dan latar belakang kebudayaan, biarpun dibuktikan kemustahilan hal itu. (W. F. Maramis, 1991) Waham adalah suatu sistem kepercayaan yang tidak dapat Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian divalidasi/ dipertemukan dengan realitas (Haber, 1982) realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien. Waham dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti adanya penolakan, kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua dan aniaya. (Budi Anna Keliat, 1999). Waham adalah kepercayaan yang salah terhadap obyek dan tidak konsisten dengan latar belakang intelektual dan budaya (Rawlin, 1993) Kesimpulannya ialah waham adalah keyakinan yang salah, tidak sesuai dengan kondisi obyektif dan dipertahankan terus menerus, serta keyakinan tersebut tidak dapat digoyahkan dengan argumentasi rasional.

B. Etiologi Waham
Salah satu penyebab dari perubahan proses pikir : waham yaitu Gangguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, dan merasa gagal mencapai keinginan

C. Manifestasi Klinis Waham


Tanda dan gejala yang dihasilkan atas penggolongan waham (Standar Asuhan Keperawatan Jiwa RSJP Bogor di kutip oleh RSJP Banjarmasin, 2001) yaitu : 1. Waham dengan perawatan minimal : a. Berbicara dan berperilaku sesuai dengan realita. b. Bersosialisasi dengan orang lain. c. Mau makan dan minum. d. Ekspresi wajah tenang. 2. Waham dengan perawatan parsial : a. Cenderung menghindari orang lain. b. Mendominasi pembicaraan. c. Bicara kasar. 3. Waham dengan perawatan total : a. Melukai diri dan orang lain. b. Menolak makan / minum obat karena takut diracuni. c. Gerakan tidak terkontrol. d. Ekspresi tegang. e. Mandominasi pembicaraan. f. Bicara kasar. g. Menghindar dari orang lain. h. Mengungkapkan keyakinannya yang salah berulang kali. i. Perilaku kasar. 5

D. Rentang Respon Neurobiologi Waham


RENTANG RESPON NEUROBIOLOGI (STUART DAN SUNDEEN, 1998) RESPON ADAPTIF RESPON MALADAPTIF

Pikiran logis, pikiran, Persepsi akurat, Halusinasi, Emosi konsisten, mampu Perilaku sosial, mengatur emosi, Hubungan sosial, Ketidakteraturan,

Pikiran terkadangmenyimpang, Ilusi, Emosional belebihan/ dengan pengalaman kurang menyenangkan, Perilaku ganjil, Menarik diri

Kelainan

Tidak

Isolasi sosial

Keterangan Gambar : 1. Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima oleh norma-norma sosial budaya yang berlaku. Dengan kata lain individu tersebut dalam batas normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat menyelesaikan masalah tersebut. Respon adaptif meliputi: a. Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan. b. Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan. c. Emosi konsisten dengan penalaman yaitu perasaan yang timbul dari pengalaman ahli. d. Perilaku sosial adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam batas kewajaran. 6

e. Hubungan sosial adalah proses suatu interaksi dengan orang lain dan lingkungan. 2. Respon psikososial meliputi: a. Proses pikir terganggu adalah proses pikir yang menimbulkan gangguan. b. Ilusi adalah miss interprestasi atau penilaian yang salah tentang penerapan yang benar-benar terjadi (objek nyata) karena rangsangan panca indera. c. Emosi berlebihan atau berkurang. d. Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi batas kewajaran. e. Menarik diri yaitu percobaan untuk menghindar interaksi dengan orang lain. 3. Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan lingkungan, adapun respon maladaptif ini meliputi: a. Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan sosial. b. Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau persepsi eksternal yang tidak realita atau tidak ada. c. Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul dari hati. d. Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu perilaku yang tidak teratur. e. Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang dialami oleh individu dan diterima sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu kecelakaan yang negatif mengancam.

E. Jenis-jenis Waham
1. Waham Agama Keyakinan klien terhadap suatu agama secara berlebihan, diungkapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan 2. Waham Kebesaran Klien yakin bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan. 7

3. Waham Nihilistik Klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/meninggal, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan. 4. Waham Sisip Pikir Klien yakin bahwa ada ide pikiran orang lain yang disisipkan kedalam pikirannya, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan. 5. Waham Siar Pikir Klien yakin orang lain mengetahui apa yang dia pikirkan walaupun tidak dinyatakannya kepada orang tersebut, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan. 6. Waham Kontrol Pikir Klien yakin pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari luar, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan. 7. Waham dosa Keyakinan pada dirinya bahwa ia telah melakukan dosa yang sangat besar dan tidak mungki terampuni dan karenanya ia bertanggung jawab atas kejadian-kejadian tertentu. 8. Waham pengaruh Keyakinan 9. bahwakeadaan pikiran, emosi atau tingka lakunya

dipengaruhi oleh kekuatan dari luar yang tidak terlihat atau gaib. Waham somatik dan hipokondrik Keyakinan bahwa keadaan tubunya sudah tidak mungkin benar atau sakit misalnya yakin bahwa ususnya telah busuk diperutnya ada gejala, dsb. 10. Waham sakit Keyakinan bahwa seluruh atau sebagian tubuhnya sedang dilanda penyakit kronis. 11. Waham hubungan Interpretasi yang salah dari pembicaraan, kejadian atau gerak-gerik yang didasarkan berhubungan langsung dengan dirinya.

F. Proses Terjadinya Waham


1. Perasaan diancam oleh lingkungan, cemas, merasa sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi

2. Mencoba mengingkari ancaman dari persepsi diri atau objek realitas dengan menyalahartikan kesan terhadap kejadian 3. Individu memproyeksikan pikiran dan perasaan internal pada lingkungan sehingga perasaan, pikiran, dan keinginan negatif/tidak dapat diterima menjadi bagian eksternal 4. Individu mencoba memberi pembenaran/rasional/alasan interpretasi personal tentang realita pada diri sendiri atau orang lain.

G.Mekanisme Koping Waham


1. Regresi, menghindri stress, kecemasan dan menampilkan perilaku kembali seperti pada perilaku perkembangan anak atau berhubungn dengan masalah proses informasi dan upaya untuk menanggulangi ansietas 2. Proyeksi, keinginn yang tidak dapat ditoleransi, mencurahkan emosi pada orang lain karena kesalahan yang dilakukan diri sendiri (Sebagai upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi). 3. Menarik diri, reaksi yang ditampilkan dapat berupa reaksi fisik maupun psikologis, reaksi fisik yaitu individu pergi atau dari menhindari sumber stessor, misalnya menjauhi polusi. Sumber infeksi, gas beracun dan lain-lain, sedangkan reaksi psikologisindividu menunjukkan perilaku 9

apatis, mengisolasi diri, tidak berminat, sering disertai rasa takut dan bermusuhan. 4. Keluarga, menarik diri dan beringkar pada keluarga.

H. Faktor Predisposisi & Presitipasi Waham


1. Faktor Predisposisi
a. Faktor perkembangan Hambatan perkembangan akan mengganggu hubungan interpersonal seseorang. Hal ini dapat meningkatkan stres dan ansietas yang berakhir dengan gangguan persepsi, klien menekan perasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif. b. Faktor Sosial Budaya Seseorang yang merasa diasingkan dan kesepian dapat menyebabkan timbulnya waham c. Faktor Psikologis Hubungan yang tidak harmonis, peran ganda/bertentangan, dapat menimbulkan ansietas dan berakhir dengan pengingkaran terhadap kenyataan. d. Faktor Biologis Waham diyakini terjadi karena adanya atrofi otak, pembesaran ventrikel di otak, atau perubahan pada sel kortikal dan limbik. e. Faktor Genetik

2. Faktor Presipitasi
a. Faktor Sosial Budaya Waham dapat dapat dipicu karena adanya perpisahan dengan orang yang berarti atau dipisahkan dari kelompok. b. Faktor Biokimia Dopamin, norepineprin, dan zat halusinogen lainnya diduga dapat menjadi penyebab waham pada seseorang c. Faktor Psikologis

10

Kecemasan yang memanjang dan terbatasnya kemampuan untuk mengatasi masalah sehingga klien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang menyenangkan.

I. Perilaku Klien Dengan Waham


1. Wawancara
Tanda dan gejala isolasi social yang dapat ditemukan dengan wawancara pada pasien dan keluarga, adalah : a. Memperlihatkan permusuhan b. Mendekati oranglain dengan ancaman c. Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai d. Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan e. Mempunyai rencana untuk melukai Berikut ini adalah beberapa contoh pertanyaan yang dapat digunakan sebagai panduan untuk mengkaji pasien dengan waham : a. Apakah pasien memiliki pikiran/isi piker yang berulang-ulang dan menetap? b. Apakah pasien takut terhadap objek atau situasi tertentu, atau apakah pasien cemas secara berlebihan tentang tubuh atau kesehatannya? c. Apakah pasien pernah merasakan bahwa benda-benda disekitarnnya aneh dan tidak nyata? d. Apakah pasien pernah merasakan bahwa ia berada diluar tubuhnya? e. Apakah pasien pernah merasakan diawasi atau dibicarakan oleh orang lain? f. Apakah pasien berfikir bahwa pikiran atau tindakannya dikontrol orang lain atau kekuatan dari luar? g. Apakah pasien menyatakan bahwa ia memiliki kekuatan fisik atau kekuatan lainnya atau yakin bahwa orang lain dapat membaca pikirannya? 11

2. Observasi
Tanda dan gejala waham yang dapat diobservasi : a. Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan) b. Klien tampak tidak mempunyai orang lain c. Curiga d. Bermusuhan e. Merusak (diri, orang lain, lingkungan) f. Takut, sangat waspada g. Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas h. Ekspresi wajah tegang i. Mudah tersinggung

Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa berupa factor presipitasi, penilaian stersor, sumber koping yang dimiliki klien. Setiap melakukan pengkajian, tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat isi pengkajian meliputi : a. Identitas Klien Meliputi nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, tanggal masuk rumah sakit, informan, tanggal pengkajian, nomer rumah klien dan alamat klien. b. Keluhan Utama Keluhan biasanya sering berbicara diluar kenyataan komunikasi kurang atau tidak ada, menolak interaksi dengan orang lain, tidak melakukan kegiatan sehari-hari, dependen. c. Factor Predisposisi

12

Kehilangan, perpisahan, penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan/frustasi berulang, tekanan dari kelompok sebaya, perubahan struktur social. Terjadinya trauma yang tiba-tiba misalnya harus dioperasi, kecelakaan dicerai suami, putus sekolah, PHK, perasaan malu karena sesuatu yang terjadi (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/perasaan negative terhadap diri sendiri yang berlangsung lama.

3. Aspek Fisik/Biologis
Hasil pengukuran tada vital (TD, Nadi, suhu, Pernapasan , TB, BB) dan keluhan fisik yang dialami oleh klien.

4. Aspek Psikososial
Genogram yang menggambarkan tiga generasi.

5. Konsep diri
a. Citra Tubuh Menolak dilihat dan disentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Menolak penjelasan perubahan tubuh, persepsi negatif tentang tubuh. Mendekati orang lain dengan ancaman. Menyentuh orang lain dengan menakutkan. Mempunyai rencana untuk melukai. b. Identitas Diri Ketidakpastian memandang diri, sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan. c. Peran Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit, proses menua, putus sekolah, PHK. d. Ideal Diri Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya :

mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi. 13

e. Harga Diri Perasaan marah terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri, gangguan hubungan sosial, mencederai diri. f. Status Mental Kontak mata klien seperti mencurigai, kurang dapat memulai

pembicaraan, klien kurang mampu berhubungan dengan orang lain. g. Aspek Medik Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi ECT, Psikomotor, therapy okopasional, TAK , dan rehabilitas.

J. Asuhan Keperawatan (diagnosa) Waham


1. Pengkajian
Patricia A Potter et al (1993) dalam bukunya menyebutkan bahwa pengkajian terdiri atas tiga kegiatan yaitu : Pengumpulan data, pengelompokan data atau analisa data dan perumusan diagnose eperawatan. Data dapat dikumpulkan dari berbagai sumber data yaitu sumber data primer (klien) dan sumber data sekunder (seperti keluarga, teman terdekat klien, tim kesehatan, catatan dalam berkas dokumen medis dan klien dan hasil pemeriksaan. Setiap Untuk mengumpulka data dilakukan dengan berbagai cara, yaitu : dengan observasi, meliputi : a. Identifikasi Klien Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien tentang nama, panggilan klien, nama erawat tujuan, waktu pertemuan, topic pembicaraan . b. Keluhan utama/alasan masuk 1) Tanyakan pada keluarga/hal yang menyebabkan klien datang ke RS dan bagaimana perkembangan perawatan selama dirumah. 2) Tanyakan pada klien/keluarga, apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa pada masa lalu, pernah melakukan, 14 wawancara pemeriksaan fisik. melakukan pengkajian, tulis tempat dirawat dan tanggal dirawat, isi pengkajiannya

mengalami

penganiayaan

fisik,

seksual,

penolakan

dari

lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan kriminal. Dapat dilakukan pengkajian pada keluarga factor yang mungkin mengakibatkan terjadinya gangguan : Psikologis Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi psikologi dari klien. Biologis Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau ssp, pertumbuhan dan perkembangan individu pada prenatal, neonatus dan anakanak. Sosial budaya kehidupan yang terisolasi serta stress yang Seperti kemiskinan, konflik social budaya (peperangan, kerusuhan, kerawanan), menumpuk. c. Aspek fisik/biologis Mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital : TD, Nadi, Suhu, Pernapasan, ukur tinggi badan, dan berat badan, kalau perlu aji fungsi organ kalau ada keluhan. d. Aspek Psikososial 1) Membuat genogram yang memuat paling sedikit tiga yang dapat menggambarkan hubungan klien dan generasi

keluarga, masalah yang terkait denga komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh. 2) Konsep Diri a) Citra tubuh : Mengenai persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian yang disukai dan tidak disukai. b) Identitas diri : status dan posisi klien sebelum dirawat, kepuasan klien terhadap status-status dan posisinya dan kepuasan klien sebagai laki-laki/perempuan. c) Peran : Tugas yang diemban dalam keluarga/kelompok d) masyarakat dan kemampuan klien dalam

melaksanakan tugas tersebut. Ideal diri : Harapan terhadap hidup, posisi, status, tugas, lingkungan dan penyakitnya.

15

e) penilaian dan

Harga diri : Hubungan klien dengan orang lain, penghargaan orang lain terhadap dirinya,

biasanya terjadi pengungkapan kekecewaan terhadap dirinya sebagai wujud harga diri rendah. Hubungan social dengan orang lain yang terdekat Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan dalam kehidupan, kelompok yang diikuti dalam masyarakat. ibadah e. Status mental 1) Penampilan. a) Penampilan tidak rapih jika dari ujung rambut sampai ujung kaki ada yang tidak rapih. Misalnya : rambut acak-acakan, kancing baju tidak tepat, resleting tidak dikunci, baju terbalik, baju tidak diganti-ganti. b) Penggunaan pakaian tidak sesuai misalnya : pakaian dalam, dipakai diluar baju. c) Cara berpakaian tidak seperti biasanya jika. penggunaan pakaian tidak tepat (waktu, tempat, identitas, situasi/kondisi). 2) Pembicaraan Amati pembicaraan yang ditemukan pada klien, apakah cepat, keras, gagap, membisu, apatis dan atau lambat 3) Aktivitas motorik a) Lesu, tegang, gelisah. b) Agitasi = gerakan motorik yang menunjukkan kegelisahan, c) Grimasen = gerakan otot muka yang berubah-ubah yang tidak dapat dikontrol klien. d) Tremor = jari-jari yang tampak gemetar ketika klien menjulurkan tangan dan merentangkan jari-jari. e) Kompulsif = kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan seperti berulang kali mencuci tangan, mencuci muka, mandi, mengeringkan tangan dsb. 4) Alam perasaan. a) Sedih, putus asa, gembira yang berlebihan. b) Ketakutan = objek yang ditakuti. c) Khawatir = objeknya belum jelas. 16 Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat/keluarga

d) Jelaskan kondisi klien yang tidak tercantum. 5) Afek a) Datar = tidak ada perubahan roman muka pada saat ada stimulus yang menyenangkan atau menyedihkan. b) Tumpul = hanya bereaksi bila ada stimulus emosi yang kuat. c) Labil = emosi yang cepat berubah-ubah. d) Tidak sesuai = emosi yang tidak sesuai atau bertentangan dengan stimulus yang ada. 6) lnteraksi selama wawancara a) Bermusuhan, tidak kooperatif, mudah tersinggung sudah jelas. b) Kontak mata kurang tidak mau menatap lawan bicara. c) Defensif selalu berusaha mempertahankan pendapat dan kebenaran dirinya. d) Curiga menunjukan sikap/ perasaan tidak percaya pada orang lain 7) Proses pikir a) Sirkumstansial : pembicaraan yang berbelit-belit tapi Data diperoleh dari observasi dan saat wawancara sampai pada tujuan pembicaraan. b) Kehilangan asosiasi : pembicaraan tak ada hubungan antara satu kalimat dengan kalitnat lainnya, dan klien tidak menyadarinya. c) Flight of ideas : pembicaraan.yang meloncat dari satu topik ke topik lainnya, masih ada hubungan yang tidak logis dan tidak sampai pada tujuan. d) Bloking : pembicaraan terhenti tiba-tiba tanpa gangguan eksternal kemudian dilanjutkan kembali. e) Perseverasi : pembicaraan yang diulang berkali-kali. 8) lsi pikir. a) Phobia : ketakutan yang phatologis/ tidak logis terhadap objek/ situasi tertentu. b) Hipokondria : keyakinan terhadap adanya gangguan organ 17 Data didapatkan melalui wawancara. Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat/keluarga.

dalam tubuh yang sebenarnya tidak ada. c) Depersonalisasi : perasaan klien yang asing terhadap diri sendiri, orang atau lingkungan. d) Waham. Waham agama: percaya bahwa seseorang menjadi Waham somatik: percaya adanya gangguan pada Waham kebesaran: percaya memiliki kehebatan atau Waham curiga: kecurigaan yang berlebihan atau Nihilistik : klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada kesayangan supranatural atau alat supranatural bagian tubuh kekuatan luar biasa irasional dan tidak percaya dg orang lain di dunia/ meninggal yang dinyatakan secara berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan. 9) Siar pikir: percaya bahwa pikirannya disiarkan ke Sisip pikir: percaya ada pikiran orang lain yang masuk Kontrol pikir: merasa perilakunya dikendalikan oleh dunia luar dalam pikirannya pikiran orang lain Tingkat kesadaran stupor diperoleh melalui observasi, orientasi klien (waktu, tempat, orang) diperoleh melalui wawancara a) Bingung . tampak bingung dan kacau. b) Sedasi : mengatakan merasa melayang-layang antara sadar/ tidak sadar. c) Stupor : gangguan motorik seperti kekakuan, gcrakangerakan yang diulang, anggota tubuh klien dapat dikatakan dalam sikap canggung dan dipertahankan klien, tapi klien mengerti semua yang terjadi dilingkungan. d) Orientasi waktu, tempat, orang jelas 10) Memori. daya daya ingat ingat jangka jangka panjang pendek : : tidak tidak dapat dapat 18 a) Gangguan b) Gangguan

mengingat kejadian yang terjadi lebih dari satu bulan

mengingat kejadian yang terjadi dalam minggu terakhir. c) Gangguan daya ingat saat ini : tidak dapat mengingat kejadian yang baru saja terjadi. d) Konfabulasi : pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan dengan memasukan cerita yang tidak benar untuk menutupi gangguan daya ingatnya. 11) Tingkat konsentrasi dan berhitung Data diperoleh melalui wawancara a) Mudah dialihkan : perhatian klien mudah berganti dari satu objek ke objek lain. b) Tidak mampu berkonsentrasi : klien selalu minta agar pertanyaan pembicaraan. c) Tidak 12) mampu berhitung : tidak dapat melakukan penambahan/ pengurangan pada benda-benda nyata. Kemampuan penilaian a) Gangguan kemampuan penilaian ringan: dapat mengambil keputusan yang sederhana dengan bantuan orang lain. Contoh : berikan kesempatan pada klien untuk memilih mandi dulu sebelum makan atau makan dulu sebelum mandi. Jika diberi penjelasan, klien dapat mengambil keputusan. b) Gangguan kemampuan penilaian bermakna : tidak mampu mengambil keputusan walaupun dibantu orang lain. Contoh : berikan kesempatan pada klien untuk memilih mandi dulu sebelum makan atau makan dulu sebelum mandi. Jika diberi 13) penjelasan klien masih tidak mampu mengambil keputusan. Daya tilik diri Data diperoleh melalui wawancara a. Mengingkari penyakit yang diderita : tidak menyadari gejala penyakit (perubahan fisik, emosi) pada dirinya dan merasa tidak perlu pertolongan. b. Menyalahkan hal-hal diluar dirinya : menyalahkan orang lain/ lingkungan yang menyebabkan kondisi saat orang lain/ lingkungan yang menyebabkan kondisi saat ini. f. Kebutuhan persiapan pulang 19 diulang/ tidak dapat menjelaskan kembali

1.

Makan a) Observasi dan tanyakan tentang frekuensi, jumlah, variasi, macam (suka/ tidak suka/ pantang) dan cara makan. b) Observasi kemampuan klien dalam menyiapkan dan membersihkan alat makan.

2. 3.

BAB/BAK, Pergi, menggunakan dan membersihkan WC Membersihkan diri dan merapikan pakaian Mandi a) Observasi dan tanyakan tentang frekuensi, cara mandi, menyikat gigi, cuci rambut, gunting kuku, cukur (kumis, jenggot dan rambut) b) Observasi kebersihan tubuh dan bau badan.

Observasi kemampuan klien untuk BAB / BAK.

4.

Berpakaian a) Observasi kemampuan klien dalam mengambil, memilih dan mengenakan pakaian dan alas kaki. b) Observasi penampilan dandanan klien. c) Tanyakan dan observasi frekuensi ganti pakaian. d) Nilai kemampuan yang harus dimiliki klien: mengambil, memilih dan mengenakan pakaian.

5. 6. 7. -

lstirahat dan tidur Lama dan waktu tidur siang / tidur malam Persiapan sebelum tidur seperti: menyikat gigi, cuci kaki Kegiatan sesudah tidur, seperti: merapikan tempat tidur, Penggunaan obat Penggunaan obat: frekuensi, jenis, dosis, waktu dan cara. Reaksi obat. Pemeliharaan kesehatan Apa, bagaimana, kapan dan kemana, perawatan dan

Observasi dan tanyakan tentang:

dan berdoa. mandi/ cuci muka dan menyikat gigi. Observasi dan tanyakan kepada klien dan keluarga tentang:

Tanyakan kepada klien dan keluarga tentang: pengobatan lanjut. 20

Siapa saja sistem pendukung yang dimiliki (keluarga,

teman, institusi dan lembaga pelayanan kesehatan) dan cara penggunaannya. 8. 9. Kegiatan di dalam rumah Merencanakan, mengolah dan menyajikan makanan Merapikan rumah (kamar tidur, dapur, menyapu, Tanyakan kemampuan klien dalam:

mengepel). Mencuci pakaian sendiri Mengatur kebutuhan biaya sehari-hari Kegiatan di luar rumah Belanja untuk keperluan sehari-hari Dalam melakukan perjalanan mandiri dengan jalan kaki, Kegiatan lain yang dilakukan klien di luar rumah (bayar

Tanyakan kemampuan klien

menggunakan kendaraan pribadi, kendaraan umum) listrik/ telpon/ air, kantor pos dan bank). g. Masalah psikososial dan lingkungan Data didapatkan melalui wawancara pada kilen atau keluarganya. Pada tiap masalah yang dimiliki klien beri uraian spesifik, singkat dan jelas. h. Pengetahuan Data didapatkan melalui wawancara dengan klien kemudian tiap bagian yang dimiliki klien di simpulkan dalam masalah.

K. Pohon Masalah Waham


E ffe c t R e s ik o T in g g i P e r i la k u K e k e r a s a n

C o r e P r o b le m

P e r u b a hSaenn s o r i W aham

C a u sa

I s o l a s i S o s ia l: M e n a r ik D ir i
21

H a r g a D ir i R e n d a h K r o n is

L. Prinsip Intervensi Keperawatan


1. Aspek medic Terapi yang diterima oleh klien: ECT, terapi antara lain seperti terapi psikomotor, terapi tingkah laku, terapi keluarga, terapi spiritual, terapi lingkungan, Tuliskan diagnosa medik klien yang telah dirumuskan oleh dokter yang merawat. 2. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji. a. Masalah keperawatan : 1) 2) 3) 4) 1) Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan Kerusakan komunikasi : verbal Perubahan isi pikir : waham Gangguan konsep diri : harga diri rendah. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan a) Data subjektif Klien memberi kata-kata ancaman, mengatakan benci dan kesal pada seseorang, klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal, atau marah, melukai / merusak barang-barang dan tidak mampu mengendalikan diri b) Data objektif Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dank keras, bicara menguasai, ekspresi marah, pandangan tajam, merusak dan melempar barang-barang. 2) Kerusakan komunikasi : verbal a) Data subjektif Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik b) Data objektif Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata kurang 3) Perubahan isi pikir : waham ( .) a) Data subjektif : Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan. 22

b. Data yang perlu dikaji :

b) Data objektif : Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung 4) Gangguan harga diri rendah a) Data subjektif Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri b) Data objektif Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup 3. Diagnosa Keperawatan. a. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham b. kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham c. Perubahan isi pikir waham berhubungan dengan harga diri rendah d. Defisit perawatan diri berhubungan dengan intoleransi aktivitas e. Gangguan pola tidur b/d waham 4. Intervensi. a. Resiko 1) 2) mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham Tujuan Umum: Tujuan Khusus: a) Klien dapat membina hubungan saling percaya. Tindakan: Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai. Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak empati, sebut nama perawat dan jelaskan tujuan interaksi. Klien terhindar dari mencederai diri, orang lain dan lingkungan.

menantang. Beri perhatian dan penghargaan : teman klien walau tidak menjawab. 23

b) Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan. Tindakan: c) Klien kekerasan. Tindakan : Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan Observasi tanda perilaku kekerasan. Simpulkan bersama klien tanda tanda jengkel/kesal dirasakan saat jengkel/kesal. Beri kesempatan mengungkapkan perasaan. Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal. Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan dapat mengidentifikasi tanda tanda perilaku

bermusuhan klien dengan sikap tenang.

yang dialami klien. d) Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. Tindakan: Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku biasa dilakukan. kekerasan yang biasa dilakukan. Tanyakan apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai? e) Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan. Tindakan: sehat. f) Klien Tindakan : Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat. Diskusikan cara lain yang sehat. Secara fisik : tarik 24 dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan. Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan. Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang

digunakan.

nafas dalam jika sedang kesal, berolah raga, memukul bantal / kasur. Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah Secara spiritual : berdoa, sembahyang, memohon atau kesal/ tersinggung kepada Tuhan untuk diberi kesabaran. g) Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan. Tindakan: Bantu memilih cara yang paling tepat. Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih. Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat

dipilih.

dicapai dalam simulasi. jengkel / marah. h) Klien mendapat dukungan dari keluarga. Tindakan : Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga. klien melalui pertemuan keluarga. i) Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program). Tindakan: Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, Bantu klien mengunakan obat dengan prinsip 5 benar Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping frekuensi, efek dan efek samping) (nama klien, obat, dosis, cara dan waktu). obat yang dirasakan. b. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham 1) 2) Tujuan umum : Tujuan khusus : a) Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan 25 Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal

perawat Tindakan : Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan perkenalkan

lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas topik, waktu, tempat). Jangan membantah dan mendukung waham klien: perawat menerima keyakinan klien saya katakan

menerima keyakinan anda disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham klien. Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi: katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian. Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri. b) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki Tindakan : Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian yang realistis. pada waktu lalu dan saat ini yang realistis. anjurkan untuk melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari hari dan perawatan diri). Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting. c) Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi Tindakan : Observasi kebutuhan klien sehari-hari. Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik

selama di rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah) 26

Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi

timbulnya waham. kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin). Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya. d) Klien dapat berhubungan dengan realitas Tindakan : Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang orang lain, tempat dan waktu). orientasi realitas. dilakukan klien e) Klien dapat menggunakan obat dengan benar Tindakan : Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar. frekuensi, efek dan efek samping minum obat benar (nama pasien, obat, dosis, cara dan waktu). obat yang dirasakan f) Klien dapat dukungan dari keluarga Tindakan : Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat. rendah 1) Tujuan umum : Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan meningkat harga dirinya. 2) Tujuan khusus : 27 Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga. c. Perubahan isi pikir waham berhubungan dengan harga diri

a) Klien dapat membina hubungan saling percaya Tindakan : Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan perkenalan

lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan Sediakan waktu untuk mendengarkan klien Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah perasaannya

seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri b) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Tindakan : Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif klien, utamakan memberi pujian yang realistis yang dimiliki c) Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan. Tindakan : Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah d) Klien dapat menetapkan/merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Tindakan : klien Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh 28 klien lakukan Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi dilakukan setiap hari sesuai kemampuan

e) Klien

dapat

melakukan

kegiatan

sesuai

kondisi

dan

kemampuan Tindakan : Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan Beri pujian atas keberhasilan klien Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah

f) Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada Tindakan : aktivitas. Tujuan umum : Klien dapat melakukan perawatan diri Kriteria Hasil : Klien dapat menyebutkan keuntungan dari melakukan perawatan diri seperti memelihara kesehatan dan memberi rasa nyaman dan segar. Klien dapat menyebutkan kerugian dari tidak melakukan Klien dapat melakukan perawatan diri seperti : mandi perawatan diri seperti terkena penyakit, sulit mendapat teman. memakai sabun 2 x sehari, menggosok gigi dan mencuci rambut, memotong kuku. Intervensi : 1) 2) 3) 4) 5) Diskusikan tentang keuntungan melakukan perawatan diri Dorong klien untuk menyebutkan kembali keuntungan Beri pujian terhadap kemampuan klien dalam menyebutkan Diskusikan tentang kerugian tidak melakukan perawatan diri Beri pujian terhadap kemampuan klien dalam menyebutkan 29 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang Bantu keluarga memberi dukungan selama klien Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga cara merawat klien dirawat

d. Defisit perawatan diri berhubungan dengan intoleransi

dalam melakukan perawatan diri keuntungan melakukan perawatan diri.

kerugian tidak melakukan perawatan diri.

6) 7) diri

Dorong dan bantu klien dalam melakukan perawatan diri Beri pujian atas keberhasilan klien melakukan perawatan

Rasional : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang perlunya Untuk mengetahui tingkat pemahaman klien tentang perawatan diri informasi yang telah diberikan Reinforcement posisitf dapat menyenangkan hati pasien. Untuk meningkatkan kemampuan pengetahuan klien

tentang perlunya perawatan diri. Reinforcement positif untuk menyenangkan hati klien. Untuk meningkatkan minat klien dalam melakukan

perawatan diri Reinforcement positif dapat menyenangkan hati klien dan meningkatkan minat klien untuk melakukan perawatan diri.

30