Anda di halaman 1dari 55

MAKALAH SISTEM IMUN-HEMATOLOGI ANEMIA DEFISIENSI BESI DAN ANEMIA HIPOVOLEMIK

Oleh
1. 2. 3. 4. 5. 6. Mary Danila Paays Taufik Hidayatulloh Shelpi Novita Kristiani Rista Melyana Purba Laras Sriana Susi Lidnowati 7. Devi Tyas Melati 8. Eka Wahyuningtyas 9. Rayi Dwi Jullyan 10.Tri wahyudi 11.Monanda Chyntia Rossa 12.Sri Pamungkas

S1 KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA 2010 / 2011

SISTEM IMUN DAN HEMATOLOGI

1.

Perkembangan Struktur Dan Fungsi Hematologi

Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup yang berada dalam ruang vaskuler, karena perannya sebagai media komunikasi antarsel ke berbagai bagian tubuh dengan dunia luar karena fungsinya membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida dari jaringan ke paru-paru untuk dikeluarkan, membawa zat nutrien dari saluran cerna ke jaringan kemudian mengantarkan sisa metabolisme melalui organ sekresi seperti ginjal, menghantarkan hormon dan materi-materi pembekuan darah.

A. Karakteristik Darah

Karakteristik umum darah meliputi warna, viskositas, pH, volume dan komposisi nya. 1. Warna Darah arteri berwarn merah muda karena banyak oksigen yang berkaitan dnegan hemoglobin dalam sel darah merah. Darah vena berwarna merah tua/gelap karena kurang oksigen dibandingkan dengan darah arteri.

2. Viskositas Viskositas darah lebih tinggi daripada viskositas air yaitu sekitar 1.048 sampai 1.066.

3. pH pH darah bersifat alkaline dengan pH 7.35 sampai 7.45 (netral 7.00)

4. volume pada orang dewasa volume darah sekitar 70 samapi 75 ml/kg BB, atau sekitar 4 sampai 5 liter darah.

5. Komposisi Darah tersusun atas dua komponen utama yaitu;

a. Plasma darah yaitu bagian cair darah (55%) yang sebagian terdiri dari air (92%),7% protein, 1% nutrein, hasil metabolisme, gas pernapasan, enzim, hormon-hormon, faktor pembekuan dan garam-garaman organik. Proteinprotein dalam plasma terdiri dari serum albumin (alpha-1 globulin, alpha-2 globulin, beta globulin dan gamma globulin), fibrinogen, protombine dan protein ensensial untuk koagulasi. Serum albumin dan gamma globulin sangat penting untuk mempertahankan tekanan osmotik koloid, dan gamma globulin juga mengandung antibody (immunoglobulin) seprti IgM. IgG, IgA, IgD dan IgE untuk mempertahankan tubuh terhadap mikroorganisme.

b. Sel-sel darah/butir darah (bagian padat) kira-kira 45%, teridri atas eitrosit atau sel darah merah (SDM) atau red blood cell (RBC), Leukosit atau sel darah putih (SDP) atau white blood cell (WBC) dan trombosit atau platelet. Sel darah merah merupakan unsur terbanyak dari sel darah (44%) sedangkan sel darah putih dan trombosit 1%. Sel darah putih terdiri dari basofil, eosinofil, neutrofil, limfosit dan monosit.

B. Struktur Sel Darah 1. Sel Darah Merah (Eritrosit)

Sel darah merah berbntuk cakram bionkaf dnegan diameter sekitar 7.6 mikron, tebal bagian tepi 2 mikron dan bagian tengahnya 1 mikron atau kurang, tersusun atas membran yang sangat tipis sehingga sangat mudah terjadi diffusi oksigen, karbondioksida dan sitoplasma, tetapi tidak mempunyai inti sel. Sel darah merah yang matang mengandung 200-300juta hemoglobin (terdiri hem merupakan gabungan protoprofirin dengan besi dan globin adalah bagian dari protein yang tersusun oleh dua rantai alpha dan dua rantai beta) dan enzim-enzim seperti G6PD (glukose6-phospahate dehydogenase). Hemoglobin mengandung kira-kira 95% bersi besi dan berfungsi membawa oksigen dengan cara mengikat oksigen (oksihemoglobin) dan diedarkan ke seluruh tubuh untuk kebutuhan metabolisme.Oksihemoglobin berwarna merah lebih terang dibanding hemoglobin yang tidak mengandung oksigen (hemoglobin tereduksi), maka darah arteri berwarna lebih terang dibanding darah vena. Darah keseluruhan normalnya mengandung 15g hemoglobin per 100 ml darah, atau 30 m hemoglobin per seribu eritrosit. Kadar normal hemoglobin tergantung usia dan jenis kelamin.

a. Hemiglobin

Hemoglobin adalah protein dan pigmen merah yang terdapat dalam sel darah merah. Normalnya dalam darah pada laki-laki 15.5g/dl dan pada wanita 14.0g/dl. Rata-rata

konsentrasi hemoglobin (MCHC = Mean Cell Concentration of Hemoglobin) pada sel darah merah 32g/dl. Fungsi hemoglobin adalah mengangkut oksigen dari paru dan dalam peredaran darah untuk dibawa ke jaringan. Ikatan hemoglobin dengan oksigen disebut oksihemboglobin (HbO2). Disamping oksigen, hemoglobin juga membawa karbondioksida dan dengan karbonmonoksida membentuk ikatan karbon monoksihemoglobin (HbCO), juga berperan dalam keseimbangan pH darah. Sintesis hemoglobin terjadi selama proses eritropisis, pematagan sel darah merah akan mempengaruhi fungi hemoglobin.

Struktur hemoglobin terdiri dua unsur utama yaitu : a) Besi yang mengandung pigmen hem b) Protein gloin, seperti halnya jenis protein lain, globin mempunyai rantai panjang dari asam amino. Ada empat rantai globin yaitu alpha (), beta (), delta () dan gamma ().

Ada tiga jenis hemoglobin yaitu : 1) HbAmerupakan kebanyakan dari hemoglobin orang dewasa, mempunyai rantai globin 2 dan 2. 2) HbA2 merupakan minoritas hemoglobin pada orang dewasa, mempunyai rantai globin 2 dan 2. 3) HbF merupakan hemoglobin fetal, mempunyai rantai globin 2 dan 2. Saat bayi baru lahir 2/3nya adalah jenis hemoglobinnya adalah HbF dan 1/3 nya adalah HbA. Menjelang usia 5 tahun menjadi HbA>95%, HbA2<3.5% dan HbF<1.5%.

Produksi Eritrosit (Eritropoesis). Eritloblas muncul dari sel stem primitif dalam sumsum tulang. Eritloblas adalah sel berinti yang dalam proses pematangan disumsum tulang menimbun hemoglobin dan secara bertahap kehilangan intinya. Pada tahap ini, sel dikenal sebagai retikulosit. Pematangan lebih lanjut menjadi eritrosit, disertai dengan menghilangnya material berwarna gelap dan sedikit penyusutan ukuran. Eritrosit matang
5

kemudian dilepaskan dalam sirkulas. Dalam keadaan eritropeis cepat, retikulasi dan sel imatur lainnya dapat dilepaskan dalam sirkulasi sebelum waktunya. Diferensiasi sel sistem multipotensial primitif sumsum tulang menjadi eritroblas distimulasi oleh eritropotein, suatu substansi yang diproduksi terutama oleh ginjal. Dalam keadaan hipoksia lama, seperti pada keadaan kasus orang yang tinggal di ketinggian atau setelah perdarahan berat, terjadi peningkatan kadar eritroprotein dan stimulasi produksi sel darah merah. Destruksi Sel Darah Merah. Rata-rata rentang hidup sel darah yang bersirkulasi adalah 120 hari. Sel darah merah tua dibuang dari darah oleh sistem retikuloendotelial, khususnya dalam hati dan limpa. Sel retikuloendotelial menghasilkan pigmen yang disebut bilirubin, berasal dari hemoglobin yang dilepaskan dari sel darah merah rusak. Bilirubin merupakan hasil sampah yan dieksresikan dalam empedu. Besi yang dibebaskan dari hemoglobin selama pembentukan bilirubin, diangkut dalam plasma ke sumsum tulang dalam keadaan terikat pada protein yang dinamakan transferin, yang kemudian diolah lagi untuk menghasilkan hemoglinin baru. Fungsi Eritrosit. Fungsi utama sel darah merah adalah membawa oksigen dari paru ke jaringan. Eritrosit mempunyai kemampuan khusus melakukan fungsi ini karena kandungan hemoglobinnya tinggi. Apabila tidak ada hemoglobin, kapasitas pembawa oksigen darah dapat berkurang samapi 99% dan tentunya tidak muncukupi kebutuhan metabolisme tubuh. Fungsi penting hemoglobin adalah kemampuannya mengikat oksigen dengan longgar dan reversibel. Akibatnya, oksigen yang langsung terikat dalam paru, diangkut sebagai iksihemoglobin dalam darah aterial, dan langsung terurai dan hemoglobin dalam jaringan. Dalam darah vena, homoglobin bergabung dengan ion hidrogen yang dihasilkan oleh metabolisme sel sehingga dapat menyangga kelebihan asam.

b. Sel Darah Putih (Leukosit)

Pada keadaan normal jumlah sel darah putih atau leukosit 5000-10.000 sel/mm3. Leukosit terdiri dari dua kategori yaitu yang bergranulosit dan yang agranulosit. a. Granulosit, yaitu sel darah putih yang didalam sitoplasma nya terdapat granula. Granulosit dibagi dalam tiga sub grup, yang ditandai dengan perbedaan kemampuannya mengikat warna seperti yang terlihat dalam pemeriksaan mikroskopis. Eosinofil memiliki granula berwarna merah terang dalam sitoplasmanya, sementara granula pada basofil berwarna biru. Yang ketiga, dan yang paling banyak, adalah netrofil dengan granula yang berwarna ungu pucat. Jumlah granulosit yang bersirkulasi dalam tubuh orang sehat relatif tetap, namun apabila ada infeksi, sejumlah besar sel ini akan dilepaskan kedalam sirkulasi. Produkdi granulosit dari kubangan sel stem diperkirakan dikontrol dengan cara yang sama dengan regulasi produksi eritrosit oleh eritropoetin.

Eosinofil dan basofil berfungsi sebagai tempat penyimpanan berbagai material biologis kuat seperti histamin, serotonin, dan heparin. Pelepasan senyawa tersebut mempengaruhi suplai darah ke jaringan, seperti yang terjadi selama peradangan, dan membantu mobilisasi mekanisme pertahanan tubuh. Pengikatan jumlah eosinofil pada keadaan alergi menunjukan bahwa sel ini terlibat dalam reaksi hipersensitivitas. granulosit (Leukosit Monokulear) (limfosit dan monosit), adalah sel darah putih dengan inti satu lobus dan sitoplasma nya bebas granula. Dalam darah orang
7

dewasa normal, limfosit berjumlah sekitar 30% dan monosit sekitar 5% dalam total leukosit. Limfosit matang adalah sel kecil dengan sitplasma sedikit. Diproduksi terutama oleh nodus limfe dan jaringan limfoid usus, limpa, dan kelenjar timus dari sel prekursor yang berasal sebagai sel stem sumsum. Monosit adalah leukosit yang terbesar. Diproduksi oleh sumsum tulang dan dapat berubah menjadi histiosit jaringan, termasuk sel Kupfer di hati, makrofag peritoneal, mkrofag alveolar, dan komponen lain sistem lain sistem retikuloendotelial.

Fungsi limfosit terutama menghasilkan substansi yang membantu penyerangan benda asing. Sekelompok limfosit (limfosit T) membunuh secara langsung atau menghasilkan berbagai limfokin, suatu substansi yang memperkuat aktivitas sel fagostik. Kelompok limfosit lainnya (limfosit B) menghasilkan antibodi, suatu molekul protein yang akan menghancurkan benda asing dengan berbagai mekanisme. Fungsi Leukosit. Fungsi leukosit adalah melindungi tubuh terhadap invasi bakteri atau benda asing lainnya. Fungsi utama netrofilik PMN (lekosit polimorfonuklear) adalah mamakan benda asing (fagositosis). Netrofil tiba di tempat dalam waktu satu jam setelah awitan reaksi peradangan dan mulai fagositosis, namun relatif berumur pendek. Kehadiran monosit lebih lambat, namun sel ini terus melakukan aktivitas fagositik dalam jangka lama.

c. Trombosit

Trombist merupakan partikel kecil, derdiameter 2-4 m, yang terdapat dalam sirkulasi plasma darah. Karena dapat mengalami disintegrasi cepat dan mudah, jumlahnya selalu berubah antara 150.000 dan 450.000 per mm3 darah, tergantung jumlah yang dihasilkan, bagaimana digunakan, dan kecepatan kerusakan. Dibentuk oleh fragmentasi raksasa sumsum tulang, yang disebut trombomegakarosit. Produksi trombosit diatur oleh trombopoetin. Trombosit berperan penting dalam perdarahan. Apabila terjadi cedera vaskuler, trombosit mengumpul pada tempat cedera tersebut. Substansi yang dilepaskan dari granula trombosit dan sel darah lainnya menyebabkan trobosit menempel satu sama lain dan membentuk tambalan atau sumbatan, yang sementara menghentikan perdarahan. Sibstansi lain dilepaskan dari trombosit untuk mengaktifasi faktor pembekuan dalam plasma darah. Fungsinya berkaitan dengan pembekuan darah dan hemostatis (menghentikan perdarahan). Bila pembuluh darah mengalami injuri atau kerusakan maka dapat dihentikan dengan serangkaian proses : a. Permukaannya menjadi lengket, sehingga memungkinkan trombosit saling mmelekat dan menutupi luka karena ada pembekuan darah. b. Merangsang pengerutan pembuluh darah, sehinga terjadi penyempitan ukuran lubang pembuluh darah. C. Fungsi Darah Secara umum fungsi darah adalah : 1. Transport Internal Darah membawa berbagai macam substansi untuk fungsi metabolisme. a) Respirasi, Gas oksigen dan karbondioksida oleh hemoglobin dalam sel darah merah dan plasma, kemudian terjadi pertukaran gas di paru-paru. b) Nutrisi, Nitrien/zat gizi diabsorpsi dari usus, kemudian dibawa dalam plasma ke hati dan jaringan-jaringan lain yang digunakan untuk metabolisme. c) Sekresi, Hasil metabolisme dibawa plasma ke dunia luar melalui ginjal. d) Mempertahankan air, elektrolit dan keseimbangan asam basa dan juga berperan dalam hemoestasis.

e) Regulasi metabolisme, hormon dan enzim atau keduanya mempunyai efek dalam aktifitas metabolisme sel, dibawa dalam plasma. 2. Proteksi tubuh terhadap bahaya mikroorganisme, yang merupakan fungsi dari sel darah putih. 3. Proteksi terhadap cedera dan perdarahan Proteksi erhadap respon peradangan lokal terhdapa cedera jaringan. Pencegahan perdarahan merupakan fungsi dari tromvosit karena adanya faktor pembekuan, fibrinotik yang ada dalam plasma. 4. Mempertahankan temperatur tubuh Darah membawa panas dan bersirkulasi keseluruh tubuh. Hasil metabolisme juga menghasilkan energi dalam bentuk panas.

Fungsi dari komponen darah Komponen darah Fungsi

Sel darah : a. Eritrosit ( sel darah merah ) b. Leukosit ( sel darah putih ) c. Trombosit a) Transport oksigen b) Proteksi terhadap agen infeksi c) Berperan dalam pembekuan darah

Sirkulasi sel darah dan berperan dalam Plasma Air Plasma protein Albumin Fibrinogen membentuk tekanan darah.

Menentukan intravaskuler

tekanan

osmotic

Berperan dalam pembekuan darah Membawa substansi protein lain dalam pembentukan immune antibody dan respon

Globulin

Berperan

dalam

menstabilkan

pembekuan darah

10

Faktor pembekuan

Sumber energi Berperan dalam pertumbuhan dan

Nutrisi Glukosa Asam amino Lemak

perbaikan sel Sumber energi sel jika tidak ada glukosa Berperan dalam fisiologi fungsi tubuh Memfasilitasi dalam reaksi biokimia Berperan dalam fisiologi fungsi tubuh

Vitamin

Elektrolit

Hormon

11

2. SEL-SEL DARAH MANUSIA

a. Sel-sel Darah Merah ( Eritrosit ) Fungsi Utama : Mengangkut Hemoglobin Mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan

Fungsi Lain : mengandung banyak sekali karbonik anhidrase

Sel Darah Merah Normal : Berbentuk lempeng bikonkaf Diameter 7,8 mikrometer Ketebalan pada bagian yang tebal 2,5 mikrometer pada bagian tengah kurang dari 1 mikrometer

b. sel darah putih Netrofil polimorfonuklir Eosinofil polimorfonuklir Basofil polimorfonuklir Monosit Limfosit Sel plasma

1. Presentase normal dari sel darah putih : Netrofil polimorfonuklir 62,0 % Eosinofil polimorfonuklir 2,3 % Basofil polimorfonuklir 0,4 % Monosit 5,3 % Limfosit 30,0 %

12

2. Macam- macam leukosit meliputi: a. Agranulosit Sel leukosit yang tidak mempunyai granula didalamnya, yang terdiri dari: Limposit Macam leukosit yang dihasilkan dari jaringan RES dan kelenjar limfe, bentuknya ada yang besar dan kecil, di dalam sitoplasmanya tidak terdapat glandula dan intinya besar, banyaknya kira- kira 20%-15% dan fungsinya membunuh dan memakan bakteri yang masuk ke dalam jarigan tubuh. Monosit. Terbanyak dibuat di sumsum merah, lebih besar dari limfosit, fungsinya sebagai fagosit dan banyaknya 34%. Di bawah mikroskop terlihat bahwa protoplasmanya lebar, warna biru abu-abu mempunyai bintik-bintik sedikit kemerahan. Inti selnya bulat dan panjang, warnanya lembayung muda. Granulosit atau Granular a) Neutrofil

Atau disebut juga polimorfonuklear leukosit, mempunyai inti sel yang kadangkadang seperti terpisah-pisah, protoplasmanya banyak bintik-bintik halus / glandula, banyaknya 60%-50%. b) Eusinofil Ukuran dan bentuknya hampir sama dengan neutrofil tetapi granula dan sitoplasmanya lebih besar, banyaknya kira-kira 24%. c) Basofi

Sel ini kecil dari eusinofil tetapi mempunyai inti yang bentuknya teratur, di dalam protoplasmanya terdapat granula-granula besar. Banyaknya setengah bagian dari sumsum merah, fungsinya tidak diketahui.
13

3. Nilai Normal Darah Manusia (Hb, Ht, RBC, WBC) Dan Fungsinya

a. Hemoglobin (Hb) : Media transport oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh. Nilai normal Hb : Pria : 13.5 17.5 g/dL atau 13 16 g/dL Wanita : 12 15 g/dL

b. Hematokrit (Ht) Nilai normal Ht : Pria : 41.0 53.0 % atau 40 54 % Wanita : 36 47 %

c. RBC (Red Blood Cell) Fungsi RBC : o Mengangkut Hemoglobin. o Mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan. o Mengandung banyak sekali karbonik anhidrase Nilai Normal RBC : Laki Laki Dewasa : 4,3 jt 5,9 jt/mL Wanita Dewasa Bayi Anak usia 3 bulan Anak usia 1 th Anak usia 10-12 th : 3,9 jt 4,8 jt/mL : 5,0 jt 7.0 jt/mL : 3,2 jt 4,8 jt/mL : 3,6 jt 5,2 jt/mL : 4,0 jt 5,4 jt/mL

d. WBC (White Blood Cell) : Membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian ari sistem kekebalan tubuh. Normal : 5,0-10 x 109/l

14

ANEMIA
a. Definisi Anemia Anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin, dan volume pada sel darah merah (hematokrit) per 100 ml darah. Dengan demikian, anemia bukan suatu diagnosis melainkan pencerminan dari dasar perubahan patofisiologis, yang diuraikan oleh anamnesa dan pemikiran fisik yang teliti, serta ASI didukung oleh pemeriksaan laboratorium.

b. Etiologi Anemia Anemia disebabkan oleh berbagai jenis penyakit, namun semua kerusakan tersebut secara signifikan akan mengurangi banyaknya oksigen yang tersedia untuk jaringan. Menurut Brunner dan Suddart (2001), beberapa penyebab anemia secara umum antara lain : 1. Secara fisiologis anemia terjadi bila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan. 2. Akibat dari sel darah merah yang prematur atau penghancuran sel darah merah yang berlebihan. 3. Produksi sel darah merah yang tidak mencukupi. 4. Faktor lain meliputi kehilangan darah, kekurangan nutrisi, faktor keturunan, penyakit kronis dan kekurangan zat besi.

c. Tanda dan Gejala Anemia

1. Pusing 2. Mudah berkunang-kunang 3. Lesu 4. Aktivitas kurang 5. Rasa mengantuk 6. Susah konsentrasi 7. Cepat lelah 8. Prestasi kerja fisik/pikiran menurun
15

9. Konjungtiva pucat 10. Telapak tangan pucat 11. Iritabilitas dan Anoreksia 12. Takikardia , murmur sistolik 13. Letargi, kebutuhan tidur meningkat 14. Purpura 15. Perdarahan

d. Manifestasi klinik Pada anemia, karena semua sistem organ dapat terlibat, maka dapat menimbulkan manifestasi klinik yang luas. Manifestasi ini bergantung pada: 1. Kecepatan timbulnya anemia 2. Umur individu 3. Mekanisme kompensasinya 4. Tingkat aktivitasnya 5. Keadaan penyakit yang mendasari, dan 6. Parahnya anemia tersebut.

Karena jumlah efektif sel darah merah berkurang, maka lebih sedikit O2 yang dikirimkan ke jaringan. Kehilangan darah yang mendadak (30% atau lebih), seperti pada perdarahan, menimbulkan simtomatoogi sekunder hipovolemia dan hipoksemia. Namun pengurangan hebat massa sel darah merah dalam waktu beberapa bulan (walaupun pengurangannya 50%) memungkinkan mekanisme kompensasi tubuh untuk menyesuaikan diri, dan biasanya penderita asimtomatik, kecuali pada kerja jasmani berat. Mekanisme kompensasi bekerja melalui: 1. Peningkatan curah jantung dan pernafasan, karena itu menambah pengiriman O2 ke jaringan-jaringan oleh sel darah merah. 2. Meningkatkan pelepasan O2 oleh hemoglobin. 3. Mengembangkan volume plasma dengan menarik cairan dari sela-sela jaringan, dan 4. Redistribusi aliran darah ke organ-organ vital.

16

e. PATOFLOW ANEMIA

ERITROSIT / HEMOGLOBIN MENURUN

KAPASITAS ANGKUT OKSUGEN MENURUN

ANOKSIA ORGAN TARGET

MEKANISME KOMPENSASI TUBUH

MENIMBULKAN GEJALA ANEMIA BERGANTUNG PADA ORGAN YG DISERANG

SISTEM KARDIOVASKULER

SISTEM SARAF

SISTEM UROGENITAL

EPITEL

MENINGKATKAN CURAH JANTUNG

REDISTRIBUSI ALIRAN DARAH

TEKANAN O2 VENA

AFINITAS Hb TERHADAP O2 DENGAN MENINGKATKAN ENZIM 2,3 DPG

GEJALA ANEMIA

17

Patofolow Anemia Perdarahan

PERDARAHAN

TUBUH MENGGANTI CAIRAN PLASMA

KONSENTRASI ERITROSIT TURUN

TIDAK ADA PERDARAHAN BERULANGN

PERDARAHAN BERULANG

SEL DARAH MERAH NORMAL

TUBUH TIDAK DAPAT MENGABSORBSI BESI DARI USUS HALUS UNTUK PEMBENTUKAN Hb

SEL DARAH MERAH YANG MENGANDUNG Hb RENDAH

ANEMIA HIPOVOMELIK

18

PATOFLOW ANEMIA DEFISIENSI BESI

total zat besi dalam tubuh menurun (karena cadangan dan intake zat besi yang menurun)

penurunan zat besi pada hepatosit dan makrofag hati, limpa dan sumsum tulang belakang.

cadangan habis

terjadi penurunan kadar Fe dalam plasma

padahal suplai Fe pada sumsum tulang untuk pembentukan hemoglobin

peningkatan eritrosit tetapi mikrositik (ukuran eritrosit lebih


kecil dari ukuran eritrosit normal)

kadar hemoglobin

Malaise, cepat lelah, mata berkunang kunang


19

F. Kriteria Anemia Penentuan anemia pada seseorang tergantung pada usia,jenis kelamin dan tempat tinggal. Kriteria anemia menurut WHO (1968) adalah : Laki-laki dewasa Wanita dewasa tidak hamil Wanita hamil Anak umur 6-14 thn : Hb <13 g/dl : Hb <12 g/dl : Hb <11 g/dl : Hb <12 g/dl

Anak umur 6 bulan-6 tahun : Hb <11g/dl Secara klinis kriteria anemia di Indonesia umumnya adalah 1. Hemoglobin 2. Hemotokrit 3. Eritrosit <10 g/dl < 30% < 2.8 juta/mm3

(I Made Bakta, 2003)

Derajat Anemia Derajat anemia berdasarkan kadar Hemoglobin menurut WHO : Ringan sekali : Hb 10 g/dl batas normal Ringan Sedang Berat : Hb 8 g/dl 9.9 g/dl : Hb 6 g/dl -7.9 g/dl : Hb < 6 g/dl

Departemen Kesehatan menetapkan derajat anemia sebagai berikut : Ringan sekali : Hb 11 g/dl batas normal Ringan : Hb 8 g/dl 11 g/dl
20

Sedang Berat

: Hb 5 g/dl -8 g/dl : Hb <5 g/dl

G. Klasifikasi Anemia Klasifikasi anemia berdasarkan penyebabnya didapat dikelompokan menjadi tiga kategori yaitu : 1) Anemia karena hilangnya sel darah merah, terjadi akibat perdarahan karena berbagai sebab seperti perlukaan, perdarahan gastrointestinal, perdarahan uterus, perdarahan hidung, perdarahan akibat operasi.

2) Anemia karena menurunnya produksi sel darah merah, dapat disebabkan karena kekurangan unsur penyusun sel darah merah (asam folat, vitamin B12 dan zat besi), gangguan fungsi sumsum tulang (adanya tumor, pengobatan, toksin), tidak adekuatnya stimulasi karena berkurangnya eritropoitin (pada penyakit ginjal kronik)

a. Anemia DefisiensiBesi Anemia defisiensi besi merupakan jenis anemia terbanyak didunia, terutama pada Negara miskin dan berkembang. Anemia ini merupakan gejala kronis dengan keadaan Hiprokromik (konsentrasi hemoglobin kurang), mikrositik yang disebabkan oleh suplai besi kurang dalam tubuh. Kurangnya besi berpengaruh dalam pembentukan hemoglobin sehingga konsentrasinya dalam sel darah merah berkurang, hal ini akan mengakibatkan tidak adekuatnya pengangkutan oksigen keseluruh jaringan tubuh. Tanda dan gejala yang khusus adalah a. Adanya kuku sendok dan rapuh b. Disfagia, nyeri saat menelan karena kerusakan epitelhipofaring. c. Hasillaboratorium : Penurunan Hb kurang dari 9.5 g/dl jumlah RBC berkurang hrmotrokit menurun serum besi< 50 mg/dl (N: 50-150 mg/dl)
21

Pengobatan anemia pada penderita defisiensi besi Pengobatan defisiensi besi mengharuskan identifikasi dan menemukan penyebab dasar anemia. Pembedahan mungkin diperlukan untuk menghambat perdarahan aktif yang diakibatkan oleh polip, tukak, keganasan dan hemoroid; perubahan diet mungkin diperlukan untuk bayi yang hanya diberi makan susu atau individu dengan idiosinkrasi makanan atau yang menggunakan aspirin dalam dosis besar. Walaupun modifikasi diet dapat menambah besi yang tersedia (misalnya hati, masih dibutuhkan suplemen besi untuk meningkatkan hemoglobin dan mengembalikan persediaan besi. Besi tersedia dalam bentuk parenteral dan oral. Sebagian penderita memberi respon yang baik terhadap senyawa-senyawa oral seperti ferosulfat. Preparat besi parenteral digunakan secara sangat selektif, sebab harganya mahal dan mempunyai insidens besar terjadi reaksi yang merugikan. b. Anemia Megaloblastik

Anemia inidisebabkan karena kerusakan DNA yang mengakibatkan tidak sempurnanya SDM. Keadaan ini disebabkan karena defisiensi Vit B12 (Cobalamin) dan asam folat. Karakteristik sel SDM nya adalah megaloblas (besar, abnormal, prematur SDM) dalam darah dan sumsum tulang. Selme galoblas ini fungsinya tidak normal, dihancurkan semasa dalam sumsum tulang sehingga terjadi eritropoesisti dakefektif dan masah iduperitrosit lebih pendek, keadaan ini mengakibatkan : Leukopenia (menurun nya jumlah SDP) Trombositopenia Pansitonenia Gangguan pada oral, gastrointestinal dan neurologi

Pencegahan anemia pada penderita anemia megaloblastik Kebutuhan minimal folat setiap hari kira-kira 50 mg mudah diperoleh dari diet rata-rata. Sumber yang paling melimpah adalah daging merah (misalnya hati dan ginjal) dan sayuran berdaun hijau yang segar. Tetapi cara menyiapkan makanan yang benar juga diperlukan untuk menjamin jumlah gizi yang adekuat. Misalnya 50% sampai 90% folat dapat hilang pada cara memasak yang memakai banyak air. Folat diabsorpsi dari duodenum dan
22

jejunum bagian atas, terikat pada protein plasma secara lemah dan disimpan dalam hati. Tanpa adanya asupan folat persediaan folat biasanya akan habis kira-kira dalam waktu 4 bulan. Selain gejala-gejala anemia yang sudah dijelaskan penderita anemia megaloblastik sekunder karena defisiensi folat dapat tampak seperti malnutrisi dan mengalami glositis berat (radang lidah disertai rasa sakit), diare dan kehilangan nafsu makan. Kadar folat serum juga menurun (<4 mg/ml). Pengobatan anemia pada penderita anemia megaloblastik.Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya pengobatan bergantung pada identifikasi dan menghilangkan penyebab dasarnya. Tindakan ini adalah memperbaiki defisiensi diet dan terapi pengganti dengan asam folat atau dengan vitamin B12. penderita kecanduan alkohol yang dirawat di rumah sakit sering memberi respon spontan bila di berikan diet seimbang.

c. Anemia Defisiensi Vitamin B 12 (Pernicious Anemia) Merupakan gangguan auto imun karena tidak adanya intrinsic faktor (IF) yang diproduksi di sel parietal lambung, sehingga terjadi gangguan absorpsivit. B12. Tanda dan gejalanya : Hb, Ht, SDM rendah Anemia BB menurun Gangguan neurologi (parestesi atangandan kaki, depresi, gangguan kognitif dan hilang memori)

d. Anemia Defisiensi Asam Folat Kebutuhan folat sangat kecil, biasanya terjadi pada orang yang kurang makan sayuran dan buah-buahan, gangguan pada pencernaan, akloholik dapat meningkatkan kebutuhan folat, wanita hamil, masa pertumbuhan. Defisiensi asam folat juga dapat mengakibatkan

sindrom mal absorpsi. Tanda dan gejalanya : Gangguan neurologi (gangguan kepribadian dan daya ingat) Disertai ketidak seimbangan elektrolit (magnesium, kalsium) Defisiensi asam folat kurang dari 3-4 ng/ml (N :7-20 ng/ml)
23

e. Anemia Aplastik

Terjadi akibat ketidak sanggupan sumsum tulang membentuk sel-sel darah. Kegagalan tersebut disebabkan karena kerusakan primer stem sel mengakibat kan anemia, leucopenia dan trombositopenia. Zat yang dapat merusak sumsum tulang disebut mielotoksin. Tanda dan gejalanya : kelemahan, letih demam nyeri kepala, dyspnea SDM dibawah 1 jt/mm3 Leukosit kurang dari 1000/mm3 trombosit 15000-30000/mm3

Pencegahan anemia aplastik dan terapi yang di lakukan Tindakan pencegahan dapat mencakup lingkungan yang dilindungi (ruangan dengan aliran udara yang mendatar atau tempat yang nyaman) dan higiene yang baik. Pada pendarahan dan/atau infeksi perlu dilakukan terapi komponen darah yang bijaksana, yaitu sel darah merah, granulosit dan trombosit dan antibiotik. Agen-agen perangsang sumsum tulang seperti androgen diduga menimbulkan eritropoiesis, tetapi efisiensinya tidak menentu. Penderita anemia aplastik kronik dipertahankan pada hemoglobin (Hb) antara 8 dan 9 g dengan tranfusi darah yang periodik. Penderita anemia aplastik berusia muda yang terjadi secara sekunder akibat kerusakan sel induk memberi respon yang baik terhadap tranplantasi sumsum tulang dari donor yang cocok (saudara kandung dengan antigen leukosit manusia [HLA] yang cocok). Pada kasus-kasus yang dianggap terjadi reaksi imunologis maka digunakan globulin antitimosit (ATG) yang mengandung antibodi untuk melawan sel T manusia untuk mendapatkan remisi sebagian. Terapi semacam ini dianjurkan untuk penderita yang agak tua atau untuk penderita yang tidak mempunyai saudara kandung yang cocok. 3) Anemia karena meningkatnya destruksi/kerusakan sel darah merah, dapat terjadi karena overaktifnya Reticuloendothelial System (RES).

24

a. Anemia Hemolitik Anemia hemolitik terjadi akibat peningkatan hemolysis dari eritrosit, sehingga usia sel darah merah lebih pendek. Tanda dan gejala nya : - anemia - demam, gangguan neuologi, pethekie, thalasemia - kelemahan, pucat - hepatomegali, kekuningan dan defisiensi folat, hemosiderosis

b. Anemia SelSabit Anemia sel-sel sabit adalah anemia hemolitika berat ditandai SDM kecil sabit, dan pembesaran limpa akibat kerusakan molekul Hb. Tanda dan gejalanya : - Kurang darah akan mengakibat kan hipoksia, infakserebri - Hb 7-10 g/dl - Disritmia, gagal jantung.

Tabel gizi dan Gejala yang terjadi Gizi Insiden Defisiensi Gejala yang khas dan Penyakit Dermatitis, radang mata, rambut rontok, Biotin Luar biasa kehilangan kontrol otot, insomnia,

kelemahan otot Kuku Kalsium rapuh, kram, delusi, depresi,

Diet rata-rata mengandung insomnia,

iritabilitas,

osteoporosis,

40 sampai 50% dari RDA * jantung berdebar, penyakit peridontal, rakhitis, kerusakan gigi

Khrom Tembaga

90% dari diet kekurangan

Kecemasan,

kelelahan,

intoleransi

glukosa, diabetes onset dewasa

75% dari diet kekurangan; Anemia, kerusakan arteri, depresi, diare,

25

diet rata-rata mengandung kelelahan, tulang rapuh, rambut rontok, 50% dari RDA * Asam lemak esensial Sangat umum hipertiroidisme, kelemahan Diare, kulit kering dan rambut, rambut rontok, gangguan kekebalan luka tubuh, yang

infertilitas,

penyembuhan

buruk, sindrom pramenstruasi, jerawat, eksim, batu empedu, degenerasi hati Diet rata-rata mengandung 60% dari RDA *;

kekurangan dalam 100% Anemia, apatis, diare, kelelahan, sakit Asam folat dari lansia dalam satu studi; kepala, kekurangan perempuan 48% insomnia, kehilangan nafsu

anak makan, cacat tabung saraf pada janin, remaja; paranoia, sesak napas, kelemahan

persyaratan ganda dalam kehamilan Yodium Jarang sejak suplementasi Kretinisme, garam dengan yodium berat badan Anemia, kuku rapuh, kebingungan, kelelahan, hipotiroidisme,

Besi

Defisiensi

mineral

yang

paling umum 75 sampai 85% dari diet

sembelit, depresi, pusing, kelelahan, sakit kepala, lidah meradang, lesi mulut Kecemasan, kebingungan, serangan

Magnesium

kekurangan: diet rata-rata mengandung 50 sampai

jantung, hiperaktif, insomnia, gugup, lekas marah otot, gelisah, kelemahan

60% dari RDA *

Aterosklerosis, Manggan Tidak diketahui, mungkin glukosa umum pada wanita

pusing,

kolesterol, gangguan

intoleransi,

pendengaran, kehilangan kontrol otot, dering di telinga

26

Buruk nafas, sariawan, kebingungan, depresi, dermatitis, diare, ketidakstabilan Niasin Umumnya pada lansia kekurangan emosi, kehilangan kelelahan, nafsu lekas makan, marah, gangguan

memori, kelemahan otot, mual, letusan kulit dan peradangan Sakit perut, membakar kaki, depresi, Asam Pantotenat (B5) Pola makan lansia rata-rata eksim, mengandung RDA * 60% dari gangguan kelelahan, rambut rontok, insomnia,

kekebalan,

iritabilitas, tekanan darah rendah, kejang otot, mual, koordinasi yang buruk Jerawat, sembelit, depresi, edema,

Kalium

Umumnya pada lansia

kekurangan

konsumsi air yang berlebihan, kelelahan, intoleransi tinggi, glukosa, kadar gangguan kolesterol mental,

insomnia,

kelemahan otot, gugup, refleks miskin Jerawat, anemia, radang sendi, radang 71% dari laki-laki dan 90% dari diet perempuan mata, depresi, pusing, sifat manis mulut wajah, penyembuhan kehilangan kelelahan, luka, lekas gangguan marah,

Pyridoxine (B6)

kekurangan

nafsu

makan,

kehilangan

rambut, lesi mulut, mual Penglihatan kabur, katarak, depresi,

dermatitis, pusing, rambut rontok, radang Kekurangan Inggris tua 30% orang mata, lesi mulut, gugup, gejala-gejala neurologis (mati rasa, kehilangan sensasi, "kejutan listrik" terhadap sensasi), cahaya,

Riboflavin

kejang.sensitivitas kelemahan kantuk,

27

Pertumbuhan gangguan, kadar kolesterol tinggi, Diet rata-rata mengandung 50% dari RDA peningkatan kejadian kanker,

pankreas insufisiensi (ketidakmampuan untuk mengeluarkan jumlah yang cukup enzim pencernaan), gangguan kekebalan tubuh, gangguan hati, kemandulan lakilaki Kebingungan, pencernaan, sembelit, mudah nafsu makan, masalah tersinggung, kehilangan

Selenium

Thiamin

Umumnya pada lansia

kekurangan kehilangan

memori, kegugupan, mati rasa tangan dan kaki, nyeri sensitivitas, koordinasi yang buruk, kelemahan Jerawat, gangguan rambut kering, kelelahan, insomnia,

pertumbuhan,

Vitamin A

20% dari diet kekurangan

hiperkeratosis (penebalan dan kekasaran kulit), gangguan kekebalan tubuh,

kebutaan malam, berat badan Anemia, sembelit, depresi, pusing,

kelelahan, gangguan usus, sakit kepala, Vitamin B- Rendah 25% dari pasien lekas marah, hilangnya sensasi getaran, 12 rumah sakit serum asam lambung rendah, gangguan mental, kemurungan, lesi mulut, mati rasa,

degenerasi tulang belakang Pendarahan gusi, depresi, mudah memar, Vitamin C 20 sampai 50% dari diet gangguan penyembuhan luka, iritabilitas, kekurangan nyeri sendi, gigi longgar, malaise,

kelelahan. Vitamin D 62% dari diet kekurangan Rasa terbakar di mulut, diare, insomnia,

28

perempuan tua itu

miopia, osteoporosis, berkeringat

gugup, rakhitis,

osteomalacia, kulit kepala

23% dari laki-laki dan 15% Vitamin E dari diet perempuan

Kiprah gangguan, refleks yang buruk, hilangnya sensasi posisi, hilangnya rasa getaran, diperpendek darah kehidupan sel darah merah

kekurangan Defisiensi Vitamin K pada wanita

hamil dan bayi baru lahir Gangguan perdarahan umum Jerawat, amnesia, apatis, kuku rapuh, kematangan seksual tertunda, depresi, diare, eksim, kehilangan kelelahan, kerontokan

gangguan

pertumbuhan,

rambut, kadar kolesterol tinggi, gangguan Seng 68% dari diet kekurangan kekebalan tubuh, impotensi, lekas marah, lesu, kehilangan nafsu makan, rasa rasa, asam lambung rendah, infertilitas pria, gangguan memori, kebutaan malam,

paranoia, bintik-bintik putih pada kuku, gangguan penyembuhan luka

29

4. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorium hematology pada pasien terkena anemia. a. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Tes penyaring Kadar hemoglobin Indeks eritrosit (MCV,MCH, dan MCHC) Hapusan darah tepi Led serum besi. feritin serum. Ldh serum. tes schilling. guaiak. aspirasi sumsum tulang/pemeriksaan biopsi.

2. Pemeriksaan rutin Laju endap darah Hitung deferensial Hitung retikulosit

30

b. PEMERIKSAAN LAB

1.

Hemoglobin

Hemoglobin adalah si pembawa oksigen dalam sel darah merah kita. Normalnya, hemoglobin perempuan berkisar antara 12-14 g/dL, sedangkan laki-laki 13-16 g/dL. Nilai hemoglobinlah yang menjadi patokan seseorang dikatakan anemia atau tidak.biasanya pada klien terkena anemia hb menurun.

2. Hematokrit MCV (mean corpuscular volume) : volume sel darah merah. MCH (mean cell hemoglobin) : jumlah hemoglobin dalam tiap sel darah merah. Nilai hematokrit yang disepakati normal pada laki laki dewasa sehat ialah 45% sedangkan untuk wanita dewasa adalah 41%. hemokonsentrasi Contohnya : DBD Jika hematokrit menurun disebut : hemodilusi Pemeriksaan di atas biasanya sudah tercantum dalam pemeriksaan darah rutin. Nilai MCV dan MCH dapat memberi arahan mengenai kemungkinan penyebab anemia. Misalnya saja, anemia akibat kekurangan zat besi, kadar MCV dan MCHnya rendah. Sedangkan anemia akibat kekurangan asam folat atau B12 akan menunjukkan kadar MCV dan MCH tinggi. Anemia akibat perdarahan yang berlangsung cepat menunjukkan MCV dan MCH yang normal. Biasanya pada klien terkena anemia hematokrit menurun. Jika hematokrit meningkat disebut :

3. LED. (Laju endap darah) Normal nya 1-10 Pada hasil led biasanya pada klien anemia terjadinya peningkatan menunjukan adanya reaksi inflamasi.

4. LDH Serum adalah suatu enzim yang ada dimana-mana pada tubuh dan kadarnya dapat meningkat pada bermacammacam kondisi degenerative,neoplastik,dan peradangan yang biasanya menimbulkan nyeri dada biasanya pada anemia ldh serumnya Meningkat.

5. Tes schilling adalah investigasi medis yang digunakan untuk pasien dengan defisiensi vitamin B12. Tujuan dari tes ini adalah untuk menentukan apakah pasien telah anemia pernisiosa.biasanya pada pasien anemia Penurunan eksresi vitamin B12 urine (AP).
31

6. Guaiak. Mungkin positif untuk darah pada pemeriksaan urine feses dan isi gaster menunjukkan perdarahan akut/kronis.

7. Pemeriksaan biopsik. Sel mungkin tampak berubah dalam jumblah,ukuran,dan bentuk,membentuk membedakan tipe anemia missal peningkatan megalokis (AP) lemak sumsum dengan penurunan sel darah (aplastik).

8. Gambaran Darah Tep Dalam pemeriksaan ini, setetes darah Anda akan diletakkan pada kaca dan diperiksa di bawah mikroskop. Hasil yang didapat tidak lagi berupa angka, namun berupa laporan sel apa sajakah yang terlihat, apakah jumlahnya terkesan normal atau berkurang, dan bagaimana bentuk sel-sel tersebut.

Pemeriksaan ini sangat penting untuk melihat apakah ada sel-sel darah muda, yang seharusnya masih berada di sumsum tulang. Sel-sel muda tersebut menandakan keganasan darah atau yang kita kenal sebagai leukimia. Atau apakah terdapat sel-sel abnormal yang menggambarkan penyebab anemia Anda. Kekurangan zat besi, asam folat, vitamin B12 dapat pula terlihat dari pemeriksaan sederhana ini.

9.

Retikulosit

Retikulosit merupakan sel darah yang baru saja dikeluarkan oleh sumsum tulang ke peredaran darah. Jumlah normal retikulosit hanya sedikit dalam peredaran darah. Jumlahnya bisa meningkat saat tubuh mengalami perdarahan atau bila sel darah kita mengalami penghancuran secara cepat (hemolisis) normalnya sekitar 0,5 sampai 1,5%. Namun, bila seseorang mengidap anemia, persentase retikulositnya lebih tinggi dari normal.

10. Serum Iron (SI) SI merupakan jumlah besi dalam peredaran darah kita. Namun kadar SI bisa menipu. Pada tahap awal defisiensi besi, jumlahnya dipertahankan normal oleh tubuh. Pada saat itu, tubuh mencukupi kebutuhan besi dengan mengambil cadangan besi. Pada saat jumlah cadangan besi mulai menipis, barulah kadar SI mulai turun. Jadi, jika kadar SI sudah turun, artinya kekurangan zat besi sudah tak dapat lagi dikompensasi oleh tubuh. Serum iron normal ya (SI): Pria : 65-176 ug / dL

32

Wanita: 50-170 ug / dL Bayi baru lahir: 100 sampai 250 mg / dL Anak-anak: 50-120 ug / dL .

11. Serum Ferritin Feritin merupakan cadangan besi yang tersimpan di dalam sel. Feritin serumlah yang pertama kali turun pada tahap awal defisiensi besi.biasanya pada anemia serum feritin menurun.

33

5. ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian

1. Data Demografi a) Nama b) Umur c) Jenis Kelamin d) Tempat Tinggal e) Pekerjaan

B. Riwayat Kesehatan

1. Riwayat Kesehatan Pasien dan Keluarga a. Keluarga dengan Hemofilia b. Keluarga dengan Thalasemia c. Keluarga dengan Kanker d. Penyakit Kronik e. Perdarahan pada gusi f. Perdarahan Post Partum g. Perdarahan berlebihan setelah pencabutan gigi h. Mudah memar jika terkena trauma i. Anemia j. Penggunaan obat obatan seperti aspirin, antibiotik yang lama 2. Riwayat Kesehatan Sekarang a. Keluhan utama b. Kapan keluhan utama timbul c. Lokasi d. Intensitas keluhan utama e. Cara penanganan yang dilakukan 3. Riwayat Diet Data ini membantu perawat dalam menentukan asupan gizi yang mempengaruhi status hematologi, misalnya pada anemia, gangguan pembekuan darah.
34

a. Diet tinggi kalori tinggi protein b. Diet tinggi Vitamin K c. Konsumsi makanan dengan tinggi zat besi, vitamin C, vitamin B, kalsium. d. Konsumsi alkohol

4. Status Sosial Ekonomi Perawat perlu mengkaji kemampuan keluarga dan pasien dalam status ekonomi hal ini terkait dengan kemampuan pemenuhan gizi, pembelian obat, mengetahui penyebab gangguan hematologi seperti pada anemia, banyak terkait dengan kemampuan keluarga dalam pemenuhan gizi. a. Pekerjaan b. Sumber biaya perawatan (misalnya Askes, Askesin, dll)

5. Pemeriksaan Fisik

a. Sistem Integumen 1) Kulit pucat atau kekuningan 2) Membran mukosa, kuku atau sianosis 3) Konjungtiva pucat 4) Perdarahan pada gusi, hidung 5) Adanya petekie, ekimosis pada kulit 6) Turgor kulit kurang, kulit kering b. Mulut dan Leher 1) Adanya sianosis, glositis, sariawan pada sudut mulut biasanya pada anemia defisiensi besi 2) Pembesaran kelenjar limfe pada leher c. Sistem Respirasi 1) Pernapasan cepat 2) Kesulitan bernapas 3) Alat bantu pernapasan 4) Cepat lelah dan nafas cepat setelah melakukan aktivitas d. Sistem Kardiovaskuler 1) Tekanan darah 2) Peningkatan tekanan vena jugolaris
35

3) Edema 4) Adanya murmur, gallop 5) Nadi cepat atau lambat e. Sistem Perkemihan 1) Hematuria 2) Warna urin gelap f. Sistem Muskuloskeletal 1) Meningkatnya tenderness pada tulang iga dan sternum 2) ROM (Range of Motion) g. Pemeriksaan Abdomen 1) Pembesaran hati dan limpha h. Sistem Persyarafan 1) Pemeriksaan nervus kranial 2) Penurunan kesadaran

C. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai oksigen / nutrisi ke sel. Ditandai dengan: Palpitasi, angina Penurunan haluaran urine kulit pucat, membrane mukosa kering, kuku dan rambut rapuh, ekstremitas dingin perubahan tekanan darah, pengisian kapiler lambat ketidakmampuan berkonsentrasi, disorientasi

2. Intoleran aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai oksigen Ditandai dengan: Kelemahan dan kelelahan Mengeluh penurunan aktifitas /latihan Lebih banyak memerlukan istirahat /tidur
36

Palpitasi,takikardi, peningkatan tekanan darah/respons pernapasan dengan kerja ringan

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna, absorbsi nutrien yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah normal Ditandai dengan: Penurunan berat badan normal Penurunan turgor kulit, perubahan mukosa mulut. Nafsu makan menurun, mual Kehilangan tonus otot, penurunan toleransi untuk aktivitas, kelemahan

4. Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan jumlah makanan, perubahan proses pencernaan , efek samping penggunaan obat Ditandai dengan : Adanya perubahan pada frekuensi, karakteristik, dan jumlah feses Mual, muntah, penurunan nafsu makan Nyeri abdomen Ganguan peristaltik

5. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan pertahanan skunder yang tidak adekuat. Ditandai dengan : adanya tanda-tanda dan gejala- gejala yang membuat diagnosa actual sehingga tidak bisa diterapkan. 6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan / mengingat, salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi. Ditandai dengan : Menanyakan informasi Pernyataan salah konsepsi Tidak akurat mengikuti instruksi Terjadi komplikasi yang dapat dicegah

37

D. INTERVENSI

1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai oksigen / nutrisi ke sel. Awasi tanda vital kaji pengisian kapiler, warna kulit/membrane mukosa, dasar kuku Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi Awasi upaya pernapasan ; auskultasi bunyi napas perhatikan bunyi adventisius Selidiki keluhan nyeri dada/palpitasi Hindari penggunaan botol penghangat atau botol air panas. Ukur suhu air mandi dengan thermometer Kolaborasi pengawasan hasil pemeriksaan laboraturium. Berikan sel darah merah lengkap/packed produk darah sesuai indikasi Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi 2. Intoleran aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai oksigen Kaji kemampuan ADL pasien Kaji kehilangan atau gangguan keseimbangan, gaya jalan dan kelemahan otot Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung, dan kurangi suara bising, pertahankan tirah baring bila di indikasikan Gunakan teknik menghemat energi, anjurkan pasien istirahat bila terjadi kelelahan dan kelemahan, anjurkan pasien melakukan aktivitas semampunya (tanpa memaksakan diri) 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna, absorbsi nutrien yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah normal Kaji riwayat nutrisi, termasuk makan yang disukai Observasi dan catat masukkan makanan pasien Timbang berat badan setiap hari Berikan makan sedikit dengan frekuensi sering dan atau makan diantara waktu makan Observasi dan catat kejadian mual/muntah, flatus dan dan gejala lain yang berhubungan
38

Berikan dan Bantu hygiene mulut yang baik ; sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut. Berikan pencuci mulut yang di encerkan bila mukosa oral luka. Kolaborasi pada ahli gizi untuk rencana diet Kolaborasi ; pantau hasil pemeriksaan laboraturium Kolaborasi ; berikan obat sesuai indikasi

4. Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan jumlah makanan, perubahan proses pencernaan , efek samping penggunaan obat Observasi warna feses, konsistensi, frekuensi dan jumlah Auskultasi bunyi usus Awasi intake dan output (makanan dan cairan) Dorong masukkan cairan 2500-3000 ml/hari dalam toleransi jantung Hindari makanan yang membentuk gas Kaji kondisi kulit perianal dengan sering, catat perubahan kondisi kulit atau mulai kerusakan. Lakukan perawatan perianal setiap defekasi bila terjadi diare Kolaborasi ahli gizi untuk diet siembang dengan tinggi serat Berikan pelembek feses, stimulant ringan, laksatif pembentuk bulk atau enema sesuai indikasi. Pantau keefektifan. (kolaborasi) Berikan obat antidiare, misalnya Defenoxilat Hidroklorida dengan atropine (Lomotil) dan obat mengabsorpsi air, misalnya Metamucil. (kolaborasi) 5. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan pertahanan sekunder yang tidak adekuat Tingkatkan cuci tangan yang baik ; oleh pemberi perawatan dan pasien Pertahankan teknik aseptic ketat pada prosedur/perawatan luka Berikan perawatan kulit, perianal dan oral dengan cermat Motivasi perubahan posisi/ambulasi yang sering, latihan batuk dan napas dalam Tingkatkan masukkan cairan adekuat Pantau/batasi pengunjung. Berikan isolasi bila memungkinkan Pantau suhu tubuh. Catat adanya menggigil dan takikardia dengan atau tanpa demam Amati eritema/cairan luka
39

Ambil specimen untuk kultur/sensitivitas sesuai indikasi (kolaborasi) Berikan antiseptic topical ; antibiotic sistemik (kolaborasi)

6.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan / mengingat, salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi Berikan informasi tentang anemia spesifik. Diskusikan kenyataan bahwa terapi tergantung pada tipe dan beratnya anemia Tinjau tujuan dan persiapan untuk pemeriksaan diagnostik Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanannya Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan

E. IMPLEMENTASI

1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai oksigen / nutrisi ke sel. memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menetukan kebutuhan intervensi. meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler menununjukkan gangguan jajntung karena regangan jantung lama/peningkatan kompensasi curah jantung iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/ potensial risiko infark termoreseptor jaringan dermal dangkal karena gangguan oksigen mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan /respons terhadap terapi memaksimalkan transport oksigen ke jaringan

40

2. Intoleran aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai oksigen mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan menunjukkan perubahan neurology karena defisiensi vitamin B12

mempengaruhi keamanan pasien/risiko cedera manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantung dan paru meningkatkan aktivitas secara bertahap sampai normal dan memperbaiki tonus otot/stamina tanpa kelemahan. Meingkatkan harga diri dan rasa terkontrol.

3.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna, absorbsi nutrien yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah normal mengidentifikasi defisiensi, memudahkan intervensi mengawasi masukkan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi nutrisi menurunkan kelemahan, meningkatkan pemasukkan dan mencegah distensi gaster gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ meningkatkan nafsu makan dan pemasukkan oral. Menurunkan pertumbuhan bakteri, meminimalkan kemungkinan infeksi. Teknik perawatan mulut khusus mungkin diperlukan bila jaringan rapuh/luka/perdarahan dan nyeri berat membantu dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual meningkatakan efektivitas program pengobatan, termasuk sumber diet nutrisi yang dibutuhkan kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan atau adanyan masukkan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi

4. Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan jumlah makanan, perubahan proses pencernaan , efek samping penggunaan obat membantu mengidentifikasi penyebab /factor pemberat dan intervensi yang tepat bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi
41

dapat mengidentifikasi dehidrasi, kehilangan berlebihan atau alat dalam mengidentifikasi defisiensi diet membantu dalam memperbaiki konsistensi feses bila konstipasi. Akan membantu memperthankan status hidrasi pada diare menurunkan distress gastric dan distensi abdomen mencegah ekskoriasi kulit dan kerusakan serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorpsi air dalam alirannya sepanjang traktus intestinal dan dengan demikian menghasilkan bulk, yang bekerja sebagai perangsang untuk defekasi mempermudah defekasi bila konstipasi terjadi menurunkan motilitas usus bila diare terjadi

5. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan pertahanan sekunder yang tidak adekuat kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi, nutrisi dan imobilisasi. Jaringan dapat menjadi rapuh dan cenderung untuk infeksi dan rusak meningkatkan sirkulasi kesemua kulit, membatasi iskemia

jaringan/mempengaruhi hipoksia seluler area lembab, terkontaminasi, memberikan media yang sangat baik untuk pertumbuhan organisme patogenik. Sabun dapat mengeringkan kulit secara berlebihan meningkatkan sirkulasi jaringan, mencegah stasis menghindari kerusakan kulit dengan mencegah /menurunkan tekanan terhadap permukaan kulit

6.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan / mengingat,salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi memberikan dasar pengetahuan sehingga pasien dapat membuat pilihan yang tepat. Menurunkan ansietas dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program terapi ansietas/ketakutan tentang ketidaktahuan meningkatkan stress, selanjutnya meningkatkan beban jantung. Pengetahuan menurunkan ansietas

42

megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan

F. Evaluasi 1) S O A P = Malaise, lesu, lemas berkurang = Hemoglobin naik = Masalah teratasi, tujuan tercapai = Tindakan dihentikan

2) S O A P

= Nafsu makan kembali normal = Kebutuhan nutrisi tercukupi = Masalah teratasi, tujuan tercapai = Tindakan dihentikan

3) S O A P

= Pucat, mata berkunang-kunang, berkeringat hilang = Suplai oksigen ke jaringan tercukupi = Masalah teratasi, tujuan tercapai = Tindakan dihentikan

4) S O A P

= suhu kembali, tekanan darah, tekanan nadi kembali normal = menunjukkan perfusi adekuat , tanda-tanda vital normal = Masalah teratasi, tujuan tercapai = Tindakan dihentikan

43

6. SAP (Satuan Acara Penyuluhan) Topik Bahasan Sub pokok bahasan Sasaran Tempat :05/08,Pitara,Depok Hari/Tanggal Waktu : Sabtu,29 Januari 2012 : 13.00 13.30 : Penjelasan tentang Anemia : Anemia dan Pencegahannya : Warga RT :05 RW :08 : Kelurahan Maju Mundur,Jln.Cinta III,No.12,RT/RW

1. Tujuan Instruktursional Umum (TIU) Setelah diberikan penyuluhan tentang anemia diharapkan klien dapat mengetahui definisi penyakit anemia dan faktor-faktor pencetusnya. 2. Tujuan Instruktursional Khusus a. Pengertian Anemia b. Penyebab Anemia c. Jenis-jenis Anemia d. Pencegahan Anemia e. Gejala Anemia f. Akibat Anemia 3. Metode a. Ceramah b. Tanya Jawab 4. Media a. Lembar Balik 5. Kegiatan Pembelajar

PROSES Pembukaan

METODE

MEDIA

WAKTU 5 menit
44

Salam pembukaan Apersepsi Tujuan Kontrak Waktu Lembar Balik 18 menit Ceramah

Isi Menjelaskan tentang pengertian anemia Menjelaskan tentang penyebab anemia Menjelaskan gejala-gejala anemia Menjelaskan pencegahan anemia Menjelaskan jenisjenis anemia Menjelaskan akibat anemia Ceramah

Lembar Balik

Penutup Beri klien bertanya? Penyaji bertanya? Evaluasi Menyimpulkan Salam penutup kesempatan Ceramah untuk

10 menit

45

1. Pencegahan primer Pencegahan primer meliputi segala kegiatan yang dapat menghentikan kejadian suatu penyakit atau gangguan sebelum hal itu terjadi. Promosi kesehatan, pendidikan kesehatan dan perlindungan kesehatan adalah tiga aspek utama di dalam pencegahan primer. Tujuan pencegahan ini untuk mencegah atau menunda terjadinya kasus baru penyakit dan memodifikasi faktor risiko atau mencegah berkembangnya faktor risiko. Pencegahan primer meliputi:

Edukasi (Penyuluhan)

Petugas kesehatan dapat berperan sebagai edukator seperti memberikan nutrition education berupa dorongan agar masyarakat mengkonsumsi bahan makanan yang tinggi Fe Daftar makanan yang kaya akan zat besi

Hati dan daging Makanan laut Buah-Buahan yang dikeringkan seperti buah aprikot, buah prem dan kismis. Kacang-kacangan Buncis (lima buncis) Sayuran hijau seperti bayam dan brokoli Semua jenis padi-padian Roti atau sereal yagn mengandung zat besi. Pencegahan Sekunder

2.

Pencegahan sekunder lebih ditujukan pada kegiatan skrining kesehatan dan deteksi untuk menenmukan status patogenik setiap individu di dalam populasi. Pencegahan sekunder bertujuan untuk menghentikan perkembangan penyakit menuju suatu perkembangan kearah kerusakan atau ketidakmampuan. Dalam hal ini pencegahan sekunder merupakan pencegahan yang dilakukan pada seseorang yang sudah mengalami gejala-gejala anemia atau tahap pathogenesis yaitu mulai pada fase asimtomatik sampai fase klinis atau timbulnya gejala penyakit atau gangguan kesehatan.
46

Pada pencegahan sekunder,yg dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah :

a. Skrining diperlukan untuk mengidentifikasi kelompok/seseorang diobati dalam mengurangi morbiditas anemia.

yang harus

b. Skrining dilakukan dengan pemeriksaan hemoglobin (Hb) untuk mendeteksi apakah klien anemia atau tidak, jika anemia, apakah klien masuk dalam anemia ringan, sedang, atau berat. Klasifikasi anemia yang lebih lengkap adalah : anemia ringan apabila Hb 9 11 g/dl anemia sedang apabila Hb 6 8 g/dl anemia berat apabila Hb kurang dari 6 g/dl

c. dilakukan pemeriksaan terhadap tanda dan gejala yang mendukung seperti tekanan darah, nadi dan melakukan anamnesa berkaitan dengan hal tersebut. Sehingga, tenaga kesehatan dapat memberikan tindakan yang sesuai dengan hasil tersebut. Jika anemia berat harus dirujuk kepada dokter ahli yang berpengalaman untuk mendapat pertolongan medis.

3. Pencegahan tersier

Pencegahan tersier mencakup pembatasan terhadap segala ketidakmampuan dengan menyediakan rehabilitasi saat penyakit, cedera atau ketidakmampuan sudah terjadi dan menimbulkan kerusakan. Dalam hal ini pencegahan tersier ditujukan kepada klien yang mengalami anemia yang cukup parah dilakukan untuk mencegah perkembangan penyakit ke arah yang lebih buruk untuk memperbaiki kualitas hidup klien seperti untuk mengurangi atau mencegah terjadinya kerusakan jaringan, keparahan dan komplikasi penyakit, mencegah serangan ulang dan memperpanjang hidup Contoh pencegahan tersier pada anemia diantaranya yaitu : mempertahankan kadar hemoglobin tetap dalam batas normal, memeriksa ulang secara teratur kadar hemoglobin, mengeliminasi faktor risiko seperti intake nutrisi yang tidak adekuat, tetap mengkonsumsi tablet Fe dan tetap mengkonsumsi makanan yang adekuat setelah pengobatan. Dalam hal ini, perawat dapat berperan sebagai care giver, edukator, konselor, motivator, kolaborator, dan fasilitator.
47

7.

Penelitian pada faktor yang mempengaruhi:

Makanan Asupan zat besi dalam makanan itu sangat penting untuk tubuh kita, beberapa hal yang perlu diperhatikan selain banyaknya zat besi yang tersedia didalam makanan, juga perlu diperhatikan faktor-faktor lain yang mempengaruhi absorpsi zat besi, antara lain macammacam bahan makanan itu sendiri. Zat besi yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, jumlah yang dapat diabsorpsi hanya sekitar 1 6 %, sedangkan zat besi yang berasal dari hewani 7 22 %. Didalam campuran susunan makanan, adanya bahan makanan hewani dapat meninggikan absorpsi zat besi yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Faktor ini mempunyai arti penting dalam menghitung jumlah zat besi yang dikonsumsi oleh masyarakat yang tak mampu, yang jarang mengkonsumsi bahan makanan hewani. (Husaini, 1989). Tabel 2 : Zat besi dalam bahan makanan No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Bahan Makanan Hati Daging Sapi Ikan Telur Ayam Kacang-Kacangan Tepung Gandum Sayuran Hijau Umbi-umbian Buah-buahan Beras Susu sapi Zat Besi (mg/ 100g) 6,0 14, 0 2,0 4,3 0,5 1,0 2,0 3,0 1,9 14,0 1,5 7,0 0,4 18,0 0,3 2,0 0,2 4,0 0,5 0,8 0,1 0,4

48

Sumber: Davidson, dkk, 1973 dalam Husaini, 1989 Macam bahan makanan yang banyak mengandung zat besi dapat dilihat pada Tabel 2. Hati adalah bahan makanan yang paling banyak mengandung zat besi. Daging juga banyak mengandung zat besi. Dari bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, maka kacang-kacangan seperti kedelai, kacang tanah, kacang panjang koro, buncis serta sayuran hijau daun mengandung banyak zat besi. Zat besi didalam bahan makanan dapat berbentuk hem yaitu berikatan dengan protein atau dalam bentuk nonhem yaitu senyawa besi organik yang kompleks. Ketersediaan zat besi untuk tubuh kita dapat dibedakan antara hem dan nonhem ini. Zat besi hem berasal dari hemoglobin dan mioglobin yang hanya terdapat dalam bahan makanan hewani, yang dapat diabsorpsi secara langsung dalam bentuk kompleks zat besi phorphyrin (iron phorphyrin kompleks). Jumlah zat besi hem yang diabsorpsi lebih tinggi daripada nonhem. Untuk seseorang yang cadangan zat besi dalam tubuhnya rendah, zat besi hem ini dapat diabsorpsi lebih dari 35%, sedangkan untuk orang yang memiliki simpanan zat besi yang cukup banyak (lebih dari 500 gram) maka absorpsi zat besi hem ini hanya kurang lebih 25%. Dari hasil analisa bahan makanan didapatkan bahwa sebanyak 30 40% zat besi didalam hati dan ikan, serta 50 60% zat besi dalam daging sapi, kambing, dan ayam adalah dalam bentuk hem. (Cook, dkk dalam Husaini, 1989). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi makanan diantara nya: 1. Jenis bahan makanan Setiap bahan makanan mempunyai susunan kimia yang berbeda-beda dan mengandung zat gizi yang bervariasi pula baik jenis maupun jumlahnya. Baik secara sadar maupun tidak sadar manusia mengkonsumsi makanan untuk kelangsungan hidupnya. Dengan demikian jelas bahwa tubuh manusia memerlukan zat gizi atau zat makanan, Berbagai zat gizi yang diperlukan tubuh dapat digolongkan kedalam enam macam yaitu: karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Sementara itu energi yang diperlukan tubuh dapat diperoleh dari hasil pembakaran karbohidrat, protein dan lemak di dalam tubuh. Di alam ini terdapat berbagai jenis bahan makanan baik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang disebut pangan nabati maupun yang berasal dari hewan yang dikenal sebagai pangan hewani.

49

2. Frekuensi makan Frekuensi makan pada keluarga di Indonesia umumnya adalah tiga kali dalam sehari. Hal ini terkait dengan masalah fisiologis, artinya hampir semua zat gizi itu di metabolisme dalam tubuh selama kurang lebih dari 4 jam. Untuk itu maka dianjurkan frekuensi makan yang baik adalah berpatokan dengan limit waktu metabolisme itu. Salah satu faktor yang paling penting untuk meningkatkan status gizi adalah konsumsi makanan. Semakin baik konsumsi atau asupan zat gizi maka semakin besar kemungkinan terhindar dari status gizi yang kurang atau buruk, baik dari segi jumlah maupun dari segi frekuensi makanan yang dikonsumsi. 3. Tingkat absorpsi makanan Wanita membutuhkan lebih banyak zat besi, karenanya makanan yang dikonsumsi setiap hari harus diperhatikan. Unsur zat besi dalam tubuh berasal dari sayuran, kacangkacangan, daging, ikan, hati, dan telur. Namun demikian Fe dari makanan tidaklah mudah diserap kedalam darah, penyerapannya dipengaruhi oleh asam dalam lambung (HCl). Jumlah zat besi yang dapat diabsorpsi tergantung dari pola makanan.

Umur Anemia merupakan keadaan dimana hemoglobin di bawah normal.Nilai hemoglobin berubah sesuai dengan umur anak, sehingga penting sekali untuk melihat nilai hemoglobin sesuai dengan kategori umur anak .Sehingga kita jangan membandingkan nilai hemoglobin anak dengan ukuran dewasa, karena seringkali di laboratorium yang digunakan adalah stanar dewasa. Penyebab anemia perlu ditegakan sebelum memulaiterapi .Anemia karena defisiensi besi merupakan penyebab anemia tersering karena kekurangan nutrisi di dunia.Menurut laporan WHO mengenai anemia 1993-2005, 50% dari penyebab anemia karena defisiensi zat besi. Dalam laporan tersebut dinyatakan 85.1% anak prasekolah (0-<5 tahun) mengalami anemia. Anemia menjadi masalah kesehatan masyarakat karena meningkatkan risiko kematian ibu dan anak (karena anemia berat) dan hambatan pada perkembangan fisik dan kognitifp ada anak dan juga performakerja pada orang dewasa. Berikut table dari WHO untuk nilai batas anemia :

50

Apa factor risiko? Cadangan besi pada bayi di dapat dari ibu terutama pada trimester ketiga kehamilan (>28 minggu), sehingga bayi yang lahir premature berisiko memiliki cadangan besi yang lebih rendah dari pada bayi yang lahir cukup bulan. Perlu diingat adalah kondisi ibu hamil, harus diketahui status Hb ibu hamil, karena Hb yang rendah menjadi risiko perdarahan pada persalinan. Data WHO ibu hamil di Asia tenggara 85.6% mengalami anemia, dan wanita usia produktif yang tidak hamil 85.4% mengalami anemia sehingga penting sekali perempuan usia produktif memeriksa status kesehatan dan Hb mereka.

Faktor risiko adalah : 1. Bayi Kondisi kehamilan yang mengakibatkan rendahnya cadangan besi pada bayi :
a. b. c.

Defisiensi besi pada ibu Tekanan darah tinggi pada ibu hamil dengan pertumbuhan janin terhambat Ibu dengan diabetes melitus

Bayi berat lahir sangat rendah, karena : a. Besi yang diberikan dari ibu sedikit b. Tumbuh lebih cepat setelah lahir c. Tidak mendapat asupan besi yang cukup

2. Anak- remaja : Kekurang anasupan makanan yang kaya zatbesi (formula tidak fortifikasi dengan besi, susu sapi sebelum usia 6 bulan, vegetarian, pola ditidak seimbang pada remaja) Terlalu banyak konsumsi susu sapi

51

Penyerapan besi yang tidak optimal (malabsorbsi di usus, pembedahan lambung, hypochlorrhidia) Peningkatan kebutuhan besi Kehilangan darah a. Menstruasi b. Saluran cerna (Enteropathy karena susu, Inflammatory bowel disease, ulkuspeptikum, esofagitis karena reflux, cacing tambang, kanker) c. Gangguan saluran kemih, napas, jantung (Selengkap nya dapat dilihat pada referensi Pediatric Care Online. Iron Deficiency Anemia.) Aktifitas

Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius karena berdampak pada perkembangan fisik dan psikis, perilaku dan kerja. Pada wanita dewasa penderita anemia dapat mengakibatkan penurunan kerja fisik, penurunan daya tahan tubuh, keletihan, menurunnya produktifitas. mempekerjakan tenaga wanita pada bagian linting berjumlah 155 orang. Tenaga kerja tersebut diduga rawan terhadap gajala anemia defisiensi besi yang dapat menyebabkan produktivitas kerja rendah. Untuk mengetahui hubunganantara

anemia defisiensi besi dengan produktivitas kerja dilakukan uji. Hasil penelitian menunjukan ada hubungan antara anemia dengan indikator Hb dengan produktifitas kerja (x2=0,271 dan p=0,603). Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan antara anemia dengan indikator Hb dengan produktifitas kerja, tetapi tidak ada hubungan antara anemia defisiensi besi dengan produktifitas kerja Saran yang diberikan adalah tenaga kerja yang diperiksa menderita anemia supaya mengkonsumsi makanan yang mengandung zatzat besi, antara lain sayur-sayuran hijau, kuning telur, daging dan lain-lain serta perlu pemeriksaan kadar Hb berulang selama 3 bulan sekali.

Pendapatan

Peningkatan pendapatan rumah tangga terutama bagi kelompok rumah tangga miskin dapat meningkatkan status gizi, karena peningkatan pendapatan tersebut memungkinkan mereka mampu membeli pangan berkualitas dan berkuantitas yang lebih baik. Keadaan ekonomi merupakan faktor yang penting dalam menentukan jumlah dan macam barang

52

atau pangan yang tersedia dalam rumah tangga. Bagi Negara berkembang pendapatan adalah faktor penentu yang penting terhadap status gizi. Menurut Mosley dan Lincoln (1985), pendapatan rumah tangga akan mempengaruhi sikap keluarga dalam memilih barang-barang konsumsi. Pendapatan menentukan daya beli terhadap pangan dan fasilitas lain. Semakin tinggi pendapatan maka cenderung pengeluaran total dan pengeluaran pangan semakin tinggi (Suhardjo, 1987). Rendahnya pendapatan (keadaan miskin) merupakan salah satu sebab rendahnya konsumsi pangan dan gizi serta buruknya status gizi. Kurang gizi akan mengurangi daya tahan tubuh terhadap penyakit, menurunkan produktivitas kerja dan pendapatan. Akhirnya masalah pendapatan rendah, kurang konsumsi, kurang gizi dan rendahnya mutu hidup membentuk siklus yang berbahaya (Suhardjo, 1987).

8. Aspek legal etik Etika berkenaan dengan pengkajian kehidupan moral secara sistematis dan dirancang untuk melihat apa yang harus dikerjakan, apa yang harus dipertimbangkan sebelum tindakan tersebut dilakukan, dan ini menjadi acuan untuk melihat suatu tindakan benar atau salah secara moral.dalam pengambilan darah kita juga harus melihat konsep legal etik yang umum karena legal etik keperawatan adalah suatu konsep yang harus di jalan kan bersama, dan ada beberapa etik dalam pelayanan kesehatan di keperawatan yaitu :

a. Autonomy (penentu pilihan) Perawat yang mengikuti prinsip autonomi menghargai hak klien untuk mengambil keputusan sendiri. Dengan menghargai hak autonomi berarti perawat menyadari keunikan induvidu secara holistik.

b. Non Maleficence (do no harm) Non Maleficence berarti tugas yang dilakukan perawat tidak menyebabkan bahaya bagi kliennya. Prinsip ini adalah prinsip dasar sebagaian besar kode etik keperawatan.
53

Bahaya dapat berarti dengan sengaja membahayakan, resiko membahayakan, dan bahaya yang tidak disengaja.

c. Beneficence (do good) Beneficence berarti melakukan yang baik. Perawat memiliki kewajiban untuk melakukan dengan baik, yaitu, mengimplemtasikan tindakan yang mengutungkan klien dan keluarga.

d. Justice (perlakuan adil) Perawat sering mengambil keputusan dengan menggunakan rasa keadilan.

e. Fidelity (setia) Fidelity berarti setia terhadap kesepakatan dan tanggung jawab yang dimikili oleh seseorang.

f. Veracity (kebenaran) Veracity mengacu pada mengatakan kebenaran. Sebagian besar anak-anak diajarkan untuk selalu berkata jujur, tetapi bagi orang dewasa, pilihannya sering kali kurang jelas. Keenam prinsip terebut harus senantiasa menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan dengan klien

54

Daftar Pustaka Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan.EGC : Jakarta. oxford electric medical dictionary (Indonesian Translete by Patriani) Doenges, Marilynn, dkk. 1993. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC. Brunner & Suddarth. 1997. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30073/4/Chapter%20II.pdf http://www.inspirasisehat.com/sangobion-healthy-guides/320-kenali-istilahpemeriksaan-lab-untuk-anemiaS Sumber: Wellness Jumlah oleh Joseph Pizzorno, ND)

55