Anda di halaman 1dari 6

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Pembangunan dibidang peternakan merupakan bagian dasar dari pembangunan pertanian yang bertujuan menyediakan bahan makanan bersumber protein hewani, meningkatkan pendapatan untuk kesejahteraan peternak, memperluas lapangan kerja, penghasil pupuk, memenuhi kebutuhan gizi masyarakat serta merupakan sumber devisa negara. Untuk mencapai sasaran tersebut diatas maka pengembangan sektor peternakan menjadi perhatian yang besar dari pemerintah antara lain peternakan unggas yang mana pola peternakan yang masih tradisional dan sebagai usaha sampingan hendaknya dikembangkan menjadi usaha peternakan unggas yang bersifat komersial. Perkembangan industri peternakan ayam saat ini telah berkembang dengan pesat walaupun selalu dihadapkan pada berbagai kendala yang juga ikut berkembang dan kompleks. Kendala paling utama yang dihadapi peternakan selain memberikan dampak kerugian ekonomi adalah berupa serangan penyakit yang dapat terjadi melalui berbagai hal, antara lain melalui feses yang dikeluarkan dari ayam penderita penyakit (Rasyaf, 2002). Timbulnya wabah penyakit pada suatu peternakan dapat tumbuh dan berkembang jika ditunjang oleh faktor lingkungan yang buruk dan memungkinkan suatu mikroorganisme dapat bertahan hidup. Hal ini dapat ditanggulangi dengan melakukan tindakan sanitasi kandang dan peralatannya.

Salah satu tindakan sanitasi kandang adalah dengan cara melakukan desinfeksi kandang. Desinfeksi adalah tindakan untuk mengendalikan pertumbuhan dan kontaminasi mikroba, yang dimaksud dengan pengendalian disini adalah segala kegiatan yang bersifat membasmi atau membunuh mikroorganisme antimikrobial. Bahan antimikrobial adalah bahan yang mengganggu pertumbuhan dan metabolisme bakteri yang bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel, merusak membran sitoplasma, menghambat biosintesis protein dan menghambat sistesis asam nukleat. Bahan ini terbagi menjadi dua macam yakni bahan antimikrobial alami dan kimia, selain itu terdapat dua sifat pada bahan antimikrobial tersebut, yaitu bakterisid dan bakteriostatik (Fadillah dan Agustin, 2004) Desinfektan adalah suatu bahan, biasanya zat kimia yang digunakan pada konsentrasi tertentu dapat mematikan mikroorganisme penyebab penyakit dengan cara merusak struktur dinding sel, mengubah permeabilitas membran sel (Joklik et al., 1984; Chatim dan Suhato, 1994), mengadakan perubahan molekul-molekul protein dan asam nukleat, menghambat kerja enzim atau dapat pula dengan cara menghambat sintesa asam nukleat dan protein (Pelczar dan Chan, 1998). Selain konsentrasi, keefektifan desinfektan juga di pengaruhi berbagai faktor diantaranya jenis bahan dan stabil terhadap bahan organik. Perbedaan jenis bahan yang digunakan menentukan keefektifan dari desinfektan sesuai penggunaan yang dibutuhkan. Banyak pilihan alternatif untuk menentukan jenis desinfektan sesuai kebutuhan penyebab penyakit dengan menggunakan bahan

namun yang umum digunakan sebagai desinfektan kandang antara lain lisol dan iodine. Lisol disukai karena sifatnya yang stabil terhadap adanya bahan organik dan iodine lebih disenangi karena sifat iritasinya yang lebih kecil namun kendala yang di hadapi peternak adalah susahnya mendapatkan desinfektan kandang di daerah pedesaan dan harga yang relatif mahal sehingga perlu dicari alternatif bahan antimikrobial alami yaitu bawang putih sebagai desinfektan kandang. Bawang putih merupakan bahan antimikrobial alami. Kandungan zat belerang (sulfur) dalam bawang putih yang akan teraktivasi ketika diperas memiliki daya antimikrobial yang sama seperti desinfektan kimia umumnya (Liu, 2006). Keunggulan dari bawang putih murah, mudah diperoleh dan dapat disiapkan sendiri (Portz, 2008), sehingga tanaman ini dapat dipakai sebagai acuan dari bahan antimikrobial yang digunakan dalam penelitian, namun belum ada penelitian yang menggunakan bahan antimikrobial bawang putih sebagai desinfektan pada feses ayam.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang maka diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:


1) Apakah ada pengaruh jenis dan konsentrasi bahan antimikrobial (gerusan

bawang putih, lisol dan iodine) terhadap total bakteri feses ayam? 2) Apakah kombinasi perlakuan antara jenis bahan dan konsentrasi berpengaruh terhadap total bakteri feses ayam?
3) Apakah ada perbedaan efektivitas bawang putih dibandingkan dengan lisol

dan iodine terhadap total bakteri feses ayam?

1.3 Landasan Teori

Feses ayam merupakan bahan buangan yang mengandung sisa bahan makanan, urine dan mikroorganisme usus, kurang lebih dua puluh persen massa feses berisi bakteri (Sujudi, 1994). Usaha memberantas dan mencegah penularan penyakit melalui feses ayam, terutama ditujukan pada usaha penyelenggaraan kebersihan kandang serta lingkungan sekitar adalah dengan menggunakan bahan antimikrobial. Ada dua macam atau tipe bahan antimikrobial yang dapat digunakan yaitu bahan antimikrobial alami dan bahan antimikrobial kimia. Lisol dan iodine merupakan bahan antimikrobial kimia yang baik untuk desinfeksi kandang, karena disamping mempunyai daya antimikrobial yang cukup tinggi juga memiliki sifat stabil terhadap adanya bahan organik yaitu pada lisol sedangkan iodine memiliki sifat iritasi yang lebih rendah (Natalia, 2002). Daya antimikrobial suatu desinfektan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain konsentrasi dan jenis bahan yang digunakan (Pelczar dan Chan, 1998). Bahan dengan konsentrasi yang tinggi bersifat bakterisid yaitu memiliki daya membunuh kuman, sedangkan bahan dengan konsentrasi rendah bersifat bakteriostatik yaitu memiliki daya menghambat pertumbuhan kuman (Lay, 1994). Selain bahan antimikrobial kimia, juga terdapat bahan alami yang dapat digunakan sebagai antibakterial. Kandungan bahan yang memiliki sifat antibakterial ini antara lain terdapat pada tanaman bawang putih (Portz, 2008). Cavalitto et al., (1944) dan Santoso (1990) dalam penelitiannya telah

berhasil mengisolasi allicin sebagai zat antibakterial yang diekstraksi dari umbi bawang putih, bawang putih tersebut mempunyai efek antibakteri sama dengan antibiotika yakni dapat menghambat pertumbuhan koloni. Umbi bawang putih apabila diperas atau dihancurkan maka enzim allinase dalam jaringan akan terlepas (teraktifkan). Enzim ini mengkatalisa perubahan alliin menjadi asam piruvat, amonia dan allicin. Allicin merupakan komponen yang berbau, sangat tidak stabil dan reaktif yang merupakan hasil pemecahan secara enzimatis oleh enzim allinase dan alliin. Allicin adalah senyawa yang mengandung sulfur (40%), tanpa nitrogen maupun halogen (Dalimartha, 2007; Irasema, 2008). Sulfur dan dialyl sulfida merupakan faktor yang menentukan dalam aktifitas bawang putih sebagai antibakterial terhadap kuman Gram positif dan Gram negatif (Mara et al., 2006).

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan diatas, penelitian ini dilakukan dengan tujuan:


1) Mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi bahan antimikrobial (bawang

putih, lisol dan iodine) terhadap total bakteri feses ayam. 2) Mengetahui kombinasi perlakuan antara jenis bahan dan konsentrasi terhadap total bakteri feses ayam. 3) Mengetahui efektivitas pada bawang putih dibanding lisol dan iodine terhadap total bakteri feses ayam.

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang penggunaan bawang putih sebagai bahan antimikrobial alternatif bila dibandingkan dengan lisol dan iodine dalam membunuh bakteri feses ayam.

1.6 Hipotesa Hipotesa dalam penelitian ini adalah:


1) Jenis dan konsentrasi bahan antimikrobial (gerusan bawang putih, lisol

dan iodine) dapat sebagai desinfektan berpengaruh terhadap total bakteri feses ayam.
2) Kombinasi perlakuan antara jenis bahan dan konsentrasi berpengaruh

terhadap total bakteri feses ayam.


3) Tidak ada perbedaan efektivitas antara bawang putih, lisol dan iodine.