Anda di halaman 1dari 17

Sang surya sudah menutup matanya dengan rapat.

Dari sudut dunia, terlihat gumpalan awan hitam yang perlahan lahan bergerak tanpa arah yang pasti. Sejuta angan masih melayang diangkasa dengan meninggalkan jejak jejak kakinya. Rangkaian mimpi- mimpi tersusun rapi tanpa ada yang mengganggunya. Gemuruh angin terasa sejuk menerpa helaian rambut. Sedangkan kilatan petir mulai terlihat beberapa kali . Berharap hujan kan datang dengan derasnya. Kemanapun melangkah, gumpalan awan hitam seakan akan mengikuti. Mengikuti sisa sisa pijakan kedua kaki. Adakah sesuatu yang hendak ingin dikatakannya? Mencari jawabannya terlalu jauh untuk tercapai. Sudahlah. Biarkan saja ia mengikuti. Sejauh mana langkah kaki pergi biarkan saja. Alam semesta masih tetap bergeming begitu dalamnya. Seperti kumbang merindukan rembulan. Tetesan tetesan air pun perlahan lahan membasahi bumi. Semakin lama, semakin deras. Jiwa yang kini lelah, berdiri menggigil di tengah rinai hujan. Sesekali, bibir yang tipis bergetar tak karuan. Pikiran yang kosong terasa hampa. Masih menanti setitik cahaya terang kan menghampiri. Sekalipun terlalu redup, masih menanti dan tetap menanti. Wuusssshhh,. . . wuussshhh,. . . wusssshh... Kini, terpaan angin menusuk tulang. Terlalu menusuk hingga ke dalam setiap sudutnya. Terlalu dalam hingga ke relung jiwa. Terbungkam dan terhempas dalam kesunyian. Benar benar malam yang sunyi. Sampai sampai, bisikan pohon pun terdengar begitu jelas di kedua telinga. Masih berdiri di tengah derasnya hujan. Hanya bersandar pada sebatang tiang lampu yang masih setia menyala. Melayangkan pikiran hingga setiap penjuru titik memorinya. Mengingat setiap lembaran kenangan yang telah lama berlalu. Tak ingin lagi rasanya mengingat setiap lembaran itu. Apalagi harus membuka setiap lembarannya. Palingkan wajah, menatap lampu yang berwarna putih terang. Sejenak lembaran itu mulai tertutup. Perlahan tapi pasti. Enggan rasanya melangkahkan kaki dari tempat ini. Masih ingin berdiri hingga kedua kaki rasanya akan terlepas dengan sendirinya. Benar benar menyedihkan. Lebih menyedihkan dari yang terbayangkan. Orang orang yang berlalu lalang, hanya lewat begitu saja tanpa ada yang melemparkan senyuman atau memberikan segenggam harapan yang mulai sirna.

2 tahun lalu, tepatnya di bulan Juli, hari keempat belas. Pukul 19.00 WIB, kita berada di sebuah tempat yang aku janjikan. Tempat itu merupakan tempat kenangan dimana kau dan aku sangat menyukainya. Kau tak pernah menduga bahwa aku tahu tempat itu adalah tempat favoritmu. Kau terkejut sembari melemparkan senyum yang begitu lebar untukku. Aku sangat behagia. Sangat bahagia saat melihat senyummu yang begitu memesona. Sampai sampai, kau tak sadar telah memelukku begitu eratnya. Aku tersentak. Detak jantung yang aku miliki berdegup kencang tak karuan. Aku menatap kedua bola matamu yang berwarna coklat kehitam hitaman. Begitu juga dengan dirimu yang menatap kedua bola mataku yang aku sendiri tak sempat tahu warnanya darimu. Aku melihat tatapan yang begitu dalam dari kedua bola matamu. Pada saat itu, aku belum mampu menangkapnya dengan jelas apa arti dari tatapan itu. Cepat cepat aku memalingkan wajah. Aku merasakan ada sesuatu yang menggangu jiwamu. Namun, aku membuang perasaan itu jauh jauh dari pikiranku. Aku tak ingin masalah sekecil apapun akan mengganggu hidupku dan hidupmu. Kau melepaskan pelukanku dan berjalan menuju tempat itu. Aku tahu kejadian ini tak kan terulang untuk kedua kalinya. Aku menyusulmu dari belakang. Kau memilih tempat yang paling kau suka. Aku sendiri senang dengan tempat pilihanmu itu. Dan aku yakin kalau tempat itu juga adalah tempat kesukaanmu. Simple Cafe. Kau masih ingat dengan tempat ini? Tentu saja aku masih ingat. Sudah lama aku tidak ke tempat ini, Dan. Oh, ya? Ya, terakhir kali aku ke tempat ini kira kira 6 bulan lalu. Dari mana kau tahu tempat ini, Dan? Aku mengetahui tempat dari sebuah tulisan yang pernah kau buat, Rose. Lagian, kau pernah cerita, kalau suatu saat nanti kau ingin pergi ke suatu tempat dimana kau dan aku sama sama menyukainya. Aku mencoba mencari persamaan tempat itu. Dan kini aku menemukannya untukmu. Hahaha. . . Kau bisa aja, Dan. Oh, ya. Aku sudah memesan semuanya. Kira kira 5 menit lagi, semua pesanannya akan datang.
2

Ok. Aku memandang wajahnya dalam dalam. Rasa rasanya, aku tak ingin melepaskan pandanganku walau hanya sedetik saja. Dia tampak begitu bahagia, sehingga yang ada hanya tawa dan tawanya yang mengisi hati. Silahkan dinikmati, . . . seorang pelayan datang dengan membawa semua pesananku tadi. Terima kasih. Ternyata sudah 5 menit berlalu. Rose, ayo makan. Wow, kau juga tahu apa saja menu yang paling sering aku pesan di tempat ini? Ya, aku tahu semua pesanan yang paling sering kau pesan di tempat ini. Kau suka makan nasi putih dengan sayur cah kangkung atau sayur parit, dan lauknya adalah udang sambal. Itu adalah makanan kesukaanmu kan? Iya, Dan. Apalagi yang kau tahu tentang menu kesukaanku disini? Selesai makan, kau juga tidak pernah lupa untuk memesan jus mangga sebagai minumannya. Setelah itu, kau juga suka makan es krim rasa coklat spesial di cafe ini. Iya kan? Aku tak percaya kau mampu menghafal semua menu yang sudah lama aku sendiri tak menyantapnya, Dan. Ya, ya. Mungkin saat ini kau takkan mempercayainya. Tapi, inilah kenyataannya. Sudahlah, ayo kita makan. Selamat makan! *** Kurang lebih sejam kami menyantap semuanya hingga benar benar selesai. Penuh tawa dan perasaan yang tak pernah ku rasakan sebelumnya. Aku tak pernah menyangka, kalau dia akan sebahagia ini. Malam ini merupakan malam yang paling indah yang pernah aku lewati.
3

Rose, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Aku yakin kau pasti menyukainya. Ayo! Aku menggenggam erat tangan kanannya. Berharap dia kan merasakan perasaanku yang begitu dalam. Dan perasaan itu hanya untuknya. Ya, hanya untuknya seorang. Malam yang dipenuhi bintang bintang, seakan akan memberikanku seberkas cahaya yang begitu terang. Begitu juga dengan sang ratu malam yang tak ingin ketinggalan menjadi saksi diantara kami menambah terangnya seberkas harapan itu. Sebelumnya, di sebuah kolam renang, tepatnya di belakang Simple Cafe. Aku telah membuat sebentuk hati dengan bertuliskan I Love You . Disusun dari 1106 kunang kunang yang sudah berada di dalam kandang beralaskan daun talas. Memang, saat masih terang kunang kunang itu kurang kelihatan cahayanya. Sehingga saatnya akan tiba, kunang kunang itu akan bersinar sesuka hatinya. Aku dan dia masih berjalan menuju kolam itu. Saling bercanda dan berbagi cerita. Tak henti hentinya ia melemparkan senyumannya yang lebar nan manis itu. Semakin terpana aku memandangnya walau hanya sesaat. Aku tahu. Aku sendiri masih berpikir apa yang aku tahu itu. Aku belum dapat memastikannya. Dan, kau tahu kenapa nama tempat ini dinamakan Simple Cafe? Sejenak aku terdiam. Aku berpikir dalam dalam mencari jawabannya. Aku tak tahu. Dan aku hanya memiliki jawaban yang aku yakin itu bukan jawaban yang cocok untuknya. Dan, kau tahu kenapa? Mmm, aku kurang tahu kenapa tempat ini dinamakan Simple Cafe. Aku hanya tahu kalau tempat ini merupakan tempat yang sederhana namun memiliki isi yang sempurna. Semua yang aku suka ada disini. Karena itu aku jadi sering berkunjung ke tempat ini walau hanya makan es krim kesukaanku. Pikiranku pun terasa segar kembali setelah berada di tempat ini untuk beberapa waktu yang singkat. Kau sendiri tahu kenapa? Aku setuju denganmu. Tempat yang sederhana, isi yang sempurna. Kau benar benar tahu jawabannya. Aku suka dengan jawabanmu. Dan, kau maukan menjadikan tempat ini menjadi tempat kenangan yang takkan terlupakan untuk kita berdua?

Aku berpikir lagi. Aku masih berkipir kenapa ia seperti ini. Tidak seperti biasanya. Tidak! Aku tak mau berpikiran yang aneh aneh. Sesegera mungkin aku menjawab pertanyaannya. Tentu saja aku mau, Rose. Oh ya, kita sudah sampai di tempat yang aku janjikan. Kolam renang? Iya, kolam renang. Kenapa? Kau mengatakan kalau kau akan membawaku ke suatu tempat. Kenapa tidak ada yang spesial di tempat ini? Tenang, Rose. Ini hanya awalnya saja. Kira kira 3 menit lagi semuanya akan terlihat. Kau maukan menunggunya? Tentu saja aku mau, Dan. Tiba tiba semuanya menjadi gelap. Seluruh lampu putih yang tadi menyala, kini padam berwarna hitam pekat. Perlahan lahan, kunang kunang yang berada dalam kandang pun mulai menunjukkan warna kemilau dari bentangan kedua sayapnya. Perlahan lahan pula, sebentuk hati serta tulisan I Love You mulai terbentuk dengan rapinya. Aku tak pernah mengira bahwa semuanya akan terlihat begitu indah. Wajahnya yang tadi terlihat begitu penasaran kini berubah menjadi wajah yang penuh dengan kekaguman. Dan, apakah semua ini kau yang membuatnya? Dia bertanya sambil memandangi kunang kunang yang berterbangan di dalam kandang. Aku sendiri masih terpaku dengan pertanyaan yang dilontarkannya tadi. Aku menjawab. Iya, semua ini aku yang buat. Kau tahu berapa jumlah dari semua kunang kunangnya? Berapa ya? Aku bingung, Dan. Semuanya tepat berjumlah 1106. Dan jumlah itu tidak lebih, tidak kurang. Banyak sekali, Dan. Darimana saja kau mendapatkan semua kunang kunang ini?

Aku memesannya dari orang orang yang biasa menangkapnya. Aku sendiri tak tahu darimana saja mereka mendapatkan kunang kunang ini. Oohhh, ya? Aku tak pernah berpikir akan melihat sesuatu seperti ini dalam hidupku. Sungguh indah dan benar benar menakjubkan. Aku senang bisa melihat kau selalu seperti ini. Aku tak ingin melihat air matamu tertumpah walau hanya setitik saja. Bagiku, setitik air matamu sudah membasahi seluruh jiwaku. Itulah sesuatu yang terlintas dalam pikiranku. Dan. Ada apa Rose? Terima kasih untuk semua yang kau berikan untukku selama ini, terutama malam ini. Kau membuatku begitu senangnya sampai sampai aku sendiri hampir lupa untuk mengucapkan rasa terima kasih ini. Kau tahu? Tentang apa? Tentang perasaanku yang sebenarnya. Aku menyayangimu. Aku menyayangimu lebih dari yang kau tahu. Aku menyanyangimu lebih dari aku menyayangi diriku sendiri. Aku benar benar beruntung mendapatkan seorang laki laki sepertimu. Aku benar benar beruntung. Semua yang ku lakukan bukan hanya untuk diriku sendiri, Rose. Aku melakukan semua ini hanya untuk dapat berbagi denganmu. Aku melakukan semua ini karena rasa sayang yang aku miliki hanya untukmu. Aku tahu kau begitu menyayangiku. Sampai sampai, kau menyayangiku lebih dari kau menyayangi dirimu sendiri. Aku juga beruntung mendapatkan seorang perempuan sepertimu, Rose. Kau tahu? Tentang apa, Rose? Aku ingin hidup bersamamu di sisa waktu yang aku miliki. Maksudmu? Aku ingin hidup bersamamu sekarang dan selama lamanya.
6

Sejenak aku berpikir, arti dari setiap kalimat yang keluar dari bibirnya yang tipis yang berwarna merah delima. Mencerna kata demi kata yang seakan akan ingin mengucapkan Sampai jumpa di kehidupan yang lain, membuatku takut kehilangannya. Aku benar benar takut kehilangannya. Aku memeluk tubuhnya erat erat. Aku ingin ia berada disini, berada didekatnya selama mungkin. Aku tak ingin melepaskannya walau hanya sesaat berlalu. Aku benar benar tak mengerti. Resah dan gelisah mulai menyelimuti hatiku. Andaikan ia tahu, perasaan itu bisa membunuhku dalam sekejap saja. Tapi aku takkan membiarkan semua itu terjadi. Aku telah memutuskan untuk menjadi penjaga hatinya seutuhnya. Aku takkan menyia nyiakan untuk dapat hidup bersamanya. Memberikan yang terbaik dan membuatnya bahagia adalah impian yang sudah lama aku tunggu. Bintang bintang di angkasa terasa begitu dekat di atas kepala. Terpaku memandangi nya, tak ada habis habisnya. Ia sendiri masih asyik memandangi sebentuk hati yang tersusun dari kunang kunang tadi. Aku hanya berharap bahwa Tuhan akan selalu melindunginya dan menjauhkannya dari segala sesuatu yang dapat membahayakannya. Tak ingin rasanya sesuatu yang buruk benar benar menimpanya. Rose,. . . Ada apa, Dan? Kau masih ingat tempat dimana pertama kali kita bertemu ? Masih. Kenapa Dan? Saat itu, aku melihatmu menyelipkan sekuntum mawar merah ke tali gitarku. Dan aku tak mengerti apa maksudnya. Kau ingat? Tentu saja aku ingat. Waktu itu aku sedang taruhan dengan salah seorang temanku untuk menyuruhku menyelipkan sekuntum mawar merah itu ke tali gitarmu. Kami taruhan apakah aku berani atau tidak untuk menyelipkannya di tali gitarmu? Kemudian aku menunggu, hingga saatnya kau beranjak dari tempat itu dan meletakkan gitarmu disitu. Setelah itu? Aku menyelipkannya secepat mungkin. Tapi, kau melihatnya tepat dibelakangku. Aku pura pura tidak melihatmu dan pergi begitu saja.

Kemudian, aku melihatmu tertawa terbahak bahak dengan teman temanmu. Saat itu juga, kau memberikan senyuman yang manis sambil mengacungkan jempolmu ke arahku. Iya, saat itu yang menang taruhan kan aku. Jadi, aku membalasmu dengan senyuman itu. Dasar! Hahaahaa,.. Kau tahu? Apa? Aku ingin mengulang semua pengalaman yang pernah terjadi diantara kita walau hanya sekilas. Aku juga ingin mengulanginya, Rose. Tapi itu hanya khayalan kita berdua saja. Walaupun hanya sekilas, semuanya itu hanya terjadi sekali dalam seumur hidup. Kau benar, Dan. Semua itu hanya terjadi sekali saja dan takkan mungkin terulang lagi pada saat yang bersamaan. Sekilas, aku mendengar bisikan yang begitu halus keluar dari bibir tipisnya. Mencoba tak memperdulikannya, semakin aku tenggelam dalam badai keresahan. Aku benar benar merasakan sesuatu yang tak beres yang akan terjadi. Telinga kiriku tiba tiba berdenging dengan kencangnya. Tapi hanya sesaaat. Aku mencoba mengalihkan pikiranku dari keresahanku. Aku tak ingin semua yang terjadi akan menjadi sia sia. Aku takkan memikirkannya lagi. Dan, kau masih ingat tanggal berapa, bulan berapa, dan tahun berapa kita menjalin hubungan pacaran ini? Tanggal 8, bulan 8, tahun 2008, Rose. Aku juga masih ingat jam berapa aku memintamu untuk menjadi kekasihku seutuhnya. Pukul berapa? Jam 8 malam tepat lewat 8 menit. Kau memakai gaun biru, ikat rambut berwarna biru, dan sepatu hak tinggi berwarna biru juga. Aku masih ingat semuanya, Rose.

Saat itu kau juga memakai kemeja merah berlengan panjang, celana jeans berwarna hitam keabu abuan, dan sepatu berwarna hitam pekat. Kau begitu memesona pada malam itu. Aku tak menyangka kalau aku akan bertemu seorang bidadari yang begitu sempurna. Kau juga begitu tampan dan begitu gagah dengan semua yang kau miliki pada saat itu. Aku sendiri terpukau akan sempurnanya dirimu. Aku juga tak pernah menduga akan bertemu dengan seorang malaikat yang benar benar memahamiku dan mengerti aku apa adanya. Kau juga menerimaku apa adanya, Rose. Kau menerima semua kelebihan dan kekurangan yang aku miliki. Dan kini kita telah bersama hampir 2 tahun. Kau benar. Hampir 2 tahun kita bersama dan kita sudah menjalani kenangankenangan dimana saat kita berduka dan saling berbagi tawa. Aku memandanginya lagi. Senyum manisnya terpancar dari kedua bibirnya yang benar benar tipis. Aku mencoba memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi saat ini. Aku hanya ingin tahu apakah aku dapat menemukan jawabannya atau tidak. Aku akan merangkum semua masalahnya di bawah langitku. Aku akan selalu setia mendengar semua cerita ceritanya yang mampu membuatnya selalu bahagia. Aku akan menyiratkan semua kepedihannya di hatiku. Aku akan selalu setia memberikan pundakku untuk tetap merasakan kepedihannya. Aku akan selalu ada disampingnya. Kau akan tertulis di dalam benakku sekarang dan selama lamanya. Itulah janjiku yang telah terbenam di dalam hidupku hanya untuknya. Rose, apakah kau ingin melihat semua kunang kunang itu terbang bebas seperti sedia dulu kala? Aku mau, aku mau. Ayo kita berdiri! Aku kembali memegang tangannya erat erat. Mungkin terlalu erat, sehingga tangannya tampak bekas tanganku. Aku tak ingin kehilangannya walau hanya sesaat. Kini, aku dan dia berada di atas sebuah loncatan yang tingginya mencapai 4 meter. Aku sengaja
9

menyatukan semua ikatan dari setiap kandang dari kunang kunang itu dari ketinggian seperti ini agar aku dan dia dapat melihat kunang kunang itu lebih jelas lagi. Semua ikatan itu terbentuk seperti gumpalan benang benang halus. Aku hanya berharap kunang kunang itu akan benar benar terbang setinggi tingginya, sehingga kunang kunang itu akan semakin menambah keindahan malam ini. Baiklah, Rose. Kita akan melepaskan semua kunang kunang ini dari kandangnya. Kita hanya tinggal menarik gumpalan tali ini ke arah kita. Apakah kau siap? Aku sangat siap, Dan. Pada hitungan ketiga, kita berdua harus sudah melepasnya. Ok?! Ok! Satu,... dua,... tiga!!! Dalam sekejap, kunang kunang itu mulai berterbangan. Mengepakkan sayap mereka dan mulai terbang tinggi. Kami memandang ke arah bawah sambil berpegangan pada kedua pegangan yang ada. Aku dan dia kembali terpaku akan pemandangan yang benar benar menakjubkan. Sungguh, ini adalah pertama kalinya aku merasakan kebahagiaan yang tak mampu aku ungkapkan dengan kata kata, Dan. Aku tak tahu harus berkata apalagi untuk mengungkapkan semua ini padamu selain rasa terima kasih yang begitu dalam. Kau telah menyempurnakan hidupku yang tidak sempurna ini, Dan. Untuk itulah kenapa aku berada disini, berada tepat di sampingmu, Rose. Untuk itulah kenapa aku berdiri disini dengan memegang erat kedua tanganmu. Karena itu semua sudah menjadi tanggungjawabku sebagai penjaga hatimu. Aku juga tidak akan menjadi sempurna bila tanpa ada kau disini menemaniku. Aku menyayangimu, Dan. Sungguh, aku benar benar menyayangimu. Aku juga menyayangimu, Rose. Benar benar menyayangimu. Dan, kau pernah mendengar bahwa cinta itu tak selalu harus memiliki? Aku terbungkam. Terbungkam dalam kegelapan yang paling dalam. Rasanya aku ingin menangis dan menumpahkan seluruh air mataku ke bumi. Meneriakkan namanya
10

sekeras kereasnya hingga aku tk mampu bersuara lagi. Tapi aku tak bisa. Aku benar benar tak bisa. Ada sesuatu yang menghentikanku. Aku tak tahu. Sungguh aku tak tahu. Dan , kenapa kau hanya diam saja? Apa kau pernah mendengarnya ? Aku pernah mendengarnya, Rose. Kau percaya tidak? Aku tidak percaya. Alasanmu? Alasanku karena memang cinta itu harus saling memiliki. Kalau tidak, bagiku itu bukanlah cinta. Oooh. Apa pendapatmu tentang cinta sejati? Apa kau percaya kalau cinta sejati itu ada? Arrgghhh. Aku benar benar tak mengerti apa gerangan yang akan terjadi nanti. Semua pertayaannya sungguh membuatku tak berdaya. Membuatku masuk ke dalam lubang yang terlalu dalam. Menghempaskanku ke dalam ketiadaan walau sebentar. Aku terdiam. Dan, kenapa kau hanya melamun saja? Apa ada sesuatu yang menggaunggu pikiranmu? Kau tidak mampu mengerti aku saat ini, Rose. Kau benar benar tidak mampu untuk mengerti aku. Aku sendiri terpaksa harus menjawab pertanyaannya. Dan, apakah kau mau menjawab pertanyaanku tadi? Kenapa tidak. Bagiku cinta sejati itu adalah cinta yang benar benar berasal dari lubuk hati yang terdalam dan mampu menerima pasangannya apa adanya. Bagiku, cinta sejati itu takkan pernah lekang sekalipun maut telah memisahkan. Bagiku, cinta sejati itu akan selalu ada hanya untuk pasangan sejatinya. Bagiku, cinta sejati itu kau, Rose. Aku percaya itu. Jawabanmu sungguh menyejukkan jiwaku. Aku bangga bisa menjadi milikmu. Aku percaya kalau cinta sejatiku itu adalah kau, Dan. Rose, sudah pukul 23.00 WIB. Saatnya kita beranjak dari tempat ini.
11

Huh, waktu itu cepat sekali berputarnya ya, Dan. Padahal, aku masih ingin berada di tempat ini untuk beberapa jam lagi. Ayolah, Rose. Sudah larut malam. Aku takut kalau nanti kau masuk angin dan sakit. Baiklah kalau begitu. Aku akan menghantarkanmu pulang ya. . . Aku bisa pulang sendiri, Dan. Ayolah, aku akan menghantarkanmu sampai di rumah ya,. . . Aku pulang naik taksi saja. Jarak antara rumahku dan rumahmu cukup jauh. Aku takut nanti kau terlalu larut pulang ke rumahmu. Kau mau kan menurutiku? Baiklah kalau begitu. Hati hati ya, Rose. Kau juga harus hati hati ya, Dan. Jaga dirimu baik baik, . . . Selamat malam, Rose. . . Selamat malam, Dan. . . Kurang dari 2 menit, sebuah mobil sedan tiba tiba bergerak cepat ke arahnya. Aku masih melihatnya sedang menyeberang jalan. Tepat di belakangku, mobil itu tega menghantamkan badannya ke tubuhnya. Tidaaaaak!!!!! Aku berusaha untuk memanggilnya. Aku terlambat. Aku tidak percaya. Sekilas mata tubuhnya kini terhempas. Seluruh tubuhnya tepatnya. Mobil sedan itu pergi meninggalkannya tanpa merasakan dosa dan kesalahan. Secepat mungkin aku menyusulnya. Secepat itu pula semuanya menjadi kenyataan. Aku mencoba memanggil manggil namanya. Dia diam saja. Aku mencoba untuk merasakan denyut nadinya. Aku tidak merasakan apa apa. Aku memanggil seorang supir taksi. Namun, tak ada jawaban darinya. Mereka berkerumun seperti menyaksikan sebuah adegan film yang mengharukan. Mereka hanya mampu memandanginya dengan rasa iba tanpa merasakan sakit yang aku rasakan. Sehingga salah seorang dari mereka

12

menawarkanku untuk membawanya dengan menggunakan mobil pribadinya. Aku hanya berharap ia akan membawa kami secepat mungkin menuju ke rumah sakit terdekat. Kau akan baik baik saja, Rose. Tuhan akan selalu melindungimu. Kami sampai di sebuah rumah sakit terdekat. Aku tak peduli lagi dengan nama rumah sakit itu. Yang aku pikirkan saat ini hanya keselamatannya. Bibirku tak henti hentinya memanggil namanya. Berharap ia juga akan memanggil namaku walau itu akan menjadi yang terakhir kalinya. Tolong dia, cepat tolong diaaaaa. . . Aku mohon tolonglah diaaaaa. . . Seorang suster berlari ke arah kami. Suster itu langsung membawa tubuhnya ke ruang UGD. Sambil mengucurkan air mata, aku hanya berharap tangan Tuhanlah yang akan

menyelamatkannya dari musibah ini. Aku hanya mampu berharap. Aku mengikutinya menuju ruangan itu. Namun, aku hanya mampu memandangnya masuk seorang diri tanpa ada aku disampingnya. Seorang dokter menyusul. Dokter, tolonglah dia dokter. . .Aku mohon tolonglah dia,. . . Tenanglah, nak. Kami akan berusaha sekeras mungkin. . . Aku melihat semua yang terjadi padanya.Seperti tak akan ada cahya terang kan menemaninya. Aku menangis. Menangisi semuanya yang terjadi begitu cepat. Baru saja kami menghabiskan waktu bersama sama. Baru saja kami berbagi tawa bersama. Dan baru saja kami saling berbagi cerita bersama. Aku benar benar tidak menduga semuanya terjadi begitu cepat. Aku menyesal karena tidak menghantarkannya pulang ke rumah. Aku sangat menyesal karena tidak menjadi penjaga hati yang seutuhnya untuknya. Tidak beberapa lama kemudian, dokter itu keluar sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Apakah Anda suami dari wanita ini? Bukan, dokter. Saya adalah pacarnya. Bagaimana keadaannya dokter? Kami mohon maaf, nak. Kami sudah berusaha sekuat tenaga kami. Maksud dokter?

13

Maaf, nak. Ia tidak dapat diselamatkan lagi. Semua luka yang dialaminya sangat parah. Ia mengalami pendarahan yang sangat serius. Sekali lagi, kami mohon maaf. Aku tidak percaya. Benar benar tidak percaya apa yang telah dikatakan dokter tadi. Aku mencoba masuk ke ruangan dimana ia berada. Aku memandanginya dengan melangkahkan kedua kakiku yang rasanya sudah tak mampu untuk berjalan lagi. Aku melihat wajahnya yang kini berubah menjadi pucat pasi. Aku tak mampu menangis lagi. Sungguh aku tak mampu. Ingin rasanya aku menangis darah. Tapi aku tak bisa. Aku memeluknya erat erat dan tak ingin melepaskannya. Aku terpukul. Mereka tidak mengizinkanku untuk tetap memeluknya. Mereka merebutnya dariku. Mereka akan menghantarkannya ke ruangan dimana aku benar benar kehilangannya untuk selama lamanya. Aku mengerti kalau semua yang dikatakanya adalah kata kata terakhirnya. Kata kata dimana ia akan mengucapakan Selamat tinggal untukku selama lamanya. Kata kata dimana aku takkan pernah bertemu dengannya lagi walau hanya sedetik berlalu. Kata kata dimana aku telah menemukan semua jawaban atas pertanyaan yang begitu meresahkanku. Aku sadar, kalau kini aku hidup tanpanya. Aku hanya berharap, Tuhan berada sisi-Nya. *** 2 tahun sudah. Hidup tanpa bisikanmu. Hidup tanpa semua yang pernah tercurahkan hanya untukku. Aku hanya mampu menitipkan salam hanya melalui angin yang berhembus atau melalui pohon pohon yang sedang asyik berincang bincang. Aku tak mampu untuk menggantikannya dengan yang lain. Gelak tawanya masih terngiang begitu dalam di telingaku. Masih terasa aroma tubuhnya yang sangat ku kenal. Masih tersimpan berjuta kenangan tentangnya. Aku hendak ingin membuangnya jauh jauh. Tapi, aku tak bisa! Aku tak bisa karena aku tak mampu. Aku tak mampu karena memang hanya dia yang mengerti tentang diriku. Dia terlalu indah tuk ku lupakan. Terlalu indah tuk ku hapus dari hidupku. Hanya kau dan kenangan kenangan itu yang tersimpan begitu kuat di memoriku. Kapan lagi kita akan bertemu, walau hanya sekilas kau tersenyum? Aku berusaha melampiaskan semua perasaan rinduku, perasaan yang begitu sarat. Kini yang tinggal aku, kenangan kenangan itu, serta selembar kertas yang tak sempat aku berikan selagi kau masih bersamaku. Sudah kusam serta usang. Ku simpan dekat dengan tidurku dan mimpiku. Kau adalah jawabanku.

14

Untuk sebuah nama

Larut sudah tiba! Bayangannya menjamah angan Di relung hati merindukannya Kian dalam tanpa ampunan Datang mengisi hidup Mengusik rasa yang lama tertidur Betapa senyuman menyentak jiwa Serta tatapan membasuh luka Serangkaian mimpi telah terpendam Tinggalkan bekas tak usah hiraukan Di ufuk langit nan hitam Setitik cahya terlalu menyilaukan Dialah cahya itu Putih, berdiri diantara kenangan kenangan Datang untuk serpihan hati yang tlah mengering dan terlalu sepi Terpenjara pahitnya kehidupan Mungkinkah aku mampu bertahan? Ketika di ujung waktu Ada sebentuk hati untuk sebuah nama

15

UNTUK SEBUAH NAMA

D I S U S U N

Oleh:

RAJAIAN EDWIN F. SINAMBELA

SMA ST. THOMAS 1, MEDAN 2009 / 2010


16

17