Anda di halaman 1dari 364

http://inzomnia.wapka.

mobi

KETIKA BARONGSAI MENARI Oleh: V. Lestari Edit & Convert: inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi Teruntuk Ikka Vertika Cerita ini merupakan khayalan belaka. Setelah lebih dari tiga puluh dua tahun lamanya dikurung dan dipasung, liong dan barongsai diperbolehkan turun ke jalan untuk menari. Mereka meliuk-liuk dengan gagah dan penuh semangat. Bukan cuma menghibur, tapi juga mengharukan, karena menjadi simbol dari kembalinya harga diri dan martabat. Semoga masa lalu yang mengerikan tak akan terjadi lagi. Damailah di tanah merdeka, berbagi bersama, dalam suka dan duka. I Jakarta Utara, kawasan Pantai Nyiur Melambai. Pertengahan bulan Mei 1999. Baru sebulan Kristin menempati rumah barunya bersama Adam, suaminya, dan calon bayinya, yang diperkirakan akan lahir bulan depan. Sebelumnya mereka mengontrak sebuah rumah kecil. Toh mereka hanya bertiga dengan seorang pembantu. Rumah

http://inzomnia.wapka.mobi

kecil lebih gampang diurus. Dan saat itu mereka memang tengah menunggu pembangunan rumah baru itu selesai. Kristin sangat berharap mereka dapat menempatinya sebelum bayinya lahir. Untunglah harapannya terwujud. Jadi ia punya cukup waktu untuk menyiapkan sebuah kamar bayi. Membenahi rumah memang cukup merepotkan untuk Kristin yang sedang hamil tua. Tapi Adam dan Bi Iyah, pembantunya, tidak membiarkan ia bekerja terlalu keras. Adam tidak hentihentinya mengingatkannya. Padahal kalau sedang asyik bekerja, Kristin sering kali lupa akan kondisinya. Kristin sangat puas akan rumah itu. Hadiah luar biasa dari Adam. Begitu yang selalu dikatakan Adam 11 kepadanya. Padahal sesungguhnya rumah itu tetap milik Adam, bukan diberikan untuknya. Tetapi ia memang menganggapnya sebagai hadiah. Rumah itu merupakan surprise bagi Kristin, karena Adam tak pernah mengajaknya untuk melihat proses, pembangunannya. Jadi ia tidak pernah tahu sampai di mana kemajuannya dan kapan kira-kira bisa ditempati. Adam cuma menjanjikan, "Sebentar lagi, Kris! Sabarlah!" Bahkan ia tidak diberitahu di mana lokasinya! Karena itu ia sempat berprasangka, janganjangan Adam cuma membual saja. Lalu ketika hari memamerkan rumah itu tiba, Adam juga tidak memberitahu dia lebih dulu. Adam membawanya ke sana seakan sambil lewat saja usai berjalan-jalan. Lokasinya di Jakarta Utara, di sebuah kawasan perumahan bernama Pantai Nyiur Melambai.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sebuah nama yang menggelitik perasaannya, sebab nama itu mengingatkannya kepada sebuah tragedi yang terjadi setahun yang lalu. Tragedi di pertengahan Mei tahun sembilan belas sembilan delapan. Sebuah^ tragedi kemanusiaan yang luar biasa. Tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Dan tempat itu, lokasi di mana rumahnya berada, sampai sekarang masih mengingatkan orang akan tragedi itu. Dulu, sebelum tragedi itu terjadi, kawasan Pantai Nyiur Melambai merupakan lokasi pemukiman yang sangat nyaman dengan deretan rumah berdesain indah. Sebuah kawasan untuk golongan elite. Tapi sekarang, bahkan setelah lewat setahun, kawasan itu masih saja terlihat merana bagaikan habis mengalami perang atau terkena rudal. Ada rumah yang hancur lebur, ada yang cuma tinggal puing atau dinding 12 menghitam. Semua merupakan saksi bisu dari sejarah yang kelam. Kristin terkejut melihat rumahnya berada di kawasan seperti itu. Memang tidak semua rumah dalam kondisi buruk. Hanya sekitar empat puluh persen saja yang ambruk dan karenanya tidak berpenghuni. Biarpun demikian, kesannya tetap tidak nyaman. Dengan tinggal di situ orang akan selalu diingatkan kepada tragedi itu. Jangankan empat puluh persen, satu-dua rumah saja yang hancur menghitam, akan jadi monumen. Kenangan abadi suatu tindak kekejian yang luar biasa. Bahwa manusia pada suatu ketika bisa berperilaku seolah dia bukan manusia. Tetapi Kristin jatuh cinta kepada rumahnya. Adam pun menyodorkan alasan yang sangat masuk akal.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Cepat atau lambat, pemilik rumah-rumah itu akan kembali dan merenovasi rumah mereka, atau menjualnya dan pemilik baru yang membangun. Lalu kondisi pemukiman ini akan pulih." Kristin bisa menerima alasan itu. Ia tidak lagi risau karena rasa tertariknya pada rumah itu jauh lebih besar. Desain rumahnya sungguh unik. Bagus luar dan dalam. Adam, seorang arsitek, merancangnya sendiri. Kristin bangga akan rumahnya. Dan bangga pada Adam. Beberapa hari setelah menempati rumah itu ia mulai bermimpi. Seperti halnya setiap mimpi, tak ada ujung-pangkalnya. Tetapi mimpi itu beberapa kali berulang sama. Di situ ia melihat dirinya terbaring di atas brankar yang dilarikan kencang. Ia tak bisa bergerak sedikit pun karena tangan dan kakinya terikat erat 13 ke sisi kereta. Yang mendorongnya Adam! Ia bisa melihatnya karena posisi Adam berada di bagian kakinya. Wajah Adam tampak aneh, mengerikan dan tidak manusiawi. Ia berteriakteriak minta dilepaskan, tapi sedikit pun Adam tak menatap kepadanya. Pandangnya lurus ke depan. Akhirnya mereka masuk ke sebuah ruang yang tampaknya seperti kamar bedah. Ia diletakkan di bawah lampu besar yang terang sekali nyalanya. Kemudian ia melihat Adam mengambil sebuah pisau besar yang ujungnya runcing. Pisau itu berkilat kena cahaya. Lalu Adam menjulurkan tangannya yang menggenggam pisau itu ke arah perutnya yang membuncit! Ia berteriak... Lalu terbangun dengan tubuh berkeringat dingin. Ternyata ia masih aman dan nyaman di atas tempat tidurnya. Sementara Adam di sisinya tetap tidur nyenyak tanpa terusik.

http://inzomnia.wapka.mobi

Rupanya teriakannya kurang nyaring untuk bisa membangunkan Adam. Ia tak pernah menceritakan mimpi-mimpinya kepada Adam. Takut Adam tersinggung. Juga takut kalau-kalau dicemooh. Menurut penilaiannya Adam memiliki ego yang tinggi. Superior dan cenderung otoriter. Suami adalah raja dalam rumah tangga. Pantang ditentang, apalagi dilawan. Tetapi Adam bisa menetralisir segi negatif itu dengan ekspresi cinta, dalam kata dan perbuatan! Itu juga salah satu sebab kenapa Kristin tak perlu menderita stres berkepanjangan. Obatnya adalah cinta! Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Akhir bulan Mei. Mimpi itu tak datang lagi pada saat Kristin mulai 14 menerimanya sebagai bagian dari tidurnya. Ia tak lagi memikirkannya. Tapi muncul masalah lain. Yang ini bukan mimpi, tapi riil. Dan justru karena itu jadi menakutkan. Tiba-tiba ia tak lagi merasakan gerakan bayi di dalam perutnya. Padahal sebelum pindah ke rumah itu ia masih merasakan kuatnya gerakan si bayi. Dan dokter yang secara rutin memeriksanya menyatakan dirinya dan bayinya baik-baik saja. Ia jadi teringat lagi kepada mimpinya. Bagaimana kalau mimpi mengerikan itu benar-benar jadi kenyataan? Bayangkan! Ia akan melahirkan bayi yang tak bernyawa! Betapa marahnya Adam! Suaminya itu pasti akan menyalahkannya karena telah melalaikan keselamatan si bayi. "Barangkali kau terlalu capek mendandani rumah ini! Sudah dibilang jangan capek-capek! Suruh saja Bi Iyah kalau perlu apa-apa!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Mestinya ia segera memeriksakan dirinya lagi ke dokter. Cuma dokter yang bisa memastikan kondisi si bayi. Tetapi ia takut mengetahui kebenaran. Ia juga takut mengatakannya kepada Adam. Sepertinya memberitahu salah, tidak memberitahu juga salah. Maka ia cuma bisa berharap dan berdoa, semoga si bayi bergerak lagi. Ayolah, anakku! Jangan keenakan tidur betapapun nyamannya di dalam! Ayolah bergerak lagi! Kristin membelai perutnya yang buncit. Sejak menyadari kelainan itu ia benar-benar mengurangi kegiatannya. Ia lebih banyak tidur-tiduran di kamar. Padahal ia masih ingin mendandani rumahnya, kamarnya dan kamar si bayi. Ia berharap istirahat bisa menjadi solusi kecemasannya. Setelah bosan tiduran ia duduk di depan jendela 15 kamarnya yang terletak di loteng dan menghadap ke jalan. Dari sana ia bisa melihat objek bergerak. Sayang suasana di jalan dan sekitarnya sering kali sepi. Untuk orang yang menyukai ketenangan dan kenyamanan, tentunya kawasan ini dianggap ideal. Tetapi suasana sepi di situ kadang-kadang terasa keterlaluan. Sering kali ia berupaya mengatasinya dengan memutar musik keras-keras. Tapi sepanjang-panjangnya sebuah lagu, tetap ada akhirnya. Lalu sepi yang sama kembali menyergap. "Bila anak kita lahir, rasa sepi itu akan hilang," hibur Adam. "Dia akan mengisi rumah kita dengan tangis dan teriakannya. Kau akan sibuk. Tidak seperti sekarang ini. Tak ada kegiatan. Jadi bersabarlah." Tentu saja ia akan bersabar. Sebenarnya ia juga tidak menganggur sama sekali. Ia mengisi waktu dengan menjahit,

http://inzomnia.wapka.mobi

baik pakaiannya sendiri maupun baju-baju kecil untuk si bayi. Ia memilih warna putih untuk baju bayi, dinding kamar, maupun perlengkapannya. Warna itu dianggapnya netral, untuk lelaki maupun perempuan. Ia dan Adam sudah memutuskan untuk tidak melakukan USG. Biarlah kemunculan si bayi menjadi surprise yang menyenangkan. Lelaki atau perempuan kan sama saja. Dalam hal itu ia dan Adam se-pendapat tanpa yang satu mempengaruhi yang lainnya. Ketika memandang ke luar jendela dan melihat pemandangan di seputar pemukimannya, mau tak mau ia membayangkan kembali tragedi itu. Meskipun tidak mengalaminya secara langsung, tetapi dari tayangan televisi dan berita di koran ia bisa mem16 bayangkannya. Ketika itu sekelompok massa seperti kemasukan iblis. Mereka mengamuk, menjarah, menghancurkan, menganiaya, memerkosa, membunuh, dan membakar. Hampir berbarengan, di berbagai sudut kota Jakarta pun terjadi kerusuhan besar-besaran dengan cara yang mirip satu sama lain. Gedung dibakar, isinya dijarah ramai-ramai, sementara penghuninya dianiaya, diperkosa, atau dibunuh. Sebagian besar korban adalah orang Tionghoa atau orang Indonesia keturunan Cina. Jelasnya kerusuhan itu bermotifkan rasialisme. Serangan ditujukan secara khusus kepada kelompok etnis tertentu. Dalam hal ini Tionghoa. Tragedi luar biasa itu menimbulkan kegemparan di seluruh dunia. CNN memberitakannya ke mana-mana. Menyakitkan tapi juga memalukan! Banyak orang Indonesia merasa malu mengaku sebagai orang Indonesia bila berada di luar negeri. Orang lain yang berbuat, diri sendiri kena getahnya. Mereka kerap kali

http://inzomnia.wapka.mobi

ditanyai, "Mengapa Anda membiarkan saja penganiayaan berlangsung di depan mata Anda tanpa berusaha menolong Anda malah sibuk memasang label-label pengaman di depan rumah sendiri! Takut membela kebenaran?" Pertanyaan itu tentu saja sulit dijawab! Saksi mata mengatakan para perusuh sangat ganas. Mereka seperti bukan manusia. Bahkan perempuan dan anak-anak yang ikut serta pun tidak kelihatan seperti manusia. Memang tidak masuk di akal, bagaimana mungkin orang bisa bergembira ria di atas penderitaan orang lain. Apakah mereka kerasukan setan? Cuma iblis yang bisa menari-nari di api neraka. Atau mungkinkah mereka dihinggapi sejenis 17 virus pengacau otak? Pertanyaan itu memang masih tetap menjadi pertanyaan lama kemudian. Tak ada yang bisa menjawabnya. Tak bisa atau tak mau? Konon, segala sesuatu yang berhubungan dengan setan memang tak bisa dijawab. Sementara yang namanya virus sering kali belum ditemukan obatnya. Dan kalaupun suatu saat berhasil ditemukan obat atau vaksinnya, ia telah memakan korban yang jumlahnya tak terhitung! Kristin tahu betul tentang hal itu. Semua orang Indonesia, yang peduli maupun yang tak peduli akan negerinya, pasti tahu. Bagaimanapun semua berkepentingan karena identitas yang disandang. Bukan cuma Jakarta atau kota-kota lain yang dilanda kerusuhan, tapi juga seluruh pelosok negara. Bukan cuma korban langsung yang sakit hati, tapi juga mereka yang beruntung tidak menjadi korban. Bagaimana mungkin hal

http://inzomnia.wapka.mobi

seperti itu bisa terjadi? Tapi nyatanya itu terjadi. Bahkan lebih buruk dari mimpi buruk atau khayalan yang mengerikan! Khusus mengenai kompleks perumahan yang dihuninya sekarang ini, Kristin tidak tahu banyak. Ia mengetahui kisahnya dari Adam yang memang warga Jakarta sejak lahir. Kristin sendiri berasal dari Semarang. Baru dua tahun belakangan ia menetap di Jakarta. Ia pindah ke Jakarta karena mendapat promosi di kantor pusat perusahaan tempatnya bekerja, sebuah perusahaan telekomunikasi ternama. Orangtua-nya sebenarnya berat hati melepasnya ke Jakarta. Di Jakarta banyak bandit! Tetapi ia berkeras hati. Kalau tidak diambilnya kesempatan itu, maka rekan lain akan menyambarnya. Padahal zaman sekarang ini 18 pekerjaan susah dicari. Krisis moneter yang sudah berlangsung lama tak mungkin pulih dalam sekejap. Pengangguran pun berlipat ganda setelah pemecatan karyawan di mana-mana terus saja terjadi. Lalu ia bertemu dengan Adam, berpacaran, dan kemudian menikah. Semuanya serba singkat. Tetapi ia yakin akan cintanya. Tak ada orang yang sempurna. Sama seperti dirinya sendiri. Setiap orang pun memiliki kelebihan dan kekurangan. Seperti Adam. Seperti dirinya. Dulu, di kota kelahirannya dan kemudian saat indekos di Jakarta, ia tinggal di kawasan hunian yang padat. Banyak tetangga, ramai dengan celoteh kiri-kanan. Tak pernah sepi siang-malam. Tiba-tiba lingkungan barunya berbeda seperti bumi dan langit.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Justru karena keadaannya begini, aku mampu membeli rumah ini," Adam menjelaskan. "Pemiliknya tak mau menempati lagi. Ia ingin segera menjualnya tapi tak kunjung laku. Jadi dia terpaksa menjual supermurah." "Kenapa?" Kristin tak mengerti. "Bukankah tanah dan rumah di sini nilainya mahal?" "Mereka ingin melupakan pengalaman pahit yang mereka alami tahun lalu. Jadi tak ingin kembali ke sini. Sedang orang lain telanjur menganggap daerah ini kelam karena sejarahnya." "Tapi toh ada yang kembali. Seperti para tetangga kita yang sedikit itu." Adam tertawa. "Untung ada yang kembali, bukan? Jadi kita bisa punya tetangga. Yah, kukira mereka terpaksa kembali karena tak punya tempat lain." 19 Lalu Adam merengkuhnya dengan ekspresi cemas. "Kau tidak takut tinggal di sini, bukan?" "Takut? Ah, nggak. Cuma tidak biasa saja." Adam tampak lega. "Sesuatu yang baru memang harus dibiasakan. Semua perlu waktu." "Kukira begitu. Rumah ini bagus dan menyenangkan kok." "Syukurlah. Tetangga sebelah tidak cerita macam-macam, kan?" "Macam-macam apa?" "Bukan apa-apa." Adam seperti kelepasan bicara. "Tapi mereka yang pernah mengalami kengerian masa lalu bisa saja mendramatisasi ceritanya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku yakin mereka akan berusaha sedapat mungkin membuatku betah di sini. Jadi tak mungkin menakut-nakuti dengan ceritacerita ngeri." Adam sangat lega. Kristin memang sungguh-sungguh. Ia senang pada rumah barunya. Dan sudah tidak sabar ingin membanggakan rumahnya itu pada Papa dan Mama. Mereka akan mengagumi. Tapi saat ini kedua orang tua itu masih sangat takut pada kota Jakarta. Mereka terlalu banyak mendengar dan melihat peristiwa mengerikan dari media massa. Mungkin kalau cucu mereka lahir nanti, barulah daya tarik untuk datang lebih besar daripada rasa takut itu. Kristin teringat lagi. Ia membelai perutnya. Sudahkah terasa gerakan di dalam sana? Ketika sedang berkonsentrasi, tatapannya tertuju ke luar jendela. Langsung ke satu titik. Ia terkejut. Orang itu ada lagi di sana. Dia seorang lelaki bertubuh tinggi ramping dengan pakaian rapi seperti orang kantoran. Celana 20 panjang hitam dan kemeja putih lengan panjang. Cuma tak pakai dasi. Wajahnya tampan. Kulitnya kuning langsat. Rambutnya tebal agak gondrong. Ia berdiri dengan posisi santai. Kedua tangan ke belakang. Ekspresinya seperti orang yang tengah meninjau situasi. Tubuhnya menghadap ke rumah Kristin. Sedang di belakangnya tegak sebuah rumah kosong yang sudah tak beratap dan sebagian dindingnya hancur. Kristin tak ingat persis sudah berapa kali ia melihat orang itu di sana, di tempat yang sama dan dalam posisi yang sama. Pandangannya selalu ke arah rumahnya. Pada mulanya ia berpikir, orang itu sedang mencari rumah yang cocok

http://inzomnia.wapka.mobi

mengingat di daerah itu" ada banyak rumah yang mau dijual. Atau mungkin juga ia sedang mengagumi rumahnya. Tapi, kenapa tak cukup sekali dua kali saja? Yang membuatnya terkejut sekarang adalah karena tatapan orang itu lurus kepadanya, langsung ke matanya. Mereka beradu pandang. Tak mungkin dibelokkan atau dialihkan. Padahal biasanya tak pernah begitu. Biasanya orang itu tak pernah mengarahkan matanya ke jendela kamarnya meskipun tatapannya berputar ke sana-sini. Karena itu biasanya Kristin tak begitu memedulikan. Tentunya sah-sah saja bagi siapa pun untuk berdiri di tepi jalan mengamati suasana. Yang penting orang itu tidak sedang mengamati dirinya. Segera setelah beradu pandang orang itu tersenyum, mengangguk dan membungkuk dengan amat sopan. Kristin jadi tersipu dibuatnya. Cepat-cepat ia membalas senyumnya sambil menganggukkan kepala juga. Karena merasa tak enak untuk terus duduk di 21 situ sementara orang itu pun berada di seberang sana, ia berdiri. Tampak olehnya tatapan orang itu masih tertuju kepadanya. Kristin tersenyum dan mengangguk lagi sebagai isyarat bahwa ia akan pergi dari situ. Tiba-tiba orang itu mengangkat sebelah tangannya lalu bergerak menyeberang jalan. Kristin tertegun sejenak. Kalau ia tak salah tangkap tampaknya orang itu berniat untuk mendatangi rumahnya. Setelah berpikir dan menimbang-nimbang, ia memutuskan untuk turun dan melihat.

http://inzomnia.wapka.mobi

Di ruang depan ia berpapasan dengan Bi Iyah, pembantunya, yang tampaknya baru saja masuk dari luar rumah. "Ada tamu ya, Bi?" tanyanya. Bi Iyah diam sejenak, memandangnya dengan heran. Lalu ia menggeleng. "Tamu mana, Bu? Nggak ada." "Tadi Bibi di luar?" "Iya, Bu. Tapi nggak ada siapa-siapa yang datang." "Coba lihat lagi, Bi." Kristin mengikuti langkah Bi Iyah. Mereka keluar. Memang tak ada siapa-siapa di depan pagar. Jalan depan rumah pun sepi. Hanya kendaraan bermotor melintas sesekali. Di seberang jalan pun tak ada siapa-siapa. Orang itu sudah tak tampak. Kristin merasa kecele. Rupanya orang itu tidak bermaksud bertandang. Ia cuma menyeberang lalu pergi. Lalu Kristin menyadari tatapan Bi Iyah yang tampak bingung. Cepat-cepat ia tersenyum. "Tadi dari jendela aku melihat ada orang menyeberang dari sana." Ia menunjuk rumah di seberang. "Kukira dia mau ke sini. Mungkin mau nanya-nanya soal rumah." 22 Bi Iyah mengerutkan keningnya. "Rasanya mah nggak ada siapasiapa, Bu. Lelaki atau perempuan, Bu?" "Lelaki." Bi Iyah menggeleng. "Nggak ada, Bu." "Ya sudah. Mungkin Bibi lagi nyapu atau apa hingga tak melihat." "Bibi nggak ngapa-ngapain tadi, Bu." Kristin merasa seperti orang bodoh ketika menatap perempuan setengah baya di depannya. Siapa sebenarnya yang bodoh? "Ya

http://inzomnia.wapka.mobi

sudah. Mungkin Bibi kebetulan saja nggak melihat ke seberang." "Ah, Bibi justru lagi santai di depan pagar menghitung mobil lewat, Bu. Masa nggak melihat kalau ada orang," Bi Iyah berkeras. Kristin tak mau lagi berdebat dengan Bi Iyah. Ia mengalihkan persoalan. "Hati-hati sama orang yang tak dikenal, Kris," Adam mengingatkan ketika Kristin menceritakan hal itu. "Tampaknya dia orang baik-baik, Mas. Sepertinya dia sedang bingung dan membutuhkan informasi. Habis sudah beberapa kali kulihat dia di sana, memandang ke sana-sini." "Siapa tahu dia sedang mencari calon korban untuk dirampok atau ditipu. Jangan cepat mempercayai orang tak dikenal. Kelihatannya saja baik-baik. Dalamnya belum tentu." "Jangan-jangan dia sedang mencari anggota keluarganya yang pernah jadi korban kerusuhan," kata Kristin penuh iba. "Lalu dia melihat keadaan di sini dan menjadi syok karenanya." 23 "Setelah lewat setahun? Kenapa menunggu begitu lama?" "Siapa tahu tadinya dia di luar negeri. Baru sekarang dia sempat ke sini," Kristin berimajinasi. Adam mengerutkan kening. Sekarang tampak serius. "Apa dia orang Tionghoa?" Kristin berpikir sejenak. "Sepertinya iya. Kulitnya memang kuning. Rambutnya hitam lurus. Tapi matanya biasa-biasa saja. Seperti matamu dan mataku." Kristin tertawa. "Ya. Kita berdua juga punya darah Cina, ya? Biarpun fifty-fifty, tapi ada. Susah juga memastikan etnis seseorang. Bisa salah."

http://inzomnia.wapka.mobi

Adam tidak ikut tertawa. "Coba gambarkan dengan lebih jelas ciri-cirinya, Kris," katanya serius. "Dia lebih tinggi sedikit darimu. Ramping. Wajahnya cakep juga. Alisnya tebal. Sorot matanya tampak ramah. Mungkin dari situ kusimpulkan dia orang baik-baik. Pakaiannya rapi. Langkahnya tegap. Ah... apa lagi, ya? Nantilah kalau dia muncul lagi dan kau kebetulan di rumah, kau bisa melihatnya sendiri." "Lain kali hindarilah orang tak dikenal. Jangan suka berandaiandai." Adam tampak tidak tertarik lagi. Masalah itu tak lagi dibicarakannya. Kristin tak mengerti. Apakah Adam tidak senang? Adam juga tak mengerti. Belakangan dia lebih intens memperhatikan Kristin. Secara diam-diam tentunya. Ia juga minta pada Bi Iyah agar lebih baik menjaga nyonyanya dan selalu melapor padanya bila terjadi sesuatu. Hal itu penting mengingat usia kandungan Kristin dan sikapnya yang terasa agak aneh belakang 24 an ini. Ia mengajari Bi Iyah bagaimana menggunakan telepon. Nomor teleponnya di kantor dan juga nomor telepon genggamnya ia tulis besar-besar dan ia tempelkan di dinding dekat meja telepon. Kalau sampai terjadi sesuatu dan Kristin tak bisa menelepon sendiri, maka Bi Iyah bisa melakukannya. Beberapa kali ia melatih Bi Iyah untuk mempraktekkan. Tentu saja dengan sepengetahuan Kristin yang memahami tindakan itu sebagai upaya melindunginya. Jadi wajar-wajar saja. Adam sering mendapati Kristin mengusap-usap perutnya dengan pandangan melamun. Ekspresinya tampak cemas, seolah

http://inzomnia.wapka.mobi

benaknya sedang dipenuhi pemikiran berat. Kalau ditanya, "Kenapa, Kris?", ia terkejut seolah pertanyaan itu bunyi geledek. Lalu tersipu sejenak sebelum menjawab, "Oh... nggak apa-apa." "Betul nggak apa-apa?" "Betul. Memangnya kenapa?" Kristin suka sekali membalas pertanyaan dengan pertanyaan. "Perutmu sakit?" "Perut?" ulang Kristin seolah itu pertanyaan yang tidak logis. "Ah, tentu saja perutku nggak apa-apa. Kau mengejutkan aku karena aku lagi asyik melamun." "Belakangan ini kau suka melamun, ya? Sampai-sampai kehadiranku di sisimu tak kausadari." "Ah, masa iya. Memangnya ada larangan melamun, Mas?" Kristin tertawa. "Tentu saja tidak. Boleh tahu nggak, apa sih yang kaulamunkan?" 25 Kristin tersenyum misterius. "Ih... rahasia dong." Lalu Adam tak tahan lagi untuk tidak melemparkan pertanyaan yang mengganggu pikirannya. "Bukan lelaki yang suka kaupandangi dari jendela kamar, kan?" Kristin terkejut lagi. Nah, kedapatan! "Kenapa kau bertanya begitu?" "Nanya kan boleh, Kris." "Pertanyaanmu seperti menuduh. Cemburu, ya?" "Wah, buat apa aku cemburu pada orang yang tidak mengenal dan dikenal olehmu?" "Kalau begitu, jangan bertanya yang bukan-bukan dong!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Kristin tampak jengkel. Maka keingintahuan Adam tidak mendapatkan jawaban. Bila suasana sudah tidak menyenangkan seperti itu, tentu mustahil melanjutkan topik yang sama. Selanjutnya Adam jadi suka mengamati ke luar jendela kamarnya. Tentunya bila Kristin tak ada. Tetapi ia tak pernah melihat orang yang diceritakan Kristin itu. Mungkin saatnya tidak tepat. Orang itu hanya muncul pada jam kerja." Sungguh menyebalkan. Ada kalanya ia menertawakan kelakuannya sendiri. Bila ia menilai kelakuan Kristin itu aneh dan tidak wajar, tentunya ia tidak boleh ikut-ikutan bersikap tak wajar juga. Mungkin perempuan yang sedang hamil memang suka begitu. Buktinya kalau hamil muda suka macam-macam, misalnya mengidam makanan yang tak masuk akal. Orang bilang, itu bawaan anak. Jadi mestinya tingkah Kristin itu tidak perlu dianggap aneh. Ia berpikir tentang kemungkinan lain. Adakah 26 pengaruh buruk dari rumahnya? Rumah itu punya sejarah yang kelam. Mungkin ia menyimpan dan merekam kengerian. Padanya terpercik darah dan air mata. Mungkinkah hal itu menetap, tak bisa hilang dalam perjalanan waktu? Tetapi ia sangat menyukai rumah itu. Kalau tidak karena tragedi itu, ia tak mungkin bisa memilikinya. Harganya mahal sekali. Walaupun saat ini ia harus mengeluarkan biaya tinggi untuk merenovasinya, hal itu masih bisa terjangkau kemampuannya. Apalagi arsitekturnya dirancang olehnya sendiri. Sudah lama ia berangan-angan ingin punya rumah di situ. Angan-angan itu tak pernah padam meskipun rasanya mustahil.

http://inzomnia.wapka.mobi

Jangankan rumah mewah di daerah elite, rumah kecil sederhana di gang pun belum mampu ia miliki. Siapa sangka bahwa ada saatnya angan-angan itu jadi kenyataan! Memang ironis dan menyedihkan bahwa tragedi berdarah harus terjadi lebih dulu sebelumnya. Sesungguhnya, cerita Kristin tentang lelaki aneh itu membangkitkan nostalgia tentang dirinya sendiri. Dulu ia juga suka mengamati rumah-rumah di situ sambil melamun. Janganjangan orang yang dilihat Kristin itu pun sedang menaksir rumahnya! Ia merasa kagum lalu ingin meniru desainnya. Tetapi Bi Iyah memastikan tak pernah melihat orang itu. Padahal pembantunya itu senang sekali berangin-angin di balik pagar sambil mengamati suasana jalan bila tak ada pekerjaan. Memang bisa saja kemunculan orang itu tidak bersamaan dengan kehadiran Bi Iyah di balik pagar. Tetapi kejadian terakhir tidak demikian. Bi Iyah ada di sana pada 27 saat Kristin melihat orang itu, lalu memutuskan untuk menemuinya! Tapi ia tidak mau menyimpulkan hal-hal yang tidak rasional, baik kepada Bi Iyah maupun kepada Kristin. Itu berbahaya sekali. Bayangkan kalau mereka berdua ketakutan. Padahal sudah jelas dan terbukti bahwa mereka merasa nyaman di rumah itu. Baik Kristin maupun Bi Iyah sama-sama senang tinggal di situ. Mereka berdua juga tahu sejarah kawasan itu. Jadi tak perlu cemas berlebihan. *** Kristin semakin sering meraba dan membelai perutnya. Sudah bergerakkah dia? Ayo dong, Sayang! Sepaklah perut Mama!

http://inzomnia.wapka.mobi

Tendanglah! Ayo! Tetapi ia tidak merasakan apa pun. Ia mencoba menenangkan diri. Barangkali anak itu lebih suka bergerak di malam hari, saat ia tidur nyenyak dan tidak bisa merasakan. Atau dia lebih suka bergerak pelan-pelan karena tak mau menyakiti ibunya. Tetapi ia tahu itu cuma membohongi diri sendiri. Ia tidak boleh membiarkannya. Ia harus berbuat sesuatu. Barangkali ia akan ke dokter sendiri diam-diam. Tapi ia tak mungkin merahasiakannya dari Adam karena hasil pemeriksaan harus diketahuinya juga. Adam pasti akan marah besar_ dan menuduhnya sebagai istri dan ibu yang cuek. Padahal itu sama sekali tidak benar. Ketakutannya menjadi ganda, yaitu perihal nasib si bayi dan kemarahan Adam. Ia perlu mengumpulkan 28 keberanian dulu untuk memberitahu Adam dan kemudian mengajaknya ke dokter, karena memang cuma itu solusi satusatunya. Keresahan itu membuatnya melupakan si orang misterius yang suka berdiri di seberang rumah. Seandainya ingat pun ia tak peduli lagi untuk menjenguknya melalui jendela. Buat apa? Ia sedang mengalami beribu kepusingan. Tetapi pagi itu ketika bangun tidur dan membuka tirai jendela ia melihatnya lagi! Lelaki itu berdiri di sana dalam posisi biasa dan pakaian yang sama, menatap kepadanya dengan sorot mata yang ramah. Ia tersenyum, membuat wajahnya tampak segar dan ceria. Rambutnya yang hitam agak gondrong tampak sedikit basah. Hujankah tadi?

http://inzomnia.wapka.mobi

Lalu lelaki itu membungkuk dalam seperti kebiasaan orang Jepang saat menyampaikan hormatnya. Dan ketika ia menegakkan tubuhnya kembali tampak senyumnya melebar. Mulutnya komat-kamit mengatakan sesuatu. Suaranya tak sampai ke telinga Kristin. Tetapi dari gerakan bibirnya, Kristin yakin ucapannya adalah, "Selamat pagi!" Spontan Kristin pun membungkuk dalam dan tersenyum sama cerianya. Ia senang diperlakukan seperti itu. Tetapi saat berikut ia tersipu malu. Ia menyadari penampilannya yang kusut karena baru saja bangun tidur. Pakaiannya pun cuma gaun tidur. Ia mundur dari jendela dan berpaling. Tatapannya tertuju ke tubuh Adam yang masih melingkar di tempat tidur. Inilah saat terbaik untuk membuktikan. "Mas! Cepat! Dia ada di sana sekarang! Bukankah kau ingin melihatnya?" seru Kristin. 29 Adam bangun dengan cepat lalu melompat dan berlari ke jendela. Kristin mengikuti di belakangnya. Tetapi sesaat kemudian Adam menoleh kepadanya dan berkata, "Tak ada siapa-siapa di sana, Kris!" Kristin terperangah. Lelaki itu sudah tak ada di sana. Cepat sekali perginya. Pasti pakai mobil. Tapi seingatnya tadi tak ada mobil di dekat orang itu. Ia jadi merasa bodoh menerima tatapan Adam. "Dia sudah pergi, Kris. Sudahlah. Aku toh tak berminat lagi melihatnya," Adam menghibur. Kristin merasa kecewa karena menganggap Adam sebenarnya tak percaya bahwa orang itu benar-benar ada. Mungkinkah dipikirnya ia mengalami halusinasi hingga melihat sesuatu yang

http://inzomnia.wapka.mobi

sebenarnya tidak ada? Memang Adam tidak berkata begitu, tetapi pada suatu saat ia pernah memberi kesan seperti itu. "Jangan-jangan dia tinggal di rumah seberang, Mas!" "Rumah itu kosong. Siapa yang bisa tinggal di rumah tanpa atap dan dindingnya cuma beberapa potong?" Ya, memang tak mungkin, pikir Kristin. Cuma gelandangan yang mau tinggal di rumah seperti itu. Padahal lelaki itu rapi dan kelihatan intelek. Dia jadi malu dengan pemikirannya itu. Ah, dia memang merasa kacau.. Adam memeluknya dengan sikap penuh sayang. "Sudahlah. Kenapa kita mesti memusingkan orang lain? Kalau nanti kau melihatnya lagi, biarkan saja. Dia pasti punya urusan yang tak ada hubungannya dengan kita," hibur Adam. "Tapi kenapa...?" 30 Kristin tak meneruskan ucapannya. Adam membimbingnya ke tempat tidur, lalu mendudukkannya di pinggiran. Ia juga duduk merapat, lalu merangkul bahu Kristin. "Ayo, jangan murung begitu, Sayang. Pagi ini cerah sekali. Lihat!" Ia menunjuk ke jendela. Lalu ia mengelus perut Kristin. "Kalau kau murung, nanti bayi kita jadi ikut murung." Kristin ingin sekali menangis. Tapi ia harus tabah. Harus berani. Akan menjadi ibu dan kemudian batal menjadi ibu adalah risiko kehidupan. Bagaimana dengan orang-orang yang begitu menderita di rumah ini dan rumah-rumah sekitarnya dulu? Semua orang pernah mengalami bagaimana senangnya memiliki sesuatu dan betapa sedihnya ketika kehilangan. Ia harus menceritakan dan menerima apa pun risikonya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Mas, aku..." Kristin tak meneruskan ucapannya. Ia tersentak dengan penuh kejutan. Matanya membelalak. Tangannya mengusap perut. Salahkah perasaannya? Benar-benar atau bohong-bohongan? Adam terkejut dan menatap cemas. "Kenapa, Kris? Perutmu sakit?" "Dia bergerak, Mas! Dia bergeraaaak!" Kristin bersorak-sorak dengan penuh kegembiraan. Di sampingnya Adam terbengong-bengong. Ia tak mengerti. Mungkin itu salah satu keanehan perempuan yang sedang hamil. Selalu berlebihan. Jadi tak perlu meminta penjelasan. Kristin memang tak berniat menjelaskan. Sekarang hal itu tak perlu lagi. Itu tidak penting. Setelah pagi hari yang menggembirakan itu Kristin 31 tak pernah lagi melihat si lelaki misterius. Dalam suasana hati yang berbeda ia masih suka duduk-duduk di depan jendela sambil membaca atau menjahit. Iseng ingin melihatnya. Senang melihat senyum dan sikapnya yang sopan. Ada juga rasa penasaran, ingin tahu ke mana perginya lelaki itu kalau ia sudah capek berdiri di seberang sana. Tidak seperti sebelumnya, ia akan duduk terus di situ dan menunggu. Tentunya tanpa memandangi secara langsung. Ia bisa berpura-pura sedang membaca. Sayangnya, lelaki itu tak terlihat lagi. Entah kenapa Kristin jadi merasa kehilangan. Tetapi ketika kemudian ia merasakan sepakan di dalam perutnya, ia akan tersenyum. Aduh, kenapa aku harus merasa kehilangan bila sesungguhnya dia sudah kembali? 32

http://inzomnia.wapka.mobi

II Kawasan Pantai Nyiur Melambai, akhir bulan Mei. Maria menatap Kristin penuh simpati. Sebentar-sebentar tatapannya tertuju ke perut Kristin yang membuncit. Wajah Maria yang sudah dihiasi keriput memperlihatkan sikap keibuan. Keadaan Kristin mengingatkannya kepada Ike, putri sulungnya yang sudah berkeluarga. Mereka berdua sebaya. "Ingat ya, Kris, kalau kau merasakan sesuatu, beritahu aku. Pasti aku bisa lebih cepat membantumu daripada Adam. Apalagi kalau jalanan macet. Dulu aku juga yang membawa Ike ke rumah sakit waktu dia mau melahirkan anak pertamanya." "Beres, Tante. Terima kasih. Tapi nanti merepotkan." "Ah, masa iya sih? Jangan berpikir begitu. Aku belum tua lho. Masih bisa nyetir. SIM-ku belum kedaluwarsa. Dan mobilku biar sudah tua, masih bisa dipakai mengantarmu ke rumah sakit." Kristin tersenyum. Senang punya tetangga yang baik dan penuh perhatian. Maria dan suaminya, Henry, atau keluarga Tan, 33 adalah tetangga sebelah rumahnya. Mereka juga tinggal bertiga dengan seorang pembantu karena Ike, si putri sulung, tinggal di rumah sendiri bersama suami dan dua anaknya di kawasan Jakarta Pusat. Sedangkan putri kedua, Susan, bersekolah di Selandia Baru. Mobil keluarga itu cuma satu, tapi tak pernah digunakan Henry ke kantornya, sebuah perusahaan garmen dengan orientasi

http://inzomnia.wapka.mobi

ekspor. Dia dijemput dan diantar sopir perusahaannya, yang melakukan hal yang sama bagi staf perusahaan yang lain. Dengan demikian perusahaan tidak perlu menyediakan fasilitas kendaraan bagi para stafnya. Juga uang bensin atau uang transpor. Perusahaan menganggap itu lebih efisien. Banyak penghematan harus dilakukan bila ingin bersaing dalam situasi perekonomian global. Yang penting, penghematan itu bukan di bidang kesejahteraan karyawan. Pimpinan perusahaan, orang Taiwan, sudah belajar banyak dari kerusuhan demi kerusuhan yang pernah terjadi di Jakarta dan daerah lain, terutama pada tahun 1998. Bahwa unjuk rasa yang dilakukan karyawan yang menuntut perbaikan nasib bisa menimbulkan kerugian jauh lebih banyak. Bukan cuma material, tapi juga moral, karena sulit bagi pemilik perusahaan untuk menilai secara positif karyawan yang pernah melakukan unjuk rasa, apalagi yang menghujat, kepadanya. Hubungan sudah telanjur rusak. Ternyata tanpa fasilitas kendaraan pun para staf tidak mengeluh atau menuntut. Mungkin karena pemilik dan tingkat eksekutif pun diperlakukan sama dengan mereka. Tapi mungkin juga karena zaman sekarang pekerjaan sulit dicari. Terlalu cerewet me34 milih-milih malah tak dapat apa-apa. Padahal orang yang membutuhkan pekerjaan antre panjang. Sedang sebagian orang lain tegang menunggu kapan terkena giliran pemutusan hubungan kerja. Henry baru setahun lebih bekerja sebagai akuntan di perusahaan itu. Ia lancar berbahasa Mandarin, suatu kelebihan yang membuatnya diterima bekerja padahal usianya sudah

http://inzomnia.wapka.mobi

setengah baya. Dalam persaingan tajam di dunia kerja, orang harus memiliki suatu kelebihan dibanding lainnya supaya bisa diterima. Jadi sukar bagi seseorang untuk bisa langsung memasuki dunia kerja bila ia cuma mengandalkan ilmu dari perguruan tinggi. Maria menceritakan hal-ikhwal suaminya itu kepada Kristin dengan setengah bangga, setengah sedih. Bangga karena suaminya masih bisa berguna dalam usia yang tak muda lagi. Mana ada perusahaan mau menerima karyawan baru yang sudah setengah baya? Dia juga sedih karena dulu Henry bukan kelas karyawan, melainkan majikan dari usahanya sendiri. Toserbanya di bilangan Kota cukup besar. Sebuah toko yang berkembang dari sebuah warung. Tetapi setelah menjadi besar tiba-tiba lenyap begitu saja bagai dilanda angin puting-beliung! Toko mereka merupakan salah satu korban kerusuhan Mei 1998. Isinya dijarah massa yang menyerbu dan kemudian membakar gedungnya. Sekarang bangunan toko itu masih saja dibiarkan hangus menghitam. Tak ada uang untuk membongkar dan membangunnya kembali. Apalagi untuk kemudian mengisinya dengan barang dagangan. Sementara mau dijual pun tak 35 kunjung laku. Hampir sama nasibnya dengan rumah-rumah di kawasan pemukiman mereka. Henry sudah kehilangan semangat untuk kembali berdagang. Ia menganggap dirinya sudah terlalu tua untuk merangkak lagi dari bawah. Lagi pula dari mana modalnya? Berutang sangat riskan. Apalagi bank-bank sekarang ketat sekali menghadapi debitur. Tentu berkat pengalaman buruk puluhan bank yang dipaksa tutup oleh pemerintah beberapa waktu yang lalu. Klaim

http://inzomnia.wapka.mobi

pada asuransi pun sulit setengah mati. Akhirnya yang mereka bayarkan hanya sepuluh persen dari jumlah yang seharusnya ia terima. Terpaksa ia menerimanya daripada tak dapat apa-apa sama sekali. Dengan uang itu ia bisa membayar pesangon para karyawannya. Maria juga banyak bercerita mengenai nasib buruk yang dulu menimpa kawasan di mana mereka tinggal. Ceritanya lebih lengkap daripada Adam karena dia dan keluarganya mengalami sendiri. Sering kali ia mengulang-ulang cerita yang sama. Entah sengaja, entah lupa. Kristin mendengarkan dengan sabar karena sadar Maria ingin melampiaskan kekesalan dan kesedihannya. Mungkin itu lebih baik daripada mendiamkannya saja dan menyimpannya terus, karena bisa meng-gerogoti tubuh dari dalam. Tahu-tahu badan jadi keropos dan kurus kering. Karena itu ia selalu bersikap seakan cerita Maria itu baru pernah didengarnya. Maria membutuhkan teman yang bisa memberikan simpati dan empati. Sedang dia sendiri membutuhkan hal yang sama. Memang ada Adam- Tetapi seorang suami tidak sama dengan teman Jadi dia 36 dan Maria bisa saling melengkapi, yang satu membutuhkan yang lain. Di kawasan itu tetangga adalah makhluk langka. Jadi mereka harus menjaga kerukunan dan pandai menyesuaikan diri. Kalau memang cocok, itu adalah keberuntungan tersendiri. "Dulu rumah ini megah, Kris," cerita Maria. "Ya seperti rumahrumah yang lain juga di masa lalu. Waktu pertama menempatinya aku serasa mimpi. Aduh, akhirnya aku bisa juga punya rumah bagus. Lepas dari mertua lagi. Memang mertua punya rumah besar dan bagus juga, tapi itu toh rumahnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Bukan rumahku sendiri. Ternyata cuma beberapa tahun saja aku bisa menikmatinya. Bandit-bandit itu membakarnya setelah menjarah isinya habis-habisan. Rumahku dan rumahmu, eh, rumahmu yang dulu, sama-sama hangus. Demikian pula banyak rumah lain. Kalau tak dibakar, dirusak dan dipereteli. Pintunya, jendelanya, kusennya, sampai gentengnya pun habis. Kalau nggak dibakar perbaikannya lebih gampang. Tapi rumahku mesti dibangun lagi dari awal. Maka tabung-an terpaksa dipakai. Padahal itu untuk hari tua." Kristin menatap berkeliling selama Maria berceloteh. Rumah itu sederhana, tapi tidak jelek. Meskipun demikian tentunya menjadi jelek bila dibandingkan dengan keadaannya semula. "Tapi Tante masih punya rumah, kan?" "Ya. Memang aku masih beruntung dibandingkan orang lain yang tak punya apa-apa lagi kecuali baju di badan pada saat kejadian. Ketika kami mengungsi ke rumah mertua yang daerahnya aman, kami masih bisa membawa pakaian dan beberapa barang lain. Untunglah Ike dan keluarganya baik-baik saja. 37 Mereka tinggal di kawasan yang penghuninya campur baur, terdiri atas berbagai suku," Maria mengakui. "Dan Oom pun masih bisa mendapat pekerjaan pada saat banyak orang lain kehilangan pekerjaan." Maria tersenyum sedih. "Oh ya, memang. Tapi kalau ingat toko kami, rasanya bisa gila deh, Kris. Ternyata harta itu memang tidak abadi, ya. Sekarang kita punya, tapi besok tidak lagi."

http://inzomnia.wapka.mobi

Kristin merangkul pundak Maria. "Tapi Tante dan Oom sudah terbukti sangat tabah karena berhasil mengatasi cobaan itu. Orang lain belum tentu." "Ya, memang. Aku dengar, banyak orang menjadi gila setelah kejadian itu. Kenyataan seperti itu memang sulit diterima. Masa tak hujan tak angin, tak pula ada perang, tiba-tiba kita diserbu. Dirampok dan dibunuh. Tanpa alasan sama sekali. Cuma karena kita ini orang Tionghoa. Sungguh tidak adil, Kris." "Ya, sangat tidak adil, Tante." Maria mengamati wajah Kristin. "Ah, kau juga merasa begitu? Tapi kau tidak sama dengan kami. Papamu orang Jawa, kan?" "Sama saja, Tante. Saya dan Papa satu perasaan dengan Mama." "Bagaimana sih rasanya jadi anak campuran ketika itu, Kris? Kau memihak siapa?" "Saya memihak kebenaran, Tante. Saya mengikuti hati nurani." "Kenapa bandit-bandit itu tidak punya hati nurani, ya? Apa mereka pikir kita ini bukan manusia? Kok tega? Apa mereka bisa tidur nyenyak di malam hari?" Maria sudah sering mengutarakan keluhan itu. 38 Kristin merasa tak perlu menanggapinya lagi. Ia cuma membelai pundak Maria lalu meletakkan kepalanya di atas pundak Maria yang satunya lagi. "Dulu Oom jadi bos dari usaha sendiri. Sekarang jadi kuli orang asing. Banyak yang begitu, Kris. Sekarang orang asing jadi bos. Rupanya mereka lebih suka bos orang asing daripada warga negara sendiri. Habis kita memang tidak pernah dianggap sebangsa. Kalau ada kerusuhan rasial yang disalahkan selalu

http://inzomnia.wapka.mobi

kita. Katanya eksklusif lah, nggak mau gaul lah, suka menyuap pejabat lah, ini-itu lah. Habis gimana, coba? Gimana mau gaul kalau kita nggak diterima. Kita kan minoritas, Kris. Rasa takut pasti ada. Itu sebabnya kita lebih suka tinggal berkelompok. Supaya punya teman. Supaya lebih kuat. Rasanya itu wajar. Di mana-mana kaum pendatang juga begitu. Kenapa cuma kita yang disalahkan ya, Kris?" "Akan ada saatnya semua itu berakhir, Tante." Maria mengerutkan keningnya. Wajahnya tampak pucat. "Kau percaya itu, Kris? Menurut sejarah, kejadian seperti itu selalu berulang dalam jangka waktu tertentu. Satu berbuat salah, semua menanggung akibat." "Sejarah itu masa lalu, Tante. Sekarang kita punya masa depan karena kemungkinan besar "pemimpin kita berbeda dengan yang dulu." "Ya, mungkin saja. Tapi bagiku rasanya sudah tak ada artinya. Aku dan suamiku sudah telanjur sakit hati. Harapan indah itu buat kalian yang muda-muda saja." "Jangan pesimis, Tante." "Dulu sih nggak pesimis, Kris. Dalam hidupku 39 aku sudah mengalami beberapa kali kejadian sama meskipun tak ada yang menandingi peristiwa Mei sembilan delapan itu. Dan kalau cuma sekadar pelecehan rasial sih cukup sering kualami. Tetapi sering kali aku berpikir, nanti pasti tidak begitu lagi. Kelak akan ada perubahan. Masa sih begini terus? Zaman kan berubah juga. Orang mestinya mengikuti zaman, kan? Kita sudah lama di sini. Lahir turun-temurun di sini. Sudah berabadabad ada di sini. Masa sih nggak juga diterima atau dianggap

http://inzomnia.wapka.mobi

orang asing terus. Tapi ternyata optimisme itu cuma membohongi diri. Mungkin munculnya karena dambaan sendiri. Jadi aku menyerah. Tak mau berharap lagi. Sudah terserah gimana nasib saja, Kris. Terserah pada Yang Di Atas." Maria melepaskan rangkulan Kristin. Ia tersenyum sendu ketika beradu pandang. Kristin merasa iba ketika melihat wajah pucat Maria basah oleh air mata. Tak terbayangkan bagaimana kondisinya ketika tragedi itu terjadi. Waktu memang tak selalu bisa menyembuhkan. "Sori ya, Kris. Seharusnya kau tidak kujadikan keranjang sampah keluhan dan kesedihanku. Oh, aku menyesal! Lihat, kau jadi murung! Nanti anakmu ikut-ikutan murung." Kristin menggelengkan kepala. "Nggak apa-apa, Tante. Ceritakan saja. Keluarkan beban Tante. Saya memang tidak mengalami sendiri apa yang telah dialami Tante atau orang lain. Tapi saya bisa merasakan. Saya ikut sedih, dan ingin membantu sebisa saya. Biarkan saya membantu Tante dengan berbagi perasaan." Maria membelai lengan Kristin. "Kau baik sekali ya, Kris. Senang sekali punya kau sebagai tetanggaku. 40 Pasti Tuhan mengirimmu ke sini untuk menjadi temanku dan pengganti putriku yang jauh-jauh." "Ya. Kita akan berteman, Tante. Saya sendiri juga kesepian." "Aku akan cerita tentang dirimu kepada Susan. Dia pasti senang sekali. Sayang ceritanya mesti lewat surat. Dulu sih pakai e-mail lebih cepat." "Kenapa sekarang tidak lagi, Tante?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kami nggak punya komputer lagi. Entah dijarah atau sudah jadi abu. Sekarang kami tak mampu beli lagi. Biarlah, itu tidak terlalu penting. Kalau ada uang sisa, lebih baik ditabung untuk hari tua." "Biaya untuk Susan pasti mahal, ya Tante?" "Oh, Susan mendapat beasiswa, Kris!" Maria berbinar bangga. "Dia cerdas lho. Dia juga anak yang baik. Meskipun hidupnya pas-pasan, tapi dia menolak keras dikirimi uang. Katanya, kami lebih memerlukan. Apalagi sekolahnya juga tinggal beberapa bulan lagi. Di sana dia melakukan pekerjaan apa saja di waktu luang. Yang penting halal. Jadi pelayan, cuci piring di restoran. Dia juga tak pernah pulang sejak kasus Mei itu. Dan mungkin juga tak akan pulang...." Suara Maria tersendat. Wajahnya yang semula ceria kembali murung. Kristin tertegun. Suara hatinya mengatakan, sebaiknya topik pembicaraan diubah, tetapi dia terdorong rasa penasaran. "Kenapa begitu, Tante?" Maria tidak memandang kepadanya saat menjawab, "Hatinya terlalu sakit. Bukan cuma orangtuanya yang disakiti, tapi dia juga. Mungkin dia lebih lagi. Kami kehilangan harta dan harga diri, dia kehilangan kekasih yang sangat dicintainya." 41 Kristin terkejut. Ia tak tahu mesti bilang apa. Ia cuma bisa meraih tangan Maria. Sudahlah, kata hatinya. Cepat alihkan pembicaraan. Tetapi mulutnya bersuara, "Apa kekasihnya itu orang sini, Tante?" Sepertinya bukan dia yang bersuara begitu. Sesudah bertanya dia menyesal. Tapi sudah telanjur.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Oh ya. Dia orang sini. Dekat lagi. Tinggalnya di situ." Tangan Maria menunjuk ke sebelah, arah rumah Kristin! Kristin terkejut. Tambahan lagi ketika itu bayi di perutnya menyepak keras. Dia mengeluarkan pekik tertahan. Pekikannya itu juga mengejutkan Maria. Perempuan yang wajahnya sudah pucat itu menjadi tambah pucat. Ekspresinya penuh penyesalan dan kejutan. "Di situ di mana, Tante? Rumah yang saya tempati?" tanya Kristin. "Oh, bukan! Bukan! Arahnya sebelah sana. Masih kompleks ini." Suara Maria bergetar. Kristin bernapas lega. "Dia menjadi korban tragedi itu?" Maria menggeleng kuat-kuat. "Lebih baik kita tidak membicarakan yang sedih-sedih, Kris. Tak habis-habisnya." "Ya. Betul, Tante. Ah, saya ingin sekali berkenalan dengan Susan. Berapa umurnya, Tante?" "Dua empat." "Saya dua lima." "Kalian sebaya. Pasti cocok. Sama-sama cerdas dan baik hati." "Kenapa bukan Tante dan Oom saja yang ke sana menemuinya?" 42 "Maunya sih begitu. Tapi Susan bilang, nanti saja ke sana kalau dia sudah mapan dan punya uang banyak. Katanya, kalau kami ke sana, tak boleh kembali lagi ke sini. Biar jadi orang sana saja! Tapi aku nggak mau begitu." "Kenapa, Tante?" Aduh, aku banyak bertanya, pikir Kristin. Tapi dia tak bisa mengatasi keingintahuannya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Nanti aku bisa bingung sama diriku sendiri, Kris. Aku ini sebenarnya orang apa sih? Di sini cuma sebagian orang saja yang tidak mengakui. Sebagian lainnya mengakui dan menerima kita kok. Tapi di sana? Aku sudah tua, masa mesti belajar dari nol untuk jadi orang sono." "Mungkin orang sana tidak akan menjarah dan membakar." "Entahlah. Kita kan tidak pernah tahu, Kris." Diam sejenak. Kristin termenung. Tentunya sulit memahami jalan pikiran seseorang, apalagi bila orang itu telah mengalami trauma demikian berat. Selama ini ia mengagumi suami-istri Tan itu sebagai orang-orang yang tabah dan kuat mental. Ia mengira hal itu disebabkan karena optimisme. Bukan karena sekadar menjalani hidup. Apalagi keluarga itu masih memiliki modal untuk survive. Tidak seperti-sebagian orang lain yang sudah habis-habisan. Melihat sikap Kristin muncul kembali penyesalan Maria. Seharusnya dia tidak emosional. Sering sekali dia lupa untuk mengendalikan diri. Bagaimana kalau Kristin menjadi stres karena berulang kali mendengarkan keluhannya lalu tak ingin bertandang lagi? Walaupun Kristin sudah mengakui dirinya juga membutuhkan 43 teman, tetapi tentunya bukan seseorang yang bisa membuatnya stres. Apalagi omongannya yang kelepasan mengenai kekasih Susan tadi sungguh mengerikan untuknya sendiri. Bagaimana kalau Kristin menjadi takut lalu memutuskan untuk pindah dari situ? Bila hal itu terjadi maka dia akan kehilangan teman yang begitu susah diperoleh. Dan bagaimana kalau Adam tahu padahal lelaki itu sudah memohon kepada mereka untuk tidak

http://inzomnia.wapka.mobi

bercerita apa-apa? Mereka pun sudah berjanji! Tubuhnya menjadi dingin. Ketika Kristin pamit pulang, Maria mengantarkannya sampai di depan pintu pagar. Bi Iyah sudah menunggu. Maria ragu-ragu, seolah berat berpisah. Kristin menyadari hal itu. Ia tidak merasa keberatan ditemani Maria. Keluhannya yang banyak tidak membuatnya stres. Sebaliknya, ia justru telah belajar banyak dari Maria! Penyesalan yang diperlihatkan Maria membuatnya iba. Ia tahu, Maria merasa cemas akan dirinya. Kristin menggandeng lengan Maria. "Masuk, Tante?" ajaknya. "Ah, Kris kan mau istirahat. Nanti terganggu lagi oleh omonganku." Kristin tersenyum. "Saya nggak terganggu, Tante. Sungguh." "Nggak, ah. Sampai di sini saja." "Mau lihat kamar bayi, Tante?" Wajah Maria bercahaya. "Mau, Kris?" sahutnya antusias. Maria selalu memandang berkeliling bila berada di dalam rumah Kristin 44 "Kenapa, Tante?" tanya Kristin. "Bagus! Lebih bagus daripada yang dulu." "Ini hasil rancangan Adam." "Dia arsitek, bukan? Pantas." Mereka menaiki tangga pelan-pelan. "Mestinya kau jangan sering-sering naik-turun tangga, Kris. Gimana kalau terpeleset?" "Hati-hati dong, Tante." "Dulu ada satu kamar di bawah. Mestinya itu kaupakai selama masa kehamilan ini. Tapi tak kulihat lagi kamar itu." Maria memandang berkeliling dari atas tangga.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Entahlah bagaimana dulunya, Tante. Saya kan nggak pernah lihat. Sekarang memang tak ada kamar tidur di bawah. Semua kamar di atas. Ada juga kamar pembantu di belakang." "Ya, memang ruangannya jadi luas." Maria merenung sejenak. Tak segera melangkah. Kristin mengamati tatapannya. "Dulu Tante sering main ke sini rupanya." "Oh ya." "Siapa saja yang tinggal di sini dulu, Tante?" Maria tampak enggan. "Suami-istri Lie dengan dua anak lelaki mereka." "Ke mana mereka sekarang?" "Mereka pindah ke Amerika. Anak sulung mereka bekerja sebagai dokter di New York City." "Wah! Pinter dong, Tante. Lulusan Indonesia?" "Bukan. Lulusan Columbia University." "Wow!" seru Kristin kagum. 45 Maria seperti tersentak. "Aduh! Ada yang terlupakan, Kris! Nggak jadi deh lihat kamar bayinya. Besok juga bisa. Aku mau pulang, ya." Kristin tertegun. Maria begitu cepat berubah pikiran. Padahal mereka sudah di tengah-tengah tangga. Tanpa menunggu jawaban, Maria tergesa-gesa menuruni tangga, terus melangkah ke pintu. "Daaag Tante!" seru Kristin. "Daaag!" sahut Maria tanpa menoleh. Segera ia lenyap dari pandangan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kristin masih di tempat semula. Belum lenyap herannya akan keanehan sikap Maria. Lalu terpikir, mungkin itu merupakan akibat trauma yang pernah dialaminya. Sesungguhnya banyak yang harus dimaklumi dari sikap seseorang. Aneh atau tidak bukan pertanda sakit mental, tetapi lebih disebabkan pengalaman hidup. Lalu dia teringat. "Bagaimana dengan anak yang kedua atau si bungsu, Tante?" katanya keras-keras. Tentu ia tidak mengharapkan jawaban. Maria sudah keluar. Tapi ternyata ada yang bersuara. "Kok ngo-mong sendiri, Bu?" Kristin terkejut. Ia melihat Bi Iyah mengamatinya dari sudut rumah. Entah sejak kapan ia berdiri di sana. "Tolong dikunci pintunya, Bi. Barusan Bu Maria keluar," katanya, lalu melangkah perlahan menaiki tangga. Di belakangnya terdengar Bi Iyah menyahuti. Ia tak menoleh. Tiba-tiba terasa sepakan di dalam perutnya. Ia terdiam. Ngilu sesaat. Kemudian ia tersenyum. Sudah saatnya kucarikan nama untukmu! Satu nama perempuan dan satu nama lelaki. 46 *** "Kau kenal keluarga yang dulu pernah tinggal di sini, Mas?" tanya Kristin saat mereka makan malam. Adam meletakkan sendoknya. Ia mempelajari wajah Kristin sejenak sebelum menjawab, "Ya. Tapi tidak mendalam. Cuma sekadar tahu saja. Dulu kan aku pernah bekerja di proyek perumahan sini saat awal pembangunannya." "Oh ya? Rasanya kau tak pernah bercerita" Kristin tampak tertarik.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Malu sih. Aku sering cerita padamu tentang inginnya aku punya rumah di tempat ini, tapi tak bisa. Yah, mana mungkin? Gajinya cuma cukup untuk hidup." Kristin mengangkat bahu. "Ah, kenapa mesti malu? Memangnya setiap orang yang bekerja di proyek perumahan, termasuk ikut merencanakan pembangunannya, harus mampu memiliki juga? Aku maklum kok. Nyatanya sekarang kau berhasil juga." "Ya, memang. Tapi keberhasilan itu tercapai setelah tempat ini menjadi puing." Kristin mengerutkan kening. Ucapan itu sepertinya kontradiktif dengan kebanggaan Adam akan rumah mereka itu. Ketika akan berbicara ia memekik pelan. Ada sepakan keras di perutnya. Ia cepat tersenyum menanggapi tatapan kaget Adam. "Biasa. Dia nyepak, Mas," katanya. Mereka melanjutkan makan. Adam makan lebih cepat daripada sebelumnya. Lalu Kristin teringat akan pertanyaannya tadi. "Apakah keluarga Lie pindah ke Amerika semuanya?" 47 Kembali Adam meletakkan sendoknya dan menatap Kristin dengan selidik. "Siapa?" tanyanya. "Keluarga yang dulu tinggal di rumah ini." Kristin merasa tak enak melihat ekspresi Adam. "Aku merasa simpati pada para penghuni kawasan ini. Kasihan sekali. Bagaimana rasanya kalau dibegitukan orang?" "Sudahlah, Kris. Sebaiknya jangan membicarakan itu kalau sedang makan. Jadi susah menelan nih." "Jadi mereka pindah semuanya?" "Mereka siapa?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Keluarga Lie itu." "Mana aku tahu? Bukan urusanku," sahut Adam dengan ekspresi tak senang. Kristin tak senang juga. Apa susahnya menjawab pertanyaan itu? Sebelum bereaksi, kembali ia merasakan sepakan di dalam perutnya. Seperti mengingatkan. Emosinya mereda. "Sori," katanya singkat. Mereka menyelesaikan makan dengan diam. Adam berdiri. "Aku pergi dulu ya, Kris." "Pergi?" Kristin terkejut. Tadi Adam tidak mengatakan akan pergi sesudah makan. "Aku lupa memberitahu. Ada janji dengan rekan. Tapi nggak lama kok. Paling juga dua jam. Rumahnya nggak jauh," jelas Adam. "Pakai mobil?" "Iya dong. Masa jalan kaki." Adam mencium dahi Kristin. Lalu menekan bahunya. "Kau tak usah mengantarku keluar. Bi Iyah bisa membukakan pintu," katanya, lalu melangkah cepat sambil meneriaki Bi Iyah. 48 Kristin tertegun sejenak, tak tahu harus menjawab apa. Baru kemudian, setelah Adam tak tampak lagi ia berseru, "Hati-hati ya, Mas!" Tetapi suaranya tak bisa keras. Kristin tiba-tiba merasa seperti orang yang kehilangan semangat. Ia masih saja duduk di depan meja makan sampai terdengar deru mobil Adam yang menjauh. Sepakan di dalam perutnya menyadarkannya. Belakangan si bayi sering benar menyepak-nyepak. Waktunya memang sudah dekat. Sesaat terpikir olehnya, betapa teganya Adam meninggalkannya pada saat seperti itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Bi Iyah masuk, tertegun sejenak melihatnya. "Ibu kenapa?" tanyanya penuh perhatian. "Ah, nggak apa-apa. Memangnya kenapa, Bi?" tanya Kristin kesal. Memang pertanyaan seperti itu menandakan perhatian, tapi kalau sering-sering diamati dan ditanyai, jadi menjengkelkan juga. Bi Iyah tersipu. "Saya takut kalau-kalau sudah saatnya, Bu. Atau Ibu kenapa-kenapa." "Lantas?" "Saya mesti menelepon Bapak." "Oh, begitu? Memangnya tadi Bapak berpesan lagi ya, Bi? Ngomong apa dia?" Perasaan Kristin agak terhibur karena Adam masih memperhatikannya. Tetapi perasaan itu segera lenyap ketika mendengar jawaban Bi Iyah. "Kata Bapak, mestinya Ibu jangan sering-sering ngobrol sama Bu Maria." "Lho, kenapa begitu, Bi?" "Katanya, Bu Maria itu begini...." Bi Iyah menempelkan telunjuknya di dahinya. Lalu tertawa geli. "Sembarangan!" bentak Kristin. Bi Iyah terkejut. 49 "Jangan melecehkan orang, Bi! Bibi tahu nggak apa saja yang telah dialami Ibu Maria?" "Nggak tahu, Bu." Bi Iyah bersiap diri mendengar cerita menggemparkan. Tetapi Kristin tidak berminat menceritakan. "Nah, kalau nggak tahu jangan melecehkan." Bi Iyah tersipu. "Maaf deh, Bu. Nggak tahu sih." Kristin tak sampai hati. Bagaimanapun, Bi Iyah adalah teman dan pembantu satu-satunya. Ekspresinya melembut. "Ya sudah,

http://inzomnia.wapka.mobi

Bi. Kita harus belajar menghargai orang karena kita tidak tahu tentang dia." Bi Iyah tidak mengerti, tapi ia senang karena Kristin tidak marah lagi. Saat melewati rumah Henry, Adam melihat Henry sedang berangin-angin di halaman rumahnya. Ia menghentikan mobilnya di tepi jalan lalu keluar dan mendekati Henry. Mereka berbincang sejenak kemudian Adam kembali ke mobilnya dan meluncur pergi. Pada saat Henry mengamati kepergian Adam, Maria mendekatinya. "Adam cerita apa, Pa?" "Dia cuma menitipkan Kristin sama kita." "Cuma itu? Kok ngomongnya banyak?" "Dia juga minta kita memegang janji untuk tidak menceritakan perihal Sonny kepada Kristin. Katanya dia takut kau keceplosan bicara sama Kristin. Ingat-ingat ya, Ma. Jangan sampai melanggar janji. Kalau mereka sampai pindah, kita akan kehilangan tetangga yang baik." Maria memonyongkan mulutnya. "Aku nggak 50 melanggar janji. Kenapa tiba-tiba dia mencurigai aku?" "Katanya, tiba-tiba saja Kristin bertanya perihal keluarga Lie. Apa kau yang bercerita tentang mereka?" "Sama sekali tidak. Kristin yang nanya duluan. Habis aku mesti gimana? Bilang nggak tahu? Kan aneh. Dia justru akan heran dan curiga. Semakin dia curiga semakin dia berusaha untuk tahu. Kalau bukan kita atau Adam yang jadi sumbernya, bisa saja dia mencari sumber lain. Misalnya dari ketua RT, si Mul.

http://inzomnia.wapka.mobi

Atau tetangga yang lain. Jadi tidak seharusnya Adam cuma menyalahkan kita." "Memang benar, Ma. Kata Adam, dia sudah minta sama Mul untuk menjanjikan hal yang sama. Sebagai ketua RT, si Mul akan menyampaikan permintaannya kepada warga sekitar kita." Maria menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aneh si Adam itu. Apa salahnya sih berterus terang sama istrinya? Itu kan sudah risiko. Kenapa pula dia mau tinggal di situ?" "Orang yang tidak tahu tidak akan berpikir macam-macam." "Tapi si Adam kan tahu." "Dia sih berani, Ma." "Ah, Papa kayak yang tahu aja" Henry tertawa. "Nah, itu buktinya. Dengan tetap memilih rumah itu padahal tahu riwayatnya, sudah menandakan keberaniannya. Coba, ada banyak rumah kosong yang sama hancurnya, tapi dia justru memilih yang itu." "Yang itu paling murah dibanding yang lain." 51 "Nyatanya dia masih punya duit untuk merenovasi." "Justru itu. Sisa duitnya untuk renovasi." "Tapi kalau dia nggak berani menempati juga percuma, Ma." "Kalau dia memang berani, seharusnya dia terus terang sama Kristin." "Dia akan menunggu sampai Kristin betah dan kerasan tinggal di situ." "Kris senang tinggal di sini." "Mungkin nanti kalau sudah melahirkan baru dia boleh tahu, Ma. Kan nggak lama lagi. Yang penting kita harus berusaha untuk tidak melanggar janji."

http://inzomnia.wapka.mobi

Maria menarik napas panjang. "Si Sonny memang anak yang baik." Henry mengamati wajah istrinya dengan bingung. "Tentu saja dia memang baik. Lantas kenapa?" "Dia tidak akan mengganggu orang yang menempati rumahnya." Henry terkejut. "Aduh, ngomong apa sih kau, Ma? Jangan sembarangan, ah. Ayo kita masuk!" Dengan berbimbingan tangan mereka melangkah masuk rumah. "Jadi mau nulis surat buat Susan, Ma?" "Jadi dong!" "Biar besok aku poskan. Mau cerita apa, Ma?" "Yang pasti cerita tentang tetangga baru kita." "Jangan singgung tentang si Sonny, ya?" "Maksudmu?" "Itu. Yang tadi kaukatakan sebelum masuk." "Oh, itu. Nggak dong. Nanti dia jadi sedih. Oh ya, Pa. Apa perlu kuingatkan dia supaya jangan tergoda lelaki bule?" 52 "Ah, jangan. Justru kalau diingat-ingatkan begitu dia malah berbuat sebaliknya. Apalagi kalau dilarang." "Habis ceritanya yang terakhir itu kan tentang teman baiknya yang bule. Apakah teman baik itu sama artinya dengan teman dekat?" "Kayaknya begitu." "Dan teman dekat sama artinya dengan pacar?" "Wah, nggak tahulah aku. Bisa iya, bisa nggak. Sudahlah. Bagaimana maunya dia saja. Dia sudah dewasa, kan? Sudah bagus dia mau bergaul. Itu artinya dia sudah pulih." Maria tak sepenuhnya menyetujui. Tetapi ia akan mengikuti permintaan Henry. Oh, betapa dia merindukan Susan!

http://inzomnia.wapka.mobi

Berubahkah anak itu setelah per-, jumpaan terakhir mereka dua tahun yang lalu? Masihkah dia selembut dulu? Salah satu hal yang masih disesali Maria adalah ketidakmampuannya menghibur Susan saat berita duka di pertengahan bulan Mei tahun 1998 itu menerpanya. Kalau saja dia ada di sisinya saat itu, pastilah ia bisa memeluknya dan menghiburnya. Ia juga bisa tahu apa akibat berita itu bagi Susan. Pingsankah dia? Menangis berhari-hari? Kalau ada di sisinya, pasti ia bisa menolong atau melakukan apa saja untuk meringankan beban batinnya. Biarpun ia di Jakarta juga dalam keadaan menderita dan terguncang, tapi bila bersama-sama mereka bisa saling menghibur. Duka dan derita Susan pastilah lebih besar. Kehilangan harta masih bisa direlakan, tapi kehilangan kekasih? "Papa dan Mama, bila kita selalu dimusuhi di negara 53 yang selama ini kita sebut Tanah Air, buat apa bertahan tinggal di sana? Mereka memang ingin kita pergi. Itulah tujuannya meneror, bukan? Prinsip saya, kalau saya tidak dikehendaki maka saya tidak akan merengek dan memohon agar diterima. Orang lain bisa saja bertahan dengan alasan mereka. Itu hak setiap orang. Biarlah saya dengan prinsip sendiri. Saya bersumpah, Ma! Bila nanti saya datang ke sana, maka saya bukan lagi orang Indonesia! Orang apa pun, warga negara mana pun, tak jadi soal. Yang penting saya dihargai sebagai manusia yang punya martabat dan harga diri...." Kalimat-kalimat di dalam surat Susan itu sering muncul dalam pikiran Maria. Nadanya yang emosional bisa dipahami karena surat itu ditulis tak lama setelah terjadinya tragedi Mei 1998.

http://inzomnia.wapka.mobi

Susan masih berkabung, masih diliputi dendam dan amarah. Tetapi dengan berlalunya waktu, ternyata prinsip Susan tak berubah. Ia masih bertahan dengan pendirian yang dinyatakannya dalam surat itu. Keras kepala! Menilik hal itu memang besar kemungkinan Susan akan mencari jodoh di sana, karena dia akan menjadi warga negara sana. Jadi tipis kemungkinan dia akan beroleh menantu seseorang dari kalangan sendiri. Seperti suami Ike, Daniel. Dengan kesamaan yang ada, maka penyesuaian lebih mudah. Bila perbedaan terlalu banyak, risiko perpecahan juga besar. Tetapi Susan memang tak bisa disamakan dengan Ike. Keduanya memiliki keunikan sendiri-sendiri. Sebelum mengenal Daniel, Ike pernah berpacaran 54 dengan Amir, seorang pemuda pribumi yang berbeda agama. Hubungan itu membuat dia dan Henry resah. Tetapi mereka tidak tega melarang. Henry selalu berpendapat, bila seseorang ditentang, maka tekadnya justru semakin mantap. Tak ada jalan lain mereka cuma bisa berharap dan berdoa semoga hubungan itu tidak langgeng. Mereka terpaksa bersikap munafik dengan bersikap ramah terhadap Amir dan menerimanya dengan tangan terbuka. Ike sendiri tidak pernah bercerita bagaimana tanggapan keluarga Amir terhadap dirinya. Masalah itu baru jelas setelah mereka menerima telepon bernada makian yang mengandung penghinaan dari orang yang mengaku keluarga Amir. Telinga memerah dan bulu roma pun berdiri. Mereka dimaki sebagai Cina-Cina tak tahu diri dan sebagainya. Betapapun menyakitkan, mereka sepakat tidak

http://inzomnia.wapka.mobi

akan memberitahu Ike. Bila benar keluarga Amir tidak menyukainya mustahil dia tidak tahu atau tidak merasakan. Biarlah Ike memutuskan dan berinisiatif sendiri. Sementara Amir sendiri tidak pernah mengungkapkan masalah itu. Dia selalu bersikap sopan dan pada tempatnya. Tak ada alasan untuk membenci atau antipati kepadanya. Henry dan istrinya sepakat untuk memasang re-ceiver pada pesawat telepon supaya dapat menyaring telepon yang masuk. Toh selama ini yang sering menerima telepon adalah Maria, yang paling banyak berada di rumah. Dan tampaknya si penelepon gelap itu pun sengaja memilih waktu dan orang yang mau diajaknya bicara. Pada hari dan jam Ike tak ada di rumah karena berada di kantornya. Mereka memper55 kirakan si penelepon ingin mereka menjadi marah lalu melarang Ike melanjutkan hubungannya dengan Amir. Tetapi suatu ketika Maria lupa menghapus rekaman. Ike yang berniat mengecek telepon yang masuk mendengar makian itu. la menjadi pucat dan ter-mangu-mangu bagai orang kehilangan semangat. "Mama! Jadi itu sebabnya dipasangi receiver? Oh, kenapa Mama tidak terus terang dari semula?" Maria tak tahu mesti bilang apa. Ia belum melakukan kesepakatan dengan Henry, apa yang harus dilakukan bila Ike mengetahui hal itu. "Mama... Mama... tak mau menyakiti hatimu," jawabnya kemudian. Ike memeluknya. "Tapi saya tidak ingin menyakiti hati Mama," katanya sedih.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kau tidak pernah menyakiti hati Mama. Kenapa bilang begitu, Ke?" bantah Maria dengan perasaan pilu. "Saya tidak mau Mama dan Papa dihina orang. Apalagi karena saya." Maria tertegun. Ia takut memberi komentar. Takut salah. Padahal saat itu paling baik untuk mengeluarkan pemikirannya mengenai hubungan Ike dan Amir. "Saya akan membicarakannya dengan Amir, Ma." Apa yang diputuskan Ike sangat mengejutkan. Ia memutuskan hubungannya dengan Amir. "Saya memang harus tahu diri, Ma," jelasnya singkat. Maria dan suaminya merasa iba tapi juga senang. Barangkali mereka perlu juga berterima kasih kepada si peneror itu. Biarpun demikian, rasa sakit di hati 56 karena dikatai sebagai Cina-Cina tak tahu diri tak bisa sembuh sepenuhnya. Padahal selama ini mereka yakin telah menjalani kehidupan sebagai warga negara dengan cukup tahu diri. Pajak selalu dibayar dengan sepatutnya, karyawan dan pembantu diperlakukan dengan baik, tak pernah ribut dengan siapa pun, tak pernah absen dalam kegiatan amal, siskamling, atau apa saja bila diminta. Mereka selalu berhati-hati karena sadar sepenuhnya, bila melakukan kesalahan maka bukan cuma mereka yang menanggung. Satu Cina berbuat buruk, maka semuanya ikut menanggung. Itu memang tidak adil. Tapi mau apa lagi? Mereka tidak punya kuasa untuk mengubah citra atau opini yang sudah terbentuk begitu lama. Kemudian Amir menemuinya. Mereka cuma bicara berdua. Amir meminta maaf dan merasa menyesal. Ekspresinya

http://inzomnia.wapka.mobi

memperlihatkan rasa malu dan khawatir. Mungkin takut dimarahi. Tetapi Maria menerimanya dengan baik dan juga respek. Sebenarnya Amir orang yang baik dan bertanggung jawab. Pantas kalau Ike memilihnya. Tetapi di Indonesia seseorang tak selalu bisa mandiri sepenuhnya. Seluruh keluarganya, besar atau kecil, merasa ikut memilikinya. Kemudian merasa berhak pula untuk ikut campur dalam masalah pribadinya. Dan bagi sebagian orang masalah membentuk keturunan itu sangat penting. Maria memasukkan kertas ke dalam mesin tik. Benda itu dipinjam Henry dari kantornya. Aduh, kalau saja mereka bisa membeli komputer. Tetapi sekarang uang susah dicari. Ia juga menolak keras niat Susan untuk mengiriminya uang. Ia bukan tak memerlukan uang. 57 Selalu ada kebutuhan. Tetapi selama kebutuhan itu bukan kebutuhan primer, tak perlu dipenuhi. Ia juga bukan tak punya uang. Ada sedikit tabungan. Tapi itu penting untuk hari tua. Kedua jari telunjuk Maria lincah menari-nari di atas tuts mesin tik. Ia punya cerita banyak untuk Susan. Sekarang biaya pos ke luar negeri sangat mahal. Jadi harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Tak boleh ada cerita yang terlupakan. Tentang situasi ekonomi, politik, anak-anak Ike, tetangga.... Tepukan Henry di pundaknya mengagetkan. "Ma, interupsi sebentar. Ada tamu." "Tamu? Siapa?" Maria terkejut. Sekarang mereka sangat jarang kedatangan tamu. Teman-teman lama mereka entah pada ke mana. "Pak Harun," bisik Henry dekat telinga Maria.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Oh, dia. Ada apa? Mau ketemu aku?" Harun adalah mantan satpam di kawasan itu. Ketika terjadi kerusuhan Mei 1998 di tempat itu dia masih menjadi satpam. Saat mereka mengungsi ke lapangan golf di dekat kawasan itu, Harun banyak membantu. Sejak itu mereka tak pernah bertemu lagi. Sekarang kawasan itu tak lagi memiliki satpam. Mereka menjaga sendiri lingkungan masing-masing. "Iya, Ma. Ayolah." Maria merasa segan menghentikan kegiatannya. "Pa, palingpaling dia mau pinjam uang. Berikan sajalah. Asal jangan banyak-banyak." "Ah, kamu. Sembarang nyangka. Dia bilang, ingin ketemu karena kangen." "Kangen?" Maria tak bisa menghilangkan nada 58 sinis dari suaranya. Kenapa orang seperti Harun bisa merasa kangen kepadanya? Jangan-jangan cuma ingin tahu apakah mereka berdua masih waras! 59 III Maria tak segera mengenali Harun. Lelaki setengah baya yang dulu selalu dilihatnya mengenakan seragam satpam berwarna putih kini bercelana panjang hitam dan kemeja batik lengan panjang. Rapi seperti mau ke resepsi. Rambutnya cepak seperti tentara. Kumisnya yang dulu lebat sekarang kelimis. Dan yang paling mencolok, tubuhnya yang dulu kerempeng sekarang gemuk. Perutnya tampak menggembung di balik kemejanya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Matanya yang kecil terlihat ceria di balik kacamata yang frame-nya modis. Dulu dia tak berkacamata. Sungguh penampilan yang berbeda. Demikian pula kesan yang ditimbulkannya. Dulu penampilannya cocok dengan profesinya, satpam yang tampak angker dan galak. Sekarang ia tampak intelek. Seperti dosen atau pejabat? Kalau saja Henry tak mengatakan lebih dulu bahwa tamu ini adalah Harun, pastilah ia butuh waktu lama untuk bisa mengenalinya. Benar-benar pangling. Tetapi kesan berbeda itu mendadak terasa menyakitkan. Sepertinya ada hunjaman pisau tajam persis di tengah ulu hatinya. Nyeri dan ngilu. Menyakitkan dan memilukan. Kalau saja ia tak berusaha sekuatnya me60 nahan perasaan, pastilah ia sudah berbalik dan lari ke dalam. Dengan mengerahkan segala kekuatannya ia mampu menutupi perasaan sebenarnya, lalu tersenyum penuh keramahan. Ia menyambut uluran tangan Harun. "Apa kabar, Bu Maria? Sehat-sehat saja?" tanya Harun. "Oh, baik-baik saja, Pak. Anda sendiri pasti lebih dari sekadar baik, ya? Kelihatannya wah!" Harun tersipu. Ia tak bisa memastikan apakah komentar itu pujian atau sindiran. "Sekarang saya memang sudah ganti profesi, Bu. Jadi sales. Maka penampilan nggak boleh galak lagi." "Wah, jualan apa, Pak?" Maria ingin tahu. Harun mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya, lalu mengulurkannya kepada Henry. "Saya membantu Anwar, anak saya, mencari order. Dia punya percetakan kecil," jelasnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Henry mengingat-ingat. "Oh, si Anwar? Dulu dia pernah ke sini mengantarkan surat edaran siskamling. Ingat, Ma?" Henry menoleh kepada Maria. Maria menggelengkan kepalanya. Dia tak ingat. "Sekarang dia sudah sarjana muda, Pak. Lulusan akademi grafika," kata Harun bangga. "Maju usahanya, Pak?" tanya Maria. "Lumayan, Bu. Kalau Bapak dan Ibu sendiri bagaimana?" tanya Harun dengan nada simpati. Ia sudah mendengar tentang nasib toko Henry dari warga lain yang barusan dikunjunginya. "Sekarang saya kerja, Pak. Jadi karyawan di pabrik garmen," sahut Henry tanpa beban. Tak ada gunanya merasa minder. Nasibnya sudah seperti itu. 61 "Terbalik ya, Pak?" kata Maria. "Dulu suami saya bos, sekarang kuli. Sedang Pak Harun dulu kuli, sekarang bos." Henry melirik kurang setuju. Harun tersenyum canggung. "Saya bukan bos, Bu," katanya merendah. "Yang bos itu anak saya. Tapi dia cuma bos kecil, Bu. Oh ya, bagaimana Non Susan?" "Dia nggak mau pulang, Pak. Hatinya masih sakit." "Saya maklum, Bu. Mudah-mudahan dia cepat pulih." "Entahlah. Kayaknya susah," kata Maria sedih. Henry mengalihkan persoalan. "Sudah ketemu Pak Mul di sebelah? Dia masih ketua RT, Pak." "Belum. Tadi saya ke sana. Kata pembantunya lagi pergi." "Sudah tahu siapa yang menghuni rumah sebelah sini, Pak?" Henry menunjuk arah rumah Adam. Harun menggeleng. "Warga baru, Pak?" "Dia Adam Jaka yang dulu kerja di kantor proyek."

http://inzomnia.wapka.mobi

Harun tampak heran. "Insinyur Adam itu?" "Ya. Dia tinggal bersama istrinya yang sedang hamil. Anak pertama." "Apakah dia tidak tahu bahwa Pak Sonny meninggal di situ?" Setelah bertanya baru Harun teringat bahwa Sonny adalah kekasih Susan atau calon menantu suami-istri Tan. Mestinya dia tidak mengungkit soal itu. "Oh, dia tahu," sahut Henry. "Kok dia berani tinggal di situ? Maksud saya, kan nggak enak rasanya." Harun merasa kelepasan ngo-mong. Maria merasa tidak senang. Dia memang pernah 62 mempertanyakan masalah yang sama. Tapi bila Harun ikut-ikut mempertanyakan, dia menjadi jengkel. "Memangnya kenapa, Pak? Apakah Sonny menjadi hantu?" Henry menepuk lengan Maria yang duduk di sisinya di sofa. Menenangkan. Harun tersipu. "Maaf, Bu. Bukan begitu maksud saya. Tapi... tapi..." "Nggak apa-apa, Pak. Sebenarnya kami juga heran. Apalagi istrinya nggak diberitahu," Henry tidak keberatan menceritakan masalahnya. Harun terperangah keheranan. "Jadi kalau Bapak bermaksud ke sana, ingatlah akan hal itu. Jangan sampai membicarakannya di depan istrinya. Dia sudah meminta kami semua berjanji untuk merahasiakan hal itu. Sulit memang. Tapi mereka adalah tetangga yang baik."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Wah, kalau begitu sebaiknya saya tidak ke sana. Takut kelepasan ngomong. Tapi boleh saya tahu, apakah Bu Adam sendiri betah tinggal di situ?" "Katanya sih betah. Dia akrab dengan kami." "Masih banyak rumah kosong dan terbengkalai di kawasan ini. Waktu saya ke rumah Pak Gondo, saya juga ditawari untuk membeli salah satu. Katanya dijual murah. Tapi biar murah juga, mana sanggup saya beli?" Harun tertawa ringan. Dia juga teringat betapa geli perasaannya ketika berhadapan dengan Pak Gondo. Dulu Gondo suka melecehkannya. Sekarang dia dianggap bonafid hingga ditawari rumah. Kalau dulu, sewaktu dia masih menjadi satpam, siapa yang mau menawari kecuali bermaksud mengejek? 63 *** Maria lebih banyak diam mengamati dan mendengarkan pembicaraan suaminya dengan Harun. Tentu dia takkan lupa, bahwa pada hari celaka itu Harun lah yang tergopoh-gopoh menggedor pintu-pintu untuk memperingatkan penghuni mengenai bahaya serbuan perusuh. Dia juga yang menganjurkan dan membantu mengkoordinir pengungsian para warga ke lapangan golf. Lebih baik menyelamatkan jiwa daripada sia-sia berusaha mempertahankan harta dengan akibat cedera atau nyawa melayang. Para penjarah itu sudah kerasukan setan. Apalagi mereka pun didorong hasutan "Bunuh Cina!" Buktinya adalah apa yang telah dialami Sonny. Dia dan Henry tak pernah tahu kenapa Sonny tidak pergi mengungsi. Yang bisa menjawab pertanyaan itu cuma Sonny, padahal sudah jelas dia takkan mungkin bisa menjawab.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ketika dia dan Henry, yang selamat pulang ke rumah meninggalkan toko yang sudah tak bisa dipertahankan lagi, tergopoh-gopoh memasukkan barang yang masih bisa dibawa ke dalam mobil, suasana sudah begitu menegangkan. Bagaikan dalam situasi perang. Mereka panik sekali. Sampai-sampai barang rongsokan yang justru mau dibawa. Tetapi dia sempat melongok ke halaman rumah Sonny yang tampak sepi. Ketika itu kedua orangtua Sonny, suami-istri Lie, kebetulan sedang berada di Amerika untuk mengunjungi Thomas, anak sulung mereka yang tinggal di sana. Sonny tinggal sendirian karena pembantunya juga sedang pulang kampung. Ketika itu Maria berteriak-teriak memanggil Sonny, tapi tak ada sahutan. 64 Dia juga menelepon, tapi tak ada yang mengangkat. Lalu Harun yang sempat membantu mereka memasukkan barang-barang ke dalam mobil mengatakan kemungkinan Sonny tak ada di rumah. Belakangan, setelah suasana dianggap aman, mereka yang mengungsi berbondong-bondong kembali. Tentu saja mereka sangat syok melihat apa yang telah terjadi pada rumah-rumah mereka beserta isinya. Ada yang terbakar habis, ada yang terbakar tapi tak sampai habis, ada yang dirusak berat, ada yang cuma rusak ringan. Sedang harta di dalam rumah sudah tak ada lagi. Tetapi yang paling mengejutkan dan mengerikan adalah ditemukannya jenazah Sonny di dalam rumahnya yang sudah menjadi puing! Maria jatuh pingsan melihat jasad Sonny yang mengenaskan. Tetapi Henry kuat bertahan meskipun sudah pucat pasi. Bagi mereka Sonny sudah seperti anak sendiri. Memang tak lama lagi dia akan jadi anak mereka juga bila sudah jadi menantu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sonny akan menikah dengan Susan bila Susan sudah selesai sekolahnya. Itu memang kehendak mereka berdua. Setelah kejutan dan guncangan teratasi, muncul kesulitan mahaberat. Bagaimana menyampaikan kabar itu kepada Susan? Betapa pun beratnya, kabar itu harus disampaikan. Sungguh menyiksa perasaan. Lalu datang surat Susan yang menanyakan, kenapa dia dan Henry tidak mengajak Sonny ikut serta mengungsi? Kenapa begitu gampang menyimpulkan, bahwa Sonny sedang pergi hanya karena telepon tidak diangkat dan panggilan tidak disahuti? Siapa tahu ketika itu Sonny sedang tidur atau tidak enak badan hingga tidak mendengar berita kerusuhan itu. 65 Bukankah tidak masuk akal bila orang lain pergi mengungsi sementara dia sendiri tetap diam di rumah? Satu-satunya kemungkinan adalah dia terjebak dalam ketidaktahuan dan ketidaksiapan. Tahu-tahu sudah diserbu oleh massa yang haus darah. Pertanyaan Susan itu menambah siksaan batinnya. Dia merasa bersalah. Dia dan Henry terlalu mementingkan diri sendiri. Cari selamat sendiri. Seharusnya mereka menggedor keras-keras pintu rumah Sonny, atau mendobraknya sekalian. Dengan demikian bisa diperoleh kepastian apakah Sonny ada di rumah atau tidak. Kemudian surat Susan berikutnya menyusul. Isinya lebih tenang dan pasrah. Dia pun menyatakan penyesalan karena surat sebelumnya bernada emosional. Sesungguhnya dia. tidak bermaksud menyalahkan kedua orangtuanya. Tetapi Maria

http://inzomnia.wapka.mobi

sudah telanjur merasa bersalah. Dia tahu, perasaan itu akan terus melekat padanya sepanjang hidupnya. Maria mengangkat kepalanya yang tertunduk lalu menatap Harun. Yang dipandangi terkejut karena sorot mata Maria yang tajam menusuk seperti mau mengorek dan menembus sampai ke dalam benaknya. "Ada apa, Bu?" tanya Harun waswas. "Apakah Bapak menggedor pintunya dengan keras?" Harun bingung. Ia tak memahami makna pertanyaan Maria. Sepanjang pembicaraannya dengan Henry, Maria tak ikut berkomentar. Tahu-tahu bertanya begitu. "Pintu siapa, Bu?" 66 Henry segera memahami. "Maksudnya, pintu rumah Sonny waktu kerusuhan itu, Pak," katanya sebelum Maria keburu menjawab. Harun tertegun sejenak. Ia sadar apa yang tengah dipikirkan oleh Maria dalam diamnya barusan. "Saya sudah menggedornya, Bu. Setiap rumah saya gedor sampai saya bicara dengan penghuninya. Tetapi Sonny tidak keluar atau menyahut. Maka saya memastikan perkiraan sebelumnya bahwa dia memang tak ada di rumah." "Perkiraan sebelumnya apa, Pak?" sambar Maria. Henry pun ikut menatap Harun dengan ekspresi tegang. Melihat tatapan kedua orang itu Harun menjadi ragu-ragu. Mungkin lebih bijaksana bila ia tidak mengatakannya. Apa yang sudah terjadi tak bisa diubah lagi. Yang mati tak mungkin bisa hidup kembali. Masa lalu biarlah berlalu. Tetapi di mata Maria terlihat desakan dan permohonan yang membangkitkan iba. Ia

http://inzomnia.wapka.mobi

tahu hubungan Sonny dengan keluarga Tan. Ia juga mengenal Susan yang pernah dijumpainya beberapa kali saat pulang berlibur. Gadis itu selalu bersikap ramah kepadanya. "Eh, Bapak kok diam saja?" desak Maria dengan tatapan curiga. Harun memperbaiki duduknya. Ia merasa gerah. Dulu di rumah ini ada AC. Sekarang tidak ada. "Begini, Bu. Waktu itu saya baru keluar dari rumah Pak A Hok di ujung sana itu." Tangan Harun menunjuk. "Dia sudah pindah sekarang. Saya melihat seseorang keluar dari rumah Pak Sonny sambil mendorong motor, merapatkan pintu pagar, lalu menaiki67 nya dan pergi. Saya cuma lihat punggungnya. Dia pakai jaket dan helm. Perginya ke arah yang menjauhi tempat saya berdiri, hingga tidak sempat berpapasan. Coba kalau ketemu, tentu saya bisa sekalian memberi-tahu." "Ya. Dia memang suka naik motor. Apa itu motornya?" tanya Henry. "Wah, nggak jelas. Saya nggak tahu persis motornya apa," sahut Harun. "Apa karena itu Bapak tidak menggedor pintu rumahnya?" tanya Maria. Harun tertegun. Pertanyaan itu menjebak. "Oh, saya kan sudah bilang bahwa saya telah menggedor pintunya. Sama seperti yang lain. Soalnya saya tidak begitu pasti apakah dia memang Sonny. Saya kan lihatnya dari belakang. Pakai helm lagi. Baru setelah tak ada sahutan saya tambah yakin bahwa dia memang pergi." "Lantas kalau dia memang pergi, yang mati terbakar itu siapa?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Maria meremas tangan Henry, yang merasa betapa dingin tangan istrinya itu. Dia jadi ikut merasa dingin. Harun bingung sesaat. Ia tak pernah berpikir ke sana. "Jenazahnya kan sudah diperiksa. Bener dia, kan?" "Jenazah itu sudah hangus, Pak. Bagaimana mengenalinya?" tanya Henry dengan perasaan aneh. Maria tersentak. "Jangan-jangan Sonny masih hidup, Pa!" ia berseru penuh semangat. Henry dan Harun sama-sama terkejut. Gagasan itu mengerikan. 68 "Tapi kalau dia masih hidup, kenapa tidak muncul setelah begitu lama? Dia tentu tidak akan pergi begitu saja meninggalkan Non Susan." "Betul, Ma," Henry membenarkan. "Jangan sembarangan menyangka, ah. Apalagi yang mengerikan seperti itu. Mungkin orang yang dilihat Pak Harun itu bukan Sonny, melainkan tamunya." "Kalau memang begitu, tentunya Sonny ada di rumah dan tidak sedang tidur. Kenapa tidak menyahuti panggilan atau gedoran pintu?" bantah Maria. Henry tak bisa menjawab. "Saya pikir, Pak Sonny memang sempat pergi sebelum tahu apa yang akan terjadi. Lalu dia buru-buru kembali lagi karena situasi jalan tidak aman," Harun menyimpulkan. Henry mengangguk. "Itu paling mungkin. Jadi dia kembali untuk menyelamatkan barang atau mungkin juga menengok kita, Ma. Tetapi para perusuh keburu datang sebelum dia sempat pergi." Maria menutup muka dengan kedua tangannya karena ngeri. Ia membayangkan adegan seperti yang dikemukakan Henry itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kasihan Sonny. Setiap orang memang harus mati pada suatu saat. Tapi hendaknya jangan dengan cara yang mengerikan. Pada saat Henry menghibur Maria, Harun pamitan. Ia merasa lega setelah keluar dari rumah itu. Rumah yang menyimpan kenangan duka dengan penghuni yang tabah tapi terluka. Kemunculannya telah menguak luka lama yang sulit sembuh. Dulu dialah yang mendorong mereka semua pergi mengungsi meninggalkan harta benda yang mereka sayangi. Bahkan ada yang begitu panik hingga tak 69 sempat membawa apa-apa. Ternyata hal itu membuat para penjarah jadi leluasa mengambil apa saja dari rumah-rumah yang ditinggalkan tanpa perlawanan sama sekali. Semua yang bisa diambil mereka ambil. Yang tak bisa diambil mereka rusak. Maka warga yang tak sempat membawa milik mereka tak lagi memiliki apa-apa kecuali pakaian yang melekat di tubuh. Harun tahu, ada di antara warga yang menyesali dan menyalahkannya. Tetapi apa artinya harta dibanding nyawa? Mereka takkan mampu melawan para penjarah yang begitu beringas, bagaikan serigala yang sudah kelaparan dan sangat bernafsu. Buktinya adalah kematian Sonny. Sesungguhnya kunjungan yang dilakukannya ini bukan sematamata untuk promosi. Ia juga ingin tahu, bagaimana kabarnya warga Pantai Nyiur Melambai di era reformasi? Apakah mereka sudah bangkit kembali? Masih adakah orang-orang yang dikenalnya di sana? Ia mengagumi beberapa di antara mereka yang ulet bertahan meskipun mengajukan alasan tak punya rumah lain dan tak punya uang lagi. Bagaimanapun terpaksanya, tinggal di

http://inzomnia.wapka.mobi

pemukiman yang sebagian masih porak-poranda itu membuat luka hati sulit sembuh. Orang dipaksa hidup dengan kenangan mengerikan yang selalu segar karena setiap hari terpampang di hadapan mata Mana mungkin bisa melupakan? Ia bisa memaklumi mereka yang terus terang mengakui bahwa mereka telah mengutuk habis-habisan para penjarah. "Pak Harun! Orang-orang 70 yang menjarah dan membakar rumah kami itu tidak akan selamat! Tidak ada orang yang bisa bahagia di atas kesedihan orang lain. Tidak ada "yang bisa menikmati harta jarahan dengan kedamaian di hati. Tidak ada! Hukum karma akan berlaku, Pak Harun!" Ia bergidik. Kutukan itu mengerikan. Harun mengamati rumah Adam. Rumah yang bagus, pikirnya dengan kagum. Jauh lebih bagus daripada rumah sebelumnya ketika ditempati oleh keluarga Lie. Coraknya sama sekali tidak mengikuti pola rumah pada awalnya dibangun. Arsitekturnya unik. Rupanya Adam mewujudkan kemampuan dan anganangannya pada rumah pribadinya. Ia bebas melakukannya tanpa kekangan atau hambatan karena itu miliknya. Ia memang pintar. Pasti dia sudah kaya sekarang. Beberapa tahun yang lalu Harun mengenal Adam sebagai anak muda yang selalu mengeluh kekurangan uang. Menurut Adam, pihak proyek perumahan tidak memberinya gaji memadai. Ia juga merasa dianggap sebagai arsitek yang masih hijau hingga cuma dipercaya sebagai asisten saja. Bahkan kadang-kadang cuma jadi mandor bangunan! Tetapi Harun sendiri menganggap keluhan Adam itu tidak pada tempatnya. Sebagai sarjana yang

http://inzomnia.wapka.mobi

belum berpengalaman pantas saja kalau Adam diperlakukan begitu. Bukankah setiap orang seharusnya mulai dari bawah? Tetapi pemikiran itu tentu saja tidak diungkapkannya kepada Adam. Hubungan mereka cukup dekat, hingga keterusterangan seperti itu bisa merusak hubungan yang sudah terbina. Adam sering membagi 71 rokok atau kue-kue. Dan cuma Adam satu-satunya arsitek yang memperlakukannya sebagai teman. Lainnya menjaga jarak. Ia toh cuma satpam. Adam punya angan-angan. "Kalau aku punya uang, kubeli tanah di sini lalu kubangun sebuah rumah yang lain daripada yang lain!" "Yang nyentrik? Bentuk bola atau kerucut?" "Ah, nggak begitu dong, Pak. Nggak aneh sih. Tapi sesuatu yang spesial. Karyaku sendiri." "Kudoakan suatu saat keinginan itu terkabul, Pak Adam!" Ternyata keinginan itu memang terkabul. "Cari siapa, Pak?" Harun terlonjak kaget. Lalu tersipu malu. Teguran itu tertuju kepadanya. Datangnya dari seorang perempuan setengah baya yang berada di balik pintu gerbang sebelah pinggir, terlindung dan tak terlihat olehnya. Lagi pula pikirannya sedang mengembara ke mana-mana. "Pak Adam Jaka, Bu. Ada di rumah?" "Bapak mah lagi pergi. Kalau Ibu ada," sahut Bi Iyah. "Lain kali saja saya mampir lagi, Bu."

http://inzomnia.wapka.mobi

Kembali Harun mengeluarkan kartu namanya lalu menyodorkannya pada Bi Iyah. "Ini kartu nama saya. Tolong berikan pada Pak Adam ya, Bu? Saya kenalan lamanya." Baru beberapa meter berjalan, Harun mendengar klakson mobil di belakangnya. Sebuah mobil sedan berada di depan pintu gerbang rumah Adam, minta dibukakan pintu. Tak lama kemudian pintu terbuka 72 lebar dan mobil itu meluncur masuk. Tak tampak pengendaranya karena kacanya gelap. Ia tahu Adam sudah pulang. Tetapi waktunya tidak ideal lagi untuk berkunjung. Masih ada hari esok. Ia toh sudah menyerahkan kartu namanya. Bila Adam berminat ia bisa menghubunginya. Maka ia meneruskan langkahnya. Jalan kaki menuju halte bus. Ia sudah mengenal betul daerah itu. Tadi Anwar menganjurkan untuk menggunakan mobil Kijang-nya daripada susah-susah menunggu bus. Tetapi ia merasa kurang enak. Di situ warga mengenalnya sebagai satpam yang hidupnya sederhana. Kalau sekarang ia datang bermobil, sepertinya mengejek orang-orang yang telah kehilangan harta secara mengenaskan, atau disangka mau pamer. "Adam sudah mendapatkan mimpi-mimpinya," gumamnya. Kalau saja orang bisa melihat ke depan tentu Adam tidak perlu terlalu banyak mengeluh, apalagi berputus asa. Ia bertanyatanya sendiri. Apakah dalam keadaannya yang sekarang ini Adam masih ingat akan perilakunya dulu? "Kau tahu apa yang terpikir olehku ketika melihat Harun? Apa yang terpikir itu membuat hatiku sakit," kata Maria kepada Henry. "Tidak."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dia kelihatan makmur, kan?" "Lantas kenapa?" "Jangan-jangan dia dulu ikut menjarah!" Henry terkejut. Belum sempat berkomentar, Maria sudah menyambung dengan bersemangat, "Coba pikir! 73 Siapa yang tahu apa yang dilakukannya pada saat kita semua pergi meninggalkan rumah masing-masing?" "Apa dia tidak takut di antara para penjarah ada yang mengenalinya?" "Sudah tentu dia lepas dulu seragamnya. Dan kalau sudah menjarah beramai-ramai begitu, mana ada yang mau menuding yang lain? Nanti saling tuding dong. Maling teriak maling. Ya, sama-sama lah." "Lalu?" "Hasil jarahan dia jadikan modal. Tentu dia sangat memahami, siapa yang paling kaya di sini." Henry merasa tergetar. Sulit baginya untuk mempercayai tuduhan itu. Apalagi kalau ia membayangkan sosok Harun yang riil barusan. Sepintar itukah Harun berpura-pura? "Zaman sekarang ini kulit manusia sudah semakin tebal. Tak ada rasa malu. Tak ada rasa bersalah," kata Maria setelah Henry mengemukakan pendapatnya. "Mungkin juga dia mau mengecek apakah kita mencurigainya." "Kalau begitu, kau pintar juga berpura-pura, Ma," gurau Henry. Maria tersenyum. "Mungkin kulitku juga sudah menebal." "Tapi sudahlah. Kita tinggalkan saja topik itu. Toh tak ada buktinya. Yang menarik bagiku adalah ceritanya tentang Sonny." "Betul sekali. Apa kau sepakat dengan gagasanku tadi?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Yang mana?" 74 "Kemungkinan Sonny masih hidup." "Lantas ke mana dia sekarang? Kenapa tidak muncul?" "Siapa tahu dia menderita amnesia di suatu tempat." "Ah, yang begitu cuma ada dalam cerita fiksi! Lantas siapa yang hangus terbakar itu?" "Salah satu penjarah yang sial." Henry menggelengkan kepala. "Mana mungkin Sonny menghilang begitu saja." "Atau dia sudah bergabung dengan Thomas dan orangtuanya?" "Di Amerika? Tanpa memberi kabar apa-apa kepada kita atau Susan? Orang gila namanya itu!" "Lalu menurutmu apa?" "Entahlah. Teori yang dikemukakan Harun itu kedengarannya logis. Tapi apa iya Sonny sebodoh itu membiarkan dirinya terperangkap? Sudah pergi kok kembali lagi." "Ya sudahlah. Daripada pusing-pusing memikirkan sesuatu yang takkan bisa kuperoleh jawabannya, lebih baik aku melanjutkan suratku pada Susan. Ada tambahan cerita tentang pertemuan kita dengan Harun." Henry terkejut. "Tapi jangan sekali-sekali kau-sampaikan gagasanmu barusan." Maria tidak menyahut. Adam keluar dari mobilnya, disambut Kristin. Adam memeluknya, mencium pipinya, lalu mengelus perutnya. "Apa kabar anakku? Masih tenang di dalam, kan?" guraunya. 75

http://inzomnia.wapka.mobi

Kristin tertawa. Sikap mesra Adam menghapus kekesalannya barusan. "Tenang apaan? Dia semakin sering saja menyepaknyepak, Mas!" "Dia sudah tak sabar melihat dunia rupanya." Adam membimbing Kristin memasuki rumah. Bi Iyah mendekat. "Tadi ada tamu, Pak," ia melapor. "Oh ya, ini kartu namanya, Mas." Kristin merogoh saku dasternya. "Ketemunya sama Bibi tadi." Adam mengamati kartu nama. "Harun?" gumamnya dengan kening berkerut. Lalu ia menatap Bi Iyah. "Sudah lama atau baru saja, Bi?" "Baru saja, Pak." "Ya. Paling juga lima menit," Kristin membenarkan. "Pas Bibi menyerahkan kartu nama itu kepadaku, klakson mobil kedengaran." "Wah, belum lama dong. Dia pakai mobil, Bi?" "Kelihatannya jalan kaki, Pak." "Coba kususul, ya. Mungkin masih di halte. Pergi sebentar ya, Kris!" Sebelum Kristin bersuara, Adam sudah berlari pergi. Kristin cuma sempat membuka mulutnya lalu menutupnya lagi. "Kayak apa sih orangnya, Bi?" tanyanya ingin tahu. Sejak tinggal di situ mereka sangat jarang mendapat tamu. Bi Iyah menceritakan dengan detil. Kristin tahu, orang itu bukanlah si lelaki misterius di seberang jalan yang tak pernah dilihatnya lagi. Adam berlari melewati rumah Henry. Ia melihat tetangganya itu sedang berdiri di halaman rumahnya. Larinya terpaksa melambat lalu berhenti karena Henry

http://inzomnia.wapka.mobi

76 bergegas keluar. "Ada apa, Dam?" tanya Henry dengan ekspresi cemas. "Nggak ada apa-apa, Oom. Cuma mau ke situ!" sahut Adam. Tanpa menunggu pertanyaan berikut ia berlari lagi. Bisa buang waktu kalau ia menjelaskan lebih dulu. Dorongan untuk bertemu Harun saat itu juga sangat besar. Begitu melihat kartu namanya, begitu saja pertanyaan bermunculan di benaknya. Ia seperti tersengat oleh keingintahuan yang sangat besar. Kenapa dan mau apa Harun mencarinya? Bagaimana Harun bisa tahu bahwa ia tinggal di situ sekarang? Tentu ia tak perlu menemuinya sekarang juga. Ia terlalu impulsif. Alamat dan nomor telepon Harun jelas tertera di kartunya. Ia bisa menghubunginya besok lusa di waktu luang. Tetapi dorongan itu terlalu besar. Ia tahu, pertanyaanpertanyaan yang belum ada jawabannya itu bisa membuatnya tak bisa tidur malam nanti. Ia akan gelisah semalaman. Harun adalah bagian dari masa lalunya. Memang banyak orang di situ juga merupakan bagian dari masa lalunya. Seperti Henry, Maria, keluarga Mulyono, dan beberapa yang lain. Mereka semua dikenalnya ketika ia masih bekerja di proyek, tetapi hanya sepintas lalu. Dulu hubungannya dengan Harun cukup akrab. Ia tak punya teman lain yang bisa dijadikan keranjang sampah dari segala unek-uneknya, atau sabar mendengarkan mimpi-mimpinya. Sekarang setelah situasi berbeda, jauh berbeda daripada dulu, ia tak berharap bisa bertemu dengan Harun lagi. Aneh rasanya. Sebenarnya kunjungan Harun itu bisa dianggap 77

http://inzomnia.wapka.mobi

wajar. Mungkin secara kebetulan Harun datang menemui salah seorang warga atau mantan bosnya, lalu mendapat informasi perihal dirinya. Mungkin juga dia sedang membutuhkan bantuan materi. Tentu Harun menganggap dirinya sudah kaya. Mustahil rasanya kalau kunjungan itu sekadar untuk bersilaturahmi saja. Kalau saja Adam menyempatkan diri berbincang sejenak dengan Henry dan mengutarakan tujuannya berlari itu, tentulah ia tak perlu tergesa-gesa. Ia juga tak perlu gelisah memikirkan jawaban atas pertanyaan yang bermunculan di benaknya. Ia bisa tenang menunggu sampai besok lusa untuk bertemu dengan Harun. Atau ia bisa juga tak perlu menghubungi Harun sama sekali. Tetapi ia merasa tak punya pilihan. Henry membelalakkan matanya. Ia cepat-cepat keluar ke trotoar, mengamati arah larinya Adam. Tetapi ketika Adam berbelok ia kehilangan objek. Pikirannya bekerja. Apakah Kristin kenapa-kenapa? Tapi kalau Kristin akan melahirkan, kenapa Adam yang lari? Dan kalau Adam membutuhkan bantuan, kenapa tidak minta kepadanya? Penuh rasa ingin tahu Henry menuju rumah Adam. "Selamat malam, Oom," sapa Kristin yang melihatnya lebih dulu. Ia berada di depan pintu gerbang yang dibuka sedikit. "Oh, malam, Kris. Baik-baik saja?" "Baik, Oom. Mau ke mana malam-malam, Oom?" "Tadi kulihat Adam berlari." Henry menunjuk. "Mau ke mana? Apa dia mengejar maling?" 78 "Bukan, Oom. Dia mengejar tamu yang tak sempat ditemuinya." "Tamu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Kristin menceritakan perihal Harun. "Oh, Harun." Lalu giliran Henry bercerita tentang kunjungan Harun ke rumahnya. Tentu saja ia tidak menceritakan semua materi pembicaraannya dengan Harun. Lebih-lebih tentang Sonny. "Dulu Adam cukup dekat dengan Harun. Mungkin dia kangen kepengin ketemu, Kris." "Kangen sih kangen, tapi kok seperti itu." Kristin masih sulit memahami. Harun masih berada di halte bus. Ia duduk santai menikmati waktunya. Tidak merasa kesal atau ingin buru-buru. Tidak ada yang menyuruhnya cepat pulang atau menunggunya dengan tak sabar di rumah. Istrinya meninggal beberapa bulan yang lalu. Sekarang ia tinggal bersama Anwar dan keluarganya. Tapi ia menempati bagian pavilyun. Dia seorang duda yang bebas dan mandiri. Dia juga tidak menumpang atau dibiayai hidupnya. Ia sangat aktif membantu pekerjaan Anwar. Banyak order cetak yang telah diperolehnya dan untuk itu ia mendapat komisi. Ia bangga akan kemampuannya sendiri. Pikirannya masih dipenuhi pengalamannya tadi ketika berkunjung ke pemukiman Pantai Nyiur Melambai. Yang paling mengesankan adalah suami-istri Tan. Terutama Maria yang begitu emosional ketika mereka membicarakan Sonny. Sikap Maria itu juga menggugah perasaannya dan menggoyang keyakinannya. Bagaimana kalau ternyata Maria benar? Sonny79 kah yang ditemukan tewas terpanggang itu? Kalau bukan Sonny, lantas siapa? Celakanya, pertanyaan itu sulit dijawab. Andaikata makamnya digali pun akan mustahil mendapatkan jawabannya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Selama ini ia tak pernah memikirkan soal itu. Tak terpikir sedikit pun. Masalah itu, kalau memang merupakan masalah, sepertinya terlalu kecil jika dibandingkan dengan banyak peristiwa besar yang terjadi di tanah air. Sekarang masalah itu menyeruak ke dalam benaknya menuntut perhatian dan pemikiran. Ah, gara-gara Ibu Maria. Ia memang tidak perlu terlibat atau merasa bertanggung jawab. Itu adalah urusan masa lalu yang tidak punya sangkutpaut dengan dirinya. Sonny dan keluarga Tan bukan apa-apanya. Tetapi emosi Maria yang begitu meluap membangkitkan juga rasa penasarannya. Ia seperti tergelitik dan terangsang untuk mencari jawaban atas pertanyaan tadi. Tapi bagaimana caranya? Orang yang sudah mati tak bisa ditanyai. Pada saat itu ia melihat Adam tergopoh-gopoh mendekat ke halte. Matanya mencari-cari tapi cuma sebentar mengarah kepadanya lalu berpindah ke orang-orang lain di sekitarnya. Harun segera berdiri, lalu menghampiri Adam. "Pak Adam! Cari siapa?" tegurnya setengah bergurau. Adam terbelalak. "Waduh! Pangling aku, Pak!" "Ah, masa pangling? Mungkin penerangannya kurang. Kalau siang sih pasti jelas." "Bapak sudah berubah. Jadi gemuk dan... mana kumisnya?" Mereka tertawa setelah bersalaman. Keakraban masa lalu terasa kembali. 80 "Ayo ke rumah, Pak. Nanti saya anterin pulang," ajak Adam. Harun teringat akan peringatan Henry dan Maria. Ia menolak dengan alasan sudah malam. Lalu mengajak Adam untuk duduk berbincang sebentar. Adam menerima tawaran itu. Ia memang

http://inzomnia.wapka.mobi

cuma berbasa-basi saja dengan ajakannya. Memang ia bisa mengingatkan Harun untuk tidak memperbincangkan masa lalu rumahnya di depan Kristin, tapi bagaimana kalau Harun keceplosan bicara? Yang penting baginya adalah mengetahui motivasi kedatangan Harun. Henry masih menemani Kristin di luar pintu pagar rumahnya. Menunggu Adam. "Lama juga perginya, ya?" kata Henry. "Iya, Oom. Pasti ia berhasil menemukannya lalu mengobrol dulu. Heran, kenapa tak diajaknya saja ke sini?" keluh Kristin. "Di sini banyak nyamuk, Kris. Di rumah Oom saja nunggunya. Kita bisa mengobrol." "Tante ada?" "Ada dong." Kristin menganggap itu usul yang baik. Maria sudah menyelesaikan suratnya. Besok bisa dibawa Henry untuk diposkan. Rasanya lega bisa bercerita banyak kepada Susan. Kata Susan, ia senang sekali membaca ceritanya. Semakin panjang semakin senang. Kalau menulis surat pendekpendek, itu sama saja dengan tidak menulis surat. Lalu seperti kebiasaannya, setiap selesai menulis surat ia mengeluarkan album foto yang disimpannya 81 di laci. Album itu berisi foto-foto keluarga. Ia membawanya ke sofa ruang depan. Selalu begitu. Sambil mengamati foto-foto Susan, ia membayangkan bagai-mana putrinya itu membaca cerita yang ditulisnya. Ia juga mengingat kembali ceritanya. Kalau sampai ke bagian yang satu itu, bagaimana kira-kira ekspresi Susan? Kata Susan, ia punya bakat jadi penulis.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ceritanya enak dibaca. Ah, anakku. Sebenarnya aku tidak mau terus-terusan menulis saja untukmu. Aku juga ingin bicara dan mendengar suaramu! Dan melihat langsung wajahmu, bukan fotomu! Apakah kau tidak punya keinginan yang sama terhadap diriku dan ayahmu? Lalu ia mendengar suara Henry dan Kristin. Keningnya berkerut. Kenapa Kristin malam-malam ke sini? Apakah si Adam belum pulang? Atau Kristin memerlukan sesuatu? Cepatcepat ditutupnya album dan diletakkannya di sofa, lalu ia berdiri untuk menyambut kedua orang itu. Henry bercerita dengan cepat dan singkat perihal Adam yang pergi mengejar Harun. Lalu Maria membimbing Kristin duduk di sofa. "Betul sekali, Kris. Mendingan nunggu di sini saja. Kebetulan aku bermaksud membuat cokelat susu. Mau, ya? Mengobrollah dulu sama Oom." Maria bergegas ke dapur. Henry menjadi agak canggung ditinggal berdua saja. Otaknya bekerja mencari bahan pembicaraan. Tetapi Kristin tidak merasakan kecanggungan Henry. Tatapannya tertuju kepada album foto di sebelahnya. Ia meraihnya. "Itu album keluarga, Kris," Henry mendapat bahan pembicaraan. Ia pindah duduk ke sisi Kristin supaya 82 bisa menjelaskan foto siapa saja yang ada di dalam album. "Itu foto perkawinan Oom sama Tante. Sudah kuning, ya? Dan itu foto Ike dan Susan saat masih bayi. Itu Ike yang baru masuk TK di depan sekolahnya. Lalu Susan yang menyusul bersekolah di TK yang sama. Keduanya berbeda usia lima tahun."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aduh, lucu-lucu sekali ya, Oom. Sungguh suatu keluarga yang harmonis," puji Kristin. Terpikir apakah ibunya masih menyimpan foto-foto dirinya ketika masih bayi. "Nah, itu mereka berdua sudah jadi gadis remaja." "Cantik-cantik," kembali Kristin memuji. "Itu foto perkawinan Ike dan Daniel. Lalu itu anak-anak mereka." Kemudian Kristin teringat pada Susan dan kekasihnya. Ia tidak menanyakan melainkan membalik terus lembaran album untuk menemukannya sendiri. Tetapi ia menahan diri untuk tidak terang-terangan melakukannya. Pelan-pelan saja sambil mendengarkan penjelasan Henry. Mungkin juga sang kekasih tidak termasuk dalam album karena ia belum menjadi anggota keluarga, pikirnya. Kemudian tiba halaman terakhir. Ada dua foto ukuran kartupos bersebelahan. Yang satu menampilkan sepasang gadis dan pemuda. Si gadis adalah Susan. Keduanya berdampingan dalam pose setengah badan. Wajah mereka penuh senyum. Yang satu lagi foto si pemuda yang sama sedang berdiri sendirian dalam pose seluruh badan. Dia pun sedang tersenyum. Kali ini tak terdengar penjelasan dari Henry. Entah enggan atau sudah capek bicara. Tetapi Kristin tidak 83 memedulikannya. Tatapannya tajam mengarah kepada si pemuda dalam foto. Matanya tak mau berkedip. Ada kejutan luar biasa menyergapnya. Wajahnya memucat lalu ia memekik pelan. Henry terkejut. Ia meraih lengan Kristin yang terasa dingin. "Kenapa, Kris? Kenapa?" tanyanya panik.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kristin masih saja diam dengan tatapan tertuju kepada foto tadi. Ia mematung seperti kena sihir. "Maa! Maaa...! Cepat ke sini!" teriak Henry memanggil istrinya. Ia bingung dan takut. Maria yang memang sedang menuju ke ruang itu diiringi pembantunya yang membawa baki dengan cangkir-cangkir berisi cokelat susu segera mendekat dengan tergopoh-gopoh. Ia melompat menubruk Kristin dan memeluknya. Segera tatapannya tertuju ke halaman album di pangkuan Kristin. Ia juga sempat melihat ke mana arah tatapan Kristin yang begitu lekat. Jantungnya jadi bergetar. "Kris! Kriiis!" panggilnya lembut. Tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Kristin. Kristin tersadar. "Apa itu... itu..." Tangannya menunjuk si pemuda dalam foto. "Apa itu kekasih Susan yang sudah meninggal?" tanyanya pelan tapi jelas. Maria bertukar pandang sejenak dengan Henry. "Betul, Kris. Jelas, kan? Mereka berfoto bersama," sahut Maria dengan perasaan aneh. "Apakah dia punya saudara kembar?" "Tidak." "Punya saudara lelaki?" "Oh ya. Ada seorang kakaknya." "Mirip?" 84 "Sedikit saja. Tapi kakaknya lebih tua sepuluh tahun. Tidak secakep adiknya. Memangnya kenapa, Kris?" Maria merasa cemas.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kristin tidak menjawab. Tubuhnya terasa lemas. Sepertinya melayang. "Siapa namanya, Tante?" "Sonny." "Dulu dia tinggal di rumah saya, kan?" Maria berpandangan lagi dengan Henry. Maria menggeleng kuat-kuat. Bukan aku yang mengatakan, begitu kata ekpsresinya. Ia memalingkan muka, tak mau menjawab pertanyaan Kristin. "Benar kan, Oom?" desak Kristin, mengalihkan tatapannya kepada Henry. "Benar, Kris," sahut Henry dengan terpaksa. Biarlah kuterima risiko dimarahi Adam, pikirnya. "Dari mana kau tahu, Kris? Kami tidak mengatakannya, kan?" Maria bertanya dengan penasaran. Tetapi Kristin masih merenungi foto itu. Terbayang lagi lelaki misterius yang selalu dilihatnya berdiri di seberang jalan memandangi jendelanya. Senyumnya. Gaya berdirinya. Dia ada di foto itu! Dia adalah Sonny! Tiba-tiba Kristin memekik lagi. Album di pangkuan jatuh ke lantai. Maria memeluknya. Henry melompat untuk memungut album dan meletakkannya kembali di sofa. Kali ini Kristin memegang perutnya dan wajahnya meringis kesakitan. "Saya kira sudah dekat, Tante. Ada kontraksi. Kuat sekali! Aduh!" Hiruk-pikuk terjadi. Henry melompat dan berlari ke rumah Adam untuk mengecek apakah Adam sudah pulang. Ternyata belum. Telepon genggamnya 85

http://inzomnia.wapka.mobi

pun tak dibawanya. Apa sebaiknya menyusul Adam ke halte bus? Bagaimana kalau Adam tidak ada di sana? Itu berarti membuang waktu saja. Padahal Kristin sudah meringis-ringis kesakitan. Maka Bi Iyah cuma dititipi pesan saja, supaya Adam segera menyusul ke rumah sakit. Untunglah Kristin sudah menyiapkan segala keperluannya di dalam tas besar, termasuk surat dokter dan rumah sakit. Tinggal mengangkatnya saja. Henry dan Maria akan mengantarkan Kristin ke rumah sakit. Adam merasa lega setelah mengetahui bahwa tujuan Harun berkunjung cuma untuk mempromosikan usaha percetakan putranya. Lagi pula bukan cuma dirinya yang dikunjungi, melainkan beberapa orang lain yang dikenal Harun. Tapi tentu saja ia tidak mengutarakan kelegaannya itu. "Aku cepat-cepat menyusul ke sini karena kangen sama Bapak," katanya memberi alasan. Harun merasa tersanjung oleh ucapan itu. Begitu berartikah dirinya di mata Adam? Kalau begitu Adam sungguh orang yang rendah hati dan menghargai persahabatan. Jarang ada orang seperti itu. Biasanya orang yang sudah kaya cepat melupakan temannya semasa miskin. Biasanya orang yang seperti itu gampang menjadi arogan dan cepat berprasangka negatif bila dikunjungi. Sangkanya akan minta bantuan atau meminjam uang. Tetapi kemudian muncul rasa ingin tahunya kenapa Adam justru memilih rumah Sonny padahal tersedia begitu banyak pilihan. Toh semua yang ditawarkan itu sama murah dan rusak kondisinya. "Itu yang paling murah, Pak," sahut Adam. 86 "Oh ya? Saya baru tahu."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Soalnya rumah itu kan bukan sekadar hangus atau tinggal reruntuhan saja. Dia tak sama dengan yang lain. Tahu sendiri kan, Pak?" Tentu Harun paham. "Pak Adam nggak takut?" Adam tertawa. "Kalau takut saya tidak memilihnya, Pak! Istri saya tidak tahu apa-apa. Nyatanya dia tidak merasa aneh atau takut. Berarti memang tak perlu ditakutkan. Orang yang tahu tapi merasa macam-macam pasti cuma karena dihantui perasaannya saja. Ya kan, Pak?" Harun setuju. "Syukurlah kalau begitu. Kita memang tidak perlu percaya begituan. Barusan saya juga membicarakannya dengan Pak Henry dan Bu Maria. Mereka mengingatkan saya, hati-hati kalau bertandang ke rumah Pak Adam. Jangan sampai keceplosan bicara tentang Sonny di depan istri Pak Adam." Adam tertawa. "Ya, saya memang meminta mereka dan juga tetangga lain untuk tetap merahasiakan peristiwa itu dari istri saya." "Tapi sampai kapan, Pak? Suatu saat bisa saja dia tahu dari orang lain." "Memang betul. Saya ingin menunggu sampai dia melahirkan. Dia bukan orang yang penakut. Jadi bila saatnya tiba dia akan tahu bahwa sesungguhnya tak perlu takut karena dia sudah membuktikan sendiri." "Dan Pak Adam sendiri pun sudah membuktikan." "Oh ya. Rumah itu nyaman saja. Dan terus terang sebelum menempatinya saya sudah minta orang pintar untuk membersihkan rumah itu dari apa pun yang kemungkinan menghuninya." Harun terkejut. "Orang pintar? Dukun?"

http://inzomnia.wapka.mobi

87 "Iya. Bukannya saya percaya takhayul, tapi sekadar menenangkan perasaan saja." "Kalau Pak Adam memilih rumah yang lain, kan nggak perlu susah payah begitu." "Entahlah. Memang saya bisa saja memilih yang lain, toh perbedaan harganya juga nggak terlalu banyak, tapi saya sudah telanjur menyukai lokasinya." Topik perbincangan itu sudah tidak menyenangkan lagi bagi Adam. Ia berpikir untuk pulang saja. Tapi yang masih ingin bicara sekarang adalah Harun. Dia terangsang oleh keingintahuan lebih lanjut. Sebelum Adam menyatakan niatnya, Harun sudah keburu bertanya, "Apakah dulu Pak Adam sudah tertarik pada rumah itu? Maksud saya, sebelum terjadinya tragedi Mei sembilan delapan?" "Ah...," Adam tak segera menjawab. Keningnya berkerut. Terlalu jelas ekspresi ketidaksukaannya hingga Harun menyesali pertanyaannya. Ia bertanya begitu karena seingatnya dulu Adam tak pernah menunjuk secara jelas rumah yang jadi impiannya. Ia mungkin terdorong oleh perasaan takjub bahwa ternyata orang bisa juga memperoleh apa yang diimpikannya. Apakah dulu Adam juga memimpikan rumah yang dulu dimiliki keluarga Lie dan sekarang jadi miliknya itu? "Maksud saya tentu bukan rumah itu, tapi lokasinya," buruburu ia memperbaiki pertanyaannya. "Ya, memang betul, Pak. Dan sesungguhnya rumah itu adalah salah satu rumah yang modelnya paling jelek. Bukan cuma luarnya, tapi juga dalamnya. Selalu muncul keinginan untuk merombak dan mengubahnya."

http://inzomnia.wapka.mobi

88 Ketika itu bus yang ditunggu-tunggu Harun berhenti. Ia melihatnya juga tapi membiarkan. Ucapan Adam lagi-lagi menggelitik perasaannya. "Kalau begitu Pak Adam sering juga ke situ, ya? Kenal baik?" "Ah, sering ke situ sih tidak. Cuma pernah saja. Saya kenal Sonny. Dia mengajak saya bekerja sama untuk suatu proyek." "Kasihan, ya. Malang betul nasibnya. Tadi saya juga keceplosan bicara di depan Ibu Maria. Wah, seru deh." "Keceplosan apa, Pak?" "Ibu Maria seperti menggugat kenapa saya tidak menggedor pintu rumah Sonny. Saya bilang, tak ada orang menyahut. Mungkin pergi. Tapi aneh juga sih. Kalau memang pergi kok dia ada dan terbunuh." "Artinya dia tidak pergi." "Saya melihatnya pergi naik motor." Adam tertegun. "Bapak melihatnya?" "Ah, saya juga tidak yakin apa itu dia atau bukan. Saya lihat belakangnya dan dia pakai helm." "Aneh juga, ya." "Ya. Saya jadi penasaran." "Apa yang mau Bapak lakukan?" "Entahlah. Tadi saya dan suami-istri Tan juga membicarakannya. Saya bilang, mungkin waktu itu Sonny kembali lagi untuk menyelamatkan barangnya. Lalu dia malah tak keburu menyelamatkan diri." "Ya. Pasti itulah yang terjadi." "Tapi..." "Tapi apa, Pak?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Wah, itu bus saya sudah datang, Pak Adam. 89 Tadi sudah lewat satu. Saya pulang dulu saja, ya? Besok masih bisa ketemu kok." "Baru jam delapan lewat, Pak. Bagaimana kalau kita makan mie rebus di warteg sambil mengobrol? Kayak masa lalu?" Harun tak sampai hati menolak. Sesungguhnya ia memang sudah lapar. Sudah lewat jam makan malam, tapi tak satu pun di antara warga yang dikunjunginya tadi yang mengajaknya makan. Adam menggandeng lengan Harun. Ia tak punya firasat tentang Kristin. Kristin sudah aman berada di dalam kamar bersalin. Henry dan Maria menunggu di ruang tunggu. Setiap lima menit Maria menjenguk Kristin di kamarnya, tetapi Kristin selalu menanyakan Adam hingga Maria jadi gelisah lalu keluar lagi untuk menyuruh Henry menelepon. Entah sudah berapa kali hal itu berlangsung, tetapi setiap kali di seberang sana Bi Iyah menjawab sama. Adam belum pulang! "Dia bilang mau mendampingi saya, Tante," keluh Kristin. "Sabarlah, Kris. Kan ada Tante. Dia tentu nggak nyangka secepat ini. Belum waktunya, kan? Sudah, jangan mikirin yang bukan-bukan. Konsentrasi saja pada satu hal. Anakmu!" hibur Maria gundah. Setengah jam setelah kedatangan mereka Kristin melahirkan seorang bayi lelaki yang sehat dengan cara normal. Tak ada kelainan atau kesulitan apa-apa. Bahkan dokter yang menangani sempat takjub karena persalinan bisa berlangsung cepat dan mulus. Padahal itu merupakan kelahiran yang pertama bagi Kristin.

http://inzomnia.wapka.mobi

90 Pada saat itu Adam baru meluncur dari rumahnya. Henry sempat menghubunginya lewat telepon. "Selamat, Dam! Kristin sudah melahirkan seorang anak lelaki. Mereka sehat dan baikbaik saja. Tenang. Tak usah ngebut dan gelisah." Pemberitahuan itu menenangkan perasaan Adam. Karena itu ia bisa konsentrasi pada pemikiran, alasan apa yang paling masuk akal yang bisa dikemukakan-nya kepada Kristin nanti hingga ia terpaksa tak bisa cepat pulang. Tetapi Kristin sedang diliputi kebahagiaan. Alasan apa pun yang diberikan Adam diterimanya tanpa pikir panjang. Tak ada keluhan apa-apa. Ia terlampau takjub melihat bayinya. Tampan sekali. Jadi makhluk cantik inilah yang selama ini menghuni perutnya dan menyepak-nyepaknya. Ia teringat pada saat-saat ketika ia tak merasakan gerakannya. Betapa takut dan sedihnya. Kemudian gerakan yang terasa kembali itu benarbenar bagai keajaiban. Ah, kecil-kecil sudah bisa bercanda! Nanti bila kau sudah lebih besar, kau akan jadi teman bermainku! Adam merasa lega karena Kristin tak memarahinya. Tetapi perhatian Kristin kepada si bayi membuat ia merasa terlupakan. Walaupun ia juga merasa bahagia, tapi ada perasaan bahwa kebahagiaannya tidak sebesar kebahagiaan Kristin. Tentu ia sadar, yang namanya kebahagiaan itu tak bisa diukur apalagi dibedakan antara yang seorang dengan yang lain. Tetapi ia menganggap sikap Kristin berlebihan. Lihat wajahnya yang berbinar dan matanya yang bercahaya. Tatapannya terusmenerus kepada si bayi. Dan mulutnya mengocehkan kata-kata sayang bagai tak mau ber-

http://inzomnia.wapka.mobi

91 henti. Seingatnya ia tak pernah mendapatkan perhatian seperti itu. Ia sadar, itulah sebabnya kenapa Kristin tidak mempersoalkan ketidakhadirannya saat melahirkan. Kristin seolah tidak peduli ke mana saja ia pergi dan apa saja yang dilakukannya. Padahal biasanya Kristin manja dan jengkel kalau ditinggalkan seringsering. "Aku ingin kau mendampingiku kalau melahirkan, Mas," begitu rengeknya selalu kalau ia mau meninggalkan rumah. Sekarang sama sekali tak ada penyesalan atau komplain. Padahal kata Maria, saat berada di kamar bersalin Kristin terus-menerus menanyakan dirinya. Pada awalnya ia memang merasa lega karena tidak dimarahi, tapi sekarang ia jengkel. Bukankah lebih menyenangkan bila Kristin memarahi dan menyesalinya? Itu berarti Kristin ingat dan peduli padanya. "Aku mendapatkan nama yang bagus untuknya, Mas!" seru Kristin. "Nama? Bukankah kita sudah sepakat untuk menamakannya Sigit kalau lelaki?" "Nggak, ah. Itu kok kayak nama konglomerat. Ada nama lain yang bagus. Jason!" "Apa?" Adam terkejut. 92 IV New York City, awal bulan Juni.

http://inzomnia.wapka.mobi

Thomas lie atau Thomas Lee, biasa dipanggil Tom oleh teman dan rekan-rekannya. Atau Dokter Lee oleh pasien-pasiennya. Dia kelahiran Indonesia dan telah menjadi warga negara Amerika. Tetapi ke-pindahan kewarganegaraan itu bukan karena dia tidak nasionalis atau dorongan emosional. Baginya itu merupakan pilihan pribadi yang didasari kekaguman pribadi pula pada sesuatu yang bernama demokrasi. Motivasi pilihannya itu jelas berbeda dengan motivasi sebagian orang lain yang dia ketahui. Mereka terdorong oleh dendam. Terutama sesudah tragedi Mei 1998 yang menimpa Indonesia, ketika terjadi kerusuhan rasial terhadap etnis Cina, banyak orang Tionghoa atau warga negara Indonesia keturunan Cina pergi ke negara lain dan pindah kewarganegaraan. Lalu mereka dituding tidak patriot atau tidak nasionalis. Ia sendiri menganggap tudingan semacam itu sama sekali tidak tepat dan tidak patut. Ketika orang-orang itu diinjak dan disakiti, mereka tidak melawan. Mereka hanya pergi. 93 Di antara orang-orang yang dendam itu terdapat Susan, kekasih Sonny. Justru karena terjadi pada orang yang dekat dan dikenal baik, maka ia merasa lebih bisa memahami. Tapi bukan berarti ia setuju. Ia memang tidak berhak untuk menyatakan setuju atau tidak. Ketika kedua orangtuanya menyatakan ingin pulang ke Indonesia, ia tidak bisa melarang. Ia juga tidak mau melarang. Mereka tidak betah di Amerika meskipun keduanya sama-sama lancar berbahasa Inggris dan ahli di bidang komputer. Mereka mengaku sulit beradaptasi secara sosial dengan lingkungan. Ada perbedaan besar antara menetap sementara dan menetap

http://inzomnia.wapka.mobi

seterusnya. Di Indonesia mereka memiliki banyak teman dari berbagai kalangan, dan segudang sanak keluarga. Bukan itu saja. Bukan cuma orang, suasana, adat kebiasaan, budaya, makanan, atau apa saja yang khas. Masih banyak yang lain. Kesemuanya sudah tertanam di dalam diri mereka. Menjadi bagian dari mereka. Tak mungkin bisa dicabut atau dihilangkan begitu saja dengan memberi sesuatu yang baru. Padahal kedua orangtuanya juga termasuk mereka yang dendam. Seperti Susan. Sonny itu bukan cuma kekasih Susan, tapi juga anak orangtuanya. "Tetapi yang jahat itu kan cuma sebagian kecil. Bukan semuanya." Demikian keyakinan mereka. Seperti keyakinannya sendiri juga. Bagaimanapun penderitaan dan sengsara yang dialami pada suatu ketika, masih ada jangka waktu lain yang jauh lebih panjang dan sangat manis untuk dikenang. Penderitaan itu mungkin kecil bila dibandingkan dengan derita etnis Albania di Kosovo, ketika mereka diteror dan dibantai 94 lalu terusir dari tanah air oleh kelompok etnis Serbia. Bahkan di Amerika sendiri yang warganya begitu heterogen masih saja dihantui oleh teror rasial. Di negara yang super ini hantu rasialis malah tak ubahnya seperti psikopat. Bila sedang sial, bisa saja dirinya yang jadi sasaran. Kedua orangtuanya berkunjung pada bulan April 1998, sekitar sebulan sebelum pecahnya kerusuhan rasial di Jakarta. Pada saat itu pun Indonesia, terutama Jakarta sudah dilanda demonstrasi demi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Mereka mengajukan berbagai tuntutan. Puncak dari semua tuntutan adalah turunnya Soeharto dari kursi presiden. Tetapi

http://inzomnia.wapka.mobi

di samping peristiwa demonstrasi itu, terjadi pula beberapa kerusuhan rasial di berbagai daerah meskipun dalam skala terbilang kecil. Maka ketika akhirnya kerusuhan meledak pula di Ibukota, sesuatu yang tak pernah terbayangkan bisa terjadi, ada rasa syukur bahwa orangtuanya tak perlu mengalami teror itu meskipun mereka harus kehilangan Sonny. Sejak saat itu orangtuanya menetap bersamanya. Selama itu pula mereka tetap menjalin hubungan dengan sanak keluarga di Jakarta dan kota-kota lain. Kedua orangtuanya sama-sama berasal dari keluarga besar. Hubungan dijalin lewat e-mail. Mereka juga bisa memantau perkembangan lewat media televisi seperti CNN. Lalu berdatangan berita menggembirakan. Setelah Soeharto turun, liong dan barongsai pun keluar dari kandang setelah puluhan tahun dikurung! Mereka menari-nari di jalan dengan gerakan seadanya karena 95 pelakunya adalah orang-orang yang baru belajar. Maklumlah, para penari profesional yang benar-benar menguasai tarian liong dan barongsai sudah pada uzur, bahkan sebagian sudah almarhum. Padahal seharusnya tarian itu dilakukan oleh orangorang yang pintar kungfu dan gerakan akrobatik. Bukan cuma sekadar meloncat-loncat. Tetapi tidak apalah. Pertunjukan itu bukan dinilai dari segi keseniannya, melainkan sebagai pembebasan dari kungkungan dan pengakuan atas hak dan martabat. Sangat mengharukan. Ibunya sampai menangis sesenggukan dan ayahnya berlinang air mata. Masih ada lagi berita menggembirakan dan juga mengharukan. Sekarang mereka dipanggil dengan sebutan "orang Tionghoa"

http://inzomnia.wapka.mobi

dan bukan lagi "orang Cina". Sudah begitu lama sebutan yang disebut belakangan itu mengakar, hingga generasi muda Tionghoa sendiri merasa kikuk dengan sebutan "baru" itu, dan generasi yang lebih tua perlu menjelaskannya. Dulu, setelah peristiwa G30S-PKI dengan terbunuhnya enam jenderal, disebutkan adanya keterlibatan atau campur tangannya Republik Rakyat Cina. Maka kemarahan ditimpakan kepada warga negara Indonesia keturunan Cina yang sebenarnya tidak tahu-menahu. Ketika itu seorang pejabat mempermaklumkan, bahwa mulai saat itu para warganegara keturunan Cina itu harus disebut sebagai "orang Cina". Suatu sebutan yang bila dilihat latar belakangnya sebenarnya mengandung penghinaan. Padahal selayaknya setiap warga negara Indonesia, tak peduli keturunan atau suku apa, haruslah disebut sebagai orang Indonesia. Sangatlah berbeda bila menyebut orang Jawa atau 96 orang Sunda karena sebutan itu cuma menandakan suku, bukan kebangsaan. Sedang definisi "orang Cina" mestinya adalah orang asing dari negeri Cina. Tetapi selama bertahun-tahun orang menjadi terbiasa. Kehidupan berjalan terus dan mau tak mau orang harus beradaptasi. Berita menggembirakan itulah yang membuat suami-istri Lie, kedua orangtua Tom, menjadi gelisah seperti cacing kena abu. Mereka ingin pulang! Keinginan itu tak bisa ditahan lagi. Mereka pulang setelah kerabat di Jakarta mencarikan rumah untuk dikontrak, karena rumah yang semula mereka tempati di Pantai Nyiur Melambai sudah bukan milik mereka lagi. Walaupun di atas kertas Tom sudah menjadi orang Amerika, tapi sebagian dirinya tetap merasa Indonesia. Ia tetap

http://inzomnia.wapka.mobi

memiliki keterikatan batin dengan negara di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Kenangan dari masa itu memang paling membekas dalam diri seseorang. Tak mungkin hilang. Pada saat-saat itulah seseorang mulai terbentuk sebelum menjadi benar-benar matang secara emosional dan intelektual. Jadi bukan karena kedua orangtua dan adiknya, Sonny, masih berada di Indonesia dan masih jadi orang Indonesia. Sonny memang berbeda. Misalnya dia tak mau bersekolah di Amerika mengikuti dirinya. Padahal dari segi kecerdasan adiknya itu tidak kalah. Mereka berdua mewarisi kecerdasan yang tinggi dari kedua orangtua mereka. Tetapi Sonny tidak mau menjadi ilmuwan. Dia ingin jadi pengusaha! Dengan Susan ia pun menjalin komunikasi lewat 97 e-mail. Paling sering adalah hari-hari setelah tragedi itu terjadi. Mereka saling menghibur. Orangtuanya pun ikut dalam komunikasi itu. Bagi mereka, Susan sudah seperti anak sendiri. Sayang mereka tak bisa saling mengunjungi. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sedang Susan berusaha hemat dengan segala pengeluarannya karena dia harus mandiri. Tapi ia berjanji bila mendapat cuti ia akan mengunjungi Susan. Belakangan Susan tak begitu rajin lagi mengirimi atau membalas e-mail-nya. Ia memaklumi kesibukan Susan. Apalagi belakangan orangtuanya memintanya datang ke Jakarta bila mendapat cuti. Itu berarti ia tak bisa memenuhi janjinya kepada Susan. Mungkin Susan pun sudah melupakan janji itu, pikirnya. Atau Susan sudah punya teman dekat baru? Ayah dan ibunya menulis dengan penuh semangat. Kau harus melihat dan merasakan suasana baru di Indonesia, khususnya di

http://inzomnia.wapka.mobi

Jakarta, kata ayahnya. Dan ibunya bercerita mengenai suamiistri Tan yang mempunyai tetangga baru di rumah miliknya dulu. Ada yang aneh dengan tetangga baru itu. Mereka pasangan suami-istri muda. Sang istri sedang hamil ketika menempati rumah itu. Tahukah kau apa nama yang diberikannya kepada si bayi setelah lahir? Namanya Jason! Kenapa tidak Sonny saja, ya? Tetapi bukan cerita-cerita itu yang membangkitkan keinginannya untuk pergi ke Jakarta, melainkan semangat yang tergambar dari cerita itu. Ia ingin menjenguk orangtuanya dan melihat semangat itu pada diri mereka. Mereka pasti lebih berbahagia daripada saat berada bersamanya. Bukan karena me98 reka merasa kesempitan tinggal bersamanya di apartemen kecil, tetapi karena mereka lebih merasa sebagai pengungsi! Di Jakarta mereka bertandang ke sana kemari, mengunjungi kerabat dan kenalan. Mengobrol panjang-lebar, berbagi cerita dan melepas kerinduan. Mereka merasa bebas dan lepas, terbiasa dengan segala sesuatu. Sementara di New York halhal seperti itu tidak diperoleh. Tentunya ada perbedaan besar antara perasaan sebagai turis dan sebagai "pengungsi"! Jadi menurut rencana ia akan ke Jakarta dalam waktu dekat. Mungkin awal bulan depan. Rencana itu sudah disampaikannya kepada Susan lewat e-mail. Apakah Susan mau ikut serta? Bila Susan mau, ia akan menjemputnya di Wellington, ibu kota Selandia Baru, kota tempat Susan tinggal. Mengenai ongkos perjalanan tak usah dipikirkan. Ia akan mengaturnya. Kerepotannya tidak jadi masalah bila dibandingkan dengan

http://inzomnia.wapka.mobi

kebahagiaan orangtua Susan bisa bertemu dengan putrinya. Lagi pula ia belum pernah berkunjung ke Selandia Baru dan sangat ingin ke sana. Tetapi seperti diduganya, Susan menolak meskipun berterima kasih. Belum saatnya, Tom! Tom tidak bisa memahami kekerasan hati Susan. Kepada siapakah sebenarnya dendam dan kemarahan Susan itu ditujukan? Kepada para perusuh atau negara? Logikanya, Sonny telah menjadi korban secara acak. Jadi bisa siapa saja, tergantung situasi. Apalagi bukan cuma Sonny yang menjadi korban, melainkan juga banyak orang lain. Apakah Susan akan bersikap seperti itu juga bila Sonny tidak apa-apa? 99 Tetapi ia menyimpan pertanyaan itu. Ia tidak sampai hati mengajukannya. Itu terlalu peka. Susan terlalu mencintai Sonny. Pasti itu sebabnya. Ia merasa sayang kalau orang secerdas Susan bisa keras kepala seperti itu. Sedalam apa pun cinta kepada orang yang sudah meninggal, seharusnya tidak sampai mengorbankan diri sendiri atau orang lain yang juga dicintai dan mencintai. Susan harus ingat juga kepada orangtua-nya. Bagi Tom, cinta tak ubahnya sampah. Itu cuma emosi kepentingan. Dia sudah merasakan dan mengalaminya juga. Lalu mengubah cara pandangnya. Tentu dia masih seorang lelaki normal dengan ketertarikan yang wajar kepada lawan jenis. Tetapi dia tidak akan segampang dulu lagi untuk jatuh cinta. Pendeknya dia tidak akan "jatuh"! Tom menyandang status duda cerai. Dalam usia menjelang empat puluh, karier mapan dan cemerlang sebagai ahli bedah di rumah sakit terkemuka negara super, cerdas, dan berwawasan,

http://inzomnia.wapka.mobi

serta memiliki fisik yang sehat, tidak jelek, ia bisa memperoleh pasangan hidup baru dengan gampang. Tetapi ia sudah bertekad untuk tidak "jatuh" untuk kedua kalinya. Cinta pertamanya adalah Vivian, gadis Tionghoa warga negara Indonesia yang juga bersekolah di Amerika. Mereka sudah berpacaran sejak ia masih menjadi mahasiswa di Columbia University. Vivian sendiri kuliah di sebuah perguruan yang tergolong "gurem" untuk mencari gelar MBA. Ketika itu gelar MBA dari luar negeri khususnya Amerika, tak peduli status perguruan tingginya, sedang populer di Indo100 nesia. Vivian disuruh orangtuanya yang kaya untuk memperoleh gelar itu demi gengsi. Hal itu diakuinya sendiri kepada Tom. Mereka berkenalan dalam pertemuan yang dilakukan secara berkala antara para mahasiswa Indonesia di Amerika. Berada jauh dari negeri sendiri, mereka memang harus kompak bila ingin punya kekuatan. Selanjurnya perkenalan itu berkembang lebih jauh. Keduanya merasa cocok. Tak ada pula hambatan latar belakang, agama, maupun budaya. Orangtua kedua belah pihak sama-sama setuju. Maka setelah Tom lulus sebagai dokter, mereka menikah. Tom merasa berbahagia. Kehidupan telah dijalaninya dengan mulus. Apalagi setahun kemudian Vivian melahirkan. Mestinya ia tambah berbahagia. Tapi ternyata tidak demikian. Syok berat dialaminya. Kengerian tak terhingga menerpanya. Bukan cuma dia yang mengalami seperti itu, tapi juga orangtuanya dan orangtua Vivian yang ikut mendampingi Vivian saat melahirkan. Bagi mereka si bayi adalah cucu pertama, jadi ditunggu kehadirannya dengan penuh perhatian dan

http://inzomnia.wapka.mobi

ketegangan. Tapi yang didapat bukanlah klimaks menyenangkan dari penantian panjang. Perasaan mencekam muncul. Tidak disebabkan karena si bayi berwujud monster. Sebaliknya, bayi itu sangat cantik dengan fisik yang sehat sempurna. Tapi dia berkulit putih, berambut lebat dan pirang! Tiga hari kemudian matanya yang semula terpejam terbuka lebar. Tampak indah sekali, besar dan berwarna biru! Sebegitu cantiknya bayi itu hingga dia menangis tersedu-sedu. Untuk pertama kali dalam hidupnya. 101 Ternyata kehidupannya tidaklah mulus. Ada juga kerikil tajamnya. Ada juga jatuhnya. Ia tidak bisa memaafkan pengkhianatan. Apalagi ia menganggap Vivian curang dengan sikap spekulatifnya. Untung-untungan dengan kehamilannya. Mudah-mudahan si bayi berwajah Asia. Tapi kalau tidak, ya sudah risiko. Jadi ia merasa dipermainkan. Tom tidak pernah tahu atau diberitahu siapa lelaki yang menjadi ayah anak itu. Vivian membiarkannya menduga-duga sendiri, berprasangka dalam kemarahan. Apakah lelaki itu salah satu dari teman-temannya yang suka datang berkunjung ke apartemen mereka? Ataukah dia teman Vivian yang tidak dikenalnya? Vivian tutup mulut. Yang pasti ayah si bayi berkulit putih, berambut pirang, dan bermata biru. Apakah itu John Rowe, Danny Martin, atau Peter Rogers? Tapi, di samping ketiga orang itu, yang punya ciri fisik sama, tentunya masih ada teman-teman Viv sendiri. Jadi, yang mana? Anak itu menyandang namanya. Deborah Lee. Panggilannya Debbie. Kelak dia akan menjadi gadis yang cantik. Tom yakin

http://inzomnia.wapka.mobi

akan hal itu. Di Indonesia gadis Indo yang cantik laris sebagai fotomodel atau bintang film. Tom berharap tidak akan bertemu lagi dengannya. Mungkin Vivian sendiri punya harapan yang sama. Apakah kelak Debbie akan menanyakan perihal ayahnya? Atau menyatakan kerinduan untuk bertemu? Bila suatu saat nasib mempertemukan mereka, pasti Viv tidak akan mengenalkan dirinya sebagai si ayah. Entah kapan Viv akan berterus terang. Bila tidak kepadanya, tentu kepada Debbie. Viv punya tanggung jawab itu. 102 Tetapi seiring berjalannya waktu, lima tahun kemudian, ia tidak peduli lagi. Yang tersisa dan mengendap mungkin cuma sekadar rasa ingin tahu saja. *** Rumah sakit itu bernama Columbia Presbyterian Medical Center, salah satu dari rumah sakit yang tertua, terbesar dan terbaik di Amerika. Luasnya lebih dari sembilan hektar, berdiri di sepanjang tepian Sungai Hudson. Di situ bekerja ribuan dokter, paramedis, dan karyawan dalam berbagai bidang. Mereka melayani puluhan ribu pasien. Masih ada lagi para mahasiswa kedokteran dari Columbia University. Sebuah institusi yang luar biasa dan membuat Tom takjub. Di situ dia tidak perlu merasa minder karena di tempat itu bercampur baur berbagai ras dan warna kulit, baik yang sehat maupun yang sakit. Setiap hari terdengar bahasa Inggris dalam berbagai aksen. Yang penting bisa dipahami dan memahami. Pendeknya, Tom tidak pernah merasa dirinya minoritas bila berada di dalamnya. Tetapi bukan cuma segi kebesaran itu yang

http://inzomnia.wapka.mobi

membuatnya takjub. Ada sesuatu yang lain yang membuatnya amat terkesan. Di atas pintu masuk, terukir pada lapisan semen, kata-kata sebagai berikut, "For the Poor of New York without Regard to Race, Creed, or Color." Kata-kata itu jelas mengungkapkan prinsip fundamental rumah sakit tersebut, yaitu bertujuan menolong kaum miskin di New York tanpa memandang ras, kepercayaan, atau warna kulit. 103 Pada kenyataannya memang demikian. Banyak kaum gelandangan yang berpura-pura sakit, terkapar di jalanan supaya diangkut polisi ke sana, tempat mereka bisa mendapat makanan, tempat berteduh yang nyaman dan perlakuan yang ramah. Tak ada orang sakit yang ditolak karena dia tak bisa membayar uang muka atau tak punya asuransi. Betapapun dekil dan kumuh penampilannya, dia tetap ditolong dan diperlakukan sama seperti halnya yang berpenampilan mewah. Di sana ada rasa kemanusiaan yang tinggi. Tetapi tak selamanya Tom mendapat perlakuan yang wajar. Dalam perjalanan kariernya, sebelum atau sesudah menjadi dokter, beberapa kali ia menerima perlakuan rasialis. Bukan dari sesama mahasiswa atau rekan sekerja, melainkan dari pasien berkulit putih. Yang paling sering adalah sikap memandang rendah. Tak perlu dengan kata-kata, melainkan cukup jelas dari tatapan mata. Oh, jadi dia itu dokter? Bukan paramedis atau bagian kebersihan? Pada awalnya memang terasa menyakitkan. Tetapi ia menyadari, bahwa yang mengalami hal itu bukan cuma dirinya, melainkan juga rekan-rekannya sesama ras bukan kulit putih.

http://inzomnia.wapka.mobi

Jadi banyak teman senasib. Dan mereka suka berkumpul secara berkala membicarakan hal itu. Masing-masing menceritakan pengalamannya. Ternyata rasanya meringankan. Bahkan mereka bisa menertawakan dan membuatnya sebagai lelucon. Kasihan orang-orang rasialis itu. Apa bagusnya putih di luar tapi hitam di dalam? Pengalaman cukup ekstrem adalah penolakan orang yang sedang sekarat. Pernah seorang pasien lelaki 104 bertubuh besar tambun dengan kulit putih pucat bagai tak pernah kena sinar matahari didorong masuk ruang emergency sebagai korban kecelakaan lalu lintas. Perdarahannya serius hingga kulitnya menjadi super pucat. Ketika itu Tom sedang bertugas di sana. Bersama perawat dia cepat mendekati untuk memberikan pertolongan. Anehnya, pasien gembrot yang sudah lemah itu masih bisa marah-marah. "Nooo! No Chinese!" teriaknya. Tom sadar dengan siapa ia berhadapan. Ia tak bisa memaksa. Perawat mencari dokter lain. Di ruangan yang sibuk itu ia menemukan Ronald Brown. Tetapi begitu melihat Ronald pasien itu berteriak lagi, "Nooo! No Nigger! No Nigger!" Ronald mundur. Ia berkulit hitam. "Tapi, Sir," kata perawat bingung, "dokter lain sibuk. Anda perlu cepat ditolong." "Nooo! No Chinese! No Nigger! I want white doctor! White! Do you hear me?" teriak pasien gembrot keras kepala. Tapi suaranya tambah lemah. "Darah Anda banyak sekali keluar, Sir," kata Ronald dengan sinis. "Anda seperti karung kempes."

http://inzomnia.wapka.mobi

Pasien itu kolaps. Entah dia mendengar atau tidak. Baru saat itu Tom dan Ronald bisa menolongnya tanpa tentangan. Pasien itu berhasil diselamatkan. Mereka berdua tak pernah bertemu lagi dengannya karena dia dipindahkan ke ruangan lain. Tetapi mereka tidak sakit hati. Mereka justru menertawakan. Ada lelucon baru. *** 105 Tom sedang makan siang sendirian di kantin. Ia bukannya tak mau bergabung dengan rekan lain. Ruang itu cukup penuh. Tetapi ia memang ingin sendirian. Ada yang ingin direnungkannya sambil makan. Semalam ia membaca e-mail dari Susan. "Aku mendapat surat panjang dari Mama, Tom. Dan juga e-mail dari Tante, ibumu. Jadi Tante dan Oom sudah kembali ke Jakarta. Katanya mereka sudah bertemu dengan Mama dan Papa dan melepas kangen. Waktu Mama menulis surat pertemuan itu belum terjadi. Mungkin Tante atau Oom sudah mengirimimu e-mail untuk menceritakan hal itu, ya. Apakah mereka cerita juga tentang tetangga baru Mama yang menempati rumah kalian dulu? Ada yang aneh pada mereka itu. Pasti kau sudah tahu dari Tante, ya? Aku tak perlu cerita lagi. Tapi Mama menambahkan hal yang penting di bawah suratnya. Mengenai pertemuannya dengan Pak Harun, dulu satpam di sana. Mungkin Tante nggak tahu karena nggak diceritai. Mama cuma bercerita padaku. Itu pun dengan pesan supaya aku jangan ngomong dengan orang lain. Juga dengan Papa. Karena Papa bilang, soal itu nggak perlu disampaikan padaku.

http://inzomnia.wapka.mobi

Maksudnya baik. Supaya aku jangan lagi mikir yang bukanbukan. Tapi aku juga mikir wajar saja. Kata Pak Harun..." Tom terkejut oleh tepukan di bahunya. Seorang rekan menyapa sambil lewat. Ia menyahut sapaan itu dengan ramah. Dan merasa senang karena rekan tadi terus pergi. ia bisa melanjutkan renungannya tentang surat Susan. 106 *** "...jadi aku mau minta tolong, Tom. Bila kau sudah berada di Jakarta, temuilah Pak Harun dan bicara lebih serius dengannya. Minta dia merenungkan lagi, betulkah orang yang dilihatnya keluar itu Sonny? Ada ciri-ciri yang diingatnya? Tinggi badan, postur, atau apa saja. Mama punya teori mengejutkan. Tapi dia minta aku tidak berpikir yang mulukmuluk. Tentu saja nggak. Sekarang dan dulu kan lain. Oh ya, kau tentunya belum kenal sama Pak Harun. Mintalah alamatnya sama Mama. Satu hal lagi, Tom. Carilah alasan supaya bisa mengunjungi tetangga baru Mama itu. Kenapa mereka berlaku aneh? Terutama sang istri, Kristin namanya. Kenapa anaknya diberinya nama Jason? Kok sama-sama ada kata 'Son' di situ. Padahal sebelumnya ia sudah menyiapkan selusin nama yang lain. Kebetulan? Tolong ya, Tom. Terima kasih banyak. Dari adikmu, Susan." Tom tersenyum. Susan selalu menganggapnya sebagai kakak. "Hei, kok senyum sendirian!" Tom mengangkat kepala, melihat tubuh jangkung berdiri di depannya. Lalu tampak wajah Ronald Brown yang hitam tersenyum ceria. Tangannya memegang baki tempat makan

http://inzomnia.wapka.mobi

siang. Tom tersenyum, menunjuk kursi di depannya. "Biasa, Ron! Lagi melamun!" katanya. "Siapa yang kaupikirkan?" tanya Ronald simpati. 107 "Aku sedang mengatur rencana. Apa saja yang mau kukerjakan di Jakarta nanti." "Sudah aman di sana?" tanya Ronald sambil mengunyah. "Oh, sudah." "Apakah kau berencana menemui dia?" "Dia?" "Viv." Tom tertegun sejenak. Dia tak menyangka Ron bertanya begitu. Selama ini nama Vivian tak pernah disebut. "Kenapa kautanyakan itu?" tanyanya. Ron memandang selidik. "Kuharap tidak menyinggung perasaanmu, Tom," katanya hati-hati. "Sori, ya. Tak usahlah dijawab kalau kau tak mau." "Oh, tidak apa-apa, Ron. Terus terang aku sama sekali tidak berpikir ke sana. Ingat dia pun tidak. Tentu saja aku tidak punya rencana menemuinya. Kami tak pernah berhubungan lagi, Ron." Ronald mengangguk-angguk. "Jadi kau sudah bisa melupakan hal itu. Senang kau sudah sembuh." Giliran Tom mengamati Ron dengan selidik. Sepertinya bukan tanpa alasan Ron menyinggung soal itu lagi. "Ya. Sebenarnya memang ada sesuatu, Tom," Ron mengakui. Tom mengerutkan kening. Kalau saja si Ron ini berkulit putih, berambut pirang, dan bermata biru, pastilah dia yang menjadi ayah Debbie. "Ayolah, Ron. Katakan saja."

http://inzomnia.wapka.mobi

Ron meneguk minumannya. "Begini, Tom. Viv mengirimiku e-mail. Dia ingin bertemu denganmu. Ingin bicara, katanya. Jadi kalau kau ke Jakarta..." 108 "Bagaimana dia tahu aku mau ke Jakarta?" potong Tom. "Sebenarnya sudah beberapa bulan belakangan aku dan Viv menjalin hubungan e-mail. Dia duluan yang mengirim. Aku yang bilang kau mau cuti ke Jakarta tak lama lagi. Boleh, kan?" "Boleh-boleh saja, Ron. Tapi... dia yang bertanya atau kau yang bercerita?" "Dia yang bertanya. Dia selalu ingin tahu tentang dirimu. Apa kau baik-baik saja. Sudah punya pasangan baru atau belum." "Oh!" Ron mengamati wajah Tom. "Cuma oh?" tanyanya tidak puas. "Lantas aku mesti bilang apa, Ron? Semuanya sudah berakhir." "Tidak ada lagi yang tersisa?" "Tidak." Ron menarik napas. "Tapi tak ada salahnya kau menemuinya." "Apakah itu penting, Ron?" "Kalau tidak penting tentu dia tidak berpesan begitu kepadaku." "Kau pasti tahu. Kau tentu ingin tahu. Tidak kautanyakan?" "Ingin sih menanyakan, tapi aku harus tahu diri. Itu urusan pribadi." "Kok dia minta tolong sama kamu?" "Dia kan tahu hubungan kita cukup akrab." "Jadi kau tidak tahu apa yang dia kehendaki dariku?" "Ayolah. Jangan cerewet." 109

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aneh juga. Setelah lima tahun..." "Oh, sudah lima tahun, ya?" potong Ron. "Cepat sekali waktu berlalu." "Kau punya saran, Ron?" "Menurutku, tak ada salahnya kautemui dia. Kan dia cuma mau bicara." "Bicara itu berarti ada sesuatu yang dia kehendaki. Kalau cuma say hello kenapa dia tidak kirimi aku e-mail saja?" "Ya terserah kau. Aku cuma memberi saran." "Baik kalau begitu. Aku akan temui dia." Ron tersenyum. "Kalau begitu dia akan kuberitahu. Kapan tepatnya kau mau berangkat?" Tom terkejut oleh antusiasme Ron. "Ah, tak usahlah diberitahu, Ron. Setibanya di Jakarta aku akan telepon dia dulu." "Bukankah kau tidak tahu di mana dia tinggal dan berapa nomor teleponnya?" Tom tertegun. "Dia sudah pindah?" Ron merogoh sakunya, lalu mengeluarkan secarik kertas. "Ini alamat baru dan nomor teleponnya." Tom mengamati sekilas lalu memasukkan kertas itu ke dalam sakunya. "Kalau kau menghilangkannya, kau bisa tanya lagi padaku." Ron tersenyum. Lama setelah itu Tom masih saja bertanya-tanya sejauh mana sebenarnya hubungan Ron dengan Vivian. Apakah Ron cuma sekadar perantara? Ia terpaksa mengingat kembali masa lalu. Meskipun Viv sudah mengantungi ijazah MBA, tapi setelah menikah ia tidak berminat untuk bekerja. 110

http://inzomnia.wapka.mobi

Tom memang tidak menganjurkan karena gajinya lebih dari cukup untuk hidup mereka. Ia sudah terbiasa dengan kehidupan yang sederhana meskipun tinggal di kota besar yang menawarkan segala jenis hiburan mahal. Ia justru merasa senang bila pulang kerja disambut istri dan ia tidak perlu lagi mengerjakan segala urusan rumah tangga seperti dulu ketika masih bujangan. Ia cuma khawatir kalau-kalau Viv kesal sendirian di rumah tanpa kesibukan. Tapi Viv mengatakan ia lebih suka begitu karena bisa bebas mengerjakan apa saja yang dikehendakinya. Bisa nonton teve, baca buku, atau jalan-jalan. Viv senang bersosialisasi. Dengan cepat ia bisa bergaul akrab dengan semua teman Tom. Bila pada awalnya mereka agak segan berkunjung dan main ke tempatnya karena khawatir Viv tidak suka, lama-kelamaan mereka kembali lagi pada kebiasaan lama ketika Tom masih bujangan. Mereka bukan saja tidak canggung dengan kehadiran Viv, tapi malah jadi tambah bersemangat. Hal itu membuat Viv tidak kesepian bila lama ditinggalkan sendiri. Teman Tom adalah teman Viv juga. Itulah salah satu sebab kenapa kemudian Tom mencurigai salah satu di antara teman-temannya yang kulit putih telah menjalin hubungan intim dengan Viv. Ada tiga orang yang paling memenuhi syarat, yaitu Danny Martin, John Rowe, dan Peter Rogers. Masih ada lagi yang kurang begitu memenuhi syarat, yaitu dua-tiga orang, yang biarpun berkulit putih tapi tidak berambut pirang atau bermata biru, tapi tidak tertutup kemungkinan mereka jadi tersangka. Bisa jadi orangtua atau kakek-neneknya yang 111

http://inzomnia.wapka.mobi

berambut pirang dan bermata biru yang mewariskan ciri itu kepada Debbie. Teman-temannya itu punya kesempatan menyelinap masuk ke apartemennya pada saat ia tak ada karena tahu betul kapan, saja jam kerjanya, misalnya saat ia dinas malam. Lagi pula mereka semua tinggal di kompleks bangunan apartemen yang sama, yang memang dikhususkan bagi mereka yang punya hubungan dengan rumah sakit Columbia Presbyterian. Tetapi ia tidak bisa menanyai mereka satu per satu. Siapa di antara kalian yang pernah bercinta dengan Viv? Alangkah konyolnya. Menanyai bisa berarti menuduh. Bahkan memelototi saja punya makna sama. Toh mereka punya naluri dicurigai. Lalu menjaga jarak biarpun tetap dekat. Mereka seperti sepakat berbuat begitu. Hati-hati menjaga sikap meskipun tetap simpatik dan bersahabat. Karena kesamaan sikap itulah ia jadi tambah sulit mendeteksi. Mustahil juga mengharapkan satu per satu dari mereka mengatakan kepadanya, "I didn't do it!" Seharusnya Viv yang mengatakan. Sebelumnya ia tidak pernah punya prasangka buruk. Ia percaya sepenuhnya kepada Viv dan teman-temannya. Ia percaya, teman-temannya bukan jenis orang yang tega mengkhianati teman sendiri. Mereka justru sayang dan melindungi Viv. Lagi pula Viv sendiri mencintainya dan mereka masih dalam masa mesra bulan madu. Mustahil ada yang namanya perselingkuhan. Tom menganggap, pasangan suami-istri yang suka berselingkuh adalah mereka yang sudah lama kawin dan karenanya menjadi bosan satu sama lain. 112

http://inzomnia.wapka.mobi

Di Amerika, perilaku seks itu bebas sepanjang mau sama mau dan sudah cukup umur. Tetapi sebebas-bebasnya, pasti ada batasan juga. Kalau tak ada, maka tak ubahnya hewan. Batasan itu terletak pada hati nurani. Tegakah mereka mengkhianatinya? Kalau mereka melakukannya, berarti mereka tega. Mereka tak menghormatinya atau mereka menganggapnya tak punya harga diri. Itu yang paling menyakitkan. Setelah Viv pulang dari rumah sakit, ibu Viv masih menemani. Ayahnya menginap di hotel. Orangtuanya sendiri sudah pulang ke Jakarta setelah memberinya petuah ketabahan dan tahan diri, juga memintanya berjanji untuk tidak bertindak sembarangan, seperti mengamuk tanpa kendali hingga mencederai Viv dan bayinya. Ia memberikan janjinya. Puncak emosi sudah berlalu. Tapi ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Ia tidur di ruang istirahat dokter atau menginap di apartemen teman yang mau ditumpanginya, lalu bekerja lagi. Ia hanya pulang kalau harus mengambil baju atau ada keperluan lain. Ia tahu orangtua Viv belum mau pulang karena khawatir putrinya diapa-apakan olehnya. Mereka sangat malu dan marah besar kepada Viv, tapi melindunginya dari kemungkinan diamuk suami yang dendam. Akhirnya mereka bermusyawarah karena sadar hal itu tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Kesepakatan dicapai. Jelas sulit sekali baginya untuk serumah dengan si bayi, yang akan terus mengingatkannya pada perselingkuhan Viv. Padahal bayi itu tak bersalah. Maka Viv ikut dengan kedua orangtuanya pulang ke 113 Jakarta dengan membawa bayinya. Maksudnya untuk sementara. Biar suasana mendingin kalau kalau ada pemikiran

http://inzomnia.wapka.mobi

lain. Tapi yang maksudnya sementara itu jadi keterusan. Mereka bercerai. Karena itulah ia tidak punya waktu dan kesempatan untuk mendesak Viv supaya berterus terang siapa sebenarnya kekasih gelapnya. Pada saat itu Viv selalu dikawal oleh ibunya. Tak ada pengakuan dari Viv. Mungkin Viv juga ingin melindungi kekasihnya dari amukannya. Yang satu ingin melindungi yang lain. Pastilah dia menakutkan sekali. Seperti menyimpan bom amarah yang siap meledak. Kemudian ledakannya akan menghancurkan Viv, pacarnya, dan bayi mereka. Terpikirkah oleh mereka bahwa ledakan itu, andaikan bomnya memang ada, mungkin cuma akan menghancurkan dirinya sendiri? Untunglah dia masih punya teman yang memperhatikan, yang tidak cuma merasa iba dan memberi simpati. Merekalah yang memberinya kekuatan dan tak bosan-bosan menyadarkannya bahwa dia tidak sendirian. Masih ada teman yang tidak cuma bisa diajak hura-hura. Dan mungkin juga lingkungan kerjanya ikut membantu pemulihan dirinya. Di sana banyak orang yang mendambakan hidup dan berjuang untuk hidup. Mustahil dia merusak diri sendiri bila profesinya adalah memulihkan orang lain dari kerusakan. Dia menghargai hidup orang lain dan juga hidupnya sendiri. Kalimat terakhir yang diucapkan Viv ketika mereka berpisah hanyalah, "I'm' sorry!" Tak ada ucapan, "Forgive me!" atau "Maafkan aku!" 114 Yang melakukannya justru mertuanya. "Maafkan Viv ya, Tom?" kata ibu mertuanya berulang kali sambil menangis. Perempuan yang biasanya tampil arogan itu tampak luluh oleh

http://inzomnia.wapka.mobi

kesedihannya. Tetapi Tom tidak menjawab permintaan itu. Mana mungkin minta maaf itu diwakilkan? Ia pernah mencecar Ron dan teman-teman lain, yang bukan kulit putih, kalau-kalau mereka tahu siapa lelaki itu. Bila dia tak tahu karena tak sempat melihat, tentu ada di antara mereka yang kebetulan melihat. Mungkin ada yang secara tak sengaja menangkap tatapan atau sentuhan mesra. Tetapi mereka semua tidak tahu! "Aku pikir, kau sebenarnya tahu, Ron," kata Tom pada pertemuan berikutnya dengan Ronald Brown. "Tahu apa?" "Siapa ayah Debbie?" "Oh itu. Katanya sudah tak peduli lagi." "Tak peduli bukan berarti tak ingin tahu. Kau yang membangkitkan keingintahuanku." "Jadi selama ini sebenarnya kau menyimpan keingintahuanmu itu di sini." Ron menunjuk kepalanya. "Kalau sudah tahu, aku jadi punya bahan untuk menghadapinya." "Kautanyakan sendiri kepadanya. Mungkin itu yang mau dia katakan." "Kenapa dia harus menunggu begitu lama? Ayolah, Ron. Katakan siapa dia." "Aku sungguh tidak tahu, Tom. Swear!" Ron mengangkat jarinya. 115 Tom sadar, tak bisa memaksa. Ron tampak tulus. Ia tidak ingin menyudutkan seorang sahabat. Sore itu Tom berjalan pulang sendirian menuju apartemennya yang jaraknya cuma beberapa ratus meter. Kadang-kadang ia

http://inzomnia.wapka.mobi

jalan bersama teman yang kebetulan pulang bersamaan dan tinggal di kompleks apartemen yang sama. Ron juga tinggal di sana. Apartemen itu memang khusus dihuni oleh mereka yang berkepentingan dengan Presbyterian Hospital. Bukan cuma para dokter, tapi juga karyawan lain dan mahasiswa. Dulu ketika akan menikahi Vivian, ia ragu-ragu apakah Viv bisa betah tinggal bersamanya di situ. Sebenarnya suasananya cukup menyenangkan. Cukup nyaman dan tenang. Cuma yang terasa mengganggu adalah bunyi sirene ambulans yang tidak kenal waktu. Bunyi yang maknanya sama. Ada manusia menghadapi maut. Tetapi Viv mengatakan tak ada masalah. Ia akan dan bisa beradaptasi. Padahal jika Viv keberatan ia bersedia mencari tempat tinggal yang agak jauh, di mana hiruk-pikuk kegiatan rumah sakit tak terasa dan tak terdengar. Tetapi Viv tegas dengan tekadnya. "Nanti sajalah, Tom. Kucoba dulu, ya? Kalau benar-benar tidak betah, aku bilang terus terang!" Ia mengagumi kemampuan Viv beradaptasi. Ia tahu temantemannya juga punya andil untuk membuat Viv merasa betah. Mereka berusaha menyenangkan Viv dan menyertakannya dalam kelompok mereka. Viv adalah salah satu dari mereka. Suatu keuntungan untuk dirinya sendiri. Dengan demikian ia 116 tidak perlu mengubah kebiasaan dan rutinitas hidupnya. Tapi siapa sangka bahwa yang dianggap sebagai keuntungan itu bisa jadi malapetaka! Ia menghirup udara segar dari taman rimbun yang dilewatinya. Taman itu dipelihara baik. Di musim panas seperti saat itu bunga-bunga bermekaran indah sekali dan menjadi kebanggaan

http://inzomnia.wapka.mobi

Joe si tukang kebun. Hidung Joe selalu kembang-kempis bila ada yang memuji. Dia memang bekerja dengan penuh dedikasi. Para dokter berurusan dengan manusia. Aku dengan tanaman, katanya. Jadi aku dokter juga. Dokter tanaman! Ketika hatinya masih sakit karena ulah Viv, Tom banyak menghabiskan waktunya di situ. Bahkan di musim dingin pun dia berkerebong dengan mantel tebalnya yang berpenutup kepala. Lalu diseret paksa oleh teman-temannya. Kalau tidak, tentu dia akan menjadi patung beku yang duduk di bangku taman. Tetapi kecenderungannya menelantarkan diri itu tidak berlaku sama kepada para pasiennya. Ia tetap teliti dan cermat. Tidak melakukan kesalahan sedikit, pun. Padahal banyak rekannya yang khawatir kalau-kalau emosinya bisa mempengaruhi kecermatannya. Seluruh departemen bedah sudah mengetahui kisahnya. Direkturnya memintanya cuti sambil menjalani terapi kejiwaan. Tapi ia menolak. Justru dalam keadaan seperti itu ia harus mengisi waktunya dengan bekerja. Konsentrasinya menajam dan empatinya kepada pasien lebih mendalam. Dengan cara demikian ia bisa melupakan kepailitannya Tahun demi tahun berlalu, ia berangsur menjadi "normal" kembali. Ia tidak lagi memelototi teman117 temannya yang kulit putih. Ia sudah pasrah. Gaya hidupnya sudah kembali seperti dulu. Mereka yang semula menghindarinya karena takut dicurigai atau ditanyai mendekat kembali. Kehidupan memang harus berjalan. Apartemennya berada di lantai tujuh, memiliki dua kamar. Ketika masih bujangan, ia menempati lantai dasar yang ruangannya lebih kecil dengan hanya satu kamar. Ia memang

http://inzomnia.wapka.mobi

tidak memerlukan kamar ekstra. Bila sekali waktu ibu atau ayahnya datang berkunjung, ia bisa tidur di sofa. Sejak masih mahasiswa ia di situ. Setelah menikah ia harus pindah ke tempat yang lebih luas. Tapi sekarang ia belum berpikir untuk pindah lagi. Ia sudah terbiasa dengan ruangan yang lebih luas. Ia tidak menggunakan lift melainkan tangga. Ia bisa sekalian berolahraga. Itu sehat untuk jantung, walaupun cukup melelahkan. Napasnya sudah bertambah cepat ketika akhirnya ia mencapai lantai tujuh. Tetapi kemudian langkahnya terhenti dengan mendadak. Matanya membelalak kalau kalau salah lihat. Seorang perempuan muda sedang duduk di lantai di depan pintu apartemennya dengan beralaskan trav-elling bag di pantatnya. Ia bersandar ke dinding dan sedang asyik membaca buku dengan mulut komat-kamit. Rambutnya panjang mencapai punggung, diikat satu dengan jepitan. Kulitnya kekuningan. Hidungnya kecil mancung. Cantik. Dia Susan! Tom memekik senang. "Hai! Suuus!" panggilnya. Benar-benar kejutan yang luar biasa. 118 Susan melompat bangun. Tubuhnya tampak ringan. Dia lumayan jangkung. Semampai dibalut T-shirt dan celana jins. Sekitar seratus tujuh puluh. Tom lebih tinggi sepuluh senti. Mereka berpelukan. Lalu saling mencium pipi. Setelah kematian Sonny dan perceraian Tom, mereka jadi lebih dekat meskipun cuma sebatas kakak dan adik. Keduanya merasa patut memberikan perhatian satu sama lain sebagai orang-orang yang sama-sama mengalami musibah. "Sudah lama kau di sini, Sus?" "Ada sejam, Tom."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kenapa tak meneleponku di rumah sakit? Kenapa tak memberi kabar kalau mau ke sini? Aduh, kasihan sekali kau. Sampai sejam menungguku." Tom mengeluarkan kunci, membuka pintu, lalu mengajak Susan masuk. Ia membawakan tas Susan yang gembung. "Aku tak mau menyusahkan kau, Tom. Menunggu di sini kan sama saja. Di sana juga menunggu. Bagaimana kalau ke sana tahu-tahu kau sudah pulang? Kalau nunggu di sini kan sudah pasti," sahut Susan sambil melangkah masuk. Ia memandang berkeliling sementara Tom terus masuk dan meletakkan tasnya. "Wow! Enak ya apartemenmu? Punyaku cuma setengahnya," kata Susan. "Punyaku yang dulu juga kecil, Sus. Kau pernah ke situ, kan? Begitulah kalau bujangan. Tapi sekarang ada untungnya aku mempertahankan yang ini. Ada ruang buatmu. Eh, kau menginap, kan? Kamarnya dua kok." 119 "Ya, Tom. Tapi cuma semalam saja." "Berapa malam juga tidak masalah." Susan menuju jendela lalu membukanya. Mulutnya terbuka. Kagum. Ia melihat pemandangan Sungai Hudson dan jauh di sana jembatan George Washington. Tampak sorot lampu kendaraan berderet memanjang sepanjang jembatan. "Wow! Hebat sekali, Tom!" serunya. Tom mendekat di belakangnya lalu menyodorkan minuman kaleng. Root Beer. Mereka bersama-sama duduk di sofa sambil menyeruput minuman masing-masing.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ceritakan, Sus. Pasti ada tujuannya ke sini. Bukan sekadar kunjungan sosial, kan? Biar kutebak. Kau memutuskan jadi ikut denganku ke Jakarta, kan?" kata Tom bersemangat. Ia membayangkan betapa gembiranya ibu Susan bisa bertemu dengan putrinya ini. "Ah, bukan begitu, Tom. Aku ditugasi bosku ke New Jersey. Aku tak sempat mengabarimu lebih dulu. Besok aku ke sana. Sekarang sekalian mampir di sini." "New Jersey?" Tom heran. "Ada apa di sana? Tugas apa?" "Ada yang mesti kuliput." Susan tertawa melihat wajah Tom mengerut keheranan. "Ah ya, aku memang belum cerita. Aku sudah kerja jadi wartawan, Tom!" "Wah, selamat dong! Kau benar-benar sudah mandiri, Sus. Akan kuceritakan kepada ibumu." "Oh ya!" Susan melompat. "Aku titip barang untuk Mama. Dan Papa juga." Ia mengeluarkan 120 sebuah bungkusan berwarna cokelat lalu meletakkannya di atas meja. "Ya. Nanti kusampaikan. Mereka pasti senang sekali. Sayang cuma titipan. Bukan orangnya sekalian." "Ah, sudahlah, Tom. Nanti juga tiba saatnya." "Oke. Ngomongngomong, kau sudah jadi warga negara Selandia Baru?" "Belum." "Akan jadi?" "Ya." Susan tampak segan membicarakan soal itu. Dia kelihatan lelah. "Istirahat dulu, Sus. Itu kamarmu." Tom menunjuk. "Mau mandi?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya. Supaya segar." Susan bangkit, mengambil tasnya, lalu menuju kamar yang ditunjuk. Tom mengamati Susan dari tempat duduknya. Masih terpesona. Serasa mimpi bisa bertemu dengan Susan. Gadis itu tampak jauh berbeda dibanding saat terakhir ia melihatnya. Ketika itu Susan datang mengunjunginya bersama Sonny. Dulu gadis itu lembut dan manja. Suaranya pun halus dan kadang-kadang ada nada rengekan dalam pembicaraannya. Sekarang semua sudah berubah jadi kebalikannya. Kalau saja Sonny bisa melihatnya sekarang. Ia sendiri lebih menyukai Susan yang sekarang dibanding yang dulu, meskipun baru melihat sebentar. "Nanti kita makan malam di luar ya, Sus!" teriaknya. "Memangnya kau tidak punya bahan makanan?" Susan berteriak juga dari dalam kamar yang tampak terbuka pintunya. 121 "Ah, ngapain repot-repot. Kita sekalian jalan-jalan!" "Oke!" Tom masih saja duduk dengan kaleng minuman di tangannya. Tiba-tiba ia baru menyadari sesuatu. Susan keluar lagi dengan handuk tersampir di pundak dan sudah berganti pakaian dengan daster. "Aku mandi dulu, Tom," katanya. Kemudian ia berhenti dan memandang Tom. "Kau kelihatan aneh. Masih merasa surprise?" "Tidakkah kau menyadari sesuatu, Sus?" tanya Tom sambil menatap Susan. "Sesuatu apa?" Susan keheranan. Ia mengamati diri sendiri sejenak kalau-kalau ada yang tak beres. "Sejak bertemu tadi kita langsung bicara bahasa Indonesia. Bukan bahasa Inggris yang jadi bahasa kita sehari-hari," Tom menjelaskan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Susan tertegun. Tak menyangka. "Apakah itu aneh? Wajar saja, kan? Bila dua orang yang berasal dari negara yang sama bertemu di negeri asing, maka dia akan berdialog dengan bahasa ibu." "Tapi kita tidak asing lagi di sini." Susan geleng-geleng kepala. "Ah, sudahlah. Itu cuma spontanitas. Kalau kau menganggapnya aneh, kita ngomong Inggris saja, ya?" "Jangan, Sus. Aku cuma mikir betapa asal-usul itu sangat kuat mengakar dalam diri seseorang." Susan mengerutkan kening. "Apakah kau menyesal pindah warga negara?" "Oh, tentu saja tidak. Aku cuma bingung perihal istilah. Di Indonesia kita disebut sebagai orang Indonesia keturunan Cina. Lalu di sini aku disebut sebagai 122 orang Amerika keturunan apa? Keturunan Indonesia? Mana bisa begitu kalau di Indonesia kita disebut sebagai keturunan Cina. Tapi kalau disebut sebagai Amerika keturunan Cina juga tidak tepat karena aku jelas tidak sama dengan Felix Wong misalnya, yang benar-benar keturunan Cina karena lahir dan besar di Taiwan." "Itu gampang. Sebut saja dirimu sebagai orang Amerika asal Indonesia," kata Susan cuek. "Begitu?" "Ya. Jangan terlalu rumitlah, Tom. Pusing. Aku sudah benci dan bosan dengan istilah seperti itu. Koran-koran di Indonesia saja bingung menyebut kita. Bila mereka senang dan bangga, mereka tidak menyinggung soal keturunan. Tapi kalau benci mereka

http://inzomnia.wapka.mobi

menyebut si warga keturunan, atau nonpri, atau si kulit kuning dan mata sipit!" kata Susan dengan nada emosi. Tom merasa telah menyentuh bagian yang peka. "Sori, Sus. Sudahlah. Mandi, ya?" Susan tersenyum. Wajahnya ramah kembali. Ia menepuk pundak Tom, lalu berjalan. Tapi baru beberapa langkah ia berhenti. "Oh ya, Tom. Tadi sewaktu menunggumu di depan pintu, aku berkenalan dengan bule temanmu yang cakep banget. Wajahnya kayak Kevin Costner. Siapa pula namanya aku lupa. Dia menyilakan aku menunggu di apartemennya saja. Tapi mana aku berani? Bagaimana kalau dia itu psikopat? Tahu-tahu aku dipotong-potongnya lalu dimasukkan dalam kulkas untuk disantap," celotehnya. Tom tertawa. "Di sini tidak ada psikopat, Sus! Aku tahu siapa yang kaumaksud. Pasti dia Danny 123 Martin. Dia memang suka memotong-motong orang. Seperti aku. Tapi bukan untuk disantap!" Susan tertawa keras kemudian pergi. Tom merasa senang sekali. Tawa Susan membuat apartemennya menjadi hangat dan ceria. Setelah mandi Susan berubah pikiran. "Kita makan di rumah saja, Tom. Kulihat ada cukup bahan di kulkas. Nanti kusiapkan saat kau mandi." "Makan di luar kan lebih enak, Sus. Oh, aku ngerti. Kau capek, ya?" "Bukan soal capek, Tom. Aku ingin ngobrol banyak denganmu. Pergi keluar cuma buang waktu saja. Nantilah lain kali kalau

http://inzomnia.wapka.mobi

waktuku lebih banyak. Aku juga kepengin jalan-jalan. Ke pusat kota, misalnya. Manhattan. Wow! Asyik banget!" Tom tertawa. "Untuk itu kau perlu menyediakan waktu ekstra supaya leluasa. Jangan diburu-buru pekerjaan. Kau harus menghibur diri sendiri juga." Susan tersenyum. "Ya. Aku janji. Tapi kau juga harus membalas kunjunganku ini ke tempatku. Dulu kau sudah janji." "Oke. Aku masih ingat janji itu." Mereka menyiapkan makanan bersama-sama dari bahan yang tersedia. Omelet, daging goreng, kentang goreng, dan salad. "Aku belanja seminggu sekali. Baru dua hari yang lalu belanjanya. Untung, ya? Jadi masih banyak," jelas Tom. Susan terkejut. "Wah, aku membuat persediaanmu menipis!" "Tidak apa-apa. Aku kan masih bisa belanja lagi. Sudah, jangan dipikirkan soal itu. Coba kau telepon dulu tadi. Aku akan membeli champagne." 124 Susan menggelengkan kepala. "Jangan. Aku tidak suka minuman keras. Jangan dibiasakan, Tom." "Ah, aku juga tidak suka minum. Cuma sesekali saja. Ini kan saat yang luar biasa, Sus. Serasa mimpi." Susan tertawa. "Jangan ngomong begitu. Bagaimana kalau benar-benar cuma mimpi?" "Cubitlah aku." Susan mencubit lengan Tom yang mengaduh keras. Pura-pura. Lalu mereka tertawa. Tetapi Tom tetap saja merasa seolah bermimpi. Bukan Susan yang hadir di dekatnya, melainkan Vivian! Nostalgia mengusik pikirannya. Beberapa kali hampir saja ia memanggil Susan

http://inzomnia.wapka.mobi

dengan "Viv!" Untung masih terkendali. Betapa malunya dia kepada Susan kalau hal itu terjadi. Sambil menikmati makan malam yang terasa sedap mereka berbincang-bincang. Banyak sekali yang dibicarakan. Susan menyampaikan lagi pesan-pesannya yang sebenarnya sudah diutarakannya lewat e-mail. Ia juga bercerita mengenai pengalaman jatuh-bangun-nya di negeri orang dan terutama saat-saat sulit di bulan Mei 1998. Lalu tiba giliran Tom untuk bercerita perihal dirinya dan Vivian. Sebenarnya kisahnya itu sudah diketahui oleh Susan, tapi tidak selengkap bila diceritakan sendiri oleh yang mengalami. Obrolan seperti itu tergolong "berat", apalagi sambil makan. Namun nyatanya mengalir ringan saja. Malah terasa seperti penyedap. Mungkin karena kandungan emosinya tinggal sedikit. Keduanya pun merasa menemukan orang yang cocok untuk diajak berbagi. "Semua pesanmu itu sudah kucatat, Sus. Jadi 125 kalau aku ke Jakarta tidak ada yang terlewatkan," Tom menegaskan. Susan tersenyum. "Kau memang orang yang cermat. Cocok dengan profesi." "Bukan cuma itu. Kalau sampai ada yang kelupaan, sayang sekali." "Kau bermaksud menemui Viv?" "Sebenarnya aku sudah berjanji, tapi aku masih ragu-ragu." "Kenapa?" "Sebenarnya bagiku tak ada masalah untuk menemui Viv, tapi aku..." Tom diam sejenak, menatap piringnya dan memutar-

http://inzomnia.wapka.mobi

mutar sendoknya. Lalu meneruskan, "Aku segan melihat Debbie." "Kenapa?" "Umurnya sekarang sudah sekitar lima tahun. Cukup besar, ya? Wajahnya tentu sudah terbentuk. Sampai sekarang aku belum tahu siapa ayahnya. Jadi aku takut akan melihat secara gamblang dan jelas di wajah Debbie siapa sebenarnya ayahnya itu. Seandainya aku sudah tahu, tentu aku tidak perlu merasa segan." Sekarang keluarlah unek-unek itu! Padahal ia tak pernah mengatakannya kepada Ron. Susan mengamati wajah Tom saat berbicara. Wajah Tom perlu diperhatikan agak lama kalau ingin menemukan kemiripannya dengan Sonny. Tentu saja Tom jauh lebih tua. Rambut di pelipisnya sudah ditumbuhi uban. Kerut di dahinya pun sudah banyak. Mungkin karena dia orang yang serius. Atau karena stres berat akibat pengalaman hidupnya yang pahit bersama Vivian. Karena hal-hal itulah Susan sangat 126 respek kepada Tom. Kagum karena lelaki itu bisa mengatasi stresnya dengan baik. Ia senang sekali bisa memiliki Tom sebagai kakak. Tetapi ia tak menyangka bahwa orang seperti Tom bisa merasa takut seperti yang dikatakannya itu. "Bukankah dulu kau sangat ingin tahu? Saat pertemuan itulah yang paling baik. Amati anak itu. Bila kurang jelas, kau bisa tanya Viv. Mungkin itu yang mau dikatakannya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dia tidak perlu bertemu denganku hanya untuk mengatakan itu. Kirimi aku e-mail atau surat. Telepon juga bisa. Aku tak harus bertemu atau melihat Debbie sebelumnya." "Aku tak mengerti." "Aku tidak ingin membenci anak kecil, Sus." Susan tertegun. Tentunya Tom terlalu cerdas untuk mengarahkan sakit hatinya kepada orang yang tidak bersalah. Tapi sulit juga untuk menyalahkan Tom. Dalam diri Debbie ia melihat kegagalannya sebagai seorang suami dan ayah. Seharusnya Debbie memperlihatkan kesamaan fisik dengannya sebagai ayah kandung. Bukan dengan orang lain yang identitasnya masih misteri. Tiba-tiba Susan menyadari, bahwa penderitaannya sendiri terbilang kecil bila dibandingkan dengan pengalaman Tom. Ia marah sekali kepada Vivian. Istri macam apakah sebenarnya perempuan itu? "Untuk mendapat kepastian, kukira kau harus menghadapi Debbie, Tom. Aku yakin kau tidak akan membencinya." "Kau yakin?" 127 Sebelum Susan menjawab, terdengar pintu diketuk. Mereka berdiri. Tom menggoyangkan tangannya. "Biar aku saja yang ke depan," katanya. Di depan pintu berdiri Ronald Brown dan Danny Martin. Keduanya tersenyum-senyum menggoda dan mata mereka mengarah ke dalam, mencari-cari. "Ada apa?" tanya Tom, merasa terganggu. "Kami tidak diizinkan masuk?" tanya Ron dengan nada menggoda.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sebelum Tom menyahut, ia melihat keduanya mengarahkan tatapan ke belakangnya kemudian membungkuk dan mengangguk hormat. Ia menoleh dan melihat Susan di belakangnya. Terpaksa ia menyisih. "Ini adik iparku," katanya, dengan penekanan pada katakatanya. Susan bersalaman dengan Ron. Kepada Danny ia mengatakan, "Aku sudah berkenalan denganmu tadi, kan?" katanya tanpa menyambut uluran tangan Danny, yang segera menarik kembali tangannya. Danny cuma bergurau. Tom tidak segera menyilakan masuk, sementara kedua tamunya masih saja berdiri dengan wajah penuh senyum. Lalu Susan mengambil inisiatif. "Silakan, Tom. Kalian tentu ada perlu, kan? Maaf, kukira sebaiknya aku tidur siang-siang. Besok pagi sekali mau berangkat ke New Jersey. Ada janji di sana. Nice to meet you." Ia mengangguk kepada Ron dan Danny bergantian, kemudian cepat menghilang ke kamarnya. Ron dan Danny terperangah. Dan Tom tak menyilakan mereka untuk masuk. Ia berdiri sambil memegangi daun pintu. 128 "Tadi juga dia bilang mau ke New Jersey besok. Wartawan, ya?" kata Danny. "Ya," sahut Tom singkat. Berpanjang-panjang cuma menghabiskan waktu. "Sama kau perginya?" tanya Ron. "Tidak. Lupa, ya? Besok aku ada jadwal operasi." Lalu Ron menarik tangan Danny. "Ayolah, kita pergi, Dan. Sampai nanti, Tom!" Tom segera menutup pintu dan menguncinya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Betulkah itu adik iparnya?" tanya Danny kepada Ron. "Kalau dia bilang begitu, ya begitu." "Setahuku adik Tom satu-satunya sudah meninggal." "Memang." "Jadi itu jandanya?" "Entahlah. Kok tanya sama aku?" "Barangkali kau tahu. Kau kan sahabatnya." "Seorang sahabat tidak harus tahu semua, Dan." "Tapi kau kepengin tahu juga." "Ya. Untuk membuktikan bahwa Tom sudah pulih. Kita harus bergembira untuknya." Danny menggeleng tidak percaya. "Itu adik ipar. Bukan pacar!" sungutnya. Di apartemennya, Tom dan Susan sudah kembali duduk di depan meja makan. "Aku sudah khawatir kau akan menyilakan mereka masuk dan mengajak makan," kata Tom senang. 129 "Ah, ngapain ngajak orang asing. Mereka temanmu tapi bukan temanku. Lagi pula makanan ini takkan cukup buat mereka." Ya, Susan memang bukan Vivian, pikir Tom. "Aku punya usul, Sus. Teleponlah orangtuamu." Susan tertegun. "Mereka sangat ingin mendengar suaramu. Tentunya kau juga, bukan?" "Dari sini? Kan mahal, Tom." "Jangan menilai kebahagiaan dengan uang, Sus!" Susan tersenyum. "Terima kasih, Tom!" 130

http://inzomnia.wapka.mobi

V Jakarta, awal bulan Juni. Maria menunggu kepulangan suaminya dengan rasa tak sabar. Begitu Henry muncul ia langsung memberi tahu dengan penuh emosi kegembiraan, "Paaa! Tebak, siapa yang tadi menelepon?" Henry mengamati sejenak wajah istrinya. Ia tak susah menebak. "Susan!" serunya. "Papa pinterrr! Betul sekali. Dan tebak, dia menelepon dari mana?" Kembali Henry mengamati wajah Maria. Sekarang lebih susah menebaknya. Istrinya tampak begitu gembira. Mungkinkah terjadi sesuatu yang mustahil? Ia perlu mengatur suaranya. "Dari bandara?" tanyanya tegang. Maria menggeleng. "Ah, bukan. Ayo tebak!" "Nggak, ah. Menyerah saja." Henry tak sabar. "Dari apartemen si Tom. Dia menginap di sana." Henry ternganga sejenak. Itu adalah salah satu kemungkinan yang tak terpikir olehnya. "Tom?" tegasnya kemudian. "Ngapain dia di sana? Kok nginap? Apa mau sama-sama Tom ke Jakarta?" tanya Henry penuh harap. 131 "Begini, Pa. Katanya, dia mau ke New Jersey besok pagi. Ah ya, tentunya pagi-pagi waktu sana. Dia kerja sebagai wartawan lalu ditugaskan ke sana. Karena dekat ke tempat Tom, maka dia mampir untuk menitipkan sesuatu buat kita pada Tom." "Ah, kenapa tidak ditugaskan ke Jakarta saja ya, Ma?" kata Henry dengan sesal.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku juga bilang begitu kepadanya. Katanya, siapa tahu nanti, Ma. Suaranya sudah ceria lagi, Pa. Kayaknya ada harapan baru." "Harapan apa, Ma? Bahwa Susan akan membatalkan sumpahnya?" "Bukan. Tentang dia dan Tom." "Dia dan Tom bagaimana?" "Bukankah mereka bisa jadi pasangan yang cocok, Pa? Yang satu menggantikan yang lain. Kalau Susan nggak respek dan percaya sama Tom, mana mungkin dia mau menginap di apartemennya." Henry termenung sejenak. Maria terlalu antusias hingga Henry jadi takut kalau-kalau tidak kesampaian. Maria terlalu khawatir kalau-kalau Susan memilih orang asing sebagai jodohnya. "Kukira dia menginap di tempat Tom karena mau menitipkan barang buat kita." "Biarpun begitu Tom kan lelaki. Masa anak gadis menginap di apartemen lelaki yang sendirian?" "Di sana sudah biasa begitu." "Tapi buat orang kita itu tidak biasa. Apa kau menyangka Susan begitu gampang?" "Eh, kok jadi sewot, Ma? Bukan begitu maksudku. Aku cuma mau mengingatkan supaya kau jangan berharap terlalu muluk." 132 "Apa kau tidak senang kalau mereka jadi akrab?" "Oh, tentu aku senang. Tapi sebaiknya jangan senang duluan kalau belum tercapai." "Aku juga bicara dengan Tom. Katanya dia jadi datang akhir bulan. Dia tanya mau pesan apa dari sana? Aku bilang, maunya sih dia bawa Susan ke sini. Katanya, dia juga ingin begitu. Tapi

http://inzomnia.wapka.mobi

sekarang harus sabar dulu. Kudengar Susan bertanya keras dari sisinya. Sabar apaan? Kedengaran Tom menyampaikan ucapanku kepada Susan. Mereka ketawa-ke-tawa, Pa. Kedengaran akrab. Sama sekali tak ada nada emosi dalam suara Susan. Jadi aku bilang sama Tom, aku nggak mau pesan barang apa-apa, tapi kabar baik saja." "Wah, senang ya, Ma. Anak kita sudah pulih. Kita memang mesti bersabar, seperti kata Tom. Oh, nggak sabar rasanya menunggu dia datang." "Aku akan menelepon Ci Lien dan Koh Bun, ya?" kata Maria bersemangat. Kedua orang yang disebutkannya itu adalah ibu dan ayah Toni, suami-istri Lie, Lien Nio dan Bun Liong. Mereka lebih tua sekitar sepuluh tahun daripada Henry dan Maria. Henry tidak ingin memadamkan semangat istrinya. Dia sendiri juga bersemangat. "Ya. Telepon saja. Tapi yang tenang ngomongnya, Ma. Kalem saja." Maria tertawa saat meraih telepon. Dia senang kalau didukung Henry. Biasanya Henry suka mengkritik dirinya terlalu ribut dan terburu nafsu. Tapi dalam hal Susan, mereka berdua sepakat dan kompak. Tak lama kemudian Maria sudah terlibat dalam percakapan telepon yang tampak mengasyikkan. 133 Henry mengawasi dan mendengarkan di sampingnya. Ia melihat kebahagiaan di wajah istrinya. Maria meletakkan telepon, lalu memandang suaminya dengan wajah ceria. "Ci Lien senang sekali, Pa. Tom tidak menelepon mereka. Mungkin belum. Atau merasa tidak perlu menelepon

http://inzomnia.wapka.mobi

karena orangtuanya toh sudah tahu perihal kepulangannya nanti. Dan berita yang kusampaikan itu jadi kejutan besar buat Ci Lien. Senang sekali karena Susan bisa akrab sama Tom, katanya." "Syukurlah kalau begitu. Kau tidak menelepon Ike juga?" Maria tidak begitu bersemangat. "Mau juga sih. Tapi tidak perlu sekarang." Henry tersenyum. Ike memang agak jengkel kepada Susan yang dinilainya keras kepala dan tidak ingat sama orangtua. Jadi Maria tentu merasa percuma bila kegembiraan yang dirasakannya sekarang tidak bisa ikut dirasakan oleh yang dikabari. Berbeda dengan suami-istri Lie. Mereka adalah orang-orang yang sepenanggungan. "Pa, Ci Lien juga cerita tentang mantan besannya. Orangtuanya Vivian, Budiman dan istrinya," sambung Maria. "Kenapa mereka?" Pikiran Henry beralih kepada Budiman, konglomerat terkenal di era Orde Baru. Berita terakhir yang didengarnya, harta Budiman disita karena ia tak mampu melunasi utangnya yang besar kepada negara. "Sekarang mereka tinggal di Singapura." "Sama Viv?" "Viv masih di Jakarta bersama anaknya yang bule 134 itu. Katanya, Viv bekerja di suatu perusahaan asing dengan posisi yang bagus. Ci Lien bilang, ia bertemu dengan Viv secara kebetulan di pasar swalayan bersama anaknya. Viv bersikap hormat tapi canggung. Mungkin karena selama ini mereka tak ada hubungan." "Tak mengherankan. Ia tentunya masih malu."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tapi Ci Lien sudah tak dendam dan marah. Semua sudah berlalu, katanya. Ia terpesona melihat anak Viv. Cantik banget, katanya. Kayak boneka Barbie. Heran ya, Pa?" "Heran kenapa?" "Kok hasil selingkuh bisa bagus, ya?" Henry cuma tertawa. Kebersamaan mereka terusik oleh tangis bayi yang nyaring. Arahnya dari rumah sebelah, rumah Kristin. "Itu si Jason nangis. Nyaring sekali tangisnya ya, Pa? Punya bakat jadi penyanyi rupanya." Mereka diam mendengarkan. "Kok lama amat nangisnya. Cobalah tengok, Ma. Barangkali Kristin butuh bantuan." Maria tampak segan. "Ada Adam di rumah, Pa. Nggak enak sama dia. Nanti disangkanya mau ikut campur urusan mereka." Henry memaklumi. Sejak Kristin tahu mengenai kasus kematian Sonny di rumah yang ditempatinya dan kemudian mengonfirmasikannya kepada Adam, sikap Adam kepada dirinya dan Maria jadi dingin. Adam mengira merekalah yang menceritakan hal itu kepada Kristin. Tetapi karena Adam tidak pernah bertanya, maka mereka pun tidak bisa menjelaskan. Kurang enak juga bercerita kepada Adam perihal 135 keanehan yang diperlihatkan Kristin saat ia mengamati foto Sonny. Sedang Kristin sendiri tidak pernah mengungkit peristiwa itu. Mungkin Kristin sudah melupakannya atau memang tak ingin membicarakannya. Tapi Kristin tetap bersikap akrab pada mereka dan sering meminta tolong ini-itu bila ia menemui kesulitan saat merawat Jason.

http://inzomnia.wapka.mobi

Selama seminggu ibu Kristin dari Semarang menemani dan membantu Kristin merawat Jason. Kristin tidak mau menggunakan perawat bayi dan bertekad mengurusnya sendiri. Tetapi ibunya tidak bisa lama-lama menemani karena ayah Kristin yang sedang sakit memerlukan bantuannya. Maka Kristin kembali berpaling kepada Maria yang dengan senang hati selalu bersedia membantunya. Tapi bila ada Adam di rumah Kristin berusaha mandiri. Kristin berterus terang bahwa Adam melarangnya minta bantuan tetangga terus-terusan. "Maafkan sikap Adam, Tante," kata Kristin dengan malu. "Nggak apa-apa, Kris. Nanti juga dia biasa lagi," hibur Maria. Sesungguhnya Henry dan Maria merasa kesal atas sikap Adam itu. Seharusnya Adam berterima kasih kepada mereka. Bukan sebaliknya. Terima kasih Adam hanya terucap pada saat awal, setelah Kristin melahirkan dengan selamat. "Mestinya dia senang bahwa Kristin tidak mengajaknya pindah rumah setelah tahu sejarah rumah mereka," gerutu Henry. "Ya. Dia juga mesti bersyukur bukan dia yang memberitahu." 136 "Apa Kristin tidak menjelaskan dari mana dia tahu, Ma?" "Tidak. Mana aku berani tanya-tanya?! Sudahlah." Sementara itu tangis Jason terus terdengar. "Barangkali dia sakit," Henry menduga. "Heran, kalau sore-sore begini dia sering nangis, ya? Pagi dan siang dia manis sekali." "Ssst...." Henry menempelkan telunjuknya ke bibirnya. "Tuh, dengar." Kedengaran Adam berteriak keras, "He, diam! Diaaaam! Diaaaam!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Keduanya berpandangan. Bila suara dari rumah sebelah berhasil menembus tembok tebal hingga sampai ke telinga mereka, pastilah diucapkan dengan keras sekali. Mereka menjadi cemas. Patutkah mereka ikut campur? Kemudian tangis Jason berhenti. Suara Adam pun tak kedengaran lagi. Keduanya menjadi tegang. Kecemasan meningkat. Apa yang telah dilakukan Adam? Suara Kristin tidak kedengaran karena ia bersuara lembut. Maria menghambur ke depan rumah. Henry mengikuti di belakangnya. Ia khawatir kalau-kalau Maria lupa diri lalu menerobos ke rumah Adam. Tetapi setelah berada di halaman keduanya tertegun. Dari celah pagar mereka melihat Kristin sedang mendorong kereta bayi, berjalan pelan di trotoar, melewati rumah mereka lalu berbalik lagi. Kristin sedang membawa bayinya berjalan-jalan. Maria bergegas membuka pintu pagar lalu turun ke trotoar, menyusul Kristin. Henry tidak ikut. Ia hanya memandangi dari balik pintu. 137 Kristin menoleh dan tersenyum kepada Maria. "Sore, Tante," ia menyapa. "Sore, Kris." Maria menatap tajam sejenak. Tak tampak emosi di wajah Kristin. Ia mengalihkan tatapan kepada si bayi. "Hai, Jason!" sapanya sambil membungkuk. Jason yang terbungkus selimut linen tampak tenang. Matanya terbuka tapi tidak memperlihatkan kegelisahan. Anak itu masih terlalu kecil untuk bisa bereaksi terhadap sapaan orang. Tapi ketenangannya mengherankan Maria. Salahkah pendengarannya barusan?

http://inzomnia.wapka.mobi

Maria menegakkan tubuhnya. "Tadi kudengar dia menangis, Kris. Cukup lama. Apa dia sakit perut?" Kristin menarik pelan lengan Maria dengan tangannya yang satu, sementara tangan yang lain mendorong kereta. Mereka berjalan pelan-pelan. "Mas Adam lagi ngeliatin, Tante," bisik Kristin. "Memangnya kenapa, Kris?" "Entahlah, Tante. Dia lagi marah-marah. Habis Jason nangis melulu kalau dia dekati. Saya jadi bingung." "Jadi nangisnya tadi karena didekati?" "Iya, Tante. Adam bertahan di dekatnya, ingin menyentuhnya. Tapi Jason menolaknya dengan tangisan. Kenapa, ya?" keluh Kristin. Maria juga tak mengerti. Baru sekarang Kristin mengatakannya. Jadi itukah sebabnya Jason menangis berkepanjangan? "Apa sejak semula Jason begitu?" "Tiga hari pertama nggak, Tante. Adam bisa menggendongnya dengan leluasa. Jason tenang-tenang saja. 138 Tapi setelah matanya terbuka..." Kristin tidak meneruskan ucapannya. "Apa maksudmu setelah matanya terbuka?" tegas Maria. Mereka berbalik lagi kembali ke arah semula. Lalu Kristin berhenti melangkah. "Setelah mata Jason terbuka, ia sepertinya mulai mengenali orang-orang yang berada di dekatnya. Lalu memilih siapa yang disukainya dan siapa yang tidak disukainya. Sama Mama dia tidak ada masalah. Tapi sama Adam..." Kristin mengeluh panjang.

http://inzomnia.wapka.mobi

Mereka berjalan lagi. Pelan-pelan. "Sama aku dan Oom juga dia nggak masalah. Ya kan, Son?" Maria mengarahkan tatapannya kepada Jason. Tampak mata bayi itu berkedip-kedip. Sayang dia belum bisa diajak tertawa, pikir Maria. Tiba-tiba Kristin tersentak. Ia berhenti melangkah. Tatapannya kepada Maria terasa aneh. "Oom dan Tante selalu memanggilnya 'Son', kan? Mama juga. Demikian pula saya dan Bi Iyah. Tapi Adam memanggilnya 'Jeis'. Apa karena itu, ya?" Ia termenung sesudahnya. "Kalau begitu, cobalah suruh dia mengubah panggilannya, Kris." Sebelum Kristin menjawab mereka melihat Adam di depan rumahnya, tangannya melambai kepada mereka. Isyarat memanggil. Mereka mempercepat langkah. Sebelum memasuki halaman rumahnya, Maria melambai kepada Adam tapi Adam tidak membalasnya, ia malah memalingkan muka. Henry menyambut istrinya. "Daaag, Tante! Oom!" sapa Kristin tanpa menghentikan langkahnya. 139 Maria dan Henry tak segera masuk ke rumah. Mereka mendengar gerutuan Adam, "Ini kan sudah magrib, Kris. Masa bayi dibawa jalan-jalan. Mana mau hujan lagi!" Henry menarik tangan Maria, membawanya masuk. "Jangan begitu sama mereka, Mas!" protes Kristin. "Mereka tetangga yang baik. Kalau tak ada mereka..." Ucapan Kristin terhenti karena Jason menangis. Kristin mengangkatnya. Ketika Adam mendekat, Jason menangis makin

http://inzomnia.wapka.mobi

keras. Kristin cepat berlari masuk sambil membawa Jason dalam gendongannya. Tak terdengar lagi tangis Jason. Adam tidak mengikuti. Ia hanya memandang ke dalam dengan ekspresi geram. Urat-urat di kening dan lehernya bertonjolan. Kepalanya serasa mau meledak oleh kemarahan. Bayangkan, ditolak oleh anak sendiri! Ia berjalan hilir-mudik, mencoba menenangkan emosinya. Setelah capek ia menjatuhkan diri di sofa lalu termangumangu. Perasaannya benar-benar tertekan. Anak itu menerima semua orang, tapi menolak dirinya. Cuma dirinya! Kenapa? Apakah dia tampak mengerikan? Atau dia mengeluarkan aroma tak sedap? Terdorong oleh rasa penasarannya ia sudah melakukan semacam penelitian. Kalau Jason didekati pada saat sedang tidur, ia tenang-tenang saja. Tapi begitu disentuh lalu matanya terbuka dan beradu pandang dengannya, melengkinglah tangisnya! Tangis Jason begitu mengejutkan dirinya sampai jantungnya serasa mau berhenti. Rasanya konyol sekali. Masakan dia sebagai si ayah mesti mengendap-endap seperti maling. 140 Yang membuat ia sangat marah adalah ketika Kristin, ibu Kristin, dan Bi Iyah menerobos masuk kamar bayi dan semua memandangnya dengan penuh kecurigaan. Apa yang telah kaulakukan kepada Jason? Apa dia kaupukul atau kaucubit? Mustahil dirinya sudah segila itu! Ia sangat menyesal telah menyetujui pemberian nama Jason oleh Kristin. Tetapi waktu itu ia sedang merasa bersalah karena tidak bisa mendampingi Kristin pada saat melahirkan,

http://inzomnia.wapka.mobi

hingga ingin menyenangkan hatinya. Anggaplah sebagai imbalan dari kesalahan yang telah dilakukannya. Tetapi dalam perkembangan kemudian, ia jadi merasa tersiksa oleh panggilan orang-orang kepada si bayi. Son! Son! Sooon! Begitu celoteh mereka. Panggilan itu jadi mengingatkannya kepada seseorang. Sonny! Sepertinya panggilan itu bisa membangkitkan si mati dari liang kuburnya. Jadinya terbalik. Bukan Kristin yang merasa terganggu oleh riwayat rumah itu, tapi dirinya! Bukan Kristin yang patut dicemaskan, tapi dirinya sendiri! Dari sofa tempatnya duduk Adam bisa melihat di mana dulu Sonny terkapar. Di sudut dinding, di situ sekarang berdiri sebuah lemari antik. Di sanalah ia telah meninggalkan Sonny dalam keadaan tak berkutik. Entah masih hidup atau sudah mati. Kepalanya berdarah. Di sampingnya tergeletak sebuah guci kuno dari tembaga berlapis emas yang bernoda darah. Guci itulah yang digunakan untuk menghantam kepala Sonny. Ia bisa mengenang kembali kejadiannya dengan 141 jelas. Memang belum terlalu lama. Pertengahan Mei 1998. Ketika itu mereka sedang membicarakan rencana kerja. Sonny memenangkan tender proyek pembangunan kompleks perumahan bagi karyawan staf sebuah perusahaan besar BUMN, ia lalu mengajaknya bekerja sama. Mereka hanya berdua di rumah itu. Suasana antara mereka baik-baik saja. Lalu Sonny mengatakan dengan nada gurau, "Kemarin aku mengambil uang, Dam. Deg-degan juga, takut dirampok. Habis lumayan gede jumlahnya. Setengah juta!" Ia menunjuk laci meja di sampingnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Adam tertawa. Apakah uang setengah juta itu bisa dibilang lumayan gede? Tampaknya Sonny memahami tawa Adam. "Bukan rupiah lho, Dam! Tapi dolar!" Adam tertegun. Tentu saja, kalau dolar itu lain lagi. Sonny menarik laci meja yang tadi ditunjuknya. Mata Adam terbelalak. Tampak tumpukan uang kertas bergambar George Washington. Cuma sebentar saja. Sonny cepat-cepat mendorong lagi laci itu sambil tertawa bangga. "Untuk apa uang sebanyak itu, Pak?" Adam heran tapi jantungnya berdebar. Ia juga bertanya-tanya kenapa Sonny membanggakan uang sebanyak itu kepadanya. Begitu percayakah Sonny kepadanya? Atau ingin menyombong saja? "Untuk bisnis dong, Dam! Sekarang rupiah lagi merosot nilainya. Mending simpan dolar." "Kok simpannya di rumah?" "Sebagian mau kukirim untuk Susan. Aku mau investasi di sana. Jadi peternak domba!" 142 "Lho, katanya mau bisnis di sini." "Yang di sana buat Susan. Jadi kalau di sini tidak jalan, masih ada yang lain." Adam tertegun. Tiba-tiba saja rasa iri menguasainya. Tampaknya mudah saja bagi orang kaya untuk merencanakan ini-itu. Tidak seperti dirinya yang selalu susah. Bila dia yang memiliki uang sebanyak itu mungkin ia akan mendepositokannya saja lalu hidup dari bunga tanpa susah-payah bekerja. Dengan demikian uangnya akan aman tanpa risiko habis bila dia jatuh bangkrut. Enak amat si Sonny ini. Dari mana duitnya itu? Pasti

http://inzomnia.wapka.mobi

dari orangtuanya. Ah, enak sekali punya orangtua kaya. Tidak seperti dirinya, sudah yatim-piatu dan tak pula mendapatkan warisan berharga. Lalu tatapan Adam tertuju ke arah guci antik sebesar kepala orang dewasa yang terletak di atas meja kecil di sebelahnya. Guci itu berwarna kuning di sebelah luar, tapi dalamnya kehitaman. Beberapa sisinya dihiasi relief yang tak jelas bentuknya. Ia mengangkatnya. Ternyata berat. "Itu kepunyaan Papa," Sonny menjelaskan. "Warisan turuntemurun. Entah dari abad keberapa. Tapi kalau tak salah dengar, dulu pernah digunakan sebagai tempat menyimpan abu jenazah nenek moyangku." Adam cepat-cepat meletakkannya lagi. Ngeri. "Kok sekarang kosong? Ke mana abunya?" ia ingin tahu. "Oh, katanya itu disebar di laut setelah keturunannya mendapat mimpi." Kemudian Sonny berdiri. "Kita pelajari lagi gambar yang kaubuat itu, Dam," katanya, lalu membelakangi 143 Adam. Tangannya menarik laci yang bersebelahan dengan laci tempat tumpukan dolarnya. Tatapan Adam tertuju ke laci yang kedua itu. Ia membayangkan tumpukan uang yang sangat menggoda. Tiba-tiba ia tak bisa menguasai diri. Ia menyambar guci tadi, melompat ke belakang Sonny lalu memukulkan guci itu sekuat-kuatnya ke belakang kepala Sonny. Begitu cepat gerakannya dan begitu keras pukulannya hingga Sonny cuma berteriak sekali, lalu terkapar tanpa bergerak lagi. Kemudian guci yang dijadikan pemukul dilemparkannya ke sudut.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sesudah itu ia bergegas mencari kantung plastik. Ke dalamnya ia masukkan bundelan uang dolar dari dalam laci tadi. Sesekali ia melirik Sonny yang terkapar. Sonny tetap diam. Tiba-tiba telepon berdering mengejutkannya. Ia terpaku sejenak. Ragu-ragu apakah akan membiarkannya saja atau mengangkatnya. Akhirnya diangkatnya juga. "Halo?" "Sonny?" sapa suara lelaki. "Ya. Ini Sonny," sahut Adam. "Dari mana?" "Son, ini David. Kau sudah tahu tentang kerusuhan yang sedang terjadi di Jakarta? Toko-toko dijarah. Beberapa kantor cabang bank BCA dibakari. Mobil dan motor dibakari. Ada yang dibunuh juga." "Oh, begitu?" Adam terkejut juga. Dia sama sekali tidak mengikuti perkembangan di luar. Sonny juga tidak menyinggung soal itu sebelumnya. "Hati-hati saja. Waspada. Kabarnya, perusuh mengincar pemukiman mayoritas Tionghoa. Amankan barang-barang berharga!" "Oke. Terima kasih!" 144 Adam mempercepat kerjanya. Ia tentu tak ingin harta yang barusan diperolehnya dirampas perusuh. Ia mengenakan jaket milik Sonny, menjejalkan kantung berisi uang dolar itu ke balik dadanya. Gembungnya tak begitu kentara. Sebelum pergi ia menatap Sonny lagi. Tak ada waktu untuk memeriksa apakah Sonny sudah mati atau belum. Kemudian muncul ide dari informasi lewat telepon tadi. Ia bergerak cepat mengobrak-abrik ruangan itu. Beberapa barang

http://inzomnia.wapka.mobi

dipecahkannya. Meja-kursi dibalikkan. Isi laci-laci ia tumpahkan ke lantai. Tumpukan kertas ia sebarkan di sekitar tubuh Sonny. Tapi ia tak punya waktu banyak untuk melakukan hal yang sama di ruangan lain. Kemudian ia mendorong motor Sonny ke halaman dan mengenakan helm yang tergantung di setangnya. Pintu dikuncinya dari luar, lalu kuncinya ia lemparkan ke dalam lewat lubang angin. Pintu pagar ia rapatkan. Begitu turun ke jalan ia tak lagi menengok kiri-kanan apalagi ke belakang. Ia tak berpapasan dengan siapa-siapa. Jalanan sepi. Ia meluncur dengan kencang. Dengan membawa motor Sonny, mengenakan jaket dan helmnya, orang akan mengira dia adalah Sonny, bila kebetulan orang tersebut mengenali nomor motornya. Ia melihat kerusuhan-kerusuhan kecil di beberapa tempat yang dilaluinya. Asap hitam membubung di sana-sini. Ia sangat ketakutan. Ia juga bingung memilih jalan mana yang aman. Akhirnya ia terjebak di jalan yang dipenuhi massa. Ia dicegat dan disuruh berhenti. "Buka helmnya! Bukaaa!" bentak orang-orang itu. 145 Ia terpaksa membuka helmnya. Orang-orang mengerumuninya. Mereka mengamatinya. "Eh, kamu Cina atau bukan?" "Bukan!" serunya dengan gemetar. Ada suara-suara tidak percaya. Lalu seseorang menyeruak dari kerumunan dan mendekati Adam. Ia berkata, "Aku kenal Pak Adam Jaka! Dia bukan Cina!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Adam mengenali Angga, remaja yang suka berkeliaran dekat proyek perumahan Pantai Nyiur Melambai. Untunglah ia selalu berlaku baik kepadanya. Angga suka minta uang rokok. Kadangkadang ia berikan, kadang-kadang tidak. Sekarang ia menyesal karena dulu tidak memberinya uang lebih banyak. "Kalau bukan, pergilah!" bentak seseorang. "Pergilah, Pak!" tegas Angga. "Tinggalkan motornya! Bakar!" Tanpa disuruh dua kali Adam mematuhi perintah itu. Ada yang mendorong tubuhnya dari belakang. Ia berlari. Ketika merasa berada pada jarak yang cukup aman, ia berhenti lalu menoleh ke belakang. Ia melihat motor milik Sonny itu sudah dijilat api. Ia kembali berlari. Pada saat itu orang-orang berlarian di mana-mana. Takkan ada orang yang mencurigainya sebagai maling. Apalagi pembunuh. Belakangan ia mendengar musibah yang menimpa kawasan Pantai Nyiur Melambai, dan apa yang terjadi pada rumah Sonny dan rumah-rumah lainnya. Sonny juga ditemukan telah hangus. Tetapi orang mengira Sonny dibunuh perusuh. Jejaknya di sana sudah lenyap sama sekali. Ia merasa bersyukur. Ia telah diselamatkan perusuh! Meskipun Angga punya andil 146 dalam menolongnya, tapi ia juga diselamatkan bentuk wajahnya yang tidak mewarisi gen keturunan Cina dari neneknya di pihak ibu! Seandainya ia punya kemiripan fisik dengan neneknya, pastilah nyawanya sudah melayang. Demikian pula dolarnya! Dalam banyak situasi di masa lalu ia memang kerap mensyukuri hal itu. Untung ia punya wajah pribumi. Untung garis keturunan itu dari pihak ibu. Seandainya dari pihak ayah, pastilah ia punya

http://inzomnia.wapka.mobi

kerepotan lain, yaitu masalah surat kewarganegaraan. Ia juga sering terselamatkan bila berada dalam situasi diskriminasi rasial. Dia selalu digolongkan sebagai asli atau pri. Karena itu kalau ia mendengar orang meributkan masalah ras dan etnis, terutama masalah asli dan tidak asli, atau pri dan nonpri, ia merasa geli dalam hati. Sesungguhnya, orang yang suka ribut atau menyatakan dirinya asli itu, benarkah asli tanpa ada campuran apa-apa di dalam darahnya? Apakah dia bisa menelusuri dengan pasti siapa saja nenek moyangnya? Sebagian uang rampokan itu digunakannya untuk membeli rumah yang ditempatinya sekarang dan kemudian dibangunnya kembali. Jadi ia merasa berjasa pada rumah itu, hingga pantaslah jika ia menempatinya tanpa perasaan bersalah apalagi takut. Lihatlah rumah-rumah lain di seputar kawasan itu. Bagaikan peninggalan perang. Padahal ia bisa saja memilih rumah lain dan kemudian merenovasi atau membangunnya. Tetapi ia memilih yang itu! Ia yakin, orang tak bisa pasif saja menjalani hidup seperti apa adanya bila menginginkan kemajuan. Nasib tak bisa mengubah orang kalau orang itu 147 sendiri tak berbuat apa-apa. Jadi sikap dan perilaku radikal perlu. Ternyata ia bisa hidup aman dan nyaman. Sampai ia bertemu dengan Harun! Muncul pertanyaan yang terus mengganggu. Apakah Harun benar-benar tidak mengenalinya dari belakang? Harun menganggap dirinya adalah Sonny yang pergi dan kemudian kembali lagi. Apakah pendapatnya itu tidak berubah sampai sekarang? Kata Harun, sesudah perbincangannya dengan Maria

http://inzomnia.wapka.mobi

ia mulai memikirkan soal itu lagi. Ia bertanya-tanya, kenapa Sonny kembali lagi padahal sudah tahu ada kerusuhan. Apa iya Sonny lebih mementingkan harta daripada nyawa dan keselamatannya sendiri? Maria yang telah mempermasalahkan hal itu kepada Harun. Seandainya Maria tidak bawel, pastilah soal itu terkubur terus untuk selamanya. Adam sangat jengkel kepada Maria. Akibatnya sekarang ia terus-menerus merasa penasaran mengenai apa dan bagaimana kelanjutan pemikiran Harun. Apalagi lalu Harun punya gagasan untuk berkunjung ke perkampungan yang terletak di belakang kawasan Pantai Nyiur Melambai, yang biasa disebut Kampung Belakang. Menurut Harun, ada informasi bahwa sebagian besar penjarah datang dari perkampungan itu. Harun ingin menyelidiki, apakah mereka tahu siapa yang telah memasuki rumah Sonny dan membunuhnya? Adam melarangnya melakukan hal itu karena berbahaya bagi keselamatannya. Siapa yang rela dituduh menjarah, apalagi membunuh? Tetapi Harun tidak memberi kepastian apakah dia memang akan melaksanakan niatnya atau tidak. Jadikah Harun melakukan penyelidikannya? Dan kalau 148 jadi, apa hasilnya? Karena penasaran itulah ia jadi sering menghubungi Harun seolah ia masih merasa akrab dan dekat dengannya. Padahal sesungguhnya ia ingin sekali menjauh dan tak pernah berhubungan dengannya lagi. Orang seperti Harun adalah bagian dari masa lalunya yang kelam, yang tak ingin diingat-ingatnya lagi. Tapi rasa ingin tahu memaksanya mendekat. Dan itu cukup menyiksa perasaannya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sekarang anaknya sendiri pun ikut menyiksanya. Ia tak mengerti. Tak ada yang mengerti. Kristin dan ibunya menganjurkan agar ia mendekati Jason dengan lembut dan hati-hati. Saran itu sudah diikutinya. Tetapi tak ada gunanya. Anak itu melihat dirinya seolah dia adalah monster yang mengerikan. Tapi mana mungkin anak sekecil itu sudah merasa takut? Kadang-kadang nalurinya mengatakan anak itu bukan takut kepadanya, melainkan tidak suka! Ia juga tahu, Kristin merasa khawatir kalau-kalau suatu saat ia sampai lupa diri dan saking marahnya lalu mencederai Jason. Memang Kristin tak mengungkapkannya dengan kata-kata, tapi ia bisa merasakannya. Itu membuatnya semakin marah. Sungguh kekhawatiran yang tidak masuk akal. Mana mungkin ia mencederai seorang bayi lemah yang cuma bisa menangis. Anaknya sendiri, lagi! "Mas...,", tegur Kristin lirih. Ia mendekat lalu duduk di sisi Adam. Adam tidak menoleh. "Dia sudah tidur?" tanyanya. "Sudah. Apa yang sedang kaupikirkan?" tanya Kristin hati-hati. "Apa lagi...?!" 149 "Sabar saja, Mas. Mungkin dia sedang menguji kasih sayangmu." Adam tertawa sinis. "Anak sekecil itu? Kalau dia sudah lebih besar aku bisa memahami. Tapi ini?" "Siapa tahu, Mas. Dia punya kepekaan yang tidak kita pahami." "Ah, kau sok tahu saja!" Kristin diam sejenak, mengamati wajah Adam dari samping. Ia tidak merasa jengkel karena dibentak. Ia justru merasa iba.

http://inzomnia.wapka.mobi

Bayangkan kalau dirinya yang "ditolak" anak sendiri tanpa alasan. Justru sikap Adam yang kesal seperti itu menandakan bahwa ia sayang kepada Jason dan karenanya ingin diterima. "Mari kita bicarakan dan cari pemecahannya, Mas," katanya lembut. Adam menoleh. Ekspresi Kristin yang mengandung simpati ternyata malah membuatnya semakin jengkel. Sepertinya dia adalah orang yang malang dan patut dikasihani. "Pemecahan apa?" tanyanya sinis. "Aku punya pemikiran. Pertama, sikapnya itu mungkin disebabkan karena kau menyalahi janji..." "Janji apa?" potong Adam dengan suara tinggi. "Dulu kau pernah berjanji untuk mendampingi aku saat melahirkan. Janji itu tidak kautepati. Ia tidak melihatmu begitu lahir. Mungkin dia kecewa...." Adam tertegun. Baru sekarang soal itu dikemuka-kan Kristin. Sebelumnya Kristin tak pernah menyesali atau menyatakan kekecewaannya. Ia mengira hal itu disebabkan karena Kristin memang tidak memerlukan kehadirannya saat itu. "Mana mungkin, Kris," ia memotong ucapan 150 Kristin yang belum selesai. "Anak itu kan belum bisa melihat pada saat lahir. Jangan-jangan kamulah yang kecewa." "Ya. Aku memang kecewa saat itu, Mas. Tapi aku bisa mengatasinya. Orang kan tak selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Mengenai Jason, dia memang tak bisa melihat pada saat itu. Tapi siapa tahu dia punya sense yang tinggi: Dia merasakan ketidakhadiranmu."

http://inzomnia.wapka.mobi

Adam membelalakkan matanya. "Nonsense!" serunya. "Teori apaan itu?" Kristin tak segera bicara. Sikap Adam mulai membangkitkan kejengkelannya. Melihat Kristin cemberut, Adam buru-buru mengubah sikapnya. "Sori, Kris. Sebaiknya kaulanjutkan saja, ya?" katanya ramah. "Baiklah. Apa yang kukatakan ini memang cuma teori, Mas. Semuanya belum tentu. Tapi tak ada salahnya kita kaji, kan? Nah, yang tadi itu yang pertama. Lalu yang kedua, soal namanya. Semua orang memanggilnya 'Son'. Tapi kau lain sendiri. Kau memanggilnya 'Jeis'. Memang sih, itu sama saja. Tapi siapa tahu dia lebih suka dengan panggilan pertama. Dia tidak suka dengan panggilanmu. Jadi, cobalah dengan panggilan 'Son'. Mungkin dia akan senang." Adam tertawa sinis. Tapi melihat ekspresi Kristin ia cepat menghentikan tawanya. "Bagaimana, Mas? Mau mencoba?" Adam termangu. "Tak ada salahnya, kan? Apa sih artinya nama?" desak Kristin. 151 "Oke. Nanti kucoba," sahut Adam akhirnya. Tak ada gunanya berdebat soal itu, pikirnya. Kristin tersenyum senang. "Memang kedengarannya konyol ya, Mas. Tapi kita kan harus mencari solusi. Masa diam saja." Mana kau tahu pemikiranku, pikir Adam kesal. "Baiklah, Kris. Kau benar. Kita harus berbuat sesuatu sebelum sarafku rusak. Tapi aku mau tanya. Kenapa sih kau tiba-tiba memberinya nama 'Jason', padahal sebelumnya kau sudah menyediakan puluhan nama untuknya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Oh, itu. Entahlah. Mungkin karena namanya ide, bisa tiba-tiba datangnya." "Aneh. Yang datang tiba-tiba malah kauambil." Kristin tersenyum, tak memahami apa yang berkecamuk dalam pikiran Adam. "Tapi semua orang bilang, nama itu bagus! Juga Oom dan Tante di sebelah!" Adam melotot. Malam itu suasana tenang. Jason yang berada di kamar bayi yang bersebelahan dengan kamar tidur Adam dan Kristin tidak terusik. Pintu yang menghubungkan kedua kamar terpentang lebar untuk memudahkan Kristin bila ingin menjenguk Jason. Tetapi ketenangan suasana tidak membuat Adam tidur nyenyak. Padahal Kristin di sampingnya sudah mendengkur halus. Adam masih saja memikirkan teori yang dikemukakan Kristin sebelumnya. Lalu perasaannya tergelitik. Ada baiknya mencoba, lalu melihat hasilnya. Tapi ia ingin secepatnya. Bagaimana kalau sekarang? Mumpung Kristin. sedang tidur. Apa pun hasilnya Kristin tidak bisa mengomentari. 152 Sebenarnya ada rasa enggan mengikuti anjuran Kristin tadi. Bukan karena ia tak menginginkan perubahan yang positif, tetapi karena itu ide Kristin. Kristin akan bertepuk dada bila ternyata idenya itu berhasil. Dia akan tampak sebagai suami yang kalah cerdas daripada istri. Lalu Kristin akan selalu menggunakan isu itu untuk membenarkan pendapatnya mengenai segala sesuatu. Dengan ngeri ia membayangkan bagaimana kelak bila Jason sudah besar, kedua ibu dan anak itu akan bersatu melawan dirinya. Bila dua melawan satu, maka sudah jelas siapa yang akan kalah.

http://inzomnia.wapka.mobi

Perlahan-lahan Adam bangkit. Hati-hati, supaya Kristin tidak terbangun. Setelah Jason hadir, Kristin cepat sekali terbangun bila mendengar bunyi apa pun. Padahal dulu sulit membangunkannya. Seperti langkah maling ia berindap-indap menuju kamar bayi. Di sana lampunya selalu dibiarkan menyala. Ia melihat Jason sedang tidur dalam boksnya yang berkelambu. Beberapa saat lamanya ia berdiri memandangi. Ah, seharusnya ia bangga. Anak itu sehat dan tampan. Mungkin setelah lebih besar baru tampak kemiripan dengan dirinya. Kulitnya putih seperti Kristin. Pipinya yang montok kemerah-merahan. Sungguh menggemaskan. Orang lain, seperti para tetangga, bisa seenaknya mencolek-colek, menggendong dan menciumi. Tapi dia, si ayah kandung, kenapa tak bisa? Bukankah anak itu miliknya? Dia yang paling berhak! Ada dorongan tak tertahankan. Ia menguak kelambu. Masih dengan perhatian terfokus kepada wajah Jason, ia memanggil dengan suara gemetar, pelan 153 tapi jelas, "Son! Sooon...!" Nada suaranya diiramakan. Lembut dan merayu. Jason membuka matanya. Tampak jernih dan bening. Adam tersenyum. "Son! Son! Ini Papa!" panggilnya dengan jantung berdebar. Apakah Jason akan membuka mulutnya lebar-lebar lalu melancarkan tangisnya yang melengking? "Sekarang Papa memanggilmu Son! Dengar?" ia menegaskan dengan perasaan seperti orang bodoh. Tiba-tiba Adam terkejut tak kepalang. Jason tidak menangis. Ia cuma balas menatap. Tetapi kemudian Adam melihat wajah

http://inzomnia.wapka.mobi

Jason bukan wajah bayi lagi, melainkan wajah Sonny! Itu adalah ekspresi Sonny dengan mata terbelalak, seperti yang dilihatnya terakhir kali! Adam melompat ke belakang lalu jatuh terduduk ketika terdengar bunyi melengking. Itu bukanlah tangis Jason, melainkan jerit kesakitan Sonny! Jeritan itu begitu keras dan menyayat! Adam berlari ke luar lalu bertubrukan dengan Kristin. Wajah Kristin pucat dan matanya menampakkan ketakutan. "Kenapa, Mas? Ada apa dengan Jason?" Lalu tanpa memedulikan Adam atau menunggu jawaban, Kristin menghambur menuju boks Jason. Adam tak menjawab. Ia terus berlari ke kamarnya sendiri lalu melompat ke atas tempat tidur. Ia merebahkan tubuhnya dengan posisi miring, dan menutupi wajah dan telinganya dengan bantal. Biarpun telinganya sudah ditekan dengan bantal, ia masih bisa mendengar suara Kristin yang tengah membujuk Jason. 154 "Ceeep... ceeep... Sayang. Sudah, ya? Bobo lagi, ya?" Tangisan Jason sudah berubah menjadi isakan. Kedengaran sedih dan manja. Setelah kagetnya mereda, rasa marah melanda Adam. Ia marah kepada Kristin, kepada Jason, dan kepada dirinya sendiri. Kenapa ia mau saja mengikuti saran Kristin dan memperbodoh dirinya sendiri? Mulai saat ini ia tidak akan lagi memanggil anak itu dengan sebutan "Son". Ia akan mencari nama lain. Dan kalau masih juga tak mau, ya sudah, tak perlu dipanggil. Apa pedulinya? Ia tidak takut.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kristin masuk. "Jason sudah tidur, Mas," katanya pelan. Adam tidak menyahut. Kristin duduk di tepi tempat tidur, di sisi Adam. "Memangnya kau ngapain tadi, Mas?" Tiba-tiba Adam melempar bantalnya ke pinggir, lalu melompat duduk. Kristin tersentak kaget. "Kaupikir aku ngapain? Menganiaya dia?" bentaknya. Kristin terperangah, tak menyangka. "Bukan begitu, Mas. Tapi... nangisnya kok gitu, ya?" katanya pelan. "Kalau mau tahu kenapa, tanya dia dong! Jangan nanya aku!" "Ah, mana bisa dia ditanyai? Kau yang mendekatinya, kan? Ngapain kau di situ, Mas?" Kristin mulai jengkel. "Memangnya aku tidak boleh ke situ? Apa aku tidak boleh menjenguknya?" "Oh, kau menjenguknya?" Suara Kristin melembut. Simpati. 155 "Ya. Tapi aku tidak akan melakukannya lagi. Tidak akan!" Kristin terkejut. "Jangan begitu, Mas. Dia kan anakmu. Kau harus bersabar." "Gantilah namanya!" seru Adam. Seperti ultimatum. "Mana mungkin? Sudah terdaftar begitu." "Yang sudah terdaftar, ya sudah. Tapi ganti panggilannya. Apa saja. Asal jangan yang itu!" "Kenapa?" "Jangan tanya kenapa. Pendeknya aku tidak suka!" "Dulu kau terima saja." "Waktu itu lain. Nyatanya sekarang dia selalu menangis." "Besok panggillah dia 'Son', Mas. Kita lihat reaksinya, ya?" bujuk Kristin. "Pendeknya, ganti namanya!" "Tidak, Mas!"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apa susahnya sih? Mumpung dia masih kecil." "Aku suka nama itu!" "Keras kepala!" "Biar!" Sesaat keduanya terdiam. Lalu Kristin bangkit, memutari tempat tidur untuk naik ke sisi yang satunya. Ia merebahkan diri dengan memunggungi Adam. Ia berusaha keras agar tidak menangis. Adam masih dalam posisi setengah duduk., Ia melonjorkan kakinya. Wajahnya masih menampakkan kemarahan. Tatapannya berpindah-pindah, dari Kristin di sebelahnya ke arah kamar bayi. Berganti-ganti beberapa kali. Lalu ia berkata dengan suara yang 156 dingin, "Anak itu tidak suka kepadaku, kan? Dia benci aku, kan?" Kristin tidak menjawab. Ia juga tidak menoleh. "Kira-kira aku tahu sebabnya!" Adam melanjutkan. Kristin berbalik. Sekarang tubuhnya telentang dan matanya menatap Adam. "Apa?" tanyanya pelan. "Aku bukan ayahnya!" Adam meledakkan unek-uneknya. "Apa?!" teriak Kristin sambil melompat bangun. Wajahnya mengekspresikan kemarahan. "Kau menuduh aku?" serunya. Adam menatap Kristin. Tatapan dan ekspresinya dingin sekali hingga Kristin tak sanggup beradu pandang lama-lama. Ia merasa ngilu dan pedih. "Bagaimana mungkin kau menuduhku sekejam itu, Mas?" "Aku tidak menuduh. Tapi menyimpulkan." "Sama saja."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kau bilang, anak itu mungkin punya kepekaan. Nah, cuma itu satu-satunya penyebab yang paling mungkin. Dia tahu aku bukan ayahnya!" "Jadi kau mengambil kesimpulan dari situ? Gampang amat!" "Itu yang paling masuk akal!" "Itu sih akal orang idiot!" "Apa? Kau menyebutku idiot?" Adam melotot. Mukanya merah. Napasnya sesak. Kedua tangannya dikepalkan. Kristin bersikap siaga. Ia sudah bertekad, kalau sampai dipukul, ia akan melawan. Orang yang berada di pihak yang benar tidak perlu merasa takut. Tetapi emosi Adam cepat surut. Ia merebahkan tubuhnya sambil membelakangi Kristin, lalu menarik 157 selimut sampai menutupi setengah mukanya. Sikapnya menandakan ia tak mau lagi memasalahkan hal itu. Kristin masih penasaran, tetapi sadar tak ada gunanya melanjutkan pertengkaran itu. Ia tak ingin berada di samping Adam. Maka ia ke kamar bayi. Di sana ada dipan yang biasa digunakannya untuk tidur-tiduran di siang hari, sebelum dan usai menyusui Jason. Kristin mengamati Jason yang tidur lelap. Matanya menjadi basah. Kasihan anakku. Apa jadinya kau bila tak diakui ayahmu sendiri? Tak disayang masih lebih baik daripada tak diakui! Ia merebahkan tubuhnya di atas dipan. Terasa lelah sekali. Tak berapa lama kemudian ia tertidur. Di dalam boksnya Jason membuka mata. Tampak bulat dan jernih. Sepasang mata di wajah mungil tak berdosa. Biji matanya bergerak-gerak pelan.

http://inzomnia.wapka.mobi

*** Maria memeluk Kristin. Wajahnya penuh simpati. Ia juga mengusap kepala Jason yang terbaring di keretanya. "Jangan langsung menganggapnya serius, Kris," hibur Maria. "Ingat. Dia lagi stres. Bayangkan saja. Dia sangat ingin menggendong dan mencium anaknya, tapi tak bisa. Maka saking frustrasinya, dia ngomong macam-macam." "Tapi kok begitu ngomongnya, Tante? Itu kan kelewatan." "Orang stres memang suka begitu. Jangan pandang 158 enteng, Kris. Hati-hati. Ada yang sampai bunuh diri lho." Kristin tertegun dengan ekspresi cemas. Maria adalah orang yang paling dekat dan sudah memahami persoalannya, hingga ia bisa mengadu tanpa merasa risi. Ketakutan kalau kalau dirinya atau Jason sampai diapa apakan oleh Adam menimbulkan rasa kebutuhan akan bantuan orang lain. Padahal sebelum pergi tadi pagi Adam sudah mengingatkan, "Jangan ceritakan masalah kita kepada tetangga! Aku tak mau mereka ikut campur! Aku tak mau jadi bahan tertawaan orang!" "Mereka sudah banyak membantu kita, Mas! Ingat budi mereka dong!" "Tapi kau juga harus ingat aku, Kris! Aku tak mau terlihat tolol di mata mereka. Masalah kita harus kita selesaikan sendiri." "Dengan kesimpulanmu yang semalam itu?" "Jangan mulai lagi! Pendeknya aku tak suka dicampuri tetangga!" Tetapi peringatan Adam itu justru membuat kebutuhannya akan bantuan orang lain semakin besar. Kalau sampai terjadi sesuatu, entah apa, akan ada orang lain yang tahu.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kalau begitu, tetaplah berhati-hati, Kris. Jangan datang ke sini atau mengobrol dengan kami bila Adam ada di rumah," Maria menasihati. "Ya. Saya pikir juga begitu." "Untuk sementara ini jauhkan Jason dari Adam, Kris." "Oh ya, pagi-pagi dia sudah bilang begitu, Tante. 159 Katanya kalau dia di rumah, Jason harus tetap di kamar bayi." "Mungkin untuk sementara itu yang terbaik. Biar stresnya mereda." Kristin merenung sedih. "Orang bilang, kehadiran anak bisa menambah kebahagiaan dan keharmonisan. Tapi kami kok malah jadi begini," keluhnya. "Apa kau sendiri tidak bahagia dengan kehadiran Jason?" tanya Maria sambil menarik kereta bayi lebih mendekat dan mengamati Jason dengan takjub. Ia saja jatuh hati kepada bayi manis itu. Apalagi ayahnya sendiri?! Susah juga menyalahkan Adam. "Tentu saja saya bahagia, Tante. Adam sendiri mendambakan anak." "Begini saja, Kris. Setiap hari kau bujuk si Jason. Ajak ngomong. Bilang padanya supaya dia jangan nangis kalau didekati papanya." "Apa dia ngerti, Tante?" "Siapa tahu." "Ya, akan saya coba, Tante." "Jadi dia belum mengubah panggilannya kepada Jason?" "Kayaknya belum. Saya baru mengusulkan kemarin sore." "Menurutmu, kenapa dia tidak mau memanggil 'Son' saja seperti yang lain?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Katanya soal itu terserah dia. Bagaimana maunya saja. Dia toh tidak harus ikut-ikutan orang lain." "Itu yang dikatakannya?" "Ya." Maria menahan kata-kata yang semula ingin diucapkannya. Dia cuma menghibur Kristin. 160 *** Tetapi kepada Henry, Maria mengatakannya, "Aku tahu kenapa Adam tidak mau memanggil Jason dengan sebutan 'Son' seperti kita. Son itu penggalan nama Sonny, kan? Dia tahu riwayat rumah yang ditempatinya. Dia juga kenal Sonny dan tahu kasusnya." "Memangnya kenapa? Kita juga tahu. Dan Kristin juga. Justru Kristin yang memberi nama itu. Kalau Adam keberatan dengan nama itu, kenapa tidak dari awal dia melarang? Dan kalau dia takut, kenapa pula ditempatinya rumah itu?" "Ah, masa si Adam takut sama rumah itu?! Nggak cocok, Pa." "Pusing, ah," Henry menolak untuk memikirkannya lebih jauh. "Oh ya, Pa. Ada kabar dari Harun. Dia menelepon. Katanya dia sudah mulai dengan penyelidikannya ke pemukiman kumuh di belakang sana." Henry terkejut. "Penyelidikan apa? Oh, yang menjarah dulu itu? Wah, buat apa sih?" "Katanya dia jadi penasaran tentang kematian Sonny." Henry geleng-geleng kepala. "Wah, itu berbahaya. Pembunuh yang dikutik-kutik bisa membunuh lagi." "Aku juga bilang begitu. Sudahlah, Pak Harun. Orang yang sudah mati kan tak bisa hidup lagi. Biarpun kita tahu siapa

http://inzomnia.wapka.mobi

pembunuhnya, tapi kita tak punya bukti. Kejadiannya sudah lama. Apa ada saksinya?" "Oh, kau bilang begitu? Padahal waktu berbincang dengannya kau bersemangat sekali." 161 "Ya. Aku menyesal sekarang, Pa. Rupanya dia ketularan semangatku. Mudah-mudahan saja dia selamat, ya." Tetapi diam-diam Maria juga berharap, semoga penyelidikan Harun membawa hasil dan dia segera diberitahu. Bi Iyah menyambut kepulangan Kristin. Ia menatap majikannya penuh arti. Kristin memahami tatapan itu. Bi Iyah adalah matamata Adam. Tetapi ia tak peduli. Ia pura-pura tidak tahu. Ia juga tidak perlu membicarakan hal itu dengan Bi Iyah, misalnya dengan melarangnya atau memintanya untuk tidak melakukan hal itu. Ia merasa wibawanya sebagai majikan akan berkurang bila berbuat begitu. Maka ia pun tidak bersikap sembunyisembunyi bila akan pergi ke rumah Maria. Biar saja Adam tahu. Ia toh bukan orang yang terpenjara di dalam rumahnya sendiri. Di ruang depan Kristin mengangkat Jason dari kereta bayi. Sudah saatnya menyusui, tapi anak itu masih tidur dengan manisnya. Maka ia tidak perlu buru-buru. Ia tidak biasa menyusui Jason di sembarang tempat. Selalu di kamar bayi. Ada kursi khusus yang sangat comfortable untuk keperluan itu. Bisa diatur kedudukannya dan bisa berfungsi sebagai kursi goyang. Ia pun bisa mendengarkan musik lembut di sana. Semuanya sudah diatur oleh Adam sebelum Jason lahir. Jelas betapa Adam pun merindukan kehadiran Jason. Tak mungkin ia tidak menyayanginya. Adam memang pantas kecewa. Tetapi Kristin menganggap Adam terlalu cepat putus asa.

http://inzomnia.wapka.mobi

162 Cobaan yang dialaminya itu baru berlangsung dalam hitungan hari. Kesimpulannya terlalu cepat dan keterlaluan. Tapi bagaimanapun jengkelnya, Kristin siap memaafkan kalau Adam memintanya. Mungkin saat itu Adam lupa diri. Tapi tadi pagi ucapan minta maaf sama sekali tidak keluar dari mulut Adam. Ia pergi dengan sikap dingin. Mungkinkah Adam perlu waktu lebih banyak untuk menyadari dan menyesali kesalahannya? Kristin duduk di sofa sambil memangku Jason. Ia akan menunggu dulu sampai Jason terbangun, baru membawanya ke kamar bayi. Dalam keadaan lapar Jason akan mengisap lebih kuat hingga air susu akan keluar lebih banyak pula. Sambil merenung tatapan Kristin terpaku ke lemari antik kecil yang terletak di sudut ruang. Lemari itu berpintu kaca. Tempatnya duduk bergaris lurus dengan pintu kaca itu. Ia bisa melihat pantulan dirinya di sana. Ia mengamati wajahnya lebih cermat. Ah, rambutnya kusut. Poninya berserakan di dahi. Dua bulan yang lalu ia menata rambutnya di salon. Ia memangkas rambutnya supaya praktis. Tetapi sekarang menjadi sulit diatur. Diikat tak cukup panjang, tapi dilepas pun cepat kusut. Mungkin bila ada waktu ia akan ke salon lagi untuk merapikan rambutnya itu. Tiba-tiba ia terkejut. Tatapannya terpaku. Kaca di pintu lemari antik itu tidak lagi memantulkan wajahnya, melainkan wajah seseorang yang lain. Ia mengenalinya sebagai wajah Sonny! Wajah itu tersenyum ramah, seperti yang selalu dilihatnya ketika ia memandang dari jendela kamarnya di loteng ke seberang 163

http://inzomnia.wapka.mobi

jalan di tempat Sonny sedang berdiri. Wajah anak muda, kekasih Susan, seperti yang dilihatnya di album foto milik Maria! Tetapi pemandangan itu cuma bertahan dalam waktu sekitar sepuluh detik. Lalu tampak wajahnya sendiri yang sedang bengong terpesona. Ia segera memalingkan muka. Itulah untuk pertama kalinya ia melihat tampilan Sonny di dalam rumahnya. Tetapi berbeda dengan kejutan yang terasa ketika pertama kali mengenali foto Sonny di rumah Maria, saat itu ia merasa biasa-biasa saja setelah kagetnya lewat. Tak ada perasaan merinding atau ketakutan. Ekspresi wajah Sonny yang terlihat tadi terlalu ramah dan bersahabat untuk bisa memancing rasa takutnya. Sampai saat itu tak seorang pun yang pernah diceritainya mengenai hal itu. Pernah terpikir untuk bercerita kepada Maria. Tapi ia menganggap hal itu tak ada gunanya. Maria terlalu emosional dan juga punya hubungan emosional dengan Sonny. Bagaimana kalau Maria menceritakannya kepada Susan? Kasihan gadis itu. Ia juga bersyukur karena tidak menceritakannya kepada Adam. Pada awalnya ia memang tidak ingin bercerita karena khawatir Adam menjadi takut pada rumah itu lalu mengajaknya pindah. Ia sudah kerasan di situ dan menyenanginya juga. Bahkan sesudah kejadian yang bisa dianggap aneh itu pun ia tidak merasa terganggu. Lagi pula ia cukup mengagumi ketabahan Adam yang tetap memutuskan memilih rumah itu meskipun sudah tahu riwayatnya. Ia tidak ingin meruntuhkan ketabahan itu dengan ceritanya. Tetapi sekarang ada tambahan motivasi lain lagi. Ia

http://inzomnia.wapka.mobi

164 ingin membalas tuduhan Adam yang semena-mena itu dengan memiliki rahasia! Sesungguhnya bagi Kristin pengalaman anehnya seperti "melihat" Sonny itu bukan merupakan sesuatu yang baru. Beberapa kali dalam hidupnya di masa lalu ia pernah mengalami hal serupa meskipun tidak persis. Beberapa di antaranya cukup berkesan. Misalnya ia pernah dikunjungi emban buyutnya yang belum pernah dilihatnya, lalu diceritai macam-macam. Ketika ia menceritakan pengalamannya itu kepada ibu dan neneknya, mereka tercengang-cengang karena cerita emban buyutnya itu sesuatu yang pribadi, yang tak mungkin diketahui sembarang orang, apalagi oleh Kristin yang tidak mengenalnya. Sesudah itu ia pun sempat dikunjungi neneknya, tak lama setelah si nenek meninggal. Kemudian ibunya menyimpulkan bahwa ia memiliki kepekaan yang tak dimiliki kebanyakan orang. Itu bukan kelainan, melainkan kelebihan. Tetapi ibunya menasihati agar ia menyimpan kelebihan itu untuk dirinya sendiri saja. Jangan ceritakan kepada orang lain, siapa pun dia! Maksud ibunya semata-mata untuk kepentingannya sendiri. Jangan sampai dirinya dianggap orang aneh semacam paranormal lalu dimanfaatkan. Ia setuju dengan pendapat itu dan karenanya tidak merasa berat hati untuk menyimpan. Apalagi pengalaman seperti itu tidak sering terjadi. Mungkin nasihat ibunya itu ikut pula mempengaruhinya saat ini. Tidak ada yang menakutkan dari Sonny meskipun kematiannya terjadi secara tragis. Yang terkesan dari Sonny adalah sikap ramah dan sopannya. Sayang Maria tak mau bercerita banyak tentang

http://inzomnia.wapka.mobi

165 dirinya. Ia juga tak mau bertanya karena nanti Maria akan balik bertanya. Ia cukup menyadari bahwa Maria menganggapnya sedikit aneh. Maka ia berusaha supaya di mata Maria "keanehannya" tidak berlanjut. Baik Maria maupun Adam bertanya kepadanya kenapa ia memilih nama Jason untuk bayinya, padahal nama itu tidak ada di antara deretan nama yang sudah disiapkannya. Kepada mereka ia cuma mengatakan, "Nama itu lebih bagus!" Kenapa tiba-tiba? Ah, sama sekali tidak tiba-tiba. Ia teringat pada nama bintang film pujaannya semasa remaja. Tampaknya mereka tidak percaya, lebih-lebih Adam. Tetapi mereka tidak mendesaknya lebih jauh. Mungkin karena sadar, tak bisa mengorek kebenaran dari mulutnya. Bukankah ia sendiri juga tidak tahu? Nama itu muncul begitu saja dalam pikirannya! Lalu ia menganggapnya bagus. Adam tidak senang. Itu tampak jelas. Ia juga tidak mau memanggil "Son" seperti yang lain. Ia lebih suka memanggil "Jeis". Sebenarnya sama saja. Yang pertama adalah penggalan bagian belakang, yang kedua adalah penggalan bagian depan. Itu cuma masalah selera. Tapi naluri Kristin mengatakan, itu bukan masalah selera. Sepertinya Adam sengaja menghindari panggilan "Son" karena sesuatu yang lain. Apakah itu mengingatkannya kepada Sonny yang tewas di rumah itu? Adam mengenal Sonny. Mereka pernah bekerja sama meskipun cuma sebentar. Mungkin wajar kalau dia merasa tidak enak. Tapi kalau memang begitu kenapa Adam memilih rumah ini untuk dihuni? Dua hal itu menimbulkan kontradiksi. Renungan Kristin terputus. Jason menangis.

http://inzomnia.wapka.mobi

166 VI New York City - awal bulan Juni. Pukul enam pagi Susan dan Tom sudah mulai sarapan. Mereka sudah rapi berpakaian. Tom ada jadwal operasi pukul tujuh tiga puluh. Sedang Susan punya janji dengan orang yang harus diwawancarainya pukul sepuluh. Tapi ia bermaksud berangkat pagi-pagi karena ingin mengenali medan lebih dulu. Alamatnya di Ridgeport, New Jersey. "Kenal nama Barnas Topan, Tom?" tanya Susan sambil mengunyah roti. "Sepertinya pernah dengar. Diakah yang mau kau-temui?" "Ya. Dia terkenal di Indonesia. Mantan konglomerat, dulu salah satu orang terkaya di Indonesia. Sekarang bermukim bersama keluarganya di sana. Kabarnya dia berusaha di bidang hotel dan restoran." "Jadi dia gerah di Indonesia?" Susan tertawa. "Mungkin." "Itukah yang mau kauselidiki?" "Ah, bukan. Masalah penyelidikan bukan bagianku. Lagi pula aku sudah berjanji tidak akan bicara 167 politik. Semata-mata cuma masalah sosial dan human interest." "Pantasnya menarik." "Ya. Kukira begitu. Itu sebabnya Bos menugasiku." "Ngomong-ngomong, Sus. Sudah konfirmasi lagi dengan orang itu tentang kedatanganmu nanti?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Belum. Kukira perlu juga, ya? Boleh pinjam lagi teleponmu, Tom?" "Hei, jangan sungkan begitu. Pakai sajalah kalau kau membutuhkan." Sementara Susan menelepon, Tom memberesi meja. Ia orang yang rapi dan sudah terbiasa mengerjakan segala urusan rumahnya sendiri. Kemudian Susan kembali dengan wajah masam. "Untung saja konfirmasi dulu, Tom. Ia membatalkan rencana hari ini karena ada urusan mendadak. Katanya, aku bisa saja datang dan bertemu dengan istrinya. Tapi nggak lengkap dong. Aku perlu mewawancarai mereka secara utuh." Diam-diam Tom malah mensyukuri hal itu. "Lantas kapan bisanya dia?" "Besok! Tapi besok konfirmasi lagi, katanya. Dasar!" Susan menggerutu. Tom tersenyum. Itu berarti dia bisa mendapat waktu lebih lama lagi bersama Susan. Dan kalau besok batal lagi... "Jangan kecewa, Sus. Ambil hikmahnya. Bukankah kau ingin jalan-jalan di sini? Nah, ini kesempatan!" "Jalan-jalan sendiri? Kau mesti bekerja sekarang, kan?" Susan membelalak. Ia mengira Tom berniat bolos bekerja. Bagaimana pula nasib orang yang sudah dipersiapkan untuk operasi? 168 "Sekarang aku memang mesti bekerja. Tapi nanti sore aku sudah bebas. Paling sampai jam empat, Sus. Kuantar kau jalanjalan berkeliling. Bagaimana?" "Oke!" seru Susan bersemangat.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sekarang kau santai saja di rumah. Atau jalan-jalan keliling apartemen." "Aku ikut kau saja! Boleh?" "Tentu saja boleh. Asal jangan ikut masuk ruang bedah!" Di lantai bawah mereka berpapasan dengan Ron yang berkeringat. Ia baru pulang lari pagi. Wajah Ron segera tampak ceria begitu berhadapan dengan Susan. "Wah, siap berangkat, Sus? Kau mengantarkannya, Tom?" "Mana bisa, Ron. Kau tahu betul aku punya jadwal!" "Apa kau sendiri tidak punya jadwal pagi ini, Ron?" tanya Susan. "Yang paling pagi jam sepuluh, Sus." Setelah mengetahui bahwa Susan tidak jadi berangkat ke New Jersey, Ron memutuskan untuk ikut bersama mereka berdua menuju rumah sakit. Saat itu udara tidak terlalu panas. Dan jarak ke rumah sakit cukup dekat untuk ditempuh berjalan kaki. Sepanjang jalan mereka mengobrol bertiga. Dengan kehadiran Ron maka percakapan pun berlangsung dalam bahasa Inggris. Lalu terdengar suara orang memanggil-manggil dari belakang. "Tunggu aku!" Ternyata Danny Martin. Dia ingin ikut bergabung. Dari penampilannya jelas dia juga punya jadwal di rumah sakit. 169 Percakapan bertambah seru. Tetapi buat Tom suasana terlalu ramai. Kedua orang yang bergabung itu jelas cuma ingin mengajak Susan mengobrol. Maklum kenalan baru. Tom merasa kehilangan privasi. Tapi ia tidak punya alasan untuk mengeluh.

http://inzomnia.wapka.mobi

Susan mengagumi rumah sakit yang tampak begitu luas dan modern. Lebih-lebih waktu membaca tulisan di atas pintu masuk: For the Poor of New York, without Regard to Race, Creed, or Color. "Luar biasa!" serunya. Sayang Tom tidak punya cukup waktu untuk menjelaskan lebih banyak mengenai tempatnya bekerja itu. Ia harus berpisah dari Susan. Tapi Tom senang karena Susan bisa kembali pulang bersama Ron. Ada orang yang mengawal Susan. Memang lingkungan di situ terbilang aman, tetapi siapa tahu ada saja orang yang berniat mengganggu. Apalagi Susan orang baru. Danny mengawasi kepergian Ron bersama Susan dengan ekspresi iri. "Jadi dia berangkat ke New Jersey besok, Tom?" "Ya." "Kau mengantarkannya?" "Besok pagi aku ada jadwal, Dan. Dia toh mandiri. Tak perlu diantar-antar," sahut Tom. Dia agak kesal karena baik Ron maupun Danny sama-sama mengajukan pertanyaan yang sama seolah dia tidak bersikap gallant kepada Susan. "Ya, ya. Tentu saja. Reporter harus mandiri, bukan?" Mereka masuk ke lift. "Nanti sore kau ada acara bersama Susan, Tom?" tanya Danny. 170 "Oh ya. Dia ingin sekali melihat New York. Belum pernah ke sini." "Mau jalan-jalan, ya? Ikut dong. Kita pakai mobilku. Aku paham betul bagian-bagian menarik kota ini." Tom mengerutkan keningnya. Dia sendiri tak punya mobil. Tetapi itu tidak penting. Yang paling penting adalah suasana

http://inzomnia.wapka.mobi

privasi. Memang Susan bukan kekasih atau teman dekat, tapi dalam waktu yang singkat dan penuh keterbatasan itu ia merasakan kedekatan yang unik dengan Susan. Dia adalah seseorang dari latar belakang yang sama dan punya hubungan dengan Sonny. Sudah lama pula tak bertemu dan waktu kebersamaan mereka begitu mahal. Susan tak bisa disamakan dengan teman-temannya yang lain yang ditemuinya setiap hari dan setiap saat. Danny memahami ekspresi Tom. Ia tertawa menggoda. "Oke! Aku paham hatimu! Bercanda saja kok. Kalau aku dibolehkan ikut, nanti aku cuma jadi pengganggu. Takut juga sih kalaukalau kalian bicara dalam bahasa Indonesia." Tom tersenyum lega. Ia memang akan sulit melarang Danny ikut. Apalagi bila Susan sendiri tidak keberatan. "Terima kasih, Dan!" katanya. "Kau boleh pakai mobilku, Tom!" Danny menawarkan. "Ah, tidak. Terima kasih, Dan. Kau tahu aku tak mahir menyetir." "Payah, kau!" Danny menyikut lengan Tom. Mereka tertawa. Tom memang serius mengakuinya. Semua temannya 171 tahu bahwa ia benar-benar tidak pandai menyetir mobil. Apalagi mobil berbodi besar. Sekadar menjalankannya saja tentu tak ada kesulitan. Tapi bila harus memperkirakan jarak ruang antara mobilnya dengan mobil lain atau benda apa saja, apalagi kalau ruangnya sempit, maka kesulitan akan muncul. Ia akan menabrak atau menyerempet kanan-kiri. Pengalaman sekali dua kali sudah cukup untuk membuatnya jera. Bodoh

http://inzomnia.wapka.mobi

sekali kalau orang membiarkan diri jatuh berulang kali di lubang yang sama. Mereka keluar di lantai delapan belas. Lalu bersama-sama menuju counter di mana seorang perawat wanita berada di belakang meja. Beberapa rekan dokter dan perawat berseliweran di ruang itu. Danny dan Tom berhadapan dengan Evita Lopez, perawat berusia tiga puluhan berwajah Latin. Kedua dokter dan Evita saling menyapa "Selamat pagi!" Tetapi Danny menambahkan, "Tambah cantik saja, Ev!" yang disambut Evita dengan senyum senang. Kebiasaan Danny yang suka memuji itu memang sudah dikenal para perawat yang biasa berhubungan dengan dia. Tetapi biarpun kualitasnya obralan, tetaplah kedengaran menyenangkan. Apalagi bila yang mengucapkannya setampan bintang film Kevin Costner. Evita memiliki daftar kegiatan yang berlangsung di lantai delapan belas. Dia yang bertanggung jawab penuh mengatur semuanya. Dokter mana saja dengan kru asisten serta perawat siapa saja yang bertugas di ruang nomor berapa, operasi jenis apa dan pasiennya siapa, berlangsungnya jam berapa. Mereka yang punya tugas di lantai delapan belas harus berhubungan dengan Evita terlebih dulu. 172 Tak lama kemudian Tom dan Danny berpisah menuju ruang kerja masing-masing. Susan dan Ron duduk di kantin lantai dasar bangunan apartemen. Mereka menikmati roti dengan kapucino hangat. Ron sudah mandi dan berpakaian rapi meskipun belum siap berangkat ke rumah sakit. Ia tak ingin tampak kontras dengan Susan yang tampak elegan dengan setelan celana panjang

http://inzomnia.wapka.mobi

hitam, blus putih, dan blazer hitam, penampilan wanita eksekutif kantoran. Susan belum sempat ganti pakaian, bahkan belum kembali ke apartemen Tom. Kalau ia pulang, di samping untuk berganti pakaian, ia bermaksud sekalian merapikan apartemen Tom, membersihkan kamar mandi, dapur dan sebagainya. Lalu beristirahat sambil menunggu kepulangan Tom. Dengan demikian ia bisa mengefisienkan waktu. Beberapa kali obrolan mereka diinterupsi teman-teman Ron seapartemen yang akan sarapan. Mereka mendekati dan menyapa, sengaja untuk diperkenalkan kepada Susan. Setiap wajah baru di situ segera menarik perhatian. Ron bangga tapi juga kesal. Seharusnya dia mengajak Susan sarapan di tempat lain, di mana tak banyak orang mengenalnya. "Indonesia terkenal juga di sini ya, Ron?" "Oh iya. Kan ada Tom di sini. Dia adalah duta bangsa kalian." Susan terdiam. Dalam situasinya sekarang ia tak ingin menjadi duta bangsa. Ia tak ingin bercerita mengenai keindahan tanah airnya. Tak ada lagi yang indah baginya sekarang. Ron mengamati wajah Susan dengan simpati. Ia 173 Sudah mendengar cerita tentang tragedi yang menimpa adik Tom, Sonny, kekasih Susan. "Ceritakan tentang Tom dengan Viv, Ron," pinta Susan. "Aku sudah tahu garis besarnya dari Tom sendiri. Tetapi bagaimana tentang mereka dari teman-temannya, aku ingin tahu juga." Sebenarnya Ron tidak begitu suka mengulang cerita itu. Di samping menyedihkan, ia khawatir menghabiskan waktu yang begitu berharga. Ia tidak banyak mengenal wanita Asia. Satusatunya yang akrab adalah Vivian. Di rumah sakit ada beberapa

http://inzomnia.wapka.mobi

paramedis keturunan Asia. Ada Cina, Korea, Filipina, dan Jepang. Dari pengamatan sekilas ia menyimpulkan mereka ratarata berperilaku halus dan lembut, peka dan penuh perasaan. Karena itu mereka disukai pasien. Apakah itu karena panggilan profesi? "Tom itu luar biasa," Ron menyimpulkan ceritanya. "Ia bisa mengatasi stresnya dengan kekuatan sendiri. Tak ada ahli yang membantunya. Padahal banyak yang bersedia. Rumah sakit punya banyak, kan? Ya, mulanya dia mengerikan, Sus." "Mengerikan?" Susan kaget. "Oh, jangan cemas begitu. Kan sudah lewat," hibur Ron. "Maksudku, kami khawatir dia mencederai diri sendiri. Sebabnya, beberapa kali kami dapati dia termangu di taman, padahal saat itu musim dingin membekukan. Kami harus menyeretnya pulang. Lucunya, begitu pulang dia biasa lagi. Katanya, dia begitu intens berpikir sampai tidak merasakan udara dingin. Jadi bukan sengaja. Entah benar entah tidak. Tapi ngomongnya serius. Jadi selama waktu itu kami terus menjaga dia. Aku dan beberapa teman ber174 gantian menemaninya di apartemennya. Tetapi dalam soal pekerjaan dia tetap prima. Pasti karena tanggung jawabnya yang tinggi." "Untunglah dia punya teman yang baik." "Itu gunanya teman, Sus." "Tapi teman juga yang menggoda Viv, bukan?" Ron tersipu. Untunglah aku berkulit hitam, pikirnya. "Sori, Ron," Susan cepat-cepat menyambung ucapannya. "Bagaimanapun, dalam hidup ini kita membutuhkan teman."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya. Aku yakin kau juga punya banyak teman di Wellington." Susan tertawa. "Aku tidak punya teman, Ron." Ron menatap tidak percaya. "Ah, masa?! Kau pasti membutuhkan teman. Apakah di sana cuma ada domba?" Susan tertawa lagi. "Oh, teman sih banyak, Ron. Tapi yang akrab tak ada." Ron menggeleng. "Pasti bukan karena tak ada. Tapi kau yang tak memberi kesempatan. Keakraban itu harus dibina dari kedua pihak." Susan termenung. "Ya. Kukira kau benar. Mungkin aku orang yang tertutup, ya." "Kelihatannya sih tidak. Kepadaku kau cerita banyak." "Mungkin lihat orang juga. Kebetulan aku bisa bertemu dengan orang yang cocok." Ron merasa hidungnya menggelembung. Senang juga dianggap cocok oleh Susan. "Kalau kau tak punya teman, bagaimana kau bisa survive, Sus?" 175 "Entahlah. Lupa tuh." "Kau lebih hebat daripada Tom, Sus. Bisa mengatasi sendirian." "Aku tidak sama dengan Tom, Ron. Pengalaman kami lain. Tom sudah terikat dengan Viv lewat janji suci perkawinan. Mereka sudah menjadi satu. Aku dengan Sonny belum. Sonny dipisahkan dariku oleh maut. Sesuatu yang tak terhindarkan. Tetapi Tom dipisahkan oleh pengkhianatan. Sakit Tom lebih berat daripada sakitku." "Tapi kau masih sakit hati." Sesudah mengatakan itu, Ron menyesal. Seharusnya ia tidak menyinggung. Tetapi Susan tidak tampak tersinggung.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Entahlah, Ron. Aku sudah tidak memikirkannya lagi. Orang bilang, waktu bisa menyembuhkan. Apa iya begitu? Waktu Tom membujukku untuk ikut pulang menjenguk orangtuaku, aku sempat ragu-ragu. Tapi kemudian aku mengeras lagi. Aku ingat sumpahku." "Jadi karena itu?" "Antara iya dan tidak. Ingat sumpah berarti ingat semuanya. Maka aku pun kembali pada kondisiku dulu, meskipun tak begitu segar lagi. Aku tidak ingin kembali ke negara di mana aku ditolak dan tidak diakui. Kecuali aku datang sebagai warga negara dari negara lain." "Yang melakukan hal itu adalah sekelompok kriminal, Sus." "Oh iya. Tapi siapa dulu yang ada di baliknya. Ah, sudahlah, Ron. Nanti darahku jadi mendidih lagi." "Ya, ya. Aku tak akan menyinggung lagi soal itu." 176 "Sekarang ceritalah tentang dirimu, Ron. Dari tadi melulu tentang diriku dan Tom." Kupikir, kau tidak akan bertanya, pikir Ron. Memang tidak banyak yang bisa dibanggakan dari dirinya, tetapi pertanyaan itu menandakan perhatian. "Aku dilahirkan di tengah kemiskinan di bagian kota New York yang paling kumuh. Pernah dengar tentang Harlem?" Susan mengangguk. "Ya. Pernah." "Ayahku bekerja sebagai tukang angkut sampah kota. Ibuku jadi pembantu dan tukang masak sebuah keluarga kaya meskipun sama-sama berkulit hitam. Aku punya dua kakak lelaki dan seorang adik perempuan. Salah seorang kakakku jadi pengedar narkotik lalu ditembak polisi dan tewas. Kakak

http://inzomnia.wapka.mobi

satunya lagi ikut kawanan geng berandal. Dalam pertempuran dengan geng lainnya ia juga tewas. Orangtuaku tentu saja sangat terpukul. Tinggal aku dan adikku yang tersisa. Mereka jadi hati-hati menjaga kami. Terutama ibuku yang tak hentihenti menasihati kami agar jadi orang baik-baik. Aku melihat ia berdoa siang-malam. Doanya diucapkan keras-keras. Yang didoakannya melulu kami, anak-anaknya." Susan sangat tersentuh. "Doanya terkabul, bukan?" "Ya. Aku jadi diriku yang sekarang ini. Dan adikku sudah berkeluarga dengan kehidupan yang cukup mapan." "Sungguh orangtua yang luar biasa." "Mereka memang bukan manusia super, Sus. Tapi yang kukagumi adalah kemampuan mereka belajar dari kesalahan. Pada mulanya ayahku orang yang ringan tangan. Suka memukuli anak-anaknya. Setelah 177 ia kehilangan dua orang anak, ia benar-benar berubah. Ia belajar mencintai. Demikian pula ibuku. Cinta merekalah yang melindungi dan membimbing aku dan adikku hingga tidak sampai mengikuti jejak kedua kakakku. Padahal lingkungan tempat tinggal kami sungguh tidak mendukung. Di sana sarang penjahat, pengedar, pelacur, dan orang-orang yang dianggap sampah masyarakat." Susan sangat terkesan. "Di mana mereka sekarang? Masih ada, kan?" "Ayahku sudah meninggal. Tapi ibuku masih hidup. Dia tinggal bersama adikku." "Masih di Harlem?" "Oh, tidak. Mereka sudah pindah ke San Francisco."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Menurutku, bukan cuma orangtuamu yang hebat. Tapi kau dan adikmu juga." "Ah, biasa-biasa saja. Aku kebetulan mendapat beasiswa." "Kau tentu pintar." "Kau juga." Mereka sama-sama tersenyum. Lalu Ron melihat arlojinya. "Sudah tiba saatnya?" tanya Susan. "Ya. Sayang sekali. Betapa cepatnya waktu berlalu bila kita masih ingin menikmatinya." Mereka berdiri, sama-sama berjalan ke lift. "Nanti kita bisa surat-suratan, Ron. Pakai e-mail, ya?" "Oh ya. Mungkin cuti nanti aku jalan-jalan ke tempatmu, ya?" Susan tampak bersemangat. "Kapan cutinya, Ron?" 178 "Masih agak lama sih. September atau Oktober." "Wah, musim semi! Kalau jadi, kuajak kau ke tempat yang sangat indah di sana." "Oh ya?" Ron senang. "Betul, ya? Kau cuti juga?" Susan tersenyum, menangkap antusiasme Ron. Benarkah Ron serius? "Mudah-mudahan bisa, Ron. Aku senang bisa cuti di musim semi. Menikmati keindahan alam sungguh menyenangkan. Apalagi kalau bersama teman." "Kuharap akulah teman itu." "Ya. Mudah-mudahan." "Tom tidak marah?" Ron mengamati wajah Susan. Susan tersenyum. "Kukira tidak." Sebenarnya Ron tidak puas. Ia belum yakin benar, apakah Susan bersungguh-sungguh. Sayang waktu tidak cukup banyak.

http://inzomnia.wapka.mobi

Mereka keluar dari lift. Ron menemani Susan menuju pintu apartemen Tom. "Tidak ingin bekerja di New York Times, Sus?" "Wah, belum kepikir, Ron. Untuk bisa ke sana aku mesti bagus dulu dong. Sekarang aku belum apa-apa. Belum setahun pengalamanku." "Kau pasti bisa, Sus. Niatkan saja dulu." Susan menggelengkan kepala. "Kau tak ingin dekat dengan Tom?" Ron balas bertanya. Susan tertegun di depan pintu. Ia menatap Ron dengan heran. "Kenapa kau bertanya begitu?" Ron tersipu. "Apakah aku lancang bertanya begitu, Sus?" "Ah, nggak. Cuma aku ingin tahu saja kenapa kau bertanya begitu." 179 "Kukira kau akrab dengan Tom. Senang dong berdekatan dengan orang yang diakrabi." "Oh, begitu. Ya, tentu saja senang. Tapi aku tak ingin bergantung kepadanya. Aku khawatir nanti jadi manja dan sedikit-sedikit minta ditolong. Payah, kan?" Susan tertawa. "Kan nggak apa-apa begitu, Sus. Tom juga akan senang." "Dia senang karena kami sudah lama sekali tidak ketemu. Kalau berdekatan terus pasti dia pun jengkel. Ada peribahasa Indonesia. Jauh bau bunga, dekat bau tahi." Ron tidak mengerti. "Ah, masa Tom begitu?!" "Kau tak mengerti, ya? Tom itu kakakku. Dan aku adiknya." Ron mengangakan mulutnya. "Selamat bekerja, Ron!" kata Susan sambil membuka pintu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ron sampai lupa menyahut. Susan sudah masuk lalu menutup pintu tanpa menunggu jawaban Ron. Setelah menyimak kembali ucapan Susan yang terakhir, Ron buru-buru beranjak dari situ. Ia melangkah lebar-lebar dengan kakinya yang panjang sambil berpikir. Seriuskah Susan bahwa Tom adalah kakaknya dan tak lebih dari itu? Bila Susan beranggapan begitu, bagaimana dengan Tom? Setelah mengganti pakaiannya dengan celana pendek dan kaus oblong Susan segera bekerja seperti yang ia rencanakan. Ia membersihkan apartemen Tom. Mumpung ada di situ ia ingin melakukan sesuatu untuk Tom. Ia tak ingin bermalas-malasan. Tetapi 180 tak terlalu banyak yang bisa ia kerjakan. Dapur cukup bersih, demikian pula kamar mandi. Yang bisa dilakukannya adalah membuatnya mengilat. Bila tidak begitu Tom tidak akan melihat perbedaannya. Sesudah selesai ia merasa capek. Barulah tiba saatnya istirahat. Dan itu terasa nikmat sekali. Kerja dulu, baru istirahat. Ia mencari makanan di dalam kulkas, menemukan crackers dan susu, lalu membawanya ke depan televisi. Pada saat itu telepon berdering. Pasti Tom, pikirnya sambil melompat bangun. Jangan-jangan Tom tak bisa pulang seperti yang direncanakan. Apakah rumah sakit kebanjiran pasien yang perlu dioperasi? Tetapi itu bukan Tom. Suara Danny yang ceria menyambutnya. "Sudah makan, Sus?" "Sedang makan. Kau?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Akan makan." Tawa Danny berderai. "Tidak makan di luar? Kantin misalnya? Eh, di situ bisa menyediakan nasi goreng, Sus! Apa Tom tidak bilang?" Susan heran kenapa Danny begitu meributkan soal makan. Ia sendiri sudah lama tidak lagi memperhitungkan selera bila akan makan. Yang penting perutnya tidak lapar lagi. Baginya masalah selera baru diperhitungkan bila situasi memungkinkan. "Tom lagi ngapain, Dan?" "Ah, Tom melulu yang ditanyakan. Kenapa aku juga tidak ditanyakan sekalian?" Susan tertawa. Teman-teman Tom rupanya memiliki karakter berbeda-beda. Bagaimana mungkin orang seperti Danny bisa jadi ahli bedah? 181 "Katanya nanti mau jalan-jalan ya, Sus? Aku tanya sama Tom, apakah aku boleh ikut. Langsung mukanya ditekuk! Padahal aku cuma bercanda saja." "Maklum, Dan. Kami sudah lama sekali tidak bertemu. Jadi ada banyak yang perlu dibicarakan. Masalah kampung halaman, keluarga, dan banyak lagi. Kalau kau ikut mendengarkan, tak akan mengerti. Nanti cuma jadi kambing congek'!" Susan mengatakan "kambing congek" dalam bahasa Indonesia karena susah mencari pemahamannya dalam bahasa Inggris. Seperti perkiraannya Danny berteriak menanyakan apa maksudnya. "Oh, itu adalah kambing yang bingung!" sahutnya ringan. "Ya, ya. Aku mengerti maksudmu. Tapi biarpun bingung, dia tidak akan menanduk, bukan?" "Entahlah. Tergantung kambingnya."

http://inzomnia.wapka.mobi

Danny tertawa. "Kau lucu ya, Sus? Eh, kelamaan bergurau aku jadi lupa maksudku menelepon. Begini, Sus. Besok kau jadi ke New Jersey, kan?" "Jadi." "Pergi sendiri, kan?" "Ya." "Besok kebetulan aku tak ada jadwal pagi dan siang. Malam jaga di Emergency. Dan kebetulan aku ada urusan juga di New Jersey. Bagaimana kalau kita pergi sama-sama saja? Kita jadi bisa saling menemani. Ada kawan mengobrol. Oh ya, aku pakai mobil." Susan berpikir sejenak. Dia ingin membicarakannya dulu dengan Tom, tapi tak ingin mengecewakan Danny yang kedengaran antusias. Yang terasa janggal adalah serba kebetulan itu. 182 "Aku senang ada kawan, Dan." "Jadi oke, Sus?" "Susahnya begini, Dan. Orang yang harus kutemui di New Jersey itu kelihatannya susah menepati janji. Nanti malam aku harus konfirmasi lagi. Jadi atau tidak." "Kalau begitu, oke dong? Aku tunggu kabar nanti malam saja." Setelah meletakkan telepon Susan membayangkan wajah Danny Martin yang tampan. Sepertinya ia mengenang wajah Kevin Costner dalam film The Bodyguard. Ia tersenyum. Kemudian ia teringat pada pemikirannya selintas tadi setelah mendengar usul Danny. Begitu saja ia ingin menanyakannya dulu kepada Tom. Bukankah seharusnya ia tidak perlu melakukan hal itu? Ia berhak memutuskan sendiri. "Oh ya, tadi Danny juga memberitahu aku," Tom berkata setelah pulang. "Kupikir, bagus sekali kalau kau punya teman."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jadi dia bisa dipercaya, Tom?" Tom tertawa. "Tentu saja. Apa kau takut diculik?" "Ah, nggak. Cuma pengalamanku mengatakan, lelaki Barat tidak boleh terlalu dikasih hati. Nanti dia kira boleh minta jantung juga." "Wah, sudah berpengalaman rupanya, Sus." Susan tersipu. "Bukan begitu, Tom. Maksudku bukan pengalaman, tapi pengamatan." "Ya, aku paham. Wartawan pantas bermata tajam." "Apakah teman-temanmu baik kepadaku karena mereka sahabatmu, Tom?" Susan ingin tahu. 183 "Bisa jadi. Tapi hal lain yang penting buat mereka adalah dirimu sendiri. Kau gadis cantik, masih single. Mereka juga. Jadi logis saja. Kau tentu bisa menerka juga." "Ya, memang." "Apakah para pemuda di Selandia Baru tidak melakukan hal yang sama kepadamu?" "Ih, mau tahu saja." Tom tertawa lepas. Kepalanya agak mendongak dan mulutnya terbuka menampakkan deretan giginya yang bagus. Ekspresi seseorang yang sudah terbebas dari stres. Susan merasa senang melihatnya. Tapi kemudian ia teringat, cara Tom tertawa mengingatkannya kepada Sonny. Sesaat ia merasa sedih. Tom dan Susan sama-sama mengenakan celana jins. Karena Susan tidak membawa pakaian lebih ia pakai lagi celana yang sama pada saat datang. Lalu Tom meminjaminya blus milik Vivian yang tertinggal dan masih tersimpan selama bertahun-

http://inzomnia.wapka.mobi

tahun di sudut lemari. Baunya sedikit apek, tapi setelah diciprati minyak wangi bau itu hilang. Begitu melihat Susan mengenakan blus itu, Tom tertegun sejenak. Susan bisa menangkap pandangannya. Ia tidak tahu apakah penampilannya membangkitkan nostalgia atau kesedihan bagi Tom. Tetapi dengan cepat Tom sudah kembali seperti sediakala. "Kau kelihatan cantik dan segar. Seperti... seperti bunga mawar!" Tom memuji dengan caranya sendiri. Di lantai dasar bangunan apartemen mereka berpapasan dengan Danny yang juga berpakaian santai. Begitu melihat Susan, Danny terperangah sejenak sebelum tersenyum lebar. Meskipun waktunya cuma 184 singkat, Susan memahami makna pandangan Danny. Ia yakin Danny pun mengenali blus milik Vivian yang dikenakannya. Blus itu memang memiliki motif mencolok. Bola-bola merah biru di atas dasar hitam. Ia suka motifnya. Tadi di cermin ia merasa dirinya cantik dengan penampilannya saat itu. Pujian Tom tadi pasti ada benarnya. Bukan sekadar basa-basi. Danny tersadar dari pesona. "Aku pangling," ia mengakui. Kemudian ia menahan diri untuk bicara lebih banyak lagi ketika melihat sorot mata Tom. Lebih baik jangan menyinggung Vivian. "Pergi dulu, ya," kata Susan. Tom menepuk pundak Danny. "Selamat bersenang-senang, ya!" seru Danny. "Nanti kutunggu kabar darimu, Sus!" Susan mengangkat tangannya. "Ya. Terima kasih!" Danny memandangi keduanya sampai tak terlihat lagi. Lalu seorang gadis cantik berambut merah melewatinya dan

http://inzomnia.wapka.mobi

tersenyum kepadanya. Danny tak segera melihatnya karena konsentrasinya tertuju kepada Tom dan Susan. "Hai!" sapa si gadis. Tanpa menunggu reaksi Danny ia berjalan terus menuju lift. Tampak baju putih seragam perawat. Danny tersentak. "Oh, hai!" Kemudian ia berlari mengejar si gadis. Tom menyewa limusin untuk mengajak Susan berjalan-jalan. Mulanya Susan protes karena biayanya akan mahal. Tetapi Tom mengatakan peristiwa itu tidak terjadi setiap bulan. Susan adalah tamu istimewanya. 185 "Aku punya usul, Tom. Nanti sebagian perjalanan kita naik subway, ya? Bukan mau irit lho. Tetapi aku ingin merasakan kereta bawah tanah di sini." Tom setuju meskipun pada mulanya keberatan. Yang dikhawatirkannya adalah segi keamanan. Ketika dulu naik subway bersama Vivian, mereka pernah ditodong bandit, tanpa mendapat pertolongan dari penumpang lain. Rupanya penghuni kota besar hampir sama saja di mana-mana. Mereka lebih mementingkan diri sendiri dan masa bodoh dengan orang lain. Sopir limusin orang Kuba. Ia mengenalkan dirinya sendiri dengan bahasa Inggris yang hampir sulit dipahami. Tetapi ia mengaku sudah mengenali segala pelosok kota dengan baik. Untuk memperkuat pengakuannya itu ia memperlihatkan peta kota New York. "Jadi tak mungkin kesasar!" begitu kesimpulannya. Mereka tidak merasa perlu menutup kaca pembatas dengan sopir. Tak ada yang perlu disembunyikan. Mereka bicara dalam bahasa Indonesia dan juga tidak melakukan hal-hal yang tidak

http://inzomnia.wapka.mobi

sepantasnya dilihat orang lain. Lagi pula lebih gampang bagi Tom untuk memberi instruksi ini itu kepada si sopir. Beberapa kali sopir melirik lewat kaca spion. Rupanya ia tak tahan untuk ikut nimbrung. "Bahasa apa itu, Sir?" tanyanya sopan. "Indonesia," sahut Tom. "Oh, Indonesia. Yang dulu banyak ribut itu?" Sopir gelenggeleng kepala seolah tak habis pikir. Tom berpandangan dengan Susan. Kerusuhan yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia sepanjang tahun 1998, terutama tragedi bulan Mei di Jakarta, disiarkan oleh CNN ke seluruh dunia. Tak meng186 herankan kalau si sopir mengetahuinya. Tetapi kesannya tak mengenakkan. Mereka tak ingin ditanyai lebih banyak atau memperbincangkan hal itu. Maka Tom menutup kaca pembatas. Mobil meluncur melintasi Washington Bridge menuju Manhattan. Susan memasang matanya ke sana kemari. Tetapi perjalanan tak begitu mulus karena jembatan dipadati kendaraan. Saat itu mereka gunakan untuk mengobrol. "Jadi teman akrabmu yang tinggal satu atap denganmu tinggal dua orang itu saja ya, Tom." "Ya. Yang lain sudah berkeluarga lalu pindah ke tempat lain di mana tak ada kebisingan rumah sakit. Ada baiknya juga untuk mereka karena bisa menikmati situasi yang berbeda." "Tinggal Ron, Danny, dan kau yang masih bujangan. Aku tak mau bertanya tentang kau karena terlalu pribadi, ya. Tapi mereka berdua itu, apakah mereka normal?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya. Mereka bukan gay. Ron pernah berhubungan serius dengan seorang perempuan sesama kulit hitam, tapi kemudian putus. Perempuan itu kawin dengan lelaki lain. Sejak itu ia tidak memperlihatkan perhatian lagi pada perempuan lain. Mungkin belum ketemu jodohnya. Sedang Danny? Dia tidak pernah serius. Mungkin senangnya begitu." "Dia sok tampan sih, Tom." Susan tergelak. "Ah, betulkah begitu? Kau menganggapnya tampan juga?" "Tentu. Kenyataannya kan begitu. Tapi setampan-tampannya kalau terlalu pede, dia jadi memuakkan." Tom tampak lega mendengar perkataan Susan. 187 "Dengan demikian kau punya pertahanan diri yang kuat menghadapinya, Sus. Siapa tahu dia naksir dan merayumu." "Kaukira itu tujuannya dengan menawariku ikut dengannya besok?" "Siapa tahu." "Tapi kau tidak berkeberatan." "Aku tidak berhak, Sus. Kau sudah dewasa, kan?" "Sebagai kakak, kau harusnya merasa bertanggung jawab juga dong." "Oh ya. Tentu. Cuma aku tak berani melarang-larang. Kata ibumu, kau tak bisa dihadapi dengan larangan." "Mama bilang begitu?" Susan tertawa. Tapi kemudian ia menggigit bibirnya. Tiba-tiba ia merasa rindu kepada ibunya. Rindu akan ciuman dan dekapannya. Ia diam, bergulat dengan emosinya. Tom melirik, merasakan perubahan suasana. Ia bisa menduga apa yang tengah dirasakan Susan. Mata Susan berkejap-kejap dan tiba-tiba diam dan memandang ke luar jendela. Sebaiknya

http://inzomnia.wapka.mobi

ia tidak menginterupsi dengan simpati, walaupun ia sangat ingin memeluk dan menghiburnya. Biarkan Susan mengatasinya sendiri. Solusi dari kemelut yang dirasakan Susan harus datang dari dirinya sendiri. "Nanti bilang sama Mama dan Papa, aku juga rindu sama mereka, Tom!" kata Susan akhirnya. "Oh ya. Tentu saja." "Dan jangan lupa pesan-pesanku itu." "Kan sudah kucatat semuanya. Aku sendiri juga sangat ingin tahu tentang hal-hal yang kauceritakan itu. Nah, kita sudah sampai di pusat Manhattan." 188 Susan menyisihkan rasa sendunya dan mulai mengagumi dunia baru yang dilihatnya untuk pertama kali. Tampak bangunanbangunan menjulang bagai hendak mencakar langit. Ada Empire State Building yang pernah dilihatnya dalam film King Kong. Lalu Chrysler Building, Citicorp Building, gedung kembar raksasa World Trade Center. Kemudian mereka berkeliling blok-blok perkantoran Wall Street yang terkenal lewat film berjudul sama yang diperankan oleh Michael Douglas. Jalanan macet di beberapa tempat. Orang-orang perkantoran berhamburan ke luar bagai semut keluar dari sarang. Mereka juga pergi ke Broadway, tapi tak menonton apa-apa di sana. Cuma lewat saja. Lalu mampir sebentar di toko kue untuk membeli pastry dan minuman. Mereka menyantapnya di dalam mobil dan membagi sopir beberapa potong pastry berikut kapucino dalam karton. Sopir menerimanya dengan senang hati. Bila berkendaraan santai, apalagi diselingi kemacetan, ia bisa menyantapnya sambil menyetir. Lumayan untuk mengisi perut.

http://inzomnia.wapka.mobi

Mereka menyusuri pertokoan dan butik di Madi-son. "Mau lihat-lihat, Sus? Barangkali ada yang menarik minatmu. Aku bawa kartu kredit kok," Tom menawarkan. Susan tertawa. Kehidupan sederhana dan berhemat-hemat sudah mendarah daging padanya. "Nggak, ah. Terima kasih, Tom. Nanti sajalah kalau uangku sudah berkarung-karung." "Jangan begitu, Sus. Hidup ini perlu juga dinikmati. Berhenti, ya?" 189 Tom membuka kaca pembatas menyuruh sopir untuk parkir. Tapi Susan segera menggoyangkan tangan dan meminta sopir jalan terus. Sopir tampak bingung. "Oke. Terus sajalah," kata Tom. Mobil meluncur lagi. Tom kembali menutup kaca pembatas. "Percayalah, Tom. Aku sudah menikmati hidupku yang sekarang." Lalu tiba saatnya menghentikan perjalanan dengan limusin. Mereka ke Soho naik subway. Di tempat ini Susan benar-benar menikmati situasi. Soho dipenuhi orang-orang yang menyebut diri mereka seniman. Di sana mereka seolah membentuk komunitas tersendiri. Bukan cuma orang-orangnya yang menarik perhatian Susan, tapi juga barang-barangnya. Ada pasar seni, pasar sayur, dan berbagai kebutuhan lainnya. Kadang-kadang muncul dorongan ingin memiliki ini itu, tetapi ia sadar itu bukan saatnya untuk berbelanja. "Masih ada banyak kesempatan lain, Sus. Kita memang tak mungkin puas menjelajahi tempat ini dalam waktu beberapa jam. Apalagi seisi kota. Nanti kan ke sini lagi, ya, Sus?" kata Tom setengah membujuk.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya. Kukira begitu. Tapi umur kita rasanya nggak cukup kalau ingin puas menjelajahi seluruh dunia, ya?" Susan tertawa, disambut Tom. Mereka bergandengan. Suasana menimbulkan keakraban. Ke mana mata mereka memandang, tampak banyak pasangan muda yang berjalan dengan berpelukan mesra. Hal itu menambah dorongan. Terasa bahwa mereka pun salah satu dari orang-orang yang ada di situ. 190 Mereka ke kafe, minum espresso sambil memandangi orangorang dan burung-burung dara yang sibuk mematuk-matuk lantai dan terbang ke sana kemari. "Terima kasih ya, Tom," kata Susan. "Untuk apa?" Tom heran. "Untuk semua ini." "Ah, ini kan belum apa-apa. Aku juga berterima kasih." "Untuk apa?" "Untuk kehadiranmu di sini. Kau telah memberiku kehangatan di sini." Tom menunjuk dadanya. Susan tertawa. "Betapa senangnya karena aku dianggap berarti!" Lalu ia melompat dari duduknya, mendekati Tom di kursinya. Ia membungkuk kemudian mencium Tom di kedua belah pipinya! Tom terperangah. Benar-benar kejutan untuknya. Pipinya bersemu merah. Lalu ia tersipu dan salah tingkah sejenak. Orang-orang yang melihat tersenyum. Di situ pemandangan romantis sudah biasa. Tapi setiap pasangan punya keunikan sendiri-sendiri. Tom memang belum sepenuhnya membaur dengan kebiasaan setempat. Dia tergolong orang Asia yang masih sedikit "kolot". Tetapi sesungguhnya ia senang. Ia tahu, kelakuan Susan itu adalah spontanitas.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sori, Tom. Apakah kau tidak suka?" tanya Susan khawatir. Tom tersenyum lebar. "Oh, aku suka! Terima kasih, Sus! Cuma aku kaget saja." "Kau lucu tadi." Susan masih geli. "Oh ya? Belum pernah ada orang yang menyebutku lucu." 191 "Ah, masa? Ada kok." "Siapa?" "Sonny." Setelah kata itu terucap, Susan terdiam sejenak. Nama Sonny spontan saja keluar. Padahal sejak awal dia sudah berusaha menghindari perbincangan tentang Sonny dengan Tom. Padahal dengan orang lain, seperti Ron misalnya, ia bisa bercerita tanpa beban. Mungkin sebagai abang Sonny, Tom punya hubungan khusus dengannya. Sedang Ron tidak kenal Sonny. Tom mengamati wajah Susan, mencoba memperkirakan apa yang tengah dipikirkannya. Wajah Susan tiba-tiba berubah murung. Masihkah ia berduka perihal Sonny? Tom mengulurkan tangan yang segera disambut oleh Susan. Tom merasa, Susan tak memerlukan kata-kata penghiburan. Ia sendiri juga tidak tahu kata apa yang pantas untuk diucapkan. Padahal sebenarnya ia ingin membicarakan Sonny. Ia ingin tahu apa saja yang diceritakan Sonny tentang dirinya. Mungkin sekarang belum saatnya. Ia sudah mengalaminya sendiri waktu disakiti Viv. Cukup banyak waktu yang dibutuhkannya untuk mereparasi diri. Setelah itu barulah ia bisa bicara lagi tentang Viv tanpa beban. "Kau sudah lapar, Sus? Kita cari restoran untuk makan malam, yuk? Kau suka makanan Italia?" Tom mengalihkan masalah.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Belum terlalu lapar, Tom. Barusan ngemil, kan?" "Kalau begitu kita jalan-jalan lagi. Sesudah lapar baru cari tempat untuk makan. Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan di sebuah restoran yang letaknya 192 di lantai empat puluh lima. Dulu aku pernah makan di sana bersama Viv. Pemandangan dari sana hebat sekali, Sus! Kita bisa melihat patung Liberty dari sana. Tapi sayang, kita mesti berpakaian lengkap dulu." "Tapi aku punya ide lain, Tom." "Bilang saja. Aku pasti setuju." "Sekarang kita belanja bahan makanan. Di sini semuanya komplet tuh. Lalu kita pulang dan masak sendiri. Bagaimana?" Tom terlonjak senang. Itu adalah ide yang paling menyenangkan. Mereka tiba sekitar pukul delapan. Masih siang untuk ukuran orang New York. Tetapi jam makan malam sudah lewat. Untuk mereka tentu saja tak berlaku aturan seperti itu. Mau makan jam berapa pun terserah, tergantung tuntutan perut. Keduanya menggendong kantong kertas penuh berisi belanjaan. Tom sekalian mengisi lumbung makanannya. Mereka sangat gembira dan penuh semangat. Kegembiraan itu tidak sampai menyurut ketika mereka melihat Ron dan Danny mendekati. Kedua orang itu sepertinya sedang menunggu kepulangan mereka. Sepertinya dua orang itu, atau salah satu dari keduanya, selalu saja muncul bila ia bersama Susan, pikir Tom. Tapi ia tidak kesal lagi seperti yang dirasakan pada awalnya. Seperti dulu

http://inzomnia.wapka.mobi

terhadap Viv, ia tidak berhak melarang Susan bergaul dengan siapa saja. Apalagi dengan teman-temannya sendiri. "Sini, kami bantu," Danny menawarkan jasanya. Tanpa menunggu komentar ia mengambil alih bawaan 193 Susan lalu menyorongkannya kepada Ron. Ia sendiri mengambil alih bawaan Tom. "Kalian kan sudah capek. Biar melenggang bebas." "Kok tumben kalian pulang sore," kata Ron sambil berjalan ke lift. "Kami bermaksud makan di rumah saja," sahut Susan. "Wah, pasti makannya enak sekali." Danny melongok ke dalam kantong bawaannya. "Mau bikin apa? Chinese food? Indonesian food?" Mereka masuk lift. Susan dan Tom di belakang kedua orang yang membawa kantong. Tom berbisik kepada Susan yang kemudian mengangguk. "Ikut makan yuk?" Susan mengundang. Ia menyuarakan bisikan Tom tadi. "Wow! Dengan senang hati!" Ron dan Danny bersorak. Mereka tertawa. Memang keterlaluan bila tidak mengundang orang yang sudah amat berharap. Apalagi bila sudah berada di depan pintu. Apartemen Tom menjadi riuh. Melihat Susan begitu gembira, Tom merasa harus ikut pula bergembira. Ada saatnya ia bisa berduaan saja dengan Susan di mana mereka bisa berbicara tanpa dicampuri orang yang tidak terlibat. Tetapi selalu ada saat lain di mana keadaan itu tak bisa dipertahankan betapapun waktu begitu terbatas. Ia membutuhkan teman, dan tak

http://inzomnia.wapka.mobi

mungkin mencampakkan mereka kalau sedang tidak membutuhkan. *** 194 Pagi esoknya, mereka berempat sarapan bersama di apartemen Tom sesuai perjanjian semalam. Keempatnya sudah berpakaian rapi. Susan mengenakan setelan yang dipakainya kemarin. Semalam sudah ada konfirmasi dari New Jersey bahwa Barnas Topan bisa ditemui untuk wawancara pagi itu. Danny akan mengantarkannya. Sedang Tom dan Ron akan berangkat ke rumah sakit untuk pekerjaan rutin mereka. Mereka keluar bersama. Tom dan Ron melepas keberangkatan Susan dan Danny. Susan membawa serta travel bag-nya karena ia takkan kembali lagi ke situ seusai wawancara. Ia akan langsung terbang kembali ke Wellington setelah tugasnya selesai. Sebelum masuk ke mobil Danny, Susan memeluk Tom dan mencium pipinya kiri-kanan. Ia juga memperlakukan Ron dengan cara yang sama. "Terima kasih untuk semuanya," kata Susan terharu. "Kalian sudah memberiku kehangatan yang tulus." "Selamat jalan, Sus! Mudah-mudahan sukses wawancaranya, ya!" kata Tom. "Jangan lupa titipan dan pesanku untuk urusan Jakarta, Tom!" kata Susan untuk kesekian kalinya. "Selamat jalan, Sus! Ingat, kirimi aku e-mail, ya?" pesan Ron. "Jangan ngebut ya, Dan! Baik-baik menjaga Susan!" seru Tom.

http://inzomnia.wapka.mobi

Danny tersenyum saja. Bagaimanapun ia mendapat kelebihan dibanding kedua orang itu. Dialah orang yang paling akhir berpisah dari Susan. Mobilnya melaju. "Bye-bye! Bye-bye!" 195 *** Danny melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Jembatan George Washington yang dilintasi sudah padat dengan kendaraan. "Sedih berpisah dari Tom, Sus?" tanya Danny sambil melirik mengamati wajah Susan. "Sedih?" Susan balas bertanya. "Apa aku kelihatan sedih?" "Soalnya kau diam saja." "Oh, itu. Aku nggak sedih. Aku terkesan dengan kebaikan kalian, teman-teman Tom. Apakah kalian selalu begitu kepada kerabat masing-masing?" "Ya." Susan menoleh, tak percaya. Danny tertawa. "Khususnya pada kerabat Tom dong. Dia sahabat khusus kami." "Khusus?" "Apa yang dialaminya itu sangat menyedihkan. Kasihan." Susan diam sejenak. Lalu diajukannya pertanyaan yang tidak atau belum diajukannya kepada Ron. "Apa kau punya perkiraan siapa yang menjadi ayah Debbie?" Danny tertegun, tak menyangka. "Wah, kalaupun aku punya perkiraan atau dugaan, itu takkan kukatakan, Sus. Sori saja. Itu tidak etis. Bagaimana kalau salah?" "Ya, ya. Aku mengerti." Susan sudah menduga jawaban itu. Bahkan Ron pun bisa dipastikan akan berkata seperti itu. Ia

http://inzomnia.wapka.mobi

cuma ingin memancing saja. "Cuma Viv yang bisa mengatakannya, bukan?" 196 "Kau kenal Viv?" tanya Danny. "Tentu saja kenal. Tapi secara mendalam sih tidak. Habis jarang ketemu." "Aku mengerti." "Menurut pengamatanmu, apakah hubungan mereka berdua harmonis pada awalnya?" "Oh iya. Mereka kelihatan begitu saling memperhatikan dan mencintai hingga aku jadi iri. Rasanya jadi ingin kawin juga." Susan tertawa. "Lantas kenapa kau tidak kawin-kawin? Lelaki setampan kau pasti banyak disukai perempuan." Danny tertawa. "Jadi kau menganggapku tampan? Apakah itu pujian?" "Bukan. Aku cuma mengatakan sesuai adanya." "Aku bilang kau cantik dan menarik. Itu adalah pujian, bukan komentar sesuai apa adanya." "Itu tak bisa disamakan, Dan. Tergantung juga pada orang yang mengatakannya." "Maksudmu, kau pelit dengan pujian?" "Yang pasti aku tidak mengobral pujian. Apalagi dengan tujuan mendapatkan sesuatu demi kepentingan sendiri." "Jadi kau tidak melihat sesuatu pada diriku yang pantas dipuji?" gurau Danny. "Wah, kulitmu tebal, ya?" Danny tertawa keras. Susan terbawa keriangan Danny. Teman seperti itu menyenangkan dalam perjalanan. Dia bisa mengawali hari itu dengan optimis. Mungkin pertanda baik bahwa pekerjaannya nanti bisa berlangsung dengan mulus. "Aku yakin, setiap orang pasti punya kelebihan 197

http://inzomnia.wapka.mobi

yang layak dipuji. Sayang aku tidak tahu banyak tentang dirimu. Pantasnya dipuji atau tidak, ya?" Danny tertawa. Ia suka jawaban itu. "Kalau begitu kau harus mengenalku lebih banyak." "Cuma untuk menyimpulkan itu? Repot amat. Tapi dari pengenalan sebentar ini aku bisa melontarkan pujian untukmu. Nggak perlu lama-lama." "Oh ya? Apa itu?" Danny antusias "Otakmu pasti encer. Kau pintar. Kalau tidak mustahil kau bisa jadi ahli bedah. Apalagi bertahan lama di rumah sakit besar seperti Columbia Presby-terian. Kalau bodoh dan sering melakukan kekeliruan, pasti sudah didepak dari dulu-dulu, ya?" Danny tertawa keras lagi. Susan tidak sampai hati untuk menyampaikan penilaian negatifnya. Lalu Danny berubah serius. "Apakah Tom akan menjumpai Viv di Jakarta nanti? Barangkali dia bilang padamu?" "Banyak sekali hal-hal yang mau dilakukannya di sana. Kalau dia punya waktu lebih kukira dia cukup jantan untuk menghadapi Viv." "Ron suka berhubungan dengan Viv lewat e-mail. Barangkali dia sudah cerita padamu." "Ya. Ron memang tipe orang yang bisa diajak berbagi." Danny menoleh. Ekspresi iri tampak di wajahnya. "Apakah itu pujian bagi Ron?" "Itu tergantung penilaianmu. Bisa ya, bisa tidak. Tapi jangan menyimpang, ah. Kita kan sedang membicarakan Viv. Bukan Ron." "Kau duluan yang memulai. Oke, kita kembali. Apakah Tom masih mencintai Viv?"

http://inzomnia.wapka.mobi

198 "Hei, kok tanya aku? Tanya orangnya dong!" "Siapa tahu dia ngomong padamu. Kulihat dia sayang padamu. Kentara dari caranya memandang dan memperlakukanmu." "Aku adalah ganti adiknya. Wajar saja." "Jadi kalian seperti kakak dan adik?" "Bisa juga begitu." "Jadi bisa juga tidak." "Kau cerewet." "Sori. Aku senang kalau Tom mendapatkan ganti Viv. Sudah cukup lama dia sendirian terus. Hidupnya kayak pertapa." Susan mengamati wajah Danny. Tuluskah ucapan itu? Atau sekadar pancingan? "Kalian orang Timur memang tertutup, ya?" Danny mulai lagi. Susan tersenyum. Ia tahu maksud Danny. Tetapi ia tidak akan membuka diri kepada sembarang orang yang baru dikenal. Kepada Tom saja ia tidak seperti itu. "Kabarnya anak Viv, Debbie, cantik sekali, Dan. Menurut ibuku, dia kayak boneka Barbie." "Oh ya?" "Rupanya gen bapaknya dominan, ya?" "Kukira begitu." "Di Indonesia dia bisa jadi bintang film atau artis." "Oh ya? Segampang itu? Nyatanya aku tidak jadi bintang film." "Di sini banyak yang cakep. Bukan cuma kau." "Apa kebanyakan orang Indonesia jelek?" Susan tertawa. Ia menikmati perjalanannya bersama 199 Danny. Pendapat Tom benar, bahwa kehadiran Danny bisa bermanfaat. Tom beruntung bisa punya teman-teman yang baik. Ia mengatakan hal itu kepada Danny.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kami berteman karena merasa cocok. Perbedaan-perbedaan malah membuat kami belajar hal-hal yang baru. Biar tidak ke mana-mana, tapi tidak merasa seperti katak dalam tempurung." "Sayangnya ada yang selingkuh, ya? Kayak musuh dalam selimut." Danny terdiam. Wajahnya tampak mengeras sejenak. "Dalam hal itu sebenarnya Tom juga salah." "Salah apa?" Susan ingin tahu. "Seharusnya ia tidak membiarkan Viv tinggal di situ. Kalau aku jadi dia dan punya istri cantik, aku tidak mau membiarkan istriku dikerumuni cowok-cowok lapar setiap hari." Susan tertegun oleh komentar yang serius itu. Sulit dipercaya bahwa kata-kata itu bisa keluar dari mulut seorang Danny. "Yang kaumaksud cowok-cowok itu kan bukan sembarang cowok Dan. Mereka adalah teman-teman Tom." "Teman itu kan manusia juga." "Pernahkah kau mengatakannya kepada Tom?" "Tentu saja tidak. Itu cuma menambah penderitaannya." Susan yakin, ucapan Danny itu akan menetap di benaknya. Malam itu juga Tom mendapat kiriman e-mail dari Susan yang mengabarkan bahwa ia sudah selamat 200 tiba di rumah dan sibuk membuat laporan. Wawancaranya berlangsung cukup sukses. Barnas Topan dan keluarganya sangat terbuka. Mungkin karena mereka yakin sudah berada di tempat yang aman. Walaupun tema yang mau digali dibatasi pada masalah human interest dan sosial saja, tapi ada juga hubungannya dengan politik. Maka sedikit-banyak disinggung juga. Sesungguhnya keluarga Barnas Topan juga merupakan

http://inzomnia.wapka.mobi

orang-orang yang tersingkir dari tanah air mereka karena masalah politik. Susan juga menceritakan bahwa Danny sangat memperhatikan dirinya. Dengan setia Danny menunggu di mobil sampai ia selesai wawancara, mengajaknya makan siang, lalu mengantarkannya ke bandara. Sepertinya Danny memang tidak punya urusan lain di New Jersey seperti yang dikatakannya semula. "Kukira dia memang punya kelemahan terhadap kecantikan perempuan, Tom! Kasihan juga, ya. Kuperhatikan matanya selalu melotot kalau melihat perempuan cantik. Kalau sudah begitu, dia seperti lupa akan keadaan. Pikir-pikir, bagaimana kalau saat dia sedang membedah orang ada perempuan cantik melintas, ya?" Begitu gurau Susan. Tom tersenyum membacanya. Tentu Susan cukup memahami suasana di kamar bedah. Di sana biarpun perawatnya secantik bidadari, takkan kelihatan cantiknya karena sebagian mukanya tertutup masker. "Pantas dia tidak kawin-kawin ya, Tom? Mungkin dia punya tanggung jawab dan tenggang rasa kepada perempuan yang akan jadi istrinya!" Susan menyimpulkan. Kesimpulan itu membuat Tom merenung sejenak 201 sebelum meneruskan membaca surat Susan. Selanjutnya Susan masih menyampaikan terima kasihnya atas bantuan dan perhatian yang diterimanya. Ia juga cukup terbuka saat bercerita perihal Ron. "Kau teman baiknya, Tom. Menurutmu, apakah dia lelaki yang bisa dipercaya? Dia mengatakan ingin berlibur di sini kalau cuti

http://inzomnia.wapka.mobi

nanti. Aku tidak tahu apa dia serius atau cuma basa-basi saja. Aku belum begitu mengenalnya, bukan? Pertemuan dan perbincangan sejenak tak mungkin dijadikan pegangan. Biarpun aku membutuhkan seorang teman, tapi aku tidak mau sembarangan. Tolong berikan penilaian, Tom!" Tom merasa senang karena Susan mempercayainya. Tapi ia semakin disadarkan, bahwa Susan menyayangi dan menganggapnya sebagai seorang kakak. Tidak lebih dari itu. 202 VII Jakarta, akhir bulan Juni. Hari pertama di Jakarta dihabiskan Tom semata-mata untuk orangtuanya. Begitu tiba di rumah ia tak keluar lagi. Mereka saling melepas kerinduan dengan bercerita banyak-banyak. Sepertinya cerita mereka tak habis-habis. Banyak kejadian, banyak pula ceritanya. Waktu sehari pun tak cukup. Lien Nio dan Bun Liong, ayah dan ibu Tom, meninggalkan pekerjaan mereka supaya bisa bersama anak mereka yang tinggal satu-satunya itu. Sehari-hari mereka memang tak perlu meninggalkan rumah karena cukup bekerja di rumah dengan perangkat komputer, printer, scanner, dan faks. Mereka bergabung dengan perusahaan yang memproduksi soft-ware sebagai programmer freelance. Dalam usia yang sudah senja, enam puluh, mereka masih memiliki keahlian itu. Bahkan selama berada di Amerika, negaranya Bill Gates, mereka terus mengikuti perkembangan ilmu itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Pada hari kedua, Tom diajak kedua orangtuanya berkeliling Jakarta untuk mengunjungi sanak keluarga. Tom sebenarnya agak segan, tapi memaklumi se203 mangat orangtuanya. Mereka masih punya keinginan membanggakan dirinya. Di samping itu ia sadar sepenuhnya bahwa ia harus berbaik-baik kepada para kerabat karena hanya merekalah yang bisa membantu orangtuanya seandainya terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Memang sekarang ini kedua orangtuanya masih sehat dan kuat. Tetapi orang tak pernah bisa tahu tentang apa yang akan terjadi. Barulah pada hari ketiga Tom berencana untuk mengunjungi Maria. Kali ini ia memutuskan pergi sendiri. Orangtuanya memahami meskipun ibunya ingin tahu juga bagaimana reaksi Maria saat bertemu dengan Tom. Dengan antusias pagi-pagi Lien menelepon Maria untuk memberitahu perihal rencana kunjungan Tom. "Sayang Henry tak bisa bolos kerja," Lien memberitahu. "Padahal dia ingin juga bertemu denganmu." "Tak apalah. Saya bisa ke sana lagi di waktu yang lain. Ada paket titipan Susan yang mesti saya antarkan." "Maria senang sekali mendengar Susan bersamamu tempo hari," Lien tersenyum penuh arti. "Dia menganggapku sebagai abangnya, Ma. Tak ada orang lain yang dikenalnya di New York." "Dan kau sendiri?" "Ah, Mama." Tom hanya tersenyum. "Kata Maria, kalian berdua pasti cocok." Lien tertawa. Sementara suaminya tersenyum-senyum saja.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Susan bilang, mamanya memang takut kalau-kalau dia disunting bule," kata Tom. "Ah, jangan mau sama bule. Orang-orang itu gampang selingkuh!" komentar Bun Liong. 204 Tom hanya tersenyum. Tak ingin mengomentari. "Bukan begitu, Pa," protes Lien. "Orang yang suka selingkuh itu ya siapa saja. Bukan cuma bangsa ini atau bangsa itu. Juga bukan cuma lelaki. Perempuan juga. Kayak si Vivian!" Lalu Lien tertegun sambil menatap Tom. Apakah Tom tersinggung? Tapi Tom tetap tersenyum. "Apakah Susan sudah punya pacar?" tanya Lien. "Entahlah. Dia tidak pernah cerita soal itu. Saya nggak enak menanyakan. Itu kan pribadi." Kedua orangtuanya mengangguk setuju. "Tapi terus terang, Tom. Kami juga senang kalau kau berpasangan dengan Susan," Lien berkata setelah diberi isyarat oleh suaminya. "Jodoh itu di tangan Tuhan, Ma," Tom berkelit. "Memang sih. Tapi kan mesti diusahakan juga." Tom hanya tersenyum. Setelah Tom pamit berangkat, kedua orangtuanya bertukar pandang dengan ekspresi sendu. "Kasihan anak kita ya, Pa. Lama sekali dia hidup menduda. Padahal dia kan masih muda. Kalau begitu terus, kapan kita bisa punya cucu?" keluh Lien. "Jangan bicara soal itu di depannya. Nanti dia stres lagi." "Aku khawatir juga lho, Pa. Jangan-jangan..." "Jangan-jangan apa?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Di Amerika itu kan banyak yang aneh-aneh. Bebasnya kebangetan lagi." "Jangan-jangan apa, Ma?" desak Bun Liong. Dia ikut khawatir. "Jangan-jangan dia jadi homo," kata Lien pelan. 205 Bun Liong terkejut. Ia menggeleng kuat-kuat. "Tidak mungkin!" serunya. "Kau tidak tahu pasti." "Akan kutanyakan sendiri kepadanya." "Nanti dia jadi stres. Kita jangan menuntut terlalu banyak. Jangan menuduh atau menyangka macam-macam." "Habis bagaimana kita bisa tahu, Ma?" "Tanyakan Susan saja. Pakai e-mail!" Mereka berpandangan dengan wajah lebih cerah. Tom naik taksi dari rumah orangtuanya di bilangan Slipi, Jakarta Barat, menuju kawasan Pantai Nyiur Melambai di Jakarta Utara. Ia membawa paket titipan Susan yang dimasukkan ke dalam kantong plastik yang bagus, pemberian ibunya. "Nanti berikan sama kantongnya sekalian," begitu pesan Lien. Tom turun beberapa blok jauhnya dari rumah Maria. Sudah begitu lama ia tak ke tempat itu hingga ia tak ingat lagi belokan-belokannya. Tapi sambil berjalan pelan-pelan dan mengingat-ingat ia bisa mengenali kembali situasi tanpa perlu bertanya sana-sini. Melihat kondisi rumah-rumah kosong yang dilewatinya ia merasa sedih. Untunglah Susan tak melihat, pikirnya. Ia berjalan di trotoar seberang blok tempat tinggal Maria. Ia sengaja berjalan di situ supaya bisa lebih jelas melihat rumah

http://inzomnia.wapka.mobi

yang dulu ditempati orangtuanya bersama Sonny. Menurut orangtuanya, rumah itu sekarang sudah menjadi jauh lebih bagus dibanding dulu. Setelah melihatnya, ia harus mengakui kebenaran 206 ucapan orangtuanya. Ada juga rasa syukur bahwa ia tidak perlu melihat kondisi rumah itu sebelumnya, ketika masih hancur dan hangus. Kalau ia sampai melihatnya, pastilah hatinya ikut hancur. Apalagi sambil membayangkan Sonny di dalamnya. Ia berdiri dengan kedua tangan ke belakang, berikut kantong plastik dalam pegangan. Sambil mengamati rumah di seberangnya ia membiarkan pikirannya mengembara dalam kesedihan. Terkenang pada masa kecil dan remajanya bersama Sonny. Hubungan mereka berdua rukun-rukun saja. Tak ada yang namanya persaingan berkat perlakuan orangtua mereka yang tidak menimbulkan rasa iri di antara mereka. Di samping itu perbedaan usia yang besar membuat ia lebih bersikap melindungi Sonny. Kristin baru selesai memandikan Jason. Adam sudah berangkat ke kantornya sejam yang lalu. Ia merapikan kamarnya. Kemudian menuju jendela untuk membuka semua daunnya, supaya udaranya lebih segar. Tapi ia terkejut waktu pandangannya tertuju ke luar jendela. Untuk sesaat ia mematung saja menatap ke seberang jalan. Di sana, di depan rumah yang masih berantakan, berdiri seorang lelaki jangkung bertubuh ramping. Ia mengenakan celana panjang hitam dan berkemeja putih lengan panjang. Rambutnya sedikit kusut, helai rambut berjatuhan di dahi. Kedua tangannya ke belakang. Lalu pandang mereka beradu. Lelaki itu tertegun sejenak

http://inzomnia.wapka.mobi

kemudian mengangguk, tersenyum ramah dan membungkukkan tubuhnya. Sonny-kah? Kristin menajamkan pandangannya. Khayalan atau 207 bukan? Lelaki itu mirip dengan Sonny tapi tampaknya lebih tua. Apakah arwah, hantu, atau apalah namanya bisa menua? Saking terpesonanya ia tidak berniat untuk membalas anggukan atau senyuman lelaki di sana itu. Ia cuma melotot, mengamati setajam-tajam-nya. Dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. Dulu ia tak pernah melakukan hal itu. Tentu saja. Dulu ia tak pernah menyangka bahwa sosok itu adalah hantu. Jadi seperti itukah hantu? Ia mengucek matanya. Lalu melotot lagi. Nah, dia masih di sana. Utuh dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Pikirannya bekerja dengan cepat. Ia tidak puas dengan hanya melihatnya di kaca lemari atau di seberang jalan. Ia ingin berhadapan. Ia harus melihatnya dari dekat. Barangkali berdialog juga. Aneh, kenapa dia selalu muncul di sana dalam keadaan utuh padahal di rumah ini, di hadapannya, dia muncul sepotong saja? Itu pun cuma bayangannya di kaca lemari. Manusia takut kepada hantu atau sebaliknya? Ia segera memutuskan. Cepat-cepat ia berlari menjenguk Jason di kamarnya. Ia melihat bayinya tidur tenang. Sesudah itu ia berlari lagi, bertelanjang kaki, terus menuruni tangga ke bawah. Bi Iyah menyapanya dengan heran, "Ada apa, Bu?" Kristin tak memedulikan. Ia terus berlari ke pintu depan. Tom baru menyadari bahwa ia sudah berdiri terlalu lama di situ setelah melihat jendela loteng rumah di seberang itu terbuka dan sosok serta wajah seorang perempuan muncul. Ia heran

http://inzomnia.wapka.mobi

melihat sikap perempuan itu, yang seolah terkejut melihatnya. Bahkan tak 208 membalas sikap hormatnya. Lalu muncul kekhawatiran janganjangan perempuan itu mengira ia berniat jahat. Apalagi setelah sosok perempuan itu menghilang. Jangan-jangan memanggil orang sekitar. Ia sudah mendengar cerita-cerita mengerikan tentang keberingasan massa di Jakarta yang suka menghakimi orang yang disangka berbuat kejahatan secara sadis. Buruburu Tom menyeberang menuju rumah Maria. Kristin membuka pintu pagar dengan tergesa-gesa. Bi Iyah mengikuti di belakangnya. Ternyata tak ada siapa pun berdiri di seberang jalan seperti yang tadi dilihat Kristin. Demikian pula di kiri dan kanan jalan. Ia mengeluh kecewa. Apakah Sonny gemar main kucingkucingan semasa kecil? "Cari siapa sih, Bu?" Bi Iyah tak tahan bertanya. "Oh, tadi kukira ada orang yang kukenal, Bi. Tahunya bukan." Kristin cepat-cepat masuk rumah lagi untuk menghindari pertanyaan Bi Iyah berikutnya. Di belakang Kristin, Bi Iyah menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lama-lama dia jadi seperti tetangga sebelah," gumamnya. Maria menyambut Tom dengan hangat, disertai tawa dan tangis. Ia memeluk Tom lalu Tom mencium pipinya kiri dan kanan. Maria tampak kecil dalam pelukannya. Perlakuan Tom yang menyentuh itulah yang membuat air mata Maria tumpah. Rasanya ia sudah mendapat ganti Sonny! Sayang Susan tak ada! Kemudian Tom menyerahkan titipan Susan. Dengan air mata bercucuran Maria membuka bungkusan.

http://inzomnia.wapka.mobi

209 Tom duduk di sampingnya, ikut mengamati. Ia juga ingin tahu barang apa yang diberikan Susan itu karena Susan tak mau mengatakannya. "Nanti juga kau tahu sendiri," kata Susan waktu itu. Bungkusan terbuka. Isinya dua helai sweter rajutan benang wol lengan panjang. Satu berwarna merah, satu lagi biru. Maria menoleh kepada Tom sambil memperlihatkan benda itu. Ekspresinya bangga. "Itu ada suratnya, Tante!" Tom menunjuk lipatan kertas yang terselip. Maria meraih kertas itu cepat-cepat, seolah takut nanti diterbangkan angin. Ia membacanya keras-keras. "Mama dan Papa tersayang, sweter ini hasil rajutan saya sendiri, dari benang wol domba asli Selandia Baru! Karya saya yang pertama. Makanya kurang begitu bagus jadinya. Bikinnya juga lama. Bertahun-tahun. Jangan heran ya, Ma. Saya belajar merajut dari seorang nenek yang pernah saya rawat. Dulu saya pernah nyambi kerja jadi perawat orang lanjut usia. Ternyata menyenangkan juga merajut itu. Mama bisa? Saya mengerjakan sweter ini di waktu malam menjelang tidur. Jadinya cepat mengantuk. Dan kalau tak bisa tidur, saya nerusin. Karena itu jadinya lama. Tapi toh jadi dan bisa dititipkan sama Tom. "Kalau cuaca kebetulan dingin di Jakarta, dipakai ya, Ma, Pa? Tapi cuci dulu. Kucek pelan-pelan saja. Jangan masukin mesin cuci. "Saya juga titip cerita sama Tom. Kalau ditulis kan panjang. "Papa dan Mama, tetap semangat, ya? Jaga kesehatan! Saya sayang sama Papa dan Mama! Peluk-cium dari Susan."

http://inzomnia.wapka.mobi

210 Semakin lama membaca suara Maria semakin pelan. Lalu ia menutupnya dengan terisak. "Aduh, Tom! Dia membuat ini sendiri. Bayangin. Susan bisa merajut! Oh, Tom...." Tom merangkul Maria. Ia membiarkan Maria terisak. Setelah emosi Maria mereda, ia mengatakan, "Tante senang, kan?" Maria melepaskan dirinya dari rangkulan, lalu bergegas mengambil tisu dari meja. Ia mengeringkan dulu mata dan hidungnya, lalu meraih sweter yang teronggok dan melipatnya dengan rapi. "Tentu saja aku senang, Tom. Tapi pasti aku akan lebih bahagia kalau Susan sendiri yang datang. Bukan barang titipannya," katanya dengan suara masih tersendat. "Saya mengerti, Tante. Itu juga saya katakan kepadanya. Bersabarlah, Tante." "Ceritakanlah tentang dia, Tom. Bagaimana dia sekarang? Apa masih kayak dulu? Tambah gemuk atau malah tambah kurus?" Selama dua jam mereka membicarakan Susan "Berani sekali dia ke sana ke sini sendirian. Dia kan perempuan," keluh Maria. "Kalau jadi wartawan memang harus berani, Tante." "Kenapa pula jadi wartawan? Kan banyak pekerjaan lain. Ah, sudahlah. Yang penting dia baik-baik saja dan selamat." "Betul, Tante." Lalu telepon berdering. Dari Henry yang ingin bicara dengan Tom. Mereka berbincang sejenak lewat 211 telepon. Tom berjanji akan datang lagi di saat lain untuk bisa bertatap muka dengan Henry.

http://inzomnia.wapka.mobi

Maria memandangi Tom saat dia berbicara di telepon. Tom kelihatan lebih tua sebab uban-ubannya bertambah banyak, pikir Maria. Tapi hal itu justru membuat Tom tampak bijak dan penuh pengertian. Sonny lebih gagah dan tampan, tapi kadangkadang suka bertingkah kekanakan dan jail. Mungkin faktor umur jadi penyebab. Tapi hal itu tak masalah. Tom bisa menjadi pelindung yang baik bagi Susan. Dan bagi Tom, Susan pun bisa menjadi istri yang baik pula. Mereka sama-sama punya karier yang menyibukkan, hingga yang satu tak akan dibuat kesepian oleh yang lain. Dan yang penting, Susan bukan tipe perempuan yang suka selingkuh seperti si "Vivian! Tom kembali ke sisi Maria. "Melamun, Tante?" "Oh, eh... nggak, Tom. Cuma mikirin Susan." "Mikirnya yang baik-baik saja, Tante. Oh ya, ada pesan khusus dari Susan. Dia sangat tertarik pada cerita perihal tetangga sebelah itu. Jadi ingin tahu lebih banyak lagi." "Oh itu!" Semangat Maria memuncak lagi. Cerita mengenai Kristin dan Adam serta bayi mereka memang unik. Maka ia pun bercerita panjang. Dimulai sejak awal perkenalannya dengan mereka. Dan berakhir dengan konflik yang terjadi antara Kristin dan Adam yang disebabkan oleh Jason. Kalau tadi Tom yang banyak bercerita, maka sekarang giliran Maria. Dan berbeda dengan tadi, sekarang Maria tak lagi berurai air mata. 212 Tom menyimak baik-baik. Nanti malam ia akan mengirim e-mail kepada Susan. "Jadi keanehan Kristin itu dimulai pada saat ia melihat foto Sonny?" tanya Tom.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya. Dia menatap foto itu seperti kena sihir, lalu memekik dan menjatuhkan album," Maria memperagakan. "Beberapa menit sesudah itu dia memekik lagi. Perutnya sakit karena rahimnya berkontraksi. Padahal belum saatnya. Menurutmu, apakah karena dia kaget melihat foto Sonny maka dia terdorong melahirkan lebih cepat?" "Entahlah. Susah menyimpulkan, Tante. Apakah dia kenal Sonny sebelumnya?" "Katanya sih nggak." "Itu kan katanya. Siapa tahu." Maria merenung. "Ya. Kagetnya itu seperti orang yang mengenali. Tapi masa sih sampai sebegitu kagetnya? Memangnya Sonny pernah punya pacar lain sebelum Susan?" Tom menggeleng. "Saya nggak tahu soal itu, Tante. Dia sendiri tak pernah bercerita. Memang kami berjauhan. Tapi kami rutin berhubungan lewat e-mail. Apakah Tante tidak bertanya kepada Kristin kenapa dia kaget melihat foto Sonny?" "Saat itu tidak ada waktu untuk bertanya. Kami sudah sangat sibuk mengantarkannya ke rumah sakit. Sesudah itu aku tidak sampai hati bertanya. Dia sendiri tidak pernah lagi menyinggung soal itu." "Sesudah itu dia tahu bahwa Sonny tewas mengenaskan di rumah yang ditempatinya tapi tidak mengeluh apa-apa seperti yang dikhawatirkan suaminya?" 213 "Ya. Anehnya Adam masih jengkel kepada kami, padahal Kristin baik-baik saja setelah tahu. Apalagi bukan kami yang cerita. Adam lupa bahwa kami telah banyak membantu istrinya," kata Maria jengkel.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dan anaknya diberi nama Jason. Menurut Tante, itu aneh?" "Ya." "Kan bukan Sonny." Tom tertawa. "Tapi ada penggalan kata Son. Dipanggilnya pun 'Son'." Maria tidak ikut tertawa. "Anehnya, Adam tidak mau memanggil begitu. Ia memanggilnya 'Jeis', lalu ditanggapi bayi itu dengan tangisan." Tom malah tertawa lagi. Maria menatapnya dengan heran, tak mengerti di mana letak lucunya. Tom segera berhenti tertawa. Ia merasa bersalah. "Maaf, Tante. Saya melihat segi humornya." "Ah, kau tidak tahu seperti apa kacaunya mereka, Tom. Kasihan Kristin. Gara-gara Jason tidak mau didekati bapaknya, dengan gampang si bapak menyimpulkan bahwa anak itu pasti bukanlah anak kandungnya!" Tom terkejut. Bagian yang itu memang belum diceritakan Maria. Dan tentu saja hal itu jauh dari lucu. Bagaimana mungkin kesimpulan seperti itu diambil demikian gampang? Tentu kasusnya berbeda dibanding kasus dia dengan Vivian. Tanpa harus melakukan pemeriksaan DNA, sudah jelas Debbie bukanlah anaknya. "Nah, keterlaluan, bukan?" kata Maria, menanggapi keterkejutan Tom. Tom mengangguk. Ia teringat kepada perempuan yang tampak di jendela loteng. Pasti itulah Kristin. 214 Lalu muncul keinginan untuk berkenalan. Dengan berhadapan dan berbicara langsung, pasti ia akan memperoleh bahan lebih

http://inzomnia.wapka.mobi

banyak untuk diceritakan kepada Susan. Sebelum ia mengutarakan niatnya, terdengar suara-suara dari luar rumah. Maria berdiri dan memandang ke luar. "Itu Kristin, Tom! Dia memang suka main ke sini. Bagus! Dia membawa Jason." Tom cepat berdiri. Ia mengikuti langkah Maria ke pintu. "Ayo masuk, Kris! Mana cucuku, si Jason?" seru Maria. Tom tertegun sejenak. Sejak kapan Maria mengadopsi anak orang lain sebagai cucunya? Tiba-tiba Maria menyikutnya pelan sambil tertawa. "Hei, aku cuma bercanda kok, Tom. Kalau didengar si Adam, dia pasti berang!" Segera Kristin muncul bersama Jason di dalam keretanya. "Kenalkan, Kris!" kata Maria sambil mendorong Tom ke depan Kristin. "Ini Tom, abang Sonny!" Tom tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya. Tetapi Kristin terkejut dan membelalakkan matanya. Ia tidak segera membalas uluran tangan Tom karena masih diliputi kejutan. Jadi inilah sosok yang dilihatnya tadi pagi di seberang rumahnya. Bukan hantu melainkan manusia. "Tadi Anda melihat saya dari jendela, bukan?" Tom memaklumi sikap Kristin. Kristin tersadar. Ia tersipu. Lalu cepat-cepat menyalami tangan Tom. "Maaf, Mas. Saya... saya...," ia gugup. 215 "Panggil saja Tom." "Ayolah duduk sana. Kalian bisa mengobrol," Maria menganjurkan. Ia memahami sikap Kristin tadi. Pasti Kristin menemukan persamaan fisik antara Tom dengan Sonny. Lalu ia mengalihkan perhatian kepada Jason. la membungkuk dan berceloteh menyapa Jason.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tom tak segera memenuhi anjuran Maria. Ia ikut menjenguk isi kereta bayi. Tampak olehnya wajah mungil dengan sepasang mata bulat jernih membalas tatapannya. Ia tersenyum dengan ramah. Lalu mengulurkan tangan untuk membelai kepala Jason. Dan sesudah menyentuh, rasanya ia tak ingin menarik tangannya kembali. Segenap perasaannya tercurah kepada bayi itu. Suka sekali. Ia tak ubahnya kaum perempuan dengan naluri keibuan mereka. Padahal ia sudah sering melihat bayi, bahkan yang lebih manis dan lucu daripada Jason. Tetapi tak pernah ada perasaan apa-apa. Justru yang sering muncul adalah perasaan getir karena ia jadi diingatkan kepada Debbie. Kenapa yang lahir dari rahim Vivian bukan anaknya, melainkan anak orang lain? Maria dan Kristin sama-sama mengamati tingkah Tom. Samasama tertarik tapi dengan pikiran berbeda-beda. Maria berpikir, Tom tentu teringat kepada anak yang bukan anaknya. Sedang Kristin yang tidak tahu riwayat Tom berpikir, bila Tom begitu kebapakan, tentunya si Sonny juga begitu. Pantaslah kalau dia sampai mendapat ide mendadak untuk memberi nama Jason kepada anaknya. Lalu Kristin menjadi sedih ketika teringat pada Adam yang tak bisa menyalurkan naluri kebapakannya kepada Ja216 son. Kenapa Jason yang menolak ayahnya sendiri justru menerima orang asing seperti Tom? Lihatlah, matanya berbinar menerima belaian tangan Tom yang baru pertama kali itu melihatnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kemudian Tom menyadari tatapan kedua perempuan itu kepadanya, la menarik tangannya lalu tersenyum malu. "Anak Anda cakep sekali," katanya kepada Kristin. "Namanya Jason." "Nama yang bagus. Cocok sekali." Kristin menatap Maria dengan pandang bertanya. Mengingat hubungan Tom dengan Sonny, sudahkah Maria menceritakan hal-ihwal dirinya kepada Tom? Memahami arti pandangan Kristin itu, Maria memalingkan muka. Ia mendorong kereta bayi ke dekat sofa. "Ayolah, duduk! Masa berdiri terus di situ?!" katanya mengajak. Maria memberi kesempatan kepada Tom dan Kristin untuk berbincang berdua. Ia ke dalam untuk menyiapkan makan siang. Masakan yang dipesankan Henry dari restoran sudah datang. Tom dan Kristin harus makan bersama karena ia tak mungkin menghabiskannya sendiri. Tentu saja Tom dan Kristin harus menghargai kebaikan nyonya rumah dan tak menolaknya. "Jadi Anda kaget sekali melihatku tadi?" Tom memulai. "Ah, jangan ber-Anda. Nanti aku juga begitu. Panggil Kristin saja." "Baik, Kris. Boleh aku tahu, kenapa tadi kau begitu kaget? Apa aku disangka maling atau mirip Sonny?" Tom bertanya langsung. 217 Kristin mengarahkan tatapannya kepada Jason di dalam keretanya. Anak itu tidur dengan manis sekali. "Kau mirip dia. Tapi bukan fisik." "Maksudmu?" Kristin menoleh ke dalam rumah. Terdengar bunyi piring berdentang-denting. Maria tak akan segera keluar.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku melihat "dia", Tom. Gayamu berdiri dan tempatmu berdiri itu persis dia!" kata Kristin. Itulah pertama kalinya dia mengutarakan hal itu* kepada orang lain. Begitu saja terpikir bahwa Tom adalah orang yang cocok untuk tempatnya bercerita. Tom itu abang Sonny. Jadi paling pas. Senang rasanya menemukan orang yang pas. Ia memang sudah sangat ingin membagi pengalamannya itu dengan orang lain. Kali ini ia sulit menerima nasihat ibunya untuk-menyimpan hal itu untuk dirinya sendiri. "Jadi karena itu kau sangat kaget melihat foto Sonny. Tak mengherankan," Tom menyimpulkan dengan takjub. "Ya. Siapa yang takkan kaget?!" Pandang Tom melembut ketika menatap Kristin. "Kau punya keistimewaan, Kris! Kau punya kelebihan!" Kristin tersipu menerima tatapan Tom yang terkesan begitu mengaguminya. "Ah, itu sudah dari sononya. Tak ada yang perlu dibanggakan. Aku justru malah jadi susah." "Kenapa tak kaujelaskan saja kepada suamimu?" "Menjelaskan? Bagaimana menjelaskannya? Bagaimana kalau dia memaksa pindah dari rumah itu?" "Kau suka tinggal di sana?" 218 "Oh, ya." "Biarpun punya riwayat tak menyenangkan?" "Apa peduliku dengan riwayatnya? Yang penting aku merasa senang di situ." "Apakah Adam juga senang di situ?" "Tentu saja. Kalau tidak buat apa dia merenovasinya? Dari dulu dia sangat ingin tinggal di kawasan ini."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Katanya Adam kenal baik dengan Sonny." "Ya. Mereka tadinya akan bekerja sama untuk suatu proyek BUMN. Tapi dengan meninggalnya Sonny dan terjadinya kerusuhan maka proyek itu batal." "Jadi tak ada orang lain yang tahu tentang pengalamanmu itu?" kata Tom. Ada perasaan diistimewakan. "Ya. Ibuku adalah kekecualian. Karena kau abang Sonny maka kupikir kau pantas tahu. Lagi pula aku punya feeling kau tidak akan melecehkan pengalamanku itu. Orang lain, misalnya Adam, bisa saja mengatakan bahwa aku sudah tidak beres. Sedang Tante Maria mungkin saja percaya, tapi dia akan bercerita kepada orang lain." Tom mengangguk, tersenyum. "Aku takkan menceritakannya kepada orang lain, Kris. Janji. Itu cuma di antara kita." "Terima kasih, Tom," Kristin bersyukur. Tampaknya ia tidak salah memilih orang. Ada penyesalan, kenapa bukan Adam? Tom menatap si bayi. Jason tidur pulas dan nyaman. "Maukah kau berjanji juga, Kris?" 219 "Janji apa dulu?" Kristin tak mau sembarangan. "Bila kau membutuhkan sesuatu, jangan ragu minta bantuanku." "Tapi kau jauh." "Aku sebulan di Jakarta. Tante Maria tahu alamat dan nomor telepon orangtuaku. Minta kepadanya, ya?" "Ya. Selama ini Tante memang selalu membantuku. Senang ada yang mau membantu. Terima kasih, Tom." "Aku juga berterima kasih karena kau mempercayaiku. Ngomong-ngomong, apakah Adam ada di rumah sekarang? Aku

http://inzomnia.wapka.mobi

ingin juga berkenalan dengannya. Bincang-bincang tentang Sonny, misalnya." Kristin terkejut. "Wah, kukira dia tidak akan mau, Tom." "Tidak mau berkenalan denganku?" Tom heran. "Bukan. Maksudku, tidak mau membicarakan Sonny. Dia marah kalau aku bertanya tentang Sonny." "Kalau begitu aku tidak akan bertanya soal itu. Cukup berkenalan saja, ya?" "Ya. Tapi sekarang dia tak ada, Tom. Pulangnya sore. Aku main ke sini justru karena dia tak ada," Kristin bercerita tanpa merasa risi. Entah kenapa, Tom yang baru saja dikenalnya ini bisa membuatnya aman. Apakah karena dia abang Sonny? Padahal ia juga tidak mengenal Sonny. "Lain kali aku akan ke sini lagi. Aku juga perlu bertemu dengan Oom Henry. Barusan aku membawakan titipan dari Susan." "Oh ya, aku melihat fotonya. Bagaimana dia, Tom?" "Dia baik-baik saja. Kurang-lebih dua minggu 220 yang lalu aku ketemu dia di New York. Dia jadi wartawan." "Hebat, ya." Kristin kagum. Lalu dia ingin tahu. "Apakah dia masih merasa kehilangan Sonny?" "Kelihatannya masih, tapi sudah bisa mengatasi." "Syukurlah. Aku mendengar ceritanya dari Tante." Maria muncul, mengajak mereka makan. Kereta bayi didorong ke dalam. Selesai makan, mereka berbincang lagi sejenak. Kemudian Kristin pamitan karena tak lama lagi tiba saat menyusui bagi Jason yang selama itu bersikap manis, seakan memberi kesempatan seluas-luasnya kepada ibunya untuk bersosialisasi.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tom pun ikut pamitan. Sudah cukup lama dia di situ. Masih ada rencana lain. Dia dan Kristin keluar bersama dari rumah Maria. Mereka berjalan di trotoar. Tom menawarkan untuk mendorong kereta bayi. Dengan senang hati Kristin membiarkan. Sambil berjalan ia sempat mengamati bagaimana ekspresi Tom saat itu. Tampak Tom senang sekali. Tatapannya terus tertuju kepada Jason. Dan anak itu pun menatap kepadanya. Kristin merasa, Jason pun menaruh kepercayaan kepada Tom. Maka berulang pertanyaan yang sama. Kenapa Jason tidak berbuat sama kepada Adam, ayahnya sendiri? Mereka tiba di depan rumah Kristin. Bi Iyah membukakan pintu pagar. Tatapannya segera tertuju kepada Tom. Tetapi Kristin dan Tom tidak memperhatikan ekspresinya. Mereka sibuk berbincang. "Tak mampir dulu, Tom?" "Terima kasih, Kris. Kan Jason perlu juga diper221 hatikan. Bukan begitu, Son?" Tom mengarahkan perhatiannya kepada Jason. "Kalau begitu sampai nanti saja. Kapan mau ke sini lagi?" tanya Kristin. "Aku telepon dulu saja, ya? Yang pasti waktunya sore hari." Mereka berpisah. Kristin tak segera masuk rumah. Ia mengamati sejenak punggung Tom saat melangkah pergi, semakin menjauh. Lalu tatapannya beralih ke seberang rumah. Ia yakin sekarang, mulai saat itu tidak akan lagi melihat sosok Sonny berdiri di sana. Sore itu Adam tidak segera pulang ke rumah seke-luarnya dari kantor. Ia punya janji dengan Harun. Menurut Harun, lewat

http://inzomnia.wapka.mobi

telepon, ia menemukan sesuatu dari penyelidikannya ke Kampung Belakang, begitu nama kampung yang lokasinya tak jauh dari kawasan Pantai Nyiur Melambai. Suara tegang Harun di telepon membuatnya ikut tegang. Apakah gerangan yang ditemukan Harun? Ia menelepon Kristin untuk memberitahu bahwa sore itu ia pulang lambat karena ada urusan di luar kantor yang harus dikerjakan. Kristin tidak menanyakan urusan apa atau jam berapa kira-kira pulangnya. Bagi Adam itu lebih baik. Pada saat itu kecerewetan tidak akan dianggapnya sebagai perhatian, melainkan sikap usil semata-mata. Ia sudah siap membentak bila Kristin banyak bertanya. Tapi rupanya Kristin cukup tahu diri. Ia menuju alamat Harun yang tinggal bersama keluarga putranya di bilangan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Untuk menuju ke sana ia melewati Jalan 222 Thamrin yang terkenal dengan kemacetan lalu lintasnya, lebihlebih pada sore hari usai jam kantor. Ia memaki-maki, mendamprat sana-sini, mengomel, menggerutu sepanjang jalan. Sarafnya yang sudah tegang benar-benar terganggu oleh kemacetan itu. Alamat Harun cukup sukar dicari. Ia harus membelok keluarmasuk gang yang membingungkan. Belok kanan, belok kiri. Kanan lagi, kiri lagi. Padahal gangnya pas untuk dua mobil saja. Sedang ganggang itu pun tidak kosong. Ada saja kendaraan yang parkir di kiri atau kanan badan jalan. Ia harus hati-hati melewatinya. Belum lagi kalau parkirnya semrawut hingga ia harus berzigzag. Maka ia menyumpah-nyumpah atau membunyikan

http://inzomnia.wapka.mobi

klaksonnya keras-keras. Warga tak tahu diri! Kalau tak punya garasi jangan punya mobil! Ketika akhirnya ia menemukan rumah Harun, ia benar-benar terkuras. Lemas. Stres. Senyum Harun yang ramah malah membuatnya merasa diejek. Ia harus berupaya sekuat-kuatnya untuk tampil berbeda daripada perasaannya. "Susah nyari rumah ini, Pak Adam?" "Ah, nggak. Tanya orang saja. Bapak banyak yang kenal rupanya." "Oh ya, saya di sini ketua RT, Pak Adam." Harun terlihat bangga. Adam mengangguk. "Pantas," katanya. Dalam hati ia mencemooh. Baru sebegitu saja sudah bangga! "Pak Adam mau minum apa?" "Wah, tak usah repot-repot, Pak. Kan nggak lama. Saya belum pulang ke rumah nih. Entar pulang saya diomelin istri." 223 "Kalau begitu langsung ke tujuan saja ya, Pak." "Betul, Pak. Apa yang Bapak temukan itu?" "Sebentar, ya." Saat itu mereka duduk di teras depan pavilyun sebuah rumah besar. Rupanya Harun menempati pavilyun sedang keluarga putranya di rumah utama. Dengan demikian mereka bisa berbincang tanpa terganggu. Di belakang teras tampak suasana kamar lewat tirai tipis yang menutupi jendela. Terlihat Harun di kamarnya menuju lemari lalu membukanya. Ketika keluar ia membawa sebuah benda yang terbungkus taplak meja katun kembang-kembang.

http://inzomnia.wapka.mobi

Harun duduk di depan Adam lalu membuka taplak pembungkus benda itu. Segera mata Adam terbelalak dengan penuh kengerian. Susah payah ia berusaha supaya tidak sampai menjerit. Benda yang terbungkus itu adalah guci antik milik nenek moyang keluarga Sonny, yang digunakannya untuk memukul kepala Sonny! Tanpa meneliti atau mengamati dengan cermat pun ia langsung mengenali benda itu. Dan ia tak berminat untuk menyentuhnya. "Pak Adam kenal benda ini apa nggak?" Harun menyodorkannya tetapi Adam menggelengkan kepala. Ia segan menyentuhnya. Harun membungkusnya lagi lalu meletakkannya di atas meja. Ekspresi Adam sudah biasa lagi. Dalam waktu yang singkat Adam sudah bisa menemukan jawaban. "Kalau nggak salah saya pernah melihat barang itu di ruang tamu rumah Sonny. Betul, Pak?" "Betul sekali, Pak." Harun tersenyum. Tampak senang. "Dari mana Bapak mendapatkannya? Pasti itu 224 hasil jarahan dulu, Pak. Barang seperti itu tak mungkin dijual keluarga Lie. Kata Sonny, itu warisan turun-temurun. Dan digunakan untuk menyimpan abu jenazah." "Ya. Ini memang barang jarahan. Tapi bukan saya yang menjarahnya." "Lalu siapa?" tanya Adam bernafsu. Tiba-tiba ia gemetar. Orang yang memasuki rumah Sonny dan kemudian menjarah isinya pasti menemukan jenazah Sonny di situ. Apalagi orang yang mengambil guci itu. "Wah, mana saya tahu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Habis Bapak mendapatnya dari mana?" "Ketika saya ke Kampung Belakang dan mengobrol dengan orang sana, sambil lalu saja saya menyinggung kembali soal penjarahan bulan Mei dulu itu. Tahu-tahu si Angga mendekati saya..." "Si Angga?" potong Adam terkejut. Ia masih ingat bagaimana Angga berjasa kepadanya dulu waktu ia terjebak dalam kerusuhan. "Ya. Masih ingat si Angga, ya Pak? Anak itu bilang sama saya, ada orang mau menyerahkan barang jarahan dengan sedikit imbalan saja. Katanya barang itu dari rumah Oom Sonny. Saya memberikan sedikit uang kepada si Angga, lalu saya disuruh menunggu. Kemudian dia datang lagi dengan membawa barang ini. Ketika ditanya dari siapa ia mendapatkannya, ia tak mau bilang. Tapi dengan bisik-bisik dia bilang, orang yang memberikan itu pun mendapatkannya dari membeli. Jadi sudah beberapa kali pindah tangan. Entah benar entah tidak. Saya belum menyelidiki lagi. Tapi kata si Angga barang itu membawa sial. Kurang ajarnya dia baru berkata 225 begitu setelah menyerahkannya kepada saya. Tidak apa-apa. Kan bukan saya yang menjarahnya. Maksud saya baik kok." "Sekarang mau diapakan benda itu, Pak?" "Ini bukan milik saya melainkan milik keluarga Lie. Sonny memang sudah tak ada. Tapi orangtuanya sudah berada di Jakarta. Alamatnya akan saya tanyakan kepada Bu Maria." "Jadi Bapak mau mengembalikan kepada mereka." "Ya. Harus, kan? Ini milik mereka. Pasti mereka senang sekali menerimanya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Daripada Bapak repot, biar saya saja yang memberikannya. Alamat mereka akan saya tanyakan kepada Bu Maria. Jangan khawatir. Saya akan sebut nama Bapak." Sebenarnya Adam tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu. Bagaimana mungkin ia mem-bawa benda itu ke rumahnya? Memegangnya saja ia takkan mau. Sebenarnya ia cuma ingin mengecek reaksi Harun saja. Setulus itukah niat Harun? Harun menggeleng. "Saya tidak mau merepotkan Pak Adam. Biarlah. Itu pekerjaan saya." Cepat-cepat Harun meraih bungkusan berisi guci dari meja lalu meletakkannya di atas pangkuannya. Sepertinya dia khawatir kalau-kalau benda itu diambil Adam. Sikapnya itu membuat Adam tertawa dalam hati. "Apa lagi yang dikatakan si Angga, Pak?" "Apa lagi, ya?" Harun berpikir sejenak. "Oh ya, dia menyinggung Pak Adam juga." "Menyinggung saya? Apa katanya?" tanya Adam bernafsu. 226 Harun tak segera menjawab. Ia tampak merenung. "Ah, sudahlah. Anak itu memang banyak omong. Dari dulu omongannya suka ngelantur. Susah dipercaya." "Tidak apa-apa, Pak. Ngomong apa sih dia?" desak Adam. Ia penasaran. "Sudahlah. Nggak apa-apa, Pak," Harun tegas menolak. Adam sadar, ia tak bisa memaksa. Bila hal itu dilakukannya kemungkinan Harun akan curiga. Tetapi ia merasa heran, kenapa Harun tak mengatakannya saja? Apakah ada yang salah dengan peristiwa dulu ketika ia hampir menjadi korban massa

http://inzomnia.wapka.mobi

yang beringas? Banyak orang mengalami hal yang sama. Dia adalah korban, bukan pelaku kejahatan dalam peristiwa di mana Angga ikut menyaksikan. Apa salahnya Harun membicarakan hal itu, atau sekadar menunjukkan simpatinya? Tapi Harun seperti kurang enak kalau menyampaikan apa yang diceritakan Angga kepadanya. Betapapun penasaran, ia berusaha menyembunyikannya. "Ya, si Angga itu memang berengsek," kata Adam penuh maklum. "Bagaimana dia sekarang, Pak? Sekolah, kerja, atau apa?" "Wah, itu belum sempat saya tanyakan. Tapi kelihatannya tidak kedua-duanya. Sekolah nggak, kerja apalagi." "Dia masih tinggal di Kampung Belakang?" "Saya nggak tahu juga tuh. Dia ngomong cepat, pergi cepat juga. Mana sempat berbincang-bincang. Terus terang, saya nggak peduli dia mau tinggal di mana atau apa kerjanya." 227 Adam tertegun mendengar ucapan yang terkesan kasar itu. Sepertinya itu bukan mencerminkan sifat Harun yang dikenalnya. Dulu ia mengenal Harun sebagai orang yang suka menolong meskipun dirinya kekurangan. Karena sifat Harun itulah maka ia menjadikannya sebagai tempat pelampiasan unek-unek dan berbagi derita. Tetapi sekarang tampaknya ada perubahan. Padahal beberapa waktu yang lalu, ketika baru bertemu, sepertinya Harun tidak berubah. Sekarang ada sesuatu dalam ekspresi Harun yang membuatnya lain. Sorot matanya tajam kalau menatap dan gaya bicaranya penuh semangat. Gerak-geriknya terkadang gelisah. Dia seperti menyimpan ketegangan yang memerlukan pelampiasan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Harun berdiri. "Saya simpan ini dulu, Pak. Tunggu sebentar, ya." "Ya, Pak. Silakan." Adam tidak keberatan menunggu. Berbeda daripada tadi, dia merasa tidak perlu buru-buru. Dia harus mendapatkan kejelasan dari sikap misterius Harun. Mengulur waktu dalam persoalan ini pasti buruk akibatnya. Harun menyimpan kembali guci terbungkus taplak itu ke dalam lemari di kamarnya. Ia keluar lagi. Sikapnya lebih lembut. "Betul Pak Adam tidak mau minum dulu?" "Betul, Pak. Saya baru saja minum di mobil tadi." Adam menganggap tawaran itu sebagai basa-basi belaka. Harun duduk kembali. Ketika ia menatap Adam, tampak keseriusan ekspresinya. Adam menunggu dengan tegang. Tentu tujuan Harun bukan sekadar untuk memperlihatkan temuannya itu saja. 228 "Menurut Pak Adam, berapakah nilai guci itu sebenarnya?" tanya Harun dengan suara dalam. "Wah, yang pasti mahal sekali, Pak. Maklum benda antik. Tapi pastinya saya susah menilai. Relatif sih." "Jadi yang pasti mahal. Lebih-lebih buat pemilik aslinya, karena itu merupakan warisan turun-temurun." "Betul, Pak. Bila suami-istri Lie melihatnya pasti mereka girang sekali. Apakah Bapak serius ingin mengembalikan kepada mereka?" Harun tersenyum. Adam merasa melihat kelicikan dalam senyum Harun itu. "Oh ya, saya serius. Tapi kalau diberikan begitu saja, keenakan mereka dong!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Adam tersadar. Ia sekarang memahami maksud Harun yang sesungguhnya. "Maksud Bapak, akan meminta imbalan pada mereka?" "Ya. Begitulah. Tapi untuk itu kita harus bekerja sama, Pak Adam." "Kerja sama bagaimana?" "Saya merasa kurang enak kalau begitu saja minta imbalan. Salah-salah nanti disangka sayalah yang menjarah. Sedang Pak Adam punya hubungan akrab dengan keluarga Bu Maria, kerabat mereka." "Saya tidak akrab, Pak. Yang akrab itu istri saya." "Sama-sama lah." "Lantas caranya bagaimana, Pak? Saya jadi perantara begitu?" Harun tertawa. "Bolehlah dibilang begitu, Pak. Orang terhormat seperti Pak Adam kan bisa lebih dipercaya. Apalagi segolongan." "Ah, saya tidak merasa segolongan. Jangan ngomong begitu, Pak." 229 "Ya, ya. Maaf deh. Kita langsung saja. Begini. Selama ini selain Pak Adam, saya juga suka mengontak Bu Maria. Dia juga tahu bahwa saya sedang melakukan penyelidikan tentang Sonny..." Adam mengerutkan kening. "Penyelidikan tentang Sonny yang bagaimana, Pak?" ia memotong. "Dia penasaran, benarkah Sonny yang keluar dari rumahnya sebelum musibah itu? Kan sudah saya ceritakan." "Mana mungkin, Pak? Orang yang sudah mati kan tak bisa ditanyai."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tentu saja. Saya juga bilang begitu kepadanya. Tapi yang ingin diketahuinya, apakah ada orang lain yang juga melihat waktu itu?" "Kayaknya susah juga, ya? Sebaiknya kembali ke masalah tadi saja, Pak." "Ya. Karena dia tahu saya sedang menyelidiki itu jadinya wajar saja kalau nanti saya muncul dengan benda itu. Berarti saya sudah mendapatkan titik terang, bukan?" "Lantas?" "Saya mendapatkannya bukan dengan cara yang gampang, Pak Adam. Takut juga nanya soal-soal seperti itu. Seperti mengorek kuburan saja. Jadi wajar dong kalau saya mengharapkan imbalan. Mereka senang, saya juga puas." "Saya kira mereka dengan senang hati akan memberikan imbalan sesuai keinginan Bapak. Jadi bantuan saya tak perlu." "Memang sepertinya begitu. Tapi sudah saya bilang tadi, saya takut mereka akan menyangka sayalah penjarahnya. Akan lain halnya kalau Pak Adam 230 membantu. Caranya tak susah. Saya akan menghubungi Bu Maria dan memberitahu padanya perihal penemuan ini. Lalu saya bilang padanya, saya meminjam uang Pak Adam untuk menebusnya. Uang itu mesti diganti, tentu saja. Nah, Pak Adam tinggal tunggu konfirmasi soal kebenaran keterangan itu. Nanti Bu Maria pasti akan menyampaikannya pada Pak Bun atau istrinya. Kalau dibayar, tentu Pak Adam akan mendapat bagian juga. Bagaimana?" tanya Harun dengan sorot mata berkilat. Adam tertegun. Ia tak menyangka bahwa Harun bisa selicik itu. "Bagaimana kalau dia tak percaya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya sudah. Barang itu tidak kita serahkan. Bilang saja, terpaksa dikembalikan kepada penjualnya dan uang pembayaran diminta lagi." "Berapa duit mintanya?" "Bagaimana kalau lima juta? Tiga juta buat saya, dua juta buat Pak Adam." "Dia akan menyangka Bapak mencatut." "Terserah dia mau menyangka apa. Tapi saya yakin, Bu Maria tidak akan menuduh macam-macam. Dia masih membutuhkan jasa saya untuk menyelidiki." Yang tidak menyenangkan bagi Adam adalah berurusan dengan Maria atau melibatkan Kristin dalam masalah itu. Tapi uang dua juta rupiah cukup menarik bila diperoleh dengan gampang dan singkat. "Bagaimana, Pak Adam? Cari uang sekarang kan susah. Mereka masih cukup kaya kok. Uang sebegitu tak ada artinya buat mereka." Ucapan itu membuat Adam terkenang kepada uang 231 dolar Sonny yang dirampoknya. Uang sebanyak itu disimpan saja di dalam laci, bahkan dipertontonkan kepadanya tanpa kekhawatiran. Arogansi orang kaya. "Saya pikir dulu ya, Pak," sahutnya kemudian. Ia tak ingin terlihat terlalu bernafsu. "Jangan lama-lama dong, Pak Adam." "Besok saya beri kabar, ya." Harun melepaskan kepergian Adam dengan senyum kemenangan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Berbeda dengan sebelumnya, perjalanan pulang ditempuh Adam dengan sabar. Meskipun kemacetan masih dijumpainya di beberapa ruas jalan, tapi tak ada lagi kata umpatan keluar dari mulutnya. Ia justru memanfaatkan saat-saat macet itu untuk berpikir. Sampai akhir pertemuannya dengan Harun tadi, ia masih belum memperoleh jawaban dari pertanyaan apa sebenarnya yang diceritakan Angga tentang dirinya. Mungkin Harun tidak menganggap cerita Angga itu penting atau mengandung kebenaran. Mungkin juga Harun khawatir kalau menceritakannya, nanti ia tak bersedia diajak kerja sama. Tapi apa pun kemungkinannya, ia tetap tidak yakin apa sebenarnya materi cerita Angga itu. Ia merenungi lagi kejadian yang penuh kekacauan di pertengahan bulan Mei sembilan delapan itu. Ketika itu dadanya memang gembung oleh kantong plastik berisi bundelan uang dolar, tapi rapat tertutup oleh jaket kulit. Tak ada yang bisa atau berusaha melihat isinya. Lagi pula sudah terbiasa pengendara motor membawa barang di dalam jaketnya karena 232 lebih aman. Para perusuh itu lebih tertarik kepada motornya. Sebelum menjauh dari tempat itu ia sempat menoleh ke belakang. Ia melihat Angga bersama orang-orang lainnya membakar motornya. Ah, bukan motornya! Itu motor Sonny! Adam merasa dingin dengan tiba-tiba ketika terpikir akan kemungkinan bahwa Angga mengenali motor Sonny. Tapi, mana mungkin Angga bisa mengenali? Setahu Adam, Sonny tidak dekat dengan Angga. Mungkin Angga pernah juga meminta uang kepada Sonny sesekali, seperti kepadanya juga. Tetapi itu tak

http://inzomnia.wapka.mobi

ada hubungannya dengan motor. Sonny memang senang naik motor, tapi ada kalanya ia juga menggunakan mobil. Motor itu pun biasa saja. Tidak ada aksesori yang aneh-aneh hingga gampang dikenali. Ataukah nomor polisinya? Mustahil Angga mengenali nomornya. Ia sendiri tidak tahu. Kalau bukan masalah motor itu, apa lagi yang bisa membuat Harun merasa risi untuk mengulang cerita Angga? Ia harus mempersiapkan diri seandainya cerita itu nanti muncul ke permukaan. Sebelumnya ia harus berbaik-baik kepada Harun. Jangan sampai timbul masalah. Setelah Adam pergi, Harun masuk ke kamarnya lalu mengunci pintunya. Ia juga menutup jendela. Ia mengeluarkan guci antik itu dari dalam lemari kemudian meletakkannya di atas meja. Ia duduk menghadapinya, memakai kacamata, lalu mengamati dekat-dekat tanpa menyentuhnya. Tampak mengilat dan berkilau. Indah sekali. Pasti sudah dicuci dan digosok. Orang yang menjarahnya sudah siap menjualnya 233 dengan harga setinggi mungkin. Kenapa ia tak melakukannya? Kenapa menunggu waktu begitu lama untuk melepaskan barang begitu bernilai? Apakah di zaman susah ini tak ada lagi orang yang berminat pada barang antik? Mungkin sekarang orang lebih suka membeli barang kebutuhan pokok daripada barang pajangan. Sebenarnya kejadiannya tidaklah seperti yang diceritakannya kepada Adam. Ia memang bertemu dengan Angga ketika sedang berjalan-jalan di Kampung Belakang. Dulu pihak pengembang Pantai Nyiur Melambai banyak menggunakan buruh bangunan dari situ. Pemukiman di situ masih seperti dulu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kumuh dan padat. Dalam waktu beberapa bulan terakhir kabarnya pemukiman itu sudah dua kali kena musibah kebakaran. Angga sudah tumbuh lebih tinggi sedikit. Mungkin umurnya dua puluh sekarang. Tapi dia tampak lebih kurus. Wajahnya kuyu dan tatapannya terkadang seperti hampa. Harun curiga, jangan-jangan remaja itu kecanduan narkotika atau obat terlarang. Seperti dulu, Angga minta uang rokok kepadanya. Ia memberinya seribu rupiah. Tapi remaja kurus itu minta tambah. Ia berjanji akan memberi tambah bila Angga mau memberi informasi. Semakin banyak informasinya, maka tambahan uangnya pun semakin banyak pula. Angga tertarik sekali. Harun mengajaknya ke restoran Padang dan mentraktirnya makan. Angga senang sekali. Makannya lahap seperti orang kelaparan. Sesudah itu Harun menanyainya perihal penjarahan yang terjadi di Pantai Nyiur Melambai pada bulan Mei tahun sembilan 234 delapan. Angga kaget sekali hingga dia tersedak-sedak. Tetapi Harun cepat menenteramkannya. "Tenang, Ngga. Aku bukan mau mengorek masa lalu. Yang sudah ya sudah. Apalagi soal harta yang sudah lenyap. Tapi ini soal nyawa." Angga kaget lagi. "Nyawa siapa, Pak?" "Masih ingat sama Oom Sonny?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Angga ternganga. Tampak jelek sekali. "Wah, saya mah nggak tahu soal itu, Pak. Jangan nanya sama saya. Udah ya, Pak. Terima kasih makanannya." Angga berdiri, tapi Harun menariknya kembali duduk. "Sudah kukatakan kamu nggak usah takut. Biarpun misalnya aku tahu siapa yang membunuh Sonny, aku tidak akan memasalahkan. Buat apa? Aku bukan polisi kok. Tapi aku cuma ingin tahu saja." Angga menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tapi saya nggak tahu, Pak. Sumpah. Saya nggak tahu siapa yang membunuh Oom Sonny." "Kamu nggak usah takut. Biarpun kamu bilang, toh aku nggak akan berbuat apa-apa." "Tapi saya bener-bener nggak tahu. Sumpah, Pak!" Harun menyadari, percuma memaksa dan mendesak. Mungkin Angga benar. Tapi mungkin juga tidak benar. "Kalau begitu nggak ada uang tambahan dong, Ngga. Habis kamu nggak mau cerita sih." Angga tertegun. Ia tampak menyesal. "Memangnya buat apa sih Bapak nanya-nanya soal itu? Kan udah lama kejadiannya. Apa Bapak disuruh polisi?" Harun tertawa. "Apa kaukira aku ini cecunguk? Sebenarnya aku diminta beberapa keluarga yang tinggal di Pantai Nyiur Melambai, yang dulu mengungsi 235 tapi sekarang kembali lagi. Mereka ingin mencari barang kesayangan mereka yang dulu hilang. Siapa tahu ada yang mau mengembalikan. Imbalannya sih ada meskipun tak seberapa. Tapi lumayanlah daripada menyimpan barang jarahan. Untuk itu tentu saja aku juga dapat imbalan. Kalau kamu bisa

http://inzomnia.wapka.mobi

mendapatkan, yang sungguh-sungguh bagus tentunya, kamu pasti dapat bagian." Angga ragu-ragu. "Wah, sudah terlalu lama, Pak. Jangan-jangan barangnya udah dijualin. Mana mungkin disimpan begitu lama." "Kalau nggak ada ya sudah. Tapi siapa tahu. Untung-untungan saja." "Nanti saya tanya-tanya ya, Pak." "Benar lho, Ngga. Aku serius." "Uang mukanya dulu dong, Pak." "Gimana kamu ini? Barang belum tentu ada sudah minta uang muka," Harun menggerutu tapi ia memberi sepuluh ribu kepada Angga. "Besok saya kasih kabar ya, Pak," kata Angga senang. Harun memberikan nomor teleponnya. Ternyata esoknya Angga memenuhi janjinya. Mungkin saking ingin mendapat uang lagi. Waktu itu ia belum membawa guci tersebut. "Pemiliknya minta uang seratus ribu saja. Kalau dikasih dia lepaskan barangnya. Dia takut kalau barangnya dilepas duluan nanti duitnya nggak dikasih." Ketika itu Harun ragu-ragu. Uang seratus ribu tidak sedikit. Bagaimana kalau ia dibohongi? Setelah diberi uang bisa jadi Angga tak kembali lagi. Ternyata sekali lagi Angga memenuhi janji. Ia kembali 236 sambil membawa kantong plastik. Isinya guci itu. Ia terkejut sekali ketika mengenalinya. Ia pernah melihat sekali di rumah Sonny karena benda itu diletakkan di ruang depan. Mungkin sengaja untuk dibanggakan. Walaupun cuma melihat sekali saja, ia yakin itu memang benda yang sama.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bapak mengenali?" tanya Angga. "Ya. Ini milik keluarga Sonny." Angga terkejut. Jelas dia tak menyangka bahwa barang itu dikenali. Harun menatap tajam. Jangan-jangan si Angga sendiri yang mengambil benda itu dulu. "Bukan dia yang membunuh Oom Sonny, Pak," kata Angga. "Dia? Dia siapa?" Angga diam. Di wajahnya tampak tekad tidak akan memberitahu. "Kalau saya bilang, saya bisa celaka, Pak." Harun mengangguk. Ia berkata dengan sabar, "Kau tidak usah menyebut namanya, Ngga. Maksudmu tentu orang yang menyimpan barang ini, ya?" Angga menganguk. Ia gelisah. "Jangan ketakutan begitu, Ngga. Aku tidak akan menggugat kamu. Aku justru berterima kasih padamu. Pemilik barang ini pun pasti senang sekali," Harun membujuk. Angga tenang kembali. "Saya juga kasihan sama Oom Sonny, Pak. Dia selalu memberi uang kalau saya minta." "Kamu tak punya perkiraan siapa yang kira-kira membunuhnya?" 237 Angga menggelengkan kepala. "Sumpah, Pak. Saya nggak tahu." "Ya, ya. Aku percaya." Sesudah itu cerita Angga tentang Adam mengalir. Bagaimana dalam kerusuhan Mei sembilan delapan itu ia berusaha menolong Adam saat akan dikeroyok massa. Adam memang berhasil lari, tapi motornya dibakar. Ia mengaku ikut

http://inzomnia.wapka.mobi

membakar. "Tapi motor itu milik Oom Sonny, Pak," katanya yakin. "Bagaimana kau bisa tahu? Ingat nomornya?" Harun kurang percaya. "Saya lihat gambar tempel di bawah tempat duduk. Itu yang saya kenali, Pak." "Gambar apa?" "Gambar hati dengan tulisan Susan!" Barulah Harun mempercayai. Ia sendiri tidak pernah melihat gambar itu pada motor Sonny. Tetapi kekasih Sonny memang bernama Susan. Tak mungkin Angga mengada-ada. "Mungkin Pak Adam kebetulan meminjam motor Sonny," katanya menyimpulkan. Itu saja yang diceritakan Angga. Untuk keterangan itu ia memberikan uang lima puluh ribu kepada Angga. Sebelum pergi, Angga menatap ngeri ke kantong plastik berisi guci itu. "Jangan simpan lama-lama, Pak. Barang itu bawa sial!" Ucapan itu membuat Harun teringat pada suatu kejanggalan. "Oh ya, Ngga. Kau bilang barang itu diperoleh dari membeli. Beli dari siapa?" Angga terdiam. Tampak bingung. "Nggak tahu," sahutnya gugup. 238 "Bukan kamu yang dulu mengambil?" "Bukan! Sumpah!" "Iya deh." Harun tak mau mendesak. "Itu nggak penting buatku. Cuma mau tahu aja. Soalnya aneh. Masa ada orang Kampung Belakang tertarik membeli barang antik." Angga tak bisa menyahut.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jadi orang yang menyimpan barang itu adalah orang yang mengambil, bukan?" tanya Harun. Tegas tapi tidak galak. Setelah Angga masih juga tak menyahut, Harun melanjutkan, "Jadi menurutku memang dia yang mengambil. Aku heran, kenapa dia menyimpannya saja. Kok baru mau menjualnya sekarang?" Baru sekarang Angga menjawab, "Habis nggak ada yang mau beli, Pak." "Dijual murah pun nggak ada yang mau? Ini kan barang bagus!" Harun tak percaya. "Bahkan dikasih pun nggak mau." "Jangan bohong, Ngga!" "Bener. Orang takut melihatnya. Pada merinding." "Tapi aku nggak apa-apa." "Mungkin sama Bapak lain." "Katamu barang ini bawa sial. Gimana sialnya?" "Orang yang menyimpan ini ditinggalin istrinya yang minggat sama lelaki lain. Seorang anaknya ketabrak mobil. Dia sendiri ketabrak becak sampai pincang." Harun tertawa. "Kalau begitu kenapa tak dibuangnya saja?" "Untuk membuangnya dia lebih takut lagi, Pak." *** 239 Tentu saja Harun tidak mempercayai hal-hal seperti itu. Semua takhayul belaka. Buktinya sekarang saat dia mengamati benda itu, ia tidak merasa apa-apa. Biasa-biasa saja. Lalu dia mulai berpikir tentang Adam dan cerita Angga tentang motor yang digunakan Adam. Seandainya cerita Angga itu benar, berarti Adam memang menggunakan motor milik Sonny. Karena kejadiannya pada saat yang sama, maka tidak mungkin

http://inzomnia.wapka.mobi

Sonny bisa menggunakan motornya karena sedang digunakan oleh Adam. Jadi bukan Sonny yang keluar dari rumah seperti yang diperkirakannya. Itu Adam! Tanpa berprasangka jelek, maka diasumsikan Adam kebetulan meminjam motor Sonny pada waktu itu. Artinya, pada saat bersamaan Sonny berada di rumah. Sonny tidak ke mana-mana. Mustahil Adam keluar dari rumah orang yang sedang kosong sambil membawa serta motor pemilik rumah. Itu namanya maling. Tapi kenapa Sonny tidak menanggapi waktu digedor dan diteriaki agar pergi mengungsi? Dan kenapa Adam tidak mengatakan apa-apa ketika ia mempertanyakan siapa gerangan orang yang keluar dari rumah Sonny dan membawa motornya itu? Adam bersikap seolah tidak tahu-menahu. Bahkan ia bertanya, apa saja yang diceritakan Angga tentang dirinya. Adam tidak ingat ataukah ingin mengecek saja? Seandainya cerita Angga tidak benar, apa pula motivasinya? Orang tak begitu saja memfitnah orang lain bila tak mendapat keuntungan dari situ. Kalau Angga mempunyai dendam kepada Adam atau membencinya, tentu ia takkan berusaha menolongnya saat dikepung massa. 240 Pemikiran itu sebenarnya sudah muncul setelah pertemuannya dengan Angga. Tetapi ia tak mau mengemukakannya kepada Adam. Hal itu bisa menjauhkannya Adam darinya, padahal sekarang ini ia membutuhkan bantuannya. Harun mengelus pinggiran guci dan merasakan tonjolan reliefnya. Ia mengagumi kemilau emasnya. Lalu ia menariknya lebih dekat ke bawah matanya. Sungguh benda yang cantik. Tega sekali orang yang menggunakannya untuk wadah abu

http://inzomnia.wapka.mobi

jenazah, pikirnya. Tiba-tiba ia tersentak kaget dan menarik kepalanya ke belakang. Tercium bau yang menyengat. Segera ia menoleh berkeliling, mengendus-endus ke segala sisi. Tetapi bau itu tak tercium lagi. Sepertinya melintas dengan cepat. Ia buru-buru keluar lalu turun ke halaman. Tetapi di sana yang tercium adalah bau sate ayam yang sedang dibakar. Yang jelas bukan bau itu yang tadi tercium. Yang tadi baunya sangat tidak enak. Bukan bau bangkai atau bau busuk lainnya, tapi bau yang aneh. Ia masuk lagi lalu menatap guci di atas meja. Ia mencurigai benda itu. Tetapi ia tidak berani menelitinya sekali lagi. Ia takut pengalaman tadi berulang. Cepat-cepat ia membungkus kembali guci itu dengan taplak. Lalu memasukkannya ke dalam lemari. Sekarang ia mulai meragukan keyakinannya mengenai benda itu. 241 VIII Jakarta, bulan Juli. "Siapa lelaki itu?" tanya Adam kepada Kristin ketika tengah sarapan pagi. "Lelaki mana?" Kristin bingung karena pertanyaan itu tak ada ujung-pangkalnya. "Yang kemarin menemanimu di rumah sebelah. Pantas sering ke sana. Jadi tempat pertemuan rahasia rupanya," gerutu Adam. Kristin tertawa. "Oh, itu Tom, Mas!" "Tom siapa?" Adam melotot.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Abangnya Sonny. Dia baru datang dari Amerika. Kebetulan saja aku berkenalan dengannya ketika main ke sebelah." Adam terkejut. Dia tahu mengenai Tom, tapi belum pernah bertemu. "Dia ingin berkenalan denganmu. Katanya akan ke sini lagi karena perlu bertemu dengan Oom Henry juga." Pikiran Adam segera bekerja. Barangkali momen itu bisa ia manfaatkan. "Wah, kalau begitu kebetulan sekali!" ia berseru. Kristin tertegun. Semula ia berprasangka jelek. 242 "Begini, Kris. Kemarin aku ketemu Pak Harun. Dia berhasil menemukan sebuah guci antik yang dikenalinya sebagai milik keluarga Lie, orangtua Tom. Benda itu berada di tangan seseorang yang tak mau ditemui atau dikenali. Maklum penjarah. Orang itu bersedia melepaskan barang itu dengan imbalan. Pak Harun mintaku sebagai penghubung mereka, karena ia khawatir dianggap sebagai tukang catut. Sebenarnya aku segan..." "Biar aku saja yang ngomong sama Tante!" potong Kristin dengan bersemangat. Ia gembira karena bisa berbuat sesuatu. "Nanti kau yang dianggap tukang catut!" "Biar Pak Harun ikut ngomong. Supaya bisa lebih pasti." "Justru itu. Dia tidak mau ikut ngomong." "Kenapa?" "Dia takut dianggap kerja sama dengan penjarah. Atau bisa jadi dialah yang dituduh sebagai penjarah-nya." "Oh, begitu." "Habis gimana baiknya, Kris? Aku tidak ingin terlibat. Apalagi sampai dituduh macam-macam."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jangan begitu, Mas. Kita harus membantu. Memangnya dia minta imbalan berapa?" "Lima juta!" "Wah, banyak amat!" "Maka itu aku jadi segan. Nanti maksud baik malah ditanggapi jelek." "Terserah mereka mau menanggapi apa, tapi sebaiknya kita bicarakan saja." "Kalau begitu, kau saja yang ngomong." 243 Kristin setuju. "Lima juta?" seru Maria. "Banyak amat! Nyatut kali!" "Ya. Adam juga merasa itu kemahalan. Makanya dia segan karena takut disangka nyatut." "Adam sih nggak mungkin nyatut. Tapi Pak Harun itu. Mentangmentang bisa nemuin. Mana mungkin dia nggak nyatut?" "Saya kira dia patut juga diberi imbalan, Tante. Sebagai balas jasa untuk jerih payahnya." "Siapa tahu dia sendiri penjarahnya." "Dia juga takut disangka begitu. Tapi kalau memang benar, masa sih dia mau mengembalikan kepada pemilik?! Mendingan jual saja kepada orang lain." "Oh iya. Benar juga. Tapi mintanya kemahalan." "Sebaiknya Tante hubungi saja Tom dan orangtuanya." Maria segera melompat ke pesawat telepon. Sementara dia berbicara, Kristin mengamati sambil berpikir. Mungkin kejadian itu ada hikmah untuknya. Adam tidak marah kepadanya setelah mendapat laporan dari Bi Iyah perihal Tom.

http://inzomnia.wapka.mobi

Padahal ia sudah bersiap-siap menghadapi reaksi Adam yang paling buruk. Maria kembali ke sampingnya. "Wah, Ci Lien antusias sekali, Kris. Sayang cuma ada dia di rumah. Tom dan ayahnya sedang keluar. Tapi ia akan segera memberi kabar bila mereka pulang. Katanya, guci itu sangat disayangi suaminya. Bukan cuma karena barang warisan turun-temurun, tapi karena dulu 244 dipakai untuk menyimpan abu jenazah moyangnya. Mungkin dianggap keramat, ya?" "Mungkin, Tante." "Tapi aku sebal sama Pak Harun itu, Kris. Kenapa dia tidak memberitahu aku juga perihal penemuannya? Padahal selama ini dia suka menelepon. Aku juga yang mendorongnya untuk menyelidiki. Eh, dia cuma bilang sama Adam." "Katanya dia takut disangka jelek." "Jadi dia takut sama aku?" Maria tertawa sinis. "Kalau tak punya salah, kenapa mesti takut?" Kristin memahami kejengkelan Maria. Ketidaksukaan Maria kepada Adam-lah penyebabnya. Telepon berdering. Dari Tom. "Mereka sekeluarga akan datang ke sini nanti sore, Kris. Kau dan Adam diundang juga lho. Nanti kita bicarakan bersama-sama," Maria menyampaikan. "Bagaimana kalau Pak Harun diundang juga?" Kristin mengusulkan. Tentu dia masih ingat ucapan Adam, bahwa Harun tak mau ikut dalam perbincangan. Tapi tak ada salahnya mencoba. Maria menyetujui usul itu. Tetapi dia menjadi jengkel setelah berhasil berbicara dengan Harun lewat telepon. "Katanya dia sudah memberikan kuasa kepada Adam untuk berbicara. Jadi

http://inzomnia.wapka.mobi

kehadirannya tidak perlu lagi," cerita Maria. "Dia tidak mau membocorkan hal-hal yang sudah dijanjikannya, begitu alasannya. Lalu cepat-cepat dia menyudahi pembicaraan. Sok sekali!" Pada mulanya Adam segan diajak ke rumah Maria untuk membicarakan hal itu. Ia menganggap Kristin 245 cukup mewakili. Tetapi kemudian Tom datang menjemput mereka. Sebenarnya Tom bukan cuma sekadar menjemput, tapi ia juga ingin melihat rumah Adam. Ketika duduk menunggu di ruang tamu tatapannya berkeliling. Ia mengagumi dengan perasaan sedih. Ingatannya kepada Sonny kuat sekali. Ah, di ruang manakah Sonny ditemukan? Adam tidak menyukai tatapan Tom ke seputar rumahnya. Pujian Tom juga tidak membuatnya senang. Seharusnya ia tidak membiarkan dirinya dijemput seperti itu. Seharusnya ia pergi saja sendiri. Tetapi Kristin malah senang dan merasa dianggap penting. Seharusnya Kristin tidak perlu ikut serta. Tapi Tom mengundangnya juga. Dan karena Kristin ikut, maka Jason pun ikut. Maria dan Henry menyambut Adam dengan ramah hingga Adam menjadi kikuk. Ia menganggap keramahan itu sengaja dibuat berlebihan untuk menyindirnya. Ia juga jengkel karena merasa sikap Kristin sama-sama berlebihan. Kenapa Kristin bertingkah seperti di rumah sendiri? Lihat pula si Jason yang membiarkan dirinya ditimang-timang orang-orang asing tanpa protes, bahkan tampak senang. Padahal dia, ayahnya sendiri, ditolak mentah-mentah!

http://inzomnia.wapka.mobi

Sikap Adam yang dingin dan mahal senyum tidak jadi beban buat orang-orang lain di situ. Suami-istri Lie dan Tom sudah diberitahu oleh Maria perihal kelakuan Adam hingga mereka tak heran lagi. Jadi sebaiknya berpura-pura tidak tahu saja. Lien dan Bun Liong cepat akrab dengan Kristin. Mereka sudah mendengar lengkap cerita seputar 246 Kristin dari Maria dan merasa senang karena bisa berkenalan. Lagi pula mereka menilainya positif sekali. Sedang Kristin yang jauh dari orangtua punya kecenderungan menganggap orangorang tua yang dekat dengannya sebagai orangtuanya sendiri. Maria memberitahu perihal percakapan teleponnya dengan Harun. Itu memastikan kebenaran ucapan Adam, bahwa Harun sudah mempercayakan urusannya kepada Adam. Keterangan Maria itu menambah kejengkelan Adam, sebab ia merasa Maria tidak mempercayainya. "Jadi sebaiknya kita tidak perlu berpanjang-panjang," kata Adam. "Yang saya perlukan cuma kata putus dari Oom Bun. Bersedia atau tidak menerima tawaran itu. Selanjutnya saya akan mengabari Pak Harun. Dia menunggu berita saya." Mereka tertegun sejenak mendengar ucapan Adam yang bernada dingin. Kristin terkejut dan merasa malu. Ia tahu, tujuan mereka berkumpul adalah untuk membicarakan berbagai kemungkinan seputar penemuan benda jarahan itu. Jadi bukan cuma untuk merundingkan keputusan yang akan diambil. Bun Liong mengeluarkan dompetnya. Sehelai cek dikeluarkannya dari situ. Ia memperlihatkannya kepada Adam. "Ini cek tunai senilai lima juta, Dam. Saya tidak menolak ataupun berniat menawar. Saya menginginkan barang saya

http://inzomnia.wapka.mobi

kembali. Itu saja. Tetapi cek ini baru saya serahkan kalau barangnya saya terima. Apakah barangnya ada di rumah Adam sekarang?" Ucapan Bun Liong yang tegas itu membuat suasana sunyi sekejap. Adam mendapat balasannya. Dia salah tingkah sejenak. Ia tidak menyangka bahwa 247 Bun Liong tidak melakukan tawar-menawar. Mungkin uangnya banyak dan ia sangat menginginkan barang itu. "Tentu saja tidak, Oom. Barang itu disimpan Pak Harun. Untuk menyingkat waktu saya akan menghubungi Pak Harun sekarang juga. Biar dia segera membawa barangnya ke sini," kata Adam. Ia mengeluarkan telepon genggamnya, lalu pergi ke sudut ruang. Pada saat itu Jason bergerak-gerak gelisah dan mulai merengek. Kristin berdiri lalu berbisik kepada Maria. "Saya perlu menyusui Jason sekarang, Tante." Kemudian mereka berdua masuk ke dalam sambil mendorong kereta bayi. Lien berdiri. Ia mengikuti mereka. "Boleh ikut?" tanyanya. Maria menggandengnya, mengajak serta. Yang tertinggal di ruang depan melulu para pria. Sambil menunggu Adam menelepon, ketiga pria yang lain menjalin percakapan dengan suara pelan. "Mestinya ditawar dulu, Koh Bun," kata Henry. "Tidak apa-apa. Saya punya feeling itu sudah harga mati." "Mestinya Adam mau membantu," bisik Tom. "Ya. Sepertinya dia juga tak mau banyak bicara seperti Pak Harun," kata Henry. "Jangan membicarakan dia di depan Kristin," bisik Tom lagi.

http://inzomnia.wapka.mobi

Adam segera kembali. "Maaf, bicaranya agak lama, Oom," katanya sopan. "Saya perlu meyakinkan Pak Harun bahwa dia tidak akan diapa apakan di sini. Dia memang khawatir kalau dirinya ditangkap dengan tuduhan menjarah atau menyimpan barang jarahan." 248 "Seharusnya memang begitu. Barang jarahan mestinya dikembalikan bukannya dijual. Apalagi kepada pemiliknya," kata Henry dengan nada kesal. "Ya. Dia juga tahu itu. Maka dia sempat bilang, mau membatalkan saja janjinya dengan orang yang memberikan itu. Tapi masalahnya dia tidak tahu ke mana harus menghubungi. Anak yang jadi perantara itu pun tidak ada alamatnya." "Ya, tidak apalah. Saya tidak akan menuntut," kata Bun Liong tak sabar. "Lantas bagaimana? Mau nggak dia ke sini dengan membawa barang itu? Berikanlah jaminan kepadanya bahwa dia nggak akan diapa-apakan." "Dia akan menyuruh kurir ke sini membawa barang itu, Oom. Tunggu sajalah barang sejam dua jam. Saya permisi pulang saja. Toh urusan saya sudah beres." Adam mengangguk, mengarahkan pandangannya pada ketiga orang itu bergantian. Lalu dia beranjak ke pintu membelakangi tiga orang yang melongo. "Adam! Ceknya!" seru Bun Liong. Adam membalik tubuhnya. "Kan barangnya belum diterima, Oom." "Apa kurir itu bisa dipercaya?" tanya Bun Liong. "Saya sudah janji sama Pak Harun. Kalau barangnya sudah diterima dan Oom yakin itu memang barang yang dimaksud,

http://inzomnia.wapka.mobi

berikan saja ceknya pada Kristin. Kan dia masih di sini. Sudah ya? Permisi." "Lho, nggak bilang dulu sama Kris?" tanya Henry. "Kasih tahu saja, Oom! Permisi!" Adam melangkah cepat-cepat. Ia menghilang. Ketiga lelaki berpandangan. 249 "Dasar...!" gerutu Henry. "Kelihatannya dia merasa kurang nyaman,". komentar Tom. "Mungkin dia ikut main sama Harun," kata Henry. Ia menganggap sikap Adam itu tidak sopan. Seandainya Adam memang marah kepadanya, apa sebabnya? "Biar sajalah. Yang penting barang itu kembali," kata Bun Liong. Sepanjang jalan menuju rumahnya Adam menggerutu, "Mentang-mentang orang kaya. Gampang saja melepas uang. Bapak dan anak sama saja. Aku menyesal tidak minta enam juta saja!" Setelah kejengkelannya mereda ia mulai menyusun rencana selanjutnya. Besok ia akan menguangkan dulu cek itu lalu ke rumah Harun untuk memberinya uang tiga juta rupiah sesuai perjanjian sebelumnya. Sesudah itu masih ada lagi yang perlu dikerjakannya. Sampai saat itu semuanya berlangsung sesuai keinginannya. Bahkan terlalu gampang. Ia memang sudah mengatur caranya dengan Harun lewat telepon. "Jangan mau kalau disuruh datang, Pak! Mereka menaruh curiga kepada Bapak. Istri saya yang bilang," begitu ia menghasut. Rupanya Harun percaya saja kepadanya. Atau memang tak ada jalan lain.

http://inzomnia.wapka.mobi

Pada saat memikirkan rencananya itu ia sama sekali tidak ingat kepada Kristin dan Jason yang ditinggalkannya begitu saja. "Ah, dia sudah pulang?" Kristin kecewa dan malu. Rasanya ia tidak dihargai. Apa salahnya Adam bilang 250 dulu kepadanya atau menunggu sebentar sampai ia keluar? Menyusui Jason kan tidak lama. "Dia sudah berpesan untuk memberitahumu," Tom berkata dengan nada menghibur. "Nggak apa-apalah, Kris. Kan rumahmu dekat. Nanti kami anterin pulang, ya?" Lien menghibur juga. "Kita antarkan ramai-ramai," sambung Bun Liong. Kristin jadi tertawa. Ia mengangguk senang karena membayangkan Adam akan jengkel. "Bilang aja, Ko Bun dan Ci Lien ingin melihat rumah Kristin!" seru Henry. "Ya, ya. Memang betul," Bun Liong mengakui. "Boleh kan, Kris?" "Tentu saja boleh, Oom." "Rumahnya bagus, Pa," kata Tom. "Dari luar saja sudah kelihatan. Adam memang arsitek yang pintar," Bun Liong mengakui. "Katanya dulu ia mau kerja sama dengan Sonny, Pa," tanya Tom. "Ya. Katanya begitu. Tapi masih rencana kok. Adam baru membuat gambar." "Kalau begitu, dulu Papa dan Mama sering juga ketemu Adam." "Ah, nggak sering. Kayaknya cuma dua kali, ya Ma?" sahut Bun Liong. Lien mengangguk. "Betul. Belakangan kita kan libur ke tempatmu di New York, Tom."

http://inzomnia.wapka.mobi

Kristin mendengarkan saja percakapan itu. Dengan demikian mungkin ia bisa mengetahui lebih banyak perihal Adam. Lalu percakapan mulai beralih kepada Harun dan barang temuannya. 251 "Apa salahnya dia datang dan bercerita bagaimana dia bisa menemukan guci itu," kata Tom. "Masa sih kita sembarangan menuduh orang. Apalagi peristiwanya sudah begitu lama." "Dan kita juga tidak bisa membuktikan bahwa guci itu memang milik kita," kata Bun Liong. "Tak ada surat atau bukti tertulis apa pun." "Ada saksi kok," kata Maria. "Kami berdua! Ya, Pa?" Ia menatap Henry. "Oh ya, tentu saja." "Kalau kau mau menemui Harun, aku masih menyimpan kartu namanya, Tom." Maria berdiri lalu masuk ke dalam. Ketika keluar lagi ia menyerahkan kartu nama yang dulu diberikan Harun kepadanya. Tom menatapnya sejenak kemudian memasukkannya ke dalam sakunya. "Ya. Saya ingin sekali bertemu dengannya. Barangkali dia harus diberi kepercayaan lebih dulu bahwa kita tak mungkin mencurigainya. Bukankah pada saat kerusuhan itu dia sibuk membantu warga yang mengungsi? Mana sempat dia menjarah." "Dia sendiri memang tidak sempat. Tapi bagaimana dengan anaknya atau saudaranya?" kata Maria. "Yang terpenting buat saya adalah saya ingin tahu dan bicara dengan orang yang memberikan guci itu kepada Harun," kata Tom. "Untuk apa?" tanya Lien.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Si penjarah itu pastilah melihat Sonny dikeroyok. Saya ingin menanyakan kenapa orangnya mesti dibunuh kalau hartanya bisa diambil dengan gampang. Mustahil Sonny melawan. Dia kan tahu itu mustahil." "Jangan lupa ketika itu orang seperti kesetanan, 252 Tom. Mereka tidak ragu-ragu membunuh. Itu bukan perampokan biasa," Henry mengingatkan. Lien membelalakkan matanya. Kecemasan tampak di wajahnya. "Tidak! Kau tidak boleh melakukan itu, Tom! Buat apa? Sekadar melampiaskan keingintahuan saja? Jangan! Itu berbahaya sekali. Bagaimana kalau mereka membunuhmu juga?" Bun Liong juga cemas. "Betul sekali. Jangan laku-kan itu, Tom." "Berjanjilah kepadaku, kau tak akan melakukannya!" kata Lien dengan ekspresi memelas. Tom memandang kedua orangtuanya bergantian, lalu menatap Kristin dan menemukan kecemasan yang sama di wajahnya. Akhirnya ia mengangguk. "Oke. Tapi menemui Harun boleh, kan?" Kedua orangtua Tom bernapas lega. "Tapi hati-hatilah bicaranya, Tom. Jangan menyudutkan orang. Apalagi orang yang takut," Lien menasihati. "Kalau kau bertemu dengan Harun, tanyakan padanya apakah dia sudah menemukan jejak orang yang keluar dari rumah sambil mendorong motor Sonny? Apa dia betul Sonny atau bukan? Dan kalau bukan, siapa?" Maria mengingatkan. Lalu kurir yang diutus Harun datang. Dia menyerahkan sebuah dus yang terbungkus kertas koran. Bun Liong memeriksa dulu isinya sementara si kurir menunggu di teras. Segera mereka

http://inzomnia.wapka.mobi

semua terpukau pada guci itu. Kristin terpesona kagum. Demikian pula Maria dan Henry. Sedang pemiliknya terpesona dengan perasaan aneh karena tak pernah terpikir oleh mereka bisa mendapatkan kembali benda berharga itu. 253 "Pa! Cepat buatkan tanda terimanya!" Lien mengingatkan suaminya. Setelah sang kurir berlalu Kristin pun pamitan. Ia menolak dititipi cek, dan mengusulkan agar Tom atau orangtuanya menyerahkannya secara langsung kepada Adam. Bukankah mereka berniat mengantarkan sekalian melihat rumahnya? Adam terperangah melihat rombongan pengantar istrinya. Ia sangat tidak senang melihat Tom mendorong kereta bayinya. Apalagi Tom terus-menerus memandangi Jason dengan ekspresi sayang. Seandainya Tom itu perempuan tentu ia tidak ambil pusing. Sungguh menyebalkan! Tetapi demi sopan santun ia harus menerima tamu-tamunya dengan penuh keramahan. Ia menimbun kejengkelannya yang sudah menumpuk saat melihat Kristin mengajak tamu-tamu itu melakukan "tur" ke seluruh pelosok rumahnya. Bahkan sampai ke loteng karena Kristin ingin membanggakan kamar bayinya. Mentang-mentang para tamu itu dulu pernah tinggal di situ. Pujian mereka sama sekali tidak menyenangkan hatinya. Akhirnya para tamu itu pamitan. Meskipun mereka tidak sampai duduk-duduk dulu, tetapi bagi Adam waktu yang mereka gunakan di rumahnya bagaikan seabad lamanya. Emosinya sudah mendekati titik ledak ketika para tamu tidak merasa cukup berpamitan hanya kepadanya dan Kristin. Mereka juga berpamitan secara khusus kepada Jason! Padahal bayi itu

http://inzomnia.wapka.mobi

belum bisa bereaksi. Mereka menciumi Jason, membelai kepalanya, dan mengajaknya bicara macam-macam. Menggelikan, 254 memuakkan, dan menjijikkan! Anehnya, biarpun "dikeroyok" seperti itu Jason tidak menangis. Dasar anak tak tahu diri! Setelah rumahnya menjadi "bersih", ia pun meledak. "Kenapa kaubiarkan orang-orang itu mengotori anak kita dengan ciuman dan sentuhan mereka? Bagaimana kalau tangannya kotor? Bagaimana kalau mereka mengidap tebece?" omelnya. Kristin terperangah. Ia tak menyangka bahwa Adam benarbenar tidak menyukai keluarga Lie. Alasan yang dikemukakan itu sangat tidak wajar. Mungkin Adam merasa iri karena Jason menerima orang-orang asing, padahal dia menolak ayahnya. Sebelumnya ia sempat berpikir bahwa Adam bakal senang menerima pujian. "Mereka menyayangi Jason, Mas." "Huh, sayang apaan? Itu cuma pura-pura! Munafik!" "Kita mestinya senang kalau anak kita banyak yang sayang, Mas!" "Tidak! Aku tidak senang!" "Kau iri?" "Tentu saja! Manusiawi, kan? Ke mana perasaanmu?" Kristin terdiam. Ia merasa bersalah. Mestinya ia lebih peka. "Ya, sudahlah. Maaf, Mas. Jangan meributkan lagi soal itu." "Apa gunanya maafmu itu? Dulu sudah kularang kau dekatdekat dengan tetangga sebelah. Eh, masih saja ke sana tiap hari. Bawa-bawa si Jason lagi. Lama-lama dia jadi anak orang banyak!" 255

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku butuh sosialisasi, Mas! Cuma mereka teman-ku." "Huh! Alasan saja! Aku tak mau dengar! Kularang kau ke sana lagi!" "Tidak! Aku tak mau dilarang!" Begitu saja tangan Adam terayun. Plak! Pipi Kristin ditamparnya. Bukan cuma Kristin yang terbelalak, tapi Adam juga. Ia benar-benar lepas kontrol. Lalu diam tertegun. "Kau! Kau...!Kau...!" Kristin tersedak, tak bisa bicara lagi. Ia memegang pipinya yang memerah. Terasa nyeri. Air matanya sudah membanjir. Seumur-umur belum pernah ada yang memukulnya, termasuk orangtuanya. "Maaf, Kris," Adam menyesal. "Aku tidak terima!" Sikap Kristin membuat Adam panas lagi. Ia sudah merendahkan diri dengan minta maaf. Ia sudah menyesal, bukan? "Lalu kau mau apa?" Adam berkacak pinggang. Ekspresi menantang. "Seorang suami yang gampang memukul istri akan kehilangan integritasnya!" "Apa?" Adam mendoyongkan wajahnya ke wajah Kristin. "Kau menghina aku?" "Itu kenyataan!" Adam melotot. Kedua tinjunya mengepal. "Jadi kau minta dipukul lagi?" katanya sengit. "Aku tidak takut!" Kristin menantang. Wajahnya merah padam hingga pipinya yang barusan kena tampar menjadi lebih merah. Ia teringat masa kecilnya, ketika berantem dengan anak lelaki seusianya. 256

http://inzomnia.wapka.mobi

Ketika itu ia menang, karena berhasil membuat lawannya lari sambil menangis. Tapi itu tentu pada saat dirinya masih kecil dan lawannya pun kecil. Pada saat yang kritis itu tangis Jason melengking. Kristin seperti disiram air dingin. Ia berlari ke kamar bayi. Adam pun terduduk dengan lunglai. "Semua gara-gara anak itu!" keluhnya. Esok paginya, sampai Adam pergi kantor mereka tak berbicara. Semalam Kristin tidur di kamar bayi dan menutup pintu penghubung meskipun tidak menguncinya. Siangnya, memanfaatkan istirahat siang, Adam pergi ke bank untuk menguangkan cek yang diperolehnya dari Bun Liong, lalu ia menghubungi Harun lewat telepon. Siang itu juga ia berencana ke rumah Harun. Lebih cepat selesai lebih baik. Harun setuju. Adam menyerahkan uang tiga juta yang sudah dimasukkannya ke dalam amplop kepada Harun. "Tiga juta, Pak!" katanya. Harun menghitungnya. "Jadi semudah itu ia setuju? Tanpa tawar-menawar?" tegasnya. "Ya. Semudah itu." "Lima juta? Pak Adam tidak minta lebih?" Harun menatap selidik. Adam tertegun. Pertanyaan itu mengindikasikan kecurigaan. Tetapi bukan materi pertanyaan itu yang membuatnya terkejut. Sepertinya kecurigaan yang terbuka dan terus terang itu tidak sesuai dengan sifat Harun yang dulu dikenalnya. Harun benar-benar sudah berubah sekarang. "Kalau Bapak tidak percaya, telepon saja Ibu 257

http://inzomnia.wapka.mobi

Maria sekarang. Atau Pak Henry. Mereka saksinya waktu Pak Bun menyerahkan cek kepada saya." "Ya, ya. Percaya. Percaya. Bercanda saja kok." Harun tertawa. "Bapak sekarang suka bercanda, ya?" sindir Adam. "Bukan begitu. Habis semalam ruwet banget. Nyuruh pakai kurir segala." "Oh, itu kan demi kebaikan Bapak sendiri. Kalau Bapak yang datang sendiri ke sana, pasti Bapak dikepung ramai-ramai. Terutama abang Sonny yang dari Amerika itu. Dia penasaran sekali ingin menanyai Bapak. Dia meminta supaya Bapak sendiri yang membawa barangnya. Jadinya sayalah yang ketumpu-an dicurigai kanan-kiri. Mereka curiga saya nyatut. Bapak juga begitu." Harun tertawa. "Maaf deh, Pak Adam. Jangan ambil di hati, ya?" Adam mengangguk. Ia memang tak bisa marah kepada Harun. "Jadi mereka mencurigai sayalah yang menjarah benda itu," tegas Harun. "Ya. Maklum sajalah. Namanya juga orang-orang penasaran." "Biar sajalah. Duitnya toh sudah keluar." "Saya juga ingin menyarankan supaya selama beberapa minggu ini Bapak pindah dulu dari sini. Berlibur ke luar kota kek. Kan baru dapat rejeki." "Kenapa?" Harun menyipitkan matanya. "Tom berniat mencari Bapak. Ingat. Kartu nama Bapak ada pada Bu Maria." Harun mengangguk-angguk. "Saya tidak takut sama dia." 258 "Kan lebih baik menghindar. Toh dia cuma sebulan di sini."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Saya akan pikirkan itu. Terima kasih. Oh ya, Pak Adam." Harun menahan langkah Adam yang hendak pergi. "Waktu kerusuhan di bulan Mei sembilan delapan itu Bapak sempat dihadang perusuh, ya?" Adam menatap tajam. "Ya. Benar, Pak. Untung selamat." "Tapi motornya dibakar, kan?" Adam tertegun. "Angga yang cerita, bukan? Jadi soal itu yang dia ceritakan kepada Bapak." "Betul. Tadinya tak mau saya bicarakan. Tapi rasanya kok mengganjal." "Bilang saja. Nggak apa-apa." "Benar nggak apa-apa, ya? Katanya, motor itu milik Pak Sonny!" Adam tidak kaget lagi. Ia sudah siap. "Bagaimana Angga bisa tahu bahwa itu motor Sonny?" ia balas bertanya. Ia harus mendapat keyakinan dulu. "Ada ciri khusus pada motor itu yang dikenalinya." "Ciri apa?" "Gambar tempel di bawah tempat duduk. Ia pernah melihatnya sebelumnya. Jadi ia mengenali tanda itu." Adam mempercayainya. Ketika itu tentu saja ia tidak punya waktu untuk mengamati motor tersebut. Ia memperlihatkan sikap pasrah. "Ya. Terus terang itu memang motor Sonny. Saya meminjamnya." "Kapan pinjamnya? Apakah pada hari itu?" "Oh, tidak. Sudah dua hari sebelumnya motor itu ada pada saya. Kenapa?" "Saya jadi mikir. Apakah pada hari yang naas itu 259

http://inzomnia.wapka.mobi

Pak Adam yang saya lihat keluar dari rumah Sonny sambil membawa motornya?" Adam menggeleng. "Saya tidak ke rumahnya pada hari itu," katanya mantap. "Kalau motor itu sudah dipinjam Pak Adam sebelumnya, berarti Sonny tidak keluar pakai motor. Lantas siapa orang yang saya lihat itu?" Adam tertawa. "Yang punya motor itu kan bukan cuma Sonny sendiri, Pak. Dia juga punya teman lain yang memiliki motor." "Tapi kalau dia baru melepas tamunya saat itu, berarti dia ada di rumah. Kenapa dia tidak keluar waktu pintunya digedor? Kejadiannya kan berdekatan waktunya. Tak mungkin dia ketiduran misalnya." "Wah, jangan tanya saya dong. Mana saya tahu?" "Ya, ya. Betul juga. Tapi Pak Adam kok nggak bilang-bilang soal motor itu." "Saya malu, Pak. Gara-gara dipakai saya maka motor itu dibakar orang." "Ah, kalau motor itu ada di rumah malah ikut dijarah atau dibakar bersama rumahnya." "Saya harap Bapak tidak menceritakan soal motor itu kepada orangtuanya atau abangnya." "Apa karena itu Pak Adam menyarankan saya menghindari mereka?" Harun tertawa, menikmati reaksi Adam. "Ah, bukan. Kok sekarang Bapak suka berprasangka buruk, ya?" Harun tertawa senang. "Itu bukan prasangka, Pak. Tapi kecerdikan berpikir." Adam mengangkat bahu. "Terserah kepada Bapak mau cerita atau tidak," katanya kesal.

http://inzomnia.wapka.mobi

260 "Tunggu sebentar, Pak Adam. Saya memang perlu menghindar supaya tidak sampai keceplosan bicara kalau nanti ditanyai. Lidah itu tak bertulang, kan? Boleh juga usul pergi berlibur itu. Tapi kayaknya uang segitu tidak cukup." Harun menunjuk amplop di meja yang barusan diberikan Adam. "Itu cukup untuk pergi ke Bali." "Saya mau lebih jauh lagi dari Bali. Ke luar negeri, misalnya." Adam memahami tujuan Harun. Ia mendongkol sekali karena merasa diperas. "Memangnya kurang berapa sih, Pak?" tanyanya. "Nggak banyak, Pak Adam. Tambah satu juta juga cukup." Tanpa bicara lagi, Adam membuka tasnya. Ia mengeluarkan satu juta dari amplop dari bank, lalu menyodorkannya kepada Harun. Sesudah itu, tanpa berbicara ia melangkah ke luar. Harun tidak mengantarkan. "Terima kasih, Pak Adam!" serunya. Adam tidak menyahut. Ia terus menuju mobilnya. Ia merasa uap kemarahan mengepul dari ubun-ubunnya. Harun tertawa gembira. Ia memasukkan uang yang barusan diberikan Adam ke dalam amplop, lalu menyimpannya di lemari. Ia juga lega karena tak menyimpan guci itu lagi. Sejak mencium bau misterius itu ia jadi merasa tak nyaman. "Tapi beda dengan orang lain yang diberi kesialan, aku diberi kemujuran," ia bicara sendiri. "Karena jasakulah ia kembali kepada pemilik asal. Dan sepertinya aku juga diberinya tambahan ilmu, yaitu kecerdikan!" 261 Kemudian ia berpikir tentang Adam. Ia merenung dan mengingat-ingat lagi. Ke bulan Mei sembilan delapan. Beberapa

http://inzomnia.wapka.mobi

hari sebelum tragedi itu terjadi. Ketika itu dia masih bertugas seperti biasa. Adam juga. Seingatnya ia tidak pernah melihat Adam mengendarai motor. Ia tahu di mana Adam kos. Lokasinya dekat kantor, hingga ia cukup berjalan kaki saja untuk mencapainya. Bila keterangan Adam tadi benar, bahwa ia telah meminjam motor Sonny dua hari sebelum tragedi itu, mestinya terlihat ia menggunakannya. Buat apa pula meminjam motor orang sampai dua hari lamanya? Ia hampir yakin bahwa Adam berbohong. Karena itu ia akan mencari tahu lebih banyak lagi. "Siapa yang mau ke luar negeri?" katanya sendiri dengan senyum mengembang. Dari rumah Harun Adam tidak kembali ke kantornya. Ia menelepon minta izin tidak kembali dengan alasan perlu mengantarkan anaknya yang tiba-tiba jatuh sakit ke rumah sakit. Ia juga tidak pulang ke rumah, melainkan menuju kawasan pemukiman yang berdekatan dengan lokasi Pantai Nyiur Melambai, yaitu Kampung Belakang. Tapi ia tidak menggunakan mobilnya, karena situasi di pemukiman itu kumuh dan semrawut. Ia menitipkan mobilnya kepada satpam sebuah apotek dengan imbalan uang. Halaman parkirnya cukup luas. Ia berjalan kaki ke kampung itu tanpa membawa tasnya, yang ia sembunyikan di kolong tempat duduk. Dengan demikian ia tidak tampil mencolok atau membangkitkan rangsangan bagi orang yang berniat 262 jahat. Ia cukup mengenal wilayah itu. Sebagai karyawan proyek yang sering diberi tugas sebagai mandor, ia mengenal cukup

http://inzomnia.wapka.mobi

banyak penghuni di sana, karena mereka bekerja sebagai buruh bangunan. Ternyata ia masih dikenali. Beberapa orang menyapanya dengan hormat, yang dibalasnya dengan ramah. Karena belum makan siang, ia mampir dulu di warteg. Pada saat itu ia merasa seperti kembali ke masa lalu. Beberapa orang duduk di sebelahnya untuk makan juga. Ada yang mengenali lalu mengajak berbincang. Ia mengatakan ingin mencari Angga untuk suatu keperluan. Orang yang diajak berbincang menjanjikan untuk membantu. Adam menyatakan rasa terima kasihnya dengan mentraktir orang itu. Dalam waktu singkat Angga sudah ada di sisinya. Ia menyuruh Angga makan dulu. Pada mulanya Angga segan dan tampak curiga. "Aku ingin membalas bantuanmu dulu itu. Ingat?" kata Adam. Tentu saja Angga masih ingat. Apalagi kedatangan Harun sebelumnya telah menyegarkan ingatannya. Maka ia percaya benar kepada Adam. Orang yang ingin membalas budi tentunya harus dimanfaatkan. Ia pun makan dengan rakus, mengisi perutnya sebanyak-banyaknya. Lalu Adam mengajak Angga berjalan karena sulit bicara di tempat itu tanpa terdengar orang lain. Mereka berjalan perlahan-lahan. "Begini, Ngga, tempo hari Pak Harun bicara denganmu, ya?" Angga bersikap siaga. Ia memandang berkeliling. Tempat itu ramai. "Iya, Pak. Memangnya kenapa?" "Kamu nggak usah waswas begitu. Aku juga 263

http://inzomnia.wapka.mobi

sudah bicara dengan - Pak Harun. Dia yang kasih tahu. Aku bilang padanya, kamu pernah menolongku dulu. Jadi kamu jangan sampai diapa-apain." "Diapa-apain kenapa, Pak?" Angga kaget. "Hati-hati saja sama dia. Jangan percaya kalau dia membujukbujuk. Aku mengingatkan kau karena aku berutang budi padamu." "Memangnya dia mau apa sama saya, Pak?" Angga cemas. "Kamu menyerahkan barang jarahan padanya, kan?" "Iya, Pak. Lantas kenapa?" Angga berhenti berjalan. Adam menariknya ke pinggir. Mereka berteduh dari sengatan panas di bawah emperan sebuah warung. Adam bicara lebih pelan, "Apa kamu beritahu dia siapa orang yang menyimpan barang itu?" "Nggak, Pak. Kan udah janji. Kata Pak Harun, dia nggak perlu tahu. Cuma perlu barangnya saja." Adam merasa lega. Jadi Harun belum tahu. Karena itu Harun pasti akan mencari Angga lagi untuk memuaskan keingintahuannya. "Dia bohong, Ngga. Tunggu saja. Nanti dia akan ke sini lagi mencarimu untuk membujukmu supaya memberitahu siapa orang itu. Hati-hati saja. Kamu bisa terlibat. Bila orang itu ditangkap, banyak yang lain akan ditangkap juga. Demikian pula kamu. Mereka perlu saksi, kan?" "Habis saya mesti gimana, Pak?" "Sebaiknya kamu jangan mau ketemu dia. Atau kalau kepergok, jangan mau dibujuk. Dengan uang sekalipun." 264 "Baik, Pak. Terima kasih." "Jadi hitung-hitung aku sudah membalas budimu, Ngga."

http://inzomnia.wapka.mobi

Sebelum pergi, Adam menjejalkan uang lima puluh ribu ke dalam tangan Angga. Uang itu memang sudah ia sediakan di dalam sakunya. Tak enak mengeluarkan dompet di depan umum lalu terang-terangan memberikan uang kepada Angga. Orangorang di situ pasti sudah tahu siapa dan bagaimana Angga itu. Dia adalah pecandu dan seorang kriminal kecil-kecilan. Adam merasa sangat puas. Perlakuan tak menyenangkan yang diterimanya dari Harun tadi tidak lagi mengganjal perasaannya. Biarlah sekarang Harun bersenang-senang atas keberhasilannya. Cerdik memang. Dan culas juga. Seingat Adam, dulu Harun tidak begitu. Ia tahu, Harun tidak begitu saja mempercayai ceritanya tentang motor itu. Karena tidak percaya itulah Harun pasti merasa penasaran. Lalu terdorong untuk menyelidiki lebih jauh. Bila Harun berhasil menemukan orang yang menjarah guci itu, maka rahasia yang disimpannya bisa terbongkar. Penjarah itu tentu tak mau dituduh telah membunuh Sonny. Ia akan mengatakan bahwa pada saat ia memasuki rumah itu, Sonny sudah tewas. Guci itu berada di dekatnya. Siapa yang membunuh Sonny? Menurut pemikiran si penjarah, si pembunuh tentunya orang yang memasuki rumah itu sebelum dia. Konon ketika itu para penjarah bagai kerasukan. Mereka bertebaran memasuki rumah-rumah lalu kebingungan apa yang mau diambil karena dua tangan mereka tak mampu 265 mengangkut. Jadi orang satu menyangka orang lainnya telah membunuh Sonny. Mereka saling menyangka. Padahal kemungkinan mereka tidak tahu siapa saja yang masuk ke rumah Sonny atau rumah lainnya. Semuanya tegang oleh

http://inzomnia.wapka.mobi

kerakusan. Tetapi Harun yang cerdik dan culas tidak akan begitu saja mempercayai pemikiran ku. Sekarang Adam tinggal berharap bahwa Angga mempercayainya dan melaksanakan sarannya. Tapi ia yakin telah membangkitkan kecemasan Angga. Dan mungkin juga kemarahannya karena merasa dibohongi. Ini namanya taktik mengadu domba. Sebelum pulang ke rumah, Adam mampir ke toko bunga. Ia membeli satu buket bunga mawar merah. Ia juga mampir ke toko kue dan membeli sekotak kue kesukaan Kristin. Ia membayar semua itu dari uang satu juta yang tersisa itu. Jangan sampai rejeki yang diperolehnya itu tak dimanfaatkan atau terbuang sia-sia. Ternyata apa yang dilakukannya itu telah membantu menyejukkan darahnya yang memanas. Apalagi kemudian Kristin menyambut sikapnya dengan positif. Kristin memaafkannya. Ia berjanji tidak akan mengulang perbuatan serupa. Kristin pun berjanji untuk lebih peka dan menghargai perasaannya. Mereka berdamai. Tetapi Adam tetap menjaga jarak dengan Jason. Terhadap suami-istri tetangga, Maria dan Henry, ia mengubah sikapnya. Ia ramah, sopan, dan hormat. Ia sudah bertekad, tidak akan "menciptakan" musuh. Itu merugikan diri sendiri. Kata orang, kalau mau 266 cari selamat bersikaplah seperti politisi. Marah di dalam, ramah di luar. Benci di dalam, simpati di luar. Dengan kata lain, belajarlah menjadi licik.

http://inzomnia.wapka.mobi

Bun Liong meletakkan guci kesayangannya di tempat yang aman, di atas meja di kamarnya. Benda itu tak lagi bisa dipandangi sembarang orang seperti dulu karena diletakkan di ruang tamu. Ada kalanya kebanggaan tidak membawa manfaat, malah merugikan. "Heran juga ya. Kenapa barang ini tidak pergi jauh-jauh? Kok jatuhnya ke tanganku juga?" katanya berulang-ulang dengan takjub. "Itu berarti ada untungnya dulu diletakkan di ruang tamu. Jadi ada yang mengenali bahwa barang itu memang milikmu," kata Lien. "Ya, ya. Benar sekali." "Saya akan dekati si Adam lagi, Pa. Kayaknya dia tahu lebih banyak daripada yang dia ceritakan kepada kita," kata Tom. "Ala, sudahlah, Tom. Orang kayak gitu didekati. Belum apa-apa mukanya sudah ditekuk," cegah Lien. "Iya, sudahlah. Tahu lebih banyak juga tak ada gunanya. Semua sudah terjadi," Bun Liong membenarkan. Tom mengangguk. Ia tidak mau adu argumentasi dengan orangtuanya. Ia punya rencana sendiri. Sesungguhnya ia ingin menemui Harun untuk berbincang lebih banyak. Bukan untuk menyelidiki, tapi sekadar mendapat kejelasan. Hal itu merupakan pesan Susan juga. Dengan bicara dan berhadapan empat mata dengan Harun ia bisa mendapat kesan lebih 267 mendalam daripada mendengar ceritanya dari orang lain. Jadi ceritanya bisa lebih berbobot. Esok paginya setelah Adam pergi ke kantor, Kristin meraih pesawat telepon. Ia baru saja menyuruh Bi Iyah ke pasar

http://inzomnia.wapka.mobi

hingga tak ada yang memata-matai atau menguping pembicaraannya. Ia menghubungi rumah keluarga Lie dan minta bicara dengan Tom. "Hai, Kris!" suara Tom terdengar senang. "Baik-baik saja? Bagaimana Jason?" "Dia masih bobo, Tom. Aku cuma ingin menanyakan, apa kau jadi menemui Pak Harun seperti yang kaurencanakan itu?" "Mungkin jadi. Kenapa?" "Hati-hatilah sama dia. Orangnya licik." "Oh ya? Gimana liciknya?" "Semalam Adam bercerita. Dia menyerahkan cek yang diberikan Oom Bun itu kepada Pak Harun. Ternyata Pak Harun curiga apakah Adam sesungguhnya minta lebih dari jumlah itu. Tentu saja Adam jengkel. Ia menyarankan supaya Pak Harun menelepon sendiri untuk memastikan, tapi rupanya dia segan melakukan hal itu. Padahal Adam tidak minta bagian satu sen pun darinya." "Kenapa dia mesti menyangka begitu, ya?" "Entahlah. Menurut Adam, yang dulu cukup dekat dengannya, sekarang ia berubah sekali. Dulu orangnya baik. Sekarang cenderung mata duitan. Jadi kalau kau menemui dia, mungkin dia akan berupaya supaya kau memberinya uang. Karena Oom Bun tidak menawar permintaannya yang lima juta itu, disangkanya kalian sangat kaya." 268 "Aku akan berhati-hati, Kris. Terima kasih untuk pemberitahuannya." "Jadi kau tetap akan menemuinya?" "Kemungkinan besar iya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jangan buru-buru, Tom. Kemungkinan dia mau menghindar untuk sementara waktu. Tentu dia sadar bahwa kalian penasaran ingin mendengar ceritanya. Adam tidak banyak ceritanya, ya?" "Kalau begitu aku akan menunggu beberapa hari dulu." "Mau keliling Jakarta?" Terdengar suara tawa Tom. "Boleh juga usulmu itu. Tapi aku masih ada urusan yang perlu dikerjakan lebih dulu. Bila semuanya sudah selesai baru jalan-jalan." "Jadi hari ini tidak ke rumah Pak Harun, kan?" "Tidak. Aku mau ke tempat lain. Oh ya, boleh aku mampir ke rumahmu sebentar saja? Aku ingin menjenguk Jason." Kristin tertegun. Menjenguk Jason? Ia teringat pada Adam dan janji mereka satu terhadap yang lainnya semalam. Mungkin karena Kristin tak segera menjawab, Tom berkata, "Tak usahlah, Kris. Kau pasti keberatan. Kedatanganku mengganggu saja, ya?" "Bukan begitu, Tom." Kristin memutuskan untuk berterus terang. Mestinya Tom tahu banyak mengenai dirinya dari Maria. Dengan berterus terang, konflik atau salah paham bisa dicegah. "Pembantuku selalu memberitahu Adam mengenai apa saja yang kulakukan. Dia sangat jengkel kalau orang lain bisa men269 dekati Jason, tapi dia... dia... ya, kau tentu tahu ceritanya dari Tante Maria, ya?" Tom tak segera menjawab. Mungkin berpikir dulu. Tapi saat berbicara, suaranya terdengar hangat dan penuh simpati. "Ya. Aku mengerti, Kris. Mungkin Adam perlu bersabar. Dekatilah

http://inzomnia.wapka.mobi

Jason dengan hati-hati dan lembut. Pelan-pelan saja. Sekarang kan masih kecil sekali." "Ya. Terima kasih untuk pengertianmu, Tom." "Terima kasih juga untuk informasinya, Kris." Setelah meletakkan telepon Kristin merasa lega. Ia yakin, keadaan akan menjadi lebih baik. Sudah ada pertanda positif. Semalam ia sudah berbaikan dengan Adam. Sore sebelumnya Adam sudah mau menyapa Maria dan Henry dengan ramah sekali. Padahal sebelumnya ia melengos saja kalau bertemu. Pura-pura tak melihat atau konsentrasi ke hal lain. Perubahan itu cukup mendadak. Kedua orang tetangganya itu sampai terbengong-bengong keheranan. Termasuk dirinya sendiri. Apa yang telah terjadi, tentu cuma Adam sendiri yang tahu. Tom termenung sejenak menatap telepon. Maria memang sudah bercerita banyak mengenai "konflik" antara Jason dan Adam. Kisah yang aneh. Tetapi ia juga mengetahui "keanehan" Kristin. Kisah yang membangkitkan kedekatannya dengan ibu dan anak itu. Bahwa Kristin memilihnya sebagai tempat berbagi sangat dihargainya. Ia merasa tersentuh. Barangkali Kristin menggunakan intuisinya dalam hal itu. Dia dianggap cocok, lalu tanpa pertimbangan ia pun membuka diri. 270 Orang seperti Kristin pastilah langka. Ia pernah mendengar kisah orang-orang seperti itu. Mereka bukan cuma peka, tapi bisa superpeka. Mereka memiliki kemampuan melihat, mendengar, dan merasakan, yang lebih tajam daripada orang kebanyakan. Hal itu suatu kelebihan yang jelas berbeda, dibanding halusinasi yang dialami penderita gangguan jiwa.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tetapi mereka yang peka atau superpeka itu tetaplah manusia dengan segala keterbatasannya. Mereka sering bingung sendiri dengan apa yang dilihat dan dirasakan. Apalagi bila mereka harus mencernanya dengan pemikiran yang rasional. Tak jarang mereka bukan mensyukuri kelebihan itu, melainkan menyesalinya sebagai kemalangan. Mereka ketakutan lalu menganggap diri sendiri tidak beres. Tak mengherankan kalau kemudian ada di antaranya yang mengalami gangguan jiwa. Kepekaan dianggap sebagai halusinasi. Untunglah Kristin tidak seperti itu. Dia bisa menerimanya tanpa merasa terganggu atau jadi beban. Karena itulah dia bisa tetap tinggal di rumahnya dengan nyaman. Bahkan Kristin bisa menerima "kehadiran" Sonny di rumahnya! Tetapi yang sekarang dipikirkan Tom adalah Jason. Kenapa anak itu, yang usianya belum lagi genap sebulan, menolak ayahnya sendiri dengan cara yang unik seperti itu? Apakah Jason sudah mewarisi keanehan yang dimiliki Kristin dalam usia di mana dia belum jadi manusia yang sempurna? Katanya, begitu matanya terbuka ia sudah "menolak" Adam. Padahal dengan orang-orang lain, termasuk pembantu rumah tangga, ia biasabiasa saja. Tak mengherankan 271 bila Adam menjadi stres lalu bertingkah macam-macam. Tom simpati kepadanya. Sepertinya mereka senasib meskipun kasusnya jauh berbeda. Masih ada satu hal yang dirasanya unik. Yaitu ketertarikannya kepada Jason. Keinginannya menjenguk Jason saat menerima telepon dari Kristin muncul begitu saja. Ingin sekali melihat

http://inzomnia.wapka.mobi

dan membelai kepalanya yang mungil lembut itu. Anehkah keinginan yang seperti itu? Perlukah penjelasan? Ternyata ibunya juga mengamati sikap dan perilakunya itu. Lalu mengomentari, "Itu berarti kau juga ingin punya anak!" Ah, benarkah itu? Ternyata sulit sekali menyelami diri sendiri. Vivian tinggal di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dan bukan cuma alamat rumah yang diberikan Ron kepadanya, melainkan juga alamat kantor, juga nomor telepon rumah serta kantor. Dengan kelengkapan itu jelas keseriusan Viv ingin bertemu dengannya. Mungkin pemikiran tentang Kristin dan Jason tadi pagi yang memunculkan niat Tom untuk memenuhi permintaan Viv itu. Secara mental ia sudah siap. Ia yakin akan hal itu. Ia toh bukan manusia statis. Sekarang ini pastilah Viv sudah tahu dari Ron mengenai kehadirannya di Jakarta. Lalu menunggu-nunggu. Menurut Ron, Viv masih sendiri. Sama seperti dirinya. Dengan demikian, ia bisa berhadapan dengan Viv secara lebih leluasa. Tak ada orang ketiga yang akan menanggapi macam-macam. Tetapi niatnya yang muncul tiba-tiba dan segera dilaksanakannya itu belum disampaikannya kepada 272 Viv lewat telepon seperti seharusnya. Ia juga tidak memberitahu kedua orangtuanya mengenai rencananya itu. Pada saat itu ia ingin bertindak murni oleh kehendak dan pemikiran sendiri, tanpa dipengaruhi orang lain. Jam sepuluh pagi ia berdiri di depan rumah Viv, sesuai alamat yang ada padanya. Sebuah rumah ukuran sedang yang merupakan bangunan lama. Jalan di depan rumah cukup lebar.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ia memiliki ruang gerak yang leluasa. Dari pengalaman sebelumnya, saat mengamati rumah Kristin, ia sadar tidak patut mengamati rumah orang secara terang-terangan. Maka ia memperhatikan sekilas, berjalan ke ujung jalan, kemudian kembali lagi. Pada saat itu Viv berada di kantornya, di kawasan Jalan Jenderal Sudirman. Tetapi anaknya pasti berada di rumah. Tom melakukan hal itu secara spontan saja tanpa pertimbangan apa-apa. Ia ingin melihat Debbie dulu tanpa dihadiri Viv. Ia tak ingin membuat Viv bersiap-siap menerima kedatangannya. Biarlah wajar-wajar saja. Aneh juga kalau dipikir bahwa selama bertahun-tahun perasaannya dingin saja terhadap anak itu. Bahkan saat awal ia menginjak Jakarta, tak muncul sedikit pun keinginan untuk melihatnya. Bertemu dengan Viv oke saja, tapi tidak Debbie. Sampai terpikir untuk menemui Viv di kantornya saja. Sekarang ia sudah berada di situ. Pagar rumahnya rendah sehingga pemandangan ke halaman dan bagian depan rumah tidak terhalang. Pintunya tertutup. Halamannya cukup apik, dihiasi tanaman hias yang subur. Beberapa pot gantung dengan tanaman menjuntai ke bawah berderet di bawah plafon teras. 273 Orang-orang yang berlalu lalang melewatinya. Seorang perempuan gemuk mendekatinya. "Cari siapa, Mas?" tanyanya sopan. "Ini rumahnya Ibu Vivian?" "Betul. Tapi setahu saya dia ada di kantor." "Kalau begitu saya mau nitip pesan saja. Apa ada yang jaga?" tanya Tom sambil menatap ke arah rumah.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Biar saya panggilin. Ada pembantu dan susternya kok." Perempuan gemuk itu mengetuk pintu sambil berteriak, "Mbaaak! Mbaaak! Ada tamu!" Tak lama kemudian pintu terbuka, disusul munculnya seorang perempuan bergaun putih. "Nah, itu suster anaknya, Mas!" kata si perempuan gemuk. "Terima kasih, Bu!" Perempuan gemuk itu berlalu. Rupanya tetangga sebelah rumah. Tom kembali mengalihkan perhatian ke dalam rumah Viv. Suster tadi sudah berada di depannya. Tom sudah membuka mulut untuk berbicara, tetapi kata-katanya tak jadi keluar. Ia melihat Debbie berlari keluar menghampiri susternya. Siapa lagi kalau bukan Debbie, karena gadis kecil berusia sekitar lima tahun itu berkulit putih, berambut ikal berwarna kuning keemasan, dan bermata biru! Ia mengamatinya dengan saksama. Benarlah kata ibunya, bahwa Debbie mirip boneka Barbie! "Cari Ibu ya, Pak?" tegur Suster. "Oh ya. Tapi dia di kantor, bukan?" "Betul, Pak." Suster ragu-ragu apakah sepatutnya 274 menyilakan si tamu masuk. Tapi ia tidak berani. Bagaimana kalau tamu ini orang jahat? Perhatian Tom hanya tertuju kepada Debbie. Anak itu pun balas memandangnya. "Ini pasti Debbie. Hai, Deb!" tegur Tom. "Hai!" sahut Debbie lincah. Dia bukan anak pemalu. "Sudah sekolah?" "Sudah, Oom. Kelas nol kecil. Oom siapa? Temannya Mami?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya. Saya Oom Tom, teman Mami dari Amerika." "Wow! Kata Mami, nanti saya juga akan ke Amerika. Daddy ada di sana." Tom tertegun. Kemudian ia menyadari tatapan Suster. "Biar saya telepon Bu Viv saja." "Tapi... tapi telepon di rumah lagi rusak, Pak," Suster berbohong. Ia sudah diajari bahwa orang yang berniat jahat suka berdalih pinjam telepon supaya diizinkan masuk. "Saya bawa telepon sendiri, Mbak. Tunggu sebentar, ya." Tom mengeluarkan telepon genggam milik ayahnya sementara Suster bersama Debbie tetap di balik pagar. Debbie terus mengawasi Tom dengan pandangan tertarik. Tak lama kemudian Tom sudah berbicara dengan Viv. Kedengaran Viv mengeluarkan seruan surprise. "Aduh! Kukira kau tidak mau datang! Kenapa tidak bilang dari kemarin?" "Aku kebetulan lewat saja." "Sekarang di mana?" 275 "Di depan rumahmu. Maksudku di luar pagar. Di depanku ada Debbie dan Suster." "Oh!" seruan kaget. "Jadi... jadi sudah ketemu, ya?" "Ya. Dia memanggilku Oom Tom." "Begini saja, Tom. Maukah kau menungguku sebentar? Atau kau ada keperluan lain? Mungkin kau akan datang lagi di sore hari, usai aku kerja. Atau hari Minggu? Kalau kau mau menungguku, aku akan datang." "Oke. Aku tunggu. Tapi sebaiknya bicara dulu sama Suster, ya. Dia sangat berhati-hati." Tom menyerahkan teleponnya kepada Suster yang kemudian terlibat pembicaraan dengan Viv. Tak lama kemudian ia

http://inzomnia.wapka.mobi

menyerahkan kembali telepon kepada Tom sambil meminta maaf. Pintu terbuka untuk Tom. Begitu ia masuk, Debbie meraih tangannya, lalu membimbingnya masuk rumah. 276 IX Jakarta, bulan Juli. Harun berangkat ke Kampung Belakang dengan penuh percaya diri. Ia sudah mematangkan rencananya. Di dalam dompetnya terdapat uang lima ratus ribu rupiah. Bekal uang selalu penting untuk membujuk dan melunakkan hati orang. Bila ia sampai harus melepaskan uang itu, ia tidak akan rugi, karena ia masih punya sisa lima ratus ribu dari bagian Adam yang diberikan kepadanya. Ia memuji kecerdikannya sendiri. Ia tahu, perbuatannya itu akan meretakkan hubungannya dengan Adam. Tapi apa pedulinya? Kalau ia renungkan lagi berbagai peristiwa ke belakang, diawali dari-pertemuan pertamanya dengan Adam setelah sekian tahun tidak bertemu, maka sekarang menjadi jelas apa sebenarnya yang mendorong Adam hingga bersikap ramah dan bersahabat kepadanya. Kenapa Adam mengejarnya sampai ke halte bus dan kemudian mentraktirnya makan segala? Padahal kalau cuma ingin bertemu dan berbincang, masih ada hari esok. Ketika itu ia merasa tersentuh karena mengira 277 Adam merasa dekat dengannya akibat hubungan masa lalu. Rupanya tidak ada hal yang sentimental seperti itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sebenarnya Adam juga tidak peduli kepadanya, ia hanya terpaksa peduli. Biasanya, orang yang punya kesalahan itu gampang menaruh curiga. Demikian pula Adam. Pantaslah Adam berusaha mengorek segala yang diketahuinya mengenai tragedi yang menimpa kawasan Pantai Nyiur Melambai di bulan Mei tahun sembilan delapan. Khususnya kemalangan Sonny. Kenapa Adam berusaha menyembunyikan kasus motor Sonny itu? Seandainya pun orangtua Sonny tahu mengenai motor yang dibakar massa itu, mereka juga tak akan menuntut ganti rugi. Itu bukanlah kesalahan Adam. Yang ingin disembunyikan Adam adalah kenapa ia sampai menggunakan motor itu! Orang yang mengambil guci itu punya posisi penting. Jadi harus ditanyai dengan hati-hati. Pada saat mengambil benda itu, adakah ditemuinya Sonny di rumahnya? Apakah waktu itu Sonny bersembunyi karena tak sempat lagi melarikan diri, hingga ia terbakar hangus bersama rumahnya? Bila Sonny memang masih hidup sampai memutuskan bersembunyi, maka itu berarti ia mendengar saat pintunya digedor dan bisa bersiap lebih dini. Tapi kenyataannya Sonny tidak menjawab dan juga tidak keluar. Naluri Harun mengatakan, Sonny memang masih ada di rumahnya ketika pintunya digedor tapi ia tak mampu bereaksi. Sudah matikah dia? Yang bisa memberi jawaban pasti adalah orang yang mengambil guci itu. Tapi yang menyulitkan adalah mereka takut bicara. Bila mereka menceritakan apa yang mereka lihat, maka 278 itu berarti mengakui bahwa waktu itu mereka ikut menjarah. Siapa sih yang mau mempersulit diri sendiri?

http://inzomnia.wapka.mobi

Semakin lama dipikirkan dan segala segi dipertautkan, maka ia jadi semakin tergelitik. Semangatnya meninggi drastis seperti mendapat suntikan adrenalin ke dalam pembuluh darahnya. Dia akan mencari orang itu. Kuncinya ada pada Angga. Pasti tidak susah mengorek keterangan dari Angga. Anak itu selalu haus uang. Angga sudah melihatnya. Ia mendekati Harun dengan senyum manis. "Selamat siang, Pak Harun!" "Siang, Ngga." "Apa kabar, Pak? Barangnya udah dikasih?" "Oh, sudah. Pemiliknya senang sekali." "Bapak dapat imbalan, nggak?" Harun sudah siap menerima pertanyaan itu. "Dapat sih. Orang yang kesenangan dan kebetulan banyak duit pasti tak segan memberi. Jangan khawatir, Ngga. Kamu pasti dapat bagian. Juga orang yang memberikan guci itu padamu." "Kasih saya saja, Pak. Nanti saya bagi dia." "Jangan begitu. Nanti dia menuduhmu curang. Sebaiknya aku saja yang kasih langsung kepadanya." Angga tidak segera menjawab. Ia mengerutkan mukanya. "Kenapa?" tanya Harun. "Lapar, Pak. Belum makan dari pagi." "Kalau begitu, ayo kita makan dulu. Aku juga belum makan." Mereka singgah di warteg. Seperti sebelumnya, Angga makan dengan gembulnya. Tapi Harun cuma 279 makan sedikit. Ia tak mau memenuhi perutnya dengan makanan kampung. Sebentar lagi ia akan memanjakan dirinya dengan makan enak di restoran mahal.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kalau tiap hari ketemu Pak Harun, saya bisa gemuk," kata Angga. Harun cuma tertawa. Ia sabar menunggu Angga. Setelah Angga melicinkan piringnya ia bertanya pelan, "Bagaimana, Ngga?" "Bagaimana apa?" Angga balas bertanya. "Itu masalah yang tadi. Kamu mau dapat persen, nggak?" "Mau dong!" "Aku punya usul, kita pergi sama-sama aja ke rumah orang itu. Nanti di sana kita bagi-bagi rejeki-nya secara terbuka. Supaya nanti tidak saling tuduh, yang satu mencurangi yang lain." "Memangnya bagian saya berapa?" "Bagianmu dan bagiannya harus sama besar. Barang itu kan hasil jarahan." "Saya takut, ah. Dulu kan udah janji saya nggak boleh kasih tahu. Dia bisa marah besar sama saya." "Kalau kamu nggak mau kasih tahu, ya sudah. Kamu tak jadi mendapat persen." Angga menatap kecewa. "Ah, kok gitu sih, Pak." Harun masih punya jurus lain. "Begini saja, Ngga. Kamu tak usah terang-terangan menunjukkan dia. Cara tersembunyi saja." Angga menggeleng tak mengerti. "Kamu jalan menuju rumahnya. Aku mengikuti saja dari belakang. Tapi kamu tak usah masuk ke dalam. Beri isyarat saja. Supaya aku tahu itulah rumahnya." 280 "Ketahuan juga dong, asalnya dari saya." "Saya tidak akan menyebut namamu. Sepertinya kebetulan saja saya ke rumahnya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Memangnya mau apa sih Bapak ke rumahnya?" "Ada yang mau kutanyakan." "Cuma nanya doang? Kan Bapak mau ngasih bagiannya. Ketahuan juga dong." "Habis gimana? Aku perlu ketemu dia. Bantulah aku. Kan kamu perlu duit juga." Angga berpikir. "Gini aja, Pak.. Berikan saja semua uangnya. Biar saya yang bagi dia. Nanti saya kasih tahu." Harun tertawa. Dia tentu tidak sebodoh itu. "Kalau sudah dapat duit kamu lari, gimana?" "Saya nggak lari. Saya jalan pelan-pelan. Bapak ngikutin dari belakang. Bapak lihatin saya masuknya ke mana. Tapi Bapak jangan langsung nemuin dia. Tunggu sampai besok atau lusa." Harun berpikir. Tampaknya tak ada jalan lain. Seandainya sekarang ia dikibuli Angga, ia bisa mencarinya lagi lain kali. Ia tidak akan menyerah begitu saja. "Baiklah. Jangan bohongi aku, ya?" "Nggak, Pak. Duitnya dulu dong. Kasih di bawah meja aja." Harun merogoh sakunya. Ia mengambil dua lembar lima puluh ribuan, lalu menyodorkan ke bawah meja. Tangannya disambar Angga. Dia mengintip ke bawah. "Jadi cuma dua lembar, Pak? Saya dan dia masing-masing selembar?" tegasnya kecewa. "Itu cuma uang muka. Kalau kamu nggak bohong, besok dapat lagi." 281 Angga memonyongkan mulutnya. "Tambahin dong, Pak!" ia merengek. Harun menambahkan selembar lagi.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kemudian mereka berjalan beriringan dengan jarak sekitar tiga sampai lima meter. Angga di depan. Harun di belakangnya, berusaha menjaga jarak. Ia juga khawatir kalau-kalau Angga menghilang di belokan gang. Apalagi kalau melewati kerumunan orang. Mereka mendekati pasar loak. Tempat itu sedang ramai dengan orang-orang yang sedang bertransaksi baju-baju bekas. Sebagian badan jalan digunakan untuk menggelar baju-baju. Di tempat itu Harun kesulitan untuk terus-menerus mengamati Angga. Orang-orang berlalu-lalang di depannya. Ke mana anak itu? Ia celingukan ke segala arah, kehilangan jejak. Tiba-tiba terdengar teriakan, "Copet! Copet! Maliiing! Maliiing!" Harun terkejut. Teriakan itu dekat sekali dengannya. Belum sempat menemukan sumber teriakan, tiba-tiba ia melihat tudingan ke arahnya. Orang-orang memandang kepadanya. Wajah mereka memerah karena amarah. Harun ketakutan. "Itu malingnya!" Tudingan semakin banyak. Harun sadar akan bahaya. Bisakah mereka menerima bantahannya? Paling aman adalah lari secepat-cepatnya. Tetapi orang-orang mengejarnya. Tambah lama tambah banyak. Dan semakin beringas pula. Lalu Harun tersandung. Ia jatuh terjerembap. Tak lama kemudian orang-orang yang beringas itu menyerbunya. Ia tak kelihatan lagi. Belasan meter dari tempat itu Angga berdiri memandangi. Ekspresinya memperlihatkan kepuasan. 282 ***

http://inzomnia.wapka.mobi

Tom tak mengerti. Sikap Debbie begitu akrab dan bersahabat dengannya. Seperti sudah kenal lama dan terbiasa. Sambil menunggu kedatangan Vivian, anak itu menemaninya duduk di sofa. Bicaranya lincah. Tom mendengarkan sambil mengomentari sesekali. Debbie bercerita tentang sekolah dan teman-temannya. Ada yang baik, ada yang jahat. "Yang jahat itu si Mimi, Oom. Dia suka ngatain Deb si Bule. Bule! Bule!" tutur Debbie, setengah mengadu. Tom tertegun. Debbie sudah mulai berada dalam proses sulit. Bagaimana reaksi Viv? Tentunya Viv lebih sulit lagi. Kelak dia harus memberi jawaban yang masuk akal bagi Debbie. "Terus Deb sedih atau marah dikatain begitu?" Debbie menundukkan kepala. "Sedih juga." "Kok sedih?" "Habis Deb memang lain sendiri sih!" "Di sekolah Deb memang lain sendiri, tapi di tempat lain ada banyak orang seperti kamu. Misalnya di Amerika, Inggris, Belanda, ada banyak orang yang kulitnya putih, rambutnya kuning, dan matanya biru. Kayak Debbie begitu. Manusia itu lain-lain, Deb. Nih, lihat Oom. Kulitnya kuning. Suster kulitnya cokelat. Bibi kulitnya cokelat juga. Jadi nggak usah sedih. Si Mimi itu yang bodoh. Pengetahuannya kurang," Tom menghibur dengan penuh simpati. Debbie menatapnya dengan mata berbinar. Untuk sesaat jantung Tom berdebar. Wajah dan ekspresi Debbie mengingatkannya pada seseorang. 283 "Katanya Oom Tom dari Amerika. Tinggalnya di sana, Oom?" "Ya. Kotanya bernama New York City."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Di sana ramai, Oom?" "Wah, ramai sekali!" "Oom kerja apa di sana?" "Oom jadi dokter di rumah sakit." "Kata Mami, Daddy juga dokter di rumah sakit." Tom tertegun lagi. Apakah Viv asal bicara saja kepada Debbie? "Siapa namanya, Deb?" tanyanya hati-hati. "Nggak tahu." Wajah Debbie tampak muram. Tom teringat, dalam akte kelahiran Debbie tercatat sebagai anaknya dengan nama Deborah Lee. Ketika itu ia memang tidak keberatan. Semata-mata karena kemanusiaan. Jangan sampai anak itu tercatat sebagai anak haram. Jadi, Viv belum memberitahu Debbie. Ada kemungkinan Debbie sendiri sudah bertanya mengingat wajahnya yang murung itu. "Hei, Debbie bisa nyanyi, nggak?" Tom mengalihkan. Debbie tampak ceria lagi. "Bisa, Oom." "Ayo, dong. Oom kepengin dengar suaranya." Debbie meloncat turun dari sofa. Ia berdiri di depan Tom, merapikan bajunya, lalu mulai bergaya. Twinkle, twinkle, little star, how I wonder what you are. Up above the world so high. Like a diamond in the sky. Twinkle, twinkle little star... 284 Bahasa Inggrisnya lancar sekali, seperti bahasa ibu. Usai bernyanyi Tom bertepuk tangan. "Bagus! Bagus! Rupanya Deb senang menyanyi, ya?" Debbie mengangguk senang, lalu duduk kembali di sisi Tom. Kemudian Tom mengajaknya bicara dalam bahasa Inggris yang disahuti dengan lancar oleh Debbie. Rupanya Debbie selalu

http://inzomnia.wapka.mobi

berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan Viv, tapi berbahasa Indonesia dengan yang lain. Viv sudah menyiapkan putrinya dengan baik. Ketika klakson mobil di luar rumah terdengar, Debbie meloncat turun. "Mami pulang!" serunya. Kemudian ia berlari ke luar. Suster berlari menyusulnya. Tom berdiri, lalu melangkah ke jendela. Tanpa menyingkap gorden yang tipis, ia bisa memandang ke luar dengan cukup jelas. Vivian muncul di pintu pagar. Sekarang ia berkacamata dan berambut pendek. Masih cantik. Penampilannya khas wanita eksekutif. Blus krem, rok sepan selutut warna cokelat, dengan blazer dari bahan yang sama. Sepatunya cokelat dengan hak yang tidak terlalu tinggi. Ia menatap ke arah rumah dengan ekspresi tegang. Mungkin punya perasaan dirinya sedang diamati. Debbie menyambut ibunya dengan riang. Vivian membungkuk lalu mencium pipinya. Kemudian Debbie memegang tangannya. Mereka melangkah sambil berbimbingan tangan. Tom cepatcepat kembali ke tempat duduknya. Tak enak kedapatan sedang mengintip. Ketika Vivian muncul di ambang pintu yang terbuka, Tom berdiri. 285 "Itu Oom Tom, Mam!" seru Debbie dalam bahasa Inggris. Tom mendekat lalu mengulurkan tangannya. "Apa kabar?" Keduanya mengucapkan kata-kata yang sama. Lalu mereka duduk berhadapan, untuk sesaat merasa canggung kehilangan kata-kata. Mereka juga memanfaatkan waktu itu

http://inzomnia.wapka.mobi

untuk saling mempelajari wajah masing-masing. Dan juga meneliti situasi emosi diri sendiri. Tom merasa yakin, yang menguasai dirinya sekarang hanyalah sisa-sisa masa lalu. Emosi kesedihan, kemarahan, dan emosiemosi negatif lainnya yang dulu sangat kuat kini sudah memudar. Sekarang ia bisa melihat dan menilai Vivian sebagai orang yang berbeda. Bukan yang dulu lagi, karena sudah terlepas darinya. Vivian berada pada jarak yang aman dan tak bisa lagi mengusik atau mengganggunya. Vivian mencermati Tom dengan pikiran bekerja. Perasaan bersalah yang bertahun-tahun menderanya kini sebagian besar begitu saja lenyap. Ada kelegaan mendalam dalam batinnya. Ia ingin ketemu Tom bukan cuma untuk berbicara, tapi juga untuk melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Tom sekarang. Cerita dari e-mail Ron tidak memuaskan. Bahwa Tom baik-baik saja dan tetap bekerja dengan prima tidak bisa menjelaskan apa yang ingin diketahuinya. Sekarang Tom tampak bugar dan sehat. Cuma rambutnya banyak yang memutih. Tapi itu tentu suatu proses menua yang wajar. Demikian pula dengan kerut-kerut di wajahnya. Tetapi Viv menangkap semangat dan keceriaan dalam ekspresi dan seluruh gerak-gerik Tom. Baginya, itu sudah cukup men286 jelaskan bahwa Tom sudah pulih meskipun mungkin saja masih menyimpan trauma. Sementara itu Suster membujuk Debbie untuk masuk ke dalam sebentar, untuk memberi kesempatan keduanya bicara tanpa terganggu. Debbie bersedia setelah Tom berjanji tidak akan pergi sebelum bertemu lagi dengannya. Vivian mengamati

http://inzomnia.wapka.mobi

keduanya dengan tercengang-cengang. Kebencian Tom yang dulu diperlihatkan kepada Debbie saat masih bayi seperti lenyap sama sekali. Sedang Debbie begitu cepat akrab, padahal tidak biasanya dia bersikap demikian kepada orang yang baru dikenalnya. Termasuk kepada beberapa teman prianya yang datang berkunjung. Apakah itu yang dibilang insting? "Kau tampak sukses, Viv. Selamat, ya," Tom memulai setelah Debbie dan susternya masuk ke dalam. "Oh, terima kasih. Biasa-biasa saja. Bagaimana kariermu sendiri?" "Biasa-biasa juga. Sibuk terus tanpa henti." "Orang sakit tambah banyak rupanya." "Ya begitulah. Mungkin untuk mengimbangi pertambahan manusia yang terlalu banyak." Keduanya tertawa. Itu membuat ketegangan mereda. Mereka jadi lebih santai. Tom berharap, Vivian akan bertanya perihal teman-temannya di New York, yang merupakan teman-teman Viv juga. Tetapi pertanyaan itu tak kunjung muncul. Mungkin sengaja dihindari. "Jadi kau sudah berkenalan dengan Debbie," Vivian mengalihkan percakapan. "Anak yang cantik. Dan pintar juga." 287 "Ya. Dia cepat akrab denganmu." "Mungkin dia menganggapku kebapakan." Ucapan yang dimaksud Tom sebagai humor itu ternyata membuat Vivian tertegun dengan ekspresi sedih. "Sori, Viv." kata Tom. "Memang Debbie sudah merasakan kekurangan itu. Semakin besar dia semakin merasakan."

http://inzomnia.wapka.mobi

Jadi itukah dorongannya? pikir Tom. Tapi ia tidak menanyakan. "Aku berterima kasih sekali, Tom. Karena kau sudi datang menjenguk kami." "Ah, tak usahlah berterima kasih." "Kukira kau tidak mau. Maklumlah, dosaku terlalu besar. Kupikir sampai kapan pun kau takkan mau memaafkan aku." Tom jadi terharu. "Sudahlah. Tak usah diungkit lagi. Hidup ini masih panjang, Viv. Kau punya Debbie yang jadi tanggung jawabmu." "Ya. Karena dialah aku memohon kedatanganmu. Cuma kau yang bisa membantu kami." "Katakan saja, Viv. Kalau aku. bisa, masa tak kubantu?" "Tapi..." Vivian menoleh ke arah dalam. "Aku tak bisa mengatakannya di sini, Tom," ia merendahkan suaranya. "Biarpun masih kecil, Debbie itu punya feeling yang tajam." "Baiklah. Kita toh masih bisa bertemu lagi. Aku masih punya cukup waktu. Katakan saja kapan." "Terima kasih, Tom. Nanti kuhubungi kau, ya. Sekarang aku harus kembali ke kantor." 288 "Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Tom mengajak. Vivian tampak surprise tapi senang. "Seharusnya aku mengajakmu makan di rumah. Mumpung ada di rumah, kan? Tapi tak ada persiapan untuk menjamu tamu." "Sudahlah. Itu merepotkan saja." Vivian memanggil Debbie. Anak itu kecewa karena Tom akan pamitan. Tetapi cukup terhibur ketika Tom berjanji untuk datang lagi dan memberi waktu lebih banyak untuknya. Tom duduk di samping Vivian yang mengemudikan mobilnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kita makan apa, Tom?" "Apa sajalah. Terserah kau. Aku kan tidak kenal situasi." "Chinese food?" "Oke." "Bagaimana Papa dan Mama? Mereka sehat-sehat, Tom?" "Oh, mereka sehat dan baik-baik." "Seharusnya aku menjenguk mereka setelah mereka kembali ke sini. Tapi aku tak punya muka, Tom." "Ya. Aku mengerti. Tidak apa-apalah. Orangtuamu sendiri bagaimana?" "Mereka di Singapura. Bersama semua saudaraku. Boleh dikata aku di sini cuma sama Debbie saja. Kerabat sih ada, tapi yang jauh-jauh dan tidak akrab." "Kenapa kau tidak ikut dengan mereka?" "Aku merasa diriku orang Indonesia, Tom. Apalagi aku punya karier di sini." 289 "Bagus. Kau punya prinsip." "Tapi jangan lecehkan orang yang pergi, Tom. Mereka bukannya tak punya prinsip." "Tentu saja," sahut Tom, teringat kepada Susan. Vivian mengarahkan mobilnya memasuki halaman restoran Oriental di Blok M, masih kawasan Kebayoran Baru. Di rumah Anwar, putra Harun, terjadi kegaduhan. Seorang petugas polisi datang. Ia membawa kabar buruk. Harun telah menjadi korban amuk massa. Harun disangka copet, lalu dihajar sampai tewas. Anwar membenarkan KTP yang diperlihatkan petugas sebagai milik Harun. Tentu saja ia membantah bahwa ayahnya seorang pencopet. Petugas mengatakan, tuduhan itu

http://inzomnia.wapka.mobi

memang meragukan. Ada saksi mata yang mengatakan bahwa Harun telah menjadi korban salah tunjuk. Tak ada yang merasa dicopet. Tiba-tiba saja ada teriakan dan tudingan ke arah Harun. Tanpa bertanya-tanya lagi massa pun menyerbunya. Kejadian seperti itu sudah berulang kali terjadi. Anwar sedih sekali. Ayahnya adalah orang baik dan ayah yang baik juga. Kenapa harus mengalami nasib begitu mengerikan? Tetapi dalam kesedihan itu ia juga sempat merenungkan harihari akhir yang dijalani Harun. Sepertinya ayahnya sedang sibuk berbisnis. Entah apa yang diobjekkan. Ia tidak menanyakannya. Ia malah senang ayahnya punya kesibukan yang membuatnya tetap bersemangat. Belakangan ayahnya tidak rajin lagi mencari order cetak. Mungkin bosan atau kesulitan. Ia juga tidak mendesak atau memberi dorongan. Apa yang 290 dikerjakan ayahnya itu melulu atas kemauannya sendiri. Daripada bengong, begitu katanya. Apa yang sedang dilakukan ayahnya di Kampung Belakang? Masa berbisnis di pasar loak? Mustahil ayahnya tidak tahu bahwa situasi di Kampung Belakang bertambah buruk saja setahun terakhir ini. Kondisinya yang kumuh diperburuk oleh segi keamanan yang juga buruk. Tentu saja Anwar tidak bisa mendapatkan jawaban. Ayahnya tidak suka menceritakan kegiatannya meskipun bukan berarti tak suka mengobrol. Apa yang diobrolkan hanyalah kejadian sehari-hari yang sifatnya umum. Lalu ia teringat. Ayahnya pernah dua kali dikunjungi Adam. Ia tidak melihat sendiri atau bertemu langsung dengan Adam. Tapi karyawan dan istrinya yang memberitahu. Harun sendiri

http://inzomnia.wapka.mobi

tidak bercerita apa-apa. Anwar menganggap hubungan mereka wajar-wajar saja. Mungkin menyambung masa lalu. Ia tahu ayahnya punya hubungan cukup dekat dengan Adam. Tetapi salah seorang karyawan Anwar mengatakan, kemarin ia melihat Adam keluar dari pavilyun Harun dengan wajah muram, sedang Harun sendiri tampak ceria. Apakah itu merupakan indikasi terjadinya konflik antara keduanya? Tapi bagaimanapun sulit menghubungkan nasib yang menimpa Harun dengan peristiwa sebelumnya itu. Kabarnya Adam sudah mapan dan tinggal di kawasan Pantai Nyiur Melambai. Jelas tak ada hubungannya dengan lokasi bernama Kampung Belakang. Anwar memutuskan untuk mengabarkan musibah 291 itu kepada Adam, sebagai salah seorang kenalan ayahnya. Kristin menerima pemberitahuan itu lewat telepon. Adam masih di kantor. Ia berjanji akan segera menyampaikan hal itu kepada Adam. Tapi ia ragu-ragu, apakah pantas mengganggu jam kerja Adam? Lagi pula apa yang bisa dilakukan Adam bila Harun sudah meninggal? Lain halnya kalau Harun sakit parah dan perlu bicara. Orang pertama yang diberitahukannya adalah Maria. Lalu Maria menelepon keluarga Lie di Slipi. Tampaknya heboh sekali. Kristin menyaksikan dan mendengarkan. "Waduh, malang betul nasibnya! Baru dapat rejeki sudah koit," kata Maria. "Dapat rejeki?" tegas Kristin heran. "Bukankah dia cuma perantara, Tante?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Maria memonyongkan mulutnya. "Zaman sekarang ini mana ada yang namanya perantara tanpa main duit, Kris! Kalau dia nggak nyatut, tentu minta komisi!" "Jadi uang lima juta itu untuknya sendiri?" Hampir saja Maria keceplosan mengatakan, "Tentunya Adam juga kebagian!" Tapi untung saja ia segera sadar. Maka cepatcepat ia mengatakan, "Mungkin dia membagi dengan si penjarah. Mana mau si penjarah melepas barangnya tanpa mendapat imbalan? Coba pikir, Kris. Dia menyuruh Adam yang ngomong. Dia sendiri tidak mau datang. Jelas takut, kan? Jelas menutup-nutupi, kan? Berarti memang ada yang ditutupi!" 292 "Tapi apa kematiannya berhubungan dengan soal itu? Kok kejadiannya di Kampung Belakang. Ngapain dia ke sana?" Maria tak berani mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya. Bukankah Harun sudah berjanji akan meneruskan penyelidikannya mengenai kematian Sonny? "Sebaiknya kauberitahu Adam, Kris," Maria menganjurkan. "Dia kan masih kerja, Tante." "Tapi Harun itu temannya. Kalau kau tidak memberitahu, nanti dia marah padamu." "Kalau diberitahu, mungkin dia juga marah karena mengganggu pekerjaannya." "Bilang saja, kau melakukan itu karena didesak olehku! Pakai saja teleponku, Kris. Kau tak usah pulang dulu. Nanti pembantumu nguping!" Kristin mematuhi anjuran itu. Ia menghubungi telepon genggam Adam. Bila Adam tak mau diganggu, tentunya ia mematikan pesawatnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Adam kaget, tapi tidak marah. Ia berkata, "Untung kau cepatcepat menyampaikan. Aku punya waktu untuk pergi melayat. Jadi sekarang aku minta izin dulu untuk ke rumahnya, lalu dari sana baru pulang." Dengan lega Kristin meletakkan pesawat telepon. "Dia mau melayat," katanya kepada Maria. "Nah, bener, kan?" Maria tertawa. Suami-istri Lie merasa gempar. Tom yang baru saja pulang segera diberitahu. "Untung saja kau nggak ke sana, Tom!" seru Lien dengan perasaan bersyukur. 293 "Ya. Tempat itu berbahaya. Pak Harun yang sudah dikenal saja sampai dikeroyok. Masa orang yang penampilannya rapi bisa disangka copet atau maling?! Nggak masuk akal, kan?" sambung Bun Liong. Di samping kengerian yang dirasakannya setelah mendengar berita itu, Tom juga kecewa. Ia menyesal karena tak bisa lagi bertemu dan berbincang sendiri dengan Harun. "Ngapain dia ke Kampung Belakang?" kata Tom. "Mungkin mau menemui si penjarah untuk memberikan imbalan yang dia minta," Lien berpendapat. "Mungkin juga," Bun Liong setuju. "Jangan-jangan dia dirampok, ya? Uangnya kan banyak." "Tapi kalau dirampok, kok KTP-nya ada pada polisi? Kartu itu kan biasanya disimpan di dalam dompet. Jadi dompetnya tentu masih ada padanya," sanggah Tom. "Kalau uangnya banyak, mana mungkin bisa masuk ke dalam dompet?! Itu kan jutaan, Tom!" kata Lien.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kenapa dia mesti dirampok dan dikeroyok kalau tujuannya datang adalah untuk memberi uang itu?" tanya Tom. "Yang merampok mestinya adalah penjarah yang lain!" kesimpulan Bun Liong. "Wah, benar-benar sarang penyamun!" seru Lien. Tetapi pikiran Tom tidak sepenuhnya terpusat kepada kasus itu. Ia teringat kepada pertemuannya dengan Vivian dan Debbie barusan. Ia tak mau menceritakan hal itu pada orangtuanya. Mungkin nanti, tapi tidak sekarang. Orangtuanya, terutama ibunya, pasti tak senang. Mereka akan berpikir bila ia mendekati dan berhubungan lagi dengan Vivian, 294 maka itu merupakan indikasi bahwa ia akan hidup bersama lagi dengannya. Bagaimana menjelaskan bahwa kedua hal itu tidak akan menjadi sebab-akibat? Ibunya pernah menyebut sebuah peribahasa, "Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang takkan percaya!" Benarkah itu? Vivian masih sendiri. Dia pun demikian. Karena itulah orangtuanya merasa khawatir. Perlukah kekhawatiran seperti itu? Mestinya ia mempertanyakan hal itu kepada dirinya sendiri. "Kau masih betah sendirian, Viv," begitu ia berkata saat makan di restoran. Nadanya bersahabat. "Oh, tak ada yang mau sama aku." "Ah, masa?! Kamu cantik. Pintar lagi." "Banyak sih yang mendekati aku, Tom. Tapi begitu mereka melihat Debbie, langsung pada mundur." Viv tertawa pahit.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Masalahnya kau belum menemukan orang yang cocok. Orang yang baik." "Buat aku tidak jadi masalah, Tom. Hidup sendiri lebih menyenangkan. Banyak lelaki salah paham. Mereka pikir, perempuan selalu membutuhkan lelaki. Jadi mereka menganggap diri mereka itu bernilai tinggi sekali. Huh, menggelikan! Iya kan, Tom?" Viv tampak arogan. "Ya," sahut Tom dengan serius. Kalau Viv berpendapat begitu, tentunya benar. Setiap orang memandang hidup dari sudutnya sendiri. Tetapi Viv tidak balas bertanya, kenapa ia juga masih sendiri. Barangkali takut akan jawabannya. Adam tiba di rumah Anwar sebelum jenazah Harun 295 dibawa ke pemakaman. Ia menyampaikan rasa duka-citanya kepada keluarga Anwar. Lalu sempat berdoa sejenak. Dalam hati ia berkata, "Pak Harun! Aku tidak merencanakan ini semua! Aku cuma membujuk Angga supaya jangan percaya padamu. Mana aku tahu akan terjadi seperti itu? Mungkin kau terlalu mendesak. Kau terlalu kemaruk. Kenapa harus membongkar sesuatu yang sudah terkubur lama?" Anwar merasa senang Adam datang. Itu menandakan perhatian dan penghargaan. Tetapi ia ingin memanfaatkan pertemuan itu untuk memuaskan rasa penasarannya. "Apakah Pak Adam tahu, apa sesungguhnya yang sedang dikerjakan Bapak di Kampung Belakang?" Adam sudah menyiapkan diri menghadapi pertanyaan itu. Dua kali kunjungannya ke rumah itu cukup menarik perhatian. Kalau ia menjawab "tidak tahu", mungkin kentara bohongnya. Ia juga

http://inzomnia.wapka.mobi

tidak tahu apakah Harun pernah bercerita kepada Anwar soal penyelidikan yang dilakukannya di kampung itu. "Saya tidak tahu persis. Tapi saya punya perkiraan, Pak Anwar." Lalu Adam bercerita perihal penemuan Harun. "Saya diminta Bapak untuk menghubungi ayah Sonny sebagai pemilik guci itu. Bapak minta lima juta sebagai imbalan, yang nantinya akan diberikan kepada orang yang menyimpan guci. Setelah uang diperoleh, saya dibagi Bapak sebanyak satu juta. Selanjutnya ia tentu akan ke Kampung Belakang lagi untuk memberikan bagian orang misterius itu. Mungkin itu tujuannya ke sana." Anwar ternganga. Cerita itu kedengaran sensasional di telinganya. Ia tak mengerti kenapa ayahnya tidak 296 bercerita sedikit pun kepadanya? Apa karena takut kalau-kalau uangnya diminta? Ia merasa jengkel. Itulah akibatnya kalau terlalu serakah, pikirnya, meskipun kemudian ia merasa bersalah. Adam mengamati reaksi Anwar. "Jadi Bapak tidak bercerita?" tegasnya. "Tidak. Saya tidak tahu apa-apa. Melihat kunjungan Pak Adam, saya kira Bapak ada bisnis lain. Jadi masalahnya itu. Kemarin orang saya melihat Pak Adam sepertinya marah-marah waktu keluar dari pavilyun, tapi Bapak malah ketawa-ketawa. Rupanya ada masalah juga ya, Pak?" "Oh ya. Saya kesal karena Bapak sok jago. Eh... maaf ya," Adam mengarahkan tatapannya kepada jenazah yang terbujur. "Tidak apa-apa, Pak Adam." Anwar sangat ingin tahu. "Katakan saja. Keterbukaan kan lebih baik."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Saya bilang, hati-hati kalau pergi ke sana. Bagaimana kalau sama saya saja? Kalau berdua kan lebih kuat. Tapi Bapak ngomongnya kurang enak. Ya sudah, saya nggak mau ikut campur lagi." Anwar mengangguk. Ia mengerti sekarang. "Terima kasih atas perhatian Pak Adam. Maafkan sikap Bapak yang arogan." "Tidak apa-apa, Pak. Saya juga menyesali kejadian ini." "Semuanya sudah terjadi. Kita harus ikhlas." "Apakah polisi mencurigai sesuatu?" "Mereka tidak bilang apa-apa. Juga tidak menanyai kami. Tapi saya protes kalau dibilang Bapak nyopet atau nyolong." "Lantas mereka bilang apa?" 297 "Katanya, mungkin itu salah paham saja. Maklum temperamen orang sekarang. Sedikit-sedikit main keroyok. Murah sekali nyawa orang sekarang." "Oh ya, apakah polisi menemukan uang pada diri Bapak ketika itu?" "Dompetnya sih ada. Berikut KTP-nya. Tapi tak ada uangnya. Maklum sajalah." "Apakah Pak Anwar berniat untuk memperpanjang kasus ini?" Adam perlu tahu. "Maksudnya?" "Minta polisi menyelidiki lebih lanjut, apakah peristiwa itu ada hubungannya dengan barang jarahan itu?" Anwar mengerutkan keningnya. Sedikit pun ia tidak berpikir ke sana. "Buat apa, Pak? Itu cuma menyusahkan diri sendiri. Urusan barang jarahan itu kan haram. Bapak juga salah. Kenapa mau berurusan dengan penjarah? Apalagi sampai pemiliknya

http://inzomnia.wapka.mobi

dimintai lima juta. Itu kan keterlaluan. Mestinya dikembalikan saja. Si penjarah tidak berhak minta imbalan." "Ya. Saya juga nggak enak. Pikir-pikir, akan saya kembalikan saja uang yang diberi Bapak itu kepada si pemilik barang," kata Adam dengan serius. Ia memang bersungguh-sungguh. Apa artinya uang satu juta rupiah dibanding wibawa yang bisa diperolehnya? "Benar sekali," Anwar mengagumi kejujuran Adam. Ketika pamitan, Adam merasakan kelegaan yang tak terhingga. Begitu tiba di rumah, Adam segera menceritakan pembicaraannya dengan Anwar kepada Kristin. Ia 298 pun menyodorkan uang satu juta rupiah yang sudah diganti amplopnya. "Berikanlah kepada Tante Maria, Kris. Minta tolong padanya untuk mengembalikan kepada Oom Bun atau istrinya. Sampaikan saja kisahnya." Kristin senang sekali. Di samping bersyukur karena kejujuran Adam, ia juga bersemangat untuk ikut berperan dalam kasus itu. Maria dan Henry tercengang mendengar cerita Kristin. Tibatiba mereka merasa harus mengubah penilaian terhadap Adam. Dengan spontan Henry meraih telepon untuk menyampaikan berita terbaru itu. Kristin ikut mendengarkan. "Mereka sangat berterima kasih kepada Adam. Nanti malam Tom akan datang ke sini. Kalau boleh katanya ia ingin berbicara sendiri dengan Adam." "Ya. Nanti saya sampaikan kepada Adam." "Kaupikir ia akan keberatan menerima Tom, Kris?" Maria ingin tahu.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Mudah-mudahan tidak." "Sekarang Adam jadi baik lagi kepada kami. Apakah itu karena Jason sudah mau menerimanya, Kris?" tanya Maria. Belakangan ini dia dan Henry tak pernah lagi mendengar jerit tangis Jason bila Adam ada di rumah. Kristin menggelengkan kepala. Wajahnya agak muram. "Dia belum mencoba, Tante. Sampai saat ini ia tak pernah masuk kamar bayi atau mendekati Jason. Ia masih takut rupanya." "Ia harus bersabar. Siap mental dulu," kata Henry. "Apa kau sudah mencoba membujuk Jason?" tanya Maria. 299 "Oh, tentu saja sudah, Tante. Setiap saya mengurusnya, saya selalu mengoceh kepadanya. Baik-baik sama Papa, ya? Dia kan sayang sama kamu? Sayang dia tak bisa memberi reaksi." "Siapa tahu dia bisa memahami. Teruskan saja, Kris." Tom menyampaikan terima kasih orangtua dan juga dirinya sendiri kepada Adam. Kristin menyertai pembicaraan keduanya. Tapi ia lebih banyak mendengarkan. Sesekali ia menjenguk Jason yang berada di kereta bayinya di sudut ruang yang sama. Ia sengaja meletakkan Jason di situ supaya berada berdekatan dengannya, tapi tidak terlalu dekat dengan Adam. Tapi sesungguhnya ada juga maksud lain. Ia ingin memberi kesempatan pada Tom untuk melihat Jason, Setelah mengetahui riwayat hidup Tom dari Maria, ia merasakan simpati yang mendalam kepada lelaki itu. Pastilah ketertarikan Tom kepada Jason disebabkan karena pengalaman pahitnya itu. Pada suatu saat ia pernah mendambakan anak lalu menunggununggu kelahirannya dengan tak sabar. Mungkin ia berangan-

http://inzomnia.wapka.mobi

angan muluk perihal si anak kelak. Sama seperti Adam. Tetapi setelah si anak lahir, semuanya berantakan oleh kejutan yang sangat menyakitkan. Di satu sisi dia senasib dengan Adam. Karena itu Kristin ingin memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada Tom untuk "menikmati" Jason. Waktu dan kesempatan bagi Tom memang tidak banyak. Tetapi ia juga harus berhati-hati menjaga perasaan Adam. Tom dan Adam tidak lagi memperbincangkan 300 kasus Harun. Memang tak ada lagi hal baru yang bisa diketahui Tom. Mereka hanya menceritakan pekerjaan masing-masing secara sekilas. Sekadar sebagai bahan perbincangan. Lalu Tom pamitan untuk selanjutnya pergi ke rumah Maria. Ia tak lupa menjenguk Jason di keretanya. Tapi ia berusaha untuk tidak bersikap berlebihan. Ia sadar, Adam mengawasi: Sebenarnya Kristin ingin sekali ikut dengan Tom ke rumah Maria sambil membawa Jason. Di sana pasti akan berlangsung diskusi yang seru perihal, kasus itu. Tetapi ia menyadari bahwa Adam pasti tidak akan senang. Rasanya memang kurang pantas. Apalagi ia sudah punya komitmen dengan Adam untuk menjaga perasaan masing-masing. Karena itu Kristin kaget ketika Adam menanyakan apakah ia tidak mau ikut dengan Tom, sekalian mengajak Jason berjalanjalan. Tom juga kaget mendengar pertanyaan Adam itu. Apakah itu suatu basa-basi, penjajakan, atau semacam tes? Kristin mengamati wajah Adam, ingin tahu apa sesungguhnya yang ada di balik itu. Jangan-jangan Adam cuma ingin mencoba sampai di mana kesungguhan komitmennya. Tapi Adam tersenyum lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Kristin, ia

http://inzomnia.wapka.mobi

berbisik, "Kau bisa menceritakan padaku nanti apa saja yang mereka bicarakan. Kalau aku yang ikut kan malu." Kristin merasa lega. Jadi Adam memang tulus. Tentu saja keinginan Adam itu bisa dipahami. Wajar saja. "Jadi Adam benar-benar tidak keberatan?" tanya Tom saat berjalan di sisi Kristin yang mendorong kereta 301 bayi. Ia masih menyimpan kekhawatiran. Bagaimana kalau pulang nanti Kristin disambut dengan kemarahan? Kristin tidak keberatan menyampaikan apa yang dibisikkan Adam kepadanya tadi. Tom merasa lega. "Kan tidak apa-apa kalau dia ikut. Kenapa tidak kauajak saja?" "Dia pasti tidak mau, Tom. Dia baru saja memperbaiki hubungan dengan Tante dan Oom. Jadi malunya masih tebal." Maria dan Henry menyambut keduanya dengan terheran-heran. "Apakah Adam tidak keberatan?" tanya mereka. Kristin perlu mengulangi penjelasannya. Adam sudah berubah menjadi lebih baik. Maria menyerahkan uang satu juta rupiah yang dititipkan kepadanya itu pada Tom. "Kasihan Pak Harun," kata Tom. "Gara-gara mengembalikan guci itu, ia kehilangan nyawa." "Tapi aku tidak mengerti," kata Maria. "Seandainya dia memang sengaja dibunuh, apa sebabnya? Bukankah ia sudah berjasa mendapatkan imbalan bagi si penjarah? Kalau si penjarah tidak percaya pada Pak Harun sejak semula, kenapa diserahkannya barang itu? Jual saja pada orang lain."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Itu memang mengherankan. Kenapa si penjarah perlu menunggu lama sebelum melepaskan barang itu?" kata Tom. "Katanya, barang itu nggak laku dijual," Kristin ikut bicara. Ia mendengar ceritanya dari Adam. "Masa barang sebagus itu nggak laku?!" Henry tidak percaya. "Apalagi kalau dijual murah. Kukira si penjarah sayang melepasnya." 302 "Katanya, barang itu membawa sial pada yang menyimpan," kata Kristin. "Nah, apalagi ada soal itu. Kenapa dia tidak melepasnya saja? Ah, bohong kali." Henry tidak percaya. "Susah juga mengetahui penyebabnya. Pak Harun sudah tak bisa ditanyai." "Adam juga tidak tahu lebih banyak. Tapi untung saja ia tidak menyertai Harun ke sana. Bisa-bisa ia ikut jadi korban," kata Kristin. "Kalau begitu memang Harun punya motivasi kurang baik. Bila Adam sampai ikut, kan ketahuan seberapa banyak dia mencatut. Itulah akibat keserakahannya," Maria menyimpulkan. "Apakah Adam diberitahu oleh Harun, siapa sebenarnya orang yang menyerahkan guci itu kepadanya?" tanya Tom. Kristin menggeleng. "Kata Harun ia sendiri tidak tahu. Seorang pemuda yang dikenalnya berperan sebagai perantara. Padahal Adam juga ingin tahu." "Jadi semuanya gelap," Tom menyimpulkan. "Ya. Dibawa oleh Pak Harun," keluh Maria. "Sudahlah. Mungkin sudah jalannya nasib," kata Henry. "Bagaimana reaksi orangtuamu, Tom?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Mereka juga pasrah. Jangan sampai ada korban lagi, kata Mama. Dan Papa sudah cukup senang karena gucinya sudah kembali." Kristin tak mau menghabiskan waktu terlalu banyak. Ia pamitan. Tom juga. Bersama-sama mereka keluar. Tom yang mendorong kereta bayi. Maria dan Henry melepas keduanya sambil mengamati dari depan pintu pagar. "Cukup drastis perubahan si Adam ya, Pa?" kata Maria. 303 "Mudah-mudahan mereka benar-benar rukun. Bersama Jason tentunya," Henry berharap. "Ya. Dan jangan ada yang aneh-aneh lagi." Sementara itu Tom dan Kristin sudah tiba di depan pintu pagar rumah Adam. Bi Iyah sudah menunggu di balik pintu. Tom menyerahkan kereta kepada Kristin, menatap sejenak kepada Jason yang membuka mata seolah membalas tatapannya. Lalu Tom menunggu dulu sampai Kristin masuk ke dalam rumah, barulah ia berjalan pergi mencari taksi. Adam sudah menunggu Kristin. Ia merasa puas mendengar cerita Kristin. Malam itu Anwar tak bisa tidur. Pemakaman ayahnya sudah selesai. Dan keterangan Adam sudah menjelaskan segalanya. Ia tidak perlu penasaran lagi. Ia juga sudah memutuskan, tidak akan meributkan persoalan itu. Ia mengikhlaskan kematian ayahnya. Baginya, perbuatan ayahnya itu ibarat orang memasuki medan pertempuran, risikonya sudah jelas. Kematian harus diterima sebagai risiko.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tetapi ia tetap saja gelisah. Sampai saat itu ia belum memeriksa pavilyun yang ditempati Harun. Situasi emosinya belum mengizinkan. Ia baru akan ke sana kalau emosinya mereda. Tapi ada suara hati yang berkata lain. Selesaikan sekarang juga! Apa pun yang dilihat dan dirasakannya di sana harus ia terima. Ia sudah cukup banyak mengeluarkan air mata. Apa artinya tambahan sedikit lagi? Ia menuju ke pavilyun. Tak ada pintu penghubung di antara rumah utama dengan pavilyun. Jadi ia mesti keluar rumah dulu. Pintunya terkunci. Ia ter304 ingat, kuncinya dibawa Harun. Dan kunci itu tak ada di dalam dompet yang diserahkan polisi. Mungkin hilang tercecer. Maka ia kembali lagi ke rumah untuk mencari kunci duplikatnya. Perlu waktu cukup lama untuk menemukannya. Ia sudah capek lalu ingin mengurungkan saja niatnya. Mungkin itu pertanda buruk untuk tidak meneruskan keinginannya. Tetapi kesulitan itu malah membuatnya penasaran. Setelah kuncinya ketemu, ia sekalian membawa obeng dan gunting gembok sebagai persiapan kalau kalau ada kesulitan lain lagi. Begitu memasuki kamar ia memandang berkeliling. Ia melihat suasana kamar yang agak berantakan. Pakaian berserakan di atas ranjang yang kusut. Lantai yang berubin keramik tampak kusam karena jarang dipel. Harun tak mau kamarnya dibersihkan pembantu. Ia membersihkan dan merapikan sendiri semau-nya. Pembantu hanya membersihkan terasnya saja. Keharuan memang muncul, karena Anwar serasa melihat ayahnya di situ. Tetapi keharuan itu tak sampai memeras air

http://inzomnia.wapka.mobi

matanya. Lalu tatapannya tertuju ke lemari satu-satunya di situ. Satu-satunya perabot yang dipasangi gembok. Tak ada kuncinya. Jelas di situ tersimpan barang-barang Harun yang dianggapnya paling bernilai hingga harus dijaga dari tangan usil. Ke situ pula perhatian Anwar tertarik. Ia mengambil obeng dan mengutik-ngutik gembok. Tak bisa terbuka. Akhirnya ia menggunakan gunting. Ia merasa seperti maling ketika pintu lemari terbuka lebar. Dan tertegun melihat isinya yang acak-acakan. Sebagian pakaian tidak dalam keadaan terlipat, melainkan ditumpuk begitu saja. Pantas setiap mau 305 pergi ayahnya selalu menyuruh pakaiannya diseterika dulu. Anwar hanya mengamati tanpa menyentuh barang yang ada. Ia berpikir akan merapikannya besok saja bila ada waktu- luang. Pekerjaan itu membutuhkan waktu yang tak sedikit. Kantuk mulai terasa. Tetapi kemudian ia melihat ada benda putih menonjol di bawah tumpukan pakaian. Ia menariknya. Sebuah amplop putih panjang dan tebal. Isinya lembaran uang kertas lima puluh ribuan. Ia menghitungnya. Jumlahnya tiga juta lima ratus ribu rupiah. Ia teringat cerita Adam. Tak susah menemukan hubungannya. Menurut Adam, ayahnya mendapat lima juta lalu memberi Adam sebanyak satu juta, maka sisanya seharusnya empat juta. Bisa disimpulkan ia membawa lima ratus ribu saat berangkat dari rumah. Jadi sebanyak itukah bagian yang diambil ayahnya untuk diri sendiri? Anwar merasa mukanya memanas karena rasa malu yang menyergap. Selama tinggal di situ ayahnya mendapat uang hanya darinya. Tapi jumlahnya tak pernah sebesar itu. Memang mungkin saja

http://inzomnia.wapka.mobi

ayahnya menabung semua penghasilannya. Tapi mustahil ia menabung di dalam lemari. Kemudian Anwar beranjak ke meja tulis. Ia duduk di kursi yang hanya satu-satunya lalu menarik laci-laci yang tidak terkunci. Ada banyak benda kecil, seperti gunting kuku, baterai, pensil, bolpen, dan entah apa lagi. Laci lain berisi kertas-kertas dan surat-surat. Ia memeriksanya sebentar. Lalu perhatiannya tertarik pada sebuah kertas yang dipenuhi coretan pada satu sisi, sedang sisi lainnya adalah hasil cetak 306 yang salah dari percetakannya. Ia mengamatinya. Pada mulanya sulit dimengerti. Tulisan Harun jelek sekali. Coretan itu berupa catatan-catatan kejadian. Ada tanda panah. Ada tanda tanya besar. Tapi cukup lengkap disertai tanggal. Setelah memahami, Anwar terkejut. Apa yang dilakukan ayahnya adalah suatu penyelidikan terhadap kasus yang terjadi lama berselang. Pertengahan Mei 1998: penjarahan dan pembakaran rumah Sonny. Sebelumnya aku menggedor pintu untuk mengingatkan penghuni supaya mengungsi. Sonny tidak keluar dan tidak menyahut Kukira dia pergi karena sebelumnya dari jauh kulihat seseorang keluar dari rumahnya pakai helm, pakai jaket, dan membawa motor. Cuma kelihatan belakangnya. Tapi kemudian setelah kerusuhan berakhir, Sonny ditemukan tewas terbakar bersama rumahnya. Sonny-kah itu atau salah seorang penjarah? Lalu siapa yang keluar dan membawa motor itu? Kalau Sonny yang keluar, kok dia mati di situ? Apa dia kembali lagi? Kalau kembali lagi, berarti ada di rumah, kenapa diam saja waktu pintunya digedor?

http://inzomnia.wapka.mobi

Mei 1999, setahun kemudian: aku ketemu keluarga Tan di Pantai Nyiur Melambai. Ibu Maria yang mengembalikan ingatan dan membakar semangatku untuk mengusut masalah di atas. Ketemu Adam juga, yang mengaku sobat lama. Kelihatan ingin sekali tahu. Juli 1999: ketemu Angga di Kampung Belakang. Dapat dua informasi penting. Satu, perihal guci 307 milik Pak Bun. Langsung mendapat guci itu setelah Angga dapat persen. Angga tidak mau memberitaku siapa yang menyimpan guci Sepertinya memang si penjarah. Alasan, barang tak laku dijual dan bawa sial. Barang dibawa pulang. Informasi satu lagi perihal Adam. Angga ketemu Adam saat kerusuhan Mei sembilan delapan, tidak jauh dari Pantai Nyiur Melambai. Adam naik motor dan dicegat. Motornya dibakar. Adam dibiarkan kabur. Angga bilang, motor yang dipakai Adam itu milik Sonny! Ada ciri yang dikenalinya, gambar tempel di bawah sadel. Gambarnya hati dengan tulisan Susan! Benarkah info Angga itu? Besoknya: ketemu Adam. Dia memberi tiga juta. Dua juta untuknya, sesuai perjanjian. Waktu info tentang motor ditanyakan, dia bilang memang itu motor Sonny, tapi sedang dia pinjam. Aneh. Padahal seingatku, sebelum tragedi Mei aku nggak pernah lihat Adam pakai motor. Kalau Adam benar, mestinya Sonny tak bisa pakai motor karena lagi dipinjam. Jadi Sonny tak mungkin keluar rumah pakai motor sebelum kerusuhan. Lantas siapa yang kulihat itu sebelum menggedor pintu rumah Sonny? Adam mengatakan tidak ke rumah Sonny waktu itu (tau be-ner, tau kagak!). Kalau memang itu tamu,

http://inzomnia.wapka.mobi

kenapa Sonny tidak keluar mengantarkan tamunya? Dan kenapa Sonny tidak menyahut waktu pintunya digedor? Masa yang namanya tamu masuk-keluar rumah kosong? Aku perlu tahu siapa si penjarah. Kenapa? Si penjarah bisa menjelaskan situasi di rumah Sonny saat dia, entah sendiri atau bersama-sama penjarah lain, 308 memasuki rumah itu. Mereka yang bunuh atau jangan-jangan Sonny sebenarnya sudah mati! Penting untuk menjawab pertanyaan di atas. Besok aku ke Kampung Belakang.... Catatan Harun berakhir. Anwar termenung. Ia akan membaca dan mempelajarinya lagi pada saat pikirannya sedang jernih. Malam itu Tom mengirimkan dua e-mail. Satu untuk Susan. Dan satunya lagi untuk Ron. Kepada Susan ia menceritakan situasi Jakarta dan tentu saja juga pelaksanaan pesan-pesan Susan. Sedang kepada Ron ia menceritakan pertemuannya dengan Vivian dan Debbie. Sampai larut malam baru ia tertidur. 309 X Jakarta, bulan Juli. Tom bangun kesiangan. Di sini tak ada weker yang membangunkannya seperti biasanya di New York. Faktor kebiasaan bangun pagi juga tidak berperan. Tubuhnya memang membutuhkan tidur yang cukup mengingat semalam ia tidur larut. Nyatanya ia bangun dengan perasaan segar.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ketika turun dari kamarnya di loteng ia disambut oleh seorang pemuda yang tadinya duduk-duduk membaca koran. Pemuda itu tersenyum sambil mengulurkan tangan. "Tom! Apa kabar?" Tom mengamati sejenak. Tak segera mengenali. Baru kemudian senyumnya mengembang. "David! Sejak kapan kau berkumis?" David adalah sepupunya. Sejak Tom pergi ke Amerika, ia belum bertemu lagi dengannya. Tapi dengan Sonny, hubungan David cukup dekat. Cuma sedikit sepupu yang akrab dengan keluarganya. Salah satunya adalah David. Tom mengajak David sarapan bersama. Mereka mengobrolkan segala hal. Keduanya memiliki se310 gudang cerita. Usai sarapan mereka melanjutkan obrolan dengan tema yang lebih serius. Mereka membicarakan tragedi Mei sembilan delapan yang menewaskan Sonny. Dalam hal itu Tom menceritakan perkembangan paling akhir, yaitu soal penemuan guci yang berlanjut dengan kematian Harun, si penemu. "Sepertinya guci itu muncul kembali dari liang kubur, ya?" kata David dengan takjub. "Jangan bilang begitu, Dav! Menakutkan." Tom tertawa. "Tapi rasanya memang sedikit aneh. Siapa sangka barang itu bisa didapat kembali. Kata Papa, barang itu memang akan kembali kepada pemilik asal dengan cara apa pun. Ya, tentu saja dia bilang begitu karena memang sudah kembali, bukan?" "Ya, aku bersyukur untuk kegembiraan Oom. Tapi guci itu tentunya tak bisa jadi pengganti Sonny." "Tentu saja tidak." "Kalau saja aku bisa ketemu Pak Harun dan bicara dengannya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kenapa, Dav? Kau kenal dia?" "Nggak sih. Cuma aku bisa memberinya tambahan informasi." "Apa itu?" Tom menjadi tegang. "Pada hari musibah itu Sonny ada di rumah. Aku yakin akan hal itu." Tom kaget. "Bagaimana kau bisa yakin?" "Aku meneleponnya. Dia sendiri yang menerima. Aku mengingatkan dia agar waspada karena kerusuhan sudah merebak di mana-mana. Pantai Nyiur Melambai bisa jadi incaran karena penghuninya melulu orang Tionghoa." 311 "Lalu dia bilang apa?" "Dia tidak ngomong banyak. Cuma bilang iya, terima kasih. Nggak seperti biasanya. Kayaknya formal." "Mungkinkah dia segera pergi setelah itu?" "Kalau dia pergi, kenapa dia mati di rumahnya?" Mereka sama-sama tertegun. Itu adalah pertanyaan sama yang selalu berulang. Selanjutnya memunculkan pertanyaan sama berikutnya. "Kalau yang mati itu penjarah, ke mana Sonny?" "Dan siapa yang dilihat Harun keluar membawa motor sebelum kejadian? Saat itu penjarah belum masuk." "Kalau Sonny pergi lalu kembali lagi, kenapa tidak menyahut waktu pintunya digedor oleh Harun. Juga ketika diteriaki oleh Maria dan Henry?" Lalu mereka berpandangan dengan ekspresi ruwet. "Mungkin si penjarah guci itu yang membunuh Sonny," kata David. "Itu sebabnya dia jadi berbahaya setelah Harun mencarinya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tapi kalau dia yang membunuh Sonny, maka itu berarti Sonny ada di rumah waktu penjarah masuk. Kenapa dia mengambil risiko begitu besar? Dia bukan tipe orang yang mau mempertahankan harta tanpa peduli nyawa. Dan kalau dia ada di rumah, kenapa tidak menyahut waktu digedor? Dia pasti tahu bahwa Maria dan Henry akan pergi mengungsi. Masa dia tak menolong calon mertuanya? Hal terakhir inilah yang paling penting untuknya. Dia sudah seperti anak bagi orangtua Susan." "Ya, betul sekali. Ini nggak mungkin. Itu nggak mungkin. Mana dong yang mungkin?" David bingung. 312 "Sayang sekali Pak Harun keburu pergi." "Mungkinkah dia bekerja sama dengan penjarah?" David menyodorkan kemungkinan lain lagi. Tapi kemungkinan itu malah tambah membingungkan. Beberapa saat keduanya termenung. David berpikir keras. "Orang yang keluar dari rumah Sonny sebelum kejadian itulah kuncinya!" katanya kemudian. "Ya. Dia memang masih misterius. Siapa dia itu? Bukan Sonny, jadi siapa?" "Menilik waktunya kira-kira bersamaan dengan saat aku menelepon. Jangan-jangan..." Ekspresi David tampak gempar. "Jangan-jangan apa?" "Jangan-jangan bukan Sonny yang menyahut teleponku. Orang misterius itulah yang ngomong. Kalau kuingat-ingat sekarang, sepertinya suaranya lain. Sonny kan suaranya bariton. Gampang dikenali. Tapi yang itu... ah, memang lain. Ketika itu mana sempat aku mikir yang tidak-tidak. Suasana sudah kacau. Takut

http://inzomnia.wapka.mobi

sekali. Habis, Jakarta sudah dikuasai penjarah dan pembunuh. Dan orang kita dijadikan sasaran." Tom tegang sekali. Setelah David pergi, ia masih diliputi ketegangan. Ia tidak tega membagi ketegangan itu dengan orangtuanya. Mereka sudah mengikhlaskan kematian Sonny. Belum pernah Adam merasa selega itu. Beban yang selama ini menindihnya sudah lenyap. Mulai sekarang ia bisa menjalani hidup dengan tenang. Tentu masih ada satu masalah yang mengganjal. Si Jason! Tetapi itu tidak terlalu merisaukan. Ia yakin ada saatnya 313 Jason akan menerimanya. Anak itu masih akan tumbuh. Kelak bila sudah besar, masa dia tidak membutuhkan bimbingan seorang ayah? Biarlah sekarang jauh-jauh dulu. Ia toh masih terlalu kecil untuk bisa "dinikmati". Adam sudah belajar menguasai perasaannya. Tak ada gunanya iri hati pada orang lain yang bisa menimang Jason tanpa halangan. Biar saja. Ia tidak perlu memedulikannya. Tetapi ketidakpedulian Adam itu tidak menyenangkan perasaan Kristin. "Kau mestinya berupaya terus, Mas. Jangan apatis dong." "Bagaimana kalau dia menjerit-jerit lagi bila ku-dekati?" "Tidak apa-apa. Namanya juga berusaha. Kalau tidak dicoba, mana mungkin kita tahu apakah dia sudah bisa menerimamu atau tidak." Adam merasa pendapat Kristin itu ada benarnya. Meskipun ada kecemasan, tapi ia sendiri juga ingin tahu. Maka sore itu setelah mandi ia ke kamar bayi bersama Kristin. Rasanya sudah lama sekali ia tidak masuk ke situ. Padahal cuma

http://inzomnia.wapka.mobi

dalam hitungan hari. Adam berlindung di belakang Kristin ketika mereka mendekati boks Jason. Kristin merasa geli melihat tingkah Adam, tapi ia pun tegang. Toh ia optimis. Bukankah selama ini ia tidak pernah bosan "membujuk" Jason agar mau menerima Adam? Jason membuka matanya yang jernih. Ia menatap ibunya. "Hai, Son! Baru bangun, Sayang?" sapa Kristin. Jason cuma menatap. 314 "Papa datang menjengukmu, Son. Terima Papa, ya? Nih, dia sembunyi di belakang Mama," kata Kristin lagi. Lalu dia menyisih sambil menarik Adam ke sisinya. Maka Adam berhadapan dengan Jason. Keduanya saling menatap. Kristin mengamati dengan penuh ketegangan. Jason diam saja. Matanya tampak jernih seperti biasa. Kristin menyikut pelan lengan Adam. "Belai kepalanya," ia berbisik. Adam mengulurkan tangan. Dengan takut-takut ia menyentuh sebentar kepala Jason, lalu menariknya lagi dengan cepat. Tak ada reaksi apa-apa dari Jason. Kristin semakin yakin. Ia membungkuk lalu mengangkat Jason dan menggendongnya. Ia mencium Jason. "Kau manis sekali, Son! Terima kasih ya, sayang?" katanya penuh syukur. "Sekarang sama Papa, ya?" Kristin menyodorkan Jason kepada Adam. Sesaat Adam raguragu. Kekhawatiran masih menguasainya. Tapi Kristin mengangguk memberi semangat. Adam mengulurkan tangan, mengambil alih Jason dengan hati-hati. Jason diam. Matanya masih menatap biasa saja. Kristin tersenyum lega.

http://inzomnia.wapka.mobi

Akhirnya dia menyerah juga, pikir Adam dengan perasaan senang tak kepalang. Ada rasa menang juga. Mungkin pengaruh dari perkembangan situasi belakangan ini. Dia di pihak yang menang. Lalu Adam terpaku. Kaget dan kengerian tampak di wajahnya. Lenyap sudah senyum dan kelembutan yang semula diekspresikannya. Tak salahkah matanya? 315 Tak salahkah? Yang ada di tangannya itu bukanlah wajah mungil Jason, melainkan wajah Sonny dengan mata terbelalak! Adam memekik. Jason pun melengkingkan tangisnya. Lalu dengan gerakan mendadak Adam melempar Jason! Kristin menjerit. Tapi karena ia sudah siap dengan reaksi-reaksi tak terduga, apalagi setelah melihat ekspresi Adam yang aneh, maka ia segera bergerak dengan cepat. Setelah sempat terpaku sejenak ia menggerakkan tubuhnya dengan lentur dan sigap ketika ia melompat dan berhasil menangkap Jason sebelum bayi itu menyentuh lantai! Sambil memeluk Jason ia terduduk di lantai lalu tersedu-sedu. Adam masih berdiri dengan wajah kaku. Kedua tangannya terangkat seolah siap melakukan perlawanan atas penyerangan terhadapnya. Kristin memeluk Jason yang masih menangis. Tatapannya tertuju kepada Adam dengan sorot ketakutan. "Kau kenapa, Mas? Kenapaaa...?" tanyanya dengan suara gemetar. Tubuhnya pun gemetaran. Adam segera sadar. Ia menurunkan tangannya. Tapi ekspresi horor di wajahnya masih tampak. Ia menatap Kristin dan Jason bergantian lalu mendekat. Kristin beringsut menjauh dan

http://inzomnia.wapka.mobi

mendekap Jason lebih erat. "Jangan, Mas! Jangan!" serunya ketakutan. Adam menghentikan langkahnya. Apa yang dilihatnya tadi tak tampak lagi sekarang. Tetapi debaran di jantungnya masih kencang. Setelah lebih tenang, yang terasa adalah kemarahan. "Dasar anak setan!" ia berseru. Kristin terbelalak. "Apa katamu? Apaaa?" jeritnya. "Anak setan!" ulang Adam lebih keras. 316 "Sadarkah kau... siapa yang kaumaksud?" Kristin gemetar. Sedih, takut, marah, semua menjadi satu. Adam mengarahkan telunjuknya kepada Jason. Tangis Kristin pun meledak. Jason dalam pelukannya menangis lagi, padahal tadi sudah diam. "Pergi kau! Keluar!" seru Kristin di sela isak tangisnya. Adam melemparkan tatap kebencian sekali lagi kepada Kristin dan Jason, lalu melenggang pergi. Ketika membuka pintu kamar, ia memergoki Bi Iyah sedang berdiri di situ. Dengan tersipu Bi Iyah cepat-cepat pergi. Hampir saja Adam membentaknya. Tapi kemudian ia teringat bahwa Bi Iyah loyal kepadanya. Kemudian ia memutuskan untuk keluar rumah. Ia mengambil kunci mobilnya. Tanpa mengatakan sesuatu kepada Kristin ia pergi. "Bilang Ibu, aku pergi sebentar!" katanya kepada Bi Iyah. Kristin mencium Jason lalu meletakkannya kembali di boksnya. Anak itu sudah tenang kembali. Kemudian Kristin mengempaskan tubuhnya di atas dipan. Perasaannya hancur luluh. Ia tak bisa memahami bagaimana mungkin Adam setega

http://inzomnia.wapka.mobi

itu mengatai Jason dengan sebutan mengerikan seperti itu. Benar-benar sakit hatinya. Sekarang ia benar-benar putus asa. Semula harapannya selangit, lalu harapan itu hampir jadi kenyataan ketika tadi melihat Jason sudah menerima Adam saat dibelai dan kemudian digendong. Lalu begitu saja Adam memekik dan memandang Jason seolah melihat hantu. Tentu saja Jason menangis. Sekarang situasi jadi terbalik. Mulanya Jason yang menolak Adam, 317 sekarang Adam menolak Jason. Bahkan Adam tega melemparkannya bagaikan melempar benda mati. Bagaimana kalau ia tak berhasil menangkap Jason? Anak itu pasti... aduh, ia tak berani membayangkannya! Barangkali dirinya salah karena telah mendorong Adam. Seandainya ia tidak melakukannya, maka kengerian itu pastilah tidak terjadi. Padahal mereka sudah bertekad untuk memperbaiki dan membina kembali hubungan yang mendingin. Sia-sia semuanya. Bukan saja mereka kembali ke nol, tapi bahkan lebih mundur lagi. Seharusnya ia bersabar. Tadi Adam sudah segan. Tapi ia memaksa. Inilah akibatnya. Salah diakah? Apa yang salah? Tadi tak ada yang salah. Adam-lah yang salah! Kristin tersentak. Ia duduk tegak. Lalu memandang berkeliling. "Sonny? Engkaukah yang mengganggu?" katanya pelan. "Ah, pasti engkau! Tapi kenapa? Kau baik, kan?" Terdengar isakan Jason. Kristin tersadar. Apakah Jason pipis atau lapar? Ia mengurus Jason dengan air mata berlinang. Ia

http://inzomnia.wapka.mobi

bicara sendiri mengeluhkan nasibnya. Tetapi tak ada yang menyahut. Tak ada Sonny. Tak ada siapa-siapa. Terdengar ketukan di pintu kamarnya yang bersebelahan dengan kamar bayi. "Kris! Kris!" Itu suara Maria. Kristin cepat-cepat mengeringkan air matanya. Ia merapikan Jason di boksnya. "Kris! Kau baik-baik saja?" kembali terdengar suara Maria. 318 "Ya, Tante! Masuk saja!" teriak Kristin. Tak lama kemudian Maria masuk. Kristin memalingkan muka. Tapi Maria keburu melihat wajahnya yang memerah. "Kenapa, Kris? Tadi aku dengar kegaduhan di sini. Lalu kulihat Adam keluar dengan mobilnya. Aku memberanikan diri menjengukmu. Kau tidak apa-apa?" tanya Maria khawatir. "Tidak apa-apa, Tante." Kristin berusaha gagah. Maria menatap tidak percaya. "Betul tidak apa-apa? Bukan maksudku ikut campur, Kris. Aku cuma mengkhawatirkan dirimu dan Jason." Lalu Kristin tak kuasa lagi menahan diri. Ia memeluk Maria dan tersedu-sedu. Setelah berulang-ulang mempelajari coretan Harun yang ditemukannya, Anwar mengambil keputusan. Bila ayahnya telah melakukan kesalahan, maka ia bertekad akan memperbaiki kesalahan itu. Ia tak boleh menirukan atau mengulangi kesalahan yang sama. Tetapi ia juga ingin membantu ayahnya dengan melanjutkan jerih payahnya yang terpaksa ia tinggalkan. Catatan itu dibuat dengan pemikiran mendalam. Ia bukan cuma bersedih, tapi juga marah dan dendam.

http://inzomnia.wapka.mobi

Selesai makan malam bersama orangtuanya, Tom mengangkat telepon yang berdering. Jantungnya berdebar lebih kencang ketika si penelepon memperkenalkan dirinya sebagai Anwar, putra Harun. Anwar mengatakan, ia memperoleh nomor telepon ini dari Henry. Ia ingin bertemu dan berbicara malam itu juga, kalau Tom tidak keberatan. Masalahnya, ia 319 ingin kasus ayahnya selesai secepat mungkin. Supaya nanti malam bisa enak tidur, katanya sambil tertawa. Tentu saja Tom bersedia. Ia sendiri menghendaki hal yang sama. Kedua orangtuanya ikut merasakan ketegangan. "Jadi masih ada masalah, ya?" keluh Lien. "Apa kematian Harun bisa melibatkan kita?" Bun Liong cemas. "Jangan khawatir dulu. Kita kan belum bertemu dengannya," hibur Tom. "Mungkin ada informasi baru yang diceritakan Harun kepada anaknya. Sesuatu yang dianggapnya penting untuk kita ketahui juga. Kalau ia menganggap kita terlibat atau bersalah, apa salahnya?" Ketiganya merasa gelisah menunggu kedatangan Anwar. Maria menemani Kristin selama beberapa waktu. "Apa saya salah, Tante?" tanya Kristin. "Menurutku tidak. Adam yang salah. Apa dia mengatakan alasannya, kenapa ia sampai melempar Jason?" "Tidak. Tapi dia memandang Jason seperti melihat hantu. Padahal sebelumnya tidak." "Hantu?" Maria melihat berkeliling seolah ingin mencari pembuktian. "Ya. Matanya melotot. Lalu dia memekik kaget. Sesudah itu dia melempar Jason."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Begitu?" "Ya. Aneh, kan?" Kristin menyatakannya dengan serius. Meskipun ia sudah menduga apa yang sebenarnya dilihat Adam 320 hingga ia begitu kaget, tapi ia tidak mengerti kenapa Adam bisa ikut "melihat" seperti dirinya. Bukankah hanya orang yang punya kepekaan tertentu saja yang punya kemampuan seperti itu, seperti yang diyakininya selama ini? Apalagi sebelumnya Adam tidak pernah memperlihatkan gejala seperti itu. Kalau memang iya, sampai menimbulkan ketakutan, kenapa Adam bertahan tinggal di situ? Apalagi rumah itu pilihan Adam sendiri, dan dia tahu betul riwayatnya. Selama ini ia menilai Adam bermental kuat dan memiliki keberanian. Tetapi Kristin bertahan untuk tidak menceritakan semua hal itu kepada Maria, meskipun ia merasakan kedekatan bagaikan kepada ibu sendiri. Yang tahu hanyalah Tom. Biarlah tetap Tom seorang yang tahu. "Aneh memang. Tapi kau tidak takut, kan?" "Tidak, Tante," Kristin berkata dengan sesungguhnya. Selama ini ia yakin, Sonny adalah "sahabat". Karena itu ia pasti akan melindunginya. Bukan mencelakakan. Sayang ia tak bisa menjelaskannya kepada Maria. "Syukurlah. Itu yang penting. Kau harus menjaga Jason baikbaik." "Tentu saja, Tante. Dia adalah segalanya bagi saya." Maria menepuk Kristin, memberinya semangat. Sebenarnya ia merasa itu merupakan saat yang baik untuk menanyakan semua keanehan yang pernah diperlihatkan Kristin sebelumnya. Tapi ia

http://inzomnia.wapka.mobi

tidak tega. Ia juga khawatir kalau pertanyaannya nanti justru membangkitkan ketakutan Kristin. "Jaga diri baik-baik ya, Kris?" pesan Maria sekali 321 lagi sebelum pulang. "Kalau ada apa-apa, berteriaklah. Tante dan Oom akan datang secepatnya!" "Terima kasih, Tante." Sesudah Maria pulang, Kristin meraih telepon. Ia sudah memutuskan. Demi Jason, ia membutuhkan bantuan orang lain. Orangtuanya sendiri jauh dan ia tak punya teman atau kerabat dekat. Telepon di rumah Tom berdering, membuat orang-orang yang sedang gelisah terlonjak kaget. Tom mengangkatnya. Wajahnya tampak surprise mendengar suara Kristin. Apalagi Kristin bicara dalam bahasa Inggris. Ia tak menyangka bahwa Kristin cukup fasih berbahasa Inggris. Tapi ia segera memahami bahwa Kristin bukanlah sedang membanggakan diri. Pasti ada alasannya kenapa Kristin menggunakan bahasa itu. Tom terkejut mendengar cerita Kristin yang menggegerkan. Tengkuknya meremang membayangkan cedera yang bisa menimpa Jason seandainya tak terselamatkan. Lalu ia sadar kedua orangtuanya tekun mendengarkan omongannya, berusaha memahami apa yang tengah dibicarakan. Tentu mereka mengamati ekspresinya yang risau. Setelah telepon diletakkan Tom menceritakan apa yang telah disampaikan Kristin. Lien memekik kaget, sedang Bun Liong menggeleng-gelengkan kepala. "Jadi apa sebabnya Adam berlaku seperti itu?" Lien tak habis pikir.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Entahlah. Kristin sendiri tak mengerti." Tom tak menceritakan kesimpulan Kristin, sesuai perjanjian mereka sebelumnya. Bagian yang satu itu biarlah dipahami dirinya seorang saja. 322 "Jangan-jangan..." Lien tak melanjutkan. "Jangan-jangan apa, Ma?" tanya Bun Liong. "Di rumah itu ada Sonny." "Ha? Yang bener, Ma," bantah Bun Liong. "Itu sebabnya Kristin memberi nama Jason pada anaknya." "Tapi Kristin tidak terganggu di situ." "Sonny tidak ada masalah dengan Kristin. Yang tidak disukainya adalah Adam. Lihat saja sikap Jason pada Adam, padahal dia kan bapaknya sendiri," Lien menyimpulkan. Tom diam saja. Ia cuma menyimak. Mungkinkah ibunya benar? Mereka menyambut kedatangan Anwar dengan penuh keramahan. Sebelumnya rasa belasungkawa disampaikan dulu. Lalu mereka duduk berhadapan dengan sikap canggung dan juga tegang. Dan seperti biasanya tata krama, mereka berbasa-basi lebih dulu. Ada kata-kata pendahuluan sebelum tiba ke masalah pokok yang sebenarnya mau dibicarakan. Lalu Anwar merogoh sakunya dan mengeluarkan amplop berisi uang yang ditemukannya di dalam lemari Harun. Amplop itu diletakkannya di atas meja. "Saya bermaksud mengembalikan uang yang dulu diminta Bapak kepada Pak Bun. Tapi jumlah yang saya temukan tinggal tiga setengah juta." Ketiga tuan rumah terperangah kaget. "Lho, kok dikembalikan?" tanya Bun Liong. "Itu ikhlas saya berikan kok, War. Jangan dikembalikan."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak, Pak," sahut Anwar dengan penuh kepastian. 323 "Bapak telah melakukan kesalahan. Tidak seharusnya ia minta imbalan untuk barang jarahan. Bagi saya itu haram. Memang ini uang Bapak. Dia yang memintanya. Tapi karena saya anaknya dan saya pewarisnya, maka sekarang saya berhak untuk menentukan. Saya berterima kasih untuk keikhlasan Pak Bun. Maafkan saya karena saya tak bisa menerimanya." Anwar menangkupkan kedua telapak tangannya, lalu didekatkan ke dada. Ia tampak tulus hingga tuan rumah terharu. Tom menganggukkan kepala kepada ayahnya sebagai isyarat. "Baiklah," kata Bun Liong. "Kami juga berterima kasih. Pak Harun patut bangga." Mata Anwar berkaca-kaca. Ia juga bangga akan dirinya sendiri. Di zaman yang susah ini pastilah berat melepas uang tiga setengah juta rupiah yang sudah ada di tangan, bahkan sudah ikhlas diberikan. "Masih ada lagi yang mau saya berikan," katanya, lalu merogoh saku lagi. Kali ini ia mengeluarkan kertas coretan Harun yang terlipat. Ia membuka lipatannya. "Ini hasil analisa Bapak sebelum meninggal. Buat Pak Bun sekeluarga pasti berguna. Saya sudah mempelajarinya. Kira-kira saya memahami. Tapi saya pikir, saya tidak berhak ikut-ikutan. Jadi saya serahkan saja kepada Pak Bun. Atau Pak Tom." Anwar menyodorkan kertas itu kepada Tom yang duduk berdekatan dengannya. Tom membacanya sebentar. Sejenak ekspresinya tampak kelam. Kemudian ia memandang Anwar. "Saya tidak tahu bagaimana saya harus berterima kasih kepada Pak Anwar. Ini amat sangat berharga buat kami. Pak Harun hebat sekali."

http://inzomnia.wapka.mobi

324 Bun Liong mengulurkan tangannya dengan tak sabar. Ia juga ingin tahu apa yang ada pada kertas itu. Tom menyerahkan kertas itu kepada ayahnya. Lien pindah duduk ke sisi suaminya, ikut membaca. Usai membaca keduanya berpandangan. "Si Adam!" jerit Lien sambil melempar kertas itu, seolah itu benda yang mengerikan. Jatuh ke lantai. Tom memungutnya, melipatnya dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam sakunya. Ia ingin mempelajarinya lagi. "Jangan menuduh dulu, Ma. Jangan," cegah Bun Liong. "Ingat. Menuduh tanpa bukti itu fitnah." "Ya. Itu baru kesimpulan," Anwar membenarkan. "Saya kenal Pak Sonny. Saya ikut berduka atas kejadian itu. Tapi saya hanya bisa membantu sampai di sini." "Oh, bantuanmu ini tak ternilai, War!" seru Bun Liong. Sesaat tatapannya tertuju kepada amplop di meja. Sebelum tangannya bergerak ke situ, Anwar menggoyangkan tangannya. "Jangan, Pak. Apa yang saya lakukan itu sewajarnya saja. Harusnya memang begitu. Apa gunanya kertas itu saya simpan?" "Terima kasih, War," cuma itu yang bisa diucapkan Bun Liong. Kemudian Anwar pamitan. "Boleh saya minta sesuatu, Pak?" tanyanya sebelum berlalu. "Tentu saja boleh." "Janganlah sebut nama saya kepada Adam. Saya tak ingin berhubungan lagi dengannya." "Oh, tentu. Kami berjanji, War." Janji itu memang harus ditepati. Tom memikirkan Kristin. Ia tak merasa puas dengan hanya menelepon. Meskipun Kristin sendiri mengata325

http://inzomnia.wapka.mobi

kan bahwa ia baik-baik saja, tapi Tom ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. Terutama Jason. Benarkah dia tidak apaapa? Sebagai seorang dokter ia bisa memeriksa dengan saksama. Sebelum berangkat ia menelepon dulu. Ternyata Adam belum pulang. Ia menganggapnya sebagai kesempatan yang baik. Orangtuanya mendukung niatnya. Mereka pun menyayangi Kristin dan Jason. Dan membenci Adam! Tapi mereka sepakat untuk tidak menceritakan kunjungan Anwar itu kepada Maria dan Henry. Setidaknya untuk sementara. Hal itu berhubungan dengan janji mereka kepada Anwar. Kristin sudah mempersiapkan Jason di ruang depan. Ia bersyukur atas kunjungan Tom, yang dianggapnya sebagai perhatian. Kepada Bi Iyah ia mengatakan bahwa Tom seorang dokter yang akan memeriksa Jason. Dengan stetoskop lama miliknya yang disimpan ayahnya, Tom memeriksa Jason. Ia menyimpulkan Jason sehat-sehat saja. Apalagi anak itu sendiri memang tenang. Matanya yang jernih itu menatapnya sambil berkejap-kejap. Tom tersenyum. Betapa ia menyukai anak itu. Terpikir, bila kelak ia kembali ke Amerika pasti ia akan merasa kehilangan. Memang ia bisa kembali lagi untuk menjenguk. Tapi ketika itu terjadi tentunya Jason sudah lebih besar. Kristin mengamati keduanya dengan perasaan campur aduk. Lalu Tom menoleh kepadanya. Mereka berpandangan sejenak. Aneh, rasanya seperti magnit. Tatapan mereka bertautan tak mau lepas. Lalu mereka tersenyum. Kehangatan pun terasa merebak memasuki seluruh pori-pori, terus ke dalam mengikuti aliran

http://inzomnia.wapka.mobi

326 darah ke mana-mana. Tom melupakan nestapanya. Kristin terhibur duka laranya. Tanpa sadar Tom mengulurkan tangan lalu meraih tangan Kristin yang terletak di pinggiran kereta bayi. Kristin menyambut. Keduanya saling menggenggam erat dengan pandang yang terus bertaut. Tetapi semua itu berlangsung cuma sekejap. Jason kembali jadi pusat perhatian. "Untung dia punya ibu yang sigap," puji Tom. Kristin tersenyum, bangga oleh pujian itu. "Kau mau ke rumah sebelah?" tanya Kristin kemudian. "Kukira sebaiknya tidak. Sudah malam. Aku juga tak bisa lamalama. Kalau Adam pulang, dia bisa salah paham." Kristin melepas kepergian Tom dengan janji untuk selalu memberi kabar mengenai perkembangan situasi. Ketika melangkah menuju kereta untuk membawa Jason kembali ke kamarnya, Kristin melihat kertas terlipat di kolong kereta. Ia memungutnya lalu mengamati. Pada satu sisi kertas itu merupakan sebuah brosur yang warnanya berlepotan, hasil karya cetakan yang salah. Tapi pada sisi di baliknya terdapat coretan-coretan tulisan tangan dengan bolpen. Ia melihat nama Adam tertulis di situ. Perasaannya tak enak. Ia cepat melipat kembali kertas itu, lalu memasukkannya ke dalam saku celana pendeknya. Sambil menaiki tangga dan menggendong Jason ia memikirkannya. Pasti kertas itu milik Tom, yang terjatuh dari sakunya ketika ia menarik stetoskop dari dalamnya. Bila Tom menganggapnya penting 327

http://inzomnia.wapka.mobi

pasti ia akan kembali lagi untuk mengambilnya. Atau setidaknya menelepon untuk memberitahu. Tapi sebelum itu terjadi ia akan mempelajarinya dulu. Ketika turun dari taksi di depan rumahnya, Tom mengambil dompetnya. Saat itulah ia menyadari kertas itu sudah tak ada lagi di kedua saku celananya. Yang masih ada hanya dompet dan stetoskopnya. Ia memarahi diri sendiri. Begitulah kalau tak bisa menghilangkan kebiasaan memasukkan segala macam barang ke dalam saku. Ia lebih terkejut lagi ketika terpikir akan kemungkinan bahwa kertas itu terjatuh di rumah Kristin. Mungkin saat ia mengeluarkan stetoskop. Ia memang tak ingat di saku sebelah mana kertas itu berada. Maka ia masuk kembali ke dalam taksi dan menyuruh sopir kembali ke kawasan Pantai Nyiur Melambai. Kristin mempelajari tulisan pada kertas yang ditemukannya itu. Ia duduk di dipan di kamar bayi. Jason tidur dengan tenang. Tidak sukar baginya untuk menyimpulkan bahwa coretan itu dibuat oleh Harun. Siapa lagi yang mengalami hal-hal yang tertulis di situ selain dia? Ia pun sudah tahu cukup banyak mengenai kisah itu. Catatan Harun sepertinya tinggal melengkapi saja. Keterlibatan Adam seperti yang tertulis membuatnya terpukul. Apakah kesimpulan yang muncul bisa menjelaskan kekacauan yang terjadi di rumah ini? Apakah pilihan Adam akan rumah ini merupakan suatu kesalahan besar? Atau bisa disebut sebagai kebodohan? 328 Perasaan Kristin tertekan sekali. Terlalu banyak yang harus ditanggung dalam waktu singkat. Ia ingin menangis lagi seperti tadi. Ia mengerjapkan mata tapi tak ada air mata yang keluar.

http://inzomnia.wapka.mobi

Entah karena sudah habis atau dorongannya kurang. Pelanpelan ia melipat kembali kertas itu sesuai garis semula. Ia tidak tahu dari mana Tom mendapatkan kertas itu, mengingat Harun sudah tiada. Tapi ia tidak ingin tahu. Yang penting baginya adalah isinya. Jelas Tom baru saja mendapatkannya karena masih berada dalam sakunya. Kenapa Tom tidak menceritakan kepadanya? Ah, pasti Tom bermaksud baik. Dan ternyata Tom juga tidak pergi ke rumah sebelah. Padahal biasanya antara keluarga Tan dan keluarga Lie selalu saling tukar informasi. Maria pun sepertinya belum tahu. Kalau Tom menganggapnya penting ia akan kembali lagi sesegera mungkin. Perkiraannya benar. Bahkan sebelum ia beranjak dari tempatnya ketukan, pada pintu kamar terdengar, disusul suara Bi Iyah, "Buuu! Dokter yang tadi balik lagi!" Tom menatap Kristin dengan cemas. Sudah dibaca dan dipelajarinyakah coretan pada kertas itu? Tetapi Kristin tampak cerah. Sama seperti saat ia meninggalkannya tadi. Kristin menyodorkan lipatan kertas itu kepadanya. Suaranya biasa-biasa saja. "Kau pasti kembali untuk mengambil ini, bukan?" Tom menerima kertas itu dan buru-buru memasukkannya ke dalam sakunya. "Apa kau... kau membacanya?" tanyanya, tak bisa menyembunyikan kekhawatiran dalam suaranya. 329 Kristin tertawa. "Wah, apa ya isinya? Rahasia?" ia balas bertanya. Tom tertawa juga. Ia lega. "Bukan sih."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kalau gitu, lihat dong!" Kristin mengulurkan tangannya. Isyarat meminta. Tapi Tom menangkap tangannya dan memegangnya selama beberapa saat. "Nggak usahlah, Kris! Kasihan. Nanti kau jadi pusing." "Oh ya? Tujuh keliling begitu?" "Ya. Kira-kira begitu. Padahal kau lagi pusing, kan?" "Tak apa. Kau dokter. Bisa memberi obat." "Wah. Kayaknya resepku tak berlaku di sini." Mereka tertawa ketika menuju ke pintu. Taksinya menunggu. Tom pergi dengan perasaan lega. Tetapi Kristin menyimpan bebannya. Malam itu Adam tidak pulang. *** Esoknya, Adam pulang pagi-pagi sekitar pukul enam. Tanpa mengatakan apa-apa kepada Kristin yang menyambutnya ia segera masuk ke kamar mandi, berpakaian, dan kemudian sarapan sambil membaca koran. Ia bersikap seolah tak ada apa-apa. Kristin ikut sarapan. Ia pun tidak bertanya apa-apa. Ia sabar menunggu. Setelah semalaman bergulat dengan perasaannya, ia berhasil mengatasi dan memutuskan untuk bersikap pasif sementara waktu. Kepergian Adam semalam ada baiknya. Ia bisa berpikir tenang. 330 Sambil makan ia pun masih memikirkan hal itu. Aneh juga rasanya bahwa ia bisa bersikap dingin dalam situasi yang mestinya membangkitkan amarah itu. Di mana tanggung jawab Adam sebagai suami dan ayah? Kalau dulu-dulu mana mungkin ia bisa bersabar seperti itu. Pasti ia segera saja meledak pada

http://inzomnia.wapka.mobi

kesempatan pertama. Apalagi sikap Adam tampak begitu melecehkan. Dia seolah dianggap angin. Tapi sekarang perlakuan itu tidak mengusik emosinya. Ada masalah yang lebih besar. Dari balik koran yang dibacanya sebentar-sebentar Adam mengintip ke arah Kristin. Ia melihat Kristin makan pelan-pelan lalu menghirup susunya pelan-pelan juga. Tatapan Kristin ke meja, tanpa beralih ke tempat lain. Melihat kepadanya pun tidak. Ia heran juga kenapa Kristin bisa begitu diam. Bahkan tenang. Padahal bila seorang suami pergi semalaman tanpa memberitahu apa-apa, mestinya merupakan kesalahan besar di mata istrinya. Rasa herannya berubah menjadi curiga. Bila seseorang tidak bersikap seperti biasanya, pastilah ada sesuatu yang luar biasa. Selesai makan, Kristin segera naik ke loteng untuk mengurus Jason. Adam sudah pergi lebih dulu ke ruang duduk membawa korannya. Tapi setelah melihat Kristin pergi, Adam memanggil Bi Iyah. Perempuan itu memang sudah menunggu bagai abdi yang setia. Sejak awal bekerja dan punya dua majikan, ia sudah tahu kelak akan ada kemungkinan di mana ia harus memilih kepada siapa kesetiaannya harus ditujukan. Ia memutuskan akan berpihak kepada yang punya uang! Kristin menyusui Jason sambil bersenandung pelan 331 mengikuti irama musik yang dipasang. Ia ingin menguraikan kekusutan pikirannya supaya air susunya tetap lancar. Konon kelancaran air susu juga bisa dipengaruhi secara psikologis. Jadi pada saat itu ia berusaha tidak memikirkan Adam. Segala sesuatu mengenai Adam disingkirkannya dari pikirannya. Tetapi

http://inzomnia.wapka.mobi

rasanya sulit untuk mengosongkan pikiran sama sekali. Maka ia memikirkan yang lain. Sesuatu yang menyenangkan dan menimbulkan kedamaian di hati. Tom! Ia teringat kehangatan sentuhan Tom. Genggamannya yang erat dan akrab itu terasa melindungi. Belum pernah ia merasa begitu yakin akan ketulusan seorang lelaki seperti yang ditemukannya pada diri Tom. Bahkan Adam... Oh, tidak. Jangan berpikir tentang Adam. Pada Tom saja. Itu lebih menyenangkan. Dan lebih aman! Kenapa Tom tahan menduda selama bertahun-tahun? Tak bisa menghapus trauma atau dendam kepada perempuan? Tapi sikap Tom kepadanya, yang begitu ramah dan hangat, tidak mengindikasikan hal itu. Lelaki yang membenci perempuan pasti bersikap dingin dan tak mau dekat-dekat, kecuali kalau terpaksa. Tiba-tiba Kristin merasa khawatir jangan-jangan Tom memiliki teman kumpul kebo di Amerika. Orang sana biasa begitu. Ah, apa pedulinya tentang hal itu? Yang penting perhatian Tom sangat menyenangkan. Tahu-tahu Jason telah selesai dan tertidur kekenyangan. Entah sejak kapan. Kristin mengembalikan pikirannya yang mengembara sambil tersenyum. Ternyata Jason tidak merasa kurang. Ia tidak perlu mencemaskan air susunya. 332 Kristin tidak menyadari, Adam mengamatinya dari celah pintu yang terpentang. Adam yakin, ekspresi Kristin yang melamun sambil tersenyumsenyum itu pasti bukan karena memikirkan dirinya. Apa yang telah ia lakukan bukanlah sesuatu yang pantas mengundang senyum keceriaan di wajah Kristin. Ia tahu siapa yang ada di

http://inzomnia.wapka.mobi

benak Kristin. Laporan yang diberikan Bi Iyah kepadanya barusan cocok dengan apa yang disimpulkannya. Adam dibakar api cemburu. Kristin harus menyadari dia bukanlah suami yang bisa diperlakukan seenaknya. Kalau ia membiarkannya, maka lama-kelamaan ia akan diinjak. Tapi masih ada kesadaran untuk tidak dikuasai emosi. Ia sudah belajar, Kristin bukanlah orang yang bisa ditaklukkan dengan deraan fisik. Sebaliknya, kekerasan cuma membuat Kristin semakin menentang dan melawan. Kristin terkejut mendapati Adam sudah berada di kamar tidur mereka, yang bersebelahan dengan kamar bayi. "Mau apa Tom datang ke sini semalam? Kau memanggilnya mentang-mentang aku tidak ada, ya?" Adam mulai. Ternyata sesudah memulai, emosinya pun bekerja. "Ya. Aku memanggilnya karena dia dokter. Aku takut Jason kenapa-kenapa karena dilempar olehmu." "Oh, begitu? Memangnya tak ada dokter lain? Dia kan bukan dokter anak." "Tapi dia bisa dipanggil." "Aku tidak percaya! Kok mesra-mesraan?" 333 "Apa?!" Kristin melotot. "Siapa yang mesra-mesraan?" "Kalian berdua. Bi Iyah saksi mata. Lupa, ya?" "Apa katanya?" "Pokoknya, apa yang dia lihat adalah apa yang kalian lakukan." Adam mulai sulit mengendalikan emosinya. "Apa yang dia katakan belum tentu sama dengan apa yang dia lihat. Kau sampai hati menyuruh pembantu memata-matai istri." "Itu bukan memata-matai namanya. Ah, terserahlah kau mau bilang apa. Awas saja! Jangan nyeleweng! Atau sudah?" Muka

http://inzomnia.wapka.mobi

Adam memerah, membayangkan tempat di mana mata Bi Iyah tak bisa menjangkau. Itu adalah rumah Maria. Bila Kristin ke sana lalu Tom pun ke sana, maka... Kristin menjadi takut. Di matanya Adam sudah menjadi orang yang berbahaya. Maka ia diam, berusaha untuk tidak memancing emosi Adam. Tapi sikap diamnya justru membuat Adam semakin marah. "Bila kau diam, berarti kau mengaku!" ia berseru. "Aku tidak nyeleweng dengan siapa pun!" "Lantas kenapa kau dan dia begitu akrab? Pandang-pandangan. Pegang-pegang tangan. Bahkan kaubiarkan dia mendorong kereta si Jason. Sikapnya kepada anak itu juga sudah seperti dialah ayah kandungnya. Apa yang kelihatan itu tidak bisa membohongi orang!" Kristin diam lagi. Ia menyadari kesalahannya telah bertindak impulsif. Tapi ia tidak menyesal. Yang disesalinya hanyalah ia membiarkan Bi Iyah melihatnya. 334 "Kertas apa yang kauberikan kepadanya?" "Itu miliknya sendiri yang terjatuh dari sakunya waktu mengambil stetoskop." "Apa isinya? Kau membacanya, bukan? Kau kaget membacanya, bukan? Lalu kau membawanya ke kamar. Kemudian Tom datang lagi. Dia kelihatan takut kalau-kalau kau membacanya. Tapi kau bilang tidak membacanya. Jelas bohong, kan?" Kristin tertegun. Wajahnya memucat tanpa dikehendakinya. Tiba-tiba saja ia takut kalau-kalau Adam bisa menebak apa sesungguhnya yang telah dibacanya itu. Beberapa saat kemudian baru ia sadar bahwa hal itu tidak mungkin. Adam

http://inzomnia.wapka.mobi

boleh saja mencurigai, tapi ia takkan tahu apa yang ia pikirkan. Bahkan Adam pasti takkan menyangka sedikit pun mengenai apa yang telah dibacanya itu. Dalam hal itu Bi Iyah tidak tahu apaapa. "Lihat! Mukamu pucat! Nah, memang ada sesuatu, kan?" "Kalaupun memang ada sesuatu, aku tidak mau bicara! Kau tidak berhak memaksaku bicara!" "Oh ya? Mungkin aku tidak berhak, tapi aku bisa." Kristin diam. Rasa takut mulai menguasainya kembali. Adam menatap arlojinya. "Masih ada waktu," katanya. Lalu ia menatap Kristin dengan ekspresi mencemooh. "Pakai bahasa Inggris segala, ya? Itu malah semakin kentara bahwa kau menyembunyikan ke-busukanmu. Supaya nggak dimengerti Bi Iyah, kan?" Kristin masih tak menyahut. Sebenarnya ia ingin keluar kamar menghindar dari Adam, tetapi ia tak 335 mau meninggalkan Jason. Bagaimana kalau Jason diapa-apakan oleh Adam? Sudah terbukti Adam sangat tega. "Tak mau menjawab, ya? Berarti kau memang salah!" "Bagimu, semuanya selalu salah! Aku tidak mengerti kenapa kau jadi berubah begini." "Kau tidak mengerti? Sejak kelahiran anak itu." Adam menunjuk kamar bayi. "Semua menjadi kacau!" "Kau menyalahkan Jason?" "Ya! Dia biang kekacauan!" Kristin tertegun. Ia menganggap, tuduhan itu sangat keji. Tetapi dengan demikian menjadi semakin jelas baginya. "Kalau kau tidak menghendaki kami berdua di rumah ini..."

http://inzomnia.wapka.mobi

Belum selesai Kristin bicara, Adam sudah tertawa. "Siapa bilang begitu, Sayang? Aku tidak memintamu pergi. Kau kan istriku." "Baiklah. Kalau kau tidak menginginkan aku pergi, suruhlah dia pergi!" "Dia siapa?" "Bi Iyah!" Adam tertawa keras. "Lantas siapa yang akan membantumu?" "Aku tidak perlu dibantu!" "Oh, tidak. Aku kasihan sama kau. Bi Iyah tidak akan pergi." "Kalau begitu biar saja aku pergi sama Jason. Itu lebih baik daripada kita ribut melulu." "Kau mau ke mana?" tanya Adam dengan nada mencemooh. 336 "Aku mau pulang ke Semarang!" "Dan membebani orangtuamu?" Kristin tidak menyahut. Gagasan itu memang terlalu mendadak. Ia spontan saja bicara karena dorongan emosi. Sesungguhnya situasi tidak memungkinkan baginya untuk menumpang di rumah orangtuanya, apalagi dengan membawa Jason. Bukan saja Jason masih terlalu kecil untuk dibawa pergi jauh, tapi menurut kabar terakhir yang diterimanya dari ibunya, ayahnya mengidap penyakit paru-paru yang gampang menular. Di samping itu sekarang ini ia bergantung sepenuhnya kepada Adam. Ia sudah berhenti bekerja atas permintaan Adam, yang ia setujui sepenuhnya karena ingin memberi seluruh waktunya kepada Jason. Kelak ia akan bekerja lagi, bila Jason sudah berusia lebih dari lima tahun.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ia bisa saja pindah ke rumah kontrakan dengan menggunakan tabungan pribadinya bila motivasinya cuma untuk menjauh dari Adam. Tapi untuk seberapa lama? Pergi ke mana pun Adam masih tetap suami dan ayah Jason. Ia takut kepada Adam! Seseorang yang di masa lalu mampu melakukan kekejian, kemungkinan bisa mengulanginya di masa mendatang. Itu disebabkan karena perasaan teganya kepada orang lain sudah tumpul akibat pengalaman sebelumnya. Semakin sering sebuah pisau digunakan untuk memotong, semakin cepat tumpulnya. Orang yang tak pernah memukul akan berpikir seribu kali bila keinginan itu muncul. Tetapi orang yang pernah memukul tak perlu berpikir lagi untuk mengulanginya. Dan orang yang pernah membunuh... Ah, bukankah ada cinta yang bisa jadi penghalang? Tetapi ia sendiri 337 mengalami, bahwa cinta itu memiliki kadar yang tidak pasti karena ketergantungannya pada banyak hal. Ada kalanya cinta itu terasa selangit. Luar biasa. Tetapi anehnya bisa menjadi benci di saat yang lain! Kristin masuk ke kamar bayi dan menutup pintunya. Pada saat konflik dengan Adam, cuma tempat itulah yang bisa memberinya rasa aman. Dia berdua Jason. Ia baru akan keluar bila Adam sudah pergi. Sebelum pergi ke kantor, Adam berpesan kepada Bi Iyah, agar bertahan di rumah itu bila Kristin menyuruhnya pergi. Bukan Kristin yang menggajinya. Tentu saja Bi Iyah setuju. Dia memang tak ingin pergi. Sebelum mengeluarkan mobilnya ke jalan, Adam baru menyadari ia belum mengenakan dasi. Biasanya Kristin tak

http://inzomnia.wapka.mobi

pernah lupa menyediakan perangkat pakaiannya untuk ke kantor. Dengan jengkel ia bergegas kembali masuk rumah dan meninggalkan mobilnya dalam keadaan hidup. Bi Iyah yang menunggui. Setibanya di depan kamar tiba-tiba muncul rasa iseng. Ia tahu tadi Kristin masuk ke kamar bayi dan akan menunggu sampai ia pergi baru keluar. Bila ia tiba-tiba berada di kamar tanpa suara, tentulah Kristin akan kaget sekali. Pelan-pelan ia membuka pintu lalu masuk setelah sebelumnya melepas sepatu di depan pintu. Tetapi Kristin masih berada di dalam kamar bayi. Pintunya masih tertutup. Terdengar suara ocehan Kristin. Pasti bicara kepada Jason. Lama-lama ia bisa sinting, pikir Adam. Bayi yang belum mengerti apa-apa itu diajak bicara. 338 Adam berindap-indap ke depan pintu kamar bayi. Di situ ia menguping. Suara Kristin memang samar-samar, tapi masih bisa terdengar. "Kenapa Papa begitu ya, Son? Mama sungguh tidak ingin punya kesimpulan begitu. Sungguh tidak ingin. Tapi kenapa kesimpulan seperti itu muncul? Apa yang telah dilakukan Papa kepada Sonny? Membunuhnya? Ah, barangkali cuma membuatnya pingsan. Masa sih dia sekejam itu, ya?" Adam terkejut bukan kepalang. Rasanya seperti mendapat tamparan keras sekali. Mukanya pucat dan badannya terasa dingin. Ia syok. Lalu bulu romanya berdiri ketika mendengar isakan Jason. Tiba-tiba isak tangis bayi itu berubah menjadi rintih kesakitan Sonny! Adam berlari keluar kamar.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kristin sadar, tak ada gunanya bersikap emosional dengan mengusir Bi Iyah, walaupun ia sangat ingin melakukannya. Ia harus menempuh cara lain untuk keluar dari kemelut itu tanpa melakukan sesuatu yang sudah disadari kesia-siaannya. Berpikirlah dengan kepala dingin. Demi dirinya sendiri dan tentu saja demi Jason. Setakut-takutnya kepada Adam, ia tidak boleh memperlihatkannya secara berlebihan. Saat itu ia membutuhkan udara segar. Maka ia mendorong kereta Jason ke rumah sebelah. Sebelum pergi ia berkata kepada Bi Iyah, "Bi, aku ke sebelah. Jadi Bibi nggak usah melongok keluar untuk melihat sendiri." Bi Iyah tersipu memalingkan muka. Ia cuma meng-iyakan dengan suara lirih. Tapi memutuskan untuk tidak perlu merasa malu. Semuanya toh sudah jelas. 339 Ia cuma menjalankan perintah majikan. Untuk itulah ia dipekerjakan. Setelah Kristin pergi, Bi Iyah ke dapur lalu membuat kopi susu untuk dirinya sendiri. Ia menikmatinya bersama kue kering dalam setoples yang biasanya jadi camilan majikannya. Ia perlu juga menghibur diri. Mendengarkan pertengkaran demi pertengkaran yang tak ia pahami ujung-pangkalnya membuatnya ikut stres. 340 XI Jakarta, pertengahan bulan Juli.

http://inzomnia.wapka.mobi

Atas desakan Debbie, pada hari Minggu pagi Vivian menelepon untuk mengajak Tom berekreasi ke Taman Impian Jaya Ancol. Ke tempat favorit Debbie, yaitu Sea World. Ternyata Tom mau, dan itu membuat Debbie senang bukan kepalang. Mereka pergi dengan mobil yang dikendarai Vivian. Ketika Debbie tak mendengar, Vivian mengatakan pada mulanya ia pesimis Tom mau ikut mereka. Sudah beberapa hari sejak pertemuan pertama ia tak memberi kabar atau membuat janji bertemu seperti yang disepakati semula. Tom menceritakan kesibukannya mengunjungi sanak keluarga. Tapi Tom tidak berminat menceritakan kasus yang membuat keluarganya gempar. Tentu Viv tahu peristiwa tragis yang menimpa Sonny. Tapi Tom tidak menginginkan simpati Viv dalam kasus itu. Vivian memahami kesibukan Tom. Tapi sesungguhnya ia juga khawatir kalau-kalau Tom tidak mau bertemu lagi dengannya sesudah pertemuan pertama itu. Mungkin luka lamanya berdarah lagi. Entah dia atau Debbie penyebabnya. 341 Setelah melihat sikap Tom yang penuh perhatian kepada Debbie, kekhawatiran Viv itu lenyap. Tom memang sibuk dan sepantasnya memprioritaskan keluarganya lebih dulu. Tetapi diam-diam muncul kekhawatiran lain dalam diri Viv. Sampai saat itu Tom belum juga menanyakan hal yang dulu sangat ingin diketahuinya. Siapa ayah Debbie? Memang Debbie hampir selalu menyertai mereka. Tapi kalau mau diusahakan mereka bisa mencari waktu untuk bicara berdua saja. Tampaknya Tom tidak melakukannya. Kenapa? Apakah Tom menunggu dia yang berinisiatif lebih dulu? Ataukah Tom sudah tidak peduli karena menganggap mereka

http://inzomnia.wapka.mobi

bukan apa-apanya lagi sekarang? Dulu Tom peduli karena situasinya lain. Sekarang tak ada masalah lagi. Seharusnya aku merasa lega karena tak lagi dikejar-kejar, pikir Viv. Tapi ternyata tidak. Ia merasa tak berguna. Selama berada di Sea World Debbie berlaku seperti guide terhadap Tom. Ia mengajaknya ke sana kemari sambil berceloteh seolah dia paling tahu. "Pasti kau sudah sering ke sini," komentar Tom tertawa. "Oh iya, Oom. Hampir tiap minggu!" Debbie mengakui dengan bangga. "Pantas! Rupanya kau suka laut, ya?" "Suka sekali, Oom. Kelak Debbie ingin jadi pelaut, naik kapal besar." "Wah. Jadi Sinbad the Sailor?" "Betul, Oom!" Debbie bersorak. Viv mengamati keakraban kedua orang itu dengan perasaan pedih. Tom cuma hadir sebentar. Tapi yang 342 sebentar itu mampu menggugah kerinduan Debbie akan keberadaan seorang ayah. Padahal anak itu tahu betul, orang seperti Tom tidak mungkin jadi ayahnya. Kalau sedang menonton film Barat di televisi, Debbie akan menunjuk aktor yang paling tampan. "Daddy pasti seperti itu!" katanya. Aktor yang ditunjuknya itu tentu saja berkulit putih, berambut pirang, dan bermata biru! Viv memperkirakan bahwa bagi Debbie, Tom adalah seorang companion yang menyenangkan. Mungkin juga ia menganggapnya sebagai substitusi seorang ayah, di mana dalam angan-angannya ia membayangkan Tom berkulit putih, berambut pirang, dan

http://inzomnia.wapka.mobi

bermata biru. Debbie akan kehilangan Tom bila ia kembali ke Amerika nanti. Dan itu tak lama lagi. Setelah itu bisa terjadi dua kemungkinan. Pertama, Debbie akan semakin merasakan kekosongan itu. Kedua, ia cukup terhibur dan terobati hingga tidak lagi merasa kosong. Viv berharap kemungkinan kedualah yang terjadi. Viv bersyukur dan berterima kasih kepada Tom karena sikapnya yang begitu menyenangkan kepada Debbie. Sungguh sesuatu yang di luar persangkaannya. Mimpi atau berkhayal pun tidak. Justru ia menyangka Tom akan menghindar dari Debbie atau menatapnya dengan benci bila perjumpaan terjadi. Itulah yang disampaikan Ron kepadanya lewat e-mail. Tom pernah mengatakan kepada Ron bahwa ia takut bertemu atau melihat Debbie karena dalam diri anak itu ia melihat kehancuran kebahagiaannya. Di samping itu ia takut melihat wajah ayah kandung Debbie di wajahnya. Jadi melihat apa yang terjadi sekarang, Viv merasa aneh sekali, karena segala 343 kemungkinan buruk itu tidak terjadi. Bahkan justru sebaliknya. Tom menerima Debbie bukan cuma dengan dua tangan terbuka, tapi juga dengan kehangatan seorang ayah. Mata Viv menjadi basah saat mengamati kelakuan Tom dan Debbie. Kedua orang itu benar-benar bertingkah seperti ayah dan anak. Tom sangat natural. Tak ada kepura-puraan atau kepalsuan. Baru pada saat itu mata Viv terbuka melihat kebenaran. Tom orang yang baik. Terlalu berharga untuk disisihkan demi kesenangan sesaat. Penyesalan meroyak perasaannya. Kenapa penyesalan selalu datang terlambat?

http://inzomnia.wapka.mobi

Arogansi Viv runtuh. Pada saat itu mau rasanya ia mencium kaki Tom sambil menyampaikan segala penyesalannya. Tetapi ia juga cukup menyadari bahwa apa pun yang ia lakukan tidak bisa memulihkan kerusakan yang telah diperbuatnya di masa lalu. Ia tahu, tanpa harus diucapkan pun, Tom telah memaafkannya. Kesediaan Tom menemuinya saja sudah menyatakan hal itu. Pada suatu kesempatan, ketika Debbie sedang asyik mengamati kura-kura sambil mendengarkan penjelasan seorang guide, Viv mengutarakan isi hatinya itu dengan suara perlahan. Tom terkejut, tak menyangka bahwa Viv mengatakannya di tempat itu. Padahal saat mereka hanya berdua, di mana Viv punya banyak kesempatan untuk mengutarakannya, Viv malah bicara tentang hal lain dan menghindari topik peka itu. "Sudahlah, Viv. Aku sudah memaafkan, bukan? Sebagai manusia, berapa pun usia kita, kita takkan 344 henti-hentinya belajar memahami kehidupan. Kita berulang kali jatuh-bangun. Lihat, kita sudah sama-sama bangkit kembali. Bukan cuma aku yang mengalami masa pahit. Kau juga. Tak bisa dibilang, siapa yang lebih menderita. Aku cuma sendirian. Kau berdua dengan Debbie." "Tapi semua itu terjadi karena aku." "Bisa juga aku. Siapa saja bisa khilaf." "Aku kagum padamu, Tom. Kau jadi begitu bijak." Tom tertawa. "Apa iya begitu? Wah, rasanya jadi tambah tua!" Viv merasa terhibur oleh gurauan itu. "Aku berdoa, Tom, supaya kau segera mendapat seorang pendamping yang mencintai dan dicintai olehmu! Kau berhak mendapatkannya."

http://inzomnia.wapka.mobi

Tom tertegun sejenak. Ucapan yang tulus itu membuatnya terharu. Cinta! Masih adakah yang seperti itu untuknya? Tibatiba saja muncul wajah Kristin dan Jason dalam anganangannya! Dua orang sekaligus! Ah, sungguh absurd! Bukankah mereka milik orang lain? "Aku juga mendoakan hal yang sama untukmu, Viv!" katanya cepat-cepat sambil menghalau angan-angan absurd itu. "Terima kasih, Tom. Maukah kau menerimaku sebagai sahabat?" "Ya. Tentu saja mau. Kau dan Debbie." "Oh, terima kasih!" Viv sadar, cuma itu yang bisa dimintanya dari Tom. Itu pun sudah luar biasa. "Kelak kita memelihara hubungan lewat e-mail. Seperti yang kaulakukan dengan Ron." Viv tersipu. "Ya, dia teman yang baik." 345 Mereka diam sejenak mengamati Debbie dengan kura-kuranya. "Sampai saat ini kau tidak menanyakan siapa ayahnya," Viv memberanikan diri. "Aku menunggu kau mengatakannya sendiri." "Jadi kau masih ingin tahu? Kukira kau tak peduli lagi. Menurut Ron..." "Ron memang punya banyak perkiraan." "Tapi ada satu hal yang mengganjal perasaanku, Tom. Bila kukatakan, apa yang akan kaulakukan terhadapnya?" "Ya. Pertanyaan itu pun sudah kupikirkan sendiri. Aku tidak akan melakukan apa-apa!" "Apakah itu bisa kuanggap sebagai janji?" "Ya. Jadi kau masih peduli padanya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bukan. Aku tak ingin membuat kerusakan lagi." "Itu niat yang baik. Percayalah padaku." Lalu Viv mencondongkan tubuhnya ke dekat Tom dan membisikkan sebuah nama. Wajah Tom tidak berubah ketika mendengarnya. Viv menoleh lalu mengamatinya dengan cermat dan waswas. "Aku sudah mengira," Tom menenangkan. "Dari wajah Debbie?" "Itu salah satu." Viv diam. Ia sudah memperhitungkan. Begitu soal itu dikemukakan pastilah perasaannya menjadi tidak enak. Malu dan bersalah. Tetapi ia sadar, kalau tidak mengemukakannya sekarang bisa jadi akan terpendam tanpa penyelesaian. Bukan cuma untuk dia dan Tom, tapi lebih-lebih untuk Debbie. Padahal pertemuan dengan Tom bisa jadi cuma sekali-sekalinya ini saja. Tom mengamati wajah Viv dari pinggir. Ia tahu 346 apa yang dirasakan Viv. Lalu ia meraih tangan Viv dan menggenggamnya. "Ingatlah, Viv. Kita sudah memutuskan untuk bersahabat. Kita harus menjalani hidup ini dengan cara yang terbaik menurut masing-masing. Dan tentu saja terus belajar dari kesalahan yang dulu." Viv terharu. Kalau saja tidak berada di tempat umum tentu sudah dipeluk dan diciumnya Tom se-bagai ungkapan terima kasihnya. Debbie kembali, lalu menyita perhatian Tom. Begitu pulang, Tom segera mengirim e-mail pada Ron. Ia menceritakan pertemuannya dengan Vivian dan Debbie.

http://inzomnia.wapka.mobi

Begitulah, Ron. Aku sudah tahu sekarang. Mestinya aku sudah menyangkanya dari dulu. Tapi aku tak ingin mempercayai. Mestinya kau juga tahu, ya? Tapi kau tentunya serbasalah. Di sini teman, di sana juga teman. Masalahnya dialah yang tidak ksatria. Tolong sampaikan padanya. Aku tidak marah. Semua sudah lewat. Aku juga sudah berdamai dengan Viv. Hidup dengan kedamaian itu sangat, sangat membahagiakan. Tapi ada masalah dengan Debbie. Ia merindukan ayahnya, seorang lelaki kulit putih yang berambut pirang dan bermata biru. Selama ini gambaran tentang si ayah itu melulu didapatnya dari film Hollywood. Dan kalau diajak ke mal oleh ibunya, ia suka benar memelototi lelaki kulit putih, pirang, dan bermata birui Daddy-kah itu? Yang mengibakan, sebelum berpisah ia tak lupa berpesan agar kalau 347 aku kembali ke Amerika tolong carikan Daddy-nya, lalu menyuruhnya ke Jakarta untuk menemuinya. Ia sangat rindu! Sampaikan kepadanya, Debbie seorang anak yang bukan cuma cantik, tapi juga cerdas. Dia sepatutnya bangga punya anak seperti itu! Usai mengirim e-mail itu, Tom merasa sudah berhasil menyelesaikan salah satu misinya dengan sukses. Sekarang ada lainnya yang menunggu. Tetapi yang satu ini, yang sekarang disebutnya sebagai kasus Adam, merupakan persoalan yang mahasulit. Sampai saat itu, dia dan kedua orangtuanya sepakat untuk menyimpan dulu informasi dari Anwar itu sampai mereka menemukan cara yang terbaik untuk menyelesaikannya. Bahkan kepada Henry dan Maria pun mereka belum berani

http://inzomnia.wapka.mobi

mengatakannya. Kedua orang ini adalah tetangga yang akrab dengan Kristin, istri Adam. Bagaimana kalau Kristin sampai tahu? Bagaimana kalau Adam sampai tahu bahwa Kristin tahu? Itu riskan sekali. Padahal selama ini hubungan suami-istri itu sudah kritis. Tom senang bahwa kedua orangtuanya pun menyayangi Kristin dan Jason seperti anak dan cucu sendiri. Mungkin karena sikap Kristin yang selalu mengorangtuakan mereka, seperti pengganti orangtuanya sendiri. Sedangkan Jason, walaupun dia anak Adam, tapi punya riwayat kelahiran yang unik. Dan panggilannya pun sama dengan Sonny! Soal yang tampaknya sepele itu sangat menyentuh perasaan mereka. Tapi Tom masih suka memikirkan apakah benar Kristin tidak membaca catatan Harun yang ditemukan348 nya itu. Semakin lama dipikirkan, semakin terasa kemustahilannya. Setiap orang memiliki rasa ingin tahu. Pada saat menemukan kertas itu, sewajarnya bila Kristin melihat dulu kertas apakah itu, agar dia bisa menentukan pemiliknya. Mungkin saja milik Adam atau miliknya sendiri yang tercecer entah dari mana. Ia membuka lipatannya lalu melihat tulisan. Masuk akalkah bila tulisan itu tidak dibacanya? Mau tak mau tentu terbaca. Lalu ia menemukan nama Adam di situ dan karenanya menjadi lebih serius. Pasti ia terpukul karenanya. Istri mana yang tak terpukul bila suaminya disangka terlibat dalam suatu peristiwa pembunuhan? Catatan Harun memang tak langsung menuduh seseorang. Tetapi cuma mengindikasikan saja. Dan Kristin terlalu cerdas untuk tidak menemukan sesuatu di dalamnya. Selanjutnya hampir dapat dipastikan ia akan mencocokkan fakta yang disebutkan dengan perilaku

http://inzomnia.wapka.mobi

Adam yang dilihatnya sendiri. Pantas Jason menolak Adam! Pantas Adam melempar Jason dari pegangannya! Dua peristiwa itu tidak rasional. Tetapi hal-hal yang tidak rasional cukup familiar bagi Kristin. Kemudian Tom membayangkan lagi bagaimana manisnya sikap Kristin saat mengembalikan kertas itu kepadanya. Kristin berpura-pura tidak tahu. Dia pandai berpura-pura karena rasa kagetnya sudah lewat. Tentunya karena ia sudah cukup memahami isinya dan memutuskan bagaimana harus bersikap. Yang meresahkan Tom, seandainya kesimpulan itu benar kenapa Kristin tidak mendiskusikan hal itu dengannya? Kenapa Kristin tidak membicarakannya dengan orang lain, misalnya dengan Maria sebagai 349 orang yang selalu menolongnya bila dibutuhkan? Nyatanya Maria belum tahu. Bila tahu, pasti Maria sudah ribut. Apakah Kristin merasa malu karena Adam adalah suaminya? Atau Kristin takut terlibat? Atau ada sesuatu yang akan dilakukan Kristin sendirian, misalnya dengan mengkonfrontir Adam dengan fakta yang disebutkan? Bila itu benar, maka tindakan itu mengandung risiko. Siapa bisa memprediksi tentang apa yang akan dilakukan Adam terhadap Kristin bila dia dikonfrontir seperti itu? Semakin dipikirkan, Tom semakin cemas. Ja belum memberitahu kedua orangtuanya mengenai kekhawatirannya. Ia merasa bersalah telah menjatuhkan kertas itu. Karena kelalaiannyalah Kristin jadi tahu dan ikut menanggung beban. Jadi sepantasnya ia mengajak Kristin untuk mendiskusikannya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ia harus tahu apa yang dipikirkan Kristin dan membantu meringankan bebannya. Tapi ada juga pemikiran lain. Bagaimana kalau Kristin benarbenar belum tahu seperti yang diakuinya sendiri? Mungkinkah itu? Ia sadar, pertanyaan itu tak mungkin dijawabnya sendiri. Padahal ia tak boleh ragu-ragu terus. Tom menelepon Maria. Setelah berbasa-basi sejenak, ia menanyakan Kristin. "Waduh, kebetulan amat. Punya insting ya, Tom?" Maria tertawa. "Dia di sini kok. Sama Jason lho!" "Bisa bicara dengannya sebentar, Tante?" Tom senang. Hal itu sebetulnya bukanlah kebetulan. Ia sudah memperhitungkan. Ia memang tak mau menelepon Kristin di rumahnya walaupun Adam tak ada. Seperti yang dikatakan Kristin, pembantunya di 350 rumah selalu memberitahu Adam mengenai apa saja yang dilakukannya. Tak lama kemudian terdengar suara Kristin. Kedengaran gembira. "Hai, Tom! Ada kabar baru?" "Jason baik-baik saja, Kris?" "Oh, dia baik, Tom. Tuh lagi bercanda sama Tante." "Begini, Kris," Tom berkata serius, "aku ingin sekali bicara denganmu tanpa didengarkan Tante Maria atau pembantumu. Tapi kayaknya susah, ya. Kau tak bisa ke mana-mana." "Memangnya kenapa, Tom?" "Eh, ngomongnya hati-hati, Kris. Jangan sampai Tante ingin tahu lho. Ingat kertas terlipat yang kautemukan waktu aku ke sana itu? Betulkah kau tidak membacanya? Serius lho, Kris."

http://inzomnia.wapka.mobi

Diam sejenak. Lalu terdengar jawaban Kristin yang di telinga Tom terdengar kurang tegas. "Betul, Tom." "Jadi kau tidak tahu apa yang tertulis di situ?" "Tidak," jawab Kristin lebih cepat. "Seandainya kau sudah membacanya, aku ingin mendiskusikannya denganmu. Kapan saja terserah kau." "Dan kalau belum?" Tom tertegun. Ia semakin yakin bahwa Kristin memang sudah membacanya tapi tak ingin mendiskusikannya. "Ah, kalau begitu, ya nggak usah. Sori ya, Kris. Tapi bila kau ada ide, apa saja, jangan ragu menghubungiku." "Ya, Tom. Itu pasti." "Cium untuk Jason, ya?" Tom terpaksa mengakhiri pembicaraan. Ia merasa Kristin sedang tidak ingin 351 berbincang. Kristin juga tidak bersemangat mendiskusikan materi yang dimaksudkannya itu. Bagaimana ia bisa mengungkapkannya bila Kristin tetap mengatakan tidak pernah membacanya? Tom merenung. Ia teringat kepada diskusi yang berlangsung antara dirinya dengan kedua orangtuanya. "Pasti si Adam yang berbuat jahat kepada Sonny!" kata Lien yakin. "Si Sonny itu sayang sama motornya. Mana mungkin dipinjami, apalagi sampai beberapa hari seperti yang ditulis Harun itu. Jadi pastilah dibawa lari oleh Adam sesudah dia membunuhnya!" "Jangan terlalu pasti, Ma," sanggah Bun Liong. "Itu tuduhan yang serius. Membunuh kan bukan main-main."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ingat, Pa! Ada laporan rekening bank. Beberapa hari sebelum kejadian, si Sonny menarik dolarnya dalam jumlah besar. Setengah juta! Ke mana tuh?" "Yah, tentu saja ludes diambil penjarah. Atau hangus terbakar." "Siapa yang tahu?" "Betul, Ma," Tom mencoba menenangkan emosi ibunya. "Kita tidak punya bukti apa-apa. Apa yang kita miliki cuma kesimpulan dari rangkaian kejadian. Saksi yang masih ada, si Angga itu, cuma bisa mengatakan bahwa Adam memakai motor Sonny pada hari yang sama. Tetapi siapa yang tahu sebabmusababnya?" "Jadi kalian tidak punya prasangka terhadap Adam?" tanya Lien gemas. "Punya, Ma. Cuma kita perlu bukti." "Oh, bagaimana mencari keadilan dong?" keluh Lien sedih. 352 "Pelan-pelan saja, Ma. Yang penting sekarang kita sudah punya pegangan," hibur Tom. "Dan ingat pada Kristin. Adam itu suaminya," Bun Liong mengingatkan. Tom memang ingat. Dan ia merasa tak rela, bagaimana Kristin bisa bersuamikan orang seperti Adam. Bagi Kristin, masalahnya memang menjadi sulit. Bagaimanapun, Adam adalah suaminya dan ayah dari anaknya. Membela atau menentang? Salah satu harus dipilih, padahal sama sulitnya. Ada dorongan besar untuk pergi menemui Kristin sekarang juga dan membicarakannya secara terbuka. Tetapi ia juga

http://inzomnia.wapka.mobi

menyadari bahwa ia harus menghargai keinginan Kristin untuk tidak membicarakannya. "Ngapain si Tom?" tanya Maria. "Dia nanyain Jason. Apa baik-baik saja." "Perhatiannya besar, ya? Dia sayang sama Jason." "Apa dia memang penyayang anak, Tante?" "Wah, nggak tahu, Kris. Tapi kukira ada hubungannya dengan pengalaman pahitnya. Dulu dia begitu senang menunggu kelahiran anaknya dari Viv. Tahu-tahu yang lahir anak bule. Bayangin." Kristin mengangguk. Tapi dia tidak begitu yakin apakah perhatian yang ditunjukkan Tom kepada Jason memang semata-mata disebabkan karena trauma itu. Bukankah Tom juga memberi perhatian besar kepada dirinya? Pikiran itu membuatnya malu. Lalu mengenai telepon Tom barusan. Ia tahu, Tom tidak percaya akan pengakuannya. Itu masuk akal. Kedengarannya Tom resah. Mungkin itu pertanda perhatiannya yang lain. Atau semata-mata ka353 rena Adam? Sonny itu adik Tom, anak keluarga Lie. Ia malu mengetahui perbuatan Adam. Sesungguhnya, orang seperti apakah yang mampu melakukan perbuatan keji kemudian menempati rumah korbannya tanpa merasa bersalah atau dikejar dosa? Dia pasti bermental kuat. Seseorang yang patut ditakuti. Sebaiknya Tom jangan mendekati dirinya dan Jason bila tidak ingin keselamatannya terancam. Sebenarnya ia sangat ingin berbicara dengan Tom mengenai masalah itu. Menurut perkiraan Tom, cukup kuatkah dugaan

http://inzomnia.wapka.mobi

bahwa Adam telah berbuat keji kepada Sonny? Apakah Tom juga punya kesimpulan sama seperti dirinya? Tetapi Tom merahasiakannya dari Maria dan Henry. Kenapa? Apakah untuk melindungi dirinya? Dari apa dan siapa? Oh, betapa inginnya dia mengetahui jawaban semua pertanyaan itu. Cuma Tom yang bisa memberinya jawaban. Tetapi ia tak bisa menanyakannya. Tom menghadapi dilema. Waktunya yang singkat di Jakarta seperti memaksanya untuk menuntaskan segala masalah. Mumpung ia masih di situ. Sebagai anak yang tinggal satusatunya dari orangtuanya dan kakak Sonny yang dicintainya, ia merasa bertanggung jawab untuk menyingkap misteri masa lalu. Sebenarnya, Sonny dibunuh massa perusuh atau dibunuh Adam? Padahal menanyai kedua pihak adalah kemustahilan. Mana ada pembunuh yang mau mengakui perbuatannya selama ia merasa aman? Tetapi bukan itu saja. Ada Kristin di situ. Dan juga Jason. Seandainya memang Adam pelakunya, bagaimana perasaan mereka nanti? Tentu saja dia 354 dan orangtuanya, begitu pula orang-orang lain, akan tetap menerima keduanya seperti semula tanpa cacat cela. Bahkan ia siap mencurahkan simpati dan empatinya kepada mereka dengan sepenuh hati. Tetapi hampir pasti Kristin tetap terluka hati dan harga dirinya. Tom tidak tega. Ibu dan ayahnya agak berbeda pendapat. Bila ibunya keras hati dalam hal itu, ayahnya bersikap lunak. "Kita memang tidak punya bukti," begitu pendapat ibunya. "Tapi tak ada salahnya mengkonfrontir dia dengan temuan Pak

http://inzomnia.wapka.mobi

Harun itu. Lihat bagaimana reaksinya. Pasti dia tidak akan mengaku. Kalau perlu kita ancam dia." "Apakah Mama akan melapor ke polisi?" tanya Tom ngeri. "Kalau perlu. Yang penting kita bikin dia takut, lalu lihat reaksinya." "Bagaimana kalau reaksinya itu membahayakan?" tanya ayahnya. "Ah, dia bisa apa? Dia kan tahu kita sulit mencari bukti." "Lantas buat apa segala susah payah menuntutnya?" Tom dan ayahnya bingung. "Yang penting melihat reaksinya. Aku yakin bisa membaca kebohongan orang dari kelakuannya atau jawaban-jawabannya. Biarpun dia tidak bisa dituntut atau dihukum, aku puas kalau bisa mengungkap misteri itu." Bun Liong tak seyakin itu. "Ada orang yang pintar menutup kebohongannya, Ma. Bagaimana kita bisa membaca isi hatinya? Amatilah si Adam selama ini. Dia sopan dan hormat. Dia juga akan bilang, 355 kalau dia memang telah membunuh Sonny, mustahil dia berani menempati rumahnya." "Justru itu, Pa. Itu menandakan dia orang yang kejam. Pikirkan juga kejanggalan yang diungkapkan Pak Harun. Dan keanehan lain." "Bagaimana dengan Kristin, Ma?" tanya Bun Liong. "Dia juga harus tahu suami macam apa yang dimilikinya. Kita harus jujur kepadanya! Dengan menutup-nutupi, maka kita akan membuatnya menderita. Aku kan sama-sama perempuan, Pa. Aku mencoba menempatkan diriku di tempatnya."

http://inzomnia.wapka.mobi

Pendapat ibunya itu terpaksa dibenarkan oleh Tom. Mampukah Kristin mengatasinya? Bun Liong tetap tidak setuju. "Jadi tujuanmu cuma menyudutkan Adam, sesudah itu meninggalkannya saja di sudut? Aku takut membayangkan bagaimana orang yang keji akan bereaksi, Ma." "Kalau takut-takut terus orang tidak akan menghasilkan apaapa. Berbuat maupun tidak berbuat, tetap ada risikonya." "Aku lebih suka membiarkan saja si Adam itu. Di dalam hati kita kan sudah tahu kesalahannya." "Belum, Pa. Kita belum tahu pasti. Di dalam hati kita cuma menyimpan tuduhan saja." "Kan tak ada bukti, Ma." "Ah, kau ini muter-muter saja. Kita bisa mengetahui dari reaksi yang diperlihatkannya bila dia dihadapkan pada fakta yang kita dapatkan. Memang tak banyak, tapi arahnya jelas. Dia harus tahu bahwa kita tahu." "Biarkan dia menerima hukum karma saja, Ma!" 356 Tapi Lien menggeleng tak setuju. Maka dalam hal itu tak ada kesepakatan yang bisa dicapai. Ketika mereka berpaling pada Tom untuk mengetahui kepada siapa ia berpihak, ternyata Tom pun tak bisa menentukan. "Dua-duanya ada benarnya," katanya. Bukan sekadar diplomatis, tapi memang benar demikian. Lalu kedua orangtuanya menyerahkan tindakan selanjutnya kepadanya. Dialah penentu dan juga penindak. Maka dia pun sarat beban. Untuk kedua kalinya Kristin tercengang menghadapi sikap Adam. Seperti waktu pertama kali Adam mengajaknya

http://inzomnia.wapka.mobi

berbaikan setelah konflik hebat di antara mereka, kali ini pun demikian. Adam membawakannya bunga mawar dan kue kesukaannya. Adam juga meminta maaf untuk sikap kasarnya dan berjanji tidak lagi berbuat demikian. Dan seperti dulu, Kristin pun tak bisa lain daripada menyatakan kesediaannya memaafkan. Tapi bedanya, kali ini ia tidak tulus. Ia justru merasa ketakutannya bertambah. Kenapa Adam begitu mudah berubah-ubah? Tetapi tentu saja ia tidak bisa mengatakannya terus terang. Demi ketenangan suasana ia harus menerimanya saja. Tapi ia yakin dan pasti akan satu hal. Ia tidak akan pernah lagi mencoba mendekatkan Adam kepada Jason! Tekad Kristin itu bukan cuma sepihak. Adam sendiri memiliki tekad yang sama walaupun dengan tujuan yang berbeda. Ia sudah menanamkan keyakinan di dalam dirinya, bahwa Jason bukanlah anaknya! Rasional atau irasional, ia merasa berhak akan 357 keyakinannya sendiri. Tentunya Kristin tidak perlu diberitahu hal itu bila ia tidak ingin menimbulkan konflik baru lagi. Ia memang tak bermaksud men-ciptakan konflik. Sebaliknya, ia akan berusaha menghindarinya sedapat mungkin. Dulu ia bukan cuma mengangankan punya rumah, tapi juga sebuah keluarga. Rumah bagus tak ada artinya bila tidak diisi oleh keluarga, yaitu istri dan anak-anak. Itu tentunya anganangan wajar dari setiap orang nomal. Tetapi bila keluarga yang ia miliki tidak menyukainya dan juga tidak disukainya, maka ia berhak mengganti mereka! Apa artinya punya keluarga yang tidak suka dan tidak respek kepadanya, bahkan mencurigainya sebagai pembunuh? Bukan saja tidak berguna, tapi bisa

http://inzomnia.wapka.mobi

menghancurkan! Maka ia harus bertindak proaktif. Sebelum dihancurkan, ia akan menghancurkan terlebih dulu! Tom mengantarkan seperangkat komputer berikut sarana internet ke rumah Maria. Suami-istri itu merasa kurang enak menerimanya. Ada rasa malu seolah mereka tidak mampu atau terlalu pelit untuk membeli sendiri. Tetapi Tom mengatakan, "Ini untuk Susan juga, Oom dan Tante. Mumpung saya di sini, kapan lagi? Jadi saya bisa ikut mendengar berita apa saja yang disampaikan Susan lewat e-mail kepada Oom dan Tante berdua" Begitu mendengar nama Susan disebut, segera hilang segala pertimbangan tak enak pada diri Maria, diganti oleh kegembiraan. "Kau dengar itu, Pa?" katanya kepada Henry. "Demi Susan, katanya. Berarti dia benar-benar sayang pada anak kita!" 358 Henry cuma terperangah. Lalu memutuskan untuk ikut bergembira. Sekarang ia sudah memiliki komputer yang bisa ia manfaatkan bukan cuma untuk mengirim e-mail kepada Susan, tapi juga buat pekerjaannya. Sudah lama ia ingin membeli benda itu, tapi Maria selalu menghalangi dengan mengatakan belum saatnya. Ia memang tak bisa menyalahkan Maria yang sekarang menjadi manusia penuh perhitungan kalau tak mau dikatakan pelit. Nasib selalu punya andil dalam membentuk seseorang. Dengan adanya benda itu Tom punya alasan untuk mengunjungi rumah Maria setiap hari. Ia yang memasangkan kabel-kabel dan segala sesuatunya supaya bisa digunakan senyaman mungkin. Lalu ia datang lagi keesokan harinya untuk mengecek apakah

http://inzomnia.wapka.mobi

segala sesuatu berjalan lancar. Dan begitu seterusnya. Waktunya di Jakarta tinggal sebentar lagi. Mula-mula masih dalam hitungan minggu, lalu hitungan hari. Semakin lama jadi semakin bernilai. Dengan demikian ia bisa bertemu Kristin dan Jason setiap hari. Mereka bermain dan mengobrol. Tentu saja Maria ikut serta. Tetapi Tom bisa menikmati waktunya yang berharga. Selama waktu itu mereka tak pernah membicarakan Adam atau Sonny atau Harun. Tom ingin tahu juga mengenai Adam. Tapi ia tidak berani menanyakannya langsung kepada Kristin. Baru setelah Kristin pulang ke rumahnya ia bertanya kepada Maria, "Apakah mereka tak ribut lagi, Tante?" "Oh, mereka baikan lagi, Tom." "Baikan?" Tom tak mengerti. Entah kenapa, ada rasa kecewa yang mendalam di hatinya. Apakah 359 kasus itu justru membuat Krstin berbaikan dengan suaminya padahal dia sudah tahu orang macam apa suaminya itu? Ia mengenang kembali keceriaan dan kecerahan wajah Kristin saat berbincang dan bercanda dengannya. Itukah sebabnya? "Ya. Kristin bercerita, Adam minta maaf dan berjanji tidak akan kasar lagi." "Oh, begitu? Untuk kedua kalinya? Dan Kristin percaya kepadanya?" "Tom, Adam itu suaminya. Apa lagi yang harus dilakukannya? Masa ribut terus-terusan?" "Pasti ia terpaksa, Tante. Demi Jason." "Yah, apa lagi?" keluh Maria. "Ia sangat menyayangi Jason."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Lebih daripada Adam?" Tom ingin tahu. Tiba-tiba Maria menatap curiga. "Kenapa kau bertanya begitu?" Tom terkejut ketika menyadari kecurigaan Maria. Ia tidak hati-hati. Cepat-cepat ia memperbaiki, "Semata-mata demi Jason, Tante. Ia harus menyayangi Jason lebih daripada Adam supaya bisa melindunginya dengan baik." Maria bernapas lega. Jadi itulah maksud Tom. "Ya. Mudahmudahan saja begitu. Kukira Adam itu perayu ulung. Aku pernah mengintipnya beberapa hari yang lalu. Ia membawa satu buket bunga mawar merah tua. Wow! Indah sekali, Tom. Aku jadi iri. Orang setua aku jadi sentimentil. Aku ingat, seumur perkawinanku Henry tidak pernah membawakan bunga untukku. Yang murah sekalipun! Ih, kok aku jadi gitu, ya?" Maria tertawa geli. Tom ikut tertawa. Untunglah ia sudah memperbaiki 360 suasana. Ada rasa bersalah. Ia tahu, Maria dan Henry sudah menganggapnya sebagai calon menantu. Ia tak ingin mengecewakan mereka. Tapi tawanya lenyap ketika kekecewaan tadi muncul lagi. Begitu mudahkah Kristin hanyut oleh rayuan walaupun tahu siapa Adam sebenarnya? Itukah sebabnya kenapa Kristin tak ingin memasalahkan tulisan pada kertas yang ditemukannya itu? Apakah cinta jadi penyebabnya? Nyatanya memang ada orang yang tetap mencintai dan setia pada seseorang yang diketahuinya sebagai psikopat, atau orang yang tetap ingin menikahi seorang terpidana mati!

http://inzomnia.wapka.mobi

Rasanya tidak adil. Kenapa dirinya yang selalu setia kepada Viv dan berusaha memelihara cintanya justru dikhianati? Ah, dia jadi ikut-ikutan sentimentil seperti Maria! 361 XII Jakarta, menjelang akhir Juli. Bi iyah merasa diperlakukan tak adil ketika pagi-pagi Adam menyuruhnya pulang ke kampung. Atau dengan kata lain memberhentikan dirinya! Ia diberi pesangon dua bulan gaji. Alasannya terasa aneh. "Ibu menyuruh aku memilih. Dia yang pergi atau Bibi," begitu kata Adam. "Tapi..." "Sudah. Carilah pekerjaan di tempat lain saja, Bi." Adam bicara dengan wajah keras, hingga Bi Iyah takut menyampaikan protesnya. Ia tidak berdaya. Bahkan ia tidak diperbolehkan pamitan dulu kepada Kristin yang ketika itu berada di kamar bayi, hingga ia yakin sesungguhnya Kristin tidak tahu-menahu. Dulu, saat terjadi keributan Adam justru mempertahankannya. Sekarang di saat damai ia malah disuruh pergi. "Mestinya Bapak mendapatkan pembantu baru dulu, baru saya pergi. Kasihan Ibu dong," Bi Iyah mencoba mengulur waktu. "Itu urusanku, Bi! Tak usah mengajari!" kata Adam tak senang. 362 Ekspresi yang diperlihatkan Adam membuat Bi Iyah ingin cepat-cepat pergi. Tak ada gunanya mengulur waktu. Ia cuma bisa mengutuk dalam hati. Adam cuma memanfaatkannya. Kalau

http://inzomnia.wapka.mobi

sudah tak terpakai lagi lalu dibuang. Barangkali Adam sudah punya calon pembantu yang lebih disukainya dan akan segera dijemputnya setelah ia pergi. Barangkali pembantu itu muda dan cantik. Adam memberitahu Kristin, "Bi Iyah pulang mendadak, Kris. Barusan ada kerabatnya dari kampung menjemput. Ngomongnya sih mau seminggu di sana. Lantas bagaimana kau di rumah, Kris?" tanyanya dengan sikap iba. Kristin malah senang. "Ah, itu bukan masalah buatku. Bila Jason tidur aku bisa bekerja." "Aku punya ide. Mintalah bantuan pada pembantu Tante Maria. Bayar harian. Dia toh tidak sibuk sepanjang hari, bukan?" "Oh, itu ide yang baik, Mas," Kristin mengiyakan saja. "Kau tak usah masak. Pulang kantor aku beli makanan matang." "Begitu juga baik." Setelah Adam pergi, Kristin menikmati kesendiriannya di rumah. Hari itu ia tidak berkunjung ke rumah Maria. Ia pun tidak bermaksud meminta bantuan pembantu Maria. Ia ingin mengecek kemampuannya sendiri dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Bila suatu waktu kelak ia terpaksa mandiri, ia sudah siap. Lalu Maria menelepon. "Kau baik-baik saja, Kris?" 363 "Baik, Tante." "Kok nggak main ke sini?" "Sibuk, Tante. Bi Iyah pulang kampung." "Kenapa?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Entah, Tante. Kata Adam, ada kerabatnya yang datang menjemput. Saya sendiri tidak tahu karena sedang mengurus Jason." "Oh, jadi Adam bilang begitu?" "Ya, Tante. Memangnya kenapa?" "Ah, nggak apa-apa. Tapi... apa kau tidak kecapekan nanti, Kris? Perlu bantuan? Kusuruh si Iyem ke sana, ya? Dia toh tak banyak kerja di sini." Itu memang ide Adam, pikir Kristin. Tapi saat itu ia tidak merasa capek. Ia menikmati pekerjaannya. Selama Jason baikbaik saja tak ada masalah baginya. "Terima kasih, Tante. Nanti kalau saya membutuhkan, saya telepon, ya?" "Ingat, Kris. Kau tak boleh capek lho. Nanti air susumu berkurang!" Maria meletakkan telepon lalu menatap Tom yang belum lama tiba. Ia sudah tahu maksud kunjungan Tom. Pasti bukan untuk menemuinya. Tom ingin melihat Jason. Rasa sayangnya kepada anak itu sudah diketahui semua orang. Toh naluri Maria masih mencurigai sesuatu yang lain. Sungguhkah cuma Jason yang ingin ditengok Tom? "Kalau kau ingin menjenguk Jason, pergi saja ke rumahnya, Tom. Pembantunya kan tak ada," Maria menguji Tom. Naluri Tom juga bekerja. Sebelumnya ia sudah menyadari kecurigaan Maria. Jadi untuk selanjutnya 364 ia harus berhati-hati. Maka ia menggelengkan kepala. "Wah, jangan, ah. Nggak enak, Tante. Kalau Adam cemburu, kasihan Kristin. Apalagi dia sedang sibuk."

http://inzomnia.wapka.mobi

Kembali Maria merasa lega. Tetapi kelegaannya cuma sebentar. Iyem, pembantunya, kembali dari warung lalu melapor, "Tadi ketemu Bi Iyah dari rumah sebelah, Bu. Katanya dia dipecat dan diusir!" Maria terkejut. Demikian pula Tom. "Siapa yang memecat dan mengusir?" tanya Maria. "Pak Adam!" "Lho! Kenapa? Apa dia nyolong?" "Nggak tahu, Bu. Katanya, tiba-tiba aja. Nggak hujan, nggak angin." Maria berpandangan dengan Tom. Setelah Iyem menghilang ke dalam rumah, baru Maria bersuara, "Kok ceritanya lain ya, Tom?" "Kristin pasti tidak bohong, Tante. Yang bohong itu Adam." "Lantas apa maunya? Mungkin mau mengambil hati Kristin, ya?" "Mungkin. Tapi kalau mau mengambil hati kan lebih baik berterus terang saja." "Barangkali dia tidak mau kehilangan muka. Dulu Kristin kan ingin Bi Iyah itu pergi, tapi Adam tidak mengizinkan." "Ya. Mungkin begitu." Tom tak mau menentang pendapat Maria. Tak lama kemudian Tom pamitan. Ia menyadari ketidakpuasan Maria karena tak biasanya ia terlalu cepat pergi. Ia juga tahu bahwa Maria mengamati kepergiannya dari pintu pagarnya. Pasti Maria masih menyimpan kecurigaan kalau kalau ia berkunjung 365 diam-diam ke rumah Kristin. Dengan sengaja ia melangkah ke arah yang berlawanan. Baru setelah berada pada jarak yang

http://inzomnia.wapka.mobi

aman, ia mengeluarkan telepon genggam yang dipinjamnya dari ayahnya. Tom senang mendengar suara Kristin "Kuharap tidak mengganggu kesibukanmu, Kris." "Sama sekali tidak, Tom. Sedikit lagi selesai kok." "Jangan capek-capek ya, Kris." "Oh, nggak. Senang kok. Eh, menelepon dari rumah Tante, ya?" "Nggak. Dari jalan." "Di jalan? Kukira kau ada di rumah Tante tadi." "Ya. Saat Tante meneleponmu aku ada di sana. Tapi karena kau dan Jason tak ada, aku pamitan saja. Nggak enak sama Tante." "Kenapa?" Kristin tertawa. Kedengaran ceria. "Aku punya feeling dia curiga maksud kedatanganku bukan cuma untuk menjenguk Jason." "Tapi apa?" "Ah, nggak usahlah. Malu mengatakannya." Kristin terdiam sejenak. Cepat Tom meneruskan, "Kau sekarang baik-baik saja, kan?" "Ya. Baik, Tom." "Jadi Bi Iyah pulang kampung karena dipanggil kerabatnya?" "Kata Adam begitu. Memangnya kenapa?" Nada suara Kristin terdengar risau. "Ah, nggak. Cuma menegaskan saja." "Tapi kau seperti kurang percaya." "Bukan begitu. Aku cuma prihatin. Kau sendirian dengan Jason." 366 Kristin tertawa menenangkan. "Kan ada Tante Maria dan Oom Henry. Aku sudah janji, kalau ada apa-apa aku akan berteriak sekeras-kerasnya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Baiklah. Hati-hati saja ya, Kris?" "Terima kasih, Tom." Ketika hubungan akan diputuskan, terdengar panggilan Kristin, "Oh ya... Tom!" "Ya, ada apa, Kris?" Tom menjadi tegang. "Ah... nggak deh. Nggak apa-apa." "Katakan saja." "Nggak. Nggak apa-apa. Sudah ya, Tom?" Hubungan putus. Tom penasaran. Apa sebenarnya yang mau dikatakan Kristin? Ia terdorong untuk menghubunginya lagi, tapi kemudian mengurungkan niatnya. Kristin termangu. Rona merah masih mewarnai mukanya. Tadi begitu saja muncul dorongan untuk mengundang Tom ke rumahnya. Tiba-tiba muncul niat untuk membicarakan catatan pada kertas yang ditemukannya itu dan akibat yang timbul pada dirinya. Satu-satunya orang yang bisa diajaknya berbagi tentang soal itu hanyalah Tom. Lama-lama ia merasa tak enak karena memendamnya terus-terusan. Apalagi tingkah Adam semakin lama tampak semakin tidak wajar. Kepura-puraan yang diperlihatkannya kepada Adam, seolah dia menerima dan senang dengan kebaikan dan kemesraan Adam kepadanya, lamalama jadi menyiksa. Sampai kapan hal itu bisa berlangsung? Ia sedang memikirkan jalan keluar. Tapi ia ingin membicarakannya dulu dengan seseorang yang bisa dipercaya. Bukankah Tom sudah 367 mengindikasikan bahwa ia pun ingin membicarakan masalah itu? Tetapi pada saat berikutnya ia pun teringat pada pada ucapan Tom yang lain, bahwa Maria mencurigai sesuatu. Kristin bisa menebaknya. Apalagi Tom kedengaran malu mengatakannya. Ya,

http://inzomnia.wapka.mobi

dia sendiri pun malu. Dia mengakui adanya ketertarikan di antara mereka berdua. Tapi dia merasa malu. Sebab dia istri orang, sementara Tom masih bebas. Jadi wajarlah kalau tak pantas ia mengundang Tom ke rumah pada saat ia hanya sendirian, meskipun motivasinya jauh dari hal-hal yang negatif. Apalagi Maria sudah curiga. Bagaimana kalau Maria memergoki Tom di rumahnya padahal tadi dia mengaku pada Maria akan pulang? Bayangkan bagaimana malu dan rikuhnya dia. Rasanya ia seperti membalas air susu dengan air tuba. Padahal, ia tahu betul bahwa Maria sudah menganggap Tom seperti calon menantu. Ia sering sekali bercerita mengenai Tom dan Susan. Bukan cuma Maria dan Henry yang berpendapat begitu. Orangtua Tom sendiri pun memiliki keyakinan dan harapan yang serupa. Tentu akan ideal sekali bila Tom menjadi pengganti Sonny bagi Susan. Keluarga itu akan kembali bersatu. Dan apa haknya menjadi pengacau, walaupun ia sama sekali tak bermaksud mengacau? Siapa yang akan percaya? Dia cuma orang luar yang tiba-tiba nimbrung. Padahal, selama ini mereka semua sangat baik kepadanya dan Jason. Mereka selalu siap membantunya. Tapi, rupanya dalam masalah yang satu ini ia harus mandiri. Ada saatnya ia harus berdiri sendiri! Kristin teringat lagi saat tangan Tom menggenggam 368 tangannya, sementara mata mereka saling berpaut. Begitu hangat sentuhannya, terbawa dalam aliran darah di seluruh tubuhnya, membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Dan, tatapan Tom yang penuh makna itu hanya bisa dipahami oleh mereka yang punya perasaan yang sama! Padahal Tom bukanlah

http://inzomnia.wapka.mobi

jenis lelaki yang gampang mengeskpresikan rasa tertariknya pada perempuan. Kristin yakin akan hal itu dari pengamatannya sendiri maupun dari cerita yang didengarnya. Ia cuma bisa mengungkapkan isi hatinya kepada Jason. Sore itu Adam pulang membawa beberapa jenis masakan di dalam rantang. "Rantangnya aku beli dulu, Kris. Dan tadi sudah dicuci di restoran." Kristin mengangguk saja. "Tadi aku ke Penyalur Pembantu. Tapi lagi kosong." "Bukankah Bi Iyah cuma sebentar di kampung? Untuk sementara biarlah begini dulu." "Nggak capek?" "Nggak." "Katamu kau benci sama Bi Iyah. Nggak senang dia pergi?" "Senang." "Nah." "Penggantinya belum tentu lebih baik." "Cari yang baik dong. Masa sih nggak dapat," kata Adam optimis. Tapi bagi Kristin kesannya Adam menggampang369 kan Mungkin dia memang tak peduli. Ah, dia pun tak perlu terlalu memikirkannya. Kehadiran pembantu bukanlah sesuatu yang penting. "Kau lebih senang begini kelihatannya." "Kenapa?" Kristin khawatir jangan-jangan Adam berniat memancing keributan lagi. "Kau bisa bebas, ya? Aku yakin tadi ada yang datang bertamu." Kristin tertegun. Ditatapnya Adam dengan sikap waspada. Aku takkan terpancing, pikirnya. Tapi Adam lalu tertawa. "Hei, peka amat sih kau!" serunya. "Aku cuma bercanda kok!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Kristin tak ikut tertawa. Suara tawa Adam telah membuat bulu romanya berdiri. Usai makan malam, Adam memaksa mencuci piring. Ia menyuruh Kristin beristirahat. "Kau sudah capek seharian mengurus rumah. Sekarang giliranku." Adam bahkan menolak dibantu. "Masa begini aja tak bisa sendiri," katanya. Kristin menurut saja. Mestinya aku merasa tersentuh, pikirnya. Tetapi kenapa malah tidak? Untuk menyembunyikan perasaan sesungguhnya ia ke kamar bayi dengan membawa setumpuk bacaan. Pintu penghubung dengan kamar tidurnya ia biarkan terbuka. Kalau ditutup nanti Adam berprasangka buruk. Setelah menyusui Jason ia duduk di dipan lalu mulai membaca. Tak ada keinginan sedikit pun untuk turun ke bawah, bergabung dengan Adam. Atau melakukan kegiatan lain bersama Adam. Ketika mulai mengantuk, terdengar suara memanggil. Ia membuka matanya yang sudah hampir 370 menutup. Adam berdiri di ambang pintu. Tangannya yang satu membawa telepon genggam, sedang yang lain memegang sebuah kaleng minum yang sudah dibuka dengan sedotan di dalam lubangnya. "Oh, kau. Masuk saja, Mas," kata Kristin. Adam mendekat. Ia melirik sejenak ke boks Jason, tapi tak mendekatinya. Ia mengulurkan kaleng minuman. "Minumlah. Jus jeruk," katanya. Kristin menerimanya. Kebetulan ia sedang haus. Jus itu langsung dihirupnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kris, aku perlu membicarakan urusan pekerjaan dengan seorang rekan. Urusan ini tak bisa kuselesai-kan lewat telepon. Gimana, ya?" "Sudah malam," kata Kristin. "Kalau kau keberatan ditinggal, tak usah saja. Tapi..." "Ah, tidak apa-apa, Mas. Aku sudah biasa sendirian, kok." "Ini malam hari." "Sungguh tidak apa-apa." "Mau minta tolong sama Tante Maria supaya dia menemanimu di sini?" Kristin terperangah. Dia tak pernah minta bantuan seperti itu dari Maria. Rasanya seperti bayi atau anak kecil yang perlu dijaga. "Tidak usah. Kau tidak lama, kan?" "Kuusahakan tidak. Tapi supaya lebih terjamin, teleponlah Tante Maria dan bilang bahwa kau sekarang sendirian. Jadi mereka tahu dan bisa berjaga-jaga untuk membantumu kalau ada apa-apa." Kristin mengerutkan kening. Cara Adam berbicara itu seolah mengesankan memang akan terjadi apa371 apa. Sebelum ia menjawab, Adam sudah menyodorkan telepon genggamnya. "Ini, bicaralah. Aku segera pergi. Tapi tidak pakai mobil, supaya tidak repot membuka dan menutup pintu pagar." Lalu ia mengeluarkan secarik kertas di mana tertulis sebuah alamat dan nomor telepon. "Ini tempat yang kutuju. Beritahu Tante Maria nomor telepon ini. Suruh dia mencatatnya. Kalau ada sesuatu hubungi nomor itu." Kristin mengikuti instruksi itu. Anjuran Adam itu untuk kepentingannya sendiri.

http://inzomnia.wapka.mobi

Seperti sudah diduga, Maria menyambut hangat permintaannya. "Kalau ada apa-apa, teriak saja yang keras ya, Kris!" gurau Maria seperti biasa. "Nah, sekarang aku merasa lega meninggalkanmu. Kau tak usah turun mengantarkan aku. Aku bawa kunci sendiri. Jadi tidurlah bila kau sudah mengantuk." Pada saat Kristin masih tertegun, Adam mendekat lalu mencium dahinya. Bibirnya terasa dingin di kulitnya. Lalu Adam melangkah ke pintu. "Aku pergi, ya!" "Hati-hati, Mas!" seru Kristin. Mestinya ia mengantarkan kepergian Adam sampai ke pintu, pikirnya. Tapi ia merasa malas sekali. Tubuhnya terasa berat. Tak lama kemudian ia mendengar pintu rumah tertutup keras. Sepertinya Adam ingin memberitahu bahwa ia sudah keluar. Kristin kembali merasa lega. Ia menghirup minumannya dengan nyaman. Setelah membuka pintu pagar Adam melihat Henry sedang berdiri di balik pintu pagar rumahnya sendiri. Adam mendekati. "Selamat malam, Oom!" "Oh, selamat malam, Dam! Mau ke mana?" 372 "Ke rumah teman, Oom. Urusan kantor. Saya titip Kris ya, Oom?" "Oh ya, tentu saja. Nggak pakai mobil?" "Nggak, Oom. Pakai taksi saja. Pergi dulu, Oom." Setelah Adam berlalu, Maria muncul ke sisi Henry. "Tumben dia perhatian begitu. ya Pa?" "Mungkin lagi lurus!" Mereka tertawa, lalu masuk rumah.

http://inzomnia.wapka.mobi

Seperempat jam kemudian Adam kembali lagi. Ia membuka pintu pagar perlahan-lahan supaya tak berbunyi. Tadi sore engselnya sudah ia minyaki supaya derit-deritnya tak kedengaran lagi. Kemudian ia melangkah pelan-pelan lalu membuka pintu rumah dengan hati-hati. Bila Kristin memergoki ia bisa beralasan bahwa ada barang yang ketinggalan. Adam menaiki tangga dengan cepat setelah mencopot sepatunya. Ia membuka pintu kamar tanpa menutupnya kembali lalu terus ke kamar bayi yang pintunya masih terbuka. Sama seperti saat ia pergi tadi. Di ambang pintu ia melihat Kristin masih berada di atas dipan. Tetapi sekarang Kristin sudah terkulai setengah bersandar dengan kaleng minuman di atas pangkuannya. Matanya terpejam. Tubuhnya tak bergerak. Adam tersenyum puas. Sesaat ia melirik ke boks Jason yang ditutupi kelambu. Dari tempatnya berada ia tak bisa melihat sosok Jason dengan jelas. Tapi itu lebih baik. Ia memang tidak perlu menjenguknya. Ia punya rencana yang harus dikerjakan dengan cepat. Mula-mula ia melepaskan celana panjang dan 373 kemejanya yang diletakkannya di atas dipan, dekat kaki Kristin. Dengan bercelana pendek dan berkaus singlet ia segera bekerja. Sebuah tangga diletakkannya di bawah plafon di sudut kamar bayi. Sebagai perancang rumah itu ia tahu semua selukbeluk rumah. Juga peralatan listriknya. Ia naik sambil membawa sebuah tas kecil, lalu membongkar plafon. Di samping punya ahli dalam bidang arsitektur, ia juga memahami perlistrikan. Di bagian atas kamar, antara plafon dengan atap, berseliweran kabel-kabel listrik. Ia naik ke atas

http://inzomnia.wapka.mobi

dengan hati-hati, kepalanya ditundukkan supaya tidak terbentur. Kemudian ia berjongkok dan mengeluarkan obeng, tang, gunting. Ia harus ekstra hati-hati supaya tidak terkena arus listrik. Bila ingin aman, mestinya ia mematikan arus listrik dulu, lalu bekerja dengan senter. Tapi penerangan yang tibatiba padam di seluruh rumahnya bisa memancing kecurigaan tetangga. Apalagi bagi Maria dan Henry yang mengira ia sudah pergi jauh. Jadi hal itu tak mungkin dilakukan. Pekerjaannya tak membutuhkan waktu lama. Segera keluar percikan api dari kabel yang terkelupas dan berbenturan. Percikan itu menyambar kayu kaso! Memang tak segera membakar, karena berlangsung sedikit demi sedikit. Dengan demikian ia masih punya waktu untuk merapikan sisa pekerjaannya, menyimpan tangga, mengenakan pakaiannya, lalu bergegas ke luar rumah. Tentu dengan harapan tidak terlihat siapa pun. Cuaca yang gelap dan suasana malam yang dingin akan menyembunyikan kepergian-nya dari pandangan tetangga, karena pada saat seperti itu mereka lebih suka berada di dalam rumah. Ter374 masuk Henry dan Maria. Sesudah itu ia harus pergi secepatnya ke rumah teman yang alamat dan nomor teleponnya sudah ada pada Maria. Itu adalah alibinya. Adam sudah bertekad. Rumah yang tadinya menjadi kebanggaannya akan ia korbankan. Demikian pula keluarganya. Ia tak merasa sayang karena kebanggaan itu sudah tak ada lagi. Dan tentunya bukan cuma itu. Perasaan terancam dan tersudut menjadi pendorong utama. Anak setan di sana itu misalnya. Masih kecil saja sudah bisa menerornya, apalagi bila

http://inzomnia.wapka.mobi

sudah besar. Jadi mumpung masih kecil harus cepat dimusnahkan. Dan rumah ini? Sebagus apa pun hasil karyanya, tapi bila tak bisa ia kuasai seutuhnya, untuk apa dipertahankan? Dari asal puing biarlah ia kembali menjadi puing! Adam terkejut ketika mendengar bunyi gemeretak. Ah, ia tak boleh membuang waktu lebih lama lagi. Tapi bunyi itu bukan berasal dari kayu kaso yang tepercik api. Bunyi itu adalah isakan Jason! Mula-mula yang terdengar cuma isakan, tapi kemudian berubah menjadi rintihan Sonny! Ketika Jason mulai menangis, lanjutannya adalah jeritan kesakitan Sonny! Ia segera menyadari, bahwa Jason bisa membangunkan tetangga. Jadi ia harus membungkam bayi itu lebih dulu. Saking terburu-buru kakinya yang kesemutan terpeleset. Ia terjerembab dan jatuh justru di atas kabel yang terbuka! Ia menjerit kesakitan, sementara tubuhnya menggelepar. Bersamaan dengan itu percikan api sudah mulai membakar kayu kaso, dan dengan cepat menjalar ke mana-mana. Jason melengkingkan tangisnya. Kristin tetap diam tak bergerak. 375 *** Malam itu Tom merasa gelisah. Ia mondar-mandir saja tanpa bisa berkonsentrasi pada satu kegiatan. Ia belum mengantuk. Malam belum terlalu larut. Baru sekitar pukul sepuluh. Kedua orangtuanya sudah tidur. Ia masih saja memikirkan Kristin. Apa yang sebenarnya mau dikatakan Kristin tapi lalu diurungkannya tadi? Mestinya itu sesuatu yang berat diungkapkan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Apakah Kristin baik-baik saja? Kenapa pembantu yang ditugaskan Adam memata-matai Kristin malah diusir? Itu berarti si pembantu tak diperlukan lagi. Kenapa? Mungkin Adam punya rencana lain. Kenapa Kristin dibohongi? Pasti berkaitan dengan rencana itu. Tiba-tiba Tom ketakutan. Ia menggigil. Ia memutar telepon rumah Kristin. Ia tak peduli lagi bila Adam yang menerima. Yang penting ia harus mendengar suara Kristin. Bila ia bisa mendengarnya, berarti Kristin baikbaik saja. Tapi tak ada yang mengangkat telepon di rumah Kristin. Sudah tidurkah mereka? Tom tidak yakin. Ia ganti menelepon Maria. Lama menunggu. Dering telepon di rumah Maria sangat gigih. Terus berbunyi. Maria dan Henry yang bara saja tertidur, segera terbangun. Henry mengangkatnya. Tapi saat itu juga Maria mendengar lengking tangis Jason. Ia terkejut, lalu lari ke luar. Henry melihatnya, tapi ia harus menjawab telepon Tom, "Oh, Kristin? Dia baik-baik. Tadi..." Ia tak bisa meneruskan karena terdengar jeritan Maria, "Paaa! Cepat, Paaa! Aduh! Tolong! Tolong! Kebakaran! Kebakaran!" 376 Henry melepas gagang pesawat telepon. Ia membiarkannya saja tergantung, lalu segera berlari ke luar. Tom mendengar jeritan itu. Jantungnya serasa mau copot. Ia berlari ke dalam, menggedor pintu kamar orangtuanya. "Paaa! Saya ke rumah Oom Henry! Ada kebakaran!" serunya. Tanpa menunggu jawaban ia berlari ke luar. Untung masih sempat menyambar dompetnya. Lalu ia berlari di jalan seperti maling

http://inzomnia.wapka.mobi

dikejar warga. Untung ada taksi yang tak mencurigainya dan bersedia ditumpangi. "Cepat ya, Pak! Ada kebakaran!" Sopir taksi bingung, tapi memutuskan untuk tidak bertanya. Ikuti saja kehendak penumpang. Yang penting dia bukan perampok. Ketika Tom tiba, suasana di sekitar rumah Kristin sudah hirukpikuk. Terdengar sirene mobil pemadam kebakaran. Tom lemas. Bagian atas rumah Kristin sudah seperti obor! Di sana ada kamar bayi dan kamar tidur Kristin! Tom merangsek maju menerobos kerumunan sambil berteriak, "Kris! Kristiiiiin....! Kristiiiin...!" Sebelum berhasil memasuki rumah ada yang menarik tangannya. Ia meronta. "Tom! Tenang, Tom!" Tom menoleh. Henry di sampingnya. "Oom, bagaimana Kristin dan Jason?" "Mereka baru saja diselamatkan. Ada di sana, Tom! Tolong mereka, ya?" Henry menunjuk rumah di seberangnya. Lalu Henry berlari ke rumahnya sendiri. Ia bermaksud menyelamatkan barang-barangnya andaikata api menjalar ke rumahnya. 377 Tom berlari ke seberang. Di sana Maria sedang menangis sambil menggendong Jason. Betapa terkejutnya Tom ketika melihat Kristin terbaring diam di sofa. Wanita pemilik rumah tampak bingung. "Saya dokter, Bu!" Tom mengenalkan dirinya ketika memeriksa Kristin. Ia lega karena Kristin masih hidup. Tapi gejalanya memperlihatkan kondisi terbius. Ada juga kemungkinan menghirup asap. Lalu ia memeriksa Jason. Anak itu tenang

http://inzomnia.wapka.mobi

meskipun tidak tidur. Dan tampaknya baik-baik saja. Tom meminta tolong pada pemilik rumah untuk memanggil ambulans. Setelah itu baru ia teringat. "Adam! Apakah dia...?" tanyanya kepada Maria. "Dia lagi pergi. Oh ya, dia harus diberitahu, ya?" Maria seperti orang linglung. "Tadi Kristin memberi-tahu nomor telepon teman Adam yang mau dikunjunginya. Kalau rumahku selamat, tentu catatan nomornya pun ada." "Malam-malam kok pergi," gerutu Tom. Maria menjadi lebih tenang melihat pemadam kebakaran sudah datang dan mulai bekerja. Untunglah rumahnya dengan rumah Kristin tidak berdempetan. Dan angin pun tidak bertiup kencang. Sambil menunggu ia bisa bercerita. "Aku yang menggendong Jason. Oom dan si Iyem menggotong Kristin. Kamarnya penuh asap." Maria menciumi Jason. Ia membasahi wajah Jason dengan air matanya. Rumah Maria selamat. Yang terbakar hanya rumah Kristin, dan hanya ruang bawahnya saja yang tersisa. Kristin sadar di rumah sakit. Ia menangis bukan 378 karena rumahnya yang hancur, tapi oleh rasa bersyukur bahwa Jason pun selamat. "Apakah Adam sudah tahu?" tanyanya. "Kok belum datang?" "Dia sudah ditelepon di alamat yang kauberikan itu, Kris," jelas Maria. "Tapi menurut yang punya rumah, Adam tidak ada di sana. Adam tidak pernah ke sana!" Tom sangat geram. Apalagi ketika ia melihat kesan yang sama muncul di wajah Kristin.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Setelah aku minum jus yang diberikannya, rasanya kok mengantuk dan berat sekali." "Kita harus melaporkannya, Kris. Ia pasti tertangkap. Mau lari ke mana sih?" kata Tom. "Tapi belum tentu dia pelakunya, Tom." "Ketika masuk kamar bayi, rasanya aku melihat tangga." Henry mengingat-ingat. "Dan... dan plafonnya bolong. Pas di atas tangga!" "Oh ya." Maria pun teringat. "Ada celana panjang dan kemeja Adam di dekat kakimu, Kris." "Betul. Itu yang dipakai Adam ketika kulihat meninggalkan rumah," Henry menyambung. "Kalau begitu, dia kembali lagi. Tapi saat itu aku sudah tidak sadar jadi tidak tahu lagi apa yang dikerjakannya," keluh Kristin. Lalu mereka berpandangan. Kesan sama muncul di wajah mereka. "Masa dia pergi dengan baju dalam? Kenapa repot tukar baju dulu?" Pertanyaan itu terjawab kemudian. Petugas yang memeriksa tempat kejadian menemukan sesosok tubuh yang hangus. Dan untuk sementara mereka memperkirakan penyebab kebakaran adalah arus pendek listrik. 379 "Itu pasti Adam!" seru Lien, yang sudah datang bergabung bersama suaminya di rumah sakit untuk menjenguk Kristin dan Jason. "Siapa lagi?" sambung Maria dengan kesal. Si Adam itu pasti sudah gila.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kok tega, ya?" Bun Liong tak habis pikir. "Itulah yang namanya hukum karma!" seru Lien lagi. Penuh semangat dan kepuasan. "Sudahlah, Ma!" kata Tom. Tatapannya tertuju kepada Kristin. Tampak wajah pucat Kristin penuh air mata. Mereka yang ribut tadi segera tersadar. Sempat terlupakan bahwa Kristin adalah istri Adam. Satu per satu mereka memeluk Kristin untuk meminta maaf. Kristin cuma terpaku. Yang terpikir olehnya adalah kenangan masa lalu. Ketika dia untuk pertama kalinya menatap rumah bagus itu. Dan Adam berdiri bangga di sisinya. "Ini persembahanku untukmu, Sayang!" kata Adam. Betapa bahagianya dia. Ternyata kebahagiaan itu begitu singkat. Dengan bantuan dana dari Tom, rumah Kristin segera diperbaiki. Semula Kristin bersikeras akan memperbaiki dengan tabungannya sendiri. Adam juga memiliki simpanan di bank, yang bisa digunakannya untuk memperbaiki rumahnya. Tapi Tom mengingatkan, bahwa masa depannya bersama Jason membutuhkan dana juga. Itu lebih penting. Padahal Kristin tidak bekerja. Untuk sementara Kristin tinggal bersama Maria. Maka harihari menjelang kepulangannya ke Amerika, lebih banyak dihabiskan Tom di rumah Maria. Tak ada lagi yang perlu disembunyikannya dari peng380 amatan Maria setelah datang e-mail dari Susan untuk orangtuanya. "Mama dan Papa tersayang, luar biasa berita yang terakhir itu! Tak salah lagi. Pastilah Adam yang membunuh Sonny. Sudahlah.

http://inzomnia.wapka.mobi

Dia sudah menerima hukumannya. Saya jadi berpikir keras. Sepatutnya kita tidak menghukum siapa pun dengan dendam kita. Ada yang lebih berkuasa daripada kita, yang kelak akan menjatuhkan hukumannya. Saya akan datang ke Jakarta pada awal September sebagai warga negara Indonesia! Tapi saya tidak datang sendiri. Rencananya bersama seseorang. Dia kekasih saya. Terimalah dia dengan terbuka, ya Ma, Pa?" Jadi Susan sudah punya kekasih? Dan dia bukan Tom? Maria dan Henry kecewa, tapi terobati. Susan sudah pulih dan menghapus sumpahnya. Mereka akan segera bertemu dengannya. Tapi siapa gerangan kekasihnya itu? Tom menggelengkan kepala. Ia juga merasa sur-prise. Rupanya Susan pintar menyimpan rahasia. "Mungkin orang Selandia Baru, Tante. Habis Susan tak pernah cerita." "Apakah dia bule?" "Wah, nggak tahu juga, Tante." Meskipun Susan meninggalkan teka-teki, Tom merasa gembira mendengar berita itu. Ia bisa mendekati Kristin tanpa dicurigai. Kedua orangtuanya maupun suami-istri Lie bisa menerima hubungannya dengan Kristin secara wajar. Kristin mendapat pekerjaan sebagai penerjemah 381 free lance bahasa Inggris. Dengan demikian ia bisa bekerja di rumah tanpa harus meninggalkan Jason. Ia memang tak bisa bekerja full time di kantor seperti dulu. Biarpun honornya tak terlalu besar, tapi sebagai awal itu sudah cukup. Dengan bekerja ia juga bisa melupakan tragedi yang menimpanya. Tom

http://inzomnia.wapka.mobi

juga mendukung hal itu. Pengalamannya sendiri membuktikan, bahwa mengisi waktu dengan bekerja bisa mengobati luka hati. Pada suatu kesempatan, Tom bertanya kepada Kristin, "Maukah nanti kau tinggal di Amerika, Kris?" Kristin tertegun. "Amerika? Uh, ngapain aku di sana? Maksudmu, tinggal atau jalan-jalan?" "Mulanya jalan-jalan. Kalau kau suka, bisa tinggal di sana. Sama Jason tentunya." "Tapi aku kerja apa, ya?" "Itu kan gampang. Kalau sudah punya green card bisa cari kerja. Kau pintar." "Tapi..." "Aku memang muter-muter, ya? Sebenarnya waktunya kurang tepat. Adam belum lama meninggal. Kau tentunya masih bersedih. Tapi waktuku tinggal sedikit. Begini, Kris. Aku... ah... I love you so much! Maaf, ya. Mungkin aku kurang peka. Egois." Kristin tersenyum. "Tidak apa-apa. Waktumu memang tinggal sedikit. Aku mengerti." "Kau mengerti? Jadi, adakah harapan untukku?" "Ya, ada," sahut Kristin terus terang. "Oh!" Tom bersorak. "Tapi berilah aku waktu selama enam bulan." "Berapapun akan kuberikan. Asal jangan terlalu lama." 382 Tom merasa bagai bermimpi. Kristin pun serasa mendapat kejutan. Kebahagiaan memang bisa saja singkat. Tapi selama masih ada kehidupan, kemungkinan meraih kebahagiaan itu kembali tetap ada. 383 XIII

http://inzomnia.wapka.mobi

New York City, awal bulan Agustus. Ketika Tom kembali pada kegiatan rutin profesinya ia menemukan perubahan. Danny Martin sudah berhenti dari Presbyterian Hospital dan pindah kerja ke rumah sakit lain di New Jersey. Ron yang memberitahu hal itu. Ia pun menyerah-kan sepucuk surat dari Danny. Dear Tom, kau sudah tahu, bukan? Forgive me. Aku sudah menghancurkan rumah tanggamu. Aku juga pengecut. Tapi aku tak ingin kehilangan seorang sahabat yang baik. Menyesal pun percuma, ya? Kau pasti akan bilang begitu. Percayalah, Tom. Penyesalanku selangit. Aku memang sakit. Aku seorang maniak. Susan berkata begitu juga. Katanya aku perlu terapi. Penyakitku itu disebabkan karena aku merasa terlalu tampan. Penasaran kalau ada perempuan yang tak bisa kutaklukkan. Ternyata Susan lain sendiri. Dia sama sekali tidak terpikat olehku. Dia malah kasihan sama aku! Katanya, ketampananku itu bukan karunia, melainkan kutukan! Duh, mengerikan 384 sekali! Meskipun aku dibuatnya takut, tapi dia perempuan yang hebat. Katakan itu kepadanya. Aku baru masuk kerja bulan depan. Jadi sebulan penuh aku menganggur. Aku mau ke Jakarta, Tom! Tentu kau bisa menebak apa tujuanku ke sana. Aku ingin menjenguk Debbie dan Viv. Sekali lagi maafkan aku. Jangan mengutukku, ya? Please!

http://inzomnia.wapka.mobi

Tom termenung lama sesudah membacanya. Danny cukup bijak dengan menghindar darinya. Biarpun dendam sudah tak ada lagi, tapi rasanya jadi kurang enak untuk berdekatan dan bekerja sama dengannya setelah semuanya terbuka. Mau tak mau kenangan pahit itu muncul lagi kalau melihatnya. Tentu bukan cuma dirinya yang merasa begitu. Danny akan lebih menderita. Mengherankan juga bagaimana dia bisa tahan berpura-pura begitu lama. Mungkin juga dia malah menikmatinya. Lalu menunggu dengan senang campur tegang kapan tabir terkuak. Setiap orang punya keunikan dan juga keanehan sendiri. "Apakah kau memaafkannya, Tom?" Ron ingin tahu. "Ya. Dia memang sakit." "Seperti kata Susan." "Ya. Susan memang hebat. Seperti diakui Danny sendiri. Oh ya, kabarnya Susan sudah punya kekasih. Dia mengirim e-mail kepada orangtuanya. Aku sempat diberitahu. Ada lagi kabar gembira lain. Dia akan ke Jakarta bulan depan bersama kekasihnya itu." Ron tersenyum. "Jadi bukan kau orangnya." 385 "Ah, bukan. Dia selalu menganggapku sebagai kakak. Tapi aku heran. Waktu ke sini tempo hari dia tidak pernah bercerita soal itu. Malah dia mengaku belum punya kekasih. Apa ketemunya baru-baru saja, ya? Cinta kilat rupanya." "Sebenarnya dibilang cinta kilat juga tidak, Tom. Semuanya berlangsung wajar saja. Dalam hal seperti itu biasanya kita punya indera keenam." Tom bingung sejenak. Ia mengamati Ron dengan tatapan selidik. "Hei! Kamukah orangnya?" tanyanya takjub.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ron mengangguk dengan ekspresi berbinar. "Ya. Akulah orangnya!" sahutnya bangga. "Waduh, kapan kalian menjalin hubungan?" Tom hampir tak percaya. "Tempo hari kan dia ke sini," kata Ron. "Sesingkat itu?" Tom tak mengerti bagaimana Susan bisa bersikap ceroboh dengan menjalin cinta kilat. Ia memang sudah tahu kualitas seorang Ronald Brown, tetapi seharusnya Susan menemukannya sendiri. Bukan lewat perantara. Ron masih tersenyum. "Oh, ada prosesnya dong, Tom. Kami tetap berhubungan lewat e-mail" "Cukupkah itu?" "Tentu cukup." Tom tersadar. Ia segera menubruk Ron lalu me-meluknya dan menepuk punggungnya. "Selamat, Ron! Selamat! Maaf, terlambat." "Ia akan mempertahankan kewarganegaraannya," kata Ron. "Ya. Kudengar juga begitu. Orangtuanya bahagia 386 tak kepalang. Apa dia bilang padamu tentang alasannya?" "Katanya dia mulai berpikir lain setelah mendengar cerita tentang barongsai turun ke jalan." "Barongsai?" "Menurut Susan, itu simbol tentang harapan dan semangat." Tom yakin, Susan belum pernah melihat barongsai menari di jalan-jalan Jakarta. Ia sendiri tidak ingat lagi apakah di awal usianya ia masih sempat melihat. Tak ada kenangan tentang itu dalam memorinya. Ia lebih banyak mendengar cerita orangtuanya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Lalu giliran Tom bercerita mengenai pengalaman hebatnya di Jakarta. Ron pun memberinya selamat. "Oh, aku tak sabar menunggu saat itu! Aku akan mengajak Susan berkenalan dengan Kristin bila ke sana nanti!" seru Ron. "Akan sabarkah kau menunggunya? Enam bulan kan lama. Mestinya kau menawar." "Pada saat itu aku tak berada dalam posisi mampu menawar. Diterima saja sudah syukur. Tapi aku akan mengundangnya berlibur ke sini Desember nanti." "Bersama anaknya?" "Eh, anakku juga lho!" Mereka membagi kebahagiaan bersama. Andaikata Danny ada di situ, mungkin dia bisa ikutan berbahagia. Sebagai sahabat, Danny menyenangkan. Tom yakin, Danny akan jatuh hati kepada Debbie. Anak itu memang mewarisi keindahan fisik ayahnya. Mudah-mudahan saja tidak mewarisi "penyakitnya" juga. Tom tak bisa membayangkan bagaimana reaksi 387 Maria dan Henry bila Susan datang bersama Ron. Ternyata sang kekasih bukan berkulit kuning, sawo matang, atau putih, melainkan hitam! Mudah-mudahan mereka bisa menerima dengan penuh ketulusan, bahwa warna kulit bukanlah penentu baik-buruknya seseorang. Seharusnya Susan mempersiapkan orangtuanya dulu sebelum pertemuan itu terjadi. Membiarkannya sebagai misteri bisa mengejutkan mereka. Tom memutuskan akan menasihati Susan lewat e-mail. Ternyata dia jadi sibuk sekali dengan pekerjaan yang satu itu. Bukan cuma Susan yang perlu dikirimi e-mail, tapi

http://inzomnia.wapka.mobi

juga orangtuanya, orangtua Susan, dan tentu saja Kristin. Ia akan mendahulukan Kristin dari semuanya! TAMAT Edit & Convert: inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi