Anda di halaman 1dari 114

1

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PENGELOMPOKAN DATA PAJAK DAN DISTRIBUSI DANA BAGI HASIL DI DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET (DPPKA) KABUPATEN GARUT

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Kelulusan Pada Program Studi Strata 1 Teknik Informatika

Oleh: TAUFIK KURNIAWAN NPM 0606079

JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI GARUT 2011


TAUFIK KURNIAWAN, 0606079 Pengembangan Sistem Informasi Pengelompokan Data Pajak dan Distribusi Dana Bagi Hasil Di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut Dibawah Bimbingan : Bapak Ahmad Hazairin Ramli, Dipl. Inf., Sebagai Dosen Pembimbing I Dan Bapak Andri Ikhwana, ST., MT., Sebagai Dosen Pembimbing II 101 Halaman + xi / 27 Gambar / 20 Tabel / 8 Daftar Pustaka (1999-2006)

ABSTRAK
Pengembangan Sistem Informasi Pengelompokan Data Pajak dan Distribusi Dana Bagi Hasil di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut merupakan salah satu pengaplikasian sistem yang terkomputerisasi dalam bidang teknologi informasi. Ini membuktikan bahwa teknologi informasi telah mempengaruhi kinerja suatu organisasi. Dilatarbelakangi oleh sulitnya mendapatkan kemudahan bagi staf DPPKA dalam mengolah pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil dan membuat laporan yang membutuhkan banyak waktu. Adapun tujuan dari pengembangan sistem ini adalah mengembangkan sebuah sistem informasi pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil yang berbasis komputer dengan menggunakan metode pengembangan sistem System Development Life Cycle (SDLC), sehingga dengan adanya sistem informasi tersebut diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan Sistem Pengelompokan Data Pajak dan Distribusi Dana Bagi Hasil di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut. Dalam pengembangan Sistem Informasi Pengelompokan Data Pajak dan Distribusi Dana Bagi Hasil ini menggunakan metode konvensional yaitu metode System Development Life Cycle (SDLC) yang memudahkan penggunanya karena dilakukan secara bertahap dan jika terdapat kekurangan dapat kembali ke tahapan sebelumnya untuk menambahkan atau memperbaiki kekurangannya. Metode ini tidak dapat berdiri sendiri, oleh

karena itu harus dibantu dengan penggunaan perangkat seperti Flowmap atau Flowchart, Data Flow Diagram (DFD) dan Entity Relationship Diagram (ERD). Dari hasil penelitian ini, diharapkan bahwa Sistem Informasi Pengelompokan Data Pajak dan Distribusi Dana Bagi Hasil ini dapat menjadi solusi permasalahan yang ada dalam pengolahan distribusi dana bagi hasil di DPPKA. Dan metode SDLC dapat digunakan sebagai metodologi untuk analisis dan desain sistem dengan rapi dan teliti.

Kata Kunci: Sistem Informasi, Pajak, Distribusi, Dana Bagi Hasil, System Development Life Cycle

BAB I PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang Masalah Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini teknologi sedang berkembang

dengan pesatnya, terutama teknologi informasi dan komunikasi. Saat ini informasi merupakan sesuatu hal yang sangat berharga. Seseorang atau sekelompok orang rela membayar dengan harga yang mahal hanya untuk mendapatkan sebuah informasi. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi tersebut maka penggunaan aplikasi yang berbasis teknologi informasi semakin marak digunakan diberbagai organisasi atau perusahaan. Salah satu produk dari teknologi informasi yaitu sistem informasi, dengan pemanfaatan sistem informasi maka beberapa kegiatan perusahaan atau organisasi yang mulanya bersifat kompleks dan memerlukan waktu banyak dapat menjadi lebih cepat dan akurat terutama dalam pengolahan dan penyampaian informasi yang diperlukan oleh organisasi. Dalam sebuah organisasi pasti memiliki sistem informasi. Namun dalam pengelolaan dan pengolahannya masih ada yang bersifat manual atau yang sudah

terkomputerisasi dimana pengolahan baik dalam perhitungan, penyimpulan, pengumpulan dan proses lain sudah otomatis dikelola oleh sistem basisdata yang kompleks. Sehingga campur tangan manusia dalam sistem informasi tertentu biasanya hanya melakukan input data melalui sebuah keyboard atau alat input lainnya dan hanya melakukan kegiatan pencetakan informasi atau output informasi melalui perantara seperti kertas atau melihat secara online pada internet. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut merupakan sebuah instansi pemerintah yang berfungsi untuk membantu pemerintah dalam mengelola keuangan dan aset yang ada di Kabupaten Garut. Salah satu bidang di Dinas Pendapatan Pengelolan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut yang berperan penting adalah Bidang Perimbangan, dimana salah satu aktivitas di Bidang Perimbangan ini adalah mengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil. Pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil bertujuan untuk memudahkan Pemerintah Daerah dalam mengambil keputusan yang digunakan sebagai pedoman dalam pendistribusian dana bagi hasil yang merata sesuai dengan kebutuhan daerah. Jenis Pajak yang dikelompokan ada 3 yaitu DBH PBB (Dana Bagi Hasil Pajak Bumi dan Bangunan), BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan), serta BPPBB (Bea Perolehan Pajak Bumi dan Bangunan). Pendistribusian dana bagi hasil dibagi kedalam 5 sektor yaitu sektor pedesaan, perkotaan, perkebunan, kehutanan dan pertambangan. Sebelum melakukan pendistribusian terlebih dahulu dilakukan rekonsiliasi antara nota pajak dan rekap pajak (Rekening Koran) yang diberikan oleh bank BRI. Rekonsiliasi adalah proses pencocokkan antara saldo kas menurut catatan perusahaan/instansi dengan saldo kas menurut Rekening Koran Bank. Tujuan dari Rekonsiliasi adalah untuk mengetahui jumlah saldo yang benar. Besarnya saldo kas menurut catatan perusahaan/intansi maupun menurut bank besarnya dapat berbeda tetapi jumlah keduanya dapat pula benar. Hal ini dapat terjadi disebabkan karena perbedaan waktu pencatatan antara catatan perusahaan/instansi dengan catatan bank dan kesalahan dalam pencatatan transaksi oleh perusahaan/instansi ataupun pihak bank. Dalam menyusun rekonsiliasi bank diperlukan Rekening

Koran dari bank dan catatan transaksi perusahaan/instansi, lalu dicarilah apa yang menyebabkan saldo antara kedua catatan tersebut berbeda, barulah dibuat rekonsiliasi sehingga saldo kas yang sebenarnya dapat diketahui, setelah itu perlu dibuatlah jurnal penyesuaiannya. Selain mengenai penyesuaian saldo akibat ketidakcocokan yang menjadi permasalahan lainnya yaitu mengenai tanggal atau waktu pengakuan dari data transaksi di bank. Oleh karena hal tersebut kedua belah pihak menyepakati waktu pengakuan berdasarkan pencatatan data transaksi atau bukti transaksi pembayaran dan bukan berdasarkan waktu diterimanya uang dari transaksi pembayaran pajak tersebut. Alur proses rekonsiliasi dimulai dari wajib pajak membayar pajak melalui Bank BRI. Selanjutnya Bank BRI memberi nota pajak dan rekap pajak berupa rekening Koran ke DPPKA. Setelah dilakukan rekonsiliasi, dana tersebut dikembalikan lagi ke daerah setelah dipotong oleh pusat dan provinsi malalui Bank Jabar. Dana bagi hasil yang sudah dilakukan rekonsiliasi tersebut dapat direalisasikan dengan pendistribusian sesuai dengan kebutuhan daerah. Dalam proses pengolahan data rekonsiliasi dan pengelompokan pajak untuk pendistribusian dana bagi hasil di DPPKA masih mengalami banyak kekurangan dalam optimalisasi kinerjanya. Oleh karena itu perlu dibuat sebuah sistem informasi yang dapat memudahkan Staf DPPKA dalam menjalankan tugasnya. Berdasarkan pemaparan di atas maka untuk laporan tugas akhir ini diambil judul PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PENGELOMPOKAN DATA PAJAK DAN DISTRIBUSI DANA BAGI HASIL DI DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET (DPPKA) KABUPATEN GARUT.
2.

Identifikasi Masalah Proses Pengelompokan Data Pajak dan Pendistribuasian Dana Bagi Hasil

yang dilakukan Bidang Perimbangan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut masih memiliki permasalahan yang dapat

menggangu kinerja pengelompokan data pajak dan pendistribusian Dana Bagi Hasil. Adapun permasalahan yang teridentifikasi dari pemaparan di atas adalah sebagai berikut: 1. Dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk melakukan pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil karena pada saat proses perhitungan masih dilakukan secara manual. 2. Kurangnya kemudahan dalam memanipulasi informasi mengenai proses pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil. 3. Karena proses perhitungan distribusi dana bagi hasil dilakukan pada akhir bulan maka waktu yang diperlukan terbatas. Dengan permasalahan yang ada untuk menuntaskan proses tersebut staf memerlukan waktu lebih (lembur) dan DPPKA memerlukan biaya tambahan untuk hal tersebut.

3.

Tujuan Penelitian Tujuan penyusunan laporan tugas akhir ini adalah mengembangkan

sebuah sistem informasi pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil yang diharapkan dapat meminimalisir atau bahkan menghilangkan permasalahan pada saat mengolah data rekonsiliasi dan perhitungan dana bagi hasil yang saat ini masih dilakukan secara manual di Bidang Perimbangan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut.
4.

Batasan Masalah Agar kajian dari laporan Tugas Akhir ini terfokus dan tidak keluar dari

ruang lingkup masalah, maka pembahasan perlu dibatasi pada:


1. Sistem informasi yang dibuat adalah sistem yang didasarkan pada aktivitas

bisnis pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil pada Bidang Perimbangan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut.
2. Tugas Pokok dan Fungsi Bidang Perimbangan DPPKA adalah mengolah

Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus dan Dana Bagi Hasil. Untuk pengembangan sistem informasi ini hanya dibatasi pada Pengolahan Dana Bagi Hasil saja.
3. Sistem ini menampilkan informasi dengan data input berupa Rekap Pajak

dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Garut dengan jenis pajak sebagai berikut, yaitu DBH PBB (Dana Bagi Hasil Pajak Bumi dan Bangunan), BPHTB (Bea Peerolehan Hak atas Tanah dan Bangunan), serta BPPBB (Bea Perolehan Pajak Bumi dan Bangunan). 4. Proses pengembangan sistem informasi pengolahan data rekonsiliasi ini dikembangkan menggunakan metodologi SDLC (System Development Life Cycle). 5. Tahap pengembangan sistem hanya dilakukan sampai tahap merancang sistem saja.

5.

Metodologi Penelitian Metodologi penelitian yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir ini

adalah dengan melakukan penelitian tahap demi tahap yaitu meliputi:


5.1.

Metode Pengumpulan Data

Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Untuk memperoleh data primer metode yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. Pengamatan Langsung (Observasi) Mengamati secara langsung segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang dibahas yaitu pengembangan sistem informasi pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil, sehingga dapat diketahui apa saja yang diperlukan dalam merancang sistem informasi tersebut. 2. Wawancara (Interview) Wawancara dilakukan dengan cara diskusi dengan pelaku yang kompeten dalam penyajian informasi pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil di Bidang Perimbangan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut. 3. Dokumen Mempelajari berbagai dokumen yang ada pada sistem yang sedang berjalan di Bidang Perimbangan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut. Sedangkan untuk memperoleh data sekunder metode yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. Studi Pustaka Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengambil data dari sumbersumber media cetak/elektronik yang dijadikan pedoman untuk pengembangan sistem informasi pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil.

5.2. dikelompokan

Metode Pengembangan Sistem menjadi beberapa tahapan, yang membantu kita dalam

Dalam pengembangan sistem terdiri dari sederetan kegiatan yang dapat pengembangan sistem. Metode yang digunakan untuk pengembangan sistem adalah metode SDLC (System Development Life Cycle) yang mempunyai beberapa tahapan yang digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1.1: Tahapan SDLC (System Development Life Cycle) [Kendall & Kendall, 2006]

Tahapan yang dilakukan pada metode SDLC (System Development Life Cycle) adalah:
1. Mengidentifikasi Masalah, Peluang dan Tujuan.

Pada tahap ini merupakan kegiatan perencanaan sistem, yaitu menentukan permasalahan-permasalahan apa yang terjadi dan apa yang menyebabkan sasaran pada sistem lama belum tercapai. Kemudian mengidentifikasi peluang pengembangan sistem termasuk fisibilitas secara teknis, ekonomis

10

dan operasional bahwa peningkatan dapat dilakukan melalui penggunaan sistem informasi terkomputerisasi, selanjutnya pada tahap ini juga dilakukan identifikasi tujuan dari pengembangan sistem informasi.
2. Menentukan Ssyarat-syarat Informasi

Dalam fase ini lebih ditekankan untuk memahami informasi apa yang dibutuhkan pemakai agar bisa ditampilkan dalam pekerjaan. Juga mengetahui detil fungsi-fungsi dalam sistem termasuk mengetahui siapa saja yang terlibat, kegiatan apa saja yang ada, lingkungan kerja yang mana, waktu yang diperlukan serta bagaimana mekanisme atau prosedur yang berlaku.
3. Menganalisis Kebutuhan Sistem.

Pada tahap analisis kebutuhan sistem ini dilakukan penguraian suatu sistem informasi yang utuh ke dalam komponen-komponennya untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi permasalahan-permasalahan, peluangpeluang, maupun hambatan-hambatan yang terjadi dan kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat diusulkan perbaikan-perbaikannya. Tahapan analisis kebutuhan dari segi kelemahan dan kelebihan adalah menganalisis proses yang dilakukan, data yang dimasukkan, diolah dan dihasilkan dari sistem lama. Kemudian dijadikan dasar pengembangan model pada sistem baru.
4. Merancang Sistem yang Direkomendasikan.

Dalam tahap perancangan sistem ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas dari rancang bangun yang lengkap. Terdapat dua bagian dalam perancangan sistem, yaitu rancangan sistem secara umum atau desain makro dan rancangan sistem secara terinci atau rancangan fisik. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini meliputi :
a. Desain model dari sistem informasi yang akan dikembangkan, yaitu

rancangan fisik yang digambarkan dari bagan alir sistem (flowchart system) dan rancangan model logis berupa data flow diagram (DFD).

11

b. Desain output adalah keluaran dari sistem informasi yang dapat dilihat,

dapat berupa tampilan dilayar, kertas laporan dan sebagainya.


c. Desain input yang perlu didesain secara rinci dari input adalah bentuk dari

dokumen dasar yang digunakan dan bentuk tampilan dari input di alat input. Kegiatan dari desain input ini adalah menentukan kebutuhan dari sistem yang baru dan menentukan bentuk, sumber, alat serta periode dari input.
d. Desain basis data ini adalah mengintegrasikan kumpulan dari data yang

saling berhubungan antara satu dengan lainnya dan membuatnya tersedia untuk aplikasi yang bermacam-macam di dalam suatu organisasi, yang terdiri dari beberapa file yang diperlukan dalam suatu proses pengolahan data.
e. Desain teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model,

menyimpan dan mengakses data, menghasilkan dan mengirimkan keluaran dan membantu pengendalian sistem secara keseluruhan. Teknologi ini perlu dirancang untuk menyesuaikan dengan sistem informasi yang akan digunakan dengan memperhatikan tiga hal pokok, yaitu perangkat keras, perangkat lunak dan teknisi.
5. Mengembangkan dan Mendokumentasikan Perangkat Lunak.

Tahap ini dilakukan untuk mengembangkan suatu perangkat lunak yang diperlukan, dalam kegiatannya diperlukan kerjasama antara penganalisis dan pemograman.
6. Menguji dan Mempertahankan Sistem.

Sebelum sistem informasi dapat digunakan, maka harus dilakukan pengujian terlebih dahulu. Akan bisa menghemat biaya bila dapat menangkap adanya masalah sebelum sistem tersebut ditetapkan
7. Mengimplementasikan dan Mengevaluasi Sistem.

Implementasi sistem dilakukan setelah rancangan selesai dan melakukan evaluasi untuk revisi dengan segera terhadap sistem untuk memastikan kesesuaian dengan kebutuhan. Evaluasi diharapkan bahwa sistem baru

12

lebih efisien operasionalnya dan efektif dalam pencapaian tujuan dan lebih mudah digunakan.
6.

Kerangka Pemikiran Untuk dapat merancang sebuah sistem informasi terlebih dahulu harus

melakukan analisis pada sistem yang sedang berjalan (current system). Hasil dari analisis akan menghasilkan kebutuhan sistem yang akan menunjang sistem yang akan dikembangkan. Untuk lebih jelas maka dibuatlah kerangka pemikiran seperti di bawah ini: 6.1. Sistem yang sedang berjalan

Gambar 1.2: Sistem yang sedang berjalan Sistem pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil yang sedang berjalan pada Bidang Perimbangan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut dilakukan oleh staf bidang perimbangan. Langkah pertama yang dilakukan staf menerima nota pajak dan rekap pajak berupa rekening Koran dari Bank BRI pada setiap akhir periode. Selanjutnya staf melakukan input data sesuai dengan data yang ada pada nota pajak rekening koran. Staf kemudian melakukan perhitungan rekonsiliasi dengan

13

melakukan pengalian sesuai dengan persentasenya secara manual. Tahap selanjutnya adalah melakukan perhitungan distribusi dana bagi hasil sesuai dengan pembagian sektornya. Selesai dihitung apabila ada ketidakcocokan maka dilakukan penyesuaian saldo. Berkas hasil rekonsiliasi tersebut disimpan pada folder-folder yang ada pada harddisk komputer. Setelah dilakukan penyesuaian saldo staf dapat mencetak hasil pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil tersebut. Kemudian hasil yang sudah disesuaikan dan dicetak tersebut diberikan kepada Kepala Dinas untuk ditandatangani sebagai bukti dokumen tersebut adalah legal. Selanjutnya hasil laporan tersebut dapat dikirim ke KPP Pratama dan Kantor Pajak untuk diproses lebih lanjut dan satu buah disimpan di DPPKA sebagai arsip. 6.2. Usulan sistem yang akan dikembangkan

Gambar 1.3: Usulan sistem yang akan dikembangkan Sistem pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil yang sedang berjalan masih memiliki beberapa kelemahan, oleh karena itu diperlukan pengembangan sistem lebih lanjut untuk mengoptimalkan produktivitas kerja dari

14

pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil tersebut. Sistem akan dikembangkan menggunakan metode SDLC (System Development Life Cycle). Pertama staf mengakses sistem pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil terkomputerisasi, kemudian mengelompokan jenis pajak. Selanjutnya staf dapat melakukan input data sesuai dengan data yang ada pada nota pajak dan rekening koran. Dengan fitur query, table dan fitur lainnya dari maka dimungkinkan untuk memudahkan proses pengolahan data seperti sorting, contoh: data dapat dikelompokan berdasarkan waktu (tanggal atau minggu) atau berdasarkan jumlah uang yang sama. Hasil dari rekonsiliasi disimpan pada database sistem sehingga memudahkan saat melakukan proses pencarian berkas. Proses selanjutnya tinggal mencetak hasil laporan yang sudah mengalami penyesuaian kemudian ditandatangani oleh Kepala Dinas sebagai bukti legalitas. Hasil laporan yang sudah ditandatangani dapat dikirim ke KPP Pratama dan Kantor Pajak untuk diproses lebih lanjut dan satu buah hasil rekonsiliasi disimpan di DPPKA sebagai arsip. Hasil dari pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil manual dan terkomputerisasi akan sama, hanya saja sistem informasi pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil secara terkomputerisasi dibuat untuk mengoptimalkan proses yang menunjang produktivitas kinerja pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil.
7.

Sistematika Penulisan Agar laporan tugas akhir ini dapat dipahami dengan baik dan dapat

memberikan gambaran umum tentang isi dari penelitian tugas akhir ini, maka penyusun membuat sistematika penulisan penelitian tugas akhir sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN Berisi latar belakang, identifikasi masalah, tujuan penulisan, batasan masalah, metode penelitian, kerangka pemikiran dan sistematika penulisan.

15

BAB II LANDASAN TEORI Berisi teori dari berbagai sumber yang digunakan sebagai referensi baik didalam kegiatan analisis maupun perancangan untuk menyelesaikan permasalahan dari studi kasus yang dipilih. Serta memuat konsep-konsep dasar yang menjadi guidelines sehingga aktivitas analisis sesuai dengan aturan-aturan yang baku. BAB III ANALISIS PENDAHULUAN Berisi identikasi masalah, peluang dan tujuan yang ada pada Bab sebelumnya yang telah dikembangkan secara lebih rinci serta memuat syarat-syarat informasi pada sistem yang akan dikembangkan. BAB IV ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM Berisi analisis terhadap sistem yang berjalan, permasalahan yang timbul dari sistem yang sedang berjalan dan pemodelan kebutuhan sistem, yang disajikan dengan Bagan Alir (Flow Map) BAB V DESAIN SISTEM Berisi rancangan atau desain sistem yang akan dibuat juga menggunakan Bab ini menjelaskan tentang perancangan sistem yang dibuat mulai dari ringkasan kebutuhan sistem, perancangan basis data, desain aliran data dengan DFD (Data Flow Diagram), perancangan kamus data, perancangan masukan, dan keluaran.

16

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Berisi kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan dan merupakan hasil dari penyelesaian permasalahan serta saransaran dari penyusun yang mungkin akan bermanfaat bagi tempat penelitian yaitu Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

17

BAB II LANDASAN TEORI

Landasan teori merupakan sebuah bab yang berisi tentang teori-teori atau materi-materi yang berguna untuk menunjang pembahasan pada sebuah karya ilmiah. Landasan teori juga harus dapat memaparkan perkembangan topik yang diteliti untuk justifikasi teori yang digunakan sebagai landasan yang dipakai sesuai dengan alur pikir dalam penyusunan karya ilmiah. Penulusuran pustaka diutamakan melalui tulisan ilmiah yang terpublikasi, seperti buku, jurnal ilmiah, laporan penelitian, dan karya ilmiah lain yang terpublikasi. Berikut ini beberapa teori mengenai domain pembahasan karya ilmiah yaitu tentang Sistem Informasi. 2.1. 2.1.1. Konsep Dasar Data dan Informasi Data Data merupakan bahan utama dari pekerjaan manajemen sistem informasi, tanpa adanya data maka pekerjaan informasi tidak akan pernah ada. Data dapat didefinisikan sebagai berikut: Definisi data adalah data merupakan kenyataan yang menggambarkan suatu kejadiankejadian dan kesatuan nyata. Kesatuan nyata (fact and entity) adalah berupa suatu objek nyata seperti tempat, benda dan orang yang betul betul ada dan terjadi, [Ladjamudin, 2005]. Data adalah fakta yang sudah ditulis dalam bentuk catatan atau direkam ke dalam berbagai bentuk media, [Amsyah, 2005]. Data adalah kenyataan yang menggambarkan suatu kejadiankejadian dan kesatuan nyata, [Jogiyanto, 1999]. Dari pengertian pengertian di atas dengan kata lain, data merupakan keterangan atau bukti mengenai suatu kenyataan yang masih mentah, masih berdiri sendiri, belum diorganisasikan dan belum diolah. Berikut ini adalah gambar fakta yang direkam atau ditulis menjadi data:

18

direkam / dicatat disimpan diproses keluaran Gambar 2.1 : Hubungan Fakta, Data, Arsip dan Informasi, [Amsyah, 2005]. 2.1.2. Jenis Jenis Data Dikatakan bahwa data adalah fakta-fakta kegiatan organisasi dengan unitunitnya. Untuk keperluan penulisan data di kertas atau kartu dan pemasukan data ke komputer, maka menurut Amsyah (2005) data dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1. Data statis Data statis adalah jenis data yang umumnya tidak berubah atau jarang berubah, misalnya identitas nama (orang, organisasi, atau tempat), kode-kode nomor ataupun alamat. 2. Data dinamis Data dinamis adalah jenis data yang selalu berubah baik dalam frekuensi waktu yang singkat atau agak lama dan lain-lain. Data tersebut sering dikatakan sebagai peremajaan data. Data tersebut misalnya, data tabungan, data gaji, data nilai mahasiswa, dan sebagainya. Berdasarkan sifatnya, data menurut Amsyah (2005) dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu: disimpan

19

1. Data kuantitatif Data kuantitatif adalah data dengan hitungan bilangan. Misalnya 5 ekor, Rp.1000, satu juta, dan sebagainya. 2. Data kualitatif Data kualitatif adalah data yang tidak dihitung dengan hitungan bilangan, tetapi diukur dngan kata-kata bernilai. Misalnya banyak, sedikit, kecil, rendah, dan sebagainya. 2.1.3. Sumber Data Berdasarkan 1. Data internal Data internal adalah data yang berasal dari dalam organisasi itu sendiri, yaitu oraganisasi pusat dan cabang-cabangnya. 2. Data eksternal Data eksternal adalah data yang berasal dari sumber-sumber yang berada di luar organisasi itu sendiri. Berdasarkan isinya maka baik data internal maupun data eksternal dapat dibagi menjadi empat kelompok. DATA INTERNAL EKSTERNAL sumbernya, data menurut Amsyah (2005) dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

Gambar 2.2 : Pengelompokkan data [Amsyah, 2005]. 1. Data kegiatan Setiap organisasi mempunyai kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan baik oleh perorangan maupun unit-unit kerja yang terdapat dalam organisasi bersangkutan. Kegiatan-kegiatan itu perlu direkam, untuk dipergunakan sebagai bahan pengingat, bukti, pengambil keputusan, laporan, informasi, penelitian, perencanaan, penilaian, pengawasan, dan lain-lain. 2. Data Hasil penelitian

20

Hasil penelitian merupakan data yang penting bagi organisasi. Hasil penelitian cenderung disebut data, karena untuk dapat digunakan lebih lanjut oleh unitunit (fungsi) organisasi secara spesifik masih harus diubah terlebih dahulu bentuknya sesuai dengan keperluan. 3. Data lingkungan Data penting untuk keperluan pekerjaan manajer dalam membuat keputusan dan mengerjakan fungsi-fungsi manajemen lainnya seperti perencanaan, penganggaran, pengawasan, evaluasi atau lain-lainnya, adalah data lingkungan. Pengertian data lingkungan ini sangat luas, yaitu mengenai semua bidang yang berkaitan dengan kegiatan organisasi dan yang dapat mempengaruhi kegiatan organisasi. Data tersebut banyak terdapat pada media cetak seperti buku, buku referensi, majalah, koran, dan lain-lain. 4. Data peraturan Data penting lainnya yang sangat berguna sebagai alat bantu dalam pekerjaan manajemen dan pekerjaan operasional adalah bahan-bahan peraturan. 2.1.4. Definisi Informasi Sumber informasi adalah data. Informasi merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan di dalam suatu organisasi ataupun instansi berdasarkan kebutuhan manajemen masing-masing. Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya, [Jogiyanto, 1999]. Informasi adalah data yang sudah diolah, dibentuk, atau dimanipulasi sesuai dengan keperluan tertentu, [Amsyah, 2005]. Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa informasi adalah data yang seteleh diolah atau diproses, menghasilkan informasi yang memiliki nilai dan lebih bermanfaat bagi penggunanya. 1.5. Siklus Informasi Data merupakan bentuk yang masih mentah yang belum dapat bercerita banyak, sehingga perlu diolah lebih lanjut. Data diolah melalui suatu model untuk menghasilkan informasi dengan menggunakan suatu model tertentu.

21

Gambar 2.3 : Siklus Informasi, [Jogiyanto, 1999]. Data yang diolah melalui suatu model menjadi informasi, penerima kemudian menerima informasi tersebut, membuat suatu keputusan dan melakukan tindakan, yang berarti menghasilkan suatu tindakan yang lain yang akan membuat sejumlah data kembali. Data tersebut akan ditangkap sebagai input, diproses kembali lewat suatu model dan seterusnya membentuk suatu siklus. 1.6. hal, yaitu: 1. Informasi harus akurat (accurate) 2. Tepat pada waktunya (timeliness) 3. Relevan (relevance) Dibawah ini adalah gambaran kualitas dari informasi dengan bentuk bangunan yang ditunjang oleh tiga buah pilar: Kualitas Informasi

Kualitas dari suatu informasi (quality of information) tergantung dari tiga

22

Gambar 2.4 : Pilar kualitas informasi [Jogiyanto, 1999]. Akurat, berarti informasi harus bebas dari kesalahan - kesalahan dan tidak bisa atau menyesatkan. Akurat juga berarti informasi harus jelas mencerminkan maksudnya. Informasi harus akurat karena dari sumber informasi sampai ke penerima informasi kemungkinan banyak terjadi gangguan (noise) yang dapat merubah atau merusak informasi tersebut. Sehingga mendukung pihak manajemen dalam mengambil keputusan. Tepat waktu, berarti informasi yang datang pada penerima tidak boleh terlambat. Informasi yang sudah usang tidak akan mempunyai nilai lagi. Karena informasi merupakan landasan di dalam pengambilan keputusan. pengambilan keputusan terlambat, maka dapat berakibat fatal. Relevan, lainnya berbeda. 1.7. Nilai informasi berarti informasi tersebut mempunyai manfaat untuk pemakaiannya. Relevansi informasi untuk tiap-tiap orang satu dengan yang Bila

Nilai dari informasi (value of information) ditentukan dari dua hal, yaitu manfaat dan biaya mendapatkannya. Suatu informasi dikatakan bernilai bila manfaatnya bisa lebih efektif dibandingkan dengan biaya mendapatkannya. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa informasi yang digunakan di dalam suatu sistem

23

informasi umumnya digunakan untuk beberapa kegunaan. Sehingga tidak memungkinkan dan sulit untuk menghubungkan suatu bagian informasi pada suatu masalah yang tertentu dengan biaya untuk memperolehnya, karena sebagian besar informasi dinikmati tidak hanya satu pihak. Pengukuran informasi biasanya dihubungkan dengan analisis cost effectiveness atau cost benefit. 1.8. Pengolahan Data

Pengolahan data adalah masa atau waktu yang digunakan untuk mendeskripsikan perubahan bentuk data menjadi informasi yang memiliki kegunaan. (Ladjamudin, 2005). Ada beberapa operasi yang dilakukan dalam pengolahan data, antara lain sebagai berikut: Data masukan, kumpulan data transaksi ke sebuah pengolahan data medium. Contohnya: pengkodean data transaksi kedalam bentuk lain (contoh, converting atribut female ke huruf F), dan penyortiran data atau informasi untuk pengambilan keputusan. Data Transformasi, kalkulasi operasi aritmatik terhadap data field, menyimpulkan proses akumulasi beberapa data, melakukan klasifikasi terhadap data grup- grup tertentu, seperti pengelompokan data kedalam grup berdasarkan karakteristik tertentu, misalkan pengelompokan data mahasiswa berdasarkan semester aktif, Sorting (pengurutan) data ke dalam bentuk yang berurutan, misalkan pengelompokan NIM secara ascending, Merging (penggabungan) untuk dua atau lebih set data berdasarkan criteria tertentu, Matching (menyesuaikan) data berdasarkan keinginan pengguna terhadap grup data. Informasi keluaran, menampilkan hasil merupakan kegiatan untuk menampilkan informasi yang dibutuhkan pemakai melalui monitor atau cetakan, sedangkan reproducing (memproduksi ulang) merupakan kegiatan penyimpanan data yang digunakan untuk pemakai lain yang membutuhkan. Telecommunicating (telekomunikasi) adalah kegiatan penyimpanan data secara electronic melalui saluran komunikasi.

24

2.

Konsep Dasar Sistem Informasi 2.1. Definisi Sistem Informasi Berikut ini definisi sistem Informasi: Definisi sistem informasi menurut Jogianto Sistem Informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan, [Jogiyanto, 1999]. Definisi sistem informasi menurut Dewitz adalah sistem yang menerima

data dari lingkungannya (input) dan memanipulasi data tersebut (memproses) sehingga menghasilkan informasi (output) Maka, sistem informasi merupakan suatu sistem yang saling barkaitan dan berintegrasi satu sama lain dan bertujuan untuk menyediakan informasi untuk mendukung operasi, manajemen dan fungsi pengambilan keputusan dalam suatu organisasi. 2.2.2 Komponen Sistem Informasi Dalam sebuah sistem informasi terdapat komponen-komponen yang berfungsi sebagai pendukung, komponen-komponen tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Manusia, seperti operator, pemimpin sistem informasi dan sebagainya. 2. Hardware (Perangkat Keras), terdiri dari komputer, peralatan penyimpanan data, peralatan input dan output, peralatan komunikasi data, periferal dan jaringan. 3. Software (Perangkat Lunak), merupakan kumpulan perintah/fungsi yang ditulis dengan aturan tertentu untuk memerintahkan komputer melaksanakan tugas tertentu. 4. Data, merupakan komponen dasar dari informasi yang akan diproses lebih lanjut untuk menghasilkan informasi. Himpunan data akan memiliki sifat unik, yaitu

25

saling

berkaitan

(interrelated);

datadata

tersebut

akan

saling

berkaitan/terintegrasi dan tersimpan secara terorganisir di dalam suatu media penyimpanan. Kebersamaan (shared); data yang terintegrasi tersebut dapat di akses oleh berbagai macam pengguna/orang tetapi hanya satu yang dapat merubahnya yaitu Database Administrator (DBA) 5. Prosedur, seperti dokumentasi prosedur/proses sistem, buku penuntun operasional (aplikasi) dan teknis. 2.2.3 Kegiatan Sistem Informasi Kegiatan di Sistem Informasi mencakup: 1. 2. 3. 4. 5. Input, menggambarkan suatu kegiatan untuk menyediakan data Process, menggambarkan bagaimana suatu data di proses untuk Output, suatu kegiatan untuk menghasilkan laporan dari proses Storage, suatu kegiatan untuk memelihara dan menyimpan data. Control, ialah suatu aktivitas untuk menjamin bahwa sistem untuk diproses. menghasilkan suatu informasi yang bernilai tambah. diatas tersebut.

informasi tersebut berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Selain teori mengenai Sistem Informasi diperlukan juga teori yang menjelaskan tentang objek dari sistem yang akan dikembangkan. Dalam karya ilmiah ini akan dibahas mengenai rekonsiliasi yang termasuk kedalam keuangan daerah. Oleh karena itu dalam penulisan karya ilmiah ini akan dipaparkan beberapa teori mengenai keuangan daerah seperti di bawah ini: 2.3. Peraturan Pemerintah Mengenai Keuangan Daerah

26

PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Ketentuan Umum Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. 2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan Pemerintahan oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 3. 4. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, dan/atau walikota, dan Perangkat Daerah sebagai unsur daerah Pemerintahan Daerah. Daerah otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan Pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. 5. Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban Daerah dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. 6. Pengelolaan Keuangan Daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah.

27

7.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan Pemerintahan Daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan daerah.

8.

Peraturan Daerah adalah peraturan yang dibentuk oleh DPRD dengan persetujuan bersama kepala daerah, termasuk Qanun yang berlaku di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Peraturan Daerah Provinsi (Perdasi) yang berlaku di Provinsi Papua,

9. 10.

Kepala Daerah adalah Gubernur bagi daerah provinsi atau Bupati bagi daerah kabupaten atau Walikota bagi daerah kota. Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah adalah kepala daerah yang karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan daerah.

11.

Pejabat Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat PPKD adalah kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara umum Daerah.

12. 13. 14. 15. 16.

Bendahara Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BUD adalah PPKD yang bertindak dalam kapasitas sebagai bendahara umum daerah. Kuasa BUD adalah pejabat yang diberi kuasa untuk mclaksanakan tugas bendahara umum daerah. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah Daerah selaku pengguna anggaran/barang. Unit kerja adalah bagian SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa program. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan yang selanjutnya disingkat PPTK adalah pejabat pada unit kerja SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang tugasnya.

17.

Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya.

28

18.

Kuasa Pengguna Anggaran adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan sebagian kewenangan pengguna anggaran dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi SKPD.

19. 20.

Pengguna Barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang milik daerah. Kas Umum Daerah adalah tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh kepala daerah untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan membayar seluruh pengeluaran daerah.

21.

Rekening Kas Umum Daerah adalah rekening tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh kepala daerah untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan membayar seluruh pengeluaran daerah pada bank yang ditetapkan.

22.

Bendahara Penerimaan adalah pejabat fungsional yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan, menyetorkan, uang pendapatan menatausahakan, daerah dalam dan rangka mempertanggungjawabkan

pelaksanaan APBD pada SKPD. 23. Bendahara Pengeluaran adalah pejabat fungsional yang ditunjuk menerima, menyimpan, membayarkan, menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja daerah dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD. 24. 25. 26. 27. 28. 29. Penerimaan Daerah adalah uang yang masuk ke kas daerah. Pengeluaran Daerah adalah uang yang keluar dari kas daerah. Pendapatan Daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. Belanja Daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. Surplus Anggaran Daerah adalah selisih lebih antara pendapatan daerah dan belanja daerah. Defisit Anggaran Daerah adalah selisih kurang antara pendapatan daerah dan belanja daerah.

29

30.

Pembiayaan Daerah adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya.

31.

Sisa Lebih Perhitungan Anggaran yang selanjutnya disingkat SiLPA adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran.

32.

Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga daerah dibebani kewajiban untuk membayar kembali.

33.

Kerangka

Pengeluaran

Jangka

Menengah

adalah

pendekatan

penganggaran berdasarkan kebijakan, dengan pengambilan keputusan terhadap kebijakan tersebut dilakukan dalam perspektif lebih dari satu tahun anggaran, dengan mempertimbangkan implikasi biaya akibat keputusan yang bersangkutan pada tahun berikutnya yang dituangkan dalam prakiraan maju. 34. Prakiraan Maju (forward estimate) adalah perhitungan kebutuhan dana untuk tahun anggaran berikutnya dari tahun yang direncanakan guna memastikan kesinambungan program dan kegiatan yang telah disetujui dan menjadi dasar penyusunan anggaran tahun berikutnya. 35. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitaas dan kualitas yang terukur. 36. Penganggaran Terpadu (unified budgeting) adalah penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. 37. 38. Fungsi adalah perwujudan tugas kepemerintahan di bidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional. Program adalah penjabaran kebijakan SKPD dalam bentuk upaya yang berisi satu atau lebih kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi SKPD.

30

39.

Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja pada SKPD sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personal (sumber daya manusia), barang modal termasuk peralatan dan teknologi, dana, atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. (input) untuk

40. 41.

Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan.

42. 43. 44.

Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang selanjutnya disingkat RPJMD adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah, selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode I (satu) tahun.

45.

Rencana Kerja dan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat RKASKPD adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan SKPD serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya.

46.

Kebijakan Umum APBD yang selanjutnya disingkat KUA adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode 1 (satu) tahun.

47.

Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara yang selanjutnya disingkat PPAS merupakan program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD.

31

48.

Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat DPASKPD merupakan dokumen yang memuat pendapatan dan belanja setiap SKPD yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan oleh pengguna anggaran.

49.

Surat Permintaan Pembayaran yang selanjutnya disingkat SPP adalah dokumen yang diterbitkan oleh pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan/bendahara pengeluaran untuk mengajukan permintaan pembayaran.

50.

Surat Perintah Pencairan Dana yang selanjutnya disingkat SP2D adalah dokumen yang digunakan sebagai dasar pencairan dana yang diterbitkan oleh BUD berdasarkan SPM.

51.

Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disingkat SPM adalah dokumen SKPD. yang digunakan/diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-

52.

Surat Perintah Membayar Langsung yang selanjutnya disingkat SPM-LS adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD kepada pihak ketiga.

53. 54.

Uang Persediaan adalah sejumlah uang tunai yang disediakan untuk satuan kerja dalam melaksanakan kegiatan operasional sehari-hari. Surat Perintah Membayar Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPM-UP adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPASKPD yang dipergunakan sebagai uang persediaan untuk mendanai kegiatan opprasional kantor sehari-hari.

55.

Surat Perintah Membayar Ganti Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPM-GU adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD yang dananya dipergunakan untuk mengganti uang persediaan yang telah dibelanjakan.

32

56.

Surat Perintah Membayar Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPM-TU adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD, karena kebutuhan dananya melebihi dari jumlah batas pagu uang persediaan yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan.

57.

Piutang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada pemerintah Daerah dan/atau hak pemerintah Daerah yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan atau akibat lainnya yang sah.

58. 59.

Barang Milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Utang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar pemerintah daerah dan/atau kewajiban pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang berdasarkan peraturan perundang-undangan, perjanjian, atau berdasarkan sebab lainnya yang sah.

60.

Dana Cadangan adalah dana yang disisihkan untuk menampung kebutuhan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun anggaran.

61.

Sistem Pengendalian Intern Keuangan Daerah merupakan suatu proses yang berkesinambungan yang dilakukan oleh lembaga/badan/unit yang mempunyai tugas dan fungsi melakukan pengendalian melalui audit dan evaluasi, untuk menjamin agar pelaksanaan kebijakan pengelolaan keuangan daerah sesuai dengan rencana dan peraturan perundang-undangan.

62.

Kerugian Daerah adalah kekurangan uang, surat berharga, dan barang yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.

63.

Badan Layanan Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BLUD adalah SKPD/unit kerja pada SKPD di lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan

33

dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. 64. Surat Penyediaan Dana Yang selanjutnya disingkat SPD adalah dokumen Yang menyatakan tersedianya dana untuk melaksanakan kegiatan sebagai dasar penerbitan SPP. 65. Investasi adalah penggunaan aset untuk memperoleh manfaat ekonomis seperti bunga, dividen, royalti, manfaat sosial dan/atau manfaat lainnya sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. Ruang Lingkup Pasal 2 Ruang lingkup keuangan daerah meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. hak daerah untuk memungut pajak Daerah dan retribusi daerah serta melakukan pinjaman; kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan Pemerintahan daerah dan membayar tagihan pihak ketiga; penerimaan daerah; pengeluaran daerah; kekayaan Daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain Yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan Daerah; 6. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum.

34

Pasal 3 Pengelolaan keuangan daerah yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. asas umum pengelolaan keuangan daerah; pejabat-pejabat yang mengelola keuangan Daerah; struktur APBD; penyusunan RKPD, KUA, PPAS, dan RKA-SKPD; penyusunan dan penetapan APBD; pelaksanaan dan perubahan APBD; penatausahaan keuangan daerah; pertanggungjawaban pelaksanaan APBD; pengendalian defisit dan penggunaan surplus APBD; pengelolaan kas umum daerah; pengelolaan piutang daerah; pengelolaan investasi daerah; pengelolaan barang milik daerah; pengelolaan dana cadangan; pengelolaan utang daerah; pembinaan dan pengawasan pengelolaan keuangan daerah; penyelesaian kerugian daerah; pengelolaan keuangan badan layanan umum daerah; pengaturan pengelolaan keuangan daerah. Asas Umum Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 4 1. Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat.

35

2.

Pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan dalam suatu sistem yang terintegrasi yang diwujudkan dalam APBD yang setiap tahun ditetapkan dengan peraturan daerah. Teori-teori di atas tidak dapat berdiri sendiri sehingga diperlukan teori lain

yang menunjang pembahasan dari karya ilmiah ini. Ketika ada permasalahan maka harus ada perangkat atau alat yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Oleh karena itu, maka akan dipaparkan teori mengenai metodologi sebagai alat yang dapat memecahkan masalah dan metodologi yang akan digunakan adalah metode System Development Life Cycle (SDLC) [Kendall & Kendall, 2006]. 2.4. Metodologi System Development Life Cycle (SDLC) 4.1. Pengertian dan Kelebihan System Development Life Cycle (SDLC) System Development Life Cycle (SDLC) merupakan sebuah metode atau pendekatan untuk melakukan kegiatan analisis dan perancangan sebuah sistem melalui beberapa tahap berupa siklus perputaran tahapan demi tahapan dari metode tersebut. Kelebihan dari metode System Development Life Cycle (SDLC) adalah tahapannya dibagi secara terperinci menjadi tujuh bagian. Meskipun tahap-tahap tersebut ditampilkan secara terpisah namun dalam melakukan langkah demi langkah harus secara simultan. Tahapan tersebut dapat dilakukan secara berulangulang untuk mencapai tujuan yang akan dicapai. 4.2. dikelompokan Tahapan System Development Life Cycle (SDLC) menjadi beberapa tahapan, yang membantu kita dalam

Dalam pengembangan sistem terdiri dari sederetan kegiatan yang dapat pengembangan sistem. Metode yang digunakan untuk pengembangan sistem adalah metode SDLC (System Development Life Cycle) yang mempunyai beberapa tahapan yang digambarkan sebagai berikut:

36

Gambar 2.5 : Tahapan SDLC (System Development Life Cycle) [Kendall & Kendall, 2006]

Tahapan yang dilakukan pada metode SDLC (System Development Life Cycle) adalah: 8. Mengidentifikasi Masalah, Peluang dan Tujuan. Pada tahap ini merupakan kegiatan perencanaan sistem, yaitu menentukan permasalahan-permasalahan apa yang terjadi dan apa yang menyebabkan sasaran pada sistem lama belum tercapai. Kemudian mengidentifikasi peluang pengembangan sistem termasuk fisibilitas secara teknis, ekonomis dan operasional bahwa peningkatan dapat dilakukan melalui penggunaan sistem informasi terkomputerisasi, selanjutnya pada tahap ini juga dilakukan identifikasi tujuan dari pengembangan sistem informasi. 9. Menentukan Ssyarat-syarat Informasi Dalam fase ini lebih ditekankan untuk memahami informasi apa yang dibutuhkan pemakai agar bisa ditampilkan dalam pekerjaan. Juga

37

mengetahui detil fungsi-fungsi dalam sistem termasuk mengetahui siapa saja yang terlibat, kegiatan apa saja yang ada, lingkungan kerja yang mana, waktu yang diperlukan serta bagaimana mekanisme atau prosedur yang berlaku. 10. Menganalisis Kebutuhan Sistem. Pada tahap analisis kebutuhan sistem ini dilakukan penguraian suatu sistem informasi yang utuh ke dalam komponen-komponennya untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi permasalahan-permasalahan, peluangpeluang, maupun hambatan-hambatan yang terjadi dan kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat diusulkan perbaikan-perbaikannya. Tahapan analisis kebutuhan dari segi kelemahan dan kelebihan adalah menganalisis proses yang dilakukan, data yang dimasukkan, diolah dan dihasilkan dari sistem lama. Kemudian dijadikan dasar pengembangan model pada sistem baru. 11. Merancang Sistem yang Direkomendasikan. Dalam tahap perancangan sistem ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas dari rancang bangun yang lengkap. Terdapat dua bagian dalam perancangan sistem, yaitu rancangan sistem secara umum atau desain makro dan rancangan sistem secara terinci atau rancangan fisik. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini meliputi : f. Desain model dari sistem informasi yang akan dikembangkan, yaitu rancangan fisik yang digambarkan dari bagan alir sistem (flowchart system) dan rancangan model logis berupa data flow diagram (DFD). g. Desain output adalah keluaran dari sistem informasi yang dapat dilihat, dapat berupa tampilan dilayar, kertas laporan dan sebagainya. h. Desain input yang perlu didesain secara rinci dari input adalah bentuk dari dokumen dasar yang digunakan dan bentuk tampilan dari input di alat input. Kegiatan dari desain input ini adalah menentukan kebutuhan dari sistem yang baru dan menentukan bentuk, sumber, alat serta periode dari input.

38

i. Desain basis data ini adalah mengintegrasikan kumpulan dari data yang saling berhubungan antara satu dengan lainnya dan membuatnya tersedia untuk aplikasi yang bermacam-macam di dalam suatu organisasi, yang terdiri dari beberapa file yang diperlukan dalam suatu proses pengolahan data. j. Desain teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model, menyimpan dan mengakses data, menghasilkan dan mengirimkan keluaran dan membantu pengendalian sistem secara keseluruhan. Teknologi ini perlu dirancang untuk menyesuaikan dengan sistem informasi yang akan digunakan dengan memperhatikan tiga hal pokok, yaitu perangkat keras, perangkat lunak dan teknisi. 12. Mengembangkan dan Mendokumentasikan Perangkat Lunak. Tahap ini dilakukan untuk mengembangkan suatu perangkat lunak yang diperlukan, dalam kegiatannya diperlukan kerjasama antara penganalisis dan pemograman. 13. Menguji dan Mempertahankan Sistem. Sebelum sistem informasi dapat digunakan, maka harus dilakukan pengujian terlebih dahulu. Akan bisa menghemat biaya bila dapat menangkap adanya masalah sebelum sistem tersebut ditetapkan 14. Mengimplementasikan dan Mengevaluasi Sistem. Implementasi sistem dilakukan setelah rancangan selesai dan melakukan evaluasi untuk revisi dengan segera terhadap sistem untuk memastikan kesesuaian dengan kebutuhan. Evaluasi diharapkan bahwa sistem baru lebih efisien operasionalnya dan efektif dalam pencapaian tujuan dan lebih mudah digunakan. Untuk menunjang metodologi diperlukan sebuah perangkat atau diagram untuk memperjelas pembahasan pada karya ilmiah ini. Teori mengenai perangkat akan dipaparkan seperti di bawah ini: 2.5. Perangkat dan Diagram

39

5.1.

Flowmap

Flowmap atau bagan alir adalah bagan yang menunjukkan aliran di dalam program atau prosedur sistem secara logika. Flowmap ini berfungsi untuk memodelkan masukan, keluaran, proses maupun transaksi dengan menggunakan simbol-simbol tertentu. Pembuatan flowmap ini harus dapat memudahkan bagi pemakai dalam memahami alur dari sistem. Adapun pedoman-pedoman dalam pembuatan flowmap adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Flowmap sebaiknya digambarkan dari atas ke bawah dan mulai dari bagian kiri dari suatu halaman. Kegiatan di dalam flowmap harus ditunjukkan dengan jelas. Harus ditunjukkan darimana kegiatan akan dimulai dan dimana akan berakhir. Masing-masing kegiatan didalam flowmap sebaiknya digunakan suatu kata yang mewakili suatu pekerjaan. Masing-masing kegiatan di dalam flowmap harus didalam urutan yang semestinya. Kegiatan yang terpotong dan akan disambung ditempat lain harus ditunjukkan dengan jelas menggunakan simbol penghubung. Gunakan simbol-simbol flowmap yang standar.

40

Adapun simbol-simbol yang sering digunakan dalam flowmap dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 2.1 : Simbol dan Keterangan Pada Flowmap Simbol Keterangan Menunjukkan awal atau akhir dari suatu proses Menunjukkan dokumen input dan output baik untuk proses manual mekanik atau komputer

Menunjukkan pekerjaan manual

Menunjukkan multi dokumen

Pengarsipan Data

Menunjukkan Proses

Menunjukkan Keputusan *Sumber : Manajemen Sistem Informasi, [Amsyah, 2005].

41

Secara normal alur kerja dari sebuah program bergerak dari atas ke bawah, namun pergerakan ini dapat dirubah atau dikontrol dengan tiga pola dasar flowchart (flowmap) yang sering digunakan yakni: 1. Pola Urutan (sequence) Pola urutan memiliki pengertian bahwa seluruh proses dalam suatu block flowchart dilakukan hanya sekali berdasarkan urutan kerja. 2. Pola Pilihan (selection/multiple condition) Dengan pola pilihan, suatu blok flowchart dapat direkayasa untuk memiliki alternatif alur kerja sesuai kondisi yang telah ditetapkan. Operator logika yang biasa digunakan untuk mengekspresikan satu atau lebih kondisi sehingga menghasilkan data logika (boolean) baru adalah and dan or. 3. Pola Pengulangan (iteration/looping) Dengan pola pengulangan, sebuah block flowchart dapat direkayasa untuk melaksanakan perintah secara berulang secara terus menerus hingga suatu batas kondisi yang telah ditetapkan tercapai. Dari ketiga pola dasar yang telah dijelaskan di atas, jika digambarkan dalam sebuah flowchart dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 2.6 : Pola Dasar Blok Flowmap (Flowchart)

42

5.2. (DFD)

Diagram Aliran Data (DAD) / Data Flow Diagram

Data Flow Diagram (DFD) dapat didefinisikan sebagai berikut: Data Flow Diagram (DFD) atau diagram alir data adalah suatu model logika data atau proses yang dibuat untuk menggambarkan darimana asal data dan kemana tujuan data yang keluar daru sistem, dimana data disimpan, proses apa yang menghasilkan data tersebut dan interaksi antara data yang tersimpan dan proses yang dikenakan pada data tersebut. [Kristanto, 2008]. DFD adalah suatu model logika data atau proses yang dibuat untuk menggambarkan dari mana asal data dan kemana tujuan data yang keluar dari sistem, dimana data disimpan, proses apa yang menghasilkan data tersebut dan interaksi antara data yang tersimpan dan proses yang dikenakan pada data tersebut. DFD sering digunakan untuk menggambarkan suatu sistem yang telah ada atau sistem baru yang akan dikembangkan secara logika tanpa mempertimbangkan lingkungan fisik dimana data tersebut mengalir atau dimana data tersebut akan disimpan. DFD merupakan alat yang digunakan pada metodologi pengembangan sistem yang terstruktur. Kelebihan utama pendekatan aliran data, yaitu: 1. 2. 3. 4. Kebebasan dari menjalankan implementasi teknis sistem. Pemahaman lebih jauh mengenai keterkaitan satu sama lain dalam sistem dan subsistem. Mengkomunikasikan pengetahuan sistem yang ada dengan pengguna melalui diagram aliran data. Menganalisis sistem yang diajukan untuk menentukan apakah data-data dan proses yang diperlukan sudah ditetapkan. Disamping itu terdapat kelebihan tambahan, yaitu: 1. Dapat digunakan sebagai latihan yang bermanfaat bagi penganalisis, sehingga bisa memahami dengan lebih baik keterkaitan satu sama lain dalam sistem dan subsistem.

43

2. 3. 4.

Membedakan sistem dari lingkungannya dengan menempatkan batas-batasnya. Dapat digunakan sebagai suatu perangkat untuk berinteraksi dengan pengguna. Memungkinkan penganalisis menggambarkan setiap komponen yang digunakan dalam diagram. Selain beberapa kelebihan dari DFD di atas, juga terdapat kelemahannya

sebagai berikut: 1. DFD tidak menunjukkan proses pengulangan. 2. DFD tidak memperlihatkan aliran kontrol. Adapun simbol-simbol yang sering digunakan dalam Data Flow Diagram (DFD) dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 2.2 : Simbol-simbol Pada DFD (Data Flow Diagram) Simbol Keterangan Menggambarkan proses yang dilakukan oleh sistem Proses Menunjukkan entitas yang Entitas External berhubungan dengan sistem

Menunjukkan arah aliran data Arah Aliran Menunjukkan tempat Penyimpanan Data penyimpanan data

*Sumber : Perancangan SI dan Aplikasinya, [Kristanto., 2008].

44

Untuk memulai suatu diagram aliran data, diperlukan suatu rangkuman narasi sistem organisasi yang telah dibuat dalam bentuk sebuah daftar dengan empat kategori yang terdiri dari entitas eksternal, aliran data, proses, dan penyimpanan data. Daftar ini digunakan untuk membantu menentukan batas-batas sistem yang akan digambarkan. Tingkatan-tingkatan yang terdapat pada DFD adalah: 1. Diagram Konteks Diagram konteks adalah tingkatan tertinggi dalam diagram aliran data dan hanya memuat satu proses, menunjukkan sistem secara keseluruhan. Proses tersebut diberi nomor nol. Semua entitas eksternal yang ditunjukkan pada diagram konteks berikut aliran data aliran data utama menuju dan dari sistem. Diagram tersebut tidak memuat penyimpanan data dan tampak sederhana untuk diciptakan, begitu entitas- entitas eksternal serta aliran data aliran data menuju dan dari sistem diketahui penganalisis dari wawancara dengan pengguna dan sebagai hasil analisis dokumen. 2. Diagram Zero (Diagram 0) Diagram 0 adalah pengembangan diagram konteks dan bisa mencakup sampai sembilan proses. Memasukkan lebih banyak proses pada level ini akan terjadi dalam suatu diagram yang kacau yang sulit dipahami. Setiap proses diberi nomor bilangan bulat, umumnya dimulai dari sudut sebelah kiri atas diagram dan mengarah ke sudut sebelah kanan bawah. Penyimpanan data penyimpanan data utama dari sistem dan semua entitas eksternal dimasukkan kedalam diagram 0. 3. Diagram Level n Diagram level n adalah hasil dekomposisi dari diagram zero. Diagram level n menjelaskan proses secara lebih terperinci. Diagram level 1 merupakan turunan langsung dari diagram zero, artinya diagram level 1 berada satu tingkat lebih rendah dari diagram zero. Apabila diagram level 1 ini diuraikan lagi, maka akan terbentuk diagram level 2, dan seterusnya.

45

Dalam pembuatan DFD (Data Flow Diagram), beberapa hal penting lainnya adalah sebagai berikut: 1. Komponen Proses Komponen proses memperlihatkan atau menggambarkan transformasi input menjadi output. Ada 4 (empat) kemungkinan yang dapat terjadi dalam proses sehubungan dengan input dan output seperti terlihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 2.7 : Kemungkinan Pada Proses DFD Hal-hal yang perlu diperhatikan tentang proses: 1. 2. Proses harus memiliki input dan output. Proses dapat dihubungkan dengan komponen terminator, data store atau proses melalui alur data. Berikut contoh proses yang salah:
dbSistem

Pegawai

Proses Pengolahan Data

Proses Pengolahan Laporan

Manager

46

Gambar 2.8 : Contoh Proses Yang Salah Berdasarkan gambar 2.8 di atas, umumnya kesalahan proses di DFD adalah: a. data. b. Proses menghasilkan output tetapi tidak pernah menerima input. Kesalahan ini disebut dengan miracle (ajaib), ajaib karena dihasilkan output tanpa pernah menerima input seperti pada proses pengolahan laporan. 2. Komponen Penyimpanan Data (Data Store) Komponen ini digunakan untuk membuat model sekumpulan paket data dan diberi nama dengan kata benda bersifat jamak. Yang perlu diperhatikan tentang data store adalah: a. Alur data dari proses menuju data store, hal ini berarti data store berfungsi sebagai tujuan/ tempat penyimpanan dari suatu proses (proses write). b. c. Alur data dari data store ke proses, hal ini berarti data store berfungsi sebagai sumber atau proses yang memerlukan data (proses read). Alur data dari proses menuju data store dan sebaliknya berarti berfungsi sebagai sumber dan tujuan (proses update). Proses mempunyai input tetapi tidak menghasilkan output. Kesalahan ini disebut dengan black hole (lubang hitam) seperti terlihat pada proses pengolahan

Gambar 2.9 : Kemungkinan Penyimpanan Data

47

3.

Komponen Alur Data (Data Flow) Alur data digunakan untuk menerangkan perpindahan data atau paket data

dari satu bagian ke bagian lainnya. Alur data dapat berupa kata, pesan, formulir ataupun informasi. Ada 4 (empat) konsep tentang alur data yang diantaranya : a. Packets of Data; apabila ada 2 data/ lebih yang mengalir dari 1 sumber yang sama menuju pada tujuan yang sama dan mempunyai hubungan digambarkan dgn 1 alur data.

b.

Diverging Data Flow; apabila ada sejumlah paket data yang berasal dari sumber yang sama menuju pada tujuan yang berbeda atau paket data yang kompleks dibagi menjadi beberapa elemen data yang dikirim ke tujuan yang berbeda.

c.

Converging Data Flow; apabila ada beberapa alur data yang berbeda sumber menuju ke tujuan yang sama.

48

d.

Sumber dan Tujuan; arus data harus dihubungkan pada proses, baik dari maupun yang menuju proses.

49

5.3.

Kamus Data (Data Dictionary)

Definisi kamus data sebagai berikut: Kamus data adalah kumpulan elemen-elemen atau simbol-simbol yang digunakan untuk membantu dalam penggambaran atau pengidentifikasian setiap field atau file didalam sistem. [Kristanto, 2008]. Kamus data merupakan hasil referensi data mengenai data (maksudnya mata data), suatu data yang di susun oleh penganalisis sistem untuk membimbing mereka selama melakukan analisis dan desain. Sebagai suatu dokumen kamus data mengumpulkan dan mengkoordinasi istilah-istilah data tertentu dan menjelaskan apa arti setiap istilah yang ada. [Kendall & Kendall, 2006]. Simbol-simbol yang ada dalam kamus data adalah sebagai berikut: = + () [] ** @ | artinya adalah terdiri atas artinya adalah dan artinya adalah opsional artinya adalah memilih salah satu alternatif artinya adalah komentar artinya adalah indentifikasi atribut kunci artinya adalah pemisah alternatif symbol [ ]

Contoh penulisan dalam kamus data: Penjualan Konsumen Kode Nama Alamat Tgl_beli Item Kode_brg Harga = konsumen + {item} = @kode+nama+alamat+tgl_beli = | 000 | 001 | 002 | | 999 | = 0 {karakter} 30 = 0 {karakter} 30 = *tgl-bulan-tahun* = kode_brg+harga = | 0000 | 0001 | 0002 | | 9999 | = *999.999,99*

50

5.4.

Entity Relationship Diagram (ERD)

Model Entity Relationship merupakan suatu bentuk model yang didasarkan pada persepsi dunia nyata dengan menggambarkan sekumpulan objek. Adapun objek yang dimaksud adalah: 1. Entitas (entity) Entitas (entity) adalah individu yang mewakili sesuatu yang nyata yang dapat dibedakan satu dengan lainnya dengan sifat- sifatnya. Himpunan entitas adalah kumpulan entitas yang mempunyai sifat atau karakteristik yang sama. 2. Relasi (relationship) Relasi (relationship) adalah asosiasi atau keterhubungan yang menunjukkan adanya suatu hubungan antara sejumlah entitas yang berasal dari himpunan entitas yang berbeda. Himpunan relasi merupakan kumpulan semua relasi yang terbentuk. 3. Atribut (property) Atribut adalah properti atau ciri atau karakteristik dari tipe entitas yang dipentingkan 4. di satu sistem/organisasi. Setiap atribut entitas menspesifikasikan properti tertentu dari entitas. Konstrain-konstrain integritas Entity Relationship Diagram (ERD) merupakan suatu bentuk diagram yang menggambarkan model Entity-Relationship yang berisi komponenkomponen himpunan entitas atau himpunan relasi yang masing- masing dilengkapi dengan atribut-atribut yang mempresentasikan seluruh fakta dari dunia nyata yang dicermati. Notasi atau simbol yang digunakan dalam ERD adalah sebagai berikut:

51

Tabel 2.3 : Notasi yang digunakan pada ERD Simbol dengan sistem Menunjukkan atribut yang dimiliki oleh Atribut Relasi Link 5.5. Menunjukkan link entitas Menunjukkan relasi antar entitas Deskripsi Menunjukkan entitas yang berhubungan Entitas

Kardinalitas Relasi

Dalam ERD hubungan (relasi) dapat terdiri dari sejumlah entitas yang disebut dengan derajat relasi. Derajat relasi maksimum disebut dengan kardinalitas sedangkan derajat minimum disebut dengan modalitas. Jadi kardinalitas relasi menunjukkan jumlah maksimum entitas yang dapat berelasi dengan entitas pada himpunan entitas lain. Ada tiga derajat relasi, yaitu: 1. One to One (Satu ke Satu) Dalam relasi satu ke satu, setiap record dalam tabel A berhubungan paling banyak dengan satu record pada tabel B, dan begitu juga sebaliknya. Jenis relasi ini tidak umum, karena sebenarnya tabel A dan tabel B dapat digabungkan menjadi satu tabel. Contoh: Seorang pegawai mempunyai satu Nomor Induk Pegawai (NIP). 1

Gambar 2.9 : Relasi satu ke satu

52

2. One to Many (Satu ke Banyak) Relasi One to Many atau relasi satu ke banyak adalah bentuk relasi yang paling umum. Dalam relasi satu ke banyak , sebuah record dari tabel A berhubungan dengan banyak record pada tabel B,. Namun sebuah record dalam tabel B berhubungan dengan paling banyak dengan satu record pada tabel A. Contoh: Setiap Dinas dapat memperkerjakan beberapa pekerja/ pegawai. 1

Gambar 2.10 : Relasi satu ke banyak 3. Many to Many (Banyak ke Banyak) Dalam relasi banyak ke banyak, sebuah record dalam tabel Adapat berhubungan dengan banyak record pada tabel B dan sebaliknya. Jenis relasi ini hanya memungkinkan jika kita mendefinisikan tabel baru sebagai perantara. Contoh: setiap pegawai dapat mengerjakan lebih dari satu pekerjaan dan pekerjaan dapat dikerjakan oleh lebih dari satu pegawai.

Gambar 2.11 : Relasi banyak ke banyak 2.6. Rencana Kerja Rencana kerja memaparkan mengenai masalah apa yang ada pada sistem yang akan dikembangkan kemudian tahapan dari metodologi serta perangkat atau diagram mana yang akan digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Rencana kerja tersebut akan diuraikan berdasarkan tahapan metodologi seperti di bawah ini:

53

2.6.1.

Tahap Mengidentifikasi Masalah, Peluang dan Tujuan

Serta Tahap Menentukan Syarat-syarat Informasi Pada tahapan ini merupakan tahapan awal dari metodologi SDLC, tahap ini merupakan tahap dasar yang menentukan tahapan selanjutnya. Tahap ini merupakan kegiatan perencanaan sistem, yaitu menentukan permasalahanpermasalahan apa yang terjadi dan apa yang menyebabkan sasaran pada sistem lama belum tercapai. Kemudian mengidentifikasi peluang pengembangan sistem termasuk fisibilitas secara teknis dan selanjutnya dilakukan identifikasi tujuan dari pengembangan sistem informasi. Dalam tahap kedua ini lebih ditekankan untuk memahami informasi apa yang dibutuhkan pemakai agar bisa ditampilkan dalam pekerjaan. Juga mengetahui detil fungsi-fungsi dalam sistem termasuk mengetahui siapa saja yang terlibat, kegiatan apa saja yang ada, lingkungan kerja yang mana, waktu yang diperlukan serta bagaimana mekanisme atau prosedur yang berlaku. 2.6.2. Tahap Menganalisis Kebutuhan Sistem

Tahap ini merupakan tahapan lanjutan dari tahap di atas, pada tahap analisis kebutuhan sistem ini dilakukan penguraian suatu sistem informasi yang utuh ke dalam komponen-komponennya untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi permasalahan-permasalahan, peluang-peluang, maupun hambatanhambatan yang terjadi dan kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat diusulkan perbaikan-perbaikannya. Tahapan analisis kebutuhan dari segi kelemahan dan kelebihan adalah menganalisis proses yang dilakukan, data yang dimasukkan, diolah dan dihasilkan dari sistem lama. Kemudian dijadikan dasar pengembangan model pada sistem baru. Dari tahapan yang telah dijelaskan di atas dapat diketahui bahwa tahapan tersebut merupakan tahapan yang mengimplementasikan proses bisnis dari suatu sistem, oleh karena itu perangkat atau diagram yang cocok digunakan pada kedua tahapan tersebut adalah flowchart atau flowmap. Flowchart dapat digunakan untuk memaparkan proses bisnis secara terperinci serta didukung dengan simbolsimbol yang sederhana dan mudah untuk digunakan.

54

Setelah dibuat flowchart mengenai proses bisnis sistem maka langkah selanjutnya dilakukan proses pemecahan proses dan sub proses yang kemudian dijelaskan lagi menjadi lebih rinci. Tujuannya adalah untuk mempermudah dalam melakukan perancangan pada tahap selanjutnya. 2.6.3. Tahap Merancang Sistem yang Direkomendasikan

Dalam tahap perancangan sistem ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas dari rancang bangun yang lengkap. Terdapat dua bagian dalam perancangan sistem, yaitu rancangan sistem secara umum atau desain makro dan rancangan sistem secara terperinci atau rancangan fisik. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini meliputi: Dari kegiatan-kegiatan pada tahap merancang sistem yang direkomendasikan dapat diketahui bahwa pada tahap ini dapat menggunakan perangkat/diagram aliran data (DAD)/data flow diagram (DFD). DFD digunakan untuk memaparkan sistem dengan melihat pada aliran atau arus data dari sistem. Selain memiliki banyak kelebihan DFD juga mudah untuk digunakan karena memiliki simbol yang sedikit dan mudah untuk dimengerti seperti simbol proses, entitas, arah aliran dan tempat penyimpanan. Dari tahapan ini juga dapat diguanakan Entity Relationship Diagram (ERD) sebagai perangkat yang digunakan untuk merancang sistem yang akan dikembangkan. Entity Relationship Diagram (ERD) merupakan suatu bentuk diagram yang menggambarkan model Entity-Relationship yang berisi komponenkomponen himpunan entitas atau himpunan relasi yang masing-masing dilengkapi dengan atribut-atribut yang mempresentasikan seluruh fakta dari dunia nyata yang dicermati. Setelah digambarkan ERD maka selanjutnya dapat di dibuat derajat kardinalitas dari relasi antar entitas yang ada pada ERD tersebut.

55

2.6.4.

Tahap

Mengembangkan

dan

Mendokumentasikan

Perangkat Lunak, Tahap Menguji dan Mempertahankan Sistem Serta Tahap Mengimplementasikan dan Mengevaluasi Sistem. Pada ketiga tahapan ini tidak dilakukan pembahasan mengenai perangkat atau diagram apa yang digunakan serta tidak dicantumkan dalam rencana kerja karena sesuai dengan pembatasan masalah yang dilakukan pada bab sebelumnya yaitu tahapan metodologi yang digunakan hanya sampai pada tahapan merancang sistem yang direkomendasikan.

56

BAB III ANALISIS PENDAHULUAN

Pada

bab

ini

akan

dipaparkan

mengenai

analisis

pendahuluan yang berisi tahapan awal dari metodologi SDLC (System Development Life Cycle) yaitu tahapan mengidentifikasi masalah, peluang dan tujuan serta tahapan menentukan syaratsyarat informasi 1. Mengidentifikasi Masalah, Peluang dan Tujuan Tahapan ini merupakan tahapan awal dari metodologi SDLC (System Development Life Cycle). Pada tahapan ini akan dijelaskan mengenai permasalahan-permasalahan apa yang terjadi dan sasaran apa yang belum tercapai pada sistem yang sedang berjalan. Selain itu juga akan dipaparkan mengenai peluang dan tujuan pengembangan sistem. 1.1. 1.1.1. Identifikasi Masalah DPPKA Kab. Garut

Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kab. Garut merupakan gabungan dari DIPENDA dengan Bagian Keuangan dan Perlengkapan SETDA Kabupaten Garut. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kab. Garut berdiri sejak tahun 2009 dengan dasar hukum yaitu Peraturan Daerah No. 23 tahun 2008 tentang Dinas Daerah dan Peraturan Bupati Garut Nomor 413 Tahun 2008 tentang Tugas

57

Pokok dan Fungsi, DPPKA sebelumnya bernama Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD). Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kab. Garut terbagi kedalam bidang-bidang yang mempunyai tugas dan wewenang masing-masing, yaitu:

58

1. Bidang Pendapatan a. Merencanakan kebijakan Pendapatan Daerah; b. Merencanakan pendaftaran dan dan mengendalikan kegiatan serta pendataan, penetapan

penagihan Retribusi Daerah jenis tertentu; c. Menyelenggarakan koordinasi monitoring dan evaluasi dengan setiap SKPD penghasil PAD dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi untuk optimalisasi pendapatan daerah; 2. Bidang Perimbangan a. Menyusun dan mengelola dan data serta Penyiapan Kegiatan Rencana Kebijakan Bidang Primbangan; b. Menyelenggarakan mengendalikan Kebijakan Bidang Perimbangan; c. Menyelenggarakan koordinasi dan kerjasama untuk kelancaran tugas pokok dan fungsi; d. Menyusun pedoman teknis untuk pengelolaan dana perimbangan yang meliputi dana bagi hasil, dana alokasi umum dan dana alokasi khusus. 3. Bidang Anggaran a. Menyusun dan mengelola dan data serta Penyiapan Kegiatan Rencana Kebijakan Bidang Anggaran; b. Menyelenggarakan 4. Bidang Belanja a. Menyusun Rencana dan Mengelolaa data serta Penyiapan Pembukuan, Kegiatan Kebijakan Perbendaharaan, dan mengendalikan Kebijakan Bidang Anggaran;

Belanja Pegawai dan Pembiayaan; b. Menyelenggarakan Mengendalikan Kebijakan Bidang Belanja;

59

5. Bidang Aset a. Menyusunan dan Mengelola data serta Penyiapan Rencana Kebijakan Pengelolaan Barang Daerah/Aset Daerah; b. Melakukan Penatausahaan Barang/Aset Daerah meliputi pencatatan, pembukuan, penginventarisasian barang milik daerah dan pelaporan aset daerah; c. Melakukan daerah; d. Menyelenggarakan dan Mengendalikan Kegiatan Kebijakan pengelolaan Barang Daerah; e. Menyiapkan bahan pembinaan teknis, pengendalian atas pengelolaan barang/aset milik daerah. 1.1.2. Garut Bidang Perimbangan DPPKA Kab. Garut memiliki tugas utama untuk mengelola dana perimbangan yang meliputi dana bagi hasil, dana alokasi umum dan dana alokasi khusus. Pada pengembangan sistem informasi ini dana perimbangan yang diolah adalah dana yang meliputi dana bagi hasil saja, sedangkan dana alokasi umum dan dana alokasi khusus tidak termasuk ke dalam sistem. Dana Bagi Hasil yang diolah merupakan hasil dari pengelompokan pajak sebagai berikut: 1. Menurut Golongannya a. Pajak Langsung, yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib pajak dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh: Pajak Penghasilan. Bidang Perimbangan DPPKA Kab. koordinasi pelaksanaan pemampatan, penghapusan dan pemindahtanganan barang milik

60

b. Pajak Tidak Langusng, yaitu pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh: Pajak Pertambahan Nilai. 2. Menurut Sifatnya a. Pajak Subjektif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak. Contoh: Pajak Penghasilan. b. Pajak Objektif, yaitu pajak yang berpangkal pada objeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak. Contoh: Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. 3. Menurut Lembaga Pemungutannya a. Pajak Pusat, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. Contoh: Pajak Bumi dan Bangunan, dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. b. Pajak Daerah, yaitu pajak dipungut oleh Pemerintah Daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Pajak daerah terdiri atas: Pajak Propinsi, dan Pajak contoh: Bahan Pajak Bakar Kendaraan Kendaraan Bermotor Bermotor. Pajak Kabupaten/Kota, contoh: Pajak Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak Hiburan. Karena data distribusi dana bagi hasil yang diolah ditujukan sebagai acuan atau pedoman bagi pemerintah dalam melakukan realisasi pemerataan distribusi dana bagi hasil sesuai dengan daerah (pusat, provinsi, kota/kabupaten) dan sektor (pedesaan,

61

pekotaan, perkebunan, kehutanan dan pertambangan) maka pengelompokan pajak yang digunakan adalah jenis pajak pusat PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) dan BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan). Proses pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil ini di awali dengan proses input data dari rekap pajak yang diberikan olaeh Bank BRI setiap bulannya. Data dari rekap pajak itu berisi tahap penerimaan pajak setiap bulannya yang dikelompokan sesuai dengan minggunya. Setelah melakukan proses input data dari rekap pajak maka staf DPPKA dapat melakukan proses perhitungan distribusi dana bagi hasil. Hasil dari perhitungan tersebut dapat dijadikan laporan untuk dijadikan acuan bagi pemerintah untuk melakukan pemerataan distribusi dana bagi hasil sesuai dengan sektornya masingmasing. Permasalahan yang terjadi pada sistem pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil banyak terletak pada proses pengolahan data. Salah satu masalah yang dapat menggangu kinerja dari sistem pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil adalah proses pengolahan data distribusi dana bagi hasil yang relative memakan banyak waktu dikarenakan proses perhitungan yang masih manual dan belum terdapat sarana yang dapat memudahkan Staf DPPKA dalam melakukan manipulasi data dan informasi seperti untuk melakukan sort data. 1.2. Identifikasi Peluang

Dengan melakukan pengembangan sistem yang lama menjadi sistem informasi terkomputerisasi diharapkan dapat menghilangkan permasalahan yang ada pada sistem

62

sebelumnya. menggunakan harus

Dari

segi

teknis

dan

operasional

sistem untuk

pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil yang sistem terkomputerisasi akan mampu ulang untuk mempersingkat waktu pengerjaan dan perhitungan karena tidak melakukan perhitungan memastikan kebenaran data. Selain itu juga sistem terkomputerisasi dapat melakukan data sort seperti pengelompokan data atau informasi berdasarkan kriteria yang diinginkan. Karena DPPKA bukan organisasi yang bersifat komersil, dari segi ekonomis maka tidak akan mempermasalahkan untung rugi melainkan bagaimana cara untuk melayani masyarakat dengan baik salah satunya dengan cara mengoptimalkan kinerja dari pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil. 1.3. Tujuan Identifikasi Tujuan dari pengembangan sistem informasi

pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil adalah untuk menghilangkan permasalahan yang ada pada sistem yang sedang berjalan serta dapat mengoptimalkan kinerja dari pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil sesuai dengan identifikasi pada masalah dan peluang di atas. 2. Menentukan Syarat-syarat Informasi Tahapan ini merupakan tahapan setelah proses identifikasi masalah, peluang dan tujuan. Dimana pada tahapan ini akan dipaparkan mengenai rincian fungsi sistem seperti kegiatan yang ada, pelaku yang terlibat, lingkungan kerja, waktu pelaksanaan. 2.1. Rincian Fungsi Sistem

63

Rincian fungsi sistem pada proses pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil adalah sebagai berikut: 1. Kegiatan dari Sistem Pengelompokan Data Pajak dan Distribusi Dana Bagi Hasil Kegiatan utama dari proses pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil adalah pengelompokan data pajak mejadi 3 jenis yaitu: DBH PBB, DBH BPHTB, dan BPPBB kemudian kegiatan selanjutnya adalah melakukan rekonsiliasi antara nota pajak dan rekap pajak dan kegiatan terakhir adalah melakukan perhitungan untuk distribusi dana bagi hasil 2. Pelaku yang Terlibat Adapun pelaku yang terlibat langsung dengan sistem adalah Staf DPPKA (Bidang Perimbangan) dan Kepala Dinas DPPKA. Staf DPPKA merupakan pelaku yang diberikan tugas untuk melakukan pengelompokan data pajak dan ditrtibusi dana bagi hasil. Sedangkan Kepala Dinas merupakan pelaku yang akan menandatangani hasil akhir dari laporan pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil. 3. Lingkungan Kerja Lingkungan kerja dari proses pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil berada di DPPKA tepatnya pada Bidang Perimbangan. 4. Waktu Pelaksanaan Waktu pelaksanaan proses pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil adalah pada saat akhir periode / akhir bulan. 2.2. Informasi Yang Dibutuhkan Sistem Sistem yang dikembangkan harus dapat menghasilkan informasi-informasi dengan karakteristik sebagai berikut:

64

1. Dapat menampilkan informasi mengenai pengelompokan pajak menjadi 3 bagian yaitu: DBH PBB, DBH BPHTB dan BPPBB. Untuk perhitungan distribusi dana bagi hasil DBH PBB 10% diambil oleh pusat, 16.2% diambil provinsi, dan 64.8% diambil oleh kota/kabupaten dan sisa 9% dipakai untuk biaya pemungutan. Untuk DBH BPHTB 20% menjadi bagian pusat, 16% untuk provinsi dan 64% untuk kota/kabupaten. Sedangkan untuk BPPBB dikhususkan untuk perhitungan biaya pemungutan yang berjumlah 9% dari DBH PBB. 2. Untuk pendistribusian dana bagi hasil dibagi menjadi 5 sektor, yaitu sektor pedesaan, sektor perkotaan, sektor perkebunan, sektor kehutanan dan sektor pertambangan. Tidak ada ketentuan umum mengenai persentase pembagian dana bagi hasil, pada setiap daerah bisa saja pendistribusian dana bagi hasil dapat berbeda sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan tiap sektor di Kabupaten Garut dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 3.1 : Persentase Distribusi Dana Bagi Hasil Sektor Persentase Distribusi DBH Pedesaan 32% Perkotaan 30% Perkebuanan 14% Kehutanan 13% Pertambangan 11% Sumber : DPPKA Kabupaten Garut. 3. Informasi terakhir yang dibutuhkan adalah harus tersedia laporan dari pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil sesuai dengan ketentuan di atas.

65

BAB IV ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM

Pada bab ini akan dipaparkan mengenai analisis kebutuhan sistem yang diantaranya berisi analisis mengenai sistem yang sedang berjalan, analisis dokumen input dan dokumen output, analisis proses dan sub proses bisnis serta analisis sistem yang akan dikembangkan. Tujuan dari analisis kebutuhan sistem ini adalah sebagai acuan untuk melakukan perancangan atau pengembangan sistem pada bab selanjutnya. 1. Analisis Sistem yang Sedang Berjalan Analisis dari sistem yang sedang berjalan akan diawali oleh pemaparan mengenai kondisi objektif dari Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut kemudian dilanjutkan dengan proses bisnis sistem yang digambarkan dengan flowmap. 1.1. 1.1.1. Kondisi Objektif Dinas Pendapatan Pengelolaan Visi dan Misi DPPKA Kabupaten Garut Visi Terwujudnya Peningkatan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah yang Akuntabel Tahun 2013. Misi 1. Mewujudkan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah yang Akurat dan Akuntabel;

Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut

66

2. 3.

Meningkatkan

Profesionalisme

Sumber

Daya

Aparatur

Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan Daerah dan Aset; Meningkatkan Pendapatan Daerah Melalui Intensifikasi dan Ekstensifikasi.

67

1.1.2.

Struktur Organisasi DPPKA Kabupaten Garut


KEPALA D AS IN

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

SEKRETARIS

SUB BAGIAN UMUM

SUB BAGIAN KEUANGAN

SUB BAGIAN PERENCANAAN EVALUASI DAN EVALUSI

BIDANG PENDAPATAN

BIDANG PERIMBANGAN

BIDANG ANGGARAN

BIDANG BELANJA

BIDANG ASET

SEKSI PEND AFTARAN

SEKSI PBB DAN BPHTB

SEKSI PENYUSUN APBD

SEKSI PERBENDAHARAAN

SEKSI ANALISIS KEBUTUHAN

SEKSI PENETAPAN

SEKSI PENGELOLAAN PENDAPAT AN

SEKSI PENGEND ALIAN APBD

SEKSI BELAN PEGAW JA AI

SEKSI INVENTARIS BARANG

SEKSI PENAGIHAN

SEKSI EKSTENSIFIKASI

SEKSI PENGOLAHAN DATA

SEKSI PEMBUKUAN

SEKSI INVENTARIS BARANG TIDAK BERGERAK

U PTD

68

Gambar 4.1 : Struktur Organisasi DPPKA Kabupaten Garut

69 1.1.3. Garut Berdasarkan Peraturan Bupati Garut Nomor 413 Tahun 2008 tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut adalah sebagai berikut: 1. Dinas (1) Dinas merupakan unsure pelaksana Pemerintah Daerah yang dipumpin oleh seorang Kepala Dinas yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah; (2) Tugas Pokok Fungsi Dinas adalah sebagaimana diatur dalam Pasal 4 Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 23 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Daerah Kabupaten Garut. 2. Kepala Dinas (1) Kepala Dinas mempunyai tugas pokok memimpin, merumuskan, mengkoordinasikan dan mengendalikan pelaksanaan urusan pemerintah daerah, Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset; (2) Dalam dimaksud fungsi: a. Penyusunan rancangan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) dan rancangan perubahan pendapatan dan belanja daerah (RAPBD); b. Penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggaungjawaban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD); c. Pengkoordinasian, pengendalian dan fasilitasi tugas bidang pendapatan, perencanaan dan anggaran, belanja serta kekayaan; melaksanakan dalam ayat (1) tugas Pasal pokoksebagaimana ini, Kepala Dinas Tugas Pokok dan Fungsi DPPKA Kabupaten

Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset mempunyai

70 d. Pengelolaan sumber daya aparatur, keuangan, sarana dan prasarana pemerintah daerah; e. Pelaksanaan koordinasi dan kerjasama dalam rangka penyelenggaraan tugas.

71 3. Sekretariat (1) Sekretariat dipimpin oleh seorang Sekretaris yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas umum, (2) yang mempunyai dan tugas pokok merumuskan evalusi dan program kegiatan untuk pelayanan administrasi bidang keuangan, perencanaan pelaporan; Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagai mana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, Sekretaris mempunyai fungsi: a. Penyusunan dan perumusan dalam dan kebijakan bidang kesekretariatan; b. Pengkoordinasian c. Penyelenggaraan kegiatan bidang penyusunan pengendalian perancangan pelaksanaan urusan untuk program bidang-bidang; umum, dan keuangan, kerjasama

perencanaan evaluasi dan pelaporan; d. Pelaksanaan 4. koordinasi kelancaran pelaksanaan tugas. Bidang Pendapatan Daerah (1) Bidang Pendapatan Daerah dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas yang mempunyai tugas pokok melaksanakan penagihan; (2) Dalam menyelenggarakan tugas pokok sebagai mana dimaksud pada ayat (1) Kepala Bidang Pendapatan Daerah mempunyai fungsi: d. Penyiapan rencana kebijakan Pendapatan Daerah; e. Perencanaan dan pengendalian kegiatan pendaftaran dan pendataan, penetapan serta penagihan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah jenis tertentu; pengelolaan pendapatan daerah yang meliputi pendaftaran dan pendataan, penetapan serta

72 f. Penyelenggaraan koordinasi monitoring dan evaluasi dengan setiap SKPD penghasil PAD dalam rangka pelaksanaan 5. tugas pokok dan fungsi untuk optimalisasi pendapatan daerah; Bidang Perimbangan (1) Bidang Perimbangan dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas yang mempunyai tugas pokok melaksanakan (2) sebagian tugas dinas di bidang Perimbangan Keuangan; Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagai mana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini, Kepala Bidang Perimbangan mempunyai fungsi: e. Penyusunan dan Pengelolaan data serta Penyiapan Rencana Kebijakan Bidang Primbangan; f. Penyelenggaraan dan koordinasi Pengendalian dan Kegiatan untuk Kebijakan Bidang Perimbangan; g. Penyelenggaran kerjasama kelancaran tugas pokok dan fungsi; h. Penyusunan pedoman teknis untuk pengelolaan dana perimbangan yang meliputi dana bagi hasil, dana alokasi umum dan dana alokasi khusus. 6. Bidang Anggaran (1) Bidang Anggaran dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala (2) Dinas yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan Anggaran; Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagai mana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini, Kepala Bidang Anggaran mempunyai fungsi: c. Penyusunan dan Pengelolaan data serta Penyiapan Rencana Kebijakan Bidang Anggaran;

73 d. Penyelenggaraan e. Penyelenggaran 7. Bidang Belanja (1) Bidang Belanja dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan belanja daerah yang meliputi Perbendaharaan, Pembukuan dan Belanja Pegawai dan Pembiayaan; (2) Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagai mana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini, Kepala Bidang Belanja mempunyai fungsi: c. Penyusunan dan Pengelolaan data serta Penyiapan Rencana Kebijakan Perbendaharaan, dan koordinasi Pengendalian dan Pembukuan, Kegiatan untuk Belanja Pegawai dan Pembiayaan; d. Penyelenggaraan e. Penyelenggaran 8. Kebijakan Bidang Belanja; kerjasama kelancaran tugas pokok dan fungsi; Bidang Aset (1) Bidang Aset dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas yang mempunyai tugas pokok melaksanakan kebijakan Pengelolaan Barang Daerah terdiri dari Analisis Kebutuhan Aset Daerah, Penatausahaan Barang Daerah, Menginventarisir Barang Bergerak dan Tidak Bergerak, Melakukan (2) Pembinaan dan Pengawasan Pengelolaan Barang/Aset Daerah dan Sensus Barang Daerah; Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagai mana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini, Kepala Bidang Aset mempunyai fungsi: dan koordinasi Pengendalian dan Kegiatan untuk

Kebijakan Bidang Anggaran; kerjasama kelancaran tugas pokok dan fungsi;

74 f. Penyusunan dan Pengelolaan data serta Penyiapan Rencana Kebijakan Pengelolaan Barang Daerah/Aset Daerah; g. Melakukan Penatausahaan Barang/Aset Daerah meliputi pencatatan, pembukuan, penginventarisasian barang milik daerah dan pelaporan aset daerah; h. Melakukan daerah; i. j. Penyelenggaraan dan Pengendalian Kegiatan Kebijakan pengelolaan Barang Daerah; Penyiapan bahan pembinaan teknis, pengendalian atas pengelolaan barang/aset milik daerah. 1.2. Flowmap Sistem yang Sedang Berjalan Bisnis proses dari sistem informasi pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil yang sedang berjalan di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut dapat dilihat pada flowmap di bawah ini: Alur Proses Penerimaan Nota dan Rekap Pajak koordinasi pelaksanaan pemampatan, penghapusan dan pemindahtanganan barang milik

75

Gambar 4.2 : Flowmap Alur Proses Penerimaan Nota dan Rekap Pajak Berdasarkan flowmap di atas maka proses bisnis dari alur proses penerimaan nota pajak dan rekap pajak dapat dideskripsikan pada keterangan di bawah ini: 1. Petugas di Bank akan mencetak nota pajak dari hasil pembayaran pajak oleh wajib pajak. 2. Nota pajak tersebut dikumpulkan sampai satu periode (satu bulan) kemudian kumpulan nota pajak tersebut

76 disebut rekap pajak. Setelah satu bulan nota pajak dan rekap pajak tersebut dikirim ke DPPKA. 3. Setiap akhir bulan DPPKA akan menerima nota pajak dan rekap pajak dari Bank BRI, yang kemudian oleh staf DPPKA dapat dijadikan sebagai dokumen input pada sistem pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil. 4. Setelah menerima nota pajak dan rekap pajak dari Bank BRI maka DPPKA akan melakukan proses rekonsiliasi antara nota pajak dan rekap pajak. 5. Setelah proses rekonsiliasi selesai maka dapat dilakukan perhitungan untuk distribusi dana bagi hasil sesuai dengan kebutuhan sektor masing-masing. 6. Hasil laporan dari pengelompokan pajak dan distribusi dana bagi hasil dikirim ke KPP Pratama untuk dilakukan pencocokan data, kemudian hasilnya dikembalikan lagi ke DPPKA untuk dijadikan laporan akhir pendistribusian dana bagi hasil.

77 Sistem Pengelompokan Data Pajak dan Distribusi DBH yang Sedang Berjalan

Gambar 4.3 : Flowmap Sistem Pengelompokan Data Pajak dan Distribusi DBH yang Sedang Berjalan

Berdasarkan flowmap di atas maka proses bisnis dari sistem pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil

78 yang sedang berjalan dapat dideskripsikan pada keterangan di bawah ini: 1. Setiap akhir bulan DPPKA akan menerima nota pajak dan rekap pajak dari Bank BRI, yang kemudian oleh staf DPPKA dapat dijadikan sebagai dokumen input pada sistem pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil. 2. Proses pertama yang dilakukan adalah melakukan rekonsiliasi antara nota pajak dan rekap pajak kemudian membandingkan saldonya. Setelah dibandingkan saldonya dan hasilnya sama maka dapat langsung dilakukan perhitungan distribusi dana bagi hasil. Namun jika belum sesuai maka terlebih dahulu dilakukan penyesuaian. 3. Setelah melakukan perhitungan distribusi dana bagi hasil maka staf DPPKA dapat mencetak laporan distribusi. 4. Laporan tersebut kemudian diberikan kepada Kepala Dinas untuk kemudian ditandatangani 5. Laporan distribusi dana bagi hasil yang sudah ditandatangani tersebut merupakan laporan akhir dari proses pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil. Laporan tersebut dapat digunakan lebih lanjut oleh pemerintah daerah sebagai acuan untuk menetapkan pemerataan dana bagi hasil. 2. Analisis Proses Bisnis Pada analisis proses bisnis ini akan dipaparkan secara rinci dari masing-masing proses bisnis maupun sub proses bisnis dari sistem yang sedang berjalan. Proses pemaparan proses dan sub proses ini menjadi lebih rinci dimaksudkan untuk mambantu pengembangan ER-Diagram pada bab selanjutnya.

79 2.1. Proses Menerima Nota dan Rekap Pajak

Proses menerima Nota dan Rekap Pajak adalah langkah awal dari proses pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil. Setiap akhir bulan atau akhir periode DPPKA akan menerima Nota dan Rekap Pajak dari Bank BRI yang akan dijadikan sebagai dokumen input untuk sistem pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil. Selain diberikan ke DPPKA, nota pajak pun diberikan kepada KPP Pratama sebagai bahan perbandingan untuk menentukan distribusi dana bagi hasilnya. Tabel 4.1 : Proses Menerima Nota dan Rekap Pajak
PID : 1.1 ORGANISASI MENERIMA NOTA PAJAK EVENT / STATUS PROSES Main ID : 1 DATA

2.2.

Proses Rekonsiliasi Antara Nota Pajak dan

Rekap Pajak Proses Rekonsiliasi antara Nota Pajak dan Rekap Pajak adalah proses lanjutan dari proses sebelumnya. Setelah menerima Nota dan Rekap Pajak dari Bank BRI, DPPKA akan melakukan pencocokan data antara Nota dan Rekap Pajak tersebut. Proses selanjutnya adalah membandingkan saldo keduanya, jika jumlah saldo sama maka dapat dilakukan proses

80 perhitungan distribusi dana bagi hasil, namun jika jumlah kedua saldonya terdapat selisih maka terlebih dahulu dilakukan melakukan penyesuaian terhadap saldo tersebut sebelum

perhitungan distribusi dana bagi hasil. Tabel 4.2 : Proses Rekonsiliasi Antara Nota Pajak dan Rekap Pajak
PID : 1.2 ORGANISASI REKONSILIASI EVENT / STATUS PROSES Main ID : 1 DATA

2.3.

Proses Perhitungan Distribusi Dana Bagi Hasil perhitungan distribusi dana bagi hasil dapat

Proses

dilakukan apabila proses sebelumnya telah selesai. Dengan acuan jumlah uang dari hasil perhitungan rekonsiliasi maka perhitungan distribusi dapat dilakukan sesuai dengan persentase kebutuhan dari tiap-tiap sektor. Hasil dari perhitungan distribusi dana bagi hasil dapat dijadikan sebagai laporan distribusi dana bagi hasil sementara.

81 Tabel 4.3 : Proses Perhitungan Distribusi Dana Bagi Hasil


PID : 1.3 ORGANISASI PERHITUNGAN DISTRIBUSI DANA BAGI HASIL EVENT / STATUS PROSES Main ID : 1 DATA

82 2.4. Proses Pengolahan Laporan Distribuasi Dana

Bagi Hasil Proses menyajikan laporan distribusi dana bagi hasil merupakan proses terakhir dari pengelompokan data pajak dan distribusi dana abgi hasil ini. Proses ini dapat dilakukan apabila semua proses sebelumnya telah selesai dilalui. Staf DPPKA akan mencetak hasil perhitungan distribusi dana bagi hasil yang sudah dilakukan rekonsiliasi sebelumnya, kemudian akan diserahkan kepada Kepala Dinas untuk ditandatangani sebagai laporan pengelompoka data pajak dan distribusi dana bagi hasil yang sah. Hasil laporan laporan yang akhir sudah ditandatangani data tersebut dan merupakan pengelompokan pajak

distribusi dana bagi hasil yang dapat diberikan kepada KPP Pratama untuk diproses lebih lanjut. Tabel 4.4 : Proses Pengolahan Laporan Distribusi Dana Bagi Hasil
PID : 1.4 ORGANISASI PENGOLAHAN LAPORAN DISTRIBUSI DBH EVENT / STATUS PROSES Main ID : 1 DATA

83

84 3. Analisis Dokumen Input dan Output yang Sedang Berjalan 3.1. Analisis Dokumen Input Dokumen input dari sistem yang sedang berjalan di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kabupaten Garut adalah sebagai berikut: Tabel 4.5 : Dokumen Input dari Nota Debet/Rekening Koran Pajak Jenis Pajak Bulan/Perio de Tanggal Minggu Jumlah Uang

Tabel dari dokumen input di atas berisikan data sebagai berikut: 1. Jenis Pajak yaitu DBH PBB (Dana Bagi Hasil Pajak Bumi dan Bangunan), DBH BPHTB (Dana Bagi Hasil Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan), serta Biaya Pemungutan BPPBB (Bea Perolehan Pajak Bumi dan Bangunan). 2. Bulan/Periode berisi nama bulan saat dilakukan pembayaran pajak. 3. Tanggal berisi tanggal penerimaan uang yang digunakan untuk menentukan minggu ke berapa dalam melakukan input data. 4. Minggu berisi urutan minggu pada bulan pada saat mencetak nota/rekap pajak. 5. Jumlah Uang berisi jumlah uang yang ada pada nota debet atau rekening koran pajak sesuai dengan minggunya.

85

3.2.

Analisis Dokumen Output Dokumen output dari sistem yang sedang berjalan di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan

Aset Kabupaten Garut adalah sebagai berikut: Form A : Dokumen Output DBH PBB Tabel 4.6 : Dokumen Output DBH PBB

86

Tabel dari dokumen output di atas berisikan data sebagai berikut: 1. Tahap penerimaan sesuai dari Note Debet/Rekening Koran Pajak per minggunya. 2. Data dari DPPKA yang berisi jumlah uang yang terdapat pada nota debet dan di bagi berdasarkan persentase bagian kota dan bagian provinsi serta dijumlah sampai total sebulan. 3. DPPKA juga melakukan pencocokan data dengan KPP Pratama dengan data-data sebagai berikut: a. Sektor, dibagi menjadi pedesaan, perkotaan, perkebunan, perhutanan, dan pertambangan. b. Realisasi PBB, yang berisikan jumlah uang. c. Bagian Provinsi, yang berisikan jumlah uang dengan persentase 16,2% d. Bagian Kab/Kota, yang berisikan jumlah uang dengan persentase 64,8% e. Bagian Pusat, yang berisikan jumlah uang dengan persentase 10 % f. Biaya Pemungutan, yang berisikan jumlah uang dengan persentase 9% dari Realisasi PBB. g. Keterangan, merupakan penjelasan yang ditulis jika diperlukan

87

Form B : Dokumen Output DBH BPHTB Tabel 4.7 : Dokumen Output DBH BPHTB

88

Tabel dari dokumen output di atas berisikan data sebagai berikut: 1. Tahap penerimaan sesuai dari Note Debet/Rekening Koran Pajak per minggunya. 2. Data dari DPPKA yang berisi jumlah uang yang terdapat pada nota debet dan di bagi berdasarkan persentase bagian kota dan bagian provinsi serta dijumlah sampai total sebulan. 3. DPPKA juga melakukan pencocokan data dengan KPP Pratama dengan data-data sebagai berikut: a. Realisasi BPHTB, yang berisikan jumlah uang. b. Bagian Provinsi, yang berisikan jumlah uang dengan persentase 16% c. Bagian Kab/Kota, yang berisikan jumlah uang dengan persentase 64% d. Bagian Pusat, yang berisikan jumlah uang dengan persentase 10% e. Keterangan, merupakan penjelasan yang ditulis jika diperlukan 4. Khusus untuk DBH BPHTB tidak dilakukan pendistribusian seperti pada jenis pajak DBH PBB dan BPPBB.

89

Form C : Dokumen Output Biaya Pemungutan BPPBB Tabel 4.8 : Dokumen Output Biaya Pemungutan BPPBB

90

Tabel dari dokumen output di atas berisikan data sebagai berikut: 1. Tahap penerimaan sesuai dari Note Debet/Rekening Koran Pajak per minggunya. 2. Data dari DPPKA yang berisi jumlah uang yang terdapat pada nota debet dan di bagi berdasarkan persentase bagian kota dan bagian provinsi serta dijumlah sampai total sebulan. 3. DPPKA juga melakukan pencocokan data dengan KPP Pratama dengan data-data sebagai berikut: a. Sektor, dibagi menjadi pedesaan, perkotaan, perkebunan, perhutanan, dan pertambangan. b. Realisasi PBB, yang berisikan jumlah uang. c. Biaya Pemungutan, yang berisikan jumlah uang dengan persentase 9% dari Realisasi PBB. d. Bagian Kota/Kabupaten, berisi persentase dan jumlah uang. e. Bagian Provinsi, berisi persentase dan jumlah uang. f. Keterangan, diperlukan 4. Analisis Sistem yang Akan Dikembangkan Berdasarkan pemaparan dari sistem pengolahan data merupakan penjelasan yang ditulis jika

rekonsiliasi yang sedang berjalan di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kabupaten Garut serta melihat pada dokumen masukan dan dokumen keluarannya maka sistem akan dikembangkan seperti pada flowmap di bawah ini:

Gambar 4.4 : Flowmap sistem yang akan dikembangkan Flowmap di atas menggambarkan sistem pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil yang akan dikembangkan. Sistem

yang akan dikembangkan menggunakan database terpusat yang akan memudahkan dalam penyimpanan dan pemanggilan data. Selain itu sistem yang akan dikembangkan memungkinkan manipulasi data seperti melakukan sort data (misal: pengelompokan data berdasarkan jumlah uang atau berdasarkan tanggal) yang akan mempermudah menyajikan informasi. Langkah pertama Staf DPPKA melakukan input nota pajak dan rekap pajak ke database. Setelah memasukan data dari nota pajak dan rekap pajak maka Staf DPPKA dapat membandingkan jumlah saldo antara keduanya, jika hasil saldo berbeda maka dilakukan penyesuaian atau koreksi terhadap saldo dan rincian namun jika saldo sudah sesuai maka dapat langsung melanjutkan ke tahap perhitungan distribusi dana bagi hasil. Selain itu kelebihan dari sistem yang dikembangkan dapat melakukan manipulasi data dengan cara memanggil data yang akan dilakukan manipulasi dari database. Database hasil pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil berisi laporan akhir distribusi dana bagi hasil siap cetak untuk digunakan untuk keperluan selanjutnya.

BAB V DESAIN SISTEM

Bab ini berisi desain sistem yang merupakan tahapan setelah analisis sistem, pada tahap ini dilakukan proses pengembangan spesifikasi sistem baru yang dirujuk dari analisis sistem lama atau sistem yang sedang berjalan. Desain sistem juga dapat diartikan sebagai pendefinisian dari kebutuhankebutuhan fungsional maupun sebagai persiapan untuk rancang bangun implementasi. Desain sistem juga harus dapat memenuhi kebutuhan pemakai sistem dan memberikan gambaran yang jelas dan rancang bangun yang lengkap untuk pemrogram dan ahli ahli teknik yang terlibat. 5.1 Rancangan Model Logika Rancangan model logika (logical model) dari sistem informasi lebih menjelaskan kepada pemakai bagaimana fungsi fungsi dari sistem informasi secara logika akan bekerja. Model logika dapat digambar dengan menggunakan diagram aliran data (data flow diagram). 1.1. Diagram Konteks

Diagram Konteks menunjukan konteks dimana proses bisnis berada serta menunjukan semua proses bisnis dalam 1 proses tunggal. Diagram konteks juga menunjukan semua entitas luar yang memberi dan menerima informasi kedalam sistem. Adapun diagram konteks pada sistem informasi pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil adalah sebagai berikut:

Obj100

Gambar 5.1 : Diagram Konteks SI Pengelompokan Data Pajak dan Distribusi Dana Bagi Hasil

1.2.

Data Flow Diagram (DFD) Level 0 Data Flow Diagram (DFD) Level 0 pada rancangan Sistem Informasi

Pengelompokan Data Pajak dan Distribusi Dana Bagi Hasil dapat dilihat seperti gambar di bawah ini:

Obj101

Gambar 5.2 : DFD Level 0 SI Pengelompokan Pajak & Distribusi DBH

Berdasarkan gambar 5.2 di atas maka ditemukan 6 proses utama yaitu: 1. Proses Input Nota Pajak dan Rekap Pajak 2. Proses Rekonsiliasi DBH PBB 3. Proses Rekonsiliasi DBH BPHTB 4. Proses Rekonsiliasi BPPBB 5. Proses Perhitungan Distribusi Dana Bagi Hasil 6. Proses Pengolahan Laporan Distribusi DBH Untuk lebih memperjelas mengenai proses-proses yang terjadi dalam deskripsi DFD Level 0, maka digambarkan dalam bentuk tabel seperti berikut: Tabel 5.1 : Deskripsi DFD Level 0 No Proses Nama Proses Deskripsi Pada tahap ini Staf DPPKA melakukan input 1 Input Nota Pajak dan Rekap Pajak data pajak dari dokumen input berupa nota pajak dan rekap pajak kedalam storage pajak internal DPPKA Tahapan rekonsiliasi yang dilakukan Staf DPPKA terhadap jenis pajak berupa DBH PBB Tahapan rekonsiliasi yang dilakukan Staf DPPKA terhadap jenis pajak berupa DBH BPHTB Tahapan rekonsiliasi yang dilakukan Staf DPPKA terhadap jenis pajak berupa BPPBB Proses ini dapat dilakukan apabila sudah diketahui jumlah saldo yang benar dari proses sebelumnya Proses pembuatan laporan dari hasil

Rekonsiliasi DBH PBB Rekonsiliasi DBH BPHTB Rekonsiliasi BPPBB Perhitungan Distribusi Dana Bagi Hasil Pengolahan Laporan Distribusi DBH

perhitungan distribusi DBH

1.3. 1.3.1.

Data Flow Diagram (DFD) Level 1 DFD Level 1 Proses 1 Input Nota Pajak dan Rekap Pajak DFD level 1 untuk proses input nota pajak dan rekap pajak dapat dilihat seperti pada gambar di bawah ini:

Obj102

Gambar 5.3 : DFD Level 1 Proses 1 Input Nota Pajak dan Rekap Pajak Berdasarkan gambar 5.3 di atas maka ditemukan 2 proses utama yaitu: 1. Proses Input Nota Pajak dan Rekap Pajak 2. Proses Koreksi Nota Pajak dan Rekap Pajak Untuk lebih memperjelas mengenai proses-proses yang terjadi dalam deskripsi DFD Level 1 Proses Input Nota Pajak dan Rekap Pajak, maka digambarkan dalam bentuk tabel seperti berikut: Tabel 5.2 : Deskripsi DFD Level 1 Proses 1 No Proses 1 Nama Proses Input Nota Pajak dan Rekap Pajak Koreksi Nota Pajak dan Rekap Pajak Deskripsi Merupakan proses memasukan Data Pajak kedalam storage DPPKA Pada proses ini staf melihat kemudian melakukan koreksi terhadap proses input Nota Pajak dan Rekap Pajak, kemudian menyimpan data yang sudah benar

1.3.2.

DFD Level 1 Proses 2 Rekonsiliasi DBH PBB DFD level 1 untuk proses rekonsiliasi DBH PBB dapat dilihat seperti pada gambar di bawah ini:

Obj103

Gambar 5.4 : DFD Level 1 Proses 2 Rekonsiliasi DBH PBB Berdasarkan gambar 5.4 di atas maka ditemukan 2 proses utama yaitu: 1. Proses Rekonsiliasi DBH PBB 2. Proses Rekonsiliasi DBH PBB Membandingkan Saldo dan Rincian Untuk lebih memperjelas mengenai proses-proses yang terjadi dalam deskripsi DFD Level 1 Proses Rekonsiliasi DBH PBB, maka digambarkan dalam bentuk tabel seperti berikut: Tabel 5.3 : Deskripsi DFD Level 1 Proses 2 No Proses 1 Nama Proses Rekonsiliasi DBH PBB Merupakan Deskripsi proses rekonsiliasi yang

dilakukan dengan untuk jenis pajak DBH PBB Merupakan proses yang dilakukan setelah perhitungan, dibandingkan jumlah kedua saldonya dan jika tidak sesuai dilakukan

Membandingkan Saldo dan Rincian

penyesuaian Untuk DFD Level 1 Proses Rekonsiliasi DBH BPHTB dan Proses Rekonsiliasi BPPBB alurnya sama dengan Proses Rekonsiliasi DBH PBB, hanya saja dari data yang diambil dari data store Data Pajak disesuaikan berdasarkan jenisnya. 1.3.3. DFD Level 1 Proses 5 Perhitungan Distribusi Dana Bagi Hasil DFD level 1 untuk proses perhitungan distribusi dana bagi hasil dapat dilihat seperti pada gambar di bawah ini:

Obj104

Gambar 5.5 : DFD Level 1 Proses 5 Perhitungan Distribusi Dana Bagi Hasil Berdasarkan gambar 5.5 di atas maka ditemukan 2 proses utama yaitu: 1. Proses Mengelompokan Data Pajak 2. Proses Distribusi Tiap Sektor Untuk lebih memperjelas mengenai proses-proses yang terjadi dalam deskripsi DFD Level 1 Perhitungan Distribusi Dana Bagi Hasil, maka digambarkan dalam bentuk tabel seperti berikut:

Tabel 5.4 : Deskripsi DFD Level 1 Proses 5 No Proses Nama Proses Deskripsi Merupakan proses mengelompokan jenis 1 Mengelompokan Data Pajak pajak yang ada ke dalam tempat untuk penyimpanannya masing-masing

Distribusi Tiap Sektor

diolah lebih lanjut Merupakan proses perhitungan dana bagi hasil kedalam 5 sektor sesuai dengan persentase kebutuhan yang ada

1.3.4.

DFD Level 1 Proses 6 Pengolahan Laporan Distribusi DBH DFD level 1 untuk pengolahan laporan rekonsiliasi dapat dilihat seperti pada gambar di bawah ini:

Obj105

Gambar 5.6 : DFD Level 1 Proses 6 Pengolahan Laporan Distribusi DBH

Berdasarkan gambar 5.6 di atas maka ditemukan 3 proses utama yaitu: 1. Proses Pembuatan Laporan Distribusi DBH PBB 2. Proses Pembuatan Laporan Realisasi DBH BPHTB 3. Proses Pembuatan Laporan Distribusi BPPBB Untuk lebih memperjelas mengenai proses-proses yang terjadi dalam deskripsi DFD Level 1 Pengolahan Laporan Distribusi DBH, maka digambarkan dalam bentuk tabel seperti berikut: Tabel 5.5 : Deskripsi DFD Level 1 Proses 6 No Proses Nama Proses Pembuatan Laporan 1 Distribusi DBH PBB Pembuatan Laporan 2 Realisasi DBH BPHTB Pembuatan Laporan 3 Distribusi BPPBB Deskripsi Merupakan proses terakshir dari sistem pengelompokan data pajak dan distribusi DBH dengan membuat laporan Distribusi DBH PBB Merupakan proses terakshir dari sistem pengelompokan data pajak dan distribusi DBH dengan membuat laporan Realisasi DBH BPHTB Merupakan proses terakshir dari sistem pengelompokan data pajak dan distribusi DBH dengan membuat laporan Distribusi BPPBB

2.

Perancangan Basis Data Pada perancangan basis data untuk sistem informasi pengelompokan data pajak

dan distribusi dana bagi hasil ini digunakan relational database (basis data relasional). Tujuan dari perancangan relational database ini adalah untuk menghubungkan entitas yang ada pada sistem informasi pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil. Entitas relasional berisi komponen-komponen himpunan entitas dan himpunan relasi yang masing-masing dilengkapi dengan atribut-atribut yang merepresentasikan seluruh fakta yang ditinjau. Perancangan basis data diperlukan untuk membuat basis data yang baik dalam penggunaan ruang penyimpanan, cepat dalam pengaksesan, dan mudah dalam pemanipulasian (tambah, ubah, hapus) data.

2.1.

Perancangan ERD (Entity Relationship Diagram) Perancangan Entity Relationship Diagram (ERD) ditujukan untuk

menggambarkan struktur relasional dari seluruh data yang terlibat pada sistem yang akan dikembangkan. Adapun gambaran ERD pada sistem informasi pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil adalah sebagai berikut:
No_Transaksi T anggal Nota Pajak Jenis_Pajak Jumlah_Uang

No_Distribusi menerima No_T ransaksi ID_Staf ID_Staf Nama Staf DPPKA Alamat Minggu Telepon Jenis_Pajak Jumlah_Uang M melakukan N Distribusi M Tanggal Bulan/Periode

Gambar 5.7 : ERD Sistem Informasi Pengelompokan Data Pajak Dan Distribusi Dana Bagi Hasil Berdasarkan ERD Sistem Informasi Pengelompokan Data Pajak Dan Distribusi Dana Bagi Hasil di atas pada gambar 5.7 maka ditemukan entitas dan relasi sebagai berikut: 1. Entitas dari ER-Diagram sistem pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil: a. Staf DPPKA Merupakan pihak yang melakukan proses pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil. b. Nota Pajak Merupakan objek yang diberikan oleh Bank BRI kepada pihak DPPKA sebagai dokumen input untuk pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil. c. Distribusi Merupakan kegiatan yang dilakukan oleh Staf DPPKA untuk mengelompokan data pajak dan menghitung distribusi dana bagi hasilnya.

2. Relasi dari ERD Sistem Informasi Pengelompokan Data Pajak dan Distribusi Dana Bagi Hasil adalah: a. Menerima Merupakan relasi yang terjadi antara entitas Distribusi dengan entitas Nota Pajak dimana kegiatan yang terjadi adalah Nota Pajak yang diberikan oleh Bank BRI dijadikan dokumen input pada proses pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil. b. Melakukan Merupakan relasi yang terjadi antara entitas Staf DPPKA dengan entitas Distribusi dimana Staf DPPKA mengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil dengan input dari Nota Pajak kemudian setelah diolah dapat dijadikan laporan perhitungan distribusi DBH. 2.2. Implementasi Relasi Antar Tabel Berdasarkan perancangan basis data menggunakan pemodelan ER-Diagram di atas maka dapat dihasilkan relasi antar tabel seperti pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.8 : Relasi Antar Tabel Sistem Pengelompokan Data Pajak dan Distribusi Dana Bagi Hasil Gambar di atas menjelaskan tentang perancangan hubungan antar file yang dihubungkan dengan kunci relasi untuk model desain basis data secara logis (logical database design). Bentuk relasi sistem pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil memiliki keterhubungan sebagai berikut:

1. Relasi antara Staf DPPKA dengan Distribusi Kardinalitas atau derajat relasi yang terjadi antara Staf DPPKA dengan Distribusi adalah banyak ke banyak artinya banyak Staf DPPKA dapat melakukan banyak proses pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil. 2. Relasi antara Nota Pajak dengan Distribusi Kardinalitas atau derajat relasi yang terjadi antara Nota Pajak dengan Distribusi adalah satu ke banyak yang artinya setiap satu nota pajak dapat dilakukan banyak proses pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil.

2.3. Untuk

Desain Tabel mendukung serta mempermudah pengembangan

program yang akan dikembangkan maka perlu dibuat desain basis data secara fisik (physical database design) yaitu berupa desain tabel sebagai alat untuk menyimpan data yang akan dikembangkan dalam aplikasi. Rancangan tabel tersebut dijelaskan pada tabel dibawah ini: 1. Tabel Staf DPPKA Spesifikasi untuk desain tabel Staf DPPKA dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Nama Tabel Fungsi Primary Key Foreign Key Struktur File : Tbl_Staf_DPPKA : Menyimpan data induk Staf DPPKA : ID_Staf :: ID_Staf, Nama, Alamat, Telepon

Tabel 5.6 : Desain Tabel Staf DPPKA No 1 2 3 4 2. Nama Field ID_Staf Nama Alamat Telepon Type Text Text Text Text Lebar 12 15 30 15 Keterangan No Identitas Staf (NIP) Nama Staf Alamat Staf Telepon

Tabel Nota Pajak Spesifikasi untuk desain tabel Nota Pajak dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Nama Tabel Fungsi Primary Key Foreign Key Struktur File : Tbl_Nota_Pajak : Menyimpan data induk Nota Pajak : No_Transaksi :: No_Transaksi, Tanggal, Jenis_Pajak, Jumlah_Uang Type Text Lebar 10 Keterangan No Transaksi Pembayaran Pajak

Tabel 5.7 : Desain Tabel Nota Pajak No Nama Field 1 No_Transaksi

2 3 4 3.

Tanggal Jenis_Pajak Jumlah_Uang Tabel Distribusi

Date/Time Text 10 Currency -

Tanggal Jenis Pajak Nominal Pajak

Spesifikasi untuk desain tabel Distribusi dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Nama Tabel Fungsi Primary Key Foreign Key Struktur File : Tbl_Distribusi : Menyimpan data induk Perhitungan Distribusi DBH : No_Distribusi : No_Transaksi, ID_Staf : No_Distribusi, No_Transaksi, ID_Staf, Tanggal, Bulan/Periode, Urutan_Minggu, Jenis_Pajak Jumlah_Uang Tabel 5.8 : Desain Tabel Distribusi No Nama Field 1 2 3 4 5 6 7 8 2.4. 2.4.1. No_Distribusi No_Transaksi ID_Staf Tanggal Bulan/Periode Urutan_Minggu Jenis_Pajak Jumlah_Uang Type Text Text Text Date/Time Text Text Text Currency Lebar 10 10 12 15 2 10 Keterangan No Proses Perhitungan Distribusi DBH No Transaksi Pembayaran Pajak No Identitas Staf (NIP) Tanggal Nama Bulan Urutan Minggu Jenis Pajak Jumlah Saldo

Structure Query Language (SQL) Perancangan Tabel Perancangan tabel untuk aplikasi sistem pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil ini menggunakan sintaks SQL. Berikut ini merupakan sintaks SQL yang digunakan:

a. Perancangan Tabel Staf DPPKA CREATE TABLE Staf_DPPKA (

ID_Staf Text(12) NOT NULL, Nama Text(15), Alamat Text(30), Telepon Text(15), PRIMARY KEY (ID_Staf) ); b. Perancangan Tabel Nota Pajak CREATE TABLE Nota_Pajak ( No_Transaksi Text(10) NOT NULL, Tanggal Date, Jenis_Pajak Text(10), Jumlah_Uang Currency, PRIMARY KEY (No_Transaksi) ); c. Perancangan Tabel Distribusi CREATE TABLE Distribusi ( No_Distribusi Text(10) NOT NULL, No_Transaksi Text(10), ID_Staf Text(12), Tanggal Date, Bulan/Periode Text(15), Urutan_Minggu Text(2), Jenis_Pajak Text(10), Jumlah_Uang Currency, PRIMARY KEY (No_Distribusi), FOREIGN KEY (No_Transaksi) References No_Transaksi (Nota_Pajak), FOREIGN KEY (ID_Staf) References ID_Staf (Staf_DPPKA) );

2.4.2.

Contoh Query menggunakan SQL SELECT adalah perintah yang paling sering digunakan pada SQL, sehingga kadang-kadang istilah query dirujukkan pada perintah SELECT. SELECT digunakan untuk menampilkan data dari satu atau lebih tabel, biasanya dalam sebuah basis data yang sama. Untuk contoh dapat diambil tabel nota pajak pada sistem pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil dengan data sebagai berikut: No_Transaksi NP001 NP002 NP003 NP004 NP005 NP006 Tanggal 02/11/2010 05/11/2010 05/11/2010 06/11/2010 10/11/2010 11/11/2010 Jesnis_Pajak PBB PBB BPHTB PBB BPHTB BPPBB Jumlah_Uang 125.000.150.000.200.000.175.000.175.000.150.000.-

Contoh 1 : Tampilkan seluruh data SELECT * FROM Nota_Pajak Maka akan tampil keseluruhan tabel Nota Pajak Contoh 2 : Tampilkan data Jenis Pajak PBB SELECT * FROM Nota_Pajak WHERE Jenis_Pajak = PBB Maka akan tampil Tabel sebagai berikut: No_Transaksi NP001 NP002 NP004 Tanggal 02/11/2010 05/11/2010 06/11/2010 Jesnis_Pajak PBB PBB PBB Jumlah_Uang 125.000.150.000.175.000.-

Contoh 3 : Tampilkan data dengan Jumlah Uang sebesar 175.000.SELECT * FROM Nota_Pajak WHERE Jumlah_Uang = 175.000.Maka akan tampil Tabel sebagai berikut: No_Transaksi Tanggal Jesnis_Pajak Jumlah_Uang

NP004 NP005

06/11/2010 10/11/2010

PBB BPHTB

175.000.175.000.-

2.5. 2.5.1.

Perancangan Input dan Output Sistem yang Direkomendasikan Perancangan Input Sistem Perancangan Input Sistem merupakan bentuk perancangan form pengisian yang

berkaitan dengan sistem pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil, yaitu: 2.5.1.1. Perancangan Tampilan Login Tampilan login dibuat dengan tujuan untuk memberi batasan bagi pengguna sistem pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil ini. Dengan adanya tampilan login ini pada sistem maka hanya beberapa staf DPPKA yang diberi wewenang yang dapat mengakses sistem. Deskripsi Umum: 1. Form login ini ditujukan untuk keamanan artinya hanya dapat dilakukan oleh Staf yang diberi wewenang untuk mengakses sistem. 2. Input: Data yang harus dimasukan kedalam form login ini berupa username dan password. 3. Proses: mencocokan data yang diinput dengan database login. 4. Output: Jika data yang diinputkan sesuai dengan database login maka dapat langsung mengakses menu utama, namun jika data yang diinputkan tidak sesuai maka akan muncul pesan yang menerangkan bahwa proses login gagal.

2.5.1.2. Perancangan Tampilan Input Data Pajak Tampilan Input Data Pajak merupakan sebuah tampilan yang dibuat untuk memasukan data-data pajak yang diperlukan dalam proses pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil. Deskripsi Umum: 1. Proses ini dilakukan oleh Staf DPPKA yang telah melakukan proses login. 2. Input: Data yang harus dimasukan kedalam form Input Data Pajak ini berupa Nota Pajak dan Rekap Pajak dengan Jenis Pajak PBB, BPHTB, dan BPPBB dengan atribut nomor transaksi, tanggal, dan jumlah uang. 3. Proses: Staf melakukan input data pajak kemudian menyimpannya pada database pajak. 4. Output: Data pajak akan tersimpan dalam database pajak. 2.5.1.3. Perancangan Tampilan Perhitungan Distribusi DBH Tampilan Perhitungan Distribusi DBH merupakan tampilan yang dibuat untuk mengolah data yang telah dimasukan pada form Input Data Pajak. Deskripsi Umum: 1. Proses ini dilakukan oleh Staf DPPKA yang telah melakukan proses login. 2. Input: Pada proses ini, data yang digunakan adalah data yang telah disimpan pada database pajak. 3. Proses: Staf dapat melakukan pengolahan data berupa perhitungan rekonsiliasi, membandingkan saldo rekonsiliasi, menyesuaikan jumlah saldo dan rincian, Setelah hasil saldo yang benar diketahui maka dapat dilakukan perhitungan distribusi dana bagi hasil serta untuk mempermudah pengolahan data dapat dilakukan sort data. 4. Output: Data yang telah dilakukan proses pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil dapat dijadikan acuan sebagai pembuatan laporan perhitungan distribusi DBH.

2.5.2.

Perancangan Output Sistem Perancangan Output Sistem merupakan bentuk perancangan yang berkaitan

dengan informasi hasil pengolahan data. 2.5.2.1. Perancangan Tampilan Pengolahan Laporan Distribusi Dana Bagi Hasil Tampilan Pengolahan Laporan Distribusi Dana Bagi Hasil dibuat dengan tujuan untuk memudahkan Staf untuk mengolah laporan dari perhitungan distribusi dana bagi hasil. Deskripsi Umum: 1. Pengolahan Laporan Distribusi Dana Bagi Hasil ini dilakukan oleh Staf yang telah melakukan proses login kemudian hasil laporannya diserahkan kepada Kepala Dinas untuk ditandatangani. 2. Input: Data yang digunakan pada proses ini adalah data yang telah mengalami proses pengolahan pada form Perhitungan Distribusi Dana Bagi Hasil. 3. Proses: Staf dapat mengolah laporan distribusi dana bagi hasil kemudian dapat mencetak laporan tersebut. 4. Output: Hasil berupa laporan dari perhitungan distribusi dana bagi hasil diberikan kepada Kepala Dinas untuk ditandatangani dan laporan tersebut dapat dipergunakan lebih lanjut di luar sistem ini.

BAB VI

PENUTUP

6.1.

Kesimpulan

Berdasarkan kajian, tinjauan teori yang dimiliki, serta dari hasil analisis dan pengembangan terhadap Sistem Informasi Pengelompokan Data Pajak dan Distribusi Dana Bagi Hasil yang sedang berjalan di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut, kesimpulan yang dapat diambil yaitu: Pada proses pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil sebelumnya nota pajak, rekap pajak, serta laporan hasil perhitungan distribusi DBH disimpan pada arsip atau pada harddisk komputer sehingga membutuhkan waktu yang relatif lama untuk pencarian dan pengolahan data. Dengan sistem baru yang dikembangkan nota pajak, rekap pajak, serta laporan hasil perhitungan distribusi DBH disimpan pada database terpusat yang memudahkan pencarian dan pengolahan data. Sistem informasi ini juga mampu melakukan sort data sehingga memudahkan staf dalam megolah laporan perhitungan distribusi DBH. Selain itu juga pada sistem ini tidak harus dilakukan perhitungan ulang yang memakan banyak waktu sehingga dapat mempersingkat waktu pengolahan data.
6.2.

Saran Sistem informasi pengelompokan data pajak dan distribusi dana bagi hasil ini

akan optimal jika tidak terjadi perubahan-perubahan yang sangat signifikan seperti terjadinya penambahan atau perubahan input yang tidak dapat diakomodasi oleh sistem. Dengan keterbatasan yang ada maka diharapkan agar pembaca dapat memahami dan memberikan kritik dan saran yang menunjang untuk menyempurnakan pengembangan sistem ini dikemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kendall

&

Kendall.

2006.

Analisis

Dan

Perancangan

Sistem. Jakarta : PT. Prenhallindo. 2. H.M. Jogiyanto. 1999. Analisis dan Disain. Yogyakarta : Andi Offset. 3. Amsyah, Zulkifli. 2005. Manajemen Sistem Informasi, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. 4. Kristanto, Andri. 2003. Perancangan SI dan Aplikasinya. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. 5. Ladjamudin, Al-Bahra, 2005. Analisis dan Desain Sistem Informasi. Yogyakarta : Graha Ilmu. 6. Data-data dari Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut. 7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. 8. Peraturan Bupati Garut No. 413 Tahun 2008 tentang Tugas Pokok, Fungsi Dan Tata Kerja Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan Dan Aset (DPPKA) Kabupaten Garut.

Anda mungkin juga menyukai