Anda di halaman 1dari 36

Bab 2

Akar Persamaan
2.1. Akar Persamaan Kuadrat
Bentuk paling sederhana dari contoh permasalahan dari bab ini adalah
penyelesaian akar persamaan kuadrat. Persamaan umum suatu fungsi polynomial
pangkat dua diberikan sebagai berikut ini.
0
2
+ + c bx ax
(2.1)
dengan a 0.
Untuk nilai a=0, maka:
bx+c = 0 atau
b
c
x (merupakan fungsi konstan)
Jika Persamaan 2.1 dibagi dengan a, maka diperoleh:
0
2
+ +
a
c
x
a
b
x
Persamaan tersebut dapat dituliskan kembali sebagai berikut:
0
4 4
2
2
2
2
2
+ + +
a
c
a
b
a
b
x
a
b
x
Tiga suku yang pertama di ruas kiri dapat dituliskan dalam bentuk suku kuadrat,
sedangkan dua suku yang lain dipindah ke ruas kanan, diperoleh:
a
c
a
b
a
b
x

,
_

+
2
2
2
4
2
2
2
2
2
4
4
4
2
a
ac b
a
c
a
b
a
b
x

t t +
a
ac b
a
b
x
2
4
2
2

t
Atau dapat juga dituliskan sebagai berikut ini.
a
ac b b
x
2
4
2
2 , 1
t

Dimana ada dua penyelesaian, yaitu:


a
ac b b
x
2
4
2
1
+

dan
a
ac b b
x
2
4
2
2

Kedua nilai akar persamaan tersebut, x


1
dan x
2
, bergantung pada nilai (b
2
-4ac),
dimana:
Jika (b
2
-4ac) < 0, akar persamaan tidak memiliki penyelesaian (akar
persamaan merupakan bilangan kompleks)
Jika (b
2
-4ac) > 0, akar persamaan merupakan bilangan real
Jika (b
2
-4ac) = 0, hanya ada satu penyelesaian akar persamaan (x
1
= x
2
)
2.2. Permasalahan Akar Persamaan di Teknik Sipil
2.3. Metode Bisection
Metode Bisection merupakan metode yang awal dikembangkan untuk
menyelesaikan akar persamaan dari suatu persamaan tidak linear, f(x)=0. Suatu
fungsi kontinu f(x) akan mempunyai paling sedikit satu akar persamaan diantara x
1
dan x
2
jika f(x
1
).f(x
2
) < 0, seperti ditunjukkan pada Gambar 3.1 dan 3.2 berikut ini.
Pada Gambar 3.1 diperlihatkan hanya ada satu akar persamaan di antara x
1
dan x
2
,
sedangkan pada Gambar 3.2 dijumpai 3 akar persamaan di antara x
1
dan x
2.
f(x)
x x
2
x
1
Akar
Persamaan
Gambar 3.1 Satu Akar Persamaan diantara x
1
dan x
2
f(x)
x
Akar
Persamaan
x
2
x
1
Akar
Persamaan
Gambar 3.2 Lebih dari Satu Akar Persamaan diantara x
1
dan x
2
Jika f(x
1
).f(x
2
) < 0, ada kemungkinan fungsi f(x) mempunyai akar persamaan, tetapi
juga dimungkinkan tidak mempunyai akar persamaan. Gambar 3.3
menggambarkan ada lebih dari satu akar persamaan di antara x
1
dan x
2
. Sedangkan
pada Gambar 3.4 fungsi f(x) tidak memiliki akar persamaan di antara x
1
dan x
2
.
f(x)
x
Akar
Persamaan
x
2 x
1
Akar
Persamaan
Gambar 3.3. Akar Persamaan di antara x
1
dan x
2
f(x)
x
x
2 x
1
Gambar 3.4. Tidak Ada Akar Persamaan di antara x
1
dan x
2
Dari penjelasan di atas, pada metode Bisection ini akar persamaan diperoleh di
antara dua nilai variable, x
1
dan x
2
, dimana nilai kedua fungsi f(x
1
) dan f(x
2
)
berlawanan tanda atau f(x
1
).f(x
2
) < 0. Pada kondisi tersebut, ditentukan suatu titik
di tengah antara x
1
dan x
2
, misalkan di Titik x
t
. Dengan demikian dijumpai dua
interval, yaitu antara x
1
dan x
t
dan antara x
t
dan x
2
. Di antara dua interval tersebut,
untuk menentukan pada interval yang mana lokasi akar persamaan berada, dapat
dicari dari tanda f(x
t
).f(x
2
), jika f(x
t
).f(x
2
) < 0 maka lokasi akar persamaan berada
pada interval antara x
t
dan x
2
, jika tidak maka akar persamaan berada antara x
1
dan
x
t
. Proses tersebut diulangi lagi dengan menentukan titik tengah interval dimana
lokasi akar persamaan berada. Dengan proses tersebut, interval antara dua titik
akan terus mengecil dan mendekati nol, sehingga diperoleh nilai akar persamaan.
Berikut ini dituliskan tahapan langkah metode Bisection untuk memperoleh nilai
akar persamaan dari fungsi f(x).
a. Dipilih dua nilai x sembarang, misalkan x
1
dan x
2
, dimana nilai fungsi
keduanya berlawanan tanda, f(x
t
).f(x
2
) < 0. Jika tanda nilai f(x
t
) dan f(x
2
)
sama maka salah satu nilai x diganti.
b. Tentukan nilai tengah antara x
1
dan x
2
, dengan formulasi berikut ini.
2
2 1
x x
x
t
+

c. Hitung nilai f(x


t
), jika nilai f(x
t
) sudah sama dengan atau mendekati nol,
maka hitungan dihentikan dimana x
t
merupakan nilai akar persamaan.
Jika nilai f(x
t
) masih belum dekat dengan nol, maka iterasi dilanjutkan.
d. Jika f(x
t
).f(x
2
) < 0, maka lokasi akar persamaan berada di interval antara x
t
dan x
2
, sehingga iterasi berikutnya dilakukan dengan memasukkan nilai x
t
ke x
1
dan kembali ke langkah b di atas.
Jika f(x
t
).f(x
2
) > 0, maka lokasi akar persamaan berada di interval antara x
t
dan x
1
, sehingga iterasi berikutnya dilakukan dengan memasukkan nilai x
t
ke x
2
dan kembali ke langkah b di atas.
Jika f(x
t
).f(x
2
) =0, maka tahap iterasi dihentikan dan x
t
merupakan akar
persamaan yang dicari.
e. Tahap iterasi dapat juga dihentikan jika nilai mutlak dari kesalahan
relative iteratif, e
rel-iter
, lebih kecil dari batas toleransi yang diijinkan, .
Besarnya e
rel-iter
dapat dihitung dengan formulasi berikut ini.
<

% 100 x
baru
t
lama
t
baru
t
iter rel
x
x x
e
Dimana
baru
t
x merupakan hasil iterasi sekarang, sedangkan
lama
t
x
merupakan hasil iterasi sebelumnya.
Contoh Soal 1:
Suatu balok didukung Sendi-Rol seperti tergambar. Tentukan lokasi pada batang
balok dimana momennya sebesar 20 kN.m.
Penyelesaian:
Didefinisikan posisi sendi sebagai sumbu koordinat dengan arah x ke kanan.
Langkah petama yang harus dilakukan adalah mencari gaya reaksi perletakan pada
Sendi dan Rol. Skema gaya aksi dan reaksi pada struktur tersebut digambarkan
sebagai berikut ini.
7
m
2
m
10 kN/m 30 kN
A
B
C
x
R
A
R
B
7
m
2
m
q=10 kN/m
P=30 kN
A
B
C
Gaya reaksi di perletakan Rol, R
B
, dihitung dengan menggunakan kesetimbangan
momen di Sendi sama dengan nol.
M
A
= 0
q . 7 . 7/2 + P . (7+2) R
B
. 7 = 0
R
B
= 73.57 kN
Gaya reaksi perletakan pada Sendi A di hitung dengan konsep kesetimbangan gaya
arah vertical, diberikan sebagai berikut ini.
R
A
= q . 7 + P - R
B
= 26.43 kN
Momen pada jarak x dari Sendi A dihitung sebagai berikut:
M
x
= R
A
. x (q . x) . x/2 = 26.43 x 5x
2
Pada permasalahan di atas akan dicari lokasi x, dimana mempunyai nilai momen
sebesar 20kN.m, sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut ini.
M
x
= 26.43 x 5x
2
= 20
atau f(x) = 26.43 x 5x
2
20 = 0
Untuk mencari nilai x pada pesamaan di atas sehingga diperoleh f(x) = 0,
digunakan metode bisection sebagai berikut ini.
a) Dicoba dua nilai x sembarang, misalkan x
1
= 1 dan x
2
= 5; maka diperoleh
f(x
1
) = 26.43 (1) 5(1)
2
20 = 1.43
f(x
2
) = 26.43 (5) 5(5)
2
20 = -12.86
b) Pada langkah di atas persyaratan f(x
1
).f(x
2
) < 0 terpenuhi, sehingga dicari
tengah interval antara x
1
dan x
2
:
x
t
= 0.5 (x
1
+ x
2
) = 0.5 (1 + 5) = 3 dan
f(x
t
) = f(3) = 26.43 (3) 5(3)
2
20 = 14.29
c) Pada langkah b) diperoleh hasil f(x
t
) belum cukup dekat dengan nol,
sehingga hitungan diteruskan untuk iterasi yang kedua. Dengan mengkaji
nilai fungsi yang diperoleh pada proses hitungan di atas, dapat
disimpulkan bahwa akar persamaan yang dicari berada pada interval
antara x
t
dan x
2
, karena f(x
t
).f(x
2
) < 0, sehingga untuk iterasi yang kedua,
nilai x
t
dipakai sebagai x
1
dan x
t
yang baru dicari kembali seperti pada
langkah b). Hasil hitungan secara lengkap diberikan pada Tabel berikut
ini.
Tabel Hasil Hitungan dengan Metode Bisection
x
1
x
2
f(x
1
) f(x
1
) x
t
f(x
t
) e
rel-iter
1,00 5,00 1,43 -12,86 3,00 14,29
3,00 5,00 14,29 -12,86 4,00 5,71 25,0%
4,00 5,00 5,71 -12,86 4,50 -2,32 11,1%
4,50 4,00 -2,32 5,71 4,25 2,01 -5,9%
4,25 4,50 2,01 -2,32 4,38 -0,08 2,9%
4,38 4,25 -0,08 2,01 4,31 0,98 -1,4%
4,31 4,38 0,98 -0,08 4,34 0,46 0,7%
4,34 4,38 0,46 -0,08 4,36 0,19 0,4%
4,36 4,38 0,19 -0,08 4,37 0,06 0,2%
4,37 4,38 0,06 -0,08 4,37 -0,01 0,1%
4,37 4,37 -0,01 0,06 4,37 0,02 0,0%
Contoh Soal 2:
Suatu balok didukung Sendi-Rol diberi beban seperti tergambar. Tentukan lokasi
pada batang balok dimana momennya nol.
Penyelesaian:
4
m
2
m
10 kN/m 30 kN
A
B
C
2
m
2
m
4
m
2
m
10 kN/m 30 kN
A
B
C
2
m
2
m
x
F
1
F
2
F
3
R
A
R
B
Gaya-gaya F
1
, F
2
, dan F
3
masing-masing merupakan gaya resultan dari beban
merata dan segitiga yang bekerja antara x = 0 2, x = 2 4, dan x = 6 8. Besar
gaya-gaya tersebut beserta lokasinya diberikan sebagai berikut ini.
F
1
= 10 . 2/2 = 10 kN; bekerja pada x = 4/3 m
F
2
= 10 . 4 = 40 kN; bekerja pada x = 4 m
F
3
= 10 . 2/2 = 10 kN; bekerja pada x = (6 + 2/3) m
Besarnya gaya reaksi perletakan, R
A
dan R
B
dicari sebagai berikut:
M
A
= 0
-R
B
. (8) + F
1
. 4/3 + F
2
. 4 + F
3
. (6+2/3) + 30 . 10= 0
R
B
= 67,5 kN
F
V
= 0
R
A
+ R
B
F
1
F
2
F
3
30 = 0
x
x (2-x)
R
A
F
a
10 kN/m
R
A
= 22,5 kN
Momen yang bekerja pada jarak x dari perletakan Sendi A dihitung sebagai berikut
ini.
x antara 0 2 m:
M
x
= R
A
. x F
a
. x/3
= 22,5 x (x /2 . 10 . x /2) . x /3
= 22,5 x 5/6 x
3
Untuk memeriksa apakah M
x
= 0
berada di antara x = 0 2, maka :
M
x
= 22,5 x 5/6 x
3
= 0
x = 5,2 m ( > 2 m; M
x
= 0 berada di luar interval x = 0 2 m)
x antara 2 6 m:
x
2 (x-2)
R
A
F
a
10 kN/m
F
b
M
x
= R
A
. x F
a
. (2/3 + x - 2) - F
b
. ( x-2)/2
= 22,5 . x (10 . 2/2) . ( x-4/3) 10 . (x-2).(x-2)/2
= -5x
2
+ 32,5x 20/3
Untuk memeriksa apakah M
x
= 0 berada di antara x = 2 6, maka :
M
x
= -5x
2
+ 32,5x 20/3 = 0
x merupakan akar persamaan kuadrat, yang secara sederhana dapat diselesaikan
dengan persamaan abc, sebagai berikut:
a
ac b b
x
2
4
2
2 , 1
t

) 5 .( 2
) ).( 5 .( 4 5 , 32 5 , 32
3
20
2
2 , 1

t
x
m x 21 , 0
) 5 .( 2
) ).( 5 .( 4 5 , 32 5 , 32
3
20
2
1

< 2 m
m x 29 , 6
) 5 .( 2
) ).( 5 .( 4 5 , 32 5 , 32
3
20
2
2

> 6 m
Diperlihatkan dari hitungan di atas, bahwa hasil yang diperoleh berada di luar
interval x = 2 6, sehingga pada interval tersebut momen yang terjadi tidak nol.
x antara 6 8 m:
F
c
= (8-x)/2 . 10 . (8-x)/2 = 5/2 . (8-x)
2
M
x
= R
B
. (8-x) F
c
. (8-x)/3 30 . (2+8-x)
= 67,5 . (8-x) 5/6 . (8-x)
3
300 + 30x
= - 5/6. (8-x)
3
37,5x + 240
Untuk memeriksa apakah M
x
= 0 berada di antara x = 6 8, maka :
M
x
= - 5/6. (8-x)
3
37,5x + 240 = 0
x merupakan akar persamaan pangkat 3, yang dapat diselesaikan dengan
metode Bisection berikut ini.
x
2 (8-x)
R
B
F
c
10 kN/m
30 kN
a) Dicoba dua nilai x sembarang, misalkan x
1
= 6 dan x
2
= 8; maka diperoleh
f(6) = - 5/6. (8-6)
3
37,5 . 6 + 240 = 8,333
f(8) = - 5/6. (8-8)
3
37,5 . 8 + 240 = -60,00
b) Pada langkah di atas persyaratan f(x
1
).f(x
2
) < 0 terpenuhi, sehingga dicari
tengah interval antara x
1
dan x
2
:
x
t
= 0.5 (x
1
+ x
2
) = 0.5 (6 + 8) = 7 dan
f(x
t
) = f(7) = = - 5/6. (8-7)
3
37,5 . 7 + 240 = -23,33
c) Pada langkah b) diperoleh hasil f(x
t
) belum cukup dekat dengan nol,
sehingga hitungan diteruskan untuk iterasi yang kedua. Dengan mengkaji
nilai fungsi yang diperoleh pada proses hitungan di atas, dapat
disimpulkan bahwa akar persamaan yang dicari berada pada interval
antara x
t
dan x
1
, karena f(x
t
).f(x
1
) < 0, sehingga untuk iterasi yang kedua,
nilai x
t
dipakai sebagai x
2
dan x
t
yang baru dicari kembali seperti pada
langkah b). Hasil hitungan secara lengkap diberikan pada Tabel berikut
ini. Diperlihatkan pada table tersebut, bahwa pada x = 6,29 m diperoleh
nilai momennya sama dengan nol.
Tabel Hasil Hitungan dengan Metode Bisection
i x
1
x
2
f(x
1
) f(x
2
) x
t
f(x
t
) e
1 6,00 8,00 8,333 -60,000 7,00 -23,333
2 7,00 6,00 -23,333 8,333 6,50 -6,563 -7,7%
3 6,50 6,00 -6,563 8,333 6,25 1,159 -4,0%
4 6,25 6,50 1,159 -6,563 6,38 -2,638 2,0%
5 6,38 6,25 -2,638 1,159 6,31 -0,723 -1,0%
6 6,31 6,25 -0,723 1,159 6,28 0,222 -0,5%
7 6,28 6,31 0,222 -0,723 6,30 -0,250 0,2%
8 6,30 6,28 -0,250 0,222 6,29 -0,014 -0,1%
9 6,29 6,28 -0,014 0,222 6,29 0,104 -0,1%
10 6,29 6,29 0,104 -0,014 6,29 0,045 0,0%
2.4. Metode Newton Raphson
Setelah membaca sub-bab ini, pembaca akan dapat memahami:
1. bagaimana menurunkan formulasi Metode Newton Raphson
2. bagaimana menyusun algoritma pada Metode Newton Raphson
3. menggunakan Metode Newton Raphson untuk menyelesaikan persamaan
non-linear
4. mendiskusikan kelebihan dan kelemahan Metode Newton Raphson
Pada metode yang sudah dibahas sebelumnya, yaitu metode setengah interval
(bisection method) dan metode interpolasi linear (false position method),
diperlukan dua nilai x untuk mendapatkan nilai akar persamaan dari fungsi non-
linear f(x)= 0 yang berada di antara dua nilai x tersebut. Metoda-metoda tersebut
selalu konvergen karena metoda tersebut berdasarkan pada cara memperkecil
interval antara dua nilai x,dimana diantara dua nilai tersebut mempunyai nilai
fungsi sama dengan atau mendekati nol.
Pada metoda Newton Raphson, hanya diperlukan satu nilai x awal untuk memulai
iterasi untuk mendapatkan nilai akar persamaan. Nilai x awal tersebut tidak
dibatasi pada interval tertentu, sehingga metodaini sering dikategorikan sebagai
metode terbuka. Konsekuensinya hasil iterasi tidak selalu konvergen. Jika iterasi
berada pada konvergensi, iterasi yang dilakukan sangat efektif untuk mencapai
nilai akar persamaan yang dicari.
Penurunan Persamaan Newton Raphson.
Dikaji suatu fungsi non-linear yang digambarkan pada sumbu koordinat x-f(x),
seperti diperlihatkan pada Gambar 1.
Skema Penyusunan Metode Newton Raphson
Langkah-langkah dalam penggunaan Metode Newton Raphson dijelaskan sebagai
berikut ini.
a. Langkah awal dalam metode Newton Raphson adalah menentukan nilai x
awal sembarang, x
i,
dengan nilai fungsinya f(x
i
).

b. Digambarkan garis singgung fungsi f(x) yang melewati titik (x
i
,f(x
i
))
c. Garis singgung yangmelewati titik tersebut memotong sumbu x di titik x
i-1
d. Jika nilai f(x
i-1
) sudah kecil atau mendekati nol, maka x
i-1
merupakan akar
persamaan dari fungsi f(x). Jika sebaliknya, nilai f(x
i-1
) masihcukup besar,
maka dilakukan iterasi berikutnya, dengan menggunakan x
i-1
dipakai
untuk mengganti nilai x
i
pada iterasi kedua.
e. Iterasi dilanjutkan sampai diperoleh nilai fungsi mendekati atau sama
dengan nol.
Kemiringan garis singgung di titik (x
i
,f(x
i
)), didefinisikan dengan f(x
i
) merupakan
nilai tangent dari garis singgung, yang diberikan dengan persamaan sebagai
berikut:
1
) (
) tan( ) ( '


i i
i
i
x x
x f
x f
Atau
) ( '
) (
1
i
i
i i
x f
x f
x x

Persamaan tersebut dinamakan Formulasi Newton Raphson untuk menyelesaikan


persamaan non-linear dari f(x) = 0.
Contoh Soal 1:
Suatu batang balok didukung oleh Jepit-Rol seperti tergambar. Balok dibebani
dengan beban segitiga yang berdampak pada lendutan yang terjadi si sepanjang
batang balok. Akan dicari lokasi dimana lendutan maksimum terjadi, jika
diketahui data modulus elastisitas (E), momen inersia (I), beban maksimum di
lokasi Jepit (w), serta panjang bentang balok (L).
defleksi
x
y
Gambar Skema Struktur Balok didukung Jepit-Rol
Dengan mengambil sumbu koordinat berpusat di posisi Rol, absis x positif ke
kanan dan y merupakan defleksi yang terjadi, besarnya lendutan yang terjadi di
sepanjang bentang, diberikan sebagai berikut ini.
( ) x L x L x
EIL
w
y
o 4 3 2 5
2
120
+
Untuk mendapatkan lokasi defleksi maksimum, di sepanjang bentang balok,
persamaan tersebut dideferensialkan terhadap x dan disamakan dengan nol.
Pada persamaan tersebut, nilai w
o
, E, I dan L konstan dan tidak sama dengan nol,
sehingga persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi:
Dengan mengambil L = 9 m, maka aplikasi Metoda Newton Raphson dilakukan
sebagai berikut ini.
Langkah awal pada Metode Newton Raphson adalah menetapkan nilai x
sembarang sebagai awal iterasi. Meskipun nilai x boleh sembarang, akan tetapi
dalam kasus mencari lokasi dimana lendutan maksimum terjadi di sepanjang
bentang balok sepanjang L = 9 m, mestinya nilai x berada di antara 0 dan 9.
( ) 0 6 5
120
4 2 2 4
+ L x L x
EIL
w
dx
dy
o
0 6 5
4 2 2 4
+ L x L x
4 2 4
9 486 5 ) ( + x x x f
x x x f 972 20 ) ( '
3
+
Contoh hitungan, dengan mengambil nilai x awal, misalkan x = 1.5, diperlihatkan
sebagai berikut ini.
dengan menggunakan persamaan Newton Raphson, didapatkan nilai x
i-1
,
sebagai berikut:
450 . 5
391 . 1
493 . 5
5 . 1
) ( '
) (
1

i
i
i i
x f
x f
x x
Diperlihatkan pada hitungan di atas bahwa nilai f(x
i-1
) = f(5.45) = 3.464;
masih belum dekat dengan nilai yang diharapkan, yaitu f(x) = 0, sehingga
diperlukan iterasi berikutnya. Iterasi dilakukan berulang sampai diperoleh
nilai f(x
i-1
) mendekati 0 atau sampai diperoleh tingkat kesalahan relatif
kecil (misal : e < 0.1%). Hitungan selengkapnya dengan Metode Newton
Raphson ditampilkan dalam Tabel berikut ini.
Tabel Hitungan Metode Newton Raphson
i x
i
f(x
i
) f'(x
i
) x
i-1
f(x
i+1
) e
1 1.5 -5.49281 1.3905
5.45024
3
3.46372
2
2
5.45024
3
3.46372
2
2.05963
1
3.76852
3 -0.66739 -30.9%
3 3.76852 -0.66739 2.59261 4.02594 0.00266 6.8%
493 . 5 9 ) 5 . 1 ( 486 ) 5 . 1 ( 5 ) 5 . 1 (
4 2 4
+ f
391 . 1 ) 5 . 1 ( 972 ) 5 . 1 ( 20 ) 5 . 1 ( '
3
+ f
464 . 3 9 ) 45 . 5 ( 486 ) 45 . 5 ( 5 ) 450 . 5 ( ) (
4 2 4
1
+

f x f
i
3 1 4 5
4
4.02594
4
0.00266
5
2.60814
9
4.02492
2 -1.7E-10 0.0%
5
4.02492
2 -1.7E-10 2.60815
4.02492
2 0 0.0%
6
4.02492
2 0 2.60815
4.02492
2 0 0.0%
7
4.02492
2 0 2.60815
4.02492
2 0 0.0%
8
4.02492
2 0 2.60815
4.02492
2 0 0.0%
Dari tabel tersebut diperlihatkan, bahwa sampai iterasi yang ke 4 sudah
diperoleh nilai akar persamaan yang dicari, x = 4.025 m. Gambar berikut
ini memperlihatkan proses iterasi dengan Metode Newton Raphson yang
ditampilkan pada Tabel di atas.
-8
-6
-4
-2
0
2
4
6
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
f(x)
x
Gambar Proses iterasi Metode Newton Raphson.
Diperlihatkan pada proses hitungan akar persamaan dengan menggunakan
Metode Newton Raphson, bahwa metode ini relatif sederhana dan efektif.
Meskipun demikian dijumpai beberapa kelemahan dalam penggunaan
Metode Newton Raphson, yang dijelaskan sebagai berikut ini.
a. Devide by zero
Penggunan Formulasi Newton Raphson seperti ditunjukkan pada
Persamaan ---, akan dijumpai permasalahan jika nilai awal yang diambil
berada di posisi nilai ekstrim dari fungsi, akan berdampak pada nilai f(x)
sama dengan nol atau garis singgung fungsi horizontal. Dengan nilai
f(x)=0 akan berdampak nilai f(x)/f(x) tidak berhingga sehingga iterasi
tidak bias dilanjutkan. Sebagai contoh, pada permasalahan penyelesaian
akar persamaan untuk mencari lokasi dimana terjadi lendutan maksimum
pada struktur balok, seperti diuraikan sebelumnya; jika nilai awal diambil
x = 0, maka f(x) = 0, sehingga iterasi tidak bisa dilanjutkan. Untuk
menghindari permasalahan tersebut, nilai awal ditetapka dekan dengan
nol, misalkan x = 0.01. Proses iterasi hitungan diberikan pada Tabel
berikut, dimana diperlihatkan proses iterasi yang panjang dan hitungan
mencapai konvergensi pada iterasi yang ke 21. Diperlihatkan pata table
tersebut, bahwa hasil iterasi memberikan nilai akar persamaan x = 9. Nilai
x = 9 ini secara matematis merupakan salah satu penyelesaian akar
persamaan dari Persamaan ---. Akan tetapi mengingat lokasi dimana x = 9
merupakan lokasi perletakan jepit pada struktur balok yang dikaji maka
defleksi yang terjadi di lokasi tersebut bukan merupakan ledutan
maksimum akan tetapi lendutan minimum. Dengan demikian nilai akar
persamaan yang diperoleh pada proses iterasi pada Tabel --- bukan
merupakan nilai akar persamaan yang dicari pada contoh kasus ini.
Tabel Proses Iterasi dengan nilai awal berada di dekat nilai ekstrim fungsi
f(x)
i x
i
f(x
i
) (10
3
) f'(x
i
) (10
3
) x
i-1
f(x
i-1
) (10
3
) e
1 0.01 -6.6E+00 9.7E-03 675.0064 -1.0E+09
2 675.0064 -1.0E+09 -6.2E+06 506.2728 -3.3E+08 -25.0%
3 506.2728 -3.3E+08 -2.6E+06 379.7286 -1.0E+08 -25.0%
4 379.7286 -1.0E+08 -1.1E+06 284.8284 -3.3E+07 -25.0%
5 284.8284 -3.3E+07 -4.6E+05 213.664 -1.0E+07 -25.0%
6 213.664 -1.0E+07 -1.9E+05 160.3049 -3.3E+06 -25.0%
7 160.3049 -3.3E+06 -8.2E+04 120.3045 -1.0E+06 -25.0%
8 120.3045 -1.0E+06 -3.5E+04 90.32954 -3.3E+05 -24.9%
9 90.32954 -3.3E+05 -1.5E+04 67.88202 -1.0E+05 -24.9%
10 67.88202 -1.0E+05 -6.2E+03 51.09135 -3.3E+04 -24.7%
11 51.09135 -3.3E+04 -2.6E+03 38.55833 -1.0E+04 -24.5%
12 38.55833 -1.0E+04 -1.1E+03 29.23859 -3.2E+03 -24.2%
13 29.23859 -3.2E+03 -4.7E+02 22.35562 -1.0E+03 -23.5%
14 22.35562 -1.0E+03 -2.0E+02 17.33622 -3.1E+02 -22.5%
15 17.33622 -3.1E+02 -8.7E+01 13.7631 -9.4E+01 -20.6%
16 13.7631 -9.4E+01 -3.9E+01 11.34052 -2.7E+01 -17.6%
17 11.34052 -2.7E+01 -1.8E+01 9.866018 -6.6E+00 -13.0%
18 9.866018 -6.6E+00 -9.6E+00 9.176793 -1.1E+00 -7.0%
19 9.176793 -1.1E+00 -6.5E+00 9.009602 -5.6E-02 -1.8%
20 9.009602 -5.6E-02 -5.9E+00 9.000031 -1.8E-04 -0.1%
21 9.000031 -1.8E-04 -5.8E+00 9 -1.8E-09 0.0%
b. Lompatan Akar Persamaan
Seperti diuraikan terdahulu, bahwa poses iterasi pada Metode Newton
Raphson sangat bergantung pada nilai awal yang kita tetapkan. Contoh
berikut ini memberikan beberapa alternative nilai awal yang diberikan
serta proses iterasi yang harus dilakukan untuk menapai nilai konvergensi
akar persamaan.
- x(awal) = 1
Tabel Proses Iterasi dengan nilai awal x = 1.0
i x
i
f(x
i
) (10
3
) f'(x
i
) (10
3
) x
i-1
f(x
i-1
)
(10
3
) e
1 1 -6.1E+00 9.5E-01 7.386555 5.1E+00
2 7.386555 5.1E+00 -8.8E-01 13.14492 -7.2E+01 78.0%
3 13.14492 -7.2E+01 -3.3E+01 10.94377 -2.0E+01 -16.7%
4 10.94377 -2.0E+01 -1.6E+01 9.655015 -4.7E+00 -11.8%
5 9.655015 -4.7E+00 -8.6E+00 9.108867 -6.6E-01 -5.7%
6 9.108867 -6.6E-01 -6.3E+00 9.003754 -2.2E-02 -1.2%
7 9.003754 -2.2E-02 -5.8E+00 9.000005 -2.7E-05 0.0%
-8
-6
-4
-2
0
2
4
6
-9 -6 -3 0 3 6 9 f(x)
x
Gambar Proses iterasi Metode Newton Raphson, dengan nilai awal x =
1.0
- x(awal) = 1.1
Tabel Proses Iterasi dengan nilai awal x = 1.1
i x
i
f(x
i
) (10
3
) f'(x
i
) (10
3
) x
i-1
f(x
i-1
)
(10
3
) e
1 1.1 -6.0E+00 1.0E+00 6.836021 5.2E+00
2 6.836021 5.2E+00 2.6E-01 -13.6384 -8.9E+01 -299.5%
3 -13.6384 -8.9E+01 3.7E+01 -11.2597 -2.5E+01 -17.4%
4 -11.2597 -2.5E+01 1.8E+01 -9.82198 -6.2E+00 -12.8%
5 -9.82198 -6.2E+00 9.4E+00 -9.16166 -9.9E-01 -6.7%
6 -9.16166 -9.9E-01 6.5E+00 -9.00808 -4.7E-02 -1.7%
7 -9.00808 -4.7E-02 5.9E+00 -9.00002 -1.3E-04 -0.1%
8 -9.00002 -1.3E-04 5.8E+00 -9 -9.2E-10 0.0%
-8
-6
-4
-2
0
2
4
6
-9 -6 -3 0 3 6 9 f(x)
x
Gambar Proses iterasi Metode Newton Raphson, dengan nilai awal x = 1.1
- x(awal) = 1.2
Tabel Proses Iterasi dengan nilai awal x = 1.2
i x
i
f(x
i
) (10
3
) f'(x
i
) (10
3
) x
i-1
f(x
i-1
)
(10
3
) e
1 1.2 -5.9E+00 1.1E+00 6.387595 4.9E+00
2 6.387595 4.9E+00 1.0E+00 1.424471 -5.6E+00 -77.7%
3 1.424471 -5.6E+00 1.3E+00 5.641784 3.8E+00 296.1%
4 5.641784 3.8E+00 1.9E+00 3.611123 -1.1E+00 -36.0%
5 3.611123 -1.1E+00 2.6E+00 4.029193 1.1E-02 11.6%
6 4.029193 1.1E-02 2.6E+00 4.024922 -1.3E-08 -0.1%
7 4.024922 -1.3E-08 2.6E+00 4.024922 0.0E+00 0.0%
-8
-6
-4
-2
0
2
4
6
-9 -6 -3 0 3 6 9 f(x)
x
Gambar Proses iterasi Metode Newton Raphson, dengan nilai awal x = 1.2
Tiga alternatif nilai awal yang diberikan pada iterasi dengan Metode Newton
Raphson, dengan nilai yang berdekatan, x = 1.0; 1.2; dan 1.2, ternyata memberikan
hasil iterasi nilai akar persamaan yang berbeda. Suatu nilai awal yang diberikan
yang berdekatan dengan nilai akar persamaan, tidak selalu konvergen menuju nilai
akar persamaan tersebut, akn tetapi dapt meloncat menuju nilai akar persamaan
yang lain.
Pada contoh yang diberikan untuk aplikasi Metode Newton Rapson, dengan
menyelesaikan persamaan ---, memberikan 4 nilai akar persamaan, yaitu -9,
-4.025, 4.025, dan 9. Keempat nilai akar persamaan tersebut secara matematis
murni memberikan hasil yang benar, akan tetapi jika ditinjau kondisi fisik dari
persamaan tersebut, dimana persamaan tersebut digunakan untuk mencari nilai
ekstrim lendutan yang terjadi pada plat yang mempunyai panjang bentang L = 9 m,
maka hasil yang memungkinkan adalah nilai akar persamaan x = 4.025 dan x =
9.0. Nilai x = 4.025 m adalah lokasi dari posisi Rol, dimana pada struktur balok
yang didukung Jepit-Rol mengalami defleksi maksimum, sedangkan x = 9.0
(posisi perletakan Jepit) adalah posisi dimana terjadi defleksi minimum (=0).
Metode Secant
Pada sub-bab pembahasan tentang Metode Newton Raphson, telah dijelaskan
kelebihan dan kelemahan penggunaan metode tersebut dalam menyelesaikan suatu
akar persamaan. Penyelesaian akar persamaan dengan menggunakan Metode
Newton Raphson menghendaki terbentuknya fungsi derivative dari fungsi f(x).
Jika persamaan yang diselesaikan merupakan persamaan yang kompleks, sehingga
sulit untuk dibentuk fungsi turunannya, penggunaan Metode Newton Raphson
tidak bisa dilakukan. Kesulitan dalam menyusun fungsi derivative, bias
disebabkan oleh karena fungsi persamaan yang kompleks untuk bisa dibentuk
fungsi turunannya, atau dapat juga disebabkan terbatasnya kemampuan kita dalam
bidang matematika untuk menyelesaikan turunan dari suatu fungsi. Jika dijumpai
Persamaan yang tidak mudah untuk dicari fungsi turunannya, sehingga
penggunaan Metode Newton Raphson untuk mencari akar persamaan tidak bisa
dilakukan. Untuk itu dikembangkan suatu metode yang dapat mengatasi
permasalahan tersebut, yaitu Metode Secant. Pada metode Secant, fungsi turunan
yang dipakai pada Metode Newton Raphson diganti dengan fungsi garis
penghubung antara 2 titik yang berada di fungsi f(x). Oleh karena itu pada Metode
Secant, dikehendaki ditetapkan dua nilai awal sembarang untuk memulai iterasi.
Skema Metode Secant diberikan sebagai berikut ini.
Gambar Skema Metode Secant
Misalkan dua nilai awal x
i
dan x
i-1
memberikan dua titik yang berada pada fungsi
f(x), titik B dengan koordinat (x
i
, f(x
i
))
,
dan C dengan koordinat (x
i-1
,f(x
i-1
))

. Fungsi
linear yang melewati titik B dan C akan memotong sumbu x di titik x
i+1
.
Persamaan Newton Raphson dituliskan kembali sebagai berikut ini:
) ( '
) (
1
i
i
i i
x f
x f
x x
+
Nilai f(x
i
) pada persamaan tersebut didekati dengan kemiringan garis penghubung
BC pada Gambar ---, sehingga:
1
1
) ( ) (
) ( '

i i
i i
i
x x
x f x f
x f
Substitusi persamaan tersebut ke Persamaan Newton Raphson, diperoleh
Persamaan Secant sebagai berikut ini:
) ( ) (
) )( (
1
1
1


i i
i i i
i i
x f x f
x x x f
x x
Aplikasi Metode Secant untuk menyelesaikan akar persamaan dari fungsi f(x) = 0
diberikan dengan 2 contoh berikut ini.
1. Penyelesaian akarpersamaan pada persamaan ---, dimana nilai akar
pesamaan merupakan lokasi dari titik dimana mengalami lendutan
maksimum pada balok dengan perletakan Jepit-Rol yang dibebani dengan
beban segitiga; diuraikan sebagai berikut ini.
Tabel Iterasi Menggunakan Metode Secant
i x
i
x
i-1
f(x
i
) (10
3
) f(x
i-1
) (10
3
) x
i+1
f(x
i+1
) (10
3
) e
1 1.000 2.000 -6.1E+00 -4.7E+00 5.3962 3.4E+00
2 5.396 1.000 3.4E+00 -6.1E+00 3.8341 -5.0E-01 -28.9%
3 3.834 5.396 -5.0E-01 3.4E+00 4.0359 2.9E-02 5.3%
4 4.036 3.834 2.9E-02 -5.0E-01 4.0249 -3.0E-05 -0.3%
5 4.025 4.036 -3.0E-05 2.9E-02 4.0249 1.1E-10 0.0%
6 4.025 4.025 1.1E-10 -3.0E-05 4.0249 0.0E+00 0.0%
2. Suatu saluran irigasi didesain untuk melewatkan debit sebesar 15 m
3
/dt.
Saluran dirancang mempunyai lebar B=6 m, kemiringan dasar saluran
S
o
=0.001dan kekasaran dinding dan dasar saluran n = 0.025. Jika
kemiringan tebing saluran m = 1, tentukan kedalaman aliran yang lewat
saluran.
Luas Tampang lintang aliran dengan kedalaman aliran h, adalah
( ) h mh B A +
; sedangkan keliling basah saluran
2
1 2 m h B P + +
.
Jari-jari hidraulis saluran didefinisikan sebagai R = A/P. Untuk mencari
kecepatan aliran seragam digunakan persamaan Manning, sebagai
berikut:
2
1
3
2
1
o n
S R U
Dengan memasukkan parameter-parameter aliran ke dalam persamaan debit,
didapat:
A S R UA Q
o n
2
1
3
2
1

2
1
3
2
3
5
2
1
3
2
1 1
o n o n
S
P
A
A S
P
A
UA Q
1
]
1


[ ]
2
1
3
2
3
5
2
1
1 2
) (
o n
S
m h B
h mh B
Q
1
]
1

+ +
+

[ ] [ ]
2
2
5
3
2
1 2
) (
1 2 6
) (
3
2
3
5
1
]
1

+ +
+

1
]
1

+ +
+

m h B
h mh B
K
m h
h mh B
S
n Q
K
o
[ ] 0 1 2 ) (
2
2 3 5

1
]
1

+ + + m h B K h mh B
Dengan memasukkan parameter aliran dan saluran ke persamaan
tersebut, diperoleh formulasi berikut ini.
[ ] [ ]
86 . 11
0 2 2 6 ) 6 ( ) (
2
3 5

+ +
o
S
n Q
K dengan
h K h h h f
Persamaan tersebut diselesaikan untuk mencari nilai h sedemikian hingga
f(h)=0. Akarpersamaan diselesaikan dengan menggunakan Metode Secant,
dimulai dengan menetapkan dua nilai h sembarang, misalkan diambil h
1
= 2 dan h
0
= 4; maka diperoleh f(2)=8.2 10
2
dan f(4)=1.0 10
8
. Dengan menggunakan
Persamaan Secant diperoleh:
) ( ) (
) )( (
1
1
1


i i
i i i
i i
h f h f
h h h f
h h
98 . 1
) 4 ( ) 2 (
) 4 2 )( 2 (
2
1


+
f f
f
h
i
Karena nilai f(1.98) sangat besar dibandingkan 0, maka dilakukan iterasi
yang kedua dengan memasukkan hasil h
i+1
dan hi pada iterasi yang pertama ke
masing-masing h
i
dan h
i-1
. Iterasi tersebut dilanjutkan sampai diperoleh nilai f(h
i+1
)
sama dengan atau dekat dengan 0. Hasil iterasi selengkapnya diberikan pada Tabel
berikut ini. Dari Tabel tersebut diperlihatkan akar persamaan diperoleh setelah
melakukan iterasi yang ke-8. Seperti halnya Metode Newton Raphson, iterasi pada
Metode Secant merupakan iterasi terbuka dimana dimungkinkan terjadi iterasi
yang konvergen atau divergen, bergantung pada nilai awal yang diberikan. Pada
table berikutnya diperlihatkan, jika nilai awal diberikan sebesar h
1
= 1 dan h
0
= 4,
maka terjadi divergensi, sehingga tidak didapatkan nilai akar persamaan, meskipun
iterasi dilakukan sampai ke-70. Dalam hal dijumpai iterasi yang divergensi, maka
perlu dilakukan perubahan nilai awal yang dimasukkan.
Tabel Proses Iterasi Konvergen padaMetode Secant
i h
i
h
i-1
f(h
i
) f(h
i-1
) h
i+1
f(h
i+1
) e
1 2.000 4.000 8.2E+05 1.0E+08 1.9837 7.7E+05
2 1.984 2.000 7.7E+05 8.2E+05 1.7345 2.4E+05 -12.6%
3 1.735 1.984 2.4E+05 7.7E+05 1.6246 1.0E+05 -6.3%
4 1.625 1.735 1.0E+05 2.4E+05 1.5375 3.0E+04 -5.4%
5 1.537 1.625 3.0E+04 1.0E+05 1.5017 6.3E+03 -2.3%
6 1.502 1.537 6.3E+03 3.0E+04 1.4923 5.3E+02 -0.6%
7 1.492 1.502 5.3E+02 6.3E+03 1.4915 1.1E+01 -0.1%
8 1.491 1.492 1.1E+01 5.3E+02 1.4914 1.8E-02 0.0%
9 1.491 1.491 1.8E-02 1.1E+01 1.4914 6.3E-07 0.0%
Tabel Proses Iterasi Divergen padaMetode Secant
i x
i
x
i-1
f(x
i
) f(x
i-1
) x
i+1
f(x
i+1
) e

1 1.000 4.000 -1.1E+05 1.0E+08 1.0033 -1.1E+05
2 1.003 1.000 -1.1E+05 -1.1E+05 9.3907 6.3E+10 836.0%
3 9.391 1.003 6.3E+10 -1.1E+05 1.0033 -1.1E+05 -89.3%
4 1.003 9.391 -1.1E+05 6.3E+10 1.0034 -1.1E+05 0.0%
5 1.003 1.003 -1.1E+05 -1.1E+05 8.9528 4.3E+10 792.3%
6 8.953 1.003 4.3E+10 -1.1E+05 1.0034 -1.1E+05 -88.8%
7 1.003 8.953 -1.1E+05 4.3E+10 1.0034 -1.1E+05 0.0%
8 1.003 1.003 -1.1E+05 -1.1E+05 8.9432 4.3E+10 791.3%
9 8.943 1.003 4.3E+10 -1.1E+05 1.0034 -1.1E+05 -88.8%
10 1.003 8.943 -1.1E+05 4.3E+10 1.0034 -1.1E+05 0.0%
11 1.003 1.003 -1.1E+05 -1.1E+05 8.9329 4.2E+10 790.2%
60 8.759 1.004 3.6E+10 -1.1E+05 1.0042 -1.1E+05 -88.5%
61 1.004 8.759 -1.1E+05 3.6E+10 1.0042 -1.1E+05 0.0%
62 1.004 1.004 -1.1E+05 -1.1E+05 8.7474 3.6E+10 771.1%
63 8.747 1.004 3.6E+10 -1.1E+05 1.0042 -1.1E+05 -88.5%
64 1.004 8.747 -1.1E+05 3.6E+10 1.0043 -1.1E+05 0.0%
65 1.004 1.004 -1.1E+05 -1.1E+05 8.7359 3.5E+10 769.9%
66 8.736 1.004 3.5E+10 -1.1E+05 1.0043 -1.1E+05 -88.5%
67 1.004 8.736 -1.1E+05 3.5E+10 1.0043 -1.1E+05 0.0%
68 1.004 1.004 -1.1E+05 -1.1E+05 8.7243 3.5E+10 768.7%
69 8.724 1.004 3.5E+10 -1.1E+05 1.0043 -1.1E+05 -88.5%
70 1.004 8.724 -1.1E+05 3.5E+10 1.0044 -1.1E+05 0.0%
Metode Iterasi
Persamaan --- dapat ditulis kembali sebagai berikut ini.
Persamaan tersebut dapat juga dituliskan dalam dua kemungkinan persamaan
berikut:
Pada kedua persamaan tersebut, nilai x di ruas kanan diberi indeks i sedangkan
nilai x di ruas kiri diberi indeks i+1. Nilai x di kedua ruas seharusnya mempunyai
nilai yang sama, sehingga untuk mencari nilai x tersebut, dibentuk persamaan
iterative sebagai berikut ini.
Iterasi dimulai dengan memasukkan nilai x sembarang di ruas kanan, x
i
, dan
dengan memroses persamaan tersebut diperoleh nilai x di ruas kiri, x
i+1
. Jika nilai
x
i
dan x
i+1
belum sama atau belum mendekati sama, maka dilakukan iterasi
berikutnya, dimana nilai x
i+1
hasil iterasi sebelumnya, untuk iterasi berikutnya
dimasukkan ke x
i
di ruas kanan, dan kedua nilai x tersebut kembali dibandingkan.
Iterasi tersebut dilakukan berulang-ulang, sampai diperoleh kedua nilai x sudah
sama atau mendekati sama. Contoh proses iterasi diberikan pada Tabel berikut ini.
0 6 5
4 2 2 4
+ L x L x
4
1
5
6
4 2 2

,
_

L x L
x
i
i
2
4 4
6
5
L
L x
x
i
i
+

4
1
5
6
4 2 2
1

,
_

+
L x L
x
i
i
2
4 4
1
6
5
L
L x
x
i
i
+

+
4
1
5
6
4
2
2
1

,
_

+
L x L
x
i
i
2
4
4
1
6
5
L
L x
x
i
i
+

+
x
kanan
x
kiri
e i x
kanan
x
kiri
e
5.000 5.782 15.6% 1 5.000 4.464 -10.7%
5.782 6.635 14.7% 2 4.464 4.194 -6.1%
6.635 7.380 11.2% 3 4.194 4.084 -2.6%
7.380 7.944 7.6% 4 4.084 4.045 -1.0%
7.944 8.333 4.9% 5 4.045 4.032 -0.3%
8.333 8.587 3.1% 6 4.032 4.027 -0.1%
8.587 8.747 1.9% 7 4.027 4.026 0.0%
8.747 8.847 1.1% 8 4.026 4.025 0.0%
8.847 8.907 0.7% 9 4.025 4.025 0.0%
8.907 8.944 0.4% 10 4.025 4.025 0.0%
8.944 8.966 0.2% 11 4.025 4.025 0.0%
8.966 8.980 0.1% 12 4.025 4.025 0.0%
8.980 8.988 0.1% 13 4.025 4.025 0.0%
8.988 8.993 0.1%
8.993 8.996 0.0%