Anda di halaman 1dari 59

ANALISIS SISTEM JARINGAN MONITORING CCTV DI INSTALASI UJI TERBANG ROKET LAPAN - PAMEUNGPEUK

KERJA PRAKTEK Diajukan Untuk Memenuhi Laporan Kerja Praktek

Oleh : SAMRIZAL (0406045)

JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI GARUT


2009

30

31

ABSTRAK Samrizal(0406045) Analisis Sistem Jaringan Monitoring CCTV di Instalasi Uji Terbang Roket Lapan - Pameungpeuk Penelitian kerja praktek yang dilaksanakan di Lembaga Penelitian antariksa nasional (LAPAN) adalah mengalisis jaringan monitoring CCTV dari mulai pemasangan penempatan kamera di ruang-ruang tertentu sampai pemasangan dan cara kerja monitoring CCTV LAPAN. objek penelitian yaitu pada sistem monitoring di berbagai ruang, seperti : Ruang firing, Ruang Komando, Display Demo Room. Menganalisis spesifikasi kebutuhan dan identifikasi komponen penunjang sistem. Closed Circuit Television (CCTV) adalah teknologi pengawasan visual yang didesain untuk mengawasi bermacam-macam lingkungan dan aktivitasnya. Penggunaan teknologi CCTV oleh intansi LAPAN karena berbagai kelebihannya, digunakan sebagai dokumentasi dan sistem keamanan.Konfigurasi pemasangan sistem CCTV LAPAN merupakan metode CCTV umum yang membutuhkan beberapa komponen yaitu : Tiga kamera dihubungkan dengan monitor dengan koneksi kabel dan dua kamera dihubungkan melalui koneksi wireless. Perekaman menggunakan Digital Video Recording sebagai alat perekam. Hasil perekaman tersebut akan digunakan sebagai alat dokumentasi dari kegiatan LAPAN khususnya pada kegiatan peluncuran Roket. Pengoperasian teknologi CCTV LAPAN dilakukan oleh petugas yang berkompeten. Monitoring bisa di akses secara bersamaan melalui monitor di ruangan lain, sehingga pengawasan lebih efektif yang berimbas pada kinerja karyawan dan keamanan yang lebih baik. Pemanfaatan teknologi CCTV berkembang, dari teknologi tambahan menjadi teknologi pendukung penelitian lembaga LAPAN. Kata kunci : Jaringan, Monitoring CCTV, LAPAN

32

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT yang selalu memberi jalan dan kekuatan kepada setiap hambanya yang beriman. Sholawat serta salam kepada Habibullah, Nabiyullah Muhammad SAW sang Rahmatan lil Alamien, yang telah membawa kebenaran yang hakiki kepada umat manusia. Dengan izin dan petunjuk Allah SWT penulis dapat menyelesaikan Laporan Penelitian Kerja Praktek yang berjudul Analisis Sistem Jaringan Monitoring CCTV di Instalasi Uji Terbang Roket LAPAN-Pameungpeuk. Yang menjadi syarat utama kelulusan mata kuliah kerja praktek S-1 Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Sebagai manusia penulis dalam laporannya tentu tidak terlepas dari kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Semoga kekurangan tersebut menjadi awal dari sebuah perubahan pendewasaan bagi penulis. Atas selesainya laporan ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada : 1. Ibu Dini Destiani, Dra, SF, MT, selaku pembimbing akademik dan Ketua Jurusan Teknik Informatika. 2. Bpk. Asep Deddy. Ir, M.kom, sebagai Koordinator Kerja Praktek Jurusan Teknik Informatika. 3. Seluruh civitas akademik Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 4. Kepala Lapan Pameungpeuk Garut Bpk Moedji Soedjarwo, ST 5. Bpk. Yudi Hermanto, Selaku pembimbing Lapangan Di LAPAN. 6. Mimin Rukmini ( Ibu ) Alm Kandi Sukandi ( Ayah ), A Karwan, A Ade, teh Linda, teh Erna, teh Hera, mas Agus Suwito, Hatur nuhun pisan kana sadayana bantosanna. 7. Esspecially to Anak-anak T.inf 04, thanks Guy Atas Semua Bantosannya.

33

8. Special pisan

to Mr Bachanks, Zaenal Muttaqien, Mr Obed, Lestari

Kusumawati. Akhirnya laporan kerja praktek ini, penulis persembahkan dengan harapan agar dapat memberikan sekedar sumbangan pemikiran terhadap kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan semoga bermanfaat bagi kita semua.

Garut,

Mei 2009 Penulis

34

DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK .........................................................................................................i KATA PENGANTAR .......................................................................................ii DAFTAR ISI ......................................................................................................iv DAFTAR GAMBAR .........................................................................................vi DAFTAR TABEL .............................................................................................vii DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................viii BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah................................................................1 1.2. Identifikasi Masalah.......................................................................2 1.3. Tujuan Penelitian...........................................................................3 1.4. Batasan Masalah............................................................................3 1.5. Kerangka Pemikiran ......................................................................3 1.6. Metodologi Penelitian ...................................................................4 1.6.1. Metode Pengumpulan Data ..................................................4 1.6.2. Analisa Sistem......................................................................5 1.7. Sistematika Penulisan....................................................................6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengenalan Jaringan......................................................................7 2.2. Dasar-Dasar Radio Frekuensi ......................................................9 2.2.1. Transceiver Nirkabel ............................................................9 2.2.2. Sinyal Radio Frekuensi (RF)................................................10 2.2.3. Interferensi............................................................................13 2.2.4. Multipath...............................................................................13 2.2.5. Komunikasi Antar Model Sistem OSI..................................15 2.2.6. Arsitektur Jaringan Wireless.................................................16 2.2.7. Sinyal Digital Informasi........................................................18

35

2.2.8. Udara sebagai Media Pertukaran Data.................................. 20 Halaman 2.3. Teknologi Wifi .............................................................................20 2.3.1. Pengertian Wifi.....................................................................20 2.4. Monitoring....................................................................................22 2.5. Closed Circuit Television (CCTV)...............................................22 2.6. Jaringan Monitoring CCTV .........................................................24 2.7. Mengetahui Cara Kerja CCTV ....................................................27 BAB III ANALISIS SISTEM 3.1. Sejarah Lembaga Penerbangan Dan Antariksa nasional ..............30 3.1.1. Visi LAPAN..........................................................................30 3.1.2. Misi LAPAN.........................................................................30 3.1.3. Lingkup Kegiatan..................................................................31 3.1.4. Deskripsi Struktur Organisasi LAPAN.................................31 3.1.5. Kedudukan, Tugas Pokok, Fungsi dan Kewenangan............32 3.2. Identifikasi Sistem Jaringan Monitoring CCTV LAPAN.............34 3.2.1. Ruang-ruang yang Di Monitor..............................................36 3.3. Cara Pemasangan Monitoring CCTV LAPAN..............................37 3.1.1. Pemasangan Melalui Metode Kabeling................................37 3.3.2. Pemasangan Melalui Metode Wireless.................................38 3.3.3 Cara Kerja Sistem monitoring...............................................39 3.4. Analisis Komponen sistem Monitoring CCTV LAPAN..............41 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan....................................................................................49 4.2. Saran..............................................................................................50 DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................52 LAMPIRAN........................................................................................................53

36

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Dalam era globalisasi bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sangat

berkembang pesat umumnya dibidang Teknologi Informasi (TI) pada segala bidang, sehingga masa sekarang ini dituntut adanya kesiapan dan peran serta yang aktif dari seluruh masyarakat Indonesia terutama pada para penerus cita - cita dan perjuangan bangsa, dalam hal ini berarti bahwa perkembangan ilmu pengetahuan harus diimbangi dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki potensi yang baik, yang mempunyai kesiapan mental dalam menghadapi segala macam tantangan dan dapat serta berperan aktif dalam pembangunan bangsa Indonesia. Sumber daya manusia merupakan modal pokok dalam pembangunan bangsa, maka manusia sebagai faktor utama dituntut untuk mempunyai banyak kemampuan, diantaranya dengan memiliki kemampuan dalam hal penelitian dan pengembangan ilmu serta penerapannya yang dapat mendukung perkembangan teknologi informasi, serta harus mempunyai kemampuan dalam menghadapi perubahan pembangunan ini. Selain itu juga Sumber Daya Manusia (SDM) harus memiliki wawasan yang luas serta pendidikan yang memadai untuk menghasilkan sumber daya manusia yang terampil dan ahli pada bidangnya masing - masing. Tidak dapat di pungkiri lagi berkembangnya teknologi berpengaruh pada berkurangnya peran tenaga fisik manusia dalam melakukan suatu pekerjaan. Peran tersebut digantikan dengan perangkat elektronik yang dapat mewakili pekerjaanpekerjaan tertentu, seperti pengawasan suatu lokasi yang semula diawasi oleh mata manusia sekarang bisa digantikan oleh alat elekronik. Salah satu trend upaya untuk meningkatkan keamanan saat ini adalah semakin maraknya kebutuhan dan keinginan dari masyarakat untuk menggunakan peralatan Closed Circuit

37

TeleVision (CCTV), yang pada akhirnya melahirkan banyaknya pilihan CCTV yang disediakan oleh vendor atau penyedia peralatan CCTV seperti misalnya Network Camera. Kamera CCTV merupakan teknologi penangkap objek gambar (Capture) yang akan ditransformasikan menjadi sinyal-sinyal elektronik, dan selanjutnya sinyal-sinyal tersebut akan dikonversikan dari format analog menjadi format digital dan ditransfer melalui sebuah komputer dan dikompresi untuk selanjutnya dikirim melalui jaringan. LAPAN Pameungpeuk Garut adalah Lembaga Pemerintahan Non Departemen yang bertugas untuk mengembangkan Teknologi pada bidang Peroketan serta sistem Instalasi Uji Terbang sebagai sarana pendukung daripada kegiatan Peluncuran Roket di Pameungpeuk Garut. LAPAN Pameungpeuk Garut merupakan salah satu pengguna teknologi CCTV, dimana teknologi ini digunakan untuk memonitoring kegiatan peluncuran Roket. Kemudian fungsi utama penggunaan teknologi CCTV ini sebagai dokumentasi dan monitoring keamanan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam pelaksanaan kerja praktek ini difokuskan pada bidang jaringan sistem monitoring CCTV serta sistem aplikasi penggunaannya, dimana dalam pelaksanaan kerja praktek ini dapat diketahui sistem jaringan serta system kerja dari pada alat. Atas dasar itulah maka penulis menganalisa sistem tersebut di atas, yang selanjutnya akan dijadikan sebagai bahan laporan kerja praktek dengan judul ANALISIS SISTEM JARINGAN MONITORING CCTV DI INSTALASI UJI TERBANG ROKET LAPAN PAMEUNGPEUK GARUT.

1.2.

Identifikasi Masalah Sesuai dengan latar belakang kerja praktek di atas masalah yang akan di

identifikasi adalah sistem jaringan monitoring CCTV serta cara kerja dari pada alat monitoring CCTV di LAPAN-Pameungpeuk Garut.

38

1.3.

Tujuan Penelitian Sesuai dengan identifikasi masalah yang ingin dicapai melalui kerja

praktek ini adalah: 1. 2. 3. 1.4. Mengetahui cara kerja CCTV. Mengetahui dan menganalisis sistem jaringan monitoring CCTV yang digunakan oleh Instansi LAPAN Pameungpeuk Garut. Mengetahui manfaat dari teknologi CCTV khususnya yang digunakan di LAPAN Pameungpeuk Garut Pembatasan Masalah Karena banyaknya permasalahan yang dapat di analisis dari teknologi CCTV ini,maka penulis membatasi permasalahan sebagai berikut : 1. 2. 3. Sistem jaringan monitoring CCTV Cara kerja alat sistem monitoring CCTV. Objek penelitian dilakukan di LAPAN Pameungpeuk Garut 1.5 Kerangka pemikiran Closed Circuit Television (CCTV) adalah salah satu topik khusus yang menarik untuk dibahas sehingga penulis tertarik untuk menganalisis dan membahas yang selanjutnya akan dijadikan laporan kerja praktek.

39

Teknologi Monitoring CCTV LAPAN

Analisys Current System

Teori CCTV

Deskripsi masalah : - Sistem jaringan monitoring CCTV - Cara kerja alat sistem monitoring CCTV

Laporan Analisis

Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran 1.6. Metodologi Penelitian 1.6.1 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan salah satu unsur penting dalam rangkaian analisa sistem, penulis menggunakan beberapa teknik diantaranya: Studi literatur Studi literatur terdiri dari studi kepustakaan dan literatur perusahaan. Studi komparasi Melakukan perbandingan dengan situs lain yang sejenis. Observasi di lapangan Observasi adalah untuk mengetahui secara langsung dokumentasi pelaksanaan proyek aristektur sistem jaringan dan komunikasi data yang terjadi di perusahaan tempat melakukan penelitian. Ruang Lingkup Penelitian dilakukan di LAPAN Pameungpeuk Garut. Wawancara

40

Wawancara adalah teknik untuk mengetahui bagaimana spesifikasi dan konfigurasi dengan bertanya langsung pada orang yang terjun langsung dan kompeten dibidangnya. 1.6.2. Analisis Sistem Memilih metode analisis sistem tidaklah mudah, terlebih dahulu memahami karakteristik sistem tersebut. Analisis yang dilakukan adalah analisis terhadap pemantauan peluncuran dan kinerja monitoring. Adapun 1. tahapan dalam analisis sistem adalah Identify, Understand, Identify Mengidentifikasi (mengenal) masalah merupakan langkah Analyze, dan Report. pertama yang dilakukan dalam tahap analisis sistem. Masalah (problem) dapat didefinisikan sebagai suatu pertanyaan yang diinginkan untuk dipecahkan. 2. 3. 4. Understand Mempelajari dan memahami secara terinci bagaimana Analyze Langkah ini dilakukan berdasarkan data yang telah Report Yaitu membuat laporan hasil analisis. sistem yang ada beroperasi. diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan. seperti terlihat pada gambar di bawah : Mula i Teknologi CCTV Analisis Hasil Analisis Selesai Gambar 1.2 Pemodelan Analisis Sistem Di LAPAN-Pameungpeuk Teknologi Monitoring CCTV LAPAN
Tahapan analisis sistem yang digunakan adalah Identify,Understand, Analyze, dan Report.

Laporan laporan hasil penelitian

41

1.7.

Sistematika Penulisan Gambaran jelas pada kerja praktek ini diperkuat dengan adanya

sistematika penulisan yaitu : BAB I PENDAHULUAN Bab ini mencakup tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, secara jelas kasus yang dihadapi serta pentingnya hasil penelitian. Selain itu bab ini memuat tujuan penelitian, pembatasan masalah, metode penelitian, dan juga sistematika penulisan. BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini menjelaskan teori-teori sebagai dasar dalam rangka menunjang penelitian yang dilakukan. BAB III ANALIS SISTEM Menjelaskan tentang sejarah organisasi tempat penelitian yang dijadikan objek kerja praktek, struktur organisasi, deskripsi dari struktur organisasi, batasan sistem dari sisi lingkungan fisik dan fungsional sistem serta mekanisme interaksi antar elemen. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini terdapat ringkasan - ringkasan dari seluruh pembahasan yang ada pada laporan ini serta mengemukakan saran-saran yang ditujukan untuk Instansi LAPAN demi kebaikan dan kesempurnaan dalam mengaplikasikan suatu system jaringan monitoring CCTV.

42

BAB II LANDASAN TEORI

2.1.

Pengenalan Jaringan

Tiga abad sebelum sekarang, masing-masing ditandai dengan dominasi yang berbeda. Abad ke-18 didominasi oleh perkembangan sistem mekanik yang mengiringi revolusi industri. Abad ke-19 merupakan zaman mesin uap. Abad ke20, teknologi Radio, TV dan komputer memegang peran untuk mengumpulkan, pengolahan dan media distribusi informasi. Abad ke-21 ini, di mana teknologi jaringan komputer global mampu menjangkau seluruh wilayah dunia, pengembangan sistem dan teknologi yang di gunakan, penyebaran informasi melalui dunia internet, peluncuran satelit satelit komunikasi dan perangkat komunikasi Wireless, menadai awal abad mileinium. Sejak masyarakat internet dan dipasarkannya sistem operasi window 95 oleh Microsoft Inc., menghubungkan beberapa jenis komputer baik komputer pribadi maupun server dengan sebuah jaringan dari jenis LAN (Local Area Network) sampai WAN(Wide Area Network) menjadi sebuah hal yang Mudah dan biasa. Demikian pula dengan konsep downsizing maupun lightsizing yang bertujuan menekan anggaran belanja khususnya dalam peralatan komputer, hal itu menyebabkan kebutuhan akan sebuah jaringan komputer merupakan suatu hal yang tidak bisa terelakan. Jaringan komputer merupakan himpunan interkoneksi antar 2 komputer autonomous atau lebih yang terhubung dengan media transmisi kabel atau tanpa kabel. Bila sebuah komputer dapat membuat komputer lain restart, shutdown, atau kontrol lain maka komputer tersebut bukan autonomous (tidak melakukan kontrol terhadap komputer lain dengan akses penuh). Dua komputer dikatakan terkoneksi apabila keduanya bisa saling bertukar data/informasi, berbagi resource yang dimiliki, seperti file printer, media penyimpanan, [Syafrizal, 2005].

43

Jaringan Wireless memungkinkan orang melakukan komunikasi dan mengakses aplikasi dan informasi tanpa kabel. Hal tersebut memberikan kebebasan bergerak dan kemampuan mempeluas aplikasi ke berbagai bagian gedung, kota, atau hampir ke seluruh penjuru dunia. Jaringan Wireless memanfaatkan baik gelombang radio maupun inframerah untuk berkomunikasi antar pengguna. Jenis komunikasi yang demikian tidak terlihat oleh mata kita. Medium sesungguhnya pun (yaitu udara) juga tertembus pandang. kebanyakan pemanufaktur menghubungkan kartu Wireless (NIC; Juga disebut adapter) dengan antena dan peralatan komputer sehingga tidak tampak oleh pengguna. Hal tersebut menjadikan peralatan komputer dapat berpindah pindah dan mudah dipakai. Jaringan nirkabel dikelompokkan dalam beberapa kategori menurut ukuran area fisik yang bisa di jangkaunya. Beberapa jenis jaringan nirkabel berikut memenuhi kebutuhan pengguna yang berbeda-beda : a. Local area network (LAN) nirkabel atau lebih dikenal dengan istilah WiFi atau wireless LAN. b. Metropolitan area network (MAN) nirkabel atau lebih dikenal dengan istilah WiMAX. c. Wide area network (WAN) nirkabel. Istilah-istilah tersebut hanyalah perluasan dari bentuk yang lebih mendasar dari jaringan nirkabel yang telah dipakai bertahun tahun sebelum jaringan nirkabel ditemukan. Tabel 2.1 memperlihatkan perbandingan ringkas bentuk-bentuk jaringan nirkabel tersebut. Setiap jenis jaringan nirkabel memiliki sifat yang saling melengkapi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang berlainan,[Geier, 2005]. Tabel 2.1: Perbandingan Teknologi Nirkabel Jenis PAN nirkabel jangkauan dalam jangkauan per LAN nirkabel orang dalam gedung, tinggi performa sedang standar bluetooth IEEE802.15,dan IrDA IEEE 802.11,WiFi, Aplikasi menggantikan kabel periferal Perluasan mobile pada pada

44

MAN nirkabel

kampus dalam kota

tinggi

dan hiper LAN jaringan kabel paten, IEEE Nirkabel 802.16 (Wimax) tertentu antara perumahan serta tempat tempatbisnis di

WAN nirkabel seluruh dunia

rendah

CDPD 2G,2.5G, 3G

serta intrenet seluler akses mobile dan ke internet dari ruang outdoor

Sumber :[Geier, 2005].


2.2. Dasar-dasar Radio Frekwensi

Jaringan kabel memanfaatkan pengkabelan untuk mentransfer aliran elektrik yang merepresentasikan informasi. Pada jaringan nirkabel radio frequency (RF) memiliki fungsi membawa informasi secara tak terlihat melalui udara, [Geier, 2005]. 2.2.1. Transceiver Nirkabel Transceiver nirkabel terdiri dari transmiter dan receiver. Pada tramniter, sebuah proses yang disebut modulasi mengonversi sinyal digital secara elektrik di dalam komputer menjadi sinyal RF yang merupakan sinyal analog. Amplifier selanjutnya meningkatkan besar sinyal sebelumnya menuju ke antena. Pada destinasi, receiver mendeteksi kelemahan pada sinyal dan demodulasinya menjadi tipe data yang dapat diaplikasikan pada komputer tujuan. Elemen tersebut di ilustrasikan gambar 2.1 sebagai transceiver. Transceiver biasanya terdiri atas hardware yang merupakan bagian dari NIC nirkabel, [Geier, 2005].

Transmiter

Modulator

Amplifier

45

Receiver

Amplifier

Modulator

Gambar 2.1 : Transceiver, [Geier, 2005]. 2.2.2. Sinyal Radio Frekuensi (RF) Sinyal RF merupakan gelombang elektromagnetik yang digunakan oleh sistem komunikasi untuk pengiriman informasi melalui udara dari suatu titik ke titik yang lain. Sinyal RF telah digunakan selama beberapa tahun. Sinyal tersebut memberikan cara untuk mengirimkan musik pada radio FM dan Video pada televisi. Pada kenyataannya sinyal RF juga digunakan sarana umum untuk pengiriman data melalui jaringan kabel, [Geier, 2005].
a. Sifat-sifat sinyal Radio Frekuensi (RF)

Sinyal RF merambat di antara antena pemancar pengirim dan penerima. Seperti yang telah diilustrasikan pada gambar 2.2, sinyal yang dipasok pada antena memiliki amplitudo, frekwensi dan interval. Sifat-sifat berubah ubah setiap saat untuk merepsentasikan informasi. Amplitudo mengindikasikan kekuatan dari sinyal. Ukuran amplitudo biasanya berupa energi yang dianalogikan dengan jumlah usaha yang digunakan Seseorang pada waktu mengendarai sepeda untuk mencapai tujuan tertentu. Energi, dalam conten dalam elektromagnetik, menggambarkan jumlah energi yang diperlukan untuk mendorong sinyal pada jarak tertentu. Saat energi meningkat, jaraknya pun juga bertambah.

46

Gambar 2.2 : amplitudo, frekuensi dan interval merupakan elemen dasar pada sinyal RF, [Geier, 2005]. Saat sinyal radio merambat melalui udara, sinyal tersebut kehilangan amplitudo. Jika jarak antara pengirim dan penerima bertambah, amplitudo menurun secara eksponensial. Pada lingkungan terbuka, di mana tidak ada rintangan sinyal RF mengalami apa yang disebut para engineer sebagai free-space loss yang merupakan bentuk dari pelemahan. Kondisi tersebut menyebabkan sinyal yang telah di modulasi melemah secara eksponensial saat sinyal merambat semakin jauh dari antena. Oleh karena itu sinyal harus memiliki cukup energi untuk mencapai jarak di mana tingkat sinyal bisa diterima sesuai yang dibutuhkan recaiver. Kemampuan receiver dalam menerima sinyal tergantung pada kehadiran sinyal RF yang berada di dekatnya. Sebagai ilustrasi bayangkan oleh anda jika terdapat dua orang, erik dan era yang terpisah sejauh 20 kaki, berusaha melakukan percakapan. Si era berperan sebagai transmiter dengan berbicara cukup keras kepada erik, sebagai receiver yang mendengarkan setiap perkataan yang diucapkan oleh era. Jika bayi mereka, yosep menangis cukup keras, erik pasti akan kehilangan beberapa yang di ucapkan era. Dalam kasus tersebut gangguan suara yang dihasilkan bayi mereka tidak mungkin mendukung komunikasi yang efektif, baik erik maupun era perlu mendekat satu sama lain atau si era harus berbicara dengan suara yang lebih keras. Hal ini tidak berbeda dengan hal tranmiter dan receiver pada sistem nirkabel yang digunakan sinyal RF untuk sarana komunikasi . Frekuensi menyatakan beberapa kali berulang setiap perdetik. Satuan frekuensi adalah Hertz (Hz) yang merupakan jumlah siklus yang muncul setiap

47

detik. Sebagai contoh nirkabel 802.11 beroperasi pada frekuensi 2.4 Ghz berarti mencangkup 2.400.000.000 siklus per detik . Interval berkaitan dengan beberapa jauh suatu sinyal tetap konstan pada titik acuan. Sesuai kaidah masing-masing siklus besarnya 360 derajat. Sebagai contoh sinyal yang memiliki pergeseran interval 90 derajat berarti total konstannya adalah seperempat (90/360=1/4) sinyal. Berbagai macam interval tersebut acap kali berguna untuk menyampaikan informasi. Sebagai contoh, sinyal dapat merefsentasikan bilangan biner 1 untuk pergeseran interval 30 derajat dan bilangan biner 0 untuk pergeseran 60 derajat. Keuntungan dari refsentasi data dengan pergeseran interval adalah pelemahan yang dihasilkan dari perambatan sinyal melalui udara tidak memiliki pengaruh yang kuat. Kelemahan terutama berdampak pada amplitudo, bukan pada interval sinyal, [Geier, 2005].
b. Kelebihan dan kelemahan sinyal RF

Jika dibandingkan dengan sinyal cahaya, sinyal RF memiliki karakteristik yang dapat dilihat pada tabel 2.2. Tabel 2.2 : Kelebihan dan kelemahan sinyal RF Kelebihan Sinyal RF Kelemahan sinyal RF Menjangkau jarak yang relatif jauh, garis Dengan jangkauan Mbps, pandang dapat mencapai 20 mil. throughtput-nya lebih rendah. Dapat beroperasi dalam kondisi kabur Sinyal RF mudah terganggu oleh dan berkabut, kecuali hujan lebat yang sistem berbasis RF eksternal lain dapat menyebabkan kinerja menjadi lemah Sumber: [Geier, 2005]. Kelebihan tersebut mengefektifkan pengguna sinyal RF pada aplikasi saringan nirkabel. Sebagian besar standar jaringan nirkabel, seperti 802.11 dan bluetooth, menentukan penggunaan sinyal RF.
c. Pelemahan Sinyal RF

48

Sinyal RF akan mengalami pelemahan seperti interferensi dan multipath. Hal tersebut berpengaruh kuat pada komunikasi antara pengirim penerima, bahkan sering menyebabkan performa menjadi menurun dan penggunaan tidak puas. 2.2.3. Interferensi Interferensi muncul saat dua sinyal berada pada stasiun penerima dalam waktu yang sama, dengan asumsi bahwa mereka memiliki frekuensi dan interval yang sama. Hal tersebut serupa dengan seorang yang berusaha mendegarkan dua orang yang sedang berbicara pada waktu yang bersamaan. Dalam kondisi tersebut NIC nirkabel penerima mengalami erorr saat menguraikan arti kode informasi yang sedang dikirim. The federal communication commision(FCC) mengatur penggunaan pita frekuensi dan tipe modulasi untuk menghindari kemungkinan interferensi antar sistem. Meskipun demikian, interferensi gelombang radio masih bisa muncul khususnya pada saat sistem beroperasi pada bit bebas lisensi (lisene free band). Pengguna dapat dengan bebas memasang dan memanfaatkan perangkat bebas lisensi seperti LAN nirkabel tanpa harus memperhatikan penggunaan dan interferensi sinyal, [Geier,2005]. 2.2.4. Multipath Perambatan multipth dapat terjadi jika bagian sinyal RF mengambil jalur yang berbeda saat merambat dari sebuah sumberseperti radio NICke node destinasi, seperti access poin (gambar 2.3). Bagian sinyal dapat mengarah langsung ke tujuan dan bagian lain terpental dari meja ke tembok untuk kemudian menuju ke destinasi. Alhasil , beberapa sinyal mengalami penundaan dan menempuh jalur yang lebih panjang sebelum sampai ke penerima.

49

Gambar 2.3 : penghalang menyebabkan sinyal terpental ke berbagai arah, [Geier, 2005]. Multipath delay menyebabkan simbol informasi yang direpresentasikan pada sinyal radio menjadi noda. (gambar 2.4) karena sinyal tersebut menyampaikan informasi yang sedang ditransmisikan, maka penerima membuat kesalahan saat mendemodulasi informasi sinyal. Jika penundaan cukup besar bit error dalam paket akan muncul khususnya jika kecepatan datanya tinggi. penerima tidak akan mampu membedakan simbol-simbol dan menerjemahkan bitbit yang sama dengan benar. Saat multipath menyerang jalur tersebut maka stasiun penerima kanal mendeteksi error melalui proses error checking. Untuk merespons bit errors, stasiun pengirim akhirnya mentransmisikan kembali data frame.

Gambar 2.4 : node sinyal yang disebabkan multipath menyebabkan kekacauan dan error bit pada penerima, [Geier, 2005]. Karena retransmisi, pengguna akan mendapati performa lebih menurun jika multipath-nya signifikan. Sebagai contoh, sinyal 802.11 di perumahan dan perkantoran dapat menemui multipath delay 50 nanodetik sementara pada bangunan pabrik dapat mencapai 300 nanodetik. berdasarkan nilai-nilai tersebut multipath bukan masalah yang besar di rumah maupun di kantor. Perlengkapan

50

dan rak metal dalam sebuah bangunan menyediakan permukaan yang dapat memantulkan cahaya. Sehingga sinyal RF terpental di seputar tempat tersebut dan bergerak tak tentu. oleh karena itu perhatikan masalah multipath tersebut di gudang-gudang, bangunan pengolahan dan area-area lain yang penuh dengan penghalang-penghalang metal. Apa yang dapat dilakukan jika multipth menyebabkan masalah ? selain menyingkirkan meja tulis dan kursi gedung, deversity tampaknya merupakan solusi terbaik untuk mengatasi risiko dari multipath. Deversity adalah penggunaan dua antena pada masing-masing radio NIC untuk meningkatkan rintangan penerima sinyal yang lebih baik pad kedua antena. Antena diversity terpisah secara fisik dengan radio untuk memastikan bahwa salah satunya akan menemui perambatan multipath yang lebih sedikit dari pada yang lain. Dengan kata lain sinyal gabungan yang akan diterima oleh salah satu antena lebih mendekati aslinya daripada yang ditemukan pada antena yang lain. menggunakan software signal filtering dan decision making untuk memilih sinyal yang lebih baik untuk di modulasi. Dapat juga sebaliknya, transmiter memilih antena yang lebih baik untuk pengiriman dengan arah yang berlawanan, [Geier, 2005].
2.2.5.Komunikasi Antar Sistem Model OSI

Informasi akan ditransfer dari software aplikasi sebuah sistem komputer ke aplikasi sistem lainnya melewati layer pada model OSI. Sebagai contoh, aplikasi software sistem A mempunyai informasi yang akan di transmisikan ke aplikasi software sistem B, sehingga sistem aplikasi di sistem A akan melewati informasi ke layer aplikasi (layer 7) di sistem tersebut. Selanjutnya layer , aplikasi akan melanjutkan informasi tersebut ke bawahnya, yaitu layer presentasi (layer 6), kemudian melakukan relay data ke layer session (layer 5) hingga menuju ke layer fiskal (layer 1). Pada layer fisikal, informasi-informasi akan ditempatkan pada media jaringan fisik kemudian dikirimkan melintasi media jaringan ke sistem B. Layer fisikal akan memindahkan informasi dari media fisik ke data link(layer 2), yang juga dilewatkan ke layer network (layer 3), dan seterusnya

51

hingga layer aplikasi (layer 7) pada sistem B. Selanjutnya layer aplikasi sistem B akan menampilkan informasi pada program aplikasi penerima, sehingga selesailah proses komunikasi data tersebut, [Geier, 2005].
2.2.6. Arsitektur Jaringan Wireless

Arsitektur jaringan komputer terdiri dari protokol dan komponen yang dibutuhkan dalam menjalankan sebuah aplikasi. OSI standarisasi model referensi OSI juga sangat berguna dalam menggambarkan beberapa standar jaringan serta interoprabilitasnya termasuk dalam jaringan Wireless. Secara garis besar, fungsional ketujuh layer model referensi OSI adalah: Layer 1-physical. Layer ini secara fisik terkoneksi satu dengan yang lain dan menyediakan transmisi aktual dari informasi melalui media, baik wire maupun wireless. Layer ini merupakan aliran dari bit (binary digit 1 dan 0) berupa denyut electrik , sinyal radio , atau sinar cahaya yang melalui jaringan pada level electrikal dan mekanikal. Layer ini merupakan layer secara hardware yang bertugas mengirimkan dan menerima data pada sisi pembawa (carrier) termasuk pengkabelan, kartu, berbentuk port koneksi, serta aspek fisiknya. Layer 2-data link layer. Pada layer ini paket paket data akan di kodekan dan di dekode menjadi susunan bit-bit. Data tersebut dipecah menjadi frameframe data kemudian di transmisikan dan di urutkan . selanjutnya pengaturan sinkronisasi frame akan di proses jika terjadi kesalahan baik pada pengirim maupun penerima. Layer data link terbagi menjadi dua sublayer, yaitu media Access control (MAC) dan logical link control (LLC). Sublayer MAC akan mengatur bagai mana komputer di jaringan mendapatkan akses data serta permission-nya untuk kemudian melakukan proses transmisi . sublayer LLC akan mengatur sinkronisasi layer, aliran data dan melakukan pemeriksaan apabila terjadi kesalahan. Jaringan wireless bisanya menyatakan koordinasi akses melalui media udara dan sebagaimana proses recovery apabila terjadi kesalahan saat merambat data dari pengirim maupun penerima data. Layer 3 - Network. Layer ini menyediakan proses penentuan rute paket di jaringan dari pengirim ke penerima. Layer ini juga menyediakan beberapa

52

teknologi untuk melakukan switching dan routing, membuat path secara logika yang disebut sirkuit virtual, dan melakukan transmisi data dari node ke node. Proses routing berguna untuk memastikan bahwa paket data tersebut terkirim pada arah yang benar untuk tujuan tertentu. Protokol seperti Internet Protocol (IP) beroperasi pada layer ini. Selain proses routing, proses yang dilakukan oleh layer ini adalah proses forwarding, metode pengalamatan, internetworking, penanganan kesalahan, mengontrol tabrakan data, dan proses pengurutan paket. Layer 4 - Transport. Layer ini juga disebut layer host to host atau end to end, artinya layer ini menyediakan proses transfer data secara transparan antarend system (host) serta bertanggung jawab terhadap metode rocovery kesalahan end to end. Layer ini juga mempunyai fungsi sebagai pengatur aliran data serta selalu memastikan kelengkapan data saat dilakukan proses transfer. Contoh protokol yang beroperasi pada layer ini adalah Transmision Control Protocol (TCP). Layer 5 - Session. Layer ini berfungsi untuk membentuk, mengatur, dan menghentikan koneksi antaraplikasi. Layer ini akan mengatur koordinasi, menghentikan percakapan antarsistem, pertukaran data, dan dialog antaraplikasi. Pada model wireless middleware, sebuah pengatur akses akan bertugas menyediakan bentuk konektivitas pada jaringan wireless tersebut. Jika terjadi interferensi pada jaringan wireless, layer ini akan melakukan penundaan komunikasi hingga interferensi tersebut hilang. Layer 6 - Presentation Layer. Layer ini bertugas melakukan negosiasi

sintaks-sintaks transfer data untuk layer aplikasi dan berfungsi sebagai penerjemah di antara data format yang berlainan. Layer ini akan melakukan translasi serta proses pengkodean untuk mewakili data saat berkomunikasi pada sistem yang dikembangkan oleh vendor yang berlainan, sehingga layer dan enkripsi data akan dikirimkan melintas jaringan tanpa harus selalu mempertimbangkan permasalahan kompatibilitas. Layer 7 - Application Layer. Layer ini menyediakan komunikasi antara

user dengan layanan komunikasi standar seperti transfer dan email. Beberapa

53

software yang berjalan di atas layer ini adalah Simple Mail Transfer Protocol (SMTP), Hypertext Transfer Protocol (HTTP), dan File Transfer Protocol (FTP). Kombinasi layer pada arsitektur jaringan di atas mendefinisikan fungsionalitas yang sarana pada jaringan wireless. Akan tetapi, jaringan wireless hanya diimplementasikan secara langsung pada layer terbawah model OS. Sebagai contoh, sebuah wireless NIC (Network Interface Card) diimplementasikan pada fungsi layer physical (phy) dan layer data link. Akan tetapi, perhatian ke layer di atasnya sangat diperlukan untuk memastikan apakah aplikasi beroperasi secara efektif pada jaringan wireless, [Geier, 2005].

2.2.7. Sinyal Digital informasi Data merupakan tipe informasi yang akan dimediasi jaringan dan disimpan pada sebuah komputer dan dapat dipanggil kembali dari tempat penyimpanannya. Pada jaringan wireless, transfer data dari satu komputer ke komputer yang lain telah menjadi sistem standar bagi pengembangan jaringan pada umumnya. Data yang ditransfer meliputi pesan-pesan email, file, halaman web, file multimedia, bahkan percakapan suara. Pada sistem komunikasi wireless, data akan disimbolkan ke dalam kode tertentu yang berbentuk sinyal elektris, radio, dan sinar. Pembawa sinyal akan membawa informasi tersebut melalui sistem dari satu titik ke tempat lain. Bentuk sinyal, apakah berupa sinyal digital atau analog, akan tergantung pada lokasi di mana sistem tersebut berada. Sinyal digital biasanya berupa biner, dan secara umum sering disebut binary digit atau binary data. Binary atau biner merupakan sistem yang hanya mengenal angka 0 dan 1. Salah satu keuntungan sinyal digital adalah kemudahannya dalam melakukan regenerasi sinyal. Sinyal akan merambat melalui media udara, sehingga kemungkinan akan terjadi interferensi serta noise yang akan memengaruhi performa kekuatan sinyal ini. Untuk mengulang sinyal diperlukan sirkuit digital yang akan mendeteksi dan membangkitkan denyut baru secara digital pada periode waktu tertentu. Sirkuit tersebut akan membentuk denyut baru sama persis dengan pesan asli yang diterima. Dengan demikian,

54

sinyal digital dapat dikirimkan dalam jarak yang sangat jauh melalui beberapa repeater yang secara periodik akan mengontrol integritas dari informasi tersebut. Berikut ini beberapa karakteristik yang penting pada sinyal digital: Data rate berhubungan dengan kecepatan transfer sinyal digital melalui jaringan wireless. Data rate pada sebuah sinyal digital akan memberikan pandangan apakah data dapat dikirimkan dari satu titik ke titik yang lain, dan akan mengidentifikasi jumlah bandwidth efektif pada media, sehingga dapat menyuplai dan mendukung keberadaan sinyal digital. Data rate sebuah sinyal adalah total jumlah bit yang ditransmisikan berhubungan dengan waktu yang diperlukan untuk melakukan pengiriman. Unit umum yang digunakan untuk mengukur bit rate adalah bits per second (bps). Sebagai contoh, dalam satu detik terdapat 1.000.000 sinyal, sehingga data rate sinyal adalah 1.000.000 dibagi satu detik sama dengan 1.000.000 bit per detik atau 1Mbps. Troughput. Pada dasarnya troughput sama dengan data rate, akan tetapi secara umum perhitungan troughput meniadakan bit-bit tambahan (overhead) yang dimasukkan pada saat komunikasi terjadi. Tidak ada standar untuk menampilkan troughput, tetapi biasanya troughput merupakan informasi aktual yang dikirimkan melalui jaringan. Troughput memberikan akurasi dalam representasi performa dan efisiensi jaringan terutama pada jaringan wireless. Semakin tinggi troughput, akan semakin baik performa jaringan. Troughput dapat dikatakan sebagai perbandingan persentase antara input dan output data pada jaringan wireless. Overhead dalam data ini biasanya berupa header pada setiap frame, field-field yang berisi kontrol kesalahan, frame pengenal, dan transmisi ulang karena terjadi kesalahan. Akibatnya, informasi menjadi terbebani dan trafik akan melambat. Jika dalam sebuah jaringan mempunyai data rate 11 Mbps, tetapi troughput aktual sinyal digitalnya hanya berkisar setengahnya atau sekitar 5 Mbps, maka overhead akan diabaikan, [Geier, 2005].

2.2.8. Udara Sebagai Media Pertukaran Data

55

Pada jaringan wireless, media yang digunakan sebagai antarmuka atau interface adalah media udara. Saat peralatan komputer akan mengirimkan informasi melalui jaringan wireless, langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan negosiasi koneksi terhadap komputer remote-nya menggunakan fungsi-fungsi di layer transport dan session. Setelah komputer mendapatkan koneksi, peralatan komputer akan mengirimkan data dalam bentuk digital ke NIC (Network Interface Card) wireless. Selanjutnya, NIC wireless akan mengirimkan frame yang berisi informasi standar IEEE 802.11 ke remote komputer atau pada access point. NIC wireless akan mengirimkan data dan mengonversinya menjadi frekuensi radio analog sebelum mentransmisikan data melalui antena. Media ini tidak mengenal informasi dalam bentuk digital karena pengiriman data dilakukan melalui media udara. Konversi ini akan mengakibatkan terjadinya modulasi. Setelah terjadi modulasi, sinyal akan merambat melalui media udara dan akan diterima oleh NIC wireless tujuan. Proses selanjutnya adalah proses demodulasi, yaitu proses penerimaan data untuk selanjutnya dimanipulasi agar informasinya dapat digunakan pada layer-layer selanjutnya, [Geier, 2005].
2.3. Teknologi Wi-Fi Wi-Fi sebenarnya merupakan merek dagang Wireless LAN yang diperkenalkan dan distandarisasi oleh Wi-Fi Alliance. Standar Wi-Fi distandarkan pada standar 802.11. Wi-Fi Alliance pertama kali membentuk Wireless Ethernet Compatibility Alliance (WECA), Sebuah organisasi nonfrofit yang mempunyai fokus pada pemasaran serta mengurusi interoperabilitas pada produk wireless LAN 802.11.

2.3.1.Pengertian Wi-Fi

Wi-Fi,(Wireless Fidelity) atau Nirkabel, adalah istilah bagi suatu produk atau layanan yang menggunakan 802.11 wireless networking protocol, yaitu alat yang bisa digunakan untuk jaringan komunikasi setempat (Local Area Network).

56

Jaringan Wi-Fi beroperasi pada frekuensi radio 2.4 dan 5 Ghz dengan kecepatan 11 MB per detik atau bahkan 54 MB per detik! Kecepatan ini jauh lebih tinggi daripada ADSL atau modem kabel. Apalagi jika dibandingkan dengan modem dial-up (yang saat ini masih umum dipakai oleh masyarakat Indonesia) yang kecepatan maksimumnya hanya 56 Kbps. Dibanding modem jenis terakhir ini, transmisi data oleh Wi Fi bisa 200-1000 kali lebih cepat. WiFi adalah teknologi jaringan broadband yang membuat kita bisa menghubungkan berbagai jenis alat komputer dan berbagi koneksi internet di udara. WiFi memiliki kemampuan untuk mentransfer data pada kecepatan sampai 11 megabite per detik (Mbps) dalam jarak 100 meter yang disebut hotspot . Data dari Asosiasi Penyedia Jasa Internet menunjukkan hanya ada 7,5 juta pengguna internet atau hanya 3% dari 200 juta penduduk Wi-Fi memungkinkan mobile devices seperti PDA atau laptop untuk mengirim dan menerima data secara nirkabel dari lokasi manapun. Bagaimana caranya? Titik akses pada lokasi Wi-Fi mentransmisikan sinyal RF (gelombang radio) ke perangkat yang dilengkapi Wi-Fi (laptop/PDA tadi) yang berada di dalam jangkauan titik akses, biasanya sekitar 100 meter. Kecepatan transmisi ditentukan oleh kecepatan saluran yang terhubung ke titik akses. Konsekuensinya, tentu saja bila saluran yang terhubung ke titik akses tidak bersih dari gangguan, transmisi akan terganggu. Di dunia informatika, Wi-Fi biasa juga disebut sebagai 802.11b, walaupun sebetulnya 802.11a pun termasuk Wi-Fi, hanya saja 802.11b lebih umum dipakai. Produsen hardware seperti Apple Computer menjual kartu Wi-Fi sebagai Apple Airport. Tak mau kalah, Intel juga menyertakan fungsi WiFi dalam prosesor Intel yang lebih dikenal di pasaran sebagai Intel Centrino.Tanpa hambatan, tanpa kontrol, tanpa batas Penguna Wi-Fi bisa mengakses ke internet dimanapun berada tanpa hambatan hanya dengan bermodalkan laptop yang dilengkapi Wi-Fi card, kita bisa terhubung ke Internet dari berbagai tempat dibelahan dunia ini kecepatan transmisi data yang super kilat. Selain kemudahan untuk membuat jaringan, Wi-Fi juga populer karena dengan menggunakan teknologi ini data dapat dikirim melalui frekuensi radio

57

yang tidak dikontrol oleh pemerintah dan yang standar pengaturannya ditentukan bersama serta bersifat terbuka.
2.4. Monitoring

Monitoring mengidentifikasikan kesuksesan atau kegagalan secara nyata atau potensial sedini mungkin dan sewaktu-waktu bisa menyesuaikan operasionalnya (kegiatan). menurut (Casely & Kumar 1987) definisi Monitoring bisa bervariasi tetapi pada dasarnya prinsip yang digunakan adalah sama, yaitu: " Monitoring adalah penilaian yang terus menerus terhadap fungsi kegiatankegiatan proyek didalam konteks jadwal-jadwal pelaksanaan dan terhadap penggunaan input-input proyek oleh kelompok sasaran didalam konteks harapanharapan rancangan. Monitoring adalah kegiatan proyek yang integral, bagian penting dari praktek manajemem yang baik dan karena itu merupakan bagian yang integral dari manajemen sehari-hari".
2.5. Close Circuit Television (CCTV)

Closed Circuit Television (CCTV) adalah teknologi pengawasan visual yang didesain untuk mengawasi bermacam-macam lingkungan dan aktivitasnya seperti bank, airport dan instalasi militer. Sistem CCTV melibatkan jalur khusus komunikasi yang tetap (dedicated) antara kamera dan monitor. Pada dekade yang lalu, penggunaan CCTV kini telah berkembang ke arah tingkatan yang belum pernah terjadi. Di Inggris antara 150 dan 300 juta pounds setiap tahunnya dihabiskan pada industri pengawasan termasuk di dalamnya sekitar 300.000 kamera terpasang di daerah publik/umum, perumahan, parkiran mobil dan fasilitas umum lainnya. Dan hal ini dapat berkembang pada pasar sekitar 15 hingga 20 % setiap tahunnya. Sistem CCTV modern melibatkan sistem jalur kamera dengan koneksi dedicated dan dapat dioperasikan menggunakan pembesaran secara remote dari ruang pengendalian. CCTV merupakan pengawasan kamera pengintai yang di gunakan untuk menyelidiki atau mengawasi suatu tempat yang di anggap rawan dari bahaya.

58

Masalah keamanan sistem informasi yang dihadapi Beberapa masalah keamanan sistem informasi yang biasa dijumpai pada perusahaan-perusahaan besar adalah:
1. bervariasi dan Penggunaan berasal perangkat lunak yang vendor. dari banyak

Sering tidak dapat dielakkan penggunaan sejumlah perangkat lunak dari beberapa vendor untuk membangun suatu sistem. Tetapi, di sisi lain, penggunaan perangkat lunak tersebut akan lebih membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih besar dalam hal memonitor isu-isu keamanan, ketimbang sistem yang dibangun oleh perangkat lunak yang relatif homogen. Seringkali hal ini diperparah dengan tidak adanya suatu standar dan prosedur dalam pemilihan suatu sistem. Penulis menjumpai suatu perusahaan yang cukup besar yang membebaskan karyawannya untuk memilih sistem operasi dan aplikasi yang digunakan pada PC-nya. Pada satu departemen saja, ada beberapa sistem operasi yang digunakan seperti Windows ME, Windows XP, dan Windows XP Professional. Sedang untuk program e-mailnya ada yang menggunakan Outlook, Eudora, Netscape; belum lagi aplikasi lain yang lebih bervariasi. 2. Identitas pengguna. Salah satu tujuan dari sistem keamanan adalah memastikan hanya orang yang berhak saja yang dapat akses ke suatu sistem. Untuk suatu perusahaan yang terdiri atas ratusan bahkan ribuan karyawan, serta memiliki beberapa sistem, maka tugas ini bukan tugas yang mudah. Tantangan pertama adalah memetakan otoritas karyawan terhadap sumber-sumber (resources) sistem informasi seperti server, file, database, aplikasi dan sebagainya. Katakan saja ada 1000 karyawan yang akan mengakses 10 aplikasi/files/database, maka akan ada 10.000 relasi yang harus dipetakan antara karyawan dan sumber sistem informasi tersebut. Kedua, jika ada perubahan, seperti pindahnya karyawan dari suatu bagian ke bagian lain, atau jika ada karyawan yang keluar. Tentunya sistem tersebut harus dapat dengan cepat memodifikasi

59

atau menghapus akses yang diberikan. Kerumitan ini akan lebih besar lagi jika sumber-sumber sistem informasi yang dimiliki perusahaan, tidak hanya diakses oleh karyawan internal, melainkan juga para vendor, mitra kerja, dan konsultan, baik dari dalam jaringan perusahaan maupun dari luar. Deteksi dan proteksi secara cepat. 3. Mendeteksi gangguan keamanan untuk jaringan yang terdiri atas puluhan server, puluhan peralatan jaringan, dan ratusan bahkan ribuan PC merupakan tugas yang tidak dapat dianggap enteng. Selain perlu waktu dan sumber daya manusia, keahlian khusus dalam hal keamanan sistem informasi sangat diperlukan untuk mengidentifikasi dan menginterpretasi informasi gangguan secara akurat, serta untuk menetapkan langkah-langkah penanggulangannya secara cepat dan tepat. Beberapa waktu lalu penulis mendapat telepon dari pelanggan yang mengeluh tentang Syn-Flood attack alert yang dihasilkan dari mesin Firewall-nya. Yang mengejutkan, pelanggan tersebut bukannya menanyakan apa arti dari alert itu dan bagaimanan cara penanggulangannya, tetapi justru menanyakan bagaimana caranya supaya alert tersebut tidak muncul agar tidak memenuhi harddisk. 4. Security Patch. Dengan rasio antara jumlah tenaga administrator/teknisi keamanan sistem informasi dengan jumlah pengguna komputer sebesar 1:500 seperti kasus di atas, akan mudah ditebak bahwa pengamanan sistem informasi menjadi tidak efektif. Sebagai gambaran, waktu yang dibutuhkan seorang teknisi untuk melakukan security patching (instalasi program perbaikan yang berkaitan dengan keamanan suatu sistem) terhadap 500 pengguna komputer adalah lebih dari 30 hari kerja (dengan perhitungan 1 hari terdiri atas 8 jam kerja).

60

2.6. Jaringan Monitoring CCTV Secara garis besar CCTV adalah sebuah kamera pengintai yang di gunakan untuk menyelidiki atau mengawasi suatu tempat. Sebagai implikasi dari kemajuan teknologi dan kebutuhan akan keamanan serta pengawasan yang melekat, maka dikenal jaringan televisi (monitor) tertutup atau Close Circuit Television-CCTV. Tidak seperti pesawat penerima siaran Televisi, dimana dengan mudah kita dapat memilih siaran yang kita sukai dan kehendaki, maka pada rangkaian jaringan televisi tertutup (CCTV) ini sudah sejak semula disambung dengan kamera yang terpasang dan ditempatkan menetap, baik dengan mempergunakan kabel atau tanpa kabel (wireless).

Pada umumnya jaringan televisi tertutup- CCTV, dipergunakan pada sistim pengawasan dan keamanan (control & security system), misalnya pada supermarket, minimarket, ruangan satuan pengamanan, bank dan toko-toko emas, badan usaha milik negara, dan masih banyak lagi tempat-tempat penting yang sangat membutuhkan sistim keamanan tersebut. Pemakaian CCTV pada umumnya pada Pengawasan jalan raya dipersimpangan jalan. Pengawasan pengunjung bank dan perusahaan demi keamanan. Seperti pengawasan, proses, operasi sistim dipabrik, dimana operator tidak dapat mengawasi, mendekati proses tersebut secara langsung. Pusat-pusat pendidikan dan latihan, karena jumlah peserta yang jauh lebih banyak dari pengawasnya, pelatihan olah raga dilapangan terbuka yang sangat luas, diruangan dengan kamera kamera tersembunyi (hide camera), ditempat kebun binatang yang cukup berbahaya dan Masih banyak lagi pemakaiannya.

61

Gambar 2.5 Sistem CCTV Secara Umum Secara garis besar peralatan umum CCTV ialah Yang pertama akan dibahas pada CCTV adalah KAMERA . Kamera ini akan mendeteksi gambar bergerak yang akan diteruskan secara elektronis, baik dengan atau tanpa kabel yang akan diteruskan ke Monitor. Biasanya kamera juga dapat memonitor dan medeteksi suara. Kamera yang baik dan lengkap biasanya terdapat mekanisme penggerak, keatas-bawah dan kekiri-kanan yang disebut TILT-PAN control, kadangkala kamera ini juga dilengkapi dengan ZOOM jauh - dekat, semua kontrol ini dapat dilakukan secara manual atau otomatis, atau dengan kontrol jarak jauh ( remote ). Yang kedua ialah TeleVisi Monitor, Gambar bergerak yang dideteksi oleh kamera, perlu dikembalikan kegambar bergerak yang utuh oleh perangkat yang disebut Monitor, biasanya monitor diletakan berdekatan atau didalam ruangan pengawas, operator atau orang yang bertanggung jawab atas pengendalian CCTV ini. Pada umumnya cukup dengan 1 (satu) kamera dan 1 (monitor) sudah dapat berfungsi untuk mengawasi suatu bagian, sistim (5m ~ 30 m) atau ruangan, kegiatan, dimana seorang operator-pengawas akan me-monitor diruangan lainnya kegiatan tersebut. Pengembangan lebih lanjut adalah bahwa dengan 1 (satu) monitor dapat dilakukan atau disambung dengan 4 (empat) buah kamera bahkan lebih, sedangkan pada monitornya ditambahkan pengganti kanal gambar (video switcher), sehingga sang operator atau pengawas, dapat memindahkan atau memilih kamera mana yang dituju, secara permanen, atau bergantian. Pemilihan

62

gambar ini dapat dilakukan secara manual atau otomatis berdasarkan tenggang waktu tiap gambar (timer switch video channel), biasanya diatur 5 ~ 15 detik tiap gambar. Deteksi suara yang dimonitor juga akan mengikuti perpindahan video tersebut. Yang ketiga ialah Sistim Catu Daya (Power Supply Adaptor), Sistim catu daya (DC adaptor) pada kamera biasanya 5 ~ 12 V DC, sedangkan input listrik AC adalah 100 ~ 220 VAC (switching power supply), dengan sumber arus listrik yang dekat dengan kamera (kurang dari 5 m), maka kebutuhan sumber catu daya untuk kamera dengan mudah dapat terpenuhi, Namun akan menjadi masalah apabila sumber catu daya DC ke kamera terletak jauh sekali (lebih dari 20 m), sehingga memerlukan kabel tambahan yang perlu diperhitungkan secara teknis, karena adanya tegangan jatuh (DC voltage drop) pada adaptor tersebut, kecuali jika voltage drop tersebut terjadi di sisi sumber listrik AC 100 ~ 220 V tersebut. Hal yang praktis adalah dengan memasang adaptor ditempat operator-ruangan kontrol, selanjutnya kabel DC adaptor tersebut dialirkan bersama kabel gambar ( A/V kabel ) mempergunakan jenis kabel " TRIAXIAL " (3 kabel coax sejajar). Perlu diperhitungkan tegangan jatuh dari DC adaptor tersebut, yaitu dengan sumber DC adaptor diatur sedemikian rupa ( 18 ~ 35 V ), sedangkan pada tiap kamera ditambahkan regulator ( DC regulator ) yang cocok dengan kameranya ( 5, 8 atau 12 V DC ), bahkan dengan penerapan sistim DC adaptor terpusat (ruangan operator), mudah untuk mematikan dan menghidupkan sistim pengawasan secara menyeluruh, mudah dan terpusat, terutama jarak antara ruang kontrol dan kamera jauh sekali ( 100 ~ 300 m). Dan yang keempat Perekam Video Gambar Bergerak (Digital Video Recorder) Dahulu untuk merekam gambar masih mempergunakan pita rekaman dengan format BETA atau VHS (Video Tape Recorder ), tapi sekarang sudah tidak lagi mempergunakan pita perekam tersebut. Sekarang sudah dapat direkam pada HARDISK dengan memakai format MPEG 4, dengan durasi 150 Mbyte /Jam. Pada umumnya ada 2 (dua) macam perekam gambar bergerak yaitu :
a. STANDALONE amplifier) Video Recorder (mirip Video CD player atau

63

b. Komputer ( PC )

2.6.1.Cara Kerja CCTV

Semua yang dibutuhkan untuk dapat melihat tampilan gambar melalui jaringan sudah terbentuk dalam satu unit tertentu. Suatu Network Camera dapat digambarkan sebagai kombinasi antara suatu kamera dengan satu computer, yang terhubung secara langsung ke dalam satu jaringan sebagaimana perangkat jaringan lainnya dan disertai dengan software-software tertentu seperti misalnya Web server, FTP server, FTP client, email client dan koneksi untuk alarm. Saat ini terdapat pula beberapa network camera yang bahkan sudah dilengkapi pula dengan fungsi-fungsi tambahan lainnya yang juga banyak dibutuhkan seperti motion detection dan output video analog. Adapun cara kerja sederhana suatu network camera dapat dilihat pada gambar di atas. Komponen kamera akan menangkap obyek gambar yang akan ditransformasikan menjadi sinyal-sinyal elektronik, dan selanjutnya sinyal-sinyal tersebut akan dikonversikan dari format analog menjadi format digital dan ditransfer melalui sebuah komputer dan dikompresi untuk selanjutnya dikirim melalui jaringan. Cara mengirmkan gambar melalui suatu jaringan :
1. Camera To The Network Untuk system kamera CCTV surveillance yang digunakan di lokasi tertentu misalnya dalam satu gedung, biasanya akan cukup mudah bagi kita semua bila ingin menambah jumlah kamera yang dipasang tetapi kadang-kadang untuk dapat melihat tampilan gambar dari setiap kamera yang ada menjadi permasalahan tersendiri, karena sistem jaringan yang ada di gedung tersebut kurang mendukung. Seharusnya bila gedung tersebut sudah dilengkapi dengan sistem jaringan yang baik, berapapun penambahan jumlah kamera serta darimana saja kita akan melihat tampilan gambar dari setiap kamera tidak akan menjadi masalah. Connecting The

64

2.

The IP-Network Transmision Control Protocol / Internet Protocol (TCP/IP) saat ini merupakan protocol komunikasi computer yang umum digunakan didunia maya / internet. Untuk di lokasi kantor, komputer yang ada umumnya dihubungkan melalui jaringan Ethernet, misalnya LAN (Local Area Network). Setiap perangkat/device dalam LAN tersebut harus memiliki suatu alamat yang unik yang disebut dengan IP Address, sehingga dapat terhubung secara langsung ke Internet.

3. Transferring Images

Storing

And

Tersedia beberapa jenis transmisi yang dapat digunakan untuk menghubungkan ke jaringan Internet. Beberapa diantaranya adalah modem standard dan ISDN (Integrated Service Digital Network), modem DSL (Digital Subscriber Line), modem TV kabel, koneksi T1, dan 10, 100 serta 1000 Mbit koneksi Ethernet. Selain itu juga masih ada modem telpon seluler, serta beberapa pilihan koneksi nirkabel lainnya. Images/tampilan gambar digital biasanya disimpan dalam suatu media yang disebut dengan hard disk. Satu hard disk memiliki kemampuan untuk menyimpan sampai sejumlah beberapa juta gambar. Pada saat kapasitas penyimpanan hard disk tersebut sudah penuh, komputer dapat diprogram untuk menghapus secara otomatis tampilan gambar yang sudah lama, sehingga akan tersedia space yang baru untuk menyimpan gambar-gambar yang baru. 4. Techniques And Image Resolution Kualitas tampilan gambar yang seringkali disebut dengan resolusi gambar diukur dalam pixels. Semakin detail tampilan suatu gambar, semakin besar jumlah pixel yang ditampilkan, dan akhirnya semakin besar data tersebut. Gambar yang terlihat secara detail membutuhkan kapasitas penyimpanan yang semakin besar di dalam hard disk dan tentunya membutuhkan kapasitas bandwidth Compression

65

yang semakin besar untuk proses pengirimannya. Tampilan gambar yang akan disimpan dan dikirim melalui jaringan, terlebih dahulu harus dikompresi agar menghemat space dan bandwidth. Bila kapasitas bandwidth yang tersedia sangat terbatas,maka tampailan gambar tersebut masih memungkinkan untuk dapat dikirim dengan konsekuensi kualitas tampilan gambar diturunkan serta ukuran diperkecil. Biasanya standard kualitas tampilan gambar yang baik adalah JPEG (Joint Photographic Experts Group) dan MPEG (Moving Picture Experts Group). Sementara itu standard H digunakan untuk keperluan video conference. 5. Requirements Umumnya kualitas tampilan gambar yang kurang bagus juga karena dipengaruhi pencahayaan yang tidak mencukupi atau sangat kurang yang akan mengakibatkan warna yang muncul terlihat membosankan dan kabur. Ukuran yang digunakan dalam dalam pencahayaan ini adalah Lux, misalnya sinar matahari yang terang memiliki ukuran 100.000 Lux, sinar lilin hanya 1 lux. Untuk mendapatkan kualitas gambar yang bagus biasanya dibutuhkan sekitar 200 lux. Camera Light

66

BAB III ANALISIS SISTEM JARINGAN MONITORING CCTV LAPAN

3.1.

Sejarah Lembaga Penerbangan Dan Antariksa Nasional (LAPAN) Pada tanggal 31 Mei 1962, dibentuk Panitia Astronautika oleh Menteri

Pertama RI, Ir. Juanda (selaku Ketua Dewan Penerbangan RI) dan R.J. Salatun (selaku Sekretaris Dewan Penerbangan RI). Tanggal 22 September 1962, terbentuknya Proyek Roket Ilmiah dan Militer Awal (PRIMA) afiliasi AURI dan ITB. Berhasil membuat dan meluncurkan dua roket seri Kartika berikut telemetrinya. Tanggal 27 November 1963, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 236 Tahun 1963 tentang LAPAN. LAPAN sebagai Lembaga Non-Departemen Nasional, mempunyai peran yang penting dalam perkembangan dan kemajuan teknologi penerbangan dan penelitian antariksa nasional. Atas dasar itulah lembaga LAPAN termotivasi untuk meningkatkan kinerja karyawan 3.1.1. Visi Meningkatkan Peran Iptek Kedirgantaraan Dalam Mewujudkan

Kesejahteraan Berkelanjutan.

3.1.2. Misi a. Meningkatkan Penguasaan Teknologi Wahana Dirgantara dan Sistem Antariksa untuk Mencapai Kemandirian dalam Rangka Mendukung Kesinambungan Pemanfaatan dan Pendayagunaannya, serta Menjaga Keutuhan NKRI

67

b. Meningkatkan Partisipasi dalam Pembangunan Ekonomi melalui Upaya Pemanfaatan Teknologi Dirgantara dalam Mendukung Pembangunan Nasional Berkelanjutan c. Meningkatkan Penguasaan Sains Atmosfer dan Antariksa dalam Rangka Menguasai Pengetahuan tentang Sistem Bumi dan Sistem Matahari-Bumi untuk Pemanfaatannya di Indonesia dan Kontribusinya pada Perkembangan Ilmu Pengetahuan d. Meningkatkan Pengkajian Kebijakan dan Perundang-Undangan dalam Bidang Kedirgantaraan untuk Keperluan Pembangunan Kedirgantaraan Nasional dan Perlindungan Kepentingan Indonesia dalam Pendayagaunaan Dirgantara, serta Komunikasi Informasi Kedirgantaraan e. Meningkatkan Manajemen, Sumber Daya, dan Kinerja Pelaksanaan Program LAPAN f. Meningkatkan Kerjasama Penelitian, Hubungan antar Lembaga, Promosi Hasil litbang LAPAN serta Kerjasama Internasional.

3.1.3. Lingkup kegiatan

1. 2. 3. 4.

Pengembangan teknologi dan pemanfaatan penginderaan jauh. Pemanfaatan sains atmosfer, iklim dan antariksa. Pengembangan teknologi dirgantara. Pengembangan kebijakan kedirgantaraan nasional.

3.1.4. Struktur Organisasi LAPAN

68

KEPALA LAPAN

SEKRETARIAT UTAMA INSPEKTORAT


BIRO PERENCANAAN DAN ORGANISASI BIRO HUBUNGAN MASYARAKAT DAN KEDIRGANTARAAN

BIRO UMUM

DEPUTI BIDANG PENGINDRAAN JAUH

DEPUTI BIDANG SAINS DAN INFORMASI BIDANG KEDIRGANTARAAN

DEPUTI BIDANG TEKNOLOGI BIDANG DIRGANTARA

PUSAT DATA PENGINDRAAN JAUH

PUSAT PEMANFAATAN SAINS ATMOSFER DAN IKLIM

PUSAT TEKNOLOGI DIRGANTARA TERAPAN

PUSAT PENGEMBANGAN PEMANFAATAN DAN TEKNOLOGI PENGINDRAAN JAUH

PUSAT PEMANFAATAN SAINS ANTARIKSA

PUSAT TEKNOLOGI ELEKTRONIKA DIRGANTARA

PUSAT ANALISIS DAN INFORMASI KEDIRGANTARAAN

PUSAT TEKNOLOGI WAHANA DIRGANTARA

69

Gambar 3.1 Struktur Organisasi LAPAN


3.1.5. Kedudukan, tugas Pokok, fungsi dan kewenangan a. Kedudukan

LAPAN

adalah

Lembaga

Pemerintah

Non

Departemen

yang

berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden Republik Indonesia. Dalam pelaksanaan tugasnya dikoordinasikan oleh menteri yang bertanggung-jawab di bidang riset dan teknologi.
b. Tugas pokok

Melaksanakan tugas pemerintah di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Melaksanakan tugas Sekretariat Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional Republik Indonesia (DEPANRI), sesuai Keppres No. 99 Tahun 1993 tentang DEPANRI sebagaimana telah diubah dengan Keppres No. 132 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Keppres No.99 Tahun 1993. DEPANRI adalah suatu badan nasional yang mengkoordinasikan program-program kedirgantaraan antar

70

instansi dan mengarahkan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan masalahmasalah kedirgantaraan.


c. Fungsi

Dalam mengemban tugas pokok di atas LAPAN menyelenggarakan fungsi-fungsi : 1. Pengkajian dan penyusunan kebijaksanaan nasional di bidang penelitian dan Pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya. 2. Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas LAPAN. 3. Pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah di bidang kedirgantaraan dan pemanfaatannya. 4. Kerjasama dengan instansi terkait di tingkat nasional dan internasional. 5. Penelitian, pengembangan dan pemanfaatan bidang penginderaan jauh, serta pengembangan bank data penginderaan jauh nasional dan pelayanannya. 6. Penelitian, pengembangan dan pemanfaatan sain atmosfer, iklim antariksa dan lingkungan antariksa, pengkajian perkembangan kedirgantaraan, pengembangan informasi kedirgantaraan serta pelayanannya. 7. Penelitian, pengembangan teknologi dirgantara terapan, elektronika dirgantara, wahana dirgantara serta pemanfaatan dan pelayanannya. 8. Pemasyarakatan dan pemasaran dalam bidang kedirgantaraan. 9. Pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas semua unsur di lingkungan LAPAN. pelayanan administrasi umum.

d. Kewenangan

71

Dalam kewenangannya LAPAN mencakup beberapa hal yang memegang peran penting diantaranya: 1. Penyusunan rencana nasional secara makro di bidangnya. 2. Perumusan kebijakan dibidangnya untuk mendukung pembangunan secara makro. 3. Penetapan sistem informasi di bidangnya.
4. Kewenangan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

yang berlaku yaitu : Perumusan dan pelaksanaan kebijakan tertentu di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya. Penginderaan/pemotretan jarak jauh dan pemberian rekomendasi perizinan orbit satelit.

3.2.

Identifikasi Sistem jaringan monitoring CCTV LAPAN Secara garis besar CCTV adalah sebuah kamera pengintai yang di gunakan

untuk menyelidiki atau mengawasi suatu tempat. Sebagai implikasi dari kemajuan teknologi dan kebutuhan akan keamanan serta pengawasan yang melekat, maka dikenal jaringan televisi (monitor) tertutup atau Close Circuit Television (CCTV). Tidak seperti pesawat penerima siaran Televisi, dimana dengan mudah kita dapat memilih siaran yang kita sukai dan kehendaki, maka pada rangkaian jaringan televisi tertutup (CCTV) ini sudah sejak semula disambung dengan kamera yang terpasang dan ditempatkan menetap, baik dengan mempergunakan kabel atau tanpa kabel (wireless). Begitu juga Lembaga LAPAN Memonitor kegiatan menggunakan kamera, yang terdiri dari dua type kamera yaitu kamera kabel dan wireless, CCTV LAPAN digunakan sebagai surveilance (pemantau). Seperti terlihat pada gambar di bawah :

72

R. integrasi Roket R. Firing Control

Cam 1

VD 1 Monitor R.C1

Monitor R.F1

Cam 2

VD 2 Monitor R.C2

Monitor R.F2 Display demo Room Multiflexer Output Audio -video Monitor R.C3 Monitor R.F3 CPU - Hardisk Monitor R.F4l Reciever1 Monito R.C 4 VD 5 Monitor R.F5 Reciever2 Monitor RC 5 Output Record

Cam 3

R. Komando

VD 3

Cam 4

VD 4 Transmiter A/V 1

launching pad roket


Cam 5

Transmiter A/V 1

Launcing Pad Roket

R. Firing

R. Commando
Gedung Gedung

Gambar 3.2 Jaringan Monitoring CCTV LAPAN

73

3.2.1. Ruang - ruang yang dimonitor CCTV a. Ruang Integrasi Roket Ruangan integrasi roket adalah Ruangan Perancangan konstruksi roket dan integrasi berbagai alat komponen penunjang konstruksi dari sebuah roket, seperti rancang bangun propelan polysulfida, polyurethane, Carboxyl Terminated Polybuthadiene (CTPB), dan Hydroxyl Terminated Polybutadiene (HTPB). Kamera ke satu digunakan untuk memonitor aktivitas di ruang Integrasi Roket. Ruang ini merupakan ruang yang sangat penting untuk dipantau karena segala persiapan termasuk proses persiapan peluncuran roket dimulai dari ruangan ini. Pada ruangan ini ditempatkan sebuah kamera statis 220x power zoom dengan infrared di sudut atas ruangan. b. Ruang Firing Control Ruang Firing Control adalah ruang picu penyalaan motor roket yang ditunjukan dengan IG meter sebagai acuan penyalaan peluncuran motor sebuah roket. Terdapat lima monitor yang dihubungkan dengan masing-masing kamera dan monitoring kelima kamera tersebut dapat di monitor secara langsung dari ruangan ini, tetapi petugas tetap fokus pada dua kamera yang terdapat di Launching Pad roket. Di ruangan ini juga ditempatkan sebuah kamera untuk di monitor di Display Demo Room. c. Ruang Komando Ruangan ini merupakan ruangan ruangan yang befungsi memberi perintah atau arahan dalam suatu pelaksanaan kegiatan peluncuran roket. Petugas yang berada di ruang komando terus memonitor keadaan Launching Pad untuk memberikan perintah saat yang tepat meluncurkan roket. Di ruangan ini pula ditempat kan sebuah kamera pantau 11 mm 48x zoom agar dapat di monitor di ruang Display Demo Room. Terdapat lima buah monitor yang terhubung secara langsung dengan kelima kamera tersebut. d. Launching Pad Area Launching Pad Area adalah tempat dimana roket akan diluncurkan tentu saja sesuai lintasannya dan area lintasan tersebut sudah dikosongkan untuk keperluan peluncuran roket. Di Launching Pad Area dipasang 2 buah kamera

74

wireless bergerak, baik digerakan oleh petugas ataupun dipasang dengan memakai motor rotator yang dihubungkan dengan transmiter sebagai pemancar sinyal. 3.3. Cara Pemasangan Jaringan Monitoring CCTV LAPAN Kelebihan-kelebihan pada penggunaan teknologi CCTV itu yang menjadi dasar lembaga pemerintah non departemen LAPAN untuk menggunakan teknologi tersebut dalam setiap kegiatannya. Teknologi CCTV ini telah banyak membantu terutama pada kegiatan yang sangat penting, yaitu pada proses peluncuran sebuah roket dimana kamera memantau seluruh kegiatan proses peluncuran yang dipantau dari ruang kontrol komando dan ruang Firing. Pemasangan CCTV banyak biasanya dimulai dengan mengklasifikasi kebutuhan dan susunan rangkaian kerja. Berikut ringkasan tahapan pemasangan jaringan monitoring CCTV Lapan :
3.3.1 Pemasangan Jaringan Melalui Metode Cabeling

Ada 3 jenis kabel yang dibutuhkan untuk instalasi Kamera CCTV yaitu; kabel coaxial atau kabel video, kabel Power supply atau kabel adaptor, kabel kontrol untuk otomatis PTZ. Pemasangan dilakukan dengan menghubungkan peralatan di bawah : BNC Connector Untuk menghubungkan kabel dengan DVR dan kamera. Peralatan pendukung instalasi adalah perlengkapan yanga dibutuhkan ketika menginstall CCTV. Seperti pemasangan pipa konduit/pipa galvanis, pipa pvc, kabeltray, klem dan lainnya sesuai lokasi penempatannya UPS-Voltage stabilizer powersupply, Peralatan ini disarankan dilengkapi untuk instalasi kamera terutama ditempat yang aliran listriknya kurang stabil atau sering mati. untuk instalasi CCTV Industri atau CCTV pabrik peralatan ini sangat disarankan. Power supply adaptor, Merupakan sember daya untuk menjalankan peralatan CCTV camera maupun DVR, ada beberapa type antaranya, adaptor biasa maupun switching power supply.

Poin tahapan pemasangan instalasi CCTV :

75

1. Memasang kamera yang di supply Power Supply 12 volt. 2. Memasang dan menghubungkan kabel RG6 dengan video distributor.
3.

Menghubungkan dengan switcher atau langsung dihubungkan dengan Multiflexer.

4. Lalu bisa di koneksikan ke monitor. Koneksi dengan menggunakan kabel pada CCTV konvensional diatas, satu kabel hanya di hubungkan dengan satu kamera. Pengiriman data sinyal gambar dikirim ke multiplexer oleh kamera, kemudian bisa langsung diterima oleh CCTV monitor yang sebelumnya telah dihubungkan dengan multiflexer. Untuk penyimpanan data CCTV konvensional di LAPAN Menggunakan VCR yang dihubungkan ke Multiflexer, belakangan ini digunakan DVR dan hardisk untuk penyimpanan data gambar hasil video.
3.3.2. Pemasangan dengan Metode Nirkabel

Pemasangan CCTV dengan metode secara wireless tidak jauh berbeda dengan metode cabeling yang membedakan hanyalah kabel yang membentang melewati ruangan atau tempat lain. Kamera dengan koneksi wireless digunakan karena jarak antara kamera dengan monitor berjarak 650 M, sehingga digunakan jaringan nirkabel/wireless. Berikut tahapan pemasangan kamera dengan metode wireless : 1. 2. Pasang kamera yang dihubungkan dengan Transmiter. Kemudian arahkan transmiter tegak lurus dengan antena YAGI 16

dBi di tempatkan. 3. Kemudian pasang Receiver Audio Video yang dihubungkan

dengan antena YAGI tersebut. 4. Kemudian bisa dihubungkan dengan monitor.

CCTV kamera ini mengirim video output ke DVR, multiplexer atau video display monitor, ia menggunakan transmisi radio freq, type ini mempermudah pemasangan kamera CCTV jaungkauan antara 100 m hingga 1 km, untuk jangkauan yang lebih membutuhkan peralatan pembantu khusus.

3.3.3. Cara kerja Sistem Monitoring CCTV LAPAN

76

a.

Cara kerja Jaringan Monitoring Kamera Melalui kabel

Sistem CCTV Kabel terdiri dari tiga kamera statik. Kamera di tempatkan di beberapa area/ruangan yang dianggap penting, yaitu di Ruang Integrasi Roket, Ruang firing, dan Ruang Komando. Seluruh kejadian dipantau oleh monitor dengan pengawasan langsung oleh operator. Tiga Kamera CCTV ini dialiri listrik yang diperlukan untuk kamera (Powered Camera) dihubung ke Video Distributor mengunakan kabel koaksial yang kemudian mengirimkan sinyal audio video ke monitor. Agar sinyal gambar dapat dihubungkan ke monitor lain, dari video distributor tinggal menghubungkan lagi ke monitor lain. Supaya kualitas sinyal gambar tetap terjaga maka perlu tambahan video distributor sebelum dihubungkan ke monitor lain. Berikut tahapan proses aliran data : 1. Proses komunikasi data dimulai dengan kamera yang mengirimkan gambar sinyal analog melalui kabel coaxial video composite ke Video distributor. 2. Sinyal Video composite tersebut kemudian di distribusikan ke Monitor yang secara langsung dapat menerima sinyal video dari AV distributor. 3. Kemudian agar gambar dapat diterima oleh monitor di ruangan lain dengan satu kamera yang sama maka, harus ada video distributor yang dihubungkan dengan kamera atau bisa langsung mengambil dari monitor yang pertama dilalui kabel. 4. Agar sinyal video dari kamera dapat diatur dan di kontrol, semua video distributor kamera dihubungkan dengan sebuah unit multiflexer, dimana multiflexer tersebut yang akan mengkonversi semua kamera yang terhubung ke dalam sebuah monitor yang besar.
5. Dari multiflexer sinyal gambar dapat pula dihubungkan dengan CPU

melalui DVR.

77

Monitor Kamera MultiPlexer Video Distributor DVR CPU

Gambar 3.3 Alur Data Sinyal Video Melalui Metode Kabel Alasan pemakaian sistem CCTV ini untuk meminimalisir kesulitan pengiriman sinyal dan mencegah kerusakan semua komponen jaringan CCTV.
b.

Cara kerja jaringan monitoring Kamera Wireless

Ada 2 kamera yang dipasang secara wireless, yaitu di lokasi Penyimpanan Roket, dan di lokasi Peluncuran Roket. Kamera yang digunakan ialah kamera biasa yang dihubungkan dengan kabel Coaxial RG6 ke sebuah transmiter. Berikut poin proses aliran data jaringan nirkabel. 1. Kamera yang telah dihubungkan dengan transmiter, akan mengirimkan sinyal Video komposit ke antena yang telah di arahkan ke transmiter tersebut, dan sinyal video akan di terima oleh receiver. 2. Receiver akan mengirimkan sinyal tersebut ke monitor. Agar dapat diterima oleh monitor di ruangan lain maka dari monitor dihubungkan lagi dengan video distributor. 3. Kemudian sinyal video tersebut di alirkan ke multiflexer agar bisa ditampilkan di monitor utama.

78

Kamera

Transmiter

Receiver Video Distributor DV R

Monitor

CPU

MultiPlexer

Gambar 3.4 Alur Data Sinyal Video Melalui Metode Wireless


3.4. Analisis Komponen Peralatan Jaringan CCTV LAPAN
Beberapa peralatan yang dibutuhkan untuk CCTV setup-CCTV setting, sistem instalasi CCTV sederhana pemantauan dengan camera CCTV pada umumnya dapat di uraikan sebagai berikut :

a. Kamera Kamera ialah suatu unsur sensor untuk memantau suatu kegiatan atau objek pada suatu kegiatan operasional peluncuran roket. Dimensi pantauan berdasarkan karakteristik daripada lensa, karakteristik Lensa yang dipakai berukuran 11 mm.

Gambar 3.5 Kamera Pantau VCR dan 48X power Zoom Spesifikasi : Lensa 1/4" Sharp CCD Color Pixels : PAL: 512(H) 582(V) White balance Auto Dimensi : 60 52 135 mm Kamera yang digunakan ada 2 tipe kamera kamera indoor dan outdoor, (lihat pada gambar 3.2). Kamera outdoor biasanya menggunakan waterproof sebagai pelindung kamera dari air hujan.
Indoor cctv digunakan bila area yang akan dipantau

79

berada di dalam ruangan, atau tempat yang tidak kena hujan, kamera ini biasanya digunakan di kantor, ruko, apartement, hotel, dan lainnya.

b. Audio Video Distributor dan Video distributor

Adalah alat untuk memperkuat suatu sinyal video Composite yang dihasilkan oleh kamera. AV Distributor adalah alat untuk membagi dari 1 input AV untuk dipecah menjadi beberapa output AV, dengan hasil pada setiap output tidak terjadi penurunan kualitas karena sinyal input akan diperkuat terlebih dahulu sebelum sinyal dibagi. AV distributor yang khusus digunakan CCTV biasanya untuk distribusi gambar jarak jauh. Untuk distribusi dengan jarak lebih dari 20 meter sebaiknya menggunakan alat ini, karena kualitas gambarnya akan tetap terjaga. Tentu dengan menggunakan kualitas kabel yang juga bagus. (kabel coaxial RG59 atau RG6). CCTV Video Distributor adalah alat untuk membagi dari 1 input Video (dari jack BNC Camera CCTV) untuk dipecah menjadi beberapa output Video CCTV, dengan hasil pada setiap output tidak terjadi penurunan kualitas karena sinyal input akan diperkuat terlebih dahulu sebelum sinyal di bagi. Alat ini dapat memperjauh jarak jangkauan kabel sampai 350 meter (biasanya kabel coaxial RG6 jarak jangkauan sampai 100 meter apabila lebih dari 100 meter harus diperkuat dengan CCTV Video Distributor ). Sebagai contoh aplikasinya misalnya : Kita ingin membagi / menonton hasil gambar CCTV Camera dari DVR (DVR output ke Televisi hanya ada 1 buah ) ke berberapa Televisi di rumah lebih dari 1 Televisi (misalnya 3 Televisi ) maka harus menggunakan CCTV Video Distributor.

Gambar 3.6 AV Distributor CCTV

80

Spesifikasi : Video Input Frequency Audio Input Frequency


c. Multiplexer

: 0.8-1.0 Vp-p / 75 : 50Hz-5.5Mhz : 2V rms/47K : 10Hz-20KHz, 0dB

Video Output : 1.0-1.4 Vp-p / 75

Audio Output : 2V rms/1K

Multiplexer yaitu sebagai pencampur diantara recording ataupun untuk monitor.

beberapa sinyal video

untuk di kombinasikan ke dalam beberapa sinyal output video baik untuk Multiplexer dapat mengatur satu input menjadi beberapa output secara bergantian dan dapat membagi monitor menjadi beberapa bagian menjadi beberapa output.

Gambar 3.7 Multiplexer

d. Transmiter Audio video Untuk mengirimkan sinyal gelombang elektromagnetik pada frekuensi 1,2 MHz yang dihasilkan dari kamera yang digunakan. Transmiter Series adalah module yang digunakan untuk mengirim signal video / audio ke Receiver atau penerima signal video / audio secara wireless. Alat ini digunakan untuk mengirim hasil data / gambar pada CCTV Camera ke penerima untuk ditampilkan ke monitor, VCR maupun peralatan Audio-Video.

81

Gambar 3.8 Transmiter Audio Video CCTV

e. Receiver Audio Video Receiver audio video berfungsi untuk menerima suatu sinyal gelombang elektro magnetik yang di pancarkan melalui transmiter audio video pada suatu frekuensi 1,2 MHz, sehingga akan menghasilkan output berupa audio video analog.

Gambar 3.9 Receiver Audio Video CCTV f. Kabel Coaxial RG6 dan Kabel Set Kabel Coaxial CCTV RG6 adalah kabel Coaxial yang digunakan untuk instalasi CCTV sistem. Belden Coaxial RG6 ini mempunyai kandungan tembaga lebih tinggi jika dibanding dengan kabel coaxial lainnya sehingga dapat mengirimkan signal video untuk jarak jauh dengan sangat baik. Kabel ini juga dilengkapi dengan insulasi aluminium foil dan PVC jacket agar transmisi data tidak terganggu oleh Noise yang disebabkan oleh peralatan listrik / kabel lainnya. Kabel tambahan lain yaitu untuk audio dan video Kabel CCTV ini terdiri 3 jalur, yaitu : untuk jalur video, 1 jalur audio, dan 1 jalur untuk adaptor.
Untuk menghubungkan kamera dan perangkat rekaman / video monitor digunakan kabel khusus video - coaxial cables, kabel power juga digunakan untuk adaptor - power supply cctv camera, dan data cables bila perangkat cctv dilengkapi sistem ratator Pan tilt dan zoom.

82

Gambar 3.10 Kabel Coaxial RG6 g. Video Recorder DVR adalah sebuah alat perekam yang sangat mudah digunakan, Dengan alat perekam ini memungkinkan Kamera CCTV anda bisa diakses atau di monitor dari mana saja di seluruh dunia dengan menggunakan kabel telpon, internet dan hand phone yang sudah support GPRS/3G. Beberapa model terbaru dengan tambahan--fitur , motion dectection, remote viewing, MPEG-4 video format, sistem backup yang mudah baik itu ke USB, DVD, CD ROM dan bisa diakses lewat LAN & Ineternet. Perekam ini terdiri dari 4 channel, 8 channel dan 16 channel yang merekam secara digital ke hardisk dengan menggunakan teknologi motion detection dengan format MPEG4. DVR berfungsi untuk merekam audio-video hasil tangkapan transmiter, DVR ini adalah alat untuk memonitor dan merekam kamera CCTV, dapat menampilkan dan merekam 4 kamera sekaligus secara bersamaan. Alat ini menggunakan harddisk sebagai media penyimpanan hasil rekamannya. Hasil rekamannya akan disimpan ke dalam harddisk, dengan kompresi file rekam yang kecil namun berkualitas tinggi. Metode perekaman juga dapat diatur berdasarkan waktu atau berdasarkan sensor gerak. Alat ini juga berfungsi sebagai quad processor, yang dapat menampilkan hasil real-time dari 4 kamera CCTV sekaligus dalam 1 layar. Alat ini disambungkan langsung ke TV untuk melihat tampilan gambarnya. Hasil rekamannya juga dapat langsung diputar menggunakan alat ini.

83

Gambar 3.11 Digital Video Recorder Specification : Compression Format Video Input / Output : Modified MJPEG : BNC 4-ch input / 2-ch output (Composite) NTSC: 120fps (4x30fps) Display Frame Rate PAL: 100fps (4x25 fps) NTSC: Max. 30 fps (Quad) Recording Frame Rate(Quad Mode) : PAL: Max. 25 fps : NTSC: Max.7.5 fps (Each) Recording Frame Rate (Each Mode) PAL: Max. 6.25 fps(Each) HDD Rack : Fixed, supports up to 250Gbyte HDD Recording Time Recording Mode Sensors, Alarm USB Port P/T/Z Remote Controller Power Adapter h. Antena Yagi 16 dBi Antena ini biasa di pakai untuk antena client. Untuk client jarak jangkau antara 2-4 km, Antena ini sudah dilengkapi dengan pigtail Rp-Tnc atau Rp-Sma (sesuai pesanan anda). Polarisasi antena yagi ini bisa horizontal maupun vertikal karena braket antena sudah di desain untuk suport 2 polarisasi. tinggal di sesuaikan saja dengan polarisasi pemancarnya dengan merubah dudukan braketnya. NTSC: 155 hours with 120GB HDD @ 15fps PAL: 194 hours with 120GB HDD @ 12fps Continuous, Motion Detection, Sensor activated 4 Inputs, 1 Output (10 Pin DIP Switch) 2.0 Version Yes, RS485 Optional, control all functions on front panel DC 12V, 5A

84

Gambar 3.12 Antena Yagi 16 dBi Specification: Frequency : 1,2 Ghz Gain : 16 dBi Polarization : Vertical / Horizontal Impedance : 50 Ohm Max. Input Power : 50 Watts VSWR : < 1,3 Connector : Rp-Tnc / Rp-Sma
i.

CCTV Monitor

CCTV monitor ialah alat penerima sinyal analog video yang dikirimkan oleh kamera melalui audio video distributor. Monitor dapat berupa monitor Black and White, Color, High Resolution, and LCD Flat screen Monitor. Yang digunakan di Lapan ialah monitor khusus CCTV 48 inchi lima unit dan satu unit LCD Flat screen Monitor LG 54 inchi yang berada di ruang komando dan monitor CCTV 14 inchi 5 buah yang berada di ruang Firing. Satu unit LCD flat Screen 54 inchi di tempatkan di ruang Kepala LAPAN untuk memonitor semua kegiatan. Semua kegiatan yang dilakukan akan secara otomatis dan bergantian yang akan termonitor di LCD tersebut.

85

Gambar 3.13 j. BNC Conector dan Power Adaptor BNC Untuk menghubungkan kabel dengan DVR dan kamera. BNC memisahkan antara output video dan output audio ketika akan dihubungkan ke DVR. Sedangkan Power Adaptor merupakan sember daya untuk menjalankan peralatan cctv camera maupun DVR, ada beberapa type antaranya, adaptor biasa maupun switching power supply.

Gambar 3.14 BNC Conector dan Power Suply

86

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1.

Kesimpulan Sistem Jaringan monitoring CCTV LAPAN merupakan jaringan

monitoring CCTV sederhana artinya menggunakan metode umum

yang

menggunakan tiga kamera statis dengan koneksi kabel dan dua kamera bergerak (110) melalui media wireless, transmiter, monitor, multiplexer, AV distributor, DVR, dsb. Monitoring dilakukan oleh operator khusus yang berkompeten dan berwenang, CCTV LAPAN bisa diakses oleh multi user pada saat bersamaan (Real Time) melalui monitor di ruangan lain. Monitoring dilakukan sebagai bahan dokumentasi dan acuan pada kegiatan-kegiatan LAPAN. Kelebihan dari penggunaan teknologi CCTV LAPAN antara lain : a. Meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja karyawan. b. Dapat lengkapi dengan option rekaman suara. c. Pengawasan melalui TV monitor oleh petugas keamanan secara real time. d. dapat melihat lokasi/tempat dengan kamera dari satu ruangan. e. Sebagai alat bukti bukti otentik jika terjadi peristiwa yang tidak dikehendaki. Kekurangan dari dari teknologi CCTV LAPAN a. b. Biaya perawatan yang relatif mahal karena LAPAN terletak Waktu pemasangan yang relatif lama, karena wilayah LAPAN dipesisir pantai dan alat mudah menjadi korosi. cukup luas.

87

4.2.

Saran Pemanfaatan teknologi CCTV di instansi LAPAN terus berkembang,

sehingga penggunaan teknologi CCTV tidak hanya sebagai dokumentasi dan monitoring keamanan tetapi sudah menjadi teknologi pendukung dalam sebuah roket. Maka penulis menyarankan untuk mengalisis lebih dalam penggunaan CCTV pada setiap penelitian Lembaga LAPAN .

88

DAFTAR PUSTAKA

Geier, Jim. Wireless Network First step. Yogyakarta. Andi Offset. 2005. NN. Http//:www.cctvcamera-alarm.com/applicationcctvsystem, Akses Tanggal 7 april 2009. Pakpahan, dan Grob bernard. Sistem Televisi Dan Video Cetakan Ke 3. Jakarta, Erlangga. 1993. Robert, Nahson. Http//:www.allcctv-indonesia.com, Akses Tanggal 28 februari sampai 5 maret 2009. Schmieg, Sebastian.Jaringan Kamera CCTV. blogspot.wordpress.com, Akses Tanggal 5 Januari 2009.