Anda di halaman 1dari 37

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

MODUL II VIBROGRAF I. TUJUAN Menentukan frekuensi garpu suara dengan vibrograf. II. ALAT DAN PERLENGKAPAN 1. Garpu suara yang akan ditentukan frekuensinya. 2. Bandul fisis atau bandul matematis. 3. Statip tempat menggeser pelat gelas. 4. Pelat gelas. 5. Stopwatch. 6. Tinta. III. TEORI Gambar 1

Bilangan getar ( frekuensi ) suatu garpu tidak dapat dihitung secara langsung dengan Menghitung berapa jumlah getaran tiap satuan waktu.Untuk itu dipergunakan alat penolong Yaitu suatu bandul fisis dalam vibrograf. Frekuensi bandul fisis dapat dihitung secara Langsung. Dengan vibrograf dapat dihitung perbandingan frekuensi bandul fisis dengan Garpu suara.

IV.

PERCOBAAN YANG HARUS DILAKUKAN 1. Catatlah suhu ruang dan tekanan ruang ( seblum dan sesudah percobaan ).
Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

2. Pasanglah garpu suara dengan menggantungkan bandul fisis pada statip yang tersedia. 3. Oleskan tinta pada permukaan pelat gelas dengan kuas. 4. Tempatkan pelat gelas pada relnya dibawah bandul fisis. 5. Usahakkan agar jarum suara dan bandul fisis bersama-sama menyinggung pelat gelas. 6. Getarkan bandul fisis ( dengan ujung jarum penunjuk pada pelat gelas ). 7. Amatilah waktu getar bandul fisis ( T ) beberapa kali ( ditentukan oleh asisten ). Tiap kali pengamatan, ambillah lebih banyak ayunan / getaran ( 10 s/d 30 ). 8. Getarkanlah bandul fisis dan garpu suara bersamaan dengan menggeser pelat gelas, Sehingga kedua getaran itu membekas pada pelat gelas. 9. Ulangi langkah percobaan 6 dan 8 pada bebeerapa tempat pelat gelas. 10. Hitunglah perbandingan frekuensi antara kedua getaran itu. 11. Lakukanlah langkah percobaan 9 untuk beberapa tempat dan beberapa jejak / gambar. 12. Ulangi langkah percobaan 2 s/d 10 beberapa kali dan ubahlah kedudukan bandul fisis Agar didapat bilangan getaran yang berlainan. IV. DATA PENGAMATAN

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

MODUL III RUMUS-RUMUS LENSA I. TUJUAN 1. Menentukan jarak fokus lensa tunggal. 2. Mengenal cacat bayangan aberasi. II. ALAT DAN PERLENGKAPAN 1. Bangku optic. 2. Celah sebagai benda ( berupa anak panah ). 3. Lampu. 4. Layar. 5. Lensa positif kuat ( ++ ) dan positif lemah ( + ). 6. Lensa negative ( - ). III. TEORI 1. Menentukan Jarak Fokus Lensa Positif
Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Gambar 1

Sebuah benda PQ diletakan didepan lensa positif, dan banyangan PQ yang terbentuk Dibelakang lensa dapat diamati pada sebuah layar. Jika M adalah pembesaran bayangan Dari segitiga POQ dan POQ, sudut POQ = POQ makan : Rumus :

Jarak fokus lensa dapat dihitung dengan persamaan : Rumus :

Cara lain untuk menentukan jarak fokus lensa positif adalah dengan cara Bassel ( Lihat Gambar 2 ).

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Pada suatu jarak benda dan layar yang tertentu dapat diperoleh bayangan yang diperbesar Dan diperkecil hanya dengan menggeser lensa saja. Maka jarak fokus : Rumus :

L : jarak benda ke layar e : jarak antarakedudukan lensa dimana didapat bayangan yang diperbesar dan diperkecil ( pada kedudukan tersebut berlaku ( S1 = S2 dan S2 = S1 ). 2. Menentukan Jarak Fokus Lensa Negatif Lensa negative hanya dapat membentuk bayangan nyata dari bayangan maya, untuk Itu dipergunakan lensa positif untuk membentuk bayangan nyata. Bayangan pada layar Yang dihasilkan oleh lensa positif merupakan benda untuk lensa negatif. Jarak lensa Positif kelayar mula-mula ini merupakan jarak benda S ( gantikan posisi layar dengan Lensa negative ). Jika layar digeser akan membentuk bayangan yang jelas pada layar, Maka jarak lensa negative ke layar merupakan jarak bayangan S. jarak fokusnya dapat Dihitung dengan persamaan : Rumus :

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Gambar 3

3. Menentukan Jarak Fokus Lensa Gabungan Untuk lensa gabungan berlaku persamaan : Rumus :

Jadi bila f1 dan f2 diketahui, maka f dapat dicari, dengan asumsi bahwa tidak ada celah Diantara kedua lensa. PERCOBAAN YANG HARUS DILAKUKAN

* Catatlah suhu ruang dan tekanan ruang ( seblum dan sesudah percobaan ). A. Menentukan Fokus Lensa Positif Dengan Pembesarannya 1. Susun pada bangku optic berturut-turut celah bercahaya ( benda ), lensa positif
Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Dan layar. 2. Pertama kali gunakan lensa positif kuat ( ++ ). 3. Ukur jarak celah bercahaya ( benda ) ke lensa. 4. Atur layar sehingga diperoleh bayangan yang nyata dan jelas pada layar. 5. Ukur jarak lensa ke layar ( bayangan ). 6. Hitung perbesarannya. 7. Lakukan ini untuk beberapa kali untuk benda yang berlainan. 8. Ulangi langkah percobaan 3 s/d 7 untuk llensa positif lemah ( + ). B. Menentukan Fokus Lensa Positif Dengan Rumus Bessel 1. Susun seperti langkah A.1 diatas. 2. Pertama kali gunakan lensa positif kuat ( ++ ). 3. Atur jarak benda dan layar pada suatu jarak tertenntu, catat jaraknya. 4. Geser lensa sehingga didapat bayangan yang diperbesar ( kedudukan I ), catat Kedudukan ini. 5. Geser lensa kearah layar maka akan terjadi bayangan yang diperkecil ( kedudukan II ) Catat kedudukan ini. 6. Ulangi percobaan ini. 7. Ulangi langkah percobaan 3 s/d 6 untuk lensa positif lemah ( + ). C. Menentukan Jarak Fokus Lensa Gabungan 1. Gunakan data hasil percobaan A dan B. 2. Hitung fokus lensa gabungan dengan mengunakan persamaan ( 5 ), dengan jarak Fokus lensa positif kuat ( ++ ) adalah f1 dan jarak fokus lensa positif lemah ( + ) Adalah f2. D. Menentukan Jarak Fokus Lensa Negatif 1. Susun pada bangku optik bercahaya ( benda ), lensa positif kuat ( ++ ) dan layar. Atur lensa sehingga didapat bayangan nyata dan jelas. Catat jarak layar terhadap Lensa positif kuat ( ++ ). 2. Gantikan posisi layar dengan lensa negative ( - ). 3. Atur layar untuk memperoleh bayangan sejati, catat jarak kedudukan lensa negative
Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Dan layar. 4. Ulangi langkah percobaan 1 s/d 3 beberapa kali. IV. DATA PENGAMATAN

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

MODUL IV LENSA DAN CERMIN I. TUJUAN 1. Menentukan jarak fokus lensa cembung dan jari-jari kelengkungan permukaan lensa. 2. Menentukan indeks bias lensa dan zat cair. II. ALAT DAN PERLENGKAPAN 1. Lensa bikonveks. 2. Lup. 3. Mistar dan jangka sorong. 4. Cermin datar. 5. Jarum ( berbentuk garpu ). 6. Statip. 7. Permukaan hitam. III. TEORI Bila sebuah benda diletakan di depan sebuah susukan optic yang terdiri dari sebuah lensa Positif ( bikonveks ) yang dirapatkan dengan sebuanh cermin datar, akan ada suatu Dimana bayangan terakhir yang terjadi akan besar dengan bendanya. Lintasan cahayanya dari benda dibias oleh lensa, dipantulkan cermin dan dibias oleh lensa Sehingga menghasilkan bayangan akhir. Gambar 1.

Pada kedudukan ini berlaku : Jarak fokus ( f ) = Jarak benda ke lensa ( JL )( 1 )


Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Bila susunan optik tersebut tidak menggunakan cermin datar, maka lintasan jalan cahaya Adalah dari benda dibias oleh lensa, dipantulkan permukaan bawah lensa dibias lagi oleh Dan dibentuk bayangan sejati yang sama besar dengan benda semula. Jika sekarang jarak JL = p, maka berlaku : Rumus :

Dimana :

R1 : R2 : M:

Jari-jari kelengkungan lensa sebelah bawah Jari-jari kelengkungan lensa sebelah atas Cermin datar

Jika susunan optic tersebut terdiri dari lensa dirapatkan dengan zat cair kemudian Dirapatkan pula dengan cermin datar, maka cahaya dari benda dibias lensa sehingga Terbentuk bayangan akhir. Jarak fokus gabungan ( f ) dari system ini pada saat sebesar Benda sama dengan bayangan adalah sama dengan jarak benda kelensa ( f = JL ). Indeks bias cermin dapat ditentukan dengan : Rumus :

IV.

PERCOBAAN YANG HARUS DILAKUKAN 1. Catatlah suhu ruang dan tekanan ruang ( seblum dan sesudah percobaan ). 2. Ukur tebal bikonveks dengan jangka sorong beberapa kali ( ditentukan oleh asisten ).
Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

3. Letakkan sebuah cermin datar pada permukaan hitam. 4. Letakkan lensa bikonveks di atas cermin datar dengan jari-jari kelengkungan R1 lensa Terletak dibawah. 5. Sebuah jarum kembar dipakai sebagai benda. Atur sehingga letaknya seporos dengan Susunan lensa, gerakan benda naik-turun sehingga diperoleh bayangan yang besar Dengan benda. 6. Catat jarak benda ke pusat optic lensa ( JL ). Lihat persamaan ( 1 ). 7. Ulangi langkah percobaan 4 s/d 6 bebrapa kali ( ditentukan oleh asisten ). 8. Balikkan lensa ( sekarang jari-jari kelengkungan lensa R2 berada di bawah). Ulangi langkah percobaan 4 s/d 6. 9. Sekarang ambil cermin datarnya, jadi hanya lensa yangb terletak pada permukaan hitam. 10. Amati seperti langkah percobaan terdahulu dengan mencari bayangan yang sama besar Dengan benda. Catat kedudukan ini beberapa kali, juga untuk kedua permukaan lensa. Lihat persamaan ( 2 ) dan ( 3 ). 11. Sekarang kedudukan seperti langkah percobaan 2, tetapi antara lensa dan cermin diberi Sedikit cairan ( missalnya air ). Atur seperti langkah percobaan terdahulu yaitu mencari Bayangan yang sama besar dengan benda. Catat kedudukan ini beberapa kali, juga Untuk kedua permukaan lensa. Lihat persamaan ( 4 ).

Catatan : Untuk memudahkan pengukuran maka pengukuran jarak benda ke lensa dilakukan dengan Mengukur jarak benda kelensa bagian bawah / atas ( JL), sehingga jarak JL merupakkan Pengukuran dengan tebal lensa ( JL = JL + ).

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

V.

DATA PENGAMATAN

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

MODUL V CINCIN NEWTON I. TUJUAN 1. Mengamati dan memahami peristiwa gelombang cahaya. 2. Menantukkan panjang gelombang cahaya monokromatik ( bila jari-jari kelengkungan Lensa diketahui ) atau mengukur kelengkungan lensa dengan menggunakan cincin Newton. II. ALAT DAN PERLENGKAPAN 1. Sumber cahaya monokromatik. 2. Celah sumber cahaya. 3. Lensa plankonveks 4. Keping gelas planparalel. 5 .Teropong geser yang disertai 6. Kaca dengan cermin beserta statipnya. III. TEORI Lensa plankonveks L diletakkan diatas keeping gelas planparalel G, maka diantara L dan G terbentuk lapisan udara. Jika berkas cahaya yang sejajar dan monokromatik dating tegak Lurus pada permukaan yang datar dari lensa L, maka antara cahaya yang dipantulkan di P Dan di Q akan terjadi interferensi. Interferensi tersebut dapat saling memperkuat kontroktif Atau saling melemahkan ( destruktif ). Hal ini tergantung dari beda fasa cahaya-cahaya yang dipantulkan di P dan di Q beda fasa Ini disebabkan karena adanya selisih lintasan dari cahaya yang di pantulkan di Q. Gambar 1

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Interferensi yang kontruktif menghasilkan cincin yang terang, sedangkan interferensi yang Distruktif menghasilkan cincin yang gelap dan disebut dengan cincin Newton.

Untuk cincin-cincin yang gelap harus dipenughi persamaan : Rumus : 2dk = k 1 )...) Untuk cincin-cincin yang terng harus dipenuhi persamaan : Rumus :

Dimana :

k : orde dari cincin dimulai dari titik O = 0,1,2,3,.. dk : tebal lapisan udara pada cincin ke-k : panjang gelombang sinar cahaya

Xk = kR 3 )) Dimana Xk adalah jari-jari cincin-cincin gelap yang ke-k, untuk menghitung dengan teliti
Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Dapat dipakai selisih jari-jari 2 buah cincin, misalnya cincin yang ke-k dan cincin yang ke ( k + 4 ), maka didapatkan : Rumus :

Xk dan Xk + 4 dapat diukur, dan jika R diketahui maka dapat dihitung ( sebaliknya bila Yang diketahiu ,maka R dapat dihitung ). IV. PERCOBAAN YANG HARUS DILAKUKAN 1. Catatlah suhu ruang dan tekanan ruang ( seblum dan sesudah percobaan ). 2. Susunlah alat-alat percobaan seperti gambar 2. 3. Nyalakan lampu Natrium yang dipergunakan sebagai sumber cahaya monokromatik. 4. Atur teropong supaya dapat dipergunakan untuk mengamati benda yang terletak Ditempat tak terhingga, terlihat dengan jelas. 5. Aturlah letak cermin agar sinar-sinar dating pada permukaan datar dari lensa L betulBetul tegak lurus. Amati dulu tanpa teropong, apakah telah terbentuk cincin Newton. 6. Aturlah letak teropong agar dapat digunakkan untuk mengamati cincin dengan jelas. 7. Usahakan agar cincin-cincin itu tengahnya berada di tengah-tengah daerah ukur teropong Gambar 3

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

8. pada kedudukan alas yang tetap, geserkan teropong dengan uliran yang tersedia Sedemikian sehingga garis silang teropong berimpit dengan tepi kiri cincin paling kiri Yang akan diamati. 9. Geser teropong dengan uliran sehingga garis silang teropong berimpit dengan tepi kiri Cincin berikutnya. Dan seterusnya! 10. Dengan arah pergeseran yang tepat ke kanan, amati sekarang tepi kanan dari cincin Yang sama. Catat kedudukan-kedudukan ini. 11. Ulangi lagi pengukuran seperti langkah percobaan 7 s/d 9, sekarang mulai dari tepi Kanan cincin. Pengukuran dari kiri ke kanan dipisahkan dari pengukuran kanan ke kiri! Tantakan pada asisten berapa jumlah cincin gelap yang harus diukur. 12. Carilah literature panjang gelombang Natrium. 13. Lengkapi table pengamatan dan perhitungannya.
Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Catatan : Karena alat ukur / nonius sedikit longgar, maka kalau sekrup diputar sedikit teropong Belum berpindah. Tidak mungkin membuat alat sederhana yang sangat teliti. Jadi dalam Pengukuran hendaknya dilakukan dengan menggeser nonius hanya satu arah.

V.

DATA PENGAMATAN

MODUL VI SPEKTROMER SEDERHANA

I.

TUJUAN Menentukan panjang gelombang spectrum gas.

II.

ALAT DAN PERLENGKAPAN 1. Spektromer lengkap ( terdiri dari kolimator, teropong, jarum penunjuk skala, meja ). 2. Prisma. 3. Sumber cahaya ( lampu Hg ). 4. Sistem tegangan tinggi untuk lampu.

III.

TEORI
Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Bila suatu sinar ( cahaya ) dating pada salah satu sisi prisma maka akan terjadi penguraian Warna. Gejala ini disebut dengan dispersi cahaya. Hal ini dapat diamati melalui Spectrometer. Gambar 1

Ketterangan gambar : S : sumber cahaya ( lampu Hg ) t : celah C : kolimator P : prisma M : meja spektrometr T : teropong

Sumber cahaya yang digunakan berupa lampu gas yang diberi tegangan tnggi sehingga Lampu akan memencarkan sinar-sinar dengan panjang gelombang yang spesifik Tergantung jenis gas yang digunakan. Dengan meletakan lampu gas ( lampu Hg ) didepan kolimator, maka sinar akan menuju Kearah salah satu prisma, akan membentuk spectrum pada sisi lain. Spektrum ini dapat Diamati melalui teropong dan diketahui kedudukannya ( melalui skala ). Bila spektrum diketahui panjang teropong gelombangnya maka spektrometer dapat Dikalibrasi, sehingga spektum dapat digunakan untuk menentukan panjang gelombang Spektum zat yang belum diketahui. IV. PERCO BAAN YANG HARUS DILAKUKAN
Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

1. Catatlah suhu ruang dan tekanan ruang ( seblum dan sesudah percobaan ). 2. Atur letak lampu dibelakang celah kalimator supaya sinar dapat sampai ke prisma. 3. Nyalakan sumber cahaya ( lampu Hg ). 4. Atur letak dan lebar celah kalimator agar spectrum yang terjadi cukup tajam dan Spektrum tampak sehingga didapat spekrtum. 5. Atur posisi prisma sehingga didapat spektrum. 6. Jangan mengubah kedudukan prisma terhadap meja spektrum, hanya teropong yang Berubah kedudukannnya. 7. Mencatat kedudukan teropong untuk semua garis spektrum lampu Hg. 8. Matiikan sumber cahaya.

V.

DATA PENGAMATAN

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

MODUL VII
Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

FOTOMETER I. TUJUAN 1. Menentukan kuat cahaya dari sebuah lampu pijar dengan cara perbandingan. 2. Menentukan efesiensi pemancaran cahaya pasa berbagai keadaan. II. ALAT DAN PERLENGKAPAN 1. Lampu pijar ( standar ). 2. Lampu pijar sembarang. 3. Voltmeter. 4. Ampermeter. 5. Sumber tegangan ( DC 0. 6. Perlengkapan fotometer. 7. Luxmeter. 8. Kawat penghubung. III. TEORI Suatu titik cahaya ( sumber cahaya ) memencarkan radiasi sinar ke segala arah dengan Sama. Intensitas penerangan ( illuminance ) yang diterima pada suatu bidang ( suatu titik) Adalah : Rumus :

Dimana

IQ : intensitas penerangan pada titik Q ( lumen/m ) K : konstanta pembanding P : kuat sumber cahaya ( candela atau lumen/steradian ) R : jarak antara sumber S dan Q (m )

Jika konstanta pembanding ( K ) = 1, maka persamaan ( 1 ) menjadi : Rumus :

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Dengan mengtahui intensitas cahaya pada berbagai titik maka dapat dihitung efesiensi Terang f ( luminous efficiency ). Rumus :

Arus pancaran cahaya dapat diketahui dari intensitas cahaya, dan arus pancaran energy Dapat dihitung dari energy listrik yang diberikan. Hilangkan energy disini akan Dipancarkan sebagai energy panas, sinar infra merah dan sebagainya yang tidak Memberikan penerangan. Disini untuk mengukur intensitas cahaya dipakai fotometer Sederhana, secara subjektif dan perbandingan ( lihat gambar ). Gambar 1

Letak fotometer P dapat dipndah-pindah sehingga pada cermin A dan B didapat bayangan
Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Yang sama terang / kuat ( sama gelap atau sama terang ). Kalau S adalah lampu standar dan X adalah lampu yang diselidiki maka untuk fotometer Sama terang berlaku persamaan : Rumus :

IV.

PERCOBAAN YANG HARUS DILAKUKAN 1. Catatlah suhu ruang dan tekanan ruang ( seblum dan sesudah percobaan ). 2. Susun alat-alat percobaan seperti pada gambar diatas, hati-hati terhadap pemakaian Sumber tegangan. 3. Nyalakan dan ukur intensitas cahaya lampu standar S dengan luxmeter pada beberapa Jarak ( ditentukan oleh asisten ). 4. Nyalakan lampu X dan geser-geserlah fotometer sampai didapat intensitas sinar yang Sama. ( lihat bayangan cermin A dan B ). 5. Catat Rs dan Rx, catat pula penunjukkan voltmeter dan amperemeter. 6. Lakukan langkah percobaan 4 dan 5 untuk beberapa harga kuat cahaya X dari gelap Sampai paling terang (ditentukan oleh asisten), dengan cara mengubah besar tegangan E

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

V.

DATA PENGAMATAN

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

MODUL VIII KESETARAAN KALOR

I.

TUJUAN 1. Menentukan usaha listrik. 2. Menentukan kalor yang terjadi. 3. Menentukan kesetaraan kalor.

II.

ALAT DAN PERLENGKAPAN 1. Kalorimetr lengkap. 2. Termometer. 3. Ampermeter. 4. Voltmeter. 5. Sumber tegangan ( DC ). 6. Stopwatch. 7. Neraca teknis.

III.

TEORI Bila kumparan pemanas dialiri arus listrik maka panas yang ditimbulkan oleh kumparan Akan diterima oleh air, thermometer dan calorimeter. Menurut hokum Joule, banyaknya Kalor yang terjadi pada hambatan R setelah dialiri arus selama t adalah : Rumus : Sedangkan kalor yang terjadi pada calorimeter : Rumus : Dimana H = Na + Ma C..( 3 ) Sehingga : Qk = ( Na + Ma C ) ( Ta Tm )( 4 ) Keterangan : Na : nilai air calorimeter Ma : massa air C : kalor jenis air
Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Ta : temperature kondisi akhir Tm : temperature kondisi mula mula IV. PERCOBAAN YANG HARUS DILAKUKAN Gambar 1

1. Catatlah suhu ruang dan tekanan ruang ( seblum dan sesudah percobaan ). 2. Timbang kalorimeter kosong Mk ( lihat gambar 2 ). 3. Timbang pengaduk Mp ( liahat gambar 2 ). 4. Isi kalorimeter dengan air sampai kawat pemanasnya terendam kemudian timbang. Usahakan agar temperatur air di bawah suhu ruang dengan member es. Maka air dan es ( Ma ) dapat dihitung.
Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

5. Susun rangkaian ( seperti gambar 1 ). Jangan hubungkan sumber tegangan dengan Jaringan dahulu, minta asisten untuk memeriksanya. 6. Lakukan percobaan pendahuluan tanpa mengggunakan arus listrik. Catat temperature Kalorimetr setiap 0,5 menit ( 30 detik ) selama 5 menit sambil diaduk. 7. Stopwatch jangan dimatikan, alirkan arus 1-2 Ampere ( tergantung asisten ) catat Tegangan yang ditunjukan oleh voltmeter dan catat temperature kalorimeter setiap 0,5 Menit ( 30 detik ) ( usahakan kuat arus selalu tetap ), sampai temperature kalorimeter Naik sampai 5C atas suhu ruang ( percobaan sebenarnya ), ingat stopwatch jalan terus Jangan dimatikan. Aduk perlahanlahan. Gambar 2

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

8. Untuk percobaan akhir, matikan arus. Catat temperature kalorimeter setiap 0,5 menit ( 30 30 detik ) selama 5 menit. Aduk perlahan-lahan. V. DATA PENGAMATAN

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

MODUL IX PANAS JENIS ZAT DAN KALOORIMETER

I.

TUJUAN 1. Menentukan panas jenis tembaga dan gelas dengan mempergunakan kalorimeter. 2. Menentukan kapasitas panas kalorimeter.

II.

ALAT DAN PERLENGKAPAN 1. Kalorimeter dan pengaduk. 2. Termometer ( 2 buah ). 3. keeping-keping ( tembaga, besi, alumunium, gelas ). 4. Gelas ukur ( untuk mengukur volume temperature ). 5. Ketel uap tabung pemanas. 6. Kompor listrik. 7. Neraca teknis. 8. Kaca pembesar ( lup ).

III.

TEORI Energy pakan besaran yang bersifat kekal artinya tidak dapat diciptakan mauupun Musnahkan. Namun salah satu sifat enargi yang dapat digunakan oleh manusia adalah Dapat dipindahkan dari salah satu system ke system lainya. Energi panas / kalor dapat Dipindahkan dari satu system lain karena adanya perbedaan temperature / suhu. Ungkapan Kekalan energi untuk kalor dikenal dengan Azas Black. Salah satu pemakaian Azas Black Ini adalah penentukan sifat termal bahan yaitu kapasitas kalor suatu bahan dengan Menggunakan kalorimeter.

kalorimeter berbentuk tabung tabung yang idealnya harus bersifat adiabat artinya temperature / kalornya dipengaruhi lingkungan. kalorimeter yang akan digunakan dapat dilihat pada gambar 1 yang dilengkapi dengan pengaduk dan thermometer.

kalorimeter yang terbuat dari logam ( Cu atau Al ) seperti pada gambar 1 diisi dengan air,
Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

dengan temperature mula-mula Tm. Ke dalamnya dimasukkan keeping-keping tembaga ( atau keeping-keping gelas ) yang sudah dipanaskan umpamanya dengan temperature T Setelah tercapai keseimbangan maka temperature akhir umpamanya Ta, T > Ta > Tm. Panas / kalor yang diterima Kalorimeter adalah : Q1 = H ( Ta Tm ).( 1 ) Dimana : Tm : temperatur / suhu mula-mula Ta : temperature / suhu akhir Dengan H adalah kapasitas panas total dari kalorimeter beserta isinya, yaitu : H = Ma Ca = K = Mk Ck + Mp Cp( 2 ) Dimana : Ma : massa air Mk : massa kalorimeter kosong Mp : massa pengaduk Ca : panas jenis air Ck : panas kalorimeter Cp : panas pengaduk Gambar 1

Harga kapasitas panas thermometer K : K = panas jenis thermometer x n ( mL )( 3 ) Dimana : panas jenis thermometer = 0,46 kal/mL C = 0,24 J/mL C n : volume thermometer yang tercelup dalam calorimeter
Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

sedangkan panas yang diberikan keeping ( tembaga / gelas ) : Q2 = MC ( T Ta )...( 4 ) Dimana : M : massa keeping C : panas jenis keeping Dengan menggunakan Azas Black maka panas jenis keeping tembaga dapat ditentukan, Jika kapasitas panas kalorimeter H dapat dihitung. Demikian juga panas jenis zat lain, Misalnya keeping gelas. IV. PERCOBAAN YANG HARUS DILAKUKAN Gambar 2

1. Catatlah suhu ruang dan tekanan ruang ( seblum dan sesudah percobaan ). 2. isi ketel uap dengan air sampai dari volumenya ( kira-kira 1000 cc ) terisi. 3. Timbang keeping-keping tembaga ( Cu ), lalu masukkan ke dalam tabung pamanas/. 4. Pasang pipa penghubung ( selang ) dengan tabung pemanas dan nyalakan kompor, ketel Dipanaskan. 5. Timbang kalorimeter kosong ( Mk ) dan pengaduknya ( Mp ). 6. Isi kalorimeter dengan air ( setengahnya saja ), lalu timbang. Dari sini dapat dicari massa Air ( Ma ). 7. Amati temperature keeping tembaga dalam tabung pemanas dengan memakai kaca Pembesar agar lebih tliti. 8. Amati temperature kalorimeter mula-mula setiap menit ( 30 detik ) selama 5 menit. 9. Bila temperature keeping tembaga sudah sama dengan temperature uap air mendidih,
Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Masukkan keeping tembaga kedalam kalorimeter dengan cepat dan hati-hati. Amati aturnya. 10. Catat terus kenaikkan temperature setiap menit ( 15 detik ) hingga mencapai suhu Maksimum, aduk sesekali dengan pelan. 11. Catat terus penurunan temperature kalorimeter setiap menit ( 30 detik ) selama 5 menit. 12. Ukur volume thermometer yang tercelup dalam air di kalorimeter dengan menggunakan Gelas ukur. 13. Sambil mengadakan pengamatan ( pada langkah percobaan 10 ), timbang keeping gelas Dan massukan ke dalam tabung pemanas. 14. Tambahkan air dalam ketel ( volume mencapai -nya ) supaya tidak habis. 15. Ulangi langkah percobaan 4 dan seterusnya untuk keeping gelas. Air dalam kalorimeter Diganti dengan air yang baru ( temperature kamar ). 16. Catat barometer, temperature ruangan, lihat titik didih air dalam tebal. Lihat panas jenis Zat padat / cair.

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

V.

DATA PENGAMATAN

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Laboratorium Fisika STT-PLN

Bayu Rendy Budiarto 2010-11-244

Laboratorium Fisika STT-PLN