Anda di halaman 1dari 7

TRASS(POZZOLAND) Genesa : Bat induk merupakan batuan vulkanik dan tuff.

Trass merupakan hsl pelapukan endapan vulkanik sebagian besar mengandung silica, besi dan alumina dgn ikatan gugus oksida

Sifat : Warna : putih kemerahan, kecoklatan, kehitaman, kelabu, kekuning-kuningan, coklat tua, coklat muda, abu-abu. Dlm keadaan sendiri tdk mempunyai sifat mengeras, bila ditambah kapur tohor dan air akan memiliki masa spt semen dan tdk larut dlm air.

Hal ini disebabkan krn senyawa silica aktif dan senyawa alumina reaktif dgn reaksi : 2Al2O3 2SiO2 + 7Ca(OH)2 ---> 3CaO2SiO2H2O + 2(2CaOAl2O3SiO2 2H2O) Mengerasnya semen pezzoland lebih lambat dr Portland meski kekuatannya bertambah terus Trass tahan thd agregat alkalin, nilai penyusutan dan pemuaian kecil, kelulusan air kecil (kedap air), thn thd asam tanah maupun air laut, sifat lentur tdk mudah retak.

Komposisi Kimia: SiO2 (40,76-56,20%), Al2O3 (17,48-27,95 %), Fe2O3 (7,35-13,15%), H2O (3,35-10,70%), CaO (0,8210,27%), MgO (1,96-8,05%)

Pengertian Pozzoland Berdasarkan aktivitasnya dibagi: 1. Tipe Vulkanik Gelas : Gelas alam yg terbentuk dr aliran lava yg sudah membeku, berbentuk kristal dan tdk tembus cahaya, warna putih/ keputih-putihan, merah daging, hijau, kebiru-biruan. Kandungan pokok feldspar dgn senyawa kimia alumunium silikat yg diikat dgn unsure K, Na, Ca, Ba.

Gelas alam ada beberapa jenis:

Ryolitic : sandine, kuarsa dan sedikit plahioklas Trachite : kalium feldspar dan sedikit biotit, amphibole Dacitic : seri plahioklas, kuarsa, biotit, hornblend

2.Tipe Opal : amorf dan massif, komposisi kimia : SiO2nH2O, air maks 40%

3.Tipe Clay : Berdasarkan kandungan unsur kimia : - grup kaolin : kaolin, kaolinit, diokrit, nacrite - grup Montmorilonit : saucohite, verniculite, saponit

4.Tipe Zeolite kandungan utama Hidrous aluminium silikat yg diikat oleh unsur Na, K, Ca dan Ba

5. Tipe Hydrate aluminium oksida kombinasi kimia antara unsure alumina oksigen dan uap yg terikat. Di alam dijumpai sebagai Galian monohidrat alumunium (Al2O3H2O) dan tri hidrat alumunium (Al2O3 3H2O).

Tempat terdapatnya : Jabar : Cilegon, banten, priangan, cicalengka Jateng : Gunung slamet, limbangan, comal, tayu, kudus, prambanan, borobudur DIY : Samigaluh desa klepu, ngemplak, plono, suren Jatim : Gunung welirang, Gunung kelud, Gunung arjuna Lombok : Batukilang, kesaben bawi, nermada, kopang

Kegunaan: 1. Pembuatan batako. 2. Pembuatan genting 3. Pembuatan tegel 4. Peredam bunyi, pembuatan jalan terutama bila jalan tsb mengandung lempung empat Penyebaran Penyebaran tras di Indonesia mengikuti jalur rangkaian gunung api Tersier dan Kuarter antara lain : Nanggroe Aceh Darussalam : Ujung Batu dan Krueng Raya, Kab. Aceh besar ( pelapukan tufa breksi dengan komponen dasit dan andesit ), Gronggong Kab. Aceh Pidie ( beupa tufa pasiran berbutir kasar kasar halus telah mengalami pelapukan ), Takengon Kec. Takengon Kab, Aceh Tengah ( berupa tufa pasir bebutir kasar mengandung komponen batu apung yang telah lapuk ) Sumatera Utara : Sarula Kab. Tapanuli Utara ( berasal dari pelapukan tufa riolit berbatu apung ) Sumatera Barat : Muaro Labuah Kab. Solok Selatan, Kota Padang Panjang, Matur dan Gadut Kab. Agam( dapat dipergunakan sebagai bata cetak atau tanah mantap dengan penstabil kapur atau semen, kuat tekan = 4,6 19; kuat lentur = 1,9-9,3 ), Bonjol Kab. Pasaman ( telah digunakan sebagai bahan baku bata cetak dan bahan bangunan ) Jambi : P. Pandan dan Batuputih Kec. Danau Kerinci Kab, Kerinci (terdapat sebagai hasil pelapukan batuan gunung api yang mengandungdung fragmen batu apung ), Kampai Bukit Limon, Selai Pulau Tengah dan Batu Putih ( merupakan hasil pelapukan batuan gunung api yang mengandung fragmen batu apung ) Lampung : Mutaralam Kec. Sumberjaya Kab. Lampung Utara ( baik untuk bahan pembuatan batako dan plester, merupakan hasil pelapukan batuan vulkanik berumur kuarter ) Jawa Barat : Ciomas Kab. Serang ( sebagai tufa batu apug hasil kegiatan Gn. Danan), Batu Reog dan Bongkor, Kec. Lembang Kab. Bandung ( berasosiasi dengan pelapukan bahan yang berasal dari Gn. Tangkuban Perahu dan bercampur dengan obsidian dan batuapung ), Cicurug Kab. Sukabumi ( merupakan hasil pelapukan bahan yang berasal dari Gn. Salak , Nagreg Ka. Bandung ( terdapat batuan tufa andesit, dapat dipergunakan sebagai batuan campuran semen portlandpuzzolan ), Cimeong, Sukaresmi Kec. Maja Kab. Majalengka ( merupakan hasil pelapukan tuf dan breksi andesit ), Sukamelang Kec. Kedipaten Kab. Majalengka ( kandungan SiO2= 46,60%, Al2O3+ Fe2O3 = 38,22 %, CaO = 5,08%, MgO = 1,24%, kadar air rata-rata 1,0%, dapat digunakan sebagai tanah mantap tanpa tekan ), Sukaraja, Maruyung dan Cikancung Kab.Bandung, Cikalong Wetan Kab. Bandung, Nyalindung, Padalarang Kab.Bandung, Batu jajar Kec. Cililing Kab.Bandung, Bobos dan Loji Kec. Sumber Kab. Cirebon (kandungan SiO2= 68,74 %, Al2O3+ Fe2O3 = 23,26 %, CaO = 1,70 %, MgO = 0,54 %, kadar air = 2,38% ), Gekbrog Kec. Warungkondang Kab. Cianjur ( KandunganSiO2 = 45%, Al2O3 = 20 % kuat tekan 52-100 kg/cm2 )

Jawa Tengah : Kalirejo Kec. Unggaran Kab. Semarang ( dapat digunakan untuk batako tanpa beban, Kuat takan = 29,0 kuat lentur = 10,5 kg/ cm2 ) Pudak Payung Kec. Ungaran Kab. Semarang ( kuat tekan= 83,2 kuat lentur = 25,5 kg/cm2, dapat digunakan untuk batako tanpa beban ), Lajan Kec. Sumowono ( dapat digunakan sebagai tanah mantap tanpa beban, kandungan SiO2= 57,82%, Al2O3+ Fe2O3 = 28,40 %, CaO = 6,10%, MgO = 1,62%, kadar air rata-rata 1,5% ), Bandungan Kec. Ambarawa ( dapat digunakan sebagai tanah mantap tanpa beban , kandungan SiO2= 50,5 %, Al2O3+ Fe2O3 = 34,78 %, CaO = 7,92%, MgO = 1,83%, kadar air rata-rata 1,08%), Kragilan Kec. Mojosongo Kab. Boyolali ( dapat digunakan sebagai bata cetak dengan beban, kandungan SiO2= 44,44%, Al2O3+ Fe2O3 = 35,24 %, CaO = 7,54%, MgO = 0,42%, kadar air rata-rata 4,1%), Kaligesing Kab. Purworejo ( merupakan breksi vulkanik bersifat lunak, kandungan SiO2= 50%, Al2O3= 20 % ), Gn. Muria Kab. Pati (kandungan SiO2= 50,13 %, Al2O3+ Fe2O3 = 38,93 %, CaO = 0,286%, MgO = 0,14%,MnO = 0,386 %, SO3= 1,59 % ) , Kendel Kec. Kemusu Kab. Boyolali (kandungan SiO2= 47,36%, Al2O3+ Fe2O3 = 35,86 %, CaO = 11,86%, MgO = 0,22%, kadar air rata-rata 3,3% ), Jatinom Kec, Jatinom, Klaten ( dapat digunakan sebagai bata cetak dengan beban, kandungan SiO2= 53,0%, Al2O3+ Fe2O3 = 33,4 %, CaO = 8,58%, MgO = 0,44%, kadar air rata-rata 3,8% ), Towel Kab. Tegal ( baik untuk batako ), Badungan Kab. Magelang ( baik untuk Batako ), Samigaluh, Kulon Progo DIY ( baik untuk batako ), Wonogiri Kab. Wonogiri, Rembang Kab. Probolinggo. Jawa Timur : Batu Malang, Kec. Pujon Kab, Malang, Sumberbrantas Kec. Batu Kab. Malang, Punten Kec.Batu Malang, Turan Kab. Malang, Jari Kec. Bubukan Kab. Bojonegoro, Gn. Kelud, Pacet Kec. Pacet Mojokerto, Made Kec. Pacet Kab. Mojokerto (dapat digunakan untuk bata cetak bersifat puzolianik ), Singgahan, Pulung Kab. Ponorogo, Puger Kab.Trenggalek (baik untuk Batako), Panarukan Situbondo, Pandak, Parseh, Tegalampel, Bondowoso ( baik untuk batako dan plester ). Bali : Bajar males dan Batujulung Kec. Kuta Kab.Badung, Marga Kab.Tabanan, Bringkit Kab. Badung, Samplangan, Gua Gajah, Bunitan Kab.Gianyar, Bukitjambul Kab.Klungkung, Banjar Wanyu Kec. Marga, Tabanan NTB : Tanah beak Kab. Lombok Barat ( dapat dimanfaatkan sebagai batako, kuat tarik =2,9-7,7 kg/cm2 kuat tekan = 20,7-35,0 kg/cm2 ) NTT : Waipors Kec.Bola Kab. Sikka ( merupakan hasil pelapukan batuan tufa, baik untuk batako ), Maumere Kab. Sikka (pelapukan batuan tufa), Waulupang Kab. Flores Timur (pelapukan batuan tufa), Lawoleba, P.Lembata ( pelapukan batuan tufa, sudah dimanfaatkan ), Rainimi dan Atambua Kab. Kupang. Sulawesi Utara : Pineleng Kec. Pineleng Kab. Tondano ( pelapukan batuan tufa kaca ), Matani, Kec. Tomohon ( dapat digunakan sebagai batako ) Sulawesi Selatan : Bukit Lakapala Kec. MAlusetasi Kab. Barru Malino Kec. Tinggimoncong, Kab. Gowa

Pertambangan
Bahan tambang yang potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Garut adalah berupa bahan galian golongan C dan beberapa bahan lain yang dipaparkan dalam uraian di bawah ini. Kontribusi barang tambang dalam

perekonomian Kabupaten Garut kurang lebih sebesar 0,20%. 1. Perlit dan Obsidian Perlit adalah batuan yang terbentuk oleh lava riolit. Pada waktu lava mengalir, bagian bawahnya bersentuhan dengan media air dan akibat beban diatasnya dan aliran lava yang tertahan akan terjadi pendinginan sangat cepat, maka terbentuklah perlitisasi. Batuan ini berwarna abu-abu kehijauan hingga abu-abu kehitaman dan mempunyai sifat yang khas, apabila dipanaskan akan mengembang antara 4 hingga 20 kali, serta batuan ini tahan terhadap api.

Obsidian merupakan batuan yang terbentuk oleh hasil kegiatan erupsi gunung api bersusunan asam hingga basa yang pembekuannya sangat cepat sehingga akan terbentuk gelas atau kaca daripada kristal dominan. Obsidian adalah batuan yang disusun secara keseluruhan dari kaca amorf dan sedikit kristal feldspar, mineral hitam dan kuarsa.

Manfaat dari perlit dan obsidian adalah sebagai bahan baku beton ringan, isolasi bangunan, plesteran, isolator temperatur tinggi/rendah, bahan penggosok, saringan/filter, bahan pembawa (media) dan campuran makanan ternak. Lokasi ditemukan bahan galian ini antara lain di Gunung Kiamis dan sekitarnya, Kecamatan Pasirwangi dengan jumlah cadangan diperkirakan sebesar 72 juta ton. Berdasarkan mutu dengan index pemuaian antara 120 -160 kali, prospek penambangan perlit di masa mendatang cukup menjanjikan.

3. Kaolin Kaolin merupakan bahan galian industri yang banyak dipergunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan kertas, keramik, cat, isolator, material pengisi dan lain sebagainya. Singkapan terbentuk akibat proses kaolinisasi dan diduga berasosiasi dengan proses pelapukan/proses hidrotermal alterasi pada batuan yang mengandung feldsfar (tuf). Bahan galian ini terdapat di Desa Campaka, Desa Cikarang, dan Desa Citeras, Kecamatan Malangbong dengan cadangan terkira sebagai berikut: a. Blok Karaha (Desa Cikarang) sebesar 2.673.336 m3 . b. Blok Citeras (Desa Cihaurkoneng) sebesar 2.737.000 m3 . c. Blok Batulayang (Desa Sukamanah) sebesar 3.311.000 m3 . Saat ini, prospek pasar kaolin tersebut masih terbatas untuk memasok kebutuhan pabrik-pabrik keramik di Pulau Jawa. 4. Batu Templek

Saat ini merupakan batu ornamen yang cukup populer di Indonesia , umumnya dipergunakan untuk desain eksterior perkantoran, bisnis, dan perumahan. Batu templek adalah salah satu jenis batu vulkanik lelehan atau andesit dengan struktur berlembar. Proses pembentukannya berasosiasi dengan aktifitas vulkanik. Bahan galian ini tersebar di beberapa lokasi; wilayah Kecamatan Cisewu, seperti Pasir Ciaseup, Kampung Ciawitali (Desa Girimukti), Kampung Lio, Cipicing, Ciguntur, Cilumbu dan Dataran Loa (Desa Cisewu). Dengan total cadangan tekira (saat ini) yaitu 1,8 juta m3 didukung kualitas yang cukup tinggi (super) disertai permintaan konsumen dari waktu ke waktu meningkat, akan memberikan prospek yang cukup menjanjikan 5. Pasir dan Sirtu Pasir umumnya sebagai endapan aluvium, sedangkan endapan kegiatan gunung api berupa lahar akan menghasilkan sirtu (pasir dan batu). Lokasi bahan galian pasir dan sirtu terletak di kecamatan-kecamatan Leuwigoong, Samarang, Garut Kota, Banyuresmi, Tarogong, Leles dan Cibatu. Potensi produksi pasir dan sirtu yang memiliki kelayakan untuk ditambang adalah yang terdapat di kecamatan Banyuresmi : 17.310 m3/tahun, Samarang : 3.850 m3/tahun, Cibatu :455 m3/tahun. 6. Tras Tras adalah batuan gunung api yang telah mengalami perubahan komposisi kimia yang disebabkan oleh pelapukan dan pengaruh kondisi air bawah tanah. Bahan galian ini berwarna putih kekuningan hingga putih kecoklatan, kompak dan padu dan agak sulit digali dengan alat sederhana. Kegunaan tras adalah untuk bahan baku batako, industri semen, campuran bahan bangunan dan semen alam. Pada saat ini belum dimanfaatkan secara optimal, namun secara lokal telah dimanfaatkan penduduk untuk pembuatan batako. 7. Tanah Urug Tanah urug merupakan tanah penutup hasil lapukan batuan gunung api muda dan menempati kaki perbukitan dan sebagian membentuk bukit kecil pada bentang alam dataran. Tanah urug bersifat pasir lempungan hingga lempung pasiran, berwarna coklat kemerahan, gembur, mengandung komponen batuan beku andesitik, berukuran kerikil sampai bongkahan. Tanah mudah digali dengan peralatan sederhana. Lokasi tanah urug terletak di Kecamatan Leles, Banyuresmi dan Leuwigoong, dengan cadangan terbatas dan tersebar secara setempat-setempat. 8. Lempung Lempung atau tanah liat telah dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk membuat genteng dan bata merah. Bahan galian ini tersebar di beberapa tempat seperti Desa Cihonje, Sukabandung, Banyuresmi dan Sukarame. 9. Batu Belah Batu belah sebagai batuan dari lava, komponen breksi gunung api dan batuan beku intrusi, umumnya menempati daerah resapan dan lingkungan mata air sehingga penambangannya memerlukan kehati-hatian agar tidak merusak lingkungan. Lokasi batu belah yang dianggap potensi yaitu Kecamatan Bungbulang, Kadungora, Leles dan Cisewu. 10. Batu Apung Batu apung merupakan hasil material erupsi gunung api yang mengandung silika tinggi dan mempunyai sifat titik berongga-rongga. Lokasi bahan galian ini di Desa Nagrek, Kecamatan Bl. Limbangan, tersebar secara tidak merata dalam batuan breksi gunung api. 11. Belerang Belerang terdapat di Gunung Papandayan dan diendapkan dalam bentuk kerak dan lumpur belerang sebagai proses kegiatan solfatora dan fumarol. Manfaat belerang dapat digunakan sebagai bahan pembuat pupuk, bahan peledak, bahan penunjang industri tekstil, karet, pestisida, kertas, obat-obatan dan lain-lain.

12. Toseki Toseki adalah batuan beku asam (ziolit, dasit, perlit dan tufa asan) yang terbentuk oleh proses hidrotermal dan menyebabkan terjadinya endapatn bijih pada dinding yang diterobos dan kemudian mengalami perubahan sifat fisik, kimia dan mineral. Lokasi toseki ditemukan di daerah timur laut Gunung Mandalagiri, Kecamatan Cikajang, Kandungan serisit dalam toseki ini cukup baik (15-20%) dan sangat baik digunakan sebagai bahan keramik. 13. Batu Silika Batu Silika dapat dimanfaatkan sebagai batu hias, mempunyai sifat fisik berwarna keputihan, coklat, putih susu, coklat muda-tua, kemerahan, ungu, kekuningan, hijau dan agak tembus cahaya. Batu Silika sebagai komponen batuan breksi andesit dengan lokasi bahan galian di Pr. Syangheulang, Kecamatan Bungbulang, terdapat di lembah dan dasar sungai. Sehingga untuk penambangannya memerlukan kehati-hatian demi kelestarian lingkungan. Daerah Prospektif Penghasil Tambang
No 1 Bahan Galian Emas dmp. Lokasi (Kec) Pamulihan, Pakenjeng, Talegong , Cisewu, Caringin, Banjarwangi, Cikajang, Peundeuy, Singajaya, Cibalong, Cisompet, Bungbulang, Mekarmukti, Wanaraja, Karangpawitan Cibalong, Pameungpeuk, Cikelet, Pakenjeng, Caringin, Mekarmukti Cibalong, Cikelet, Bungbulang Caringin Cisurupan, Wanaraja Singajaya, Cibalong. Cisewu, Caringin Malangbong Pasir Wangi Tarogong Kaler, Samarang Leles Cisewu, Cikajang, Pakenjeng Bayongbong Caringin Caringin, Cisewu, Bungbulang Cisompet, Pameungpeuk Pakenjeng Bungbulang Cibalong, Cisompet Daerah Prospek Ciarinem, Cijahe, Cijaringao, Sukul, Pasirgaru

Pasir Besi

3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Bijih Besi Belerang Batubara Batu Templek Kaolin Obsidian Pasir & Sirtu Batu Andesit Tanah Liat Batugamping Batu 1/2 permata Granit Mangan

Cimerak, Sayang heulang, Cibera, Citanggeuleuk, Cijayana, Ranca buaya Banyuasih, Ciawitali, Cileuleuy, Cikabunan Papandayan,Talagabodas Girimukti, Dahu Loa, Sukarame Karaha, Citeras, G. Kiamis G. Guntur, Cikatomas Haruman

14 15

Cikabunan G.Kencana, Cilubang Cipicung, Sinarjaya Kiarapayung, Tj. Jaya Gunamekar Cicuri, Jatisari