P. 1
247_71

247_71

|Views: 84|Likes:
Dipublikasikan oleh Wildan Lidinillah Aurinda

More info:

Published by: Wildan Lidinillah Aurinda on Dec 16, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/08/2013

pdf

text

original

Lokakarya Nasional Ketersediaan IPTEK dalam Pengendalian Penyakit Stategis pada Ternak Ruminansia Besar

KETERSEDIAAN TEKNOLOGI VETERINER DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT STRATEGIS RUMINANSIA BESAR
R.M.A ADJID dan YULVIAN SANI
Balai Penelitian Veteriner, PO Box 151 Bogor 16114

ABTSRAK Pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Pertanian telah menetapkan program Kecukupan Daging yang ditargetkan akan dicapai pada tahun 2010 guna meningkatkan perekonomian Indonesia. Untuk mendukung program Kecukupan Daging tersebut perlu diperhatikan faktor produktivitas ternak sebagai penghasil sumber daging. Peranan kesehatan hewan sangat penting artinya bagi ternak karena dapat mempengaruhi produktifitas bahkan dapat mengakibatkan kematian. Disamping itu masalah kesehatan hewan/penyakit juga dapat mempengaruhi kesehatan manusia dalam kaitan penyakit zoonosis. Namun disisi lain dalam hal ilmu pengetahuan dapat memacu perkembangan baru ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat melindungi lingkungan dan kelestarian sumberdaya genetik. Berbagai permasalahan kesehatan hewan masih melanda ternak di Indonesia, terutama terhadap penyakit strategis yang memiliki dampak sosial dan ekonomi luas. Pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan yang menjadi tugas pemerintah diarahkan kepada penyakit yang berdampak sosial dan ekonomi luas, menular, menyebar dengan cepat dan berakibat pada morbiditas dan mortalitas tinggi. Prioritas pengendalian penyakit pada ternak ruminansia besar (sapi dan kerbau) saat ini diberikan kepada 5 penyakit strategis, yaitu Brucellosis, Anthrax, Infectious Bovine Rhinotracheits (IBR), Bovine Viral Diarrhoea (BVD) dan Jembrana. Berbagai teknologi pengendalian penyakit strategis pada ternak ruminansia besar telah dikuasai dan dihasilkan, terutama teknik isolasi dan identifikasi untuk berbagai agen penyakit, berbagai teknik diagnostik, reagensia uji, teknik molekuler diagnostik, serta vaksin. Namun demikian beberapa teknologi tersebut masih harus disempurnakan dan ditingkatkan untuk aplikasinya seperti yang diutarakan dalam makalah ini. Kata Kunci: Ruminansia besar, teknologi, pengendalian penyakit

PENDAHULUAN Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) dalam rangka meningkatkan perekonomian di Indonesia telah dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 11 Juni 2005 di Jatiluhur, Purwakarta. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, Departemen Pertanian kemudian menetapkan Program Kecukupan Daging Sapi yang ditargetkan akan tercapai pada tahun 2010. Program tersebut dimaksudkan agar terjadi percepatan pertumbuhan produksi ternak sapi lokal, sehingga volume impor daging dan sapi bakalan semakin kecil yang pada akhirnya dapat menghemat devisa negara secara signifikan. Untuk mencapai kecukupan daging sapi pada tahun 2010, maka program tersebut perlu didukung dengan upaya meningkatkan produktifitas ternak atau dengan mengurangi

kendala produksi peternakan. Salah satu kendala produksi ternak adalah faktor penyakit hewan. Keberadaan penyakit pada ternak ruminansia besar dapat mengakibatkan penurunan produktifitas bahkan kematian ternak, bila tidak dilakukannya pengendalian penyakit secara cepat, tepat dan berkelanjutan. Dengan demikian pengendalian penyakit strategis pada ternak ruminansia besar menjadi penting dan strategis dalam upaya mendukung program swasembada daging sapi tersebut. Pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan yang menjadi tanggung jawab utama pemerintah diarahkan kepada penyakitpenyakit yang berdampak kerugian ekonomi yang signifikan dan luas, karena sifatnya yang menular, menyebar cepat dan mengakibatkan tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi. Berbagai jenis penyakit menular telah menyerang ternak sapi lokal di Indonesia, baik yang diakibatkan oleh agen virus, bakteri,

24

HASIL-HASIL PENELITIAN PENYAKIT STRATEGIS PADA TERNAK RUMINANSIA BESAR Di Indonesia. Brucellosis. Jambi. adalah Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV). Balai Besar Penelitian Veteriner (BB LITVET) sebagai lembaga penelitian di lingkup Departemen Pertanian yang mempunyai tugas dan fungsi untuk melaksanakan penelitian veteriner di Indonesia. Disamping BB LitVet. dan 3). secara geografis pernah terjadi di 17 propinsi. Namun akhir-akhir ini kejadian penyakit Anthrax sering dilaporkan berjangkit di pulau Jawa dan Nusa Tenggara (ADJID et al. Gram positip dan berbentuk batang. Sulawesi Selatan. abortus mengakibatkan keluron pada umur kebuntingan diatas 5 bulan. 2005). vaksin Anthrax masih dalam tahap pengembangan yang dilakukan oleh Balitvet melalui isolasi dan identifikasi antigen protektif. babi dan anjing. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. Brucellosis Brucellosis adalah penyakit infeksius mengakibatkan keluron pada ternak ruminansia (sapi. teknik isolasi dan identifikasi kuman Anthrax. BVD dan Jembrana) yang dapat diinformasikan. Universitas Syah Kuala). dengan aturan keluar masuk kuman yang sangat ketat. Bovine Viral Diarrhoea (BVD) serta Jembrana. kerbau. institusi yang paling bertanggungjawab dalam melakukan penelitian penyakit hewan atau veteriner adalah Balai Besar Penelitian Veteriner (BB LitVet). Pada kebuntingan berikutnya tidak terjadi keluron. uji Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) untuk deteksi antibodi dalam tubuh hewan. Sulawesi Utara.Lokakarya Nasional Ketersediaan IPTEK dalam Pengendalian Penyakit Stategis pada Ternak Ruminansia Besar parasit maupun jamur. antara lain Sumatera Utara. Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR). Brucellosis. ruminasia kecil) serta kumannya dapat mengakibatkan penyakit pada manusia melalui kontak kulit. baik yang berasal dari hasil penelitian di Balitvet maupun instansi lainnya adalah sebagai berikut: Penyakit Anthrax Anthrax adalah penyakit bakterial yang bersifat sangat fatal dan menular ke manusia (zoonosis) disebabkan oleh Bacillus anthracis pembentuk spora. Balitvet telah menguasai dan mengembangkan berbagai teknologi diagnosis untuk penyakit Anthrax. Namun demikian sejauh mana teknologi tersebut telah dihasilkan dan diaplikasikan. instansi lainnya yang juga dapat melakukan penelitian penyakit hewan meskipun sangat terbatas. Balai Besar Veteriner (BBVet) serta perguruan tinggi yang memiliki Fakultas Kedokteran hewan (Institut Pertanian Bogor. seperti 1). Mengingat kuman Anthrax sangat berbahaya. Sulawesi Tengah. Jawa Barat. uji ASCOLI untuk deteksi kuman Anthrax. Nusa Tenggara Timur. et al. Jawa Timur. Timor. IBR. Pada sapi kuman penyebabnya adalah B. Sumatera Selatan. serta kendala yang dihadapi dalam melaksanakan penelitian guna menghasilkan teknologi tersebut. tetapi dapat muncul kembali setiap 2-3 kali kebuntingan 25 . 1988). Sebaran penyakit Anthrax sejak tahun tahun 1930 sampai dengan saat ini. domba. kambing dan lain-lain). Sulawesi Tenggara. 2). Universitas Airlangga. dan Nusa Tenggara Barat. maka penanganan kumannya dibatasi pada laboratorium kesehatan hewan tertentu. inhalasi atau mengkonsumsi produk hewan yang terkontaminasi (OIE. Prioritas pengendalian penyakit strategis pada ternak ruminansia besar diberikan kepada penyakit Anthrax. Penyakit ini disebabkan bakteri dari genus Brucella serta dapat pula menular dari hewan sakit ke manusia (ALTON. Sementara itu. Universitas Udayana. 2000) Penyakit ini telah diketahui keberadaannya di Indonesia sejak tahun 1832. Brucellosis tersebar luas di seluruh dunia yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi dan gangguan kesehatan masyarakat. Penyakit ini terutama menyerang hewan herbivora (ruminasia besar. Riau. Jawa Tengah. Sumatera Barat. Papua. Hasil-hasil penelitian penyakit strategis ternak ruminansia besar (Anthrax. diutarakan dalam makalah ini. sudah seharusnya menghasilkan informasi dan teknologi untuk mengendalikan penyakit strategis pada ruminansia besar.

Pada pejantan brucellosis mengakibatkan radang testes (orchitis) dan akhirnya sterilitas. Pedet yang dilahirkan biasanya lemah dan kemudian mati. kejadiannya dilaporkan menyerang 269 ekor sapi potong di Propinsi Bengkulu (KUSWADY. Pada beberapa tahun terakhir. Bengkulu. kadang-kadang juga bulu. seperti berkurangnya nafsu makan. Pencegahan penyakit melalui pengaturan kandang melahirkan (jauh dari tempat kelompok). Rose Bengal Test (RBT). anoreksia. Infectious Bovine Rinotracheitis (IBR) Penyakit IBR adalah penyakit infeksius yang menyerang saluran pernafasan ataupun genital. Penularan dapat terjadi melalui semen pejantan. kelesuan. depresi. Balitvet sebagai institusi penelitian telah menguasai 1) teknolgi diagnosis serologis Serum Netralisasi. SETIAWAN (1990) dan SUDIBYO et al (1991) melaporkan kejadian brucellosis pada ternak sapi potong di 7 propinsi (Sulawesi Selatan. Bovine Viral Diarrhea (BVD) Penyakit BVD pada sapi disebabkan oleh virus bovine diarrhea. 4) bentuk mukosa (ditandai dengan gejala akut disertai adanya perlukaan pada selaput lendir mulut dan saluran usus). Complement Fixation Test (CFT) dan Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). lingkungan tercemar (terkena lendir hewan sakit). 1998/99). demam. 2) teknologi deteksi antibodi dalam serum hewan menggunakan uji Milk Ring Test (MRT). Brucellosis pada sapi dilaporkan tersebar di 25 propinsi di Indonesia. baik melalui kontak seksual atau melalui IB. Penyebabnya adalah virus Bovine Herpes 1 (BHV-1). penyakit brucellosis dilaporkan menyerang 750 ekor sapi potong di Propinsi Bengkulu (KUSWADY. 3) bentuk akut (gejala diare profuse. 26 . 3) serta informasi epidemiologi infeksi penyakit BVD.3%. 2) teknik isolasi dan identifikasi virus BVD. Riau. Pencegahan penyakit dilakukan melalui mencegah kontak dengan hewan sakit (memperlihatkan gejala klinis). keluarga pestiviridae. dan Sumatera Utara) dengan prevalensi antara 6. baik untuk tujuan skrining maupun untuk pengukuran kandungan titer antibodi spesifik BVD. Penularan penyakit terjadi karena kontak dengan cairan lendir mukosa hewan terinfeksi atau lingkungan tercemar. Pada bentuk mukosa hewan yang terserang dengan umur 8 sampai 18 bulan biasanya akan mati pada hari ke 14 setelah infeksi. Di Indonesia penyakit BVD pernah dilaporkan kejadiannya di beberapa wilayah di Indonesia. serta di Sulawesi Selatan. Nusa Tenggara Timur.Lokakarya Nasional Ketersediaan IPTEK dalam Pengendalian Penyakit Stategis pada Ternak Ruminansia Besar berikutnya. Pada sapi bunting umur kebuntingan 3 – 4 bulan. Sumatera Selatan. 2003). Alternatif pencegahn penyakit adalah dengan melakukan vaksinasi hewan terhadap virus BVD. Pada bentuk infeksi saluran pernafasan. secara serologis menggunakan uji RBT. 2) bentuk kronis (ada gejala tapi tidak khas. Sulawesi Tengah dan Maluku (ANONIM. Lampung. tahun 2002. Pada tahun 1998 brucellosis juga dilaporkan terjadi di Sumatera Barat (ANONIM. atau penggunaan semen bebas BVD pada IB. Diagnosa penyakit dilakukan dengan mengisolasi agen penyakit atau pemeriksaan antibodi setelah terjadi abortus. Selanjutnya pada tahun 2003. Penyakit juga dapat menular melalui semen dari pejantan terinfeksi. infeksi virus mengakibatkan kematian fetus dan keluron. Gejala klinis penyakit BVD terdiri dari 4 bentuk. pertumbuhan yang lamban). menggunakan pejantan bebas BVD pada kawin alam.6-61. erosi pada saluran gastrointestinal). 2003). Akibat lainnya adalah tertahannya plasenta dan terinfeksinya uterus. Teknologi diagnosis yang telah dikuasai dan dikembangkan Balitvet meliputi 1) teknologi isolasi dan identifikasi bakteri brucella. Penerapan test and slaughter serta vaksinasi merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah hewan dari serangan brucellosis. gejalanya adalah demam tinggi. nafas cepat dan sesak. Infeksi uterus yang parah dapat mengakibatkan sterilitas. diare ringan. 2003). Penularan penyakit terjadi melalui mulut/hidung akibat percikan bahan-bahan abortusan atau cairan/lendir yang menyertai anak baru lahir dari induknya yang terinfeksi brucellosis. yaitu: 1) bentuk subklinis (tidak ada gejala). Infeksi virus BVD pada umur kebuntingan pertengahan trimester biasanya mengakibatkan cacat pada otak dan mata.

3) telah menghasilkan prototipe vaksin IBR inaktif isolat lokal. Vaksinasi cukup efektif untuk mencegah terjadinya penularan penyakit. dikenal sebagai diare ganas sapi (WIYONO et al. serta diare yang umumnya bercampur darah (HARTANINGSIH. 2005. Secara serologis. dan sampai sekarang telah menjadi penyakit endemis di Kalimantan Selatan. 1993). pembengkakan kelenjar limfoid. di Propinsi Lampung pada tahun 1981 (MARFIATININGSIH. baik untuk tujuan skrining maupun untuk pengukuran kandungan titer antibodi spesifik IBR. Sapi betina yang terinfeki virus IBR. Lendir bernanah dapat terlihat keluar dari liang vulva.. Nusa Tenggara Barat. kontak dengan cairan lendir mukosa hewan terinfeksi.000 ekor sapi Bali pada saat itu (SOEHARSONO. tetapi juga sapi perah. Kalimantan Timur 27 . Sumatera Barat. Sumatera Selatan. Sapi betina memperlihatkan kemajiran temporer. Kalimantan Barat. Kupang. Penyakit ini pertama kali muncul di Bali pada tahun 1964. gejala klinis yang tampak adalah perlukaan bernanah pada glans penis dan prepusium dan penyakitnya disebut infectious balanopostitis (IBP). Diagnosa penyakit didasarkan atas adanya kenaikan titer antibodi spesifik dan atas adanya agen penyakit yang diisolasi. tidak menggunakan semen terinfeksi pada program IB. 2004). dapat berakibat pada abortus fetus mulai 3 minggu sampai 3 bulan setelah mengalami infeksi. dan Bengkulu. maka akan terlihat gejala klinis profusa pustular vulvovaginitis dan penyakitnya dikenal sebagai infectious pustular vulvovaginitis (IPV). Selanjutnya di Propinsi Jawa Barat. dan Sumatera Utara dengan prevalensi serologis penyakit IBR tersebar dengan rataan prevalensi reaktor 15. 2001). serta mencegah kontak dengan hewan sakit IBR (lendir mukosa atau lingkungan tercemar virus IBR).000 ekor sapi dari jumlah total sekitar 300. Hal ini karena bila Lokasi-lokasi tersebut tercemar penyakit IBR. juga dilakukan dengan cara mengisolasi dan identifikasi agen penyakitnya. 4) serta informasi epidemiologi infeksi penyakit IBR. Sumatera Utara. 2) teknik isolasi dan identifikasi virus IBR. Infeksi oleh BHV-1 dapat juga hanya menimbulkan gangguan ringan saja atau subklinis. Jawa Timur. Lampung. Jawa Tengah. DI Yogya. 1995). 1997). Balitvet sebagai institusi penelitian telah menguasai 1) teknologi diagnosis serologis Serum Netralisasi. Yang lebih penting dan sangat perlu diperhatikan adalah jangan sampai penyakit IBR menyerang ternak bibit sapi di lokasi-lokasi pusat inseminasi buatan ataupun pusat pembibitan. pada sapi bali di Kalimantan Barat pada tahun 1989. Pencegahan penyakit pada sapi betina dilakukan dengan mencegah kontak seksual dengan pejantan terinfeksi. dimana dalam 12 bulan telah menimbulkan kematian 26. Jembrana Penyakit Jembrana merupakan penyakit viral akut pada sapi bali disebabkan oleh virus retrovirus dari sub family Lentivirus dengan gejala klinis menonjol berupa demam tinggi. atau dengan lingkungan tercemar. Informasi terkini. 1977). penyakit IBR dilaporkan secara serologis terjadi di Provinsi Lampung pada tahun 2001 (ANONIM. Pada tahun 1997 penyakit dilaporkan terjadi di Propinsi Sumatera Barat dan di NTB (SIREGAR. Penyakit ini hanya terjadi di Indonesia. Adanya rasa sakit pada alat kelamin ini dapat menghambat aktifitas kontak seksual pejantan dengan sapi betina. PUTRA dan SULISTYANA. Bali. 1997. Sebaran penyakit IBR pada sapi potong di Indonesia.000– 70. berdasarkan survei klinis atau serologis adalah sebagai berikut. et al. di Propinsi Lampung pada tahun 1992-93 dilaporkan prevalensi reaktornya mencapai 3. baik tipe pernafasan maupun vulvovaginitis. Tanda lainnya yang umum adalah tertahannya placenta. Kalimantan Barat. penyakit ditemukan di Jambi.9% (SUDARISMAN. 1997). Diagnosis penyakit. Penularan penyakit dapat terjadi melalui semen terinfeksi. Riau. disamping dengan memperhatikan gejala klinis.Lokakarya Nasional Ketersediaan IPTEK dalam Pengendalian Penyakit Stategis pada Ternak Ruminansia Besar leleran hidung dari encer sampai mukopurulen. Penyakit IBR dilaporkan tidak hanya menyerang ternak sapi potong. tergantung strain virusnya (GIBBS dan REYEMAMU. 1989). Jika virus IBR menyerang saluran genital sapi betina. SETIAWAN et al. Pada sapi jantan. 1982).7% dari 639 ekor (WIYONO. maka lokasi tersebut yang seharusnya berfungsi sebagai sumber semen/bibit sehat akan beralih fungsi sebagai sumber penyebar penyakit IBR secara nasional.

Masa inkubasi penyakit berkisar antara 5– 12 hari dengan gejala klinis akut yang dapat bertahan sampai 12 hari. 2) Vaksin Jembrana Konvensional (suspensi limpa 10%) dan kandidat vaksin rekombinan. yaitu: 1) teknik diagnosis Capture-ELISA. Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut. dan PCR. 1998). Sapi yang sembuh dari penyakit Jembrana menjadi viraemia sedikitnya selama 2 tahun setelah infeksi (CHADWICK et al. anoreksia dan pembengkakan limfoglandula superfisialis (CHADWICK et al. SDS-PAGE. KENDALA YANG DIHADAPI DALAM PENELITIAN PENYAKIT STRATEGIS RUMINANSIA BESAR DAN PEMECAHAN MASALAH Kendala yang dihadapi dalam penelitian dan dan pengembangan teknologi pengendalian penyakit strategis ruminansia besar (sapi dan kerbau) umumnya terdiri dari biaya penelitian yang cukup mahal dibandingkan dengan pengembangan teknologi pengendalian penyakit pada unggas.. Penularan penyakit terjadi melalui kontaminasi dari sekresi urin. seperti biologi molekuler. Sumberdaya peneliti sebaiknya dimanfaatkan secara optimal dengan memanfaatkan tenaga-tenaga peneliti muda atau mahasiswa yang sedang dalam menyusun skripsinya. (Immunohistokimia. Mengingat penyakit strategis pada ruminansia besar memiliki dampak sosial dan ekonomi yang luas. air susu. perlu didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). 2004. Sumberdaya peneliti yang tersedia di Indonesia sangat terbatas khususnya untuk kegiatan penelitian biologi molekuler dan pengembangan vaksin konvensional.. 2005). Gejala klinis meliputi demam tinggi. Untuk menghasilkan produk (diagnosis molekuler dan vaksin rekombinan) memerlukan waktu yang relatif lebih lama. maka kegiatan penelitian sebaiknya dilakukan secara terpadu melalui kerjasama antar lembaga riset terkait baik dari dalam negeri maupun luar negeri. FAT. Tingkat mortalitas dapat mencapai 17% pada infeksi buatan yang terlihat konsisten dengan kejadian di lapangan. Begitupula akses penggunaan sarana penelitian yang tersedia pada berbagai lembaga riset sebaiknya dapat dimanfaatkan bersama dalam kerangka kerjasama penelitian yang telah disepakati. Sementara itu populasi ternak umumnya dipelihara secara tradisional dan dimiliki oleh peternak kecil. 28 . serta penularan melalui gigitan serangga penghisap darah secara mekanik. dan saliva hewan sedang sakit dengan demam tinggi. letargi. HARTANINGSIH. ARAH PENELITIAN KE DEPAN Strategi peningkatan kesehatan hewan atau pengendalian penyakit dirancang berdasarkan posisinya yang sangat strategis dan fungsinya yang sangat erat sebagai pendukung dalam mewujudkan masyarakat sehat yang berwawasan lingkungan melalui pemenuhan kebutuhan protein hewani. sebagai usaha sampingan. maka diperlukan teknologi-teknologi moderen. Penelitian epidemiologi penyakit masih diperlukan untuk lebih memahami penyakit guna pengendalian penyakit yang lebih efektif dan efisien. vaksin dengan aplikasi mudah (aplikasi aerosol dan lain . Teknologi penyakit Jembrana yang telah dihasilkan oleh BPPV Regional VI Denpasar. untuk pengendalian penyakit tersebut dalam pengembangan teknologi diagnostik cepat. sehingga ternak tersebut sangat potensial sebagai sumber infeksi (carrier).Lokakarya Nasional Ketersediaan IPTEK dalam Pengendalian Penyakit Stategis pada Ternak Ruminansia Besar dan Kalimantan Tengah (HARTANINGSIH. Untuk mencapai sasaran ”ternak sehat dan masyarakat sehat” melalui kecukupan daging 2010. dipstik ELISA). sehingga kurang mampu menggunakan teknologi tinggi yang relatif lebih mahal. Hewan yang sembuh dari penyakit Jembrana dapat menjadi hewan pembawa penyakit “carrier” sehingga berpotensi mengakibatkan wabah penyakit pada populasi yang rentan (PUTRA dan SULISTYANA. Immunohistokimia (IHC). 2005). 1995).lain) atau vaksin modifikasi genetik atau rekombinan. PCR.

P. FULTZ. ELISA Isolasi dan identifikasi Uji Netralisasi Serum (SNT) Isolasi dan identifikasi Serum Netralisasi (SNT) Vaksin inaktif isolate lokal Isolasi dan identifikasi IHC SDS-PAGE Capture ELISA RT-PCR Vaksin rekombinan (dalam tahap uji coba) Brucellosis Bovine Viral Diarrhoea (BVD) Infectious Bovine Rhino-tracheitis (IBR) Jembrana DAFTAR PUSTAKA ANONIM.E. Kegiatan Laboratorium Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner Regional VII Maros. MARFIATININGSIH.N. Dalam Laporan Tahunan Hasil Penyidikan Penyakit Hewan di Indonesia periode tahun 1976-1981. SUDIBYO. S. 1982. B. Aust.Lokakarya Nasional Ketersediaan IPTEK dalam Pengendalian Penyakit Stategis pada Ternak Ruminansia Besar Tabel 1. Detection of Jembrana disease virus in spleen. Virol 65: 4902–4909. 29 . I. Puslitbang Peternakan. SETIAWAN. BPPV Denpasar XVI (64): 33-40.M. 69–337.J.W. SIREGAR. 1995. ANONIM. J. of. of Gen Virol. Bali KUSWADY. Replication of an acutely lethal simian immunodeficiency virus activates and induces proliferation of lymphocytes.N. 1991. RODWELL. Pengkajian Pemanfaatan Teknologi Inseminasi Buatan (IB) dalam Usaha Peningkatan dan Produktifitas Sapi Potong di Propinsi NTB. RBT. Virol 76:1634–1650. A. D. ANONIM. R. Buletin Veteriner. Diagnosa infectious bovine rhinotracheitis like disease pada sapi bali di Lampung Tengah. MATHIUS. E. M. BROWNLIE and G. N. dan K. E. Makalah dipresentasikan pada Sarasehan Pengamanan ternak Sapi di Kawasan Perkebunan Kelapa Sawit terhadap Penyakit Menular. dan T. DHARMA. Direktorat Jenderal Peternakan. 2005. 2004. DESPORT.J. Serological evidence for the presence of bovine lentivirus infection in cattle in Australia. WILCOX. GIBSON and B. Ketersediaan teknologi pengendalian penyakit strategis pada ruminansia besar di Indonesia Penyakit Anthrax Ketersedian Teknologi Pengendalian Penyakit Isolasi dan identifikasi ASCOLI Serologi ELISA Isolasi dan identifikasi Serologi MRT.. CHADWICK. HANDIWIRAWAN. Jakarta. CHADWICK. Denpasar. KOSTAMAN. 2003. Direktorat Kesehatan Hewan. Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner Regional III Lampung. C. J. COELEN and G. A. 79: 101–106. 1992.E. Bengkulu. Vet. Penularan penyakit Jembrana: Peranan Serangga Penghisap Darah. J. Deptan. J.. Progress on Jembrana Disease Study. PUTRA.D. 1999.J. WILCOX. SULISTYANA. A. S. 1997. Nucleotide sequence analysis of Jembrana disease virus: a bovine lentivirus associated with an acute disease syndrome. lymph nodes.. Laporan Tahunan Tahun 2001.G. CFT. 2003..J. FORMAN. Kebijakan dan kesiapan pengendalian penyakit menular pada ternak sapi di Propinsi Bengkulu. Laporan Tahunan Tahun 1998/99.A. E. 2001. HARTANINGSIH. Dibawakan dalam pertemuan Evaluasi Penelitian.B.. bone marrow and other tissues by in situ hybridization of paraffin-embedded tissues. Gen.J.A. J. B. Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner Regional II Sumatera Barat. 1998. 9 September 2003.

SOEHARSONO. J. XXIII (41): 18-22. ACIAR Proceedings.W. 1997. 1997. ACIAR. 1989. PATTEN..J. RONOHARDJO. SUDIBYO. MOEKTI.R. In. Penyakit Hewan. 1995. 1991. B. Wartazoa 4(1-2): 25-29. SITUMORANG. Canberra. dan Y. Studi prevalensi antibodi terhadap Infectious Bovine Rhinotracheitis pada sentinel anak dan induk sapi bali di Lampung. M. 30 . BESTARI. XXV (45):7-10. WIYONO. Infectious Bovine Rhinotracheitis. Puslitbang Peternakan. GRAYDON. P. Penyakit Hewan 38:77-83 WIYONO. Jembrana Disease and the Bovine Lentiviruses.. G. 75: 72–75. RONOHARDJO. BOER.Lokakarya Nasional Ketersediaan IPTEK dalam Pengendalian Penyakit Stategis pada Ternak Ruminansia Besar SIREGAR. Pengkajian Pemanfaatan Teknologi Inseminasi Buatan (IB) dalam Usaha Peningkatan dan Produktifitas Sapi Potong di Propinsi Sumatera Barat. dan M. Diare ganas sapi: I. A. P. A. P. A. PURBA. Current information on Jembrana disease distribution in Indonesia. Penyakit Hewan. dan P. 1993. Kejadian penyakit pada sapi bali bibit asal Sulawesi Selatan yang baru tiba di Kalimantan Barat. A. DANIELS. MUKMIN. SUDARISMAN. Status brucellosis pada sapi potong di Indonesia. S. R.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->