Anda di halaman 1dari 21

DINAMIKA KELUARGA SETELAH ANAK LAHIR Kelahiran seorang anak menyebabkan timbulnya suatu tantanga mendasar terhadap strukut

interaksi keluarga yang sudah terbentuk. Menjadi orang tua menciptakan periode ketidakstabilan yang menuntut prilaku yang meningkatkan transisi untuk menjadi orang tua.orangtua harus menggali hubungan mereka dengan bayi dan mengatur hubungan di antara mereka. Apabila ada anak lain, orang tua harus menyesuaikan diri mereka untuk juga melibatkan anak ang lain dan anak anak yang lebih tua harus menyesuaikan diri terhadap tuntutan bayi akan kasih dan waktu orangtua (Walz,Rich, 1983). Perawat yang memahami proses menjadi tua, termasuk penyesuaian orang tua,saudara, dan kakek nenek di persiapkan untuk membantu anggota keluarga pada transisi untuk menjadi orangtua. A. PROSES MENJADI TUA Selama periode prenatal, ibu ialah satu satunya pihak yang membentuk lingkungan tempat janin berkembang dan bertumbuh. Persatuan sibiosis tertutup antara ibu dan anak berahir pada saat bayi lahir. Kemudian orang lain mulai terlibat dalam perawatan bayi, secara penuh ataupun sewaktu waktu. Siapa pun baik orangtua pengganti maupun orangtua biologis, wanita atau pria yang melakukan peran orang tua memasuki suatu hubungan penting dengan anak tersebut seumur hidupnya. Wanita dan pria tentunya dapat hidup tanpa seorang anak sehingga pada hakikatnya menjadi orang tua adalah suatu pilihan.menjadi orang tua bisa merupakan factor pematangan dalam diri seorang wanita atau pria tanpa memperhatikan apakah anak yang di asuh memiliki hubungan biologis atau tidak. Untuk anak anak peran orang tua sangat penting. Keadaan mereka selanjutnya tergantung pada kecukupan asuhan yang di terima. Tugas, tanggung jawab dan sikap yang membentuk peran menjadi orang tua dirumuskan oleh Steele dan Pollack (1968) sebagai fungsi menjadi ibu (mothering function) . ini merupakan proses orang dewasa (pribadi yang matang, penyayang, mampu dan mandiri ).mulai mengasuh seorang bayi (pribadi yang tidak matang, tidak berdaya, dependen).seorang orangtua bisa memperlihatkan sifat keibuannya.kemampuan untuk menunjukan kelembutan, kasih, dan pengertian serta

meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri tidak hanya terbatas pada wanita ini adalah cirri karakteristik seorang individu. Steele dan Pollack (1968) menyatakan bahwa menjadi orang tua merupakan suatu proses yang terdiri dari dua komponen. Komponen pertama bersifat praktis atau mekanis, melibatkan keterampilan kognitif dan motorik; komponen kedua, bersifat emosional, melibatkan keterampilan afektif dan kognitif. Kedua komponen ini penting untuk perkembangan dan keberadaan bayi. 1. Keterampilan kognitif motorik Komponen pertama dalam proses menjadi orang tua melibatkan aktifitas perawatan anak, seperti memberi, makan, menggendong, mengenakan pakaian, dan membersihkan bayi, menjaganya dari bahaya, dan memungkinkannya untuk bisa bergerak (steele, polack,1968). Aktifitas yang berorientasi pada tugas ini atau keterampilan kognitif motorik tidak terlihat otomatis pada saat bayi lahir. Kemampuan orang tua pada hal ini di pengaruhi oleh pengalaman pribadinya dan budaya nya. Banyak orang tua harus belajar dalam melakukan tugas ini dan proses belajar ini mungkin sukar bagi mereka, tapi hampir semua orang tua yang memiliki keinginan untuk belajar dan di bantu dukungan orang lain menjadi terbiasa dengan aktifitas merawat anak. 2. Keterampilan Kognitif-Afektif Keterampilan kognitif afektif-afektif menjadi orangtua ini meliputi sikap yang lembut, waspada, dan memberi perhatian terhadap kebutuhan dan keinginan anak. Komponen menjadi oranguta ini memiliki efek yang mendasar pada cara perawatan anak yang dilakukan dengan praktis dan pada respon emosional anak terhadap asuhan yang di terimanya.suatu hubungan orangtua-anak yang positif ialah saling memberi satu sama lain. Konsep Erikson (1959, 1964) tentang kepercayaan juga hamper sama. Ia mengatakan bahwa rasa percaya ini akan menentukan mengalami respon hubungan bayi seumur hidupnya. yang Orang-orang lebih orangtua-anak cendrung

mudah

bersosialisasi

dan

terbuka

serta

mampu

meminta

bantuan dan menerima bantuan dari orang lain. Secara umum sebagian besar wanita mengalami gangguan emosional setelah melahirkan, menurut clydde regina dkk.(2001), bentuk gangguan postpartum yang umum adalah depresi, mudah marah dan terutama mudah frustasi, serta emosional. Sebagian perempuan menganggap bahwa masa-masa setelah melahirkan adalah masa-masa sulit yang akan menyebabkan mereka mengalami tekanan secara emosional. Gangguan gangguan psikologis yang muncul akan mengurangi kebahagiaan yang dirasakan, dan sedikit banyak memengaruhi hubungan anak dan ibu di kemudian hari, khususnya pengaruh penerimaan (respons) ibu terhadap bayi baru lahir. Pada saat proses pelahiran selesai, proses yang baru dimulai sama pentingnya untuk masa depan keluarga. Sebagai awalan ketika ibu mulai merasa bias terbuka terhadap bayi baru lahirnya dan bayi berada dalam periode reaktivitas pertamanya, hal ini merupakan pengalaman baru yang paling berharga untuk proses bonding. Klaus dan kennel menekankan pentingnya periode sensitive setelah proses kelahiran. Gagasan mengenai periode sensitif dapat dilihat pada perilaku awal orang tua yang menemui bayi baru lahir mereka, ketika tiba-tiba atau dengan lembut orang tua mengeksplorasi tubuh bayi baru lahir, mengubah intonasi dan ritme suara mereka menjadi lembut, serta mengambil posisi muka dengan muka yang berhadapan dengan anak mereka. Bonding attachment terjadi pada kala IV, dimana diadakan kontak antara ibu-ayah-anak dan berada dalam ikatan kasih. Perkenalan, Ikatan, dan Kasih sayang dalam menjadi orangtua Walau sudah banyak riset dilakukan untuk membuka tabir proses orangtua bisa mengasihi dan menerima seorang anak dan seorang anak bisa mengasishi dan menerima orangtuanya, para ahli masih tidak mengetahui apa motivasi dan komitment orangutan dan anak-anaknya selama bertahun-tahun dalam mendukung dan merawat satu dengan lain. Proses ini sering disebut attachment (kasih sayang) atau bonding (ikatan). Bounding attachment

Bounding merupakan suatu langkah awal untuk mengungkapkan perasaan afeksi (kasih sayang) oleh ibu kepada bayinya segera setelah lahir. Attachment merupakan interaksi antara ibu dan bayi secara specifik sepanjang waktu. (Saxton. N and Pelikan. 1996) Interaksi orang tua dan bayi secara nyata baik fisik, emosi dan sensori pada menitmenit dan jam-jam pertama segera setelah bayi lahir (Klause dan Kennel, 1983). Jadi Bounding Attachment adalah kontak awal antara ibu dan bayi setelah kelahiran, untuk memberikan kasih sayang yang merupakan dasar interaksi antara keduanya scara terus menerus. Dengan kasih sayang yang diberikan terhadap bayinya maka akan terbentuk ikatan batin antara orang tua dan bayinya. Respon antara ibu dan bayi sejak kontak awal hingga tahap perkembangannya. a. Touch ( Sentuhan ) Ibu memulai dengan sebuah ujung jarinya untuk memeriksa bagian kepala dan ektremitas bayinya. Dalam waktu singkat secara terbuka perabaan digunakan untuk membelai tubuh, dan mungkin bayi akan di peluk di lengan ibu, gerakan dilanjutkan sebagai usapan lembut untuk menenangkan bayi, bayi akan merapat pada payudara ibu, menggenggam satu jari atau seuntai rambut dan terjadilah ikatan antara keduanya. b. Eye to Eye Contact ( Kontak Mata ) Kesadaran untuk membuat kontak mata dilakukan kemudian dengan segera. Kontak mata mempunyai efek yang erat terhadap perkembangan dimulainya hubungan dan rasa percaya sebagai faktor yang penting dalam hubungan manusia pada umumnya. Bayi baru lahir dapat memusatkan perhatian kepada suatu obyek, satu jam setelah kelahiran pada jarak sekitar 20 25 cm, dan dapat memusatkan pandangan sebaik orang dewasa pada usia kira kira 4 bulan. Dengan demikian perlu diperhatikan dalam praktek kesehatan, adanya faktor faktor yang dapat menghambat proses tersebut, misalnya untuk pemberian salep/tetes mata pada bayi dapat ditunda beberapa waktu sehingga tidak mengganggu adanya kontak mata ibu dn bayi c. Odor ( Bau Badan ) Indra penciuman pada bayi baru lahir sudah berkembang dengan baik dan masih memainkan peran dalam nalurinya untuk mempertahankan hidup. Penelitian menunjukan bahwa kegiatan seorang bayi, detak jantung dan pola bernapasnya berubah setiap kali

hadir bau yang baru, tetapi bersama dengan semakin dikenalnya bau itu, si bayi pun berhenti bereaksi. Pada akhir minggu pertama, seorang bayi dapat mengenali ibunya dari bau tubuh dan air susu ibunya. Indra penciuman bayi akan sangat kuat, jika seorang ibu dapat memberikan bayinya ASI pada waktu tertentu. d. Body Warm ( Kehangatan Tubuh ) Jika tidak ada komplikasi yang serius, seorang ibu akan dapat langsung meletakkan bayinya di atas perut ibu, baik setelah tahap kedua dari proses melahirkan atau sebelum tali pusat dipotong. Kontak yang segera ini memberi banyak manfaat baik bagi ibu maupun si bayi yaitu terjadinya kontak kulit yang membantu agar bayi tetap hangat. e. Voice ( Suara ) Respon antara ibu dan bayi berupa suara masing masing. Orang tua akan menantikan tangisan pertama bayinya. Dari tangisan tersebut, ibu menjadi tenang karena merasa bayinya baik baik saja (hidup). Bayi dapat mendengar sejak dalam rahim, jadi tidak mengherankan jika ia dapat mendengarkan suara suara dan membedakan nada dan kekuatan sejak lahir, meskipun suara suara itu terhalang selama beberapa hari oleh cairan amniotik dari rahim yang melekat pada telinga. Banyak penelitian memperlihatkan bahwa bayi bayi baru lahir bukan hanya mendengar secara pasif melainkan mendengarkan dengan sengaja, dan mereka nampaknya lebih dapat menyesuaikan diri dengan suara suara tertentu daripada yang lain contoh suara detak jantung ibu. f. Entrainment ( Gaya Bahasa ) Bayi yang baru lahir menemukan perubahan struktur pembicaraan dari orang dewasa. Artinya perkembangan bayi dalam bahasa dipengaruhi kultur, jauh sebelum ia menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. Dengan demikian terdapat salah satu yang akan lebih banyak dibawanya dalam memulai berbicara (gaya bahasa). Selain itu juga mengisyaratkan umpan balik positif bagi orang tua dan membentuk komunikasi yang efektif. g. Biorhythmicity ( Irama Kehidupan ) Janin dalam rahim dapat dikatakan menyesuaikan diri dengan irama alamiah ibunya seperti halnya denyut jantung. Salah satu tugas bayi setelah lahir adalah menyesuaikan irama dirinya sendiri. Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberikan perawatan penuh kasih sayang secara konsisten dan dengan menggunakan tanda keadaan bahaya bayi .untuk mengembangkan respon bayi dan interaksi sosial serta kesempatan untuk belajar.

menurut Klaus, Kennel (1982), ada beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak dini : 1. Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat 2. Reflek menghisap dilakukan dini 3. Pembentukkan kekebalan aktif dimulai 4. Mempercepat proses ikatan antara orang tua & anak _ Body warmth (kehangatan tubuh) _ Waktu pemberian kasih sayang _ Stimulasi hormonal Prinsip-Prinsip & Upaya Meningkatakan Bonding Attachment a. Menit pertama jam pertama b. Sentuhan orang tua pertama kali c. Adanya ikatan yang baik & sistematisTerlibat proses persalinan e. Persiapan PNC sebelumnya f. Adaptasi g. Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa nyaman. h. Fasilitas untuk kontak lebih lama i. Penekanan pada hal-hal positif j. Perawat maternitas khusus (bidan) k. Libatkan anggota keluarga lainnya l. Informasi bertahap mengenai bonding attachment Dampak positif yang dapat diperoleh dari boding attachment : - Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap social - Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi Hambatan Bonding Atatchment - Kurangnya support system - Ibu dengan resiko

- Bayi dengan resiko - Kehadiran bayi yang tidak diinginkan Perkembangan tingkah laku anak yang terhambat - Tingkah laku stereotipe - Sosial abnormal - Kemunduran motorik, kognitif, verbal- Bersikap apatis Peran orangtua setelah bayi lahir Untuk orangtua biologis, peran orangtua dimulai selagi kehamilan membesar dan semakin kuat saat bayi dilahirkan. Selama periode pascapartum, ibu dan ayah memberi respon terhadap perubahan peran orangtua melalui suatu perjanan waktu yang bisa diduga sebelumnya. Pada periode awal, orangtua harus mengenali hubungan merekan denga bayinya. Bayi perlu perlindungan, perawatan, dan sosialisasi. Periode ini ditandai oleh masa pembelajaran yang intensif dan tuntutan untuk mengasuh.struktur dan fungsi keluarga sebagai sistam telah diubaah untuk selama-lamanya. Lama ini bervariasi, tetapi biasanya berlangsung salama kira-kira empat minggu. Periode berikutnya mencerminkan suatu waktu untuk bersamasama membangun kasatuan keluarga. Periode waktu berkonsolidasi ini meliputi peran negosiasi (suami-istri, ibu-ayah, orangtua-anak, saudara-saudara) juga meliputi stabilisasi tugas-tugas seiring upaya untuk menetapkan komitment. Periode yang berlangsung kira-kira selama dua bulan ini sekarang dikanal dengan istilah trimester keempat. Orangtua dan anak bertumbuh dalam peran mereka masingmasing sampai kematian memisahkan mereka. Hal yang mengsankan pada proses interaksi orangtua-anak, yang berlangsung seumur hidup ini, ialah perubahan yang konsisten sepanjang perjalanan waktu. Tugas dan Tanggung Jawab Orangtua Orangtua harus menerima keadaan anak yang sebenarnya dan tidak terus terbawa dengan impian dan khayalan yang dimilikinya tentang figure anak idealnya. Hal ini berarti, orangutan harus

menerima panampilan fisik, jenis kalamin, tempramen, dan stetus fisik anak. Orangtua harus meyakini bahwa bayiinya yang baru lahir adalah seorang pribadi yang terpisah dari diri mereka. Artinya bayi itu adalah seseorang perawatan. Orangtua harus bisa menguasai cara merawat bayinya. Hal ini termasuk aktivitas merawat bayi memperhatikan gerakan komunikasi yang dilakukan bayi dalam mengatakan apa yang diperlukan, dan memberi respon yang tepat. Orangtua harus menetapkan kriteria evaluasi yang baik dan dapat dipakai untuk menilai kesuksesan atau kegagalan hal-hal yang dilakukan pada bayi. Orangtua biasanya sangat sensitive terhadap respon bayi. Seorang ayah menceritakan pengalamannya saat pertamakali berusaha mencium bayinya. Pada saat itu bayinya bayinya memalingkan kepalanya. Ayah ini merasa hatinya terluka walaupun mereka mengerti bahwa bayinya tidak mengerti gerakan itu sama sekali. Orangtua harus menetapkan suatu tempat bagi bayi baru lahir didalam keluarga. Baik bayi ini merupakan yang pertama atau yang terakhir, semua anggota keluarga harus menyesuaikan peran mereka dalam menerima kedatangan si pendatang baru ini. Anak, yang semula merupakan anak tunggal, perlu dukungan untuk menerima seorang dalam memperoleh kasih saying orangtua. Orangtua perlu menetapkan keunggulan hubungan dewasa mereka untuk mempertahankan keluarga sebagai suatu kelompok. Karena ini meliputi pengaturan banyak peran, misalnya, hubungan seksual, perawatan anak, karier, dan peran dalam masyarakat, waktu dan energy dicurahkan untuk tugas penting ini. Respon ayah dan keluarga Reaksi orangtua dan keluarga terhadap bayi yang baru lahir, berbeda-beda. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya reaksi emosi maupun pengalaman. yang memiliki banyak kebutuhan dan memerlukan

Masalah lain juga dapat berpengaruh, misalnya masalah pada jumlah anak, keadaan ekonomi, dan lain-lain. Respon yang mereka perlihatkan pada bayi baru lahir, ada yang positif dan ada juga yang negatif. a. Respon Positif 1. 2. 3. 4. b. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Ayah dan keluarga menyambut kelahiran bayinya dengan bahagia. Ayah bertambah giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan bayi dengan baik. Ayah dan keluarga melibatkan diri dalam perawatan bayi. Perasaan sayang terhadap ibu yang telah melahirkan bayi.

Respon positif dapat ditunjukkan dengan:

Respon Negatif Kelahiran bayi tidak dinginkan keluarga karena jenis kelamin yang tidak sesuai keinginan. Kurang berbahagia karena kegagalan KB. Perhatian ibu pada bayi yang berlebihan yang menyebabkan ayah merasa kurang mendapat perhatian. Faktor ekonomi mempengaruhi perasaan kurang senang atau kekhawatiran dalam membina keluarga karena kecemasan dalam biaya hidupnya. Rasa malu baik bagi ibu dan keluarga karena anak lahir cacat. Anak yang dilahirkan merupakan hasil hubungan zina, sehingga menimbulkan rasa malu dan aib bagi keluarga. Bila kehamilan dan kelahiran diingginkan dan diharapkan oleh orangtua maka

Respon negatif dapat ditunjukkan dengan:

orangtua terutama ayah akan memperlihatkan prilaku yang dapat menfasilitasi terjalinnya ikatan batin yang baik begitu juga sebaliknya bila kehamilan dan kelahiran tersebut bila tidak diingini maka orangtua cenderung berperilaku yang menghambat sehingga ikatan kasih sayang tersebut tidak akan terjadi Perilaku orang tua yang dapat mempengaruhi ikatan kasih sayang antara orang tua terhadap bayi baru lahir, terbagi menjadi: 1. Perilaku memfasilitasi. 2. Perilaku penghambat.

a) Perilaku Memfasilitasi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Menatap, mencari ciri khas anak. Kontak mata. Memberikan perhatian. Menganggap anak sebagai individu yang unik. Menganggap anak sebagai anggota keluarga. Memberikan senyuman. Berbicara/bernyanyi. Menunjukkan kebanggaan pada anak. Mengajak anak pada acara keluarga.

10. Memahami perilaku anak dan memenuhi kebutuhan anak. 11. Bereaksi positif terhadap perilaku anak. b) Perilaku Penghambat 1. 2. 3. 4. 5. 6. Menjauh dari anak, tidak memperdulikan kehadirannya, menghindar, menolak untuk menyentuh anak. Tidak menempatkan anak sebagai anggota keluarga yang lain, tidak memberikan nama pada anak. Menganggap anak sebagai sesuatu yang tidak disukai. Tidak menggenggam jarinya. Terburu-buru dalam menyusui. Menunjukkan kekecewaan pada anak dan tidak memenuhi kebutuhannya.

Respon orang tua terhadap bayinya dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu: 1. Faktor internal. 2. Faktor eksternal.

a.

Faktor Internal Yang termasuk faktor internal antara lain genetika, kebudayaan yang mereka

praktekkan dan menginternalisasikan dalam diri mereka, moral dan nilai, kehamilan sebelumnya, pengalaman yang terkait, pengidentifikasian yang telah mereka lakukan

selama kehamilan (mengidentifikasikan diri mereka sendiri sebagai orang tua, keinginan menjadi orang tua yang telah diimpikan dan efek pelatihan selama kehamilan. b. Faktor Eksternal Yang termasuk faktor eksternal antara lain perhatian yang diterima selama kehamilan, melahirkan dan postpartum, sikap dan perilaku pengunjung dan apakah bayinya terpisah dari orang tua selama satu jam pertama dan hari-hari dalam kehidupannya. Kondisi yang Mempengaruhi Sikap Orang Tua Terhadap Bayi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Kurang kasih sayang. Persaingan tugas orang tua. Pengalaman melahirkan. Kondisi fisik ibu setelah melahirkan. Cemas tentang biaya. Kelainan pada bayi. Penyesuaian diri bayi pascanatal. Tangisan bayi. Kebencian orang tua pada perawatan, privasi dan biaya pengeluaran. Gelisah tentang kenormalan bayi. Gelisah tentang kelangsungan hidup bayi. Penyakit psikologis atau penyalahgunaan alkohol dan kekerasan pada anak.

PENYESUAIAN BAYI ORANG TUA Bayi baru lahir berpartisipasi aktif dalam membentuk reaksi orangtuanya terhadap mereka (brazelton, Cramer, 1990). Interaksi orangtua bayi di tandai oleh suatu rangkaian irama, repertoar prilaku, dan pola tanggung jawab (field, 1978). Hal ini unik pada setiap pasangan. Interaksi dapat di perbaiki dengan cara berikut : modulasi ritme, 2 modifikasi repertoar prilaku, dan 3 respon yang mutual. 1. Ritme Untuk mengatur ritme, baik orangtua maupun bayi harus mampu untuk saling berinteraksi. Karena itu bayi harus bayi harus dalam keadaan sadar penuh, suatu keadaan tidur-bangun yang paling sulit di pertahankan. Keadaan sadar penuh ini lebih sering

muncul pada saat makan atau saat saling memandang. Ibu multipara menunjukan rasa sensitive dan mampu memberi respon dengan sangat baik terhadap ritme makan bayinya.ibu yang sensitive terhadap ritme makan member kesempatan pada bayinya untuk berhenti mengisap. Misalnya, ibu belajar untuk tidak bicara atau tersenyum terlalu banyak saat bayinya sedang mengisap karena bayi akan berhenti makan akibat gangguan tersebut (field, 1978). Semakin lama, bayi dapat melakukan interaksi yang lebih lama dengan menyesuaikan ritme aktifitas,yaitu gerakkan anggota gerak, menghisap, mengubah arah pandangan, dan habituasi. Untuk sementara orang dewasabelajar memahami ritme ini, mengatur ritmenya sendiri, dan dengan demikian mempermudah interaksi yang ritmis (field, 1978). 2. Repertoar Meliputi prilaku memandang, bersuara, dan ekspresi wajah. bayi mampu focus focus dan mengikuti wajah manusia sejak lahir. Bayi juga mampu mengubah arah pandangannya. Kemampuan ini di control secara volunter. 3. Respon Respon ini memunculkan suatu perasaan pada individu yang memiliki prilaku itu sehingga mereka turut dalam interaksi berikut. Dengan kata lain, respon tersebut berfungsi sebagai umpan balik .positif FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RESPON ORANGTUA Cara orangtua berespon terhadap kelahiran anaknya di pengaruhi berbagai factor, meliputi usia, jaringan social, budaya, keadaan sosialekonomi,dan aspirasi pribadi tentang masa depan. 1. Usia maternal lebih dari 35 tahun Usia ibu sangat mempengaruhi hasil akhir kehamilan. Ibu dan bayi umumnya dianggap beresiko tinggi jika ibu berusia remaja atau berusia lebih dari 35 tahun. 2. Jaringan social Jaringan social meningkatkan potensi pertumbuhan anak dan mencegah dalam kekeliruan memperlakukan anak. Mercer (1982) dan Crawford (1985)menemukan bahwa jaringan social member dukungan dan juga menjadi sumber persoalan 3. Budaya

Menjadi determinant penting dalam prilaku orang tua . karena mempengaruhi reaksi orang tua dan bayi, demikian juga orang tua atau keluarga yang mengasuh bayi 4. Kondisi sosialekonomi Keluarga yang menemukan kelahiran seorang bayi suatu beban financial dapat mengalami peningkatan stress, stes ini dapat menggangu prilaku orang tua sehingga membuat masa transisi untuk memasuki masa menjadi orang tua menjadi lebih sulit. 5. Aspirasi personal Bagi beberapa wanita, menjado orangtua menggagu kebebasan pribadi atau kemajuan karier mereka.

Adapatasi saudara kandung Memperhatikan bayi kepada suatu keluarga dengan satu anak atau lebih bisa menjadi persoalan bagi orangtua. Merekan dihadapkan pada tugas untuk merawat anaknya yang baru tanpa menelantarhan anak yang lain. Orangtua perlu membagi perhatian mereka dengan adil. Orangtua, terutama ibu, menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk bisa membuat saudara kandung ini menerima bayi yang baru. Anak-anak yang lebih tua terlibat aktif dalam persiapan kedatangan bayi dan keterlibatan ini meningkat setelah bayi lahir. Ibu dan ayah menghadapi sejumlah tugas yang terkait dengan penyesuaian dan permusuhan antar saudara. Tugas-tugas tersebut meliputi hal-hal brikut. 1. Membuat anak yang lebih tua merasa dikasihi dan diinginkan. 2. Mengatasi rasa berslah yang timbul dari pemikiran bahwa anak yang lebih tua mendapat perhatian dan waktu aygn lebih sedikit.

3. Mengembangkan rasa percaya diri dalam kemampuan meremengasuh lebih dari satu anak. 4. Menyesuaikan waktu dan ruang untuk menampung bayi baru tersebut. 5. Membantu perlakuan anak yang lebih tua terhadap bayi yang lebih lemah dan mengalihkan prilaku yang agresif. Kelas persiapan untuk saudara kandung talah terbukti efektif dalam membantu mengurangi permusuhan antar saudara sewaktu anak kedua bergabung ke dalam keluarga (Fortier, dkk, 1991) Masalah antar saudara kandung Sibling rivalry Kehadiran anggota keluarga baru (bayi) dalam keluarga dapat menimbulkan suatu krisis situasional yang sebaiknya perlu dipersiapkan pada anak usia toddler (1-3 tahun) terutama pada anak pertama dimana ia mempunyai pengalaman dengan posisi yang menyenangkan menjadi nomor satu. a. Pengertian bentuk kecil) anak-anak dari orang tua yang sama, seorang saudara laki-laki atau perempuan. Disebut juga sib. Rivalry keadaan kompetisi atau antagonisme. Sibling rivalry adalah kompetisi antara saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih, afeksi dan perhatian dari satu kedua orang tuanya, atau untuk mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih. 2) Sibling rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan pertengkaran antara saudara laki-laki dan saudara perempuan. Hal ini terjadi pada semua orang tua yang mempunyai dua anak atau lebih. Sibling rivalry menunjuk pada kecemburuan dan kemarahan yang lazim terjadi pada anak sehubungan dengan kehadiran anggota keluarga baru dalam keluarga yang dalam hal ini adalah saudara sekandung. Sibling rivalry atau perselisihan yang terjadi pada anak-anak tersebut adalah hal yang biasa bagi anak-anak usia antara 5-11 tahun. Bahkan kurang dari 5 tahun pun sudah sangat mudah terjadi sibling rivalry itu. Istilah ahli psikologi hubungan antar anak-anak seusia seperti itu bersifat ambivalent dengan love hate relationship. 1) Kamus kedokteran Dorland (Suherni, 2008): sibling (anglo-saxon sib dan ling

b.

Perubahan sikap dan perilaku dengan kehadiran sibling rivalry Respon yang dapat ditunjukkan oleh anak, antara lain: Memukul bayi Mendorong bayi dari pangkuan ibu Menjauhkan puting susu dari mulut bayi Secara verbal menginginkan bayi kembali ke perut ibu Ngompol lagi Kembali tergantung pada susu botol Bertingkah agresif

c.

Antisipasi terhadap perubahan sikap dan perilaku Siapkan secara dini untuk kelahiran bayi : Mulai kenalkan dengan organ reproduksi dan seksual Beri penjelasan yang konkret tentang pertumbuhan bayi dalam rahim dengan menunjukkan gambar sederhana tentang uterus dan perkembangan fetus Beri kesempatan anak untuk ikut gerakan janin Libatkan anak dalam perawatan bayi Beri pengertian mendasar tentang perubahan suasana rumah seperti alasan pindah kamar. Lakukan aktifitas yang biasa dan lakukan dengan anak seperti mendongeng sebelum tidur atau piknikbersama.

d.

Penyebab Sibling Rivalry Banyak faktor yang menyebabkan sibling rivalry, antara lain: 1 2 3 4 Masing-masing anak bersaing untuk menentukan pribadi mereka, sehingga ingin menunjukkan pada saudara mereka. Anak merasa kurang mendapatkan perhatian, disiplin dan mau mendengarkan dari orang tua mereka. Anak-anak merasa hubungan dengan orang tua mereka terancam oleh kedatangan anggota keluarga baru/ bayi. Tahap perkembangan anak baik fisik maupun emosi yang dapat mempengaruhi proses kedewasaan dan perhatian terhadap satu sama lain.

5 6 7 8 9

Anak frustasi karena merasa lapar, bosan atau letih sehingga memulai pertengkaran. Kemungkinan, anak tidak tahu cara untuk mendapatkan perhatian atau memulai permainan dengan saudara mereka. Dinamika keluarga dalam memainkan peran. Pemikiran orang tua tentang agresi dan pertengkaran anak yang berlebihan dalam keluarga adalah normal. Tidak memiliki waktu untuk berbagi, berkumpul bersama dengan anggota keluarga.

10 Orang tua mengalami stres dalam menjalani kehidupannya. 11 Anak-anak mengalami stres dalam kehidupannya. 12 Cara orang tua memperlakukan anak dan menangani konflik yang terjadi pada mereka. e. Segi Positif Sibling Rivalry Meskipun sibling rivalry mempunyai pengertian yang negatif tetapi ada segi positifnya, antara lain: 1. Mendorong anak untuk mengatasi perbedaan dengan mengembangkan beberapa keterampilan penting. 2. Cara cepat untuk berkompromi dan bernegosiasi. 3. Mengontrol dorongan untuk bertindak agresif. Oleh karena itu agar segi positif tersebut dapat dicapai, maka orang tua harus menjadi fasilitator. f. Mengatasi Sibling Rivalry Beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua untuk mengatasi sibling rivalry, sehingga anak dapat bergaul dengan baik, antara lain: 1. 2. 3. 4. Tidak membandingkan antara anak satu sama lain. Membiarkan anak menjadi diri pribadi mereka sendiri. Menyukai bakat dan keberhasilan anak-anak Anda. Membuat anak-anak mampu bekerja sama daripada bersaing antara satu sama lain. 5. Memberikan perhatian setiap waktu atau pola lain ketika konflik biasa terjadi.

6. Mengajarkan anak-anak Anda cara-cara positif untuk mendapatkan perhatian dari satu sama lain. 7. Bersikap adil sangat penting, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan anak. Sehingga adil bagi anak satu dengan yang lain berbeda. 8. 9. Merencanakan kegiatan keluarga yang menyenangkan bagi semua orang. Meyakinkan setiap anak mendapatkan waktu yang cukup dan kebebasan mereka sendiri. 10. Orang tua tidak perlu langsung campur tangan kecuali saat tanda-tanda akan kekerasan fisik. 11. Orang tua harus dapat berperan memberikan otoritas kepada anak-anak, bukan untuk anak-anak. 12. Orang tua dalam memisahkan anak-anak dari konflik tidak menyalahkan satu sama lain. 13. Jangan memberi tuduhan tertentu tentang negatifnya sifat anak. 14. Kesabaran dan keuletan serta contoh-contoh yang baik dari perilaku orang tua sehari-hari adalah cara pendidikan anak-anak untuk menghindari sibling rivalry yang paling bagus.

g.

Adaptasi Kakak Sesuai Tahapan Perkembangan Respon kanak-kanak atas kelahiran seorang bayi laki-laki atau perempuan

bergantung kepada umur dan tingkat perkembangan. Biasanya anak-anak kurang sadar akan adanya kehadiran anggota baru, sehingga menimbulkan persaingan dan perasaan takut kehilangan kasih sayang orang tua. Tingkah laku negatif dapat muncul dan merupakan petunjuk derajat stres pada anak-anak ini. Tingkah laku ini antara lain berupa: 1 2 3 Masalah tidur. Peningkatan upaya menarik perhatian orang tua maupun anggota keluarga lain. Kembali ke pola tingkah laku kekanak-kanakan seperti: ngompol dan menghisap jempol. h. Batita (Bawah Tiga Tahun)

Pada tahapan perkembangan ini, yang termasuk batita (bawah tiga tahun) ini adalah usia 1-2 tahun. Cara beradaptasi pada tahap perkembangan ini antara lain: 1. Merubah pola tidur bersama dengan anak-anak pada beberapa minggu sebelum kelahiran. 2. Mempersiapkan keluarga dan kawan-kawan anak batitanya dengan menanyakan perasaannya terhadap kehadiran anggota baru. 3. Mengajarkan pada orang tua untuk menerima perasaan yang ditunjukkan oleh anaknya. 4. i. Memperkuat kasih sayang terhadap anaknnya.

Anak yang Lebih Tua Tahap perkembangan pada anak yang lebih tua, dikategorikan pada umur 3-12

tahun. Pada anak seusia ini jauh lebih sadar akan perubahan-perubahan tubuh ibunya dan mungkin menyadari akan kelahiran bayi. Anak akan memberikan perhatian terhadap perkembangan adiknya. Terdapat pula, kelas-kelas yang mempersiapkan mereka sebagai kakak sehingga dapat mengasuh adiknya. j. Remaja Respon para remaja juga bergantung kepada tingkat perkembangan mereka. Ada remaja yang merasa senang dengan kehadiran angggota baru, tetapi ada juga yang larut dalam perkembangan mereka sendiri. Adaptasi yang ditunjukkan para remaja yang menghadapi kehadiran anggota baru dalam keluarganya, misalnya: 1 2 3 4 Berkurangnya ikatan kepada orang tua. Remaja menghadapi perkembangan seks mereka sendiri. Ketidakpedulian terhadap kehamilan kecuali bila mengganggu kegiatan mereka sendiri. Keterlibatan dan ingin membantu dengan persiapan untuk bayi. Jumlah keterlibatan kakek-nenek dalam merawat bayi baru lahir tergantung pada banyak faktor, misalnya, keinginan kakek-nenek untuk terlibat, kedekatan hubungan kakek-nenek, dan peran kakeknenek dalam konteks budaya dan etnik yang bersangkutan. (Grosso, dkk;1981) Adaptasi kakek-nenek

Nenek dari ibu ialah model yang penting dalam praktik perawatan bayi (Rubin, 1975). Ia bertindak sebagai sumber pengetahuan dan sebagai individu pndukung. Cucu ialah bukti nyata kontinuitas dan keabadian. Seringkali kakek dan nenek mengatakan bahwa kehadiran cucu membantu mereka mengatasi rasa sepi dan kebosanan. Orangtua dapat diberi semangat untuk melibatkan kakek dan nenek mereka, keterlibatan ini akan memperkaya kehidupan mereka dan kehidupan anak-anak mereka. Dengan dibantunya orangtua mengatasi opini yang berbeda-beda dan konflik yang belum di selesaikan (misalnya: ketergantungan dan pengontrolan) di antara mereka sendiri dan dengan orangtua mereka, mereka dapat terus maju untuk mengatasi tugas-tugas perkembangan masa dewasanyadengan semakin baik. Salah satu cara untuk membantu kakek-nenek menjembatani perbedaan generasi dan membantu mereka dalam memahami konsep menjadi orangtua, yang digunakan oleh anak mereka, ialah dengan menawarkan mereka untuk mengikuti kelas-kelas persiapan (Maloni, McIndue, Rubenstein, 1987). Kelas yang dimaksud meliputi pemberian informasi tentang praktik kehamilan yang baru terutama cara merawat yang berpusat pada keluarga, perawatan bayi, pemberian makan, dan tindakan keselamatan (tempat duduk khusus di dalam mobil), dan penggalian peran yang dimaiknkan orangtua dalam unit keluarga. Hal ini dapat membatu diskusi terbuka antar generasi tentang perasaan dan kebutuhan orangtua serta kakek-nenek. k. Peran Perawat Peran perawat dalam mengatasi sibling rivalry, antara lain: 1. 2. Membantu menciptakan terjadinya ikatan antara ibu dan bayi dalam jam pertama pasca kelahiran. Memberikan dorongan pada ibu dan keluarga untuk memberikan respon positif tentang bayinya, baik melalui sikap maupun ucapan dan tindakan.

Bobak, dkk.2004.Buku Ajar Keperawatan Maternitas.EGC:jakarta http://widyapusy.blogspot.com/2011/10/respon-orangtua-terhadapbayi-baru.html http://novitasarisobri.blogspot.com/2012/02/respon-orang-tuaterhadap-bayi-baru.html http://enyretnaambarwati.blogspot.com/2010/09/respon-ayah-dankeluarga-terhadap-bayi.html