Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI; HALUSINASI

1. Masalah utama Gangguan sensori persepsi: halusinasi

2. Proses terjadinya masalah a. Pengertian Halusinasi adalah persepsi sensori yang palsu yang terjadi tanpa rangsang ensternal yang nyata. Halusinasi adalah persepsi panca indra tanpa ada rangsangan dari luaryang dapat mempengaruhi semua sistem

penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu baik. Halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca indra seorang pasien, yang terjadi dalam keadaan sadar atau bangun, dasarnya mungkin organik, fungsional, psikotik ataupun histerik. Halusinasi adalah persepsi terhadap suatu stimulus eksternal dimana stimulus tersebut pada kenyataannya tidak ada. Halusinasi dapat terjadi oleh karena berbagai faktor diantaranya gangguan mental organic, harga diri rendah, menarik diri, sindrom putus obat, keracunan obat, gangguan afektif dan gangguan tidur. b. Etiologi Gangguan otak karena keracunan, obat halusinogenik, gangguan jiwa seperti emosi tertentu yang dapat mengakibatkan ilusi, psikosisi yang dapat menimbulkan halusinasi dan pengaruh sosial budaya, sosial budaya yang

berbeda menimbulkan persepsi berbeda atau orang yang berasal dari sosial budaya yang berbeda. Faktor predisposisi yang mungkin mengakibatkan halusinasi adalah aspek biologis, psikologis dan sosial. Aspek biologis meliputi gangguan perkembangan dan fungsi otak SSP seperti gangguan perkembangan otak frontal dan temporal, lesi pada korteks frontal, frontalis dan limbik yang berhubungan dengan perilaku psikotik, gangguan tumbuh kembang pada prenatal, perinatal, neonatal dan anak-anak. Aspek psikologis sangat dipengaruhi oleh sikap keluarga, pengasuh dan lingkungan yang leiputi sikap penolakan, kekerasan, sikap cemas, tidak sensitif, atau terlalu melindungi. Konflik pada keluarga seperti pertengkaran orang tua, penganiayaan, kekerasan atau pola asuh yang tidak adekuat yang disertai dengan kekosongan emosi,kurang kasih sayang juga menjadi faktor resiko terjadinya halusinasi. Faktor sosial budaya yang juga mempengaruhi terjadinya halusinasi antara lain: kemiskinan, kehidupan yang terisolasi, stress yang menumpuk dan ketidakharmonisan sosial budaya misalnya peperangan, kerusuhan. Faktor presipitasi dari aspek biologis berhubungan dengan respon neurobiologik yang maladaptif, meliputi gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur system informasi dan abnormalitas pintu masuk otak yang mengakibatkan ketidakmampuan menanggapi rangsangan secara selektif. Dampak dari halusinasi adalah resiko mencederai diri, orang lain atau lingkungan jika isi halusinasinya menyuruh klien untuk membahayakan diri sendiri, orang lain atau lingkungan. Selain itu, klien tidak mampu menilai dan berespon pada realitas. Klien juga tidak dapat membedakan rangsang internal

maupun eksternal serta tidak dapat membedakan lamunan dan kenyataan. Pada kondisi ini, klien tidak mampu berespon secara akurat, sehingga tampak perilaku yang sukar dimengerti dan mungkin menakutkan. Gangguan sensori persepsi meliputi: gangguan pada fungsi kognitif dan persepsi yang mengakibatkan kemampuan menilai dan menilik terganggu. Gangguan pada fungsi emosi, motorik dan sosial mengakibatkan kemampuan berespon terganggu yang tampak dari perilaku nonverbal (ekspresi muka dan gerakan tubuh), sedangkan perilaku verbal (penampilan hubungan social) c. Proses Halusinasi terjadi apabila yang bersangkutan mempunyai kesan tertentu tentang sesuatu, padahal dalam kenyataan tidak terdapat rangsangan apapun atau tidak terjadi sesutau apapun atau bentuk kesalahan pengamatan tanpa objektivitas penginderaan tidak disertai stimulus fisik yang adekuat. d. Tanda dan gejala 1. Bicara, senyum / tertawa sendiri. 2. Mengatakan mendengar suara, melihat, mengecap, menghidu. 3. Merusak diri sendiri / orang lain / lingkungan. 4. Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan tidak nyata. 5. Tidak dapat memusatkan perhatian dan konsentrasi. 6. Pembicaraan kacau, kadang tidak masuk akal. 7. Sikap curiga dan bermusuhan. 8. Ketakutan. 9. Sulit membuat keputusan. 10. Menarik diri, menghindari dari orang lain. 11. Menyalahkan diri sendiri/ orang lain.

12. Muka merah kadang pucat. 13. Ekspresi wajah bingung. 14. Tekanan darah naik. 15. Nafas terengah- engah. 16. Nadi cepat. 17. Banyak keringat. e. Macam-macam halusinasi Halusinasi Auditorik/Akustik/Dengar. Gangguan ini sudah pasti meliputi organ pendengaran kita. Bisikan-bisikan yang terdengar di telinga penderita menjadi faktor pendorong perbuatan penderita. Suara ini tentu saja tidak ditemukan di lingkungan sekeliling penderita. Misalnya penderita mendengar suara ancaman kepada dirinya yang membuat penderita sangat ketakutan dan mungkin memunculkan perilaku bersembunyi akut. Atau bisikan untuk mengakhiri hidup sendiri atau hidup orang lain, atau pasien mendengar ada suara ngakak mentertawakan dan menghina dirinya. Yah, intinya suara-suara/bisikanbisikan yang hanya pasien yang mendengarnya sedang sumbernya tidak dijumpai. Halusinasi Visual/Lihat. Halusinasi dari organ penglihatan (mata). Pasien melihat, sedang orang di sekitar sama sekali tidak. Atau kenyataannya di mata orang lain tidak ada apa-apa sedangkan pasien yakin sekali melihat. Misalnya, melihat bentangan alam yang indah, melihat hewan-hewan, monster, dan lainlain. Halusinasi Olfaktorik/Penciuman (Bau/Hidu). Tidak ada sumber bau, tetapi penderita yakin menghirup bau-bau tertentu. Misalnya bau parfum, bau busuk,

bau menyengat, dan lain-lain. Kelainan ini jarang terjadi, dan ada dugaan kelainan ini muncul dengan kecenderungan adanya kerusakan otak organik. Halusinasi Gustatorik/Kecap. Penderita merasakan sensasi rasa di mulutnya. Kelainan ini sering terjadi bergandengan dengan adanya gangguan penghidu/pembau/olfaktorik. Halusinasi Taktil/Raba-Rasa/Kinestetik. Penderita merasakan sensasi taktil/rabarasa di tubuhnya yang tentu saja tanpa sumber/stimulus/rangsangan/trigger. Misalnya penderita merasakan sakit, merasakan seperti di setrum, merasa digebukin, merasakan panas, merasakan kedinginan f. Fase halusinasi a. Fase Pertama Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stress, perasaan gelisah, kesepian. Klien mungkin melamun atau memfokukan pikiran pada hal yang menyenangkan untuk menghilangkan kecemasan dan stress. Cara ini menolong untuk sementara. Klien masih mampu mengotrol kesadarnnya dan mengenal pikirannya, namun intensitas persepsi meningkat. b. Fase Kedua Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal dan eksternal, klien berada pada tingkat listening pada halusinasi. Pemikiran internal menjadi menonjol, gambaran suara dan sensasi halusinasi dapat berupa bisikan yang tidak jelas klien takut apabila orang lain mendengar dan klien merasa tak mampu mengontrolnya. Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi dengan

memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari orang lain.

c. Fase Ketiga Halusinasi lebih menonjol, menguasai dan mengontrol klien menjadi terbiasa dan tak berdaya pada halusinasinya. Halusinasi memberi kesenangan dan rasa aman sementara. d. Fase Keempat. Klien merasa terpaku dan tak berdaya melepaskan diri dari kontrol halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarahi klien tidak dapat berhubungan dengan orang lain karena terlalu sibuk dengan halusinasinya klien berada dalam dunia yang menakutkan dalam waktu singkat, beberapa jam atau selamanya. Proses ini menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi. g. Rentang respon respon adaptif respon maladaptif

pikiran logis persepsi akurat emosi konsisten perilaku sosial hub.sosial

pikiran terkadang menyimpang ilusi emosional berlebihan perilaku ganjil menarik diri

kelainan pikiran halusinasi tdk mampu mengatur emosi ketidakaturan isolasi sosial

3. a. Pohon Masalah Resiko perilaku kekerasan

Gangguan sensori persepsi: halusinasi

Isolasi social

b. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji Kumpulan data Data Subjektif: Klien mengatakan ia pernah memukul orang lain karena kesal Klien mengatakan bahwa ia merasa kesal Data Objektif: Sering memaksakan pendapat Mengajak berkelahi dan sering mengeluarkan ancaman Jalan mondar-mandir Data Subjektif: Klien mengatakan mendengar suara/ melihat/mengecap/ menghidu. Klien takut dengan suara-suara yang ia dengar Data Objektif: Klien sering berbicara dan tertawa sendiri Klien dapat marah tanpa alasan Gangguan persepsi sensori: halusinasi Resiko perilaku kekerasan Masalah

Data Subjektif: Klien mengatakan malas untuk berkumpul dengan teman-teman yang lain dan lebih senang menyendiri. Isolasi sosial

Data Objektif: Klien tampak terlihat apatis, afek tumpul, ekspresi wajah kurang berseri Kurang aktivitas, menunduk, menghindar dari orang lain Klien tidur dengan posisi seperti janin.

4. Diagnosa keperawatan 1. Resiko perilaku kekerasan 2. Perubahan persepsi sensori: Halusinasi 3. Isolasi sosial

5. Rencana tindakan keperawatan 1) Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain Tujuan Umum : Tidak terjadi perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain. Tujuan khusus : 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya 2. Klien dapat mengenal halusinasinya 3. Klien dapat mengontrol halusinasinya 4. Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasinya 5. Klien dapat menggunakan obat untuk mengontrol halusinasinya

Kriteria Evaluasi : Klien dapat : 1. Mengungkapkan perasaannya dalam keadaan saat ini secara verbal 2. Menyebutkan tindakan yang biasa dilakukan saat halusinasi, cara memutuskan halusinasi dan melaksanakan cara yang efektif bagi klien untuk digunakan 3. Menggunakan keluarga untuk mengontrol halusinasi dengan cara sering berinteraksi dengan keluarga 4. Menggunakan obat dengan benar Intervensi : 1.1. Bina Hubungan saling percaya: Salam terapeutik Perkenalkan diri Jelaskan tujuan interaksi Ciptakan lingkungan yang tenang Buat kontrak yang jelas 1.2. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya 1.3. Dengarkan ungkapan klien dengan empati 1.4. Adakan kontak secara singkat tetapi sering secara bertahap (waktu disesuaikan dengan kondisi klien) 1.5. Observasi tingkah laku : verbal dan non verbal yang berhubungan dengan halusinasi 1.6 Jelaskan pada klien tanda-tanda halusinasi dengan menggambarkan tingkah laku halusinasi 1.7 Identifikasi bersama klien situasi yang menimbulkan dan tidak menimbulkan halusinasi, isi, waktu, frekuensi

1.8 Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya saat alami halusinasi. 2.1.Identifikasi bersama klien tindakan yang dilakukan bila sedang mengalami halusinasi. 3.1. Diskusikan cara-cara memutuskan halusinasi 3.2.Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan cara memutuskan halusinasi yang sesuai dengan klien 3.3. Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas kelompok 4.1 Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga ketika mengalami halusinasi 4.2. Lakukan kunjungan rumah : Diskusikan dengan keluarga tentang : Halusinasi klien Cara memutuskan kelompok Cara merawat anggota keluarga halusinasi Cara memodifikasi lingkungan untuk menurunkan kejadian halusinasi Cara memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan pada saat mengalami halusinasi 5.1. Diskusikan dengan klien tentang manfaat obat untuk mengontrol halusinasi 5.2. Bantu klien menggunakan obat secara benar

2) Perubahan persepsi sensorik : halusinasi Tujuan Umum: Klien mampu mengontrol halusinasinya Tujuan Khusus : 1. Klien mampu membina hubungan saling percaya

2. Klien mampu mengenal prilaku menarik dirinya, misalnya menyebutkan perilaku menarik diri 3. Klien mampu mengadakan hubungan/sosialisasi dengan orang lain : perawat atau klien lain secara bertahap 4. Klien dapat menggunakan keluarga dalam mengembangkan kemampuan berhubungan dengan orang lain Kriteria Evaluasi : 1. Klien dapat dan mau berjabat tangan. Dengan perawat mau menyebutkan nama, mau memanggil nama perawat dan mau duduk bersama 2. Klien dapat menyebutkan penyebab klien menarik diri 3. Klien mau berhubungan dengan orang lain 4. Setelah dilakukan kunjungan rumah klien dapat berhubungan secara bertahap dengan keluarga Intervensi : 1.1. Bina hubungan saling percaya Buat kontrak dengan klien Lakukan perkenalan Panggil nama kesukaan Ajak klien bercakap-cakap dengan ramah 2.1. Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tandatandanya serta beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaan penyebab klien tidak mau bergaul/menarik diri 2.2. Jelaskan pada klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta yang mungkin jadi penyebab 2.3. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaan

3.1. Diskusikan tentang keuntungan dari berhubungan 3.2. Perlahan-lahan serta klien dalam kegiatan ruangan dengan melalui tahaptahap yang ditentukan 3.3. Beri pujian atas keberhasilan yang telah dicapai 3.4. Anjurkan klien mengevaluasi secara mandiri manfaat dari Berhubungan 3.5 Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan klien mengisi waktunya 3.6. Motivasi klien dalam mengikuti aktivitas ruangan 3.7. Beri pujian atas keikutsertaan dalam kegiatan ruangan 4.1 Lakukan kungjungan rumah, bina hubungan saling percaya dengan keluarga 4.2 Diskusikan dengan keluarga tentang perilaku menarik diri, penyebab dan cara keluarga menghadapi 4.3 Dorong anggota keluarga untuk berkomunikasi 4.4 Anjurkan anggota keluarga secara rutin menengok klien minimal sekali seminggu

3) Isolasi sosial Tujuan Umum : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap Tujuan Khusus : Klien dapat : 1. Mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki 2. Menilai kemampuan diri yang dapat dipergunakan 3. Klien mampu mengevaluasi diri 4. Klien mampu membuat perencanaan yang realistik untuk dirinya

5. Klien mampu bertanggung jawab dalam tindakan Kriteria Evaluasi : 1. Klien dapat menyebut minimal 2 aspek positif dari segi fisik 2. Klien dapat menyebutkan koping yang dapat digunakan 3. Klien dapat menyebutkan efektifitas koping yang dipergunakan 4. Klien mampu memulai mengevaluasi diri 5. Klien mampu membuat perencanaan yang realistik sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya 6. Klien bertanggung jawab dalam setiap tindakan yang dilakukan sesuai dengan rencana Intervensi : 1.1. Dorong klien untuk menyebutkan aspek positif yang ada pada dirinya dari segi fisik 1.2. Diskusikan dengan klien tentang harapan-harapannya 1.3. Diskusikan dengan klien keterampilannya yang menonjol selama di rumah dan di rumah sakit 1.4. Berikan pujian 2.1. Identifikasi masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh klien 2.2. Diskusikan koping yang biasa digunakan oleh klien 2.3. Diskusikan strategi koping yang efektif bagi klien 3.1. Bersama klien identifikasi stressor dan bagaimana penialian klien terhadap stressor 3.2. Jelaskan bahwa keyakinan klien terhadap stressor mempengaruhi pikiran dan perilakunya 3.3. Bersama klien identifikasi keyakinan ilustrasikan tujuan yang tidak realistik

3.4. Bersama klien identifikasi kekuatan dan sumber koping yang dimiliki 3.5. Tunjukkan konsep sukses dan gagal dengan persepsi yang cocok 3.6. Diskusikan koping adaptif dan maladaptif 3.7. Diskusikan kerugian dan akibat respon koping yang maladaptive 4.1 Bantu klien untuk mengerti bahwa hanya klien yang dapat merubah dirinya bukan orang lain 4.2. Dorong klien untuk merumuskan perencanaan/tujuannya sendiri (bukan perawat) 4.3. Diskusikan konsekuensi dan realitas dari perencanaan/tujuannya 4.4. Bantu klien untuk menetpkan secara jelas perubahan yang diharapkan 4.5. Dorong klien untuk memulai pengalaman baru untuk berkembang sesuai potensi yang ada pada dirinya 5.1. Beri kesempatan kepada klien untuk sukses 5.2. Bantu klien mendapatkan bantuan yang diperlukan 5.3. Libatkan klien dalam kegiatan kelompok 5.4. Tingkatkan perbedaan diri pada klien didalam keluarga sebagai individu yang unik 5.5. Beri waktu yang cukup untuk proses berubah 5.6. Beri dukungan dan reinforcement positif untuk membantu mempertahankan kemajuan yang sudah dimiliki klien