Anda di halaman 1dari 11
SENYAWASENYAWA IONIKIONIK 1. PENDAHULUAN 2. PENGGOLONGAN SENYAWA IONIK 3. KARAKTER IONIK SENYAWA BINER 4. KISI
SENYAWASENYAWA IONIKIONIK
1. PENDAHULUAN
2. PENGGOLONGAN SENYAWA IONIK
3. KARAKTER IONIK SENYAWA BINER
4. KISI KRISTAL
5. ENERGI KISI
6. DAUR BORN HABER
7. KELARUTAN SENYAWA IONIK
Penggolongan senyawa ionik Seny. ionik sederhana (monoatomik) cth : NaCl, KBr, MgO, CaI 2 ,
Penggolongan senyawa ionik
Seny. ionik sederhana (monoatomik)
cth : NaCl, KBr, MgO, CaI 2 , dll
Seny. ionik dgn kation sederhana dan anion
poliatomik
cth : NaNO 3 , MgSO 4 , Ca(ClO 4 ) 2 , K 2 [Fe(CN) 6 ], dll
Seny. ionik dgn kation poliatomik dan anion
sederhana
cth : NH 4 Br, [Ag(NH 3 ) 2 ]Cl, [Cu(H 2 O) 4 ]Cl 2 , dll
Seny. ionik dgn kation dan anion poliatomik
cth : NH 4 NO 3 , (NH 4 ) 2 SO 4 , [Cu(NH 3 ) 4 ](ClO 4 ) 2 ,
[Ag(NH 3 ) 2 ] 2 [Fe(CN) 6 ], dll

12/20/2011

Pendahuluan Senyawa Kovalen Senyawa Ionik 1. Interaksi non-ionik (penggunaan elektron bersama) 1. Interaksi ionik
Pendahuluan
Senyawa Kovalen
Senyawa Ionik
1. Interaksi non-ionik
(penggunaan elektron
bersama)
1. Interaksi ionik (serah terima
elektron)
2. Umumnya larut dalam
2. Umumnya larut dalam
pelarut non polar
pelarut polar
3. Titik didih / leleh relatif
3. Titik didih / leleh relatif
rendah
tinggi
4. Dalam larutan bersifat
4. Dalam larutan bersifat
konduktor lemah / isolator
kuat
konduktor kuat/ isolator
lemah
5. Contoh: garam, dll
5. Contoh: gula, bensin, dll
• Ikatan ionik merupakan suatu gaya tarik yang terjadi antara kation dan anion dalam senyawa
• Ikatan ionik merupakan suatu gaya tarik yang terjadi
antara kation dan anion dalam senyawa ionik
• Di dalam kristal senyawa ionik, ion – ion tersusun
secara teratur, bergantian dan berulang secara
periodik
• Kation dgn anion – anion seharga yang berada di
sekelilingnya membentuk geometri tertentu
• Banyaknya anion seharga yang ada di sekitar kation
menunjukkan bilangan koordinasi kation, sebaliknya
banyaknya kation seharga yang berada di sekitar anion
menunjukkan bilangan koordinasi anion
Karakter ionik senyawa biner Karakter ionik suatu senyawa biner yang tersusun atas atom – atom
Karakter ionik senyawa biner
Karakter ionik suatu senyawa biner yang tersusun atas atom –
atom A dan B, dimana keelektronegatifan atom B > atom A, dapat
diperkirakan dari persamaan :
Karakter ionik = 1 – e -¼(χb – χa)
χ a = keelektronegatifan atom A
χ b = keelektronegatifan atom B
Tidak ada senyawa ionik yang karakter ioniknya 100%.
Bila perbedaan keelektronegatifan > 1,7 ===> seny. ionik
Bila perbedaan keelektronegatifan < 1,7 ===> seny. kovalen
polar
Urutkan senyawa berikut dari yang bersifat paling kovalen hingga paling ionik ! 1. CuI, AgI,
Urutkan senyawa berikut dari yang bersifat paling
kovalen hingga paling ionik !
1. CuI, AgI, dan AuI
2. K 2 O, CaO, MnO dan ZnO
3. PbCl 2 , PbBr 2 , dan PbI 2
4. CdO, CdS, CdSe
(elektronegativitas Cl = 3,16; Br = 2,96; I = 2,66; O = 3,44; S = 2,58;
Se = 2,55; Cu = 1,90; Ag = 1,93; Au = 2,54; K = 0,81; Ca = 1,00; Mn
= 1,55; Zn = 1,65; Pb = 2,33; dan Cd = 1,69)

12/20/2011

Mn = 1,55; Zn = 1,65; Pb = 2,33; dan Cd = 1,69) 12/20/2011 Berikut data
Berikut data titik leleh (°C) beberapa senyawa kimia: 1. BeCl 2 = 405 ; CaCl
Berikut data titik leleh (°C) beberapa senyawa kimia:
1. BeCl 2 = 405 ; CaCl 2 = 782
2. NaBr = 747 ; MgBr 2 = 700 ; AlBr 3 = 97,5
3. LiF = 845 ; LiCl = 605 ; LiBr = 550 ; LiI = 449
Jelaskan mengapa terjadi perbedaan titik leleh di antara
senyawa di atas !
Adakah hubungan antara titik leleh dengan karakter ionik
dari senyawa tersebut ?
Adakah faktor lain yang berpengaruh di antara senyawa
tersebut !
• Jari – jari kation lebih pendek daripada jari – jari atomnya, sdgkan jari –
• Jari – jari kation lebih pendek daripada jari – jari
atomnya, sdgkan jari – jari anion lebih panjang daripada
jari – jari atomnya.
• Jari – jari kation akan semakin kecil dgn semakin
positifnya muatan kation, sebaliknya jari – jari anion
akan semakin besar dgn semakin negatifnya muatan
anion.
• Semakin besar bilangan koordinasi kation atau anion,
akan memperbesar jari – jarinya.
• Harga jari – jari kation dibagi jari – jari anion atau
sebaliknya disebut dgn rasio radius.
Kisi Kristal • Pada suatu kisi kristal, atom – atom atau ion – ion yang
Kisi Kristal
• Pada suatu kisi kristal, atom – atom atau ion – ion yang
terdapat di pojok – pojok sel satuan harus merupakan atom
– atom atau ion – ion yang sama
• Sel satuan dapat merupakan sel satuan sederhana / primitif
(P), berpusat badan (I), berpusat pada semua muka (F), atau
berpusat dua muka

12/20/2011

Kemudahan terbentuknya senyawa ionik dipengaruhi oleh: 1. Energi ionisasi kation 2. Afinitas elektron anion 3.
Kemudahan terbentuknya senyawa ionik dipengaruhi oleh:
1. Energi ionisasi kation
2. Afinitas elektron anion
3. Energi kisi pada pembentukan kristal bersifat
menguntungkan secara energetik, yaitu apabila:
- energi potensial (ΔH f ) senyawa ionik yg terbentuk lebih
rendah dibandingkan atom –atom pembentuknya
- struktur yang diadopsi oleh senyawa ionik memiliki
energi potensial yang paling rendah dibandingkan
struktur lainnya
Enam kisi kristal senyawa ionik 1. Kisi kristal NaCl kubus berpusat muka (fcc), Fm3m, dgn
Enam kisi kristal senyawa ionik
1. Kisi kristal NaCl
kubus berpusat muka (fcc),
Fm3m, dgn bil. koordinasi Na +
dan Cl - adl 6:6
contoh :
MX
(M = Li, Na, K, Rb; X = halida),
MO
(M = Mg, Ca, Sr, Ba, Ni, Cd, Mn, Fe, Ti),
MS
(M = Mg, Ca, Sr, Ba), dll
2. Kisi kristal CsCl kubus primitif, Pm3m, dgn bil. koordinasi Cs + dan Cl -
2. Kisi kristal CsCl
kubus primitif, Pm3m, dgn
bil. koordinasi Cs + dan Cl - adl
8:8, contoh :
CsX (X = Cl, Br, I),
CsCN, NH 4 X (X = Cl, Br),
TlX (X = Cl, Br, I), dll
Wurtzit: heksagonal primitif, P63mc, dgn bil. koordinasi Zn dan S adl 4:4, contoh : NH
Wurtzit: heksagonal primitif, P63mc, dgn bil. koordinasi
Zn dan S adl 4:4, contoh : NH 4 F,
MSe (M = Zn, Cd, Mn),
MS (M = Zn, Cd, Mn),
MN (M = Al, Ga, In, Ta), AgI, ZnO, BeO, dll

12/20/2011

3. Kisi kristal ZnS zink blende: kubus berpusat muka (fcc), F43m, dgn bil. koordinasi Zn
3. Kisi kristal ZnS
zink blende: kubus berpusat muka (fcc), F43m, dgn
bil. koordinasi Zn dan S adl 4:4,
contoh : MSe (M = Be, Zn, Cd, Cs, Hg), MTe (M = Be,
Zn, Cs, Hg), CuX (X = F, Cl, γBr – I), dll
4. Kisi kristal fluorit kubus berpusat muka (fcc), Fm3m, dgn bil. koordinasi Ca 2+ dan
4. Kisi kristal fluorit
kubus berpusat muka (fcc), Fm3m, dgn bil. koordinasi
Ca 2+ dan F - adl 8:4, contoh : MF 2 (M = Ca, Sr, Ba, Hg, Cd, Eu, β-
Pb), MCl 2 (M = Sr, Ba), MO 2 (M = Am, Ce, U, Pa, Pb, Pr, Pu), dll
Antifluorit merupakan struktur dgn posisi dimana
kation pada struktur fluorit bergantian dgn posisi anionnya
(kation : anion = 2:1), contoh : M 2 N (M = Li, Na, K dan N = O,
S, Se, Te), dll
5. Kisi kristal rutil tetragonal primitif, P4/mmm, dgn bil. koordinasi Ti 4+ dan O 2-
5. Kisi kristal rutil
tetragonal primitif, P4/mmm, dgn
bil. koordinasi Ti 4+ dan O 2- adl 6:3,
contoh : MF 2 (M = Co, Fe, Mg, Mn,
Ni, Pd, Zn), MO 2 (M = Ti, Mn, Pb,
Sn, Mo, Cr, Co), dll
6. Kisi kristal perovskit
kubus primitif, Pm3m, dgn bil. koordinasi Sr 2+ dan Ti 4+ adl
12:6, contoh : SrMO 3 (M = Sn, Th, Hf, Zr), LaMO 3 (M = Co, Cr,
Fe, Ga), KMO 3 (M = Nb, Ta, I), CsMX 3 (M = Cd, Hg; X = Cl, Br),
dll
Massa Jenis Kristal berupa massa jenis hasil observasi (D obs ) yg diperoleh dari hasil
Massa Jenis Kristal
berupa massa jenis hasil observasi (D obs ) yg diperoleh
dari hasil bagi massa dan volume kristal hasil
pengukuran dgn massa jenis teoritik yg diperoleh dari
data kristalografi dan dianggap tidak memiliki cacat
kristal, dirumuskan :
FW
= massa rumus
Z
= jumlah spesies dalam sel satuan
V
= volume sel satuan
note: 1,66 diperoleh dari 1 / {6,022.10 23 x (10 -8 ) 3 }

12/20/2011

Jumlah spesies dalam sel satuan Kisi kristal NaCl Jumlah ion Na + dalam setiap satu
Jumlah spesies dalam sel satuan
Kisi kristal NaCl
Jumlah ion Na + dalam setiap satu kisi
kristal (sel satuan):
= ( 1 / 8
x
8 ion) + ( ½
x
6 ion) = 4 ion
Jumlah ion Cl - dalam setiap satu kisi kristal
(sel satuan):
= ( 1 / 4
x
12 ion) + 1 ion = 4 ion
.:. Jumlah spesies NaCl dalam sel satuan = 4
Tentukan jumlah spesies untuk kisi kristal
lainnya!
Latihan • Hitung massa jenis teoritik kristal MgO bila panjang sisi sel satuan kristal tsb
Latihan
• Hitung massa jenis teoritik kristal MgO bila panjang
sisi sel satuan kristal tsb 4,213Å dan jumlah spesies
dalam sel satuan adalah 4!
• Berapakah panjang sisi sel satuan kristal AgCl bila
terdapat 4 spesies dalam sel satuan dgn massa jenis
5,684 g/cm 3 !
• Berapakah jumlah spesies dalam sel satuan PbO 2
bila panjang sisi sel satuan kristal tsb 7,359Å dgn
massa jenis 7,172 g/cm 3 !
Senyawa ionik mengkristal dgn kisi kristal tertentu. Kisi kristal yang terbentuk ini dapat diramalkan berdasarkan
Senyawa ionik mengkristal dgn kisi kristal tertentu.
Kisi kristal yang terbentuk ini dapat diramalkan
berdasarkan rasio radius antara kation dan anion
yang ada.
Apabila rasio antara kation dan anion semakin besar
maka bilangan koordinasi kation akan semakin
besar pula.
Untuk bilangan koordinasi 4 dan 6, rentangan harga
rasio radiusnya sama karena tempat selitan yang
terbentuk dari 4 buah anion dgn geometri
bujursangkar dan tempat selitan yang terbentuk
dari 6 buah anion dgn geometri oktahedral memiliki
volume yang sama.
Prediksi rasio radius terhadap struktur senyawa ionik Diketahui jari – jari Mg 2+ = 86
Prediksi rasio radius terhadap struktur senyawa ionik
Diketahui jari – jari Mg 2+ = 86 pm, O 2- = 126 pm. Rasio radius r + /r - =
r Mg 2+ / r O 2- = 86 : 126 = 0,68. Berdasarkan data di tabel,
bilangan koordinasi ion Mg 2+ dan ion O 2- adalah 6 dgn geometri
oktahedral sehingga MgO kemungkinan mengadopsi struktur
NaCl. Fakta eksperimen membuktikan bahwa struktur MgO
memang mengadopsi struktur NaCl.
Diketahui jari – jari Be 2+ = 59 pm, S 2- = 170 pm. Rasio radius r + /r - =
r Be 2+ / r S 2- = 59 : 170 = 0,35. Berdasarkan data di tabel, bilangan
koordinasi ion Be 2+ dan ion S 2- adalah 4 dgn geometri tetrahedral
sehingga BeS kemungkinan mengadopsi struktur zinc blende /
wurtzit. Fakta eksperimen menunjukkan bahwa struktur BeS
memang mengadopsi struktur wurtzit.

12/20/2011

Hubungan antara rasio radius dengan kemungkinan struktur senyawa ionik r + / r - r
Hubungan antara rasio radius dengan kemungkinan
struktur senyawa ionik
r + / r -
r - / r +
BK
Geometri
Kemungkinan
kation
sekitar
struktur yang
kation
diperoleh
< 0,155
> 6,452
2
Linear
*
0,155 – 0,225
4,444 – 6,452
3
Segitiga planar
*
0,225 – 0,414
2,415 – 4,444
4
Tetrahedral
Wurtzit, zink blende
0,414 – 0,732
1,366 – 2,415
4
Bujursangkar
*
0,414 – 0,732
1,366 – 2,415
6
Oktahedral
NaCl, rutil
0,732 – 0,999
1,001 – 1,366
8
Kubus
Fluorit
1
1
12
Dodekahedral
**
* Belum pernah dilaporkan utk kristal ionik
** BK 12 tdk pernah ditemukan utk kristal seny ionik sederhana
Diketahui jari – jari ion Pb 4+ = 108 pm, ion O 2- = 126
Diketahui jari – jari ion Pb 4+ = 108 pm, ion O 2- = 126 pm. Rasio
radius r + /r - = r Pb 4+ / r O 2- = 108 : 126 = 0.87. Berdasarkan data
di tabel, bilgn. koord. ion Pb 4+ adalah 8 (kubus) sdgkan bilgn.
koord. ion O 2- adalah 4 (tetrahedral) sehingga PbO 2
kemungkinan mengadopsi struktur fluorit.
Fakta eksperimen membuktikan bahwa struktur PbO 2 memang
mengadopsi struktur fluorit.
Rasio radius dapat digunakan untuk meramalkan struktur dari
kristal ionik namun dalam beberapa hal, ramalan yang
diberikan tidak selamanya sesuai dgn struktur kristal ionik
sebenarnya yang diperoleh dari hasil eksperimen, contoh pada
kasus CuF dan KCl.
Kelemahan konsep rasio radius dalam memprediksi struktur kristal ionik Beberapa asumsi yang mendasari konsep rasio
Kelemahan konsep rasio radius
dalam memprediksi struktur kristal ionik
Beberapa asumsi yang mendasari konsep rasio radius :
1. Ikatan dalam senyawa dianggap 100% murni
2. Jari – jari kation dan anion dianggap diketahui dgn pasti
3. Ion – ion dianggap sbg bola – bola keras yg tidak elastis
4. Sususan yang stabil hanya diperoleh apabila kation dan
anion saling bersinggungan
5. Ion – ion selalu mengadopsi susunan dgn bilangan
koordinasi tertinggi
Energi Kisi Pada saat kation – kation dan anion – anion dalam fase gas membentuk
Energi Kisi
Pada saat kation – kation dan anion – anion dalam fase gas
membentuk senyawa ionik, maka akan dibebaskan sejumlah
energi yang disebut dgn energi kisi.
Kestabilan senyawa ionik diperoleh apabila energi kisi dapat
mengatasi energi – energi yang diperlukan pada beberapa
tahap endotermik dalam pembentukan senyawa ionik dari
unsur – unsurnya. Energi tsb dapat berupa energi transfer
elektron antara kation - anion, energi atomisasi, energi
disosiasi, dll.
Kestabilan senyawa ionik bukan disebabkan oleh dipenuhinya
aturan oktet oleh kation – kation penyusunnya.

12/20/2011

Dalam kenyataannya diperoleh fakta bahwa : 1. Tidak ada senyawa yang ikatannya 100% ionik 2.
Dalam kenyataannya diperoleh fakta bahwa :
1. Tidak ada senyawa yang ikatannya 100% ionik
2. Jari – jari ion tidak dapat ditentukan dgn pasti
karena adanya sumbangan kovalen
3. Ion – ion bentuknya cenderung tidak sferik karena
adanya efek polarisasi
4. Ion – ion bukan merupakan bola – bola yang keras
Energi kisi dari suatu senyawa ionik dapat ditentukan secara eksperimental maupun dengan perhitungan (U =
Energi kisi dari suatu senyawa ionik dapat ditentukan secara
eksperimental maupun dengan perhitungan (U = E coul + E rep ).
Dengan metoda perhitungan, apabila struktur kristal
senyawa ionik dan jarak antara kation dan anion telah
diketahui maka energi kisi kristal dapat dihitung dengan
persamaan Born – Landé.
Apabila struktur kristal senyawa ionik tidak diketahui maka
energi kisi kristal dihitung berdasarkan persamaan yang
disarankan oleh Kapustinskii.
Sedangkan secara eksperimental, energi kisi kristal
ditentukan dengan menggunakan daur Born – Haber.
Persamaan Born – Landé • A = tetapan Madelung (tabel) • N = bilangan Avogadro
Persamaan Born – Landé
• A = tetapan Madelung (tabel)
• N = bilangan Avogadro = 6,022.10 23
• Z + = muatan kation ; Z - = muatan anion
• e = muatan elektron = 1,6021.10 -19 C
• ε 0 = permitivitas vakum = 8,854185.10 -12 C 2 /J.m
• r 0 = jarak antara kation dan anion (Å) = r + + r -
• n = harga eksponen Born (tabel)
• Informasi tentang interaksi total antara semua ion – ion yang terdapat dalam suatu kisi
• Informasi tentang interaksi total antara semua ion
– ion yang terdapat dalam suatu kisi kristal
dinyatakan dengan Tetapan Madelung (A)
Struktur
Bilangan Koordinasi
kation : anion
A
Natrium klorida (NaCl)
Sesium klorida (CsCl)
Zink blend (ZnS)
Wurtzit (ZnS)
Fluorit (CaF 2 )
Rutil (TiO 2 )
6
: 6
1,74756
8
: 8
1,76267
4
: 4
1,63805
4
: 4
1,64132
8
: 4
2,51939
6
: 3
2,40800

12/20/2011

• Harga eksponen Born (n) tergantung pada ukuran ion. Semakin besar ukuran ion, semakin besar
• Harga eksponen Born (n) tergantung pada ukuran ion.
Semakin besar ukuran ion, semakin besar nilai n. Harga
eksponen Born yang diusulkan Pauling menghasilkan U o
dgn ketelitian yang tinggi, yaitu :
Konfigurasi e -
Nilai n
He
Ne
Ar, Cu +
Kr, Ag +
Xe, Au +
5
7
9
10
12
• Berdasarkan persamaan Born – Landé , harga U o kristal NaCl adalah: (1,74756).(6,022.10 23
• Berdasarkan persamaan Born – Landé , harga U o
kristal NaCl adalah:
(1,74756).(6,022.10 23 ).(+1).(-1).(1,6021.10 -19 ) 2
U o =
x (1 – 1/8)
4.(3,14159).(8,854185.10 -12 ).(2,814.10 -10 )
U o = -755 kJ/mol
…(eksperimen = -770 kJ/mol)
Dengan persamaan Born – Landé , tentukan harga U o dari :
(a)
LiCl, KCl dan RbCl
(b)
MgO, MgS, dan MgSe
(c)
CsCl, ZnS, CaF 2 dan TiO 2
Persamaan Kapustinskii Z + = muatan kation Z - = muatan anion v = jumlah
Persamaan Kapustinskii
Z + = muatan kation
Z - = muatan anion
v = jumlah ion per molekul senyawa ionik
r 0 = jumlah jari - jari kation dan anion (pm) = r + + r -
Dengan persamaan Kapsutinskii, tentukan harga energi kisi (U o ) dari : (a) LiCl, KCl
Dengan persamaan Kapsutinskii, tentukan harga
energi kisi (U o ) dari :
(a)
LiCl, KCl dan RbCl
(b)
MgO, MgS, dan MgSe
(c)
CsCl, ZnS, CaF 2 dan TiO 2
Bandingkan dengan harga energi kisi (U o ) yang
diperoleh dari persamaan Born – Landé!

12/20/2011

• Berdasarkan persamaan Kapustinskii, harga U o kristal CaO (BK kation : anion = 6
• Berdasarkan persamaan Kapustinskii, harga U o
kristal CaO (BK kation : anion = 6 : 6) adalah:
(120200).(2).(+2).(-2)
U o =
x (1 – 34,5/240)
(114 + 126)
U o = – 3430,7 kJ/mol
Berdasarkan persamaan Kapustinskii, harga U o
kristal BaF 2 (BK kation : anion = 8 : 4) adalah:
(120200).(3).(+2).(-1)
U o =
x (1 – 34,5/273)
(156 + 117)
U o = – 2307,9 kJ/mol
Daur Born – Haber Siklus Born – Haber sering digunakan untuk: 1. Menentukan energi kisi
Daur Born – Haber
Siklus Born – Haber sering digunakan untuk:
1. Menentukan energi kisi
2. Menghitung afinitas elektron yang sulit ditentukan
secara eksperimen
3. Memprediksi kemungkinan terbentuk tidaknya
suatu senyawa ionik
Lattice energies are determined experimentally using a Born- Haber cycle such as this one for
Lattice energies are determined experimentally using a Born-
Haber cycle such as this one for NaCl. This approach is based on
Hess’ law and can be used to determine the unknown lattice
energy from known thermodynamic values.
∆∆∆∆H° sub
∆∆∆∆H° ie
Na (s) →→→→ Na (g) →→→→ Na + (g)
½ Cl 2(g) →→→→ Cl (g) →→→→ Cl - (g)
Lattice Energy, U o
∆∆∆∆H° d
∆∆∆∆H° ea
NaCl (s)
∆∆∆∆H° f
If we can predict the lattice energy, a Born-Haber cycle analysis can tell us why
If we can predict the lattice energy, a Born-Haber cycle analysis can
tell us why certain compounds do not form. E.g. NaCl 2
(∆H° ie1 + ∆H° ie2 )
Na (s) → Na (g) → Na +2 (g)
∆H° sub
Cl 2(g) → 2 Cl (g) → 2Cl - (g)
Lattice Energy, U o
∆H° d
∆H° ea
NaCl 2(s)
∆H° f
∆H° f = ∆H° sub + ∆H° ie1 + ∆H° ie2 + ∆H° d + ∆H° ea + U o
∆H° f = 109 + 496 + 4562 + 242 + 2*(-349) + -2180
∆H° f = +2531 kJ/mol
This shows us that the formation of NaCl 2 would be highly endothermic and
very unfavorable. Being able to predict lattice energies can help us to solve
many problems so we must learn some simple ways to do this.

12/20/2011

∆∆∆∆H° sub ∆∆∆∆H° ie Na (s) →→→→ Na (g) →→→→ Na + (g) ½ Cl
∆∆∆∆H° sub
∆∆∆∆H° ie
Na (s) →→→→ Na (g) →→→→ Na + (g)
½ Cl 2(g) →→→→ Cl (g) →→→→ Cl - (g)
Lattice Energy, U o
∆∆∆∆H° d
∆∆∆∆H°
ea
NaCl (s)
∆∆∆∆H° f
ΔH° f = ΔH° sub + ΔH° ie + 1/2 ΔH° d + ΔH° ea + U o
-411 = 109 + 496 + 1/2 (242) + (-349) + U o
U o = -788 kJ/mol
You must use the correct stoichiometry and signs to obtain the correct lattice energy.
Kelarutan Senyawa Ionik dalam Air Larut atau tidaknya senyawa ionik juga dapat diamati dari nilai
Kelarutan Senyawa Ionik dalam Air
Larut atau tidaknya senyawa ionik juga dapat diamati dari
nilai perubahan energi bebas larutan-nya (ΔG larutan )
ΔG larutan = ΔH larutan – T . ΔS
1. ΔH larutan < 0 dan ΔG < 0 → spontan dan mudah larut dlm air
2. ΔH larutan > 0 namun ΔG < 0 → spontan dan sulit larut dlm air
3. ΔH larutan > 0 dan ΔG > 0 → ≠ spontan dan tidak larut dlm air
Semakin positif ΔH larutan maka peluang senyawa ionik untuk larut
dalam air akan semakin kecil.
Bila ΔH larutan dan ΔS dianggap tetap maka kelarutan senyawa
ionik dalam air akan meningkat dgn naiknya suhu T.
ΔH larutan M(H 2 O) x + + X(H 2 O) y - MX (s)
ΔH larutan
M(H 2 O) x + + X(H 2 O) y
-
MX (s)
-U
ΔH solv M +
ΔH solv X -
+
-
M (g) +
X (g)
• Entalpi pelarutan MX dalam air :
ΔH larutan = -U + ΔH solv M +
+ ΔH solv X -
• Energi kisi (U) memiliki pengaruh yang berlawanan dgn entalpi
solvasi (ΔH solv ), dimana energi kisi menghalangi larutnya
senyawa ionik, sedangkan energi solvasi mendorong larutnya
senyawa ionik
Latihan soal • Jelaskan pengaruh jari – jari atom terhadap kemudahan terbentuknya padatan senyawa ionik!
Latihan soal
• Jelaskan pengaruh jari – jari atom terhadap kemudahan
terbentuknya padatan senyawa ionik!
• Prediksikan manakah diantara wurtzit dan zinc blende yang
memiliki kestabilan lebih tinggi apabila jarak Zn dan S dari kedua
kristal dianggap sama!
• Jelaskan mengapa semakin besar perbedaan kation dan anion,
akan memperbesar kelarutan senyawa ionik dalam air?
• Prediksikan urutan kelarutan senyawa ionik berikut dari yang
paling kecil dan berikan penjelasannya:
– CaCO 3 , MgCO 3 , BaCO 3 , dan SrCO 3 dalam (1) air; dan (2) MeOH
– NaBr, MgBr 2 , dan AlBr 3 dalam (1) asetonitril; dan (2) bensena
– PbCl 2 , PbBr 2 , dan PbI 2 dalam (1) heksana; dan (2) etanol

12/20/2011

Apabila energi solvasi mampu mengatasi energi kisi maka proses pelarutan akan dapat terjadi. Besarnya energi
Apabila energi solvasi mampu mengatasi energi kisi maka
proses pelarutan akan dapat terjadi.
Besarnya energi solvasi dan energi kisi dipengaruhi oleh
nilai jari – jari ionnya, sehingga apabila:
1. r + dan r - memiliki perbedaan yang kecil
U >> dan H <<
sulit / tidak larut
2. r + dan r - memiliki perbedaan yang besar
U << dan H >>
mudah larut
Kelarutan senyawa ionik dalam pelarut nonpolar
karakter kovalen ===> like dissolved like!!
Latihan UAS • Tentukan jenis-jenis operasi simetri yang terdapat pada molekul di bawah ini dan
Latihan UAS
• Tentukan jenis-jenis operasi simetri yang terdapat pada molekul di bawah
ini dan ramalkan sifat kepolaran molekul-molekul tsb. berdasarkan simetri
yang dimilikinya! (masing-masing 10 poin) a. aseton (CH 3 –CO–CH 3 )
metanol (CH 3 OH)
b.
• Tentukan point group dari molekul-molekul berikut ini disertai dengan
alasannya! (masing-masing 10 poin) a. asetonitril (CH 3 CN)
b. kloroform
(CHCl 3 )
• Berapakah jumlah spesies dalam sel satuan (Z) senyawa kalsium sulfida CaS
(Mr = 72 g/mol) dengan massa jenis 6,40 g/cm 3 , dan panjang sisi sel satuan
4,213Å! (10 poin)
• Jelaskan 2 (dua) kelemahan konsep rasio radius dalam memprediksi
struktur senyawa ionik! (20 poin)
• Jelaskan perbedaan penggunaan persamaan Born-Lande, Kapustinskii, dan
daur Born Haber dalam menentukan energi kisi senyawa ionik! (30 poin)
(waktu = 100 menit)